PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman.[18] Sebaliknya. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. tetapi bersifat personal. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. dan keempat. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. filsafat. agama. akal sehat (common sense). Bahkan. common sense (akal sehat). Filsafat misalnya. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.biasa. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . trial and eror (metode mencoba-coba). justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. yaitu: pertama. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. dan intuisi. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. yaitu: filsafat dan agama.

manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Pada bagian terdahulu misalnya. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Pengetahuan. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. dan Filsafat Istilah pengetahuan. ketiga. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi.[21] C. baik dari segi pengertian. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. dan keempat. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. dan keempat. kedua.[23] Dengan demikian. kedua. ilmu (sains). sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. Dalam kajian filsafat. yaitu: pertama. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. manusia tahu bahwa ia tahu. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. Namun demikian. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . manusia tidak tahu bahwa ia tahu. DEA. Ilmu (Sains). hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. ketiga.

melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan .[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. metode dan sistem tertentu. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. apakah manusia tahu bahwa ia tahu. Oleh karenanya. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains).[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri.

a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. kritis. yaitu: universal. 4. calmness of temper and judgment. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). Selain itu. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. 6. aesthetic. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. the most general beliefs. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . 2. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. and epistemology. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs.…dst. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. 2.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. metaphysic. ethics. 5. antara lain: deskriptif. 3. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. 7. 3.[26] Demikian seterusnya. 2. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. concepts and attitudes of and individual or group.…dst. a discipline comprising as it core logic. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. 3. evaluatif dan spekulatif.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). antara lain: 1. radikal dan sistematis. analisis.

adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. Perbedaan yang lain. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. dan filsafat). dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas.[29] D. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. sains. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. .Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. sains. ilmu (sains). Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan.

.[30] Jujun S. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. 3) Perumusan hipotesis. Sebuah Pengantar Populer. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. Dengan demikan. 4) Pengajuan hipotesis. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. 5) Penarikan kesimpulan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. meramalkan. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . dan mengontrol. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Dengan demikian. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi.

Tidak hanya sampai pada batas itu. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. kesimpulan yang semula dianggap benar. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.[38] E. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. Dengan demikian. Maman. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. antara lain: pertama. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Demikian seterusnya.

hadis. filsafat Islam. 2) Kelompok cabang. fikih muamalah. ilmu kalam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. tasawuf. fikih ibadah. dan lain sebagainya. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. yang terdiri dari tafsir. dan studi kewilayahan Islam. kedua. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. sejarah pendidikan Islam. sikap apologetis terhadap aliran lain. perbandingan agama. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. kelima. buday Islam. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. dan keenam. tarekat. Ulumul Hadits. hadis. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. mencakup: sejarah dakwah. dan sebagainya. 5) Penyiaran Islam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Seperti: Ulumul Qur’an. peradilan dan perkembangan modern. sains Islam.kalangan umat Islam. metode dakwah. dan pendekatan studi kawasan. pendekatan multidisiplin keilmuan. Dakwah. akidah/ilmu kalam (teologi). lembaga pendidikan Islam.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. sejarah pemikiran Islam. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. sikap tradisional. keempat. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Secara umum. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. ketiga. Peradaban Islam: sejarah Islam. pendekatan interdisiplin ilmu. dan filsafat. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. falsafah pendidikan Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan.

Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah.keilmuan. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.[41] Sementara itu. .[42] F.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Namun demikian. . Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut.

2006. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. (catakan ke 3). dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Webster Third New International Dictionary. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Metodologi Studi Islam. 1966. Sistematika Filsafat. Jakarta: Gramedia Irwandar. 1998.ac. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. Dekonstruksi Pemikiran Islam.filsafat_ilmu_pengetahuan.id/ incl/libfile. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Metodologi Penelitian Agama. 2001.A. et. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. (editor). Maman. 2005.al. Van Peursen. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. (Cetakan II). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. 1981. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. 2007.itb. E. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Affifi. Teori dan Praktik.DAFTAR BACAAN A. 1995. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. 2003.al (editor). 1998. DEA. Jakarta: Rajawali Press . Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. Sidi Gazalba.pdf. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. Massachussets. Mulyadhi Kartanegara.1985. 1983. 1994. 2001. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Jakarta: Sinar Harapan. Medan: IAIN Press P. S. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Suryasumantri. Pengantar Filsafat Umum. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. fa. Kh. et. (cetakan ke 2). Hardono Hadi. Orientasi di Alam Filsafat. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2008.

Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Berkat pengetahuannya. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Misalnya. Karena itu. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. Demikian pula. “Human beings are humanizing themselves”. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Berkat pengetahuannya. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. H. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Dr. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Mudjia Rahardjo. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. Hebatnya lagi. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. M. Ada yang hasratnya besar. karena pengetahuannya. Bagi manusia. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. atau ada makanan yang bisa disantap. Misalnya. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya.Si Sunday. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya.

Menutup tulisan ini. . mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. Semakin sering diulang. manusia tidak mau bersyukur. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . yakni Discourse Analysis. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. maka semakin penting maknanya. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Dan.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Karena itu. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. karena berpengetahuan itu. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. Tengara Allah itu kini terbukti. Karena itu. kita menjadi makhluk yang manusiawi. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Karena itu. Dalam studi Content Analysis. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. di mana pun. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. dan dari siapa pun. Salah satu nikmat itu ialah akal. Walau punya akal. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun.

yaitu Faktual. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Analisis. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Konseptual. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . dan seterusnya. Pemahaman. untuk mengoreksinya. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Namun. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Prosedural. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif).BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. Evaluasi dan Membuat. efektif. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. dan Metakognitif. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. terutama untuk domain kognitif. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. Penerapan. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. konatif sampai pada taraf psikomotis.

berkaitan dan bermamfaat. Dalam matematika. Dalam tingkatan ini. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. analisis hingga sintesis. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. dan . keterampilan dan prinsip-prinsip. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. (ii) analisis hubungan. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. pemahaman. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. kreasi. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. fakta-fakta. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. cara atau metode. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. penerapan baru. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. pemahaman yang lebih baik. penerapan. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. menemukan hubungan antarbagian. terminologi dan peristilahan. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. mulai dari pengetahuan. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai.

Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Oleh karena itu. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Dalam transformasi pengetahuan. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. 2006). logika dan konsistensi. seperti akurasi. (2) proses transformasi pengetahuan.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik.

Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. “gabungan”. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. “perkalian”.mengajar antara guru dengan peserta didik. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. ( p. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. sikap positif . Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. kemampuan berfikir analitis. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. seperti lambang-lambang. Di dalam matematika. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. “irisan dan sebagainya. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. kemampuan memecahkan masalah. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut.

Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. klasifikasi. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Pengetahuan filsafat. netral. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. 3. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.terhadap matematika. Namun. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. diperolehnya melalui observasi. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. 2. yaitu: 1. pemikiran logika diutamakan. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. 4. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. Dengan common sense. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Iman . Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. Pengetahuan Agama. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. eksprimen. Pengetahuan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. juga informasi tentang Hari Akhir. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. ketelitian. 2007). Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. ketekunan. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Pengetahuan biasa. dan sering diartikan dengan good sense. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. karena dimulai dari fakta. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science.

yaitu Faktual. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. dan Metakognitif.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. Pengetahuan tentang kosakata melukis. buku teks ataupun media saja. pemahaman. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. . mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Pengetahuan tentang akunting. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. gambar-gambar). Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. tanda-tanda. Konseptual. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Siswa bukan penerima yang pasif. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. guru. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. Prosedural. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. bilangan-bilangan.

Seperti. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. lokasi. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. rotasi bumi mengelilingi matahari. kewarganegaraan. skema. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. matahari. rotasi bumi. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. Pengetahuan nama-nama penting. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. kata sifat) . tanggal. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. dan peristiwa dalam berita. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. sumber informasi. tempat. orang. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. kata kerja. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. dan sebagainya. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. model mental. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. Contohnya. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori.

Model dan Struktur Pengetahuan teori. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. memprediksikan. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. atau materi. fungsi) Pengetahuan evolusi. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Pengetahuan model genetika (DNA). Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan Teori. Prosedur perkalian dalam . menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. masalah. Seperti pengetahuan keterampilan. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan periode waktu yang berbeda.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. algoritma. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. teknik-teknik. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar.

eksperimen. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah.aritmetika. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. atau penemuan. Pengetahuan Metakognitif . ketika diterapkan. persetujuan. persuasif). penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. Sekali lagi. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar.

jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Contohnya. Apabila kesedaran ini wujud. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Pertama. mengingat nomor telepon). pilihan berganda). Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. 1991:2). bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. memikirkan dan menyelesaikan masalah. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. memantau dan menilai apa yang dipelajari. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Definisi ini menyiratkan dua makna. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum.

1990:32). Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). sikapnya semakin positif.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. dan sebagainya. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Penguatan positif sebagai stimulus. Dengan demikian. Selanjutnya. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Pengetahuan yang . Tahap pertama pemahaman. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. 1981:12). perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Hal ini berarti (idealnya). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. (2) Hukum akibat (law of effect). Misalnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Namun demikian. Resnick. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Menurut Gagne (dalam Hudojo. Kedua. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). 1991:39. 1981:151). maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). keterampilannya meningkat. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Sehubungan dengan hal ini. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut.

Terakhir adalah tahap keempat. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Jadi. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. Piaget (dalam Bell.. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. 1981: Stiff dkk. Katona. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. 1990:89). Selanjutnya. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Menurut Kohler (dalam Orton. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. 1981:143-144). tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. konsep.

Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Artinya. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Artinya. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Dengan demikian. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. 1981:143). Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. 1992:106). hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Kemudian. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu.

atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Teaching. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. 2006. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran.S. 2001. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. JICA. Filsafat Ilmu. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. 2007. Psikologi Pengajaran. Amsal. Wowo SK. Diakses pada hari Rabu. 1996. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. dan siswa-siswa. Grasindo. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat.15 Wita. W. Jakarta. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. and Assessing. *** (Source : Fitriani Nur. Universitas Negeri Makassar. 2003. guru. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Bakhtiar. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Psikologi dalam Pendidikan. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Mappaita. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Suherman dkk. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Bandung: Afabeta Muhkal. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Strategi Belajar Mengajar Matematika.lingkungannya. 2006. Longman. Winkel. A Taxonomy for Learning. Contohnya. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.

Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. menurut metode tertentu. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. dan memiliki makna ilmu. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. yakni logis. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . . dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat.

kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Sebab seringkali ilmu yang diteliti . lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. tradisional. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . planet dan bahkan alam semesta. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. maju selangkah demi selangkah. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . kedokteran. dan diverifikasikan. 2. matematika. Berbeda dengan cara – cara lain. 3. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. misanya cara mitologis. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. folk science. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. ilmu fisika. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . keperawatan. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . TUJUAN 1. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. dites. 2. sejarah. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. tehnologi dan sebagainya. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . supra natural. tetap ia melalui pendekatan suatu system . Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru.

Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . atau jarang disingkirkan begitu saja . akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. Nontechnical concrete explanation. teknik – teknik baru ditemukan data baru. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. filsafat. 3. . Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. misal 1. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap.masa sebelumnya. peradaban. ia diakui pada masanya. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . 2. akan tetapi dengan cara . dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. 2. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. kemegahan sejarah peradaban. banyak para ahli melakukan hal ini. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Negara . Generalized technical writing. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. surat kabar. dengan segala atribut modernisasinya. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. seperti hanya tehnologi. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. Sejarah telah membuktikanya . tetap diakui kebesaranya . ataupun satir (slanted criticism) 4. Semitechnical generalized explanation. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. brosur dan sebagainya. Generalized abstract explanation. 4. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.

Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. atau secara idealnya harus bersifat universal. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. maka makin tinggi pohon tersebut . artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. maka makin dalam pula kita . Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. Copernicus dan Kapler. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo.

Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . antropologi . Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. fisika. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. bersumber dari keyakinan. sistimatis. logis. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. dan terbuka dari kritik. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. penelitian. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. 2. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu.masalah yang bersifat praktis. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . . Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. memecahkan persoalan kehidupan manusia. peradaban. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. diperoleh secara turun – temurun. 4. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. dan kepuasan pengetahuan. kontradiktif dan sifatnya tertutup. 5.hurus menjangkau akarnya. ilmu politik. 3. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. komunikasi dan transpormasi. BAB III PENUTUP A. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . ilmu perilaku. 6. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . mempunyai metodologi kerja yang khas. ilmu ekonomi. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif.

matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. SARAN 1. tidak diterbitkan. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Pustaka sinar harapan . Suria Sumantri. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. 3. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Prof. Akhirnya. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. 2. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri.B. dan sangat umum di fisika. tidak diterbitkan. Filsafat ilmu. Jujun S. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. ada pula pandangan lain. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. Prof. bukan sains. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. Inilah sebabnya. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. sebuah pengantar popular. Dalam pandangan formalis. Etika ilmu. ( ). Materi kuliah. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. Jakarta. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. ( 2000 ). untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. misalnya. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. ( ). Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . Wawasan Keilmuan. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . Hartono Kasmadi.

Matematika (http://id. Valentin F. Pertama. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. USA: 1997. Turchin. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. agar pola struktur. simbol dan notasi. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Atau sederhananya.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. perubahan. Columbia University Press.ilmu praktis atau terapan. Jujun S. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. merupakan bidang studi tersendiri. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Jakarta: 2001. Referensi Anonim.wikipedia. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . Pustaka Sinar Harapan. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. Kedua. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. apapun disiplinnya. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah..

Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. filsafat agama dan epistimologi. estetika. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. etika. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi.

etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. bertanggung jawab pada kepentingan umum.BAB II PEMBAHASAN 1. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Oleh karena itu. semestinya (ought to). apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Akan tetapi. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. dan salah (wrong). Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. 2. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. serta bersifat universal. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). prinsipprinsip moral dasar. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Menurutnya . Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Dalam hal ini. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. buruk (bad). Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Tanggung jawab etis. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Bernaung di bawah filsafat moral. manjaga keseimbangan ekosistem. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. dan generasi yang akan datang. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. benar (right). Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi.

dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. sosial. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. dan berbicara tentang fakta semata. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. budaya. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. kepentingankepentingan. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. agama. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. Pendapat kedua. seperti pada bidang penyelidikan. dan nilai penghormatan terhadap manusia. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. idiologis. manusia denagn manusia. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. ekonomis. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. b. . Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. Pendapat ketiga. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. religious. Pendapat pertama. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. dsb. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. logis. memperlancar hubungan sosial. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. baik politis.

3. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . dan bersifat universal . bertanggungjawab pada kepentingan umum. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Tanggungjawab etis. Supaya terdapat kebebasan. kepentingan pada generasi mendatang. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. bukan nilai. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. martabat manusia. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Apabila diperhatikan dengan seksama. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. lebih nyaman. lebih lama dalam menikmati hidupnya. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Bila kata “kebebasan” dipakai. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan.

seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jul 10. timbul pula perbedaan penafsiran.Filsafat Ilmu. 2000. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. Pertama. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. Akan tetapi. Filsafat Ilmu. dan Alim. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. 2005. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Usman. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. dan Misnal Munir. Rizal. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari .2005. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Artinya. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia.

didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Oleh karena itu. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. yaitu hewan. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. epistemologi dan aksiologi . Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . Selanjutnya. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Sampai sejauh ini. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang .aksiden manusia.

bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Dalam hal ini. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Dan sebagian darinya telah lenyap. Berbeda dengan barat. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). yaitu menerima. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. belum terlalu lama. sebenarnya. Mereka -barat. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Sebelumnya. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Wiliam James dengan Pragmatismenya. yakni aliran rasionalis dan empiris. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Pertama. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. dan mengolah apa yang ada dalam benak.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. kerendah-hatian dia. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. tetapi ia menjadi objek. al Farabi. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). al Khawarizmi. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. pada waktu itu. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Atas dasar itu. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Hegel dan lain-lain. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Jabir bin al Hayyan. Kedua. Mereka pandai bersilat lidah. . Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Oleh karena itu. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Maka dari itu. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Epistemologi menjadi sebuah kajian. merekam. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Imanuel Kant.

sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. prosesnya menggunakan cara yang lazim. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan.Kebenaran yang riil tidak ada. Meski dia berhasil. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. biologi. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. filsafat teoritis dan filsafat praktis. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. bersifat teknis dan normatif akademik. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. didasarkan pada suatu sistem. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Dalam keadaan seperti ini. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. ia tidak ingin dikatakan pandai. (2) ilmu eksakta dan matematika. seperti: fisika. Oleh sebab itu. melakukan sesuatu tehadap objek. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. maka dengan meningkatnya . Akan tetapi. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. (2) urusa rumah tangga. harus memenuhi aspek metodologi. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. (3) sosial dan politik. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. ilmu pertambangan dan astronomi.

Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. menurut pikiran yang sehat. tidak boleh dibantah dan diragukan. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. pengamatan yang telah dilakukan) .intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. pertama. menurut nisbah (patut). Sementara. Berdasarkan terminologi. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. empirisme dan objektivitas. kemahiran. yaitu. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. bukan teori . sifat alami (fitrah) . Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. pengetahuan. percobaan. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. . empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. cocok dengan akal. penginderaan (sensasi) dan kedua. Artinya. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. dengan demikian rasionalisme. kerangka berpikir . menurut rasio. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer.

maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. justru menimbulkan masalah lain. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. musuh kemanusiaan. akumulasi limba-limba toksik. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. udara. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. tanah. yaitu perang. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. degradasi eksistensi kemanusiaan. Misalnya. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. Akhirnya. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom .Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. pengrusakan hutan. menurut Bertrand Russel. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. dampak rumah kaca. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan lain-lain. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. misalnya. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Lebih-lebih lagi. dan pengrusakan lingkungan hidup. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam tahap ini. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan.

religius. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk sementara. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Atau kawasan Asia Tengah. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. Bahkan. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. seperti nilai moral. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. Seperti disebutkan sebelumnya. Konsekuensinya.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). dan ideologi. cukup penting. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. dasar ontologis. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Jepang. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Menurut dasar-dasar ini. untuk tulisan ini.

yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Dalam artian bahwa. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Dalam agama. atau malah mungkin kehancuran. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. kerusakan lingkungan. dan tanggungjawab manusia dalam . maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Kisah dua kali perang dunia. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. penipisan lapisan ozon. “ego” dan “super-ego”. Oleh karena itu. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. ada sisi destruktif manusia. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Dalam psikologi. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). moral. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Nilai ini menyangkut etika. Dalam tahap ini. hati nurani. Oleh karena itu. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. Oleh karena itu. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. moral. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Jadi. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. maka itulah tahap epistemologis. pada tingkat aksiologis. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika.

semestinya (ought to). Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Hakikat moral. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Oleh karena itu. Karena dalam penerapannya. dan salah (wrong). etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Kelompok pertama. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. benar (right). maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. buruk (bad). (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Kelompok kedua. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Bernaung di bawah filsafat moral . Pada tahap kontemplasi. sedangkan dalam penggunaannya. bahkan pemilihan obyek penelitian. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi.

Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Etika Hak. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. adat. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Kata moral berasal dari bahasa Latin. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral.sosial. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. benar. Suatu perbuatan bersifat etis. 2. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Konsekuensialisme. 3. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Dari pemahaman tersebut. 4. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Disinilah. Deontologi. melebihi segala hal merugikan. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Intuisionisme. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. . Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. etika memainkan peranannya. Aristoteles. Menurut J. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. yakni mos (jamaknya mores). kewajiban atau hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab.Osdar. oleh filsuf Yunani kuno. Artinya kebiasaan. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. bukan berdasarkan situasi. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak.

tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. kepentingan pada generasi mendatang. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. penggunaan obat bius yang tak terkendali. dehumanisasi. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Supaya terdapat kebebasan. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tanggungjawab etis. Bila kata “kebebasan” dipakai. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . dan bersifat universal . Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. martabat manusia. Imanuel Kant. lebih nyaman. menjaga keseimbangan ekosistem. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. fisuf Jerman. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . bertanggungjawab pada kepentingan umum. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Sebagaimana dikemukakan. lebih lama dalam menikmati hidupnya. pelacuran dan sebagainya.

antara manusia dengan lingkungan. dengan demikian. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret.politik. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. sekarang. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan. ilmu dan etika saling bertautan. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. memerlukan visi moral yang tepat. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. yang seharusnya .

bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya.1992. Bertens. Kajian Filsafat Ilmu. M. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut.etika. Meski demikan. timbul pula perbedaan penafsiran. . Bandung: Penerbit Mizan. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. 2002. Nur Mufid bin Ali. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. karena berpijak pada intuisi. M. G. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dr. Lembaga Studi Filsafat Islam. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Sebagaimana namanya. Falsafatuna. ke 2. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. K. Ahmad. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir.1995. Ed. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. kemudian muncul teori etika. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. mengenai yang halal dan yang haram. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Ini dapat dimaknai. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Yogyakarta Van Melsen. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. kewajiban dan hak. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. ilmuwan secara pribadi. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Terj. Muhammad Baqir. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. 1995. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. A. PT Gramedia Pustaka Utama.

sebuah pengantar populer. Ed. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. 1994. Bakti Mandiri. Franz. Herman. ke 3. “Filsasfat Ilmu”. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa.2003. Suriasumantri. 1999. Keagungan Ilmu Terj.Kamus Dewan. . Rosenthal. Bandung. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. 1997.. Jujun S. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful