MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. 065112072 4 . Semarang. Juli 2008 Siti Barokah NIM. Penulis.

menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. 5 . 63 %. 43 %. sampai dengan 64. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase. 52. Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. 71. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral. yaitu kesucian. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. guru dan teman sebayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Moralitas terhadap Guru. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. tanpa melihat perbedaan. dan telaah dokumen. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. 2. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. wawancara. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. mass media dan suguhan-suguhan internet.

serta Drs. Prof. Amin Syukur. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. Dr. tegur sapa.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. 3.H. Penulisan tesis ini. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. selaku penasehat akademik. HM. H.Abdul Muhaya. Darori Amin. dukungan. selalu melimpahkan ketetapan Iman. M.. M. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. Ucapan terima kasih.SocSc.A. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia. semoga Yang Maha Kuasa. DR. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo. Dr. selaku penasehat akademik. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. M. M. Muhammad SAW. 2. Achmad Gunaryo. bimbingan dari semua pihak.A. Amiin.. tidak lepas dari dorongan semangat.A. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. penulis tujukan kepada : 1. H. 4. masukan.. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. Islam serta kesehatan.

Pudji Tikno. dorongan. semangat. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. amal dan kebijakan. Puti Widya Ekasani SE. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. Putri-putriku. Dan dengan kerendahan hati. Juli 2008 Penulis 7 . yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa. dimohon kritik. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan.bimbingan. Semarang. Drs. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. 5. Suamiku.semangat menapaki hidup dengan ilmu. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. semangat . sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan.M. M. yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

........... Daftar Tabel ........................ Kata Pengantar .................. II.................................... Rumusan Masalah .................................... C... Perbedaan Moral.................. Abstraksi .................................. Etika dan Akhlak ........................................... LANDASAN TEORI A.... Emotivisme ..............Halaman Judul ......................... Telaah Pustaka ...... 1....................................................... Daftar Lampiran .... Intuisionisme .............. G.. Etika dan Akhlak .................................... Sistimatika Penulisan ...... C......................................... F....................... Etika dan Akhlak ........ Teori Moral..... Konsekuensialisme .................................. Teknik Analisis Data ............................................. Latar Belakang Masalah ....... I............ Motto .................................... PENDAHULUAN A............... Metode Penelitian .................. B......... 2....................... Persamaan Moral............................... 3.......................................... B............................................... Pendekatan Penelitian ............ Daftar Singkatan ........................ Tujuan .... 2....................................................................................................... Halaman Pengesahan ....... D.......... E................................ 3.... D....................................... 1............................ i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ............................. Etika dan Akhlak ........................................... Signifikansi ................................................................... Daftar Isi ............ Definisi Moral................................................ Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis .. Halaman Persetujuan .................................. Metode Pengumpulan Data ..........................

........... ............................ Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ......... F................... 6...................... Deskripsi Data Penelitian ... . V... Moralitas Peserta Didik ................... Strategi Pembentukan Moralitas ........... Isriati Semarang .................................................................. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua .............. Hasil Analisis Data Penelitian ............ Moralitas Peserta Didik SD Hj.. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ... KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 .......... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru . C..... 84 2.......................... Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj... IV.... Isriati Semarang .......................................................... Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1... Teori-teori Akhlak ................................Kekuatan Ilmu ......................... Etika Hak ....................... 2...... D.. III... ..... Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya ............Kebijakan atau Jalan Tengah ........4........ .................. B....... E... 5.......... Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ...... Deontologi ....... B............... F...................Mujahadah dan Riyadhah ..... Sekilas Perkembangan SD Hj.. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik .. 3.........................................Kepatuhan terhadap Agama . DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A....... MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A........... E........... Cakupan Moralitas Peserta Didik 1.........

..A................. Kesimpulan .................................................. Saran dan Penutup ........... B...................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 .......

........2.... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ... Tabel 2.............1......5...... : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous .................................... Etika dan Akhlak ........1........... Tabel 4............... Tabel 4.. Tabel 4...... s-d Tabel 4.......16.......... Isriati Semarang ............... Tabel 4..... Normal 1 dan Normal 2 .6..... Tabel 2.1........ Minimal dan Maksimal ................... : Skor Subyek pada Nilai Rerata. : Perbedaan Moral............... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi . Tabel 4........ : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus . 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 ............ : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .... Tabel 4...Tabel 1. : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj......... Tabel 4.....4........ Minimal dan Maksimal untuk ABK ..................7.. : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ..2.... Tabel 3..................... : Skor Subyek pada Nilai Rerata...................................... : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik ............8.... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ......................1....... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus...3.. Tabel 4..

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

hal itu disebabkan. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. akan tetapi 15 .33). Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa. pertama. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. memiliki sopan santun. kedua. kecerdasan. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. Maurice J. Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. Ketiga. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. 20 tahun 2003). sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. jenjang. Oleh karena itu. peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. pengendalian diri.BAB I PENDAHULUAN A.h. bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. Dengan kata lain. 2003. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar. masyarakat. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. mampu menunjukkan jati dirinya. akhlak mulia. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. 20 tahun 2003). kepribadian.et all. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.

bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. 2001:60).Hurlock. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup. 1990. seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. cet. berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia. dan teman. guru. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam. rukun membangun kekuatan (Purwadi.. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. Moralitas adalah sopan santun. Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. crah agawe bubrah”. Secara sosiologis. 1978: 75). Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. 2006: 257). Bertingkah laku baik.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. bagi peserta didik. Djoko Dwiyanto. Balai Pustaka.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. 16 . yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B.

saling menerima. dalam suasana tenang dan sepakat. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. tawuran. saling berempati. kupasan media cetak. sebagaimana dikutip oleh John W. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. tenang. bahkan sampai terjadi perkelaian. sehat rokhani. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. dan menghormati kepada para guru-guru. tanpa perselisihan. pelecehan. Sekolah Menengah Pertama (SMP). Santrock. Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. Ironisnya. seperti tidak menghargai. suka bekerja sama. 2001: xliii). berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. saling mengasihi. damai satu sama lain. mereka meniru.Sikap saling menghargai. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). saling tolong menolong dan saling bekerja sama. mereka bersosialisasi. saling menghormati. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . pertentangan. Menurut Jensen & Kingston (1986). sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). tayangan Televisi. tentram. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian.

yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. Menurut Kohlberg3. Santrock.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. khususnya bagi peserta didik. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Secara psikologis. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis.www //google. anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. dan tingkat empat. yang merupakan dasar dari perilaku etis. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. Kaidah kedua adalah sikap hormat. 2001: 38). akan memetik nasib (Ary Ginanjar. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. 2003: lviii). kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral. dan dengan menabur karakter. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. yang berada di SD Hj.(http. 3 18 . walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). akan memetik perbuatan. 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Moral).

Learning how to be. Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. ranah nilai dan ranah keterampilan 4. sebagaimana Prinsip Pendidikan. Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. (http://id. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. social. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. mental-intelektual. Learning how to live together. tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.wikipedia. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. Learning how to learn. Learning how to do. 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. 4 19 .Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. 2007: 49).org/wiki/Moral). Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain).

lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak.1. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.Gangguan pemusatan perhatian . berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak. 2006. meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak.hyper aktif berat .III. Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak.memungkinkan (Denis. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA).hyper aktif ringan 4. III. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Enrica. Tabel 1. Lambat belajar 3. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD). Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 .II. V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. ada 57 (lima puluh tujuh) anak. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. Gangguan pendengaran 2. 44). III III I. serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Tuna Laras 5. (2) Menerapkan pendidikan Islami.IV I. Berkesulitan belajar . dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I. hal.

3) Sering melakukan tindakan agresif.google. misalnya kepala terlalu kecil atau besar. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . 2. pendengaran. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda.2004) . Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. aktifitas ataupun orang. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. Tidak tertarik untuk berteman. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. 2) Mudah terangsang emosinya. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. emosional. 4) Sering bertindak melanggar norma sosial. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. dan mudah marah. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.ciri-ciri authis). merusak. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. b). e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.www. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. mengganggu. penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. 3. ide. sentuhan. Authis. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. 21 . dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali).Cenderung membangkang. Marah tanpa alasan yang masuk akal.

Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj. Isriati Semarang. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. Israti Semarang. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik.B. 7 22 . sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. D. C. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. 2. social. mental-intelektual. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. b. Manfaat Praktis 1. Isriati Semarang. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Tujuan Penelitian a. Isriati Semarang.

Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. 23 . guru dan teman sebaya). Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya.2. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). E. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. 2005). (Pudji Asri. karakteristik kelompok. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka.

tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. karakteristik kelompok. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. 24 . yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. 2. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. (d) the holistic view of the pupil. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. orang tua. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. (b) education for all. (c) the principle of non-segregation. masyarakat dan pemerintah. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. tenaga ahli. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus.

b) pendidikan untuk semua. (Santoso. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. 2005. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). 3. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. Muhammad Abdul Fattah .(e) handicap seen in relation to external factors. c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. especially school environment. khususnya lingkungan sekolah. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif. Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. 91: 8). 8 25 . d) suatu pandangan utuh dari peserta didik.

1985: 127). 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Pengamatan (Observasi). tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat).F. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. 2. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah. sosial maupun emosionalnya.1985:126). Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik. dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. Metode Pengumpulan data 1. adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. intelegensi. mengingat SD Hj.

serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini.1985: 131). 2001: 15) 27 . digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. peraturan-peraturan. guru dan teman sebaya. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. catatan dan lainnya (Arikunto. 3. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. G. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif.

untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. yang diungkap dalam latar belakang masalah. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi.BAB I. untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. teori tersebut antara lain. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. 28 . teori tentang moralitas. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. Isriati Semarang. kemudian untuk penguatan. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. pelayanan BAB II. wawancara. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. SD Hj. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. BAB III.

untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.BAB IV. 29 . BAB V. dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. terhadap guru serta terhadap teman sebaya. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. saran dan penutup dari penelitian. berisi tentang kesimpulan. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah.

Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 . mores) yang berarti kebiasaan.BAB II LANDASAN TEORI A.Berten. Definisi Moral. mores) yang berarti kebiasaan. Etika dan Akhlak Moral Moral. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. yang terdapat dimana-mana.Berten. Baron. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. karena sifatnya yang abstrak. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih. 2007: 7).Poespoprojo. 2004: 24). baik atau buruk. W. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. adat istiadat. moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas. 2007: 7).Berten. Senada dengan pengertian tersebut. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. Dengan kata lain. dkk mengatakan. Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. 1998: 18).Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. 2007: 12). adat. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.

Immanuel Kant. entah itu aturan hukum negara. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. lembaga pendidikan. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. Menurut Kant. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. seorang pemuka madzab filsafat baru. maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . yang disebut filsafat kritis (critical philosophy).Berten. 1992). sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan. moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.1992). dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar.

Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. 10 32 . Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. (c) ajaran. 2004: 393). Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. kebajikan. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. makna atau kesimpulan tentang moral. 2003: 146-147). Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. kira-kira abad ke 1416. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289). 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan.dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu.

peribahasa. dalam mempelajari dan membahas moralitas. biasanya dalam bentuk ungkapan. mutiara-kata. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. 2007: 15).Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. tetapi tidak menyatakan dengan tegas.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. Berten. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. Joko Dwiyanto. ketika seseorang berbicara tentang etika. etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral. benar atau salah. 2006:14). dan metaetika. K. Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk.Suriasumantri. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. Dengan demikian. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. 2006: 24). 12 33 . dan sebagainya yang menyiratkan. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’.

berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal. pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . tetapi tetap berakar pada manusia. tetapi adalah instinc. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. yaitu : 1. tidak berguna untuk tujuan. berakhlak dan tidak. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. 1996: 83). baik dan buruk.Kekuatan ini bukan buah dari milliu.1996: 34). meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. Golongan pertama. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. apabila yang merugikan. 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. Golongan kedua berpendapat bahwa. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu.1975: 84). sebaliknya yang tidak berharga. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu. pengalaman. zama atau pendidikan. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. 2.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat.

Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. yakni berdasarkan keinginannya. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. 1993: 25). yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. watak. Jadi baik adalah bahagiya. diantaranya : tabiat. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. kebajikan atau kemuliaan. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 .besar. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. karena berhubungan dengan akal. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. pengetahuan. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. adat. kekayaan. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. persahabatan. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. 2004: 41). Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan. Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. 1913: 10).

Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut. tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. indah.1924: 152). yaitu khair li dhatihi. akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. didalamnya juga terdapat 36 . Ada tiga bentuk khair.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk. perbuatan seperti aniaya. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. dan khair li dhatihi. khair li ghairihi. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. dan lezat. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. khair li ghairihi. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. Akan tetapi sebaliknya. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. Jilid III: 52).

karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. maka akan beruntunglah hidupnya. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . tindakan atau tingkah laku manusia. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. Etika dan Akhlak Secara terminologi. Atau kualitas dari perbuatan. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. tingkah laku. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. B. benar atau salah. Perbedaan Moral. maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. ataukah sebaliknya. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. tindakan. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya.sifat-sifat khair sharr. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. 2004: 1). apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. pengertian moral. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan.

Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk.Ilmu tentang filsafat moral .Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu .Mengkaji filsafat moral .Mendiskusikan moral.Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari . Perbedaan Moral.Bersifat sobyektif dan relatif .Perilaku baik dan buruk manusia . Etika dan akhlak Bahasan 1. Moral Definisi . aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Mengkaji tentang moralitas .Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa.1. perbedaan antara moral. tradisi dan idiologi .Nilai perbuatan manusia . 2.Bagaimana seharusnya manusia. berperilaku dalam komunitas masyarakat . benar dan salah .interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu . Untuk lebih jelasnya.Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi. etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku .Ajaran-ajaran tentang kebaikan . aturan. pilihan mana yang baik dan buruk.Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk .Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Membicarakan tentang baik dan buruk.Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . Etika 38 .Bersumber dari agama.Kebiasaan atau adat istiadat . .

hanya saja berbeda dari asalnya. Perbedaan.Sikap batin yang telah nusia.Bersumber dari sya..Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. benar atau salah atau tindakan manusia. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. dan etika berasal dari bahasa Yunani. Etika dan Akhlak Secara etimologi. hati setiap manusia .Jiwa manusia (akal. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . Moral berasal dari bahasa latin. 3.Siratan-siratan hati guh. yaitu adat kebiasaan. kualitas perbuatan ma. Persamaan Moral. jika terjadi terletak pada bentuk penerapan. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. Dari uraian tentang moral.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. Dan ahlak berarti ciptaan. moral dan etika memiliki arti yang sama. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung.Internalisasi dan in.dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) . Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk. ’sopan santun’.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . etika dan akhlak. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. Akhlak . dan berasal dari bahasa Arab. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika.. 1998: 255). bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’.

Hudson). apa yang dikatakan atau diasumsikan. ”Ini adalah baik”. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori.Stevenson. etika dan akhlak. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman.L. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa.D. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable. D. Teori Moral. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . 2004: 167). moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori. tidak mewakili apapun. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. Dalam kontek pembahasan tesis ini. 1. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. begitu juga dengan teori moral. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. Ketika menggunakan kata baik. untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a).

b. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif. sesuai dengan teorinya. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. atau sangat segera. senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. 41 . Ada tiga kemungkinan yang membedakan. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. c. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika.Hudson) tak dapat dianalisa.D. berkaitan dengan emosi. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini. yaitu : a.Hudson). dengan berubah dari yang sebelumnya. b). sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. sebab penganut faham positivisme logic.D.pertimbangan. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. yang berkenaan dengan emosi.

Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. (direct and immediate) (James Hasting). bukan berdasarkan situasi. Menurut Bergson. dengan perkataan kenyataan.2. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. kewajiban atau hak. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. 1963:11-12). Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). 1975: 105). Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 . intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. Bergson. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin.

karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif. intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. indra dan pengalaman. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. dan pengetahuan ini ada perantaranya. Menurut Bergson. (Juhaya S. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31).Praja. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal.

benar. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. seperti contoh denyut jantung. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. Perbuatan semu. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. d. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. c. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. darah. Perbuatan yang netral.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. dan lain sebagainya. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. b. Pokok Persoalan Etika. yang 44 . Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. bernafas. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran.

melebihi segala hal merugikan. 4. etika memainkan peranannya. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. (Harlan B. karena hanya dengan 45 . 3. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. dijawab dengan kewajibankewajiban moral.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. 1988). Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). Miller. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Disinilah. Dari pemahaman tersebut. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Suatu perbuatan bersifat etis. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar.

misalnya hutang harus dibayar. maka dalam bertindak secara moral.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. dan lain sebagainya. dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. Berten. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. tentang teori moralnya. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. dan juga karena wajib dilakukan. Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Orang yang bertindak karena kewajiban. sebagaimana dijelaskan oleh K. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. (senang atau tidak senang). Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. Menurut teori ini. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Menurut Immanuel Kant. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. janji harus ditepati. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 .

tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. Etika Hak. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. rakus dan pembunuh. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . sebagaimana harimau. 6. dapat menahan diri. pesan. apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. 2003: 84-85) 5.

bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. dan ada yang diformat menerima perubahan. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. E. keseimbangan nafsu dan amarah. buruk dan jahat sekali. Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. Pertama. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. baik. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. Kedua. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. Demikian halnya dengan akhlak.

berikut: Socrates. 49 . 2007: 20-21). Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. Mujahadah dan Riyadhah. memberikan beban sebagai suatu kewajiban. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. 1987 (Ibid: 21). maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. ed. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat. apakah moral itu bisa diajarkan.

yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. baik. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). keberhasilan.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. keadilan. Bagi Miskawaih. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika.1983: 510). Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr.2003: 312) . dan kesolekhan. Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. Ibn Miskawaih. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna.1923:23). Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. 50 . Kebijakan 15. dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. kebahagiaan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai. buruk dan jahat sekali. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan.

Ibn Miskawaih. keberanian. 2. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. pembagiannya menjadi empat bagian. 3. sederhana. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. yaitu : kearifan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. ketiganya 51 . 4. keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. terletak pada mengetahui yang ada. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. Kearifan. Keberanian.dan keadilan. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. 1.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. juga merupakan kebajikan jiwa.1923: 23).pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. Keadilan. Sederhana. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus.

ide (khaitir).Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. kemudian cita-cita (hazm). Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. Kedua. 1994: 45) Jiwa. Pertama. seksual. dan segala macam inderawi. fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). keinginan terhadap kelezatan. menjelaskan secara psikologis.2004: 327). Organ tubuh yang digunakan adalah otak. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. dari keduanya muncul kehendak (iraadah). Ketiga. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. Menurut Ibn Miskawaih. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir). minuman. fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). Menurut Raghib. oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. (Suparman Syukur. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. yakni dorongan nafsu makan. kedudukan dan kehormatan. 2002: 32). Menurut Elizabeth B. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . ambisi pada kekuasaan. Raghib al-Isfahani. sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M.

namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . kedermawanan melalui kesederhanaan. Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. keberanian melalui kesabaran. kesabaran. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. kesederhanaan.atas tingkah laku yang diatur dari dalam. Dengan sarana pendidikan. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. dan keadilan.

Asri Budiningsih. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. terutama para pendidik dan orang tua. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel. 1995) disamping di dalam keluarga. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. dengan demikian. 2007: 116). baik di dalam lingkungan keluarga. lingkungan sekolah. abdullah Idi. 2007: 118). pengambilan peran dalam 54 . lihat pula QS Asy Syams: 8. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”. dan yang mendorong terjadinya dialog. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. Tugas manusialah untuk melatih. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers.(C. abdullah Idi.

Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. pengetahuan tentang keduanya. Al Ghozali menawarkan suatu konsep. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. 2003: 145). 2003: 146-147). 2) kekuatan marah. Ada empat rukun yang harus dipenuhi.kelompok keluarga. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. yaitu pola laku positif atau negatif. bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. maupun pengetahuan tentang polalaku. agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. karena merasa didzalimi. seseorang yang marah. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. pengambilan peran dalam kelompok sebaya. serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). yaitu 1) kekuatan ilmu. kemampuan untuk mengakses keduanya. kemampuan untuk membentuk polalaku. 55 . karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.

demikian juga dengan keempat rukun tersebut. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). sementara apresiasi hidung diabaikan. wajah misalnya. dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian).Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. keberanian 17. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. Dari beberapa uraian tersebut. Sebagaimana bentuk lahir. tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 . Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja.

kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. berbohong. 18 57 .kelapangan dada18 dan keadilan 19. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. E. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. seperti mencuri. tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. hukuman dan keadilan (Ibid).1983:506-507). bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. kedua. Peneliti Perkembangan Moral. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali.Santrock. 2002: 287). Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis.

maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. yang benar adalah sebaliknya. Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. Bagi pemikir otonomous. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 . bukan maksud-maksud dari pelaku. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih).1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan.

3. dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar. 2. dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama. Pemikir Heteronomous .Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama. tidak boleh diubah . 4.: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 .Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan . tidak bersifat kaku . bisa dibuat kesepakatan . 21 59 . Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. 6. .Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran.2. rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . Pemikir Otonomous .Aturan bersifat fleksibel.Aturan bersifat kaku.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan .Menerima perubahan.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku . 5.Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7. seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid.Dilakukan anak berusia 410 tahun .Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku . Pemahaman diri anak berkembang. hukuman akan dikenakan segera.Tabel 2. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. Piaget berpendapat bahwa.

Santrock. pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. 2002: 342). dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. atau peserta didik dengan moralitas baik. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. 2. baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. 60 . perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun.1975: 21). karena dua faktor. sekolah menengah pertama tiga tahun. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri).

Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. maka akan tetap dalam perubahan itu. sukses dan ingin tahu. Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan. abdullah Idi. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. kebebasan.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. 2004: 195). (Ibid : 115). pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. 2007: 109). rasa harga diri. karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci. maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). dan bila dapat dirubah. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. kebutuhan rasa aman. (Khoiron Rosyadi. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan.

Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . Oleh karena itu. temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. temannya bersikap. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. dan bukan perintah. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2.diberikan oleh keluarga. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. temannya berkata. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. cara temannya berpakaian. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. Memberi motivasi. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. menkondisikan. kondisi temannya. 1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan.

dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. Misalnya. Havinghurst mengemukakan. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. Maka dalam setiap even pendidikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". sebagai berikut: 63 . 2005: xliii) Robert J. maka akan memetik perbuatan. sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna.dengan kemerdekaan beraktifitas. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas. dan tentunya semua mata pelajaran. 2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. apabila manusia mendapat pendidik yang buruk.

Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. Berkawan dengan orang-orang terpilih. Meluaskan lingkungan pikiran. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. 5. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. 4.1. Belajar bergaul dengan teman sebaya. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. berbuat baik adalah kewajiban manusia. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. 2004: 194). Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. terutama akhlaknya. Memperkembangkan kata hati. 2. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. 4. 5. membaca dan berhitung. 3. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. 7. 3. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. 2. 8. 6. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1.

Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). dan pendidikan islami (Islamic education).1975: 63-66). ingin di puji. memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. manusia yang termarginalkan. Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. dan lain sebagainya.perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. pendidikan masa depan (education for future). Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia. 65 . manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. rumpun atau etnis. Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. Akal.

padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. tidak diperhatikan. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. kemampuan.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. Manusia yang diabaikan. menurut Berry. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. Setiap gagasan yang muncul. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. dan 66 .

pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang.penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid). Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42).2006: 42). Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970).David Smith. Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua.

hanya jika institusi sekolah umum diubah. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45). Oleh Will (1986). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992). sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}.Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987).

bahwa manusia pada dasarnya sama. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). Tujuan utamanya. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. selama memungkinkan. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. kecuali ketaqwaannya. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.” Dalam buku J.

Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. menjadi bagian dari kelas tersebut. Lebih dari itu. Holtzman&Messick (1982). dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya. hak asasi manusia.1994) Inklusi itu masa depan. 2005: 19). menantang. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. dilakukan bersama bagi satu sama lain. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian. baik 70 .” (pernyataan Salamanca. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. milik ras manusia. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima. Menurut Heller. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang.

(Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan. 2003: 33) 71 .Pendidikan Inclusive). karena dalam masa pembelajaran. peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid).et all. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Tujuan utamanya. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun.google. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi. Maurice J. Dalam J. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik.

yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. . para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. menuju • • • • • 72 . dan kualitas dari. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”. Ph. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990. Kerangka Dakar. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif.Inklusi . Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. tunadaksa. Thailand. perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Realitasnya secara inheren. mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik.kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 . pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. 2006).

emosional. anak dari orang-orang desa atau nomadik. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan. layanan pendidikan yang berkualitas. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. rekreasi. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik.2006: 37).pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. linguistik atau karakteristik lainnya. kesehatan. Menciptakan Kelas Inklusif. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. dengan metode-metode. linguistiknya. Suatu lingkungan yang inklusif. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. sosial. fisik. anak jalanan atau pekerja. Ramah terhadap Peserta Didik. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. intelektual.

(dalam kemampuan. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. usia. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). latar belakang. linguistiknya. sosial dan lain sebagainya). emosi. sosial. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. gender. fisik. intelektual. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS.berbeda. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. emosional. semua anak bisa belajar. anak jalanan atau pekerja. kelompok etnis. anak dari orang-orang desa atau nomadik. linguistik atau karakteristik lainnya.

intelektual. manusia sisa-sisa. emosional.Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. Melalui pendidikan inklusif. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. yang 76 . Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. mental. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. yaitu landasan filosofis utama. Oleh karena itu. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini. B.

Jadi. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. sehat. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehingga mendorong sikap silih asah. 2003). perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. cakap. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. silih asih. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. berakhlak mulia. diawali 77 . kreatif. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. melalui pendidikanlah. mandiri. Landasan empiris. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. berilmu. Landasan pedagogis. Landasan yuridis internasional.

Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. 4: 9. 6: 160. kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. 43: 32. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. social. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. mental-intelektual. QS Az-Zuhruf. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. C. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa.

sendi. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. 4. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. Jika masih dijumpai di sekolah. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. untuk keperluan pendidikan inklusi. yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. anak yang memiliki penyakit kronis. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. Dengan demikian. 79 . Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. anak korban narkoba. 3. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. 2. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. dan lain-lain. adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. kreativitas. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. karena berdasarkan berbagai studi. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya.

9. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Lamban belajar (slow learner). Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. menulis dan berhitung atau matematika).5. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). komunikasi maupun sosial. atau kelancaran bicara. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. kesulitan belajar menulis (disgrafia). 7. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. 2004). dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. 80 . sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. 6. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. isi bahasa. lebih lamban dibanding dengan yang normal. adalah anak yang mengalami kelainan suara. 8. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. atau fungsi bahasa. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. artikulasi (pengucapan). Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya.

memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. Provinsi Jawa Tengah. Nama Hj. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. Bangunan sekolah seluas 3. Isriati Semarang. Secara de fakto SD Hj. ibu kota Jawa Tengah.200 meter persegi ini. Moenadi. ijin operasional sementara. Isriati. namun secara de jure. baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. nomor : 421. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. Kota Semarang. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima.2/Swt/09237/1991. seakan berdiri 81 . nomor 1179/I03/I. D. Sekilas Perkembangan SD Hj. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik. kebersamaan Pendidikan mereka. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. SD Hj. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975.87. Kecamatan Semarang Tengah. pusat Kota Semarang. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. Kelurahan Pekunden.

Periode ketiga..megah di atas tanah seluas 11. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 .. Sri Tantowiyah. S. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. pada tahun 2000 – 2008. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya. Isriati di bawah kepemimpinan Hj.765 meter persegi. Isriati Baiturrahman. Pada periode ini SD Hj. M. disebut sebagai periode keperintisan. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. pada tahun 1985 – 1987. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua.Pd. Periode kedua. pada tahun 1987 – 2000. Pada periode ini SD Hj. periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri. Dra. Pada periode ini SD Hj. Selama 13 tahun inilah SD Hj.Pd. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. dan sarana prasarana. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Pada masa ini SD Hj. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. satu komplek dengan TK Hj. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj. Periode pertama. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto.

Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI . Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. Sains. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. menghayati.bab. ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan. Pendidikan inklusif 83 . Sempoa. dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. cerdas.II: 2). wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. tingkat kota.2007. Pilihan Dai kecil (Pildacil). Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. pidato Bahasa Inggris. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. Baca Puisi. selalu mendapatkan juara. Vokal. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. E. Menggambar. Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan. Berbagai lomba telah diikutinya. Karena saleh. lomba mata pelajaran.

emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. mental-intelektual. SD Hj. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . Di kelas reguler. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua. Didalam perjalanan melayani masyarakat. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. SD Hj. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. social. dan mereka dilayani secara inklusif. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. termasuk anak berkebutuhan khusus”. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj.

Mereka belajar tidak dengan mudah. harus dimanusiakan. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. lebih lamban dibanding dengan yang normal. harus diberikan tempat yang layak. Kasih sayang 85 . Isriati Semarang. para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). harus diberikan haknya. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat. Dalam melaksanakan pembelajaran. harus dikembangkan potensinya. harus dilayani. namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner).khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. melakukan shalat berjamaah dlsb. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. mengaji. bahwa SD Hj. 2. 5. dll. Mengaji. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum.komitmen sejak awal. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. serta belajar seni baca alQuran. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. membaca Al-Quran. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Disamping pembiasaan tersebut diatas. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. bahasa Arab. 3. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . 4. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat.

Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti.1. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. guru pembimbing serta orang tua.didik berkebutuhan khusus. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . sebagai berikut : Tabel 3.

emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. Berkonsultasi dengan ortu. rame. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif.lah di sekolah khusus (SLB) 2. karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. ABK dengan kelainan ADHD. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes. pasti nangis dan mogok. 16-31 Juli’07 M. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). 3. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. punya sifat kecil hati (tak percaya diri).

sangatlah membutuhkan perhatian. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. karena manusia pada 93 . apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. marah meledak tanpa pandang bulu. kesabaran. bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya. 15 Agus’07 6.

Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. tidak boleh diubah. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. mereka lebih fleksibel. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. tidak bersifat kaku. mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. supaya cahaya tersebut tidak padam. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. bagi anak anak berusia 410 tahun.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. F. mau menerima perubahan. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki.

masih murni. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah.Isriati Semarang. Lingkungan keluarga (orang tua. moralitasnya baik. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. masih kaku. kakek neneknya. masih lugu. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 . pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. Keaneka ragaman teman sebaya.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan. mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. belum memiliki pola pikir sendiri. pendapat sendiri. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). karena mereka berasal dari berbagai keadaan. peseta didik yang bermoral.

atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). 3) surprise atau startie. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya. Menurut Tomkins (lih. 2) enjoyment atau joy. yaitu 1) interest atau excitement.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang.. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions. tuna grahita). Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. misalnya ada temannya yang nakal. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). Tiga bersifat positif. tuna netra.dkk. ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. Yang enam bersifat negatif. 6) anger atau rage. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif.Morgan. Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 . yaitu: 1) distress atau anguish. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. 3) shame atau humilitation. 5) disgust.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. 4) contemp. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik. 2) fear atau terror.

Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 .lingkungan sekolah. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. diberi stimulus. karena SD HJ Isriati. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. Dalam kontek ini. bahagia dan memiliki kepuasan diri. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. Peserta didik dalam berpikir. Isriati Semarang.

(dengan berbuat baik. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. 1.nasehat dan perintah-perintahnya. dan lain sebagainya) 98 . Jika orang tua sedang berbicara. dan 6) Dimanapun saya berada. tidak nakal. ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. malu. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. Lingkungan sosial kedua. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. 4) Kalau disuruh orang tua.keluarga. 2). guru maupun teman sebayanya. saya tidak menyela pembicaraannya. tidak melanggar aturan. apabila saya melanggar nasehat. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. Untuk mengetahui sikap moralnya. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya. tidak kasar dan tidak sembrono. 5) Saya ingin menghormatinya. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. saya merasa rikuh pekewuh.

saya mencium tangannya. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. 3) Jika bepergian. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. saya memilih untuk mengalah. mengutarakan kepada orang tua. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. saya menggandeng dan mengiringi orang tua. dan 6) Apabila dinasehati. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. 4) Saya menundukan kepala. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. membungkukkan badan. diperintah orang tua. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. 2) Jika terjadi perselisihan. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. saya menurut. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . saya berusaha untuk bermusyawarah. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru.Penalaran atau pemikiran. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. dan melaksanakan perintahnya 2. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan.

3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan. bermain bersama. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. 3. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. teman yang nakal. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. membentuk 100 . karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. normal atau cacat. dlsb. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. kaya atau miskin. antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. karena tidak mengharapkan balasan. kurang pandai. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. 2) Saya mengajak belajar. 3) Saya peduli dengan jerih payah. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat.

apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. dan kategori keempat. Dari beberapa pertanyaan tersebut. kategori kedua.kelompok belajar. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. dikategorikan dalam 4 kategori. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. 101 . maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. suka membantu dan tidak suka berkelahi. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. menmbulkan masalah. Saya mengagumi teman yang baik hati. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. 4) Saya membantu memberi teman-teman. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. kategori pertama. dengan cara menelpon. 5) saya. suka menolong teman lainnya.

Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. maksimum. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini. varian. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. standart deviasi. 2002: 21). data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. 1. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik. Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. 2001: 19). 102 . subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. minimum (Ghozali.

103 . peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143.1. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2. Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. moralitas peserta didik normal 1.Tabel 4. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2.1. 1.

2. Tabel 4. 2. 3.1. 3. 1. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113.Tabel 4. Skor Subyek Pada Nilai Rerata.3. 2.1. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 . Minimal dan Maksimal No 1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Minimal dan Maksimal No 1.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

2. Apabila dicermati lebih mendalam. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. lingkungan sekolah.7. No 1. 63 % 64. 43%.Tabel 4. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. 23 %. Semakin tinggi moralitas peserta didik. 3. 108 . lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. Normal 1 dan Normal 2. baik di dalam lingkungan keluarga. 2004: 84). didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. 42 % 52. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.

8. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. sedang dan kurang baik. 3. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1. 14 % 28. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 .Hasil Penelitian 1. baik (28. 1993). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 2.30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.39 22 .1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. 14 %). baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 29 % Sangat Baik No 1.49 31 . Tabel 4. 57 % 14. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.57 %) dan sedang (14.

110 . 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. sedang dan kurang baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.2. 14 % Sangat 28 . baik (28. Tabel 4. 1. 3.27 2 1 28. 57 % 14. 2. 29 % Baik No 1. 1993). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 14 %). 14 %. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.yang sangat baik. 57 %) dan sedang (14. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. menunjukkan moralitas yang sangat baik.49 4 57. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8.9.38 17 .

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 111 . baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. menunjukkan moralitas yang sangat baik. 14 %. 1993). 14 %).3. 1. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. sedang dan kurang baik. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57.Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 57 %) dan sedang (14. baik (28.

24 2 1 28. 1993).47 4 57. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. 112 .1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 2. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 14 % Sangat 25 .10. 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik. sedang dan kurang baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Peserta Didik Normal 1 2.36 13 . Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . 2. 14 %. baik. 57 % 14.Tabel 4. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31. 3.

hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. 05 % 10. 84 %). menunjukkan moralitas yang sangat baik. Tabel 4. sedang (21.39 28 . 58 % 36.27 No 1. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 1993). Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. sedang dan kurang baik. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . 05 %) serta kurang baik (10.2. 4.45 34 . 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.33 22 . baik (36. 3. 1. Dengan demikian dapat diketahui 113 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.58 %). 42 % di atas prosentase rata-ratanya. 2. 84 % Keterangan Baik 21.11. baik.

Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 .05 %). 1. baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . 89 %.36 7 8 36. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. 84 % 42. 1993).41 30 . hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57.48 No 1. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.12. 3. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. 2. baik (36. Tabel 5. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.3. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. sedang dan kurang baik.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. 05 % Keterangan 37 . Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21. 84 %) dan sedang (42.

Tabel 4. 3.13. 63 % 5.63 %) serta kurang baik (5. 26 % Keterangan No 1. 58 % Sedang 52. baik (31. Peserta Didik Normal 2 3. 4. baik. 53 % 31. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 2.dan deviasi standarnya adalah 7.37 22 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.58 %). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. 11 %.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 .53 %). Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. sedang (52. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. sedang dan kurang baik.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10. 3. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.

Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 2. 29 % Sangat Baik 21. baik (14.48 33 . 1993). sedang (21. 43 %) serta kurang baik (10. 29 %).32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64. 29 %). 3. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. 29 %. 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. 29 % 14.14. 43 % Keterangan No 1.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 3. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Tabel 4. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 .2.40 25 .32 25 . 43 % 21. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 . 4.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7.15. baik (35. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2.kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.14 % 35.14 % Keterangan No 1. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 . 3. sedang dan kurang baik.43 26 .29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7. 1993). Untuk melihat lebih detail 117 . Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.14 %).71 44 . Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.72 % Sedang 50 % 7.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. baik.71 %). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. 86 %.3. 4. 3. Tabel 4. 2. menunjukkan moralitas yang sangat baik.57 30 . sedang (50 %) serta kurang baik (7.

46 31 . baik. 118 .53 %). Tabel 4. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.54 39. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10.30 No 1. 71 % Keterangan Sedang 42. baik (35.71 %). 24 %. 3.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. sedang dan kurang baik. 4. 1993).14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 53 % 35. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.38 23 . 2.92 %) serta kurang baik (7. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.16. 92 % 7. sedang (42. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46.

42 % dan 57. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68. disiplin dan sangat baik. 28 %. dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. 11 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. Kelima. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. Keenam. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. 29 %. Kedua. Keempat. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. 42 %. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik.B. 63 % Ketiga. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. terhadap orang tua. 84 %. 14 %. sedangkan moralitas peserta didik 119 . maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama.

86 % dan 46.normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 24 %. 120 .

dengan prosentase 57. 4. 24 %. 84 % sampai dengan 68. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 5. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 121 . 29 %. 14 %.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. 86 %. 2. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. 3. 11 %. 63 % sampai dengan 64. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. dengan prosentase 57. 42. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. 42 %. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. 28 %. sampai dengan 46. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik.

kritik. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. Penulis menyadari sepenuhnya. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. baik dari segi bahasa. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. Bagi Peneliti. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. dan memanjatkan doa kepada Allah. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. 122 . Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. 2. Akhirnya. normal 1 dan normal 2. sistimatika maupun analisisnya.B. Bagi Birokrat. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1.

Juli 2008 Saya. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”. Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Isriati Semarang 123 . Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Amiin Semarang. Selamat bekerja ya. atas bantuan dan jerih payah adikadik. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj.

saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Rukun 7. saya melakukannya dengan lembut. malu. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. Jika sedang ada persoalan dengan orang tua. Saya berbicara dengan orang tua. tidak kasar dan tidak sembrono. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. saya mengerjakan dengan ringan. 5. Saya merasa rikuh pekewuh. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. 4. dan lain sebagainya). Dimanapun saya berada.siap dan tidak terpaksa. 3. Jika orang tua sedang berbicara. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. 2. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. 6. tidak melanggar aturan. 124 . tidak nakal. saya tidak menyela pembicaraannya. (dengan berbuat baik.

membungkukkan badan. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. saya menurut. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui.8. 16. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. diperintah orang tua. saya memilih untuk mengalah. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. 10. MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. 9. 14. Jika terjadi perselisihan. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Apabila dinasehati. saya berusaha mencium tangannya. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. Saya menundukkan kepala. 11. dan melaksanakan perintahnya. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. 12. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. 125 . Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. 15.

Rukun 18. menulis dengan rapi dan sebagainya. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan.17. Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. 23. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. 20. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. 24. 22. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. 19. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . 21. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru.

dan tidak pandai bergaul. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. teman yang nakal. Rukun 26. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. tanpa membedabedakannya. Saya tidak pernah mengejek temanteman. 35. Saya menghormati teman. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. walaupun dia tidak berada di samping saya. 32. kurang pandai. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. mencolak colek atau menjahili teman. 127 . kaya atau miskin. 33. Saya menghormati teman. saya bersimpati kepadanya. miskin.25. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. sekalipun dia cacat. 29 30. 27. 28. dlsb. dengan berbicara tenang. 31. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. Saya tidak bertindak usil. 34. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. kurang pandai. normal atau cacat. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai.

36. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 . Saya merasa terpanggil untuk membantu teman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful