INFEKSI GENITAL Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantaraan tractus genitalis

. Untuk mencegah terjadinya infeksi dari luar dan untuk menjaga jangan sampai infeksi meluas, masing-masing alat tractus genitalis memiliki mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tersebut diantaranya : • • Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah. Lendir yang kental dan liat pada canalis cervicalis yang menghalangi naiknya kuman-kuman. Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) semakin disadari telah menjadi masalah kesehatan dunia dan masalah kesehatan masyarakat yang serius tetapi tersembunyi. Infeksi alat reproduksi dapat menurunkan fertilitas, mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu kehidupan sex. Berdasarkan penyebabnya, infeksi genital dibagi menjadi : 1. Infeksi endogen oleh flora normal komensal yang berlebihan termasuk didalamnya kandidiasis dan vaginosis bakterialis. 2. Penyakit menular seksual yaitu infeksi genital yang ditularkan melalui hubungan seks dengan pasangan yang telah terinfeksi termasuk diantaranya trikomoniasis ,gonore, chlamidia , condiloma akuminata , herpes genital dan lain-lain. 3. Infeksi iatrogenik yaitu disebabkan melalui prosedur medis yang kurang atau tidak steril. Gejala yang paling sering ditemukan pada penderita ginekologik adalah leukore (keputihan). Leukore (white discharge, flour albus) adalah gejala penyakit yang ditandai oleh keluarnya cairan dari organ reproduksi, dan bukan berupa darah. Keputihan adalah salah satu alasan yang paling sering mengapa perempuan memeriksakan diri ke dokter, khususnya dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Leukore dapat dibedakan antara yang fisiologik dan patologik. Penyeb paling penting dari leukore patologik adalah infeksi. Disini cairan mengandung banyak sel darah putih dan warnanya kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Organ yang paling sering terkena infeksi adalah vulva, vagina, leher rahim, dan rongga rahim.

1

vestibulum dengan orifisium uretra eksternum. Radang pada vulva (vulvitis) merupakan radang selaput lendir labia dan sekitarnya. labia mayora. pada prinsipnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • • • • Umur dan perjalanan penyakit Penyebab penyakit Jenis dan tingkat keparahan gejala Toleransi terhadap obat-obatan. dan lain-lain. penggunaan bahan sintetik pada pakaian dalam. labia minora. Untuk prosedur diagnostik dapat dilakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan darah dan urin. glandula bartholini. menggunakan pakaian yang lembab untuk waktu yang lama. Untuk pengobatan. klitoris. beberapa hal yang dapat menyebabkan vulvitis adalah penggunaan spermicida. Vulvitis dapat didiagnosa dari perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik serta pelvic examination. 2 . serta pemeriksaan Pap tes yang dapat mendeteksi adanya infeksi/ inflamasi. nyeri dan kadang-kadang disertai rasa gatal. merah . vaginal sprays dan bedak.I. prosedur atau terapi. Pada radang vulva biasanya vulva membengkak. dan glandula paraurethralis. VULVA Terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut : mons veneris. Sebab timbulnya vulvitis diantaranya adalah : • • • • • • • Higiene yang kurang Gonococcus Candida albicans Trichomonas Oxyuris Pediculi pubis Diabetes Selain penyakit diatas.

a. Selain obat-obatan. atau basil koli. Kista bartholini tidak selalu mnyebabkan keluhan.000 orang pengunjung klinik terdeteksi genital herpes. Herpes genitalis biasanya didapat dari hubungan seksual. Penggunaan estrogen cream atau hormone replacement therapy dapat direkomendasikan pada wanita postmenopaus. Tindakan ini terdiri atas ekstirpasi. Trichomonas dapat diobati dengan derivat imidazol. Herpes genitalis Pada tahun 2003 di UK. Herpes genital adalah infeksi yang disebabkan oleh herpesvirus. akan tetapi dapat pula disebabkan oleh streptokokus. Pada bartholinitis akuta ditemukan : • • Kelenjar yang membesar. oxyuriasis dengan piperazin. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa risiko dan dengan hasil yang memuaskan. pemeliharaan higiene pribadi sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi ini. tindakan pembedahan tidak perlu dilakukan. pembedahan merupakan tindakan yang sering dilakukan. merah. Angka kejadiannya pun meningkat 19% pada pria. kadang dirasakan sebagai benda berat dan/ atau menimbulkan kesulitan pada koitus. yang dinamakan herpes simpleks. Dalam hal pengobatan. dan 9% pada wanita. antimyotika.Terapi yang paling baik adalah terapi kausal. atau jika duktus tersumbat dapat menjadi abses. b. akan tetapi tindakan ini dapat menyebabkan perdarahan. Infeksi pada glandula bartholini (Bartholinitis) Infeksi ini sering timbul pada gonorea. Kadang-kadang seseorang 3 . lebih dari 18. Biasanya dipakai hidrocortisone. nyeri dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Misalnya pada infeksi oleh kuman-kuman dapat diberikan salep yang mengandung antibiotika. yaitu kontak dengan penderita yang terinfeksi. Isi dapat berubah cepat menjadi nanah yang dapat keluar dari duktusnya. pediculi dengan DDT. Akan tetapi apabila kista bartholini tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan gangguan.

Gejala yang ditimbulkan mempunyai episode : • • • • Gejala biasanya dimulai antara 2-12 hari setelah kontak (biasanya 4 hari). Pada kondiloma yang luas. karena pada tingkat ringan tidak menimbulkan gejala (silent). Pemberantasan virus juga dapat dilakukan dengan larutan 1% neutral red atau 0. dan yang mengeringkan daerah yang kena infeksi. tetapi sebagian lain hanya merasakan sebagai keluhan ringan saja. Kadang-kadang seseorang bisa merasakannya sebagai gejala yang berat. diikuti penyinaran sinar flouresensi (20-30 watt) untuk 10-15 menit dengan jarak 15-20cm. Condiloma acuminata Lokasinya pada bagian vulva. Dapat terjadi rekurensi. karena biasanya penderita tidak merasakan atau mengalami gejala apa-apa. dan leukore harus diobati.tidak mengetahui bahwa ia terinfeksi herpes virus. Kondiloma yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10% podofilin dalam gliserin atau dalam alkohol. Beberapa penderita dapat mengalami rekurensi. akan tetapi beberapa orang lainnya dapat terjadi terus-menerus. II. Adanya leukore oleh sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. c. vagina atau serviks dan dengan tes serologik. pada perineum. Vaginitis 4 . Sebagai terapi dapat dilakukan terapi simptomatis dengan obat-obatan yang dapat mengurangi rasa nyeri dan gatal. Keluhan yang biasa timbul berupa leukore. Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakanpada lukaluka di vulva. daerah perianal. Biasanya rekurensi lebih sering terjadi pada tipe 2 dibandingkan tipe 1. vagina dan serviks uteri. harus diusahakan kebersihan pada tempat bekas kondiloma.1% larutan proflavine. Akibat yang ditimbulkan dari serangan dapat berbeda-beda pada tiap individu. Untuk mencegah terjadinya residif. terapinya terdiri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi.

Vagina dilindungi terhadap infeksi oleh pH yang rendah didalam vagina yang disebabkan oleh adanya basil Doderlain. disebabkan oleh berbagai macam virus dan bakteri. Beberapa keadaan yang dapat memudahkan infeksi: • Coitus.seperti: -Trichomoniasi -pelvicinflammatory disease(PID) -Gonorrhea -Chlamydia -Syphilis -Chancroid -Human immunodefeciency virus dan -Alergi terhadap bahan kimia GEJALA -Vagina berwarna merah dan keputihan -gatal pada daerah kemaluan -perih pada lubang vagina -keluar cairan berbau tak sedap -vagina terasa panas/terbakar ANAMNESIS 5 . • Atrofi epitel vagina pada masa senil dimana epitel vagina kurang mengandung glycogen dan menjadi tipis. Vaginitis adalah salah satu peradangan atau infeksi pada lapisan vagina. • Higiene yang kurang. Vaginitis terjadi ketika flora vagina telah terganggu oleh adanya mikroorganisma patogen atau perubahan lingkungan vagina yang memungkinkan mikroorganisma patogen berkembang biak/berproliferasi. • Corpus allienum: terutama pada anak-anak. tetapi juga alat-alat perangsang sex pada orang dewasa. terutama kalau smegma preputium mengandung kuman-kuman • Tampon-tampon didalam vagina misalnya untuk menampung darah haid. Vaginitis yang di sebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur.

gelas obyek hendaknya didekatkan ke hidung.5. c. leukosit. Menurut Fleury (1983) pada penderita vaginitis dijumpai pH 5 5. berwarna abu-abu. Bau yang timbul me-rupakan produk metabolisme yang kompleks yaitu poliamin yang pada suasana basa akan menguap. b. Cairan ini cenderung melekat pada dinding vagina dengan rata dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan difus. Karena bau yang timbul bersifat sementara. tetapi tidak spesifik untuk vaginitis bakterial. Bau amis sering dinyatakan sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan dan bervariasi dari ringan sampai berat. Hasil dinyatakan positif bila tercium bau amoniak. Pewarnaan gram Pada vaginitis bakterial jumlah bakteri G. (1978) yaitu dengan meneteskan KOH 10% di atas gelas obyek yang ada cairan vagina.Penderita biasanya mengeluh vagina yang berbau tidak enak (amis). Pemeriksaan garam faal Dalam pemeriksaan ini dapat dilihat antara lain. Bila dihapus tampak mukosa vagina yang normal. homogen dan berbau amis. Tes ini cukup dapat percaya karena bersifat sensitif dan spesifik bila dikerjakan de-ngan baik. e. meningkat 100 sampai 1000 kali lebih banyak daripada normal. Pemeriksaan pH va-gina ini bersifat sensitif. lak-tobasilus. sedangkan tanpa keluhan pH 4.5). Pemeriksaan kultur Bermacam-macam media dianjurkan untuk pemeriksaan kultur antara lain agar 6 . d. Eschenbach (1988) berpendapat pH < 4. vaginalis. Tes amin dengan KOH 10% (tes Whiff) Tes amin ini mula-mula dilakukan oleh Pfeifer dkk.Peptostreptococeus sp. PEMERIKSAAN LABORATORIUM a. Pada pemeriksaan ditemukan cairan vagina dengan konsistensi dari encer sampai seperti lem. trikomonas dan clue cell.5. yang jumlahnya ber-variasi dari sedikit sampai banyak.5 dapat menyingkirkan kemungkinan adanya vaginosis bakterial. Bac-teroides sp. Pemeriksaan pH vagina Pada penderita vaginitis bakterial dijumpai pH vagina > 4.. Kadang-kadang terdapat peradangan ringan.danMobiluncus sp.

Pemeriksaan kromatografi gas-liquid: ratio suksinat-laktat meninggi (> 0. b. Sedangkan ampisilin atau amoksisilin dengan dosis 4 kali 500 mg setiap hari selama 5 hari.Penisilin dan derivatnya Penisilin G cukup efektif untuk beberapa bakteri anaerob dengan dosis kira-kira 2 10 juta Unit setiap hari selama 5 hari.Pemeriksaan kulktur. 3. dicapai angka penyembuhan lebih dari 90%.coklat. tercium bau amina yang amis pada penambahan KOH 10%. c. 2. Clue cell (Gard. Sebagai media transport dapat digunakan media transport Stuart atau Amies KRITERIA DIAGNOSIS 1. trikomonas. pH > 4. kualitas cairan homogen. agar vaginalis. ke-abu-abuan. b.cairan vagina ditandai gejala : a. human blood agar. ataupun gonokokus.5. Kegagalan pengobatan dengan penisilin dan derivatnya dapat diterangkan dengan adanya beta laktamase yang di-produksi oleh Bacteroides sp. agar casman. PENGOBATAN 1. 7 . d. vaginalis). encer sampai seperti lem. Topikal Pemakaian krim sulfonamida tripel. Kultur biasanya dilakukan pada suhu 37° C selama 4872 jam. agar pepton starch dan Columbiacolistin-nalidixic acid. biasanya kurang memuaskan dan penyembuhan hanya sementara selama penggunaan obat topikal tersebut 2. 4.Metronidazol Dengan dosis 2 kali 400 mg atau 2 kali 500 mg setiap hari selama 7 hari atau tinidazol 2 kali 500 mg setiap hari selama 5 hari.Dari pemeriksaan mikroskopis cairan vagina tidak ditemukan jamur. Sistemik a.4). supositoria yang berisi tetrasiklin ataupun povidon iod in.

Eritromisin : Terutama efektif untuk bakteri anaerob gram positif seperti Bacteroides. taken as a vaginal gel or by mouth) Clindamycin Chlamydial infection Usually. in the vagina. f. Streptococcus dan Clostridia e. a fever and flu-like symptoms Infection of the fallopian tubes Arthritis • • • Acyclovir Famciclovir Valacyclovir Gonorrhea Pelvic inflammatory disease Ceftriaxone with azithromycin or doxycycline Syphilis Rarely.Klindamisin Beberapa infeksi vagina Infection Bacterial vaginosis Symptoms A thin. possibly serious infection and on the cervix in the newborn Itching Sometimes a fever and flu-like symptoms A puslike discharge A frequent need to urinate Pain during urination Fever Pelvic pain Painless sore on the vagina or vulva Later. the genital area. white. serious heart or brain disorders Penicillin 8 . no symptoms A yellow.Tetrasiklindan Kloramfenikol Sekarang jarang dipakai karena kurang efektif d. gray or yellowish cloudy discharge with a foul or fishy odor that may become stronger after sexual intercourse Itching and irritation Complications Pelvic inflammatory disease Infections of the membranes around the fetus Infections of the uterus after delivery of a baby or after surgery Pelvic inflammatory disease Infection and scarring of the fallopian tubes Treatment Metronidazole (used first. puslike discharge A frequent need to urinate Pain during urination • • • • Azithromycin Doxycycline Ofloxacin Tetracycline Genital herpes Abnormal vaginal bleeding Painful blisters that form sores in If present during delivery.Sefalosporin dan sefoksitin.c.

Mobiluncus species. Faktor risiko tambahan untuk terjadinya bakterial vaginosis termasuk pemakaian IUD. douching dan kehamilan. PRP dan endometritis dapat terjadi jika perempuan menjalani prosedur ginekologis yang infasif ketika sedang menderita bakterial vaginosis. white. Berbagai penelitian membuktikan bahwa mengobati pasangan dari perempuan yang menderita bakterial vaginosis tidak memberi keuntungan apapun dan bahkan perempuan yang belum seksual aktif juga dapat terkena infeksi ini. termasuk di antaranya Gardnerella vaginalis. Walaupun angka prevalensi bakterial vaginosis lebih tinggi pada klinik-klinik kelamin dan pada perempuan yang memiliki pasangan seks lebih dari satu. Kandidiasis Vulvovaginal 9 . clumpy discharge (like cottage cheese) Moderate to severe itching and burning (but not always) Redness and swelling of the genital area No known serious complications Metronidazole (given by mouth only) Yeast infection (candidiasis) No serious complications • • • • • • • • Butoconazole Clotrimazole Econazole Fluconazole Ketoconazole Miconazole Terconazole Tioconazole Sumber: Vaginal Infections Women's Health Issues Merck Manual Home Edition. Bukti-bukti menunjukkan bahwa bakterial vaginosis adalah faktor risiko untuk terjadinya ketuban pecah dini dan kelahiran prematur.mht Vaginosis Bakterial Di Amerika Serikat. fishy-smelling discharge Itching and irritation Thick. mencapai sekitar 40 sampai 50% dari kasus pada perempuan usia reproduksi. Selulitis vaginal. Mycoplasma hominis dan Peptostreptococcus species. Pengobatan unfeksi ini selama kehamilan menurunkan risiko tersebut. bakterial vaginosis merupakan penyebab vaginitis yang terbanyak. penyakit radang panggul (PRP) dan endometritis. frothy. Akibat buruk lain termasuk di antaranya adalah peningkatan frekuensi hasil Papanicolaou (Pap) smears abnormal. Infeksi ini disebabkan oleh perkembangbiakan beberapa organisme.Trichomoniasis A usually profuse. greenish yellow. peran dari penularan secara seksual masih belum jelas.

Kandidiasis vulvovaginal adalah penyebab vaginitis terbanyak kedua di Amerika Serikat dan yang terbanyak di Eropa. Komplikasi kandidiasis vulvovaginal jarang terjadi. Candida tidak ditularkan secara sexual. Penyakit ini mengenai 180 juta perempuan di seluruh dunia dan merupakan 10 sampai 25% dari infeksi vagina. mungkin merupakan akibat dari peningkatan penggunaan produkproduk anti jamur yang dijual bebas. diaphragma dan spermicide. kecuali laki-laki tersebut tidak disunat atau ada peradangan pada ujung/glans penis. melakukan hubungan seks lebih dari empat kali per bulan dan oral seks. adalah penyebab ke tiga terbanyak dari vaginitis. dan sekitar 5% perempuan mengalami episode rekurensi. Faktor risiko yang lain termasuk melakukan hubungan seksual pertama kali ketika umur masih muda. Candida glabrata) meningkat. Faktor risiko untuk terjadinya kandidiasis vulvovaginal sulit untuk ditentukan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko untuk terinfeksi penyakit ini meningkat pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral. Saat ini. Sekitar 75% dari perempuan pernah mengalami kandidiasis vulvovaginal suatu waktu dalam hidupnya. Chorioamnionitis pada saat hamil dan syndrome vestibulitis vulva pernah dilaporkan. Agen penyebab yang tersering (80 sampai 90%) adalah Candida albicans. frekuensi dari spesies non-albicans (misalnya. 10 . Risiko kandidiasis vulvovaginal juga meningkat pada perempuan dengan diabetes yang sedang hamil atau minum antibiotik. Trikomoniasis Protozoa Trichomonas vaginalis. atau IUD. sebuah organisme yang motile dengan 4 flagella. angka insidensi vaginitis trichomonal terus meningkat di kebanyakan negara-negara industri. Mengobati laki-laki pasangan seksual dari seorang perempuan yang menderita kandidiasis tidak perlu dilakukan. Saat ini. Belum jelas apakah rekurensi ini terjadi karena berbagai faktor predisposisi atau presipitasi. Kandidiasis vulvovaginal rekuren/berulang didefinisikan sebagai terjadinya empat atau lebih episode kandidiasis vulvovaginal dalam periode satu tahun. dan episode kandidiasis vulvovaginal tidak berhubungan dengan jumlah pasangan seksual yang dimiliki.

Sekitar 20%-50% dari perempuan dengan trichomoniasis tidak mengalami gejala apapaun. dan biasanya penyebab infeksi ditularkan melalui hubungan seksual. Servisitis Servisitis ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Trikomoniasis berhubungan dan mungkin berperan sebagai vektor untuk penyakit kelamin lain. Pasangan seksual harus diobati dan diberi instruksi untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai ke dua pihak sembuh. Penyebab infeksi lebih sering ditemukan daripada non infeksi. Pada beberapa penyakit kelamin seperti gonorea. 11 .Trichomonas vaginalis menular melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 30 sampai 80 persen laki-laki pasangan seksual dari perempuan yang terinfeksi. radiasi atau keganasan. Servisitis non infeksi disebabkan oleh trauma lokal. Trikomoniasis mungkin berhubungan dengan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur. Servisitis dapat dibedakan menjadi servisitis akuta dan servisitis kronika. Luka-luka kecil atau besar memudahkan kuman masuk ke dalam endoserviks dan kelenjar-kelanjarnya dan infeksi menahun. Berbagai penelitian membuktikan bahwa penyakit ini meningkatkan angka penularan HIV. Serviks merah dan membengkak dengan mengeluarkan cairan yang mukopurulen. Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut . Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau menjadi servisitis kronik. merokok dan pasangan seksual lebih dari satu. stafilokokus dan lain-lain. III.merupakan radang pada serviks uteri. • Servisitis kronika ditemukan pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. sifilis. Karena epitel selaput lendir canalis cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka lebih mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina. • Servisitis akut infeksi diawali di endoserviks dan biasanya ditemukan pada gonorea dan pada infeksi post abortum atau postpartum yang disebabkan oleh streptokokus. Terjadinya cervisitis dipermudah oleh adanya robekan serviks. ulkus molle dan granuloma inguinale dan pada tuberkulosis dapat ditemukan radang pada serviks. Faktor risiko untuk trikomoniasis termasuk penggunaan IUD.

IV.Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan: 1. Salpingitis merupakan salah satu penyebab dari infertilitas . Serviks kelihatan normal. Karena radang menahun. Pada porsio uteri disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerahmerahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio disekitarnya. 3. Erosio dapat disembuhkan dengan obat keras seperti AgNO3 10% atau albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak. Servisitis ini tidak menimbulkan gejala. Mukosa mudah terkena infeksi dari vagina. Jika servisitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10% dan irigasi Cervisitis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi. kecuali pengeluaran sekret yang agak putih-kuning. Salphingitis Salphingitis merupakan infeksi pada tuba fallopii. Sobekan pada serviks uteri lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion). 2. Terapi yang dapat diberikan : Antibiotika terutama kalau ditemukan gonococcus dalam sekret. serviks bisa menjadi hipertrofi dan mengeras. Sekret yang dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah. Salpingitis dapat menjalar ke ovarium sehingga juga terjadi oophoritis. streptococcus dan bakteri tbc. 12 . disamping itu oleh staphilococcus. hanya pada mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Sekret mukopurulen bertambah banyak. Paling sering disebabkan oleh infeksi gonococcus. Infeksi dapat terjadi sebagai berikut : Naik dari cavum uteri Menjalar dari alat yang berdekatan seperti dari apendiks yang meradang Hematogenterutama salpingitis Tb.

terapi yang digunakan adalah pemberian antibiotik dan corticosteroid. sehingga dapat keluar cairan dari genitalia penderita. Terapi tergantung dari beratnya gejala.nyeri bila porsio digoyangkan – nyeri kiri dan kanan uterus – kadang ada penebalan tuba –tuba yang sehat tak dapat diraba. pasien sakit keras. Toucher : . Gejala dari salphingitis antara lain : • • • • • • Demam tinggi denagn menggigil. Kadang ada tenesmus ani karena proses dekat pada rectum atau sigmoid. Peritonitis dapat terjadi karena pyosalping yang pecah. terjadi perlkatan dengan usus yang dapat diraba sebagai tumor. Sekunder dari salpingitis dapat terjadi oophoritis. • menoragi dan dismenore. Defense kiri dan kanan diatas ligamentum poupart Mual dan muntah : ada gejala abdomen akut karena terjadi perangsangan peritoneum. disebut tumor adnex. Kadang dapat pula terjadi pyosalping dan pyovarium dan setelah pus diabsorbsi terjadi hidrosalping. Salpingoophoritis lebih sering disebut adnexitis. Karena adnexitis. 13 .Dalam kasus yang ringan salpingitis asimptomatik. Nyeri kiri dan kanan diperut bagian bawah terutama kalau ditekan. Kalau tekanan hidrosalping cukup besar maka cairan dapat menjalar ke dalam cavum uteri. Selain istirahat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful