PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . tetapi bersifat personal. agama. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. dan keempat. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi.biasa. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. akal sehat (common sense). agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. filsafat. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. Bahkan. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. common sense (akal sehat). filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. dan intuisi. yaitu: filsafat dan agama. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. yaitu: pertama.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. Filsafat misalnya. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah.[18] Sebaliknya.

dan Filsafat Istilah pengetahuan. kedua. baik dari segi pengertian. Pengetahuan.[21] C. ketiga. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. manusia tahu bahwa ia tahu. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. Namun demikian. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. dan keempat. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. Dalam kajian filsafat. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. ilmu (sains). Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. Pada bagian terdahulu misalnya. dan keempat. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu (Sains). Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar.[23] Dengan demikian. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. DEA. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). manusia tahu bahwa ia tidak tahu. yaitu: pertama. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- .ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. kedua. ketiga. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).

[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Oleh karenanya.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). apakah manusia tahu bahwa ia tahu. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu pengetahuan . melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. metode dan sistem tertentu. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri.

and epistemology. analisis. yaitu: universal. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. ethics.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. antara lain: deskriptif. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . antara lain: 1. 2. 7.…dst. Selain itu. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. the most general beliefs. 3. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. 3. aesthetic. concepts and attitudes of and individual or group. 2. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri.…dst. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. kritis. 6. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. 2.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). 5. calmness of temper and judgment. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). 3.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat.[26] Demikian seterusnya. radikal dan sistematis. 4. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. a discipline comprising as it core logic. metaphysic. evaluatif dan spekulatif.

Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. . adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. sains. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. ilmu (sains). dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. sains. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Perbedaan yang lain. dan filsafat).[29] D.

sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. 5) Penarikan kesimpulan. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. Sebuah Pengantar Populer. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. 4) Pengajuan hipotesis. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah.[30] Jujun S. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Dengan demikan. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. . 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. 3) Perumusan hipotesis.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. meramalkan. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Dengan demikian. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. dan mengontrol. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan.

Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan demikian. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Tidak hanya sampai pada batas itu. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. antara lain: pertama. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. keteraturan logosentrime sangat menonjol di .[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. kesimpulan yang semula dianggap benar. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. Maman.[38] E. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. Demikian seterusnya.

pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. dan lain sebagainya. Ulumul Hadits. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . 5) Penyiaran Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. hadis. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. fikih ibadah. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. tarekat. tasawuf.kalangan umat Islam. dan filsafat. dan sebagainya. dan studi kewilayahan Islam. fikih muamalah. Seperti: Ulumul Qur’an. buday Islam. mencakup: sejarah dakwah. 2) Kelompok cabang. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. ketiga. sikap apologetis terhadap aliran lain. ilmu kalam.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. lembaga pendidikan Islam. Secara umum. yang terdiri dari tafsir. sikap tradisional. peradilan dan perkembangan modern. pendekatan multidisiplin keilmuan. dan pendekatan studi kawasan. dan keenam. filsafat Islam. metode dakwah. sejarah pemikiran Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. pendekatan interdisiplin ilmu. sains Islam. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. falsafah pendidikan Islam. keempat. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. Dakwah. akidah/ilmu kalam (teologi). anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. Peradaban Islam: sejarah Islam. hadis. kelima. sejarah pendidikan Islam. kedua. perbandingan agama.

Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.[41] Sementara itu. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah.[42] F. .keilmuan. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. . pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. Namun demikian. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.

Metodologi Studi Islam. E. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Medan: IAIN Press P. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Yogyakarta: Penerbit Andi U.pdf. 1983. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. 1966. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. 1998. Massachussets. 2001. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. Webster Third New International Dictionary. (cetakan ke 2). Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2003. Jakarta: Sinar Harapan.al. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Kh. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. Teori dan Praktik. Dekonstruksi Pemikiran Islam. 1995. Van Peursen. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Jakarta: Gramedia Irwandar. fa. Hardono Hadi. Suryasumantri. Orientasi di Alam Filsafat. (Cetakan II). 2001. 1976. (editor). Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Affifi.filsafat_ilmu_pengetahuan. 2008.al (editor). Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. et. Metodologi Penelitian Agama. 2005. S. Maman.itb. Sidi Gazalba. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Pengantar Filsafat Umum. Mulyadhi Kartanegara. 2006.DAFTAR BACAAN A. DEA. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. 1998. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 2007. Jakarta: Rajawali Press .1985. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution.ac. et. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 1994. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. 1981. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat.A. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. (catakan ke 3). Filsafat Mistis Ibn Arabi.id/ incl/libfile. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Sistematika Filsafat. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download.

setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Dr. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas.Si Sunday. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. Berkat pengetahuannya. atau ada makanan yang bisa disantap. “Human beings are humanizing themselves”. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. karena pengetahuannya. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. Hebatnya lagi. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Demikian pula.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. Bagi manusia. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. Mudjia Rahardjo. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Berkat pengetahuannya. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. M. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Ada yang hasratnya besar. Misalnya. H. Karena itu. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Misalnya.

kita menjadi makhluk yang manusiawi. Walau punya akal. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. manusia tidak mau bersyukur. dan dari siapa pun. Semakin sering diulang. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. Salah satu nikmat itu ialah akal. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. maka semakin penting maknanya. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. . penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Karena itu. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Dan. yakni Discourse Analysis. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Karena itu. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. di mana pun. Menutup tulisan ini. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. Tengara Allah itu kini terbukti. Karena itu. Dalam studi Content Analysis. karena berpengetahuan itu.

konatif sampai pada taraf psikomotis. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. dan Metakognitif. Oleh karena itu. seperti dalam memperoleh pengetahuan. terutama untuk domain kognitif. Penerapan. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Prosedural. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. yaitu Faktual. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Evaluasi dan Membuat. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. efektif. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Konseptual.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Pemahaman. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. untuk mengoreksinya. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. Namun. Analisis. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. dan seterusnya. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

kreasi. analisis hingga sintesis. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. pemahaman yang lebih baik. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. Dalam matematika. mulai dari pengetahuan. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. fakta-fakta. cara atau metode. keterampilan dan prinsip-prinsip. pemahaman. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. menemukan hubungan antarbagian. dan . Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. berkaitan dan bermamfaat. (ii) analisis hubungan. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. terminologi dan peristilahan.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. penerapan baru. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. penerapan. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam tingkatan ini. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu.

Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Dalam transformasi pengetahuan.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Oleh karena itu. logika dan konsistensi. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. seperti akurasi. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. 2006). Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. (2) proses transformasi pengetahuan. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik.

Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. seperti lambang-lambang. kemampuan memecahkan masalah. “irisan dan sebagainya. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). kemampuan berfikir analitis. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. “perkalian”. sikap positif . Konsep berhubungan erat dengan definisi. Di dalam matematika. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne.mengajar antara guru dengan peserta didik. ( p. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. “gabungan”. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).

Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. dan sering diartikan dengan good sense. klasifikasi. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. karena dimulai dari fakta. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. Dengan common sense. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif.terhadap matematika. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Pengetahuan Agama. Pengetahuan filsafat. Iman . 4. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. eksprimen. pemikiran logika diutamakan. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. 3. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. 2007). tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Pengetahuan ilmu. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. ketekunan. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. diperolehnya melalui observasi. yaitu: 1. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. juga informasi tentang Hari Akhir. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasa. netral. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. ketelitian. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Namun. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. 2.

gambar-gambar). khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. buku teks ataupun media saja. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. bilangan-bilangan. guru. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Prosedural. Konseptual. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. tanda-tanda. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. pemahaman. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. .pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. dan Metakognitif. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Siswa bukan penerima yang pasif. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Pengetahuan tentang akunting. yaitu Faktual. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti.

Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. tempat. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. dan peristiwa dalam berita. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. rotasi bumi. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. tanggal. matahari. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. model mental. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. lokasi. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. kata kerja. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. sumber informasi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. rotasi bumi mengelilingi matahari. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. orang. Pengetahuan nama-nama penting. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. kewarganegaraan. kata sifat) . Seperti. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. dan sebagainya. Contohnya. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. skema.

teknik-teknik. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan Teori. atau materi. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. fungsi) Pengetahuan evolusi. memprediksikan. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. masalah. Pengetahuan model genetika (DNA). algoritma. Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Seperti pengetahuan keterampilan. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Prosedur perkalian dalam . dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit.

atau penemuan. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. persuasif). hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. persetujuan. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. ketika diterapkan. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan Metakognitif . Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Sekali lagi. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. eksperimen. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi.aritmetika.

Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. memantau dan menilai apa yang dipelajari. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Definisi ini menyiratkan dua makna. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Contohnya. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Pertama. 1991:2). Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. pilihan berganda). Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. mengingat nomor telepon). bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. memikirkan dan menyelesaikan masalah. Apabila kesedaran ini wujud. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui.

maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Selanjutnya. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). 1990:32). keterampilannya meningkat. Pengetahuan yang . 1991:39. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. 1981:151). sikapnya semakin positif. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Namun demikian.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Dengan demikian. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. 1981:12). Misalnya. dan sebagainya. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Sehubungan dengan hal ini. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Hal ini berarti (idealnya). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Tahap pertama pemahaman. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Resnick. Kedua. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). (2) Hukum akibat (law of effect). Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Penguatan positif sebagai stimulus. maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Menurut Gagne (dalam Hudojo.

Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. 1981:143-144). Piaget (dalam Bell. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Selanjutnya.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Katona. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. konsep. Jadi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Terakhir adalah tahap keempat. 1990:89). yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. 1981: Stiff dkk.. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Menurut Kohler (dalam Orton. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting.

(3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . 1992:106). 1981:143). belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Kemudian. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Artinya. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. Artinya. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Dengan demikian. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. tidak semua mengerjakan tugas yang sama.

Grasindo. Filsafat Ilmu. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. Psikologi dalam Pendidikan. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Jakarta. Wowo SK. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. Teaching. A Taxonomy for Learning.15 Wita. *** (Source : Fitriani Nur. 2001. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. JICA. and Assessing. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Universitas Negeri Makassar. Winkel. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Diakses pada hari Rabu. Mappaita. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Bandung: Afabeta Muhkal. dan siswa-siswa. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Longman. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. guru. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal.lingkungannya. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Bakhtiar. 2006. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Amsal. Psikologi Pengajaran. 1996. Contohnya. 2003. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. 2007. 2006.S. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. W. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Suherman dkk.

menurut metode tertentu. . istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. yakni logis. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. dan memiliki makna ilmu. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem.

Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. maju selangkah demi selangkah. TUJUAN 1. kedokteran. keperawatan. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . tehnologi dan sebagainya. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. tetap ia melalui pendekatan suatu system . kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . folk science. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. misanya cara mitologis. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. 2. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. 3. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. supra natural. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. sejarah. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . ilmu fisika. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. dan diverifikasikan. 2. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. tradisional. dites. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Berbeda dengan cara – cara lain. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. matematika. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. planet dan bahkan alam semesta. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu .

atau jarang disingkirkan begitu saja . Negara . surat kabar. . sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. banyak para ahli melakukan hal ini. seperti hanya tehnologi. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. ia diakui pada masanya. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.masa sebelumnya. teknik – teknik baru ditemukan data baru. Nontechnical concrete explanation. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. brosur dan sebagainya. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . ataupun satir (slanted criticism) 4. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . tetap diakui kebesaranya . fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. 3. Generalized abstract explanation. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. dengan segala atribut modernisasinya. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. 4. misal 1. kemegahan sejarah peradaban. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . Semitechnical generalized explanation. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. peradaban. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. filsafat. Generalized technical writing. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. Sejarah telah membuktikanya . akan tetapi dengan cara . 2. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. 2. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya.

Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Copernicus dan Kapler. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. atau secara idealnya harus bersifat universal. maka makin dalam pula kita .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. maka makin tinggi pohon tersebut . artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama.

Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. penelitian. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan.hurus menjangkau akarnya. . antropologi . terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . bersumber dari keyakinan. BAB III PENUTUP A. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. peradaban. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. ilmu perilaku. logis. mempunyai metodologi kerja yang khas. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . ilmu ekonomi. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. 5. 6. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. fisika. kontradiktif dan sifatnya tertutup. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. 2. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . memecahkan persoalan kehidupan manusia. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. 4. dan terbuka dari kritik. 3. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . dan kepuasan pengetahuan. ilmu politik. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . sistimatis.masalah yang bersifat praktis. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. komunikasi dan transpormasi. diperoleh secara turun – temurun.

etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Akhirnya. ( ). Hartono Kasmadi. sebuah pengantar popular. Pustaka sinar harapan . Jujun S. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . misalnya. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. SARAN 1. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. Prof. Suria Sumantri. tidak diterbitkan. sedangkan dalam bahasa Indonesia. 2. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. Etika ilmu. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. dan sangat umum di fisika. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Prof. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. bukan sains. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Materi kuliah. Dalam pandangan formalis. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Filsafat ilmu. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. ( 2000 ). ( ). banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. ada pula pandangan lain. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Jakarta. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value.B. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. 3. Inilah sebabnya. tidak diterbitkan. Wawasan Keilmuan. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia.

Jujun S. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Atau sederhananya. Pertama. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. simbol dan notasi. USA: 1997. Referensi Anonim. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution.wikipedia. apapun disiplinnya. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Jakarta: 2001. agar pola struktur. Pustaka Sinar Harapan. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.ilmu praktis atau terapan. Kedua. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. merupakan bidang studi tersendiri. Valentin F. Turchin.. Columbia University Press. perubahan. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Matematika (http://id. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan .

Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. etika.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . filsafat agama dan epistimologi. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. estetika. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah.

karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. semestinya (ought to). prinsipprinsip moral dasar. buruk (bad). dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. bertanggung jawab pada kepentingan umum. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. Akan tetapi. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. Bernaung di bawah filsafat moral. 2. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Menurutnya . Tanggung jawab etis. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya.BAB II PEMBAHASAN 1. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. dan salah (wrong). apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Oleh karena itu. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. serta bersifat universal. manjaga keseimbangan ekosistem. Dalam hal ini. benar (right). dan generasi yang akan datang. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. baik dalam hubungannya sebagai pribadi.

manusia denagn manusia. b. dan nilai penghormatan terhadap manusia. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. ekonomis. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. memperlancar hubungan sosial. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. budaya. Pendapat ketiga. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. sosial. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. baik politis. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. dsb. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. religious. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. logis. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Pendapat kedua. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. idiologis. . seperti pada bidang penyelidikan. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. kepentingankepentingan. agama. dan berbicara tentang fakta semata. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. Pendapat pertama. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu.

dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . martabat manusia.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. dan bersifat universal . Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Apabila diperhatikan dengan seksama. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. kepentingan pada generasi mendatang. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. 3. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. menjaga keseimbangan ekosistem. Tanggungjawab etis. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Supaya terdapat kebebasan. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. lebih nyaman. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. bukan nilai. lebih lama dalam menikmati hidupnya. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Bila kata “kebebasan” dipakai.

Filsafat Ilmu. 2000. Filsafat Ilmu. dan Alim. Akan tetapi. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. 2005. Usman. Artinya. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Pertama. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . timbul pula perbedaan penafsiran. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo.2005. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Jul 10. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. Rizal. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. dan Misnal Munir.

dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Sampai sejauh ini. Selanjutnya. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Oleh karena itu.aksiden manusia. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. epistemologi dan aksiologi . yaitu hewan. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ".

Francis Bacon dengan Sensualismenya. Epistemologi menjadi sebuah kajian. Mereka -barat. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Mereka pandai bersilat lidah. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. belum terlalu lama. Jabir bin al Hayyan. pada waktu itu. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Dalam hal ini. Berbeda dengan barat. Maka dari itu. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Sebelumnya. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Dan sebagian darinya telah lenyap. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. kerendah-hatian dia. Imanuel Kant. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Hegel dan lain-lain. sebenarnya. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. al Khawarizmi. . Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". yakni aliran rasionalis dan empiris. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Oleh karena itu. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). dan mengolah apa yang ada dalam benak. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. merekam. yaitu menerima. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Kedua. Pertama. Atas dasar itu. al Farabi. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). Syekh al Thusi dan yang lainnya. tetapi ia menjadi objek.

bersifat teknis dan normatif akademik. biologi. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. prosesnya menggunakan cara yang lazim. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. ia tidak ingin dikatakan pandai. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. (2) urusa rumah tangga. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Akan tetapi. ilmu pertambangan dan astronomi. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Dalam keadaan seperti ini. (2) ilmu eksakta dan matematika. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. didasarkan pada suatu sistem. Meski dia berhasil. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika.Kebenaran yang riil tidak ada. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. (3) sosial dan politik. maka dengan meningkatnya . Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. harus memenuhi aspek metodologi. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. seperti: fisika. melakukan sesuatu tehadap objek. Oleh sebab itu.

kemahiran. tidak boleh dibantah dan diragukan. pengamatan yang telah dilakukan) . empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. kerangka berpikir . empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). sifat alami (fitrah) . cocok dengan akal. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. yaitu. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. . empirisme dan objektivitas. bukan teori . percobaan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. menurut rasio. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. menurut pikiran yang sehat. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. menurut nisbah (patut). dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Berdasarkan terminologi. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. dengan demikian rasionalisme.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Artinya. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. pengetahuan. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Sementara. penginderaan (sensasi) dan kedua. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. pertama. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan.

tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Misalnya. misalnya. akumulasi limba-limba toksik. dan lain-lain. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. yaitu perang. Dalam tahap ini. Lebih-lebih lagi. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. dampak rumah kaca. justru menimbulkan masalah lain. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. degradasi eksistensi kemanusiaan. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. dan pengrusakan lingkungan hidup. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. udara. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. menurut Bertrand Russel. musuh kemanusiaan.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. pengrusakan hutan. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Akhirnya. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. tanah. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi.

Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. dan ideologi. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Atau kawasan Asia Tengah. Konsekuensinya. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. Menurut dasar-dasar ini. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. religius. Untuk sementara. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. untuk tulisan ini. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Seperti disebutkan sebelumnya. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Jepang.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. cukup penting. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Bahkan. dasar ontologis. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. seperti nilai moral.

Oleh karena itu. maka itulah tahap epistemologis. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Jadi. kerusakan lingkungan. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Dalam psikologi. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. moral. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. penipisan lapisan ozon. Dalam artian bahwa. ada sisi destruktif manusia. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. pada tingkat aksiologis. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). dan tanggungjawab manusia dalam . Oleh karena itu. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Oleh karena itu.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. “ego” dan “super-ego”. Dalam tahap ini. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Nilai ini menyangkut etika. moral. hati nurani. Dalam agama. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Kisah dua kali perang dunia. atau malah mungkin kehancuran. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis.

Bernaung di bawah filsafat moral . di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Kelompok kedua. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan .mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. semestinya (ought to). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. sedangkan dalam penggunaannya. dan salah (wrong). tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. Karena dalam penerapannya. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. benar (right). Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Oleh karena itu. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Pada tahap kontemplasi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. bahkan pemilihan obyek penelitian. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Kelompok pertama. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. buruk (bad). ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Hakikat moral. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Keduanya bertalian dengan hati nurani.

Osdar. Kata moral berasal dari bahasa Latin. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Suatu perbuatan bersifat etis. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. benar. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. bukan berdasarkan situasi. 4. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Deontologi. 3. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. yakni mos (jamaknya mores). Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. Artinya kebiasaan. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Intuisionisme. Etika Hak.sosial. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Konsekuensialisme. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. kewajiban atau hak. Menurut J. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. 2. . Di sini kata moral dan etika punya arti sama. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Dari pemahaman tersebut. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Disinilah. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. adat. melebihi segala hal merugikan. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. etika memainkan peranannya. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Aristoteles. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. oleh filsuf Yunani kuno. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”.

Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Bila kata “kebebasan” dipakai. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. kepentingan pada generasi mendatang. Sebagaimana dikemukakan. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Supaya terdapat kebebasan. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. dehumanisasi. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. menjaga keseimbangan ekosistem. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Imanuel Kant. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Tanggungjawab etis. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. pelacuran dan sebagainya. dan bersifat universal . karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. fisuf Jerman. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. lebih nyaman. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. penggunaan obat bius yang tak terkendali. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. martabat manusia.

maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. ilmu dan etika saling bertautan. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. sekarang. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. yang seharusnya . namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. dengan demikian. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. memerlukan visi moral yang tepat. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan.politik. antara manusia dengan lingkungan. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret.

DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. Ini dapat dimaknai. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. 2002. G. Sebagaimana namanya. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Nur Mufid bin Ali. A. kewajiban dan hak. Ed. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. K. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. Kajian Filsafat Ilmu. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. timbul pula perbedaan penafsiran. ke 2. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. mengenai yang halal dan yang haram. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Muhammad Baqir. Yogyakarta Van Melsen. M. Bandung: Penerbit Mizan. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. kemudian muncul teori etika. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral.1995. Meski demikan. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. PT Gramedia Pustaka Utama. Dr.1992. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Falsafatuna. Bertens. Terj. M. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. karena berpijak pada intuisi. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi.etika. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). 1995. Ahmad. Lembaga Studi Filsafat Islam. . Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. ilmuwan secara pribadi.

Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. Keagungan Ilmu Terj. Franz. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Suriasumantri.2003. 1999. Rosenthal. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. “Filsasfat Ilmu”.. Jujun S. Bakti Mandiri. 1994. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Herman. 1997. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. . ke 3. Ed. Bandung.Kamus Dewan. sebuah pengantar populer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful