Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1

)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal

tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi

klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi

lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar 45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan Riau (2.27 juta ha). Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat (1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya, kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar, skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan; iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

berwarna putih dan putih kekelabuan. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah.2-1.1 – 9. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. KB semuanya sangat rendah sampai. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. Akan tetapi beberapa adalah aquod. tengah.Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah.9) di seluruh lapisan tanah. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. kemudian dikalimantan barat 0. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. Pada permukaan tanah. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. sangat rendah sampai rendah.3 – 4.5)%. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. Di silawesi tengah. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.16 juta ha atau 1. terdapat di kalimantan tengah.2 – 0. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0.42 juta dan kalimantan Timur 0. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3.51 juta ha. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa.1 % wilayah dataran indonesia. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol.95) %. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. suatu spodosol umum. cenderung menaik kelapisan bawah. 2006). Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah.15 juta ha. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. Sebagian dari mereka adalah orthod. 2006) . karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan.2 cmol (+)/kg tanah).

serta kebakaran. Mollisols. kimia. Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. b. eksploitasi deposit bahan tambang. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. tergenang dan akumulasi bahan gambut. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. Gelisols. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. Dengan demikian. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. Inceptisols. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. dan (2) tempat akar berjangkar. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. kekurangan air. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Sedangkan dari . Entisols. Aridisols. o. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Entisols. suhu yang dingin/membeku. dan Ultisols.1. Spodosols. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. Andisols. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Ultisol. tanah mempunyai dua fungsi. sehingga menambah biaya produksi. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. Inceptisols. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara.5 % / tahun. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. deforestasi dan degradasi hutan. r. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. pengaruh salinisasi/penggaraman. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. Oxisols. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Misalnya. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. w). Gelisols. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. bahkan hilang. Selain itu. bahan induk yang keras dan asam. sehingga terjadi kerusakan ekosistem. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika. Histosols. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Oleh karena itu.2. Misalnya. Histosols. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai.

Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008).laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. pemadatan. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. limbah. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). Bahan-bahan yang digunakan: sampah. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. . kompos. dll. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini.

pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. pestisida. udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. air. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. tumbuhan dan hewan). khususnya melalui penambatan Nitrogen. tanah. zat pengatur tumbuh). tanah. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). manusia (tenaga. oksigen. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). seperti respon terhadap pemupukan.HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. hewan. yaitu topografi. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. hewan. Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. air. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi .3. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman.2003). meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. 1976). pengelolaan air dan pengendalian erosi. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. air. tanah dan iklim. . 1. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia .. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. mantap secara ekologis.

Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. dan seterusnya. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. D dan E). misalnya. terutama untuk padi. maka temperatur semakin menurun. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. dan kelembaban.01 x elevasi dalam meter x 0.3 C (0. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut.). Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Tanaman kina dan kopi. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim . jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Sedangkan tanaman karet. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Semakin tinggi tempat. sedangkan karet. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. C. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. suhu. setiap jam. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. B. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. misalnya setiap menit. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. sawit. Dalam kaitannya dengan tanaman. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman.

lempungberdebu. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. sedangkan kelas 5. 2. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. tekstur. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). lempung. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. Kasar (k) : Pasir. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. . yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. lempung liat berpasir. drainase tanah. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Ketebalan gambut. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. debu dan liat. pasir berlempung. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. debu. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. lempung liat berdebu. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. dan banjir/genangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). liat berdebu. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. Agak halus (ah) : Lempung berliat. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1).berdasarkan curah hujan yang berbeda. KTK). liat. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. bahaya erosi. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah.

yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. tanah basah sampai ke permukaan. 5. 6. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. 4. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. dan erosi parit (gully erosion). erosi alur (rill erosion). Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan.3. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. lembab. 7. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang . Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah dekat permukaan. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah.

stabilitas agregat baik. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Propinsi Sumatera Selatan. struktur gumpal. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. KPK rendah. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). Abdul Madjid. P.com. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. 1993). fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Palembang. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.blogspot. Ir. . Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Indonesia. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. pH rendah.lebih tinggi. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. abu vulkan atau andesit . Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. batuan induk granit. Program Pascasarjana. Ca. Palembang. Program Pascasarjana. permeabilitas rendah. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. R. A. Mg sangat rendah. 1993). Indonesia. aras N. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman.. (2) Kesuburan Tanah.

dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. dan Prabumulih Sumatera Selatan. bereaksi masam. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya.et al. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. secara teknis. Mo. Fe. Sumatera. mengandung Al. Ca. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N.08%. Pemberian bahan ameliorasi kapur. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%).Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Ca. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). dan 17. Maluku. Kayu Agung. Sulawesi. 1. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. Indralaya. K. Ca. P.. P. . Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). misalnya. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. K. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. dan B. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Cu. dan/atau Fe.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al. Fe. Tanah di KP. Tekstur tanah ultisol bervariasi.01%. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). dan Mg. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. P. dan pemupukan N. keracunan Al. 2003). Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. 1990). Papua.26% di Jawa Barat 13. 2007). unsur hara mikro Zn. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. dan atau Mg dan Mo . dan Mg. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. P. bahan organik. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. serta bahan organik . Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. Mn.

tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Hidayat dan Mulyani. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. bergelombang hingga bergunung. Kandungan bahan organik. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Oleh karena itu. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas.2004. kandungan bahan organik yang memadai. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. 2006). dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. 1994). Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Di samping itu. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. 1997). Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Ditinjau dari luasnya. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. 1997). Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. Namun demikian. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. 2005). . pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar.

(1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. gibbsite dan pseudoboehmite. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk.5. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. 2000). Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. Muljadi et al. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion.. yaitu sekitar 4. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung.1997). mampu menjerap P. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat.1-5. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al.

blogspot. Palembang. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. (3) Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Palembang. Indonesia. Palembang. P tersedia dan P total yang sangat rendah. A. 2009. R. Propinsi Sumatera Selatan. N sangat rendah. Indonesia. Program Magister (S2). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Universitas Sriwijaya. luas daun serta kadar P trubus. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Abdul Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman.com. berat kering trubus. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Ir. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. (2) Kesuburan Tanah. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. 1976). Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi.2). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. berat basah akar. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr.Madjid. Program Pascasarjana. . berat kering akar. Program Magister (S2). berat basah trubus. Universitas Sriwijaya.

Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. . Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. semakin tinggi pula nilai pH tanah. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. Ca dan Mg. baik kalsit maupun dolomit. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. Peningkatan takaran P. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. semakin tinggi takaran P-alam. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Secara umum. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah.

memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. diantaranya asam sitrat. KTK rendah dan tekstur silt loam . dan B. P tersedia. Megaterium sebagai inokulan padat. fumarat. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Ca tertukar rendah. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Klebsiella aerogenes. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%.48 g. Fe2+. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. glioksilat. KTK .3881 ppm dan 280. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. malat. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. oksalat. berat daun segar 4 tanaman per pot. dan . Chromobacterium lividum dan B. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. suksinat. pH meningkat ke arah netral. kadar P tersedia sangat rendah.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. Mg dan K tertukar rendah .15 g tanaman-1. glutamat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. kadar N total rendah. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. laktat. 575. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+.Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.22 g. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . Mg2+. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Chromobacterium lividum. Klebsiella aerogenes. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah .

Program Magister (S2).606. Universitas Sriwijaya.blogspot. A. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Palembang.75%. Abdul Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 354. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. Ir. Indonesia.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Indonesia. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. 217. Program Pascasarjana.67%. Palembang. maka pH tanah pun semakin meningkat. kascing. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. 903. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). dan 61.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. Universitas Sriwijaya. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. http://dasar2ilmutanah.42 g atau ada kenaikan 877. Program Pascasarjana.com. Palembang. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. (2) Kesuburan Tanah. Indonesia. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Propinsi Sumatera Selatan. 208.67%. Program Magister (S2). (3) Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. 930.30%.63%. Program Studi Ilmu Tanaman. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 203.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. Propinsi Sumatera Selatan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. R. Diposkan oleh Dr. 207.81%. Universitas Sriwijaya.

1. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. . Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman.perdu dan pohon. 2. Ketersediaan unsur hara lambat. mempertahankan kelengasan tanah . hijauan tanaman rerumputan. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. bobot volume.2007). Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. total ruang pori. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. 100 kg / ha Urea. dapat menambah unsur hara dalam tanah . KCI 50 kg / ha. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. pupuk kandang. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. semak . Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. misalnya . Kandungan hara rendah. bahan tanaman dan limbah. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. 3. TSP 100 kg / ha. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. plastisitas dan daya pegang air.IV. 100 kg TSP. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1.

Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut.2. dan K. 2006).Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. Pengapuran mungkin diperlukan. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. P. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. 4. Seperti halnya pupuk organik. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. 2005). P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. . Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. meningkatkan ketersediaan P. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . 2003). Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil.

Penyedia hara 2. Azospirillum dan Azootobacter. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. 2007). tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang.6 menjadi 5. Peningkat ketersediaan hara 3. yang tampak pada parameter . bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. 2002). Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. lingkungan edapik. seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4.Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al.3.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. 2003). Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam.1993). Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemantap agregat tanah 6. Bakteri pelarut fosfat. 4. Mikoriza. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi.

berat basah akar. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi. dan cendawan mikoriza arbuskula. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. 2002). berat basah trubus. perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. 2007). dan sorgum. Azospirillum. padi. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. Bakteri penambat N2. cantel. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. 2002). maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. penggunaan Rhizobium sp.tinggi tanaman 10 dan 45 HST. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. Oleh karena itu. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. gandum dan cantel (Sutanto. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. . berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. luas daun serta kadar P trubus. terong dan kubis. berat kering trubus. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. putida. berat kering akar. jagung. tomat. bawang putih. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. Oleh karena itu. Namun. bersimbiose dengan tanaman legum. Untuk meningkatkan berat basah. Pemberian BPF P. mikroba pelarut fosfat. putida sama baiknya dengan P. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung.

. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. Kemampuan asosiasi tanaman. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA.Mikroba pelarut fosfat. dan Acaulospora. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. dan Cu.4. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. ketersediaan hara rendah. melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). Gigaspora. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). tumpang sari atau penanaman budidaya lorong.umumnya dari spesies Glomus. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. 4. bahan organik tanah rendah. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Zn.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering.

membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. Menambah tanaman penguat teras. lahan tegalan. (3) meningkatkan laju infiltrasi.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: . tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. dan berbagai sistem wanatani. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Selain itu. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. Pada usahatani lahan kering. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi.jagung + kacang tanah. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. Pada musim pertama di awal musim hujan. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). 2006). dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli).Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. guludan dibuat miring terhadap kontur. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . terutama tanaman tahunan.

jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. sehingga mampu mengikat air. . Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. kaliandra. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. rumput gajah dan rumput benggala. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Di Filipina. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. mudah dilaksanakan. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. kemiringan lahan. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. murah dan dapat diterima oleh petani. Mempunyai sistem perakaran intensif.a. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. c. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. akasia. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour .. b. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. gamal. 1984).

Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. tengah dan atas dari lorong.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. R. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Program Magister (S2). ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Pascasarjana. Hasil penelitian Agas et al. Universitas Sriwijaya. Transmisivitas air menurun dari 0. Propinsi Sumatera Selatan. (2) Kesuburan Tanah. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.com. mempengaruhi distribusi air. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program . Abdul Madjid. 2009.13 dan 0. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. Propinsi Sumatera Selatan. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . http://dasar2ilmutanah.blogspot. Palembang.16 . MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang. 0. Program Pascasarjana. A.Contoh kondisi pertanaman alley cropping. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.Selain efektif mengendalikan erosi. Ir. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.

files. Barus.com (diakses Mei 2009) Anonimous.M. Propinsi Sumatera Selatan. 1665-1675. Puslitbang Tanaman Pangan.YH.2009. Dan Irman.com (diakses Mei 2009) Bertam. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. 2005.wordpress. 2007. 2008. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Arief. Universitas Sriwijaya. 2005. 2. Ca. dan atau Mg dan Mo 3.D dan Mujib. Kusuma.Budidaya Lorong. P. feiraz. Universitas Jember Jurusan FMIPA .Mansur. Arief.J. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam.Setiadi. . bebasbanjir2025. 2006. Jurnal Akta Agrosia . Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda.Magister (S2). Program Pascasarjana.I dan Sopandie. Budidaya Tanaman Jagung. 1997. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. Setyati. Balitbangtan Deptan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. A. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. oxisols dan spodosol serta inseptisol .go.Y.S.wordpress.bantul. Geografi tanah Indonesia. pengapuran. 7(2):94-103. Palembang. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Hal. Dinas Pertanian Jember. keracunan Al. Mn.C.id (diakses 8 April 2009). Kesimpulan 1. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Indonesia. 8(2): 52-55. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. http://warintek. dan/atau Fe.files. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air .D.

K. Jurnal Akta Agrosia . 2003. G. pp 139165. Plant & Soil 151: 55.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. H. Hasanudin. Hiatan06. Raja Gravindo Persada. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Universitas Bengkulu. Hanafiah. Mardinus dan H.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Edisi 2. Mulyani. . Al-dd. Hidayat. 2008. 4(2) : 97-103. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. Handayanto. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. Kanisus Yogyakarta. Jakarta. pp 8-35. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Ismail.B. Dan A. Himatan. A.Jakarta .Hairiyah.2007.2004. Dasar Dasar Ilmu Tanah. NA. 2005. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan . Pembentukan dan Profil Tanah. 1993. kalsit dan dolomite. Joy. Kuswandi. Pengapuran Tanah Pertanian. 273 p. Syed Oman.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Puslitbangtan. Akademika Pressindo. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran.com (di akses Mei 2009). Edisi khusus No 1: 1-4. Deptan.wordpress. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth.Ganggo. Mayadewi. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Mitriani dan Barchia F. H. Hal.. Departemen Pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan.files. Universitas Lampung 17-18 November 2008. S.2007. 2006.Edisi 1..Hasanudin.. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. Junedi. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Badan Litbang Pertanian.AK. B. Lahan Kering untuk Pertanian. 2007. 2007.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. 1997. Hasanudin. azotobacter dan bahan organic pada ultisol. 1993.. Muchtar. J. Hardjowigeno. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. Shamshuddin & S. 1993. 2005. 5(2): 83-89. 1656-1664.E. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.R. Ismail. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Pustaka Adipura. Perbedaan respon keterkaitan pH. N. Hakim.65.

Sutanto. Buletin Pusat Penelitian Marihat . Dalam Jurnal Tanah Tropika. Suharta. Pusparajah (Eds. Croswell & E.Edisi 3 . I. Hal. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Puslitbangtan Deptan. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience.T.. 2006.Penerapan Pertanian Organik. D. Faperta IPB.pp 91-106. Tahun II No.Bogor Partohardjono.M. Nursyamsi. N. T.6..2002.Edisi 3. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III. Ultisol. 2007. Nanan.O. ES. Adnyana dan D. Pandang. Subandi. 31 (3): 100-106. Sunaryo dan Suryono.T.2002.G. Puslitbangtan.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. Rahim. Widjaja-Adhi. Nursyamsi.A.B.. dan A.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6.) Aciar Monograph 13: 62-68. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. 1997. 2000. 2000. Bogor. Pengendalian Erosi Tanah. 28(4): 163-169. Subandi. Penerapan Pertanian Organik . 1994. Kanisus Jakarta. Bumi Aksara Jakarta. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. 2006. Deptan.2003. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol..dan Subandi. Pp 177-184. S. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.gulma dan hasil jagung manis.. 1996.S. 1676-1686..G. Darmawan. M. 6(2) : 71-81. Sinukaban. 2006. 1994. Hal. N. Buletin Agronomi. Fakta dan Implikasi Pertaniannya.. 2003. Ismail. Pusat Penelitian Tanah dan . D. 2006. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. H.R. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.. Prihartin. Kanisus Jakarta. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. S. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Noor A. Jurnal Agritrop. Edisi 5.No. Siswanto. Rachman S. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Subagyo. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. M. Hal 143-182. Sutisni dan I P. 1990.2. Notohadiprawiro. Notohadiprawiro.Agrosains 2(2):54-58.Bogor.

1: 221-238 Yuwono. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi).. A. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Jurnal Nature Indonesia. dan C. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.2006. Wild. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. N. Soil Sci. Program Pascasarjana. . Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Program Magister (S2). S.S.Yogyakarta. Palembang. S dan Suliasih .) di Tanah Marginal. Edisi 4. Ilmu Kesuburan Tanah. Prahoro. The retention of phosphate by soils. Widawati. Bogor. 7(1):1014.G. 2006. Abdul Madjid.NW. 2005. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.Agroklimat. Sudirja.Pupuk Hayati . Suryantini. Triwardani. pp 23 -32. 2008. 4(1) : 1-5. Yulianti. 2007.A. Kuntyastuti.2(5) : 23 – 43.A. Program Studi Ilmu Tanaman. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik.MA dan Rosniawati. Ir.R. Yogyakarta.Manshuri.Jurnal Hijau. H. J. Diposkan oleh Dr. 2003. Sudaryono. Wulandari. Indonesia. Reaksi Tanah . Taufiq.Universitas Padjajaran. UGM. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163.Solihin. 1950. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam. 2008.Biodiversitas. 2001.

diikuti oleh Kalimantan Tengah. tekstur debu lempung. Papua serta beberapa pulau Kecil. 1. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.70 juta hektar dan 1. warna coklat hingga kehitaman.48 juta hektar. Program Pascasarjana.1 g ml-1. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. ketebalan lebih dari 0. Program Magister (S2). 2001). Universitas Sriwijaya. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Sumatera.** : Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang.5 m. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada.61 juta ha. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro.16 juta hektar. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. Program Magister (S2).0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. konsistensi tidak lekat-agak lekat. Program Studi Ilmu Tanaman. tidak berstruktur. 2006).480 ribu hektar. . Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Universitas Sriwijaya. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. Indonesia. 1997). Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. Program Pascasarjana.

Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. misalnya pada cekungan atau depresi. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. . Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. 2. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Tanah gambut terdapat di cekungan. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara.1 g ml-1 atau lebih. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %.(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. Menurut Everret (1983). Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan.1990): 1. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. 1996).1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Di alam. dalam keadaan yang selalu tergenang. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). dan c. ketebalan 0. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. hampir tidak berserabut.dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. mempunyai ketebalan 0. b. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). 2000). Fibreists.05-0. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. Rawa Lakbok (Ciamis.4 g cm-3). Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. . Berdasarkan penyebaran topografinya. berat jenisnya besar dari 0.5 – 16 meter. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. bersifat agak asam. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). bergantung pada tahapan dekomposisinya. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. Saprists. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. 1996). Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al.5 – 6 meter. berasal dari sisa tumbuhan rawa. Jawa Tengah). • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. Jawa Barat). bobot isi rendah (0. Hemists.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. hampir selalu tergenang air. bersifat sangat asam. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). dan Segara Anakan (Cilacap. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa.

Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Berdasarkan kedalamnya. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Dalam kondisi alami. emisi karbon. Dengan demikian. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah.200 cm 3.300 cm 4. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Lahan gambut sedang. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. Pasalnya. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe.Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.100 cm. . Menurut pengamatan di lapangan. di kawasan hutan gambut tropika. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. yaitu: 1. Lahan gambut sangat dalam.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. pengelolaan air. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Lahan gambut dalam. Lahan gambut dangkal. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. 2. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 .

oligotrofik (kandungan mineral. Tabel 1.80 0.20 0. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. atau endapan liat nonmarin. kalsium (Ca).075 sampai 0.00 0. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.00 1. Menurut Subagyo et al. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.00 0. fosfor (P). dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).03 P2O5 0. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan.10 0.00 5.50 2. pasir kuarsa. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume.05 CaO 4. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. Subagyo et al. Fleisher (1965. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. (1996). Berdasarkan status hara. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman.Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. kalium (K).075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air.195 g cm-3. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). dikutip Driessen dan Soepraptohardjo.25 Abu 10. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. Kriteria kimia gambut eutropik. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. yaitu dangkal (50-100 cm).00 2.10 0. mesotropik. reaksi gambut netral atau alkalin).25 0.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. .195 g cm-3. kandungan basa sedang). agak dalam (100-200 cm).

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Permasalahan Pada Tanah Gambut . http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2).Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. pH lebih dari 5. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi.com. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. (2) Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Palembang. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). (3) rendah. Palembang.blogspot. Ir. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. pH kurang dari 4. Program Pascasarjana. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. (2) sedang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. A. 2009. Indonesia. R. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. pH berkisar antara 4 sampai 5. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II.

Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. A. dalam keadaan tergenang. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. daya memegang air tinggi. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. 1988). Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. kerapatan lindak. air dan udara. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. irreversible dan subsiden.1 gr/cc untuk gambut kasar.Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. 1996). lapisan bawah. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan organik kasar kurang dari 1/3. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. dan sekitar 0. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. bahan mineral. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. kering tidak balik. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut.2 gr/cc pada gambut halus. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. 1988).2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. . Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut.

Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. 1988. Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu . tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. rendahnya bulk density (0.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. 1986). jika lapisan gambut terkikis. 2001). Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. kearah kubah gambut akan menebal. Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. Harjowigeno. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). 2000) Sebagai contoh di Malaysia. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m.Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. 1991). 1996). semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah.000 % bobot. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah.05-0. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. demikianpula pada daerah rasau Jaya. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin.

1988). ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1.3-0. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm).yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. pohon rebah. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. . permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Karenanya. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. kompos. dan abu. pupuk kandang. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . 3. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. saluran drainase) terganggu atau ambles. Semakin tebal gambut. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. tanah mineral. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. Sebagai akibatnya. jalan sulit dilalui kendaraan. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. dan konstruksi bangunan (jembatan. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. jalan. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur.8 cm/bulan. B. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama.

magnesium. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Ca. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah.1986. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. 1986. Mg.6 cmol kg-1 tanah. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. 1996. kesuburan sedang jika KB- . 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. 2001). Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. 1988). C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. kalium. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. Hardjowigeno.Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. 1996). Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut.1 sampai 65. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. P. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. Unsur hara Cu. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. dan Sagiman. K. 1991).3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Bo dan Mo. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Ca. dan natrium. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman.3 (Andriesse. yaitu antara 35. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. dalam Mutalib et al. dan Mg menjadi sangat rendah. KTK tanah gambut di dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. 1999).

Selain itu. 1996). yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan . orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Menurut Sastrosupadi et al. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. Gambut mempunyai sifat khas.nya berkisar antara 50% sampai 80%. (Prasetyo. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. Hasil penelitian Mawardi et al. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. 1993). Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. menetralkan Al. meningkatkan pH. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman.1997). pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. 1995). pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. Dalam era lingkungan dan globalisasi. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan.

ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. media pembibitan. bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. Sifat Biologi Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. 1991). Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. 1977). Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. C. besi. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. dan akuakultur. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. aluminum dalam larut tanah. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. dibagian 80 cm teratas profil tanah. dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. 1974). 1997). Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. dan protein. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. hemisellulosa. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. 1978). Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. 1997). Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan.Soepraptohardjo. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. . Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya..

2005). serta sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. D. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. japonicum ). Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan.Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. dengan tujuan: 1. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. 2. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. Yusuf. . misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. kemasaman tanah tinggi. 1999). Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. 1998. et a1. et a1. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya.

selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Sistem parit/handil dicirikan oleh: . telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sistem parit/handil di tepi sungai Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. sebagai sarana transportasi hasil panen. 1. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap).Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada).3.

Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. apakah untuk sawah. air akan tertahan di dalam paritparit petakan lahan. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. Di atas pematang ini. 6. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. E. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. tetapi sewaktu surut. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. 2. 5. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. 3. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. surjan atau lahan kering. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. 4. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. . juga dapat dibuat pondok-pondok. 7. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Untuk mengatur air pasang surut. 1996). 2.1. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal.5 . Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering.

Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19. 2000. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. 1998). yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO.000 ha di Kalimantan. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah.Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. Hanya saja jika tidak terkendali.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al.. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. 2002). kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran.. piknik dan perburuan. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al... Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. 2002). Parish. 2002) dan di Sumatra (Sanders. persiapan lahan oleh petani. 2002). 2002. termasuk 750. telah membakar sekitar 1. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. . Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. 2005). Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. Meskipun demikian. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. 2002). yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. Musa & Parlan.

ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. Page et al. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. gangguan atas dinamika flora dan fauna.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). 2000. 2000. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm.Dalam skala besar. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. Di samping itu. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. . Selain itu. Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. stabilitas lingkungan. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. Pada tipe yang pertama ini. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). cara penanganannya pun berbeda. 2002). kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. Di kawasan bergambut. kehilangan potensi ekonomi. dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. Siegert et al. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. 2000).29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1).

Selain itu. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. 2000).095 bronkitis.6 Gt C. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. 298. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung kemampuan untuk memulihkan. 41. 2002). Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. dan terpadu.2–0.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. lanjut usia. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin.. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih. dan 1. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. • Pencegahan kebakaran . Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan. serba-cakup (comprehensive). ibu hamil dan anak balita.761 kasus ISPA.145 bronkitis. 8. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. 2002). Selain itu. dan 202. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. karena kehilangan lapisan gambut.. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. 58. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan.800 asma. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara.125 asma. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis.446. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder).Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut).

serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). 5. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). perencanaan tata guna hutan/lahan. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran.Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. 6. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. pemberian ijin bagi kegiatan. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. • Pengendalian kebakaran . data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). Pengembangan sistem penegakan hukum. 3. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. 4. hingga pemantauan dan evaluasi. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. 7. 2. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran.

tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. 2002). Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah digali hingga batas api di bawah permukaan. apalagi yang masih berhutan. harus dihindari/dilarang. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. . Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran.Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. dan pemadaman api. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. kesiagaan. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya.

http://dasar2ilmutanah.Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lama Langgan: Entri (Atom) .com. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. (2) Kesuburan Tanah. 2009. Abdul Madjid. Ir. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. R.blogspot. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful