1

Limbah Cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang misalnya ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut. Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian di-proses dan setelah itu dibuang,Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan buangan air. Pada beberapa pabrik tertentu, misalnya pabrik pengolahan kawat, seng, besi baja ± sebagian besar air dipergunakan untuk pendinginan mesin ataupun dapur pengecoran. Air ini dipompa dari sumbernya lalu dilewatkan pada bagian-bagian yang membutuhkan pendinginan, kemudian dibuang. Oleh sebab itu pada saluran pabrik terlihat air mengalir dalam volume yang cukup besar. Air ketel akan dibuang pada waktu-waktu tertentu setelah melalui pemeriksaan laboratorium, sebab air ini tidak memenuhi syarat lagi sebagai air ketel dan karenanya harus dibuang. Bersamaan dengan itu dibutuhkan pula sejumlah air untuk mencuci bagian dalam ketel Air pencuci ini juga harus dibuang. Pencucian lantai pabrik setiap hari untuk beberapa pabrik tertentu membutuhkan air dalam jumlah banyak. Pabrik pengalengan ikan membutuhkan air pencuci dalam jumlah yang relatif harus banyak, Jumlah air terus menerus diperlukan mencuci peralatan, lantai dan lainlain,Karat perlu dicuci sebelum masuk pencincangan dan pada saat dicincang air terus-menerus mengalir untuk menghilangkan pasir abu yang terbawa. Air dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut maupun mengendap. Bahan ini ada yangkasar dan halus. Kerap kali air dari pabrik berwarna keruh dan temperaturnya tinggi. Air yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya mempunyai sifat tersendiri. Air limbah yang telah tercemar memberikan 577 ciri yang dapat diidentifikasi secara visual dapat diketahui dari kekeruhan, warna air, rasa, bau yang ditimbulkan dan indikasi lainnya. Sedangkan identifikasi secara laboratorium, ditandai dengan perubahan sifat kimia air di mana air telah mengandung bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi batas dianjurkan. Jenis industri menghasilkan limbah cair di antaranya adalah industri-industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, minyak kelapa sawit, baja dan besi, minyak goreng, kertas, tekstil, kaustiksoda, elektro plating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarnaan, daging dan lain-lain. Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-masing industri ini tergantung pada banyak produksi yang 3 dihasilkan, serta jenis produksi. Industri pulp dan rayon menghasilkan limbah air sebanyak 30 m setiap ton pulp yang diproduksi. Untuk industri ikan dan makanan laut limbah air berkisar antara 79 m3 sampai dengan 500 m3 per hari; industri pengolahan crumb rubber limbah air antara 100 m3 s/d 2000 m3 per hari, industri pengolahan kelapa sawit mempunyai limbah air: rata-rata 120 m3 per hari skala menengah. Persoalan limbah cair adalah limbah yang paling sering kita temui dibandingkan limbah padat ataupun limbah gas. Bahkan tidak jarang limbah padat justru berubah atau disatukan menjadi limbah cair. Persoalan terbanyak dari limbah cair adalah limbah yang terkandung di dalam air, atau dengan kata lain air limbah. Air limbah dapat berasal dari berbagai macam sumber, mulai dari air hujan, air buangan rumah tangga, perkantoran sampai industri. Air limbah ini umumnya dibuang melalui saluran / got menuju sungai ataupun laut. Terkadang dalam perjalannya menuju laut, air limbah ini dapat mencemari sumber air bersih yang dipergunakan oleh manusia. Dengan demikian penanganan air limbah perlu mendapat perhatian serius. Selain dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, air limbah juga dapat mengganggu lingkungan, hewan, a taupun

3. Pengolahan Lanjutan (Advanced Treatment) Pengolahan lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai dengan yang dikehendaki. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment) Pada tahap ini air limbah diberi mikroorganisme dengan tujuan untuk menghancurkan atau menghilangkan material organik yang masih ada pada air limbah. . Pengolahan Akhir (Final Treatment) Fokus dari pengolahan akhir (Final Treatment) adalah menghilangkan organisme penyebab penyakit yang ada pada air. 2. 5. seperti pasir. Tiga buah pendekatan yang umum digunakan pada tahap ini adalah fixed film. Pengolahan Awal/Pendahuluan (Preliminary Treatment) Tujuan utama dari tahap ini adalah usaha untuk melindungi alat-alat yang ada pada instalasi pengolahan air limbah. 4. kayu. plastik dan lain-lain. penghancuran atau pemisahan air dari partikel-partikel yang dapat merusak alat-alat pengolahan air limba. Pengolahan Primer (Primary Treatment) Tujuan pengolahan yang dilakukan pada tahap ini adalah menghilangkan partikel-artikel padat organik dan organik melalui proses fisika. sampah. Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan menjadi : 1. suspended film dan lagoon system. Misalnya untuk menghilangkan kandungan fosfor ataupun amonia dari air limbah. Pada tahap ini dilakukan penyaringan. Sehingga partikel padat akan mengendap (disebut sludge) sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di atas / permukaan (disebut grease).2 bagi keindahan. yakni sedimentasi dan flotasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan khlorin ataupun dengan menggunakan sinar ultraviolet.

Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. diinginkan agar bahan bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan -bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan. akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. pengolahan secara fisika pengolahan secara kimia pengolahan secara biologi Untuk suatu jenis air buangan tertentu. penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair. mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan. . Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bagi industri-industri besar.3 Dasar-Dasar Teknologi PENGOLAHAN LIMBAH CAIR Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. seperti industri pulp dan kertas. ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi. Namun demikian. teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai. Bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Pengolahan Secara Fisika Pada umumnya. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan: 1. 2. 3.

dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya.4 Proses adsorbsi. yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi).5. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10. Khusus untuk krom heksavalen. dan zat organik beracun. aerasi.5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9. biasanya dengan karbon aktif. Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. atau Na2S2O5) Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2). Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia. Pengolahan Secara Kimia Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid). SO2. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil. dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia. terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. senyawa fosfor. terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4. sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3]. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut. dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. . ozon hidrogen peroksida. logam-logam berat. baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi. kalsium permanganat. sehingga akhirnya dapat diendapkan. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

Untuk iklim tropis seperti Indonesia. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor). Di dalam reaktor pertumbuhan lekat. waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi. baik yang diaerasi maupun yang tidak.5 Pengolahan secara biologi Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efsien. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%). Kolam oksidasi dan lagoon. yang berlangsung dengan hadirnya oksigen. Proses aerob. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi. cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. proses anaerob menjadi lebih . kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain. 4. 2. trickling filter cakram biologi filter terendam reaktor fludisasi Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%. 2. 2. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan. antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. antara lain: 1. Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi. 3. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja. Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l. Proses anaerob. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor). yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Dalam i beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya. Sebagai pengolahan sekunder. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini. yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis: 1. mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis. yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional. Pada dasarnya. Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l. yaitu: 1. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya.

Pada saat ini. teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas. adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup. semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi. Pencemaran Dari Wikipedia Indonesia. dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam. energi. dan/atau komponen lain ke dalam air/udara. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. dimana uraian di atas dapat dijadikan sebagai acuan.6 ekonomis. sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi: y y y Pencemaran air Pencemaran udara Pencemaran tanah . Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup. tumbuhan atau benda lainnya. Dalam prakteknya saat ini. pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang sangat cepat. ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Pencemaran. menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988. maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia. zat. Namun pada prinsipnya.

Pengukuran adanya pencemaran air buangan industri. dilakukan secara kimia. minyak. pH. ammonia. pH. COD. pati. jenis buangan dan jumlah air yang menampungnya. koloid. Makanan dalam kaleng BOD. logam ± logam Detergen BOD. sulfida. BOD. Berat ringannya pencemaran. zat warna. Kebutuhan Oksigen Biologi (KOB = BOD) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK = COD). suspensi solid. suspensi solid. krom.7 limbah cair dari industri Jenis Industri Farmasi Roti Gula Bir BOD. nitrogen. suspensi solid. bakteri. ammonia. COD. suspensi solid. detergen. COD. panas (suhu). minyak dan lemak. Plastik dan bahan sintetis BOD. panas. total dissolved solid. alcohol. COD. Dari table tersebut di atas diketahui bahwa : Secara umum parameter yang digunakan dalam pencemaran air antara lain. logam ± logam.panas (suhu. pH. klorida Semen Total dissolved solid. ditambah dengan karakteristik air buangan industri yang bersangkutan. bakteri. bau. pH. total dissolved solid. suspensi solid. zat Kulit Tekstil pengisi. BOD. lemak gula.. total solid. suspensi solid. sulfida. minyak. dan air buangan dari aktivitas lainnya. zat warna. Pengolah susu BOD. pH.) . pH. suspensi solid. detergen. domestik. suspensi solid. COD. tergantung dari banyaknya buangan. biologi. pH. total dissolved solid. dan fisika. COD. Jenis Limbah BOD. vitamin. BOD. COD. bentos dan plankton. Pulp dan kertas BOD. BOD.

Sifat Fisika dan Sifat Agregat . Limbah padat 3. Jenis-jenis limbah padat: kertas. Organik Agregat contohnya Biological Oxygen Demand (BOD) e. plastik. Anorganik non Metalik contohnya Amonia (NH3-N) dengan metoda Biru Indofenol d. bersifat reaktif. karbon monoksida dan timah. sisa kemasan. Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat diukur dengan menggunakan metoda Titrimetrik b. kayu. karet/kulit tiruan. nitrogen oksida. yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap * Chemical sludge. peternakan. tumpahan. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) 1. Air Laut contohnya Tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA 1. gelas/kaca. contohnya Arsenik (As) dengan metoda SSA c. beracun. dan lain-lain. mudah terbakar. pertanian serta dari tempat-tempat umum. perkantoran. limbah dapat digolongkan menjadi 4 macam. sisa proses.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak. yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi * Excess activated sludge.4 Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya. 1. bakteri.8  Jenis-jenis Limbah Berdasarkan karakteristiknya. Mikroorganisme contohnya E Coli dengan metoda MPN f. kulit telur. Sifat Khusus contohnya Asam Borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik g. Limbah gas dan partikel 4. dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.1 Limbah cair Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn 2001). Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga. Limbah cair 2. yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur . yaitu : 1. Parameter Logam. organik. hidrokarbon. bersifat korosif.2 Limbah padat Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3. Limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi: * Primary sludge. Jenis-jenis limbah cair dapat digolongkan berdasarkan pada : a. kain. metal. limbah padat kegiatan perdagangan. sulfur dioksida. baik langsung maupun tidak langsung. menyebabkan infeksi. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak.3 Limbah gas dan partikel Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat zat (limbah) yang mengandung partikel (asap dan jelaga). dll 1. ozon (asap kabut fotokimiawi). dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus.

gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama. dan pencemaran utama sedangkan pada limbah tidak spesifik penggolongannya atas dasar kategori dan bahan pencemar .18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pada limbah spesifik digolongkan kedalam jenis industri. limbah B3 terbagi atas dua macam yaitu yang spesifik dan yang tidak spesifik. asal limbah. yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik. * Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.5 untuk yang bersifat basa. * Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit. percikan api. * Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2. seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi. Macam Limbah Beracun * Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan. sumber pencemaran. Sesuai dengan kriteria yang tercantum dalam peraturan pemerintah No. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan.0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12. * Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api.9 aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut * Digested sludge. kulit atau mulut. Perbedaan pokok antara limbah B3 spesifik dan tidak spesifik terletak pada cara penggolongannya. * Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja.

Umum. Data hasil pengawasan di DKI Jakarta per Juni 2005 menunjukkan bahwa dari 77 Rumah Sakit yang diawasi : Hanya 32 RS (40 %) yang mempunyai alat ukur debit Hanya 27 RS (35 %) yang melakukan swapantau Hanya 25 RS (32 %) yang memenuhi BMAL Disamping itu. dan sampah dapur.493 ton per tahun. ¿ Komposisi limbah padat rumah sakit terdiri atas : 85% limbah domestik. ¿ Limbah domestik yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 19% Beberapa peraturan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan Rumah Sakit antara lain diatur dalam : Permenkes 1204/Menkes/PerXI/2004. Dimana salah satu hasil pertemuan awal Thematic Working Group (TWG) on Solid and Hazardous Waste yang akan menindaklanjuti tentang penanganan limbah yang terkait dengan limbah domestik dan limbah medis. campak. pasien. kelainan organ genetik) dan resiko bahaya kimia. Pengelolaan limbah masih terpinggirkan dari pihak manajemen RS.diare. hal ini mengingat limbah medis termasuk kedalam kategori limbah berbahaya dan beracun. Selanjutnya pada tanggal 28-29 Pebruari 2008 dilakukan pertemuan pertama (TWG) on Solid and Hazardous Waste di Singapura membahas tentang pengelolaan limbah medis dan domestic di masing masing negara. Pada tanggal 8 Agustus 2007 telah dilakukan pertemuan High Level Meeting on Environmental and Health South-East and East-Asian Countries di Bangkok. Limbah medis sangat penting untuk dikelola secara benar. darah. Sebagian limbah medis termasuk kedalam kategori limbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infeksius. Hanya 19% limbah domestik yang telah diolah dan dimanfaatkan kembali. AIDS. limbah farmasi. limbah genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola dengan baik. karton. Masih banyak yang belum mengetahui tatacara dan kewajiban pengelolaan limbah medis baik dalam hal penyimpan limbah. biakan kultur. sisanya limbah domestik dari rumah sakit masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pada saat ini masih banyak rumah sakit yang kurang memberikan perhatian yang serius terhadap pengelolaan limbahnya. jarum suntik. hasil kajian terhadap rumah sakit yang ada di Bandung pada tahun 2005 menunjukkan: ¿ jumlah limbah rumah sakit yang dihasilkan di Bandung sebesar 3. Beberapa resiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat keberadaan rumah sakit antara lain: penyakit menular (hepatitis. plastik. perban. bahaya radiasi (kanker. Isu ini telah menjadi agenda pertemuan internasional yang penting. Sedangkan limbah infeksius merupakan limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit baik kepada petugas.10 LIMBAH RUMAH SAKIT Limbah domestik biasanya berupa kertas. Hal ini terlihat dalam struktur organisasi RS. influenza). Pemahaman ataupun pengetahuan pihak pengelola lingkungan tentang peraturan dan peryaratan dalam pengelolaan limbah medis masih dirasa minim. Limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi. logam berat. 15% limbah medis terdiri atas: 11% limbah infeksius dan 4% limbah berbahaya. pengunjung ataupun masyarakat di sekitar lingkungan rumah sak Limbah it. metal. mengatur tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit . Penaganan limbah medis sudah sangat mendesak dan menjadi perhatian Internasional. infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien. divisi lingkungan masih terselubung di bawah bag. mengatur tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Kepmen KLH 58/1995. gelas. Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan beresiko terhadap penularan penyakit. bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan penyakit menular atau media lainnya yang diperkirakan tercemari oleh penyakit pasien. incinerasi limbah an maupun pemahaman tentang limbah B3 sendiri masih terbatas.

rumah sakit diwajibkan melakukan pemilahan limbah dan menyimpannya dalam kantong plastik yang berbeda beda berdasarkan karakteristik limbahnya. Limbah domestik di masukkan kedalam plastik berwarna hitam. Pengelolaan limbah infeksius dengan menggunakan incinerator harus memenuhi beberapa persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Bapedal No 03 tahun 1995. 3. POHCs Polychlorinated biphenil (PCBs) Polychlorinated dibenzofuran (PCDFs) Polychlorinated dibenzo-p-dioksin Baku Mutu DRE 99. limbah laboratorium.99% 99. Peraturan tersebut mengatur tentang kualitas incinerator dan emisi yang dikeluarkannya. mengatur tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan Beracun (B3) Kepdal 01. peralatan laboratorium terkontaminasi. persyaratan lain yang harus dipenuhi dalam menjalankan incinerator adalah emisi udara yang dikeluarkannya harus sesuai dengan baku mutu emisi untuk incinerator. Dalam kode limbah D227 tersebut disebutkan bahwa limbah rumah sakit dan limbah klinis yang termasuk limbah B3 adalah limbah klinis.9999% 99. dan residu dari proses insinerasi. limbah kimia/farmasi kedalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radio aktif kedalam kantong warna merah.11 - PP18 tahun 1999 jo PP 85 tahun 1999. 4. kemasan produk farmasi.9999% 99. Baku Mutu DRE untuk Incinerator No Parameter 1. limbah sitotoksic kedalam warna kuning. Incinerator yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai penghancur limbah B3 harus memiliki efisiensi pembakaran dan efisiensi penghancuran / penghilangan (Destruction Reduction Efisience) yang tinggi.05 tahun 1995 tentang pengelolaan limbah B3 Limbah medis termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan beracun (LB3) sesuai dengan PP 18 thn 1999 jo PP 85 thn 1999 lampiran I daftar limbah spesifik dengan kode limbah D 227.9999% Disamping itu. 2. Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki tempat penyimpanan sementara limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Kepdal 01 tahun 1995. . limbah infeksius kedalam kantong plastik berwarna kuning. Dalam pengelolaan limbah padatnya. produk farmasi kadaluarsa.

Upaya pencegahan pencemaran dan minimisasi limbah yang sering dikenal dengan Produksi Bersih (Cleaner Production) akan memberikan keuntungan bagi pengelola dan lingkungan. 7. Recovery) terhadap limbah yang dihasilkannya serta melakukan penghematan dalam penggunaan sumber daya alam dan energi seperti penghematan air. Semaksimal mugkin harus diupayakan pencegahan terhadap timbulnya limbah yang seharusnya tidak terjadi. . ( Kementerian Negara Lingkungan Hidup mendorong Rumah Sakit agar dalam pengelolaannya tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga bersifat proaktif. Tahap awal dalam pengelolaan limbah medis adalah melakukan pencegahan pada sumbernya. Pelaksanaan preventif maintenance. Berikut adalah beberapa upaya dalam melakukan pencegahan timbulan limbah: Pelaksanaan House Keeping yang baik. Pemakaian air yang efisien akan mengurangi jumlah air yang masuk kedalam instalasi pengolahan limbah cair (IPLC). 9. Masih banyak rumah sakit yang dalam mengelola lingkungannya hanya mengandalkan terhadap kecanggihan teknologiend of pipe treatment dan belum memaximalkan opsi atau pilihan pencegahan dan minimisasi limbah. mencegah terjadinya ceceran bahan. 4. 11.2 1 5 0.2 0. Agar mencapai green hospital maka rumah sakit ddidorong untuk tidak hanya mengelola limbahnya sesuai degan peraturan saja tetapi juga menerapkan prisip 3R (Reuse. 12 13 14 Partikel Sulfur dioksida (SO2) Nitrogen dioksida (NO2) Hidrogen Fluorida (HF) Karbon Monoksida (CO) Hidrogen Chlorida (HCl) Total Hidrocarbon (sbg CH4) Arsen (As) Kadmiun (Cd) Kromium (Cr) Timbal (Pb) Merkuri (Hg) Talium (Tl) Opasitas Kadar Maksimum (mg/Nm2) 50 250 300 10 100 70 35 1 0. 5. Dengan berkurangnya jumlah limbah yang harus dimusnahkan dengan incinerator maka ak mengurangi an jumlah biaya operasionalnya dan akan mengurangi emisi yang dikeluarkan ke lingkungan. obat-obatan dan lain lain.2 10% Dalam penangan limbah medis ini rumah sakit dapat mengelolanya sendiri atau dikelola oleh rumah sakit lain atau pengelola lain yang sudah memperoleh izin dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 6. Kalaupun timbulan limbah tidak bisa dihindari maka perlu dilakukan segregasi atau pemilahan limbah sehingga limbah yang masih bisa dimanfaatkan atau didaur ulang tidak terkontaminas i oleh limbah infeksius. 10. Disamping itu pengelola juga didorong untuk terus meningkatkan pengelolalaan kesehatan lingkungan rumah sakitnya.12 Baku Mutu Emisi Udara untuk Incinerator No Parameter 1. Green Hospital Dalam mendorong pengelolaan lingkungan rumah sakit yang ramah lingkungan Green Hospital). Dengan pelaksanaan good house keeping yang baik di laboratorium dan kamar rawat akan menghindarkan terjadinya ceceran bahan kimia ataupun racikan obat. listrik. 8. Recycle. 3. bahan kimia. yang ketat akan menghindarkan terjadinya kerusakan alat yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah limbah yang terjadi. dengan menjaga kebersihan lingkungan. Contoh lainnya adalah pemisahan limbah klinis dengan limbah dari kegiatan non klinis. 2.

berarti mengurangi limbah yang terjadi. Pemilahan dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan limbah berdasarkan karakteristiknya. Beberapa limbah kimia yang dapat dimanfaatkan kembali antara lain adalah limbah radiologi seperti fixer dan developer dengan dikirimkan ke pihak ke3 yang berizin. Limbah domestik yang dapat didaur ulang ataupun dimanfaatkan harus dipisah dalam tempat terpisah. . Tahap ketiga adalah pemanfaatan limbah.13 - Pengelolaan bahan-bahan atau obat-obatan yang tepat. Limbah kimia dari laboratorium dan sisa racikan obat harus memiliki tempat penampungan tersendiri agar tidak mengkontaminasi limbah cair lainnya yang bukan limbah B3. Selanjutnya adalah penghancuran terhadap limbah infeksius dan padatan limbah B3 dengan incinerator. Hal ini bertujuan agar jumlah ataupun limbah yang harus ditreatmen secara khusus (limbah B3) tidak terlalu besar (minimal). Begitu pula dengan limbah domestik berupa sampah organik bisa untuk kompos. Incinerator yang memiliki nilai pembakaran dan penghancuran yang tinggi akan membakar habis limbahnya dan hanya meninggalkan sedikit sekali abu. gelas dan logam masih mempunyai nilai jual untuk di reuse. Abu yang dihasilkan dapat dikirim ke industri jasa pengolah limbah atau dimanfaatkan sendiri seizin Kementerian Negara Lingkungan Hidup. rapi dan selalu terkontrol sehingga tidak terjadi ceceran dan kerusakan bahan atau obat. Limbah yang masih bisa dimanfaatkan agar dipisahkan dari limbah yang tercemar oleh limbah B3 ataupun limbah infeksius. Limbah berbahaya dan beracun sendiri tidak menutup kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan ataupun untuk direuse. plastik. Limbah domestik harus terpisah dari limbah B3 ataupun limbah infeksius. Pada saat ini hanya sekitar 19% limbah domestik dari rumah sakit yang sudah dimanfaatkan untuk didaur ulang. Incinerator yang digunakan adalah incinerator yang mempunyai spesifikasi khusus sesuai dengan yang disyaratkan dalam Kepdal No 03 Tahun 1995. Limbah plastik bekas pengobatan lainnya seperti bekas infus yang tidak terkontaminasi limbah B3 atau limbah infeksius dapat didaur ulang. Limbah domestik berupa kertas/karton. Tahap selanjutnya terhadap limbah yang tidak bisa dihindari adalah langkah segregasi atau pemilahan.