P. 1
Musthalah Hadits

Musthalah Hadits

|Views: 768|Likes:
Published by Sayyid Day

More info:

Published by: Sayyid Day on Feb 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

1

2

PENGERTIAN HADITS
DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

I. Pengertian Hadits
Hadits adalah;
-·=- وأ ا--- وأ `·· وأ `·· .--¹ا .¹إ ---أ '~
Apa saja yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan,
taqrir (sikap diam setuju) dsb.
Dalam definisi di atas hadits mencakup empat hal, yaitu; Perkataan, perbuatan, taqrir dan
sifat-sifat atau keadaan Nabi saw.
Hadits dikenal juga dengan istilah-istilah lain, seperti; al Khabar, al Atsar dan as Sunnah.

II. Kedudukan Hadits dalam Islam
Al Sunnah atau al Hadits memiliki dua fungsi, yaitu sebagai;
a. Mubayyin.
Yaitu sebagai penjelas hal-hal yang disebutkan secara global dan umum dalam al Qur’an.
Seperti; penjelasan tentang tatacara shalat, puasa, haji dsb. dan mengecualikan hal-hal
yang umum dalam al Qur’an, seperti; Ahli Warits yang berhak menerima warits. Hal ini
sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an:
'َ -ْ¹َ ´ْ-َ أَ و َ =ْ-َ ¹ِ إ َ ْآ ~¹ا َ . -َ -ُ -ِ ¹ ِ س'´ -¹ِ ¹ 'َ ~ َ ل ´ُ - ْ»ِ +ْ-َ ¹ِ إ ْ»ُ +´ ¹َ ·َ ¹َ و َ نوُ ´ ´َ -َ -َ -
..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab, agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. QS an Nahl:
44

b. Sumber Hukum tersendiri
As Sunnah sebagai sumber hukum tersendiri dalam hal-hal yang tidak dibahas dalam al
Qur’an baik secara global maupun terperinci, seperti; hukum haramnya menikahi dengan
polygami ponakan dan bibinya, haramnya binatang yang bertaring, bercakar dsb.
berdasarkan:
a. Al Qur’an:
Sebagaimana firman Allah SWT:
.ِ · ْ»ُ -ْ=َ ز'َ -َ - ْنِ 'َ · ْ»ُ ´ْ-ِ ~ ِ ْ~َ 'ْ¹ا .ِ ¹وُ أَ و َ ل·ُ ~´ ¹ا ا·ُ ·-ِ =َ أَ و َ ·´ ¹¹ا ا·ُ ·-ِ =َ أ ا·ُ -َ ~' َ.-ِ ~´ ¹ا 'َ +´ -َ أ 'َ - ٍ ءْ.َ ~
ْ'َ - ُ .َ ~ْ=َ أَ و ٌْ-َ = َ =ِ ¹َ ذ ِ ِ ='ْ¹ا ِ مْ·َ -ْ¹اَ و ِ ·´ ¹¹'ِ - َ ن·ُ -ِ ~ْ·ُ - ْ»ُ -ْ-ُ آ ْنِ إ ِ ل·ُ ~´ ¹اَ و ِ ·´ ¹¹ا .َ ¹ِ إ ُ -و´ دُ َ · 'ً ¹-ِ و
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya. QS an Nisa; 59
Dan firmanNya:
'َ ~َ و ُ »ُ آ'َ -' ُ ل·ُ ~´ ¹ا ُ -وُ ~ُ =َ · 'َ ~َ و ْ»ُ آ'َ +َ - ُ ·ْ-َ = ا·ُ +َ -ْ-'َ · ا·ُ -´ -اَ و َ ·´ ¹¹ا ´ نِ إ َ ·´ ¹¹ا ُ ~-ِ ~َ ~ ِ ب'َ -ِ ·ْ¹ا
.. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat
keras hukuman-Nya. QS al Hasyr: 7
b. Al Hadits:

3

Sebagaiman sabda Rasulullah SAW:
`أ .-إ -وأ -- ب'-´¹ا ·¹`~و ··~ =~·-` .=ر ن'·-~ .¹= ·-´-رأ ) -~¹ا ( ل·--
»´-¹= ا~+- ن'-¹ا '~· »-~=و ·-· .~ ل`= -·¹='· '~و »-~=و ·-· .~ ما= -·~=· `أ
` .=- »´¹ ر'~=¹ا .¹ه`ا `و .آ يذ ب'- .~ ·-~¹ا `و ²=-¹ ~ه'·~ `إ نأ .-·-~-
'+-= '+-='-
Ingatlah sesungguhnya aku diberi al Kitab dan (wahyu) sebangsanya bersamanya. Akan
datang (suatu masa) ada seorang laki-laki yang kekenyangan diatas sofanya memberi
fatwa kepada kalian dengan al Qur’an ini (semata). Maka apa saja yang kalian dapatkan
dalam al Qur’an dari yang halal maka halakanlah, dan apa yang kalian temukan di
dalamnya dari yang haram maka haramkanlah. Ingatlah tidak halal buat kalian keledai
piaraan dan setiap yang bertaring dari binatang buas dan barang yang tercecer milik
seorang kafir mu’ahad kecuali jika dia merelakannya..HR Abu Daud dari Abdurrahman
bin Auf.
Demikian juga taqrir Rasulullah saw terhadap Muadz ibn Jabal ketika beliau bertanya;
jika ternyata tidak ada (yang bisa kamu rujuk) dalam al Qur’an? Dia menjawab: Aku akan
merujuk kepada as Sunnah..

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU HADIST

I. Pengertian Ilmu Hadist
Ilmu Hadist adalah: Ilmu yang berkaitan dengan hadist. Ilmu hadist terbagi dua;

1. Ilmu Hadist Riwayah
Ilmu Hadist Riwayah adalah ilmu yang mempelajari perkataan, perbuatan taqrir (sikap diam)
dan sifat-sifat Nabi. Dengan kata lain ilmu hadist riwayah adalah ilmu yang membahas segala
sesuatu yang datang dari Nabi baik perkataan, perbuatan, ataupun takrir.

2. Ilmu Hadist Dirayah.
Ilmu Hadist Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui
hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadist dan sifat-sifat
perawinya. Oleh karena itu yang menjadi objek pembahasan dari ilmu hadist dirayah adalah
keadaan matan, sanad dan rawi hadist

II. Perkembangan Ilmu Hadist
Sebenarnya dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayat hadits sudah ada
dalam Al Quran dan Sunnah Nabi. Allah Swt berfirman:
Artinya :
اْ·ُ -´ -َ -َ -َ · ٍ ء'َ -َ َ -ِ - ٌ·ِ ~'َ · ْ»ُ آَ ء'َ = ْنِ إ َ .ْ-ِ ~´ ¹ا 'َ +´ -َ أ 'َ - .. ²-`ا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,
maka periksalah dengan teliti” .. (Qs Al Hujrat 6)
Sedangkan dalam sunnah, Rasulullah saw bersabda:
َ - ´ - َ ُ -ا أ~ا َ ~ ِ ~ َ · َ ~ َ - ِ -¹' ْ. َ · َ - ´ ¹ َ · '+ . َ · ُ ´ ب َ = ِ ~' ِ . ِ · ْ- ٍ · َ = ْ- ِ َ · ِ - ْ- ٍ · . َ و ُ ر ´ ب َ = ِ ~' ِ . ِ · ْ- ٍ · ِ إ َ .¹ َ ~ ْ. ُ ه َ ·
َ أ ْ· َ - ُ · ِ ~ ْ- ُ · . .-~ .-ا ·='~

4

“Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu berita, yaitu hadist lalu ia
menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang
menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (H.R Ibnu Majah)
Dalam upaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul Nya para sahabat telah menetapkan
hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka
meragukan kejujuran si pembawa berita. Dalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan
dari Ibnu Sirin, “dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad,
namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, “sebutkanlah pada kami orang-
orang yang meriwayatkan hadist kepadamu”.
Berdasarkan hal ini, maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui
sanadnya. Karena itu muncullah Ilmu jarah wa ta’dil, yaitu ilmu mengenai ucapan para
perawi, cara untuk mengetahui bersambung (Muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad,
mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Muncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan
dari hadist sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi
yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak,
sehinggga muncul berbagai pembahasaan didalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan
hadist, baik dari aspek kedhabitan (validitas)nya, tata cara menerima dan menyampaikannnya,
pengetahuan tentang hadist-hadist yang nasikh dari hadist-hadist yang mansukh dll. Semua itu
masih disampaikan ulama secara lisan. Lalu masalah itu pun semakin berkembang dan
selanjutnya ilmu hadist ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap di berbagai
tempat dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul fiqih
dan ilmu hadist seperti; Kitab Ar Risalah dan Al Umm karangan Imam Syafi’i.

A. Perkembangan Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu hadist mengalami perkembangan yang sangat luar biasa pada awal abad ke tiga
hijriyyah. Hanya saja, perkembangan itu masih berkutat pada upaya mengatahui yang bisa
diterima dan ditolak karenanya pembahasan seputar periwayatan hadist dan yang
diriwayatkannya. Menurut sejarah ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu hadist
riwayat adalah Muhammad Ibnu Shihab Al Juhri (W. 124 H.) atas perintah dari khalifah
Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H.). Al Zuhri adalah salah satu seorang tabi’in yunior yang
banyak mendengar hadist dari para sahabat dan tabi’in senior.

Secara umum system periwayatan Hadits terbagi dalam beberapa fase;
a. Fase periwatan Hadits dengan lisan
Fase ini zaman Rasulullah dimana secara umum belaiu melarang para Sahabat mmenuliskan
hadits. Hadits pada fase ini hanya boleh dihafal dan tidak boleh dicatat kecuali bweberapa
orang yang mendapat zin untuk mencatatnya seperti Abdullah ibn Amr ibn al Ash (W. 65 H.)
dan Jabir ibn Abdillah (73 H.).

b. Fase pembukuan Hadits secara resmi
Fase ini dimulai sejak Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan Gubernur Madinah Abu
Bakr ibn Muhammad ibn Abi Bakr ibn Hazm (W. 117 H.) untuk mengumpulkan hadits dan
membukukanny7a yang kemudian dilakukan oleh Imam az Zuhri, kemudian para ulama
hadits pada fase ini bermunculan melakukan proyek mulia seperti; Ibnu juraij (W. 150 H.),
Ibnu Ishaq (W. 151 H), Imam Malik (W. 179 H.), Sufyan at Tsury (W. 116 H), Imam al
Auza’I (156 H.) dsb.

5


c. Fase penyaringan Hadits dari Fatwa-fatwa
Fase ini sekitar abad ke III H. Pekerjaan ulam pada fase ini adalah memishkan hadits dari
fatwa-fatwa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in. Para ulama perintis di fase ini seperti; Imam
Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dsb.

d. Fase mentahfidz hadits para ulam terdahulu denga sanadnya
Pada fase ini, para ulama hadits abad IV H. berlomba menghafal hadit-hadits yang sudah
dibukukan oleh para ulama terdahulu dengan sanadnya serta meneliti kesahihannya. Kitab-
kitab yang terkenal pada fase ini, seperti; Mu’jam-mu’jamnya Imam at Thabrany, Sunan Abi
Daud, Sohih Abi Awanah, Sohih Ibnu Khuzaima

e. Fase klasifikasi dan sistemisasi kitab hadits
Pada fase ini, para ulama hadits abad V H. banyak menulis kitab-kitab hadits tematik dan
meringkas kitab-kitab hadits yang telah disusun ulama terdahulu, seperti; Sunan al Kubra al
Baihaqi , Muntaqal Akhbar al harany, , Nailul Authar as syaukany

B. Perkembangan Ilmu Hadits Dirayah
Ilmu hadist dirayah sejak pertengahan abad kedua Hijriyyah telah dibahas oleh para
ulama hadist, tetapi belum dalam bentuk kitab khusus dan belum merupakan disiplin ilmu
yang berdiri sendiri. Pada masa Al Qadhi Ibnu Muhammad Al Ramahhurmudzi (W. 360
H) dalam kitabnya al Muhadditsul Fashil, barulah kemudian dibukukan dalam kitab khusus
yang dijadikan sebagai disiplin ilmu yang berdidri sendiri. Setelah itu barulah diikuti oleh
ulama-ulama berikutnya seperti Al Hakim Abu Abdillah Al Naysaburi (W. 405 H.),
kemudian Abu Nu’aim al Ashfahany (430 H), selanjutnya al Khathib Abu Bakr al
Baghdady (W. 463 H.) menyusun kitab al Kifayah dan al Jami’ Li Adabis Syaikhi was Sami’
yang kemudian menjadi rujukan para penulis Mushtalahul Hadits selanjutnya. Di kalangan
ulama kontemporer ilmu hadist dirayah dinamakan dengan Ilmu Ushulul Hadist dan
kemudian lebih dikenal dengan istilah Mushthalahul Hadist. Akhirnya ilmu-ilmu itu
semakin matang, mencapai puncaknya dan memiliki istilah sendiri yang terpisah dengan
ilmu-ilmu lainnya.

III. Cabang-cabang Ilmu Hadist
Cabang-cabang ilmu hadist dikelompokan menjadi beberapa hal sebagai berikut :

1. Ilmu Rijal Al Hadist
Ilmu untuk mengetahui para perawi hadist dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadist ilmu
ini sangat penting kedudukannya dalam bidang ilmu hadist, karena pada saat ini ada dua yaitu
matan dan sanad. Ilmu Rijal Al Hadist memberikan pengertian kepada persoalan khusus
persoalan seputar sanad

2. Ilmu Al Jarah wa Ta’dil
Ilmu yang membahas kecacatan rawi, seperti keadilan dan kedhabitannya. Sehingga dapat
ditentukan siapa diantara perawi itu yang dapat diterima atau ditolak hadsit yang
diriwayatkannya. Ilmu jarah wa ta’dil ini dikelompokan oleh sebagian ulama kedalam ilmu
hadist yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan

6


3. Ilmu Tarikh Ruwat
Ilmu untuk mengetahui para pwrawi hadist yangberkaitan dengan usaha periwayatan mereka
terhadap hadist. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek
kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan

4. Ilmu Ilalil Hadist
Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang mencacatkan keshahihan hadist,
seperti mengatakan muttasil terhadap hadist munqati menyebat hadist marfu kepada hadsit
mauquf.

5. Ilmu Nasikh wa Mansukh
Ilmu yang membahas hadist-hadist yang berlawanan yang tidak dapat dipertemukan dengan
cara menentukan sebagiannya sebagai nasikh dan sebagian lainnya sebagai mansukh, bahwa
yang datang terdahulu disebut Mansukh dan yang datang dinamakan nasikh.

6. Ilmu Asbabi Wurudil Hadis
Ilmu yang menerangkan sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi
menuturkan itu. Ulama yang mula-mula meyusun kitab ini adalah Abu Hafash Umar ibnu
Muhammad Ibnu Rajak Al Ukbary, dari murid Ahmad

7. Ilmu Ghraib Al Hadist
Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafad-lafad hadist yang
jauh dan sulit dipahami, karena lapad-lapd tersebut jarang digunakan. Sesudah berlalu masa
sahabat, yakni abad pertama dan para tabi’in pada tahun 150 H. mulailah bahasa arab yang
tinggi tidak diketahui lagi umum. Satu-satu orang saja lago yang mengetahuinya. Oleh karena
itu, berusahalah para ahli mengumpul kata-kata yang dipandang tidak dapat dipahamkan oleh
umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari dalam sesuatu kitab
dan mengsarahkannya.

8. Ilmu Al Tashif
Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadist-hadist yang sudah diubah titik
atau sakalnya atau bentuknya.

9. Ilmu Muktalif Al Hadist
Ilmu yang membahas hadist-hadist yang menurut lainnya bertentangan atau berlawanan,
kemudian ia menghilangkan pertentangan tersebut atau mengkompromikan antara keduanya,
sebagaimana juga ia membahas tentang hadist-hadist yang sulit difahami isi atau
kandungannya dengan cara menghilangkan kemuskilan atau kesulitannya serta menjelaska
hakikatnya

10. Ilmu Talfiqiel Hadist
Ilmu yang membahaskan tentang cara mengumpulkan antara hadist-hadist yang berlawanan
lahirnya. Dikumpulkan itu adakalanya dengan mentahkhisiskan yang Am atau mentaqyidkan
yang mutlak atau dengan memandang banyak kali terjadi. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu
Mukhtaliful Hadist diantara para ulama besar yang telah berusaha menuyusun ilmu ini ialah

7

Al Imamusy Syafi’i, Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzy kitabnya bernama At Tahqiq sudah
disarahkan oleh Ustad Ahmad Muhammad Syakir

ISTILAH-ISTILAH
DALAM ILMU HADITS

1. Sanad adalah sejarah perjalanan matan atau jalan yang menyampaikan kepada matan
2. Matan ialah perkataan yang bersanad.
3. Rowi ialah orang yang meriwayatkan hadits atau khobar.
4. Al Mukhorrij ialah ahli hadits yang mengeluarkan hadits-hadits yang berbeda sanadnya
dengan hadits-hadits dari kitab seorang ahli Hadits, tetapi tidak memenuhi standar
sanadnya penyusun kitab itu, seperti Abu Nu’aim mentakhrij hadits-hadits dalam sohih
Bukhari dan Ahmad bin Hamdan mentakhrij hadits-hadits dalam sohih muslim. Hadits–
hadits yang ditakhrij para mukhorrij itu dikumpulkan dalam kitab yang disebut
Mustakhraj.
5. Al Mudain ialah orang yang mengkodifikasi (menyusun buku) hadits.
6. Al Thoriq ialah jalan datangnya hadits dari seorang imam yang mendengarkan atau
mengeluarkan hadits.
7. Al Muhaddits ialah orang yang ahli dalam masalah hadits; mengetahui sanad-sanad, ilat-
ilat, para perowi secara lengkap, mana yang rengking atas dan bawah, memahami
Kutubut Tis’ah, Mu’jam al Baihaqi dan Mu’jam at Thabrany. Dan hafal sekurang-
kurangnya 1000 hadits dengan sanadnya.
Diantara imam-imamnya antara lain : ‘Atho bin Robah.
8. Al Hakim ialah seorang ahli hadits; mengetahui setiap rowi dengan sejarah hidupnya,
guru-gurunya dan sifat-sifatnya yang baik maupun yang tercela. Sekurang-kurangnya dia
hafal 300 ribu hadits dengan sanadnya.
Diantara imam-imamnya adalah sebagai berikut :
a. Ibnu Dinar, Wafat 162 H
b. Laits bin Sa’ad wafat 175 H
c. Imam Malik, wafat 179 H
d. Imam Syafi’I, wafat 204 H
9. Al Hafidz ialah ahli hadits yang lebih khusus dari al Muhaddits. Sekurang-kurangnya
hafal 100 ribu hadits beserta sanadnya.
Diantara Imam-imamnya adalah :
a. Imam al Iraqi
b. Imam Syarifuddin
c. Ibnu Hajar Al Asqolani
d. Ibnu Daqiq Al ‘Id

8

10. Al Hujjah ialah gelar bagi orang yang sanggup menghafal 300 ribu hadits beserta
sanadnya seperti al hakim, namun dari segi penguasaannya terhadap ilmu Hadits lebih
umum dibandingkan dengan al Hakim. Diantara Imamnya :
a. Hisyam bin Urwah, wafat 146 H
b. Abu Hudzaid Muhammad bin Walid, 149 H
c. Muhammad Abdullah bin Amr, 242 H
11. Amirul mu’minin gelar kholifah bagi para Muhaditsin. Disebut ‘Amirul Mu’minin
karena mereka perintis dalam menyebarkan sunnah Rasulullah saw di jamannya. Diantara
para muhadditsin yang mendapat gelar ini antara lain; Syu’bah, Sufyan at Tsaury, Ishaq
ibn Rohawaih, Ahmad ibn Hanbal, al bukhari, ad Darquthny dan Muslim.
12. Musnid ialah orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya.
13. Musnad ialah kitab yang terkumpul di dalamnya hadits-hadits yang diriwayatkan setiap
sahabat. Seperti Musnad Imam Ahmad.
14. Riwayat ialah perjalanan hadits atau khobar dari Nabi saw.

KLASIFIKASI HADITS
DITINJAU DARI JUMLAH ROWINYA

Ditinjau dari segi banyak atau sedikitnya rowi yang menjadi sumber berita, hadits terbagi
menjadi dua, yaitu Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad.

A. Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir adalah hadits yang didasarkan kepada panca indera (dilihat atau didengar
oleh yang menghabarkan) yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rowi, yang mustahil
menurut adat (logika), mereka berkumpul dan bersepakat berdusta.

Syarat-syarat Mutawatir :
1. Khobar yang disampaikan oleh rowi-rowi tersebut harus berdasarkan tangkapan panca
indera (yakni khobar yang mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran
atau penglihatan sendiri ).
2. Jumlah rowinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka
bersepakat berbohong.
3. Adanya keseimbangan jumlah antara rowi-rowi dalam thobaqoh (tingkatan) berikutnya.

Klasifikasi Hadits Mutawatir terbagi menjadi dua yaitu :
1. Mutawatir Lafdhi : hadits yang diriwayatkan oleh orang yang banyak yang susunan
redaksi dan maknanya seragam antara riwayat yang satu dengan yang lainnya.
Contoh Hadits Mutawatir Lafdhi :
-ا ل·~ر ل'· : ر'-¹ا .~ -~·-~ أ·---¹· ا~~·-~ .¹= ب~آ .~ . ²='~=¹ا -اور

9

Rasulullah bersabda : “ barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, hendaklah
dia menduduki tempat duduk di neraka”
2. Mutawartir ma’na : Hadits mutawatir yang redaksi pemberitaannya berbeda, tetapi
semuanya dipersatukan oleh makna atau substansi yang sama.
Contohnya Hadits-hadits tentang mengusap sepatu ketika berwudhu, hadits-hadits
siksa kubur, dan hadits-hadits tentang syafaat.

Faedah Hadits Mutawatir.
Hadits mutawatir itu memberi faedah ilmu dharury (aksiomatik), yakni suatu
keharusan untuk menerimanya dengan yakin.

B. Hadits Ahad
Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.
Klasifikasi hadits Ahad dari segi jumlah perowi terbagi tiga :
a. Hadits Masyhur.
Ialah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang atau lebih tapi tidak mencapai derajat
mutawatir.
• Hadits masyhur ada dua macam :
1. Muthlaq
Hadits yang termasyhur di kalangan ahli hadits dan yang lainnya (golongan
ulama ahi ilmu dan orang umum)
Contoh Masyhur Muthlaq :
¹~ .~ »¹~~¹ا -~-و ·-'~¹ .~ ن·~¹~~¹ا » . »¹~~و ير'=-¹ا -اور
“seorang muslim itu ialah orang yang menyelamatkan sesama muslim lainnya
dari gangguan lidah dan tangannya”.
Hadits diatas diriwayatkan pula oleh Abu Daud, an Nasai, at Turmudzy dan ad
Darimi dari sahabat yang berbeda; Jabir, Abu Musa, Abdullah bin Amr bin al
Ash.
2. Muqoyyad
Hadits yang termasyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya
termasyhur di kalangan ahli hadits saja, atau ahli fiqih saja, dan sebagainya.
Contoh Hadits Masyhur Muqoyyad :
نأ ر نا·آذو .=ر .¹= ع·آ¹ا ~·- ا+~ --· -ا ل·~ . »¹~~و ير'=-¹ا -اور
“bahwa rasul berkunut sebulan lamanya, setelah ruku, untuk mendo’akan
keluarga Ri’’in dan Dzakwan”
Hadits diatas hanya masyhur di kalangan para Muhadditsin saja.
b. Hadits Aziz
Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rowi, walaupun dua orang rowi
tersebut terdapat pada satu thobaqoh saja.
Contoh hadits aziz :

10

.-·~=أ س'-¹او -~¹وو -~¹اوو ·~-- .~ ·-¹إ -=أ ن·آأ .-= »آ~=أ .~·- ` . -اور
»¹~~و ير'=-¹ا
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia
cintai dari pada ia mencintai dirinya sendiri, orang tuanya, anak-anaknya
dan manusia seluruhnya”
Yang meriwatkan hadits diatas dari Anas bin Malik hanya dua tabi’i, yaitu
Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib, demikian juga perowi setelah tabi’i
hanya dua orang juga, yaitu; Husain al Mu’allim dan Syu’bah.
c. Hadits Gharib
Hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam
meriwayatkannya, di tingkatan mana saja kesendirian dalam sanadnya itu
terjadi.
• Klasifikasi hadits gharib
Ditinjau dari bentuk penyendirian rowi hadits gharib terbagi dua :
1. Gharib Mutlaq
Hadits yang penyendiriannya itu terjadi di pangkal sanad atau Ashlu
sanad (tabi’in bukan sahabat).
Contoh hadits ghorib muthlaq :
.~ ²-·~ ء'-=¹او ²-·~ ن··-~و ·-- ن'~-`ا ن'~-`ا . »¹~~و ير'=-¹ا -اور
“iman itu bercabang-cabang menjadi 70 cabang. Malu itu salah satu
cabang dari iman”.
Hadits diatas hanya diriwayatkan oleh tabi’i abu sholih saja dari Abu
Sholihpun hanya Abdullah bi Dinar saja.
2. Gharib Nisby.
Hadits yang penyendiriannya itu berkaitan dengan sifat-sifat atau
keadaan tertentu seorang rowi.
Contoh hadits gharib Nisby :
-ا ل·~ر '-~أ ·-~ ~-- '~و ب'-´¹ا ²=-'-- أ-- نا
“Rosulullah memerintahkan kepada kita agar kita membaca al-Fatihah
dan surat yang mudah dari al-Qur’an.”
Hadits diatas diriwayatkan oleh perowi semuanya penduduk Bashrah.
PEMBAGIAN HADITS
ANTARA DITERIMA DAN DITOLAK

1. Pembagian Hadits Ahad dari segi Maqbul dan Mardud.
• Maqbul : Hadits yang memiliki kriteria dan syarat-syarat hadits yang harus diterima
dengan sempurna.
• Mardud : Hadits yang tidak memiliki kriteria dan syarat-syarat hadits yang harus
diterima dengan sempurna.

11

2. Pembagian Maqbul dari sudut perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua yaitu Shohih
dan Hasan.

a. Hadits Shohih.
Hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil, sempurna hafalannya, sanadnya
bersambung, tidak berilat (cacat) dan tidak janggal (syadz).
• Rowi yang adil
Rowi yang adil berarti orang islam yang baligh, berakal dan selamat dari sebab-
sebab yang dapat membuat cacat kepribadiannya.
• Arti Dhabith : orang yang kuat hafalannya.
Dhobtu Shodri: Seseorang yang mempunyai hafalan yang kuat sejak dari
menerima hingga menyampaikannya kepada orang lain dan hafalannya itu
sanggup dikeluarkan lagi kapan dan dimana saja dikehendaki.
Dhobtu Kitab: Apa yang disampaikannya itu berdasarkan pada buku catatannya.
• Sanad Bersambung.
Artinya setiap rowi saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang
mengajarnya.
• Arti Ilat
Suatu penyakit yang samar-samar, yang dapat menodai kasohihan suatu hadits.
• Arti Syadz
Hadits yang berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat.

Syarat-syarat hadits Shohih, ada lima :
1. Sanadnya bersambung.
2. Rowi yang adil
3. Kuat hafalan
4. Tidak ada ilat
5. Tidak janggal.


Klasifikasi Hadits Shohih
1. Shohih Lidzatihi
Shohih Lidzatihi adalah hadits sohih yang syarat-syarat seperti tersebut di atas
terpenuhi.
Contoh hadits Shohih.
`ا '~-إ = ت'--¹'- ل'~ . ير'=-¹ا -اور ب'==¹ا .- ~= .=
“sesungguhnya amal itu tergantung niat…”. HR Bukhari dari Umar bni al
Khaththab

2. Shohih Lighoirihi

12


Shohih Lighoirihi adalah hadits yang keadaan rowinya kurang kuat hafalannya,
tetapi mereka terkenal jujur, kemudian ditemukan pada hadits itu riwayat lain
yang sederajat atau lebih kuat yang dapat menutupi kelemahannya itu.
Contoh hadits sohih Lighoirihi:
ة`- .آ ~-= كا·~¹'- »+-~` .-~أ .¹= ·~أ نأ `·¹ . ة-ه .-أ .= ي~~-¹ا -اور
“Kalaulah aku tidak khwatir membebani umatku niscaya aku akan perintahkan
mereka bersiwak setiapkali mau shalat”. HR at Tirmidzi dari Abi Hurairah.
Hadits diatas asalnya hasan lidzatihi kemudian menjadi sohih Lighoirihi karena
ada hadits yang sama riwayat al Bukhari dengan derajat sohih lidzatihi.

Kedudukan Hadits Shohih
Kekuatan Hadits Shohih itu bertingkat seiring dengan bertingkatnya sifat kedhobitan
dan keadilan rowinya. Hadits shohih yang paling tinggi derajatnya ialah hadits yang
bersanad Ashohhul Asanid.
Ahli hadits telah merengking hadits shohih kepada tujuh tingkatan. Masing-masing
tingkatan itu lebih tinggi dari yang di bawahnya, yaitu;
1. Hadits yang diriwayatkan Bukhory Muslim
2. Hadits yang diriwayatkan Bukhory sendiri
3. Hadits yang diriwayatkan Muslim sendiri
4. Hadits yang di riwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat-syarat
yang dipakai oleh imam Bukhory Muslim
5. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat
Bukhory saja
6. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat
Muslim saja
7. Hadits yang dishohihkan oleh seorang ulama hadits

Shohih Bukhory didahulukan dari Shohih Muslim karena Bukhory tidak hanya
mengharuskan perowi semasa dengan orang yang meriwayatkan hadits itu, bahkan
mengharuskan adanya pertemuan antara mereka walaupun sekali, kalau muslim
hanya mensyaratkan perowi semasa saja dengan gurunya.

13

HADITS HASAN

1. Pengertian
Hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil, tapi tak begitu kuat
hafalannya, dan tidak terdapat ilat serta kejanggalan pada matannya.
Contoh hadits hasan:

2. Klasifikasi Hadits Hasan
Hadits Hasan terbagi menjadi dua:
1. Hadits Hasan Lidzatihi
Hadits yang memenuhi syarat hadits hasan diatas.
Contoh hadits asan:
»-¹~-¹ا '+¹-¹=-و --´-¹ا '+~-=-و ر·+=¹ا ة`-¹ا ح'--~ . ي~~-¹او ·='~ .-او دواد ·-أ -اور
-¹'= .-أ .- .¹= .=
“Kunci shalat adalah bersuci dan tahrim (gerbang)nya takbir dan tahlil
(penutup)nya salam”
2. Hadits Hasan Lighoirihi
Hadits yang dalam sanadnya ada orang yang tidak diketahui kredibilitasnya, namun
dia bukan seseorang yang sangat lalai, bukan orang yang banyak lupa terhadap hadits
yang dia riwayatkan, dan dia tidak pula dituduh dusta dalam periwayatan hadits dan
tidak memiliki sifat yang bisa menyebabkannya dipandang fasik, kemudian matan
haditsnya baik berdasarkan kesaksian riwayat lain yang sederajat dan semakna
dengannya.
·+=و '~+- -~~- .-= '~هد- »¹ ء'=~¹ا .· ·-~- ~~ اذإ »¹~و ·-¹= -ا .¹- .--¹ا ن'آ . ·==أ
ي~~-¹ا . == .-ا ل'· .-`-~·¹ا : --=و دواد .-أ ~-= ~ها·~ ·¹و
“Bahwa Nabi saw jika mengulurkan kedua tangannya dalam berdo’a beliau tidak
menariknya kembali sampai mengusapkan dulu keduanya pada wajahnya.” HR at
Tirmidzi. Ibnu Hajar berkata: Hadits ini memiliki syahid dalam riwaya Abi daud dan
yang lainnya.
Hadits dho’if yang bukan dikarenakan rowinya pelupa, banyak salah dan orang fasik,
dapat naik menjadi hadits Hasan lighoirihi dengan syarat :
a. Ada sanad lain yang meriwayatkan hadits yang sama dengan kedudukan yang
sama atau lebih kuat
b. Sebab dho’ifnya karena jelek hafalan.

Cara-cara menetapkan keghoriban hadits.
Cara untuk melakukan pemeriksaaan terhadap hadits yang diperkirakan ghorib dengan
maksud apakah hadits tersebut mempunyai muttabi’ atau syahid disebut I’tibar.
Muttabi’ adalah hadits yang mengikuti periwayatan hadits lain sejak pada gurunya yang
terdekat atau guru gurunya. Orang yang mengikuti periwayatan seorang guru atau guru gurunya

14

dari rowi lain disebut Muttabi’. Orang yang diikutinya disebut Muttaba’ dan perbuatan
mengikutinya disebut Mutaba’ah. Sedang hadits yang mengikuti periwayatan hadits lain disebut
Hadits Muttabi’.
Muttabi’ ada dua macam yaitu:
1. Muttabi’ Tam
Apabila periwayatan si muttabi’ itu mengikuti periwayatan guru muttaba’ dari yang
terdekat sampai yang terjauh.

2. Muttabi’ Qoshir.
Apabila periwayatan muttabi’ itu mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja, tidak
sampai mengikuti guru gurunya yang jauh sama sekali.

Syahid adalah hadits yang disepakati antara perowinya dengan perowi yang lain melalui
sahabat yang lain, baik redaksinya atau ma’nanya saja.
Hadits syahid ada dua macam, yaitu :
1. Syahid bil Lafdhi
Apabila matan hadits yang diriwayatkan melalui sahabat lain sesuai redaksi dan
maknanya, dengan hadits yang diriwayatkan rowi tersebut.
2. Syahid bil Ma’na
Apabila matan hadits yang diriwayatkan oleh yang lainnya itu hanya sesuai ma’nanya
saja.

Klasifikasi hadits maqbul dilihat dari sifatnya.

Hadits maqbul dilihat dari sifatnya terbagi menjadi dua :
1. Maqbul Ma’mul bih (Muhkam)
Yaitu hadits yang selamat dari pertentangan, dan dapat dijadikan hujjah serta dapat
diamalkan.
2. Maqbul Ghoer Ma’mul bih
Yaitu hadits yang shohih sanadnya tapi tidak sohih matannya
Hadits maqbul yang termasuk ma’mul bih antara lain :
a. Hadits Muhkam : hadits yang tidak mengandung khilaf dengan hadits lain.
b. Hadits Mukhtalif : hadits yang dapat dikompromikan
c. Hadits Rojih : hadits terkuat antara dua hadits yang berlawanan
d. Hadits Nasih : hadits yang datang lebih akhir dan menghapus ketentuan hukum yang
terkandung dalam hadits yang datang mendahuluinya.
Sedangkan hadits yang ghoer ma’mul bih antara lain :
1. Hadts Mutasyabih: hadits yang sukar difahami maksudnya, lantaran tidak diketahui
ta’wilnya.

15

2. Hadits Mutawaqqaf fihi: dua buah hadits maqbul yang berlawanan dan tdak dapat
dikompromikan
3. Hadits Marjuh : hadits yang berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat.
4. Hadits Mansukh: hadits maqbul yang sudah dihapus oleh hadits maqbul yang lain yang
datang kemudian
5. Hadits Maqbul yang ma’nanya berlawanan dengan al-Qur’an, hadits mutawattir, akal
yang sehat dan ijma ulama.

Cara untuk mengatasi hadits maqbul yang berlawanan (mukhtalaf)
1. Hendaklah kita berusaha untuk mengumpulkan (mengkompromikan) kedua-duanya
sampai hilang aspek ikhtilafnya.
2. Hendaklah dicari mana diantara kedua hadits tersebut yang datang lebih dulu dan yang
datang kemudian. Kemudian hadits yang lebih dulu datangnya dinasakh oleh hadits yang
datang kemudian.
3. Hendaklah diteliti mana hadits yang lebih kuat baik sanad maupun matannya untuk
ditarjih.
4. Hendaklah dibekukan, ditinggalkan untuk pengamalannya (mutawaqqof fihi)


16

HADITS MARDUD

Hadits mardud adalah hadits yuang tidak memenuhi syarat-syarat shohih dan hasan,
disebut juga dho’if.
Sebab tertolaknya hadits ada dua macam :
1. Dari segi sanad yang terputus
2. Dari segi cacat pada rowinya

A. Hadits yang sanadnya terputus:
Hadits yang disebabkan terputus sanadnya antara lain :

1. Mu’allaq : hadits yang gugur rowinya seorang atau lebih awal sanadnya.
Contoh :
س'-¹ا .~ .-=-~- نا ·=أ -أ
”Allah itu berhak untuk dijadikan tempat mengadu malu dari pada manusia”

2. Mursal : Hadits yang gugur diakhir sanadnya setelah tabi’in
Mursal terbagi menjadi dua :
a. Mursal Shohabi : pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada Nabi, tetapi ia
tidak mendengar atau menyaksikan sendiri apa yang diberitakan karena ia masih
kecil atau terkhir masuk islamnya.
b. Mursal Tabi’i : pemberitaan tabi’i yang disandarkan kepada Nabi tanpa
menyebut sahabat.
3. Mu’dhol : hadits yang gugur rowinya dua orang atau lebih secara berturut-turut.
Hadits Mu’dhol lebih jelek dari hadts mursal.
4. Munqathi’: hadits yang gugur rowinya seorang atau lebih tidak secara berturut-turut.
5. Mudallas : hadts yang diriwayatkan dengan cara yang memberikan gambaran bahwa
hadits itu tiada cacat.
Macam-macam Tadlis
a. Taldis Isnad
Bila seorang rowi meriwayatkan suatu hadits dari orang yang pernah ketemu dengan
dia tapi rowi tersebut sebenarnya tidak pernah mendengar hadits dari padanya.

b. Tadlis Syuyuh
Bila seorang rowi meriwayatkan hadits yang didengarnya dari seorang guru dengan
menyebutkan nama kun-yahnya, nama keturunannya, atau mensifati gurunya dengan
sifat-sifat yuang belum dikenal oleh orang banyak.
Perbedaan Tadlis dan Mursal khofi
a. Tadlis : Sejaman, bertemu tapi tidak mendengar hadits dari guru tersebut.
b. Mursal Khofi : Sejaman, tapi tidak bertemu dengan guru tersebut

17

c. Mursal Jali : Tidak sejaman


B. Hadits yang Mardud karena cacat rowinya:
Hadits-hadits yang mardud yang disebabkan Tho’nu Fir-Rowi ada sepuluh hal (lima hal
yang berhubungan dengan ‘adalah dan lima yang lainnya berhubungan dengan dhobtun )

Lima hal yang berhubungan dengan ‘Adalah :
1. Dusta Maudhu’
2. Tertuduh Dusta Matruk
3. Fasik Munkar
4. Bid’ah Munkar
5. Jahalah Majhul (tidak diketahui identitasnya)

Lima hal yang berhubungan dengan Dhobtun
1. Banyak salah munkar
2. Jelek atau tidak baik hafalan Syad
3. Lengah dalam menghafal munkar
4. Banyak ragu Mu’allal
5. Menyalahi riwayat orang kepercayaan (tsiqah) yaitu :
- Dengan penambahan sisipan Mudroj
- Dengan memutarbalikan Maqlub
- Dengan menuka-nukar rowi Mudhtorib
- Dengan merubah syakal Muharrof
- Dengan merubah titik-titik huruf Mushohhaf

I. Hadits Mardud yang berhubungan dengan ‘adalah
1. Maudhu’ : hadits mardud yang disebabkan rowinya dusta
Motif-motif yang mendorong untuk membuat hadits maudhu’
a. Mempertahankan golongan untuk membuat hadits maudhu’
b. Fanatic madzhab
c. Membuat kisah-kisah atau nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengrnya
d. Keuntungan dunia
e. Mendorong untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Tanda-tanda dan cirri-ciri hadits maudhu’ (pada matan) yaitu ma’nanya bertentangan
dengan al-Qur’an, dengan hadits mutawatir, dengan hadis ulama dan dengan logika yang
sehat.

2. Matruk : Hadits yang diriwayatan oleh orang yang tertuduh dusta.

18

Sebab-sebab tertuduh dusta :
a. Orang itu diketahui berdusta dalam selain hadits.
b. Tertuduh mengerjakan ma’siat, lalai atau banyak wahm (ragu-ragu)nya
3. Munkar: hadits yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, atau jelas
kefasikannya (cacat dalam amal, bukan cacat dalam i’tikad). Atau hadits yang
diriwayatkan oleh rowi yang tidak tsiqoh (dhoif) berlawanan dengan orang yang tsiqoh.
4. Ma’ruf: Hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqoh berlawanan dengan riwayat
yang lemah.
5. Syadz dan Mahfudz
Syadz : hadits ysang diriwayatkan oleh orang yang maqbul menyalahi riwayat orang
yang lebih rojih, karena mempunyai kelebihan dari sisi kedhobitan atau lebih banyak
sanadnya.
Maka yang rojih disebut Mahfudz.

Perbedaan Syad dan Munkar
Syadz : hadits yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul menyalahi orang yang lebih
tsiqoh.
Munkar: hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lemah menyalahi orang yang tsiqoh.
6. Mu’allal : suatu hadits setelah diadakan penelitian dan penyelidikan, tampak adanya
salah sangka dari rowinya. Atau dengan redaksi lain: Hadits yang memiliki sebab-sebab
yang tak nyata padanya dan menjadikannya catat.
Ilat ada yang terdapat di sanad atau matan, jalan untuk mengetahuinya :
a. Mengumpulkan seluruh sanad-sanad hadits tersebut.
b. Melihat perbedaan-perbedaan yang terjadi pada riwayat-riwayatnya
c. Melihat sisi kuat lemahnya hafalan perowinya-perowinya.

7. Majhul : hadits yang tidak diketahui atau tidak dikenal rowinya
Adapun sebab-sebab tidak dikenalnya seorang rowi, diantaranya;
a. Terlalu banyaknya sifat rowi
b. Sedikitnya meriwayatkan hadits
c. Tidak jelas namanya

Macam-macam Majhul
1. Majhul ‘Ain
Hadits yang pada sanadnya ada perowi yang disebut, tetapi tidak dikenal orangnya
dan yang meriwayatkan hadits darinya hanya seorang saja.
2. Majhul Hal (Mastur)
Hadits yang pada sanadnya ada perowi yang disebut dan dikenal orangnya, tetapi
tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali dua orang yang adil atau lebih tetapi
perowi tersebut tidak dikatakan kepercayaan (tsiqah).

19

3. Mubham
Hadits yang pada sanadnya ada orang yang tidak disebut, baik orang itu laki-laki atau
perempuan.

Hukum hadits Mubham :
Hadits mubham yang terdapat pada sanad termasuk dhoif
Hadits mubham yang terdapat pada matan tidak ditolak secara muthlaq.

II. Hadits-hadits yang menyalahi yang tsiqah
Sebab-sebab cacat karena yang menyalahi yang tsiqoh :
1. Mudroj : hadits yang tedapat pada sanadnya suatu tambahan dari luar yang bukan dari
hadits itu sendiri.
a. Mudrohj Isnad : Susunan sanadnya berubah, hal ini terjadi karena :
Seorang rowi meriwayatkan dua hadits dengan dua sanad. Kemudian datang
seorang rowi menerima hadits itu dari yang pertama, lalu meriwayatkan hadits
itu dengan satu sanad saja, atau dia memasukkan kedalam hadits yang pertama
sebagian dari hadits yang kedua.
Seorang syeikh sedang meriwayatkan hadits, lalu karena sesuatu hal
mengalihkan pembicaraannya kepada suatu yang diluar sanadnya, tapi si
pendengar menyangka bahwa yang tersebut itu termasuk silsilah sanad atau
sambungan hadits maka iapun meriwayatkan kepada orang lain sesuai dengan
apa yang ia dengar.
b. Mudroj Matan : perkataan yang disisipkan oleh rowi yang mungkin perkataannya
sendiri atau perkataan orang lain.
Mudroj matan ada kalanya di pangkal hadits, di pertengahan atau di akhir hadits.
Contoh Mudroj :
ر'-¹ا .~ ب'-=`¹ .-و ء·-·¹ا ا··-~أ
“sempurnkanlah Wudhumu karena dari nereka itu termasuk tumit-tumit yang tidak
sempurna terbasuh dengan sempurna”
Kata-kata “sempurnakanlah wudhumu” adalah ucapan Abu Hurairah

2. Maqlub : hadits yang bertukar padanya disebabkan mendahulukan dan mengakhirkan.

Maqlub terbagi menjad dua :
a. Maqlub Sanad : mendahulukan dan mengakhirkan nama salah seorang rowi
Missal : Rowi Ka’ab bin Murroh tertukar dengan murroh bin Kaab, muslim bin wahid
tertukar dengan wahid bin muslim.
b. Maqlub Matan : Rowi mendahulukan dan mengakhirkan nama sebagian matan
hadits


20

·¹'~~ ·--- '~ ·-~-~- »¹·- ` .-= 'ه'-='· ²·~-- ق~-- .=رو . ة-ه .-أ .= »¹~~ -اور
“dan seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah yang disembunyikan hingga
tangan kanannya tidak mengetahui apa-apa yang telah dibelanjakan tangan kirinya”
Dalam riwayat yang lain: “sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang
dishadaqahkan tangan kanannya..”
3. Al-mazid fi muttashil al-isnaad : adanya penambahan rowi pada sanad yang sudah
lengkap.

4. Mudthorib : hadits yang diriwayatkan seorang rowi dengan jalan yang berbeda-beda,
yang tidak mungkin dapat digabungkan atau ditarjih.
Mudthorrib dibagi menjadi dua :
a. Mudthorrib Sanad :
ل'· ؟--~ كارأ -ا ل·~ر '- : '+-ا·=أو د·ه .----~ .
“Ya Rasulullah aku perhatikan engakau sudah berubah! “ jawab Rasulullah “ yang
menyebabkan aku beruban adalah surat Hud dan saudara-saudaranya”

Hadts ini termasuk mudthorib karena menurut Daruqutni hadits ini hanya
diriwayatkan dari jalan Abu Ishaq as-Suba’i dan ikhtilaf padanya lebih sari sepuluh
masalah.
Ada yang meriwayatkannya secara mursal, ada yang meriwayatkannya secara
mausul, ada yang menjadikannya dari musnad Abu Bakar, ada yang menjadikannya
dari Sa’ad dan ada pula yang yang menjadikannya dari musnad Aisyah, semua
perowi-perowinya kepercayaan, tidak mungkin ditarjihkan.

b. Mudhthorrib Matan
Contoh :
ة'آ´¹ا ى·~ '-=¹ ل'~¹ا .· نإ
“sesungguhnya pada harta ada hak orang lain selain dari zakat”

.-¹ · ة'آ´¹ا ى·~ ·= ل'~¹ا .
“tidak ada sesuatu hak pada harta itu selain zakat”

Lafad yang pertama menyebutkan adanya kewajiban harta yang lain selain zakat,
sedangkan lafadz yang kedua menafikannya. Karenanya hadits itu dipandang hadits
mudhtorrib karena berlawanan, padahal yang meriwayatkannya orang sama.

5. Al-Musakhkhaf : hadits yang mukholafah (perbedaan)nya karena adanya perubahan
satu huruf atau beberapa huruf. Sedang bentuk tulisannya tidak berubah. Sakhf ini
adakalanya dimatan atau di sanad.
Contoh Mushohhaf di matan :

21

~=~~¹ا .· =-=ا .--¹ا نأ
“Sesungguhnya Nabi saw membuat kamar di masjid”.
Ibnu Lahi’ah merubah perkataan ) =-=ا ( yang artinya; membuat kamar di rubah menjadi
) »=-=ا ( yang artinya: berbekam. maka rusaklah maknanya.
Contoh Mushohhaf di sanad:
'+¹هأ .¹إ ق·-=¹ا نود·-¹

“hendaklah tunaikan hak-hak kepada yang mempunyainya”
Ibnu Ma’in merubah rowi di snad hadits itu yang asalnya Awam bin Marjam di rubah
menjadi Awam bin Mazham

6. Maharraf : hadits yang mukholafahnya disebabkan karena perubahan syakal pada kata
dengan masih tetap bentuk tulisannya.
Contoh Tahrif pada matan :
·¹=آأ .· با´=`ا م·- .-أ .~ر
“Ubay telah dihujani panah pada perang ahzab mengenai pinggangnya”
Kata Ubay di tahrif menjadi Aby (ayahku)

Contoh Tahrif pada sanad
Menggantiu nama ‘Uqail menjadi ‘Aqiil

AL QUR’AN, HADITS QUDSY
DAN HADITS NABAWY

Perbedaan antara al-Qur’an, Hadits Qudsy dan Hadits Nabawi.
• Al-Qur’an : Redaksi dan maknanya dinisbatkan kepada Allah SWT dan
disyaratkan mutawatir.
• Hadits nabawi : Redaksi dan maknanya dinisbatkan kepada Nabi SAW. Tidak
disyaratkan mutawatir.
• Hadits Qudsy : Redaksinya dinisbatkan kepada Nabi SAW dan Maknanya
kepada Allah SWT. Tidak disyaratkan Mutawatir.

Macam-macam Hadits berdasarkan penisbatannya
1. Marfu’
Yaitu hadits yang sandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan atau taqrir.
Klasifikasi hadits Marfu’ antara lain :
a. Marfu’ Qauly Haqiqi adalah apa-apa yang disandarkan oleh sahabat Nabi
SAW kepada Nabi SAW
Contoh :
·---~ .=¹ا -ؤ'~ ر·+=¹ا ·ه =-¹ا .· . ²·-ر`ا -اور ة-ه .-أ .=

22

(menjawab) tentang hukum laut: Laut itu suci airnya dan halal
bangkainya.

b. Marfu’ Qauly Hukmi adalah hadits marfu’ yang penisbatan sahabat
terhadap Nabi SAW tidak tegas, melainkan dengan perantara qorinah
yang lain.
Contoh :
-~- يأ ل`- ~أ ·~'·`ا -·-و '·-~ ناذ`ا · . .-أ .= ·-¹= ·--~
“Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan
iqamah.”
c. Marfu’ Fi’li Haqiqi adalah pemberitahuan sahabat yang dengan tegas
menisbatkannya sebagai perbuatan Rasul SAW.
Contoh :
- -ا ل·~ر ن'آ »¹~و ·-¹= -ا .¹ : -د·=~و ·=·آر .· ل·-- : »+¹¹ا -ا =-'=-~
.¹ -=ا »+¹¹ا ك~~=-و '--ر . ²~-'= .= ·-¹= ·--~
“Bahwa Rasulullah saw: membaca dalam ruku dan sujudnya:
Subhanakallahumma wa bihamdika Allahummaghfirli.”
d. Marfu’ Fi’li Hukmi adalah perbuatan sahabat yang dilakukan dihadapan
Rasul atau dikerjakan di jaman Rasul diwaktu Rosul masih hidup.
Contoh :
.-· تا--´- ·-~ .¹و`ا ²·آ¹ا .· -´· ة-ه .-ا ·~ =-¹او .=-`ا ت~+~
ةءا-¹ا .-· تا--´- .~= ة=`ا .·و ةءا-¹ا . =¹'~ -اور ~= .-ا .=
Saya menghadiri idil Adha dan idil Fithri bersama Abi Hurairah, maka ia
bertakbir tujuh kali di raka’at pertama sebelum membaca al Fatihah, dan
lima kali pada raka’at kedua sebelum membaca al Fatihah.
e. Marfu’ Taqrir Haqiqy adalah tindakan sahabat dihadapan Rasul dengan
tidak memperoleh reaksi dari Rasul.
Contoh :

'-+-- »¹و '-~'- »¹و '-ا- -ا ل·~ر ن'آو .~~¹ا بو= ~·- .--·آر .¹-- '-آ .
س'-= .-ا .= »¹~~ -اور
Kami pernah shalat dua raka’at sesudah matahari terbenam dan
Rasulullah saw melihat kami (melakukan itu), maka beliau tidak
memerintahkannya kepada kami, tidak juga melarangnya.
f. Marfu’ Taqrir Hukmi adalah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan
kalimat-kalimat Sunnatu Abi Qasyim, Sunnatu nabiyyina, Minas Sunnati
dsb. yang bukan ranah ijtihad para sahabat.

23

Contohnya: Jabir dan Abu sa’id berdalil bolehnya azl, karena para sahabat
melakukannya kepada para hamba sahaya perempuan mereka, sementara
wahyu masih turun.
Hadits yang dikatagorikan kepada Marfu’ hukmi :
• Apabila diikuti dengan kata : Yarwihi, rafa’ahu
• Perkataan sahabat : umirna bikadza au nuhinaa ‘an kadza
• Perkataan sahabat : kunaa naf’alu kadza
• Sesuatu yang bersumber dari sahabat yang bukan semata-mata hasil
pendapat atau ijtihad beliau sendiri.
2. Mauquf
Yaitu berita yang disandarkan kepada sahabat baik berupa perkataan, perbuatan, atau
taqrir (disebut juga Atsar)
Contoh :


Hukum hadits mauquf pada prinsipnya tidak dapat dibuat hujjah karena hanya
perkataan sahabat, kecuali ada qorinah yang menunjukan kepada hukum marfu’.

3. Maqthu’
Yaitu hadits yang disandarkan kepada tabi’i baik berupa perkataan atau perbuatan.
Hukum hadits Maqthu’ tudak bisa dijadikan hujjah.
Perbedaan antara Maqthu’ dan Munqathi’
• Maqthu’ : Dalam pembahasan sanad berupa ucapan tabi’i (bisa saja
muttasil)
• Munqathi’ : Dalam pembahasan sanad tidak muttasil dan kerkaitan
dengan maatan hadits.
Menurut sebagian ulama mauquf dan maqthu’ disebut juga Atsar.

SAHABAT NABI SAW

1. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi saw, dia beriman dan wafat dalam keadaan
muslim. Sahabat-sahabat yang banyak mengeluarkan hadits :
Abu Hurairah (5374 hadits)
Abdullah Ibnu ‘Umar (2630 Hadits)
Anas bin Malik (2286 hadits)
‘Aisyah Ummul Mu’minin (2210 hadits)
Ibnu Abbas (1660 hadits)
Jabr bin Abdillah (1540 hadits)


24

2. Jumlah sahabat yang memakai nama Abdullah mencapai 300.000 sahabat. Dari jumlah
tersebut yang terkenal dengan Abdullah ada 4 yaitu, :
Abdullah bin Umar (Ibnu Umar)
Abdullah bin ‘Umar (Ibnu Abbas)
Abdullah bin Zubair
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash

3. Sahabat yang mula-mula masuk Islam :
Dari qolongan laki-laki : Abu Bakar As-Shiddiq
Dari golongan pemuda : Ali bin Abi Thalib
Dari golongan wanita : Khodijah (Istri Rasulullah)
Dari golongab mawali : Zaid bin Haritsah
Dari golongan hambasahaya : Bilal

4. Sahabat yang terakhir wafat :
Abu Thufail Amr bin Wasilah al-Laisi (100 H di Mekkah)
Annas bin Malik (93 H di Bashroh)

5. Keadilan sahabat
Seluruh sahabat itu adil, keadailan yang dimaksud adalah keadilan dalam periwayatan hadits.

7. Para perowi hadits dari Tabi’in
Tujuh Dari golongan tabi’i besar, mereka semua penduduk Madinah, yaitu :
1. Said bin Musayyab
2. Al-Qosim bin Muhammad
3. Urwah bin Zuber
4. Khorijah bin Zaid
5. Abu Salamah bin Abd. Rahman
6. Ubaidillah bin Abdillah bin Uthbah
7. Sulaiman bin Yasir

8. Mukhodromun : Orang yang mengalam hidup pada jaman jahiliyyah dan hidup di jaman nabi
Muhammad dalam keadaan Islam, tetapi tidak sempat menemuinya.


PENGERTIAN HADITS DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM
I. Pengertian Hadits Hadits adalah;

‫ا أو‬

‫أو‬

‫أو‬

‫ا‬

‫إ‬

‫أ‬

Apa saja yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (sikap diam setuju) dsb. Dalam definisi di atas hadits mencakup empat hal, yaitu; Perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat atau keadaan Nabi saw. Hadits dikenal juga dengan istilah-istilah lain, seperti; al Khabar, al Atsar dan as Sunnah. II. Kedudukan Hadits dalam Islam Al Sunnah atau al Hadits memiliki dua fungsi, yaitu sebagai; a. Mubayyin. Yaitu sebagai penjelas hal-hal yang disebutkan secara global dan umum dalam al Qur’an. Seperti; penjelasan tentang tatacara shalat, puasa, haji dsb. dan mengecualikan hal-hal yang umum dalam al Qur’an, seperti; Ahli Warits yang berhak menerima warits. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an:

‫وأ ْ َ ْ َ إَ ْ َ ا آْ َ ُِ َ َ ِ س َ ُ ل إَ ْ ِ ْ وَ َ ُ ْ َ َ َ ُون‬ َ َ َِ ِ ِ ََ
..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. QS an Nahl: 44 b. Sumber Hukum tersendiri As Sunnah sebagai sumber hukum tersendiri dalam hal-hal yang tidak dibahas dalam al Qur’an baik secara global maupun terperinci, seperti; hukum haramnya menikahi dengan polygami ponakan dan bibinya, haramnya binatang yang bertaring, bercakar dsb. berdasarkan: a. Al Qur’an: Sebagaimana firman Allah SWT:

‫َ ْء‬ ٍ

ِ ْ ُْ ‫َ أ َ ا ِ َ َُ ا أ ِ ُ ا ا َ وأ ِ ُ ا ا ُ ل وُوِ ا ْ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِنْ َ َ ز‬ َ ‫َ َأ‬ ََ َ َ ً ‫َ ُدو ُ إَ ا ِ َا ُ ل إنْ آ ْ ُ ْ ُ ْ ُِ ن ِ ِ َا ْ َ ْم ا ْ ِ ِ ذِ َ َ ْ ٌ وأ ْ َ ُ َ ْو‬ ِ ََ َ ِ ‫و‬ َ ُ ِِ ‫و‬ ِ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. QS an Nisa; 59 Dan firmanNya:

‫ُ ل َ ُ ُو ُ و َ َ َ آ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ُ ا َا ُ ا ا َ ِن ا َ َ ِ ُ ا ْ ِ َ ب‬ ِ ‫إ‬ ‫و‬ ُ َ ُ

‫و َ َ آُ ا‬ ُ َ

.. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. QS al Hasyr: 7 b. Al Hadits:
2

. ورب َ ِ ِ ِ ْ ٍ إ َ َ ْ ه‬ ُ ِ َُ ‫ا‬ . perbuatan. maka periksalah dengan teliti” . Dengan kata lain ilmu hadist riwayah adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang datang dari Nabi baik perkataan. Oleh karena itu yang menjadi objek pembahasan dari ilmu hadist dirayah adalah keadaan matan. dan apa yang kalian temukan di dalamnya dari yang haram maka haramkanlah. Ilmu hadist terbagi dua. Rasulullah saw bersabda: َ ‫َ َ ا ُ ا أ َ ِ َ َ َ ِ ْ َ َ َ .. Demikian juga taqrir Rasulullah saw terhadap Muadz ibn Jabal ketika beliau bertanya. perbuatan taqrir (sikap diam) dan sifat-sifat Nabi. 2. jika ternyata tidak ada (yang bisa kamu rujuk) dalam al Qur’an? Dia menjawab: Aku akan merujuk kepada as Sunnah. (Qs Al Hujrat 6) Sedangkan dalam sunnah. Allah Swt berfirman: Artinya : ‫َ أ َ ا ِ ْ َ إنْ َ ءآ ْ َ ِ ٌ ِ َ َ ء َ َ َ ُ ْا. ataupun takrir. Pengertian Ilmu Hadist Ilmu Hadist adalah: Ilmu yang berkaitan dengan hadist.. 1. Ingatlah tidak halal buat kalian keledai piaraan dan setiap yang bertaring dari binatang buas dan barang yang tercecer milik seorang kafir mu’ahad kecuali jika dia merelakannya. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Ilmu Hadist Dirayah. Maka apa saja yang kalian dapatkan dalam al Qur’an dari yang halal maka halakanlah. Akan datang (suatu masa) ada seorang laki-laki yang kekenyangan diatas sofanya memberi fatwa kepada kalian dengan al Qur’an ini (semata). Ilmu Hadist Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad. sanad dan rawi hadist II. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU HADIST I. َ ُب َ ِ ِ ِ ْ ٍ َ ْ ِ َ ِ ْ ٍ. matan.ُ ْ ِ ُ َ ْ ‫أ‬ َ 3 . Perkembangan Ilmu Hadist Sebenarnya dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayat hadits sudah ada dalam Al Quran dan Sunnah Nabi. cara-cara menerima dan menyampaikan hadist dan sifat-sifat perawinya.Sebagaiman sabda Rasulullah SAW: ‫ل‬ ‫أ‬ ( ‫)ا‬ ‫أر‬ ‫ام‬ ‫ه إ أن‬ ‫ن‬ ‫ر‬ ‫ا ب و‬ ‫أو‬ ‫و و‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫اا ن‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا ر ا ه و آ ذي ب‬ ‫أ إ‬ Ingatlah sesungguhnya aku diberi al Kitab dan (wahyu) sebangsanya bersamanya. Ilmu Hadist Riwayah Ilmu Hadist Riwayah adalah ilmu yang mempelajari perkataan..HR Abu Daud dari Abdurrahman bin Auf. ا‬ ٍ َُ ِ َ “Hai orang-orang yang beriman.

) dsb.) untuk mengumpulkan hadits dan membukukanny7a yang kemudian dilakukan oleh Imam az Zuhri.) atas perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz (W. Al Zuhri adalah salah satu seorang tabi’in yunior yang banyak mendengar hadist dari para sahabat dan tabi’in senior.“Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu berita. yaitu hadist lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. Dalam pendahuluan kitab Shahih Muslim.). sehinggga muncul berbagai pembahasaan didalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan hadist. 65 H. tata cara menerima dan menyampaikannnya. pengetahuan tentang hadist-hadist yang nasikh dari hadist-hadist yang mansukh dll. Perkembangan Ilmu Hadits Riwayah Ilmu hadist mengalami perkembangan yang sangat luar biasa pada awal abad ke tiga hijriyyah. (H. akan tetapi masih terserap di berbagai tempat dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain. seperti ilmu ushul fiqih dan ilmu hadist seperti. 179 H. kemudian para ulama hadits pada fase ini bermunculan melakukan proyek mulia seperti. Kitab Ar Risalah dan Al Umm karangan Imam Syafi’i. A. “sebutkanlah pada kami orangorang yang meriwayatkan hadist kepadamu”. Imam Malik (W. dituturkan dari Ibnu Sirin. Menurut sejarah ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu hadist riwayat adalah Muhammad Ibnu Shihab Al Juhri (W. mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. a. perkembangan itu masih berkutat pada upaya mengatahui yang bisa diterima dan ditolak karenanya pembahasan seputar periwayatan hadist dan yang diriwayatkannya.). yaitu ilmu mengenai ucapan para perawi. Hadits pada fase ini hanya boleh dihafal dan tidak boleh dicatat kecuali bweberapa orang yang mendapat zin untuk mencatatnya seperti Abdullah ibn Amr ibn al Ash (W. Lalu masalah itu pun semakin berkembang dan selanjutnya ilmu hadist ini mulai ditulis dan dibukukan. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan. Fase pembukuan Hadits secara resmi Fase ini dimulai sejak Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan Gubernur Madinah Abu Bakr ibn Muhammad ibn Abi Bakr ibn Hazm (W. Ibnu Ishaq (W. baik dari aspek kedhabitan (validitas)nya. Hanya saja. Fase periwatan Hadits dengan lisan Fase ini zaman Rasulullah dimana secara umum belaiu melarang para Sahabat mmenuliskan hadits. Secara umum system periwayatan Hadits terbagi dalam beberapa fase. Ibnu juraij (W. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak. maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Sufyan at Tsury (W. Muncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan dari hadist sebagian perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Karena itu muncullah Ilmu jarah wa ta’dil. 151 H). 116 H). 150 H. pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad. Berdasarkan hal ini.) dan Jabir ibn Abdillah (73 H.R Ibnu Majah) Dalam upaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul Nya para sahabat telah menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya.). 124 H. 101 H. “dikatakan. namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata. b. cara untuk mengetahui bersambung (Muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad. 117 H. terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita. 4 . Imam al Auza’I (156 H.).

barulah kemudian dibukukan dalam kitab khusus yang dijadikan sebagai disiplin ilmu yang berdidri sendiri. Para ulama perintis di fase ini seperti. mencapai puncaknya dan memiliki istilah sendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya. Fase mentahfidz hadits para ulam terdahulu denga sanadnya Pada fase ini. 360 H) dalam kitabnya al Muhadditsul Fashil. seperti keadilan dan kedhabitannya. Muntaqal Akhbar al harany. selanjutnya al Khathib Abu Bakr al Baghdady (W. Fase penyaringan Hadits dari Fatwa-fatwa Fase ini sekitar abad ke III H. Pekerjaan ulam pada fase ini adalah memishkan hadits dari fatwa-fatwa sahabat. Cabang-cabang Ilmu Hadist Cabang-cabang ilmu hadist dikelompokan menjadi beberapa hal sebagai berikut : 1. Ilmu Al Jarah wa Ta’dil Ilmu yang membahas kecacatan rawi. tabi’in. 463 H. seperti. Kitabkitab yang terkenal pada fase ini. Sunan al Kubra al Baihaqi . Sehingga dapat ditentukan siapa diantara perawi itu yang dapat diterima atau ditolak hadsit yang diriwayatkannya. para ulama hadits abad IV H. banyak menulis kitab-kitab hadits tematik dan meringkas kitab-kitab hadits yang telah disusun ulama terdahulu. karena pada saat ini ada dua yaitu matan dan sanad. Ilmu jarah wa ta’dil ini dikelompokan oleh sebagian ulama kedalam ilmu hadist yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan 5 . kemudian Abu Nu’aim al Ashfahany (430 H). III. para ulama hadits abad V H. . Setelah itu barulah diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti Al Hakim Abu Abdillah Al Naysaburi (W.). Nailul Authar as syaukany B. Pada masa Al Qadhi Ibnu Muhammad Al Ramahhurmudzi (W. berlomba menghafal hadit-hadits yang sudah dibukukan oleh para ulama terdahulu dengan sanadnya serta meneliti kesahihannya. Imam Bukhari.c. Ilmu Rijal Al Hadist Ilmu untuk mengetahui para perawi hadist dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadist ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam bidang ilmu hadist. Sohih Abi Awanah. seperti. Fase klasifikasi dan sistemisasi kitab hadits Pada fase ini. tetapi belum dalam bentuk kitab khusus dan belum merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. tabi’ut tabi’in. Di kalangan ulama kontemporer ilmu hadist dirayah dinamakan dengan Ilmu Ushulul Hadist dan kemudian lebih dikenal dengan istilah Mushthalahul Hadist. Imam Ahmad. Mu’jam-mu’jamnya Imam at Thabrany. d. Imam Muslim dsb. Perkembangan Ilmu Hadits Dirayah Ilmu hadist dirayah sejak pertengahan abad kedua Hijriyyah telah dibahas oleh para ulama hadist. Sohih Ibnu Khuzaima e. Ilmu Rijal Al Hadist memberikan pengertian kepada persoalan khusus persoalan seputar sanad 2. 405 H.) menyusun kitab al Kifayah dan al Jami’ Li Adabis Syaikhi was Sami’ yang kemudian menjadi rujukan para penulis Mushtalahul Hadits selanjutnya. Akhirnya ilmu-ilmu itu semakin matang. Sunan Abi Daud.

Sesudah berlalu masa sahabat. 9. Ilmu Talfiqiel Hadist Ilmu yang membahaskan tentang cara mengumpulkan antara hadist-hadist yang berlawanan lahirnya. Satu-satu orang saja lago yang mengetahuinya. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadist diantara para ulama besar yang telah berusaha menuyusun ilmu ini ialah 6 . Ilmu Muktalif Al Hadist Ilmu yang membahas hadist-hadist yang menurut lainnya bertentangan atau berlawanan. sebagaimana juga ia membahas tentang hadist-hadist yang sulit difahami isi atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemuskilan atau kesulitannya serta menjelaska hakikatnya 10. yakni abad pertama dan para tabi’in pada tahun 150 H. mulailah bahasa arab yang tinggi tidak diketahui lagi umum. 8. dari murid Ahmad 7. Ulama yang mula-mula meyusun kitab ini adalah Abu Hafash Umar ibnu Muhammad Ibnu Rajak Al Ukbary. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan 4. Oleh karena itu. bahwa yang datang terdahulu disebut Mansukh dan yang datang dinamakan nasikh. 5. Ilmu Al Tashif Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadist-hadist yang sudah diubah titik atau sakalnya atau bentuknya. Ilmu Ilalil Hadist Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang mencacatkan keshahihan hadist. Dikumpulkan itu adakalanya dengan mentahkhisiskan yang Am atau mentaqyidkan yang mutlak atau dengan memandang banyak kali terjadi. berusahalah para ahli mengumpul kata-kata yang dipandang tidak dapat dipahamkan oleh umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari dalam sesuatu kitab dan mengsarahkannya. Ilmu Asbabi Wurudil Hadis Ilmu yang menerangkan sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. karena lapad-lapd tersebut jarang digunakan. 6. seperti mengatakan muttasil terhadap hadist munqati menyebat hadist marfu kepada hadsit mauquf.3. kemudian ia menghilangkan pertentangan tersebut atau mengkompromikan antara keduanya. Ilmu Ghraib Al Hadist Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafad-lafad hadist yang jauh dan sulit dipahami. Ilmu Tarikh Ruwat Ilmu untuk mengetahui para pwrawi hadist yangberkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadist. Ilmu Nasikh wa Mansukh Ilmu yang membahas hadist-hadist yang berlawanan yang tidak dapat dipertemukan dengan cara menentukan sebagiannya sebagai nasikh dan sebagian lainnya sebagai mansukh.

Rowi ialah orang yang meriwayatkan hadits atau khobar. Diantara Imam-imamnya adalah : a. Ibnu Qutaibah. Al Hakim ialah seorang ahli hadits. ilatilat. Wafat 162 H b. Ibnu Daqiq Al ‘Id 5. 4. Mu’jam al Baihaqi dan Mu’jam at Thabrany. mengetahui setiap rowi dengan sejarah hidupnya. para perowi secara lengkap. Diantara imam-imamnya adalah sebagai berikut : a. tetapi tidak memenuhi standar sanadnya penyusun kitab itu. 3. Ibnu Hajar Al Asqolani d. Al Mukhorrij ialah ahli hadits yang mengeluarkan hadits-hadits yang berbeda sanadnya dengan hadits-hadits dari kitab seorang ahli Hadits. 6. Sanad adalah sejarah perjalanan matan atau jalan yang menyampaikan kepada matan Matan ialah perkataan yang bersanad. 2. Imam Syarifuddin c. 9. Sekurang-kurangnya dia hafal 300 ribu hadits dengan sanadnya. guru-gurunya dan sifat-sifatnya yang baik maupun yang tercela. seperti Abu Nu’aim mentakhrij hadits-hadits dalam sohih Bukhari dan Ahmad bin Hamdan mentakhrij hadits-hadits dalam sohih muslim. Hadits– hadits yang ditakhrij para mukhorrij itu dikumpulkan dalam kitab yang disebut Mustakhraj. Al Thoriq ialah jalan datangnya hadits dari seorang imam yang mendengarkan atau mengeluarkan hadits. 8.Al Imamusy Syafi’i. mana yang rengking atas dan bawah. Al Muhaddits ialah orang yang ahli dalam masalah hadits. Al Mudain ialah orang yang mengkodifikasi (menyusun buku) hadits. Laits bin Sa’ad wafat 175 H c. Imam Syafi’I. mengetahui sanad-sanad. 7 . 7. Imam al Iraqi b. Dan hafal sekurangkurangnya 1000 hadits dengan sanadnya. wafat 179 H d. Diantara imam-imamnya antara lain : ‘Atho bin Robah. Imam Malik. Ibnu Dinar. Sekurang-kurangnya hafal 100 ribu hadits beserta sanadnya. wafat 204 H Al Hafidz ialah ahli hadits yang lebih khusus dari al Muhaddits. Ibnul Jauzy kitabnya bernama At Tahqiq sudah disarahkan oleh Ustad Ahmad Muhammad Syakir ISTILAH-ISTILAH DALAM ILMU HADITS 1. memahami Kutubut Tis’ah.

Musnid ialah orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya. Syarat-syarat Mutawatir : 1. Klasifikasi Hadits Mutawatir terbagi menjadi dua yaitu : 1. 242 H 11. 149 H c. Ahmad ibn Hanbal. yaitu Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad. روا ا‬ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫آب‬ : ‫لر لا‬ 8 . Khobar yang disampaikan oleh rowi-rowi tersebut harus berdasarkan tangkapan panca indera (yakni khobar yang mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan sendiri ). hadits terbagi menjadi dua. Mutawatir Lafdhi : hadits yang diriwayatkan oleh orang yang banyak yang susunan redaksi dan maknanya seragam antara riwayat yang satu dengan yang lainnya.10. Muhammad Abdullah bin Amr. Hisyam bin Urwah. Abu Hudzaid Muhammad bin Walid. wafat 146 H b. Contoh Hadits Mutawatir Lafdhi : ‫ا ر. Al Hujjah ialah gelar bagi orang yang sanggup menghafal 300 ribu hadits beserta sanadnya seperti al hakim. al bukhari. 13. namun dari segi penguasaannya terhadap ilmu Hadits lebih umum dibandingkan dengan al Hakim. KLASIFIKASI HADITS DITINJAU DARI JUMLAH ROWINYA Ditinjau dari segi banyak atau sedikitnya rowi yang menjadi sumber berita. Sufyan at Tsaury. Jumlah rowinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat berbohong. Seperti Musnad Imam Ahmad. 3. A. Amirul mu’minin gelar kholifah bagi para Muhaditsin. Adanya keseimbangan jumlah antara rowi-rowi dalam thobaqoh (tingkatan) berikutnya. Disebut ‘Amirul Mu’minin karena mereka perintis dalam menyebarkan sunnah Rasulullah saw di jamannya. Musnad ialah kitab yang terkumpul di dalamnya hadits-hadits yang diriwayatkan setiap sahabat. 14. ad Darquthny dan Muslim. Riwayat ialah perjalanan hadits atau khobar dari Nabi saw. Diantara Imamnya : a. mereka berkumpul dan bersepakat berdusta. yang mustahil menurut adat (logika). Syu’bah. Diantara para muhadditsin yang mendapat gelar ini antara lain. Ishaq ibn Rohawaih. 12. 2. Hadits Mutawatir Hadits mutawatir adalah hadits yang didasarkan kepada panca indera (dilihat atau didengar oleh yang menghabarkan) yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rowi.

Rasulullah bersabda : “ barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku. Ialah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir. at Turmudzy dan ad Darimi dari sahabat yang berbeda. روا ا‬ ‫ر‬ ‫ا آ ع‬ ‫ا‬ ‫أن ر ل ا‬ “bahwa rasul berkunut sebulan lamanya. Mutawartir ma’na : Hadits mutawatir yang redaksi pemberitaannya berbeda. Hadits mutawatir itu memberi faedah ilmu dharury (aksiomatik). untuk mendo’akan keluarga Ri’’in dan Dzakwan” Hadits diatas hanya masyhur di kalangan para Muhadditsin saja. walaupun dua orang rowi tersebut terdapat pada satu thobaqoh saja. Faedah Hadits Mutawatir. Muthlaq Hadits yang termasyhur di kalangan ahli hadits dan yang lainnya (golongan ulama ahi ilmu dan orang umum) Contoh Masyhur Muthlaq : ‫ري و‬ ‫و . dan hadits-hadits tentang syafaat. Hadits Ahad Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. tetapi semuanya dipersatukan oleh makna atau substansi yang sama. Contoh hadits aziz : 9 . Hadits diatas diriwayatkan pula oleh Abu Daud. Contoh Hadits Masyhur Muqoyyad : ‫ري و‬ ‫وذآ ان. • Hadits masyhur ada dua macam : 1. B. Abdullah bin Amr bin al Ash. Muqoyyad Hadits yang termasyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya termasyhur di kalangan ahli hadits saja. روا ا‬ ‫ن‬ ‫ا‬ ‫ا‬ “seorang muslim itu ialah orang yang menyelamatkan sesama muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya”. 2. Hadits Aziz Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rowi. hadits-hadits siksa kubur. dan sebagainya. yakni suatu keharusan untuk menerimanya dengan yakin. Jabir. an Nasai. atau ahli fiqih saja. hendaklah dia menduduki tempat duduk di neraka” 2. Klasifikasi hadits Ahad dari segi jumlah perowi terbagi tiga : a. setelah ruku. b. Hadits Masyhur. Contohnya Hadits-hadits tentang mengusap sepatu ketika berwudhu. Abu Musa.

orang tuanya. • Maqbul : Hadits yang memiliki kriteria dan syarat-syarat hadits yang harus diterima dengan sempurna. 10 .‫. • Klasifikasi hadits gharib Ditinjau dari bentuk penyendirian rowi hadits gharib terbagi dua : 1. Husain al Mu’allim dan Syu’bah. demikian juga perowi setelah tabi’i hanya dua orang juga. c. Hadits diatas hanya diriwayatkan oleh tabi’i abu sholih saja dari Abu Sholihpun hanya Abdullah bi Dinar saja. Gharib Nisby. di tingkatan mana saja kesendirian dalam sanadnya itu terjadi. • Mardud : Hadits yang tidak memiliki kriteria dan syarat-syarat hadits yang harus diterima dengan sempurna. Pembagian Hadits Ahad dari segi Maqbul dan Mardud. Hadits Gharib Hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya. Gharib Mutlaq Hadits yang penyendiriannya itu terjadi di pangkal sanad atau Ashlu sanad (tabi’in bukan sahabat). yaitu Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib. Malu itu salah satu cabang dari iman”.” Hadits diatas diriwayatkan oleh perowi semuanya penduduk Bashrah. Hadits yang penyendiriannya itu berkaitan dengan sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rowi. روا ا‬ ‫ا‬ ‫ء‬ ‫وا‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ن‬ ‫ا‬ “iman itu bercabang-cabang menjadi 70 cabang. 2. PEMBAGIAN HADITS ANTARA DITERIMA DAN DITOLAK 1. Contoh hadits gharib Nisby : ‫بو‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ‫ر ل ا ان‬ ‫أ‬ “Rosulullah memerintahkan kepada kita agar kita membaca al-Fatihah dan surat yang mudah dari al-Qur’an. yaitu. Contoh hadits ghorib muthlaq : ‫ري و‬ ‫ن. روا‬ ‫وا س أ‬ ‫وو‬ ‫ووا‬ ‫إ‬ ‫أآ ن أ‬ ‫أ آ‬ ‫ري و‬ ‫ا‬ “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari pada ia mencintai dirinya sendiri. anak-anaknya dan manusia seluruhnya” Yang meriwatkan hadits diatas dari Anas bin Malik hanya dua tabi’i.

Klasifikasi Hadits Shohih 1. tidak berilat (cacat) dan tidak janggal (syadz). Tidak janggal. berakal dan selamat dari sebabsebab yang dapat membuat cacat kepribadiannya. Tidak ada ilat 5. • Arti Dhabith : orang yang kuat hafalannya. ‫ب‬ ‫ا‬ ‫ري‬ ‫ت.2. Artinya setiap rowi saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang mengajarnya. Syarat-syarat hadits Shohih. a. Hadits Shohih. Dhobtu Kitab: Apa yang disampaikannya itu berdasarkan pada buku catatannya. • Arti Ilat Suatu penyakit yang samar-samar. HR Bukhari dari Umar bni al Khaththab 2. ada lima : 1. sanadnya bersambung. • Arti Syadz Hadits yang berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat. Sanadnya bersambung. Dhobtu Shodri: Seseorang yang mempunyai hafalan yang kuat sejak dari menerima hingga menyampaikannya kepada orang lain dan hafalannya itu sanggup dikeluarkan lagi kapan dan dimana saja dikehendaki. Kuat hafalan 4. Shohih Lighoirihi 11 . sempurna hafalannya. Pembagian Maqbul dari sudut perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua yaitu Shohih dan Hasan. Shohih Lidzatihi Shohih Lidzatihi adalah hadits sohih yang syarat-syarat seperti tersebut di atas terpenuhi. • Sanad Bersambung. روا ا‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫إ‬ “sesungguhnya amal itu tergantung niat…”. Contoh hadits Shohih. • Rowi yang adil Rowi yang adil berarti orang islam yang baligh. 2. Rowi yang adil 3. Hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil. yang dapat menodai kasohihan suatu hadits.

Hadits yang diriwayatkan Bukhory Muslim 2. Hadits yang dishohihkan oleh seorang ulama hadits Shohih Bukhory didahulukan dari Shohih Muslim karena Bukhory tidak hanya mengharuskan perowi semasa dengan orang yang meriwayatkan hadits itu. bahkan mengharuskan adanya pertemuan antara mereka walaupun sekali. yaitu. HR at Tirmidzi dari Abi Hurairah. Hadits shohih yang paling tinggi derajatnya ialah hadits yang bersanad Ashohhul Asanid. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat Muslim saja 7. Masing-masing tingkatan itu lebih tinggi dari yang di bawahnya. Hadits diatas asalnya hasan lidzatihi kemudian menjadi sohih Lighoirihi karena ada hadits yang sama riwayat al Bukhari dengan derajat sohih lidzatihi. Hadits yang di riwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh imam Bukhory Muslim 5.Shohih Lighoirihi adalah hadits yang keadaan rowinya kurang kuat hafalannya. 1. kemudian ditemukan pada hadits itu riwayat lain yang sederajat atau lebih kuat yang dapat menutupi kelemahannya itu. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang ulama hadits yang memakai syarat Bukhory saja 6. 12 . kalau muslim hanya mensyaratkan perowi semasa saja dengan gurunya. Kedudukan Hadits Shohih Kekuatan Hadits Shohih itu bertingkat seiring dengan bertingkatnya sifat kedhobitan dan keadilan rowinya. Contoh hadits sohih Lighoirihi: ‫ة‬ ‫ه‬ ‫أ‬ ‫ي‬ ‫ة. Ahli hadits telah merengking hadits shohih kepada tujuh tingkatan. tetapi mereka terkenal jujur. روا ا‬ ‫آ‬ ‫اك‬ ‫أ‬ ‫أن أ‬ “Kalaulah aku tidak khwatir membebani umatku niscaya aku akan perintahkan mereka bersiwak setiapkali mau shalat”. Hadits yang diriwayatkan Bukhory sendiri 3. Hadits yang diriwayatkan Muslim sendiri 4.

روا أ‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫رو‬ ‫ةا‬ ‫أ‬ ‫حا‬ “Kunci shalat adalah bersuci dan tahrim (gerbang)nya takbir dan tahlil (penutup)nya salam” 2. bukan orang yang banyak lupa terhadap hadits yang dia riwayatkan. ‫. kemudian matan haditsnya baik berdasarkan kesaksian riwayat lain yang sederajat dan semakna dengannya. Contoh hadits hasan: 2. Contoh hadits asan: ‫ي‬ ‫وا‬ ‫داود وا‬ ‫. Cara untuk melakukan pemeriksaaan terhadap hadits yang diperkirakan ghorib dengan maksud apakah hadits tersebut mempunyai muttabi’ atau syahid disebut I’tibar.أ‬ ‫و‬ ‫ده‬ ‫داود و‬ ‫ء‬ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫اه‬ ‫:و‬ ‫إذا‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫آنا‬ ‫ي. Klasifikasi Hadits Hasan Hadits Hasan terbagi menjadi dua: 1. Hadits Hasan Lighoirihi Hadits yang dalam sanadnya ada orang yang tidak diketahui kredibilitasnya. Cara-cara menetapkan keghoriban hadits. Sebab dho’ifnya karena jelek hafalan. Muttabi’ adalah hadits yang mengikuti periwayatan hadits lain sejak pada gurunya yang terdekat atau guru gurunya. banyak salah dan orang fasik. Orang yang mengikuti periwayatan seorang guru atau guru gurunya 13 . Ibnu Hajar berkata: Hadits ini memiliki syahid dalam riwaya Abi daud dan yang lainnya. dan dia tidak pula dituduh dusta dalam periwayatan hadits dan tidak memiliki sifat yang bisa menyebabkannya dipandang fasik. ل ا‬ ‫ا‬ “Bahwa Nabi saw jika mengulurkan kedua tangannya dalam berdo’a beliau tidak menariknya kembali sampai mengusapkan dulu keduanya pada wajahnya. tapi tak begitu kuat hafalannya. dapat naik menjadi hadits Hasan lighoirihi dengan syarat : a. Ada sanad lain yang meriwayatkan hadits yang sama dengan kedudukan yang sama atau lebih kuat b. Hadits dho’if yang bukan dikarenakan rowinya pelupa.HADITS HASAN 1. namun dia bukan seseorang yang sangat lalai. Hadits Hasan Lidzatihi Hadits yang memenuhi syarat hadits hasan diatas.” HR at Tirmidzi. Pengertian Hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil. dan tidak terdapat ilat serta kejanggalan pada matannya.

2. Orang yang diikutinya disebut Muttaba’ dan perbuatan mengikutinya disebut Mutaba’ah. Hadts Mutasyabih: hadits yang sukar difahami maksudnya. Maqbul Ghoer Ma’mul bih Yaitu hadits yang shohih sanadnya tapi tidak sohih matannya Hadits maqbul yang termasuk ma’mul bih antara lain : a. Hadits Rojih : hadits terkuat antara dua hadits yang berlawanan d. Muttabi’ Qoshir. Muttabi’ ada dua macam yaitu: 1. Muttabi’ Tam Apabila periwayatan si muttabi’ itu mengikuti periwayatan guru muttaba’ dari yang terdekat sampai yang terjauh. 2. b. Hadits Mukhtalif : hadits yang dapat dikompromikan c. Hadits syahid ada dua macam. Hadits Nasih : hadits yang datang lebih akhir dan menghapus ketentuan hukum yang terkandung dalam hadits yang datang mendahuluinya. Apabila periwayatan muttabi’ itu mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja. Syahid bil Ma’na Apabila matan hadits yang diriwayatkan oleh yang lainnya itu hanya sesuai ma’nanya saja. Hadits Muhkam : hadits yang tidak mengandung khilaf dengan hadits lain. dengan hadits yang diriwayatkan rowi tersebut. Klasifikasi hadits maqbul dilihat dari sifatnya. Syahid adalah hadits yang disepakati antara perowinya dengan perowi yang lain melalui sahabat yang lain. yaitu : 1. baik redaksinya atau ma’nanya saja. 14 .dari rowi lain disebut Muttabi’. Sedang hadits yang mengikuti periwayatan hadits lain disebut Hadits Muttabi’. Hadits maqbul dilihat dari sifatnya terbagi menjadi dua : 1. lantaran tidak diketahui ta’wilnya. tidak sampai mengikuti guru gurunya yang jauh sama sekali. 2. Maqbul Ma’mul bih (Muhkam) Yaitu hadits yang selamat dari pertentangan. dan dapat dijadikan hujjah serta dapat diamalkan. Syahid bil Lafdhi Apabila matan hadits yang diriwayatkan melalui sahabat lain sesuai redaksi dan maknanya. Sedangkan hadits yang ghoer ma’mul bih antara lain : 1.

3. Hadits Marjuh : hadits yang berlawanan dengan hadits lain yang lebih kuat. 4. ditinggalkan untuk pengamalannya (mutawaqqof fihi) 15 . akal yang sehat dan ijma ulama. hadits mutawattir. Kemudian hadits yang lebih dulu datangnya dinasakh oleh hadits yang datang kemudian. 4. 2. Hendaklah kita berusaha untuk mengumpulkan (mengkompromikan) kedua-duanya sampai hilang aspek ikhtilafnya. Hendaklah diteliti mana hadits yang lebih kuat baik sanad maupun matannya untuk ditarjih. Hadits Mansukh: hadits maqbul yang sudah dihapus oleh hadits maqbul yang lain yang datang kemudian 5.2. Hadits Maqbul yang ma’nanya berlawanan dengan al-Qur’an. Hadits Mutawaqqaf fihi: dua buah hadits maqbul yang berlawanan dan tdak dapat dikompromikan 3. Hendaklah dicari mana diantara kedua hadits tersebut yang datang lebih dulu dan yang datang kemudian. Cara untuk mengatasi hadits maqbul yang berlawanan (mukhtalaf) 1. Hendaklah dibekukan.

Mursal : Hadits yang gugur diakhir sanadnya setelah tabi’in Mursal terbagi menjadi dua : a. Taldis Isnad Bila seorang rowi meriwayatkan suatu hadits dari orang yang pernah ketemu dengan dia tapi rowi tersebut sebenarnya tidak pernah mendengar hadits dari padanya. Mudallas : hadts yang diriwayatkan dengan cara yang memberikan gambaran bahwa hadits itu tiada cacat. Tadlis Syuyuh Bila seorang rowi meriwayatkan hadits yang didengarnya dari seorang guru dengan menyebutkan nama kun-yahnya. Mursal Shohabi : pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada Nabi. nama keturunannya. Mursal Tabi’i : pemberitaan tabi’i yang disandarkan kepada Nabi tanpa menyebut sahabat. 4. Hadits yang sanadnya terputus: Hadits yang disebabkan terputus sanadnya antara lain : 1. disebut juga dho’if. atau mensifati gurunya dengan sifat-sifat yuang belum dikenal oleh orang banyak. b. Macam-macam Tadlis a. b. Dari segi cacat pada rowinya A. Munqathi’: hadits yang gugur rowinya seorang atau lebih tidak secara berturut-turut. Mu’allaq : hadits yang gugur rowinya seorang atau lebih awal sanadnya. Perbedaan Tadlis dan Mursal khofi a. tetapi ia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri apa yang diberitakan karena ia masih kecil atau terkhir masuk islamnya. Mursal Khofi : Sejaman. 3. tapi tidak bertemu dengan guru tersebut 16 . Dari segi sanad yang terputus 2. Hadits Mu’dhol lebih jelek dari hadts mursal. Mu’dhol : hadits yang gugur rowinya dua orang atau lebih secara berturut-turut.HADITS MARDUD Hadits mardud adalah hadits yuang tidak memenuhi syarat-syarat shohih dan hasan. Contoh : ‫ا س‬ ‫ان‬ ‫أ أ‬ ”Allah itu berhak untuk dijadikan tempat mengadu malu dari pada manusia” 2. b. 5. Sebab tertolaknya hadits ada dua macam : 1. bertemu tapi tidak mendengar hadits dari guru tersebut. Tadlis : Sejaman.

Tanda-tanda dan cirri-ciri hadits maudhu’ (pada matan) yaitu ma’nanya bertentangan dengan al-Qur’an. Banyak salah munkar 2. Hadits Mardud yang berhubungan dengan ‘adalah 1.Dengan menuka-nukar rowi Mudhtorib .Dengan merubah syakal Muharrof .c. dengan hadits mutawatir. 2. 17 . Fasik Munkar 4.Dengan penambahan sisipan Mudroj . Mendorong untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.Dengan merubah titik-titik huruf Mushohhaf I. dengan hadis ulama dan dengan logika yang sehat. Mursal Jali : Tidak sejaman B. Dusta Maudhu’ 2. Matruk : Hadits yang diriwayatan oleh orang yang tertuduh dusta. Lengah dalam menghafal munkar 4. Mempertahankan golongan untuk membuat hadits maudhu’ b. Fanatic madzhab c. Jelek atau tidak baik hafalan Syad 3. Membuat kisah-kisah atau nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengrnya d. Hadits yang Mardud karena cacat rowinya: Hadits-hadits yang mardud yang disebabkan Tho’nu Fir-Rowi ada sepuluh hal (lima hal yang berhubungan dengan ‘adalah dan lima yang lainnya berhubungan dengan dhobtun ) Lima hal yang berhubungan dengan ‘Adalah : 1. Bid’ah Munkar 5. Keuntungan dunia e. Maudhu’ : hadits mardud yang disebabkan rowinya dusta Motif-motif yang mendorong untuk membuat hadits maudhu’ a.Dengan memutarbalikan Maqlub . Tertuduh Dusta Matruk 3. Jahalah Majhul (tidak diketahui identitasnya) Lima hal yang berhubungan dengan Dhobtun 1. Menyalahi riwayat orang kepercayaan (tsiqah) yaitu : . Banyak ragu Mu’allal 5.

Atau hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang tidak tsiqoh (dhoif) berlawanan dengan orang yang tsiqoh. 2. Mengumpulkan seluruh sanad-sanad hadits tersebut. Majhul Hal (Mastur) Hadits yang pada sanadnya ada perowi yang disebut dan dikenal orangnya. 7. Munkar: hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lemah menyalahi orang yang tsiqoh. karena mempunyai kelebihan dari sisi kedhobitan atau lebih banyak sanadnya. tampak adanya salah sangka dari rowinya. Majhul ‘Ain Hadits yang pada sanadnya ada perowi yang disebut. b. 6. Melihat perbedaan-perbedaan yang terjadi pada riwayat-riwayatnya c. bukan cacat dalam i’tikad). tetapi tidak dikenal orangnya dan yang meriwayatkan hadits darinya hanya seorang saja. atau jelas kefasikannya (cacat dalam amal. Mu’allal : suatu hadits setelah diadakan penelitian dan penyelidikan. Perbedaan Syad dan Munkar Syadz : hadits yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul menyalahi orang yang lebih tsiqoh. Ilat ada yang terdapat di sanad atau matan. Munkar: hadits yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya. diantaranya. tetapi tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali dua orang yang adil atau lebih tetapi perowi tersebut tidak dikatakan kepercayaan (tsiqah). jalan untuk mengetahuinya : a.Sebab-sebab tertuduh dusta : a. Maka yang rojih disebut Mahfudz. 4. Orang itu diketahui berdusta dalam selain hadits. Syadz dan Mahfudz Syadz : hadits ysang diriwayatkan oleh orang yang maqbul menyalahi riwayat orang yang lebih rojih. b. 5. lalai atau banyak wahm (ragu-ragu)nya 3. Ma’ruf: Hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqoh berlawanan dengan riwayat yang lemah. Tidak jelas namanya Macam-macam Majhul 1. Atau dengan redaksi lain: Hadits yang memiliki sebab-sebab yang tak nyata padanya dan menjadikannya catat. Terlalu banyaknya sifat rowi b. Melihat sisi kuat lemahnya hafalan perowinya-perowinya. a. Sedikitnya meriwayatkan hadits c. Tertuduh mengerjakan ma’siat. Majhul : hadits yang tidak diketahui atau tidak dikenal rowinya Adapun sebab-sebab tidak dikenalnya seorang rowi. 18 .

di pertengahan atau di akhir hadits. Mubham Hadits yang pada sanadnya ada orang yang tidak disebut. a. b. Maqlub : hadits yang bertukar padanya disebabkan mendahulukan dan mengakhirkan. Maqlub terbagi menjad dua : a. atau dia memasukkan kedalam hadits yang pertama sebagian dari hadits yang kedua. II. Mudrohj Isnad : Susunan sanadnya berubah. Maqlub Sanad : mendahulukan dan mengakhirkan nama salah seorang rowi Missal : Rowi Ka’ab bin Murroh tertukar dengan murroh bin Kaab. Hadits-hadits yang menyalahi yang tsiqah Sebab-sebab cacat karena yang menyalahi yang tsiqoh : 1. baik orang itu laki-laki atau perempuan. muslim bin wahid tertukar dengan wahid bin muslim. Mudroj Matan : perkataan yang disisipkan oleh rowi yang mungkin perkataannya sendiri atau perkataan orang lain. b. hal ini terjadi karena : Seorang rowi meriwayatkan dua hadits dengan dua sanad. Hukum hadits Mubham : Hadits mubham yang terdapat pada sanad termasuk dhoif Hadits mubham yang terdapat pada matan tidak ditolak secara muthlaq. tapi si pendengar menyangka bahwa yang tersebut itu termasuk silsilah sanad atau sambungan hadits maka iapun meriwayatkan kepada orang lain sesuai dengan apa yang ia dengar. Mudroj : hadits yang tedapat pada sanadnya suatu tambahan dari luar yang bukan dari hadits itu sendiri.3. Contoh Mudroj : ‫ا ر‬ ‫ب‬ ‫ءو‬ ‫اا‬ ‫أ‬ “sempurnkanlah Wudhumu karena dari nereka itu termasuk tumit-tumit yang tidak sempurna terbasuh dengan sempurna” Kata-kata “sempurnakanlah wudhumu” adalah ucapan Abu Hurairah 2. lalu meriwayatkan hadits itu dengan satu sanad saja. Maqlub Matan : Rowi mendahulukan dan mengakhirkan nama sebagian matan hadits 19 . lalu karena sesuatu hal mengalihkan pembicaraannya kepada suatu yang diluar sanadnya. Kemudian datang seorang rowi menerima hadits itu dari yang pertama. Seorang syeikh sedang meriwayatkan hadits. Mudroj matan ada kalanya di pangkal hadits.

ada yang menjadikannya dari musnad Abu Bakar. yang tidak mungkin dapat digabungkan atau ditarjih. Contoh Mushohhaf di matan : 20 . Mudthorib : hadits yang diriwayatkan seorang rowi dengan jalan yang berbeda-beda. sedangkan lafadz yang kedua menafikannya. Mudthorrib dibagi menjadi dua : a. tidak mungkin ditarjihkan. padahal yang meriwayatkannya orang sama. Mudhthorrib Matan Contoh : ‫ىا آة‬ “sesungguhnya pada harta ada hak orang lain selain dari zakat” ‫ا ل‬ ‫ا ل‬ ‫إن‬ ‫ىا آة‬ “tidak ada sesuatu hak pada harta itu selain zakat” Lafad yang pertama menyebutkan adanya kewajiban harta yang lain selain zakat. Al-Musakhkhaf : hadits yang mukholafah (perbedaan)nya karena adanya perubahan satu huruf atau beberapa huruf. b.. Sedang bentuk tulisannya tidak berubah. روا‬ ‫ه‬ ‫ق‬ ‫ور‬ “dan seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah yang disembunyikan hingga tangan kanannya tidak mengetahui apa-apa yang telah dibelanjakan tangan kirinya” Dalam riwayat yang lain: “sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dishadaqahkan tangan kanannya.” 3. Al-mazid fi muttashil al-isnaad : adanya penambahan rowi pada sanad yang sudah lengkap. ‫ه د وأ ا‬ :‫؟ ل‬ ‫ر ل ا أراك‬ “Ya Rasulullah aku perhatikan engakau sudah berubah! “ jawab Rasulullah “ yang menyebabkan aku beruban adalah surat Hud dan saudara-saudaranya” Hadts ini termasuk mudthorib karena menurut Daruqutni hadits ini hanya diriwayatkan dari jalan Abu Ishaq as-Suba’i dan ikhtilaf padanya lebih sari sepuluh masalah. semua perowi-perowinya kepercayaan. 4.‫ة‬ ‫ه‬ ‫أ‬ ‫. Mudthorrib Sanad : . ada yang meriwayatkannya secara mausul. Ada yang meriwayatkannya secara mursal. Karenanya hadits itu dipandang hadits mudhtorrib karena berlawanan. 5. ada yang menjadikannya dari Sa’ad dan ada pula yang yang menjadikannya dari musnad Aisyah. Sakhf ini adakalanya dimatan atau di sanad.

Tidak disyaratkan mutawatir. Hadits Qudsy : Redaksinya dinisbatkan kepada Nabi SAW dan Maknanya • kepada Allah SWT. Hadits Qudsy dan Hadits Nabawi. Contoh Mushohhaf di sanad: ‫أه‬ ‫قإ‬ ‫دون ا‬ “hendaklah tunaikan hak-hak kepada yang mempunyainya” Ibnu Ma’in merubah rowi di snad hadits itu yang asalnya Awam bin Marjam di rubah menjadi Awam bin Mazham 6. Macam-macam Hadits berdasarkan penisbatannya 1.‫ا‬ ‫ا‬ ‫أن ا‬ “Sesungguhnya Nabi saw membuat kamar di masjid”. Marfu’ Qauly Haqiqi adalah apa-apa yang disandarkan oleh sahabat Nabi SAW kepada Nabi SAW Contoh : ‫ة‬ ‫ه‬ ‫أ‬ ‫. Maharraf : hadits yang mukholafahnya disebabkan karena perubahan syakal pada kata dengan masih tetap bentuk tulisannya. Ibnu Lahi’ah merubah perkataan ( ‫ )ا‬yang artinya. • Hadits nabawi : Redaksi dan maknanya dinisbatkan kepada Nabi SAW. • Al-Qur’an : Redaksi dan maknanya dinisbatkan kepada Allah SWT dan disyaratkan mutawatir. perbuatan atau taqrir. membuat kamar di rubah menjadi ( ‫ )ا‬yang artinya: berbekam. Marfu’ Yaitu hadits yang sandarkan kepada Nabi berupa perkataan. HADITS QUDSY DAN HADITS NABAWY Perbedaan antara al-Qur’an. Tidak disyaratkan Mutawatir. maka rusaklah maknanya. Klasifikasi hadits Marfu’ antara lain : a. Contoh Tahrif pada matan : ‫أآ‬ ‫اب‬ ‫ما‬ ‫أ‬ ‫ر‬ “Ubay telah dihujani panah pada perang ahzab mengenai pinggangnya” Kata Ubay di tahrif menjadi Aby (ayahku) Contoh Tahrif pada sanad Menggantiu nama ‘Uqail menjadi ‘Aqiil AL QUR’AN. روا ا ر‬ ‫ر ؤ ا‬ ‫ه ا‬ ‫ا‬ 21 .

” d. dan lima kali pada raka’at kedua sebelum membaca al Fatihah. maka beliau tidak memerintahkannya kepada kami. melainkan dengan perantara qorinah yang lain. ‫ا‬ ‫و‬ ‫ا ذان‬ ‫ل أي‬ ‫أ‬ “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah. Marfu’ Qauly Hukmi adalah hadits marfu’ yang penisbatan sahabat terhadap Nabi SAW tidak tegas. e. روا‬ ‫ا ه‬ ‫ات‬ ‫وا‬ ‫ة‬ ‫ا‬ ‫تا‬ ‫ا اءة و‬ Saya menghadiri idil Adha dan idil Fithri bersama Abi Hurairah. 22 . ‫ا‬ ‫ا‬ ‫آن ر ل ا‬ ‫ر و كا‬ “Bahwa Rasulullah saw: membaca dalam ruku dan sujudnya: Subhanakallahumma wa bihamdika Allahummaghfirli. b.” c.(menjawab) tentang hukum laut: Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. maka ia bertakbir tujuh kali di raka’at pertama sebelum membaca al Fatihah. yang bukan ranah ijtihad para sahabat. Marfu’ Fi’li Haqiqi adalah pemberitahuan sahabat yang dengan tegas menisbatkannya sebagai perbuatan Rasul SAW. Marfu’ Fi’li Hukmi adalah perbuatan sahabat yang dilakukan dihadapan Rasul atau dikerjakan di jaman Rasul diwaktu Rosul masih hidup. Contoh : ‫ا ا‬ :‫د‬ ‫و‬ ‫رآ‬ ‫ل‬ : ‫و‬ . Sunnatu nabiyyina. Marfu’ Taqrir Haqiqy adalah tindakan sahabat dihadapan Rasul dengan tidak memperoleh reaksi dari Rasul. Marfu’ Taqrir Hukmi adalah apabila pemberitaan sahabat diikuti dengan kalimat-kalimat Sunnatu Abi Qasyim. Contoh : . tidak juga melarangnya. Contoh : ‫ات‬ ‫ا‬ ‫ا و‬ ‫ا آ‬ ‫ة‬ ‫ا اءة. Contoh : ‫أ‬ . f. Minas Sunnati dsb. ‫و‬ ‫ا و‬ ‫وآ ن ر ل ا‬ ‫وب ا‬ ‫س‬ ‫ا‬ ‫رآ‬ ‫آ‬ ‫روا‬ Kami pernah shalat dua raka’at sesudah matahari terbenam dan Rasulullah saw melihat kami (melakukan itu).

Contohnya: Jabir dan Abu sa’id berdalil bolehnya azl. SAHABAT NABI SAW 1. Sahabat-sahabat yang banyak mengeluarkan hadits : Abu Hurairah (5374 hadits) Abdullah Ibnu ‘Umar (2630 Hadits) Anas bin Malik (2286 hadits) ‘Aisyah Ummul Mu’minin (2210 hadits) Ibnu Abbas (1660 hadits) Jabr bin Abdillah (1540 hadits) 23 . rafa’ahu • Perkataan sahabat : umirna bikadza au nuhinaa ‘an kadza • Perkataan sahabat : kunaa naf’alu kadza • Sesuatu yang bersumber dari sahabat yang bukan semata-mata hasil pendapat atau ijtihad beliau sendiri. 3. perbuatan. Hukum hadits Maqthu’ tudak bisa dijadikan hujjah. Hadits yang dikatagorikan kepada Marfu’ hukmi : • Apabila diikuti dengan kata : Yarwihi. karena para sahabat melakukannya kepada para hamba sahaya perempuan mereka. Maqthu’ Yaitu hadits yang disandarkan kepada tabi’i baik berupa perkataan atau perbuatan. Mauquf Yaitu berita yang disandarkan kepada sahabat baik berupa perkataan. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi saw. sementara wahyu masih turun. kecuali ada qorinah yang menunjukan kepada hukum marfu’. Menurut sebagian ulama mauquf dan maqthu’ disebut juga Atsar. Perbedaan antara Maqthu’ dan Munqathi’ • Maqthu’ : Dalam pembahasan sanad berupa ucapan tabi’i (bisa saja muttasil) • Munqathi’ : Dalam pembahasan sanad tidak muttasil dan kerkaitan dengan maatan hadits. dia beriman dan wafat dalam keadaan muslim. atau taqrir (disebut juga Atsar) Contoh : Hukum hadits mauquf pada prinsipnya tidak dapat dibuat hujjah karena hanya perkataan sahabat. 2.

Abu Salamah bin Abd. Keadilan sahabat Seluruh sahabat itu adil. Sulaiman bin Yasir 8. yaitu : 1. 7. Said bin Musayyab 2. Ubaidillah bin Abdillah bin Uthbah 7. Para perowi hadits dari Tabi’in Tujuh Dari golongan tabi’i besar. keadailan yang dimaksud adalah keadilan dalam periwayatan hadits. mereka semua penduduk Madinah. 24 . Sahabat yang terakhir wafat : Abu Thufail Amr bin Wasilah al-Laisi (100 H di Mekkah) Annas bin Malik (93 H di Bashroh) 5. tetapi tidak sempat menemuinya.2. : Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) Abdullah bin ‘Umar (Ibnu Abbas) Abdullah bin Zubair Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash 3. Rahman 6. Khorijah bin Zaid 5.000 sahabat. Al-Qosim bin Muhammad 3. Dari jumlah tersebut yang terkenal dengan Abdullah ada 4 yaitu. Mukhodromun : Orang yang mengalam hidup pada jaman jahiliyyah dan hidup di jaman nabi Muhammad dalam keadaan Islam. Sahabat yang mula-mula masuk Islam : Dari qolongan laki-laki Dari golongan pemuda Dari golongan wanita Dari golongab mawali Dari golongan hambasahaya : Abu Bakar As-Shiddiq : Ali bin Abi Thalib : Khodijah (Istri Rasulullah) : Zaid bin Haritsah : Bilal 4. Jumlah sahabat yang memakai nama Abdullah mencapai 300. Urwah bin Zuber 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->