Keberadaan Perusahaan Rokok di Indonesia

Antara Kepentingan, Tekanan Ekonomi, dan Tanggung jawab Sosial Pertumbuhan pasar yang semakin hari semakin bersaing telah menjadikan kekayaan materil dan keuntungan komersil sebagai tujuan dasar dari sebuah perusahaan. Pendekatan ekonomi menjadikan perusahaan semakin agresif dan tidak mengenal waktu istirahat untuk berkompetisi memperluas jaringan usahanya. Pada jaman saat ini tidak usah diragukan lagi bahwa ekonomi merupakan motivator yang sangat kuat dan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Konflik-konflik inilah yang menimbulkan dilema antara pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai etis yang berlaku dan tekanan ekonomi demi keberlangsungan perusahaan. Seorang idealis yang berprinsip kepentingan moral adalah suatu yang penting dapat ditaklukan semata-mata karena alasan ekonomi dan menolak semua prinsipnya mengenai tanggung jawab sosial. Tetapi banyak pula yang perusahaan yang keuangannya sudah solid, mengalokasikan keuntungannya atas nama tanggung jawab sosial dengan menyumbangkan dana kepada karyawan ataupun masyarakat. Sebuah pertanyaan muncul dikala pertimbangan ekonomi untuk mencari keuntungan komersil menjadi keputusan yang sangat mendasar dibandingkan pertimbangan moral dan tanggung jawab sosial. Kini masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggung jawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. Sebagai negara negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi pangsa bisnis yang besar. Selain itu sumber daya alamnya juga melimpah dan cocok untuk mengembangkan bisnis di berbagai bidang. Hal ini membuat berbagai perusahaan tumbuh pesat di Indonesia. Salah satunya adalah perusahaan rokok. Banyak perusahaan rokok skala kecil atau besar yang berkembang di Indonesia. Namun keberadaan perusahaan rokok ini menjadi dilematis karena menimbulkan dampak yang positif dan negatif. I. Kepentingan dan Tekanan Ekonomi Keberadaan perusahaan rokok skala besar maupun kecil di Indonesia memang menimbulakan banyak kontroversi. Di satu sisi, keberadaan perusahaan rokok memberikan keuntungan secara finansial bagi negara, dan banyak menyerap tenaga kerja. Di sisi lain, keberadaan perusahaan rokok dengan produk dan pemasarannya meningkatkan konsumsi masyarakat Indonesia akan rokok dan menurunkan kualitas hidup atau merusak kesehatan masyarakat. Karena kita tahu, rokok mengandung banyak zat bersifat racun bagi tubuh manusia. Paling tidak perusahaan rokok di Indonesia memiliki keterkaitan dengan tiga departemen

dan Jepang (299. (www. maka dengan segera pemerintah melalui departemen tenaga kerja ikut sibuk untuk menahan agar eskalasi kasus itu tidak semakin membesar. Apapun kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi kinerja industri rokok. walaupun peraturan-peraturan itu dibuat dengan "setengah hati". Ketiga. Departemen Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Makanan dan Minuman (Ditjen POM) yang memiliki kewenangan untuk mengawasi peredaran produk rokok di masyarakat. rokok dan kondom.1 miliar batang). Bahkan. Karena di satu sisi peraturan itu dibuat untuk membatasi ruang gerak industri rokok dengan alasan kesehatan. setelah Cina (1297. Bahkan pada tahun 2006 mencapai angka sekitar 40 triliun rupiah.16 triliun rupiah -belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penghasilan (PPh). Departemen Keuangan yang sangat berkepentingan atas pendapatan negara dari hasil cukai rokok. (Media Indonesia.yang sejauh ini memiliki kewenangan mengeluarkan segenap regulasi kepada perusahaan rokok di Indonesia.3 miliar batang rokok per tahun. Kedua. WHO organisasi kesehatan dunia yang bernaung dibawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa menghimbau supaya perusahaan-perusahaan tidak lagi memanfaatkan dana dari produsen-produsen rokok bagi keperluan kegiatan sponsorship. Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) karena memiliki kepentingan agar industri rokok di Indonesia dapat terus berkembang. sehingga kebijakan apapun yang mempengaruhi sektor anggaran negara Departemen keuangan selalu terlibat. AS (462. Dalam dunia periklanan ada tiga produk yang selalu menimbulkan kontroversi. Ditjen POM pula yang ikut aktif dalam pengaturan iklan tentang produk rokok di media massa. Pemerintah Indonesia pun membuat sejumlah rambu-rambu atau aturan-aturan yang membatasi ruang gerak iklan rokok di media massa. Seperti misalnya dalam hal komunikasi periklanan. namun sambil meminimalisir ekspalitas rokok bagi kesehatan. Angka ini merupakan angka tertinggi kelima di dunia.3 miliar batang). Pertama. Sebenarnya pemerintah sudah memberikan banyak aturan yang ketat untuk menekan konsumsi rokok di kalangan masyarakat.depkeu. Dalam kabar UGM Online Edisi 84/V/21 Juli 2009. dituliskan bahwa masyarakat Indonesia mengkonsumsi rokok 178.5 miliar batang). 14 Juli 1996). Masalah tenaga kerja juga mempunyai keterkaitan dengan departemen tenaga kerja karena ketika terjadi pemogokan besar-besaran tenaga kerja perusahaan rokok. Deperindag beranggapan bahwa selain padat modal industri rokok juga padat tenaga kerja. pemerintahpun sadar bahwa industri rokok merupakan salah satu pemasukan yang besar bagi pendapatan negara industri rokok.go. yaitu: alkohol. Hal ini mungkin sangat bisa dimengerti karena penerimaan negara dari cukai rokok pada tahun 2000 mencapai angka sebesar 10.id) . tapi di sisi lain pemerintah juga mengharapkan industri ini sebagai sumber pemasukan negara di saat keadaan ekonomi Indonesia kurang menguntungkan. Karena itu dibuatlah peraturan-peraturan yang membatasi gerak periklanan ketiga produk tersebut. Rusia (375 miliar batang).

Namun tetap saja para produsen rokok dan biro iklan akhirnya berusaha mencari celahcelah dari peraturan yang ada itu dan dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk mengatasi hal tersebut agar asap pabrik tetap mengepul. Tanggung jawab secara moral biro iklan kepada masyarakat pun terkadang terabaikan agar mereka dapat bertahan di tengah persaingan ekonomi yang ketat. baik untuk media cetak maupun media luar ruang menggambarkan (dalam bentuk gambar. Hampir semua iklan produk rokok dengan bahasa-bahasa simboliknya mengajak audience untuk bermimpi. melayang dan membayangkan suatu kesenangan atau kenikmatan yang pada akhirnya mau mengkonsumsi produk yang ditawarkan seperti iklan rokok Gudang Garam Surya dengan slogan citra ekslusifnya atau iklan produk rokok S.” Bukan hanya itu saja. Calm and Confidence. Suatu jumlah yang menggiurkan untuk biro iklan merupakan tantangan bagi biro iklan untuk memacu kreativitas memadukan billing dan peraturan pemerintah. Lembaga Riset AC Nielsen. Meskipun terkadang dilakukan strategi pemasaran dalam bentuk kegiatan sosial kepada masyarakat namun tetap saja tujuannya untuk menguatkan pemasaran dan posisi produk di pihak konsumen. dan POM (Pengawasan Obat dan Makanan). bahkan sampai bulan Maret 2000 lalu saja sudah menghabiskan dana sebesar 114. kondisi perekonomian dunia yang kurang stabil juga semakin menekan keberadaan biro iklan. Selain tekanan ekonomi dalam negeri. yaitu pasal 18 yang pada intinya melarang iklan produk rokok. Dupont dengan slogannya Cool. Dengan proses kreatif yang baik maka iklan rokok dapat ditampilkan tanpa menyalahi peraturan-peraturan sehingga masyarakat luas dan pemerintahpun dapat tersenyum simpul serta biro iklan dapat tetap bernapas lega tanpa kuatir disomasi oleh berbagai pihak. Hal itu dilakukan berulang-ulang dengan media yang benar-benar menyentuh masyarakat yaitu media luar ruang yang memenuhi hampir setiap sudut kota sehingga mengaburkan antara batas-batas . Tidak tanggung-tanggung. biro iklan membantu perusahaan rokok untuk memasarkan produknya dengan berbagai cara. Sedangkan untuk pembagian sample (sampling) dijelaskan pada pasal 21 yang berbunyi : “Setiap orang yang memproduksi rokok dan atau memasukkan rokok ke dalam wilayah Indonesia dilarang melakukan promosi dengan memberikan secara cuma-cuma atau hadiah berupa rokok atau produk lainnya dimana dicantumkan bahwa merek dagang tersebut merupakan rokok. tulisan atau gabungan keduanya) rokok atau orang sedang merokok atau mengarah pada orang yang sedang merokok. Dengan tekanan yang tinggi seperti itu. pemerintahpun akhirnya mengeluarkan peraturan nomor 38 tahun 2000 sebagai perubahan dari peraturan sebelumnya yang menambahkan bahwa penayangan iklan rokok di media elektronik (televisi/radio) dapat dilakukan pada pukul 21:30 sampai pukul 05:00 waktu setempat. Menurut AC Neilsen sampai tahun 1999 lalu belanja iklan produk rokok di media sebesar 313.T.1 miliar rupiah. Bahkan dalam peraturan pemerintah nomor 81 tahun 1999 dengan sangat jelas ditulis pada salah satu pasal. Mereka tetap saja membuat masyarakat Indonesia semakin konsumtif dengan iklan mereka. tiga lembaga sekaligus ikut memantau pelanggaran pelanggaran iklan rokok yang telah dilakukan oleh perusahaan rokok yaitu YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).9 miliar rupiah.

baik dalam bentuk tontonan untuk masyarakat umum yang bersifat 'prestise' dan/atau pun\ manajemen dan administrasi kelas tinggi yang sifatnya istimewa. komunitas atau sistem sosial yang ada. Dalam menentukan kualitas etika yang ditegakkan. produk yang mengandung tembakau padat. 2001. Ketika berada dalam konteks . 2007) Etika dalam level tertentu adalah etika dalam profesi. taman-taman utama. Baru-baru ini.seni dan kehidupan sehari-hari sehingga ada beberapa hal yang perlu ditinjau. Dapat dikatakan bahwa etika pada level tertentu sangat ditentukan oleh arahan sistem sosial yang disepakati. sinema. 48 . seperti yang ditulis Mike Featherstone dalam bukunya Postmodernisme dan Budaya Konsumen (Maret. 3. stadion olah raga. dilema moral atau pilihan moral selalu mempunyai masalah yang tidak begitu saja diselesaikan secara simplistik.62) yang intinya sebagai berikut : 1. Hal tersebut diketahui karena pada bagian penjelasan pasal 113 masih terdiri dari tiga ayat termasuk penjelasan tentang ayat 2. rock-video.". Hal yang terus menerus ada serta transformasi tersebut dalam tempat-tempat konsumsi tertentu seperti tempat berlibur. event-event yang konsumtif serta konsumsi yang sangat menyolok serta menjadikan pertumbuhan ekonomi yang penuh untuk memunculkan pertumbuhan yang tanpa henti. cairan. Hal yang terus menerus ada dalam budaya konsumen untuk unsur-unsur tradisi kebuasan pra-industri yaitu tradisi penyelesaian dengan cara pemghambur-hamburan dan penghancuran kelebihan barang atau produk yang dijalankan melalui pemberian hadiah. kelompok. dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/ atau masyarakat sekelilingnya. 2. Etika danTanggung jawab Sosial Perusahaan Etika adalah lini arahan atau aturan moral dari sebuah situasi di mana seseorang bertindak dan mempengaruhi tindakan orang atau kelompok lain. Pilihan-pilihan etis harus berdasarkan kaidah norma atau nilai yang menjadi prinsip utama tindakan etis (AG. periklanan. department store dan pusat-pusat perbelanjaan. namun ayat 2 nya sendiri tidak ada dalam dokumen undangundang yang akan disahkan. Transformasi dan penggantian dari kebuasan tersebut menjadi image media. Tentu saja perhatian tentang siapa dalang dibalik kasus tersebut mengarah pada kalangan industri rokok dengan kekuatan ekonomi yang besar melalui tangan kanan mereka di ranah politik karena undang-undang itu kemungkinan besar akan sangat mengganggu bisnis mereka jika disahkan. hal. Definisi etika ini juga berlaku untuk kelompok perusahaan dan media sebagai subjek etis yang ada. II. Eka Wenats Wuryanta. 4. adanya kepentingan khusus dan tekanan ekonomi juga disinyalir muncul dalam politik pemerintahan pada kasus penghilangan ayat undang-undang yang mengatur tentang tembakau yaitu Undang-Undang Kesehatan pasal 113 ayat 2 "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau. desain. Setiap arahan dan aturan moral mempunyai nilai dan level kontekstualisasi pada tingkat individu. Penggantian unsur-unsur tradisi kebuasan pra-industri dan penyatuannya ke dalam konsumsi yang mencolok yang dilakukan oleh negara dan berbagai perusahaan.

4. Ada beberapa isu yang muncul dalam kerangka etika periklanan. Nilai etis dalam konteks profesionalisme akan menghasilkan kode etik. Masalahnya adalah bagaimana praktisi PR bisa menempatkan diri dalam konteks kepentingan yang berbeda tersebut. Etika konsumen lebih mau menyatakan bahwa konsumen punya hak untuk mendapatkan kompensasi yang memadai dalam seluruh hasil komunikasi atau media massa modern. 3. Pola dua dasar utama ini akan berbenturan dengan nilai atau prinsip nilai yang berkembang sampai sekarang. Oleh sebab itu. Dilema-dilema etis dalam perusahaan modern semakin juga diperumit dengan masalah tekanan ekonomi yang memang menjadi arahan pokok etika perusahaan yang ada sekarang. mengawasi dan menjadi ”anjing penjaga” sejauh mana etika perusahaan dapat dieksekusi secara bersamasama.situasional selalu juga memperhatikan profesionalisme. Etika humas adalah etika yang mengatur perilaku humas yang bisa bermuka dua. Mana yang harus didahulukan etika personal atau etika perusahaan. Dilema-dilema etis dan pengembangan etika perusahaan yang muncul sekarang juga serta merta menumbuhkan masalah sejauh mana akhirnya kita harus membuat aturan dan norma etika bisa dilakukan atau dilaksanakan dalam praktek hidup sehari-hari. sejauh mana praktisi periklanan mampu menjadi ”pengarah tersembunyi” yang dimungkinkan dalam dunia periklanan. Etika periklanan adalah etika yang mengatur profesionalis periklanan. diperlukan juga lembaga-lembaga publik yang mengontrol. isu lainnya adalah isu dalam periklanan yang mampu ”menodong” konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai pilihan selain tindakan mengkonsumsi. yaitu prinsip tanggung jawab sosial dan kesejahteraan bersama. bagaimana pertanggung jawaban etis pada konteks periklanan yang mendorong labelisasi atau stereotip yang muncul dalam dunia periklanan. yaitu sejauh mana iklan bisa dipertanggung jawabkan ketika produk yang ditawarkan adalah produk yang berbahaya. Etika bisnis. . PR berfungsi sebagai mata dan mulut perusahaan yang terkait. terdapat empat permasalahan etika yang menjadi dilematis: 1. isu lainnya adalah iklan yang mengelabui konsumen. Akhirnya tidak mengherankan apabila sekarang berkembang model tanggung jawab perusahaan. Tentunya masalah pendidikan juga menjadi penting dalam usaha membuat aturan atau norma etika bisa dijalankan dan diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. yang lebih menekankan pada hal prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran dalam persaingan usaha agar tetap dinamis dan berjalan secara fair atau sehat. bagaimana praktisi periklanan mampu melaksanakan dan konsisten dalam melaksanakan privasi konsumen. Di satu sisi. Arahan etika dalam kode etik didasarkan dalam dua dasar utama. 2. PR berfungsi sebagai institusi yang melayani kepentingan publik dan di sisi lain. Dalam hal pemasaran rokok. mana yang harus diutamakan kepentingan publik atau kepentingan individual. Perkembangan etika aplikatif tentunya selalu harus memperhatikan aspek komunitas atau kepentingan publik. Kedua kepentingan tersebut juga bisa bertabrakan satu sama lain. Keduanya mempunyai kepentingan yang berbeda.

perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Dalam ranah norma kehidupan modern. Gagasan CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekadar aktivitas ekonomi (menciptakan profit demi kelangsungan bisnis). Menurut Muhammad Arief Effendi (2007) dalam muhariefeffendi. (Sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Seminar Sehari "A Promise of Gold Rating : Sustainable CSR" Tanggal 23 Agustus 2006. keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan perusahaan mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang berkualitas. Secara teoretik. terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya.com.Tanggung jawab sosial dunia bisnis tidak saja berorientasi pada komitmen sosial yang menekankan pada pendekatan kemanusiaan.go. tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya. dan semacamnya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Pertama. CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para strategicstakeholdersnya. kita dilingkupi dengan sejumlah norma yakni norma hukum. Konsep asli CSR sesungguhnya bergerak dalam kerangka ini. diambil dari www.id) Bahkan untuk menggalakkan program tanggung jawab sosial perusahaan ini pemerintah menyusun peraturan melalui undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang disahkan DPR tanggal 20 Juli 2007 menandai babak baru pengaturan CSR di negeri ini. Keempat ayat dalam Pasal 74 UU tersebut menetapkan kewajiban semua perusahaan di bidang sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ketiga. Dengan atau tanpa aturan hukum. Keempat. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah goldenrules. melainkan juga tanggung jawab sosial termasuk lingkungan. keterpanggilan religi atau keterpangilan moral. pada domain lain perusahaan juga terikat pada norma sosial sebagai bagian integral kehidupan masyarakat setempat. belas kasihan. . yakni menggapai suatu hasil terbaik.menlh.wordpress. Dengan begitu. Tanpa mengabaikan kewajiban dan pertanggung jawaban hukumnya. perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan manajemen risiko (risk management). Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah mengedepankan prinsip moral dan etis. ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan CSR. perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. di mana perusahaan secara sadar memaknai aneka prasyarat tadi dan masyarakat sekaligus bisa menakar komitmen pelaksanaannya. Fenomena inilah yang menyulut wacana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate sosial responsibility (CSR). moral. dan sosial. Kedua. tetapi menjadi kewajiban yang sepantasnya dilaksanakan oleh para pelaku bisnis dalam ikut serta mengatasi permasalahan sosial yang menimpa masyarakat.

. namun mengapa justru pendonor dana terbesar olahraga di negara ini adalah perusahaan rokok yang produknya sangat tidak baik untuk kesehatan. sangatlah sulit buat siapapun untuk menyatakan bahwa industri rokok bisa dianggap memiliki kinerja CSR yang baik. Dengan pengertian yang demikian. namun secara substansi tidaklah berbeda. tujuan utama olahraga adalah kesehatan. dampak residual (dampak negatif yang masih tersisa setelah ditekan) telah dikompensasi dengan proporsional. dan kutipan atas pernyataan Janoe Arijanto dari Dentsu Straat memberi kesan bahwa CSR itu “Ujungujungnya cuma duit. dkk (2008) menyatakan bahwa salah satu substansi yang diterima secara bulat adalah bahwa CSR itu berarti melakukan internalisasi eksternalitas. maka ia berturut-turut harus memastikan tiga hal: dampak negatifnya telah ditekan hingga seminimal mungkin. Pengertian substansial ini belum tampak dalam “Indah Tapi Berbisa”. Secara logis. Penulisnya menyamakan CSR dengan sponsorship. sehingga tidak tercermin dalam harga produk. praktik CSR yang baik akan meningkatkan nilai-tambah adanya perusahaan di suatu daerah karena akan menyerap tenaga kerja. Karena ini menjadi jalan pemasaran dan pencitraan mereka di masyarakat karena semakin ketatnya regulasi periklanan rokok. Hal tersebut dapat kita lihat pada program sosial PT Sampoerna dengan Sampoerna Foundation-nya yang memberikan beasiswa kepada siswa siswi berprestasi mapun Djarum Bakti Lingkungan yang mendukung program pelestarian lingkungan. Mary Assunta dari SEATCA menyatakan bahwa CSR adalah jalan bagi industri rokok untuk membangun citra positif.. Konsekuensinya. Banyak terjadi kontroversi dalam hal tersebut ketika CSR dilakukan oleh perusahaan rokok. Eksternalitas adalah dampak positif dan negatif aktivitas perusahaan yang ditanggung oleh pihak lain namun tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan perusahaan. meningkatkan kualitas sosial di daerah tersebut.memberikan timbal balik bagi masyarakat”. sosiolog Imam Prasodjo dikutip menyamakan CSR dengan “. Namun yang agak ironis ketika melihat dukungan perusahaan rokok tersebut dalam hal pembinaan olahraga. bahkan ada yang mendukung liga super olahraga sepak bola. Crane. Perbedaan definisi itu ini diketahui hanyalah merupakan perbedaan penekanan dan artikulasi. Beberapa tahun belakangan telah tercapai kesadaran bahwa CSR bisa dimaknai dengan jelas. walaupun definisinya masih sangat beragam. apabila peusahaan hendak dianggap berkinerja sosial yang tinggi. Sesungguhnya substansi keberadaan CSR adalah dalam rangka memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerja sama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun programprogram pengembangan masyarakat sekitarnya. Berabagai pakar CSR tidak bisa menerima adanya perusahaan yang mengaku ber-CSR namun tidak melakukan manajemen yang optimal atas eksternalitas. dan dampak positifnya telah dikelola semaksimal mungkin. Beberapa perusahaan rokok besar membangun fasilitas olahraga dengan alasan meningkatkan pembinaan atlet nasional sejak dini.Dari sisi masyarakat. Perusahaan rokok pun tidak ikut ketinggalan dalam program CSR-nya.” (Koran Tempo edisi 27/11/08) Jika sebuah perusahaan rokok coba-coba untuk membuat klaim bahwa mereka adalah .

dan banyak menyerap tenaga kerja. Pemerintah hanya bisa menengahi. Di sisi lain. Selain tekanan ekonomi dalam negeri. apabila perusahaan tidak meminimumkan dan mengkompensasi dampak negatifnya terlebih dahulu. Pemerintah pun berupaya untuk mengurangi aktivitas pemasaran industri rokok di Indonesia melalui peraturan-peraturan ketat bagi regulasi periklanan khususnya untuk produk rokok. Tampaknya inilah yang banyak terjadi pada industri rokok di manapun. Karena kita tahu. Yang pertama-tama harus diperiksa adalah apakah memang dampak negatif dari produksnya telah ditekan hingga batas terendah yang mungkin? Belum tampak ada upaya masif dari industri rokok untuk mencegah anak-anak dan remaja merokok dengan menghilangkan akses mereka ke produk rokok dan berbagai iklannya. Bahkan keberadaan industri rokok ini memberikan pemasukan pendapatan negara yang sangat besar.perusahaan yang bertanggung jawab sosial. Dengan tekanan ekonomi yang tinggi. keberadaan perusahaan rokok dengan produk dan pemasarannya meningkatkan konsumsi masyarakat Indonesia akan rokok dan menurunkan kualitas hidup atau merusak kesehatan masyarakat. alias tak mungkin ber-CSR.com. Ini menunjukkan bahwa industri rokok tak mungkin mengkompensasi eksternalitas negatifnya. Industri ini juga sama sekali tak serius melindungi bukan perokok. Namun Indonesia sendiri adalah salah satu negara yang memiliki industri rokok terbesar di dunia. Perkembangan industri rokok di Indonesia pun menjadi kontroversial karena maraknya kampanye global tentang anti rokok. Namun hasil nya belum konkrit karena adanya dilema antara faktor ekonomi dan tanggung jawab sosial pemerintah kepada warganya. rokok mengandung banyak zat bersifat racun bagi tubuh manusia. Tanggung jawab secara moral biro iklan kepada masyarakat pun terkadang terabaikan agar mereka dapat bertahan di tengah persaingan ekonomi yang ketat. kita bisa menimbangnya dengan keharusan internalisasi eksternalitas di atas. kondisi perekonomian dunia yang kurang stabil juga semakin menekan keberadaan biro iklan. Bahkan menurut Jalal (2006) dalam www. ketika kita melihat bagaimana upaya perusahaan rokok untuk membagi keuntungannya pada masyarakat luas melalui CSR. namun langsung terjun dalam kegiatan amal. keberadaan perusahaan rokok memberikan keuntungan secara financial bagi negara. Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan . Kesimpulan Keberadaan perusahaan rokok di Indonesia yang berkembang pesat memberikan dampak secara positif dan negatif. termasuk di Indonesia. Kepentingan dan tekanan ekonomi pun muncul disini dan menjadi masalah yang dilematis untuk dipecahkan. III. Masyarakatnya pun menjadi target pasar yang potensial bagi produsen rokok.csrindonesia. dengan mendukung program anti rokok namun tetap menerima keuntungan dari cukai rokok. itu disebut greenwash alias pengelabuan citra. biro iklan membantu perusahaan rokok untuk memasarkan produknya dengan berbagai cara. Di satu sisi.

kesadararan baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate Sosial Responsibility (CSR). Tak dapat dipungkiri bahwa industri rokok memiliki peranan yang sangat besar dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara. Menteri Keuangan menyatakan bahwa pemasukan dari cukai rokok telah mencapai 22. KENAIKAN CUKAI ROKOK SEBAGAI BEAUTY STRATEGY DALAM PROGRESITAS PENERIMAAN NEGARA OLEH: DEWI BUNGA Perkembangan industri rokok menjadi suatu hal yang diperdebatkan tatkala dihadapkan dengan dua kepentingan besar yakni ekonomi dan kesehatan. Dengan atau tanpa aturan hukum. Dengan kata lain. Peningkatan pendapatan negara dari cukai rokok diestimasi akan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. terutama yang terkait dengan tanggung jawab sosialnya. Sementara realisasi penerimaan bea keluar mencapai 5.26 % dari target APBN 2010. Realisasi penerimaan bea masuk hingga Maret 2010 telah mencapai 18. CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat tempatan. Jumlah pabrik rokok di Indonesia yang mencapai 4416 pabrik telah menampung ratusan ribu tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini. industri ini memberikan pemasukan sebesar Rp 51.21 triliun. Para pelaku bisnis tentunya berharap perusahaan dapat meningkatkan profitabilitas. sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. keduanya merupakan tujuan yang hendak dicapai perusahaan.3 % dari target APBN 2010 sebesar Rp 7. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. namun hal ini tentunya akan menjadi konflik kepentingan bagi stakeholder lainnya yang menginginkan optimalisasi keberadaan perusahaan. Sekalipun sangat disadari bahwa kedua hal ini sebenarnya terkadang saling bertentangan. Berdasarkan data dari Ditjen Bea dan Cukai. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah pengedepankan prinsip moral dan etis. Industri rokok disamping memberikan pemasukan yang signifikan bagi pendapatan negara juga memberikan penghidupan yang begitu besar bagi masyarakat. Penerimaan negara dari cukai rokok ini jauh melampaui industri lainnya bahkan mengalahkan industri pertambangan emas sekalipun. Dengan begitu.5 triliun. tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya.6 triliun. Pada tahun 2008. perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat Profitabilitas maupun tanggung jawab sosial. Perkembangan ini juga ditunjang dengan tingkat konsumsi rokok Indonesia yang mendapat peringkat ke-3 di dunia pada tahun 2008.98 % dari target APBN 2010 sebesar Rp 16. Dalam kurun waktu tiga bulan (Januari hingga Maret 2010). yakni menggapai suatu hasil terbaik. Dilihat dari pertumbuhan . target penerimaan cukai dalam APBN 2010 adalah Rp 57.29 triliun. selalu terdapat pertentangan antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab sosial.

org/ mencatat 800 juta dari 1. Prevalensi anak yang merokok di Indonesia diperkirakan mencapai 25. paru-paru. WHO. Laporan sebagaimana yang ditulis surabaya-ehealth. .00 per hari atau seperempat dari penghasilan hariannya sebagai buruh tani. pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Badan khusus PBB yang menangani masalah kesehatan dunia.69 % per tahun (Tri Wibowo. Pertumbuhan industri rokok di tanah air tidak lepas dari tingginya tingkat konsumsi perokok aktif. secara keseluruhan penyerapan tenaga kerja industri rokok tumbuh sebesar 2. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan dampak rokok adalah melalui kenaikan cukai rokok secara progresif. Pengeluaran untuk rokok lebih dari 5 kali lipat pengeluaran untuk makanan bergizi. bahkan memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun. Dilihat dari proporsi total pengeluaran bulanan. belanja rokok mencapai lebih dari 3 kali pengeluaran untuk pendidikan (3. untuk yang dibuat di Indonesia: 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik. Serangan ini terjadi melalui beberapa penyakit yang ditimbulkan dari rokok seperti AIDS. 2010. atau 2. 57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. b. 2003: 90).545.2%) dan hampir 4 kali lipat pengeluaran untuk kesehatan (2. jantung. Berdasarkan Pasal 5 Undang-undang Nomor 39 tahun 2007 Tentang Cukai disebutkan bahwa tembakau dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi: a. 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang. Pada dasarnya cukai hanya dikenakan terhadap barang-barang yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu yakni konsumsinya perlu dikendalikan. untuk yang diimpor: 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk. 57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual eceran. Hasil penelitian Lembaga Demografi FE UI pada tahun 2008 bahkan menunjukkan bahwa pengeluaran untuk pembelian rokok buatan pabrik rata-rata Rp 3. peredarannya perlu diawasi. Data di tahun 2004 menunjukkan anak mulai merokok pada usia 5 tahun. infeksi saluran pernafasan. http://ridwanamiruddin.2 miliar perokok dunia berasal dari negara berkembang.9 juta atau sekitar 37 %. Pertumbuhan ekonomi yang diberikan oleh industri ini harus ditukar dengan penurunan kualitas hidup manusia. Tingkat konsumsi rokok terbesar berada pada usia produktif yakni 25-64 tahun dengan persentase 29% sampai 32%. Data yang dikeluarkan oleh BPS pada tahun 2006 menyebutkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok jauh lebih besar dari pengeluaran untuk kebutuhan dasar rumah tangga lainnya yakni mencapai 12 % dari total pendapatan di keluarga tersebut. impotensi. Meskipun industri rokok menjadi pilar kokoh dalam roda perekonomian bangsa namun bahaya konsumsi rokok tidak boleh dilupakan. Dari jumlah tersebut termasuk jumlah perokok anak. atau 2. kanker dan sebagainya.7%) (Ridwan Amiruddin.wordpress.com/2010/02/06/strategi-pengendalian-rokok/).penyerapan tenaga kerja.

pangan dan pendidikan akan semakin meningkat. Perekonomian Indonesia . 04/2006 tentang kebijakan cukai 2007. buku. termasuk data elektronik. Audit cukai adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan laporan keuangan. Sehingga alokasi dana rumah tangga untuk kesehatan. Kenaikan cukai rokok secara progresif menjadi salah satu beauty strategy dalam progresitas penerimaan negara (government revenue). Kenaikan cukai ini harus didasarkan pada kerangka kerja (framework) yang jelas. serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang cukai dan/atau sediaan barang dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan di bidang cukai. pemerintah menetapkan cukai ganda untuk produk rokok berupa tarif advalorum dengan kenaikan sebesar 7% dan tarif spesifik yang ditetapkan secara bervariasi sesuai jenis rokok antara Rp 3 dan Rp 7 per batang. mulai 1 Juli 2007. dan dapat mencegah paling sedikit 10 juta kematian yang berhubungan dengan tembakau. Bank Dunia menyimpulkan bahwa kenaikan harga produk tembakau sebesar 10% akan menurunkan tingkat permintaan global sebesar rata-rata 48%. Dengan meningkatnya harga rokok maka kelompok kolektif seperti remaja. catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan. anak-anak dan orang-orang yang berpenghasilan minim tidak akan membeli rokok atau setidak-tidaknya mengurangi konsumsi rokok per harinya.Berdasarkan Peraturan Menkeu No. Untuk itu diperlukan dua hal penting yang harus mendapatkan perhatian khusus yakni audit cukai dan penegakan hukum (law enforcement). 118/ PMK. Disisi lain kenaikan cukai dapat meningkatkan harga jual rokok kepada konsumen. dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Kebijakan penaikan cukai terhadap tembakau ini merupakan langkah konkrit dalam membatasi peredaran barangbarang unhealthy. Jika dalam audit cukai ditemukan penyimpangan-penyimpangan maka diperlukan penegakan hukum yang konsisten yang dapat menjerat para pelaku sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.