P. 1
KULTUM MAULID

KULTUM MAULID

|Views: 1,518|Likes:

More info:

Published by: Dewi Rahmayani Rahman on Feb 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/23/2013

pdf

text

original

MAULID DALAM SOROTAN (Analisa Dampak Perayaan Maulid) Assalamu¶alaikum WR.

WB Innalhamda lillah nahmaduhu wanasta¶inuhu wanastaghfir, wa na¶udzubillahi minsyururi amfusina wa syaiati ahmalina man yahdihillahu falah mudillalah waman yudlil falahadiyalah. Ashadu Allahilaha illallah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluh wa man tabi¶ahum bi ikhsanin ilaa yaumid diien, amma ba¶ad... Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas semua nikmat yang tak henti-hentinya kita rasakan sampai saat ini. Nikmat kesehatan, kesempatan dan terlebih lagi nikmat iman yang alhamdulillah masih terhujam dalam dada kita.Shalawat dan salam senantiasa kita kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman dan sebaik ± baik teladan. Insya Allah pada kesempatan ini saya akan membawakan sebuah kultum mengenai perayaan Maulid Nabi. Hadirin sekalian, Umat Islam dimuliakan Allah dengan dua hari raya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri setiap tahunnya, dan hari Jum¶at setiap pekannya. Selain itu, tidak dikenali hari raya yang lain.Kenyataan saat ini, kaum Muslimin merayakan hari raya yang lain selain hari raya tersebut, di antaranya Perayaan Maulid Segala sesuatu yang dilarang pasti ada mudharatnya. Demikian pula perayaan hari raya selain hari raya di atas, Perayaan maulid sudah menjadi tradisi atau bahkan hal yang wajib dilaksanakan yaitu adanya pembacaan Barzanji, yaitu sebuah ritual membacakan puji-pujian kepada Nabi Shallallahu ¶Alaihi Wasallam. Di dalamnya juga terdapat benih-benih kesyirikan dan pujian yang melampaui batas Syari¶at terhadap beliau . Namun mereka menganggap itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini membuat sebuah praktek kesyirikan dianggap ibadah. Rasulullah Shallallahu ¶Alaihi Wasallam bersabda : ³Janganlah kalian berlebihan memujiku seperti orang-orang Nashrani berlebihan memuji putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.´ [HR. Bukhari dari µUmar bin Kaththab],Inilah dampak yang terbesar dari sekian kerusakan perayaan maulid. Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : ³Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, µJika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.´ [QS. Az-Zumar : 65].

saudara sekalian, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari¶at untuk beribadah dengan merayakan kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak dicontohkan Rasulullah dan Sahabat adalah sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari¶at. Padahal Allah berfirman : ³Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.´[Al-Hujurat :1]. Maksudnya , orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda... Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan untuk kebahagian hambanya, lalu Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datang seorang membawa aturan baru yang dianggapnya baik untuk semua. Bukankah orang tersebut telah berani mengatakan bahwa aturan Sang Raja belum sempurna?, dan perlu ditambah? Inilah hakikat Bid¶ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari¶at. Padahal Allah berfirman: ³Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari¶atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah?´[Asy -Syuura :21]. Kita tak akan mendapatkan riwayat oleh para Sahabat, tabi¶in dan tidak pula tabi¶uttabi¶in. Karena perayaan Maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentu para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : ³walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi´, ³sekiranya itu lebih baik maka orang-orang sebelum kita (yaitu para sahabat) lebih pantas melakukannya´. hadirin sekalian, Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ¶Alaihi Wasallam. Jika ini benar, siapa diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi selain Sahabat?. Jawabnya ³Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi´. Jika demikian, maka mengapa para Sahabat tidak membuktikan cinta kepada beliau dengan merayakan hari kelahiran beliau? Kenapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk ³Panitia Lomba Maulid´ untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini?,´Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar´ [Al-Baqarah : 111]. Maulid sesungguhnya adalah perbuatan meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa ¶Alihimussalam yang mereka sebut dengan Natal. Padahal kita dilarang keras

menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru mereka dalam hal ritual agama. Allah berfirman : ³Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.´ [Al-Baqarah :145].

Adanya Tabziir (Pemborosan) Berapa dana yang dihabiskan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid? Andai dana-dana tersebut disedekahkan di jalan Allah tentu itu akan lebih bermanfaat, daripa da digunakan sebagai penyokong kegiatan yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri berutang . Ini adalah bentuk kemubazziran yang menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan dalam Al-Qur¶an, ³«dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemborospemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya´ [Al-Isra¶ :26-27]. Persatuan Islam yang Semu Sebagian kaum Muslimin berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : ³Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriahannya´. Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits ³Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi¶in) kemudian yang sesudahnya (tabi¶ tabi¶in)´ [HR. Bukhari]. Saudara ± saudara sekalian, Dari sini kita pahami bahwa para Sahabat adalah manusia terbaik yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya . Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul µalamin sewaktu mereka berdiri, ruku¶ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula dana mereka terkumpul tidak karena adanya maulid. Tidak pula karena aneka lomba dan permainan yang mereka adakan setiap Rabiul Awwal. Kita bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa sebab kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak dan berpecah belah? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad?. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat dan syahwat yang menerpa.(alsofwah)

Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi Assalamu¶alaikum WR.WB Innalhamda lillah nahmaduhu wanasta¶inuhu wanastaghfir, wa na¶udzubillahi minsyururi amfusina wa syaiati ahmalina man yahdihillahu falah mudillalah waman yudlil falahadiyalah. Ashadu Allahilaha illallah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluh wa man tabi¶ahum bi ikhsanin ilaa yaumid diien, amma ba¶ad... Segala puji bagi Allah, tak henti ± hentinya lisan ± lisan kita memuji atas segala kebesaranNya. Shalawat dan salam senantiasa kita kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman dan sebaik ± baik teladan. Insya Allah pada kesempatan ini saya akan

membawakan sebuah kultum mengenai perayaan Maulid Nabi. Hadirin sekalian, Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya. Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam bersabda, ³Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.´ (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu µanhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam, dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya. Setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba¶ (mengikuti Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Klaim cinta kepada Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau. Hadirin sekalian, Dalam sejarah pun, motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan maulid nabi (pengikut mazhab Bathiniyyah), bukan didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis. Kenyataan sejarah peringatan maulid yang tidak ditemukan pada masa Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam dan masa tiga generasi yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu µalaihi

Wasallam sebagai generasi terbaik umat ini, menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid'ah haram. Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu Wata¶ala, dan nikmat terbesar yang tercurah pada ummat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, al Qur'an menyebut pengutusan Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam sebagai nikmat, "Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri." (QS. Ali Imran: 164). Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura' berbeda dengan status umatnya. Beliau adalah musyarri' (pembuat syariat), adapun umatnya hanya muttabi' (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau. Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam, dan sangat antusias melakukan berbagai kebaikan. Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi¶ul Awwal saja? Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba¶ pada sunnahnya? Saudara ± saudara sekalian, Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam. Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid'ah dipoles menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid¶ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa Alaihissalam melalui natalan.

Padahal Nabi Shallallahu µalaihi Wasallam bersabda, ³Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.´ (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Mengenal sosok Rasulullah Shallallahu µalaihi Wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.

Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Wallahu A¶laa wa A¶lamu bis-shawab (Diringkas dari risalah Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi. Ustadz Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->