P. 1
bahan uas filsafat

bahan uas filsafat

|Views: 112|Likes:
Published by Dendy Saputra

More info:

Published by: Dendy Saputra on Feb 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2011

pdf

text

original

PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. dan intuisi. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. yaitu: pertama. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. filsafat. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. common sense (akal sehat). agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Bahkan. agama. tetapi bersifat personal. akal sehat (common sense). Filsafat misalnya. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi.biasa. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. yaitu: filsafat dan agama.[18] Sebaliknya. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. trial and eror (metode mencoba-coba). tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. trial and eror (metode mencoba-coba). dan keempat. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan.

[23] Dengan demikian. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. Pengetahuan. baik dari segi pengertian.[21] C.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. dan keempat. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. kedua. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. Namun demikian. manusia tahu bahwa ia tahu. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. ilmu (sains). dan keempat. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . DEA. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. yaitu: pertama. Pada bagian terdahulu misalnya. dan Filsafat Istilah pengetahuan. ketiga. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. ketiga. Dalam kajian filsafat. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. kedua. Ilmu (Sains). Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar.

atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. apakah manusia tahu bahwa ia tahu. Oleh karenanya. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). metode dan sistem tertentu. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu pengetahuan .benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini.

5. 2. 3. Selain itu. kritis. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. analisis. metaphysic. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. antara lain: deskriptif. 2. the most general beliefs. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. aesthetic. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. and epistemology. 3. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. 6. 4.…dst. 3. ethics. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. a discipline comprising as it core logic. 7. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). radikal dan sistematis. concepts and attitudes of and individual or group. yaitu: universal.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. 2. antara lain: 1.…dst. evaluatif dan spekulatif. calmness of temper and judgment.[26] Demikian seterusnya. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs.

dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. sains. . sains. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan.[29] D. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Perbedaan yang lain. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. dan filsafat). ilmu (sains).

Sebuah Pengantar Populer. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. Dengan demikan. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. 5) Penarikan kesimpulan. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. 3) Perumusan hipotesis. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. 4) Pengajuan hipotesis.[30] Jujun S.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. . yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. meramalkan.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. Dengan demikian. dan mengontrol. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan .

Tidak hanya sampai pada batas itu. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula.[38] E. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. Maman. Demikian seterusnya. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. antara lain: pertama. Dengan demikian.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. kesimpulan yang semula dianggap benar. keteraturan logosentrime sangat menonjol di .[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi.

buday Islam. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. filsafat Islam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Secara umum. dan lain sebagainya. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. kedua. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. 5) Penyiaran Islam. Peradaban Islam: sejarah Islam. sejarah pemikiran Islam. Dakwah. dan studi kewilayahan Islam. perbandingan agama. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. keempat. dan keenam. mencakup: sejarah dakwah. fikih ibadah. yang terdiri dari tafsir. akidah/ilmu kalam (teologi). ilmu kalam. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. sikap apologetis terhadap aliran lain. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu.kalangan umat Islam. dan sebagainya. sejarah pendidikan Islam. tasawuf. dan pendekatan studi kawasan.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. peradilan dan perkembangan modern. falsafah pendidikan Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. hadis. hadis. ketiga. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. tarekat. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. pendekatan multidisiplin keilmuan. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. metode dakwah. sains Islam. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. pendekatan interdisiplin ilmu. 2) Kelompok cabang. fikih muamalah. kelima. Ulumul Hadits. Seperti: Ulumul Qur’an. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. sikap tradisional. dan filsafat. lembaga pendidikan Islam.

Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu.[41] Sementara itu. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.[42] F. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.keilmuan. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. . studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah.

melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. . sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. Namun demikian.

Metodologi Studi Islam. Dekonstruksi Pemikiran Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. 1981. Pengantar Filsafat Umum. Medan: IAIN Press P. 1983. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. (cetakan ke 2). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. Filsafat Mistis Ibn Arabi. (Cetakan II). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. 2001. Webster Third New International Dictionary. 2008. 2007. 1998.id/ incl/libfile. Suryasumantri. 1966. Yogyakarta: Penerbit Andi U. S. 2003. Affifi. Maman.pdf. (editor). Orientasi di Alam Filsafat. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Jakarta: Gramedia Irwandar. Teori dan Praktik. Mulyadhi Kartanegara. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Sistematika Filsafat. E. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. 2006.filsafat_ilmu_pengetahuan. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 2001. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. DEA. (catakan ke 3). Massachussets. Kh.A.al. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Jakarta: Sinar Harapan. et. Sidi Gazalba. et. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove.ac. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik.1985. 1976. 2005. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Van Peursen. Metodologi Penelitian Agama. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. 1998. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Hardono Hadi.al (editor). fa. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. 1995. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 1994. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Jakarta: Rajawali Press .itb.DAFTAR BACAAN A.

Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. Bagi manusia. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. atau ada makanan yang bisa disantap. “Human beings are humanizing themselves”. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Misalnya. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. Mudjia Rahardjo. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. Demikian pula. Dr. H. Hebatnya lagi. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Karena itu. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Ada yang hasratnya besar. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai.Si Sunday. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Berkat pengetahuannya. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Misalnya. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. karena pengetahuannya. M. Berkat pengetahuannya.

Tengara Allah itu kini terbukti. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Walau punya akal. karena berpengetahuan itu. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Karena itu. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. di mana pun. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. kita menjadi makhluk yang manusiawi. Karena itu. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Semakin sering diulang. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Karena itu. dan dari siapa pun. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. manusia tidak mau bersyukur. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Dan. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. maka semakin penting maknanya. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. . yakni Discourse Analysis. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Menutup tulisan ini. Dalam studi Content Analysis. Salah satu nikmat itu ialah akal. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah.

dan seterusnya. dan Metakognitif. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Konseptual. seperti dalam memperoleh pengetahuan. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Evaluasi dan Membuat. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Oleh karena itu. Penerapan. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. yaitu Faktual. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Analisis. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. terutama untuk domain kognitif. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. konatif sampai pada taraf psikomotis. untuk mengoreksinya. Pemahaman. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. efektif. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Namun. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Prosedural. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi.

menemukan hubungan antarbagian. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. mulai dari pengetahuan. dan . Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Dalam matematika. berkaitan dan bermamfaat. (ii) analisis hubungan. kreasi. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. keterampilan dan prinsip-prinsip. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. fakta-fakta. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. analisis hingga sintesis. terminologi dan peristilahan. pemahaman. Dalam tingkatan ini. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. penerapan baru. pemahaman yang lebih baik. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. cara atau metode. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. penerapan. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika.

karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. seperti akurasi. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Oleh karena itu. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. (2) proses transformasi pengetahuan. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. 2006). Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. Dalam transformasi pengetahuan. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. logika dan konsistensi.

Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. “perkalian”. kemampuan memecahkan masalah. Di dalam matematika. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. ( p. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. sikap positif . seperti lambang-lambang. “irisan dan sebagainya. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya.mengajar antara guru dengan peserta didik. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. kemampuan berfikir analitis. “gabungan”. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh.

eksprimen.terhadap matematika. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. 2007). benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Namun. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. diperolehnya melalui observasi. pemikiran logika diutamakan. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yaitu: 1. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. klasifikasi. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Pengetahuan biasa. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. dan sering diartikan dengan good sense. ketekunan. Iman . atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. 2. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. ketelitian. netral. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. Pengetahuan filsafat. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Dengan common sense. Pengetahuan ilmu. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. juga informasi tentang Hari Akhir. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. 3. karena dimulai dari fakta. 4. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. Pengetahuan Agama. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual.

gambar-gambar). Siswa bukan penerima yang pasif. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Prosedural. Pengetahuan tentang akunting. buku teks ataupun media saja. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. yaitu Faktual.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. guru. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. pemahaman. dan Metakognitif. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Konseptual. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. bilangan-bilangan. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. tanda-tanda. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. .

skema. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Contohnya.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. tanggal. rotasi bumi mengelilingi matahari. lokasi. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Seperti. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. Pengetahuan nama-nama penting. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. dan sebagainya. kata kerja. model mental. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. dan peristiwa dalam berita. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. sumber informasi. kewarganegaraan. matahari. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. tempat. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. rotasi bumi. kata sifat) . orang. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan.

memprediksikan. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. algoritma. Pengetahuan Teori. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan model genetika (DNA). Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Seperti pengetahuan keterampilan. teknik-teknik. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Prosedur perkalian dalam . fungsi) Pengetahuan evolusi. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. masalah. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. atau materi. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Pengetahuan teori tektonik. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit.

jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. persuasif). Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. Pengetahuan Metakognitif .aritmetika. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. eksperimen. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. Sekali lagi. atau penemuan. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. persetujuan. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. ketika diterapkan.

Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Apabila kesedaran ini wujud. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Pertama. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. 1991:2). termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. pilihan berganda). Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. mengingat nomor telepon). belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. Definisi ini menyiratkan dua makna. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. memikirkan dan menyelesaikan masalah. Contohnya.

Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Sehubungan dengan hal ini. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. 1981:12). Kedua. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Selanjutnya. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Hal ini berarti (idealnya). kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. 1990:32). Resnick. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. (2) Hukum akibat (law of effect). Pengetahuan yang . keterampilannya meningkat. Misalnya. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. dan sebagainya. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Dengan demikian. 1991:39. sikapnya semakin positif. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Penguatan positif sebagai stimulus. Tahap pertama pemahaman. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Namun demikian. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. Menurut Gagne (dalam Hudojo. 1981:151). Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan.

1981:143-144). Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. 1990:89). Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . 1981: Stiff dkk. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Katona. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. Menurut Kohler (dalam Orton.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. Selanjutnya. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Terakhir adalah tahap keempat. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. konsep. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. Piaget (dalam Bell. Jadi. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting.. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi.

pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Dengan demikian. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Artinya. Artinya. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Kemudian. 1992:106). 1981:143). belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan .

Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. JICA. and Assessing. 2006.lingkungannya. Psikologi Pengajaran. 1996. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. Suherman dkk. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.S. Wowo SK. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. atau pendirian dari kelompok tertentu saja.15 Wita. guru. A Taxonomy for Learning. Bandung: Afabeta Muhkal. Grasindo. Filsafat Ilmu. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Teaching. 2001. *** (Source : Fitriani Nur. 2007. Amsal. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Bakhtiar. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. W. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Diakses pada hari Rabu. Universitas Negeri Makassar. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. Winkel. Jakarta. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. 2006. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. 2003. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Contohnya. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Mappaita. Psikologi dalam Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Longman. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. dan siswa-siswa. Strategi Belajar Mengajar Matematika.

dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. .(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. menurut metode tertentu. yakni logis. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. dan memiliki makna ilmu.

Sebab seringkali ilmu yang diteliti . TUJUAN 1. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . sejarah. folk science. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . dites. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. 2. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. dan diverifikasikan. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. supra natural. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. tradisional. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. ilmu fisika. 2. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . keperawatan. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. kedokteran. maju selangkah demi selangkah. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. 3. tetap ia melalui pendekatan suatu system . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. Berbeda dengan cara – cara lain. tehnologi dan sebagainya. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. planet dan bahkan alam semesta. misanya cara mitologis. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . matematika. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru.

dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. akan tetapi dengan cara . Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. seperti hanya tehnologi. misal 1. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Generalized abstract explanation. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . filsafat.masa sebelumnya. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. kemegahan sejarah peradaban. atau jarang disingkirkan begitu saja . tetap diakui kebesaranya . Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. peradaban. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . 3. 2. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. dengan segala atribut modernisasinya. surat kabar. banyak para ahli melakukan hal ini. Semitechnical generalized explanation. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. teknik – teknik baru ditemukan data baru. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . ia diakui pada masanya. 2. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. Negara . Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Sejarah telah membuktikanya . sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . ataupun satir (slanted criticism) 4. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. Generalized technical writing. brosur dan sebagainya. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. 4. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Nontechnical concrete explanation.

atau secara idealnya harus bersifat universal. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Copernicus dan Kapler. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . maka makin dalam pula kita . namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . maka makin tinggi pohon tersebut . artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya .

bersumber dari keyakinan. 2. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. memecahkan persoalan kehidupan manusia. BAB III PENUTUP A. kontradiktif dan sifatnya tertutup. mempunyai metodologi kerja yang khas. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . 4.hurus menjangkau akarnya. ilmu politik. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. antropologi . diperoleh secara turun – temurun. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. sistimatis. 5. dan terbuka dari kritik. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. logis. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. . SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. ilmu perilaku. peradaban. ilmu ekonomi. penelitian. komunikasi dan transpormasi. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. fisika. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif.masalah yang bersifat praktis. dan kepuasan pengetahuan. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . 3. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. 6.

tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. ( ). Filsafat ilmu. ( 2000 ). untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Prof. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. sebuah pengantar popular. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. tidak diterbitkan. Prof. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Hartono Kasmadi. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. 2. Dalam pandangan formalis. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. Suria Sumantri. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Etika ilmu. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Wawasan Keilmuan. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . Jakarta. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. dan sangat umum di fisika. 3. Materi kuliah. bukan sains. Inilah sebabnya. misalnya. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. SARAN 1. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Jujun S. ada pula pandangan lain. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika.B. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Pustaka sinar harapan . melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . tidak diterbitkan. ( ). Akhirnya.

Referensi Anonim. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks.wikipedia. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Pustaka Sinar Harapan. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Turchin. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. Jujun S. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Jakarta: 2001. Kedua. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah.ilmu praktis atau terapan. Matematika (http://id. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. USA: 1997. Atau sederhananya. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Pertama. perubahan. Valentin F. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. merupakan bidang studi tersendiri. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik.. simbol dan notasi. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. agar pola struktur. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. apapun disiplinnya. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Columbia University Press. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan .

Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . estetika. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. filsafat agama dan epistimologi. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. etika. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu.

manjaga keseimbangan ekosistem. serta bersifat universal. bertanggung jawab pada kepentingan umum. dan salah (wrong). Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. benar (right). menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Akan tetapi. buruk (bad). Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. 2. semestinya (ought to). Oleh karena itu. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Bernaung di bawah filsafat moral. Tanggung jawab etis. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Menurutnya . Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Dalam hal ini. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. dan generasi yang akan datang.BAB II PEMBAHASAN 1. Keduanya bertalian dengan hati nurani. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. prinsipprinsip moral dasar.

budaya. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. . memperlancar hubungan sosial. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. manusia denagn manusia. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. dan berbicara tentang fakta semata. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Pendapat kedua. logis. agama. b. Pendapat ketiga. sosial. ekonomis. baik politis. Pendapat pertama. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. dan nilai penghormatan terhadap manusia. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. religious. seperti pada bidang penyelidikan. idiologis. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. kepentingankepentingan. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. dsb. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri.

3. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . lebih nyaman. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . Bila kata “kebebasan” dipakai. menjaga keseimbangan ekosistem. dan bersifat universal . Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. lebih lama dalam menikmati hidupnya. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. bukan nilai. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Tanggungjawab etis. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Apabila diperhatikan dengan seksama. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Supaya terdapat kebebasan. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. martabat manusia. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. kepentingan pada generasi mendatang.

'08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan.2005. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. timbul pula perbedaan penafsiran.Filsafat Ilmu. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Artinya. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Usman. dan Misnal Munir. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. 2000. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Filsafat Ilmu. Pertama. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. 2005. dan Alim. Rizal. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. Jul 10. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Akan tetapi. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari .

Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. yaitu hewan. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Selanjutnya. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. epistemologi dan aksiologi . Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif.aksiden manusia. Sampai sejauh ini. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu.

Pertama. yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Oleh karena itu. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Sebelumnya. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. al Khawarizmi. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. pada waktu itu. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Berbeda dengan barat. Kedua. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Jabir bin al Hayyan. tetapi ia menjadi objek. Dalam hal ini. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Atas dasar itu.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Epistemologi menjadi sebuah kajian. Syekh al Thusi dan yang lainnya. .memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". belum terlalu lama. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. sebenarnya. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Maka dari itu. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. Mereka -barat. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. dan mengolah apa yang ada dalam benak. kerendah-hatian dia. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Imanuel Kant. yaitu menerima. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. al Farabi. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Hegel dan lain-lain. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Mereka pandai bersilat lidah. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. merekam.

Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. filsafat teoritis dan filsafat praktis. seperti: fisika. maka dengan meningkatnya . Akan tetapi. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. ia tidak ingin dikatakan pandai.Kebenaran yang riil tidak ada. prosesnya menggunakan cara yang lazim. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). Oleh sebab itu. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dalam keadaan seperti ini. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. ilmu pertambangan dan astronomi. Meski dia berhasil. (3) sosial dan politik. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. (2) ilmu eksakta dan matematika. bersifat teknis dan normatif akademik. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. biologi. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. didasarkan pada suatu sistem. (2) urusa rumah tangga. harus memenuhi aspek metodologi. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. melakukan sesuatu tehadap objek. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional.

Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. Artinya. dengan demikian rasionalisme. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. tidak boleh dibantah dan diragukan. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. menurut nisbah (patut). menurut rasio. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. cocok dengan akal. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. menurut pikiran yang sehat. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. pertama. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. Sementara. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. empirisme dan objektivitas. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. Berdasarkan terminologi. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. sifat alami (fitrah) . kerangka berpikir . Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. yaitu. percobaan. . bukan teori . karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. penginderaan (sensasi) dan kedua. pengetahuan. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. pengamatan yang telah dilakukan) . kemahiran. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna.

Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. tanah. yaitu perang. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. dan lain-lain. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Dalam tahap ini. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Misalnya. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih-lebih lagi.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. degradasi eksistensi kemanusiaan. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. menurut Bertrand Russel. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. misalnya. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. dan pengrusakan lingkungan hidup. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. udara. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. pengrusakan hutan. dampak rumah kaca. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Akhirnya. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. justru menimbulkan masalah lain. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. akumulasi limba-limba toksik. musuh kemanusiaan. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya.

Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. dasar ontologis. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. Jepang. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . religius. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. untuk tulisan ini. cukup penting. dan ideologi. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Atau kawasan Asia Tengah. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. Seperti disebutkan sebelumnya. Untuk sementara. Bahkan. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Konsekuensinya.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. seperti nilai moral. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. Menurut dasar-dasar ini. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia.

penipisan lapisan ozon. ada sisi destruktif manusia. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Oleh karena itu. moral. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Dalam tahap ini. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. maka itulah tahap epistemologis. Nilai ini menyangkut etika. Dalam psikologi. Oleh karena itu. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Jadi. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Oleh karena itu. Dalam agama. kerusakan lingkungan. moral. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. Kisah dua kali perang dunia. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. dan tanggungjawab manusia dalam . Dalam artian bahwa. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. atau malah mungkin kehancuran. hati nurani. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. pada tingkat aksiologis. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). “ego” dan “super-ego”. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu.

etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Dalam hal ini. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. sedangkan dalam penggunaannya. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Keduanya bertalian dengan hati nurani. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. benar (right). Bernaung di bawah filsafat moral . berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation).mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. buruk (bad). Kelompok kedua. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. bahkan pemilihan obyek penelitian. semestinya (ought to). maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. Kelompok pertama. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . dan salah (wrong). bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Karena dalam penerapannya. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Hakikat moral.

maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Intuisionisme. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. 3. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral.Osdar. kewajiban atau hak. bukan berdasarkan situasi. Artinya kebiasaan.sosial. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Konsekuensialisme. Suatu perbuatan bersifat etis. benar. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. . oleh filsuf Yunani kuno. Menurut J. Dari pemahaman tersebut. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Kata moral berasal dari bahasa Latin. yakni mos (jamaknya mores). 2. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Deontologi. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. melebihi segala hal merugikan. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Disinilah. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Aristoteles. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Etika Hak. 4. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. adat. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. etika memainkan peranannya. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya.

bertanggungjawab pada kepentingan umum.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Sebagaimana dikemukakan. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. pelacuran dan sebagainya. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. lebih lama dalam menikmati hidupnya. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. penggunaan obat bius yang tak terkendali. Tanggungjawab etis. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Bila kata “kebebasan” dipakai. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. fisuf Jerman. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. Supaya terdapat kebebasan. lebih nyaman. Imanuel Kant. kepentingan pada generasi mendatang. menjaga keseimbangan ekosistem. dehumanisasi. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. dan bersifat universal . tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. martabat manusia. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan.

Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. sekarang. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. memerlukan visi moral yang tepat. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi.politik. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. ilmu dan etika saling bertautan. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. dengan demikian. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. yang seharusnya . namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. antara manusia dengan lingkungan. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. Kemajuan ilmu pengetahuan.

M. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. mengenai yang halal dan yang haram. Ahmad. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri.1995. Ini dapat dimaknai. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Ed. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). karena berpijak pada intuisi. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Falsafatuna. M.etika. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Terj. PT Gramedia Pustaka Utama. K. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. kewajiban dan hak. Yogyakarta Van Melsen.1992. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Lembaga Studi Filsafat Islam. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. A. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. 1995. Kajian Filsafat Ilmu. Muhammad Baqir. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. Nur Mufid bin Ali. ilmuwan secara pribadi. Bertens. timbul pula perbedaan penafsiran. G. . bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Dr. ke 2. Meski demikan. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Bandung: Penerbit Mizan. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. 2002. Sebagaimana namanya. kemudian muncul teori etika.

2003. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Jujun S. Ed. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Franz. Keagungan Ilmu Terj.Kamus Dewan. “Filsasfat Ilmu”. 1999. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. 1994. 1997. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Rosenthal. . sebuah pengantar populer. ke 3. Bandung. Herman.. Suriasumantri. Bakti Mandiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->