P. 1
Partisipasi Politik

Partisipasi Politik

|Views: 767|Likes:
Published by Wenaldy Andarisma
BAB I DEFINISI PARTISIPASI POLITIK

No. Nama Tokoh 1. Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson

2.

Michael Rush dan Phillip Althoff

Definisi Kegiatan warga negara yang bertujuan memengaruhi pengambilan kebijakan oleh pemerintah Keterlibatan individu sampai pada macammacam tingkatan di dalam sistem politik

3.

Herbert McClosky

4.

A. Rahman H. I

Kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui cara mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung
BAB I DEFINISI PARTISIPASI POLITIK

No. Nama Tokoh 1. Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson

2.

Michael Rush dan Phillip Althoff

Definisi Kegiatan warga negara yang bertujuan memengaruhi pengambilan kebijakan oleh pemerintah Keterlibatan individu sampai pada macammacam tingkatan di dalam sistem politik

3.

Herbert McClosky

4.

A. Rahman H. I

Kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui cara mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Wenaldy Andarisma on Feb 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

BAB I DEFINISI PARTISIPASI POLITIK

No. Nama Tokoh 1. Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson

2.

Michael Rush dan Phillip Althoff

Definisi Kegiatan warga negara yang bertujuan memengaruhi pengambilan kebijakan oleh pemerintah Keterlibatan individu sampai pada macammacam tingkatan di dalam sistem politik

3.

Herbert McClosky

4.

A. Rahman H. I

Kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui cara mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembuatan atau pembentukan kebijakan umum Fungsi yang dimiliki oleh partai politik untuk mendorong masyarakat agar ikut aktif dalam kegiatan politik. Biasanya dilakukan melalui indoktrinasi ideologi, platform, asas partai keppada anggota, masyarakat yang ada dalam jangkauan partainya. Kegiatan yang bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah baik berupa bujukan atau dalam bentuk

Sumber A.A. Sahid Gatara, Ilmu politik (Memahami dan Menerapkan ), Pustaka Setia, Bandung, 2008. (hal. 309) Michael Rush dan Phillip Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Rajawali Pers, Jakarta, 2003. (hal. 23) Miriam Budiardjo, Demokrasi di Indonesia: Demokrasi Parlemen dan Demokrasi Pancasila, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994. (hal. 183)

A. Rahman H. I, Sistem Politik Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007. (hal. 103) (hal. 285)

5.

Ramlan Surbakti

6.

Kevin R. Hardwick

7.

Miriam Budiardjo

8.

Ramlan Surbakti

9.

Paul Lazarsfeld

tekanan bahkan penolakan juga terhadap keberadaan figur para pelaku politik dan pemerintah. Kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Memberi perhatian pada cara-cara warga negara berupaya menyampaikan kepentingankepentingan mereka terhadap pejabatpejabat publik agar mampu mewujudkan kepentingankepentingan tersebut. Kegiatan seseorang atau kelompok orang umtuk ikut serat secara aktif dalam kegiatan politik, yakni dengan cara memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan pemerintah. Keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan menyangkut atau mempengaruhi hidupnya. Orang mengambil bagian dalam politik dengan berbagai cara. Cara-cara tersebut berbeda dalam 3 hal yaitu: gaya hukum partisispasi, motif

Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Grasindo, Jakarta, 1992. (hal. 118)

Frank N. Magill, International Encyclopedia of Government and Politics, Toppan Company LTD, Singapore, 1996. (hal. 183)

Miriam Budiardjo, Demokrasi di Indonesia: Demokrasi Parlemen dan Demokrasi Pancasila, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994. (hal. 183)

Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1992.

Paul Lazarsfeld, Komunikasi Politik, Khalayak dan Efek, PT. Remaja Posda Karya, Bandung, 2000. (hal. 127)

10.

Michael Rush dan Phillip Althoff

partisipasi dan konsekuen berpartisipasi pada peran seseorang dalam politik. Proses di mana individu memperoleh orientasi politik dan pola tingkah laku politiknya melalui sosialisai politik.

Michael Rush dan Phillip Althoff, Pengantar Sosiologi Politik, Rajawali Grafindo Pustaka, Jakarta, 2005. (hal. 121)

BAB II ISI

I. Partisipasi Politik pada masa Orde Lama Awal lahirnya partisipasi politik di Indonesia dimulai dengan munculnya organisasi Budi Utomo yang juga merupakan cikal bakal partai politik di Indonesia. Partisipan hanya terbatas bagi kalangan priyayi yang terpelajar. Sesudah kemerdekaan Indonesia, dengan Maklumat Wakil Presiden No. X, 16 Oktober 1945 dan Maklumat Wakil Pemerintah 3 November 1945, Indonesia menganut sistem multipartai, yang ditandai dengan munculnya 25 partai politik. Euforia masa-masa kemerdekaan pada masa itu melahirkan berbagai macam idealis yang mereka anggap sesuai untuk diterapkan di tubuh perpolitikan Indonesia. Nasionalis, Sosialis, Komunis, Agama dan Tradisionalis Jawa; semuanya eksis sebagai ideologi dasar partai-partai pada masa itu. Masyarakat Indonesia yang merasa seolah-olah hidup di era kebebasan setelah sekian lama terbelenggu oleh penjajahan akhirnya dapat menyuarakan pendapatnya dan merasa terpanggil untuk membangun negerinya. Tahun 1955 adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia, karena pada saat itu adalah saat dilakukannya pemilihan umum yang pertama. Ketika itu, terminologi sayap

kanan dan sayap kiri yang dipopulerkan oleh Presiden Soekarno . Partai-partai yang berlandaskan agama (Masyumi, NU PSII, Perti dsb.) dianggap sebagai partai sayap paling kanan sedangkan yan g berlandaskan ideologi Sosialis dan komunis (PKI, PSI) disebut partai sayap paling kiri . Nasionalis sendiri berada ditengah-tengahnya. Masyarakat yang pro ideologi Agama cenderung memilik budaya politik santri dan abangan sementara para kader-kader partai berasal dari kalangan pesantren. Masyarakat kalangan ideologi Sosialis dan Komunis mayoritas merupakan kalangan pekerja dan buruh yang mendambakan persamaan derajat sosial sebagaimana ideologi tersebut menjadi landasa di Uni Soviet. Kalangan n elitis yang baru saja pulang belajar di tanah Uni Soviet (Rusia) mempunyai andil dalam hal kaderisasi terhadap masyarakat kalangan buruh. Hal tersebut menjadikan Partai Komunis Indonesia sebagai salah partai terbesar di Indonesia pada masa itu dan masuk ke dalam 5 besar partai yang merajai pemilu di tahun 1955.

Sedangkan masyarakat yang cenderung memilih Nasionalis, mayoritas merupakan pendukung dari pada Soekarno. Partai Nasional Indonesia (PNI) begitu populer dikarenakan kharisma Soekarno sebagai salah satu figur Founding Father, proklamator kemerdekaan dan juga pemimpin Indonesia yang pertama setelah sekian lama Indonesia dijajah oleh bangsa asing.Sebagai partisipan politik, masyarakat Indonesia mempunyai andil di dalam memberikan opini

II. Partisipasi pada masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru atau bisa juga disebut sebagai era dari Presiden Soeharto, partisipasi politik masyarakat Indonesia dalam kegiatan politik tidak terlalu besar seperti pada masa sekarang ini, dimana pada masa sekarang masyarakat sudah sangat aktif dalam memberikan opini mereka terhadap segala kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Pada masa Orde Baru, masyarakat cenderung mengikuti apa yang telah dirumuskan oleh pemerintah pada saat itu, mereka tidak bisa melakukan aksi protes bila memang mereka tidak setuju dengan suatu kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah, sehingga apapun keputusan yang diambil dianggap merupakan keputusan yang terbaik bagi masyarakat. Partisipasi pada masa Orde Baru ini juga bisa dikatakan merupakan partisipasi yang dimobilisasi, melalui penggiringan opini oleh penguasa kepada masyarakat sehingga masyarakat akan mengikuti kehendaknya. Partisipasi yang dimobilisasi bisa dikatakan merupakan suatu kegiatan partisipasi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memberikan suara, berdemonstrasi ataupun mengambil tindakan-tindakan lainnya untuk mempengaruhi pengambilpengambil keputusan pemerintah tetapi keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut tidak berasal dari pribadinya sendiri. Pada dasarnya,keadaan tersebut tercipta karena masyarakat takut untuk mengeluarkan opini serta kritikan-kritikan mereka terhadap kinerja pemerintahan karena banyaknya aktivis-aktvis yang sangat vokal baik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat maupun dalam mengkritik pemerintahan yang hilang begitu saja bagai ditelan bumi dan tidak diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun bahkan sampai saat ini. Dan adanya ancaman -ancaman bagi pegawai-pegawai pemerintah baik pegawai sipil maupun militer untuk memilih atau mencoblos partai politik tertentu agar tidak dicopot dari jabatannya atau dikeluarkan maupun diberhentikan dari tempat mereka bekerja. Selain hal di atas, ada 2 hal yang juga mempengaruhi kepatuhan masyarakat terhadapa pemerintah pada masa orde baru ini, yaitu:

1. Pertama, dikarenakan adanya dukungan kalangan militer terhadap pemerintahan, sehingga masyarakat tidak mau mencampuri urusan pemerintah. Karena pada saat itu, kalangan militer sangat disengani bahkan ditakuti oleh masyarakat. 2. Kedua, masyarakat telah cukup senang akan kondisi dalam negeri yang sangat kondusif dan harga kebutuhan yang dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun setelah terjadi krisis pada tahun 1997, keadaan berubah 180 derajat,dimana harga kebutuhan rakyat melonjak tinggi dan adanya tekanan dari kalangan akademisi baik oleh mahasiswa ataupun dosen-dosen yang sangat berpengaruh untuk melakukan sebuah transformasi yang kita kenal dengan Reformasi , kepatuhan masyarakat terhadap pemerintahpun berubah menjadi pemberontakan besar-besaran yang menolak pemerintahan orde baru segera turun dari kursi pemerintahan karena dianggap sebagai penyebab terjadinya krisis dan adanya berbagai monopoli oleh kroni-kroni Soeharto di sektor-sektor yang menjadi andalan Indonesia serta korupsi yang sangat merajalela yang membuat rakyat senggara dan berbalik dari yang tadinya yang mendukung pemerintah malah sekarang menyerang pemerintah. Untuk partisipasi yang dimobilisasi ini bisa dicontohkan ketika pada setiap pemilihan umum yang akan dilakukan untuk memilih calon presiden pada masa orde baru ini, setiap anggota PNS atau setiap masyarakat yang bekerja sebagai PNS, diwajibkan untuk memilih Partai Golkar dalam pemilu, karena bila tidak kebanyakan dari mereka akan dikenakan sanksi bila memilih partai lain seperti pemecatan ataupun sanksi lainnya yang sangat memberatkan para pekerja, oleh karena itu mau tidak mau masyarakat yang bekerja sebagai PNS akan memilih partai Golkar dalam setiap pemilu, sehingga hal itu memungkinkan partai ini selalu memenangkan pemilu dan memerintah pada masa orde baru.

(Miranti Purnama Sari 44306004)

DAFTAR PUSTAKA

Hutington, Samuel P, dan Nelson, Joan, Partisipasi Politik di Negara Berkembang, Jakarta:PT. Rineka Cipta, 1994.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->