PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

trial and eror (metode mencoba-coba). Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. dan keempat.biasa. tetapi bersifat personal. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. yaitu: filsafat dan agama. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. dan intuisi.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. agama. filsafat. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Filsafat misalnya. trial and eror (metode mencoba-coba). [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah.[18] Sebaliknya. common sense (akal sehat). Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. akal sehat (common sense). Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. Bahkan. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. yaitu: pertama. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum.

sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. kedua. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). Pada bagian terdahulu misalnya. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia.[21] C. dan keempat. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. dan keempat. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Dalam kajian filsafat. ilmu (sains). Pengetahuan. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. yaitu: pertama. baik dari segi pengertian. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. ketiga. Namun demikian. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. manusia tahu bahwa ia tahu. kedua. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi.[23] Dengan demikian. Ilmu (Sains). umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. dan Filsafat Istilah pengetahuan. DEA. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. ketiga.

Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. metode dan sistem tertentu. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Oleh karenanya. Ilmu pengetahuan . ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. apakah manusia tahu bahwa ia tahu.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.

the most general beliefs. aesthetic. 2.…dst. analisis. yaitu: universal. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . antara lain: 1. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis).[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. 2. 4. antara lain: deskriptif. and epistemology. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. a discipline comprising as it core logic. 3.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1.…dst. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. metaphysic. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. 3. 7.[26] Demikian seterusnya. kritis. radikal dan sistematis. 5. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. calmness of temper and judgment. ethics. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. 3. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. 2. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. evaluatif dan spekulatif. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. 6. concepts and attitudes of and individual or group. Selain itu.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat.

bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. ilmu (sains). Perbedaan yang lain. dan filsafat). sains. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. sains. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. . sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan.[29] D. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu.

. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. 3) Perumusan hipotesis. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris.[30] Jujun S. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. 5) Penarikan kesimpulan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. Dengan demikan. 4) Pengajuan hipotesis. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. Sebuah Pengantar Populer. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. dan mengontrol. meramalkan.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. Dengan demikian.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru.

Tidak hanya sampai pada batas itu. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. Dengan demikian. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. Demikian seterusnya. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. antara lain: pertama.[38] E. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. kesimpulan yang semula dianggap benar. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. Maman.

kalangan umat Islam. 2) Kelompok cabang. lembaga pendidikan Islam. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. sains Islam. mencakup: sejarah dakwah. fikih muamalah. sikap apologetis terhadap aliran lain. dan sebagainya. dan filsafat. dan keenam. pendekatan multidisiplin keilmuan. dan studi kewilayahan Islam. sejarah pendidikan Islam. Dakwah. fikih ibadah. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. kedua. peradilan dan perkembangan modern. mencakup: ilmu pendidiikan Islam.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. tarekat. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. hadis. filsafat Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. perbandingan agama. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. hadis. kelima. Peradaban Islam: sejarah Islam. tasawuf. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. falsafah pendidikan Islam. sejarah pemikiran Islam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. keempat. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. yang terdiri dari tafsir. dan lain sebagainya. metode dakwah. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. sikap tradisional. ketiga. buday Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. ilmu kalam. pendekatan interdisiplin ilmu. 5) Penyiaran Islam. akidah/ilmu kalam (teologi). dan pendekatan studi kawasan. Ulumul Hadits. Secara umum. Seperti: Ulumul Qur’an. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir.

Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.[42] F. . Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.keilmuan.[41] Sementara itu. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.

Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. . pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Namun demikian. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri.

Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. 1995. 1981.ac. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Mulyadhi Kartanegara. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu.al. Pengantar Filsafat Umum.DAFTAR BACAAN A. et. S. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. 1983. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Kh. Suryasumantri. Sidi Gazalba. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. 1998. Orientasi di Alam Filsafat. Sistematika Filsafat.1985. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Massachussets.itb. 1976. 1966. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. (editor). Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2007. fa. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. (cetakan ke 2).id/ incl/libfile. 2001.al (editor).filsafat_ilmu_pengetahuan. Metodologi Studi Islam. (Cetakan II). Jakarta: Sinar Harapan. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. E. Webster Third New International Dictionary. et. Jakarta: Rajawali Press . 2008. Metodologi Penelitian Agama. Teori dan Praktik. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Maman. Dekonstruksi Pemikiran Islam. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. DEA. Van Peursen. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan.pdf. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2006. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. 1994. (catakan ke 3). Yogyakarta: Penerbit Andi U. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Hardono Hadi. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. 1998. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Jakarta: Gramedia Irwandar.A. 2005. 2003. Medan: IAIN Press P. Affifi.

Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. M. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Bagi manusia. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. Demikian pula. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. Misalnya.Si Sunday. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. binatang memiliki ‘pengetahuan’. karena pengetahuannya. Ada yang hasratnya besar. Hebatnya lagi. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Dr. H. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. “Human beings are humanizing themselves”. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Misalnya. Berkat pengetahuannya. atau ada makanan yang bisa disantap. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Karena itu. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Berkat pengetahuannya. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Mudjia Rahardjo. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment).

. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Dalam studi Content Analysis. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Karena itu. Dan. Salah satu nikmat itu ialah akal. Walau punya akal. dan dari siapa pun. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. Menutup tulisan ini. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. manusia tidak mau bersyukur. yakni Discourse Analysis. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. Karena itu. Semakin sering diulang. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. di mana pun. kita menjadi makhluk yang manusiawi.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. maka semakin penting maknanya. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. karena berpengetahuan itu. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Tengara Allah itu kini terbukti. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Karena itu.

Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. dan seterusnya. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. Pemahaman. dan Metakognitif. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. Oleh karena itu. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. terutama untuk domain kognitif. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. efektif. Penerapan. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Konseptual. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . konatif sampai pada taraf psikomotis. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Evaluasi dan Membuat. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. Analisis. Namun. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. untuk mengoreksinya.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Prosedural. yaitu Faktual. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. seperti dalam memperoleh pengetahuan.

Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Dalam tingkatan ini. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. kreasi. (ii) analisis hubungan. keterampilan dan prinsip-prinsip. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. cara atau metode. terminologi dan peristilahan. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. berkaitan dan bermamfaat. menemukan hubungan antarbagian. mulai dari pengetahuan. pemahaman. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. penerapan baru. dan . penerapan. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam matematika. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. analisis hingga sintesis. fakta-fakta.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. pemahaman yang lebih baik. yaitu: (i) analisis elemen/bagian.

Oleh karena itu. (2) proses transformasi pengetahuan. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. seperti akurasi. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. logika dan konsistensi. 2006). peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Dalam transformasi pengetahuan. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal.

Konsep berhubungan erat dengan definisi. “irisan dan sebagainya. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. kemampuan memecahkan masalah. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak.mengajar antara guru dengan peserta didik. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. kemampuan berfikir analitis. “perkalian”. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. ( p. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. seperti lambang-lambang. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). “gabungan”. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. sikap positif . Di dalam matematika.

Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. 2007). yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. juga informasi tentang Hari Akhir. 4. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Namun. Pengetahuan ilmu. yaitu: 1. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. dan sering diartikan dengan good sense. 3. eksprimen. pemikiran logika diutamakan. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. Pengetahuan Agama. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan filsafat. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. diperolehnya melalui observasi. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. netral. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Iman .terhadap matematika. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. klasifikasi. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Pengetahuan biasa. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. karena dimulai dari fakta. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. ketelitian. 2. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. Dengan common sense. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. ketekunan.

Pengetahuan tentang akunting. buku teks ataupun media saja. . Siswa bukan penerima yang pasif. guru. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. pemahaman. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. bilangan-bilangan. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. gambar-gambar). Pengetahuan tentang kosakata melukis. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. yaitu Faktual. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Konseptual. dan Metakognitif. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Prosedural. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. tanda-tanda. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya.

Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. orang. matahari. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. rotasi bumi mengelilingi matahari. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. tempat. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. tanggal. skema. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. rotasi bumi. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. lokasi. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Contohnya. Seperti. dan peristiwa dalam berita. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. dan sebagainya. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. kata kerja. kewarganegaraan. model mental. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. kata sifat) . sumber informasi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan nama-nama penting.

Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Pengetahuan model genetika (DNA). memprediksikan. algoritma. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. fungsi) Pengetahuan evolusi. Prosedur perkalian dalam . Pengetahuan teori tektonik. teknik-teknik. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. masalah. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. atau materi. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Model dan Struktur Pengetahuan teori.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan Teori. Seperti pengetahuan keterampilan.

ketika diterapkan. Pengetahuan Metakognitif . Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. atau penemuan. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. persetujuan. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Sekali lagi. persuasif). Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. eksperimen. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah.aritmetika. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural.

1991:2). seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. pilihan berganda). Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Pertama. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Apabila kesedaran ini wujud. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. memikirkan dan menyelesaikan masalah. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. mengingat nomor telepon). Definisi ini menyiratkan dua makna. Contohnya. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto.

maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. 1981:12). 1981:151). yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Tahap pertama pemahaman. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Namun demikian. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). sikapnya semakin positif. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Dengan demikian.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). Sehubungan dengan hal ini. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Menurut Gagne (dalam Hudojo. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Kedua. dan sebagainya. Pengetahuan yang . yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Selanjutnya. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. Resnick. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. keterampilannya meningkat. Hal ini berarti (idealnya). apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Misalnya. Penguatan positif sebagai stimulus. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. 1991:39. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. 1990:32). seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. (2) Hukum akibat (law of effect). Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental.

Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Menurut Kohler (dalam Orton. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. Terakhir adalah tahap keempat. Jadi. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Katona. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Piaget (dalam Bell.. 1981:143-144). dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. 1981: Stiff dkk. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. 1990:89). Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. konsep. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Selanjutnya. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu.

Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. 1981:143). Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Artinya. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. 1992:106). tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. Kemudian. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Dengan demikian. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Artinya. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan .

S. *** (Source : Fitriani Nur. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Winkel. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Filsafat Ilmu. 2003. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Psikologi Pengajaran. and Assessing. 1996. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. JICA. Suherman dkk.15 Wita. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. 2001. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Bandung: Afabeta Muhkal. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Contohnya. Longman. dan siswa-siswa. Mappaita. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Jakarta. Bakhtiar. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. W. guru. Grasindo. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. A Taxonomy for Learning.lingkungannya. Wowo SK. Universitas Negeri Makassar. 2006. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Diakses pada hari Rabu. Teaching. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. Strategi Belajar Mengajar Matematika. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. 2006. 2007. Amsal. Psikologi dalam Pendidikan. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.

pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. menurut metode tertentu. yakni logis. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . dan memiliki makna ilmu.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. . bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya.

yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. folk science. tetap ia melalui pendekatan suatu system . Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. matematika. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . planet dan bahkan alam semesta. 2. 3. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . ilmu fisika. supra natural. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. 2. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Berbeda dengan cara – cara lain. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. maju selangkah demi selangkah. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. keperawatan. tehnologi dan sebagainya. dites. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. misanya cara mitologis. dan diverifikasikan. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. tradisional. TUJUAN 1. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. sejarah. kedokteran. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman.

banyak para ahli melakukan hal ini. 3. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. 2. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. brosur dan sebagainya. misal 1. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . kemegahan sejarah peradaban. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. surat kabar. filsafat. 2. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . Generalized abstract explanation. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . . Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. teknik – teknik baru ditemukan data baru. tetap diakui kebesaranya . sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. Nontechnical concrete explanation. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. ataupun satir (slanted criticism) 4. 4. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . dengan segala atribut modernisasinya. Sejarah telah membuktikanya . akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). Keruntuhan suatu periode pemerintahan. Negara . Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. akan tetapi dengan cara . atau jarang disingkirkan begitu saja . Semitechnical generalized explanation. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Generalized technical writing. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. seperti hanya tehnologi. peradaban. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. ia diakui pada masanya.masa sebelumnya. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus.

Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. maka makin tinggi pohon tersebut . Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. atau secara idealnya harus bersifat universal. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. maka makin dalam pula kita . Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Copernicus dan Kapler. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan .

masalah yang bersifat praktis. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . 2. 4. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . mempunyai metodologi kerja yang khas.hurus menjangkau akarnya. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . 5. memecahkan persoalan kehidupan manusia. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. dan terbuka dari kritik. 6. bersumber dari keyakinan. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. ilmu perilaku. dan kepuasan pengetahuan. sistimatis. kontradiktif dan sifatnya tertutup. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. fisika. komunikasi dan transpormasi. BAB III PENUTUP A. logis. ilmu ekonomi. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. . 3. antropologi . Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . penelitian. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. diperoleh secara turun – temurun. ilmu politik. peradaban. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas .

tidak diterbitkan. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Jujun S. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. dan sangat umum di fisika. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. Hartono Kasmadi. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. misalnya. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. bukan sains. sebuah pengantar popular. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Dalam pandangan formalis.B. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . Akhirnya. 2. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. ( ). Prof. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. sedangkan dalam bahasa Indonesia. ( 2000 ). atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Inilah sebabnya. ada pula pandangan lain. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. SARAN 1. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Materi kuliah. Prof. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Pustaka sinar harapan . Filsafat ilmu. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. 3. Wawasan Keilmuan. Suria Sumantri. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . ( ). Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. Etika ilmu. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Jakarta. tidak diterbitkan.

Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Jakarta: 2001. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. perubahan. Columbia University Press. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya.wikipedia. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. simbol dan notasi. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Atau sederhananya. agar pola struktur. Pertama. Jujun S. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. Valentin F. Matematika (http://id. apapun disiplinnya. Kedua.. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . merupakan bidang studi tersendiri. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah.ilmu praktis atau terapan. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Pustaka Sinar Harapan. USA: 1997. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Turchin. Referensi Anonim.

Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . filsafat agama dan epistimologi. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. estetika. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. etika. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi.

Oleh karena itu. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. dan salah (wrong). 2. serta bersifat universal. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Bernaung di bawah filsafat moral. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Akan tetapi. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Dalam hal ini. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. benar (right). dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. bertanggung jawab pada kepentingan umum.BAB II PEMBAHASAN 1. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Tanggung jawab etis. prinsipprinsip moral dasar. buruk (bad). Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. manjaga keseimbangan ekosistem. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. dan generasi yang akan datang. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. semestinya (ought to). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Menurutnya . Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu.

menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. dsb. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. ekonomis. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. memperlancar hubungan sosial. b. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. kepentingankepentingan. Pendapat pertama. baik politis. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Pendapat ketiga. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. . logis. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. manusia denagn manusia. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. budaya. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. seperti pada bidang penyelidikan. Pendapat kedua. agama. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. sosial. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. idiologis. religious. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. dan berbicara tentang fakta semata. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. dan nilai penghormatan terhadap manusia. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika.

tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Apabila diperhatikan dengan seksama. lebih nyaman. bukan nilai. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. 3. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. kepentingan pada generasi mendatang. Tanggungjawab etis. Bila kata “kebebasan” dipakai. bertanggungjawab pada kepentingan umum. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. dan bersifat universal . yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. menjaga keseimbangan ekosistem. Supaya terdapat kebebasan. martabat manusia. lebih lama dalam menikmati hidupnya.

Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Rizal. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . Akan tetapi. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Artinya. 2005.2005. timbul pula perbedaan penafsiran. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus.Filsafat Ilmu. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . dan Alim. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Pertama. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Jul 10. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Usman. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. Filsafat Ilmu. 2000. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. dan Misnal Munir. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu.

Selanjutnya. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Oleh karena itu. yaitu hewan. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). epistemologi dan aksiologi . Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . Sampai sejauh ini. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu.aksiden manusia. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah.

Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Epistemologi menjadi sebuah kajian. pada waktu itu. kerendah-hatian dia. Dalam hal ini. Mereka pandai bersilat lidah. Sebelumnya. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). yaitu menerima. . manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Pertama. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Wiliam James dengan Pragmatismenya.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). al Farabi. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. dan mengolah apa yang ada dalam benak. Dan sebagian darinya telah lenyap. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. al Khawarizmi. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Syekh al Thusi dan yang lainnya. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Imanuel Kant. sebenarnya. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Atas dasar itu. Mereka -barat. yakni aliran rasionalis dan empiris. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. tetapi ia menjadi objek. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. merekam. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Kedua. Jabir bin al Hayyan. Maka dari itu. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Berbeda dengan barat. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. belum terlalu lama. Hegel dan lain-lain.

tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. didasarkan pada suatu sistem. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. (2) urusa rumah tangga. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. prosesnya menggunakan cara yang lazim. (3) sosial dan politik. Dalam keadaan seperti ini. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato.Kebenaran yang riil tidak ada. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. ilmu pertambangan dan astronomi. Oleh sebab itu. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Akan tetapi. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). (2) ilmu eksakta dan matematika. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. seperti: fisika. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). harus memenuhi aspek metodologi. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. melakukan sesuatu tehadap objek. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. bersifat teknis dan normatif akademik. ia tidak ingin dikatakan pandai. biologi. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. maka dengan meningkatnya . tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. Meski dia berhasil. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar.

empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. sifat alami (fitrah) . Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. kemahiran. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. Artinya. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. pengamatan yang telah dilakukan) . percobaan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. dengan demikian rasionalisme. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. pertama. menurut pikiran yang sehat. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). kerangka berpikir . Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. . tidak boleh dibantah dan diragukan. bukan teori . Sementara. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. Berdasarkan terminologi. menurut nisbah (patut). Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. cocok dengan akal. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. penginderaan (sensasi) dan kedua. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. menurut rasio. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. yaitu. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. empirisme dan objektivitas. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. pengetahuan. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris.

Misalnya. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. misalnya. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. Lebih-lebih lagi. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. dampak rumah kaca. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. pengrusakan hutan. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. musuh kemanusiaan. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. Akhirnya. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. Dalam tahap ini. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. dan lain-lain. degradasi eksistensi kemanusiaan. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). akumulasi limba-limba toksik. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. justru menimbulkan masalah lain. dan pengrusakan lingkungan hidup. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). yaitu perang. menurut Bertrand Russel. udara. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. tanah. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis.

sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Jepang. untuk tulisan ini. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. dan ideologi. seperti nilai moral. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Seperti disebutkan sebelumnya. dasar ontologis. Menurut dasar-dasar ini. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. Untuk sementara. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Atau kawasan Asia Tengah. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. religius. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. cukup penting. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Konsekuensinya. Bahkan. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri.

kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. pada tingkat aksiologis. Oleh karena itu. Kisah dua kali perang dunia. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. moral. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. maka itulah tahap epistemologis. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. atau malah mungkin kehancuran. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dalam tahap ini.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). kerusakan lingkungan. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. penipisan lapisan ozon. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. ada sisi destruktif manusia. Nilai ini menyangkut etika. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). dan tanggungjawab manusia dalam . Oleh karena itu. Oleh karena itu. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. Dalam psikologi. moral. Dalam artian bahwa. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. “ego” dan “super-ego”. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Dalam agama. Jadi. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). hati nurani. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya.

Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Hakikat moral. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Keduanya bertalian dengan hati nurani. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Kelompok pertama. Pada tahap kontemplasi. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Karena dalam penerapannya. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. benar (right). sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dalam hal ini. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. dan salah (wrong). semestinya (ought to). Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Oleh karena itu. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. sedangkan dalam penggunaannya. Kelompok kedua. buruk (bad). maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. bahkan pemilihan obyek penelitian. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Bernaung di bawah filsafat moral .mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita .

Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. 4. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Deontologi. Disinilah. Artinya kebiasaan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Menurut J. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Suatu perbuatan bersifat etis. adat. Intuisionisme. benar. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. bukan berdasarkan situasi. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Etika Hak. 2. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. . berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”.sosial. yakni mos (jamaknya mores). Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. oleh filsuf Yunani kuno. etika memainkan peranannya.Osdar. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. melebihi segala hal merugikan. kewajiban atau hak. Kata moral berasal dari bahasa Latin. Konsekuensialisme. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Aristoteles. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dari pemahaman tersebut. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 3. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan.

bertanggungjawab pada kepentingan umum. Imanuel Kant. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. fisuf Jerman. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Tanggungjawab etis. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. dan bersifat universal . menjaga keseimbangan ekosistem. penggunaan obat bius yang tak terkendali. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. pelacuran dan sebagainya. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. dehumanisasi.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Bila kata “kebebasan” dipakai. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Sebagaimana dikemukakan. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. kepentingan pada generasi mendatang. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Supaya terdapat kebebasan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. lebih nyaman. lebih lama dalam menikmati hidupnya. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. martabat manusia.

namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. sekarang. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. ilmu dan etika saling bertautan. antara manusia dengan lingkungan. Kemajuan ilmu pengetahuan. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. yang seharusnya . Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. dengan demikian. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. memerlukan visi moral yang tepat.politik. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan.

Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. . Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. ilmuwan secara pribadi.1992. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. Bertens. K. PT Gramedia Pustaka Utama. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Yogyakarta Van Melsen. kemudian muncul teori etika. timbul pula perbedaan penafsiran. Muhammad Baqir. Ed. Bandung: Penerbit Mizan. karena berpijak pada intuisi. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. 2002. Sebagaimana namanya.1995.etika. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). mengenai yang halal dan yang haram. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Falsafatuna. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). G. Dr. M. 1995. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. Meski demikan. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Lembaga Studi Filsafat Islam. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. kewajiban dan hak. Kajian Filsafat Ilmu. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Ahmad. Ini dapat dimaknai. M. Nur Mufid bin Ali. ke 2. A. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. Terj. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus.

ke 3. Keagungan Ilmu Terj.Kamus Dewan. 1997. 1999. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Suriasumantri. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. 1994. sebuah pengantar populer. Franz. “Filsasfat Ilmu”. . Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Bandung. Bakti Mandiri.2003. Rosenthal. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah.. Herman. Ed. Jujun S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful