P. 1
teori

teori

|Views: 4,139|Likes:
Published by Falizar Rivani

More info:

Published by: Falizar Rivani on Feb 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2013

pdf

text

original

BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

artinya. atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif. 1990). Jadi. faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. G and Goodman. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal. negoisasi. dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. yang berupa pertukaran. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial. faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. pencapaian tujuan. . setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. antara lain: (1) menurut Buckley.J. 2003). selalu hadir. kepribadian dan masyarakat (Hamilton. karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. P. F. Ritzer. kultur. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). yang menentukan struktur. memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi.M. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. bagi Buckley. Sedangkan menurut Parsons.. 33 . Keenam. dan (2) Buckley.ed. sedangkan bagi Parsons. faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek). 2003). (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. integrasi. sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis. D. baik yang bersifat alamiah. Jadi.mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan. G and Goodman. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas.J. ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons. Kelima. 1982. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal. sedangkan menurut Parsons. D.

sedangkan menurut Luhmann. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. Menurut Luhmann. (b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri. misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat.Ketujuh. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. dan (d) tertutup’. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. Menurut Luhmann. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual. menurut Luhmann. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya.ed. kompleks daripada ‘lingkungan’. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. Jadi. (c) sistem autopoietic’ adalah self referential. dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . Jadi. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’. motivasi. Kedelapan. yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. . dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. (c) self reference. P. ed. 2001). dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. 1990). Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar. suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. tetapi juga faktor internal (jiwa. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’.

Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. (c) differensiasi pusat-pinggiran. (b) differensiasi stratifikasi. kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann. tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial). yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. dalam sistem psikis. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. Dalam differensiasi sistem fungsional. makna dikaitkan dengan kesadaran. antara lain: (1) Luhmann. dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. (2) Luhmann. hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . Kesembilan. yaitu: (a) differensial segmentasi.sosial’ adalah komunikasi (communication) . Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem). apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003). karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. dan (d) differensiasi sistem fungsional. sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. Jadi. Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks. Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. Menurut Luhmann.

Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. yang telah diuraikan di atas.kelemahannya. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. W. Alexander (Surbakti. (3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. Bachtiar. Roebert K. Kluckohn. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. karena masih ada sisi kelemahannya’. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. 2006). Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. Menurut Demerath dan Peterson. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. Brown. dan C. lebih difokuskan pada lima permasalahan. namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. dan Jeffrey C. dapat diambil beberapa kesimpulan. antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. 1997a. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II. Malinowski. 2004). Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R.. ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog. R. (2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. Durkheim. Merton. (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. misalnya kebutuhan ekonomi. E. Merton 36 . Talcott Parsons. Nenurut Robert Nisbet. C.

D. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. Benedict. bahkan ada sebagian ahli mengatakan.W and Cressey. Brown. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. Florian Znanieeki. Florian Znanieeki. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. George Homans. R. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik.R. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme.dalam memahami fenomena sosial-budaya?. dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. 2006). Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Spengler. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin. W. kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. Pitirim Sorokin.. Dalam pandangan para ahli teori fungsional.F. M. Brown. Pada pembahasan berikut ini. 37 . Spengler. Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional. dan Malinowski. Malinowski. 1. Coleman. 1982. 1984). atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. Toynbee. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. J. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia. Sorokin dan Spengler. R. Benedict. Toynbee.

sedangkan Sorokin. Bagi Sorokin. tentang perubahan sosial-budaya. Kedua. 1986). bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. yaitu kebenaran inderawi. 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. tentang tipe-tipe mentalitas budaya. dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait. menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). Menurut Sorokin. kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. yaitu: (1) 38 . norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. atau dengan kata lain. tentang integrasi sosial-budaya. suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. atau saling bergantung (terintegrasi). Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar. Ketiga. atau saling memberi kontribusi fungsional.Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. D. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang).P. Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang). tetapi juga dari sudut akal budi. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). 1978). Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia. dan (b) Comte. antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif.

tipe kebudayaan ideasional. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. yaitu: (1) mobilitas vertikal. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. dan (b) kebudayaan ideasional aktif. Tipe kebudayaan ideasional. antara lain: (a) bahasa. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. yang terdiri dari dua tipe. (d) etika. yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik. yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik). (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). dan (c) kebudayaan inderawi sinis. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). (g) ekonomi. Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. 1978). dibedakan menjadi dua. Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). Kelima. D. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. 1986). dan (3) kebudayaan campuran. transenden. (i) teknologi. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. Sedangkan penyebabnya. (h) seni. (b) filsafat. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri. Menurut Sorokin. Keempat. dibagi menjadi dua. yang disebut ‘supersistem budaya’. Ada dua bentuk mobilitas sosial. yaitu mengurangi kebutuhan inderawi.P. yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. 1978. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. (c) kepercayaan/ agama. (e) hukum. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. keahlian atau prestasi karyanya. (f) politik. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. dan 39 . Mobilitas sosial ertikal. Johnson. (b) kebudyaan inderawi pasif. tentang unsur budaya. tidak bisa ditangkap oleh indera. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. Kebudayaan ini dibagi dua. tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility).

Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. R. bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans. Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional). tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Jadi. dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal. Kedua. dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). dan antar kelompok. yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. demikian juga sebaliknya. dan sesorang memasuki masa purna tugas. setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem.. antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik. (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional). Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar.adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan). Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . Jika. bisa berbentuk status sosial seseorang turun. sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut). 1997a). (b) social sinking (perpindahan status turun). (2) mobilitas horisontal. Menurut Homans.

keadilan. Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan. setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. Menurut Homans. Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. Jadi. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. Homans berpendapat. bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. terjadi saling interaksi. pengaruh. persaingan. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks. norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. 41 . maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas. ‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. Kelima. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal.. 1982). Ketiga. artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. 2006). Keempat. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). dan (3) aktivitas dan interaksi. bagi Homans. kedudukan dan inovasi-inovasi. Oleh karena itu G.lain melalui hubungan timbal balik. Jadi. (2) perasaan dan aktivitas. Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. J. penyesuaian. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok. Dalam proses pertukaran dalam kelompok. artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem. pencarian penghargaan. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’.H. W. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya.

Talcott Parsons. misalnya: Levi Strauss. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi. Walter Buckley. karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. R. Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman. 2. yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. 205). Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. Emille Durkheim. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . J.H. Robert K Merton. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. Brown. (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks. (b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. dan sebagainya. G. Amitai Etzioni. antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial.Meskipun analisis atau pandangan G. sosiolog dan teoritikus Tunner. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak.

Menurut Theodorson. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951). Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep. maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. dalam Raho. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). dan dengan kebutuhan lingkungannya. dan latensi (L). Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. integration (I). Menurut Herry Priyono (2002). 43 . Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). skema Adaptation. dan Tahap ketiga. tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). goal attainment (G). yaitu: a. USA tahun 1902. antara lain: (1) Tahap pertama. Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya.dan sempurna. Integration. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem. Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. dan Latensi (AGIL). Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis. (2007). Parsons lahir di Colorado. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. yaitu: adaptation (A). Kajian berikut ini. (2) Tahap kedua. B. pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. Goal attainment.

adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. latency). norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan. Goal attainment (Pencapaian tujuan). Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. sekolah. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. 44 . memelihara dan memperbaiki. Sedangkan bidang kehidupan. adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik). goal attainment. d. Integration (Integrasi). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya. c. adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. dan lembaga keagamaan). apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. hukum. diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh.1 pada halaman berikut. yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional. adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. dan alokasi. Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. Sedangkan bidang kehidupan.adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. produksi. Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. Undang-Undang atau seperangkat aturan). seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2. Latency (pemeliharaan pola). b. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi.

dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION . Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu). merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok.1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D. Kultur. yaitu: proses internalisasi.. 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut.. agama) INTEGRATION .Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a. kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya. dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial. menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. b. 2004). karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . Ritzer dan Goodman. R. Sistem kultural. teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor.Sistem Sosial . c.Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok. Individu tidak merdeka dalam bertindak.Komunitas Kemasyarakatan (hukum.Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga. dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos). Ritzer dan Goodman. 1989. Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat. Bachtiar. perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral. W. 2008). 1986. 1997a. proses sosialisasi.Sistem Kepribadian .Sistem Kultural . sekolah. Kultur. norma) Gambar 2.Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT .Organisme Perilaku . Jadi.

oleh karena itu harus dikendalikan. ide. sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). Jadi. sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya. f.berinteraksi sosial. ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu. (c) optimalisasi. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. sosialisasi dan enkulturasi). Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. yaitu teori intraksionisme simbolik). tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal. disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan. sistem 46 . keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. (c) lingkungan. Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. Sistem sosial. d. 1978. dan (e) kultur. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. e. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang. (d) kepuasan. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. bukan dilihat dari sudut pikiran. (b) interaksi.

adalah. Dalam fungsionalisme struktural Parsons. nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. h. dan cenderung berlaku sampai tua. dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem. i. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. 1990). (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 . (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. 1990). sebagaimana diuraikan di atas. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. (4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. dan (4) organisme perilaku. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur. 1984.sosial memerlukan bahasa (Abraham. 1982. Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat). Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. Aktor (individu) dan sistem sosial. (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. Craib. yaitu: (1) sistem kultural. g. bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. (3) sistem kepribadian. bukan mikro. Hamilton. (3) dalam proses sosialisasi. 2004). 1984. Hamilton. j. (2) sistem sosial. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. Craib. Parsons mengemukakan pendapat. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. 1982. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat.

persetujuan. dan sejenisnya. dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. m.baik (hemat). Hamilton. menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). (2) proses diferensiasi 48 . yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). Menurut Parsons. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu. lihat bagan di atas. 1984. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). dari hubungan sosial mereka. Ritzer dan Goodman. ‘Sistem kepribadian’. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. Masyarakat. Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat. bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. l. Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation). (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). 2004). Konsep perubahan sosial. bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). (b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural. 1990.

Hamilton. Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting). tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’.menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). Harper. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem. Lauer. C. n. artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. 1989. dan (3) masyarakat modern. 1988). 1993). telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . apabila ada konflik internal.L. 1990). Lauer. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. dan (3) ‘sistem nilai dasar’. dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. S dan Ratih. (2) masyarakat lanjutan. R. Parsons. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. Jadi.P. menuju keseimbangan hidup. Craib. 1984. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. 1982. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma. sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya). sehingga meningkatkan survivalnya (Harper. 1993) atau perubahan revolusi. (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. 1970. menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). yaitu: (1) masyarakat primitif. L. 1989.

(d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit. spesifik yang lebih historis (Merton). atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. 50 . (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. L. (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. 1982). (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. Turner.. menurut Mills. 2004). Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. kritik substantif (krtik utama). Kedua. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata). 1969. dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat.H. and Rosenberg. Abrahamson dan Cohen. atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. kritik logika dan metodologi. masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. J. Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal).fenomena sosial. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur. antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur. sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama. tetapi tidak selalu benar secara empiris). Jadi. atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman. (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. B. antara lain Pertama. norma. dan nilai. (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural. lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak. sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi.

Aliran neo evolusi perspektif Merton). Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur. antara lain: 51 . tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). 3. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern. Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. dinamik dan kompleks. Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton.K. (d) penilaian Parsons. 2004). Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons. namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. teori tingkat menengah (Middle range theory). tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman. sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik. Pandangan teori fungsional struktural Robert K. memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya. dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. sehingga terbuka untuk berubah). (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. dapat menimbulkan ethnosentrisme. Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks.Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. dan kompleks. dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis).

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

riset teori fungsional struktural. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. teori neofungsionalisme. Jadi. Bagi neofungsionalisme. tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. bisa bersifat makro dan mikro. Ketujuh. Keenam. tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . Neofungsionalisme. Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). Jadi. yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam. konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. neofungsionalisme.. dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. kultural dan kepribadian. Kelima. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem). tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian. Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. Keempat. neofungsionalisme. bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro). oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. bagi Alexander dan Colomy. Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar. konsep kultur. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural).kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks.

Reisman. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch.. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. pragmatisme. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. 2005. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. fenomenologi.struktural. Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. Ralf Dahrendorf. 1990. B. Wright Mills. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. Raho. antara lain: 57 . Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx. interaksionisme simbolik. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. C. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik. 2004). Vilfredo Pareto. Jadi. Torstein Veblen. Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx. dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. Lewis Coser. dan David Reisman. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. Ritzer dan Goodman. 1. Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. Dahrendorf. (2) pokok-pokok teori konflik versi R. D.. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. Robert Park. Dahrendorf. Jonathan Turner. (Hamilton. Coser dan D. G. dalam memahami fenomena sosial. tetapi menurut Dahrendorf. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar. Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. 2007).

Keempat. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan. sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. Ritzer. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar. pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. dan hubungan kerja. sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. G. atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. M. Ketiga. Bagi Marx. keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. karena mereka tunduk pada mesin. dalam masyarakat kapitalis. Cambell. karena mereka hanya mendapat upah minimal. 1986. kemampuannya. M. 2001). Jadi. Jadi. motivasi. 1981. untuk memecahkan alienasi. dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. ide-ide. (ed). Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. sikap-sikap. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material. sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. hukum. 1986). pengetahuan. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. hasil pekerjaannya.Pertama. karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. 1994). Kedua. sehingga proletar teralienasi (terasing). pandangan hidup. tindakan-tindakan. Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. D.P. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 . yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa. kepentingan fisik (bendawi). faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur).

konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. F. hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. Menurut Marx. Politik. Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus). sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari. 1986.masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis).M. dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. PIP. maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. b. ideologi. kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar). asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah. Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. karena menguasai ekomoni atau alat produksi. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. c. Kelima. Jadi. Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. dari proses hukum dialektika tersebut. sosial. sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis.. materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia. Jadi. Keenam. tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti. d. ideologi. akibat berikutnya adalah 59 . budaya). 2002). M. the force of production (kekuatan produksi). Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. R. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis). 1982. Menurut Marx. sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis). Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). Jones. 1997a. Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik. Oleh karena itu. pandangan Karl Marx. dan Relation of production (hubungan produksi). R. hal ini dapat menentukan struktur kelas). 1997a) Jadi. Salim. Surbakti. Bagi Marx. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan.2003).

baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas. the force of production. budaya atau politik atau ideologi.2003). W. e. setiap saat tunduk pada proses perubahan. dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). Alienasi (keterangingan. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). g. (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis).terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. b. Jones. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara. f. Setelah revolusi berhasil. terasing terhadap modal. h. yang akhirnya muncul diktator proletariat. Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. dan Relation of production. Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. yang terus mengeksploitasinya). maka hak milik pribadi lenyap. antara lain: a. dalam memahami fenomena sosial budaya. karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis). terasing dari jiwa aman dalam bekerja. Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. 2. dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. timbul masyarakat tanpa kelas. maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. Setiap masyarakat. PIP. 1978. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja. D. Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang).

Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. h. Menurut Dahrendorf. Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. d. g. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. f. Jadi. seperti peranperan otoritas. Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. Jadi. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. 1982. yaitu konflik dan konsensus. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan.bawah). Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . e. Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. oleh karena itu menurut Dahrendorf. Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. Oleh karena itu. Karena otoritas makro adalah absah. 1984). Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. Craib. ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. atau tunduk pada otoritas makro. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). c. Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. demikian juga sebaliknya. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik.

Jadi. kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. k. kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua. Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat. j. kepentingan nyata. menurut Dahrendorf. situasi politik.yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. bahwa. (2) kelompok kepentingan (interst group). Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 . Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. tujuan. Jadi. yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). konflik dan perubahan. berbeda dengan pandangan Marx. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. Kelompok. Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. Kelompok ini mempunyai struktur. Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. kelompok kepentingan. yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari). Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. yaitu ada dua kelompok kepentingan. kelompok semu. program dan anggota yang jelas). Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. i. bentuk organisasi. Jadi. (3) kelompok konflik (conflict group). ‘konsep kepentingan tersembunyi. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain).

Johnson. 1984. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis. l. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. berkaitan dengan konflik. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. Menurut Turner (1982). Jones. Craib. Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama. W. c. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. Semakin distribusi pendapatan tidak merata. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi). Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. semakin keras konflik yang terjadi. b. e. semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). Semakin meluas polarisasi. 1978. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. 1981. D. d. Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. di masyarakat antara lain: 63 . Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a.2003). PIP. Semakin keras konflik yang ada.akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan. maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada. ‘hubungan konflik dengan perubahan’. f. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka.

Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks. 1970). Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). d. D. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya. tidak hanya karena perjuangan kelas saja. (ed). tetapi karena ‘keahlian. dan sebagainya. semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. ideologi. karena atau 64 . yaitu kelas menengah (para profesional. Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. kemampuan. d. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). c. 3. Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. antara lain: a. misalnya faktor: keyakinan. padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya. Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan. ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. ketrampilan profesionalnya’. c. Kesenjangan hirarki sosial. Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok.a. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. psikhologis. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. budaya. akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. antara kelas borjuis dan kelas proletar. b. teknisi.

Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. antara lain: Weingart (1969). i. yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. Jadi. ‘adanya integrasi dan konflik’. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. Disamping itu apa yang diramalkan Marx. karena adanya un-skill labour. Hazelring atau profesional 65 . Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas). 2004). masyarakat. semi skill labour dan skill labour (Johnson. h. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. e. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. Perubahan sosial dan pergolakan sosial. Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. g. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi). Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat. bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti. karena sifat dasar masyarakat adalah. Ritzer dan Goodman. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi). 1981. dan konflik sebagai sumber perubahan. buruh (saham masyarakat). pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. 1984. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). Craib.. bukan untuk kelasnya (palsu). Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort.ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. yaitu manajer. yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). hanya ada konflik.

karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. yaitu: a. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. 2004). Menurut para ahli. keyakinan. motivasi. Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan. Ritzer dan Goodman. Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. dan Turner (1973). b.1. Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. c. sebagaimana dalam bagan berikut. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran. Craib. d. Bagan 2. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi.( 1972). 1981. Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson. 04. Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. Jadi. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). tetapi secara gradual. Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi. Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian. 1984. Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. 02 03.

Horton and Hunt. terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers. Turner. 1982. demokrasi. Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat. 1973. D. Turner. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . 1978. kekuasaan. B. Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. 1982).. atau penjajahan politik dari luar.. 4. (2) terjadinya invasi kultural. Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. misalnya: kepentingan ekonomi. Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. Surbakti. Konflik bisa ditekan dan dikontrol. revolusi teknologi. 1976.. fundamentalisme antar masyarakat atau banga. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. R. b. 1997. seperti kapitalisme. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat. 1984). W. melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling. J. (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. Rossides. (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat. namun juga bersifat tersembunyi (latent). dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). c. komunisme. 2000). (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. M. dan (3) konflik ideologi.

1956. dan (e) David Reisman. antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis. dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). Mutahhari. Coser maupun D. 2001. Baik L. 1981. 1993). tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. 1969). Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park. yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. Kinloch. (d) Lewis Coser. 2005). struktur kelas di dalam sistem ekonomi.. 2005). dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson. Menurut H. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik. P. (c) Teori Kritis. (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. (b) Antonio Gramsci. Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. (e) Marxisme Berorientasi Historis. maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. Sztompka. (b) Marxisme Hegelian. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. (c) Henri Lefebvre. sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’. antara lain: (a) George Lukacs. 1986). dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. (f) Analisis Sosial Neo-Marxian.‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. 2004). tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. sebagaimana pandangan oleh Karl Marx. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Lefebvre. D. Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an).P. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial. dan (d) Lewis Coser dan David Reisman.

Cambell. 1979. tingkat berpartisipasi kelompok. 1994). fleksibelitas dan integritas sosial. organik. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). Jadi. lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. 2005) Dalam posisi kajian ini. e. Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. evolusioner dan struktural (Kinloch. semakin erat sistem stratifikasi. M. Ada yang berbentuk mobilitas sosial. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. baik teori fungsional maupun 69 . Menurut teoritikus neokonflik. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. Coser. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat. konflik institusional. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. dan panjangnya konflik. M. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. konflik dan konsensus (fungsional struktural). Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. makroskopik. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. dan toleransi. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a. c. meski porsinya beragam antar kelompok. d. semakin lebih dekat merajut kelompok. Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. b. partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. Jadi. semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma.

yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. g. Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. 2005). Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx. 2004). Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. meski porsinya beragam antar kelompok. maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. Jadi. Jadi. tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner. 1975). sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’. Cambell. dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx). M. (b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi. atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. 1981). Kinloch. 5.H. semula statis menjadi dinamik. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. J. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. 70 . M. 1979. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup. f. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. 1982. h. (c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. semula pasif menjadi aktif. tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. Ritzer dan Goodman. Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. konflik dan konsensus (fungsional). dan dia mengatakan. 1969. Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a.teori konflik.

b. dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). sosial dan sebagainya. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. e. Menurut Collins. Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). bidang: ekonomi. Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. c. Tentang stratifikasi sosial. politik. Jadi. sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro). gaya hidup. (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Teori stratifikasi konflik Collins. karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. Marx dan Dahrendorf memandang. Meskipun demikian pandangan R. sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). g. proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. f. Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. d. sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. keluarga.bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). 71 . ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf). Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat.

makin fatalistis. peralatan). dan bila memungkinkan secara komparatif. makin ia patuh . makin terasing dari tujuan organisasi. (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. tetapi juga harus menelitinya secara empiris. makin menyesuaikan diri secara eksternal. (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . k. Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. dia akan makin bangga. makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. 2004). Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. (2) makin sering orang memberikan perintah. Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif).h. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. makin percaya diri. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). makin mencurigai orang lain. i. dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. lingkungan fisik. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya. yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). sumber daya dan kekuasaan. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. dan (3) makin sering orang menerima perintah. dan konflik bersifat integratif. j. (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris. antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah. mode komunikasi. senjata. (3) bahwa dalam situasi ketimpangan.

keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang. bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda. dan relatif terintegrasi. untuk menentukan status dan peran. Jadi. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang. Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman. profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus.2. terutama pada masyarakat yang kompleks. Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. (3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 . Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan.pihak yang yang dipaksa. disebabkan beragam keahlian. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil.perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. 6. karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian.

1992). 1996. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer. antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme. Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi. sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. teori sistem. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok.. Craib. Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi. (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 . pandangan paradigma fungsional. dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal. Konsensus nilai. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan. hanyalan & alat kaum penindas (elite). 1980). Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. Menurut Burrell dan Morgan (1994). G. 7.bersifat evolusi.nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt.

maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. Parsons. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. 1980). Durkheim. teori radikal organism. G. E. model dominasi. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. and Morgan. T. dan V. Ditinjau dari segi orientasi filosofis. teori fungsional struktural dan neofungsional. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. konsensus. Pareto. Ritzer. Ritzer. Kedua. pandangan paradigma struktural radikal. integrasi sosial. G. (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. atau naturalisme. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. G. dan (4) apabila 75 . teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. equilibrium. G and Smart. and Morgan. atau konstruktivisme. melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. G. Comte. (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. 2001). 1979. order sosial. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. atau saintisme (Poloma. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. B. H. kontradiksi dan perampasan. (ed).kehidupan sosial dari dimensi status quo. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). stabilitas sosial. Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. G. 1994. Spencer. 1994). dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). solidaritas kelompok. E. Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. M. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. M.

Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Mead. Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. 1978. 2002). ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik. 1996. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. dan buku berjudul ‘Mind. L. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel.. 2002). (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman. antara lain Pertama. Perspektif teori interaksionis simbolik H. tentang Tindakan. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. William I. ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik. Mulyana. bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. yaitu: (1) tahap impuls. 76 . Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis.individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor). dan Erving Goffman. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. D. Mead.. Herbert Mead. John Dewey. Jadi. maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt. Mulyana. Dalam menganalisis tindakan. Thomas. Menurut Mead.O. Self. Contoh impuls. adalah rasa lapar dan haus. and Society’ adalah karya terpenting H. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. 1984. 2002). Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang. Soeprapto. Herbert Blumer.

dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell. W. 1978. R. melihat. manusia adalah makhluk aktif. Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. F.M. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. pelaku. T. pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. menggambarkan arah tingkah lakunya. J. Menurut Herbert Mead. mencium. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. Jadi. Surbakti. melihat pengalaman yang lalu. meraba. yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. menilainya. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. R. Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. mengecek dirinya sendiri. Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls.. Kedua. manusia merupakan pencipta. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. 1997b) . Jadi. Ada dua macam isyarat. 2002). dinamik. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . D. bagi Herbert Mead. Mead. yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi. tentang Isyarat. memperkirakan situasinya. Menurut H. isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. Jadi. Soeprapto. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya. dan (b) isyarat ‘signifikan’. 1982. mengecap. 1982). dan (3) tahap pelaksanaan. H. 1981. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri.. (2) tahap persepsi. dengan membuat indikasinya sendiri. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial.karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. Abraham. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Dalam bertindak. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain.

Konsep ‘diri’ menurut H. yang dapat berakibat buruk bagi individu. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. dan Masyarakat’. Oleh karena itu. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. Diri Sendiri. Bagi Mead. dan kedua. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. individu bersifat aktif. (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. 1982). dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. Berawal dari asumsi ini. Jadi. Keempat. dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. J. tentang ’diri’ (self). George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. Bagi Mead. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). rasa sosial dan diri sendiri. rasa sosial diri sendiri. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner. manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. tentang pikiran. Ketiga. tindakan individu mengambil konsistensi. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup. tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other).tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. H. Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri. Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. Pertama. bagi Mead dan pengikutnya.

R. Mead. awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. masyarakat. Menurut H. dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik). pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat. ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. Soeprapto. (3) tingkat ketiga. tentang masyarakat. Kelima.. antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain. 1982. Menurut H. atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti. 79 . J. bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas. Menurut H. 2002).pikirannya. 1997b. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. kapasitas diri individu .M. pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi). dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran. Mead. H. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting. Pada tingkat ini. ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu. 1982).. R.Mead. antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku. Turner. Bagi Mead. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik.. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh. menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok. Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus. dikukuhkan. (2) tingkat kedua. (1) tingkat awal. Dalam permainan. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. F.

atau terus berubah-ubah. tentang metodologi. organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik.M. Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. dan abstrak. yang objeknya terdiri atas dunia mereka. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. dan (4) bersifat dinamik. dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. antara lain: (1) bagi masyarakat. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal.Keenam. sosial. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil. Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber. dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat. F. Jadi. Metodologi H. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain). (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. G. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka. (2005). asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. 1982. Menurut Kinloch. baik secara individu maupun kelompok. (3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. institusi. (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi. Turner. kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. teori H. (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. J. 1982). pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. yaitu metode interpretif dan introspeksi.

Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama.Mead dan H. baik versi Mead maupun Blumer. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. J. dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural). Orientasi hidupnya. Simbol-simbol yang digunakan. baik versi Mead maupun Blumer. apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. 2. Aturan-aturan. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. 2002). (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. Peralatannya dan sebagainya. 1979). dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. 1982. 2002). melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. melainkan ditentukan oleh ‘Diri. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya. W. (b) ketika individu menghadapi situasi. Kesamaan H. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . dan pandangan individu itu sendiri’. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer. antara lain: 1. interpretasi (penafsiran). oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata. Individu merespons lingkungan. Jadi. responnya bukan bersifat mekanis. Soeprapto. Mead dan H. Poloma. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana. Tujuannya. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. 1978.Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. Jiwa. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. D.

sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. 1997b. pengetahuannya. Jadi. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. melainkan ditentukan oleh faktor internal.. Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek.. Ritzer. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. D. kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol. dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik. artinya dengan menyebut kata mobil. warna mobil. Contoh. baik versi Mead maupun Blumer. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural. 5. Poloma. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind). R. hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial. 1982. yaitu. W. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial.J. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat. pandangan hidupnya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu. 1982)...J. baru/ bekas. 1997). karena itu makna tidak melekat pada objek. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. yaitu: pikirannya. Ramlan. 3. Baik versinya Mead dan Blumer. 2000). Jadi. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’.. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. 4. Dengan demikan 82 . S. 2001).kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. 1978. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides. menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. pikiran adalah bagian dari struktur). Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. motivasinya.

adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial).. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. Kebenaran ide. 2002). Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. adalah dinamis dan berevolusi. B. ekonomi. kreatif. diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. 1982. Jadi. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. 2. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. konsensus terhadap nilai dan norma. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri.J. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. Dari penjelasan tersebut di atas. 2001. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. Soekanto. Ritzer. Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. 1985). faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. terdeterminasi oleh struktur 83 . (b) Masyarakat. adalah meliputi ‘pikiran. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa.masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. pasif. struktur sosial-budaya. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. Kinloch. memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. (ed). yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens. 2001. G and Smart. (c) Realitas sosial. (d) Interaksi sosial. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. sikap dan perspektif. maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. berupa lingkungan. 2005). Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner. sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap. tetapi individu adalah sosok dinamis. terdeterminasi oleh faktor eksternal. 6.

Ritzer. Bagi Husserl. yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. W. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama.norma sosial budaya. Kedua. dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. Husserl menolak sikap ‘scientisme’. misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi. B. objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan. 84 . dunia sekitar manusia itu ‘berada’. Ketiga. Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. metode Husserl disebut metode fenomenologi. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. manusia harus otonom. 1978. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. G and Smart. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. tetapi dari kenyataan itu sendiri. artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). D. (ed). menurut Husserl. penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. Untuk mengetahui sesuatu. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. F. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. Jadi. Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. 2001).

Akan tetapi. aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides.Keempat. semua segi. 2006) Kelima. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. yaitu: (1) reduksi fenomenologis.. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju. Bachtiar. Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). Kesadaran dalam fenomenologi transendental. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’. yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga. artinya. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. dan (3) reduksi fenomenologi transendental. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. 1978. (2) reduksi eidetis (inti sari). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis. pandangan kedua untuk menemukan 85 . maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. W.

nilai. dan politik (Praja. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). dan Harold Garfinkel. bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. R. motivasi. ideologi..hakikat objek’. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. 2005). teori ethnometodologi. antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). 2002). Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. 2. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. Jadi. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. J. asumsi. Disamping itu.S. 1984. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). tujuan. yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. dan keyakinannya). Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. antara lain: Pertama. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. R. 1979b. sosial budaya. Oleh karena itu. Alfred Schutz. Soeprapto. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek.. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. (3) bersifat nominalis. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). Mulyana. Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. teori fenomenologi. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. 2002).

Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada. artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. untuk bisa memecahkan masalah 87 . G and Smart. T. Menurut Schutz. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. Kedua. Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’. yang ia sebut ‘arus kesadaran’. 2001). 1981). B.Edmund Husserl. Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya. Jadi. Jadi. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. (ed). Ketiga. menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya. Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’. individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek. Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer.. Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’.

2006). tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’. dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). B. pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. Ritzer. Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. (ed). Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya. antara lain: Pertama. Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’. W. Cambell. yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . mobil. dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. rumah. (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. Jadi. pohon dan sebagainya).. Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification). binatang. D. G and Smart. Jadi. T. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. Jadi. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar.dan meraih tujuan. 2001). 1981. W. Keempat. 1978. masyarakat merupakan produk kultural para individu. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat. Jadi. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari.

Keempat. Jadi. Menurut Garfinkel. Pada pokoknya. kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. 2006). kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. Menurut para ahli. 1996). Ketiga. B. terencana dan rasional. motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi. G. (ed). Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. bagaimana pandangan. yaitu: Pertama. dan Kedua. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen. Bachtiar. pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal.etnometodologi’. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum. yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial. Kedua. G and Smart. yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. W. 2001. jiwa. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri.. (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. B.

bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. dan sebagainya. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. Post-modernisme. bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. bermakna peleburan segala batas. filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme. karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. penolakan filsafat metafisis. eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. Post-modernisme. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. filosof. 6. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial. 4. Sosialisme. penampilan dengan kenyataan. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. membumbungnya kesenangan material individu. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi. ekonom. bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya. Kapitalisme. Post-modernisme. Marxisme dan sebagainya. ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. 2. contoh. Liberalisme. Post-modernisme. 5.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. atau berbeda dengan sosiolog. atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. Post-modernisme. politikus. 3. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. Post-modernisme. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. Hal ini 90 . antara lain: 1. bebasnya daya naluri setiap individu.

Recoeur. B. dan Baudrillard. deregulasi pasar. usangnya negara-bangsa. kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984). sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard. dan Jomeson. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’. pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’.. kebakuan. Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. antara lain: Heidegger. Foucault. B. Gadamer. menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). antara lain: Pertama. 1996). Lyotard. Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. globalisasi. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern. yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. atau kritik-kritik filosofis. karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme. atau gambaran dunia (world view). teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas. artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. dapat dikelompokkan menjadi dua. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia. Rorty. keuniversalan (Sugiharto.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. parexcellence. pandangan. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. antara lain: Derrida. konsumerisme yang berlebihan. dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner).. Mary Hesse. gaya hidup cenderung hedonis. Bagi Jomeson. kajian. 1996). oleh karena itu 91 . Oleh karena itu Jomeson. atau diskusi ilmiah. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. Jomeson termasuk teoritikus Marxian.

misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. G. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi. D. 2003). sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’. yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. Kedua. Pemikiran postmodern bersifat pastiche. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). Jameson menilai. (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’. karena sulit dibedakan yang asli dan palsu. G and Goodman. Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. yaitu teknologi reproduksi dominan. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’.dia menilai tentang kapitalisme. Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa). Jadi. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern. tahap kedua. Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . menurut Jomeson. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’.J. 2003). (2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. Kehidupan post-modern. Ketiga. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. bagi Jomeson. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). Jadi. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern).

sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya.radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. Ketiga. Jadi. maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme. kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas. dan hiperrealitas. Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). bagi Boudrillard. era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar. Kedua. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. Keempat. Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. Tabloid. Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. Menurut Kellner. Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. yang menjadi utama dan yang berkuasa. dan ketidakbermaknaan kehidupan’. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). Internet. ketidakacuhan. sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. G. simulasi. Dia menolak 93 . Kehidupan manusia menjadi budak simulasi. 2003). tetapi lebih didominasi oleh ‘media. Surat Kabar). artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. pemrosesan oleh teknologi informasi. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa. Massa yang pasif.

Ketiga. agama. maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. G. yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. melainkan subjektivis. ekonomi. nilai-norma budaya. diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. dan paradigma objektivis. disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. 2003. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. hukum. hiperrealitas.. dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. ilmiah (saintis). bahasa. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. Kedua. sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 .J. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. khususnya dengan riset-riset empirik. Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama. 1996). (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir). B. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. ideologi. dan sebagainya (Sugiharto. G and Goodman. karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. pendidikan. antara lain: Pertama. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis. 2003). artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. kebenaran empirik (objektivis). teknologi. tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain. D. Ritzer. Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme.

ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. Keenam. sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. G and Goodman. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian. Keempat. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek). akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur.J.itu benar atau tidak. dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. 2003). D. Kelima. namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. Ketujuh. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. dan Kedelapan. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’. ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide. dalam analisisnya.

perubahan dan tindakan. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. 2003). Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . (3) teori etnometodologi 96 . memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. analisis teori makro. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. 2002). Analisis teori mikro.pandangan). lebih menekankan pada jaringan sosial. (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959). dan Ketiga. Kedua. Kedua. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. Sedangkan analisis teori makro. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. 1991. yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’. Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. A. Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966). (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. dan kurang menyinggung pada peran individu’. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. antara lain: Pertama. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. dan sikap yang alamiah (natural attitude). (d) memperhatikan pertumbuhan. analisis teori mikro dan. memandang struktur sosial atau faktor eksternal. Mead dan H. yaitu: Pertama. G. hanya menyinggung tentang tiga hal. H. yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. Boorman (1976). Blumer. Salim.

dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell. bahkan mungkin sampai sekarang.J. dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. b. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. 2002).W. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. E. 1974. Emille Durkheim. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. Marx. Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif. 97 . secara implisit. 1994. 2. Karl Marx. Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. Masing-masing perspektif. Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). J. yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. Jadi. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya. yang mamusatkan perhatian pada organisasi. dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans. Di kalangan teoritisi sosial. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. dari abad 19 sampai abad 20. Giddens. Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. A. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. 1995). 1987). Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif.V.. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer. Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim. Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1.oleh Garfinkel (1967). c. Baal. kreatif dan voluntaristis. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a.

dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel.. Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. M. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. Kepribadian. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. 1997a). konsep ‘kharisma’ yang melembaga. Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’. Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. Mutahhari. Sosial. S dan Ratih. Menurut Mizman. 2002). Talcott Parsons. (ed). Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. 4. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). 1986. dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. Surbakti.kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. 1956. khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. L. Ritzer. R. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh. pandangan individu. Weber. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). Max Weber. Ada beberapa pandangan para ahli. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 . yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong. 1988. 1970). bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial). namun oleh para ahli. Jadi. 3. Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat. namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur). D. Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). Sistem tindakan kultural Parsons adalah.

Menurut Ritzer dan Goodman (2003).J. Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. 24: 731-752 (1976). Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis. c. ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. Ada yang memandang. b. 2003). Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’. tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . mirip bahkan sama atau serupa. Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya.struktur’ adalah. ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. Eisenstadt and Helle. Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’. Menurut Ritzer. Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). fenomenologi. Giddens. sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. d.a. dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. H. Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. dalam Sociological Review. membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). 1987). dalam Sociological Theory (1969).

Konsep mikro.makro dan agen.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. d. mikro mungkin bisa. Konsep agen (agency). lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’. atau mungkin juga tidak. tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners). atau kepada kedua-duanya. Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. Jadi. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. Agen menurut Burns. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. memandang. Ritzer. sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 . mengacu pada ‘struktur’. (3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. Jadi baik agen maupun struktur. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. jadi agen diartikan sama dengan mikro). mengacu pada ‘agen’. Dan makro bisa. b. antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. c. menurut para ahli. atau mungkin juga tidak. agen bangsa). sering mengacu pada struktur sosial berskala luas. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro. agen organisasi. Sedangkan Touraine. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. kelas sosial sebagai aktor. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. Pada pembahasan berikut ini. Konsep struktur. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual. Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine. dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. Konsep makro. bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. antara lain: a. model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama.

(4) dalam realitas sosial. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 . menurut Ritzer. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan. bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi.sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. Kedua. Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro). dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro). yang terpisah dari dua hal yang berbeda. Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. (3) mengusulkan pandangan. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif.

adat (Skala Luas). meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil. birokrasi. Kebiasaan. tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer. 3) Tingkat mikro objektif. Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. misalnya: masyarakat. tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. misalnya: pola tindakan individu. Contoh. dan (2) kontinum objektif-subjektif. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif. keyakinan. ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. meliputi realitas material berskala luas (besar). Kontinum mikroskopik-makroskopik. meliputi fenomena non material berskala luas. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. pola interaksi sosial. pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. 4) Tingkat mikro subjektif. suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. Hukum. menurut Ritzer. meliputi proses mental berskala kecil. norma. misalnya.I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat. 2) Tingkat makro subjektif.2) Ketiga. 102 . dan teknologi. misalnya: nilai. maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. Birokrasi. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). adat (budaya ide atau sistem budaya). Norma. Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. berpendapat atau bersikap atau berpandangan.

Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. misalnya: Ide. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. aparatur negara. pandangan. mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. Norma. pandangan. Sedangkan ujung kontinum Subjektif. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. Tindakan. Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). dan sebagainya. teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. Undangundang. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. & Budya Siste m Dunia Gambar 2. Tentang garis kontinum mikro-makro. Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). yang mempunyai wujud nyata. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. UU atau hukum. gagasan. Di ujung mikro dari kontinum adalah. Nilai. nilai yang diyakini. pikiran individu dan tindakan individu’. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. ‘aktor individu. struktur birokrasi. misalnya: aktor. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. norma. Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor. Interaksi. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. norma. persepsi. tindakan sosial.3. Sedangkan diantara ujung mikro ke makro. truktur Birokrasi Pandangan. kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. wujud materi.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). Di ujung makro dari kontinum adalah. birokrasi. interaksi sosial. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. persepsi individu). motivasi. seperti: kelompok luas (contoh.

3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No. c. seperti pola interaksi. 1. 2002) 104 . Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural. (3) fenomena mikroobjektif. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. yaitu Paradigma: Fakta sosial. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma. seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif). Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2. Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2. Kemudian. Jadi. seperti birokrasi. dan (4) fakta mikro-subjektif. dan Perilaku sosial?. Tabel : 2. Teori Konflik. Teori Sistem. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. Makro Subjektif b. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). seperti nilai. Teori interaksionis simbolik. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. yaitu: (1) makroobjektif. dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. Mikro Subjektif d. Ritzer.Gambar 2. Definisi Sosial. hal yang penting perlu diperhatikan adalah. Sebelum menjawab permasalahan ini.4. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. (2) realitas makro-subjektif. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama. Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a.

Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. dokumentasi. misalnya: metode wawancara. observasi. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif.Keempat. konflik dan pertukaran. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. (b) tingkat makro-subjektif. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. 2. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . norma hukum. Jadi. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. 3. eksperimen. contohnya nilai-nilai. 4. Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). bahasa. Menurut Ritzer. contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual. Perlu dipahami. kini dan akan datang). Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’. contohnya birokrasi. yaitu: yang perlu dipahami. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). merasakan. dan sebagainya. norma dan kultur. kuesioner. (c) tingkat mikro-objektif. bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. metode atau teknik. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu. contohnya proses berpikir. dan (d) tingkat mikro-subjektif.

bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner. Giddens. kultur dan agen oleh Margareth Archer. 5. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens. B. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. Weber. Jary. Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A.. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi. Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. Ritzer. Giddens. dan (e) berpikir dialektik. Menurut Bryan Tunner. G. 2000). Ritzer dan Goodman. salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. Cohen dan Craib. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’.2). 1978. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya. Namun perlu diingat. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. Simmel. menurut teori strukturasi. (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. (Rossides. Contoh: Marx. 106 . Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta.sosial-budaya. 2002. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). 2003). mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur. tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’.

Jadi. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. 1998. 107 . (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). prosessual dan dinamis’. agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain. dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). S. 1984). Dualitas struktur mengandaikan. teori konflik). c. Dalam teori ‘strukturasi’. dan kesadaran diciptakan. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. 2002). Teori Strukturasi.melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur). dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’. Priyono. juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. Jadi. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. Dalam teori strukturasi. khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. Menurut Berstein. ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction). berkat adanya dualitas struktur’ b. tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. struktur. baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan.. artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens. tetapi secara terus menerus. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx. Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. dinamik).

terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. yaitu: (a) aktor sosial. (c) dalam upaya mencari rasa aman. tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. artinya. Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. (3) konsep waktu-ruang (time-space). menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. yaitu: (1) konsep agen. tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). konsep atau pemikiran tentang ‘agen’. 1984). d. ‘rasionalisasi. yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). Jadi. baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. Menurut Giddens. sedangkan motivasi sebagai potensinya’. yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. (2) konsep struktur dan sistem sosial. refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan. dan (b) peneliti sosial-budaya. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari.Dalam teori strukturasi. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). agen atau aktor sosial melakukan refleksi. (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 . Dalam teori strukturasi Giddens. Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. Jadi. dan (5) konsep strukturasi (Giddens. (4) konsep rutinisasi (routinization). tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’.

Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. peran petani adalah membajak. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. memanen padi dan sebagainya. yang relatif jelas perbedaannya. Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan. membimbing mahasiswa. 2003). adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. Menurut Giddens. Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’. Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). Bagi Giddens. struktur adalah ‘apa 109 . Agensi (keagenan atau peranan individu). konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. Jadi. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. Menurut Giddens. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan.diurai (tidak perlu argumentatif). Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. Menurut Giddens. misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. bahkan Giddens mengatakan. bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan. meneliti dan sebagainya. karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. menanam padi. Jadi. Kesadaran praktis. Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi. melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar. kesadaran diskursif. 1998). Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia. Jadi. struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. Kedua. tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. kekuasaan subjektivitas.

Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. Jadi. Ketiga. dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. 1984). Sedangkan konsep struktural. ada faktor agen yang juga ikut menentukan’. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization). tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). Kemudian konsep sistem sosial. tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’. (Giddens. menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. Pengertian sistem sosial menurut Giddens. bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). Struktur. yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi). antara lain: (a) ruang dan waktu. tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. Struktur. 1984). Jadi.yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor. 1998). Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 .

Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’. (2) jangka hidup individual (irreversible time). Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. sampai keadaan di kantor. misalnya. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. 1984). sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. Menurut Bryand and Jary. pengalaman hari demi hari (reversible time). Giddens membedakan tiga dimensi waktu. (3) longue duree. persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. 2003). dan terbentuk oleh. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). ruang makan. berada di jalan. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif. Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. sampai di rumah kembali. misalnya berangkat dari rumah. ada ruang kerja. 111 . yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. berada di jalan. lembaga-lembaga. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. misalnya lahir-hidup-mati. yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). ruang tidur dan sebagainya. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. ruang tamu. atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. yaitu: (1) duree. kemudian pulang dari kantor. Jadi.

Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah. dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. Priyono. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu. ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. (c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari. Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens. Kelima. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu. 2002). Jadi.Keempat. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. Regulation (keterulangan terus menerus). konsep strukturasi. Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. 1984. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization).

strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. (2000). 2002). 1995. Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur. Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf). antara lain: Pertama. prosessual dan dinamis’. konsep waktu-ruang. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu. 1995). seimbang dan saling mengisi. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. 2002). menurut teori strukturasi. menurut Turner. yaitu: konsep agen. Priyono. melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. 113 . juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). Anthony Giddens. konsep rutinisasi. Keenam. dan konsep strukturasi (Faisal. konsep struktur dan sistem sosial. Jadi. Ritzer. (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. 1998. dalam pandangan teori strukturasi Giddens. (Giddens. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). Jadi. Giddens. B. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens.

(b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. menurut Bryman dalam Brannen. 114 . karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya. Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed).. S. ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. 2007). (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti.Kedua. yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. Kelima. Digunakan secara bergantian. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. sehingga ditemukan hipotesis. (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif). (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. 1988). J. (2002). sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut. Keempat. tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif). (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. 2002) Ketiga. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak.

jadi konflik menyatu dalam kehidupan. akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. Ketiga. Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme. hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi.Keenam. ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan. 2000. Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. 2005). pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). dalam pandangan teori konflik versi Marx. antara lain: Pertama. 2008). Creswell. pandangan. I. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). Ketujuh. tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 . bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan. Kedua. bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem). dalam pandangan teori sistem. sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif.

asumsi. dan keyakinannya). motivasi. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. (3) bersifat nominalis. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. nilai. fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. Kelima. Keenam. keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik). Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. tujuan. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif.. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern.materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik. Keempat. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. dan teori post-modern yang bersifat radikal. dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. dan menawarkan ‘narasi mikro’. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . tetapi banyak faktor lain. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label.

sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research). akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis. Jadi. analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research).sosial-bidaya. 117 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->