P. 1
Majalah TEOGEO - Walhi Jogja (Edisi Juni 2008)

Majalah TEOGEO - Walhi Jogja (Edisi Juni 2008)

4.67

|Views: 1,266|Likes:
Published by iqinsasak
BANYU PANGURIPAN, DI TITIK NADIR? AIR ADALAH KEBUTUHAN SAKRAL MANUSIA. DEMIKIAN HALNYA BAGI
PENDUDUK DI KOTA BUDAYA INI YANG MENJELMA DALAM UNGKAPAN
“BANYU PANGURIPAN”.
KOTA TERUS BERKEMBANG. MODERNISASI JUGA MENJADI PETUNJUK
UNTUK MEMBANGUN KOTA YANG DALAM KEBUDAYAAN DISAPA
“NGAYOGYAKARTA”. GEMERLAP PEMBANGUNAN TERUS BERLANGSUNG
NAMUN SAYANGNYA TAK TERKONTROL. DI BEBERAPA SEGI, KOTA GUDEG
INI MULAI KEHILANGAN KEBANGGAANNYA. SALAHSATUNYA AIR BERSIH.
SOAL INI MUNCUL LANTARAN PENCEMARAN DAN TATA KELOLA YANG
BURUK KERAP TERJADI, MEMBUAT AIR MAKIN BERKURANG KUALITAS
DAN FUNGSINYA. BAGI MASYARAKAT INI TENTU MEMBUAT KETAR-KETIR,
BAGAIMANA DENGAN PEMERINTAH? APAKAH MENYEPELEKANNYA?
BIARKAN BAKTERI DEMI BAKTERI MERUSAK AIR TERSEBUT? BIARKAN
MASYARAKAT MENCARI SOLUSI SENDIRI? BILA KATA “YA” JAWABANNYA
MAKA BERSIAPLAH SI PELEPAS DAHAGA KELAK AKAN DATANG MEMBAWA
PETAKA. BILA KATA “TIDAK” JAWABANNYA, SEGERALAH BERBENAH!
BANYU PANGURIPAN, DI TITIK NADIR? AIR ADALAH KEBUTUHAN SAKRAL MANUSIA. DEMIKIAN HALNYA BAGI
PENDUDUK DI KOTA BUDAYA INI YANG MENJELMA DALAM UNGKAPAN
“BANYU PANGURIPAN”.
KOTA TERUS BERKEMBANG. MODERNISASI JUGA MENJADI PETUNJUK
UNTUK MEMBANGUN KOTA YANG DALAM KEBUDAYAAN DISAPA
“NGAYOGYAKARTA”. GEMERLAP PEMBANGUNAN TERUS BERLANGSUNG
NAMUN SAYANGNYA TAK TERKONTROL. DI BEBERAPA SEGI, KOTA GUDEG
INI MULAI KEHILANGAN KEBANGGAANNYA. SALAHSATUNYA AIR BERSIH.
SOAL INI MUNCUL LANTARAN PENCEMARAN DAN TATA KELOLA YANG
BURUK KERAP TERJADI, MEMBUAT AIR MAKIN BERKURANG KUALITAS
DAN FUNGSINYA. BAGI MASYARAKAT INI TENTU MEMBUAT KETAR-KETIR,
BAGAIMANA DENGAN PEMERINTAH? APAKAH MENYEPELEKANNYA?
BIARKAN BAKTERI DEMI BAKTERI MERUSAK AIR TERSEBUT? BIARKAN
MASYARAKAT MENCARI SOLUSI SENDIRI? BILA KATA “YA” JAWABANNYA
MAKA BERSIAPLAH SI PELEPAS DAHAGA KELAK AKAN DATANG MEMBAWA
PETAKA. BILA KATA “TIDAK” JAWABANNYA, SEGERALAH BERBENAH!

More info:

Published by: iqinsasak on Aug 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

WAJAH TOEGOE

D I T E R B I T K A N OLEH :

DEVISI KAMPANYE WALHI YOGYAKARTA
PENANGGUNG PEN ANGGUNG J AWAB UMUM

SUPARLAN S. SOS. I.
REDAKSI PEMIMPIN REDAKSI

UMBU WULANG TAP
REDAKSI WAKIL PEMIMPIN REDAKSI

TOEGOE P E M B A C A ............... 2 S U A R A TO E G O E ............... 4 TO E G O E U TA M A ............... 6 TO E G O E P E M I K I R A N ............... 3 1 TO E G O E S H A L I N K ............... 3 4 TO E G O E
K R E AT I F ............... A N A K ...............

AHMAD JAFAR J TAKING
SEKRETARIS REDAKSI SEKRETARIS RED AKSI

YUSTRINA WULANDARI DHITA SELFIA LINGGA SARI
R E P O RTER RTER

KAHAR MUHAMMAD MAULANA SUGIANTO RIA ANNISA CHANDRA TP
FOTOGRAFER

36 38

TO E G O E

P O T R E T TO E G O E ............... 4 1 TO E G O E K H U S U S ............... 4 5 A R E N A TO E G O E ............... 6 5 TO E G O E W A L H I ............... 6 6 K A M P U N G TO E G O E ............... 6 9 C E L O T E H TO E G O E ............... 7 1 C E R I T E R A TO E G O E ............... 7 2

WAHYU PUTRO A
AT K A R I K AT U R I S

ASHIDO ALDORIO SIMATUPANG
DESAIN GRAFIS

&

LETAK TATA LETAK

PUTRI FITRIA FREDY FEBRISON FATHUR ROZIQIN FEN

ALAMAT DA ALAMAT R E DA K S I

JL. NYI PEMBAYUN NO. 14 A KARANG SEMALO-KOTAGEDE YOGYAKARTA 55172, TELP/FAX: 0274-378631 E-MAIL: TOEGOE.WALHI@GMAIL.COM
REDAKSI MENERIMA SUMBANGAN TULISAN BERUPA SURAT PEMBACA, TIPS PENGELOLAAN LINGKUNGAN, ARTIKEL ATAU OPINI. DIKETIK HALAMAN KUARTO,

P U S TA K A TO E G O E ............... 7 3
C ATATA N L I N G K U N G A N ...............

75

3 1,5 SPASI, TIMES NEW ROMAN.

ANTAR LANGSUNG KE REDAKSI DALAM BENTUK FILE ATAU DIKIRIM VIA E-MAIL. REDAKSI BERHAK MENGEDIT SEPANJANG TIDAK MENGURANGI ESENSI TULISAN. TIDAK ADA IMBALAN BERUPA MATERI BAGI NASKAH YANG DIMUAT.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

1

TOEGOE PEMBACA
ming(pemanasan global) dan ini harus diketahui oleh semua lapisan masyarakat. Kebersamaan dari seluruh potensi yang ada di negara kita, baik pemerintah dan masyarakat ini saya kira harus digerakkan. Apalagi nanti badai itu akan datang, seperti es di kutub selatan dan utara itu pasti akan mencair kalau kita tidak mampu mengurangi gas rumah kaca. Aksi dapat dimulai dari adaptasi dan hingga bagaimana mitigasi. Makanya perlu dilakukan partisipasi masyarakat dalam rangka antisipasi perubahan iklim. Dengan adanya Majalah “TOEGOE”ini harapan kami bisa berpartisipasi dan memberikan kontribusi yang besar utamanya pada sosialisasi dan pemahaman bagi masyarakat terhadap pengetahuan lingkungan hidup. Selamat terbit dan semoga sukses.

ASHIDO ALDORIO SIMATUPANG/TOEGOE

SUSI
( J AGALAN, L EDOKSARI , K OTA Y OGYAKARTA)

DRA. HARNOWATI
(KEPALA BAPEDALDA PROV DIY)

SADINO
( JL. TIMOHO, KOTA YOGYAKARTA)

Saya sangat mengapresiasi dengan diterbitkanya Majalah “TOEGOE” yang intinya memberikan informasi berkaitan dengan lingkungan hidup. Semoga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pada umumnya untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup, dan semoga berkembang terus majalah “TOEGOE”.

DR. EKO SUGIHARTO
(KEPALA PUSAT STUDI LINGKUNGAN HIDUP UGM)

Saya sangat mendukung hadirnya majalah “TOEGOE” harapan kami agar dapat menyebarluaskan bagaimana melestarikan lingkungan dan masyarakat dapat menyadari perlunya pelestarian lingkungan.

Kepada pemerintah kota saya berharap agar memperhatikan dan memperbaiki kembali saluransaluran air di kawasan Timoho, khususnya di saluran air yang terletak persis di samping rel kereta karena setiap musim hujan datang kerap tersumbat sehingga air meluap menyerupai banjir. Saya juga berharap agar lingkungan hidup di Yogyakarta terus dirawat sehingga menjadi lebih baik lagi. Sedangkan bagi Redaksi “TOEGOE” untuk memuat berita yang penting dan bermutu agar di lebih disukai pembaca. Semoga lancar.

Kepada pemerintah kota, kami berharap agar memperhatikan kawasan kami walaupun pe-merintah sudah melakukan sosialisasi tentang kebersihan. Karena di tempat ini banyak anak yang terkena demam berdarah. Kesehatan penduduk perlu untuk diperhatikan. Kondisi lingkungan di tempat kami juga masih saja kotor. Sebaiknya kelola lingkungan untuk kesehatan perlu ditingkatkan lagi biar hidup jadi sehat.

KOESNADI
( JL. DAYANG PRAWIRAN, BEJI, KOTA YOGYAKARTA)

DRS.SUHARTONO,ST
[KETUA KOMISI III DPRD KOTA YOGYAKARTA]

FAJAR AGUNG ARDIYANTO
( JAGALAN PA1/72, LEDOKSARI KOTA YOGYAKARTA)

Selama Majalah “TOEGOE” ini akan berfungsi terhadap masyarakat umum maka saya akan tetap mendukung terbitnya majalah ini.
2
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Saya atas nama masyarakat dan juga sebagai anggota DPRD Kota menyambut baik munculnya Majalah “TOEGOE” ini. Bagi kami majalah lingkungan hidup ini perlu terus didorong dan disebarluaskan kepada masyarakat. Ini penting agar masyarakat memahami benar terutama masalah global war-

Lingkungan sungai di Kali Code sampai saat ini masih kotor walaupun sudah ada program “Kali Bersih”. Karena masih ada saja yang membuang sampah ke kali. Untuk itu marilah kita bersamasama menjaga kebersihan Kali Code dan jangan sampai membuang sampah di kali lagi. Buat pemerintah, terus tingkatkan lagi kebersihan lingkungan Yogyakarta biar nyaman dan indah.

AGUS SUSANTO (K OMUNITAS KAMPUNG H IJAU , G AMBIRAN B ARU
RT 45 RW 08)

RIYANTO “TUGOR”
(M APALASKA UIN KALIJAGA )

Kondisi lingkungan saat ini sudah taraf memprihatinkan. Salahsatu contoh, permasalahan sungai dimana alih fungsi lahan tidak terkendali lagi. Bantaran sungai perumahan diperparah lagi dengan perilaku masyarakat dengan menempatkan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Pemerintah selayaknya harus tegas dalam melakukan tindakan hukum terhadap pelanggar/perusak lingkungan dan pemerintah sendiri harus bisa memberi contoh dengan pengendalian alih fungsi lahan(bantaran) dengan produk hukum yang telah dibuat. Di Yogya, program prokasih telah berjalan sekian tahun akan tetapio pelaksanaannya masih sebatas slogan dan kepentingan yang berorientasi proyek belaka. Saat ini sebenarnya sudah saatnya antara pemerintah dan masyrakat bersama-sama melakukan upayaupaya penyelamatan lingkungan yang terintegrasi. Dengan terbitnya media TOEGOE ini semoga bisa menjembatani permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini. Sebagai media komunikasi antara pemerintah, masyrakat dan organisasi lainnya yang punya kepedulian terhadap kelangsungan dan upaya penyelamatan lingkungan.

MENUMBUHKAN KESADARAN DIRI
Akhir-akhir ini kita melihat di beberapa media massa maupun media elektronik betapa dasyatnya bencana alam yang melanda di berbagai daerah di negeri ini. Bencana itu berupa banjir, tanah longsor, gempa dan sebagainya. Sudah Banyak korban yang di akibatkan dari bencana tersebut. Mulai dari jiwa, harta, fisik, materi, dan inmateri lainnya. Bila kita melihat penyebab bencana itu,sebahagian besar di sebabkan oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dan mereka menganggap itu adalah takdir. Coba kita lihat perilaku kita yang tidak ramah dengan lingkungan itu sendiri, begitu mudah tangan ini melepas sampah tidak pada tempatnya, ibu-ibu rumah tangga yang melenggang membuang sampahsampah rumah tangga ke sungai. Selain itu, kepentingan ekonomi individu juga ikut andil dalam munculnya bencana di negeri ini. Kenapa tidak, karena himpitan ekonomi sebagian orang yang terkadang membentuk perkelompokan dengan asyik dan tidak bertanggung jawab menebangi pohon secara tidak terbatasi. Ya inilah kenapa banjir datang di mana-mana, tanah longsor tidak henti-hentinya. Jika sudah seperti itu, tinggal kita nikmati saja bencana ini satu persatu. Tetapi jika kita mengatakan tidak, maka mulailah dari sekarang kita tumbuhkan kesadaran diri kita untuk selalu menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebangi pohon tampa ada penanaman kembali, mulailah dengan mengambil sampah yang masih berserakan di tempat umum dan yang lebih penting lagi juga kebersihan di lingkungan kita sendiri. Saran untuk majalah “TOEGOE” teruslah berkreatif, aktif dan selalu positif. Sukses untukmu, untuk kita dan untuk Indonesia.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

H.M NASRUDIN ANSHORY CH (PENGASUH PESAN TREND ILMU GIRI/SELOPAMIORO,
B ANTUL )

Saya rasa peran media perlu sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat, karena media merupakan pendidikan lingkungan yang strategis dalam rangka penyadaran kepada masyarakat. Saya sangat menyambut baik terbitnya majalah “TOEGOE” sebagai tempat bagi tumbuhnya kesadaran baru bagi masyarakat dalam lingkungan sosial, fisik dan budaya. Saya ucapkan selamat terbit.

3

SUARA TOEGOE

BANYU PANGURIPAN, DI TITIK NADIR?
SEKITAR 85 % SUMBER AIR ATAU SUMUR DI YOGYAKARTA TELAH TERCEMAR BAKTERI E. COLI DAN SEBAGIAN BESARNYA
MENGANDUNG ZAT-ZAT YANG BERBAHAYA BAGI

KESEHATAN. SUNGGUH ANGKA YANG

MENCENGANGKAN HATI BAGI SIAPA SAJA YANG

MENDENGARNYA. DENGAN ANGKA SEBESAR ITU
FREDY FEBRISON/TOEGOE

CUKUP MEMBUAT WARGA MASYARAKAT LEBIH

WASPADA DALAM MENGKONSUMSI AIR.

TAK hanya sumur. Air sungai pun mengalami nasib
serupa. Sungai Code, Gajahwong, dan Winongo yang mengalir di kawasan perkotaan rata-rata sudah menempati kelas pencemaran yang tinggi. Hal itu tersirat dalam peraturan Gubernur DIY No 22 Th 2007 tentang penetapan kelas air sungai bahwa ketiga sungai itu menempati kualitas kelas dua dan ketiga. Ini berarti tingkat kualitas airnya sudah menunjukkan kekhawatiran. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang terdapat di wilayah DIY juga tak luput dari permasalahan. Banyak warga yang mengeluhkan pelayanannya. Mulai dari aliran air yang sering mengalami hambatan. Yang tak kalah penting adalah soal pencemaran. Karena air yang dialirkan ke rumah-

4

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

rumah warga mengandung kandungan besi (Fe) yang cukup tinggi. Maraknya fenomena air isi ulang juga tak dilepaskan dengan pelayanan PDAM. Masyarakat beralih haluan akses air bersih dengan menkonsumsi air isi ulang. Buruknya pelayanan PDAM berbanding lurus dengan peningkatan konsumen air isi ulang. Namun, air isi ulang ini banyak dikeluhkan oleh warga masyarakat. “Rasanya berubah-ubah dan kadang aneh,” keluh salah seorang pelanggan air isi ulang. Pelibatan pihak swasta dalam penyediaan air bersih pun tak selamanya membawa dampak positif. Selain itu, kontribusi sektor swasta harus terus dipertanyakan. Karena jika tidak diperhatikan secara seksama hal ini akan mendorong ke arah privatisasi. Air yang menjadi komoditas utama manusia menjadi mahal. Potret di atas menggambarkan betapa nasib air bersih sudah berada di titik nadir. Tinggal menunggu waktu, kapan air bersih ini menemui “ajalnya”. Maka seketika itu kita akan meratapi nasib malang yang akan menimpa. Selain kesehatan yang akan merongrong fisik, juga tak pelak adalah besarnya biaya sosial yang harus ditanggung oleh masyarakat karena kelangkaan air bersih. Padahal, di mata internasional melalui Millenium Development Goals (MDGs) menempatkan akses air bersih sebagai bagian dari indikator pengurangan kemiskinan. Bahkan, akses terhadap air bersih merupakan hak yang paling hakiki yang harus terpenuhi. Lantas siapa yang harus bertanggungjawab di balik ini? Hal ini sangat penting untuk mencermati paradigma pemerintah dalam memandang air selama ini. Karena dalam konteks kehidupan bernegara, pemerintahlah yang paling bertanggungjawab. Pemerintah belum memandang akses air bersih sebagai layanan dasar (basic services) dan merupakan salah satu pusat kontrak sosial antara pemerintah dengan masyarakat. Sebagai basic services, masyarakat harus secara proaktif dilibatkan dalam mengawasi dan menentukan keputusan termasuk di PDAM sendiri. Sebagai bagian dari hak asasi manusia yang paling mendasar. Maka pengelolaan air termasuk dalam proses pengawasan dan pengambilan keputusan seharusnya tak lepas dari partisipasi dan kontrol masyarakat. Partisipasi dan kontrol yang ketat dari warga akan lebih bermakna ketika ruang tersebut terbuka lebar. TOEGOE Majalah TOEGOE adalah media yang diterbitkan oleh Divisi Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta yang bergerak dalam upaya advokasi, agitasi dan edukasi terhadap persoalan lingkungan.

Berangkat dari perubahan kondisi ekologi yang semakin memprihatinkan. Maka TOEGOE hadir sebagai wadah aspirasi dalam menyuarakan problematika lingkungan. Khususnya bertaraf lokal dan tak tertutup kemungkinan bertaraf nasional bahkan internasional. Mengingat keberpihakan media massa konvensional dalam soal lingkungan juga tak bisa diharapkan banyak. Media massa cenderung memandang dan mengekspos isu lingkungan berdasarkan pada konteks persoalan. Artinya aktualitas lebih diutamakan. Ketika isu lingkungan lagi heboh. Maka media massa beramai-ramai memberitakan lingkungan. Belum ada media massa yang menyediakan rubrikasi secara khusus yang membahas dan secara konsisten mengawal isu lingkungan. Selain itu, media massa sudah terjebak dalam ranah industrialisasi dan kapitalisme yang tentu kabur dari visi mulia media untuk mencerahkan dan mencerdaskan bangsa. Sebagai media, TEOGOE juga tak lepas dari fungsi media. Pertama, TEOGOE sebagai pusat informasi yang membeberkan persoalan-persoalan yang erat berhubungan dengan lingkungan. Selain itu, Toegoe juga menghadirkan informasi berupa tips bagaimana seharusnya merawat lingkungan. Kedua, Teogoe sebagai sarana edukasi yang mengarahkan paradigma pemerintah dan masyarakat khususnya dalam memahami gerak ekologi. Termasuk memberikan pencerahan terhadap masyarakat akan lingkungan yang sudah semakin rusak. Sehingga diharapkan masyarakat terutama kalangan pengambil kebijakan sadar dan memperlakukan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan manusia yang tak bisa dipisahkan. Ketiga, Toegoe sebagai fungsi kontrol. Fungsi ini sangat vital dalam memberikan pengawasan terutama terhadap pemerintah. Jutaan jerit tangis masyarakat yang kehilangan hak-hak hidupnya terekam dan mewarnai negeri ini. Hanya karena pemerintah mencetak kebijakan-kebijakan yang mengabaikan faktor lingkungan. Sehingga, sangat diharapkan kehadiran Toegoe mampu memengaruhi perspektif pemerintah dalam upaya memperlakukan lingkungan agar lebih balance dan fair. Kehadiran Toegoe adalah keberpihakan terhadap lingkungan. Toegoe akan secara konsisten melayani masyarakat yang haus akan persoalan lingkungan. Di usia yang relatif muda, pembaca sangat diharapkan kontribusinya terutama saran dan kritik yang konstruktif guna menjaga konsistensi visi awal Toegoe dalam melayani masyarakat. Sehingga Toegoe menjadi media kredibel dan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat dalam konteks lingkungan. Yang kemudian terjelma dalam “Suara Rakyat dalam Wahana Lingkungan”. Selamat membaca. Redaksi
5

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

BANYU PANGURIPAN, DI TITIK NADIR?
AIR ADALAH KEBUTUHAN SAKRAL MANUSIA. DEMIKIAN HALNYA BAGI
PENDUDUK DI KOTA BUDAYA INI YANG MENJELMA DALAM UNGKAPAN

“BANYU PANGURIPAN”. KOTA
TERUS BERKEMBANG.

MODERNISASI

JUGA MENJADI PETUNJUK

UNTUK MEMBANGUN KOTA YANG DALAM KEBUDAYAAN DISAPA

“NGAYOGYAKARTA”. GEMERLAP

PEMBANGUNAN TERUS BERLANGSUNG

NAMUN SAYANGNYA TAK TERKONTROL.

DI BEBERAPA SEGI, KOTA GUDEG SALAHSATUNYA AIR BERSIH.

INI MULAI KEHILANGAN KEBANGGAANNYA.

SOAL INI MUNCUL LANTARAN PENCEMARAN DAN TATA KELOLA YANG
BURUK KERAP TERJADI, MEMBUAT AIR MAKIN BERKURANG KUALITAS DAN FUNGSINYA.

BAGI MASYARAKAT INI TENTU MEMBUAT KETAR-KETIR, APAKAH
MENYEPELEKANNYA?

BAGAIMANA DENGAN PEMERINTAH?

BIARKAN

BAKTERI DEMI BAKTERI MERUSAK AIR TERSEBUT?

BIARKAN

MASYARAKAT MENCARI SOLUSI SENDIRI?

BILA KATA “YA” JAWABANNYA

MAKA BERSIAPLAH SI PELEPAS DAHAGA KELAK AKAN DATANG MEMBAWA PETAKA.
TIM LIPUTAN:

BILA KATA “TIDAK” JAWABANNYA, SEGERALAH BERBENAH!

UMBU WULANG TAP | KAHAR MUHAMMAD MAULANA | CANDRA TP | YUSTINA WULANDARI | RIA ANNISA | DHITA S LINGGA SARI. 6
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

DAHULUNYA , sungai bagi masyarakat Yogyakarta sebagaimana di daerah lain adalah sumber air untuk kebutuhan hidup. Ambil contoh, banyak aktivitas pemenuhan kebutuhan rumah tangga seperti, air minum, mencuci hingga urusan lauk-pauk keluarga dilakukan di sana. Namun seiring perkembangan kota, sulit untuk menemukan sungai - khususnya di Kota Yogyakarta - yang dapat memenuhi beragam kebutuhan masyarakat tersebut. Kondisi ini tentu saja mengundang kegelisahan bagi masyarakat. Fajar, misalnya. Lelaki yang bermukim di pinggiran Kali Code ini mengaku prihatin dengan pencemaran sungai yang kian tak terkendali . Baginya, Kali Code sudah makin tak bersahabat lagi. Padahal semasa kecil, dia mengaku dapat menggunakan air di sungai tersebut untuk keperluan air minum. Namun kini, jangankan untuk air minum, menggunakan sungai untuk mencuci atau mandi pun dia sudah emoh. “Kali Code itu, airnya sudah bau,” ujar lelaki yang gemar memelihara burung ini. Kebersihan dan keindahan sungai Kali Code yang tinggal kenangan juga turut dialami Martopawiro, lelaki yang tinggal di tepi kali Gajah Wong sejak belia ini. Marto merasakan benar betapa pencemaran di sungai Gajah Wong telah merenggut kemudahan masyarakat sekitar untuk memperoleh air yang bersih. Bahkan bila musim penghujan tiba, Marto hanya bisa pasrah melihat luapan air menggenangi rumahnya. Sampah yang bejibun di sungai adalah penyebabnya. Selain Kali Code dan Gajah Wong, nasib serupa dialami sungai Winongo. Dari ketiga sungai yang melintasi Kota Yogyakarta ini, tak satupun yang masuk dalam standar layak untuk pemenuhan SUNGAI limbah tangga sungai CODE - Masih ada aliran yang berasal dari rumah yang langsung menuju aliran code

KITA HIDUP DI ATAS COMBERAN
APA JADINYA BILA AIR TERCEMAR DI “YOGYAKARTA BERHATI NYAMAN”?

W AHYU /TOEGOE

toegoe ::::SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :::: 7 toegoe SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN 7 || edisi 1 || Tahun II || Juni 2008 || edisi 1 Tahun Juni 2008

kebutuhan air minum rumah tangga. Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY rata-rata sungai tersebut melebihi parameter ambang batas baku mutu sebagaimana termaktub dalam Peraturan Gubernur No. 22 tahun 2007 tentang penetapan kelas air sungai. Kepala Bapedalda DIY Dra. Harnowati mengatakan untuk sungai di kawasan hulu masih layak dipergunakan untuk keperluan minum. Namun kondisi di hulu terbalik 180 derajat dengan yang terjadi di kawasan hilir. “Semakin ke selatan atau ke hilir itu sudah mulai ada tambahan baik dari limbah industri maupun limbah domestik (limbah rumah tangga, Red),” jelas mantan Sekretaris Bapedalda ini. Lebih lanjut, Harnowati mengakui sulit untuk menentukan manakah yang lebih besar berkontribusi dalam pencemaran, apakah limbah industri atau rumah tangga. Hal ini
TUMPUKAN
SAMPAH

lantaran kini banyak rumah-rumah penduduk yang berjubel di dekat kawasan industri. Pemandangan tersebut lazim ditemui di kawasan kota Yogyakarta.” Seperti pabrik susu SGM, dulunya posisinya di pinggir itu, mas. Sekarang sudah dikelilingi perumahan penduduk,” tegas wanita yang bertempat tinggal di daerah Minomartani ini. Beliau memaparkan bahwa kondisi sungai yang tercemar tidak mempunyai dampak negatif kepada masyarakat selama air tersebut tidak dimanfaatkan. Namun bagi Harnowati, sungai harus tetap diupayakan kebersihannya. Karena air sungai juga digunakan untuk kebutuhan pertanian dan perikanan. Dia mengakui kejadian matinya ikan-ikan akibat pencemaran di beberapa sungai Surabaya beberapa waktu lalu, juga pernah terjadi di Yogyakarta. Bukan hanya sungai, nasib air sumur pun setali tiga uang. Air sumur di daerah perkotaan, menurut Harnowati rata-rata sudah

tercemar bakteri E.coli. Bakteri ini berasal dari tinja manusia. Mengapa bisa terjadi? Harnowati menuding jarak antara jamban dan air sumur yang terlalu dekat sebagai penyebab. Padahal standar dalam peraturan, mengharuskan jarak sumur dengan jamban minimal sepuluh meter. Harnowati melanjutkan bahwa pemukiman penduduk yang kian padat di daerah perkotaan mengakibatkan standar tersebut tidak dapat dicapai. Dia mencontohkan ada salah satu warga yang membuat jarak sumur dan jamban sesuai dengan standar, tapi apa hendak dikata airnya tetap tercemar karena seorang tetangga membangun jamban dekat dengan sumurnya. Hal senada diungkapkan Anggota DPRD Kota Yogyakarta Drs.Suhartono,ST. saat ditemui di ruang kerjanya, beliau menambahkan bahwa pencemaran air di Kota Yogyakarta sangat parah akibat jarak antar rumah sudah tak terkontrol. “Kita hidup di atas com-

- Seorang pria berjalan di aliran sungai code yang penuh dengan tumpukan sampah.

W AHYU /TOEGOE

8 8

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

beran,” tegas Ketua Komisi 3 yang menangani masalah lingkungan hidup ini. Menurut Hartono, Pemerintah sebenarnya sudah membuat dan memberlakukan aturan mainnya tetapi lemah pada tataran penegakan di lapangan. Kebersihan air sudah sepatutnya diprioritaskan sebagai salahsatu kebutuhan primer. Tapi Hartono menyayangkan hal itu belum menjadi semangat bersama. Jadi, walaupun ada Peraturan Daerah Kebersihan tetap saja potret pencemaran terlihat dimana-mana. Keprihatinan akan kondisi lingkungan air di Yogyakarta juga datang dari Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup(PSLH) UGM Eko Sugiantoro. Beliau mengatakan banyak aktivitas yang sangat berpotensi mencemari air. Diantaranya, limbah industri, penggunaan pestisida yang tak mengindahkan pedoman pemakaian, dan lainlain.

MASYARAKAT BELUM SADAR,
PEMERINTAH TIDAK TEGAS

Dalam berbagai kunjungannya ke masyarakat, Hartono mengungkapkan bahwa masyarakat tampaknya tidak mengkuatirkan kondisi ini. Hal ini lantaran masyarakat tidak tahu ancaman yang bakal mereka dapati di kemudian hari. Artinya, fenomena ini masih berada pada orang-orang yang mepunyai akses informasi soal permasalan lingkungan. Oleh karenanya, DPRD mendorong pemerintah untuk serius menangani permasalahan ini. Soal ini, Harnowati sependapat. Dia menyatakan salahsatu hambatan yang ditemui selama ini yakni masih adanya pandangan dan perilaku banyak masyarakat yang menempatkan sungai sebagai tempat membuang sampah. Untuk mensiasatinya, Bapedalda memberdayakan masyarakat agar peduli pada kebersihan sungai. Cara yang ditempuh yakni merekrut beberapa kader dari masyrakat untuk menjadi seorang motivator kebersihan lingkungan di daerahnya.

Selain itu, Bapedalda melakukan langkah-langkah antisipatif lain. Pertama Sosialisasi atau informasi kepada masyarakat, khususnya kepada industri agar sebelum di buang ke sungai, sampah harus diolah terlebih dahulu. Kedua, Bapedalda mulai membuatkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal bagi masyarakat, seperti yang dibuat di daerah Serangan. Dengan begitu masyarakat tidak lagi membuang limbah rumah tangga ke sungai. . “ Masyarakatkan tidak mungkin membuat IPAL,” tutur Harnowati yang baru setahun menjadi pimpinan di Bapedalda. Di tingkat pemerintahan, Bapedalda DIY juga melakukan koordinasi dengan pemerintah kota dan kabupaten untuk bersama-sama melakukan pemantauan di beberapa titik. Eko Sugiantoro juga mendukung sekaligus mengkritisi langkah pemerintah. Menurutnya langkah memasyarakat pola hidup yang ramah lingkungan, khusus air harus dikedepankan juga. Lebih lanjut beliau memaparkan sudah selayaknya pemerintah yang menyediakan sarana kebersihan bukan masyarakat. “Itukan bentuk pelayanan kepada masyarakat, masyarakat disadarkan agar masyarakat jangan lagi membuat sesuatu yang telah ditentukan. Tapi karena instansi pemerintah belum menyediakan sarana sepenuhnya sehingga masyarakat melakukan itu,” ujar Eko.

Dalam tataran peraturan menurut Eko, pemerintah sebetulnya sudah berada pada rel yang benar dengan membuat rambu-rambu baku mutu limbah cair. Sosialisasinya pun sudah kerap digelar, namun selalu saja hanya ideal di atas kertas. Karena praktek penegakan hukum selalu tidak tegas. “Kalau ada industri yang melanggar masyarakat, Bapedalda hanya bisa melaporkan dan tidak mempunyai kewenangan untuk menutup industri itu, kalau hukum di Indonesia kuat kasih sanksi dong,” tegas Eko. Kedepannya, dia berharap pemerintah bisa berkaca pada singapura yang tidak membuka ruang negosiasi terhadap pelanggaran hukum. Di negeri singa tersebut, setiap pelanggaran seperti membuang sampah sembarangan langsung terkena denda tanpa ada negosiasi. Jadi, kalau ada industri di Yogyakarta yang tidak memenuhi persyaratan harus ditindak dengan tegas. “Itu yang kita idamkan terjadi juga,” tutur alumni Jurusan Kimia UGM ini. Potret pencemaran air di Yogyakarta tentu akan berefek buruk pada geliat kehidupan manusia di dalamnya. Hal tersebut sudah dirasakan oleh Fajar dan Marto. Pembenahan dengan segera adalah langkah yang tak boleh dilakukan dengan ragu-ragu. Kalau tidak, selamat beraktivitas di atas comberan selamanya di kota yang “berhati nyaman” ini sambil menunggu tibanya petaka yang lebih dashyat.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

9

PELAYANAN PDAM dinilai kian memprihatinkan

HUTANG MENUMPUK KINERJA MEMBURUK
BESARNYA HUTANG PDAM SLEMAN BERBANDING LURUS
DENGAN RENDAHNYA KUALITAS PELAYANAN

WAHYU/TOEGOE

J ARUM jam menunjukkan pukul
sepuluh pagi. Terik matahari menyulut tubuh. Sesekali angin sepoisepoi berhembus. Terlihat Sumardi tengah mengambil air dari keran di samping rumahnya. Sesekali raut mukanya muram menatap air di dalam ember. Maklum, air yang mengalir di wilayah Minomar-

tani, Sleman dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) itu telah mengalami pencemaran. Peristiwa ini dirasakan oleh warga Minomartani sudah cukup lama. Menurut Sumardi, yang sudah lima tahun menggunakan jasa PDAM mengaku tidak puas dengan kualitas airnya. Agar tidak

10 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

membahayakan kesehatan. Terkadang warga untuk keperluan air minum harus memasaknya berulang-ulang. Hal ini untuk mencegah masuknya penyakit yang diakibatkan oleh air yang tercemar. Air yang mengalir lewat pipa – pipa tersebut berwarna kekuningkuningan. Soal Rasa pun sudah berubah. Tidak seperti biasanya. Pelanggan harus seksama mengelola air. “Biasanya airnya dari pagi hingga sore, airnya tidak bagus. Berwarna kekuning-kuningan,” ujar pria yang tinggal tidak jauh dari lokasi PDAM ini. Saban hari, Pria asal Madiun ini menggunakan air untuk keperluan memasak. Namun, sejak air itu tercemar ia enggan untuk menggunakannya. Keluhan warga tersebut juga diamini Nanang Ismuhartoyo, Direktur Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY). Menurut Nanang, panggilan akrabnya, hal ini dikarenakan oleh pipa yang digunakan. Pipa untuk mengaliri PDAM itu masih menggunakan pipa lama. Padahal, lanjutnya, tingkat kandungan besi yang dihasilkan sudah semakin tinggi. Jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Seharusnya menurut pria kelahiran Sumatera ini pipanya itu harus diganti atau diperbaiki. Mengingat PDAM sebagai pelayanan air terhadap publik. Tentu pelayanannya juga harus maksimal. Meskipun biaya penggantian dan perbaikan pipa memakan biaya yang relatif besar. Selain itu, lanjut Nanang, mengatakan sumber pasokan airnya juga bermasalah. Sumber air yang digunakan PDAM Sleman sebagian besar berasal dari daerah hulu yakni sekitar Merapi. Sehingga pada saat Merapi meletus menyebabkan sebagian mata air itu berkurang. Padahal, lanjutnya, kuantitas air yang semakin berkurang dengan jangakauan wilyah pelanggan yang besar. Maka akan

WAHYU/TOEGOE

PDAM diharapkan dapat memperbaiki kinerja pelayanan kepada pelanggan

berpengaruh pada tingkat pelayanannya yang kurang baik. “Wilayah Sleman sangat luas. Dan tidak semua wilayah terkaver,”katanya. Kalaupun yang masih tersisa, lanjut Nanang, sumber air itu sudah mengandung zat besi yang cukup tinggi akibat proses vulkanik. Hal ini menyebabkan airnya mengalami kekeruhan. Tak hanya itu persoalan PDAM Sleman. Bahkan sempat dikabarkan, PDAM ini hampir-hampir menuju jurang kebangkrutan. Karena dililit hutang warisan sebesar 26,3 miliyar sejak tahun 1997. Untungnya dari Departemen Keuangan bersama Provinsi DIY dan Kabupaten Sleman sepakat merencanakan penghapusan sebagian utangnya tersebut. Menurut Dwi Nurwata, Koordinator Pengawas Internal PDAM Sleman menuturkan keterbatasan dana yang dialami oleh PDAM Sleman menjadi kendala selama ini. Dwi pun mengakui akibat beban utang yang sangat besar. Sehingga pelayanannya pun tidak maksimal terhadap masyarakat. Akan tetapi, lanjut Dwi, dari pihak PDAM sendiri sudah mengusulkan anggaran lewat APBD Pemerintah Sleman.

Dana ini rencananya akan digunakan untuk biaya operasional PDAM Sleman. Terutama untuk mengembangkan jangkauan pelayanan terhadap masyarakat. Hal senada juga dilontarkan oleh Chabibullah, aktivis Serikat Tani Merdeka. Buruknya pelayanan PDAM Sleman tak lepas dari persoalan internalnya. Utang yang melilit PDAM Sleman dalam jumlah yang besar berhubungan dengan pelayanan yang tidak optimal. Habib menambahkan utang yang melanda sebagian besar PDAM. Tak hanya ditengarai oleh manajemen pengelolaan internal PDAM yang buruk. Hal ini karena pemerintah pusat yang menyediakan infrastruktur-infrastruktur PDAM. Peralatan-peralatan itu yang kemudian menjadi salah satu penyebab PDAM terjebak utang. “Bukan hal yang rahasia lagi. Ketika peralatan-peralatan itu, PDAM-Red, semua yang menyediakan adalah pusat. Di tingkat daerah tinggal menggunakan. Sehingga, kebijakan membeli adalah dari pemerintah pusat,” jelasnya. Akibatnya, lanjut Habib PDAM dibebankan oleh utang tersebut.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 11 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Nanang pun sepakat. Akibat hutang PDAM Sleman yang sangat besar. “Sehingga memengaruhi kinerja mereka,” tuturnya. lebih jauh, Habib menjelaskan agar tanggungjawab PDAM sebagai layanan publik lebih jelas. PDAM seharusnya Berganti nama. “Karena kalau sudah ada kata perusahaan daerah. Yang dikejar adalah untung. Tanpa mempertimbangkan sisi kualitas dan tanggungjawab,” tuturnya. Hal ini, lanjutnya, untuk menghindari privatisasi dan komersialisasi air yang tengah marak di negeri ini. Ia mencontohkan PDPAM Jaya yang berlokasi di Jakarta telah diprivatisasi. Padahal, dari segi kualitas pelayanannya pun tidak mengalami perubahan. Walaupun di Jogja sendiri, Habib mengakui belum ada indikasi ke arah sana.

Tapi tak tertutup kemungkinan hal itu akan terjadi. “Karena PDAM bangkrut. Untuk mengembalikan kebangkrutannya mereka, PDAMRed, akan memunculkan danadana utangan,” jelasnya. Imbasnya, kata Habib manajemen internal PDAM akan di intervensi oleh pihak luar hanya untuk pertimbangan keuntungan. Namun, Dwi menampik soal kandungan besi yang disebabkan oleh pipa aliran air. Menurutnya kandungan besi itu lebih disebabkan oleh sumber air. Terutama sumber air tanah. Apalagi lanjutnya, struktur tanah Sleman kandungan besinya relatif tinggi. Dwi juga mengakui soal pencemaran. Terutama di wilayah Minomartani yang kandungan besinya cukup tinggi. Untuk itu tahun 20082009 PDAM Sleman akan mem-

bangun instalasi pengolah air (IPA). Serta PDAM sendiri akan memperbaiki infrastruktur. “ Tujuannya ialah ingin meningkatkan kualitas air,” papar pria yang sudah berkecimpung lama di PDAM Sleman ini. Dwi berharap, karena PDAM adalah pelayanan publik. Maka pemerintah juga harus bertanggungjawab penuh dalam mengawal PDAM. Selain itu meningkatkan profesionalisme pegawai PDAM juga harus terus digalakan. Sehingga, PDAM dapat berfungsi lebih baik lagi. Persoalan yang membelit memang pelik. Tapi bukan berarti 18.000 pelanggan diabaikan. Layanan publik yang baik harus dikedepankan. Apalagi pelanggan seperti Sumardi masih berharap PDAM mampu memperbaiki kinerjanya.

Dari pipa-pipa ini seharusnya mengalir air yang berkualitas

12 toegoe 12 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

:: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN ::

WAHYU/TOEGOE

WAHYU/TOEGOE

BANYAK

DIGANDRUNGI

-

usaha-usaha sejenis banyak juga di daerah pedesaan.

EUFORIA PEDAGANG AIR “CEPAT SAJI”
HARI menjelang sore. Tampak Ari

PEMINAT AIR MINUM “CEPAT SAJI”
TETAP BANYAK DI YOGYAKARTA.

MENGAPA?

sedang menonton sebuah acara hiburan telivisi di ruang depot air minum tempat dia bekerja. Hanya mengenakan kaos oblong dan ditemani seorang karyawan wanita, dia tetap sabar menjagai depotnya menunggu para pelanggan berdatangan. Walaupun baru dua bulan bekerja, karyawan berusia 40 tahun ini sudah merasakan bagaimana tingginya permintaan masyarakat akan air minum isi ulang. Ari menilai hal ini lantaran kondisi air di daerah pemukiman perkotaan tidak layak lagi untuk diminum.“ Saya juga melihat kebutuhan orang untuk memperoleh air secara praktis,” ujar pria yang bernama lengkap Ari Dewanto ini. Depot tempat Ari bekerja bukanlah satu-satunya. Saat ini di Yogya-

karta hampir di setiap sudut kota hingga ke desa-desa bertebaran depot air isi ulang. Jelas saja, usaha ini dari segi keuntungan materi memang menggiurkan. Sebagaimana dikatakan Ari bahwa setiap harinya, minimal 50 galon yang terjual. Artinya, depot dapat meraup uang sebesar 200 ribu dalam sehari. Dia juga mengakui bila pelanggannya selalu bertambah dari hari ke hari. Tak hanya itu, mengingat besarnya keuntungan dan permintaan masyarakat yang kian meningkat. Pemilik depot tempat Ari bekerja juga membuka usaha sejenis di daerah Janti dan Krapyak. Keuntungan yang diperoleh dari kedua tempat tersebut juga tak jauh berbeda. Seto, Karyawan salahsatu depot air minum di Kawasan Selokan
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 13 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Mataram juga berpendapat yang sama dengan Ari. Dia mengaku sejak 2002 silam, usaha tersebut tetap tak kehabisan pelanggan. Menurutnya masyarakat masih antusias untuk membeli air di tempat tersebut. Apalagi selama ini, para pelanggan masih nyaman untuk mengkonsumsi air dari depotnya. ”Tidak pernah ada komplain dari para konsumen,” ungkap Seto. Depot tempat Seto bekerja mendapatkan pasokan air dari Perusahaan Tirta Jaya. Setahu Seto, Tirta Jaya mengambil air dari daerah Klaten. Sedangkan Ari layaknya Seto, hanya saja sumber airnya dari daerah Kaliurang. Prosesnya, Tirta Jaya mengambil air kemudian disaring lalu dipasok ke depot. Setelah itu, air tersebut disaring lagi oleh pihak depot sebelum dijual kepada pelanggan. Walaupun telah melalui berbagai proses, Direktur Lembaga Konsumen Yogyakarta (LKY) Nanang Ismuhartoyo memaparkan kelayakan air harus tetap diperhatikan. Hal ini guna memastikan hakhak konsumen untuk memproleh air yang bersih sekaligus sehat tetap terjaga. ”Konsumen punya hak untuk mendapatkan keamanan pruduk dari sisi kelayakan air,” Tandas Nanang. Nanang menjelaskan bahwa produk air isi ulang tentu tak berlabel sehingga kalau ada hal yang tidak beres dalam air tersebut maka pelanggan berhak melakukan protes kepada penjual. Sayangnya sulit untuk langsung menuding penjual sebagai biang dari ketercemaran air tersebut. ” Problemnya adalah bisa saja kasus itu (air tercemar,Red) karena yang mendistribusikan atau muncul saat air itu dibawa dari sumbernya,” terang Nanang. Keberadaan depot bukannya tanpa pengawasan. Namun apa dan sejauh mana bentuk pengawasannya, masyarakat belum tahu.
WAHYU/TOEGOE

BIKIN AIR TERCEMAR – Kondisi seperti ini juga yang membuat air tercemar dan masyarakat memilih air isi ulang.

14 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

Seperti kekuatiran yang dialami Anita Nila, Wanita yang berusia 34 tahun ini tidak mau mengambil resiko dengan menggunakan air yang kualitasnya tidak dia ketahui. Jangankan air isi ulang, air dalam kemasan yang berlabel pun terkadang membuatnya was-was. ”Saya pernah nyoba di kantor, apa mereknya itu? Rasanya asem,” tutur Anita. Wanita yang berasal dari Kotagede ini juga menggunakan air kemasan bermerek dalam kesehariannya untuk kebutuhan memasak. Tak heran, keluarganya dapat menghabiskan air kemasan segalon hanya untuk dua hari. Untuk memastikan kualitas air, kedepannya dia berencana untuk melakukan perbandingan air dari depot dan air dalam kemasan bermerek. Sebagaimana usaha yang pernah dia lakukan ketika menguji kualitas air sumurnya yang ternyata tak layak konsumsi Sejauh ini menurut Nanang, belum ada konsumen yang mendatangi LKY untuk melaporkan keluhannya. Dia juga menyarankan agar para konsumen bila merasa air yang dibeli tercemar dapat mengadu ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) agar segera ditindaklanjuti. Lalu apa yang menyebabkan masyarakat lebih condong untuk menggunakan air isi ulang? Saat ditemui di rumahnya, Wawan mengaku alasan kebersihan dan kesehatan menjadi alasan mengapa dia lebih memilih mengkonsumsi air isi ulang. Walaupun keluarganya juga berlangganan air PDAM. Pelayanan PDAM dirasakan kurang mempertimbangkan kedua hal tersebut. ”Hanya sekadar (air PDAM, Red) untuk memenuhi kebutuhan selain untuk minum dan masak,” ujar pria yang bertempat tinggal di daerah Taman Sari. Soal ini juga diungkapkan oleh Nanang. Baginya, wajar bila masyarakat saat ini lebih banyak menggunakan air isi ulang atau air dalam kemasan bermerek. Hal ini akibat air yang dikelola oleh perusahaan pemerintah tersebut dari

WAHYU/TOEGOE

MASIH DIRAGUKAN - Walaupun melalui berbagai proses, kualitas air isi ulang masih dipertanyakan

segi kualitas kurang baik untuk dikonsumsi. Penggunaan penjernih air oleh PDAM menyebabkan aroma yang ”aneh” dan juga menimbulkan rasa tertentu sehingga sangat tidak layak untuk dikonsumsi. BUDAYA INSTAN MASYARAKAT Dalam memandang soal maraknya penggunaan air depot oleh masyarakat, Aktifis Lingkungan Adi Nugroho menggunakan cara pandang yang berbeda. Budaya instan dan elitis yang kian merasuki kehidupan masyarakat membuat depot tak pernah kekurangan pelanggan. “Tuntutan gaya hidup yang serba praktis/siap saji, dengan alasan menghemat waktu dan energi,” ungkap Staff Komisi Pemberdayaan dan Advokasi di Yayasan SHEEP Indonesia ini. Jika budaya tersebut terus berlanjut bisa berdampak negatif secara luas. Alurnya menurut Adi, budaya instan membuat praktek komersialisasi air kian marak. Komersialisasi yang marak tersebut tentu membutuhkan air dalam skala besar yang diambil dari berbagai daerah sumber air. Eksploitasi air dalam skala besar dapat berdampak buruk terhadap kelestarian air dan masyarakat sekitar sumber air. Misalnya agar mudah

memperoleh air, pengusaha melakukan privatisasi terhadap sumber air yang semula milik publik. Sumber daya air yang berkurang dan privatisasi oleh perusahaan dapat berakibat fatal. “ Akan menyebabkan konflik sosial antar kelompok yang saling memperebutkan air ketika semakin sulitnya untuk mendapatkan air,” papar Adi. Oleh karena itu kedepannya, Adi berharap harus ada keterbukaan kepada publik oleh pihak pengelola air dari mana, seperti apa dan seberapa besar volume air yang dieksploitasi. Hal ini guna menghindari terjadinya pembalakan sumber daya air yang berlebihan. Dan yang terpenting untuk kelestarian sumber-sumber air. Kontrol pemerintah harus berjalan. “Kontrol bukan hanya depotnya, tapi sumber air yang diambil oleh depot itu. Proses sama kualitasnya itu juga harus dikontrol oleh pemerintah,” tegas Adi. Sampai kapan euforia pedagang air minum “cepat saji” dapat bertahan? Yang pasti, masyarakatlah yang menentukan. Selama permintaan dari masyrakat masih tinggi, maka usaha ini akan terus lestari, sebagaimana diutarakan Ari.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 15 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

RINGIN KURUNG- Selain sebagai simbol budaya, beringin juga berfungsi untuk mengatur laju air dari dalam tanah dan mengendalikan air

BANYU PANGURIPAN, ROH NGAYOGYAKARTA
MANGAYU HAYUNING BAWANA,
KEARIFAN DAN KEGENIUSAN LOKAL YANG TERABAIKAN.

DI jaman nenek moyang dulu, air bukan saja sebagai kebutuhan hidup tetapi juga menjadi patokan awal membangun Yogyakarta. Buktinya, Pangeran Mangkubumi memilih tempat hunian di Kota Yogyakarta karena kesediaan air yang cukup. Jelas saja, ada 6 sungai yang mengapit Kraton yaitu Sungai Winongo, Bedog, dan Progo di sebelah barat, serta Sungai Code, Gadjah Wong, dan Opak di sebelah Timur. Yogyakarta yang terkenal dengan Garis imajiner Utara-Selatan

juga memberikan menegaskan bahwa aliran air dari atas ke bawah juga terjamin. Karena di sebelah utara terdapat Gunung Merapi sebagai kawasan sumber air. Ini menjelaskan bahwa para pendiri kota telah mempersiapkan wilayahnya untuk tetap hidup di masa depan dengan memanfaatkan sumber-sumber air tersebut sesuai kaidah-kaidah kejawen tersebut. Pembangunan disiapkan sesuai tata letak secara geografis dengan memperhitungkan kea-

16 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

YUSTRINA WULANDARI/TOEGOE

daan air. Di samping sebagai tempat hunian, lokasi Kraton dianggap tempat suci, tempat pusat kekuatan yang sangat mempengaruhi sekitarnya. Kondisi serupa juga dilakukan oleh ajaran Hindu ataupun Budha. Misalnya, Candi Borobudur memperhitungkan keseimbangan alam dengan meletakkan lokasi candi di antara Sungai Elo dan Sungai Progo. Selain diapit oleh enam sungai, di wilayah kraton yang hingga kini masih bertahan dipilih karena memiliki hutan beringin. Hutan ini menjadi tempat resapan air yang mumpuni. Selanjutnya untuk menjamin kesediaan debit air, menurut Anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta Romo Tirun Desa Pacethokan sebagai tempat lokasi kompleks Kraton. Di Pachetokan kemudian dibangun sebuah taman air. Persis di kompleks bekas pemandian Jaman Senopati berkuasa. Saat ini kompleks ini disebut Tamansari. Sebenarnya, taman air itu dipergunakan sekadar arena bersenang-senang. Tetapi pada waktu tertentu juga digunakan untuk pertahanan. Walaupun Tamansari berada di dalam benteng dan diperuntukkan untuk Sultan dan keluarganya tetapi rakyat juga merasakan manfaatnya. Saat itu, rakyat percaya air yang mengalir melintasi Tamansari dapat menyuburkan tanah dan menolak hama tanaman. Sedangkan untuk mengairi komplek Tamansari, diambilah air dari sungai Winongo yang mengalir di sebelah barat. Air Sungai Winongo tersebut dialirkan ke kesegaran-tempat pengumpul dan pengatur air-guna mengisi kolam melalui parit-parit buatan. Dahulu, disekeliling benteng kraton dibangun parit-parit sedalam kurang lebih dua meter. Namun sayang keberadaannya kini
BUKAN MANGAYU HAYUNING BAWANA - Kini pengrusakan pohon di beberapa tempat kerap terjadi di Yogyakarta. Padahal ulah tersebut mengakibatkan berkurangnya debit air.

WAHYUI/TOEGOE

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 17 toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 17 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

telah tertutup oleh jalan sebagai akibat pembangunan kota. Saat itu kolam terisi air penuh yang khusus didatangkan dari Sungai Winongo. Dan di sekitarnya pun ditanami pohon gayam sebagai pengendali dan penyimpan air. Lebih lanjut Romo Tirun mengatakan bahwa sebenarnya di lingkungan Jawa dikenal fungsi vegetasi-vegetasi. Selain simbol kebudayaan juga dari khasiat vegetasi tersebut. Gayam salah satunya artinya sarwo ayem (tirtokamandhanu yang berarti banyu panguripan) dalam fungsi alamiahnya adalah sebagai pengendali air dan terjaminnya kuantitas mata air yang disediakan alam. “Wong sing nanem oleh ketentraman ati,” jelas Romo Tirun. Pohon tanjung juga serupa, untuk penyaring udara. Beda lagi dengan pohon beringin. Fungsinya untuk mengatur laju air dari dalam tanah dan mengendalikan air. Lebih dari itu, secara simbolik pohon ini memiliki arti pengayoman/ perlindungan yang hanya bisa diletakkan oleh seorang pemimpin di depan lahan hunian atau tempat publik. Kalau tempo baheula selalu mempertimbangkan keseimbangan ekologi khususnya pengelolaan air. Bagaimana dengan sekarang? Pembangunan di sana sini namun mengabaikan lingkungan mengantarkan kota ini dalam permasalahan yang kompleks. Sebut saja pencemaran air sungai. Permasalahan ini dapat saja berujung pada menipisnya ketersediaan air Yogyakarta. Potret menjelaskan bahwa sungai tidak dipandang lagi keberadaannya sebagai bagian dalam petimbangan perencanaan kota ini. Sebagaimana yang dilakukan para pendiri kota ini. Lebih dari itu, kebiasaan buruk masyarakat dalam beraktivitas menambah tinggi tingkat pencemaran. Daya tampung kota semakin kecil dan pertumbuhan penduduk pun berdampak pada pengabaian terhadap keseimbangan ekologis. Padahal dalam kebudayaan Jawa, merusak kebe18 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

YUSTRINA WULANDARI/TOEGOE

ROMO TIRUN- “Bila Yogyakarta sampai kekurangan air kedepannya, berarti pembangunan telah gagal”.

radaan air berarti tidak mangayu hayuning bawana -memelihara dan menyelamatkan dunia dari kerusakanKondisi kekinian harus diperbaiki dengan cara pandang lampau. Kedepannya, Kota Yogyakarta harus disiapkan untuk tetap “hidup” dengan mengedepankan kaidahkaidah kearifan lokal dalam pengelolaan sumber-sumber air. Misalnya, menggalakkan kembali budaya Merti Sungai. Yakni membersihkan sungai dari kotoran. “Sebenarnya secara makro, sadar ataupun tidak sadar dengan membangun kehidupan Kejawen, masyarakat Jawa belajar lingkungan untuk memperpanjang umur dunia,” ujar Romo Tirun. Beliau menambahkan bila Kota Yogyakarta sampai kekurangan air kedepannya, berarti pembangunan

telah gagal. Agar hal itu tidak terjadi, menurutnya pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban untuk dalam berpikir dan bertindak memperhatikan juga kepentingan anak cucu di kemudian hari. Seperti yang dilakoni Pangeran Mangkubumi. Dalam literatur kebudayaan, manusia Jawa menginginkan kehidupan yang tenang dan seimbang dengan jagat raya. Manusia tidak ditempatkan sebagai penakluk alam. Alam diperlakukan sebagai rekan atau teman keseharian. Sehingga membangun keharmonisan dengan alam menjadi keharusan. Jadi, beragam aktualisasi diri manusia Jawa selalu mempertimbangkan keseimbangan alam. Dampaknya, banyu panguripan bukan kemustahilan. Namun itu dahulu, sekarang Kota Yogyakarta seyogianya?

::

PROF. DR. IR CHAFID FANDELI,

“PERSOALANNYA BUKAN GAGAL ATAU TIDAK”

PROF. DR. IR CHAFID FANDELI KINI MENJABAT
SEBAGAI KETUA SEKOLAH TINGGI TEHNIK

LINGKUNGAN (STTL) YOGYAKARTA. SELAIN ITU,
BELIAU JUGA MENGAJAR DI FAKULTAS KEHUTANAN
UMBU WULANG TAP/TOEGOE

UGM. SAAT DITEMUI OLEH REPORTER TOEGOE UMBU WULANG TAP DALAM SEBUAH SESI
WAWANCARA KHUSUS, DIA MENEKANKAN PERLUNYA PELESTARIAN LINGKUNGAN OLEH SEGENAP PIHAK GUNA MENOPANG KEBERADAAN AIR DI YOGYAKARTA. SELAIN ITU, BELIAU JUGA MENEKAN PENTINGNYA EFISIENSI PEMANFAATAN AIR AGAR TAK TERJADI KRISIS. BERIKUT PETIKAN WAWANCARA LENGKAPNYA.

Realitas sumber daya air di Yogyakarta saat ini seperti apa, Pak? Kalau kita perhatikan, potensi sumber daya air di Yogyakarta dalam arti kota Jogja, kemudian kita lihat Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Gunung kidul. Begini, Ketersediaan sumber daya air di Yogyakarta, Sleman dan Bantul itu pada dasarnya sangat ditentukan oleh keberadaan gunung dan hutan di Merapi. Karena hampir sebagian besar air yang ada di permukaan, mulai dari Sungai Progo, Sungai Winongo, Code, Opak berasal dari kaki gunung Merapi. Di sana ada beberapa sumber mata air dimana menjadi akstrim dari hulu sungai yang jumlahnya ada lima tadi. Sehingga kalau sumber mata air itu rusak, maka pasti muncul problem air permukaan yang ada di tiga kabupaten. Sleman, Kota Yogyakarta dan Bantul.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 19 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Kedua, sumber air juga berasal dari air tanah. Ada air tanah dangkal dan air tanah dalam. Keduanya juga berasal dari gunung merapi yang ke arah selatan. Di sana ada hutan, yang sangat menentukan keberadaan air tanah yang ada di tiga kabupaten itu. Kemudian ketersedian air yang lain di Kabupaten Kulon progo itu juga sangat ditentukan oleh Merapi juga, tetapi yang ke arah barat karena sungai Progo sebagian masuk di Kabupaten Kulonprogo. Kemudian ada juga air yang dibentukkan dari Pegunungan Menoreh. Di sana ada hutan yang kemudian menentukan ketersediaan air ke arah selatan, ada sungai yang paling barat di Kulonprogo. Kalau yang di Gunung Kidul air permukaan berasal dari sungai Oyo yang berasal dari Pegunungan Sewu dan juga gunung tua yang disebut Gunung Langgran tetapi Gunung Kidul karena tanahnya dan biologinya itu merupakan daerah karst/daerah gamping jadi ketersediaan air sangat melimpah baik air tanah dalam maupun dangkal yang ditandai dengan diketemukannya berbagai gua. Jika masuk ke dalam gua, pasti akan ada air sungai di bawah tanah. Jadi sebenarnya, di Gunung Kidul itu Air sebenarnya sangat melimpah. Sehingga jika dilihat dari sumber ini, maka DIY ini sangat di tentukan oleh eksistensi dari hutan yang ada di Merapi, Menoreh, dan di Pegunungan Sewu. Bagaimana kondisi dari ketiga sumber mata air tersebut? Di lihat dari eksistensi dari kualitas hutan, di ketiga wilayah itu yang masih mempunyai kualitas baik itu Merapi. Kemudian yang di Menoreh telah mengalami degradasi. Kalau Gunung Kidul tidak hanya hutannya, tetapi bahkan gunung gampingnya sudah di eksploitasi. Hanya keuntungan dari daerah karst itu memang sejak di permukaan kalau itu tidak di tambang, itu sebenarnya kalau hilang vegetasi penutupnya saja, itu masih ada celah celah. Jadi jika hujan, air bisa masuk ke dalam situ. Juga salahsatunya masuk ke tonor, tonor itu lubang lebar yang bisa meneruskan air hujan ke dalam tanah. Tapi kalau gunung ini di rusak untuk di ekspolitasi untuk gamping, batu putih, maka memang ada tren bahwa air tanah yang debitnya cukup besar semakin lama semakin berkurang. Karena begitu hujan, air tidak banyak masuk dan sebagian air menjadi air permukaaan kemudian ke sungai dan masuk ke laut. Dampak langsung terhadap masyarakat ke depannya seperti apa? Tentu ada problem. Jika sekarang masih bisa di cukupi dengan air permukaan, lalu air tanah dangkal, sehingga orang bisa ambil air di mata air, orang masih buat sumur. orang masih bisa ambil air secara terbatas di air tanah dalam. Tapi jika kemudian, perusakan itu terjadi terus menerus maka akan terjadi permasalahan di mata air di musim kemarau menghilang atau mengecil.
20 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

Kemudian air tanah dangkal sudah tidak terisi dengan baik. Orang yang tadinya membuat sumur hanya 15 meter menjadi 20 meter menjadi 25 atau 30 meter. Ini kemudian menjadi masalah karena air tanah dalam pun kalau diatas rusak maka air imbuhan dari atas berkurang sehingga debitnya juga berkurang. Sementara orang sudah mulai berebut untuk ambil air. Hotel-hotel ambil air tanah dalam. Rumah sakit juga, perkantoran, industri pun demikian dalam. Sehingga problem akan terjadi. Kapan? Tergantung pada perubahan penduduk. Migrasi atau urbanisasi penduduk ke Yogyakarta. Kedua, sangat tergantung efisiensi pemanfaatan air. Misalnya, bila mahasiswa saja di pondokan sangat tidak peduli air, kran di buka terus padahal tidak dipakai. Kalau pemanfatan ada efisiensi maka yang semula ada dua puluh tahun lagi ada bermasalah, itu bisa di perpanjang. Kalau penduduk Jogja kira kira empat setengah juta dan bertambah cepat sekali, maka per-masalahan akan terjadi di kemudian hari kalau kita tidak melakukan startegi strategi yang di perlukan. Apa yang harus dilakukan Pemerintah di Yogyakarta untuk meminimalisir kejadian atau bencana kerusakan air? Jadi ada beberapa tindakan strategis yang harus dilakukan pemerintah. Yang pertama, me-nyimpan air dalam tanah, yaitu dengan cara yang telah dilakukan pemerintah dengan membuat sumur peresapan air hujan. Setiap kapling rumah harus membuat sumur tersebut. Jika ini dilakukan oleh empat kabupaten satu kota, maka akan ada menyebabkan terisinya rongga dalam tanah, air tanah dalam maupun air dangkal ini akan terisi oleh air. Kedua, peduli hutan di Merapi, Menoreh, itu harus di reboisasi dengan kebijakan. Khusus Gunung Kidul, harus diupayakan pembatasan pengambilan/eksploitasi batu gamping itu. Ketiga, mencoba mengambil air dari luar Jogja. Dulu ada program Kartamantul, Jogja, Sleman dan Bantul. Air itu ambil dari Magelang, di Magelang itu terdapat 35 sumber mata air yang besar besar. Ada yang sampai 12 liter per detik. Tetapi negosiasi pemerintah Jogja dan Magelang itu tidak tuntas. Sampai sekarang belum berjalan dengan baik atau pembicaraan itu terhenti. Padahal ini alternatif yang bisa di lakukan oleh pemerintah propinsi. Kemudian strategi lain, menggunakan air Progo, karena sebagian dari air Magelang ada yang masuk ke Progo yang berasal dari daerah mata air di wilayah Magelang. Sehingga Progo bisa dibendung dibuat air minum. Lalu yang lain adalah meman-faatkan air yang hampir masuk ke laut. Di Baron, di beberapa lokasi pantai Gunung Kidul, banyak ter-dapat sungai-sungai bawah tanah. Lalu sebelum itu masuk ke laut, itu sudah diambil untuk mencukupi kebutuhan air bagi penduduk. Terakhir mendestilasi air laut. Sebenarnya

::

YANG PATUT DIWASPADAI ADALAH UPAYA SETIAP KEGIATAN USAHA YANG
MENGHASILKAN AIR LIMBAH ITU HARUS DIOLAH TERLEBIH DAHULU SEBELUM MASUK KE DALAM AIR PERMUKAAN, DI SUNGAI.

bukan pilihan, tetapi ini potensial yang tak terbatas, tapi butuh biaya mahal. Itu beberapa alternatifnya. Beberapa strategi yang telah bapak ungkapkan tadi, artinya bila kita sudah dalam keadaan yang dramatis ya pak. Tapi kalau Jogja sampai mengambil air ke Magelang atau proses proses yang lain, apakah itu tidak mengindikasikan bahwa pemerintah gagal untuk menjaga sumber daya air di bagian bagian yang bapak sebutkan tadi? Persoalannya bukan gagal atau tidak ya. Persoalannya memang kebutuhan jangka pendek yang harus dicukupi, itu alternatif yang paling cepat. Kalau memperbaiki Merapi misalnya, itukan tidak bisa begitu ini dilakukan, kemudian musim hujan dapat berfungsi. Karena ini berbicara soal pohon, tumbuhan berjangka panjang. Oleh sebab itu, menurut saya, asalkan semua itu dilakukan dengan perencanaan yang baik maka itu akan berhasil seperti yang di inginkan. Pak, kondisi realitas saat ini apakah rasio antara jumlah penduduk dan air berimbang atau tidak? Kalau kita melihat sumber potensi yang ada, lalu faktor loses 20 % di setiap air di tampung dari sumber mata air, menurut perhitungan estimasi saya, itu sebenarnya belum dinyatakan krisis atau kritis. Karena kita masih bisa menggunakan air yang ada di Progo, Winongo, Code dan Opak, Oyo untuk dimanfaatkan. Jadi sebenarnya jika dihitung semua air yang ada di Yogya saat ini, air pemukaan maupun air tanah dalam, rasionya masih lebih banyak dari manusia yang ada di sini. Meskipun kita menggunakan pendekatan standar WAO yakni 250 liter per hari, itu masih bisa. Lalu yang lain adalah prilaku dari masyarakat ini yang harus diubah. Jadi tidak boros. Efisiensi terhadap penggunaan sumber daya air. Banyak permasalahan, lalu apa yang patut diwaspadai di Yogyakarta yang punya dampak buruk dalam konteks pemanfaatan air ini? Pertama, jika di kehutanan ada ileggal logging. Di sini juga ada pemanfaatan yang tanpa izin. Contohnya, ambil air tanah dalam diam diam, air tanah dangkal di bawah 20 m atau 40 m diam diam. Padahal dengan mengambil itu nanti ada problem di masyarakat. Misalnya, ada pabrik, kalau mau langganan PAM, kan mahal 1 meter kubik 1300/1700, tapi kalau menggunakan air tanah dalam atau dangkal, 50 atau 40 meter atau yang aman yakni 100 meter. Tapi saya menggunakan yang 50 atau 60, maka yang masalah adalah air-air sumur di sekitarnya akan terse-rap oleh pompa air pabrik tersebut.

Kedua, yang patut diwaspadai adalah upaya setiap kegiatan usaha yang menghasilkan air limbah itu harus diolah terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam air permukaan, di sungai. Harus ada instalansi pengolah air limbah. Ketiga, kegiatan kegiatan industri atau usaha yang menghasilkan limbah Bahan Beracun Berbahaya atau B3. Contoh banyak orang yang mendirikan usaha laundry. Laundry menggunakan deterjen. Deterjen itu adalah bahan yang sangat berbahaya kalu itu masuk di lingkungan, bisa merusak air, baik air permukaan maupun air tanah. Lalu yang kedua dari limbah dari usaha percetakan yang mengandung logam berat. Berikutnya, usaha-usaha cuci-cetak film yang mengandung gas racun berbahaya jika di buang di sungai bisa mencemari air. Hal-hal tersebut menyebabkan terganggunya kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Itu untuk konteks perkotaan. Kalau untuk daerah sumber air, apa yang harus diwaspadai? Di Gunung Kidul itu, ekploitasi gamping. Di gunung sewu, Merapi itu illegal logging, juga pemanfaatan sirtu (pasir dan batu) itu juga berbahaya karena ini akan menyebabkan kerusakan. Di Menoreh, vegetasi penutup lahan di pegunungan Menoreh itu sejauh mungkin dipertahankan dan ditingkatkan. Dari segi regulasi di DIY, apakah regulasi yang ada telah memberikan perlindungan terhadap keberadaan air? Regulasi yang saya tahu itu regulasi dari pusat. Yaitu regulasi peraturan pemerintah tentang pemanfaatan sumber daya air yang ada di sungai. Fungsinya ada tiga, fungsi ekologi, ekonomi dan sosial. Jadi air sungai itu harus dapat mempertahankan eksistensi fungsi sungai. Sungai itu harus tetap hidup, itu namanya fungsi ekologis, dengan ikan, ada bentos, ada bentik itu namanya fungsi sungai dari segi ekologis terjamin. Kemudian fungsi sosial, jika masyarakat itu masih bisa memanfaatkan air sebagai fungsi kepentingan sosial. Saudara tahu masyarakat kita masih sangat dekat dengan air sungai pada suatu saat mereka butuh air sungai itu. Kemudian yang lain, air sungai berpotensi ekonomi jadi kalau ada air sungai banyak, kemudian ada air minum kemudian diolah PAM ini menimbulkan fungsi ekonomi. Dari ketiga fungsi ini yang berfungsi optimal. Dari regulasi dan kebijakan yang sudah ada, belum menjamin adanya perlindungan air bagi tiga fungsi tersebut.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 21 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

PEMBANGUNAN KOTA YANG TIDAK TERKONTROL. KAWASAN PEMUKIMAN YANG KIAN PADAT. MINIMNYA PENGETAHUAN SOAL
PEMBANGUNAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI BERBAGAI KALANGAN TELAH MEMBUAT LINGKUNGAN HIDUP

BAKTERI E. COLI ITU MERESAHKAN MEREKA

DJOKO HARSONO (56)
GURU SMA 5 KOTAGEDE, JL. NYI PEMBAYUN 14 A

YOGYAKARTA BERKURANG KUALITASNYA. SALAHSATU BUKTINYA YAKNI AIR YANG MAKIN TERCEMAR. DAMPAKNYA PUN MULAI DIRASAKAN OLEH MASYARAKAT. MULAI DARI
DI PENYAKIT MUNTABER HINGGA PENYAKIT KULIT.

MASYARAKAT

BERHARAP AGAR PEMERINTAH LEBIH SERIUS MENANGANI PERSOALAN INI SEBELUM MAKIN BANYAK MENELAN KORBAN.

SELAIN ITU UPAYA

PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN PENTING KEBERSIHAN AIR, MENJADI PILIHAN YANG HARUS SEGERA DIWUJUDNYATAKAN.

PEMERINTAH TELAH MEMBANGUN
BEBERAPA PERALATAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN. SEPERTI

IPAL, TETAPI

PENCEMARAN AIR BERSIH TIDAK BISA

PENCEMARAN AIR DIPANDANG SEBELAH MATA, SEOLAH
MENJADI PENYAKIT BAWAAN KOTA BESAR. IRONISNYA, SOAL INI TELAH MENCUAT BEBERAPA PERIODE LALU, TETAPI SAMPAI SAAT INI KASUS INI BELUM USAI.

DIBENDUNG.

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sudah, dari koran beberapa waktu lalu. Bahwa di Yogyakarta pencemaran airnya sudah melebihi standar. Sebenarnya informasi ini sudah lama ada, tetapi penyelesaiannya yang lama, sampai saat ini belum ada. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Masalah air menurut saya, berkaitan dengan pembangunan pemukiman. Misalnya untuk membangun rumah, itu mestinya harus menyediakan tempat untuk pembuangan dan penyaluran air supaya air yang nantinya masuk ke sumur itu kembali menjadi bersih kembali. Pencemaran air meningkat. Tidak hanya pencemaran yang disebabkan limbah, sekarang di pekarangan rumah pun air dapat tercemar. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah harus melakukan penyuluhan terhadap masyarakat. Pemerintah harus menjamin pengadaan air bersih sampai di daerah yang terpencil, dan pemerintah harus mengatur pembuangan dan penyaluran air. Mungkin dengan mengontrol jarak antara pembuangan MCK dengan sumber air. Biasanya orang ndak mengerti berapa jarak ideal antara septic tank dan sumber air. Menurut anda, apa yang harus dilakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Masyarakat harus memiliki kesadaran kebersihan lingkungan. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Kalau dampaknya belum terasa, tapi jika saya melihat air dalam aquarium yang diambil dari sumur, selang beberapa hari warna air berubah keruh. Gejala ini muncul setelah gempa bumi, sebelumnya air selalu jernih. Tapi, kami belum mencoba cek air tersebut ke laboratorium.

SURIP HADI SUTRISNO (46)
PENJUAL SOTO, PRAWIRO DIRJAN RT 48 RW 14GN 2 – 544

MASYARAKAT MASIH SEBENARNYA,

BANYAK YANG BELUM MENGETAHUI PERMASALAHAN INI.

BAGAIMANA PENILAIAN DAN KEINGINANN MASYARAKAT

YOGYAKARTA TERHADAP KEBERADAAN AIR BERSIH DI YOGYAKARTA? BERIKUT RANGKUMAN PENDAPAT
MERKA YANG BERHASIL DIDAPATKAN OLEH

RIA ANNISA REPORTER TOEGOE.
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sudah pernah mendengar dari petugas Puskesmas, tapi Belum tahu. Mereka tidak menerangkan bakteri itu. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Awalnya takut, tapi di rumah saya sudah menggunakan air PAM biar aman. Terkadang juga mengambil air dari sumur yang agak jauh dari sungai. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah harus memberikan air yang bersih untuk masyarakatnya. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyara-kat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini?

22 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

Masyarakat harus menjaga kebersihan. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Disini anak anak kecil yang sering menderita diare, mungkin karena air dicemari bakteri tadi. Alhamdulillah-nya, Saya belum merasakan dampak negatif dari air yang tercemar bakteri itu.

WIDODO ( 40 )
PETANI, SAPEN GK I / 472

MANGUN (35)
PENARIK BECAK, NOGO SARI RT 37 RW 40 SUMBER A GUNG BANTUL

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Belum, saya rasa air di yogyakarta masih bersih belum tercemar. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih dI yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Air adalah sumber kehidupan. Masalah itu harus segera ditindak lanjuti, Kalau tidak nanti berkembang, itu kan bahaya. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah harus mengambil kebijakan yang tepat agar masyarakat sehat semua. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Masyarakat harus segera buat bak peresapan biar airnya bersih. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Belum, karena air di daerah saya masih bersih belum terkena bakteri itu.

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Pernah mendengar kasus itu dari petugas puskesmas. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Permasalahan ini tidak lain karena padatnya pemukiman dan jarak antara septic tank dengan sumber air tidak teratur. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah memberi penjelasan kepada masyarakat, dalam mengatur jarak septic tank dengan sumber air dan harus selalu melakukan penelitian agar hidup masyarakat tetap sehat. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Meskipun masyarakat tidak bisa melihat bakteri itu, tetapi masyarakat harus selalu menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat harus memperhatikan jarak septic tank dan sumber air. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Belum merasakan, alhamdulilah sehat-sehat saja.

SUNARSASIH (43)
PEGAWAI NEGERI SIPIL, DESA DURUNGAN, WATES, KULONPROGO.

ROSANTOSO (43)
PETUGAS PARKIR, BASANGSAM 956 RW 12 RT 48

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sudah dari surat kabar dan koran, tapi belum membuktikan. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Berbahaya sekali, dan harus di basmi, itukan banyaknya kumannya (bakteri E. coli, red). Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah harus menanggulangi masalah ini dan memberi sosialisasi atau penyuluhan hidup sehat kepada masyarakat. Serta membuat saluran air limbah dari rumah tangga ke Ipal, atau sumur resapan. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Harus menjaga lingkungan, di mulai dari keluarga. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Kemungkinan sudah, saya sering diare tetapi saya tidak menyadari itu.

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sering mendengar dari Dinas Lingkungan Hidup. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Sebenarnya pemerintah telah membangun beberapa pipa IPAL untuk pembuangan limbah masyarakat. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Sarana dan prasarana dari Pemerintah sudah lengkap untuk meminimalisir pencemaran air dengan sosialisasi tentang lingkungan kepada masyarakat dan memberikan bantuan berupa IPAL Komunal. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Saya rasa, masyarakat Jogja sudah mengubah perilakunya. Masyarakat sudah banyak yang mengerti dalam menjaga lingkungan. Sekarang jumbleng (jamban tradisional, red) sudah jarang ditemui, Pemerintah juga telah membangun MCK komunal gratis. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Di rumah saya, sumbernya dari air tanah. Tetapi tidak ada efek apapun dari air tersebut.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 23 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

DJOKO
MAHASISWA SEKOLAH TINGGI TEKNIK LINGKUNGAN, JL. SEMANGU NO 591

ARIEF BUDHI ARTO (16)
SISWA SMTI YOGYAKARTA KELAS I, KRAPYAK WETAN RT 02 178 PANGGUNG HARJO SEWON BANTUL.

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sudah, tidak hanya air sungai yang tercemar. Tetapi air sumur galian yang berada di sekitar aliran sungaipun sudah banyak yang tercemar. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Melihat kondisi masyarakatnya sangat menyedihkan. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Sosialisasi dan memberi pengetahuan tentang lingkungan kepada masyarakat, Karena pelakunya tidak lain adalah masyarakat. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Jangan membuat MCK di sungai dan membuang hajat di sungai. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Belum.

YULI ALVIANTI (18)
MAHASISWI UIN, TEGAL DOMBAN RT 03 RW 05 MARGO REJO SLEMAN

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Belum pernah mendengar informasi tersebut, tapi kalau saya lihat dari kondisi airnya, sepertinya iya. Saya pernah merebus air, dan setelah didinginkan, di dasarnya ada sejenis minyak dan endapan kapur. ini mengindikasikan bahwa dalam air ada kandungan zat yang tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Jika dilihat dari kehidupan perkotaan yang individualistik, saya lebih menyoroti bahwa ini adalah tugas pemerintah. Menurut anda, apa yang harus dilakukan pemerintah dalam kasus ini? Kasus ini harus dimasyarakatkan dan ditindak lanjuti sebelum berakibat fatal. Menurut anda, apa yang harus dilakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Masyarakat harus berhati hati dalam memilih air untuk makan dan minum. Soalnya menyangkut kesehatan tubuh kita. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Belum, tetapi di sekitar tempat tinggal saya, terdapat muara yang digunakan mandi beberapa warga. Salah satu warga pernah mengalami muntaber dan penyakit gatal.

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Informasi yang saya dapat dari surat kabar, dan televisi bahwa di Yogyakarta air bersihnya sekian persen telah terkontaminasi bakteri E. coli. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Ini cerminan, bahwa semestinya pemerintah tidak hanya mengutamakan gaji pejabat, tapi kesehatan masyarakat. Menurut Anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah harus segera turun tangan dan perlu meninjau ulang masalah ini. Pemerintah juga harus mendatangi lokasi sumber air yang telah terbukti terkontaminasi bakteri E. coli dan memberi penyuluhan kepada masyarakat disekitarnya. Karena masyarakat memandang sebelah mata masalah air yang terkontaminasi bakteri E. coli. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Wajib menjaga lingkungan, menjamin kebersihan air, tidak membuang hajat di sembarang tempat dan selalu mencari informasi kesehatan. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Pencernaan Saya sering terganggu setelah makan jajanan dan minuman di pinggir jalan atau kantin sekolah.

ROY IVANNUDIN (26)
KARYAWAN SWASTA, TAMBIR REJO KG II /57

Apakah anda sudah mengetahui bahwa air bersih di Yogyakarta banyak mengandung bakteri E. coli? Sudah, dari siaran televisi. Bagaimana tanggapan anda soal air bersih di Yogyakarta yang sudah tercemar bakteri E. coli? Air adalah kebutuhan mahluk hidup yang paling utama, jadi kita harus berhati hati dalam memilih air minum. Menurut anda, apa yang harus di lakukan pemerintah dalam kasus ini? Pemerintah memberi alat untuk penyaringan air agar air bebas dari bakteri. Menurut anda, apa yang harus di lakukan masyarakat dalam menghadapi pencemaran air bersih ini? Masyarakat harus membiasakan hidup sehat, tidak membuang kotoran di sungai. Agar lebih aman, jarak antara septic tank dengan sumber air minimal 20 meter. Apakah anda sudah merasakan dampak negatif dari kondisi ini? Pernah mengalami penyakit gatal, setelah menggunakan air sumur yang dekat dengan septik tank.

24 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

PDAM SEHARUSNYA PELAYANAN DAERAH AIR MINUM BUKAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM
OLEH: CHABIBULLAH, AKTIVIS SERIKAT TANI MERDEKA

IQIN/TOEGOE

PROBLEMATIKA PDAM di seluruh Indonesia pada masa orde baru menjadi sumber logistik partai politik yang berkuasa. Sementara publik hanya merasakan realita pada proses layananannya. Sehingga persepsi umum yang muncul adalah bahwa di Indonesia terdapat persoalan besar dalam pengelolaan air oleh PDAM diantaranya : a. Soal wilayah, distribusi pelayanan air tidak merata. Distribusi lebih banyak difokuskan untuk melayani kegiatan komersial yang mendukung pembangunan ekonomi. Hanya konsumen yang mampu membayar yang dapat memiliki akses terhadap air bersih. b. Polusi air. Tidak pahamnya penguasa atas kebutuhan rakyat bersamaan dengan kualitas air yang terindikasi tercemar. c. Salah kaprah atas fungsi ruang dalam konteks otonomi daerah bagi aliran sumberdaya air guna memperluas jaringan irigasi bagi keperluan pertanian, sehingga salah satunya terjadi penurunan produksi padi. d. Minimnya potensi alternatif sediaan (supply) air. Baik bagi air bersih maupun air minum yang dapat menjaga ketersediaan disebabkan berkurangnya daerah tangkapan air akibat alih fungsi lahan.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 25 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Tentunya problem di atas bersumber pada persoalan manajemen di dalam tubuh unit kerja birokrasi seperti PDAM dan institusi pemerintah lainnya juga masih merupakan lembaga terkait dengan pengelolaan air yang sarat korupsi, perbedaan kepentingan antar institusi, dan keterbatasan dana, manipulasi infrastuktur. Di satu sisi Pemerintah Indonesia tidak memiliki dana subsidi yang cukup untuk membenahi manajemen sektor air, dan disisi lain institusi pemerintah itu sendiri tidak efisien. Kondisi ini menurut Pimpinan Tim WASPOLA , Richard Hopkins, menekankan perlunya keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan air karena pemerintah tidak memilki dana yang cukup Akhirnya intervensi melalui bantuan finansial dan teknis dari Bank Dunia dan ADB, Pemerintah Indonesia menyusun restrukturisasi sektor air, yang memungkinkan desentralisasi pengelolaan air dan masuknya sektor swasta terutama di daerah perkotaan dengan disetujuinya WATSAL (Water Resources Sector Adjustment Loan = Pinjaman Penyesuaian Sektor Sumber Daya Air). Restrukturisasi sektor air ini yang merupakan alat politik rejim imperialisme jika dilihat sebagai bagian persyaratan pinjaman dalam Structural Adjustment Loan (Pinjaman Penyesuaian Struktural) dari Bank Dunia dan IMF untuk mengatasi krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997 telah ikut berkuasa di tanah air kita.. Sebab melalui pinjaman WATSAL bagi Indonesia sebesar US$ 300 juta yang disetujui oleh Direktur Eksekutif Bank Dunia pada 18 Mei 1999, yang kemudian Pemerintah Indonesia membentuk pokja reformasi sumber daya air. Dan menghasilkan UU no 7 tahun 2004 yang merupakan sisi gelap dari perjalanan proses legislasi Negara dalam mempertahankan kedaualatan rakyat dan negara atas sumber daya air.

PDAM MENJADI PINTU MASUK INTERVENSI SWASTA
Permasalahan privatisasi air di Indonesia persoalannya justru menjadi lebih rumit. Karena hampir semua Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) saat ini dalam kondisi tidak mampu membayar utangutangnya. Malahan banyak yang sedang menuju ke jurang kepailitan. Dalam situasi seperti inilah, maka privatisasi air seolah-olah merupakan obat mujarab untuk membereskan masalah air bersih. Di sisi lain, kita mengetahui bahwa rekrutmen jajaran manajemen perusahaan air bersih sangat diwarnai oleh berbagai kepentingan. Ditambah lagi PDAM sering dijadikan sapi perah oleh para pejabat daerah. Karena itu, di samping pembenahan perusahaan-perusahaan publik tersebut, privatisasi air hanya dilakukan dalam pola PPP (private-public-partnership), sehingga faktorfaktor pemerataan dan keadilan bisa dipertahankan. Tentang keadilan dan pemerataan harus diakui bahwa PDAM telah melakukan diskriminasi terhadap masyarakat miskin. Target pembangunan dan
26 toegoe

ekspansi jaringan pelayanan air bersih selama ini terkesan ditujukan pada pencapaian target sambungan rumah. Artinya, bahwa jaringan distribusinya hanya diutamakan ke daerah padat penduduk yang relatif ekonomi ke atas. Sedangkan daerah-daerah pinggiran dan daerah miskin hampir tidak terjamah. Padahal mereka juga punya hak yang sama untuk mendapatkan air bersih yang murah. Akibat dari perlakuan ketidakadilan ini penduduk miskin yang hidup di daerah-daerah kumuh ini harus membayar ongkos sosial yang tinggi guna mendapatkan air. Bisa dilihat bagaimana rakyat miskin membeli air kaleng, yang harganya mencapai Rp 500 per 20 liter, sehingga untuk permeter kubiknya jauh lebih mahal dari pada harga yang ditetapkan oleh PDAM untuk para langganannya. Mengenai jaringan sanitasi, kasusnya tidak pernah terungkap bahkan lebih memprihatinkan lagi. Perhatian terhadap prasarana kesehatan bagi rakyat tertindas boleh dibilang hampir tidak ada. Kesimpulannya, kita perlu reformasi mengenai paradigma pembangunan yang dianut selama ini. Karena penduduk desa yang jumlahnya mendekati 70 % dari penduduk Indonesia belum menjadi parameter perencanaan nasional pembangunan kita. Tidak heran kalau harapan hidup orang Indonesia merupakan yang terendah dibanding negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Riset yang dihasilkan oleh the PSI’s Research Unit, University of Greenwich (London) menemukan bahwa privatisasi air oleh perusahaan-perusahaan multinasional di negara sedang berkembang tidak terlepas dari persoalan “korupsi”. Perusahaan swasta pengelola air tersebut mengalami kegagalan finansial dan yang penting “gagal untuk melayani kelompok miskin bahkan mengeksploitasi kelompok-kelompok tersebut” (dinyatakan oleh J. F. Talbot, CEO of SAUR International yang merupakan perusahaan multinasional keempat terbesar di dunia pada Januari 2002). Privatisasi air sendiri telah dilakukan di berbagai belahan dunia antara lain Argentina, Kolumbia, Bolivia, Mexico, Bangladesh, Indonesia, Nepal, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Pantai Gading, Madagaskar, Maroko, Nigeria, Senegal, Tunisia, dan Hongaria. Penelitian di Bolivia, Pakistan, dan Argentina menunjukkan gejala yang sama yaitu kenaikan harga dan kegagalan melayani kelompok miskin. Di Cochabamba, Bolivia setelah privatisasi terjadi kenaikan harga air sekitar 300%, sekitar 25% dari total pendapatan kelompok miskin.. Contoh kasus di Indonesia sendiri privatisasi telah menyebabkan adanya lonjakan harga air. PDPAM Jaya setelah dikelola bersama dengan Thames Water International UK dan Lyonaisse Prancis telah mengalami 2 kali kenaikan harga pada tahun 1998 (20%) dan 2001 (35%). Sumber tidak resmi

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

menyebutkan pada bulan April 2003 akan naik lagi sebesar 40%. Gubernur Sutiyoso sendiri menyatakan bahwa kenaikan ini diperlukan untuk menutupi biaya perusahaan. Selain itu juga, perusahaan multinasional yang menguasai 70% bisnis air di dunia yaitu Suez-Lyonnaise dan Vivendi dari Perancis telah didakwa sebagai anti kompetisi. Bahkan SuezLyonnaise di Perancis didakwa dengan tuduhan suap dan korupsi. Bagaimana realitas ini dapat diketahui oleh publik? Sebab jika kita tidak melakukan kontrol langsung dari kegiatan kapitalisasi atas sumberdaya alam yang menganjurkan privatisasi air, maka rakyat tidak akan mempunyai akses atas air, termasuk kenaikan harga. Sebab kekacauan dari krisis ini sudah terjadi di negara-negara seperti India dan afrika. Untuk menanggapi krisis air tersebut, sistem dibalik apa yang menyebabkan penyingkiran hak rakyat harusnya dilakukan kontrol langsung dengan melakukan protesprotes terhadap skenario politik rejim yang sedang berkuasa, apa itu didalam negeri, maupun diluar negeri. Sebab jika melihat gambaran anak-anak yang meninggal karena penyakit terkait air dinegaranegara dunia ketiga, termasuk Indonesia, dan datanya yang tidak akurat seperti halnya dengan data lainnya, telah terbukti ketidakseriusan penguasa dalam menjalankan kegiatan birokrasinya yang kapitalistik.

SEBAB JIKA KITA TIDAK MELAKUKAN KONTROL LANGSUNG DARI KEGIATAN KAPITALISASI ATAS SUMBERDAYA ALAM YANG MENGANJURKAN PRIVATISASI AIR, MAKA RAKYAT TIDAK

WAHYU/TOEGOE

AKAN MEMPUNYAI AKSES ATAS AIR

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 27 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

MENGUBAH PARADIGMA MENYELAMATKAN BUMI
OLEH: AT ERIK TRIADI, S.IP
(KOORDINATOR DIVISI KAMPANYE DAN ADVOKASI, LAPERA INDONESIA)

FREDY/SHALINK

KERUSAKAN LINGKUNGAN KINI TELAH MEMASUKI

TAHAP YANG SANGAT MENGKHAWATIRKAN. KRISIS

EKOLOGI SUDAH NYATA DI DEPAN MATA, AKIBAT

PEMBANGUNAN YANG TIDAK MEMPERTIMBANGKAN

FAKTOR ETIKA LINGKUNGAN SEDIKIT PUN.

SEMUA bagian dari sumber daya alam Indonesia sudah di eksploitasi habis-habisan. Hutan, tambang (minyak, batu bara, gas), air, hingga keragaman flora dan fauna. Pulau Kalimantan yang dijuluki sebagai paru-paru dunia, kini sudah tinggal cerita akibat penebangan baik legal maupun ilegal. Secara umum, kecepatan kerusakan hutan Indonesia sangat dashyat. Data yang dilansir Wahana Lingkungan Hidup Indonesia – Walhi - dalam satu tahun ada 2,4 juta hektar hutan yang hilang. Jika dianalogikan secara sederhana, dalam setiap menit ada hutan seluas 6 kali lapangan sepak bola yang hilang! Akibatnya berdampak negatif kepada masyarakat seperti turunnya mutu lingkungan hidup seperti terjadinya banjir, tanah longsor, erosi dan sedimentasi, hilangnya sumber daya air, hilangnya peran hutan dalam proses siklus ekologis (pengendalian siklus karbon, oksigen, unsur hara, air dan siklus iklim dunia), serta hilangnya biodiversitas. Bencana alam

28 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

ASHIDO ALDORIO SIMATUPANG/TOEGOE

dihasilkan dari habisnya hutan tersebut, banyak menelan korban. Longsor di Sinjai, Karanganyar, dan berbagai daerah lainnya, yang memakan banyak korban jiwa. Belum lagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas penambangan, baik minyak, batu bara, gas, emas dan sebagainya. Pencemaran yang terjadi di Papua akibat penambangan tembaga dan emas oleh Freeport sudah sangat parah. Aktivitas Freeport telah mencemari sungai-sungai di Papua, merusak lingkungan bahkan sosial budaya masyarakat Papua. Itu hanya salah satu contoh, masih banyak lagi kasuskasus rusaknya ekologi akibat sektor ekstraktif ini, hingga yang paling anyar meluapnya lumpur di Sidoarjo akibat pengeboran minyak oleh PT. Lapindo Brantas. Semua itu karena Rp 208.097,40 miliar kontribusi bidang Migas terhadap APBN (tahun 2007), hingga pemerintah terus menggerus habis kekayaan alam Indonesia. Pencemaran lingkungan diperparah lagi dengan kepulan asap yang berasal dari deru mesin industri yang memang di pacu untuk mengejar target pertumbuhan industri hingga mencapai 8,56% pertahun. Namun pertumbuhan industri telah berdosa, tidak hanya menyebabkan polusi udara, tapi juga mencemari air, polusi suara, hingga menyedot sumbersumber air masyarakat. Melihat deretan kecil kasus-kasus lingkungan diatas, tak bisa disangkal lagi bahwa kerusakan ekologi yang terjadi saat ini, bersumber dari perilaku manusia. Tidak hanya perilaku orang perorang, namun juga pemimpin pemerintahan, birokrasi, dan

juga pelaku-pelaku pengusaha. Bahkan dapat dikatakan kasus-kasus lingkungan yang terjadi dapat dikatakan sebagai persoalan moral, persoalan perilaku manusia dan negara bangsa dalam melakukan manipulasi yang merugikan kepentingan orang lain dan juga lingkungan hidup. Oleh karena itu diperlukan etika dan moralitas untuk mengatasinya sebagai kaidah atau norma yang melandasi perilaku manusia. Menurut Arne Naess dalam Etika Lingkungan yang ditulis oleh Sony Keraf, krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan radikal. Dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. Artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi secara baru di alam semesta. Krisis lingkungan yang kita alami saat ini sebenarnya bersumber dari kesalahan fundamentalfilosofis dalam cara pandang manusia mengenai dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Pada gilirannya, kekeliruan cara pandang ini melahirkan prilaku yang keliru terhadap alam. Inilah awal dari semua bencana lingkungan hidup yang kita alami sekarang. Dari Antroposentrisme Menuju Biosentrisme dan Ekosentrisme Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme. Sebuah pandangan yang meyakini
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 29 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

bahwa manusia sebagai pusat dari alam semesta. Hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Manusia dianggap berada di luar, di atas dan terpisah dari alam. Bahkan manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa saja terhadap alam. Cara pandang ini melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai pada diri manusia. Kesalahan fundamental dari pandangan ini adalah menganggap manusia hanya sebagai mahluk sosial, yang eksistensi dan identitas dirinya ditentukan oleh komunitas sosialnya. Dalam pemahaman ini manusia berkembang menjadi dirinya dalam interaksi dengan sesama manusia di dalam komunitas sosialnya. Manusia tidak dilihat sebagai mahluk ekologis yang indentitasnya ikut dibentuk oleh alam. Kemudian, anggapan bahwa etika hanya berlaku bagi komunitas sosial manusia. Jadi, yang disebut sebagai norma dan nilai moral hanya dibatasi keberlakuannya bagi manusia. Dalam pemahaman ini hanya manusia yang merupakan pelaku moral, yang memiliki kemampuan untuk bertindak secara moral, berdasarkan akal budi dan kehendak bebasnya. Etika tidak berlaku bagi mahluk lain di luar manusia. Kesalahan pandang yang fatal ini membuat kita salah dalam memperlakukan alam. Alam hanya dipandang sebagai pemuas dan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini sangat jelas tercermin pada tindakkan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai negara bangsa. Bahkan negara menggunakan kekuasaannya membuat kebijakan yang merestui perusakan lingkungan, untuk menyedot sumber daya alam. Dengan teknologi yang dimilikinya melakukan perusakan serta pencemaran terhadap alam. Semua itu demi kepuasan manusia, demi kepentingan ekonomi manusia. Lalu kemana perubahan pandangan dan paradigma yang seharusnya kita tuju? Perubahan paradigma yang juga kritik terhadap etika antroposentrisme dilakukan oleh etika biosentrisme dan ekosentrisme. Bagi biosentrisme dan ekosentrisme manusia tidak hanya dipandang sebagai mahluk sosial. Manusia harus dipahami sebagai mahluk biologis, mahluk ekologis. Manusia hanya bisa hidup dan berkembang sebagai manusia utuh dan penuh, tidak hanya dalam komunitas sosial, tetapi juga dalam komunitas ekologis. Manusia merupakan mahluk yang kehidupannya tergantung dan terkait dengan semua kehidupan lain di alam semesta. Manusia bukanlah mahluk yang berada di luar, di atas dan terpisah dari alam, manusia berada dalam alam dan terkait serta tergantung dari alam dan
30 toegoe

seluruh isinya. Artinya manusia dibentuk oleh dan merealisasikan dirinya dalam alam. Alam membentuk dirinya sebagaimana ia sendiri ikut membentuk alam. Oleh karena itu, bagi biosentris dan ekosentris, komunitas biotis atau komunitas ekologis mempunyai peran penting, bahkan lebih penting dari komunitas sosial. Semua kehidupan, mahluk hidup dan bendabenda abiotis lainnya memiliki nilai dalam dirinya masing-masing, terlepas apakah dia bernilai bagi manusia atau tidak. Oleh sebab itu etika bagi kalangan biosentris maupun ekosentris tidak hanya berlaku bagi manusia, tapi juga bagi semua mahluk hidup. Manusia juga dituntut untuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap semua kehidupan di alam semesta, bahkan semua entitas yang abiotis. Dengan tanggung jawab pribadi maupun bersama, setiap orang terpanggil untuk memelihara alam semesta ini sebagaimana milik pribadinya. Untuk mewujudkan perubahan cara pandang secara radikal tersebut, Arne Naess, kembali memberikan pendapat. Menurutnya ada empat tingkatan komponen yang membentuk satu kesatuan pola laku sebagai sebuah gerakan moral. Pertama, berisikan premis-premis, norma-norma dan asumsi deskriptif yang paling fundamental. Premis-premis ini bisa diartikan sebagai visi yang dijadikan petunjuk arah bagi kehidupan. Kedua, adanya platform pemersatu gerakan, yang memungkinkan semua orang terdorong melakukan aksi bersama. Pada tingkatan ketiga, adanya hipotesis umum, yang merupakan pola perilaku umum dalam berhubungan dengan lingkungan, tentunya sejalan dengan inspirasi dan platform yang telah dirumuskan sebelumnya. Kempat, aksi nyata yang digerakkan oleh ketiga tingkatan diatas. Termasuk juga dalam hal ini adalah adanya aturanaturan khusus yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapi, serta keputusan-keputusan praktis yang diambil dalam setiap situasi khusus. Dengan berdasar pada empat komponen diatas, maka setiap tindakan yang memiliki dampak pada lingkungan haruslah berprinsip bahwa tindakan itu untuk kebaikan bersama atau bonum commune. Bonum commune muncul sebagai hasil dari maksud, upaya, dan tindakan yang sengaja dipilih atau tidak dipilih oleh pemegang otoritas dalam menangani pokok-pokok yang menyangga kehidupan bersama, tentu saja bukan hanya untuk manusia tapi juga ekologi. Lalu, kebijakan yang diambil secara pribadi atau pemegang kekuasaan dengan kebijakannya sudah memperhatikan prinsip bonum commune? Apakah kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan lingkungan sudah mendasar pada etika biosentris dan ekosentris? Jika semua itu dilakukan, tentunya alam tak akan murka dengan segala bencananya kepada kita.

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

TOEGOE PEMIKIRAN

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN SECARA BERSAMA
REPORTER: YUSTRINA WULANDARI

MASALAH LINGKUNGAN BUKAN PERSOALAN SEKTORAL. KEBERSAMAAN MENJADI KATA KUNCINYA.

SUATU hari Risugiantoro kesal lantaran polutan asap
kendaraan melekat di tembok rumahnya. Padahal jarak antara terminal bus -saat itu masih di Umbulharjo- dan rumahnya cukup jauh. “Tembok saya itukan putih, itu jelaganya ada,” tutur mantan Kepala Bidang Penegakan Hukum Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY ini. Bagi, anggota komunitas kampung hijau RW 08 Gambiran ini, pengalaman tersebut hanyalah noktah kecil dari potret besar pencemaran dan pengrusakan lingkungan di Kota Gudeg. Baginya kondisi lingkungan di Kota Yogyakarta terus mengalami penurunan kualitas. Dalam hal permukaan air tanah misalnya, sejak tahun 1960-an hingga sekarang telah mengalami penurunan yang drastis, lebih dari setengah meter. “Baru berjalan 40 tahun saja, kondisi permukaan sudah seperti itu, bagaimana dengan generasi ke tujuh dan berikut,” ujarnya. Soal polusi udara, alumni Fakultas Hukum UGM ini juga angkat bicara. Dia menceritakan pengalamannya semasa masih bekerja di Bapedalda, ada beberapa kawasan yang sudah sangat tinggi pencemaran udaranya. Seperti di daerah Pingit. Sekarang, daerah Malioboro pun mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Kondisi ini menurutnya kemungkinan akan semakin parah gara-gara sumber pencemaran bergerak yakni kendaraan bermotor terus bertambah jumlahnya di Yogyakarta Dia juga menceritakan kondisi pencemaran air yang mulai menampakkan masalah. Seperti pencemaran dari bakteri E. coli. Pencemaran sungai di kawasan kota juga mengundang keprihatinannya. Menurutnya, sungai-sungai di Yogyakarta jauh dari kesan bersih dan sehat. Sehingga tidak mungkin lagi dikonsumsi oleh masyarakat Gambaran pengrusakan lingkungan di atas menurutnya adalah kesalahan bersama. Perilaku masyarakat yang tidak mempedulikan kelestarian lingkungan menjadi penyebab. Selain itu, minimnya ketegasan pemerintah daerah dituding berperan besar terhadap terciptanya situasi tak nyaman ini. Padahal pemerintah sebenarnya punya kapasitas untuk mengantisipasi terjadinya degradasi lingkungan. “Selama ini yang namanya pelanggaran
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 31 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

YUSTRINA WULNDARI/TOEGOE

KAMPUNG PANDEYAN- Butuh kerja keras untuk membangun lingkungan yang bersih dan asri

terhadap lingkungan, itu kan belum ada tindakan sama sekali,” tegas Ris Ris juga menyorot lemahnya kepemimpinan yang peka lingkungan di Yogyakarta. Dia mencontohkan hampir tidak ada calon pemimpin atau wakil rakyat yang menyuarakan kepedulian pada lingkungan. “Kita lihat saja kalau mereka kampanye, ndak pernah, mereka pro lingkungan tidak pernah,” terang Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini. Pembangunan kota yang tidak terencana dan memperhatikan aspek lingkungan hidup juga jadi penyebab. Hal ini menurutnya, tak boleh terjadi lagi. Dia mengakui demi kemajuan kota, pembangunan harus tetap berlangsung. Masyarakat pun harus mendukung setiap bentuk pembangunan yang dilakukan pemerintah. “Kegiatan tetap masuk demi kemajuan kota Yogyakarta sendiri, tetapi ada perencanaan kedepan,” tutur Risugiantoro. Pembangunan kota harus memenuhi tiga aspek. Pertama, kelayakan dari sisi tehnik, berikutnya dari segi ekonomi, dan yang terakhir dari aspek lingkungan. Ketiga hal tersebut, menurut Ris tak boleh ditinggal32 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

kan. Dia mengkuatirkan soal keberadaan air tanah di Kota Yogyakarta. Apabila tidak diantisipasi, maka masyarakat bisa kelabakan mencari air di kemudian hari. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni setiap keluarga bisa membuat daerah resapan untuk air hujan di rumahnya. Ris menyayang hal ini masih luput dari perhatian berbagai pihak. “Caranya air hujan ini kita selamatkan, kita masukkan lagi kembali ke tanah,” ujar Ris. Berbagai sampah yang masuk ke perkotaan sebagai konsukuensi menjadi pusat perekonomian masih sering dibuang semuanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini bagi Ris, tidak menyelesaikan masalah tapi memindahkan masalah. Seharusnya banyak sampah yang bisa dikelola. Misalnya, sampah organik seperti dedaunan, sisa sayuran dapat dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik, bisa dijual atau dibuat menjadi kerajinan tangan. Sehingga yang dibuang ke TPA hanyalah sampah sudah tidak bisa diolah. Ragam persoalan lingkungan di kota berpotensi membawa efek negatif nantinya. Oleh karena itu, sikap baru bertindak setelah ada ancaman harus dihilang-

::

YUSTRINA WULANDARI/TOEGOE

kan. Pemerintah harus selalu mengedepankan juga soal lingkungan dalam pembangunan. Di sisi masyarakat harus mengontrol apa yang dikerjakan pemerintah. Bagi Ris hal ini guna kelestarian lingkungan dan kepentingan anak cucu kelak. Meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi anak cucu bukanlah tindakan yang arif.

B E R BA K T I
LINGKUNGAN

UNTUK

K E L E S TA R I A N

Pria kelahiran Tulungagung Jawa Timur ini mengaku kepekaan terhadap lingkungan telah tumbuh sejak masih kanak-kanak. Datang dari lingkup keluarga petani, membuatnya belajar banyak hal soal ekologis. Salah satunya, di jaman dulu ayahnya membuat sebuah “jogangan” sebagai penyimpan air. “kalau saat ini bisa diartikan serupa dengan sumur resapan ataupun lubang biopori berukuran raksasa,” ujar Ris. Berangkat dari kecintaannya terhadap lingkungan apalagi ditengah carut marut pengrusakan. Laki-laki ini akhirnya menuangkan waktunya untuk gerakan peduli lingkungan di salah satu sudut kampung bernama Pandeyan di Kota Yogyakarta. Ia memiliki segudang obsesi dan cita-cita terhadap dunia lingkungan. Salahsatunya, sebuah kawasan hunian yang mampu memberikan kenyamanan bagi pemiliknya serta kondisi lingkungan yang hijau. Diawali dengan bersama masyarakat menanam berbagai macam pohon di sepanjang kawasan hunian dan sekitarnya. Dari mulai penanaman pohon akasia di sepanjang Jalan Gambiran hingga di lokasi Bapak ini tinggal. Walaupun saat ini keberadaan pohon-pohon tersebut telah tergantikan oleh berbagai jenis pohon yang ditanam oleh Pemda setempat karena pelebaran jalan. Agar kegiatan tersebut berkelanjutan, kemudian bersama masyarakat membuat komunitas kampung hijau. Macam-macam program penataan lingkungan pun

berjubel di dalamnya. Contoh, kegiatan pengolahan sampah menjadi kerajianan tangan, atau pembuatan tanggul sungai agar di Pandeyan tidak terjadi longsor bila banjir datang. Berbagai gebrakan yang telah dilakukan akhirnya membuahkan hasil. Kalau beberapa tahun silam, Pandeyan yang merupakan salahsatu pemukiman padat terbilang kumuh kini tidak lagi. Memasuki kawasan RW 08 tempat Ris tinggal terlihat bahwa kebersihan memang menjadi prioritas. Tak tampak ada sampah plastik atau kertas yang berseliweran. Di beberapa sudut juga tersedia tong-tong sampah bagi masyarakat. Anifuat, wanita yang menjadi salah satu anggota Komunitas Kampung Hijau sudah merasakan dampak positifnya. Dengan mengelola sampah, selain kenyamanan hidup terjaga, dia juga mendapat nilai ekonomi yang terbilang lumayan. Ya, usaha

mengkreasi sampah anorganik ternyata juga diminati pasar. Kemampuan Ani ikut ambil bagian dalam penataan kawasan, tidak datang begitu saja. Ia mengaku banyak menimba pengalaman dari Risugiantoro. Cara bercocok tanam misalnya. “Awalnya Pak Ris ajarkan kami tanam anggrek,” aku Pimpinan Cabang Ranting Gambiran Aisyiah ini. Sekarang komunitasnya tengah menggarap olahan baru. Yakni mencoba membuat air sungai Gadjah Wong yang melintasi Pandeyan sebagai energi alternatif. Bukan pekerjaan mudah. Hal itu disadari benar oleh Ris. “Kita terkadang mau enaknya saja, tapi tidak mau bekerja keras,” ujarnya. Ya, terus berjuang, pantang patah arang demi sebuah obsesi membuat kawasan hunian yang mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat, yang tentunya harus menjadi obsesi bersama.

HARUS RAJIN- Membuang sampah pada tempatnya harus menjadi kebiasaan

YUSTRINA WULANDARI/TOEGOE

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 33 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE SHALINK
ANGGOTA SHALINK – Belajar bersama menyusun potongan-potongan kertas.

LAYU SEBELUM BERKEMBANG
REPORTER: UMBU WULANG TAP

IDENYA CEMERLANG. KONSEPNYA JUGA
TERBILANG APIK. SAYANG DALAM PERJALANANNYA,

DOK : SHALINK

PROGRAM INI LAYU SEBELUM BERKEMBANG.

GREEN Student Movement (GS-M) namanya. Program ini adalah salahsatu upaya untuk menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan lingkungan sejak usia muda, khususnya kaum muda di Yogyakarta. Sahabat lingkungan (Shalink) Yogyakarta dipercaya mengemban tugas mulia ini. Candra Ketua Shalink Yogyakarta menjelaskan GSM juga menjadi ajang untuk pendidikan atau pembekalan bagi relawan yang mau terlibat dalam aktivitas pelestarian lingkungan yang dilakukan Shalink atau WALHI. Hal ini agar para relawan nantinya jangan sampai kewalahan akibat kekurangan “nutrisi” lingkungan. Selanjutnya, Koordinator GSM Fredy M. S mengatakan GSM yang digelar sejak 2006 silam ini menggunakan model pelatihan. Selama ini pelatihan tersebut telah melibatkan pelajar SMU hingga pemuda-pemudi karang taruna. “GSM sebenarnya semacam pen-didikan pola pikir,” ungkap maha-siswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta ini.
::

Namun rupanya program ini masih jauh dari harapan. Fredy mengakui hal tersebut. Bahkan Fredy sendiri lupa telah berapa kali menjalankan gawean-nya tersebut. “Sekitar dua atau tiga kali,”ujar lelaki kelahiran Sulsel ini. Padahal program ini seharusnya rutin minimal 3 bulan sekali. Lebih jauh, dia menuding minimnya sumber daya manusia sebagai penyebab. Keluhan serupa juga datang dari Candra. Padahal menurutnya dari pelatihan yang pernah diadakan, antusiasme kaum muda di Yogyakarta sebenarnya dapat diandalkan. Oleh karena itu, dia mengajak kaum muda yang peduli pada lingkungan untuk nimbrung dalam program ini. Asa harus tetap terjaga. Bukan apa-apa, banyak pihak yang mengapresiasi positif kegiatan ini. Salahsatunya dari Wakil Ketua I Bidang Akademik Sekolah Tinggi Tehnik Lingkungan (STTL) Yogyakarta Dra. Lily Handayani, M.Si. Beliau mengutarakan adanya GSM menjadi pendorong bagi tumbuhnya kesadaran mengelola

34 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

lingkungan secara benar di masyarakat. Apalagi kondisi lingkungan yang kian rusak perlu untruk segera dibenahi. “Saya mendukung kegiatan ini,” terang Alumnus fakultas Geografi Universitas Gajah Mada ini. Aan, siswa SMU 5 Yogyakarta ini juga menyatakan dukungannya. Dia sebenarnya ingin juga terlibat dalam kegiatan tersebut. Tapi setahunya kegiatan GSM belum pernah digelar di sekolahnya. Dia berharap kegiatan GSM harus memperlihatkan karya nyata di lapangan. Bukan hanya sekadar memberikan pelatihan semata. Partisipasi kaum muda sebagai salahsatu penggerak dalam upaya pelestarian lingkungan juga diapresiasi oleh Sahrul Aksa. Menurutnya, kiprah muda bukanlah hal baru di Indonesia. Hanya memang, sekarang ini makin membludak lantaran isu pemanasan global. Hal ini wajar, mengingat ancaman akibat degradasi lingkungan kian dirasakan oleh banyak pihak. Dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD”APMD” ini mengutarakan di tingkat kaum muda, sebaiknya program yang dijalankan harus dekat keseharian mereka. Hal ini penting, mengingat banyak program-program peduli lingkungan yang gagal ditengah jalan akibat kurang memperhatikan persoalan kaum muda. Strategi komunikasi yang dibangun juga harus mendekatkan persoalan lingkungan kepada publik. Ini guna menumbuhkan kepekaan terhadap anak muda pada kondisi lingkungan sekitarnya. Bila mereka sadar, tentu akan tumbuh juga rasa memiliki yang kemudian berlanjut pada aksi nyata di lapangan. Bila kondisi ini tercipta, maka dengan sendirinya kontrol ekologi juga berada di tangan anak muda. Para pengagas juga harus memperhatikan kondisi kekinian. Sekarang ini, di kalangan muda banyak sekali sub kultur dan memproduksi ikon-ikon budaya

yang produktif. Isu-isu lingkungan juga harus dihembuskan ke berbagai sub kultur tersebut. Caranya, para pengagas peduli lingkungan berinteraksi dengan komunitaskomunitas tersebut. Contohnya, dalam ajang Festival Kesenian Yogyakarta tahun ini, Sahrul belum menemukan agenda-agenda yang mengarah pada isu-isu pelestarian lingkungan. Padahal lewat kegiatan tersebut, sebenarnya isu lingkungan bisa dimasukkan dalam berbagai lini. Seperti lini kesenian atau budaya. Kegiatan-kegiatan berskala besar saat ini memiliki kecenderungan yang kurang berarti. Justru, kegiatan sosialisasi lingkungan hidup lewat kegiatan kecil di berbagai komunitas yang ada justru lebih berprospek. Sahrul menyarankan para penggas juga perlu merangkul komunitas formal di sekolah-sekolah. Lembaga OSIS atau Pramuka misalnya. “Narasi besar tentang lingkungan hidup itu dipecah dan didistribusikan ke setiap sub kultur,” ungkap Ayah satu anak ini. Selain itu juga pelibatan media massa perlu dilakukan. Mengingat peran media yang dapat mencakup audiens dalam jumlah besar. Oleh karenanya, media harus didorong untuk juga turut peduli pada per-

soalan lingkungan lewat pemberitaannya. Berikutnya menurut Sahrul, keberhasilan sebuah program diukur dari sejauh mana isuisu lingkungan itu diserap oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Lily Handayani mengungkapkan bahwa kaum muda juga harus diberikan keleluasaan untuk mengkampanyekan pentingnya kelestarian lingkungan. Dia tidak sepakat kalau kaum muda yang dituding menjadi salahsatu aktor perusak lingkungan. Tindakantindakan yang menimalisir peran pemuda-pemudi harus dapat ditinggalkan oleh setiap pemangku kebijakan. Di masyarakat maupun di tataran pemerintah. Kedepannya demi keberlangsungan GSM, Fredy mengajak kaum muda di Yogyakarta untuk turut serta di dalamnya. bahkan bagi yang terlibat sebagai relawan pun, pintu GSM terbuka lebar. Sedangkan Candra menjanjikan bahwa kegiatan GSM sendiri akan mulai dilangsungkan pada bulan Agustus mendatang. Baiklah, kita nantikan saja. Apakah yang layu tetap layu dan kemudian mati atau malah sebaliknya, berkembang dan mewangi harum di negeri Gudeg ini.

PELATIHAN - Anggota Shalink tampak serius mengikuti pelatihan yang diadakan beberapa waktu lalu.

DOK : SHALINK

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 35 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TO E G O E K R E AT I F

TERINSPIRASI KARENA LINGKUNGAN
EDISON RANDJARATU*

MARI KITA PEDULI LINGKUNGAN DENGAN BERTINDAK
KREATIF DALAM MEMANFAATKAN LIMBAH ANORGANIK YANG TAK RAMAH LINGKUNGAN.

BARU-BARU ini global warming atau pemanasan global merupakan isu hangat yang hampir tidak alpa menghiasi media massa. Kita paham atau tidak paham, peduli atau tidak peduli itu menjadi urusan atau itu tergantung kesadaran kita sendiri, tapi yang jelas bro…. kita semua merasakan dampak dari kerusakan lingkungan. Pernahkah kita bertanya ada apa dengan alamku serta mencari tahu penyebabnya? Dan jika kita sempat bertanya dan cari tahu, maka jelas kita akan turut bersalah dan bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Di mana letaknya kita sebagai masyarakat yang konsumeristik dan suka menganti produk, lalu membuangnya tanpa memperhitungkan sampah yang ramah lingkungan. Sehingga semakin tingginya volume produksi sampah atau limbah yang tak ramah lingkungan, semakin sempitnya TPA (tempat pembuangan akhir), karena penuh (dampak secara langsung). Hal ini di sebabkan karena, lambatnya proses penguraian yang disebabkan dari unsur bahan limbah yang dibuang, seperti kaca, plastik, mika, logam, dan sebagainya yang mencapai ratusan tahun, baru terurai dan akan membawa dampak pada rusak zat unsur hara dalam tanah, dan membuat tingkat

36 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

DOK: PRIBADI

kesuburan tanah menurun (jangka panjang). Jika limbah-limbah tersebut dimusnahkan dengan cara membakar maka, akan membawa dampak terhadap polusi udara, kabut asap tebal dan lain-lain. Juga akan mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia seperti asma/ispa, kangker, menekan sistem kekebalan tubuh, menurunkan kapasitas produksi, dan mengubah sistem hormon, karena mengandung partikel-partikel yang berbahaya yang terkandung dalam asap. Kemudian beberapa tips atau kiat kecil mewujudkankepedulian kita terhadap kelestarian alam dan lingkungan hidup, yaitu: - reduce (mengurangi) Dengan memulai dari diri sendiri atau rumah tangga untuk tidak selalu menggunakan produkproduk yang tidak ramah lingkungan. Dan berusaha mengkonversi peralatan yang hendak diganti atau diperbaharui dengan barang. Alternatif lain, menggunakan bahan ramah lingkungan dan selalu membawa wadah sesuai keperluan saat berpergian.

- reuse (menggunakan kembali) Menghilangkan kebiasaan cepat bosan terhadap suatu produk dan menghilangkan perasaan malu dalam menggunakan kembali salah satu alat atau fasilitas ketika berbelanja atau berpergian. - recycle (mendaur ulang) ini salah satu cara yang ampuh untuk mengubah sampah atau limbah sampah anorganik menjadi tumpukan duit. Caranya, bertindak kreatif selain kita menyelamatkan alam dan lingkungan kita juga memberdayakan diri sendiri dan orang lain untuk memperoleh duit dengan menciptakan suatu lapangan pekerjaan yang berdasarkan pada pengelolaan sampah dan limbah sampah anorganik untuk menjadi produk-produk daur ulang.
* Penulis adalah mahasiswa STPMD ”APMD” Yogyakarta. Pernah aktif di MAPALA “Tunas Patria” di kampus yang sama. Kini tengah menyelesaikan tugas akhir dengan melakukan pendampingan pada komunitas anak jalanan di rumah singgah Diponegoro. Selain itu, tengah mencari rekanan atau donatur untuk mengembangkan usaha kreatif pemanfaatan sampah yang sedang ditekuni.

BERIKUT TIPS-TIPS KREATIF MENGELOLA LIMBAH ANORGANIK.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 37 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE ANAK ANAK mungkin belum bisa diajak
untuk berpikir tentang konsep besar pengelolaan lingkungan. Tapi mereka ternyata dapat berbuat sesuatu untuk melestarikan lingkungan. Kenyataan ini dapat ditemui di RW 01 Minomartani, Sleman. Tak tanggung-tanggung, hasil kreasi anak pun dipasarkan melalui kelompok usaha Sekar Martani Muda. Menurut Dra. HJ. Kiptiyah, pelibatan anak dilakukan guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan sejak usia dini. Hal ini penting mengingat, sekarang ini banyak aktivitas pembuangan sampah secara sembarangan akibat minimnya kesadaran terhadap lingkungan hidup. Ujungnya, muncul berbagai penyakit yang ditimbulkan dari tumpukan sampah tersebut. Berangkat dari keprihatinan tersebut, Kiptiyah sebagai Ketua Koperasi Anggrek Mekar lantas membentuk kelompok usaha Sekar Martani Muda guna menampung hasil kreasi dari sampah. Tak percuma, usaha tersebut membuahkan hasil dengan semakin banyaknya partisipasi masyarakat dalam mengolah sampah. “ Usaha ini terdiri dari anak-anak dan kaum muda,” ujar Kiptiyah. Partisipasi anak-anak juga tidak lepas dari peranan para ibu di RW tersebut. merekalah yang mendorong putra-putrinya untuk turut serta dalam upaya pengelolaan sampah. Apalagi sejak 2005 silam, kampung tersebut mulai serius melakukan gerakan lingkungan hidup. Orang tua, kaum muda hingga anak-anak pun mulai mengubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Kini RW tersebut, terlihat sangat asri dan bersih dari serakan sampah. Namun pelibatan anak bukanlah perkara mudah. Kiptiyah mengakui belum semua anak di tempatnya terlibat dalam aktivitas tersebut. Apalagi pendekatan terhadap anak secara serius baru dimulai pada masa menjelang Ramadhan setahun silam. Saat itu

BONEKA

DARI PLASTIK- Inilah beberapa karya anak-anak di RW 01 Minomartani dari beragam sampah plastik.

ANAK MINOMARTANI MENGKREASI SAMPAH
REPORTER: RIA ANISA

MENJADIKAN ANAK KREATIF SEKALIGUS MERAWAT LINGKUNGAN.

38 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

WAHYU/TOEGOE

anak diajak untuk mengelola sampah dan diajari juga bercocok tanam. Kiptiyah mengisahkan, kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengajak anak menanam sayur Kangkung di halaman Masjid. “Anak-anakpun sangat antusias mengikutinya, apalagi setelah panen yang memuaskan,” tutur Kiptiyah bersemangat. Tak hanya sampai di situ, pendekatan pun dilanjutkan dengan simulasi- simulasi tentang sampah. Anak-anak setempat diajarkan untuk membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Bukan apa-apa, sampah yang berserakan di kawasan Minomartani juga sebelumnya dari sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan oleh anakanak. Selain itu, anak juga diajarkan untuk membuat tempat sampah di kamarnya masing-masing. Berikutnya, pengenalan bagaimana memilah dan mengolah sampah yang tepat. Gayung bersambut, pendekatan ini berhasil
TONG
SAMPAH-

mengubah perilaku sebagian besar anak-anak Minomartani khususnya RW 01. Sejak saat itu pun, praktek pelatihan pengolahan sampah an-organik oleh anakanak menjadi pemandangan yang lumrah. Lebih dari itu, mereka mampu menghasilkan rupiah berkat keterampilan tersebut. Lalu apa saja kendalanya dan bagaimana strateginya berhadapan dengan anak? Kiptiyah mengatakan sebenarnya kendalakendala yang dihadapi selama ini adalah, bagaimana memisahkan keinginan anak-anak yang terlanjur betah bermain game elektronik, khususnya anak laki-laki. Selain itu, sifat cepat bosan anak dalam mengkreasi sampah.”Hal inilah yang menjadi tantangan bagi tutornya (pengasuh, Red),” tutur Kiptiyah. Persoalan tersebut diakui oleh Eti, sang tutor. Wajar, mengingat dunia bermain adalah kesukaan anak-anak. Sehingga disiasati dengan membebaskan anak untuk

berkarya sambil bermain. Walaupun pengerjaan sebuah barang menjadi lebih lambat. Untuk menghilangkan rasa bosan, anak pun diajak untuk mengerjakan hal lain seperti, kegiatan bercocok tanam, pelatihan manajemen keuangan hingga belajar pemasaran. Kiptiyah melanjutkan, walaupun kegiatan yang dilangsungkan tiga kali dalam seminggu ini hanya sekadar pengisi waktu luang bagi anak-anak bukan berarti tidak diseriusi. Buktinya, ada pemberian pengharagaan bagi anak yang kreatif dan produktif. Begitupun sebaliknya bagi anak-anak yang tidak menghasilkan apa-apa. “Bagaimana memberikan punishment (hukuman, Red) kepada anakanak yang belum bisa dalam hal kreasi sampah atau dalam pengelolaan lingkungan,” terang Kiptiyah. Anjani, Siswi SDN 2 Minomartani mengaku senang dapat belajar dan berkreatifitas mengolah sampah. Bahkan ilmu tersebut pun

Sampah organik dan anorganik dipilah dan ditempatkan di tong sampah sesuai dengan jenisnya.

WAHYU/TOEGOE

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 39 toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 39 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

BERAGAM

HASIL KREASI-

hasil karya tersebut dipajang dan dijual di koperasi “Anggrek Mekar” Minomartani.

dia pergunakan untuk mengkreasi berbagai macam sampah plastik dan menjadi kebanggaannya di sekolah. “Saya bisa membuat baju boneka dari plastic dan bisa menanam kangkung,” ujar siswi kelas IV ini polos. Mengajak sebanyak mungkin manusia untuk terlibat dalam mengelola lingkungan tanpa memandang usia tentu harus tetap dikedepankan. Anak-anak di Minomartani telah membuktikan bahwa mereka juga berkontribusi positif asalkan diberi ruang. Lebih dari itu, jangan sampai juga anak dieksploitasi energinya untuk kepentingan ekonomi semata. Kini pertanyaannya, bila anak-anak saja bisa, kita?
40 toegoe
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

WAHYU/TOEGOE

FOTO-FOTO: WAHYU PUTRO A NARASI: UMBU WULANG TAP & WAHYU PUTRO A
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 41 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

42 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 43 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

44 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

TOEGOE KHUSUS

MATUR NUWUN NGAYOGYAKARTA
PASAR SENI GABUSAN, BANTUL BULAN APRIL SILAM ADALAH SESUATU YANG TIDAK BIASA. KALAU PNLH-PNLH SEBELUMNYA MASIH CENDERUNG EKSKLUSIF, KALI INI TIDAK. PELIBATAN MASYARAKAT DARI BERBAGAI ELEMEN. SEPERTI MAHASISWA DAN PENDUDUK DUSUN MENJADI WARNANYA. SELAIN ADA YANG TERGABUNG SEBAGAI PANITIA, ADA JUGA YANG TERLIBAT DALAM BERBAGAI AJANG DISKUSI SEBAGAI PESERTA.
DI

PNLH X

MEMBUMIKAN SEMANGAT KEPEDULIAN AKAN LINGKUNGAN DAN KEMANUSIAAN MENJADI DASAR PIKIRNYA. TAK BERTEPUK SEBELAH TANGAN, ASA ITU MEMANG TERKABUL DALAM KENYATAANNYA BUKAN BERARTI TANPA “CELA”-. APRESIASI DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG –NEGATIF MAUPUN SEBALIKNYA- MEMBUKTIKAN BAHWA AJANG KALI INI BUKANLAH POTRET KATAK DALAM TEMPURUNG. LEBIH DARI ITU, PUBLIK YOGYAKARTA, KHUSUSNYA MASYARAKAT SEKITAR DUSUN GABUSAN, TEMBI, GATAK, DAGAN, BALONG DI BANTUL TELAH MEMBERI TELADAN BAGAIMANA SEHARUSNYA
MENJAMU TAMU DARI BERBAGAI LATAR BELAKANG IDENTITAS ORGANISASI MAUPUN KEDAERAHAN BERANEKARAGAM.

-25 PROPINSI- YANG PNLH
SLOGAN HAMPA BELAKA.

AKHIRNYA,

MELIHAT KELANCARAN

TERSEBUT MAKA KITA PATUT BERBANGGA HATI, KARENA

“YOGYAKARTA BERHATI NYAMAN” BUKANLAH TERIMAKASIH YOGYAKARTA
TIM LIPUTAN TOEGEO KHUSUS:

UMBU WULANG TAP | KAHAR MUHAMMAD MAULANA | DHITA S LINGGA SARI | SUGIANTO | RIA ANNISA | SUPRIANUS PURBA | ARDIN | INDRA WIBOWO | BEKTI SURYANI | MUHAMMAD JAFAR T | JUMIAT | JOSEPHINE N R.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 45 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS

Bersama membangun Indonesia yang bermartabat

PNLH X,

“BUMI UNTUK KEHIDUPAN YANG BERMARTABAT”
P E R S O A L A N di atas merupakan agenda besar Walhi yang akan dibahas dalam Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) X kali ini. Ada tiga hal yang termaktub dalam event ini . Pertama, agenda organisasi sebagai agenda internal tiga tahunan. Kedua, momentum kerusakan lingkungan yakni perubahan lingkungan, peningkatan ekonomi yang menafikan kondisi ekologi lingkungan.
Ketiga, khususnya Yogyakarta yakni ingin membangkitkan kembali masyarakat Bantul pasca gempa bumi yang melanda Yogyakarta, Mei 2006 silam. “Selain agenda internal, agenda PNLH juga mengemas agenda yang bersifat sosial, ekonomi, dan politik yang bermanfaat baik, masyarakat lokal maupun global,” ujar Sekretaris Steering Comitee (SC) Ivan Valentina Ageung.

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM
YANG BERLANGSUNG TERUSMENERUS DAN TIDAK TERKONTROL TELAH MEMBAWA INDONESIA DALAM BINGKAI ANCAMAN BENCANA EKOLOGI YANG SANGAT SERIUS.

46 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

DOK:

WALHI JOGJA

Berkenaan dengan krisis lingkungan dewasa ini, Ivan, demikian panggilan akrabnya memaparkan bahwa, tingkat kerusakannya sangat parah dan memprihatinkan. Semakin hari, tingkat kerusakan lingkungan sangat memprihatinkan. Sehingga, hal ini menimbulkan kerugian bagi masyarakat sendiri. “Kerusakan lingkungan sangat parah, lingkungan sudah tidak dapat melayani masyarakat. Selain kerusakan internal (lingkungan-RED) sendiri, kerusakan lingkungan juga disebabkan oleh perilaku manusia,” paparnya. Perubahan iklim yang melanda seluruh dunia beberapa tahuntahun terakhir ini, dengan tingkat emisi gas yang semakin meningkat. Maka diperlukan sikap serius baik, dari kalangan masyarakat sendiri maupun pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, momentum ini juga dijadikan sebagai agenda utama Walhi dalam mengkampanyekan penurunan efek gas rumah kaca.

“Kita sedang menjalankan mandat untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Artinya kita sedang merespon isu perubahan iklim, dimana momen PNLH itu, mulai dari kegiatan sampai pelaksanaannya nanti, seminimal mungkin mereduksi (mengurangi-RED) emisi dengan tidak mengeluarkan energi yang cukup banyak untuk memengaruhi lapisan ozon, ”jelasnya. Selain itu, lanjut Ivan, momen ini bertujuan merespon isu lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang tidak peka lingkungan. Masih sekaitan dengan emisi gas rumah kaca, Ivan mengatakan pemerintah belum menunjukkan sikap ramah terhadap isu lingkungan. Lahirnya kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 2 Th. 2008, merupakan indikasinya. Karena menurut Ivan, kebijakan tersebut mengabaikan lingkungan. Lebih jauh ia menuturkan, regulasi pemerintah belum menunjuk-

kan keseriusan pengelolaan lingkungan yang baik “Kecuali slogan. Kalau slogan sudah benar seperti ‘jaga kesehatan karena ancaman perubahan iklim’ Akan tetapi baru slogan. Saya belum melihat turunannya melalui policy (kebijakanRED),” tegasnya. Secara terpisah, Direktur Walhi Yogyakarta, Suparlan, mengatakan dalam PNLH X ini, tak hanya melibatkan “orang dalam” Walhi. Akan tetapi, menjadi ruang publik dan agendanya pun ditujukan terhadap publik. “Isu-isu lingkungan harus membumi bersama rakyat. Tidak hanya milik Walhi sendiri, akan tetapi masyarakat juga. Artinya lokasinya berada pada wilayah publik, agenda-agendanya juga untuk publik. Jadi, semuanya untuk public,” ujarnya Lebih jauh Parlan menjabarkan, aktivitas perusakan dan eksploitasi lingkungan harus dihentikan. Melalui momen ini, beliau berharap bahwa isu-isu lingkungan tidak hanya dipopulerkan Walhi. Melainkan isu publik.

Guna menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pada anak usia dini

DOK:

WALHI JOGJA

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 47 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS
PNLH X ini, berbeda dengan PNLH yang diselenggarakan sebelumnya. Karena kegiatan kali ini, disamping menghadirkan seluruh anggota WALHI yang berjumlah 547 anggota dari 25 propinsi, juga melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan melibatkan sejumlah dusun di Kabupaten Bantul yakni dusun Gatak, Tembi, Dagan, Balong dan Gabusan sendiri. Menurut Koordinator Divisi Akomodasi, Herry Widodo, konsep PNLH X ini langsung menyentuh masyarakat. Lewat penyadaran lingkungan, seperti pengelolaan sampah dan pengurangan tenaga mesin yang dapat memicu peningkatan gas rumah kaca. Herry pun berharap, melalui pertemuan tiga tahunan ini, isu-isu mengenai lingkungan tidak hanya dikonsumsi oleh para elit politik dan intelektual. Melainkan menjadi isu bersama masyarakat. Sehingga, diharapkan kondisi lingkungan akan terjaga kelestariannya. General Manager Pasar Seni Gabusan, Tribowo S. Nuswa menanggapi positif kegiatan ini. Menurutnya, diskusi-diskusi atau penyuluhan lingkungan dapat membuat masyarakat lebih jeli lagi memanfaatkan bahan-bahan yang terbuat dari alam yang tak merusak lingkungan. “Paling tidak secara khusus dapat dipahami oleh peng-rajin untuk menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam,” ungkapnya. Layaknya manusia yang bermartabat, tempat hunian manusia ini juga harus disikapi dengan serius. Melalui kegiatan yang diselenggarakan tiap tiga tahun sekali ini, Walhi kedepan diharapkan menjadi pelopor gerakan lingkungan dalam upaya penyelamatan bumi. Meminjam ungkapan Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta bahwa lingkungan seharusnya menjadi isu kita bersama, bukan isu kelompok tertentu. Gerakan sadar lingkungan hendaknya juga diperkuat dan didukung oleh kalangan akar rumput. Seti48 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

daknya dimulai dari pertemuan para pejuang lingkungan ini.

PASAR RAKYAT LINGKUNGAN

DAN

PAMERAN PRO

Di tengah gencarnya arus globalisasi yang menggilas, eksistensi kearifan lokal dipertaruhkan. Walhi mengadakan pasar rakyat pro lingkungan dan pameran lingkungan sejak 15 hingga 22 April 2008 sebagai salahsatu bagian dari PNLH X ini. Ajang ini guna memperkenalkan kepada masyarakat akan pentingya kearifan lokal sebagai modal sosial bangsa. Menurut Chabibullah, Ketua Organizing Comitee PNLH X, kearifan lokal yang masih dipertahankan oleh masyarakat di daerah dampingan WALHI harus dipublikasikan kepada publik. “Konsepnya nanti kita akan buat stan. Ada yang dalam bentuk pameran display (menyediakan-RED) produk dan proses mengenai pangan lokal, obat-obat lokal atau energi alternatif,” ujar Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Secara terpisah Koordinator Pasar Rakyat dan Pameran Pro Lingkungan Woro Wahyuningtyas, memaparkan secara mendasar subtansi kegiatan ini akan memberikan informasi melalui pameran pendidikan energi, pangan, kesehatan alternatif dan mengakomodir muatan-muatan lokal atau kearifan yang selama ini diterapkan oleh sekolah-sekolah. “Kalau untuk
Ajang pemilihan Direktur Eksekutif Walhi Indonesia

market (pasar-RED), sebenarnya semua hal dapat dijual disini. Tapi dengan catatan harus ramah lingkungan, terutama obat alternatif, pangan alternatif, buku-buku tentang lingkungan. Pokoknya semua hal yang ramah lingkungan,” jelasnya. Melalui kegiatan ini, Habib berharap agar pemerintah juga melakukan kegiatan serupa. Hal ini guna mendorong dan menumbuh kembangkan lagi kearifan local. Terutama pangan, obat-obatan dan energi alternatif. “Ada panganpangan lokal yang jauh lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. Akan tetapi, sudah mulai terkikis perlahan-lahan oleh kehadiran pangan-pangan impor, baik dari segi bibit maupun hasil-nya,” tandas pria yang aktif dalam Serikat Tani Merdeka ini. Kegairahan pasar dunia dewasa ini, kalau tidak diikuti dengan peningkatan potensi kearifan lokal yang menjadi sumber daya utama negeri ini. Maka bersiap-siaplah bangsa ini menjadi bangsa yang kehilangan identitasnya. Betapa peliknya permasalahan kearifan lokal yang tergilas oleh modernisasi beberapa tahun terakhir ini. Sehingga, harus mendapat prioritas utama oleh masyarakat terutama pemerintah sebagai pemangku kebijakan dalam mengarahkan potensi lokal agar dapat bersaing dengan produk-produk impor.

::

DOK:

WALHI JOGJA

DOK:

WALHI JOGJA

NELAYAN KERAP DIPECUNDANGI PEMERINTAH
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN NEGARA SELAMA INI TIDAK
BERPIHAK KEPADA NELAYAN DAN RAKYAT MISKIN.

NELAYAN-Mencari solusi guna pemanfaatan alam yang bermartabat

K EBIJAKAN pemerintah seperti, pukat harimau dan
pembatasan daerah penangkapan ikan di sekitar pesisir menjadi momok menakutkan bagi para nelayan. Contoh tersebut hanya satu dari sekian banyak kebijakan pemerintah yang merugikan nelayan. Apalagi nelayan selama ini masih belum menyatukan aksi untuk menolak kebijakan pe-merintah. Kenyataan tersebut menjadi topik utama yang dibahas dalam Konferensi Nelayan Indonesia pada PNLH X kali ini. Arbani N, Ketua Organisasi INSAN (Ikatan Nelayan Seijan Kota Baru) Kalimantan Selatan mengatakan kebijakan pemerintah tersebut berdampak buruk bagi para nelayan yang beroperasi dengan meggunakan alat-alat sederhana. Berangkat dari persoalan tersebut, Rudy R. Haniko dari Sinar Organisasi Nelayan menjelaskan Konferensi Nelayan Indonesia pada PNLH X kali ini adalah kesempatan mempertemukan masyarakat nelayan dan bersama-sama memperjuangkan hak mereka.

”Saya akan membawa semua apa yag terjadi di Sulawesi Utara. Di mana pemerintah telah menetapkan suatu kawasan zona inti, yaitu program pemerintah yang membatasi ruang lingkup nelayan,” ujar Rudy. Berikutnya Rudy menyatakan Sinar Organisasi Nelayan bahwa mereka tidak akan percaya lagi kepada pemimpin bangsa ini. Kalau model kepemimpinannya tidak berpihak kepada rakyat. Kusnadi, Kepala Pusat Penelitian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menilai kondisi masyarakat sekarang ini sangat jauh dari maksimal. Terlihat dari segi ekonomi masyarakat masih miskin, secara sosial SDM masyarakat rendah dan dari segi politik masyarakat tidak diperhitungkan. Namun masyarakat harus tetap optimis terhadap program-program pemerintah untuk mendorong berbagai perubahan–perubahan di bidang ekonomi. Termasuk mengatasi masyarakat miskin melalui beberapa kebijakan. “Ada komitmen kolektif untuk menyepakati bahwa perubahan sosial dapat diwujudkan dengan terjun langsung ke lapangan,” kata Kusnadi. Lalu bagaimana harapan anggota Walhi? Beni Kasman, anggota WALHI dari NTT berharap ajang ini mampu membangun ruang opini publik sebagai wahana memperoleh legitimasi dalam memperjuangkan hak-hak nelayan.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 49 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS
dianggap oleh berbagai kalangan sebagai pemanis bibir belaka. Lantaran kondisi tersebut, PNLH tahun ini menyelenggarakan workshop dengan tema Corporate Social Responsibility-CSR- pada kamis, 17 april. Diskusi cenderung ramai karena dihadiri sekitar 30 Peserta dan diselingi oleh sejumlah cerita nyata seputar pengalaman para peserta di daerah. Menurut Siti Maimunah dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), CSR memang lahir dari otak kaum pebisnis. CSR dihadirkan oleh perusahan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap lingkungan hidup dan sosial. “Dari artinya, CSR saja sudah kelihatan, perusahaan bertanggungjawab kepada sosial,” jelas perempuan yang sering disapa May ini. Hanya saja, pada kenyataannya CSR masih dianggap hal sepele dan dijalankan dengan setengah hati. Seringkali, CSR dijalankan dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian masyarakat semata. “Begitu kita cek di lapangan, asli itu nggak ada,” jelas Siti yang juga satu-satunya pemateri dalam workshop ini. Sejatinya, menurut Siti CSR tak menjawab per-soalan masyarakat. Praktek-praktek kerusakan lingkungan tak berhasil diperbaiki oleh perusahaan. Misalnya, NEWMONT membuang limbah ke laut 120.000 ribu ton per hari ke Teluk Senunu. Akibatnya, penghasilan nelayan menurun. “Yang dia lakukan bukan meningkatkan penghasilan nelayan tetapi malah membangun Sekolah, memberikan beasiswa pendidikan yang tidak ada hubungannya dengan penurunan penghasilan nelayan yang disebabkan limbah perusahan tersebut,” tegas Siti. Kalau demikian adanya. Tentu hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Sebagai organisasi lingkungan, masyarakat yang selama ini menjadi korban tentu menjadi aktor penting di dalamnya. Sanggupkah ajang cari muka para konglomerat itu dihentikan?

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY,

SEKADAR AJANG CARI MUKA
KENYATAAN DI INDONESIA BAHWA PERUSAHAAN SWASTA ADALAH
SALAHSATU PIHAK PENYETOR KERUSAKAN LINGKUNGAN.

PRAKTEK penambangan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, telah membuat kondisi lingkungan menjadi compangcamping. Sejatinya, perusahan
Selain berdiskusi juga berkarya

tambang harus bertanggungjawab atas realitas ini. Namun perusahan masih menganggap enteng persoalan ini. Program-program sosial dan lingkungan yang diadakan

50 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

DOK:

WALHI JOGJA

AKIBAT PP NO 2 TAHUN 2008,

POTENSI MENUAI BENCANA TERBUKA LEBAR
PP NO 2 TAHUN 2008 MENGENAI
MEMBAHAYAKAN LINGKUNGAN. JENIS DAN TARIF ATAS

PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERASAL DARI

PENGGUNAAN PENGAWASAN HUTAN DEMI KEPENTINGAN PEMBANGUNAN DILUAR KEGIATAN PERHUTANAN, TIDAK LOGIS DAN

HAL tersebut diutarakan oleh Sofian Warsito dalam
diskusi tentang PP No 2 Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Sahabat Lingkungan-Wahana Lingkungan hidup(Salink-Walhi) pada tanggal 8 Maret 2008 silam. Akademisi dari Fakultas Kehutanan UGM ini mencontohkan rangkaian kalimat “sumber daya hutan Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai penyangga kehidupan manusia melalui berbagai fungsinya. Hilangnya fungsi hutan mengakibatkan bencana seperti banjir, kekeringan, cadangan pangan, cadangan obatan dll, oleh karena itu sumber daya hutan merupakan objek sekaligus sumbangan subjek pembangunan yang sangat strategis” dalam PP tersebut, ide pokoknya berseberangan. “Kalimat-kalimat tersebut tidak nyambung, yang pertama mengatakan kerusakan lingkungan dan yang kedua sumber daya hutan merupakan subjek dan objek pembangunan. Draft ini tolol,” jelas dosen ekonomi dan sumber daya hutan ini. Dalam pembahasan selanjutnya, Sofian mengatakan terdapat beberapa paradigma yang salah dalam PP tersebut oleh pemerintah. Pertama, seolaholah jika tidak ada penyewaan maka tidak ada kontribusi pada negara. Kedua, seolah-olah jika penambang tidak dipunguti biaya sewa, maka penyewa lain tidak memberikan kontribusi pada negara. Ketiga, tidak bisa membedakan antara

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan Pendapatan Pajak Negara (PPN). “Padahal yang menjadi kontribusi pada negara adalah PPN bukan PNBP, Keempat, seolah-olah memberikan suatu barang yang tidak akan rusak jika dipakai, artinya dalam kegiatan pertambangan kompensasi yang diberikan harus sesuai dengan kerusakan hutan dan lingkungan, bukan kompensasi penyewaan hutan,” tegasnya Dalam kesempatan yang sama, Direktur WALHI Yogyakarta Suparlan menilai pemerintah tidak mampu mengelola Sumber Daya Alam (SDA) karena mereka memahami dan memposisikan SDA sebagai komoditi. Selain itu, pemerintah melakukan eksploitasi secara halus melalui kebijakan yang dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi lahan, air, hutan dan SDA lainnya. Berikutnya, pemahaman pengelolaan SDA belum dimiliki negara sehingga perspektif sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan belum dijadikan parameter dalam pengambilan keputusan. “Ini merupakan bukti konkret bahwa negara tidak mampu untuk mengemban amanat rakyat,” papar Parlan Lain halnya dengan pandangan Sudarsono, Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Jawa. Ia mengatakan penggunaan hutan lindung sebagai daerah pertambangan dan masuknya jaringan listrik, telekomunikasi dan jalan tol bukan atas inisiatif dari Dinas Kehutanan selaku pemerintah terkait.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 51 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS
Selanjutnya ia mengatakan, keberadaan kegiatan dalam hutan lindung telah ada terlebih dahulu sebelum PP ini dibuat, hal ini yang menjadi latar belakang lahirnya PP itu. “Dengan tujuan pemerintah menetapkan biaya kompensasi dari penggunaan dan pemanfaatan hutan lindung oleh mereka (pengusaha, Red),” jelas Sudarsono. Lalu bagaimana dengan perspektif hukum terkait PP No 2 tahun 2008? Direktur LBH Yogyakarta, M Irsyad Thamrin mengatakan bahwa dalam PP ini terdapat banyak kontradiksio interminis (pertentangan, red). ”Banyak pertentangan-pertentangan, yang disatu sisi ada premis dalam PP ini yang mengatakan bahwa hutan sebagai pelindung, tapi disisi lain hutan dilegalkan untuk dieksploitasi,” tutur Irsyad. Irsyad menjelaskan secara politis PP tersebut menggambarkan konstruksi sistem hukum yang sangat teknokrat terlihat dari pembuatan peraturan yang tidak menggunakan perspektif lingkungan. “Sehingga benturan-benturan dalam peraturan yang dibuatnya sendiri (pemerintah, red) terjadi, misalnya tidak relevannya PP ini dengan UU Pokok Agraria yang mengatur Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Agraria di Indonesia,” ungkapnya. Selain itu, Irsyad menyayangkan paradigma perjanjian sewa-menyewa yang dilakukan pemerintah karena hanya menetapkan dan mempertimbangkan berapa keuntungan yang diperoleh dari perjanjian tersebut. Menurutnya, klausula – ketentuan diluar
Upaya penyelamatan lingkungan harus bersama-sama

perjanjian – yang menjamin bahwa kondisi objek – hutan – harus dikembalikan seperti semula seharusnya termuat dalam PP tersebut. Kenyataan ini menurut Irsyad, adalah bukti bahwa paradigma pembangunan yang diterapkan rezim Orde Baru (ORBA) ternyata masih melekat di tubuh pemerintah. Bahkan kurikulum yang ada di Perguruan Tinggi khususnya Fakultas Hukum hingga kini masih menggunakan paradigma teknokrat. Jadinya, semangat reformasi belum bisa menghapus sekian banyak sifat pemerintahan Orde Baru yang tidak berkiblat pada masyarakat. Salah satunya sifat-sifat eksploitatif. Oleh karena sisi negatif dari peraturan tersebut, Irsyad mengajak para peserta diskusi untuk menggugat PP tersebut dengan melibatkan partisipasi masyarakat. “Apabila kita mengabaikan partisipasi masyarakat maka peraturan ini oleh pemerintah akan dilegitimasi yang selanjutnya diamalkan,” tegasnya. Kita sepenuhnya sadar bahwa lestari atau punahnya hutan adalah tanggungjawab bersama. Dalam konteks kehidupan bernegara, peran pemerintah dan rakyat sama krusialnya. Apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan yang membahayakan lingkungan ditimpali dengan sikap masyarakat yang tak progresif atau acuh tak acuh, maka permainya rimba raya di negeri ini bakal tergantikan oleh pendatang baru berwajah lama bernama bencana. Pertanyaannya, sudi-

52 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | 52 toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

DOK:

WALHI JOGJA

WALHI AKAN MEMBANGUN KEKUATAN POLITIK ALTERNATIF
DEMIKIAN persoalan yang mengemuka dalam seminar
Nasional “Neoliberalisme dan Krisis Kepemimpinan Nasional” pada Kamis 17 April kemarin. Kebijakan yang pro Bank Dunia dan IMF telah mengakibatkan eksploitasi besara-besaran terhadap lingkungan hidup. Akibat kolaborasi pemerintah dan pemilik modal dalam mengeksploitasi sumber daya alam, 2,8 juta hektar hutan hilang setiap tahunnya. Seminar yang diikuti peserta dari 25 provinsi tersebut menghadirkan Rizal Ramli, mantan Menteri Perekonomian Indonesia (Agustus 2000-Juni 2001, Red), Chalid Muhmad, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Emi Hafidz, Mantan Direktur WALHI dan Mantan Direktur Green Peace Asia Tenggara, serta Edy Suandi Hamid Rektor Universitas Islam Indonesia. Seperti dikatakan Rizal Ramli, kepemimpinan nasional baik dulu maupun sekarang tidak memiliki visi yang jelas terhadap lingkungan hidup, sehingga banyak kebijakan yang justru merusak lingkungan. Misalnya konferensi Climate Change di Bali beberapa waktu lalu yang tidak menghasilkan apa-apa. “Masih sama dong dari sejak jaman Soeharto, kebijakan ekonominya masih sama, Neoliberal. Kan itu ada operatornya mafia Berkeley, partai politik bisa ganti, ABRI bisa ganti, tapi kan partainya Neoliberal
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 53 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

KEPEMIMPINAN NEOLIBERALISME YANG BERLANGSUNG
DARI REZIM KE REZIM PEMERINTAHAN INDONESIA TELAH

MENYEBABKAN KEHANCURAN EKOLOGIS DAN

MEMBAWA MASYARAKAT INDONESIA KE DALAM JERAT

KEMISKINAN. GERAKAN POLITIK ALTERNATIF SEBAGAI

GERAKAN LINGKUNGAN DIPERLUKAN, UNTUK KELUAR

DARI CENGKRAMAN NEOLIBERALISME.

TOEGOE KHUSUS
tidak pernah berhenti, orang-orang yang disebut sebagai mafia berkeley dan mereka tetap berkuasa sejak jamanya Soeharto sampai sekarang,“ ujar Rizal Ramli. Ada dua model kepemimpinan nasional menurut Rizal yang merupakan gambaran dari kebijakan pemerintah, yakni kepemimpinan transaksional atau tawar menawar dan kepemimpinan transformatif. Sayangnya yang terjadi di Indonesia adalah model kepemimpinan tawar menawar. Itulah sebabnya regulasi yang dikeluarkan pemerintah pun bisa digadaikan atau di tukar dengan utang luar negeri. Edi Suandi Hamid juga menyebutkan bahwa bangsa Indonesia banyak bergelut dengan mitos. “Indonesia dikatakan sebagai bangsa pelaut, tapi setiap tahun lima Milyar Dollar sumber laut kita mengalir ke negara lain,” tutur Edi. Chalid Muhamad mengatakan, potret kemiskinan dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia adalah bentuk kapitalisasi dan kegagalan Neoliberalisme. Indonesia saat ini telah memasuki fase oligarkhi kekuasaan yang sempurna. Karena krisis lingkungan dan ekonomi politik yang terjadi saat ini adalah buah dari keputusan politik yang diproduksi oleh pemerintah. Krisis ini di katakan Chalid, selalu dilanjutkan dari rezim ke rezim dengan tunduk pada Bank Dunia dan IMF. Sehingga apabila terjadi krisis ekonomi politik yang menjadi pmenang adalah World Bank dan IMF. Sementara posisi WALHI saat ini menurutnya sudah menggalang kekuatan kolektif rakyat, dan mendidik rakyat untuk keluar dari cengkraman Neoliberalisme. Inovasi tersebut misalnya dilakukan melalui Green Student Movement, pendikan-pendikan kader rakyat, pengorganisasian rakyat, melakukan tekanan politk kepada pemerintah, mendorong perubahan kebijakan, menggalang bangkitnya WALHI Institute. Namun berbagai kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan, yang belum mampu dijegal WALHI disebabkan lemahnya kekuatan tekanan politik dari rakyat Indonesia. WALHI saat ini dikatakan Chalid telah mengusung gerakan politik alternatif untuk keluar dari kemelut krisis multidimensi ini. Gerakan politik yang dimaksud adalah membangun kekuatan rakyat yang sadar, kritis, terorganisir, mau berjuang, dan mau melakukan gerakan-gerakan untuk membebaskan bangsa dari jeratan Neokolonialisme. Namun terkait isu perubahan WALHI menjadi Partai Politik ditepis oleh Chalid. “WALHI tidak akan menjadi partai politik,” tegas Chalid. Kritik terhadap WALHI juga mengemuka dalam seminar yang bertempat di ruang Sidang Pleno tersebut. WALHI sejauh ini dinilai belum mampu menumbuhkan kesadaran kritis individu di masyarakat, namun Chalid juga menepis argumen tersebut. “WALHI sudah mendorong lahirnya gerakan rakyat, di banyak tempat, banyak sejarah, banyak fakta membuktikan, WALHI sudah melakukan itu, tetapi kerusakan yang terjadi saat sekarang, itu WALHI belum berhasil mensinergikan potensi-potensi kekuatan yang ada, makanya WALHI penting untuk mensinergikan kekuatan itu,” tegas Chalid.

Walhi mengagas arah baru perjuangan kedepan

54 toegoe 54 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

:: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN ::

DOK:

WALHI JOGJA

DOK:

WALHI JOGJA

Orang muda harus terus berkarya bagi bangsa

YANG MUDA (DIPERCAYA) MEMIMPIN
PERANAN PEMUDA DI BIDANG SOSIAL POLITIK PASCA REFORMASI LEBIH PROGRESIF.
NAMUN, masih dibayangi pola pikir lama. Oleh karena
itu, perlu upaya politik kaum muda untuk mengatasinya. Pemimpin muda masih sulit keluar dari tipikal hegemoni kekuasaan masa lalu yang masih berorientasi pada paradigma statuis quo. Ini tak lepas dari kenyataan bahwa di Negara ini, kaum tua masih mendominasi berbagai tampuk kekuasaan. Soal ini menjadi salahsatu poin penting yang dibahas dalam acara bertajuk “Temu Kaum Muda untuk Kepemimpinan Nasional”. Menurut Muhammad Juhaini, selaku akademisi dari perguruan tinggi swasta asal Nusa Tenggara Barat yang hadir menjadi peserta PNLH X, kaum muda dewasa ini, lebih progresif. Jika, dibandingkan dengan era sebelumnya. Kaum muda telah berani menciptakan peluang baru untuk duduk di ranah pemerintahan baik nasional maupun daerah melalui karier politik di ormas (organisasi massa) dan partai politik. Di tingkat nasional, lanjut Juhaini, belum ada perubahan yang signifikan. Kepemimpinan di pemerintahan nasional semisal di kabinet masih didominasi kaum tua. Pola pikir lama (status quo -red) masih mengungkung beberapa kalangan muda. Oleh karena itu, para kaum muda harus mengatasi persoalan tersebut. “Melalui terobosan politik, kaum muda dengan pola pikir baru ini akan memberikan peluang yang lebih besar, bagi pemuda itu sendiri,” Ujarnya lebih jauh. Di level daerah, kepemimpinan sudah sebagian besar di dominasi kaum muda. Ia mencontohkan apa yang terjadi di daerah di mana ia tinggal, Nusa Tenggara Barat. “Sekarang kaum muda bermunculan dalam kepemimpinan daerah. Dan mereka, memiliki peluang yang lebih besar dari kaum tua,” Tambahnya. Hal senada juga dilontarkan, Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta, Suparlan. Ia menilai kepemimpinan kaum muda dalam dunia perpolitikan sudah menunjukan keberhasilan. Akan tetapi di ranah lingkungan hidup belum begitu tampak. Oleh sebab itu, WALHI melalui kegiatan PNLH ini, mengemas kegiatan untuk menggodok mental dan kemampuan pemuda. Di tempat terpisah, Tugiono, warga Balong, Bantul, Yogyakarta berharap, bangsa ini dipimpin kaum muda. “Karena, pemuda itu merupakan tulang punggung bangsa,” tuturnya. Bila menyimak pentas politik nasional belakangan ini, kaum muda sudah mulai menunjukkan tajinya. Apalagi jumlah kaum muda di Indonesia lebih dari 50%. Tak heran beragam parpol mulai melirik kaum mu-da sebagai ikon partai. Kini, pemuda-pemudi hanya perlu banyak berbenah untuk meningkatkan kemampuannya. Termasuk kemampuan untuk membangun negeri ini tanpa mengabaikan keberadaan lingkungan hidup.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 55 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS
Perempuan harus segera bangkit dari penindasan

HENTIKAN PENINDASAN TERHADAP PEREMPUAN
PEREMPUAN DITUDING MENJADI
SALAH SATU PENYEBAB KERUSAKAN LINGKUNGAN.

DOK:

WALHI JOGJA

SELAMET Daryoni membantah anggapan tersebut saat menjadi pembicara dalam Workshop Perempuan dan Lingkungan di Pendopo Tembi, (18/4). Menurutnya pernyataan tersebut seharusnya diarahkan pada negara. Memang benar 70 % sampah di perkotaan berasal dari aktivitas rumah tangga. ”Jika dirunut dari struktur kekuasaan, struktur negara yang tidak melibatkan perempuan dan penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan alias tidak bisa didaur ulang memberikan andil yang sangat besar,” tegas mantan Direktur Eksekutif Walhi Jakarta ini. Menurutnya telah terjadi eksploitasi terhadap perempuan yang kemudian berdampak pada pengelolan lingkungan. Padahal perempuan punya potensi yang luar biasa dalam pembangunan lingkungan dan sosial di Indonesia. Hal tersebut diakui Selamet. Dia mengatakan Slamet Walhi selalu berelasi dengan gerakan perempuan. Oleh karena itu perempuan harus diberi kesempatan. Pertama adalah di tingkat makro yaitu pemberian akses informasi, pendidikan dan politik seluas-luasnya bagi kaum perempuan. Kedua, pada tingkat keluarga. Perlu penyadaran terhadap perem-puan untuk membangun keluarga yang pro lingkungan hidup. Ketiga, generasi penerus yang kritis dan sadar

TERUTAMA DI

WILAYAH

PERKOTAAN. BENARKAH?

lingkungan berawal dari peran perempuan sebagai guru bagi anak dengan melibatkan suami. Sementara Farah Sofa, lebih menekankan peran perempuan dalam merespon kerusakan lingkungan dengan perspektif subsistensi. “Tujuan kegiatan ekonomi oleh perempuan bukan untuk menghasilkan timbunan komoditas dan uang,” tambahnya. Kegiatan ekonomi ini diletakkan dalam relasi baru terhadap alam, yaitu penghormatan akan fungsi, kebutuhan dan keanekaragaman untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kedua terhadap manusia. Relasi gender, jaringan dan hubungan menyeluruh antarmanusia bukan didasari kepada pasar, paradigma kapitalistik-patriarkal, ketidakseimbangan, pemiskinan, dan alienasi. Melainkan pada partisipasi akar rumput serta membutuhkan pendekatan yang multidimensional dan strategis. Berikutnya, tidak hanya mengandalkan teknologi. Menghapus stigma buruk terhadap perempuan harus segera dientaskan. bukan perkara mudah, memang. Perkara gampangnya yakni berkata, “Perempuan harus bangkit! Hentikan penindasan terhadap perempuan” dan tak berbuat apa-apa. Silakan pilih kedua perkara tersebut.

56 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

AKTIFIS LINGKUNGAN DAN PETANI, PERLU KOMITMEN BERSAMA
PEMBELAAN TERHADAP PETANI HARUS DILAKUKAN DENGAN MEMBANGUN SOLIDARITAS DAN HUBUNGAN YANG
SINERGIS SESAMA AKTIFIS LINGKUNGAN. DI TENGAH POLEMIK PETANI, YANG TAK KUNJUNG USAI.

DEMIKIAN inti pembicaraan dalam diskusi yang dipandu oleh KONTRAS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dalam menyemarakkan rangkaian kegiatan PNLH X di Pendopo Gabusan, Bantul, Yogyakarta (18/4). Menurut peserta, berbagai persoalan yang merundung aktifis lingkungan, dalam melakukan pembelaan terhadap petani. Antara lain karena, krisis kepercayaan masyarakat terhadap aktifis, merebaknya mafia peradilan, kebijakan pemerintah yang mengabaikan petani. Serta, munculnya pertentangan di kalangan aktifis sendiri turut memicu akar persoalan. Untuk itu, sebagai langkah awal adalah komitmen untuk menginventarisir jaringan seluruh aktifis. Serta melakukan sharing informasi, saling mendukung dan mendulang solidaritas. Disamping itu, kedepan, perlu diadakan workshop yang berisikan tentang manajemen konflik. Terutama, untuk meminimalisir kesalahan implementasi pembelaan oleh para aktifis. Serta, mempertegas kedudukan dan peran Walhi. Selain itu, negosiator
Petani dan aktifis Perlu kearifan dalam menjalin relasi

yang kompeten, dianggap sebagai kebutuhan yang juga harus diperhatikan. Karena, dalam beberapa kasus atas pelanggaran hak asasi manusia, khususnya petani miskin. Kemenangan selalu dikantongi oleh pemerintah dan pihak investor. “Tidak adanya posisi tawar masyarakat di mata pemerintah, membuat kami selalu mental dan tak berdaya,” Ujar Adi, peserta diskusi yang berasal dari Bengkulu. Petani sejauh ini masih memiliki keterbatasan akses terhadap upaya-upaya memperkuat posisi tawar. Atas kondisi tersebut, peran serta para aktifis dalam mendampingi petani terbilang vital. Kedepannya, petani dan aktifis diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih solid agar para petani tidak selalu menjadi korban dari berbagai kebijakan pembangunan pemerintah maupun praktek-praktek curang kalangan swasta. Lebih dari itu, petani harus mampu meningkatkan kemampuan kritisnya dalam menyikapi berbagai masalah pertanian di Indonesia.

DOK:

WALHI JOGJA

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 57 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS

CHALID MUHAMMAD, MANTAN DIREKTUR EKSEKUTIF NASIONAL WALHI

“WALHI SEDANG MENUJU KEPADA KEMANDIRIAN EKONOMI”
TIGA TAHUN PASCA PNLH IX DI MATARAM, WALHI TERUS BERUSAHA MENCETAKKAN KARYANYA UNTUK KELESTARIAN LINGKUNGAN SEKALIGUS KEADILAN SOSIAL. BAGAIMANA PENGALAMAN-PENGALAMAN PARA PUNGGAWA ORGANISASI LINGKUNGAN TERBESAR DI INDONESIA INI DALAM MEMPERJUANGKAN KEADILAN EKOLOGIS DAN SOSIAL? LALU APA SAJA KENDALA YANG MEREKA DAPATI? SERTA BAGAIMANA HARAPANNYA AKAN KEBERLANGSUNGAN WALHI LEWAT PNLH X INI? BERIKUT PAPARAN CHALID MUHAMMAD, SANG DIREKTUR EKSEKUTIF NASIONAL WALHI KEPADA UMBU WULANG PADA HARI SENIN, 15 APRIL 2008 SILAM.
58 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

I QIN /TOEGOE

Bagaimana pengalaman anda selama 3 tahun memimpin Walhi? Tiga tahun ini, banyak inovasi baru yang dikembangkan walhi untuk membangun gerakan lingkungan hidup dan gerakan sosial yang lebih efektif, lebih bermakna dan lebih berdampak bagi kehidupan rakyat dan perbaikan kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Inovasi yang dikembangkan adalah menjadikan pertemuan-pertemuan Walhi menjadi pertemuan publik. Harapannya dengan melibatkan publik, maka gerakan ini akan terus membesar dan mengem-bangkan inisiatif-inisiatif pendidikan yang lebih menjangkau kalangan muda dan mengembangkan proses green student movement. Berikutnya mengembangkan Walhi institute. Diharapkan inisiatif itu dapat membangun kesadaran kritis dan masyarakat kritis. Dengan adanya masyarakat kritis, kita melihat akan ada kontrol yang kuat dari rakyat terhadap pembuat kebijakan politik. Sehingga kualitas keputusan-keputusan politik dan keputusan negara terjaga dan berpihak kepada hajat orang banyak dan kelestarian lingkungsn hidup. dengan masyarakat kritis, maka Walhi sedang menuju kepada kemandirian ekonomi. Karena kedepan sebaiknya walhi didanai oleh publik. Kalau publik, 1 juta orang yang artinya 0,05 % penduduk Indonesia menjadi donatur Walhi, dengan menyisihkan Rp 5000 per bulan maka setahun itu Walhi itu akan mendapat dana dari publik sebesar 60 milyar. Dengan dana sebesar itu, maka kemandirian organisasi akan terjaga. Mandat politik dari rakyat juga lebih terjaga dan Walhi bisa dikontrol langsung oleh publik tadi. Tiga tahun ini, Walhi juga dikembangkan sayap ekonomi dengan beberapa kekuatan di daerah yang cukup baik dan juga di tingkat nasional. Juga tiga tahun ini, Walhi telah menjalankan mandat untuk mengembangkan sayap politik organisasi. Di mana telah lahir sarikat hijau Indonesia dari sebuah konferensi rakyat Indonesia yang diselenggarakan pada tahun 2007 . inovasi dan strategi ini diharapkan dapat melahirkan gerakan lingkungan hidup dan kehidupan sosial yang lebih besar. Kendala-kendala dan tantangan apa saja yang dialami Walhi dalam 3 tahun tersebut? Tantangan-tantangan yang dihadapi cukup banyak.

Misalnya, masih cukup besar alokasi energi yang digunakan Walhi untuk merespon persoalan-persoalan internal dibanding merespon persoalanpersoalan eksternal yang seharusnya menjadi mandat organisasi. Yang lain adalah keputusankeputusan di PNLH ternyata itu tidak diikuti dengan cermat oleh seluruh komponen. Sehingga ketika mandat itu akan dilaksanakan tejadi tafsir yang berbeda antar komponen sehingga dibutuhkan waktu yang panjang untuk mendudukkan pemahaman atau mendudukkan persamaan persepsi terhadap mandatmandat itu. Bagaimana pandangan Walhi selam ini soal kebijakan pemerintah seputar lingkungan di Indonesia? Dalam tiga tahun ini, banyak sekali kebijakankebijakan pemerintah yang menjadi fokus advokasi Walhi. Kita memberikan tekanan-tekanan serius terhadap kebijakan pemerintah. Karena sampai dengan hari ini, Kita tidak melihat kebijakan pemerintah yang memihak dengan nyata kepada kepentingan rakyat dan lingkungan hidup. Kebijakan yang di keluarkan cenderung akan menghancurkan dan mendorong Indonesia pada perangkat neo liberalisme ekonomi global. Neo liberalisme ekonomi global yang sampai hari kami tahu penyebab dari krisis di Indonesia. Kita tahu, penyebab utama krisis di Indonesia ini karena kuatnya kekuatan modal dan kekuatan poltik global yang memaksa Indonesia untuk tunduk kepada agenda-agenda mereka. Dan sayangnya pemimpin kita lebih tunduk kepada tekanan tekan ekonomi global dari mandat yang telah diberkani oleh rakyat. Berangkat dari pengalaman dan evaluasi selama 3 tahun ini, harapan anda untuk PNLH X kali ini? Saya harapkan, dengan pertemuan ini kita dapat membuat keputusan-keputusan organisasi yang lebih berkualitas, yang dipatuhi oleh semua serta lebih realistik. Sehingga walhi dapat menemukan jalan baru menuju keadilan ekologis. Terakhir, apa pesan buat masyarakat yang saat ini bersama dengan kawan-kawan peserta PNLH? Saya kira sebaiknya publik, datang ramai-ramai untuk memberikan input kepada Walhi agar kualitas keputusan-keputusan organisasi menjadi lebih baik.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 59 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS

SEMASA MASIH BERAKTIVITAS DI WALHI KALIMANTAN SELATAN, BERRY DAN TIM ADVOKASINYA
TELAH BANYAK MEMBANTU MASYARAKAT YANG HAK-HAKNYA DALAM KEADAAN TERANCAM.

ADVOKASI MEMBELA PKL KOTAMADYA BANJAR BARU, KALIMANTAN SELATAN, PENCEMARAN OLEH PERUSAHAAN,
PERLUASAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT YANG MELANGGAR HAK ADAT INDIGENOUS PEOPLE, MEMBERDAYAKAN NELAYAN RAMPA DI KOTA BARU, ADALAH BEBERAPA CONTOHNYA. BERSAMA REKANREKANNYA, BERRY JUGA PERNAH MELAKUKAN PENGUATAN KELOMPOK IKATAN NELAYAN.
DOK:

DIREKTUR EKSEKUTIF NASIONAL WALHI, BERRY NAHDIAN FORQAN;

ALHASIL,

“BISA DIKATAKAN PNLH YANG LUAR BIASA”

BUPATI SETEMPAT MENGELUARKAN
SURAT KEPUTUSAN BAHWA SEBUAH PERUSAHAAN TELAH MELAKUKAN PENCEMARAN DI WILAYAH TANGKAP. LEBIH DARI ITU, BUPATI JUGA MEMERINTAHKAN PERUSAHAAN TERSEBUT MEMBERIKAN GANTI RUGI KEPADA NELAYAN DAN MEREHABILITASI WILAYAH YANG TELAH TERCEMAR.

KINI, Berry dipercaya untuk mengemban tugas membawa Walhi hingga
4 tahun kedepan. Bagaimana pandangan dan kesannya dengan PNLH X di Pasar Seni Gabusan, Bantul pada bulan April silam? Dhita S.L.S. reporter Majalah Toegoe berhasil mewawancarai beliau via email. Berikut hasil wawancaranya. Bagaimana penilaian Anda terhadap PNLH X di Bantul, di bulan April yang lalu ? Saya rasa cukup berhasil dan sukses. Dimana secara umum, semua substansi agenda dan pembahasan PNLH X lalu, terpenuhi dan berjalan dengan lancar. Walaupun masih terdapat beberapa kekurangan namun saya kira itu masih dalam batas yang wajar. PNLH X bisa dikatakan PNLH yang luar biasa, karena PNLH tersebut telah melibatkan publik lebih luas dan lintas generasi melalui berbagai kegiatan. Dan dikemas dalam suatu rangkaian aktivitas PNLH X dengan rentang waktu sekitar satu bulan. Tempatnya dilakukan di tempat yang terbuka, peserta ditempatkan di rumah-rumah penduduk, para kandidat baik kandidat Direktur Eksekutif Nasional, maupun kandidat Dewan Nasional relatif kader-kader muda WALHI. Dan ada dua kandidat Eksekutif Nasional yang berasal dari daerah. Proses suksesi, memberikan ruang bagi para kandidat untuk melakukan kampanye dan debat terbuka dengan anggota. Yang dimulai dari pra PNLH semenjak kandidat ditetapkan lolos administrasi dan beberapa hal baru lainnya.

DEMIKIANLAH, SECUIL PAHATAN
SEJARAH KEBERHASILAN LANGKAH

BERRY BERSAMA TIMNYA DALAM
DUNIA ADVOKASI LINGKUNGAN YANG DIA LAKONI.
60 toegoe
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

WALHI JOGJA

Menurut Anda, Bagaimana tingkat apresiasi yang diberikan para peserta? Peserta cukup antusias mengikuti seluruh proses PNLH, berperan aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Walaupun sebagian besar masih lebih terfokus kepada hal yang berkenaan dengan suksesi, sehingga ada beberapa substansi yang mestinya keluar dalam rumusan sidang-sidang substansi tidak terkawal dengan baik. Kalau dari masyarakat? Masyarakat di sekitar lokasi terutama pada lokasi penempatan peserta sangat menyambut baik, ramah dan terbuka. Mereka melayani peserta dengan baik dan cukup tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan WALHI. Bagaimana pendapat anda tentang Jargon “Membumi Bersama Rakyat” yang diusung di PNLH X kemarin? apakah sudah terealisasi dengan tepat? Justru itu yang menjadi pekerjaan rumah kita kedepan. Bagaimana kita harus mampu mewujudkannya, bukan hanya sekadar pada tataran jargon semata.. Praktek PNLH X sudah cukup baik, dengan melibatkan peran serta masyarakat dalam berbagai aktivitasnya. Walaupun masih ditempatkan dalam posisi sebagai supporting system penyelenggaraan PNLH. Kedepan, keterlibatan masyarakat bukan saja hanya sebagai penyokong kegiatan. Tetapi juga sebagai bagian dari pegiat yang memperjuangkan keadilan lingkungan “Membumi bersama rakyat” itu memang salah satu prinsip yang mesti diwujudkan. Dalam, kita memperjuangkan keadilan dan keberlanjutan lingkungan hidup. Menurut Anda, apakah PNLH X di Bantul kemarin memiliki dampak bagi masyarakat sekitar dan masyarakat luas? Dampaknya seperti apa? Bagi masyarakat sekitar, dampaknya mereka menjadi lebih tahu terkait dengan gerakan lingkungan yang diusung oleh WALHI. Dan mendorong spirit mereka lebih jauh untuk terlibat aktif dalam berbagai upaya penyelamatan lingkungan.. Ada transformasi pengetahuan dan budaya baik dari pihak peserta maupun masyarakat disana. Bagi masyarakat luas, kita belum bisa mengukur dampaknya kecuali dalam hal meningkatkan pe-

ngetahuan publik terhadap WALHI dan gerakan lingkungan hidup yang diusungnya. Menurut Anda dimana letak keberhasilan PNLH X kemarin ini, bila di bandingkan dengan PNLH-PNLH terdahulu? Selain melibatkan keterlibatan publik yang lebih luas, kaya akan pertukaran pengetahuan, prosesnya lebih terbuka dan juga PNLH X telah memberi ruang bagi kader-kader muda WALHI untuk memimpin organisasi ini. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya? Karena, direncanakan dan disiapkan lebih baik dan lebih matang. Ada tahapan dan prakondisi yang dibangun sebelumnya, baik melalui berbagai pertemuan langsung maupun diskusi melalui milis dan situs PNLH X. Serta kekurangan yang dapat Anda tangkap seperti apa? Masih klasik, kita belum mampu mengarahkan lebih banyak perhatian peserta kepada pembahasan dan perumusan hal-hal yang lebih substantive. Ketimbang hanya soal suksesi. Sebagian panitia inti terlibat dalam proses dukung mendukung kandidat, sehingga sedikit banyaknya berpengaruh negatif terhadap kerja-kerja kepanitiaan. Apa penyebabnya? Terkait pemahaman soal ke-WALHIan dan agenda PNLH itu sendiri. Solusinya seperti apa? Pembahasan PNLH, sebaiknya sudah dipersiapkan mulai dari daerah. Dan peserta yang dikirim memang mereka yang sudah cukup paham akan organisasi ini. Menurut Anda konsep PNLH kedepannya seperti apa? Konsep yang sudah ada ini cukup baik. Tinggal dikembangkan lebih jauh lagi, agar dapat melibatkan publik lebih luas lagi dalam memberikan berbagai masukan terhadap berbagai rumusan agenda gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Sebaiknya ada pentahapan yang dimulai dari daerah, baik untuk pembahasan substansi materi maupun suksesi kepemimpinan. Apa harapan Anda selanjutnya? Semua komponen WALHI dapat bekerja untuk menjalankan mandat PNLH X kemarin dengan baik.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 61 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE KHUSUS

TRIBOWO S. NUSWA, MANAGER PASAR SENI GABUSAN, BANTUL.

“TERBUKA WAWASANNYA TENTANG LINGKUNGAN HIDUP”
TRIBOWO S. NUSWA YANG AKRAB DIPANGGIL TRI,
TELAH DIPERCAYA PIMPINAN PASAR SENI GABUSAN SEJAK 2007 SILAM.

SAAT DITEMUI OLEH REPORTER

MAJALAH TOEGOE, DHITA S.L.S. DI KEDIAMANNYA. DENGAN SANGAT ANTUSIAS BELIAU MEMBERIKAN
APRESIASI DAN PENILAIAN SETELAH PENYELENGGARAAN PNLH X YANG DIGELAR OLEH

WALHI SEBAGAI NGO DAN LSM TERBESAR DI INDONESIA. BERIKUT PETIKAN HASIL WAWANCARA
DENGAN AYAH SATU ANAK INI.

Apa pendapat Bapak, tentang PNLH X yang diadakan di Taman Gabusan beberapa bulan yang lalu? Mungkin sebelum memberikan pendapat tentang PNLH X, saya ingin menceritakan mengapa awalnya kami mendukung penyelenggaraan PNLH X yang diadakan di Bantul Kemarin ini. Pertama, karena konsepnya. Menurut saya konsepnya sangat bagus, dan ini berbeda dengan pelaksanaan PNLH sebelumnya. Ditambahkan lagi dari hasil perbincangan dengan teman-teman tentang konsep yang diusung oleh WALHI. Yang mana PNLH (Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup) yang kesepuluh ini, akan ditempatkan di Pasar Seni Gabusan yang notabanenya dikelilingi oleh masyarakat. Dan juga pelibatan masyarakat sekitar, guna mengakomodir semua kandidat dan peserta PNLH X. Yang kedua, saya melihat di sana akan adanya proses pembelajaran managerial. Karena dalam pengorganisasian PNLH X ini banyak melibatkan stakeholders, seperti Kepala Desa, Kepala Dukuh hingga pada tokoh-tokoh masyarakat. Inilah yang membuat saya tertarik dan tertantang untuk mendukung dalam rangka suksesnya PNLH di Pasar Seni Gabusan. Dan pada akhir dari pelaksanaan PNLH X, saya mendengar langsung bahwa mereka, para kandidat-kandidat dua puluh lima propinsi itu memberikan apresiasi yang sangat luar biasa. Dan ini pun bisa terwujud, karena adanya kesungguhan dari teman-teman Walhi Yogyakarta dan juga kami selaku pem-back up dalam menyediakan tempat dan selalu siap dalam setiap konsekuensinya. Apa dampak yang diterima Oleh Pasar Seni Gabusan setelah PNLH X? Untuk pasar seni sendiri, karena mendapat kunjungan dari dua puluh lima provinsi beserta kandidat dan para pesertanya. Maka secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak terhadap Pasar Seni Gabusan. Misalnya begitu banyak orang datang dan melakukan pembelian atau transaksi juai beli. Kemudian dampak dan juga harapan kedepannya untuk Pasar Seni Gabusan adalah sebagai promotion

62 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

tentang art market itu sendiri. Dapat dibayangkan kalau dua puluh lima propinsi datang dan setelah mereka berhari-hari di situ (Pasar Seni Gabusan-red), lalu pulang tentunya akan menceritakan bahwa di Jogja ada yang namanya Pasar Seni yang layak untuk dikunjungi sebagai alternatif tujuan wisata misalnya. Intinya adalah, saya dapat melihat bahwa kita telah banyak menerima positif point dari pelaksanaan PNLH dan tidak ada kata selain mendukungnya. Kita sendiri di Pasar Seni, walaupun tidak terlalu intens mengikuti pembahasan dalam setiap persidangan di PNLH, tapi kita bisa menangkap dari pembicaraan-pembicaraan yang sempat didengar oleh setiap orang, sehingga banyak teman-teman dan kami semua yang kemudian terbuka wawasannya tentang lingkungan hidup dan juga dari fenomena eksploitasi yang sebenarnya tidak berpihak kepada rakyat, yang dibingkai malalui kebijakan-kebijakan ataupun peraturan-peraturan. Jadi ada sebuah pembuka wacana ketika Walhi dan PNLH berada di tengah-tengah Pasar Seni Gabusan. Kalau masyarakat sendiri bagaimana pak? Dari kegiatan Walhi sendiri. Tentunya kami juga sebagai anggota masyarakat ikut mendukung, karena apa yang dilakukan Walhi adalah mencermati setiap kebijakan yang berhubungan dengan sumber daya alam. Yang berarti sumber dari kehidupan kita semua, yang dalam hal ini saya melihat setelah pelaksanaan di sana. Yang mana dalam setiap sidang-sidang komisinya, bahwa begitu Walhi mencermati setiap jengkal eksploitasi tanah bangsa Indonesia ini yang sekiranya dieksploitir tapi tidak bermanfaat bagi masyarakat, atau dieksploitir bermanfaat tapi banyak berdampak pada pencemaran dan lain sebagainya. Dari sisi itu sendiri kami dari warga masyarakat sangat mendukung itu. Kemudian saya kira ada dampak-dampak yang ditangkap oleh masyarakat secara langsung. Tentunya ketika mereka ikut membaur saat adanya diskusidiskusi yang sifatnya ringan, sambil ngobrol malam misalnya. Kemudian dampak-dampak yang langsung yaitu ketika mereka diakomodir di rumah warga sekitar, secara langsung ada dampak, karena saya tahu ada kontribusi yang nggak seberapa. Kemudian juga menghidupkan, ketika mereka tinggal bersama warga secara ekonomi mereka juga melakukan jual beli rokok dan lain sebagainya. Tapi masyarakat, pada saat perpisahan menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki wacana dan harapan simple yang mungkin hanya pada keuntungan sesaat. Yang mana pada saat banyak orang, maka mereka mendapat multiplayer effect (dampak yang banyak, Red) dan itu yang terlontar. Kalau kunjungan terhadap Pasar Seni Gabusan pasca PNLH sendiri dampaknya seperti apa pak? Yang tentu saja di manapun yang namanya suatu even yang besar akan memberikan dampak. Tapi kami

DOK:

WALHI JOGJA

sendiri belum bisa melakukan pengecekan ke lapangan, karena tempo waktu setelah PNLH sampai sekarang kan masih cukup singkat. Sehingga kami belum bisa menyimpulkan apakah pengunjung yang datang di Pasar Seni Gabusan itu adalah dampak yang diberikan setelah adanya PNLH X atau bukan. Walaupun dari hasil record yang kami lakukan tiap bulannya terus mengalami peningkatan. Tapi kalau memberikan penilaian berapa persennya itu masih sulit untuk kami, karena tidak ada tamu yang datang dan mengaku kalau datang ke Pasar Seni karena dari PNLH kemarin. Tapi secara umum kalau kita skor sih meningkat terus, tingkat kunjungannya juga bertambahnya dan omzetnya juga bertambah. Karena Pasar Seni memang berbeda dengan pasar tradisional yang memang menyediakan mulai dari garam sampai keperluan sehari-hari. Tapi mungkin Pasar Seni ini oleh sebagian orang
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 63 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

digolongkan pada kebutuhan yang sekunder, bahkan kebutuhan tersier dan bukan kebutuhan pokok. Oleh karena itu perlakuan Pasar Seni juga berbeda, biasanya ramainya pengunjung setiap weekend atau long weekend kemudian hari-hari pada liburan anakanak sekolah. Bagaimana penilaian Bapak terhadap PNLH X, apakah sudah sempurna? karena seperti yang kita ketahui dari paparan bapak tadi, bahwa dari masyarakat dan peserta telah memberikan apresiasi yang cukup tinggi. Sebelumnya saya mohon maaf, karena kami tidak memiliki instrumen mengukur itu. Tapi kalau saya melihat dalam pelaksanaan dan dari jadwal-jadwal yang ada, saya hanya bisa memberikan sebuah penilaian. Ketika jadwal sidang komisi-komisi semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada protes-protes yang berarti terhadap sebuah pelaksanaan dari pada program-program tersebut. Malahan yang terjadi adalah diskusi yang begitu ketat, karena masing-masing mempunyai argumentasi-argumentasi dalam keberpihakan terhadap rakyat. Saya kira pelaksanaan, mulai dari peserta datang dan kemudian dijemput, dan seterusnya diantarkan ke rumah warga sebagai tempat tinggal mereka semen-tara, lalu setiap hari pada masa PNLH berlangsung mereka datang lagi untuk melaksanakan tugas di sidangsidang komisi sampai pada acara terakhir yang menggunakan alat-alat transportasi yang ada di dalam masyarakat. Saya melihat semuanya berjalan dengan lancar dan itu semua tidaklah mengada-ada, karena saya telah mengecek langsung kepada warga, dan warga juga antusias ketika acara berlangsung sampai larut malam. Mereka dapat memaklumi dan punya rasa toleransi yang tinggi dengan menunggu dan kalau yang dijemput belum datang pasti mereka (warga-red) akan menghubungi panitia dan pada intinya dari pengamatan saya semuanya berjalan dengan lancar. Tetapi apakah ini sudah sesuai dengan target-target yang ditentukan dalam pelaksanaan PNLH, tentulah ini bukan penilaian dari kami, karena kami tidak punya draft secara detail untuk menilai itu. Tapi pelaksanaan secara umum kami menganggap tidak ada masalah. Bagaimana dampak terhadap para pengrajin kaitannya dengan isu-isu lingkungan pada PNLH kemarin? Ya … mungkin ini satu yang terlewatkan pada saat PNLH, karena tidak ada sesi khusus yang diperuntukkan kepada pengrajin. Secara langsung misalnya, saya mengumpulkan pengrajin lalu panitia PNLH memberikan sesuatu. Tapi kami selaku pengelola sadar betul, karena kami juga sering ikut diskusi tentang market. Contohnya saja waktu ada trend market di Amerika yang juga pernah saya ceritakan dengan teman-teman WALHI. Bahwa orang Amerika sekarang itu kalau
64 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

menggunakan barang-barang kerajinan itu sudah dilihat. Apakah barang ini dibuat dari bahan yang merusak alam, kemudian pasca penggunaan barang ini apakah masih bisa didaur ulan. Artinya memang sangat penting bagi pengrajin untuk megenal hal-hal semacam ini. Tapi semampu mungkin kami sampaikan, karena dasar pembuatan kerajinan yang dibuat pengrajin adalah barang-barang yang berhubungan dengan lingkungan. Kalau dari para pengrajin sendiri sebagain sudah sadar. Misalnya mengambil batu di tempat-tempat yang memang diperbolehkan. Apalagi kalau misalnya yang berhubungan dengan kayu, saya kira di setiap lingkungan masing-masing juga sudah ada pengawasan tentang kelestarian hutan-hutan yang dekat dengan pemukinan warga yang memang sudah ada rambunya. Memang kemarin tidak adanya sesi khusus dari WALHI untuk para pengrajin, yang harapannya akan terjadi sebuah dialog langsung dan pencerahan. Ya mungkin untuk kedepannya ini dapat terjadi, apalagi bila WALHI ingin melaksanakan kegiatan yang di tengah masyarakat, misalnya Pasar Seni. Artinya ada dampak secara langsung berupa pencerahan tentang lingkungan. Kalau masukan dari bapak sendiri untuk Walhi, karena baik secara langsung maupun tidak langsung bapak juga terlibat dalam pelaksanaan ini? Ya saya kira Walhi ini terdiri dari orang-orang pintar dan mereka punya track record internasional, contohnya saja saat pembukaan. Yang membuka adalah Rektor UI, Rizal Ramli dan Chalid yang sering ketemu dan akrab di Pasar Seni yang juga sebelumnya saya banyak baca pemikiran-pemikiran beliau. Saya kira dari segi kebijakan-kebijakan itu sudah sangat bagus. Tetapi pernah juga saya bergurau tentang bagaimana seandainya apa yang dilahirkan dalam sebuah PNLH atau PDLH untuk bisa langsung diapresiasikan lalu diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Ini merupakan PR dari pada Walhi, bagaimana membuat sebuah kesadaran masyarakat tentang wahana lingkungan hidup sebenarnya. Jadi apa yang menjadi pemikiran elit Walhi ini juga hendaknya langsung bisa menyebar ke grassroot,(masyarakat umum, Red) karena tanpa itu semua kalau misalnya hanya eksklusif di kepengurusan teman-teman di tingkat Walhi, saya kira kurang bisa mengakar. Tapi bagaimana Walhi bisa membuat opini atau kesadaran kepada masyarakat, sehingga ketika ada kebijakan tentang penentuan kebijakan publik yang berhubungan dengan lingkungan. Di masyarakat pun harus bisa merespon paling tidak dalam draf pemikirannya ada dan bagaimana seandainya bila kita akan melaksanakan rapat dengan RT yang mana wacananya sudah ada, ‘kan begitu indahnya. Saya kira ini PR panjang yang bukan hanya teman-teman Walhi tetapi juga PR kita semua sebagai warga masyarakat.

::

ARENA TOEGOE

ASHIDO ALDORIO SIMATUPANG/TOEGOE

PETANI VS PEMERINTAH DI NEGERI AGRARIS
REPORTER: UMBU WULANG TAP

KONFLIK SUMBER DAYA ALAM (SDA) MERUPAKAN
SALAHSATU KONFLIK YANG TERJADI ANTARA RAKYAT DENGAN PIHAK PENGUASA ATAU PEMILIK MODAL TERKAIT PENGUASAAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM.

PERAMPASAN

OLEH PENGUASA DAN PENGUSAHA LEWAT BERBAGAI DALIH KEBIJAKAN KERAP MENJADI BIANGNYA.

P ERTIKAIAN soal sumber daya alam sendiri bukan
persoalan baru. Fenomena ini sudah muncul sejak masa kolonialisme. Salahsatu bukti sejarahnya yakni peristiwa Gege, Cilegon pada tanggal 9 Juli 1888. Akibat peristiwa tersebut, 17 orang pejabat pemerintah dan 30 petani kehilangan nyawanya. Lalu bagaimana potret pengelolaan sumber daya alam pasca hengkangnya Belanda hingga kini? Untuk mengetahui hal tersebut, LSM Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta mengelar diskusi pada tanggal 19 Mei silam dengan tajuk “Terampasnya Tanah Rakyat di Tengah Krisis Ekonomi 2008”. Salahsatu pembicara, Isti Komah memaparkan pertikaian SDA di Indonesia terus berlangsung. Pada masa orde baru, kasus Kedung Ombo, Sragen, Jawa Tengah (1989), kasus Waduk Nipah, Madura (1993), kasus Jenggawah, Jember (1995) serta berbagai kasus lainnya. Tak jauh berbeda, di era reformasi silang sengkarut ini terus berlanjut. Simak kasus Bulukumba, Manggarai, NTT, Alas Tlogo hingga kasus Pasir Besi di Kulonprogo, Yogyakarta. Apalagi ditengah krisis ekonomi sekarang ini, potensi meningkatnya konflik sumber daya alam bukan hal yang mustahil. Dalam makalahnya, Isti Komah membeberkan bahwa krisis ekonomi melemahkan atau dapat menghancurkan berbagai industri manufaktur dan kegiatan ekonomi lain. Ujungnya, tumpuan devisa negara akhirnya bersandar pada ekstraksi SDA. Adanya ekstraksi sumber daya alam mengakibatkan timbulnya krisis SDA. Tak heran, krisis SDA di Indonesia saat ini telah menimbulkan berbagai

konflik horizontal dan vertikal. Biangnya, pemanfaatan SDA yang tidak adil bagi rakyat. Seiya dengan Isti Komah, Maryanto petani asal Kulonprogo yang juga didaulat sebagai pembicara mengemukan bahwa petani di Indonesia tidak mendapatkan perlindungan yang layak dari pemerintah. Dia mencontohkan kasus pengalihan fungsi lahan pasir besi sebagai lahan pertanian menjadi tempat penambangan. Padahal petani di sana telah puluhan tahun menyandarkan kehidupan ekonominya di kawasan tersebut. “Wong tani niku pun puluhan tahun mengubah tanah yang tadinya tidak produktif menjadi produktif,” terangnya di depan puluhan peserta diskusi. Maryanto menyesalkan perilaku pemerintah yang tak taat pada Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960. Padahal aturan main tersebut secara nyata meperlihatkan keberpihakan negara pada petani. Dia berharap pemerintah dapat kembali menelisik prinsip-prinsip pengelolaan agraria yang benar dan pro rakyat sehingga tidak serta merta mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat. Pemerintah selalu keluar dari amanat UUD 1945. Konflik dan krisis SDA yang timbul di berbagai belahan Indonesia merupakan gambaran betapa pemerintah gagal untuk melayani rakyatnya. Kaum pengusaha seolah mendapat porsi istimewa dalam mengeluarkan beberapa kebijakan. Hal ini diutarakan oleh Iwan Pentol Aktifis Solidaritas Perempuan Kinasih. Iwan, Maryanto, Isti Komah dan banyak beberapa peserta sepakat bahwa untuk dapat keluar dari berbagai persoalan tersebut, maka harus diwujudkannya reformasi pada tataran agraria. Selain itu, rakyat juga harus segera sadar dan bertindak bersamasama untuk mendorong pemerintah bertindak dan mengeluarkan kebijakan agraria yang melindungi petani. Serta yang tak kalah pentingnya yakni mengingatkan pemerintah agar jangan sampai terus bertekuk lutut pada kepentingan industrialisasi pengusaha semata. Dalam diskusi tersebut juga menyorot keterlibatan perempuan dalam pengelolan agraria. Para peserta sepakat, stigma bahwa perempuan hanya pelengkap dari sebuah siklus pengelolaan alam harus dihilangkan. Karena pada kenyataannya perempuan punya peran yang besar dalam pengelolaan berbagai sumber daya alam di negeri ini.
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 65 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

TOEGOE WALHI

ASA SI KAMPUS BIRU KONTROVERSIAL
REPORTER: AHMAD JAFAR J TAKING

PEMBANGUNAN GAMA BOOK STORE UGM
BERMASALAH. UPAYA “PRIVATISASI” SEBAGIAN JALAN

KALIURANG OLEH “KAMPUS BIRU” INI JUGA DIGUGAT. MENGAPA?

Gama Book Store- Yang megah namun bermasalah

GEDUNG empat lantai tersebut berdiri megah di tepi Jalan Kaliurang. Gedung Gama Bookstore namanya. Rencananya di situ akan menjadi salahsatu pusat perbelanjaan buku di Yogyakarta. Ya, UGM memang tengah mengembangkan sayap-sayap ekonomi sebagai lahan pendanaan tambahan. Namun untung belum dapat diraih. UGM malah mencicipi kecaman dari berbagai pihak akibat keberadaan gedung yang didirikan sejak 2005 silam. Anggota DPRD Propinsi DI Yogyakarta Nazruddin, saat ditemui di rumahnya mengatakan bahwa pembangunan Gama Bookstore ini bermasalah dalam konteks hukum. Mengingat pembangunannya tidak memiliki Upaya Kelola Lingkungan(UKL) dan Upaya Pengelola Lingkungan(UPL) yang merupakan dokumentasi lingkungan sebagai standar ijin mendirikan bangunan. Selain itu, pendirian gedung tersebut melanggar ketentuan Roi Jalan Propinsi. Dalam ketentuan tersebut mengatur jarak antara Roi jalan dengan bangunan minimal 17 meter.

66 toegoe 66 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 | | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

:: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN ::

WAHYU/TOEGOE

Hal senada juga dilontarkan oleh Direktur LBH DI Yogyakarta Muhammad Irsyad Thamrin. Dia menambahkan salahsatu prasyarat mendirikan bangunan yakni adanya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Namun Gama Book Store tak mengantongi ijin tersebut. Pernyataan miring soal adanya pelanggaran hukum dalam pendirian Gama Book Store juga datang dari kalangan mahasiswa UGM. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UGM Budianto sepakat bahwa salah satu permasalahan yang mendasar dalam pembangunan Gama Book Store yakni ketidakberesan dari aspek hukum. “Hal ini sudah sangat jelas lembaga (UGM, Red) melanggar aturan hukum,” tegas Budianto. Selain melanggar aturan hukum, pembangunan tersebut berdampak buruk terhadap lingkungan secara signifikan. Anggota Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Bobi B. Setiawan, Ph.D mengatakan kemacetan lalulintas akan timbul kedepannya. Hal ini bertolakbelakang dengan upaya-upaya menjadikan lingkungan kampus lebih baik. Baginya, UGM seharusnya memperbanyak ruang terbuka, taman siswa, tempat berkesenian. “Bukan pembangunan yang menghambat akses bagi masyarakat umum,” tegas Boby Rupanya pendirian Gama Book Store hanyalah salahsatu bagian dari rencana besar UGM. Pihak kampus ternyata ingin menyatukan seluruh kawasan UGM. Caranya? Menutup Jalan Kaliurang bagi khalayak lalu lintas umum. Selama ini kawasan UGM memang belum menyatu lantaran masih dipisahkan oleh jalan tersebut. Hal ini dikemukan oleh Nazruddin. Anggota DPRD ini menambahkan kalau pihak UGM dan pemerintah Sleman tengah mengajukan permohonan kepada pemerintah Propinsi agar menurunkan status Jalan Kaliurang dari jalan propinsi menjadi jalan kabupaten. Tujuan, pertama, karena keberadaan Gama Book Store UGM memenuhi standar Roi Jalan Kabupaten. Yakni jarak antara bangunan dan roi jalan adalah 13 meter. Kedua, dengan berubahnya status jalan maka UGM pun dapat lenggang kangkung untuk mem-privatisasi Jalan Kaliurang. Nazruddin menambahkan. permasalahan Jalan Kaliurang tersebut melibatkan tiga pihak yakni eksekutif dan legislatif Sleman, pemerintah di tingkat Propinsi, dan ketiga adalah UGM sendiri. Menyoal dua kasus yang berkaitan tersebut, Nazruddin memaparkan bahwa DPRD Propinsi DI Yogyakarta, dan berbagai elemen masyarakat tidak tinggal diam. Saat mengajak pihak UGM untuk berdiskusi, sebenarnya pihak UGM telah menyadari kesalahannya. Hasilnya, pembangunan Gama Book Store dihentikan. Namun tak berselang lama, kegiatan pembangunan dilakukan lagi oleh UGM. Hal tersebut dibenarkan oleh Budianto “Sekarang pembangunannya sudah mencapai 90 persen,” tutur Budianto.

DOK: WALHI JOGJA

IRSYAD THAMRIN - “Artinya bagaimana pemerintah propinsi memberikan peringatan kepada UGM terkait pembangunan tersebut yang selama ini melanggar aturan”.

Nazruddin menegaskan juga bahwa penutupan Jalan Kaliurang tidak diperbolehkan. Karena jalan tersebut mempunyai beberapa fungsi bagi masyarakat luas yakni sarana transportasi, fungsi ekonomi, dan fungsi sosial. Hingga saat ini, rencana penutupan jalan tersebut belum terwujud. “ Karena belum ada status perubahan apa pun dan jalan tersebut masih dalam status jalan propinsi,” tegas Nazruddin. Sedangkan Irsyad mengungkapkan pelanggaran hukum yang dilakukan UGM sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah Propinsi. “ Artinya bagaimana pemerintah propinsi memberikan peringatan kepada UGM terkait pembangunan tersebut yang selama ini melanggar aturan,” tegas Irsyad. Selain mendorong pemerintah, LBH dan WALHI Yogyakarta juga melakukan aksi di lapangan. Direktur Eksekutif Walhi Suparlan menjelaskan Walhi selaku organisasi forum bersama LBH sudah beberapa kali melakukan kegiatan advokasi terkait permasalahan tersebut. Tuntutannya, Gama Book Store harus di robohkan. Berkaitan tuntutan tersebut, Suparlan mengaku bahwa pihak UGM tidak pernah memberi tanggapan yang berarti. Berikutnya, Walhi juga menolak upaya “privatisasi” Jalan Kaliurang. Lebih lanjut, Suparlan memaparkan LBH dan Walhi tengah mengumpulkan dan menganalisis data secara hukum, guna mengadakan gugatan terhadap UGM kedepannya.

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 67 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

Kini, menurut Budianto posisi kampus sangat dilematis. Di satu sisi, kalau pembangunan tersebut berlanjut, banyak pihak yang di rugikan. Di sisi lain, gedung dirobohkan, maka akan mengecewakan mahasiswa. Meskipun pembangunan tersebut bukan atas permintaan Mahasiswa. “Tetapi sumber dananya berasal dari mahasiswa,” ujar Budianto seraya menyayangkan pelanggaran hukum yang dilakukan UGM. Padahal sebagai kampus besar dan ternama seharusnya UGM tidak memberikan contoh yang buruk. Sementara Rektor UGM Prof. Ir Sudjarwadi, M. Eng. Ph.D tidak dapat dimintai pendapatnya. Salahsatu stafnya saat dihubungi mengatakan bahwa Sudjarwadi tengah berada di Jepang. Reporter TOEGOE kemudian diminta untuk menghubungi Ir. Tony Atyanto D. Mphil. Ph.D Wakil Rektor Bidang Alumni dan Pengembangan Usaha. Namun saat diminta kesediaannya, ...toni, tidak bersedia. Menurutnya, gawean UGM tersebut belum pantas untuk dipublikasikan kepada publik karena masih bermasalah.

MERUGIKAN PARA PKL
Gama Book Store dan rencana “privatisasi” Jalan Kaliurang juga mendapat tentangan dari para pedagang kaki lima di daerah tersebut. Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima(PKL) di Jalan Kaliurang menuturkan rencana UGM tersebut hanya akan merugikan anggota-anggotanya yang berjumlah 60 pedagang. “ Saya tidak setuju dengan pembangunan ini,” tukas Sarjan. Sarjan mengaku para PKL dan beberapa LSM di Yogyakarta pernah menyikapi persoalan tersebut

dengan melakukan demonstrasi menolak rencana UGM ke DPRD Propinsi DI Yogyakarta sebanyak empat kali. Namun sejauh ini belum membuahkan hasil yang melegakan. Menurutnya DPRD Propinsi, masih mendua dalam menuntaskan kasus ini dan tidak bisa memberikan jawaban pasti soal tuntutan mereka Pernyataan Sarjan, dibantah oleh Nazruddin. Menurutnya, DPRD Propinsi sudah mempunyai sikap terhadap permasalahan yang ada. DPRD lebih mengedepankan kepentingan masyarakat luas dibandingkan kepentingan UGM “Dan tentu sikap kami bukan berdasarkan aspirasi (para PKL, Red) semata,” tegas Nazruddin. Sebenarnya, bukan hanya soal relokasi saja yang mengkuatirkan Sarjan dan rekan-rekannya. Bagi mereka, bila berpindah tempat belum tentu menjanjikan pemasukan sebagaimana yang mereka dapatkan selama ini. Sarjan berharap agar para pengambil kebijakan dapat memahami bahwa sumber tumpuan ekonomi mereka adalah dengan memanfaatkan jalan tersebut untuk berjualan. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan sekarang ini. Menciptakan atau mencari pekerjaan baru sangatlah sulit untuk diwujudkan. “ Masa depan anak-anak kami nantinya morat-marit,” tutur Sarjan berharap. Begitupun dengan Budianto. Dia berharap kedepannya dalam melakukan pembangunan, UGM tidak mengesampingkan hak-hak masyarakat dan Mahasiswa UGM sendiri. Sudikah Si Kampus Biru ini menghentikan asanya yang menuai kontroversi ini?

SEBUAH

GEROBAK

PKL -

Pembangunan Gama Book Store mengancam sumber perekonomian masyarakat PKL

WAHYU/TOEGOE

68 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

KAMPUNG TOEGOE

MENATA DUSUN DALAM KEBERSAMAAN
REPORTER: KAHAR MUHAMMAD MAULANA

WAHYU/TOEGOE

MCK

KOMUNAL-

Agar warga tak lagi mengotori sungai

SAAT INI, MENCIPTAKAN SEBUAH
KAWASAN HUNIAN BERSAMA YANG NYAMAN DAN SEHAT BUKANLAH SOAL GAMPANG. NAMUN BERKAT KEBERSAMAAN, ASA ITU MULAI TERLIHAT DI DUSUN JETAK II.

SIANG itu panas mentari sangat menyengat. Sambil berjalan mengitari kampong, lelaki setengah baya itu tetap bersemangat menceritakan keistimewaan kampungnya kepada para tamu. Ya, hari itu lelaki setengah baya bernama Moh Jayuri yang tak lain adalah Kepala Dusun Jetak II bersama masyarakat setempat kedatangan tamu. Para tamu tersebut adalah tim juri ujicoba lomba kampung hijau yang digelar Walhi Yogyakarta bekerjasama dengan Bapedalda DIY. Dusun Jetak II yang berada di daerah Sleman, Kecamatan Godean, Desa Sidokarto ini memang punya kelebihan soal pengelolaan lingkungan yang bersih. Dalam menjaga lingkungannya agar tetap nyaman masyarakat di daerah ini melakukan pengelolaan lahan dan pengelolaan sampah. Dalam hal pengelolaan lahan penduduknya melakukan penghijauan di lahan-lahan mereka maupun di halaman rumahnya. Sedangkan dalam hal pengelolaan sampah, mereka
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 69 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

melakukan pemilahan sampah organik (daun, sisa makanan) dan sampah anorganik (sejenis kaca, logam dan plastik). Seperti yang dilakukan oleh Ketua RT I Sudarwati. Wanita yang akrab disapa Wati ini, menanam bunga dan jenis tanaman lain guna mempersolek halaman rumahnya agar sejuk dan nyaman. Sedangkan dalam pengelolaan sampah, ia memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Menurutnya, Kegiatan telah dilakoni sejak dua tahun silam. Wati mengelola sampah organik untuk dijadikan kompos. Kompos tersebut dipakai sendiri untuk untuk menyuburkan tanaman di halamannya. Untuk tempat sampah anorganik, Wati menyiapkan tiga wadah tong untuk jenis yang berbeda yaitu untuk sampah kertas, logam dan plastik. Setelah tong-tong sampah yang berada di kediamannya penuh, dia kemudian memindahkannya ke tong-tong sampah yang lebih besar yang sudah disiapkan oleh aparat dusun. Karena tak mempunyai keterampilan mengkreasi sampah, sampah-sampah tersebut kemudian dijual. “Saya mengharapkan kepada pemerintah untuk melakukan pelatihanpelatihan kepada warga untuk mengelola sampah yang berupa plastik, logam dan kertas untuk dijadikan bahan kerajinan ,“ tutur wanita yang berumur 43 tahun ini. Saat ditemui dirumahnya, Moh.Jayuri mengatakan bahwa upaya pengelolaan sampah baru dilakukan dalam dua tahun belakangan. Meskipun demikian, Jayuri berbangga lantaran mayoritas warga di dusun tersebut sudah sadar betapa pentingnya mengelola sampah. “Sekitar 89 persen penduduk sudah mengelola sampahnya sendiri,” tuturnya. Jayuri menambahkan, model pengelolaan yang dilakukan Wati juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat di dusun tersebut. Sampah yang dikumpulkan masyarakat kemudian dijual dua kali dalam sebulan. Hasil penjualannya kemudian dimasukkan dalam kas dusun untuk kegiatan operasional kampung. Upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat tak hanya sampai di situ. Kini, Dusun tersebut sudah memiliki sarana mandi, cuci, kakus (MCK) umum bagi masyarakat. Bangunan ini sendiri dibangun berkat bantuan pemerintah. Jayuri mengungkapkan sarana ini untuk membantu masyarakat yang tak mempunyai sarana MCK lantaran kesulitan ekonomi. Tak ada usaha yang tanpa aral. Jayuri merasakan betul hal tersebut. Jayuri bersama rekan-rekan sejawatnya yang lain masih sering menemui anggota masyrakat yang tidak mendukung kegiatan “bersihsehat” ini. Dia menceritakan ada saja yang sengaja mencampur sampah organik dan anorganik. Atau antara sampah plastik dengan sampah kertas. Menyadari hal tersebut dapat mengganggu
70 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

“stabilitas” upaya kebersihan lingkungan. Pihak pemerintah dusun tak tinggal diam. Pemberian hukuman dijadikan salahsatu solusi. Dalam waktu dekat, bersama masyarakat, aparat dusun akan segera menyusun dan membuat bentuk hukuman nyang akan diberikan. “Dengan warga akan berencana memberikan sanksi sosial kepada oknum yang sering bandel dalam menjaga lingkungannya,” tegas ayah dua anak ini. Lebih lanjut, Jayuri menjelaskan guna memperkuat upaya pengelolaan lingkungan, bersama beberapa anggota masyarakat secara kontinyu melakukan pertemuan tingkat dusun sekali dalam tigapuluhlima hari. Dalam pertemuan tersebut membahas berbagai permasalahan dan potensi dusun soal pelestarian lingkungan bersih. Hasil pertemuan tersebut kemudian disosialisaikan kepada seluruh masyarakat. Seperti saat ini, dusun tersebut berencana untuk membangun balai dusun dan balai budaya. Balai budaya dibuat guna melestarikan budaya kesenian setempat. Selain itu sebagai aset pariwisata. “Kami juga akan membuat kolam ikan dan pasar ikan,” tambah Jayuri.

KAMPUNG FAVORIT
Usaha Dusun Jetak II ternyata membuahkan hasil. Selain lingkungan yang bersih, mereka juga menjadi kampung favorit dalam ajang ujicoba lomba kampung hijau. Apresiasi berupa pujian datang dari berbagai kalangan. Salahsatunya, HM Nasrudin Anshori. Bagi Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri ini, Dusun Jetak II sama hal dengan peserta ujicoba lomba tersebut. Seperti pengelolaan sampah dan lahan. Kelebihannya yakni partisipasi masyarakat yang tinggi. Apalagi inisiatif pengelolaan lingkungannya sendiri datang dari masyarakat dan tidak ada campur tangan pihak lain. Nazrudin menambahkan saat ini banyak daerah yang memiliki konsep pengelolaan sampah yang lebih baik dibandingkan dusun ini. “Dikarenakan mereka melakukan kerja sama dengan pihak lain yang berasal dari luar kampung,” tuturnya. Nasrudin mengharapkan Jetak II bisa dijadikan teladan perubahan sosial, ekonomi dan budaya oleh daerah lain. Kalau begitu, siapa yang mau mengikuti jejak dusun yang mengarusutamakan kebersamaan dalam mengwujudkan harapannya?
TONG SAMPAH- Bila sudah penuh akan dijual untuk kas operasional dusun

::

WAHYU/TOEGOE

CELOTEH TOEGOE

ASHIDO ALDORIO SIMATUPANG/TOEGOE

“Yogyakarta Berhati Nyaman” Jangan sampai berhati nyam..nyam! Air di Yogyakarta banyak mengandung bakteri e. coli Jangan buang hajat sembarangan….! Kedai Hijo sudah mulai “beraksi” Salah satu menunya: Kopi panas global warming! Setiap tahun Gunung Kidul selalu kekurangan air Dengar-dengar, biar pejabatnya kebanjiran bantuan! Tempat pengisian air isi ulang tak pernah sepi pelanggan Sungai di Jogja juga tak pernah sepi; tak pernah sepi dari sampah! Di kampung Jetak, Sleman ada MCK komunal Bagus! Daripada Korupsi Komunal! Anak usia dini diikutkan dalam pengelolaan lingkungan Jangan dieksploitasi ya! FKY sedang berlangsung di Yogyakarta Jangan sampai jadi ajang pamer budaya londo! Kawasan Menoreh mengalami degradasi Kalau klub sepak bola, pelatihnya bisa dipecat! Sampah plastik bisa didaur ulang Sumpah jabatan juga banyak yang daur ulang! Yogyakarta mulai kebanjiran mall Sekaligus banjir sampah! Ketua Komisi 3 DPRD Kota Yogyakarta; kita hidup diatas comberan Dicari! Pembuat energi alternatif dari air comberan! Dana untuk pengelolaan lingkungan masih minim Dana untuk korupsi yang melimpah!

Bapedalda memantau sungai dua kali setahun Karena memakai sistem semester seperti pada perkuliahan, he..he bercanda! Sekwan DPRD Kota Yogya tidak ingin diwawancarai oleh reporter TOEGOE Sama reporter enggan, jangan-jangan sama masyarakat juga emoh? Katanya sungai kita adalah WC terpanjang di dunia Masuk museum rekor dunia nih, ceritanya…. Dalam memperingati hari lingkungan, SBY menyarankan agar kita menjaga lingkungan bersama-sama. Kalau pihak asing boleh merusak ya, pak? Pendidikan soal lingkungan masih sering diabaikan sekolah. Katanya, Diprioritaskan asalkan dana BOS ditambah! Ada yang mengatakan bahwa bencana itu adalah takdir Pertanyaannya, apakah “bencana korupsi” itu takdir?jangan asal dong! Hutan lindung dijadikan lokasi untuk pertambangan. Artinya yang dilindungi adalah para penambangnya! Sungai kini tempat terbuka untuk sampah umum Kalau di kolam renang? tempat buka-bukaan! Ada tiga sungai yang mengalir di Kota Yogyakarta. Ketiga-tiganya dijuluki “sungai comberan”! Bakteri E. coli mencemari air sumur Lalu apa bedanya sumur dan closet WC? Depkeu segera menghapus sebagian besar utang PDAM Sleman “Utang pelayanan” kepada rakyat harus dilunaskan!

toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 71 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

C E R I TA TO E G O E BERGEGASLAH! teriakan itu sepertinya yang ingin dikemukakan Iqin dan Erik kepadaku. Tapi mereka lebih suka mengatakan, “kita sudah terlambat”. “Ah, kau pakai mandi segala lagi”. “Ya, ya,” jawabku tapi tetap menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku mengambil sebuah Caping dari gudang kecil yang terbuka tepat di samping kamar mandi. Karena telah cukup lama mendiami tempat penyimpanan dan berada di ruang terbuka, tak heran bila caping tersebut terlihat dekil dan berdebu. Aku kemudian berusaha mengeluarkan debu dengan mengibasnya ke sebuah meja; dengan terburu-buru. Maklum, Iqin dan Erik makin gelisah menungguku; menuju pentas unjuk rasa di kawasan Malioboro. “Mengapa debu dalam caping itu terus menggelisahkanku? adakah makna yang terselip di dalamnya dan harus kumengerti? mungkinkah ada keterkaitannya dengan pentas unjuk rasa kali ini?” pikirku. Selepas berunjukrasa; Aku pun dapat memaknai debu yang belum sepenuhnya pupus dari caping yang kukenakan,dan beginilah alur ceritanya; Debu itu adalah sesuatu masalah sesuatu masalah itu ada sumbernya sumbernya bisa jadi dari sebuah ketidakberdayaan ketidakberdayaan akibat minim atau ketiadaan kuasa minim atau ketiadaan kuasa membuat kita terpaksa menerima kenyataan; Kenaikan BBM apapun alasannya mahalnya harga sebuah pendidikan jutaan petani kehilangan sawah jutaan nelayan tak punya jala Berikut; Anda dapat menambahkannya Dan inilah salahsatu sumber debu yang mengendap dalam caping yang bernama Indonesia! “Kita terlalu lama membiarkan diri kita untuk tidak menghentikan setiap penindasan dalam kebersamaan; apapun alasannya” Dan bukan hal yang menakjubkan bila akhirnya debu itu melekat begitu banyak dan erat. Sampai-sampai kita kepayahan untuk membersihkannya. Seperti kejadian tadi pagi, debu dalam dalam caping tak tuntas kubersihkan; lantaran terburu-buru. Ya, satu lagi sumber debu dalam caping yang bernama Indonesia! “Kita kerap terburu-buru menata diri sendiri” Dalam perjalanan pulang, capingku terjatuh di perempatan Umbulharjo. Saat itu aku mengebutkan laju sepeda walaupun telah “dilarang” oleh lampu merah. Alhasil, caping yang bertengger tak begitu erat di kepalaku itu pun terjatuh. Aku sebenarnya berhasrat untuk memungut kembali. Namun aku terlanjur malu karena telah melanggar rambu lalulintas dan lagipula belasan kendaraan telah menyerbu dari jalur jalan yang ketiban lampu hijau. Kupasrahkan saja nasib caping itu. Toh, bukan kepunyaanku. Masih banyak caping di tempatku. Toh, aku tak bersusah payah lagi membersihkan debunya? Aku hanya sempat menoleh sebentar ke belakang; melihat caping bergoyang-goyang di atas aspal. Setelah itu, entahlah. Lalu bagaimana kalau caping yang bernama Indonesia terjatuh? Kita hanya menoleh sebentar ke belakang menatap gonjangganjingnya? Setelah itu, entahlah dan biarkanlah hilang? Toh, kita tak perlu bersusah payah lagi membersihkan debunya?
Kotagede-Malioboro, 21 Mei 2008

DEBU

DALAM

CAPING

OLEH: UMBU WULANG TAP

72 toegoe

| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

::

SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

P U S TA K A TO E G O E

HAK-HAK KORBAN BENCANA
OLEH: KAHAR MUHAMMAD MAULANA

BESAR, YAITU LEMPENG

INDONESIA TERLETAK PADA TITIK TEMU TUBRUKAN TIGA LEMPENG TEKTONIK EURASIA, LEMPENG HINDIA-AUSTRALIA, DAN LEMPENG PASIFIK. DI WILAYAH INDONESIA JUGA TERDAPAT BANYAK GUNUNG API (ADA 128 GUNUNG API AKTIF) YANG SEWAKTU-WAKTU DAPAT MELETUS DAN MENIMBULKAN BENCANA. SELAIN ITU, BANYAKNYA JALUR GEMPA DI WILAYAH

SALAH satu contoh bencana yang
menimpa negeri kita yaitu bencana gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 mei 2006 silam pada pukul 05:53 WIB. di Daerah Istimewa yogyakarta dan Jawa Tengah. Gempa tektonik tersebut berkekuatan 5,9 skala richter dengan pusat gempa 8.00 LS-110.31 BT (37.2 km selatan Yogyakarta, kedalaman 33 km). Adapun jumlah korban dalam bencana ini yaitu : Meninggal dunia
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 73 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

INDONESIA MENYEBABKAN TINGGINYA INTENSITAS DAN FREKUENSI GEMPA BUMI FAKTA LAIN ADALAH WILAYAH INDONESIA DILALUI OLEH GARIS KATULISTIWA DAN TERLETAK DI ANTARA BENUA ASIA DAN BENUA AUSTRALIA SERTA DI ANTARA SAMUDRA PASIFIK DAN SAMUDRA HINDIA. LETAK INI MENYABABKAN INDONESIA MEMILIKI IKLIM TROPIS DENGAN MUSIM PENGHUJAN
YANG DAPATI DIIKUTI TSUNAMI. DAN KEMARAU YANG TERKADANG MEMPUNYAI KONDISI EKSTRIM YANG BERAKIBAT PADA TERJADINYA BANJIR ATAU KEKERINGAN HAMPIR SETIAP TAHUN.

BAHKAN

SERINGKALI TERKENA IMBAS ADANYA BADAI TROPIS.

5.778 jiwa, luka-luka 37.883 jiwa dan yang mengungsi 2,111,872 jiwa. Dalam situasi seperti itu penting bagi masyarakat korban gempa untuk menuntut haknya kepada pemerintah. Adapun hak korban bencana yang di atur dalam perundang-undangan yang berdasarkan UU No. 24 tahun 2007 tentang penang-gulangan bencana (UUPB) adalah: 1. Hak untuk mendapatkan perlindungan sosial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentang bencana. 2. Hak mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. 3. Hak mendapatkan informasi secara tertulis dan/atau lisan tentang kebijakan penanggulangan bencana. 4. Hak untuk berperan serta dalam perencanaan, Pengoperasian, pemeliharaan program penyediaan bantuan pelayanan kesehatan termasuk dukungan psikososial 5. Hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan penanggulangan bencana, khususnya yang berkaitan dengan diri dan komunitasnya 6. Hak melakukan pengawasan sesuai mekanisme yang di atur atas pelaksanaan penanggulangan bencana. 7. Hak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya bagi orang yang terkena bancana. 8. Hak untuk memperoleh gangti kerugian karena terkena bencana yang disebabkan oleh kegagalan konstruksi. Buku ini baik untuk masyarakat agar masyarakat tahu apa saja hakhaknya yang harus dipenuhi oleh pemerintah pusat, pemerintah propinsi maupun pemerintah daerah, karena sudah menjadi kewajiban Negara dalam penanganan bencana. Di dalam buku ini dijelaskan mengenai hak dasar korban bencana, yaitu hak untuk mendapatkan air bersih, sanitasi, pangan, penampungan (tempat hunian), pelayanan kesehatan, sandang dan pelayanan psikososial. Kebutuhan ini harus dipenuhi, untuk menjamin kehidupan yang bermartabat bagi masyarakat korban serta menjaga adanya dampak dari bencana susulan lainnya. Selain itu dalam buku ini juga menjelaskan tentang Advokasi (pembelaan hukum) yang dapat dilakukan apabila hakhak korban bencana tidak mereka dapatkan secara baik dari pemerintah. Sebelum melakukan pembelaan hukum maka perlu diadakan pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat korban maupun masyarakat umum baik secara pribadi, keluarga, ataupun bersama-sama (media massa, ormas, LSM, mahasiswa dll). Pemantauan ini dilakukan agar masyarakat dapat mengawal langsung pelaksanaan kebijakan di lapangan apakah telah sesuai dengan rencana kebijakan yang disusun atau tidak (termasuk pemenuhan 5 kebutuhan dasar dan perlindungan warga). Contoh kebijakan pasca gempa 27 Mei 2006 di Yogyakarta yaitu Peraturan Gibernur (Pergub) 23 tahun 2006 tentang kebijakan rehabilitasi rekonstuksi propinsi DIY. Pergub ini cenderung merupakan kebijakan yang elitis (minim partisipasi masyarakat dalam perumusannya) hanya mengatur hak atas perumahan saja dan masih memakai paradigma masyarakat sebagai obyek bukan subyek kebijakan. Hak-hak korban harus dipenuhi karena sesuai pembukaan UUD 1945 alinea 4 memuat tujuan pemerintah Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Sehingga pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan terhadap masyarakat dan perlindungan terhadap bencana merupakan pelaksanaan mandat konstitusi sekaligus pemenuhan hak asasi manusia Indonesia. Lebih dari itu, masyarakat berhak melakukan pemantauan atas pelaksanaan mandat tersebut.
74 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

::

C ATATA N L I N G K U N G A N

MERAWAT MERAPI
SUPARLAN, S. SOS. I*

YOGYAKARTA DENGAN LUAS LAHAN 318.580 HA MEMILIKI
SATU KAWASAN PENYANGGA EKOLOGI ISTIMEWA YAITU GUNUNG

MERAPI. GUNUNG INI TERKENAL
SEBAGAI GUNUNG TERAKTIF DI DUNIA. POSISINYA TERLETAK DI 2 PROPINSI. JAWA TENGAH DAN YOGYAKARTA. SELAIN GUNUNG TERAKTIF, TIDAK ADA YANG MENYANGKAL KALAU GUNUNG MERAPI DENGAN LUAS SEKITAR 6.410 HA TELAH MENJADI SUMBER-SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT HULU HINGGA HILIR SEJAK JAMAN DAHULU.

G UNUNG Merapi (3968 m dpl) merupakan gunung api yang memiliki karakteristik unik dan spesifik, membentuk ekosistem khas tipe hutan tropika basah dataran tinggi. Selain itu, kawasan Merapi juga merupakan daerah tangkapan air dan sumber air serta suplai oksigen pada daerah tengah hinggal hilir untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah. Begitu krusial fungsi kawasan Merapi, sehingga penting dan wajib untuk tetap menjaga eksistensinya. Hal ini guna menjamin ketersediaan kebutuhan air, udara, keragaman hayati dan ekosistemnya bagi masyarakat Contoh, sumber mata air di lereng selatan Merapi, Kali Krasak, Kletak, Candi, Umbul Wadhon, Umbul Mbebeng mampu mensuplai sumber air kepada masyarakat hulu hingga hilir. Namun beberapa perubahan ekologi yang berdampak negatif terus bermunculan. Tercatat, mata air dari tahun 1990-tahun hingga 2008 ini menghilang secara drastis. Dari sekitar 30 sumber air yang ada di wilayah Merapi, sekarang mungkin bisa di hitung dengan jari. Hal ini dikarenakan berbagai sebab. Pertama, bencana alam meletusnya Gunung Merapi yang menimbulkan kebakaran hutan dan turunnya lahar. Fenomena ini mengakibatkan beberapa kawasan hutan resapan air maupun sumber air terganggu. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 2006 lalu, beberapa sumber air merapi sempat tertutup lahar dan tidak bisa dialirkan kembali sebagai sumber kehidupan masyarakat. Tak hanya itu, pipa jaringan distribusi air untuk warga juga terputus. Bahaya ini masih akan terus berlangsung kedepannya, mengingat Gunung Merapi memiliki siklus letusan dengan jangka waktu yang pendek. Kedua, Pembangunan insfrastruktur pariwisata yang tidak sesuai dengan tata ruang wilayah. Misalnya, pembangunan sarana dan pra sarana taman nasional yang dibangun di dalam kawasan wisata Kaliurang, ketiga, penambangan pasir yang tidak terkontrol di berbagai
toegoe :: SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN :: 75 | edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |

wilayah Merapi dengan berbagai kedok. Seperti, dalih normalisasi sungai. Padahal dampak dari aktivitas tersebut menyebabkan beberapa kawasan resapan air yang “menghidupi” lahan pertanian masyarakat di sepanjang bantaran sungai di wilayah hulu ke hilir hilang. Berikutnya, Kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan kawasan sendiri masih bersifat sektoral dan saling tumpang tindih. Sektoral karena pada sebuah kawasan hanya akan dilihat dari dominasinya. Seperti Merapi hanya dipahami sebagai hutan. Padahal hutan pada kawasan Merapi hanya salah satu komponen dalam sebuah ekosistem. Sedangkan tumpang tindihnya kebijakan dapat dilihat dari kebijakan yang ada tidak menjadi satu kesatuan dalam pengelolaan kawasan. Kebijakan penataan ruang, kehutanan, pertambangan, pertanian, agraria, otonomi daerah, pengelolaan sumberdaya air sampai kebijakan teknis seperti perizinan, kenyataannya hingga kini banyak yang berbenturan. Tumpang tindihnya kebijakan jelas sangat mempengaruhi terhadap pola dan arah pengelolaan kawasan. Apalagi negara berkembang seperti Indonesia, pola pembangunannya masih menggunakan pendekatan pertumbuhan ekonomi. Sehingga apapun kebijakan yang ada, kepentingan ekonomi yang akan menjadi prioritas, sedangkan keberlanjutan ekologis masih belum menjadi disepelekan. Selain problem kebijakan di wilayah hulu, proses kesadaran masyarakat di tingkat hulu hingga hilir tidak terkonsolidasi dalam satu pengelolaan kawasan merapi dalam satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Sehingga anggapan bahwa kawasan Merapi hanya diperuntukan untuk masyarakat di kawasan hulu saja, masih lestari hingga kini. Padahal faktanya, keberadaan Merapi merupakan pusat dari keberlanjutan ekologis dari hulu, wilayah perkotaan hingga Bantul. Terakhir, Eksploitasi sumber air di wilayah Merapi seperti pemanfaatan Umbul Wadhon oleh PDAM Sleman, PDAM Yogya, Arga Jasa, dan perusahaan air minum lain. Praktek yang tidak terkontrol yang dilakukan dengan mengatasnamakan kepentingan publik tersebut, telah mengambil alih jatah petani, rumah tangga dan usaha kecil yang ada di wilayah hulu hingga hilir. Degradasi ekologi seperti penurunan debit air menyebabkan kestabilan pemanfaatan air untuk kehidupan pertanian, usaha kecil dan kebutuhan rumah tangga dan beberapa aktifitas yang lain masyarakat terganggu. Hal ini kerap memicu terjadinya konflik di masyarakat kawasan Merapi. Potret pembangunan di Yogyakarta yang mengabaikan eksistensi kawasan Merapi perlu segera dibenahi. Beberapa hal yang dapat dilakukan yakni, pertama, mendorong sistem kebijakan pemerintah dari level kampung, desa, kecamatan, kabupaten hingga propinsi menjadi satu kesatuan kebijakan yang menyeluruh terpimpin dalam pengelolaan kawasan penyangga ini. Selanjutnya, membentuk jaringan pola komunikasi harmonis antara hulu hilir baik di level pemerintah maupun rakyat. Artinya, sistem kelola harus dengan pendekatan kawasan hulu hingga hilir. Kemudian, melakukan restorasi pengelolaan sumber daya air yang lebih lebih terintegrasi dari hulu ke hilir dengan memegang prinsip air sebagai barang publik. Merapi yang meliputi wilayah Kabupaten Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali berada di 9 Kecamatan, 26 Desa dan 76 dusun sudah seharusnya tidak menjadi obyek eksploitasi belaka. Akhirnya eksistensi Merapi akan terus terjaga bila pembangunan mengedepankan keadilan ekologis. Bila tidak, sudah seyogianya kita ketiban jejalan petaka di kemudian hari. Mari wujudkan keadilan ekologis untuk kehidupan yang bermartabat di “Yogyakarta Berhati Nyaman” ini.
76 toegoe
| edisi 1 | Tahun I | Juni 2008 |
::
SUARA RAKYAT DALAM WAHANA LINGKUNGAN

*DIREKTUR EKSEKUTIF WALHI YOGYAKARTA

::

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->