BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. artinya. D. Jadi. Ritzer. 2003). baik yang bersifat alamiah. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem. ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons. G and Goodman.mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan. Kelima. faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. 1990). 33 . atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal. Jadi. bagi Buckley. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. 2003). D. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial. kultur.. Sedangkan menurut Parsons. antara lain: (1) menurut Buckley. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal. F. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. sedangkan bagi Parsons. integrasi. memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. G and Goodman. (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. P. pencapaian tujuan. selalu hadir.M.J. sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis. dan (2) Buckley. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan. setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. 1982. sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). Keenam. negoisasi. . faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek).J. dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. kepribadian dan masyarakat (Hamilton.ed. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas. sedangkan menurut Parsons. yang berupa pertukaran. yang menentukan struktur.

(b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri. suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. sedangkan menurut Luhmann. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. . 2001). (c) self reference. dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. kompleks daripada ‘lingkungan’. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. Kedelapan. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. tetapi juga faktor internal (jiwa. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat. (c) sistem autopoietic’ adalah self referential.ed. yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. Jadi. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya. Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’. 1990).Ketujuh. ed. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. motivasi. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual. Menurut Luhmann. dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. P. Menurut Luhmann. menurut Luhmann. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’. dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. dan (d) tertutup’. Jadi. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar.

Menurut Luhmann. makna dikaitkan dengan kesadaran.sosial’ adalah komunikasi (communication) . Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. antara lain: (1) Luhmann. yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks. Jadi. (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. yaitu: (a) differensial segmentasi. dan (d) differensiasi sistem fungsional. melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. (c) differensiasi pusat-pinggiran. sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial). Dalam differensiasi sistem fungsional. Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. Kesembilan. Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003). yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann. dalam sistem psikis. keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem). (2) Luhmann. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). (b) differensiasi stratifikasi.

antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?.kelemahannya. Bachtiar. dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. E. karena masih ada sisi kelemahannya’. Menurut Demerath dan Peterson. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. 1997a. Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin. Nenurut Robert Nisbet. yang telah diuraikan di atas. dan Jeffrey C. (2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. R. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. 2004). ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. misalnya kebutuhan ekonomi. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. 2006). (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II. W. antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. (3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. Talcott Parsons. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog.. Brown. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. Merton. Kluckohn. dan C. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. Roebert K. dapat diambil beberapa kesimpulan. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. Alexander (Surbakti. lebih difokuskan pada lima permasalahan. C. Malinowski. Durkheim. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R. Merton 36 .

Brown.W and Cressey.dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Spengler. Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?. 1982. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin. D. Spengler. Coleman. Benedict. 2006). Sorokin dan Spengler. Florian Znanieeki. Toynbee. kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. R. adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. George Homans.R.F. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. Pitirim Sorokin. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. bahkan ada sebagian ahli mengatakan. 1984). Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’.. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme. Malinowski. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia. 37 . Dalam pandangan para ahli teori fungsional. Brown. dan Malinowski. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik. M. J. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. W. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. Pada pembahasan berikut ini. Florian Znanieeki. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. Benedict. 1. R. dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. Toynbee.

Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat.Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. Menurut Sorokin. sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. D. Kedua. dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). atau saling bergantung (terintegrasi). perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. tentang tipe-tipe mentalitas budaya. tetapi juga dari sudut akal budi. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. Bagi Sorokin. dan (b) Comte. sedangkan Sorokin. norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. tentang perubahan sosial-budaya. dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. 1986). yaitu kebenaran inderawi. Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait. tentang integrasi sosial-budaya. bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif. atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). atau saling memberi kontribusi fungsional. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang). tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek.P. Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). Ketiga. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang). Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia. kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar. 1978). suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. yaitu: (1) 38 . atau dengan kata lain.

yang terdiri dari dua tipe. yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. dibagi menjadi dua. Ada dua bentuk mobilitas sosial. yang disebut ‘supersistem budaya’. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri. (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). (e) hukum. Sedangkan penyebabnya. 1986). tidak bisa ditangkap oleh indera. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. Kelima. dan 39 . transenden. adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. antara lain: (a) bahasa. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. 1978). (d) etika. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. D. (b) filsafat. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. 1978. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. Tipe kebudayaan ideasional. dan (3) kebudayaan campuran. keahlian atau prestasi karyanya. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. yaitu mengurangi kebutuhan inderawi. dibedakan menjadi dua. yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik. yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. (g) ekonomi. (b) kebudyaan inderawi pasif. tentang unsur budaya. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). dan (c) kebudayaan inderawi sinis. yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. Mobilitas sosial ertikal. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. yaitu: (1) mobilitas vertikal. (f) politik. tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility). yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik). Keempat. Kebudayaan ini dibagi dua. Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). Johnson. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. (i) teknologi. yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. dan (b) kebudayaan ideasional aktif. Menurut Sorokin. (h) seni.tipe kebudayaan ideasional.P. (c) kepercayaan/ agama.

sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional). antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. 1997a). dan sesorang memasuki masa purna tugas. ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. Jadi. atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal. tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional). dan antar kelompok.adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan).. R. atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut). bisa berbentuk status sosial seseorang turun. (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. demikian juga sebaliknya. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans. Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik. Jika. (b) social sinking (perpindahan status turun). Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar. Kedua. setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem. Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya. bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. (2) mobilitas horisontal. Menurut Homans.

dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. Dalam proses pertukaran dalam kelompok.H. W. terjadi saling interaksi. 1982). Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. Keempat. maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. kedudukan dan inovasi-inovasi. artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. Kelima. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. Menurut Homans. persaingan. untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. 41 . Oleh karena itu G.lain melalui hubungan timbal balik. dan (3) aktivitas dan interaksi. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok. setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’. penyesuaian. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). ‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. J. manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. 2006). Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal. Jadi. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran.. keadilan. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks. pengaruh. (2) perasaan dan aktivitas. bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. Homans berpendapat. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya. Ketiga. norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. Jadi. pencarian penghargaan. atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. bagi Homans. artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem.

Talcott Parsons. Walter Buckley. 205). (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. Robert K Merton. yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. Brown. Amitai Etzioni. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi. Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. 2. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. misalnya: Levi Strauss. karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman.Meskipun analisis atau pandangan G. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. G. (b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak. antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial. sosiolog dan teoritikus Tunner. R. dan sebagainya. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. Emille Durkheim.H. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. J.

dan latensi (L). Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep.dan sempurna. goal attainment (G). Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. (2007). yaitu: adaptation (A). pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). Kajian berikut ini. Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. yaitu: a. dan Latensi (AGIL). tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). B. Menurut Herry Priyono (2002). maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. dalam Raho. Menurut Theodorson. (2) Tahap kedua. dan Tahap ketiga. 43 . Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). Goal attainment. integration (I). Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem. Integration. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951). antara lain: (1) Tahap pertama. USA tahun 1902. dan dengan kebutuhan lingkungannya. Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. Parsons lahir di Colorado. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. skema Adaptation. Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya.

atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh. Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. produksi. Sedangkan bidang kehidupan. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. dan lembaga keagamaan). diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. dan alokasi. yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik). adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem.1 pada halaman berikut.adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. memelihara dan memperbaiki. norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan. Integration (Integrasi). Goal attainment (Pencapaian tujuan). b. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. latency). goal attainment. d. Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional. hukum. adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. Sedangkan bidang kehidupan. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. Undang-Undang atau seperangkat aturan). Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2. Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. Latency (pemeliharaan pola). adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. c. sekolah. 44 .

Sistem Sosial . dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’. norma) Gambar 2.Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT .1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D.Sistem Kepribadian . Individu tidak merdeka dalam bertindak. Ritzer dan Goodman..Sistem Kultural .Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok. Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. Sistem kultural. 2008). Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu). dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat. perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral.Komunitas Kemasyarakatan (hukum.Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok. karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. c. dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION .. Bachtiar. teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos). 1989. proses sosialisasi. Ritzer dan Goodman. menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. Jadi. W. yaitu: proses internalisasi. sekolah. Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a. 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut. agama) INTEGRATION . kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . Kultur. b. Kultur. dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial. 2004).Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga. 1986.Organisme Perilaku . 1997a. R.

berinteraksi sosial. Sistem sosial. e. yaitu teori intraksionisme simbolik). (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. (d) kepuasan. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. 1978. ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. oleh karena itu harus dikendalikan. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. sosialisasi dan enkulturasi). f. Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. sistem 46 . (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan. Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). d. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. (c) optimalisasi. bukan dilihat dari sudut pikiran. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. Jadi. tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. ide. (b) interaksi. Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal. (c) lingkungan. keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). dan (e) kultur. sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya. Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang.

dan cenderung berlaku sampai tua. 1982. (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. Craib. Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. j. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. (2) sistem sosial. (3) dalam proses sosialisasi. (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. Parsons mengemukakan pendapat. g. Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. (3) sistem kepribadian. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat. sebagaimana diuraikan di atas. 1982. (4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. Dalam fungsionalisme struktural Parsons. 1990). 1984. (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur. (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. 2004). bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). bukan mikro. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. Craib. sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. i. dan (4) organisme perilaku. Hamilton. Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat). dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem. adalah. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. h. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 . Hamilton. yaitu: (1) sistem kultural. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. 1984.sosial memerlukan bahasa (Abraham. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. Aktor (individu) dan sistem sosial. (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. 1990).

dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. Hamilton. Konsep perubahan sosial. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. l. karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation).baik (hemat). Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). (2) proses diferensiasi 48 . persetujuan. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. Menurut Parsons. (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). 1990. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. lihat bagan di atas. Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’. dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons. 2004). dan sejenisnya. ‘Sistem kepribadian’. yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. Masyarakat. menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. m. Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat. Ritzer dan Goodman. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu. tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). 1984. dari hubungan sosial mereka. yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. (b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural.

artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. 1989. C.L. dan (3) ‘sistem nilai dasar’. menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. Lauer. 1988).menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. apabila ada konflik internal. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. R. 1970. Lauer. Parsons. 1982. menuju keseimbangan hidup. 1993) atau perubahan revolusi. telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . Jadi.P. dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. Hamilton. tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. Harper. L. S dan Ratih. 1993). dan (3) masyarakat modern. (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem. Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting). Craib. sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya). tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. (2) masyarakat lanjutan. Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma. Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). 1990). 1989. pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. 1984. yaitu: (1) masyarakat primitif. Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. sehingga meningkatkan survivalnya (Harper. n.

50 . dan nilai. 1982). Abrahamson dan Cohen. antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. (d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit. dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. kritik substantif (krtik utama). J. 1969. (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural.. atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. Jadi. lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak. (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi. yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman. B. dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat. Kedua. L.fenomena sosial. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur. sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama. tetapi tidak selalu benar secara empiris). and Rosenberg. spesifik yang lebih historis (Merton). masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. kritik logika dan metodologi. Turner. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata). padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. menurut Mills. norma.H. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur. antara lain Pertama. 2004). Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal).

2004).Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur. Pandangan teori fungsional struktural Robert K. Aliran neo evolusi perspektif Merton). Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. sehingga terbuka untuk berubah). tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern. dinamik dan kompleks. Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks. memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik. (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. antara lain: 51 . dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis). (d) penilaian Parsons. tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. dapat menimbulkan ethnosentrisme. Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton. dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons.K. dan kompleks. 3. antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya. sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman. dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. teori tingkat menengah (Middle range theory). Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons.

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem).kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural). bagi Alexander dan Colomy. Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). Bagi neofungsionalisme. yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam. Kelima. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. bisa bersifat makro dan mikro. neofungsionalisme. Keempat. konsep kultur. bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro). tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian.. Ketujuh. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro. Jadi. Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. Keenam. tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. neofungsionalisme. riset teori fungsional struktural. Neofungsionalisme. tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. kultural dan kepribadian. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. teori neofungsionalisme. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar. oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. Jadi.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. dan David Reisman. tetapi menurut Dahrendorf. interaksionisme simbolik. Dahrendorf. Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx.struktural. antara lain: 57 . Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. Vilfredo Pareto. dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. fenomenologi. Wright Mills. D. Reisman. 2005. Raho. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. Jadi. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. Lewis Coser. Torstein Veblen.. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. B. G. 1990. Coser dan D. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. 2004). Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. Jonathan Turner. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch. karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. dalam memahami fenomena sosial. Robert Park. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. 2007). Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx. 1. Ralf Dahrendorf. Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. pragmatisme. (Hamilton. Dahrendorf. Ritzer dan Goodman. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. C. (2) pokok-pokok teori konflik versi R..

kemampuannya. dalam masyarakat kapitalis. Bagi Marx. sikap-sikap. hukum. Jadi. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. kepentingan fisik (bendawi). untuk memecahkan alienasi. Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa.P. tindakan-tindakan. karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. pandangan hidup. G. Cambell. karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. motivasi. Jadi. hasil pekerjaannya. D. dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). M. karena mereka tunduk pada mesin. Keempat. pengetahuan. 1994). Kedua. (ed).Pertama. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan. ide-ide. sehingga proletar teralienasi (terasing). sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. dan hubungan kerja. keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 . Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. Ketiga. dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). karena mereka hanya mendapat upah minimal. 1986. Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. 1981. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar. Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur). sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. 1986). Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material. M. sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. Ritzer. 2001).

Menurut Marx. Keenam. asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Surbakti.2003). Jadi. dari proses hukum dialektika tersebut. akibat berikutnya adalah 59 . R. Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. Bagi Marx. pandangan Karl Marx. Salim. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan. materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia. Kelima.. Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. karena menguasai ekomoni atau alat produksi. tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis). c. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis). sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis. konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. b. Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. sosial. Jadi. Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar). masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti. Politik. Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. F. R. dan Relation of production (hubungan produksi). Jones. 1986. maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. budaya). Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik. satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. 1997a) Jadi. ideologi. d.M. Oleh karena itu. dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. the force of production (kekuatan produksi). ideologi. M. 1982. hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. 2002). hal ini dapat menentukan struktur kelas). Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus). Menurut Marx. PIP. 1997a. sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari.masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis).

Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. 2. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. terasing dari jiwa aman dalam bekerja. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). D. dan Relation of production. Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang). Jones. dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis). Setelah revolusi berhasil. g. dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. yang akhirnya muncul diktator proletariat. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. maka hak milik pribadi lenyap. budaya atau politik atau ideologi.2003).terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. h. timbul masyarakat tanpa kelas. PIP. W. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . terasing terhadap modal. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja. dalam memahami fenomena sosial budaya. setiap saat tunduk pada proses perubahan. e. Alienasi (keterangingan. sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara. the force of production. Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. antara lain: a. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. b. yang terus mengeksploitasinya). baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. f. Setiap masyarakat. karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis). Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas. 1978.

Jadi. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. Jadi. Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan. Oleh karena itu. demikian juga sebaliknya. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. Karena otoritas makro adalah absah. oleh karena itu menurut Dahrendorf. f. h. Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. c. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. g.bawah). Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. seperti peranperan otoritas. d. Craib. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. atau tunduk pada otoritas makro. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. 1982. Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik. 1984). Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. Menurut Dahrendorf. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. yaitu konflik dan konsensus. Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. e.

(3) kelompok konflik (conflict group). sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. Jadi. yaitu ada dua kelompok kepentingan. Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). bentuk organisasi. (2) kelompok kepentingan (interst group). i. Kelompok ini mempunyai struktur. j. Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. tujuan. Jadi. Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari).yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. Jadi. bahwa. ‘konsep kepentingan tersembunyi. yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat. yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. kepentingan nyata. berbeda dengan pandangan Marx. kelompok kepentingan. menurut Dahrendorf. kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 . dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. program dan anggota yang jelas). kelompok semu. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain). Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. konflik dan perubahan. Kelompok. k. situasi politik.

hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. Craib. pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. semakin keras konflik yang terjadi. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi). tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. PIP. 1981. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. Semakin distribusi pendapatan tidak merata. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). di masyarakat antara lain: 63 . Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. Semakin keras konflik yang ada. maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada.akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. d. Semakin meluas polarisasi. 1984. berkaitan dengan konflik. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. D. b. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). e. 1978. Menurut Turner (1982). c. Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial. W. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan. Jones. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis. Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama.2003). Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a. ‘hubungan konflik dengan perubahan’. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. Johnson. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah. Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka. l. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. f. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx.

3. akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. D. teknisi. Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. tidak hanya karena perjuangan kelas saja. (ed). Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. tetapi karena ‘keahlian. yaitu kelas menengah (para profesional. budaya. ideologi. d. ketrampilan profesionalnya’. antara kelas borjuis dan kelas proletar. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. kemampuan. Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. psikhologis. misalnya faktor: keyakinan. d. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks. c. ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. c. Kesenjangan hirarki sosial. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. b. padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya. dan sebagainya. Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. antara lain: a.a. karena atau 64 . Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya. 1970). Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan.

antara lain: Weingart (1969). buruh (saham masyarakat). yaitu manajer. Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi). yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). i. bukan untuk kelasnya (palsu). h. 2004). dan konflik sebagai sumber perubahan. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi). Ritzer dan Goodman. masyarakat. Perubahan sosial dan pergolakan sosial. Hazelring atau profesional 65 . yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. semi skill labour dan skill labour (Johnson. ‘adanya integrasi dan konflik’. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. karena adanya un-skill labour. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. g. karena sifat dasar masyarakat adalah. Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. Craib.ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort. e.. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. Disamping itu apa yang diramalkan Marx. bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti. 1981. hanya ada konflik. Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas). 1984. Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. Jadi.

Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. 2004). Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan. Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi. Ritzer dan Goodman. ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. 1981. tetapi secara gradual. 04. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . c. Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. sebagaimana dalam bagan berikut.( 1972). Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson. Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran. keyakinan. Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. yaitu: a. Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian.1. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. b. Bagan 2. dan Turner (1973). d. Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi. 1984. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. Menurut para ahli. motivasi. 02 03. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. Craib. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. Jadi.

W. (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat.. M. 1982). Horton and Hunt. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. 1973. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. b. (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. D. krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx. (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi. B. Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat. 4. fundamentalisme antar masyarakat atau banga. atau penjajahan politik dari luar. tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. 2000). Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. 1982. 1976. Konflik bisa ditekan dan dikontrol. 1978.. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers.. Surbakti. Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. Turner. dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). kekuasaan. R. namun juga bersifat tersembunyi (latent). 1997. melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling. Turner. (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. demokrasi. dan (3) konflik ideologi. seperti kapitalisme. J. c. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. (2) terjadinya invasi kultural. (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. komunisme. misalnya: kepentingan ekonomi. 1984). revolusi teknologi. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. Rossides.

massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. 2005). (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. Menurut H. sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’. Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis. yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). dan (e) David Reisman. tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik. sebagaimana pandangan oleh Karl Marx. Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. 2005). menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. Baik L. 1956. (d) Lewis Coser. (b) Marxisme Hegelian. D.. (b) Antonio Gramsci.P. 1986). dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). (f) Analisis Sosial Neo-Marxian. dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. (c) Teori Kritis.‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. 1993). 2004). Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. Lefebvre. dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. Coser maupun D. antara lain: (a) George Lukacs. yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. Mutahhari. struktur kelas di dalam sistem ekonomi. 1981. (c) Henri Lefebvre. tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). Kinloch. Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an). Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park. dan (d) Lewis Coser dan David Reisman. Sztompka. 2001. 1969). (e) Marxisme Berorientasi Historis. P. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial.

Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. e. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat. Ada yang berbentuk mobilitas sosial. Menurut teoritikus neokonflik. lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. 2005) Dalam posisi kajian ini.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat. Jadi. tingkat berpartisipasi kelompok. Coser. Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a. c. konflik institusional. b. evolusioner dan struktural (Kinloch. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. meski porsinya beragam antar kelompok. semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. dan panjangnya konflik. organik. M. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. semakin erat sistem stratifikasi. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. makroskopik. yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. fleksibelitas dan integritas sosial. Cambell. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. Jadi. 1979. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. M. d. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma. Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. 1994). konflik dan konsensus (fungsional struktural). eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). dan toleransi. baik teori fungsional maupun 69 . semakin lebih dekat merajut kelompok.

(c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). M. Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. semula statis menjadi dinamik. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg. antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. Ritzer dan Goodman. atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. dan dia mengatakan. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. J. maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). g. Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. Jadi.H. 2005). 5. Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. 1969. Cambell. 1979. 1975). konflik dan konsensus (fungsional). meski porsinya beragam antar kelompok. Jadi.teori konflik. f. sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. M. 1982. Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup. semula pasif menjadi aktif. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. 2004). h. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). 70 . Kinloch. adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. (b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi. tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner. yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx. Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a. dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx). 1981).

Teori stratifikasi konflik Collins. Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber. bidang: ekonomi. Menurut Collins. Marx dan Dahrendorf memandang. Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). Meskipun demikian pandangan R. 71 . e. Tentang stratifikasi sosial. sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro). teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf). sosial dan sebagainya. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. gaya hidup. Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). keluarga. Jadi. d. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat. karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. politik. b.bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. f. c. antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. g. Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri.

makin terasing dari tujuan organisasi. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. dan konflik bersifat integratif. 2004). dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. makin fatalistis. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. peralatan). mode komunikasi. antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah. yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. dia akan makin bangga. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya.h. dan (3) makin sering orang menerima perintah. (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . makin menyesuaikan diri secara eksternal. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. sumber daya dan kekuasaan. yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). k. (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). dan bila memungkinkan secara komparatif. makin mencurigai orang lain. (2) makin sering orang memberikan perintah. (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris. (3) bahwa dalam situasi ketimpangan. Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif). Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. makin ia patuh . j. i. senjata. makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. tetapi juga harus menelitinya secara empiris. Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. lingkungan fisik. makin percaya diri.

hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat. Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil. profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang.2. Jadi. Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. (3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik. dan relatif terintegrasi.pihak yang yang dipaksa. 6. karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian. terutama pada masyarakat yang kompleks. untuk menentukan status dan peran. bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman.perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 . Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. disebabkan beragam keahlian. keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang.

nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok. Konsensus nilai. Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi. Menurut Burrell dan Morgan (1994). (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 .. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme. teori sistem. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli. G. 1992). 1980). dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi. 1996. Craib. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan.bersifat evolusi. Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt. 7. pandangan paradigma fungsional. hanyalan & alat kaum penindas (elite). sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal.

G. T. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. dan (4) apabila 75 . Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. 1980). and Morgan. dan V. and Morgan. atau naturalisme. (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. M. konsensus. Comte. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. pandangan paradigma struktural radikal. teori fungsional struktural dan neofungsional. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. kontradiksi dan perampasan. G.kehidupan sosial dari dimensi status quo. Ditinjau dari segi orientasi filosofis. maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. G. (ed). (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). Pareto. 1994. G. Durkheim. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. atau konstruktivisme. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). Kedua. M. integrasi sosial. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. E. 1994). melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. Ritzer. atau saintisme (Poloma. equilibrium. B. teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. E. Parsons. model dominasi. order sosial. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. 1979. G and Smart. Spencer. solidaritas kelompok. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. teori radikal organism. G. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. Ritzer. 2001). (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. H. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. stabilitas sosial.

and Society’ adalah karya terpenting H. tentang Tindakan.O. yaitu: (1) tahap impuls. Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang. maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. Mulyana. adalah rasa lapar dan haus.. Contoh impuls. 1996. 1978.. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt. Soeprapto. 76 . ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik. 2002). Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. antara lain Pertama. Herbert Mead. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. L. Dalam menganalisis tindakan. Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. D. Mulyana. Thomas. 2002). (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. 2002). dan Erving Goffman. Herbert Blumer. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. Perspektif teori interaksionis simbolik H. Mead. Self. 1984. William I. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. dan buku berjudul ‘Mind.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis. Jadi. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. Mead. John Dewey. Menurut Mead. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel.individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor).

dinamik. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. Menurut H. manusia adalah makhluk aktif. W. D. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. mengecek dirinya sendiri. Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. H. melihat. 1997b) . yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi. Jadi. 1978. Jadi. dengan membuat indikasinya sendiri. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. Kedua. menggambarkan arah tingkah lakunya. R. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. T. Jadi. 2002). R. Ada dua macam isyarat. Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. F. Menurut Herbert Mead. isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. Soeprapto. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. Dalam bertindak.. manusia merupakan pencipta. meraba. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya. Abraham. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. Mead. yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya.. (2) tahap persepsi.karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. tentang Isyarat. melihat pengalaman yang lalu. bagi Herbert Mead. memperkirakan situasinya. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial. mengecap. menilainya. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls. mencium. dan (3) tahap pelaksanaan. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan.M. dan (b) isyarat ‘signifikan’. 1982. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. 1981. 1982). J. dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell. pelaku. Surbakti. Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan.

manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. Ketiga. yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. dan Masyarakat’. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other). dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. yang dapat berakibat buruk bagi individu. dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. Jadi. Berawal dari asumsi ini. Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri. Bagi Mead. H. 1982).tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. Diri Sendiri. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). bagi Mead dan pengikutnya. tentang pikiran. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. individu bersifat aktif. Keempat. konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). Oleh karena itu. Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. tentang ’diri’ (self). dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. Bagi Mead. J. rasa sosial diri sendiri. tindakan individu mengambil konsistensi. dan kedua. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner. rasa sosial dan diri sendiri. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota. Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. Konsep ‘diri’ menurut H. Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. Pertama. kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup.

M. ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu. dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. 1997b. Kelima. 2002).. Menurut H. masyarakat. (3) tingkat ketiga. bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan.. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku. antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri.pikirannya. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok. (1) tingkat awal. F. kapasitas diri individu . pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi). pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat. dikukuhkan.. 1982). seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran. Mead. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. R. awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. Menurut H. R. (2) tingkat kedua. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). Turner.Mead. Bagi Mead. 79 . Soeprapto. atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam. Menurut H. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain. 1982. tentang masyarakat. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. H. ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting. Pada tingkat ini. J. dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik). Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik. Dalam permainan. Mead. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti.

Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung. tentang metodologi. Turner. J. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. (2005). (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. Menurut Kinloch. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi.M. (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. institusi. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain). yaitu metode interpretif dan introspeksi. organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik. G. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil. (3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif.Keenam. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. F. kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. 1982. dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat. sosial. (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. dan abstrak. yang objeknya terdiri atas dunia mereka. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . atau terus berubah-ubah. Metodologi H. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka. dan (4) bersifat dinamik. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. Jadi. teori H. asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. 1982). antara lain: (1) bagi masyarakat. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal. baik secara individu maupun kelompok. Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber.

Tujuannya. Peralatannya dan sebagainya. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. Individu merespons lingkungan. Soeprapto. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. 2002). Poloma. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner.Mead dan H. dan pandangan individu itu sendiri’. (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya. Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. interpretasi (penafsiran). J. D. dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. W. oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. Jiwa. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana. Orientasi hidupnya. Kesamaan H. Mead dan H. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya. baik versi Mead maupun Blumer. 2002). Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. 1982. apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. (b) ketika individu menghadapi situasi. Simbol-simbol yang digunakan. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. Jadi. Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. 2. dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. 1979). responnya bukan bersifat mekanis. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural).Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. 1978. baik versi Mead maupun Blumer. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Aturan-aturan. melainkan ditentukan oleh ‘Diri. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’. antara lain: 1.

melainkan ditentukan oleh faktor internal. artinya dengan menyebut kata mobil. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. 4.. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. yaitu: pikirannya. sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.J. yaitu.. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. 1982). Jadi. S. D. kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol. Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek. baru/ bekas. warna mobil. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. 1997b. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner. dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’.. 1997). 2001). bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial. 1982.. 5. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. Jadi. Contoh. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat. Poloma. pikiran adalah bagian dari struktur). Dengan demikan 82 .kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides. pengetahuannya. pandangan hidupnya. 3. karena itu makna tidak melekat pada objek.J. Ritzer. baik versi Mead maupun Blumer. W. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind). dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu. hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial. Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. 2000). Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. Ramlan. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil. motivasinya. menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. Baik versinya Mead dan Blumer. 1978. kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’.. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal. R.

memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. 2001. 1982. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. 2. terdeterminasi oleh faktor eksternal. (c) Realitas sosial. terdeterminasi oleh struktur 83 . sikap dan perspektif. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. ekonomi. Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. Dari penjelasan tersebut di atas. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah. adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. 2002). pasif. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Kebenaran ide. adalah dinamis dan berevolusi. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). 1985). faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. struktur sosial-budaya. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. kreatif. 2001. 2005). Jadi.masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. berupa lingkungan. yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens.J. adalah meliputi ‘pikiran. tetapi individu adalah sosok dinamis. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. Soekanto. (ed). (d) Interaksi sosial. (b) Masyarakat. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. konsensus terhadap nilai dan norma. Kinloch. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri. Ritzer. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. G and Smart. sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap.. Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. 6. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. B.

G and Smart. Bagi Husserl. misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama. 1978. F. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’. yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. 2001). objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan. dunia sekitar manusia itu ‘berada’. 84 . Kedua. Untuk mengetahui sesuatu. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. W. Ritzer. Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). Ketiga. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. (ed). manusia harus otonom. (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. Husserl menolak sikap ‘scientisme’. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. D. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. B. Jadi.norma sosial budaya. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. tetapi dari kenyataan itu sendiri. metode Husserl disebut metode fenomenologi. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). menurut Husserl.

1978. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. 2006) Kelima. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. Bachtiar. yaitu: (1) reduksi fenomenologis. Kesadaran dalam fenomenologi transendental. pandangan kedua untuk menemukan 85 . Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. dan (3) reduksi fenomenologi transendental. (2) reduksi eidetis (inti sari). pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan. aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). semua segi.. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga. artinya. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). Akan tetapi. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi.Keempat. maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. W. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’. Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju.

tujuan. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). motivasi. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. Jadi. yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. R. 2. J. dan politik (Praja. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. 2002).. R. Mulyana. 1984. sosial budaya. antara lain: Pertama.. bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. ideologi. dan Harold Garfinkel. Alfred Schutz. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). 2005). Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. 2002). yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. Soeprapto. Oleh karena itu.S. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. dan keyakinannya). antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. (3) bersifat nominalis. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. teori fenomenologi. 1979b. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. nilai. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. asumsi. teori ethnometodologi.hakikat objek’. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). Disamping itu. dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme.

artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. G and Smart. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’. Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer. individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. (ed). bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. Jadi. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek. T.Edmund Husserl. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’. Jadi. Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya. Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’. Ketiga. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Schutz. 1981). Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. B. yang ia sebut ‘arus kesadaran’.. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. Kedua. lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. 2001). untuk bisa memecahkan masalah 87 .

Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari. dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar. 1981. W. yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. rumah. pohon dan sebagainya). dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. mobil. D. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. masyarakat merupakan produk kultural para individu. binatang. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . Ritzer. Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. Cambell. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. G and Smart. T. 2001). 1978. (ed).dan meraih tujuan. Jadi. hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’. Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya. W. Keempat. tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’.. Jadi. (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. 2006). antara lain: Pertama. Jadi. konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). B. Jadi. Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification).

Pada pokoknya. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. B. jiwa. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal.. 2006). yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial. Menurut para ahli. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . Keempat. kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen. 1996). kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. Jadi. Kedua. yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi.etnometodologi’. 2001. bagaimana pandangan. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum. terencana dan rasional. yaitu: Pertama. B. motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. dan Kedua. pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. G. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. Ketiga. (ed). Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. Bachtiar. W. (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri. G and Smart. Menurut Garfinkel.

bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme. Post-modernisme. atau berbeda dengan sosiolog. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. Sosialisme. contoh. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial. eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi. antara lain: 1. politikus. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. Post-modernisme. filosof. Post-modernisme. 6. 3. tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. membumbungnya kesenangan material individu. Post-modernisme. Marxisme dan sebagainya. karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. Hal ini 90 . Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. bebasnya daya naluri setiap individu.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. Kapitalisme. penolakan filsafat metafisis. penampilan dengan kenyataan. dan sebagainya. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. Liberalisme. 5. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. 4. 2. Post-modernisme. upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. ekonom. bermakna peleburan segala batas. Post-modernisme. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi.

dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. globalisasi. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia.. antara lain: Heidegger. antara lain: Pertama. Bagi Jomeson. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. keuniversalan (Sugiharto. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard. atau diskusi ilmiah. 1996). deregulasi pasar.. Gadamer. kebakuan. dapat dikelompokkan menjadi dua. kajian. atau gambaran dunia (world view). Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham. dan Jomeson. usangnya negara-bangsa. 1996). pandangan. menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). B. Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. dan Baudrillard. pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner). konsumerisme yang berlebihan. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern. Mary Hesse. Rorty. B. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984). artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. oleh karena itu 91 . atau kritik-kritik filosofis. parexcellence. Lyotard. Recoeur. Foucault. gaya hidup cenderung hedonis. yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. Jomeson termasuk teoritikus Marxian. antara lain: Derrida. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’. Oleh karena itu Jomeson. teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas.

(2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern.dia menilai tentang kapitalisme. Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa). Pemikiran postmodern bersifat pastiche. menurut Jomeson. Jadi. G and Goodman. 2003). karena sulit dibedakan yang asli dan palsu. masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern). bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. tahap kedua. (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). Kehidupan post-modern. tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’. antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme. yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . 2003). Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. Jameson menilai. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’. Jadi. Kedua. Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi. D.J. G. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. yaitu teknologi reproduksi dominan. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). Ketiga. bagi Jomeson.

simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. Ketiga. tetapi lebih didominasi oleh ‘media.radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. Kedua. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’. Tabloid. Massa yang pasif. dan hiperrealitas. Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. 2003). simulasi. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. yang menjadi utama dan yang berkuasa. sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya. ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. G. sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). Keempat. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. dan ketidakbermaknaan kehidupan’. Internet. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa. kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. Kehidupan manusia menjadi budak simulasi. Jadi. yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. ketidakacuhan. Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. Dia menolak 93 . Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. pemrosesan oleh teknologi informasi. bagi Boudrillard. Surat Kabar). dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. Menurut Kellner. Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar.

ekonomi. 2003. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi. G. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama.J.. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. teknologi. melainkan subjektivis. artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi. yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. khususnya dengan riset-riset empirik. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. dan paradigma objektivis. teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. Ritzer. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. G and Goodman. dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. kebenaran empirik (objektivis). hiperrealitas. D. ilmiah (saintis). Kedua. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. nilai-norma budaya. agama. 1996). 2003). sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 . karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. ideologi. maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain. hukum. antara lain: Pertama. Ketiga. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir). pendidikan. B. dan sebagainya (Sugiharto. bahasa. Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme.

2003). antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Keempat. Kelima. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. dan Kedelapan. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial. Keenam. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. dalam analisisnya. sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. D.J. ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek).itu benar atau tidak. sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. G and Goodman. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . Ketujuh. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya. karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern.

antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. G. antara lain: Pertama. 2003). yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’. sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. (3) teori etnometodologi 96 . hanya menyinggung tentang tiga hal. H. Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. Salim. Blumer. embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. Mead dan H. Kedua. Kedua. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. dan sikap yang alamiah (natural attitude). memandang struktur sosial atau faktor eksternal. Sedangkan analisis teori makro. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. analisis teori mikro dan. beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966). (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959).pandangan). beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . yaitu: Pertama. A. dan Ketiga. Boorman (1976). Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). dan kurang menyinggung pada peran individu’. analisis teori makro. perubahan dan tindakan. (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. lebih menekankan pada jaringan sosial. Analisis teori mikro. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. 1991. (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. 2002). yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. (d) memperhatikan pertumbuhan.

E. 2. J..oleh Garfinkel (1967). 1995). yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. c. dari abad 19 sampai abad 20. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. 1987). 97 . tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. kreatif dan voluntaristis. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. Jadi. 2002).J. A. Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama.V. yang mamusatkan perhatian pada organisasi. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. b. Marx. 1994. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. Emille Durkheim. bahkan mungkin sampai sekarang. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. Giddens. Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif. dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans.W. secara implisit. Masing-masing perspektif. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. Baal. baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat. Karl Marx. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a. Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya. Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim. 1974. dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif. dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners. Di kalangan teoritisi sosial. dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell.

R. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. pandangan individu. Talcott Parsons. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. L. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat. Jadi. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. Kepribadian. bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. 1970). Sistem tindakan kultural Parsons adalah. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 . Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. 1988. 2002). bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial). Sosial. Mutahhari. (ed). yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. Menurut Mizman. hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. 4. 1986. Surbakti.kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel. 3. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. M. konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur). Weber. dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong. namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. S dan Ratih. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh. D. Max Weber. Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. 1956. Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. namun oleh para ahli. 1997a). konsep ‘kharisma’ yang melembaga. Ada beberapa pandangan para ahli.. Ritzer. Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’.

berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. dalam Sociological Review. dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. dalam Sociological Theory (1969). dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. H. mirip bahkan sama atau serupa. Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. c. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. Menurut Ritzer. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . b. Giddens. sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. fenomenologi. Ada yang memandang. Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis. Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. Eisenstadt and Helle. 2003). Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. Menurut Ritzer dan Goodman (2003). Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’.a. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’.J. 1987).struktur’ adalah. d. masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. 24: 731-752 (1976).

Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine. Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir. d. atau kepada kedua-duanya. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. Konsep makro. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. c. jadi agen diartikan sama dengan mikro). Agen menurut Burns. dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. Jadi baik agen maupun struktur. tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners). Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. b. Konsep struktur. (3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska. Sedangkan Touraine. agen organisasi. Konsep agen (agency). Dan makro bisa. Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. mengacu pada ‘struktur’. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. atau mungkin juga tidak. model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama. Jadi. mikro mungkin bisa. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. Ritzer. (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. Pada pembahasan berikut ini. mengacu pada ‘agen’. sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. kelas sosial sebagai aktor. Konsep mikro. definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 . atau mungkin juga tidak. memandang. antara lain: a. menurut para ahli. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual. sering mengacu pada struktur sosial berskala luas. agen bangsa). lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’.makro dan agen.

Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 .sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. (4) dalam realitas sosial. menurut Ritzer. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). yang terpisah dari dua hal yang berbeda. dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro). bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. (3) mengusulkan pandangan. Kedua. Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro). Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan.

Kontinum mikroskopik-makroskopik. maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. misalnya: pola tindakan individu. Norma. keyakinan. tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas. ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. adat (Skala Luas). Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. meliputi realitas material berskala luas (besar). misalnya: nilai. tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. adat (budaya ide atau sistem budaya). 2) Tingkat makro subjektif.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. norma.2) Ketiga. pola interaksi sosial. menurut Ritzer. misalnya. Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer. Kebiasaan. meliputi fenomena non material berskala luas. meliputi proses mental berskala kecil. 102 . Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. dan teknologi. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif. 3) Tingkat mikro objektif. Hukum. birokrasi. Contoh. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. dan (2) kontinum objektif-subjektif. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil.I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat. pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. Birokrasi. 4) Tingkat mikro subjektif. misalnya: masyarakat. berpendapat atau bersikap atau berpandangan.

3. Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor. seperti: kelompok luas (contoh. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. aparatur negara. gagasan. norma. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). tindakan sosial. truktur Birokrasi Pandangan. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. pikiran individu dan tindakan individu’. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. ‘aktor individu. struktur birokrasi. Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. motivasi. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . yang mempunyai wujud nyata. wujud materi. dan sebagainya. teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. Sedangkan diantara ujung mikro ke makro. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. misalnya: Ide. Nilai. Di ujung makro dari kontinum adalah. Norma. Sedangkan ujung kontinum Subjektif. Undangundang.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. persepsi individu). birokrasi. misalnya: aktor. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. norma. pandangan. Tentang garis kontinum mikro-makro. Di ujung mikro dari kontinum adalah. pandangan. Interaksi. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). & Budya Siste m Dunia Gambar 2. interaksi sosial. nilai yang diyakini. UU atau hukum. ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. persepsi. Tindakan.

dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. (3) fenomena mikroobjektif. Jadi. Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. Tabel : 2. dan (4) fakta mikro-subjektif. 2002) 104 . Teori Konflik. Sebelum menjawab permasalahan ini. Kemudian. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). hal yang penting perlu diperhatikan adalah. Ritzer. Mikro Subjektif d. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif.4. Makro Subjektif b.Gambar 2.3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No. yaitu Paradigma: Fakta sosial. Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. Teori Sistem. Teori interaksionis simbolik. c. Definisi Sosial. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. yaitu: (1) makroobjektif. (2) realitas makro-subjektif. Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a. seperti pola interaksi. 1. Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural. seperti nilai. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). dan Perilaku sosial?. seperti birokrasi. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif). Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2.

contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. Menurut Ritzer.Keempat. merasakan. contohnya nilai-nilai. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. contohnya birokrasi. kuesioner. 2. metode atau teknik. norma dan kultur. kini dan akan datang). Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). Jadi. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. dokumentasi. contohnya proses berpikir. norma hukum. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. (c) tingkat mikro-objektif. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . 3. misalnya: metode wawancara. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. dan (d) tingkat mikro-subjektif. Perlu dipahami. dan sebagainya. Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. yaitu: yang perlu dipahami. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. (b) tingkat makro-subjektif. Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’. bahasa. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. eksperimen. 4. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik. konflik dan pertukaran. berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. observasi.

selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. 1978. Giddens. 106 . Giddens. Menurut Bryan Tunner. G. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’. B. Ritzer. Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’. mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur. Namun perlu diingat. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2. bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya. 2000).. dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner.sosial-budaya. Jary. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). kultur dan agen oleh Margareth Archer. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. Ritzer dan Goodman. 2003). 5. Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta. oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A. Simmel. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. (Rossides. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi. Weber. menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. 2002. Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. Contoh: Marx.2). Cohen dan Craib. menurut teori strukturasi. dan (e) berpikir dialektik.

2002). baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan. c. tetapi secara terus menerus. Jadi. 1998.melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx. dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens. tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). Dalam teori strukturasi. 107 . S. Jadi. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction). praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. dan kesadaran diciptakan. Dualitas struktur mengandaikan. struktur. berkat adanya dualitas struktur’ b. untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur). Menurut Berstein. teori konflik). Priyono. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. 1984). prosessual dan dinamis’. Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial.. agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain. (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. Teori Strukturasi. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. Dalam teori ‘strukturasi’. dinamik). Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’.

baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. yaitu: (1) konsep agen. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. Menurut Giddens. menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). dan (b) peneliti sosial-budaya. (c) dalam upaya mencari rasa aman. dan (5) konsep strukturasi (Giddens. refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan. yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. agen atau aktor sosial melakukan refleksi. Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. (3) konsep waktu-ruang (time-space). tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. 1984). ‘rasionalisasi. konsep atau pemikiran tentang ‘agen’. Jadi. Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. artinya. Jadi. Dalam teori strukturasi Giddens. menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’. (4) konsep rutinisasi (routinization). Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). sedangkan motivasi sebagai potensinya’. (2) konsep struktur dan sistem sosial. (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 .Dalam teori strukturasi. d. yaitu: (a) aktor sosial.

memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’. adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. Jadi. tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. Kedua. struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi. Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. Kesadaran praktis. Agensi (keagenan atau peranan individu). Menurut Giddens. struktur adalah ‘apa 109 . bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan. Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. Jadi. Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. 1998). Bagi Giddens. bahkan Giddens mengatakan. yang relatif jelas perbedaannya. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan. membimbing mahasiswa. melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan. Menurut Giddens. menanam padi. meneliti dan sebagainya. Jadi. Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. Menurut Giddens. peran petani adalah membajak. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. kekuasaan subjektivitas. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. kesadaran diskursif. Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. memanen padi dan sebagainya. misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. 2003).diurai (tidak perlu argumentatif). Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia.

yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. Struktur. ada faktor agen yang juga ikut menentukan’. bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). 1998). Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. 1984). Pengertian sistem sosial menurut Giddens. (Giddens. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 . antara lain: (a) ruang dan waktu. 1984). penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. Struktur. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization). Jadi. tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial. tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. Ketiga. Jadi. untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. Kemudian konsep sistem sosial. menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. Sedangkan konsep struktural. yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi).

misalnya berangkat dari rumah. Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik. berada di jalan.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. Menurut Bryand and Jary. Giddens membedakan tiga dimensi waktu. Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah. 111 . (2) jangka hidup individual (irreversible time). atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. dan terbentuk oleh. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. berada di jalan. lembaga-lembaga. (3) longue duree. ruang tidur dan sebagainya. ruang makan. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. pengalaman hari demi hari (reversible time). Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’. kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif. 2003). karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. misalnya. kemudian pulang dari kantor. ada ruang kerja. Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. Jadi. sampai di rumah kembali. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). sampai keadaan di kantor. prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. misalnya lahir-hidup-mati. yaitu: (1) duree. 1984). ruang tamu.

Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. 1984. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah. dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. konsep strukturasi. (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Jadi. 2002). Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens. Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. Kelima. ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu.Keempat. Priyono. ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization). Regulation (keterulangan terus menerus). Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . (c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari.

Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. dan konsep strukturasi (Faisal. konsep waktu-ruang. Jadi. Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf). melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. (Giddens. antara lain: Pertama. setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur. bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). Jadi. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. 2002). yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. prosessual dan dinamis’. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). (2000). 113 . menurut teori strukturasi. tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. Giddens. yaitu: konsep agen. Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur. 1995). konsep struktur dan sistem sosial. Keenam. seimbang dan saling mengisi. 1995. konsep rutinisasi. juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). 2002). dalam pandangan teori strukturasi Giddens. B. menurut Turner. Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. Ritzer.strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. Anthony Giddens. 1998. Priyono.

Keempat. 2007). 1988). tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya. (2002). kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif). yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. (b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. 114 . Digunakan secara bergantian. karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak. setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif). 2002) Ketiga. masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan.Kedua. sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut.. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. J. (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. S. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. menurut Bryman dalam Brannen. sehingga ditemukan hipotesis. karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed). misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya. Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. Kelima. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti.

bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan. Ketujuh. Kedua. tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 . kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme. pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. 2008). antara lain: Pertama. jadi konflik menyatu dalam kehidupan. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. Ketiga. hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi. yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif. Creswell. 2005). sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). I. ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. dalam pandangan teori sistem. Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem).Keenam. dalam pandangan teori konflik versi Marx. Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. 2000. Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya. pandangan.

Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. tetapi banyak faktor lain.. dan keyakinannya). dan menawarkan ‘narasi mikro’. tujuan. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. dan teori post-modern yang bersifat radikal. Kelima. keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. Keenam. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. nilai. Keempat. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik).materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik. fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’. (3) bersifat nominalis. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. asumsi. motivasi.

analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research).sosial-bidaya. 117 . Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research). Jadi. akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis.