BAB V

PERAN SERTA MASYARAKAT DAN PEDOMAN PELAKSANA-AN PENATAAN RUANG

5.1 Kajian Teori dan Peraturan dan Perundangan 5.1.1 Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat dibagi dalam 3 (tiga) tahapan (Tabel V.1), yaitu : • Tahap Perencanaan, masyarakatlah yang paling memahami apa yang mereka butuhkan, dengan demikian mengarahkan pada produk rencana tata ruang yang optimal dan proporsional untuk berbagai kegiatan, sehingga terhindar dari spekulasi dan distribusi alokasi ruang yang berlebihan untuk suatu kegiatan. • Tahap Pemanfaatan, masyarakat akan menjaga pendayagunaan ruang yang sesuai dengan peruntukan dan alokasi serta waktu yang direncanakan, sehingga terhindar dari konflik pemanfaatan ruang. • Tahap Pengendalian, masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang yang nyaman dan serasi serta berguna untuk kelanjutan pembangunan. Bila dikaitkan dengan penataan ruang, maka tujuan peran serta masyarakat adalah : • Meningkatkan mutu proses dan produk penataan ruang; • Meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat memahami pentingnya pemanfaatan tanah, air, laut, dan udara serta sumber daya alam lainnya demi terciptanya tertib ruang; • Menciptakan mekanisme keterbukaan tentang kebijaksanaan penataan ruang; • Menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat dalam penataan ruang terutama membantu memberikan informasi tentang pelanggaran pemanfaatan ruang; • Menjamin pelibatan secara aktif peran serta masyarakat dalam kegiatan penataan ruang dengan hak dan kewajibannya. A. Hak dan Kewajiban Masyarakat Peraturan pemerintah Nomor 69 tahun 1996 telah menjabarkan dengan rinci hak dan kewajiban masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang, yaitu : • Berperan dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; • Mengetahui secara terbuka sejak awal Rencana Tata Ruang; • Menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang dan penataan ruang. Manfaat ruang tersebut dapat berupa manfaat ekonomi, sosial, dan atau manfaat lingkungan yang timbul akibat pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang; • Memperoleh hak penggantian dengan harga yang layak atas perubahan kondisi yang dalamnya sebagai akibat dari pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. B. Tata Cara Peran Serta Masyarakat • Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Nasional dilaksanakan dengan pemberian saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, keberatan, masukan terhadap informasi tentang arah pengembangan, potensi dan masalah serta rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah. Peran serta masyarakat ini dilakukan secara lisan atau tertulis kepada Menteri. • Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Nasional dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Menteri

dan kebudayaan dan di tiap daerah mempunyai adat-istiadat serta ciri-ciri yang berlainan pula. partisipasi masyarakat dapat digolongkan dalam berbagai bentuk sebagai berikut: TABEL V. termasuk pemberian informasi /laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan Bantuan pemikiran/ pertimbangan untuk penertiban dalam kegiatan . namun kiat yang terkandung dalam keikutsertaannya dapat dikatakan sama yaitu mensukseskan pembangunan daerah maupun nasional. kemampuan berpikir dan budaya hidupnya. Menurut Dusseldorp.. Universitas Sebelas Maret). udara dan sumber daya alam lainnya Perubahan/konversi pemanfaatan Memberi masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan ruang Menjaga. dalam ‘Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi’ (Slamet Y. memelihara & meningkatkan keles tarian lingkungan. agama.• Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Menteri. Pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara Bantuan pemikiran dan pertimbangan Menyelenggarakan kegiatan pembangun. • • • • • • • • • • • • • Rencana Rinci Tata Ruang Kota • • • • • • • • • Pengawasan thd pemanfaatan ruang kawasan. air. Memberikan informasi/laporan pemanfaatan ruang Bantuan pemikiran/ pertimbangan untuk penertiban kegiatan pemanfaatan ruang & peningkatan kualitas pemanfaatan ruang.an Konsolidasi pemanfaatan tanah. dan sumber daya alam lain utk mencapai • Pengendalian Pengawasan thd pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kota. saran. saran. bahasa. PEMANFAATAN DAN PENGENDALIAN TATA RUANG Rencana Rencana Tata Ruang Wilayah Kota • Perencanaan Memberikan masukan terhadap arah pembangunan Mengidentifikasi potensi & masalah pembangunan Memberi masukan dalam rumusan perencanaan Memberi informasi. C. air. Bentuk dan Peran Serta Masyarakat Yang Dibutuhkan Dalam Penataan Ruang Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku. pertimbangan atau pendapat dalam penyusunan strategi pelaksana-an Mengajukan keberatan terhadap RTRW Kabupaten/ Kota. udara. Peran serta masyarakat itu sangat tergantung pada situasi dan kondisi yang berbeda karena keadaan alam. Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan Bantuan tenaga ahli Memberikan kejelasan hak atas ruang kawasan Memberikan infor-masi. pertimbangan/pendapat dalam penyusunan rencana pemanfaatan ruang • Pemanfaatan Pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan perundangundangan Bantuan pemikiran/ pertimbangan bagi wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang di perkotaan dan perdesaan Menyelenggarakan kegiatan pembangun-an Konsolidasi pemanfaatan tanah. Dengan adanya perbedaan tersebut maka bentuk peran serta atau partisipasi masyarakat tiap daerah dalam penataan ruang akan tidak sama.1 PERENCANAAN.

2. yaitu partisipasi yang muncul karena adanya hal-hal yang membatasi ataupun karena situasi dan kondisi. Partisipasi ini dapat bersifat negatif atau positif tergantung dari situasi dan kondisi. 2. Pada umumnya masyarakat yang langsung terlibat atau terkena tata ruang tidak bereaksi apapun dan mereka hanya berprinsip tidak dirugikan.2 Perencanaan Advokasi dan Peran Serta Masyarakat Peranan dari para advokasi planner adalah untuk memfasilitasi partisipasi dari si miskin dan memberi keyakinan pada mereka bahwa masukan dari mereka turut . • Partisipasi para pengusaha. Partisipasi terbujuk. Mereka harus dapat memanfaatkan-nya sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan ataupun pelaksanaannya. dapat berupa hasil seminar. spontan maupun terbujuk. atau ketua adat dan lembaga lainnya. Dalam rangka menjaga ketertiban umum maka setiap orang dibatasi ruang geraknya karena apabila terjadi suatu pelanggaran norma hukum dapat dikenakan sanksi hukum. 1. dapat berupa saran-saran tentang efektivitas pemanfaatan lokasi maupun bantuan fasilitas. Peran serta masyarakat tersebut dapat terdiri dari: • Partisipasi para ilmuwan. • Masyarakat umum. pimpinan suatu agama. yaitu bila seseorang tergerak untuk berpartisipasi karena adanya pihak lain yang menggerakkannya baik melalui sosialisasi atau pun engaruh sehingga secra sukarela ikut beraktivitas dalam suatu kelompok tertentu.Rencana • • • • Perencanaan Memberi tanggapan thd rancangan rencana rinci tata ruang kawasan Kerjasama dalam penelitian & peng-embangan Bantuan tenaga ahli Bantuan dana • • • Pemanfaatan pemanfaat-an ruang kawasan yang berkualitas Perubahan/konversi pemanfaatan ruang sesuai dgn rencana rinci tata ruang kawasan Pemberian usulan dalam penentuan lokasi dan bantuan teknik Menjaga. Partisipasi spontan. Partisipasi terpaksa karena situasi dan kondisi adalah keterlibatan seseorang untuk berpartisipasi karena sudah tidak ada upaya lain. maka para petugas lapangan harus dapat menggali dan menangkap aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat. memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan & peningkat-an kualitas pemanfaat an ruang kawasan • • Partisipasi Bebas. dan diskusi yang membahas tata ruang. yaitu suatu partisipasi yang didasarkan pada keyakinan dan kebenaran tanpa adanya pengaruh dari orang lain. • Partisipasi para praktisi hukum: dapat berupa saran pencegahan atau penyelesaian permasalahan. lokakarya. Pihak yang mempengaruhi atau menggerakkan dapat berasal dari aparat pemerintah. 5. Partisipasi terpaksa karena adanya peraturan yang mengikat (aturan hukum).1. Partisipasi Terpaksa. Untuk menjamin kelancaran pembangunan maka partisipasi semua pihak tersebut di atas kiranya sangat diperlukan baik dalam bentuk partisipasi bebas. Partisipasi bebas dapat dibagi dalam 2 (dua) sub-kategori. Dalam rangka menumbuhkan langkah kegiatan agar masyarakat dapat berperan serta dalam pembanguan secara aktif. yaitu: 1. yaitu partisipasi yang dapat terjadi bila individu atau sekelompok masyarakat melibatkan diri dalam kegiatan tersebut secara sukarela dengan penuh kesadaran. pertimbangan dan pendapat yang positif serta mengikuti perkembangan selanjutnya. namun tidak menutup kemungkinan munculnya beberapa pemuka masyarakat yang secara aktif memberikan saran.

Perencana harus memahami perannya sebagai profesional yang mempunyai kompetensi secara teknis dapat menjadi penengah untuk setiap perbedaan pandangan. memperluas fokus dari profesi diluar perencanaan fisik. Keberhasilan Perencanaan Advokasi Aspek perencanaan advokasi yang tidak berhasil adalah bila dipandang dari definisi dan istilah. Partisipasi haruslah cukup luas untuk memasukkan orang-orang yang kurang diperhitungkan/berpengaruh dalam organisasi formal.diperhitungkan dalma penseleksian alternatif. Karenanya adalah hal biasa bagi para perencana advokasi bekerja sebagai sukarelawan untuk menseleksi kasus-kasus yang akan mereka tangani dan perencanaan advokasi dapat dengan mudah menjadi nama dari suatu aktivitas sebagai suatu kepentingan politik dari para perencananya. dan tidak seperti definisi sesungguhnya dari advocacy planning. Karena telah lebih dari tigapuluh tahun perencanaan advokasi telah diintegrasikan dalam bentuk planning education dan berlangsung terus hingga sekarang dalam bentuk neighbourhood planning. yang berarti kaum yang terpinggirkan ini harus terorganisir. • Sukarelawan mempunyai waktu yang terbatas dalam mengerjakan pekerjaan advokasinya. menjadi penghubung antar kelompok yang saling berhubungan. 1985. Metodologi Perencanaan Advokasi Metodologi yang dapat digunakan oleh perencana advokasi adalah berdasarkan pada pengalaman-pengalaman masa lalu dengan oposisi masyarakat terhadap masalah yang ada. Advocacy planning mengizinkan perencana untuk berpartisipasi dalam pembentukan identitas masyarakat dalam kelompok dimana mereka bekerja. diantaranya: • Pembiayaan untuk perencanaan advokasi tidak selalu tersedia. Dalam hal ini para perencana mencari jalan keluar untuk menolong kelompok yang terpinggirkan dengan asumsi dan dedikasi yang sama dengan profesi-profesi masyarakat lainnya. advocacy planning telah berhasil dalam menjamin suatu kelompok profesional yang merupakan anggota kelompok kultur yang dominan untuk menghubungkan kelompok kaya dan kelompok miskin. Tetapi ini dapat menjadi hubungan klien-tenaga ahli yang konvensional dan istilah advokasi menjadi tidak sesuai lagi. A. • Issue perencanaan ditulis dalam bahasa yang kompleks dan abstrak. dan mempromosikan alternatif pembentukan komisi perencanaan yang independen. 1968).339). Hal. dan melakukan negosiasi untuk melindungi berbagai kepentingan publik. antara pusat kultur dan orang luar yang bekerja untuk dan di dalam komunitas. Enam langkah utama dalam metodologi atau pendekatan bagi advocacy planning adalah : . Pada prakteknya advokasi tidaklah mudah dicapai. Sebagai akademisi di bidang perencanaan John Forrester menyatakan Advocay planning secara nyata memberikan mandat atau kewenangan kepada perencana untuk mempromosikan sesuatu lebih dari jaminan dengan konsesi minimal yang tidak terarah atau memanipulasi partisipasi warga. dan berhasil menghadapi institusi inti dengan melawan rencana komprehensif dari pilar sejarahnya. • Ketika suatu komunitas dari kelompok masyarakat menjadi terorganisir mereka dapat saja meminta jasa dari para perencana. dan segala keperluan ini tidak mudah untuk dimengerti bahkan oleh perencana yang menginginkan partisipasi mereka. Pada kenyataannya. Perencana harus berusaha memperluas pilihan dan kesempatan untuk seluruh masyarakat (WACHS. community development dan equity planning. B. Kelompok miskin tidak cukup mampu untuk merencanakan sesuatu untuk mereka sendiri dikarenakan mereka tidak mempunyai keahlian yang diperlukan serta waktu dan energi yang memadai (Edelston dan Kolodner. • Seorang miskin bisa minta advokasi secara individual kepada para pengacara. pendekatannya tidak mengamanatkan pengembangan suatu alternative plan. • Hubungan antara tenaga ahli dan klien yang diperlukan untuk advokasi planning tidaklah mudah dicapai karena profesi ini masih belum memasyarakat alias belum banyak diketahui umum. Tetapi isue-isue perencanaan memerlukan aksi kolektif. Kode etik dari lembaga Amerika untuk institut certified planners mengarahkan para perencana utnuk berusaha memberi kepada warga negara kesempatan untuk ikut menikmati hasil-hasil pembangunan dari hasil rencana dan program pembangunan. Terdapat beberapa kendala.

perencana advokasi mulai terlibat ketika diminta atau diundang oleh masyarakat. Penentuan waktu. termasuk protes publik. pemecahan masalah secara efisien dan equitable dapat diadopsi oleh seorang kandidat walikota yang kemudian memenangkan pemilihan karena mendukung masyarakat. atau seorang advocacy planner dalam aspek lainnya. Advocacy planner harus memahami taktik-taktik pengorganisasian untuk membawa perhatian ketidakadilan. Tekanan politik dari masyarakat dapat menghentikan kasus-kasus yang ada yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi.• Pengenalan terhadap Permasalahan Dalam suatu permasalahan dalam masyarakat. developer/operator dari fasilitas yang bersangkutan merasa bahwa oposisi masyarakat tidak akan menyerah. atau suatu universitas atau perwakilan badan pemerintah yang terkait). sehingga usahanya harus berupa kolaborasi langsung dengan para pemimpin masyarakat dan/atau organisasi masyarakat. pihak fasilitas dapat • • • • . seorang university funded community development planner. dan studi kasus. wilayah atau federal untuk suatu pengaruh baik yang langsung maupun yang tidak langsung dalam menetapkan dan menjalankan keputusan-keputusan. Penelitian Menerapkan aksesibilitasnya terhadap informasi proyek. melobi anggota dewan kota untuk turun tangan. hak-hak legal dan politik masyarakat. termasuk parameter-parameter dari fasilitas lingkungan yang diusulkan maupun yang sudah ada dan para developer/operatornya. database. Taktik Pengorganisasian Kebanyakan keberhasilan dari grassroots efforts untuk mengatasi masalahnya sendiri dapat dicapai berkat jenis dan kecepatan taktik pengorganisasian kelompokkelompok masyarakat. organisasi pengembangan masyarakat setempat. lobi-lobi. dan memaksa pemerintah untuk meloloskan peraturan atau perundangundangan yang dapat menjamin tidak terulangnya aktivitas serupa di masa yang akan datang. peraturan penzoningan yang mempengaruhi masyarakat. Bagaimanapun juga advocay planner tidak bekerja sendiri. Ada 2 (dua) kemungkinan pemecahan: pertama. Misalnya di Chicago 10th Ward. Negosiasi dan Litigasi Apabila suatu masalah telah menarik perhatian publik. masyarakat. advocacy planner kemudian harus meneliti dasar-dasar dari permasalahan yang ada. mengingat kemungkinannya yang cenderung berubah) harus juga ditetapkan terlebih dahulu. dan area-area lainnya yang terpengaruhi. tetapi sebaliknya harus didapat dari sumber lain seperti organisasi lingkungan nasional. Lokakarya masyarakat dan forum-forum setempat dapat juga berperan untuk tetap menjaga agar masyarakat selalu mendapat informasi sementara melibatkan para stakeholder lainnya. Advocacy planner bertanggung jawab untuk memastikan bahwa taktik-taktik tersebut dipergunakan dan keterlibatan masyarakat tersebut dapat dipompa dan dipertahankan. lokasi dan intensitas dari taktik-taktik tersebut dapat terbukti menjadi sangat penting dalam meyakinkan lainnya bahwa masyarakat berada pada posisi yang benar. Planner dapat menjadi seorang public neighborhood planner. laporan-laporan dan penemuan fakta-fakta serta dengar pendapat untuk mendidik masyarakat dan mengintensifkan debat publik. demonstrasi. Atas usahanya itu ia telah mendapatkan dukungan masyarakat luas. kemungkinan untuk membangun/ menggunakannya sama sekali. Pada tahapan ini masalah yang disampaikan pada planner dan masalah pendanaan telah terjamin (nampaknya masalah pendanaan tidak berasal dari masyarakat. Keterlibatan Politis Penting bagi masyarakat untuk menarget pemerintah lokal. studi kasuskasus dari permasalahan sejenis dalam masyarakat dan aspek-aspek lain yang mempengaruhi lokais. petisi-petisi. organisasi masyarakat menghubungi US Army Corps of Engineers dalam bentuk petisi untuk pemberlakuan ijin untuk mengolah wetlands. Akhirnya ketidakadilan dapat diangkat ke tingkat dimana ia menjadi suatu isu yang dapat mempengaruhi para pemilih. Tugas-tugas dan batasan-batasan dari seorang advocacy planner serta harapanharapan (harus dikembangkan sejauh mungkin. Atau dengan kata lain.

Peraturan yang menjadi pedoman dalam penataan ruang di Kota Majalaya antara lain : • Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah • Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Badan Pengelolaan Pembanguan Kota Majalaya merupakan badan yang dibentuk dan bertanggungjawab kepada Kepala Daerah Kabupaten Bandung. jika pihak fasilitas tidak akan bernegosiasi atau negosiasi gagal. atau bahkan keduanya gagal dan proses kembali ke langkah 2 dan 3.2 Pedoman Pelaksanaan Penataan Ruang Pelaksanaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Majalaya sampai tahun 2010 berpedoman pada prinsip birokrasi keterbukaan. Dan planner dapat melakukan penelitian atas kepentingan masyarakat selama proses litigasi. Penyusunan pedoman pelaksanaan mengacu pada peraturan yang ada dan permasalahan yang diidentifikasi dari hasil evaluasi rencana tata ruang yang lama. Sistem kelembagaan pelaksanaan tata ruang Kota Majalaya mengacu pada bentuk dan sifat administatif Kota Majalaya. Badan pengelola pembangunan dapat difungsikan sebagai koordinator pembangunan kota. Ia dapat berperan sebagai fasilitator atau mediator antara masyarakat dan pihak fasilitas. Pelaksanaan Rencana Detail Tata Ruang Kota Majalaya tahun 2010 membutuhkan sistem dan kelengkapan kelembagaan pengendalian pembagunan yang koordinatif dan sesuai dengan kebutuhan serta peraturan yang ada. 22 Tahun1999 adalah termasuk dalam bentuk Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian administrasi dari sistem pemerintahan daerah kabupaten. penelitian dan taktik pengorganisasian. sistem pembiayaan pembangunan dan pembakuan prosedur perijinan pembangunan dan pemanfaatan ruang termasuk aspek koordinasi dalam pelaksanaannya.2. Advocacy planner dapat membantu masyarakat dalam kedua pemecahan tersebut. • Dokumentasi Mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan penyelesaian yang akan terjadi. Kedudukan Badan Pengelola Pembangunan Kota . Pelaksanaan rencana tata ruang melalui pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang dapat diatur melalui beberapa aspek pengendalian antara lain pembentukan sistem kelembagaan pemerintahan kota. penyaluran aspirasi swasta dan masyarakat serta pengawasan pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ada. Kota Majalaya merupakan kawasan perkotaan yang terbentuk dari hasil kegiatan industri yang dominan. 5. berperan sebagai seorang fasilitator bilamana diperlukan. 5. Penetapan aspek-aspek administrasi pembangunan tersebut untuk menjaga agar rencana yang telah disusun/ditetapkan dapat terwujud dengan simpangan yang seminimal mungkin.menyetujui untuk bertemu masyarakat untuk mengusahakan jalan tengah pemecahan masalah. dan memungkinkan mereka untuk membangun acuan dasar yang dapat menangani ketidakadilan sosial dan lingkungan lainnya. sangat penting bagi advocacy planner untuk mengambil manfaat/ keuntungan dari pengalaman yang terdokumentasikan. Bentuk dan status Kota Majalaya berdasarkan UU No. Permasalahan pelaksanaan rencana tata ruang di Kota Majalaya Kabupaten Bandung berakar dari kurangnya koordinasi dalam pelaksanaan serta tidak konsistennya Pemerintah Daerah melaksanakan rencana yang telah ditetapkan. Kedua.1 Pedoman Sistem Kelembagaan Tata Ruang Evaluasi terhadap rencana tata ruang yang lama menunjukkan bahwa kegagalan pelaksanaan rencana lebih disebabkan oleh kelemahan perencanaan dan pelaksanaan kelembagaan pengendalian pembangunan. Penataan pembangunan Kota Majalaya berdasarkan Undang Undang Pemerintahan Daerah harus dilakukan oleh suatu badan khusus yang disebut Badan Pengelolaan Pembangunan. langkah logis berikutnya dan yang sering kali ditempuh dalam grassroots efforts adalah litigasi (pengadilan). Pelaksaan penataan ruang dan pemanfaatan sumberdaya dalam wilayah perencanaan mengacu pada beberapa peraturan yang mengarah pada prinsip Otonomi Daerah. partisipasi masyarakat serta pertanggungjawaban kepada masyarakat.

pelaksanaan dan pemilikan. Jumlah anggota badan pengelolaan pembangunan sebaiknya diupayakan tidak terlalu besar dan lebih menitikberatkan pada personil yang mampu menangani pembangunan pada sektor-sektor utama pembangunan Kota Majalaya seperti permukiman dan prasarana serta sarana pelayanan perkotaaan/wilayah. c. c. Penegasan fungsi. Dalam penyelenggaraan pembangunan kawasan perkotaan. tugas dan wewenang Dinas Pekerjaan Umum dalam Pelaksanaan Rencana Detail Tata Ruang Kota Majalaya yang telah disusun. Rencana pengembangan sistem kelembagaan dalam pengelolaan pembangunan Kota Majalaya yang harus dilakukan (Gambar 5. namun bertanggungjawab langsung kepada Bupati.1 BAGAN ALTERNATIF SISTEM KELEMBANGAAN PENGELOLAAN KOTA MAJALAYA PEMBANGUNAN . terdiri dari perwakilan berbagai unsur masyarakat dan pihak swasta yang bermukim di kota untuk menjadi perwakilan aspirasi masyarakat dan membantu pemerintah daerah dalam pelaksanaan dan pengawasan pembangunan Kota Majalaya.2010. Langkah yang dapat dilakukan adalah pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan Forum Perkotaan atau Forum Kota Majalaya yang merupakan perwakilan masyarakat. industri. pariwisata dan transportasi. b. Pembentukan Badan Perwakilan Desa yang berfungsi mengayomi kehidupan sosial masyarakat desa. Alternatif lain yang dapat dilakukan sebelum alternatif di atas dapat diwujudkan adalah dengan cara memaksimalkan peran pengaturan yang ada pada Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Kabupaten Bandung dengan penanganan terhadap : a.Majalaya dapat ditempatkan di bawah institusi kantor kecamatan. b. Penentuan sistem koordinasi antar instansi dalam pembangunan dan pelaksanaan rencana kota. Pemerintah daerah harus menetapkan tugas dan wewenang masing-masing instansi yang telah ada serta yang akan dibentuk dalam pelaksanaan pengelolaan pembangunan Kota Majalaya .1) adalah : a. mencakup partisipasi dan aspirasi dalam kegiatan perencanaan. Pembentukan Badan Pengelola Pembangunan Kota Majalaya yang berfungsi sebagai wakil pemerintahan daerah di kecamatan untuk melaksanakan fungsi koordinasi dan pengawasan pembangunan serta penghubung antara kebutuhan masyarakat/swasta dan pemerintah daerah. Beban pemerintah daerah dan badan pengelola pembangunan dalam pengendalian pemanfaatan lahan dan pemeliharaan aset pembangunan akan berkurang apabila partisipasi masyarakat dan swasta dapat dioptimalkan. Pengikutsertaan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. pemerintah daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. d. Perbaikan sistem koordinasi serta penyederhanaan dalam sistem birokrasi perijinan yang lebih mendayagunakan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. d. Badan ini terdiri dari gabungan perwakilan instansi pemerintahan daerah dan instansi vertikal serta BUMN yang berkaitan dengan pembangunan kota secara langsung. Pelimpahan tugas pengawasan dan penindakan pada satu instansi yang sama (seperti Dinas PU) disertai peraturan perundangan yang tegas dan memiliki kekuatan hukum. perdagangan. Pembentukan Forum Kota Majalaya. e. Pengoptimalan kerja Satuan Polisi Pamong Praja dalam pengawasan pelaksanaan pengawasan dan penindakan atas pelanggaran peraturan daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Majalaya tahun 2005 . penyalur aspirasi masyarakat dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa serta menetapkan peraturan-peraturan dalam pembangunan desa. GAMBAR 5.

berasal dari: e. Pendapatan Asli Daerah (PAD).2 Pembiayaan Pembangunan Pembiayaan pembangunan kota bersumber dari 2 (dua) jenis pendapatan untuk pembangunan yaitu dari Sumber Pendapatan Daerah dan Sumber Pendapatan Desa. g.Penerimaan dari pengolahan sumberdaya alam. Dana Alokasi Khusus . terdiri dari: Hasil pajak daerah Hasil retribusi daerah Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan alam daerah Lain-lain pendapatan daerah yang sah. f. 5. Dana Alokasi Umum h. Dana Perimbangan. Tanpa adanya kesadaran tersebut.Bagian dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). yaitu 80% dari penerimaan pajak ditambah dana perimbangan hasil bea dari pemerintah. . Sumber pendapatan daerah.Bagian Bea Hak atas Tanah dan Bangunan. terdiri dari : . .2010 adalah pada peningkatan sistem koordinasi antar instansi pelaksana pembangunan dan pembenahan sistem pengawasan dan penindakan terhadap penyimpangan rencana tata ruang. Pengembangan sistem kelembagaan tersebut di atas sangat tergantung dari kesungguhan dan kesadaran pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan yang berdimensi kerakyatan dan memiliki kesadaran hukum.Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bandung 2 3 Bupati Kepala Daerah Kabupaten Bandung 6 6 6 4 Instansi Pemerintahan Daerah Instansi Vertikal BUMD dan BUMN terkait Forum Kota Majalaya 2 3 Camat Majalaya Tuan 4 6 Badan Pengelolaan Pembangunan Kota Majalaya 4 2 Badan Perwakilan Desa 3 Kepala Desa Perangkat Desa Masyarakat Swasta 6 1 = Jalur Penyampaian Aspirasi 2 = Fungsi Pengawasan 3 = Jalur Konsultasi 4 = Jalur Koordinasi 5 = Partisipasi 6 = Garis Instruksi Penekanan 2 (dua) alternatif dalam pengembangan aspek kelembagaan Kota Majalaya tahun 2000 . yaitu 90% dari penerimaan pajak ditambah dana perimbangan hasil PBB dari Pemerintah. maka rencana detail tata ruang yang telah disusun akan mengalami simpangan sebagaimana Rencana Umum Tata Ruang Kota Majalaya Tahun 1994 yang lalu.2.

yaitu Dinas Pekerjaan Umum Daerah. Pemilihan instansi koordinator berpatokan pada pelaksana perencanaan kota. Sumber pendapatan desa tersebut berasal dari : i. j. Alternatif pengembangan sistem perijinan pembangunan di Kota Majalaya dapat dilihat pada Gambar 5. Fatwa ijin lokasi.an pembanguan di Kota Majalaya. sempadan sungai dan rencana jalan. rumah sakit dan angkutan umum. Pengendalian perijinan harus mengikutsertakan Bappeda Kabupaten Bandung ataupun Badan Pengelola Pembangunan (BPP) Kota Majalaya. Peningkatan fungsi Bappeda maupun BPP mengacu pada tugas dan wewenang masing-masing instansi penataan ruang kota yang ditetapkan kepala daerah kabupaten. Pengembangan pembiayaan pembangunan secara ‘Buttom up’ dan bersifat swadaya desa dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan mempersiapkan pengolahan sumber pendapatan yang dimiliki desa. p. namun koordinasi dapat dilimpahkan kepada BPP Kota Majalaya melalui penempatan unsur Dinas Pekerjaan Umum Daerah dan Bappeda sebagai pimpinan Badan Pengelola Pembangunan. Sektor perijinan harus diatur dengan seksama untuk meminimalkan penyimpang. Pendapatan asli desa : Hasil usaha desa Hasil kekayaan desa Hasil swadaya dan partisipasi Hasil gotong royong Sumber-sumber asli desa lainnya. Penentuan badan koordinasi perijinan yang dapat mengakomodir seluruh kebutuhan pembangunan secara cepat dan tepat. Badan tersebut harus difungsikan sebagai badan koordinasi dalam proses perijinan yang dikeluarkan instansi pemerintah daerah kabupaten seperti ijin mendirikan bangunan. Pelaksanaan sosilalisasi tenrtang peraturan daerah mengenai sempadan bangunan. q. o. Retribusi dapat diperoleh dari pembangunan pasar. Potensi pengembangan sumber alternatif tersebut sangat besar bila ditunjang dengan pengoptimalan fungsi pelayanan dan penyaluran aspirasi masyarakat. Rencana pengembangan sistem kelembagaan harus diikuti dengan penentuan sistem perijinan pembangunan yang mengarah pada pelaksanaan koordinasi yang dapat menjamin pelaksanaan rencana tata ruang. Arahan pengembangan sistem perijinan yang dapat dilakukan dalam pembangunan Kota Majalaya antara lain : n. Pinjaman desa 5. . Sumbangan dari pihak ketiga m. Pembagunan sarana. ijin usaha dan sebagainya. sedangkan perkembangan kota merupakan potensi pendapatan perusahaan milik daerah.Keberhasilan pelaksanaan sistem kelembagaan secara sistematis dan koordinatif dapat mendukung upaya efisiensi pengeluaran dana pembangunan dan optimalisasi sumbersumber pendapatan. Bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Provinsi l. sempadan jalan. swasta maupun pihak pemerintahan daerah. penerbitan sertifikat hak atas lahan. Sumber pendapatan daerah yang dapat ditingkatkan dari hasil Pendapatan Asli Daerah sekaligus untuk pembangunan Kota Majalaya adalah sektor Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Hak atas Tanah serta berbagai jenis pajak dan retribusi lainnya.2.3 Pengendalian Perijinan Pembangunan Pengendalian perijinan merupakan implementasi langsung dari pengendalian pemanfaatan ruang kota.2. Bantuan Pemerintah Kabupaten k. prasarana dan aspek lainnya di Kota Majalaya dalam jangka panjang tidak dapat hanya mengandalkan keuangan dari pendapatan daerah namun harus mengandalkan dana pembangunan yang diperoleh dari sumber pendapatan desa dan partisipasi dan swadaya masyarakat dalam pembangunan. Pelaksanaan sosialisasi rencana tata ruang dan tugas dan wewenang pengendalian perijinan kepada seluruh instansi yang terkait yang dikoordinir oleh pemerintah daerah melalui badan khusus. Peraturan daerah tentang rencana detail tata ruang kota harus memiliki ketentuan sangsi atas pelanggaran peraturan baik oleh masyarakat.

Prioritas Pengembangan I meliputi pelaksanaan dari rencana yang telah ditetapkan pada masing-masing blok BWK meliputi penataan baru dan pembangunan. masyarakat. d. Sanksi tersebut harus bersifat adil dan jelas terhadap seluruh pihak yang terlibat antara lain. Penentuan prioritas pembangunan didasarkan atas pemikiran dan pertimbangan terhadap skala prioritas pengembangan yang terdiri dari: r. Atas dasar tujuan dan keterbatasan yang ada maka pembangunan kota menurut rencana tata ruang harus dilakukan menurut tingkat kepentingan pembangunan atau ‘skala prioritas faktor pembangunan’. swasta. Berdasarkan faktor-faktor tersebut dapat disusun prioritas pembangunan Kota Majalaya dalam 3 (tiga) aspek skala prioritas. Prioritas pengembangan sektor kegiatan t. 5. Tingkat ketimpangan antara skenario rencana pengembangan yang telah ditetapkan dengan kondisi eksisting yang telah ada. Prioritas Pengembangan II meliputi kawasan pengembangan permukiman baru di Blok BWK C2. efisien dan efektif. Upaya penciptaan dan kesadaran penegakan hukum memerlukan dukungan sosialisasi rencana dan perundangan yang ada kepada masyarakat luas. Perwujudan rencana-rencana yang ada membutuhkan implemantasi berupa program-program pembangunan yang dapat dilaksanakan selama masa perencanaan sepuluh tahun. Prioritas pengembangan fasilitas dan utilitas. Penyusunan program pembangunan selain harus dapat mengakomodir seluruh sektor perencanaan juga harus mampu mencapai tujuan dan sasaran penataan ruang yang disesuaikan dengan keterbatasan pembiayaan dan kemampuan sumberdaya yang ada pada pemerintah daerah. Blok BWK B1. 2. Urutan skala prioritas pengembangan wilayah perencanaan dapat dikelompok-kan sebagai berikut : 1.2. Hal ini penting dilakukan untuk menegakkan kesadaran hukum dalam pelaksanaan UU No 24/1992 Pasal 5 Ayat 2 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berkewajiban mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan”. Kesesuaian antara pembangunan sektoral dengan kebijaksanaan pengembangan bagian wilayah kota. Keseluruhan program pembangunan tidak dapat dikerjakan secara bersamaan waktunya sehingga prioritas pembangunan dapat menjadi landasan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung dalam penyusunan rencana pembangun-an lima tahun daerah (Repelitada) dan rencana pembangunan tahunan daerah (Repetada). peningkatan ekonomi dan prinsip keseimbangan lingkungan fisik dan sosial kemasyarakatan. s. Kualitas permasalahan yang terjadi serta dampak positif dan negatif yang dapat ditimbulkan dari ada atau tidaknya pembangunan. . Prioritas pengembangan wilayah kota. Keseimbangan antara percepatan pertumbuhan fisik kota. Blok BWK B2 dan Blok BWK A4. Prioritas Pengembangan Wilayah Kota Pelaksanaan pembangunan dalam masa perencanaan diarahkan pada pengembangan wilayah yang belum berkembang. Dasar-dasar dalam penentuan prioritas pembangunan didasarkan pada beberapa faktor pertimbangan antara lain : a. c.Koordinasi antar instansi dalam suatu sistem kelembagaan dan perijinan yang telah diatur akan sangat sulit ditegakkan bila peraturan daerah tentang rencana tata ruang tidak disertai sanksi hukum atas pelanggaran rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Hubungan yang serasi antara konsep rencana dan program dan kemampuan keuangan pemerintah daerah agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan secara lancar. namun memiliki potensi nilai-nilai pengembangan kota yang luas.4 Prioritas Pembangunan Pelaksanaan rencana tata ruang pada hakekatnya merupakan pelaksanaan program pembangunan kota yang sesuai dengan arahan yang telah dirumuskan. b. pemerintah maupun lembaga/individu lainnya. A. e.

2. pengendalian perubahan fungsi lahan pertanian. Pengembangan sektor kegiatan kota dapat dilakukan sesuai skala prioritas sebagai berikut : 1. pembangunan dan penataan pasar. 3.aset PT. danpembangunan fasilitas sosial skala kecamatan seperti rumah sakit. studi kelayakan terminal dan pasar.Prasarana . dan studi kelayakan pengembangan rel kereta api apakah akan diaktifkan kembali atau tidaknya jaringan rel kereta api yang telah ada. pengaturan dan penataan arus lalu lintas terutama angkutan umum. pembangunan jalan-jalan baru minimal pembebasan lahan terlebih dahulu dan peningkatan kualitas jalan. Prioritas pengembangan kegiatan I pada sektor transportasi. perdagangan dan jasa. Prioritas pengembangan kegiatan II pada sektor pemerintahan. B. Prioritas Pengembangan Sektor Kegiatan Prioritas pengembangan sektor kegiatan diarahkan pada perwujudan fungsi kota secara optimal dan menyeluruh. Pengembangan pada wilayah prioritas II melalui penataan lingkungan dan perbaikan infrastruktur. Pengembangan sektor kegiatan memerlukan dukungan pengembangan yang serasi dari pembangunan fasilitas dan utilitas. Prioritas kedua diarahkan untuk meningkatkan struktur kegiatan ekonomi yang diawali dengan kelancaran moda pergerakan dan . yaitu pengembangan jaringan jalan. serta pelayanan umum dan sosial tingkat kota dan lokal. permukiman. Prioritas pengembangan III pada sektor industri. pengendalian perubahan fungsi jaringan rel kerta api menjadi bangunan atau jalan apabila di masa yang akan datang jaringan rel kerta api tersebut difungsikan. Prioritas pertama dalam diarahkan pada upaya mendukung pengembangan kedudukan Kota Majalaya sebagai pusat pertumbuhan dan pelayanan regional dalam perannya sebagai Ibukota Majalaya. karena pada umumnya jaringan rel kereta api sudah berubah fungsi dan perlunya menginventasisai aset . pembangunan terminal.GAMBAR 5.Jalan dan Sistem Transportasi . pembentukan ruang terbuka hijau dan daerah konservasi serta fasilitas yang dibutuhkan sesuai dengan proyeksi. KAI.2 : PROSEDUR PENGKAJIAN KEGIATAN KOTA Pertimbangan Sektor Pertimbangan sektoral Pengkajian Rencana Pengkajian Rencana Tata Ruang Tata Ruang Pengkajian Masalah Pengkajian Masalah Pertanahan Pertanahan Pengkajian Sektoral Pengkajian Sektor Kegiatan Kegiatan Pertimbangan Pertimbangan Kesesuaian Dengan Kesesuaian Dengan Rencana Tata Ruang RencanaTata Ruang Permohonan Permohonan Investor/Pengembang/ Investor/Pengembang/ Masyarakat Masyarakat Rencana Sektoral .RDTRK .Kawasan Wisata .RTRK IMB Pembangunan Fisik Oprerasi/Usaha/ Kegiatan 3.Dll Izin Lokasi/Izin Pemanfaatan Lahan Fungsi Kota Majalaya Studi AMDAL Pembebasan Lahan Izin Tetap Rencana Tapak Hak Guna Bangunan Hak Milik RTRW Kabupaten Bandung Fatwa Ijin Lokasi Pedoman Perencanaan Ruang Dan Penetapan Bangunan RUTR Kota Majalaya Izin Usaha Rencana Terinci . Prioritas pengembangan III adalah pengembangan pada wilayah prioritas I dilakukan melalui pembangunan fasilitas dan infrastruktur yang telah ditetapkan.

dan Blok BWK B2. Peningkatan jaringan utilitas di masing-masing Blok BWK. potensi pengembangan dan skala prioritas pembangunan yang ada sesuai dengan konsep pengembangan tata ruang kota. dan telepon. Penyusunan program pembangunan dalam tahapan-tahapan tersebut berdasarkan permasalahan. Pelaksanaan program pembangunan tahunan ini mengacu pada pokok-pokok program lima tahunan. antara lain pembukaan jaringan jalan baru. peningkatan mutu kondisi jalan. peribadatan. • Penataan lingkungan permukiman terutama konsolidasi lahan permukiman yang padat dan kumuh. dan fasilitas pendukung. Penyusunan petunjuk pelaksanaan peraturan daerah mengenai RDTR Kota Majalaya termasuk perangkat pendukung susunan kelembagaan administrasi pengelolaan kota dan sistem perijinan pembangunan. Pengembangan sarana dan prasarana dikelompokkan menjadi : 1. Sosialisasi RDTR Kota Majalaya kepada seluruh instansi pemerintahan daerah dan instansi vertikal serta kepada seluruh lapisan masyarakat secara terbuka sesuai asas penataan ruang. • Penyiapan dan penataan lokasi pengembangan pelayanan umum seperti pasar. Peningkatan kualitas jalan. antara lain fasilitas pendidikan. Prioritas pengembangan I meliputi pengembangan fasilitas yang mendukung prioritas pengembangan sektor kegiatan pertama dan yang mendukung kegiatan permukiman perkotaan dan konservasi lingkungan. 2. ruang terbuka hijau. taman. . studi kelayakan jaringan rel kereta api yang di masa yang akan datang bermanfaat untuk peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan industri. • Menginventarisasi aset-aset milik KAI. • Pembangunan rencanan jalan baru yang telah ditetapkan pada bab sebelumnya minimal pembebasan lahan yang sesuai dengan lebar yang ditetapkan serta pemeliharaan. Fasilitas perdagangan dan jasa. Prioritas pengembangan III meliputi penyediaan sarana pendukung kegiatan permukiman perkotaan. Blok BWK A3.2010. Blok BWK A2. terminal. b.2005 1. dan pelebaran badan jalan. kesehatan. kereta api dan jaringan listrik tegangan tinggi dari segala kegiatan. termasuk prioritas pengembangan ini pengembangan jumlah dan rute angkutan umum. perhubungan. Prioritas pengembangan II meliputi pengembangan fasilitas yang mendukung prioritas aksesibilitas dan perekonomian kota. 2.keseimbangannya. • Peningkatan kemampuan produksi dan peningkatan pelayanan jaringan distribusi air bersih. lapangan olah raga. yaitu: A. yaitu : a. D. 3. c. listrik. • Pembangunan dan perbaikan jaringan drainase. 3. pasar dan ruang terbuka sebagai kenyamanan dan rekreasi dan pemerintahan di Blok BWK A1. pemerintahan. kuburan di masing-masing Blok BWK. serta penataan dan renovasi fisik bangunan dan lingkungan. lebar badan jalan dan pembangunan jalan baru dan penyiapan lahan terminal angkutan umum. Prioritas Pengembangan Sarana dan Prasarana Prioritas pengembangan ini didasarkan pada 2 (dua) aspek prioritas wilayah dan sektor kegiatan. Pelaksanaan pembangunan tiap sektor pembangunan dilakukan dalam setiap masa satu tahun anggaran yang jenis pembangunannya disesuaikan dengan anggaran yang tersedia atau dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. • Penyiapan lahan untuk rencana pembangunan terminal. perbaikan dan peningkatan mutu jaringan jalan. seperti pembangunan terminal. • Pelaksanaan monitoring dan evaluasi selama masa pembangunan. C. Prioritas ketiga adalah menyiapkan lokasi industri yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi serta menggali potensi yang ada. Tahap I (pertama) tahun anggaran 2001 . • Penertiban kawasan sempadan sungai. Penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Majalaya Tahun 2000 . Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Kota Pelaksanaan pembangunan unsur-unsur rencana tata ruang direncanakan secara bertahap sesuai masa pembangunan jangka menengah daerah dalam jangka lima tahunan rencana.

maka persyaratan-persyaratan tersebut adalah : • Rumah tempat tinggal yang sudah lama umur bangunannya. • Rumah type maissonete/villa masih diperkenankan pada perumahan type A (rumah besar) dengan syarat lebar bangunan minimal 12 (dua belas) meter. pada perumahan type B (rumah sedang) dengan syarat lebar bangunan minimal 9 (sembilan) meter. • Rumah deret pada peruntukan perumahan type C (rumah kecil) masih diperkenankan dengan syarat lebar bangunan minimal 8 (delapan) meter dengan jumlah deret maksimal 10 (sepuluh) deret. • Monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana. • Rumah bentuk kopel dan deret pada peruntukan industri masih diperkenankan dengan syarat perumahan tersebut untuk mendukung kawasan industri yang ada (diperuntukkan bagi pekerja industri) dengan luas lahan total perumahan maksimal 5 (lima) % dari luas kawasan indutri. perdagangan. yaitu suatu pemanfaatan masih diperkenankan untuk berlokasi di kawasan yang bukan peruntukkannya. pada perumahan type C (rumah kecil) dengan syarat lebar bangunan minimal 6 (enam) meter. • Pembangunan fasilitas pendidikan. antara lain fasilitas pendidikan dan peribadatan. peribadatan dan lapangan olahraga tingkat kota serta fasilitas sosial lainnya untuk memenuhi kebutuhan akibat pertambahan penduduk kota. • Pembangunan lingkungan industri di Blok BWK C1 serta penyediaan fasilitas dan prasarana pendukung bagi pembangunan lokasi industri tersebut. • Untuk kawasan industri yang dibangun oleh Pengembang dapat dilengkapi dengan fasilitas kesehatan dan perdagangan untuk mendukung kebutuhan pekerja dengan total luas lahan maksimal 10 % dari luas kawasan industri yang bersangkutan. bila berlokasi bukan di kawasan perumahan tetapi di kawasan bangunan umum. • Pembangunan terminal angkutan umum dan pasar. dan pengembangan jaringan angkutan umum. Fleksibilitas penggunaan lahan adalah penggunaan lahan lain yang masih dapat ditoleransi untuk suatu kawasan yang telah ditentukan peruntukannya. .2010 • Melanjutkan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai pada tahap I. atau masih diperkenankan namun dengan persyaratan. lapangan olah raga di tiap lingkungan permukiman serta kuburan dan fasilitas hiburan seperti yang direncanakan. • Rumah susun/apartemen/flat minimal 4 (empat) lantai. atau pusat pelayanan.3 Fleksibilitas dan Perubahan Penggunaan Lahan 5.B. Untuk yang masih diperkenankan dengan persyaratan.1 Fleksibilitas Penggunaan Lahan Rencana penggunaan lahan atau lazim disebut peruntukan lahan telah ditentukan lokasinya. terminal.3. • Penyediaan sarana pendukung kegiatan permukiman perkotaan. maka masih dapat diberikan izin namun terbatas hanya untuk renovasi atau rehabilitasi. Dengan kata lain adalah penggunaan yang masih diperkenankan berlokasi pada suatu wilayah selain peruntukan yang sudah ditetapkan. bangunan khusus. • Perlu dilakukan studi kelayakan dalam pengembangan rel kereta api. • Untuk kawasan perumahan yang dibangun oleh pengembang dengan luas lebih besar dari 5 (lima) Ha dapat dibangun fasilitas perdagangan dengan luas maksimal 5 (lima) % dari luas perumahan. Ada 3 (tiga) jenis fleksibilitas penggunaan lahan. atau tidak diperkenankan sama sekali. Fleksibilitas peruntukan tanah tidak dimaksudkan untuk melegalkan penggunaan yang tidak sesuai namun ditujukan agar kebutuhan para pelaku pembangunan dapat diakomodasikan tanpa perlu diadakan perubahan peruntukan untuk setiap kasus. taman. Pada setiap bagian dari wilayah kota telah direncanakan peruntukan agar tercapai tujuan dari rencana kota itu sendiri. 5. • Pengembangan sistem transportasi meliputi jaringan jalan. Peruntukan lahan tersebut selain harus jelas untuk setiap lokasi tetapi juga harus memiliki sifat yang fleksibel agar dapat mengantisipasi perkembangan yang seringkali terjadi begitu cepat. Tahap II (kedua) tahun anggaran 2006 .

000 m 2 antara lain seperti Jalan Raya Laswi Ciparay .2 Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan peruntukan dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah setelah melalui pertimbangan yang matang. tingkat kesejahteraan masyarakat dan keamanan sekitarnya. • Penentuan pola penggunaan lahan pada peruntukan perumahan yang termasuk blok-blok besar. • Perubahan peruntukan yang diajukan oleh pihak ketiga (masyarakat). • Untuk tanah-tanah dengan dimensi lebar yang tidak mencukupi persayaratan dan tidak dimungkinkan perluasan akibat wilayah sekitarnya telah terbangun. ijin perubahan peruntukan tanah dapat diberikan oleh Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bandung. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 tahun 1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan disebutkan bahwa : • Setiap perubahan pemanfaatan lahan harus mendapat ijin tertulis dari Kepala Daerah. masih dimungkinkan penggunaan tanah lainnya yang menunjang fungsi perumahan.Majalaya. Perubahan peruntukan ini dikenakan retribusi sesuai ketentuan yang berlaku. • Bagi perubahan peruntukan tanah pada lokasi yang strategis dan berdampak penting. yaitu blok yang minimal dibatasi jalan kolektor utama dan menimbulkan dampak yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan. • Bagi perubahan pemanfaatan terhadap lahan yang strategis dan berdampak penting. Penerapan untuk wilayah perencanaan adalah bahwa perubahan peruntukan harus mengikuti ketentuan sebagai berikut : • Setiap perubahan peruntukan tanah harus mendapat persetujuan tertulis dari Kepala Daerah Kabupaten Bandung. Jalan Majalaya Cicalengka.Ibun.• Ruang terbuka dan jalur hijau dapat dibangun kantor pemerintah yang bersifat pelayanan umum dan fasilitas pelayanan sosial lainnya serta bangunan-bangunan yang berfungsi menunjang ruang terbuka hijau dan jalur hijau dengan ketentuan KDB maksimal 40 (empat puluh) %. • Lokasi yang strategis dan berdampak penting adalah : ♦ Lahan perkotaan pada blok-blok yang besar yaitu blok yang minimal dibatasi oleh jalan kolektor utama dengan luas lebih besar dari 4 (empat) Hektar. • Kantor pada peruntukan industri masih diperkenankan dengan syarat kantor tersebut berkaitan dengan kegiatan industri atau pergudangan. Jalan Majalaya . ijin perubahan hanya dapat diberikan setelah mendapat rekomendasi dari tim penilai dan sesudah itu dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan Jalan Majalaya .Rancaekek. Perubahan peruntukan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu sebagai berikut : • Perubahan peruntukan yang diusulkan dan dilakukan oleh Pemerintah Daerah sendiri. . • Kantor dan hotel/penginapan masih diperkenankan pada perumahan type A dan bangunan khusus dengan syarat bersifat bangunan tunggal dengan GSB samping dan belakang minimal 3 (tiga) meter. 5. Perubahan peruntukan semacam ini tidak dikenakan retribusi perubahan peruntukan bagi permohonan KSB/KRP yang berlokasi pada kawasan yang dirubah peruntukan-nya. maka dimungkinkan untuk diberikan izin dengan lebar tanah yang ada sesuai dengan peruntukan.000 m2. serta jalan-jalan lainnya yang akan ditetapkan oleh Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kabupaten Bandung. Yang dimaksud dengan lahan strategis dan berdampak penting adalah perubahan pemanfaatan lahan perkotaan pada blok-blok yang besar. ♦ Perubahan peruntukan tanah dari jalur hijau/taman menjadi peruntukan lainnya yang luasnya diatas 1. Perubahan peruntukan menjadi industri /gudang. ♦ Perubahan peruntukan tanah pada jalan arteri primer dan sekunder serta jalan protokol dengan luas lebih besar dari 1.3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful