MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN. 065112072 4 . Semarang. Penulis. Juli 2008 Siti Barokah NIM.

Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. guru dan teman sebayanya. Moralitas terhadap Guru. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. dan telaah dokumen. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. 43 %. 52. sampai dengan 64. wawancara. mass media dan suguhan-suguhan internet. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. 5 . 71. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. tanpa melihat perbedaan. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. 2. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. yaitu kesucian. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. 63 %. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa.

selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan.A.. semoga Yang Maha Kuasa. bimbingan dari semua pihak.. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . selaku penasehat akademik. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya.A.Abdul Muhaya. 3. selaku penasehat akademik. Prof. Amin Syukur. Dr. Ucapan terima kasih. Islam serta kesehatan. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. M. M. Dr. masukan.A. 4. tidak lepas dari dorongan semangat. DR. H.SocSc. Darori Amin. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. tegur sapa. Penulisan tesis ini. penulis tujukan kepada : 1. serta Drs. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. H. selalu melimpahkan ketetapan Iman. 2. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. M. Muhammad SAW. Amiin.H. dukungan..Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. M. HM. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. Achmad Gunaryo. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini.

semangat menapaki hidup dengan ilmu. Pudji Tikno. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. M. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. Semarang. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. 5. semangat. Puti Widya Ekasani SE. semangat . Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. dorongan. Suamiku. Drs. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. amal dan kebijakan.bimbingan. Putri-putriku.M. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. dimohon kritik. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Juli 2008 Penulis 7 . Dan dengan kerendahan hati.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan. maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .

............ 3............................ Halaman Pengesahan ....................... Latar Belakang Masalah ....... Rumusan Masalah ............ D........ PENDAHULUAN A........................ II.. Metode Pengumpulan Data ............................................................................... C. Sistimatika Penulisan .............................................. Signifikansi ............................................ Persamaan Moral................................ LANDASAN TEORI A.......... I......................................................................................... 1. Definisi Moral...................................... Daftar Isi ................... Kata Pengantar .............................................. Telaah Pustaka ..... Etika dan Akhlak . Teknik Analisis Data ............................................. F...... G......... 3......................................... Daftar Singkatan ................................................... 1.... B.................. Daftar Tabel .. Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ....................... D.................... 2.............................................. Abstraksi ........... E.....Halaman Judul ....... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 .... Motto ..... Metode Penelitian ...... Halaman Persetujuan .................. Daftar Lampiran ...................................................... Tujuan ................................................ 2...................... Konsekuensialisme ... Pendekatan Penelitian ........ Intuisionisme ........................................................... C..... Etika dan Akhlak ........................ Emotivisme ............................ Etika dan Akhlak ................... Perbedaan Moral....................................................................... Teori Moral............................................................... B.............................................. Etika dan Akhlak ...........

............................. Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ...................... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua ............................................ C................... 3.......... ....................... Moralitas Peserta Didik ....Kekuatan Ilmu ...........Kebijakan atau Jalan Tengah ................... 5..... Deontologi .. Hasil Analisis Data Penelitian ....... Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ............ Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik ................... Cakupan Moralitas Peserta Didik 1............. Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1....................... KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 .......................................... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru ................ Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ............ Moralitas Peserta Didik SD Hj.............. F. 6.... Etika Hak ... V........... DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A......... Isriati Semarang ... E.....4...... E. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya ....................... B... ............. 2............. MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A.............Mujahadah dan Riyadhah ...Kepatuhan terhadap Agama ... D........ Deskripsi Data Penelitian .... ... 84 2............. B.......... III........... Strategi Pembentukan Moralitas . Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj............................. IV................. Sekilas Perkembangan SD Hj............. Isriati Semarang . Teori-teori Akhlak ............... F.............. ................................

............ B........... Kesimpulan ........................A........................................................ Saran dan Penutup ... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 ...

........ : Perbedaan Moral........2... Tabel 2..... Tabel 4... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ................Tabel 1.. : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ............... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus........1..............2. Normal 1 dan Normal 2 .............. Etika dan Akhlak ... s-d Tabel 4...............1......8...5..... : Skor Subyek pada Nilai Rerata...16.............. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .................. Tabel 4......1.......... Minimal dan Maksimal ............6............... : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj. 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 ...................... Tabel 4.........7........ Tabel 4.......... Tabel 4........... : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus .1....... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ... Tabel 4. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...... Tabel 3........................ Tabel 4.. : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik . Isriati Semarang ....... Minimal dan Maksimal untuk ABK .... : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous . Tabel 2....4.... Tabel 4................ : Skor Subyek pada Nilai Rerata.........................................3....

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. Ketiga. pengendalian diri. Oleh karena itu. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. akhlak mulia.BAB I PENDAHULUAN A. kedua.33). kepribadian. akan tetapi 15 . Maurice J. 20 tahun 2003). hal itu disebabkan. jenjang. mampu menunjukkan jati dirinya. kecerdasan. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. 20 tahun 2003). pertama. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai.et all. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. 2003. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur.h. masyarakat. Dengan kata lain. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. memiliki sopan santun. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik.

pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. 2001:60). peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. Bertingkah laku baik. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. cet.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. Secara sosiologis. dan teman. 2006: 257).Hurlock. 1978: 75). Djoko Dwiyanto. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. 1990. crah agawe bubrah”. Moralitas adalah sopan santun. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. guru. 16 . rukun membangun kekuatan (Purwadi. Balai Pustaka.. bagi peserta didik. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H.

dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. Menurut Jensen & Kingston (1986). Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. damai satu sama lain. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. dan menghormati kepada para guru-guru. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). dalam suasana tenang dan sepakat. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. saling mengasihi. kupasan media cetak. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. pertentangan. berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. sebagaimana dikutip oleh John W. tayangan Televisi. mereka meniru. suka bekerja sama. tawuran. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. sehat rokhani. Sekolah Menengah Pertama (SMP). tenang.Sikap saling menghargai. mereka bersosialisasi. Santrock. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . seperti tidak menghargai. saling menghormati. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. Ironisnya. saling berempati. saling menerima. pelecehan. 2001: xliii). tanpa perselisihan. bahkan sampai terjadi perkelaian. tentram. saling tolong menolong dan saling bekerja sama.

yang berada di SD Hj. 2001: 38). Kaidah kedua adalah sikap hormat. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . akan memetik perbuatan. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). 2003: lviii). 3 18 . Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. Menurut Kohlberg3. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. khususnya bagi peserta didik. dan dengan menabur karakter. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa.www //google. Moral). akan memetik nasib (Ary Ginanjar. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter.(http. yang merupakan dasar dari perilaku etis. Secara psikologis. yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Santrock. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. dan tingkat empat. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat.

Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain).wikipedia. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. sebagaimana Prinsip Pendidikan. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. (http://id.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). Learning how to live together. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. Learning how to do. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. ranah nilai dan ranah keterampilan 4. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. 4 19 . Learning how to learn. 2007: 49). social. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). Learning how to be. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. mental-intelektual.org/wiki/Moral).

44). lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler.hyper aktif berat . III.IV I. Lambat belajar 3. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD).Gangguan pemusatan perhatian .memungkinkan (Denis.1. berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). III III I. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.hyper aktif ringan 4.II. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. 2006. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. Tabel 1. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I. (2) Menerapkan pendidikan Islami. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA).Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. ada 57 (lima puluh tujuh) anak. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak.III. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak. Enrica. Gangguan pendengaran 2. hal. Berkesulitan belajar . Tuna Laras 5.

memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. Tidak tertarik untuk berteman. emosional. 3) Sering melakukan tindakan agresif. mengganggu. Authis. merusak. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. b). 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang.google. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). Marah tanpa alasan yang masuk akal.www. 2) Mudah terangsang emosinya. pendengaran. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . ide. dan mudah marah. dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1.2004) . Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. 2. 3. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. aktifitas ataupun orang. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara.Cenderung membangkang. 21 . Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. sentuhan.ciri-ciri authis).

Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. D. Isriati Semarang. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. b. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. Manfaat Praktis 1. Israti Semarang. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. Isriati Semarang. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. mental-intelektual. Isriati Semarang. 7 22 . social. 2. C. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj.B. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Tujuan Penelitian a. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif.

Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. (Pudji Asri. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. 2005). karakteristik kelompok. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. E. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni).2. 23 . besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. guru dan teman sebaya). merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all).

Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. karakteristik kelompok. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. 2. (d) the holistic view of the pupil. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. (b) education for all. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. masyarakat dan pemerintah. 24 . meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. orang tua. tenaga ahli. (c) the principle of non-segregation. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus.

sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. b) pendidikan untuk semua. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. 91: 8). a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. especially school environment. 8 25 . Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. (Santoso. 2005. 3.(e) handicap seen in relation to external factors. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. khususnya lingkungan sekolah. Muhammad Abdul Fattah .

mengingat SD Hj. sosial maupun emosionalnya. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. Metode Pengumpulan data 1. maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. Pengamatan (Observasi).1985:126). 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . intelegensi.F. 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. 2. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif.1985: 127).

dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). guru dan teman sebaya. 2001: 15) 27 . Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. G. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. 3. yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif.1985: 131). melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. peraturan-peraturan. catatan dan lainnya (Arikunto. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini.

berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. teori tentang moralitas. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. BAB III. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. teori tersebut antara lain. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. 28 . untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. kemudian untuk penguatan. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan.BAB I. Isriati Semarang. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. wawancara. SD Hj. pelayanan BAB II. yang diungkap dalam latar belakang masalah. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj.

analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. 29 . moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. terhadap guru serta terhadap teman sebaya. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. saran dan penutup dari penelitian. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.BAB IV. BAB V. berisi tentang kesimpulan.

BAB II LANDASAN TEORI A. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. Dengan kata lain. yang terdapat dimana-mana. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih. Baron. 2007: 7).Berten. mores) yang berarti kebiasaan. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. adat.Berten. Etika dan Akhlak Moral Moral. 2007: 7). karena sifatnya yang abstrak. 2004: 24).Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. W. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. baik atau buruk. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. 2007: 12).Berten. Senada dengan pengertian tersebut. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 . adat istiadat.Poespoprojo. Definisi Moral. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. mores) yang berarti kebiasaan. 1998: 18). dkk mengatakan. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama.

2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. Menurut Kant. 1992). 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167).Berten. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. entah itu aturan hukum negara. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). Namun dalam Ensiklopedi Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.1992). Immanuel Kant. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. lembaga pendidikan. seorang pemuka madzab filsafat baru. sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya.

Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. kebajikan. makna atau kesimpulan tentang moral. 10 32 . dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan. kira-kira abad ke 1416. 2004: 393). Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. (c) ajaran. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. 2003: 146-147).

mutiara-kata. sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. K. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. benar atau salah. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk.Suriasumantri. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. 2006: 24). Berten. dan sebagainya yang menyiratkan. 12 33 . etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. ketika seseorang berbicara tentang etika. Joko Dwiyanto. dan metaetika. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. 2006:14). perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. dalam mempelajari dan membahas moralitas. biasanya dalam bentuk ungkapan. Dengan demikian. peribahasa. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. 2007: 15). Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

berakhlak dan tidak. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. Golongan kedua berpendapat bahwa. pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. tetapi adalah instinc. yaitu : 1. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. tetapi tetap berakar pada manusia. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. tidak berguna untuk tujuan. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. sebaliknya yang tidak berharga. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. baik dan buruk. pengalaman.1975: 84). zama atau pendidikan. 1996: 83). apabila yang merugikan. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal.1996: 34). 2. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. Golongan pertama.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin.

pengetahuan. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. yakni berdasarkan keinginannya. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. kebajikan atau kemuliaan. karena berhubungan dengan akal. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . persahabatan. 1913: 10). diantaranya : tabiat. yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. 2004: 41).besar. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. kekayaan. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. watak. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. Jadi baik adalah bahagiya. 1993: 25). adat. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan.

indah. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. yaitu khair li dhatihi. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. dan khair li dhatihi. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). khair li ghairihi. didalamnya juga terdapat 36 . Indikasi khair adalah memiliki manfaat. Akan tetapi sebaliknya. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. khair li ghairihi. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua.1924: 152). yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. perbuatan seperti aniaya. Jilid III: 52). Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Ada tiga bentuk khair. dan lezat.

Atau kualitas dari perbuatan. ataukah sebaliknya. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. maka akan beruntunglah hidupnya. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. pengertian moral. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik.sifat-sifat khair sharr. 2004: 1). apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . Etika dan Akhlak Secara terminologi. B. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. tindakan atau tingkah laku manusia. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. tindakan. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. Perbedaan Moral. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. benar atau salah. tingkah laku. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia.

benar dan salah .interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu .Mendiskusikan moral. berperilaku dalam komunitas masyarakat .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . Etika dan akhlak Bahasan 1.Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Kebiasaan atau adat istiadat . Moral Definisi .Mengkaji filsafat moral .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk . Perbedaan Moral.Bagaimana seharusnya manusia. perbedaan antara moral.Ilmu tentang filsafat moral .1. Untuk lebih jelasnya.Bersifat sobyektif dan relatif . etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2. aturan. tradisi dan idiologi .Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian . 2.Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi.Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu .Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Bersumber dari agama.Mengkaji tentang moralitas .Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku . Etika 38 . .Ajaran-ajaran tentang kebaikan .Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Membicarakan tentang baik dan buruk.Nilai perbuatan manusia . pilihan mana yang baik dan buruk.Perilaku baik dan buruk manusia .

dan etika berasal dari bahasa Yunani.Bersumber dari sya. Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman.Jiwa manusia (akal. dan berasal dari bahasa Arab.Sikap batin yang telah nusia. Moral berasal dari bahasa latin.. Perbedaan. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk. moral dan etika memiliki arti yang sama. etika dan akhlak. bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’. ’sopan santun’.Internalisasi dan in. Dan ahlak berarti ciptaan.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . hati setiap manusia . kualitas perbuatan ma. hanya saja berbeda dari asalnya. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan. Etika dan Akhlak Secara etimologi. 1998: 255).Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika. Dari uraian tentang moral.Siratan-siratan hati guh. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . 3.dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . Akhlak . Persamaan Moral.. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung. yaitu adat kebiasaan. benar atau salah atau tindakan manusia. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C.Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab.

Stevenson. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. Ketika menggunakan kata baik. atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . 1. apa yang dikatakan atau diasumsikan. moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. ”Ini adalah baik”. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah.L. etika dan akhlak. Dalam kontek pembahasan tesis ini. tidak mewakili apapun. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. Teori Moral. 2004: 167). setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya. begitu juga dengan teori moral. D. Hudson). mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun.D. Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman.

b). Ada tiga kemungkinan yang membedakan. c. b.Hudson) tak dapat dianalisa. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. sebab penganut faham positivisme logic. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. yaitu : a. atau sangat segera. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. berkaitan dengan emosi. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. sesuai dengan teorinya. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika.pertimbangan. 41 . Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”.D.Hudson). Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. yang berkenaan dengan emosi. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. dengan berubah dari yang sebelumnya. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka.D.

2. Bergson. (direct and immediate) (James Hasting). intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. Menurut Bergson. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. 1975: 105). 1963:11-12). kewajiban atau hak. bukan berdasarkan situasi. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. dengan perkataan kenyataan. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid).

apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). Menurut Bergson. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. indra dan pengalaman. benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. (Juhaya S. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan.Praja. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. dan pengetahuan ini ada perantaranya. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 .

namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. b. darah. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. d. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. seperti contoh denyut jantung. yang 44 . c. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. dan lain sebagainya.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. Pokok Persoalan Etika. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. Perbuatan yang netral. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. bernafas. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. Perbuatan semu. benar. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk.

Suatu perbuatan bersifat etis. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. (Harlan B. melebihi segala hal merugikan. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. dijawab dengan kewajibankewajiban moral. 1988). Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Disinilah. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. karena hanya dengan 45 . Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. 3. Miller. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. 4. Dari pemahaman tersebut. etika memainkan peranannya.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya.

Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Hukum moral mengandung imperatif kategoris.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. (senang atau tidak senang). Berten. dan juga karena wajib dilakukan. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. tentang teori moralnya. Orang yang bertindak karena kewajiban. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. misalnya hutang harus dibayar. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. sebagaimana dijelaskan oleh K. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. janji harus ditepati. Menurut teori ini. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. dan lain sebagainya. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. Menurut Immanuel Kant. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). maka dalam bertindak secara moral.

Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. sebagaimana harimau. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. 2003: 84-85) 5. pesan. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. Etika Hak. dapat menahan diri. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 6. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. rakus dan pembunuh.

Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. baik. Pertama. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. E. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. dan ada yang diformat menerima perubahan. Kedua. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. Demikian halnya dengan akhlak. keseimbangan nafsu dan amarah. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. buruk dan jahat sekali. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam.

apakah moral itu bisa diajarkan. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. 2007: 20-21). ed. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. memberikan beban sebagai suatu kewajiban. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. 1987 (Ibid: 21). sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. 49 . terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. Mujahadah dan Riyadhah. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan.berikut: Socrates. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas.

ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. 50 . mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna.2003: 312) . Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Kebijakan 15. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika.1983: 510). Bagi Miskawaih. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. dan kesolekhan. keberhasilan. Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. Ibn Miskawaih. keadilan.1923:23). buruk dan jahat sekali. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. kebahagiaan. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. baik.

Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Kearifan. Keberanian. 2. 4. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. ketiganya 51 . dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. sederhana. 1. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. yaitu : kearifan. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. 3. Sederhana. keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. Ibn Miskawaih. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. pembagiannya menjadi empat bagian.dan keadilan. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. terletak pada mengetahui yang ada. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu.1923: 23). merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. juga merupakan kebajikan jiwa. keberanian. Keadilan.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles.

Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir). kemudian cita-cita (hazm). Menurut Elizabeth B. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. Raghib al-Isfahani. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. yakni dorongan nafsu makan. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. ambisi pada kekuasaan. Menurut Raghib. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. Menurut Ibn Miskawaih. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). seksual. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). Organ tubuh yang digunakan adalah hati. menjelaskan secara psikologis. 1994: 45) Jiwa. ide (khaitir). Pertama. minuman. kedudukan dan kehormatan. (Suparman Syukur. fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah).2004: 327). Organ tubuh yang digunakan adalah otak. 2002: 32). dan segala macam inderawi. keinginan terhadap kelezatan. yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). Ketiga. Kedua.

Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. kedermawanan melalui kesederhanaan. kesabaran. namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . keberanian melalui kesabaran. Dengan sarana pendidikan. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari.atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. kesederhanaan. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). dan keadilan.

2007: 118). pengambilan peran dalam 54 . Tugas manusialah untuk melatih. 2007: 116). dengan demikian. abdullah Idi. abdullah Idi. dan yang mendorong terjadinya dialog. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah.Asri Budiningsih. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. 1995) disamping di dalam keluarga. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. terutama para pendidik dan orang tua. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. lingkungan sekolah. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. lihat pula QS Asy Syams: 8. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral.(C. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. baik di dalam lingkungan keluarga. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral.

Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. 55 . yaitu pola laku positif atau negatif. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Ada empat rukun yang harus dipenuhi. Al Ghozali menawarkan suatu konsep. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. maupun pengetahuan tentang polalaku. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. kemampuan untuk mengakses keduanya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. seseorang yang marah. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. kemampuan untuk membentuk polalaku. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. 2003: 146-147). 2003: 145). pengambilan peran dalam kelompok sebaya. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. pengetahuan tentang keduanya. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. karena merasa didzalimi. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. yaitu 1) kekuatan ilmu. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. 2) kekuatan marah.kelompok keluarga.

wajah misalnya. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. Sebagaimana bentuk lahir.Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. keberanian 17. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. sementara apresiasi hidung diabaikan. Dari beberapa uraian tersebut. Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). demikian juga dengan keempat rukun tersebut. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16.

Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. Peneliti Perkembangan Moral. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. 2002: 287). 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. hukuman dan keadilan (Ibid). 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. berbohong. 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis.kelapangan dada18 dan keadilan 19. seperti mencuri.Santrock. kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama.1983:506-507). timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. 18 57 . kedua. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. E. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut.

Bagi pemikir otonomous. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting.1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. bukan maksud-maksud dari pelaku. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. yang benar adalah sebaliknya. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue.

Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran.2.Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . Pemikir Heteronomous . seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama. Pemahaman diri anak berkembang. bisa dibuat kesepakatan .Aturan bersifat kaku. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. hukuman akan dikenakan segera.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 . dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. 6.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . 3.Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku .Menerima perubahan. dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan. 2. 5. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. 4.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun .Dilakukan anak berusia 410 tahun . Pemikir Otonomous . tidak bersifat kaku . tidak boleh diubah .Aturan bersifat fleksibel.Tabel 2.Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan .Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku . Piaget berpendapat bahwa. .: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7. 21 59 .

Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. atau peserta didik dengan moralitas baik. pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. Santrock. 2. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. sekolah menengah pertama tiga tahun. dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. 60 . 2002: 342). Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan.1975: 21). karena dua faktor.

maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. (Ibid : 115). sukses dan ingin tahu. rasa harga diri. (Khoiron Rosyadi. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . kebebasan. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. kebutuhan rasa aman. pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. 2004: 195). Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. abdullah Idi.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan. jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. maka akan tetap dalam perubahan itu. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. 2007: 109). Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. dan bila dapat dirubah. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru.

sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. menkondisikan. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. temannya bersikap. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis.diberikan oleh keluarga. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya berkata. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. dan bukan perintah. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. kondisi temannya. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. Memberi motivasi. Oleh karena itu. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. cara temannya berpakaian.

sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". Maka dalam setiap even pendidikan. maka akan memetik perbuatan. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan.dengan kemerdekaan beraktifitas. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. sebagai berikut: 63 . dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. Havinghurst mengemukakan. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. 2005: xliii) Robert J. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. Misalnya. dan tentunya semua mata pelajaran. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris".

2. 5. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. Memperkembangkan kata hati. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. 3. kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. 2. 3. terutama akhlaknya. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. 4. 7. 2004: 194). karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . 5. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. 8. membaca dan berhitung. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. Meluaskan lingkungan pikiran. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. berbuat baik adalah kewajiban manusia. 6.1. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. Berkawan dengan orang-orang terpilih. 4. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1.

Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. Akal. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). manusia yang termarginalkan. yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia.1975: 63-66). rumpun atau etnis. Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. 65 . memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. ingin di puji. manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. dan pendidikan islami (Islamic education).perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. pendidikan masa depan (education for future). dan lain sebagainya.

BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. Setiap gagasan yang muncul. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. Manusia yang diabaikan. kemampuan. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. tidak diperhatikan. dan 66 . menurut Berry.

2006: 42).penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus.David Smith. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970).

sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission.Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45). hanya jika institusi sekolah umum diubah. Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). Oleh Will (1986). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut.

kecuali ketaqwaannya. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . selama memungkinkan. Tujuan utamanya. sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46).” Dalam buku J. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. bahwa manusia pada dasarnya sama.

1994) Inklusi itu masa depan. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. menantang. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. 2005: 19). Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. hak asasi manusia. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. milik ras manusia. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Holtzman&Messick (1982). maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. dilakukan bersama bagi satu sama lain. baik 70 . dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. Menurut Heller.” (pernyataan Salamanca. Lebih dari itu. menjadi bagian dari kelas tersebut. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang.

bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. karena dalam masa pembelajaran. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www.et all.Pendidikan Inclusive). yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata.google. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Maurice J. peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. 2003: 33) 71 . sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Dalam J. Tujuan utamanya.

Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. Thailand. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. . tunadaksa. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. menuju • • • • • 72 . pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. Ph. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). Kerangka Dakar. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004.Inklusi . dan kualitas dari.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997.

Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Realitasnya secara inheren. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif).kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. 2006). Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 .

Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. dengan metode-metode. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. rekreasi. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. anak jalanan atau pekerja. anak dari orang-orang desa atau nomadik. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. sosial. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. intelektual. layanan pendidikan yang berkualitas. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. Ramah terhadap Peserta Didik. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. fisik. Menciptakan Kelas Inklusif. Suatu lingkungan yang inklusif.2006: 37). kesehatan. linguistik atau karakteristik lainnya. linguistiknya. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. emosional. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP).

anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. anak jalanan atau pekerja.berbeda. linguistik atau karakteristik lainnya. kelompok etnis. sosial. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. latar belakang. sosial dan lain sebagainya). intelektual. fisik. usia. anak dari orang-orang desa atau nomadik. (dalam kemampuan. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). emosi. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. gender. semua anak bisa belajar. linguistiknya. emosional.

mental. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. yang 76 . intelektual. Melalui pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. Oleh karena itu. yaitu landasan filosofis utama. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. manusia sisa-sisa. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. B. emosional. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan.

silih asih. Landasan empiris. Landasan pedagogis. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. kreatif. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. berakhlak mulia. Landasan yuridis internasional. Jadi. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. diawali 77 . melalui pendidikanlah. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. mandiri. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. berilmu. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. sehingga mendorong sikap silih asah. cakap. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. 2003). perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. sehat. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat.

6: 160. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. C. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. mental-intelektual. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. 4: 9. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. social. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. 43: 32. QS Az-Zuhruf.

Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. sendi. 4. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. untuk keperluan pendidikan inklusi.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). 2. 79 . Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. anak korban narkoba. anak yang memiliki penyakit kronis. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). Jika masih dijumpai di sekolah. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. kreativitas. karena berdasarkan berbagai studi. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. dan lain-lain. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. 3. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. artikulasi (pengucapan). sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). komunikasi maupun sosial. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. Lamban belajar (slow learner). 8. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. lebih lamban dibanding dengan yang normal. 7. isi bahasa. 2004). atau fungsi bahasa. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. 9. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). 80 . kesulitan belajar menulis (disgrafia). dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang mengalami kelainan suara. sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. menulis dan berhitung atau matematika). Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.5. 6. atau kelancaran bicara. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.

seakan berdiri 81 . Isriati. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. SD Hj. Secara de fakto SD Hj. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. ibu kota Jawa Tengah. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. kebersamaan Pendidikan mereka. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi.87. Bangunan sekolah seluas 3. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. nomor : 421. Nama Hj. Kelurahan Pekunden. Isriati Semarang. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Sekilas Perkembangan SD Hj. Provinsi Jawa Tengah. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. Moenadi. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. namun secara de jure. pusat Kota Semarang. Kota Semarang. nomor 1179/I03/I. Kecamatan Semarang Tengah. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj.2/Swt/09237/1991.200 meter persegi ini. ijin operasional sementara. D.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler.

Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 . pada tahun 1985 – 1987. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman.. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Periode ketiga. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. S.. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.Pd. Sri Tantowiyah. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. M. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. Pada masa ini SD Hj. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Periode kedua. dan sarana prasarana. Isriati Baiturrahman.Pd. disebut sebagai periode keperintisan. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Pada periode ini SD Hj. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia.megah di atas tanah seluas 11. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. satu komplek dengan TK Hj. pada tahun 1987 – 2000. Periode pertama. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. pada tahun 2000 – 2008. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj.765 meter persegi. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Pada periode ini SD Hj. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. Dra. Pada periode ini SD Hj. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj.

Menggambar. Vokal. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan.II: 2). wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah.bab. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). menghayati. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). Pilihan Dai kecil (Pildacil). selalu mendapatkan juara. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. lomba mata pelajaran. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. Sains. pidato Bahasa Inggris. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. Pendidikan inklusif 83 . cerdas. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. Karena saleh. Baca Puisi. tingkat kota.2007. E. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Berbagai lomba telah diikutinya. Sempoa. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami.Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas.

sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Di kelas reguler. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. SD Hj. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. termasuk anak berkebutuhan khusus”. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. Didalam perjalanan melayani masyarakat. SD Hj. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. social. mental-intelektual. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. dan mereka dilayani secara inklusif. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia.

namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. harus dikembangkan potensinya. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. harus dilayani. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. Dalam melaksanakan pembelajaran. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. harus diberikan tempat yang layak. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). Kasih sayang 85 . para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. harus diberikan haknya. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1.khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. Isriati Semarang. harus dimanusiakan. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Mereka belajar tidak dengan mudah. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. serta belajar seni baca alQuran. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. bahasa Arab. membaca Al-Quran. 2. bahwa SD Hj. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . dll. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mengaji. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama.komitmen sejak awal. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. 3. mengaji. 4. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. Disamping pembiasaan tersebut diatas. 5. melakukan shalat berjamaah dlsb.

1. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. guru pembimbing serta orang tua. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. sebagai berikut : Tabel 3. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca.didik berkebutuhan khusus.

Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). pasti nangis dan mogok. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. 16-31 Juli’07 M. Berkonsultasi dengan ortu. 3. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah.lah di sekolah khusus (SLB) 2. punya sifat kecil hati (tak percaya diri). emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. rame. ABK dengan kelainan ADHD. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes.

marah meledak tanpa pandang bulu. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. sangatlah membutuhkan perhatian. karena manusia pada 93 . apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. 15 Agus’07 6.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. kesabaran. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya.

mau menerima perubahan. F. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. mereka lebih fleksibel. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. tidak bersifat kaku. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. supaya cahaya tersebut tidak padam. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. tidak boleh diubah. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . bagi anak anak berusia 410 tahun.

Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). pendapat sendiri. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). Keaneka ragaman teman sebaya. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. masih lugu. belum memiliki pola pikir sendiri.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. karena mereka berasal dari berbagai keadaan. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi.Isriati Semarang. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. moralitasnya baik. peseta didik yang bermoral. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. kakek neneknya. masih murni. masih kaku. Lingkungan keluarga (orang tua.

1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. 2) enjoyment atau joy.. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. 4) contemp. 6) anger atau rage. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). misalnya ada temannya yang nakal. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya.dkk. 3) shame atau humilitation. 5) disgust. Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. tuna netra. 3) surprise atau startie. yaitu 1) interest atau excitement. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. Yang enam bersifat negatif. Tiga bersifat positif. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. yaitu: 1) distress atau anguish. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. Menurut Tomkins (lih. tuna grahita).atau bersosialisasi dengan teman-temannya. atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis).Morgan. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. 2) fear atau terror. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 .

karena SD HJ Isriati. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. Isriati Semarang. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. diberi stimulus. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. Dalam kontek ini. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. Peserta didik dalam berpikir. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. bahagia dan memiliki kepuasan diri.lingkungan sekolah.

saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. (dengan berbuat baik.nasehat dan perintah-perintahnya. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. 4) Kalau disuruh orang tua. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. Lingkungan sosial kedua. apabila saya melanggar nasehat. Jika orang tua sedang berbicara. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. 1. guru maupun teman sebayanya. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. tidak melanggar aturan. saya tidak menyela pembicaraannya. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. tidak kasar dan tidak sembrono. malu. dan lain sebagainya) 98 . dan 6) Dimanapun saya berada. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. 5) Saya ingin menghormatinya. tidak nakal.keluarga. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. saya merasa rikuh pekewuh. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. 2). Untuk mengetahui sikap moralnya. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran.

saya mendengarkan dengan penuh perhatian. diperintah orang tua. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. 4) Saya menundukan kepala. dan 6) Apabila dinasehati. membungkukkan badan. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun.Penalaran atau pemikiran. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya menurut. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. mengutarakan kepada orang tua. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. 2) Jika terjadi perselisihan. dan melaksanakan perintahnya 2. saya menggandeng dan mengiringi orang tua. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. saya berusaha untuk bermusyawarah. saya memilih untuk mengalah. 3) Jika bepergian. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. saya mencium tangannya.

dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 3) Saya peduli dengan jerih payah. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. 3. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. 2) Saya mengajak belajar. teman yang nakal. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. normal atau cacat. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. kurang pandai. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. kaya atau miskin.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. karena tidak mengharapkan balasan. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. dlsb. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. membentuk 100 . anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. bermain bersama.

menmbulkan masalah. Dari beberapa pertanyaan tersebut. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. Saya mengagumi teman yang baik hati. 4) Saya membantu memberi teman-teman. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. suka membantu dan tidak suka berkelahi. 5) saya. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. kategori pertama. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. kategori kedua. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. dan kategori keempat. 101 . pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi.kelompok belajar. dengan cara menelpon. dikategorikan dalam 4 kategori. suka menolong teman lainnya. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi.

yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. varian. 1. minimum (Ghozali. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini. 2001: 19). Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. standart deviasi. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. 2002: 21). Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). maksimum. 102 .

peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2.1. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1.1. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini. moralitas peserta didik normal 1.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. 103 .Tabel 4. 1.

1.1.1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata.3. 2. 3.Tabel 4. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113.2. 2. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. Tabel 4. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 . Minimal dan Maksimal No 1. Minimal dan Maksimal No 1. 3.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

3. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. 42 % 52. 63 % 64. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71.Tabel 4. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. 43%. No 1.7. 2004: 84). lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. lingkungan sekolah. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. Semakin tinggi moralitas peserta didik. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. baik di dalam lingkungan keluarga. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. Normal 1 dan Normal 2. 2. 23 %. 108 . Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Apabila dicermati lebih mendalam.

Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 29 % Sangat Baik No 1. 2. 14 % 28. 3. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.39 22 . menunjukkan moralitas yang sangat baik.8. baik.57 %) dan sedang (14. 57 % 14. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik (28. 1993). Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. Tabel 4.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.49 31 .30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. sedang dan kurang baik. 14 %).Hasil Penelitian 1.

29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Tabel 4. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 57 % 14. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 14 %). 1993). sedang dan kurang baik. 3.9.49 4 57. 57 %) dan sedang (14.2. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 1. 14 % Sangat 28 . 110 .yang sangat baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. baik. 2. 14 %. baik (28.38 17 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.27 2 1 28. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . 29 % Baik No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik.

Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.3. menunjukkan moralitas yang sangat baik. baik (28. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 57 %) dan sedang (14. 111 . 1993).Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. sedang dan kurang baik. 14 %. baik. 14 %). Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. 1.

Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31. baik. 112 .10.36 13 . 3.Tabel 4.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . 1993). 14 %. Peserta Didik Normal 1 2. 14 % Sangat 25 . 2. sedang dan kurang baik. menunjukkan moralitas yang sangat baik.24 2 1 28. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.47 4 57. 2. 57 % 14. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik.

sedang dan kurang baik. 05 %) serta kurang baik (10. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 58 % 36. sedang (21. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. 1. 3. 05 % 10. 1993). Tabel 4. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 4. 42 % di atas prosentase rata-ratanya.58 %). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 84 %). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 2.2. baik (36. baik. 84 % Keterangan Baik 21.39 28 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.11.33 22 .27 No 1. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31.45 34 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. Dengan demikian dapat diketahui 113 .

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. 89 %. 84 % 42. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 1993). Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . 3. baik (36.05 %).41 30 .3. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21. 2. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. 84 %) dan sedang (42. baik. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru.48 No 1. 1. 05 % Keterangan 37 . Tabel 5.12.36 7 8 36. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57. sedang dan kurang baik.

13. 53 % 31. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. Tabel 4. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. 63 % 5. 26 % Keterangan No 1.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.53 %).dan deviasi standarnya adalah 7.37 22 .1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.63 %) serta kurang baik (5. Peserta Didik Normal 2 3. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . baik.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. baik (31. 3. sedang (52. sedang dan kurang baik. 4. 58 % Sedang 52. 11 %. 3. 2.58 %).

29 %). 29 %). menunjukkan moralitas yang sangat baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 . Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. sedang (21. baik (14.14.40 25 . 43 %) serta kurang baik (10.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 29 % Sangat Baik 21. 2. 43 % 21.32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 43 % Keterangan No 1. 29 % 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 29 %. 1993). 3.2. 4.48 33 . 3. Tabel 4.32 25 . Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 .

Untuk melihat lebih detail 117 . sedang (50 %) serta kurang baik (7.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik.72 % Sedang 50 % 7. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 . 1993). Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13.43 26 . 3. baik (35.kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.57 30 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. 2.3. 86 %.14 % Keterangan No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik.15. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. Tabel 4. 3.14 % 35. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42.29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7.71 44 .14 %).71 %). 4.

2. 92 % 7. 24 %. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.16. baik.46 31 .71 %). 1993). Tabel 4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46.54 39. 4.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 53 % 35. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. 118 . Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 3.92 %) serta kurang baik (7. sedang dan kurang baik.38 23 . sedang (42. baik (35. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.53 %).30 No 1. 71 % Keterangan Sedang 42.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.

84 %. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. Keenam. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. terhadap orang tua. 63 % Ketiga.B. disiplin dan sangat baik. 29 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. 11 %. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. 14 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. 42 % dan 57. 28 %. Kelima. 42 %. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. Keempat. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. Kedua. sedangkan moralitas peserta didik 119 . maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama.

normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 86 % dan 46. 24 %. 120 .

24 %. 86 %.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. dengan prosentase 57. 3. 4. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. 14 %. 11 %. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. 121 . dengan prosentase 57. 2. 28 %. 42. 42 %. sampai dengan 46. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. 84 % sampai dengan 68. 29 %. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 5. 63 % sampai dengan 64. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj.

2. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. dan memanjatkan doa kepada Allah.B. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. baik dari segi bahasa. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Penulis menyadari sepenuhnya. Bagi Birokrat. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. sistimatika maupun analisisnya. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. Bagi Peneliti. kritik. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. 122 . normal 1 dan normal 2. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. Akhirnya. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan.

Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. Isriati Semarang 123 . atas bantuan dan jerih payah adikadik.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Juli 2008 Saya. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj. Selamat bekerja ya. Amiin Semarang. Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas.

dan lain sebagainya). Dimanapun saya berada. 4. tidak melanggar aturan. 3. 124 . tidak nakal. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. 5. Saya berbicara dengan orang tua.siap dan tidak terpaksa. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. saya tidak menyela pembicaraannya. Saya merasa rikuh pekewuh. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. saya melakukannya dengan lembut. Rukun 7. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. saya mengerjakan dengan ringan. (dengan berbuat baik. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. 6. Jika orang tua sedang berbicara. malu. saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. 2.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. tidak kasar dan tidak sembrono.

saya mendengarkan dengan penuh perhatian. saya memilih untuk mengalah. 14. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. 15. dan melaksanakan perintahnya. Saya menundukkan kepala. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. 125 . saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. 11. 10. 16. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja.8. 12. membungkukkan badan. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. 9. saya menurut. saya berusaha mencium tangannya. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. Jika terjadi perselisihan. Apabila dinasehati. diperintah orang tua. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran.

Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. 21. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. 23. 24.17. 22. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). menulis dengan rapi dan sebagainya. Rukun 18. 19. 20.

miskin. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. teman yang nakal. kurang pandai. dengan berbicara tenang. Rukun 26. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. Saya menghormati teman. 32. normal atau cacat. tanpa membedabedakannya. dan tidak pandai bergaul. sekalipun dia cacat. Saya tidak pernah mengejek temanteman. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. mencolak colek atau menjahili teman. 27. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. kaya atau miskin. 33. 35. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. 127 . 31. 29 30.25. kurang pandai. dlsb. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. 34. walaupun dia tidak berada di samping saya. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. Saya menghormati teman. Saya tidak bertindak usil. saya bersimpati kepadanya. 28.

Saya merasa terpanggil untuk membantu teman. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 .36.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful