Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Posted on 16 August 2008 by Andy Andi Rusdi Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Menurut van den Akker dan Plomp (Hadi, 2001: 4) mendeskripsikan penelitian pengembangan berdasarkan dua tujuan yaitu (1) pengembangan untuk mendapatkan prototipe produk, (2) perumusan saran-saran metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe tersebut. Richey and Nelson (Hadi, 2001: 4) mendefiniskan Penelitian pengembangan sebagai suatu pengkajian sistematis terhadap pendesainan, pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria validitas, praktikalitas dan efektivitas. Suatu produk atau program dikatakan valid apabila ia merefleksikan jiwa pengetahuan (state-of-the-art knowledge). Ini yang kita sebut sebagai validitas isi; sementara itu komponen-komponen produk tersebut harus konsisten satu sama lain (validitas konstruk). Selanjutnya suatu produk dikatakan praktikal apabila produk tersebut menganggap bahwa ia dapat digunakan (usable). Kemudian suatu produk dikatakan efektif apabila ia memberikan hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pengembang. Berikut akan diuraikan model-model pengembangan dari berbagai ahli sebagai berikut: a. Model Pengembangan Perangkat menurut Kemp

Menurut Kemp (dalam, Trianto, 2007: 53) Pengembangan perangkat merupakan suatu lingkaran yang kontinum. Tiap-tiap langkah pengembangan berhubungan langsung dengan aktivitas revisi. Pengembangan perangkat ini dimulai dari titik manapun sesuai di dalam siklus tersebut. Pengembangan perangkat model Kemp memberi kesempatan kepada para pengembang untuk dapat memulai dari komponen manapun. Namun karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia dan berorientasi pada tujuan, maka seyogyanya proses pengembangan itu dimulai dari tujuan. Secara umum model pengembangan model Kemp ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 2. Model pengembangan sistem pembelajaran ini memuat pengembangan perangkat pembelajaran. Terdapat sepuluh unsur rencana perancangan pembelajaran. Kesepuluh unsur tersebut adalah: 1. Identifikasi masalah pembelajaran, tujuan dari tahapan ini adalah mengidentifikasi antara tujuan menurut kurikulum yang berlaku dengan fakta yang terjadi di lapangan baik yang menyangkut model, pendekatan, metode, teknik maupun strategi yang digunakan guru. 2. Analisis Siswa, analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkah laku awal dan karateristik siswa yang meliputi ciri, kemampuan dan pengalaan baik individu maupun kelompok. 3. Analisis Tugas, analisis ini adalah kumpulan prosedur untuk menentukan isi suatu pengajaran, analisis konsep, analisis pemrosesan informasi, dan analisis prosedural yang digunakan untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan tentang tugas-tugas belajar dan tujuan pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Program Pembelajaran (RPP) dan lembar kegiatan siswa (LKS) 4. Merumuskan Indikator, Analisis ini berfungsi sebagai (a) alat untuk mendesain kegiatan pembelajaran, (b) kerangka kerja dalam

merencanakan mengevaluasi hasil belajar siswa, dan (c) panduan siswa dalam belajar. 5. Penyusunan Instrumen Evaluasi, Bertujuan untuk menilai hasil belajar, kriteria penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, hal ini dimaksudkan untuk mengukur ketuntasan pencapaian kompetensi dasar yang telah dirumuskan. 6. Strategi Pembelajaran, Pada tahap ini pemilihan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan. Kegiatan ini meliputi: pemilihan model, pendekatan, metode, pemilihan format, yang dipandang mampu memberikan pengalaman yang berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran. 7. Pemilihan media atau sumber belajar, Keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada penggunaan sumber pembelajaran atau media yang dipilih, jika sumber-sumber pembelajaran dipilih dan disiapkan dengan hati-hati, maka dapat memenuhi tujuan pembelajaran. 8. Merinci pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan dan melaksanakan dan melaksanakan semua kegiatan dan untuk memperoleh atau membuat bahan. 9. Menyiapkan evaluasi hasil belajar dan hasil program. 10. Melakukan kegiatan revisi perangkat pembelajaran, setiap langkah rancangan pembelajaran selalu dihubungkan dengan revisi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dan memperbaiki rancangan yang dibuat. b. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey

Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick & Cerey, yang dikembangkan oleh Walter Dick & Lou Carey (dalam, Trianto, 2007: 61). Model pengembangan ini ada kemiripan dengan model yang dikembangkan Kemp, tetapi ditambah dengan komponen melaksanakan analisis pembelajaran, terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut. Urutan perencanaan dan pengembangan ditunjukkan pada gambar 4 berikut:

Tujuan yang dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan yang lebih khusus lagi yang harus dipelajari. 2007a: 62) Dari model di atas dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Analisis ini akan menghasilkan carta atau diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut. Model Perancangan dan Pengembangan Pengajaran Menurut Dick & Carey (dalam Trianto.Gambar2.. Identifikasi Tujuan (Identity Instruyctional Goals). Characteristic) Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur . 3. maka akan ditentukan apa tipe belajar yang dibutuhkan siswa. atau dari pengalaman praktek dengan kesulitan belajar siswa di dalam kelas. Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal/ Karakteristik Siswa (Identity Entry Behaviours. Melakukan Analisis Instruksional (Conducting a goal Analysis). Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar siswan dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program pengajaran. 2. Setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Definisi tujuan pengajaran mungkin mengacu pada kurikulum tertentu atau mungkin juga berasal dari daftar tujuan sebagai hasil need assesment.

Semmel. tes dan panduan guru. 5. selanjutnya akan dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan siswa setelah menyelesaikan pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana meningkatkan pengajaran. pengebangan butir assesmen untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dalam tujuan 6. c. Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa. bahan pelajaran. (3) Develop (Pengembangan) dan Disseminate (Penyebaran). yaitu Pendefinisian. penyampaian informasi. Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran 4. Menulis Perangkat (design and conduct summative evaluation). Strategi akan meliputi aktivitas preinstruksional. testing. dan Melvyn I. Merumuskan Tujuan Kinerja (Write Performance Objectives) Berdasarkan analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal siswa. Pengembangan Tes Acuan Patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan. juga harus dipertimbangkan keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Pengembangan strategi Pengajaran (develop instructional strategy). maka selanjutnya akan mengidentifikasi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Revisi Pengajaran (instructional revitions). Thagarajan.yang perlu dilewati. Pengembangan Tes Acuan Patokan (developing criterian-referenced test items). yang dilakukan lewat aktivitas. Pengembangan atau Memilih Pengajaran (develop and select instructional materials). Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (design and conduct formative evaluation). Begitu pula masukan dari hasil implementasi dari pakar/validator. 9. (2) Design (Perancangan). Pengembangan. atau diadaptasi Model 4-P. Model pengembangan 4D terdiri atas 4 tahap utama yaitu: (1) Define (Pembatasan). Tahap ini mengulangi siklus pengembangan perangkat pengajaran. dan Penyebaran seperti pada gambar 5 berikut: . Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas. Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. praktek dan balikan. 8. Perancangan. Model ini dikembangkan oleh S. Dorothy S. Data dari evaluasi sumatif yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta diinterpretasikan untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Semmel. 10. Model Pengembangan 4-D Model pengembangan 4-D (Four D) merupakan model pengembangan perangkat pembelajaran. 7. Informasi dari lima tahap sebelumnya.

Tahap Pendefinisian (define).Gambar 3. (b) Analisis siswa. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran 4-D Thigarajan (Trianto. (d) Analisis konsep. (a) Penyusunan tes acuan patokan. (c) Analisis tugas. merupakan langkah awal yang menghubungkan antara tahap define dan tahap design. Tujuan tahap ini adalah menentapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran di awali dengan analisis tujuan dari batasan materi yang dikembangkan perangkatnya. dan (e) Perumusan tujuan pembelajaran. 2. Tes disusun . Tahap ini meliputi 5 langkah pokok. 2007a: 66) Secara garis besar keempat tahap tersebut sebagai berikut (Trianto. 2007 : 65 ± 68). 1. yaitu: (a) Analisis ujung depan. Tahap Perencanaan (Design ). Tujuan tahap ini adalah menyiapkan prototipe perangkat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari empat langkah yaitu.

Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) Model pengembangan PPSI dilakukan untuk rancangan pembelajaran sebagaimana bagan berikut: . Hasil tahap (b) dan (c) digunakan sebagai dasar revisi. Tes ini merupakan suatu alat mengukur terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa setelah kegiatan belajar mengajar. di sekolah lain. d. Tahap Pengembangan (Develop). Tahap ini meliputi: (a) validasi perangkat oleh para pakar diikuti dengan revisi.berdasarkan hasil perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (Kompetensi Dasar dalam kurikukum KTSP). (b) Pemilihan media yang sesuai tujuan. Tujuan lain adalah untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM. untuk menyampaikan materi pelajaran. (c) Pemilihan format. Pada tahap ini merupakan tahap penggunaan perangkat yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas misalnya di kelas lain. 3. 4. (b) simulasi yaitu kegiatan mengoperasionalkan rencana pengajaran. Tahap penyebaran (Disseminate). dan (c) uji coba terbatas dengan siswa yang sesungguhnya. oleh guru yang lain. Di dalam pemilihan format ini misalnya dapat dilakukan dengan mengkaji format-format perangkat yang sudah ada dan yang dikembangkan di negara-negara yang lebih maju. Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari pakar. Langkah berikutnya adalah uji coba lebih lanjut dengan siswa yang sesuai dengan kelas sesungguhnya.

Rumusan kegiatan belajar lebih lanjut menjadi dasar pengembangan program kegiatan. 2004:57) Secara garis besar. Kelebihan dari model Kemp antara lain: (a) Diagram pengembangannya berbentuk bulat telur yang tidak memiliki titik awal tertentu. Dari ketiga model pengembangan sistem pembelajaran dan satu model pengembangan perangkat pembelajaran yang telah dibahas. Justru dengan adanya perbedaan itu menyebabkan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Persamaan dari keempat model tersebut antara lain bahwa pada dasarnya ketiganya terdiri atas empat tahap pengembangan. (5) pelaksanaan pengembangan. yaitu: (a) pendefinisian. (4) pengembangan program kegiatan. (b) perancangan. menunjukkan bahwa keempatnya memiliki beberapa perbedaan. (3) kegiatan belajar. (c) pengembangan dan (d) penyebaran. model pengembangan PPSI mengikuti pola dan siklus pengembangan yang mencakup: (1) perumusan tujuan. perumusan tujuan menjadi dasar bagi penentuan alat evaluasi pembelajaran dan rumusan kegiatan belajar. Sesuai bagan di atas. (2) pengembangan alat evaluasi.Gambar 8. rumusan kegiatan belajar. Model pengembangan PPSI (Mudhofir dalam Sasongko. yang selanjutnya adalah pelaksanaan pengembangan. sehingga dapat . namun juga memiliki persamaan. dan alat evaluasi. Hasil pelaksanaan tentunya dievaluasi. dan selanjutnya hasil evaluasi digunakan untuk merevisi pengembangan program kegiatan.

2007. (d) Mengurangi tahap atau kegiatan yang dianggap tidak perlu. Disamping itu adanya uji coba yang berulang kali menyebabkan hasil yang diperoleh sistem dapat diandalkan. sehingga memungkinkan terjadinya sejumlah perubahan dari segi isi maupun perlakuan terhadap semua unsur tersebut selama pelaksanaan program.memulai perancangan secara bebas. Surabaya: Pustaka Ilmu . Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. sehingga ada kemungkinan perangkat pembelajaran yang dilaksanakan terdapat kesalahan. (b) uraiannya tampak lebih lengkap dan sistematis. (b) Mengganti istilah yang memiliki jangkauan lebih luas dan biasa digunakan oleh guru di lapangan. Kekurangan model Kemp bila dibandingkan dengan model 4-D antara lain: (1) Kedua model itu merupakan pengembangan sistem pembelajaran. Keunggulan model Dick dan Carey ini terletak pada analisis tugas yang tersusun secara terperinci dan tujuan pembelajaran khusus secara hirarkis. sehingga sebelum dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi berdasarkan penilaian. Daftar Pustaka: Trianto. (2) kedua model itu kurang lengkap dan kurang sistematis. terutama model Kemp dan (3) kedua model itu tidak melibatkan penilaian ahli. strategi pembelajaran maupun pada pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara jelas ada tidaknya penilaian pakar (validasi) Kelebihan dari model 4-D dan PPSI antara lain: (a) lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat pembelajaran bukan untuk mengembangkan sistem pembelajaran. Namun demikian pada model 4-D ini juga terdapat kekurangan. (c) Menambahkan kegiatan yang dianggap perlu dalam pengembangan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang akan dilakukan. (b) Bentuk bulat telur itu juga menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara unsur-unsur yang terlibat. Sedangkan pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar. saran dan masukan para ahli. (c) dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli. salah satunya adalah tidak ada kejelasan mana yang harus didahulukan antara analisis konsep dan analisis tugas. (c) Dalam setiap unsur ada kemungkinan untuk dilakukan revisi. Modifikasi dilakukan antara lain dengan cara: (a) Memperjelas urutan kegiatan yang semula tidak jelas urutannya. Kelemahan model ini adalah uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan harus dilakukan dan kegiatan revisi baru dilaksanakan setelah diadakan tes formatif.

kondisi tertentu. Luddy Bambang. Model Bella Banathy . Ada dua proses pengembangan. Surabaya: Pustaka Ilmu Sasongko. MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INTRUKSIONAL Pengembangan sistem intruksional ialah proses menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan perilaku pengembangan sistem ini memerlukan pemantauan interaksi siswa. Dalam penyusunan rancangan pengajaran ada langkah -langkah secara sistem : cara mencapainya dipilihkan cara -cara tertentu. 2004. 2007. dan perubahan tertentu. bahan pengajaran disusun berdasarkan pengalaman pengembang. Pengamatan yang sesama dan percobaan yang terkendali. Hasil uji coba memberi informasi tertentu yang dapat dijadikan bahan penilaian perihal tingkat kesulitan suatu program. Surabaya: PPs. Unesa MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INTRUKSIONAL A. Model ialah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses melaksanakan pengembangan sistem pengajaran seperti penentuan suatu kebutuhan. pertama ialah pendekatan secara empiris yang menggunakan dasar-dasar teori. Ada beberapa model pengembangan intruksio nal : 1. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Materi Relasi dan Grafik di Kelas 2 SMP.Trianto. Tesis tidak diterbitkan. Model Pembelajaean Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Pendekatan kedua i alah dengan pendekatan model. Pengembangan senantiasa didasarka n pada pengalaman.

Model Kemp Langkah-langkahnya : 1. fasilitas. Penetuan Tujuan Intruksional Umum (TIU) 2. 8. Menentukan starategi belajar yang relevan : Efisiensi. Mnenetukan materi pelajaran yang sesuai dengan TIK yang ditetapkan 5. Model IDI (Intruksional Development Institute) .Mengembangkan test 3. Mengadakan penjajakan awal 6.Merumuskan tujuan 2. peralatan. Menganalisis Karakteristik siswa 3. waktu dan tenaga.Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil 6. Mengkoordinasikan sarana penunjang yang dibutuhkan : Biaya. Mengadakan evaluasi 3.Mengadakan perbaikan 2.Model ini ada 6 langkah : 1.Menganalisis kegiatan belajar 4. ekonomis. kepraktisan 7. Menentukan Tujuan Itruksioanal Khusus (TIK) 4. keefektifan.Mendesain sistem intruksioanal 5.

Menetapkan program kegiatan 5. melaksanakan program B. Ini karena TIK : Dapat memehami secara jelas. 2. Pembatasan : Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan : Karakteristik Siswa.Langkah-langkahnya : 1. Mengajar adalah suat u aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan anak. ialah tujuan yang berbentuk tingkah laku atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses belajar mengajar. belajar mempunyai pengertian menurut psikologis adalah proses perubahan atau usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku atau penampilan yang baru secara keseluruhan. Building block dari pengajaran yang diberikan. Kondisi. Penilaian. Disini ada dua tujuan TIU dan TIK. Pengembangan : Tujuan yang hendak dicapai. PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN Konsep Belajar dan Mengajar. Menentukan kegiatan belajar dan materi 4. sebagai penenda tingkah laku yang harus diperhatikan 3. Sumber-sumber yang relevan 2. Menyusun alat evaluasi 3. Menurut Bloom status abilitas ada 3 : . 4. TIK merupakan penjabaran yang lebih rinci dibandingkan dengan TIU. Model PPSI Langkah-langkahnya : 1. Perumusan Tujuan.

Belajar instrumental 7.Belajar global 5. kognitif Domain : Knowledge.Belajar diskriminatif 4. pembentukan sikap.Belajar bagian (part learning.Belajar insedental 6. fractioned learning) 2. Psychomotor Domain : Initiatori Level. Characteriszation. Valving.a. Peranan konsep dan keterampilan. c. R esponding. b.Belajar dengan wawasan 3.Belajar intensional 8. Synthesis. Tujuan belajar ada 3 : Untuk mendapatkan pengetahuan. Dan juga punya ciri -ciri : . Jenis-jenis Proses belajar 1. Organization. Pre -routine Level. application. Belajar produktif 11. Belajar verbal Adapun hasil pengajaran itu dikatakan baik. Evaluation. Rountizet Level. bila proses tersebut dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif.Belajar laten 9. Analysis.Belajar Mental 10. Affektive Domain : Receiving. Conprehension.

Kompetensi yang diharus dimiliki atau dikuasai oleh siswa tersebut berupa tujuan yang termasuk kawasan kognitif. belajar akan lebih mantap dan efektif bila didorong oleh motivasi terutama motivasi dari dalam. Dalam banyak hal belajar merupakan proses percobaan dan conditioning atau pembiasaan. adaftasi. C.Hasil itu bertahan lama dapat digunakan oleh siswa dalam kehidupannya. belajar adalah proses organisasi. dan discovery. belajar itu proses kontinyu. sehingga siswa dapat belajar dengan tenang. dan psikomotor. Satpel terdiri dari beberapa komponen : yMerumuskan tujuan intruksional khusus yMengembangkan alat penilaian yMenetapkan kegiatan belajar/materi pelajaran yMerencanakan program kegiatan yPelaksanaan program di kelas setelah terbentuk suatu satuan pelajaran. belajar perlu interaksi siswa dengan lingkungannya. biasanya satu minggu atau lebih. Dan Satpel adalah program pengajaran itu sendiri. Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusia dan kelakuannya. belajar memerlukan sarana yang cukup. b. Hubungan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) adalah suatu cara atau langkah-langkah yang harus ditempuh didalam mengembangkan program pengajaran. affektif. memerlukan proses dan pentahapan serta kematangan diri pada siswa. Kerangka Satpel terdiri dari : . Satuan Pelajaran Satuan pelajaran adalah rencana pelajaran yang meliputi periode pengajaran yang melebihi satu pelajaran.a.Hasil itu merupakan pen getahuan asli/otentik. eksplorasi.

banyaknya/jumlah pertemuan. Bidang studi : Pendidikan Agama Islam 2. Cawu : 1 (satu) 5. kelas. Komponen-komponen yang membentuk satuan pelajaran sebagai suatu sistem : Tujuan Intruksional Khusus. dan komunikasi. Satuan bahasan : 1. II. bidang studi. Bahkan TIK dititik beratkan pad a pemahaman aplikasi/keterampilan. sub bidang studi. Dalam penyusunan TIK perlu diperhatikan agar terbentuk keseimbangan antara aspek ingatan. Siswa mampu mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat serta mengetahui ketentuanketentuannya melalui pengamatan. yang meliputi : nomor satuan pelajaran. kegiatan belajar mengajar. pemahaman. klasifikasi. Kelas : III (Tiga) 4. Contoh satpel yang dikembangkan dari program alokasi waktu dengan pola 6 komponen SATUAN PELAJARAN Nomor : 1 1.Merupakan bagian -bagian yang menunjukkan ciri -ciri atau pengenalan (identitas) dari Satpel.penerapan.1 Bimbingan Shalat lima waktu (Arti dan nama-nama shalat lima waktu) 3. TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) . waktu. caturwulan. Tujuan Intruksional Umum diambil dari rumusan GBPP yang dipakai guru sebagai pedoman mengajar. satuan bahasan. penilaian. Waktu : 2 x 40 menit 6. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM (TIU) 1. Sedangkan rumusan TIK merupakan penjabaran dari TIU. Pertemuan : 1x pertemuan I. dan aplikasi.

Setelah mendengar penjelasan dari guru murid dapat menyebutkan arti shalat fardhu.Penugasan c) Strategi : CBSA 2. Menghitung banyaknya rakaat pada setiap shalat lima waktu. Melukiskan shalat lima waktu secara berurutan dengan menggunakan gambar jam. Murid mendengarkan informasi dan pengarahan guru mengenai pengerjaan lembar kerjaan. III. Menuliskan nama-nama shalat lima waktu secara berurutan. Pendekatan dan methode a) Pendekatan : keterampilan proses b) Metde : ± Tanya jawab .1. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR 1. MATERI PELAJARAN Bimibingan shalat lima waktu: Arti shalat lima waktu Nama-nama shalat lima waktu Waktu-waktu shalat lima waktu Rakaat-rakaat shalat lima waktu IV. c. Setelah mendapat informasi dan pengarahan guru. 15 menit : Mengingat kembali pelajaran kelas I dan II tentang hafalan-hafalan surat al Qur¶an dan wudhu dalam kaitannya dengan shalat melalui tanya jawab. 25 menit :   Murid mengerjakan tugas dengan acuan lembar kerja dalam kelompk-kelompok kecil Mengumpulkan hasil tugas kelompok. murid dapat : A. Melalui tanya jawab murid mendengarkan keterangan guru tentang arti shalat fardhu. melalui kerjasama kelompok. 2. b. Pokok-pokok kegiatan (langkah-langkah pelaksanaan) a. B. 25 menit : . C.

Ciri -ciri khusus pendidikan agama islam : landasan. Kebudayaan islam dan ajaran islam. soal dan lembar pengamatan terlampir. tes awal . bersangkutan dengan cerita cerita zaman dahulu. jilid 3a. Teori Belajar Konstruktivisme Posted on 20 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . Alat : lima buah jam tiruan untuk menunjukkan waktu. 1990. hal I Buku PAI SD. Jakarta. hal I VI. arti dan tujuan pendidikan agama islam yaitu UU No 2 Tahun 1989. 15 menit :   Murid mencatat kesimpulan yang benar setelah menjawab tes lisan maupun tulisan Murid mencatat/menyalin lembar tugas rumah untuk umpan balik. ALAT/SUMBER PELAJARAN 1. dkk. Kriiteria isi bahan pengajaran. essensial. fungsional. berpusat pada tauhid. pendidikan agama islam di Sekolah Dasar ad alah GBPP.   Kelompok dengan kelompok melalui juru bicara masing-masing dan saling tukar info mengenai temuannya.formal. Prosedur. suruhan dan perintah yang mesti atau yang dianjurkan. A. pendidikan agama islam di madrasah Ibtidaiyah SK meneg No 99 tahun 1984. V. Sumber : Buku PAI SD. PENILAIAN 1. Kandungannya : mengandung hukum halal dan haram.tes akhir. Lembar kerja dan lembar tugas rumah untuk umpan balik. Nilai -nilai pengajaran agama islam : nilai material. Sumber pokok dan kandungannya adalah al Qur¶an dan al Hadist.guru membimbing sehingga menemukan dan menyimpulkan hasil belajar yang diharapkan. jilid 3a. panggila islam sebagai tugas suci. berpangkal pada pengendalian diri. sumber-sumber bahan pengajaran dan penerapan pendekatan keteramplan proses. Jakarta. Murid mencatat. La Tansa. Bersangkutan dengan akidah atau kepercayaan. Syarief Ali cs. Sifat -sifat pengajaran agama islam yang meliputi pengetahuan agama islam dan sejarah islam. 3. 2. d. lembar pengamatan 2. Unsur strategi pengembangan agama islam : konsep agama islam yang luas.memperbaiki dan atau memantapkan hasilnya. Mulai tanya jawab. Karakteristik PAI Ciri-ciri umum pendidikan agama islam : tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu menghambakan diri kepada Allah untuk keridhaan -Nya. Tarmizi S. Erlangga. 1989. Drs.

yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. 1988: 132). Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipaha mi bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. 1999: 61). 1996: 7). Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. Marilyn dan Tony. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. melainkan melalui tindakan. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.Oleh: Hamzah *) A. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak -seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. Selanjutnya. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. Misalnya. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi den gan lingkungannya. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. Sedangkan. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. Bahkan. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan . Driver dan Bell (dalam Susan. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. Sedangkan.

melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. Maksudnya. melainkan seperangkat pembelajaran. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. pengekalan. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. . pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. materi. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang d luar melainkan dikonstruksi ari secara personal. dan sumber. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba -laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Dari pengertian di atas. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktvitas yang i berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. 1998: 5). setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama.memiliki tujuan. pengelompokan. 1999: 62).

Kedua. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pen gorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Selain itu. Artinya. pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. B. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Oleh karena itu. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. untuk mempelajari suatu materi yang . Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. Pertama. Dengan kata lain. fasilitor. Sehubungan dengan hal di atas. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut.

Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. Teori Belajar Konstruktivisme by Agus on October 21. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dari beberapa pandangan di atas. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. dapat disimpulkan bahwa pembelajara yang n mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.baru. yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. (3) strategi siswa lebih bernilai. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. . (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. 2010 A. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Dengan kata lain.

1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. melainkan melalui tindakan. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Selanjutnya. 1998: 5). Bahkan. Driver dan Bell (dalam Susan. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. Misalnya. Sedangkan. Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. . perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. 1999: 61). 1996: 7). Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 1988: 132). (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. dan sumber. materi. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Sedangkan. Dari pengertian di atas. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. melainkan seperangkat pembelajaran. Marilyn dan Tony. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran.

Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. Artinya. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. 1999: 62). Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Sehubungan dengan hal di atas. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. setiap manusia akan mengalami urutanurutan tersebut dan dengan urutan yang sama. pengekalan. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. pengelompokan. Maksudnya. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Selain itu. B. Kedua adalah . dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. fasilitor. Dengan kata lain. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration).

wordpress. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. Dengan kata lain. Dari beberapa pandangan di atas.Ed. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. (3) strategi siswa lebih bernilai. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran.pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.akhmadsudrajat. Oleh karena itu. Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme. Kedua. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Pertama. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Hamzah.com *) Dr. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. untuk mempelajari suatu materi yang baru. M. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar . dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.

yaitu: 1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa.. khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal.konstruktivisme. issue.ciri-ciri belajar menurut teori.teori pembelajaran konstruktivis. Manajemen Pendidikan.konstruktivistik. [Read Post] 20 Aug 2008.teori Konstruktivistik...teori pembelajaran piaget Teori Belajar Konstruktivisme Akhmad Sudrajat: Tentang Pendidikan Oleh: Hamzah*) A. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yan.teori belajar dan pembelajaran.teori pembelajaran konstruktivisme. dan Filsafat-Sosial Bu. Kurikulum dan Pembelajaran. Psikologi Pendidikan.Kata Kunci Untuk Artikel Ini: teori belajar konstruktivisme.teori belajar konstruktifisme.teori belajar. 18 Aug 2008 14:28 Kumpulan Makalah dan Artikel tentang Pendidikan Selamat Datang di Let?s Talk About Education! Dalam situs ini disajikan berbagai tulisan tentang opini. dan teori seputar Bimbingan dan Konseling.teori belajar konstruktivistik.. 15 Aug 2008 18:38 y Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP y Pengembangan Indikator dalam KTSP y Penilaian Psikomotorik y Peranan Kepala Sekolah. 19:11 | More from Akhmad Sudrajat: Tentang Pendidikan : Peran Guru sebagai Fasilitator Oleh: Akhmad Sudrajat Dalam konteks pendidikan. Teori ini biasa juga disebut teori.teori belajar konstrultivisme. Widodo.pengertian teori belajar.teori belajar konstruktivis.. Guru dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling y Pembelajaran Remedial dalam KTSP y Konsep Dasar Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) .teori belajar dan pembelajaran konstruktivisme.TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISME. trend. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget.teori pembelajaran. istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi).pengertian konstruktivisme..pengertian teori belajar konstruktivisme. (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis.. 18 Aug 2008 14:35 5 Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli..

Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon.y Konferensi Kasus untuk Membantu Mengatasi Masalah Siswa Teori Konstruktivisme OPINI | 06 October 2010 | 11:55 1504 1 Nihil A. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori . Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. 3. yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru. Dalam konteks pembelajaran. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah. 5. tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. 4. Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar. 6. pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. 2. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti: 1.

Misalnya. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. Pada teori ini konsekuensinya dalah siswa harus memiliki ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara tepat. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran.perkembangan kognitif. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir y ang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Bahkan. 1996: 7). perkembangan kognitifitu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. yaitu proses penyesuaian diri dengan cara mengubah diri sesuai suasana lingkungan. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. lalu adaptasi yang bersifat aloplastis yaitu adaptasi dengan mengubah situasi lingkungan sesuai dengan keinginan diri sendiri. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. 1988: 132). Sedangkan. 1999: 61). Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. melainkan melalui tindakan. Sedangkan. Driver dan Bell (dalam Susan. Marilyn dan Tony. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Menurut C. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Asri Budiningsih menjelaskan bahwa ada dua macam proses adapatasi yaitu adaptasi bersifat autoplastis. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi . yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Selanjutnya. 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada prose untuk menemukan s teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan.

. dan sumber. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukandalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. melainkan seperangkat pembelajaran. (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. pengekalan. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. materi. (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. fasilitor. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). Maksudnya. 1999: 62). (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. pengelompokan. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. 1998: 5). setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. Dari pengertian di atas. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skema sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. Selain itu. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.secara personal.

Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme.B. Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme. Sehubungan dengan hal di atas. (3) memberi kesempatan . Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu. Pertama. (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki. Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran. Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga pene kanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut. pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran. siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Artinya. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme. untuk mempelajari suatu materi yang baru. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti. (3) strategi siswa lebih bernilai. bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Kedua. Dengan kata lain. pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif. Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

sikap. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Oleh karena itu minat. yUnsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis Berdasarkan hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Dari beberapa pandangan di atas. Widodo. 2. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Selain itu Slavin menyebutkan strategi-strategi belajar pada teori kontruktivisme adalah top-down processing( siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk dipecahkan. (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis. . Dengan kata lain. siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik -teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa. dan juga penerapan konsep. kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhka n. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka. penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari. agar siswa lebih mudah dalam menghadapi problem yang dihadapi dan generative learning(strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata. dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. yaitu: 1. cooperative learning(strategi yang digunakan untuk proses belajar.kepada siswa untuk mencoba gagasan baru. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa.

Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah. Misalnya saja pada pelajaran pkn. Sains bukan hanya produk (fakta. namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang kehidupan ilmuwan. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial. 5. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. prinsip. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga.3. bahwa pembelajaran yang mengacu kepada . konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. 4. tentang tolong menolong dan siswa di tugaskan untuk terjun langsung dan terlibat mengamati suatu lingkungan bagaimana sikap tolong menolong terbangun. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya. pembelajaran kontruktuvisme merupakan pembelajaran yang cukup baik dimana siswa dalam pembelajaran terjun langsung tidak hanya menerima pelajaran yang pasti seperti pembelajaran bihavioristik. teori). konsep. Dan setelah itu guru memberi pengarahan yang lebih lanjut. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yanglebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Piaget menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Siswa lebih mamahami makna ketimbang konsep yKesimpulan Jadi teori kontruktivisme adalah sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. Adanya lingkungan sosial yang kondusif.

dan mereka setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Hal yang sama juga diungkapkan Wood dan Coob. « Teori -Teori Belajar (Piaget. Hal ini berarti siswa mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek. pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu dilupakan. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru.Pd. . M. Vygotsky) Metode Pembelajaran Discovery (Penemuan) » Teori Belajar Konstruktivisme Mei 27. fenomena. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear.teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.. para ahli kontruksivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas. 2010 oleh Herdian. maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna. pengalaman dan lingkungan mereka. sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Dalam kelas kontruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan inteligennya dalam setting matematika.S. Bruner.Pd. Teori Belajar Konstruktivisme Teori konstruktivisme didasari oleh ide-ide Piaget. namun mempresesentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Vygotsky dan lain-lain. maka pengetahuan matematika dikontruksi secara aktif. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek. Bruner.

Lebih jauh dikatakan bahwa dalam kontruksivisme aktivitas matematika mungkin diwujudkan melalui tantangan masalah. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme dapat diterapkan antara lain dalam pembelajaran kooperatif. kerja dalam kelompok kecil dan diskusi kelas. . Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. Belajar menurut paham konstruktivisme adalah mengkontruksi pengetahuan yang dilakukan baik secara individu maupun secara sosial. dengan menginkuiri suatu permasalahan dan kemudian memecahkan permasalahan. Dari prinsip di atas terlihat bahwa ide pokok dari teori konstruktivisme adalah siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Disebutkan pula bahwa dalam kontruksivisme proses pembelajaran senantiasa ³problem centered approach´. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuan. dimana siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi secara sosial dan berkomunikasi dengan sesamanya untuk mencapai tujuan pembelajaran dan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Sedangkan mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan guru kepada siswa. dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memiliki makna matematika.Beberapa prinsip pembelajaran dengan kontruksivisme diantaranya dikemukakan oleh Steffe dan Kieren yaitu observasi dan mendengar aktifitas dan pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful