Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

kemudian dikalimantan barat 0.42 juta dan kalimantan Timur 0. berwarna putih dan putih kekelabuan. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat.Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. Di silawesi tengah. Pada permukaan tanah. terdapat di kalimantan tengah. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Akan tetapi beberapa adalah aquod. cenderung menaik kelapisan bawah. 2006). Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. 2006) . serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3.15 juta ha. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E.5)%.9) di seluruh lapisan tanah.1 % wilayah dataran indonesia.2 cmol (+)/kg tanah). dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3.2 – 0. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). Sebagian dari mereka adalah orthod. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. KB semuanya sangat rendah sampai. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah.2-1. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35).1 – 9. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam.95) %. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0.51 juta ha. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi. sangat rendah sampai rendah. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah. tengah. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. suatu spodosol umum. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan.3 – 4. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya.16 juta ha atau 1.

pengeringan ekstrem pada tanah gambut. Selain itu. Oleh karena itu. Inceptisols. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Aridisols.1. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. pengaruh salinisasi/penggaraman. Misalnya. deforestasi dan degradasi hutan. o. Histosols. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Oxisols. b. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. eksploitasi deposit bahan tambang. kekurangan air. suhu yang dingin/membeku. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Gelisols.5 % / tahun. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. Ultisol. Histosols. sehingga menambah biaya produksi. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. dan (2) tempat akar berjangkar. r. Gelisols. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. bahan induk yang keras dan asam. Mollisols. Dengan demikian. tanah mempunyai dua fungsi. Andisols. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. kimia. Sedangkan dari . dan Ultisols. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. Entisols. serta kebakaran. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. Entisols. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. sehingga terjadi kerusakan ekosistem. Spodosols. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. tergenang dan akumulasi bahan gambut. bahkan hilang.2. Misalnya. Inceptisols. w). Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami.

pemadatan. Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung.laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. dll. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. limbah. kompos. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. . Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA).

Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). seperti respon terhadap pemupukan.3. tumbuhan dan hewan). meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. pestisida. tanah. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah.. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. zat pengatur tumbuh). Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. air. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. tanah dan iklim. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. tanah. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. mantap secara ekologis. air. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. yaitu topografi. air.2003). 1. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. hewan. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. khususnya melalui penambatan Nitrogen. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi .HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). . pengelolaan air dan pengendalian erosi. 1976). manusia (tenaga. hewan. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. oksigen.

Sedangkan tanaman karet. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. terutama untuk padi.Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. misalnya setiap menit. Tanaman kina dan kopi. maka temperatur semakin menurun. misalnya. sedangkan karet. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. suhu. D dan E). Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. setiap jam. B.01 x elevasi dalam meter x 0. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim . Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. Dalam kaitannya dengan tanaman. dan kelembaban. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. sawit. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. dan seterusnya. C. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi tempat.3 C (0. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah.). Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm.

bahaya erosi. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. lempung liat berpasir. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. sedangkan kelas 5. pasir berlempung. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. debu dan liat. liat berdebu. drainase tanah. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. lempungberdebu. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. tekstur. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Agak halus (ah) : Lempung berliat. Ketebalan gambut. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. KTK). Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. lempung liat berdebu. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. lempung.berdasarkan curah hujan yang berbeda. 2. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. liat. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. debu. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. dan banjir/genangan. . Kasar (k) : Pasir. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).

yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. tanah basah dekat permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. 4. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang . dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. 5. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. 7. dan erosi parit (gully erosion). Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. erosi alur (rill erosion). Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. lembab. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang.3. 6. tanah basah sampai ke permukaan.

Program Magister (S2). Ir. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana. aras N. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit.com. struktur gumpal. permeabilitas rendah. Propinsi Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. 2009. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. P. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. pH rendah. Palembang. abu vulkan atau andesit . Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. stabilitas agregat baik. Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Program Magister (S2).lebih tinggi. Palembang. Mg sangat rendah. Ca. . Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Indonesia. Program Magister (S2). KPK rendah. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. 1993). Universitas Sriwijaya. A. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. R.. 1993). gibsit dan atau goetit (Ismail et al. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. (2) Kesuburan Tanah. batuan induk granit. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia.

sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. P. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). K. dan Mg. Fe. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. Ca. dan Mg.26% di Jawa Barat 13. Maluku. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). Ca. bereaksi masam. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. serta bahan organik . Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. unsur hara mikro Zn.Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro..et al. bahan organik. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Tekstur tanah ultisol bervariasi. dan Prabumulih Sumatera Selatan. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. dan atau Mg dan Mo . .6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. Fe. Mo. Sulawesi. P. Cu. 2007). 1. Sumatera. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. 2003). K. dan 17. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). misalnya. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. P. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. keracunan Al.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al.01%. Papua. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. secara teknis. dan/atau Fe. 1990). sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. dan pemupukan N. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Ca. Indralaya.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. Tanah di KP. P. dan B.08%. Mn. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Pemberian bahan ameliorasi kapur. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Kayu Agung. mengandung Al.

Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. 1994). Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. 1997). Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Ditinjau dari luasnya. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. . Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Oleh karena itu. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro.2004. 1997). kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. 2005). bergelombang hingga bergunung. Hidayat dan Mulyani. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Di samping itu. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. Kandungan bahan organik. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. Namun demikian. kandungan bahan organik yang memadai. 2006).

1997). Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa.1-5. 2000).5.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. gibbsite dan pseudoboehmite. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Muljadi et al. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. mampu menjerap P. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. yaitu sekitar 4. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al..

Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. (3) Teknologi Pupuk Hayati. berat kering trubus. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Kesuburan Tanah. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Universitas Sriwijaya. N sangat rendah. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. P tersedia dan P total yang sangat rendah. http://dasar2ilmutanah. 1976). 2009. Universitas Sriwijaya. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Program Magister (S2). berat basah trubus. Universitas Sriwijaya. Palembang.blogspot. Ir. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Palembang.2). Program Pascasarjana. Indonesia.com. A. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. R. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Program Magister (S2). luas daun serta kadar P trubus.Madjid. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Indonesia. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Program Pascasarjana. berat basah akar. Diposkan oleh Dr. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Program Pascasarjana. berat kering akar. . Propinsi Sumatera Selatan.

Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Peningkatan takaran P. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. semakin tinggi pula nilai pH tanah. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. semakin tinggi takaran P-alam. Ca dan Mg. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. . Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. baik kalsit maupun dolomit. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Secara umum. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah.

) di Tanah Marginal dengan pH rendah. KTK . kadar P tersedia sangat rendah. Klebsiella aerogenes.15 g tanaman-1. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Mg dan K tertukar rendah . Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Chromobacterium lividum dan B. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. glioksilat. dan B. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Mg2+. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. malat. Klebsiella aerogenes. Fe2+. laktat. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. pH meningkat ke arah netral. KTK rendah dan tekstur silt loam . Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. fumarat. glutamat. P tersedia. oksalat. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. diantaranya asam sitrat. Megaterium sebagai inokulan padat. kadar bahan organik rendah sampai sedang. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. suksinat. 575.48 g. dan . kadar N total rendah. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.3881 ppm dan 280. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. berat daun segar 4 tanaman per pot. Chromobacterium lividum. Ca tertukar rendah.22 g.

30%. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.blogspot. 207. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 930. Program Studi Ilmu Tanaman.63%. 354.75%. Palembang. Palembang. Program Pascasarjana.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Abdul Madjid. 903. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. dan 61. Program Pascasarjana. maka pH tanah pun semakin meningkat. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). 217. 208. Program Magister (S2).606. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. http://dasar2ilmutanah. Propinsi Sumatera Selatan.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). 203. Propinsi Sumatera Selatan. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. A.81%.67%. Indonesia. Diposkan oleh Dr. 2009.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.com. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao.42 g atau ada kenaikan 877. Indonesia. Universitas Sriwijaya. (3) Teknologi Pupuk Hayati.67%. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. (2) Kesuburan Tanah. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Dasar-Dasar Ilmu Tanah. R. Program Pascasarjana. kascing. Ir. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar.

100 kg TSP.2007). limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Kandungan hara rendah. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. . sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . bahan tanaman dan limbah. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. KCI 50 kg / ha.perdu dan pohon. 3. Ketersediaan unsur hara lambat. semak .IV. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. plastisitas dan daya pegang air. total ruang pori. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. 100 kg / ha Urea. TSP 100 kg / ha. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. hijauan tanaman rerumputan. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. mempertahankan kelengasan tanah . Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. misalnya . Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. pupuk kandang.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm.1. bobot volume. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . 2. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha.

Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al.2. Seperti halnya pupuk organik. 2003). meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. 2005). (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. meningkatkan ketersediaan P. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. 2006). sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. 4. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. P. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. Pengapuran mungkin diperlukan. dan K. . demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah .Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman.

Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. Peningkat ketersediaan hara 3. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Mikoriza. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. 4. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . yang tampak pada parameter . maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam.6 menjadi 5.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Bakteri pelarut fosfat. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. 2002). Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. Pemantap agregat tanah 6.3. lingkungan edapik. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik.1993). Penyedia hara 2. 2003). walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. 2007). yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. Azospirillum dan Azootobacter. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk.

luas daun serta kadar P trubus. gandum dan cantel (Sutanto. 2002). mikroba pelarut fosfat. 2002). berat kering trubus. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. Untuk meningkatkan berat basah.tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. padi. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. cantel. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. 2007). Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. putida. berat basah akar. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. dan cendawan mikoriza arbuskula. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. tomat. berat basah trubus. bawang putih. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. jagung. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. terong dan kubis. putida sama baiknya dengan P. Azospirillum. Pemberian BPF P. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Oleh karena itu. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. . penggunaan Rhizobium sp. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. dan sorgum. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. bersimbiose dengan tanaman legum. Namun. berat kering akar. Oleh karena itu. Bakteri penambat N2. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah.

tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . ketersediaan hara rendah.Mikroba pelarut fosfat. Zn. Gigaspora. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. dan Cu. perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. . Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. dan Acaulospora. 4.umumnya dari spesies Glomus. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). Kemampuan asosiasi tanaman. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. bahan organik tanah rendah. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase.4.

sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Pada usahatani lahan kering. lahan tegalan. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli).jagung + kacang tanah. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. (3) meningkatkan laju infiltrasi. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: . Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. 2006). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). terutama tanaman tahunan. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. Selain itu. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Menambah tanaman penguat teras. Pada musim pertama di awal musim hujan. guludan dibuat miring terhadap kontur. dan berbagai sistem wanatani.

Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah.a. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. . sehingga mampu mengikat air.. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. Di Filipina. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. b. gamal. kaliandra. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. mudah dilaksanakan. 1984). Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Mempunyai sistem perakaran intensif. c. kemiringan lahan. murah dan dapat diterima oleh petani. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. rumput gajah dan rumput benggala. akasia. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi.

Indonesia. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2).blogspot. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar.Selain efektif mengendalikan erosi. Abdul Madjid. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). tengah dan atas dari lorong. R. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan.13 dan 0. Diposkan oleh Dr. Program Studi Ilmu Tanaman. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. Indonesia. Palembang. Universitas Sriwijaya. Palembang. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. (2) Kesuburan Tanah.16 . Hasil penelitian Agas et al. Program . 2009. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana.Contoh kondisi pertanaman alley cropping.08 m3 masing-masing pada bagin bawah.com. http://dasar2ilmutanah. 0. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. A. mempengaruhi distribusi air. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Ir.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Transmisivitas air menurun dari 0. Universitas Sriwijaya.

Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. 2.C.Mansur. 2006. 8(2): 52-55. Mn. Puslitbang Tanaman Pangan. 2008.go. Arief.Y. Indonesia.wordpress. dan/atau Fe.Budidaya Lorong. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V.I dan Sopandie. 1997. Kusuma. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.D. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah.S. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol.com (diakses Mei 2009) Bertam.J. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. A. Palembang. feiraz. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda.bantul. bebasbanjir2025. dan atau Mg dan Mo 3.com (diakses Mei 2009) Anonimous. 2007. 7(2):94-103. keracunan Al. pengapuran. .files. 2005. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Setyati. P.wordpress.M.Magister (S2).YH. oxisols dan spodosol serta inseptisol . Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Balitbangtan Deptan. 2005. http://warintek. Geografi tanah Indonesia.D dan Mujib. Dan Irman.2009. Kesimpulan 1. Program Pascasarjana. Dinas Pertanian Jember. Barus. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. 1665-1675. Hal. Propinsi Sumatera Selatan.id (diakses 8 April 2009). Ca.files. Universitas Jember Jurusan FMIPA . Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah .Setiadi. Budidaya Tanaman Jagung. Jurnal Akta Agrosia . Arief. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . Universitas Sriwijaya. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.

Pengapuran Tanah Pertanian. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Akademika Pressindo.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. Joy.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. pp 139165. 273 p. Hidayat. pp 8-35. 1656-1664. Kuswandi. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth. 1997. Universitas Lampung 17-18 November 2008. 2008. Perbedaan respon keterkaitan pH. Edisi 2. Hal.Universitas Bengkulu. Lahan Kering untuk Pertanian. kalsit dan dolomite. Mardinus dan H.65.2007. 4(2) : 97-103. Kanisus Yogyakarta. Dan A.. Mitriani dan Barchia F.AK.Hairiyah. Pembentukan dan Profil Tanah. Jurnal Akta Agrosia . S. Muchtar. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong.Ganggo. Jakarta.2004. Departemen Pertanian.B. H. Hardjowigeno. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. Al-dd.2007.. . Hasanudin. Ismail. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis.Hasanudin. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan .R. Pustaka Adipura. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Dasar Dasar Ilmu Tanah. J. G. azotobacter dan bahan organic pada ultisol.. Mulyani.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II.Edisi 1. N. Hiatan06. Puslitbangtan. NA. 2003. Edisi khusus No 1: 1-4. A. 1993. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. Junedi. 5(2): 83-89. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.com (di akses Mei 2009). Hasanudin. Shamshuddin & S. 2007. 2005. Himatan. H. Hanafiah. Handayanto. 1993.wordpress. Deptan.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Badan Litbang Pertanian.. Plant & Soil 151: 55. 2006.Jakarta . B. Hakim. 1993.files. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.K. Mayadewi. Syed Oman. 2005. Ismail.E. Raja Gravindo Persada. 2007.

2002. Edisi 5. Subagyo.Penerapan Pertanian Organik. I.G. Pusparajah (Eds.B. 2000. N. Sutanto. Tahun II No. Kanisus Jakarta. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya.dan Subandi.. Nanan.6. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Pandang..gulma dan hasil jagung manis.Edisi 3. Puslitbangtan. Jurnal Agritrop.Bogor Partohardjono.2. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering.. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Darmawan. Puslitbangtan Deptan. 1994. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. Kanisus Jakarta. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat. Rahim. Notohadiprawiro. S. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.O. Sinukaban. 2006. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. 2006. 2006. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. T.. D.Agrosains 2(2):54-58. 6(2) : 71-81. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol..R. Rachman S. Subandi.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Bogor..M. 1997.No. Sunaryo dan Suryono. Nursyamsi.2003.G. Subandi. D. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. 2000. dan A. Bumi Aksara Jakarta. 2006.2002. 1676-1686.T.Edisi 3 .Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. 2003. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Hal. Nursyamsi. 1996. M. Ultisol. S. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Deptan. 28(4): 163-169. H. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Buletin Pusat Penelitian Marihat . Notohadiprawiro. 1994. 31 (3): 100-106. Croswell & E.A.) Aciar Monograph 13: 62-68. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". Pusat Penelitian Tanah dan . Buletin Agronomi. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III. M. Siswanto. Hal. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Faperta IPB. 2007. Ismail. Suharta.Bogor. Adnyana dan D. Prihartin. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience.. Penerapan Pertanian Organik . Pengendalian Erosi Tanah. Pp 177-184. Sutisni dan I P.S.. Widjaja-Adhi.pp 91-106. ES. N. Noor A. Hal 143-182.T.

) di Tanah Marginal. S. Prahoro.MA dan Rosniawati.. Program Pascasarjana. 2006. Ilmu Kesuburan Tanah. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Edisi 4.G.A. Wild. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.A. Reaksi Tanah . Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163.Pupuk Hayati . 7(1):1014.Universitas Padjajaran. 2001. Yogyakarta. 2003. Triwardani.2006.R. Program Magister (S2). Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Kuntyastuti. Program Studi Ilmu Tanaman. Sudaryono. Abdul Madjid.Biodiversitas. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.S. 2007. dan C. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.Manshuri. Soil Sci. Diposkan oleh Dr. Palembang. N. . UGM. A. Sudirja. 2005. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Suryantini.Yogyakarta.NW. 2008. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. Taufiq. Ir.2(5) : 23 – 43. 4(1) : 1-5. Jurnal Nature Indonesia. H. S dan Suliasih .Solihin. Wulandari. J.Agroklimat. 1950. The retention of phosphate by soils. 2008. 1: 221-238 Yuwono. Bogor. Yulianti. Universitas Sriwijaya. Widawati. pp 23 -32.Jurnal Hijau.

Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. . Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Universitas Sriwijaya. 2006). Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. Papua serta beberapa pulau Kecil. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman.5 m. 1997).70 juta hektar dan 1. Sumatera. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Universitas Sriwijaya.1 g ml-1. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. konsistensi tidak lekat-agak lekat. 1. Palembang. 2001). Indonesia. ketebalan lebih dari 0. tekstur debu lempung. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. tidak berstruktur.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P.480 ribu hektar. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Program Magister (S2).16 juta hektar. Indonesia. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan.61 juta ha. diikuti oleh Kalimantan Tengah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. warna coklat hingga kehitaman. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir.48 juta hektar. Program Magister (S2). (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Propinsi Sumatera Selatan.** : Program Studi Ilmu Tanaman.

Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Menurut Everret (1983). Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. dalam keadaan yang selalu tergenang. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. Tanah gambut terdapat di cekungan. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Di alam. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. 2. . misalnya pada cekungan atau depresi.1990): 1. 1996). (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno.1 g ml-1 atau lebih. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981).

bergantung pada tahapan dekomposisinya. b. mempunyai ketebalan 0. bersifat agak asam. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung.dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun.4 g cm-3). terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra.05-0. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. berat jenisnya besar dari 0. Jawa Tengah). dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.5 – 6 meter. ketebalan 0. Hemists. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Berdasarkan penyebaran topografinya. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. Saprists. hampir selalu tergenang air. Fibreists. 2000). bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. . Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). dan c. berasal dari sisa tumbuhan rawa. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi.5 – 16 meter. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. Jawa Barat). hampir tidak berserabut. dan Segara Anakan (Cilacap. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. 1996). Rawa Lakbok (Ciamis. bobot isi rendah (0.

Pasalnya. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Lahan gambut sedang. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. di kawasan hutan gambut tropika. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. pengelolaan air. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. .300 cm 4. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. yaitu: 1. Menurut pengamatan di lapangan. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. Dengan demikian. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.100 cm. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 .lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. Lahan gambut sangat dalam. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut.200 cm 3. 2. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Dalam kondisi alami. Lahan gambut dalam. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . Lahan gambut dangkal. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. emisi karbon. Berdasarkan kedalamnya.

Subagyo et al. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0.25 Abu 10. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat.Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi.20 0. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. Kriteria kimia gambut eutropik. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988).03 P2O5 0. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. agak dalam (100-200 cm). yaitu (1) gambut eutropik yang subur. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. mesotropik.00 0. fosfor (P). Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. pasir kuarsa. atau endapan liat nonmarin.10 0.00 0. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan.00 5.075 sampai 0.00 2. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0.50 2. kalsium (Ca).10 0. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). (1996).25 0. Menurut Subagyo et al. Tabel 1. kandungan basa sedang). . Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. kalium (K). tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. yaitu dangkal (50-100 cm). Fleisher (1965. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. reaksi gambut netral atau alkalin).195 g cm-3. oligotrofik (kandungan mineral.00 1.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). Berdasarkan status hara. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo.80 0.05 CaO 4.195 g cm-3.

Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Indonesia. Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Program Pascasarjana. (3) rendah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. pH kurang dari 4. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. pH lebih dari 5. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi.com. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. A.Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Indonesia. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. (2) sedang. Palembang. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Menurut Halim dan Soepardi (1987).blogspot. Program Pascasarjana. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ir. Program Pascasarjana. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Permasalahan Pada Tanah Gambut . pH berkisar antara 4 sampai 5. R.

antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. kering tidak balik. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. 1988).1 gr/cc untuk gambut kasar. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. lapisan bawah. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. A. bahan mineral. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. . Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. kerapatan lindak. air dan udara. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. daya memegang air tinggi. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. dalam keadaan tergenang. dan sekitar 0. irreversible dan subsiden. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. 1988). Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. 1996).2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse.2 gr/cc pada gambut halus.

sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. rendahnya bulk density (0. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. 1986). Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m.000 % bobot. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. 1996). 2000) Sebagai contoh di Malaysia. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. 1988. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. 1991). Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. jika lapisan gambut terkikis.05-0.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). demikianpula pada daerah rasau Jaya. 2001). Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. Harjowigeno. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). kearah kubah gambut akan menebal.

dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. dan konstruksi bangunan (jembatan. dan abu. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. tanah mineral. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. pupuk kandang.yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. 3. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). jalan sulit dilalui kendaraan. Semakin tebal gambut. pohon rebah. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. 1988). saluran drainase) terganggu atau ambles. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. jalan. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Sebagai akibatnya. . Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. Karenanya. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara.8 cm/bulan. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. kompos. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi.3-0. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. B.

dan Mg menjadi sangat rendah.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung.1986. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. dalam Mutalib et al. 2001). 1996). Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N.3 (Andriesse. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. 1988). kalium. yaitu antara 35. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. dan Sagiman. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Ca. 1986. Mg.1 sampai 65. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. P. Hardjowigeno. Unsur hara Cu. 1996. dan natrium. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. kesuburan sedang jika KB- . Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. Bo dan Mo. 1991). 1999). KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. magnesium. K. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. Ca. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah.6 cmol kg-1 tanah. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah.Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K.

yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. menetralkan Al. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. 1993). meningkatkan pH. Hasil penelitian Mawardi et al. 1995). (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. Gambut mempunyai sifat khas. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu.nya berkisar antara 50% sampai 80%. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02).1997). (Prasetyo. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. Menurut Sastrosupadi et al. 1996). dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. Dalam era lingkungan dan globalisasi. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau.

sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi.. besi. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm.Soepraptohardjo. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. 1991). dibagian 80 cm teratas profil tanah. media pembibitan. C. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. 1997). dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. hemisellulosa. aluminum dalam larut tanah. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. . 1997). Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. dan protein. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. dan akuakultur. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. 1978). Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. 1974). Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. 1977). bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto.

dengan tujuan: 1. et a1. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. et a1. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. . Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. kemasaman tanah tinggi. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. japonicum ). 2005). Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. 2.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. 1999). serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. Yusuf. 1998. D.

Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. 1. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. sebagai sarana transportasi hasil panen. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan.3. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan.Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). Sistem parit/handil dicirikan oleh: . Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap).

surjan atau lahan kering. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. 5. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. tetapi sewaktu surut. Di atas pematang ini. E. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. Untuk mengatur air pasang surut. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. apakah untuk sawah. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 .5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. 1996). Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. 7. 2. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. juga dapat dibuat pondok-pondok. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering.5 . 2. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. 6. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. . baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir.1. 4. 3. Lahan usahatani umumnya berjarak 0.

Meskipun demikian.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini.. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. telah membakar sekitar 1. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. 2000. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997... dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Parish. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al. piknik dan perburuan. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. Hanya saja jika tidak terkendali. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. 2002). sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19. 2002). yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. 2002). persiapan lahan oleh petani. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. 2002) dan di Sumatra (Sanders..000 ha di Kalimantan. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. 2005). • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. 2002. 1998). yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. termasuk 750. Musa & Parlan. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. 2002). Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. .

Selain itu. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. 2000. 2002). karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. Pada tipe yang pertama ini. 2000). Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. Siegert et al. 2000. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. Page et al. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. kehilangan potensi ekonomi. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. Di samping itu. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). Di kawasan bergambut. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. gangguan atas dinamika flora dan fauna. stabilitas lingkungan. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. .Dalam skala besar. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect).83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). cara penanganannya pun berbeda.

hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. serba-cakup (comprehensive). karena kehilangan lapisan gambut. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). akibat rendahnya kecepatan angin permukaan. 8. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. 41. Selain itu. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna.. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. ibu hamil dan anak balita. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. Selain itu. 2002).800 asma. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra.095 bronkitis. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0.2–0.6 Gt C. dan terpadu. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. dan 202. 58. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. lanjut usia. • Pencegahan kebakaran .761 kasus ISPA. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. 2002). Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. dan 1. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan.145 bronkitis..125 asma.446. 298. 2000).

Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. Pengembangan sistem penegakan hukum. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. 6. 5. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. hingga pemantauan dan evaluasi. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. 7. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. 3. perencanaan tata guna hutan/lahan. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. 4. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). • Pengendalian kebakaran . Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). pemberian ijin bagi kegiatan. 2.

Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. . Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. dan pemadaman api. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. apalagi yang masih berhutan. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. harus dihindari/dilarang. 2002). seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. kesiagaan. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah.

Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Ir. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. http://dasar2ilmutanah.Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.com. (2) Kesuburan Tanah. R. A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) .blogspot.