P. 1
perubahan fisik pada ibu hamil

perubahan fisik pada ibu hamil

|Views: 2,331|Likes:
Published by Armi Khoirunnisa
Tugas Project Based Learning ( PJBL )

1. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Ibu Hamil a. Sistem reproduksi dan payudara Uterus : Menurut Bobak dkk (2005 )dan Rustam Mochtar (1998 )Perubahan pada uterus meliputi perubahan dalam hal :
y

Ukuran

Ukuran uterus meningkat 20 kali dan kapasitasnya meningkat 500 kali (

Hamilton, 1995 ). Sedangkan ukuran uterus pada kehamilan cukup bulan adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc ( Rustam Mochtar, 1998 ). Hal menyebabkan terjadinya pe
Tugas Project Based Learning ( PJBL )

1. Perubahan Fisik dan Psikologis pada Ibu Hamil a. Sistem reproduksi dan payudara Uterus : Menurut Bobak dkk (2005 )dan Rustam Mochtar (1998 )Perubahan pada uterus meliputi perubahan dalam hal :
y

Ukuran

Ukuran uterus meningkat 20 kali dan kapasitasnya meningkat 500 kali (

Hamilton, 1995 ). Sedangkan ukuran uterus pada kehamilan cukup bulan adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc ( Rustam Mochtar, 1998 ). Hal menyebabkan terjadinya pe

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Armi Khoirunnisa on Feb 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. ELISA (Enzyme-Linked Imunosor Bend Assay)
  • 2. Western Blot
  • 3. Pemeriksaan HIV lainnya
  • 4. Pemeriksaan Hematologi

Tugas Project Based Learning ( PJBL )

1.Perubahan Fisik dan Psikologis pada Ibu Hamil
a.Sistem reproduksi dan payudara
Uterus :
Menurut Bobak dkk (2005 )dan Rustam Mochtar (1998 )Perubahan pada
uterus meliputi perubahan dalam hal :
•Ukuran Ukuran uterus meningkat 20 kali dan kapasitasnya

meningkat 500 kali ( Hamilton, 1995 ). Sedangkan ukuran uterus pada
kehamilan cukup bulan adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih
dari 4000 cc ( Rustam Mochtar, 1998 ). Hal – hal yang menyebabkan
terjadinya pembesaran uterus :
1.Peningkatan vaskularisasi dan dan dilatasi pembuluh darah
2.Hiperplasia ( produksi serabut otot dan dan jaringan fibroelastis
baru ) dan hipertrofi ( pembesaran serabut otot dan jaringan
fibroelastis yang sudah ada )
3.Perkembangan desidua
( Bobak dkk, 2005 )
Pertumbuhan jaringan uterus pada awal masa kehamilan disebabkan
oleh estrogen yang merangsang serabut otot dan bukan karena
terdapatnya pertumbuhan embrio dalam rongga uterus. Walaupun
ketika ovum mengimplantasi di luar uterus, sebagai kehamilan
ektopik, uterus mengalami perbesaran kira – kira seukuran kehamilan
bulan ke – empat intra uterin ( Hamilton, 1995 ). Setelah bulan ketiga,
pembesaran uterus terutama disebabkan oleh tekanan mekanis akibat
pertumbuhan janin ( Seidel, dkk , 1995 dikutip dalam Bobak dkk,
2005 ).
Perbandingan ukuran uterus wanita hamil dam tidak hamil pada
minggu ke 40 ( Bobak, dkk , 2005 )

Ukuran

Tidak Hamil

Hamil ( minggu ke
40 )

Panjang

6,5 cm

32 cm

Lebar

4 cm

24 cm

Kedalaman

2,5 cm

22 cm

Berat

60 – 70 gram

1100 – 1200 gram

Volume

< 10 ml

5000 ml

Berat

Seperti di sebutkan pada tabel di atas, berat uterus pada keadaan
tidak hamil adalah 60 – 70 gram dan meningkat menjadi antara 1100 –
1200 gram pada minggu ke 40 (Bobak dkk, 2005 ). Pada referensi lain
disebutkan bahwa berat uterus meningkat dari 30 gram menjadi 1000
gram pada akhir kehamilan ( 40 pekan ) ( Rustam Mochtar, 1998 ).
Dari beberapa pendapat diatas, memang menunjukkan variasi angka
peningkatan berat uterus, namun keduanya sama – sama
menunjukkan adanya peningkatan berat uterus yang pesat selama
kehamilan.

Posisi
Posisi rahim dalam kehamilan:

Pada permulaan kehamilan, dalam letak antefleksi atau retrofleksi

Pada empat bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam rongga
pelvis

Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam
pembesarannya dapat mencapai batas hati

Rahim wanita yang hami biasanya lebih mobi, lebih mengisi
rongga abdomen kanan atau kiri (Rustam Mochtar, 1998 )
•Bentuk pada saat konsepsi uterus berbentuk seperti buah pir

terbalik. Selama trimester kedua bentuk uterus bulat ( Bobak, dkk,
2005 ). Pada akhir kehamilan bentuk uterus seperti bujur telur
(Rustam Mochtar, 1998 ).

Konsistensi
Selama minggu – minggu awal kehamilan, peningkatan aliran darah
uterus dan limfe mengakibatkan edema dan kongesti panggul.
Akibatnya uterus , serviks dan isthmus melunak secara progresif dan
serviks menjadi agak kebiruan ( tanda Chadwic) ( Bobak, dkk, 2005 ).
Pada minggu pertama , isthmus rahim mengadakan hipertrofi dan
bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak, disebut
tanda hegar ( Rustam Mochtar, 1998 ). Fundus pada serviks mudah
fleksi ( Bobak, dkk, 2005 ).
Pada kehamilan lima bulan, rahim teraba seperti berisi cairan ketuban,
dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian – bagian janin dapat
diraba melalui dinding perut dan dinding rahim (Rustam Mochtar, 1998
)
Serviks :

Saat kehamilan, kanalis servikalis dipenuhi oleh mukus yang kental
disebut operkulum . Selama kehamilan operkulum menghambat
masuknya bakteri ke uterus ( Hamilton, 1995 ). Selain itu, serviks melunak
( tanda goodel ) muncul akibat peningkatan vaskularisasi , hipertrofi
ringan , serta hiperplasia otot dan jaringan ikatnya yang kaya kolagen ,
yang menjadi longgar, edematosa, sangat elastis, dan mengalami
peningkatan volume ( Bobak, dkk , 2005 ). Serviks juga mengalami
peningkatan friabilitas, yakni serviks mudah berdarah bila diraba atau
disentuh. Peningkatan friabilitas menyebabkan beberapa tetes darah
keluar setelah penetrasi koitus yang dalam atau setelah pemeriksaan
dalam. Pengeluaran tetes darah ini biasanya dalam batas normal ( Bobak,
dkk , 2005 ).
Vagina dan vulva
Terjadi peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna ungu kebiruan
pada serviks dan vagina ( tanda chadwick ) ( Bobak, dkk, 2005 ).
Selama kehamilan, keasaman vagina berubah dari 4 menjadi 6,5.
Peningkatan pH ini membuat wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi
vagina, khususnya infeksi jamur. ( Bobak, dkk, 2005 ). pH sekresi vagina
menjadi lebih asam (Bobak , dkk, 2005 ). Sekresi vagina merupakan media
yang menyuburkan basilus Doderlein’s. Basilus ini merupakan garis
pertahanan terhadap Candida albicans, patogen yang tumbuh dalam
media alkali ( Hamilton, 1995 ). Dari pernyataan diatas, penulis
menyimpulkan bahwa saat kehamilan terjadi peningkatan pH vagina
menjadi lebih alkalis, yang menyebabkan wanita hamil lebih rentan
terhadap infeksi jamur. Namun, vagina juga mengeluarkan sekresi yang
sifatnya asam, yang akan mengimbangi pH vagina yang cenderung lebih
basa selama kehamilan. Hal ini akan melindungi vagina terhadap infeksi
jamur, yang rentan tumbuh dalam media alkali
Meningkatnya kongesti vaskular organ vagina dan pelvik menyebabkan
peningkatan sensitifitas yang sangat berarti ( Hamilton, 1995 ).
Peningkatan sensitifitas dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan
seksual, khususnya selama trimester kedua kehamilan ( Bobak, dkk,
2005 ) . Hamilton, 1995 menambahkan bahwa peningkatan derajat
rangsangan seksual juga meningkat pada bulan ke tujuh kehamilan.

Struktur eksternal vulva membesar selama masa hamil akibat
peningkatan vaskulatur, hipertrofi badan perineum, dan deposisi lemak
( Bobak, dkk, 2005 )
Selama kehamilan, terjadi deskuamasi ( atau eksfoliasi ) sel – sel vagina
yang kaya glikogen terjadi akibat stimulasi estrogen. Sel – sel yang
tanggal ini membentuk rabas vagina yang kental dan berwarna keputihan
disebut leukore ( Bobak, dkk, 2005 ).
Ovarium
Menurut Rustam Mochtar ( 1998 ), perubahan yang terjadi pada ovarium
antara lain :

Ovulasi terhenti
•Masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya uri yang

mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesteron

Payudara
Rasa penuh , peningkatan sensitifitas, rasa geli, dan rasa berat di
payudara mulai timbul sejak minggu ke enam gestasi ( Bobak, dkk, 2005 ).
Puting susu dan areola menjadi lebih berpigmen, terbentuk warna merah
muda sekunder pada areola, dan puting susu menjadi lebih erektil.
Hipertrofi kelenjar sebasea ( lemak ) yang muncul di areola primer dan
disebut tuberkel montgomery . Kelenjar sebasea ini mempunyai peran
protektif sebagai pelumas puting susu ( Bobak, dkk, 2005 ).
Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit
berdilatasi. Pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat , sekarang
terlihat sebagai jalinan jaringan biru di bawah permukaan kulit. Striae
dapat terlihat di luar payudara ( Bobak, dkk, 2005 ).
Payudara secara bertahap mengalami perbesaran karena peningkatan
pertumbuhan jaringan alveolar dan suplai darah ( Hamilton, 1995 ). Bobak,
dkk ( 2005 ) menyatakan bahwa peningkatan ukuran secara progresif
terjadi selama trimester kedua dan ketiga
a.Sistem Kardiovaskular
Menurut Bobak, dkk, 2005, adaptasi kardiovaskuler memiliki tujuan :
a.Melindungi fungsi fisiologi normal wanita
b.Memenuhi kebutuhan metabolik tubuh saat hamil
c.Menyediakan kebutuhan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin
Jantung :

Karena diafragma terdorong ke atas, jantung terangkat ke atas dan
berotasi ke depan dan ke kiri ( Bobak, dkk, 2005 ).
Tekanan darah : Estrogen menstimulasi adrenal untuk mensekresi
aldosteron, menyebabkan retensi garam dan air. Hal ini mengarah pada
peningkatan volume darah dan edema jaringan ( Hamilton, 1995 ). Selama
pertengahan pertama masa hamil, tekana sistolik dan diastolik menurun 5
sampai 10 mm Hg. Penuruna tekanan darah ini kemungkinan disebabkan
oleh vasodilatasi perifer akibat perubahan hormonal selama masa hamil.
Selama trimester ketiga , tekanan darah ibu harus kembali ke nilai
tekanan darah selama trimester pertama ( Bobak, dkk, 2005 ). Beratnya
uterus menekan vena – vena besar yang mengaliri pelvik dan ekstremitas
bawah. Vena varikose mungkin terjadi pada tungaki, paha, vulva, dan
rektum/ hemoroid ( Hamilton, 1995 ).
Volume dan komposisi darah :
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir
trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak, kira – kira 25
%, dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu ( Rustam Mochtar, 1998
).
Sel – sel darah merah meningkat sampai 33 % dan hemoglobin sampai 15
%, tetapi karena meningkatnya volume plasma menyebabkan hemodilusi,
terjadi pseudoanemia, sehingga disebut anemia fisiologis kehamilan
( Hamilton, 1995 ).
Hitung sel darah putih total meningkat selama trimester kedua mencapai
puncak selama trimester ketiga .Peningkatan terutama terjadi pada
granulosit ( Bobak, dkk, 2005 ).
Curah jantung :
Curah jantung meningkat dari 30 % - 50 % pada minggu ke-32 gestasi,
kemudian menurun sampai sekitar 20% pada minggu ke -40. Peningkatan
curah jantung terutama disebabkan oleh peningkatan volume sekuncup
dan peningkatan ini merupakan respon terhadap peningkatan kebutuhan
oksigen jaringan ( Bobak, dkk, 2005 ).
Koagulasi : tingkat plasma fibrinogen meningkat sampai 40 % atau lebih,
dan waktu pembekuan tetap sama seperti tingkat pada sebelum
kehamilan ( Hamilton, 1995 ). Menurut Bobak, dkk, 2005 , selain
fibrinogen,juga terjadi peningkatan berbagai faktor pembekuan ( faktor
VII, VIII, IX, X ). Aktivitas fibrinolitik (pemecahan atau pelarutan bekuan

darah ) mengalami depresi selama masa hamil dan periode puerperium,
sehingga wanita lebih rentan terhadap trombosis ( Bobak, dkk, 2005 ).

