P. 1
PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN

PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN

|Views: 542|Likes:
Published by Anita Pratiwi

More info:

Published by: Anita Pratiwi on Feb 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2013

pdf

text

original

PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN

PENDIDIKAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA Sebagian besar ekonom sepakat bahwa sumber daya manusia (human resources) dari suatu bangsa, bukan modal fisik maupun sumber daya material, merupakan factor yang paling menentukan kecepatan pembangunan social dan ekonomi bangsa yang bersangkutan. Mekanisme institusional pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan manusia adalah sistem pendidikan formal. Sebagian besar negara Dunia Ketiga telah diyakinkan bahwasanya penciptaan dan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan yang cepat secara kuantitatif merupakan kunci utama menyukseskan pembangunan nasional: semakin bertambah kesempatan pendidikan, semakin cepat pula proses pembangunannya. Sistem pendidikan di negara-negara Dunia Ketiga sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keseluruhan sifat-sifat dasar, tingkat kemajuan, dan karakter dari proses pembangunan nasional yang dijalani. Peran pendidikan formal tidaklah terbatas pada memberikan pengetahuan dan keahlian kepada masing-masing individu untuk dapat bekerja sebagai agen perubahan ekonomi (economic change agent) bagi masyarakanya. Pendidikan menyerap porsi besar anggaran belanja pemerintah di segenap negara-negara berkembang, menyita sebagian besar waktu dan kegiatan-kegiatan remaja dan anak-anak, serta memikul beban psikologis yang paling besar dari aspirasi pembangunan. PENDIDIKAN DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG Di banyak near berkembang, pendidikan formal adalah “industry” dari konsumen terbesar anggaran pemerintah. Bengsa-bangsa yang miskin telah menginvestasikan sejumlah uang yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Tamatan sekolah menengah pertama, dengan sedikit pengetahuan dalam hitung-menghitung dan keahlian administrasi, sangat diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi administrasi dan teknis atas segenap organisasi swasta serta pemerintah, dan juga untuk menggantikan tenaga-tenaga asing dari negara-negara maju bekas penjajahannya. Tamatan universitas dengan tingkat pelatihan yang lebih tinggi juga sangat diperlukan dalam rangka pengelolaan dan mengembangkan organisasi-organisasi modern milik swasta dan pemerintah. Di samping adanya kebutuhan-kebutuhan perencanaan sumber daya manusia (man-power planning), yakni untuk mendapatkan tenaga-tenaga kerja terdidik dalam berbagai tingkatan dalam rangka menyelenggarakan segenap kegiatan pembangunan, para anggota masyarkat sendiri, baik kaya maupun miskin, telah melakukan tekanan-tekanan politis yang sangat kuat terhadap pemerintah bagi penyediaan dan perluasan sekolah. Hal ini terjadi di semua negara berkembang. Para orang tua semakin menyadari bahwa pada masa yang hanya menerima tenaga-tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan, maka semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin banyak sertifikat yang dimiliki anak mereka, maka akan semakin baik

maka setiap perbaikan peranan dan status ekonomi mereka melalui peningkatan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan akan melipatgandakan daya dan kekuatan mereka guna menghancurkan lingkaran setan kemiskinan dan keterbatasan pendidikan. karena hal itu memang memperburuk ketimpangan kesejahteraan social. dengan sendirinya akan sangat memperbaiki kualitas sumber daya manusia selama beberapa generasi mendatang. serta memperbaiki mutu kesehatan dan nutrisi anak. 3. serta membaiknya pendidikan ibu-ibu mereka. berputar di sekitar dua proses ekonomi yang fundamental: (1) interaksi antara permintaan yang bermotivasi ekonomis dan penawaran yang bermotivasi politik sebagai . tingkat pengeluaran pemerintah negara berkembang untuk bidang pendidikan melonjak sangat tajam. dari segi ekonomi. Sebagai akibatnya. menengah. dan pendidikan tinggi di negara-negara berkembang ternyata jauh tertinggal dari yang ada di negara-negara maju. Peningkatan pendidikan kaum wanita tidak hanya akan memacu produktivitas sektorsektor pertanian maupun industry. pendidikan dan kesempatan kerja khususnya. Karena kaum wanitalah yang menanggung beban terbesar dari kemiskinan dan kelangkaan lahan garapan di banyak negara Dunia Ketiga. dari sisi permintaan maupun penawaran. 2. meredakan tingkat fertilitas. tetapi juga akan menurunkan usia pernikahan. KESENJANGAN GENDER: WANITA DAN PENDIDIKAN Dibandingkan dengan kaum pria. kesempatan untuk mengecap pendidikan bagi kaum wanita muda (remaja dan usia sekolah) sangat tertinggal. Peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak-anak. 4. Bagi golongan miskin. Kesenjangan pendidikan antargender (educational gender gap) ini semakin mencolok di negara-negara miskin. Diskriminasi pendidikan terhadap kaum wanita dapat manyebabkan terhambatnya pembangunan ekonomi.pula kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan berpendapatan tinggi dan jaminan hidup yang memuaskan. yaitu: 1. Ada 4 alasan peningkatan kesempatan bagi kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan. pendidikan dianggap sebagi jalan satu-satunya untuk mengangkat anak-anak mereka dari lembah kemiskinan. ILMU EKONOMI PENDIDIKAN DAN KETENAGAKERJAAN Sebagian besar kepustakaan dan diskusi-diskusi yang dilakukan oleh masyarakat mengenai pendidikan dan pembangunan ekonomi pada umumnya. Tingkat hasil pendidikan wanita di negara-negara Dunia Ketiga ternyata lebih tinggi daripada tingkat hasil pendidikan kaum pria. Angka persentase anggaran pendidikan terhadap pendidikan nasional maupun terhadap anggaran belanja nasional meningkat dengan pesat. Proporsi anak-anak usia sekolah yang melakukan pendaftaran dan belajar di sekolahsekolah dasar.

siapa saja yang mendapatkannya. dan besarnya anggota keluarga). dari masingmasing tingkatan pendidikan. yang sangat mempengaruhi tingkat permintaan terhadap pendidikan. Permintaan tingkat pendidikan yang sekiranya cukup untuk mendapatkan pekerjaan berpenghasilan tinggi di sektor modern bagi seseorang (dan selanjutnya bagi masyarakat secara keseluruhan) sangat ditentukan oleh 4 variabel berikut ini yaitu: 1. Penawaran dan Permintaan Pendidikan: Hubungan antara Kesempatan Kerja dan Permintaan Pendidikan Dari sisi permintaan. yang sering tidak ada sangkutpautnya dengan criteria ekonomi. Biaya-biaya pendidikan tidak langsung atau oportunitas. (2) biaya-biaya sekolah. yang harus dikeluarkan oleh siswa atau keluarganya. (2) pentingnya selisih antara manfaat dan biaya-biaya. seseoarang ingin sekolah karena pengaruh tradisi atai budaya. menengah dan universitas lebih banyak ditentukan oleh proses politik. Dari sisi penawaran. Tingkat penawaran pendidikan dari pihak pemerintah itu sendiri terjelma sebagai anggaran belanja pemerintahuntuk sektor pendidikan. jumlah sekolah pada tingkat sekolah dasar. Biaya-biaya langsung pendidikan individual. dan intruksi macam apa yang akan mereka terima. Permintaan terhadap merupakan suatu “permintaan tak langsung” atau permintaan turunan (derived demand). 4. . Selisih pendapatan atau upah. 3. Besar-kecilnya kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan disektor modern. dalam menentukan berapa banyak sekolah akan didirikan.tanggapannya. baik yang berskala individual maupun social. 2. serta segenap implikasi yang ditimbulkan oleh selisih-selisih tersebut terhadap strategi investasi di bidang pendidikan. Masih ada beberapa variable penting lainnya yang kebanyakan bersifat nonekonomi (misalnya. yakni: (1) harapan bagi seorang siswa yang lebih terdidik untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik dari sektor modern di masa yang akan datang (merupakan manfaat pendidikan individual bagi siswa atau keluarganya). ada dua hal yang paling berpengaruh terhadap jumlah pendidikan yang diinginkan. maksdnya perbedaan tingkat upah antara pekerjaan yang ada di sektor modern dan sektor-sektor lain diluar sektor modern atau sektor tradisional. karena ingin meningkatkan status social. maksudnya segenap biaya moneter (uang) yang harus dipikul oleh siswa dan keluarganya untuk membiayai pendidikan. baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. meneruskan tradisi pendidikan orang tua. Pelaksanaan atau alokasi anggaran itulah yang akan dipengaruhi oleh tingkat permintaan agregat dari masyarakat terhadap pendidikan.

Dengan demikian. Kesenjangan yang semakin melebar antara biaya individu dan biaya social akan lebih memacu tingkat permintaan atas pendidikan tinggi (biasanya lebih tertuju pada pendidikan tingkat tinggi daripada yang tingkatannya lebih rendah). jauh lebih kecil dan terus semakin terabaikan dibandingkan dengan manfaat individual. Manfaat dan Biaya Individual Di negara-negara berkembang pada umumnya. tingkat permintaan masyarakat akan pendidikan tingkat universitas (pasca pendidikan tingkat menengah) menjadi semakin terpacu. baik secara social maupun financial. yakni biaya yang harus ditanggung oleh si anak didik dan keluarganya sendiri justru akan meningkat secara lebih lambat atau bahkan bisa jadi akan mengalami penurunan. permintaa akan pendidikan bisa dpastikan semakin lama akan semakin meningkat.Tingkat permintaan terhadap pendidikan akan sangat tinggi karena manfaat individual yang diharapkan dri pendidikan yang lebih tinggi jauh lebih besar bila dibandingkan manfaat dari tingkat pendidikan yang lebih rendah atau alternative tidak berpendidikan (hal ini juga sudah diperhitungkan terhadap biaya-biayanya. baik yang langsung maupun tidak langsung. Manfaat pendidikan begitu mencolok karena aneka biaya individual. Namun orang-orang yang lebih makmur justru merendahkan bobot ijazah dengan cara terus-menerus malanjutkan pendidikan sampai tingkat yang setinggitingginya. segenap biaya-biaya social dari pendidikan meningkat secara cepat sehubungan dengan semakin banyaknya jumlah pelajar yang ingin mengecap pendidikan lebih tinggi. Manfaat social pendidikan (social benefits of education). maka biaya-biaya . Dinamika dari proses permintaan-penawaran terhadap kesempatan kerja pada akhirnya akan menuju pada suatu situasi di mana kesempatan bekerja untuk mereka yang hanya berpendidikan sekolah dasar mulai menurun. orang-orang yang karena berbagai macam alasan (kebanyakan karena kemiskinan) tidak dapat melanjutkan pendidikan akan berada dalam golongan orang-orang putus sekolah atau tidak berpendidikan yang sangat sulit mendapatkan bidang pekerjaan formal. Akibatnya. relative murah. Sebagai akibat dari terus berkembangnya fenomena negative pengutamaan ijazah atau sertifikat pendidikan (educational certification). Biaya social adalah biaya oportunitas yang harus ditanggung oleh seluruh masyarakat sebagi akibat dari adanya keinginan atau kesediaan masyarakat tersebut untuk membiayai perlunasan pendidikan tinggi yang mahal dengan dana yang mungkin akan lebih produktif bla diginakan pada sektor-sektor ekonomi yang lain. Sebagai akhir dari semuanya adalah adanya kecenderungan negative yang kronis di negaranegara berkembang untuk memperluas fasilitas pendidikan dengan kecepata yang sangat sulit dibenarkan bila dipandang dari segi alokasi sumber-sumber daya yang optimal. termasuk biaya oportunitas). Sedangkan biaya-biaya pendidikan individual (private cost of education). yakni manfaat dari pendidikan bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan teciptanya lonjakan permintaan yang begitu besar. Manfaat dan Biaya Sosial Vs.

Kedua. memperkuat. DAN PEMBANGUNAN: BEBERAPA MASALAH Hubungan antara pendidikan dan pembangunan adalah suatu proses dua arah. baik dilakukan dari dalam ataupun dari luar sistenya sendiri. penataan kembali system pendidikan secara cermat.yang harus ditanggung jauh lebih besar dan berat daripada sekedar biaya pembangunan gedung universitas dan segala fasilitasnya. Selama berbagai sinyal “harga”tidak disesuaikan agar mendekati realitas social. system pendidikan cenderung meneruskan. melainkan menjadi tujuan itu sendiri. Sedikit demi sedikit pendidikan tinggi bukan lagi menjadi alat. Dengan mengungkapkan struktur sosioekonomi masyarakat. ketimpangan atau perbedaan antara manfaat dan biaya social di satu sisi dengan manfaat dan biaya individu di sisi lain sebenarnya telah diciptakan secara artificial melalui kebijakan-kebijakan pemerintah dan swasta yang kurang tepat seperti terus dipertahankannya selisih upah. serta penentuan harga (pricing) jasa pendidikan yang tidak tepat. MASYARAKAT. persepsi individu mengenai pendidikan jauh melampaui nilai sosialnya. Apabila hal tersebut tidak muncul maka paling tidak akan segera tercipta dua bentuk misalokasi sumber daya manusia yang akan merugikan. sementara angka pengangguran terus melonjak. biasanya akan mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya tidak memerlukan tingkat pendidikan yang mereka miliki. Masyarakat bukannya memanfaatkan pendidikan. dengan output system pendidikan yang sudah amat berlebihan dari apa yang dapat diserap oleh perkonomian. Akibatnya. . tetapi justru diperbudak oleh pendidikan. maka misalokasi sumber daya nasional (dalam hal ini adalah terlalu besarnya pengeluaran untuk pendidikan formal) akan terus terjadi dan bahkan mungkin saja akan menjadi semakin buruk. Sebaliknya. Yang paling diperlukan di sini adalah struktur biaya dan rangsangan (intensif) yang dapat berfungsi secara baik sehingga mampu mengalokasikan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan yang ada ke dalam berbagai segmen perekonomian. banyak anak didik yang akan menyaksikan bidang-bidang pekerjaan yang sebenarnya cocok untuk mereka dan sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka miliki ternyata elah ditempati oleh orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi. Pertama. perhatian individu terus terarah ke pencapaian tingkat pendidikan yang lebih tinggi. bagi mereka yang elah menyesuaikan diri dengan “menurunkan” harapan mereka dan mencari pekerjaan yang seadanya di sektor modern. mempunyai potensi yang besar bagi terciptanya perbaikan-perbaikan pada struktur social dan ekonomi masyarakat seara keseluruhan. selektivitas pendidikan yang berlebihan. Masyarakat juga harus menanggung biaya social yang berupa semakin memburuknya alokasi sumber daya yang akan menyusutkan persediaan dana dan kesempatan untuk menciptakan kesempatan kerja secara langsung atau untuk menjalankan program pembangunan lainnya. PENDIDIKAN. Secara umum. di mana system pendidikan itu berada . dan menghasilkan kembali struktur sisial ekonomi yang sama.

yakni: 1. bahkan menentukan tingkat pertumbuhan GNP tidak pernah dipermasalahkan. Perluasan kesempatan bersekolah dalam segala tingkat telah mendorong pertumbuhan ekonomi secara agresif melalui : 1. maka negaranegara Dunia Ketiga tidak akan memiliki kader pimpinan dan generasi penerus yang handal untuk melaksanakan dan mengembangkan berbagai kegiatan pembangunan. buruh bangunan. Migrasi 5. Terciptanya suatu kelompok pimpinan yang terdidik untuk mengisi lowongan jabatan di unit usaha. mulai dari yang ditujukan untuk memberantas buta huruf dan memberikan keterampilan dasar sampai dengan yang dimaksudkan untuk membina sikap-sikap “modern”. Tersedianya angkatan kerja yang lebih luas (yang berarti kesempatan untuk memperoleh pendapatan) bagi para guru. dan sebagainya 3. Ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan 3. yang secara keliru dianggap hanya dapat disediakan melalui sistem pendidikan formal. Terciptanya angkatan kerja yang lebih produktif karena bekal pengetahuan dan keterampilan mereka lebih baik. Pembangunan daerah pedesaan Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Selama bertahun-tahun lamanya.Ada lima komponen pokok dari masalah pembangunan ekonomi Dunia Ketiga yang paling mendasar. dan dalam beberapa kasus tertentu. pemikiran yang mengatakan bahwa perluasan pendidikan senantiasa mendukung. baik dalam sektor public maupun sektor swasta. Tersedianya berbagai program pendidikan dan pelatihan. 4. . Tanpa adanya tenaga-tenaga tersebut. Pertumbuhan ekonomi 2. pabrik tekstil untuk seragam sekolah. perusahaan. sehingga nasib bangsa secara keseluruhan akan terancam. Lonjakan pertambahan penduduk dan tingginya tingkat fertilitas 4. dan organisasi milik pemerintahan dan swasta yang ditinggalkan oleh pekerja asing dan berbagai lowongan profesi yang lainnya. Hampir semua bangsa-bangsa Dunia Ketiga sangat kekurangan tenaga ahli maupun semi-ahli. 2. percetakan buku-buku sekolah. lembaga.

Kedua. pada awalnya menitikberatkan perhatian pada keterkaitan antara pendidikan. produktivitas tenaga kerja. dan Kemiskinan Berbagai penelitian di bidang ilmu ekonomi pendidikan yang dilakukan di negara-negara maju maupun di negara-negara dunia ketiga. Pendidikan.Bahwasanya tersedianya tenaga-tenaga kerja terampil dan terdidik sebagai syarat pentingnya berlangsungnya pembangunan ekonomi secara berkesinambungan sama sekali tidak perlu diragukan. pendidikan universitas yang biaya-biayanya disubsidi dengan menggunakan dana yang berasal dari masyarakat luas itu pada akhirnya justru hanya akan dinikmati oleh mereka yang berasal . Ketimpangan system pendidikan di banyak negara Dunia Ketiga tampak lebih mencolok pada pendidikan tingkat universitas. Ketimpangan Pendapatan. Pertama. sedangkan manfaatnya justru relative rendah bagi anak-anak dari keluarga miskin. Alasan-alasan yang menyebabkan biaya-biaya relative. adanya proses berdimensi financial yang cenderung mendepak anak-anak keluarga miskin dari bangku sekolah selama masa pendidikannya tersebut seringkali masih diperberat lagi oleh adanya biaya sekolah yang cukup mahal pada tingkat sekolah lanjutan. Mengingat sebagian besar mahasiswa universitas berasal dari golongan erpendapatan tinggi . Korelasi ini dapat dilihat terutama pada mereka yang menyelesaikan sekolah menengah dan universitas. yang sebagian atau seluruh biayanya disubsidi pemerintah. Akibat dari biaya oportunitas yang acapkali libih tinggi dari biayabiaya nyata ini. Ada dua alasan ekonomi mendasar yang menyatakan system pendidikan di banyak negara berkembang di banyak negara berkembang pada dasarnya tidak memperhatikan aspek pemerataan (equality). tingginya biaya oportunitas tenaga kerja yang harus ditanggung keluarga miskin jika anaknya bersekolah. manfaat yang diharapkan dari pendidikan sekolah dasar bagi anak-anak dari keluarga miskin justru lebih rendah. Pertama. kehadiran dan prestasi di sekolah cenderung lebih rendah bagi anak-anak keluarga miskin bila dibandingkan dengan keluarga yang berpendapatan lebih tinggi. biaya-biaya individual untuk menempuh sekolah dasar (terutama bila dipandang dari biaya oportunitas tenaga kerja seorang anak dari keluarga miskin) secara relative jauh lebih tinggi bagi anak orang miskin daripada biaya-biaya yang yang harus dipikul oleh anak-anak dari keluarga kaya. Alasan utama adanya efek buruk pendidikan formal terhadap distribusi pendapatan adalah adanya korelasi yang positif antara tingkat pendidikan seseorang dengan penghasilannya seumur hidup. Kedua. dan pertumbuhan output.

Ini karena mereka acapkali terpukau atau bahkan telah dikuasai oleh gagasan-gagagan yang berasl dari negara-negara kaya. Kalangan professional berpendidikan tinggi dalam jumlah ribuan meninggalkan negara asalnya secara permanen untuk mencari bidang pekerjaan yang lebih baik. Hasil akhirnya adalah perluasan system sekolah formal yang secara keseluruhan . Pendidikan juga memainkan peranan penting atas masalah migrasi internasional di kalangan tenaga-tenaga terdidik dari negara-negara berkembang (mereka hijrah kenegara lain untuk mendapatkan penghidupan dan pekerjaan yang dianggap lebih baik). Semakin baik atau tinggi pendidikan yang diterima kaum wanita. Masalah pengurusan intelektual internasional patut mendapat perhatian khusus bukan hanya karena pengaruhnya yang besar terhadap tingkat dan struktur pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang. kecerdasan. sesungguhnya jauh lebih serius dan lebih berbahaya daripada yang sifatnya eksternal (fisik). Pengurasan intelektual. Tingkat Fertilitas dan Kesehatan Anak Pendidikan juga memiliki hubungan erat dengan fertilitas. Mgrasi Internal dan Pengurangan Intelektual Pendidikan tampaknya juga merupakan slah satu factor pendorong migrasi internal (dari desa ke kota di dalam satu negara). dan kemakmuran bangsa. sudah banyak data-data empiris yang membuktikannya. karena jumlahnya semakin banyak. Pertama. Negara yang memperoleh manfaat justru bukan negara yang telah membesarkan mereka. Pengurasan intelektual “internal”. Pendidikan bagi Kaum Wanita. Ini merupakan suatu kenyataan yang menyedihkan. terciptalah suatu proses yang sangat ironis serta menyedihkan. Dengan demikian. Ada dua alasan utama unuk suatu kesimpulan. Kebutuhan-kebutuhan yang krustial (mutlak penting) seringkali terabaikan justru oleh kalangan professional yang berpendidikan sangat tinggi dan sangat terampil di negaranegara Dunia Ketiga. perluasan system pendidikan formal tingkat dasar cepat menciptakan tuntutan yang sangat kuat dari sisi permintaan terhadap perlusan sekolah tingkat lanjutan dan perguruan tinggi. yaknisuatu”transfer payment” dari golongan miskin kepada golongan kaya yang berlangsung melalui “program nasional pembebasan biaya pendidikan tinggi demi meningkatkan kualitas.dari keluarga-keluarga yang relative makmur. karena setelah mereka memperoleh pendidikan di negara-negara asalny dengan biaya social yang sangat besar. bukan hanya mengurangi jumlah tenaga potensial yang vital dari negara-negara berkembang. Fenomena yang disebut sebagai pengurasan intelektual (brain drain) tersebut semakin lama semakin penting. setelah berhasil mereka justru pergi untuk mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. maka tingkat fertilitas amereka(katakana saja kecenderungan untuk mempunyai banyak anak) akan semakin rendah. tetapi juga karena dampaknya terhadap pendekatan dan gaya yang digunakan dalam pengembangan system pendidikan negara Dunia Ketiga. Pendidikan. melainkan negara-negara lain yang berani menawarkan penghasilan lebih tinggi.

Pendidikan umum atau dasar 2. adanya kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan pendidikan formal (di sekolah) dan pendidikan nonformal (nonformal education) (luar sekolah) baik untuk anak-anak. 3. Yang terakhir. Coombs dan Manzoor Ahmed. upaya mendidik kaum wanita telah terbukti merupakan sebuah elemen kunci untuk menghancurkan lengkaran setan yang meliputi kesehatan anak yang buruk. Pendidikan kesejahteraan umumyang khusus dirumuskan untuk memperkuat institusiinstitusi dan proses kerja local serta nasional yang merupakan saluran penyampaian intruksi . kinerja pendidikan yang rendah. pendapatan yang minim. pria dan wanita yang dilakukan oleh Philip H.terlampau berlebihan. kelembagaan. dan perumahan yang lebih merata. gizi. serta tingkat fertilitas yang tinggi. Philip H. baik dari sektor pertanian maupun dari sektor nonpertanian. pembangunan pedesaan harus ditunjau dalam konteks transformasi ekonomi serta struktur social. pendidikan bagi kaum wanita memang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas mereka. Coombs dan Manzoor Ahmed menyajikan tipologi system pendidikan untuk menopang pembangunan pedesaan. yaitu: 1. distribusi pelayanan kesehatan. Pendidikan dan Pembangunan Pedesaan Upayaperwujudan proses pembangunan nasional di negara-negara Dunia Ketiga harus disertai dengan upaya penyeimbangan pembangunan antara desa dan kota. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa pendidikan bagi kaum wanita juga merupakan langkah yang tepat dalam rangka menurunkan tingkat kematian bayi. Pendidikan kesejahteraan keluarga yang khusus dirancang untuk memberikan pengetahuan. pemerataan kepemilikan lahan subur di pedesaan. keahlian dan sikap yang diperlukan guna memperbaiki kualitas kehudupan (kesejahteraan) keluarga. hubungan-hubungan dan cara-cara kerja di daerah pedesaan pada masa-masa mendatang. Kedua. Mekanismenya terutama melalui naiknya biaya oportunitas waktu untuk mengasuh anak. terutama pendidikan yang mempunyai relevansi langsung terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat desa. Ada 4 kategori utama. Prioritas pembangunan selama dasawarsa yang lalu telah menitikberatkan kepada pembangunan di masa mendatang menekankan pada pengembangan aneka kesemapatan yang bersifat ekonomis dan social di daerah pedesaan. Sasaran-sasaran pembangunan pedesaan yang harus dijangkau antara lain adalah penciptaan kesempatan kerja produktif yang lebih banyak. pengelompokan kebutuhan-kebutuhan pendidikan bagi anak-anak dan orang dewasa. Pertama dan yang paling utama.

Modifikasi system intensif dan sinyal-sinyal social maupun ekonomi eksternal yang berada diluar system pendidikan. Sinyal-sinyal dan Intensif Pemberlakuan kebijakan-kebijakan yang akan mampu memperbaiki ketidakseimbangan ekonomi dan distorsi intensif serta yang bisa melenyapkan berbagi macam hambatan politis dan social atas berlangsungnya mobilitas ke atas akan member dampak positif bagi peningkatan kesempatan kerja. dan memudahkan upaya penyempurnaan system pendidikan agar lebih sesuai dengan kepentingankepentingan pembangunan. perbaikan struktur pembiayaan oleh pemerintah dan individu. Modifikasi efektivitas dan pemerataan unsure-unsur internal atau yang berada di dalam system pendidikan itu sendiri. penghentian arus migrasi desa ke kota yang sekarang semakin meningkat. RANGKUMAN DAN KESIMPULAN: PILIHAN-PILIHAN UTAMA KEBIJAKAN DI BIDANG PENDIDIKAN System pendidikan pada dasarnya hanya mencerminkan dan meresproduksikan. struktur-struktur social dan ekonomi dari suatu masyarakat di mana system itu berada. yang seringkali justru mampu menentukan jangkauan. apapun bentuk dan jenisnya. struktur. yang sekiranya bisa dijadikan nafkah seumur hidup. 4. melalui penyesuaian materi-meteri pelajaran (terutama daerah pedesaan). 2. Pengubahan Pola Penjatahan Pekerjaan Berdasarkan Ijazah . Pendidikan ketenagakerjaan yang khusus dirancang guna membantu para siswa mengembangkan pengetahuan dan aneka keterampilan yang diperlukan untuk memasuki lapangan kerja atau merintis usaha-usaha ekonomi. bukannya mengubah. penyempurnaan metode seleksi dan promosi. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DI LUAR SISTEM PENDIDIKAN Penyesuaian atas Berbagai Ketidakseimbangan. maka setiap program ataupun serangakaian kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan-kebutuhan pembangunan harus harus melibatkan dua hal pokok berikut ini secara serantak: 1. dan orientasi permintaan agregat individu terhadap pendidikan serta timbulnya tanggapan politis dalam bentuk penyediaan tempat-tempat dan fasilitas sekolah oleh pemerintah.dan informasi mengenai berbagai hal yang erat kaitannya dengan kegiatan serta proyek pembangunan dan pemerintah pusat maupun daerah. serta peningkatan kualitas prosedur penilaian jabatan atau posisi pekerjaan atas dasar tingkat pendidikan (agar ijazah tidak terlampau diutamakan sehingga melebihi kompetensi.

Adanya pengenaan pajak dapat berfungsi sebagai diinsentif finansial bagi yang hendak melakukan migrasi. pemerintah negara asal perlu mengenakan pajak atas penghasilan para migrant professional yang mereka peroleh dari luar negeri.aupun moral. jika ia memang berniat meneruskannya ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DI DALAM SISTEM PENDIDIKAN Anggaran Pendidikan Pemerintah dapat menyisihkan lebih banyak dana anggaran untuk membiayai programprogram penciptaan kesempatan kerja di daerah pedesaan dan perkotaan. maupun jasa-jasa pelayanan komersial guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan . bukannya untuk pendidikan lanjutan dan tinggi. Penyesuaian Kurikulum Sekolah Dasar dengan Kebutuhan-kebutuhan Pembangunan Pedesaan Dalam rangka memaksimalkan produktivitas sumber daya manusia. Subsidi Penyediaan subsidi untuk pendidikan di tingkat yang lebih tinggi seharusnya dikurangi sebagai usaha untuk mengatasi distorsi permintaan agregat (individu) terhadap pendidikan. Kebijakan subsidi sedapat mungkin harus diarahkan agar individu itu sendiri yang akan menanggung sebagian besar biaya pendidikannya. maka pemerintahperlu menerapkan kebijakan-kebijakan yang sebelumnya telah dirancang sedimikian rupa sehingga akan mendorong atau memaksa pihak majikan mensyaratkan criteria pendidikan yang lebih realitas dan sesuai dengan kebutuhan bidang pekerjaannya. demi kepentingan nasional. atau harus menanamkannya kembali guna menunjang basis pembiayaan program-program pembangunan nasional. Pencegahan Pengurasan Intelektual Pembatasan secara langsung atau tidak langsung atas migrasi internasional yang dilakukan oleh tenaga-tenaga professional yang sangat terdidik dan terlatih merupakan hal yang sensitive. Salah satu caranya. Oleh karena itu secaraekonomis m. upaya pembatasan sementara atas arus perpindahan tenaga-tenaga terdidik tersebut dapat dibenarkan. baik itu pertanian skala kecil. dan juga pendidikan nonformal untuk anak-anak putus sekolah. Alokasi sebagian besar anggran pendidikan yang tersedia hendaknya dipusatkan untuk pembangunan pendidikan dasar. pertukangan dan usaha-usaha wiraswasta. Namun implementasinya memerlukan bantuan dan kerja sama dengan negara-negara tempat tujuan migrasi. kurikulum sekolah dasar. Hal ini dapat dilakukan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. perlu diorientasikan kepada pekerjaan khas pedesaan.Demi menghancurkan lingkaran setan spesifikasi jabatan secara berlebihan yang menimbulkan persyaratan pendidikan terlalu tinggi atas suatu pekerjaan (overeducation).

secara social. System kuota berdasarkan tingkat pendapatan yang ada sekarang. Akan tetapi pemberlakuan kurikulum dan system belajar di pedesaan yang berorientasikan pada tugas pekerjaan ini tidak akan mendapatkan dukungan yang positif dan efektif dari masyarakat tanpa terciptanya peluang-peluang ekonomi yang nyata di pedesaan. pemerintah perlu menetapkan kuota atau jatah yang dapat menjamin agar anak-anak didik yang berasal dari keluarga atau golongan berpendapatan rendah bisa duduk di bangku pendidikan lanjut dan tinggi.penduduk desa. serta mempertahankan struktur-struktur ekonomi dan social dualistic yang menghambat upaya penciptaan pertumbuhan ekonomi yang optimal. System kuota de faktovharus diganti dengan suatu alternative yang lebih menjamin anak-anak dari kalangan berpendapatan rendah berkesempatan untuk memperbaiki kemiskinan diri dan keluarganya. Ini hanya dapat terwujud jika hambatan-hambatan financial seringkali merintangi mereka dalam upayanya melanjutkan pendidikan telah tersingkir. baik itu bagi para petani kecil. para tukang. dan wiraswasta kecil. Kuota Guna mengimbangi dampak negative berupa memburuknya ketimpangan social seperti telah ditimbulkan oleh system pendidikan formal. . tidak bisa dikatan efisien maupun produktif. karena system yang ada saat ini cenderung memperparah kondisi kemiskinan dan kondisi distribusi pendapatn. baik bagi pertumbuhan ekonomi maupun bagi pemerataan pendapatan.

EKONOMI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN KADEK AYU ANITA PRATIWI 0706105008 .

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA 2009 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->