MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. Juli 2008 Siti Barokah NIM. Semarang. 065112072 4 . Penulis.

43 %. tanpa melihat perbedaan. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. 71. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. wawancara. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. yaitu kesucian. sampai dengan 64. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. guru dan teman sebayanya. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. 5 . Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. 63 %. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. Moralitas terhadap Guru. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. 52. mass media dan suguhan-suguhan internet. dan telaah dokumen. 2. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua.

tegur sapa. serta Drs.A. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. tidak lepas dari dorongan semangat. Prof. penulis tujukan kepada : 1. selaku penasehat akademik. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. semoga Yang Maha Kuasa. selalu melimpahkan ketetapan Iman.. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. Achmad Gunaryo. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya. Dr. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. 4.A.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. M. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif.A.Abdul Muhaya. Penulisan tesis ini. Amiin. Islam serta kesehatan. Muhammad SAW. Darori Amin. H. M. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. dukungan. Amin Syukur. M.H. DR. HM. 2. masukan. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. M. Ucapan terima kasih.. 3. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. bimbingan dari semua pihak. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. selaku penasehat akademik. Dr. H.SocSc.. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua.

Semarang. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Juli 2008 Penulis 7 .bimbingan. 5. dorongan. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6.semangat menapaki hidup dengan ilmu. Suamiku. dimohon kritik. Puti Widya Ekasani SE. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. Dan dengan kerendahan hati. Putri-putriku. semangat. M. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. amal dan kebijakan. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. Drs. Pudji Tikno. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. semangat .M.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

...................... 3............................ Daftar Tabel ................................. F.............................................................................. Sistimatika Penulisan ............... Etika dan Akhlak ....... Teknik Analisis Data .................................................................... B........ Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ..... 2.... Halaman Persetujuan .................. Persamaan Moral................................. Metode Penelitian ... Konsekuensialisme .......................... Abstraksi ........................... Kata Pengantar ..... 1.................... Motto ... 1....................... Rumusan Masalah ...................................... Telaah Pustaka ...... C........ C...........................Halaman Judul . LANDASAN TEORI A. 2.............................................. I..................... Teori Moral.................. Pendekatan Penelitian . D.... Signifikansi .............................. Etika dan Akhlak ................................................................... E............... Intuisionisme ................. Halaman Pengesahan ............................ Definisi Moral..... 3............. B................... D.......... Tujuan ...................................................................................... Metode Pengumpulan Data ...................... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ........... Daftar Lampiran ............... Perbedaan Moral................................. G................... Etika dan Akhlak .......................... II......... Latar Belakang Masalah .................................. Emotivisme .............. PENDAHULUAN A.............................................................. Daftar Singkatan ..................................................... Daftar Isi ............ Etika dan Akhlak ................................................................................................................

............. E...... IV... Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya .............................................. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A.. ..4............Mujahadah dan Riyadhah . 6. D.. B.. 3...... Cakupan Moralitas Peserta Didik 1................. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ......... Teori-teori Akhlak .. 2. ................... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru .... Etika Hak ..... Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus . V..... .......................... Deskripsi Data Penelitian ... Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj................................. Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ............................ Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1................. 84 2........ Hasil Analisis Data Penelitian .................................... Isriati Semarang ..... Deontologi ............................ Strategi Pembentukan Moralitas ........................... F......................Kepatuhan terhadap Agama ....... KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 ........................... Sekilas Perkembangan SD Hj............. Isriati Semarang ................ MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A....................................... Moralitas Peserta Didik ......................... ... E..................... C.. Moralitas Peserta Didik SD Hj..................... F................... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua .. 5....Kebijakan atau Jalan Tengah ....Kekuatan Ilmu ... B.................... Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik ........... III..

........................ Saran dan Penutup ............A........... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 ..................... Kesimpulan .................................... B.....

.1....16....4..............2....... Tabel 2......6.................. Tabel 3........ Tabel 4......... : Perbedaan Moral.. Tabel 4.. : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous ....... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ........... Minimal dan Maksimal untuk ABK ..................Tabel 1................. Tabel 4.............. : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ................. : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj......5... s-d Tabel 4..................1....... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...1....... : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik .. Tabel 4.... Isriati Semarang ............. : Skor Subyek pada Nilai Rerata............... : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus ...... Normal 1 dan Normal 2 ...........2....... Tabel 4. Tabel 4.8..... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.......... Tabel 2.......1..... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ..................... : Skor Subyek pada Nilai Rerata..7........ Etika dan Akhlak ................3............ Tabel 4.. Tabel 4.. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .................... Minimal dan Maksimal . 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 ....................

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

BAB I PENDAHULUAN A. 20 tahun 2003). Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. kedua. Maurice J. Dengan kata lain. memiliki sopan santun. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. jenjang. masyarakat. Oleh karena itu.et all. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. mampu menunjukkan jati dirinya. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. 2003.h. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. kepribadian. 20 tahun 2003). akan tetapi 15 . serta keterampilan yang diperlukan dirinya. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. akhlak mulia. pengendalian diri. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara.33). kecerdasan. pertama. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. Ketiga. hal itu disebabkan.

Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. Balai Pustaka. rukun membangun kekuatan (Purwadi.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral.. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. cet. 16 . 1978: 75). berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. Djoko Dwiyanto. 2001:60). Secara sosiologis. crah agawe bubrah”. Moralitas adalah sopan santun. 2006: 257). dan teman. bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam.Hurlock. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. Bertingkah laku baik. guru. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. 1990. bagi peserta didik. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat.

seperti tidak menghargai. tanpa perselisihan. pertentangan. bahkan sampai terjadi perkelaian. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. dalam suasana tenang dan sepakat. Ironisnya. Sekolah Menengah Pertama (SMP). sehat rokhani. mereka bersosialisasi. saling berempati. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. saling menghormati. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. Santrock. tenang.Sikap saling menghargai. kupasan media cetak. 2001: xliii). fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. saling mengasihi. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . tentram. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Menurut Jensen & Kingston (1986). Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. suka bekerja sama. Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. mereka meniru. tayangan Televisi. pelecehan. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. dan menghormati kepada para guru-guru. damai satu sama lain. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. saling menerima. sebagaimana dikutip oleh John W. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. tawuran.

anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . yang merupakan dasar dari perilaku etis. yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. dan dengan menabur karakter. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. akan memetik perbuatan. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. khususnya bagi peserta didik. Menurut Kohlberg3. 2003: lviii). mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. Secara psikologis. dan tingkat empat. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. akan memetik nasib (Ary Ginanjar. 2001: 38). Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. Santrock. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. yang berada di SD Hj. 3 18 . Moral). Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan.(http. Kaidah kedua adalah sikap hormat. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik.www //google. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter.

org/wiki/Moral). 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum. social. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. 4 19 . Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. Learning how to be. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. mental-intelektual. ranah nilai dan ranah keterampilan 4. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). Learning how to learn. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. sebagaimana Prinsip Pendidikan.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. Learning how to do. 2007: 49). emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Learning how to live together. (http://id. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional.wikipedia. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Berkesulitan belajar . berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj. Tuna Laras 5. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler. 44). 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). ada 57 (lima puluh tujuh) anak.IV I.III. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus.1. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I.memungkinkan (Denis. Lambat belajar 3.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini.hyper aktif berat . Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . III.hyper aktif ringan 4.Gangguan pemusatan perhatian . V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak. serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Gangguan pendengaran 2.II. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD). (2) Menerapkan pendidikan Islami. Tabel 1. 2006. hal. III III I. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak. Enrica.

mengganggu. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda.Cenderung membangkang. emosional. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). Authis. yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong.2004) . Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia.www. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. aktifitas ataupun orang. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. dan mudah marah. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.google. 3) Sering melakukan tindakan agresif. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. ide. Tidak tertarik untuk berteman. memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). pendengaran.ciri-ciri authis). 3. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. 21 . 2) Mudah terangsang emosinya. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. Marah tanpa alasan yang masuk akal. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. b). mereka yang tampak dalam kondisi fisik. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . 2. dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. merusak. sentuhan.

C. 2. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. Israti Semarang. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. 7 22 . Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. Manfaat Praktis 1. social. Isriati Semarang.B. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. b. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. mental-intelektual. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. Tujuan Penelitian a. D. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Isriati Semarang. Isriati Semarang. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas.

Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). guru dan teman sebaya). merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). karakteristik kelompok. 23 . Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. 2005). maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. E. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. (Pudji Asri. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka.2. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial.

(c) the principle of non-segregation. 24 .(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. (d) the holistic view of the pupil. orang tua. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. tenaga ahli. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. masyarakat dan pemerintah. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus. karakteristik kelompok. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. (b) education for all. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. 2.

khususnya lingkungan sekolah. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. 2005.(e) handicap seen in relation to external factors. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. especially school environment. (Santoso. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. Muhammad Abdul Fattah . dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. b) pendidikan untuk semua. 91: 8). 3. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. 8 25 .

Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat).F.1985:126). dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). Metode Pengumpulan data 1. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik.1985: 127). sosial maupun emosionalnya. Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. mengingat SD Hj. intelegensi. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. 2. Pengamatan (Observasi).

Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. peraturan-peraturan.1985: 131). Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. 3. catatan dan lainnya (Arikunto. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. guru dan teman sebaya. melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. 2001: 15) 27 . yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. G.

Isriati Semarang. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. pelayanan BAB II. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. 28 . untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus.BAB I. BAB III. teori tersebut antara lain. wawancara. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. teori tentang moralitas. kemudian untuk penguatan. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. yang diungkap dalam latar belakang masalah. SD Hj. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan.

BAB V. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup.BAB IV. 29 . saran dan penutup dari penelitian. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. berisi tentang kesimpulan. terhadap guru serta terhadap teman sebaya.

Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 .Poespoprojo. dkk mengatakan. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak.Berten. W. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih.Berten. 2007: 7).Berten. Definisi Moral. 2007: 12). Etika dan Akhlak Moral Moral. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. adat.Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. karena sifatnya yang abstrak. Senada dengan pengertian tersebut. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama.BAB II LANDASAN TEORI A. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. yang terdapat dimana-mana. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Baron. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. 2004: 24). Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. mores) yang berarti kebiasaan. 2007: 7). Dengan kata lain. baik atau buruk. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. 1998: 18). adat istiadat. mores) yang berarti kebiasaan.

Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. entah itu aturan hukum negara. sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. seorang pemuka madzab filsafat baru. lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. lembaga pendidikan. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional.Berten.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. Immanuel Kant. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . Menurut Kant. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167).1992). Namun dalam Ensiklopedi Indonesia. 1992). segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.

Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. (c) ajaran. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. 10 32 . Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. 2004: 393). seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. kira-kira abad ke 1416. makna atau kesimpulan tentang moral. kebajikan. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. 2003: 146-147). dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi.

tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. 2006: 24). 2006:14). peribahasa. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. 12 33 .Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. Dengan demikian. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. benar atau salah. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. Berten. dan sebagainya yang menyiratkan. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. 2007: 15). sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi.Suriasumantri. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Joko Dwiyanto. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. dan metaetika. mutiara-kata. biasanya dalam bentuk ungkapan. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. ketika seseorang berbicara tentang etika. K.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. dalam mempelajari dan membahas moralitas.

memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. 2.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. baik dan buruk. sebaliknya yang tidak berharga. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan.1975: 84). apabila yang merugikan. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin. tetapi adalah instinc. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . yaitu : 1. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk.1996: 34). pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. tetapi tetap berakar pada manusia. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. berakhlak dan tidak. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. 1996: 83). tidak berguna untuk tujuan. Golongan pertama. Golongan kedua berpendapat bahwa. zama atau pendidikan. pengalaman. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu.

Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. yakni berdasarkan keinginannya. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. 2004: 41). yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. pengetahuan. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. kekayaan. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. persahabatan. adat. 1993: 25). kebajikan atau kemuliaan. watak. Jadi baik adalah bahagiya. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 .besar. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. diantaranya : tabiat. 1913: 10). Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. karena berhubungan dengan akal. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan.

Ada tiga bentuk khair. dan lezat. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. khair li ghairihi. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. khair li ghairihi. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. dan khair li dhatihi. Jilid III: 52). Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. perbuatan seperti aniaya. didalamnya juga terdapat 36 . akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. Akan tetapi sebaliknya. yaitu khair li dhatihi. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. indah. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional).1924: 152). Indikasi khair adalah memiliki manfaat. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut.

sifat-sifat khair sharr. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. tindakan atau tingkah laku manusia. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. Perbedaan Moral. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. Etika dan Akhlak Secara terminologi. benar atau salah. tingkah laku. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. pengertian moral. 2004: 1). maka akan beruntunglah hidupnya. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. Atau kualitas dari perbuatan. ataukah sebaliknya. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. tindakan. B. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya.

benar dan salah .Nilai perbuatan manusia .Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku . .Perilaku baik dan buruk manusia . Untuk lebih jelasnya.Ajaran-ajaran tentang kebaikan .Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Bersumber dari agama.interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu .Ilmu tentang filsafat moral . etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Mendiskusikan moral. tradisi dan idiologi .Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk .Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi. 2.manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Mengkaji tentang moralitas .Kebiasaan atau adat istiadat .Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya . aturan. Moral Definisi .Bersifat sobyektif dan relatif .1. berperilaku dalam komunitas masyarakat .Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk .Bagaimana seharusnya manusia. pilihan mana yang baik dan buruk. Perbedaan Moral. Etika 38 .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Membicarakan tentang baik dan buruk. Etika dan akhlak Bahasan 1. perbedaan antara moral.Mengkaji filsafat moral .

moral dan etika memiliki arti yang sama. benar atau salah atau tindakan manusia. yaitu adat kebiasaan. ’sopan santun’.Jiwa manusia (akal. Perbedaan.Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. dan etika berasal dari bahasa Yunani.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. Persamaan Moral. Akhlak .Bersumber dari sya. Moral berasal dari bahasa latin.Siratan-siratan hati guh... dan berasal dari bahasa Arab.Sikap batin yang telah nusia. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. Etika dan Akhlak Secara etimologi. hanya saja berbeda dari asalnya. 1998: 255). atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. Dan ahlak berarti ciptaan. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung.Internalisasi dan in. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika.dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . Dari uraian tentang moral. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk. hati setiap manusia . penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. kualitas perbuatan ma. 3. etika dan akhlak. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan.

Dalam kontek pembahasan tesis ini. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya.Stevenson. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman.L. 2004: 167). Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. etika dan akhlak. 1. moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama.D. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. Teori Moral. tidak mewakili apapun. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. Ketika menggunakan kata baik. ”Ini adalah baik”. apa yang dikatakan atau diasumsikan. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). Hudson). atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. D. begitu juga dengan teori moral.

dengan berubah dari yang sebelumnya. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. sebab penganut faham positivisme logic. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi.D. yaitu : a. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. berkaitan dengan emosi. c.Hudson) tak dapat dianalisa. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. yang berkenaan dengan emosi. 41 . Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. sesuai dengan teorinya. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W.Hudson). Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. Ada tiga kemungkinan yang membedakan.D. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. b). b. atau sangat segera. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini.pertimbangan. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”.

Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Menurut Bergson. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. 1975: 105). bukan berdasarkan situasi. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. (direct and immediate) (James Hasting). Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Bergson. kewajiban atau hak. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. 1963:11-12).2. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. dengan perkataan kenyataan. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera.

inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33).kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. dan pengetahuan ini ada perantaranya. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. Menurut Bergson. namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang.Praja. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). indra dan pengalaman. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). (Juhaya S.

namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. yang 44 . Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. Pokok Persoalan Etika. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. d. Perbuatan semu. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. darah.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. b. c. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. Perbuatan yang netral. seperti contoh denyut jantung. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. dan lain sebagainya. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. benar. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. bernafas.

karena hanya dengan 45 . Miller. (Harlan B. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). Disinilah. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. 4. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. melebihi segala hal merugikan. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Dari pemahaman tersebut. Suatu perbuatan bersifat etis. dijawab dengan kewajibankewajiban moral.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). etika memainkan peranannya. 1988). etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. 3. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan.

Dengan hanya berfokus pada kewajiban. tentang teori moralnya. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . maka dalam bertindak secara moral. Menurut teori ini. dan juga karena wajib dilakukan. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. dan lain sebagainya. Orang yang bertindak karena kewajiban. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. Menurut Immanuel Kant. misalnya hutang harus dibayar. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. janji harus ditepati. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. sebagaimana dijelaskan oleh K. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). Berten. (senang atau tidak senang).

Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. 6. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. sebagaimana harimau. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Etika Hak. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). pesan. rakus dan pembunuh. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. dapat menahan diri. 2003: 84-85) 5. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik.

sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. E.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. Pertama. keseimbangan nafsu dan amarah. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. baik. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. buruk dan jahat sekali. dan ada yang diformat menerima perubahan. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. Kedua. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Demikian halnya dengan akhlak. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut.

atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. 49 . sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. 2007: 20-21). dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. ed. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. Mujahadah dan Riyadhah. apakah moral itu bisa diajarkan. dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. 1987 (Ibid: 21).berikut: Socrates. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. memberikan beban sebagai suatu kewajiban.

ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. baik.1923:23).Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. keberhasilan. Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr.1983: 510). Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh).2003: 312) . sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. dan kesolekhan. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. keadilan. Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. Ibn Miskawaih. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. 50 . dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Kebijakan 15. Bagi Miskawaih. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. kebahagiaan. buruk dan jahat sekali. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan.

Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. sederhana. Kearifan. keberanian. Keberanian. 1. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. juga merupakan kebajikan jiwa. dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. yaitu : kearifan.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh).dan keadilan. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. 3. Sederhana. Keadilan. 4. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. ketiganya 51 . terletak pada mengetahui yang ada. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. Ibn Miskawaih.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan.1923: 23). keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. 2. pembagiannya menjadi empat bagian. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah.

Organ tubuh yang digunakan adalah otak. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. Pertama. Kedua. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). ide (khaitir). yakni dorongan nafsu makan.2004: 327). Raghib al-Isfahani. kemudian cita-cita (hazm). Menurut Ibn Miskawaih. Menurut Elizabeth B. menjelaskan secara psikologis. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. minuman. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. Menurut Raghib. 2002: 32). Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. seksual. (Suparman Syukur. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir).Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). keinginan terhadap kelezatan. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . ambisi pada kekuasaan. Ketiga. fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. dan segala macam inderawi. 1994: 45) Jiwa. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih).bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. kedudukan dan kehormatan.

Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. kesederhanaan. kedermawanan melalui kesederhanaan. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. kesabaran. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya.atas tingkah laku yang diatur dari dalam. dan keadilan. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . Dengan sarana pendidikan. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. keberanian melalui kesabaran. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani.

2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. lihat pula QS Asy Syams: 8. dengan demikian. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. pengambilan peran dalam 54 . Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. abdullah Idi. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. 1995) disamping di dalam keluarga. 2007: 118).Asri Budiningsih. lingkungan sekolah. terutama para pendidik dan orang tua. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. Tugas manusialah untuk melatih. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. dan yang mendorong terjadinya dialog. abdullah Idi. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya.(C. 2007: 116). lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. baik di dalam lingkungan keluarga. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah.

bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. maupun pengetahuan tentang polalaku. 2003: 145). yaitu pola laku positif atau negatif. 2003: 146-147). dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. 55 . kemampuan untuk mengakses keduanya. Ada empat rukun yang harus dipenuhi. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. pengambilan peran dalam kelompok sebaya.kelompok keluarga. kemampuan untuk membentuk polalaku. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. yaitu 1) kekuatan ilmu. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. seseorang yang marah. karena merasa didzalimi. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). pengetahuan tentang keduanya. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. 2) kekuatan marah. Al Ghozali menawarkan suatu konsep.

Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. sementara apresiasi hidung diabaikan. Dari beberapa uraian tersebut. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). keberanian 17. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16. demikian juga dengan keempat rukun tersebut.Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . wajah misalnya. Sebagaimana bentuk lahir. Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan.

kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir.kelapangan dada18 dan keadilan 19. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. Peneliti Perkembangan Moral. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. hukuman dan keadilan (Ibid). Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis.Santrock. 2002: 287). Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral.1983:506-507). berbohong. 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. E. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. 18 57 . seperti mencuri. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. kedua. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W.

lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. bukan maksud-maksud dari pelaku.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. yang benar adalah sebaliknya. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. Bagi pemikir otonomous. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah.

dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama.Aturan bersifat kaku. 2.Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku .Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. 6. tidak boleh diubah .Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid.Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7. hukuman akan dikenakan segera.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . 5.Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan . 4.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku . Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. Pemikir Heteronomous .Dilakukan anak berusia 410 tahun .Menerima perubahan. .2.Aturan bersifat fleksibel. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya.Tabel 2. Piaget berpendapat bahwa. Pemahaman diri anak berkembang. 3. bisa dibuat kesepakatan .Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 . 21 59 . Pemikir Otonomous .: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . tidak bersifat kaku . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama.

pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. karena dua faktor. dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). 2002: 342). Santrock. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. 60 .1975: 21). Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. sekolah menengah pertama tiga tahun. 2. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. atau peserta didik dengan moralitas baik.

Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . rasa harga diri. sukses dan ingin tahu. jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. abdullah Idi.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. dan bila dapat dirubah. 2007: 109). Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. kebebasan. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. maka akan tetap dalam perubahan itu. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. 2004: 195). kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. (Khoiron Rosyadi. (Ibid : 115). kebutuhan rasa aman.

Oleh karena itu.diberikan oleh keluarga. temannya bersikap. menkondisikan. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. cara temannya berpakaian. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. temannya berkata. Memberi motivasi. kondisi temannya.

2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. 2005: xliii) Robert J. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. Maka dalam setiap even pendidikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. Misalnya. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi.dengan kemerdekaan beraktifitas. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. Havinghurst mengemukakan. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. dan tentunya semua mata pelajaran. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". sebagai berikut: 63 . sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. maka akan memetik perbuatan. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing.

5. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. 5. Meluaskan lingkungan pikiran. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari.1. 3. membaca dan berhitung. 6. 2. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. 4. 2. Memperkembangkan kata hati. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. 2004: 194). Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. 7. 4. Berkawan dengan orang-orang terpilih. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. terutama akhlaknya. 3. 8. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. berbuat baik adalah kewajiban manusia. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. Belajar bergaul dengan teman sebaya.

ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. rumpun atau etnis. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. pendidikan masa depan (education for future). Akal. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. 65 . mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. manusia yang termarginalkan. memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. dan pendidikan islami (Islamic education). Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. ingin di puji.perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat.1975: 63-66). yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia. dan lain sebagainya. karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh).

BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. dan 66 . tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. kemampuan. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. Setiap gagasan yang muncul. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. Manusia yang diabaikan. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. menurut Berry. tidak diperhatikan.

Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment.penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 .David Smith. Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus.2006: 42). Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970). Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua.

hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). Oleh Will (1986). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 .Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45). (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. hanya jika institusi sekolah umum diubah.

secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. Tujuan utamanya. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” Dalam buku J. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. bahwa manusia pada dasarnya sama. selama memungkinkan. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. kecuali ketaqwaannya.

Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. baik 70 . 2005: 19). bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. Lebih dari itu. milik ras manusia. hak asasi manusia. Holtzman&Messick (1982). Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian.” (pernyataan Salamanca. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. dilakukan bersama bagi satu sama lain. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. Menurut Heller. menjadi bagian dari kelas tersebut. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. menantang. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat.1994) Inklusi itu masa depan.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama.

yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata.Pendidikan Inclusive). (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya.google. 2003: 33) 71 . Dalam J. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Maurice J. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Tujuan utamanya. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi.et all. karena dalam masa pembelajaran. peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www.

para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. dan kualitas dari. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi.Inklusi . Thailand. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. .Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. tunadaksa. perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. Ph. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. Kerangka Dakar. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. menuju • • • • • 72 . Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990.

utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. 2006). Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. Realitasnya secara inheren. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa).

Ramah terhadap Peserta Didik. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 .pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. fisik. rekreasi. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. intelektual. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. layanan pendidikan yang berkualitas. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. linguistik atau karakteristik lainnya. linguistiknya. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. sosial. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. anak dari orang-orang desa atau nomadik. anak jalanan atau pekerja. dengan metode-metode. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Suatu lingkungan yang inklusif. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium.2006: 37). kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. Menciptakan Kelas Inklusif. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). emosional. pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. kesehatan.

merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. emosional. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. anak dari orang-orang desa atau nomadik. sosial dan lain sebagainya). atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . kelompok etnis. anak jalanan atau pekerja. linguistiknya. intelektual. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat.berbeda. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. gender. fisik. emosi. linguistik atau karakteristik lainnya. semua anak bisa belajar. (dalam kemampuan. usia. latar belakang. sosial.

manusia sisa-sisa. mental. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. yaitu landasan filosofis utama. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. intelektual. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Melalui pendidikan inklusif. B. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. yang 76 .Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. emosional. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. Oleh karena itu.

perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. kreatif. cakap. 2003). Landasan empiris. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. mandiri.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. berakhlak mulia. sehingga mendorong sikap silih asah. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. sehat. Jadi. diawali 77 . dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Landasan yuridis internasional. melalui pendidikanlah. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. berilmu. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. silih asih. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Landasan pedagogis.

C.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. 6: 160. 4: 9. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. social. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. QS Az-Zuhruf. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. mental-intelektual. 43: 32. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.

79 . tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. anak yang memiliki penyakit kronis. kreativitas. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. sendi. dan lain-lain. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. untuk keperluan pendidikan inklusi. 4. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Dengan demikian. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Jika masih dijumpai di sekolah. anak korban narkoba. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. 2. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. 3. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. karena berdasarkan berbagai studi. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi).dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

80 . sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). 6. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi.5. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. isi bahasa. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. 9. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. atau kelancaran bicara. artikulasi (pengucapan). tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. 2004). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. Lamban belajar (slow learner). adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. menulis dan berhitung atau matematika). sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. 8. atau fungsi bahasa. adalah anak yang mengalami kelainan suara. komunikasi maupun sosial. 7. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). kesulitan belajar menulis (disgrafia). Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik.

Sekilas Perkembangan SD Hj. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. ijin operasional sementara. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. kebersamaan Pendidikan mereka. Provinsi Jawa Tengah.2/Swt/09237/1991. ibu kota Jawa Tengah. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. pusat Kota Semarang. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. nomor 1179/I03/I. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang.87. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. Kelurahan Pekunden. namun secara de jure. nomor : 421. SD Hj. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. D.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. Secara de fakto SD Hj. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. seakan berdiri 81 . Bangunan sekolah seluas 3. Kota Semarang. Moenadi. Nama Hj. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H.200 meter persegi ini. Kecamatan Semarang Tengah. Isriati. Isriati Semarang.

satu komplek dengan TK Hj. M. Periode ketiga. Dra. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. pada tahun 1985 – 1987.765 meter persegi. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. S. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. pada tahun 1987 – 2000. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. disebut sebagai periode keperintisan. Periode pertama. dan sarana prasarana. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj.. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Periode kedua. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. pada tahun 2000 – 2008. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Isriati Baiturrahman. Pada masa ini SD Hj. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. Pada periode ini SD Hj.megah di atas tanah seluas 11. Sri Tantowiyah. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.Pd. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. Pada periode ini SD Hj.. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya.Pd. Pada periode ini SD Hj.

Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. Karena saleh.bab.2007. Baca Puisi. pidato Bahasa Inggris. lomba mata pelajaran. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Sempoa. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. Berbagai lomba telah diikutinya. cerdas.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. selalu mendapatkan juara. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). menghayati. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Vokal. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. Pendidikan inklusif 83 . Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. Sains.II: 2). Menggambar. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. Pilihan Dai kecil (Pildacil). tingkat kota. E. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus.

barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. mental-intelektual. Di kelas reguler.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. dan mereka dilayani secara inklusif. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. SD Hj. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua. social. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. termasuk anak berkebutuhan khusus”. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. Didalam perjalanan melayani masyarakat. SD Hj. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal.

Mereka belajar tidak dengan mudah. harus dilayani. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. lebih lamban dibanding dengan yang normal.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. harus dikembangkan potensinya. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. harus dimanusiakan. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. harus diberikan haknya. Dalam melaksanakan pembelajaran. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. Isriati Semarang. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. Kasih sayang 85 . Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). harus diberikan tempat yang layak. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. mengaji. bahwa SD Hj. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. 3. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar.komitmen sejak awal. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. 2. bahasa Arab. dll. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 4. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. membaca Al-Quran. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. Disamping pembiasaan tersebut diatas. Mengaji. melakukan shalat berjamaah dlsb. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. 5. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. serta belajar seni baca alQuran. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat.

didik berkebutuhan khusus. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari.1. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. guru pembimbing serta orang tua. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. sebagai berikut : Tabel 3. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing.

ABK dengan kelainan ADHD. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. Berkonsultasi dengan ortu. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. punya sifat kecil hati (tak percaya diri). Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes.lah di sekolah khusus (SLB) 2. rame. 3. 16-31 Juli’07 M. emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. pasti nangis dan mogok.

7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. karena manusia pada 93 . 15 Agus’07 6. marah meledak tanpa pandang bulu. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. sangatlah membutuhkan perhatian. kesabaran. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky.

supaya cahaya tersebut tidak padam. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. tidak boleh diubah. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. bagi anak anak berusia 410 tahun. mereka lebih fleksibel. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. mau menerima perubahan. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. F. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. tidak bersifat kaku. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut.

belum memiliki pola pikir sendiri. moralitasnya baik. sebagaimana peserta didik pada SD Hj.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. masih kaku. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. peseta didik yang bermoral. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. masih murni. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). Keaneka ragaman teman sebaya. karena mereka berasal dari berbagai keadaan. pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . masih lugu.Isriati Semarang. pendapat sendiri. kakek neneknya. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. Lingkungan keluarga (orang tua. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi.

Yang enam bersifat negatif. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. atau ungkapan perasaannya atau emosinya.dkk. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). 2) enjoyment atau joy. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya. 4) contemp. 3) surprise atau startie. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. yaitu 1) interest atau excitement. 3) shame atau humilitation.atau bersosialisasi dengan teman-temannya.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. yaitu: 1) distress atau anguish. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. 2) fear atau terror. 6) anger atau rage. Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. 5) disgust. tuna grahita). Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan.Morgan. Menurut Tomkins (lih. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. tuna netra. misalnya ada temannya yang nakal. atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 .. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. Tiga bersifat positif.

peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. Isriati Semarang.lingkungan sekolah. karena SD HJ Isriati. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. bahagia dan memiliki kepuasan diri. Peserta didik dalam berpikir. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. Dalam kontek ini. diberi stimulus.

nasehat dan perintah-perintahnya. tidak melanggar aturan. malu. Lingkungan sosial kedua. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. 1. saya tidak menyela pembicaraannya. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. 2). 4) Kalau disuruh orang tua. (dengan berbuat baik. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. saya merasa rikuh pekewuh. guru maupun teman sebayanya. apabila saya melanggar nasehat. Untuk mengetahui sikap moralnya. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. dan lain sebagainya) 98 . maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. tidak nakal. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. Jika orang tua sedang berbicara. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. 5) Saya ingin menghormatinya. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. tidak kasar dan tidak sembrono. dan 6) Dimanapun saya berada.keluarga. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

saya mendengarkan dengan penuh perhatian. saya berusaha untuk bermusyawarah. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. dan melaksanakan perintahnya 2. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. mengutarakan kepada orang tua. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. dan 6) Apabila dinasehati. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah.Penalaran atau pemikiran. 4) Saya menundukan kepala. 3) Jika bepergian. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. saya mencium tangannya. saya memilih untuk mengalah. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . saya menggandeng dan mengiringi orang tua. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. membungkukkan badan. 2) Jika terjadi perselisihan. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. diperintah orang tua. saya menurut.

membentuk 100 . anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. bermain bersama. kaya atau miskin. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 3. teman yang nakal. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. 3) Saya peduli dengan jerih payah. kurang pandai. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. karena tidak mengharapkan balasan. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. normal atau cacat. 2) Saya mengajak belajar. dlsb. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya.

serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. suka membantu dan tidak suka berkelahi. kategori kedua.kelompok belajar. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. dikategorikan dalam 4 kategori. Saya mengagumi teman yang baik hati. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. dan kategori keempat. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. dengan cara menelpon. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. Dari beberapa pertanyaan tersebut. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. 101 . kategori pertama. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. menmbulkan masalah. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. 4) Saya membantu memberi teman-teman. suka menolong teman lainnya. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. 5) saya. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi.

Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini. 102 . Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. maksimum. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. minimum (Ghozali. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. standart deviasi. Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). 2002: 21). yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. 1. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. 2001: 19). Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. varian.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2.

Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2.Tabel 4. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. 103 . peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144.1. 1. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.1. moralitas peserta didik normal 1.

2. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 .3.1.2. 2. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. 3.1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. 3.Tabel 4. Minimal dan Maksimal No 1. Tabel 4. Minimal dan Maksimal No 1. 1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. 63 % 64. baik di dalam lingkungan keluarga. 42 % 52. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Semakin tinggi moralitas peserta didik. Apabila dicermati lebih mendalam. 2004: 84). No 1. 23 %. 2. lingkungan sekolah. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. 108 . 43%. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih.7. Normal 1 dan Normal 2.Tabel 4. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. 3.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 14 % 28. 14 %). Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 29 % Sangat Baik No 1. Tabel 4. 57 % 14. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 2. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . baik.Hasil Penelitian 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 3.8. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.39 22 .57 %) dan sedang (14. baik (28.49 31 . 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. 1993).1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57.

49 4 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.38 17 . 57 %) dan sedang (14. 1. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik. 14 %. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.27 2 1 28. baik (28.9. Tabel 4. 110 . 14 %). 2. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 29 % Baik No 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.2. 3. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. sedang dan kurang baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . 1993). Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 14 % Sangat 28 . 57 % 14.yang sangat baik.

3. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. 1. 14 %). 111 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 14 %. sedang dan kurang baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. 57 %) dan sedang (14.Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. 1993). baik. baik (28. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya.

Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. sedang dan kurang baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.47 4 57. 112 . 14 %.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 2. 3. Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . 14 % Sangat 25 . Peserta Didik Normal 1 2. 57 % 14.10. 2. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31.36 13 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.24 2 1 28. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik.Tabel 4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 1993). baik. menunjukkan moralitas yang sangat baik.

Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 .45 34 . 1993). 84 %). baik (36. 05 % 10.11. Dengan demikian dapat diketahui 113 .58 %). Tabel 4. 05 %) serta kurang baik (10. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik. 58 % 36. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 2. sedang dan kurang baik. 4. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua.39 28 . 1. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. menunjukkan moralitas yang sangat baik. sedang (21. 42 % di atas prosentase rata-ratanya.27 No 1. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 3.33 22 .2. 84 % Keterangan Baik 21.

bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. 84 % 42.12. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. baik (36. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. 84 %) dan sedang (42.05 %).3. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21. 3.41 30 . 1993). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 05 % Keterangan 37 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 .36 7 8 36. 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . sedang dan kurang baik. 2. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57. Tabel 5. baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. 89 %. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.48 No 1.

11 %. baik (31.13. 26 % Keterangan No 1. baik.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. 58 % Sedang 52. Peserta Didik Normal 2 3. sedang (52. 63 % 5.37 22 . 4. 53 % 31. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.53 %).63 %) serta kurang baik (5. 2. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.dan deviasi standarnya adalah 7.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. Tabel 4. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.58 %). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . sedang dan kurang baik.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. 3. 3. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 .

53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 29 % Sangat Baik 21. 3. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. sedang (21. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. menunjukkan moralitas yang sangat baik.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. baik (14. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 .2. Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 .14. 1993). 29 %).32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 43 % 21.48 33 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. 43 %) serta kurang baik (10. 2. 3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64.32 25 . Tabel 4. 29 %.40 25 . 29 %). Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. 43 % Keterangan No 1. 29 % 14. 4.

kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.14 % Keterangan No 1. Tabel 4. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 .29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7. 1993). menunjukkan moralitas yang sangat baik. 3.14 %). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7.57 30 . sedang dan kurang baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.71 44 . Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42. 2.3. 3.14 % 35. 86 %. Untuk melihat lebih detail 117 . baik (35.71 %).15.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang (50 %) serta kurang baik (7.72 % Sedang 50 % 7. baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. 4.43 26 .

2. 118 .16.46 31 .71 %). Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 24 %. 3.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang (42.53 %). baik (35. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.30 No 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. 92 % 7.92 %) serta kurang baik (7. 71 % Keterangan Sedang 42.38 23 . Tabel 4. 1993). Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 .54 39. baik. 4. sedang dan kurang baik.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. 53 % 35.

B. 28 %. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. 42 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. Kedua. sedangkan moralitas peserta didik 119 . terhadap orang tua. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. disiplin dan sangat baik. 84 %. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. 11 %. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. Keempat. Kelima. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. 29 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. 63 % Ketiga. 42 % dan 57. Keenam. 14 %. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71.

normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 120 . 24 %. 86 % dan 46.

86 %. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 5. sampai dengan 46. 29 %. 24 %. dengan prosentase 57. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. dengan prosentase 57. 14 %. 121 . Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. 28 %. 2. 11 %. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. 63 % sampai dengan 64. 3. 4. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 42. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. 84 % sampai dengan 68. 42 %. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1.

bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. Bagi Peneliti. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. Penulis menyadari sepenuhnya. dan memanjatkan doa kepada Allah. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. 2. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Bagi Birokrat. normal 1 dan normal 2. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. Akhirnya. 122 .B. kritik. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. baik dari segi bahasa. sistimatika maupun analisisnya.

dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Isriati Semarang 123 . Selamat bekerja ya. Juli 2008 Saya. Amiin Semarang. Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. atas bantuan dan jerih payah adikadik.

siap dan tidak terpaksa. Dimanapun saya berada. saya melakukannya dengan lembut. dan lain sebagainya). Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. Saya merasa rikuh pekewuh. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. Saya berbicara dengan orang tua. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. saya tidak menyela pembicaraannya. tidak nakal. tidak kasar dan tidak sembrono. 124 . 4. (dengan berbuat baik. saya mengerjakan dengan ringan. 6. malu. 3. 2. 5. Rukun 7.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. Jika orang tua sedang berbicara. tidak melanggar aturan. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua.

16. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. membungkukkan badan. 12. saya memilih untuk mengalah. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas.8. 14. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. 15. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. Saya menundukkan kepala. 125 . Jika terjadi perselisihan. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. Apabila dinasehati. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. dan melaksanakan perintahnya. 11. 10. saya berusaha mencium tangannya. saya menurut. 9. diperintah orang tua. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja.

Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). menulis dengan rapi dan sebagainya. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. 23. 21. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. 22. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. Rukun 18. 24. 20. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 19. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya.17.

Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. teman yang nakal.25. 127 . Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. walaupun dia tidak berada di samping saya. Saya tidak bertindak usil. miskin. Saya tidak pernah mengejek temanteman. 35. sekalipun dia cacat. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. tanpa membedabedakannya. Saya menghormati teman. dengan berbicara tenang. kaya atau miskin. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. 27. normal atau cacat. 29 30. kurang pandai. 34. dan tidak pandai bergaul. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. mencolak colek atau menjahili teman. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. 33. 28. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 31. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. Rukun 26. saya bersimpati kepadanya. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 32. dlsb. kurang pandai. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. Saya menghormati teman.

ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 . Saya merasa terpanggil untuk membantu teman.36.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful