P. 1
kenakalan remaja

kenakalan remaja

|Views: 608|Likes:
Published by izartizen

More info:

Published by: izartizen on Feb 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh

remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.

Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
y

Kartono, ilmuwan sosiologi Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang". Santrock "Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

y

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja
y y y

Penyalahgunaan narkoba Seks bebas Tawuran antara pelajar

Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal: 1. Krisis identitas Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal: 1. Keluarga Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. 2. Teman sebaya yang kurang baik 3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. 2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. 3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. 4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. 5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

HAL HAL YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA KENAKALAN REMAJA
Posted: Januari 14, 2008 by h4b13 in INFO

113

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat

memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama . Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengadaada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak µkluyuran¶ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik. Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita. Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
2. PENDIDIKAN Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu

obat bius. Misalnya. tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa. anak mulai akan memilih perguruan tinggi. bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak. orangtua. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri. Masih sering terjadi dalam masyarakat. Seperti yang telah disinggung di atas. 3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah. Namun. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif. ngebut tanpa lampu dimalam hari. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua. maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. mencuri. kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. minum minuman keras. Tersesat. orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. dan sebagainya. Celakanya. Oleh karena itu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja.dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. selain itu mereka bebas. orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Dalam memberikan pengarahan. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya. maupun lingkungannya. Sebab. Ada . biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. merusak. meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut. bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya. tidak ada kegiatan. Akhirnya ia terjerumus. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Agama Buddha. hal ini tidak akan menimbulkan masalah.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja. Sebab dalam masyarakat. Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali.

Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. dan lain sebagainya. Pacar. Misalnya. Oleh karena itu. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. dan 3. Namun. Dan apabila anak senang berkelahi. Akibatnya. dan lain sebagainya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. PERILAKU SEKSUAL Pada saat ini. Selain itu. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama. seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang.kemungkinan. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum. Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. bagi mereka. dihari libur. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri. sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang. Anak malas belajar. Pengertian pacaran dalam era . Jangan berlebihan. selain membutuhkan materi. di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. jalan-jalan ke taman ria atau mal. ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Remaja. Yaitu: 1. selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. misalnya scrabble. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup Jalan tengah seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha. Anak tidak menghargai uang. UANG SAKU Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. monopoli. 5. 4. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. keisengan remaja adalah semacam µrefreshing¶ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Anak menjadi boros 2. melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat. Mengikuti kebaktian. para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis.

remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Namun. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. pencurian. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini. Misalnya. Semakin muda usia anak. anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. dan mabuk-mabukan. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya. dan bijaksana kepada para remaja. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. dalam masa pacaran. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua. Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Demikian pula dengan pacaran. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Dengan demikian. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan. orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka. pelanggaran kesusilaan. Apabila usia makin meningkat.globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. sabar. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat. Oleh karena itu. orangtua hendaknya bersikap seimbang. orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta. . kebohongan. gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Akibatnya. Bila tidak berhasil. di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak.

seperti mencuri. Menghindarkan diri dari tanggung jawab biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan lain yang tidak terbimbing. Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat. Dengan sedikit pengertian kenalan remaja diatas membuat kita akan lebih mengerti akan sikap dan perilaku remaja kita apakah baik baik saja ataukah sudah mengarah pada suatu kenakalan remaja.pengertian kenakalan remaja Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. 7. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial. Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah. Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari permasalahannya. 4. Anak-anak yang suka berbohong. 3. Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo. 8. 2.SH adalah : 1. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut dengan kenakalan remaja. Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian. Anak yang demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi. 3. Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka. . 6. 5. 2. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana. menganiaya dan sebagainya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi. Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Adapun gejala-gejala kepada kenakalan remaja : yang dapat memperlihatkan hal-hal yang mengarah 1. Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial.

KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG HUBUNGANNYA DENGAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL KELUARGA Kasus Di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta Masngudin HMS Abstrak Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ternyata ada hubungan negative antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga. individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah. PENDAHULUAN Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem.KENAKALAN REMAJA SEBAGAI PERILAKU MENYIMPANG HUBUNGANNYA DENGAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL KELUARGA. peranan. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Artinya semakin meningkatnya keberfungsian sosial sebuah keluarga dalam melaksanakan tugas kehidupan. dan fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin rendah. individu sebagai satuan pengamatan sekaligus sumber masalah. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Dalam pendekatan individual. I. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung . Untuk pendekatan sistem. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.

diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. overcrowding. 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Salah satu variasi dari teori yang menjelaskan kriminalitas di daerah perkotaan. Masalah sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang ³Kenakalan Remaja´ bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan. Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman . Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak. tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan. bahwa beberapa tempat di kota mempunyai sifat yang kondusif bagi tindakan kriminal oleh karena lokasi tersebut mempunyai karakteristik tertentu. Oleh sebab itu. bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut. mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. 1986 : 400). mengatakan tingkat kriminalitas yang tinggi dalam masyarakat kota pada umumnya berada pada bagian wilayah kota yang miskin. kondisi kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan pengetahuan yang diserap. Penelitian inipun dilakukan di daerah pinggiran kota yaitu di Pondok Pinang Jakarta . Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja.26). perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Becker (dalam Soerjono Soekanto. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. derajat kesehatan rendah dari kondisi serta komposisi penduduk yang tidak stabil. sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang. sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. dampak kondisi perumahan di bawah standar. Ketidak berhasilan belajar sosial atau ³kesalahan´ dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi.1988. Berdasarkan pandangan sosialisasi. misalnya (Eitzen. Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja.

perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar. maka seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilai-nilai devian yang pada gilirannya akan memungkinkan untuk menumbuhkan tindakan kriminal. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial. Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan remaja di pinggiran kota metropolitan Jakarta. sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Untuk mengetahui hubungaanan keberfungsian sosial keluarga aaantara kenakalan remaja dengan 3.1986) beranggapan bahwa seorang belajar untuk menjadi kriminal melalui interaksi. 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai sumber masalah. Sutherland dalam (Eitzen. METODE PENELITIAN . Mengenai pendekatan sistem. yaitu di kelurahan Pondok Pinang. Penelitian ini ingin memberikan sumbangan bagi pemecahan masalah kenakalan remaja dengan memanfaatkan keluarga sebagai basis dalam pemecahan masalah. III. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial.Selatan tampak ciri-ciri seperti disebutkan Eitzen diatas. Apabila lingkungan interaksi cenderung devian. seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial. TUJUAN PENELITIAN 1. tetapi lebih dari itu. norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dikatakan oleh (Eitzen. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah. 2. II.

Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari masalah-masalah dalam suatu masyarakat. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat. dengan cara melihat kondisi mereka yang perumahannya di bawah standar. Setelah itu konsultasi dengan ketua RW dan ketua-ketua RT untuk mencari informasi tentang warganya yang dianggap telah melakukan kenakalan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. juga hubungan antar fenomena.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dipandu dengan daftar pertanyaan. lingkungan yang tidak teratur dan perkiraan tingkat kesehatan masyarakatnya yang buruk. Dari jumlah tersebut dibuat listing dan tiap RT diambil 10 sampel (remaja dan keluarga) sehingga mendapat 30 responden. kecanduan narkotik. Mengingat pengertian anak dalam Undang-undang no 4 tahun 1979 anak adalah mereka yang berumur sampai 21 tahun. dan membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang ada. konflik mental dan terlibat kejahatan (lihat transaksi individu-individu dan keluarga-keluarga dengan sistem kesejahteraan sosial). Responden remaja dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia 13 tahun-21 tahun. KERANGKA KONSEP 1. Berdasarkan data tersebut kita jadikan populasi dengan jumlah 40 remaja dan keluarga yang akan dijadikan unit dalam analisis. terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya. Pengambilan sample ini dengan cara random. krisis identitas. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut . Dari informasi tersebut data pada tiga RT. tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Cara pemilihan sampel yang dilakukan pertama memilih wilayah yang mempunyai kategori miskin. IV. dengan perspektif labeling. dengan kondisi penduduk yang sangat padat. Konsep Kenakalan Remaja Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Dengan pertimbangan pada usia tersebut. kenakalan.

(1) kenakalan biasa. agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian. Gumarso (1988 : 19). Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang. melanggar norma sosial. dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial. mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika. dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat. pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto. seperti suka berkelahi. 1985 : 73). mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum . membolos sekolah.³kenakalan´. suka keluyuran. Juga dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan sosial tertentu yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari keanggotaannya . 2. pemerkosaan dll. perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Menurut bentuknya. Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya ³ Rules of Sociological Method´ dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas. (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. hubungan seks diluar nikah. Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan . Singgih D. pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM. Keberfungsian sosial Istilah keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan kolektivitas seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupannya serta dapat memenuhi kebutuhannya.

Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Responden Berdasarkan data di lapangan dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan remaja sebagai salah satu perilaku menyimpang hubungannya dengan keberfungsian sosial keluarga di Pondok Pinang pinggiran kota metropolitan Jakarta. Bentuk Kenakalan Remaja Yang Dilakukan Responden (n=30) . Mereka berumur antara 13 tahun-21 tahun. Adapun ukuran yang digunakan untuk mengetahui kenakalan seperti yang disebutkan dalam kerangka konsep yaitu (1) kenakalan biasa (2) Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan dan (3) Kenakalan Khusus. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden. V. peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasi terhadap anggota keluarganya. 1992) keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan peranannya selama berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya rintangan dan hambatan dalam mewujudkan nilai dirinnya mencapai kebutuhan hidupnya. dengan jenis kelamin laki-laki 27 responden. menurut (Achlis. serta adaptasi resprokal antara keluarga dengan anggotannya. Kemampuan berfungsi social secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga salah satunnya jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. HASIL PENELITAN A. Terbanyak mereka yang berumur antara 18 tahun-21 tahun.dalam masyarakat. dengan lingkungannya. Penampilan dianggap efektif diantarannya jika suatu keluarga mampu melaksanakan tugas-tugasnya. dan dengan tetangganya dll. dan perempuan 3 responden. Keberfungsian sosial kelurga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan.

Menggugurkan Kandungan 21.3 .7 23. Hubungan sex diluar nikah 17.7 10. Begadang 5. Buang sampah sembarangan 9.7 33. Mencopet 19. Kebut-kebutan/mengebut 14.0 63. menontin film porno 12. Keluyuran 4.3 16.7 70.7 26. Kumpul kebo 16.3 16.7 23. Memperkosa 30 30 28 26 7 17 2 10 5 7 5 21 19 25 5 12 14 8 3 2 1 10 22 1 100 100 93.0 46. Minum-minuman keras 15.7 6. Berbohong 2. melihat gambar porno 11.3 83. membaca buku porno 10.3 3. Pergi keluar rumah tanpa pamit 3.3 56.0 6. Berkelahi antar sekolah 8. Menodong 20. membolos sekolah 6. Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM 13.3 16.3 33.3 98. Mencuri 18. Berkelahi dengan teman 7.3 73.7 40.7 3.Bentuk Kenakalan f % 1.

terutama pada tingkat kenakalan biasa seperti berbohong. Kalau hal ini tidak segera ditanggulangi akan membahayakan baik bagi pelaku.22. pemerkosaan. kasus pembunuhan. serta menggugurkan kandungan walaupun kecil persentasenya.3%). Hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan Salah satu hubungan variabel yang disajikan disini adalah hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan. kebut-kebutan. keluarga. Sedangkan anak perempuan yang melakukan kenakalan biasa 2 responden (2. Bahkan pada kenakalan khususpun banyak dilakukan oleh responden seperti hubungan seks di luar nikah.7%) dan kenakalan . membuang sampah sembarangan dan jenis kenakalan biasa lainnya. kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden. Keadaan yang demikian cukup memprihatinkan. Anak laki-laki yang melakukan kenakalan biasa 3 responden (10%). mencuri. Pada tingkat kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai kendaraan tanpa SIM.minum-minuman keras. berkelahi dengan teman. Terdapat cukup banyak dari mereka yangkumpul kebo. juga cukup banyak dilakukan oleh responden. Membunuh Bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan. Berjudi 23. B. menyalahgunakan narkotika. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh data sebagai berikut. maupun masyarakat. Karena dapat menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang semakin kompleks. Menyalahgunakan narkotika 24. Hubungan Antara Variabel Independen dan Dependen a. Hal ini untuk mengetahui apakah anak laki-laki lebih nakal dari anak perempuan atau probalitasnya sama. pergi ke luar rumah tanpa pamit pada orang tuanya. keluyuran. dan kenakalan khusus 22 responden (73.

dan kenakalan khusus 6 responden (20%) . namun terdapat juga anak perempuannya.7%). kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden (6. Kalau dibandingkan diantara 27 responden anak laki-laki 22 responden (81.5%) diantaranya melakukan kenakalan khusus. sebagai buruh dan berdagang masing-masing 2 responden (6. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Dari tabel korelasi persebaran datanya sebagai berikut. anak perempuan tidak ada yang melakukannya.7%). Atau mereka tahu rambu-rambu mana yang harus dihindari dan mana yang harus dikerjakan.khusus 1 responden (3.3%) yang melakukan kenakalan khusus.3%). b. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar yang melakukan kenakalan khusus adalah anak laki-laki (73.3%).3%). berarti probababilitas anak laki-laki lebih besar kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. nalarnya semakin baik. Sedangkan mereka yang tidak bekerja (menganggur) semuanya 13 responden melakukan kenakalan khusus. 2. Hubungan antara pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan yang dilakukan Berdasarkan data yang ada. Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma sosial mana yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi. Dengan demikian maka anak laki-laki kecenderungannya akan melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan lebih dibandingkan dengan anak perempuan. atau banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif. Demikian juga yang melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan. sedangkan dari 3 responden perempuan 1 responden (33. Mereka yang tamat SLTA justru yang paling banyak melakukan tindak kenakalan 17 responden (56. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kecenderungan untuk melakukan kenakalan khusus ataupun jenis kenakalan lainnya adalah mereka yang tidak sibuk.7%).7%) yang . juga mereka yang bekerja sebagai pedagang dan buruh semuanya melakukan kenakalan khusus. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah melakukan kenakalan. Pelajar yang melakukan kenakalan biasa 5 responden (16. pekerjaan responden adalah sebagai pelajar dan tidak bekerja (menganggur) masing-masing 13 responden (43.

Dengan demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan pendidikan dengan kenakalan yang dilakukan. artinya semakin tinggi pendidikannya tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. dan 4 responden (13. dari 12 responden.7%) melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan. yaitu adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif. Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial. dan pensiunan 1 responden (3.7%). Hubungan Antara Kenakalan Remaja Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga Dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga. . Sedang mereka yang hanya tamat SD 1 responden juga melakukan kenakalan khusus. 1. Artinya di lokasi penelitian kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka. buruh 5 responden (16.6%). artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Berdasarkan data yang ada mereka yang pekerjaan oangtuanya sebagai pegawai negeri 5 responden (16.3%) melakukan kenakalan biasa.3%). guna memenuhi kebutuhan keluarganya.7%) melakukan kenakalan khusus. salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhannya. dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya. karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA proporsi untuk melakukan kenakalan sama kesempatannya. Hubungan antara pekerjaan orang tuanya dengan tingkat kenakalan Untuk mengetahui apakah kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuanya. tukang kayu 2 responden (6. berdagang 4 responden (13.berarti separoh lebih. dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang besar pengaruhnya. Dengan demikian faktor yang kuat adalah seperti yang disebutkan di atas. Karena pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi. montir/sopir 6 responden (20%).7%). C.3%). peranan. diantaranya adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. 2 responden (6. Demikian juga mereka yang pendidikan terakhirnya SLTP. wiraswasta 5 responden (16. dengan terbanyak 12 responden (40%) melakukan kenakalan khusus. 11 responden (36.6%).

7 Dari tabel korelasi diketahui bahwa kecenderungan anak pegawai negeri walaupun melakukan kenakalan. baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga . terlihat jelas bahwa mereka yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi sebesar 76. Hal ini berarti pekerjaan orang tua berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya.7%). dan 9 responden dari keluarga tidak utuh.3%).6%. namun pada tingkat kenakalan biasa. Artinya banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh. ataupun kedisiplinan yang diterapkan serta nilainilai yang disosisalisasikan lebih efektif. Keadan yang demikian karena mungkin bagi pegawai negeri lebih memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Dilihat dari keutuhan struktur keluarga. sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative. Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalaam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya . 2. Lain halnya bagi mereka yang orang tuanya mempunyai pekerjaan dagang. Perlu diketahui bahwa keluarga yang interaksinya serasi berjumlah 3 responden (10%). Berdasarkan data pada tabel korelasi ternyata struktur keluarga ketidak utuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan. buruh. Sedang bagi mereka yang bukan pegawai negeri hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena ternyata mereka yang berasal dari keluarga utuh justru lebih banyak yang melakukan kenakalan khusus. dan yang tidak serasi 13 responden (43. terutama kenakalan khusus. Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi. Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. sedangkan yang interaksinya kurang serasi 14 responden (46. montir/sopir. dan wiraswasta yang kecendrungannya melakukan kenakalan khusus. 21 responden (70%) dari keluarga utuh.

yaitu pada kenakalan khusus. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik. dan tidak taat beragama 9 responden (30%). overprotection 3 responden (10%). maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33. Berdasarkan data yang ada mereka yang keluarganya taat beragama 6 responden (20%). demikian juga sebaliknya.melakukan kenakalan. Dari tabel korelasi diketahui 70% dari responden yang keluarganya kurang dan tidak taat beragama melakukan kenakalan khusus. Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dari tabel korelasi diperoleh data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan . berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rokhani. kurang taat beragama 15 responden (50%). kurang memperhatikan 12 responden (40%). Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan anaknya melakukan kenakalan.4%). baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus. Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakalan Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga.6%). 4. Mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16. 3.

pembunuhan. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya berjumlah 8 responden (26. Apabila hal itu dapat diciptakan. kurang serasi 12 responden (40%).6%). hal itu meruapakan proses sosialisasi yang baik bagi anakanaknya. oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lengkungan sosialnya.7%) karena kasus penegeroyokan dan pembunuhan. Dari data yang ada terlihat bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. Adapun lamanya mereka dihukum antara 1 bulan-3 tahun. Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat.3%) karena kasus obat terlarang (narkotika) dan 8 responden (53. dan tidak serasi 10 responden (33. dengan . Dari kenyataan tersebut ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak. dan narkotika. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi. 5 responden (33. karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman. masingmasing 1 responden (6. Keadaan tersebut dapat dilihat dari 23 responden yang melakukan kenakalan khusus 19 responden dari dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi. Pernah tidaknya responden ditahan dan dihukum hubungannya dengan keutuhan struktur dan interaksi keluarga.3%) karena kasus pencurian. serta ketaatan keluarga dalam menjalankan kewajiban beragama Data tentang responden yang pernah ditahan berjumlah 15 responden. 5. dari jumlah tersebut 3 responden (20%) karena kasus perkelaian.4%).11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus. 6. Sedangkan responden yang pernah dihukum penjara berjumlah 10 responden dengan rincian 7 responden karena kasus pencurian. masingmasing 1 responden karena ksus pengeroyokan.

Sedang nilai r yang diperoleh dalam tabel dengan taraf significansi 5%. artinya bagi keluarga yang tiap hari hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya bekerja sebagai buruh.0. 2 tahun. Analisis Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel. Artinya bahwa ketaatan beragama dari keluarganya belum menjamin anaknya bebas dari kenakalan dan ditahan serta dihukum. demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya. Pemenuhan kebutuhan keluarga juga berpengaruh pada tingkat kenakalan remajanya. tukang.6022. D. dan 3 tahun . 3 responden (30%) dihukum 3 bulan. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan sehari-hari remaja ternyata yang menganggur mempunyai kecenderungan tinggi melakukan kenakalan khusus demikian juga mereka yang berdagang dan menjadi buruh juga tinggi kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. dengan sampel 30 adalah 0. masing-masing 1 responden (10%) dihukum 7 bulan.283 hasil perhitungan yang diperoleh = .752 xy = 5. Demilian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya kurang dan tidak serasi anakanaknya melakukan kenakalan khusus. akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga. supir dan sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan melakukan kenakalan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa masalah interaksi dalam keluarga merupakan sebab utama seorang remaja sampai ditahan dan dihukum penjara. Sedangkan dari sudut ketaatan dalam menjalankan kewajiban agam bagi keluarganya masih terdapat 1 responden yang pernah ditahan dan dihukum karena kasus pencurian.rincian sebagai berikut 4 responden (40%) dihukum penjara selama 1 bulan. walaupun demilikan juga remaja perempuan yang melakukan kenakalan khusus. Kehidupan beragama keluarga juga . Dari responden yang pernah ditahan dan di hukum semuanya dari keluarga yang struktur keluarganya utuh. Dari uraian di atas bisa dilihat bahwa secara jenis kelamin terlihat remja pria lebih cenderung melakukan kenakalan pada tinglat khusus. tetapi interaksinya kurang dan tidak serasi. nilai x = 510 y = 322 x2 = 9.010 y2 = 3. maka untuk melengkapinya dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna melihat keeratan hubungan tersebut. Berdasarkan tabel distribusi koefisiensi korelasi product moment diperoleh data sebagai berikut.361 Berdasarkan data tersebut karena nilai r yang diperoleh dari hasil penelitian jauh dari batas significansi nilai r yang diperolehnya berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja yang dilakukan.

dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. Dari analisis statistik (kuantitatif) maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum bahwa ada hubungan negatif antara keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan kenyataan di atas. artinya dari keluarga yang taat menjalankan agama anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa. apalagi kenakalan khusus. VI. ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Kesimpulan Berdasarkan analisis di atas.Sebaliknya bagi keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan kenakalan sangat kecil. Dan akhirnya keserasian hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya juga berpengaruh pada kenakalan anak-anak mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan lingkungan serasi anak-anaknya walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat kenakalan biasa. artinya bahwa semakin tinggi keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap orang orang tua dalam sosialisasi terhadap anaknya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kenakalan yang dilakukan. maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang. Demikian juga dari keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat. dari data yang diperoleh bagi keluarga yang kurang dan masa bodoh dalam pendidikan (baca sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya anak mereka melakukan kenakalan khusus. tetapi mereka yang kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan lingkungan anak-anaknya melakukan kenakalan khusus.berpengaruh kepada tingkat kenakalan remajanya. tetapi bagi keluarga yang kurang dan tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka pada umumnya melakukan kenakalan khusus. .

kriminal. bentuk-bentuk perilaku kenakalan remaja dibagi menjadi empat. nakal. Definisi Kenakalan Remaja Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis. Bentuk dan Aspek-Aspek Kenakalan Remaja Menurut Kartono (2003). sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin ³delinquere´ yang berarti terabaikan. 10 Sama halnya dengan Conger (1976) & Dusek (1977) mendefinisikan kenakalan remaja sebagai suatu kenakalan yang dilakukan oleh seseorang individu yang berumur di bawah 16 dan 18 tahun yang melakukan perilaku yang dapat dikenai sangsi atau hukuman. 2. Mussen dkk (1994). Kecenderungan Kenakalan Remaja 1. mendefinisikan kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun. dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal. Kenakalan terisolir (Delinkuensi terisolir) . Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas. sedangkan Fuhrmann (1990) menyebutkan bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu. dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. pembuat ribut. pelanggar aturan. yang artinya anak-anak. durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anakanak muda. baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat. anak muda. dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara.(Kartono. 2003). jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum. mengabaikan. yaitu : 11 a. sifat-sifat khas pada periode remaja. merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana. pengacau peneror. Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku. anti sosial. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain yang dilakukan remaja di bawah umur 17 tahun. ciri karakteristik pada masa muda. sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Hurlock (1973) juga menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja.

pengakuan dan prestise tertentu. remaja nakal tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius. b. kecemasan atau konflik batin yang tidak dapat diselesaikan. kriminal dan sekaligus neurotik. Kenakalan neurotik (Delinkuensi neurotik) Pada umumnya. 2) Mereka kebanyakan berasal dari daerah kota yang transisional sifatnya yang memiliki subkultur kriminal. karena perilaku jahat mereka merupakan alat pelepas ketakutan. namun pada usia dewasa. 6) Motif kejahatannya berbeda-beda. namun pada umumnya keluarga mereka mengalami banyak ketegangan emosional yang parah. remaja memuaskan semua kebutuhan dasarnya di tengah lingkungan kriminal.ciri perilakunya adalah : 1) Perilaku nakalnya bersumber dari sebab-sebab psikologis yang sangat dalam. 13 c. antara lain berupa kecemasan. mendapatkan kedudukan hebat. mereka mencari panutan dan rasa aman dari kelompok gangnya. dan mempraktekkan jenis kejahatan tertentu. dan mengalami banyak frustasi. tidak harmonis. merasa bersalah dan berdosa dan lain sebagainya. 4) Remaja nakal ini banyak yang berasal dari kalangan menengah. 5) Remaja memiliki ego yang lemah. Hal ini disebabkan oleh proses pendewasaan 12 dirinya sehingga remaja menyadari adanya tanggung jawab sebagai orang dewasa yang mulai memasuki peran sosial yang baru. sebagai akibatnya dia tidak sanggup menginternalisasikan norma hidup normal. Ciri . delinkuen terisolasi itu mereaksi terhadap tekanan dari lingkungan sosial. Sejak kecil remaja melihat adanya gang-gang kriminal. 3) Pada umumnya remaja berasal dari keluarga berantakan. misalnya suka memperkosa kemudian membunuh korbannya. sampai kemudian dia ikut bergabung. paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perilakunya pada usia 21-23 tahun. Sebagai jalan keluarnya. Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis. Ringkasnya. Gang remaja nakal memberikan alternatif hidup yang menyenangkan. jadi tidak ada motivasi. dan bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima norma dan nilai subkultur gang yang kriminal itu saja. Perbuatan nakal mereka didorong oleh faktor-faktor berikut : 1) Keinginan meniru dan ingin konform dengan gangnya. mayoritas remaja nakal ini meninggalkan perilaku kriminalnya. 2) Perilaku kriminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan. kecemasan dan kebingungan batinnya. 7) Perilakunya menunjukkan kualitas kompulsif (paksaan). Kenakalan psikotik (Delinkuensi psikopatik) . 3) Biasanya remaja ini melakukan kejahatan seorang diri.Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari remaja nakal. Remaja merasa diterima. merasa selalu tidak aman. dan cenderung mengisolir diri dari lingkungan. dan orangtuanya biasanya juga neurotik atau psikotik. 4) Remaja dibesarkan dalam keluarga tanpa atau sedikit sekali mendapatkan supervisi dan latihan kedisiplinan yang teratur.

mereka selalu ingin melakukan perbuatan kekerasan. dan orangtuanya selalu menyia-nyiakan mereka. orangnya tidak pernah 14 bertanggung jawab secara moral. mereka merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya. 5) Kebanyakan dari mereka juga menderita gangguan neurologis. diliputi banyak pertikaian keluarga. dan sulit sekali diperbaiki. Terdapat kelemahan pada dorongan instinktif yang primer. 2) Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah. kurang. berdisiplin keras namun tidak konsisten. cedera. Mereka adalah para residivis yang melakukan kejahatan karena didorong oleh naluri rendah. tidak lengkap. kurang lebih 80 % mengalami kerusakan psikis. tergantung pada suasana hatinya yang kacau dan tidak dapat diduga. atau melakukan pelanggaran. selalu mempunyai konflik dengan norma sosial dan hukum. sikapnya sangat dingin tanpa afeksi jadi ada kemiskinan afektif dan sterilitas emosional. kurang ajar dan sadis terhadap siapapun tanpa sebab. penyerangan dan kejahatan. Mereka sangat egoistis. biasanya mereka residivis yang berulang kali keluar masuk penjara. di antara para penjahat residivis remaja. cacat. Mereka pada umumnya sangat agresif dan impulsif. Remaja yang defek moralnya biasanya menjadi penjahat yang sukar diperbaiki. juga tidak peduli terhadap norma subkultur gangnya sendiri. salah. Sikapnya kasar. anti sosial dan selalu menentang apa dan siapapun. Kenakalan defek moral (Delinkuensi defek moral) Defek (defect. Kelemahan para remaja delinkuen tipe ini adalah mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingkah lakunya yang jahat. rasa kemanusiaannya sangat terganggu. juga tidak mampu mengendalikan dan mengaturnya. namun perbuatan mereka sering disertai agresivitas yang meledak. 4) Mereka selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan normanorma sosial yang umum berlaku. sehingga pembentukan super egonya sangat lemah. Ciri tingkah laku mereka adalah : 1) Hampir seluruh remaja delinkuen psikopatik ini berasal dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang ekstrim. berupa disposisi dan perkembangan mental yang 15 . berdosa. defectus) artinya rusak. Mereka merasa cepat puas dengan prestasinya. impuls dan kebiasaan primitif. walaupun pada dirinya tidak terdapat penyimpangan. Delinkuensi defek moral mempunyai ciri-ciri: selalu melakukan tindakan anti sosial. Psikopat merupakan bentuk kekalutan mental dengan karakteristik sebagai berikut: tidak memiliki pengorganisasian dan integrasi diri. d. sehingga mereka tidak mempunyai kapasitas untuk menumbuhkan afeksi dan tidak mampu menjalin hubungan emosional yang akrab dan baik dengan orang lain. brutal.Delinkuensi psikopatik ini sedikit jumlahnya. sehingga mengurangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. namun ada disfungsi pada inteligensinya. akan tetapi dilihat dari kepentingan umum dan segi keamanan. Impulsnya tetap pada taraf primitif sehingga sukar dikontrol dan dikendalikan. 3) Bentuk kejahatannya majemuk.

Jensen (dalam Sarwono. Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambigius biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan dari diri sendiri. Perbedaan fisik dan psikis Remaja yang nakal ini lebih ³idiot secara moral´ dan memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. seperti mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. jadi mereka menderita defek mental. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian. c. 2002). Perbedaan itu mencakup : a. mencuri. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain. 2002) membagi kenakalan remaja menjadi empat bentuk yaitu: a. membantah perintah. Adapun aspek-aspeknya diambil dari pendapat Hurlock (1973) & Jensen (dalam Sarwono. b. minggat dari rumah. Bentuk tubuh mereka lebih kekar.salah. remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. memperkosa dan menggunakan senjata tajam. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. penyalahgunaan obat. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran. d. yaitu: a. mengendarai kendaran dengan tanpa surat izin. Kenakalan yang meninbulkan korban materi: perusakan. dan pada umumnya 17 .lain. pembunuhan. d. namun jelas terdapat fungsi. Perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain. yaitu perilaku yang tidak mematuhi orangtua dan guru seperti membolos. 16 Dari beberapa bentuk kenakalan pada remaja dapat disimpulkan bahwa semuanya menimbulkan dampak negatif yang tidak baik bagi dirinya sendiri dan orang lain. b. dan perilaku yang mengakibatkan korban fisik. perampokan. dan lain. seperti merampas. perkosaan. serta lingkungan sekitarnya. dan mencopet. Hanya kurang dari 20 % yang menjadi penjahat disebabkan oleh faktor sosial atau lingkungan sekitar. b. 3.fungsi kognitif khusus yang berbeda biasanya remaja nakal ini mendapatkan nilai lebih tinggi untuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk ketrampilan verbal (tes Wechsler). hubungan seks bebas. berotot. pencurian. Perilaku yang tidak terkendali. Perbedaan struktur intelektual Pada umumnya inteligensi mereka tidak berbeda dengan inteligensi remaja yang normal. dan kabur dari rumah. c. perilaku yang mengakibatkan korban materi. misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos. Kenakalan yang melawan status. pencopetan. kuat.lain. pemerasan dan lain. Terdiri dari aspek perilaku yang melanggar aturan dan status. Karakteristik Remaja Nakal Menurut Kartono (2003). perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hurlock (1973) berpendapat bahwa kenakalan yang dilakukan remaja terbagi dalam empat bentuk.

Ciri karakteristik individual Remaja yang nakal ini mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang. mempunyai kontrol 18 diri yang kurang. masa kanak-kanak atau masa remaja yang membatasi mereka dari berbagai peranan sosial yang dapat diterima atau yang membuat mereka merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebankan pada mereka. 5) Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya. Ia mengatakan bahwa remaja yang memiliki masa balita. percaya diri. nilai-nilai. 3) Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal. yang melibatkan aspek-aspek peran identitas. Erikson percaya bahwa delinkuensi pada remaja terutama ditandai dengan kegagalan remaja untuk mencapai integrasi yang kedua. pemberontak. Hasil penelitian juga menunjukkan ditemukannya fungsi fisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal ini. tidak mempunyai orientasi pada masa depan dan kurangnya kemasakan sosial. yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukkan ketidakmatangan jasmaniah atau anomali perkembangan tertentu. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja nakal biasanya berbeda dengan remaja yang tidak nakal.bersikap lebih agresif. sehingga tidak mampu mengenal norma-norma kesusilaan. 4) Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang rasa kejantanan. Remaja nakal biasanya lebih ambivalen terhadap otoritas. dan tidak bertanggung jawab secara sosial. Identitas Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson (dalam Santrock. mungkin akan memiliki perkembangan identitas yang negatif. 7) Kurang memiliki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka menjadi liar dan jahat. seperti : 1) Rata-rata remaja nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang. 2) Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional. 1996) masa remaja ada pada tahap di mana krisis identitas versus difusi identitas harus di atasi. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecenderungan Kenakalan Remaja Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Santrock. Beberapa dari . (1996) lebih rinci dijelaskan sebagai berikut : a. kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peran yang dituntut dari remaja. kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi. c. 6) Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja: (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan (2) tercapainya identitas peran. 4. bersenang-senang dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa depan. sehingga sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. walaupun mereka menyadari besarnya risiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya.

laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. sedangkan sikap sekolah ternyata dapat . Laos. Mereka mungkin gagal membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima. 20 c. kenakalan adalah suatu upaya untuk membentuk suatu identitas. walaupun identitas tersebut negatif. Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini Santrock (1996) menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. b. oleh karena itu bagi Erikson. Jenis kelamin Remaja laki. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah. Kebanyakan remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima. Riset yang dilakukan oleh Janet Chang dan Thao N. Paling sedikit 60 % dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun. Lee (2005) mengenai pengaruh orangtua. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak-kanak (penerapan strategi yang konsisten. Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. dengan memiliki ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja. Kamboja. berpusat pada anak dan tidak aversif) berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. kenakalan teman sebaya. seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono. dan sikap sekolah terhadap prestasi akademik siswa di Cina. Menurut catatan kepolisian Kartono (2003) pada umumnya jumlah remaja laki. Selanjutnya. e.19 remaja ini mungkin akan mengambil bagian dalam tindak kenakalan. namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan. atau mungkin mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka. namun remaja yang melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Kontrol diri Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. dan remaja Vietnam menunjukkan bahwa faktor yang berkenaan dengan orangtua secara umum tidak mendukung banyak. mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa.laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan. Usia Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja. d.

Proses keluarga Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. pendanaan pendidikan. . meskipun persentasenya tidak begitu besar.faktor lain dalam masyarakat yang juga berhubungan dengan kenakalan remaja. f. Kualitas sekolah. dan perasaan tersisih dari kaum kelas menengah. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. g. dan aktivitas lingkungan yang terorganisir adalah faktor. Kelas sosial ekonomi Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50 : 1 (Kartono. Pengaruh teman sebaya Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal. Pada sebuah penelitian Santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston. kurangnya penerapan disiplin yang efektif. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja.21 menjembatani hubungan antara kenakalan teman sebaya dan prestasi akademik. dan status seperti ini sering ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil meloloskan diri setelah melakukan kenakalan. pengangguran. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja. 22 h. Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan ketrampilan yang diterima oleh masyarakat. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. i. Menjadi ³tangguh´ dan ³maskulin´ adalah contoh status yang tinggi bagi remaja dari kelas sosial yang lebih rendah. kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Masyarakat seperti ini sering ditandai dengan kemiskinan. Mereka mungkin saja merasa bahwa mereka akan mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan anti sosial. 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesua i merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock. 2003). ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

seperti halnya penyalah gunaan obat-obatan terlarang. karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju teman sebaya. sehingga minat. LATAR BELAKANG KENAKALAN REMAJA Telah kita ketahui bahwa kenakalan remaja itu sangat menurunkan moral pada diri kita dan lebih-lebih pada bangasa kita ini. Bapak dengan anak dan ibu dengan Anak 3. PENYEBAB KENAKALAN REMAJA Sesuatu hal dalam hidup ini yang dapat menjadikan diri kita semakin terbelakang dan tertinggal untuk menjadikan atau membangun negara yang baik dan maju yaitu adanya penyabab dari kenakalan remaja dan salah satu dari penyebab kenakalan remaja (Interen) adalah: 1. danya pertengkaran atau perselisihan antara Bapak dengan Ibu. nilai.oleh sebab itu kita sebagai calon mahasiswa baru peduli dan tanggap akan moralmoral remaja yang sangat bertolak belakang dengan apa yang telah ditentukan oleh sang maha pencipta. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada peran persepsi keharmonisan keluarga dan konsep diri terhadap kecenderungan kenakalan remaja.23 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah faktor keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya yang kurang baik. orang tua terlalu membebaskan kepada anaknya dalam hal apapun . nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat. peraukan bebas yang tidak bisa meminit pada diri kit masing-masimg shingga munculah benih-benih kenakalan remaja yang tumbuh pada diri remaja itu sendiri. Masa remaja adalah masa yang paling berseri A. adanya orang tua yang kurang memperhatikan pada anaknya 2. dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma.

Akan dibenci dan di musuhi banyak orang. Akibat dari kenakalan remaja antara lain adalah sebagai berikut yang diantaranya : 1. ketidak cocokan atau ketidak nyamana terhadap lingkungan yang ia tempati 2. 6. 4. mudah putus asa atau tidak sabaran. 5. 5. 3. pemarah. tidak memiliki rasa belas kasih yang besar. D. Tidak disukai oleh khalayak . CIRI-CIRI KENEKALAN REMAJA Dalam hal ini terdapat beberapa macam ciri-ciri tenteng kenakalan remaja adalah sebagai berikut : 1. apabiala bertempat dimasyarakat akan mendapatkan teguran atau gunjingan dari masyarakat setempat. 9. C. biasanya kalau seseorang apabila sudah terjerumus kedalam hal yang negatif biasanya akan menjedi seorang yang pemalas dalam segala hal-hal yang bersifat baik. tentunta akan dijauhi banyak orang. tidak mengenal yang namanya dosa. terjadinya orang tua kesalahan terlalu dalam menekan mendidik keinginan anak anaknya Begitu juga penyebab salah satu dari kenakalan remaja (exteren) adalah: 1. 7. dan apabila yang dikerjakannya itu selalu bersimpangan dengan ajaran agama maupun peraturan dari negara maka juga pasti akan mendapatkan akibatnya. 8. AKIBAT DARI KENAKALAN REMAJA Setelah seseorang melakukan sebuah usaha baik itubaik atau tidak baik yang pasti pasti akan menerima atau mendapatkan manfaat.4. 2. 2. dan lain-lain. salah memilih teman untuk bermaian 3. 3. seperti laki-laki memakai pakaian perempuan atau sebaliknya. pemalas. kurangnya pendidikan yang ia dapat sewaktu masih muda atau kanak-kanak. potngan rambut atau keadaan tubuhnya tidak pernah diperhatikan. 4. dan tidak pernah merasa takut terhadap siapapun. nudah tergiur terhadap hal-hak yang bersipat Negatif 4. apabila menghadapi suatu permasalahan dan masalah itu terasa tidak cocok maka seketika itu bisa langsung marah. apabila dilihat dari segipakaiannya tidakpernah memakai pakaian yang rajin atau sering memakai pakaian yang tidak pantas untk dipakai.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->