Seloka Seloka adalah salah satu bentuk puisi Melayu Klasik disamping mantera, bidal, pantun, gurindam, atau

syair. Kata seloka beasal dari bahasa Sansekerta “sloka”. Ada berbagai pengertian seloka. Beberapa pengertian tersebut adalah sebagai berikut: Menurut B. Simorangkir, seloka adalah peribahasa (pepatah) yang diberi sampiran. Lebih lanjut Simorangkir member contoh seloka sebagai berikut Anak Agam menjual sutera Jual di Rengat tengah pekan Jangan digenggam sebagai bara Rasa hangat dilepaskan Sementara menurut Hooykaas, seloka diartikan sebagai pantun yang mengandung kisahan/ibarat dan berisi nasihat. Hooykaas member contoh seloka sebagai berikut; Terkelip api atas gunung Orang memarun sarap balai Maksud hati memeluk gunung Apa daya tangan tak sampai Seloka menurut Amir Hamzah. Amir Hamzah mendefinisikan seloka sebagai pantun yang antara sampiran dan isinya terjadi hubungan arti. Amir Hamzah memberi contoh seloka sebagai berikut Jalan-jalan sepanjang jalan Singgah-menyinggah di pagar orang Pura-pura mencari ayam Ekor mata di mata orang Wikipedia mengartikan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang berisi pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Wikipedia menyajikan contoh seloka sebagai berikut

Secara keseluruhan.contoh seloka 4 baris: Sudah bertemu kasih sayang Duduk terkurung malam siang Hingga setapak tiada renggang Tulang sendi habis berguncang contoh seloka lebih dari 4 baris: Baik budi emak si Randang Dagang lalu ditanakkan Tiada berkayu rumah diruntuhkan Anak pulang kelaparan Anak dipangku diletakkan Kera dihutan disusui Sedangkan Melayu online hamper senada dengan Wikipedia menjelaskan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang memuat perumpamaan yang mengandung senda gurau. Tiap bait terdiri 2 baris panjang Tiap baris terdiri 18 suku kata ( 2x9 suku kata ) Isi bait satu dengan berikutnya saling berhubungan Tidak terikat oleh persajakan Isinya : petuah Baris kedua pada bait terdahulu menjadi baris 1 pada bait berikutnya Baris keempat pada bait terdahulu menjadi baris 3 pada bait berikutnya . gurindam. yaitu sebagai pengajaran ataupun panduan bagi anggota masyarakatnya. seperti Pak Kaduk. khayalan. kejenakaan. atau ejekan. Seloka biasanya ditulis dalam dua atau empat baris namun juga terkadang beberapa ditemukan enam baris dengan memakai bentuk pantun atau syair. Masyarakat Melayu mencipta seloka untuk mencerminkan rasa tidak puas hati mereka terhadap seseorang yang digambarkan melalui seloka. seloka termasuk dalam jenis puisi bebas. dan lain-lain. sindiran. impian. seloka berisi cerita yang benar-benar telah dikenal dalam masyarakat Melayu. Terkadang rima dapat muncul namun beberapa tanpa ada rima. Jika terdiri dari dua bait maka akan tersusun menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat baris dengan masing-masing baris terdiri dari 16 kata. Fungsi seloka tetap seperti karyakarya sastra Melayu yang lain. Lebai Malang. teromba atau mantra. talibun (bahasa berirama). Dalam Sastra Melayu.

Pak Kaduk dan Mak Siti yang hidup di tepi sungai dalam keadaan miskin. Dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Raja. Pak . Salah satu kegemaran Raja Indera Sari adalah menyabung ayam Di dalam wilayah ini ada sepasang suami isteri. Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan ringkasan ceritanya di bawah ini: Cerita Pak Kaduk. Hal ini berbalik dengan apa yang dialami Pak Kaduk. Dalam pertandingan tersebut ternyata Biring Si Kunani telah menewaskan Si Jalak. Kisah ini terjadi di wilayah negeri Cempaka Sari. Pada suatu hari. ayam Pak Kaduk telah ditukar dengan ayam milik baginda yang bernama Si Jalak. Pak Kaduk pergi ke gelanggang sabung. Pak Kaduk mempersiapkan pakaian dari kertas dan meminta istrinya untuk menjahit pakaian tersebut.” Lazimnya jika ayamnya menang maka pemilik ayam akan memperoleh hadiah. merupakan cerita yang mengisahkan sepasang suami-istri yang bernama Pak Kaduk dan Mak Siti. Dia begitu yakin dengan ayamnya ini akan memenangkan pertandingan dengan ayam-ayam di istana.Seloka Pak Kaduk Aduhai malang Pak Kaduk! Ayamnya menang kampung tergadai Ada nasi dicurahkan Awak pulang kebuluran Mudek menongkah surut Hilir menongkah pasang Ada isteri dibunuh Nyaris mati oleh tak makan Masa belayar kematian angin Sudah dilabuh bayu berpuput Ada rumah bertandang duduk Aduhai malang Pak Kaduk Salah satu sindiran di dalam seloka tersebut adalah “Ayamnya menang kampung tergadai. Karena keyakinannya. yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Indera Sari. Pak Kaduk tanpa pertimbangan dengan matang mempertaruhkan kampungnya kepada Raja dengan uang sejumlah 50 rial. Setelah bajunya jadi. Raja dan masyarakatnya hidup dalam lingkungan perjudian. sudah ayamnya menang dia harus kehilangan taruhannya yaitu kampungnya. Pak Kaduk berkeinginan juga untuk ikut menyabung ayam di kerajaan. Ia membawa ayamnya yang bernama Biring Si Kunani.

Kaduk tidak tahu bahwa ayamnya telah ditukarkan dengan ayam Baginda. Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu. Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering.hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance „kerasukan‟. Dengan tingkahnya yang melompat-lompat kegirangan membuat bajunya yang dari kertas robek semua sehingga dia menjadi telanjang. Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi. 4. menyamakan seloka dengan pantun berkait. Menurut Umar Junus (1983: 135). yang tidak dapat dipahami melalui bagianbagiannya. puisi modern yang akan kita bicarakan pada pelajaran berikutnya. Pak Kaduk melompat-lompat kegirangan karena Biring Si Kunani yang telah menjadi milik Raja disangka ayamnya. Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini. sehingga dia menyesal atas semua tindakan tersebut. ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut : 1. . Mantra merupakan sesuatu yang utuh. yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak. Pulanglah engkau kepada gunung guntung. Jikalau kau tiada mau kembali. melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata. Kini kita mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah. Melihat kejadian tersebut Sang Raja dan orang-orang di sekitarnya mentertawakan Pak Kaduk. Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang. Kita memahami dan belajar membuat mantra bukan karena kemanjuran daya gaibnya sebab anggapan seperti itu terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Mantra sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. 2. 3. Karakteristik mantra sangat unik. Akhirnya Pak Kaduk menyadari bahwa semua yang dia kerjakan merupakan tindakan yang salah besar. Mantra menggunakan kesatuan pengucapan. Ada yang lain lagi. matilah engkau. Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya. 6. Pulanglah engkau kepada rimba sekampung. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. 5. Namun. Terlebih-lebih. Pulanglah engkau kepada rimba yang besar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful