Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

seperti akumulasi bahan organik yang tinggi.2-1. Di silawesi tengah. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. Akan tetapi beberapa adalah aquod. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. suatu spodosol umum. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). 2006). seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0. cenderung menaik kelapisan bawah. KB semuanya sangat rendah sampai. terdapat di kalimantan tengah.1 – 9. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra.16 juta ha atau 1.9) di seluruh lapisan tanah. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. berwarna putih dan putih kekelabuan. tengah.15 juta ha. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah.Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. kemudian dikalimantan barat 0. Sebagian dari mereka adalah orthod. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir.3 – 4. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. 2006) . serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa.95) %. Pada permukaan tanah. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam.42 juta dan kalimantan Timur 0. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3.2 cmol (+)/kg tanah). Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3.2 – 0.1 % wilayah dataran indonesia.5)%.51 juta ha. sangat rendah sampai rendah.

Selain itu. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. Gelisols. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. Sedangkan dari . o. Inceptisols. dan Ultisols. bahan induk yang keras dan asam.5 % / tahun. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. Mollisols. tergenang dan akumulasi bahan gambut. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. Entisols. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2.1. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. Spodosols. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. w). Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. kimia. Misalnya. dan (2) tempat akar berjangkar. Oxisols. serta kebakaran. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. eksploitasi deposit bahan tambang. Histosols. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. Misalnya. deforestasi dan degradasi hutan. Inceptisols. suhu yang dingin/membeku. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Gelisols. r. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. Aridisols. tanah mempunyai dua fungsi. sehingga terjadi kerusakan ekosistem.2. Histosols. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. kekurangan air. Entisols. sehingga menambah biaya produksi. Ultisol. Oleh karena itu. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. pengaruh salinisasi/penggaraman. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. Dengan demikian. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Andisols. bahkan hilang. b.

Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. dll. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif.laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. . Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). kompos. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. pemadatan. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. limbah. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok.

khususnya melalui penambatan Nitrogen. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. 1. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. manusia (tenaga. zat pengatur tumbuh). unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. 1976). Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia .3. tanah. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. oksigen. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari.2003). air. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi . pestisida. pengelolaan air dan pengendalian erosi. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). seperti respon terhadap pemupukan. air.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. tanah. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. yaitu topografi. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman.. hewan. hewan. mantap secara ekologis. . mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ).HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). tanah dan iklim. air. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. tumbuhan dan hewan). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan.

dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm.). Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. B. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. setiap jam. sedangkan karet. Tanaman kina dan kopi. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. misalnya. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah.Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Dalam kaitannya dengan tanaman. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. suhu. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. D dan E). terutama untuk padi. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. dan seterusnya. maka temperatur semakin menurun. C. Sedangkan tanaman karet. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. misalnya setiap menit. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. dan kelembaban. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Semakin tinggi tempat.3 C (0. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. sawit. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim . Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi.01 x elevasi dalam meter x 0.

Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. tekstur. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. lempung liat berdebu. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Kasar (k) : Pasir. bahaya erosi. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. Agak halus (ah) : Lempung berliat. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). debu. 2.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. dan banjir/genangan. lempung. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. drainase tanah. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. lempungberdebu. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan.berdasarkan curah hujan yang berbeda. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. lempung liat berpasir. liat berdebu. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. debu dan liat. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. KTK). sedangkan kelas 5. Ketebalan gambut. pasir berlempung. liat. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). . atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4.

Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. dan erosi parit (gully erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 4. 7. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah.3. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang . Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. erosi alur (rill erosion). yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. 6. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah dekat permukaan. lembab. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. tanah basah sampai ke permukaan. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. 5.

Indonesia. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. batuan induk granit. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. KPK rendah. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). Propinsi Sumatera Selatan. 1993). http://dasar2ilmutanah. pH rendah. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. A. P. Universitas Sriwijaya. Palembang. Universitas Sriwijaya. Mg sangat rendah. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. R. Program Pascasarjana. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Universitas Sriwijaya. 1993). vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. Palembang. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. aras N. Program Magister (S2). 2009. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. Program Pascasarjana. permeabilitas rendah. Ir. Ca. struktur gumpal. Program Magister (S2). (2) Kesuburan Tanah. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. Palembang.com. Propinsi Sumatera Selatan.lebih tinggi. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. . abu vulkan atau andesit . Program Studi Ilmu Tanaman. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut.. stabilitas agregat baik.blogspot.

dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. P. keracunan Al. dan B. Sulawesi. serta bahan organik . Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. dan 17. 1990). terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan.08%. K. dan Mg. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Indralaya. Papua. Kayu Agung. 2003).et al. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). secara teknis. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. dan pemupukan N. K. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. Mo. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. dan atau Mg dan Mo . unsur hara mikro Zn. dan Mg. Maluku. Cu. P.01%. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. mengandung Al. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. . Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge).Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. 2007). sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. 1. Ca. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. dan/atau Fe.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al.. Tanah di KP. Fe. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. P.26% di Jawa Barat 13. bereaksi masam. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). Tekstur tanah ultisol bervariasi. Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Sumatera. Ca. Pemberian bahan ameliorasi kapur. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. bahan organik. misalnya. Mn. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur.Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Ca. Fe. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. P.

Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. Kandungan bahan organik. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. kandungan bahan organik yang memadai. . kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. bergelombang hingga bergunung. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. Hidayat dan Mulyani. Di samping itu. Ditinjau dari luasnya. 1997). 2006). Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Namun demikian. Oleh karena itu. 2005). Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. 1997). dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. 1994). yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya.2004. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro.

Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Muljadi et al.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .1-5. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. gibbsite dan pseudoboehmite. 2000). Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat.5. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat.. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. yaitu sekitar 4.1997). yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. mampu menjerap P. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk.

Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. luas daun serta kadar P trubus. Palembang. berat basah akar.Madjid. Indonesia.2). Ir. Propinsi Sumatera Selatan.com. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Palembang. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. N sangat rendah. berat basah trubus. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Indonesia. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. A. Palembang. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. 2009. (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. R. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. . P tersedia dan P total yang sangat rendah. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. (3) Teknologi Pupuk Hayati. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. http://dasar2ilmutanah. Indonesia. berat kering trubus. Universitas Sriwijaya. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 1976). Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. berat kering akar.

Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Ca dan Mg. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. baik kalsit maupun dolomit. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Secara umum. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. semakin tinggi pula nilai pH tanah. . Peningkatan takaran P. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. semakin tinggi takaran P-alam. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K.

22 g. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai .Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. dan . fumarat. glutamat. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. P tersedia. KTK rendah dan tekstur silt loam . serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. Mg dan K tertukar rendah . Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. berat daun segar 4 tanaman per pot. kadar N total rendah. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.15 g tanaman-1. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. malat. Chromobacterium lividum dan B. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. kadar P tersedia sangat rendah. Fe2+. laktat. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. suksinat. 575. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Mg2+. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Ca tertukar rendah. pH meningkat ke arah netral. dan B. oksalat. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.3881 ppm dan 280. diantaranya asam sitrat. Chromobacterium lividum. Klebsiella aerogenes. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.48 g. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. glioksilat. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. KTK . Klebsiella aerogenes. Megaterium sebagai inokulan padat.

23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. maka pH tanah pun semakin meningkat. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . 930. http://dasar2ilmutanah. 217. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. 207. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. R. 208. 2009. Indonesia. kascing. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.606. Universitas Sriwijaya. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. 203. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.30%.42 g atau ada kenaikan 877. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah.81%. Propinsi Sumatera Selatan. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). Program Pascasarjana.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Indonesia. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Ir. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. dan 61. 354. Palembang. Program Magister (S2).84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Abdul Madjid.63%. Propinsi Sumatera Selatan.67%. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.blogspot. (2) Kesuburan Tanah.67%.com. 903. A.75%.

Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. pupuk kandang. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan.1. TSP 100 kg / ha. bobot volume. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. total ruang pori. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.2007). 3. 2. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. bahan tanaman dan limbah. plastisitas dan daya pegang air. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . . mempertahankan kelengasan tanah . tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. dapat menambah unsur hara dalam tanah .perdu dan pohon. 100 kg TSP. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha.IV. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. semak . Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Ketersediaan unsur hara lambat. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. 100 kg / ha Urea. misalnya . KCI 50 kg / ha. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. hijauan tanaman rerumputan. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. Kandungan hara rendah. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47.

Pengapuran mungkin diperlukan. . Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . P. 2005). sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. 4.2. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. 2006). Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. meningkatkan ketersediaan P. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. 2003). sehingga diberkan pada takaran yang rendah. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. dan K. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . Seperti halnya pupuk organik. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu.Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman.

Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. 4. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Pemantap agregat tanah 6. 2007). Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. 2002). Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat.6 menjadi 5. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. yang tampak pada parameter . Azospirillum dan Azootobacter. Penyedia hara 2. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk.1993).3.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . lingkungan edapik. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. 2003). Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. Bakteri pelarut fosfat. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Mikoriza. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Peningkat ketersediaan hara 3. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah.

Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. dan cendawan mikoriza arbuskula. bersimbiose dengan tanaman legum. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. Oleh karena itu. berat kering trubus. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. 2002). padi. terong dan kubis. gandum dan cantel (Sutanto. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. Untuk meningkatkan berat basah. putida. jagung. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. tomat. . mikroba pelarut fosfat. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. Bakteri penambat N2. Pemberian BPF P. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. 2007). artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. berat basah akar. bawang putih. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. 2002). penggunaan Rhizobium sp. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. dan sorgum. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. Oleh karena itu. luas daun serta kadar P trubus. berat basah trubus. berat kering akar. cantel. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. putida sama baiknya dengan P. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman.tinggi tanaman 10 dan 45 HST. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. Namun. Azospirillum.

CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering.umumnya dari spesies Glomus. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah.Mikroba pelarut fosfat. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. . tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. dan Cu. Kemampuan asosiasi tanaman. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. bahan organik tanah rendah. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Zn. ketersediaan hara rendah. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. dan Acaulospora. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. Gigaspora. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA).4. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. 4. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase.

(3) meningkatkan laju infiltrasi. 2006). membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Selain itu. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. Pada usahatani lahan kering. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. guludan dibuat miring terhadap kontur. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. Menambah tanaman penguat teras. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. lahan tegalan.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. terutama tanaman tahunan. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. guludan dapat dibuat menurut arah kontur.jagung + kacang tanah. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Pada musim pertama di awal musim hujan. dan berbagai sistem wanatani. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli).tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: . Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya.

. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. murah dan dapat diterima oleh petani. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. mudah dilaksanakan. . Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. akasia. gamal. sehingga mampu mengikat air. b.a. Mempunyai sistem perakaran intensif. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. Di Filipina. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. rumput gajah dan rumput benggala. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. 1984). Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. kemiringan lahan. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. kaliandra. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. c.

Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. (2) Kesuburan Tanah. Transmisivitas air menurun dari 0. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.Contoh kondisi pertanaman alley cropping. Program Magister (S2). 0. 2009. tengah dan atas dari lorong. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Program Studi Ilmu Tanaman. A. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Program Pascasarjana.Selain efektif mengendalikan erosi. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. R.16 . tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Universitas Sriwijaya.13 dan 0. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Palembang. Ir. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. mempengaruhi distribusi air.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Hasil penelitian Agas et al. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Propinsi Sumatera Selatan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Universitas Sriwijaya. Palembang.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0.com. Abdul Madjid. Diposkan oleh Dr. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Indonesia. Indonesia. (3) Teknologi Pupuk Hayati. http://dasar2ilmutanah.blogspot. Propinsi Sumatera Selatan. Program . MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana.

Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Mn. keracunan Al.wordpress. Barus. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. Hal. 2005. Dan Irman. Kesimpulan 1. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . Balitbangtan Deptan. 1997. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. P. 8(2): 52-55.Setiadi. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Indonesia. dan/atau Fe.Mansur. Palembang. Dinas Pertanian Jember. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. feiraz. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.com (diakses Mei 2009) Bertam. Setyati.M. Program Pascasarjana. 2005.com (diakses Mei 2009) Anonimous. 7(2):94-103. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol.bantul.YH.C. A.wordpress. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. 2. Budidaya Tanaman Jagung. 2006. Geografi tanah Indonesia.I dan Sopandie.Magister (S2). Universitas Sriwijaya. 2007. bebasbanjir2025.J. http://warintek.D dan Mujib.S.files.Budidaya Lorong. pengapuran. 2008. oxisols dan spodosol serta inseptisol .files. .Y. dan atau Mg dan Mo 3. Ca. Arief. 1665-1675.D. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. Puslitbang Tanaman Pangan. Kusuma. Arief.id (diakses 8 April 2009). Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam.go. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Jurnal Akta Agrosia . Propinsi Sumatera Selatan.2009. Universitas Jember Jurusan FMIPA .

wordpress. Puslitbangtan. Lahan Kering untuk Pertanian. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat..com (di akses Mei 2009). Syed Oman. Hasanudin. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. . Himatan. 2007. pp 8-35.E. Hakim. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Dasar Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung 17-18 November 2008. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong.B. Hanafiah. Perbedaan respon keterkaitan pH. Plant & Soil 151: 55. Shamshuddin & S.K. Dan A. 273 p. Ismail.. 1993.Ganggo. Raja Gravindo Persada. Pustaka Adipura. S. pp 139165. 1656-1664.2007. B. Hal.. H. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Mulyani. Deptan. Mardinus dan H. Hasanudin. Pengapuran Tanah Pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Hiatan06. Badan Litbang Pertanian.. 2005. kalsit dan dolomite. Pembentukan dan Profil Tanah. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai.R. 1993. A. 1997.Hasanudin. Jurnal Akta Agrosia . Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia.Hairiyah. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza.Jakarta . Edisi khusus No 1: 1-4.65. 5(2): 83-89.2004.files. Akademika Pressindo.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Kuswandi. 4(2) : 97-103. Hidayat.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. 1993. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth. 2006. Kanisus Yogyakarta. Joy. 2005. 2003. Junedi. 2008. H. Departemen Pertanian. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan . Hardjowigeno. Ismail. Edisi 2. 2007.Universitas Bengkulu. N. Mayadewi. azotobacter dan bahan organic pada ultisol. G. Mitriani dan Barchia F.Edisi 1. Jakarta. NA. Muchtar.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Handayanto. J.AK. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran.2007. Al-dd.

Siswanto. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. N. Pengendalian Erosi Tanah.T.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak.6. Darmawan. Dalam Jurnal Tanah Tropika. N. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. 1997. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.Edisi 3 .S. Notohadiprawiro. Deptan. Rahim. Tahun II No. Ismail. Subandi. I.O. Adnyana dan D. 1996.T. Nursyamsi. Subandi. T. Hal. Bogor. Nanan. Widjaja-Adhi.. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Sinukaban. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. Buletin Pusat Penelitian Marihat .Edisi 3.. Subagyo. 2003. Ultisol. Sunaryo dan Suryono. Puslitbangtan. dan A.. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. Notohadiprawiro.G.Agrosains 2(2):54-58.. M. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.2002. Noor A. 1676-1686.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. H. Suharta. 28(4): 163-169. Kanisus Jakarta. Jurnal Agritrop. Croswell & E.2. S.dan Subandi. D. Puslitbangtan Deptan.. 1994. Rachman S.G. S. Prihartin. 2006. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam".) Aciar Monograph 13: 62-68.B. 1994. 31 (3): 100-106. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Bumi Aksara Jakarta. 6(2) : 71-81. Sutisni dan I P.. 2006.pp 91-106.No.Bogor. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. Penerapan Pertanian Organik . 2007. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. D. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Sutanto. Pusat Penelitian Tanah dan . M. ES. Hal.R. Edisi 5..Penerapan Pertanian Organik.A. Pusparajah (Eds.2002. 1990. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. 2000. Hal 143-182.2003. Pandang. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Kanisus Jakarta. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol.Bogor Partohardjono.gulma dan hasil jagung manis. Faperta IPB. Buletin Agronomi. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. 2006.M.. 2006. Pp 177-184. Nursyamsi.

Kuntyastuti. Suryantini. dan C. Yogyakarta. Palembang. S dan Suliasih . Wulandari. Reaksi Tanah . Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.Yogyakarta. Bogor. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Propinsi Sumatera Selatan. . Ilmu Kesuburan Tanah.2(5) : 23 – 43..Pupuk Hayati .Jurnal Hijau. Sudaryono. Sudirja.2006.Universitas Padjajaran. Prahoro.NW. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. 1: 221-238 Yuwono.) di Tanah Marginal. Diposkan oleh Dr. 1950.Agroklimat. Program Studi Ilmu Tanaman. A. Edisi 4. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. 2005.G. The retention of phosphate by soils. UGM.Solihin. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.R. Yuwono NW dan Rosmarkam A. 7(1):1014. Ir. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 2001. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. N. S. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam.Biodiversitas. Widawati. 2007. Program Magister (S2). 2008. Wild.Manshuri. 2008. 2006. 2003. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Soil Sci.A. Jurnal Nature Indonesia. H.MA dan Rosniawati. Taufiq. Abdul Madjid. J.A. Indonesia. pp 23 -32. Triwardani. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.S. Yulianti. 4(1) : 1-5. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana.

Universitas Sriwijaya. 1997). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). warna coklat hingga kehitaman. konsistensi tidak lekat-agak lekat.16 juta hektar.70 juta hektar dan 1. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. Papua serta beberapa pulau Kecil. Indonesia. tekstur debu lempung. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan.1 g ml-1. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir.480 ribu hektar. 2006).5 m. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. Program Pascasarjana. diikuti oleh Kalimantan Tengah. .48 juta hektar. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Sumatera. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Program Studi Ilmu Tanaman. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Indonesia. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. 1.61 juta ha.** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Palembang. 2001). Propinsi Sumatera Selatan. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. ketebalan lebih dari 0. Palembang. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. tidak berstruktur.

1 g ml-1 atau lebih.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. Di alam. 1996). Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. dalam keadaan yang selalu tergenang. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. . Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan. 2. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat.1990): 1. misalnya pada cekungan atau depresi. Menurut Everret (1983). Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %.

• Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. berat jenisnya besar dari 0.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). 1996). ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. Saprists. Jawa Barat). gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. Fibreists. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. bergantung pada tahapan dekomposisinya. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). dan Segara Anakan (Cilacap. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. berasal dari sisa tumbuhan rawa. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. hampir tidak berserabut. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Berdasarkan penyebaran topografinya. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. ketebalan 0. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. Hemists. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak.5 – 6 meter. Rawa Lakbok (Ciamis. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. . • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. b. • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut.5 – 16 meter. dan c. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). bersifat agak asam.4 g cm-3). Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. hampir selalu tergenang air.05-0. bobot isi rendah (0. mempunyai ketebalan 0. Jawa Tengah). Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. bersifat sangat asam. 2000).

Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. Lahan gambut sedang. yaitu: 1. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi.200 cm 3. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. 2. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . .lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Lahan gambut dalam. Pasalnya. Lahan gambut dangkal.300 cm 4. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Lahan gambut sangat dalam. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.100 cm. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. emisi karbon. Menurut pengamatan di lapangan. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . Dengan demikian. pengelolaan air. Berdasarkan kedalamnya. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . Dalam kondisi alami. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. di kawasan hutan gambut tropika. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. kandungan basa sedang). fosfor (P).00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). Berdasarkan status hara. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat.10 0. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.00 2. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.25 0. pasir kuarsa. Berdasarkan tingkat kesuburan alami.03 P2O5 0. Subagyo et al. reaksi gambut netral atau alkalin).50 2. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. agak dalam (100-200 cm). Tabel 1. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin.00 1. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0.80 0.Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2.00 0.10 0. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).20 0. Menurut Subagyo et al. (1996). gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. kalsium (Ca). Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). Kriteria kimia gambut eutropik. Fleisher (1965. . dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. oligotrofik (kandungan mineral. atau endapan liat nonmarin. kalium (K).195 g cm-3. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. yaitu dangkal (50-100 cm). mesotropik. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang.25 Abu 10. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin.00 0.00 5.05 CaO 4. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0.195 g cm-3.075 sampai 0.

(3) rendah. Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.com. Permasalahan Pada Tanah Gambut . A. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Palembang. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi.Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Ir. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. pH kurang dari 4. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Palembang. Palembang. Program Pascasarjana. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. pH berkisar antara 4 sampai 5. (2) sedang. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. R. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. pH lebih dari 5.

air dan udara. dan sekitar 0. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. irreversible dan subsiden. .2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. bahan mineral. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. kering tidak balik. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. A. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut.2 gr/cc pada gambut halus. 1988). Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. dalam keadaan tergenang.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. daya memegang air tinggi. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. 1988). lapisan bawah. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. kerapatan lindak. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. 1996). Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut.1 gr/cc untuk gambut kasar. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi.

2001). Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1.000 % bobot. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. 1991). demikianpula pada daerah rasau Jaya. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Harjowigeno. Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. 1988. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. jika lapisan gambut terkikis. 2000) Sebagai contoh di Malaysia. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. kearah kubah gambut akan menebal. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. 1996). di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik.05-0. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. 1986). Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. rendahnya bulk density (0. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist.

saluran drainase) terganggu atau ambles. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah.yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase.3-0. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut.8 cm/bulan. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. Karenanya. 3. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. dan konstruksi bangunan (jembatan. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. pohon rebah. pupuk kandang. 1988). Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. Sebagai akibatnya. . Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. jalan sulit dilalui kendaraan. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). kompos. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Semakin tebal gambut. tanah mineral. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). jalan. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. dan abu. B. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur .

Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. 2001). biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. dalam Mutalib et al. 1988).1986. dan natrium. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Ca.1 sampai 65. 1986. 1996). 1999). Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi.Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. kesuburan sedang jika KB- . P. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. dan Sagiman. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham.6 cmol kg-1 tanah. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. 1991). Bo dan Mo. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. dan Mg menjadi sangat rendah. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium.3 (Andriesse. Mg. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. magnesium. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. Ca. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. Unsur hara Cu. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Hardjowigeno. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. 1996. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. yaitu antara 35. K. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. kalium.

1997). Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. meningkatkan pH. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan.nya berkisar antara 50% sampai 80%. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. (Prasetyo. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. Gambut mempunyai sifat khas. Menurut Sastrosupadi et al. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). Hasil penelitian Mawardi et al. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. 1995). Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. 1993). Selain itu. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. menetralkan Al. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. Dalam era lingkungan dan globalisasi. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. 1996). Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia.

dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. 1978). Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih.. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. C. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. dibagian 80 cm teratas profil tanah. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. 1977). dan protein. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. .Soepraptohardjo. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. 1997). media pembibitan. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. besi. aluminum dalam larut tanah. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. 1991). hemisellulosa. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. 1974). Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. 1997). dan akuakultur. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida.

et a1. et a1. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. japonicum ). Yusuf. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. 1998. serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. 2005). Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. D. . 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. kemasaman tanah tinggi. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. 2. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. dengan tujuan: 1. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. 1999).

telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. sebagai sarana transportasi hasil panen. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman.3. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. 1. Sistem parit/handil dicirikan oleh: .Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang.

5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. . Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. juga dapat dibuat pondok-pondok. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . 4.5 . 6. Untuk mengatur air pasang surut. tetapi sewaktu surut. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. E. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. 5. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. surjan atau lahan kering. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. Di atas pematang ini. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. 3. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. apakah untuk sawah. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. 2. 7. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. 1996).1. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. 2. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman.

yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978.000 ha di Kalimantan. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. 2002). persiapan lahan oleh petani. telah membakar sekitar 1. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al. Meskipun demikian.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. Hanya saja jika tidak terkendali. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. . 2002. termasuk 750. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19.. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. 1998). 2000. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. piknik dan perburuan.. 2002)..Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. Parish. Musa & Parlan. 2002) dan di Sumatra (Sanders. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. 2002). pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. 2005). 2002).. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah.

000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. cara penanganannya pun berbeda. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. 2000).83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). bahkan oleh hujan lebat sekalipun. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. Selain itu. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. Di kawasan bergambut. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. Page et al. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. stabilitas lingkungan. 2002). kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. Pada tipe yang pertama ini. gangguan atas dinamika flora dan fauna. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Di samping itu. 2000.Dalam skala besar. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. kehilangan potensi ekonomi. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. . Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. 2000. Siegert et al. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1.

Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan.6 Gt C. ibu hamil dan anak balita.446. 2002).800 asma. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. serba-cakup (comprehensive). Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan. • Pencegahan kebakaran . Selain itu. 8. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian.. dan 202..145 bronkitis. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. 41. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. dan terpadu. Selain itu. lanjut usia. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. dan 1.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. 58. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara.125 asma. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra.2–0. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih.761 kasus ISPA. 298. 2000). Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. karena kehilangan lapisan gambut.095 bronkitis. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. 2002). akibat rendahnya kecepatan angin permukaan.

Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). perencanaan tata guna hutan/lahan. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. 7. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. 2. 5. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). 6. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). pemberian ijin bagi kegiatan. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. • Pengendalian kebakaran . hingga pemantauan dan evaluasi. Pengembangan sistem penegakan hukum. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. 4. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. 3. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah.

Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. 2002). (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. dan pemadaman api. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. harus dihindari/dilarang.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. . Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. kesiagaan. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. apalagi yang masih berhutan. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan.

com.Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) . Ir. (2) Kesuburan Tanah. A. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Abdul Madjid.blogspot. http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful