MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN. 065112072 4 . Semarang. Penulis.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. Juli 2008 Siti Barokah NIM.

yaitu kesucian. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. 63 %. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. 52. sampai dengan 64. 71. mass media dan suguhan-suguhan internet.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. tanpa melihat perbedaan. guru dan teman sebayanya. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. wawancara. 5 . 2. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. 43 %. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. Moralitas terhadap Guru. dan telaah dokumen. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj.

Amiin. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. 2.. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. M. M. selalu melimpahkan ketetapan Iman.. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya.. Penulisan tesis ini. H. 3. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. Darori Amin. Islam serta kesehatan. Muhammad SAW.A. bimbingan dari semua pihak. H. DR. Achmad Gunaryo.Abdul Muhaya. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . Dr.A. 4. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. M. Prof.SocSc. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. M. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah.H. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. selaku penasehat akademik. selaku penasehat akademik. dukungan.A. HM. tegur sapa. serta Drs. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. masukan. Amin Syukur. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. Dr.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. Ucapan terima kasih. tidak lepas dari dorongan semangat. penulis tujukan kepada : 1. semoga Yang Maha Kuasa.

yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. semangat. dorongan. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. Juli 2008 Penulis 7 .bimbingan. amal dan kebijakan. Dan dengan kerendahan hati. 5. Pudji Tikno. dimohon kritik. Putri-putriku. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. Suamiku. Puti Widya Ekasani SE. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa.semangat menapaki hidup dengan ilmu. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.M. Drs. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. M. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan. semangat . Semarang. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

........... Daftar Isi ....... 1............. Perbedaan Moral......... Motto ... F... Signifikansi . C.................................................................... 2................................................. II...... Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis .. Etika dan Akhlak ...... LANDASAN TEORI A................................................... Etika dan Akhlak ........... Abstraksi ......................... 2....................................... Persamaan Moral.................. D......... Etika dan Akhlak ........Halaman Judul ............. I.................................................... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ........................................................................................ Konsekuensialisme .. Metode Penelitian .. Teori Moral........... Tujuan ....................... Halaman Pengesahan ......................................... Rumusan Masalah ..................... Emotivisme ..................................................................... Daftar Tabel ............ Daftar Singkatan ...................................................... Halaman Persetujuan ........... Teknik Analisis Data ...... 3. PENDAHULUAN A............................... Metode Pengumpulan Data ..... Intuisionisme ..... Daftar Lampiran .................................................................. B....... 1........................................................................... D............................................................................................. G.................................. E...... 3........... Sistimatika Penulisan ...................... Telaah Pustaka .......................................... Kata Pengantar ........................................................... Definisi Moral.......... Etika dan Akhlak ......................................... Latar Belakang Masalah ......... B................ Pendekatan Penelitian ............................ C....

.............................................. E..................... 5.................... C................. Moralitas Peserta Didik .. Isriati Semarang .... Strategi Pembentukan Moralitas ............... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru ...... Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya . Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1........ F........ .......... E....................... IV........ 2.. Deontologi .. III.....Kepatuhan terhadap Agama ........................ ......... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua ....... Moralitas Peserta Didik SD Hj.............. Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ...... Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik .......... 84 2........... 6....... DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A................................................Mujahadah dan Riyadhah .... F..................................Kekuatan Ilmu ............... V................... Deskripsi Data Penelitian ........... Etika Hak . Cakupan Moralitas Peserta Didik 1........4.. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ......... Teori-teori Akhlak ..... D....... B.............. KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 ... Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ...... ......... ................................................................Kebijakan atau Jalan Tengah .............................. 3... Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj... MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A...... B..... Sekilas Perkembangan SD Hj... Hasil Analisis Data Penelitian ......................... Isriati Semarang ...........

.................... B............................... Saran dan Penutup .............................A............ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 .......... Kesimpulan .......

.. Minimal dan Maksimal ... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus......................3..........2.... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ............1...5..7.............. Tabel 4............. : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...... Tabel 4.....8.................. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .............. : Perbedaan Moral... Tabel 2...........16..................4......2............ : Skor Subyek pada Nilai Rerata............ : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .......... Normal 1 dan Normal 2 .............. Isriati Semarang .. : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik . Tabel 4............ : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous . Tabel 2........... Tabel 3... s-d Tabel 4...1....... Tabel 4.............. Etika dan Akhlak ...........................6.. Minimal dan Maksimal untuk ABK .............Tabel 1.. Tabel 4........ : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus ....... : Skor Subyek pada Nilai Rerata............... Tabel 4..1...... Tabel 4... 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 .....1....................... Tabel 4........ : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj..

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. Dengan kata lain. masyarakat. jenjang. kepribadian. 20 tahun 2003). kedua. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. akan tetapi 15 .BAB I PENDAHULUAN A. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. akhlak mulia. Maurice J. memiliki sopan santun. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. kecerdasan.33). sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. Oleh karena itu. 20 tahun 2003). pertama. mampu menunjukkan jati dirinya. pengendalian diri.h. Ketiga. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. 2003. hal itu disebabkan.et all. Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa.

2001:60). 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. cet. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. Moralitas adalah sopan santun. bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno.. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Djoko Dwiyanto. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. Bertingkah laku baik. 1990.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. 16 .Hurlock. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. 2006: 257). dan teman. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam. guru. 1978: 75).pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. Balai Pustaka. rukun membangun kekuatan (Purwadi. bagi peserta didik. crah agawe bubrah”. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. Secara sosiologis.

damai satu sama lain. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. tawuran. saling berempati. sehat rokhani. saling menerima. tayangan Televisi. saling tolong menolong dan saling bekerja sama. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. Menurut Jensen & Kingston (1986). dalam suasana tenang dan sepakat. Ironisnya. saling menghormati. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. sebagaimana dikutip oleh John W. Sekolah Menengah Pertama (SMP). 2001: xliii). kupasan media cetak. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. tenang. Santrock. suka bekerja sama. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). bahkan sampai terjadi perkelaian. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup.Sikap saling menghargai. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. saling mengasihi. mereka meniru. pelecehan. pertentangan. dan menghormati kepada para guru-guru. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . tanpa perselisihan. tentram. berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. seperti tidak menghargai. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). sehat sosial maupun sehat spiritualnya. mereka bersosialisasi.

Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. yang berada di SD Hj. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. khususnya bagi peserta didik. Santrock. 2001: 38). anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. akan memetik perbuatan. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. Moral). Kaidah kedua adalah sikap hormat. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. 3 18 . akan memetik nasib (Ary Ginanjar. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan.www //google. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. yang merupakan dasar dari perilaku etis. dan dengan menabur karakter.(http. Secara psikologis. yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. dan tingkat empat. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Menurut Kohlberg3. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. 2003: lviii).

5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. social. 2007: 49). sebagaimana Prinsip Pendidikan. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). (http://id. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. Learning how to live together. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Learning how to learn. ranah nilai dan ranah keterampilan 4. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. 4 19 . Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.wikipedia. Learning how to be. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.org/wiki/Moral). mental-intelektual. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. Learning how to do.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono.

berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). Gangguan pendengaran 2. serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN).1. III III I. V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. Tuna Laras 5. (2) Menerapkan pendidikan Islami.IV I.III.II. hal.hyper aktif berat . 44). III. Berkesulitan belajar . Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. 2006. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD). dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.hyper aktif ringan 4. Lambat belajar 3. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). Tabel 1. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler.memungkinkan (Denis. Enrica. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. ada 57 (lima puluh tujuh) anak. lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I.Gangguan pemusatan perhatian . meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota.

Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. mereka yang tampak dalam kondisi fisik.ciri-ciri authis). 2) Mudah terangsang emosinya.Cenderung membangkang. Marah tanpa alasan yang masuk akal. ide. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. 3) Sering melakukan tindakan agresif. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. emosional.google. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. 21 . Tidak tertarik untuk berteman. yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. 2.2004) . e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). merusak. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. sentuhan. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. aktifitas ataupun orang.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. dan mudah marah.www. 3. b). 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. Authis. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). pendengaran. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . mengganggu. memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1).

B. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. b. Manfaat Praktis 1. Isriati Semarang. mental-intelektual. 2. Isriati Semarang. D. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. 7 22 . Tujuan Penelitian a. social. Israti Semarang. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. C. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. Isriati Semarang.

23 . guru dan teman sebaya). besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. (Pudji Asri. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. E. 2005).2. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. karakteristik kelompok. dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all).

Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. (d) the holistic view of the pupil. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. orang tua. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. masyarakat dan pemerintah. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. 2. karakteristik kelompok. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus. tenaga ahli. 24 . (b) education for all. (c) the principle of non-segregation.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal.

dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. 8 25 . b) pendidikan untuk semua. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. Muhammad Abdul Fattah . Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). 2005. especially school environment. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. khususnya lingkungan sekolah. (Santoso. 91: 8). 3. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya.(e) handicap seen in relation to external factors.

Pengamatan (Observasi). 2. mengingat SD Hj. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom).F. maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. Metode Pengumpulan data 1.1985:126). intelegensi. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. sosial maupun emosionalnya.1985: 127). Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). Wawancara dalam penelitian yang telah 26 .

maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data.1985: 131). 2001: 15) 27 . sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. peraturan-peraturan. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). guru dan teman sebaya. 3. catatan dan lainnya (Arikunto. G. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.

SD Hj. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. yang diungkap dalam latar belakang masalah. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. pelayanan BAB II. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. Isriati Semarang. 28 . untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. BAB III. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. wawancara. teori tentang moralitas.BAB I. kemudian untuk penguatan. teori tersebut antara lain. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj.

berisi tentang kesimpulan. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. BAB V.BAB IV. saran dan penutup dari penelitian. 29 . dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. terhadap guru serta terhadap teman sebaya.

Etika dan Akhlak Moral Moral.BAB II LANDASAN TEORI A.Berten. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. baik atau buruk. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak.Berten. 2004: 24). Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. mores) yang berarti kebiasaan. Senada dengan pengertian tersebut. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. karena sifatnya yang abstrak. adat istiadat. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 . W. 1998: 18). Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. yang terdapat dimana-mana. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih. adat. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. 2007: 12).Berten. Definisi Moral. mores) yang berarti kebiasaan. 2007: 7). Baron. Dengan kata lain. dkk mengatakan.Poespoprojo. 2007: 7).

2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. Immanuel Kant. entah itu aturan hukum negara.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. 1992).Berten. Menurut Kant. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. lembaga pendidikan. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia.1992). dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. seorang pemuka madzab filsafat baru. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun.

Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). makna atau kesimpulan tentang moral. kira-kira abad ke 1416. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. 10 32 . Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. kebajikan. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. 2004: 393). Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. (c) ajaran.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. 2003: 146-147).

Berten. 12 33 . Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. mutiara-kata. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. ketika seseorang berbicara tentang etika. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. dan metaetika. 2006:14). apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. dan sebagainya yang menyiratkan. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. Joko Dwiyanto.Suriasumantri. Dengan demikian. peribahasa. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. 2007: 15). sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. biasanya dalam bentuk ungkapan. dalam mempelajari dan membahas moralitas. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. benar atau salah. etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. K. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. 2006: 24).

kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. apabila yang merugikan. sebaliknya yang tidak berharga. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. tetapi tetap berakar pada manusia. yaitu : 1. Golongan kedua berpendapat bahwa. tetapi adalah instinc. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. baik dan buruk. zama atau pendidikan. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. 2. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin.1996: 34).1975: 84). pengalaman. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. Golongan pertama. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. 1996: 83). Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu. berakhlak dan tidak. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. tidak berguna untuk tujuan. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika.

dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. persahabatan. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. yakni berdasarkan keinginannya. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. 2004: 41). Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. watak. pengetahuan. diantaranya : tabiat. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. 1913: 10). Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. adat. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. kekayaan. 1993: 25).besar. karena berhubungan dengan akal. kebajikan atau kemuliaan. yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. Jadi baik adalah bahagiya.

tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. Akan tetapi sebaliknya.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. khair li ghairihi. indah. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. dan khair li dhatihi. Ada tiga bentuk khair. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). yaitu khair li dhatihi. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. dan lezat. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok.1924: 152). Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. Jilid III: 52). namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. perbuatan seperti aniaya. didalamnya juga terdapat 36 . khair li ghairihi. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi.

Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. B. ataukah sebaliknya. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. tingkah laku. tindakan. 2004: 1). etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. Perbedaan Moral. tindakan atau tingkah laku manusia. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. maka akan beruntunglah hidupnya. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik.sifat-sifat khair sharr. benar atau salah. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. pengertian moral. Atau kualitas dari perbuatan. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. Etika dan Akhlak Secara terminologi. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia.

Ajaran-ajaran tentang kebaikan . Etika 38 .Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi.Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Bersumber dari agama.Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. tradisi dan idiologi .Mendiskusikan moral.Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . . berperilaku dalam komunitas masyarakat . pilihan mana yang baik dan buruk. aturan.Nilai perbuatan manusia .Perilaku baik dan buruk manusia .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Bagaimana seharusnya manusia.Ilmu tentang filsafat moral . 2.Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu .Mengkaji filsafat moral .Bersifat sobyektif dan relatif .interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu . Moral Definisi .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Membicarakan tentang baik dan buruk. Untuk lebih jelasnya.1. Perbedaan Moral. etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2. Etika dan akhlak Bahasan 1.Mengkaji tentang moralitas .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk . perbedaan antara moral. benar dan salah .Kebiasaan atau adat istiadat .Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku .

Sikap batin yang telah nusia. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan. Dan ahlak berarti ciptaan. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika. hati setiap manusia . yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. Akhlak . 1998: 255). moral dan etika memiliki arti yang sama. dan berasal dari bahasa Arab. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. Dari uraian tentang moral. Etika dan Akhlak Secara etimologi. dan etika berasal dari bahasa Yunani. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . 3. yaitu adat kebiasaan..Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an.Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. benar atau salah atau tindakan manusia.dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . kualitas perbuatan ma. Persamaan Moral. etika dan akhlak.Siratan-siratan hati guh.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . Perbedaan.Jiwa manusia (akal. Moral berasal dari bahasa latin. ’sopan santun’. hanya saja berbeda dari asalnya. bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’..Internalisasi dan in. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung.Bersumber dari sya.

Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. 1. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa. 2004: 167).D. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). apa yang dikatakan atau diasumsikan. begitu juga dengan teori moral. Dalam kontek pembahasan tesis ini. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori.Stevenson. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman. etika dan akhlak. Teori Moral. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. Hudson). hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain.L. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. ”Ini adalah baik”. tidak mewakili apapun. Ketika menggunakan kata baik. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama. moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. D.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya.

pertimbangan. yaitu : a. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. yang berkenaan dengan emosi. dengan berubah dari yang sebelumnya. c. b. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. sesuai dengan teorinya. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi.D. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif.Hudson) tak dapat dianalisa.D.Hudson). konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. atau sangat segera. b). Ada tiga kemungkinan yang membedakan. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. 41 . senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. sebab penganut faham positivisme logic. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. berkaitan dengan emosi. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini.

Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. 1963:11-12). Bergson. intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. 1975: 105). Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. bukan berdasarkan situasi. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. dengan perkataan kenyataan. Menurut Bergson.2. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. (direct and immediate) (James Hasting). 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. kewajiban atau hak.

Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). Menurut Bergson. (Juhaya S. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. indra dan pengalaman. dan pengetahuan ini ada perantaranya. karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33).kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif.Praja. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut.

yang 44 . Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. dan lain sebagainya. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. c. benar. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. d. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Perbuatan semu. Pokok Persoalan Etika. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. b. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. Perbuatan yang netral. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. seperti contoh denyut jantung. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. darah. bernafas. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika.

karena hanya dengan 45 . Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). etika memainkan peranannya. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. melebihi segala hal merugikan. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Suatu perbuatan bersifat etis. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Miller. Disinilah. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Dari pemahaman tersebut. (Harlan B. 1988). dijawab dengan kewajibankewajiban moral. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. 4. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. 3.

b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). Menurut teori ini. sebagaimana dijelaskan oleh K.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Menurut Immanuel Kant. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. dan lain sebagainya. misalnya hutang harus dibayar. tentang teori moralnya. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. Orang yang bertindak karena kewajiban. janji harus ditepati. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . maka dalam bertindak secara moral. Berten. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. (senang atau tidak senang). barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. dan juga karena wajib dilakukan. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat.

ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. pesan. Etika Hak. dapat menahan diri. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). 2003: 84-85) 5. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 6. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. rakus dan pembunuh. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 .tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. sebagaimana harimau.

Pertama. Demikian halnya dengan akhlak. dan ada yang diformat menerima perubahan. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. buruk dan jahat sekali. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. baik. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. E. Kedua. keseimbangan nafsu dan amarah.

Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. Mujahadah dan Riyadhah. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. memberikan beban sebagai suatu kewajiban. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. 1987 (Ibid: 21). namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. 2007: 20-21). apakah moral itu bisa diajarkan. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. 49 . Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. ed. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut.berikut: Socrates. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai.

Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. Kebijakan 15. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh).1983: 510). jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. keadilan. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Bagi Miskawaih. kebahagiaan. dan kesolekhan. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. buruk dan jahat sekali. Ibn Miskawaih. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. keberhasilan. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. 50 . yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih.1923:23). Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. baik.2003: 312) . Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan.

dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. yaitu : kearifan. 3. ketiganya 51 . sederhana. Kearifan. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. terletak pada mengetahui yang ada.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. keberanian. Keadilan.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles.dan keadilan. 4. Ibn Miskawaih. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. juga merupakan kebajikan jiwa.1923: 23). Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Sederhana. keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. 2. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. 1. pembagiannya menjadi empat bagian. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. Keberanian.

(Suparman Syukur. ambisi pada kekuasaan. fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). yakni dorongan nafsu makan. Menurut Ibn Miskawaih. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir).Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. kemudian cita-cita (hazm). Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). keinginan terhadap kelezatan. Ketiga. menjelaskan secara psikologis. Menurut Elizabeth B. Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. seksual. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . ide (khaitir).2004: 327). fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. 1994: 45) Jiwa. dan segala macam inderawi. Menurut Raghib. Pertama. Organ tubuh yang digunakan adalah otak.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. kedudukan dan kehormatan. Raghib al-Isfahani. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). Organ tubuh yang digunakan adalah hati. 2002: 32). minuman. Kedua.

keberanian melalui kesabaran. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). kesederhanaan. dan keadilan. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). kedermawanan melalui kesederhanaan. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani.atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Dengan sarana pendidikan. kesabaran. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan.

abdullah Idi. abdullah Idi. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. dan yang mendorong terjadinya dialog. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. pengambilan peran dalam 54 . peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. baik di dalam lingkungan keluarga. lingkungan sekolah.Asri Budiningsih. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. 2007: 118). 1995) disamping di dalam keluarga.(C. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. terutama para pendidik dan orang tua. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. 2007: 116). dengan demikian. lihat pula QS Asy Syams: 8. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. Tugas manusialah untuk melatih.

2) kekuatan marah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. 55 . karena merasa didzalimi. yaitu pola laku positif atau negatif. pengetahuan tentang keduanya. kemampuan untuk membentuk polalaku. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Ada empat rukun yang harus dipenuhi.kelompok keluarga. pengambilan peran dalam kelompok sebaya. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. maupun pengetahuan tentang polalaku. 2003: 146-147). agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). seseorang yang marah. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. Al Ghozali menawarkan suatu konsep. yaitu 1) kekuatan ilmu. kemampuan untuk mengakses keduanya. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. 2003: 145). 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil.

Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). Dari beberapa uraian tersebut. Sebagaimana bentuk lahir. keberanian 17. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. wajah misalnya. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16.Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. sementara apresiasi hidung diabaikan. demikian juga dengan keempat rukun tersebut. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya.

20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. berbohong. hukuman dan keadilan (Ibid). pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka.1983:506-507). Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. seperti mencuri. Peneliti Perkembangan Moral. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral.Santrock. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis.kelapangan dada18 dan keadilan 19. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. 2002: 287). E. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). 18 57 . kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. kedua. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji.

yang benar adalah sebaliknya. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. bukan maksud-maksud dari pelaku. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. Bagi pemikir otonomous. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa.

4.Dilakukan anak berusia 410 tahun .Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . 3. Pemahaman diri anak berkembang.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. Piaget berpendapat bahwa.Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku . tidak bersifat kaku . rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan.Aturan bersifat kaku.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 .Aturan bersifat fleksibel.Tabel 2.: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur. Pemikir Heteronomous .Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama.2.Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku . hukuman akan dikenakan segera. 5. tidak boleh diubah . seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama.Menerima perubahan.Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. bisa dibuat kesepakatan .Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. 2. . 6. Pemikir Otonomous . 21 59 .

Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. 2002: 342). pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. 60 . perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). sekolah menengah pertama tiga tahun.1975: 21). 2. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). atau peserta didik dengan moralitas baik. Santrock. karena dua faktor.

2007: 109). dan bila dapat dirubah. maka akan tetap dalam perubahan itu. kebutuhan rasa aman. sukses dan ingin tahu. rasa harga diri. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. 2004: 195). Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. (Ibid : 115). (Khoiron Rosyadi. kebebasan. abdullah Idi. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan.

dan bukan perintah. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto.diberikan oleh keluarga. temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. menkondisikan. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. Memberi motivasi. cara temannya berpakaian. Oleh karena itu. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya berkata. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. kondisi temannya. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. temannya bersikap. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah.

Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. maka akan memetik perbuatan. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". Maka dalam setiap even pendidikan. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". Misalnya. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. sebagai berikut: 63 . dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. 2005: xliii) Robert J. dan tentunya semua mata pelajaran. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna.dengan kemerdekaan beraktifitas. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. Havinghurst mengemukakan.

Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. 5. 4. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. Meluaskan lingkungan pikiran. Belajar bergaul dengan teman sebaya. berbuat baik adalah kewajiban manusia. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. Memperkembangkan kata hati. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. Berkawan dengan orang-orang terpilih. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . 3. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. 5. 8. 4. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. 2. 7. 2004: 194). Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. 2. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. membaca dan berhitung. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. 6. terutama akhlaknya.1. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. 3. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak.

1975: 63-66). yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. manusia yang termarginalkan. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). pendidikan masa depan (education for future). Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all).perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). 65 . Akal. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). rumpun atau etnis. dan lain sebagainya. dan pendidikan islami (Islamic education). ingin di puji. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia.

diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. kemampuan. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. dan 66 . Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. Manusia yang diabaikan. menurut Berry. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. tidak diperhatikan. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. Setiap gagasan yang muncul. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A.

2006: 42). Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan.penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment.David Smith. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus. Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970).

yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45).Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . Oleh Will (1986). Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. hanya jika institusi sekolah umum diubah. sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler.

hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. selama memungkinkan. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” Dalam buku J. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. Tujuan utamanya. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. bahwa manusia pada dasarnya sama.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . kecuali ketaqwaannya. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.” (pernyataan Salamanca. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. menantang. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Holtzman&Messick (1982). menjadi bagian dari kelas tersebut. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Lebih dari itu. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat.1994) Inklusi itu masa depan. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. baik 70 . Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. dilakukan bersama bagi satu sama lain. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. 2005: 19). Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. hak asasi manusia. milik ras manusia. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. Menurut Heller. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis.

peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. 2003: 33) 71 . (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan.Pendidikan Inclusive). bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. karena dalam masa pembelajaran.et all.google. Tujuan utamanya.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. Maurice J. Dalam J. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik.

Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. menuju • • • • • 72 . para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. Thailand. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. . Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. tunadaksa.Inklusi .D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. Kerangka Dakar. dan kualitas dari. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. Ph. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000.

utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa).kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. Realitasnya secara inheren. mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . 2006). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . Suatu lingkungan yang inklusif. emosional. Ramah terhadap Peserta Didik. anak dari orang-orang desa atau nomadik. kesehatan. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. linguistiknya. pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. linguistik atau karakteristik lainnya. anak jalanan atau pekerja. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. layanan pendidikan yang berkualitas. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. rekreasi. sosial. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Menciptakan Kelas Inklusif. fisik. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. dengan metode-metode. intelektual. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif.2006: 37). Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar.

fisik. semua anak bisa belajar. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. sosial dan lain sebagainya). intelektual. (dalam kemampuan.berbeda. gender. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. linguistiknya. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. linguistik atau karakteristik lainnya. sosial. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. anak jalanan atau pekerja. kelompok etnis. emosional. usia. latar belakang. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. emosi. anak dari orang-orang desa atau nomadik.

emosional. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. Melalui pendidikan inklusif. intelektual. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. B. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini. manusia sisa-sisa. Oleh karena itu. yang 76 . yaitu landasan filosofis utama.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. mental.

kreatif. sehingga mendorong sikap silih asah. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. Landasan empiris. melalui pendidikanlah. 2003). Landasan yuridis internasional. Landasan pedagogis. cakap. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. berakhlak mulia. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. mandiri. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. diawali 77 . sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. berilmu. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. sehat. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. silih asih. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. Jadi. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia.

dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. C. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. social. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. QS Az-Zuhruf. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. 6: 160. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. 43: 32. 4: 9. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. mental-intelektual. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. sendi. 4. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. untuk keperluan pendidikan inklusi. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. Jika masih dijumpai di sekolah.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. karena berdasarkan berbagai studi. anak yang memiliki penyakit kronis. anak korban narkoba. 3. 79 . dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). 2. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. dan lain-lain. kreativitas. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran.

9. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. artikulasi (pengucapan). komunikasi maupun sosial. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 7. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Lamban belajar (slow learner). 2004). kesulitan belajar menulis (disgrafia). 8. 80 . sehingga merugikan dirinya maupun orang lain.5. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. atau fungsi bahasa. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. 6. lebih lamban dibanding dengan yang normal. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. isi bahasa. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. adalah anak yang mengalami kelainan suara. atau kelancaran bicara. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. menulis dan berhitung atau matematika).

dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. Isriati. seakan berdiri 81 . Bangunan sekolah seluas 3. nomor 1179/I03/I. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. nomor : 421. SD Hj. D. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. pusat Kota Semarang.2/Swt/09237/1991. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. Provinsi Jawa Tengah. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987.87. Kecamatan Semarang Tengah. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. Kelurahan Pekunden. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. Isriati Semarang.200 meter persegi ini. Kota Semarang. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. Moenadi. namun secara de jure.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. Secara de fakto SD Hj. kebersamaan Pendidikan mereka. ibu kota Jawa Tengah. Nama Hj. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. ijin operasional sementara. Sekilas Perkembangan SD Hj. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H.

Selama 13 tahun inilah SD Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan.. satu komplek dengan TK Hj. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua.Pd. Pada periode ini SD Hj. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. M. Periode pertama. Periode ketiga.megah di atas tanah seluas 11. dan sarana prasarana.765 meter persegi. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto.. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Pada periode ini SD Hj. Sri Tantowiyah. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. Periode kedua. Dra. Pada masa ini SD Hj. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. pada tahun 1987 – 2000. pada tahun 1985 – 1987. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. disebut sebagai periode keperintisan. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Pada periode ini SD Hj.Pd. S. pada tahun 2000 – 2008. Isriati Baiturrahman.

dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan.2007. Menggambar. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus.bab. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). cerdas. tingkat kota. selalu mendapatkan juara. Vokal.II: 2). dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. Baca Puisi. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . Pendidikan inklusif 83 . E.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. lomba mata pelajaran. Berbagai lomba telah diikutinya. Sempoa. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. menghayati. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. Pilihan Dai kecil (Pildacil). Karena saleh. Sains. pidato Bahasa Inggris.

Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. SD Hj. dan mereka dilayani secara inklusif. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. SD Hj. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. Di kelas reguler.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. social. mental-intelektual. Didalam perjalanan melayani masyarakat. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua. termasuk anak berkebutuhan khusus”. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia.

harus diberikan haknya. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. Mereka belajar tidak dengan mudah. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. harus dimanusiakan. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. harus diberikan tempat yang layak. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. Kasih sayang 85 . tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. harus dilayani. Dalam melaksanakan pembelajaran. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. harus dikembangkan potensinya. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Isriati Semarang.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Disamping pembiasaan tersebut diatas. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. 2. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . melakukan shalat berjamaah dlsb. bahwa SD Hj. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. serta belajar seni baca alQuran. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. mengaji. membaca Al-Quran. 5. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. bahasa Arab. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI.komitmen sejak awal. dll. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mengaji. 3. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. 4.

Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. sebagai berikut : Tabel 3. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari.didik berkebutuhan khusus. guru pembimbing serta orang tua. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti.1.

karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. 3. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. punya sifat kecil hati (tak percaya diri). dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. ABK dengan kelainan ADHD. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. pasti nangis dan mogok. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. rame. Berkonsultasi dengan ortu. 16-31 Juli’07 M.lah di sekolah khusus (SLB) 2. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes.

apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. 15 Agus’07 6. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya. marah meledak tanpa pandang bulu. karena manusia pada 93 .cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. kesabaran. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. sangatlah membutuhkan perhatian. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus.

aturan yang disepakatinya bersifat kaku. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. F. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. tidak bersifat kaku. supaya cahaya tersebut tidak padam. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. bagi anak anak berusia 410 tahun. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. tidak boleh diubah. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . mau menerima perubahan. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. mereka lebih fleksibel. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun.

peseta didik yang bermoral. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. masih lugu. belum memiliki pola pikir sendiri. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). masih kaku. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. Keaneka ragaman teman sebaya. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). karena mereka berasal dari berbagai keadaan. kakek neneknya. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang.Isriati Semarang. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. Lingkungan keluarga (orang tua. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. pendapat sendiri. moralitasnya baik. masih murni.

atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 . tuna grahita). Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. tuna netra.Morgan.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. 2) fear atau terror.dkk. Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. Menurut Tomkins (lih. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. 2) enjoyment atau joy. yaitu 1) interest atau excitement. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. 4) contemp.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. misalnya ada temannya yang nakal.. 3) shame atau humilitation. 5) disgust. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. Yang enam bersifat negatif. 6) anger atau rage. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. 3) surprise atau startie. yaitu: 1) distress atau anguish. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). Tiga bersifat positif.

bahagia dan memiliki kepuasan diri.lingkungan sekolah. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. diberi stimulus. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. Peserta didik dalam berpikir. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Dalam kontek ini. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. karena SD HJ Isriati. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. Isriati Semarang. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 .

guru maupun teman sebayanya. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya.keluarga.nasehat dan perintah-perintahnya. saya merasa rikuh pekewuh. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. 4) Kalau disuruh orang tua. Untuk mengetahui sikap moralnya. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. malu. dan lain sebagainya) 98 . 5) Saya ingin menghormatinya. tidak melanggar aturan. 2). sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. apabila saya melanggar nasehat. tidak kasar dan tidak sembrono. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Lingkungan sosial kedua. 1. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. (dengan berbuat baik. tidak nakal. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. Jika orang tua sedang berbicara. dan 6) Dimanapun saya berada. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. saya tidak menyela pembicaraannya.

dan melaksanakan perintahnya 2. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. 4) Saya menundukan kepala. saya menggandeng dan mengiringi orang tua. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. saya mencium tangannya. saya berusaha untuk bermusyawarah. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. membungkukkan badan. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya memilih untuk mengalah. dan 6) Apabila dinasehati. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 3) Jika bepergian. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. mengutarakan kepada orang tua. saya menurut. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. diperintah orang tua.Penalaran atau pemikiran. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. 2) Jika terjadi perselisihan. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari.

antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. dlsb. 3. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. kaya atau miskin. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. normal atau cacat. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 2) Saya mengajak belajar. karena tidak mengharapkan balasan. bermain bersama. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. teman yang nakal. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. 3) Saya peduli dengan jerih payah. membentuk 100 . kurang pandai. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit.

supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. dikategorikan dalam 4 kategori. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. suka menolong teman lainnya. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. 4) Saya membantu memberi teman-teman.kelompok belajar. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. menmbulkan masalah. suka membantu dan tidak suka berkelahi. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. kategori pertama. 5) saya. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. kategori kedua. dan kategori keempat. 101 . Saya mengagumi teman yang baik hati. Dari beberapa pertanyaan tersebut. dengan cara menelpon. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan.

tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. standart deviasi.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. 2002: 21). Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. 1. maksimum. varian. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. 102 . Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. minimum (Ghozali. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. 2001: 19). data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini.

1.1. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1. peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. moralitas peserta didik normal 1. 103 .Tabel 4. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2.1. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143.

2. Minimal dan Maksimal No 1.Tabel 4. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113. 2. Minimal dan Maksimal No 1. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. Skor Subyek Pada Nilai Rerata.2. 1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 .1.1.3. 3. 3. Tabel 4.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. 23 %. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. 3. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. lingkungan sekolah.Tabel 4. 2. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. baik di dalam lingkungan keluarga. No 1. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. 108 .7. 42 % 52. Normal 1 dan Normal 2. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Semakin tinggi moralitas peserta didik. 43%. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. 2004: 84). Apabila dicermati lebih mendalam. 63 % 64.

Tabel 4. 14 % 28. baik.30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 14 %).Hasil Penelitian 1.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 3.8. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57.49 31 . 1993). Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. 2. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . 57 % 14. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 29 % Sangat Baik No 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . baik (28. sedang dan kurang baik.57 %) dan sedang (14. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.39 22 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.

2. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik (28. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 57 % 14. 1993).9.27 2 1 28. 2.38 17 . 14 % Sangat 28 . Tabel 4. 110 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 1. baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57.49 4 57. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 3. 29 % Baik No 1. sedang dan kurang baik.yang sangat baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 57 %) dan sedang (14. 14 %. 14 %).

1993). sedang dan kurang baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. 111 . Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 1.Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. baik.3. 57 %) dan sedang (14. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 14 %). baik (28. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 14 %.

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.24 2 1 28. 57 % 14.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31.10.36 13 . 3. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . 2. sedang dan kurang baik. Peserta Didik Normal 1 2. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 1993). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik. baik. 112 . 14 % Sangat 25 .Tabel 4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 14 %.47 4 57. 2.

sedang dan kurang baik. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 2. 58 % 36. 1.33 22 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . baik. 42 % di atas prosentase rata-ratanya. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. menunjukkan moralitas yang sangat baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68.2.45 34 . Dengan demikian dapat diketahui 113 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 4. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6.11.39 28 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. 84 % Keterangan Baik 21. 3. 05 % 10. 1993). 05 %) serta kurang baik (10.27 No 1.58 %). Tabel 4. baik (36. sedang (21. 84 %).

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 .36 7 8 36. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 84 %) dan sedang (42. 3. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 05 % Keterangan 37 . 84 % 42. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. 1993).48 No 1. 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 .bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21.3. 89 %. baik (36. sedang dan kurang baik. 2.12. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Tabel 5.05 %). Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21.41 30 .

1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. 2. 4.dan deviasi standarnya adalah 7. 53 % 31.53 %). 11 %. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.58 %). baik. 3. 58 % Sedang 52. 3. Tabel 4. 26 % Keterangan No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik.63 %) serta kurang baik (5. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. Peserta Didik Normal 2 3. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. baik (31. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. sedang (52.37 22 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 .26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik.13. 63 % 5.

menunjukkan moralitas yang sangat baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 . Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 . 29 %). 2. 3.32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 4. 29 %). 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 29 %. 29 % Sangat Baik 21. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.48 33 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. sedang (21.32 25 .2. baik (14.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 1993). 3. Tabel 4. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64.14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. 43 % Keterangan No 1. 43 %) serta kurang baik (10. 29 % 14. 43 % 21. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.40 25 .

86 %. sedang dan kurang baik.72 % Sedang 50 % 7.71 44 .29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7.43 26 . sedang (50 %) serta kurang baik (7. baik.71 %).kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.15. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. 1993). Untuk melihat lebih detail 117 .3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.14 % 35. 3. 2. menunjukkan moralitas yang sangat baik. baik (35.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 3. 4. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42. Tabel 4.14 %).14 % Keterangan No 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 .57 30 .

71 % Keterangan Sedang 42. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. 4.46 31 .bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.71 %). Tabel 4. 118 . 92 % 7.16. baik (35.38 23 . 3. 2. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.54 39. 1993).53 %). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 53 % 35. baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 24 %.92 %) serta kurang baik (7.30 No 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 . sedang dan kurang baik. sedang (42.

Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. disiplin dan sangat baik. Keempat. 28 %. 84 %. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing.B. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. terhadap orang tua. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. 42 %. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. Kelima. Keenam. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. 63 % Ketiga. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. 42 % dan 57. 14 %. Kedua. 29 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. 11 %. sedangkan moralitas peserta didik 119 . hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52.

24 %. 120 . 86 % dan 46.normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42.

Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. 121 . menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. 14 %. 3.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 42 %. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. dengan prosentase 57. sampai dengan 46. 2. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 84 % sampai dengan 68. 86 %. 24 %. 5. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. 28 %. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 42. 29 %. 4. dengan prosentase 57. 63 % sampai dengan 64. 11 %. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj.

semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan.B. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. baik dari segi bahasa. 122 . sistimatika maupun analisisnya. dan memanjatkan doa kepada Allah. Bagi Peneliti. Akhirnya. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. normal 1 dan normal 2. kritik. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. Penulis menyadari sepenuhnya. 2. Bagi Birokrat. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif.

Juli 2008 Saya. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. Amiin Semarang. Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. atas bantuan dan jerih payah adikadik.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Isriati Semarang 123 . dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Selamat bekerja ya.

6. Saya berbicara dengan orang tua. dan lain sebagainya). Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. saya mengerjakan dengan ringan. tidak nakal. tidak kasar dan tidak sembrono. 3. saya melakukannya dengan lembut. malu. 2. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. Dimanapun saya berada. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. (dengan berbuat baik. saya tidak menyela pembicaraannya.siap dan tidak terpaksa. Saya merasa rikuh pekewuh. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. 5. Rukun 7. 4. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Jika orang tua sedang berbicara. tidak melanggar aturan. Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. 124 . Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu.

saya menurut. saya memilih untuk mengalah. 16. dan melaksanakan perintahnya. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Apabila dinasehati. 10. 14. Saya menundukkan kepala. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. saya berusaha mencium tangannya. 125 . 12. 9. Jika terjadi perselisihan.8. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. 11. 15. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. diperintah orang tua. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. membungkukkan badan. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja.

Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. 20. 24. 21. Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru.17. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . 22. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. menulis dengan rapi dan sebagainya. 23. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). 19. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. Rukun 18. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah.

Saya tidak pernah mengejek temanteman. dengan berbicara tenang. dlsb. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. 35. Saya tidak bertindak usil. Rukun 26. teman yang nakal. 29 30. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 27. Saya menghormati teman. sekalipun dia cacat. normal atau cacat. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. mencolak colek atau menjahili teman. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. 31. Saya menghormati teman. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. tanpa membedabedakannya. 32.25. walaupun dia tidak berada di samping saya. kaya atau miskin. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. dan tidak pandai bergaul. saya bersimpati kepadanya. kurang pandai. 34. kurang pandai. miskin. 33. 28. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 127 .

Saya merasa terpanggil untuk membantu teman. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 .36.