MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.

Isriati Semarang)

TESIS
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Oleh : Siti Barokah NIM. 065112072

PROGRAM MAGISTER INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO 2008

DR. H.Abdul Muhaya, MA. Perum BPI Blok K-17 Ngaliyan Semarang Telpon, 024 – 7625443

NOTA PEMBIMBING
Pembimbing dengan ini menerangkan bahwa Tesis Saudari Siti Barokah NIM. 065112072 yang berjudul : “MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF” telah siap dan memenuhi syarat untuk diujikan Program sebagai tesis pada IAIN konsentrasi Walisongo Etika tahun

Islam/Tasawuf,

Pascasarjana

akademik 2007/2008

Semarang, Pembimbing

Juli 2008

DR.H. Abdul Muhaya, M.A. NIP. 150245380

2

DEPARTEMEN iiiiiI

DEPARTEMEN AGAMA IAIN WALISONGO PROGRAM PASCASARJANA Jln. Raya Ngaliyan (kampus 3) Semarang 50185. Telp./Fax (024) 7614454. E-mail : Pascaws @ plasa.com Home Page : www.pascawalisongo.cjb.com

PENGESAHAN Tesis berjudul : MORALITAS PESERTA DIDIK PADA PENDIDIKAN INKLUSIF (Studi Kasus pada Sekolah Inklusi SD Hj.Isriati Semarang) : Siti Barokah : 065112072

Ditulis oleh NIM

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Studi Islam dalam Konsentrasi Etika/Tasawuf

Semarang,

Juli 2008

Direktur

Dr. H. Achmad Gunaryo, M.SocSc NIP. 150247012

3

PENULIS MENYATAKAN BAHWA TESIS INI TIDAK BERISI MATERI YANG TELAH PERNAH DITULIS OLEH ORANG LAIN ATAU DITERBITKAN. Penulis.DEKLARASI DENGAN PENUH KEJUJURAN DAN TANGGUNG JAWAB. KECUALI INFORMASI YANG TERDAPAT DALAM REFERENSI YANG DIJADIKAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN DALAM PENELITIAN INI. Juli 2008 Siti Barokah NIM. 065112072 4 . Semarang.

Fokus pada penelitian ini mengajukan rumusan masalah untuk mengetahui bagaimana moralitas peserta didik pada SD Hj. Pendidikan inklusif sebagai solusi dengan memberikan pelayanan pendidikan untuk semua. 63 %. Analisis yang dipergunakan untuk menguatkan fakta yang ada adalah SPSS. Moralitas terhadap Guru. hal tersebut sering disaksikan pada tayangan televisi. menerima keberbedaan dan tidak ada diskriminasi. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus. 52. menggunakan metode pengumpulan data dengan observasi. Gagasan tersebut dilatar belakangi adanya : 1. dan telaah dokumen. Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas. Keresahan yang terjadi pada dunia pendidikan tentang moralitas peserta didik yang berada pada degradasi moral.Abstraksi Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif. 28 % Fakta tersebut memberikan kontribusi bahwa pendidikan inklusif adalah wadah pelayanan education for future yang sesuai dengan fitrah manusia. mass media dan suguhan-suguhan internet. wawancara. 43 %. pada SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif menunjukkan hasil yang sangat baik bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan prosentase. Isriati sebagai penyelenggara pendidikan inklusif yang sekaligus mengkombinasikan kurikulum dengan syariah Islam dan apakah ada perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik non berkebutuhan khusus. guru dan teman sebayanya. merupakan judul yang dipilih dalam penelitian ini untuk mendukung tersedianya fakta dengan mengungkapkan data dan penalaran moralitas peserta didik yang dikemas dengan landasan moral budaya Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik pada usia 6 sampai dengan 12 tahun yang sederajad dengan peserta didik Sekolah Dasar yang memiliki kecenderungan untuk menjadi manusia yang bermoral baik terhadap orang tua. 71. yang merupakan moralitas yang memberikan dukungan untuk menjaga harmoni kehidupan demi kelangsungan hidup manusia. Data tersebut diidentivikasi untuk menentukan data yang mewakili untuk selanjutnya dianalisis. yaitu kesucian. tanpa melihat perbedaan. 5 . yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. 2. sampai dengan 64. serta Moralitas terhadap Teman Sebaya. Kata Kunci : Moralitas Peserta Didik terhadap Orang tua. yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik yang tempat duduknya berjauhan atau normal 2 menunjukkan peringkat baik dengan prosentase.

selaku penasehat akademik. serta Drs. Prof. bimbingan dari semua pihak. Achmad Gunaryo. Moralitas peserta didik yang akan diteliti dalam tesis ini dikaitkan dengan moralitas budaya Jawa yaitu prinsip hormat dan prinsip rukun. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dan dengan iringan do’a. Seluruh dosen pada program Pascasarjana IAIN Walisongo yang menorehkan ilmunya dan tersirat pada diri penulis untuk terus 6 program . Darori Amin. Dalam proses penulisan sampai dengan penyelesaian tesis ini. sehingga tetap akan terus berbuat kebaikan untuk semua. Amiin. selalu melimpahkan ketetapan Iman. Dr. Penulisan tesis ini. kami bersimpuh tak berdaya kecuali mencari ridhoNya. H.A. HM. yang akan kita nantikan syafaatnya di yaumul kiyamah. Amin Syukur.. Ucapan terima kasih.Kata Pengantar Dengan memanjatkan sembah sujud dan penuh ketaatan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan yang Maha segalanya. semoga Yang Maha Kuasa. selaku rektor Pascasarjana IAIN Walisongo.A. dan shalawat serta salam kami panjatkan kepada junjungan dan tauladan seluruh umat manusia.Abdul Muhaya. masukan. DR. M. penulis tujukan kepada : 1. H. tidak lepas dari dorongan semangat. selaku penasehat akademik. dukungan.SocSc. utamanya yang terkait langsung pada diri penulis. 3. Islam serta kesehatan. dan sekaligus mursyid yang memberi dorongan untuk terus maju dalam mengikuti perkuliahan di Pasca IAIN Walisongo. 2.. yang telah meluangkan waktu pada proses penulisan tesis ini. M. M. tegur sapa.A. selaku pembimbing yang penuh kesabaran dan kecerdikan. berusaha untuk mengungkapkan data-data dan fakta yang berkaitan dengan moralitas peserta didik pada pendidikan inklusif. 4. M. Muhammad SAW.H.. Dr.

Dan dengan kerendahan hati. Puti Widya Ekasani SE. serta mampu menimbulkan persaingan dalam berbuat kebaikan. semoga semuanya selalu pada kebaikan yang dilandasi dengan akal dan syariah yang mampu menuntunnya ke jalan bimbingan Tuhan. Pudji Tikno. 5. Drs.semangat menapaki hidup dengan ilmu. yang memberikan dukungan besar berupa dorongan. amal dan kebijakan. serta seluruh perangkat tenaga administrasi yang tidak mampu disebut namanya satu persatu yang telah membantu terselesainya penulisan tesis ini. Semarang. dimohon kritik. Dan seluruhnya yang memberikan dukungan. Suamiku. Putri-putriku. M. dorongan. sebagai Pendidikan yang berorientasi pada rasa atau hati sebagai fitrah yang suci untuk menuju sang Illahi. yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. saran dan masukan dari semua pihak untuk perkembangan Pendidikan Inklusif di masa mendatang. semangat .bimbingan.M. yang pada bulan Juli 2008 ini telah bubar dengan diberlakukannya Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja (SOTK) yang baru dan melebur menjadi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 7. semangat. Juli 2008 Penulis 7 . yang insya Allah menuju kepada yang diridhoiNya 6. Teman-teman sejawat di Seksi Kurikulum Subdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Osi Isna Sabela dan putra bungsuku Ikhsan Salasa.

DAFTAR SINGKATAN ABK ADHD AIDS CIBI Dirjen Dikdasmen Depdiknas HIV HAM LIRP MAN Pildacil PLB PUS PBB SLB SD SMP SMA SPSS SOTK Sisdiknas SAW UNESCO : Anak Berkebutuhan Khusus : Attention Deficit Hyperactivity Disorder : Acquired Immune Deficiency Syndrome : Cerdas Isimewa Bakat istimewa : Direktorat Jenderal : Pendidikan Dasan dan Menengah : Departemen Pendidikan Nasional : Human Immunedeviciency Virus : Hal Azasi Manusia : Lingkungan Inklusif Ramah terhadap Pembelajaran : Madrasah Aliyah Negeri : Pilihan Dai Kecil : Pendidikan Luar Biasa : Pendidikan Untuk Semua : Persatuan Bangsa-Bangsa : Sekolah Luar Biasa : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Manengah Atas : Statistical Products and Solution Services : Susunan Organisasi dan Tata Kerja : Sistim Pendidikan Nasional : Sollallahu a’laihi wa Sallaam : United Nations Educational Scientific and Cultural Organization UU : Undang-Undang 8 .

maka ia tidak akan pernah tahu” (Sufi) DAFTAR ISI 9 .MOTTO ‫ﻤﻦﻠﻢﻴﺬﻖﻠﻢﻴﻌﺮﻒ‬ ”Barang siapa yang tidak pernah merasakan.

....... Metode Pengumpulan Data ................................................. Persamaan Moral... C........................................ Halaman Persetujuan ........................................................... Perbedaan Moral.............................. Teori Moral... Kata Pengantar ................. Intuisionisme .......... 1............................. Motto ........ Etika dan Akhlak .................................................... Pendekatan Penelitian ..................... C................ PENDAHULUAN A.......................... Etika dan Akhlak ................................................................... LANDASAN TEORI A.......... Latar Belakang Masalah .................... Etika dan Akhlak .......................................................................................................... 2............................. Konsekuensialisme ... D................... Teknik Analisis Data ... Telaah Pustaka ... Daftar Lampiran ......................... D.......................................... B................................. Daftar Tabel ...................... Signifikansi ........ Daftar Singkatan ................................. Abstraksi .. 3............ Definisi Moral..... i ii iii iv v vi viii ix x xiii xiv 1 8 8 8 9 12 12 12 13 13 16 23 25 26 26 28 31 10 ............................. I.... G.............................................................................................. 3. F........................... Tujuan ...................................................... Rumusan Masalah .... Etika dan Akhlak .............. Metode Penelitian ...... 1.................. Pernyataan Keaslian Karya Tulis Tesis ................................... Daftar Isi . Halaman Pengesahan .................................. B.................. 2............... II... Sistimatika Penulisan ..................................................................Halaman Judul ........................... E....................... Emotivisme ........................

... B........... IV.... Moralitas Peserta Didik SD Hj.................................................................. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik .. 6............................................ Teori-teori Akhlak ..... .............. III................ DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A... Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya ....Kekuatan Ilmu ................... Isriati Semarang ..... Strategi Pembentukan Moralitas . Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif ............................................... Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua ........................ Sekilas Perkembangan SD Hj....... Deontologi ..... ... B..... 5..... Moralitas Peserta Didik ............................ 3.. KESIMPULAN DAN SARAN 88 105 86 85 11 .......... Deskripsi Data Penelitian ..................... MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A......... E..... F........ F.............. ..................... C.......Mujahadah dan Riyadhah ........ .................................... Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj..... Hasil Analisis Data Penelitian . 84 2........ Pengertian dan Konsep Pendidikan Inklusif ......................... V.. 2. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1.......Kepatuhan terhadap Agama ........ Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus ................... E..... D........ Etika Hak .............................4. Isriati Semarang 31 33 33 34 35 36 39 42 43 46 52 62 64 67 69 1.. Isriati Semarang ..............Kebijakan atau Jalan Tengah ...... Moralitas Peserta Didik terhadap Guru ............................

........................ Kesimpulan ... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN 107 108 DAFTAR TABEL 12 .........................A. B........................... Saran dan Penutup .............................

.................5.. Tabel 4. : Kegiatan Pelayanan Guru Pembimbing terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus . : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ......... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 2 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...........4...................1.............. Tabel 4.6.....3.. : Skor Subyek pada Nilai Rerata...................... : Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus...... s-d Tabel 4. Tabel 2.... Minimal dan Maksimal ..... Tabel 2.... Minimal dan Maksimal untuk ABK .......... Tabel 4........ : Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous ........... Tabel 4................................... : Skor Subyek pada Nilai Rerata..1..... 6 24 45 77 89 90 90 91 92 93 94 95 104 DAFTAR LAMPIRAN 13 .. Tabel 4......... : Kategori Moralitas Peserta Didik Normal 1 berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ...........................................16..... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi ........2.... : Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi .......... Tabel 4..7....... Tabel 4......Tabel 1........................8............... Etika dan Akhlak ........... Normal 1 dan Normal 2 . : Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik ........... : Perbedaan Moral.......... Isriati Semarang ..1......2.. Tabel 4...1.... Tabel 3...... : Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj........

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Daftar kuesioner peserta didik : Butir Jawaban Peserta Didik Berkebutuhan Khusus : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 1) Lampiran 3 : Butir Jawaban Non Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (Normal 2) Lampiran 4 Lampiran 5 : Rekapitulasi Butir Jawaban Peserta Didik : Lampiran-lampiran Hasil Analiysis SPSS 14 .

33). peserta didik merupakan generasi muda yang akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. jenjang. memiliki sopan santun. pendidikan tidaklah semata sebagai proses pencerdasan peserta didik. 20 tahun 2003). Ketiga. memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban-kewajibannya. kecerdasan. peserta didik juga merupakan aset utama bagi kemajuan bangsa dan negara. Dengan kata lain. kepribadian.BAB I PENDAHULUAN A. adanya kecendrungan menurunnya moralitas peserta didik terutama di kota kota besar.h. pertama. hal itu disebabkan. 2003. berkaitan dengan pendapat tersebut peserta didik yang dalam proses menuju kedewasaannya (pendidikan) disiapkan untuk mampu berperilaku baik. 20 tahun 2003). Bagi peserta didik masa sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. mampu menunjukkan jati dirinya. Latar Belakang Masalah Moralitas peserta didik merupakan persoalan yang aktual dan penting untuk dibicarakan. pendidikan tertentu (UU Sisdiknas no. Oleh karena itu. masyarakat. akan tetapi 15 . bangsa dan negara (UU Sisdiknas no. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan pembelajaran potensi diri melalui proses pengembangan dan jenis yang tersedia melalui jalur. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. akhlak mulia. idealnya peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritial keagamaan. Dalam proses pengembangan pembelajaran yang dijalani peserta didik diarahkan pada pembentukan manusia dewasa.et all. bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihan hatinya. kedua. Maurice J. sehingga memberikan ciri kekhasan sebagai manusia yang bernilai. pengendalian diri.

Warisan tersebut merupakan warisan budaya yang luhur. 16 . seharusnya terwujud dalam seluruh pola kehidupan yang berimplikasi pada keluarga. 1 Rukun adalah kesatuan perasaan antar individu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala jenis pertengkaran dan pertentangan (Purwadi. rukun membangun kekuatan (Purwadi. crah agawe bubrah”. sebagaimana tertuang dalam peribahasa “Rukun agawe santoso. bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu orang wajib untuk mempertahankannya dan untuk membawa diri sesuai dengannya (H. 2006:257) 2 Berdasarkan pendapat. 1990.Ke III: 2288) Perilaku baik yang dapat disebut moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Geertz dalam Franz Magnis-Suseno. peserta didik merupakan bagian dari lingkungan dimana mereka hidup.. Balai Pustaka. 1978: 75).Hurlock. Djoko Dwiyanto. Moralitas adalah sopan santun. Secara sosiologis. dan teman. guru. 2006: 257). berbuat dan berkarya dengan apa yang dimilikinya dan apa yang didapatkannya termasuk nilai baik buruk yang didapatkan secara turun-temurun. Yang artinya pertikaian membuat perceraian. bagi peserta didik. 2001:60). bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis. Ia muncul bersamaan dari peralihan dari kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam.pendidikan juga bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang bermoral. Bertingkah laku baik. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing (Elizabeth B. Ciri tersebut harus merupakan trade mark yang menjadi jati dirinya untuk dijadikan bekal menuju kedewasaan peserta didik. Kondisi-kondisi yang masih konsisten dan mampu memberikan kekuatan bagi mereka dan merupakan warisan dari nenek moyang yang tidak pernah luntur oleh perkembangan kehidupan bangsa yang menggeser nilai-nilai kehidupan bangsa ini ialah prinsip rukun1 dan prinsip hormat 2. cet. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (Kamus Besar Bahasa Indonesia.

tentram. bahkan sampai terjadi perkelaian. Hal ini merupakan indikasi merosotnya moralitas yang mustinya dijunjung tinggi demi terwujudnya manusia yang bermoral. fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan. pemerkosaan dan juga pembunuhan yang dilakukan oleh peserta didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). suka bekerja sama. Untuk membentuk dan mengarahkan peserta didik pada moralitas baik atau berperilaku baik diperlukan kondisi dan situasi yang benar-benar berada dalam keadaan selaras. saling menghormati. saling tolong menolong dan saling bekerja sama. Sekolah Menengah Pertama (SMP). saling menerima. dan inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah (Ary Ginanjar Agustian. berita di dalam internet marak dengan berita-berita tentang sikap-sikap negatif. seharusnya dipertahankan atau diuri-uri sebagai filosofi bangsa supaya manusia menjadi manusia yang sehat jasmani. saling mengasihi. damai satu sama lain. Ironisnya. pertentangan. Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai kota besar di negara ini. Sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi. sehat sosial maupun sehat spiritualnya. sebagaimana kriteria sehat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). dan menghormati kepada para guru-guru. tanpa perselisihan. sebagaimana dikutip oleh John W. pelecehan. kupasan media cetak. Menurut Jensen & Kingston (1986). mengisyaratkan bahwa telah terjadi degradasi moral. tayangan Televisi. peniruan merupakan suatu bagian yang penting dari proses membujuk peserta didik/anak- 17 . mereka bersosialisasi. saling berempati. mereka meniru. 2001: xliii). Santrock. seperti tidak menghargai. dalam suasana tenang dan sepakat. tenang. sehat rokhani.Sikap saling menghargai. Situasi dan kondisi tersebut diatas dianggap sebagai asumsi bahwa jiwa manusia dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi jiwa dan lingkungan dimana mereka hidup. tawuran.

Santrock. walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya . 2002: 49) Dalam perspektif Jawa. Dua kaidah tersebut seharusnya dijadikan dasar dalam pendidikan moralitas. mereka juga berada Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral.www //google. yang merupakan dasar dari perilaku etis. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. dan tingkat empat.anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. dimana mereka berfokus pada orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (Sikap anak baik). yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kaidah yang pertama menegaskan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. kaidah ini menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat kedudukannya (Frans Magnis Suseno. Kaidah kedua adalah sikap hormat. Isriati Semarang memiliki latar belakang budaya Jawa. dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan. pendidikan moral sangatlah tepat diberikan pada anak berusia 6 s-d 12 tahun. akan memetik perbuatan. yang berada di SD Hj. mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Secara psikologis. akan memetik nasib (Ary Ginanjar. khususnya bagi peserta didik. Menurut Kohlberg3. 3 18 . anak pada usia 6 s-d 12 dalam perkembangan moralnya berada pada tingkat tiga. Moral).(http. dengan menabur kebiasaan akan memetik karakter. pendidikan moral harus diarahkan pada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat. dan dengan menabur karakter. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini. Ary mengungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. 2003: lviii). Ary Ginanjar menyatakan bahwa proses pendidikan moralitas itu harus dilakukan secara kronologis. 2001: 38).

dan (3) Ranah keterampilan (psychomotor domain) (Anas Sudijono.Bloom dan kawan-kawannya berpendapat bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (=daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik. 5 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.org/wiki/Moral). Pengetahuan yang disampaikan oleh guru-guru dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai sesuatu gagasan yang selanjutnya perlu dibarengi dengan perbuatan nyata dengan melihat keberbedaan. karena tanggung jawab yang dihadapinya untuk segera bertindak begitu saja. (http://id. sebagaimana Prinsip Pendidikan. Learning how to learn. social. Jalan Pemuda Nomor 134 Semarang. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Pendidikan Inklusif adalah suatu komitmen dalam untuk melibatkan tingkat siswa-siswi pendidikan yang memiliki yang hambatan setiap mereka Benjamin S. Learning how to live together. ranah nilai dan ranah keterampilan 4.pada orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (Moralitas hukum dan aturan). tetapi harus diarahkan pada penemuan tujuan pendidikan. (2) Ranah nilai atau sikap (affektive domain). Dirjen Management Dikdasmen Departemen Pendidikan Nasional. Karena itulah pendidikan hendaknya tidak hanya diarahkan pada kecakapan yang bersifat intelektual semata. merekomendasikan ada 9 jenis anak berkebutuhan khusus atau sering disingkat ABK 5 yang perlu ditangani.wikipedia. Learning how to be. memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran. Subdin Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. 4 19 . sebagaimana dirumuskan oleh UNESCO yaitu Learning how to know. mental-intelektual. Di Jawa Tengah terdapat 155 (seratus lima puluh lima) sekolah penyelenggara inklusif 6. 2007: 49). yaitu (1) Ranah proses berpikir (coknitive domain). Dalam kurikulum yang telah dibakukan disebutkan pentingnya menyeimbangkan tiga ranah yaitu ranah proses berpikir. Learning how to do. 6 Data ini diperoleh dari Seksi Kurikulum.

ada 57 (lima puluh tujuh) anak. Anak Berkebutuhan Khusus pada umumnya sudah inheren pada sekolah reguler.hyper aktif ringan 4. Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah tersebar di 24 (dua puluh empat) Kabupaten/Kota. Tabel 1. Isriati Semarang Tahun Pelajaran 2007/2008 Kelas II I s-d VI I.Gangguan pemusatan perhatian . 2006. berkesulitan belajar/gangguan pemusatan perhatian (hyper aktif ringan ada 2 (dua) anak dan hyper aktif berat ada 2 (dua) anak). 44). serta 1 Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Enrica. dengan menambah kurikulum agama Islam sebagai bekal penanaman akhlak. Authis Jumlah Jumlah 1 40 2 2 2 9 1 57 20 . III III I. hal. Salah satu sekolah inklusi adalah SD Isriati Semarang. (2) Menerapkan pendidikan Islami.II.Untuk lebih jelasnya bisa melihat tabel dibawah ini.hyper aktif berat . meliputi jenis kebutuhan gangguan pendengaran 1 (satu) anak. 14 (empat belas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 2 (dua) Sekolah Menengah Atas (SMA). Berkesulitan belajar . Tunalaras/gangguan emosi 9 (lima) anak. dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa (1) Memiliki keberagaman peserta didik berkebutuhan khusus. terdiri dari 138 (seratus tiga puluh delapan) Sekolah Dasar (SD). III. Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus SD Hj.IV I. gangguan belajar 1 (satu) anak dan Authis ada 1 (satu) anak.1.III. lambat belajar (slow learner) 40 (empat puluh) anak. Tuna Laras 5. V III Jenis Anak Berkebutuhan Khusus 1. Lambat belajar 3. Gangguan pendengaran 2.memungkinkan (Denis.

misalnya kepala terlalu kecil atau besar. merusak. b). aktifitas ataupun orang. Marah tanpa alasan yang masuk akal. yang memiliki ciri-ciri: 1) Penampilan fisik tidak seimbang. mereka yang tampak dalam kondisi fisik. ide. c) Kelainan penginderaan sensitif terhadap cahaya. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari (http. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.Fokus dalam penelitian ini akan mendiskripsikan perilaku peserta didik. gerak fisik maupun memiliki perilaku yang berbeda. Tunalaras (Dysruptive) atau Gannguan Emosi dan perilaku. sehingga bisa menimbulkan perhatian bagi teman sebayanya.google. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda. peserta didik berkebutuhan khusus tersebut memiliki jenis kebutuhan sebagai berikut : 1. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1). pendengaran. sentuhan. 4) Tidak ada atau kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan seperti pandangan kosong. dan mudah marah.2004) . Tidak tertarik untuk berteman. memiliki ciri-ciri: a) Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. 3. mengganggu. 21 .Cenderung membangkang. 3) Perkembangan bicara atau bahasa terlambat. Bersosialisasi atau berteman lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. 6) Sering keluar ludah atau cairan dari mulut (ngiler). penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. 2) Mudah terangsang emosinya. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali). Authis. d) Bermain tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia. Tunagrahita/lambat belajar/slow learner. 2. e) Perilaku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). emosional.ciri-ciri authis). norma susila atau hukum (Buku II : Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu /Inklusi . 4) Sering bertindak melanggar norma sosial.www. 3) Sering melakukan tindakan agresif. dengan mejadikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai operan condition.

social. Untuk mengetahui perbedaan moralitas baik peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus7 dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. sehingga perleu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif. 7 22 . Signifikansi Berdasarkan uraian latar belakang. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. maka fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Isriati Semarang. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas. b. Dengan diketahui moralitas baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun normal yang belajar bersama-sama mengikuti proses pembelajaran pada SD Hj. Manfaat Praktis 1. maka akan bisa diambil manfaat dari pembelajaran hidup bersama (learning to live together). Isriati Semarang. rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. D. Apakah ada perbedaan moralitas peserta didik antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada pendidikan inklusif SD Hj. Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. Bagaimana moralitas baik peserta didik pada sekolah inklusi SD Hj. diharapkan memiliki nilai manfaat secara praktis. Untuk mengetahui moralitas baik peserta didik pada SD Hj.B. Israti Semarang. Tujuan Penelitian a. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. C. 2. mental-intelektual. Isriati Semarang.

merupakan program pelayanan pendidikan yang diharapkan mampu mengakses pendidikan untuk semua (educational for all). karakteristik kelompok. Isriati Semarang sebagai penyelenggara Pendidikan Inklusif. UPI Kampus Cibiru dan SD Sains Al Biruni). Pengembangan Program Bimbingan Sosial untuk Siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan program Inklusi (Studi Kasus di SD Lab. Dengan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan non berkebutuhan khusus pada SD Hj. Ada dengan prasarana telah beberapa dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1.2. Program Pendidikan Inklusif merupakan program pendidikan yang terus disosialisasikan memberikan penelitian sarana yang dan diupayakan dan keberadaannya beasiswa. tanpa diskriminasi dan menerima keberbedaan. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. E. guru dan teman sebaya). 23 . dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. maka secara umum suguhan-suguhan teman-teman (anak berkebutuhan khusus) memberikan sentuhan batiniah sehingga memberikan manfaat pada semua (orang tua. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. Telaah Pustaka Pendidikan Inklusif disosialisasikan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Dirjen Manajemen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta pada tahun 2003-2004. (Pudji Asri. 2005).

karakteristik kelompok. dan ada yang mengikut sertakan orangtua dalam program kegiatan tersebut. tenaga ahli. besarnya peranan keluarga dan lingkungan sekolah dalam pembentukan perilaku sosial mereka. Rekomendasi kepada Sekolah untuk mengembangkan sistem “sekolah yang ramah”. tidak adanya panduan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. the study finds five same characteristics of Islamic education and inclusive education: (a) education as a right/duty. Dari kesimpulan penelitian dikemukakan terkait dengan hubungan sosial peserta didik yang berkebutuhan khusus. masyarakat dan pemerintah. Hasil Jurnal Studi Islam mengemukakan bahwa Sekolah Syariah dan Pendidikan Inklusi. 24 . (d) the holistic view of the pupil. (c) the principle of non-segregation. meningkatkan kepedulian dan layanan pendidikan dengan kerja team yang solid antara pengajar. perkembangan etika pada anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak pada umumnya hanya mengalami hambatan yang disebabkan kelainannya. kurangnya tenaga profesional dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran program pendidikannya. (c) Jenis layanan bimbingan sosial yang diberikan ada yang mengikut sertakan anak berkebutuhan khusus dalam semua kegiatan sekolah. (b) education for all. 2. tidak ada perbedaan dalam profil perkembangan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. yang ditulis sebgaimana ditulis sebagai berikut ”Through comparative analysis. orang tua.(b) Program dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling termasuk bimbingan sosial sudah ada tetapi dalam realisasinya belum optimal. (d) Kendala yang dihadapi guru adalah ketidak pahamannya tentang anak berkebutuhan khusus.

yaitu keutamaan atau kebahagiaannya dalam melaksanakan kewajiban untuk berbuat baik demi kemaslakhatan dirinya. (Santoso. dan e) mengerti rintangan dalam hubungan dalam faktor-faktor eksternal. especially school environment. 3. b) pendidikan untuk semua. 2005. yaitu menjaga kerukunan dan tetap hormat sesuai dengan derajat kedudukannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan) (SQ Asy Syams (Matahari). khususnya lingkungan sekolah. lingkungan dan masa depannya dengan memperhatikan dan mengedepankan nilai moralitas yang dimilikinya. sehingga manusia tidak terhalang oleh kondisikondisi fisik semata namun lebih kepada segi batiniah yang mempunyai kekuatan yang tidak terhingga untuk mengantarkan manusia pada posisi tertingginya. lima sangat hasil mendukung berkembangnya tersebut dan analisis dari perbandingan Pendidikan karakteristik Islam Pendidikan Inklusi. 8 25 . Dalam penelitian ini penulis berusaha memberikan kontribusi dalam bentuk penyajian fakta dengan mendiskripsikan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dan normal yang belajar bersama-sama pada sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif yang diharapkan memberikan makna dalam kehidupan. d) suatu pandangan utuh dari peserta didik. 91: 8). c) prinsip dari tidak adanya pemisahan. a) pendidikan sebagai suatu kewajiban. dengan asumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah kesucian 8. Muhammad Abdul Fattah . Pemikiran Pendidikan menemukan tersebut Inklusif.(e) handicap seen in relation to external factors.

dimana pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru) diharapkan mampu mengakomodir keberagaman peserta didik yang berbeda dalam kondisi fisik. Metode Pengumpulan data 1. intelegensi. Pengamatan dilakukan terhadap a) Perilaku peserta didik berkebutuhan khusus yaitu mereka yang mengalami ganngguan kesulitan belajar (Hyper aktif ringan dan Hyper aktif berat). sosial maupun emosionalnya. Metode Penelitian Penelitian ini membidik moralitas perilaku peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik normal yang belajar bersama-sama dalam satu pembelajaran yang dilakukan dalam kelas inklusif. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis yang berpijak pada kebijakan lokal (local wisdom). 2) Peserta didik normal yang belajar bersama-sama dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Isriati Semarang adalah sekolah di Jawa Tengah.F. tuna laras (Dysruptive) (Gannguan Emosi dan perilaku) dan authis. 2. Wawancara (interview) adalah sebuah dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto. 3) Pembelajaran guru di kelas inklusif. Wawancara dalam penelitian yang telah 26 . Pengamatan (Observasi). adalah kegiatan yang akan dilaksanakan dengan memusatkan perhatian terhadap obyek yang menjadi sasaran penelitian (Arikunto. dengan harapan diperoleh data yang berkaitan dengan perilaku peserta didik.1985:126).1985: 127). maka pendekatan yang digunakan terfokus pada moralitas budaya Jawa. mengingat SD Hj.

Sikap moralitas yang akan dilihat yaitu: Pertama sikap hormat terhadap orang tua. Teknik Analisis Data Deskripsi 9 kualitatif dengan menggunakan bantuan program SPSS . Selanjutnya hasil tersebut diuji dengan teknik triangulasi. digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK). pembelajaran dan perhatian guru pembimbing yang fokus terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Sistimatika Penulisan Dalam menguraikan kronologi berpikir penulis untuk mencari kebenaran dalam penulisan tesis ini. Telaah Dokumen adalah teknik penggalian data yang terdapat dalam bentuk dokumen seperti buku. sejarah penyelenggaran Pendidikan Inklusif. 3. catatan dan lainnya (Arikunto. guru dan teman sebaya. maka diuraikan pada bab-bab sebagai berikut : 9 SPSS adalah suatu software yang berfungsi untuk menganalisis data. melakukan perhitungan statistic baik untuk statistic parametrik maupun non parametrik dengan basis windows (Imam Ghozali. guru dan teman sebaya dan kedua sikap rukun terhadap orang tua. 2001: 15) 27 .1985: 131). yaitu menguji data yang peneliti peroleh dari satu informan dengan informan yang lainnya. peraturan-peraturan.dilakukan untuk mengungkapkan sejarah perkembangan penyelenggaran pendidikan inklusif. G. serta data-data lain yang mendukung untuk memperjelas analisis penelitian ini. jenis anak berkebutuhan khusus dan perilaku peserta didik normal terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan lingkungan.

apakah fakta tersebut pendidikan telah yang mendukung seharusnya berlangsungnya diberlakukan. pelayanan BAB II.BAB I. Pendahuluan yang mengungkapkan fenomena kehidupan peserta didik dalam tayangan televisi. teori tentang moralitas. telaah dokumen serta intrumen pertanyaan kepada peserta didik pada SD Hj. SD Hj. berisi tentang landasan-landasan konsep dan teori sebagai penguat. untuk itu penulis berasumsi bahwa situasi tersebut lebih disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung berkembangnya moralitas baik yang telah tertanam pada diri individu dalam pelayanan pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. serta prinsip moralitas budaya bangsa Indonesia yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. untuk itu perlu diungkapkan permasalahan tentang bagaimana moralitas peserta didik pada pendidikan inklusi yang mampu mengakomodir semua keberbedaan peserta didik. teori tersebut antara lain. 28 . wawancara. dipilih dalam penelitian ini karena memiliki beraneka ragam peserta didik dalam jenis berkebutuhan khusus. Isriati Semarang sebagai tempat researh ini dilakukan. yang diungkap dalam latar belakang masalah. kemudian untuk penguatan. BAB III. berita mass media serta dalam internet menunjukkan warna yang suram. bertindak dan merasakan perkembangan moralnya. untuk mencari jawaban permasalahan tersebut informasi data dan fakta dengan menggunakan observasi. pada bab ini dikupas pelayanan pendidikan dalam bentuk Pendidikan Inklusif perlu diungkap sebagai wadah bahwa moralitas perlu ditanamkan dan dibiasakan pada peserta didik dengan learning to live together pada jenjang sekolah dasar yang merupakan tahap awal peserta didik dalam berpikir. etika dan akhlak yang membicarakan kajian tentang baik dan buruk perbuatan manusia. Isriati Semarang.

terhadap guru serta terhadap teman sebaya.BAB IV. untuk menjawab permasalahan terungkap dalam bab ini dengan mengungkapkan fakta moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. analisis deskripsi dengan menggunakan SPSS. moralitas peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1 serta peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. Kesimpulan merupakan jawaban dari problem penelitian yang telah ditulis pada rumusan masalah. BAB V. berisi tentang kesimpulan. Disamping itu pada bab ini juga berisi saran yang ditujukan kepada pembaca baik dari kalangan peneliti maupun dari pengambil kebijakan atau birokrat dan penutup. 29 . dengan indikator sikap hormat dan sikap rukun peserta didik terhadap orang tua. saran dan penutup dari penelitian.

W. mores) yang berarti kebiasaan. 2007: 12).Berten. Etika dan Akhlak Moral Moral. baik atau buruk. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K.Berten. adat istiadat. dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. konon diambil dari bahasa Latin mos (jamak. sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih.BAB II LANDASAN TEORI A.Poespoprojo. 2004: 24). Definisi Moral. Dengan kata lain. adat.Berten. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan 30 .Poespoprodjo mendefinisikan moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah. 1998: 18). moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal (K. bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar (Asri Budinningsih. dkk mengatakan. Kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama. mores) yang berarti kebiasaan. yang terdapat dimana-mana. Moralitas seringkali dipahami sebagai suatu sikap moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (K. karena sifatnya yang abstrak. 2007: 7). Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. Kata ’bermoral’ mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku. Senada dengan pengertian tersebut. Baron. 2007: 7). Pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak. maka dalam pengertian disini lebih ditekankan pada penggunaan moralitas.

moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. lembaga pendidikan. dijelaskan bahwa Moralitas memiliki makna: 1) Pola-pola kaidah tingkah-laku. Tetapi demikian dengan perasaan dan simpati bisa datang dan pergi terlepas dari kehendak manusia. yang disebut filsafat kritis (critical philosophy). maka seseorang tersebut harus secara otonom mencari apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya.1992). Akan tetapi hanya tidak berseberangan dengan suara hatinya. karena karyanya ini memberikan Kant reputasi internasional. Immanuel Kant. 2003: 22) Seseorang dapat mengandalkan tatanan normatif itu.Berten. dan tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan.bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah-kaidah atau norma-norma (K. 1992). mengatakan bahwa moralitas adalah hal keyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar. 2007: 14) Moral adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang bersifat normatif yang sudah ikut serta bersama kita seiring dengan umur yang kita jalani (Amin Abdulah: 167). Menurut Kant. entah itu aturan hukum negara. Seseorang boleh “ikut-ikutan” dengan pandangan serta tatanan moral masyarakat. lembaga pengajian atau komunitas-komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. Apabila kesadaran moral subjek meragukan tatanan moral sosial itu. seseorang tidak boleh mengikuti apa yang diharapkan oleh lingkungannya (Fran Magnis Suseno. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. seorang pemuka madzab filsafat baru. budi bahasa yang dipandang baik dan luhur 31 . sehingga titik tekan ”moral” adalah aturan-aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja baik oleh keluarga. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia. segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. menjelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun. dan ia tidak dapat disatukan dengan peraturan H B Acton. agama atau adat-istiadat (Frans Magnis-Suseno.

Moral yang diartikan juga sebagai akhlak adalah indikasi seseorang yang paling sempurna imannya yaitu yang paling baik akhlaknya. 2003: 146-147). Dan tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi 10 aktualisasi potensi batin dan responsi 11 pengaruh lingkungan (Baharuddin. Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia mencintai orang lain. 2004: 393). Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekpresikan kondisi psikis. kebajikan. (b) sistem atau ilmu pengetahuan tentang moral. makna atau kesimpulan tentang moral. dimaksud untuk menunjukkan kepada penonton tentang perjuangan abadi antara baik dan buruk dalam jiwa manusia. (d) peri keadaan yang sesuai dengan nilai dan azas akhlak yang baik. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang. kira-kira abad ke 1416. 11 Responsi berarti tingkah laku muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Secara terperinci dapat dibedakan dalam (a) asas atau sifat moral. dan merupakan langkah penting dalam penduniawian drama (Kamus Bahasa Indonesia 1990: 2288-2289).dalam suatu lingkungan atau masyarakat tertentu. seperti ia mencintai dirinya (Sabda Rasulllullah dalam Jalaluddin Rakhmat. 10 32 . Tingkah laku manusia senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. baik atau buruk yang diyakininya sebagai suatu aturanaturan normatif atau kaidah-kaidah dan berlaku dalam suatu komunitas masyarakat tertentu yang dilakukan karena adanya suatu keharusan atau kewajiban. Drama moralitas tumbuh terlepas dari drama misteri keagamaan. Tokohtokoh lakon merupakan personifikasi kebajikan dan kejahatan. Manusia diajak untuk membatinkan dirinya kepada baik dan luhur. Dengan demikian moralitas dapat disimpulkan sebagai kualitas perbuatan atau tingkah laku manusia yang berhubungan dengan salah atau benar. (c) ajaran. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi. 2) Drama: Bentuk Drama yang berkembang di Eropa dalam abad pertengahan.

sebagai suatu penegasan yang seakan memberikan klaim pada status moral. dalam pendekatan ini telah memberikan penilaian atau rekomendasi tentang moral. dalam mempelajari dan membahas moralitas. Dengan demikian. 2006:14). perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak bebas tidak dapat dikenai penilaian moral. ketika seseorang berbicara tentang etika. dan sebagainya yang menyiratkan. tak lepas pula dengan kajian yang membicarakan baik atau buruk. Istilah etika atau morel dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan kesusilaan. etika normatif yang membicarakan moral dan adanya diskusidiskusi yang membahas tentang moral. Obyek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. bentuk jamaknya mores yang artinya ’kebiasaan’. Berten. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin mos yang merupakan bentuk tunggal. Untuk memahami pengertian dan istilah etika berikut uraiannya. Beretika mengacu pada bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. 2007: 15). etika menggunakan tiga pendekatan yang oleh Berten diterangkan sebagai etika deskriptif yang melukiskan tingkah laku moral.Etika Kata etika seringkali dipakai bersamanan dengan kata moral. Joko Dwiyanto.Berten mendefnisikan etika sebagai ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas (K. benar atau salah. dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar (Jujun S. mutiara-kata. dan metaetika.Suriasumantri. peribahasa. Etika berasal dari kata Yunani yang artinya ’watak’. 12 33 . tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasehat itu. biasanya dalam bentuk ungkapan. tetapi tidak menyatakan dengan tegas. 2006: 24). Obyek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Etika memberikan nasehat-nasehat mengenai perilaku. K. Etika12 adalah cabang filsafat yang juga disebut sebagai filsafat moral yang mempersoalkan baik dan buruk (Purwadi.

tetapi tetap berakar pada manusia. baik dan buruk. memberikan kontribusi yang Ilham ini didapat manusia ketika manusia melihat sesuatu.1975: 84). Golongan kedua berpendapat bahwa.Kekuatan ini bukan buah dari milliu. sebaliknya yang tidak berharga. di abad pertengahan yaitu Ibn Miskawaih. Kekuatan ini kadang berbeda sedikit karena perbedaan masa dan milliu. oleh karena manusia dapat merasa bahwa itu baik atau buruk. 1996: 83). 2. tidak berguna untuk tujuan. Golongan pertama. tetapi pengalamanlah yang dapat memberikan hukum baik pada sebagian perbuatan dan hukum buruk pada bagian yang lainnya. berpendapat bahwa tiap-tiap manusia mempunyai instinc yang dapat memperbedakan antara yang hak dan yang batal.Rekomendasi perbuatan baik atau buruk oleh para filosof masih menjadi pokok pembicaraan dalam dunia filsafat. meskipun manusia tidak belajar ilmu pengetahuan atau menerima pendapat orang lain. Maka tiap-tiap manusia mempunyai semacam ilham13 yang dapat mengenal sesuatu akan baik dan buruknya. yaitu : 1. zama atau pendidikan. berakhlak dan tidak. ada dua golongan dalam menjawab persoalan ini (Ahmad Amin. pengertian manusia tentang baik dan buruk akan sama dengan pengertian manusia tentang sesuatu Dan yang bisa lainnya. Dan yang membuat perubahan berpikir perorangan dan bangsa dalam memberikan ukum pada sesuatu adalah karena luas dan lingkaran pengetahuannya serta banyak pengalamannya 13 34 . 14 Golongan dua ini berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai instinc untuk mengetahui baik dan buruk. bagian dari tabiat manusia yang diberikan Tuhan untuk dapat membedakan antara baik dan buruk. atau yang meyebabkan tidak tercapai tujuan adalah buruk (Rahmat Djatnika. Tokoh muslim yang membahas tentang etika. tumbuh ialah sebab tergantung kemajuan pada zaman. sehingga persoalan baik akan terus menjadi bahan kajian yang sangat menarik untuk terus ditelusuri dan diusahakan untuk ditemukan jawabannya. pengalaman.1996: 34). apabila yang merugikan. kecerdasan berpikir dan beberapa pengalaman 14 Pengertian baik menurut etik adalah sesuatu yang berharga untuk satu tujuan. tetapi adalah instinc. yang banyak berbicara tentang jiwa dan etika (Azyumardi Azra.

yakni berdasarkan keinginannya. Miskawaih memahami etika sebagai keadaan jiwa yang mendalam yang menyebabkan munculnya perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan yang mendalam. 1993: 25). persahabatan. dengan keadaan jiwa tersebut mampu menimbulkan tindakan-tindakan dengan 35 . Hal-hal yang baik itu komponen kebahagiaan. 2004: 41). yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan. Akhlak Menurut etimologi akhlaq berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata jama’ dari kata al-Khalqu yang berarti ciptaan. yang merupakan hal yang paling mulia pada diri manusia (Ibn Miskawaih. Kebahagiaan haruslah menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. adat. kekayaan. dan alkhuluqu yang mengandung beberapa arti. diantaranya : tabiat. Pendapat tersebut senada dengan pendapat Aristoteles sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat. yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan. semua dicari untuk bahagiya (Jalaluddin Rakhmat. yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk memahami tentang etika. Miskawaih memulai pembahasan etikanya dengan menganalisis kebahagiaan dan mengidentifikasi kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. karena berhubungan dengan akal. mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang bahagiya.besar. 1913: 10). watak. yaitu cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat (Endang Saifuddin Anshari. Jadi baik adalah bahagiya. pengetahuan. kebajikan atau kemuliaan. Al Ghozali (wafat sekitar tahun 1111 M) mendefinisikan (ta’rif) akhlaq sebagai keadaan yang tertanam dalam jiwa. Hidup yang bahagiya adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik (kesehatan.

khair li ghairihi. dimana jiwa mempunyai potensi yang bisa memunculkan daripadanya menahan atau memberi. Jadi akhlaq itu adalah ibarat dari ”keadaan jiwa dan bentuknya yang batiniah”(Zaki Mubarok. indah. Tokoh muslim seangkatan dengan Al-Ghazali. jika ungkapan itu memunculkan tindakan baik dan terpuji secara akal dan syara’ maka disebut akhlak baik. Jilid III: 52). akan tetapi akhlak itu merupakan”hal” keadaan atau kondisi. didalamnya juga terdapat 36 . juga bukan merupakan ”pembeda” antara baik dan buruk.1924: 152). juga bukan ”kekuatan” baik ataupun ”kekuatan” buruk. disebut sebagai tidak baik (sharr) Baik kondisional (Khair muqayyad)adalah suatu perbuatan yang selain memiliki sifat-sifat baik hakiki. yaitu khair li dhatihi. Oleh karena itu apapun tyang membawa manfaat dan memotivasi untuk meraih kebaikan akhirat (khair ukhrawi) dan kebahagiaan hakiki (sa’adah haqiqiyah) disebut juga khair dan sa’adah. Indikasi khair adalah memiliki manfaat. Namun pada akhirnya konsep tersebut diklasifikasikan hanya menjadi dua. perbuatan seperti aniaya. khair li ghairihi. yaitu : khair muthlaq (hakiki) dan khair muqayyad (kondisional). Raghib al Isfahani (wafat sekitar tahun 1108 M) dengan pemikiran akhlak tentang konsep Nilai (khair). tercela dan merugikan diri ataupun orang lain. Akhlak bukanlah merupakan ”perbuatan” baik ataupun ”pebuatan” buruk. Akhlak adalah situasi permanen dalam jiwa yang melahirkan bentuk-bentuk polalaku tanpa melalui dorongan dari luar dan tanpa pengetahuan. dan lezat. Akan tetapi sebaliknya. Khair muthlaq ini tidak terikat ruang dan waktu. Ada tiga bentuk khair. Baik hakiki (khair muthlaq) adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal menginginkan perbuatan tersebut.mudah dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan penelitian terlebih dahulu. dan khair li dhatihi. namun sebaliknya jika memunculkan tindakan tercela maka disebut akhlak tercela (Al Ghozali.

karena apabila manusia memiliki akhlak yang baik. ataukah sebaliknya. tindakan. Sedangkan etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk. Etika dan Akhlak Secara terminologi.sifat-sifat khair sharr. Definisi moral lebih menitik beratkan pada perbuatan. bisa dikatakan sebagai modal pertama dan utama. tindakan atau tingkah laku manusia. tingkah laku. Pengertian baik dan buruk menurut al-Quran adalah kenikmatan dan musibah (pendapat mufassir dalm ibn Taimiyyah. ditentukan dari sejauh mana sifat-sifat baik itu mampu memberikan kontribusi pada sesuatu yang dinilai baik tersebut. Atau kualitas dari perbuatan. maka akan beruntunglah hidupnya. dan kualitas perbuatan manusia tergantung bagaimana manusia itu cerdas dalam kecenderungannya dan mengkondisikan kecenderungan. etika dan akhlak memiliki definisi dan obyek kajian yang berbeda. benar atau salah. Dan barang siapa mengikuti sunnah dalam perkataan maupun perbuatan maka ia akan berbicara dengan baik dan benar. pengertian moral. Apabila baik yang terdapat pada sesuatu itu mampu memberikan lebih dibandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik. Perbedaan Moral. tidak hanya memberikan gambaran tentang perbuatan baik atau buruk manusia. begitu pula sebaliknya apabila manusia memiliki kecenderungan buruk maka hancurlah hidupnya. apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk. B. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsu maka ia akan berbicara bohong. namun juga memberikan penilaian tentang baik atau buruk akan perbuatan atau tindakan yang dipilih oleh manusia sedang akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri 37 . maka obyek tersebut dinilai khair muqayyad. Akhlak atau keadaan batin yang telah tertanam dan inheren di dalam diri manusia. apakah manusia cenderung kepada hal-hal yang baik. Untuk menjustivikasi apakah sesuatu itu baik. 2004: 1).

Ilmu tentang filsafat moral .Pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan buruk . etika dan akhlak bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : Tabel 2.Bagaimana masyarakat tertentu berperilaku . Etika 38 .Mengkaji tentang moralitas .Bersumber dari agama.Nilai perbuatan manusia .Perilaku baik dan buruk manusia .Menjawab pertanyaan tentang baik dan buruk . tradisi dan idiologi . berperilaku dalam komunitas masyarakat . 2. aktualisasi dan responsi dari keadaan jiwanya .Mendiskusikan moral. aturan. Untuk lebih jelasnya.Hal-hal yang sangat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari .Memberikan penilaian apakah perbuatan itu baik atau buruk. Moral Definisi .Bersumber pada akal sehat Obyek Kajian .Kebiasaan atau adat istiadat .Ajaran-ajaran tentang kebaikan .interaksi antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu . benar dan salah . Etika dan akhlak Bahasan 1.Bagaimana seharusnya manusia. pilihan mana yang baik dan buruk.1.Bersifat sobyektif dan relatif .Perbuatan manusia yang merupakan ekspresi. Perbedaan Moral.Mengkaji filsafat moral .Orientasi untuk menentukan pilihan baik atau buruk .Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu .manuisia itu telah tertanam suatu keadaan dimana keduanya (baik dan buruk) bersemayam di dalam tiap-tiap diri manusia atau dalam jiwa. perbedaan antara moral.Membicarakan tentang baik dan buruk. .

Akhlak .Setiap manusia yang bernyawa dan berakal. Pada umumnya kalangan awam cenderung untuk menyamaratakan begitu saja antara moral dan etika. penulis menemukan titik singgung yang ada pada ketiganya. yaitu adat kebiasaan. sikap batin yang tertanam pada diri harus dilestarikan dengan manusia latihan dan sungguh-sung.Bersumber dari sya. kualitas perbuatan ma. moral dan etika memiliki arti yang sama. dan berasal dari bahasa Arab..dan panca indra serta riah Islam (al-Quran hubungan ketiganya) .. Etika dan Akhlak Secara etimologi. 3.Siratan-siratan hati guh. Persamaan Moral.Mengkaji moral dan etika heren dalam diri (filsafat moral) . Dan ahlak berarti ciptaan. Moral berasal dari bahasa latin. ’sopan santun’.Sikap batin yang telah nusia. budi pekerti (dalam ruang lingkup adat 39 . jika terjadi terletak pada bentuk penerapan.Cakupannya: adat kebiasadan al-Hadist) an. hati setiap manusia . Kecenderungan manusia pada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. 1998: 255). etika dan akhlak. benar atau salah atau tindakan manusia. hanya saja berbeda dari asalnya. atau pengertian yang tidak sempurna terhadap konsep-konsep moral (Muhammad Quraish Shihab. yang tenang dan penuh ketaatan dan kepatuhan C. dan etika berasal dari bahasa Yunani. Dari uraian tentang moral. Perbedaan. bahkan tidak sedikit yang mengacaukannya dengan istilah ’toto kromo’. yaitu ketiga tiganya membicarakan tentang perbuatan baik atau buruk.Internalisasi dan in.Jiwa manusia (akal.

Hudson). untuk membedakan dua macam perbedaan antara : a). Emotivisme Perihal pokok dalam materi moral. yaitu prilaku baik yang didasarkan pada prinsip rukun dan prinsip hormat yang merupakan budaya leluhur yang mampu mengokohkan sendi kehidupan sosial masyarakat Jawa. atau menimbulkan tindakan mereka kepada sesama (W. mengacu pada penambahan ”adalah baik” tidak membedakan acuan kepada apapun. ”Ini adalah baik”. 1. Ketika menggunakan kata baik. etika dan akhlak. tidak mewakili apapun. D. etika adalah ”Baik” yang dianggap sebagai suatu konsep unik unnalyzable.istiadat) atau dengan istilah ’akhlak’(dalam ruang agama)(Amin Abdullah. moralitas yang dimaksud dalam judul adalah moralitas Jawa.L. 2004: 167).Stevenson. sebagai kondisi yang berdasar pada fakta 40 . seperti ketika menggunakan kata baik dalam kalimat hukuman. Teori emotivism yang dkembangkan oleh C. Moral ”baik” menyarankan dalam penggunaan yang berkenaan dengan emosi. setiap teori yang lahir hampir selalu dilatar belakangi sejarah kehidupan pencetusnya.D. Teori Moral. Etika dan Akhlak Penelusuran kebenaran melalui sejarah filsafat memiliki banyak konsep dan teori. sehingga menimbulkan teori yang berbedabeda walaupun mengungkap permasalahan yang sama. mengedepankan emotivism sebagai teori meta-ethical yang tajam yang menggambarkan antara teori-teori. apa yang dikatakan atau diasumsikan. Dalam kontek pembahasan tesis ini. hanya sebagai tanda berkenaan dengan emosi yang menyatakan sikap manusia dan barangkali menimbulkan sikap serupa pada orang lain. Argumentasi Stevenson mengatakan kapan saja sutu pertimbangan moral dinyatakan. begitu juga dengan teori moral.

b. dengan berubah dari yang sebelumnya.pertimbangan. yang berkenaan dengan emosi. hanya mengenai persetujuanpersetujuan dan ketidak setujuan tentang sesuatu tindakan tertentu (W. Ungkapan emosi berkenaan dengan bagaimanapun suatu titik boleh selalu datang ketika suatu perubahan di dalam suatu diskriptif mengganggu. Arti emosi mungkin berkaitan dengan diskriptif.D. Berkenaan dengan emosi mungkin bergantung kepada diskripsi. sebab penganut faham positivisme logic. sesuatu yang sulit dipenuhi oleh konsep-konsep moral. c. yaitu perubahan yang kemudian diikuti dengan seketika. konsep-konsep moral menurut teori Emotivism adalah sesuatu yang unanalysable (W. Emotivisme lahir sebagai teori moralitas yang menonjolkan pengaruh positivisme logis dalam etika. Mereka menyimpulkan bahwa pertimbangan- pertimbangan moral dalam kenyataannya tidak dapat melukiskan apapun dan hanya bersifat emotif belaka. berkaitan dengan emosi. aku melakukan juga dan berkenaan dengan ini aku ingin kau melakkannya juga. atau sangat segera. meminta dengan tegas bahwa berkenaan dengan pernyataan ini.Hudson). senantiasa mengehendaki adanya keserbapastian kriteria.Hudson) tak dapat dianalisa. evaluasi positif atau negatif yang ditempatkan pada kejadian-kejadian fakta tersebut. yaitu : a. Emotivism yang diungkapkan adalah dengan mengambil pertimbangan moral lebih menekankan pada express bukan kepada report-attitudes. sesuai dengan teorinya.D. Dalam menelaah pertimbangan-pertimbangan moral (moral judgement). kaum emotivis hanya berisi apresiasi-apresiasi dan tuntutan-tuntutan. 41 . sebagai contoh tentang analisa ”Ini adalah baik”. b). Ada tiga kemungkinan yang membedakan.

Intuisionisme Intuisi berarti suatu konsep yang menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan adalah dengan penangkapan kebenaran secara langsung dan segera. Menurut Henry Bergson seorang filosof Perancis. Atau dapat pula dikatakan sebagai kekuatan batin yang dapat mengenai sesuatu yang sebaiknya dengan selintas pandang dengan tiada memandang buah dan akibatnya (Ahmad Amin. 1963:11-12). yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. kewajiban atau hak. (direct and immediate) (James Hasting). 1985: 24) Sedangkan akal praktis adalah merupakan bagian inti dari akal. Teori intuisionisme ini juga berusaha memecahkan dilemadilema etis dengan berpijak pada intuisi. Dan dari sinilah akhirnya Kant sampai pada masalah intuisi (Immanuel Kant. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. bukan berdasarkan situasi.2. Menurut Bergson. intuisi adalah “a sympathy where by one carries oneself in the interior of object to conside with what is unique and therefore inexpressible in it “(Kolakowski. dengan perkataan kenyataan. 1975: 105). Dari pembedaan akal tersebut Kant mengurai konsep umum moralitas yang berbasis pada empirikal dan intelektual (ibid). Uraiannya mengatakan bahwa ”Bergson tidak benar-benar mengetahui apa yang terjadi atau bagaimana perasaannya”. intuisi adalah kemampuan manusia untuk meraih kenyataan yang tidak tergantung pada posisi seseorang. Uraian yang Bergson berikan sangatlah lengkap namun demikian tampaknya mungkin juga tidak mengetahui apa yang terjadi. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Bergson. meskipun Bergson dapat menceriterakan 42 .

Pengetahuan mengenai (knowledge about) disebut pengetahuan discursive atau pengetahuan simbolis. karena masing-masing manusia akan memiliki dan mengungkapkan sesuai dengan apa yang ada dalam masing-masing keadaan hati yang sangat bersifat relatif. inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Namun ketika manusia berhadapan dengan kegiatan sosial peranan akal dijadikan sebagai alat berpikir untuk memberikan pertimbangan. Dalam hal lingkungan sosial peranan akal 43 . indra dan pengalaman. dan pengetahuan tersebut diperoleh secara langsung bandingkan dengan ma’rifat qolbiyah dalam tasawuf (Ibid : 31). namun akan sangat dibantu dengan menjalankan syariah sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang mampu dijalankan oleh seseorang.kembali banyak diantara apa yang dikatakan mengenai kejadian itu. apakah tindakan seseorang bisa diterima oleh orang lain atau lingkungan tersebut. intuisi tidak mengingkari nilai pengalaman. karena yang ada hanya ketaatan kepada sang Khalik. (Juhaya S.Praja. Dengan demikian teori intuitif belum mampu memberikan kejelasan tentang sesuatu yang benar atau sesuatu yang baik. 2005: 31) Perbedaan tersebut terletak pada ungkapan: pengetahuan mengenai (knowledge about) dan pengetahuan tentang (knowledge of). Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung atau seketika (ibid : 32). Menurut Bergson. benar yang begitu sulit untuk ditangkap oleh akal. sehingga teori etika intuitif meurut penulis tetap akan memberikan peluang untuk menelusuri tentang apa yang disebut baik. dan pengetahuan ini ada perantaranya. sehingga dalam hal syariah kalau seseorang ingin baik maka kerjakanlah begitu saja tanpa ada pertimbangan akal. Intuisi dapat menyingkapkan pada kita keadaan yang senyatanya (Ibid : 33). Dan Pengetahuan tentang (knowledge of) disebut pengetahuan yang langsung atau pengetahuan intuitif.

benar. Misalnya ketika mengikuti perkuliahan kita bebas memakai pakaian dengan lengan panjang atau pendek.masih dibutuhkan dan dalam hal agama peranan akal dinomor duakan. Contoh perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidur. Perbuatan yang dilakukan dengan tanpa kehendak atau involuntary actions. d. yang 44 . hal ini tidak bisa dinilai baik atau buruk sebab perbuatan itu bebas dari tuntutan etika ( Umar Bakri. perbuatan ini tidak dapat dinilai baik atau buruk dan tidak dapat dituntut dari segi etika. darah. Perbuatan yang netral. yakni perbuatan yang berdimensi etik tetapi dilakukan diluar kesadarannya atau hanya kehendaknya. Perbuatan semu. Perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata ketaatan dan kepatuhan kepada sang Khaliq sebatas manusia itu mengetahui dan mampu untuk melaksanakan perbuatan tersebut. Perbuatan ini menjadi perbuatan etis yang bersyarat. maka pokok persoalan etika adalah perbuatan manusia itu sendiri. perbuatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan pikiran. Sehingga perbuatan ini tidak memiliki nilai etis atau tidak dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. yakni perbuatan dengan ikhtiar akan tetapi tidak berdimensi etik. Berikut ini macam-macam perbuatan manusia : a. inilah perbuatan yang memiliki nilai etis atau dapat dinilai dari sisi baik dan buruk. sehingga tidak masuk dalam persoalan etika. 1977: 3-4) Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. b. sebagai ilmu yang membahas tentang tingkah laku moral. Perbuatan yang dilakukan dengan kehendak atau voluntary actions yakni. seperti contoh denyut jantung. bernafas. namun tidak semua perbuatan manusia menjadi pokok persoalan etika. Pokok Persoalan Etika. dan lain sebagainya. c. Perbuatan ini dilakukan dengan tanpa kesadaran dan pikiran.

bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Manfaat paling besar dari teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. 4. jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Thomas Shanon dalam Pengantar Bioetika (1995). Dari pemahaman tersebut. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. 1988). Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya.mana yang tidak baik dan mana yang selayaknya. etika memainkan peranannya. Suatu perbuatan bersifat etis. melebihi segala hal merugikan. 3. Deontologi Pencetus dari teori Deontologi adalah filosof Jerman Immanuel Kant. Miller. karena hanya dengan 45 . dijawab dengan kewajibankewajiban moral. untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral (Deontologi dalam www// google). maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Disinilah. Deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Konsekuensialisme Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Teori ini menganut bahwa dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. (Harlan B.

Berten. b) Kalau hukum moral harus dipahami sebagai imperatif kategoris. (senang atau tidak senang). Menurut Immanuel Kant. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena kewajiban. dan lain sebagainya. manusia itu bebas dalam mentaati hukum moral. janji harus ditepati. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. maka dalam bertindak secara moral. misalnya hutang harus dibayar. artinya perintah yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. tetapi apa yang akan membawa tindakannya kedalam keharmonisan dengan 46 . dapat diuraikan dalam tiga hal yaitu : a) ”Engkau harus begitu saja” (Du sollst). Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. perbuatan dikatakan baik apabila dilakukan karena kehendak yang baik. tentang teori moralnya. Hukum moral mengandung imperatif kategoris. Dan c) Dengan menemukan otonomi kehendak maka manusia akan menemukan kebebasan dalam bertindak. Tindakan manusia terjadi begitu saja tanpa ada sebab musababnya.memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. dan juga karena wajib dilakukan. Orang yang bertindak karena kewajiban. Menurut teori ini. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. sebagaimana dijelaskan oleh K. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Apa yang masuk akal bukan sematamata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri. kehendak harus otonom (menentukan dirinya sendiri) dan bukan heteronom (ditentukan oleh faktor dari luar seperti kecenderungan atau emosi). Dan suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat untuk hukum moral.

Ini membuktikan bahwa sebenarnya 47 . Teori-Teori Akhlak Ada anggapan yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak bisa dirubah. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. 6. Etika Hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguhsungguh. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Akhlak yang didefinisikan sebagai keadaan yang telah tertanam dalam jiwa manusia (watak). apakah bisa dirubah atau dibentuk kepada kecenderungan baik.tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang tindakantindakan itu masuk akal juga (HB Acton. ternyata dalam pertunjukan sirkus ternyata dapat menjadi binatang yang terdidik. nasihat dan pendidikan yang ada dalam agama. kuda yang mempunyai watak melawan juga bisa menjadi penurut dan tunduk. pesan. Bahwa binatang yang mempunyai watak buas. dapat menahan diri. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagaimana konflik hak antar individu. 2003: 84-85) 5. rakus dan pembunuh. Al-Ghazali mengatakan bahwa betapa akhlak itu sebenarnya dapat menerima perubahan dengan memberikan tamsil pada binatang. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena tekanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. sebagaimana harimau. anggapan ini dijawab oleh al-Ghazali dengan mengatakan bahwa jika tingkah laku itu tidak dapat dirubah tentu tidak berguna lagi perintah-perintah untuk memberikan wasiat.

Demikian halnya dengan akhlak. baik. buruk dan jahat sekali. secara garis besar al-Ghazali memberikan penjelasan bahwa akhlakpun sama dengan eksistensi alam. sesuatu yang tidak termasuk dalam bingkai ikhtiar manusia yaitu ciptaan Allah yang sudah diformat sempurna dalam standar kemakhlukannya.akhlak yang diidentikkan dengan watak menerima perubahan atau dapat diformat. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang dijumpai pada watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. bahkan secara otomatis sudah tunduk pada akal dan syara’. sesuatu yang eksistensinya diformat dalam kekurangan sehingga masih harus disempurnakan lewat wilayah ikhtiar manusia. Pertama. itu sebenarnya dapat Namun al-Ghazali juga menjelaskan dan mengakui bahwa tidak semua bentuk pada manusia menerima perubahan. dan ada yang diformat menerima perubahan. seperti susunan tata surya dan juga susunan tubuh manusia. Al-Ghazali menjelaskan bahwa eksistensi alam ini terklasifikasi dalam dua kategori. yaitu ada yang sudah diformat sempurna seperti akhlak para nabi yang secara alamiah mempunyai kesempurnaan akal dan polalaku yang baik. Lalu dengan cara apa manusia melakukan perubahan tersebut. dimulai dari pernyataan Meno yang terkenal itu kepada Socrates sebagai 48 . Strategi Pembentukan Moralitas Pendidikan moral sudah sangat lama dipermasalahkan. keseimbangan nafsu dan amarah. E. untuk itu pemikirannya dalam usaha memperbaiki akhlak. manusia mempunyai andil yang besar untuk melakukan perubahan menuju kepada perbaikan. Dan dalam form yang menerima perubahan inilah. sehingga tidak perlu lagi menerima kesempurnaan atau perubahan. Penulis merasa yakin dan sependapat dengan mengungkap kembali apa yang telah di sampaikan al-Ghazali. Kedua.

Pernyataan Meno diatas sampai sekarang masih terus diperdebatkan. memberikan beban sebagai suatu kewajiban. 2007: 20-21). apakah moral bisa dicapai secara alamiah atau dengan cara lain? (Nurul Zuriah. Kalau moral dipahami sebagai suatu adat kebiasaan yang hanya terjadi pada masyarakat tertentu. hal ini berarti berlaku pula pada kecenderungan kepada akhlak baik atau positif) maupun akhlak buruk atau negatif. yang akhirnya akan tertanam kebiasaan baik tersebut.berikut: Socrates. Mujahadah dan Riyadhah. 1987 (Ibid: 21). dan membiasakan secara kontinew untuk melakukan suatu aktivitas. 49 . terutama dikalangan ahli psikologi dan filsafat moral dalam Beck. apakah moral itu bisa diajarkan. Al-Ghazali tidak memberikan definisi maupun teknik satu persatu tentang mujahadah dan riyadhah. ed. namun sangat penting untuk terus diupayakan supaya adat kebiasaan yang baik atau moralitas perlu ditanamkan pada diri manusia supaya menjadi manusia yang bermoral. Nampaknya al-Ghazali memberikan isyarat bahwa keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang dilaksanakan secara bersamaan. manusia akan terus berjalan menurut keadaan dimana mereka hidup dan begitu banyak adat kebiasaan-adat kebiasaan yang harus dipatuhi dan harus dihormati. maka manusia akan sulit untuk berpegang pada satu aturan saja. Adapun yang dimaksud dengan kedua kata itu sebagai kata kunci pembuka tabir akhlak bahwa akhlak itu dapat diformat dengan mendorong hati dan jiwa. dengan cara memberikan latihan yang terus menerus dan dengan hati yang bersungguh-sungguh. atau hanya bisa dicapai melalui praktik kehidupan sehari-hari? Seandainya melalui pengajaran dan praktik tidak bisa dicapai. sehingga aktifitas itu tidak terasa menjadi beban dan kewajiban yang pada gilirannya terciptalah suatu akhlak yang merupakan watak dan tabiat.

Ia mencoba mengkombinasikan Kebijakan menurut Ibn Miskawaih merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah. yang menguraikan tentang perkembangan moral 15 yang hendak dicapai.Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan sering dijumpai bahwa watak manusia sangatlah berbeda-beda ada manusia yang sangat baik sekali. Bagi Miskawaih.1983: 510). Sehingga tetap masih dikendalikan oleh akal pikiran yang sehat (Al-Ghazali. ia mengembangkan seperangkat aspek kebajikan yang berkaitan dengan kebijaksanaan. keadilan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik. keberhasilan. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. Jiwa membedakan manusia kepada makhluk lain. Dan menempatkan sifat-sifat itu dalam kedudukan sedang atau pertengahan. dan kesolekhan. 50 . mencoba berpikir bagaimana caranya agar manusia mampu melatih jiwa sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna. yakni antara sifat melampaui batas dan sifat menyianyiakan. sehingga tidak mungkin sifat-sifat itu dihilangkan dari dirinya. jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan badan. kebahagiaan.1923:23). Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih. dan sifat-sifat kemarahan dan kesyahwatan akan terus menyertahi manusia selama hidupnya. Kebijakan atau jalan Tengah Sementara filosofis muslim lainnya yang berbicara tentang bahasan etika. buruk dan jahat sekali. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh). Jiwa tidak hanya merupakan sistem aksiden karena dalam dirinya sendiri memiliki kekuatan untuk membedakan antara aksiden dengan esensial dan tidak dibatasi pada kesadaran akan hal-hal yang aksidensi oleh indra (Sayyed Hossein Nasr. baik.2003: 312) . Tetapi yang diinginkan adalah supaya manusia mampu mengendalikan dan membimbing dengan jalan melatih dan bersungguh-sungguh. Kebijakan 15. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Ibn Miskawaih.

2. 3. yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan yang tersebut diatas. Posisi ini berada diantara kehinaan yaitu bodoh (al saft) dan dungu (al balh).1923: 23). keberanian. sedangkan dungu adalah sengaja menyingkirkan wilayah berpikir. keutamaankeutamaan dan keburukan-keburukannya yang berkaitan dengannya. Keadilan. ketiganya 51 . 4. pembagiannya menjadi empat bagian. Adapun yang menjadi posisi tengahnya adalah kepandaian. Kearifan. Keutamaan ini tampak pada diri manuisa ketika manusia tersebut mengarahkan hawa nafsu menurut penilaian baik dan buruknya. Keberanian. yaitu : kearifan. merupakan keutamaan dari jiwa berpikir yang mengetahui. merupakan keutamaan dari bagian hawa nafsu. dimana keduanya diperlakukan sebagai satu kesatuan yang utuh (Ibn Miskawaih. sehingga manusia tidak tersesat oleh hawa nafsunya dan manusia bebas dari hamba hawa nafsu. juga merupakan kebajikan jiwa. menurutnya kebijakan merupakan bagian dalam jiwa yang memiliki posisi tengah yang disebut juga dengan al hikmah.1913: 24) Ibn Miskawaih membicarakan etika sebagai kebijakan. Salah satu ujung yang mengapit posisi tengah adalah kondisi mental yang berlebihan sedang yang satunya dalam kondisi kurang (Ibn Miskawaih.pembagian kebijakan versi Plato dan pemahaman Aristoteles. Adapun yang berkaitan dengan keutamaan. menyebutkan kekuatan jiwa (al quwwatun nafsiyah) sebagaimana dikatakan Platinus. Sederhana. keberanian jiwa amarah yang muncul pada diri seseorang ketika jiwa ini tunduk dan patuh terhadap jiwa berpikir serta menggunakan penilaian baik dalam menghadapi hal-hal yang membahayakan. atau mengetahuai yang ilahiah dan manusiawi. 1. terletak pada mengetahui yang ada. Ibn Miskawaih. sederhana.dan keadilan. Kebodohan menggunakan wilayah berpikir pada sesuatu yang tidak baik.

oleh karena itu pada tahap ini sebaiknya seseorang dituntut untuk melakukan pengujian-pengujian terhadap ide yang dimilikinya. fakultas nafsu sahwat (alquwwah al-syahwiyyah). minuman. Raghib al-Isfahani. (Suparman Syukur. kemudian cita-cita (hazm). ide (khaitir). Ketiga. 1994: 45) Jiwa. seksual. Organ tubuh yang digunakan adalah otak. munculnya perilaku seseorang melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : lintasan pikiran (saanih). ambisi pada kekuasaan. fakultas berpikir (al-quwwah al-natiqah) ia merupakan jiwa tertinggi untuk berpikir dan menangkap fakta. Ia muncul bersamaan dari peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri 52 . dari keduanya muncul kehendak (iraadah). yakni jiwa keberanian untuk menghadapi resiko. Pertama. sehingga pada tahap ini bisa dikontrol atau dimanag dengan baik sebelum samapai pada kehendak. Jiwa manusia dibagi menjadi tiga fakultas jiwa. merupakan substansi yang independen yang mengembalikan badan dan ia bersifat kekal. Kedua.bertindak selaras (tidak kontradiksi) (Ibn Miskawaih. Organ tubuh yang digunakan adalah hati. Menurut Raghib.2004: 327). sampai akhirnya muncul termanivestasi dalam perbuatan (’amal) (Amril M. keinginan terhadap kelezatan. dan segala macam inderawi. dan kebawah menuju ke materi) dan kebahagiaan akan tumbuh melalui yang pertama (akal aktif) dan kemalangan akan tumbuh melalui yang kedua (materi). fakultas amarah (alquwwah al-qadabiyah). menjelaskan secara psikologis. Menurut Elizabeth B. kedudukan dan kehormatan. benih perbuatan moral dimulai pada tahap ide (khaitir).Hurlock (1978) perilaku yang dapat disebut Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan dengan sukarela. Esensi jiwa tidak akan mati dan terlibat dalam gerak abadi serta sirkulasi (keatas menuju akal dan akal aktif. Menurut Ibn Miskawaih. yakni dorongan nafsu makan. 2002: 32).

atas tingkah laku yang diatur dari dalam. dan kebenaran berbuat diperoleh melalui keadilan (Suparman Syukur 2004: 199). kesederhanaan. Kesempurnaan bisa dicapai melalui kebijaksanaan dengan jalan melaksanakan perintah-perintah agama. bahwa landasan kemuliaan agama adalah kesucian jiwa yang dicapai melalui pendidikan. dan keadilan. tindakan ini menyangkut sikap batin yang telah dipola dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah ditanamkan oleh lingkungannya. Karena hidup selanjutnya bukan untuk mencari. keberanian melalui kesabaran. Dengan sarana pendidikan. peserta didik memperoleh informasi-informasi yang baik yang akan dijadikan sebagai sesuatu yang akan tertananm didalam hatinya. yang disertai tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Tindakan sukarela yang disertahi dengan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing tidaklah bisa dipaksakan atau diajarkan. Gagasan yang ditimbulkan dari hasil pemikirian yang cerdas pentingnya selalu diekpresikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk penyampaikan informasi-informasi atau tulisan-tulisan yang membutuhkan tindak lanjut. kesabaran. Sehingga untuk membentuk moralitas peserta didik dengan pembiasaan perlunya diberikan latihan-latihan yang sungguhsungguh (Imam Gazali). Dengan informasi yang baik peserta didik terus akan mengakumulasi dengan jalan melakukan atau bertindak sesuai dengan arahan dan bimbingan dari pendidik dan orang-orang yang menanamkan kebaikan tersebut pada perkembangan hidupnya selama peserta didik megalami perkembangan moral dalam usia sekolah dasar (7-12 tahun). namun pentingnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik sehingga 53 . Kepatuhan terhadap Agama Menurut Raghib al-Isfahani. kedermawanan melalui kesederhanaan.

1995) disamping di dalam keluarga. manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya. baik di dalam lingkungan keluarga. peserta didik yang mendapat pengajaran dan pembelajaran di sekolah. yang artinya ”Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (keburukan) dan ketaqwaannya (kebaikan)”.Asri Budiningsih. pentingnya tugas guru untuk melatih dan memberikan bantuan pada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada peserta didik (Zuharini dalam Jalaludin. abdullah Idi. Tugas manusialah untuk melatih. 2007: 118). memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. disamping kecenderungan dan dorongan-dorongan ke arah yang tidak baik (Jalaludin. Peranan guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral mestinya harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Noor Syam bahwa khusus dalam tingkah laku manusia. terutama para pendidik dan orang tua. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak. pengambilan peran dalam 54 .(C. 2007: 116). lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. abdullah Idi. memperlihatkan bahwa anak-anak yang maju dalam perkembangan moral. lihat pula QS Asy Syams: 8. lingkungan sekolah. 2004: 84) Pendapat senada juga dikemukakan oleh Kolhberg (Cremers. mempunyai anak yang secara moral lebih matang. dan yang mendorong terjadinya dialog. Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral. dengan demikian.dengan isian perbuatan-perbuatan yang baik tersebut mampu menunjukkan hidupnya untuk menuju kepada tujuan akhir hakikinya yaitu mencapai kebahagiannya untuk menuju Tuhan. Penelitian Holstein dalam Kohlberg &Turriel.

dan setelah seseorang itu tahu atau sadar. Al Ghozali menawarkan suatu konsep. yaitu 1) kekuatan ilmu. di sekolah dan di masyarakat yang lebih luas. yang bukan saja bersifat lahiriah namun lebih bersifat batiniah. Al-Ghazali memberikan pemahaman untuk penelusuran yang sering menyertahi akhlak dengan empat opsi. kemampuan untuk membentuk polalaku. Pada diri peserta didik telah tertanam potensi utama yang terus dilatih dengan stimulus-stimulus yang positif sebagaimana menurut tokoh muslim yang dikenal dengan hujat alIslam. akan meningkatkan perkembangan moralnya (Ibid). yaitu akhlaq sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. karena merasa didzalimi. yaitu pola laku positif atau negatif. dimana didalam hatinya masih ada guratan-guratan yang diketahuinya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa akhlak bukanlah bentuk polalaku. kemampuan untuk mengakses keduanya. bahwa Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Polalaku itu tidak disebut akhlak manakala tidak menetap dalam jiwa karena akhlak tidak bersifat temporer. 2) kekuatan marah. Yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang (Jalaluddin Rakhmat. sehingga hal semcam ini belum dikatakan seorang yang berakhlak. Dan karena akhlaklah yang akan membawa dia kepada jalan keselamatan (Jalaluddin Rakhmat. Ada empat rukun yang harus dipenuhi. 2003: 146-147). pengambilan peran dalam kelompok sebaya. maupun pengetahuan tentang polalaku. 3) kekuatan nafsu syahwat dan 4) kekuatan berlaku adil. pengetahuan tentang keduanya. karena tindakannya disebabkan adanya dorongan-dorongan dan pertimbangan-pertimbangan dari luar dirinya.kelompok keluarga. 2003: 145). agar diketahui kesemprunaan suatu akhlak. Sebagai contoh seseorang yang memberikan infak karena sesuatu karena sebab-sebab tertentu. seseorang yang marah. 55 . serta situasi jiwa dalam kecenderungannya terhadap salah satunya.

Sementara kekuatan keadilan bertindak sebagai penyeimbang yang meletakkan kekuatan-kekuatan garis lurus dengan batasan-batasan masing-masing. lemah melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan. dan ia akan melahirkan syaja’ah (keberanian). demikian juga dengan keempat rukun tersebut. dan manakala lemah tidak sampai pada batas yang ditentukan maka lahirlah sikap penakut. Kekuatan marah yang sempurna adalah manakala berada dalam garis lurus batasannya. Dari beberapa uraian tersebut. Kekuatan Ilmu Kekuatan ilmu adalah kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk (positif atau negatif). sementara apresiasi hidung diabaikan. 17 Keberanian adalah suatu keadaan jiwa yang merupakan sifat kemarahan. Sebagaimana bentuk lahir. tidak bisa dikatakan sempurna keindahannya manakala hanya berfokus pada keindahaan kedua matanya saja. menjaga keharmonisan diri atau Hikmah adalah situasi jiwa yang dapat dipergunakan untuk mengatur marah dan nafsu syahwat dan mendorongnya menurut kehendak pengetahuan. keberanian 17. Selanjutnya kemampuan ini akan lebih bermakna manakala disertahi dengan kemampuan mengekang dan melepaskan dorongan amarah menurut batas yang dibutuhkan oleh hikmah itu sendiri dan kekuatan nafsu syahwat berada dibawah isyaratnya. Pemakaian dan pengendaliannya diatur oleh kehendak pengetahuan. wajah misalnya. manakala signal kemampuan ini kuat maka akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan. dan manakala ia melampaui batasan tersebut maka yang lahir adalah sikap tahawwur (berani tanpa pengetahuan). tetapi yang dituntun dengan sifat akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya 16 56 .Keempat rukun ini harus merupakan satu kesatuan utuh. al-Ghazali memberikan penekanan bahwa pokok-pokok akhlak dan dasar-dasarnya ada empat yaitu hikmah 16.

hukuman dan keadilan (Ibid). 20 Dalam mempelajari aturan-aturan ini para pakar perkembangan anak menguji tiga bidang yang berbeda. Pieget memicu tentang adanya pemikiran isu-isu moral. bagaimana anak-anak sesungguhnya berperilaku dalam keadaan moral dan ketiga bagaimana anak-anak merasakan moral itu. Moralitas Peserta Didik Perkembangan Moral (moral development) berkaitan dengan aturan 20 dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (John W. kedua cara tersebut adalah : Kelapangan dada ialah mendidik kekuatan syahwat atau kemauan dengan didikan yang bersendikan akal pikiran serta syariat agama. Peneliti Perkembangan Moral. Dan dari keempat sendi-sendi pokok tersebut. yang diungkapkan dalam bentuk 1) Berpikir. Piaget mengamati anak-anak tersebut bermain kelereng sambil berusaha mempelajari bagaimana anak-anak tersebut menggunakan dan memikirkan aturanaturan permainan. timbulnya semua akhlak yang baik dan terpuji. seperti mencuri. Cakupan Moralitas Peserta Didik 1. Ada kalanya dibiarkan dan adakalanya dikekang dan semua ini dengan mengingat keadaan dan suasana yang sedang dihadapinya (Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali. 2) Bertindak dan 3 ) Perasaan (Ibid). 18 57 . dalam observasi dan wawancara yang ekstensip terhadap anak-anak berusia 4–12 tahun. pertama bagaimana anak-anak berpikir atau bernalar tentang aturan-aturan untuk perilaku etis. Piaget juga bertanya kepada anak-anak tentang aturan-aturan etis.Santrock.kelapangan dada18 dan keadilan 19. 19 Keadilan ialah suatu kekuatan dalam jiwa yang dapat membimbing kemarahan dan syahwat itu dan membawanya kearah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan.1983:506-507). berbohong. Kesimpulan yang diperoleh Piaget menyebutkan bahwa ada dua cara yang jelas-jelas berbeda dalam berpikir tentang moralitas. E. 2002: 287). tergantung pada kedewasaan perkembangan mereka. kedua.

bukan maksud-maksud dari pelaku. pada fase ini anak-anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan di dalam menilai suatu tindakan. Mereka bersikeras bahwa aturan-aturan harus selalu sama dan tidak boleh diubah. yang benar adalah sebaliknya. Bagi pemikir otonomous. Untuk melihat perbedaan pemikir heteronomous dan pemikir otonomous. Dan anak-anak usia 710 tahun berada di dalam suatu transisi diantara dua tahap yang menunjukkan beberapa ciri dari keduanya. 2) Autonomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak yang lebih tua (kira–kira usia 10 dan lebih). Sebagaimana dicontohkan bahwa memecahkan dua belas gelas secara tidak sengaja lebih buruk daripada memecahkan satu gelas secara sengaja ketika mencoba mencuri sepotong kue. Pemikir heteronomous juga yakin bahwa aturan tidak boleh diubah dan digugurkan oleh smua otoritas yang berkuasa. lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel sebagai berikut : 58 .1) Heteronomous morality yaitu tahap perkembangan moral yang terjadi pada anak-anak berusia 4-7 tahun. Mereka menolak ketika diajukan aturan-aturan baru harus diperkenalkan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemikir heteronomous dalam menilai kebenaran atau kebaikan perilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari perilaku itu. Keadilan dan aturanaturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah. seseorang harus mempertimbangkan maksudmaksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. maksud pelaku dianggap sebagai yang terpenting.

2. Pemikir Heteronomous . Pemahaman diri anak berkembang. bisa dibuat kesepakatan .Tabel 2.Aturan bersifat fleksibel.Aturan bersifat kaku.Hukuman hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesala-han dan bahwa hukuman juga tidak terelakan 7.Dilakukan anak diatas usia 10 tahun . tidak boleh diubah . Piaget berpendapat bahwa. Pemikir Otonomous . 5. . Pieget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya (Dalam kelompok teman sebaya. Ciri-ciri Pemikir Heteronomous dan Otonomous No 1. dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial khususnya tentang kemungkinan-kemungkinan dan kondisikondisi kerja sama.Tunduk pada perubahan aturan denga kesepakatan . 21 59 .Menerima perubahan.Hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja . 4.Tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat Yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice) 21 . rencana-rencana dirundingkan dan dikoordinasikan.Dilakukan anak berusia 410 tahun .Merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. 6.Mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku .Menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan . hukuman akan dikenakan segera. dan ketidak setujuan diungkapkan dan pada akhirnya disepakati) yang saling memberi dan menerima (Ibid. dan perubahan-perubahan dalam gender dan Immanent justice adalah konsep bahwa apabila suatu aturan dilanggar.Mempertimbangkan maksudmaksud dari pelaku . tidak bersifat kaku . seraya berkembang anak-anak juga menjadi lebih canggih. dimana semua anggota memiliki kekuasaan dan status yang sama.2. 3.: 288) Sekolah dan relasi dengan para guru merupakan aspek-aspek kehidupan anak yang semakin tersetruktur.

1975: 21). Permasalahannya bagaimana mengkondisikan dan mengarahkan peserta didik pada kecenderungan akal aktif (potensi batiniah baik). Sebagaimana penelitian akan perkembangan moral yang dilakukan oleh Kohlberg. dan kedua menerima kesukaan itu dengan melahirkan suatu perbuatan (Ahmad Amin.perkembangan moral menandai perkembangan selama tahun-tahun sekolah dasar setingkat anak usia 7-12 tahun (John W. 2002: 342). sekolah menengah atas tiga tahun dan perguruan tinggi kurang lebih empat tahun) waktu yang cukup untuk membentuk moralitas peserta didik Adat kebiasaan yang terbentuk merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan berulang-ulang. Menurut penulis pada dasarnya manusia termasuk peserta didik telah memiliki potensi moral (baik dan buruk) yang telah tertanam didalam batinnya (diri). sekolah menengah pertama tiga tahun. merupakan ibadah pertama yang dimintai pertanggungan jawab di hadapan Tuhannya. hampir memakan waktu kurang lebih 16 tahun (sekolah dasar enam tahun. Dengan demikian anak pada usia tersebut telah dianggap mampu bertanggung jawab akan kewajibannya. 60 . Santrock. perbuatan tersebut akan menjadi kebiasaan. karena dua faktor. 2. Islam mulai menerapkan pemberlakuan syariah bagi anak-anak usia baligh (7-12). pertama adanya kesukaan hati kepada suatu pekerjaan. Faktor-faktor Pembentuk Moralitas Peserta Didik Pendidikan formal yang dilaksanakan dalam dunia persekolahan. yang menyatakan bahwa perkembangan moral manusia ada dalam tahapan-tahapan yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan intelektualnya. pada usia tersebut anak-anak telah diwajiban untuk melakukan syariah seperti shalat. baik buruk akan tumbuh dan berkembang sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dan tauladan-tauladan yang melingkupinya. atau peserta didik dengan moralitas baik.

2007: 109). pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat dan utuh. dan bila dapat dirubah. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut merupakan haknya yang musti 61 . Peserta didik mempunyai bermacam-macam kebutuhan. bila dapat dirubah menurut bentuk-bentuk baru. rasa harga diri. pertama memberikan kemudahan pada perbuatan itu karena telah menjadi kebiasaan dan kedua menghemat waktu dan perhatian. Dan tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Kebutuhan tersebut antara lain Kebutuhan rasa kasih sayang. (Ibid : 115). maka apabila terus diupayakan dan dipaksakan maka lambat laun akan dapat berubah dalam bentukan itu (Ibid: 22). karena manusia itu hampir menjadi segolongan adat kebiasaan yang berjalan di permukaan bumi dan nilainya akan bergantung kepada kebiasaannya (ibdi: 32) Butler mengemukakan bahwa sejumlah peserta didik untuk setiap angkatan termasuk pada usia 6-12 tahun haruslah dididik untuk mengetahui menghendaki dan mengagumi kurikulum kitab suci.Dan sifat urat syaraf itu menerima suatu perubahan. (Khoiron Rosyadi. abdullah Idi. maka akan tetap dalam perubahan itu. kebutuhan rasa aman. kertas yang dilipat terasa pertama kali sedikit menerima penolakan. Sedangkan tugas utama guru/pendidik adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada peserta didik. Dalam bentukan yang dikehendaki sebagaimana peserta didik yang dikehendaki dalam pembentukan moralitas yang dijunjung tinggi maka akan memiliki moralitas yang baik dan kebiasaaan moralitas yang baik yang telah terbentuk akan mepunyai dua sifat. jisim atau benda termasuk manusia disebut menerima perubahan. kebebasan. sukses dan ingin tahu. Sedang moralitas Dernihkevich yang tinggi agar berisikan (Jalaludin. 2004: 195).

1975) Seorang pendidik atau guru mempunyai peranan yang sangat strategis dan besar dalam memberikan. sehingga masa-masa yang sangat menentukan tersebut benar-benar memperoleh porsi yang akan mengantarkan dan sekaligus sebagai basic landasan dasar pada masamasa pengisian hidup berikutnya. kondisi temannya. murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah 62 . temannya bertindak dalam menyikapi atau merespon suatu sikap atau tindakan. bersama-sama dengan teman sebayanya dan lingkungan sekolah hampir kurang lebih 6 (enam) jam sehari. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan poko peserta didik 5. memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman 3. Memberi motivasi. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok peserta didik 4. temannya bersikap. tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap penanaman moral mereka terutama cara-cara temannya berpikir. menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. pendidik pada saat pembelajaran dan pembentukan masa perkembangannya. Perkembangan anak pada khususnya sangat tergantung pada lingkungan dimana mereka hidup. temannya berkata. Oleh karena itu. membuat situasi pembelajaran menjadi berarti. cara temannya berpakaian.diberikan oleh keluarga. ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan : 1. dan bukan perintah. dan peserta didik yang hidup bersama keluarga. John Dewey sebagaimana dikutip Wasty Soemanto. Memberi kesempatan pada murid/peserta didik untuk belajar perorangan 2. menkondisikan. karena pada dasarnya manusia hidup itu banyak meniru (Akhmad Abdullah.

2007: 93) Dan apa yang berguna bagi manusia sebesar-besarnya apabila manusia itu mendapat ahli pendidik yang baik dan bahaya akan menimpanya.dengan kemerdekaan beraktifitas. keluarga dan lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi manusia yang ingkar dan tidak berguna. 2005: xliii) Robert J. lingkungan sekolah khususnya perangkat guru pentingnya membiasakan dengan membentuk kebiasaan yang baik sebagaimana diungkapkan bahwa dengan menabur gagasan. dengan menabur perbuatan akan memetik kebiasaan. hendaknya pesan-pesan moral diberikan dalam semua mata pelajaran. dan sentralnya adalah nasib (Ary Ginanjar. sebagaimana difirmankan dalam al-Quran. Koordinasi antar guru agar semua bekerja sama membina moralitas siswa dalam setiap mata pelajaran masing-masing. Misalnya. bahwa peserta didik pada masa usia 6-12 tahun harus melaksanakan tugas perkembangan. sebagai berikut: 63 . "Carilah apa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan kita sehari-hari tentang peristiwa Sumpah Pemuda 1928". apabila manusia mendapat pendidik yang buruk. dengan memetik kebiasaan akan terbentuklah karakter atau sifat baik. Maka dalam setiap even pendidikan. bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. maka akan memetik perbuatan. dengan orientasi kehidupan masa kini (Jalaluddin & Abdullah Idi. Havinghurst mengemukakan. Guru mata pelajaran bahasa Inggris: "Buatlah kata-kata mutiara yang dapat dipraktikkan dan merupakan nasehat kebaikan yang ditulis dalam bentuk bahasa Inggris". bisa diformat dalam bentuk–bentuk petuah dan nasehat akan kebaikan. tidak terlalu sering agar tidak jenuh. dan tidak terlalu jarang agar tidak diabaikan. Dengan tetap mengutamakan mutu dari disiplin ilmu yang disampaikan. dan tentunya semua mata pelajaran. guru mata pelajaran sejarah menyisipkan pesan moral dengan memberi tugas.

Karena pada dasarnya manusia hidup suka mencontoh. 5. Membentuk sikap yang baik terhadap diri sendiri sebagai suatu makhluk yang tumbuh. 4. Mempelajari peranan sosial laki-laki atau perempuan. artinya terus berusaha untuk belajar dengan semangat. Supaya manusia memaksakan dirinya melakukan perbuatan baik bagi umum.1. 3. 2. 8. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 2004: 194). 2. Dan menderma dengan perbuatan- 64 . Berkawan dengan orang-orang terpilih. Membaca dan menyelidiki perjuangan para pahlawan dan yang berpikiran luar biasa. bukan berarti menolak berkawan dengan orang awam namun lebih membekali diri dengan lingkungan yang berpikir baik dan bijak. berbuat baik adalah kewajiban manusia. kesusilaan dan ukuran-ukuran nilai. 6. Mempelajari kecakapan-kecakapan jasmaniah yang dibutuhkan untuk permainan sehari-hari. Meluaskan lingkungan pikiran. 7. karena kualitas antara lain terletak pada perbuatan baiknya. 5. 3. maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Memperkembangkan kata hati. membaca dan berhitung. Apa yang telah disampaikan di dalam kebiasaan tentang menekan jiwa melakukan perbuatan yang tidak ada maksud kecuali menundukkan jiwa. 4. Untuk menguatkan dan meninggikan pendidikan moral. Memperkembangkan sikap terhadap lembaga dan kelompok sosial (Khoiron Rosyadi. Memperkembangkan kecakapan dasar dalam menulis. Memperkembangkan pengertian yang perlu unuk kehidupan sehari-hari. terutama akhlaknya.

manusia yang termarginalkan. Hasilnya adalah peserta didik yang bermoral yang mampu mengaktualisasikan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak saja baik namun lehih kepada perbuatan-perbutan mulia. syariah dan dorongan hati yang suci akan terbentuk manusia digital. memelihara kekuatan penolaksehingga diterima ajakan baik dan ditolak ajakan buruk (Ahmad Amin. rumpun atau etnis. ingin dihormati namun perbuatan yang dilandasi dengan syariah namun juga seringkali menggunakan akal pikirnya. dan pendidikan islami (Islamic education). mereka hidup tidak ada batasan antara yang pandai dan yang kurang pandai. karena peserta didik dilatih sekaligus dihadapkan pada kehidupan yang nyata (Learn to live together). Bahwa pendidikan moral peserta didik pentingnya didasari dengan kekuatan nilai yang dimulai dengan ketenangan hati nurani yang suci maka keberhasilan pendidikan moral yang dibiasakan dan dipaksakan pada awalnya akan menampakkan hasilnya. 65 .1975: 63-66). pendidikan masa depan (education for future).perbuatan setiap haridengan maksud membiasakan jiwa agar taat. manusia baru yang sesuai dengan tatanan transenden (manusia yang memiliki rukh). ingin di puji. mereka yang berasal dari keturunan kaya atau miskin. yang beruntung secara fisik maupun yang kurang beruntung (anak berkebutuhan khusus). Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk semua (education for all). dan lain sebagainya. yang dilakukan tidak karena ingin keuntungan. Pendidikan Inklusif sebagai wadah dan model pelayanan yang mampu membentuk serta mengembangkan moral peserta didik. Akal.

padahal pada dasarnya manusia itu memiliki akal pikir. pengurangan jumlah anak-anak yang ’ditarik keluar’ dari kelas-kelas reguler. mainstreaming menekankan tiga unsur yang mempunyai ciri-ciri: suatu rangkaian jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa-siswa yang memiliki hambatan. Pengertian dan konsep Pendidikan Inklusif. Disinilah seringkali manusia banyak kelirunya ketika memandang sesuatu hanya dari segi lahiriah saja. kemampuan. diawali dengan adanya manusia yang hanya dipandang dengan sebelah mata. sebgaimana halnya pendidikan inklusif yang memberikan pelayanan pada semua. Manusia yang diabaikan. menurut Berry. diawali tidak dianggapnya orang-orang disability. tidak dihargai yang akhirnya memberi kekuatan untuk mengungkapkan tekanan dan keadaan dirinya atau kelompoknya kepermukaan yang selanjutnya baru mendapatkan perhatian umum.BAB III MORALITAS PESERTA DIDIK PENDIDIKAN INKLUSIF A. namun secara non fisik atau batiniah memiliki kekuatan yang luar biasa. selalu dilatarbelakangi adanya sejarah kehidupan atau fenomena di dalam masyarakat. Setiap gagasan yang muncul. mereka hanya dipandang hanya dari segi fisik yang nyata atau kasat mata. dan 66 . Sebagaimana pemberian pelayanan yang seharusnya diberikan kepada kelompok disabel. dan kondisi batin yang sulit untuk didiskripsikan. Anggapan keliru tersebut memunculkan penanganan dan pelayanan yang keliru pula. tidak diperhatikan. yang sebetulnya mereka hanya secara fisik tampak tidak mampu. Model yang telah diperkenalkan sejak abad XX yaitu model mainstreaming. memunculkan berbagai model pelayanan pendidikan.

David Smith. bahkan di Jawa Tengah dimana penempatan peserta didik pada sekolah luar biasa (sekolah khusus) akan bisa menimbulkan traumatik bagi peserta didik itu dan juga orang tua. Berry mengatakan bahwa embrio bagi kelahiran istilah mainstreaming yang telah dikembangkan dimana-mana dengan istilah least restrictive environment. yang ditempatkan dikelas-kelas reguler daripada di kelas-kelas khusus. setelah publikasi artikel ini muncul berbagai seruan untuk mengaktifkan pemikiran Dunn pada kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan suatu ”zero reject model” yang menganjurkan bahwa tidak seorang anak pun dengan keterbelakangan mental ’ditolak’ dari kelas reguler dan ditempatkan di kelas khusus (Ibid: 43) 67 . Keadaan ini berlaku pula pada situasi sekarang. Menurut Dunn (1968) tekanan untuk meneruskan dan memperluas program (kelas-kelas khusus) menjadi hal yang tidak diinginkan bagi kebanyakan anak-anak yang dipandang akan memerlukannya (Ibid: 42). Dia juga menekankan labeling kepada anak-anak untuk ditempatkan di kelas khusus membuat stigma yang sangat destruktif bagi konsep diri mereka. Dikatakan lebih lanjut oleh Lilly (1970).penambahan ketetapan-ketetapan bagi layanan pendidikan di dalam kelas-kelas reguler ketimbang diluar kelas-kelas tersebut (J. pada artikel Dunn tahun 1968 berjudul ”Special Education for for the Mildly Retardet: is Much of it Justifiable?” dalam artikel tersebut Dunn meminta para pendidik khusus agar mempertimbangkan dengan seksama dengan adanya hal-hal yang menunjukkan adanya kemajuan akademik yang lebih besar pada anak-anak yang memiliki hambatan. Juga pemindahan anak dari kelas reguler ke kelas khusus mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perasaan rendah diri dan problem penerimaan diri ( Ibid).2006: 42).

hanya jika institusi sekolah umum diubah. lembaga bisa diubah secara mendasar hanya sekolahlah yang harus diubah secara mendasar”. hal ini ditemukan berulang-ulang dalam literatur-literatur mengenai perubahan pendidikan khusus yang telah ditulis dalam tahun terakhir (Ibid : 44}. Perhatian yang besar terhadap semua peserta didik tanpa melihat perbedaan. hanya sebanyak yang diperlukan untuk mengontrol variabel-variabel pengajaran mereka (Ibid: 43). satu ’tanggung jawab bersama’ akan tercipta sehingga akan melayani anak-anak tanpa stigma label-label diagnostik atau kelas-kelas yang terpisah (Ibid: 43) Dijelaskan oleh Heller dan Schilit (1987). Oleh Will (1986). utamanya kondisi fisik atau melihat hambatan 68 . kebijakan yang diambil oleh Council for Exception Children Policies Comission. Intinya pendidikan khusus bisa diubah secara mendasar. sekretaris dari badan tersebut membuat istilah dalam REI (Reguler Education Initiative) menegaskan dengan menyatukan pendidikan khusus dan reguler. Istilah inklusi yang dianggap bagi istilah anak-anak baru untuk mendiskripsikan penyatuan berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah (dan juga diartikan sebagai menyatukan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh( Ibid :45).Berkenaan dengan promosi tersebut diatas. yang harus diperhatikan bahwa sangat penting untuk diketahui kalau pendidikan khusus tidak bisa mencari solusi-solusi institusional bagi masalah-masalah individu tanpa mengubah situasi dan kondisi dalam institusi tersebut. (1973) selanjutnya menetapkan bahwa semua siswa yang ”memiliki hambatan” sebaiknya menghabiskan waktu secukupnya saja di luar kelas reguler. Menurut Mc Laughlian dan Warren ( 1992).

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Ibid: 46) Pendidikan inklusif merupakan perkembangan pelayanan pendidikan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.faktual adalah suatu komitmen untuk melibatkan siswa-siswa atau peserta didik yang memiliki hambatan dalam setiap tingkat pendidikan mereka yang memungkinkan (Ibid: 46). selama memungkinkan. Tujuan utamanya. sebagaimana tersurat dalam surat al-Hujarat (49): 13 yang artinya ”Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. kecuali ketaqwaannya. dimana prinsip mendasar dari pendidikan inklusif. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid). pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” Dalam buku J. hal ini sejalan dengan ajaran Islam dalam Al-Quran. semua anak atau peserta didik seyogyanya belajar 69 . Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. bahwa manusia pada dasarnya sama.

hak asasi manusia. dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya.” (pernyataan Salamanca. 2005: 19). Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak. menjadi bagian dari kelas tersebut. Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. mengatakan bahwa layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama.bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima.1994) Inklusi itu masa depan. dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif. karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat. tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. bukanlah sesuatu yang kita lakukan sedikit saja ( Marsha Forest. baik 70 . Holtzman&Messick (1982). Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian. dilakukan bersama bagi satu sama lain. Menurut Heller. maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Lebih dari itu. bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan kepada seseorang atau untuk seseorang. menantang. milik ras manusia. pengupayaan agar bisa hidup berdampingan satu sama lain. maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Pendidikan Inclusive). Maurice J. bahwa disekeliling kehidupannya ada kehidupan yang berbeda dari dirinya.terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya ( www. Dalam J. namun kenyataan yang sering ditemukan dalam dunia pendidikan hanyalah keterbatasan-keterbatan yang tidak mampu memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan peserta didik khususnya perkembangan moralnya dalam menuju kedewasaannya. (Ibid: 46) Pelayanan pendidikan yang selama ini diberlakukan seakan membentuk kotak-kotak pelayanan pendidikan. yang mustinya dalam peletakan dasar dalam pembelajaran ini harus diberikan dengan suguhan-suguhan menyeluruh tentang kehidupan nyata. sedangkan cara atau hambatan yang dimilikinya itu hanyalah satu karakter dari individualitasnya (Ibid).google. bukan untuk menjadi remaja yang sukses (Elias. 2003: 33) 71 . peserta didik/remaja sekolah adalah masa untuk belajar menjadi orang dewasa. Tujuan utamanya. karena dalam masa pembelajaran.et all. secara faktual adalah membantu pembaca menjadi pendidik profesional yang dapat melihat sebagai yang utama dan pertama kali dalam setiap keadaan. pikiran itu mungkin berubah sekaligus merefleksikan keterbukaan dan penerimaan yang lebih besar bagi seseorang serta optimisme yang lebih besar dalam memperlakukan para penyandang hambatan dengan lebih santun. Pemikiran tersebut dilatar belakangi bila hambatan dipandang sebagai sesuatu yang sekunder bagi semua individu siswa. Smith menggunakan istilah optimal inclusion sebagai filosofi yang dipilihnya dengan pengertian untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu siswa/peserta didik. yang secara psikhologis sangat merugikan peserta didik dalam bersosialisasi.

tunadaksa.Pengkotak-kotakan pemberian pelayanan pendidikan. Thailand.Inklusi . Lembaga dunia maupun nasional yang komitment terhadap pendidikan. khususnya pelayanan itu harus diberikan dalam bentuk inklusif. Rekomendasi Simposium Internasional tentang Inklusi dan Penghapusan Hambantan untuk Belajar. Konggres Internasional ke-8 tentang mengikutsertakan anak penyandang kecacatan ke dalam masyarakat. para Menteri dan para Pejabat Tinggi Kementerian dari 10 negara Asia Tenggara. Untuk mendiskusikan isu ”peningkatan akses terhadap. pendidikan melalui lingkungan belajar yang ramah anak”.Sekolah ramah Anak Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi Para Penyandang Cacat tahun 1993. menuju • • • • • 72 . perkembangan serta penggarapan bagi pendidikan inklusif sebagai suatu pelayanan pendidikan masa depan (education for future). dan kualitas dari. Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Inklusi tahun 2004. Undang-Undang tentang Penyandang Cacat tahun 1997. Ph. Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi mengenai Pendidikan Berkebutuhan Khusus tahun 1994. yang selama ini dipraktekkan dalam dunia pendidikan. Patisipasi dan Perkembangan tahun 2005. . dll) menarik perhatian internasional dan nasional sehingga menumbuhkan ide bagi lembaga-lembaga yang komitmen terhadap dunia pendidikan dan hak asasi manusia.D yang menjabat Dirjen Dikdasmen. utamanya praktek pembatasan-pembatasan bagi peserta didik yang berkelainan (tuna netra. Deklarasi Bangkok tentang Pendidikan tahun 2004. Kerangka Dakar. lembaga-lembga tersebut menaruh perhatian lebih dan konsisten memberikan landasan-landasan untuk penanganan. Indonesia diwakili oleh Bapak Indra Jati Sidi. bertemu dalam forum kementerian tanggal 26 Mei di Bangkok. Pendidikan Untuk Semua (PUS) tahun 2000. lembaga Internasional dan Nasional tersebut antara lain adalah : • • • • Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (PUS) pada tahun 1990.

kewarganegaraan yang penuh pada tahuan 2004 (Kompendium. utamanya bagi peserta didik berkelainan (secara fisik) dan peserta didik berkebutuhan khusus (kognitif). 2006). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Sebagaimana tertulis dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan ”bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan”. pelayanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang memiliki kelambanan belajar (slow learner) dan peserta didik yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata (cerdas istimewa). mempermasalahkan perbedaan yang ada dalam diri peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak (peserta didik) termasuk normal dan anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama pendidikan. Pada penjelasan pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa ”pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. Lembaga-lembaga nasional maupun internasional tersebut memberikan kekuatan dan dukungan yang besar demi terselenggaranya pendidikan inklusif bagi semua penyelenggara inklusi untuk lebih inten dan konsisten dalam meningkatkan pelayanan pendidikan untuk semua tanpa melihat. telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah reguler pada umumnya. Realitasnya secara inheren. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan dalam 73 .

Ramah terhadap Peserta Didik. linguistik atau karakteristik lainnya. kesehatan. Menciptakan Kelas Inklusif. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. kesejahteraan bagi semua anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya”.pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. intelektual. antara lain dalam : Menjadikan Lingkungan Inklusif. tersurat dalam buku panduan (tookit) edisi Indonesia terdiri dari buku 1 sampai 6 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusif sebagai upaya untuk menyikapi keberagaman atau keberbedaan.2006: 37). atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Kompendium. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. dan ramah terhadap pembelajaran (LIRP) adalah lingkungan yang menerima. Tindak lanjut dari pernyataan tersebut. linguistiknya. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. anak dari orang-orang desa atau nomadik. anak jalanan atau pekerja. sosial. layanan pendidikan yang berkualitas. emosional. Pendidikan inklusif itu wajib mengingat bahwa anak itu 74 . pada salah satu pernyataan yang disepakati menyebutkan yaitu untuk ”Menyusun Rencana Aksi (Action Plan) dan pendanaannya untuk pemenuhan aksesibilitas fisik dan non fisik. dengan metode-metode. Mengajak Semua Anak Bersekolah dan Belajar. Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP). rekreasi. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang jenis kelamin. Suatu lingkungan yang inklusif. Pemerintah melalui Deklarasi Bandung dengan Tema Indonesia menuju Pendidikan Inklusif tahun 2004. fisik. Mengelola Kelas Inklusif dengan Pembelajaran yang Ramah Menciptakan LIRP yang sehat dan Aman. Sebagai bentuk kepedulian pada program Inklusif. Bekerja Sama dengan Keluarga dan Masyarakat untuk Menciptakan LIRP.

linguistiknya. latar belakang. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat. anak dari minoritas budayanya atau etnisnya. sosial dan lain sebagainya). (dalam kemampuan. sehingga sistimlah yang harus dirubah untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. anak dari orang-orang desa atau nomadik.berbeda. anak jalanan atau pekerja. linguistik atau karakteristik lainnya. sosial. merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (gender). semua anak bisa belajar. atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginal lainnya Pada kenyataannya intelegensi peserta didik ada pada tingkatan-tingkatan sebagaimana tampak pada kurve sebagai berikut KURVA INTELEGENSI ANAK Sub normal IQ < 90 Normal IQ 90-120 Super normal IQ > 120 : ATAU Super normal IQ > 120 Normal IQ 90-120 Sub normal IQ < 90 75 . gender. emosi. emosional. Masalah akan selalu timbul ketika suatu pendidikan menampung semua bentuk kondisi dimana lingkungan tersebut menerima. usia. anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS. intelektual. kelompok etnis. fisik.

peserta didik berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan peserta didik normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah-sekolah reguler terdekat. Melalui pendidikan inklusif. peserta didik berkelainan dan berkebutuhan khusus dididik atau diajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. termarginalkan segera akan disingkirkan atau tidak diperdengarkan lagi karena komitmen semua pihak melaksanakan pendidikan untuk semua dan pelayanan pendidikan yang kecenderungannya diberikan bagi seluruh warga negara. Pendidikan inklusif diharapkan mampu memecahkan persoalan dalam pelayanan dan penanganan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus selama ini. dan/atau sosial dan warga negara yang berusia 7 s/d 15 tahun wajib untuk mengikuti pendidikan dasar. tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki kelainan fisik. intelektual. emosional. B. yaitu landasan filosofis utama. mental. yang 76 .Sehingga diberlakukan pelayanan harus bisa pendidikan dan mampu yang diberikan dan semua mengakomodir tingkatan intelegensi yang inheren pada setiap peserta didik yang ada dalam kehidupan. manusia sisa-sisa. Landasan Kekuatan Pendidikan Inklusif Pendidikan inklusif memiliki kekuatan yang luar biasa karena memiliki landasan yang berakar dari budaya bangsa Indonesia. Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang mampu memberikan dan mengakomodir semua itu. Oleh karena itu. penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

karena seperti pelangi akan tampak keindahannya ketika warna itu beraneka. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. berilmu. Landasan yuridis internasional. menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kreatif. Landasan pedagogis. silih asih. perjalanan sejarah pembentukan pelayanan pendidikan inklusif dan penelitian tentang inklusi yang telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1952-an. dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya yang dijumpai atau dicita-citkan dalam kehidupan seharihari. 2003). Landasan empiris. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan. Jadi. seperti tersebut diatas lembaga dunia dan Undang-undang penguat yang menyuarakan supaya gaung pendidikan inklusif dapat diakses keseluruh antero dunia. yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. sehat. diawali 77 . cakap. mandiri. sehingga mendorong sikap silih asah. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam. melalui pendidikanlah.disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman. berakhlak mulia. sebagai ungkapan kembali bahwa Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948. semua peserta didik tanpa kecuali termasuk peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional.

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus Pengertian Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan (phisik. sebagaimana tertulis dalam Al-Quran. yang intinya bahwa dalam kehidupan di dunia. 4: 9. dan barang siapa membawa perbutan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan malainkan seimbang dengan kejahatannya. tanpa melihat perbedaan kondisi fisik maupun psikhis seseorang. hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan atau anak berkebutuhan khusus di sekolah. 43: 32. C. social. mental-intelektual. Tuhan mewajibkan kepada hambaNya untuk menaburkan rakhmat kepada semua. yang menjelaskan bahwa barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Taburan rakhmat kepada semua juga diperkuat QS An-Nisa. sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). QS Az-Zuhruf. Dan Tuhan mempertegas pula dalam firmannya sebagaimana tersurat dalam QS Al An-Aam. emosional) dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan 78 . namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat) pada tahun 1980. yang mengisyaratkan kepada manusia bahwa ketakutan dan kekhawatiran manusia akan kehidupan anak-anak atau peserta didik yang dalam kondisi lemah merupakan pekerjaan yang sia-sia karena kesejahteraan anak-anak tersebut akan dijamin oleh Tuhan dengan kekuasaanNya.dengan pengungkapan ceritera pengalaman hidup seorang laki-laki negro dengan tulisannya dalam judul Novelnya ”Invisble Man”. Landasan spiritual yang berlandaskan firman Tuhan. sebagaimana kondisi peserta didik yang cacat. 6: 160. kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif.

yaitu lembaga-lembaga terapi penanganan anak-anak seperti anak autis. maka guru dapat bekerjasama dengan pihak yang relevan untuk menanganinya. Jika masih dijumpai di sekolah. untuk keperluan pendidikan inklusi. adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (inteligensi). adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang. karena berdasarkan berbagai studi. anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. 2. anak korban narkoba. dan tanggungjawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal). dan lain-lain.dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan. meskipun seorang anak mengalami kelainan atau penyimpangan tertentu. sendi. berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya. Ada 9 (sembilan) jenis anak kebutuhan khusus. 4. hanya ada sembilan jenis kelainan yang paling sering dijumpai di sekolahsekolah reguler. sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata. adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran. 79 . 3. diluar 9 jenis kebuthan khusus tersebut. masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 1. dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. kreativitas. anak yang memiliki penyakit kronis. Berbakat/memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Tunadaksa/mengalami kelainan angota tubuh/gerakan. tetapi kelainan atau penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus. memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian. Secara singkat kesembilan jenis kebutuhan khusus tersebut.

yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa. isi bahasa. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku. dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 7. diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis. 8. 6. Tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Anak yang mengalami gangguan komunikasi ini tidak selalu disebabkan karena faktor ketunarunguan. adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. artikulasi (pengucapan). kesulitan belajar menulis (disgrafia). Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik. Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia). komunikasi maupun sosial. sehingga merugikan dirinya maupun orang lain. adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. adalah anak yang mengalami kelainan suara.5. sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. 2004). atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia). 9. Lamban belajar (slow learner). sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) Anak yang mengalami gangguan komunikasi. bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal). lebih lamban dibanding dengan yang normal. 80 . dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus. Tunagrahita atau retardasi mental adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik. mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulangulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. atau kelancaran bicara. menulis dan berhitung atau matematika). dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya (Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. atau fungsi bahasa.

diambil dari nama almarhumah Hajjah Isriati istri H. Isriati Semarang.2/Swt/09237/1991.87. Karena gagasan beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Kelurahan Pekunden. kebersamaan Pendidikan mereka. Nama Hj. nomor : 421. Isriati berdiri dan menjalankan operasionalnya pada tanggal 16 Juli 1985. Dan pada tanggal 6 Juni 1991 mendapatkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. seakan berdiri 81 . baru dikeluarkan pada 23 Juli 1987. inklusif untuk memberikan memperoleh wadah bagi kesempatan mengembangkan potensi diri yang dimiliki masing-masing peserta didik.200 meter persegi ini. Moenadi. D. namun secara de jure. Sekilas Perkembangan SD Hj. SD Hj. Bangunan sekolah seluas 3. Kecamatan Semarang Tengah. Isriati Baiturrahman Semarang merupakan salah satu sekolah swasta yang bernuansa Islam dari sekian banyak SD yang bernuansa Islami di Semarang. Isriati Baiturrahman terletak di kawasan straategis Simpang Lima. nomor 1179/I03/I. Kota Semarang. dengan demikian mereka berada bersama-sama dalam kelas yang sama. dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. memperoleh kesempatan yang sama tanpa membedakan atau tanpa ada diskriminasi.Peserta didik yang memiliki kelainan seperti tersebut diatas direkomendasikan seyogyanya belajar bersama-sama dengan peserta didik normal dalam kelas reguler. Provinsi Jawa Tengah. Isriati. ibu kota Jawa Tengah. Data yang diperoleh menyebutkan bahwa SD Hj. tepatnya di Jalan Pandanaran 126 Semarang. mantan Gubernur Jawa Tengah periode tahun 1970-1975. Secara de fakto SD Hj. ijin operasional sementara. pusat Kota Semarang.

periode ini disebut sebagai periode pencarian jati diri.Pd. Pada periode ini SD Hj. Isriati di bawah kepemimpinan Hj. Pada masa ini SD Hj. Isriati memfokuskan pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah melalui peningkatan mutu sumber daya manusia. Isriati di bawah kepemimpinan Sunoto. Dra. Alhamdulillah lima tahun terakhir ini program tersebut telah terwujud. Beliau bersama para guru mengembangkan pendidikan di SD Hj. satu komplek dengan TK Hj. Selama 13 tahun inilah SD Hj. Isriati Baiturrahman dengan siswa sebanyak 12 anak pada tahun pertama dan 30 anak pada tahun ke dua. dan sarana prasarana. Pada periode ini SD Hj. Isriati sekaligus mencari dan membentuk jati diri SD Hj. Isriati Baiturrahman dan Masjid Raya Baiturrahman. Periode ketiga. Isriati Baiturrahman di bawah kepemimpinan Siti Nizam Maria Ulfah. Pada periode ini SD Hj.. Sri Tantowiyah.. Isriati Baiturrahman telah mengalami tiga periode kepemimpinan. disebut sebagai periode keperintisan. Isriati Baiturrahman. S. Periode kedua. pada tahun 1985 – 1987. Perjalanan terus berlangsung dalam sejarah peletakan dasar pada tunas-tunas bangsa lewat pendidikan merupakan tugas mulia yang harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dengan karya nyata sangat diharapkan demi terwujudnya masyarakat kota 82 .Pd. pada tahun 1987 – 2000. Beliau bersama lima orang guru dan pengurus Yayasan merintis berdirinya SD Hj. M. Sejak berdiri pada tahun 1985 sampai dengan sekarang SD Hj. Periode pertama. pada tahun 2000 – 2008. baik dari sisi kuantitas siswanya maupun kualitasnya.765 meter persegi. Isriati memantapkan diri sebagai sekolah Islam dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.megah di atas tanah seluas 11. Periode ini disebut sebagai periode pengembangan mutu. peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar. di sebelah barat Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang.

selalu mendapatkan juara. Pilihan Dai kecil (Pildacil). Sains. Sempoa. pidato Bahasa Inggris.bab. Karena saleh. Menggambar. dan sukses hidup bagi manusia adalah persoalan yang bisa dipahami dan dievaluasi. menghayati. Aplikasi Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Pada kenyataan dilapangan. tingkat kota. SD Isriyati menyelengarakan pendidikan inklusif. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami. E. dan mengamalkan nilai-nilai agama yang meyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan dan seni (ibid). Baca Puisi. Sesuai dengan peraturan Pemerintah yang menyebutkan fungsi Pendidikan agama adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama (Peraturan Pemerintah RI .Semarang yang utuh dan sehat untuk menyongsong era globalisasi dunia yang tak kenal batas. kegiatan tersebut diikutinya mulai dari tingkat kecamatan. bukan takdir sebagai suatu hak prerogative Allah (Ibid). Bagi kelompok peserta didik yang berkebutuihan khusus. Untuk itu kolaborasi pendidikan sebagai proses belajar hidup guna mengatasi keburukan dan mengembangkan kebaikan (Abdul Munir Mulkhan. 2002:46) dengan sentuhan agama dan praktek nyata sangatlah tepat dan dibutuhkan.II: 2). ditemukan bahwa ada beraneka kondisi peserta didik yang ditemukan.2007. Semua kegiatan tersebut memperoleh prestasi yang tidak mengecewakan. Vokal. wilayah Jawa Tengah dan tingkat Provinsi Jawa Tengah. lomba mata pelajaran. Berbagai lomba telah diikutinya. mereka ada yang tergolong memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa (CIBI) dan sebagian mereka ada yang memiliki kecerdasan yang rata-rata dan sebagian ada yang berkebutuihan khusus. cerdas. Pendidikan inklusif 83 .

social. Isriati menyelenggarakan pendidikan Inklusif. bahwa pada hakikatnya manusia itu sama di hadapan TuhanNya. SD Hj. baik Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional maupun Departemen Agama secara terintegrasi. Didalam perjalanan melayani masyarakat. mental-intelektual. anak-anak reguler bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menggunakan kurikulum Berbasis Kompetensi yang dimodifikasi. barangkali ada hikmah dibalik jiwa yang besar ada kebesaran Tuhan yang luar biasa. Perbandingan antara Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan Kurikulum Departemen Agama sekitar 80% : 20. sehingga perlu memperoleh pelayanan Pendidikan Inklusif 22 84 . Isriati ingin memberikan pelayanan terbaik kepada semua masyarakat tanpa pandang bulu sesuai amanat yang tertuang dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 “Bahwa Pendidikan adalah Hak bagi semua warga Negara Indonesia. Kurikulum yang dimodifikasi adalah kurikulum yang mengkombinasikan antara kurikulum yang diberlakukan dengan memperhatikan kondisi peserta didik. Kurikulum Baiturrahman yang diberlakukan Kurikulum pada SD Hj. dan bersamaan dengan program Pemerintah yang mensosialisasikan dan mencanangkan Program Inklusif pada tahun 2003. emosional) dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. mereka anak berkebutuhan Anak yang dalam proses pertumbuhan/perkembangan secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan pada (phisik. dan dengan unsur ketidak sengajaan tersebut. dan mereka dilayani secara inklusif. SD Hj. Berawal dari niat memberikan pelayanan untuk semua.adalah pendidikan yang memberikan pelayanan kepada anak-anak biasa (regulars children) dan anak-anak berkebutuhan khusus22 (special need children). Di kelas reguler. Isriati menggunakan Nasional (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan Kurikulum Lokal. termasuk anak berkebutuhan khusus”.

khusus (ABK) memang tetap harus diberikan porsinya. yaitu peserta didik mengalami lamban dalam belajar. Dalam melaksanakan pembelajaran. yang meliputi tuna grahita/lambat belajar (slow learner). harus dikembangkan potensinya. harus dimanusiakan. Mereka belajar tidak dengan mudah. tuna laras dan autis maka diberlakukan prisip-prinsip khusus sebagai berikut : 1. Dalam beberapa hal mereka mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir. harus diberikan tempat yang layak. dan tugas-tugas karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. harus dilayani. para pendidik menerapkan prinsip kasih sayang yang harus diberlakukan. lebih lamban dibanding dengan yang normal. Pembelajaran di Kelas Inklusif Secara umum pembelajaran dikelas inklusif sama dengan pembelajaran dikelas reguler. baru bisa maenangkap apa yang diampaikan oleh pendidik. Kasih sayang 85 . mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang akademiknya untuk maupun dapat non menyelesaikan akademik. harus diberikan haknya. peserta didik yang memiliki intelegensi lebih lemah dibanding peserta didik sebaya lainnya perlu diberikan perhatian khusus dengan cara sabar. mereka memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita berat. merespon rangsangan dan adaptasi sosial. Penanganan tunagrahita bagi (Slow peserta didik yang memiliki kelainan yang Learner). namun keberadaan peserta didik yang berkebutuhan khusus atau anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ada pada SD Hj. Isriati Semarang. harus diberikan pembelajaran yang berulang-ulang. karena hidup adalah menanam benih kebaikan yang buahnya akan dipetik oleh generasi-generasi sesudahnya. tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita berat.

adalah sifat fitrah manusia, untuk menerapkan kepada peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan kasih sayang para peserta didik merasakan sentuhan yang bisa dirasakan dari dalam dirinya untuk kemudian sikap kasih sayang bisa berkembang dengan menerapkan pada diri sendiri, para pendidik dan tenaga kependidikan, kepada orang tua dan kepada teman sebayanya. Dengan harapan para peserta didik akan menjadi seorang yang penyayang, seorang penyayang bukan saja menyayangi dirinya sendiri, melainkan menyayangi dirinya dan orang lain (sabda Rasul) Prinsip keperagaan, setiap memberikan pembelajaran kepada peserta didik ini perlu didukung dengan alat peraga, disamping dengan kata-kata yang tidak terlalu cepat, karena mereka perlu dituntun dengan pelan dan menjelaskan dengan telaten. Dengan alat peraga memperjelas pelajaran yang diberikan kepada mereka. Peserta didik dengan kondisi lemah akal pikirnya dalam menerima pembelajaran, biasanya

membutuhkan ketelatenan, mereka tidak seera merta mampu untuk menerima pembelajaran dengan instan, mereka peerlu pemberian yang bertahap dan teliti, mereka memang bisa digolongkan peserta didik yang lambat, sehingga segala sesuatunya tidak bisa cepat bahkan untuk memperjelas

pembelajaran yang diberikan oleh para pendidik memerlukan alat peraga, alat peraga bisa beraneka macamnya Prinsip habilitasi dan rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan peserta didik pada kondisi yang proporsional sesuai dengan keadaan kemampuannya. 2. Penanganan peserta didik tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku, dimana mereka mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam

86

lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungannya. Beberapa prinsip yang diterapkan untuk ABK tunalaras seperti Prinsip kebutuhan dan keaktifan, prinsip kebebasan yang terarah, prinsip penggunaan waktu luang, prinsip

kekeluargaan dan kepatuhan, prinsp setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip minat dan kemampuan, prinsip

emosional, sosial dan perilaku, prinsip disiplin, prinsip kasih sayang Prinsip-prinsp yang diterapkan untuk ABK tuna laras sebetulnya juga merupakan kebutuhan peserta didik pada umumnya, namun pada ABK tuna laras tampak sekali kehidupan yang sarat dengan emosional dan kecenderungaan berbuat menggannggu teman-teman sebayanya sehingga

penerapan prnsip- prinsip tersebut bertujuan unuk mengarahkan kepada kenormalan supaya situasi pembelajaran tidak

terganngu dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus tuna laras dan peserta didik bisa melaksanakan pembelajaran dengan tenang dan tidak gaduh. 3. Penanganan bagi peserta didik authis sebetulnya menggunakan prinsip-prinsp yang hampir sama dengan prinsip yang

diterapkan pada ABK tunalaras, ABK ini hampir memiliki kecenderungan yang mirip dengan ABK tunalaras hanya koncentrasi pada autis seakan tidak mampu untuk konsentrasi pada satu pelajaran, mereka lebih asyik dengan dunia sendiri, kalau ABK autis maunya yang ini, maka mereka tidak mau dibelokkan untuk memilih yang lainnnya, mereka asyik dengan dunia imajinasinya sendiri.

87

Prinsip-prinsip kebutuhan dan

yang

diterapkan prinsip

adalah

prinsip prinsip

keaktipan,

keperagaan,

kebebasan yang terarah,

prinsip penggunaan waktu luang, minat dan

prinsip kekeluargaan dan kepatuhan, prinsip

kemampuan prinsip setia kawan dan idola serta perlindungan, prinsip emosional, sosial dan perilaku, prinsip kasih sayang. Peniruan adalah suatu bagian yang penting dari proses membujuk anak-anak untuk berperilaku dengan baik kepada orang lain (John W. Santrock, 2002:49). Ketika seorang pendidik memperlakukan dengan baik kepada ABK yang memang membutuhkan perhatian yang hkusus dan sentuhan hati maka saat inilah untuk membentuk moralitas mereka dimana saat-saat perkembangan moral berada pada posisi meniru dan taat pada guru/pendidik. Proses Pendidikan Inklusif pada SD Hj. Isriati Semarang Ada beberapa model pembelajaran yang diterapkan pada SD Hj. Isriati terkait dengan pelayanan pada peserta didik dengan pelayanan pendidikan inklusi. Model-model pelayanan yang

diberikan tersebut antara lain : 1. Pembelajaran dengan membangkitkan Motivasi dan Kepercayaan Peserta Didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa kegiatan yang musti dilakukan, yaitu menyajikan bahan ajar/materi pembelajaran, mengimplementasikan metode pembelajaran, sumber dan alat pembelajaran, membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, mengelola waktu, ruang, bahan dan perlengkapan pengajaran, melakukan evaluasi, melakukan analisa, dan melakukan tindak lanjut (follow up). Namun dari ketujuh kegiatan tersebut, bagaimana guru mampu untuk membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri pada peserta didik, karena dengan kegiatan tersebut penanaman moral

88

dengan kebaikan-kebaikan akan menimbulkan kesan yang dalam bagi perkemabangan peserta didik pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pendidik atau para guru pada SD Hj. Isriati Semarang melakukan berbagai hal, dengan memenuhi bahasa kasih sayang. Ada lima hal yang diterapkannya : a. Kata-kata pendukung, berupa kata-kata pujian dengan tulus, katakata pujian dsb; b. Saat-saat berkesan, dengan menyampaikan cerita-cerita

pengalaman yang pernah dialami oleh peserta didik dengan pengalaman-pengalaman yang positif yang menarik bagi peserta didik; c. Menerima hadiah-hadiah, yaitu dengan memberikan hadiahhadiah bagi peserta didik yang telah berhasil melakukan pekerjaan dengan baik atau telah membantu temannya dengan baik pula; d. Pelayanan, seorang guru harus memberikan pelayanan yang terkait dengan peningkatan, supaya peserta didik merasa ada perhatian dan penuh dengan kasih sayang; e. Sentuhan fisik, hal tersebut perlu dilakukan supaya ada kedekatan antara peserta didik dengan pendidik, misalnya dengan menepuknepuk bahunya atau mengelus kepalanya. Kelima hal tersebut pentingnya dilakukan sebagai bentuk pendidikan yang bisa dibarengi dengan perbuatan yang perlu diberikan sebagai suatu contoh yang harus dlihat oleh peserta didik untuk selanjutnya akan ditiru dalam perbuatan nyatanya pada saat peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan. Disamping menerapkan prinsip pelayanan pembelajaran tersebut diatas SD para Hj. pendidik Isriatai bersifat Islami, dan tenaga kependidikan pemebelajarandengan adanya dan

dilngkungan pembelajaran penerapan

menerapkan keagamaan, sebagai

yang

Kurikulum

konsekwensi

89

komitmen sejak awal. Hadis pendek tersebut difigura sebagai hiasan dinding yang bisa dibaca setiap saat. Mewajibkan peserta didik untuk menjalankan shalat wajib dhuhur dengan dimasukkan kedalam kurikulum. 3. perbuatan-perbuatan yang dibiasakan yaitu : 1. bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mengaji. 4. berikut kegiatan Guru Pembimbing terhadap peserta 90 . Penerapan tersebut berupa penerapan perbuatan sebagai ketaatan kepada Tuhan seperti. do’a yang dibaca adalah 1) membaca dua kalimah syahadat. melakukan shalat berjamaah dlsb. suatu persaksian atau janji yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik sebagai suatu kebiasaan 2) membaca surat al-Fatikhah dan 3) do’a belajar. dan memakai celana panjang bagi laki-laki. mengaji. Memperkenalkan hadis-hadis rasul yang pendek-pendek misalnya man jadda wa jadda (barang siapa bersungguh maka akan memperoleh hasil). Ketiga bacaan tersebut dibaca oleh peserta didik yang telah dilatih serta didampingi oleh bapak guru pembimbing. Isriati merupakan sekolah yang menggunakan kombinasi kurikulum nasional dan kurkulum Departemen agama. serta belajar seni baca alQuran. diberikan pelayanan yang intensif yang dilakukan oleh guru pembimbing khusus. Memakai kerudung sebagai penutup aurot bagi wanita. dll. bahasa Arab. 5. Disamping pembiasaan tersebut diatas. membaca Al-Quran. Doa tersebut dibacakan dan diucapkan dalam tiga bahasa. bahwa SD Hj. yang diikuti oleh semua pesera didik dari kelas I sampai dengan kelas VI. 2. Awal pembelajaran diawali dengan berdoa bersama diaula yang dikemas sebagai apel bersama.

ditemukan ada beberapa peserta didik yang menonjol dan membutuhkan pelayanan yang ekstra. guru pembimbing serta orang tua. membahas hasil pemeriksaan psikologis dan rekomendasi untuk bersekoKelas Kegiatan 6 Mei’06 3 Agust’08 24 Okt’07 91 . Konsul dengan ortu (Ibu) tentang perilaku seharihari. Dari hasil identifikasi terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar dan perilaku yang tidak semestinya sebagai peserta didik yang seharusnya patuh serta taat dan berperilaku baik atau bermoral. Pelayanan kepada peserta didik yang mengalami kelainan yang dilakukan oleh guru pembimbing. sebagai berikut : Tabel 3. 8 Des’05 Nadia ID Selama satu semester belum adanya kemajuan yang berarti.didik berkebutuhan khusus. yang disajikan dalam tabel untuk memberi kemudahan kepada pembaca. peserta didik yang namanamanya disebutkan dengan jelas dibawah ini ditulis dengan persetujuan kepala sekolah. pengasuhan dan komunikasi Menerima kedatangan ortu Nia dan menjelaskan duduk persoalannya Mau mengerjakan soal dengan penekanan atau pengulangan perintah Full out di BK dengan bimbingan guru BK Pertemuan dengan ortu Nadia. Kegiatan Pelayanan yang diberikan oleh Guru Pembimbing terhadap para peserta didik berkebutuhan khusus No Hari/Tgl Peserta Didik 1.1.

lah di sekolah khusus (SLB) 2. 2 Agust’07 Fairus 2C 92 . rame. sambil menunggu pendamping buat Alif Alif ikut tes. terkait dengan hasil psikotes Full out di BK. sambil menunggu datangnya shadow Menunjukkan sikap mengganggu teman. ABK dengan kelainan ADHD. 3. pasti nangis dan mogok. 16-31 Juli’07 M. dengan bimbingan guru BK Alih tangan kasus untuk menetukan terapi alternatif bagi alif. punya sifat kecil hati (tak percaya diri). karena kemampuan menulis dan membaca yang belum sempurna Mau mengerjakan soal dengan penekanan/ pengulangan perintah. Konsul dengan ortu (ayah) Alif saat usia 3-5 th sering step (sakit). 10 Juni’06 3 Agust’7 24 Sept’07 22 Sept’07 24 Okt’07 8 Des’07 4. emosi tinggi Menerima kedatangan ortu dijelaskan bahwa Alif agak sukar menerima pelajaran. Berkonsultasi dengan ortu. ortu melaksanakan drill di rumah dan belajar dg terapi secara intensif Full out di ruang BK. 13 Des’05 Alif 1C Setiap pagi menjelang masuk kekelas. Naufal Athala 3C Pemberian pendampingan kepadanya.

sangatlah membutuhkan perhatian. rencana akan diberikan shadow (pendamping) Pendampingan oleh terapis untuk memaksimalkan potensi yang ada 5. karena mau meminjam kacamata tidak boleh sama lutfi Hendra mulai dapat mengendalikan diri Henky 2D Orang tua sharing tentang perkembangan Henky. 5 Okto’07 30 Okt’07 Hendra 4 C 6 Nov’07 7. marah meledak tanpa pandang bulu. juga marah kepada wali kelas Sering sekali marah (emosi mudah terpancing) sehingga teman suka jengkel Marah-marah dengan Lutfi sampai merusak kacamata lutfi. 7 Nov’07 14 Nov’07 Bahwa peserta didik berkebutuhan khusus. 15 Agus’07 6. kesabaran. ketabahan serta keintensifan dalam memberikan pelayanan kepadanya. apa yang dilakukan oleh pendidik akan merupakan contoh tauladan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik seluruhnya. karena manusia pada 93 . bisa disebabkan situasi keluarga Dita 5C Dita mempunyai emosi yang sulit untuk dikontrol.cari perhatian 7 Agust’07 Pendekatan terhadap Fais tentang latar belakang keluarga dan peristiwa pemicu perilakunya.

mereka mempertimbangkan maksud-maksud dari pelaku. Isriatai Semarang Memperhatikan pembelajaran yang dilaksanakan SD HJ. mereka juga menganggap bahwa aturan-aturan bersifat fleksibel. bisa dibuat kesepakatan dan bisa berubah. dan biasanya mereka merasa khawatir setelah melakukan pelanggaran. yaitu manusia yang pada hatinya telah terdapat cahaya nur illahi yang memang harus dilatih terus menerus. tidak bersifat kaku. mereka hanya tunduk pada aturan-aturan sosial yang telah dibuat. aturan yang disepakatinya bersifat kaku. usia 7 s/d 10 dan pada usia diatas 10 tahun. mereka menganggap bahwa hukuman tidak serta merta diberlakukan begitu saja dan hukuman 94 . Dengan demikian pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan inklusif membantu tumbuh kembangkan pendidikan yang memiliki rokh kehidupan manusia yang hakiki. Aturan atau norma-norma yang diberlakukan di sekolah akan selalu dipatuhi oleh peserta didik tersebut. Isriati dengan menerapkan pendidikan inklusi sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Piaget tentang perkembangan pemikiran atau penalaran moral pada anak-anak usia 4 s/ 7 tahun. mereka juga menolak aturan-aturan yang baru diperkenalkan. F. yakin akan adanya keadilan yang immanen (immanent justice). Moralitias Peserta Didik pada SD HJ. mereka tunduk pada perubahan aturan dengan kesepakatan. Bagi peserta didik atau anakanak yang berusia diatas usia 10 tahun. supaya cahaya tersebut tidak padam.dasarnya memiliki rokh kesucian yang amat sangat dekat dengan keselarasan kebaikan dan manusia yang bermoral dan bermartabat. mau menerima perubahan. tidak boleh diubah. mereka memiliki pemikiran tentang moral dengan ciri-ciri. selalu mempertimbanggkan akibat-akibat dari perilaku. mereka lebih fleksibel. bagi anak anak berusia 410 tahun.

mereka belum banyak mendapat pengaruh dari luar dirinya. pada usia tersebut peserta didik memiliki oriantasi penalaran moral pada tingkat kepatuhan terhadap aturan–aturan atau norma-norma yang berlaku. moralitasnya baik. kalau aturannya berbunyi melarang mereka mereka akan mematuhinya sesuai dengan aturan tersebut. Lingkungan sekolah dan sekaligus lingkungan teman sebayanya yang baru dikenalnya dan akan diketahuinya ketika mereka berbaur dan bersama-sama bersekolah selama proses pendidikan di Sekolah. berbagai kondisi dan berbagai latar belakang. masih murni. Lingkungan keluarga (orang tua. teguran bahkan hukuman sehingga mereka berusaha untuk menjadi peserta didik yang baik dengan mentaati aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah tersebut serta mematuhi perintahperintah guru/para pendidik serta tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut yang akhirnya membentuk peserta didik menjadi anak yang baik. sesuatu pemikiran yang baru diketahuinya ketika mereka bersekolah 95 .Isriati Semarang. kakek neneknya. sebagaimana peserta didik pada SD Hj. Usia peserta didik pada jenjang sekolah dasar (sekitar usia 7 s/d 15 tahun). mereka memiliki kecenderungan berpikir yang tidak neko-neko. Lingkungan sekolah yang baru dimasukinya memberikan konsekwensi pada dirinya untuk mematuhi aturan-aturan yang diterapkan dan memmiliki hukum wajib dengan ketentuan apabila peraturan-peraturan tersebut dilanggar mereka akan mendapatkan sangsi. Keaneka ragaman teman sebaya. peseta didik yang bermoral. masih kaku. karena mereka berasal dari berbagai keadaan. belum memiliki pola pikir sendiri. saudarasaudaranya dan juga anggota keluarga yang lainnya). pendapat sendiri. hal itupun akan memberikan sesuatu yang baru kepada peserta didik. masih lugu.hanya terjadi pada seseorang yang relevan menyaksikan kesalahan dan bahwa hukuman juga tidak terelakan.

2) fear atau terror. Disamping itu Tomkins juga mengemukakan pendapat bahwa adanya 9 macam innate emotions.1984) mengemukakan bahwa emosi itu menimbulkan energi untuk motivasi. Teman-teman yang dalam keberbedaan fisik dan emosional termasuk teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus (ABK). Dengan sebaya yang demikian adanya suguhan-suguhan dengan dirinya teman akan memiliki keberbedaan merangsang emosinya untuk bertindak atau bersikap. Dan sikap atau tindakan tersebut bisa berbentuk negatif atau positif. tidak mempunyai anggota tubuh yang lengkap tidak bisa melihat dengan baik (tuna daksa.. Tiga bersifat positif. mereka akan merasa bahagya dan puas ketika menyaksikan peserta didik terus bissa melakukan perbuatan baik karena dorongan kondisi yang memang telah disiapkan oleh 96 . tuna netra. Keadaan ini tentu merupakan keadaan-keadaan yang diketahui dan dikenalnya ketika mereka bersekolah. atau ada temannya yang terlalu aktip dalam geraknya atau acuh (autis). Dan juga emosi dalam bentuk positif misalnya merasa kasihan melihat temannya yang kurang beruntung. atau ungkapan perasaannya atau emosinya. Menurut Tomkins (lih. misalnya ada temannya yang nakal. yaitu: 1) distress atau anguish. 6) anger atau rage. Kecenderungannya untuk bersikap positif mempunyai harapan yang membahagiakan kepada semua lingkungan yang dekat dengan peserta didik.Morgan. 3) shame atau humilitation. 2) enjoyment atau joy.dkk.atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Emosi negatif dalam bentuk kejengkelan. ada temannya yang kurang pandai dalam mata pelajaran. yaitu 1) interest atau excitement. berdasarkan atas tipe gerak dan ekspresi yang nampak pada seseorang. Yang enam bersifat negatif. 4) contemp. 5) disgust. 3) surprise atau startie. tuna grahita). ketidak sabaran atau yang lainnya itu akan timbul. keberbedaan ini akan mempengaruhi pemikiran yang memberikan warna dalam pemikiran selanjutnya.

bertindak dan merasakan selalu dalam keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan sosialnya. bahagia dan memiliki kepuasan diri. adanya figur yang tetap konsisten bisa dijadikan pegangan oleh peserta didik. bertemu dengan banyak peserta didik yang lalu lalang dengan ceria seakan menggambarkan kebahagian yang tercermin dari dalam hati. yang dientik dengan manusia yang berakhlakul karimah (Imam Ghazali) Secara umum. Lingkungan sosial pertama-tama yang ditemukan oleh peserta didik adalah lingkungan 97 . Peserta didik dalam berpikir. Dalam kontek ini. tingkah laku yang nampak mencerminkan kehidupan rokhani yang sehat.lingkungan sekolah. diberi stimulus. Selanjutnya dengan kebiasaan yang baik yang telah ditanamkan oleh sekolah yang menerapkan kurikulum islami disamping kurikulum nasional. karena pada dasarnya akhlak yang baik itu harus dibentuk dikondisikan. peserta didik akan memiliki akhlak yang baik pula. Dimana kebenaran intuitif tumbuh dengan sendirinya tanpa ada dorongan baik dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Isriati Semarang. maka moralitas yang diharapkan sesuai dengan kondisi peserta didik yang ada di Jawa Tengah. berlokasi di Semarang Jawa Tengah. Bahkan kadang-kadang tidak diketahuinya mengapa peserta didik berbuat baik dengan tibatiba. bisa dijadikan refernsi oleh mereka menjadi manusia yang baik. yaitu moralitas yang bertumpu pada prinsip rukun dan prinsip hormat. Implementasi moralitas peserta didik didiskripsikan pada uraian berikut. Sekolah yang menerapkan kurikulum islami akan lebih membentuk kebiasaan-kebiasasan baik ini akan tumbuh tanpa dengan disadarinya yatu dengan intuitif. ketika masuk dalam lingkungan SD Hj. yang lokasinya persis berdampingan dengan masjid Baiturrakhman Semarang yang sangat megah tersebut. karena SD HJ Isriati.

saya merasa rikuh pekewuh. mereka juga bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. maka peserta didik bertemu dan bersosialisasi dengan guru yang merupakan peletak kebaikan dan merupakan model yang ditemukan peserta didik. tidak nakal. guru maupun teman sebayanya. moralitas pertama yang akan dilihat bagaimana peserta didik berusaha untuk menyelaraskan hubungan dan menjaga keharmonisan antara dirinya dengan kedua orang tuanya. 4) Kalau disuruh orang tua. 1. 3) Kalau saya berbicara dengan orang tua dengan lembut. malu. tidak melanggar aturan. saya mengerjakan dengan ringan dan tidak terpaksa. dibawah ini diuraikan beberapa pertanyaan untuk mengungkap sikap hormat maupun sikap rukun baik terhadap orang tua. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. sehingga perkembangan moral berikutnya adalah moralitas peserta didik terhadap guru. antara lain : 1) Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. Kemudian di sekolah disamping bertemu dan bersosialisasi dengan guru-gurunya.nasehat dan perintah-perintahnya. tidak kasar dan tidak sembrono. Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Penalaran atau pemikiran. 2). ketika peserta didik dalam perkembangan hidup mulai memasuki dunia sekolah. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baiknya. Lingkungan sosial kedua. 5) Saya ingin menghormatinya. Untuk mengetahui sikap moralnya. saya tidak menyela pembicaraannya. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap hormat adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.keluarga. (dengan berbuat baik. dan lain sebagainya) 98 . apabila saya melanggar nasehat. Jika orang tua sedang berbicara. dan 6) Dimanapun saya berada.

4) Kalau akan bepergian dan bertemu orang tua. 2) Jika terjadi perselisihan. 3) Jika bepergian. 4) Saya menundukan kepala. mengutarakan kepada orang tua. 3) Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah. saya menggandeng dan mengiringi orang tua. walaupun kadang-kadang berat dengan aturan tersebut. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Dalam sikap Hormat. antara lain : 1) Jika sedang ada persoalan dirumah. di sekolah dengan guru maupun dengan teman. saya menurut. 5) Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali pada bagian yang belum saya ketahui. saya mencium tangannya. diperintah orang tua. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. saya memilih untuk mengalah. saya berusaha untuk bermusyawarah. 2) Saya melihat kebaikan-kebaikan dan 99 . antara lain : 1) Saya berusaha menjaga kewajiban sebagai peserta didik yang baik mematuhi ucapan-ucapan bapak/ibu guru. diajukan untuk menjawab beberapa pertanyaan. 5) Saya akan mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan diberlakukan di sekolah. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. dan melaksanakan perintahnya 2. 2) Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. membungkukkan badan. beberapa pertanyaan antara lain : 1) Jika sedang diajar oleh bapak/ibu guru. tindakan dan perasaan moral yang dipilih dalam kecenderungannya yang berlandaskan dengan sikap rukun adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.Penalaran atau pemikiran. dan 6) Saya merasa bersalah apabila melanggar aturan-aturan sekolah tersebut Dalam sikap Rukun. dan 6) Apabila dinasehati.

membentuk 100 . antara lain : 1) Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. kaya atau miskin. dlsb. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 3. 1) Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. perbuatan baik dan mulia bapak/ibu guru dengan memberikan ilmu dan mengajar saya. dan 6) Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru yang sedang menderita sakit. karena tidak mengharapkan balasan. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. normal atau cacat. 5) Saya merasa bapak/ibu guru seperti malaikat dalam memberikan ilmu pada semua peserta didik. Moralitas peserta Didik terhadap Teman Sebaya Sikap Hormat terhadap teman sebaya akan diungkap dengan mengajukan beberapa pertanyaan antara lain. dan 6) Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. 5) Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang miskin. bermain bersama. 4) Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. 2) Saya tidak kepada teman yang membicarakan kejelekan-kejelekan teman lainnya. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. kurang pandai. 2) Saya mengajak belajar. 3) Saya peduli dengan jerih payah. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar menerimaa cobaan hidup. saya bersimpati kepadanya Sikap Rukun terhadap teman sebaya akan menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut. teman yang nakal. 4) Saya akan segera menjenguk teman yang sakit di Rumah sakit apabila sudah tiga hari tidak masuk sekolah. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. 3) Saya segera akan menolong dan bekerja sama dengan teman apabila teman saya membutuhkan pertolongan.tauladan-tauladan yang diajarkan dan dicontohkan oleh bapakibu guru.

maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan baik.kelompok belajar. Saya mengagumi teman yang baik hati. menmbulkan masalah. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan cukup. berupa materi dengan maupun berbuat bukan semampu materi. dengan cara menelpon. tidak akur dengan teman lain dan berbuat tidak sopan. suka menolong teman lainnya. dikategorikan dalam 4 kategori. supaya teman-teman yang lainnya bersedia bergabung. Dari beberapa pertanyaan tersebut. 5) saya. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban selalu. suka membantu dan tidak suka berkelahi. 101 . kategori pertama. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban tidak pernah. kategori ketiga apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawabaan kadang-kadang. 4) Saya membantu memberi teman-teman. dan kategori keempat. 3) Saya menjalin hubungan dengan teman. apabila peserta didik menjawab dengan memilih jawaban sering kali. maka moralitas peserta didik dinilai tidak baik. serta 6) Saya sedih apabila melihat teman-teman berkelahi. kategori kedua. pergi atau bersilaturrokhim kerumahnya. maka moralitas peserta didik bisa dinilai dengan sangat baik.

yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Mereka adalah peserta didik yang memiliki ciri dengan jenis berkebutuhan khusus berjumlah 7 (tujuh) peserta didik. yaitu peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Adapun deskripsi data yang dilakukan terhadap subyek penelitian menghasilkan data di bawah ini. Variabel peserta didik terlebih dulu dipaparkan dengan statistik deskriptif yaitu statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data responden sebagaimana adanya. 102 . berjumlah 19 (sembilan belas) peserta didik. minimum (Ghozali. Deskripsi Data Penelitian Data yang telah terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode statistik. varian. 2001: 19). maksimum. Statistik deskriptif juga memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean). Pengelompokan Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik Seluruh subyek yang menjadi sampel penelitian berjumlah 40 (empat puluh) peserta didik. 2002: 21). subyek kedua adalah peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 1. dan peserta didik non berkebutuhan khusus atau normal 2. mereka berjumlah 14 (empat belas) peserta didik.BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. 1. tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono. standart deviasi. data tersebut bisa dilihat dalam tabel di bawah ini.

1. Deskripsi Subyek Berdasarkan Kelompok Peserta Didik No 1.1. moralitas peserta didik normal 1. 2 3 Kelompok Peserta Didik Berkebutuhan khusus Normal 1 Normal 2 Jumlah Total 7 19 14 40 Pengelompokan tersebut untuk mengetahui moralitas peserta didik berkebutuhan khusus.Moralitas Peserta Didik Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus mimiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143. peserta didik normal 1 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140 serta peserta didik normal 2 memiiki skor yang bergerak antara 71 sampai dengan 144. Dengan demikian akan diketahui perbedaan moralitas peserta didik berkebutuhan khusus dengan moralitas peserta didik normal 1 serta peserta didik normal 2. 103 . Data selengkapnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini. dan untuk mengetahui peserta didik normal 2.Tabel 4. 1.

3. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (ABK) Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus memiliki skor yang bergerak antara 63 sampai dengan 143 dengan rerataan sebagaimana ditampakkan dalam tabel di bawah ini.Tabel 4. 2. Minimal dan Maksimal No 1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata. Peserta Didik ABK Normal 1 Normal 2 Responden (N) 7 19 14 Rerata 113 112 118 Skor Minimal 63 88 71 Skor Maksimal 143 140 144 Sementara itu nilai rerata masing-masing subyek adalah peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 113.1. Variabel Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Responden (N) 5 1 1 Rerata 39 38 36 Skor Minimal 114 85 56 Skor Maksimal 143 113 84 104 . Minimal dan Maksimal No 1.1. Skor Subyek Pada Nilai Rerata.3. 3.2. 1. rerata peserta didik normal 1 sebesar 112 dan rerata peserta didik normal 2 sebesar 118. 2. Tabel 4.

Sementara itu pengelompokan Peserta Didik berdasarkan Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus didasarkan dalam tiga kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 113 dan deviasi standarnya adalah 29. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (71, 42 %), baik (14,29 %) dan sedang (14, 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan khusus Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor Baik 114- 143 85- 113 56- 84

No 1. 2. 3.

Kategori Moralitas sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang

Jumlah 5 1 1

Persentase 71, 42 % 14, 29 % 14, 29 %

1.1.2. Peserta Didik Normal 1 Pengelompokan Subyek Berdasarkan Peserta Didik Normal 1 yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan Khusus. Gambaran Moralitas peserta didik dikategorikan dalam empat jawaban yang ada, dalam item pertanyaan merupakan data kualitatif untuk kemudian ditranformasikan ke dalam bentuk kuantitatif dengan pernyataan moralitas baik sekali yang diberi skor 4, baik diberi skor 3, sedang diberi skor 2 dan kurang baik diberi skor 1.

105

Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa Moralitas peserta didik normal 1 mimiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 112 dan deviasi standarnya adalah 14. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10,52 %), baik (42, 11 %), sedang (26,32 %) serta kurang baik (21,05) yang secara lengkap dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 4.5. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No 1. 2. 3. 4. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak Rentang Skor 128 - 140 113 - 127 98 - 112 83 - 97

Jumlah 2 8 5 4

Persentase 10, 52 % 42, 11 % 26, 32 % 21, 05 %

1.1.3. Peserta Didik Normal 2 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa Moralitas peserta didik normal 2 memiliki skor yang bergerak antara 88 sampai dengan 140. Pengelompokan subyek dilakukan dalam empat kategori

moralitas peserta didik, yaitu baik sekali, baik, sedang dan tidak baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar, 1993). 106

Rerataan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 144 dan deviasi standarnya adalah 19. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7, 14 %), baik (57,14 % ) sedang (14, 29 %) dan kurang baik (21, 43 %) yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi

No 1. 2. 3. 4.

Kategori Moralitas sekali Baik

Rentang Skor 139 - 158 119 - 138 99 - 118 79 - 98

Jumlah 1 8 2 3

Persentase 7, 14 % 57, 14 % 14, 29 % 21, 43 %

Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Bak

Dari hasil data deskripsi penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil perolehan tingkat moralitas peserta didik berkebutuhan khusus bergerak dari rerataan skor 114 sampai dengan 143 dengan prosentase 71, 40 % memperoleh tingkat moralitas Baik sekali, peserta didik normal 1 bergerak dari rerataan skor 113 sampai dengan 127 dengan prosentase 42, 11 % memperoleh tingkat moralitas Baik, dan untuk peserta didik normal 2 bergerak dari rerataan skor 119 sampai dengan 138 dengan prosentase 57, 14 % memperoleh tingkat moralitas Baik, yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

107

Kesempatan untuk mengambil peran sosial nampaknya meberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan moral (Budiningsih. Hal ini sangat sesuai dengan penyataan yang diungkapkan oleh Budiningsih (2004) yang menyatakan bahwa guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral dengan lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran moral. 23 %. 63 % 64. Apabila dicermati lebih mendalam. 90 % dan moraltas peserta didik normal 2 memiliki kriteria baik pada prosentase 64. Normal 1 dan Normal 2.7. lingkungan sekolah. maka dapat dipastikan bahwa strategi pembelajarannya juga semakin baik. Rekapitulasi Hasil Penelitian Kategori Moralitas Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Kategori ABK Normal 1 Normal 2 Rerata Skor 113 112 118 Jumlah 5 11 9 Persentase 71. baik di dalam lingkungan keluarga. 108 . 3. moralitas peserta didik normal 1 memiliki kriteria baik pada prosentase 57. 2004: 84). 42 % 52. 43%. didapatkan pemahaman bahwa hasil penelitian ini memiliki relefansi yang sangat positif antara pengembangan strategi pembelajaran dengan moralitas peserta didik. Semakin tinggi moralitas peserta didik.Tabel 4. No 1. 2. lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakarat yang lebih luas. 28 % Keterangan Baik sekali Baik Baik Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas ABK memiliki kriteria baik sekali pada posentase 71.

49 31 . sedang dan kurang baik. 3. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus 1.Hasil Penelitian 1.30 Jumlah 4 2 1 Persentase Keterangan 57.39 22 .1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap orang tua memiliki moralitas 109 . 14 %). baik (28.57 %) dan sedang (14. 14 % 28. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Skor 40 . 1993). Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. baik. 29 % Sangat Baik No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik.8. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 57 % 14. Tabel 4. 2.

Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. baik. baik (28. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 39 . 3.2. 57 %) dan sedang (14. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. sedang dan kurang baik.27 2 1 28. 110 .yang sangat baik. 1. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 14 %. 2. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. 14 % Sangat 28 . menunjukkan moralitas yang sangat baik.9. 57 % 14. 29 % Baik No 1.49 4 57. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. 1993). 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.38 17 . Tabel 4. 14 %).

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa moralitas peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap Guru memiliki moralitas yang sangat baik. 29 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 10. 14 %. 111 . baik (28. 14 %). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (57. sedang dan kurang baik. 57 %) dan sedang (14. baik.3. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 1993). Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian moralitas terhadap peserta didik berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya.

57 % 14. 3. Peserta Didik Normal 1 2. baik. 14 % Sangat 25 . 2. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua.24 2 1 28. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (31.10. sedang dan kurang baik.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1.36 13 . Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Rentang Jumlah Persentase Keterangan Skor 37 . Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. 1993). 112 . 29 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus (ABK) terhadap teman sebaya memiliki moralitas yang sangat baik. 2. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi No Kategori 1. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu sebesar 57. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 dan deviasi standarnya adalah 8. menunjukkan moralitas yang sangat baik.Tabel 4. 14 %. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.47 4 57.

27 No 1. 84 % Keterangan Baik 21. 05 % 10. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1.58 %). 42 % di atas prosentase rata-ratanya.45 34 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 40 . 84 %). baik. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 1993). hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase 68. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 dan deviasi standarnya adalah 6. 05 %) serta kurang baik (10.2. 58 % 36. 2. Tabel 4. 53 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas baik terhadap orang tua. sedang dan kurang baik. 4. 3. baik (36.39 28 . Dengan demikian dapat diketahui 113 . 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 6 7 4 2 Persentase 31. sedang (21. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.11. 1.33 22 .

05 %). 84 % 42. 11 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Jumlah 4 Persentase 21.41 30 . Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 42 . Tabel 5. menunjukkan moralitas yang sangat baik terhadap teman sebaya. 89 %.3. baik (36. sedang dan kurang baik. 1. Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 1. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 84 %) dan sedang (42. 2. baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.48 No 1.12.bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (21. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 57.36 7 8 36. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 37 114 . Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap teman sebaya. 11 % Baik Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang baik terhadap guru. 1993). 05 % Keterangan 37 . 3.

63 % 5.29 Jumlah 2 6 10 1 Persentase 10.37 22 .13. baik (31. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 42. sedang dan kurang baik. 58 % Sedang 52.dan deviasi standarnya adalah 7. 3. 11 %.63 %) serta kurang baik (5. 3. 2. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 46 – 53 38 – 45 30 . sedang (52. 53 % 31. Tabel 4. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10. Peserta Didik Normal 2 3. 26 % Keterangan No 1. menunjukkan moralitas yang sangat baik. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.26 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.1 Moralitas Peserta Didik terhadap Orang Tua Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 1 memiliki moralitas yang sedang terhadap teman sebaya. 4. baik. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya dengan orang tua. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang 115 .58 %).53 %).

4. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih besar dari prosentase rata-rata yang dihasilkan yaitu 64. baik (14.2.harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar. 1993). Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat 116 . Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (64. Untuk melihat lebih detail bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru. 43 %) serta kurang baik (10. 29 %. sedang (21.32 Jumlah 9 2 3 3 Persentase 64.48 33 . 53 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang baik sekali terhadap orang tua. 29 %). 43 % Keterangan No 1. Tabel 4.14. 29 %).40 25 . 29 % Sangat Baik 21. 2. 3. Moralitas Peserta Didik terhadap Guru Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. Kategori Moralitas peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 41 . 29 % 14. 43 % 21.32 25 . 3. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 dan deviasi standarnya adalah 7. menunjukkan moralitas yang sangat baik.

Tabel 4. 3. 3.29 Jumlah 1 5 7 1 Persentase 7. Untuk melihat lebih detail 117 . 4.15.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.14 %). Moralitas Peserta Didik terhadap Teman Sebaya Berdasarkan hasil data penelitian terhadap peserta didik normal 2. 2.71 %). sedang (50 %) serta kurang baik (7. baik. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Rentang Skor 58 .14 % 35.71 44 . sedang dan kurang baik. baik (35.14 % Keterangan No 1. 1993). 86 %.kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik. Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 dan deviasi standarnya adalah 13. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 42. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (7. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor ratarata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.57 30 .3.72 % Sedang 50 % 7.43 26 . menunjukkan moralitas yang sangat baik. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.

14 % Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik normal 2 memiliki moralitas yang sedang terhadap guru.30 No 1. sedang dan kurang baik. 71 % Keterangan Sedang 42. Kategori Moralitas Peserta Didik Berdasarkan Rerataan Teoritik dan Standar Deviasi Rentang Skor 47 . sedang (42. Perhitungan ini didasarkan pada perhitungan skor rata-rata yang harus diperoleh subyek dengan membandingkan rerata teoritik dan standart deviasi teoritik dari skala yang dimaksud (Azwar.bahwa moralitas sangat baik tersebut ditunjukkan dalam hubungannya terhadap guru.14 %) yang secara lengkap dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Pengelompokan subyek didasarkan dalam empat kategori moralitas peserta didik yaitu sangat baik.92 %) serta kurang baik (7.53 %). 3. 4. 118 . 2. baik (35.71 %). 53 % 35. 1993). 24 %. hal ini didasarkan dari pencapaian nilai prosentase yang lebih kecil dari prosentase ratarata yang dihasilkan yaitu 46. baik. Kategori Moralitas Baik sekali Moralitas Baik Moralitas Sedang Moralitas Kurang Baik Jumlah 2 5 6 1 Persentase 10. 92 % 7.46 31 .54 39.38 23 . Rerata teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 dan deviasi standarnya adalah 7. Tabel 4.16. Dengan demikian dapat diketahui bahwa subyek penelitian berada pada tingkat moralitas baik sekali (10.

Kedua. Hasil ini selaras dengan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada Kepala Sekolah. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik pada rentangan skor 113 sampai dengan 143 dengan prosentase 71. disiplin dan sangat baik. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas baik sekali terhadap orang tua dengan prosentase 64. 28 %. 29 %. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 112 s/d 140 dengan prosentase 52. Kelima. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 1 menunjukkan moralitas baik terhadap orang tua dan guru dengan prosentase masing-masing 68.B. hasil analisis data mengenai moralitas peserta didik normal 2 menunjukkan moralitas yang baik pada rentang skor 118 s/d 144 dengan prosentase 64. 63 % Ketiga. Hasil Analisis Data Penelitian Dari deskripsi analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat moralitas peserta didik dalam penelitian dengan menggunakan analisis statistik. Keempat. maka menghasilkan temuan-temuan di bawah ini: Pertama. sedangkan moralitas peserta didik 119 . dan melalui kuesioner yang mengatakan bahwa pada umumnya peserta didik berkebutuhan khusus tergolong peserta didik yang jujur. terhadap orang tua. sedangkan moralitas peserta didik normal 1 terhadap teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase 42. 84 %. 42 %. 42 % dan 57. beberapa guru pembimbing khusus serta guru pembimbing. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya dengan prosentase 57. Keenam. 11 %. 14 %.

24 %.normal 2 terhadap guru dan teman sebaya memiliki kriteria sedang dengan prosentase masing-masing 42. 86 % dan 46. 120 .

Moralitas peserta didik non peserta didik berkebutuhan khusus (peserta didik yang tempat duduknya berdekatan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 1 dan peserta didik yang tempat duduknya berjauhan dengan peserta didik berkebutuhan khusus atau normal 2. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat didiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada Sekolah Inklusif SD Hj. 86 %.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 4. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus menunjukkan moralitas yang sangat baik dengan prosentase 71. 29 %. dengan prosentase 57. Isriati Semarang bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. 84 % sampai dengan 68. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan prosentase 42. terhadap guru maupun terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas baik. Moralitas peserta didik Normal 1 menunjukkan moralitas Baik terhadap orang tua maupun terhadap guru. sampai dengan 46. 5. 121 . 3. 11 %. Moralitas peserta didik berkebutuhan khusus terhadap orang tua. 2. 28 %. terhadap teman sebaya menunjukkan moralitas sedang dengan proentase 42. 63 % sampai dengan 64. 42. menunjukkan moralitas baik dengan prosentase berkisar antara 52. dengan prosentase 57. Moralitas peserta didik Normal 2 menunjukkan moralitas sangat baik terhadap orang tua dengan prosentase 64. 24 %. 42 %. 14 %.

semoga tesis ini bermanfaat bagi siapa saja yang berkesempatan membaca serta dapat memberikan sumbangan yang positif bagi khasanah ilmu pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan masukan. tegur sapa dan saran untuk perbaikan tesis ini. untuk selanjutnya menjadi acuan untuk pengambilan keputusan dalam penerapan kebijakan pendidikan. Berkaitan dengan hal tersebut maka disarankan kepada : 1. 2. Akhirnya. Saran dan Penutup Saran Penelitian ini hanya memiliki ruang lingkup bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta peserta didik normal yang berada dilingkungan SD Hj Isriati Semarang sebagai penyelengara pendidikan inklusif. serta meneliti bidang lain yang terkait untuk perbaikan dan konsistensi terhadap moralitas baik. dan memanjatkan doa kepada Allah. 122 .B. Penulis menyadari sepenuhnya. direkomendasikan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia. normal 1 dan normal 2. kritik. hasil yang mendiskripsikan bahwa moralitas peserta didik pada kategori baik pada pendidikan inklusif. sistimatika maupun analisisnya. untuk terus membicarakan dan menyampaikan gagasan tentang moralitas. Bagi Birokrat. bahwa dalam penulisan dan pembahasan tesis ini masih ada kekurangan. serta hanya memotret moralitas peserta didik berkebutuhan khusus. Penutup Dengan memohon keridhaan Yang Maha Segalanya. baik dari segi bahasa. Bagi Peneliti.

atas bantuan dan jerih payah adikadik. Isriati Semarang 123 . Tuhan akan membalas perbuatan adik-adik yang dilakukan dengan baik dan ikhlas. Amiin Semarang. Hasil jawaban adik-adk sangat membantu tugas bu Barokah dalam menyelesaikan/membuat Tesis/karya penelitian dengan judul “Moralitas Peserta Didik pada Pendidikan Inklusif”.Adik-adik yang disayang Tuhan Perkenankan bu Barokah minta tolong kepada adik-adik untuk mengisi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. Juli 2008 Saya. Bu Siti Barokah/Mahasiswi Pascasarjana IAIN Walisongo Adik-adik cukup mengisi dengan memberi tanda silang (X) sesuai dengan keadaan dan perasaan hati adik-adik. Selamat bekerja ya. bu Barokah mengucapkan terima kasih dan semoga keikhlasan Adik-adik menjadi ladang amal dan Tuhan selalu bersama-sama orang-orang yang baik dan ikhlas. dengan memilih salah satu jawaban dibawah ini : Lampiran 1: Kuesioner Sikap Hormat dan Sikap Rukun Peserta Didik pada SD Hj.

Rukun 7. Dimanapun saya berada. tidak melanggar aturan. 124 . Jika sedang ada persoalan dengan orang tua.NO PERTANYAAN S MORALITAS TERHADAP ORANG TUA Hormat JAWABAN SK K TP 1. 2. (dengan berbuat baik. saya melakukannya dengan lembut. apabila saya melanggar nasehat-nasehat dan perintah-perintah baik bapak/ibu. tidak nakal. dan lain sebagainya). saya berusaha untuk bermusyawarah dengan orang tua. Saya berbicara dengan orang tua. saya tidak menyela pembicaraannya. 5. 3. saya mengerjakan dengan ringan. Kalau disuruh orang tua mengerjakan sesuatu atau disuruh membeli sesuatu. saya ingat dan berusaha untuk menjaga nama baik bapak dan ibu. 6. Saya merasa rikuh pekewuh. saya memberi salam dan mohon ijin kepada orang tua. Jika saya akan bepergian atau pergi ke sekolah. tidak kasar dan tidak sembrono. 4.siap dan tidak terpaksa. Jika orang tua sedang berbicara. malu.

MORALITAS TERHADAP GURU/PENDIDIK Hormat 13. 10. saya akan bertanya dan akan memohon untuk diterangkan kembali dengan sopan pada bagian yang belum saya ketahui. Jika bepergian dengan orang tua kemana saja. membungkukkan badan. saya berusaha untuk menggandeng dan mengiringi orang tua. Saya menundukkan kepala. saya memilih untuk mengalah. 12. dan memberi salam ketika bertemu bapak/ibu guru dimana saja. 125 . saya menurut. karena mengalah itu perbuatan mulia dan disayangi Tuhan. 16. dan melaksanakan perintahnya. Jika saya akan bepergian keluar rumah dan setiap pulang di rumah serta bertemu orang tua. Jika bapak/ibu guru sedang menerangkan pelajaran. 15. saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Jika terjadi perselisihan. Saya segera menghadap dan melaksanakan perintah bapak/ibu guru apabila dipanggil atau diperintah.8. 11. 14. diperintah orang tua. Apabila dinasehati. Saya merasa kesepian atau sedih apabila ditinggal pergi orang tua lebih dari tiga hari. saya berusaha mencium tangannya. 9. Jika ada pelajaran yang kurang atau tidak jelas.

22. MORALITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA Hormat 126 . Saya berhutang budi pada kebaikan bapak/ibu guru yang telah mengajar dengan ikhlas dan sabar. Bila saya kurang setuju dengan pendapat bapak/ibu guru saya cenderung memilih mengalah. Saya mengerjakan perintah bapak/ibu guru seperti mengerjakan pekerjaan rumah (PR). 21. Saya merasa kehilangan apabila ada bapak/ibu guru sedang menderita sakit. 24. Saya merasa bersalah bila saya bercanda dengan teman-teman dan tanpa sepengetahuan saya ternyata hal tersebut di ketahui oleh bapak/ibu guru. 20. saya menganggap bapak/ibu guru wajib digugu dan ditiru.17. 19. Rukun 18. menulis dengan rapi dan sebagainya. Saya merasa bapak/ibu guru merupakan orang-orang yang wajib dipatuhi perintah-perintahnya. Saya merasa nyaman bersama bapak/ibu guru. 23. Saya bertindak segera apabila bapak/ibu guru menyuruh saya melakukan suatu pekerjaan. dan saya mendo’akannya biar cepat sembuh dan sabar dalam menerimaa cobaan hidup.

27. kurang pandai. saya berusaha tidak menyinggung perasaannya. 33. tanpa membedabedakannya. dengan berbicara tenang. kurang pandai. 28.25. Saya rukun dengan teman-teman Saya merasa kehilangan/kesepian apabila ada teman yang tidak masuk sekolah lebih dari 3 (tiga) hari. Saya tidak bertindak usil. Saya menolong teman-teman yang membutuhkan. Saya menghormati teman. normal atau cacat. sehingga kalau ada teman yang sedang kesusahan. sekalipun dia cacat. 29 30. Saya berdosa apabila saya mengejek teman yang cacat. walaupun dia tidak berada di samping saya. anaknya orang biasa atau anaknya pejabat. 32. dlsb. Rukun 26. tidak memandang apakah teman itu pandai atau tidak pandai. kaya atau miskin. Saya menghormati teman. mencolak colek atau menjahili teman. saya bersimpati kepadanya. Kalau saya bermusyawarah dan berdiskusi dengan teman. 34. 35. miskin. Saya merasa perasaan teman sama dengan saya. karena saya tidak ingin menjadi seperti dia. 31. 127 . teman yang nakal. Saya bermain dan berteman dengan siapa saja. dan tidak pandai bergaul. Saya tidak pernah mengejek temanteman.

36. ketika ada teman lain yang mengganggunya Keterangan: S SK KK TP = = = = Selalu Sering kali Kadang-kadang Tidak pernah 128 . Saya merasa terpanggil untuk membantu teman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful