BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. G and Goodman. yang berupa pertukaran. 2003). pencapaian tujuan. ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons. sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis.J. kultur. memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif.ed. sedangkan menurut Parsons. 1990). D. (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem. Sedangkan menurut Parsons. dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. Keenam. faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek). karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). D. baik yang bersifat alamiah. G and Goodman. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal. artinya. faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial.. antara lain: (1) menurut Buckley. P. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. . kepribadian dan masyarakat (Hamilton. integrasi. bagi Buckley. selalu hadir.M. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. Ritzer. sedangkan bagi Parsons. dan (2) Buckley. Jadi. 33 . setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi. yang menentukan struktur. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas. negoisasi. 2003). F. Jadi. 1982.mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan.J. Kelima.

dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . Jadi. Menurut Luhmann.Ketujuh. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar. dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’. kompleks daripada ‘lingkungan’. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. tetapi juga faktor internal (jiwa. yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. Jadi. suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. dan (d) tertutup’. Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). (c) self reference. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya. dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat. Kedelapan. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. ed. motivasi. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. menurut Luhmann. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. P. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. 1990). (c) sistem autopoietic’ adalah self referential. sedangkan menurut Luhmann. 2001). Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. . misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’. (b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri.ed. Menurut Luhmann.

Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003).sosial’ adalah komunikasi (communication) . (2) Luhmann. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. Kesembilan. tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial). Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem). Jadi. hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. antara lain: (1) Luhmann. Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). yaitu: (a) differensial segmentasi. Dalam differensiasi sistem fungsional. (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann. Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. (b) differensiasi stratifikasi. sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. dalam sistem psikis. yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. Menurut Luhmann. yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. (c) differensiasi pusat-pinggiran. dan (d) differensiasi sistem fungsional. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). makna dikaitkan dengan kesadaran. Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks.

Alexander (Surbakti. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. Merton 36 . Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. 1997a. ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. 2006). Nenurut Robert Nisbet. Bachtiar. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. Malinowski. dan Jeffrey C. C.kelemahannya. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin. Merton. W. dapat diambil beberapa kesimpulan. Durkheim.. Talcott Parsons. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. misalnya kebutuhan ekonomi. 2004). (2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. Brown. antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Kluckohn. antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Roebert K. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog. dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. Menurut Demerath dan Peterson. karena masih ada sisi kelemahannya’. (3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. dan C. lebih difokuskan pada lima permasalahan. E. R. yang telah diuraikan di atas. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II.

Sorokin dan Spengler. Florian Znanieeki. Pitirim Sorokin. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. Spengler. M. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik. 1984). Malinowski. J. Spengler. D.dalam memahami fenomena sosial-budaya?.F. dan Malinowski. Benedict. Pada pembahasan berikut ini. 1. W. bahkan ada sebagian ahli mengatakan. Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’. atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. Toynbee. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. George Homans. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. R. Toynbee. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur.R. Florian Znanieeki. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia. 37 . 1982. Brown. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional. Brown. R. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme. Dalam pandangan para ahli teori fungsional.. Benedict. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. Coleman. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. 2006). Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?.W and Cressey. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C.

Menurut Sorokin. 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. D. atau saling memberi kontribusi fungsional. sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia.P. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. atau dengan kata lain. sedangkan Sorokin. yaitu kebenaran inderawi. yaitu: (1) 38 . Ketiga. Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat. antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif. 1978). Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar.Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. tentang perubahan sosial-budaya. atau saling bergantung (terintegrasi). tentang integrasi sosial-budaya. tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek. 1986). menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. tentang tipe-tipe mentalitas budaya. dan (b) Comte. atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). tetapi juga dari sudut akal budi. perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). Bagi Sorokin. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. Kedua. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang). dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait. bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang).

D. 1978. (e) hukum. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility). yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik.P. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. dibagi menjadi dua. (c) kepercayaan/ agama. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. 1978). yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). yaitu mengurangi kebutuhan inderawi. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. yang disebut ‘supersistem budaya’. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. tidak bisa ditangkap oleh indera. (i) teknologi. yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). transenden. Ada dua bentuk mobilitas sosial. dan (c) kebudayaan inderawi sinis. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri.tipe kebudayaan ideasional. (g) ekonomi. dan 39 . yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. 1986). dan (3) kebudayaan campuran. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. Mobilitas sosial ertikal. yaitu: (1) mobilitas vertikal. (h) seni. dibedakan menjadi dua. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). Sedangkan penyebabnya. Kelima. Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. Johnson. (d) etika. keahlian atau prestasi karyanya. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. (f) politik. Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). tentang unsur budaya. (b) filsafat. yang terdiri dari dua tipe. Kebudayaan ini dibagi dua. dan (b) kebudayaan ideasional aktif. Menurut Sorokin. Tipe kebudayaan ideasional. (b) kebudyaan inderawi pasif. yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik). Keempat. antara lain: (a) bahasa.

(2) mobilitas horisontal. (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. dan sesorang memasuki masa purna tugas. dan antar kelompok. bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut).. Menurut Homans. antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. Jadi. atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. Kedua. R. Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal. tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Jika. (b) social sinking (perpindahan status turun). Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal. Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional). (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar. 1997a). bisa berbentuk status sosial seseorang turun.adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan). dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional). atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans. dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. demikian juga sebaliknya. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya.

Dalam proses pertukaran dalam kelompok. Jadi. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. Menurut Homans. terjadi saling interaksi. persaingan. artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem. penyesuaian. Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks. W. pengaruh. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’. Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran. bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. (2) perasaan dan aktivitas. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal. J. Keempat. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. 2006). maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. kedudukan dan inovasi-inovasi.H.. Ketiga. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. 1982). artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. Kelima. Oleh karena itu G. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya. manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas.lain melalui hubungan timbal balik. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. Jadi. 41 . ‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. pencarian penghargaan. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. keadilan. Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan. Homans berpendapat. bagi Homans. dan (3) aktivitas dan interaksi.

yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. Robert K Merton. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks.H. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. misalnya: Levi Strauss. Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial. dan sebagainya. sosiolog dan teoritikus Tunner. (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak. 2.Meskipun analisis atau pandangan G. karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi. Brown. Walter Buckley. Talcott Parsons. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. G. Amitai Etzioni. Emille Durkheim. Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman. 205). Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. J. (b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. R.

tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. (2007). Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya. antara lain: (1) Tahap pertama. Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951).dan sempurna. Kajian berikut ini. yaitu: adaptation (A). Menurut Theodorson. yaitu: a. dan latensi (L). Parsons lahir di Colorado. Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep. dan Latensi (AGIL). (2) Tahap kedua. USA tahun 1902. Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). Integration. Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis. maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. dan dengan kebutuhan lingkungannya. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. dan Tahap ketiga. Menurut Herry Priyono (2002). Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. dalam Raho. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). Goal attainment. pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. B. skema Adaptation. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem. 43 . integration (I). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). goal attainment (G).

atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. goal attainment. Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. produksi. 44 . Goal attainment (Pencapaian tujuan).1 pada halaman berikut. c. Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. latency). Sedangkan bidang kehidupan. Integration (Integrasi). yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik). Sedangkan bidang kehidupan. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. hukum. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. sekolah. adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem. Latency (pemeliharaan pola). Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional. adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. dan alokasi. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh. b. dan lembaga keagamaan). Undang-Undang atau seperangkat aturan). Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya.adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. d. memelihara dan memperbaiki. adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan.

menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. Ritzer dan Goodman. c. 2008). dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION . merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos).Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok. Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu). teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor. Kultur.Komunitas Kemasyarakatan (hukum. R. norma) Gambar 2.Sistem Kultural .. Kultur. 1997a.Sistem Sosial . agama) INTEGRATION . Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. W.Organisme Perilaku . Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a. 1986. dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’.Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga. yaitu: proses internalisasi. sekolah. Bachtiar. dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat. kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya. proses sosialisasi.Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . b.. karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral.Sistem Kepribadian .Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT . 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut. dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial.1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . 1989. Sistem kultural. Jadi. Ritzer dan Goodman. Individu tidak merdeka dalam bertindak. 2004).

dan (e) kultur. f. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). oleh karena itu harus dikendalikan. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu. sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang. (d) kepuasan. Jadi. bukan dilihat dari sudut pikiran. ide. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. e. (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. 1978. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). d. (c) lingkungan. Sistem sosial. yaitu teori intraksionisme simbolik). sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya.berinteraksi sosial. tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. sistem 46 . ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan. Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. (c) optimalisasi. sosialisasi dan enkulturasi). (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. (b) interaksi. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal.

bukan mikro. (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem.sosial memerlukan bahasa (Abraham. 1982. Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat. 1990). Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. dan (4) organisme perilaku. g. Aktor (individu) dan sistem sosial. Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. sebagaimana diuraikan di atas. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur. nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. dan cenderung berlaku sampai tua. (3) sistem kepribadian. bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). Dalam fungsionalisme struktural Parsons. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. Hamilton. Craib. Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. 1984. h. 1982. (3) dalam proses sosialisasi. adalah. 2004). (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. i. Craib. yaitu: (1) sistem kultural. sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. 1990). 1984. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 . Parsons mengemukakan pendapat. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. (4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. (2) sistem sosial. Hamilton. j. Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat).

yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). 2004). Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat. yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. (b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural. artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). dan sejenisnya. (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. persetujuan. Masyarakat. tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons. 1984. dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation). l. Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’.baik (hemat). Menurut Parsons. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). lihat bagan di atas. m. dari hubungan sosial mereka. 1990. Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. (2) proses diferensiasi 48 . bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. Hamilton. yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. Ritzer dan Goodman. ‘Sistem kepribadian’. Konsep perubahan sosial. dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu.

Craib. (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. 1982. apabila ada konflik internal. S dan Ratih. 1989. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. sehingga meningkatkan survivalnya (Harper. (2) masyarakat lanjutan. artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. menuju keseimbangan hidup. 1984. Hamilton. 1990). telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . n. tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. 1989. R. Lauer. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. C. 1988). 1993). pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. L. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’.P. Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma. Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). Lauer. 1970. menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. 1993) atau perubahan revolusi. tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. Parsons. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting).L.menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. dan (3) masyarakat modern. Harper. dan (3) ‘sistem nilai dasar’. yaitu: (1) masyarakat primitif. Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). Jadi. Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya).

tetapi tidak selalu benar secara empiris). dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. (d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit.. dan nilai. kritik logika dan metodologi. (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi. sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural. (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama. Jadi. yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman. lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak. antara lain Pertama. 50 .H. padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. 2004). antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). kritik substantif (krtik utama). and Rosenberg. 1982). atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. norma. Turner. Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal). antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur.fenomena sosial. J. spesifik yang lebih historis (Merton). atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). L. B. masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. 1969. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata). dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat. (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. menurut Mills. Abrahamson dan Cohen. dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. Kedua. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur.

Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern. Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons. (d) penilaian Parsons. tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons. dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya. Aliran neo evolusi perspektif Merton). sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman.Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. Pandangan teori fungsional struktural Robert K. sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. dinamik dan kompleks. antara lain: 51 . teori tingkat menengah (Middle range theory). Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. 2004). memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. dan kompleks.K. 3. tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur. (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis). dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. dapat menimbulkan ethnosentrisme. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks. namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. sehingga terbuka untuk berubah). Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton. (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik.

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

Bagi neofungsionalisme. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. riset teori fungsional struktural. Jadi. teori neofungsionalisme. tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . neofungsionalisme. Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam. Kelima. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro).kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks.. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural). tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. konsep kultur. konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar. tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. bagi Alexander dan Colomy. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. Jadi. bisa bersifat makro dan mikro. oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. Keempat. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem). kultural dan kepribadian. Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. Keenam. Ketujuh. tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. neofungsionalisme. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro. Neofungsionalisme.

karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar. 1. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. (Hamilton. Jadi. Vilfredo Pareto. Reisman. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. B. 2005. interaksionisme simbolik. dan David Reisman.. Dahrendorf. Ritzer dan Goodman. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. C. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx. pragmatisme. D. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch. Lewis Coser. Ralf Dahrendorf. fenomenologi. tetapi menurut Dahrendorf. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. 2004). Coser dan D. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. Robert Park. Wright Mills. Dahrendorf. G. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx. (2) pokok-pokok teori konflik versi R.struktural. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik.. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. Raho. Torstein Veblen. dalam memahami fenomena sosial. antara lain: 57 . Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. Jonathan Turner. Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. 1990. 2007).

M. Cambell. pandangan hidup. sikap-sikap. (ed). dalam masyarakat kapitalis. sehingga proletar teralienasi (terasing). Bagi Marx. Jadi. sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. dan hubungan kerja. Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. Ritzer. dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan. Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa. motivasi. sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. 1981. G. 1986). keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. Ketiga. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. tindakan-tindakan. dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. Kedua. 1994). M. karena mereka tunduk pada mesin. bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). 1986. pengetahuan. hasil pekerjaannya. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. ide-ide. Keempat. 2001). Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. Jadi. untuk memecahkan alienasi. atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. hukum. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar.P. karena mereka hanya mendapat upah minimal. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 .Pertama. karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur). kepentingan fisik (bendawi). D. karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. kemampuannya. sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material.

sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis).M. F. dari proses hukum dialektika tersebut. tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). 1982. yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik. kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar). Politik. Salim. Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). Oleh karena itu. pandangan Karl Marx. 1997a. b. masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti.. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. Jadi. Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus). ideologi. MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. Menurut Marx. Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah.2003). sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis.masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis). c. hal ini dapat menentukan struktur kelas). hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. 1986. 1997a) Jadi. Jones. d. Keenam. karena menguasai ekomoni atau alat produksi. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan. R. sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari. Jadi. Bagi Marx. 2002). Menurut Marx. sosial. akibat berikutnya adalah 59 . dan Relation of production (hubungan produksi). Kelima. R. budaya). ideologi. Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis). PIP. the force of production (kekuatan produksi). M. Surbakti. suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia.

Setiap masyarakat. the force of production. sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara. W. D. maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). timbul masyarakat tanpa kelas. Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. Setelah revolusi berhasil. g. Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. dalam memahami fenomena sosial budaya. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis). dan Relation of production. PIP. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja.terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. yang akhirnya muncul diktator proletariat. terasing terhadap modal.2003). terasing dari jiwa aman dalam bekerja. Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang). f. b. Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. Alienasi (keterangingan. Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . 2. dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). Jones. dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. maka hak milik pribadi lenyap. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). yang terus mengeksploitasinya). budaya atau politik atau ideologi. karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis). Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. h. 1978. setiap saat tunduk pada proses perubahan. e. antara lain: a.

yaitu konflik dan konsensus. Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. 1982. Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. d. ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. demikian juga sebaliknya. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. Menurut Dahrendorf. yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu. Jadi. h. Craib. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik. atau tunduk pada otoritas makro. 1984). g. Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. Karena otoritas makro adalah absah. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. Oleh karena itu. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. oleh karena itu menurut Dahrendorf. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan. e.bawah). Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. c. Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. seperti peranperan otoritas. f. Jadi. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik.

Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 . Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari). kepentingan nyata. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit.yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. (3) kelompok konflik (conflict group). dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. program dan anggota yang jelas). berbeda dengan pandangan Marx. Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. Jadi. tujuan. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain). Jadi. konflik dan perubahan. menurut Dahrendorf. Kelompok ini mempunyai struktur. kelompok kepentingan. Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat. yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. j. kelompok semu. Kelompok. Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. i. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. situasi politik. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. k. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. ‘konsep kepentingan tersembunyi. Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat. bahwa. (2) kelompok kepentingan (interst group). kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. Jadi. yaitu ada dua kelompok kepentingan. bentuk organisasi. kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama.

hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. D. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. e. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi). b. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx. Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. 1981. tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. 1984. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). Semakin distribusi pendapatan tidak merata. d. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. berkaitan dengan konflik. Johnson. W. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan. di masyarakat antara lain: 63 . Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama. Jones. semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). c. 1978. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. ‘hubungan konflik dengan perubahan’. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah. Menurut Turner (1982). Craib. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka. l.akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. Semakin keras konflik yang ada. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. PIP. pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. f. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. Semakin meluas polarisasi. Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis.2003). maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada. semakin keras konflik yang terjadi. Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial.

rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks. 3. yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. dan sebagainya. d. antara lain: a. c. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. tidak hanya karena perjuangan kelas saja.a. D. semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. psikhologis. Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan. Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok. ketrampilan profesionalnya’. Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. (ed). d. karena atau 64 . budaya. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya. teknisi. Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). Kesenjangan hirarki sosial. akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. kemampuan. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. b. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya. Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. tetapi karena ‘keahlian. ideologi. c. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. 1970). misalnya faktor: keyakinan. yaitu kelas menengah (para profesional. antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas).. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. Jadi. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). bukan untuk kelasnya (palsu). yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). Perubahan sosial dan pergolakan sosial. bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti. Craib. Disamping itu apa yang diramalkan Marx. Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat. tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi).ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. antara lain: Weingart (1969). buruh (saham masyarakat). Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. e. 1984. dan konflik sebagai sumber perubahan. h. Ritzer dan Goodman. karena adanya un-skill labour. 2004). yaitu manajer. Hazelring atau profesional 65 . karena sifat dasar masyarakat adalah. g. masyarakat. ‘adanya integrasi dan konflik’. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi). yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. hanya ada konflik. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. semi skill labour dan skill labour (Johnson. i. 1981.

Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi. Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi. Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran. b. 2004). ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. dan Turner (1973). Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. tetapi secara gradual. keyakinan. Craib. Menurut para ahli. Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. Bagan 2. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). 02 03.1. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. d. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. 1984. 04. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. motivasi. Jadi. Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian. Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . 1981. c. sebagaimana dalam bagan berikut. Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Ritzer dan Goodman. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian. yaitu: a. Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan.( 1972). Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson.

seperti kapitalisme. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. Konflik bisa ditekan dan dikontrol. (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. kekuasaan. terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx. Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . (2) terjadinya invasi kultural. 1982). B. fundamentalisme antar masyarakat atau banga. b.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat. c.. Surbakti. komunisme. D. misalnya: kepentingan ekonomi. 1984). tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). 1976. 2000). Turner. (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat. J. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. 1997. Horton and Hunt. Turner. revolusi teknologi. dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi. 1978. demokrasi. Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. 1973. dan (3) konflik ideologi.. Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. M. 4. Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat. Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. namun juga bersifat tersembunyi (latent). atau penjajahan politik dari luar. (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. R. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. Rossides. 1982.. W. (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling.

(d) Lewis Coser. antara lain: (a) George Lukacs. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). 2004). sebagaimana pandangan oleh Karl Marx. 2005). dan (e) David Reisman. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian.. 2001. (c) Teori Kritis. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik. dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. Kinloch.P.‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. struktur kelas di dalam sistem ekonomi. Baik L. Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. 1986). 1969). Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park. yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. (b) Antonio Gramsci. 1981. dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson. 1993). 1956. Menurut H. dan (d) Lewis Coser dan David Reisman. maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis. D. Mutahhari. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. P. (f) Analisis Sosial Neo-Marxian. dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. (b) Marxisme Hegelian. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial. (e) Marxisme Berorientasi Historis. sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’. (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. Sztompka. tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. Coser maupun D. massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. Lefebvre. Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an). dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. 2005). (c) Henri Lefebvre.

evolusioner dan struktural (Kinloch. d. semakin erat sistem stratifikasi. 2005) Dalam posisi kajian ini. Menurut teoritikus neokonflik. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a. Cambell. organik. 1994). tingkat berpartisipasi kelompok. konflik institusional. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. dan toleransi. baik teori fungsional maupun 69 . yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. Jadi. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). M. partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). M. e. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). Coser. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. Jadi. meski porsinya beragam antar kelompok. semakin lebih dekat merajut kelompok. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. 1979. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. b. makroskopik. Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat. Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. dan panjangnya konflik. c. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. konflik dan konsensus (fungsional struktural). Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. fleksibelitas dan integritas sosial. Ada yang berbentuk mobilitas sosial. semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. Jadi. dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx).H. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. meski porsinya beragam antar kelompok. Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. konflik dan konsensus (fungsional).teori konflik. 1982. Jadi. (b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi. 1981). h. 70 . f. 2004). 1969. Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx. J. 2005). Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. 1975). perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg. 1979. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. Cambell. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup. M. Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. semula statis menjadi dinamik. 5. M. semula pasif menjadi aktif. sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’. dan dia mengatakan. Ritzer dan Goodman. Kinloch. yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. (c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). g. tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner.

Tentang stratifikasi sosial. b. Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. c. bidang: ekonomi. 71 . d. politik. g. Jadi. proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. sosial dan sebagainya. Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber. Marx dan Dahrendorf memandang. antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. gaya hidup. sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro). bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). e. Meskipun demikian pandangan R. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. Teori stratifikasi konflik Collins. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat.bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. Menurut Collins. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. keluarga. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. f. Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf).

yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. tetapi juga harus menelitinya secara empiris. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya. dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. dan bila memungkinkan secara komparatif. Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. (2) makin sering orang memberikan perintah. kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. k. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. makin terasing dari tujuan organisasi. (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). dan konflik bersifat integratif. yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). senjata. makin menyesuaikan diri secara eksternal. makin ia patuh . Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris. dia akan makin bangga. 2004). makin fatalistis. (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah.h. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. (3) bahwa dalam situasi ketimpangan. mode komunikasi. makin mencurigai orang lain. dan (3) makin sering orang menerima perintah. makin percaya diri. j. Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif). peralatan). sumber daya dan kekuasaan. i. lingkungan fisik.

(3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik. Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang. keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang. terutama pada masyarakat yang kompleks. karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian.pihak yang yang dipaksa. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus. untuk menentukan status dan peran. Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda. hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil.perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 . disebabkan beragam keahlian. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. dan relatif terintegrasi.2. bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. Jadi. 6. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat.

Konsensus nilai. Craib.. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan. 1992). Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok. Menurut Burrell dan Morgan (1994). hanyalan & alat kaum penindas (elite). Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer.bersifat evolusi. 1980). atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal.nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi. dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi. Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt. (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 . 1996. 7. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme. beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. G. pandangan paradigma fungsional. teori sistem.

Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. E. M. pandangan paradigma struktural radikal. (ed). and Morgan. Kedua. integrasi sosial. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. model dominasi. atau saintisme (Poloma. maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. G. Comte. solidaritas kelompok. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. 1994. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. equilibrium. atau naturalisme. E. and Morgan. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. T. 1994). atau konstruktivisme. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). H. Pareto. teori radikal organism. Durkheim. Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. Ritzer. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. stabilitas sosial. (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. kontradiksi dan perampasan. (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. 1980). G and Smart. order sosial. B. konsensus. G. Spencer. 1979. dan V. G.kehidupan sosial dari dimensi status quo. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. teori fungsional struktural dan neofungsional. Ritzer. melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). M. dan (4) apabila 75 . Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. G. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. G. Parsons. 2001). Ditinjau dari segi orientasi filosofis.

Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. Menurut Mead. Mead. Perspektif teori interaksionis simbolik H.. William I. 76 . bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. 1996. ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’. dan buku berjudul ‘Mind. Thomas. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt. antara lain Pertama. Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis. Mulyana. Herbert Blumer. L. 2002).O. Mulyana. ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. D. Jadi. 2002). tentang Tindakan. Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. 1978. dan Erving Goffman. Herbert Mead. 1984. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. Dalam menganalisis tindakan. and Society’ adalah karya terpenting H. 2002).individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor). maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel. Self.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. John Dewey. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. Contoh impuls. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. adalah rasa lapar dan haus. Mead. yaitu: (1) tahap impuls. (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman. Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang.. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Soeprapto.

isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. Abraham. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya. mengecek dirinya sendiri. (2) tahap persepsi. yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. D. J. Jadi. Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. meraba. T. menilainya. Menurut H. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. 1978. Ada dua macam isyarat. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri. menggambarkan arah tingkah lakunya. manusia merupakan pencipta. Jadi. mengecap. manusia adalah makhluk aktif. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial. Soeprapto. 1997b) . 2002). R. mencium. Dalam bertindak. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. 1982). dan (3) tahap pelaksanaan.. 1981. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan. dinamik. dengan membuat indikasinya sendiri. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. W. pelaku. Menurut Herbert Mead. H. melihat. yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi. memperkirakan situasinya. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya.karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell. F. bagi Herbert Mead. Jadi. Kedua. tentang Isyarat.M. Surbakti. 1982. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . dan (b) isyarat ‘signifikan’. R. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan.. Mead. melihat pengalaman yang lalu.

George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. Diri Sendiri. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. Bagi Mead. individu bersifat aktif. dan Masyarakat’. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota.tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). Pertama. kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. tindakan individu mengambil konsistensi. H. bagi Mead dan pengikutnya. dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. Ketiga. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. J. dan kedua. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif. dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri. rasa sosial diri sendiri. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. Berawal dari asumsi ini. Keempat. tentang ’diri’ (self). yang dapat berakibat buruk bagi individu. (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). Konsep ‘diri’ menurut H. dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. Oleh karena itu. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. tentang pikiran. Bagi Mead. rasa sosial dan diri sendiri. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. Jadi. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other). 1982).

dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik). (1) tingkat awal. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. Turner. tentang masyarakat. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti. Menurut H. 1982). pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi). menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. Pada tingkat ini. Mead. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting. kapasitas diri individu . bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas. Dalam permainan. pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat.. (2) tingkat kedua. H. (3) tingkat ketiga. Menurut H. F. Soeprapto.M. R. dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain. Bagi Mead.. antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. R. 1997b.pikirannya. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. dikukuhkan. seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran. Kelima. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam.. masyarakat. 1982. ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik. Menurut H. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. J. antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. 2002). ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus. 79 . Mead.Mead. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok.

Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. (2005). Menurut Kinloch. asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. Jadi. (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. dan abstrak. dan (4) bersifat dinamik. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi. kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal.Keenam.M. (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif. yang objeknya terdiri atas dunia mereka. teori H. (3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. atau terus berubah-ubah. yaitu metode interpretif dan introspeksi. (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. tentang metodologi. (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. G. F. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain). pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung. J. Turner. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal. antara lain: (1) bagi masyarakat. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . 1982). Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber. Metodologi H. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). baik secara individu maupun kelompok. 1982. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka. organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik. institusi. sosial.

Kesamaan H. 2002). Aturan-aturan. Peralatannya dan sebagainya. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. Soeprapto. 1979). dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. responnya bukan bersifat mekanis. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. Jadi. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. W. baik versi Mead maupun Blumer. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana. Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama. baik versi Mead maupun Blumer.Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer.Mead dan H. antara lain: 1. Simbol-simbol yang digunakan. D. Jiwa. Orientasi hidupnya. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . 1978. Poloma. melainkan ditentukan oleh ‘Diri. 1982. dan pandangan individu itu sendiri’. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’. 2002). tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural). J. Mead dan H. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. 2. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner. Tujuannya. Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. interpretasi (penafsiran). apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. (b) ketika individu menghadapi situasi. oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. Individu merespons lingkungan. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya.

5. Baik versinya Mead dan Blumer. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. baik versi Mead maupun Blumer. menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. 1982. 2000). motivasinya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu. 4. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil. Contoh. 2001). Ramlan. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind). karena itu makna tidak melekat pada objek. Jadi. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’. Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek. hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial.kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. S.J. 3. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. Jadi. bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial. D. baru/ bekas. Poloma. 1997). Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides.. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner.. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal. Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. melainkan ditentukan oleh faktor internal. 1978. 1982). artinya dengan menyebut kata mobil.J.. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. yaitu. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural.. pengetahuannya. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. yaitu: pikirannya. Ritzer. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol. 1997b. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. warna mobil. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. R. kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. pandangan hidupnya. Dengan demikan 82 .. sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. W. pikiran adalah bagian dari struktur). dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik.

sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens. (b) Masyarakat. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. berupa lingkungan. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri. memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. 2001. struktur sosial-budaya. 6. Kebenaran ide. ekonomi. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. 1985). Jadi. konsensus terhadap nilai dan norma. (d) Interaksi sosial. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. Ritzer. adalah dinamis dan berevolusi. maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. 2005). G and Smart. 2. faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. Soekanto.J. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. terdeterminasi oleh faktor eksternal. 2002). (c) Realitas sosial. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. terdeterminasi oleh struktur 83 . B. sikap dan perspektif. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah. kreatif. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Kinloch. tetapi individu adalah sosok dinamis..masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. 1982. Dari penjelasan tersebut di atas. Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. pasif. Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. (ed). Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. 2001. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). adalah meliputi ‘pikiran.

dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). manusia harus otonom. penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. menurut Husserl. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. G and Smart. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. 84 . Untuk mengetahui sesuatu. seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan. Ritzer. Kedua. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). metode Husserl disebut metode fenomenologi. D. Husserl menolak sikap ‘scientisme’. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. 2001). Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. Ketiga. Bagi Husserl. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’. (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. dunia sekitar manusia itu ‘berada’. Jadi. dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama. B. W. (ed). Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. F.norma sosial budaya. tetapi dari kenyataan itu sendiri. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. 1978. misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi.

yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). semua segi. 1978. Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. artinya. W. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis. (2) reduksi eidetis (inti sari). Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. pandangan kedua untuk menemukan 85 ..Keempat. aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). Kesadaran dalam fenomenologi transendental. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga. maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan. 2006) Kelima. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. Bachtiar. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. yaitu: (1) reduksi fenomenologis. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’. maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. Akan tetapi. dan (3) reduksi fenomenologi transendental. tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju.

Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. 1984. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. 1979b. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. 2002). Alfred Schutz. Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . Disamping itu. (3) bersifat nominalis. Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. sosial budaya.S. dan keyakinannya). atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. dan Harold Garfinkel. R. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. J.hakikat objek’. asumsi.. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. Soeprapto. Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. Oleh karena itu.. motivasi. Jadi. Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. 2. teori ethnometodologi. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. nilai. bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. Mulyana. Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. antara lain: Pertama. dan politik (Praja. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. 2002). voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. tujuan. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. ideologi. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. 2005). R. teori fenomenologi.

untuk bisa memecahkan masalah 87 . Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’. yang ia sebut ‘arus kesadaran’. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. Ketiga. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. 2001). lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. 1981). pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’. Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). Jadi. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. G and Smart. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada.. Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. T. Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya. (ed). artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya. Menurut Schutz. oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer. Kedua. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek.Edmund Husserl. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. Jadi. individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. B.

2001). yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. T. Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat.dan meraih tujuan. Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . pohon dan sebagainya). D. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. Jadi. mobil. dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. Keempat. dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. antara lain: Pertama.. 1981. dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. binatang. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’. rumah. konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. W. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. B. Jadi. hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’. Ritzer. Jadi. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification). Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. (ed). apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari. 1978. masyarakat merupakan produk kultural para individu. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar. Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. W. Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya. Jadi. 2006). pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. G and Smart. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. Cambell.

dan Kedua. kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. jiwa. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal. Keempat. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial. B. B. (ed). setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. Pada pokoknya. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi. yaitu: Pertama. Ketiga. bagaimana pandangan. 2006). motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. Menurut Garfinkel. G and Smart. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. Menurut para ahli.. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum. Jadi. 1996). kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. Kedua. G. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. Bachtiar. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. W. Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. 2001. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri.etnometodologi’. terencana dan rasional. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen.

bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya. Post-modernisme. 3. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. membumbungnya kesenangan material individu. atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi. ekonom. Post-modernisme. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme. pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. Post-modernisme. ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. penampilan dengan kenyataan. 2. atau berbeda dengan sosiolog. filosof. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. antara lain: 1. 6. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. Kapitalisme. Post-modernisme. Sosialisme. bebasnya daya naluri setiap individu. Post-modernisme. Hal ini 90 . upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. 5. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. contoh. bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. Marxisme dan sebagainya. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. penolakan filsafat metafisis. politikus. 4. Post-modernisme. dan sebagainya. bermakna peleburan segala batas. Liberalisme.

globalisasi. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’. dapat dikelompokkan menjadi dua. atau kritik-kritik filosofis. B.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. oleh karena itu 91 . antara lain: Derrida. atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. Gadamer. karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme. menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). Oleh karena itu Jomeson. Foucault. 1996). Mary Hesse. konsumerisme yang berlebihan. pandangan. Rorty. dan Baudrillard. antara lain: Heidegger. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’. Recoeur. usangnya negara-bangsa. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard.. atau diskusi ilmiah. 1996). antara lain: Pertama. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. kebakuan. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. B. teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas. keuniversalan (Sugiharto. kajian.. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia. deregulasi pasar. pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. dan Jomeson. atau gambaran dunia (world view). yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. gaya hidup cenderung hedonis. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner). parexcellence. Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham. Lyotard. Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. Jomeson termasuk teoritikus Marxian. dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. Bagi Jomeson. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984).

antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. 2003). Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. karena sulit dibedakan yang asli dan palsu.J. menurut Jomeson. Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. Kedua. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. Kehidupan post-modern. misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. tahap kedua. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. Jadi. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa).dia menilai tentang kapitalisme. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). 2003). Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. G and Goodman. G. masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. D. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’. Jameson menilai. bagi Jomeson. artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern. Ketiga. (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. yaitu teknologi reproduksi dominan. Pemikiran postmodern bersifat pastiche. tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern). (2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’. Jadi. ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme.

Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. Massa yang pasif. Kedua. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’.radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. Surat Kabar). Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar. Jadi. dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. dan hiperrealitas. G. pemrosesan oleh teknologi informasi. yang menjadi utama dan yang berkuasa. Tabloid. Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. tetapi lebih didominasi oleh ‘media. Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas. Keempat. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa. dan ketidakbermaknaan kehidupan’. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). ketidakacuhan. Ketiga. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. simulasi. 2003). Menurut Kellner. bagi Boudrillard. Dia menolak 93 . yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. Internet. Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. Kehidupan manusia menjadi budak simulasi.

yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. 1996). tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. hukum. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial. Ketiga. ideologi. antara lain: Pertama. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. ekonomi. pendidikan. teknologi. bahasa. kebenaran empirik (objektivis). maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. dan sebagainya (Sugiharto. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir).. atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama. B.J. yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. 2003. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. dan paradigma objektivis. agama. hiperrealitas. ilmiah (saintis). dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. Kedua. karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. D. disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. khususnya dengan riset-riset empirik. G and Goodman. sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 . G. teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). Ritzer. Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme. melainkan subjektivis. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. 2003). nilai-norma budaya. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi.

antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Keenam.itu benar atau tidak. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. 2003).J. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek). ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak. D. Ketujuh. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. dalam analisisnya. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. G and Goodman. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’. karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian. melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. dan Kedelapan. Kelima. Keempat. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya.

Analisis teori mikro. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. memandang struktur sosial atau faktor eksternal. Salim.pandangan). Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. perubahan dan tindakan. (3) teori etnometodologi 96 . beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . dan kurang menyinggung pada peran individu’. 2002). Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. hanya menyinggung tentang tiga hal. Blumer. Kedua. beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. G. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. Boorman (1976). (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. 2003). antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. H. antara lain: Pertama. atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. Sedangkan analisis teori makro. A. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966). tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959). 1991. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. Mead dan H. (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. yaitu: Pertama. lebih menekankan pada jaringan sosial. analisis teori mikro dan. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). (d) memperhatikan pertumbuhan. dan Ketiga. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. dan sikap yang alamiah (natural attitude). embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. Kedua. analisis teori makro. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’.

Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. E. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. Emille Durkheim. Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama.. c. bahkan mungkin sampai sekarang. baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell. secara implisit. 1994.oleh Garfinkel (1967).W. yang mamusatkan perhatian pada organisasi. 1974. J. Baal. Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. 1995). 1987). dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners. Masing-masing perspektif. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. Jadi.V. Marx. A. 97 . Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. Di kalangan teoritisi sosial. yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans. dari abad 19 sampai abad 20. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer. Karl Marx. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. kreatif dan voluntaristis. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. Giddens. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya.J. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a. 2002). 2. dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif. Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim. tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. b.

D. 1970). 1956. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). Sistem tindakan kultural Parsons adalah. pandangan individu. dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat.kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. konsep ‘kharisma’ yang melembaga. Kepribadian. yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). 2002). bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial).. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 . Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. Talcott Parsons. Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. Sosial. 3. Mutahhari. Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. S dan Ratih. yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. R. Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. 1988. Weber. 1997a). bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. L. Jadi. 4. paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. (ed). Ritzer. 1986. Ada beberapa pandangan para ahli. Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel. Surbakti. Max Weber. hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh. namun oleh para ahli. konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur). M. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong. Menurut Mizman.

c. ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. 1987). membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. 24: 731-752 (1976). fenomenologi. Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). 2003). sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. Eisenstadt and Helle. Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. Ada yang memandang. H. Menurut Ritzer. dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). dalam Sociological Review.struktur’ adalah. dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. dalam Sociological Theory (1969). Menurut Ritzer dan Goodman (2003). teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’. Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis.a. Giddens. d. Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. b. Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’.J. masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. mirip bahkan sama atau serupa.

Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. Sedangkan Touraine. lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). Jadi baik agen maupun struktur. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. atau mungkin juga tidak. (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. d. agen organisasi. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual. c. Konsep struktur. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. Konsep mikro. Pada pembahasan berikut ini. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. sering mengacu pada struktur sosial berskala luas. Konsep makro. (3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska. atau mungkin juga tidak. menurut para ahli. Agen menurut Burns. antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. Ritzer. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. kelas sosial sebagai aktor. dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. agen bangsa). definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 .makro dan agen. tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners). Jadi. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. atau kepada kedua-duanya. mengacu pada ‘agen’. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. jadi agen diartikan sama dengan mikro). model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama. Dan makro bisa. b. memandang. antara lain: a. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. Konsep agen (agency). sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). mengacu pada ‘struktur’. mikro mungkin bisa. Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine.

Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan. Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. yang terpisah dari dua hal yang berbeda. (3) mengusulkan pandangan. dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro). Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro).sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. Kedua. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif. bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). (4) dalam realitas sosial. Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 . menurut Ritzer. Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru.

pola interaksi sosial. tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas.2) Ketiga. dan (2) kontinum objektif-subjektif. misalnya: pola tindakan individu. suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. norma. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. meliputi proses mental berskala kecil. Hukum. Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer.I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat. maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. birokrasi. Norma. 102 . dan teknologi. meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil. menurut Ritzer. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif. ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. misalnya: nilai. keyakinan. tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. Kebiasaan. 3) Tingkat mikro objektif. adat (budaya ide atau sistem budaya). mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). misalnya. 2) Tingkat makro subjektif. meliputi realitas material berskala luas (besar). pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. Kontinum mikroskopik-makroskopik. meliputi fenomena non material berskala luas. Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. 4) Tingkat mikro subjektif. Contoh.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. Birokrasi. misalnya: masyarakat. Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. berpendapat atau bersikap atau berpandangan. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. adat (Skala Luas).

Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor.3. Tindakan. yang mempunyai wujud nyata. persepsi individu). Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. Interaksi. motivasi. Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. ‘aktor individu. Sedangkan ujung kontinum Subjektif. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). Nilai. struktur birokrasi. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. truktur Birokrasi Pandangan. nilai yang diyakini. tindakan sosial. dan sebagainya. interaksi sosial. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu. Di ujung makro dari kontinum adalah. Sedangkan diantara ujung mikro ke makro. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . misalnya: aktor. pandangan. kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. UU atau hukum. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). pandangan. Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. Norma. pikiran individu dan tindakan individu’. birokrasi. Undangundang. wujud materi. Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. norma. aparatur negara. norma. misalnya: Ide. gagasan. Tentang garis kontinum mikro-makro. & Budya Siste m Dunia Gambar 2. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. Di ujung mikro dari kontinum adalah. seperti: kelompok luas (contoh.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. persepsi.

(2) realitas makro-subjektif. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. Mikro Subjektif d. Sebelum menjawab permasalahan ini. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. Definisi Sosial. seperti nilai. yaitu: (1) makroobjektif. Ritzer. Teori Konflik. Makro Subjektif b. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. seperti birokrasi. Tabel : 2. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2. 1. c. Teori interaksionis simbolik. Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2. 2002) 104 .3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No. setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama. Jadi. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif. Teori Sistem.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. dan (4) fakta mikro-subjektif.4. Kemudian. seperti pola interaksi. yaitu Paradigma: Fakta sosial. hal yang penting perlu diperhatikan adalah. Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a. dan Perilaku sosial?. Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural. seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif).Gambar 2. (3) fenomena mikroobjektif.

Perlu dipahami. eksperimen. kuesioner. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik. dokumentasi. Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. metode atau teknik. 2. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. contohnya nilai-nilai. berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. Jadi. observasi. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. contohnya birokrasi. dan sebagainya. norma hukum. 3. yaitu: yang perlu dipahami. dan (d) tingkat mikro-subjektif. (b) tingkat makro-subjektif. bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. merasakan. 4. misalnya: metode wawancara. Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’. kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). kini dan akan datang). contohnya proses berpikir. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . (c) tingkat mikro-objektif. norma dan kultur. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. bahasa. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif. contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. Menurut Ritzer. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual. konflik dan pertukaran.Keempat.

Giddens. Giddens. Cohen dan Craib. 5.sosial-budaya. Ritzer dan Goodman. menurut teori strukturasi. kultur dan agen oleh Margareth Archer. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. 2000). bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A. dan (e) berpikir dialektik. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2.. Menurut Bryan Tunner. Contoh: Marx. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner. 2003). (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. Namun perlu diingat. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. Simmel. selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya. Ritzer. bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. 106 . Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan. Weber. (Rossides. tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. G. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens. 1978. 2002. Jary. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’. mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur.2). salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. B.

Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. berkat adanya dualitas struktur’ b. dan kesadaran diciptakan. 107 . ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. Dualitas struktur mengandaikan. prosessual dan dinamis’. tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx. 1984). juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. Jadi. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. c. Dalam teori strukturasi. Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. Jadi.melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur). dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. Priyono. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. 2002). praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). Menurut Berstein. baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’. S. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. struktur. teori konflik). praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). tetapi secara terus menerus. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). Teori Strukturasi. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction).. 1998. agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain. dinamik). Dalam teori ‘strukturasi’. artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens.

Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 . perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). Jadi. tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’. (3) konsep waktu-ruang (time-space). sedangkan motivasi sebagai potensinya’. baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. yaitu: (1) konsep agen. tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. dan (b) peneliti sosial-budaya. Menurut Giddens. yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. Jadi. ‘rasionalisasi. terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). (2) konsep struktur dan sistem sosial. (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. (c) dalam upaya mencari rasa aman. menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. 1984). yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam teori strukturasi Giddens. menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. (4) konsep rutinisasi (routinization). agen atau aktor sosial melakukan refleksi. konsep atau pemikiran tentang ‘agen’. Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. artinya. dan (5) konsep strukturasi (Giddens. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. d. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan. yaitu: (a) aktor sosial.Dalam teori strukturasi.

Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. Kedua. Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. bahkan Giddens mengatakan. kekuasaan subjektivitas. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan. 1998). melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. 2003). misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. Menurut Giddens. kesadaran diskursif. tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. peran petani adalah membajak. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan. Jadi. yang relatif jelas perbedaannya. memanen padi dan sebagainya. bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan.diurai (tidak perlu argumentatif). membimbing mahasiswa. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. struktur adalah ‘apa 109 . atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. Menurut Giddens. menanam padi. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. Bagi Giddens. Kesadaran praktis. Jadi. memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. Agensi (keagenan atau peranan individu). Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. meneliti dan sebagainya. Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia. adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. Jadi. Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. Menurut Giddens. Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi.

ada faktor agen yang juga ikut menentukan’. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Pengertian sistem sosial menurut Giddens. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. Sedangkan konsep struktural. Kemudian konsep sistem sosial. yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). 1984). Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor. tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial.yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. Jadi. tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. Ketiga. (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’. Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. Struktur. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization). Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). 1998). tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi). menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. 1984). antara lain: (a) ruang dan waktu. Jadi. (Giddens. Struktur. dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 . Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur.

misalnya berangkat dari rumah. yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). ruang makan. sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif. Menurut Bryand and Jary. Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’. Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. Jadi. 2003). Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. sampai keadaan di kantor. 1984). lembaga-lembaga.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. Giddens membedakan tiga dimensi waktu. ruang tidur dan sebagainya. persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. sampai di rumah kembali. berada di jalan. misalnya. Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. (3) longue duree. 111 . (2) jangka hidup individual (irreversible time). Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). ruang tamu. yaitu: (1) duree. kemudian pulang dari kantor. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. ada ruang kerja. atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. misalnya lahir-hidup-mati. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik. berada di jalan. kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). pengalaman hari demi hari (reversible time). dan terbentuk oleh. sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah.

Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. 1984. Regulation (keterulangan terus menerus). Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). 2002). Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). Priyono. ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization). Kelima. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). konsep strukturasi. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). (c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari. Jadi. ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu. (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu.Keempat. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan.

Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. Jadi. yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. Jadi. seimbang dan saling mengisi. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). B. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. dalam pandangan teori strukturasi Giddens. antara lain: Pertama. konsep waktu-ruang. 2002). setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur. Keenam. Priyono. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. prosessual dan dinamis’. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. konsep rutinisasi. 2002). Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur. dan konsep strukturasi (Faisal. (Giddens. tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu. yaitu: konsep agen. 1998. menurut teori strukturasi. 1995). (2000). 113 . Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf).strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens. Giddens. (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. 1995. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. Ritzer. menurut Turner. juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. Anthony Giddens. konsep struktur dan sistem sosial.

misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. sehingga ditemukan hipotesis. 1988). kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya. Keempat. S. penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya.Kedua. tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. (b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak. yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. (2002). Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. 2007). Kelima. karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed). 114 . 2002) Ketiga. sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut. kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif).. Digunakan secara bergantian. Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. J. masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. menurut Bryman dalam Brannen. (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif).

kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan. pandangan. tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 . Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan.Keenam. 2008). yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). 2000. bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem). Ketiga. Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). antara lain: Pertama. Kedua. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi. ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme. Creswell. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. jadi konflik menyatu dalam kehidupan. dalam pandangan teori sistem. Ketujuh. nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. 2005). dalam pandangan teori konflik versi Marx. hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. I. Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya.

Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. dan menawarkan ‘narasi mikro’. teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. Keempat. tujuan. motivasi.materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. dan teori post-modern yang bersifat radikal.. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik). atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. dan keyakinannya). antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. Keenam. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’. dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. Kelima. nilai. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. (3) bersifat nominalis. tetapi banyak faktor lain. asumsi.

sosial-bidaya. Jadi. analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research). Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research). 117 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful