MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN. Semarang. 065112072 4 .DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. Penulis. Juli 2008 Siti Barokah NIM.

serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. Moralitas terhadap Guru. mass media dan suguhan-suguhan internet. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. wawancara. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. tanpa melihat perbedaan. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. yaitu kesucian. sampai dengan 64. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. 43 %. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. 2. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. 5 . hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. guru dan teman sebayanya.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. 71. 63 %. dan telaah dokumen. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. 52. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi.

dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia.A.Abdul Muhaya. M. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya. Dr.SocSc. Achmad Gunaryo. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . Darori Amin.. DR. M. Islam serta kesehatan. Amin Syukur. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. Prof. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. Muhammad SAW. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan.A. tidak lepas dari dorongan semangat.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya.H.. bimbingan dari semua pihak.. 2. 4. selaku penasehat akademik. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. 3.A. M. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. penulis tujukan kepada : 1. semoga Yang Maha Kuasa. H. M. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. Dr. Penulisan tesis ini. dukungan. H. Amiin. tegur sapa. selalu melimpahkan ketetapan Iman. serta Drs. Ucapan terima kasih. masukan. HM. selaku penasehat akademik. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis.

Dan dengan kerendahan hati. Puti Widya Ekasani SE. M. Putri-putriku. dimohon kritik. semangat. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Pudji Tikno. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. 5. Drs. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. Suamiku. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. amal dan kebijakan. semangat . saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang.semangat menapaki hidup dengan ilmu.bimbingan. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. dorongan. Semarang. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan.M. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. Juli 2008 Penulis 7 .

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

................................................................ Pendekatan Penelitian . E................Halaman Judul ................................. Tujuan ............. Halaman Persetujuan .................. 2.............................................. Etika dan Akhlak ................................................................................ Daftar Isi ............................. Perbedaan Moral...................... C........................... Sistimatika Penulisan .......................... Abstraksi ............................................... LANDASAN TEORI A. Halaman Pengesahan ........................ Telaah Pustaka ................................ Teknik Analisis Data .................................................................... G............. D........... Etika dan Akhlak ....................... Persamaan Moral......... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ......................... PENDAHULUAN A...... Daftar Tabel ........ F...... 1................... Rumusan Masalah .. 3........... C.............................................................. Etika dan Akhlak ................... Emotivisme .............................. Motto .................................................................... Kata Pengantar ................. 1......................................... Konsekuensialisme .................................................................................................................... Definisi Moral.. Latar Belakang Masalah ............. D.. I................... 2..... Daftar Lampiran ................. B.......................... Metode Pengumpulan Data ........................ 3............................................................ II......... Intuisionisme .... Etika dan Akhlak . Teori Moral.............................. B...... Daftar Singkatan .............. Metode Penelitian ................................ Signifikansi ........ Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ....

.. IV................. Strategi Pembentukan Moralitas .............Mujahadah dan Riyadhah . KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 .........Kebijakan atau Jalan Tengah ................... Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya ..... Sekilas Perkembangan SD Hj..... Moralitas Peserta Didik SD Hj. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1...Kekuatan Ilmu ................ ................................................................ 5......... Isriati Semarang .... ...... III...................... Teori-teori Akhlak .......... Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ......... 2.................... Deskripsi Data Penelitian ....... 3... B........................... B.......................... ........... Deontologi .............. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A........................................................ Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1......Kepatuhan terhadap Agama .......................................... E.... ....................... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua ........... D....... F.... E.... Isriati Semarang ... Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif .......... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru ..... V.. 84 2... Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ............................ Moralitas Peserta Didik . MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. 6.................. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik .............. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj.......... F.................. C. Hasil Analisis Data Penelitian ........................ Etika Hak ............4.

Saran dan Penutup .................. B......................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 ... Kesimpulan .............A..................................

.......2.. : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.. Minimal dan Maksimal untuk ABK ..Tabel 1............. : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...........1... Normal 1 dan Normal 2 ...........3........ : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik ............... : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous ............1........ : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi . : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .. Tabel 3.. Tabel 2......... Tabel 4.......8.1......... Tabel 4........... Tabel 4....1. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...6........ Tabel 4...... : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj................... Minimal dan Maksimal ...... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .... Tabel 4.... Tabel 4...... : Perbedaan Moral.... Etika dan Akhlak ...........5...........2........................................ Tabel 2........4.............. 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 .............. : Skor Subyek pada Nilai Rerata...................................... : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus ............................... Isriati Semarang ......16.. : Skor Subyek pada Nilai Rerata.... Tabel 4.7...... Tabel 4.... s-d Tabel 4...

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. 20 tahun 2003). memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. 20 tahun 2003). adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. hal itu disebabkan. Dengan kata lain. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. kepribadian. akhlak mulia. masyarakat. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. Oleh karena itu. Ketiga. mampu menunjukkan jati dirinya. Maurice J. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias.et all. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan.h. 2003. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. pengendalian diri. pertama.33).BAB I PENDAHULUAN A. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. memiliki sopan santun. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. kecerdasan. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. akan tetapi 15 . pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. jenjang. kedua.

Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. 1978: 75). 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. Bertingkah laku baik. bagi peserta didik. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. rukun membangun kekuatan (Purwadi. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. cet. 1990.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. Moralitas adalah sopan santun. dan teman. 16 .. 2006: 257). bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. guru.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. Djoko Dwiyanto.Hurlock. Balai Pustaka. Secara sosiologis. crah agawe bubrah”. 2001:60).

tayangan Televisi. sebagaimana dikutip oleh John W. sehat rokhani. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. saling mengasihi. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. tenang. kupasan media cetak. mereka meniru. pertentangan. Ironisnya. pelecehan. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. suka bekerja sama. dan menghormati kepada para guru-guru. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. Menurut Jensen & Kingston (1986). tawuran. Sekolah Menengah Pertama (SMP). saling berempati. seperti tidak menghargai. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 2001: xliii). Santrock. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. damai satu sama lain. tentram. saling tolong menolong dan saling bekerja sama. saling menerima. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. mereka bersosialisasi. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral.Sikap saling menghargai. dalam suasana tenang dan sepakat. saling menghormati. tanpa perselisihan. bahkan sampai terjadi perkelaian.

2003: lviii). 3 18 . yang merupakan dasar dari perilaku etis. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. Kaidah kedua adalah sikap hormat. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Moral).(http. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. Secara psikologis. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. yang berada di SD Hj. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. khususnya bagi peserta didik. akan memetik nasib (Ary Ginanjar. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. akan memetik perbuatan. dan dengan menabur karakter. dan tingkat empat. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik.www //google. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. Santrock. Menurut Kohlberg3. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . 2001: 38).

org/wiki/Moral). 4 19 . (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). Learning how to do. Learning how to live together. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. mental-intelektual. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan.wikipedia.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. Learning how to learn. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. 2007: 49). karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. sebagaimana Prinsip Pendidikan. Learning how to be. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. (http://id. social. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum. ranah nilai dan ranah keterampilan 4.

memungkinkan (Denis. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak.III. V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1.Gangguan pemusatan perhatian . berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). hal. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak. Tabel 1.hyper aktif berat . ada 57 (lima puluh tujuh) anak. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I. 44).1. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 .hyper aktif ringan 4. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. Enrica. III III I. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj. (2) Menerapkan pendidikan Islami.II. III.IV I. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. Berkesulitan belajar .Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). 2006. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD). Lambat belajar 3. Tuna Laras 5. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. Gangguan pendengaran 2.

misalnya kepala terlalu kecil atau besar. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. 2) Mudah terangsang emosinya. aktifitas ataupun orang. 3. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda.google. mengganggu. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).Cenderung membangkang. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. emosional. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain.www. sentuhan. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. 3) Sering melakukan tindakan agresif. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. 21 . Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Marah tanpa alasan yang masuk akal. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya.2004) . Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. 2.ciri-ciri authis). Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. ide.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. dan mudah marah. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Authis. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. merusak. b). Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. pendengaran. Tidak tertarik untuk berteman.

rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. Isriati Semarang. C. Isriati Semarang. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. mental-intelektual. Manfaat Praktis 1. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. 2. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. 7 22 . Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Tujuan Penelitian a. D. b. Israti Semarang. social.B. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. Isriati Semarang. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj.

Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. 23 . Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. E. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. (Pudji Asri. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. 2005). karakteristik kelompok. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). guru dan teman sebaya).2. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni).

masyarakat dan pemerintah. tenaga ahli. orang tua. 24 . (d) the holistic view of the pupil. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. karakteristik kelompok. (b) education for all. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. (c) the principle of non-segregation. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. 2. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar.

khususnya lingkungan sekolah. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. (Santoso. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. 91: 8).(e) handicap seen in relation to external factors. 3. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. 8 25 . sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. b) pendidikan untuk semua. 2005. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. especially school environment. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. Muhammad Abdul Fattah .

2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. 2. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). Metode Pengumpulan data 1. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif.1985:126). dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. Pengamatan (Observasi). dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa.1985: 127). Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. sosial maupun emosionalnya.F. intelegensi. mengingat SD Hj.

guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.1985: 131). sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. 3.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. catatan dan lainnya (Arikunto. peraturan-peraturan. guru dan teman sebaya. serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. G. yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. 2001: 15) 27 . Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS .

Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. kemudian untuk penguatan. yang diungkap dalam latar belakang masalah. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. teori tentang moralitas. pelayanan BAB II. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. SD Hj. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. BAB III. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. 28 . apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. teori tersebut antara lain. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia.BAB I. Isriati Semarang. untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. wawancara. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj.

berisi tentang kesimpulan. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. BAB V. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.BAB IV. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. saran dan penutup dari penelitian. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. 29 . terhadap guru serta terhadap teman sebaya.

maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. mores) yang berarti kebiasaan. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih. Dengan kata lain. dkk mengatakan. 1998: 18). 2004: 24). Etika dan Akhlak Moral Moral. W. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Senada dengan pengertian tersebut. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. 2007: 12). Definisi Moral. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 . 2007: 7).Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. 2007: 7).Berten.Berten.BAB II LANDASAN TEORI A. baik atau buruk. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. adat. yang terdapat dimana-mana. adat istiadat. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. mores) yang berarti kebiasaan.Berten. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. karena sifatnya yang abstrak.Poespoprojo. Baron. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.

dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton.1992). sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). lembaga pendidikan.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. seorang pemuka madzab filsafat baru. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . Menurut Kant. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. 1992). lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. entah itu aturan hukum negara. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. Immanuel Kant. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun.Berten. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia.

11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. 2004: 393). (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. 2003: 146-147). dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. 10 32 . kebajikan. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. kira-kira abad ke 1416. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). makna atau kesimpulan tentang moral. (c) ajaran.

Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. peribahasa. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. biasanya dalam bentuk ungkapan. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. 2007: 15). Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. 2006:14). etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. mutiara-kata. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. Berten. 2006: 24). perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. 12 33 . dan metaetika. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. dan sebagainya yang menyiratkan. benar atau salah.Suriasumantri. ketika seseorang berbicara tentang etika. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. dalam mempelajari dan membahas moralitas. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Joko Dwiyanto. K. Dengan demikian.

zama atau pendidikan. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. sebaliknya yang tidak berharga. yaitu : 1. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. Golongan kedua berpendapat bahwa. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. Golongan pertama. 1996: 83). pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. pengalaman. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman.1996: 34).1975: 84). tidak berguna untuk tujuan. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. 2. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. apabila yang merugikan. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. baik dan buruk. tetapi tetap berakar pada manusia. berakhlak dan tidak. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. tetapi adalah instinc. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu.

Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia.besar. pengetahuan. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. yakni berdasarkan keinginannya. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. persahabatan. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . kebajikan atau kemuliaan. watak. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. Jadi baik adalah bahagiya. 2004: 41). karena berhubungan dengan akal. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. diantaranya : tabiat. 1993: 25). yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. adat. 1913: 10). kekayaan. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya.

jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. perbuatan seperti aniaya. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair).1924: 152). Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. dan lezat. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. dan khair li dhatihi. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. yaitu khair li dhatihi. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. Akan tetapi sebaliknya. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. didalamnya juga terdapat 36 . Jilid III: 52). dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. indah. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. khair li ghairihi. Ada tiga bentuk khair. khair li ghairihi. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu.

Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. tingkah laku. tindakan.sifat-sifat khair sharr. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . tindakan atau tingkah laku manusia. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. ataukah sebaliknya. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. 2004: 1). Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. Etika dan Akhlak Secara terminologi. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. maka akan beruntunglah hidupnya. pengertian moral. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. Atau kualitas dari perbuatan. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. benar atau salah. Perbedaan Moral. B. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya.

Nilai perbuatan manusia .interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu .Mengkaji tentang moralitas .1. Moral Definisi . etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Bagaimana seharusnya manusia. Etika dan akhlak Bahasan 1.Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk.Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk .Perilaku baik dan buruk manusia .Mendiskusikan moral.Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . tradisi dan idiologi . 2.Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku .Mengkaji filsafat moral . Perbedaan Moral.Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi.Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu . pilihan mana yang baik dan buruk.Bersifat sobyektif dan relatif . aturan.Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk . aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya . . berperilaku dalam komunitas masyarakat . benar dan salah .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Ilmu tentang filsafat moral .Kebiasaan atau adat istiadat . Untuk lebih jelasnya.Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Membicarakan tentang baik dan buruk. perbedaan antara moral.manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.Ajaran-ajaran tentang kebaikan . Etika 38 .Bersumber dari agama.

Dan ahlak berarti ciptaan. Etika dan Akhlak Secara etimologi. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya.Setiap manusia yang bernyawa dan berakal.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . hanya saja berbeda dari asalnya.. 1998: 255)..Bersumber dari sya. Dari uraian tentang moral. benar atau salah atau tindakan manusia. ’sopan santun’. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika. hati setiap manusia .Jiwa manusia (akal. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk. etika dan akhlak. 3. Moral berasal dari bahasa latin. dan berasal dari bahasa Arab.Sikap batin yang telah nusia. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan.Internalisasi dan in. moral dan etika memiliki arti yang sama. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 .dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . dan etika berasal dari bahasa Yunani.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. Persamaan Moral. yaitu adat kebiasaan. Akhlak . sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung.Siratan-siratan hati guh. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. kualitas perbuatan ma. Perbedaan. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’.

moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. 1. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman.L. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). tidak mewakili apapun. Hudson). hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama. apa yang dikatakan atau diasumsikan.Stevenson. begitu juga dengan teori moral.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. etika dan akhlak. D. Teori Moral. 2004: 167). atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W.D. Dalam kontek pembahasan tesis ini. ”Ini adalah baik”. Ketika menggunakan kata baik. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori.

sesuai dengan teorinya.Hudson). yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. atau sangat segera. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. yaitu : a. b). Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes.pertimbangan. b.Hudson) tak dapat dianalisa. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. sebab penganut faham positivisme logic. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. yang berkenaan dengan emosi.D. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). 41 .D. c. berkaitan dengan emosi. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. Ada tiga kemungkinan yang membedakan. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini. dengan berubah dari yang sebelumnya. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan.

dengan perkataan kenyataan. bukan berdasarkan situasi. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Menurut Bergson. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Bergson. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. kewajiban atau hak.2. (direct and immediate) (James Hasting). meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . 1963:11-12). Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. 1975: 105). Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk.

Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. Menurut Bergson. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. indra dan pengalaman. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. dan pengetahuan ini ada perantaranya. intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif.Praja. (Juhaya S. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik.

maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. seperti contoh denyut jantung. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. dan lain sebagainya. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. yang 44 . Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. darah. benar. d. Perbuatan yang netral. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. c. Perbuatan semu. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. bernafas. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. Pokok Persoalan Etika. b. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut.

Suatu perbuatan bersifat etis. Miller. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). 1988). 3.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. dijawab dengan kewajibankewajiban moral. etika memainkan peranannya. Disinilah. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. melebihi segala hal merugikan. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Dari pemahaman tersebut. karena hanya dengan 45 . maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. (Harlan B. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. 4. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”.

Menurut teori ini. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). sebagaimana dijelaskan oleh K. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . tentang teori moralnya. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. dan juga karena wajib dilakukan. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Berten. Orang yang bertindak karena kewajiban.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. janji harus ditepati. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. misalnya hutang harus dibayar. (senang atau tidak senang). Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. maka dalam bertindak secara moral. Menurut Immanuel Kant. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. dan lain sebagainya. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya.

Etika Hak. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. pesan. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. dapat menahan diri.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. rakus dan pembunuh. 2003: 84-85) 5. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. 6. sebagaimana harimau. ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak).

Demikian halnya dengan akhlak. buruk dan jahat sekali. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. Kedua. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. Pertama. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. dan ada yang diformat menerima perubahan. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. baik. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. keseimbangan nafsu dan amarah. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. E. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan.

dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. 1987 (Ibid: 21). Mujahadah dan Riyadhah. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. ed. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan.berikut: Socrates. apakah moral itu bisa diajarkan. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. 49 . memberikan beban sebagai suatu kewajiban. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. 2007: 20-21). Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan.

yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh.1983: 510). Kebijakan 15. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. keadilan. Bagi Miskawaih. keberhasilan. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian.1923:23). Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. kebahagiaan. 50 . buruk dan jahat sekali.2003: 312) . Ibn Miskawaih. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. baik. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. dan kesolekhan. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain.

keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. Sederhana.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. yaitu : kearifan. pembagiannya menjadi empat bagian. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. sederhana. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. Kearifan.dan keadilan. 3. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. keberanian. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. terletak pada mengetahui yang ada. Keberanian. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. 4.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. 2. Keadilan. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). 1. Ibn Miskawaih. juga merupakan kebajikan jiwa. ketiganya 51 . dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih.1923: 23).

yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir). (Suparman Syukur. Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. Pertama. keinginan terhadap kelezatan. 1994: 45) Jiwa. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. Organ tubuh yang digunakan adalah otak. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. kemudian cita-cita (hazm). Kedua. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . Ketiga. menjelaskan secara psikologis.Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). ambisi pada kekuasaan. dan segala macam inderawi. Menurut Ibn Miskawaih. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. Raghib al-Isfahani. Menurut Elizabeth B. seksual.2004: 327). sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. kedudukan dan kehormatan. 2002: 32). ide (khaitir). munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). yakni dorongan nafsu makan. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). Menurut Raghib. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. minuman. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M.

atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. kesederhanaan. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. keberanian melalui kesabaran. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. Dengan sarana pendidikan. dan keadilan. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. kesabaran. kedermawanan melalui kesederhanaan. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199).

baik di dalam lingkungan keluarga. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin.(C. 1995) disamping di dalam keluarga. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. Tugas manusialah untuk melatih. 2007: 118). lihat pula QS Asy Syams: 8. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. lingkungan sekolah. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. abdullah Idi.Asri Budiningsih. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. dan yang mendorong terjadinya dialog. abdullah Idi. dengan demikian. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. pengambilan peran dalam 54 . 2007: 116). peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. terutama para pendidik dan orang tua.

Ada empat rukun yang harus dipenuhi. 2003: 145). Al Ghozali menawarkan suatu konsep. kemampuan untuk mengakses keduanya. 55 . Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. 2) kekuatan marah. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. seseorang yang marah. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. kemampuan untuk membentuk polalaku. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. pengambilan peran dalam kelompok sebaya. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah.kelompok keluarga. Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. 2003: 146-147). 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. yaitu pola laku positif atau negatif. bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. karena merasa didzalimi. maupun pengetahuan tentang polalaku. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. pengetahuan tentang keduanya. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). yaitu 1) kekuatan ilmu. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer.

keberanian 17. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. Sebagaimana bentuk lahir. wajah misalnya. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian).Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16. Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. sementara apresiasi hidung diabaikan. demikian juga dengan keempat rukun tersebut. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. Dari beberapa uraian tersebut. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya.

pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. berbohong. 18 57 . Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. 2002: 287). tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. Peneliti Perkembangan Moral.1983:506-507). 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. seperti mencuri. hukuman dan keadilan (Ibid). Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. kedua. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. E.Santrock. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W.kelapangan dada18 dan keadilan 19.

lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . bukan maksud-maksud dari pelaku. maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. yang benar adalah sebaliknya. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. Bagi pemikir otonomous. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue.

dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama. 2.Aturan bersifat fleksibel. 5.Tabel 2. bisa dibuat kesepakatan .Dilakukan anak berusia 410 tahun .: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.Menerima perubahan.Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. Piaget berpendapat bahwa. seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. Pemahaman diri anak berkembang. Pemikir Heteronomous .Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 . Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1.2. hukuman akan dikenakan segera. 3. 6.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama. tidak boleh diubah . 4. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan.Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja .Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan . tidak bersifat kaku . dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku .Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . 21 59 .Aturan bersifat kaku. Pemikir Otonomous .Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7. .Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku .

dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. karena dua faktor. 60 . Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). Santrock. 2002: 342). hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. atau peserta didik dengan moralitas baik.1975: 21). pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. sekolah menengah pertama tiga tahun.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. 2. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya.

pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. (Ibid : 115). Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. (Khoiron Rosyadi. kebebasan. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. maka akan tetap dalam perubahan itu. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. rasa harga diri. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. 2004: 195). jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. sukses dan ingin tahu. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . abdullah Idi. 2007: 109). kebutuhan rasa aman. dan bila dapat dirubah. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan.

Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. Oleh karena itu. temannya bersikap. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. Memberi motivasi. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4.diberikan oleh keluarga. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. cara temannya berpakaian. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. menkondisikan. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. kondisi temannya. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. temannya berkata. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari.

dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. Maka dalam setiap even pendidikan. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. sebagai berikut: 63 . sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. 2005: xliii) Robert J. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. dan tentunya semua mata pelajaran. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. Havinghurst mengemukakan. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. Misalnya. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. maka akan memetik perbuatan. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi.dengan kemerdekaan beraktifitas.

Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. 3.1. membaca dan berhitung. Berkawan dengan orang-orang terpilih. 5. Memperkembangkan kata hati. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. 6. 3. 2004: 194). Belajar bergaul dengan teman sebaya. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. 8. berbuat baik adalah kewajiban manusia. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. terutama akhlaknya. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. 2. 5. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. 2. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Meluaskan lingkungan pikiran. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. 4. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. 7. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. 4.

rumpun atau etnis.1975: 63-66). Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. dan pendidikan islami (Islamic education). karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). ingin di puji. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. dan lain sebagainya. Akal. ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). manusia yang termarginalkan. yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh).perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. pendidikan masa depan (education for future). memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. 65 . Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia.

yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. Manusia yang diabaikan. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. tidak diperhatikan. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. kemampuan. menurut Berry. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. Setiap gagasan yang muncul. dan 66 . diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler.

setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970). Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang.penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus.2006: 42). pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42).David Smith. Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka.

Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45). hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. Oleh Will (1986). hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. hanya jika institusi sekolah umum diubah. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987).Berkenaan dengan promosi tersebut diatas.

secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. kecuali ketaqwaannya. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. bahwa manusia pada dasarnya sama. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46).” Dalam buku J. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Tujuan utamanya. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. selama memungkinkan.

menjadi bagian dari kelas tersebut. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Holtzman&Messick (1982). bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. Menurut Heller. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. hak asasi manusia. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. Lebih dari itu. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. 2005: 19). Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. baik 70 .bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. milik ras manusia. dilakukan bersama bagi satu sama lain. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif.” (pernyataan Salamanca. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. menantang. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak.1994) Inklusi itu masa depan.

2003: 33) 71 . yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. karena dalam masa pembelajaran. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Maurice J. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi.et all.google.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. Tujuan utamanya. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. Dalam J. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan.Pendidikan Inclusive). pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun.

Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. tunadaksa. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. menuju • • • • • 72 . dan kualitas dari. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. . perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990.Inklusi . dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. Kerangka Dakar. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. Ph. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. Thailand.

2006). mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. Realitasnya secara inheren. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif).

fisik. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . sosial. dengan metode-metode. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. rekreasi. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. kesehatan. pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. Menciptakan Kelas Inklusif. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. anak dari orang-orang desa atau nomadik. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. linguistiknya. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut.2006: 37). Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Suatu lingkungan yang inklusif. anak jalanan atau pekerja.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. Ramah terhadap Peserta Didik. linguistik atau karakteristik lainnya. intelektual. layanan pendidikan yang berkualitas. emosional. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004.

semua anak bisa belajar. kelompok etnis. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. (dalam kemampuan. linguistiknya. intelektual. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). anak jalanan atau pekerja. sosial. anak dari orang-orang desa atau nomadik. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . usia. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya.berbeda. latar belakang. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. fisik. emosi. emosional. linguistik atau karakteristik lainnya. sosial dan lain sebagainya). gender.

manusia sisa-sisa. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. Melalui pendidikan inklusif. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. Oleh karena itu. yang 76 . intelektual. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. mental. yaitu landasan filosofis utama. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. emosional. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. B.

Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. silih asih. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Landasan pedagogis. perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. mandiri. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. sehingga mendorong sikap silih asah. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. diawali 77 . yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. melalui pendidikanlah. Landasan empiris. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. Jadi.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. berilmu. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. berakhlak mulia. cakap. kreatif. 2003). Landasan yuridis internasional. sehat.

sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. 4: 9. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. mental-intelektual. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. social. C.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. 6: 160. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. QS Az-Zuhruf. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. 43: 32. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa.

anak korban narkoba. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. sendi. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). untuk keperluan pendidikan inklusi. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. 79 . masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. 2. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. karena berdasarkan berbagai studi. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. dan lain-lain. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. kreativitas. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Jika masih dijumpai di sekolah. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 3. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. anak yang memiliki penyakit kronis. 4.

Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. isi bahasa. lebih lamban dibanding dengan yang normal. 2004). bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). 6. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. menulis dan berhitung atau matematika). adalah anak yang mengalami kelainan suara. 7. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. atau fungsi bahasa. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. artikulasi (pengucapan). 80 . sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. atau kelancaran bicara. 8.5. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. 9. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Lamban belajar (slow learner). kesulitan belajar menulis (disgrafia). diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. komunikasi maupun sosial. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita.

Bangunan sekolah seluas 3.2/Swt/09237/1991. Kota Semarang. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. nomor : 421. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. ijin operasional sementara. kebersamaan Pendidikan mereka. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. D. namun secara de jure. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. SD Hj.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. pusat Kota Semarang. Kelurahan Pekunden. Nama Hj. Kecamatan Semarang Tengah. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. Isriati Semarang. nomor 1179/I03/I. Isriati. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. Sekilas Perkembangan SD Hj.87. Moenadi. ibu kota Jawa Tengah. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. Secara de fakto SD Hj. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. seakan berdiri 81 . Provinsi Jawa Tengah. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang.200 meter persegi ini. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama.

765 meter persegi. Pada masa ini SD Hj. pada tahun 2000 – 2008. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. Sri Tantowiyah.. satu komplek dengan TK Hj.. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj. Periode kedua. Pada periode ini SD Hj. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. S. Periode pertama. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. Periode ketiga. pada tahun 1985 – 1987. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Pada periode ini SD Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Pada periode ini SD Hj. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. pada tahun 1987 – 2000. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj.Pd. Dra.Pd. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Isriati Baiturrahman. disebut sebagai periode keperintisan.megah di atas tanah seluas 11. dan sarana prasarana. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. M. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.

menghayati. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan.2007. E.bab. Sempoa. Berbagai lomba telah diikutinya. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. tingkat kota. Sains. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. selalu mendapatkan juara. Menggambar. Pilihan Dai kecil (Pildacil). Baca Puisi. Karena saleh. lomba mata pelajaran. dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. Vokal. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan.II: 2). Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). pidato Bahasa Inggris. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. cerdas. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. Pendidikan inklusif 83 . SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif.

termasuk anak berkebutuhan khusus”. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. mental-intelektual. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. Didalam perjalanan melayani masyarakat. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. Di kelas reguler. dan mereka dilayani secara inklusif. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . SD Hj. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. social. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. SD Hj.

peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. harus diberikan haknya. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. harus dilayani. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). Kasih sayang 85 . harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dalam melaksanakan pembelajaran. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. harus diberikan tempat yang layak. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. Mereka belajar tidak dengan mudah. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. harus dikembangkan potensinya.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. Isriati Semarang. harus dimanusiakan. namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Disamping pembiasaan tersebut diatas. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . bahasa Arab. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. dll. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. membaca Al-Quran. mengaji. Mengaji. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. bahwa SD Hj. melakukan shalat berjamaah dlsb. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar.komitmen sejak awal. 2. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. 4. serta belajar seni baca alQuran. 3. 5.

sebagai berikut : Tabel 3. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. guru pembimbing serta orang tua. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti.1. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra.didik berkebutuhan khusus. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing.

emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. 16-31 Juli’07 M. pasti nangis dan mogok. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. ABK dengan kelainan ADHD. 3. Berkonsultasi dengan ortu. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). punya sifat kecil hati (tak percaya diri). Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. rame.lah di sekolah khusus (SLB) 2.

karena manusia pada 93 . bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. sangatlah membutuhkan perhatian. apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. marah meledak tanpa pandang bulu. 15 Agus’07 6. kesabaran. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya.

dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. F. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. mereka lebih fleksibel. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. mau menerima perubahan. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. supaya cahaya tersebut tidak padam. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. tidak bersifat kaku. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. bagi anak anak berusia 410 tahun. tidak boleh diubah. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice).

masih lugu. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. kakek neneknya. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. masih murni. Keaneka ragaman teman sebaya. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). moralitasnya baik. peseta didik yang bermoral.Isriati Semarang. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . Lingkungan keluarga (orang tua. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. pendapat sendiri. belum memiliki pola pikir sendiri. masih kaku. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. karena mereka berasal dari berbagai keadaan.

tuna netra. Tiga bersifat positif. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. 2) enjoyment atau joy. 2) fear atau terror. misalnya ada temannya yang nakal.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 .. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. 6) anger atau rage. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. Menurut Tomkins (lih.dkk. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya. yaitu: 1) distress atau anguish. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran.Morgan. 5) disgust. tuna grahita). atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). 3) shame atau humilitation. Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. yaitu 1) interest atau excitement. 3) surprise atau startie. 4) contemp. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Yang enam bersifat negatif. atau ungkapan perasaannya atau emosinya.

maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. Dalam kontek ini. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. bahagia dan memiliki kepuasan diri. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik.lingkungan sekolah. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. Isriati Semarang. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. karena SD HJ Isriati. Peserta didik dalam berpikir. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . diberi stimulus. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional.

1. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. 4) Kalau disuruh orang tua. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. dan lain sebagainya) 98 . tidak nakal. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. tidak kasar dan tidak sembrono. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. dan 6) Dimanapun saya berada.keluarga. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. saya merasa rikuh pekewuh. apabila saya melanggar nasehat. malu. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. guru maupun teman sebayanya. tidak melanggar aturan. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Jika orang tua sedang berbicara. (dengan berbuat baik.nasehat dan perintah-perintahnya. 2). Untuk mengetahui sikap moralnya. 5) Saya ingin menghormatinya. saya tidak menyela pembicaraannya. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. Lingkungan sosial kedua.

antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. mengutarakan kepada orang tua. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. dan melaksanakan perintahnya 2. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya menurut. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas.Penalaran atau pemikiran. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. membungkukkan badan. saya menggandeng dan mengiringi orang tua. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. diperintah orang tua. dan 6) Apabila dinasehati. 3) Jika bepergian. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. 4) Saya menundukan kepala. saya memilih untuk mengalah. saya berusaha untuk bermusyawarah. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. saya mencium tangannya. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. 2) Jika terjadi perselisihan. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan.

karena tidak mengharapkan balasan. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. kaya atau miskin. bermain bersama. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. 3.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. normal atau cacat. teman yang nakal. 2) Saya mengajak belajar. kurang pandai. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. membentuk 100 . 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. dlsb. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. 3) Saya peduli dengan jerih payah. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya.

suka membantu dan tidak suka berkelahi. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. 101 . kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang.kelompok belajar. Dari beberapa pertanyaan tersebut. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. menmbulkan masalah. suka menolong teman lainnya. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi. Saya mengagumi teman yang baik hati. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. kategori kedua. 4) Saya membantu memberi teman-teman. kategori pertama. dengan cara menelpon. dikategorikan dalam 4 kategori. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. 5) saya. dan kategori keempat. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu.

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. 1. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. 2001: 19). 102 . Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. minimum (Ghozali. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. varian. Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). standart deviasi. maksimum. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. 2002: 21). mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini.

dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. 1. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.1. peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2.Tabel 4. 103 . moralitas peserta didik normal 1.1.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.

Minimal dan Maksimal No 1.Tabel 4. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 .1. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. 2.2. 1. Minimal dan Maksimal No 1. Tabel 4. 2. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113.1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini.3. 3. 3.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

Semakin tinggi moralitas peserta didik. 43%. Normal 1 dan Normal 2. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas.Tabel 4. No 1. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.7. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. 108 . moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. Apabila dicermati lebih mendalam. baik di dalam lingkungan keluarga. lingkungan sekolah. 63 % 64. 23 %. 2004: 84). 3. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. 2. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. 42 % 52. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71.

1993). baik.Hasil Penelitian 1. 14 %). 2. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1.30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. sedang dan kurang baik. 14 % 28. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.39 22 . 3. menunjukkan moralitas yang sangat baik.49 31 . baik (28. 29 % Sangat Baik No 1.8. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . Tabel 4. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.57 %) dan sedang (14. 57 % 14. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.9. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 3. 2. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.yang sangat baik. 14 %). Tabel 4. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 1. 57 %) dan sedang (14. sedang dan kurang baik. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 14 %.49 4 57.27 2 1 28.38 17 . 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. baik. 57 % 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 29 % Baik No 1. baik (28. 110 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.2. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . 14 % Sangat 28 .

29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. baik (28. sedang dan kurang baik. 14 %). baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 111 .Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. 1993). Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 57 %) dan sedang (14. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 14 %.

baik. 112 . Peserta Didik Normal 1 2. 14 % Sangat 25 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31. 2. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 1993).1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1.10. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.47 4 57. 2. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.Tabel 4. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.24 2 1 28. menunjukkan moralitas yang sangat baik. sedang dan kurang baik. 14 %. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 3. Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik.36 13 . 57 % 14.

2. baik. 05 %) serta kurang baik (10. 3.39 28 .33 22 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.27 No 1. 84 % Keterangan Baik 21. 58 % 36. Dengan demikian dapat diketahui 113 .58 %).45 34 . sedang (21. 4. 2. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. 42 % di atas prosentase rata-ratanya. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . sedang dan kurang baik. 05 % 10. baik (36. 1993). Tabel 4. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 84 %).11.

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 84 %) dan sedang (42. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.48 No 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . 1993). 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21. 3.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21.05 %). baik.12. 89 %.3. Tabel 5. baik (36. 1.41 30 . 05 % Keterangan 37 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 . 2.36 7 8 36. sedang dan kurang baik. 84 % 42. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57.

sedang dan kurang baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 2. baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 . 3. 53 % 31. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. Tabel 4. Peserta Didik Normal 2 3. 58 % Sedang 52.dan deviasi standarnya adalah 7.58 %). sedang (52.37 22 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 26 % Keterangan No 1.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.63 %) serta kurang baik (5. 4. 11 %. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 63 % 5.53 %). 3. baik (31.13.

sedang (21.48 33 . 29 % 14. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. 3.14. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 . Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 .32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. 1993). 43 % 21.40 25 .harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.32 25 . 29 %). 3. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. 4. Tabel 4. 43 % Keterangan No 1. 29 %. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 29 % Sangat Baik 21. 29 %).2. 2. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. baik (14. 43 %) serta kurang baik (10.

3. 86 %. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.14 %). Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 . Tabel 4. sedang (50 %) serta kurang baik (7. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. baik (35.14 % Keterangan No 1.57 30 . 4.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik. 3. sedang dan kurang baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42.kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13.71 %). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. 1993).3.72 % Sedang 50 % 7. Untuk melihat lebih detail 117 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. 2.29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7.14 % 35.71 44 .43 26 .15.

14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik. Tabel 4.92 %) serta kurang baik (7. 118 . 4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 71 % Keterangan Sedang 42.53 %). 53 % 35. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. 1993). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 2. 3. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7.38 23 .54 39. baik (35. 92 % 7.16. 24 %. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 .30 No 1. baik.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.71 %). sedang (42.46 31 .

Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. 63 % Ketiga. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. disiplin dan sangat baik. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. sedangkan moralitas peserta didik 119 . terhadap orang tua. 29 %. 42 % dan 57. 14 %. 84 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. 28 %.B. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. Keenam. Kelima. 11 %. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. 42 %. Kedua. Keempat.

normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 86 % dan 46. 120 . 24 %.

Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. 5. 3. 14 %. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. 42 %. 29 %. 24 %. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 28 %. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. sampai dengan 46. dengan prosentase 57. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 121 . 11 %.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. 2. 4. 86 %. 42. dengan prosentase 57. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. 84 % sampai dengan 68. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. 63 % sampai dengan 64.

Bagi Peneliti. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. sistimatika maupun analisisnya. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. Penulis menyadari sepenuhnya. 122 . Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. baik dari segi bahasa. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik.B. Bagi Birokrat. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. normal 1 dan normal 2. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. 2. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. kritik. Akhirnya. dan memanjatkan doa kepada Allah.

atas bantuan dan jerih payah adikadik. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Juli 2008 Saya.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. Amiin Semarang. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. Isriati Semarang 123 . Selamat bekerja ya.

2. 6. Jika orang tua sedang berbicara. tidak kasar dan tidak sembrono. 124 . Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah.siap dan tidak terpaksa. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. saya melakukannya dengan lembut. 4. saya tidak menyela pembicaraannya. Saya merasa rikuh pekewuh. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. (dengan berbuat baik. 5. malu.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. 3. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Rukun 7. tidak nakal. saya mengerjakan dengan ringan. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. Saya berbicara dengan orang tua. Dimanapun saya berada. dan lain sebagainya). saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. tidak melanggar aturan.

Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. saya berusaha mencium tangannya. 11. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 10. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. Jika terjadi perselisihan. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. 16. 14. diperintah orang tua. Saya menundukkan kepala. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. saya menurut. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. saya memilih untuk mengalah. 15. 12.8. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. 125 . 9. dan melaksanakan perintahnya. Apabila dinasehati. membungkukkan badan. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13.

20. 19.17. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. 24. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 22. Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. 23. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. Rukun 18. 21. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. menulis dengan rapi dan sebagainya. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 .

29 30.25. Saya menghormati teman. Saya tidak bertindak usil. kurang pandai. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. 27. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. normal atau cacat. miskin. kurang pandai. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. 33. Saya menghormati teman. Saya tidak pernah mengejek temanteman. dengan berbicara tenang. dan tidak pandai bergaul. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. mencolak colek atau menjahili teman. 32. 34. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. dlsb. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. 28. tanpa membedabedakannya. saya bersimpati kepadanya. kaya atau miskin. sekalipun dia cacat. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 31. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. walaupun dia tidak berada di samping saya. 127 . Rukun 26. teman yang nakal. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. 35.

ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 . Saya merasa terpanggil untuk membantu teman.36.