a.Sistem Respirasi

Menurut Bobak , dkk ( 2005 ), perubahan fisiologis yang terjadi selama
masa kehamilan merupakan adaptasi ventilasi dan struktural yang
tujuannya menyediakan kebutuhan ibu dan janin, dimana terjadi
peningkatan kebutuhan oksigen sebagai respon terhadap percepatan laju
metabolik dan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan uterus dan
payudara.
Bobak ( 2005 ) dan Hamilton ( 1995 ) menyatakan bahwa selama
kehamilan terjadi kenaikan diafragma. Menurut Hamilton ( 1995 ),
kenaikan diafragma ini disebabkan karena pertumbuhan janin yang
mendorong diafragma keatas. Bobak ,dkk ( 2005 ) menyatakan bahwa
tinggi diafragma bergeser sebesar 4 cm selama masa hamil.
Menurut Hamilton ( 1995 ) dan Bobak , dkk ( 2005 ) , selama kehamilan
juga terjadi perubahan berupa bengkak seperti alergi pada membran
mukosa. Bobak, dkk ( 2005 ) menyatakan bahwa bengkak ini disebabkan
karena peningkatan vaskularisasi, yang merupakan respon terhadap
peningkatan estrogen, pada traktus pernapasan atas. Vaskularisasi ini
meyebabkan pembesaran kapiler sehingga terbentuk edema dan hiperemi
di hidung, faring, laring, trakea, dan bronkus. Adanya vaskularisasi ini juga
menimbulkan kondisi sumbatan pada hidung dan sinus, epistaksis,
perubahan suara, dan respon peradangan yang mencolok bahkan terhadap
infeksi pernapasan atas yang ringan.
Pada fungsi paru, menurut Hamilton ( 1995 ) dan Bobak , dkk ( 2005 ),
terjadi peningkatan volume tidal. Hamilton ( 1995 ) juga menyatakan
bahwa selain volume tidal, juga terjadi peningkatan ambilan oksigen dan
volume ventilator.
Menurut Hamilton ( 1995 ) dan Bobak , dkk ( 2005 ), selama kehamilan,
bisa terjadi keluhan sesak napas. Hamilton ( 1995 ) menjelaskan bahwa
keluhan sesak napas ini terjadi karena perubahan bentuk dari rongga
toraks dan pernapasan yang lebih cepat. Dalam referensi lain, Bobak , dkk
( 2005 ) menyatakan bahwa keluhan sesak napas ini disebabkan
peningkatan sensitivitas pusat pernapasan terhadap karbon dioksida
akibat efek dari progesteron dan estrogen.Hal ini menyebabkan kesadaran
wanita hamil akan kebutuhan napas meningkat

b.Sistem Ginjal

Menurut Hamilton ( 1995 ) dan Bobak , dkk ( 2005 ), kehamilan
menyebabkan terjadinya dilatasi pada pelvis ginjal dan ureter. Hal ini
mengakibatkan terjadinya stasis / stagnasi urine. Urine yang mengalami
stagnasi merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan
mikroorganisme. Selain itu, urine wanita hamil mengandung nutrien dalam
jumlah yang lebih besar, termasuk glukosa. Oleh karena itu, selama hamil,
wanita lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih ( Bobak, dkk, 2005 ).
Iritabilitas kandung kemih, nokturia, dan sering berkemih umum dilaporkan
pada awal kehamilan. Sering berkemih ini merupakan akibat peningkatan
sensitifitas kandung kemih dan pada tahap selanjutnya merupakan akibat
kmpresi pada kandung kemih ( Bobak, dkk, 2005 ).
c.Sistem Integumen
Pigmentasi
Pigmentasi timbul akibat peningkatan hormon hipofisis anterior
melanotropin selama masa hamil ( Bobak, dkk, 2005 ). Menurut Hamilton
( 1995 ) dan Bobak , dkk ( 2005 ) adanya pigmentasi ini menimbulkan
kondisi :
a.Chloasma : disebut juga topeng kehamilan, adalah bercak – bercak
kehitaman pada wajah (Hamilton, 1995 ). Menurut Bobak , dkk ( 2005 ),
Chloasma ini disebabkan adanya hiperpigmentasi terutama di daerah
tonjolan maksila dan dahi, khususnya pada wanita hamil berkulit hitam.
Chloasma yang timbul akibat kehamilan normal biasanya hilang
setelah wanita melahirkan ( Bobak, dkk, 2005).
b.Warna puting susu, areole, aksila, dan vulva menjadi lebih gelap, warna
ini menghilang setelah wanita melahirkan ( Bobak, dkk, 2005).
c.Linea nigra adalah garis pigmentasi dari simfisis pubis sampai ke bagian
atas fundus di bagian depan ( Bobak, dkk, 2005).
Striae gravidarum menurut Hamilton ( 1995 ) , striae gravidarum adalah
tanda regangan yang terbentuk akibat pembesaran dan penonjolan
uterus. Striae menunjukkan pemisahan jaringan ikat ( kolagen ) dibawah
kulit. Garis- garis yang sedikit cekung ini cenderung timbul di daerah
dengan regangan maksimum ( misalnya di abdomen, paha, dan
payudara ). Regangan kadang – kadang menimbulkan sensasi mirip rasa
gatal ( Bobak, dkk, 2005).

Perspirasi dan sekresi kelenjar lemak baik kelenjar sebasea atau
keringat menjadi lebih aktif selama masa kehamilan. Sebagai akibatnya ,
wanita hamil mungkin mengalami gangguan badan, banyak mengeluarkan
keringat ( Hamilton, 1995 ) .
a.Sistem Muskuloskeletal
Sendi pelvik pada saat kehamilan sedikit dapat bergerak. Postur tubuh
wanita secara bertahap mengalami perubahan karena janin membesar
dalam abdomen. Untuk mengkompensai penambahan berat ini, bahu lebih
tertarik ke belakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang
belakang lebih lentur, dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa
wanita ( Hamilton, 1995 ) .
Kram otot – otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum selama
kehamilan. Penyebabnya tidak diketahui. Kram biasanya terjadi setelah
berdiri sepanjang hari dan pada malam hari setelah tubuh istirahat
( Hamilton, 1995 ) .
b.Sistem Neurologi

Menurut Bobak, dkk ( 2005 ), perubahan fisiologis spesifik akibat
kehamilan dapat menyebabkan timbulnya gejala neurologis dan
neuromuskular berikut :
a.Kompresi saraf panggul atau stasis vaskular akibat pembesaran uterus
dapat menyebabkan perubahan sensori tungkai bawah
b.Lordosis dorsolumbar dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan pada
saraf atau kompresi akar saraf
c.Edema yang melibatkan saraf perifer dapat menyebabkan carpal tunnel
syndrome selama trimester akhir kehamilan.
d.Akroestia ( rasa baal dan gatal di tangan ) yang timbul akibat bahu
yang membungkuk. Keadaan ini berkaitan dengan tarikan pada segmen
pleksus brakialis
e.Nyeri kepala akibat ketegangan umum timbul saat ibu merasa cemas
dan tidak pasti tentang kehamilannya.
f.Nyeri kepala ringan, rasa ingin pingsan, dan sinkope sering terjadi pada
awal kehamilan.
g.Hipokalsemia dapat menyebabkan timbulnya masalah neuromuskular,
seperti kram otot dan tetani.
a.Sistem Pencernaan

a.Mulut : gigi hiperemi, berongga dan membengkak. Gusi cenderung
mudah berdarah karena kadar estrogen yang meningkat menyebabkan
peningkatan vaskularitas selektif dan proliferasi jaringan ikat ( Bobak,
dkk, 2005 )
b.Gigi : menurut Hamilton ( 1995 ), pada kehamilan, saliva yang
terbentuk bersifat asam sehingga kemungkinan karies gigi meningkat.
c.Nafsu makan : nafsu makan berubah selama ibu hamil. Pada trimester
pertama sering terjadi penurunan nafsu makan akibat nausea dan /
atau vomitus. Gejala ini muncul pada sekitar setengah jumlah
kehamilan dan merupakan akibat perubahan pada saluran cerna dan
peningkatan kadar hCG dalam darah. Pada trimester kedua, nausea dan
vomitus lebih jarang dan nafsu makan meningkat
d.Esofagus, lambung, dan usus halus :
Peningkatan produksi estrogen menyebabkan penurunan sekresi asam
hidroklorida ( Bobak, dkk, 2005 ).
Peningkatan produksi progesteron menyebabkan tonus dan motilitas
otot polos menurun, sehingga terjadi regurgitasi esofagus, peningkatan
waktu pengosongan lambung dan peristalsis balik. Akibatnya wanita “
tidak mampu mencerna asam “ atau mengalami nyeri ulu hati ( pirosis )
( Bobak, dkk, 2005 ).
Peningkatan progesteron ( yang menyebabkan kehilangan tonus otot
dan penurunan peristalsis ) menyebabkan absorsi air di usus besar
meningkat sehingga dapat terjadi konstipasi . Selain itu, konstipasi
merupakan akibat hipoperistalsis ( perlambatan usus ), pilihan makanan
yang tidak lazim, kurang cairan, distensi andomen akibat kehamilan,
dan pergeseran usus akibat kompresi ( Bobak, dkk, 2005 ).
e.Kandung empedu dan hati
Kandung empedu cukup sering distensi akibat penurunan tonus otot
selama masa hamil. Peningkatan waktu pengosongan dan pengentalan
empedu biasa terjadi ( Bobak, dkk, 2005 ).
f.Rasa tidak nyaman di abdomen
Perubahan pada abdomen yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman
meliputi panggul berat atau tertekan, ketegangan pada ligamentum teres
uteri, flatulen, distensi dan kram usus, serta konstraksi uterus ( Bobak,
dkk, 2005 ).
Peningkatan berat badan

Peningkatan berat badan selama kehamilan juga mencakup produk
konsepsi ( janin, plasenta, dan cairan amniotik ), dan hipertrofi beberapa
jaringan maternal ( uterus, payudara, darah, cadangan lemak, cairan
ekstra seluler dan ekstravaskular ) (Fraser dan Cooper, 2009 )

Komponen peningkatan berat badan maternal ( dikutip dari Fraser dan
Cooper, 2009 )

Tempat

Berat ( kg )

Janin

3,2

Plasenta

0,6

Cairan amniotik

0,8

Uterus

0,9

Payudara

0,4

Darah

1,5

Air

2,6

Jaringan adiposa

2,5

Total

12,5

a.Sistem endokrin
a.Ovarium dan plasenta
Ovarium merupakan sumber estrogen dan progesteron pada wanita
tidak hamil. Pada saat konsepsi, perubahan dramatis terjadi. Korpus
luteum tampat ovum berasal mulai menghasilkan estrogen dan
progesteron. Segera setelah plasenta terbentuk dengan baik, ia menjadi
sumber utama kedua hormon tersebut. Plasenta juga membentuk
steroid dan tiga jenis hormon lainnya : human chorionic gonadotropin
(hCG ), human plasental lactogen (hPL ), dan human chorionic
thyrotropin ( hCT ) ( Hamilton, 1995 )
b.Kelenjar tiroid

Menurut Hamilton ( 1995 ), selama masa kehamilan, Basal Metabolic
Rate meningkat hampir 20 % karena adanya peningkatan penggunaan
oksigen. Terjadi pembesaran kelenjar tiroid karena pertumbuhan sel –
sel acinar. Dalam referensi lain, Bobak, dkk ( 2005 ) mengutip dari
Cummingham, dkk ( 1993 ) dan Scott, dkk ( 1990 ) menyatakan bahwa
pembesaran kelenjar tiroid juga karena adanya peningkatan
vaskularitas. Bobak, dkk ( 2005 ) juga menyatakan bahwa peningkatan
konsumsi oksigen dan BMR akibat aktivitas metabolik janin.
c.Kelenjar paratiroid

Kehamilan menginduksi hiperparatiroidisme sekunder ringan, suatu
refleksi peningkatan kebutuhan kalsium dan Vitamin D. Saat kebutuhan
untuk pertumbuhan rangka janin mencapai puncak ( pertengahan
kedua kehamilan ), kadar parathormon plasma meningkat, kadar
puncak terjadi antara minggu ke- 15 dan minggu ke – 35 gestasi
( Bobak, dkk, 2005 ).
d.Pankreas

Menurut Hamilton ( 1995 ), selama kehamilan, pankreas tumbuh dan
menghasilkan lebih banyak insulin untuk memenuhi kebutuhan yang
meningkat.
Walaupun demikian, karena keterbatasan penyimpanan glikogen,
wanita sehat yang hamil kurang mampu untuk mengatasi jumlah gula
yang banyak, sehingga beberapa dari mereka mengeluarkannya ke
dalam urine
e.Kelenjar pituitari

Lobus anterior dari kelenjar pituitari mengalami sedikit pembesaran
selama kehamilan dan terus menghasilkan semua hormon tropik ,
tetapi dengan jumlah yang sedikit berbeda. FSH ditekan oleh chorionic
gonadotropin ( hCG ) yang dihasilkan dalam plasenta. Hormon
pertumbuhan berkurang dan hormon melanotropik meningkat.
Menyebabkan peningkatan pigmentasi puting susu, wajah, dan
abdomen. Pembentukan prolaktin meningkat dan berlanjut setelah
persalinan selama menyusui( Hamilton, 1995 ).
f.Kelenjar adrenal

Ukuran kelenjar adrenal meningkat selama kehamilan , terutama
bagian kortikal yang membentuk kortin ( Hamilton, 1995 ).
1.10Perubahan Psikologis selama kehamilan
Menurut Hamilton ( 1995 ), perubahan psikologis selama kehamilan dibagi
menjadi :
a.Trimester pertama ( 1 sampai 3 bulan )
Setelah krisis pada awal kehamilan teratasi, sebagian besar wanita
mengalami kegembiraan tertentu karena sudah dapat menyesuaikan
diri dengan rencana membentuk hidup baru ( Hamilton, 1995 ). Menurut
Hamilton ( 1995 ), akibat adanya perubahan fisik , peningkatan kadar
estrogen dan progesteron, morning sickness, kelemahan, keletihan

pada wanita hamil, dapat menyebabkan wanita hamil merasa tidak
sehat dan umumnya mengalami depresi.
b.Trimester kedua ( 4 sampai 6 bulan )
Pada trimester kedua, tubuh wanita telah terbiasa dengan tingkat
hormon yang tinggi, morning sickness telah hilang, ia telah menerima
kehamilannya dan ia menggunakan pikiran dan energinya lebih
konstruktif ( Hamilton, 1995 ). Menurut Hamilton ( 1995 ), pada
trimester ini, wanita hamil mulai dapat merasakan gerakan bayinya,
dan hal ini sering menimbulkan dorongan psikologis yang besar dari
calon ibu
c.Trimester ketiga ( 7 sampai 9 bulan )
Trimester ketiga ditandai dengan klimaks kegembiraan emosi karena
kelahiran bayi. Sekitar bulan ke – 8 mungkin terdapat periode tidak
semangat dan depresi, ketika bayi membesar dan ketidaknyamanan
bertambah. Sekitar dua minggu sebelum melahirkan, sebagian besar
wanita mulai mengalami perasaan senang. Reaksi calon ibu terhadap
persalinan ini secara umum tergantung pada persiapannya dan
persepsinya terhadap kejadian ini ( Hamilton, 1995 )

1.Pemeriksaan Fisik pada kehamilan normal
Jika seorang wanita datang memeriksakan diri karena merasa diri hamil, maka
tugas yang pertama ialah menentukan apakah ia betul – betul hamil ( Unpad,
1983 ).
Menurut hamilton ( 1995 ), tanda dan gejala kehamilan telah digolongkan
sesuai dengan signifikansi dalam menetapkan diagnosis positif kehamilan.
Tanda tersebut dibagi menjadi :
a.Bukti subjektif : Amenore, perubahan payudara, mual dan muntah,
frekuensi berkemih, leukorea, tanda chadwick’s ( bercak keunguan pada
vagina ), quickening
b.Bukti objektif :

Pertumbuhan dan perubahan uterus : tanda hegars ( melunaknya
segmen bawah uterus ), tanda goodell’s ( melunaknya serviks ),
ballotement ( pantulan yang terjadi ketika jari pemeriksa mengetuk
janin yang mengapung dalam uterus, menyebabkan janin berenagn
menjauh dan kemudian kembali ke posisinya semula ), uterinne
souffle, kontraksi braxton hicks

Perubahan abdomen : striae gravidarum, pigmentasi
a.Bukti absolut : bunyi jantung janin dan desiran funik, merasakan bagian –
bagian janin, melihat hasil konsepsi pada ultrasonografi atau skeleton
janin pada gambaran x- ray, merasakan gerakan janin, melihat ekg janin
Menurut Unpad ( 1983 ) dan Rustam Mochtar ( 1998 ) , pemeriksaan fisik pada
wanita hamil dibagi menjadi :
a.Inspeksi

Muka : adakah chloasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat
atau merah, adakah oedem pada muka, bagaimana keadaan lidah dan
gigi.

Leher : apakah vena terbendung di leher ( misalnya pada penyakit
jantung ), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfa
membengkak

Dada : bentuk payudara, pigmentasi puting susu dan gelanggang
susu, keadaan puting susu, adakah colostrum

Perut : perut membesar ke depan atau ke samping ( pada ascites
misalnya membesar ke samping ), keadaan pusar, pigmentasi di linea
alba, nampakkah gerakan anak atau konstraksi rahim, adakah striae
gravidarum atau bekas luka
Vulva : keadaan perineum, tanda varises, tanda chadwick,
condylomata, fluor

Ekstremitas bawah : tanda varises, oedema, luka, cicatrix pada lipat
paha

a.Palpasi

Prosedur : Ibu hamil disuruh berdiri telentang , kepala dan bahu sedikit
lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan
ibu hamil. Dengan sikap hormat lakukanlah palpasi bimanual terutama
pada pemeriksaan perut dan payudara ( Rustam Mochtar, 1998 ). Menurut
Unpad ( 1983 ) dan Rustam Mochtar ( 1998 ), palpasi perut bertujuan :
menentukan besar dan konsistensi rahim, menentukan bagian – bagian
janin; letak;presentasi. Selain kedua hal tadi, Rustam Mochtar ( 1998 )
juga menyatakan bahwa tujuan palpasi perut adalah untuk menentukan
gerakan janin dan kontraksi rahim Braxton – Hicks dan his.
Cara palpasi ada bermacam – macam :

Menurut Leopold dengan variasi

Menurut Knebel

Menurut Budin

Menurut Ahlfeld
( Rustam Mochtar, 1998 )
Manuver palpasi menurut Leopold ( Rustam Mochtar, 1998 ) :
a.Leopold I:

Pemeriksa menghadap ke arah muka ibu hamil

Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam fundus

Konsistensi uterus

gambar 2.1

Variasi menurut Knebel : menentukan letak kepala atau bokong
dengan satu tangan di fundus dan tangan lain di atas simfisis

a.Leopold II

:
Menentukan batas samping rahim kanan – kiri

Menentukan letak punggung janin

Pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin

gambar 2.2

Variasi menurut budin : menentukan letak punggung dengan satu
tangan menekan di fundus
a.Leopold III

:
Menentukan bagian terbawah janin

Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih goyang

gambar 2.3

Variasi menurut Ahlfeld : menentukan letak punggung dengan pinggir
tangan kiri diletakkan tegak di tengah perut

a.Leopold IV

:
Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu hamil

Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan seberapa

jauh sudah masuk pintu atas panggul

gambar 2.4

Biasanya sambil melakukan palpasi , sekaligus diperhatika tentang
konsistensi uterus, gerakan janin, kontraksi uterus ( his ), dan apakah ada
lingkaran van Bandl ( Rustam Mochtar, 1998 )

a.Auskultasi

Digunakan stetoskop monoral untuk mendengarkan denyut jantung janin (
djj ). Yang dapat kita dengarkan adalah:
1.Dari janin : djj pada bulan ke 4-5, bising tali pusat, gerakan dan
tendangan janin
2.Dari ibu : bising rahim, bising aorta, peristaltik usus ( Rustam Mochtar,

1998 )
Selain metode inspeksi, palpasi dan auskultasi, Rustam Mochtar ( 1998 ) juga
menyebutkan pemeriksaan dalam sebagai bagian dari pemeriksaan fisik
kehamilan.
a.Pemeriksaan dalam
•Vaginal Toucher (VT )

•Rectal toucher ( RT )

( Rustam Mochtar, 1998 )
Guna pemeriksaan dalam adalah untuk mengetahui :
Bagian terbawah janin
Kalau bagian yang terbawah adalah kepala, dapat ditentukan posisi
uuk, uub, dagu, hidung, orbita, mulut, dsb
Kalau letak sungsang, dapat diraba anus, sakrum, dan tuber ischii
Pembukaan serviks, turunnya bagian terbawah janin, kaput
suksedaneum, dsb
Secara umum, dapat dievaluasi keadaan vagina, serviks dan panggul
( Rustam Mochtar, 1998 )
1.Pemeriksaan diagnostic pada kehamilan normal
a.Pemeriksaan ultrasonografi ( USG )
Ultrasonografi menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk
menghasilkan gambaran organ atau jaringan. USG adalah aman bagi ibu
dan janin kapan saja dilakukan saat kehamilan dan dapat digunakan
berulang bila diperlukan.USG telah berhasil dengan baik menentukan
embrio paling cepat minggu keenam ( Hamilton, 1995 ).
b.Pemeriksaan x –ray
Untuk diagnosa kehamilan positif, boleh dilakukan pada kehamilan 4 – 5
bulan dan akan tampak tulang – tulang janin ( Rustam Mochtar, 1998 ).
Skeleton janin dapat diperlihatkan oleh x – ray paling cepat pada minggu
ke – 12 masa gestasi. Karena kemungkinan efek yang membahayakan dari
radiasi, x – ray jarang digunakan ( Hamilton, 1995 ).
c.Elektrokardiografi janin

Elektrokardiografi janin adalah teknik dimana impuls listrik yang terjadi
dalam jantung janin direkam dengan cara meletakkan elektroda pada
abdomen ibu. Pengamatan janin memberikan informasi yang berkelanjutan
tentang janin. Hal ini sangat berarti selama persalinan dalam kehamilan
resiko tinggi ( Hamilton, 1995 ).
d.Pemeriksaan Laboratorium
Ibu hamil hendaknya diperiksa urine dan darahnya sekurang – kurangya 2
kali selama kehamilan, sekali pada permulaan dan sekali lagi pada akhir
kehamilannya ( Rustam Mochtar, 1998 )
2.Health promotion selama kehamilan normal
a.Perawatan payudara : Selama kehamilan , payudara harus dipersiapkan
untuk fungsi uniknya dalam menghasilkan ASI bagi bayi neonatus segera
setalah lahir. Karena payudara mungkin meningkat beratnya lebih dari 1
pound, kutang yang dapat menyangga payudara dengan baik digunakan
untuk perlindungan ( Hamilton, 1995 )
Menurut Hamilton ( 1995 ), berdasarkan penelitian terakhir,metode
memutar puting susu untuk merawat payudara tidak banyak membantu
dan dapat menyebabkan kontraksi uterus preterm. Pencucian setiap hari
tanpa menggunakan sabun, mengeringkan dengan hati – hati, dan
menggunakan salep lanolin pada puting dianjurkan ( Hamilton, 1995 ).
b.Latihan otot dasar panggul ( Kegel ‘s ) : Otot – otot dasar panggul
melingkari outlet tempat lewatnya bayi saat lahir. Merupakan hal penting
bagi ibu untuk meregangkan otot ini dan dengan sadar mengontrol sadar
terhadapnya sehinggga dapat berelaksasi atau berkontraksi sesuai
kemauan ( Hamilton , 1995 )
c.Perawatan gigi : perawatan gigi yang adekuat sangat diperlukan untuk
mencegah karies gigi akibat peningkatan keasaman saliva.
Untuk mencegah karies yang lain, berikan dorongan pada ibu untuk :
Menyikat giginya dengan teratur
Melakukan floss antara gigi
Membilas mulut dengan air setelah minum atau makan apa saja
Gunakan pencuci mulut yang bersifat alkali untuk mengimbangi reaksi
saliva yang bersifat asam selama kehamilan
( Hamilton , 1995 )
a.Anjuran mengenai pakaian : pakainan harus longgar, bersih, tidak ada
ikatan yang ketat di daerah perut, memakai kutang yang menyokong

payudara, memakai pakaina dalam yang selalu bersih (Rustam Mochtar,
1998 )

b.Mandi : Mandi setiap hari merangsang sirulasi, menyegarkan, dan
menghilangkan kotoran tubuh (Hamilton, 1995 ). Mandi diperlukan untuk
kebersihan terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat
bertambah (Rustam Mochtar, 1998 )
2.Nutrisi pada ibu hamil
Wanita hamil dan menyusui harus betul – betul mendapat perhatian susunan
dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk
pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat
menyebabkan anemia, abortus, partus prematururs, inertia uteri, perdarahan
pasca persalinan, sepsis puerperalis,dll. Sedangkan makan berlebihan , karena
dianggap untuk dua orang – ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi
seperti gemuk, preeklamsi, janin besar dsb (Rustam Mochtar, 1998 ).
Sebagai pengawasan, kecukupan gizi ibu hamil dan pertumbuhan
kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badannya (Rustam
Mochtar, 1998 ).
3.Keluhan dan tanda bahaya yang terjadi selama kehamilan
Menurut Sinclaire ( 2009 ) dan Hamilton ( 1995 ), beberapa tanda dan bahaya
yang harus dikenali sebagai kemungkinan kedaruratan :
Tanda persalinan prematur yang mungkin atau ketuban pecah dini kurang
bulan :

Kontraksi sebanyak lebih dari atau sama dengan 4x/jam ( dapat dirasa
sebagai nyeri abdomen, rasa kencang, nyeri kram, kram menstruasi, atau
tekanan pada vagina )

Perubahan sekresi vagina ( kental, encer, mukoid, warna apapaun )

Perdarahan per vaginam

Cairan yang keluar dari vagina
Tanda suatu penyakit disertai potensial dehidrasi :

Muntah – muntah persisten

Rasa sakit menyeluruh, seperti sakit flu

Menggigil atau demam
Tanda Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) :

Disuria, urgensi, peningkatan frekuensi berkemih
Tanda Preeklamsia :

Nyeri kepala berat atau kontinu, yang tidak hilang dengan asetaminofen,
atau muncul dengan karakter berbeda dari nyeri kepala lazim

Gangguan penglihatan ( kabur atau skotoma )

Nyeri epigastrik atau nyeri abdomen atas kanan

Peningkatan baru atau tiba – tiba pada pembengkakakn ekstremitas atau
wajah

Peningkatan berat badan yang cepat
Sinclaire ( 2009 ) menambahkan tanda bahaya perubahan intensitas atau
frekuensi gerakan janin sebagai tanda tidak pasti kesejahteraan janin
7.Kehamilan resiko tinggi karena penyakit yang diderita ibu

a.Diabetes Mellitus

Definisi
Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang disifati
adanya hiperglikemi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun
keduanya. Hiperglikemi kronis pada diabetes melitus akan disertai dengan
kerusakan, gangguan fungsi beberapa alat tubuh khususnya mata, ginjal,
saraf, jantung, dan pembuluh darah. Diabetes melitus disertai oleh
gangguan metabolisme hidrat arang, protein dan lemak
Faktor Risiko
Diabetes melitus terjadi karena kelainan sekresi insulin, sifat kerja,
maupun keduanya secara bersamaan. Diabetes melitus tipe-2 merupakan
kelompok diabetes melitus yang paling sering ditemukan di klinik.
Kelompok risiko tinggi diabetes melitus yang memerlukan pemeriksaan
penyaring :
–Semua orang dewasa berumur 45 tahun
–Riwayat keluarga diabetes melitus, terutama orangtua dan saudara

kandung

–Obesitas, yaitu 20% berat badan idaman atau IMT 27 kg/m
–Sebelumnya pernah TGT atau GDPT
–Hipertensi, yaitu tekanan darah 140/90 mmHg
–Diabetes melitus gestasi sebelumnya atau pernah melahirkan bayi > 4

kg

–Dislipidemia, yaitu kadar HDL-kolesterol 35 mg/dl dan/atau trigliserida

250 mg/dl

Sekitar 50% penderita diabetes melitus tipe-2 tidak memberikan keluhan
sehingga tidak terdiagnosis dan sering disertai dengan komplikasi

makrovaskuler terutama penyakit jantung koroner. Oleh karena itu perlu
dilakukan langkah-langkah mendeteksi lebih dini dengan pemeriksaan
penyaring.
Diagnosa DM
a. Berdasarkan glukosa plasma vena sewaktu
Penderita diabetes melitus sering datang dengan keluhan klinis yang jelas
seperti haus dan banyak kencing, berat badan menurun, glukosuri, bahkan
kesadaran menurun sampai koma. Apabila kadar glukosa darah sewaktu
200 mg % (plasma vena) maka penderita tersebut sudah dapat disebut
diabetes melitus. Dengan kata lain, pada mereka dengan keadaan klinis
jelas, kadar glukosa plasma > 200 mg % sudah memenuhi kriteria
diabetes melitus. Pada mereka ini tidak diperlukan lagi pemeriksaan tes
toleransi glukosa.
b. Berdasarkan glukosa plasma vena puasa
Kadar glukosa plasma puasa < 110 mg/dl dinyatakan normal, 126 mg/dl
adalah diabetes melitus, sedangkan antara 110-126 mg/dl disebut glukosa
darah puasa terganggu (GDPT). Dengan demikian pada mereka dengan
kadar glukosa plasma vena setelah berpuasa sedikitnya 10 jam > 126
mg/dl sudah cukup untuk membuat diagnosis diabetes melitus.
c. Dengan menggunakan tes toleransi glukosa oral
Apabila pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu kadar glukosa plasma
tidak normal, yaitu antara 140-200 mg/dl, maka harus dilakukan
pemeriksaan tes toleransi glukosa oral untuk meyakinkan apakah diabetes
melitus atau bukan. Sesuai dengan kesepakatan WHO maka tes toleransi
glukosa oral harus dilakukan dengan beban 75 gram setelah berpuasa
minimal 10 jam.

a.HIV

Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh
salah satu dari dua jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah
putih yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari
gangguan kekebalan tubuh.
Cara penularan HIV dari ibu kepada bayinya pada umumnya terjadi
selama proses kehamilan, kelahiran dan menyusui. Risiko bayi tertular HIV
pada proses kelahiran secara normal terbilang cukup tinggi karena saat

terjadi gesekan antara tubuh bayi dan leher rahim maka dimungkinkan
terjadi kontak langsung antara darah ibu dengan darah bayi.

Etiologi

Virus penyebab AIDS termasuk golongan retro-virus dengan genetik
RNA yakni HIV yang berkemampuan menghasilkan DNA pada sel inang.
Virus HIV ini memiliki nama lain, diantaranya:
•¤ Lymphadenopathy Associated Virus (LAV)

•Human T cell Lymphotropic Virus tipe III (HTLV-III)

Sejak tahun 1986 menurut “The International Committee on
Taxonomi of Viruses WHO” dinamakan virus HIV. Ada 2 subtipe HIV yaitu
HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 sebagian virus yang diisolasi dari orang yang
terinfeksi di negara-negara bagian Barat, Eropa dan Asia. HIV-2 yang
endemic di wilayah Afrika Barat. Meskipun keduanya memiliki perbedaan
molekul selubung luar virus, tapi kedua subtipe tersebut dapat
menyebabkan AIDS.

HIV adalah partikel ikosahedral bertutup (envelope) dengan ukuran
100140 nanometer, berisi sebuah inti padat elektron. Envelope terdiri atas
membrane luar yang berasal dari sel host yang terbentuk ketika virus
bersemi pada sel-sel yang terinfeksi. Penonjolan membran adalah jonjot-
jonjot glikoprotein transmembran. Protein menutupi seluruh permukaan
internal membran. Protein inti mengelilingi dua turunan rantai tunggal
genom RNA dan beberapa turunan enzim reverse transcriptase.
Perbedaan retro-virus dari virus pada umumnya adalah efisiensinya
dalam menginfeksi sel. Pada Retrovirus, informasi genetik ditransmisikan
sebagai rantai tunggal RNA. Agar RNA dapat mereplikasikan diri, informasi
ini ditransfer ke dalam DNA rantai ganda dalam nukleus sel hospes. Aliran
informasi terbalik “retro” dari DNA ke RNA dibuat oleh enzim reverse
transcriptase. Komplek enzim ini dapat meningkatkan efisiensi replikasi
virus begitu virus masuk kedalam sel manusia.

Patogenesa

HIV menyerang tubuh dan menghindari mekanisme pertahanan
tubuh dengan mengadakan aksi perlawanan, kemudian melumpuhkannya.
Mula-mula virus masuk kedalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas
atau berada dalam limfosit, kemudian virus dikenal oleh sel-sel limfosit T
jenis T-helper (T-4); selanjutnya terjadi 3 proses patologi:

1.

Sel T-helper menempel pada benda asing (HIV), tetapi reseptor T-
helper
(CD4) dilumpuhkan, sehingga sebelum sel T4 dapat mengenali HIV
dengan baik, virus telah melumpuhkannya. Kelumpuhan mekanisme
kekebalan inilah yang memberi nama penyakit menjadi AIDS atau
“sindrom kegagalan kekebalan yang didapat”.

2.

Virus (HIV) membuat antigen proviral DNA yang diintegrasikan
dengan DNA T-helper lalu ikut berkembang biak.
3.

Virus (HIV) mengubah fungsi reseptor (CD4) di permukaan sel T-4
sehingga reseptor menempel dan melebur ke sembarang tempat atau sel
yang lain, sekaligus memindahkan HIV. Akibatnya, infeksi virus
berlangsung terus tanpa diketahui tubuh.
Pada suatu saat (5 tahun kemudian), HIV akan diaktifkan oleh
proses infeksi lain, membentuk RNA dan keluar dari T4, menyerang sel
lain, menimbulkan gejala AIDS. Populasi sel T4 sudah lumpuh, tidak ada
mekanisme pembentukan sel T-killer, sel B dan sel fagosit lain, sehingga
tubuh tidak sanggup mempertahankan diri. Virus AIDS yang berada
didalam T4, bermultiplikasi dengan cara menumpang proses
perkembangan T4. T-helper generasi baru tidak dapat mengenalnya
sehingga tidak ada yang memberi komando kepada sel lain untuk
mengadakan perlawanan (host defense mechanism) terhadap virus AIDS.
Virus HIV berada dalam kadar mampu menginfeksi di dalam darah
dan sekret genital, baik secara intrasel maupun ekstraseluler.
Penularan secara pasti diketahui melalui cara-cara:
1.

Hubungan seksual (homoseksual, biseksual dan hetero-seksual)
yang tidak aman, yaitu berganti-ganti pasangan, seperti pada
promiskuitas. Penyebaran secara ini merupakan penyebab 90% infeksi
baru di seluruh dunia. Penderita penyakit menular seksual terutama ulkus
genital, menularkan HIV 30 kali lebih mudah dibandingkan orang yang
tidak menderitanya.

2.

Parenteral, yaitu melalui suntikan yang tidak steril. Misalnya pada
pengguna narkotik suntik, pelayanan kesehatan yang tidak
memperhatikan sterilitas, mempergunakan produk darah yang tidak bebas
HIV, serta petugas kesehatan yang merawat penderita HIV/AIDS secra
kurang hati-hati.
3.

Perinatal, yaitu penularan dari ibu yang mengidap HIV kepada janin
yang dikandungnya. Transmisi HIV-1 dari ibu ke janin dapat mencapai

30%, sedangkan HIV-2 hanya 10%. Penularan dengan cara ini biasanya
terjadi pada akhir kehamilan atau saat persalinan. Bila antigen p24 ibu
jumlahnya banyak, dan atau jumlah reseptor CD4 kurang dari 700/ml,
maka penularan lebih mudah terjadi. Ternyata HIV masih mungkin
ditularkan melalui air susu ibu.
Berdasarkan hasil workshop di Bangui, Afrika Tengah, bulan
Oktober 1985, telah disusun suatu ketentuan klinik (untuk negara-negara
yang masih belum memiliki fasilitas diagnistik yang cukup) sebagai
berikut:
a.

Dicurigai AIDS pada orang dewasa bila ada paling sedikit dua gejala
mayor dan satu gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi
yang lain seperti kanker, malnutrisi berat, atau pemakaian kortikosteroid
yang lama.

Gejala Mayor:
1. penurunan berat badan lebih dari 10%
2. diare kronik lebih dari 1 bulan
3. demam lebih dari 1 bulan (kontinyu atau intermitten)
Gejala Minor:
1. batuk lebih dari 1 bulan
2. dermatitis pruritik umum
3. herpes zoster recurrens
4. kandidiasis oro-faring
5. limfadenopati generalisata
6. herpes simpleks diseminata yang kronik progresif
b. Dicurigai AIDS pada anak, bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor
dan dua gejala minor, dan tidak terdapat sebab-sebab imunosupresi yang
lain seperti kanker, malnutrisi berat, pemakaian kortikosteroid yang lama
atau etiologi lain.

Gejala Mayor:
1. penurunan berat badan atau pertumbuhan yang lambat dan abnormal
2. diare kronik lebih dari 1 bulan
3. demam lebih dari 1 bulan
Gejala Minor:
1. limfadenopati generalisata
2. kandidiasis oro-faring
3. infeksi umum yang berulang

4. batuk persisten
5. dermatitis generalisata
6. infeksi HIV pada ibunya

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis infeksi HIV sangat luas spektrumnya, karena itu
ada beberapa macam klasifikasi. Yang paling umum dipakai adalah
klasifikasi infeksi HIV (CDC, USA, 1987)
CDC (1993) menyusun klasifikasi klinis dari infeksi HIV sebagai berikut:
1. Group I (infeksi akut) dengan kriteria:
Gejala seperti flu, seperti demam, nyeri otot, nyeri sendi, lemah dan
nyeri tenggorokan. Gejala tersebut biasanya sembuh dengan sempurna.
HIV antibody (-)
Dapat terjadi 1-8 minggu setelah infeksi
2. Group II (asimptomatik) dengan kriteria:
Tidak ada tanda dan gejala sakit
Tanda laboratoris dan klinis tidak menunjukkan adanya depresi imun
HIV antibody (+)
3. Group III ( limpadenopati menyeluruh DNA / menctap) dengan
kriteria:

HIV antibody (+)
Persistent generalized Lymphadenopathy (PGL) yaitu kelenjtr getah
bening membesar dan teraba 1 cm atau lebih pada 2 tempat atau lebih
ekstraiguinal yang menetap selama 3 bulan tanpa adanya penyakit lain
yang menyebabkan.
4. Group IV, dibagi menjadi:
Group IVA (penyakit konstitusional) bila terdapat satu atau lebih gejala

berikut:

Demam lebih 1 bulan tanpa ada penyebab yang jelas

Penurunan berat badan dari 10%

Diare lebih dari 1 bulan

lemah
Group IVB (penyakit neurologis)

Dimensia

Mielopathy (neuropathy perifer tanpa adanya infeksi HIV yang
menjelaskan penyakit tersebut)
Group IVC (penyakit sekunder)

CD4 T Cell < 200/mm³

Infeksi oportunistik
Group IVD (keganasan sekunder)

Dengan satu atau lebih keganasan seperti sarkoma kapopsi,
lympoma non hodgkin, TBC pulmoner, Ca cervix invasive dan keganasan
lain.

Pemeriksaan Diagnostik Spesisfik HIV

Pemeriksaan yang sering dipakai untuk mendeteksi adanya antibodi
terhadap HIV adalah:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->