Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat.95) %.5)%.2-1.2 – 0. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol.Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa.42 juta dan kalimantan Timur 0. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3.51 juta ha.15 juta ha. KB semuanya sangat rendah sampai. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. Akan tetapi beberapa adalah aquod. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E.1 % wilayah dataran indonesia. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0.2 cmol (+)/kg tanah). Pada permukaan tanah. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra.16 juta ha atau 1. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). 2006) . kemudian dikalimantan barat 0. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. cenderung menaik kelapisan bawah. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir.1 – 9. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. terdapat di kalimantan tengah. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. Sebagian dari mereka adalah orthod. suatu spodosol umum. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. Di silawesi tengah. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. berwarna putih dan putih kekelabuan. 2006). Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur.9) di seluruh lapisan tanah. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi. sangat rendah sampai rendah.3 – 4. tengah. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida).

Misalnya. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. sehingga menambah biaya produksi. Gelisols.2. serta kebakaran. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. eksploitasi deposit bahan tambang. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. suhu yang dingin/membeku. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Inceptisols. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia).5 % / tahun. Selain itu. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. Inceptisols. bahkan hilang. Misalnya. Entisols. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. pengaruh salinisasi/penggaraman. bahan induk yang keras dan asam. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. o. dan (2) tempat akar berjangkar. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. r. tergenang dan akumulasi bahan gambut. sehingga terjadi kerusakan ekosistem. w). Ultisol. kekurangan air. tanah mempunyai dua fungsi. b. Andisols. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Oxisols. Histosols. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara.1. Mollisols. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. kimia. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Entisols. Dengan demikian. dan Ultisols. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Spodosols. Sedangkan dari . Histosols. Oleh karena itu. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. deforestasi dan degradasi hutan. Gelisols. Aridisols. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami.

Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. dll. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. . tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . Bahan-bahan yang digunakan: sampah. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. limbah. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). kompos. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen.laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. pemadatan.

pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi . pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. pestisida. air. 1. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. mantap secara ekologis. manusia (tenaga. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. air. seperti respon terhadap pemupukan. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). oksigen. pengelolaan air dan pengendalian erosi. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. tanah.3. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro.HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). . mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. air.2003). tanah. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal.. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. zat pengatur tumbuh). 1976). tanah dan iklim. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). tumbuhan dan hewan). hewan. khususnya melalui penambatan Nitrogen. yaitu topografi. hewan. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa.

menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Semakin tinggi tempat. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. B. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. sedangkan karet. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. misalnya. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan.3 C (0. maka temperatur semakin menurun. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. dan kelembaban. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut.01 x elevasi dalam meter x 0. suhu. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. C. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. dan seterusnya. D dan E). Sedangkan tanaman karet.). semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. misalnya setiap menit. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Tanaman kina dan kopi. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. setiap jam. sawit. terutama untuk padi. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim . Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Dalam kaitannya dengan tanaman.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah.Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut.

2. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. dan banjir/genangan. debu. tekstur. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. sedangkan kelas 5.berdasarkan curah hujan yang berbeda. Agak halus (ah) : Lempung berliat.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Kasar (k) : Pasir. debu dan liat. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. KTK). Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. lempung. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. pasir berlempung. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. lempung liat berdebu. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. Ketebalan gambut. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. drainase tanah. lempungberdebu. liat berdebu. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. . atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). lempung liat berpasir. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. bahaya erosi. liat. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).

erosi alur (rill erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang . Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.3. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. 7. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. tanah basah sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. lembab. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah dekat permukaan. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. 5. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. 6. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. dan erosi parit (gully erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. 4. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan.

R. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. batuan induk granit. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. struktur gumpal. Diposkan oleh Dr. KPK rendah. Universitas Sriwijaya.. abu vulkan atau andesit . Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. Program Studi Ilmu Tanaman.com. 1993). vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. . Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 1993). http://dasar2ilmutanah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). aras N. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Mg sangat rendah.lebih tinggi. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. gibsit dan atau goetit (Ismail et al.blogspot. P. Program Magister (S2). Ca. (3) Teknologi Pupuk Hayati. permeabilitas rendah. 2009. Palembang. stabilitas agregat baik. Palembang. pH rendah. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Indonesia. Indonesia. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. (2) Kesuburan Tanah. Palembang. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana.

et al. dan Mg.26% di Jawa Barat 13. Papua. dan pemupukan N. dan Prabumulih Sumatera Selatan.Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. P. Mo. dan/atau Fe. dan atau Mg dan Mo . Ca. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. dan Mg. mengandung Al. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. P. misalnya. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. Ca. Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. 2007). secara teknis. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. P. P. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Sulawesi.. Pemberian bahan ameliorasi kapur. dan B.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. Fe. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. 1990). bahan organik. serta bahan organik . sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. Kayu Agung. Cu. bereaksi masam. 2003). peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. Maluku. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur.01%. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Sumatera. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Tanah di KP. Fe. K. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey).40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). Mn. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Indralaya. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. K. Ca. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. keracunan Al. Tekstur tanah ultisol bervariasi.08%. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. unsur hara mikro Zn. dan 17. 1. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. .

2004. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. 1997). Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. Namun demikian. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. 2006). Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. Ditinjau dari luasnya. Di samping itu. 2005). dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. bergelombang hingga bergunung. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. kandungan bahan organik yang memadai. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Kandungan bahan organik. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. 1997). Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. . Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. 1994). kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Hidayat dan Mulyani. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Oleh karena itu.

Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. yaitu sekitar 4. Muljadi et al. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat.5. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat.1-5. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. mampu menjerap P.1997).. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. gibbsite dan pseudoboehmite. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. 2000). (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi.

Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. http://dasar2ilmutanah. berat basah trubus. berat kering akar. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. (2) Kesuburan Tanah.blogspot. N sangat rendah. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.com. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. A. 1976). Program Studi Ilmu Tanaman. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. R. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. berat basah akar.Madjid. Program Pascasarjana. Abdul Madjid. berat kering trubus. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. luas daun serta kadar P trubus. Program Magister (S2). . Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Palembang. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam.2). Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Palembang. Indonesia. 2009. Propinsi Sumatera Selatan. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Indonesia. P tersedia dan P total yang sangat rendah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Universitas Sriwijaya.

tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. Ca dan Mg. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. . Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Secara umum. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. Peningkatan takaran P. baik kalsit maupun dolomit. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. semakin tinggi takaran P-alam. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. semakin tinggi pula nilai pH tanah. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K.

Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Mg dan K tertukar rendah . diantaranya asam sitrat. Megaterium sebagai inokulan padat. fumarat.15 g tanaman-1. Chromobacterium lividum dan B. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. dan B. kadar P tersedia sangat rendah. Fe2+. Mg2+.3881 ppm dan 280. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. dan . pH meningkat ke arah netral. laktat. P tersedia. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol.) di Tanah Marginal dengan pH rendah.48 g.22 g. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. berat daun segar 4 tanaman per pot. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . 575. suksinat. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. glioksilat. Ca tertukar rendah. Chromobacterium lividum. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. malat. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. oksalat. glutamat. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). kadar N total rendah. KTK . Klebsiella aerogenes. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. KTK rendah dan tekstur silt loam . Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Klebsiella aerogenes. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.

Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Diposkan oleh Dr. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.67%. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Abdul Madjid.42 g atau ada kenaikan 877. Universitas Sriwijaya. kascing. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Indonesia. 930.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. maka pH tanah pun semakin meningkat. Program Studi Ilmu Tanaman. 217.blogspot. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan.606. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. (3) Teknologi Pupuk Hayati. (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman.67%. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.30%. Ir. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). 2009. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. A.63%. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang.75%. 208.81%.com. 354. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. R. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. dan 61. 903. 207. 203. Palembang. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. total ruang pori. KCI 50 kg / ha. semak . Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.2007). plastisitas dan daya pegang air. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. 2. limbah pertanaman dan limbah agroindustri.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. bahan tanaman dan limbah. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan.perdu dan pohon. hijauan tanaman rerumputan. 3.IV. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Ketersediaan unsur hara lambat. TSP 100 kg / ha. mempertahankan kelengasan tanah . Kandungan hara rendah. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang .1. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. bobot volume. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. misalnya . . Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. pupuk kandang. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . 100 kg TSP. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. 100 kg / ha Urea. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam.

Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Pengapuran mungkin diperlukan. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. 2003). Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Seperti halnya pupuk organik. 4. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman.2. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. dan K. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. meningkatkan ketersediaan P. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah .Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. . Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. P. 2006). (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . 2005).

tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang.6 menjadi 5. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. lingkungan edapik.3. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. yang tampak pada parameter . yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. Bakteri pelarut fosfat. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.1993). Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. 2002). 2003). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4. Azospirillum dan Azootobacter. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Pemantap agregat tanah 6. 4.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. 2007). seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Mikoriza. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al. Penyedia hara 2. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Peningkat ketersediaan hara 3.

padi. berat kering trubus. berat basah akar.tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. luas daun serta kadar P trubus. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. dan cendawan mikoriza arbuskula. 2002). dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. Pemberian BPF P. cantel. bersimbiose dengan tanaman legum. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. . 2007). harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Azospirillum. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. dan sorgum. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Namun. mikroba pelarut fosfat. berat basah trubus. jagung. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. 2002). terong dan kubis. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. Bakteri penambat N2. berat kering akar. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. bawang putih. Oleh karena itu. putida. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. Untuk meningkatkan berat basah. gandum dan cantel (Sutanto. penggunaan Rhizobium sp. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. tomat. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Oleh karena itu. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. putida sama baiknya dengan P. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu.

ketersediaan hara rendah. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. dan Acaulospora. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air.umumnya dari spesies Glomus. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. Zn. 4. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). . Gigaspora.Mikroba pelarut fosfat. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P.4. perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). bahan organik tanah rendah. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Kemampuan asosiasi tanaman. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. dan Cu.

(2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. guludan dibuat miring terhadap kontur. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Pada musim pertama di awal musim hujan. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . dan berbagai sistem wanatani. Pada usahatani lahan kering. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. (3) meningkatkan laju infiltrasi. lahan tegalan. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. 2006). membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Selain itu. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: . dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Menambah tanaman penguat teras.jagung + kacang tanah. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). terutama tanaman tahunan. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan.

mudah dilaksanakan. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. . Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. murah dan dapat diterima oleh petani. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Mempunyai sistem perakaran intensif. Di Filipina. gamal. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. c. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%.a. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. kemiringan lahan. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan.. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. sehingga mampu mengikat air. 1984). rumput gajah dan rumput benggala. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. kaliandra. b. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. akasia. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi.

(1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. 0.16 . Diposkan oleh Dr.blogspot. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia.Selain efektif mengendalikan erosi. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. 2009. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Program . Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Contoh kondisi pertanaman alley cropping.13 dan 0. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. R. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. (3) Teknologi Pupuk Hayati. (2) Kesuburan Tanah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. http://dasar2ilmutanah. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Hasil penelitian Agas et al. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. Program Magister (S2). tengah dan atas dari lorong. mempengaruhi distribusi air.com. Universitas Sriwijaya. Palembang.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Ir. A. Program Magister (S2). Transmisivitas air menurun dari 0. Indonesia.

Balitbangtan Deptan. P. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. . 2007.Magister (S2). 2. Kesimpulan 1.com (diakses Mei 2009) Anonimous.wordpress. A. 2005. pengapuran.Mansur. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. Jurnal Akta Agrosia . Mn. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V.D.YH. Universitas Jember Jurusan FMIPA .M. feiraz.Y. Palembang.J. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Propinsi Sumatera Selatan.files. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. Dinas Pertanian Jember. Puslitbang Tanaman Pangan. http://warintek. dan atau Mg dan Mo 3.bantul. Program Pascasarjana. Dan Irman.Setiadi. 2008. 1997. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Indonesia.D dan Mujib. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. 2005. Kusuma.com (diakses Mei 2009) Bertam.I dan Sopandie. Budidaya Tanaman Jagung.2009.S. Ca. Arief. Geografi tanah Indonesia. keracunan Al. 7(2):94-103. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.id (diakses 8 April 2009). 1665-1675. 2006. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. 8(2): 52-55.wordpress. dan/atau Fe. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik.C.files. oxisols dan spodosol serta inseptisol . Barus. DAFTAR PUSTAKA Arimurti.Budidaya Lorong. Setyati. Hal. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Arief. Universitas Sriwijaya.go. bebasbanjir2025.

65. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. 1993. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara.R.com (di akses Mei 2009).2007. 5(2): 83-89. Deptan. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan . H. 2006.E. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai.. Pustaka Adipura.2007.AK. G. 1997.Hasanudin. Raja Gravindo Persada. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. Mitriani dan Barchia F. 2003. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. . J. pp 8-35. Shamshuddin & S. 2005.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Universitas Lampung 17-18 November 2008. 2007. Hanafiah. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Hasanudin. N. Jurnal Akta Agrosia . pp 139165.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong.. Hiatan06. Kanisus Yogyakarta. Muchtar.wordpress. 2007. Mardinus dan H. kalsit dan dolomite.Universitas Bengkulu. Syed Oman. Perbedaan respon keterkaitan pH. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. NA. Hakim. Hardjowigeno. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Ismail.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. 273 p. Dan A. 1656-1664. Pembentukan dan Profil Tanah. 4(2) : 97-103. Mayadewi. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. A. Junedi. Pengapuran Tanah Pertanian.. H.. Hidayat.Hairiyah. Al-dd.files. 2008.2004. S. Hal.Ganggo. Edisi khusus No 1: 1-4. Handayanto. Hasanudin. Jakarta. B. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran.Edisi 1. 1993. Himatan. Joy. 2005. azotobacter dan bahan organic pada ultisol. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth.B. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Edisi 2. Badan Litbang Pertanian. Lahan Kering untuk Pertanian. Plant & Soil 151: 55. Mulyani. Puslitbangtan. 1993. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.Jakarta . Kuswandi. Departemen Pertanian. Akademika Pressindo.K. Ismail.

R. D.. Kanisus Jakarta. Nanan. T. 1994. Faperta IPB.B. Nursyamsi. M. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Notohadiprawiro.. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". 1997. 1676-1686. S.2002. 2000. Pengendalian Erosi Tanah.. 2006.2003. Sunaryo dan Suryono. Buletin Pusat Penelitian Marihat . N. 2006. Widjaja-Adhi. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. Noor A.No. Siswanto. Subandi.dan Subandi. Sinukaban. Nursyamsi. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi.Penerapan Pertanian Organik. Fakta dan Implikasi Pertaniannya.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Puslitbangtan.2002.G.Bogor Partohardjono.T. Darmawan.Edisi 3. Kanisus Jakarta.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. 6(2) : 71-81. 2006.2.G. D. Ultisol. Rahim.. 1994. S. 1990. Pusparajah (Eds. Jurnal Agritrop. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat. Bumi Aksara Jakarta. 2006... 31 (3): 100-106. Hal. Buletin Agronomi.. Puslitbangtan Deptan. 1996.S. Croswell & E. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. N.Bogor. Deptan. Ismail. Suharta.M.) Aciar Monograph 13: 62-68. dan A. 2007. Penerapan Pertanian Organik . H. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. Hal.pp 91-106. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.6. 2003. 28(4): 163-169. Sutanto.T.Agrosains 2(2):54-58. Pandang. Tahun II No. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Prihartin. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol..gulma dan hasil jagung manis. Bogor. M. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. Subandi. Adnyana dan D.O. I. Edisi 5. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. 2000.Edisi 3 . Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. Subagyo. Hal 143-182. ES. Sutisni dan I P. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Pusat Penelitian Tanah dan . Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. Notohadiprawiro. Rachman S. Pp 177-184.A.

R. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam.Manshuri. Sudirja. 2005. Program Studi Ilmu Tanaman. 7(1):1014. 1: 221-238 Yuwono. 2007. pp 23 -32. Bogor. N. UGM. Universitas Sriwijaya.Jurnal Hijau. Ilmu Kesuburan Tanah. . 2003.2(5) : 23 – 43. Propinsi Sumatera Selatan. J. Prahoro. Soil Sci. 1950. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.S. Triwardani. Yogyakarta. Wild. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Sudaryono. Program Pascasarjana. S. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu.) di Tanah Marginal.MA dan Rosniawati..Universitas Padjajaran. Yulianti.Solihin. The retention of phosphate by soils. 2001. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Widawati.A. Taufiq. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.Biodiversitas. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). 2008. dan C.Yogyakarta. Wulandari. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163.NW. Ir.Agroklimat. Kuntyastuti. A. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. H. Edisi 4. Palembang. Reaksi Tanah . S dan Suliasih . Suryantini. 4(1) : 1-5. Abdul Madjid. Indonesia. Program Magister (S2). Jurnal Nature Indonesia. 2008.A. Diposkan oleh Dr. 2006.2006.Pupuk Hayati .G. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

5 m. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Propinsi Sumatera Selatan. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada.1 g ml-1. Program Pascasarjana. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Sumatera. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. 1997).48 juta hektar. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Universitas Sriwijaya.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. Palembang. tekstur debu lempung. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. .61 juta ha.70 juta hektar dan 1. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4.480 ribu hektar. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas.16 juta hektar. 2001). konsistensi tidak lekat-agak lekat. Program Pascasarjana. Palembang. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Papua serta beberapa pulau Kecil. 2006). 1. Program Magister (S2). tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. Universitas Sriwijaya. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. Indonesia. ketebalan lebih dari 0. tidak berstruktur.** : Program Studi Ilmu Tanaman. warna coklat hingga kehitaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. Propinsi Sumatera Selatan. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Program Magister (S2). diikuti oleh Kalimantan Tengah. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman.

Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. Menurut Everret (1983). danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. gambut sering bercampur dengan tanah liat. 2. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik.1990): 1.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. 1996). Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. dalam keadaan yang selalu tergenang. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. . depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Di alam. misalnya pada cekungan atau depresi. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. Tanah gambut terdapat di cekungan. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.1 g ml-1 atau lebih.

bersifat sangat asam. bobot isi rendah (0. Hemists. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. . Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). 1996). Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). mempunyai ketebalan 0. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. dan Segara Anakan (Cilacap. Berdasarkan penyebaran topografinya. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar.4 g cm-3). • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. Jawa Barat).05-0. bergantung pada tahapan dekomposisinya. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Jawa Tengah). • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. 2000). gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. dan c. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. hampir selalu tergenang air. b. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. hampir tidak berserabut. berasal dari sisa tumbuhan rawa. Saprists. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Fibreists. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. berat jenisnya besar dari 0.5 – 6 meter. ketebalan 0. bersifat agak asam.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra.5 – 16 meter.dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Rawa Lakbok (Ciamis. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists.

Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. emisi karbon. Menurut pengamatan di lapangan. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Lahan gambut sedang. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Dalam kondisi alami. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut.300 cm 4. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. Lahan gambut dangkal. 2. pengelolaan air. di kawasan hutan gambut tropika. Dengan demikian. yaitu: 1. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . Lahan gambut dalam. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Lahan gambut sangat dalam. Pasalnya. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon.200 cm 3. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.100 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. Berdasarkan kedalamnya. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. .

50 2. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). Menurut Subagyo et al. reaksi gambut netral atau alkalin). mesotropik. atau endapan liat nonmarin. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. pasir kuarsa.00 2. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. Kriteria kimia gambut eutropik. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).20 0.00 0.10 0.25 Abu 10. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. (1996). (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang.80 0. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. yaitu dangkal (50-100 cm). kalsium (Ca).075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. kalium (K).00 0. Subagyo et al.05 CaO 4. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. Berdasarkan status hara. fosfor (P). Fleisher (1965.195 g cm-3. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988).075 sampai 0. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0.Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Tabel 1. oligotrofik (kandungan mineral.25 0. . dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2.00 1.00 5.10 0.03 P2O5 0. kandungan basa sedang). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). agak dalam (100-200 cm).195 g cm-3. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.

dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. A. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. (2) Kesuburan Tanah. Permasalahan Pada Tanah Gambut . Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. R. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. pH kurang dari 4. (2) sedang. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. 2009. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Ir. Indonesia. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2). kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. (3) rendah.Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. Program Magister (S2). pH berkisar antara 4 sampai 5.com. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. pH lebih dari 5.blogspot.

2 gr/cc pada gambut halus. . kerapatan lindak. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. A. bahan mineral. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. dalam keadaan tergenang. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. daya memegang air tinggi. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. lapisan bawah. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. 1996). dan sekitar 0. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. 1988).1 gr/cc untuk gambut kasar. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. air dan udara.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. irreversible dan subsiden. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah.2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. kering tidak balik. 1988). yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut.

Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. 1988. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . Harjowigeno. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. rendahnya bulk density (0. jika lapisan gambut terkikis. demikianpula pada daerah rasau Jaya. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. 2001). Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. 1986). Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. 1996). Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. kearah kubah gambut akan menebal. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome).Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir.000 % bobot. 1991). sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. 2000) Sebagai contoh di Malaysia. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al.05-0.

Sebagai akibatnya. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. kompos. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. 3. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. . saluran drainase) terganggu atau ambles. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Karenanya. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). pupuk kandang. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam.yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. dan konstruksi bangunan (jembatan. pohon rebah. dan abu.3-0. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. Semakin tebal gambut. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. jalan. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). B.8 cm/bulan. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. tanah mineral. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. 1988). jalan sulit dilalui kendaraan. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah.

Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. Bo dan Mo. dan Sagiman. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. dan natrium. kesuburan sedang jika KB- . 1996).Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. kalium.1986. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. 1999). Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. dalam Mutalib et al. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. Unsur hara Cu. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. K. 1991). Mg. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. 2001).6 cmol kg-1 tanah. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman.3 (Andriesse. P.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. 1988). 1986. Ca. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. 1996. Hardjowigeno.1 sampai 65. dan Mg menjadi sangat rendah. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. yaitu antara 35. Ca. magnesium.

Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). (Prasetyo. meningkatkan pH. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. Gambut mempunyai sifat khas. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. 1995). Hasil penelitian Mawardi et al.nya berkisar antara 50% sampai 80%. 1996). sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. menetralkan Al. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH.1997). 1993). selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. Selain itu. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Dalam era lingkungan dan globalisasi. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. Menurut Sastrosupadi et al. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al.

Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. 1997). Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. media pembibitan. dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. 1977). 1991). selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. C. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. 1997). Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. dan protein. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. besi. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. 1978). tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi.. dan akuakultur. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander.Soepraptohardjo. . termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. dibagian 80 cm teratas profil tanah. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. hemisellulosa. aluminum dalam larut tanah. 1974).

1998. 2005). 1999). Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. et a1. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. 2. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. D. et a1.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. dengan tujuan: 1. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. . Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Yusuf. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. kemasaman tanah tinggi. japonicum ). Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan.

Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. sebagai sarana transportasi hasil panen. 1.3. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet).Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. Sistem parit/handil dicirikan oleh: . dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.

apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. 2. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. Untuk mengatur air pasang surut. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. 4. . apakah untuk sawah. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. 5. surjan atau lahan kering. tetapi sewaktu surut. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. 2.1. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur.5 . Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. 1996). 6. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. 3. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. 7. E. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. Di atas pematang ini. juga dapat dibuat pondok-pondok. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan.

persiapan lahan oleh petani. . Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan... Meskipun demikian. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. 2002. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. Hanya saja jika tidak terkendali.. 2002). kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. 2002). Musa & Parlan.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. termasuk 750. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. 2000. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. 2005). telah membakar sekitar 1. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. 2002) dan di Sumatra (Sanders. piknik dan perburuan. 2002). Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. Parish.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. 2002). Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19.. 1998).000 ha di Kalimantan.

dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. Di kawasan bergambut.Dalam skala besar. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. Siegert et al. gangguan atas dinamika flora dan fauna. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. 2000).000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. 2002). Pada tipe yang pertama ini. Di samping itu.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Selain itu. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. cara penanganannya pun berbeda. 2000. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). 2000. kehilangan potensi ekonomi. . yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. stabilitas lingkungan. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. Page et al. Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect).

Selain itu.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. 58. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. 2000). Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir.2–0. dan 202.6 Gt C. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara.800 asma. dan 1. 2002). 8. ibu hamil dan anak balita. lanjut usia. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar.095 bronkitis. serba-cakup (comprehensive). Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim.446. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. dan terpadu. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder).120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut).. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan.761 kasus ISPA. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan. 298. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara.125 asma. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. karena kehilangan lapisan gambut.145 bronkitis. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. • Pencegahan kebakaran . 41..4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. 2002). Selain itu.

Pengembangan sistem penegakan hukum. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. • Pengendalian kebakaran . Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. 4. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. hingga pemantauan dan evaluasi. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). 2. pemberian ijin bagi kegiatan. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. 7. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. perencanaan tata guna hutan/lahan. 6. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. 5. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. 3.

Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. dan pemadaman api. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. kesiagaan. . harus dihindari/dilarang. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. 2002). apalagi yang masih berhutan. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi.

http://dasar2ilmutanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) .Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Abdul Madjid. Ir.com. A. 2009. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. R.blogspot. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful