BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan. selalu hadir. 2003). kultur. negoisasi. baik yang bersifat alamiah.ed. . faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas. sedangkan menurut Parsons. antara lain: (1) menurut Buckley. D. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal.. Jadi. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. G and Goodman. yang berupa pertukaran. artinya. dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. bagi Buckley. sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. G and Goodman. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem. yang menentukan struktur. 2003). ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons.J. atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif. 33 . memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. integrasi. dan (2) Buckley. dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek). Ritzer. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). F. faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial. sedangkan bagi Parsons. P. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis. Keenam.M. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. pencapaian tujuan. Jadi. Sedangkan menurut Parsons. D. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal.J. setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi. 1990). Kelima. (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. 1982. kepribadian dan masyarakat (Hamilton.

artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. dan (d) tertutup’. faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. motivasi. 2001).ed. mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat. misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. (c) self reference. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’. dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual. dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. (c) sistem autopoietic’ adalah self referential. Jadi. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. tetapi juga faktor internal (jiwa. kompleks daripada ‘lingkungan’. menurut Luhmann. Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). . 1990). Menurut Luhmann. Kedelapan. dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. sedangkan menurut Luhmann. ed. (b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri. bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . Menurut Luhmann. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar. Jadi. P.Ketujuh.

Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . (c) differensiasi pusat-pinggiran. keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. Jadi. Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. yaitu: (a) differensial segmentasi. Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. Menurut Luhmann. melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya.sosial’ adalah komunikasi (communication) . kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann. dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. makna dikaitkan dengan kesadaran. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). Dalam differensiasi sistem fungsional. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. (b) differensiasi stratifikasi. dan (d) differensiasi sistem fungsional. Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem). dalam sistem psikis. yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. antara lain: (1) Luhmann. hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. Kesembilan. (2) Luhmann. tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial). yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003).

(3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. Brown. antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?. dan C. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II.. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. 2006). Roebert K. 1997a. namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. C. yang telah diuraikan di atas. Merton 36 . karena masih ada sisi kelemahannya’. Bachtiar. Nenurut Robert Nisbet. Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. lebih difokuskan pada lima permasalahan. dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. dapat diambil beberapa kesimpulan. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. Malinowski. Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin. dan Jeffrey C. Alexander (Surbakti. W. Durkheim. antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R. 2004). (2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. Talcott Parsons. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Menurut Demerath dan Peterson. E. R. misalnya kebutuhan ekonomi.kelemahannya. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog. Merton. Kluckohn.

adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. Malinowski. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. Brown. R. Coleman. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia.R. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. D. R. bahkan ada sebagian ahli mengatakan. Spengler. dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C. J. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?. 2006). Florian Znanieeki. Toynbee.dalam memahami fenomena sosial-budaya?. M. Sorokin dan Spengler. Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional.W and Cressey.. Pitirim Sorokin. 1. Dalam pandangan para ahli teori fungsional. Benedict. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. 1982. W. kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. Brown. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. Florian Znanieeki.F. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur. Spengler. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme. dan Malinowski. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. Benedict. 37 . atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. 1984). Toynbee. Pada pembahasan berikut ini. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin. George Homans.

Ketiga. tentang tipe-tipe mentalitas budaya. tetapi juga dari sudut akal budi. menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. 1978). sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. tentang perubahan sosial-budaya. tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek. Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat. perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait. 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). yaitu kebenaran inderawi. suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. sedangkan Sorokin. tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang). Bagi Sorokin. bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. atau saling bergantung (terintegrasi). tentang integrasi sosial-budaya. dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. atau dengan kata lain. 1986). D. atau saling memberi kontribusi fungsional.Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. dan (b) Comte. antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif. Kedua. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang). Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar. yaitu: (1) 38 . dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). Menurut Sorokin.P.

yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. 1978). Menurut Sorokin. (c) kepercayaan/ agama. dibedakan menjadi dua. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). dan (b) kebudayaan ideasional aktif. yang terdiri dari dua tipe. yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik).P. yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). (b) kebudyaan inderawi pasif. Johnson. dan (3) kebudayaan campuran. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. Mobilitas sosial ertikal. dibagi menjadi dua. yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. (h) seni. dan (c) kebudayaan inderawi sinis. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. Kelima.tipe kebudayaan ideasional. antara lain: (a) bahasa. tentang unsur budaya. 1978. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. yaitu: (1) mobilitas vertikal. Sedangkan penyebabnya. yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility). transenden. (i) teknologi. Tipe kebudayaan ideasional. yaitu mengurangi kebutuhan inderawi. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. (g) ekonomi. dan 39 . adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. yang disebut ‘supersistem budaya’. keahlian atau prestasi karyanya. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. Keempat. Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. tidak bisa ditangkap oleh indera. (f) politik. 1986). yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri. yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. (d) etika. (e) hukum. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). D. Ada dua bentuk mobilitas sosial. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. Kebudayaan ini dibagi dua. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. (b) filsafat.

dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional). (2) mobilitas horisontal. Jadi. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans. bisa berbentuk status sosial seseorang turun. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. Menurut Homans. ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. dan antar kelompok. R.adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan). dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. Jika. Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut). Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). demikian juga sebaliknya.. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar. (b) social sinking (perpindahan status turun). Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional). (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal. setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem. Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal. 1997a). sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. dan sesorang memasuki masa purna tugas. Kedua. Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya. padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik.

norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem. penyesuaian. Ketiga.. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya. Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan. maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks. keadilan. dan (3) aktivitas dan interaksi. pencarian penghargaan. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. 41 . Jadi. artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. (2) perasaan dan aktivitas. bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. Dalam proses pertukaran dalam kelompok. W. Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. persaingan. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. bagi Homans. karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas. 2006). setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. Oleh karena itu G. Jadi. Kelima. Homans berpendapat. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok.lain melalui hubungan timbal balik. ‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. Keempat. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). pengaruh. J. terjadi saling interaksi. kedudukan dan inovasi-inovasi. atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’. Menurut Homans. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal. 1982).H.

J. (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. Amitai Etzioni. sosiolog dan teoritikus Tunner. memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak.H. Emille Durkheim. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . G. Walter Buckley. antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial. (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. dan sebagainya. Brown. 2. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. 205). (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. (b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman.Meskipun analisis atau pandangan G. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. Talcott Parsons. Robert K Merton. R. karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. misalnya: Levi Strauss. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi.

pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. (2007). goal attainment (G). tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. skema Adaptation. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. Integration. Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951). Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. yaitu: a. Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). dan dengan kebutuhan lingkungannya. Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem.dan sempurna. Kajian berikut ini. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep. Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis. tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). dan Latensi (AGIL). Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. integration (I). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Parsons lahir di Colorado. antara lain: (1) Tahap pertama. 43 . dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. (2) Tahap kedua. Goal attainment. yaitu: adaptation (A). dan Tahap ketiga. Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. USA tahun 1902. dalam Raho. B. dan latensi (L). Menurut Theodorson. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). Menurut Herry Priyono (2002).

Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik).adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. dan lembaga keagamaan). Sedangkan bidang kehidupan. Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. sekolah. memelihara dan memperbaiki. goal attainment. Undang-Undang atau seperangkat aturan). dan alokasi. diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. 44 . b. yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. Latency (pemeliharaan pola). norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. Goal attainment (Pencapaian tujuan). Sedangkan bidang kehidupan. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh. c. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya. seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2. hukum. d. latency). adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem. produksi. Integration (Integrasi). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi.1 pada halaman berikut. adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat.

Ritzer dan Goodman. menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial. Sistem kultural.Organisme Perilaku . 1986. Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION . c. 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut.Sistem Kultural . teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor. agama) INTEGRATION . Jadi. dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’.Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga. Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu).Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . sekolah.. R. yaitu: proses internalisasi. 2004). 1997a. karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos).Sistem Sosial . kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya. norma) Gambar 2. Kultur.Komunitas Kemasyarakatan (hukum. perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral.Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT .Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . Kultur. proses sosialisasi. Bachtiar.. 2008). Ritzer dan Goodman. 1989. b. W. dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat. Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a.Sistem Kepribadian . Individu tidak merdeka dalam bertindak. merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok.1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D.

e. oleh karena itu harus dikendalikan. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. (c) optimalisasi. 1978. Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal.berinteraksi sosial. Sistem sosial. ide. keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu. (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. bukan dilihat dari sudut pikiran. sistem 46 . sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. sosialisasi dan enkulturasi). tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. (b) interaksi. d. Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. yaitu teori intraksionisme simbolik). (c) lingkungan. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. f. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. (d) kepuasan. yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. dan (e) kultur. sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya. berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). Jadi.

(4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. Parsons mengemukakan pendapat. 1982. dan cenderung berlaku sampai tua. Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. Craib. sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. 2004). (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. Craib. (2) sistem sosial. (3) sistem kepribadian.sosial memerlukan bahasa (Abraham. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. yaitu: (1) sistem kultural. j. Aktor (individu) dan sistem sosial. dan (4) organisme perilaku. Hamilton. h. i. (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). 1982. dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem. 1990). sebagaimana diuraikan di atas. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. Dalam fungsionalisme struktural Parsons. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat. adalah. 1984. 1990). bukan mikro. Hamilton. Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. g. Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat). 1984. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur. (3) dalam proses sosialisasi. (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 .

(b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’. ‘Sistem kepribadian’. Masyarakat. menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. dari hubungan sosial mereka. (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). lihat bagan di atas. yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). Ritzer dan Goodman. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. Menurut Parsons. Konsep perubahan sosial. dan sejenisnya. (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons. karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri.baik (hemat). 1984. Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). Hamilton. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu. dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. l. persetujuan. 1990. (2) proses diferensiasi 48 . yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation). dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). m. ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. 2004). Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat.

Lauer. 1988). Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya). C. Jadi. 1993) atau perubahan revolusi. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . sehingga meningkatkan survivalnya (Harper.menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). dan (3) ‘sistem nilai dasar’. 1982. L. tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting). apabila ada konflik internal. tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. (2) masyarakat lanjutan. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. 1984. 1993). S dan Ratih. yaitu: (1) masyarakat primitif. R. Hamilton. 1989. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. n. 1990). dan (3) masyarakat modern. Harper. Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’. (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem.L. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. Parsons. Craib. Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma. menuju keseimbangan hidup. Lauer. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. 1970.P. Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). 1989.

H. kritik logika dan metodologi. 1982). and Rosenberg. Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal). (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. Kedua. J. masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. tetapi tidak selalu benar secara empiris). dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. B. sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak. 2004). antara lain Pertama. dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). Jadi. Turner. L. (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. (d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit. (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural. 1969. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur. norma. dan nilai. spesifik yang lebih historis (Merton). Abrahamson dan Cohen. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata). padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. kritik substantif (krtik utama). (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi. antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur. menurut Mills. (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). 50 .fenomena sosial.. sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama. yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman.

dapat menimbulkan ethnosentrisme. dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis). memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. teori tingkat menengah (Middle range theory). dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. 2004). tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. (d) penilaian Parsons. tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. Aliran neo evolusi perspektif Merton). Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya. sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. dinamik dan kompleks. dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. dan kompleks.K. Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern. (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur. Pandangan teori fungsional struktural Robert K. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks. antara lain: 51 . Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton. sehingga terbuka untuk berubah). (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik.Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman. Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons. 3.

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural). Ketujuh. dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. bisa bersifat makro dan mikro. Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. Neofungsionalisme. konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar. bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro). riset teori fungsional struktural. tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. Keenam. bagi Alexander dan Colomy. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. Keempat.. tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. Bagi neofungsionalisme. Kelima. tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem). neofungsionalisme. kultural dan kepribadian. Jadi. teori neofungsionalisme. konsep kultur. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. neofungsionalisme. Jadi.kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks. yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro.

Jonathan Turner. Wright Mills. dan David Reisman. C. Ritzer dan Goodman. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch. pragmatisme. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. Raho.. 2007). B. Reisman. 2004). Robert Park. Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx. (Hamilton. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. (2) pokok-pokok teori konflik versi R. Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. G. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. D. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. 2005. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar. Vilfredo Pareto. Lewis Coser. Dahrendorf. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. Coser dan D. Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. dalam memahami fenomena sosial. Jadi. antara lain: 57 . interaksionisme simbolik. Torstein Veblen. Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. 1990. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. tetapi menurut Dahrendorf. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik. 1.. Ralf Dahrendorf.struktural. Dahrendorf. fenomenologi.

tindakan-tindakan. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan. M. 2001). dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. dalam masyarakat kapitalis. sikap-sikap. Kedua. atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. hasil pekerjaannya. pandangan hidup. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar. pengetahuan. sehingga proletar teralienasi (terasing). Cambell. keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. Jadi. (ed). karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. 1994). Jadi. D. dan hubungan kerja. 1986). 1986. kepentingan fisik (bendawi). sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. untuk memecahkan alienasi. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 . motivasi. Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa. 1981. Keempat. Ritzer. kemampuannya. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. karena mereka hanya mendapat upah minimal. Ketiga.Pertama.P. sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. ide-ide. M. yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. G. faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur). dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. hukum. Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. Bagi Marx. pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material. karena mereka tunduk pada mesin.

dari proses hukum dialektika tersebut. Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. 1997a. d. 1982. the force of production (kekuatan produksi). F. Menurut Marx. asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah. pandangan Karl Marx. sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis. Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. Surbakti. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Jones. Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik. c. R.. hal ini dapat menentukan struktur kelas). materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia. sosial. Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus). Oleh karena itu. konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). PIP. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan. MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. Bagi Marx. tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). M. Jadi. ideologi. sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari.masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis). satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. karena menguasai ekomoni atau alat produksi. Politik. Jadi. Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. akibat berikutnya adalah 59 . hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar).M. yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. 1997a) Jadi. suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis). 1986. 2002). Salim. masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti.2003). b. Kelima. Keenam. Menurut Marx. ideologi. sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis). maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. R. budaya). dan Relation of production (hubungan produksi).

dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. Jones. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). setiap saat tunduk pada proses perubahan. dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis). h. Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. Setelah revolusi berhasil. Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. 1978. antara lain: a. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. dan Relation of production. timbul masyarakat tanpa kelas. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). b. yang terus mengeksploitasinya). Setiap masyarakat. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. terasing dari jiwa aman dalam bekerja. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja. D. Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas. PIP. dalam memahami fenomena sosial budaya. 2.terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis). sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara. maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. maka hak milik pribadi lenyap. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . terasing terhadap modal. W. budaya atau politik atau ideologi. e. baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. f. yang akhirnya muncul diktator proletariat. g. (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. Alienasi (keterangingan.2003). Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang). Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. the force of production.

Karena otoritas makro adalah absah.bawah). 1982. h. f. Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. atau tunduk pada otoritas makro. Craib. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. yaitu konflik dan konsensus. 1984). Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu. Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. Jadi. ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. d. Oleh karena itu. oleh karena itu menurut Dahrendorf. Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. seperti peranperan otoritas. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik. Menurut Dahrendorf. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. demikian juga sebaliknya. Jadi. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . g. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik. Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan. c. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. e.

yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. program dan anggota yang jelas). Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. i. dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain). j. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 . Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. tujuan. berbeda dengan pandangan Marx. yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama. situasi politik. Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. kelompok kepentingan. Jadi. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari). Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat. bentuk organisasi. Kelompok ini mempunyai struktur. kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. kelompok semu. kepentingan nyata. konflik dan perubahan. bahwa. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat. Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. ‘konsep kepentingan tersembunyi. Jadi. Kelompok. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. Jadi. Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. menurut Dahrendorf. k. yaitu ada dua kelompok kepentingan. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. (3) kelompok konflik (conflict group).yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. (2) kelompok kepentingan (interst group). kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua.

Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka. Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a. Craib. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. Semakin meluas polarisasi. 1981. W. l. di masyarakat antara lain: 63 . b. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. d. 1978.2003). semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. 1984. maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. berkaitan dengan konflik. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. Semakin keras konflik yang ada. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi). Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial. Jones. Johnson. Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). ‘hubungan konflik dengan perubahan’. f. e. Semakin distribusi pendapatan tidak merata. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. semakin keras konflik yang terjadi.akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. D. Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. Menurut Turner (1982). c. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. PIP. pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan.

karena atau 64 . Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan. dan sebagainya.a. rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. budaya. teknisi. psikhologis. ideologi. antara lain: a. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. (ed). akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. kemampuan. c. padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya. d. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks. Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. Kesenjangan hirarki sosial. D. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). tidak hanya karena perjuangan kelas saja. yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. d. Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. 1970). tetapi karena ‘keahlian. c. b. ketrampilan profesionalnya’. 3. semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok. Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. antara kelas borjuis dan kelas proletar. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. misalnya faktor: keyakinan. yaitu kelas menengah (para profesional. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya.

Ritzer dan Goodman. karena adanya un-skill labour. g. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. Perubahan sosial dan pergolakan sosial. yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. karena sifat dasar masyarakat adalah. Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas). 2004). pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. e. yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). bukan untuk kelasnya (palsu). h.. Jadi. hanya ada konflik. Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. antara lain: Weingart (1969). Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi). i. 1984. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. Hazelring atau profesional 65 . ‘adanya integrasi dan konflik’. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi). bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti. masyarakat. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. yaitu manajer. dan konflik sebagai sumber perubahan. 1981. Disamping itu apa yang diramalkan Marx. buruh (saham masyarakat).ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. Craib. Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort. semi skill labour dan skill labour (Johnson. Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat.

c. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. Ritzer dan Goodman. 02 03. Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran. Menurut para ahli. 1981. yaitu: a. Jadi. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. Craib.1. karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). tetapi secara gradual. motivasi. Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. 1984. Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan.( 1972). 04. keyakinan. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. d. Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian. Bagan 2. Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi. sebagaimana dalam bagan berikut. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian. Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi. b. dan Turner (1973). 2004).

.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. atau penjajahan politik dari luar. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. komunisme. (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. 1973. Horton and Hunt... R. B. krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx. Konflik bisa ditekan dan dikontrol. 1982. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). seperti kapitalisme. (2) terjadinya invasi kultural. revolusi teknologi. D. (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat. melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling. Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. fundamentalisme antar masyarakat atau banga. 2000). c. Surbakti. dan (3) konflik ideologi. Rossides. namun juga bersifat tersembunyi (latent). 1978. Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. 4. W. (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi. demokrasi. 1984). Turner. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. 1982). (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat. Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. 1976. J. kekuasaan. M. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. 1997. Turner. b. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. misalnya: kepentingan ekonomi. dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat.

dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. Kinloch. 1956. 1981. dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). (e) Marxisme Berorientasi Historis. P. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian. 2004). (b) Antonio Gramsci. struktur kelas di dalam sistem ekonomi. dan (d) Lewis Coser dan David Reisman. D. sebagaimana pandangan oleh Karl Marx.P. Menurut H. Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik. Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. antara lain: (a) George Lukacs. menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. 2005). (b) Marxisme Hegelian. Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. Mutahhari. (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. (c) Teori Kritis. maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. (c) Henri Lefebvre. dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. 1986). 2001. (f) Analisis Sosial Neo-Marxian. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial. Coser maupun D. 2005). yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. Sztompka. antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. (d) Lewis Coser. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. 1969). Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park. massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Baik L. sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’. Lefebvre. dan (e) David Reisman.. dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson. Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an).‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . 1993). Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis.

Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. e. evolusioner dan struktural (Kinloch. Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. Menurut teoritikus neokonflik. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. semakin erat sistem stratifikasi. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. Jadi. Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. tingkat berpartisipasi kelompok.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. dan toleransi. makroskopik. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a. b. Coser. Ada yang berbentuk mobilitas sosial. Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. c. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. dan panjangnya konflik. organik. Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma. M. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. fleksibelitas dan integritas sosial. eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). 1994). Jadi. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. konflik institusional. d. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat. baik teori fungsional maupun 69 . 2005) Dalam posisi kajian ini. meski porsinya beragam antar kelompok. 1979. konflik dan konsensus (fungsional struktural). semakin lebih dekat merajut kelompok. Cambell. M.

(b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi. 70 . 1982.teori konflik. Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. 1981). M. tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. 1979. (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. 2005). f. Ritzer dan Goodman. Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg. 2004). semula statis menjadi dinamik. 1969. h. 5. Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx. J. Kinloch. yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. g. Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. konflik dan konsensus (fungsional). antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. meski porsinya beragam antar kelompok.H. semula pasif menjadi aktif. dan dia mengatakan. 1975). tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner. Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. Jadi. M. Jadi. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup. sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’. Cambell. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. (c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx).

sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). Meskipun demikian pandangan R. Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. bidang: ekonomi. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat. Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. keluarga. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. gaya hidup. ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf). Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. e. 71 . Tentang stratifikasi sosial. Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro).bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. f. teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. Menurut Collins. Jadi. d. dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. g. proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). politik. Teori stratifikasi konflik Collins. Marx dan Dahrendorf memandang. (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. c. antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. b. sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. sosial dan sebagainya. Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber.

(3) bahwa dalam situasi ketimpangan. makin ia patuh . Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. (2) makin sering orang memberikan perintah. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya. dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris. makin menyesuaikan diri secara eksternal.h. makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. makin mencurigai orang lain. antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah. sumber daya dan kekuasaan. makin terasing dari tujuan organisasi. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. dan (3) makin sering orang menerima perintah. (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. k. makin percaya diri. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. peralatan). 2004). Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. lingkungan fisik. mode komunikasi. Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. dan bila memungkinkan secara komparatif. adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. senjata. i. dan konflik bersifat integratif. yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif). tetapi juga harus menelitinya secara empiris. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. dia akan makin bangga. makin fatalistis. j.

Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. Jadi. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang. untuk menentukan status dan peran. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda.pihak yang yang dipaksa.2. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil. hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat. dan relatif terintegrasi. bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. terutama pada masyarakat yang kompleks. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 . disebabkan beragam keahlian. (3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik. 6. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman.perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang. karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian. Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus.

pandangan paradigma fungsional. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan. dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. 1992). Menurut Burrell dan Morgan (1994). sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. 1980). Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli.nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme. 7. Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt.. Craib. hanyalan & alat kaum penindas (elite). G. 1996. atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal. teori sistem. Konsensus nilai.bersifat evolusi. Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok. beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 .

melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. M. pandangan paradigma struktural radikal. G and Smart. G. teori radikal organism. model dominasi. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. G. B. 1994). dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. M. (ed). order sosial. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. G. and Morgan. teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. G. Pareto. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. 1980). dan V. 1994. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. Parsons. T. Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. integrasi sosial. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. atau saintisme (Poloma. equilibrium. solidaritas kelompok. teori fungsional struktural dan neofungsional. atau naturalisme. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. 2001). Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. konsensus. stabilitas sosial. (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. Spencer. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. 1979. E. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. E. Kedua. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). Ritzer. kontradiksi dan perampasan. Ritzer. atau konstruktivisme. Durkheim. and Morgan. Ditinjau dari segi orientasi filosofis.kehidupan sosial dari dimensi status quo. G. Comte. Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. dan (4) apabila 75 . H.

Herbert Blumer. 2002). dan buku berjudul ‘Mind. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. dan Erving Goffman. Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. Mead. Mulyana. Herbert Mead. Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Mulyana.O. Jadi. 1984.. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. Thomas. John Dewey. Menurut Mead. D. Perspektif teori interaksionis simbolik H. Soeprapto. adalah rasa lapar dan haus. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik. 1996. William I. ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik.individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor). 2002). and Society’ adalah karya terpenting H. 76 .. yaitu: (1) tahap impuls. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’. (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman. 2002). 1978. Self. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel. maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. Contoh impuls. L.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Dalam menganalisis tindakan. antara lain Pertama. Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. tentang Tindakan. Mead. Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang.

karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. Mead. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls. Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. menggambarkan arah tingkah lakunya. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial. 2002). Jadi. yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. F. Surbakti. dan (3) tahap pelaksanaan. R. 1997b) . dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell. meraba. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya. mencium. pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. tentang Isyarat. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan. Kedua. D. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan. J. H. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya. R. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. Menurut Herbert Mead. bagi Herbert Mead. 1981. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. manusia merupakan pencipta. 1978. Jadi. 1982). yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi. Jadi. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. Ada dua macam isyarat. dinamik. W. (2) tahap persepsi. mengecek dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri. Dalam bertindak. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. melihat. dan (b) isyarat ‘signifikan’.. T. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. 1982. Menurut H. Abraham. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. pelaku. dengan membuat indikasinya sendiri. mengecap.M. melihat pengalaman yang lalu. menilainya. Soeprapto.. Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. manusia adalah makhluk aktif. memperkirakan situasinya.

George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. individu bersifat aktif. dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. Bagi Mead. Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. Keempat. Jadi. Bagi Mead. 1982). Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri. Ketiga. konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. Konsep ‘diri’ menurut H. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. rasa sosial dan diri sendiri. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota. H. Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. Berawal dari asumsi ini. J. yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. rasa sosial diri sendiri. kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup. Diri Sendiri. Oleh karena itu. tindakan individu mengambil konsistensi.tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. tentang pikiran. menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). bagi Mead dan pengikutnya. tentang ’diri’ (self). dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. Pertama. dan Masyarakat’. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other). dan kedua. yang dapat berakibat buruk bagi individu. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner.

pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi). antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri. Menurut H. dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik). antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas. atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. tentang masyarakat. 79 . J. 2002). Bagi Mead. Turner. Pada tingkat ini.. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh.Mead. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. (3) tingkat ketiga. Menurut H. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku.pikirannya. Kelima. pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat. 1982). (2) tingkat kedua. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan. 1982. F. R. menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. masyarakat. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. Dalam permainan. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok. 1997b. Mead. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain.. Mead. Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus.. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti. ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. dikukuhkan. ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu. R. dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. Soeprapto. awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. H. seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran. Menurut H.M. kapasitas diri individu . (1) tingkat awal.

pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung.M. antara lain: (1) bagi masyarakat. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. (2005). dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat. yaitu metode interpretif dan introspeksi. (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif. Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber. Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. J. Jadi. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. Menurut Kinloch. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi. Turner. sosial. asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain). organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik.Keenam. 1982. (3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. teori H. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. dan abstrak. F. dan (4) bersifat dinamik. tentang metodologi. atau terus berubah-ubah. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil. yang objeknya terdiri atas dunia mereka. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal. Metodologi H. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. institusi. 1982). (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . G. Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. baik secara individu maupun kelompok. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka.

melainkan ditentukan oleh ‘Diri. dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’. Jadi. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural). Jiwa. baik versi Mead maupun Blumer. 1979). Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. W. Peralatannya dan sebagainya. Simbol-simbol yang digunakan. Individu merespons lingkungan. Poloma. Mead dan H. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya. oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. Soeprapto. baik versi Mead maupun Blumer. J. D. Tujuannya. Kesamaan H. Orientasi hidupnya. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. 2. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer. Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama. 1982. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . 2002).Mead dan H. dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner. (b) ketika individu menghadapi situasi. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. Aturan-aturan. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. responnya bukan bersifat mekanis. 2002). antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata.Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. dan pandangan individu itu sendiri’. 1978. apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. antara lain: 1. interpretasi (penafsiran).

. Dengan demikan 82 . Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. warna mobil. Ritzer. 1978. bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial. S. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal... Jadi.. 2000). 1982. menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. artinya dengan menyebut kata mobil. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. pandangan hidupnya. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural. 1997). Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek. Baik versinya Mead dan Blumer. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. baik versi Mead maupun Blumer. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’. Contoh. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. R. yaitu: pikirannya. sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. baru/ bekas.J. 5. dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. yaitu. 1982). Ramlan. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind). Poloma.kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu.. 3. 2001). motivasinya. 4. kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial. dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. 1997b. karena itu makna tidak melekat pada objek. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. W. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil. Jadi. D. kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner. pengetahuannya. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat. melainkan ditentukan oleh faktor internal.J. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu. pikiran adalah bagian dari struktur).

maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. konsensus terhadap nilai dan norma. struktur sosial-budaya. G and Smart.masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. 1982. memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. 2002). karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. Ritzer. B. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. 2001. Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. adalah meliputi ‘pikiran. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. Dari penjelasan tersebut di atas. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu.J. 2005). sikap dan perspektif. pasif. adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). Kinloch. ekonomi. 2001. (b) Masyarakat. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. Jadi. Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. kreatif. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap. Kebenaran ide. 1985). terdeterminasi oleh struktur 83 . diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. 2. berupa lingkungan. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. adalah dinamis dan berevolusi. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. (ed). yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens. (d) Interaksi sosial. terdeterminasi oleh faktor eksternal. (c) Realitas sosial. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah.. tetapi individu adalah sosok dinamis. 6. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. Soekanto. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner.

Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. F. Ketiga. menurut Husserl.norma sosial budaya. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. metode Husserl disebut metode fenomenologi. B. (ed). misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. tetapi dari kenyataan itu sendiri. dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. Jadi. W. seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. 1978. manusia harus otonom. 84 . Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama. Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan. Bagi Husserl. Untuk mengetahui sesuatu. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. dunia sekitar manusia itu ‘berada’. G and Smart. (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. D. Husserl menolak sikap ‘scientisme’. Ritzer. Kedua. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’. 2001).

artinya. karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi. yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. W. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. Akan tetapi. Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis. Kesadaran dalam fenomenologi transendental. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga. sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). (2) reduksi eidetis (inti sari). aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). 1978. dan (3) reduksi fenomenologi transendental. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. yaitu: (1) reduksi fenomenologis. Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’..Keempat. semua segi. Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). pandangan kedua untuk menemukan 85 . pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides. 2006) Kelima. karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. Bachtiar. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan.

ideologi. dan keyakinannya). R. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). 2005). bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. antara lain: Pertama. Disamping itu. (3) bersifat nominalis. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. Mulyana. dan politik (Praja. antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. dan Harold Garfinkel. sosial budaya. Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. R. 2002). Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . 2. motivasi.hakikat objek’. teori fenomenologi. 1979b. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. tujuan. Jadi. Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. nilai.. Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). Oleh karena itu. 2002).S. Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). asumsi. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. 1984. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. teori ethnometodologi. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. Soeprapto. Alfred Schutz.. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. J. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’.

Kedua. Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya.. G and Smart. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada. Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. 1981). Menurut Schutz. Ketiga. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek. bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. 2001). Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’. individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’. lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. untuk bisa memecahkan masalah 87 . Jadi. artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. Jadi. oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. (ed). menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya.Edmund Husserl. Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). T. yang ia sebut ‘arus kesadaran’. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. B. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’.

(ed). W. Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). Ritzer. B. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. Jadi. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat. 1978. 1981. Cambell. T. konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. mobil.. Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. masyarakat merupakan produk kultural para individu. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. Jadi. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. rumah. D. 2006). binatang. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification). Jadi. Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. Jadi. yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. W. hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’.dan meraih tujuan. antara lain: Pertama. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari. 2001). pohon dan sebagainya). tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’. Keempat. Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. G and Smart.

Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. W. Jadi. setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga. G and Smart..etnometodologi’. Pada pokoknya. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. Menurut para ahli. yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial. Kedua. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal. yaitu: Pertama. 2006). Keempat. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen. B. Bachtiar. kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. 1996). 2001. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri. bagaimana pandangan. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. B. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum. dan Kedua. jiwa. G. Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . Menurut Garfinkel. terencana dan rasional. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. (ed).

pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. Post-modernisme. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. Post-modernisme. Sosialisme. antara lain: 1. 3. dan sebagainya. atau berbeda dengan sosiolog. bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. 5. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial. contoh. politikus. karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme. membumbungnya kesenangan material individu. Post-modernisme. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. Post-modernisme. ekonom. Liberalisme. Marxisme dan sebagainya. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. 4. filosof. 6. eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. penolakan filsafat metafisis. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. Post-modernisme. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. 2.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. Hal ini 90 . Kapitalisme. bebasnya daya naluri setiap individu. bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya. bermakna peleburan segala batas. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. Post-modernisme. penampilan dengan kenyataan. atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi.

kajian. menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). Jomeson termasuk teoritikus Marxian. sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’. usangnya negara-bangsa. kebakuan. Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. dan Jomeson. oleh karena itu 91 . parexcellence. Foucault. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard. antara lain: Heidegger.. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia. Recoeur. teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. antara lain: Pertama. 1996). Rorty. Gadamer. pandangan. Bagi Jomeson. atau kritik-kritik filosofis. gaya hidup cenderung hedonis. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984). kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. Lyotard. dapat dikelompokkan menjadi dua. Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner). atau gambaran dunia (world view). 1996). Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’. keuniversalan (Sugiharto. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. globalisasi. B. konsumerisme yang berlebihan. pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’. antara lain: Derrida. dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. Oleh karena itu Jomeson. atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . Mary Hesse. deregulasi pasar. B.. atau diskusi ilmiah. dan Baudrillard. artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme.

Kedua. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . yaitu teknologi reproduksi dominan. (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern. Jadi. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). (2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. Jadi.J. Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’. tahap kedua. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’. (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa). Pemikiran postmodern bersifat pastiche. 2003). Jameson menilai. sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern). Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. karena sulit dibedakan yang asli dan palsu. masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’. Kehidupan post-modern. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). G. yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). bagi Jomeson. Ketiga. G and Goodman. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi.dia menilai tentang kapitalisme. Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. menurut Jomeson. Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. D. 2003). ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme.

Jadi. dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa. Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. yang menjadi utama dan yang berkuasa. Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. Dia menolak 93 . Internet. artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar. ketidakacuhan. dan hiperrealitas. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). Keempat. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. Tabloid. simulasi. bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. pemrosesan oleh teknologi informasi. simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. 2003). ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme. Kedua. bagi Boudrillard. Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). Kehidupan manusia menjadi budak simulasi. tetapi lebih didominasi oleh ‘media. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’. Massa yang pasif. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas.radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. G. Ketiga. dan ketidakbermaknaan kehidupan’. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya. Menurut Kellner. Surat Kabar).

. agama. teknologi. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. B. yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. melainkan subjektivis. karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. 2003. bahasa. dan sebagainya (Sugiharto. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. ilmiah (saintis). hukum.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. dan paradigma objektivis. Ritzer. artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. kebenaran empirik (objektivis). pendidikan. 1996). G and Goodman. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. ekonomi. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial. Kedua. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir). atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis. nilai-norma budaya. dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. ideologi. antara lain: Pertama. D. teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. 2003).J. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi. khususnya dengan riset-riset empirik. Ketiga. hiperrealitas. diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain. sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 . G. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama.

ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide. karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak.J. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. Ketujuh. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . G and Goodman. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. Keenam. dan Kedelapan. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. Keempat. dalam analisisnya. namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek). sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’.itu benar atau tidak. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. Kelima. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. 2003). D. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial.

beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . analisis teori makro. memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. dan kurang menyinggung pada peran individu’. antara lain: Pertama. A. memandang struktur sosial atau faktor eksternal. tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. Blumer. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’. yaitu: Pertama. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. 2002). beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. Salim. (d) memperhatikan pertumbuhan. (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. 2003). H. Mead dan H. sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. Kedua. (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959). Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. analisis teori mikro dan. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. Kedua. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. lebih menekankan pada jaringan sosial. antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. hanya menyinggung tentang tiga hal. G. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. 1991. (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. perubahan dan tindakan. Boorman (1976). Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. Sedangkan analisis teori makro.pandangan). (3) teori etnometodologi 96 . dan Ketiga. Analisis teori mikro. dan sikap yang alamiah (natural attitude). Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966).

baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. dari abad 19 sampai abad 20. Emille Durkheim. 2002). Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif. Baal.V. 1987). Di kalangan teoritisi sosial. 97 . bahkan mungkin sampai sekarang. yang mamusatkan perhatian pada organisasi. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya. Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama. dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. 1994. Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif. Marx. yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans. b. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. Karl Marx.. Masing-masing perspektif. Giddens. Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. 2. tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. 1995). dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners.oleh Garfinkel (1967). c. dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). 1974. Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim.W. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. Jadi. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. J. Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a. secara implisit. E. kreatif dan voluntaristis. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat.J. A. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer.

4. Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’. dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). 1997a). 1988. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. S dan Ratih. Ada beberapa pandangan para ahli. (ed). Max Weber. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 .. Ritzer. 1970).kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. M. D. Menurut Mizman. yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel. L. Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial). Talcott Parsons. 1986. Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. Surbakti. Weber. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong. Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. 1956. Mutahhari. Kepribadian. yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. namun oleh para ahli. Sistem tindakan kultural Parsons adalah. Jadi. Sosial. konsep ‘kharisma’ yang melembaga. 3. R. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat. Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. pandangan individu. 2002). konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur).

masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis. 2003).a. b. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. fenomenologi. mirip bahkan sama atau serupa. dalam Sociological Theory (1969). Menurut Ritzer dan Goodman (2003). Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’.J. 24: 731-752 (1976).struktur’ adalah. Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. Ada yang memandang. Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. Giddens. Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. H. tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). d. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’. teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. dalam Sociological Review. Menurut Ritzer. membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. Eisenstadt and Helle. sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. c. 1987).

(3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. Sedangkan Touraine. Konsep agen (agency). Konsep struktur. lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. Jadi. agen bangsa). b. Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine. c. antara lain: a. dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual.makro dan agen. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 . mikro mungkin bisa. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). mengacu pada ‘agen’. atau mungkin juga tidak. agen organisasi. Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. Ritzer. atau kepada kedua-duanya. (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. menurut para ahli. Jadi baik agen maupun struktur. d. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. memandang. Konsep mikro. Agen menurut Burns. kelas sosial sebagai aktor. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. jadi agen diartikan sama dengan mikro). Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. mengacu pada ‘struktur’. bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir. atau mungkin juga tidak. model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. sering mengacu pada struktur sosial berskala luas. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. Konsep makro. Pada pembahasan berikut ini. sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners). antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. Dan makro bisa.

Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 . Kedua. Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru. Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro). yang terpisah dari dua hal yang berbeda. bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi. menurut Ritzer. (4) dalam realitas sosial. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif.sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro). Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. (3) mengusulkan pandangan. Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan.

tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas. 102 . suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. Birokrasi. mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. pola interaksi sosial. pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. birokrasi.I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. Hukum. berpendapat atau bersikap atau berpandangan.2) Ketiga. 4) Tingkat mikro subjektif. dan teknologi. misalnya: pola tindakan individu. meliputi proses mental berskala kecil. Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif. Kontinum mikroskopik-makroskopik. Norma. Contoh. keyakinan. misalnya. 2) Tingkat makro subjektif. Kebiasaan. norma. meliputi fenomena non material berskala luas. dan (2) kontinum objektif-subjektif. adat (budaya ide atau sistem budaya). maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. misalnya: masyarakat. 3) Tingkat mikro objektif. meliputi realitas material berskala luas (besar). Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer. ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. adat (Skala Luas). misalnya: nilai. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. menurut Ritzer.

Tentang garis kontinum mikro-makro. pandangan. ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. & Budya Siste m Dunia Gambar 2. misalnya: aktor. Di ujung makro dari kontinum adalah. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. UU atau hukum. gagasan. Interaksi. truktur Birokrasi Pandangan. nilai yang diyakini.3. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. struktur birokrasi. Sedangkan diantara ujung mikro ke makro. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. persepsi. Di ujung mikro dari kontinum adalah. tindakan sosial. persepsi individu). Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. birokrasi. yang mempunyai wujud nyata. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. ‘aktor individu. norma. Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. norma. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. Tindakan. pandangan. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. dan sebagainya. Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. interaksi sosial. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . seperti: kelompok luas (contoh. pikiran individu dan tindakan individu’. Norma. sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). wujud materi. aparatur negara. misalnya: Ide. Sedangkan ujung kontinum Subjektif. motivasi. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. Nilai. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. Undangundang.

Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural. hal yang penting perlu diperhatikan adalah. Mikro Subjektif d. Teori Sistem. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma.3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No.Gambar 2.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. 2002) 104 . Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2. Teori interaksionis simbolik. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif. Ritzer. seperti birokrasi. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). Makro Subjektif b. dan (4) fakta mikro-subjektif. c. Jadi. yaitu: (1) makroobjektif. Kemudian.4. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a. Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. seperti pola interaksi. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama. (3) fenomena mikroobjektif. seperti nilai. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. yaitu Paradigma: Fakta sosial. seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif). 1. Teori Konflik. Tabel : 2. dan Perilaku sosial?. Definisi Sosial. (2) realitas makro-subjektif. Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2. Sebelum menjawab permasalahan ini.

Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. misalnya: metode wawancara. norma dan kultur. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. contohnya nilai-nilai. Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. yaitu: yang perlu dipahami. Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. bahasa. kuesioner. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). merasakan. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. 3. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. 4. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. norma hukum. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. Perlu dipahami. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. observasi. eksperimen. dokumentasi. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual. kini dan akan datang). berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu.Keempat. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. contohnya birokrasi. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’. konflik dan pertukaran. Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. dan sebagainya. (b) tingkat makro-subjektif. contohnya proses berpikir. bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. metode atau teknik. Jadi. (c) tingkat mikro-objektif. 2. dan (d) tingkat mikro-subjektif. Menurut Ritzer.

mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. Giddens. Giddens. 5. menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. menurut teori strukturasi. Menurut Bryan Tunner. Weber. Jary. Contoh: Marx.2).. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2. Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan. Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta. 2000). Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). 106 . Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens. Ritzer. kultur dan agen oleh Margareth Archer. Namun perlu diingat. G. 2003). 2002. 1978. selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi. B. Cohen dan Craib. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya.sosial-budaya. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’. Simmel. Ritzer dan Goodman. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. (Rossides. dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner. dan (e) berpikir dialektik.

dinamik). tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. Teori Strukturasi. teori konflik). Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan. Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. Jadi. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction). teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. S. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens. ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur). berkat adanya dualitas struktur’ b.melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. Dalam teori ‘strukturasi’. 1984). Dualitas struktur mengandaikan. untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’. prosessual dan dinamis’. Jadi. c. 1998. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx. praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). struktur. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. 107 . 2002). Priyono. Dalam teori strukturasi.. tetapi secara terus menerus. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). dan kesadaran diciptakan. artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial. Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. Menurut Berstein. agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain.

tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. dan (b) peneliti sosial-budaya. Jadi. yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). (2) konsep struktur dan sistem sosial. tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. 1984).Dalam teori strukturasi. Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). (c) dalam upaya mencari rasa aman. baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). artinya. agen atau aktor sosial melakukan refleksi. perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. dan (5) konsep strukturasi (Giddens. yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 . yaitu: (1) konsep agen. Menurut Giddens. konsep atau pemikiran tentang ‘agen’. (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’. d. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. sedangkan motivasi sebagai potensinya’. refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan. Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. (4) konsep rutinisasi (routinization). ‘rasionalisasi. menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. Jadi. Dalam teori strukturasi Giddens. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. yaitu: (a) aktor sosial. yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. (3) konsep waktu-ruang (time-space).

Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. meneliti dan sebagainya. Menurut Giddens. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan. menanam padi. membimbing mahasiswa. kekuasaan subjektivitas.diurai (tidak perlu argumentatif). struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan. Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. peran petani adalah membajak. kesadaran diskursif. 2003). Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). 1998). Agensi (keagenan atau peranan individu). Menurut Giddens. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. Bagi Giddens. Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi. melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar. bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan. Jadi. Kedua. Menurut Giddens. memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. yang relatif jelas perbedaannya. struktur adalah ‘apa 109 . tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. Jadi. Jadi. Kesadaran praktis. Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia. atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. memanen padi dan sebagainya. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. bahkan Giddens mengatakan. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’.

Kemudian konsep sistem sosial. Jadi. Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor.yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. 1984). tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization). Struktur. Struktur. Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. 1998). Ketiga. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. antara lain: (a) ruang dan waktu. Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 . Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. Sedangkan konsep struktural. menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. (Giddens. Jadi. bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’. dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. Pengertian sistem sosial menurut Giddens. yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi). Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur. Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. 1984). ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial. ada faktor agen yang juga ikut menentukan’.

yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah. misalnya lahir-hidup-mati. ruang tamu. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. pengalaman hari demi hari (reversible time). (3) longue duree. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif. (2) jangka hidup individual (irreversible time). yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik. Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’. karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. Giddens membedakan tiga dimensi waktu. ruang tidur dan sebagainya. kemudian pulang dari kantor. yaitu: (1) duree. kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). ruang makan. misalnya.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. berada di jalan. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. Jadi. ada ruang kerja. sampai keadaan di kantor. 1984). misalnya berangkat dari rumah. lembaga-lembaga. sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. 2003). atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). Menurut Bryand and Jary. 111 . prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. berada di jalan. sampai di rumah kembali. dan terbentuk oleh.

Regulation (keterulangan terus menerus). Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens. atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. Jadi. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Priyono. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. (c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari. dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life).Keempat. ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu. Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization). ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu. Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. Kelima. karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. konsep strukturasi. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. 1984. Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah. Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . 2002).

seimbang dan saling mengisi. Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf). menurut Turner. juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). menurut teori strukturasi. Ritzer. yaitu: konsep agen. konsep rutinisasi. setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. dalam pandangan teori strukturasi Giddens. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. antara lain: Pertama. melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. Anthony Giddens. B. (Giddens. Giddens. dan konsep strukturasi (Faisal. Priyono. prosessual dan dinamis’. 1998. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur.strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. Keenam. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. 1995). konsep waktu-ruang. (2000). Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. 1995. 113 . Jadi. bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). 2002). 2002). (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens. Jadi. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. konsep struktur dan sistem sosial. tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu.

. 2007). 114 . Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed). 1988). (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. 2002) Ketiga. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. J. setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak. (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya. (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif). (2002). (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti. masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. Keempat. sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut. yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. Digunakan secara bergantian. sehingga ditemukan hipotesis. Kelima. Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. S. menurut Bryman dalam Brannen. tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. (b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif).Kedua.

bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem). Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan. Ketiga. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). 2005). Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi. pandangan. Ketujuh. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. dalam pandangan teori sistem. bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan.Keenam. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. 2008). yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. jadi konflik menyatu dalam kehidupan. tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 . ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). antara lain: Pertama. dalam pandangan teori konflik versi Marx. nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme. 2000. Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. Creswell. Kedua. I. Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya.

kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. asumsi. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). Keempat. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. motivasi. yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. dan teori post-modern yang bersifat radikal. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’.. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. tujuan. keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi).materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelima. tetapi banyak faktor lain. Keenam. Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik). nilai. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. dan menawarkan ‘narasi mikro’. dan keyakinannya). (3) bersifat nominalis.

analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research). akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis. Jadi. 117 . Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research).sosial-bidaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful