P. 1
Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering-1

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering-1

|Views: 493|Likes:
Published by Ilona Noya

More info:

Published by: Ilona Noya on Feb 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

2006).2 cmol (+)/kg tanah). seperti akumulasi bahan organik yang tinggi. Pada permukaan tanah. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir.15 juta ha. kemudian dikalimantan barat 0.2-1. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol.5)%. Di silawesi tengah. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0.16 juta ha atau 1. tengah. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. Sebagian dari mereka adalah orthod.51 juta ha. berwarna putih dan putih kekelabuan. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah.1 % wilayah dataran indonesia. terdapat di kalimantan tengah. Akan tetapi beberapa adalah aquod. cenderung menaik kelapisan bawah.9) di seluruh lapisan tanah.3 – 4.42 juta dan kalimantan Timur 0. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra.Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. suatu spodosol umum. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. 2006) . dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah.95) %. KB semuanya sangat rendah sampai. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.1 – 9. sangat rendah sampai rendah.2 – 0. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir.

sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. Oleh karena itu. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. deforestasi dan degradasi hutan. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah.2. kimia. pengaruh salinisasi/penggaraman. Mollisols. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. Entisols. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). bahkan hilang. bahan induk yang keras dan asam. eksploitasi deposit bahan tambang. Sedangkan dari . Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. dan Ultisols. w). Misalnya. sehingga terjadi kerusakan ekosistem. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2.5 % / tahun. suhu yang dingin/membeku. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Histosols. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. b. Misalnya. Aridisols. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. sehingga menambah biaya produksi. dan (2) tempat akar berjangkar. Selain itu. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. serta kebakaran. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. tanah mempunyai dua fungsi. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Spodosols. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Gelisols. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. kekurangan air. Ultisol. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Inceptisols. Gelisols.1. Andisols. tergenang dan akumulasi bahan gambut. Histosols. o. r. Entisols. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. Inceptisols. Oxisols. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. Dengan demikian. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols.

Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman.laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. kompos. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. . dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). limbah. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. dll. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. pemadatan.

Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia .3. yaitu topografi. tanah. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. hewan. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). air. air. tanah dan iklim. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. tanah. tumbuhan dan hewan). Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi.. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. pengelolaan air dan pengendalian erosi. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. khususnya melalui penambatan Nitrogen. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. manusia (tenaga. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi .HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. 1. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. hewan. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. . pestisida. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman.2003). Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. 1976). zat pengatur tumbuh). Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). mantap secara ekologis. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. seperti respon terhadap pemupukan. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. oksigen. air. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari.

Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim . Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. B. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. terutama untuk padi.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut.3 C (0. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. sedangkan karet. dan seterusnya. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Tanaman kina dan kopi. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. suhu. dan kelembaban. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu.Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. maka temperatur semakin menurun. misalnya setiap menit. Dalam kaitannya dengan tanaman. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi.01 x elevasi dalam meter x 0. misalnya. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari.). menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. setiap jam. Semakin tinggi tempat. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. C. Sedangkan tanaman karet. sawit. D dan E).

drainase tanah.berdasarkan curah hujan yang berbeda. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. bahaya erosi. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. debu dan liat. debu. 2. KTK). Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). kedalaman tanah dan retensi hara (pH. lempung. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). liat berdebu. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. . dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. pasir berlempung. Ketebalan gambut. Kasar (k) : Pasir. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. tekstur. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. dan banjir/genangan. liat. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lempung liat berdebu. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. Agak halus (ah) : Lempung berliat. sedangkan kelas 5. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). lempungberdebu. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. lempung liat berpasir. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4.

Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. 7. tanah basah sampai ke permukaan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. 5. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lembab. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. 4. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A.3. dan erosi parit (gully erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 6. erosi alur (rill erosion). Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. tanah basah dekat permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang .

batuan induk granit. . Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 1993). struktur gumpal. aras N. Indonesia. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. stabilitas agregat baik. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. Palembang. 2009. Palembang. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. Mg sangat rendah. Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. (3) Teknologi Pupuk Hayati. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. Universitas Sriwijaya. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. Ca. P. KPK rendah. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II.lebih tinggi. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. abu vulkan atau andesit . Ir. A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana.com. Palembang. R. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). 1993). Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Program Magister (S2). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. pH rendah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman. permeabilitas rendah. (2) Kesuburan Tanah. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). http://dasar2ilmutanah.. Program Pascasarjana. Indonesia.

Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. Sumatera. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Pemberian bahan ameliorasi kapur. Mo. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah.26% di Jawa Barat 13.01%. mengandung Al. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. 2007).6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. 1. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. P. dan B. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. Ca. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. 1990). Mn. dan Mg. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Fe. Papua. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. dan 17. Cu. Kayu Agung. P.et al. K.08%. serta bahan organik . Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Ca. bereaksi masam. dan/atau Fe.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. Sulawesi. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). Ca. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. Indralaya. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. dan Mg. K. secara teknis. 2003). Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). bahan organik. unsur hara mikro Zn. P. Tanah di KP. P. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%).Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. keracunan Al. misalnya.Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Tekstur tanah ultisol bervariasi. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. . Maluku. dan atau Mg dan Mo . dan pemupukan N.. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Fe.

bergelombang hingga bergunung. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. 1997). erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. 1997). tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. Namun demikian. Hidayat dan Mulyani. 1994). Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. 2006). sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. Kandungan bahan organik. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Ditinjau dari luasnya. 2005). . tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. Oleh karena itu. kandungan bahan organik yang memadai. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. Di samping itu. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam.2004. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols.

Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci.5. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat.. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. yaitu sekitar 4. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa.1-5. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .1997). 2000). Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. Muljadi et al. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. mampu menjerap P. gibbsite dan pseudoboehmite. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk.

2009. Program Pascasarjana. berat kering trubus. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Abdul Madjid. Palembang. Program Magister (S2). Palembang. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Ir. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. berat basah trubus. Indonesia. Program Pascasarjana. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. R. Universitas Sriwijaya. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. A. http://dasar2ilmutanah. berat basah akar. luas daun serta kadar P trubus. Diposkan oleh Dr.Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). . Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. berat kering akar. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Program Magister (S2). 1976). N sangat rendah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.com.2). Program Pascasarjana. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam.blogspot. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. P tersedia dan P total yang sangat rendah. (2) Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam.

. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Ca dan Mg. baik kalsit maupun dolomit. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. semakin tinggi pula nilai pH tanah. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. semakin tinggi takaran P-alam.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. Peningkatan takaran P. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Secara umum.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi.

3881 ppm dan 280. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik.48 g. diantaranya asam sitrat. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. dan . fumarat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Klebsiella aerogenes. Megaterium sebagai inokulan padat. glioksilat. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. malat.15 g tanaman-1. Mg dan K tertukar rendah . 575. P tersedia. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Chromobacterium lividum dan B. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. suksinat. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. kadar P tersedia sangat rendah. kadar N total rendah. Klebsiella aerogenes. laktat. Fe2+. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai.22 g. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. pH meningkat ke arah netral. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Chromobacterium lividum. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . dan B. Mg2+. KTK rendah dan tekstur silt loam .Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. glutamat. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. oksalat. berat daun segar 4 tanaman per pot. KTK . Ca tertukar rendah. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.

Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan.com. Indonesia. 2009. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Diposkan oleh Dr. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 217. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Ir. Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. R.67%. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. (3) Teknologi Pupuk Hayati.63%.67%.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Program Magister (S2).42 g atau ada kenaikan 877. A. (2) Kesuburan Tanah. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. 203. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. maka pH tanah pun semakin meningkat. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). kascing.30%. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana.75%.81%. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao.606. 903. Palembang. 208. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. dan 61. 354. 207. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . 930. Palembang. Program Pascasarjana. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.

Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. 3. dapat menambah unsur hara dalam tanah . mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah.perdu dan pohon. Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. pupuk kandang. 100 kg / ha Urea. bahan tanaman dan limbah. . 100 kg TSP.2007). KCI 50 kg / ha. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Kandungan hara rendah. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. total ruang pori. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. Ketersediaan unsur hara lambat. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. TSP 100 kg / ha. misalnya . Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. plastisitas dan daya pegang air. 2. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung .1. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah.IV. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. bobot volume. hijauan tanaman rerumputan. mempertahankan kelengasan tanah . semak .

Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. 4. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. meningkatkan ketersediaan P. P. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. dan K. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. Seperti halnya pupuk organik. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. 2005). 2006). 2003).2. Pengapuran mungkin diperlukan. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca.Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. .

yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. lingkungan edapik. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Pemantap agregat tanah 6.6 menjadi 5. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. 4. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Peningkat ketersediaan hara 3.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4. Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat.1993).3. 2007). yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. Penyedia hara 2. Mikoriza. yang tampak pada parameter .membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. Azospirillum dan Azootobacter. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Bakteri pelarut fosfat. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. 2003). 2002). Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini.

Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. cantel. jagung. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. dan cendawan mikoriza arbuskula. dan sorgum. berat basah akar. 2002). merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. tomat. mikroba pelarut fosfat. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. luas daun serta kadar P trubus. berat kering trubus. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. Namun. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Bakteri penambat N2. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. bersimbiose dengan tanaman legum. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. padi. Oleh karena itu. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. 2007). putida sama baiknya dengan P. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. Untuk meningkatkan berat basah. berat basah trubus. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. penggunaan Rhizobium sp. gandum dan cantel (Sutanto. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. 2002).tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Pemberian BPF P. Oleh karena itu. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. bawang putih. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. putida. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. Azospirillum. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. . berat kering akar. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. terong dan kubis. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung.

Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar.4. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan.Mikroba pelarut fosfat. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. . Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. dan Cu. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. 4. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). dan Acaulospora. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. bahan organik tanah rendah. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. Kemampuan asosiasi tanaman. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. ketersediaan hara rendah. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase.umumnya dari spesies Glomus. Zn. Gigaspora.

guludan dibuat miring terhadap kontur. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. 2006). dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah.jagung + kacang tanah. Pada musim pertama di awal musim hujan. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Menambah tanaman penguat teras. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. Selain itu. dan berbagai sistem wanatani. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . Pada usahatani lahan kering. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. terutama tanaman tahunan.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: . tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. lahan tegalan. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. (3) meningkatkan laju infiltrasi. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%.

akasia. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. sehingga mampu mengikat air. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. 1984). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Di Filipina.a.. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. b. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. . Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. kemiringan lahan. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . kaliandra. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. murah dan dapat diterima oleh petani. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. c. gamal. Mempunyai sistem perakaran intensif. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. mudah dilaksanakan. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. rumput gajah dan rumput benggala. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping.

penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. 0.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Indonesia. Selain perbaikan sifat fisik tanah. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Ir. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Hasil penelitian Agas et al.Contoh kondisi pertanaman alley cropping. Palembang.13 dan 0. Program Magister (S2). MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. tengah dan atas dari lorong.com. http://dasar2ilmutanah. Transmisivitas air menurun dari 0. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Program . R. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Program Studi Ilmu Tanaman. (2) Kesuburan Tanah.Selain efektif mengendalikan erosi. Abdul Madjid. mempengaruhi distribusi air.16 . 2009. Palembang. Universitas Sriwijaya.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.blogspot.

bantul. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. Arief. Geografi tanah Indonesia. http://warintek. Propinsi Sumatera Selatan. keracunan Al. 2005. Mn. Kusuma. Indonesia.wordpress. Puslitbang Tanaman Pangan. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Arief. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah.S.com (diakses Mei 2009) Bertam. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe.files. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Ca. 7(2):94-103.I dan Sopandie. 1997. Barus.go. oxisols dan spodosol serta inseptisol . Dinas Pertanian Jember. Budidaya Tanaman Jagung. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. Jurnal Akta Agrosia . (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. 2.Budidaya Lorong. Palembang. 1665-1675.wordpress. dan atau Mg dan Mo 3.Mansur. dan/atau Fe.id (diakses 8 April 2009).Y. Setyati. 2005.Setiadi. 2008. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. Program Pascasarjana.M.C. Hal. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. 8(2): 52-55.Magister (S2).YH. Dan Irman.com (diakses Mei 2009) Anonimous. Universitas Jember Jurusan FMIPA .D dan Mujib. bebasbanjir2025.files.D.J. Balitbangtan Deptan.2009. Kesimpulan 1. feiraz. 2007. 2006. pengapuran. Universitas Sriwijaya. A. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. P. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. .

. Deptan.Jakarta . 2007. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong.Edisi 1. A. Al-dd. N. Mulyani. Perbedaan respon keterkaitan pH. 2008.files. Muchtar.Universitas Bengkulu. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. Mayadewi. Kuswandi.. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran.2007. Pembentukan dan Profil Tanah. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam.. Jakarta.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. . Pustaka Adipura. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. Akademika Pressindo. 1993. H. Plant & Soil 151: 55.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Hasanudin. Mardinus dan H. Badan Litbang Pertanian. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Hanafiah. Dan A. Shamshuddin & S. 2005. 5(2): 83-89.R.AK. pp 8-35. Junedi. 1656-1664.K. Puslitbangtan..E. azotobacter dan bahan organic pada ultisol.2004. 1997. Hasanudin.Hasanudin. Himatan. Hiatan06. 2007. 4(2) : 97-103. G. Hal. Universitas Lampung 17-18 November 2008. J. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth. Ismail. Hidayat. Hakim.2007. Handayanto.wordpress. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. S. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Mitriani dan Barchia F. 2006. 2005. pp 139165. B. 2003. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Raja Gravindo Persada. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Edisi 2. Ismail. Joy.B.Hairiyah. Lahan Kering untuk Pertanian. Pengapuran Tanah Pertanian. NA. Edisi khusus No 1: 1-4. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia .65. Hardjowigeno. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan . Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Ganggo.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. 273 p. H. Jurnal Akta Agrosia . Kanisus Yogyakarta. kalsit dan dolomite. 1993.com (di akses Mei 2009).Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. 1993. Departemen Pertanian. Syed Oman. Dasar Dasar Ilmu Tanah.

Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. S. S.S. 1996. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Nanan.G. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. M. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". Rahim. T. Ultisol.G. H. 2006. Hal 143-182. Hal. 31 (3): 100-106. Pandang.. Sutisni dan I P.. I. D.T. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem.2002. 1990. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.Bogor. Subagyo.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Suharta. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.Edisi 3 ..A. Widjaja-Adhi. Puslitbangtan Deptan. Pusparajah (Eds. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.Penerapan Pertanian Organik. 6(2) : 71-81. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 2000.Agrosains 2(2):54-58. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. 2006.6.. M. 1676-1686. Siswanto. Pengendalian Erosi Tanah. N. 28(4): 163-169. N. 2000.O.M. dan A.gulma dan hasil jagung manis. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. Croswell & E.2003.R... D. Kanisus Jakarta.) Aciar Monograph 13: 62-68.No. Notohadiprawiro. 1994. Nursyamsi. Adnyana dan D. Sutanto. Puslitbangtan. Tahun II No. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Kanisus Jakarta. Jurnal Agritrop. Nursyamsi. Edisi 5. Penerapan Pertanian Organik . Darmawan. Notohadiprawiro.B. Pp 177-184. 2006. Buletin Agronomi. 1994. 1997. Sunaryo dan Suryono. 2006.. Bogor. 2007. Ismail. Prihartin. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.dan Subandi.2..Bogor Partohardjono. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Rachman S. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Sinukaban.2002. Faperta IPB.pp 91-106. Pusat Penelitian Tanah dan . ES. Subandi.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak.T. Bumi Aksara Jakarta. Deptan. Buletin Pusat Penelitian Marihat . 2003.Edisi 3. Hal. Subandi. Noor A.

Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. Universitas Sriwijaya. Yuwono NW dan Rosmarkam A. 2007.Solihin. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu.2006. Yulianti.R.NW. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Abdul Madjid. Sudaryono.G.Agroklimat. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.A. UGM. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. 1: 221-238 Yuwono. Taufiq. 2006. N. Program Magister (S2). Soil Sci. 4(1) : 1-5. dan C. Bogor. Prahoro. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 2008. Widawati. A. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.Pupuk Hayati . Indonesia. Edisi 4. Ilmu Kesuburan Tanah. Jurnal Nature Indonesia.A. Kuntyastuti. . Program Studi Ilmu Tanaman. 7(1):1014.Manshuri. Wulandari. Wild. 2008.) di Tanah Marginal. Diposkan oleh Dr. 2003. Ir.. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. S.Jurnal Hijau.S. 1950. 2005. S dan Suliasih . Reaksi Tanah . Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.MA dan Rosniawati. Propinsi Sumatera Selatan. The retention of phosphate by soils. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Suryantini. Program Pascasarjana. Yogyakarta. Triwardani.Biodiversitas. J.2(5) : 23 – 43. pp 23 -32.Universitas Padjajaran. Sudirja. H. Palembang. 2001.Yogyakarta.

Uni Sovyet dan Amerika Serikat. 2001). konsistensi tidak lekat-agak lekat. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. 1997). Indonesia. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. Papua serta beberapa pulau Kecil. warna coklat hingga kehitaman.48 juta hektar. Palembang. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. diikuti oleh Kalimantan Tengah. . (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Program Magister (S2). 1. Indonesia. Universitas Sriwijaya. tidak berstruktur. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. Sumatera.** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk.480 ribu hektar.1 g ml-1. Palembang. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. 2006). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. Propinsi Sumatera Selatan. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Program Pascasarjana.16 juta hektar.61 juta ha. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. tekstur debu lempung. ketebalan lebih dari 0.5 m. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Universitas Sriwijaya.70 juta hektar dan 1. Program Pascasarjana.

Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. . Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter.1990): 1. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. gambut sering bercampur dengan tanah liat. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. 1996). depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. 2. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Di alam. misalnya pada cekungan atau depresi. Tanah gambut terdapat di cekungan. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. dalam keadaan yang selalu tergenang. Menurut Everret (1983). Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff .1 g ml-1 atau lebih.

Saprists. dan Segara Anakan (Cilacap. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. .05-0.5 – 16 meter. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. hampir selalu tergenang air. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. 1996). Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. bersifat agak asam. bobot isi rendah (0. Rawa Lakbok (Ciamis. hampir tidak berserabut. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering.dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. bersifat sangat asam. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. berat jenisnya besar dari 0. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). Jawa Barat). ketebalan 0. bergantung pada tahapan dekomposisinya. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. berasal dari sisa tumbuhan rawa. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. 2000). Jawa Tengah). b. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. dan c. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. mempunyai ketebalan 0.4 g cm-3). Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Berdasarkan penyebaran topografinya. Fibreists. Hemists. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi.5 – 6 meter.

lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. Lahan gambut sedang. Lahan gambut dangkal. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . emisi karbon. Dalam kondisi alami. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. Menurut pengamatan di lapangan. Lahan gambut sangat dalam. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. yaitu: 1. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. Dengan demikian.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. pengelolaan air. Pasalnya. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. .300 cm 4. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. di kawasan hutan gambut tropika.100 cm. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Berdasarkan kedalamnya.200 cm 3. Lahan gambut dalam. 2.

00 2. atau endapan liat nonmarin.10 0.25 0. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. Kriteria kimia gambut eutropik.10 0. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.00 1. Subagyo et al. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang.25 Abu 10. reaksi gambut netral atau alkalin).Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.05 CaO 4. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. fosfor (P).00 0. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. kandungan basa sedang). Berdasarkan status hara.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974).075 sampai 0. pasir kuarsa.00 0. Fleisher (1965.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. (1996).03 P2O5 0. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. yaitu dangkal (50-100 cm). . terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Menurut Subagyo et al. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo.00 5. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. mesotropik. kalsium (Ca). Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat.50 2. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan.195 g cm-3.20 0. kalium (K). oligotrofik (kandungan mineral.195 g cm-3. Tabel 1. agak dalam (100-200 cm).80 0. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume.

Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Indonesia. Program Magister (S2). Indonesia. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. (2) sedang. Palembang. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. pH kurang dari 4. Program Magister (S2). Ir. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Permasalahan Pada Tanah Gambut . dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.blogspot. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. R. Universitas Sriwijaya. (2) Kesuburan Tanah. 2009. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. (3) rendah. A. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Palembang. pH berkisar antara 4 sampai 5. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. pH lebih dari 5. Program Pascasarjana.com.

lapisan bawah. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. . namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. A. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. 1996). Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. dan sekitar 0. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. kering tidak balik. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. 1988). antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. bahan mineral. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. irreversible dan subsiden. 1988). kerapatan lindak. daya memegang air tinggi. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan.2 gr/cc pada gambut halus. dalam keadaan tergenang. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar.2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. air dan udara.1 gr/cc untuk gambut kasar.

1986). Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. 1991). menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. 1988. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). jika lapisan gambut terkikis. 2001). Harjowigeno. 1996). pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis.05-0. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. kearah kubah gambut akan menebal. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse.000 % bobot. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. rendahnya bulk density (0. demikianpula pada daerah rasau Jaya. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. 2000) Sebagai contoh di Malaysia.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali.

3-0. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. 1988). Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. kompos. pohon rebah. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. dan konstruksi bangunan (jembatan. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. jalan. Semakin tebal gambut. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). dan abu. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). pupuk kandang. saluran drainase) terganggu atau ambles. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. jalan sulit dilalui kendaraan. Karenanya. Sebagai akibatnya. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. .yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah.8 cm/bulan. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. 3. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. B. tanah mineral. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan.

Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. 2001). ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. Bo dan Mo. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. 1996). biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. 1996. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. K. yaitu antara 35. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium.1 sampai 65. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. kesuburan sedang jika KB- . Unsur hara Cu.1986. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Mg. magnesium. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. dan natrium. dan Mg menjadi sangat rendah. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. dalam Mutalib et al. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. 1999).Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Hardjowigeno. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. 1991). 1988). pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase.6 cmol kg-1 tanah. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi.3 (Andriesse. P. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. 1986. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. dan Sagiman. kalium.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Ca. Ca. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB.

yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. meningkatkan pH. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Hasil penelitian Mawardi et al. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu. 1996). Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi.nya berkisar antara 50% sampai 80%. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. Menurut Sastrosupadi et al. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. Gambut mempunyai sifat khas. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. (Prasetyo. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. 1995). Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). Dalam era lingkungan dan globalisasi. 1993). pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau.1997). juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. menetralkan Al. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni.

Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. aluminum dalam larut tanah. dibagian 80 cm teratas profil tanah. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa.. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. dan akuakultur. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. 1977). besi. Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi.Soepraptohardjo. 1997). Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. . media pembibitan. 1991). Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. 1974). C. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. dan protein. 1997). Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. hemisellulosa. 1978). termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan.

et a1. japonicum ). • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. kemasaman tanah tinggi. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. 1999). Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. et a1. Yusuf. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. 2. serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. D.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. 2005). keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. dengan tujuan: 1. . Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. 1998. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut.

selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai.Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. 1.3. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. sebagai sarana transportasi hasil panen. Sistem parit/handil dicirikan oleh: . Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer.

. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. tetapi sewaktu surut. E. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. 3. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. 2. 6. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. 4. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor.5 . Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. apakah untuk sawah. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang.1. Di atas pematang ini. Untuk mengatur air pasang surut.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. surjan atau lahan kering. 1996). juga dapat dibuat pondok-pondok. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. 5. 2. 7. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai.

1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. 2000.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. 2002). 1998). Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas.. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3.000 ha di Kalimantan. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun.. persiapan lahan oleh petani. 2002). Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19.. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah..6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. 2002).000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. 2002) dan di Sumatra (Sanders. Hanya saja jika tidak terkendali. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. 2005). kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al. 2002). kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. Musa & Parlan. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. piknik dan perburuan. 2002. termasuk 750. Meskipun demikian. telah membakar sekitar 1. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. Parish. .

Di kawasan bergambut. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. Di samping itu. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. gangguan atas dinamika flora dan fauna. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. Siegert et al. 2002). gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. Page et al. cara penanganannya pun berbeda. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. stabilitas lingkungan. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi.29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat.Dalam skala besar. . Pada tipe yang pertama ini. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1).000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. 2000. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. Selain itu. 2000). kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). kehilangan potensi ekonomi. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. 2000.

4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. 8. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page.2–0. serba-cakup (comprehensive).145 bronkitis. dan terpadu. 58. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih.095 bronkitis. dan 202. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. karena kehilangan lapisan gambut. ibu hamil dan anak balita. lanjut usia. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan.761 kasus ISPA. Selain itu. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra.125 asma. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian.. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al.446. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. 298.800 asma. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2. 2000). Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian.. • Pencegahan kebakaran . dan 1. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. 41.6 Gt C. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). 2002). Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. 2002). dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna.Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. Selain itu. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). 3. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. • Pengendalian kebakaran . yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. 4. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. perencanaan tata guna hutan/lahan. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). 5. 6. hingga pemantauan dan evaluasi. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. 2. pemberian ijin bagi kegiatan. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). 7. Pengembangan sistem penegakan hukum. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran.

terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. apalagi yang masih berhutan. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. dan pemadaman api. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. kesiagaan. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. 2002). harus dihindari/dilarang. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. . Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan.

A. (2) Kesuburan Tanah. Ir. http://dasar2ilmutanah.com. Abdul Madjid. R. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) . Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Diposkan oleh Dr.blogspot.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->