PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. tetapi bersifat personal. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. yaitu: filsafat dan agama. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman.[18] Sebaliknya. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. Bahkan. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. filsafat. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. yaitu: pertama.biasa. common sense (akal sehat). justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. dan intuisi. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. trial and eror (metode mencoba-coba). dan keempat. Filsafat misalnya. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. agama. akal sehat (common sense). tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia .

ketiga. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. DEA. ketiga. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. Pada bagian terdahulu misalnya. baik dari segi pengertian. kedua.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. manusia tahu bahwa ia tahu.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. Pengetahuan. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Dalam kajian filsafat. Namun demikian. yaitu: pertama. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). kedua. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri.[21] C. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. ilmu (sains). dan keempat. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S.[23] Dengan demikian. Ilmu (Sains). dan Filsafat Istilah pengetahuan. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. dan keempat. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- .

melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Oleh karenanya. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. metode dan sistem tertentu. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. apakah manusia tahu bahwa ia tahu.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu pengetahuan .[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini.

Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. 6. 2. a discipline comprising as it core logic. 5. 2.…dst. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri.…dst. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. concepts and attitudes of and individual or group. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. metaphysic. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. 7. kritis. 3.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. ethics. antara lain: deskriptif. radikal dan sistematis. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. and epistemology. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). antara lain: 1. yaitu: universal. evaluatif dan spekulatif. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. calmness of temper and judgment. Selain itu. aesthetic.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). 3. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. 4. the most general beliefs. analisis. 2.[26] Demikian seterusnya. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. 3. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 .

Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. ilmu (sains). Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. . dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. Perbedaan yang lain. dan filsafat). Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. sains. sains.[29] D.

sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. 4) Pengajuan hipotesis. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.[30] Jujun S. . 3) Perumusan hipotesis. 5) Penarikan kesimpulan. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. Dengan demikan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. Sebuah Pengantar Populer. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. meramalkan. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . Dengan demikian. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. dan mengontrol.

Tidak hanya sampai pada batas itu. Demikian seterusnya. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. kesimpulan yang semula dianggap benar. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. Dengan demikian. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. Maman. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. keteraturan logosentrime sangat menonjol di .[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik.[38] E. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. antara lain: pertama. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan.

sejarah pendidikan Islam. yang terdiri dari tafsir. dan pendekatan studi kawasan. fikih ibadah. tasawuf. pendekatan interdisiplin ilmu.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. sejarah pemikiran Islam. dan studi kewilayahan Islam. fikih muamalah. metode dakwah. Seperti: Ulumul Qur’an. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. perbandingan agama. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. 5) Penyiaran Islam. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. dan lain sebagainya. ilmu kalam. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. kelima. lembaga pendidikan Islam.kalangan umat Islam. tarekat. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Dakwah. akidah/ilmu kalam (teologi). pendekatan multidisiplin keilmuan. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. hadis. hadis. ketiga. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. kedua. keempat. sikap tradisional. 2) Kelompok cabang. dan filsafat. falsafah pendidikan Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. sikap apologetis terhadap aliran lain. peradilan dan perkembangan modern. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. filsafat Islam. sains Islam. dan sebagainya. Ulumul Hadits. dan keenam. Peradaban Islam: sejarah Islam. mencakup: sejarah dakwah. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. buday Islam. Secara umum.

studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.keilmuan.[42] F. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. . Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.[41] Sementara itu.

Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Namun demikian.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. .

1983. et. 2001. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Metodologi Studi Islam. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download.filsafat_ilmu_pengetahuan. Teori dan Praktik.1985. 2008. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 2005. Jakarta: Sinar Harapan. Sistematika Filsafat. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. (Cetakan II). Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. fa. 2006.pdf. (cetakan ke 2). Pengantar Filsafat Umum. Sidi Gazalba. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Kh. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2003. Orientasi di Alam Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Webster Third New International Dictionary.id/ incl/libfile. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Hardono Hadi. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Suryasumantri. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. 2007. 1994.itb. 1976. Jakarta: Gramedia Irwandar. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. 2001.al. S. Jakarta: Rajawali Press . Medan: IAIN Press P. 1966. DEA. Massachussets. Maman. 1995. et. 1981. 1998. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Filsafat Mistis Ibn Arabi. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan.A. 1998. E.al (editor). Van Peursen. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (editor). Yogyakarta: Penerbit Andi U.DAFTAR BACAAN A.ac. Affifi. Metodologi Penelitian Agama. Dekonstruksi Pemikiran Islam. (catakan ke 3). Mulyadhi Kartanegara. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat.

Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. Hebatnya lagi. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Demikian pula. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. “Human beings are humanizing themselves”. Karena itu. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Misalnya. Ada yang hasratnya besar. Mudjia Rahardjo. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Misalnya. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Berkat pengetahuannya. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Bagi manusia. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. karena pengetahuannya.Si Sunday. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. M. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. atau ada makanan yang bisa disantap. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Berkat pengetahuannya.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. H. Dr. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment).

Karena itu. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Salah satu nikmat itu ialah akal. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Semakin sering diulang. Tengara Allah itu kini terbukti. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. karena berpengetahuan itu. maka semakin penting maknanya. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Menutup tulisan ini. di mana pun. Dan. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Karena itu. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Walau punya akal. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. yakni Discourse Analysis. . Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. kita menjadi makhluk yang manusiawi. manusia tidak mau bersyukur. Karena itu. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Dalam studi Content Analysis. dan dari siapa pun.

seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif).BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. dan Metakognitif. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Evaluasi dan Membuat. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. konatif sampai pada taraf psikomotis. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. terutama untuk domain kognitif. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. Konseptual. Analisis. Pemahaman. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. untuk mengoreksinya. dan seterusnya. Oleh karena itu. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. Namun. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Penerapan. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. Prosedural. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. yaitu Faktual. efektif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain.

Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. fakta-fakta. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Dalam matematika. menemukan hubungan antarbagian. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. dan . siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. (ii) analisis hubungan. mulai dari pengetahuan. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. keterampilan dan prinsip-prinsip. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. analisis hingga sintesis. pemahaman. terminologi dan peristilahan. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Dalam tingkatan ini. cara atau metode. kreasi.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. pemahaman yang lebih baik. berkaitan dan bermamfaat. penerapan. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. penerapan baru.

Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. logika dan konsistensi. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. (2) proses transformasi pengetahuan. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Dalam transformasi pengetahuan. Oleh karena itu. 2006). Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. seperti akurasi. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . yaitu (1) proses perolehan informasi baru. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal.

fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. “gabungan”. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Di dalam matematika. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). “irisan dan sebagainya. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain.mengajar antara guru dengan peserta didik. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. kemampuan memecahkan masalah. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. ( p. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. seperti lambang-lambang. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. “perkalian”. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. sikap positif . kemampuan berfikir analitis. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).

ketekunan. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. Pengetahuan ilmu. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. 3. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. Dengan common sense. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). diperolehnya melalui observasi. yaitu: 1. klasifikasi. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Namun. karena dimulai dari fakta. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). 2007). Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. ketelitian. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Pengetahuan biasa. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. juga informasi tentang Hari Akhir. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. netral. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Pengetahuan Agama. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.terhadap matematika. 4. 2. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. Iman . eksprimen. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. pemikiran logika diutamakan. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. Pengetahuan filsafat. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. dan sering diartikan dengan good sense.

Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Pengetahuan tentang kosakata melukis. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. Siswa bukan penerima yang pasif. . Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. bilangan-bilangan. gambar-gambar). tanda-tanda. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. guru. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. pemahaman. Konseptual. yaitu Faktual. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. dan Metakognitif. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. buku teks ataupun media saja.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Prosedural. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Pengetahuan tentang akunting. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti.

dan peristiwa dalam berita. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. dan sebagainya. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. kewarganegaraan. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. orang. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. rotasi bumi mengelilingi matahari. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. tempat. matahari. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. sumber informasi. model mental. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. tanggal. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. Seperti. Contohnya. rotasi bumi. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. Pengetahuan nama-nama penting. kata kerja.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. lokasi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. kata sifat) . skema.

model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan model genetika (DNA). Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. memprediksikan. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Seperti pengetahuan keterampilan. Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. algoritma. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan Teori. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. teknik-teknik. fungsi) Pengetahuan evolusi. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. Prosedur perkalian dalam . atau materi. masalah. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Pengetahuan periode waktu yang berbeda.

Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan Metakognitif . atau penemuan. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Sekali lagi. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah.aritmetika. persuasif). Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. ketika diterapkan. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. eksperimen. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. persetujuan. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi.

1991:2). • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. mengingat nomor telepon). Apabila kesedaran ini wujud. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. Definisi ini menyiratkan dua makna. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Pertama. pilihan berganda). seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Contohnya.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. memikirkan dan menyelesaikan masalah. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. memantau dan menilai apa yang dipelajari.

Pengetahuan yang . menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. dan sebagainya. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. keterampilannya meningkat. 1991:39. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Menurut Gagne (dalam Hudojo. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Dengan demikian. Namun demikian. Sehubungan dengan hal ini. (2) Hukum akibat (law of effect). 1990:32).untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Misalnya. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). sikapnya semakin positif. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Hal ini berarti (idealnya). seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Kedua. Resnick. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. 1981:12). yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Tahap pertama pemahaman. Selanjutnya. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. 1981:151). Penguatan positif sebagai stimulus. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus.

. Piaget (dalam Bell.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. konsep. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. 1981:143-144). 1990:89). Selanjutnya. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Katona. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Terakhir adalah tahap keempat. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Jadi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . 1981: Stiff dkk. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Menurut Kohler (dalam Orton. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon.

Artinya. Artinya. Dengan demikian. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Kemudian. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. 1981:143). persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. 1992:106). hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan.

Winkel. 2006. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. 1996. Universitas Negeri Makassar. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. Grasindo. Amsal. 2007. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. and Assessing. Teaching. Bakhtiar. *** (Source : Fitriani Nur. Longman. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Wowo SK. dan siswa-siswa. JICA. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Filsafat Ilmu. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Mappaita. Jakarta. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Afabeta Muhkal. 2003. 2006. Suherman dkk. Diakses pada hari Rabu. W.lingkungannya. Strategi Belajar Mengajar Matematika. guru. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.15 Wita. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Psikologi Pengajaran. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul.S. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. 2001. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Contohnya. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. A Taxonomy for Learning. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid.

bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. yakni logis. menurut metode tertentu. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. dan memiliki makna ilmu.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. . pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem.

maju selangkah demi selangkah. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . tetap ia melalui pendekatan suatu system . karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. matematika. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. dan diverifikasikan. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. supra natural. TUJUAN 1. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. 2. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. misanya cara mitologis. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. keperawatan. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . kedokteran. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. planet dan bahkan alam semesta. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. folk science. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. Berbeda dengan cara – cara lain. ilmu fisika. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . sejarah. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. 2. 3. tradisional. dites. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. tehnologi dan sebagainya. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif.

akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. peradaban. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. ataupun satir (slanted criticism) 4. surat kabar. brosur dan sebagainya.masa sebelumnya. Sejarah telah membuktikanya . seperti hanya tehnologi. Semitechnical generalized explanation. dengan segala atribut modernisasinya. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. teknik – teknik baru ditemukan data baru. 3. tetap diakui kebesaranya . PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . misal 1. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. akan tetapi dengan cara . Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. filsafat. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. . Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. banyak para ahli melakukan hal ini. kemegahan sejarah peradaban. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. ia diakui pada masanya. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Generalized technical writing. atau jarang disingkirkan begitu saja . 4. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . 2. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. 2. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Nontechnical concrete explanation. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. Negara . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. Generalized abstract explanation.

Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Copernicus dan Kapler.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. maka makin dalam pula kita . Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. maka makin tinggi pohon tersebut . Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. atau secara idealnya harus bersifat universal. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. tunduk kepada hokum – hokum yang sama.

Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. kontradiktif dan sifatnya tertutup. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. 3. . SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.hurus menjangkau akarnya. dan kepuasan pengetahuan. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. logis. mempunyai metodologi kerja yang khas. komunikasi dan transpormasi. memecahkan persoalan kehidupan manusia. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. ilmu ekonomi. ilmu politik. diperoleh secara turun – temurun. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . 4. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. fisika. sistimatis. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . dan terbuka dari kritik. 6. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi .masalah yang bersifat praktis. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. antropologi . Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. BAB III PENUTUP A. 5. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. bersumber dari keyakinan. peradaban. 2. ilmu perilaku. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. penelitian.

Materi kuliah. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. SARAN 1. Prof. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. ( ). ( 2000 ). atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Pustaka sinar harapan . Filsafat ilmu. Akhirnya.B. 2. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. misalnya. Inilah sebabnya. Wawasan Keilmuan. sebuah pengantar popular. Jakarta. ada pula pandangan lain. bukan sains. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. 3. Jujun S. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Dalam pandangan formalis. tidak diterbitkan. Suria Sumantri. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. sedangkan dalam bahasa Indonesia. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. Etika ilmu. Prof. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. dan sangat umum di fisika. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. tidak diterbitkan. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. ( ). KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. Hartono Kasmadi.

Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. Atau sederhananya. apapun disiplinnya.wikipedia. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. agar pola struktur.. Valentin F. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. perubahan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Pertama. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Referensi Anonim. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. Jakarta: 2001. Turchin. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. USA: 1997. Matematika (http://id. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Kedua. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Jujun S. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan .org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. simbol dan notasi. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Pustaka Sinar Harapan. Columbia University Press.ilmu praktis atau terapan. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi.

Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. estetika. etika. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? .lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. filsafat agama dan epistimologi. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia.

manjaga keseimbangan ekosistem. prinsipprinsip moral dasar. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. buruk (bad). Bernaung di bawah filsafat moral. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a.BAB II PEMBAHASAN 1. Menurutnya . dan generasi yang akan datang. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Oleh karena itu. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Dalam hal ini. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. 2. Akan tetapi. bertanggung jawab pada kepentingan umum. semestinya (ought to). serta bersifat universal. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Tanggung jawab etis. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. benar (right). Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Keduanya bertalian dengan hati nurani. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. dan salah (wrong). Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good).

yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. Pendapat pertama. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. . baik politis. agama. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. idiologis. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. b. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. logis. seperti pada bidang penyelidikan. dan berbicara tentang fakta semata. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. Pendapat kedua. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. Pendapat ketiga. budaya. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. dan nilai penghormatan terhadap manusia. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. dsb. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. ekonomis. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. memperlancar hubungan sosial. manusia denagn manusia. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. religious.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. kepentingankepentingan. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. sosial. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis.

tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. lebih lama dalam menikmati hidupnya. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Tanggungjawab etis. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Bila kata “kebebasan” dipakai. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . lebih nyaman. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. martabat manusia. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Supaya terdapat kebebasan. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. dan bersifat universal . menjaga keseimbangan ekosistem. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. kepentingan pada generasi mendatang. bukan nilai. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Apabila diperhatikan dengan seksama. 3.

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jul 10. Akan tetapi.Filsafat Ilmu. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. 2005.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Rizal. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. dan Misnal Munir. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Artinya. 2000. dan Alim. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua.2005. Filsafat Ilmu. timbul pula perbedaan penafsiran. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . Pertama. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. Usman. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk.

Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Sampai sejauh ini. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Selanjutnya. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Oleh karena itu. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. epistemologi dan aksiologi . Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi.aksiden manusia. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ".

yakni aliran rasionalis dan empiris. Jabir bin al Hayyan. Imanuel Kant. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. al Khawarizmi. Maka dari itu. kerendah-hatian dia. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. pada waktu itu. belum terlalu lama. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. Hegel dan lain-lain. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Kedua. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). Berbeda dengan barat. Dan sebagian darinya telah lenyap. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. . Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Epistemologi menjadi sebuah kajian. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. tetapi ia menjadi objek. Mereka -barat. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Mereka pandai bersilat lidah. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Dalam hal ini. Sebelumnya. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. sebenarnya. Atas dasar itu. al Farabi. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Oleh karena itu. merekam. dan mengolah apa yang ada dalam benak. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Pertama. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. yaitu menerima. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu.

Oleh sebab itu. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. didasarkan pada suatu sistem. Akan tetapi. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. (2) ilmu eksakta dan matematika. filsafat teoritis dan filsafat praktis. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Meski dia berhasil. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. maka dengan meningkatnya . Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. ia tidak ingin dikatakan pandai. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). seperti: fisika. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. biologi. (3) sosial dan politik. prosesnya menggunakan cara yang lazim. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Dalam keadaan seperti ini. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. melakukan sesuatu tehadap objek. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. (2) urusa rumah tangga. ilmu pertambangan dan astronomi. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.Kebenaran yang riil tidak ada. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. harus memenuhi aspek metodologi. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. bersifat teknis dan normatif akademik. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur.

empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. . tidak boleh dibantah dan diragukan. sifat alami (fitrah) . kerangka berpikir . karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. bukan teori . cocok dengan akal.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. Artinya. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. penginderaan (sensasi) dan kedua. dengan demikian rasionalisme. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. yaitu. pengetahuan. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. kemahiran. Sementara. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. Berdasarkan terminologi. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. menurut pikiran yang sehat. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. pertama. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. menurut rasio. empirisme dan objektivitas. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. menurut nisbah (patut). percobaan. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. pengamatan yang telah dilakukan) . melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan.

Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. udara. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. dampak rumah kaca. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. akumulasi limba-limba toksik. menurut Bertrand Russel. Akhirnya. Lebih-lebih lagi. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). misalnya. dan lain-lain. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Dalam tahap ini. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). tanah. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. degradasi eksistensi kemanusiaan. justru menimbulkan masalah lain. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. dan pengrusakan lingkungan hidup. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. musuh kemanusiaan. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Misalnya. pengrusakan hutan. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. yaitu perang.

Untuk sementara. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Jepang. untuk tulisan ini. Konsekuensinya. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dasar-dasar ini. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Bahkan. dan ideologi. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. dasar ontologis. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. cukup penting. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. seperti nilai moral. Seperti disebutkan sebelumnya. Atau kawasan Asia Tengah. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. religius. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya.

Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). moral. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Dalam psikologi. Oleh karena itu. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. dan tanggungjawab manusia dalam . atau malah mungkin kehancuran. “ego” dan “super-ego”. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Nilai ini menyangkut etika. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Dalam artian bahwa. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. ada sisi destruktif manusia. hati nurani. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. kerusakan lingkungan. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Dalam tahap ini. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Dalam agama. Oleh karena itu. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Jadi. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. pada tingkat aksiologis. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. penipisan lapisan ozon. Kisah dua kali perang dunia.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Oleh karena itu. moral. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. maka itulah tahap epistemologis.

Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Oleh karena itu. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Kelompok kedua. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Karena dalam penerapannya. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. semestinya (ought to). bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . sedangkan dalam penggunaannya. Bernaung di bawah filsafat moral . Dalam hal ini. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. benar (right). dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. Hakikat moral. Kelompok pertama. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. bahkan pemilihan obyek penelitian. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. buruk (bad). dan salah (wrong).

oleh filsuf Yunani kuno. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. 2. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Artinya kebiasaan. Dari pemahaman tersebut. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Etika Hak. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. yakni mos (jamaknya mores). bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Konsekuensialisme. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. benar. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Aristoteles. adat. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Suatu perbuatan bersifat etis. kewajiban atau hak.Osdar. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. bukan berdasarkan situasi. etika memainkan peranannya. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. 4. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Intuisionisme. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. . Deontologi. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. Disinilah. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Menurut J. 3.sosial. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. melebihi segala hal merugikan. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin.

yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. lebih lama dalam menikmati hidupnya. lebih nyaman. Sebagaimana dikemukakan. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. fisuf Jerman. Supaya terdapat kebebasan. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Tanggungjawab etis. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . bertanggungjawab pada kepentingan umum. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. dehumanisasi. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. penggunaan obat bius yang tak terkendali. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. pelacuran dan sebagainya. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. kepentingan pada generasi mendatang. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. martabat manusia. Imanuel Kant. dan bersifat universal . Bila kata “kebebasan” dipakai. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia.

namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak.politik. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. yang seharusnya . secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. dengan demikian. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. sekarang. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Kemajuan ilmu pengetahuan. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. ilmu dan etika saling bertautan. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. memerlukan visi moral yang tepat. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. antara manusia dengan lingkungan. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya.

ke 2.1995. Kajian Filsafat Ilmu. G. Nur Mufid bin Ali. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Bandung: Penerbit Mizan. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi.1992. K. Bertens. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. .etika. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. A. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. mengenai yang halal dan yang haram. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Yogyakarta Van Melsen. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. ilmuwan secara pribadi. PT Gramedia Pustaka Utama. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. timbul pula perbedaan penafsiran. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lembaga Studi Filsafat Islam. Falsafatuna. Terj. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. Sebagaimana namanya. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. 2002. M. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Ini dapat dimaknai. karena berpijak pada intuisi. Muhammad Baqir. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). kemudian muncul teori etika. Ahmad. kewajiban dan hak. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Meski demikan. M. Ed. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. Dr. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. 1995.

Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. ke 3. Keagungan Ilmu Terj. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. 1994. 1999. Ed. Rosenthal.. Bakti Mandiri. .2003. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Bandung. Herman. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. 1997. “Filsasfat Ilmu”. Suriasumantri.Kamus Dewan. Jujun S. sebuah pengantar populer. Franz.