BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

kultur. selalu hadir. faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. negoisasi. Jadi. sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis. integrasi. yang menentukan struktur. bagi Buckley. yang berupa pertukaran. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. baik yang bersifat alamiah. kepribadian dan masyarakat (Hamilton. Sedangkan menurut Parsons. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). 2003). dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. Ritzer.. artinya. sedangkan menurut Parsons. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial. G and Goodman. setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons. F. Jadi. 33 . antara lain: (1) menurut Buckley. G and Goodman. atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan. P. setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi. .M. 2003).J. dan (2) Buckley. D.mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan.ed. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal. sedangkan bagi Parsons. sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek). (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. Kelima. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. D. Keenam. pencapaian tujuan. karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. 1990). dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. 1982. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem.J.

dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. Jadi. (c) sistem autopoietic’ adalah self referential. (c) self reference. Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat. suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. . Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). Kedelapan. dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. 2001). tetapi juga faktor internal (jiwa. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar. motivasi. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual.Ketujuh. bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’. P. mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. sedangkan menurut Luhmann. 1990). faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem. Menurut Luhmann. Menurut Luhmann. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. ed. kompleks daripada ‘lingkungan’. menurut Luhmann. yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’.ed. Jadi. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. (b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri. dan (d) tertutup’.

Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann. sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. antara lain: (1) Luhmann. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). (c) differensiasi pusat-pinggiran. dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. yaitu: (a) differensial segmentasi. Jadi. dalam sistem psikis. hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). (2) Luhmann. tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial).sosial’ adalah komunikasi (communication) . yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003). makna dikaitkan dengan kesadaran. Kesembilan. Menurut Luhmann. Dalam differensiasi sistem fungsional. yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . dan (d) differensiasi sistem fungsional. yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. (b) differensiasi stratifikasi. Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem).

namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. Nenurut Robert Nisbet. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. R. dapat diambil beberapa kesimpulan. Brown. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog. Menurut Demerath dan Peterson. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. Malinowski. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. Talcott Parsons. 1997a. dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. dan C. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. 2006). antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. Durkheim. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. (3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Bachtiar. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R.. dan Jeffrey C. W. Alexander (Surbakti. Merton. 2004). (2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Roebert K. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. karena masih ada sisi kelemahannya’. Merton 36 . misalnya kebutuhan ekonomi.kelemahannya. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II. E. Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin. lebih difokuskan pada lima permasalahan. Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. C. Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. Kluckohn. yang telah diuraikan di atas.

1982. R. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. Spengler. Florian Znanieeki. atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. 1. 2006). Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?. Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’.F. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. Malinowski. Benedict. Brown.R. dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. Spengler. Sorokin dan Spengler. 37 . George Homans. dan Malinowski. bahkan ada sebagian ahli mengatakan. R. 1984).dalam memahami fenomena sosial-budaya?. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur. Toynbee. Benedict. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. Coleman. kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. Toynbee. W. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. Florian Znanieeki. D. J.W and Cressey. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. Brown.. M. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia. Dalam pandangan para ahli teori fungsional. Pitirim Sorokin. Pada pembahasan berikut ini. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin.

yaitu kebenaran inderawi. norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. Bagi Sorokin. dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). tentang tipe-tipe mentalitas budaya.P. tentang integrasi sosial-budaya. atau saling bergantung (terintegrasi). Ketiga. dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. tentang perubahan sosial-budaya. tetapi juga dari sudut akal budi. 1978). menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat. dan (b) Comte. Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait. tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). yaitu: (1) 38 .Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang). Kedua. atau dengan kata lain. bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. 1986). atau saling memberi kontribusi fungsional. sedangkan Sorokin. Menurut Sorokin. D. Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar. bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang). Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif. 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama.

adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. Sedangkan penyebabnya. Kelima. (h) seni. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. (f) politik. (e) hukum. (c) kepercayaan/ agama. dan (3) kebudayaan campuran. dan 39 . yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). yaitu mengurangi kebutuhan inderawi. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. 1978).P. yaitu: (1) mobilitas vertikal. keahlian atau prestasi karyanya.tipe kebudayaan ideasional. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. Mobilitas sosial ertikal. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). (g) ekonomi. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility). Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. Keempat. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. Johnson. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik). yang terdiri dari dua tipe. dibedakan menjadi dua. yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik. Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. antara lain: (a) bahasa. tidak bisa ditangkap oleh indera. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). dan (b) kebudayaan ideasional aktif. Tipe kebudayaan ideasional. (b) filsafat. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. transenden. yang disebut ‘supersistem budaya’. D. 1978. yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. tentang unsur budaya. dan (c) kebudayaan inderawi sinis. 1986). Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. dibagi menjadi dua. Kebudayaan ini dibagi dua. Menurut Sorokin. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. (d) etika. yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. Ada dua bentuk mobilitas sosial. (b) kebudyaan inderawi pasif. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri. (i) teknologi.

Menurut Homans. padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik. (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional). Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. dan sesorang memasuki masa purna tugas. dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). demikian juga sebaliknya. Jadi. Kedua. dan antar kelompok. antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya. (b) social sinking (perpindahan status turun). yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. 1997a). Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional). tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama.adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan). atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal.. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut). atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem. (2) mobilitas horisontal. R. sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans. interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. bisa berbentuk status sosial seseorang turun. Jika. dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal.

kedudukan dan inovasi-inovasi. manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas. pencarian penghargaan. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya.H. Dalam proses pertukaran dalam kelompok. norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. (2) perasaan dan aktivitas. atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. Jadi. Ketiga. terjadi saling interaksi. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal.lain melalui hubungan timbal balik.. Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran. 2006). 1982). keadilan. untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. pengaruh. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). J. ‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. Keempat. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’. artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem. penyesuaian. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok. persaingan. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. Oleh karena itu G. Kelima. Homans berpendapat. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. Menurut Homans. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks. 41 . bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. dan (3) aktivitas dan interaksi. bagi Homans. W. setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. Jadi. Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan.

(b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman. Emille Durkheim. dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya.H. R. dan sebagainya. sosiolog dan teoritikus Tunner. 2. Talcott Parsons. (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. Brown. Robert K Merton. J. Amitai Etzioni. karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial. Walter Buckley. Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. misalnya: Levi Strauss. G. Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak. 205).Meskipun analisis atau pandangan G. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek.

Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. dan dengan kebutuhan lingkungannya. Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. Kajian berikut ini. dalam Raho. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951). yaitu: adaptation (A). Menurut Herry Priyono (2002). Parsons lahir di Colorado. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. dan Tahap ketiga. Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. Integration. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. goal attainment (G). Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. antara lain: (1) Tahap pertama. dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis. USA tahun 1902. Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). dan Latensi (AGIL). B. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. skema Adaptation. (2007). yaitu: a. Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya.dan sempurna. integration (I). Menurut Theodorson. Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep. dan latensi (L). Goal attainment. pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. 43 . (2) Tahap kedua.

Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. Goal attainment (Pencapaian tujuan). norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan. b. yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik). Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. goal attainment. diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional. memelihara dan memperbaiki. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. Sedangkan bidang kehidupan. Latency (pemeliharaan pola). produksi. apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya. dan alokasi. sekolah. adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. c. dan lembaga keagamaan). Sedangkan bidang kehidupan. Integration (Integrasi). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi. seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2.adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. latency). Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. Undang-Undang atau seperangkat aturan).1 pada halaman berikut. adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. d. adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. hukum. 44 .

Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga. 1989. Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a.Komunitas Kemasyarakatan (hukum. menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. c. Jadi. norma) Gambar 2. Kultur. 1997a. 1986. Bachtiar.Organisme Perilaku . W. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . b. teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor. proses sosialisasi.Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok. karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok. yaitu: proses internalisasi. Kultur. 2008). perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral. Ritzer dan Goodman. kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya.Sistem Kepribadian . Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. agama) INTEGRATION . R. Individu tidak merdeka dalam bertindak. dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION .Sistem Sosial .. 2004). dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’. Ritzer dan Goodman. sekolah. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos).. Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu). Sistem kultural.1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D. 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut.Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial.Sistem Kultural . dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat.Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT .

f. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). 1978. bukan dilihat dari sudut pikiran. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. dan (e) kultur. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. sosialisasi dan enkulturasi). yaitu teori intraksionisme simbolik). sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. sistem 46 . ide. dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. (b) interaksi. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. (d) kepuasan. e. tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. Sistem sosial. (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan. (c) optimalisasi. Jadi. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang. keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal. tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya.berinteraksi sosial. yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. (c) lingkungan. Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. oleh karena itu harus dikendalikan. d. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu.

Hamilton. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. (4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. adalah. Craib. bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat. Parsons mengemukakan pendapat. Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur.sosial memerlukan bahasa (Abraham. dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem. (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. (2) sistem sosial. Aktor (individu) dan sistem sosial. i. bukan mikro. (3) sistem kepribadian. nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. (3) dalam proses sosialisasi. 1982. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. h. sebagaimana diuraikan di atas. j. Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. dan cenderung berlaku sampai tua. yaitu: (1) sistem kultural. (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. Hamilton. Craib. 1982. dan (4) organisme perilaku. 2004). Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat). 1990). g. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. Dalam fungsionalisme struktural Parsons. Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. 1984. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 . 1984. 1990).

(b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural. Ritzer dan Goodman. Masyarakat. (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. 1984. persetujuan. Konsep perubahan sosial. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. Menurut Parsons. l. dari hubungan sosial mereka. dan sejenisnya.baik (hemat). Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat. bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons. Hamilton. Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. 2004). (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. lihat bagan di atas. (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). 1990. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. ‘Sistem kepribadian’. m. menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation). Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. (2) proses diferensiasi 48 .

L. (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. S dan Ratih. dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. dan (3) masyarakat modern. n. 1989. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’. Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. Parsons. pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial.L. Hamilton. Harper. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting). tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . (2) masyarakat lanjutan. dan (3) ‘sistem nilai dasar’. artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. menuju keseimbangan hidup. C. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. Lauer. 1984. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. Lauer. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem. 1993) atau perubahan revolusi. 1993). menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. 1988).menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). 1990). Craib. 1989. R. yaitu: (1) masyarakat primitif. Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). sehingga meningkatkan survivalnya (Harper. 1982. Jadi.P. tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. 1970. apabila ada konflik internal. sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya). Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma.

kritik substantif (krtik utama). Turner. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur. (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal). yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman. masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. spesifik yang lebih historis (Merton). antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur. Jadi. atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). L. tetapi tidak selalu benar secara empiris). dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. kritik logika dan metodologi. antara lain Pertama. Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. norma. atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. menurut Mills. (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. Kedua. (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi. B. padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. 1982). sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama.fenomena sosial. 2004). lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak.. Abrahamson dan Cohen. dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat. (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural. (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. J. antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). 1969. (d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit. 50 . dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. dan nilai.H. and Rosenberg. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata).

sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. Pandangan teori fungsional struktural Robert K. Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton. dapat menimbulkan ethnosentrisme. antara lain: 51 . Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons. dinamik dan kompleks. dan kompleks. tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons. dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis). namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. 2004). tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya.Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern.K. Aliran neo evolusi perspektif Merton). 3. (d) penilaian Parsons. (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman. dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. sehingga terbuka untuk berubah). teori tingkat menengah (Middle range theory). tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik.

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . Jadi. teori neofungsionalisme. kultural dan kepribadian. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. Jadi. Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro). dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. konsep kultur. tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian. Kelima. yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural). tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. Keempat. Keenam. bisa bersifat makro dan mikro. neofungsionalisme. tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. riset teori fungsional struktural.kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. Bagi neofungsionalisme. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem). bagi Alexander dan Colomy. Neofungsionalisme.. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. neofungsionalisme. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar. tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro. Ketujuh.

Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx. interaksionisme simbolik. Coser dan D. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. pragmatisme. dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. 2005. Ralf Dahrendorf. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. fenomenologi.. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. dalam memahami fenomena sosial. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx.. G. Lewis Coser. B. (Hamilton. Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. 1990. Reisman. Wright Mills. karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar. Raho. dan David Reisman.struktural. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. Ritzer dan Goodman. Jadi. C. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch. Jonathan Turner. Dahrendorf. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. Robert Park. Torstein Veblen. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik. D. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. (2) pokok-pokok teori konflik versi R. Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. tetapi menurut Dahrendorf. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. 2004). 1. antara lain: 57 . 2007). Dahrendorf. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. Vilfredo Pareto.

faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur). hasil pekerjaannya. sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. 1986. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan.P. karena mereka tunduk pada mesin. Bagi Marx. kemampuannya.Pertama. M. Jadi. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material. sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. motivasi. dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. 1986). sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. G. tindakan-tindakan. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. dan hubungan kerja. sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. Ritzer. pengetahuan. 1994). karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. pandangan hidup. (ed). hukum. Ketiga. sikap-sikap. ide-ide. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 . Kedua. dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. Jadi. kepentingan fisik (bendawi). atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. Keempat. dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). sehingga proletar teralienasi (terasing). karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. D. 1981. Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa. yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar. untuk memecahkan alienasi. bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. karena mereka hanya mendapat upah minimal. M. dalam masyarakat kapitalis. 2001). Cambell.

. asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. Jones. suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. Surbakti. Jadi. dari proses hukum dialektika tersebut. Jadi. budaya). 1982. 1997a) Jadi. Keenam.M. R. karena menguasai ekomoni atau alat produksi. Bagi Marx.2003).masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis). ideologi. b. 1997a. yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis). tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti. Menurut Marx. dan Relation of production (hubungan produksi). satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis). kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar). the force of production (kekuatan produksi). c. materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia. sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari. Oleh karena itu. hal ini dapat menentukan struktur kelas). Politik. MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. Menurut Marx. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. ideologi. Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus). Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis. 1986. F. Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. PIP. Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). M. Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik. 2002). Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan. dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. R. sosial. akibat berikutnya adalah 59 . Salim. hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. pandangan Karl Marx. d. Kelima.

baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. f. W. yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis). (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. antara lain: a. e.terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. g. Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. yang akhirnya muncul diktator proletariat. 2. the force of production. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. b. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). Setelah revolusi berhasil. Jones. 1978. PIP. budaya atau politik atau ideologi. Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang). dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . dalam memahami fenomena sosial budaya. dan Relation of production.2003). maka hak milik pribadi lenyap. Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. D. setiap saat tunduk pada proses perubahan. Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). Alienasi (keterangingan. Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. yang terus mengeksploitasinya). Setiap masyarakat. Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas. karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis). maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. terasing terhadap modal. terasing dari jiwa aman dalam bekerja. h. timbul masyarakat tanpa kelas. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara.

yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu. yaitu konflik dan konsensus. c. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. f. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik. Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . h. Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. e. g. 1984). Jadi. ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. 1982. Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. oleh karena itu menurut Dahrendorf. seperti peranperan otoritas. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. atau tunduk pada otoritas makro. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. Jadi. Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik. Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat. Menurut Dahrendorf. Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. Karena otoritas makro adalah absah. Craib.bawah). Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. d.

(3) kelompok konflik (conflict group). yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. kepentingan nyata. bentuk organisasi. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain). situasi politik. kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. yaitu ada dua kelompok kepentingan. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. Kelompok. j. sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. kelompok kepentingan. Jadi. Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat. Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. Kelompok ini mempunyai struktur. menurut Dahrendorf. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua. Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 . Jadi. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. konflik dan perubahan. ‘konsep kepentingan tersembunyi. program dan anggota yang jelas). kelompok semu. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. Jadi. (2) kelompok kepentingan (interst group). Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. i. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit. tujuan. k. bahwa. berbeda dengan pandangan Marx. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari). yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat.yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas.

akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial. tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. c. semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). b. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a. e. maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah. PIP. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi). pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. Johnson. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan. D. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. 1978. Semakin distribusi pendapatan tidak merata. Menurut Turner (1982). berkaitan dengan konflik. hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. W. l.2003). di masyarakat antara lain: 63 . Craib. semakin keras konflik yang terjadi. 1981. Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama. f. d. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. ‘hubungan konflik dengan perubahan’. Semakin keras konflik yang ada. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka. 1984. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. Semakin meluas polarisasi. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. Jones. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis.

misalnya faktor: keyakinan. karena atau 64 . semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. psikhologis. dan sebagainya. antara kelas borjuis dan kelas proletar. Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. Kesenjangan hirarki sosial. (ed).a. d. Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). b. semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. budaya. kemampuan. c. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. tidak hanya karena perjuangan kelas saja. Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok. yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. teknisi. tetapi karena ‘keahlian. c. Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. yaitu kelas menengah (para profesional. D. ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. 1970). d. padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya. ketrampilan profesionalnya’. 3. Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan. antara lain: a. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). ideologi. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks.

Disamping itu apa yang diramalkan Marx. 1984. bukan untuk kelasnya (palsu). dan konflik sebagai sumber perubahan. Hazelring atau profesional 65 . Jadi. Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas). Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. semi skill labour dan skill labour (Johnson. e. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi). Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. h.ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. 1981. karena adanya un-skill labour. yaitu manajer. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi). pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. buruh (saham masyarakat). Craib. ‘adanya integrasi dan konflik’. masyarakat. Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat. Perubahan sosial dan pergolakan sosial. bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti. i.. yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). Ritzer dan Goodman. g. hanya ada konflik. karena sifat dasar masyarakat adalah. Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort. Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. 2004). antara lain: Weingart (1969).

Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi. 1981.( 1972). Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian. Ritzer dan Goodman. dan Turner (1973). Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . 02 03. Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran. Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. keyakinan. ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). Bagan 2. motivasi. Menurut para ahli. d. Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. 1984. Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson. Craib. 2004). karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. tetapi secara gradual. c. Jadi.1. Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi. 04. yaitu: a. b. sebagaimana dalam bagan berikut. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian.

Horton and Hunt. Rossides. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . 1973. seperti kapitalisme. (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. 1976. Surbakti. Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx.. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. demokrasi. tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling. kekuasaan. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers. misalnya: kepentingan ekonomi. revolusi teknologi. J. R. dan (3) konflik ideologi. 2000). W. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. (2) terjadinya invasi kultural. krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. Turner.. 1982. Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. B. (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi. 1984). Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. D. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. atau penjajahan politik dari luar. Turner. Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat. 1978. komunisme. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat. M. 4. c.. (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. b. Konflik bisa ditekan dan dikontrol. fundamentalisme antar masyarakat atau banga. 1997. namun juga bersifat tersembunyi (latent). 1982).

Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). (f) Analisis Sosial Neo-Marxian. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. (e) Marxisme Berorientasi Historis. 1993). maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. Menurut H. 2005). 2004). sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’.P. menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. dan (e) David Reisman. Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . 1986). Sztompka. 1969). D. dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson. Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park. tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik.. 2001. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. (b) Antonio Gramsci.‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. dan (d) Lewis Coser dan David Reisman. Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an). Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). Coser maupun D. dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. sebagaimana pandangan oleh Karl Marx. Baik L. (c) Teori Kritis. antara lain: (a) George Lukacs. Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. P. (c) Henri Lefebvre. 2005). Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. (d) Lewis Coser. (b) Marxisme Hegelian. Lefebvre. 1956. struktur kelas di dalam sistem ekonomi. massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Mutahhari. dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. Kinloch. Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. 1981.

dan panjangnya konflik. semakin erat sistem stratifikasi. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. Coser. konflik institusional. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat. Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. makroskopik. Jadi. yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). M. 2005) Dalam posisi kajian ini. konflik dan konsensus (fungsional struktural). Cambell. c. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. Jadi. M. evolusioner dan struktural (Kinloch. baik teori fungsional maupun 69 . 1994). tingkat berpartisipasi kelompok. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. Ada yang berbentuk mobilitas sosial. Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma. partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. fleksibelitas dan integritas sosial. meski porsinya beragam antar kelompok. Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. 1979. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). dan toleransi. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. Menurut teoritikus neokonflik. semakin lebih dekat merajut kelompok. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. b. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. e. d. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat. organik.

atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx). Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. Jadi. Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). Cambell. sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’. konflik dan konsensus (fungsional). 1969. tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. 1979. tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner. 2005). 5. 1981). M. Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. Jadi. semula statis menjadi dinamik. g. Kinloch. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. 1975). semula pasif menjadi aktif. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. (b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi. h. Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. (c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. 2004). Ritzer dan Goodman. antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. 1982. (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. M. 70 . meski porsinya beragam antar kelompok.teori konflik. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. f. Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx.H. Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. dan dia mengatakan. J. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg.

Marx dan Dahrendorf memandang. dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. e. (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. c. 71 . sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). f. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat. Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro). Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. Menurut Collins. Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber. d. Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. Meskipun demikian pandangan R. karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf). Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. keluarga. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. politik.bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. bidang: ekonomi. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. g. b. Teori stratifikasi konflik Collins. Jadi. gaya hidup. Tentang stratifikasi sosial. sosial dan sebagainya.

dan bila memungkinkan secara komparatif. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). i. mode komunikasi. 2004). j. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya. adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. tetapi juga harus menelitinya secara empiris. makin percaya diri. dan (3) makin sering orang menerima perintah. dia akan makin bangga. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. makin menyesuaikan diri secara eksternal. (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). senjata. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. makin fatalistis. dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. makin terasing dari tujuan organisasi. Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris.h. lingkungan fisik. (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . k. sumber daya dan kekuasaan. (2) makin sering orang memberikan perintah. Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif). yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). makin mencurigai orang lain. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah. peralatan). makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. (3) bahwa dalam situasi ketimpangan. makin ia patuh . dan konflik bersifat integratif.

Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman. keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang.pihak yang yang dipaksa. karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian. disebabkan beragam keahlian. profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang. 6. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 .perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. terutama pada masyarakat yang kompleks. untuk menentukan status dan peran. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). dan relatif terintegrasi. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda.2. (3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik. Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil. Jadi. hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat.

Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok. Craib. sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer. hanyalan & alat kaum penindas (elite). 7. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli.bersifat evolusi. beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. 1980). Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi.nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). teori sistem. Konsensus nilai. (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 . 1996. pandangan paradigma fungsional. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. G. Menurut Burrell dan Morgan (1994). Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi.. Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt. dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. 1992). atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan. antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme.

Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. konsensus. (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. Pareto. Parsons. atau konstruktivisme. Ritzer. stabilitas sosial. G. melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. teori fungsional struktural dan neofungsional. solidaritas kelompok. Durkheim. E. and Morgan. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. teori radikal organism. E. 1994. G. pandangan paradigma struktural radikal. Kedua. and Morgan. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. integrasi sosial. 1994). atau naturalisme. Ditinjau dari segi orientasi filosofis. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. B. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). Spencer.kehidupan sosial dari dimensi status quo. dan (4) apabila 75 . G. G. kontradiksi dan perampasan. dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. 2001). Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. M. G and Smart. H. 1979. M. (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. atau saintisme (Poloma. T. dan V. 1980). Ritzer. G. maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. Comte. order sosial. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. (ed). model dominasi. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. equilibrium.

1978. maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis. ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. Mulyana. adalah rasa lapar dan haus. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat.. D. and Society’ adalah karya terpenting H. Dalam menganalisis tindakan. Thomas. Mead. Menurut Mead. 2002). Self. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. 1996. dan buku berjudul ‘Mind. Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. antara lain Pertama. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman. L. Herbert Mead. 2002). 76 . Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. dan Erving Goffman. John Dewey. 2002). Mulyana. tentang Tindakan. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik.. ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik. Jadi. Perspektif teori interaksionis simbolik H.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang. Herbert Blumer. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. William I.individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor). Contoh impuls. Soeprapto. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’. Mead. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel. yaitu: (1) tahap impuls. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt.O. 1984.

pelaku. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya. H. dan (3) tahap pelaksanaan. menggambarkan arah tingkah lakunya. Surbakti. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya. Jadi. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri. 1997b) .karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. mencium. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls. Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. Kedua.. 1978. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. dan (b) isyarat ‘signifikan’. pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. memperkirakan situasinya. Soeprapto. Menurut Herbert Mead. R. bagi Herbert Mead. manusia merupakan pencipta. yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. 2002). Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. F. Mead. manusia adalah makhluk aktif. R. tentang Isyarat. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. mengecap. melihat pengalaman yang lalu. melihat. Jadi. 1982). Menurut H. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. Jadi. menilainya. meraba. J. yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi. 1982. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial. dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell. Dalam bertindak. dengan membuat indikasinya sendiri. T. D. Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. Abraham. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan. 1981. W. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . mengecek dirinya sendiri. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia.M. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial. dinamik. (2) tahap persepsi.. Ada dua macam isyarat. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan.

tentang ’diri’ (self). tentang pikiran. Jadi. tindakan individu mengambil konsistensi.tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota. dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. bagi Mead dan pengikutnya. Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. Bagi Mead. 1982). Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. individu bersifat aktif. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner. J. (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. Pertama. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other). Diri Sendiri. Keempat. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. Konsep ‘diri’ menurut H. Bagi Mead. dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. yang dapat berakibat buruk bagi individu. dan Masyarakat’. H. menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup. Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. Oleh karena itu. rasa sosial diri sendiri. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif. dan kedua. rasa sosial dan diri sendiri. Ketiga. Berawal dari asumsi ini. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri.

1997b..Mead.pikirannya. awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain. Mead. F. antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku. Soeprapto. (3) tingkat ketiga. (1) tingkat awal. dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. R. 1982). pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi). J. atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam. 1982. Menurut H.M. dikukuhkan. pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat. ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. Turner. seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik. menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. Bagi Mead. Dalam permainan. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. 2002). R. kapasitas diri individu . bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan. Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus. tentang masyarakat. Menurut H. masyarakat. Menurut H. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh. Kelima. dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik).. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti. (2) tingkat kedua.. Pada tingkat ini. H. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting. 79 . Mead. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu.

yang objeknya terdiri atas dunia mereka. dan (4) bersifat dinamik. seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. sosial. institusi. 1982. F. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain). (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil. tentang metodologi. (2005). Jadi. dan abstrak. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung. Menurut Kinloch. antara lain: (1) bagi masyarakat. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. (3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. yaitu metode interpretif dan introspeksi. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. 1982). (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. atau terus berubah-ubah. organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik.M. Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka. Metodologi H. teori H. G. baik secara individu maupun kelompok. kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. Turner. J. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif. dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat.Keenam. Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal.

Aturan-aturan. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. 1978. W. 2002). Jiwa. D. melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. melainkan ditentukan oleh ‘Diri. (b) ketika individu menghadapi situasi. Orientasi hidupnya. J. apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. baik versi Mead maupun Blumer. 1982. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. Poloma. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer. oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. Jadi. Peralatannya dan sebagainya. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. Kesamaan H. antara lain: 1. Individu merespons lingkungan. responnya bukan bersifat mekanis. dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. 1979). baik versi Mead maupun Blumer. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. Mead dan H. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya. dan pandangan individu itu sendiri’. (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama. Tujuannya.Mead dan H. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural). dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. Soeprapto. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’.Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. 2. 2002). Simbol-simbol yang digunakan. interpretasi (penafsiran).

1997b. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural. W. dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. motivasinya. pandangan hidupnya. Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek. Dengan demikan 82 . pengetahuannya. pikiran adalah bagian dari struktur). Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu. 1982). menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik. 1997). 2001). Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’. 4. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. Jadi. Poloma. warna mobil. karena itu makna tidak melekat pada objek. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal. 3. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat. sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. Ritzer. yaitu: pikirannya. baru/ bekas.J. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. melainkan ditentukan oleh faktor internal. kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol.. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides. S. 2000). kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. R. Baik versinya Mead dan Blumer. D. Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind).J.kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu. Contoh. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil.. artinya dengan menyebut kata mobil. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’. 5. Jadi.. baik versi Mead maupun Blumer. yaitu. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner.. hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. 1978. 1982. Ramlan..

ekonomi. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. G and Smart. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. sikap dan perspektif. (c) Realitas sosial. yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. terdeterminasi oleh struktur 83 . Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner. 1985). Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. Kinloch. Kebenaran ide. (d) Interaksi sosial. tetapi individu adalah sosok dinamis. kreatif. 1982. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. berupa lingkungan. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. 2005). adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. adalah dinamis dan berevolusi. Ritzer. adalah meliputi ‘pikiran. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. B. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). terdeterminasi oleh faktor eksternal. (b) Masyarakat.masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. (ed). Dari penjelasan tersebut di atas. diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah. karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. pasif. 2. konsensus terhadap nilai dan norma. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. struktur sosial-budaya. Jadi.. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. 6. Soekanto. 2002). 2001.J. Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. 2001. memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap.

Husserl menolak sikap ‘scientisme’. G and Smart. dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. 2001). Ritzer. artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’. 1978. (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. Untuk mengetahui sesuatu. menurut Husserl. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. B. Bagi Husserl. metode Husserl disebut metode fenomenologi. objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan. penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). F. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. (ed). Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama. Kedua. W. tetapi dari kenyataan itu sendiri. Jadi. Ketiga. 84 .norma sosial budaya. dunia sekitar manusia itu ‘berada’. Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. manusia harus otonom. D.

karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. dan (3) reduksi fenomenologi transendental. Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi. maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. 1978. maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. 2006) Kelima. pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. Akan tetapi. (2) reduksi eidetis (inti sari). karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). pandangan kedua untuk menemukan 85 . Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). artinya. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’. Bachtiar. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga.. maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). yaitu: (1) reduksi fenomenologis. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis.Keempat. Kesadaran dalam fenomenologi transendental. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. semua segi. W.

Jadi. ideologi. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. antara lain: Pertama. 2005). dan Harold Garfinkel. 2002). Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. R. Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. R. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label.hakikat objek’. Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. sosial budaya.S. teori ethnometodologi. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. motivasi. Disamping itu. 2. Oleh karena itu. nilai. Mulyana. 2002). yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. dan politik (Praja. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). 1984. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. (3) bersifat nominalis. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. teori fenomenologi. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. tujuan.. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. asumsi. J. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. Soeprapto. yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Alfred Schutz. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. 1979b. dan keyakinannya)..

Jadi. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’. 1981). B. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek. bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada. G and Smart. Ketiga. Kedua. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’. Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya. yang ia sebut ‘arus kesadaran’. oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer. Menurut Schutz. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada. Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. Jadi. menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya. (ed).. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. untuk bisa memecahkan masalah 87 .Edmund Husserl. T. 2001). individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’.

rumah. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat. mobil. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification). G and Smart. W. 2001). dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). W. Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. 1981. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. 1978. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. (ed). Jadi.dan meraih tujuan. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. binatang. Jadi. tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar. hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’. T. Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. B. pohon dan sebagainya). Jadi. 2006). antara lain: Pertama. yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. Jadi. Keempat. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. Ritzer.. D. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. Cambell. masyarakat merupakan produk kultural para individu. Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya.

B. Keempat. Ketiga.. yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum. motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. (ed). pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. B. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi. (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. Kedua. W. setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. 2001. terencana dan rasional. Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. yaitu: Pertama. Menurut Garfinkel. G. 2006).etnometodologi’. Pada pokoknya. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. Jadi. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. 1996). Menurut para ahli. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . G and Smart. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. jiwa. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri. bagaimana pandangan. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal. Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. Bachtiar. dan Kedua. yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial.

eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. Hal ini 90 . karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme. bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. Post-modernisme. bermakna peleburan segala batas. 4. Liberalisme. Kapitalisme. Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. 3. 5. Post-modernisme. bebasnya daya naluri setiap individu. penolakan filsafat metafisis. penampilan dengan kenyataan. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial. 6. Marxisme dan sebagainya. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. antara lain: 1. atau berbeda dengan sosiolog. 2. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. Post-modernisme. tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. Post-modernisme. Post-modernisme. pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. membumbungnya kesenangan material individu. contoh. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. dan sebagainya. Sosialisme. ekonom. politikus. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. filosof. ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. Post-modernisme.

keuniversalan (Sugiharto. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia. Recoeur. kebakuan. atau kritik-kritik filosofis. Bagi Jomeson. antara lain: Derrida. karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme. 1996). Gadamer. atau gambaran dunia (world view). menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). dan Jomeson. Foucault. konsumerisme yang berlebihan. dan Baudrillard. yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. kajian. pandangan. sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984). oleh karena itu 91 . pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’. atau diskusi ilmiah.. Oleh karena itu Jomeson. Lyotard. gaya hidup cenderung hedonis. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’.. dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. parexcellence. B. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. usangnya negara-bangsa. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner). deregulasi pasar. artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. antara lain: Pertama. B. Rorty. teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas. kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. antara lain: Heidegger. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . Jomeson termasuk teoritikus Marxian. atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. globalisasi. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern. Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. Mary Hesse. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard. dapat dikelompokkan menjadi dua. 1996).

Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). 2003). Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa). (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’. Kedua. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’.J. misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern. Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. 2003). menurut Jomeson. G and Goodman. bagi Jomeson. Kehidupan post-modern. yaitu teknologi reproduksi dominan. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi. Jameson menilai. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. Ketiga. artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. Pemikiran postmodern bersifat pastiche. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern). (2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. tahap kedua. Jadi. yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’. D. Jadi.dia menilai tentang kapitalisme. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’. karena sulit dibedakan yang asli dan palsu. G.

Kehidupan manusia menjadi budak simulasi. Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. tetapi lebih didominasi oleh ‘media. sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. pemrosesan oleh teknologi informasi. visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. simulasi. artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. Menurut Kellner. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa. era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar. Ketiga. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. Dia menolak 93 . Internet. yang menjadi utama dan yang berkuasa. maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. Kedua. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). Jadi. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). bagi Boudrillard. G. Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. Surat Kabar). kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas. Massa yang pasif. sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. ketidakacuhan. Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). dan ketidakbermaknaan kehidupan’. dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. Tabloid. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. Keempat. dan hiperrealitas. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’.radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. 2003). Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme.

teknologi. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis. karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir). dan sebagainya (Sugiharto. teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). bahasa. G. Kedua. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi. ekonomi. antara lain: Pertama.. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. Ketiga. maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. dan paradigma objektivis. nilai-norma budaya. kebenaran empirik (objektivis). Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama. yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi. khususnya dengan riset-riset empirik. B. Ritzer. hiperrealitas. 1996). Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme. D. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. 2003). yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. melainkan subjektivis. dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 . 2003.J. pendidikan. tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. ilmiah (saintis). diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. agama. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. hukum. ideologi. G and Goodman.

(2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’. G and Goodman. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. 2003). namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. dalam analisisnya. Ketujuh. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. D. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide.J.itu benar atau tidak. dan Kedelapan. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . Kelima. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek). antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. Keempat. Keenam. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian.

tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. A. beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . 2003). memandang struktur sosial atau faktor eksternal. Kedua. (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. dan sikap yang alamiah (natural attitude). Analisis teori mikro. embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. 2002). (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. (3) teori etnometodologi 96 . memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. lebih menekankan pada jaringan sosial. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959). (d) memperhatikan pertumbuhan. Sedangkan analisis teori makro. Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966).pandangan). yaitu: Pertama. dan kurang menyinggung pada peran individu’. H. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. dan Ketiga. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. 1991. atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. antara lain: Pertama. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’. perubahan dan tindakan. G. beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. Mead dan H. analisis teori mikro dan. sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. analisis teori makro. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. hanya menyinggung tentang tiga hal. Salim. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. Boorman (1976). Blumer. Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. Kedua.

1987). bahkan mungkin sampai sekarang. dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. secara implisit. 1995). Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. Karl Marx. J. Marx. E.. Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya. 97 . Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer. c. kreatif dan voluntaristis. yang mamusatkan perhatian pada organisasi. Di kalangan teoritisi sosial. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. Giddens.V. baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. Jadi. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. 2. b. Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif.W. 1994. Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama. Baal. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat. dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners.oleh Garfinkel (1967). Emille Durkheim. Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak.J. Masing-masing perspektif. 1974. A. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell. dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans. dari abad 19 sampai abad 20. 2002).

khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. 1970). namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel.kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). 2002). Ritzer. pandangan individu. M. yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong.. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 . konsep ‘kharisma’ yang melembaga. (ed). Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’. konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur). 4. 1986. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh. 3. Sosial. Jadi. Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. 1988. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. Ada beberapa pandangan para ahli. dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. Weber. Sistem tindakan kultural Parsons adalah. bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial). Mutahhari. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat. L. Menurut Mizman. yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. R. Surbakti. namun oleh para ahli. 1956. Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. S dan Ratih. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. Kepribadian. Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. Max Weber. Talcott Parsons. 1997a). Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). D.

Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’. dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. mirip bahkan sama atau serupa. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’. H. membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. dalam Sociological Review. 24: 731-752 (1976). Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. Menurut Ritzer. Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis. Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). fenomenologi. teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. b. berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. dalam Sociological Theory (1969). tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . Ada yang memandang. ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. c.struktur’ adalah. Giddens. masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. Eisenstadt and Helle.J.a. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). Menurut Ritzer dan Goodman (2003). Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). 1987). dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. 2003). d.

Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. Konsep makro. Jadi baik agen maupun struktur. c. menurut para ahli. Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine. model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. sering mengacu pada struktur sosial berskala luas. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. jadi agen diartikan sama dengan mikro). (3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro. Agen menurut Burns. mikro mungkin bisa. kelas sosial sebagai aktor.makro dan agen. Sedangkan Touraine. Jadi. Ritzer. memandang. Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. b. lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’. definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 . Konsep struktur. mengacu pada ‘struktur’. sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). mengacu pada ‘agen’. (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. Pada pembahasan berikut ini.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir. Konsep mikro. antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. d. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). agen organisasi. atau mungkin juga tidak. atau kepada kedua-duanya. Konsep agen (agency). dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. agen bangsa). antara lain: a. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. atau mungkin juga tidak. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual. Dan makro bisa. tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners).

(3) mengusulkan pandangan. Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro).sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif. yang terpisah dari dua hal yang berbeda. Kedua. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 . bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi. Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru. menurut Ritzer. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). (4) dalam realitas sosial. Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro).

ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. norma. berpendapat atau bersikap atau berpandangan. Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. Hukum. tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas. misalnya: masyarakat. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif. misalnya: pola tindakan individu. 4) Tingkat mikro subjektif. 102 .2) Ketiga. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. dan (2) kontinum objektif-subjektif. Contoh. suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. adat (budaya ide atau sistem budaya). pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). menurut Ritzer. keyakinan. Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. Kebiasaan. Birokrasi. Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. adat (Skala Luas). misalnya. misalnya: nilai. Norma. tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. dan teknologi.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer. meliputi realitas material berskala luas (besar).I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat. 3) Tingkat mikro objektif. birokrasi. Kontinum mikroskopik-makroskopik. maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. 2) Tingkat makro subjektif. pola interaksi sosial. meliputi proses mental berskala kecil. meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil. meliputi fenomena non material berskala luas.

mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. Sedangkan ujung kontinum Subjektif. sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). misalnya: Ide. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . interaksi sosial. Tentang garis kontinum mikro-makro. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. UU atau hukum. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor. Undangundang. persepsi. Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. struktur birokrasi. Di ujung makro dari kontinum adalah. Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). Sedangkan diantara ujung mikro ke makro. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. motivasi. pikiran individu dan tindakan individu’. misalnya: aktor. persepsi individu). truktur Birokrasi Pandangan. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. gagasan. seperti: kelompok luas (contoh. nilai yang diyakini. ‘aktor individu. Norma. Interaksi. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. Tindakan. Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. pandangan.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. pandangan. & Budya Siste m Dunia Gambar 2.3. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. aparatur negara. birokrasi. Di ujung mikro dari kontinum adalah. Nilai. wujud materi. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. tindakan sosial. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). dan sebagainya. norma. yang mempunyai wujud nyata. norma. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu.

Sebelum menjawab permasalahan ini. 1. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif). seperti birokrasi. hal yang penting perlu diperhatikan adalah. Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a.3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No. Tabel : 2. Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural.Gambar 2. Mikro Subjektif d.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. 2002) 104 . Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2. yaitu Paradigma: Fakta sosial. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2. (3) fenomena mikroobjektif. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. Makro Subjektif b. Teori Sistem. yaitu: (1) makroobjektif. dan Perilaku sosial?. Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma. Definisi Sosial. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif. dan (4) fakta mikro-subjektif. Teori interaksionis simbolik. dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. Kemudian. seperti pola interaksi. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). Jadi. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama. c. (2) realitas makro-subjektif.4. seperti nilai. Teori Konflik. setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Ritzer.

bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. metode atau teknik. 3. (c) tingkat mikro-objektif. Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. contohnya nilai-nilai. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. dan (d) tingkat mikro-subjektif. dan sebagainya. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. norma dan kultur. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . kini dan akan datang). Menurut Ritzer. norma hukum. yaitu: yang perlu dipahami. contohnya birokrasi. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). observasi. dokumentasi. misalnya: metode wawancara. Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). merasakan. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik.Keempat. bahasa. eksperimen. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. (b) tingkat makro-subjektif. contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. kuesioner. berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. konflik dan pertukaran. Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. 4. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. 2. Jadi. Perlu dipahami. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. contohnya proses berpikir. Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’.

Giddens. B. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. 106 .. Cohen dan Craib. 5. dan (e) berpikir dialektik. selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. (Rossides. 2002. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’. bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens. bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. Ritzer. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). G. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan.sosial-budaya. oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A. Contoh: Marx. Menurut Bryan Tunner. Namun perlu diingat. Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. Weber. menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner. 2003). Giddens. menurut teori strukturasi. 1978. Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta. 2000). tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’. Jary.2). kultur dan agen oleh Margareth Archer. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2. Simmel. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya. Ritzer dan Goodman.

Priyono. dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. dan kesadaran diciptakan. Dalam teori ‘strukturasi’. Jadi.. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). 2002).melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. berkat adanya dualitas struktur’ b. prosessual dan dinamis’. tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. Teori Strukturasi. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. S. 1998. juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens. dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’. Jadi. Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan. ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur). teori konflik). Dualitas struktur mengandaikan. khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction). praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). 107 . teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. dinamik). Dalam teori strukturasi. 1984). untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. tetapi secara terus menerus. (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain. c. Menurut Berstein. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx. struktur.

yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. ‘rasionalisasi. tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’. perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam teori strukturasi Giddens. (4) konsep rutinisasi (routinization). dan (5) konsep strukturasi (Giddens. Jadi. Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. (3) konsep waktu-ruang (time-space). (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). (2) konsep struktur dan sistem sosial. d. baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 . dan (b) peneliti sosial-budaya. refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan. (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. agen atau aktor sosial melakukan refleksi. yaitu: (a) aktor sosial. Menurut Giddens. sedangkan motivasi sebagai potensinya’. artinya. yaitu: (1) konsep agen. 1984). menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. Jadi. konsep atau pemikiran tentang ‘agen’.Dalam teori strukturasi. (c) dalam upaya mencari rasa aman. (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. tetapi bukanlah tindakan itu sendiri.

memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. 1998). Menurut Giddens. peran petani adalah membajak. Kesadaran praktis. menanam padi. bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan. adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. Kedua. Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’. konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. kesadaran diskursif. tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar. bahkan Giddens mengatakan. struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. yang relatif jelas perbedaannya. Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. Menurut Giddens. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. memanen padi dan sebagainya. meneliti dan sebagainya. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. Bagi Giddens. Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). struktur adalah ‘apa 109 . Jadi. Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. Menurut Giddens. Agensi (keagenan atau peranan individu). misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan.diurai (tidak perlu argumentatif). karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. membimbing mahasiswa. atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi. Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. Jadi. 2003). Jadi. kekuasaan subjektivitas. Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan. Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia.

(Giddens. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. Pengertian sistem sosial menurut Giddens. 1998). Sedangkan konsep struktural. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur. Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization). Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor.yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi). Ketiga. tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. 1984). Struktur. dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial. Struktur. ada faktor agen yang juga ikut menentukan’. tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. Jadi. 1984). Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 . Kemudian konsep sistem sosial. (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. antara lain: (a) ruang dan waktu. tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). Jadi. penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’.

pengalaman hari demi hari (reversible time). sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. lembaga-lembaga. yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. (3) longue duree. karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. Jadi. kemudian pulang dari kantor. Menurut Bryand and Jary. atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. dan terbentuk oleh. berada di jalan. ruang makan. (2) jangka hidup individual (irreversible time). misalnya lahir-hidup-mati. sampai keadaan di kantor. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. sampai di rumah kembali. Giddens membedakan tiga dimensi waktu. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif. Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. ada ruang kerja. 2003). berada di jalan. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. misalnya. 1984). Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. ruang tidur dan sebagainya. Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). yaitu: (1) duree. persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. 111 . prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. misalnya berangkat dari rumah. ruang tamu.

Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens.Keempat. atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. Kelima. dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Regulation (keterulangan terus menerus). Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization). (c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari. Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. 2002). ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu. Priyono. dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu. 1984. Jadi. Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. konsep strukturasi. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah.

dalam pandangan teori strukturasi Giddens. Keenam. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. konsep rutinisasi. (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). menurut Turner. B. 1998. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. 2002). 113 . tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. Anthony Giddens. Jadi. (Giddens. Priyono. setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur. seimbang dan saling mengisi. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens. antara lain: Pertama. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. prosessual dan dinamis’. Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf). konsep struktur dan sistem sosial.strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. 2002). bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. (2000). juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). dan konsep strukturasi (Faisal. yaitu: konsep agen. 1995. 1995). Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. Jadi. Giddens. konsep waktu-ruang. menurut teori strukturasi. Ritzer. Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur.

setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. (2002). hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. S. Digunakan secara bergantian.. Kelima. J. 2002) Ketiga. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak. sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut. 1988). kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif). ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. menurut Bryman dalam Brannen. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed).Kedua. (b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. Keempat. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. 2007). sehingga ditemukan hipotesis. (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. 114 . (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif). karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya. (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti. Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya.

Creswell. antara lain: Pertama. pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. Kedua. hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan. 2000. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). dalam pandangan teori sistem. dalam pandangan teori konflik versi Marx. akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). Ketujuh. Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). 2008). tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 .Keenam. bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem). Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan. ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). jadi konflik menyatu dalam kehidupan. I. Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme. yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif. pandangan. 2005). Ketiga. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi.

antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. tujuan. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. (3) bersifat nominalis. dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. Keenam. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . Kelima. yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’. dan menawarkan ‘narasi mikro’. Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. dan teori post-modern yang bersifat radikal. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. Keempat. fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. motivasi. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik). dan keyakinannya). keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. tetapi banyak faktor lain. Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. asumsi. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek.materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik.. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. nilai. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik.

sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research). akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis. 117 . Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research). analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. Jadi.sosial-bidaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful