INFEKSI GENITAL Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantaraan tractus genitalis

. Untuk mencegah terjadinya infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masing-masing alat tractus genitalis memiliki mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tersebut diantaranya : • • Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah. Lendir yang kental dan liat pada canalis cervicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman. Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) semakin disadari telah menjadi masalah kesehatan dunia dan masalah kesehatan masyarakat yang serius tetapi tersembunyi. Infeksi alat reproduksi dapat menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu kehidupan sex. Berdasarkan penyebabnya, infeksi genital dibagi menjadi : 1. Infeksi endogen oleh flora normal komensal yang berlebihan termasuk didalamnya kandidiasis dan vaginosis bakterialis. 2. Penyakit menular seksual yaitu infeksi genital yang ditularkan melalui hubungan seks dengan pasangan yang telah terinfeksi termasuk diantaranya trikomoniasis ,gonore, chlamidia , condiloma akuminata , herpes genital dan lain-lain. 3. Infeksi iatrogenik yaitu disebabkan melalui prosedur medis yang kurang atau tidak steril. Gejala yang paling sering ditemukan pada penderita ginekologik adalah leukore (keputihan). Leukore (white discharge, flour albus) adalah gejala penyakit yang ditandai oleh keluarnya cairan dari organ reproduksi, dan bukan berupa darah. Keputihan adalah salah satu alasan yang paling sering mengapa perempuan memeriksakan diri ke dokter, khususnya dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Leukore dapat dibedakan antara yang fisiologik dan patologik. Penyeb paling penting dari leukore patologik adalah infeksi. Disini cairan mengandung banyak sel darah putih dan warnanya kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Organ yang paling sering terkena infeksi adalah vulva, vagina, leher rahim, dan rongga rahim.

1

vaginal sprays dan bedak. Radang pada vulva (vulvitis) merupakan radang selaput lendir labia dan sekitarnya. merah . nyeri dan kadang-kadang disertai rasa gatal. serta pemeriksaan Pap tes yang dapat mendeteksi adanya infeksi/ inflamasi. 2 . labia minora. Sebab timbulnya vulvitis diantaranya adalah : • • • • • • • Higiene yang kurang Gonococcus Candida albicans Trichomonas Oxyuris Pediculi pubis Diabetes Selain penyakit diatas. Untuk pengobatan. Untuk prosedur diagnostik dapat dilakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan darah dan urin. dan lain-lain. klitoris. labia mayora. VULVA Terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut : mons veneris.I. dan glandula paraurethralis. penggunaan bahan sintetik pada pakaian dalam. prosedur atau terapi. beberapa hal yang dapat menyebabkan vulvitis adalah penggunaan spermicida. Pada radang vulva biasanya vulva membengkak. pada prinsipnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • • • • Umur dan perjalanan penyakit Penyebab penyakit Jenis dan tingkat keparahan gejala Toleransi terhadap obat-obatan. Vulvitis dapat didiagnosa dari perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik serta pelvic examination. menggunakan pakaian yang lembab untuk waktu yang lama. glandula bartholini. vestibulum dengan orifisium uretra eksternum.

oxyuriasis dengan piperazin. Selain obat-obatan. yaitu kontak dengan penderita yang terinfeksi. lebih dari 18. merah. akan tetapi tindakan ini dapat menyebabkan perdarahan. akan tetapi dapat pula disebabkan oleh streptokokus. b. Kadang-kadang seseorang 3 . Infeksi pada glandula bartholini (Bartholinitis) Infeksi ini sering timbul pada gonorea. atau basil koli. pemeliharaan higiene pribadi sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi ini. Trichomonas dapat diobati dengan derivat imidazol.Terapi yang paling baik adalah terapi kausal. atau jika duktus tersumbat dapat menjadi abses. antimyotika. Kista bartholini tidak selalu mnyebabkan keluhan. Misalnya pada infeksi oleh kuman-kuman dapat diberikan salep yang mengandung antibiotika. kadang dirasakan sebagai benda berat dan/ atau menimbulkan kesulitan pada koitus. Akan tetapi apabila kista bartholini tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan gangguan. tindakan pembedahan tidak perlu dilakukan. Biasanya dipakai hidrocortisone. Pada bartholinitis akuta ditemukan : • • Kelenjar yang membesar.000 orang pengunjung klinik terdeteksi genital herpes. pediculi dengan DDT. Dalam hal pengobatan. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa risiko dan dengan hasil yang memuaskan. Tindakan ini terdiri atas ekstirpasi. dan 9% pada wanita. yang dinamakan herpes simpleks. nyeri dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Herpes genital adalah infeksi yang disebabkan oleh herpesvirus. Penggunaan estrogen cream atau hormone replacement therapy dapat direkomendasikan pada wanita postmenopaus. Angka kejadiannya pun meningkat 19% pada pria. pembedahan merupakan tindakan yang sering dilakukan. Herpes genitalis Pada tahun 2003 di UK. a. Isi dapat berubah cepat menjadi nanah yang dapat keluar dari duktusnya. Herpes genitalis biasanya didapat dari hubungan seksual.

tetapi sebagian lain hanya merasakan sebagai keluhan ringan saja. karena biasanya penderita tidak merasakan atau mengalami gejala apa-apa. akan tetapi beberapa orang lainnya dapat terjadi terus-menerus. vagina atau serviks dan dengan tes serologik. c. Biasanya rekurensi lebih sering terjadi pada tipe 2 dibandingkan tipe 1. Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakanpada lukaluka di vulva. II. Adanya leukore oleh sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. harus diusahakan kebersihan pada tempat bekas kondiloma. Kadang-kadang seseorang bisa merasakannya sebagai gejala yang berat. Beberapa penderita dapat mengalami rekurensi.tidak mengetahui bahwa ia terinfeksi herpes virus. Pada kondiloma yang luas. Keluhan yang biasa timbul berupa leukore. Gejala yang ditimbulkan mempunyai episode : • • • • Gejala biasanya dimulai antara 2-12 hari setelah kontak (biasanya 4 hari). Sebagai terapi dapat dilakukan terapi simptomatis dengan obat-obatan yang dapat mengurangi rasa nyeri dan gatal. Untuk mencegah terjadinya residif. vagina dan serviks uteri. Vaginitis 4 . Pemberantasan virus juga dapat dilakukan dengan larutan 1% neutral red atau 0. pada perineum. Akibat yang ditimbulkan dari serangan dapat berbeda-beda pada tiap individu. dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. Condiloma acuminata Lokasinya pada bagian vulva. Dapat terjadi rekurensi.1% larutan proflavine. karena pada tingkat ringan tidak menimbulkan gejala (silent). daerah perianal. dan leukore harus diobati. terapinya terdiri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi. diikuti penyinaran sinar flouresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20cm. Kondiloma yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10% podofilin dalam gliserin atau dalam alkohol.

• Corpus allienum: terutama pada anak-anak.seperti: -Trichomoniasi -pelvicinflammatory disease(PID) -Gonorrhea -Chlamydia -Syphilis -Chancroid -Human immunodefeciency virus dan -Alergi terhadap bahan kimia GEJALA -Vagina berwarna merah dan keputihan -gatal pada daerah kemaluan -perih pada lubang vagina -keluar cairan berbau tak sedap -vagina terasa panas/terbakar ANAMNESIS 5 . disebabkan oleh berbagai macam virus dan bakteri. tetapi juga alat-alat perangsang sex pada orang dewasa. • Higiene yang kurang. • Atrofi epitel vagina pada masa senil dimana epitel vagina kurang mengandung glycogen dan menjadi tipis. Vaginitis yang di sebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur. Beberapa keadaan yang dapat memudahkan infeksi: • Coitus. Vaginitis adalah salah satu peradangan atau infeksi pada lapisan vagina.Vagina dilindungi terhadap infeksi oleh pH yang rendah didalam vagina yang disebabkan oleh adanya basil Doderlain. terutama kalau smegma preputium mengandung kuman-kuman • Tampon-tampon didalam vagina misalnya untuk menampung darah haid. Vaginitis terjadi ketika flora vagina telah terganggu oleh adanya mikroorganisma patogen atau perubahan lingkungan vagina yang memungkinkan mikroorganisma patogen berkembang biak/berproliferasi.

Pemeriksaan garam faal Dalam pemeriksaan ini dapat dilihat antara lain. Pemeriksaan pH vagina Pada penderita vaginitis bakterial dijumpai pH vagina > 4. Tes ini cukup dapat percaya karena bersifat sensitif dan spesifik bila dikerjakan de-ngan baik. Bila dihapus tampak mukosa vagina yang normal. Cairan ini cenderung melekat pada dinding vagina dengan rata dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan difus. meningkat 100 sampai 1000 kali lebih banyak daripada normal. Karena bau yang timbul bersifat sementara. Pemeriksaan kultur Bermacam-macam media dianjurkan untuk pemeriksaan kultur antara lain agar 6 . leukosit. Pada pemeriksaan ditemukan cairan vagina dengan konsistensi dari encer sampai seperti lem.. gelas obyek hendaknya didekatkan ke hidung. e.5. Menurut Fleury (1983) pada penderita vaginitis dijumpai pH 5 5. vaginalis. berwarna abu-abu. Hasil dinyatakan positif bila tercium bau amoniak. Kadang-kadang terdapat peradangan ringan. sedangkan tanpa keluhan pH 4.5).Peptostreptococeus sp. Bau amis sering dinyatakan sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan dan bervariasi dari ringan sampai berat. Bau yang timbul me-rupakan produk metabolisme yang kompleks yaitu poliamin yang pada suasana basa akan menguap. tetapi tidak spesifik untuk vaginitis bakterial.5 dapat menyingkirkan kemungkinan adanya vaginosis bakterial.danMobiluncus sp. Pewarnaan gram Pada vaginitis bakterial jumlah bakteri G. Pemeriksaan pH va-gina ini bersifat sensitif. homogen dan berbau amis. (1978) yaitu dengan meneteskan KOH 10% di atas gelas obyek yang ada cairan vagina. Eschenbach (1988) berpendapat pH < 4. trikomonas dan clue cell. PEMERIKSAAN LABORATORIUM a. Tes amin dengan KOH 10% (tes Whiff) Tes amin ini mula-mula dilakukan oleh Pfeifer dkk. yang jumlahnya ber-variasi dari sedikit sampai banyak. b.5.Penderita biasanya mengeluh vagina yang berbau tidak enak (amis). d. Bac-teroides sp. c. lak-tobasilus.

b. kualitas cairan homogen. tercium bau amina yang amis pada penambahan KOH 10%. 7 .4). Sedangkan ampisilin atau amoksisilin dengan dosis 4 kali 500 mg setiap hari selama 5 hari. ataupun gonokokus. b. vaginalis).5. d. Kegagalan pengobatan dengan penisilin dan derivatnya dapat diterangkan dengan adanya beta laktamase yang di-produksi oleh Bacteroides sp. 4. biasanya kurang memuaskan dan penyembuhan hanya sementara selama penggunaan obat topikal tersebut 2. agar vaginalis. human blood agar. trikomonas.Dari pemeriksaan mikroskopis cairan vagina tidak ditemukan jamur. agar pepton starch dan Columbiacolistin-nalidixic acid. 2. ke-abu-abuan. c. Sistemik a. supositoria yang berisi tetrasiklin ataupun povidon iod in. Kultur biasanya dilakukan pada suhu 37° C selama 4872 jam. Topikal Pemakaian krim sulfonamida tripel. Sebagai media transport dapat digunakan media transport Stuart atau Amies KRITERIA DIAGNOSIS 1.Pemeriksaan kulktur.Pemeriksaan kromatografi gas-liquid: ratio suksinat-laktat meninggi (> 0. agar casman. PENGOBATAN 1.Metronidazol Dengan dosis 2 kali 400 mg atau 2 kali 500 mg setiap hari selama 7 hari atau tinidazol 2 kali 500 mg setiap hari selama 5 hari.cairan vagina ditandai gejala : a. pH > 4. 3.coklat. Clue cell (Gard.Penisilin dan derivatnya Penisilin G cukup efektif untuk beberapa bakteri anaerob dengan dosis kira-kira 2 10 juta Unit setiap hari selama 5 hari. encer sampai seperti lem. dicapai angka penyembuhan lebih dari 90%.

Eritromisin : Terutama efektif untuk bakteri anaerob gram positif seperti Bacteroides. no symptoms A yellow. a fever and flu-like symptoms Infection of the fallopian tubes Arthritis • • • Acyclovir Famciclovir Valacyclovir Gonorrhea Pelvic inflammatory disease Ceftriaxone with azithromycin or doxycycline Syphilis Rarely. possibly serious infection and on the cervix in the newborn Itching Sometimes a fever and flu-like symptoms A puslike discharge A frequent need to urinate Pain during urination Fever Pelvic pain Painless sore on the vagina or vulva Later.Tetrasiklindan Kloramfenikol Sekarang jarang dipakai karena kurang efektif d.Sefalosporin dan sefoksitin.c. serious heart or brain disorders Penicillin 8 . Streptococcus dan Clostridia e. gray or yellowish cloudy discharge with a foul or fishy odor that may become stronger after sexual intercourse Itching and irritation Complications Pelvic inflammatory disease Infections of the membranes around the fetus Infections of the uterus after delivery of a baby or after surgery Pelvic inflammatory disease Infection and scarring of the fallopian tubes Treatment Metronidazole (used first.Klindamisin Beberapa infeksi vagina Infection Bacterial vaginosis Symptoms A thin. f. white. in the vagina. the genital area. puslike discharge A frequent need to urinate Pain during urination • • • • Azithromycin Doxycycline Ofloxacin Tetracycline Genital herpes Abnormal vaginal bleeding Painful blisters that form sores in If present during delivery. taken as a vaginal gel or by mouth) Clindamycin Chlamydial infection Usually.

Mycoplasma hominis dan Peptostreptococcus species. Kandidiasis Vulvovaginal 9 . bakterial vaginosis merupakan penyebab vaginitis yang terbanyak. white. mencapai sekitar 40 sampai 50% dari kasus pada perempuan usia reproduksi. penyakit radang panggul (PRP) dan endometritis.mht Vaginosis Bakterial Di Amerika Serikat. fishy-smelling discharge Itching and irritation Thick. clumpy discharge (like cottage cheese) Moderate to severe itching and burning (but not always) Redness and swelling of the genital area No known serious complications Metronidazole (given by mouth only) Yeast infection (candidiasis) No serious complications • • • • • • • • Butoconazole Clotrimazole Econazole Fluconazole Ketoconazole Miconazole Terconazole Tioconazole Sumber: Vaginal Infections Women's Health Issues Merck Manual Home Edition. greenish yellow. douching dan kehamilan. Faktor risiko tambahan untuk terjadinya bakterial vaginosis termasuk pemakaian IUD. Akibat buruk lain termasuk di antaranya adalah peningkatan frekuensi hasil Papanicolaou (Pap) smears abnormal. Selulitis vaginal. frothy. Mobiluncus species. peran dari penularan secara seksual masih belum jelas. Walaupun angka prevalensi bakterial vaginosis lebih tinggi pada klinik-klinik kelamin dan pada perempuan yang memiliki pasangan seks lebih dari satu. PRP dan endometritis dapat terjadi jika perempuan menjalani prosedur ginekologis yang infasif ketika sedang menderita bakterial vaginosis. Infeksi ini disebabkan oleh perkembangbiakan beberapa organisme.Trichomoniasis A usually profuse. Berbagai penelitian membuktikan bahwa mengobati pasangan dari perempuan yang menderita bakterial vaginosis tidak memberi keuntungan apapun dan bahkan perempuan yang belum seksual aktif juga dapat terkena infeksi ini. termasuk di antaranya Gardnerella vaginalis. Bukti-bukti menunjukkan bahwa bakterial vaginosis adalah faktor risiko untuk terjadinya ketuban pecah dini dan kelahiran prematur. Pengobatan unfeksi ini selama kehamilan menurunkan risiko tersebut.

adalah penyebab ke tiga terbanyak dari vaginitis. diaphragma dan spermicide. dan sekitar 5% perempuan mengalami episode rekurensi. Sekitar 75% dari perempuan pernah mengalami kandidiasis vulvovaginal suatu waktu dalam hidupnya. Saat ini. Komplikasi kandidiasis vulvovaginal jarang terjadi.Kandidiasis vulvovaginal adalah penyebab vaginitis terbanyak kedua di Amerika Serikat dan yang terbanyak di Eropa. Belum jelas apakah rekurensi ini terjadi karena berbagai faktor predisposisi atau presipitasi. atau IUD. angka insidensi vaginitis trichomonal terus meningkat di kebanyakan negara-negara industri. Agen penyebab yang tersering (80 sampai 90%) adalah Candida albicans. Trikomoniasis Protozoa Trichomonas vaginalis. Candida glabrata) meningkat. 10 . Saat ini. Risiko kandidiasis vulvovaginal juga meningkat pada perempuan dengan diabetes yang sedang hamil atau minum antibiotik. sebuah organisme yang motile dengan 4 flagella. dan episode kandidiasis vulvovaginal tidak berhubungan dengan jumlah pasangan seksual yang dimiliki. Chorioamnionitis pada saat hamil dan syndrome vestibulitis vulva pernah dilaporkan. Faktor risiko yang lain termasuk melakukan hubungan seksual pertama kali ketika umur masih muda. Faktor risiko untuk terjadinya kandidiasis vulvovaginal sulit untuk ditentukan. mungkin merupakan akibat dari peningkatan penggunaan produkproduk anti jamur yang dijual bebas. Kandidiasis vulvovaginal rekuren/berulang didefinisikan sebagai terjadinya empat atau lebih episode kandidiasis vulvovaginal dalam periode satu tahun. frekuensi dari spesies non-albicans (misalnya. Penyakit ini mengenai 180 juta perempuan di seluruh dunia dan merupakan 10 sampai 25% dari infeksi vagina. melakukan hubungan seks lebih dari empat kali per bulan dan oral seks. Candida tidak ditularkan secara sexual. kecuali laki-laki tersebut tidak disunat atau ada peradangan pada ujung/glans penis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko untuk terinfeksi penyakit ini meningkat pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral. Mengobati laki-laki pasangan seksual dari seorang perempuan yang menderita kandidiasis tidak perlu dilakukan.

III.Trichomonas vaginalis menular melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 30 sampai 80 persen laki-laki pasangan seksual dari perempuan yang terinfeksi. stafilokokus dan lain-lain. 11 . Faktor risiko untuk trikomoniasis termasuk penggunaan IUD. Pasangan seksual harus diobati dan diberi instruksi untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai ke dua pihak sembuh. Servisitis non infeksi disebabkan oleh trauma lokal. ulkus molle dan granuloma inguinale dan pada tuberkulosis dapat ditemukan radang pada serviks. Trikomoniasis mungkin berhubungan dengan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur. Karena epitel selaput lendir canalis cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka lebih mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina. Servisitis Servisitis ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. sifilis. merokok dan pasangan seksual lebih dari satu. Terjadinya cervisitis dipermudah oleh adanya robekan serviks. Penyebab infeksi lebih sering ditemukan daripada non infeksi. Berbagai penelitian membuktikan bahwa penyakit ini meningkatkan angka penularan HIV. • Servisitis akut infeksi diawali di endoserviks dan biasanya ditemukan pada gonorea dan pada infeksi post abortum atau postpartum yang disebabkan oleh streptokokus. Pada beberapa penyakit kelamin seperti gonorea. dan biasanya penyebab infeksi ditularkan melalui hubungan seksual. • Servisitis kronika ditemukan pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. Serviks merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan yang mukopurulen. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau menjadi servisitis kronik. Trikomoniasis berhubungan dan mungkin berperan sebagai vektor untuk penyakit kelamin lain. Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut . Luka-luka kecil atau besar memudahkan kuman masuk ke dalam endoserviks dan kelenjar-kelanjarnya dan infeksi menahun.merupakan radang pada serviks uteri. radiasi atau keganasan. Sekitar 20%-50% dari perempuan dengan trichomoniasis tidak mengalami gejala apapaun. Servisitis dapat dibedakan menjadi servisitis akuta dan servisitis kronika.

hanya pada mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Sekret yang dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah. streptococcus dan bakteri tbc. Salpingitis dapat menjalar ke ovarium sehingga juga terjadi oophoritis. serviks bisa menjadi hipertrofi dan mengeras. 12 . Erosio dapat disembuhkan dengan obat keras seperti AgNO3 10% atau albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak. disamping itu oleh staphilococcus. Infeksi dapat terjadi sebagai berikut : Naik dari cavum uteri Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari apendiks yang meradang Hematogenterutama salpingitis Tb. Serviks kelihatan normal.Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan: 1. Karena radang menahun. 2. Salpingitis merupakan salah satu penyebab dari infertilitas . Jika servisitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10% dan irigasi Cervisitis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi. Paling sering disebabkan oleh infeksi gonococcus. Pada porsio uteri disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerahmerahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio disekitarnya. 3. Salphingitis Salphingitis merupakan infeksi pada tuba fallopii. Sekret mukopurulen bertambah banyak. IV. kecuali pengeluaran sekret yang agak putih-kuning. Servisitis ini tidak menimbulkan gejala. Sobekan pada serviks uteri lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Terapi yang dapat diberikan : Antibiotika terutama kalau ditemukan gonococcus dalam sekret. Mukosa mudah terkena infeksi dari vagina.

terjadi perlkatan dengan usus yang dapat diraba sebagai tumor. disebut tumor adnex. pasien sakit keras. Salpingoophoritis lebih sering disebut adnexitis.nyeri bila porsio digoyangkan – nyeri kiri dan kanan uterus – kadang ada penebalan tuba –tuba yang sehat tak dapat diraba. Terapi tergantung dari beratnya gejala. Defense kiri dan kanan diatas ligamentum poupart Mual dan muntah : ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum. Selain istirahat.Dalam kasus yang ringan salpingitis asimptomatik. Nyeri kiri dan kanan diperut bagian bawah terutama kalau ditekan. sehingga dapat keluar cairan dari genitalia penderita. • menoragi dan dismenore. 13 . Kadang ada tenesmus ani karena proses dekat pada rectum atau sigmoid. Gejala dari salphingitis antara lain : • • • • • • Demam tinggi denagn menggigil. Sekunder dari salpingitis dapat terjadi oophoritis. Kalau tekanan hidrosalping cukup besar maka cairan dapat menjalar ke dalam cavum uteri. Peritonitis dapat terjadi karena pyosalping yang pecah. terapi yang digunakan adalah pemberian antibiotik dan corticosteroid. Karena adnexitis. Toucher : . Kadang dapat pula terjadi pyosalping dan pyovarium dan setelah pus diabsorbsi terjadi hidrosalping.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful