BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal untuk meningkatkan mutu kehidupan bangsa, keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting. Kekurangan gizi, terutama pada anak-anak akan menghambat proses tumbuh kembang anak. Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap faktor tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Lingkungan disini merupakan lingkungan bio– psiko–sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang.(1) Pertumbuhan terjadi pada seseorang meliputi perubahan fisik, berpikir, berperasaan, bertingkah laku dan lain-lain, sedangkan perkembangan yang dialami seorang anak merupakan rangkaian perubahan secara teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dan berlaku secara umum, misal : anak berdiri dengan satu kaki, berjingkat (berjinjit), berjalan, menaiki tangga, berlari dan seterusnya.(1) Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan usia sekitar enam bulan. Pemberian ASI tanpa pemberian makanan lain selama enam bulan tersebut dengan menyusui secara eksklusif.(2) Pertumbuhan otak akan menentukan tingkat intelegensi seseorang yang dimulai sejak trimester ketiga umur kehamilan dan akan berakhir dalam periode 5-6 bulan pertama setelah kelahiran.(3) Menurut Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2002 – 2003 pada tahun 2003 terdapat sekitar 6,7 juta balita (27,3%) menderita gizi kurang dan 1

1,5 juta diantaranya gizi buruk. Anemia defisiensi besi dijumpai pada sekitar 8,1 juta anak. Apabila dikaitkan dengan pemberian ASI ekslusif, keadaan ini cukup memprihatinkan.(4) Menurut SDKI tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun yang menyusui dalam 1 jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan menurun dari 42,4% tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sementara itu penggunaan susu formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari 10,8% tahun 1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002.(4) Berdasarkan data tersebut diatas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana perkembangan status gizi bayi usia 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif dan bayi yang sudah diberikan PMT pada usia tersebut serta apakah dengan pemberian asi ekslusif, kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan sudah tercukupi. I.2 Perumusan Masalah Bagaimana status gizi balita usia 6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan bayi seusia yang sudah diberikan PMT. I.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Meningkatkan status gizi bayi melalui pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya angka kejadian pemberian ASI eksklusif. b. Diketahuinya hubungan antara pendidikan, pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan pengaruhnya terhadap pemberian ASI eksklusif. c. Diketahuinya kontinuitas pemberian ASI eksklusif pada ibu pekerja d. Diketahuinya faktor penghambat pemberian ASI eksklusif e. Diketahuinya status gizi bayi usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif.

2

f. Diketahuinya status gizi bayi usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dibandingkan dengan bayi seusia yang diberikan PMT. g. Diketahuinya perbedaan penggunaan standar status gizi menurut WHO/NCHS dan standar status gizi menurut WHO. I.4 Hipotesis Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif memiliki status gizi yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang tidak diberikan ASI eksklusif. I.5 Manfaat Penelitian Dalam penelitian ini diharapkan hasilnya dapat berguna baik bagi kami, masyarakat, institusi dan pengembangan penelitian, yaitu : 1. Bagi Peneliti Penelitian ini berguna untuk mengaplikasikan teori yang didapat saat kuliah ke dalam praktek lapangan sesungguhnya, dengan demikian diharapkan dapat menambah wawasan kami, khususnya dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat dan metodologi penelitian. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian di bidang kesehatan dan melatih kerja sama dengan temanteman dalam sebuah kelompok. 2. Bagi masyarakat - Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang manfaat ASI eksklusif untuk kecukupan gizi bayi mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam meningkatkan upaya promosi kesehatan bayi usia 0-6 bulan. 3. Bagi institusi a. Puskesmas Kecamatan Mampang Memberikan masukan kepada Puskesmas tentang manfaat pemberian ASI eksklusif untuk kecukupan gizi balita. Memberi masukan kepada Puskemas agar Puskemas semakin mendukung program pemberian ASI eksklusif.

3

b. -

Fakultas Kedokteran Trisakti Menambah informasi dan wawasan mahasiswa kedokteran tentang pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap status gizi bayi.

-

Sebagai bahan penambahan karya ilmiah pada bagian ilmu kesehatan masyarakat.

I.6 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dibuat dengan keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Namun demikian, peneliti berusaha melaksanakan penelitian ini sebaik mungkin. I.7 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan terhadap ibu yang memiliki bayi antara 6 sampai 12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan pada periode Maret - April 2009.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif ASI EKSKLUSIF adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lainnya pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bayi hanya diberi ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin, mineral, dan ASI yang diperah. Pada tahun 2001 World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi.(5) II.1.1 Manfaat ASI eksklusif enam bulan bagi bayi(5) 1. ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga ia berusia enam bulan ASI adalah makan bernutrisi dan berenergi tinggi, yang mudah untuk dicerna. ASI memiliki kandungan yang dapat membantu penyerapan nutrisi. Pada bulan-bulan awal, saat bayi dalam kondisi yang paling rentan, ASI eksklusif membantu melindunginya bayi dari diare, sudden infant death syndrome/SIDS - sindrom kematian tiba-tiba pada bayi, infeksi telinga dan penyakit infeksi lain yang biasa terjadi. Riset medis mengatakan bahwa ASI eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan. Organisasi Kesehatan Dunia – WHO mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi… Evaluasi pada bukti-bukti yang telah ada menunjukkan bahwa pada tingkat populasi dasar, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah cara yang paling optimal dalam pemberian makan kepada bayi. ” Setelah 6 bulan, biasanya bayi membutuhkan lebih banyak zat besi dan seng 5

nutrisi tambahan bisa diperoleh dari sedikit porsi makanan padat. 2. Probabilitas terjadinya penyakit pernapasan selama masa kanak-kanak secara signifikan berkurang bila bayi diberikan ASI eksklusif setidaknya selama 15 minggu dan makanan pada tidak diberikan selama periode ini. berarti ASI anda bisa memenuhi kebutuhannya dengan baik. Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. kekebalan paling besar diterima bayi saat dia diberikan ASI eksklusif. Menunda pemberian makanan padat memberikan perlindungan yang lebih baik pada bayi terhadap berbagai penyakit Meskipun bayi terus menerima imunitas melalui ASI selama mereka terus disusui. pada usia 6 – 9 bulan. Bayi-bayi tertentu bisa minum ASI hingga usia 12 bulan atau lebih – selama bayi anda terus bertambah beratnya dan tumbuh sebagaimana mestinya. (Wilson. dan mungkin lebih banyak lagi yang masih tidak diketahui. konstipasi dll). Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada sistem pencernaan bayi untuk berkembang menjadi lebih matang Biasanya bayi siap untuk makan makanan padat. Lebih banyak lagi studi yang juga mengaitkan tingkat eksklusivitas ASI dengan meningkatnya kesehatan (lihat faktor imunitas pada susu manusia dan resiko pemberian makanan instan).daripada yang tersedia didalam ASI – pada titik inilah. 1998). 3. Satu studi memperlihatkan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan+ mengalami infeksi telinga 40% lebih sedikit daripada bayi yang diberi ASI ditambah makanan tambahan lain. ASI memiliki kandungan 50+ faktor imunitas yang sudah dikenal. timbulnya gas. baik secara pertumbuhan maupun secara psikologis. Asam lambung dan pepsin 6 . maka makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak menyenangkan (gangguan pencernaan. Bila makanan padat sudah mulai diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk menerimanya.

Bayi juga memiliki jumlah lipase dan bile salts dalam jumlah yang sedikit. Hal ini menguntungkan bagi bayi yang mendapatkan ASI karena zat antibodi yang terdapat di dalam ASI dapat masuk langsung melalui aliran darah bayi. Amilase. tetapi hal ini juga berarti bahwa protein-protein lain dari makanan selain ASI (yang mungkin dapat menyebabkan bayi menderita alergi) dan bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai penyakit bisa masuk juga. antibodi (slgA) dari ASI melapisi organ pencernaan bayi dan menyediakan kekebalan pasif. mengurangi terjadinya penyakit dan reaksi alergi sebelum penutupan 7 . enzim yang diproduksi oleh pankreas belum mencapai jumlah yang cukup untuk mencernakan makanan kasar sampai usia sekitar 6 bulan. saat usus masih “terbuka”. dapat masuk ke dalam aliran darah. termasuk protein dan bakteri patogen. Menunda pemberian makanan padat mengurangi resiko alergi makanan Berbagai catatan menunjukkan bahwa memperpanjang pemberian ASI eksklusif mengakibatkan rendahnya angka insiden terjadinya alergi makanan. Ini berarti bahwa jarak yang ada diantara sel-sel pada usus kecil akan membuat makromolekul yang utuh. bayi memiliki apa yang biasa disebut sebagai “usus yang terbuka”. isomaltase dan sukrase belum mencapai level orang dewasa sebelum 7 bulan. 4. sehingga pencernaan lemak belum mencapai level orang dewasa sebelum usia 6-9 bulan Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada bayi agar sistem yang dibutuhkan untuk mencerna makanan padat dapat berkembang dengan baik. Sejak lahir sampai usia antara empat sampai enam bulan. Dan enzim pencerna karbohidrat seperti maltase.dibuang pada saat kelahiran dan baru dalam 3 sampai 4 bulan terakhir jumlahnya meningkat mendekati jumlah untuk orang dewasa. Dalam 4-6 bulan pertama usia bayi.

Bayi yang sehat dan lahir cukup bulan yang diberi ASI eksklusif selama 6-9 bulan menunjukkan kecukupan kandungan hemoglobin dan zat besi yang normal. Mengandung zat anti dan kekebalan lain yang dapat mencegah berbagai penyakit infeksi terutama usus. 1995). ideal. 3. terutama pada usia enam bulan pertama. Mengurangi kejadian eksim atopik. Bayi mulai memproduksi antibodi sendiri pada usia sekitar 6 bulan. 5. dan penutupan usus biasanya terjadi pada saat yang sama. Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari anemia karena kekurangan zat besi Pengenalan suplemen zat besi dan makanan yang mengandung zat besi. fisiologis 2.usus terjadi. 5. mengurangi efisiensi penyerapan zat besi pada bayi. Para peneliti tidak berhasil menemukan adanya kasus anemia di tahun pertama pada bayi yang diberikan ASI eksklusif selama tujuh bulan dan akhirnya menyimpulkan bahwa memberikan ASI eksklusif selama tujuh bulan mengurangi resiko terjadinya anemia. yaitu bulanbulan pertama berat badan bayi dapat meningkat kurang lebih 30%. Nutrient yang diberikan selalu dalam keadaan segar dan suhu yang optimal dan bebas dari bakteri pathogen. 4. Mengandung nutrient yang lengkap dengan komposisi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan bayi yang sangat cepat. Makanan alamiah (natural). para peneliti menyimpulkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 7 bulan (dan tidak diberikan suplemen zat besi atau sereal yang mengandung zat besi) menunjukkan level hemoglobin yang secara signifikan lebih tinggi dalam waktu satu tahun dibandingkan bayi yang mendapat ASI tapi menerima makanan padat pada usia kurang dari tujuh bulan. Dalam suatu studi (Pisacane. ASI sangat bermanfaat karena mempunyai sifat sebagai berikut:(6) 1. 8 .

3. 6.Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah. . Oksitosin ini menyebabkan jaringan muskuler sekeliling alveoli berkontraksi yang dengan demikian mendorong ASI menuju ductus.Sedikit kemungkinan terjadi kontaminasi dan tidak terjadi kekeliruan dalam mempersiapkan makanan. mudah dan murah 2. 9 .Dan keuntungan bagi ibu yang menyusui adalah: 1.2 Produksi ASI Tanpa melihat apakah seorang ibu kelak akan menyusui bayinya atau tidak.Terdapat lactional infertility hingga memperpanjang child spacing.Praktis. 4. ASI dibagi menjadi 3.Memberi keuntungan pencegahan karsinoma payudara. dari masa laktasi.1. lebih kuning dibandingkan ASI matur. buah dada ibu telah dipersiapkan untuk laktasi oleh hormon-hormon yang disekresi selama kehamilan. Kolostrum . Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuningkuningan. Proses ini disebut dengan “let down” reflex.Mempercepat pengembalian besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum mengandung. 5. II.(7) Agar ASI dapat dikeluarkan. yaitu :(8) A. diperlukan hormon oksitosin yang disekresikan oleh glandula pituitaria posterior atas rangsangan isapan bayi. .Merupakan suatu laksatif yang ideal untuk membersihkan mekoneum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya. Selama kehamilan ini jumlah alveoli meningkat dan mengalami perubahan-perubahan guna mempersiapkan produksi ASI.Disekresi oleh kelenjar mammae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat.Menjalin hubungan psikologis yang erat antara ibu dan bayi.(7) Berdasarkan waktu diproduksinya.

juga berperan sebagai pelindung terhadap berbagai macam virus. 3. . Air susu matur . Komposisi ASI tidak tergantung pada status gizi ibu. kecuali status gizi ibu malnutrisi berat.ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya.000 kal lebih banyak dibandingkan kadar lisozim dalam susu sapi. Disekresi dari hari ke-4 sampai dengan hari ke-10 dari masa laktasi.3 Volume Produksi ASI(7) Volume ASI yang dikeluarkan berkisar antara 0. II. terutama bergantung pada kebutuhan bayi.5 – 1.000 – 5. Imunoglobulin : seperti lgA. pola pemberian ASI dan status gizi. lgD dan lgE. Bahkan menyusui hingga 2 tahun pun. kualitas ASI masih dipertahankan meskipun jumlahnya menjadi sangat kurang.5 liter/hari. Air susu masa peralihan (masa transisi) .Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. Lisozim : Terdapat dalam ASI sebanyak 6 – 300 ml/1.Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi. yaitu : 1. 2.B. lgM. tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke-3 sampai ke-5 barulah komposisi ASI konstan. tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI matur baru akan terjadi pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5. bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi. Enzim ini mempunyai fungsi bakteriostatik terhadap enterobakteria dan kuman gram (-). Laktoperiodase : enzim ini bersama dengan perokdase hidrogen dan tiosianat membantu membunuh streptococcus.4 Komposisi ASI(7) Komposisi ASI terdiri atas berbagai macam faktor proteksi. 10 . II. yang dikatakan komposisinya relatif konstan.1.000 ml dan kadarnya bisa meningkat hingga 3. C.1.

0 142. Laktdarierin dan transferin : protein-protein ini memiliki kapasitas mengikat Fe / zat besi dengan baik hingga mengurangi tersedianya zat besi bagi pertumbuhan kuman yang memerlukan.0 5.4 1:0. Lipase : merupakan zat antivirus. Dalam kolostrum terdapat konsentrasi C3 lebih tinggi hingga dalam keadaan aktif merupakan faktor pertahanan yang berarti.0 2. 8. Sel makrdariag dan netrdariil dapat melakukan fagositosis itu terhadap Stafilokokus.0 167. produksi kuman dan enzim. Faktor bifidus : merupakan karbohidrat yang mengandung nitrogen. seperti kuman E.0 364. Mempunyai konsentrasi di dalam ASI 40 kali lebih tinggi dibanding dengan konsentrasi yang ada di susu sapi.2 4.3 ASI 70.3 2. 7.4.2 SUSU SAPI 65. Komposisi Kolostrum. Komplemen C3 dan C4 terdapat dalam ASI. 9.0 330.0 7.9 (K. Faktor anti stafilokokus : merupakan asam lemak dan melindungi bayi terhadap penyerbuan stafilokokus. 5.5 187.0 218.3 4.coli patogen. Fungsi faktor ini untuk mencegah pertumbuhan organisme yang tidak diinginkan.9 1:1.0 161. E.9 11 . ASI dan Susu Sapi untuk setiap 100 ml ZAT-ZAT GIZI Energi Protein -Kasein/Whay -Kasein -Laktalbumin -Laktdarierin -Lg A -Laktosa -Lemak Vitamin (mg) (mg) (mg) (mg) (g) (g) 140.0 0. Komponen komplemen : sistem komplemen terdiri dari 11 protein serum yang dapat dibedakan satu sama lain dan dapat diaktifkan oleh berbagai zat seperti antibodi.8 3. 6.kal) (g) KOLOSTRUM 58.0 3.coli dan Candida albicans.

0 340.0 43.04 0.0 246.0 0.0 15. II.0 40.5 35.06 0.0 85.0 2.9 30.0 58.05 5. Dalam pelaksanaannya terutama 12 .1 0.0 57.07 6.0 40.02 0.6 0.5 Manajemen Laktasi(2) Manajemen laktasi adalah upaya.1.0 100.1 5.-Vitamin A -Vitamin B1 -Vitamin B2 -Asam Nikotinik -Vitamin B6 -Asam Pantotenik -Biotin -Asam Folat -Vitamin B12 -Vitamin C -Vitamin D -Vitamin E -Vitamin K Mineral -Kalsium -Klorin -Tembaga -Zat Besi (Fe) -Magnesium -Fosfor -Potassium -Sodium -Sulfur 1980 (µg) (µg) (µg) (µg) (µg) (µg) (µg) (µg) (mg) (mg) (µg) (µg) (µg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) 151.0 22.0 70.0 15.0 4.05 0.0 75.0 74.0 145.5 39.6 1. National Research Council Washington DC.0 4.0 30.0 145.0 0.0 120.0 70.9 1.1 0.0 130.0 14.25 1.0 14.0 14.0 40.0-15.13 0.0 48.0 0.0 Sumber : Food and Nutrition Board.0 41.0 82.0 12.0 160.0 75.0 1.8 0.0 40.0 14.upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui.0 183.0 64.0 12.0 108.

. .Membantu terjadinya kontak langsung antara ibu dan bayi selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal. .Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI. yaitu tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada payudara ibu. manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya. Di samping itu perlu dipantau ada kenaikan berat badan ibu hamil. . Pada masa menyusui selanjutnya (postnatal) .Memperhatian gizi / makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat sebelum hamil.Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi. . disamping bahaya pemberian susu botol. kehamilan dan payudara / keadaan puting susu. segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya. b.dimulai pada masa kehamilan. apakah ada kelainan atau tidak.Pemeriksaan kesehatan.Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menyusui yang baik dan benar.Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. . Dalam hal ini diperlukan keluarga.Perhatikan gizi / makanan ini menyusui. c. 13 . Adapun upaya-upaya yang dilakukan sebagai berikut : a.000 S) dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal) .Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200. Pada masa kehamilan (antenatal) .Perawatan payudara mulai usia kehamilan 6 bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup. perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum 8 gelas / hari. .

Memperhatikan gizi / makanan anak. Mungkin ASI belum keluar. Pada hari pertama jangan biarkan bayi menghisap terlalu lama untuk menghindarkan rasa sakit pada puting.1. mungkin juga oleh mulas (kolik. Perhatian dan dukungan keluarga penting terutama suami untuk menunjang keberhasilan menyusui. gerakan usus yang berlebihan.Menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bayi mereka..6 Cara Pemberian ASI(5) Ibu hendaknya duduk dengan enak di kursi dengan sandaran.Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menyusui seperti payudara banyak disertai demam. berikan MP ASI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas. terutama mulai 6 bulan. . walaupun sebagian besar ASI keluar pada 5 – 10 menit pertama dari tiap payudara. Sebaiknya harus diperhatikan bahwa bayi yang menangis tidak selalu disebabkan oleh rasa lapar. akan tetapi pengisapan ini memberi rangsangan bagi pembuatan ASI. II. Pada hari berikutnya bayi dapat menyusui selama 15 – 20 menit tiap kalinya.7 Lama Menyusui(9) Dalam dua hari pertama produksi ASI belum banyak hingga tidak perlu menyusui terlalu lama. akan tetapi jangan sampai lubang hidung bayi tertutup hingga sukar bernafas.Ibu menyusui harus istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat. cukup beberapa menit saja untuk merangsang keluarnya ASI. Gerakan puting susu di ujung mulut bayi untuk merangsangnya hingga puting akan dimasukkan ke dalam mulutnya dengan bibir menutup aerola. sedang sakit dan sebagainya). II. . hingga punggung ditunjang oleh sandaran tersebut.1. 14 . .

bubur susu. tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula. Sementara yang mendapat program makanan tambahan hanya 39 ribu anak. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini. ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. sebanyak 25. jeruk. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).2. bubur nasi dan nasi tim.2 Status Gizi Bayi II. Ir. Ali Khomsan. Lebih jauh.ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi selama enam bulan. Padahal. serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang. bersifat irreversible (tidak dapat pulih). Sementara klasifikasinya adalah normal. bila kondisinya kurang baik disebut stunted (pendek). Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). standar acuan status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U). air teh dan air putih. dan overweight (gemuk). Dr. underweight (kurus). biskuit. II. Data tahun 2007 memperlihatkan 4 juta balita Indonesia kekurangan gizi. Status gizi pada balita dapat diketahui dengan cara mencocokkan umur 15 . Menurut ahli gizi dari IPB. Ukuran tubuh yang pendek ini merupakan tanda kurang gizi yang berkepanjangan. madu.1 Pokok Pengertian Tentang Status Gizi Bayi(10) Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics). MS. Prdari.8 persen anak balita Indonesia pendek (SKRT 2004). otak tumbuh selama masa balita. Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan. kekurangan gizi dapat mempengaruhi perkembangan otak anak. Fase cepat tumbuh otak berlangsung mulai dari janin usia 30 minggu sampai bayi 18 bulan. 700 ribu diantaranya mengalami gizi buruk. dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Ditinjau dari tinggi badan.

kurang responsif. rambut kemerahan (pirang). anak cengeng. Nilai IMT diperoleh dengan menghitung berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan kuadrat (dalam meter persegi). Ali. tinggi badan. bila di bawah garis merah. status gizi orang dewasa menggunakan acuan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau disebut juga Body Mass Index (BMI). Di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Sebagai contoh orang bertinggi 1. IMT normal bila angkanya antara 18.6 meter. Artinya gizi buruk kondisinya lebih parah daripada gizi kurang. Perhatikan dulu umur anak. bila berat badannya kurang. dan gizi buruk bila Skor Z kurang dari -3. telah disediakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang juga bisa digunakan untuk memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva KMS.5. Lingkar kepala sering digunakan sebagai ukuran status gizi untuk menggambarkan perkembangan otak. dan lingkar kepala. Bila masih dalam batas garis hijau maka status gizi baik.5 dan 25. Menurut Prdari. Penyebab utama kurang gizi pada balita adalah kemiskinan sehingga 16 . Bedanya dengan balita. Gizi kurang adalah bila berat badan menurut umur yang dihitung menurut Skor Z nilainya kurang dari -2. Parameter ini dipakai menyeluruh di Posyandu. Sementara parameter status gizi balita yang umum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut umur. Balita penderita gizi kurang berpenampilan kurus. wajah moon face karena oedema (bengkak) atau monkey face (keriput). kurus bila kurang dari 18. dan gemuk bila lebih dari 25. maka berat badan ideal adalah 48-64 kg.anak (dalam bulan) dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS. maka status gizi buruk. Parameter yang umum digunakan untuk menentukan status gizi pada balita adalah berat badan. perut kadang-kadang buncit. maka status gizinya kurang. kemudian plot berat badannya dalam kurva KMS. untuk membedakan balita kurang gizi dan gizi buruk dapat dilakukan dengan cara berikut. Bila kurang gizi berlangsung lama akan berpengaruh pada kecerdasannya.

17 . Pemerintah harus meningkatkan kualitas Posyandu. Ali berpesan untuk memperhatikan asupan sayur dan pangan hewani (lauk pauk). Prdari. Penyebab lain adalah infeksi (diare). jangan terlalu banyak makanan cemilan (junk food) yang akan menyebabkan anak kurang nafsu makan. tapi harus diperbaiki dalam hal penyuluhan gizi dan kualitas pemberian makanan tambahan. Kurang gizi pada balita dapat berdampak terhadap pertumbuhan fisik maupun mentalnya. Perhatikan juga asupan empat sehat lima sempurna dengan kuantitas yang cukup. maupun pemerintah. jangan hanya sekedar untuk penimbangan dan vaksinasi. Untuk mengatasi kasus kurang gizi memerlukan peranan dari keluarga. Anak kelihatan pendek. dan lebih memperhatikan asupan makanan sehari-hari bagi anaknya. Semua nutrisi penting bagi anak dalam usia pertumbuhan.akses pangan anak terganggu. atau faktor tabu makanan dimana makanan bergizi ditabukan dan tak boleh dikonsumsi anak balita. kurus dibandingkan temantemannya sebaya yang lebih sehat. konsumsi susu tetap dipertahankan. pemerintah harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat agar akses pangan tidak terganggu. Para ibu khususnya harus memiliki kesabaran bila anaknya mengalami problema makan. praktisi kesehatan. ketidaktahuan orang tua karena kurang pendidikan sehingga pengetahuan gizi rendah. Anak-anak harus terhindar dari penyakit infeksi seperti diare ataupun ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Ketika memasuki usia sekolah tidak bisa berprestasi menonjol karena kecerdasannya terganggu.

2 – 2.6 3.6 4.2 – 2.2 4.7 – 4.3 – 5.7 – 4.4 – 4.9 2.0 3.3 5.5 3.9 4.3 5.0 7.9 – 5.2 2.5 – 7.8 – 2.2 9.0 4.8 Rujukan : WHO/NCHS Gizi buruk = <.9 2.4 9.4 3.7 4.4 Gizi Baik (Kg) 2.0 5.1 – 7.3 2.1 5.8 2.0 3.4 5.2 – 3.5 Gizi Kurang (Kg) 1.6 4.1 6.6 4.6 – 3.2 – 3.8 7.0 – 8.3SD : Gizi Kurang : -3SD sampai – 2SD sampai – 2SD : Gizi Baik : -2 SD sampai + 2 SD : Gizi lebih : > + 2SD Gizi Kurang (Kg) 2.8 Gizi Baik (Kg) 2.5 3.7 – 3.8 – 5.9 – 6.2 3.7 Gizi Lebih (Kg) 4.9 Gizi Lebih (Kg) 4.7 2.6 5.0 – 2.1 – 4.TABEL BUKU RUJUKAN PENILAIAN STATUS GIZI ANAK PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI USIA 0-6 BULAN MENURUT BERAT BADAN DAN UMUR (BB/U) ANAK PEREMPUAN Umur (bulan) 0 1 2 3 4 5 6 Gizi Buruk (Kg) 1.5 – 6.5 – 8.6 – 5.1 2.9 – 5.1 3.7 8.7 8.1 7.8 3.4 4.8 18 .9 4.5 9.3 – 6.1 2.2 4.7 – 8.3 – 9.7 2.9 – 9.6 4.1 2.0 3.1 – 4.6 6.0 ANAK LAKI-LAKI Gizi Buruk (Kg) 1.0 3.

9 5.5 3.2 5.1553 0.3 1 SD 3.12274 0.9 1 SD 3.2 5.3 7.7 6. B= Birth weight.5 5.0 4.13000 0.8 2 4 5 7 8 8 9 9 WHO Child Growth Standard Weight-for-age GIRLS Birth to 6 months (z-scores) Month 0 1 2 3 4 5 6 L 0.9 7.0 6.0430 -0.6 6.8 5.8 5.4237 6.8 3.1970 0.1 6.14171 0.3487 0.0 5.0050 -0.2 2 4 5 6 7 8 8 9 WHO Child Growth Standard II.1738 0.9 5.9 4.7 7.8985 7.2297 0.9 5.3 7.1714 0.0962 0.9 4.11316 0.1257 M 0.1282 5.8 8.2970 S 0.10958 -3SD 2.3 5.2 6.7 -2SD 2.12385 0.4 3.0 7.3 Penilaian Perkembangan Bayi(11) Perkembangan bayi sampai usia 6 bulan dapat dinilai dengan metode ABC.2 3.12402 0.3487 0.11080 0.Weight-for-age BOYS Birth to 6 months (z-scores) Month 0 1 2 3 4 5 6 L 0.0 2. Berat badan bayi 19 .7 Z-Scores (weight in kg) -1SD 2.7 3.1395 0.8 8.12619 0.karena dengan demikian dapat dinilai perkembangannya. Setiap bayi berkembang secara individual dan akan mengikuti perkembangan yang sama dengan bayi-bayi yang lain.7 6.2322 4.2 4.9 3.4 5.4 4.14602 0.11727 0.5 Median 3.1395 0.1 5.1970 0.8 6.2 7.0756 M 3. yaitu: A= Average.0402 -0.7 4.13395 0.3 5.12204 -3SD 2. Perkembangan rata-rata Bayi yang lahir dibandingkan dengan rata-rata berat dan panjang bayi secara umum dari pertama kali dilahirkan.8 4.6 7.4 Z-Scores (weight in kg) -1SD 2.1738 0.1873 5.8 6.2297 0.3 4.1 6.3809 0.6 4.8458 6.1 2.4 4.13724 0.4 4.6 6.1553 0.1257 S 0.1 Median 3.4 8.4 6.1 -2SD 2.9 3.5 5.4 7.4 4.0 5.5 5.5 7.

tinggi badan dan lingkar kepala adalah hal-hal yang terdapat didalam KMS (Kartu Menuju Sehat). misalnya pada ibu yang menderita Diabetes Melitus. juga pada bayi prematur walaupun perkembangannya membutuhkan waktu lebih lama. tetapi bukanlah suatu petunjuk bagaimana perkembangannya pada bulan-bulan berikutnya. D= Diet. Bayi berkembang tercepat pada saat masih dikandungan pada usia 4 bulan C= Centile Chart. Kartu Menuju Sehat Berat badan bayi. Balita membutuhkan lebih banyak makanan kecil dibandingkan dewasa karena mereka tidak dapat makan dalam jumlah besar. Pemberian makanan yang terlalu banyak atau terlalu 20 . Genetik juga mempengaruhi metabolisme dan bentuk tubuh. yang dapat diisi oleh tenaga kesehatan pada setiap kali pemeriksaan rutin. susu. belum tentu akan berkembang lebih besar dari anak lain pada usia yang sama.walaupun makanan memainkan peranan penting dalam mempertahankan kesehatan dan bentuk fisik. Diet Bayi memerlukan asupan kalori yang banyak terutama pada usia pertumbuhan dan pada saat belajar jalan. Hindari membuat anak menjadi terlalu gemuk karena DM tipe II dapat berkembang dari Obesitas. belum tentu memiliki tubuh yang kecil dibandingkan dengan anak lain pada usia yang sama. Berikanlah makanan yang menyehatkan seperti buah. Secara rata-rata Berat Badan bayi akan naik dua kali lipat pada usia enam bulan dan tiga kali lipat pada usia pertamanya dibandingkan saat lahirnya.Berat badan bayi pada saat lahir dapat dianggap berpengaruh pada perkembangannya. G= Genetik Pertumbuhan bayi juga dipengaruhi tinggi dan berat dari ibu dan ayah si bayi. yoghurt dan mentega. Beberapa bayi lahir dengan ukuran yang besar.keju.

P=Problem.sJika anak anda kurang tinggi dari garis normal pada KMS pada tiga kali pembacaan lebih baik dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.Yang dilihat pada KMS adalah perkembangan keatas dalam grafik berwarna yang sama.terutama pada usia enam sampai tujuh tahun.sedikit dapat membuat berat badan bayi menjadi dibawah atau diatas berat badan rata-rata. Dorongan pertumbuhan yang cepat Semua bayi dan Balita dapat mengalami pertumbuhan yang cepat dan mereka membutuhkan asupan gizi yang banyak. Bayi membutuhkan dua setengah sampai tiga kali lipat kalori lebih banyak sesuai berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa 21 . Tinggi Badan Pengukuran tinggi badan anak dilakukan setiap 6 bulan dari usia 18 bulan sampai usia masuk sekolah. atau bahkan turun berat badannya. Lambatnya peningkatan berat badan dan tinggi badan bisa menunjukkan adanya suatu yang salah pada bayi.dan mengalami peningkatan berat badan dan tinggi yang pesat. H= Height. Bahkan bisa jadi mereka menolak tidur siang.bukan naik turunnya pada grafik yang berbeda atau berada jauh dari grafik normalnya. Anak dan bayi tidak boleh diberikan komposisi diet yang sama dengan orang dewasa karena adanya perbedaan kebutuhan gizi S = Spurts. walaupun kebanyakan disebabkan masalah gizi.dan juga pada saat pubertas. Masalah Bayi pada usia awal bisa saja tidak mendapat kenaikan berat badan.

4 KARTU MENUJU SEHAT(12) Kartu menuju sehat adalah suatu kartu yang berisikan rekomendasi tentang standar pertumbuhan. 22 .4. prototipe grafik pertumbuhan dan petunjuk cara peggunaan grafik pada pelayanan kesehatan.4.1 Jenis Pengukuran Panjang atau tinggi badan Panjang atau tinggi badan adalah merupakan ukuran yang sangat stabil dan dapat diketahui riwayat kesehatan anak secara keseluruhan.1 Prinsip Pengawasan Pertumbuhan dan Grafik Pertumbuhan II. sehingga tidak dapat dipakai untuk mengindikasikan adanya gangguan pada kesehatan. Lingkar lengan juga dapat dipakai sebagai alat ukur untuk menilai derajat kekurusan.II. selain itu ketepatannya dapat dipercaya. Untuk pemantauan perkembangan seorang anak berat badan menurut tinggi badan tidak mempunyai kelebihan dibandingkan berat badan menurut usia. tetapi perubahannya sangat lambat pada penggunaan dalam pemantauan pertumbuhan Lebih lanjut panjang atau tinggi badan tidak menurun. II. Kerugian yang mungkin terjadi adalah jika dikacaukan dengan pembengkakan/oedema.1. Berat badan menurut Tinggi badan Menghubungkan berat badan anak dengan tinggi badan merupakan pengukuran objektif derajat kekurusan anak yang bisa didapatkan. Lingkar badan Lingkar kepala atau dada mempunyai kepentingan klinis khusus. Berat badan menurut usia Perubahan berat badan dapat diamati pada masa tenggang beberapa hari.

4. Pengukuran pertama dilakukan segera setelah melahirkan. Karena lebih muda anak lebih cepat pertumbuhannya dan lebih peka terhadap penyimpangannya. Yang baik anak-anak harus ditimbang sekurang-kurangnya sekali sebulan selama tahun pertama. II. setiap dua bulan pada tahun kedua. Juga adanya pembagian ruang yang cukup untuk keterangan pada tiga tahun pertama dan ruang yang dipersempit pada usia keempat dan kelima. sehingga pertumbuhan dapat diikuti secara grafis dalam perbandingan dengan standar rujukan. Anak yang kecil pada saat lahir. Sumbu horizontal memperlihatkan usia anak. jika tidak disebabkan prematuritas atau gangguan gizi biasanya akan tetap berukuran kecil dimana berat badan anak akan mengikuti kurva yang berjalan sejajar tetapi dibawah median.1. Sehingga pengukuran harus dibuat secara berkala. dan penimbangan harus dilakukan lebih sering pada usia dini tersebut. biasanya kilogram. Selain itu anak harus ditimbang dan dicatat pada saat anak dibawa ke puskesmas/ posyandu.2 Waktu Pengukuran Pengukuran berat badan seorang anak hanya sekali saja sangat sulit ditafsirkan tanpa informasi tambahan. Kurva yang berjalan dari berat badan kelahiran bayi ditandai pada kolom pertama grafik pada 23 .4.4. Satuan berat badan ditulis dalam sumbu vertikal.1.Cara penggunaan Grafik pertumbuhan dalam pemantauan kesehatan anak Grafik harus digunakan sejak kelahiran. biasanya mulai lahir sampai usia 5 tahun dibagi perbulan dan pembagian setiap bulan. II.dan setiap tiga bulan pada tahun berikutya sampai usia lima tahun.4.1.II.3 Jenis Grafik Gambaran penting grafik pertumbuhan adalah suatu grafik dimana berat badan dicantumkan sesuai dengan usia.

setinggi berat badan yang dimaksud ke titik yang menunjukkan penimbangan berat badan berkala berikutnya. dan merupakan indikator yang paling penting dari keadaan kesehatan dan gizi anak tersebut. 24 .

BAB III KERANGKA KONSEP. VARIABEL PENELITIAN. . 25 .1 Pemberian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi selama 6 bulan tanpa memberi makanan lain.3.Variabel Dependen / Tergantung Variabel tergantung pada penelitian ini adalah status gizi bayi usia 6 bulan.2 Variabel Penelitian .Variabel Independen / Bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. III. DAN DEFINISI OPERASIONAL III.1 Kerangka Konsep Tingkat Pendidikan Ibu Tingkat Pengetahuan Tentang ASI eksklusif Kontinuitas Pemberian ASI Eksklusif Faktor Penghambat Status Gizi Bayi Usia 6 Bulan III.3 Definsi Operasional III.

3. III. Dibagi menjadi rendah.4 Tingkat Pengetahuan Tentang ASI Eksklusif Tingkat pengetahuan tentang asi eksklusif adalah tingkat pengetahuan ibu tentang pengertian dan manfaat ASI eksklusif.3.III.6 Kontinuitas Kontinuitas pada ibu pekerja yang tetap memberikan ASI eksklusifnya secara teratur. III. III. dengan pengambilan data melalui KMS. SMP. 26 . dan baik. Universitas.3.2 Status Gizi Bayi 6 Bulan Status gizi bayi. III.3.3. cukup. Dibagi menjadi tidak sekolah. SD. pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National Center for Health Statistics) dan WHO.3 Tingkat Pendidikan Ibu Tingkat pendidikan ibu adalah pendidikan formal terakhir dari Ibu bayi yang dijadikan responden. kurang.5 Faktor Penghambat Faktor penghambat merupakan faktor-faktor yang menyebabkan ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. SMA.

IV.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik studi cross sectional. IV.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang pada tanggal 30 Maret 2009 hingga 24 April 2009.96 p = prevalensi/proporsi kelompok yang menderita penyakit/peristiwa yang diteliti 27 .12 bulan.984 x 0.3 Populasi Penelitian Ibu-ibu yang mempunyai bayi usia 6 – 12 bulan yang memenuhi kriteria inklusi pada wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang.BAB IV METODE PENELITIAN IV.01)2 = 605 sampel no = besar sampel optimal yang dibutuhkan studi Z = pada tingkat kemaknaan 95% besarnya 1.96)2 x 0. IV.4 Sampel Penelitian Sampel penelitian (untuk pemberian asi eksklusif) diambil dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus infinit : z2 x p x q no = d2 (1. melalui observasi dan kuisioner pada ibu-ibu yang memiliki bayi usia 6 .016 = (0.

q= prevalensi/ proporsi kelompok yang tidak menderita penyakit/peristiwa yang diteliti. Yang dilakukan untuk mencari efek pemberian asi eksklusif terhadap status gizi bayi usia 6 bulan. Sampel yang diambil harus memenuhi kriteria inklusi. d = akurasi dari ketepatan pengukuran Kemudian dikoreksi besar sampel untuk populasi yang dengan rumus finit : no n= 1 + (no/N) 605 = 1 + (605/ 144) = 116 sampel n = besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi finit no = besar sampel dari populasi yang infinit N = besar sampel populasi finit Sampel penelitian yang dipakai sebagai kontrol yang dilakukan kepada bayi yang diberikan makanan tambahan (PMT) diambil sesuai dengan hasil perhitungan sample untuk pemberian ASI eksklusif yaitu sebesar 116 sample. lahir cukup bulan. Pengambilan responden dilakukan pada masing-masing 1 Rukun Warga (RW) di setiap kelurahan yang ada di wiliyah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan secara proporsional. berat badan > 2500 g dan bayi sehat). 28 . dimana setiap peneliti mengadakan observasi dan kuisioner pada bayi usia 6 – 12 bulan. IV.5 Cara Pengambilan Sampel Penelitian dilakukan oleh 3 orang. yaitu persalinan normal (bayi tunggal. bayi lahir spontan. Bayi yang memiliki kelainan kongenital (cacat bawaan) tidak diikutsertakan dalam penelitian (kriteria ekslusif).

. KMS. Buku rujukan yang bersumber dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan WHO.Data primer. pengujian dilakukan dengan uji chi-square terhadap rasio prevalensi. IV.8 Pengolahan Data Data-data yang diperoleh akan dilakukan pengolahan data dengan tahapan sebagai berikut : -Editing data isi kuesioner -Pengelompokkan data : Seluruh jawaban dikelompokkan per variabel -Tabulasi IV.Data tersier.6 Cara Pengumpulan Data . diperoleh dari pengisian kuesioner dan observasi terhadap ibu bayi usia 6 – 12 bulan yang melakukan pemberian asi eksklusif dan memiliki KMS atau catatan perkembangan gizi bayi yang dilakukan oleh posyandu setiap bulannya serta ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif sebagai perbandingan. diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan. .Data sekunder.10 Penyajian Data : Pengolahan data dilakukan secara manual : Memeriksa ulang kelengkapan 29 . Tabel WHO-NCHS dan WHO C. Kuesioner. IV.IV.9 Analisis Data Untuk menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi. jurnal dan internet (situs) yang diakui keabsahannya IV. diperoleh dari buku-buku. B. D.7 Instrumen Penelitian A.

119) 30 .M. Nugroho Abikusno.261) Ivan Ferdian (030. Grafikal : Penyajian data dengan mengggunakan grafik. Penyusun dan pelaksana penelitian Jackson. MSc. dr. R. IV. Friana Asmely C.99.Tekstural : Penyajian data hasil penelitian menggunakan kalimat.01. Tabular : Penyajian data dengan menggunakan tabel. B.076) Teguh Wibowo (030.T (030.97.11 Organisasi Penelitian A. Pembimbing dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti : Dr. Pembimbing dari Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan : dr.

kami mendapatkan 183 orang responden yang terdiri dari 89 orang responden yang melakukan pemberian ASI eksklusif dan 94 orang responden yang tidak melakukan pemberian ASI eksklusif sebagai kontrol dan pembanding dari rencana semula yaitu 232 orang responden yang terdiri dari 116 orang responden yang memberikan ASI eksklusif dan 116 responden yang tidak memberikan ASI eksklusif sebagai pembanding di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan pada periode April 2009. Karena kurangnya jumlah responden. Pengambilan sampel dilakukan pada masing-masing 1 Rukun Warga (RW) pada setiap wilayah kerja puskesmas kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan. 31 . kamu juga melebarkan usia dari sampel kami menjadi antara 6 hingga 24 bulan. namun masih dengan syarat pernah ke posyandu dan memiliki KMS yang berisi data ketika usia 6 bulan. Kekurangan jumlah responden dari rencana semula dikarenakan kurangnya jumlah sampel (jumlah anak antara 6 hingga 12 bulan) juga karena karena keterbatasan waktu. Pemilihan RW didapatkan berdasarkan jumlah bayi usia antara 6 bulan hingga 12 bulan terbanyak menurut data yang kami dapat dari puskesmas kelurahan. Wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Bangka tidak kami sertakan karena kami tidak mendapatkan data jumlah bayi usia antara 6 bulan hingga 12 bulan di puskesmas tersebut.BAB V HASIL PENELITIAN Dari penelitian yang telah kami lakukan.

Tabel 2.7%) 43 (48. Jenis kelamin bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009.6% dari total). Jenis Kelamin * Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan ASI Eksklusif 49 (52.0%) SMP (N (%)) 16 (17.4%) 54 (60.Data Pribadi Tabel 1. sedangkan jumlah bayi berjenis kelamin perempuan sebanyak 45 bayi atau sebanyak 47. jumlah bayi yang tidak diberikan ASI ekslusif yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 49 bayi atau sebanyak 52.9%) 94 Diberikan ASI Eksklusif 46 (51.3% (23.1% (26.3%) 89 Total 95 88 183 Jenis Kelamin Laki-laki (N (%)) Perempuan (N (%)) Total Dari tabel di atas.1%) 45 (47. Pendidikan ayah dari bayi menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009.7% (25. Pendidikan Ayah * Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ayah Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan ASI Diberikan Eksklusif ASI Eksklusif Tidak Sekolah (N (%)) 0 (0%) 1 (1.8% dari total).0%) 14 (15.1%) SD (N (%)) 9 (9.6%) 8 (9.5% dari total).7%) Universitas (N (%)) 15 (16.7%) Total 94 89 Total 1 17 28 108 29 183 32 .9% (24. sedangkan jumlah bayi berjenis kelamin perempuan sebanyak 43 bayi atau sebanyak 48.1% dari total). Sementara jumlah bayi yang diberikan ASI ekslusif yang berjenis kelamin lakilaki sebanyak 45 bayi atau sebanyak 51.0%) 12 (13.5%) SMA (N (%)) 54 (57.

9% dari 33 .7% dari total) dan SMA terdapat 54 orang atau sebanyak 57. Tabel 3.5% dari total). pendidikan ibu bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang ada 1 orang atau sebanyak 1. Sedangkan pendidikan ayah bayi yang diberikan ASI eksklusif yang tidak sekolah ada 1 orang atau sebanyak 1.1%) Total 94 89 Significance : 0.6% (4.5%) 55 (61.2) 16 (18.9% dari total).6% dari total) dan SMA terdapat 54 orang atau sebanyak 60.7% (29.0%) SMA (N (%)) 55 (58. pendidikan ayah bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang tidak sekolah tidak ada atau sebanyak 0% (0% dari total).0%) SMP (N (%)) 19 (20. sedangkan yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ada 9 orang atau sebanyak 9. Pendidikan ayah bayi hingga ke tingkat universitas mencapai 15 orang atau sebanyak 16% (8.5% (6.7% (7.1%) SD (N (%)) 9 (9.1% (0.5% dari total).094 Total 2 17 35 110 19 183 Dari hasil di atas. Sementara pendidikan ayah bayi hingga SMP terdapat 12 orang atau sebanyak 13.5% dari total).4% (29.6) 9 (10. Pendidikan Ibu * Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak Sekolah (N (%)) 1 (1.1%) 1 (1. sedangkan yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ada 9 orang atau sebanyak 9.4% dari total).Dari hasil di atas.7% dari total). Pendidikan ibu dari bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009. Sementara pendidikan ayah bayi hingga SMP terdapat 16 orang atau sebanyak 17% (8.6%) 8 (9.2% dari total).5% dari total). sedangkan yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ada 8 orang atau sebanyak 9% (4.8%) Universitas (N (%)) 10 (10.6% (4.1% (0. Pendidikan ayah bayi hingga ke tingkat universitas mencapai 14 orang atau sebanyak 15.

3% dari total).4%) 4 (4.6%) 6 (6.1% dari total).0%) 35 (39. Pendidikan ibu bayi hingga ke tingkat Universitas mencapai 9 orang atau sebanyak 10.2% (10.5% dari total).8% dari total).6% (5.4% (3.6% (22.1% dari total). Jumlah bayi dengan berat badan lahir 3501 hingga 4000 gram adalah 7 bayi atau sebanyak 7.7% dari total) dan SMA terdapat 55 orang atau sebanyak 61. Sementara pendidikan ibu bayi hingga SMP terdapat 16 orang atau sebanyak 18% (8. Berat Badan Lahir * Pemberian ASI Eksklusif Berat Badan Lahir Pemberian ASI Eksklusif (gr) Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif < 2500 (N (%)) 9 (9.4% (3.6%) 30 (33. Sedangkan jumlah bayi dengan berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 6 bayi atau sebanyak 6.5% (30. Sementara pendidikan ibu bayi hingga SMP terdapat 19 orang atau sebanyak 20. Berat badan lahir bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009.5% dari total).4% dari total).7%) > 4000 (N (%)) 6 (6.9% dari total). Sedangkan pendidikan ibu bayi yang diberikan ASI eksklusif yang tidak sekolah ada 1 orang atau sebanyak 1.total). Sementara jumlah 3001 hingga 3500 gram adalah 31 bayi atau sebanyak 33% (16.5%) Total 94 89 Total 15 71 66 21 10 183 Jumlah bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram adalah 9 bayi atau sebanyak 9.4% dari total) dan SMA terdapat 55 orang atau sebanyak 58.9% dari total).1% (4. Pendidikan ibu bayi hingga ke tingkat Universitas mencapai 10 orang atau sebanyak 10.4%) 14 (15.1% (0.7%) 2500 – 3000 (N (%)) 41 (43.8% (30. sedangkan yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar ada 8 orang atau sebanyak 9% (4.6% (4.9% dari total).7%) 3001 – 3500 (N (%)) 31 (33. Tabel 4.3%) 3501 – 4000 (N (%)) 7 (7. 34 .4% dari total). Berat badan lahir bayi antara 2500 hingga 3000 gram adalah 41 bayi atau sebanyak 43.

7% (16. Jumlah bayi dengan berat badan lahir 3501 hingga 4000 gram adalah 14 bayi atau sebanyak 15. Yang lahir di puskesmas adalah 11 orang.3% dari total). Yang lahir di puskesmas adalah 10 orang.0%) Puskesmas (N (%)) 10 (10. Sementara jumlah 3001 hingga 3500 gram adalah 35 bayi atau sebanyak 39. Tabel 5.1% dari total).3%) 43 (48.3%) Total 94 89 Total 7 61 21 94 183 Berdasarkan tabel. Yang lahir di rumah sakit adalah 32 bayi.3% (19.3%) 3 (3.7% (7. Sedangkan jumlah bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang lahir di dukun anak adalah 3 bayi.Jumlah bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram adalah 6 bayi atau sebanyak 6.6%) 11 (12. Tempat lahir bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Tempat Lahir * Pemberian ASI Eksklusif Tempat Lahir Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif Dukun Anak (N (%)) 4 (4.4%) Rumah Sakit (N (%)) 29 (30. serta yang lahir di bidan adalah 51 orang. serta yang lahir di bidan adalah 43 orang. Berat badan lahir bayi antara 2500 hingga 3000 gram adalah 30 bayi atau sebanyak 33. jumlah bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang lahir di dukun anak adalah 4 bayi.7% (3. Yang lahir di rumah sakit adalah 29 bayi.4%) Bidan (N (%)) 51 (54.4% dari total).5% (2.9%) 32 (36. 35 .7% dari total). Sedangkan jumlah bayi dengan berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 4 bayi atau sebanyak 4.2% dari total).

000 rupiah adalah 24 keluarga atau sebanyak 25.5%) 25 (28.9% dari total). 36 .000.000.3% dari total).000 (N (%)) 24 (25.5% (13.1% (18% dari total).000 rupiah adalah 25 keluarga atau sebanyak 28. Penghasilan keluarga bayi yang mencapai 1. Penghasilan keluarga bayi yang mencapai 1.000 rupiah adalah 6 keluarga atau sebanyak 6.4% (3.000 (N (%)) 6 (6.000.8%) > 1.000 rupiah adalah 33 keluarga atau sebanyak 35.7%) 500.7% (3.500.500.000 hingga 1.000 (N (%)) 31 (33.000.7 dari total).1% dari total). Penghasilan keluarga bayi yang mencapai 500.4%) 6 (6.000 rupiah adalah 6 keluarga atau sebanyak 6. penghasilan keluarga bayi yang mencapai 100.1%) 23 (25.500.000 hingga 1.000 hingga 1.000 – 1.3% dari total). sementara keluarga bayi yang memiliki penghasilan lebih dari 1.Tabel 6. sementara keluarga bayi yang memiliki penghasilan lebih dari 1.1% dari total).3%) 1.3% (19. Penghasilan keluarga bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Penghasilan Keluarga * Pemberian ASI Eksklusif Penghasilan Keluarga Pemberian ASI Eksklusif (Rp) Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif 100.000.000 (N (%)) 33 (35.000 – 1.500.000 hingga 500.0%) 35 (39.000 – 500.000 rupiah adalah 35 keluarga atau sebanyak 39.6% dari total). penghasilan keluarga bayi yang mencapai 100. Berdasarkan tabel.1%) Total 94 89 Total 12 66 56 49 183 Berdasarkan tabel.500.1% (13.000 hingga 1.000 rupiah adalah 23 keluarga atau sebanyak 25.500.000.8% (12.000 hingga 500. Penghasilan keluarga bayi yang mencapai 500.000 rupiah adalah 31 keluarga atau sebanyak 33% (16.

Memiliki anak 4 sebanyak 3 keluarga atau sebanyak 3.2%) 25 (26.Tabel 7. 37 .1% (13.6% dari total).6% (13. Memiliki anak 3 sebanyak 14 keluarga atau sebanyak 14.4%) 14 (14.5%) 3 (3. Dari tabel dapat dilihat jumlah anak pada keluarga bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang memiliki anak lebih dari 5 adalah 1 keluarga atau sebanyak 1.5% dari total).7% dari total). Jumlah anak pada keluarga bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Jumlah Anak * Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan ASI Diberikan Eksklusif ASI Eksklusif 1 (1.2% (9.1% (1.1%) 38 (42. Memiliki anak 2 sebanyak 25 keluarga atau sebanyak 26.1%) 1 (1.1%) 4 (4.1%) 2 (2.1% (26.2%) 3 (3.7% dari total).1% (0. Memiliki anak 1 sebanyak 49 keluarga atau sebanyak 52.8% dari total). Memiliki anak 1 sebanyak 38 keluarga atau sebanyak 42.8% dari total).8% dari total).5% (2.1%) 49 (52.7% (20.1% (0.1% (1.7% dari total).7%) 94 89 Jumlah Anak > 5 (N (%)) 5 (N (%)) 4 (N (%)) 3 (N (%)) 2 (N (%)) 1 (N (%)) Total Total 2 6 6 32 50 87 183 Dari tabel dapat dilihat jumlah anak pada keluarga bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang memiliki anak lebih dari 5 adalah 1 keluarga atau sebanyak 1.2% dari total).5% dari total).9% (7. Memiliki anak 3 sebanyak 18 keluarga atau sebanyak 20.1% dari total). Memiliki anak 4 sebanyak 3 keluarga atau sebanyak 3.9%) 18 (20.4% (1. Memiliki anak 5 sebanyak 2 keluarga atau sebanyak 2.6% dari total).6%) 25 (28. Memiliki anak 2 sebanyak 25 keluarga atau sebanyak 28. Memiliki anak 5 sebanyak 4 keluarga atau sebanyak 4.

0%) 5 (5.6% (2.3%) Baik (N (%)) 37 (39.8% dari total).7% dari total).7%) Total 94 89 Significance : 0.3%) Cukup (N (%)) 19 (20.2%) 19 (21.4%) 27 (30. Pengetahuan cukup 19 ibu atau sebanyak 20. Pengetahuan cukup 19 ibu atau sebanyak 21.4% (12% dari total).3% (10.4% dari total). Tingkat pengetahuan ibu bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Tingkat Pengetahuan * Pemberian ASI Eksklusif Tingkat Pengetahuan Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif Rendah (N (%)) 16 (17.2% (10.4%) 38 (42.7% dari total).3% (14.4% (20.8% dari total).2% dari total).7% (20. Sedangkan yang pengetahuan akan ASI eksklusifnya baik adalah 38 ibu atau sebanyak 42. Sementara jumlah ibu yang memiliki bayi yang diberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan rendah tentang ASI eksklusif 5 ibu atau sebanyak 5. 38 .6%) Kurang (N (%)) 22 (23. Pengetahuan kurang 22 ibu atau sebanyak 23.104 Total 21 49 38 75 183 Dari hasil tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah ibu yang memiliki bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan rendah tentang ASI eksklusif 16 ibu atau sebanyak 17% (8. Pengetahuan kurang 27 ibu atau sebanyak 30. Sedangkan yang pengetahuan akan ASI eksklusifnya baik adalah 37 ibu atau sebanyak 39.Tingkat Pengetahuan Tabel 8.4% dari total).

39 .1%) 21 49 38 Pendidikan Ibu Tidak sekolah (N (%)) SD (N (%)) SMP (N (%)) SMA (N (%)) Universitas (N (%)) Total Significance: 0.7%) 46 (41. Ibu yang berpendidikan SMP dan berpengetahuan rendah ada 2 orang (5.1%) 75 Total 2 17 35 110 19 183 Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa ada 2 ibu yang tidak sekolah dan memiliki pengetahuan rendah.9%) 9 (25.939 Baik 0 (0%) 5 (29.7%) 11 (10.4%) 2 (5. dan berpengetahuan baik ada 5 orang (29.2%).8%) 8 (42. dan yang berpengetahuan baik ada 46 orang (41. kurang ada 8 orang (22.9%).1%) 3 (15. Tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Pendidikan Ibu *Tingkat Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Rendah Kurang Cukup 2 (100%) 0 (0%) 0 (0%) 2 (11.7%).Tabel 9.1%). cukup ada 20 orang (18.8%).2%) 4 (21. cukup ada 9 orang (25.7%).7%) 8 (22.7%).8%).4%). kurang ada 33 orang (30%). Ibu yang berpendidikan hingga tingkat Universitas dan berpengetahuan rendah ada 4 orang (21.8%) 4 (21.0%) 33 (30.4%) 16 (45. berpengetahuan cukup ada 5 orang (29.0%) 20 (18.1%). Sementara yang yang berpendidikan setingkat SD dan memiliki tingkat pengetahuan yang rendah ada 2 orang (11. cukup ada 4 orang (21. dan yang berpengetahuan baik ada 8 orang (42. Ibu yang berpendidikan SMA dan berpengetahuan rendah ada 11 orang (10%).4%). kurang ada 3 orang (15.8%) 5 (29.8%). kurang ada 5 orang (29.4%) 5 (29. dan yang berpengetahuan baik ada 16 orang (45.4%).1%).

4%).7%).2%) waktunya diberi ASI Lainnya 3 (3.7%) Total 94 Alasan PMT 40 .1%) Produksi ASI Berkurang (N (%)) 55 (58.2%) dan melanjutkan pemberian ASI eksklusifnya dengan cara lainnya ada 3 orang (3.6%).7%) Pulang bila 2 (2.ASI Eksklusif Tabel 10.4%) Total 89 Dari tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ibu dari bayi yang di berikan ASI eksklusif yang tidak bekerja adalah 78 ibu (87. Ibu yang bekerja dan melanjutkan pemberian ASI eksklusifnya dengan dipompa ada 6 ibu (6.5%) Lainnya (N (%)) 11 (11. pulang bila waktunya diberi ASI ada 2 ibu (2.5%) Susu Formula Lebih Baik (N (%)) 3 (3.6%) Bekerja (N (%)) Dipompa 6 (6.2%) Ibu Sakit (N (%)) 2 (2. Pekerjaan ibu dan kontinuitas pemberian ASI eksklusif ibu bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Pekerjaan Ibu dan Kontinuitas Pemberian ASI Eksklusif Pekerjaan Ibu Pemberian ASI Eksklusif Diberikan ASI Eksklusif Tidak Bekerja (N (%)) 78 (87. Non ASI Eksklusif Tabel 11. Alasan pemberian makanan tambahan pada bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Alasan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan ASI Eksklusif Ibu Bekerja (N (%)) 23 (24.

8% dari total).Dari tabel di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif karena ibu bekerja ada 23 orang (24. Usia 3 hingga 4 bulan ada 16 bayi atau sebanyak 17% (8. Sedangkan dibawa ke posyandu saat usia 0 hingga 2 bulan ada 71 bayi atau sebanyak 79.5). Sedangkan karena ibu sakit sehingga takut menularkan pada bayinya ada 2 orang (2.7% dari total). Sementara alasan lainnya ada 11 orang (11.8% (38.1%). 41 . Usia 3 hingga 4 bulan ada 11 bayi atau sebanyak 12. karena merasa susu formula lebih baik dari asi ada 3 orang.5%).9%) 3 – 4 Bulan (N (%)) 16 (17.8%) Total 94 89 Total 19 27 137 183 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yang dibawa ke posyandu pada usia 5 hingga 6 bulan ada 12 bayi atau sebanyak 12.7%). Status Gizi Tabel 12.0%) 11 (12.2% (36.2%) 71 (79. Usia bayi ketika pertama kali dibawa ke posyandu yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Bayi Dibawa ke Posyandu *Pemberian ASI Eksklusif Bayi Dibawa ke Posyandu Pemberian ASI Eksklusif Tidak Diberikan Diberikan ASI Eksklusif ASI Eksklusif 5 – 6 Bulan (N (%)) 12 (12.9% (3.8% dari total).4%) 0 – 2 Bulan (N (%)) 66 (70. Sementara pada bayi yang diberikan ASI eksklusif.8% (6.1% dari total). Alasan karena produksi ASI ibu berkurang ada 55 orang (58. Sedangkan dibawa ke posyandu saat usia 0 hingga 2 bulan ada 66 bayi atau sebanyak 70.4% (6% dari total).8% dari total). saat pertama kali dibawa ke posyandu pada usia 5 hingga 6 bulan ada 7 bayi atau sebanyak 7.8%) 7 (7.

4% (3.1% (0.5% dari total).4%) 86 (96. Tabel 14.5%) 83 (88.1%) 6 (6.5% dari total). Sementara status gizi bayi yang diberikan ASI eksklusif.1% (0. yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk tidak ada. Yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang ada 1 bayi atau sebanyak 1. yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk ada 1 bayi atau sebanyak 1.6% (47.6%) Diberikan (N (%)) 0 (0%) 1 (1.Tabel 13.1%) 88 (98. Hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi (menurut standart WHO) pada bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Pemberian ASI Eksklusif *Status Gizi WHO Pemberian ASI Eksklusif Status Gizi WHO Buruk Kurang Baik Tidak Diberikan (N (%)) 3 (3.3% dari total). menurut standart WHO/NCHS.4%) 87 (92. Yang termasuk kedalam gizi baik ada 88 bayi atau sebanyak 98. Yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang ada 6 bayi atau sebanyak 6. Yang termasuk kedalam gizi baik ada 87 bayi atau sebanyak 92.5% dari total). menurut standart WHO/NCHS.108 Total 94 89 183 Menurut tabel di atas status gizi bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif.1% dari total).9% (48.2%) 8 (8. Hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi (menurut standart WHO/NCHS) pada bayi yang menjadi sampel penelitian kami di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan periode April 2009 Pemberian ASI Eksklusif *Status Gizi WHO/NCHS Pemberian ASI Eksklusif Status Gizi WHO/NCHS Buruk Kurang Baik Tidak Diberikan (N (%)) 1 (1.9%) Total 1 7 175 Significance: 0.6%) Total 3 11 169 Total 94 89 183 42 .3%) Diberikan (N (%)) 0 (0%) 3 (3.

Yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang ada 8 bayi atau sebanyak 8.5% (4.1% (1. menurut standart WHO. menurut standart WHO. Yang termasuk kedalam gizi baik ada 83 bayi atau sebanyak 88.6% dari total). yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk tidak ada.Menurut tabel di atas status gizi bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif. Yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang ada 3 bayi atau sebanyak 3.4% (1. Yang termasuk kedalam gizi baik ada 86 bayi atau sebanyak 96.6% (47% dari total).4% dari total). 43 .4% dari total). yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk ada 3 bayi atau sebanyak 3. Sementara status gizi bayi yang diberikan ASI eksklusif.6% dari total).3% (45.

SD (9 orang (9.BAB VI PEMBAHASAN Dari hasil penelitian didapatkan jenis kelamin bayi yang menjadi responden terbanyak adalah laki-laki baik pada responden yang tidak diberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 49 bayi atau sebanyak 52. Sementara tingkat pendidikan terbanyak dari ibu bayi yang tidak memberikan ASI berturut adalah SMA (55 orang (58.7% (25. Sementara jumlah ibu yang memiliki bayi yang di berikan ASI eksklusif yang memiliki pngetahuan rendah 5 ibu (5.994.2% dari total)).4 %(12% dari total)).6%)).6%)). dan yang tidak bersekolah ada 1 orang (1. Sedangkan yang pengetahuan akan ASI eksklusifnya baik adalah 38 ibu atau sebanyak 42.2%(10. Universitas (10 orang (10. pengetahuan kurang 27 ibu (30. Sedangkan responden bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif dan berjenis kelamin perempuan berjumlah 45 bayi atau setara 47.8% dari total)). Pendidikan ibu memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya dengan kemaknaan sebesar 0.7% 44 .4% dari total)).2)).5% dari total).4% dari total)).5%)).1% (26.3%(14.8% dari total) maupun yang diberikan ASI eksklusif yaitu sebanyak 46 bayi atau setara dengan 51.6% (2.1%).3% (10. Universitas (9 orang (10. SD (8 orang (9%) dan yang tidak bersekolah sebanyak 1 orang (1. pengetahuan cukup 19 ibu (20. SMP (19 orang (20.1%).6% dari total) dan yag diberikan ASI eksklusif sebanyak 43 bayi atau sebanyak 48.7% dari total)). Ini berarti pendidikan ibu tidak mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.3% (23. pengetahuan kurang 22 ibu (23.7% dari total). pengetahuan yang baik 37 ibu (39. SMP (16 orang (18%)). Tingkat pengetahuan terhadap jumlah ibu yang memiliki bayi yang tidak di berikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan rendah tentang ASI eksklusif 16 ibu (17%(8.1 dalam total).9% (24. Sedangkan untuk respondem yang memberikan ASI eksklusif berturut-turut tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA (55 orang (61.1%).4%(20. pengetahuan cukup 19 ibu (21.8%)).

039.7%). ibu yang melanjutkan pemberian ASI eksklusifnya dengan cara lainnya sebanyak 3 orang (3. kurang ada 33 orang (30%). Ibu yang berpendidikan hingga tingkat Universitas dan berpengetahuan rendah ada 4 orang (21. Hal ini menunjuukan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan kemaknaan sebesar 0. dan keduanya memiliki tingakt pengetahuan tentang ASI eksklusif yang rendah.1%).7%). cukup ada 9 orang (25. dan yang berpengetahuan baik ada 8 orang (42.2%).4%).4%). dan berpengetahuan baik ada 5 orang (29. dan yang berpengetahuan baik ada 46 orang (41. Ibu yang berpendidikan hingga tingkat SMA dan Universitas juga memiliki perbandingan tingkat pengetahuan yang berarti antara tingkat pengetahuan baik dan tingkat pengetahuan lainnya. dan yang berpengetahuan baik ada 16 orang (45.8%).7%). ibu yang bekerja dan melanjutkan pemberian ASI eksklusifnya dengan dipompa sebanyak 6 ibu (6.5%).9%). Ini berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dan pemberian ASI eksklusif. berpengetahuan cukup ada 5 orang (29.4%). Alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif karena produk ASI berkurang sebanyak 55 orang (58. 45 . kurang ada 8 orang (22. kurang ada 3 orang (15.2%).5%).4%). Ibu dari bayi yang memberikan ASI eksklusif yang tidak bekerja sebanyak 78 ibu (87. Ibu yang berpendidikan SMP dan berpengetahuan rendah ada 2 orang (5. Berdasarkan hasil tesebut didapatkan ada 2 ibu yang tidak sekolah. Tingkat kemaknaan hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif sebesar 0. karena ibu bekerja sebanyak 23 orang (24. Sementara yang yang berpendidikan setingkat SD dan memiliki tingkat pengetahuan yang rendah ada 2 orang (11. kurang ada 5 orang (29. pulang bila waktunya memberikan ASI eksklusif sebanyak 2 ibu (2.(20.8%).104.6%).1%).7%).8%).1%). Dari tabel hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan pengetahuan tentang ASI eksklusif ada 2 ibu yang tidak sekolah dan memiliki pengetahuan rendah. Ibu yang berpendidikan SMA dan berpengetahuan rendah ada 11 orang (10%).8% dari total). cukup ada 4 orang (21. cukup ada 20 orang (18.

Sementara status gizi bayi yang diberikan ASI eksklusif menurut standard WHO. yang termasuk ke dalam gizi baik sebanyak 88 bayi (98. Berdasarkan hasil yang didapat.6% (47. yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang sebanyak 3 bayi (3. yang termasuk ke dalam gizi baik sebanyak 83 bayi (88.5% (4. Sementara status gizi bayi yang diberikan ASI eksklusif menurut standard WHO/NCHS.4% dari total)).6% dari total)) dan yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk tidak ada.4% (1.5% dari total)).alasan lainnya sebanyak 11 orang (11.1% dari total)). yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk sebanyak 3 bayi (3.6% dari total)). Status gizi bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif menurut standar WHO.3% dari total)). Hal ini menunjukkan bawha standar status gizi menurut WHO memiliki deteksi yang 46 .3% (45.5% dari total)) dan yang termasuk ke dalam kategori gizi buruk tidak ada. ibu sakit dan takut menularkan pada bayinya sebanyak 2 orang (2.9% (48. yang termasuk dalam kategori gizi kurang sebanyak 6 bayi (6. yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang sebanyak 1 bayi (1.5% dari total)). yang termasuk ke dalam kategori gizi baik sebanyak 86 bayi (96. Pemberian ASI eksklusif mempunyai hubungan dengan status gizi menurut standar WHO dengan tingkat kemaknaan sebesar 0.4% (3.121.1%).7%).1% (0.108. Sementara dengan menggunakan standar gizi menurut WHO didapatkan 3 bayi dengan status gizi buruk dan 11 bayi dengan status gizi kurang. standar status gizi menurut WHO/NCHS mendapatkan 1 bayi dengan status gizi buruk dan 6 bayi dengan status gizi kurang. yang termasuk ke dalam kategori gizi kurang sebanyak 8 bayi (8.1% (1. Status gizi yang tidak diberikan ASI eksklusif menurut standard WHO/ NCHS yang termasuk kategori gizi baik sebanyak 87 bayi (92.1% (0. yang termasuk dalam kategori gizi buruk sebanyak 1 bayi (1. Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan status gizi dengan menggunakan standar status gizi menurut WHO/NCHS dengan kemaknaan sebesar 0.4% dari total)).6% (47% dari total)).

lebih baik terhadap bayi dengan status gizi kurang dan status gizi buruk. World Health Organization pada penelitian berjudul Comparison of the World Health Organization (WHO) Child Growth Standards and the National Center for Health Statistics/WHO international growth reference: implications for child health programmes. Hal ini sesuai dengan hasul penelitian de Onis. 47 . dkk dari Department of Nutrition.

berdasarkan data yang telah kami kumpulkan. Walaupun perbandingan antara ibu yang memberikan ASI eksklusif dan yang tidak memberikan ASI eksklusif tidak terlalu besar pada tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif yang baik. kami mengambil kesimpulan. Perbandingan yang tidak besar antara yang ibu yang memberikan ASI eksklusif dengan ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif menegaskan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. keduanya memliki tingkat pengetahuan tentang ASI yang rendah. Ibu dengan tingkat pendidikan SMA dan kuliah memiliki tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif yang lebih baik. namun pada tingkat pengetahuan yang rendah perbandingannya cukup besar. 48 . . Sedangkan alasan terbanyak kedua adalah karena ibu bekerja. .Alasan utama ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya adalah karena kurangnya produksi ASI ibu.Tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian kami yang berjudul pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap status gizi bayi usia 6 bulan di Kecamatan Mampang Prapatan. . .Tingkat pendidikan terakhir ibu yang menjadi responden terutama adalah setingkat sekolah menengah atas. Sementara dari 2 orang ibu yang tidak mengenyam pendidikan formal.Tingkat pendidikan terakhir dari ibu juga ternyata berpengaruh terhadap pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Hal ini dapat menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ASI eksklusif yang rendah berpengaruh pada rendahnya pemberian ASI eksklusif.

2.Pemberian ASI eksklusif berpengaruh terhadap status gizi bayi pada usia 6 bulan menurut 2 standar status gizi yang dipakai. 4. Meningkatkan pengetahuan tentang cara-cara mencegah berkurangnya produksi asi dengan cara memberikan penyuluhan pada saat kehamilan atau setelah melahirkan.. Sementara dengan standar status gizi menurut WHO didapatkan 3 bayi yang berstatus gizi kurang pada bayi yang diberikan ASI eksklusif dan 8 bayi yang berstatus gizi kurang dan 3 yang berstatus gizi buruk pada bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif. 49 . Standar status gizi WHO/NCHS mencatat ada 1 bayi yang berstatus gizi kurang pada yang diberikan ASI eksklusif dan 6 gizi kurang serta 1 gizi buruk pada bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif.brosur yang dapat menjangkau semua golongan dengan materi yang lebih mudah dimengerti. Saran 1. 3. Dipergunakannya standar status gizi menurut WHO karena standar status gizi tersebut dapat lebih banyak mendeteksi bayi/anak dengan gizi kurang/buruk. Meningkatkan pengetahuan tentang ASI eksklusif melalui penyuluhan – penyuluhan atau melalui brosur. Memberikan pengertian dan pengetahuan kepada ibu yang bekerja tentang cara menjalankan ASI eksklusif ketika bekerja. Hal ini menunjukkan standar status gizi menurut WHO mendeteksi lebih baik pada status gizi yang kurang atau buruk dibandingkan standar menurut WHO/NCHS.

go. Available at : http://www.id/fkm/fkm-arifinsiregar. Tumbuh Kembang Anak.idai. Edisi 15 volume 1.php? option=news&task=viewarticle&sid=709&itemid=2 Accessed on 17 Maret 2009.Rachmi. Disampaikan dalam pidato Penyuluhan Jabatan Guru Besar FK UGM. 8. 2000. Accessed on 17 Maret 2009. Available at http://bayidananak. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Kiegmen RM. Available at http://www. ASI Ekslusif dan Perkembangan Balita.htm Accessed on 17 Maret 2009. Untoro Dr. Pemantauan Pertumbuhan Balita.com/2008/11/19 Accessed on 17 Maret 2009. 3. Growth and Development. Available at http://emedicine.id/index. Pennsylvania . 2. Jakarta . 6. Jensen HB. Jakarta : Depkes RI.depkes. Asi Eksklusif 6 bulan. Dir-Jen Bin Kes Ma.com.com/ped/topic164. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.ac. 1993.or.medline. Available at http://library. Januari 2002.usu. 2005. Bagian Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat USU. Hal 37 – 90. 2004.id Accessed on 17 Maret 2009. 50 . 4.DAFTAR PUSTAKA 1. 10.pdf. 9. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasi terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Hadi H. Hal 1-25. 7. Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita. Berhman RE. Available at http://www. Pediatric Development. Accessed on 19 January 2009. Pemberian ASI Ekslusif dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Siregar A. 5. Direktorat Bin Kes Ga.

14.11. Jakarta :WHO. Sari Pediatri 2008. Gurnida. Dalam: Buku Kartu Menuju Sehat.1995. Ronardy Devi H. 13. Novida L. Bandung. J. Available at : http://www. 2008. Available at http://babyworld.co.pajak. 12. Baby Growth. Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI ekslusif.net/blog/2008/02/03/upah-minimum-provinsi-ump-2008 Accessed on 18 Maret 2009.uk/information/baby. Dida A. Prinsip Pengawasan Pertumbuhan dan Grafik Pertumbuhan. Garna H.asp Accessed on 17 Maret 2009. Upah Minimum Provinsi. 51 . 9 : 429-34.

99.M.97. R. Teguh Wibowo Ivan Ferdian (030. Friana Asmely Penyusun : Jackson T. MSc. dr. Nugroho Abikusno. dr.01.LAPORAN PENELITIAN PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6 BULAN DI KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Pembimbing : DR.119) KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN 52 .076) (030.261) (030.

Nugroho Abikusno.MSc) (dr. Friana Asmely) 53 . Puskesmas Kec. Mampang Prapatan (DR.PERIODE 23 FEBRUARI 2009 – 3 MEI 2009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA LEMBAR PERSETUJUAN Telah disetujui laporan penelitian dengan judul : PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6 BULAN DI KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Pembimbing.dr. Kampus FK USAKTI Pembimbing.

MARS.Nugroho Abikusno. 4. April 2009 54 . Fachruddin.. 5.DR. dr. 3.Henny F. dr. Para dosen IKM Fakultas Kedokteran Trisakti. Serta semua pihak yang turut membantu selama penyusunan laporan penelitian ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Jakarta Selatan.. paramedis dan seluruh staff Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan.MSc. selaku Kepala Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada : 1. Hj. Friana Asmely. 2. Kami sadari bahwa laporan penelitian ini masih banyak kekurangan.KATA PENGANTAR i Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kami dapat menyelesaikan Laporan Penelitian yang berjudul : “PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6 BULAN DI KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN”. Tujuan dari penyusunan Laporan Penelitian ini adalah sebagai salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Trisakti yang dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan. kami sangat menghargai saran serta kritik yang diberikan yang bertujuan membangun bagi kita semua. Para dokter.M. Jakarta.R. selaku Dosen Pembimbing dari IKM Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 6.dr. selaku pembimbing dari Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan.

Penyusun ii 55 .

............ 25 25 25 iii 56 ...........3 I................................. Hipotesis.......3 Kerangka Konsep............................................................................ Tujuan Penelitian........................................................2 I.............................................. KATA PENGANTAR........4 I........................ DAFTAR ISI.........................................2 II.6 I......... Penilaian Perkembangan Bayi…………………………… Kartu Menuju Sehat……………………………………..5 I.... DEFINISI OPERASIONAL III...........................................................7 BAB II Latar Belakang............. VARIABEL PENELITIAN............................ Keterbatasan Penelitian......1 III................. 1 2 2 3 3 4 4 i ii iii TINJAUAN PUSTAKA II................................................................................................3 II......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN I...................................................................................................... 5 15 19 22 BAB III KERANGKA KONSEP.........1 I........... Manfaat Penelitian.......... Status Gizi Bayi.............................2 III.......DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PERSETUJUAN................ Variabel Penelitian.................................................................. Perumusan Masalah..........................................4 Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif....... Ruang Lingkup Penelitian...........................1 II........ Definisi Operasional..................................

.............1 IV................. Pengolahan Data. Lokasi dan Waktu Penelitian.......... LAMPIRAN iv 57 ...................................................2 IV...................... Cara Pengambilan Sampel.........8 IV......Halaman BAB IV METODE PENELITIAN IV............................................................. Populasi Penelitian... BAB V BAB VI BAB VII HASIL PENELITIAN ................................................................................................................ KESIMPULAN DAN SARAN ...................3 IV................11 Organisasi Penelitian........ PEMBAHASAN ............................9 Jenis Penelitian....6 IV..........................5 IV............ 27 27 27 27 28 29 29 29 31 29 30 31 44 48 50 IV.............................................................................................................................. IV............................ Instrumen Penelitian............. Cara Pengumpulan Data....................................... DAFTARPUSTAKA……………………………………………………........ Analisis Data...............................................................7 IV.......10 Penyajian Data......................4 IV................................................................................................... Sampel Penelitian.........................................

LAMPIRAN 58 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful