P. 1
Artikel - Experiential Marketing

Artikel - Experiential Marketing

|Views: 871|Likes:
Published by Ikhwan Fahri
Artikel yang menguraikan konsep experiential marketing dan penerapannya. Artikel ini juga memberikan saran dalam penerapan experiential marketing untuk perusahaan.
Artikel yang menguraikan konsep experiential marketing dan penerapannya. Artikel ini juga memberikan saran dalam penerapan experiential marketing untuk perusahaan.

More info:

Published by: Ikhwan Fahri on Feb 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

TAKE HOME TEST: KEMAMPUAN KOMUNIKASI, TEAM WORK & STRATEGI MARKETING

MARKETING: DIMENSI BARU DALAM PEMASARAN

MARKETING EXPERIENTIAL:
Abstrak

Dimensi Baru Dalam Pemasaran

Dahulu, ketika suatu produk akan dipasarkan, maka aspek yang ditonjolkan agar produk tersebut bisa laku di pasaran adalah cukup dengan mempromosikan feature (karakteristik, sifat, atau ciri-ciri) dan benefit (manfaat atau kegunaan). Tapi, sekarang ini aspek feature dan benefit saja terkadang belum cukup untuk membuat produk bisa exist di pasar, karena ternyata para pesaing bisa meniru atau bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar. Kemudian munculah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service yang

diharapkan dapat membuat feature dan benefit produk bisa 'lebih bermakna' di benak konsumen. Namun hal itupun saat ini seringkali dianggap juga masih belum memadai, mengingat semakin hari tingkat kompetisi semakin ketat dan kompleks. Lalu apa lagi yang bisa dilakukan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan market share dan profitabilitas?

Jawabannya berkaitan dengan memori konsumen. Apakah produk yang dipasarkan dapat

IKHWAN FAHRI
23209077

menciptakan kenangan yang indah bagi pelanggan kita? Apakah produk tersebut bisa melekat di hati dan pikiran para konsumen? Dari situlah muncul istilah Experiential Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para konsumen memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan, sedang, atau setelah membeli suatu produk. Caranya adalah dengan menyentuh sisi emosional konsumen lebih dalam lagi, dan bukan hanya sekedar sisi rasionalnya.

Mengenal Experiental Marketing

Magister Teknologi dan Bisnis Industri Di masa lalu, istilah Experiential Marketing sering disalahtafsirkan sebagai suatu bentuk iklan yang menggambarkan pengalaman konsumen terhadap suatu produk. Untuk menghindari Ketenagalistrikan kesalahan dalam penafsiran tersebut maka konsep yang harus dipahami terlebih dahulu adalah Sekolah Teknik Elektro dan Informatika perbedaan pengertian "iklan" dengan "pemasaran." Iklan dapat dipahami sebagai Institut Teknologi Bandung

BANDUNG-2009

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

EXPERIENTIAL MARKETING: DIMENSI BARU DALAM PEMASARAN

Abstrak Dahulu, ketika suatu produk akan dipasarkan, maka aspek yang ditonjolkan agar produk tersebut bisa laku di pasaran adalah cukup dengan mempromosikan feature (karakteristik) dan benefit (manfaat). Tapi, saat ini aspek feature dan benefit saja

terkadang belum cukup untuk membuat produk bisa exist di pasar, karena ternyata para pesaing bisa meniru atau bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar. Kemudian munculah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service yang diharapkan dapat membuat feature dan benefit produk bisa 'lebih bermakna' di benak konsumen. Namun hal itupun saat ini seringkali juga dianggap masih belum memadai, mengingat semakin hari tingkat kompetisi semakin ketat dan kompleks. Lalu apa lagi yang bisa dilakukan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan market share dan profitabilitas? Jawabannya berkaitan dengan memori konsumen. Apakah produk yang dipasarkan dapat menciptakan kenangan yang indah bagi pelanggan kita? Apakah produk tersebut bisa melekat di hati dan pikiran para konsumen? Dari situlah muncul istilah Experiential Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para konsumen memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan,

sedang, atau setelah membeli suatu produk. Carany dengan menarik (attract) sisi emosional konsumen lebih dalam, sehingga ada rasa terlibat (engage)

konsumen untuk menimbulkan hasrat (excite) berinteraksi

dengan produk.

Mengenal Experiential Marketing Di masa lalu, istilah Experiential Marketing sering disalahtafsirkan sebagai suatu bentuk iklan yang menggambarkan pengalaman konsumen terhadap suatu produk. Untuk
Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

1

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

menghindari kesalahan dalam penafsiran tersebut maka konsep yang harus dipahami terlebih dahulu adalah perbedaan pengertian "iklan" dengan "pemasaran". Iklan dapat dipahami sebagai setiap kegiatan yang dilakukan untuk menginformasikan atribut produk atau karakteristik merek (brand) tanpa secara lugas mengharuskan konsumen untuk

mengambil tindakan terhadap produk yang diiklankan. Sedangkan pemasaran dapat dipahami sebagai segala kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan respon atau tindakan tertentu dari konsumen terhadap produk yang dipasarkan. Dengan mengacu dari berbagai literatur, Experiential Marketing dapat didefinisikan sebagai jenis pemasaran yang menghubungkan produk dengan konsumennya secara positif pada beberapa aspek, tidak hanya terbatas pada logika, tetapi juga pada emosi dan indera konsumen, sehingga suatu produk/merek dapat lebih diingat oleh konsumen.

Traditional Marketing vs Experiential Marketing Perbedaan antara Traditional Marketing dengan Experiential Marketing adalah Traditional Marketing hanya mencoba untuk ‘menjual’ fitur dan manfaat produk kepada konsumen, sementara Experiential Marketing lebih cenderung memberi kesempatan kepada konsumen untuk mengalami dan mencoba produk tersebut. Dari komparasi kedua konsep tersebut di atas dapat terlihat mana yang lebih efektif dalam menyentuh konsumen. Bila diterapkan dengan benar, di samping menjual produk, Experiential Marketing juga akan membangun loyalitas konsumen terhadap merek (brand) produk tersebut. Dunia bisnis dan pemasaran yang kian dinamis membuat langkah branding dan diferensiasi produk menjadi lebih berat karena konsumen mempunyai lebih banyak pembanding dan produk substitusi. Selain itu, beberapa fakta menujukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran tradisional menjadi kurang efektif, karena adanya perubahan sikap dan perilaku konsumen yang cenderung lebih pasif terhadap berbagai penyampaian informasi produk.

Unsur-unsur dalam Experiential Marketing Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing: How to Get Customers to Sense, Feel, Think, Act and Relate to Your Company and Brands, mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing itu. Ia mengemukakan adanya 5 (lima) unsur

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

2

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

penting dalam Experiential Marketing, yaitu sense, feel, think, act dan relate, dengan uraian sebagai berikut:  Sense, adalah bagaimana agar produk atau jasa bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana untuk diterapkan. Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar kemungkinan produk kita menjadi memorable, karena setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat panca indra. Konsumen rela antri hanya demi sepotong roti di Bread Talk atau donat J-Co karena penyampaian pesan produknya ke otak konsumen melalui beberapa indra, seperti: membaui aroma roti, melihat proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) dan berbagai produk yang di-display dengan menarik, tindakan mengantri mengambil nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan sebuah pengalaman kisnetik yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional,  Feel, adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel good) bagi para konsumen, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara lebih intensif. Beberapa acara reality show di televisi seperti Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses memanfaatkan emosi para penonton agar

mereka terus mengingat dan menontonnya kembali;  Think, adalah upaya yang perlu diciptakan agar konsumen mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa setelah konsumen merasa baik (feel good). Hal ini dapat menciptakan customer satisfaction dalam jangka yang lebih panjang sehingga diharapkan akan timbul promosi dari mulut ke mulut yang baik bagi produk. Iklan Apple Computer 'think different' adalah contoh iklan yang menggugah konsumen untuk lebih 'positive thinking' kepada produk Apple.  Act, adalah upaya yang diarahkan untuk terciptanya pengalaman melalui perilaku tertentu dari konsumen, baik berupa tindakan individual maupun gaya hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang umumnya dipengaruhi oleh faktor eksternal dan opini di dalam dirinya. Experiential Marketing berupaya menggabungkan pengaruh eksternal dengan feel dan think agar konsumen melakukan tindakan dan punya pengalaman terhadap suatu produk. Iklan Oreo di televisi 'diputar, dijilat dan dicelupin' barangkali merupakan upaya agar calon konsumen selalu terkenang dengan Oreo. Selain itu, ‘Rumah Cantik Citra’

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

3

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

menjadikan produk-produk perawatan kecantikan wanita ini tidak sekedar produk yang dipajang pada etalase, tapi juga menawarkan penggunaannya pada suatu tempat yang didesain begitu nyaman dengan didampingi para beauty advisors.  Relate, yaitu bagaimana sense, feeling, thinking, dan action seseorang tadi lebih dikembangkan ke arah konteks sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan konsumen secara individual dengan komunitas atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang paling penting bagi konsumen. Mc Donald dan Starbucks adalah perusahaan yang berhasil menerapkan unsur

relate. Contoh lain adalah motor Harley Davidson yang dipakai bukan karena kualitas motornya, melainkan karena Harley Davidson menggambarkan gaya hidup tententu bagi pemakainya dengan komunitas cukup eksklusif dan fanatik, termasuk segala atribut dan kegiatan-kegiatan gathering yang dilakukannya.

Keistimewaan dari Experiential Marketing Berikut ini adalah manfaat yang menjadi keistimewaan dari Experiential Marketing, yaitu: 1. 2. 3. Berdampak pada multi-indra yaitu merangsang semua panca indra konsumen; Membangun merek dengan juga menyentuh sisi emosi; Men-drive promosi dari mulut ke mulut – merupakan salah satu cara promosi yang paling klasik dan paling andal dalam pemasaran; 4. 5. 6. 7. 8. 9. Memungkinkan pengkomunikasian pesan promosi yang kompleks; Lebih mengesankan dibandingkan pemasaran dengan metode lain; Dapat merubah perilaku pembelian untuk peningkatan penjualan; Bersifat interaktif; Dapat langsung memberikan umpan balik tentang produk atau minat konsumen; Merek dan produk akan lebih lama dikenang konsumen;

10. Membuat konsumen jadi mempunyai fungsi kontrol;

Aplikasi Experiential Marketing pada Produk Sabun Lux Indonesia Produk sabun Lux dengan mengusung jargon ‘Beauty Gives You Super Powers’ telah mengaplikasikan konsep Experiential Marketing. Produk sabun Lux Indonesia selama ini konsisten memposisikan dirinya sebagai produk kecantikan dengan berbagai image yaitu: anggun, eksklusif, mewah, dan glamor layaknya seorang bintang sehingga dapat

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

4

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

memberikan pengalaman menarik bagi pemakainya. Dalam mengaplikasikan konsep Experiential Marketing, produk sabun Lux melakukan berbagai hal, antara lain adalah: 1. Iklan televisi; Penayangan iklan secara parsial adalah bentuk Traditional Marketing. Namun bila iklan disampaikan dalam suatu konsep dan rangkaian yang terpadu bersama bentuk pemasaran lain untuk merangsang semua indera konsumen, maka visualisasi tema, pesan, dan repetisi tayangan iklan sabun Lux “Beauty Gives You Super Powers” telah dapat mempengaruhi sense marketing dengan indikasi dapat menimbulkan pengalaman yang menarik berupa ketertarikan persepsi dan keunikan yang dirasakan oleh konsumen sebagai bagian dari Experiential Marketing; 2. Desain kemasan; Warna, gambar, dan tulisan yang terdapat dalam desain kemasan sabun Lux “Beauty Gives You Super Powers” cukup atraktif dan mampu menarik minat maupun rasa senang serta menimbulkan keyakinan konsumen terhadap kualitas produknya. Bahkan desain kemasan dapat memotivasi konsumen agar melakukan tindakan (act) dengan melakukan pembelian untuk mencoba produknya (impulse buying). 3. Pengunaan endorsers (bintang Lux); Pemilihan Dian Sastro, Luna Maya, Mariana Renata, dan Tamara Blezensky sebagai bintang Lux dianggap tepat dan dapat menimbulkan imajinasi dan inspirasi pengalaman yang menarik bagi konsumen berupa perasaan senang ketika menyaksikan penampilan endorsers (bintang Lux), dan perasaan yakin bahwa endorsers tersebut telah mampu merepresentasikan karakteristik produk dan image yang ingin dibayangkan konsumen; 4. Lux Beauty Lounge; Suatu outlet yang juga sebagai beauty spa dengan menggunakan produk sabun Lux sebagai bahan perawatan utama. Lounge ini bersifat eksklusif dan ditujukan bagi para wanita untuk merasakan sensasi mandi mewah ala bintang, berikut prosesi perawatan kecantikan lainnya. Melalui Lux Beauty Lounge, konsumen benar-benar akan menikmati eksploitasi penggunaan produk sabun Lux dengan berbagai atribut kemewahan sehingga mendapat kesan dan pengalaman dari sisi yang paling menarik dalam menggunakan produk sabun Lux tersebut.

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

5

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

Saran/Rekomendasi 1. Aplikasi konsep Experiential Marketing pada suatu produk dengan sebaik apapun agar tidak mengabaikan pengembangan faktor feature, benefit, dan intangible dari produk tersebut, karena ketiganya juga merupakan prasyarat agar suatu produk benar-benar bisa disebut berkualitas sehingga aplikasi Experiential Marketing jadi efektif. 2. Experiential Marketing bukan sekadar kreasi pemasaran, tapi harus menjadi strategi pemasaran yang terintegrasi dengan tujuan yang jelas di mana pencapaiannya harus dapat diukur dan dievaluasi. 3. Dari semua unsur Experiential Marketing mungkin tidak semuanya harus diaplikasikan untuk memasarkan produk, karena hal ini juga tergantung pada karakteristik produk, segmentasi, dan iklim persaingan yang perlu dipahami dengan baik lebih dahulu. 4. Desain atau pengembangan suatu produk dan/atau merek (brand) hendaknya dengan menanamkan nilai-nilai yang baik, karena aplikasi Experiential Marketing akan dapat dimanfaatkan untuk merefleksikan dan mengeksplorasi kepribadian suatu produk dan/atau merek (brand).

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

6

Kemampuan Komunikasi, Team Work & Strategi Marketing

DAFTAR PUSTAKA

Bigham, Liz. Experiential Marketing: New Consumer Research. www. 360.jackmorton.com. 2005. http://360.jackmorton.com/articles/article061405_2.php Fou, Augustine. Experiential Marketing. www.mktsci.com. 2003. http://mktsci.com/ experiential-marketing.htm Handi Irawan D, Artikel: Menyentuh Pengalaman Pelanggan. Majalah Marketing, No.12/IX/Desember 2009. Schmitt, H. Bernd. Experiential Marketing: How to Get Customers to Sense, Feel, Think, Act and Relate to Your Company and Brands, 2nd Edition. Simon & Schuster Inc. New York, USA. 2001 Smilansky, Shaz. Experiential Marketing: A Practical Guide to Interactive Brand Experiences, 2nd Edition. Kogan Page. London, UK. 2009 Usman Sani dan Istiqamah. Analisis Experiential Marketing Sabun Lux “Beauty Gives You Super Powers”. Majalah Jurnal Akuntansi & Manajemen STIE YKPN Yogyakarta, Volume 18 Nomor 3 Desember, 2007.

Marketing Experiential: Dimensi Baru Dalam Pemasaran

7

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->