MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. 065112072 4 . Juli 2008 Siti Barokah NIM. PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN. Semarang. Penulis.

sampai dengan 64. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. Moralitas terhadap Guru. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. 52. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. 71. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. 63 %. dan telaah dokumen. 43 %. wawancara. 5 . Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. tanpa melihat perbedaan. 2. guru dan teman sebayanya. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. mass media dan suguhan-suguhan internet. yaitu kesucian. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1.

berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif.A. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. Islam serta kesehatan. Amin Syukur. M. serta Drs. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. tegur sapa.. selalu melimpahkan ketetapan Iman. Ucapan terima kasih.SocSc. selaku penasehat akademik. Dr.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. Penulisan tesis ini.. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Muhammad SAW. 2. Prof. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. H. Achmad Gunaryo. H. M. tidak lepas dari dorongan semangat. 3. masukan. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah.A. semoga Yang Maha Kuasa. HM. selaku penasehat akademik. Dr. M. dukungan. M. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . Amiin. bimbingan dari semua pihak. DR. 4. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo.Abdul Muhaya. Darori Amin. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. penulis tujukan kepada : 1.H.A. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya..

dimohon kritik. Puti Widya Ekasani SE. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan.semangat menapaki hidup dengan ilmu. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. Dan dengan kerendahan hati. semangat. M.bimbingan. Pudji Tikno. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. amal dan kebijakan. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Semarang. semangat . Putri-putriku. Suamiku. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7.M. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. Juli 2008 Penulis 7 . serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan. 5. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. dorongan. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. Drs.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan. maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .

Halaman Pengesahan ......................................... Daftar Singkatan ..................... PENDAHULUAN A..................................................... C. G........... Persamaan Moral.................................... LANDASAN TEORI A................... Konsekuensialisme ........... 1................ Etika dan Akhlak ..................... Latar Belakang Masalah . Abstraksi ....... 3.... Intuisionisme ...................... Daftar Isi .................................................. Daftar Tabel ........................... Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ...... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 .......................................................... Metode Pengumpulan Data ........................................................................................................................................................ C....... Rumusan Masalah ....... 2..... F.................................... Teknik Analisis Data ......................... 2..............................................Halaman Judul . Pendekatan Penelitian . 3............... Emotivisme ..... E....... Sistimatika Penulisan ............................... Tujuan ......... Metode Penelitian ............................ B.... B...................................... Daftar Lampiran .......................... Etika dan Akhlak ............................................. II.............................................................................................. Teori Moral................................ I......................................................... Telaah Pustaka ...................... Etika dan Akhlak ...... 1..................................... Definisi Moral.......... D................... Motto ............. D......................... Perbedaan Moral............. Halaman Persetujuan ....................... Kata Pengantar ...... Etika dan Akhlak ..................................... Signifikansi ......................

...... E.... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua .............................. ....... Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ........................................... 2............... IV...... 84 2............... E... Hasil Analisis Data Penelitian ..... D......... V............... Deskripsi Data Penelitian ....................... Strategi Pembentukan Moralitas ................. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1.. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya . B......... ..............4.. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A.............. III........Kekuatan Ilmu ....... C............................................ F............ Teori-teori Akhlak . Deontologi .. Etika Hak .. 5......... MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A...................... ...........................Kebijakan atau Jalan Tengah ................................. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru .............. Moralitas Peserta Didik SD Hj..... 6.... Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ........ Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj.........Mujahadah dan Riyadhah .... Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1..................Kepatuhan terhadap Agama .................. KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 ................. Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ......................................... 3..................... F.. Sekilas Perkembangan SD Hj... B..................... Moralitas Peserta Didik .. Isriati Semarang ................ Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik ..... Isriati Semarang ............. ...

..... Kesimpulan ..................... Saran dan Penutup ............ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 ........................................... B...........A.................

.......................... Tabel 4.......... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.......1.. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ............ Tabel 4................ : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik . Isriati Semarang ...................... Minimal dan Maksimal ..... : Skor Subyek pada Nilai Rerata........................... Tabel 4..2.... Tabel 3........1.. Tabel 4.Tabel 1......8.....5.............. Tabel 4........ : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .............. Tabel 2........ Tabel 4............1. : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous .. Normal 1 dan Normal 2 ...... s-d Tabel 4....... : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj......16.7.....1................... 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 ................. Etika dan Akhlak ... Tabel 2....... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ......3...... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ......... : Skor Subyek pada Nilai Rerata.................... : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus ...6.........2........ Tabel 4.... : Perbedaan Moral.... Minimal dan Maksimal untuk ABK ................... Tabel 4...............4. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ....

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

pertama. pengendalian diri. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. 2003.h. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.33). Oleh karena itu. Dengan kata lain. Maurice J. akan tetapi 15 . Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. hal itu disebabkan. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no.et all. masyarakat. 20 tahun 2003). bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. jenjang. Ketiga. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. kedua. mampu menunjukkan jati dirinya.BAB I PENDAHULUAN A. kecerdasan. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. kepribadian. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. 20 tahun 2003). pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. akhlak mulia. memiliki sopan santun.

Secara sosiologis. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. 2001:60). bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. crah agawe bubrah”. Moralitas adalah sopan santun.. cet. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. Djoko Dwiyanto. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun.Hurlock. Balai Pustaka. guru. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bertingkah laku baik. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. 16 . Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. rukun membangun kekuatan (Purwadi. dan teman. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. bagi peserta didik. 1978: 75). Yang artinya pertikaian membuat perceraian. 1990. 2006: 257).Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup.

Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). seperti tidak menghargai. saling mengasihi. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. dalam suasana tenang dan sepakat. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. Ironisnya.Sikap saling menghargai. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. damai satu sama lain. pelecehan. tanpa perselisihan. pertentangan. sebagaimana dikutip oleh John W. bahkan sampai terjadi perkelaian. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. saling menghormati. tentram. suka bekerja sama. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. saling menerima. berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. Sekolah Menengah Pertama (SMP). tawuran. Menurut Jensen & Kingston (1986). mereka bersosialisasi. dan menghormati kepada para guru-guru. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. Santrock. mereka meniru. saling berempati. sehat rokhani. kupasan media cetak. tenang. 2001: xliii). tayangan Televisi. saling tolong menolong dan saling bekerja sama.

dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). khususnya bagi peserta didik. akan memetik perbuatan. 3 18 . Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget.www //google. Secara psikologis. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . akan memetik nasib (Ary Ginanjar. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Menurut Kohlberg3. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. dan tingkat empat. Kaidah kedua adalah sikap hormat. dan dengan menabur karakter. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. Moral). dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. 2003: lviii). yang berada di SD Hj. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. Santrock. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi.(http. 2001: 38). pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. yang merupakan dasar dari perilaku etis. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis.

Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum.org/wiki/Moral). 4 19 . yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. ranah nilai dan ranah keterampilan 4. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. 2007: 49).wikipedia. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. social. Learning how to do. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. mental-intelektual. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. sebagaimana Prinsip Pendidikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. Learning how to be. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. Learning how to live together.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). Learning how to learn. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. (http://id.

lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. (2) Menerapkan pendidikan Islami. Gangguan pendengaran 2. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I.III. berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). Tuna Laras 5. ada 57 (lima puluh tujuh) anak. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak.II.Gangguan pemusatan perhatian .hyper aktif ringan 4.hyper aktif berat . Lambat belajar 3. III III I. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD).1. Berkesulitan belajar . V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1.memungkinkan (Denis. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler. Enrica. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. hal. Tabel 1. 44).IV I. III. 2006.

Cenderung membangkang.google. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. mengganggu. 21 . memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). Tidak tertarik untuk berteman. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda. 3. Authis. 2. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. merusak. pendengaran. 3) Sering melakukan tindakan agresif. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Marah tanpa alasan yang masuk akal.ciri-ciri authis).Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). 4) Sering bertindak melanggar norma sosial.2004) . Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. b). Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. sentuhan. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. ide. 2) Mudah terangsang emosinya. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. dan mudah marah.www. emosional.

D. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. b. 2. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. mental-intelektual. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Isriati Semarang. social. 7 22 . diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. Manfaat Praktis 1. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj.B. Isriati Semarang. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Israti Semarang. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. Isriati Semarang. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. Tujuan Penelitian a. C. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj.

23 . karakteristik kelompok. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004.2. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. (Pudji Asri. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. guru dan teman sebaya). E. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. 2005).

(d) the holistic view of the pupil. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus. 24 . Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. (b) education for all. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. (c) the principle of non-segregation. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. karakteristik kelompok. masyarakat dan pemerintah. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. 2. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. tenaga ahli. orang tua.

2005. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. 8 25 . lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. especially school environment. 3. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. Muhammad Abdul Fattah . khususnya lingkungan sekolah.(e) handicap seen in relation to external factors. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. b) pendidikan untuk semua. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). (Santoso. 91: 8). a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya.

Pengamatan (Observasi). dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. 2. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. sosial maupun emosionalnya. maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. intelegensi. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif.1985:126). mengingat SD Hj. Metode Pengumpulan data 1. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif.F. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto.1985: 127).

Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK).1985: 131). 2001: 15) 27 . maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS .dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. guru dan teman sebaya. peraturan-peraturan. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. catatan dan lainnya (Arikunto. 3. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. G.

pelayanan BAB II. SD Hj. teori tentang moralitas. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. yang diungkap dalam latar belakang masalah. Isriati Semarang. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia.BAB I. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. kemudian untuk penguatan. BAB III. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. wawancara. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. teori tersebut antara lain. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. 28 .

moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. terhadap guru serta terhadap teman sebaya. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. berisi tentang kesimpulan. 29 . BAB V.BAB IV. saran dan penutup dari penelitian. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah.

Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. adat. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K.Berten. dkk mengatakan. 1998: 18). bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 .Berten. yang terdapat dimana-mana. Etika dan Akhlak Moral Moral. baik atau buruk. W.BAB II LANDASAN TEORI A. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. Definisi Moral. 2007: 12). Senada dengan pengertian tersebut. 2004: 24). 2007: 7). adat istiadat. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih.Berten. karena sifatnya yang abstrak. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. mores) yang berarti kebiasaan. 2007: 7). Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak.Poespoprojo. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. Baron. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas.Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. Dengan kata lain. mores) yang berarti kebiasaan.

yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. lembaga pendidikan. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. Menurut Kant. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia.Berten. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. entah itu aturan hukum negara. seorang pemuka madzab filsafat baru. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 .1992). Immanuel Kant. 1992).

Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. kira-kira abad ke 1416. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. (c) ajaran. 2004: 393). 2003: 146-147). Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). kebajikan. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. 10 32 . Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. makna atau kesimpulan tentang moral.

biasanya dalam bentuk ungkapan. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. dan metaetika. sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. mutiara-kata.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. Dengan demikian.Suriasumantri. 2006: 24). Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. dalam mempelajari dan membahas moralitas. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. peribahasa. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. 2007: 15). Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. benar atau salah. K. Joko Dwiyanto. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. Berten. 2006:14). etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. dan sebagainya yang menyiratkan. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. ketika seseorang berbicara tentang etika. etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. 12 33 .

1996: 83). pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. berakhlak dan tidak. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra.1996: 34). 2. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. tetapi adalah instinc. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu. baik dan buruk. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. tetapi tetap berakar pada manusia.1975: 84). sebaliknya yang tidak berharga. Golongan kedua berpendapat bahwa. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. Golongan pertama. tidak berguna untuk tujuan. apabila yang merugikan. zama atau pendidikan. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. pengalaman. yaitu : 1. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 .

kekayaan. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. persahabatan. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. pengetahuan. watak. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. karena berhubungan dengan akal. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. diantaranya : tabiat. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. yakni berdasarkan keinginannya. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa.besar. Jadi baik adalah bahagiya. 2004: 41). dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. adat. 1993: 25). 1913: 10). Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. kebajikan atau kemuliaan.

dan lezat. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. yaitu khair li dhatihi. indah. dan khair li dhatihi. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. perbuatan seperti aniaya.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu.1924: 152). Jilid III: 52). Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. Akan tetapi sebaliknya. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). didalamnya juga terdapat 36 . disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. Ada tiga bentuk khair. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). khair li ghairihi. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. khair li ghairihi. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi.

maka akan beruntunglah hidupnya. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. Atau kualitas dari perbuatan. tindakan atau tingkah laku manusia. tingkah laku. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia.sifat-sifat khair sharr. benar atau salah. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. B. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. pengertian moral. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. Perbedaan Moral. 2004: 1). begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. ataukah sebaliknya. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. tindakan. Etika dan Akhlak Secara terminologi. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama.

Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . berperilaku dalam komunitas masyarakat . etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Bagaimana seharusnya manusia.Ajaran-ajaran tentang kebaikan .Membicarakan tentang baik dan buruk. pilihan mana yang baik dan buruk. .Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Kebiasaan atau adat istiadat .Bersumber dari agama. Etika dan akhlak Bahasan 1.interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu .Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi.Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu . Untuk lebih jelasnya.Mengkaji tentang moralitas . perbedaan antara moral.Ilmu tentang filsafat moral .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari . aturan.Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk .Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.Mengkaji filsafat moral . tradisi dan idiologi . Etika 38 .1. Perbedaan Moral. 2.Mendiskusikan moral. benar dan salah . Moral Definisi .Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Perilaku baik dan buruk manusia .Bersifat sobyektif dan relatif .Nilai perbuatan manusia .

Dari uraian tentang moral. benar atau salah atau tindakan manusia. hanya saja berbeda dari asalnya. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. Moral berasal dari bahasa latin. 3. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 .dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . hati setiap manusia .Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. ’sopan santun’. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. moral dan etika memiliki arti yang sama. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan. yaitu adat kebiasaan.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . Akhlak . 1998: 255). bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung..Jiwa manusia (akal. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk.Internalisasi dan in. Etika dan Akhlak Secara etimologi.Sikap batin yang telah nusia. dan berasal dari bahasa Arab.Bersumber dari sya. dan etika berasal dari bahasa Yunani.. Persamaan Moral. kualitas perbuatan ma. Perbedaan.Siratan-siratan hati guh. Dan ahlak berarti ciptaan. etika dan akhlak.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an.

Hudson). ”Ini adalah baik”. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. etika dan akhlak. begitu juga dengan teori moral. 2004: 167). atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama.Stevenson. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. Teori Moral. D. Ketika menggunakan kata baik.L. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. Dalam kontek pembahasan tesis ini. 1. tidak mewakili apapun. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. apa yang dikatakan atau diasumsikan.D. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a).

kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. yang berkenaan dengan emosi. berkaitan dengan emosi. c. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif.D. sebab penganut faham positivisme logic.Hudson) tak dapat dianalisa.D. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. b). yaitu : a. dengan berubah dari yang sebelumnya. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. b. sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. 41 . evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika.pertimbangan. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. Ada tiga kemungkinan yang membedakan. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. atau sangat segera. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. sesuai dengan teorinya. senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini.Hudson). aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement).

1963:11-12). Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. dengan perkataan kenyataan. Bergson. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. bukan berdasarkan situasi. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. kewajiban atau hak. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera.2. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. (direct and immediate) (James Hasting). meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . Menurut Bergson. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. 1975: 105).

intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. indra dan pengalaman. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). (Juhaya S. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. dan pengetahuan ini ada perantaranya. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan.Praja.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. Menurut Bergson. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut.

Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. darah. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. b. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. c. yang 44 . inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. Perbuatan yang netral. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. d. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. benar. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. bernafas. dan lain sebagainya. seperti contoh denyut jantung. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. Pokok Persoalan Etika. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. Perbuatan semu.

jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Disinilah. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. etika memainkan peranannya. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. 4. (Harlan B. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. 3. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. 1988). Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). karena hanya dengan 45 . Miller. melebihi segala hal merugikan. Dari pemahaman tersebut. Suatu perbuatan bersifat etis.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. dijawab dengan kewajibankewajiban moral.

Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. sebagaimana dijelaskan oleh K. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. dan lain sebagainya. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Menurut teori ini. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. maka dalam bertindak secara moral. Berten. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). dan juga karena wajib dilakukan. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. tentang teori moralnya. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. janji harus ditepati. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. (senang atau tidak senang).memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. misalnya hutang harus dibayar. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Menurut Immanuel Kant. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. Orang yang bertindak karena kewajiban.

kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. rakus dan pembunuh. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . pesan. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. sebagaimana harimau. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. 2003: 84-85) 5.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. 6. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Etika Hak. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). dapat menahan diri.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. keseimbangan nafsu dan amarah. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. buruk dan jahat sekali. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. Pertama. Kedua. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. dan ada yang diformat menerima perubahan. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. E. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. baik. Demikian halnya dengan akhlak.

manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. 2007: 20-21). namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. Mujahadah dan Riyadhah. 1987 (Ibid: 21). 49 . terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. apakah moral itu bisa diajarkan. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. ed. Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah.berikut: Socrates. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. memberikan beban sebagai suatu kewajiban.

yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan.1983: 510). Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. Kebijakan 15. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. dan kesolekhan. dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna.2003: 312) . sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. Bagi Miskawaih. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. kebahagiaan. keadilan. keberhasilan. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh.1923:23). Ibn Miskawaih. 50 . buruk dan jahat sekali. baik. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik.

pembagiannya menjadi empat bagian. Keadilan. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. 1. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. Keberanian.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Ibn Miskawaih. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. 2. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. yaitu : kearifan. juga merupakan kebajikan jiwa. ketiganya 51 . keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. Kearifan.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. 4. 3. sederhana. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Sederhana.1923: 23).dan keadilan. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. keberanian. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. terletak pada mengetahui yang ada.

dan segala macam inderawi. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. Ketiga. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . Menurut Elizabeth B.2004: 327). 2002: 32). sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. Pertama. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. ambisi pada kekuasaan. keinginan terhadap kelezatan.Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). kedudukan dan kehormatan. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. Kedua. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). (Suparman Syukur. minuman. Menurut Raghib. 1994: 45) Jiwa. seksual. yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. Menurut Ibn Miskawaih. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir). Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). Organ tubuh yang digunakan adalah otak. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. kemudian cita-cita (hazm). menjelaskan secara psikologis. Raghib al-Isfahani.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. ide (khaitir). yakni dorongan nafsu makan.

keberanian melalui kesabaran. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. Dengan sarana pendidikan. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . kesederhanaan. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. kedermawanan melalui kesederhanaan. kesabaran.atas tingkah laku yang diatur dari dalam. dan keadilan. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama.

Asri Budiningsih. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. Tugas manusialah untuk melatih. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. baik di dalam lingkungan keluarga. dan yang mendorong terjadinya dialog. abdullah Idi. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. terutama para pendidik dan orang tua.(C.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. 1995) disamping di dalam keluarga. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. lingkungan sekolah. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. 2007: 116). abdullah Idi. 2007: 118). dengan demikian. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. pengambilan peran dalam 54 . memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. lihat pula QS Asy Syams: 8. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak.

agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. 2) kekuatan marah. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. karena merasa didzalimi. 2003: 145). Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. yaitu 1) kekuatan ilmu. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. 2003: 146-147). Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. Ada empat rukun yang harus dipenuhi. kemampuan untuk membentuk polalaku. maupun pengetahuan tentang polalaku.kelompok keluarga. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). pengambilan peran dalam kelompok sebaya. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. kemampuan untuk mengakses keduanya. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. seseorang yang marah. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. pengetahuan tentang keduanya. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. yaitu pola laku positif atau negatif. 55 . Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Al Ghozali menawarkan suatu konsep.

demikian juga dengan keempat rukun tersebut. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . Dari beberapa uraian tersebut. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif).Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. Sebagaimana bentuk lahir. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. wajah misalnya. keberanian 17. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). sementara apresiasi hidung diabaikan. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja.

berbohong. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan.1983:506-507). yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. Peneliti Perkembangan Moral. hukuman dan keadilan (Ibid). Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. seperti mencuri. kedua. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis. 2002: 287). E. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. 18 57 .kelapangan dada18 dan keadilan 19. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji.Santrock. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan.

lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . bukan maksud-maksud dari pelaku. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Bagi pemikir otonomous. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. yang benar adalah sebaliknya. maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan.

Aturan bersifat kaku. tidak bersifat kaku . dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih.Dilakukan anak berusia 410 tahun . 6. . dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama. tidak boleh diubah .Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7.2. 4. 2.Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. hukuman akan dikenakan segera.Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan .Tabel 2. 21 59 .: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya.Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 .Menerima perubahan. Piaget berpendapat bahwa. Pemahaman diri anak berkembang.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku . 5.Aturan bersifat fleksibel. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. 3. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan. bisa dibuat kesepakatan . Pemikir Heteronomous . Pemikir Otonomous .Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku .Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan .Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama.

atau peserta didik dengan moralitas baik. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). Santrock. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik).perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. sekolah menengah pertama tiga tahun. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan.1975: 21). dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. 2002: 342). 2. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. 60 . karena dua faktor. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg.

bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. dan bila dapat dirubah. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. 2004: 195). kebutuhan rasa aman. maka akan tetap dalam perubahan itu. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. sukses dan ingin tahu. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. (Ibid : 115). abdullah Idi. jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. (Khoiron Rosyadi. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. 2007: 109). rasa harga diri. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . kebebasan. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan.

Memberi motivasi. Oleh karena itu. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. menkondisikan. kondisi temannya. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. temannya berkata. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. dan bukan perintah.diberikan oleh keluarga. temannya bersikap. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. cara temannya berpakaian. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari.

keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. maka akan memetik perbuatan.dengan kemerdekaan beraktifitas. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". 2005: xliii) Robert J. Maka dalam setiap even pendidikan. Havinghurst mengemukakan. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. Misalnya. sebagai berikut: 63 . Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. dan tentunya semua mata pelajaran. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan.

Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. 4. 4. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 2. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. 2004: 194). terutama akhlaknya. 3. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. 8. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. berbuat baik adalah kewajiban manusia. 2. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. membaca dan berhitung. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa.1. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. 7. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . Memperkembangkan kata hati. 3. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. 5. 6. Berkawan dengan orang-orang terpilih. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. 5. Meluaskan lingkungan pikiran.

ingin di puji. pendidikan masa depan (education for future).perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik.1975: 63-66). manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia. Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. Akal. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. dan pendidikan islami (Islamic education). yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. dan lain sebagainya. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. manusia yang termarginalkan. rumpun atau etnis. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. 65 . Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all).

tidak diperhatikan. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. dan 66 . Manusia yang diabaikan. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. kemampuan. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. Setiap gagasan yang muncul. menurut Berry. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja.

David Smith. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970). Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang.penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua.2006: 42).

Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45).Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. Oleh Will (1986). Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. hanya jika institusi sekolah umum diubah. hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler.

(Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. bahwa manusia pada dasarnya sama. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. selama memungkinkan. Tujuan utamanya.” Dalam buku J.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. kecuali ketaqwaannya. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. milik ras manusia. dilakukan bersama bagi satu sama lain. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. Holtzman&Messick (1982). mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. Menurut Heller. menantang. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.” (pernyataan Salamanca. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. 2005: 19). Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam.1994) Inklusi itu masa depan. hak asasi manusia. menjadi bagian dari kelas tersebut. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. Lebih dari itu. baik 70 . pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain.

Pendidikan Inclusive). peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa.et all. Dalam J. Tujuan utamanya.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi. karena dalam masa pembelajaran. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. 2003: 33) 71 .google. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Maurice J.

dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia. dan kualitas dari.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. tunadaksa. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990. para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. . perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. Kerangka Dakar. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. Thailand. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000.Inklusi . Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. menuju • • • • • 72 . Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. Ph.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok.

Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. Realitasnya secara inheren. mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik.kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. 2006).

Menciptakan Kelas Inklusif. sosial. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. linguistik atau karakteristik lainnya. linguistiknya. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. anak dari orang-orang desa atau nomadik. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). anak jalanan atau pekerja. pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. Suatu lingkungan yang inklusif. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. intelektual. Ramah terhadap Peserta Didik. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. emosional. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . fisik. dengan metode-metode. kesehatan.2006: 37). layanan pendidikan yang berkualitas. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. rekreasi.

gender. semua anak bisa belajar. linguistiknya. anak jalanan atau pekerja. linguistik atau karakteristik lainnya.berbeda. sosial dan lain sebagainya). anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. emosional. fisik. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. latar belakang. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . sosial. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. (dalam kemampuan. emosi. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). kelompok etnis. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. anak dari orang-orang desa atau nomadik. intelektual. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. usia.

Melalui pendidikan inklusif. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. yang 76 . emosional. yaitu landasan filosofis utama. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. intelektual. mental. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. B. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. manusia sisa-sisa. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. Oleh karena itu.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini.

Jadi. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Landasan pedagogis. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. Landasan yuridis internasional. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. silih asih. sehat. mandiri. 2003). sehingga mendorong sikap silih asah. berilmu. cakap. Landasan empiris. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. diawali 77 . Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. berakhlak mulia. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. melalui pendidikanlah. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. kreatif. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.

tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . 6: 160. social. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. QS Az-Zuhruf.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. C. 4: 9. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. 43: 32. mental-intelektual. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.

Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. Jika masih dijumpai di sekolah. anak korban narkoba. 2. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. untuk keperluan pendidikan inklusi. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). 3. dan lain-lain. anak yang memiliki penyakit kronis. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. kreativitas. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. Dengan demikian. 4. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. karena berdasarkan berbagai studi. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. 79 . sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. sendi.

lebih lamban dibanding dengan yang normal. 7. adalah anak yang mengalami kelainan suara. sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). 9. 80 . Lamban belajar (slow learner). artikulasi (pengucapan). 6. menulis dan berhitung atau matematika). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). isi bahasa. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. 8. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. kesulitan belajar menulis (disgrafia). sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. merespon rangsangan dan adaptasi sosial.5. atau kelancaran bicara. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. 2004). Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. atau fungsi bahasa. komunikasi maupun sosial. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca.

87. Kecamatan Semarang Tengah. Moenadi. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. SD Hj. Bangunan sekolah seluas 3. pusat Kota Semarang. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. nomor : 421. ijin operasional sementara. Isriati. seakan berdiri 81 .Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. Isriati Semarang.200 meter persegi ini. Kelurahan Pekunden. Nama Hj. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. Secara de fakto SD Hj. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Kota Semarang. kebersamaan Pendidikan mereka. Provinsi Jawa Tengah. ibu kota Jawa Tengah. nomor 1179/I03/I. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. namun secara de jure.2/Swt/09237/1991. Sekilas Perkembangan SD Hj. D. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah.

Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. pada tahun 1987 – 2000. pada tahun 2000 – 2008.Pd. Sri Tantowiyah.. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya.. Pada periode ini SD Hj. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj.megah di atas tanah seluas 11. satu komplek dengan TK Hj. Periode kedua. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Pada periode ini SD Hj. pada tahun 1985 – 1987. S. M. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Pada periode ini SD Hj.765 meter persegi. dan sarana prasarana. Pada masa ini SD Hj. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Isriati Baiturrahman. Periode pertama. disebut sebagai periode keperintisan. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Dra. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Periode ketiga. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu.Pd.

II: 2). 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Baca Puisi. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Vokal. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. selalu mendapatkan juara. cerdas. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. Menggambar. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). pidato Bahasa Inggris. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . Pilihan Dai kecil (Pildacil). Sains. Berbagai lomba telah diikutinya. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. tingkat kota. lomba mata pelajaran. Karena saleh. dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi.2007. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. Pendidikan inklusif 83 . menghayati.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sempoa. E.bab.

Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. mental-intelektual. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. SD Hj. Di kelas reguler. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. termasuk anak berkebutuhan khusus”. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Didalam perjalanan melayani masyarakat. social. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. dan mereka dilayani secara inklusif. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). SD Hj. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi.

harus dimanusiakan. Mereka belajar tidak dengan mudah. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). Dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. harus diberikan haknya. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). Isriati Semarang. namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. Kasih sayang 85 . mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. harus dilayani. harus diberikan tempat yang layak. harus dikembangkan potensinya. lebih lamban dibanding dengan yang normal. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. merespon rangsangan dan adaptasi sosial.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Disamping pembiasaan tersebut diatas. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. dll. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. serta belajar seni baca alQuran. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . dan memakai celana panjang bagi laki-laki. melakukan shalat berjamaah dlsb. Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. 2. bahasa Arab. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. Mengaji. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. bahwa SD Hj. mengaji. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. 3. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat.komitmen sejak awal. 5. 4. membaca Al-Quran. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1.

peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca.didik berkebutuhan khusus. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . guru pembimbing serta orang tua. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. sebagai berikut : Tabel 3.1.

10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4.lah di sekolah khusus (SLB) 2. rame. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. 3. ABK dengan kelainan ADHD. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. Berkonsultasi dengan ortu. punya sifat kecil hati (tak percaya diri). emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. pasti nangis dan mogok. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. 16-31 Juli’07 M.

bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. karena manusia pada 93 . rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. marah meledak tanpa pandang bulu. 15 Agus’07 6. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. kesabaran. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. sangatlah membutuhkan perhatian. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky.

tidak boleh diubah. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. tidak bersifat kaku. mau menerima perubahan. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. F. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. mereka lebih fleksibel. supaya cahaya tersebut tidak padam. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. bagi anak anak berusia 410 tahun. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). aturan yang disepakatinya bersifat kaku.

mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. Lingkungan keluarga (orang tua. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). karena mereka berasal dari berbagai keadaan. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku.Isriati Semarang. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . belum memiliki pola pikir sendiri. pendapat sendiri. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. moralitasnya baik. peseta didik yang bermoral. masih lugu. Keaneka ragaman teman sebaya. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. masih murni. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. masih kaku. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi. kakek neneknya. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang.

dkk. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. 6) anger atau rage.. yaitu: 1) distress atau anguish. tuna netra. Tiga bersifat positif. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. 2) enjoyment atau joy. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. 3) surprise atau startie. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. 5) disgust. Yang enam bersifat negatif. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). tuna grahita). Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. Menurut Tomkins (lih. yaitu 1) interest atau excitement. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya.Morgan.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 . 3) shame atau humilitation. misalnya ada temannya yang nakal. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. 4) contemp.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. 2) fear atau terror.

yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. diberi stimulus. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum.lingkungan sekolah. bahagia dan memiliki kepuasan diri. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. Dalam kontek ini. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. karena SD HJ Isriati. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Peserta didik dalam berpikir. Isriati Semarang. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah.

saya tidak menyela pembicaraannya. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. tidak melanggar aturan. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. tidak nakal. tidak kasar dan tidak sembrono. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. (dengan berbuat baik. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya.nasehat dan perintah-perintahnya. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. Untuk mengetahui sikap moralnya. guru maupun teman sebayanya. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. dan lain sebagainya) 98 . 2).keluarga. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. 5) Saya ingin menghormatinya. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. apabila saya melanggar nasehat. Jika orang tua sedang berbicara. 4) Kalau disuruh orang tua. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. saya merasa rikuh pekewuh. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. malu. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. dan 6) Dimanapun saya berada. 1. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. Lingkungan sosial kedua.

saya menggandeng dan mengiringi orang tua. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. saya menurut. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari.Penalaran atau pemikiran. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. diperintah orang tua. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. mengutarakan kepada orang tua. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. dan 6) Apabila dinasehati. membungkukkan badan. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. saya mencium tangannya. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. saya berusaha untuk bermusyawarah. 2) Jika terjadi perselisihan. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. 3) Jika bepergian. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya memilih untuk mengalah. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . saya mendengarkan dengan penuh perhatian. 4) Saya menundukan kepala. dan melaksanakan perintahnya 2. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat.

dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. kurang pandai. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 2) Saya mengajak belajar. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. normal atau cacat. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. dlsb. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. karena tidak mengharapkan balasan. teman yang nakal. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. membentuk 100 . dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. 3. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. 3) Saya peduli dengan jerih payah. kaya atau miskin. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. bermain bersama. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah.

apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu.kelompok belajar. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. dan kategori keempat. menmbulkan masalah. suka membantu dan tidak suka berkelahi. 5) saya. kategori kedua. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. Dari beberapa pertanyaan tersebut. kategori pertama. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. dengan cara menelpon. 4) Saya membantu memberi teman-teman. 101 . supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. dikategorikan dalam 4 kategori. suka menolong teman lainnya. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. Saya mengagumi teman yang baik hati. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi.

subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. 1. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. 102 . dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. minimum (Ghozali. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. 2002: 21). maksimum. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. standart deviasi. varian. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. 2001: 19).

1. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.1. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2. moralitas peserta didik normal 1. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2.Tabel 4. peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. 103 . Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.1.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143.

1.1.2. 1. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113. 3. 2. Tabel 4.3. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. Minimal dan Maksimal No 1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. Minimal dan Maksimal No 1. 3.Tabel 4. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. 2. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 .

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57.Tabel 4. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. Normal 1 dan Normal 2. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. 23 %. 42 % 52. 2004: 84).7. Semakin tinggi moralitas peserta didik. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. lingkungan sekolah. 63 % 64. baik di dalam lingkungan keluarga. No 1. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. 3. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. 43%. 108 . 2. Apabila dicermati lebih mendalam.

30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. 29 % Sangat Baik No 1.Hasil Penelitian 1. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 57 % 14. baik (28.57 %) dan sedang (14. Tabel 4. 3. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 .8. 1993). Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. sedang dan kurang baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 14 % 28. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 .1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 2. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.49 31 .39 22 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 14 %).

14 % Sangat 28 .9.49 4 57. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 110 . 1993). 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. baik. baik (28. 57 % 14. 14 %. 57 %) dan sedang (14. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 3. 14 %). 2.27 2 1 28.2. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. sedang dan kurang baik.yang sangat baik. Tabel 4.38 17 . 29 % Baik No 1.

1. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. sedang dan kurang baik.3. baik. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 14 %). 57 %) dan sedang (14. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik (28. 1993). 111 . Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 14 %. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57.

47 4 57. Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. Peserta Didik Normal 1 2.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. 1993).24 2 1 28. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31. 14 % Sangat 25 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 57 % 14. 14 %. 2.36 13 . 112 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 2.Tabel 4. sedang dan kurang baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 3.10.

hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31.45 34 . sedang (21. Dengan demikian dapat diketahui 113 .2. 1. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 84 %). baik (36.27 No 1. 58 % 36.33 22 . 05 %) serta kurang baik (10. 05 % 10. 2. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6.39 28 . 42 % di atas prosentase rata-ratanya. 1993). Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. baik. Tabel 4. 4. sedang dan kurang baik. 3.11. 84 % Keterangan Baik 21.58 %). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.

48 No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . 05 % Keterangan 37 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 1993). baik (36.3. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 89 %. 2. 84 %) dan sedang (42.36 7 8 36. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.05 %). 3. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57. 84 % 42. 1.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. sedang dan kurang baik.12. Tabel 5.41 30 . 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21.

baik.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. 58 % Sedang 52.dan deviasi standarnya adalah 7. 26 % Keterangan No 1. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya. 2. Peserta Didik Normal 2 3. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 . 53 % 31. 4. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . 63 % 5. sedang dan kurang baik. 3.53 %). 3. Tabel 4. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. sedang (52. 11 %. baik (31.37 22 .13. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.58 %).63 %) serta kurang baik (5.

3. 43 %) serta kurang baik (10. 2.32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 29 % Sangat Baik 21.32 25 . 3. 43 % Keterangan No 1. Tabel 4. 29 %). Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 .harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 29 %. baik (14. 4. 43 % 21.2. 29 %). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. sedang (21. 29 % 14. 1993). 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 .40 25 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.48 33 . Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. menunjukkan moralitas yang sangat baik.14. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7.

Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 2.14 %).57 30 . sedang dan kurang baik.72 % Sedang 50 % 7.15. menunjukkan moralitas yang sangat baik. baik (35. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. 3.kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 4. sedang (50 %) serta kurang baik (7. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 .71 %). 1993).43 26 . 86 %.14 % Keterangan No 1. Untuk melihat lebih detail 117 . Tabel 4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. 3.71 44 .14 % 35.3.29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7. baik.

4. sedang (42.46 31 . 118 . baik. Tabel 4. 53 % 35. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.16. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 71 % Keterangan Sedang 42.38 23 . 3. 24 %.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 . sedang dan kurang baik.53 %). 1993). 2.71 %).54 39. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7.30 No 1.92 %) serta kurang baik (7. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. baik (35. 92 % 7.

Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. Kelima. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. Kedua. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. terhadap orang tua. 11 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. sedangkan moralitas peserta didik 119 . 28 %. 63 % Ketiga.B. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. 29 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. disiplin dan sangat baik. 14 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. 42 %. Keempat. Keenam. 84 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. 42 % dan 57.

normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 24 %. 86 % dan 46. 120 .

dengan prosentase 57. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. 14 %. 84 % sampai dengan 68. 121 . terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. 42. 3. 28 %. 11 %. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. dengan prosentase 57. 2. 24 %. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. 42 %. sampai dengan 46. 86 %.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 4. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. 63 % sampai dengan 64. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 5. 29 %.

serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. normal 1 dan normal 2. kritik. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. baik dari segi bahasa. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. 2. Penulis menyadari sepenuhnya.B. Akhirnya. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. sistimatika maupun analisisnya. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. 122 . Bagi Peneliti. Bagi Birokrat. dan memanjatkan doa kepada Allah. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan.

Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Selamat bekerja ya. Isriati Semarang 123 . Amiin Semarang. atas bantuan dan jerih payah adikadik.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Juli 2008 Saya. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas.

apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. 124 . 4. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. 2. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. 3. malu. Saya berbicara dengan orang tua. saya melakukannya dengan lembut.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. tidak nakal. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. 5. saya mengerjakan dengan ringan. Dimanapun saya berada. tidak melanggar aturan. dan lain sebagainya). Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. tidak kasar dan tidak sembrono. saya tidak menyela pembicaraannya. 6. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu.siap dan tidak terpaksa. Saya merasa rikuh pekewuh. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Jika orang tua sedang berbicara. (dengan berbuat baik. Rukun 7.

diperintah orang tua. membungkukkan badan. 16. 10. 12. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. saya menurut. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. saya memilih untuk mengalah. 125 . Jika terjadi perselisihan. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. 9. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. dan melaksanakan perintahnya.8. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. saya berusaha mencium tangannya. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. 14. 15. Apabila dinasehati. Saya menundukkan kepala. 11. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua.

saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. 24. Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. menulis dengan rapi dan sebagainya. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. Rukun 18. 19. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 23. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. 20. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . 22. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit.17. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. 21.

kaya atau miskin. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. Saya menghormati teman. miskin. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. saya bersimpati kepadanya. normal atau cacat.25. 33. Saya menghormati teman. sekalipun dia cacat. 31. dengan berbicara tenang. 27. teman yang nakal. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 127 . Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. dlsb. 28. Rukun 26. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. mencolak colek atau menjahili teman. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. tanpa membedabedakannya. walaupun dia tidak berada di samping saya. kurang pandai. dan tidak pandai bergaul. Saya tidak bertindak usil. 35. 34. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. Saya tidak pernah mengejek temanteman. 29 30. kurang pandai. 32.

Saya merasa terpanggil untuk membantu teman. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 .36.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful