PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. common sense (akal sehat). akal sehat (common sense). dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. dan keempat. trial and eror (metode mencoba-coba). Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. agama. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. trial and eror (metode mencoba-coba). tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. Filsafat misalnya. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. dan intuisi. yaitu: filsafat dan agama. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Bahkan. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?.[18] Sebaliknya. filsafat. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. tetapi bersifat personal. yaitu: pertama.biasa.

Namun demikian. yaitu: pertama. DEA. kedua. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. manusia tahu bahwa ia tahu. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. dan keempat. dan Filsafat Istilah pengetahuan. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Pengetahuan. Ilmu (Sains). akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. ilmu (sains).[21] C. Dalam kajian filsafat. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. kedua. baik dari segi pengertian. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. Pada bagian terdahulu misalnya. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).[23] Dengan demikian. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. ketiga. ketiga.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. dan keempat.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. manusia tahu bahwa ia tidak tahu.

Oleh karenanya. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. metode dan sistem tertentu. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu pengetahuan . apakah manusia tahu bahwa ia tahu.

Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). concepts and attitudes of and individual or group. radikal dan sistematis. 2.…dst. kritis. 4. a discipline comprising as it core logic. 5. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). 2. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . 6. ethics. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. 3. antara lain: deskriptif. and epistemology. the most general beliefs. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. antara lain: 1. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. metaphysic.…dst. yaitu: universal. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. calmness of temper and judgment. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. evaluatif dan spekulatif.[26] Demikian seterusnya. 7. analisis. aesthetic. 3.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. 2. Selain itu. 3.

Perbedaan yang lain. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. sains. .[29] D. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. sains.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. dan filsafat). Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. ilmu (sains). Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan.

Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. 4) Pengajuan hipotesis. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah.[30] Jujun S. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. 3) Perumusan hipotesis. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Dengan demikan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. 5) Penarikan kesimpulan. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. . dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. Sebuah Pengantar Populer. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

dan mengontrol.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Dengan demikian.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. meramalkan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.

sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. Tidak hanya sampai pada batas itu. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. Maman. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Demikian seterusnya. antara lain: pertama.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. Dengan demikian. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat.[38] E. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. kesimpulan yang semula dianggap benar. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.

perbandingan agama. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. ketiga. mencakup: sejarah dakwah. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas.kalangan umat Islam. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. dan sebagainya. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Dakwah. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. Peradaban Islam: sejarah Islam. sikap tradisional. 2) Kelompok cabang. sejarah pendidikan Islam. dan keenam. sikap apologetis terhadap aliran lain. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. peradilan dan perkembangan modern. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . fikih muamalah. tasawuf.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. fikih ibadah. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. sejarah pemikiran Islam. kedua. ilmu kalam. buday Islam. filsafat Islam. sains Islam. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. Secara umum. hadis. pendekatan multidisiplin keilmuan. tarekat. dan lain sebagainya. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. dan studi kewilayahan Islam. hadis. keempat. akidah/ilmu kalam (teologi). yang terdiri dari tafsir. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. 5) Penyiaran Islam. lembaga pendidikan Islam. dan filsafat. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. kelima. pendekatan interdisiplin ilmu. falsafah pendidikan Islam. Ulumul Hadits. metode dakwah. dan pendekatan studi kawasan.

.[41] Sementara itu.[42] F.keilmuan. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.

pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. . Namun demikian. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.

Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. DEA. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Metodologi Studi Islam. Massachussets.filsafat_ilmu_pengetahuan. Teori dan Praktik. 1983. Orientasi di Alam Filsafat. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Sistematika Filsafat. 2001. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Rajawali Press . Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". (Cetakan II). Mulyadhi Kartanegara. Medan: IAIN Press P. Jakarta: Gramedia Irwandar. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. (cetakan ke 2). Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. S.al (editor). (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. (catakan ke 3). Van Peursen. Dekonstruksi Pemikiran Islam. Metodologi Penelitian Agama. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. 2008. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. 1995. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. (editor).al.ac. Hardono Hadi.itb. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Webster Third New International Dictionary. Affifi. et. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. 2007. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam.id/ incl/libfile. Suryasumantri. 2001. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri.A.pdf.1985. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Sidi Gazalba. 2005. Kh. 1966. 1998. Jakarta: Sinar Harapan. 1981. E. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. 1994. fa. et. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 1998.DAFTAR BACAAN A. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. 1976. 2003. 2006. Maman. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Pengantar Filsafat Umum. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C.

H. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Demikian pula. Misalnya. Misalnya. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu.Si Sunday. Hebatnya lagi. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Berkat pengetahuannya. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Ada yang hasratnya besar. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. Berkat pengetahuannya. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Bagi manusia. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. “Human beings are humanizing themselves”. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). M. Mudjia Rahardjo. atau ada makanan yang bisa disantap. Dr. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. karena pengetahuannya. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Karena itu. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. binatang memiliki ‘pengetahuan’. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah.

Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Dalam studi Content Analysis. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Salah satu nikmat itu ialah akal. Karena itu. Karena itu. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Karena itu. Semakin sering diulang. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. manusia tidak mau bersyukur. maka semakin penting maknanya. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. . marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Tengara Allah itu kini terbukti. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. karena berpengetahuan itu. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. Menutup tulisan ini. dan dari siapa pun. Walau punya akal. di mana pun. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. kita menjadi makhluk yang manusiawi. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. yakni Discourse Analysis. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. Dan. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah.

yaitu Faktual. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. dan seterusnya. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. konatif sampai pada taraf psikomotis. Evaluasi dan Membuat.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Penerapan. efektif. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. Pemahaman. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. terutama untuk domain kognitif. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. untuk mengoreksinya. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. Analisis. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Oleh karena itu. Konseptual. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. dan Metakognitif. Namun. Prosedural. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan .

siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. kreasi. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. keterampilan dan prinsip-prinsip. mulai dari pengetahuan. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. menemukan hubungan antarbagian. berkaitan dan bermamfaat. dan . Dalam tingkatan ini. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Dalam matematika. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. penerapan. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. analisis hingga sintesis. terminologi dan peristilahan. fakta-fakta. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. (ii) analisis hubungan. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. pemahaman. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. penerapan baru. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. cara atau metode. pemahaman yang lebih baik.

Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. logika dan konsistensi. Dalam transformasi pengetahuan. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. seperti akurasi. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. (2) proses transformasi pengetahuan. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Oleh karena itu. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. 2006). Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak.

“segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0.mengajar antara guru dengan peserta didik. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. “gabungan”. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. “irisan dan sebagainya. seperti lambang-lambang. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. sikap positif . Di dalam matematika. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. “perkalian”. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. kemampuan memecahkan masalah. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. kemampuan berfikir analitis. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. ( p. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Konsep berhubungan erat dengan definisi.q = 0 Û p = 0 atau q = 0).

terhadap matematika. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. 4. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. diperolehnya melalui observasi. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. karena dimulai dari fakta. 2. klasifikasi. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. ketekunan. Pengetahuan biasa. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. Pengetahuan ilmu. Pengetahuan Agama. Pengetahuan filsafat. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. yaitu: 1. Iman . dan sering diartikan dengan good sense. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. juga informasi tentang Hari Akhir. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Namun. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. eksprimen. ketelitian. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. 2007). 3. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. pemikiran logika diutamakan. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. netral. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dengan common sense. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama.

dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Prosedural. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. tanda-tanda. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Konseptual. pemahaman. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. guru. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. . Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Pengetahuan tentang akunting. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. bilangan-bilangan. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Siswa bukan penerima yang pasif. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. yaitu Faktual. dan Metakognitif. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. buku teks ataupun media saja. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. gambar-gambar). Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata.

dan peristiwa dalam berita. rotasi bumi mengelilingi matahari. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan nama-nama penting. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. dan sebagainya. kata kerja. matahari. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. tanggal. Seperti. sumber informasi. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. skema. lokasi. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. kata sifat) . Contohnya. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. model mental. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. orang. kewarganegaraan. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. tempat. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. rotasi bumi.

Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. teknik-teknik. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Model dan Struktur Pengetahuan teori. atau materi. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. fungsi) Pengetahuan evolusi. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. memprediksikan. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Pengetahuan Teori. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. masalah. Prosedur perkalian dalam . Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Seperti pengetahuan keterampilan. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Pengetahuan model genetika (DNA). algoritma.

Pengetahuan Metakognitif . Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. persuasif). Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. atau penemuan. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial.aritmetika. Sekali lagi. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. eksperimen. persetujuan. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. ketika diterapkan.

memikirkan dan menyelesaikan masalah. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Apabila kesedaran ini wujud. mengingat nomor telepon). 1991:2). karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pertama. Definisi ini menyiratkan dua makna. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. pilihan berganda). belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. Contohnya. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.

dan sebagainya. 1991:39. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement).untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Menurut Gagne (dalam Hudojo. Dengan demikian. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. 1990:32). Misalnya. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Tahap pertama pemahaman. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Penguatan positif sebagai stimulus. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. Selanjutnya. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. keterampilannya meningkat. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Sehubungan dengan hal ini. sikapnya semakin positif. (2) Hukum akibat (law of effect). Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). Pengetahuan yang . Kedua. Namun demikian. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. 1981:151). perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Resnick. 1981:12).

Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Katona. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. konsep. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. 1981: Stiff dkk. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. 1990:89). juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Terakhir adalah tahap keempat. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Menurut Kohler (dalam Orton. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Piaget (dalam Bell. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). seorang ahli psikologi gestalt yang lain.. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Jadi. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Selanjutnya. 1981:143-144).

tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. Dengan demikian. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. Artinya. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. Artinya. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. 1992:106). akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Kemudian. 1981:143). Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar.

Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Grasindo. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. 1996.15 Wita. Contohnya. Psikologi Pengajaran. JICA. dan siswa-siswa. Amsal. 2007. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. A Taxonomy for Learning. Bandung: Afabeta Muhkal. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Longman. 2006. guru. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. Strategi Belajar Mengajar Matematika. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Mappaita. *** (Source : Fitriani Nur.S. Bakhtiar.lingkungannya. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Winkel. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Suherman dkk. and Assessing. Wowo SK. Universitas Negeri Makassar. Filsafat Ilmu. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Teaching. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 2003. 2001. 2006. Diakses pada hari Rabu. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. W. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Psikologi dalam Pendidikan. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Jakarta.

(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. yakni logis. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. dan memiliki makna ilmu. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. menurut metode tertentu. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . . bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya.

dan diverifikasikan. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . matematika. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. tehnologi dan sebagainya. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. dites. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. 2. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . supra natural. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. kedokteran. maju selangkah demi selangkah. planet dan bahkan alam semesta. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. ilmu fisika. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. misanya cara mitologis. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. keperawatan. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. 2. folk science. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . Berbeda dengan cara – cara lain. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. sejarah. tradisional. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. tetap ia melalui pendekatan suatu system . akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . TUJUAN 1. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . 3.

Negara . ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. atau jarang disingkirkan begitu saja . ia diakui pada masanya. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. Semitechnical generalized explanation. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. tetap diakui kebesaranya . sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. surat kabar. . Keruntuhan suatu periode pemerintahan. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. akan tetapi dengan cara . Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. Generalized technical writing. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). 2. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya.masa sebelumnya. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. filsafat. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. 2. brosur dan sebagainya. banyak para ahli melakukan hal ini. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. peradaban. Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . Sejarah telah membuktikanya . peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . dengan segala atribut modernisasinya. seperti hanya tehnologi. 4. ataupun satir (slanted criticism) 4. Nontechnical concrete explanation. Generalized abstract explanation. kemegahan sejarah peradaban. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. 3. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. teknik – teknik baru ditemukan data baru. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. misal 1. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan .

Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Copernicus dan Kapler. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. maka makin dalam pula kita . Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . maka makin tinggi pohon tersebut . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. atau secara idealnya harus bersifat universal.

6. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. dan kepuasan pengetahuan. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. mempunyai metodologi kerja yang khas. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. diperoleh secara turun – temurun. ilmu politik. ilmu perilaku. . Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. 2. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . ilmu ekonomi. 5. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . antropologi . memecahkan persoalan kehidupan manusia. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. 3. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. bersumber dari keyakinan. peradaban. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. fisika. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. sistimatis. penelitian. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. komunikasi dan transpormasi. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. logis.hurus menjangkau akarnya.masalah yang bersifat praktis. 4. dan terbuka dari kritik. kontradiktif dan sifatnya tertutup. BAB III PENUTUP A.

dan sangat umum di fisika. Suria Sumantri. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Filsafat ilmu. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. SARAN 1. Hartono Kasmadi. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Jujun S. tidak diterbitkan. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri.B. Dalam pandangan formalis. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. bukan sains. misalnya. Prof. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. ( 2000 ). misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. 3. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. sebuah pengantar popular. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Materi kuliah. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. 2. Prof. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Jakarta. ( ). tidak diterbitkan. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Wawasan Keilmuan. ( ). Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . Inilah sebabnya. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. ada pula pandangan lain. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Akhirnya. Etika ilmu. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. Pustaka sinar harapan .

Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. perubahan. Atau sederhananya. Jujun S. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Jakarta: 2001. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. simbol dan notasi. merupakan bidang studi tersendiri. Pertama. Turchin.wikipedia. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Valentin F. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. agar pola struktur. Kedua. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Referensi Anonim. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.ilmu praktis atau terapan. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya.. USA: 1997. Columbia University Press. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. apapun disiplinnya. Matematika (http://id. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Pustaka Sinar Harapan.

Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. estetika. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. filsafat agama dan epistimologi. etika. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi.

Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. prinsipprinsip moral dasar. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. 2. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. buruk (bad). dan generasi yang akan datang. semestinya (ought to). manjaga keseimbangan ekosistem. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Menurutnya . dan salah (wrong). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Dalam hal ini. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Akan tetapi. Tanggung jawab etis. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. bertanggung jawab pada kepentingan umum. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Oleh karena itu. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Bernaung di bawah filsafat moral. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. serta bersifat universal. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. benar (right).BAB II PEMBAHASAN 1.

karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. religious. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Pendapat ketiga. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. manusia denagn manusia. memperlancar hubungan sosial. kepentingankepentingan. sosial. . dan nilai penghormatan terhadap manusia. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. ekonomis. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. dan berbicara tentang fakta semata. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. seperti pada bidang penyelidikan. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. idiologis. logis. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. Pendapat kedua. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. baik politis. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. dsb. b. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. budaya. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. agama. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. Pendapat pertama.

bukan nilai. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Supaya terdapat kebebasan. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. lebih nyaman. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . lebih lama dalam menikmati hidupnya. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. dan bersifat universal . tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Bila kata “kebebasan” dipakai. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. martabat manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Tanggungjawab etis. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. kepentingan pada generasi mendatang. menjaga keseimbangan ekosistem. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Apabila diperhatikan dengan seksama. 3. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks.

'08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. Usman. Filsafat Ilmu. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Artinya. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. 2005. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. dan Misnal Munir. Jul 10. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. timbul pula perbedaan penafsiran. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. Akan tetapi. dan Alim. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. 2000. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Rizal. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir.2005. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia.Filsafat Ilmu. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Pertama.

dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Oleh karena itu. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Sampai sejauh ini. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. epistemologi dan aksiologi . Selanjutnya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. yaitu hewan. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya.aksiden manusia. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view).

di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Malah tidak sedikit dari ulama Islam. belum terlalu lama. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Atas dasar itu. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Jabir bin al Hayyan. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Mereka pandai bersilat lidah. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Syekh al Thusi dan yang lainnya. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. pada waktu itu. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. merekam. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. al Farabi. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. Maka dari itu. tetapi ia menjadi objek. Oleh karena itu. yakni aliran rasionalis dan empiris. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. dan mengolah apa yang ada dalam benak. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. yaitu menerima. Dan sebagian darinya telah lenyap. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Dalam hal ini. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. al Khawarizmi. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Hegel dan lain-lain. Epistemologi menjadi sebuah kajian. sebenarnya. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Mereka -barat. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Pertama. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Kedua. Imanuel Kant. . Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). kerendah-hatian dia. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebelumnya. Berbeda dengan barat.

Meski dia berhasil. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. (2) ilmu eksakta dan matematika. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. harus memenuhi aspek metodologi. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. prosesnya menggunakan cara yang lazim. seperti: fisika.Kebenaran yang riil tidak ada. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. ilmu pertambangan dan astronomi. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. maka dengan meningkatnya . Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Dalam keadaan seperti ini. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. bersifat teknis dan normatif akademik. ia tidak ingin dikatakan pandai. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. melakukan sesuatu tehadap objek. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. (2) urusa rumah tangga. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. biologi. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. (3) sosial dan politik. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. didasarkan pada suatu sistem. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Akan tetapi. Oleh sebab itu.

Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. cocok dengan akal. menurut nisbah (patut). melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Artinya. percobaan. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. kerangka berpikir . karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. penginderaan (sensasi) dan kedua. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. sifat alami (fitrah) . karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Berdasarkan terminologi. pengamatan yang telah dilakukan) . empirisme dan objektivitas. menurut rasio. pengetahuan. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). Sementara. yaitu. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. kemahiran. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. dengan demikian rasionalisme.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. . empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. menurut pikiran yang sehat. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. tidak boleh dibantah dan diragukan. bukan teori . Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. pertama. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja.

Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. misalnya. Lebih-lebih lagi. Akhirnya. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. justru menimbulkan masalah lain. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. Misalnya. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. dan lain-lain. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. udara. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. degradasi eksistensi kemanusiaan. tanah. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi).Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. akumulasi limba-limba toksik. dan pengrusakan lingkungan hidup. dampak rumah kaca. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Dalam tahap ini. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. menurut Bertrand Russel. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. musuh kemanusiaan. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. yaitu perang. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. pengrusakan hutan.

Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Atau kawasan Asia Tengah. Jepang. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. religius. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Untuk sementara. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). untuk tulisan ini. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. seperti nilai moral. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. cukup penting. Seperti disebutkan sebelumnya. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. dan ideologi. Konsekuensinya. Menurut dasar-dasar ini. Bahkan. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. dasar ontologis. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri.

Oleh karena itu. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Nilai ini menyangkut etika. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. ada sisi destruktif manusia. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. kerusakan lingkungan. “ego” dan “super-ego”. Oleh karena itu. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Dalam psikologi. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. maka itulah tahap epistemologis. Dalam artian bahwa. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. pada tingkat aksiologis. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. Kisah dua kali perang dunia. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. atau malah mungkin kehancuran. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. penipisan lapisan ozon. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. hati nurani. Jadi. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. Oleh karena itu. moral. Dalam agama. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. moral. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Dalam tahap ini. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. dan tanggungjawab manusia dalam . “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan.

Hakikat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. dan salah (wrong). ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Oleh karena itu. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. buruk (bad). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Bernaung di bawah filsafat moral . Dalam hal ini. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. sedangkan dalam penggunaannya. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Pada tahap kontemplasi. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Keduanya bertalian dengan hati nurani. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Kelompok pertama. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . semestinya (ought to). Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kelompok kedua. benar (right). di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. bahkan pemilihan obyek penelitian. Karena dalam penerapannya.

Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. melebihi segala hal merugikan. .Osdar. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Etika Hak. yakni mos (jamaknya mores). Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Disinilah. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Artinya kebiasaan. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. benar. Dari pemahaman tersebut. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Aristoteles. Menurut J. Konsekuensialisme. etika memainkan peranannya. 3. adat. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. 2. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. kewajiban atau hak. bukan berdasarkan situasi. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 4. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Suatu perbuatan bersifat etis. oleh filsuf Yunani kuno. Kata moral berasal dari bahasa Latin. Teori–teori etika tersebut adalah : 1.sosial. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Intuisionisme. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Deontologi.

dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Imanuel Kant. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. dehumanisasi. martabat manusia. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. dan bersifat universal . kepentingan pada generasi mendatang. penggunaan obat bius yang tak terkendali. fisuf Jerman. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Bila kata “kebebasan” dipakai. lebih nyaman. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Supaya terdapat kebebasan. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. menjaga keseimbangan ekosistem. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Tanggungjawab etis. pelacuran dan sebagainya. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Sebagaimana dikemukakan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia.

Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. ilmu dan etika saling bertautan. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. memerlukan visi moral yang tepat. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. antara manusia dengan lingkungan. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. yang seharusnya . namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. dengan demikian. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. sekarang. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. Kemajuan ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari.politik. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen.

Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Muhammad Baqir. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. Terj. Kajian Filsafat Ilmu. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Ahmad. Ini dapat dimaknai. 2002. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Ed. kewajiban dan hak. M. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. PT Gramedia Pustaka Utama. Meski demikan.1995.etika. Dr. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. kemudian muncul teori etika. mengenai yang halal dan yang haram. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. ilmuwan secara pribadi. Nur Mufid bin Ali. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Sebagaimana namanya. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. K. 1995. Lembaga Studi Filsafat Islam. A. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Yogyakarta Van Melsen. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. G. timbul pula perbedaan penafsiran. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. karena berpijak pada intuisi. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Bandung: Penerbit Mizan. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. . Falsafatuna. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan.1992. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. ke 2. Bertens. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. M. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu.

. ke 3. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. Rosenthal. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Jujun S. 1994.2003. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Herman. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. sebuah pengantar populer. 1999. Keagungan Ilmu Terj. Franz. 1997. “Filsasfat Ilmu”.. Bandung. Bakti Mandiri. Suriasumantri.Kamus Dewan. Ed. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful