Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

cenderung menaik kelapisan bawah.95) %. berwarna putih dan putih kekelabuan.42 juta dan kalimantan Timur 0. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Di silawesi tengah. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. suatu spodosol umum.3 – 4. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3. 2006).9) di seluruh lapisan tanah. kemudian dikalimantan barat 0. terdapat di kalimantan tengah. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. KB semuanya sangat rendah sampai. Sebagian dari mereka adalah orthod. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. 2006) . seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik.16 juta ha atau 1. Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir.5)%. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E.15 juta ha. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. Pada permukaan tanah. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.2 – 0. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah.1 % wilayah dataran indonesia. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. tengah. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol.2-1. Akan tetapi beberapa adalah aquod. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0. sangat rendah sampai rendah.2 cmol (+)/kg tanah). Rasio C/N tergolong tinggi (16-35).Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa.1 – 9. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa.51 juta ha. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah.

Andisols. pengaruh salinisasi/penggaraman. kekurangan air. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. bahan induk yang keras dan asam. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). pengeringan ekstrem pada tanah gambut. tanah mempunyai dua fungsi. Dengan demikian.1. Histosols. Misalnya. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. deforestasi dan degradasi hutan. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. sehingga menambah biaya produksi. o. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. Ultisol. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. Oleh karena itu. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. Inceptisols. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. Inceptisols. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. Entisols. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. Mollisols. kimia. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Histosols. Oxisols. sehingga terjadi kerusakan ekosistem.2. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. tergenang dan akumulasi bahan gambut. Misalnya. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. Gelisols. Sedangkan dari . w). Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. Selain itu. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. b. eksploitasi deposit bahan tambang. Entisols. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. suhu yang dingin/membeku. dan Ultisols. r. Gelisols. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. dan (2) tempat akar berjangkar. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. Aridisols. serta kebakaran. bahkan hilang. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman.5 % / tahun. Spodosols.

dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. . Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. kompos. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. dll. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam.laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). limbah. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. pemadatan.

Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. yaitu topografi. tanah.HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). tanah. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. pestisida. oksigen. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi ..3. pengelolaan air dan pengendalian erosi. . zat pengatur tumbuh). tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. air. hewan. Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman.2003). mantap secara ekologis. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. manusia (tenaga. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. seperti respon terhadap pemupukan. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. tumbuhan dan hewan). Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. 1976). 1. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. tanah dan iklim. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. air. khususnya melalui penambatan Nitrogen. air. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. hewan. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung.

jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. dan seterusnya. Sedangkan tanaman karet. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. misalnya setiap menit. dan kelembaban. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. C. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. sawit. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. Tanaman kina dan kopi. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. maka temperatur semakin menurun. setiap jam. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. terutama untuk padi. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A.3 C (0. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. suhu. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. misalnya.Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim .6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan.01 x elevasi dalam meter x 0. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. B. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. D dan E). Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. sedangkan karet.). Dalam kaitannya dengan tanaman. Semakin tinggi tempat.

dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. . 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). liat berdebu. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. sedangkan kelas 5. debu dan liat. lempung liat berpasir. dan banjir/genangan. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. Agak halus (ah) : Lempung berliat. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5.berdasarkan curah hujan yang berbeda. bahaya erosi. tekstur. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Ketebalan gambut. pasir berlempung. debu. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. lempung liat berdebu. lempungberdebu. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. Ciri yang dapat diketahui di lapangan.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lempung. drainase tanah. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. KTK). Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Kasar (k) : Pasir. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). liat. 2. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah.

erosi alur (rill erosion). 7. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. 6.3. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. 4. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lembab. 5. tanah basah dekat permukaan. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang . tanah basah sampai ke permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. dan erosi parit (gully erosion). Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan.

permeabilitas rendah. KPK rendah. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. Universitas Sriwijaya. (3) Teknologi Pupuk Hayati.com. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). A. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Universitas Sriwijaya. Ir. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Ca. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Mg sangat rendah. Program Pascasarjana.lebih tinggi. 1993). ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. batuan induk granit. aras N. 1993). (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. abu vulkan atau andesit . R. http://dasar2ilmutanah. Palembang. Program Magister (S2). Indonesia. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. Indonesia. P. Abdul Madjid. struktur gumpal.blogspot. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. . stabilitas agregat baik. Indonesia.. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. pH rendah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. 2009. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. Palembang.

dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. Ca. dan Mg. dan B. 2003). Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. serta bahan organik . sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Mo. dan Mg. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Ca. Cu.Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. bereaksi masam. 1. Indralaya. Pemberian bahan ameliorasi kapur. Kayu Agung. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. K. P.01%. Fe. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. Tanah di KP. dan pemupukan N. unsur hara mikro Zn.. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. 1990). P. Papua. dan Prabumulih Sumatera Selatan. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. keracunan Al.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). P. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. bahan organik. Maluku. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Mn. misalnya. Fe. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. Sulawesi. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam.et al.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al.26% di Jawa Barat 13.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. dan atau Mg dan Mo . Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. dan 17. Ca.08%. secara teknis. P. 2007). Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). mengandung Al. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). dan/atau Fe. . K. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. Sumatera. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). Tekstur tanah ultisol bervariasi. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur.

tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat.2004. 1997). Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. 1997). Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. kandungan bahan organik yang memadai. Kandungan bahan organik. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. 1994). dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Ditinjau dari luasnya. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. 2005). Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. Di samping itu. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Hidayat dan Mulyani. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. bergelombang hingga bergunung. Oleh karena itu. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. . 2006). erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. Namun demikian. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro.

Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat.1997). Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. gibbsite dan pseudoboehmite.1-5. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. mampu menjerap P.. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. 2000). yaitu sekitar 4. Muljadi et al. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam.5. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol.

MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. N sangat rendah. luas daun serta kadar P trubus. Program Magister (S2). Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Program Studi Ilmu Tanaman. http://dasar2ilmutanah. berat basah trubus. Palembang. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.Madjid. Ir. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana. Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Palembang. A. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. Program Magister (S2). berat kering akar. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Indonesia. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. berat kering trubus.blogspot. Universitas Sriwijaya. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. (2) Kesuburan Tanah. . Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus.com. 1976). Palembang. P tersedia dan P total yang sangat rendah. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. berat basah akar. Universitas Sriwijaya.2). R. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.

Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. Ca dan Mg. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. Secara umum. Peningkatan takaran P. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. semakin tinggi pula nilai pH tanah. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. baik kalsit maupun dolomit. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. . Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. semakin tinggi takaran P-alam.

Klebsiella aerogenes.Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.3881 ppm dan 280. dan . 575. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. laktat. berat daun segar 4 tanaman per pot. P tersedia. Klebsiella aerogenes. glutamat. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. Chromobacterium lividum. diantaranya asam sitrat. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. KTK . suksinat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. fumarat. Megaterium sebagai inokulan padat. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Mg dan K tertukar rendah . kadar N total rendah. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. kadar P tersedia sangat rendah. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0.48 g. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Ca tertukar rendah. KTK rendah dan tekstur silt loam . Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. oksalat. Mg2+. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Chromobacterium lividum dan B. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). pH meningkat ke arah netral. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Fe2+. dan B.) di Tanah Marginal dengan pH rendah.22 g.15 g tanaman-1. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . malat. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. glioksilat.

Program Magister (S2). A. Program Studi Ilmu Tanaman. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999).blogspot. maka pH tanah pun semakin meningkat.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Palembang. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 903. Palembang. Ir. 208. (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). 207.42 g atau ada kenaikan 877.81%. Abdul Madjid.67%. Palembang.30%. Program Magister (S2).87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.com. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.63%. (3) Teknologi Pupuk Hayati.67%. Universitas Sriwijaya. R. http://dasar2ilmutanah.606. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 354. Program Pascasarjana. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. 2009. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.75%. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. dan 61. Program Pascasarjana. Indonesia. Universitas Sriwijaya. 930. 203. 217. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. Indonesia.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. kascing. Program Studi Ilmu Tanaman.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.

pupuk kandang. Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Kandungan hara rendah. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. . total ruang pori. TSP 100 kg / ha. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. mempertahankan kelengasan tanah .IV. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat.1. KCI 50 kg / ha. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.perdu dan pohon. bobot volume. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. 100 kg / ha Urea. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. 100 kg TSP. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. misalnya . Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . semak . Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. 3. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman.2007). diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. 2. hijauan tanaman rerumputan. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Ketersediaan unsur hara lambat. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . bahan tanaman dan limbah. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. plastisitas dan daya pegang air.

Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Pengapuran mungkin diperlukan. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. . tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan.Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. 2005). (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. 2006).2. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. 2003). Seperti halnya pupuk organik. dan K. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . 4. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. meningkatkan ketersediaan P. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. P.

Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. lingkungan edapik. 2007). Peningkat ketersediaan hara 3. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Pemantap agregat tanah 6.1993). Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. yang tampak pada parameter . Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. 2002). Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al. yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. 4. Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang.6 menjadi 5. Mikoriza.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. Azospirillum dan Azootobacter. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Penyedia hara 2.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . Bakteri pelarut fosfat. maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. 2003). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali.3.

Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. berat kering trubus. Oleh karena itu. . merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. luas daun serta kadar P trubus. Oleh karena itu. 2007). berat basah trubus. Bakteri penambat N2. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. bersimbiose dengan tanaman legum. putida sama baiknya dengan P. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. mikroba pelarut fosfat. 2002). Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Pemberian BPF P. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. dan sorgum. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. berat basah akar. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. 2002). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. Untuk meningkatkan berat basah. cantel. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. terong dan kubis. Azospirillum. tomat. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. putida. jagung. Namun. berat kering akar. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. gandum dan cantel (Sutanto.tinggi tanaman 10 dan 45 HST. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. padi. bawang putih. penggunaan Rhizobium sp. dan cendawan mikoriza arbuskula.

Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. Zn.Mikroba pelarut fosfat. ketersediaan hara rendah. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. bahan organik tanah rendah. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. dan Cu. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA. Kemampuan asosiasi tanaman. . terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar).4. 4. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman.umumnya dari spesies Glomus. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. Gigaspora.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. dan Acaulospora. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah.

Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli).tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: .Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. Selain itu. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Menambah tanaman penguat teras. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. dan berbagai sistem wanatani. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. terutama tanaman tahunan. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . lahan tegalan. (3) meningkatkan laju infiltrasi. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). guludan dibuat miring terhadap kontur. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. 2006). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Pada usahatani lahan kering. Pada musim pertama di awal musim hujan. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim.jagung + kacang tanah.

kaliandra. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. 1984). Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman..Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. kemiringan lahan. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. . Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. Mempunyai sistem perakaran intensif. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. akasia. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Di Filipina. gamal. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. sehingga mampu mengikat air. b. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. c. mudah dilaksanakan. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. rumput gajah dan rumput benggala.a. murah dan dapat diterima oleh petani. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi.

Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Kesuburan Tanah. Hasil penelitian Agas et al. Program Studi Ilmu Tanaman. http://dasar2ilmutanah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program .49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. mempengaruhi distribusi air. Abdul Madjid.Contoh kondisi pertanaman alley cropping. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah.blogspot. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. tengah dan atas dari lorong. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Program Magister (S2).16 .Selain efektif mengendalikan erosi. MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Transmisivitas air menurun dari 0. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . Palembang. Universitas Sriwijaya. Selain perbaikan sifat fisik tanah. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. R. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Propinsi Sumatera Selatan. 2009. 0. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Indonesia. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.13 dan 0.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. Palembang. Diposkan oleh Dr. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar.com.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Ir. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar.

Mn.files. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. bebasbanjir2025. feiraz. Dinas Pertanian Jember. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. Program Pascasarjana. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. keracunan Al. Hal. Propinsi Sumatera Selatan. http://warintek. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam.com (diakses Mei 2009) Anonimous. 2008. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Setyati.YH. 2. A.Magister (S2). Dan Irman.M.Budidaya Lorong.D. Arief. 7(2):94-103. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah .go.S.C.files. 2005.com (diakses Mei 2009) Bertam. 1997. Jurnal Akta Agrosia . dan/atau Fe. Arief. 1665-1675.D dan Mujib.J.I dan Sopandie.id (diakses 8 April 2009). Palembang. 2005. Universitas Sriwijaya. 2006.bantul. Puslitbang Tanaman Pangan. dan atau Mg dan Mo 3. Kesimpulan 1. 8(2): 52-55. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah.Y. Barus. Geografi tanah Indonesia.2009. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . P. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. Kusuma. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Mansur. Universitas Jember Jurusan FMIPA . Indonesia.wordpress.Setiadi. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. 2007. Balitbangtan Deptan. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. oxisols dan spodosol serta inseptisol .wordpress. Ca. . Budidaya Tanaman Jagung. pengapuran.

. Al-dd. Hasanudin. Syed Oman.2004. NA.Edisi 1.com (di akses Mei 2009). H. Ismail.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. A. Hiatan06.2007. azotobacter dan bahan organic pada ultisol. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. 1993. Edisi khusus No 1: 1-4. Mulyani.2007. S. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. Shamshuddin & S.files. Pembentukan dan Profil Tanah. Mitriani dan Barchia F.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Jurnal Akta Agrosia . Pengapuran Tanah Pertanian.65. 1993.. 2007. Plant & Soil 151: 55. 2005. Kanisus Yogyakarta. G. Puslitbangtan.E. . Departemen Pertanian.AK. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara.Ganggo. 2003.Universitas Bengkulu.B. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. 5(2): 83-89. Dasar Dasar Ilmu Tanah. 2008. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Deptan. Himatan. Kuswandi. Dan A. Handayanto. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Badan Litbang Pertanian. J. Perbedaan respon keterkaitan pH. Mayadewi. Mardinus dan H.R.. Hal. 1997. Hasanudin.Hasanudin. Junedi. 4(2) : 97-103. 1656-1664. Hakim. B. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Lahan Kering untuk Pertanian. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. 2005. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan . N. 1993. pp 139165. Joy. Raja Gravindo Persada. H. 273 p. Universitas Lampung 17-18 November 2008. Ismail. 2007.Jakarta ..wordpress. Muchtar. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . kalsit dan dolomite. Hardjowigeno. Hanafiah. Hidayat. Pustaka Adipura. Akademika Pressindo. pp 8-35. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth.K. Edisi 2. 2006.Hairiyah. Jakarta.

Bumi Aksara Jakarta.G. 2000. Ismail. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. ES. Hal. 1996. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.Penerapan Pertanian Organik.T. Notohadiprawiro. 2006. 31 (3): 100-106. Fakta dan Implikasi Pertaniannya.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. 2007. Tahun II No. S.Edisi 3 . 2006. 2003. Nursyamsi. 1994. Noor A. M.. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Notohadiprawiro.B. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol.) Aciar Monograph 13: 62-68.Agrosains 2(2):54-58.S. Sunaryo dan Suryono. N.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. 1990. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.6. Subandi.2003. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem.dan Subandi. Pandang. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. Deptan. dan A. N. Puslitbangtan Deptan. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Puslitbangtan..G. Bogor. Dalam Jurnal Tanah Tropika.A. Sutanto.gulma dan hasil jagung manis. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.. Kanisus Jakarta. Hal. Suharta. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. Kanisus Jakarta..No. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam".. Edisi 5. Rachman S.O. Widjaja-Adhi.Edisi 3. Adnyana dan D. M. Jurnal Agritrop.pp 91-106. Siswanto. Nursyamsi. T. D.M. Pp 177-184. Pusat Penelitian Tanah dan . Prihartin. Subagyo. Rahim. 1994. H. S. 28(4): 163-169. Buletin Agronomi. I. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi.2002. Ultisol. Nanan.Bogor. 1676-1686. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.Bogor Partohardjono. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.. 6(2) : 71-81. 2000. Sinukaban.T.. Penerapan Pertanian Organik . 2006.. Sutisni dan I P.2002.2.R. Pusparajah (Eds. D. Croswell & E. Pengendalian Erosi Tanah. Buletin Pusat Penelitian Marihat . 2006. Faperta IPB. Subandi. Darmawan. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Hal 143-182. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. 1997.

G. A. Abdul Madjid. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. 1950. Prahoro. Bogor. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. Soil Sci. 4(1) : 1-5. Yulianti. Sudirja. Sudaryono. Edisi 4. N. UGM.Solihin. Suryantini.Jurnal Hijau.S. H. Taufiq. Palembang.Yogyakarta.. Jurnal Nature Indonesia. Program Magister (S2).Biodiversitas. Widawati. 2006. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 2008. Kuntyastuti. Diposkan oleh Dr. Program Studi Ilmu Tanaman. Wild. . Yogyakarta. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. pp 23 -32. 2005.MA dan Rosniawati.Agroklimat.A. Reaksi Tanah . Universitas Sriwijaya.Pupuk Hayati . Indonesia. 7(1):1014. J. S. Propinsi Sumatera Selatan. Wulandari. 2008.A. dan C. 2007.2(5) : 23 – 43.Universitas Padjajaran.2006. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. Ir. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Ilmu Kesuburan Tanah.Manshuri. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi).NW.) di Tanah Marginal. Triwardani. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 1: 221-238 Yuwono. 2003. S dan Suliasih . 2001.R. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam. The retention of phosphate by soils. Program Pascasarjana.

(2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase.70 juta hektar dan 1. 2001). Program Magister (S2).16 juta hektar.5 m. Sumatera. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. tidak berstruktur. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Propinsi Sumatera Selatan.1 g ml-1. ketebalan lebih dari 0.61 juta ha. 2006). 1. Program Magister (S2).480 ribu hektar. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. warna coklat hingga kehitaman. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. Universitas Sriwijaya. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang.** : Program Studi Ilmu Tanaman. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. tekstur debu lempung. diikuti oleh Kalimantan Tengah.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P.48 juta hektar. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. Indonesia. 1997). umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Papua serta beberapa pulau Kecil. Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. . Palembang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. konsistensi tidak lekat-agak lekat. Indonesia. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Program Pascasarjana.

Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. dalam keadaan yang selalu tergenang. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. Menurut Everret (1983). Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. Di alam. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. gambut sering bercampur dengan tanah liat. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Tanah gambut terdapat di cekungan. 2. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. 1996).1 g ml-1 atau lebih.1990): 1. . Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . misalnya pada cekungan atau depresi. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %.

Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. Berdasarkan penyebaran topografinya. Jawa Barat). 1996). bersifat sangat asam.4 g cm-3). Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap).5 – 6 meter. bergantung pada tahapan dekomposisinya.5 – 16 meter. b. dan c. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. berasal dari sisa tumbuhan rawa. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Rawa Lakbok (Ciamis. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. dan Segara Anakan (Cilacap. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. ketebalan 0. Saprists. bersifat agak asam. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). hampir tidak berserabut.05-0.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. hampir selalu tergenang air. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. bobot isi rendah (0. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. mempunyai ketebalan 0. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. Fibreists. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. Jawa Tengah). 2000).dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. berat jenisnya besar dari 0. . • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Hemists.

yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 .100 cm. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. pengelolaan air. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. di kawasan hutan gambut tropika. emisi karbon. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Menurut pengamatan di lapangan. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. Lahan gambut dalam. Lahan gambut sangat dalam. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga.300 cm 4. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Pasalnya. Dengan demikian. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Dalam kondisi alami. Lahan gambut dangkal. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Berdasarkan kedalamnya. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . yaitu: 1. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Lahan gambut sedang. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. . penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. 2. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut.200 cm 3. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa.

fosfor (P).05 CaO 4.00 0. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. . kalium (K). Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. oligotrofik (kandungan mineral.50 2. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. Kriteria kimia gambut eutropik. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1.25 0.00 2. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. (1996).03 P2O5 0. kandungan basa sedang). dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988).00 0.10 0.195 g cm-3. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0.00 5.80 0.10 0. mesotropik. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. agak dalam (100-200 cm). Fleisher (1965. Berdasarkan status hara. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. pasir kuarsa.25 Abu 10. kalsium (Ca). Tabel 1. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air.00 1. reaksi gambut netral atau alkalin). atau endapan liat nonmarin. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0.Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Menurut Subagyo et al. yaitu (1) gambut eutropik yang subur.20 0. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2.075 sampai 0. Subagyo et al.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N).195 g cm-3. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. yaitu dangkal (50-100 cm).

Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Permasalahan Pada Tanah Gambut . Ir. 2009. pH kurang dari 4. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. A. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. pH berkisar antara 4 sampai 5.blogspot. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. (3) rendah. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman.Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. http://dasar2ilmutanah. (2) sedang. Universitas Sriwijaya. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. Indonesia. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr.com. Universitas Sriwijaya. Palembang. Palembang. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. R. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. pH lebih dari 5. (2) Kesuburan Tanah. Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Indonesia.

Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. kerapatan lindak. A. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. 1988). Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. . dalam keadaan tergenang. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. bahan mineral. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. air dan udara. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar.2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. lapisan bawah. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. daya memegang air tinggi.1 gr/cc untuk gambut kasar. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. irreversible dan subsiden. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. kering tidak balik. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. 1988).2 gr/cc pada gambut halus. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. dan sekitar 0. 1996).

Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. 1986). 2000) Sebagai contoh di Malaysia. Harjowigeno. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan.05-0. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. 1991). demikianpula pada daerah rasau Jaya. jika lapisan gambut terkikis.000 % bobot. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. 1988. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. rendahnya bulk density (0. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). 2001). kearah kubah gambut akan menebal. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. 1996). Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme.

tanah mineral. pohon rebah. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik.yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. dan konstruksi bangunan (jembatan. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. 1988). Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. jalan sulit dilalui kendaraan. Sebagai akibatnya. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. . Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . dan abu. pupuk kandang. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. B. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). 3. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. saluran drainase) terganggu atau ambles. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan.8 cm/bulan.3-0. Semakin tebal gambut. kompos. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Karenanya. jalan. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara.

3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. 1999). Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham.3 (Andriesse. dan Mg menjadi sangat rendah. 1988). dan Sagiman. Ca. yaitu antara 35.1 sampai 65. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. 2001). Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. Unsur hara Cu. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. 1996). Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. kalium. dan natrium. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. Ca. Bo dan Mo. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. 1986. 1991). dalam Mutalib et al. K. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. kesuburan sedang jika KB- .1986. 1996. P. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. magnesium. Hardjowigeno. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. Mg. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah.6 cmol kg-1 tanah. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB.Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat.

Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al.1997). yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . meningkatkan pH. Menurut Sastrosupadi et al. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). Dalam era lingkungan dan globalisasi.nya berkisar antara 50% sampai 80%. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. 1993). baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. Gambut mempunyai sifat khas. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. 1996). 1995). Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. menetralkan Al. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. (Prasetyo. Selain itu. Hasil penelitian Mawardi et al. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni.

Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. 1978). Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander.. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. aluminum dalam larut tanah. 1997). Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. 1991). Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah.Soepraptohardjo. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. hemisellulosa. media pembibitan. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. dan protein. dan akuakultur. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. 1977). Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. C. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. dibagian 80 cm teratas profil tanah. besi. 1997). . tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. 1974). Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C.

Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. 1998. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. 1999). 2. . Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. D. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. 2005). Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. japonicum ). serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. dengan tujuan: 1. kemasaman tanah tinggi. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Yusuf. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. et a1. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. et a1.

Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna.Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. 1.3. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). sebagai sarana transportasi hasil panen. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Sistem parit/handil dicirikan oleh: . kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut.

maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. E. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. apakah untuk sawah. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 .5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Untuk mengatur air pasang surut. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. 3. 1996). Lahan usahatani umumnya berjarak 0. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. 7. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. tetapi sewaktu surut. 2. . luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas.5 .4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. 4.1. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. surjan atau lahan kering. 6. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. juga dapat dibuat pondok-pondok. 2. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. Di atas pematang ini. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. 5. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut.

yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. 2002). Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. 2002). Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. piknik dan perburuan. Parish. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. 2000. 2005). Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. 2002). termasuk 750. kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.. 1998). Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19. telah membakar sekitar 1. Meskipun demikian. . meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. 2002. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. Hanya saja jika tidak terkendali.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini.. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas.. persiapan lahan oleh petani. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al.. 2002) dan di Sumatra (Sanders. Musa & Parlan.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO.000 ha di Kalimantan. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. 2002). Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah.

ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. Di kawasan bergambut.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. kehilangan potensi ekonomi. bahkan oleh hujan lebat sekalipun.Dalam skala besar. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. cara penanganannya pun berbeda. stabilitas lingkungan. Pada tipe yang pertama ini. 2000. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. 2000. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. gangguan atas dinamika flora dan fauna. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. Siegert et al.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Di samping itu. 2000). kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. . dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. Selain itu. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. 2002). dedaunan dan bekas kayu yang gugur. Page et al. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut).

Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra.6 Gt C. lanjut usia. • Pencegahan kebakaran . 8.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra.761 kasus ISPA.800 asma. 58. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin.. Selain itu. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim.. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih. ibu hamil dan anak balita. 41. 2000). Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. 2002). yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. 2002). Selain itu. 298. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara.145 bronkitis. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. dan 1. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. dan terpadu. serba-cakup (comprehensive). Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian.446. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. dan 202. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara.095 bronkitis.2–0.125 asma. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan. karena kehilangan lapisan gambut.

pemberian ijin bagi kegiatan. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. 7. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). • Pengendalian kebakaran . Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. 2. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). perencanaan tata guna hutan/lahan. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). 3. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. hingga pemantauan dan evaluasi. 6. 4. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. 5. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. Pengembangan sistem penegakan hukum. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing).

seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. apalagi yang masih berhutan. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. 2002). Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. dan pemadaman api. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. kesiagaan. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. harus dihindari/dilarang. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. .

Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.blogspot. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah. A.com. R. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) . (2) Kesuburan Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr.Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Ir. Abdul Madjid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful