Pengantar

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1 Tahun 2001 telah menggariskan fungsi Departemen Agama meliputi empat masalah pokok, yaitu : Pertama, memperlancar pelaksanaan pembangunan di bidang keagamaan. Kedua, membina dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas serta administrasi departemen. Kementrian Agama Ketiga, melaksanakan penelitian dan pengembangan terapan pendidikan dan pelatihan tertentu dalam rangka mendukung kebijakan di bidang keagamaan. Keempat, melaksanakan pengawasan fungsional. Dalam usaha mengimplementasikan fungsi di atas, maka penyuluhan agama Islam merupakan salah satu bentuk satuan kegiatan yang memiliki nilai strategis, khususnya dalam menjalankan fungsi memperlancar pelaksanaan pembangunan d i bidang keagamaan. Kemudian, untuk menjalankan penyuluhan ini, pemerintah telah melakukan reposisi kedudukan dan fungsi penyuluh, berdasarkan Keputusan Presiden No. 87 Tahun 1999, yaitu yang menempatkan penyuluh Dalam Keppres itu disebutkan bahwa Rumpun Keagamaan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori, dan metode operasional serta pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pembinaan rohani dan moral masyarakat sesuai dengan agama yang dianutnya. Keppres ini kemudian dijabarkan dalam Keputusan Bersama Meteri Agama dan Kepala Badan Kepegawaian Negara no: 574 tahun 1999 dan no: 178 Tahun 1999 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya. Jadi, berdasarkan Keppres No: 87/1999 ini, berarti bahwa Penyuluh Agama Islam secara de-jure memiliki kedudukan yang sama dengan jabatan fungsional lainnya, seperti; peneliti, dosen/guru, widyaiswara, dokter, pengawas sekolah, akuntan, pustakawan, penyuluh KB, penyuluh pertanian dan sebagainya (Departemen Agama RI Sekretariat Jenderal Biro Kepegawaian: 1999).

malah ada sebagian di antara penyuluh yang belum mengetahui buku -buku atau sumber rujukan apa saja yang har us dibaca untuk memperkaya pemahamannya dan ketrampilannya yang dapat mendukung profesinya sebagai penyuluh agama Islam (Islamic counselor). Penyuluhan agama mengahadapi tantangan baru. tidak dipungkiri bahwa secara de facto. Arifin. Untuk membantu pemahaman dan kemampuan metodologis ini. Rosydi Ahmad Syahada. kurangnya pemahaman terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan penyuluhan. Romly. Mohammad Surya. Pokok-pokok pikiran tentang bimbingan dan penyuluhan agama. Buku -buku yang bisa menjadi referensi dalam penyuluhan. Kedua. teknik -teknik penyuluhan dan teori-teori penyuluhan. Daya baca para penyuluh terhadap sumber-sumber utama konsep penyuluhan (atau dalam kajian akademik lebih dikenal dengan istilah konseling) masih lemah. sejauh ini masih dihadapkan pada sejumlah problem. Tulisan ini baru sebatas akan mengidentifikai problem penyuluhan dan sekilas melihat tantangan PAI ke depan. sebagaimana sejumlah problem yang terjadi dalam program penyuluhan. Kemungkinan. Bimbingan dan konseling masyarakat dan pendidikan luar sekolah. dan seabreg buku tentang bimbingan dan konseling sementa ra ini masih asing di kalangan PAI. AR. Penyuluh Agama Islam yang menjadi pelaksana teknis program penyuluhan di masyarakat. Identifikasi Problem Penyuluhan Pertama. Modal utama PAI dalam melakukan penyuluhan lebih bertumpu pada semangat dakwah dan ³perasaan kewajiban´ menjalankan tugas sebagai pegawai Departemen Agama. buku-buku pedoman itu lebih banyak berisi petunjuk teknis-administratif bagi para penyuluh dalam melaksanakan penyuluhan. sejauh ini belum memahami secara komprehensif mengenai konsep dasar penyuluhan.. seperti. Pelaksanaan pembelajaran dalam penyuluhan masih cenderung menggunakan cara-cara konvensional. Peserta penyuluhan belum mampu terlibat secara partisipatoris sehingga forum pembelajaran itu statis dan monoton. seperti. Tetapi. pedoman materi bimbingan . Dasar-dasar penyuluhan. petunjuk teknis jabatan fungsional. sebenarnya dari Depag pusat telah menerbitkan beberapa buku pedoman bagi para penyuluh.Namun demikian. pendekatan penyuluhan. yaitu ceramah yang bersifat satu arah. lemahnya kemampuan metodologis para penyuluh dalam proses penyuluhan.

proses pelaksanaan penyuluhan. 2) pengetahuan dan kesadaran terhadap tugas dan misi institusi masih kurang. PAI sementara ini masih cenderung berfungsi sebagai ³tenaga administratif´. kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi para penyuluh yang dilakukan oleh pusat sangat terbatas. di samping sosialisasi berbagai juklak dan juknis itu belum efektif. tetapi belum diikuti kesadaran pemanfaatan pengetahuan baru dalam menjalankan tugas. pedoman penilaian angka kredit. 6) kurang orientasi pada kepuasan jama¶ah sasaran/binaan (customer). akibat kepekaan dan empati terhadap keutuhan stakehorders yang msih rendah. Karena itu. tetapi semangat untuk pengad aan teknologi baru tinggi. sementara ini posisi dan perannya belum maksimal. seperti: 1) budaya kerja lemah. Kemudian. 8) gagap teknologi. misalnya mencari data untuk bahan laporan ke Kanwil Depag Propinsi. Lebih dari itu. dan sebagainya. 7) minat untuk menambah pendidikan formal meningkat. Ketiga. lebih banyak tenaga yang kurang memiliki keahlian (unskilled). pendekatan dan kemampuan metodis para penyuluh masih jauh dari memadai sebagai bentuk proses pendidikan (non -formal) yang dapat memberdayakan kesadaran dan pengamalan keislaman khususnya dan kehidupan secara lebih luas pada umumnya. dan kurang kesungguhan dalam pekerjaan. 3) sikap amanah dan saling percaya (trust) lemah. tanpa menafikan semangat kerja dan perjuangan penyuluh yang kemungkinan ada yang bekerja melampaui batas waktu normal sebagai pegawai. pedoman identifikasi potensi wilayah. laporan itu diteruskan dari propinsi ke pusat.dan penyuluhan. 5) orientasi pada pencapaian hasil dalam pelaksanaan tugas masih kurang. dan 9) pemanfaatan informasi baru dalam pelaksanaan tugas masih rendah. para penyuluh sendiri sebagian besar belum membaca pedoman -pedoman itu. Depag pada umumnya dan khususnya PAI masih menghadapi persoalan sikap mental dan pengetahuan serta keterampilan. . kurang inisiatif dan lebih banyak menunggu perintah. 4) budaya pamrih berlebihan. Akibatnya. pedoman i dentifikasi kebutuhan sasaran.

maka langkah antisipatif dan strategis yang dapat dilakukan mulai dari sekarang (jangka pendek) adalah . Belum dimanfaatkannya perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang memadai untuk mendukung proses penyuluhan. 8. Sejak diterapkannya otonomi daerah. adalah masalah besar yang kemungkinan kita sulit untuk darmana harus memulai lang kah pembenahannya. Kanwil Depag propinsi dan Kandepag Kabupaten/Kota memang diberi kesempatan untuk membuat perencanaan program yang akan dimasukkan di dalam Daftar Isian Kegiatan (DIK) dan Daftar Isian Proyek (DIP) dalam setiap tahun anggaran melalui rapat kerja daerah (Rakerda). belum partisipatif dan transformatif. 3. ketentuan program mana yang akan dijal ankan. Kemampuan penyuluh dalam hal penguasaan teknologi pendukung masih lemah. Belum adanya biaya operasional pelaksanaan penyuluhan di lapangan. pedoman penilaian angka kredit. Tantangan ke depan bagi penyuluh Beberapa problem di atas. 11. 6. yaitu di masukkan di dalam DIK/DIP tetap berada di pusat. inovatif dan proyektif di tingkat Kanwil dan Kandepag masih lemah. 4. tetapi tantangan nyata yang perlu dicermati dan dikritisi secara kreatif dan antisipatif. 13. 7. beberapa problem penyuluhan yang perlu dice rmati secara kritis antara lain sebagai berikut : 1. 12. Para penyuluh agama belum memahami secara komprehensif pedoman operasional penyuluhan. Frekuensi dan kesempatan pengembangan dan pelatihan yang sangat terbatas dan belum efektif. Implementasi pelaksanaan penyuluhan cenderung bersifat formalistik dan strukturalistik. Lepas dari itu. 2. Dalam upaya ini. Kemampuan perencanaan program -program penyuluhan yang kreatif. khususnya pembiayaan (beasiswa) untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Belum efektifnya pelaksanaan pelaporan dan evaluasi program yang dapat menjadi dasar pengembangan program secara berkelanjut an. materi bimbingan dan penyuluhan. 5. misalnya menyangkut petunjuk teknis jabatan fungsional. Pengelolaan sumber daya penyuluh belum efektif.Secara detail. pedoman identifikasi kebutuhan sasaran. pendekatan penyuluhan. yang terpenting adalah bahwa beberapa persoalan di atas tidak harus menjadi hambatan dalam menjalankan penyuluhan. teknik -teknik penyuluhan dan teori-teori penyuluhan. 10. Penentuan program-program penyuluhan masih bersifat sentralistik. Belum adanya peluang atau kesempatan pemfasisilitasian. 9. 14. pedoman identifikasi potensi wilayah. Lemahnya pemahaman para penyuluh terhadap konsep dasar penyuluhan. dan pedoman-pedoman lainnya. kesempatan itu baru sebatas usulan. Lemahnya data base seputar kelompok sasaran penyuluhan. Metode pelaksanaan penyuluhan lebih cenderung bersifat konvensional. Tetapi. Pada akhirnya.

4. Karena itu. Semoga. tantangan langsung ke depan bagi penyuluh yang sebenarnya adalah diri penyuluh itu sendiri. tentu akan lebih efektif sekiranya para pejabat di tingkat Kanwil dan Kandepag juga memiliki political will untuk melakukan pembehanan dalam mekanisme kepemimpinannya. semoga tulisan ini menjadi titik awal untuk melakukan kajian lebih intensif dalam upaya pembenahan penyuluhan secara reguler dan berkelanjutan. tetapi kreatif menerobos peluang-peluang untuk mampu berkarya secara produktif. misalnya melalui kajian pustaka. sementara kemungkinan hasilnya terlalu sulit untuk diprediksikan. ka jian metodologis atau teknologis penyuluhan dan sebagainya. Karena itu.memaksimalkan pengelolaan sumber daya penyuluh secara reguler dan berkelanjutan. barangkali masih bersifat normatif. upaya pembenahan beberapa problem di atas. Menghilangkan budaya ³menunggu dhawuh´ dari atasan. Minimal para pejabat kita mampu menciptakan kondisi yang kompetitif untuk tumbuhnya budaya kerja yang bertanggung jawab. mengedepankan prestasi. Mengefektifkan pengorganisian penyuluh di ditingkat kabupaten dan wilayah sebagai media yang paling strategis untuk melakukan proses pemberdayaan penyuluh. Akhirnya. transparansi. Memaksimalkan potensi kreatif penyuluh secara mandiri 2. 3. . dan menghargai kreatifitas dan inovasi dari para penyuluh yang dapat memperkaya kualitas layanan proses penyuluhan. Untuk itu. setiap penyuluh perlu menterjemahkan secara kreatif sesuai dengan potensi dan peluang yang memungkinkan untuk diterobos baik secara mandiri maupun secara kolektif. Namun demikian. beberapa langkah praktis da lam upaya pemberdayaan penyuluh untuk keluar dari keterkungkungan problem internal kelembagaan penyuluh antara lain sebagai berikut : 1. Beberapa langkah di atas. Menunggu adanya pembenahan kebijakan dari pusat adalah pekerjaan yang menghabiskan energi (tetapi mutlak diperlukan). Membuka peluang kerja sama melalui kelompok kerja di tingkat Kandepag/Kanwil dengan lembaga -lembaga sosial keagamaan yang memiliki konsen dengan program penyuluhan khususnya atau pemberdayaan masyarakat pada umumnya.