P. 1
pengertian moral

pengertian moral

|Views: 5,682|Likes:
Published by trinanda88

More info:

Published by: trinanda88 on Feb 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

Semarang. PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. Juli 2008 Siti Barokah NIM. KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. 065112072 4 . Penulis.

wawancara. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. mass media dan suguhan-suguhan internet.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. yaitu kesucian. 52. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. dan telaah dokumen. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. tanpa melihat perbedaan. 43 %. 71. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. Moralitas terhadap Guru. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. 5 . serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. guru dan teman sebayanya. 2. sampai dengan 64. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. 63 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase.

Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . bimbingan dari semua pihak. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. semoga Yang Maha Kuasa.. serta Drs.A. Achmad Gunaryo. Dr. H. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya. Penulisan tesis ini. selaku penasehat akademik. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. Darori Amin.A. 2.. penulis tujukan kepada : 1. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. M..Abdul Muhaya. 3. HM. M.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. selalu melimpahkan ketetapan Iman. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. 4. selaku penasehat akademik. DR. Prof. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. H. Muhammad SAW. Amiin. masukan. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. dukungan. Islam serta kesehatan. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. Dr.H. Amin Syukur.A. tidak lepas dari dorongan semangat. M. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. tegur sapa. Ucapan terima kasih. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. M.SocSc. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun.

yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. Juli 2008 Penulis 7 . serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. semangat.semangat menapaki hidup dengan ilmu. dimohon kritik. semangat . semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. Puti Widya Ekasani SE. Suamiku. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan.M. Drs. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. M. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7.bimbingan. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. dorongan. amal dan kebijakan. Dan dengan kerendahan hati. 5. Putri-putriku. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Pudji Tikno. Semarang.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

....... C....................................................... Daftar Lampiran ....... Metode Pengumpulan Data ..................................................... Daftar Singkatan .................................................................................................................. 1................ i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ....... E................... Pendekatan Penelitian .. Konsekuensialisme ... Halaman Persetujuan ...... II............. D................... Teori Moral.......... Teknik Analisis Data .............. Signifikansi ............................................ F............... 3.... Intuisionisme ............ B..... Metode Penelitian ....................... Halaman Pengesahan ........... Emotivisme ... D....................................... Perbedaan Moral.. Persamaan Moral...... 2.............. C........................ Telaah Pustaka ............... Kata Pengantar .............................. Daftar Tabel .................. Etika dan Akhlak .................................... Latar Belakang Masalah ........................................................................... Tujuan ............................... Etika dan Akhlak .................................................................................................... Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ................................................. Abstraksi ...................................... G....................................................................... B........................ 1. 3................................ 2........................ Etika dan Akhlak ........ Rumusan Masalah ....... Sistimatika Penulisan ........................ Etika dan Akhlak ................................... I...... Motto ..............................Halaman Judul .. Definisi Moral.. PENDAHULUAN A. Daftar Isi ............................... LANDASAN TEORI A........................................................................

...... Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ............. Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1.. 5...................... Etika Hak ..... 6.. E. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya ............ Moralitas Peserta Didik .............................. ........Mujahadah dan Riyadhah .......... D.............. Strategi Pembentukan Moralitas . Isriati Semarang ............... Cakupan Moralitas Peserta Didik 1..................... V...... B............ . Moralitas Peserta Didik SD Hj....... ......... Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ............Kebijakan atau Jalan Tengah ..... .. Sekilas Perkembangan SD Hj..............................................................................Kepatuhan terhadap Agama . Isriati Semarang ....... 84 2............................ DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A......... Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus .......................................4. E........Kekuatan Ilmu ... Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik ...... IV........ F............... Teori-teori Akhlak ...................... 3... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua ..................................... F........................... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru ..... Hasil Analisis Data Penelitian ........................... Deskripsi Data Penelitian . Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj.......... 2..... B. C............. Deontologi ........................ MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A............... III............ KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 ..........

.............A............................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 ............... B.................... Kesimpulan ............... Saran dan Penutup .................

......................1......... s-d Tabel 4....1........... Tabel 2. Tabel 4............. Tabel 2.... : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik ...................... : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous ....... Tabel 4............ Tabel 4............7......2.... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...... 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 .......16....... Tabel 4.............. Tabel 4........... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ..... Tabel 4.......................... Tabel 3. : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus........ Isriati Semarang ................8.............2....... Etika dan Akhlak ......... : Perbedaan Moral................ : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj..... Minimal dan Maksimal untuk ABK ....... : Skor Subyek pada Nilai Rerata.. Normal 1 dan Normal 2 ... Tabel 4.............................1................... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .4.. : Skor Subyek pada Nilai Rerata........6.....1...... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .. Minimal dan Maksimal ....3...... : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus .. Tabel 4...5.......... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ....Tabel 1...

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

mampu menunjukkan jati dirinya. pengendalian diri. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan.h. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. akan tetapi 15 . Maurice J. masyarakat. 20 tahun 2003). Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. Dengan kata lain.BAB I PENDAHULUAN A. Oleh karena itu. kedua. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. pertama. kepribadian. 20 tahun 2003). hal itu disebabkan. kecerdasan.33). bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. memiliki sopan santun. akhlak mulia. 2003. jenjang.et all. Ketiga. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai.

Balai Pustaka.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. 16 . seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam..Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Bertingkah laku baik. 1990. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. 1978: 75). guru. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. dan teman. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. crah agawe bubrah”. cet. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. Secara sosiologis. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso.Hurlock. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. Djoko Dwiyanto. 2001:60). peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. bagi peserta didik. 2006: 257). bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. Moralitas adalah sopan santun. rukun membangun kekuatan (Purwadi.

saling tolong menolong dan saling bekerja sama. sebagaimana dikutip oleh John W. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. 2001: xliii). pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. dalam suasana tenang dan sepakat. pertentangan. tentram. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. pelecehan. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). suka bekerja sama. berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. sehat rokhani. Santrock. Menurut Jensen & Kingston (1986). Ironisnya. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. damai satu sama lain. tenang. saling berempati. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi.Sikap saling menghargai. tawuran. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. saling menerima. tanpa perselisihan. saling menghormati. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. saling mengasihi. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. mereka meniru. seperti tidak menghargai. Sekolah Menengah Pertama (SMP). dan menghormati kepada para guru-guru. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. kupasan media cetak. mereka bersosialisasi. bahkan sampai terjadi perkelaian. tayangan Televisi.

yang berada di SD Hj. yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. akan memetik perbuatan. 2003: lviii). 3 18 . Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. khususnya bagi peserta didik. Menurut Kohlberg3.www //google. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. dan tingkat empat. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. akan memetik nasib (Ary Ginanjar. Santrock.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Secara psikologis. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). Kaidah kedua adalah sikap hormat. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. 2001: 38). kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. Moral). dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan.(http. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. yang merupakan dasar dari perilaku etis. dan dengan menabur karakter.

4 19 . tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. Learning how to learn. social. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. sebagaimana Prinsip Pendidikan. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 2007: 49). Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). Learning how to do. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. Learning how to live together. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan.org/wiki/Moral). Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. (http://id. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran.wikipedia. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). mental-intelektual. Learning how to be. ranah nilai dan ranah keterampilan 4.

Berkesulitan belajar . serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN).III. Tabel 1. 44). 2006. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. hal.hyper aktif ringan 4. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler. (2) Menerapkan pendidikan Islami. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.IV I. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. Tuna Laras 5. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . Lambat belajar 3.Gangguan pemusatan perhatian . gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak.1.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. ada 57 (lima puluh tujuh) anak. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). III III I. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I. III. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang.II. berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD).memungkinkan (Denis. Gangguan pendengaran 2. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak.hyper aktif berat . dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. Enrica.

aktifitas ataupun orang.ciri-ciri authis). memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. 21 . Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. 3. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.google. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. emosional. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak tertarik untuk berteman.2004) . 2. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda.www. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. ide. sentuhan. b). pendengaran. dan mudah marah. dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. 3) Sering melakukan tindakan agresif. yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang.Cenderung membangkang. mengganggu. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. 2) Mudah terangsang emosinya. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. Marah tanpa alasan yang masuk akal. merusak. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. Authis. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler).

Isriati Semarang. mental-intelektual. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. 2. Israti Semarang. Tujuan Penelitian a. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. Isriati Semarang. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. D. social. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj.B. Manfaat Praktis 1. b. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. 7 22 . C. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Isriati Semarang.

perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. 2005). merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. karakteristik kelompok. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj.2. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. E. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. 23 . guru dan teman sebaya). maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. (Pudji Asri.

tenaga ahli. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. masyarakat dan pemerintah. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus. (b) education for all. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. orang tua. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. karakteristik kelompok. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. (c) the principle of non-segregation. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. (d) the holistic view of the pupil. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. 2. 24 . tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial.

b) pendidikan untuk semua. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. 3. 8 25 . sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya.(e) handicap seen in relation to external factors. especially school environment. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. 2005. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. Muhammad Abdul Fattah . Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. khususnya lingkungan sekolah. (Santoso. 91: 8). yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya.

Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. 2. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). Wawancara dalam penelitian yang telah 26 .1985: 127). Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). mengingat SD Hj. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. Metode Pengumpulan data 1. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. intelegensi. 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus.F. sosial maupun emosionalnya.1985:126). Pengamatan (Observasi). adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto.

maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. 2001: 15) 27 . guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. catatan dan lainnya (Arikunto.1985: 131). yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. 3. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. peraturan-peraturan. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. guru dan teman sebaya. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). G. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi.

Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. wawancara. teori tentang moralitas. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. pelayanan BAB II. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. SD Hj. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. kemudian untuk penguatan. BAB III. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. 28 . Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. yang diungkap dalam latar belakang masalah. teori tersebut antara lain. Isriati Semarang. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia.BAB I. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat.

berisi tentang kesimpulan. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. BAB V. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. 29 . Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2.BAB IV. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. saran dan penutup dari penelitian. terhadap guru serta terhadap teman sebaya.

adat. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. yang terdapat dimana-mana. 1998: 18). Definisi Moral. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih.Berten.Poespoprojo. mores) yang berarti kebiasaan. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. mores) yang berarti kebiasaan. 2007: 7). Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. karena sifatnya yang abstrak.Berten. adat istiadat. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. baik atau buruk. dkk mengatakan. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih.Berten. 2007: 12).BAB II LANDASAN TEORI A. Senada dengan pengertian tersebut. Dengan kata lain. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. Etika dan Akhlak Moral Moral. 2004: 24). Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 . Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. W. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Baron.Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. 2007: 7).

agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. Immanuel Kant. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. seorang pemuka madzab filsafat baru. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. 1992). Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia.Berten. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. entah itu aturan hukum negara. Menurut Kant. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. lembaga pendidikan.1992).

Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. (c) ajaran. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. kebajikan. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. kira-kira abad ke 1416. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. 2003: 146-147). Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. makna atau kesimpulan tentang moral. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. 10 32 . 2004: 393). (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik.

dalam mempelajari dan membahas moralitas. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Berten. sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. Joko Dwiyanto. ketika seseorang berbicara tentang etika. 2006: 24). bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. K. 2006:14). etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. peribahasa. mutiara-kata. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. benar atau salah. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. dan metaetika. perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. Dengan demikian. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. biasanya dalam bentuk ungkapan. dan sebagainya yang menyiratkan.Suriasumantri. 12 33 . 2007: 15).

2. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. 1996: 83). Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 .Kekuatan ini bukan buah dari milliu. Golongan pertama. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. apabila yang merugikan.1975: 84).1996: 34). tetapi adalah instinc. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. zama atau pendidikan. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra. sebaliknya yang tidak berharga. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. Golongan kedua berpendapat bahwa. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. baik dan buruk. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. tetapi tetap berakar pada manusia. pengalaman. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. yaitu : 1. berakhlak dan tidak. tidak berguna untuk tujuan. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat.

1913: 10). mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. diantaranya : tabiat. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. kekayaan. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. pengetahuan. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. kebajikan atau kemuliaan. yakni berdasarkan keinginannya. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan.besar. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. watak. 2004: 41). yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. adat. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. Jadi baik adalah bahagiya. karena berhubungan dengan akal. 1993: 25). dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. persahabatan. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia.

indah.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. Ada tiga bentuk khair. perbuatan seperti aniaya. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). Akan tetapi sebaliknya.1924: 152). yaitu khair li dhatihi. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. dan lezat. Jilid III: 52). Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). khair li ghairihi. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. didalamnya juga terdapat 36 . juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. khair li ghairihi. dan khair li dhatihi.

Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. tingkah laku. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . ataukah sebaliknya. tindakan. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. B. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. benar atau salah. 2004: 1). Atau kualitas dari perbuatan. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah.sifat-sifat khair sharr. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. Perbedaan Moral. pengertian moral. Etika dan Akhlak Secara terminologi. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. tindakan atau tingkah laku manusia. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. maka akan beruntunglah hidupnya.

Moral Definisi .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Perilaku baik dan buruk manusia .Bersumber dari agama. etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Mengkaji filsafat moral .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk .Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi. 2. Perbedaan Moral.Mengkaji tentang moralitas .Bagaimana seharusnya manusia.Nilai perbuatan manusia .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Ilmu tentang filsafat moral .Mendiskusikan moral.Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. Etika 38 . perbedaan antara moral.1.Ajaran-ajaran tentang kebaikan . benar dan salah . pilihan mana yang baik dan buruk. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Membicarakan tentang baik dan buruk. Etika dan akhlak Bahasan 1. aturan.Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu . . tradisi dan idiologi .Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . Untuk lebih jelasnya.interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu .Kebiasaan atau adat istiadat . berperilaku dalam komunitas masyarakat .Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku .Bersifat sobyektif dan relatif .

budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. Etika dan Akhlak Secara etimologi.Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. kualitas perbuatan ma. yaitu adat kebiasaan. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. dan berasal dari bahasa Arab. Akhlak . 3. Dari uraian tentang moral.Jiwa manusia (akal. ’sopan santun’. bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’. 1998: 255). benar atau salah atau tindakan manusia. Persamaan Moral. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. dan etika berasal dari bahasa Yunani. hanya saja berbeda dari asalnya. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. hati setiap manusia .Internalisasi dan in. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. Perbedaan.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) ..dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) .Sikap batin yang telah nusia. etika dan akhlak. Dan ahlak berarti ciptaan.Bersumber dari sya. Moral berasal dari bahasa latin. moral dan etika memiliki arti yang sama. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung..Siratan-siratan hati guh. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk.

D. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. 2004: 167). mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori. Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya. apa yang dikatakan atau diasumsikan. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. etika dan akhlak. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. Ketika menggunakan kata baik. Hudson). 1.Stevenson. tidak mewakili apapun.L. Dalam kontek pembahasan tesis ini. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. D. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. begitu juga dengan teori moral. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama. ”Ini adalah baik”. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . Teori Moral. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa.

Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. c.pertimbangan. yang berkenaan dengan emosi.D. b). evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut.Hudson) tak dapat dianalisa. 41 . sesuai dengan teorinya. yaitu : a. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. Ada tiga kemungkinan yang membedakan. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini.D. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. dengan berubah dari yang sebelumnya. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. b.Hudson). senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. sebab penganut faham positivisme logic. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. atau sangat segera. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. berkaitan dengan emosi. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan.

intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. 1975: 105). Bergson. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. (direct and immediate) (James Hasting). Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Menurut Bergson. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya.2. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. kewajiban atau hak. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. 1963:11-12). Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. bukan berdasarkan situasi. dengan perkataan kenyataan.

inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). (Juhaya S. intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. indra dan pengalaman. namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. dan pengetahuan ini ada perantaranya.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. Menurut Bergson.Praja. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik.

Pokok Persoalan Etika. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. b. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. seperti contoh denyut jantung. Perbuatan yang netral. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. benar. c. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. Perbuatan semu. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. darah. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. yang 44 . Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. d. bernafas. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. dan lain sebagainya.

Suatu perbuatan bersifat etis. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Miller. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. (Harlan B. Disinilah. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. etika memainkan peranannya. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. 1988).mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Dari pemahaman tersebut. 4. karena hanya dengan 45 . Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). 3. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. melebihi segala hal merugikan. dijawab dengan kewajibankewajiban moral.

dan lain sebagainya. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. dan juga karena wajib dilakukan. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. sebagaimana dijelaskan oleh K. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. janji harus ditepati. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Berten. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. misalnya hutang harus dibayar. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Menurut teori ini. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Menurut Immanuel Kant. Orang yang bertindak karena kewajiban. (senang atau tidak senang). maka dalam bertindak secara moral. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. tentang teori moralnya. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian.

sebagaimana harimau. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. 2003: 84-85) 5. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. dapat menahan diri. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Etika Hak. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. 6. rakus dan pembunuh. pesan. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak).

itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. Kedua. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. E. Pertama. buruk dan jahat sekali.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. keseimbangan nafsu dan amarah. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. baik. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. Demikian halnya dengan akhlak. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. dan ada yang diformat menerima perubahan. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia.

apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. 49 . Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. Mujahadah dan Riyadhah. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. apakah moral itu bisa diajarkan. 1987 (Ibid: 21). dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. memberikan beban sebagai suatu kewajiban. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. ed. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. 2007: 20-21). Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati.berikut: Socrates.

Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. Bagi Miskawaih. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Kebijakan 15. keadilan. 50 . Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. kebahagiaan.1923:23). baik. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. buruk dan jahat sekali. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. Ibn Miskawaih. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan.2003: 312) . keberhasilan. dan kesolekhan.1983: 510). Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan.

keberanian. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah.1923: 23). yaitu : kearifan. pembagiannya menjadi empat bagian. dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. ketiganya 51 . Keberanian. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. 2. Keadilan. 1. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. Kearifan. terletak pada mengetahui yang ada.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. 4. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. Ibn Miskawaih. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. juga merupakan kebajikan jiwa. 3. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. Sederhana. sederhana.dan keadilan. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir.

kedudukan dan kehormatan. (Suparman Syukur. Menurut Ibn Miskawaih. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak.2004: 327). Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). minuman.Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). Pertama. 2002: 32). Ketiga. fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. ambisi pada kekuasaan. Kedua. Menurut Raghib. ide (khaitir). keinginan terhadap kelezatan. yakni dorongan nafsu makan. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir). Raghib al-Isfahani. menjelaskan secara psikologis. kemudian cita-cita (hazm). seksual. Menurut Elizabeth B. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). dan segala macam inderawi. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. 1994: 45) Jiwa. Organ tubuh yang digunakan adalah otak. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 .bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih.

bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. kedermawanan melalui kesederhanaan. kesabaran. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . dan keadilan. keberanian melalui kesabaran. Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). Dengan sarana pendidikan. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali).atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. kesederhanaan.

pengambilan peran dalam 54 . peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas.(C. 1995) disamping di dalam keluarga. abdullah Idi. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. 2007: 118). memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. lihat pula QS Asy Syams: 8. lingkungan sekolah. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. terutama para pendidik dan orang tua. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. abdullah Idi. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. Tugas manusialah untuk melatih. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. dengan demikian. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya.Asri Budiningsih. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. 2007: 116). dan yang mendorong terjadinya dialog. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. baik di dalam lingkungan keluarga. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak.

yaitu pola laku positif atau negatif. Ada empat rukun yang harus dipenuhi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. kemampuan untuk mengakses keduanya. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. 2) kekuatan marah. Al Ghozali menawarkan suatu konsep. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer.kelompok keluarga. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. seseorang yang marah. agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. kemampuan untuk membentuk polalaku. 55 . maupun pengetahuan tentang polalaku. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. yaitu 1) kekuatan ilmu. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. 2003: 145). bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. pengambilan peran dalam kelompok sebaya. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). 2003: 146-147). Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. pengetahuan tentang keduanya. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. karena merasa didzalimi. Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak.

dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. sementara apresiasi hidung diabaikan. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. Dari beberapa uraian tersebut. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. wajah misalnya. demikian juga dengan keempat rukun tersebut. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). keberanian 17. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16.Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Sebagaimana bentuk lahir.

Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. seperti mencuri.Santrock. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). 18 57 . Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. berbohong.1983:506-507). E.kelapangan dada18 dan keadilan 19. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. Peneliti Perkembangan Moral. kedua. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. hukuman dan keadilan (Ibid). 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. 2002: 287). kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama.

maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. yang benar adalah sebaliknya. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. bukan maksud-maksud dari pelaku. Bagi pemikir otonomous. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan.

5.Tabel 2. 6. hukuman akan dikenakan segera. Pemikir Otonomous . . dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. Pemahaman diri anak berkembang. seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku .Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . Pemikir Heteronomous .Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan .Aturan bersifat fleksibel.: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku . bisa dibuat kesepakatan .Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 . dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. 4.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun .Menerima perubahan. tidak bersifat kaku .Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja .Dilakukan anak berusia 410 tahun . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama. 21 59 . Piaget berpendapat bahwa. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan. 3. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. tidak boleh diubah .Aturan bersifat kaku.2. 2.

Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). 2. karena dua faktor. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. 60 . Santrock. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya.1975: 21). 2002: 342). sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. sekolah menengah pertama tiga tahun. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. atau peserta didik dengan moralitas baik. dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan.

(Ibid : 115). Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. dan bila dapat dirubah.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. sukses dan ingin tahu. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. kebutuhan rasa aman. kebebasan. 2007: 109). Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . 2004: 195). Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. maka akan tetap dalam perubahan itu. rasa harga diri. (Khoiron Rosyadi. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. abdullah Idi.

karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. menkondisikan. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. cara temannya berpakaian. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. Memberi motivasi. dan bukan perintah. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. temannya berkata. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. Oleh karena itu. kondisi temannya. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya bersikap. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup.diberikan oleh keluarga. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya.

dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing.dengan kemerdekaan beraktifitas. Havinghurst mengemukakan. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. sebagai berikut: 63 . dan tentunya semua mata pelajaran. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. 2005: xliii) Robert J. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. maka akan memetik perbuatan. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. Misalnya. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. Maka dalam setiap even pendidikan.

4. Memperkembangkan kata hati. 5. 4. 8. 5. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. 7. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. 3. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. 2004: 194). Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. Belajar bergaul dengan teman sebaya. membaca dan berhitung. 6. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . 2. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. Meluaskan lingkungan pikiran. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. 3.1. terutama akhlaknya. Berkawan dengan orang-orang terpilih. berbuat baik adalah kewajiban manusia. 2.

Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin.perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. Akal. ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia. dan lain sebagainya. dan pendidikan islami (Islamic education). pendidikan masa depan (education for future).1975: 63-66). yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). manusia yang termarginalkan. ingin di puji. 65 . rumpun atau etnis.

mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. tidak diperhatikan. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. Setiap gagasan yang muncul. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. menurut Berry. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. kemampuan. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. Manusia yang diabaikan. dan 66 . Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler.

Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42).2006: 42). Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus.David Smith. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970). Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 .penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan.

hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45). Oleh Will (1986). Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). hanya jika institusi sekolah umum diubah. hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”.Berkenaan dengan promosi tersebut diatas.

dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. bahwa manusia pada dasarnya sama.” Dalam buku J. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Tujuan utamanya. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . kecuali ketaqwaannya. sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. selama memungkinkan. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik.

karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. baik 70 . bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. hak asasi manusia. menjadi bagian dari kelas tersebut.1994) Inklusi itu masa depan. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. milik ras manusia. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. dilakukan bersama bagi satu sama lain. Menurut Heller. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. menantang. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. Lebih dari itu. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. 2005: 19). dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat.” (pernyataan Salamanca. Holtzman&Messick (1982). Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat.

google. yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan. 2003: 33) 71 . bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya.Pendidikan Inclusive). peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Maurice J.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. Tujuan utamanya. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Dalam J. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. karena dalam masa pembelajaran.et all.

khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. . Ph. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. Thailand. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. dan kualitas dari. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. menuju • • • • • 72 . Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). Kerangka Dakar.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. tunadaksa. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan.Inklusi . Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia.

utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya.kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Realitasnya secara inheren. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. 2006).

Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Suatu lingkungan yang inklusif. sosial. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. rekreasi. anak jalanan atau pekerja. fisik. Ramah terhadap Peserta Didik.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. intelektual. layanan pendidikan yang berkualitas. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. anak dari orang-orang desa atau nomadik. kesehatan. emosional. Menciptakan Kelas Inklusif.2006: 37). antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. dengan metode-metode. linguistik atau karakteristik lainnya. linguistiknya. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat.

anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS.berbeda. latar belakang. emosional. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. anak dari orang-orang desa atau nomadik. sosial. sosial dan lain sebagainya). usia. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. fisik. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). anak jalanan atau pekerja. intelektual. emosi. linguistiknya. linguistik atau karakteristik lainnya. kelompok etnis. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . semua anak bisa belajar. (dalam kemampuan. gender.

tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. mental. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu. emosional. yang 76 . penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. intelektual. B. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. yaitu landasan filosofis utama. Melalui pendidikan inklusif. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. manusia sisa-sisa. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini.

Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. kreatif. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. mandiri. sehat. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. melalui pendidikanlah. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. Landasan empiris. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. diawali 77 . berilmu. cakap. silih asih. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Landasan pedagogis. Landasan yuridis internasional. perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. sehingga mendorong sikap silih asah. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. berakhlak mulia.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. Jadi. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. 2003).

sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. social. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. mental-intelektual. 6: 160. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. 4: 9. C.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. 43: 32. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . QS Az-Zuhruf. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua.

dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). kreativitas. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. anak korban narkoba. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. karena berdasarkan berbagai studi. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. untuk keperluan pendidikan inklusi.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 4. sendi. 3. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. dan lain-lain. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 2. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. Dengan demikian. Jika masih dijumpai di sekolah. 79 . anak yang memiliki penyakit kronis. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

komunikasi maupun sosial. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 80 . sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. atau fungsi bahasa. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. artikulasi (pengucapan). Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. atau kelancaran bicara. 8. Lamban belajar (slow learner). adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. kesulitan belajar menulis (disgrafia). 7. menulis dan berhitung atau matematika). isi bahasa. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. 2004). adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. 9.5. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). merespon rangsangan dan adaptasi sosial. 6. sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). adalah anak yang mengalami kelainan suara. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Kota Semarang. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. Provinsi Jawa Tengah. pusat Kota Semarang. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. SD Hj.200 meter persegi ini. Moenadi.87. Bangunan sekolah seluas 3. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. Nama Hj. nomor : 421. D.2/Swt/09237/1991. seakan berdiri 81 . namun secara de jure. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. Isriati Semarang. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. ibu kota Jawa Tengah. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. nomor 1179/I03/I. Sekilas Perkembangan SD Hj. Kelurahan Pekunden. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. kebersamaan Pendidikan mereka. Secara de fakto SD Hj. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. Isriati. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. ijin operasional sementara. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. Kecamatan Semarang Tengah. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987.

Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . Selama 13 tahun inilah SD Hj. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. pada tahun 1985 – 1987. Pada masa ini SD Hj. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah.. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. M. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Sri Tantowiyah. Periode kedua. S. Isriati Baiturrahman. pada tahun 2000 – 2008. satu komplek dengan TK Hj.765 meter persegi. disebut sebagai periode keperintisan. Pada periode ini SD Hj. dan sarana prasarana. Periode ketiga.megah di atas tanah seluas 11. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Pada periode ini SD Hj. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. pada tahun 1987 – 2000. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. Dra. Periode pertama. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. Pada periode ini SD Hj. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj.Pd..Pd. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj.

Sains. E. Vokal. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. Pendidikan inklusif 83 . Karena saleh. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. Pilihan Dai kecil (Pildacil). kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Sempoa. Baca Puisi. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. selalu mendapatkan juara. tingkat kota. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas.II: 2). ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. cerdas. dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. Menggambar. menghayati. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). Berbagai lomba telah diikutinya. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj.2007. lomba mata pelajaran. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). pidato Bahasa Inggris.bab.

Didalam perjalanan melayani masyarakat. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. SD Hj. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. social. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. dan mereka dilayani secara inklusif. Di kelas reguler. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. termasuk anak berkebutuhan khusus”. mental-intelektual. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. SD Hj.

baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. Kasih sayang 85 . namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. harus dimanusiakan. harus dikembangkan potensinya. Dalam melaksanakan pembelajaran. Isriati Semarang. Mereka belajar tidak dengan mudah. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. merespon rangsangan dan adaptasi sosial.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). harus dilayani. harus diberikan haknya. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. harus diberikan tempat yang layak. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Disamping pembiasaan tersebut diatas. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. bahwa SD Hj. mengaji. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. 4.komitmen sejak awal. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. melakukan shalat berjamaah dlsb. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. membaca Al-Quran. 3. 5. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Mengaji. serta belajar seni baca alQuran. 2. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. bahasa Arab. dll.

Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . guru pembimbing serta orang tua.didik berkebutuhan khusus. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca.1. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. sebagai berikut : Tabel 3. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti.

punya sifat kecil hati (tak percaya diri).lah di sekolah khusus (SLB) 2. ABK dengan kelainan ADHD. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. rame. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. Berkonsultasi dengan ortu. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes. 16-31 Juli’07 M. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. 3. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). pasti nangis dan mogok. emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran.

rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. marah meledak tanpa pandang bulu. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. karena manusia pada 93 . sangatlah membutuhkan perhatian. kesabaran. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. 15 Agus’07 6.

yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. bagi anak anak berusia 410 tahun. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. mereka lebih fleksibel. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. F. tidak boleh diubah. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. tidak bersifat kaku. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. supaya cahaya tersebut tidak padam. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. mau menerima perubahan.

hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). kakek neneknya. sebagaimana peserta didik pada SD Hj.Isriati Semarang. Lingkungan keluarga (orang tua. masih murni. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. masih kaku. pendapat sendiri. Keaneka ragaman teman sebaya. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. peseta didik yang bermoral. moralitasnya baik. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. masih lugu. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. belum memiliki pola pikir sendiri. karena mereka berasal dari berbagai keadaan. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi.

Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Yang enam bersifat negatif. yaitu 1) interest atau excitement. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 . 3) shame atau humilitation.dkk. misalnya ada temannya yang nakal.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Menurut Tomkins (lih. 2) fear atau terror. 4) contemp.Morgan. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. yaitu: 1) distress atau anguish. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. 2) enjoyment atau joy. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. 3) surprise atau startie. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. Tiga bersifat positif. 6) anger atau rage. atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang.. tuna grahita). tuna netra. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. 5) disgust.

Dalam kontek ini.lingkungan sekolah. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. karena SD HJ Isriati. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. diberi stimulus. Isriati Semarang. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. bahagia dan memiliki kepuasan diri. Peserta didik dalam berpikir. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya.

Lingkungan sosial kedua. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran.keluarga. tidak melanggar aturan. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. dan 6) Dimanapun saya berada. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. guru maupun teman sebayanya. tidak nakal. dan lain sebagainya) 98 . 4) Kalau disuruh orang tua. apabila saya melanggar nasehat. 1. malu. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. 2). tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Untuk mengetahui sikap moralnya. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. (dengan berbuat baik. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik.nasehat dan perintah-perintahnya. Jika orang tua sedang berbicara. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. saya tidak menyela pembicaraannya. tidak kasar dan tidak sembrono. saya merasa rikuh pekewuh. 5) Saya ingin menghormatinya.

Penalaran atau pemikiran. saya mencium tangannya. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. 2) Jika terjadi perselisihan. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 3) Jika bepergian. 4) Saya menundukan kepala. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. membungkukkan badan. mengutarakan kepada orang tua. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. dan 6) Apabila dinasehati. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . saya menggandeng dan mengiringi orang tua. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. saya memilih untuk mengalah. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. saya berusaha untuk bermusyawarah. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. saya menurut. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. diperintah orang tua. dan melaksanakan perintahnya 2.

5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. bermain bersama. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. kaya atau miskin. kurang pandai. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. normal atau cacat. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 3) Saya peduli dengan jerih payah. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. karena tidak mengharapkan balasan. teman yang nakal. membentuk 100 . 2) Saya mengajak belajar. dlsb. 3.

dikategorikan dalam 4 kategori. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. dan kategori keempat. suka membantu dan tidak suka berkelahi. 101 . suka menolong teman lainnya. dengan cara menelpon. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. 4) Saya membantu memberi teman-teman.kelompok belajar. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. kategori kedua. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. 5) saya. Dari beberapa pertanyaan tersebut. kategori pertama. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. Saya mengagumi teman yang baik hati. menmbulkan masalah. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi.

dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. 2001: 19). 1. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini. standart deviasi. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. 102 . Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. maksimum. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. 2002: 21). subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. minimum (Ghozali.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. varian.

1. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143. 103 . peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144.1. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1.Tabel 4. moralitas peserta didik normal 1. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.1.

rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113. 1. 2. 2.3. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 . Minimal dan Maksimal No 1.1.1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Tabel 4. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Minimal dan Maksimal No 1. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. 3. 3.2.Tabel 4.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

43%. Apabila dicermati lebih mendalam. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. 63 % 64. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. baik di dalam lingkungan keluarga. 42 % 52. 23 %. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik.7. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. 3. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71.Tabel 4. 2. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. lingkungan sekolah. 108 . Semakin tinggi moralitas peserta didik. 2004: 84). Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. No 1. Normal 1 dan Normal 2. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . 29 % Sangat Baik No 1. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . baik.49 31 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 3.39 22 . baik (28. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.8. sedang dan kurang baik. 57 % 14. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. 2. 14 % 28. menunjukkan moralitas yang sangat baik.Hasil Penelitian 1. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 14 %).30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 1993). Tabel 4.57 %) dan sedang (14. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.

27 2 1 28. 14 % Sangat 28 . 14 %. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 14 %). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57.yang sangat baik. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . sedang dan kurang baik. 29 % Baik No 1. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.9. 3.38 17 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.2. 57 %) dan sedang (14.49 4 57. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 1. baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Tabel 4. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 57 % 14. 110 . 2. baik (28. 1993).

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 57 %) dan sedang (14. 14 %. 1993).3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 14 %). 1. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. sedang dan kurang baik. baik (28. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. menunjukkan moralitas yang sangat baik. baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 111 .Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik.

3.36 13 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.10. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. 14 % Sangat 25 . Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. 2.47 4 57.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.24 2 1 28. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik.Tabel 4. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 14 %. 2. 57 % 14. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. sedang dan kurang baik. 112 . 1993). Peserta Didik Normal 1 2.

58 %). Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.27 No 1. 84 %). 2. baik (36. 05 %) serta kurang baik (10. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 3. 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Tabel 4.11. sedang (21. sedang dan kurang baik.2. 84 % Keterangan Baik 21. baik. 05 % 10. 58 % 36.33 22 . 42 % di atas prosentase rata-ratanya. 1993).39 28 . 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31.45 34 . Dengan demikian dapat diketahui 113 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 .

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 .36 7 8 36. Tabel 5. baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 84 %) dan sedang (42. 3.12. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21.48 No 1.05 %). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 89 %.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. 84 % 42.3.41 30 . 1. 05 % Keterangan 37 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 2. baik (36. 1993). 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik.

Tabel 4.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik (31. 58 % Sedang 52.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. 4. 11 %. baik. sedang dan kurang baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 3. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya. 3. 53 % 31. 2. menunjukkan moralitas yang sangat baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42.dan deviasi standarnya adalah 7. sedang (52. Peserta Didik Normal 2 3. 63 % 5.37 22 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.58 %).1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.63 %) serta kurang baik (5. 26 % Keterangan No 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 .13. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.53 %).

sedang (21. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 . 29 %). baik (14. 3. 43 % 21. 29 % Sangat Baik 21.40 25 .14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. menunjukkan moralitas yang sangat baik.32 25 . 2.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.2. 3. Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 . Tabel 4. 29 % 14. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. 43 %) serta kurang baik (10. 29 %. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. 4.48 33 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. 43 % Keterangan No 1. 29 %). 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 1993).32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. 2.29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7. 86 %.71 %).kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik. menunjukkan moralitas yang sangat baik.71 44 . 1993).15.14 % 35. sedang (50 %) serta kurang baik (7.3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. 3.43 26 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.72 % Sedang 50 % 7. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 .14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.14 % Keterangan No 1. baik (35. Untuk melihat lebih detail 117 . 4. 3. Tabel 4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42.14 %). sedang dan kurang baik.57 30 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.

Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. 24 %. 118 . 4. 53 % 35.71 %). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. Tabel 4. 1993). 71 % Keterangan Sedang 42. baik (35.46 31 .bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 .92 %) serta kurang baik (7.54 39.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 92 % 7.53 %). 3.16. baik. sedang (42. 2.38 23 . sedang dan kurang baik.30 No 1.

Keempat. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. 28 %. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. sedangkan moralitas peserta didik 119 . sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. 63 % Ketiga. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. disiplin dan sangat baik. 14 %. 29 %.B. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. Keenam. terhadap orang tua. 42 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. 84 %. 11 %. Kedua. Kelima. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. 42 % dan 57.

120 .normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 24 %. 86 % dan 46.

2. 42 %. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. sampai dengan 46. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. 11 %. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 84 % sampai dengan 68. 3. 42. 24 %. 86 %. 28 %. 121 .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. dengan prosentase 57. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. 4. 29 %. 14 %. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. 63 % sampai dengan 64. dengan prosentase 57. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 5.

Bagi Peneliti. kritik. Bagi Birokrat. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. 2. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. Penulis menyadari sepenuhnya. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan.B. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. 122 . untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. sistimatika maupun analisisnya. Akhirnya. normal 1 dan normal 2. dan memanjatkan doa kepada Allah. baik dari segi bahasa. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya.

bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. atas bantuan dan jerih payah adikadik. Selamat bekerja ya. Isriati Semarang 123 . Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. Juli 2008 Saya. Amiin Semarang. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas.

5. malu. Saya merasa rikuh pekewuh. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. tidak nakal. 4. 3.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. Jika orang tua sedang berbicara. saya tidak menyela pembicaraannya. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. saya mengerjakan dengan ringan. tidak melanggar aturan. saya melakukannya dengan lembut. Dimanapun saya berada. (dengan berbuat baik. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. tidak kasar dan tidak sembrono. Rukun 7. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. 2. 6. 124 . dan lain sebagainya).siap dan tidak terpaksa. Saya berbicara dengan orang tua.

saya mendengarkan dengan penuh perhatian.8. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. Jika terjadi perselisihan. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. 14. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. Saya menundukkan kepala. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. membungkukkan badan. saya berusaha mencium tangannya. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. saya memilih untuk mengalah. 11. dan melaksanakan perintahnya. 12. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. 10. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. diperintah orang tua. Apabila dinasehati. 9. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. 15. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. 125 . 16. saya menurut.

Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru.17. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). 21. 23. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. menulis dengan rapi dan sebagainya. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. 24. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. 22. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. Rukun 18. 20. 19. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru.

kurang pandai. mencolak colek atau menjahili teman. miskin. kurang pandai. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. 127 . 32. Rukun 26. 27. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. 31. Saya menghormati teman. 35. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. kaya atau miskin. Saya tidak pernah mengejek temanteman. 29 30. 28. tanpa membedabedakannya. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. normal atau cacat. sekalipun dia cacat. Saya menghormati teman. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. walaupun dia tidak berada di samping saya.25. Saya tidak bertindak usil. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. saya bersimpati kepadanya. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. dlsb. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. dengan berbicara tenang. dan tidak pandai bergaul. 33. teman yang nakal. 34.

36. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 . Saya merasa terpanggil untuk membantu teman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->