Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah buang air besar berdarah seperti aspal, umumnya disebabkan

perdarahan saluran makan bagian atas (SMBA) mulai dari esofagus sampai duodenum. Penyehab-penyebab dari perdarahan saluran makan bagian alas antara lain : - Kelainan pada esofagus: varises, esofagitis, ulkus, sindroma Mallory-Weiss, keganasan. - Kelainan pada lambung dan doudenum: gastritis hemoragika, ulkus peptikum ventrikuli dan duodeni, keganasan, polip. - Penyakit darah: leukemia, DIC, trombositopeni. - Penyakit sistemik: uremia. Penyehab perdarahan SMBA yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 40 - 55%, kemudian menyusul gastritis hemoragika dengan 20 - 25%. ulkus peptikum dengan 15 - 20%, sisanya oleh keganasan, uremia dan sebagainya. Unnunnya perdarahan SMBA termasuk penyakit gawat darurat yang memerlukan tindakan medik intensif yang segera di rumah-sakit/puskesmas karena angka kematiannya yang tinggi, terutama pada perdarahan varises esofagus yang dahulu berkisar antara 40 - 85%. Tingginya angka kematian pada perdarahan varises esofagus tergantung dari beberapa faktor, antara lain : - Sifat dan lamanya perdarahan telah berlangsung. - Beratnya penyakit sirosis hati yang mendasarinya. Ketrampilan tenaga medik dan paramedik yang menangani penderita tersebut. - Tersedia tidaknya sarana diagnostik dan terapi di rumahsakit/puskesmas tersebut. Dengan bertambah majunya teknologi kedokteran. terutatna di bidang Endoskopi gastrointestinal. akhir-akhir ini telah dikenal metoda-metoda baru dalam diagnostik dan terapi yang memberi harapan dapat mengurangi angka kematian yang tinggi, terutama pada perdarahan varises esofagus Data-data dari publikasi terakhir penulis-penulis Indonesia sendiri juga menunjukkan penurunan angka kematian yang bermakna di rumah-sakit tipe A/B sejak diikutinya protokol penanggulangan seperti di luar negeri. Berikut ini akan dibicarakan diagnosis dan penanganan dari penderita-penderita dengan perdarahan saluran makan bagian atas. DIAGNOSIS HEMATEMESIS DAN MELENA Diagnosis pada gejala muntah darah dan buang air berdarah bertujuan mencari tahu tentang -- kemungkinan penyebab utama dari perdarahan SMBA tersebut -- lokasi yang tepat dari sumber perdarahannya

nadi.Apakah ada rasa nyeri di ulu hati sebelumnya. Anamnesis B. Pemeriksaan radiologik 3. banyak atau sedikit) -.Apakah perdarahan ini yang pertama kali atau sudah pernah mengalami sebelumnya? -. penyakit lambung atau penyakit lain? -. suhu badan dan apakah ada tanda-tanda syok. edema tungkai dan sakral.Apakah penderita minum obat-obat analgetik antipiretik atau kortison? Apakah minum alkohol atau jamu-jamuan? -. Penderita dalam keadaan umum yang buruk atau syok perlu segera ditolong dan diatasi dahulu syoknya. payah jantung. penderita perlu segera diperiksa keadaan umumnya yaitu derajat kesadaran. Bila pada palpasi ditemukan massa yang padat di daerah epigastrium.-. kegagalan ginjal atau kegagalan fungsi hati berupa koma. Pemeriksaan fisik C.Apakah timbulnya perdarahan mendadak dan berapa banyaknya atau terjadi terus menerus tetapi sedikit-sedikit? --Apakah timbul hematemesis dahulu baru diikuti melena atau hanya melena saja? Pemeriksaan fisik Setibanya di rumah-sakit atau puskesmas.Apakah penderita pernah menderita atau sedang dalam perawatan karena penyakit hati seperti hepatitis kronis. Bila dugaan penyebab perdarahan SMBA adalah pecahnya varises esofagus. kegagalan fungsi hati/jantung/ginjal Diagnosa perdarahan SMBA ditegakkan melalui A. pernapasan. anemi. venektasi dinding perut. anenti. Pemeriksaan laboratorium 2. ikterus. . spider nevi.derajat gangguan yang ditimbulkan perdarahan SMBA pada organ lain seperti syok. Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning han Ana mnesis Perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan bila keadaan penderita lemah atau kesadarannya menurun dapat diambil allo anamnesa dari pengantarnya. koma. sedangkan pemeriksaan penunjang diagnosis ditunda dahulu sampai keadaan umum membaik. eritema palmarum.(sedang atau telah berlangsung. Beberapa hal yang perlu ditanyakan antara lain : -. sirosis hati. asites.sifat perdarahannya. Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti I . ginekomasti. mual-mual atau muntah? -. Pemeriksaan endoskopik 4. perlu dipikirkan kemungkinan keganasan lambung atau keganasan hati lobus kiri. perlu dicari tanda-tanda sirosis hati dengan hipertensi portal seperti: hepatosplenomegali. tekanan darah.

trombosit.Pemeriksaan penunjang diagnosis · Pemeriksaan laboratorik Pemeriksaan laboratorik dianjurkan dilakukan sedini mungkin. albumin. protein total. waktu pembekuan. ureum. atau apakah terdapat ulkus. Tergantung ketrampilan dokternya. sedangkan ahli-ahli lain melakukan terapi dengan laser endoskopik pada perdarahan lambung dan esofagus. Beberapa ahli langsung melakukan terapi sklerosis pada varises esofagus yang pecah. hematokrit. waktu perdarahan. morfologi darah tepi dan fibrinogen. doudenum. tergantung dari lengkap tidaknya sarana yang tersedia. analisa gas darah. koma atau syok adalah: kreatinin. elektrolit. Dari publikasi pengarang-pengarang luar negeri dan juga ahli-ahli di Indonsia terbukti pemeriksaan endoskopik ini sangat penting untuk menentukan dengan tepat sumber perdarahan SMBA. AntiHB S. film atau video untuk dokumentasi. SGOT. Pemeriksaan yang diperlukan pada komplikasi kegagalan fungsi ginjal. fosfatase alkali. globulin. Hb. gama GTkolinesterase. juga dapat dilakukan aspirasi serta biopsi untuk pemeriksaan sitologi. Pemeriksaan tes faal hati bilirubin. karena secara tidak langsung memberi informasi tentang ada tidaknya hepatitis kronik. · Pemeriksaan endoskopik Pemeriksaan endoskopik dengan fiberpanendoskop dewasa ini juga sudah dapat dilakukan di beberapa rumah-sakit besar di Indonsia. Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopik adalah dapat dilakukan pengambilan foto slide. amoniak. sirosis hati . sebaiknya dengan kontras ganda. SGPT. Pemeriksaan dilakukan dalam berbagai posisi dan diteliti ada tidaknya varises di daerah 1/3 distal esofagus. gula darah sewaktu. HBSAg. · Pemeriksaan radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan sedini mungkin bila perdarahan telah berhenti. polip atau tumor di esofagus. diikuti dengan pemeriksaan lambung dan doudenum. Mula-mula dilakukan pemeriksaan esofagus dengan menelan bubur barium. lambung. · Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning hati Pemeriksaan ultrasonografi dapat menunjang diagnosa hematemesis/melena bila diduga penyebabnya adalah pecahnya varises esofagus. jumlah eritrosit. Disarankan pemeriksaan-pemeriksaan seperti berikut: golongan darah. Pada endoskopik darurat dapat ditentukan sifat dari perdarahan yang sedang berlangsung. endoskopi dapat dilakukan sebagai pemeriksaan darurat sewaktu perdarahan atau segera setelah hematemesis berhenti. lekosit.

dapat diberi infus plasma . Pada perdarahan yang tidak berhenti perlu dipikirkan adanya DIC. defisiensi faktor pembekuan path sirosis hati yang lanjut atau fibrinolisis primer. Antasida dan simetidin Tindakan khusus · Medik intensif 1. maka keganasan pada lambung dan pankreas juga dapat dideteksi. Tindakan bedah elektif Tindakan Umum RESUSITASI Infus/Transfusi darah Penderita dengan perdarahan 500 -. Lavas air es dan vasopresor/trombin intragastrik 2. Bilamana darah belum tersedia. suatu alat endoskop mutakhir dengan transducer ultrasonografi yang berputar di ujung endoskop.1000cc perlu diberi infus Dextrose 5%. Infus vasopresin 5. Balontamponade 6. Koagulasi laser endoskopik 8. Pemeriksaan scanning hati hanya dapat dilakukan di rumah sakit besar yang mempunyai bagian kedokteran nuklir.dengan hipertensi portal. kadangkala diperlukan transfusi sampai 40 -. PENANGANAN PERDARAHAN SMBA Tindakan umum 1. sebaiknya dalam bentuk darah segar. Dengan alat endoskop ultrasonografi. Pada hipovolemik berat/syok.50% dari volume normal. keganasan hati dengan cara yang non invasif dan tak memerlukan persiapan sesudah perdarahan akut berhenti. Dengan pemeriksaan ini diagnosa sirosis hati dengan hipertensi portal atau suatu keganasan di hati dapat ditegakkan. Sterilisasi dan lavement usus 3. Hemostatika 4. Penderita dengan perdarahan yang masif lebih dari 1000 cc dengan Hb kurang dari 8g%. Pada penderita sirosis hati dengan asites/edema tungkai sebaiknya diberi infus Dextrose 5%. Ringer laktat atau Nacl 0. Lavas lambung 3. Resusitasi 2. Beta bloker 4.100 tetes atau dapat lebih cepat bila perdarahan masih terus berlangsung. Tindakan bedah darurat 2. Pada hipovolemik ringan diberi transfusi sebesar 25% dari volume normal. Sklerosis varises endoskopik 7. Kecepatan transfusi berkisar pada 80 -. perlu segera ditransfusi. sebaiknya di bawah pengawasan tekanan vena sentral. Embolisasi varises transhepatik · Tindakan bedah 1.9%.

antasida diberikan dalam dosis lebih rendah setiap 3 -.pirenzepin 20 mg tiap 8 jam i.v. Tindakan khusus MEDIK INTENSIF Lavas air es .6 jam.4 jam 10 cc. Sebagai pengganti simetidin dapat diberikan : -.9% dengan dosis 250 ug/jam. penderita terus dipuasakan. kemudian per oral. -. selang seling dengan Dextrose 5%. ANTASIDA DAN SIMETIDIN Pemberian antasida secara intensif 10 -. Bila perdarahan berhenti. LAVAS LAMBUNG DENGAN AIR ES Setelah keadaan umum penderita stabil. Setiap pemberian 1000 cc darah perlu diberi 10 cc kalsium glukonas i. untuk mencegah terjadinya keracunan asam sitrat. Pada perdarahan varises esofagus yang tidak berhenti setelah lavas air es. karena plasma ekspander dapat mempengaruhi agregasi trombosit. setelah perdarahan berhenti dapat mulai diberi susu + aqua calcis 50 -. mulamula setiap 30 menit 1 jam.somatostatin dilarutkan dalam infus NaCl 0.40 mg sehari parenteral.sucralfate sebanyak 1 -. -. karena bermanfaat untuk memperbaiki.2 jam. dipasang pipa nasogastrik untuk aspirasi isi lambung dan lavas air es. Bila air kurasan lambung tetap merah.6 jam i.15 cc setiap jam disertai simetidin 200 mg tiap 4 -.2 gram tiap 6 jam melalui pipa nasogastrik. berguna untuk menetralkan dan menekan sekresi asam lambung yang berlebihan. maka disarankan dilakukan pemeriksaan endoskopi yang dapat menentukan lokasi perdarahannya. demikian juga simetidin dapat diberi per oral 200 mg tiap 4 -.defisiensi kompleks protrombin. HEMOSTATIKA Yang dianjurkan adalah pemberian Vitamin K dalam dosis 10 -.100 cc/jam. Sedangkan pada perdarahan ulkus peptikum. Sesudah air kurasan menjadi merah muda atau jernih.ekspander maksimal 1000 cc. atau 50 mg tablet tiap 12 jam.v. dan secara bertahap ditingkatkan pada diit makanan lunak/bubur saring dalam porsi kecil setiap 1 -.v. gastritis hemoragika dan lainnya. terutama pada penderita dengan ulkus peptikum dan gastritis hemoragika. Pemberian asam traneksamat dan karbazokrom dapat pula diberikan. diperlukan tindakan medik intensif yang akan dibicarakan kemudian.

perdarahan dalam lambung dan doudenum juga ikut berhenti. Dapat pula diberikan bubuk trombin (Topostasin) misalnya 1 bungkus tiap 2 jam melalui pipa nasogastrik.Sterilisasi usus dengan antibiotika yang tidak dapat diserap misalnya Neomisin 4 x 1 gram atau Kanamycin 4 x 1 gram/ hari.1500 cc per hari. Beta Bloker Pemberian obat-obat golongan beta bloker non selektif seperti propanolol. Karena pembuluh darah arteri gastrika dan mesenterika ikut mengalami kontraksi. dicoba lavas lambung dengan air es ditambah 2 ampul Noradrenalin atau Aramine 2 -. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan : -. Infus Vasopresin Vasopresin mempunyai efek kontraksi pada otot polos seluruh sistem baskuler sehingga terjadi penurunan aliran darah di daerah splanknik.dan vasopresor/trombin intragastrik Bila perdarahan tetap berlangsung. akibat penurunan curah jantung sehingga aliran darah ke hati dan gastrointestinal akan berkurang. juga pada penderita asma dan penderita gangguan irama jantung seperti bradikardi/AV Blok. dianjurkan pemberian infus Comafusin Hepar 1000 -. -.Dapat diberikan pula laktulosa atau sorbitol 200 gram/hari dalam bentuk larutan 400 cc yang bersifat laksansia ringan atau magnesiumsulfat 15g/400cc melalui pipa nasogastrik.24 jam. maka selain di esofagus. oksprenolol. Obat golongan beta bloker ini tidak dapat diberikan pada penderita syok atau payah jantung. Ada ahli yang menyemprotkan larutan trombin melalui saluran endoskop tepat di daerah perdarahan di lambung. . alprenolol ternyata dapat menurunkan tekanan vena porta pada penderita sirosis hati. Untuk pencegahan ensefalopati hepatik dapat diberi infus Aminofusin Hepar 1000 -.4 mg dalam 50 cc air. yang selanjutnya menyebabkan penurunan tekanan portal.1500 cc per hari. sehingga pembuatan amoniak oleh bakteri usus berkurang. sehingga di bawah pengawasan endoskopik dapat mengikuti langsung apakah perdarahannya berhenti dan apakah terbentuk gumpalan darah yang agak besar yang perlu aspirasi dengan endoskop. Selain itu perlu dilakukan lavement usus dengan air biasa setiap 12 -. Bila penderita telah berada dalam keadaan prekoma atau koma hepatikum. Sterilisasi usus dan lavement usus Terutama pada penderita sirosis hati dengan perdarahan varises esofagus perlu dilakukan tindakan pencegahan terjadinya koma hepatikum/ensefalopati hepatik yang disebabkan antara lain oleh peningkatan produksi amoniak pada pemecahan protein darah oleh bakteri usus.

SB Tube terdiri dari 2 balon. perdarahan ulang timbul pada 21 .100% dan mortalitas berkisar pada 21 . dan dengan demikian menghentikan perdarahan di esofagus dan kardia. dosis diturunkan 0. Efek samping pada pemberian secara cepat ini yang pernah dilaporkan adalah angina pektoris.1 unit per menit untuk 8 jam berikutnya.Pemasangan dilakukan sedini mungkin. masing-masing untuk lambung dan esofagus. karena efek vaso kontriksi dari vasopresin pada arteri koroner. kurang dari 12 jam setelah dirawat. tidak koma/syok/gelisah dan kooperatif. yaitu 0.Penderita secara klinis menderita perdarahan varises esofagus.2 unit vasopresin per menit untuk 16 jam pertama dan bila perdarahan berhenti setelah itu. -. -. Cara pemberian vasopresin ialah 20 unit dilartkan dalam 100 -. diberikan dalam 10 -. Pada cara pemberian infus vasopresin dosis rendah lebih sedikit efek sampingyang ditemukan.200 cc Dextrose 5%. Balontamponade Tamponade dengan balon jenis Sengstaken Blakemore Tube atau Linton Nachlas Tube diperlukan pada penderita -penderita varises esofagusyang perdarahannya tetap berlangsung setelah lavas lambung dan pemberian infus vasopresin. sedangkan LN Tube terdiri hanya dari 1 balon yang mengkompresi daerah distal esofagus dan kardia.Vasopresin terutama diberikan pada penderita perdarahan varises esofagus yang perdarahannya tetap berlangsung setelah lavas lambung dengan air es. Prinsip bekerjanya SB atau LN Tube adalah mengembangkan balon di daerah kardia dan esofagus yang akan menekan. rasa mual.100%. infark miokard. Beberapa ahli lain menganjurkan pemberian infus vasopresin dengan dosis rendah. diare. Protokol pemasangan SB Tube : -.20 menit intravena. bila mungkin telah diendoskopi. . Selain itu juga ada penderita yang mengeluh tentang kolik abdomen. Tindakan pemasangan balon ini merupakan pilihan pertama pada penderita jantung koroner dan usia lanjut.Keadaan umum cukup baik.Sebelumnya dilakukan lavas lambung untuk mengeluarkan isi lambung terutama gumpalan darah. -. yang tidak dapat diberikan infus vasopresin.80%. fibrilasi ventrikel dan kardiak arest pada penderita penderita jantung koroner dan usia lanjut. Efek vasopresin dalam menghentikan perdarahan SMBA berkisar antara 35 .

SB Tube dipasang maksimal48 jam. Bila terjadi perdarahan ulang. Lavas lambung dan pemberian obat -obatan dapat dilakukan me lalui pipa sentral.Pemasangan SB Tube berkisar antara 12 . sodium morrhuate melalui . Angka pada garis ukuran SB Tube di lubang hidung berkisar antara 40 . hingga garis ukuran pipa bagian luar menunjukkan 50 cm dekat lubang hidung. sambil penderita disuruh menelan sampai SB Tube masuk ke lambung. -. sedangkan mortalitas berkisar antara 20 . -.Balon SB sebelum dipasang harus dites tidak bocor dan kemudian diolesi dengan salep zylocain atau parafin. karena pemasangan terlalu lama.24 jam. -. --SB Tube dimasukkan secara perlahan-lahan melalui lubang hidung. -. Sklerosis varises endoskopik Sejak 1970 ahli-ahli mencoba menghentikan perdarahan varises esofagus dengan penyuntikan bahan-bahan sklerotik seperti etanolamin.Balon lambung dikembangkan dengan 30 .60% penderita kemudian mengalami perdarahan ulang.50 cc udara dan SB Tube ditarik perlahan-lahan ke luar sampai balon lambung mencapai kardia dan terasa adanya tahanan pada penarikan lebih lanjut. Menurut laporan peneliti -peneliti. polidokanol.Penderita dipuasakan selama SB Tube terpasang.SB Tube difiksasi dengan plester.Pemasangan dilakukan oleh dokter atau perawat yang berpengalaman.200 cc udara tergantung ukuran SB Tube.92% perdarahan varises esofagus. kemudian dicoba dikempeskan dari dikontrol tiap-tiap jam dengan lava lambung apakah terjadi perdarahan ulang. Komplikasi pemasangan SB Tube adalah obstruksi laring serta asfiksi akibat migrasi balonke hipofaring dan ulserasi esofagus.-. tetapi 25 .45 cm. balon esofagus kemudian dikembangkan dengan 100 . -. Sekret di hipofaring perlu diaspirasi secara berkala.60%. pemasangan SB Tube dapat menghentikan 55 . balon SB Tube yang belum ditarik keluar itu dapat segera dikembangkan kembali.

mungkin dapat diterapkan terapi koagulasi dengan Argon/Neodym Yag Laser secara endoskopik.10 hari. mediastinitis. Selanjutnya sebanyak 30 -. Teknik penyuntikan dapat paravasal atau intravasal. Varises yang luas umumnya membutuhkan 2 . ulserasi. pemasangan SB Tube dan sklerosis varises endiskopik gagal dalam menghentikan perdarahan varises esofagus.esofagoskop kaku atau serat optik.3 x terapi dengan jangka waktu 7 .100%. sehingga sewaktu penyuntikan dilakukan melalui saluran pertama. nekrosis.14%. dengan tuntunan ultrasonografi dimasukkan jarum ke dalam hati sampai mencapai vena porta yang melebar. Pada transhepatik portalvenografi ini akan terlihat vena-vena kolateral utama termasuk varises esofagus. kemudian disorong kateter melalui mandrin tersebut sepanjang vena porta sampai mencapai vena koronaria gastrika dan disuntikkan kontras angiografin. Terapi ini dapat dilakukan segera setelah hematemesis berhenti. Karena pemakaian esofagoskop kaku membutuhkan anestesi umum.50 cc Dextrose 50% disuntikkan melalui kateter diikuti dengan suntikan . Sekarang lebih banyak digunakan endoskop serat optik baik yang umum maupun yang khusus dengan 2 saluran. Komplikasi metoda ini yang pernah dilaporkan adalah nyeri retrosternal. perdarahan ulang terjadi pada 10 . terapi sklerosis ini dilakukan beberapa hari kemudian.3% (116 dari 127 penderita). tetapi tergantung dari keahlian dokternya dapat dilakukan juga pada penderita yang sedang mengalami perdarahan akut. Demikian juga perdarahan SMBA lainnya seperti pada ulkus peptikum dan keganasan ternyata dapat dihentikan dengan koagulasi laser endoskopik. bila tindakan medik intensif lainnya tidak berhasil. penghisapan perdarahan yang mungkin terjadi dapat dilakukan melalui saluran kedua. Bila perdarahan dapat dihentikan dengan SB Tube atau infus vasopresin. Hanya alat ini sangat mahal.40% sedangkan mortalitas selama dirawat mencapai 30%. Mortalitas penderita yang diterapi dalam stadium interval ini lebih rendah 4 . Embolisasi varises transhepatik Caranya. dan sebagai komplikasi dapat terjadi ruptur esofagus. effusi pleura. striktur dan stenosis dari esofagus. Ada ahli yang melaporkan keberhasilan sampai 91. Di sini perdarahan dapat dihentikan pada 80 . Koagulasi laser e ndoskopik Bila pemberian vasopresin. maka metoda ini telah ditinggalkan.

maka perlu dilakukan tindakan bedah darurat. Perdarahan dari ulkus peptikum ventrikuli atau duodeni serta keganasan SMBA yang tidak berhenti dalam 48 jam juga memerlukan tindakan bedah. Seorang peneliti melaporkan bahwa 5 bulan sesudah embolisasi timbul varises esofagus yang baru. Perdarahan varises esofagus umumnya segera berhenti. karena tekniknya sukar dan sering mengalami kegagalan yang disebabkan trombosis vena porta atau adanya asites. Metoda ini belum banyak laporannya dalam kepustakaan. dapat dilakukan tindakan bedah elektif setelah 6 minggu . setelah keadaan umum penderita membaik dan pemeriksaan diagnostik telah selesai dilakukan. Bila tidak diperlukan tindakan bedah darurat.trombin. ditambah gel foam atau otolein. TINDAKAN BEDAH Setelah usaha-usaha medik intensif di atas mengalami kegagalan dan perdarahan masih berlangsung. seperti pintasan portosistemik atau transeksi esofagus untuk perdarahan varises esofagus. Komplikasi yang membahayakan adalah perdarahan intraperitoneal dari bekas tusukan jarum tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful