BAB II SISTEM SOSIAL-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF TEORITIS Oleh Dr. ARIFIN, M.Si. A.

Ruang Lingkup Dan Tujuan Kajian Ruang lingkup kajian tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis adalah menyangkut tentang: (a) fenomena sosial-budaya dalam perspektif teori sistem; (b) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fungsional struktural dan neofungsional; (c) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori konflik dan neo-Marxian; (d) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori interaksionis simbolik; (e) sistem sosial-budaya dalam perspektif teori fenomenologi; (f) sistem sosial budaya dalam perspektif teori posmodern; (g) sistem sosial budaya dalam perspektif teori integrasi; dan (h) kesimpulan. Sedangkan tujuan pembahasan tentang sistem sosial-budaya dalam perspektif teoritis, antara lain: (1) diharapkan para mahasiswa, khususnya program studi ilmu-ilmu sosial dapat memahami beberapa alternatif wacana tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neofungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi; (2) diharapkan para peneliti atau peminat studi ilmu-ilmu sosial, dapat memahami konsep-konsep dasar tentang fenomena sosial-budaya dalam perspektif: Teori sistem; Teori fungsional struktural dan neo-fungsional; Teori konflik dan neo-Marxian; Teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi; Teori posmodern; dan Teori integrasi, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai theoritical orientation dalam melakukan analisis fenomena sosial dalam proses social research; dan (3) setelah memahami konsep-konsep dasar tentang teori-teori tersebut, diharapkan para mahasiswa, peneliti dan peminat studi ilmu-ilmu sosial dapat melakukan kajian lebih lanjut pada referensi-referensi ilmiah yang dianjurkan. B. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Sistem Pada bab I telah diuraikan tentang konsep ’aktifitas sosial dan kebudayaan sebagai suatu sistem’. Dan perlu ditegaskan kembali bahwa, ‘dalam memahami aktifitas kehidupan sosial dan kebudayaan seyogyanya menggunakan pendekatan integratif atau memandang bahwa aktifitas sosial-budaya merupakan suatu sistem, karena antar unsur-unsur sosial dan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya adalah saling mempengaruhi’, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) dalam realitas hidup sehari-hari, antar unsur-unsur sosial-budaya tersebut bersifat adaptif; (2) dalam praktik-praktik sosial sehari-hari

29

masing-masing unsur sosial-budaya saling berhubungan secara timbal balik; (3) perubahan pada satu unsur sosial atau unsur budaya akan mempengaruhi perubahan pada unsur sosial atau unsur budaya yang lain; dan (4) pada hakikatnya pola perilaku sosial atau budaya sehari-hari untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup selalu menampilkan keterpaduan antar unsur-unsur sosial dan budaya (Koentjaraningrat, 1981; Soemardjan, S., 1981; Soekanto, S dan Ratih, L. 1988). Orientasi filosofis dari teori sistem sebenarnya adalah mengacu pada aliran positivisme yang dikembangkan oleh bapak sosiologi dunia August Comte. Comte dikenal sebagai pencetus nama atau istilah sosiologi untuk studi ilmu masyarakat (Abraham, F.M. 1982; Wibisono, K., 1983). Sosiolog Graham C. Kinloch (2005) menyimpulkan beberapa asumsi pokok dari pandangan Comte tentang fenomena kehidupan sosial, antara lain: Pertama, bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak terlihat (invisible natural), sejalan dengan proses evolusi dan perkembangan alam pikiran atau nilai-nilai sosial yang berkembang dan dominan berlaku di masyarakat. Kedua, bahwa proses evolusi itu terjadi melalui tiga tahap perkembangan, yaitu: (a) tahapan teologis, yaitu tahapan alam pikiran dan tindakan manusia yang selalu mencari akar sebab-sebab terjadinya sesuatu dari aspek supranatural (kekuatan gaib/ Tuhan); (b) tahapan metafisis, yaitu tahapan alam pikiran abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan dan dilihat sebagai penyebab (kausal). Pada tahapan ini, alam pikiran manusia sudah mulai kitis tentang fenomena hidup, tetapi masih belum bisa melepas ikatan magis atau teologisnya; dan (c) tahapan positivistik, yaitu tahapan alam pikiran manusia rasional, atau tahapan positif/ ilmiah, dan sudah lepas dari ikatan magis. Tahap ini merupakan puncak evolusi kehidupan manusia, karena pada tahap ini terjadi puncak perkembangan ilmu pengetahuan (Wibisono, K., 1983). Ketiga, bahwa sistem sosial sebagai suatu kesatuan berkembang melalui tiga tahap tersebut, dan puncaknya adalah tahap ke tiga (tahap positif). Tugas sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem sosial tersebut secara integral, agar mampu memberi kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial; Keempat, bahwa sistem sosial terbagi menjadi dua hal, yaitu: (a) statistik sosial (social static), yaitu menyangkut sifat-sifat manusia dan masyarakat, serta hukum-hukum (nilai-nilai) yang berlaku bagi manusia sebagai makhluk sosial; dan (b) dinamika sosial (social dynamic), yaitu menyangkut hukum-hukum perubahan sosial (Rossides, 1978; Surbakti, R., 1997a). Kelima, bahwa yang mendasari sistem itu adalah naluri kemanusiaan yang terdiri dari tiga faktor utama, yaitu: (a) naluri-naluri pelestarian (instincts of preservation) dalam hidup; (b) naluri-naluri perbaikan (instincts of improvement) dalam

30

hidup; dan (c) naluri sosial, misalnya kasih sayang, pemujaan dan cinta semesta. Jadi, menurut Comte, sistem sosial terdiri dari statis dan dinamis yang didasarkan pada seperangkat nilai sosial tertentu yang pada akhirnya ditemukan pada naluri kemanusiaan. Struktur-struktur sosial sebagai satu kesatuan (sistem) yang berkembang melalui tiga tahapan utama (teologis, metafisis, dan positivistis). Pembahasan tentang teori sistem dalam mencermati fenomena sosial banyak dibahas dalam studi sosiologi. Ilmuwan sosial Jerman yang berjasa dalam melahirkan teori sistem adalah Nilas Luhmann, sedangkan ilmuwan sosial yang berjasa dalam mengembangkan atau mempopulerkan teori sistem adalah Kenneth Bailey dan Walter Buckley (Ritzer dan Goodman, 2003). Berikut ini akan dijelaskan sembilan konsep penting pandangan ‘teori sistem’ yang dikemukakan oleh para ahli (pendukung teori sistem) dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. Pertama, teori sistem asal usulnya adalah dimunculkan atau diilhami dari ilmuilmu pasti (hard sciences) atau ilmu-ilmu alam (natural sciences). Jadi, menurut teori sistem, setiap peneliti yang ingin memahami fenomena sosial-budaya yang berkembang di masyarakat, logika berpikirnya atau metode dan pendekatan yang dipakai adalah sama seperti dalam memahami fenomena ilmu-ilmu alam (ilmu pasti). Oleh karena itu teori sistem oleh para teoritisi dikelompokkan pada teori yang berorientasi pada pandangan atau paham positivisme (Ritzer, ed. 2001). Dalam pandangan Tacott Parsons, bahwa kehidupan organisme (kehidupan biologis) merupakan contoh suatu sistem, dan kehidupan sosial juga dapat diibaratkan seperti suatu kehidupan organisme. Pada tingkat macro (besar), misalnya, masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dipandang sebagai sebuah sistem (terdiri dari beberapa negara, ras, dan prinsip/ hukum hak asasi manusia, dan sebagainya), pada tingkat mezo (menengah), misalnya, negara (state) atau bangsa (nation) dapat dipandang sebagai sebuah sistem, demikian juga pada tingkat micro (kecil), misalnya: satuan keluarga, satuan pendidikan, satuan perusahaan, ikatan pertemanan, dan segmen-segmen tertentu dapat dipandang sebagai sebuah sistem (Johnson, D.P. 1981). Kedua, pendekatan teori sistem adalah memandang bahwa semua aspek atau unsur-unsur dalam sistem sosiokultural (sosial-budaya) adalah dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi dan komunikasi. Oleh karena itu teori sistem secara inheren bersifat integratif, sedangkan bentuk integratif antar unsur sosialbudaya tersebut adalah bersifat menyatu dan umpan balik (feed back). Dinamika sosial-budaya yang terjadi di masyarakat akan mengarah pada terwujudnya keserasian fungsi antar unsur-unsur sosial-budaya dalam kehidupan kelompok (social and cultural integrations). Unsur-unsur sosial dalam kehidupan kelompok merupakan subsistem dari sistem dalam kelompok, demikian juga unsur-unsur budaya

31

merupakan subsistem budaya dalam kehidupan di masyarakat, masing-masing subsistem tersebut bersifat integratif (Coser, L. and Rosenberg, B. 1969; Harper, C.L. 1989; Bachtiar, W. 2006). Ketiga, teori sistem dalam memandang tentang ‘perubahan sosial’ adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan. Perubahan adakalanya hanya terjadi sebagian (pada subsistem) dan tidak menimbulkan akibat besar terhadap unsur-unsur lain dalam sistem. Kehidupan kelompok (macro, mezo atau micro) sebagai suatu sistem sifatnya sangat kompleks, tidak hanya berdimensi tunggal, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa komponen, antara lain: (a) unsur pokok, misalnya: individu, tindakan individu; (b) hubungan antar unsur, misalnya: nilai-norma, status-peran, solidaritas, interaksi; (c) berfungsinya unsur dalam sistem, misalnya, pelaksanaan peranan individu berdasarkan nilai-norma; (d) pemeliharaan batas, misalnya: persyaratan menjadi anggota kelompok, kriteria menjadi anggota sistem dan sebagainya; (e) subsistem, misalnya: segmen, divisi khusus, jenis seksi; dan (f) lingkungan, misalnya, keadaan alam, kondisi geopolitik. Menurut teori sistem, ada beberapa kemungkinan terjadinya perubahan sosial dalam suatu kelompok, antara lain: (a) perubahan komposisi anggota kelompok, misalnya, bertambah/ berkurangnya anggota; (b) perubahan struktur, misalnya: terjadi ketimpangan atau konflik, pergantian kekuasaan, hubungan kompetitif; (c) perubahan fungsi, misalnya, adanya spesialisasi jenis peran-peran dalam kelompok; (d) perubahan batas, misalnya: penggabungan antar subsistem, longgarnya syarat/ kriteria anggota; (e) perubahan hubungan antar subsistem, misalnya, munculnya dominasi aspek politik pada aspek ekonomi; dan (f) perubahan lingkungan, misalnya, bencana alam atau rusaknya lingkungan (ekologi) (Lauer, R.H. 1978; Sztompka, P. 1993). Keempat, Menurut Buckley, bahwa sifat atau bentuk hubungan sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1) hubungan ‘sistem mekanik’, cirinya antara lain: (a) bersifat langsung dan otomatis atau ‘transfer energi’; (b) lebih bersifat tertutup; dan (c) cenderung bersifat entropik; (2) hubungan ‘sistem organik’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek dalam sistem tersebut sudah lebih menekankan aspek pertukaran informasi daripada aspek pertukaran energi; (b) lebih terbuka daripada sistem mekanik; dan (c) cenderung bersifat negentropik; dan (3) hubungan ‘sistem sosiokultural’, cirinya adalah: (a) hubungan antar aspek atau unsur dalam sistem tersebut adalah lebih menekankan pada pertukaran informasi; (b) sifatnya paling terbuka; (c) cenderung lebih banyak terjadi ketegangan dalam sistem, apabila dibandingkan pada sistem mekanik dan sistem organik; dan (d) bersifat purposif dan

32

D. faktor eksternal (struktur dari sistem) menentukan seseorang (subjek). . faktor menjaga atau terwujudnya ‘keseimbangan’ (equilibrium) unsur-unsur dalam sistem adalah aspek yang esensial dalam memahami ‘teori sistem’. integrasi. 2003). Jadi.mengejar tujuan karena sistem ini menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang menyebabkan mereka terus bisa berubah untuk meraih tujuan. artinya. 1990). 1982. kepribadian dan masyarakat (Hamilton. P. G and Goodman.J. Keempat fungsi memaksa tersebut diterapkan pada sistem tindakan. antara lain: (1) menurut Buckley. sedangkan bagi Parsons. 2003). sehingga proses sosial dalam sistem lebih dinamis. beberapa prinsip atau konsep dasar ‘teori sistem sosiokultural’ Buckley adalah: (1) teoritisi sistem menerima ide bahwa ‘ketegangan’ dalam sistem adalah sesuatu yang normal. faktor ‘umpan balik’ (feed back) adalah aspek yang esensial (mendasar) dalam ‘sistem sosiokultural’ atau pendekatan sibernetik (cybernetic). faktor kualitas individu atau kualitas internal individu menentukan proses sosial. setiap sistem harus menghadapi dan harus berhasil menyelesaikan masalah-masalah: adaptasi. (3) proses sosial didalam sistem sosial selalu terjadi ‘proses seleksi’ secara terbuka terhadap kemampuan individu atau antar individu. 33 . yang menentukan struktur. dan (2) Buckley.. kultur. Keenam. memandang peran subjek atau individu ikut mewarnai ‘sistem sosiokultural’. (2) penekanan pada ketegangan dan variasi aktivitas dalam sistem membuat perspektif sistem sosial menjadi dinamis. Jadi. Kelima.J. baik yang bersifat alamiah.M. negoisasi. bagi Buckley. ada perbedaan teori sistem yang dikembangkan Buckley dengan teori sistem yang dikembangkan Parsons. dan merupakan realitas yang diperlukan dalam sistem sosial. faktor internal (subjek) seseorang menentukan struktur dalam sistem. yang berupa pertukaran. Demikian juga proses transaksional dalam interpersonal. setiap sistem mempunyai empat ‘fungsi memaksa’. pencapaian tujuan. sedangkan menurut Parsons kesadaran (jiwa) individu tidak menentukan tindakan dan interaksi sosial. F. Ritzer. dan pemeliharaan pola yang tersembunyi. atau struktur yang menentukan tindakan atau interaksi sosial seseorang (Abraham. sedangkan menurut Parsons. dan (5) melalui transaksi dan bargaining yang dilakukan secara terus menerus akan melahirkan penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil (Ritzer. D. dan tawar menawar (bargaining) adalah proses-proses yang melahirkan truktur sosial dan kultural yang lebih stabil. Sedangkan menurut Parsons. karena kesadaran (jiwa) individu tidak terpisahkan dari tindakan dan interaksi. selalu hadir. (4) level interpersonal merupakan dasar pengembangan dari struktur yang lebih luas. atau antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ serta ‘interaksi’ bersifat integratif.ed. G and Goodman.

suatu ‘sistem’ selalu kurang namun sistem mengembangkan subsistem- subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antar subsistem untuk mengatasi lingkungan secara efektif (Ritzer. menurut Luhmann. ed. Jadi. dan (d) sebuah sistem autopoietic’ adalah sistem tertutup. Menurut Luhmann. dan (d) tertutup’. dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. 2001). (b) membangun struktur dan batas-batasnya sendiri. ada perbedaan antara konsep ‘sistem psikis’ dengan ‘sistem sosial’. sedangkan menurut Luhmann ‘kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuh sistem’. sedangkan ‘sistem sosial’ adalah ‘makna (meaning) sosial/kolektif’. P.Ketujuh. yaitu mengorganisasi diri dengan membuat batas-batas diri dan mengorganisasikan struktur internalnya. (c) sistem autopoietic’ adalah self referential. misalnya sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. (b) sistem autopoietic’ mengorganisasikan diri (self organizing) dalam dua cara. (c) self reference. dan elemen-elemen dari ‘sistem 34 . yaitu: ‘sistem psikis’ adalah kesadaran individu. sedangkan menurut Luhmann. Individu mempunyai makna atau relevansi dengan masyarakat apabila individu tersebut dapat berkomunikasi secara efektif dalam proses interaksi sosial di masyarakat. dan (2) pendekatan Parsons tentang skema AGIL tidak memberi kemungkinan (contingency) adanya faktor-faktor lain yang ikut menentukan dalam suatu sistem sosial. Menurut Luhmann. kompleks daripada ‘lingkungan’. teoritisi sistem dalam studi sosiologi yang mencoba mengkombinasikan antara teori fungsional struktural Parsons dengan teori sistem umum adalah Luhmann. motivasi. dan elemen-elemen dari ‘sistem psikis adalah representasi konseptual. bahwa segala sesuatu mungkin bisa memberikan pengaruh yang berbeda. . tetapi juga faktor internal (jiwa. Jadi. Kedelapan. dimana masyarakat adalah: (a) menghasilkan elemen-elemen dasarnya.ed. misalnya sistem ekonomi modern menghasilkan elemen dasar ‘uang’. Luhmann mengembangkan teori sistem dengan istilah ‘sistemsistem autopoietic’. ‘bahwa masyarakat adalah sistem autopoietic’. Kritik Luhmann terhadap pandangan Parsons adalah: (1) pendekatan Parsons tidak memberikan tempat untuk ‘referensi diri’ (self reference). misalnya sistem ekonomi dengan menetapkan harga barang tertentu atau peraturan tertentu. Elemen dasar dari masyarakat adalah ‘komunikasi’. beberapa karakteristik ‘sistem-sistem autopoietic’ Luhmann antara lain: (a) sebuah sistem autopoietic’ menghasilkan elemen-elemen dasar. 1990). mentalitas) individu sebagai warga kelompok juga ikut menentukan gerak sistem (Hamilton. artinya tidak ada kaitan antara sistem dengan lingkungan. faktor eksternal (lingkungan fisik dan struktur sosial) bukan satusatunya faktor yang menentukan gerak sistem.

tetapi masih ada dua faktor lain yang ikut menentukan yaitu: de-differensiasi (proses memudarnya atau pembubaran batas-batas antar sub sistem sosial). dan (d) differensiasi sistem fungsional. dan dalam masyarakat modern proses differensiasi dalam sistem semakin kompleks. dalam sistem psikis. sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. Differensiasi adalah ’replika keberagaman dalam sistem’. makna dikaitkan dengan kesadaran. (c) differensiasi pusat-pinggiran. yaitu differensiasi yang paling kompleks yang banyak terjadi pada masyarakat modern. apabila terjadi perubahan pada sub-sistem akan begitu cepat mempengaruhi sub-sistem lainnya (Ritzer dan Goodman (2003). Menurut Luhmann. yaitu keberagaman dalam sistem karena perbedaan status secara hirarkhis (vertikal). (3) teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses dalam sistem adalah antievolusioner. dan lingkungan eksternal (pola yang khas antar sub sistem). dan interpenetrasi (proses pembentukan institusi untuk memperkuat hubungan sistem). Baik sistem psikis maupun sistem sosial adalah berevolusi secara bersama-sama. keharusan perkembangan evolosioner sesungguhnya adalah regresif dan tidak mesti (unnecessary). hal ini tentu banyak bertentangan dengan realitas masyarakat yang terus berkembang (dinamik) dan terbuka (tidak tertutup seperti pandangan Luhmann). yang sering disebut ’differensiasi sistem fungsional’. Kesembilan. Ada beberapa bentuk differensial dalam sistem menurut Luhmann. Dalam realitas sosial di masyarakat tidak hanya faktor differensiasi yang menjadi kunci penyebab terjadinya perubahan evolusi di masyarakat. Meskipun teori sistem Luhman ada 35 . Dalam sistem yang differensial terdapat dua lingkungan yaitu: lingkungan internal (pola yang khas didalam sub sistem). Dalam differensiasi sistem fungsional. dalam sistem sosial terdapat ’differensiasi’. melihat bahwa differensiasi adalah ’kunci’ untuk mendiskripsikan perkembangan (evolusi) masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya. Tidak semua sistem tampak tertutup dan otonom seperti yang diasumsikan Luhmann. (2) Luhmann. dan lebih bersifat fleksibel daripada differensiasi lainnya. (b) differensiasi stratifikasi. yaitu keberagaman dalam membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan jenis kebutuhan hidup. yaitu: (a) differensial segmentasi. karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan differensiasi. yaitu keberagaman dalam sistem yang didasarkan pada pembagian pusat (center) dan pinggiran (periphery). Jadi.sosial’ adalah komunikasi (communication) . antara lain: (1) Luhmann. Tampaknya teori sistem Luhmann terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antar subsistem dalam sistem sosial. kritik terhadap teoritikus Ritzer dan Goodman (2003) memberikan beberapa melihat bahwa sosial di teori sistem Luhmann.

(2) sistem sosial itu berkembang sesuai dengan beragam kebutuhan yang mendasarinya dalam kehidupan sehari-hari. Alexander (Surbakti. Merton 36 . Beberapa konsep pandangan teori sistem tentang fenomena sosial. (4) memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukumhukum alam. sedangkan pandangan para antropolog tentang teori fungsional struktural tidak dibahas. Brown. Talcott Parsons. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Fungsional Struktural dan NeoFungsional Struktural Perspektif teori fungsional struktural dalam memahami fenomena sosial budaya telah dikaji oleh para ahli antropologi dan sosiologi. dan Jeffrey C. hal ini bukan berarti pandangan para sosiolog berada pada posisi lebih penting atau lebih baik dari pandangan para antropolog. 1997a. memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan dan bersifat organik. (2) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya?. (3) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berdasarkan sistem pembagian kerja yang mengikutinya.kelemahannya. C. Kajian berikut tentang teori fungsional struktural. namun konsep-konsep dasar dari teori sistem tersebut banyak sumbangannya dalam proses analisis fenomena sosial budaya di masyarakat. Kajian berikut ini akan lebih menekankan pada pandangan para teoritisi sosiologi tentang teori fungsional struktural. pada era akhir abad 20 teori teori fungsional struktural mulai dikritik para ilmuwan sosial. dapat diambil beberapa kesimpulan. Diantara para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin antropologi antara lain: R. Roebert K. ‘bahwa teori fungsional struktural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad 20’. (3) Bagaimana pandangan teori fungsional struktural Robert K. 2004). dan (5) bentuk perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat adalah berlangsung secara evolusi. karena masih ada sisi kelemahannya’. ‘bahwa teori fungsional struktural masih perlu dikembangkan. lebih difokuskan pada lima permasalahan. Durkheim. R. E. Meski hegeomoni teori fungsional struktural mendominasi dua dekade sesudah Perang Dunia II. dan C. Kluckohn. Dari pandangan ini akhirnya muncul ‘teori neofungsionalisme’ (Ritzer dan Goodman. Nenurut Robert Nisbet. Merton. antara lain: (1) Bagaimana pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya?. W. Menurut Demerath dan Peterson. misalnya kebutuhan ekonomi.. yang telah diuraikan di atas. Malinowski. dan unsur-unsur dalam masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh serta berkembang terus melalui tahapan-tahapan untuk menuju masyarakat yang lebih positif dan industri. Bachtiar. 2006). antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem. Sedangkan para pendekar teori fungsional struktural dari disiplin sosiologi antara lain: Pitirim Sorokin.

dan (4) Bagaimana pandangan Neofungsionalisme Jeffey C. dan masing-masing unsur tersebut cenderung untuk saling kait-mengkait untuk menuju kearah keserasian fungsi dalam sebuah sistem. 1982. bahkan ada sebagian ahli mengatakan. Benedict. Pada pembahasan berikut ini.F. apabila keserasian fungsi antar unsur dalam suatu sistem tidak terjalin dengan baik. hanya menguraikan beberapa pokok pikiran teori fungsionalis dari Pitirim Sorokin dan George Homans. Diantara sisi kesamaan pandangan Comte dengan Sorokin. setiap kehidupan sosial dan kebudayaan mempunyai unsurunsur. adalah ‘unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya dalam suatu kehidupan kolektif saling berkontribusi. Sorokin dan Spengler. Para ilmuwan sosial yang mendukung asumsi-asumsi teori fungsionalis antara lain: A. Malinowski. W. bahwa asumsi-asumsi teori fungsionalis tentang kehidupan sosialbudaya di masyarakat adalah bersumber pada pandangan teori organisme Toynbee. 1984). kehidupan kelompok tersebut mengalami konflik dan akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial-budaya (Abraham. atau saling memberi pengaruh positif antar unsur untuk mewujudkan kehidupan kolektif yang integratif’. 1. Spengler. George Homans. Florian Znanieeki. Alexander dalam memahami fenomena sosial-budaya?. 37 . Spengler. dan Malinowski. tujuan dipilihnya dua teoritikus tersebut adalah karena pandangan kedua teoritikus tersebut cukup besar dalam perkembangan teori yang berparadigma fungsional. Florian Znanieeki. dan diharapkan para pembaca secara mandiri lebih terdorong untuk lebih memperdalam pandangan-pandangan teoritikus A. Toynbee. Pandangan Pitirim Sorokin tentang fenomena sosial Pandangan Sorokin tentang ‘hakikat realitas sosial’ (pokok-pokok persoalan sosiologi) mempunyai kesamaan dengan pandangan Comte. M. Teori fungsionalis mempunyai pola atau kerangka berpikir yang sama dalam memahami fenomena sosial-budaya dengan teori organisme. D. 2006). Coleman. R. Pitirim Sorokin. J. Pandangan teori fungsional Pitirim Sorokin dan George Homans dalam memahami fenomena sosial-budaya Menurut para ahli. Oleh karena itu apabila unsur-unsur sosial atau unsur-unsur budaya tersebut dalam proses-proses sosial kolektif tidak saling memberikan pengaruh positif disebut ‘disfungsional’. Dalam pandangan para ahli teori fungsional. dan (b) keduanya menekankan betapa pentingnya peran ilmu pengetahuan (rasionalis) dalam memahami dunia dan segala bentuk pola organisasi sosial serta perilaku manusia. Brown.dalam memahami fenomena sosial-budaya?. antara lain: (a) keduanya memusatkan perhatiannya pada tingkat analisis budaya. Brown. Toynbee. Benedict.R. juga bersumber pada teori psikologi Gestalt (Bachtiar. makna fungsional dalam kontek kehidupan sosial-budaya. R..W and Cressey.

perlu menggunakan pendekatan ‘integralis’. antara lain: (a) Comte mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat linear yang mengarah pada terbentuknya masyarakat positif. Kebenaran realitas empirik atau data empirik tidak hanya ditentukan oleh satu kebenaran inderawi (seperti pandangan positivisme Comte). dan beberapa tipe kecil yang merupakan bagian dari tiga tipe mentalitas budaya tersebut. Beberapa pokok pikiran Sosiolog Pitirim Sorokin (lahir di Rusia. bahwa pola perubahan sosialbudaya bersifat siklus (berulang). tentang tipe-tipe mentalitas budaya. Sorokin menyebutkan ada tiga tipe mentalitas budaya (disebut ketiga supersistem sosio-budaya). tetapi kebenaran itu harus bisa terbuktikan secara integralis dari tiga aspek. Sedangkan aspek budaya yang terulang adalah tema-tema budaya dasar. atau saling memberi kontribusi fungsional. norma dan simbol yang berkembang di masyarakat. tentang integrasi sosial-budaya. dalam menilai kebenaran suatu fenomena hidup lebih menekankan pada aspek rasional (kebenaran inderawi). 1889) tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. 1978).P. 1986). bahwa kunci dalam memahami realitas sosial-budaya di masyarakat adalah harus memahami arti nilai. suatu epistemologi yang komprehensif harus mengakui bahwa kenyataan (realitas) sosial-budaya adalah bersifat ‘multidimensional’ dan dapat ditangkap sebagiannya oleh inderawi. sedangkan Sorokin mengusulkan proses perubahan sosial-budaya bersifat siklus (tahap sejarah cenderung berulang). atau saling bergantung (terintegrasi). Kedua. Terwujudnya tingkat integrasi yang tinggi pada sistem sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat adalah apabila terdapat seperangkat ‘norma hukum’ yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku (pola perilaku) di masyarakat. atau dengan kata lain. Ketiga. menilai bahwa dalam menentukan kebenaran suatu fenomena tidak cukup hanya dari sudut kebenaran inderawi. Bagi Sorokin. dan intuisi atau kepercayaan (Johnson. Menurut Sorokin. sebagiannya oleh akal budi dan sebagaiannya oleh kepercayaan atau intuisi. yaitu kebenaran inderawi. Dalam memahami tentang pola perubahan sosial-budaya. tetapi pengulangan itu menunjukkan pola-pola yang berubah (tidak tetap). bahwa tingkat budaya integrasi yang penuh arti logis (logico meaningfull) merupakan dasar terbentuknya integrasi sosial-budaya yang paling tinggi di masyarakat (Rossides. dan (b) Comte. kebenaran akal budi dan kebenaran kepercayaan atau intuisi. Dalam budaya terdapat unsur-unsur yang saling terkait.Sedangkan perbedaan pandangan antara Comte dengan Sorokin. yaitu: (1) 38 . D. atau sering disebut ‘berulang-berubah’ (varyingly recurrent). tetapi juga dari sudut akal budi. sedangkan Sorokin. tentang perubahan sosial-budaya.

Kebudayaan ini dibagi dua. (h) seni. antara lain: (a) bahasa. tentang unsur budaya. nilai-budaya tersebut berfungsi sebagai ikatan para anggota kelompok dalam mewujudkan integrasi kelompok (Rossides. dan (c) kebudayaan inderawi sinis. yaitu mentalitas yang menunjukkan ikatan yang kuat pada prinsip ‘manusia harus mengurangi kebutuhan material agar bisa lebih dekat pada dunia transenden’. (c) kepercayaan/ agama. yaitu: (1) mobilitas vertikal.P. yaitu: (a) kebudayaan idealistis. (d) etika. Sedangkan penyebabnya. Ada dua bentuk mobilitas sosial. adalah: terjadinya peningkatan kualitas ketrampilan. yaitu memunculkan budaya munafik (hipokrit). D. yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Antara transenden dan material saling mengisi/ berhubungan/ terintegrasi. (g) ekonomi. Mobilitas sosial ertikal. Dunia ini tergantung pada Tuhan (transenden). (b) filsafat. Johnson. (b) kebudayaan ideasional tiruan (pseudo ideational culture). dibedakan menjadi dua. Mental ini mendorong pertumbuhan iptek. Masing-masing dasar-dasar budaya tersebut saling kait mengkait dalam suatu kesatuan. bisa berbentuk lapisan sosial seseorang atau kelompok naik lebih tinggi. Kelima. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa realitas (kenyataan akhir) bersifat nonmateri. keahlian atau prestasi karyanya. Menurut Sorokin. 1978. tentang bentuk mobilitas sosial (social mobility). Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. Dalam kehidupan masyarakat selalu terjadi mobilitas sosial. 1986). yaitu: (a) social climbing (perpindahan status naik). Tipe kebudayaan ideasional. yang terdiri dari dua tipe.tipe kebudayaan ideasional. (2) kebudayaan inderawi (sensate culture). dibagi menjadi dua. tetapi berusaha mengubah dunia material supaya selaras dengan dunia transenden. dan 39 . Keempat. Setiap kebudayaan hakikatnya mempunyai dasar-dasar budaya (unsur-unsur budaya). dan (3) kebudayaan campuran. Kebudayaan ini menghasilkan hasrat yang berlebihan (memuja nafsu) atau budaya hedonisme. yaitu kebudayaan yang merupakan campuran dari mentalitas ideasional (transenden) dan inderawi (material) secara seimbang. 1978). (b) kebudyaan inderawi pasif. yaitu dunia materi merupakan satu-satunya kenyataan yang ada. yaitu: (a) kebudayan ideasional asketik. setiap kehidupan kelompok tidak akan bisa lepas dari nilai-budaya yang berkembang dalam kelompok. yaitu perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. yaitu mengurangi kebutuhan inderawi. Kebudayaan ini mendorong manusia untuk aktif/ sebanyak mungkin meraih pemenuhan kebutuhan materi/ kepuasan materi. yang disebut ‘supersistem budaya’. yaitu: (a) kebudayaan inderawi aktif. (i) teknologi. (f) politik. artinya antara transenden dan material tidak terintegrasi tetapi saling berdampingan (Rossides. transenden. tidak bisa ditangkap oleh indera. (e) hukum. dan (b) kebudayaan ideasional aktif.

padahal fenomena sosial-budaya sangat kompleks dan unik. sehingga hasil analisisnya belum tentu bisa menjangkau atau mewakili kreasi budaya secara khusus (mikro) dari keseluruhan yang ada di masyarakat yang sifatnya sangat dinamik. setiap elemen dalam sistem bersifat fungsional dalam proses perubahan-perubahan sosial-budaya. sedangkan sistem eksternal adalah tingkah laku yang mewakili kelompok berkaitan dengan lingkungan. setiap kehidupan kelompok merupakan suatu sistem. dalam suatu sistem terdapat elemen-elemen yang saling kait-mengkait (fungsional).. Jika. (c) sentimen atau solidaritas terhadap kelompok. Hubungan antara berbagai elemen yang ada dalam kelompok merupakan sistem sosial yang mempengaruhi sistem internal. Menurut Homans. dan tidak dihargainya lagi kedudukan tertentu sebagai lapisan elit (misalnya jabatan direktur perusahaan yang bangkrut). bisa berbentuk status sosial seseorang turun. dan sesorang memasuki masa purna tugas. dan (b) analisis Sorokin mengenai kebudayaan lebih bersifat umum (makro). bahwa: (a) ketergantungan dalam hubungan timbal balik akan mempengaruhi perasaan seseorang. tentang fenomena sosial budaya antara lain: Pertama. Jadi. antara lain: (a) Sorokin terlalu menggeneralisasikan dan menyederhanakan fenomena sosialbudaya di setiap masyarakat. 1997a). atau fenomena sosial-budaya banyak dipengaruhi oleh kondisi time and space). yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok orang dalam lapisan sosial yang sama (Surbakti. demikian juga sebaliknya. Seseorang akan merasakan perasaan orang 40 . dalam sebuah sistem terdapat sistem internal dan sistem eksternal. Elemen-elemen dalam suatu sistem (fungsional) dapat dianalisis dari aspek: (a) aktivitas anggota dalam kelompok. Meskipun sumbangsih pemikiran Sorokin dalam khasanah teori sosiologi cukup besar. (b) ketergantungan timbal balik antara perasaan dan aktivitas. atau reaksi kelompok terhadap kondisi lingkungan. (2) mobilitas horisontal. R. Sistem internal memiliki lingkup tingkah laku individu dalam kelompok. Semua elemen dalam sistem yang ada dalam kelompok membentuk piramida interaksi antar elemen (fungsional).adanya kekosongan kedudukan (alih generasi dalam jabatan). ada beberapa titik kelemahan pandangan Sorokin. (b) social sinking (perpindahan status turun). dan antar kelompok. dan (d) norma yang dijadikan sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan kelompok yang sistemik. Kedua. Sedangkan penyebab social sinking adalah seseorang melakukan tindak pidana. (b) interaksi antar anggota didalam kelompok. interaksi sosial antar dua pihak sering dilakukan akan memunculkan perasaan suka (positif) pada masing-masing pihak. Pandangan George Homans tentang fenomena sosial Beberapa pokok pikiran Sosiolog George Homans.

‘interaksi’ dan ‘sentimen’ secara integral. J. 2006). terjadi saling interaksi. keadilan. ada elemen dasar dalam aktivitas kelompok sebagai sistem yang terintegrasi (fungsional). atau imbalannya atau pertukaran yang dia peroleh dari tindakan. artinya seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain melalui beragam aktivitas. W. artinya seringnya hubungan timbal balik sesama anggota dalam kelompok. seringnya berinteraksi dengan pihak lain merupakan wujud dari aktivitas dan perasaan individu. untuk memperoleh keuntungan psikis dalam pertukaran imbalan dan hukuman yang terjadi dalam kehidupan kelompok. Ketiga. bagi Homans. Kelima. 1982). karena masing-masing pihak saling merasakan manfaatnya. Disintegrasi kelompok akan terjadi apabila proses pertukaran dalam kehidupan kelompok tidak terjadi dengan baik. Jadi. penyesuaian. Oleh karena itu G. maka menurut Homans diperlukan proses ‘institusionalisasi’ (melembagakan atau menjadikan nilai-norma sebagai pola dalam organiasasi secara ajek) (Turner. Sistem internal dan sistem eksternal dalam proses aktivitas kelompok saling berkaitan. akan memperkuat perasaan pertemanan satu sama lain (kuatnya hubungan antar elemen). Keempat. 41 . artinya perasaan pertemanan yang kuat dalam kelompok sebagai suatu sistem akan diekspresikan melalui beragam aktivitas kerja dalam sistem. pencarian penghargaan. Setiap tindakan diperhitungkan nilai fungsinya.H. tidak terbatas hanya pada orang yang sering berinteraksi. Homans berpendapat. setiap sistem memiliki bagian-bagian sistem (subsistem) baik bersifat internal maupun eksternal. tetapi juga pada orang lain yang kurang berinteraksi (Bachtiar. Dalam proses pertukaran dalam kelompok. persaingan. Homans mengistilahkan ‘pengaruh arus balik’. dan (c) penyandaran sebagai hasil hubungan. norma sosial merupakan bagian dari budaya terpenting (dasar) dalam sebuah kelompok sebagai suatu sistem. semua aktivitas dalam sistem tersebut berdasarkan pada norma yang berlaku dalam kelompok. Homans termasuk salah satu pendukung teori pertukaran.. Hal ini akan mempengaruhi semua aktivitas dalam sistem eksternal. Menurut Homans. dan (3) aktivitas dan interaksi. Agar terjadi hubungan yang kuat antara proses pertukaran dasar dengan pola organisasi sosial yang bersifat kompleks.lain melalui hubungan timbal balik. bahwa semua struktur sosial terbentuk dari proses pertukaran yang sama. Proses pertukaran dalam kehidupan sosial (masyarakat) melibatkan aspek ‘kegiatan’. Jadi. Setiap elemen/ anggota/ subsistem dalam proses aktivitas dan interaksinya berdasarkan norma sosial. (2) perasaan dan aktivitas. pengaruh. manusia dalam melakukan beragam tindakan di masyarakat didasarkan kepada rasionalitas. antara lain: (1) ketergantungan timbal balik dan sentimen. kedudukan dan inovasi-inovasi.

R. yaitu ‘bahwa masyarakat sebagai suatu kesatuan. Amitai Etzioni. Brown. baik yang berlatar belakang kajian antropologi maupun sosiologi. sosiolog dan teoritikus Tunner. Talcott Parsons. (b) konsep atau prinsip tentang ‘pertukaran’ sebagai unsur dasar dalam mewarnai setiap kegiatan kelompok atau organisasi kelompok memiliki banyak kelemahan. dan sebagainya. (1992) memberikan beberapa analisis kritik terhadap beberapa sisi kelemahan sudut pandang Homans. yaitu struktur sosial (masyarakat statis) dan perubahan sosial (masyarakat dinamik) (Kinloch. Beberapa asumsi pokok pandangan paradigma organik dan fungsional tentang kehidupan sosial di masyarakat antara lain: (1) masyarakat adalah suatu sistem yang saling berhubungan dan bersifat organik. J. G. 2. (3) masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional (non industrial) menuju masyarakat industri dan modern (bersifat evolusi). karena dalam realitasnya unsur pertukaran bukan satu-satunya unsur terpenting dalam ‘proses institusionalisasi’. (4) struktur sosial terdiri atas struktur normatif masyarakat yang berlandaskan sistem pembagian kerja yang mengikutinya. dan (c) gagasan atau pandangan Homans tentang ‘konsep pertukaran’. misalnya: Levi Strauss. Emille Durkheim. Pemilihan dua pandangan teoritikus sosiologi tersebut bukan berarti penulis menempatkan Parsons dan Merton dalam posisi teoritikus fungsional struktural yang paling baik 42 . antara lain: (a) pandangan Homans terlalu menekankan aspek positivistis dalam mencermati keterlibatan individu dalam proses-proses sosial. Robert K Merton. Dalam kajian berikut ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan teori fungsional struktural versi Talcott Parsons dan versi Robert K Merton. atau masyarakat memiliki unsur-unsur atau elemen-elemen yang saling berhubungan’. Pandangan teori fungsional struktural Talcott Parsons dalam memahami fenomena sosial-budaya Sebenarnya ilmuwan sosial yang terlibat dalam pengembangan teori fungsional struktural adalah cukup banyak. (2) sistem sosial ini berkembang sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendasarinya. Uraian tersebut di atas memberikan pemahaman.H. Walter Buckley.Meskipun analisis atau pandangan G. dan (5) secara umum sistem sosial dibagi menjadi dua aspek. bahwa paradigma organik (organisme) dan paradigma fungsionalis (fungsionalisme) mempunyai konsep pemahaman yang relatif sama dalam memandang tentang masyarakat. Homans tentang beragam fenomena sosial telah banyak pengaruhnya terhadap khasanah wacana teori-teori sosial. memunculkan permasalahan metodologis dalam studi fenomena sosial di masyarakat. hal ini tentu tidak bisa dijadikan sebagai pedoman dalam memahami fenomena sosial yang sangat dinamik dan kompleks. 205).

integration (I). 43 . dan Tahap ketiga. goal attainment (G). Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. ketika dia menyusun teori Tindakan Voluntaristik (1949). Goal attainment. tahap terakhir ketika dia menerangkan Teori Fungsional Struktural pada evolusi masyarakat (1966). Menurut Herry Priyono (2002). dan latensi (L). Kajian berikut ini. dan akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada bagian yang lain. ada tiga tahap refleksi teoritik Parsons. Menurut Parsons ada empat fungsi penting yang diperlukan dalam menganalisis semua sistem ‘tindakan’ manusia untuk pemeliharaan pola di masyarakat. Sistem harus menyesuaikan diri kondisi lingkungan. Integration. Adaptation (menyesuaikan diri dengan lingkungan). Kemudian aspek ‘Organisme perilaku’ adalah merupakan sistem tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi (menyesuaikan dan mengubah lingkungan eksternal) dalam sistem. Parsons lahir di Colorado. yaitu: adaptation (A). (2) Tahap kedua. antara lain: (1) Tahap pertama. Kemudian asumsi dasar teori fungsional struktural adalah ‘bahwa semua elemen atau unsur kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat harus berfungsi (fungsional) sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsi dengan baik’. Menurut Theodorson. maka sistem sosial dalam kelompok itu harus memiliki empat fungsi yang saling berhubungan secara timbal balik. skema Adaptation. dan Latensi (AGIL). B. Uraian singkat tentang teori fungsional struktural dari versi Parsons dan Merton tersebut diharapkan bisa memotivasi para pembaca untuk lebih jauh memahami perspektif fungsional struktural dalam memahami fenomena sosialbudaya di masyarakat. (2007). Ada perbedaan penting antara karya awal dan karya yang terakhirnya. Selama hidupnya dia membuat sejumlah besar karya teoritis.dan sempurna. pengertian fungsionalisme struktural adalah ‘salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain’. dalam Raho. Setiap kehidupan kelompok agar tetap bertahan (survive). Skema AGIL dalam fungsional struktural Parsons Konsep. dan dengan kebutuhan lingkungannya. yaitu: a. tentang teori fngsional struktural Parsons lebih banyak menitikbertakan pada konsep ‘Skema AGIL’ dan konsep ‘Fungsional Struktural’. ketika dia meninggalkan teori tindakan voluntaristik ke Teori Sistem (1951). Sedangkan bidang kehidupan yaitu ‘Sistem ekonomi’. Apabila terjadi perubahan pada unsur sosial-budaya pada salah satu bagian akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pada sistem. USA tahun 1902.

b. serta mendorong (memotivasi) individu atau pola kultural dalam kelompok untuk bertindak sesuai dengan nilainorma (seperangkat aturan) yang berlaku. 44 . Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus memperlengkapi. Latency (pemeliharaan pola). atau mengkoordinasi beragam komponen masyarakat menuju terwujudnya integrasi sosial-budaya. memelihara dan memperbaiki.1 pada halaman berikut. Sedangkan bidang kehidupan. norma pada aktor (individu) untuk ‘disosialisasikan.adalah merupakan subsistem yang melaksanakan fungsi masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan melalui: tenaga kerja. produksi. yaitu ‘Sistem pemerintahan’ (sistem politik). Sedangkan bidang kehidupan. sekolah. adalah akan menjalankan fungsi terbentuknya integrasi. seharusnya menggunakan skema AGIL sebagaimana yang tergambarkan pada gambar 2. adalah melaksanakan fungsi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam sistem. c. yaitu ‘Komunitas kemasyarakatan’ (contoh. Undang-Undang atau seperangkat aturan). Sistem juga harus mengelola hubungan ketiga fungsi lainnya (adaptation. Kemudian aspek ‘Sistem kultural’. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mendefinisikan tujuan dan upaya mencapai tujuan utamanya. dan alokasi. adalah menangani fungsi pemeliharaan pola (nilai-norma yang sudah menjadi etos/ pola hisup dalam kelompok) dengan menyebarkan nilai. dan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan utamanya. hukum. goal attainment. Integration (Integrasi). Kemudian aspek ‘Sistem kepribadian’. adalah menanggulangi fungsi integrasi dengan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem. Goal attainment (Pencapaian tujuan). d. Sedangkan bidang ‘sistem fiduciari’ (contoh lembaga keluarga. apabila menggunakan teori fungsionalisme struktural versi Parsons. adalah melaksanakan fungsi pemeliharaan pola dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang mendorong individu bertindak sesuai dengan nilai-norma. latency). adalah melaksanakan fungsi pencapain tujuan dengan mengejar tujuan kemasyarakatan dan memobilisasi aktor (sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan utama yang telah dirumuskan. Sebuah sistem (dalam suatu kelompok) harus mengatur hubungan antar bagian dalam sistem. Kemudian aspk ‘Sistem sosial’. Setiap peneliti dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. diinternalisasikan dan dienkulturasikan’ pada dirinya. dan lembaga keagamaan). yang keempat aspeknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain secara fungsional.

Sistem Kepribadian .Sedangkan hubungan AGIL disetiap sistem tindakan dalam kehidupan kelompok.Komunitas Kemasyarakatan (hukum.1 tentang hubungan timbal balik skema AGIL (Johnson D. kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok agar sesuai dengan nilai-norma sosialbudaya.Sistem Fiduciari’ (lembaga keluarga.Sistem Pemerintahan (sistem politik) LATENCY . perlu dipahami beberapa pemikiran kunci dari Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’ secara integral.Sistem Sosial . sekolah. karena semua tindakan individu sudah ditentukan oleh kultur (budaya) (Surbakti. Proses sosialisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk 45 . Bachtiar. Jadi. Individu tidak merdeka dalam bertindak. 1989. Kultur. dipandang sebagai: (1) sistem simbol yang terpola (ajek/ sebagai etos). Kultur mengatur interaksi antar aktor (individu). b.Sistem Ekonomi GOAL ATTAINMENT . dapat dipindahkan dari satu sistem ke sistem lain melalui penyebaran (difusi) dan dipindahkan dari kepribadian satu ke sistem kepribadian lain melalui proses ‘pembelajaran budaya’.. W. Proses internalisasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk membentuk pribadi (akhlak) yang baik sesuai kultur yang berlaku’. dan (2) aspek-aspek kepribadian yang sudah terinternalisasi dan pola-pola yang sudah terlembagakan di dalam sistem sosial. 2008). 2004). Sistem kultural. Ritzer dan Goodman. proses sosialisasi. dapat digambarkan seperti dalam skema berikut: ADAPTATION . teratur yang menjadi sasaran orientasi para aktor. Ritzer dan Goodman. 1986.Sistem Kultural . R.Organisme Perilaku . norma) Gambar 2. menginteraksikan kepribadian dan menyatukan sistem sosial. yaitu: proses internalisasi. merupakan kekuatan utama yang mengikat berbagai sistem tindakan individu dalam kelompok. 2004) Konsep fungsional struktural Parsons Untuk memahami skema AGIL tersebut. agama) INTEGRATION . dan proses enkulturasi (Koentjaraningrat. Kultur. 1997a. c. Sedangkan beberapa konsep kunci tentang teori fungsionalisme struktural Parsons antara lain: a..

tetapi dia tidak menggunakan interaksi sebagai unit fundamental dalam studi tentang sistem sosial. bukan dilihat dari sudut pikiran. ide. Aktor (individu) mempunyai motivasi untuk ‘mengoptimalkan kepuasan’. Konsep kunci ‘sistem sosial’ menurut Parsons adalah: (a) aktor. d. sistem 46 . Meski Parsons melihat sistem sosial sebagai interaksi (hubungan timbal balik). (2) untuk menjaga kelangsungan hidupnya. dan proses pembelajaran budaya tersebut ditentukan oleh kultur yang berlaku. (d) kepuasan. tetapi ‘aktor’ dilihat sebagai ‘kumpulan dari beberapa status dan peran yang terpola oleh struktur dalam sistem sosial-budaya’. (3) sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan para aktornya dalam proporsi yang signifikan. bukan ditentukan oleh jiwa dan pikiran individu. Dia menggunakan ‘status-peran’ sebagai unit dasar dari sistem sosial. (5) sistem sosial harus mampu mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu. oleh karena itu harus dikendalikan. kultur (eksternal) menentukan pikiran dan jiwa (internal) seseorang. yaitu teori intraksionisme simbolik). dan (7) untuk kelangsungan hidupnya. sistem sosial harus mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem yang lain. (c) lingkungan. disiplin pada aturan dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. (4) sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. yang berhubungan dengan situasi lingkungan mereka. f. keyakinan dan tindakan sehari-hari individu (seperti dalam teori berparadigma definisi sosial. Pada hakikatnya setiap manusia sepanjang hidupnya selalu dalam proses pembelajaran budaya (internalisasi. atau individu ditentukan oleh struktur sosial-budaya (Rossides. dan (e) kultur. (b) interaksi. yaitu: (1) sistem sosial harus terstruktur (ditata) sedemikian rupa sehingga bisa beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sistem lainnya (antar sub sistem). Jadi individu ter-determinasi oleh aktor eksternal. Status adalah menyangkut posisi struktural individu dalam sistem sosial (kelompok). e. Ada tujuh persyaratan fungsional dari ‘sistem sosial’ menurut Parsons. berkomunikasi atau bergaul dalam kelompok dengan baik sesuai kultur yang berlaku’. sosialisasi dan enkulturasi).berinteraksi sosial. Sistem sosial. (c) optimalisasi. yaitu terdiri dari sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi (hubungan timbal balik) dalam situasi yang mempunyai aspek lingkungan (fisik). Jadi. sedangkan peran (role) adalah apa yang harus dilakukan individu dalam posisinya. 1978. Proses enkulturasi adalah ‘proses melatih diri sejak dini sampai meninggal untuk tanggap pada sistem kontrol. ‘Aktor’ dalam pandangan Parsons. yang didifinisikan dan dimediasi dalam term sistem simbol yang terstruktur secara kultural. (6) apabila dalam sistem terjadi konflik hal itu akan menimbulkan kekacauan.

Aktor (individu) dan sistem sosial. yang keempatnya terkait dengan skema AGIL. yaitu: (1) dalam sistem sosial harus ada mekanisme pengendalian sosial yang dilakukan dengan 47 . (2) sistem sosial. h. Dalam fungsionalisme struktural Parsons. (5) perhatian Parsons lebih tertuju kepada sistem sebagai satu kesatuan ketimbang pada aktor (individu) di dalam sistem. Hamilton. Craib. Ketujuh asumsi inilah yang menempatkan analisis struktur keteraturan masyarakat sebagai prioritas utama teori fungsionalisme struktural Parsons. (5) sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya. 1990). nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor). Craib. yaitu: (1) sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. bukan mikro. Mengenai hal ini Parsons berpandangan: (1) antara aktor dan struktur sosial mempunyai hubungan sangat erat. adalah. (4) sifat dasar bagian suatu sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian-bagian lain. (4) aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi. (2) persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai di dalam sistem adalah proses internalisasi dan sosialisasi. Ada tujuh asumsi dasar Parsons tentang ‘fungsionalisme struktural’. dan (7) sistem cenderung menuju ke arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem.sosial memerlukan bahasa (Abraham. (3) dalam proses sosialisasi. g. 1984. dan (4) organisme perilaku. dan cenderung berlaku sampai tua. 1984. Parsons mengemukakan pendapat. 1982. Hamilton. (3) sistem kepribadian. (2) sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. Bagaimana ‘sistem sosial’ menghadapi realitas pribadi individu yang beragam agar tidak terjadi problem?. 2004). sebagaimana diuraikan di atas. yaitu: (1) sistem kultural. bukan mempelajari bagaimana cara aktor menciptakan dan memelihara sistem (Abraham. 1990). Inti pemikiran Parsons ada dalam empat sistem tindakan. Disini menunjukkan analisis sistem Parsons bersifat makro. mengendalikan lingkungan yang berbeda-beda dan mengendalikan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam (Ritzer dan Goodman. 1982. j. (6) alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan untuk memelihara keseimbangan sistem. Sosialisasi dikonseptualisasikan sebagai proses konservatif (sebagian besar kebutuhan dibentuk oleh masyarakat). Norma dan nilai yang dipelajari sejak kecil cenderung tidak berubah. bagaimana cara sistem mengontrol atau mengendalikan aktor (individu). (3) sistem mungkin statis atau bergerak dalam proses perubahan yang teratur. i.

persetujuan. antara lain: (1) subsistem ekonomi (dalam Adaptation). m. yaitu: (a) memaksa aktor mencari cinta. Komponen dasarnya adalah ‘disposisi dan kebutuhan’. dan sejenisnya. Berdasarkan ketiga konsep tersebut dapat dipahami. (2) ada tiga tipe dasar disposisi kebutuhan. dan (3) hubungan sistem kepribadian dengan sistem sosial adalah: (a) aktor harus belajar melihat dirinya sendiri (kepribadian) sesuai dengan nilai-norma yang berlaku di masyarakat (sistem sosial). l. terkait erat dengan status (kedudukan) yang dimiliki oleh aktor di masyarakat. (2) proses diferensiasi 48 . menempatkan citra aktor dalam aktivitas sosial dalam posisi sangat pasif. Parsons membedakan antara empat struktur atau subsistem dalam masyarakat menurut fungsi (AGIL) yang dilaksanakan masyarakat. Menurut Parsons.baik (hemat). karena kolektif ini relatif mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. (2) sistem sosial harus mampu menghormati perbedaan (differensial). yaitu: (1) ‘proses diferensiasi’. ada tiga komponen paradigma proses perubahan sosial secara evolusioner. dan (4) subsistem fiduciari (dalam Latency). (3) sistem komunitas kemasyarakatan (dalam Integration). Hamilton. (b) meliputi internalisasi nilai yang menyebabkan aktor mengamati berbagai standar nilai-norma dalam kultural. Pandangan Parsons tentang sistem kepribadian (personalitas) adalah: (1) personalitas diartikan sebagai sistem orientasi dan motivasi tindakan aktor individual yang terorganisir dengan baik. tanpa mengancam integrasi dalam masyarakat k. (2) subsistem pemerintahan (dalam Goal attainment). bahkan penyimpangan tertentu (sistem sosial harus lentur atau flexible). Disposisi kebutuhan merupakan ‘unit-unit motivasi tindakan individu yang paling penting’. dan (c) adanya peran yang diharapkan yang menyebabkan aktor memberikan dan menerima respon yang tepat. ‘Sistem kepribadian’. dipaksa oleh dorongan hati dan didominasi oleh kultur atau gabungan dorongan hati dan kultur (disposisi-kebutuhan) (Craib. lihat bagan di atas. Konsep perubahan sosial. Ritzer dan Goodman. Pandangan Parsons tentang proses perubahan sosial di masyarakat adalah berlangsung secara evolusioner. dan (b) peran yang diharapkan untuk dilakukan individu. 1984. 1990. Masyarakat. yang memungkinkan terjadinya perwujudan beragam kepribadian di masyarakat (kelompok). Menurut Parsons masyarakat merupakan salah satu ‘sistem sosial khusus’. 2004). artinya: setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang beragam strukturnya dan fungsionalnya. (3) sistem sosial harus menyediakan berbagai jenis peluang bagi aktor untuk berperan. dari hubungan sosial mereka. bahwa dalam fungsionalisme struktural Parsons.

Oleh karena itu diperlukan sistem nilai dasar (umum /pokok /ide dasar) yang lebih tinggi untuk melegitimasi atau sebagai pandangan hidup (way of life) bagi beragam norma. tujuan dan fungsi yang ada pada (Soekanto. 1989. menilai masyarakat akan berevolusi dalam tiga tahap. hal ini akan mempengaruhi perubahan unit-unit lain dalam sistem (Appelbaum. 1988).P. 1993) atau perubahan revolusi. sehingga meningkatkan survivalnya (Harper. yakni memperbaiki pola utama ‘equilibrium’. yaitu: (1) masyarakat primitif. dan (3) ‘sistem nilai dasar’. Meskipun pandangan Parsons tentang teori fungsional struktural. dan (3) perubahan ‘adaptive apgrading’. artinya sistem sosial menjadi sangat efektif dalam generasi dan distribusi sumber. S dan Ratih.menimbulkan ‘sekumpulan masalah integrasi baru’ bagi masyarakat (masingmasing subsistem mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri secara meningkat dan berkualitas). Jadi. Nilai-nilai pokok dianggap tetap tidak berubah. 1970. C. 1989. tetapi tidak mengubah struktur sistem sosial-budaya secara keseluruhan. 1993). (2) proses diferensiasi struktural akan menimbulkan perubahan baru di dalam subsistem. apabila ada konflik internal. Parsons. (3) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’. menuju keseimbangan hidup. Hamilton. perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem. telah dianggap sangat penting bagi setiap ilmuwan sosial dalam melakukan analisis subsistem masyarakat 49 . 1990). Lauer. 1982. Parsons (1966) mengembangkan teori perubahan sosial yang dibedakan menjadi tiga macam perubahan yaitu: (1) perubahan ke arah sistem perbaikan (mempertahankan sistem). R. artinya semakin maju masyarakat semakin beragam nilai-norma yang dianut. maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting). sub sistem kedalam pola fungsional secara khusus atau saling ketergantungan (perubahan koordinasi aktivitasnya dan fungsi-fungsinya). Craib. (2) masyarakat lanjutan. Ini dianggap perubahan yang sesuangguhnya (namun pola perubahan ini masih statis). dan (3) masyarakat modern. dan (4) apabila terjadi perubahan struktural. Dia membedakan tiga tahap ini berdasarkan dimensi kultural (Abraham. Lauer. Masyarakat akan berevolusi dari sistem yang bersifat ascription (atas dasar kelahiran) ke sistem yang berdasarkan achievement (atas dasar prestasi/ keahlian). pandangan Parsons tentang perubahan sosialbudaya adalah: (1) proses perubahan sosial yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial. L. (2) perubahan dalam arti sebagai makna perbaikan unit-unit perbedaan. n.L. Harper. 1984.

Turner. atau teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan peristiwa masa lalu. 1969. Abrahamson dan Cohen. Jadi. menurut Mills. and Rosenberg. (f) teori fungsional struktural dianggap terlalu teleologis (seolah-olah benar secara logika. (b) teori fungsional struktural dianggap tidak mampu menjelaskan proses perubahan sosial secara efektif pada masa kini. J. dan nilai. dan cenderung melihat konflik sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan terjadi di luar kerangka kehidupan masyarakat. sebab analisis fungsional structural hanya cocok bagi kondisi sistem yang sama. dinyatakan bahwa sistem sosial ditentukan oleh hubungan antar bagian dalam sistem dan bagian dalam sistem ditentukan oleh tempatnya dalam sistem sosial yang lebih luas. L. atau individu dianggap tidak merdeka dalam menentukan jalan hidup. antara lain: (a) teori fungsional struktural tidak berkaitan dengan sejarah (bersifat ahistoris). B. (d) teori fungsional struktural membuat analisis konservatif dan sulit. antara lain: (a) teori fungsional struktural pada dasarnya kabur. 2004).fenomena sosial. tidak jelas dan bermakna ganda (yaitu lebih memilih sistem sosial abstrak daripada masyarakat nyata). sedangkan sistem yang beragam sangat sulit. yang tentu kurang cocok untuk analisis masyarakat modern (Ritzer dan Goodman. kritik substantif (krtik utama). (g) teori fungsional struktural terlalu banyak mengadopsi dari ahli fungsional struktural antropologi. Individu dipandang sebagai dipaksa oleh kekuatan kultural dan sosial (faktor eksternal). lebih memusatkan pada masyarakat kontemporer maupun masyarakat abstrak. (e) logika teori fungsional struktural bersifat tautologi. Argumentasi Tautologi adalah argumen yang konklusinya semata-mata menegaskan apa-apa yang terkandung di dalam premis. (d) teori fungsional struktural cenderung memusatkan perhatian pada masalah kultural. norma. hal ini karena teori fungsional struktural terlalu menekankan aspek keharmonisan antar unsur.H.. (b) teori fungsional struktural termasuk teori yang lebih bersifat umum (abstrak). kritik logika dan metodologi. masih ada sisi kelemahan sebagai kritik dari teori fungsional struktural Parsons. antara lain Pertama. spesifik yang lebih historis (Merton). atau teori fungsional structural lebih senang menjelaskan struktur sosial statis daripada proses perubahan itu sendiri (yang dinamis). padahal dalam melakukan analisa fenomena sosial akan lebih baik memakai ‘teori middle range’. dan (e) teori fungsional struktural dalam praktiknya banyak digunakan untuk mendukung status quo dan elite dominan (Coser. 1982). (c) teori fungsional struktural tidak mampu menjelaskan fenomena konflik secara efektif. 50 . Kedua. tetapi tidak selalu benar secara empiris). (c) pada dasarnya belum ada metode yang memadai untuk mengkaji persoalan fenomena social dengan menggunakan kerangka berpikir fungsional struktural.

antara lain: 51 . dan (3) Neo evolusi perspektif Merton. (c) konsep struktur fungsionalisme Parsons bersifat statis dan tidak berkembang atau banyak sisi kelemahannya apabila digunakan untuk melakukan analisis masyarakat sekarang yang sangat dinamik. antara lain: (1) FS Parsons merupakan penciptaan teori-teori besar (Grand theory) dan luas cakupannya. tentu banyak titik kelemahan apabila diterapkan dalam realitas sosial-budaya yang unik. Ada beberapa perbedaan antara fungsionalisme struktural (FS) Parsons dengan Merton. dapat disimpulkan bahwa: (a) penerapan prinsip-prinsip biologis (hukum organism) pada kehidupan masyarakat memang menimbulkan berbagai persoalan atau mempunyai banyak titik kelemahan. tetapi dia juga mengecam beberapa aspek fungsionalisme struktural Parsons. 3. (2) teori fungsional struktural juga mengakui adanya struktural konflik dan konflik internal di dalam struktur.K. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran R. tetapi ada juga yang bersifat dinamis (Merton). sedangan FS Merton menyukai teori yang terbatas. bahwa masyarakat Barat merupakan bentuk masyarakat modern.Dari kedua konsep tentang kelemahan (kritik) terhadap teori fungsional struktural Parsons tersebut. dan kompleks. melihat bahwa equilibrium dari statis mengarah ke equilibrium dinamis (melihat masyarakat relatif kompleks. memunculkan tuduhan bahwa pandangan Parsons bersifat elitis dan konservatif. sehingga terbuka untuk berubah). 2004). sedangkan FS Parsons tidak (Ritzer dan Goodman. Merton berkaitan dengan teori fungsionalisme strukturalnya dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. dinamik dan kompleks. teori tingkat menengah (Middle range theory). Merton dalam memahami fenomena sosial-budaya Merton adalah murid Parsons. namun perubahan yang terjadi itu hanya bersifat evolusi (bukan revolusi) (contoh. Reaksi para pengikut fungsionalis struktural terhadap kritik di atas antara lain: (1) teori fungsional struktural tidak seluruhnya bersifat statis equilibrium (Parsons). (b) anggapan bahwa persoalan masyarakat merupakan elemen integral dan homeostatik yang kurang menekankan problem kekuasaan. (d) penilaian Parsons. dan (e) metode ‘deduksi historis’ yang didasarkan pada analogi biologi. Langkah atau pandangan Merton ini lebih membantu para peneliti sosial dalam menggunakan teori fungsional struktural untuk memahami beragam fenomena sosial-budaya di masyarakat. dan (2) FS Merton lebih menyukai teori Marxian (fungsionalisme struktural lebih ke kiri secara politis). Pandangan teori fungsional struktural Robert K. Aliran neo evolusi perspektif Merton). dapat menimbulkan ethnosentrisme.

Pertama, Merton mengkritik tiga postulat dasar analisis struktural yang dikembangkan oleh antropolog Malinowski dan Radcliffe Bron, antara lain: (1) postulat, ‘bahwa semua keyakinan dan praktik sosial-budaya yang sudah baku adalah fungsional untuk kehidupan individu dan masyarakat’. Hal ini telah terjadi integrasi tingkat tinggi. Postulat ini bagi Merton hanya berlaku bagi masyarakat primitif atau masyarakat terisolir dengan jumlah komunitas yang kecil, tetapi tidak cocok bagi masyarakat modern yang sangat dinamik dan kompleks; (2) postulat, ‘fungsionalisme universal’, artinya, bahwa seluruh bentuk sosial, kultur (budaya), dan struktur yang sudah baku mempunyai fungsi positif (mengikat dan memaksa). Bagi Merton, tidak setiap struktur, adat, gagasan, kepercayaan mempunyai fungsi positif, terlebih dalam masyarakat yang kompleks atau modern yang multikultural dijumpai beragam struktur; dan (3) postulat, tentang ‘indispensability’, artinya semua struktur yang baku tersebut secara fungsional adalah penting untuk masyarakat. Bagi Merton, dalam hidup sosial-budaya perlu ada beragam alternatif struktur dan fungsional dalam masyarakat, terutama pada masyarakat modern yang sangat kompleks (Abraham, F.M. 1982; Surbakti, R. 1997a). Kedua, sasaran studi struktural fungsional menurut Merton adalah: peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola budaya, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. Dan perhatian analisis struktur fungsional seharusnya lebih memusatkan pada ’fungsi sosial’ daripada pada ‘motif individual’. Fungsi bagi Merton didefinisikan sebagai ‘konsekwensi-konsekwensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu’ (Johnson, D.P. 1981; Raho, B. 2007). Ketiga, beberapa konsep penting Merton tentang: disfungsi; nonfunctions; net balance; dan manifest, antara lain: (1) konsep disfungsi, menurut Merton, sistem sosial, struktur, atau institusi dapat menimbulkan akibat positif dan juga negatif (disfungsi) dalam sistem sosial. Contoh, sistem perbudakan di Amerika Serikat akan menimbulkan disfungsi tatanan kehidupan politik (adanya rasdiskriminasi); (2) konsep nonfunctions, yang didefinisikan sebagai akibat-akibat yang sama sekali tidak relevan dengan sistem yang sedang diperhatikan, artinya bentuk tindakan sosial lama (kuno) yang tetap ‘bertahan hidup’ dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat sekarang; (3) konsep net balance (keseimbangan bersih), artinya setiap peneliti dalam melakukan analisis sosial harus mampu mengembangkan pertanyaan pada ‘tingkatan analisis fungsional’, dengan menimbang, membandingkan, menjumlah fungsi positif dan disfungsinya, misalnya: sistem perbudakan mungkin lebih fungsional bagi unit sosial tertentu

52

(lapisan sosial-ekonomi elit) dan lebih disfungsional bagi unit sosial lainnya (masyarakat bawah/ lapiran bawah). Inilah yang membedakan Merton dengan tokoh fungsional struktural lainnya (umumnya teoritisi fungsional hanya menganalisis masyarakat sebagai satu kesatuan); dan (4) konsep manifest (fungsi nyata) dan latent (fungsi tersembunyi). Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional versi Merton. Fungsi nyata (manifest) adalah fungsi yang diharapkan (contoh, lembaga rumah sakit adalah berfungsi merawat dan menyembuhkan orang sakit). Fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak diharapkan (contoh, rumah sakit adalah lembaga yang menghabiskan uang/ kekayaan bagi yang sakit, dan bisa menimbulkan jumlah orang sakit bertambah). Menurut Merton, fungsi latent ada yang fungsional untuk sistem sosial dan ada yang tidak fungsional (Johnson, D.P. 1981; Bachtiar, W. 2006). Keempat, sumbangan terpenting Merton terhadap fungsionalisme struktural dan terhadap analisis sosial-budaya pada umumnya, khususnya tentang analisisnya mengenai hubungan antara: kultur (budaya), struktur sosial dan anomie, antara lain: (1) kultur, adalah seperangkat nilai normatif yang terorganisir, yang menentukan perilaku bersama anggota masyarakat atau kelompok; struktur sosial adalah seperangkat hubungan sosial yang terorganisir, yang dengan berbagai cara melibatkan anggota masyarakat atau kelompok di dalamnya; dan anomie, adalah kondisi individu atau kelompok yang tidak mampu bertindak sesuai dengan nilai normatif atau tujuan yang terstruktur secara sosial dalam kelompoknya. (2) setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya, perlu menghubungkan ketiga konsep tersebut (kultur, struktur sosial dan anomie), artinya analisis terhadap pola aktivitas individu dalam masyarakat dianggap perilaku menyimpang atau tidak menyimpang sangat dipengaruhi oleh bagaimana analisis hubungan antar ketiga konsep tersebut; dan (3) Merton lebih tertarik dengan disfungsi yang dalam hal ini adalah anomie, lebih khusus, Merton menghubungkan terjadinya anomie karena adanya kesenjangan antara kultur (budaya) dan struktur sosial (Craib, 1984; Hamilton, 1990). Kelima, beberapa konsep dasar Merton tentang organisasi birokrasi modern, antara lain: (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal, (2) birokrasi meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas; (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuantujuan organisasi; (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan kedalam keseluruhan struktur birokratis; (5) status dalam birokrasi tersusun kedalam susunan yang bersifat hirarkhis; (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci; (7) otoritas pada

53

jabatan bukan pada orang, tetapi ada pada kelompok; dan (9) hubungan antar individu dibatasi secara formal oleh nilai-norma yang telah disepakati kelompok (Poloma, 2000). Keenam, beberapa prinsip tentang studi perubahan sosial (social change) menurut Merton, antara lain: (1) struktur birokrasi dapat melahirkan tipe kepribadian yang lebih mematuhi aturan normatif dalam kelompok. Apabila perilaku dalam birokrasi tidak sesuai dengan aturan normatif kelompok, maka akan terjadi anomie (non konformis); (2) anomie, disini bukan bersifat psikologis, melainkan lebih berkaitan dengan tidak serasinya (kesenjangan) antara kultural dengan struktural dalam kelompok. Jadi, fenomena anomi dalam kehidupan sosial (masyarakat) memerlukan penjelasan secara sosiologis, bukan psikologis; (3) analisa fungsional struktural menurut Merton, tidak hanya menggunakan tiga postulat di atas (yaitu: postulat kesatuan fungsional masyarakat; postulat fungsional universal dan postulat indispensability), tetapi juga perlu dipadu dengan analisis lainnya, yaitu: analisis konsep disfungsi (anomie); analisis konsekwensi keseimbangan fungsional (net balance); dan analisis fungsi manifes dan fungsi latent (Craib, 1984; Hamilton, 1990; Poloma, 2000). Ketujuh, tentang perangkat peran (role-set). Setiap individu di masyarakat memiliki status, dan setiap status terdapat beberapa peranan atau seperangkat peran (role-set). Seperangat peran tersebut harus terintegrasi dengan baik, apabila role-set tersebut tidak terjadi integrasi secara baik akan terjadi konflik (disintegrasi). Oleh karena itu Merton memusatkan analisisnya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional dalam kelompok. Elemen fungsional adalah beragam elemen yang dapat menghindarkan terjadinya konflik (disintegrasi) dalam kelompok, sedangkan elemen disfungsional adalah beragam elemen yang dapat memunculkan terjadinya konflik di masyarakat (Soekanto, S dan Ratih, L. 1988; Raho,B., 2007).. Menurut Merton, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan konflik di masyarakat, antara lain: (1) membangun intensitas keterlibatan individu dalam beragam peranan dalam kehidupan di masyarakat; (2) membangun sikap kompetitor (persaingan) diantara individu yang ada dalam roleset (seperangkat peran) secara positif dan konstruktif; (3) apabila terjadi konflik dalam role set (seperangkat peran), maka setiap anggota dalam kelompok harus segera melakukan penyelesaian konflik; dan (4) melakukan isolasi peran, sehingga sulit diamati oleh orang lain yang ada dalam role set (seperangkat peran). Jadi, Merton dalam melakukan studi sosial memberikan penekanan pentingnya

54

melakukan

‘analisis

elemen-elemen

disfungsional’

dan

‘alternatif-alternatif

fungsional’ dalam kehidupan masyarakat. 4. Pandangan Neofungsionalisme dalam memahami fenomena sosial-budaya Diantara teoritikus sosial yang dapat dikatakan sebagai tokoh teori neofungsionalisme, antara lain: Jeffrey Alexander dan Paul Colomy. Neofungsionalisme muncul di tahun 1980-an, sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali teori fungsional struktural yang dianggap mulai redup sejak 1960-an hingga 1970-an. Neofungsionalisme didefinisikan oleh Colomy sebagai ‘rangkaian kritik diri (internal) terhadap teori fungsional struktural, dan ingin mencoba memperluas cakupan intelektual teori fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya’. Jadi, teori fungsional struktural yang lama dianggap terlampau sempit dan kaku, dan tujuan Alexander dan Colomy adalah menciptakan teori sintesis yang disebut ‘Neofungsionalisme’. Ada beberapa kelemahan (problem) yang dihadapi oleh teori fungsional struktural yang perlu dijawab oleh Neofungsionalisme, antara lain: (1) anti individualisme; (2) antagonistik terhadap perubahan; (3) konservatif;(4) idealisme; dan (5) bias antiempiris. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teori Neofungsionalisme Alexander dan Colomy, dalam memahami beragam fenomena sosial-budaya masyarakat, antara lain Pertama, neofungsionalisme, bekerja dengan ‘model masyarakat deskriptif’. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur sosial yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, hubungan antar unsur tersebut diistilahkan sebagai ‘hubungan secara simbiosis’, tidak ditentukan oleh satu kekuatan semata (misalnya, eksternal menentukan internal atau sebaliknya). Jadi, masyarakat dianggap lebih bersifat terbuka, dinamik dan pluralis (beragam). Kedua, neofungsionalisme, memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan individu (mikro) dan keteraturan sosial (makro). Hal ini berbeda dengan teori fungsional struktural, yang lebih menekankan pada aspek keteraturan sosial atau tradisional dan bersifat makro didalam memahami struktur sosial dan budaya). Sedangkan neofungsionalisme, selain memperhatikan tingkat makro juga pola tindakan individu ditingkat yang lebih mikro, juga tindakan rasional dan tindakan eskpresif individu dalam proses-proses sosial di masyarakat. Ketiga, neofungsionalisme, tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai ‘kemungkinan sosial’, sedangkan dalam pandangan teori fungsional struktural, kondisi integrasi atau equilibrium lebih dilihat sebagai fakta yang sempurna atau suatu keharusan dalam kehidupan kelompok. Neofungsionalisme mengakui penyimpangan dan di

55

tetap menerima penekanan Parsonian tradisional atas konsep kepribadian. sedangkan karya empiris teori neofungsionalisme diorganisasikan secara longgar.kontrol sosial sebagai realitas dalam sistem sosial yang sangat dinamik dan kompleks. neofungsionalisme. riset teori fungsional struktural. Sedangkan dalam teori fungsional struktural proses analisis fenomena sosial-budaya hanya pada tingkat makro. Jadi. oleh karena itu cakupan analisis neofungsionalnya lebih luas apabila dibandingkan dengan fungsional struktural. secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam menyusun dan mengonseptualisasikan teori berdasarkan analisis sosial-budaya pada tingkat makro dan mikro. Neofungsionalisme. konsep sistem sosial dan organisme perilaku (dalam struktur tindakan) dalam kehidupan sehari-hari. Bagi neofungsionalisme. tetapi neofungsionalisme juga menganggap interpenetrasi atas sistem sosial dapat menghasilkan ketegangan (konflik) dan perubahan sosial yang lebih dinamik. bukan hanya sekedar ‘elaborasi’ atau ‘revisi’ terhadap teori fungsional struktural Parsons dan Merton. Hal ini berbeda dengan pandangan teori fungsional struktural yang memandang perubahan hanya menghasilkan kondisi equilibrium (keseimbangan dalam sistem). tetapi juga menimbulkan ketegangan antar individu dan kelompok. tetapi lebih sebagai ‘rekonstruksi dramatis’ terhadap teori fungsional 56 . Keenam.. teori neofungsionalisme. dipandu oleh skema konseptual tunggal dan mengikat area-area riset khusus dalam satu paket yang ketat. bisa bersifat makro dan mikro. Ketujuh. Keempat. kultural dan kepribadian. bersifat positivistik dan realitas sosial eksternal (kondisi makro) sangat menentukan realitas internal (kondisi mikro). tidak cukup hanya menggunakan pendekatan makroskopik tetapi juga menggunakan pendekatan mikroskopik. bagi Alexander dan Colomy. konsep kultur. Kelima. memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial. Neofungsionalisme mengakui keseimbangan tetapi dalam konteks yang lebih luas (keseimbangan statis dan dinamik). Sedangkan dalam fungsional struktural keseimbangan bersifat statis. menganalisis fenomena atau realitas sosial budaya di masyarakat. neofungsionalisme. bagi neofungsionalisme perubahan sosial dalam masyarakat bisa membawa pengaruh terjadinya ‘integrasi sosial’ dan ‘disintegrasi sosial’. Jadi. Perubahan tidak hanya menghasilkan konsensus dan equilibrium (seperti pandangan teori fungsionalisme struktural). yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah ‘cabang’ dan ‘variasi’ yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang beragam.

C. Coser dan D. Alexander dan Colomy nampak ‘memadukan’ fungsionalisme struktural dengan ide-ide teori pertukaran. B. akan tetapi mengkritisi atau mengisi ruang analisis fenomena sosial yang tidak tersentuh oleh teori fungsional struktural. 1990. Raho. (Hamilton. Vilfredo Pareto. Robert Park. Diantara tokoh tersebut yang terkenal sebagai pengembang teori konflik atau perspektif konflik (conflict perspectives) adalah Karl Marx dan R. Dahrendorf. 2007). fenomenologi. Dahrendorf. karena antara teori fungsional struktural dengan neofungsional pada aspek-aspek tertentu mempunyai perbedaan yang mendasar.struktural. 2005.. (3) Beberapa kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf. Pertimbangan penulis menyajikan pembahasan keempat hal tersebut adalah untuk memberikan wacana awal tentang teori konflik. Sedangkan latar belakang munculnya teori konflik adalah disebabkan sebagai reaksi terhadap teori fungsionalisme struktural. Teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial Dari beberapa pandangan para ahli yang mengkaji tentang teori konflik versi Marx. Jonathan Turner. tetapi menurut Dahrendorf. D. Lewis Coser. (2) pokok-pokok teori konflik versi R. Pembahasan perspektif / teori konflik berikut ini hanya menyinggung tentang: (1) pokok-pokok teori konflik versi Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. Pada tahun 1950-an dan 1960-an teori konflik memberikan alternatif lain bagi peneliti sosial dalam melakukan analisis sosial-budaya selain teori fungsional struktural. Jadi. Fenomena Sosial-budaya Dalam Perspektif Teori Konflik dan Neo-Marxian Beberapa sosiolog yang merupakan pendukung teori konflik antara lain: Karl Marx. interaksionisme simbolik.. dalam memahami fenomena sosial. Reisman. Berikut ini akan dikemukakan pokok-pokok pikiran teori konflik Marx dan Dahrendorf. Wright Mills. Ritzer dan Goodman. Ralf Dahrendorf. (3) pokok-pokok teori konflik neo-konflik (neo Marxian) dan teori konflik integratif L. Teori konflik bersumber dari teori Marxian dan pemikiran konflik sosial dari George Simmel. pragmatisme. dan (4) beberapa perbedaan pandangan teori fungsional struktural dengan teori konflik dalam memahami fenomena sosial. Torstein Veblen. antara lain: 57 . 2004). dan pokok-pokok pikiran teori neo-konflik (neo-Marxian) Lewis Coser dan David Reisman. tetapi akhir-akhir ini teori konflik Marx kedudukannya digantikan oleh teori-teori neo-Marxian (Kinloch. 1. G. munculnya teori konflik bukan bermaksud untuk mengganti teori fungsionalisme struktural dalam proses analisis realitas sosial-budaya di masyarakat. dapat disimpulkan beberapa asumsi dasar atau pokok-pokok pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial sehari-hari. dan diharapkan para pemerhati teori-teori sosial bisa lebih memperdalam beberapa pandangan teoritikus konflik lainnya. dan David Reisman.

hukum. sebab materi merupakan infrastruktur kehidupan (Mutahhari. karena diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik. G. kepentingan fisik (bendawi). yaitu: (a) kelompok kapitalis (pemilik modal kapitalis). 2001). sehingga konflik tidak bisa dihindarkan. karena mereka hanya mendapat upah minimal. Bagi Marx. 1981. 1986). hasil pekerjaannya. D. 1986. Jadi. pandangan hidup dan kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya. (ed). Tidak ada masyarakat tanpa konflik. dan Sintesis = muncul dominasi baru/ 58 . Kelompok kapitalis berusaha memperoleh keuntungan materi sebesarbesarnya dengan meminimalkan upah kaum proletar. eksistensi manusia sejati adalah eksistensi dimana kemampuankemampuan produksi manusia dikembangkan secara memuaskan. Cambell. Keempat. tindakan-tindakan. pandangan hidup. sedangkan disisi lain kaum proletariat juga ingin mendapat upah yang tinggi karena kerja kerasnya. keprimaan dan kepentingan kebutuhan bendawi adalah mendahului atau memotivasi munculnya kebutuhan jiwa atau kebutuhan-kebutuhan akal manusia. dalam masyarakat kapitalis. sedangkan kelas proletar (buruh) terkungkung oleh kaum kapitalis. untuk memecahkan alienasi. Ketiga. karena terjadi persaingan yang tidak sehat (Johnson. dan hubungan kerja. Marx menawarkan konsep dialektika (Tesis= kesadaran kelas. dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis dari masyarakatnya. M. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas. pengetahuan. motivasi. Antitesis = melawan terhadap dominasi kelas penguasa. Marx melihat masyarakat sebagai sebuah proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. M.Pertama.P. atau sistem materi/ benda dianggap sebagai penentu (infrastruktur) terhadap sistem ide/ gagasan. Kedua. karena mereka tunduk pada mesin. Jadi. Ritzer. atau konflik disebabkan oleh cara produksi barang-barang material. dan konflik sosial merupakan pertentangan antar segmen atau antar kelas di masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai materi. kemampuannya. dominasi kelas penguasa (the ruling class) sangat besar. dan kepercayaan (suprastruktur) (Mutahhari. bahwa proses cara produksi (mode of production) barang-barang material di masyarakat itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. dan (b) kelompok proletariat (pekerja/ buruh). faktor ekonomi (material) sebagai dasar atau pondasi utama (infrastruktur) setiap aktivitas kehidupan sosial budaya di masyarakat (aktivitas sosial merupakan suprastruktur). sehingga proletar teralienasi (terasing). ide-ide. Konflik diperparah oleh realitas kaum buruh (proletariat) yang ter-alienasi (‘terasing’) oleh: pekerjaannya. 1994). sikap-sikap.

Jadi. Bagi Marx. c. sosial. M. PIP. MoP ini oleh Marx dianggap sebagai substruktur yang mendasari dan menentukan kehidupan sosial di masyarakat. Menurut Marx. Kelima. ideologi. pandangan Karl Marx. Keenam. materi sebagai sumber segala persoalan hidup manusia. Marx meramalkan akan tercipta masyarakat tanpa kelas (Sosialisme komunis). dan Relation of production (hubungan produksi). 1986. F. Teori nilai surplus (para kapitalis terus mengeksploitasi kaum buruh. R. agar kesadaran kaum buruh (proletariat) tetap kokoh dan militan. Jones. suatu perubahan secara revolusi bisa terwujud apabila ada dua hal. 2002). Pentingnya hak milik (kelas sosial ditentukan oleh hak milik alat-alat produksi. dari proses hukum dialektika tersebut. Oleh karena itu. 1997a) Jadi. the force of production (kekuatan produksi). satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk keluar dari sistem kapitalis yang ‘sangat’ tidak adil itu adalah melakukan revolusi. akibat berikutnya adalah 59 . tentang perkembangan kehidupan masyarakat dari konsep ‘hak milik’ sampai tebentuknya ‘masyarakat komunis’ (tanpa kelas). sistem sosial ditentukan oleh kelas borjuis. 1982. dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Polarisasi kelas (terjadi kelas radikal yang terpecah dalam masyarakat antara kelas borjuis dan proletar secara terus menerus).masyarakat tanpa kelas/ masyarakat komunis). hal ini untuk menumbuhkan militansi gerakan untuk berubah secara revolusi. ideologi. asumsi dasar Marx tentang perubahan sosial adalah. Determinisme ekonomi (kepentingan materi/ ekonomi sebagai dasar dari segala aspek hidup: politik.M. b. R. dan hak milik ini dikuasai kaum borjuis atau kaum kapitalis).. konsep kunci Marx tentang materialisme dialektika adalah: Mode of Production/ MoP (tata cara produksi). Menurut Marx. Konflik mengarah ke pola perubahan revolusi. masyarakat akan berevolusi dari: feodalisme ke kapitalisme dan terakhir adalah sosialisme komunis (Surbakti. budaya). Surbakti. sedangkan semua aspek selain materi hanyalah penunjang atau sesuatu yang tidak begitu penting bagi kehidupan manusia (Mutahhari.2003). 1997a. Hubungan produksi oleh Marx disebut struktur kelas. maka diperlukan propaganda secara terus menerus (Abraham. hal ini sebagai reaksi dari determinisme ekonomi. sehingga keuntungan (profit) menumpuk pada kaum borjuis). karena menguasai ekomoni atau alat produksi. hal ini dapat menentukan struktur kelas). dan (b) kaum proletariat harus mengelompokkan diri dalam satu wadah organisasi yang disebut ‘organisasi kaum buruh’. d. yaitu: (a) kaum proletariat harus mempunyai kesadaran diri yang sangat kuat bahwa dia sebagai orang yang tertindas. Jadi. Politik. kepentingan ekonomi menjadi sebab dasar terjadinya konflik (kapitalis mengeksploitasi kaum proletar). Salim.

dan kesadaran sosialnya ditentukan oleh model-model produksi atau Mode of Production/ MoP. yang akhirnya muncul diktator proletariat. Terciptanya masyarakat tanpa kelas (komunis). Revolusi (gerakan perubahan yang mendasar. sehingga perjuangan kelas semakin hebat). terasing dari jiwa aman dalam bekerja. dan Relation of production. Uraian singkat tentang pokok-pokok pikiran Karl Marx tentang fenomena sosial tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) keberadaan materi (ekonomi) menentukan kesadaran seseorang (kesadaran sosiologi seseorang). terasing terhadap modal. yang terus mengeksploitasinya). dan (4) tipologi evolusi masyarakat menurut Marx adalah dari: Kesukuan → Komunalisme → Feodalisme → Kapitalisme → Pemberontakan → Sosialisme (masyarakat komunis). karena kaum buruh terus dieksploitasi oleh majikan/kaum borjuis).terjadi kesenjangan sosial-ekonomi antara kelas kaya dan kelas miskin semakin besar. antara lain: a. Jones. D. maka terjadi kristalisasi hubungan internal masing-masing kelas (terutama dalam kelas buruh) dan cenderung homogen secara internal. Alienasi (keterangingan. Teori konflik versi Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial Dahrendorf dianggap tokoh teori konflik yang lebih baik analisisnya apabila dibandingkan dengan Marx. h. (3) masyarakat tergantung pada kondisi-kondisi materi. baik dalam bentuk integrasi sosial maupun disintegrasi sosial. f. dalam memahami fenomena sosial budaya. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap perubahan sosial. 2. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau teori konflik Dahrendorf. b. Setelah revolusi berhasil. setiap saat tunduk pada proses perubahan. PIP. e. the force of production. maka hak milik pribadi lenyap. sehingga kaum proletariat mampu menguasai negara. W. adalah berasal dari pemaksaan kelompok elit (lapisan atas) kepada para anggotanya (lapisan 60 . Sosialisme komunis inilah oleh Marx dinilai sebagai masyarakat ideal (Rossides. yaitu kaum buruh terasing terhadap kerja. (2) perubahan pada aspek materi akan menentukan perubahan sosial. Setiap masyarakat. timbul masyarakat tanpa kelas. g. 1978. Solidaritas dan antagonisme kelas (dengan tumbuhnya kesadaran kelas.2003). Apapun keteraturan hidup yang terdapat dalam masyarakat. budaya atau politik atau ideologi. yaitu gerakan kaum proletar meruntuhkan peran dan dominasi kaum borjuis (kapitalis).

Dalam kehidupan sosial di masyrakat tidak akan terjadi konflik kecuali ada konsensus sebelumnya. konflik yang terjadi antar kelompok dapat menimbulkan konsensus internal (terjadinya solidaritas ingroup) dan integrasi sosial dalam kelompok. untuk menghindari teori tunggal Dahrendorf membangun teori ‘konflik masyarakat’. tetapi juga di dalam posisi-posisi sosial di masyarakat’. e. teori konflik Dahrendorf lebih menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban (keteraturan) sosial di masyarakat. 1984). Bahwa masyarakat tersusun dari sejumlah unit yang ia sebut ‘asosiasi yang dikoordinasikan secara imperatif’. d. Bahwa tidak ada masyarakat tanpa konsensus dan konflik. Craib. Tesis sentral Dahrendorf adalah ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis’. oleh karena itu menurut Dahrendorf. demikian juga sebaliknya. h. yaitu konflik dan konsensus. sehingga sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang pada otoritas makro. seperti peranperan otoritas. otoritas yang melekat pada posisi pada struktur sosial adalah unsur kunci dalam analisis teori konflik versi Dahrendorf. Jadi. Oleh karena itu. Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik. Menurut Dahrendorf. teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian. g. Asumsi atau tesis Dahrendorf tentang otoritas adalah. Otoritas secara tersirat menyatakan superordinasi dan subordinasi. atau tunduk pada otoritas makro. dan otoritas tidak hanya melekat pada individu.bawah). Masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu 61 . ‘bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. Konsensus dan konflik merupakan dua sisi dalam satu keping mata uang. c. yaitu: teori konflik dan teori konsensus. yang dianalisis bukan mengkaji peran individu yang bersifat mikro. Setiap masyarakat dimanapun mempunyai dua wajah. keduanya menjadi persyaratan satu sama lain dalam mewarnai proses-proses sosial di masyarakat. Individu yang punya posisi otoritas makro diharapkan mengendalikan bawahan. Jadi. yaitu otoritas yang ada pada struktur sosial berskala luas (makro). Dahrendorf tidak optimis untuk mengembangkan satu teori tunggal untuk dua persoalan tersebut. 1982. Karena otoritas makro adalah absah. f. Dahrendorf sedikit banyak masih dipengaruhi oleh teori fungsionalisme struktural (Abraham. Tugas pertama dalam melakukan analisis konflik di masyarakat adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas sosial yang ada di dalam masyarakat. Otoritas individu (mikro) ini tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat.

Otoritas disetiap asosiasi bersifat dikotomi. Kelompok. bukan hanya faktor ekonomi atau kepentingan materiil seperti pandangan Marx. maka banyak faktor lain ikut berpengaruh dalam proses konflik sosial (inilah yang membedakan dengan teori konfliknya Marx). Jadi. yaitu: (1) kelompok semu (quasi group) atau sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama. Harapan peran yang tak disadari ini disebut ‘kepentingan tersembunyi’. Jadi. kelompok semu ini adalah calon anggota kelompok kedua. Dahrendorf membedakan tiga tipe kelompok. yaitu ada dua kelompok kepentingan. Dahrendorf yakin bahwa ‘lumpen proletariat’ tidak 62 .yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas. Di bawah kondisi yang ideal tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan. Individu pada posisi dominan (superordinat/ kelompok penguasa/ berpengaruh) berupaya mempertahankan ‘status quo’. yaitu pemegang posisi otoritas/ superordinat (kelompok elit) dan kelompok subordinat (kelompok bawah) yang saling berbeda kepentingan. program dan anggota yang jelas). Masyarakat terdiri dari beragam posisi (Individu dapat menempati posisi otoritas (superordinasi) disatu unit. yaitu berbagai jenis kelompok yang secara riil (aktual) terlibat konflik kepentingan dalam proses-proses sosial dalam kelompok. Ada dua kepentingan yaitu kepentingan tersembunyi (tidak disadari) dan kepentingan nyata (sudah disadari). Oleh karena itu cara merekrut anggota dalam kelompok semu secara acak (kebetulan) dapat meredam konflik. bahwa. ‘konsep kepentingan tersembunyi. i. menurut Dahrendorf. Kelompok ini mempunyai struktur. bentuk organisasi. k. Kondisi teknis seperti kualitas personil dalam kelompok. tetapi karena kondisi tak pernah ideal. dan kondisi sosial (hubungan komunikasi) ikut mewarnai kuat atau tidaknya terjadi konflik sosial di masyarakat. konflik dan perubahan. situasi politik. kelompok ini adalah agen riil dari konflik kelompok. kelompok semu. dan kelompok konflik adalah konsep dasar untuk menerangkan konflik sosial yang terjadi di masyarakat’. kelompok kepentingan. dan menempati posisi yang subordinasi di unit lain). Konsep kunci lain teori konflik Dahrendorf adalah ‘kepentingan’. Menurut Dahrendorf melihat analisis hubungan antara kepentingan tersembunyi dan kepentingan nyata itu merupakan salah satu tugas utama teori konflik. berbeda dengan pandangan Marx. j. Jadi. tujuan. penyebab terjadinya konflik menurut Dahrendorf adalah multiaspek. sedangkan posisi subornidat terus mendesak untuk terjadi perubahan sosial dalam hidupnya. (3) kelompok konflik (conflict group). kepentingan nyata. (2) kelompok kepentingan (interst group). Individu ‘menyesuaikan diri’ dengan perannya bila mereka menyumbang bagi konflik antara superordinat dan subordinat.

semakin besar kecenderungan mereka untuk kerjasama memunculkan konflik menghadapi kelompok yang menguasai sistem yang ada (kelompok kapitalis). maka akan semakin keras kaum proletar mempertanyakan keabsahan sistem pembagian pendapatan yang ada. PIP. tentang ‘fungsi konflik dalam mempertahankan status quo’. 1984. semakin besar kecenderungan terjadinya polarisasi sistem yang ada. pada dasarnya berakar dari pemikiran Karl Marx dan pemikiran Max Weber. ‘hubungan konflik dengan perubahan’. b. e. sedangkan Weber dari sudut kekuasaan birokrasi. d. Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah. 1981. W. dan berfungsi menyebabkan perubahan sosial dan perkembangan kehidupan kelompok (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Rossides. f. Proposisi Karl Marx tentang konflik antara lain: a. yaitu Marx dari aspek materi (ekonomi).akan membentuk konflik bila proses rekrutmennya acak. D. Craib. l. 1978. dan perubahan secara revolusi akan semakin member peluang terwujudnya proses pemerataan sumber-sumber ekonomis. c. Semakin besar kesadaran akan interest (kepentingan) kelompok mereka (proletar) dan semakin keras pertanyaan mereka terhadap keabsahan sistem pembagian pendapatan. Semakin keras konflik yang ada. Tetapi Dahrendorf mengakui bahwa konflik merupakan realitas sosial. tetapi apabila rekrutmen anggota kelompok dilakukan secara struktural (kaku dan ditetapkan/ tidak acak) maka akan memudahkan terjadinya konflik sosial. semakin besar perubahan struktural yang terjadi pada sistem (perubahan revolusi). Semakin meluas polarisasi. Jones. teori konflik yang dikembangkan oleh para teoritikus konflik setelah Marx. Ada enam proposisi yang dikemukakan Marx. Semakin distribusi pendapatan tidak merata. di masyarakat antara lain: 63 . Semakin kuat kesadaran kelompok bawah (proletar) akan kepentingan mereka bersama. berkaitan dengan konflik. hanya kedua tokoh ini mempunyai perbedaan sudut pandang. dan tiga proposisi yang dikemukakan Weber. semakin keras konflik yang terjadi. Disini Dahrendorf mengakui pikiran Coser. Sedangkan proposisi yang diajukan Weber berkaitan dengan konflik sosial. Semakin kuat kesatuan ideologi anggota kelompok bawah (proletar) dan semakin kuat struktur kepemimpinan politik mereka. Johnson. semakin besar konflik kepentingan antara kelompok atas dan kelompok bawah.2003). Menurut Turner (1982).

semakin besar kecenderungan timbulnya konflik social antara kelas atas dan bawah b. dan sebagainya) yang mampu menjembatani dua kepentingan yang berbeda yaitu. ketrampilan profesionalnya’. Marx tidak memperhitungkan terjadinya ‘kelas baru’ dalam proses modernisasi (kapitalis modern). Semakin besar atau kuat sistem perundang-undangan dan administrasi pemerintahan dalam kehidupan kelompok. budaya. Semakin besar derajat merosotnya legitimasi politik penguasa dalam birokrasi pemerintahan. Semakin karismatik pimpinan kelompok bawah. yaitu kelas menengah (para profesional. c. teknisi. c. Marx terlalu menekankan ‘determinisme ekonomi’ (material) dalam teorinya. antara lain: a. Kritik terhadap teori konflik Marx dan Dahrendorf Menurut para ahli. kemampuan. Marx terlalu menekankan bahwa perubahan sosial itu muncul sebagai ‘akibat perjuangan kelas’. D. misalnya faktor: keyakinan. 3. Kesenjangan hirarki sosial. semakin besar kemampuan kelompok ini memobilisasi kekuatan dalam suatu sistem. dalam realitasnya banyak ‘kesadaran kelas’ tidak muncul secara murni hanya dari kaum proletar yang tertindas. d. padahal faktor ekonomi tidak selalu menjadi ‘kunci utama’ memahami fenomena sosial-budaya dan politik di masyarakat yang sangat dinamik dan kompleks. karena atau 64 . Kesadaran kelas (class conciousness) yang oleh Marx dianggap dapat muncul diantara kaum proletar karena tertindas. akan mendorong dan menciptakan kondisi terjadinya hubungan antar anggota kelompok sosial. d. antara kelas borjuis dan kelas proletar. b.a. Kelas baru ini muncul bukan sematamata faktor material. tetapi karena ‘keahlian. tidak hanya karena perjuangan kelas saja. yaitu kaum ‘cerdik cendekia’. ideologi. rendahnya mobilisasi vertikal akan semakin mempercepat terjadinya proses kemerosotan legitimasi politik penguasa dan semakin besar kecenderungan terjadinya konflik antara kelas atas dan kelas bawah di masyarakat (Wrong. dan sebagainya. semakin besar tekanan kepada penguasa (lapisan atas) melalui penciptaan suatu sistem undang-undang dan sistem administrasi pemerintahan. masih ada kepentingan atau aspek-aspek lain. ada beberapa titik kelemahan pandangan Karl Marx dalam memahami fenomena sosial. bahkan ada juga kesadaran dari kaum proletar yang tertindas tersebut sifatnya adalah kesadaran palsu (false consicousness). psikhologis. 1970). (ed). padahal banyak faktor penyebab terjadinya perubahan sosialbudaya.

buruh (saham masyarakat). tidak hanya disebabkan oleh konflik antar kelas yang berbasis kepentingan ekonomi (materi). masyarakat. Hazelring atau profesional 65 . Jadi. Dalam realitasnya sangat banyak bukti yang menunjukkan bahwa peran tokoh agama adalah sangat sentral untuk menjadi aktor penggerak terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat f. Hal ini membuktikan bahwa pandangan Marx bersifat ‘ahistoris’ atau mengingkari realitas sejarah. Hampir tidak mungkin dalam suatu masyarakat. bukan untuk kelasnya (palsu). Marx tidak melihat bahwa dalam kelas juga terjadi perkembangan adanya ‘spesialisasi kelas’ (dekomposisi kelas). Marx sangat keliru dalam memandang bahwa perkembangan kekuatan produksi akan mengarah pada homogenitas internal kaum proletariat. i. Marx kurang memperhatikan ‘peranan agama’ atau tokoh agama sebagai penggerak atau motivator dalam proses perubahan dalam masyarakat. yaitu dalam kelas proletar ada dua kelas: kelas proletar murni (kelas buruh) dan kelas lumpen proletar (kelas buruh tapi ahli/ profesional dengan gaji tinggi). h. tanpa ada struktur wewenang atau mekanisme pengatur (penguasa). antara lain: Weingart (1969). semi skill labour dan skill labour (Johnson. ‘adanya integrasi dan konflik’. g. dalam realitas yang terjadi di masyarakat. dalam kenyataannya tidak pernah ada homogentitas internal proletariat. Sedangkan beberapa teoritikus ilmu sosial yang mengemukakan kritik terhadap teori konflik versi Dahrendort. yang terjadi adalah heterogenitas internal proletariat. Craib. 1984. e. pandangan Marx bertentangan dengan realitas karakter dasar sosial budaya di masyarakat yang selalu ada integrasi dan konflik. yang mengatur kehidupan masyarakat yang ‘cenderung integratif dan konflik’. Marx mencampuradukkan konsep sosiologis yang bersifat empiris (dapat diuji kebenarannya) dengan konsep yang bersifat filosofis. padahal dalam masyarakat modern konsep ‘hak milik suatu industri bisa luas atau kompleks’. bahwa ‘kapitalisme dunia akan runtuh dan digantikan sosialisme komunis’ (masyarakat tanpa kelas) sampai sekarang belum terbukti.ketika sebagian kaum proletar yang berhasil naik kelas elit justru dia berjuang untuk dirinya sendiri. karena adanya un-skill labour. hanya ada konflik. 2004). 1981. Ritzer dan Goodman. Disamping itu apa yang diramalkan Marx. dan konflik sebagai sumber perubahan. yaitu manajer.. karena sifat dasar masyarakat adalah. Perubahan sosial dan pergolakan sosial. Konsep hak milik yang dikemukakan Marx terlalu menekankan pada ‘hak milik dalam arti sempit’ (hak milik secara hukum atau pemodal pribadi).

Posisi dan peran secara langsung mengkaitkan dengan fungsionalisme struktural’. Konflik berjalan terus menerus sepanjang ada masyarakat. Konflik endogenous (konflik dari dalam) masyarakat. Jadi. teori konfliknya merupakan terjemahan yang tidak memadai dari teori Marxian. pandangan dan tindakan individu (mikroskopik). 2004). Teori konflik hampir seluruhnya bersifat ‘makroskopik’ (sama dengan fungsionalisme struktural) dan akibatnya sedikit sekali yang ditawarkan kepada kita untuk memahami pikiran.1. 02 03. yang sebab terjadinya secara analitis dibedakan menjadi: (1) keinginan berubah secara inheren dari warga masyarakat. c. Menurut para ahli. Konflik akan berakhir kalau terjadi masyarakat tanpa kelas (sosialis komunis) Teori Konflik Dahrendorf Perubahan belum tentu terjadi karena revolusi. tetapi secara gradual. yaitu: a. 04. Dan masyarakat terus dalam situasi konflik Sumber konflik adalah kepemilikan sarana produksi. Dahrendorf dalam teorinya menekankan: ‘Asosiasi yang dikoordinir secara paksa. d. Teori konflik Dahrendorf lebih menyerupai dengan fungsionalisme struktural daripada dengan teori Marxian. Para Sosiolog membedakan dua kategori besar dalam teori konflik. sebagaimana dalam bagan berikut. Dari beberapa kritik para ilmuwan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Model Dahrendorf tak secara jelas mencerminkan pemikiran Marxian seperti yang ia nyatakan. karena ada beberapa hal yang mengalami disfungsi Sumber konflik adalah kepemilikan wewenang (otoritas) dalam kelompok yang beragam. Tentang Perbedaan teori konflik Marxis dan Dahrendorf: No 01 Teori Konflik Marx Perubahan terjadi secara revolusi.( 1972). motivasi. keyakinan. Teori konflik Dahrendorf tidak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja (sisi fenomena konflik) dari kehidupan sosial (Johnson. ada ada beberapa sisi perbedaan antara teori konflik Marx dengan teori konflik Dahredorf. Jadi bukan hanya materi (ekonomi) Kelompok Lumpen Proletariat tidak akan menjadi penggerak konflik bila proses rekrutmennya acak. Atau faktor ekonomi (materi) sebagai infra strukturnya Kelompok Lumpen Proletariat akan menjadi penggerak terjadinya konflik dalam kelompok. Ritzer dan Goodman. Bagan 2. (2) distribusi kebutuhan atau kepentingan yang beragam 66 . Craib. 1984. 1981. dan Turner (1973). b.

tidak selamanya merusak dan bersifat nyata (manifest). Konflik bisa ditekan dan dikontrol. (f) konflik meskipun inheren dalam struktur sosial. yang sebab terjadinya secara analitis adalah: (1) adanya peperangan antar masyarakat. W. 1997. 1982.. Surbakti. demokrasi. 1976. (c) konflik endogenous berasal dari kegagalan integrasi dan struktural yang sama. revolusi teknologi. Rossides. dan aspek sosial (menurut Dahrendorf). (2) terjadinya invasi kultural. (e) masyarakat selalu berubah setiap saat dan perubahan sosial itu terjadi di manamana. R. 1984). krisis lingkungan dan orientasi nilai baru. J. (5) konflik individual dan konflik didalam masyarakat. (b) setiap elemen masyarakat memberikan andil untuk terjadinya konflik dan perubahan sosial-budaya. Turner. atau penjajahan politik dari luar.. (b) apabila perspektif konflik Marx lebih mendasarkan pada aspek ekonomi sebagai 67 . (d) sumber konflik adalah karena adanya ‘kepentingan ekonomi’ (menurut Marx) dan ‘beragam kepentingan’. 4. 2000). Turner. 1982). Pandangan teori neo Marxian atau neo konflik Sebelum menjelaskan tentang beberapa konsep tentang teori neo-Marxian atau neokonflik. c. seperti kapitalisme. Konflik terjadi karena distribusi penghargaan tidak sama dan paksaan dari pihak superordinat dan kurangnya nilai konsensus dalam kelompok. B. (4) konflik kewenangan (otoritas) didalam kelompok. 1973.. perubahan dianggap inheren dalam masyarakat (Spencer. Uraian tentang teori konflik Marx dan Dahrendorf tersebut di atas dapat disimpulkan dengan beberapa asumsi dasar perspektif konflik tentang ‘perubahan sosial-budaya’ sebagai berikut: (a) setiap masyarakat senantiasa dalam proses perubahan. M. (3) konflik nilai didalam masyarakat yang merupakan akumulasi dari inovasi. namun juga bersifat tersembunyi (latent). fundamentalisme antar masyarakat atau banga. b.terhadap sesuatu yang dihargai dalam masyarakat. 1978. tetapi tidak bisa dihilangkan oleh siapapun dalam proses kehidupan masyarakat (Blowers. terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan teori neo Marxian adalah: (a) teori-teori konflik yang dikemukakan para ilmuwan sosial setelah munculnya teori konflik Marx. Masyarakat bukanlah sebuah sistem yang berada dalam situasi equilibrium. Konflik eksogenous (konflik dari luar) masyarakat. misalnya: kepentingan ekonomi. melainkan terbentuk karena adanya paksaan dan tujuan tertentu (Zeitling. komunisme. kekuasaan. dan (3) konflik ideologi. D. Horton and Hunt. dan teori tersebut masih berorientasi pada teori konflik Marx serta sifatnya lebih menyempurnakan asumsi-asumsi Marx tentang konflik sosial dalam hubungannya dengan perubahan sosial di masyarakat.

Para tokoh teori konflik antara lain: (a) Karl Marx dan Robert Park.. tetapi ada juga faktor lain yaitu massa perlu mengembangkan ‘ideologi revolusioner’. 1993). yang dikenal penganut model ‘Naturalistik modern’ (fungsionalisevolusionis) (Kinloch. 2005). dan (d) Lewis Coser dan David Reisman. P. (c) Henri Lefebvre. 2005). Kinloch. dia menjelaskan relevansi ‘perubahan demografi’ sebagai fundasi konflik sosial. Struktur sosial bisa berbentuk tertutup dan terbuka. antara lain: (a) Determinisme Ekonomi. 2001. 1986). sebagaimana pandangan oleh Karl Marx. (b) Antonio Gramsci. antara lain: (a) George Lukacs. dan (e) David Reisman. (c) Teori Kritis. (d) Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian. sumbangan besar Lukacs terhadap teori neo Marxian adalah berupa gagasan tentang ‘reifikasi dan kesadaran kelas’.‘pen-determinasi’ (infra-struktur) semua aspek kehidupan sosial (Bottomre and Rubel. (f) Analisis Sosial Neo-Marxian. Konflik bermula dari tuntutan rasio penghargaan. (c) Ralf Dahrendorf dan Wright Mills. struktur kelas di dalam sistem ekonomi. Lefebvre. yang dikenal penganut pendekatan atau aliran ‘Sistemik modern’ (revolusionis). 1956. 1981. Pengaruh teori konflik dalam studi sosiologi berada dalam rentang waktu yang sangat panjang (sejak tahun 1818 sampai awal tahun 1960-an). dia tetap mengakui faktor ekonomi sebagai penyebab konflik dan revolusi. Mutahhari. (b) Marxisme Hegelian. Banyak teoritisi konflik yang masuk dalam kelompok Neo-Marxian atau neokonflik. Menurut H. yang dikenal dengan ‘Tipe naturalistik konvensional teori konflik’ (revolusionis). (b) Vilfredo Pareto dan Torstein Veblen. (e) Marxisme Berorientasi Historis. tetapi ‘multi-faktor’ (Ritzer. Variasi teori Neo Marxian atau neo-konflik ini sangat beragam. menurut Coser bahwa: Konflik meningkatkan penyesuaian sosial. Baik L. (d) Lewis Coser. D. Coser maupun D. setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan ‘restrukturisasi ruang’ (Ritzer dan Goodman. yang dikenal dengan pendekatan ‘Sistemik konvensional’ (revolusionis). 1969). maka teori neo Marxis beranggapan bahwa faktor kunci konflik bukan semata-mata karena kepentingan ekonomi. 2004). massa harus ada ‘tokoh intelektual’. Reisman adalah termasuk tokoh teori Neo-Marxis 68 . Sztompka. Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis. Baik Lukacs maupun Gramsci sama-sama memusatkan perhatian pada aspek ‘Gagasan kolektif’ daripada aspek ‘Struktur ekonomi’ sebagai penyebab konflik. dia mengatakan bahwa teori Marxian (neokonflik) perlu menggeser fokusnya dari ‘caracara produksi ke produksi ruang’ (dari produksi ke reproduksi). dan dalam membangkitkan ideologi revolusioner. Tipe-tipe masalah menyangkut pengaruh konflik dan konflik akan menjadi fungsional bagi sistem sosial (Coser and Rosenberg. dan (g) Teori Post-Marxis (Johnson.P.

lebih intens akan berpotensi menjadi konflik sosial di masyarakat. d. baik teori fungsional maupun 69 . meski porsinya beragam antar kelompok. dan panjangnya konflik. Pada dasarnya perspektif fungsional struktural dan perspektif konflik adalah ‘saling kait mengkait’ dalam memahami masyarakat secara holistik tentang proses-proses sosial. Jadi. konflik institusional. semakin erat sistem stratifikasi. tingkat berpartisipasi kelompok. 2005) Dalam posisi kajian ini. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan dinamika hidup. eksistensi institusi katup keselamatan (savety-valve institutions). Ada yang berbentuk mobilitas sosial. Menurut teoritikus neokonflik. M. yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai ‘teori konflik modern yang bersifat ‘Naturalistik dan evolusioner’. maka kehidupan kelompok memerlukan adanya konflik antar unsur (sub sistem) (teori konflik). e.atau neo konflik (teori konflik modern) yang bersifat naturalistik. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Poloma. Semakin rendah institusionalisasi toleran konflik institusional. Konflik muncul ketika ada akses dari penuntut untuk memperoleh imbalan sesuai dengan kerjanya dalam kehidupan sosial di masyarakat. c. Sebaliknya konflik yang tidak realistis dalam lingkungan yang fleksibel dan tertutup akan menimbulkan kekerasan dan disintegrasi. makroskopik. dan toleransi. Konflik akan cenderung meningkatkan daripada menurunkan penyesuaian sosial adaptasi dan memelihara batas kelompok. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (Teori fungsional struktural). Coser. organik. M. Jadi. 1979. yang pada tingkatan tertentu memiliki hubungan erat. partisipasi kelompok dan apabila perjuangan dalam kelompok lebih lama. Struktur sosial berbeda-beda bentuknya. teori Neo Marxian atau neokonflik yang diuraikan secara singkat adalah teori neokonflik Lewis Coser. Konflik yang realistis dalam sebuah struktur sosial yang terbuka memberikan kontribusi penyesuaian struktur yang lebih hebat. Coser saja yang cocok untuk dijadikan orientasi teori dalam suatu kajian fenomena sosial-budaya di masyarakat. semakin lebih dekat merajut kelompok. Berikut beberapa substansi pokok pikiran atau asumsi teori konflik L. Hal ini bukan berarti hanya teori Neo Marxian L. evolusioner dan struktural (Kinloch. dalam memahami fenomena sosial-budaya antara lain: a. Cambell. konflik dan konsensus (fungsional struktural). semakin sedikit pulalah institusi katup keselamatan. fleksibelitas dan integritas sosial. 1994). Konflik bisa bersifat fungsional dan bisa tidak fungsional. b.

70 . 2004). 1982. 1975). Jadi. peran dan batas-batas musuh dengan konflik semakin jelas) antar anggota dalam kelompok atau antar kelompok. (b) konflik dapat mengaktifkan peran individu. 2005). Di atas merupakan fungsi konflik yang lebih positif. semula statis menjadi dinamik. Sedangkan beberapa pokok pikiran Randall Collins tentang teori ‘konflik integratif’ antara lain: a. Coser dalam menganalisis tentang konflik dan perubahan sosial-budaya di masyarakat. M. dan (d) kerangka konflik yang terjadi di masyarakat tidak semata-mata berbasis ekonomi (seperti pandangan Karl Marx). 5. tetapi juga berbasis non ekonomi (Turner. 1981). yang semula terisolasi menjadi tidak terisolasi. dan dia mengatakan. semula pasif menjadi aktif. Cambell. Fungsi konflik adalah: (a) konflik antar kelompok dalam memperkokoh solidaritas ingroup. Teori konflik integratif Collins lebih condong berorientasi ‘mikro’. khususnya dalam menambah analisis fenomena sosial-budaya pada tingkat mikro. perpecahan dan integrasi adalah proses fundamental (sesuatu yang mesti ada) dalam masyarakat. konflik dan konsensus (fungsional). h. Collins telah memberi ‘kontribusi penting bagi teori konflik versi Marx. meski porsinya beragam antar kelompok. J. 1979. Kehidupan sosial memang memerlukan keserasian fungsi (teori fungsional). tetapi konflik juga mempunyai ‘disfungsi’ atau fungsi negatif (Poloma. (c) bahwa konflik yang mempunyai suatu fungsi tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan hidupnya (makna fungsional konflik). adalah Randall Collins (karyanya Conflict Sociology. f. M. Atau konflik dan integrasi merupakan bagian integral dalam sistem sosial (Coser and Rosenberg. 1969. tetapi untuk melakukan proses perubahan dan mendorong terjadinya dinamika hidup.H. Pandangan teori konflik integratif Collins Tokoh utama dalam upaya membangun ‘teori konflik yang lebih sintesis dan integratif’. Ritzer dan Goodman. adalah sama-sama teori parsial (hanya menyinggung satu sisi/ aspek kehidupan) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya di masyarakat. g. antara lain: (a) terdapat hubungan yang erat antara struktur sosial masyarakat dengan konflik dan kekuasaan. (c) konflik juga membantu fungsi komunikasi (artinya fungsi. maka kehidupan sosial memerlukan adanya konflik antar unsur sosial atau sub sistem (teori konflik). Kinloch. Jadi. Ada beberapa konsep penting dari pandangan L. atau bisa juga menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. (b) bahwa bentuk perubahan sosial lebih bersifat evolusi daripada revolusi.teori konflik. sedangkan konflik Marx dan Dahrendorf lebih bersifat ‘makro’.

d. bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal). dalam penjelaskan fenomena sosial bersifat monokasual untuk kehidupan yang multikasual (kompleks). sosial dan sebagainya. Jadi. Menurut Collins. Collins tetap ada sebagian yang dipengaruhi oleh pandangan Marx. ketimbang sebagai ‘kesatuan eksternal dan imperatif’ (seperti pandangan Marx dan Dahrendorf). Bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial. dan justru lebih banyak dipengaruhi pandangan Weber. sedangkan Collins lebih mendekati konflik dari sidut pandang individu (mikro). teori konfliknya sedikit sekali dipengaruhi oleh Marxian. Meski Collins pola pikirnya dilatarbelakangi oleh pandangan Marxian dan Weber. Meskipun demikian pandangan R. Durkheim dan terutama teori fenomenologi dan teori etnometodologi. e. Struktur sosial oleh Collins lebih sebagai ‘pola interaksi’. Collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial. karena akar atau orientasi teori Collins adalah ‘fenomenologi dan etnometodologi’. tetapi teorinya tentang stratifikasi konflik lebih menyerupai teori fenomenologi dan etometodologi. sehingga dalam kehidupan kelompok atau masyarakat sering terjadi beragam benturan kepentingan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. 71 . keluarga. Konflik Marx dan Dahrendorf memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan (makro). (2) setiap orang dalam hidup mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Marx dan Dahrendorf memandang. dan memaksa atau menentukan pihak aktor (individu) dalam prosesproses sosial-budayanya. Perhatian terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis (politis). gaya hidup. Tentang stratifikasi sosial. Collins mengkritik teori fungsionalisme dan Marxian. antara lain: (1) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx dianggap sebagai teori yang gagal menjelaskan stratifikasi sosial. sedangkan Collins cenderung melihat struktur sosial tidak dapat dipisahkan dari aktor (individu) yang berbuat atau membangunnya (internal). karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehidupan. b. g. proses analisis Collins terhadap fenomena sosial adalah lebih tertuju pada fenomena ‘mikrososiologi stratifikasi’. f.bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari’ di masyarakat. Asumsi Collins adalah (1) setiap orang mempunyai sifat sosial (sociable). c. (2) teori fungsional struktural dan teori konflik Marx. Teori stratifikasi konflik Collins. politik. tetapi juga mudah berkonflik dalam prose-proses sosial di masyarakat. bidang: ekonomi.

Hipotesis harus dirumuskan dan diuji secara empiris. peralatan). (4) teoritisi konflik harus melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan. namun Collins tetap memandang sumber daya masingmasing aktor beragam. (2) penggunaan paksaan menimbulkan upaya yang kuat untuk menghindari menjadi 72 . dan bila memungkinkan secara komparatif. Collins juga memandang: (1) organisasi adalah arena untuk bersaing. yaitu: (1) bahwa manusia hidup dalam dunia subyektif yang dibangun sendiri (faktor internal). dia akan makin bangga. dan (3) orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. makin menyesuaikan diri secara eksternal. j. (2) bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang mempengaruhi interaksi (misalnya. yakin lima prinsip itu bisa juga diterapkan disetiap bidang kehidupan sosial budaya). (3) bahwa dalam situasi ketimpangan.h. 2004). senjata. kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mengeksploitasi kelompok sumber daya yang terbatas. yaitu: (1) bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak (hal ini menunjukkan Collins lebih menyukai gaya analisis material Marxian daripada gaya abstraksi fungsionalisme). antara lain: (1) pengalaman memberikan dan menerima perintah. Berdasarkan tiga pendekatan tersebut Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan pada stratifikasi sosial (Collins. lingkungan fisik. i. (5) sosiolog tidak boleh berteori saja tentang stratifikasi. k. makin terasing dari tujuan organisasi. tetapi juga harus menelitinya secara empiris. makin mencurigai orang lain. makin formal dan makin mengidentifikasikan diri dengan tujuan oragnisasi serta dengan mengatasnamakan organisasi dia menjustifikasi perintahnya. dan (3) makin sering orang menerima perintah. sumber daya dan kekuasaan. (2) makin sering orang memberikan perintah. makin ia patuh . dan konflik bersifat integratif. Ketiga sebab inilah yang memunculkan konflik antar individu. (2) orang lain mempunyai kekuasaan atau pengaruh untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subyektif sesorang individu (faktor eksternal). makin memikirkan imbalan ekstrinsik dan amoral (Ritzer dan Goodman. makin fatalistis. Pendekatan konflik Collins terhadap stratifikasi dapat dikelompokkan menjadi tiga prinsip. makin percaya diri. mode komunikasi. Dari kelima prinsip analisis konflik tersebut. adalah faktor yang menentukan pandangan dan tindakan individu sehari-hari. Collins mengemukakan tiga proposisi tentang hubungan antara konflik dan berbagai aspek khusus kehidupan sosial (konflik integratif).

bakat lapisan yang bawah Sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi dan kekuasaan akan berkembang untuk mengeksploitasi lapisan bawah Kondisi subjektif kehidupan. Jadi. media kompetisi menuju status lebih tinggi Setiap lapisan membangun pola gaya hidup dan perasaan yang berbeda. yang menunjukkan adanya lapisan elite untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan/ kepentingannya pada yang lemah Tidak perlu dan tidak adil. Kondisi objektif kehidupan yang menampilkan serba keberagaman. Lapisan sosial dapat digunakan sebagai media selektif atas keahlian individu. Terutama disebabkan perbedaan dalam kekuasaan. keserasian fungsi sosial Lapisan sosial diperlukan semua orang.pihak yang yang dipaksa. Perbedaan tersebut dapat dilustrasikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 2. terutama pada masyarakat yang kompleks. (3) Bahwa penawaran pemberian imbalan secara material adalah strategi yang lebih baik.2. untuk menentukan hak dan kewajibannya berdasarkan norma yang disepakati Tidak dapat dihindarkan. Perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori konflik Menurut para ahli ada beberapa perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural dan teori konflik dalam memahami fenomena sosial di masyarakat. Tentang perbedaan teori fungsionalisme struktural dan teori Konflik: No 01 Konsep fenomena sosial Kehidupan sosial (masyarakat) Perspektif Fungsional Struktural Masyarakat cenderung untuk mempertahankan sistem kerja menuju kearah keseimbangan (equilibrium). profesi individu dalam masyarakat Timbul dari perubahan kebutuhan fungsional masyarakat yang terus menerus. Bentuk perubahan Perspektif Konflik Masyarakat cenderung untuk berada dalam konflik terus menerus antar individu/ kelompok dan terus dalam ketegangan. 6. Lapisan sosial tidak diperlukan oleh semua orang. disebabkan beragam keahlian. untuk menentukan status dan peran. hak dan kewajiban masing-masing individu dalam masyarakat.perlu ditempuh jalan penyusunan masyarakat sosialistis Dipaksanakan oleh suatu kelas ke kelas lainnya untuk ke pentingan kelas elite. Atau kelas proletar melakukan 02 Stratifikasi sosial 03 Diferensiasi sosial 04 Perubahan sosial 73 . karena menimbulkan diskriminasi hidup Lapisan sosial dapat menghambat keahlian. dan relatif terintegrasi.

Konsensus nilai. Kehidupan sosial selalu menghasilkan suatu oposisi. Dan sistem sosial cenderung untuk berubah 09 Sistem sosial ( Horton & Hunt.. Menurut Burrell dan Morgan (1994). beberapa pandangan paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal antara lain: Pertama. 1992). Pandangan paradigma fungsional dan struktural radikal Menurut para ahli. dan teori konflik termasuk neo-Marxian adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma fakta sosial (Ritzer. hanyalan & alat kaum penindas (elite).nilai dasar hidup) Kehidupan sosial melibatkan komitmen/ konsensus bersama untuk hidup berkelompok Berfungsi menanamkan nilai-nilai umum (disepakati bersama) demi keserasian fungsi (integrasi). 7. Menjalankan peraturan yang mencerminkan kesepakatan (konsensus) nilai-nilai masyarakat Sistem-sistem sosial diintegrasikan dalam kehidupan kelompok. (2) paradigma ini bercirikan: menjelaskan 74 . Craib. 1980). 1996. antara lain: (1) paradigma ini dalam memahami fenomena sosial menggunakan pendekatan objektiv dan berorientasi pada paham positivisme. Dan sistem sosial cenderung untuk bertahan lama 06 Nilai-nilai dalam kehidupan sosial 07 Lembaga2 sosial 08 Hukum dan pemerintahan Dihasilkan dan di pertahankan oleh pemaksa yang ter organisir oleh kelas yang dominan. sebagai pemersatu anggota masyarakat (norma. teori fungsional struktural termasuk neo- fungsional. G.bersifat evolusi. teori sistem. atau teori-teori yang berparadigma fungsional dan berparadigma struktural radikal. pandangan paradigma fungsional. karena ke hidupan sosial melahir kan konflik struktural Kepentingan yang bertentangan akan memecahbelah masyarakat. dan selalu mengarah ke seimbangan sistem gerakan revolusi untuk merubahan dominasi kelas borjuis 05 Tertib Sosial (social control) Hasil usaha tidak sadar dari anggota masyarakat untuk mengorganisir kegiatan mereka secara produktif Kehidupan sosial tergantung kepada solidaritas bersama Konsensus atas nilai-nilai. Kehidupan sosial penuh dorongan kepentingan (dasar hidup) untuk menguasai Berfungsi menanamkan nilai dan kesetiaan yang melindungi kepentingan kaum elite yang punya hak istimewa Menjalankan peraturan yang dipaksakan oleh kelas dominan untuk melindungi hak istimewanya Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi.

G. maka teori interaksionis simbolik adalah berlandaskan pada aliran filsafat pragmatisme. Paradigma ini berpengaruh pada teori-teorinya: A. analisis emansipasi dan potensi yang lebih menekankan pada konflik struktural. G. atau teori-teori yang tergolong pada paradigma fungsional dan paradigma struktural radikal. E. dan V. Atau pentingnya pemahaman realitas sosial ke arah order. atau konstruktivisme. 1979. M. Kedua. Ritzer. Durkheim. kontradiksi dan perampasan. atau saintisme (Poloma. teori radikal organism. teori fungsional struktural dan neofungsional. Parsons. and Morgan. (2) paradigma ini berkaitan dengan perubahan radikal. (ed). Ditinjau dari segi orientasi filosofis. dan (3) paradigma ini cenderung berorientasi pada masalah dan upaya pencarian solusi praktikal dari permasalahan yang ada. B. stabilitas sosial. Sedangkan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi termasuk teori yang berparadigma definisi sosial dan berorientasi pada paham idealisme. H. 1980). G. Ritzer. equilibrium. Atau teori yang berparadigma humanis radikal dan paradigma interpretif (Burrell. E. antara lain: (1) paradigma ini mengusulkan studi sosiologi perubahan radikal dari sudut pandang objektivistis Teori-teori yang tergolong pada paradigma ini antara lain: teori konflik dan variannya. Paradigma ini melakukan kajian sosiologi dari pendekatan makro. Pareto. and Morgan. Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Interaksionis Simbolik Uraian tersebut di atas (teori sistem. order sosial. G and Smart. solidaritas kelompok. G.kehidupan sosial dari dimensi status quo. M. teori konflik dan neo-Marxian) merupakan teori-teori yang tergolong pada paradigma fakta sosial dan berorientasi pada paham positivisme. atau naturalisme. dan masyarakat kontemporer banyak ditandai oleh adanya krisis politik dan krisis ekonomi. model dominasi. konsensus. integrasi sosial. Paradigma ini mewarnai pandangan Karl Marx (Burrell. (2) bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti bermanfaat bagi mereka. 1994). Paradigma struktural radikal memandang bahwa perubahan radikal di masyarakat diciptakan dalam struktur masyarakat kontemporer. dan perlunya nilai-norma sosial sebagai alat kontrol sosial individu (eksternal mempengaruhi internal). 1994. G. melainkan secara aktif diciptakan (individu) ketika individu itu berpikir dan bertindak di dan terhadap dunia. Comte. Spencer. Sedangkan pokok-pokok pandangan aliran filsafat pragmatisme antara lain: (1) realitas yang sejati itu tidak pernah ada di dunia nyata. (3) manusia mendefinisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan manfaatnya bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. pandangan paradigma struktural radikal. dan (3) paradigma ini berawal dari pandangan yang bersifat realis positivisme dan nomotetik (manusia ditentukan oleh struktur sosial atau faktor eksternal). 2001). T. dan (4) apabila 75 .

Thomas. 1984. Jadi. karena kedua tokoh ini dianggap oleh para teoritisi sosial sebagai pendekar teori interaksionis simbolik. and Society’ adalah karya terpenting H. adalah rasa lapar dan haus. yaitu: (1) tahap impuls. Dalam kajian ini penjelasan teori interaksionis simbolik akan banyak menguraikan pandangan-pandangan George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Perspektif fenomenologis adalah mewakili semua pandangan ilmu sosial yang menganggap ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Berikut ini akan dijelaskan secara garis besar tentang pandangan teori interaksionis simbolik dalam memahami fenomena sosial-budaya di masyarakat. 2002). Mead. bukan sebagai paksaan atau perintah untuk bertindak’. dan buku berjudul ‘Mind.Mead dan Blumer sebenarnya berada di bawah payung ‘perspektif fenomenologi’ dan termasuk dalam paradigma ‘definisi sosial’ (Rossides. Menurut Mead. 2002). Respon manusia terhadap stimulus rasa lapar tidak seperti binatang. Pandangan teori Interaksionis Simbolik tentang fenomena sosial-budaya Menurut para ahli tokoh-tokoh yang mengembangkan teori interaksionis simbolik antara lain: Horton Cooley. L. antara lain Pertama. Mead mengidentifikasi ada empat tahap dasar yang saling berhubungan dalam bertindak. 76 . Herbert Mead. dan Erving Goffman. ketiga teori tersebut dapat dianggap sebagai varian-varian teori interaksionis simbolik. Dalam menganalisis tindakan. Teori interaksionis simbolik juga telah mengilhami perkembagan teori-teori lain yang berbasis paradigma definisi sosial. Soeprapto. tentang Tindakan. 2002). 1996. antara lain: (a) teori penamaan/ label (labeling theory) tentang terjadinya perilaku menyimpang. 1978. John Dewey. (2) teori dramaturgi oleh Erving Goffman.O. Mulyana. Self. dan (3) teori etnometodologi oleh Harold Garfinkel. maka individu yang memahami tersebut harus mendasarkan pemahamana itu pada apa yang sebenarnya dilakukan / dipikirkan oleh orang lain (Kattsoff. Berikut ini beberapa pokok pandangan teori interaksionis simbolik versi H. Mead.. Perspektif teori interaksionis simbolik H. William I. ‘stimulus sebagai kesempatan atau peluang untuk bertindak. Teori interaksionis simbolik George Herbert Mead Herbert Mead adalah pemikir terpenting dalam sejarah teori interaksionis simbolis.. Herbert Blumer. Pandangan teori interaksionis simbolik oleh para ahli juga sering disebut sebagai teori sosial yang tergolong dalam ‘perspektif interpretif’ dan berorientasi pada ‘filsafat pragmatisme’ (Johnson dan Hunt. Mulyana. yaitu tindakan yang melibatkan ‘respon panca indera secara cepat/ langsung’. Mead melakukan pendekatan perilaku dan berfokus pada stimulus (pendorong) dan respon. D.individu ingin memahami orang lain yang melakukan tindakan (aktor). Contoh impuls.

yaitu tindakan yang mucul dari kesadaran yang tinggi. Dalam bertindak. Soeprapto. dimana pelaku mencari dan bertindak terhadap stimulasi yang berhubungan dengan impuls. 1981. 2002). menggambarkan arah tingkah lakunya. dan mampu memodifikasi dan menginterpretasi tindakan dalam proses interaksisosial (Rossides. F. 1978. T. pelaksana dan pengarah diri sendiri dalam tindakan atau interaksi (Turner. D. R. memperkirakan situasinya. mencium. Mead juga melihat ‘fungsi’ dari isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. Menurut Herbert Mead. bahasa adalah faktor terpenting dalam kehidupan manusia. H. interaksi simbolik memandang ‘arti / makna’ merupakan produk sosial / hasil modifikasi dari interaksi sosial.karena respon manusia masih melibatkan pikiran dan perasaan. pada kasus rasa lapar adalah berbagai cara dilakukan untuk meraih perasaan puas. isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses-proses sosial di masyarakat. Orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau menerima stimulus melalui mendengar. dan (3) tahap pelaksanaan. Atau bahasa merupakan simbol yang signifikan dalam proses interaksi sosial. 1982). Isyarat vokal (bahasa) dalam interaksi sosial adalah sangat penting untuk pengembangan isyarat ‘signifikan’. meraba. pelaku. dan (b) isyarat ‘signifikan’. 1982. menggambarkan apa yang akan dilakukan dengan faktorfaktor lain. dan menyeleksi stimulus yang ada untuk mencari yang terbaik. dinamik. 1997b) .M.. Surbakti. Menurut H. tentang Isyarat. Kedua. melihat. Ada dua macam isyarat. R. Manusia melakukan tindakan sesuatu adalah berdasarkan ‘arti /makna’ yang dimilikinya. sedangkan asal mula munculnya ‘arti/ makna terhadap sesuatu’ adalah dari proses interaksi sosial. bagi Herbert Mead. Manusia adalah makhluk yang ikut serta dalam berinteraksi sosial dengan dirinya sendiri. mencatat dan menginterpretasikan tindakan orang lain. yaitu tahap mengambil suatu tindakan yang memuaskan atau yang dianggap baik dan menyelamatkan hidupnya ke depan. Jadi. Jadi. Abraham. Dengan menggunakan orientasi pragmatisnya. J. mengecap. Mead. Jadi. dengan membuat indikasinya sendiri. menilainya. mengecek dirinya sendiri. individu berusaha untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang diinginkan atau apa yang menjadi tujuannya. yaitu: (a) isyarat ‘tidak signifikan’ yaitu tindakan yang muncul karena tidak diawali dengan kesadaran tinggi.. Fungsi isyarat adalah ‘untuk melakukan penyesuaian diri bagi individu dan akan diwujudkan dalam tindakan sosial 77 . manusia merupakan pencipta. melihat pengalaman yang lalu. karena dengan bahasa berkembanglah ilmu pengetahuan. W. (2) tahap persepsi. Individu tidak hanya merespon stimulasi eksternal dengan cepat (langsung/ otomatis) tetapi individu memikirkan. manusia adalah makhluk aktif. dan memberikan respon pada sejumlah indikasi selama proses interaksi (Campbell.

Kesadaran individu adalah pemahaman manusia atas pengalamannya sendiri. yang dapat berakibat buruk bagi individu. tentang pikiran. individu bersifat aktif. perilaku manusia tidak terdeterminasi (tertekan atau ditentukan secara mutlak) oleh lingkungan (faktor eksternal) sebagaimana paham kaum positivis (teori fungsional struktural dan teori konflik). dan struktur masyarakat dengan proses interaksi sosial. 1982). dan kapasitas untuk mendapatkan gambaran diri sendiri sebagai objek evaluasi dalam interaksi tergantung pada proses pikiran individu. dan (4) pikiran lebih merupakan ‘proses’ daripada struktur. tentang ’diri’ (self). Mead mengawali sintesanya dengan dua asumsi utama. Mead menganggap proses penggunaan bahasa dan simbol sebagai sebuah pelatihan imajinatif.tertentu sesuai dengan objek tindakan dalam interaksinya’. kelemahan biologis manusia mendorong mereka untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan orang lain dalam konteks kelompok sosial agar dapat bertahan dalam hidup. artinya manusia akan melakukan interaksi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar. Oleh karena itu. Bagi Mead. yang memungkinkannya mendefinisikan dirinya sendiri dan keadaannya. dan masyarakat muncul dan didukung oleh proses interaksi sosial. manusia akan menginterpretasi apa yang ada di dunia luar sesuai dengan 78 . rasa sosial diri sendiri. aksi atau tindakan antar individu yang diwarnai dengan kerja sama sesama anggota. inovatif yang tidak saja tercipta secara sosial. konsep ‘diri’ terletak pada konsep ‘pengambilan peran orang lain’ (taking the role of the other). rasa sosial dan diri sendiri. (2) melatih beberapa jalan alternatif untuk menyikapi objek tersebut. Mead menyatakan bahwa ciri unik pikiran manusia adalah kapasitasnya dalam hal: (1) menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. tindakan individu mengambil konsistensi. Konsep ‘diri’ menurut H. Manusia adalah makhluk yang memiliki ‘diri sendiri’ (objek dirinya sendiri). dan Masyarakat’. konsep ‘diri’ merupakan penjabaran ‘diri sosial’ (social self). (3) menghalangi jalan yang tidak tepat. Mead mereorganisasi konsep mereka agar dapat menunjukkan bagaimana pikiran. Sintesa George Herbert Mead: ‘Pikiran. tetapi juga menciptakan masyarakat baru yang perilakunya tidak dapat diramalkan. Mead adalah ‘suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain’. bagi Mead dan pengikutnya. Dengan munculnya konsepsi ‘diri’ (self) ini. Keempat. dan kedua. Pertama. J. H. Bagi Mead. Berawal dari asumsi ini. George Herbart Mead menyatukan konsep mereka dalam sebuah teori perspektif yang koherens yang menghubungkan munculnya pikiran manusia. menyebabkan pertahanan dan penyesuaian diri pada lingkungan mereka akan tetap terjaga dengan baik. Diri Sendiri. Ketiga. Simbol signifikan akan bekerja atau berfungsi lebih baik dalam aktivitas sosial individu dibandingkan isyarat non signifikan (Turner. Jadi.

79 . bayi hanya mampu mengenal orang-orang di sekitarnya dalam jumlah terbatas.Mead. menangkap simbol-simbol dan menginterpretasi. antara lain: (1) interaksi simbolis adalah proses-proses formatif dalam haknya sendiri. Bagi Mead. masyarakat. kapasitas diri individu . 2002). seiring dengan pertumbuhan biologis dan praktek pengambilan peran.. F. Bahwa kehidupan kelompok manusia (masyarakat) adalah sebuah proses dimana objek-objek diciptakan. ada tiga tingkatan penting pada pengembangan diri. antara lain: (a) percakapan isyarat (interaksi non simbolik). atau ‘institusi’ Masyarakat juga tergantung pada adalah menunjukkan proses interaksi yang terorganisasi dan berpola antar individu dan antar kelompok yang beraneka ragam. melalui proses dualisme definisi dan interpretasi. Kehidupan kelompok (masyarakat) dan perilaku manusia akan selalu berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi didalam dunia objek mereka (Surbakti. 1982. Soeprapto. Masyarakat dapat berubah atau dibangun kembali (rekonstruksi) melalui proses yang ditunjukkan oleh konsep pikiran dan diri sendiri melalui interaksi sosial. (1) tingkat awal. individu terlihat mampu mengartikan perspektif komunitas secara menyeluruh. terutama pada proses evaluasi diri dalam penyamarataan dengan yang lain. Turner. 1982).. Menurut H. dan (3) dalam pembuatan proses interpretasi dan definisi dari tindakan satu orang ke orang lain adalah berpusat pada diri individu. nilai dan norma dalam berbagai macam interaksi di lingkungan atau masyarakat (Abraham. (3) tingkat ketiga. individu dewasa mampu mengambil peran beberapa orang ditambah orang-orang dalam aktifitas organisasi kelompok.pikirannya. (2) tingkat kedua. R. Menurut H. Kelima. pada pengembangan diri ditunjukkan saat individu dapat mengambil peran ‘penyamarataan sesama’ atau ‘komunitas tingkah laku/ etika’ di masyarakat.M. Mead. Dalam permainan. karena keberadaan masyarakat tergantung pada kapasitas ‘diri’ individu atau perkembangan pikiran individu yang bersifat sangat dinamik. Mead. dan dapat meningkatkan konsepsi diri yang lebih stabil. Menurut H. pengambilan peran dimana gambaran diri dapat ditimbulkan orang terdekat (masa bayi).. Mead memandang masyarakat selalu mengalami perubahan secara terus-menerus. H. ditransformasikan dan bahkan dibuang menurut pikiran individu. awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang terdekat. 1997b. Pada tingkat ini. dan (b) penggunaan simbol-simbol penting (interaksi simbolik). R. J. dikukuhkan. tentang masyarakat. (2) dalam proses interaksi individu terus menerus melakukan pengembangan penyesuaian tingkah laku. dan ada beberapa konsep penting yang terdapat dalam interaksi simbolik. memandang bahwa interaksi sosial dalam masyarakat terjadi dalam dua bentuk utama. interaksi simbolik merupakan interaksi yang sangat penting.

(3) aspek kreatif dan spontan dari sosial itu sendiri juga hanya dijelaskan secara umum. G. yang objeknya terdiri atas dunia mereka. Mead dalam memahami fenomena sosial adalah seperti Max Weber. tentang metodologi. (2) melalui bahasa individu dapat mempelajari sikap dan emosi. (2) menggambarkan asosiasi sebagai suatu ‘proses ketika (masyarakat) memberi petunjuk antara satu dan lainnya dan menafsirkan indikasi-indikasi lain. Tipologi pandangan Mead antara lain: (1) interaksi sosial meliputi pemikiran. dan (4) bersifat dinamik. (3) tindakan meliputi diri dan peran yang diambil.M. menafsirkan dan menilai untuk menghadapi situasi mereka. Dinamiknya (perubahan terus menerus) dalam kehidupan masyarakat karena masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang dinamik dan kreatif (Abraham. dan (4) masalah metodologi pendekatan interpretatifintrospektif terus berlanjut sehingga menjadi hambatan bagi para peneliti dalam meyakinkan validasi yang dibuat. Mead tentang masyarakat banyak menimbulkan beberapa perasalahan atau kelemahan antara lain: (1) sintesis analisis antara individu dan masyarakat tidak jelas. Turner. F. seperti tingkah laku manusia yang diinterpretasi dan dikonstruksi. (2) kualitas evolusi masyarakat juga sangat umum dan tidak jelas. kemudian merealisasikannya melalui komunikasi verbal dan nonverbal. (2005). 1982. (3) tindakan tindakan sosial terus menguntruksi sebuah proses yang para pelakunya mencatat. sosial. telah disiapkan sebuah perbuatan yang berdasarkan mana-makna. karena kehidupan masyarakat ditentukan oleh pikiran individu yang 80 . Teori interaksionis simbolik Herbert Blumer Beberapa asumsi dasar teori Blumer tentang realitas sosial. yaitu metode interpretif dan introspeksi. institusi. dan abstrak. antara lain: (1) bagi masyarakat. (2) tindakan diinterpretasi dan dikonstruksi. organisasi sosial (masyarakat) itu bersifat dinamik. dan ‘aku’ (diasumsikan sebagai sikap). (3) karena individu memberikan respons yang cukup berarti. baik secara individu maupun kelompok. Objek-objek ini terdiri atas tiga tipe utama: fisikal. kehidupan sosial itu sendiri termasuk ‘saya’ (reaksi terhadap orang lain).Keenam. J. 1982). dinamik dan spontan yang memberikan kontribusi bagi pola sosialisasi yang baru dan mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. (4) kehidupan sosial itu sediri memiliki sebuah aspek kreatif. bahasa dan kesadaran akan diri sendiri. atau terus berubah-ubah. Metodologi H. Menurut Kinloch. (4) hubungan secara kompleks tentang tindakan-tindakan yang terdiri atas organisasi. pembagian tugas kerangka yang menunjukkan saling bergantung. asumsi dasar Blumer adalah: (1) tindakan didasarkan pada makna dan objek. teori H. Jadi.

melainkan secara aktif ‘diciptakan’ ketika manusia bertindak ‘di dan terhadap’ dunia atau lingkungan sekitarnya. 1979). baik versi Mead maupun Blumer. 1982. baik menyangkut pandangan tentang: Diri dan lingkungannya. antara lain: (a) bahwa individu merespons suatu ‘situasi simbolik’. Aturan-aturan. tidak juga ditentukan oleh objek itu (eksternal seperti pandangan fungsional struktural). Mead dan H. manusia dalam melakukan sesuatu selama proses sosial budaya adalah mendasarkan pada pemahamannya dan pengetahuannya sendiri tentang dunia atau lingkungannya. antara lain: 1. Oleh karena itu memahami manusia harus dengan pendekatan dinamik dan kontekstual serta menyelami pikiran atau pendangannya dalam kehidupan sehari-hari (Rossides. D. dan pandangan individu itu sendiri’. manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. melainkan ditentukan oleh ‘Diri. 2002). antara lain: (a) sejatinya realitas sosial-budaya itu tidak pernah ada di dunia nyata. Simbol-simbol yang digunakan. Poloma. baik versi Mead maupun Blumer. Jadi. 2002). Pikiran’ individu dalam mendefinisikan. Blumer tentang fenomena sosial berada pada titik temu pemikiran yang relatif sama. J. interpretasi (penafsiran). 2. responnya bukan bersifat mekanis. termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial-budaya (tindakan sosial di masyarakat) berdasarkan makna yang terkandung dalam objek tersebut. Blumer dalam memahami fenomena sosial Berikut ini merupakan pokok-pokok pandangan teori interaksionis simbolik Herbert Mead dan Herbert Blumer. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘realitas sosial-budaya’. 1978. dan (b) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik H Mead dan Blumer. Manusia mendefinisikan objek fisik dan non fisik adalah berdasarkan ‘kegunaan dan tujuannya’ (Mulyana.Mead dan H.Teori interaksionis simbolik Blumer adalah bertumpu pada tiga premis utama. Individu merespons lingkungan. Soeprapto. Kesamaan H. W. dan (c) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Turner. apakah sesuatu itu bermakna atau berguna bagi hidupnya. menafsirkan atau menginterpretasikan situasi itu sesuai dengan 81 . Peralatannya dan sebagainya. (b) ketika individu menghadapi situasi. Interaksionis simbolik dalam memahami ‘individu’. Tujuannya. Pada dasarnya banyak sudut pandang H. Apa yang nyata bagi manusia tergantung pada ‘definisi. yaitu: (a) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. Jiwa. oleh karena itu berikut ini dikemukakan kesimpulan dari beberapa titik kesamaan pandangan kedua teoritikus interaksi simbolik. dalam memahami fenomena sosial budaya atau tindakan sosial individu dalam masyarakat. Orientasi hidupnya. (b) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain sepanjang hidupnya.

yaitu. S. yaitu: pikirannya. 2000).. Contoh. pikiran adalah bagian dari struktur). kata ‘mobil’ merupakan suatu simbol. 5. 1982).. baru/ bekas. Tindakan manusia dalam proses interaksi sosial tidak ditentukan oleh faktor eksternal. Pikiran adalah kemampuan manusia dalam menggunakan simbol untuk menunjukkan objek di sekitarnya. baik versi Mead maupun Blumer. warna mobil.. Diri (self) tidak mungkin ada tanpa adanya pengalaman sosial.kedalaman makna yang terkandung dalam situasi itu. 2001). Baik versinya Mead dan Blumer. 1982. pandangan hidupnya. maka antar individu dapat memikirkan ‘mobil’ sesuai konsep pikiran masing-masing (jenis mobil. dan (c) dalam pandangan teori Interaksionis simbolik. Ramlan. demikian juga semua tindakan sosial manusia dalam proses interaksi sosial merupakan ‘pertukaran simbol’ (Rossides. Simbol merupakan sesuatu yang ‘berada demi’ (stands for) yang lain. Kunci dalam proses interaksi sosial adalah ‘simbol’. atau ‘Pikiran’ adalah kemampuan memahami simbol (Turner. dan sebagainya) walaupun wujud mobil itu tidak terlihat. 3. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Pikiran’ (Mind). 4.J. tergantung pada pikiran atau pandangan individu-individu dalam masyarakat.. pengetahuannya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu.J. individu bersifat aktif bukan pasif (Surbakti. motivasinya. melainkan ditentukan oleh faktor internal. melainkan ‘dinegoisasikan’ melalui penggunaan bahasa. 1997). hakikat ‘makna sesuatu’ adalah produk interaksi sosial. ‘Pikiran’ lebih merupakan ‘proses’ daripada ‘struktur’ (dalam pandangan fungsional struktural. karena itu makna tidak melekat pada objek. Dengan demikan 82 . Interaksionis simbolik dalam memahami tentang proses interaksi sosial. Sedangkan ‘Diri’ (self) pada dasarnya adalah kemampuan untuk menempatkan seseorang sebagai subjek sekaligus objek.. Poloma. kualitas faktor internal tersebut itulah yang membentuk objek. Interaksionis simbolik dalam memahami tentang ‘Masyarakat’. W. bahwa dengan ‘bahasa’ manusia memungkinkan untuk menjadi makhluk yang ‘sadar diri’ (self conscious) dalam proses interaksi sosial. adalah: bahwa masyarakat sebagai suatu organisasi interaksi. Setiap diri itu berkembang ketika orang belajar ‘mengambil peranan orang lain’ dalam proses interaksi sosial. Masyarakat juga tergantung pada kapasitas diri individu. Jadi. 1978. 1997b. artinya dengan menyebut kata mobil. Ritzer. menilai berdasarkan makna dan memutuskan untuk berbuat berdasarkan makna itu (Turner. Semua interaksi sosial antar individu atau antar kelompok individu dalam masyarakat adalah melibatkan suatu pertukaran simbol. sejalan dengan perubahan situasi atau kondisi yang dialami dan ditemukan individu dalam proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. D. R. Jadi.

Jadi. 2002). 2001. (ed).J. Sedangkan perbedaan pandangan antara teori fungsional struktural-konflik (paradigma fakta sosial) dengan teori interaksionis simbolik (paradigma definisi sosial) dalam memahami fenomena perubahan sosial budaya antara lain: 1. Interaksi sosial mengarah pada komunikasi non verbal. B. menilai tindakan orang lain dan tindakannya sendiri. 6. memodifikasi pola dan bentuk-bentuk perubahan sosial-budaya melalui proses pemahaman dan pemaknaan simbol selama proses interaksi sosialnya. terdeterminasi oleh faktor eksternal. G and Smart. berupa lingkungan. tetapi individu adalah sosok dinamis. Kebenaran ide. faktor penentu perubahan sosial budaya adalah faktor ‘eksternal’. Masyarakat sebagai penyaji sistem sosialisasi yang dinamik. Masyarakat dan kelompok selalu berubah dan tergantung oleh pikiran-pikiran individu. sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap. 1985). diposisikan sebagai ‘sosok yang aktif. Bahwa perubahan sosial-budaya dalam perspektif interaksionis simbolik. adalah meliputi ‘pikiran. faktor ‘internal individu’ yang menentukan perubahan sosial budaya. kreatif. yang oleh Giddens diistilahkan imperialisme positivis atau imperialisme struktural (Giddens. 2001. struktur sosial-budaya. adalah dinamis dan berevolusi. maka ‘asumsi dasar’ teori interaksionis simbolik H. Individu bukalah merupakan kepribadian yang terstruktur. Bahasa menciptakan pemikiran dan kelompok. konsensus terhadap nilai dan norma. Kinloch.. 2005). Sedangkan dalam teori fungsional struktural dan konflik. menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat. Soekanto. Mead dan Blumer adalah: (a) Individu. Ritzer.masyarakat secara terus menerus akan terjadi perubahan. dan fenomena sosial-budaya itu sendiri dirumuskan individu-individu dari proses interaksi dan sosialisasi melalui sejumlah tingkat yang berbeda (Ritzer. pasif. semua di konseptualisasikan sebagai sebuah proses dari apa yang dia amati selama interaksi. ekonomi. Individu memiliki ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan situasi. sikap dan perspektif. (d) Interaksi sosial. dan dinamik’ dalam membuat kebijakan. Posisi individu menurut teori interaksionis simbolik dalam proses perubahan sosial budaya adalah. Dari penjelasan tersebut di atas. 2. Pola aktivitas sosial itu sendiri memiliki aspek kreatif dan spontan (Turner. 1982. (c) Realitas sosial. posisi individu dalam proses perubahan sosial budaya adalah ‘pasif. adalah rasional dan produk dari hubungan sosial (interaksi sosial). terdeterminasi oleh struktur 83 . karena pikiran individu terus berubah melalui interaksi simbolik. adalah bersifat individu dan sosial yang dinamik. bahasa dan kesadaran’ akan diri sendiri. menyediakan perubahan dan sosialisasi yang baru dari individu. (e) Sikap dan emosi individu dan kelompok dipelajari melalui bahasa. Sedangkan menurut teori fungsional struktural dan konflik. (b) Masyarakat.

dengan beberapa ciri antara lain: (1) titik tolak metodenya dalam objek dan subjek. yang menghadapi fenomena hidup (gejala kehidupan) dengan menggunakan metode eksakta (kuantitatif). objek pertama bagi filsafat bukan dari ‘pengertian hasil rasionalistik’ tentang kenyataan.norma sosial budaya. metode Husserl disebut metode fenomenologi. seorang fenomenologis harus bersikap netral atau otonom (tidak terpengaruh) dari teori atau pandangan yang telah ada. misalnya membersihkan pengertian tentang sesuatu dari unsur-unsur tradisi. Ketiga. D. (3) fenomena alam itu fakta (relasi) yang dapat diterapkan dalam observasi empiris. Fenomenologi dalam perspektif filsafat Sebelum menjelaskan beberapa pandangan teori fenomenologi terhadap kehidupan sosial-budaya. W. artinya diberi kesempatan ‘berbicara tentang dirinya sendiri’. semua tindakan individu sudah ditentukan oleh faktor eksternalnya’ (Rossides. dan diantara tokoh terkenal dari metode atau aliran fenomenologi dalam studi filsafat adalah Edmund Husserl (1859-1938). menurut Husserl. 1978. Husserl menolak sikap ‘scientisme’. Berikut ini merupakan beberapa pokok pikiran Husserl tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat antara lain: Pertama. tetapi dari kenyataan itu sendiri. Aliran fenomenologi juga dikenal dalam dunia kajian filsafat. Fenomena itu adalah data dari gejala yang sederhana. Untuk mencapai objek pengertian menurut keasliannya harus dilakukan metode reduksi (pembersihan) dari unsur-unsur yang tidak nyata. dunia sekitar manusia itu ‘berada’. F. Kedua. tanpa ditambah hal lain (apa adanya). 2001). Untuk mengetahui sesuatu. manusia harus otonom. individu bagaikan wayang yang tidak punya kreativitas. B. (2) objek penyelidikan adalah ‘fenomena’ atau gejala. Jadi. G and Smart. (ed). Fenomena Sosial-Budaya Dalam Perspektif Teori Fenomenologi 1. Bagi Husserl. Ritzer. 84 . penulis memandang perlu untuk menguraikan secara singkat tentang fenomenologi dalam perspektif filsafat. (4) ‘metode reduksi’ merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. namun fenomenologi Husserl tidak sama dengan fenomenologi agama. adalah tergantung oleh proses terjadinya hubungan ‘antar subjektivitas transendental’ dalam komunitas antar individu yang ada dalam komunitas tersebut. yang dimaksud metode reduksi adalah ‘penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum pengamatan intuisi dilakukan berulang-ulang’. tetapi fenomenologi Husserl juga dapat berupa pandangan ‘rohani’.

yaitu sebagai ‘subjektivitas’ atau ‘aku transendental’. atau fenomena bukan mengenai hal-hal yang menampakkan diri kepada kesadaran. karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya (di balik kenyataan ‘X’ yang nampak). tujuan dari adanya ketiga reduksi tersebut adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi dengan fenomena asli dalam kesadaran. semua segi. (2) reduksi eidetis (inti sari). W. 2006) Kelima. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga reduksi tersebut memberikan kejelasan bahwa metode fenomenologi itu menutut ‘manusia tidak begitu saja menerima pengertian dan rumusan tentang sesuatu hal dari teori atau pandangan yang berpaham strukturalis. maksudnya adalah dengan reduksi eidetis. aspek dan profil dalam fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan (karena aspek dan profil tersebut tidak menggambarkan objek secara utuh). dan (3) reduksi fenomenologi transendental. Reduksi ini tidak lagi mengenai objek. ‘segala subjektivitas disingkirkan’. artinya. maksudnya adalah apa yang kita lihat tentang segala sesuatu (misalnya ‘X’) dalam kehidupan sehari-hari kita yakini sebagai kenyataan. Hakikat (realitas) yang dicari dalam reduksi eidetis adalah struktur dasar yang fundamental dan hakiki. Bachtiar. Namun para fenomenolog (murid-murid Husserl) lebih banyak menggunakan reduksi fenomenologi (tidak menggunakan reduksi fenomenologi transendental). sehingga yang muncul dalam kesadaran adalah ‘fenomena itu sendiri’ (hal ini disebut reduksi fenomenologis). Akan tetapi. ‘dibebaskan dari teori-teori yang ada’. melainkan kesadaran yang bersifat murni atau transendental. karena pengertian atau pemahaman tersebut belum menyentuh hakikat dari apa yang kita tuju.. Pandangan atau pengertian pertama tentang sesuatu perlu dilanjutkan pada pandangan kedua untuk menghilangkan tabir yang menghalangi pada pandangan pertama. 1978. Dalam reduksi eidetis memberlakukan kriteria kohersi. dan pemahaman dibalik yang nampak hanya dapat dicapai dengan ‘mengalami secara intuitif’. Dari reduksi fenomenologi transendental inilah yang menyebabkan Husserl oleh para ahli dikategorikan penganut aliran idealisme (Rossides. Kesadaran dalam fenomenologi transendental.Keempat. bukan kesadaran empiris (bendawi) lagi. yaitu: (1) reduksi fenomenologis. pengamatan yang terus menerus terhadap objek harus bisa dipadukan dalam suatu horison yang konsisten. pandangan kedua untuk menemukan 85 . Reduksi ini merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran. maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan mata itu untuk sementara harus ‘ditinggalkan’. ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomena dalam pendekatan fenomenologis. Setiap objek adalah kompleks mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga.

bahwa teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi adalah teori-teori sosiologi yang berparadigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. ideologi.. teori tindakan rasional Weber (Soerbakti. Pandangan Schutz banyak berorientasi pada piranti-piranti filsafat fenomenologi 86 . Kajian tentang teori fenomenologi berikut ini adalah menitikberatkan beberapa pandangan teoritikus fenomenologi Alfred Schutz dan Harold Garfinkel. antara lain: Pertama. paradigma ini dalam studi sosiologi bersifat mikro (studi tentang individu dan organisasi yang kecil). antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. Soeprapto. tujuan. nilai. J. dan Harold Garfinkel. Sebagaimana yang telah disinggung di muka. Oleh karena itu. dan politik (Praja. dan (4) berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. teori ethnometodologi. teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi mempunyai kesamaan pandangan. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. Jadi. Metode fenomenologi ini di era sekarang banyak dipakai dalam studi filsafat. Teori-teori sosiologi yang termasuk dalam paradigma ini adalah: teori interaksionis simbolik. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). Alfred Schutz. baik teori fenomenologi maupun teori interaksionis simbolik adalah sering disebut sebagai teori dalam ‘perspektif interpretif’ (Johnson dan Hunt. (3) bersifat nominalis. Fenomenologi dalam perspektif teori Menurut para ahli. 2005). Mulyana. 1984.. Berikut ini kesimpulan sosiolog Burrell dan Morgan (1994) tentang ciri-ciri pandangan paradigma interpretis dalam memahami fenomena sosial-budaya. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. R. Schutz menganalisis tentang fenomena sosialbudaya di masyarakat mendasarkan pada aspek pengalaman-pengalaman individu (hal ini bertolak belakang dengan pandangan teori-teori yang berbasis stuktural). yang menganggap bahwa ‘kesadaran atau jiwa manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial-budaya’. Disamping itu. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya.hakikat objek’. 1979b. asumsi. Fenomenologi dalam perspektif filsafat oleh Husserl tersebut kemudian dikembangkan dalam teori sosiologi oleh Alfred Vierkandt. dan keyakinannya). 2002). 2. motivasi. sosial budaya. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label.S. yang menentukan sesuatu itu bermakna atau tidak adalah pikiran dan jiwa individu. Beberapa pokok pikiran teori atau pendekatan fenomenologi versi Alfred Schutz (1899-1959). 2002). R. teori fenomenologi. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek.

Perpaduan pengalaman dan pengetahuan tersebut akan menghasilkan ‘tindakan bermakna’. Menurut Husserl segala objek kehidupan sosial-budaya dipahami melalui kesadaran pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan ‘apersepsi’ (pemberian makna secara spontan terhadap objek). oleh karena itu realitas objek merupakan konstruksi individu (Ritzer. G and Smart. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari manusia adalah sebuah ‘orientasi pragmatis ke masa depan’.Edmund Husserl. lalu mengambil langkah ke depan yang terbaik) terhadap beragam fenomena kehidupan sehari-hari. Kedua. yakni beragam pengalaman individu tentang fenomena hidup. mengidentifikasi dan memeriksa ‘beragam objek’. 1981). 2001). Kemudian manusia dapat menyeleksi unsur-unsur pengalamannya yang memungkinkan untuk melihat tindakan-tindakan dia sendiri yang bermakna (Cambell. artinya individu melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesadaran dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai. (ed). T. pengalaman masa lalu yang banyak mewarnai tindakan individu merupakan ‘pra-fenomenal’. Dengan merefleksikan beragam peristiwa masa lampau dipadu dengan pengetahuan yang ada.. sehingga manusia selalu membangun ‘kesadaran diri yang aktif/ dinamik’ atau ‘motivasi diri supaya lebih baik di masa depan’. individu menganalisis dunia sebagaimana dunia itu tampak pada kesadaran individu. Bagi Schutz pra fenomenal adalah sesuatu yang fundamental untuk kehidupan manusia sehari-hari. semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah objek. artinya individu harus memutuskan dan menetapkan dalam situasi macam apakah ia berada. Jadi. bahwa manusia hanya bisa mulai memahami makna tindakan individu ketika individu itu melihat kembali pada saat melakukan refleksi. menganalisis terhadap fenomena sosial-budaya di masyarakat harus mendasarkan kepada beragam pengalaman individu yang dihayatinya. Menurut Schutz. Schutz menyetujui metode atau pandangan Husserl tentang ‘memahami realitas sosial-budaya dengan menganalisis kondisi ‘batiniah individu’. Manusia adalah makhluk yang berpotensi memunculkan masalah dan menyelesaikan masalah. B. untuk bisa memecahkan masalah 87 . Untuk menyelamatkan atau memecahkan masalah tersebut manusia ‘mendefinisikan’ situasinya. kesadaran mengkonstruksi tersebut merupakan wujud kemampuan individu dalam merefleksi (yaitu bercermin diri untuk melihat apa sisi negatif dan positif. Jadi. Ketiga. Beragam pengalaman individu di masa lalu dan pengetahan yang dimiliki akan menjadi landasan untuk bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia kehidupan sehari-hari’. Pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang dimiliki individu akan membangun kesadaran untuk melakukan ‘tindakan bermakna’ bagi masa depan. yang ia sebut ‘arus kesadaran’.

binatang. tetapi pandangan-pandangan Schutz dijadikan sebagai sumber pokok dalam membangun teorinya yang dia sebut ‘teori etnometodologi’. Keempat. (2) sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik.dan meraih tujuan. W. Kesadaran sosial ini berlangsung dengan dua cara. T. rumah. mobil. meskipun Garfinkel mengakui pandangan atau teorinya dipengaruhi oleh pola pikir Max Weber. W. (3) antar individu menjalin hubungan langsung (tatap muka) dan hubungan tak langsung atau hubungan-hubungan mereka (theyrelationships) untuk membentuk totalitas masyarakat. B. (ed). Cambell. Masyarakat merupakan sebuah konsep pragmatif (nilai guna/ manfaat) yang dipakai untuk menata beragam pengalaman individu untuk harapan dan tujuan hidup bersama (Rossides. Jadi. Jadi. antara lain: Pertama. konsep hubungan inter subjektif merupakan hubungan kita (we-relationship). Ritzer. dan (b) kesadaran memakai tipifikasitipifikasi yang diciptakan dan dikomunikasikan dalam kelompok sosial (kehidupan bersama). hal ini merupakan ‘kesadaran sosial’. Jadi. dengan memakai tipifikasi-tipifikasi yang diteruskan kepadanya oleh kelompok-kelompok sosialnya. Oleh karena itu kesadaran sehari-hari juga merupakan kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial (dibelajarkan/ disosialisasikan) mengenai masyarakat. Agar manusia dapat mendefinisikan situasinya. Kemampuan individu dalam ‘mengidentifikasi’ sesuatu untuk ‘mendefinisikan’ objek apapun berdasarkan ‘pengalaman dan pengetahuannya’ (misalnya. D. pandangan Schutz tentang masyarakat antara lain: (1) pada diri manusia ada kesadaran akan kehidupan secara bersama. Masyarakat adalah sebuah konstruksi tipe-tipe ideal yang didefinisikan menurut fungsi-fungsi individu yang bersangkutan. maka manusia berbekal pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan ‘identifikasi objek’. tetapi menyebutnya ‘teori 88 . 1981. yaitu: (a) kesadaran ‘mengandaikan’ adanya kegiatan orang lain yang dialami bersama dalam tindakan sosial untuk saling memberi reaksi. masyarakat merupakan produk kultural para individu. Salah satu sosiolog yang mendapat pengaruh dari pandangan Schutz adalah Harold Garfinkel (Bachtiar. Garfinkel tidak menamakan teorinya dengan ‘teori fenomenologi’ seperti Schutz. Berikut ini beberapa pokok pikiran atau pandangan teoritikus Harold Garfinkel. dunia kehidupan sehari-hari adalah dunia ‘inter-subjektif’. 1978. Jadi. pohon dan sebagainya). Masyarakat berada melalui simbol-simbol komunikasi timbal balik antar individu. keberadaan kelompok bukanlah ‘milikku’ tetapi ‘milik kita’. dan (4) masyarakat sebagai sebuah sistem peran-peran dan institusiinstitusi tempat para individu harus menyesuaikan diri. oleh Schutz disebut ‘tipifikasi’ (typification).. apa yang dilakukan manusia (individu) adalah menyusun sebuah ‘dunia-dunia’ yang ia ‘maksudkan’ dalam kesadarannya sehari-hari. G and Smart. 2001). 2006).

Jadi. B. kemudian berikutnya istilah ‘post-modernisme’ dipakai di bidang historiografi oleh sejarawan A. Menurut Garfinkel. yaitu ‘meletakkan aspek pikiran. Keempat. setiap peneliti harus terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk mengamati dan memahami maknamakna yang sebenarnya dari proses ‘inter-subjektif’ para agen dalam kehidupan sehari-hari (Ritzer. beberapa pandangan teori post-modern tentang fenomena 89 . yaitu: Pertama. Toynbee pada tahun 1947 (Sugiharto. G. Bachtiar. pandangan atau potensi agen (dimensi internal) sebagai penentu dalam melakukan tindakan sosial dan proses-proses sosial. bahwa: (a) perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna dari pada langsung kata-kata itu sendiri. kajian etnometodologi menekankan bahwa aksi-aksi sosial-budaya dan organisasi sosial diproduksi oleh agen-agen (individu) yang dipahami mampu mengarahkan aksinya (tindakannya) dengan mengunakan rasionalisasi pikiran sehat (common sense) yang sesuai dengan situai atau kondisi yang dialami oleh individu (agen) dalam kehidupan sehari-hari. 1996). 2006). (c) pemahaman secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus secara inter-subjektif. G and Smart. terencana dan rasional. jiwa. Kedua. Pada pokoknya. (ed). bagaimana pandangan. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Posmodern Uraian singkat tentang pandangan teori postmodern berikut ini diawali dari pembahasan singkat tentang dua hal.etnometodologi’. dan (c) transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi. W. sosial budaya Pengertian post-modernisme Istilah ‘post-modern’ pertama kali muncul pada tahun 1930 yang dipakai oleh Federico de Onis dalam bidang seni. B. Ketiga. dan Kedua. yaitu menfokuskan pada makna dan bagaimana makna tersebut secara inter-subjektif dikomunikasikan dalam kehidupan sosial. Garfinkel dengan teorinya etnometdologi juga sama-sama mempunyai pandangan seperti teori fenomenologi. 2001. tidak ada definisi atau pengertian yang sama tentang pengertian tentang postmodernisme. Menurut para ahli.. esensi sudut pandang teori etnometodologi tentang fenomena sosial adalah relatif sama dengan teori fenomenologi. motivasi tentang tindakan sosial sehari-hari untuk mendapatkan penjelasan dan pengertian secara benar. dan menolak pandangan struktur sosial (dimensi eksternal) sebagai penentu proses-proses sosial di masyarakat’. menurut Garfinkel setiap peneliti sosial-budaya dalam menganalisis fenomena sosial-budaya harus mengamati dan mempertanyakan pada setiap agen. (b) perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum.

ditinjau dari beberapa bidang kehidupan. karena setiap bidang kajian (disiplin ilmu) telah mendefinisikan post-modernisme sesuai dengan sudut pandang bidang kajian atau keilmuan masing-masing. bermakna adanya dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan-jaringan global kapitalisme multikultural dengan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. Post-modernisme. tingginya intensitas ketegangan struktural masyarakat akibat pola hidup modern. antara lain: 1. 6. penolakan filsafat metafisis. terjadinya intensifikasi dinamisme hidup dalam segala hal. wilayah dan keberagaman budaya tinggi-rendah. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial. Sosialisme. politikus. atau berbeda dengan sosiolog. Post-modernisme. Berikut ini merupakan beberapa konsep tentang pengertian post-modernisme. hilangnya batas budaya tinggi dan budaya rendah yang dikonsepsikan oleh modernisme. ekonom. bermakna logika kultural yang membawa transformasi budaya secara terus menerus disemua unsur-unsur budaya pada umumnya. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi kebudayaan. bermakna munculnya atau berkembangnya kecenderungan pola kehidupan yang bertolak belakang dengan segala macam gaya hidup modern. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi seni-budaya. filosof. 3. 2. penampilan dengan kenyataan. atau post-modernisme merupakan suatu paham yang menunjuk pada segala bentuk refleksi kritis atas beragam paradigma (paham-paham) modernisme. upaya tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Marxisme dan sebagainya. eksperimentasi dan revolusi sosial secara terus menerus. Liberalisme. filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang baku (mentalisasi) seperti: Hegelianisme.post-modernisme yang dikemukakan oleh para ahli. bermakna ketidakpercayaan segala bentuk narasi besar (generalisasi konsep yang diusung modernisme). Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme dintinjau dari segi teknologi-ekonomi. bermakna hilangnya batas antara seni dan kehidupan. bermakna peleburan segala batas. contoh. Post-modernisme. 4. 5. peleburan segala batas yang diusung oleh modernisme. Hal ini berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi sosial-ekonomi. Post-modernisme. Post-modernisme. dan sebagainya. membumbungnya kesenangan material individu. Kapitalisme. pengertian post-modernisme menurut seorang seniman atau sastrawan akan berbeda sudut pandangnya dengan seorang ahli dibidang arsitektur. bebasnya daya naluri setiap individu. Post-modernisme. Hal ini 90 .

keuniversalan (Sugiharto. menolak pandangan kalangan teoritikus post-modern ‘radikal’ (misalnya Lyotard dan Baudrillard). Lyotard. ilmuwan sosial yang dapat dikategorikan sebagai tokoh dan pendukung teori post-modern. kajian. yaitu: (1) kelompok teoritikus post-modern dekonstruktif. Mary Hesse. Gadamer. atau kritik-kritik filosofis. Recoeur. tetapi kelompok post-modernisme kontruktif memandang bahwa ‘post-modernisme hanyalah kritik imanen yang hendak mengoreksi atau merevisi beberapa kelemahan atau kekurangan dari pandangan-pandangan modernisme yang lekat dengan kemapanan. bahwa ‘teori Marxian adalah narasi besar . konsumerisme yang berlebihan. teori Marxian merupakan teori yang mampu menawarkan penjelasan terbaik tentang post-modernitas. deregulasi pasar. atau diskusi ilmiah. epistemologi dan ideologi-ideologi modern yang dianggap telah mapan. usangnya negara-bangsa. 1996). Pandangan teori post-modern tentang fenomena sosial Menurut para ahli. artinya ‘tidak ada pemisahan waktu secara radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas. atau tidak memposisikan tentang perbedaan modernisme dengan post-moderinsme bagaikan langit dan bumi atau bagaikan hitam dan putih. kelompok kedua (kontruktif atau revisioner) tidak banyak disinggung dalam berbagai kegiatan. B. B. Awalan ‘post’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjukkan pada situasi waktu dan tata sosial sebagai produk teknologi informasi. pandangan. 1996).. antara lain: Pertama. antara lain: Heidegger. Bagi Jomeson. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Fredric Jomeson (1984). Jomeson termasuk teoritikus Marxian. dan penggalian kembali beragam inspirasi tradisi lokal. keduanya mempunyai hubungan atau kesinambungan dalam proses-proses kehidupan’. dan Baudrillard.berarti pengertian konsep post-modernisme ditinjau dari segi filsafat (Sugiharto. kebakuan. Oleh karena itu Jomeson. pandangan Jomeson oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘moderat’. sehingga dianggap tidak relevan lagi dengan kehidupan post-modernitas’. antara lain: Derrida. Diantara faktor penyebab kekaburan makna istilah ‘post-modernisme’ adalah adanya awalan ‘post’ dan akhiran ‘isme’. gaya hidup cenderung hedonis. oleh karena itu 91 . atau gambaran dunia (world view). karena pandangan kelompok post-modern konstruktif ini mempunyai kecenderungan tidak berseberangan secara ekstrim dengan modernisme. Foucault. globalisasi. dapat dikelompokkan menjadi dua. dan Jomeson. Rorty. Sedangkan akhiran ‘isme’ dalam post-modernisme adalah untuk menunjuk pada paham.. Dalam perdebatan di kalangan ilmuwan sosial di Indonesia. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pokok pandangan teoritikus postmodern Jomeson dan Baudrillard. dan (2) kelompok teoritikus post-modern konstruktif (revisioner). parexcellence.

G and Goodman. 2003). Kehidupan post-modern. 2003). G. Beberapa pokok pikiran teori post-modern versi Jean Boudrillard antara lain: Pertama. (3) terdapat sejenis teknologi baru yang berkaitan erat dengan masyarakat post-modern. (2) kehidupan masyarakat post-modern banyak ditandai oleh sikap kepurapuraan dan kelesuan emosi. menurut Jomeson. bahwa ‘kapitalisme menciptakan pembebasan dan kemajuan yang sangat berharga. misalnya dominannya media elektronika dan komputer yang canggih dalam segala aspek (Ritzer. dan kultur post-modern dengan kapitalisme multinasional (kapitalisme akhir atau kapitalisme modern). Pemikiran postmodern bersifat pastiche. karena sulit dibedakan yang asli dan palsu. tetapi pada waktu bersamaan kapitalisme meningkatkan penindasan dan alienasi kehidupan sosial’. Jadi. artinya ‘terdapat pemisahan waktu secara 92 . Oleh karena itu bagi Jameson masalah sentral dalam kehidupan post-modern adalah ‘kehilangan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang (space) dimana dia hidup dan untuk meletakkannya secara kognitif’ (Ritzer. ada tiga tahap dalam sejarah kapitalisme. bahwa kehidupan manusia di era post-modern adalah terkatung-katung dan tidak mampu memahami sistem kapitalis multinasional atau pertumbuhan kultur yang meledak-ledak di tempat mereka hidup’.J. (2) kehidupan post-modern ditandai oleh hilangnya makna kesejarahan. Kedua. yaitu pemikiran yang kadang-kadang kontradiktif dan membingungkan tentang makna masa lalu. Padahal realitas kehidupan membuktikan bahwa ‘kehidupan sosial budaya masa lalu mempunyai keterkaitan erat dengan masa kini dan masa akan datang’. D. tahap kedua. pandangan Boudrillard oleh para teoritisi sosial dikelompokkan pada paham teori post-modern yang bersifat ‘radikal’. kultur modernis dengan kapitalisme monopoli (imprialis). Jadi. alienasi telah digantikan oleh fragmentasi. adalah imprialis (munculnya jaringan kapitalis global). Ketiga. yaitu: tahap pertama adalah kapitalisme pasar (munculnya pasar nasional). masyarakat post-modern mempunyai beberapa ciri. Analisis Jomeson tentang teori postmodern adalah berbasis pada analisis kultur ekonomi yang banyak dipengaruhi oleh model basis konsep infrastruktur dan suprastruktur karya Karl Marx. Jameson menilai. Hilangnya kesejarahan ini menyebabkan ‘kanibalisasi acak semua masa lalu’. bagi Jomeson. yaitu teknologi reproduksi dominan. sehingga kehidupannya ‘mengambang bebas dan impersonal’.dia menilai tentang kapitalisme. Jomeson menghubungkan antara kultur realitas dengan kapitalisme pasar. antara lain: (1) produk kultural masyarakat post-modern banyak ditandai oleh serba dangkal dan sulit dipelajari makna kedalamannya. dan tahap ketiga adalah kapitalisme akhir (munculnya ekspansi kapital luar biasa).

Ketiga. dan ketidakbermaknaan kehidupan’. Akibatnya adalah ‘bahwa apa yang nyata (realitas sosial-budaya) disubordinasikan). era post-modern telah menyuguhkan perubahan kultur (budaya) yang bersifat revolusi besar-besaran dan dapat dianggap sebagai bencana besar. sehingga informasi media sering dianggap sebagai realitas sosial-budaya. simulasi. apatis merupakan gambaran yang tepat untuk melukiskan adanya kejenuhan massa terhadap apa yang dilakukan media. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan reproduksi objek atau peristiwa. ledakan massa ke dalam lubang hitam nihilisme. simulasilah yang menggambarkan sesuatu yang nyata. Tabloid. pemrosesan oleh teknologi informasi. bahkan isi informasi media melebihi dari realitas itu sendiri. Kondisi kehidupan seperti ini melukiskan massa sebagai sebuah ‘lubang hitam’. bagi Boudrillard. Menurut Kellner. visi teori post-modern Boudrillard adalah ‘ledakan makna dalam media terhadap realitas. Kedua. Revolusi kultural (revolusi budaya) itu menurut Boudrillard menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin aktif (memberontak) seperti pandangan Karl Marx. model sibernetika dan sistem pengendalian komputer. maka kehidupan post-modern dapat dipandang mengalami proses de-diferensiasi (Ritzer. sehingga semakin sulit membedakan yang asli dan yang palsu (dunia imitasi yang luar biasa di berbagai aspek). 2003). dan hiperrealitas. artinya informasi tentang segala aspek kehidupan didominasi oleh teknologi informasi media (TV. Dia menolak 93 .radikal (mutlak) antara modernitas dengan post-modernitas’. dan dia memusatkan perhatiannya pada upaya menganalisis masyarakat masa kini yang menurutnya tidak lagi didominasi oleh produksi. Surat Kabar). G. kehidupan sosial-budaya post-modern oleh Boudrillard dilukiskan sebagai hiperrealitas. Keempat. menurut Boudrillard kehidupan post-modern ditandai oleh simulasi atau ‘manusia hidup di abad simulasi’. yang membentuk sistem lingkaran yang tidak berujung pangkal. Boudrillard menolak seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. yang menjadi utama dan yang berkuasa. Uraian singkat pandangan teori post-modern Boudrillard tersebut terasa cukup untuk memposisikan Boudrillard sebagai teoritikus post-modern radikal. Kehidupan manusia menjadi budak simulasi. tetapi lebih didominasi oleh ‘media. Sering masyarakat tidak menyadari telah disuguhkan kebohongan dan distorsi realitas yang diusung oleh media (fenomena inilah disebut hiperrealitas). Menurut Boudrillard kehidupan masyarakat modern mengalami proses diferensiasi. Jadi. Internet. ketidakacuhan. dan terasa semakin sulit membedakan mana informasi realitas sosial-budaya yang nyata dengan realitas yang sekedar tototan (info-komersial). Massa yang pasif. industri hiburan dan kemajuan ilmu pengetahuan (science)’. ledakan kehidupan sosial ke dalam massa.

Ambiguitas dan kelonggaran makna terhadap post-modernisme. Makna istilah ‘modern’ atau ‘kemodernan’ juga memungkinkan adanya multitafsir di kalangan ilmuwan sosial. ilmiah (saintis). hukum. Ideide post-modern tidak dapat dibuktikan. bahasa. Kedua. ekonomi. karena pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modern tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintis. yang terlihat adalah malapetaka kehidupan simulasi. teknologi. nilai-norma budaya. kebenaran empirik (objektivis). yaitu suatu negara tertentu (X) bisa dikatakan sebagai ‘negara/ masyarakat modern’ ditinjau dari segi teknologi.. ideologi. 1996). maka ide-ide kebenaran post-modern lebih bersifat ideologis. hiperrealitas. diantara penyebab terjadinya pandangan negatif terhadap post-modernisme. D. disamping itu kehidupan masyarakat masa kini sudah mulai kelihatan terlalu primitif. antara lain: (a) kecenderungan adanya pandangan umum yang menyamakan asumsi-asumsi post-modernisme itu dengan asumsi-asumsi kelompok post-strukturalis yang pada umumnya adalah kaum neo-Nietzschean. Ritzer. adalah relevan atau sesuai dengan sulitnya mendefinisikan istilah ‘modern atau kemodernan’ itu sendiri. 2003). sehingga dibicarakan itu bukan ide-ide 94 . Ketiga.seluruh gagasan yang membatasi disiplin ilmu. khususnya dengan riset-riset empirik.J. dan paradigma objektivis. tetapi bisa juga negara (X) tersebut belum bisa disebut sebagai negara modern apabila ditinjau dari segi norma budaya dan agama. Beberapa kritik terhadap teori post-modern Beberapa kritik yang dikemukakan para ahli tentang pandangan teori postmodern. G. Semua standar saintis modern ditolak oleh postmodern. G and Goodman. 2003. atau post-modernisme diidentikkan dengan kaum dekonstruksionis. pendidikan. agama. Ide-ide teori post-modern tidak menawarkan narasi besar. B. artinya makna atau arti ‘modern’ akan memberikan pengertian dan penafsiran yang berbeda dari sudut politik. dan ledakan segala sesuatu ke dalam ‘lubang hitam’ yang tidak dapat dimengerti (Ritzer. dan sebagainya (Sugiharto. Kehidupan masyarakat masa kini (seperti Amerika Serikat) oleh Boudrillard dianggap tidak mungkin terjadi reformasi sosial. (b) post-modernisme sering dinilai atau dipandang memiliki makna yang ‘ambigu’ (pengertian yang sangat longgar dan memungkinkan adanya multitafsir). teori post-modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern (standar saintis yang dihindari oleh post-modern). antara lain: Pertama. Dia menilai kehidupan post-modern atau masyarakat masa kini sebagai kultur yang mati. melainkan subjektivis. yaitu kerjanya ‘hanya mengbongkar-bongkar segala tatanan sosial-budaya yang ada dan menihilkan segala sesuatu yang sudah mapan dalam kehidupan masyarakat. Contoh tentang terjadinya multitafsir tentang makna ‘negara modern’. tetapi potonganpotongan gagasan yang sering kelihatan kontadiksi satu sama lain.

G and Goodman.J. D. dalam analisisnya. Oleh karena itu generalisasi umum (luas) yang ditawarkan postmodern sering tidak berkualitas menurut standar positivisme. Meskipun banyak sisi negatif atau titik kelemahan dari teori post-modern sebagaimana yang telah diuraikan di atas. karena teori post-modern cenderung bersifat sangat pesimis dalam menyikapi atau menilai proses kehidupan. sehingga sulit ditangkap atau dipahami secara logis sistematis dan objektif. sering teoritisi sosial post-modern menilai dirinya telah terlibat pada kajian isu-isu sosial utama. tetapi dalam kenyataannya mereka sering mengabaikan hal-hal yang dianggap sebagai problem penting di masa sekarang (Ritzer. melainkan apakah manusia percaya atau tidak terhadap ide tersebut. dan Kedelapan. maka post-modern bebas untuk melakukan apa yang mereka suka. namun kritik-kritik itu dapat dipertanyakan validitasnya. tetapi kekurangan visi tentang bagaimana masyarakat itu seharusnya. ide-ide post-modern tentang fenomena hidup sering kali sangat kabur dan abstrak. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. karena kerangka berpikir post-modern tidak didasarkan pada norma dan logika saintis (logika deduktif). dan menawarkan ‘narasi lokal atau narasi mikro’. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Disamping itu teoritisi sosial postmodern paling-paling bisa mengkritik masyarakat. Keempat. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. Oleh karena itu asumsiasumsi post-modern tentang fenomena sosial-budaya sulit diterima oleh kalangan saintis sosial. akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi 95 . 2003). Keenam. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi besar atau narasi makro’. ada yang menyebut post-modern ‘bermain-main’ dengan berbagai macam ide. karena pandangan teori post-modern menolak pendekatan subjek dan subjektivitas. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya dinamika pemikiran kritis dalam memahami fenomena sosial-budaya yang sangat kompleks. karena konsep-konsep dasar ide post-modern sering berubah-ubah. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. Ketujuh. teoritisi sosial post-modern sering kali melancarkan kritik terhadap masyarakat modern. maka teori post-modern sering kali kekurangan suatu teori tentang agen (subjek). Kelima. karena pada umumnya kritik mereka kekurangan basis normatif (landasan ilmiah) untuk membuat penilaian.itu benar atau tidak.

Boorman (1976). beberapa asumsi teori integrasi ’strukturasi’ Giddens . memandang struktur sosial atau faktor eksternal. Diantara teori-teori ekstrem makro yang paling terkemuka di abad 20 adalah: (a) teori determinisme kultural (teori fungsional-struktural) oleh Talcott Parsons (1966). yang lebih memfokuskan pada empat unsur pokok yaitu: (a) perhatiannya terhadap peran aktor. 1991. analisis teori makro. 2002). atau masyarakat (objek) menentukan berbagai proses sosial dan budaya individu di masyarakat (Sanderson. (3) teori etnometodologi 96 . G. 2003). hanya menyinggung tentang tiga hal. memandang individu (subjek) sebagai sentra dan penentu atau penggerak proses-proses sosial budaya di masyarakat. Sedangkan teori-teori ekstrem mikro yang paling terkemuka di abad 20 ini adalah: (1) teori interaksionisme simbolik oleh H. (b) teori konflik versi Karl Marx dengan pendekatan ‘ekonomi sentris’ dan versi Dahrendorf (1959). (2) teori fenomenologi oleh Alfred Schutz. Sedangkan analisis teori makro. Diantara inti pemahaman teori ini adalah ‘kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi sosial dan komunikasi antar individu. yang menganggap ‘unit analisis dalam sosiologi struktural. dan Ketiga.pandangan). sehingga kehidupan mampu menyajikan diferensiasi multi aspek (Ritzer. beberapa pandangan teori integrasi ’mikro-makro’ Ritzers. antara lain: Pertama. dan sikap yang alamiah (natural attitude). Kedua. embrio atau cikal bakal munculnya teori integrasi. (c) teori makrostrukturalisme oleh Peter Blau (1977). yang mengaku ‘aku adalah seorang determinis struktural’. Salim. perubahan dan tindakan. analisis teori mikro dan. dan (d) teori jaringan sosial oleh White. yaitu: Pertama. Fenomena Sosial Budaya Dalam Perspektif Teori Integrasi Pembahasan tentang perspektif teori integrasi dalam memahami fenomena sosial budaya berikut ini. A. Embrio munculnya teori integrasi Ditinjau dari segi ‘analisis sosial-budaya’. (c) mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka. Mead dan H. yang memusatkan perhatiannya pada ‘asosiasi yang dikoordinasi secara imperatif’. lebih menekankan pada jaringan sosial. Analisis teori mikro. hanya konsep mikro dalam teorinya Parsons kurang memberikan peran individu secara merdeka atau bebas berkreativitas. H. antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar atau interaksi sosial’. (b) ‘kenyataan’ adalah penting atau pokok. dan kurang menyinggung pada peran individu’. para ahli ilmu sosial membedakan menjadi dua macam pendekatan kajian atau analisis terhadap fenomena sosial budaya. (d) memperhatikan pertumbuhan. Kedua. tetapi Parsons juga sedikit menyinggung adanya integrasi mikro-makro. Blumer.

dan penekanannya masih terarah kepada fenomena makroskopik (lebih menekankan pendekatan struktural). Silang pendapat tersebut berlangsung cukup lama. bahwa kajian sosial-budaya ke depan perlu menggunakan perspektif ganda atau integrasi antara mikro-makro. Sayangnya Durkheim tidak menjelaskan tentang kaitan secara jelas antara unit-unit realitas sosial makroskopik dengan mikroskopik. tetapi analisis Marx terhadap fenomena sosial tetap memberikan tekanan yang lebih besar kepada struktur makro. Marx mulai dengan konsep tentang aktor yang aktif. secara implisit. 1974. Karl Marx. juga termasuk perspektif mikro (paradigma perilaku sosial) (Ritzer. Masing-masing terbatas pada lingkup paradigmanya. dan teori behavioral sosiologi oleh Skinners. 1987). kreatif dan voluntaristis.V. Jadi. dengan tujuan utama adalah diperoleh pemahaman yang lebih utuh (tidak parsial) tentang suatu fenomena sosial-budaya (Creswell. baik dari teori mikro maupun teori makro mempunyai keterbatasan analisis argumentatif dan ketidakmampuan dalam mengkaji secara utuh fenomena sosial-budaya yang begitu kompleks dan dinamik. Marx. Pendekatan terpadu atau integrasi dalam memahami realitas fenomena sosialbudaya. bahkan mungkin sampai sekarang.W. 2002). c. A. Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: a. yaitu asumsi tentang pembagian fakta sosial oleh Durkheim atas barang sesuatu yang bersifat material (norma hukum dan arsitektur) dan non material (kesadaran kolektif dan arus sosial) dapat dianggap paralel dengan kategori realitas sosial atas tingkatan makro-objektif dan makro-subjektif. sebenarnya telah ditunjukkan oleh empat teoritikus sosial terkemuka sebelumnya. Realitas tersebut mendorong munculnya pendapat. kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. 2. dari abad 19 sampai abad 20. Apabila individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. maka kebebasan itu datang dari paksaan struktur makro (faktor eksternal) (Durkheim. 97 . Pendekatan terpadu Marx lebih memadai dari pada Durkheim. b.J. Emille Durkheim. yakin individu dibekali dengan kemampuan berpikir aktif. Pandangan keempat teoritikus berikut ini dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ bagi pembentukan paradigma terpadu atau teori sosial integratif. 1995). dan (4) teori pertukaran sosial oleh George Homans. J. yang mamusatkan perhatian pada organisasi.oleh Garfinkel (1967). Di kalangan teoritisi sosial. 1994. Sedangkan pokok pikiran para teoritukus tersebut antara lain: 1.. Masing-masing perspektif. E. telah terjadi perbedaan sudut pandang dalam memahami fenomena sosial dan cara malakukan analisis sosial-budaya. konsep Durkheim tentang pendekatan terpadu dalam memahami fenomena sosial belum lengkap. Baal. Giddens.

Ritzer. Weber. Meskipun Parsons juga menyinggung suatu pemikiran teoritis yang terpadu (integrasi). L. S dan Ratih. konsep ‘birokrasi’ yang terstruktur). Talcott Parsons. namun oleh para ahli. yakni pada pengaruh sistem sosial dan sistem kultural terhadap kepribadian. 1988.kreatif yang berperan dalam mengembangkan masyarakat dalam proses historis. Kepribadian. paralel dengan konsep makro subjektif dan makro objektif. Meskipun Parsons lebih memusatkan perhatian pada fakta sosial. 1970). 1956. tetapi Weber juga punya perhatian besar pada tingkat mikro (contoh. M. Sosial. Mutahhari. bahwa model integrasi mikro-makro Karl Marx masih memberatkan pada struktur makro (determinisme struktural). 1986. dan konsep ‘reification’ (mematerialkan barang sesuatu). 1997a).. 3. Kemampuan individu (sistem kepribadian atau sistem mikro) untuk mengubah masyarakat (sistem makro) adalah kecil sekali atau hampir tidak ada (Soekanto. Ada beberapa pandangan para ahli. R. Sistem tindakan kultural Parsons adalah. Sebagian konsep kepribadian Parsons juga paralel dengan tingkat mikro subjektif. namun titik berat argumentasinya masih terletak pada ‘sisi struktur makro’. yang mendorong perlunya melakukan analisis sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integrasi antara ‘perspektif mikro-makro’ antara lain : 98 . (ed). yaitu analisis Marx bersifat ‘ekonomi sentris’. Perhatian Weber terhadap faktor makroobjektif ditunjukkan pada ‘struktur birokrasi’. Menurut Mizman. yang berarti Marx juga mengakui adanya hubungan dialektika antara realitas sosial tingkat mikro dan makro. Sedangkan faktor mikro-subjektif adalah perhatiannya pada ‘rasionalisasi nilai-norma’. Individu terdeterminasi oleh faktor eksternal sebagai akibat internalisasi sistem nilai masyarakat. bahwa ‘manusia memiliki pikiran rasional dan pemikirannya itu menciptakan perbedaan atau deferensial dalam kehidupan sosial). dia juga memperhatikan hubungan antara berbagai tingkat realitas sosial. Weber juga menggunakan konsep ‘reification’. Bagi Marx ‘materi/ ekonomi’ adalah dasar dari segala sesuatu (infrastruktur) (Bottomre and Rubel. Surbakti. D. khususnya mempersoalkan ‘kapitalisme’. 4. Hal ini berarti proses-proses mikro-objektif menimbulkan struktur masyarakat (makro objektif). Weber melihat dunia semakin rasional dan semakin birokratis. dan Biologis) yang diajukan oleh Parsons adalah bukti perhatiannya tentang berbagai tingkat realitas sosial yang lebih mikro. pandangan Weber banyak membantu untuk kepentingan analisis terpadu mikro-makro (Wrong. Jadi. Max Weber. Konsep tentang empat sistem tindakan (yaitu: Sistem kultural. pandangan individu. konsep ‘kharisma’ yang melembaga. 2002). hanya Weber tidak mempersoalkan kapitalisme seperti Marx. punya perhatian pada realitas sosial tingkat makro (contoh.

Jim Kemeny dalam karyanya ‘Perspective on the mikro macro distinction’. b. masalah ‘mikro-makro’ dan ‘agen. mirip bahkan sama atau serupa. 24: 731-752 (1976). Begitu juga Smelser dalam Ontology The Micro Macro Link (1987) berkesimpulan tentang ‘perlunya hubungan timbal balik antara teori mikro makro’ (Alexander. ada dua pola (model) utama karya tentang integrasi mikro makro dalam studi sosiologi yaitu: (1) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian pada ‘integrasi tingkat analisis sosial mikro dan makro’. Menurut Ritzer dan Goodman (2003). Pada umumnya teoritisi sosiologi Amerika lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi mikromakro’. membahas tentang ‘Kontinun (rangkaian kesatuan) antara teori mikro-makro’. Beberapa pandangan tokoh (para teoritikus) tersebut di atas dapat dikatakan sebagai ‘embrio’ tentang pandangan pentingnya mengintegrasikan teori-teori mikro (misalnya teori interaksionis simbolis. 1987). Giddens. dan (2) beberapa teoritikus yang memusatkan perhatian untuk membangun sebuah ‘teori baru’ yang membahas hubungan antara tingkat mikro dan makro dalam analisis sosial. pada dasarnya pokok perhatian ‘integrasi mikro-makro’ adalah sejajar (sinonim) dengan pokok perhatian ‘integrasi agen-struktur’. c. Eisenstadt and Helle. yang membahas pentingnya hubungan antara teori sosiologi berskala mikro (kecil) dan teori berskala besar (makro). dalam Sociological Review. berpendapat ‘perlu adanya perhatian lebih besar terhadap perbedaan mikro-makro maupun terhadap cara dimana teori mikro-makro saling berhubungan satu sama lain’. sedangkan teoritisi sosiologi Eropa lebih sering menggunakan istilah ‘integrasi agen-struktur’ (Ritzer dan Godman. dalam bukunya ‘Macro Sosiological Theor: Perspectives on Sociological Theory (1985a) menyimpulkan bahwa. d.struktur’ adalah. Helmut Wanger dalam karyanya ‘Displacement of Scope: A Problem of the Relationship betweem Small Scale and Large Scale Siciological Theory’ (1964). H. dan sebagainya) dengan teoriteori makro (misalnya teori fungsional struktural. tetapi ada juga yang memandang antara keduanya (mikro- 99 . teori konflik dan sebagainya) dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. fenomenologi. Teori integrasi mikro-makro George Ritzer dalam memahami fenomena sosial Gerakan perlunya analisis sosial dengan pola ‘integrasi mikro makro’ begitu sangat popular di tahun 1980-1990-an (sebagai analisis sosial terkini dalam studi sosiologi). Walter Waller dalam karyanya ‘Overview of Contemporary Sociological Theori’. Berikut ini akan dijelaskan pokok-pokok pikiran teori integrasi versi George Ritzer dan versi A. ‘Konfrontasi antara teori makro dan mikro mestinya sudah berlalu’. Menurut Ritzer. 2003).J. dalam Sociological Theory (1969). Ada yang memandang.a.

antara lain: (1) model integrasi paradigma sosiologi oleh George Ritzer. sering mengacu pada kesadaran atau aktor kreatif (menurut teori agen). Konsep struktur. Konsep agen (agency). dan (4) model sosiologi figurasional oleh Norbert Elias. maka kita ‘tidak bisa menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro’. Ritzer dalam karyanya yang berjudul ‘Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975) antara lain: Pertama. kelas sosial sebagai aktor. (3) model mikro ke makro oleh Coleman and Liska. Dan makro bisa. definisi sosial dan perilaku sosial) cenderung berat 100 . (2) model sosiologi multidimensional oleh Jeffery Alexander. (2) paradigma yang ada (paradigma fakta sosial. Apabila mengikuti pandangan Burns dan Touraine. atau mungkin juga tidak. Sedangkan Touraine. yaitu model ‘integrasi paradigma sosiologi’ atau integrasi mikro-makro G. memandang. tetapi konsep ini juga dapat mengacu pada struktur mikro. Pada pembahasan berikut ini. tetapi makro juga dapat mengacu pada kultur dari kolektivitas tertentu. mikro mungkin bisa. Jadi baik agen maupun struktur. tetapi pengertian mikro juga dapat mengacu pada ‘behaver’ (dalam teori Behavior-Skinners). Konsep makro. Paling tidak ada empat macam model teori integrasi mikro-makro yang dikemukakan oleh para ahli. d. Konsep mikro. umumnya bermakna mengacu pada struktur sosial berskala besar (tingkat makro). agen bangsa). Bagaimana melakukan analisis fenomena sosial dengan menggunakan pendekatan atau teori integrasi mikro-makro?. b. mengacu pada ‘agen’. Ritzer. dan lebih lengkap serta integratif dalam memahami berbagai aspek kehidupan sosial-budaya. jadi agen diartikan sama dengan mikro). model yang dipilih untuk dijelaskan adalah model pertama. pada umumnya menunjuk pada tingkat mikro (aktor manusia individual. menurut para ahli. atau kepada kedua-duanya. sebagian dilatarbelakangi oleh beberapa hal antara lain: (1) adanya kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana. dapat mengacu pada fenomena tingkat mikro atau makro.struktur) mampunyai perbedaan signifikan. atau mungkin juga tidak. antara lain: a. agen organisasi. mengacu pada ‘struktur’. Agen menurut Burns. sering mengacu pada struktur sosial berskala luas.makro dan agen. Berikut kita bisa pahami tentang konsep ‘agen-struktur’ dan konsep ‘mikro-makro’. lahirnya karya Ritzer tentang ‘Integrasi paradigma sosiologi’. Beberapa pokok pikiran model analisis sosial-budaya integrasi mikro-makro oleh G. Jadi. c. bisa juga bermakna ‘kolektifitas (makro) yang bertindak’ (misalnya: agen individu atau kelompok terorganisir.

(3) mengusulkan pandangan. Dengan demikian konsekuensinya (seharusnya) adalah terdapat empat tingkat utama dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Realitas sosial paling tepat harus dilihat sebagai fenomena sosial yang beragam yang membentuk suatu kehidupan sosial yang saling terkait (aspek makro dan aspek mikro). Kedua. menurut Ritzer. Paradigma integrasi adalah untuk melengkapi paradigma yang ada dan bukan dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni yang baru. tentu peneliti tersebut tidak perlu menggunakan empat tingkat utama dalam analisis sosial-budaya secara integratif. (4) dalam realitas sosial. Hubungan dialektik antar empat tingkatan analisis fenomena sosial yang ditawarkan Ritzer tersebut dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut: MAKROSKOPIK 101 . Dan setiap sosiolog harus memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektik (timbal balik) dari keempat tingkat tersebut secara integratif dalam setiap melakukan analisis fenomena sosial-budaya. dan hanya ingin melihat dimensi subjektif (aspek agen/ aspek mikro). kehidupan sosial sesungguhnya tidak terbagi dalam tingkatan.sebelah atau hanya memusatkan pada tingkat khusus atau dimensi tertentu dalam melakukan analisis sosial-budaya. yang terpisah dari dua hal yang berbeda. Namun setiap peneliti tetap harus memperhatikan fokus atau permasalahan yang akan dikajinya. seluruh fenomena sosial makro dan mikro adalah juga fenomena objektif atau subjektif. Apabila peneliti hanya ingin melihat dimensi objektif (aspek struktural/ aspek makro). bahwa pada dasarnya tidak ada posisi hegemoni dalam paradigma sosiologi.

I MAKRO-OBJEKTIF Contoh: Masyarakat. meliputi fenomena kesatuan objektif berskala kecil. suatu kajian proses dan dampak lumpur Lapindo’. Teknologi & Bahasa (Skala Luas) II MAKRO-SUBJEKTIF Contoh: Nilai. yaitu upaya individu untuk membangun (merekonstruksi) realitas sosial-budaya sehari-hari. misalnya: masyarakat. meliputi proses mental berskala kecil. menurut Ritzer. dan (2) kontinum objektif-subjektif. Realitas non material OBJEKTIF SUBJEKTIF III MIKRO-OBJEKTIF Contoh: Pola perilaku. 2002) Keterangan: 1) Tingkat makro objektif.2 Tentang Hubungan dialektik Integrasi mikro-makro Ritzer (diadopsi dari Ritzer. maka peneliti harus menjelaskan secara integral hubungan dialektik antara empat aspek tersebut di atas (lihat gambar 2. misalnya. dan teknologi. norma. pola interaksi sosial. berpendapat atau bersikap atau berpandangan. Contoh. 2) Tingkat makro subjektif. meliputi realitas material berskala luas (besar). 3) Tingkat mikro objektif. Birokrasi. Dalam hal ini apabila peneliti mengunakan teori integrasi mikro-makro versi George Ritzer. birokrasi. Mengkaji tentang ‘Perubahan sosial masyarakat Porong Kabupaten Sidoarjo. adat (Skala Luas). tindakan dan interaksi (Skala kecil kesatuan objektif) MIKROSKOPIK IV MIKRO-SUBJEKTIF Contoh: persepsi. meliputi fenomena non material berskala luas. Kontinum mikroskopik-makroskopik. Norma. keyakinan.2) Ketiga. misalnya: pola tindakan individu. ada ‘dua kontinum realitas sosial’ yang berguna dalam membangun tingkatan utama kehidupan sosial yaitu: (1) kontinum mikroskopikmakroskopik. 4) Tingkat mikro subjektif. Masing-masing keempat tingkat analisis tersebut mempunyai arti penting sendirisendiri. adat (budaya ide atau sistem budaya). misalnya: nilai. 102 . tetapi yang paling penting setiap peneliti sosial apabila melakukan analisis fenomena sosial-budaya ‘harus’ membahas. Kebiasaan. mengkaji dan menjelaskan ‘hubungan dialektika’ antara keempatnya secara integratif dalam perspektif ruang dan waktu (rentang historis). pandangan/ konstruksi sosial (Skala kecil/ mental) Gambar : 2. Hukum.

sistem kehidupan universals) kapitalis dan sosialis dunia). Perhatikan bagan berikut Mikroskopk Makroskopik Interaksi Kelom -pok Organisasi Masy. wujud materi. Sedangkan diantara ujung mikro ke makro.3. Kemudian antara ujung objektif dan subjektif adalah ‘tipe campuran’ (ada unsur objektif dan ada unsur subjektif). pandangan. norma. dan sebagainya. persepsi. Tentang garis kontinum mikro-makro. struktur birokrasi. norma. Interaksi. Di ujung mikro dari kontinum adalah. truktur Birokrasi Pandangan. kemudian lebih besar lagi ke ‘organisasi’. interaksi sosial. motivasi. teknologi dan hukum) dan fenomena subjektif (seperti nilai. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial budaya. birokrasi. tindakan sosial. gagasan. kebudayaan (cultural dan masyarakat dunia’. persepsi individu). Di ujung makro dari kontinum adalah. Sebuah masyarakat tersusun dari struktur objektif (seperti pemerintahan. kemudian kearah lebih besar yaitu ‘kelompok’. misalnya: aktor.Dalam kehidupan sosial-budaya selalu tersusun serentetan kesatuan. kemudian terbesar adalah ‘sistem dunia’. pikiran individu dan tindakan individu’. Perhatikan bagan kontinum objektif-subjektif sebagai berikut: Objektif Tipe Campuran. Ujung kontinum objektif (fenomena sosial-budaya objektif). pandangan. yang mempunyai wujud nyata. kemudian ke ‘masyarakat atau budaya’. misalnya: Ide. terdapat: bentuk ‘interaksi’ antar individu. nilai yang diyakini. Sedangkan objektif berhubungan dengan ‘peristiwa nyata. ‘aktor individu. Kombinasi dalam berbagai tingkat unsur 103 objektifsubjektif Subjektif Aktor. kejadian material’ dengan lingkup yang luas. diadopsi dari Ritzer dan Goodman ( 2003) Disetiap ujung kontinum mikro-makro kita dapat membedakan antara komponen objektif-subjektif. aparatur negara. UU atau hukum. & Budya Siste m Dunia Gambar 2. Tindakan. Konstruksi pikiran ttg realitas sosial budaya . Norma. Undangundang. seperti: kelompok luas (contoh. Istilah subjektif disini mengacu pada sesuatu yang semata-mata terjadi hanya di dalam dunia gagasan (idea) individu. Nilai. mulai dari yang berskala besar sampai yang terkecil atau sebaliknya. ‘fenomena sosial-budaya berskala besar atau luas. Sedangkan ujung kontinum Subjektif.

seharusnya membahas hubungan antara dua kontinum tersebut (kontinum makroskopik-mikroskopik dan kontinum objektif-subjektif). Empat Tingkat Realitas Sosial Fakta Sosial a. Di bawah ini gambaran hubungan antara keempat ‘tingkatan utama analisis sosial-budaya dengan keempat paradigma (termasuk paradigma terpadu) menurut G. Teori Exchange) (diadopsi dari Ritzer. hal yang penting perlu diperhatikan adalah. seperti proses konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya (pandangan individu). Definisi Sosial. Teori Sosiologi Makro) Definisi Sosial 2.4. c. Jadi. dan Perilaku sosial?. Teori Fenomenologi) Paradigma Terpadu (Lihat gambar 2. yaitu Paradigma: Fakta sosial. Ritzer.3 tentang hubungan antara tingkat realitas sosial dengan empat paradigma: No. seperti pola interaksi. Makro Subjektif b. Makro Objektif Paradigma Sosial (Teori Fungsional struktural. dan yang terpenting adalah ‘representasi skematis hubungan kedua kontinum tersebut dengan empat tingkat utama analisis sosial secara dialektif-integratif”. bagaimana hubungan antara keempat tingkat utama analisis sosialbudaya dengan ketiga paradigma. dan (4) fakta mikro-subjektif. Mikro Subjektif d. Tabel : 2. setiap peneliti sosial dalam melakukan analisis fenomena sosial-budaya. Teori Konflik. Mikro Objektif (Teori Aksi Weber. diadopsi dari Ritzer dan Goodman (2003). (2) realitas makro-subjektif. seperti birokrasi. seperti nilai. yaitu: (1) makroobjektif. Tentang garis kontinum Objektif-Subjektif. Sebelum menjawab permasalahan ini. (3) fenomena mikroobjektif. Teori interaksionis simbolik. peneliti harus mampu menjelaskan hubungan kesatuan (hubungan integratif atau dialektik) dari model empat tingkat utama.Gambar 2. 1. Teori Sistem.2) Perilaku Sosial (Teori Behavioral sosiologi. 2002) 104 . Kemudian.

2. observasi. Perlu dipahami. 3. kini dan akan datang). 4. juga tidak mengabaikan realitas sosial budaya tingkat mikroskopik. Bahwa inti paradigma terpadu terletak pada hubungan antar keempat tingkat realitas sosial-budaya. bahwa keempat tingkat realitas sosial tersebut adalah pembagian konseptual.Keempat. contohnya birokrasi. eksperimen. (c) tingkat mikro-objektif. hal ini memungkinkan bagi peneliti dalam proses pengumpulan data penelitian harus menggunakan beragam cara. misalnya: metode wawancara. merasakan. teori ‘Integrasi paradigma terpadu’ oleh Ritzer dapat dianggap sebagai Exemplar. yaitu: yang perlu dipahami. artinya setiap persoalan sosial budaya yang dikaji harus diselidiki atau dijelaskan dari empat tingkatan sosial tersebut secara terpadu. yang diarahkan kepada realitas sosial budaya tingkat makroskopik. dan konstruksi pikiran individu tentang realitas sosial-budaya. norma hukum. Paradigma yang ada akan tetap bermakna bagi analisis fenomena sosial-budaya selama tidak ada anggapan bahwa satu paradigma tertentu itu dapat menjelaskan semua fenomena sosial-budaya di masyarakat secara komprehensif. Paradigma terpadu ‘bukan’ dimaksudkan sebagai pengganti paradigma sosiologi yang sudah ada (paradigma fakta sosial. bukan menggambarkan kenyataan sebenarnya. Paradigma ini harus pula diorientasikan pada studi tentang perubahan sifat realitas 105 . dokumentasi. Realitas sosial budaya di masyarakat selalu tampil dalam keberagaman. paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial). Penggambaran dalam analisis sosial budaya ke dalam empat tingkat tersebut tidak bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. bahasa. Paradigma terpadu disamping menekankan perhatian pada sosiologi modern. contohnya berbagai bentuk interaksi sosial seperti: kerjasama. Paradigma terpadu (keempat tingkat) sifatnya saling melengkapi. yang penting dalam paradigma terpadu adalah ‘keempat tingkat sosial tersebut harus diperlakukan secara integratif’. Harus mampu menerangkan keseluruhan realitas sosial dalam semua masyarakat dan sepanjang sejarah (keterkaitan antara fenomena sosial-budaya masa lampau. dan (d) tingkat mikro-subjektif. kompleks dan sangat dinamik (terus menerus berubah). Menurut Ritzer. Jadi. contohnya proses berpikir. kuesioner. Paradigma terpadu haruslah ‘bersifat historis’. dan sebagainya. ada beberapa konsep penting sosial-budaya. metode atau teknik. konflik dan pertukaran. (b) tingkat makro-subjektif. oleh karena itu setiap peneliti sosial-budaya dituntut untuk lebih memahami secara integral fenomena sosial budaya yang dikajinya. berkaitan dengan penggunaan ‘integrasi paradigma terpadu’ dalam melakukan analisis 1. norma dan kultur. yaitu: (a) tingkat makro-objektif. contohnya nilai-nilai.

Weber. bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan sosial tertentu. menyelidiki kontradiksi antara kultur subjektif dan kultur objektif. juga dapat membiasakan kita kepada hubungan kontradiksi.sosial-budaya. memusatkan perhatiannya pada kontradiksi yang ada dalam masyarakat kapitalis. salah satu upaya yang ‘paling terkenal’ teori yang mengintegrasikan agen-struktur adalah ‘Teori Strukturasi’ oleh A. segala sesuatu saling berkaitan secara terus menerus untuk selama-lamanya. B. dan (d) kehidupan dunia oleh Habermas (Turner. (c) teori teori kolonisasi antara ‘agen dan struktur’. bahwa tekanan hubungan keempat tingkat realitas sosial tersebut antar masyarakat bisa beragam. mengatakan ‘setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah selalu menyangkut penghubungan tindakan atau agen dengan struktur. Jary. Teori integrasi strukturasi Giddens dalam memahami fenomena sosial-budaya Para sosiolog mengatakan. Giddens. bahwa pada umumnya teoritisi Eropa dalam mencermati feomena sosial-budaya lebih perhatian pada hubungan atau integrasi yaitu: (a) teori strukturasi oleh Anthony oleh Pierre Bourdieu. oleh karena itu dalam penjelasan ‘teori integrasi agen-struktur’ berikut ini hanya menjelaskan beberapa prinsip teori agen struktur oleh A. melihat adanya kontradiksi antara rasionalisasi melawan kebebasan individual. Giddens. selain menuntun untuk mencari hubungan berbagai tingkat realitas sosial. Simmel. 2003). Diantara ciri logika dialektis adalah: (a) memandang satu sisi manusia sebagai pencipta sebagian besar struktur sosial-budaya dan disisi lain struktur sosial-budaya itu pada gilirannya akan membatasi atau memaksa manusia untuk bertindak sesuai dengan struktur sosial-budaya yang dicipta. (b) teori strukturalisme-genesis morphogenesis. G. Paradigma terpadu harus mengambil ‘manfaat dari logika dialektis’. (c) tidak menitikberatkan pada salah satu tingkat realitas sosial tertentu (semua tingkat realitas sosial dipandang berada dalam hubungan yang bersifat dialektis/ empat tingkatan realitas sosial seperti pada gambar 2. Cohen dan Craib.2). Namun perlu diingat. menurut teori strukturasi. kultur dan agen oleh Margareth Archer. 106 . Menurut Bryan Tunner. Ritzer dan Goodman.. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur ‘menentukan’ agen atau sebaliknya’. (b) mempunyai pandangan yang sangat jelas tentang hubungan antara realitas sosial makroskopik (eksternal) dan mikroskopik (internal). (Rossides. 1978. 2002. Contoh: Marx. 2000). 5. Giddens juga mengatakan ‘Bidang mendasar studi ilmu sosial budaya. (d) dimulai dengan asumsi epistemologi bahwa ‘di dalam alam yang nyata’. dan (e) berpikir dialektik. Ritzer. Ada empat contoh utama teori ‘integrasi agen-struktur’ dalam melakukan analisis sosial budaya Giddens.

baik kesadaran (internal) maupun struktur (eksternal) diciptakan. untuk ‘menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur’ (Faisal. dalam memahami fenomena sosial budaya antara lain: a. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agen-struktur secara historis. bahwa struktur merupakan ‘sarana’ (medium) dan juga ‘hasil’ (outcame) dari kegiatankegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang. tetapi secara terus menerus. Oleh karena itu Giddens mendifinisikan ‘Strukturasi’ dalam daftar terminologi sebagai ‘strukturasi relasi-relasi sosial yang melintasi waktu dan ruang. praktik sosial atau aktivitas sosial-budaya tidak semata-mata dihasilkan melalui kesadaran atau melalui konstruksional pikiran individu tentang realitas (seperti pandangan teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi). S. Dalam teori ‘strukturasi’. Tetapi melalui praktik sosial berulang-ulang (rutinization) agen-struktur itulah. c. berkat adanya dualitas struktur’ b. ‘Tindakan pelaku (agen) dan struktur saling mengandaikan’. prosessual dan dinamis’. 107 . artinya praktik sosial ‘bukan dihasilkan sekali jadi oleh aktor sosial. dan dengan cara itu juga individu menyatakan diri mereka sebagai aktor’. dan (3) teori fungsional struktural (orientasi masyarakat atau struktur).. (2) pengaruh teori interaksionis simbolik (individu kreatif. Beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang teori integrasi agenstruktur atau ‘teori strukturasi Giddens’ dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984). Priyono. juga bukan semata-mata diciptakan oleh struktur sosial (seperti teori fungsional struktural. khususnya menyangkut konsep peran manusia (agen) dalam menentukan gerak sejarah. Dalam teori strukturasi. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas sosial-budaya sehari-hari setiap individu. Hal ini berarti bahwa saat pelaksanaan atau pengadaan (moment of production) adalah juga saat pelaksanaan atau pengadaan kembali (moment of reproduction). dinamik). 1984). agen dan struktur tidak dapat dipahami dalam keadaan saling terpisah satu dengan yang lain. Jadi. teori konflik). dan kesadaran diciptakan. Secara umum teori strukturasi memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial. Jadi. Teori Strukturasi. praktik sosial atau tindakan sosial manusia itu dapat dilihat sebagai ‘perulangan’ (rutinization). 2002). tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah. Dualitas struktur mengandaikan. 1998. Menurut Berstein. mereka ciptakan berulang-ulang melalui suatu cara tertentu. sebagian mendapat pengaruh dari: (1) teori Marx.melainkan praktik (interaksi) sosial yang berulang-ulang. Agen dan struktur ibarat ‘dua sisi dari satu keping mata uang’. struktur. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space)’ (Giddens.

‘rasionalisasi. 1984). perlu diperhatikan untuk mengkombinasikan antara bahasa awam (para agen praktik sosial) dan bahasa ilmiah (para peneliti). menggunakan bahasanya untuk menerangkan apa yang mereka kerjakan seharihari. (b) agen (pelaku) menunjuk pada orang kongkret dalam ‘arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia’. Giddens membedakan tiga dimensi internal pelaku (kesadaran atau motivasi individu) yaitu: (1) ‘motivasi tidak sadar’ (unconscious motives). (3) ‘kesadaran praktis’ (practical consciousness). Menurut Giddens. yang dimaksud dengan rasionalisasi adalah ‘mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman kepada aktor. tetapi peneliti sosial (sosiolog) juga melakukan refleksi dalam mempelajari masalah hubungan agen dan struktur. Oleh karena itu Giddens mengemukakan gagasan yang terkenal yaitu ‘proses penelitian fenomena sosial-budaya perlu menggunakan pendekatan atau metode ‘Hermeneutika ganda’. artinya. konsep atau pemikiran tentang ‘agen’. aktor atau agen merasionalkan kehidupan (aktivitas) mereka. Berikut ini akan dijelaskan singkat tentang kelima konsep tersebut Pertama. (3) konsep waktu-ruang (time-space). (2) ‘kesadaran diskursif’ (discursive consiousness). Jadi. yaitu menunjuk pada gugus pengetahuan praktik yang selalu bisa 108 . baik agen (aktor sosial) maupun peneliti sosial sama-sama menggunakan bahasa. agen atau aktor sosial melakukan refleksi. dan (b) peneliti sosial-budaya. (2) konsep struktur dan sistem sosial. Dalam diri ‘aktor atau agen’ terdapat ‘kesadaran’. tetapi bukanlah tindakan itu sendiri. Dalam teori strukturasi Giddens. tetapi juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan sosial mereka secara efisien’. terdapat lima komponen (elemen) penting yang perlu dipahami. (4) konsep rutinisasi (routinization). (d) agen atau aktor juga mempunyai motivasi untuk bertindak dan motivasi ini berupa keinginan atau hasrat untuk bertindak (potensi untuk bertindak). Agen dalam pandangan Giddens adalah: (a) agen atau aktor sosial terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri serta konteks sosial dan fisik mereka dalam kehidupan sehari-hari. (c) dalam upaya mencari rasa aman. yaitu: (a) aktor sosial.Dalam teori strukturasi. d. menggunakan bahasanya untuk menerangkan tindakan aktor sosial yang ditelitinya. dan (5) konsep strukturasi (Giddens. yaitu menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan. yaitu: (1) konsep agen. sedangkan motivasi sebagai potensinya’. Jadi. yaitu mengacu pada kapasitas kita merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit atas tindakan kita (tindakan melalui hasil agumentasi pikiran yang rasional). refleksivitas terus menerus terlibat dalam tindakan.

bahwa agen atau aktor tidak berarti apa-apa tanpa kekuasaan untuk menciptakan pertentangan. meneliti dan sebagainya. Menurut teoritikus Fungsional struktural dan teori konflik. Kedua. Giddens sangat menekankan arti penting keagenan dalam teorinya. Batas antara kesadaran praktis dan kesadaran diskursif ‘sangatlah lentur dan tipis’. tetapi tidak seperti antara ‘kesadaran diskursif’ dan ‘motivasi tidak sadar’. memanen padi dan sebagainya. adalah ‘sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya dilakukan oleh agen’. definisi struktur menurut Giddens tidak sama dengan definisi struktur menurut para teoritikus fungsional struktural. misalnya: Peran seorang dosen adalah mengajar. Kesadaran praktis ini merupakan kunci untuk memahami teori strukturasi (Faisal. Tidak ada struktur bila tidak ada aktivitas manusia. membimbing mahasiswa. Bagi Giddens. Tipe ‘kesadaran praktis’ inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi. struktur adalah ‘apa 109 . Menurut Giddens. atau struktur dipahami sebagai ‘kumpulan aturan dan sumber daya yang berulangkali terorganisasikan’ (recursively organized sets of rules and resources). memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan kita dalam kata-kata secara rasional. bahkan Giddens mengatakan. agen atau aktor akan berhenti jadi agen apabila ia kehilangan kemampuan untuk menciptakan pertentangan. 1998). yang relatif jelas perbedaannya. konsep tentang ‘struktur dan sistem sosial’. kesadaran diskursif. Jadi. Jadi. struktur adalah ‘sesuatu yang berada di luar (eksternal) aktor atau individu dan memaksa (determinis) pada aktor dalam aktivitas sosial’. peran petani adalah membajak. struktur dan sistem sosial dapat dipahami sebagai berikut: (a) struktur didefinisikan sebagai ‘properti-properti yang berstruktur (aturan dan sumber daya)’. menanam padi. Menurut Giddens. Kesadaran praktis. Jadi. 2003). Kesadaram praktis agen inilah yang membuat transisi halus dari ‘agen’ ke ‘agensi’ (agency). karena struktur ‘hanya ada di dalam dan melalui akivitas agen manusia’. Struktur hanya akan terwujud karena adanya aturan dan sumber daya. Struktur itu sendiri ‘tidak ada dalam ruangan dan waktu’. Keagenan berarti peranperan individu atau kejadian yang dilakukan oleh individu. kekuasaan subjektivitas. Agensi (keagenan atau peranan individu). melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar.diurai (tidak perlu argumentatif). Disamping itu agen juga mempunyai kemampuan atau kekuasaan untuk menciptakan ‘pertentangan’ dalam kehidupan sosial. agen juga ‘sering’ bertindak tidak sesuai dengan tujuan semula atau sering tindakan yang sengaja dilakkan melahirkan akibat yang tidak diharapkan. untuk menciptakan tindakan pertentangan melibatkan ini bersifat logis mendahului untuk karena kekuasaan (kemampuan) mengubah situasi (Ritzer dan Goodman. tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan. Menurut Giddens.

tetapi dapat menjelma dalam sistem sosial. Sistem sosial menurut Giddens adalah sebagai praktik sosial yang dikembangbiakkan (reproduced) atau hubungan yang direproduksi antara aktor(egen) dan kolektivitas (kelompok) yang diorganisir sebagai praktik sosial tetap. ‘mirip’ dengan pengertian stuktur dalam pandangan konvensional (teori fungsional struktural atau teori konflik). Ada beberapa prinsip Giddens dalam memahami waktu dan ruang menurut teori strukturasi. merupakan variabel (unsur) penting dalam teori strukturasi. penyebutan terhadap sesuatu dan wacana tentang sesuatu yang dilakukan aktor (agen). Skemata mirip ‘aturan’ yang merupakan hasil (out came) dan sekaligus menjadi ‘sarana’ (medium) bagi berlangsungnya praktik sosial kita. Pengertian sistem sosial menurut Giddens. tetapi bersifat ‘memberdayakan’ (enabling) (Giddens. Struktur. serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial (Faisal. struktur adalah ‘aturan dan sumber daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial’. menurut Giddens mempunyai tiga gugus besar. (3) struktur ‘legitimasi’ (legitimation) yang mencakup skemata peraturan-peraturan normatif yang terungkap dalam tata hukum. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Jadi. Banyak teoritisi sosial menganggap ruang dan waktu cenderung diperlakukan sebagai ‘lingkungan’ (environments) sistem sosial ‘merupakan institusionalisasi dan regularisasi praktik-praktik sosial’ dalam kehidupan sehari-hari 110 . untuk menata proses-proses sosial di masyarakat. Jadi. Struktur tidak dapat memunculkan dirinya sendiri dalam ruang dan waktu. (Giddens. konsep waktu dan ruang (time and space) dan rutinisasi (routinization).yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial. Sistem sosial oleh Giddens dilihat baik sebagai ‘media’ maupun sebagai ‘hasil tindakan aktor’ dan sistem sosial yang secara berulang-ulang (regulation) mengorganisisr kebiasaan aktor. Sedangkan konsep struktural. Ketiga. (2) struktur ‘dominasi’ (domination). 1984). yaitu: (1) struktur ‘signifikasi’ (signification) menyangkut skemata simbolik. tetapi dapat memperlihatkan ciri-ciri strukturalnya. yang mencakup skemata penguasaan atau wewenang terhadap orang lain (aspek politik) dan penguasaan terhadap barang (aspek ekonomi). dalam bentuk praktik sosial yang direproduksi. 1998). Struktur. Sistem sosial ‘tidak mempunyai’ struktur. bukan bersifat mengekang (constraining) individu (seperti pandangan teori fungsional struktural). 1984). Kemudian konsep sistem sosial. tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menentukan kehidupan sosial. bukanlah benda melainkan ‘skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial’. antara lain: (a) ruang dan waktu. ada faktor agen yang juga ikut menentukan’.

misalnya. yang hal-hal tersebut menunjukkan adanya pembentukan sistem-sistem interaksi. 2003). sedangkan menurut teori ‘trukturasi adalah. Giddens membedakan tiga dimensi waktu. misalnya lahir-hidup-mati. ‘seluruh kehidupan sosial terjadi didalam. lembaga-lembaga. Istilah locale erat hubungannya dengan konsep regionalisasi (regionalization) dalam geografi waktu. Ruang atau tempat (space) dalam teori strukturasi tidak dapat sekedar dipahami untuk menunjuk suatu ‘titik dalam ruang’ (point in space). ada ruang kerja. pengalaman hari demi hari (reversible time). Jadi. tetapi lebih dipahami dengan istilah ‘tempat peristiwa’ (locale) yang merujuk pada pemakaian ruang sebagai ‘latar interaksi’ (setting of interaction) (Giddens. yaitu berkenaan dengan keberlangsungan waktu pengalaman atau kegiatan hari demi hari yang dapat dibalik. atau sebagai salah satu ‘faktor tidak tetap’. ruang makan. (3) longue duree. yaitu berkenaan dengan waktu keberlangsungan jangka panjang dan dapat dibalik dari lembaga-lembaga atau waktu kelembagaan (institutional time) yang merupakan baik syarat (condition) maupun hasil (outcame) kegiatan-kegiatan sosial yang terpola dalam kontinuitas hidup sehari-hari. sampai di rumah kembali. 1984). yaitu: (1) duree. Bahwa tubuh manusia ‘tidaklah menempati ruang dan waktu dalam arti sama seperti benda-benda material lain yang berada dalam ruang dan waktu’. prestasi Giddens yang diakui oleh para ilmuwan adalah analisisnya tentang ‘upaya mengedepankan masalah waktu dan ruang dalam analisa sosial’ (Ritzer dan Goodman. misalnya berangkat dari rumah. sampai keadaan di kantor. (2) jangka hidup individual (irreversible time). kreatif yang terarah pada tugas-tugasnya’ atau sebagai ‘pengambilan posisi’ (positioning). persimpangan kehadiran dan ketidakhadiran dalam memudarnya waktu dan berubahnya tempat’. 111 . yaitu berkenaan dengan rentang waktu kehidupan individu yang tidak dapat dibalik. ruang tamu. Waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. sehingga orang lain tidak perlu lagi hadir pada waktu yang sama dan di ruang yang sama. berada di jalan. kemudian pulang dari kantor. dan terbentuk oleh. berada di jalan. karena kontekstualitas kehidupan sosial menyangkut baik ruang maupun waktu. yakni lebih menunjukkan pada penempatan wilayah ruang-waktu sehubungan dengan kegiatan sosial yang dirutinisasikan (zoning of time-space in realtion to routinized social practices). Sistem sosial berkembang atau meluas menurut waktu dan ruang. Menurut Bryand and Jary. ruang tidur dan sebagainya.tempat ketika suatu tindakan sosial dilaksanakan. posisi tubuh manusia paling baik dipahami sebagai ‘tubuh aktif.

(c) rutinisasi merupakan elemen dasariah kegiatan sosial sehari-hari. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. Pemahaman terhadap konsep strukturasi ini menjadi kunci dalam teorinya Giddens. ‘istilah hari demi hari’ mengungkapkan dengan tepat sifat terutinisasi yang diperoleh kehidupan sosial yang terentang melintasi ruang dan waktu. Keterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). Sedangkan situasi kritis dalam kehidupan sosial dapat mengacaukan rutinitas yang dapat diramalkan dan menghancurkan rasa kedatangan masa depan (futural sence) (Giddens. Atau teterulangan merupakan bahan dasar kehidupan sosial (the recursive nature of soial life). Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisahpisah atau sekedar sekumpulan tindakan. Setiap kegiatan sosial ‘mencengkram’ ruang dan waktu (biting into space and time). Dengan demikian dalam memahami konsep ‘teori 112 . serta berada pada akar pembentukan baik subjek maupun objek sosial. tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan. dan bukan pula pemanggilan kembali masa lalu ke masa kini. Beberapa hal penting yang dapat dipahami tentang ‘strukturasi’ adalah: (a) konsep strukturasi mendasarkan pemikiran bahwa ‘konstitusi agen dan struktur bukan merupakan dua kumpulan fenomena biasa yang berdiri sendiri (dualisme) tetapi mencerminkan dualitas. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme).Keempat. Tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu. konsep strukturasi. atau rutinisasi (routinization) akan melahirkan rasa aman ontologis (ontological security) sehubungan dengan masa depan individu. karena yang rutin adalah elemen dasariah kegiatan sosial seharihari. ‘Persepsi’ bukan lah kumpulan persepsi-persepsi tetapi ‘aliran kegiatan’ (flow of activity) yang diintegrasikan dengan gerakan tubuh dalam ruang dan waktu. Regulation (keterulangan terus menerus). Tindakan sosial dipandang sebagai ‘suatu proses’ dan bukan tindakan terpisah-pisah. konsep penting lain dalam teori strukturasi adalah ‘rutinisasi’ (routinization). dan (d) tindakan manusia sangat terkait dengan ruang dan waktu (time and space). Jadi. ‘Ingatan’ adalah aspek penghadiran (presencing) dan cara mendiskusikan kemampuan pengetahuan (knowledge-ability) pelaku manusia. Ingatan tidak menunjuk pada pengalaman masa lalu. Priyono. 1984. (b) strukturasi meliputi ‘hubungan dialektika’ antara agen dan struktur. ‘ruang dan waktu secara integral turut membentuk tindakan atau kegiatan sosial’. Kelima. Interaksi sosial dipelajari dalam rangka kehadiran bersama (co-presences). 2002). atau tindakan manusia dinilai sebagai ‘aliran terus menerus’ (on going flow) kegiatan-kegiatan.

antara lain: Pertama. struktur dan keagenan adalah dualitas (bukan dualisme). Jadi. tindakan agen dan struktur saling mengandaikan. Priyono. Anthony Giddens. yang diatur melintasi waktu dan ruang (time and space). 1995. Tetapi dalam hal ini bukan berarti bahwa struktur (makro) ‘menentukan’ agen (mikro) atau sebaliknya. (Giddens. Jadi. pandangan Ritzer tentang integrasi mikro-makro dan pandangan Giddens tentang teori strukturasi di atas merupakan bukti teoritis pentingnya penggunakan pendekatan integratif kuantitatif-kualitatif dalam penelitian sosial (Giddens. teori strukturasi menjelaskan masalah ‘agenstruktur secara historis. yaitu: konsep agen. konsep waktu-ruang. B. konsep rutinisasi. Giddens dalam bukunya The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration (1984) mengatakan bahwa: (1) setiap riset dalam ilmu sosial atau siret sejarah seharusnya selalu mengintegrasikan antara tindakan (agen) dengan struktur. 2002). tetapi melalui integrasi agen-struktur yang terus berinteraksi melintasi dimensi ruang dan waktu. 1995). dan konsep strukturasi (Faisal. seimbang dan saling mengisi. Struktur tidak akan ada tanpa keagenan (peran individu) dan demikian juga sebaliknya. Giddens. (3) praktik sosial atau aktivitas sosial tidak dihasilkan melalui kesadaran individu tentang realitas (seperti pandangan teori-teori paradigma subjektivis). prosessual dan dinamis’. (2) bidang mendasar studi ilmu sosial. Strukturasi meliputi hubungan dialektika antara agen dan struktur. melainkan praktik (interaksi) sosial agen-struktur yang berulang-ulang. 1998. Keenam. 113 . 2002). Ritzer. juga bukan diciptakan oleh struktur sosial (seperti pandangan teori-teori paradigma objektivis). (2000). Argumentasi perlunya menggunakan pendekatan integratif Beberapa argumentasi berikut ini cukup bisa dijadikan alasan pentingnya melakukan penelitian sosial-budaya dengan menggunakan pendekatan integratif (kuantitatif-kualitatiuf). setiap penelitian yang hendak mengkaji fenomena sosial tidak akan bisa menghasilkan analisis data secara baik apabila tidak berusaha untuk mengintegrasikan agen-struktur.strukturasi’ Giddens harus memahami secara integral tentang lima komponen (elemen) penting. konsep struktur dan sistem sosial. menurut teori strukturasi. yang menganjurkan pentingnya integrasi mikro-makro atau subjektif-objektif atau integrasi agen-struktur dalam melakukan analisis fenomena sosial adalah Teori Strukturasi oleh A. bahwa salah satu teori yang paling terkenal dewasa ini. dalam pandangan teori strukturasi Giddens. bukanlah pengalaman aktor individual (agen) atau bentuk-bentuk kesatuan sosial (struktur) tertentu. menurut Turner.

Jadi menggunakan triangulasi dalam pengumpulan data. sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subjek sebagai titik tolak.Kedua. tujuannya adalah untuk memperkuat kesahihan temuan. kemudian dari beberapa item pada angket tersebut didalami lagi dengan menggunakan metode observasi dan wawancara takterstruktur (ciri metode pengumpulan data kualitatif). masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pendekatan penelitian itulah yang menyebabkan perlunya pendekatan memadukan kuantitatif-kualitatif (Brannen (ed). (b) penelitian kualitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subjek. 114 . (d) penelitian kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti. 1988). penggabungan bisa dilakukan pada aspek metode pengumpulan datanya.. hal ini sangat penting bagi penelitian kuantitatif yaitu sebagi sumber hipotesis dan membantu dalam membuat konstruksi skala. selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuanti (Sugiyono. 2002) Ketiga. Keempat. sebab penelitian kuantitatif biasanya mudah untuk menentukan hubungan antar ubahan (variabel) tetapi sering lemah dalam memberi alasan dari hubungan antar variabel tersebut. hal ini akan dibantu dengan penelitian kualitatif. misalnya pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. (2002). karena keduanya saling mengisi kelemahan masing-masing. Penekanan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi. yaitu dalam penelitian kuantitatif metode utama dalam pengumpulan datanya adalah menggunakan angket. Kelima. (e) penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara ubahan-ubahan. sehingga ditemukan hipotesis. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. (f) penggabungan akan mampu memberikan penjelasan tentang hubungan antara tingkat makro (kuantitatif) dan mikro (kualitatif). J. ada beberapa alasan bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan yaitu: (a) hasil-hasil penelitian kuantitatif dapat dicek pada penelitian kualitatif. setiap metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Digunakan secara bergantian. (c) penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digabungkan untuk memberikan gambaran hasil research yang lebih komprehensif. 2007). karena kedua hal ini selalu melekat pada fenomena sosial. S. misalnya kualitatif untuk menemukan hipotesis sedangkan kuantitatif untuk menguji hipotesis (Stainback. menurut Bryman dalam Brannen. kuantitatif dan kualitatif bisa digunakan bersama atau digabungkan dengan syarat: (a) meneliti pada objek yang sama dengan mempunyai dua tujuan yang hendak diungkapnya.

Ketujuh. akan tetapi ada juga permasalahan sosial (fenomena sosial) lain yang sulit dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik saja. 2000. Demikian juga kehidupan kebudayaan mempunyai unsur-unsur budaya yang saling kait mengkait (sebagai suatu sistem). dalam pandangan teori sistem. jadi konflik menyatu dalam kehidupan. I. Teori sistem sangat dipengaruhi oleh paham positivisme dan teori organisme.Keenam. hanya saja pandangan teori konflik Dahrendorf dan neo konflik Coser dan sebagainya. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif (Qualitative research). dalam pandangan teori konflik versi Marx. antara lain: Pertama. dalam pandangan teori fungsional struktural kehidupan sosial budaya di masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial dan struktur buaya (kondisi eksternal). Kesimpulan Uraian singkat tentang kehidupan sosial-budaya di masyarakat dalam perspektif teoritis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan. pengumpulan data penelitian dengan teknik angket (pendekatan kuantitatif) seringkali belum mampu menjamah dimensi-dimensi psikologis yang unik dan makna terdalam (menukik kedalam pikiran aktor). Individu berkembang karena dia dipengahui oleh struktur sosial dan budaya. 2005). Ketiga. 2008). kehidupan masyarakat merupakan suatu proses perkembangan yang akan ‘menyudahi konflik melalui konflik’. yang umumnya dikenal dalam metode kualitatif. Creswell. bahwa setiap kehidupan sosial mempunyai unsur-unsur sosial dan unsur yang satu dengan yang lain saling terkait (sebagai sistem). Oleh karena itu seorang peneliti yang mengharapkan dapat memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial yang dikaji secara lebih komprehensif salah satu jalan adalah menggunakan pendekatan perpaduan kuantitatifkualitatif (Arifin. Semua teori konflik dan neo-konflik (neo-Marxian) adalah berbasis kepada pandangan Marx. nilai-nilai yang dianut para agen praktik sosial yang terentang dalam ruang dan waktu (space and time) yang begitu sangat dinamik dan kompleks (Alvesson and Skoklberg. Dan ciri utama hubungan-hubungan sosial di masyarakat adalah pejuangan kelas yang berbasis kepentingan ekonomi. oleh karena itu dipandang perlu untuk melibatkan observasi partisipatif dan wawancara takterstruktur. ada permasalahan dalam studi ilmu sosial (fenomena sosial) yang banyak terpecahkan dengan penerapan analisis statisitik (Quantitative research). bagi bagi Marx faktor ekonomi merupakan infrastruktur kehidupan. sedangkan semua asek non ekonomi merupakan suprastruktur. Kedua. khususnya apabila ingin menyelami kedalaman makna. Proses-proses kehidupan sosial budaya di masyarakat selalu berkecenderungan untuk terintegrasi dan selalu menjaga terwujudnya keseimbangan sistem (equilibrium). pandangan. tidak menjadikan faktor ‘ekonomi/ 115 .

dan menawarkan ‘narasi mikro’. dan teori post-modern yang bersifat radikal. dunia sosial eksternal (realitas sosial eksternal) hanyalah sebuah nama atau label. manusia mempunyai keinginan secara bebas atau sukarela dalam berekspresi). Diantara ciri pandangan paradigma ini antara lain: (1) memahami dunia (masyarakat) seperti apa adanya. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing teori dan pendekatan itulah yang menyebabkan perlunya memadukan beragam teori dan pendekatan dalam analisis 116 . akan mendorong munculnya keterbukaan beragam interpretasi baru (diferensiasi pandangan). fenomena sosial budaya dalam pandangan teori teori interaksionis simbolik dan teori fenomenologi. teoritikus post-modern dapat dikelompokkan menajdi dua. asumsi. Keenam. antara lain: (1) kehadiran teori post-modern mendorong tumbuhkan budaya kritik konstruktif bahkan kritik dekonstruktif terhadap pandangan teori-teori sosiologi konvensional dalam memahami fenomena sosial yang bersifat statis dan terstruktur. Keempat. motivasi. secara tidak langsung telah menambah beragam khasanah perspektif bagi para teoritikus sosial dalam memahami fenomena sosial budaya yang sangat dinamik. Meskipun banyak sisi kelemahan dari teori post-modern. tetapi banyak faktor lain. setiap teori atau paradigma mempunyai kelebihan dan kelemahan. (2) dalam studi sosiologi harus memahami fenomena sosial yang terbangun oleh pikiran atau jiwa subjek (individu) secara terus menerus dalam praktek kehidupan sehari-hari (meliputi pandangan. Teori yang berparadigma fakta sosial (objektivistik) dan definisi sosial (subjektivistik). nilai. (2) teori post-modern yang menolak adanya ‘narasi makro’. relatif sama karena kedua teori ini ada dalam satu paradigma yaitu paradigma definisi sosial atau berparadigma interpretif. Disamping itu paradigma ini bersifat anti positivism. atau menuntut pemahaman terhadap realitas sosial berdasarkan kesadaran subjektivitas individu dalam proses-proses sosialnya. dengan pendekatan mikroskopik dalam melakukan analisis sosial-budaya. kehadiran teori post-modern memberikan sisi-sisi positif khususnya bagi perkembangan wacana teori sosiologi modern. misalnya kekuasaan dan kondisi sosial non-material lainnya. dan (3) teori post-modern yang menolak adanya ‘kebakuan orientasi atau pandangan. (3) bersifat nominalis.materi’ sebagai satu-satunya sebab terjadinya konflik.. Paradigma ini berorientasi pada ideologi atau aliran filsafat idealisme. tujuan. voluntaris (manusia sepenuhnya otonom. kepatuhan dalam orientasi dan interpretasi terhadap teori-teori konvensional yang telah ada’. dan keyakinannya). yaitu teori post-modern yang bersifat moderat. artinya kehidupan sosial tergantung pada sebutan atau pandangan subjek. keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya justru saling melengkapi (complement each ather) dalam memahami fenomena sosial-budaya. Kelima.

analisis fenomena sosial dengan menggunakan teori integrasi Ritzer atau Giddens adalah sangat proporsional. sehingga mengharuskan peneliti untuk menggunakan teori dan pendekatan subjektivis (Qualitative research). akan tetapi ada juga permasalahan fenomena sosial-budaya yang sulit dijelaskan dengan menggunakan pendekatan objektivis. Ada permasalahan dalam studi ilmu sosial-budaya yang bisa terpecahkan dengan penerapan teori dan pendekatan objektivis (Quantitative research).sosial-bidaya. 117 . Jadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful