P. 1
16260315-Kajian-Batik-Klasik-Keraton-Solo

16260315-Kajian-Batik-Klasik-Keraton-Solo

|Views: 873|Likes:
Published by DeviNinta Imami N

More info:

Published by: DeviNinta Imami N on Feb 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki kelebihan tersendiri dibanding peninggalan budaya lain yang berprinsip sama, yaitu celup rintang warna. Di antara berbagai wastra tradisional yang menggunakan teknik ini, tidak ada satupun yang tampil seindah dan sehalus batik. 1 Namun nilai pada batik Indonesia bukan hanya semata-mata pada keindahan visual. Lebih jauh, batik memiliki nilai filosofi yang tinggi serta sarat akan pengalaman transendenitas. Nilai inilah yang mendasari visualisasi akhir yang muncul dalam komposisi batik itu sendiri. Dalam perkembangannya, sejarah mencatat bahwa penyebaran batik tidak terlepas dari peranan para pedagang ke berbagai pelosok Nusantara, bahkan ke Malaysia atau Singapura. Dalam usaha penyebaran itulah, terjadi penetrasi budaya luar yang menambah khasanah perbatikan Indonesia. Fleksibilitas tersebut dapat dilihat melalui batik pesisir yang secara antropologis lebih terbuka terhadap sesuatu yang baru dibanding daerah pedalaman, menyebabkan masyarakat pendukungnya lebih mudah menerima budaya luar 2 . Salah satu contohnya dapat di lihat dari batik cirebon motif Mega Mendung atau pengaplikasian warna-warna cerah seperti merah tua, merah muda, atau hijau yang merupakan pengaruh kuat dari China. Selain itu batik juga merupakan salah satu hasil seni dan budaya yang terlahir dari masyarakat sawah, tepatnya di daerah Surakarta. Perkembangan batik
1 2

Lihat Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan halaman 10 Lihat Modern Miring tulisan Jacob Soemardjo halaman 36

1

sangat didukung oleh keadaan masyarakat yang memiliki banyak waktu luang saat menunggu masa panen tiba, ditambah dengan kompleksitas masyarakat pendukung yang memungkinkan terjadinya pengerjaan batik bukan hanya sebagai kegiatan membatik, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang transenden dengan nilai filosofi yang tinggi. Batik itu sendiri berawal dari lingkungan istana, sehingga adanya sebutan batik keraton yang pada akhirnya meluas ke segala lapisan masyarakat. Hal inilah yang memberikan kesan aristokrat dan feodal pada batik keraton. 1.2 Rumusan Masalah

Bertolak pada latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, dalam penelitian ini Penulis akan membahas batik klasik keraton Surakarta dengan sampel-sampel yang berasal dari kumpulan koleksi batik Santosa Doellah yang merupakan pemberian dari kolektor batik asal Belanda, Veldhuisen. Dalam penelitian ini, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah visualisasi dan nilai estetik batik klasik keraton Surakarta koleksi H Doellah Santosa? 2. Bagaimana pengaruh Keraton pada perkembangan batik Surakarta? 1.3 Batasan Masalah Keraton

Di dalam membahas makalah yang dikaji pada penelitian ini, beberapa batasan masalah yang diambil antara lain :

2

1. Sampel yang digunakan berasal dari kumpulan koleksi batik yang dimiliki oleh Santosa Doellah. Sampel tersebut merupakan pemberian dari seorang kolektor asal Belanda, Veldhuisen 2. Lokasi yang di bahas adalah keadaan Surakarta baik secara geografis, etnografis maupun antropologis 3. Pembatasan jenis kain batik yang dibahas sebatas nyamping dan sejenisnya. 4. Klasifikasi batik yang digunakan sebagai sampel berdasarkan pada klasifikasi bentuk, baik itu Geometris maupun Non Geometris. 1.4 Tujuan Penelitian

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menimbulkan penghargaan dalam diri masyarakat Indonesia melihat keuletan, dedikasi, ketekunan, keterampilan dalam membatik maupun usaha pendistribusiannya agar bentuk kesenian ini tetap lestari dan tak lekang oleh waktu. Selain itu dalam tingkat selanjutnya, diharapkan masyarakat tidak lagi melihat batik sebagai ragam hias atau artefak tradisi, namun juga mampu membantu membaca sejarah bangsa yang lebih lanjut menciptakan kesadaran dan penghargaan atas budaya lokal. Agar seni budaya ini tidak stagnan, maka diperlukan adanya pengkajian lebih lanjut. 1.5 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini penulis berharap masyarakat Indonesia dapat menyadari kebesaran warisan budaya yang tak ternilai harganya, yang pada akhirnya menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal. Penulis sadar sekali dengan ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang’, sehingga penulis berusaha mengenalkan dan memberi kesadaran akan lokalitas, yang dalam hal ini batik keraton dengan

3

yang lebih penting dengan kesadaran yang telah terbangun.6 Hipotesis Awal kegiatan membatik adalah suatu proses yang selain membutuhkan ketelatenan dan keuletan. Namun. mulai dari mempersiapkan kain (pencucian. lalu siapa? 1. 3 Lihat Batik. Selanjutnya. hingga Bliriki 3 . membuat pola (ngelowongi). juga memerlukan kesungguhan dan konsistensi yang tinggi. Pengaruh Zaman dan Lingkungan halaman 13-18 4 . Karena itulah kegiatan membatik ini pada awalnya tumbuh dalam masyarakat sawah yang memiliki masa tunggu panen. Melalui serangkaian proses panjang tersebut. pengetelan. pengemplongan). batik keraton memiliki pakem-pakem tertentu yang harus diterapkan. juga dapat diketahui bahwa waktu yang dipergunakanpun relatif panjang. dikemudian hari diharapkan masyarakat Indonesia mampu menciptakan batik yang sesuai dengan perkembangan zaman namun tidak menghilangkan fundamen dasar yang membangun teknik dan falsafah membatik itu sendiri. Secara visual. pada akhirnya bangsa Indonesia mengetahui hendak dibawa kemana budaya ini. Seperti halnya pola Parang Rusak yang hanya boleh digunakan oleh Pangeran atau Pola Truntum yang diperuntukkan kepada pasangan pengantin. Karena jika bukan kita yang peduli. Nerusi. pelorodan. Hal ini dapat dilihat dari serangkaian proses. Hal itu berarti masyarakat saat itu memiliki waktu yang cukup untuk membatik. Nembok.mengkorelasikannya pada antropologi budaya dan sejarah lokal yang mengantarkan pada sudut pandang baru dalam melihat batik. membuat isian (Ngisen-iseni). Pakem tersebut muncul karena sistem terpusat yang diterapkan pada masyarakat sawah membutuhkan hierarki untuk mengukuhkan sentralisasi. baik dalam pakem pembuatan pola maupun pakem penggunan motif tersebut beserta upacara ritual yang akan diselenggarakan.

Warna yang digunakan pada batik keratonpun terbatas pada pewarna alam mengingat belum ditemukannya pewarna sintesis pada masa itu. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian data : 1. gambar ataupun rekaman wawancara. Lebih jauh. Penyelarasan dan harmonisasi itu sendiri merupakan suatu tujuan utama masyarakat tradisi dalam penciptaan karya seni. penerapan warna seperti hitam. Jika dipandang melalui alam kosmologi jawa. Pendekatan historis digunakan untuk terlebih dahulu menyusun data-data kronologis sejarah tumbuh kembangnya batik keraton Surakarta. metode penelitian yang digunakan kali ini secara umum menggunakan metode kualitatif.7 Metode Penelitian Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya. namun sebagai suatu bagian dari kehidupan sehari-hari. yang dalam hal ini adalah batik. Dalam hal ini seni tidaklah sekuler seperti halnya konsep seni pada Masyarakat Modern. 1. penciptaan tersebut tidak terklasifikasi dalam suatu kegiatan kesenian tersendiri. 5 . merah atau coklat juga mengacu pada kaidah dan pakem yang berlaku. Keseluruhan tata aturan tersebut bertujuan untuk penyelarasan dan harmonisasi. Baik itu sketsa. Kemudian pendekatan deskriptif digunakan untuk menjelaskan ciri-ciri dari objek kajian. Kajian literatur : Langkah pertama dalam penelitian ini adalah melakukan kajian literatur dalam rangka pengumpulan data yang berhubungan dengan objek penelitian 2. Dokumentasi : Melakukan pendokumentasian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan objek kajian.

6 . metode penelitian. sistematika penulisan dan alur kerja. Bab III : DEFINISI. Bab II : SEJARAH BATIK Pada bab ini membahas secara kronologis awal munculnya batik. batasan masalah. KLASIFIKASI DAN FUNGSI BATIK Memuat definisi apa batik itu sendiri. beserta pembagian batik secara garis besar. Dalam bab ini juga berisi penggolongan motif-motif. menjelaskan rumusan masalah.1.8 Sistematika Penulisan Dalam penulisan penelitian kali ini sistematika penulisan disusun menjadi beberapa bab dengan urutan sebagai berikut : Bab I : PENDAHULUAN Membahas tentang latar belakang pemilihan objek penelitian. baik yang sesuai dengan pakem yang berlaku atau yang muncul dikemudian hari pengaruh dari sinkretisasi budaya Bab IV : ANALISA BATIK KERATON SURAKARTA Bab ini mengetengahkan analisa beberapa sampel visual batik dari koleksi Batik Danar Hadi dengan motif batik keraton Surakarta (Solo) Bab V : SIMPULAN DAN SARAN Bab terakhir ini berisi kesimpulan dari penelitian. tujuan penelitian. munculnya pertama kali di Keraton Surakarta dan pengembangan polanya. hipotesis awal.

1.1 SUMBER : PENULIS 7 .9 Alur Kerja Bagaimanakah visualisasi dan nilai estetik batik klasik keraton Surakarta koleksi H Doellah Santosa? Bagaimana pengaruh Keraton pada perkembangan batik Keraton Surakarta? Batasan Masalah Teknik Penelitian Batik Keraton Kain batik yang di bahas adalah nyamping dan sejenisnya Daerah geografis Surakarta Sampel yang dianalisa adalah batik koleksi H Santosa Doellah Tinjauan Literatur Masyarakat Surakarta Seni Tradisi Batik Keraton Surakarta Analisa Data Kesimpulan Dan saran SISTEM ALUR KERJA PENELITIAN GAMBAR 1.

melainkan dinamis. Karena itulah kebudayaan tidak pernah statis. 8 . Dengan kemampuan akal budinya. Karena perubahan itulah diperlukan adaptasi secara berkelanjutan pada kebudayaan itu sendiri.BAB II SEJARAH BATIK “Culture is an organization of phenomena acts (patterns of behaviour). kebudayaan akan berubah seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pola pikir di dalam masyarakat tersebut. kebudayaan itu dipelajari satu sama lain dalam satu kelompok. tingkah laku. Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa terdapat 3 faktor yang menjadi ciriciri kebudayaan. idea (beliefs. knowledge) and sentiment (attitudes values) that is independent upon the use of symbols” Leslie A. object (tools. Yang kedua. White Menurut Koentjaraningrat. Bahkan tanpa adanya pengaruh ekstern pun. kebudayaan dipegang secara luas oleh suatu kelompok. dalam artian telah disepakati bersama. dan perasaan dalam kelompok secara mendalam. Yang pertama. things made with tools). Adanya perubahan pada suatu komponen menyebabkan perubahan pada komponen lain. kebudayaan adalah suatu sistem gagasan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan bagian dari manusia dengan cara belajar. mulai dari yang sangat sederhana ke arah yang lebih kompleks sesuai kebutuhannya. manusia telah mengembangkan berbagai sistem tindakan. dan terakhir kebudayaan mempengaruhi pikiran. Kebudayaan merupakan suatu struktur yang tersusun sangat rapi dimana suatu komponen tertentu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan banyak komponen lain yang terkait.

1983 halaman 127 Ibid halaman 127 Ibid halaman 128 9 . Indonesia dikenal sebagai manusia kepulauan maritim yang berjiwa bahari. secara rinci diketahui bahwa pada masa Austronesia.Seperti yang diketahui bahwa ada 7 unsur kebudayaan. Selain itu. kesenian adalah salah satu elemen penting dan kesenian itu sendiri sangat erat kaitannya dalam kebudayaan. dan kesenian adalah salah satunya. Disini. batik yang berangkat dari seni tradisi merupakan suatu bentuk kesenian yang merupakan produk budaya yang erat kaitannya dengan keseharian dan bersifat aplikatif meskipun disisi lain juga memuat sisi transendenitas. Hal ini pulalah yang menyebabkan sejak abad ke tiga Masehi. Bandung. Mattiebelle Gittinger berpendapat bahwa batik di Jawa mempunyai persamaan dengan Cina dalam bentuk stensil. Proses stensil bersamasama dengan perekatan dipergunakan sebagai penutup saat kain di celup pada larutan pewarna 6 . dapat dilihat bahwa dalam perspektif kebudayaan. Dalam penelitian kali ini. Dalam pembahasannya. Prosesnya. etnografis dan antropologis masyarakat pendukungnya. Kajian Batik Surakarta. mengingat seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka. Tesis FSRD ITB. Sebenarnya istilah seni tidak ada dalam kamus masyarakat tribal. seiring dengan masuknya agama Hindu Buddha 5 . desain pertama kali dicetak diatas kertas lalu dipotong-potong yang disusul proses pembekasan bagian yang terangkat dengan jalan perekatan stensil pada kain. Hal inilah yang membawa pengaruh budaya luar masuk ke Indonesia dan diadaptasi sesuai dengan keperluan. mulai tampak kebudayaan yang berasal dari India. Kerajaankerajaan di Indonesia menjelajah hingga di samudera Hindia dan Pasifik (Tabrani 1995: 15-1) 4 . 4 5 6 Pujianto. batik sebagai produk budaya dari masyarakat tradisi tidak terlepas dengan keadaan geografis.

2.1

Bukti Otentik Batik sebagai produk asli Indonesia

Peninggalan-peninggalan dari India khususnya motif batik mulai tampak di Jawa pada tahun 1822 (Djajasoebrata. 1972:3) 7 , yaitu gambar batik stensilan kertas yang mempunyai persamaan dengan India Selatan yang banyak muncul di batik pesisir daerah Gresik. Hal ini dapat dimengerti karena masyarakat pesisir memang lebih fleksibel menerima pengaruh luar dibanding batik keraton. Pada zaman Islam purba, motif-motif batik diperkaya dengan berbagai bentuk ilmu ukur, motif huruf arab dan motif asing lain yang ikut berperan dalam pembentukan hiasan batik. Pada perkembangan selanjutnya, hubungan Cina dengan Nusantara semakin erat. Hal ini dapat dilihat melalui babad tanah Jawa ketika diceritakan bahwa kerajaan Mataram awal utusan Majapahit pergi ke negeri Cina dan pulang membawa Puteri Cempo yang selanjutnya menjadi isteri Prabu Brawijaya yang nantinya menghasilkan keturunan Raden Patah (Romawi. 1989 :39) 8 . Unsur Cina pada batik keraton muncul pada turunan bentuk yang dihasilkan, seperti halnya motif Cemungkiran sebagai turunan bentuk Lotus dan Sembagen Huk sebagai turunan dari bentuk burung phoenix yang mengadopsi budaya Cina. Bukan hanya pada motif, pengaruh Cina juga muncul pada pemilihan warna dan komposisi yang cenderung cerah dan berani seperti merah, kuning dan biru. Dari keterangan diatas terkesan bahwa batik bukanlah warisan budaya asli Nusantara. Namun jika dianalisa, arca peninggalan zaman Sriwijaya-Syailendra dalam penerapan pakaiannya memperlihatkan perkembangan desain batik. Seperti halnya pada patung Syiwa dan Singosari Malang (abad 13) dimana terdapat motif kawung dengan isen yang menyerupai motif ceplok (1980 :2). Hal tersebut menegaskan bahwa terlihat keterkaitan antara perkembangan

7 8

Ibid halaman 128 Ibid halaman 128

10

batik dengan rekaman sejarah yang tertoreh pada dinding candi. Hal ini dapat dijadikan parameter bahwa batik telah ada saat candi tersebut dibangun.

GAMBAR 2.1 MOTIF CEPLOK YANG JUGA MEMILIKI KESAMAAN DENGAN MOTIF DARI INDIA SELATAN, DIMANA MOTIF-MOTIF TERSEBUT DIGAYAKAN DI GRESIK SUMBER : DJAJASOEBRATA. 1972:3 9

Sekalipun tidak mungkin menemukan lembar kain batik sebagai bukti arkeologi pada masa silam, tetapi bukti sejarah tentang teknik rintang celup warna, ragam hias dekoratif, simbolik, keseimbangan dinamis dan menjiwai bentuk batik sudah dikenal sejak zaman pra sejarah. Temuan arkeologi berupa arca dalam Candi Ngrimbi dekat Jombang

menggambarkan sosok Kertajasa, Raja pertama Majapahit yang memerintah pada tahun 1294-1309 memakai kain beragam hias kawung (Van der Hoop 1949:

9

Ibid halaman 128

11

80) 10 . Bisa saja ragam hias pada kain itu dibuat dengan teknik melukis, prada, tenun songket atau batik.

GAMBAR 2.2 MOTIF CEPLOK YANG MUNCUL PADA PATUNG SIWA DI CANDI SINGOSARI SUMBER : DWI RAHAYU SURVIATI

Tetapi bila hal tersebut diamati lebih cermat dengan membandingkan rincian ukiran pada bentuk perhiasan manik-manik dan urat daun teratai serta detail yang sangat halus, maka hal tersebut dapat dijadikan sebagai indikasi tentang teknik yang diterapkan pada pengolahan kain tersebut. Garis sejajar lembut sebagai batas bentuk elips kawung mengingatkan pada garis yang dihasilkan oleh canting carat loro pada teknik batik. Sedangkan

Diambil dari Tesis mahasiswa FSRD ITB “pengaruh Etos Dagang Santri pada Batik Pesisiran” oleh hasanudin NIM: 27192008 tahun 1997 halaman 9

10

12

Mundur tur anguncap : ‘Aduh. sira Rangga Lawe Sira Pedang. Rangga Lawe. Karya-karya tersebut antara lain: 1. mengingat teknik tenun sulit untuk mencapai ketelitian garis yang halus dan sejajar. Serat Pararaton Serat Pararaton berisi antara lain adalah sebagai berikut : “ Raden Wijaya amacal sisisngkalaning amaluku Dadanipun Kebo mundarung tekeng mukanipun kebek endut. Berg 12 . 1978:1) 11 . salah satunya adalah perkembangan batik (Hardjonagoro. Sira Gajah” Diintisarikan dari Karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 131 12 Ibid halaman 131 11 13 .susunan titik yang runtut hampir berdekatan hanya mungkin dihasilkan oleh canting cecek siji untuk membuat isen-isen cecek (titik). Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik yang diterapkan dalam pengolahan kain tersebut adalah batik. Sedangkan lukisan dan prada kurang lazim diterapkan dalam tekstil karena cepat rontok dan warnanya kurang tahan lama. Karya sastra lama tersebut diterbitkan oleh Brandes dan karya surat Kidung Rangga Lawe dan Sundayana oleh C. Sira Dangdi. Selain itu. seperti Kudang Sundayana. bila mengungkap seni sastra Jawa Tengahan di zaman Majapahit. tuhu yan dewa si pakenira Raden’ Semangka Raden wijaya adum lancingan gerising Ring kawunalira sawiji sowing Ayun sira angamuka Kang dinuman sira sora. Serat Pararaton dan Bima Suci yang mengetengahakan pemikir-pemikir agama dan menceritakan keadaan pada zaman tersebut.C.

Tembang Durma Tembang Durma no.Kamu Gajah] 2. 74 dalam Rangga Lawe yang diterbitkan oleh C. Jalan mundur sambil berkata : ‘Aduh. Dada Kebo Mundarung hingga mukanya penuh Lumpur. kamu Rangga Lawe Kamu Pedang. Kamu Dangdi. pasrah kepada dewaku ya Raden’ Saat itu Raden Wijaya sedang membagikan celana gerising Kepada rakyatnya Agar segera menentang Yang kamu bicarakan sora.C Berg (1939: 148) menerangkan tentang pemakaian kain dodot untuk penutup mayat di zaman Majapahit seperti yang tertulis di bawah ini: “Tan-Dwana usungan pan atawan brana Sang Nata kon nastari Mangkat tan ingundang Teka adodot petak Winingkis pupune kalih Tikeng Kacuran Atuntnan limaris.” Artinya : Tidak bermaksud menangis karena mayat Sang Raja suruh lestari Barangkat tidak diundang Dengan memakai dodot putih Digulung pada kedua kakinya 14 .Artinya : Raden Wijaya menginjakkan kaki untuk memulai perjalanannya.

L. Contohnya wayang kulit adalah pertunjukkan yang menampilkan repertoar lakon yang mengandung mitologi dan filsafat. Brandes bahwa batik berasal dari zaman yang sama dengan pertanian. dimana dalam pertunjukannya. pelayaran dan barang logam (Handoyo: 1987: 4) 14 2. Hal ini membuktikan pendapat J. media wayang pernah dimanfaatkan dalam upaya sosialisasi dan penyebaran Islam di Indonesia. Selain kedua pola tersebut. Keadaan ini disebut harmonisasi. tiga. orang Jawa juga mempercayai pola empat yang dikaitkan dengan arah mata angin dan yang ke lima sebagai pusatnya. wayang 13 . klasifikasi simbolik dengan lima kategori tersebut berkaitan dengan persepsi kemantapan dan keselarasan. Sistem klasifikasi simbolik yang dualistik tersebut dapat dilihat dalam kesenian wayang kulit. gamelan. Pada masa penyebaran islam. Pembagian pola lima atau yang Berasal dari kata dasar ‘Yang’. sistem klasifikasi simbolik orang Jawa didasarkan atas dua. Pola dualistik ini dapat mewujud menjadi pola tiga dimana kedua sisi yang berlainan tersebut diselaraskan sehingga menghasilkan suatu entitas yang sama sekali baru. merujuk pada segala sesuatu yang bersifat gaib. tokoh jahat berada disebelah kiri dalang sedangkan yang baik berada dalam sisi kanannya. Bagi orang Jawa. Sistem yang didasarkan pada dua pola dikaitkan oleh orang Jawa dengan hal-hal yang berlawanan atau saling membutuhkan.Sampai lutut kakinya Merupakan petunjuk jalan Dengan memperhatikan karya sastra lama tersebut diatas. Wayng ini sendiri sesungguhnya adalah suatu upacara untuk mengenang roh leluhur sekaligus memanggilnya turun untuk kepentingan yang masih hidup. lelaki dan perempuan. atau atas dan bawah. lima dan sembilan pola 15 . menunjukkan bahwa batik muncul dan berkembang bersamaan dengan syair-syair lama.2 Klasifikasi Simbolik dalam Budaya jawa Menurut Koentjaraningrat. syair. 14 Ibid halaman 134 15 Diambil dari ‘Indonesia Indah’ buku ke 8 tentang Batik halaman 56 13 15 . seperti siang dan malam.

yaitu perkawinan sakral untuk mendapatkan kekuatan. Dengan kata lain. Ini merupakan suatu hierogami. Kepercayaan ini dianut oleh sebagian besar masyarakat Sistem manca-pat juga mencermunkan keunggulan pusat.dikenal dengan istilah manca-pat 16 ini. dengan satu sebagai pusat tersebut yang kemudian menyelipkan satu diantara empat. Dalam tarian ini kesembilan penari wanitanya bergerak lambat mengelilingi Senopati yang duduk dengan agungnya. Karena itu selain dianggap sebagi pola sembilan. kekuatan gaib. Dalam pandangan Kejawen 18 . Jadi. seperti atas dan bawah serta hal-hal yang telah disebutkan di atas. Inilah yang menjadi titik tolak dari ajaran kejawen yang pada intinya adalah kebatinan. seperti bencana alam atau kematian. yaitu pengembangan kehidupan batin dan diri yang terdalam dari seseorang. Keempat pinggiran tersebut berkaitan dengan salah satu mata angin. 18 Kejawen adalah falsafah asli pribumi Jawa yang tak tersentuh oleh pengaruh Barat maupun Arab 19 Hal ini merupakan indikasi nyata bahwa manusia memang membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk dimintai pertolongan akan sesuatu di luar kemampuan dirinya. dari penguasaan lahir ke pengembangan batin. pola sembilan dapat dijumpai pada tari Bedhoyo Ketawang 17 . sejak zaman dahulu manusia menyadari keterbatasannya dalam menghadapi sesuatu baik dari dalam maupun dari luar diirinya. Pada dasarnya pandangan dunia Jawa bertolak dari perbedaan antara dua segi fundamental realitas. Dalam hal ini senopati menikah dengan Nyi Roro Kidul di Pantai Parang Tritis. sehingga disekeliling pusat tersebut menjadi berjumlah delapan.. Hal ini menimbulkan pola sembilan. Dalam kesenian Jawa. gerak diri harus mengalir dari luar ke dalam. benda bertuah. pola ini juga merepresentasikan tatanan kosmis dengan raja sebagai pusat semesta. pada hakikatnya Kejawen itu sendiri adalah menyelaraskan diri dengan kebenaran yang lebih tinggi hingga lebur (transenden). namun dengan penambahan daerah di pinggirannya yang di bagi atas 4 bagian (pat. Pada awalnya tarian ini hanya boleh ditonton oleh warga keraton. Hal inilah yang memacu 16 16 . Dinamisme dan Manaisme sudah ada sejak zaman Batu.1 Kepercayaan dan Pandangan Hidup Masyarakat Jawa Kepercayaan Animisme. yaitu kepercayaan akan adanya roh. 2.2. dan arwah nenek moyang 19 . 17 Tarian keramat yang dibawakan setiap ulang tahun Sunan atau Senopati sebagai penguasa tertinggi. yang artinya empat). namun baru beberapa tahun terakhir ini tarian Bedhoyo ketawang dapat ditonton oleh semua orang.

Indonesia khususnya di jawa seperti kerajaan Majapahit. Selain kepercayaankepercayaan yang telah disebutkan di atas, pada kerajaan majapahit juga memiliki kepercayaan Kejawen yang berkembang sejak abad ke 8. Masuknya agama Hindu da kerajaan-kerajaan Jawa memunculkan kepercayaan akan Dewa-Dewa Polytheisme). Menurut Hasaan Shadily, masyarakat Jawa mempercayai bahwa Dewa adalah makhluk Tuhan yang diciptakan pada awal proses penciptaan alam semesta, yang selanjutnya ditugaskan untuk mengendalikan kekuatan alam. Raja yang dianggap titisan dewa memiliki kekuatan yang lebih sebagai guru bagi rakyatnya. Hal inilah yang menjadi titik tolak kepercayaan akan adanya Raja yang mampu memerintah dunia dengan sebaik-baiknya. Setelah kerajaan Majapahit pecah, muncullah kerajaan Demak yang pada akhirnya melahirkan kerajaan Pajang. Pada zaman inilah Islam mulai masuk ke Nusantara. Dalam perkembangan selanjutnya kerajaan Mataram II di kota Gede Yogyakarta yang menyatukan Animisme, Dinamisme, Manaisme, Dewa Raja dan Islam untuk dijalankan di Dalem Ageng. Kerajaan ini berkembang dan pindah di Kartasura menjadi Mataram II yang selanjutnya oleh Susuhunan Pakubuwono II di pindah ke Surakarta dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat. Pada Keraton Surakarta inilah kepercayaan Kejawen mulai berkembang kembali hingga ke masyarakat luar Dalem Ageng. 2.2.2 Sistem Kepercayaan Sistem kepercayaan yang berlaku di Keraton kasunanan dan Kadipaten Surakarta adalah campuran Hindu Islam. Pencampuran tersebut dilatarbelakangi oleh sejarah berdirinya keraton, dimana kronologisnya dimulai dari kerajaan Majapahit, Keraton Demak, Keraton Pajang dan Keraton
timbulnya penyembahan akan sesuatu yang dianggap dapat menjadi penyelamat, pelindung sekaligus pencipta.

17

Mataram.

Pengaruh

tersebut

membuahkan

sinkretisasi

antara

semua

kepercayaan tersebut. Seperti halnya kepercayaan Animisme yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bernyawa. Sedangkan Dinamisme adalah kepercayaan dimana segala sesuatu yang ada di dunia memiliki kekuatan dan daya magis. Masyarakat Kearaton Surakarta percaya bahwa selain alam raya terdapat alam lain yang merupaka tempat kehidupan para makhluk halus yang apabila diganggu akan marah dan melakukan kerusakan di alam raya. Sedangkan kepercayaan pada Manaisme merupakan sistem kepercayaan akan adanya roh jelmaan dari arwah leluhur yang semasa hidup dipercaya memiliki kekuatan magis. 2.2.3 Kejawen sebagai Wujud Ideal Kebudayaan Masyarakat Jawa Kata kejawen berasal dari kata Jawi. Jawi sendiri merupakan bentuk halus atau krama dari kata Jawa. Pengertian pertama kejawen mencakup segala hal yang berhubungan dengan pandangan hidup Jawa serta wawasan tentang Jawa. Menurut Mulder (1996 :7), Kejawen bukanlah suatu agama namun lebih cenderung kepada suatu etika dan gaya hidup yang berpedoman pada pemikiran khas Jawa. Kejawen sering pula disebut dengan istilah Ilmu Jawi, suatu ajaran tentang cara untuk menjadi seorang manusia Jawa seutuhnya. Ajaran ini merupakan bentuk awal dari apa yang dewasa ini disebut kebatinan, yang seperti telah kita ketahui sebelumnya merupakan inti dari kejawen itu sendiri. Sedangkan hakikat dari kebatinan itu sendiri terletak pada permasalahan kedudukan serta kehidupan masyarakat di dunia melalui perspektif religius. Manusia dinilai keberadaannya dalam konteks kosmologis, di tengah alam

18

semesta yang diyakini merupakan kancah peperangan antara dua kekuatan untuk diselaraskan. Kisah Bima dan Dewaruci 20 yang merupakan salah satu mitologi yang terkenal dari Mahabarata adalah kisah-kisah yang mengungkapkan tentang pencarian jati diri, hati nurani dan peningkatan akan pemahaman yang lebih jauh terhadap diri sendiri 21 . Menurut Geertz 22 , segala perilaku orang Jawa bertolak pada dua buah ajaran kejawen, yaitu : 1. 2. Nilai yang bertolak pada penghormatan Nilai yang berkaitan dengan penampilan sosial yang rukun

Selain itu, sifat orang jawa dalam Salah satu Sikap Hidup Orang Jawa oleh De Jong (1985: 19-20) dijelaskan sebagai berikut : 1. Narimo, adalah merasa puas dengan nasibnya dan tidak ngoyo. Percaya bahwa Tuhan memiliki rencana sendiri untuknya 2. Rila, adalah keikhlasan hati dengan rasa bahagia dalam hal menyerahkan segala miliknya kepada Tuhan. Keikhlasan ini didasari akan pemahaman bahwa segala sesuatunya adalah milik Tuhan dan segala sesuatu yang ada di dunia adalah barang pinjaman yang sewaktu-waktu akan di ambil kembali. 3. Sabar, merupakan kelapangan dada yang membantu melewati segala cobaan. Kesabaran diibaratkan dengan samudera yang tidak pernah meluap meski sebanyak apapun air yang mengalirinya.

20

Salah satu tokoh perwayangan yang berasal dari mitologi Mahabarata (Hindu). Esensinya Bima dan Dewaruci adalah orang yang sama. Keduanya merujuk pada satu karakter wayang yang sama, dimana tokoh ini terkenal kasar dan bringasan 21 Dikutip dari Kuasa Wanita Jawa halaman 54 22 Dikutip dari tesis S2 Pujianto yang berjudul Kajian batik Keraton Surakarta halaman 92

19

santan. Sedangkan pusat dari ke empat penjuru angin itu merupakan harmonisasi dari keseluruhannya. Temen. serta utara dengan warna hitam besi dan nila.4 Manca-pat Sistem manca-pat 24 jelas memegang peranan penting dalam pembentukan mentalitas Jawa. selatan dengan warna merah. karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi. Pengertian ruang di sini. emas dan madu. akan tetapi manusia seutuhnya yang terbagi atas lima kategori 26 . namun antara lain juga pada warna dasar. perak. Adapun panca warna tersebut dapat tersistemasi seperti di bawah ini : Ibid halaman 94 Sistem yang terdiri atas lima unsur dengan satu pusat dan empat arah mata angin telah berkembang menjadi sistem yang lebih rumit yang memperhitungkan arah mata angin tengah diantara keempat arah mata angin tadi. terdapat lima sikap dasar yang harus dimiliki orang Jawa. Rila. barat dengan warna kuning. darah. cairan dan hewan 25 . Timur dianggap berpadanan dengan putih. merupakan kekuatan untuk melalui segala cobaan. Narimo. 2. Sabar. artinya menepati janji yang telah diikrarkan 4. Lima sikap dasar tersebut adalah sebagai beikut : 1. tembaga. Budi Luhur. yaitu keadaan dimana manusia seyogyanya selalu berusaha mengisi hidupnya dengan melakukan kebaikan terhadap sesama 23 2. 5.2. bukan hanya dalam definisi geometris. 25 Dikutip dari buku Nusa Jawa : Silang Budaya yang disusun oleh Danys Lombard halaman 100 26 Kategori ini dalam perkembangannya menjadi pola sembilan 24 23 20 . keikhlasan hati untuk menyerahkan segala miliknya hanya kepada Tuhan.T Widiatono. artinya bersyukur atas apa yang telah dimilikinya 3. logam.Sedangkan menurut K. Pada setiap arah mata angin sesungguhnya terkait tidak hanya kepada satu orang Dewa.R.

Utara Barat Pusat Timur Selatan Hitam Kuning Pancawarna Putih Merah Wage Pon Kliwon Pahing Legi GAMBAR 2.3 PEMBAGIAN POLA MANCA-PAT DALAM MASYARAKAT JAWA YANG MEMPENGARUHI KEHIDUPAN BERMASYARAKAT SECARA KESELURUHAN 21 .

Adapun falsafah yang terkadung adalah sebagai berikut : 27 28 Yang merupakan dasar dari Primbon Dikutip dari buku Nusa Jawa : Silang Budaya seri 3 halaman 100 22 . 7 untuk gunung dan hewanhewan tertentu seperti kuda. RISTYO EKO Dari bagan di atas tampak jelas bahwa bahkan haripun tidak merupakan kategori otonom. melainkan terklasifikasi menjadi lima unsur. 8 untuk hewan-hewan lain seperti ular. dengan hari kliwon dianggap yang utama karena berada di tengah-tengah. 5 untuk angin. Keempat warna yang mewakili empat penjuru tersebut berdasarkan penelitian Sewan Susanto memuat falsafahnya masing-masing. Contohnya antara lain 3 yang mewakili api dan perempuan. serta 9 untuk pintu dan dewata 28 . gajah. buaya. 6 untuk selera dan rasa. laut. hujan). 4 untuk segala sesuatu yang cair (air. Selain itu dalam alam falsafah jawa juga dikenal nilai akan suatu angka 27 .GAMBAR 2.4 RANGKUMAN PEMBAGIAN MANCA-PAT MULAI DARI ZAMAN PRASEJARAH HINGGA MASUKNYA ISLAM SUMBER : TELAAH BATIK KERATON.

buaya Kesempurnaan. 5. Berhubungan dengan dunia atas Sedangkan dalam buku Weavings of Power and Might the Glory of Java (1988: 51) 29 . 4. Warna Hitam Merah Kuning Putih Makna Perlambangan unsur Bumi yang direpresentasikan dengan visualisasi tumbuhan (baik tumbuhan sulur maupun pohon hayat). laut.2 KLASIFIKASI PEMAKNAAN WARNA YANG MEWAKILI ARAH ANGIN MENURUT ALIT VANDHUISEN SUMBER : PUJIANTO No. RISTYO EKO No. Dewata Kembali ke asal mula Di intisarikan dari tesis S2 Pujianto yang berjudul Kajian Batik Keraton Surakarta halaman 225 23 . mega. Alit Vandhuisen menghubungkannya dengan pemaknaan sebagai berikut : TABEL 2.TABEL 2. 1. binatang dan Meru Melambangkan unsur api yang digambarkan dengan ornament lidah api (modang) Melambangkan unsur air yang divisualisasikan dengan ornamen air. Warna Hitam Merah Kuning Putih Makna Menunjukkan arah Utara yang merujuk pada kematian Menunjukkan arah Selatan yang merepresentasikan kedewasaan dan kecermatan Merujuk pada arah Barat yang berarti menuju kerusakan Menunjukkan arah Timur yang merupakan awal dari kebangkitan Selain itu terdapat pula tabel pemaknaan angka-angka yang merujuk pada pembagian arah mata angin dan warna berdasarkan pembagian pola empat dalam alam pemikiran Jawa. hewan air serta perahu Melambangkan unsur angin atau udara yang digambarkan dengan burung. 1. 3. 29 Angka Tiga Empat Lima Enam Tujuh Delapan Sembilan Nol Pemaknaan Api. 2. 4.3 PEMAKNAAN ANGKA MENURUT KEPERCAYAAN JAWA SUMBER : TELAAH BATIK KERATON. atau awan.1 KLASIFIKASI PEMAKNAAN WARNA YANG MEWAKILI ARAH ANGIN MENURUT SEWAN SUSANTO SUMBER : PUJIANTO No. 6. 8. hujan) Angin Selera dan rasa Gunung dan hewan-hewan tertentu seperti kuda Hewan-hewan tertentu seperti gajah. 3. Perempuan Segala sesuatu yang cair (air. 7. 4. 2. 1. 2. ular. 3. Tabel tersebut dilampirkan sebagai berikut : TABEL 2.

sebelah Selatan diduduki oleh Laut Selatan dengan penguasanya Nyi Roro Kidul. Seperti tata peletakan Keraton yang dipercaya berada pada titik pusat diantara empat penjuru yang mengelilinginya. 1999: 63 2. yang merupakan sebutan kepada Raja 24 . Jawa tengah. Kategori 30 Berasal dari kata ‘kang’. Gunung Merapi Kanjeng Ratu Sekar Kedathon Kiai Sapu Jagad Khayangan Dlepuh sang Hyang Harmoni Keraton Gunung Lawu Kanjeng Sunan Lawu Laut Selatan Nyi Roro Kidul GAMBAR 2. Sebelah Utara terdapat Gunung Merapi yang dikuasai oleh Kanjeng 30 Ratu Sekar Kedathon. sebelah Timur terdapat Gunung Lawu di bawah kekuasaan Kanjeng Sunan Lawu terakhir di sebelah Barat terdapat Kiai Sapu Jagad Khayangan dengan pemimpin Dlepuh sang Hyang Harmoni.Pola manca-pat ini dapat dicermati dalam beberapa ungkapan budaya sosial Jawa.3 Masyarakat Pendukung Kebudayaan Surakarta Secara geografis. khususnya Surakarta (Solo) merupakan daerah dengan masyarakat pendukungnya adalah masyarakat persawahan. arah dan sistem peletakan rumah atau perkampungan hingga hiasan ornamentik diberbagai aplikasi.5 MITOLOGI KERATON SEBAGAI PUSAT SUMBER : HARTONO. seperti tata letak dan tata karma susunan Singasana Raja dan para pengiringnya.

Masyarakat Indonesia lama memandang dunia ini dengan pandangan Kosmosentris dan biosentris. Semua yang bersedia masuk dan membantu masyarakat sawah otomatis menjadi bagian dari masyarakat sawah.Secara umum. Pandangan primitif seperti ini masih membudaya hingga abad ke-19 di Indonesia. Keduanya menghasilkan pangannya sendiri. bukannya antroposentris (terpusat pada manusianya) seperti halnya pandangan manusia modern. pandangan masyarakat sawah mirip dengan masyarakat ladang karena keduanya merupakan masyarakat yang produktif. Hal ini mungkin didasarkan pada kemampuan adaptif manusia terhadap keadaan alam sekitarnya. Dalam pandangan hidup. Tetapi tetap saja ada perbedaan mendasar diantara kedua masyarakat tersebut. seperti Mesir. karena dalam pengolahannya membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sedikit 32 . Pengaturan sawah inilah yang mendesak mereka untuk memilih suatu pusat kekuasaan tunggal yang kuat dan adikuasa 33 . 32 Hal inilah yang mendasari peribahasa Banyak anak banyak rejeki 33 Hal tersebut merupakan indikasi umum yang terjadi pada setiap masyarakat yang mengalami ‘peradaban hidrolik’. Persawahan membutuhkan pembukaan hutan (babad) yang harus dikerjakan beramai-ramai. Sedangkan sawah cenderung produksi padi masal. Dalam pandangan Indonesia lama. Empat keadaan alam yang berbeda itu membentuk masyarakat yang menempati wilayah masing-masing agar mampu bertahan. Sawah membutuhkan irigasi yang juga harus dikerjakan secara masal pula. Kecenderungan mereka dalam hal ekspansif juga menyebabkan mereka terampil dalam pengelolaan organisasi besar. Mereka tidak lagi mengenal batas antara orang ‘dalam’ dan orang ‘luar’. dan memang harus dalam jumlah terbatas karena hambatan perpindahannya yang periodik. India Utara dan juga Mesopotamia. masyarakat Indonesia terbagi menjadi 4 kategori yang didasarkan pada keadaan alam tempat tinggal. 31 25 . bahkan hingga saat ini masih ada di beberapa tempat di Indonesia. manusia tidak mandiri melainkan bergantung pada dunia kosmos dan spiritual.ketiga 31 produk budaya primordial ini menempati dataran-dataran rendah yang subur oleh banyaknya sungai-sungai dan gunung berapi. Cina. pesisir pantai dan pedalaman hutan. Luasnya tanah pertanian dan banyaknya tenaga penduduk tani yang bekerja didalamnya menyebabkan munculnya sifat sentralisasi organisasi kekuasaan. Ladang dapat dikerjakan oleh sekelompok kecil manusia. tidak lagi bergantung pada belas-kasihan alam. Kecenderungan ini mengantarkan masyarakat sawah pada pribadi yang terbuka dan adaptif secara umum. dataran tinggi. Karena itulah orang sawah cenderung ekspansif mengingat kebutuhan mereka akan lahan persawahan yang luas. Seperti yang diketahui bahwa alam Indonesia terdiri dari dataran rendah.

kebutuhan akan literasi sangat diperlukan. masyarakat sawah adalah masyarakat yang berhasil menaklukan dan menguasai alam. Sebuah istilah umum untuk menyebut naskah tertulis (biasanya berupa puisi) sejarah Jawa tradisional 26 . babad 34 dan bentuk seni sastra Indonesia Lama lainnya. Karena itulah dalam periode ini juga bermunculan syair-syair. lelaki hanya berfungsi 34 Babad berarti menebang bersih hutan. Dalam masyarakat ladang. Dalam masyarakat ladang lebih banyak melibatkan jernih payah kaum perempuan sehingga dominasi perempuan lebih besar. sesuai dengan konsep pengaturannya yang bersifat sentralisasi. Hal ini dapat dipahami melalui peran perempuan dan lelaki yang berbeda di antara dua masyakat tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya. Akibat lebih jauh mengantarkan mereka pada keadaan dimana diterapkannya hierarki kekuasaan yang memerlukan pengaturan yang tidak mudah. Paham dewa-rajapun mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat ini. Produksi yang melimpah ini dapat diperjualbelikan kepada masyarakat maritim atau ladang. seperti halnya masyarakat peramu atau peladang. Hal ini juga merupakan salah satu perbedaan mendasar antara masyarakat ladang dan masyarakat sawah. sehingga masyarakat sawah tumbuh menjadi masyarakat yang literer. Selain itu. dimana dalam masyarakat ladang perempuan merupakan representasi dari dunia atas. sedangkan perempuan berada di dunia bawah. konsep ketuhanan mereka juga mengenal pemahaman yang absolut. Ketuhanan yang Maha esa sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari mereka yang diatur oleh sebuah kekuasaan pusat yang tunggal dan adikuasa. Sebaliknya. Kegiatan ini memungkinkan terjadinya feodalime yang semakin mengakar. pantun. Hal ini dikarenakan semakin banyak lahan yang dibuka untuk persawahan. semakin besarlah produksi mereka. lelaki diletakkan dalam dunia atas.Masyarakat sawah tidak lagi hidup dengan menggantungkan diri kepada alam. Dalam alam pemahaman mereka.

Selain itu berkat jasa-jasanya kepada kerajaan Pajang. Karaton merujuk pada ‘tempat kedudukan seorang Raja’. Hal inilah yang menyebabkan kecenderungan paternalistik yang kuat di dalam sistem masyarakat sawah. 37 Tulisan ini sebagian besar diintisarikan dari tulisan Jacob Soemardjo dalam Moden Miring halaman 31-50 38 Maksud dari melatih diri di sini adalah suatu upaya yang dilakukan berdasarkan tata aturan tertentu untuk menjadi manusia ‘Jawa’ seutuhnya. Hal ini terjadi berkebalikan dengan masyarakat sawah yang peran lelaki lebih dominan. yakni istana. 36 Berasal dari akar kata ‘ratu’ (Raja atau Ratu).000 m2).3. Hal tersebut kemungkinan besar merupakan manifestasi masyarakat ladang pola tiga yang berkembang menjadi pola lima dan pola sembilan. Kata keraton yang berasal dari kata ratu yang berarti pempin perempuan ini menunjukkan pentingnya posisi perempuan dalam masyarakat ini. Selanjutnya dalam kebutuhan akan pemusatan kekuasaan tersebut. berbakat dan rajin melatih diri 38 .1 Keraton Surakarta Ki Pamanahan merupakan seorang panglima khusus Kerajaan Pajang yang tekun. Tanah yang masih hutan belantara tersebut dibuka (babad) untuk dibangun sebuah padepokan 39 sebagai tempat untuk meningkatkan pengikutnya. kemudian di seluruh tubuhnya keluarlah tanaman-tanaman pangan. yang diatur dalam Kejawen. tampillah keraton 36 sebagai suatu sistem pemerintahan yang mengatur secara absolut 37 . kuasa raja. 2. kerajaan. 35 Kawuh kasampurnaan 40 . yaitu sri telah dikurbankan. namun mitos ini terdapat di seluruh Nusantara. Meskipun memiliki versi yang cukup variatif. maka beliau dihadiahkan tanah bumi Mataram seluas 800 karya (satu karya : 40. tempat tinggal keluarga dan 27 . Pemujaan terhadap dewi sri hingga kini masih dilakukan oleh para petani di desa untuk mendapatkan hasil panen yang lebih baik. Hal ini Sekalipun kata Sri berasal dari India. Karena itulah muncul simbolisasi Dewi sri 35 sebagai dewi kesuburan yang digambarkan dengan sosok perempuan berpostur tubuh yang sesuai dengan idealisasi perempuan pada masa itu. sehingga kedudukan mereka lebih terhormat. namun secara garis besar sama.sebagai ‘pelengkap’. sampai ke pulau-pulau yang sama sekali tidak tersentuh kebudayaan India. 39 Sejenis tempat tinggal yang multi fungsi karena memiliki sarana dan prasarana yang memadai 40 Salah satu jalan untuk menjadi manusia Jawa seutuhnya. Bumi Mataram yang amat subur dengan air yang melimpah menyebabkan banyaknya pendatang baru yang menetap untuk mengolah sawah.

Raden Ngabei Sutowidjojo naik menggantikan posisi tertinggi di Mataram dengan gelar Senopati Ing Ngalogo. dan sejak tahun 1755 hanya digunakan untuk penguasa keraton Surakarta (Solo). Gelar kerajaan Jawa yang sangat tinggi yang sejak abad ke 19 dikhususkan bagi pangeran senior yang terkemuka 42 Susuhunan berarti ‘Dia yang dijunjung’ yang merupakan gelar kerajaan atau keagamaan. Peristiwa ini merupakan penanda berakhirnya keraton Pajang. karena dengan bergantinya tampuk kepemimpinan kepada Senopati Ing Ngalogo pada tahun 1586. Adapun raja-raja Mataram adalah sebagai berikut : • • • • Panembahan 41 Senopati Ing Ngalogo (1586-1601) Susuhunan 42 Hadi prabu Hanjokrowati. Mataram pun selanjutnya terus berkembang dalam kepemimpinan Ki Pamenahan yang mendapat gelar Ki Ageng Mataram dan dibantu oleh putera sulungnya. Peristiwa ini mengakibatkan kekakalahan Susuhunan Hamangkurat I. yaitu Raden Ngabei Sutowidjojo yang berperan sebagai panglima khusus. tidak lagi di Pajang melainkan di daerah Kuta Gede yang dikemudian hari dikenal sebagai Keraton Mataram. Bagus Danarpun memiliki gelar tersendiri. Gelar ini sejak abad ke-18 hanya diperuntukkan bagi penguasa tertinggi Mataram. putera Panembahan Senopati Ing Ngalogo (1601-1613) Sultan 43 Agung Prabu Hanjokrokusumo (1613-1645) Susuhunan Hamangkurat I (1646-1677) Dibawah pimpinan Susuhunan Hamangkurat I terjadi pemberontakan dengan Trunodjojo sebagai pimpinannya. sehingga beliau dan pasukannya lari meninggalkan Kata Panembahan secara harafiah berarti ‘dia yang pantas menerima sembah’ (tindak kepatuhan). Pada awalnya gelar ini diperuntukkan untuk hierarki wali Islam 43 Gelar untuk petinggi kerajaan yang merupakan pengaruh dari Arab 41 28 . Setelah Ki Ageng Mataram wafat. Bagus Danar yang merupakan putera angkat dari Ki Ageng Mataram. berpindahlah keraton.lambat laun menjadikan daerah ini sebagai desa dengan sistem pemerintahan yang juga sentralisasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Saparto 45 . sebelah selatan dari kota Tegal. putera dari Susuhunan Pakubuwono I (17191727) Susuhunan Pakubuwono II. Dikemudian hari Wanakarta lebih dikenal sebagai Kartasura. Dengan bantuan Belanda dibawah pimpinan Cornelis Speelman 44 . Kartasura dalam pemerintahannya dipimpin oleh lima raja. putera dari Susuhunan Hamangkurat II (17031704) Susuhunan Pakubuwono I. dengan adanya campur tangan Belanda dalam upaya perebutan tanah Mataram kembali. putera dari Susuhunan Hamangkurat IV (17271745). Selanjutnya Susuhunan Amangkurat II memindahkan keraton dari Mataram ke Wanakarta karena keraton Mataram mengalami kerusakan dan kerugian yang besar sebagai akibat dari perang perebutan kekuasaan tersebut. Susuhunan Amangkurat II berhasil menyingkirkan Trunodjojo. Dari hal ini dapat dicermati bahwa masuknya Belanda ke Indonesia dengan merangkul para petinggi di daerah ini terlebih dahulu untuk selanjutnya menjadikan mereka bonekanya. putera dari Susuhunan Hamangkurat I (16771703) Susuhunan Hamangkurat III. 45 Diambil dari Karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 23 44 29 . Sri baginda meninggal di perjalanan dan dikebumikan di daerah Tegalwangi. Pimpinan kolonial Belanda yang menduduki wilayah Jawa. menyebabkan Belanda dapat menjajah Indonesia. Sebelum meninggal dia menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Adipati Anom sebagai Susuhunan Amangkurat II. putera dari Susuhunan Hamangkurat I (17041719) Susuhunan Hamangkurat IV.keraton. Selanjutnya. Kelima raja tersebut adalah : • • • • • Susuhunan Hamangkurat II.

terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kedua daerah ini. Selanjutnya Mangkubumi dengan gelar Hamengkubuwono membangun keraton di daerah yang selanjutnya dikenal sebagai Yogyakarta (Dalyono :8) 46 . Hal tersebut dapat dicermati melalui perbedaan antara susunan motif parang di daerah Surakarta dengan arah kiri atas ke kanan bawah. 46 47 Ibid halaman 25 Perbedaan arah diagonal motif parang tersebut menjadi salah satu penanda bahwa di Yogyakarta lebih kental pengaruh dari arab mengingat arah parang bergerak dari kanan atas ke kiri bawah. Dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Mataram selanjutnya terbagi menjadi dua wilayah.Pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II tercetus sebuah perjanjian Giyanti. Perjanjian ini diprakarsai oleh pihak Belanda.3. Sedangkan di Surakarta pengaruh Hindu Buddha lebih dominant. yaitu dari kanan atas ke kiri bawah 47 . Hal ini tampak dari arah parang dari kiri atas ke kanan bawah. Hal ini dilakukan untuk mengangkat Mangkubumi sebagai raja dari setengah wilayah yang dibagi. Isi perjanjian tersebut menerangkan bahwa di dalam keraton Mataram terbagi dua wilayah kekuasaan. Menurut Moh. seperti motif Sawat atau Meru 30 . Hal ini seperti arah menulis tulisan arab dari arah kanan ke kiri. Dalam perkembangan selanjutnya. pada tanggal 13 Februari 1755 terjadi pemisahan kerajaan Mataram sebagai hasil dari perjanjian Giyanti di Gunung Lawu. Dalyono (1939 :8).2 Pola Larangan Keraton menempatkan dirinya sebagai suatu pusat tertinggi terhadap segala sesuatu di tanah Jawa dan sungguh-sungguh mengaplikasikannya secara total. sedangkan di daerah Yogyakarta arahnya adalah sebaliknya. juga dari motif-motif yang ditampilkan banyak mendapat pengaruh dari India. yaitu Yogyakarta dengan sistem pemerintahan Kasultanan di bawah pimpinan Mangkubumi (adik Susuhunan Pakubuwono II) dan Surakarta dengan sistem Kasunanan yang dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono II. 2.

Tata aturan keraton yang merupakan penghalusan dalam kehidupan sehari-hari di keraton tercermin dalam Dasa sila Etika Keraton. Ngadi Logo. batik Cumangkiri kang calacap. dan rumah tangga kerajaan terpaksa membuat rancangan pola yang dikerjakan secara teliti dan terperinci untuk menunjukkan para pemakai batik dari keluarga kerajaan dan membedakan mereka dari pemakai yang lain” Salah satu aturan yang melarang pemakaian corak batik tertentu dikeluarkan oleh sunan Pakubuwono III (1749-1788). Pangkat atau kedudukan tidak lagi dihubungkan dengan praktik itu sendiri. sehingga yang bukan ningrat atau priyayi 48 tidak diperkenankan menggunakannya. ingkang ingsun kawenangken anganggoha papatih-ingsun. Ngadi Busono. Bangun Tulak. istilah ini merujuk pada kelompok elit administratif dan bangsawan pada suatu negara 48 31 . Susila dan Utama. Dalam prakteknya keseluruhan sila tersebut memadu menjadi satu sebagai sikap penghalusan. seperti yang dikatakan Phillip Kitley (1987:56) sebagai berikut : “Raja mengemukakan bahwa batik telah kehilangan sifat-sifat ekslusifnya yang dahulu.Andene batik cumangkirang ingkang acalacap Lung-lungan atawa Kekembangan. Tata Krama.Salah satu upaya untuk mengukuhkan hierarki tersebut dengan cara mengeluarkan pola larangan dengan peraturan yang tegas mengikat dari keraton. Dalam penggunaannya. karena kini dibuat oleh pengrajin Jawa. Wisastro. Lenga Teleng. Aturan-aturan yang melarang penggunaan corak-corak tertentu didasari atas pertimbangan feodalistik. Pola larangan ini sendiri adalah pola yang hanya boleh dikenakan oleh Raja dan kerabatnya. Modang. Tata Cara. Dargem lan tumpal. lan Sentaningsunkawulaningsun Wedana” Berasal dari kata “Para Yayi” (Para adik sang Raja). Udo Negoro. Ngadi Jiwo. seperti Ngadi saliro. pada tahun 1769 yang ditulis oleh Sudjoko sebagi berikut : “Anandene kang arupa jajarit kang kalebu ing larangan ingsun : Batik Sawat lan batik Parang rusak.

Parang Rusak. dan 1790 melalui maklumat Solo 49 . Adapun batik cumangkirang yang berupa (motif) lunglungan atau kekembangan (buketan). bangun tulak. Putera mahkota dan Permaisuri o Semua jenis pola Parang Rusak o Semen Gurdha o Sawat o Sembagen Huk o Modang o Bangun Tulang • Khusus anggota keuarga yang bergelar Pangeran serta keturunan penguasa o Semua pola semen. daragem dan tumpal. saya izinkan terpakai oleh Patih-Patih saya dan keluarga bangsawan. Pola-pola tersebut dituangkan dalam tata tertib sebagai berikut 50 : • Penguasa. Pola-pola larangan tersebut diantaranya adalah Sawat. baik Lar. Cemungkiran dan Udan Liris. 1784. lenga teleng. batik cumangkiri yang berupa motif modang.“Adapun rupa jurit dalam larangan saya : Batik sawat dan Batik Parang Rusak. abdi dalem Wedana” Masa awal pemberlakuan peraturan tentang pola larangan yang tercatat adalah tahun 1769. sawat atau mirong o Udan Liris o Buketan o Lung-lungan • Keluarga jauh yang bergelar Raden atau Raden Mas o Semua pola semen tanpa bentuk sayap o Kawung o Udan Liris 49 50 Dikutip dari Indonesia Indah buku ke-8 tentang Batik Halaman 62 Diambil dari Karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 63 32 .

batik berarti menitikkan malam dengan canting sehingga membentuk corak yang terdiri atas titik dan garis. lembut. pengertian kata benda dan penggunaannya. tingkat kerumitan dan kualitas bahan yang dipakai 52 . kata batik berasal dari akar kata ‘tik’. Dalam bahasa Jawa sendiripun. serapih dan sedetail batik. batik merupakan hasil penggambaran corak diatas kain dengan menggunakan canting sebagai alat menggambar dan malam sebagai zat perintangnya. batik bisa juga disebut sebagai kain bercorak. Sedangkan jika ditinjau sebagai kata benda. membatik merupakan penerapan corak di atas kain melalui proses celup rintang warna dengan malam sebagai medium perintang. suku pedalaman yang bertempat tinggal di sebelah selatan Banten. selain batik adapula beberapa jenis kain yang diproses dengan teknik celup rintang warna di Indonesia. jika ditinjau dari proses pengerjaan. Contohnya dalam pembuatan kain Simbut yang merupakan kain khas Baduy. Sedangkan untuk melukis kain dengan bahan perintang menggunakan buluh kecil atau sabut kelapa untuk mewarnai kain dengan 51 Diambil dari Karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 143 52 Lihat Indonesia Indah buku ke 8 “Batik” halaman 15 33 . Dengan kata lain. Sebenarnya. Bahan perintang pengganti malam dalam pembuatan kain ini adalah bubur ketan atau biasa disebut darih.1 Pengertian Batik Berdasarkan sumber literatur Indonesia Indah : Batik . yang mempunyai korelasi pada sesuatu hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang halus. Perbedaan tersebut dikarenakan perbedaan peralatan. detil dan memiliki unsur keindahan secara visual 51 . Secara etimologis. hasilnya tidak sehalus.BAB III DEFINISI. Meskipun begitu. KLASIFIKASI DAN FUNGSI BATIK 3.

pada masa berikutnya dipergunakan pula kain mori dari Belanda. Sedangkan penggunaan katun sebagai bahan utama batik dimulai sekitar abad ke 17. kain mori digunakan sesuai panjangnya kain yang diperlukan. batik dapat diaplikasikan pada kain wol atau sutera. Karena itulah ukuran sekacu sangat relatif. mori biru untuk batik kasar dan yang terendah adalah belacu 53 . Kacu adalah sebutan untuk saputangan yang berbentuk bujur sangkar.2 Bahan Baku Tekstil dalam Batik Bahan yang paling tepat untuk pembuatan batik adalah kain yang terbuat dari serat alami seperti kapas. Zat pewarna yang lazim dipakai juga sebatas hitam. sesuai dengan peralatan yang digunakan. kain mori sebelumnya harus diolah terlebih dahulu. Sebelum dibatik. Bentuk-bentuk geomentris dasar seperti lingkaran. biru tua dan merah mengkudu. namun lebih mengacu pada sistem perhitungan tradisional. Dalam sistem pengukuran seperti ini ukuran panjang sekacu sangat bergantung pada lebarnya kain. 53 Ibid halaman 17 34 . Pengukuran panjangnya mori tidak mengikuti standar yang pasti seperti halnya jika menggunakan meteran.bidang yang luas (blocking). Proses pengolahan mori sebelum dibatik sangat menentukan hasil akhir dari batik itu sendiri. Perhitungan sekacu adalah ukuran persegi dari kain mori yang diperoleh dari melipat ujung lebar kain secara diagonal ke titik sisi yang penjang. Dalam penggunaannya. yang menengah adalah prima. sutera atau rayon. Kain mori kualitas terbaik adalah primissima. yaitu zat pewarna alami yang dapat diperoleh dilingkungan sekitar. segitiga dan titik yang mendominasi ikonografinya. 3. Namun dalam perkembangannya. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Corak yang muncul dalam visualisasi kain simbut pun sangatlah sederhana dan terbatas. Pertama-tama ujung kain mori diplipit atau biasa disebut di neci.

daun papaya atau merang. Wantu adalah air rebusan yang di bagian dasarnya ditutupi dengan daun bambu. Tetapi dalam pembuatan batik Yogyakarta dan Surakarta. Biasanya kanji dibuat dari beras ketan yang sebelumnya ditumbuk hingga menjadi bubuk. Namun dalam penerapan proses ini kain mori ada kemungkinan mengalami kerusakan jika larutan asam terlalu pekat atau perendaman terlalu lama 55 . Setelah di wantu. proses penghilangan kanji pada mori juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan asam.Tujuannya agar benang pakan tidak terurai. 54 55 Lihat Batik Klasik halaman 10 Lihat Indonesia Indah buku ke 8 “Batik” halaman 21 35 . mori kemudian dikemplong untuk melemaskan benang sehingga mempermudah penyerapan malam. Karena itulah dalam proses selanjutnya kain mori tersebut diembun-embunkan selama beberapa hari. Untuk daerah Blora. Setelah diplipit kemudian di cuci dengan air tawar hingga bersih. Gunanya untuk mencegah hangus atau gosongnya kain yang direbus. proses pembersihan mori tidak melewati proses wantu. Setelah mori lembab. Dalam perkembangan selanjutnya. kain baru dibilas akhir kemudian dijemur. Setelah kering. kain yang selesai dicuci bersih kemudian direbus dengan wantu. mori di kanji. Selesai di kanji kain mori menjadi mengerut dan kaku. Cara mengemplong adalah memukul kain mori dengan cara tertentu pada bagian tertentu pula. Benang pakan adalah benang yang melintang diagonal pada tenunan kain. Tujuannya agar tidak ada kotoran yang berada disela-sela kain sehingga penyerapan lilin rintang dapat maksimal. yaitu dengan menggunakan larutan asam sulfat (H2SO3) atau asam klorida (HCL). melainkan langsung direbus 54 .

Klasifikasi canting brdasarkan jumlah cucuk adalah sebagai berikut : 56 57 Lihat Batik Klasik halaman 5 Ibid halaman 7 36 .3. mudah dilenturkan. memiliki ukuran dan jumlah cucuk (ujung canting yang mengalirkan malam) bervariasi dan diletakkan pada gagang pembuluh bambu yang ramping 56 .3 Peralatan yang digunakan dalam Membatik Dalam membatik dibutuhkan beberapa peralatan khusus agar mencapai hasil yang halus dan detail. Adapun peralatan yang dipergunakan adalah sebagai berikut : 3. tipis namun kuat. Menurut fungsinya. sedang dan besar 57 . Sedangkan menurut ukurannya.3.1 Canting Canting biasanya terbuat dari tembaga ringan. b. canting terbagi menjadi dua macam : a. Canting Reng-rengan Reng-rengan adalah batikan pertama kali yang membentuk pola dasar. Biasa disebut kerangka. Untuk tahap ini biasanya cucuk canting berukuran sedang. Canting Isen Canting Isen ialah canting untuk membatik isi bidang secara detail dan halus. canting dapat dibedakan menjadi canting bercucuk kecil.

TABEL 3. Digunakan untuk membuat bentuk persegi dengan satu titik di tengahnya. 4. Biasa digunakan untuk susunan titik berbentuk segitiga. Prapatan berasal dari kata papat yang berarti empat. Canting bercucuk dua ini biasa digunakan untuk membentuk garis rangkap Talon berasal dari kata Telu yang berarti tiga. Adapula canting cap untuk menghasilkan batik cap. HAMZURI No. Pada visualisasi akhir batik cap biasanya kurang detail.1 SALAH SATU CONTOH CANTING CAP SUMBER : DOKUMENTASI PENULIS 37 . Galaran berasal dari kata Galar yang berarti suatu alas ridur yang terbuat dari bamboo yang dicacah membujur. titik yang satu dengan yang lain sehingga mengaburkan detail. Biasa berjumlah genap. karena sulitnya membuat cecek yang halus sehingga jika kadar malamnya tidak pas dengan panas yang juga harus cukup. Selain canting cap yang bervariasi untuk menghasilkan batik cap. 2. Liman berasal dari kata lima. 7.1 KLASIFIKASI CANTING TULIS BERDASARKAN JUMLAH CUCUK SUMBER : BATIK KLASIK. Canting yang bercucuk tuhuh buah. 5. Nama Canting Cecekan Canting Loron Canting Telon Canting Prapatan Canting Liman Canting Byok Canting Galaran Keterangan Canting bercucuk satu. Biasa digunakan untuk mebuat titik yang membentuk persegi. 6. 1. Biasa dipergunakan untuk membuat titik-titik kecil atau garis panjang Loro berasal dari kata Loro yang berarti dua. Canting ini biasa dipergunakan untuk membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan titik. GAMBAR 3. 3.

Sedangkan parafin sendiri berasal dari minyak bumi. Proses ini didahului dengan pemolaan. Timor.2 Malam Pemalaman adalah proses penggambaran corak dengan prinsip negatif diatas kain dengan menggunakan malam cair dengan canting sebagai alatnya 58 . namun dapat memberikan efek retak yang Prinsip dasar ini mirip dengan prinsip dasar cukil kayu pada Seni Grafis.3. 1. 3. Jenis malam Malam tawon Malam Klenceng Malam Timur Malam putih Malam Songkal Keplak dan Gandarukem Parafin Keterangan Dari sarang lebah (Tolo Tawon) Dari sarang lebah klenceng Asal bahan belum terindentifikasi. Dalam teknik pencelupan warna bertingkat juga mengingatkan kita pada teknik pengasaman etsa dimana lamanya perendaman dalam larutan asam bergantung pada tingkat kepekatan warna yang ingin dihasilkan 59 Ibid halaman 7 58 38 . Karena sifat inilah. Palembang sempat mengirim lilin lebah ke Pulau Jawa. Namun hal ini dianggap terlalu mahal karena pembudidayaan sarang lebah merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan memakan waktu yang tidak sedikit 59 . 4. damar mata kucing yang berasal dari Sorea Spec dan parafin. namun merupakan jenis terbaik minyak latung yang diproduksi massal Terbuat dari minyak Latung yang diproduksi massal Digunakan sebagai bahan campuran Berasal dari munyak bumi. penggunaan parafin dalam batik meskipun kurang baik sebagai malam. bersifat getas dan mudah retak. Daerah penghasil sarang lebah antara lain Sumbawa. dimana bagian yang tertoreh adalah bagian yang berwarna putih. HAMZURI No. 5. 6.3. 2.2 JENIS-JENIS MALAM YANG DIGUNAKAN DALAM MEMBATIK BESERTA KEGUNAANNYA SUMBER . BATIK KLASIK. TABEL 3. 5. Pada awal abad ke-19 ketika penyebaran batik mulai meluas. Malam yang dipakai sebagai perintang warna berasal dari sarang lebah. bersifat mudah retak sehingga biasa digunakan sebagai campuran atau sebagai isen latar untuk kesan retakan yang halus Beberapa jenis malam batik lainnya adalah gondorukem yang berasal dari getah pohon Pinus merkusi. Sumba dan Palembang.

Sedangkan warna cerah seperti merah atau kuning lebih banyak digunakan dalam pembuatan batik pesisir 60 . hitan. murah. akar pohon mengkudu yang mengeluarkan warna merah atau kunyit yang memunculkan warna kuning. Berdaya lekat kuat pada kain. Secara kimiawi. Ada juga malam Tembokan.memperkaya khasanah visual dari batik itu sendiri. 3. yaitu malam yang digunakan untuk menutupi bidang pada pola.3 Pewarna Kain Pada batik tradisional.3. Malam ini digunakan untuk membuat garis-garis klowongan atau garis pola. mengingat kefleksibelan masyarakat maritim terhadap perubahan dan sesuatu hal yang baru. Warna-warna batik keraton biasanya dihiasi dengan warna-warna tanah seperti coklat. Sekitar akhir abad ke-19 menyusul penemuan zat pewarna buatan sebagai pengaruh dari pedagang Cina yang menjual batik namun berusaha mencari jenis pewarna baru yang efisien. karena sangat mudah mencair dan mengering. Warna cerah merupakan pengaruh kuat dari bangsa China atau Arab yang bersinkretitasi dengan budaya setempat. Parafin sendiri dapat digunakan sebagai bahan campuran pada malam. sangat peka panas. sifat dan kegunaan tertentu. naphtol merupakan persenyawaan phenolik yang diperoleh dengan menggantikan satu atau lebih Hidrogen Napthalen dengan gugus pencelupan gugus hidroksil. Berbagai malam yang telah disebutkan diatas digunakan menurut ramuan. 60 39 . pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Beberapa contohnya Malam Klowongan. putih atau bitu tua. krem. Sifat lain dari zat kimia ini adalah tidak dapat larut Lihat Indonesia Indah buku ke 8 “Batik” halaman 27. Contohnya penggunaan warna coklat dari pohon tingi. tahan sinar matahari dan variatif. Zat pewarna yang popular dikalangan batik saat itu adalah Naphtol dan Indigosol. warna biru dari tarum.

kulit Jenis warna Biru tarum Merah. Jenis-jenis naphtol yang banyak digunakan adalah AS. 5. kapas Sebenarnya penggunaan pewarnaan alami pada kain batik memiliki filosofi tersendiri. asam atau basa encer sekalipun dipanasi. Proses pewarnaan dengan pewarna alami (pembabaran) yang harus dilakukan berulang kali agar menghasilkan warna yang perlahan-lahan naik bukannya tanpa tujuan. Apabila dibangkitkan dengan garam jenis lain menghasilkan warna yang berbeda pula. Pengaruh Zaman dan Lingkungan halaman 13 61 40 . 6. akar mentah kulit kayu Kulit jambal kayu Kulit.3 KLASIFIKASI PENERAPAN WARNA DALAM BATIK SUMBER : INDONESIA INDAH SERI 8 TENTANG BATIK No. kelemahan dari pewarna naphtol ialah dia tidak dapat menghasilkan warna-warna muda. kapas Sutera. Bila hal ini dipaksakan dengan cara mengurangi kadar naphtol pada takaran larutan yang seharusnya maka hasilnya akan tidak merata dan kurang cemerlang 62 . kapas Sutera. ASBS dan ASGR. merah coklat Kuning Merah Kuning Merah coklat Merah Merah Coklat Penggunaan pada Serat Sutera. Selain agar menghasilkan warna yang lembut. Soga Tekik Penghasil Warna daun Kulit akar Bubuk. kapas Sutera. kapas Sutera. kapas Sutera. ASLB. ASOL. kapas Sutera. ASBO. Namun.dalam air. Nama Nila (Indigofera Tinctoria L) Mengkudu (Morinda Citrifolia L) Kunir (Curcuma). dengan peningkatan warna yang berubah Diambil dari buku Panduan Workshop Batik yang diselenggarakan oleh PSTK-ITB (Perkumpulan Seni tari dan Karawitan) dan Sanisen Batik pada tanggal 18-19 Maret 2006 62 Lihat Batik. TABEL 3. Kesemua jenis naphtol ini dapat dibangkitkan dengan garam diazo. 8. 1. kapas Sutera. ASG. 7. 3. Kunyit (Longa L) Soga Tingi (Ceriops Candolleana Arn) Soga Tegeran (Cudrania Javanensis) Soga (Peltoporum Ferrugineium) Soga Jawa (Caesalpina Sappan L) Soga Kenet. Warna-warna yang mampu dihasilkan oleh naphtol hampir melingkupi seluruh spektrum warna 61 . 4. 2. Akan tetapi cat jenis ini tidak tahan terhadap gosokan.

Dari hal tersebut. 3. 3. batik terbagi menjadi dua bagian besar. berupa perapian untuk memanaskan malam Tepas atau kipas Saringan malam Teknik dan Proses Membatik Teknik membatik identik dengan teknik celup rintang. namun juga proses dan ritual selam proses pengerjaannya 63 . proses produksi dan karakteristik yang berbeda. terdapat kesamaan prinsip antar teknik membatik dengan menggrafis menggunakan teknik cukil kayu (cetak tinggi). Dalam teknik pembuatannya. ciri khas dari batik adalah penggambaran corak dalam bentuk negatif. Karena itu.4 Lain-lain Adapun beberapa perlengkapan dalam membatik selain bahan baku dasar yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut : 1. 5.pelan-pelan bukannya warna keras yang instan. 2. yaitu batik tulis dan batik cap. Dalam cukil kayu juga dituntut keahlian untuk mengimajinasikan bentuk berlawan dari torehan cukil kau seperti halnya penggunaan canting dalam membatik.4 Gawangan berfungsi untuk menyangkutkan kain mori saat di batik Wajan untuk mencairkan malam Anglo. Hasanudin yang berjudul “pengaruh Etos dagang Santri pada Batik Pesisiran" halaman 21 63 41 . Dalam hal ini. tampak bahwa dalam membatik bukan hanya menghargai hasil akhir yang tervisualisasikan. Kedua teknik tersebut memiliki rancangan.3. 3. Batik Tulis ialah batik yang dihasilkan dengan menggunakan canting tulis sebagai alat bantu untuk merekatkan malam Dikutip dari tesis mahasiswa S2 FSRD ITB. proses ini mengisyaratkan harmoni dan keseimbangan. 4.

proses pengerjaan batik kali ini dipaparkan secara garis besar 2.3.1 Proses Batik Tradisional Proses membatik dengan cara tradisional ini memiliki beberapa perbedaan antara satu daerah dengan yang lain. Nembok Menutup bagian pola yang akan dibiarkan tetap berwarna putih dengan lilin batik.1. Nganji Membersihkan kain dari segala kotoran yang menempel agar tidak ada yang merintangi malam menyerap sempurna traditional_ngemplong. Ngelowong Membuat pola dengan malam di atas kain 2. Batik cap adalah batik yang menggunakan canting cap. Medel 42 .1. Namun dalam penggunaan batik cap sulit untuk menghasilkan pemalaman yang detail karena jika terlalu kecil detailnya akan menjadi kabur. Namun. 2. batik dibagi menjadi tiga macam proses yaitu secara tradisional. Dalam proses pembuatannya.pada kain.4. 3.1. pemalamannya relatif lebih cepat dibanding pemalaman dengan canting tulis.5. Ngemplong Menghaluskan kain yang kaku dengan memukul-mukul kain dengan cara tertentu 2.1.1. canting cap yang digunakan harus menggunakan bahan logam karena jika menggunakan material kayu menyebabkan malam cepat mengeras dan masa pemakaiannyapun tidak terlalu lama.1.gif (1971 by tes) 2.4. kesikan dan pekalongan atau pesisiran. Hal ini dikarenakan kayu bersifat menyerap cairan sehingga mempercepat pelapukan dan mengaburnya detail.2. Selain itu dalam batik cap.

2 Proses Batik Kesikan Cara yang membedakan proses pengerjaan ini dengan batik tradisional adalah adanya proses pengerokan.com pada tanggal 20 Maret 2006 13:18WIB SUMBER 3.Mencelup mori yang sudah diberi lilin batik dengan warna biru 2.danarhadi. Nyoga Mencelup mori kedalam larutan soga 2.9. Nglorod Menghilangkan lilin batik dengan air panas dengan cara mencelupkan kain agar lilinnya meluruh GAMBAR 3.1. Ngerok Menghilangkan lilin pada bagian yang akan berwarna soga 2. Mbironi Menutup bagian yang akan tetap berwarna biru dan tempat-tempat yang terdapat cecek 2.1. yaitu proses menutup bagian pola yang akan dibiarkan tetap berwarna biru serta bagian yang akan berwarna putih dan cecek • Nganji Membersihkan kain dari segala kotoran yang menempel agar tidak ada yang merintangi malam menyerap sempurna • Ngemplong Menghaluskan kain yang kaku dengan memukul-mukul kain dengan cara tertentu • Ngelowong Membuat pola dengan malam di atas kain 43 .8.2 PROSES MEMBATIK DENGAN TEKNIK TRADISIONAL : www.7.1.6.1.4.

namun juga proses pencoletan.3 Proses batik Pesisiran Dalam proses pewarnaan pesisir. Proses yang diperlukan adalah sebagai berikut • • 64 : Mola Mbhatik Membuat sketsa awal pola diatas kain untuk mempermudah proses membatik Dikutip dari buku Batik : Pengaruh Zaman dan Lingkungan halaman 15 44 .• Nembok Menutup bagian pola yang akan dibiarkan tetap berwarna putih dengan lilin batik • • • Medel Ngerok Mbironi Mencelup mori yang sudah diberi lilin batik dengan warna biru Menghilangkan lilin pada bagian yang akan berwarna soga Menutup bagian yang akan tetap berwarna biru dan tempat-tempat yang terdapat cecek • Ngesik Menutup bagian pola yang akan dibiarkan tetap berwarna biru serta bagian yang akan berwarna putih dan cecek • • Nyoga Nglorod Mencelup mori kedalam larutan soga Menghilangkan lilin batik dengan air panas dengan cara mencelupkan kain agar lilinnya meluruh 64 . sehingga dapat dilakukan pewarnaan secara serentak dengan berbagai macam warna. tidak hanya dilakukan pencelupan. 3. cukup dengan menyapukan larutan zat pewarna (coletan).4. Pewarnaan pada bagian tertentu pola.

Membuat • pola pada mori dengan menempelkan lilin batik dengan menggunakan canting Nyolet Memberi warna pada bagian tertentu pola dengan menyapukan larutan zat warna pada bagian tersebut • • • • • Nutup Ndasari Menutup dasaran Medel Nglorod Menutup bagian kain yang telah dicolet degan lilin batik Mencelup latar pola dengan zat warna yang dikehendaki Menutup bagian latar pola yang telah diwarnai Mencelup ke dalam warna biru Menghilangkan lilin yang menempel pada mori kedalam bak air mendidih dan menghasilkan kelengan warna • Nutup dan Granitan Menutup bagian-bagian yang telah diberi warna dan bagian yang akan dibiarkan tetap putih serta membuat titik-titik putih pada garis-garis di luar pola yang disebut granit dengan lilin batik 65 . 65 Ibid halaman 16 45 . 3. Unsur yang terdapat dalam batik keraton itu sendiri mencakup pada ornamen. motif maupun warna.5 Pola Batik Ragam hias batik terdiri atas hiasan-hiasan yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan rancangan yang berpola.

pola dan ragam hias dapat disimpulkan bahwa ornamen merupakan elemen hias dalam motif. Dalam Pengetahuan Teknologi Batik (1979 : 14) 66 dijelaskan bahwa kata motif bersinonim dengan kata corak. sedangkan motif adalah suatu corak atau hiasan yang terungkap sebagai ekspresi jiwa manusia terhadap keindahan atau pemenuhan kebutuhan yang bersifat budaya. Sewan Susanto (1980:212) 68 menjelaskan bahwa motif batik terdiri dari dua kerangka ornamen. Menurut The New Oxford Encyclopedic Dictionary. maka akan menghasilkan ragam hias. Pola adalah gambar untuk membuat bentuk yang lebih indah. Sedangkan ragam hias terbentuk dari suatu susunan terdiri atas berbagai corak serta pembagian bidang yang beraturan (Ensiklopedia Nasional Indonesia jilid 6 1991: 409). Antar ornamen. yaitu berupa suatu kerangka gambar pada suatu benda.Berdasarkan Ensiklopedi Nasional Indonesia. yaitu : • Ornamen Motif Batik o Ornamen utama adalah suatu gambar yang ditentukan oleh motif itu sendiri o Ornamen tambahan. ornamen adalah corak yang ditambahkan pada bagian benda yang berfungsi sebagai pengindah. Penerapan ragam hias itulah yang menghasilkan suatu pola 67 . Bila motif dikomposisikan dan diulangulang dalam penerapannya. motif. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa motif adalah suatu bagian yang dapat disusun membentuk pola. adalah gambar yang berfungsi sebagai pegisi bidang • 66 Isen Motif Batik Diambil dari karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 143 67 Ibid halaman 143 68 Ibid halaman 143 46 .

Galaran Kembang Cengkeh Ukel Air Manca-pat Swastika/ Banji 47 . Alis Gunung 9. Berbakti Manunggaling kawula Gusti Kehidupan. 14. Pusat Cobaan Kehidupan. 15. 12. 7. 1. Pangan Kehidupan. 5. 11. 3. Kehidupan Kehidupan Kehidupan Mencari Rezeki. Uceng Matan Sisik Melik Jambu Cepot Modang (api) Cemungkiran Ceplok Gunung Manca-pat 13. 6.Isen motif adalah gambar yang berfungsi sebagai pengisi motif. Pemerintahan. Pusat Kehidupan 8. Bentuk Nama Isen Cecek Siji Cecek Telu Cecek Lima Cecek Pitu Carat Cakar Atam Mlinjon Pengembangan dari simbol Ceplok Pembagian 3 dunia Manca-pat Dina (hari) Banji/ Swastika Ceplok Manca-pat Arti Manunggaling kawula Gusti Kehidupan Kepemerintahan. Keesaan Kehidupan. Pusat Kehidupan. 4. Pemerintahan. Pemerintahan. Tempat Para Dewa Kesaktian. Kesuburan. 2. TABEL 3.4 TABEL ISEN MOTIF BATIK BESERTA PEMAKNAAN DAN PEMGEMBANGANNYA SUMBER : PUJIANTO No. 10.

menurut hemat M. lingkaran dan bentuk-bentuk terukur lainnya yang disusun secara berulangulang sehingga membentuk kesatuan pola. Tritis Modang (api) Cemungkiran Garuda Kesaktian. Srimpet Meander Banji Modang (api) Cemungkiran 19.1.5. Keperkasaan Kehidupan 17.1 Pola Ceplokan Ceplok berasal dari bahasa jawa yang berarti bulatan. persegi panjang. Berbakti Kesaktian. 3. Amir Sutaarga yang juga diperkuat oleh Alit Veldhusein dan Djajasoebrata mengelompokkan batik berdasarkan bentuknya menjadi dua bagian.16. Untuk mempermudah pengklasifikasian. motif garis pinggir dan Udan liris. bujur sangkar.5. Kawung. memusat ke tengah atau secara berkelompok tersusun rapi seperti bunga yang 69 Ibid halaman 143 48 . Berbakti Secara tradisional pola batik sangat banyak jenisnya. Motif ceplok adalah motif batik yang tersusun dari ornamen-ornamen yang mengarah melingkar. Motif miring.1 Motif Geometrik Ragam hias yang tergolong ke dalam pola geometri adalah yang mengandung unsur garis dan bangun seperti garis miring. Blarak Sairit Kesaktian. Kedua bagian tersebut motif geometrik dan motif Non Geometrik 69 . 3. Pola Geometris terdiri dari pola Ceplokan. Truntum. Sawat 18.

3 POLA CEPLOK SRIWEDARI SUMBER : BATIK. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Motif Ceplokan adalah salah satu motif tertua yang ada dalam batik 70 . Motif ini juga terdapat pada arca Kertajasa Raja Majapahit yang pertama.2 Pola Kawung Motif ini adalah salah satu motif kuno yang terlihat pada candi Prambanan sekitar abad ke-8 Masehi. Menurut Rouffer yang ditulis oleh Muhammad Sutaarga (1964:12) 71 .dilihat dari atas. Dalam buku Indonesia Indah: Tenunan Indonesia (Affendi. Selain itu bentuknya yang menyerupai biji melambangkan Dewi Sri. bintang dan yang bersifat simetris. Pengaruh Zaman dan Lingkungan halaman 13 Dintisarikan dari tesisi S2 FSRD ITB yang berjudul “Kajian Batik Surakarta” halaman 158 49 . daun. yang merupakan lambang kesuburan manusia maupun tanaman. motif Grinsing ini terdiri dari lingkaran-lingkaran kecil yang didalamnya terdapat sebuah titik pusat dengan latar belakang sisik ikan atau ular. Motif ini merupakan stilasi dari bentuk bunga. 3. Selain itu motif ini juga dihormati karena memiliki manca-pat.1. Gerinsing 70 71 Lihat Batik. Manca-pat sendiri merupakan suatu unsur dasar dalam pola angka empat dan lima.5. bahwa motif kawung berasal dari pola kuno yaitu Grinsing yang telah ditemukan pada abad ke 17. 1995:197) Grinsing berasal dari bahasa Bali. yaitu Gering yang artinya sakit. GAMBAR 3.

GAMBAR 3. Motif ini juga dilihat sebagai stilasi dari bentuk bunga teratai yang merupakan simbolisasi dari umur panjang dan kesucian. Di dalam mlinjon ini terdapat isen kembang jambu yang mengikuti bentuk tablet bunga. motif kawung yang berbentu oval miring dengan buah kawung sejenis aren yang di potong melintang dengan penyusunan geometri. Dalam pemaknaannya. Karena itulah motif ini hanya boleh dikenakan oleh Raja dan keluarganya. Di sela-sela ornamen utama terdapat ruang yang mengarah vertikal dan horizontal yang merupakan ornamen tambahan (mlinjon). Adapun bintang (palang-palang)yang ditampilkan pada bulatan adalah sebagai perumpamaan biji dari buah kawung yang diartikan sebagai lambang kesuburan. Pada tiap-tiap tablet berisi dua bintang yang merupakan isen motif kembang kapas yang mengarah sama ke masing-masing sudut. tampak seperti seorang penguasa yang dikelilingi pengawalnya.sendiri adalah sebuah kain tenun yang dibuat dari benang kapas dengan motif geometrik dengan teknik ikat ganda berwarna merah kecoklatan.4 CONTOH POLA KAWUNG SUMBER : PUJIANTO Sedangkan motif kawung digambarkan seperti penampang luar buah aren yang disusun empat membentuk kotak-kotak yang dianggap simbolisasi dari alam semesta berupa susunan kosmis dengan raja berada di pusatnya beserta mancapat yang merupakan pengembangan dari pola tiga. Jenis ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat menyembuhkan orang yang sakit. Motif kawung tercipta dari empat bentuk oval seperti kelopak bunga atau tablet secara diagonal kea rah masing-masing sudut. 50 .

motif kawung tidak digunakan dalam lingkungan keraton Kasunanan dan Kadipaten mangkunegaran. Sesuai perjanjian yang membagi Mataram menjadi dua wilayah kekuasaan ini. Kawung Picis adalah motif kawung berukuran kecil. Berdasarkan besar kecilnya motif yang ditampilkan. namun dalam dunia pewayangan motif ini dipakai oleh Punawakan yaitu Semar. Sesuai perjanjian Giyanti. Adapun penggunaan nama jenis Kawung ini bukan karena bobot nilai mata uangnya. 3. Jenis Kawung tersebut jika diperhatikan dari penamaan motifnya merupakan suatu mata uang yang dipakai pada Zaman Belanda. Diperbolehkannya Semar memakai motif kawung dilatarbelakangi oleh sifatnya yang arif dan anggapan bahwa dia adalah titisan seorang Dewa. motif kawung menjadi ciri khas dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat. 2. namun lebih pada ukuran penampang mata uang logam pada zaman itu. Hal ini menunjukkan adanya sosial budaya di zaman Belanda yang mempengaruhi budaya Keraton. Nama ini diambil dari nama mata uang senilai sepuluh sen Kawung Bribil adalah motif Kawung berukuran sedang. 51 . yaitu : 1. maka motif kawung memiliki tiga nama.Meskipun dalam kehidupan sehari-hari morif ini hanya diperuntukkan untuk Raja dan keluarganya. Nama ini diambil dari mata uang 50 sen Kawung sen adalah motif Kawung berukuran besar yang namanya diambil dari motif Kawung berukuran besar.

semakin baiklah orang tersebut menurut anggapan stuktur social masyarakat setempat.1. Semakin rapi dan alus hasilnya. maka Susushunan pakubuwono III senang sekali akan hal ini. mengakibatkan Permaisuri pulang ke rumah keluarganya.5 CONTOH POLA KAWUNG YANG MENCERMINKAN POLA MANCA-PAT DAN POLA SEMBILAN SUMBER : DJAJASOEBRATA. Setelah mengetahui bahwa batik tersebut adalah buatan isteri pertamanya.5. Pada suatu ketika Susuhunan Pakubuwono III datang ke rumah mertuanyadan melihat suatu tatanan pola motif yang rapi dan alus. Singkatnya. awal pelarangan pengunaan motif ini berdasarkan sebuah cerita seperti yang dituturkan berikut ini : Ceritanya pada saat Permaisuri dimarahi Raja. Di rumah beliau membatik untuk mengisi kekosongan dan untuk menghibur hatinya. Karena motif baru tersebut belum bernama.GAMBAR 3. meskipun batik tersebut belum selesai digunakan. 1979: 238) menceritakan bagaimana terciptanya pola truntum hingga menjadi salah satu batik larangan 73 . 1979 :24 72 3. maka Susuhunan Pakubuwono III memberi nama motif baru tersebut dengan nama Truntum 74 . 72 52 . Dalam tulisan The Place of Batik in the History and Philosophy of Javanese Textile (Hardjonagoro. Hal ini menyebabkan hati Susuhunan Pakubuwono III menjadi luluh lantas meminta Permaisuri untuk kembali ke Keraton. Sebagian besar tulisan tentang Kawung ini diintisarikan dari karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 158-161 73 Ibid halaman 161 74 Pada beberapa kebudayaan Tradisional Indonesia memang terdapat fenomena bahwa baik tidaknya seseorang di lihat dari hasil kerajinanannya.3 Pola Truntum Motif ini diciptakan pada zaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono III.

sedangkan kata tumbuh mengambil dari bentuk bunga yang sedang mekar.Truntum sendiri berasal dari bahasa Jawa dengan akar kata tuntum (mengumpulkan). Sedangkan Nian S.6 CONTOH POLA TRUNTUM : DJAJASOEBRATA DAN HAMZURI 1979: 24 75 Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik mengartikan Truntum adalah mengumpulkan yang merujuk pada pengumpulan material. Visualisasi motif ini adalah stilasi yang menyerupai bintang bersinar di langit atau bunga yang sedang mekar. Perpaduan dua hal tersebut secara berulang-ulang mengesankan taburan bintang-bintang yang memberi kesan hidup. SUMBER GAMBAR 3. tumaruntun atau menuntun dan tumbuh. Motif Truntum adalah bentuk yang menyerupai bunga mekar yang saling mengait. Motif ini memiliki dua keindahan. Pengertian menuntun merujuk pada keadaan dimana orang tua menuntun anaknya untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya (dalam hal ini adalah pernikahan). keindahan pada kontur motif yang ditampilkan secara teratur yaitu ornament utama pada motif yang terlihat seperti bunga mekar. Yang kedua adalah tampilnya bentuk ornament baru yang berfungsi sebagai latar atau ornament tambahan yang tasmpak seperti bintang. bahwa 75 Ibid halamn 164 53 . Djoemena dalam tulisannya yang berjudul Ungkapan Sehelai Batik (1990: 13) mengemukakan bahwa Truntum memuat artian menuntun. Maksud dari kata mengumpulkan dalam motif ini adalah menghimpun atau menyatukan. Pertama.

orang tua menuntun kedua mempelai untuk memasuki tahap hidup selanjutnya yang banyak lika-likunya.4 Pola Garis Miring Pola ini memiliki kemiringan 45 derajat dengan arah dari kiri bawah ke kanan atas atau kiri atas kekanan bawah. Hal ini dapat dilihat dari arah gerak diagonal pola garis miring di Yogyakarta dari kanan atas ke kiri bawah yang mengingatkan kepada kaligrafi arab. lain halnya dengan keraton surakarta yang di dominasi budaya Hindu-Buddha.1.5. 3. kain ini biasa digunakan dalam upacara pernikahan yang merepresentasikan harapan tersebut. baik secara spiritual maupun material. Pola tersebut adalah Pola Parang. 76 Diambil dari karya Tesis FRSD ITB oleh Pujianto berjudul “Kajian Batik Surakarta” tahun 1983 halaman 167 54 . Karena itulah. Pola garis miring pada keraon Surakarta mengarah dari kiri atas ke kanan bawah. Perbedaan ini berdasarkan daerah asalnya. Batik ini dapat dilihat memuat pengharapan agar dapat melalui bahtera pernikahan dengan sebaikbaiknya. Pola garis miring ini memiliki berbagai macam variasi yang diklasifikasikan menjadi 3 pola. Dari arah diagonal gerak motif pada pola garis miring ini tampak bahwa pada keraton Yogyakarta kental akan pengaruh Islam. sedangkan di Keraton Yogyakarta arah diagonalnya dimulai dari kanan atas menuju kiri bawah. Contoh lain dapat kita lihat dari gelar pemimpin tertinggi di Keraton Yogyakarta menggunakan gelar Kasuhunan atau sultan yang mengadopsi dari budaya Arab. Udan Liris dan Garis Pinggir 76 . sedangkan arak kiri atas ke kanan bawah cenderung kepada cara penulisan aksaran Jawa Kuno.

77 Ibid halaman 171 55 . motif parang merupakan penyederhanaan dari golok. Pada setiap stilasi parang terdapat isen uceng yang memberi kesan gerak.i. Selain itu juga terdapat mata gareng disela-sela stilasi parang yang mengapit bagongan.7 DETAIL POLA PARANG : DJAJASOEBRATA. Pola Parang Motif Parang adalah stilasi dari bentuk senjata yang dikomposisikan secara teratur dan berulang.1979: 24 77 Stilasi parang sering ditampilkan secara bergantian dari sisi atas dan bawah yang saling mengisi ruang. SUMBER GAMBAR 3. Dalam visualisasinya. keris dan teratai dengan komposisi yang rapi dan berulang. Diantara stilasi parang terdapat ruang yang bernama sirap kendhela dan bagongan yang ditampilkan secara bergantian mengikuti arah diagonal dari stilasi parang.

Garis diagonal akan tampak jika memperhatikan alis-alisan yang ditampilkan secara bersambungan. Dari hal inipun terlihat bahwa garis diagonal muncul bukan hanya sebagai batas. Visualisasi ini berusaha menggambarkan keesaan Tuhan yang tiada awal dan akhir. Pola ini juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk doa atau dzikir yang tidak terputus-putus kepada Tuhan. Motif ini merupakan motif klasik islam yang berusaha menggambarkan transendenitas dengan pola yang tidak berawal dan berakhir. namun juga sebagai pemersatu. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN 78 Ibid halaman 169 56 . Transendenitas didukung dengan garis diagonal yang merepresentasikan keadaan ‘diantara’ dunia atas dan bawah.8 POLA PARANG CURIGA : BATIK. yaitu motif arabesque. Pengulangan alis-alisan yang terusmenerus memberi kesan ritmis tanpa batas. SUMBER GAMBAR 3. Justine Boow dalam bukunya yang berjudul Symbol and Status In Javanese Batik (1988: 16) 78 mengemukakan bahwa motif parang mendapat pengaruh dari seni rupa Islam. Alis-alisan ditampilan secara berhadapan yang dipisahkan dengan isen mlinjon berbentuk belah ketupat kaku yang kontras dengan bentuk lainnya yang lentur.

dan magis mistis. Di bawah ini. akan dipaparkan penjelasan singkat perihal keris dan teratai. Hal yang menarik dari keris adalah. yang dalam hal ini adalah sang Pencipta. Koesoediarto (1960 : 5). Menurut L. 1. Dalam penelitian ini. penulis membahas teratai sebagai perwakilan dari kelompok tumbuhan yang distilasi menjadi bentuk parang. selain berfungsi sebagai senjata. patriotisme sehingga mampu memberi kekuatan pada pemakai (Sastroatmodjo :1993 :46) 79 . Kepercayaan itulah yang menyebabkan motif ini hanya boleh dikenakan oleh Raja karena Raja saat itu dianggap sebagai penjelmaan dari Bhatara Guru. Menurut kepercayaan kejawen. keris juga memiliki unsur estetis. baik itu keris atau golok. parang diartikan pula sebagai karang runcing yang menggambarkan heroisme. Selain stilasi dari senjata. Jenis motif parang yang sangat terkenal adalah Parang Rusak. filosofis. 79 Ibid halaman 168 57 . pola Parang ini juga mengadopsi bentuk tumbuhan seperti halnya bunga atau tumbuhan. karena motif ini diyakini memiliki tenaga penghalang terhadap semua kerusakan dan kematian. Parang rusak merupakan stilasi dari keris. Motif ini menjadi keramat di dalam keraton karena melambangkan kehidupan. Keris Keris adalah sebuah benda tajam yang terbuat dari logam yang berkembang pesat pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Jawa. Parang Rusak adalah sumber kehidupan dan keselamatan. Parang rusak dianggap mampu memberikan kekuatan pada pemakainya sehingga sering digunakan saat maju ke medan perang dengan harapan dapat menjadi pemenang.Selain itu.

Karena meteor ini mengandung nikel dan alumunium dalam jumlah besar. Senjata. jenis baja yang sering digunakan adalah baja yang digabungkan dengan logam pamor yang digabungkan dengan logam pamor yang berasal dari batu meteor. 58 .GAMBAR 3.10 BAGIAN-BAGIAN KERIS SUMBER : BUDIHARJO W 80 81 Ibid halaman 172 Baja yang merupakan campuran nikel dan karbon 82 Dikutip dari Keris. meteor ini cukup besar sehingga ketika jatuh membuat lubang selebar bentangan tangan 10 orang dewasa.9 PROSES PENGOLAHAN BENTUK SENJATA KE STILASI MOTIF PARANG SUMBER :SEOTOPO. Logam ini diyakini berasal dari meteor yang jatuh di daerah Prambanan pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana III ( 1749 M ). Sisa batu meteor seberat 15 kg yang diberi nama Kyai Pamor ini sekarang disimpan di Keraton surakarta 82 GAMBAR 3. 1957: 12 80 Keris pertama terbuat dari bahan baja yang diekstrak dari pasir. maka dapat digunakan untuk membuat pamor keris sejak zaman Pemerintahan Sunan Pakubuwana IV hingga Sunan Pakubuwana. Kemudian jenis baja malela ini digantikan oleh baja 81 yang dibawa oleh pedagan India dan Persia. atau biasa disebut baja malela (bijih besi bercampur dengan nikel dan mangan). Bahan logam pamor ini mengandung nikel dan alumunium murni berwarna putih terang. Karya Seni dan Simbol yang disusun oleh Alpha Febrianto untuk mata kuliah Antropologi Seni semester II tahun ajaran 2004-2005 FSRD ITB program S1. Pada masa kekuasaan Surakarta. Dalam catatan Surakarta.

6. 3. 14. 4. 3.1. 5. Deder Selut Mendak Warangka Pendok 1. 5. 13. 4. Lambe Gajah Kembang Kacang Jenggot tikel Alis Jalen Sogokan Depan Lis-lisan 59 . Pesi Ganja Bungkul Blumbangan Srawehan Gandik Jalu Memet 8. 2. 11. 9. 12. 7. 2. 10.

keris bukanlah senjata tebas seperti halnya pedang atau jenis senjata pisau lainnya. Tungkakan Greneng Ri Pandan Kanyut Tinggil Pundak Sateg SUMBER GAMBAR 3. Adapun pemaknaan keris berdasarkan jumlah luknya adalah sebagai berikut 60 . Dalam filosofi kejawen. 18. Bentuk yang ramping dan melancip ke ujung menunjukkan bahwa keris digunakan untuk gerakan menusuk. 20.15. 27. 23. 1985 : 8-15 Bila dilihat dari struktur bentuknya. Keris yang berlekuk dibuat untuk para ksatria yang menurut para ahli merupakan stilasi dari bentuk petir atau kilat Pada dasarnya. Hal ini seperti yang sering dibahas sebelumnya merupakan bentuk dari pola tiga yang berkembang di masyarakat saat itu. 19. Keunikan dari sebilah keris adalah jumlah lekuknya yang selalu ganjil. 25.11 RICIKAN KERIS DAN NAMA-NAMANYA : BAMBANG BAMBANG HARSINUKUSUMO. 17. sedangkan warangkanya adalah lambang wanita. 26. Bilah keris dianalogikan sebagai representasi dari pria. 16. 21. Warangka yang berada ditubuh keris berfungsi untuk menangkis serangan. Gusen Kruwingan Ada-ada Janur Sogokan Belakang Wadidang Ron Dha Nunut 22. 24. 27. bersatunya besi baja dari bumi dengan batu pamor dari meteor dianggap sebagai harmonisasi antara ‘bapak angkasa dan bumi pertiwi. angka ganjil memiliki arti yang mistis.

Karena itulah keris luk lima sering pulas disebut sebagai dapur Pandawa. Teratai Teratai adalah salah satu simbolisasi penting yang muncul pada kebudayaan Hindu-Buddha. f. Dalam mitilogi Hindu. Asumsi seperti ini muncul karena setelah angka sembilan kita akan kembali ke titik nol. Reikarnasi ini bertujuan untuk memerangi ketidakadilan dan menyelamatkan manusia. ketuhanan. kebenaran. d. disiplin dan keagungan 83 luk tujuh melambangkan kesaktian. 84 Merupakan luk tertinggi. Wisnu akan bereikarnasi sebanyak sepuluh kali di dunia. Keris-keris palawija ini berarti memiliki kekuatan tambahan. kegembiraan dalam hidup serta ilmu pengetahuan.a. Luk lima melambangkan ketertiban. Dalam visualisasi Wisnu 86 . c. b. 2. Diceritakan bahwa teratai merupakan tempat singgasana dari dewi Kwan in juga Dewi Laksmi. 85 Palawija adalah tanaman selangan (antara dua jenis padi). e. Palawija adalah para orang-orang yang memiliki cacat fisik yang diangkat menjadi abdi-abdi terdekat raja. 86 Wisnu adalah Dewa Pemelihara dalam agama Hindu. Luk satu atau biasa disebut keris lurus merupakan lambang keberanian. luk sembilan melambangkan kesempurnaan. Dalam istilah ini merujuk pada orang luar biasa. Ciri-ciri umumnya biasanya bertubuh cebol. Pada reinkarnasinya yang terakhir. perlawanan dan inisiatif. biasanya kacang polong dan kacang lainnya. Luk tiga merepresentasikan akal budi. karena sembilan adalah angka kesempurnaan. Wisnu akan 83 61 . kepuasan hidup serta gerbang nirwana 84 . dia digambarkan memiliki empat tangan yang disetiap tangannya memegang benda-benda yang berbeda. Luk lima juga kerap dihubungkan dngan pandawa lima dalam kisah pewayangan yang diadaptasi dari mitologi Mahabrata. kemakmuran dan kebulatan tekad. keris yang memiliki luk lebih dari sembilan disebut keris Palawija 85 .

tangan ketiga memegang cakram yang jika dilempar akan kembali ke tangannya dan tongkat. kerang merupakan lambang dari alam. Bunga teratai disini dipercaya sebagai simbolisasi dari pertumbuhan penciptaan.13 GAMBAR BUDDHA DI ATAS SINGGASANA LUTOS (TERATAI) SUMBER : MICROSOFT ENCARTA 2006 muncul dengan kuda putih untuk menghancurkan alam semesta.12 PROSES PENGOLAHAN BENTUK TERATAI KE STILASI PARANG SUMBER : JASPER DAN PRINGADI : 1916 :155 87 Tangan pertama dewa Wisnu memegang bunga teratai. tangan kedua memegang kerang. GAMBAR 3. Saat inilah yang dalam mitoligi Hindu dipercaya sebagai akhir dunia.GAMBAR 3. 87 Diambil dari tulisan Pujianto untuk tesis S2 FSRD ITB yang berjudul Kajian Batik Surakarta halaman 172 88 Sumber literatur berasal dari Microsoft Encarta 2006 62 . sedangkan cakram dan tongkat merupakan lambang kekuasaan dan kekuatan untuk melawan Dewa Indra 88 .

ii. SUMBER GAMBAR 3.14 DETAIL POLA UDAN LIRIS : DJAJASOEBRATA. 1979: 24 89 Motif ini terdiri dari beberapa jenis ornamen yang diatur secara bergantian dengan membentuk sudut 45 derajat. 89 Ibid halaman 174 63 . Pengertian ini diperoleh dari persamaan sifat antara air hujan yang jatuh dengan susunan motif Udan Liris yang keduanya membentuk garis diagonal. Pola Udan Liris Udan Liris artinya hujan gerimis atau berasal dari kata Lis yang berarti Garis. Tiap jenis ornamen dipertegas dengan garis lurus memanjang yang mengesankan tak berbatas. Sedangkan pengertian Lis sendiri menghubungkan corak yang ditampilkan yaitu garis-garis kecil yang penuh.

Ketiga motif tersebut merupakan batik tradisional keraton Surakarta namun hanya cemungkiran yang termasuk motif larangan. iii. Pada pangkal motif selalu didekatkan atau dihubungkan dengan ornamen lain yang biasanya merupakan elemen pokok dan dibagian ujungnya lepas dari ornamen yang mengarah ke ruang kosong atau bidang lain. motif ini biasa digunakan saat upacara-upacara sesaji.Motif Udan Liris merupakan simbol kesuburan dan perkembangan. 64 . Motif garis pinggir secara pengulangan dengan bentuk yang sama. Nama motif ini disesuaikan dengan penerapan dalam kain batik yang meliputi ornamen yang diterapkan pada pinggir kain (kemada). Dalam penggunaannya. dan motif yang diterapkan pada batas bidang kosong disebut cemungkiran. karena sesuai dengan namanya yaitu hujan gerimis yang mampu menyuburkan tumbuhan dan menjaga kelangsungan makhluk hidup lainnya. motif yang diterapkan diantara batas dua ornamen disebut blabakan atau cinde. motif ini tampil menjadi motif larangan dalam lingkungan keraton yang hanya boleh dipakai oleh Raja dan kaum bangsawan. Dengan tingginya nilai filosofi dan harapan yang terkandung didalamnya. Pola Garis Pinggir Motif garis pinggir merupakan motif yang diterapkan pada pinggiran kain yang melintang arah kain. Motif cemungkiran sendiri merupakan stilasi dari lidah api atau sinar matahari yang melambangkan kehebatan alam semesta.

3. Bentuk ornamen yang ditampilkan selanjutnya dikomposisikan secara bebas. tidak mengacu pada satuan ilmu ukur.2 Motif Non Geometrik Motif non geometrik adalah motif yang berasal dari penyederhanaan bentuk alam sebagai simbolisasi. Dalam penelitian ini Penulis memilih beberapa motif non geometrik yang dianggap sedikit banyak mampu menampilkan pola non geometrik secara keseluruhan. 90 Ibid halaman 174 65 . Meskipun begit. Pengelompokkan ini didasari oleh bentuk ornamen yang ditampilkan dalam motif. Lotus sendiri China mengandung arti kekuasaan dan umur panjang.5. jika diperhatikan pada pola non geometris tetap terdapat komposisi yang simetris antara satu ornamen dengan yang lain.15 PROSES STILASI POLA CEMUNGKIRAN SUMBER : DJAJASOEBRATA. Nama motif menurut pengelompokkannya cukup banyak karena terus dalam budaya berkembang sehingga menghasilkan motif baru yang tetap mengacu pada simbol alam yang mengacu pada interpretasi yang sama.GAMBAR 3. 1979: 24 90 Cemungkiran juga di anggap sebagai turunan dari bentuk lotus yang merupakan pengaruh dari budaya China.

2.1 Pola Semen Semen berasal dari kata semi yang berarti tunas. sedangkan pohon hayat melambangkan kehidupan. Tanaman sulur tersebut merupakan simbol kesuburan.5. Kata ini juga mengandung unsur perlambangan kesuburan seperti halnya motif cemungkiran dan banyak motif batik lainnya. SUMBER 91 GAMBAR 3. Dalam motif ini sering ditampilkan beberapa macam ornamen lainnya yang biasanya merupakan stilasi dari bentuk binatang dengan dominasi tanaman sulur yang menjalar pada motif semen.16 DETAIL POLA SEMEN : DJAJASOEBRATA. 1979: 24 91 Ibid halaman 174 66 . Pola semen sendiri merupakan ornamen yang menggambarkan tumbuhan-tumbuhan atau tanaman menjalar.3.

Soma adalah pohon yang tepat berada dipuncak Meru. yaitu sebagai pemakan orang-orang yang berkhianat pada dewa Wisnu atau dalam mitologi yang lain. yaitu Sawat. garuda muncul dalam dua skenario besar. Sawat Sawat merupakan stilasi lengkap dari Garuda. Alasan Garuda mencuri soma adalh untuk membebaskan ibunya dari perbudakan Dewi Kadru. Di bawah pohon ini terdapat mata air para Dewa. Keberhasilan Garuda mengambil air Soma di puncak Meru tersebut tampaknya menjadi simbolisasi sebuah keberanian. Penyebaran tumbuhan diseluruh bidang juga dimaksudkan sebagai penyebaran seluruh kehidupan yang merata di alam semesta. Karena itulah motif ini dalam penerapannya di keraton diperuntukkan bagi Pangeran. Meru dan Pohon Hayat i. Adipati serta pengantin pria dengan harapan pasangan pengantin tersebut dapat memiliki keturunan yang banyak dan sehat. kebaktian serta kesetiaan. Dalam mitologi Hindu. terdapat beberapa ornamen utama dalam motif semen ini. Air ini juga setara dengan Tirta Merta yang merupakan air kehidupan. Dalam mitologi Hindu. Soma dipercaya dapat menghidupkan orang yang telah mati.Tiap-tiap ornamen yang hadir dalam visualisasi motif semen memiliki arti simbolis yang mengarah pada kepercayaan suatu kehidupan. Menurut mitologi yang berjudul Garudeya. Garuda menetas dari telur yang telah inkubasi selama 1000 tahun. Garuda adalah putera dari Kasyapa dan isterinya Vinata. Garuda diceritakan mencuri soma dari Dewa Wisnu 92 . Secara garis besar. Garuda itu sendiri merupakan hewan yang berasal dari alam mitologi Hindu. air ini dianggap mampu memberikan kehidupan yang kekal abadi. dimana dia merupakan kendaraan Dewa Wisnu. 92 67 .

Biasa digambarkan sedang melawan ular yang merupakan representasi dari dunia bawah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal negatif 93 .18 RAGAM HIAS GARUDA (SAWAT) YANG TERDAPAT PADA BATIK KERATON SURAKARTA SUMBER : PUJIANTO 93 Diambil dari Microsoft Encarta 2006 68 . Garuda merepresentasikan dunia atas. GAMBAR 3.17 PENGGAMBARAN GARUDA DALAM MITOLOGI HINDU Sumber : MICROSOFT ENCARTA 2006 Dalam kepercayaan Hindu.GAMBAR 3.

GAMBAR 3. Menurut kepercayaan India. 2003:13). Meru Dalam motif ini salah satu ornamen utamanya adalah Meru. Ternyata kepercayaan tersebut tidak hanya di India. tetapi merupakan kepercayaan seluruh dunia atau biasa disebut budaya universalitas (Baca Elaide. Di dalam gunung terdapat ‘axis mundi’. yaitu titik pertemuan antara Bumi. Neraka dan Nirwana 94 . Meru (gunung) berdiri di pusat dunia dan diatasnya bersinar Bintang Utara (kutub).ii.19 PENGAPLIKASIAN MERU DALAM GUNUNGAN PADA KESENIAN WAYANG SUMBER : EDI SUNARYO Karya Tesis ITB yang berjudul ‘Kajian Bentuk dan Makna Batik kasumedangan’ oleh Dwi Rahayu Surviati halaman 90 94 69 .

GAMBAR 3.20 RAGAM HIAS MERU YANG TERDAPAT PADA BATIK KERATON SURAKARTA SUMBER :PUJIANTO 70 .

Meru dianggap sebagai perwujudan dari gunung Mahameru yang terdapat di India. dalam alam pemikiran Jawa kuno. Pohon ini juga melambangkan alam beserta isinya yang merupakan sumber kehidupan manusia. Meru adalah lambang keseluruhan kosmos maupun kosmis (jagad besar dan jagad kecil) sehingga segala bentuk kehidupan tentulah terdapat didalamnya. Bentuknya menjadi gunungan seperti yang digunakan pada pertunjukkan wayang kulit. sehingga memunculkan ragam Meru khas Jawa atau bali sebagai contohnya. Pada gunung ini juga terdapat mata air kala-kala yang dapat membuat para Dewa mati bila meminumnya. Pada gunung ini tumbuh berbagai macam tanaman yang berkhasiat bagi tubuh. Sedangkan pada bagian barat Meru terdapat pohon Jambu wrekso yang memiliki seratus batang ranting. Meru atau gunungan juga merupakan kekayon atau pohon hayat (pohon kehidupan). Di dekat mata air kala-kala tumbuh pohon Sandilata yang dipercaya mampu menghidupkan orang yang telah meninggal.Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Indonesia mendapat pengaruh Hindu dari India. Konsep Meru di Jawa berasal dari konsep triloka agama Hindu. Ajaran ini mengatakan bahwa segala sesuatu berasal dari keadaan Syiwa sebagai Dewa tertinggi penguasa dunia atas yang kemudian 95 Ibid halaman 92 71 . tetapi Hindu yang ada di Indonesia tidak sama seperti Hindu menurut versi asli India. Kepercayaan Hindu di Indonesia telah bersinkretisme dengan budaya asli Indonesia. Pada puncak gunung Meru dipercaya tumbuh Pohon Soma yang dapat memberikan kesaktian. yaitu ajaran tentang tiga alam atau tiga dunia yang berasal dari kepercayaan Siwa Pasupata (Sumardjo :2001) 95 . Di sisi lain. Maka tampillah Meru merangkum seisi jagad raya dan segenap kehidupan.

Istilah tersebut berasal dari kata kalva yang berarti keinginan. pohon hayat merupakan pohon hayat dikenal dengan istilah kalpavrksa. Secara umum makrokosmos adalah keseluruhan yang besar. Pohon Hayat Dalam sistem religi masa lampau. GAMBAR 3. masa dunia. lebar dancosmos yang berarti alam semesta. pohon hayat merupakan simbol dari kemakmuran dan keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos 96 . iii. kalpadruma. Menurut kamus filsafat istilah makrokosmos berasal dari bahasa Yunani.secara bertahap menjelma atau menubuh dari keadaan ‘tiada’. yaitu macros yang artinya panjang. atau keadaan ‘tidak kasat mata’ menjadi keadaan ada dan kasat mata (Hadiwoyono :83). Selain itu terdapat pula kepercayaan bahwa Gunung Tidar. atau kalpavalli. DWI RAHAYU SERVIATI Konsep triloka di atas ternyata juga dianut oleh masyarakat Jawa kuno. kalpataru. 96 72 . sebuah bukit kecil di dekat kota Magelang. yaitu mikrokosmos. dan kontras dengan bagian-bagian yang terkecil. Sedangkan dalam agama Hindu. seperti halnya kepercayaan yang dianut oleh Hindu. Secara khusus makrokosmos adalah adalah alam semesta yang dipandang dalam totalitasnya.21 KONSEP PEMBAGIAN TIGA DUNIA DALAM KOSMOLOGI JAWA SUMBER : KAJIAN BENTUK DAN MAKNA BATIK KASUMEDANGAN. zaman. Konsep ini meyakini bahwa segala sesuatu di dunia idealnya terdiri dari tiga bagian dasar. Jawa Tengah sebagai poros atau ‘paku’ dari pulau Jawa.

22 TREE OF LIFE (POHON HAYAT) DARI INDIA SUMBER : STELLA KAMRITCH.2. yaitu enam macam makanan para dewa serta buahnya juga mampu menghasilkan pakaian dan perhiasan.5. dua sayap terbuka kembar lengkap dengan ekor terbuka yang disebut sawat. nama dan cara. maupun satu sisi 73 . 3. Dalam agama Buddha juga dikenal Pohon Bodhi yang dianggap sebagai pemberi pencerahan ketika Sidharta Gautama sedang bersemedi. Dengan demikian pengertian kalpavrksa di India sama dengan pengertian pohon khayangan atau pohon surga di Jawa karena berada di khayangan tempat tinggal para dewa. kalpataru. 1972 Dalam budaya India. pohon masa dunia atau pohon keinginan. Sehingga kalpavrksa. GAMBAR 3. yaitu pertumbuhan dan kehidupan. Pohon tersebut selalu menghasilkan milk.harapan. atau kalpavalli memiliki pengertian sebagi pohon pengharapan. kalpavrksa dikenal sebagai pohon yang buah-buahnya dapat mengabulkan setiap permohonan. Motif sawat ditampilkan dalam visualisasi sayap burung pada sisi kanan dan kiri yang disebut mirong.2 Pola Sawat Sawat dalam kamus Kawi Jawa juga memiliki arti yang sama dengan semen. kalpadruma.

97 Ibid halaman 184 74 . Burung ini merupakan kendaraan Dewa Wisnu. Dalam sejarah Mataram saat pemerintahan Sultan Agung motif ini merupakan lambang kejayaan. Karena itulah motif ini diperuntukkan bagi Raja agar diberi kekuatan untuk mengayomi masyarakat.5 JENIS-JENIS SAWAT YANG MUNCUL PADA BATIK KERATON SUMBER : PUJIANTO No. baik kanan atau kiri adalah Lar yang kesemuanya melambangkan keperkasaan dan keberanian. yaitu sejenis burung yang berkaki manusia. GAMBAR 3. TABEL 3.sayap. 1. Lar sebagai burung garuda. Jenis Sawat Ciri-Ciri Visual Sepasang sayap yang terbuka lengkap dengan ekor dan bagian tubuh lainnya.23 ORNAMEN DASAR PADA POLA SAWAT SUMBER : DJAJASOEBRATA. yaitu Dewa pemelihara. 1979: 24 97 Dalam mitologi Hindu-Jawa.

hanya saja ornamen hewan lebih dominan dibanding motif tumbuhan dengan visualisasi ramai dengan gaya bebas namun masih mengacu pada unsur alam dengan komposisi menyeluruh bagian kain dan jarak antar ornamen yang sama. 3. Motif ini hampir sama dengan motif semen. untuk memberi kesan tidak monoton maka maka pengisian bidang kosong dilakukan dengan menampilkan tumbuhan yang sekaligus menjadi penghubung antar hewan. sehingga ornamen yang muncul dalam motif ini sebagian besar adalah hewan dan tumbuhan. Mirong Lar Sepasang sayap yang terbuka Sebuah sayap.2.2. PUJIANTO 3.24 VISUALISASI RAGAM HIAS GARUDA YANG TERDAPAT PADA BATIK KERATON SURAKARTA SUMBER : KAJIAN BATIK SURAKARTA.5. baik kiri maupun kanan GAMBAR 3.3 Pola Alas-alasan Alas-alasan berarti hutan. 75 . Selain itu.

Ornamen yang berhubungan dengan alam atas seperti Garuda. yaitu Alam atas. Alam tengah dan Alam bawah. Berbagai sifat hewan tersebut mewakili sifat-sifat yang ada di dunia ini. Motif ini juga merupakan representasi dari alam dunia yang dipenuhi oleh kebaikan dan kejahatan. Motif alas-alasan ini hanya boleh diterapkan pada kain Dodot Bangun Tulak dengan kombinasi prada emas.25 POLA ALAS-ALASAN BURON SAMUDERA : BATIK. naga dan binatang laut lainnya merupakan representasi dari alam bawah. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Menurut paham triloka. kupu-kupu dan lidah api megacu pada para dewa. Sedangkan hewan yang tidak merusak lingkungan seperti kupu-kupu.Pemberian kesan berantakan dan liar merupakan salah satu cara untuk menghadirkan kesan hutan alam yang masih liar. Jenis batik ini sering digunakan untuk upacaraupacara agung seperti menghadiri upacara pengantin agung dan tari bedhaya. pohon hayat. unsur kehidupan terbagi atas 3 bagian. pola ini tetap memiliki perhitungan jarak yang konsisten. 76 . seperti macan dan serangga. karena jika diperhatikan lebih teliti akan tampak adanya hewan yang merusak tanaman atau memangsa hewan lain. SUMBER GAMBAR 3. Namun seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa meskipun pola geometri. tumbuhan dan meru yang mewakili Alam tengah dan perahu.

GAMBAR 3. maka dalam motif Lung-lungan tendensinya lebih kepada dunia flora. Bedanya.2. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN 77 . baik itu tumbuhan sulur ataupun pohon hayat. yang menjadi karakteristik dari motif semen. dalam motif Lung-lungan ornamen sawat hanya muncul sebagai lar atau mirong.26 POLA LUNG-LUNGAN BABON ANGREM SUMBER : BATIK. dapat dilihat bahwa motif Lung-lungan memiliki kesamaan pula dengan motif Alas-alasan.5. Namun jika dalam semen sawat yang digunakan berbentuk lengkap dengan kedua sayap dan ekornya. Sebaliknya. motif ini kaya dengan unsur tumbuhan.4 Pola Lung-lungan Motif Lung-lungan ini merupakan motif turunan dari semen. pada motif lung-lungan ini tidak selalu terdapat Meru.3. Selain itu. jika dalam motif Alas-alasan ornamen yang dominan adalah hewan-hewannya karena merepresentasikan dunia fauna. Dari hal ini.

7. 9.Dari keseluruhan pola non geometrik yang diterapkan dalam batik klasik Keraton ini. 4. 2. Dewa api. kesaktian dan bakti umur panjang keperkasaan dan kesaktian cobaan Wahyu. tempat raja Sedangkan menurut Wiyoso Yudoseputro dalam Pengenalan Ragam Hias Jawa I B (1983 :93) 98 bahwa beberapa motif yang sering digunakan dalam batik mempunyai lambang tertentu seperti : TABEL 3. bumi atau gunung tempat para dewa Api. tempat para dewa kehidupan api. 10.7 ORNAMEN YANG SERING MUNCUL PADA BATIK KERATON POLA NON GEOMETRIK BESERTA PEMAKNAANNYA SUMBER : WIYOSO YUDOSEPUTRO No. 3. ketenangan Kendaraan dewa Wisnu. 5. 2. matahari Sehingga bila ornamen tersebut dikelompokkan berdasarkan wilayah alam berdasarkan falsafah Jawa. Nama Sawat atau Garuda meru pohon hayat lidah api burung binatang berkaki empat kapal Pusaka Naga Kupu-kupu Dampar Arti mentari yang berarti keperkasaan dan kesaktian. lambang kesaktian Alam atas Alam tengah Air. 7. 6. kegembiraan dan ketenangan kesaktian dan kesuburan kebahagiaan dan kemujuran Keramat. 1. 1. 4. maka akan menjadi : 98 Ibid halaman 88 78 . maka dapat diklasifikasikan dengan tabel berikut ini : TABEL 3. 5. 11. 6. Ornamen batik Meru Lidah Api burung Pohon hayat Barito Pusaka Garuda arti Tanah. 8. 3. dunia bawah Kegembiraan.6 ORNAMEN YANG SERING MUNCUL PADA BATIK KERATON POLA NON GEOMETRIK BESERTA PEMAKNAANNYA SUMBER : SUSANTO DAN VELDHUISEN No.

TABEL 3.8 KLASIFIKASI ORNAMEN BERDASARKAN PELAMBANGAN DAN MAKNA SUMBER : SUSANTO DAN VENDHIUSEN Alam atas Garuda (burung) Kupu-kupu Lidah api Dampar Alam tengah Pohon hayat Meru Bangunan Binatang berkaki empat Pusaka Alam bawah Perahu Naga Ular Binatang air lain Barito Di bawah ini akan ditampilkan beberapa contoh motif pada batik klasik keraton Surakarta yang mewakili tiap pembagian dunia.6 Dunia Bawah 79 . Ketiga dunia dunia tersebut adalah : GAMBAR 3.27 KLASIFIKASI ORNAMEN BATIK KERATON POLA NON GEOMETRIS BERDASARKAN PEMBAGIAN TIGA DUNIA SUMBER : PUJIANTO 3.

7 Dunia Tengah 80 .3.

3.8 Dunia Atas 81 .

1 Pola Parang Barong SUMBER GAMBAR 4.1. cemungkiran atau ceplok. Pembagian Pola yang dianalisa diklasifikasikan sesuai bentuk geometris dan non geometris beserta turunannya. seperti halnya motif parang rusak. 4. Penulis mengharapkan dapat memberi interpretasi baru sebuah karya batik keraton.1 Motif Geometris Motif geometris seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya adalah motif yang mengikuti kaidah ilmu ukur. 4. Melalui analisa ini. Motif ini biasanya bertendensi pada sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan dan pemerintahan.BAB IV ANALISA VISUALISASI BATIK KERATON KLASIK SURAKARTA Dalam bab ini penulis akan membahas visualisasi dari batik keraton klasik Surakarta.1 POLA PARANG BARONG : BATIK. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN 82 .

Warna yang digunakan dalam batik ini adalah warna-warna yang dihasilkan oleh pewarna alami yang berasal dari nabati.1 RINCIAN JUMLAH MILNJON DAN UCENG PADA PARANG BARONG SUMBER : PENULIS No 1.Batik yang dibahas kali ini adalah batik dengan motif Parang Barong dari marga Parang-parangan yang tergolong motif geometris. Utuh 5 12 17 24 25 25 26 25 25 25 2 2 1 Mlinjon Setengah 1 1 2 2 2 2 Uceng Utuh Setengah sisi kiri mlinjon : 2 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 3 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 5 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 7 sisi kanan mlinjon :sisi kiri mlinjon : 8 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 10 sisi kanan mlinjon :sisi kiri mlinjon : 11 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon :13 sisi kanan mlinjon :sisi kiri mlinjon :12 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon :13 sisi kanan mlinjon :sisi kiri mlinjon : 12 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 12 sisi kanan mlinjon : 2 sisi kiri mlinjon : 12 sisi kiri mlinjon : 2 sisi kanan mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 13 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : - 83 . Selain Parang Rusak Barong terdapat Parang Rusak Klitik (Kecil) dan patang Rusak Gendreh (ukuran sedang). Parang Rusak sendiri adalah salah satu motif larangan yang diciptakan oleh Sultan Agung dimana beliau adalah Raja Mataram saat itu. Dalam komposisinya. Adapun tabel rincian jumlah mlinjon dan isen utama parang diselembar wastra batik ini adalah sebagai berikut : TABEL 4. 3. Parang Barong merupakan turunan dari Parang Rusak. Ukuran ini biasa digunakan untuk kain nyamping. 6. 7. 2. 10. 4. seperti warna coklat soga. batik ini membentuk garis-garis diagonal dari kiri atas ke kanan bawah. 8. Kain ini berukuran 3 kacu. Pada panjang kain ini terdapat 17 baris mlinjon dan 35 baris parang yang saling berhadapan. dimana satu kacu adalah ukuran diagonal dari lebar kain. krem dan hitam. 9. 5.

Motif arabesque menggambarkan ketidak berbatasan Tuhan dengan suatu pola tanpa awal dan akhir. Sedangkan penggambaran dari arah kiri atas ke kanan bawah merupakan salah satu ciri motif batik parang Surakarta yang membedakannya dengan batik Yogyakarta. Namun pola tak berbatas itu juga merepresentasikan keadaan berdzikir yang terus-menerus dan tak terputus pada Tuhan. 17. 16. 14. Pengulangan kumpulan motif parang yang membentuk diagonal memberi kesan tidak terbatas. 84 . Kesan ini sering dianggap merupakan pengaruh dari motif arabesque yang berasal dari seni rupa Islam. 15. Batik Surakarta tampil dengan ciri khasnya yang lebih halus. Hal ini dapat dilihat dari komposisi Parang Barong secara diagonal yang melambangkan keadaan ‘tengah’.11. 12. Transendenitas itu sendiri merupakan salah satu cara untuk beribadah pada Tuhan. batik adalah suatu cara untuk mencapai transendensitas. Tidak berada horizontal maupun vertikal. Karena Tuhan tidak memiliki awal dan akhir. Karena itulah. dilakukan berbagai upaya untuk berada atau menggambarkan transendenitas tersebut. 25 24 24 24 18 11 4 1 1 1 1 1 1 1 sisi kiri mlinjon : 13 sisi kanan mlinjon : 12 sisi kiri mlinjon : 12 sisi kanan mlinjon : 12 sisi kiri mlinjon : 12 sisi kanan mlinjon : 12 sisi kiri mlinjon : 12 sisi kanan mlinjon : 11 sisi kiri mlinjon : 10 sisi kanan mlinjon : 7 sisi kiri mlinjon : 7 sisi kanan mlinjon : 4 sisi kiri mlinjon : 3 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 2 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : sisi kanan mlinjon : 1 sisi kiri mlinjon : 1 sisi kanan mlinjon : 1 Menurut falsafah Jawa. 13. rapih dan teratur.

Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari.GAMBAR 4. Parang Barong biasa digunakan oleh para Dewa. Isen ini memperkuat penggambaran direpresentasikan melalui pengulangan motif parang yang membentuk garis diagonal. stilasi parang ditampilkan secara bergantian dari sisi atas dan sisi bawah sehingga saling berhadapan dan mengisi ruang. uceng sendiri merupakan simbolisasi dari dinamis kesaktian yang dan ketaatan.2 SALAH SATU CONTOH PENGAPLIKASI POLA ARABESQUE PADA BANGUNAN ARSITEKTURAL SUMBER : MICROSOFT ENCARTA 2006 Sedang dalam visualisasinya. parang merupakan salah satu motif larangan yang hanya boleh digunakan oleh para Raja dan Bangsawan. Selain itu juga terdapat isen mlinjon yang menjadi jeda antara isen yang satu dengan yang lain. sehingga jika digunakan oleh orang yang salah dapat menyalahgunakan kekuasaannya. ditinjau dari penerapan warna yang dipilih. warna kuning kecoklatan merupakan lambang kematangan dan kejujuran sedangkan warna hitam mewakili keabadian. Kekontrasan juga ditampilkan bukan hanya dalam bentuk. tetapi juga dalam pewarnaannya. Dalam pewayangan. warna putih merupakan perlambangan dari dunia terang dan kehidupan. Selain itu. Dalam budaya Jawa. Untuk isen mlinjon sengaja dipilih warna yang lebih kuat namun tetap senada untuk mempertegas motif batik secara keseluruhan. Pada tiap-tiap stilasi parang terdapat isen uceng yang memberi kesan dinamis. motif ini digunakan oleh kalangan ningrat dan 85 . Alasan diberlakukannya larangan ini karena parang adalah lambang kekuatan dan kekuasaan.

4. krem dan hitam. yang merupakan indikasi bahwa batik ini berasal dari Surakarta (Solo). Dalam batik kali ini. yang berarti Parang yang berukuran kecil. Senjata ini di pakai untuk perang oleh para Punggawa Keraton. batik ini membentuk garis-garis diagonal dari kiri atas ke kanan bawah.2 Pola Parang Sarpa Batik yang dibahas kali ini adalah batik dengan motif Parang Sarpa dari marga Parang-parangan yang tergolong motif geometris. Warna yang digunakan dalam batik ini adalah warna-warna yang dihasilkan oleh pewarna alami yang berasal dari nabati. Dalam komposisinya. 86 . Parang tersebut disusun secara diagonal dari kiri atas ke kanan bawah dengan komposisi saling berhadapan sehingga saling mengisi ruang yang kosong.priyayi. Selain itu yang perlu diketahui bahwa penerapan motif ini dalam pola geometri yang mengacu pada konsep ilmu ukur menguatkan motif ini sebagai sebuah motif yang melambangkan kekuasaan atau pemerintahan. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa fungsi parang adalah untuk mengalahkan musuh. seperti warna coklat soga. maka yang dikalahkan adalah sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Bila pengertian tersebut dikembalikan ke dalam diri manuia. Motif Parang yang digunakan adalah Parang Klitik. Motif Parang merupakan stilasi dari senjata tajam yang dikenal dengan sebutan parang. dan uceng kecil yang mengisi bagongan yang ramping. Dengan alis-alisan dua lapis hitam dan coklat tua. motif ini biasa digunakan oleh Puteri dalem yang berbadan kecil.1.

2.1. siap untuk menerkamnya. beliau menegaskan bahwa sebagai seorang yang terhormat hendaknya menjauhi sifat Adigang. Adigung dan Adiguna. pangkat dan kekuasaan. Adigang adalah watak sombong karena mengandalkan kekayaan.SUMBER GAMBAR 4. 87 . Sifat ini dapat mencelakakan bahkan mencoreng muka sendiri. Adapun penjelasan tentang hewan melata tersebut dalam kedudukannya pada simbolisasi falsafah Jawa adalah sebagai berikut : 4. Sri Pakubuwana IV mengambil simbolisasi seekor kijang gesit yang sangat yakin akan kemampuan diri sendiri dengan berlebihan sehingga tidak waspada bahwa ada harimau yang bersembunyi di balik semak-semak. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Sarpa sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Ular.3 POLA PARANG SARPA : BATIK.1 Ular Dalam serat Wulang Reh karya Sri Pakubuwana IV.

bisa ular dapat ditawarkan dengan empedu ular itu sendiri. namun dirinya sendiripun tidak mampu membuktikannya. Adiguna adalah seseorang yang berwatak sombong karena mengandalkan keberanian dan kemampuannya bersilat lidah.Adigung adalah watak sombong karena mengandalkan kepintarannya. . begitu pula penawarnya. Sifat seperti ini dianalogikan dengan seekor ular berbisa oleh Sri Pakubuwana IV. bahwa segala penyakit dan racun memiliki penawarnya. Ular adalah binatang yang mengandalkan bisa beracunnya. Namun ular lupa. Kata-katanya sebenarnya hanyalah manis di mulut saja. lantas meremehkan orang lain. ungkapan ini merepresentasikan bahwa proses pencarian diri sendiri adalah proses keluar dari diri sendiri untuk menemukan jawabannya dengan kembali ke dalam diri sendiri. Sifat ini dilambangkan dnegan gajah yang membanggakan kebesaran tubuhnya. Tidak berlebihan namun cukup adanya. 88 . Tubuh ularpun sebenarnya jika dipergunakan dalam takaran dan penggunaan yang tepat dapat menjadi obat. Dalam artian yang lebih luas. Karena itulah. penggunaan kata-kata dalam ini hendaknya secukupnya. lantas dia lupa bahwa makhluk sekecil semut dapat masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya berang. Lebih jauh. Hal tersebut di sisi lain mengisyaratkan bahwa racun itu terdapat di dalam diri sendiri.

visualisasi ular tampak dari bentuk gelombang yang berada diantara satu baris motif parang dengan baris yang lain.GAMBAR 4. ditengah dua gelombang yang merepresentasikan ular tersebut terdapat lingkaran-lingkaran kecil yang disebut matan. Lingkaran ini ditata secara teratur dari awal dan akhir 99 sehingga mengesankan 99 Disebut juga Gringsing 89 . Sebagai isen motif dalam Pola ini.4 RAGAM HIAS YANG MERUPAKAN STILASI DARI BENTUK ULAR ATAU NAGA DALAM BATIK KERATON SURAKARTA SUMBER : PUJIANTO Pada batik Parang sarpa ini.

Namun dalam pola kali ini tidak muncul warna putih yang kerap muncul dalam pola parang. yaitu gradasi dari kuning ke cokelat soga dan hitam. Sedangkan gradasi warna kuning ke coklat 90 . Warna kuning yang terlihat di sini mewaikili kematangan dan kejujuran dan warna hitam merepresentasikan dunia petang sebagai lambang kelanggengan (keabadian). juga berbicara tentang gelombang kehidupan yang berputar dan naik turun. Kadang di beri kemudahan. Kadang di atas kadang sebaliknya. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Gelombang tersebut selain merepresentasikan ular. seperti halnya kesan motif parang pada umumnya yang tak ada ujung pangkal.5 DETAIL POLA PARANG SARPA : BATIK.ketidakberbatasan. Warna yang digunakan dalam pola ini juga mengikuti pakem warna yang biasa diterapkan dalam motif parang. tetapi tak jarang diuji dengan kesulitan. SUMBER GAMBAR 4.

101 Selain kawung . Sistem manca-pat juga mencermunkan keunggulan pusat. yang artinya empat). 4. sehingga dapat menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.3 Pola Kawung SUMBER GAMBAR 4. Secara keseluruhan. terdapat Truntum yang juga merupakan turunan dari pola ceplok 100 91 . PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Pola kawung merupakan salah satu pola turunan dari salah satu ornamen tertua. pola ini berisi nasihat untuk menjalani kehidupan dengan kebesaran jiwa dan keteguhan hati 100 .6 POLA KAWUNG : BATIK. Keempat pinggiran tersebut berkaitan dengan salah satu mata angin.1. namun dengan penambahan daerah di pinggirannya yang di bagi atas 4 bagian (pat. Dalam pengaturannya. Hal ini tampak dari visualisasi Parang yang merupakan harapan untuk dapat mengalahkan sifat-sifat buruk dalam diri sendiri. yaitu ceplok 101 .kehitaman merupakan proses kehidupan manusia dalam upayanya mencapai transendenitas. Ceplok sendiri merupakan representasi dari alam kepercayaan orang Jawa akan pola lima atau biasa dikenal dengan istilah manca-pat. pola ini terdapat empat sisi dengan satu berada di tengah sebagai pusatnya (sentralisasi).

1 Manca-pat Sistem manca-pat 102 jelas memegang peranan penting dalam pembentukan mentalitas Jawa. logam.1. cairan dan hewan 103 . PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Sistem yang terdiri atas lima unsur dengan satu pusat dan empat arah mata angin telah berkembang menjadi sistem yang lebih rumit yang memperhitungkan arah mata angin tengah diantara keempat arah mata angin tadi.4. GAMBAR 4. tembaga. arah dan sistem peletakan rumah atau perkampungan hingga hiasan ornamentik diberbagai aplikasi 105 . 103 Dikutip dari buku Nusa Jawa : Silang Budaya yang disusun oleh Danys Lombard halaman 100 104 Kategori ini dalam perkembangannya menjadi pola sembilan 105 Seperti tata peletakan Keraton yang mengikuti pakem-pakem yang sudah disepakati bersama 102 92 . Pengertian ruang di sini. darah. emas dan madu. Pola manca-pat ini dapat dicermati dalam beberapa ungkapan budaya sosial Jawa. Timur dianggap berpadanan dengan putih. serta utara dengan warna hitam besi dan nila.3. santan. seperti tata letak dan tata karma susunan Singasana Raja dan para pengiringnya. . bukan hanya dalam definisi geometris. selatan dengan warna merah. akan tetapi manusia seutuhnya yang terbagi atas lima kategori 104 . perak. Sedangkan pusat dari ke empat penjuru angin itu merupakan harmonisasi dari keseluruhannya.7 DETAIL ISEN-ISENAN PADA POLA KAWUNG SUMBER : BATIK. barat dengan warna kuning. namun antara lain juga pada warna dasar. karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi. . Pada setiap arah mata angin sesungguhnya terkait tidak hanya kepada satu orang Dewa.

Secara keseluruhan tampak pola empat dengan pusat pola delapan 106 . horizontal maupun diagonal.6 bagian A Lihat gambar 4.Selain ornamen utama tersebut. Lihat gambar 4. Pola ini disebut dengan pola sembilan. terdapat delapan arah mata angin dengan satu berada ditengah sebagai pusat. Secara keseluruhan. tampak bahwa arah mata angin yang berada diantara empat mata angin dasar lebih kecil dibandingkan dengan arah mata angin tengah yang mendominasi dengan visual yang lebih besar. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan.6 bagian B 108 Ini merupakan istilah yang digunakan oleh Danys Lombard dalam bukunya yang berjudul Nusa Jawa : Silang Budaya seri 3 halaman 104 107 106 93 . pola ini tersusun dari pengulangan motif ceplok yang tertata rapih. Namun jika dicermati kembali. masa kini tidak dapat terlepas dari masa lampau. Motif ini merupakan salah satu motif larangan yang hanya boleh digunakan oleh golongan ningrat karena dalam pemaknaannya merepresentasikan poros kekuasaan atau pemegang tampuk kepemimpinan. sehingga dapat ditarik garis vertikal. terdapat isen motif batik yang bentuknya bujur sangkar dengan setengah lingkaran memotong setiap sisinya. Ditengah isen ini terdapat pengembangan dari mancapat atau yang biasa dikenal dengan pola lima tersebut. bahwa perjalanan kesejarahan Jawa beserta alam pemikirannya tidaklah linear seperti halnya alam pemikiran Barat. namun di sisi lain juga terdapat penggambaran pola empat mengalami perkembangan menjadi pola delapan 107 . Pengulangan yang tak berujung pangkal tersebut merepresentasikan tendensitas pada pemaknaan dari motif ceplok tersebut. Dalam falsafah Jawa. Tampak disini. bahkan saling melengkapi seperti halnya kulit bawang 108 .

biji atau bibit yang nantinya akan tumbuh menjadi besar ini merupakan simbolisasi dari dunia tengah. Karena itulah motif ini sering pula digunakan oleh puteri dalem keraton. Biasanya penggunaan kain ini pada puteri dalem menyimpan pengharapan akan kesuburan dan dipermudah mendapatkan keturunan. perkembangan dan kesuburan. Meskipun begitu jika diperhatikan secara seksama terdapat perhitungan jarak dan komposisi yang teratur antara satu ornament dengan ornamen lainnya. tumbuhan maupun hewan. motif ceplok ini dapat di lihat sebagai stilasi dari bentuk biji atau tumbuhan yang melambangkan pertumbuhan.2 Motif Non Geometris Motif yang dimaksud Geometris disini adalah motif yang tidak mengacu pada ilmu ukur. 94 . Pada analisa kali ini pola yang dipilih berdasarkan atas pertimbangan keragaman visual dan re[resentasi yang berusaha ditampilkan. Dari hal ini.1. Seperti halnya pohon hayat yang melambangkan kehidupan.3.2 Biji Di sisi lain. baik itu manusia. 4. dapat kita ketahui bahwa motif ini diperuntukkan pada seorang puteri yang telah bersuami.4. Kesuburan dalam konteks ini melingkupi secara keseluruhan.

1 Pola Semen SUMBER POLA SEMEN GURDHA GAMBAR 4.4. suatu gubahan yang menyerupai gunung.2. 109 Tunas tersebut dalam bahasa Jawa di sebut semi yang merupakan akar kata dari Semen. Kata Meru sendiri berasal dari nama gunung Mahameru yang dianggap sebagai titik tertinggi di muka bumi dan dianggap sebagai tempat persemayaman para dewa menurut kepercayaan Hindu. 4. 95 .8 : BATIK. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Ragam hias utama yang merupakan ciri khas pola Semen adalah Meru.2.1 Meru Hakikat Meru itu sendiri adalah lambang gunung atas tempat tumbuhan bertunas 109 .1.

Karena itulah Gurdha dianggap sebagai hewan suci dan merupakan perlambang dari dunia atas. Sisi transendensi tersebut ditampilkan melalui bentuknya yang mengerucut 96 . baik pada Meru.10 PENGGAMBARAN DEWA WISNU DALAM 10 REINKARNASI SUMBER : MICROSOFT ENCARTA 2006 Penekanan pada transendenitas terlihat pada pengulangan simbol ini. tumbuhan sulur ataupun garuda yang merupakan ikon utama dalam motif ini. Gurdha adalah hewan kendaraan Wisnu untuk naik ke Nirwana. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Motif Semen yang dibahas kali ini adalah motif Semen Gurdha.9 DETAIL VISUAL ORNAMEN SAWAT DARI POLA SEMEN GURDHA SUMBER : BATIK. GAMBAR 4.GAMBAR 4.

ibu dan anak. menyimpan rahasia keluarga. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa tanda segitiga dengan ujung mengarah ke atas merupakan simbolisasi dari dunia atas. Munculnya visualisasi ini dalam pola Semen Gardha ini merupakan penggambaran dari harapan bahwa seyogyanya manusia dapat menerima siapapun yang memerlukan perlindungan. GAMBAR 4.ke atas.2.2 Bangunan GAMBAR 4.1.12 DETAIL VISUAL BANGUNAN DARI POLA SEMEN GURDHA SUMBER : BATIK. Selain itu. bangunan khususnya rumah juga mampu berfungsi untuk melindungi harta keluarga. Biasanya dihuni oleh sebuah keluarga yang terdiri dari ayah. mengatur 97 . menetap dan berlindung. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN 4. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Bangunan merupakan tempat untuk berdiam.11 DETAIL VISUAL MERU DARI POLA SEMEN GURDHA SUMBER : BATIK.

dengan penggabungan simbolisasi dunia atas dan bawah yang merepresentasikan harmonisasi diantara keduanya dan menciptakan suatu entitas yang sama sekali baru. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Pada bagian kanan dan kiri Meru terdapat dua bangunan. GAMBAR 4. Hal ini merupakan pemikiran pola tiga yang tidak lagi beranggapan bahwa keberadaan yang satu adalah kematian bagi yang lain seperti halnya dalam pola dua. Pola 98 .serta menyelesaikan segala masalah. bijaksana dan dapat diandalkan.13 DETAIL POLA SEMEN GURDHA SECARA KESELURUHAN SUMBER : BATIK. arif.

Peletakan ikon yang melambangkan harmonisasi di kedua sisi Meru tersebut juga bukannya tidak memiliki tendensi tertentu. Ketiga bagian tersebut dipisahkan oleh sebuah garis yang organis dengan bentuk juga segitiga atas.2 Pola Bondhet SUMBER GAMBAR 4.14 POLA LUNG-LUNGAN MOTIF BONDHET : BATIK.tiga merupakan dasar dari perkembangan ke kompleksitas pola-pola selanjutnya. Namun jika dalam motif Semen ornamen 99 . Pada intinya. Meru yang merupakan titik penghubung sehingga dapat dikatakan sebagai dunia tengah dan tumbuhan sulur yang merupakan penggambaran dari dunia bawah. motif ini memaparkan pembagian dunia secara tiga garis besar.2. yaitu dunia atas yang disimbolisasikan dnegan Garuda. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Pola ini adalah pola Bondhet dari kelompok Lung-lungan. Meru yang dianggap sebagai tempat para Dewa di muka bumi dipercaya merupakan titik penguhubung dengan dunia atas. Motif Lung-lungan ini merupakan motif turunan dari semen. 4.

Kata ini berasal dari nama lagu gamelan yang artinya bergandengan dengan akrabnya. Secara visual. Dari hal ini. Selain itu. hitam dan cokelat muda. 5 pada bagian ke dua dan 9 pada bagian terakhir. dalam motif Lung-lungan ornamen sawat hanya muncul sebagai lar atau mirong. Penggunaan kedua warna tersebut secara dominan dalam penerapan pola Bondhet kali ini tentu saja bukannya tanpa tujuan. maka dalam motif Lung-lungan tendensinya lebih kepada dunia flora. pola yang di bahas adalah pola Bondhet. Pada motif batik kali ini. Menurut filosofi Jawa. Perpaduan dua warna yang mewakili dunia yang sama sekali berbeda itu berusaha merepresentasikan keadaan penyatuan atau biasa disebut transendensi. di mana warna-warna yang ditampilkan dalam satu kesatuan batik cenderung berupa gradasi warna. batik keraton ini menampilkan lar dengan jumlah 3 bulu pada sisi pertama. Perbedaannya terletak pada unsure yang dominannya. Pada 100 .sawat yang digunakan berbentuk lengkap dengan kedua sayap dan ekornya. baik itu tumbuhan sulur ataupun pohon hayat. pada motif lung-lungan ini tidak selalu terdapat Meru. yang menjadi karakteristik dari motif semen. Sebaliknya. motif ini kaya dengan unsur tumbuhan. dapat dilihat bahwa motif Lung-lungan memiliki kesamaan pula dengan motif Alas-alasan. pola ini didominasi oleh warna coklat kemerahan. Jika dalam motif Alas-alasan ornamen yang dominan adalah hewan-hewannya karena merepresentasikan dunia fauna. bukannya perpaduan warna yang kontras seperti yang sering terlihat pada batik keraton Yogyakarta. Karena itulah Bondhet sering dianggap merepresentasikan kemesraan atau kecintaan. Dalam tampilan bentuknya. warna hitam melambangkan dunia atas sedangkan warna merah merupakan perlambangan dari dunia atas. Hal ini merupakan ciri khas dari jenis batik keraton Surakarta.

pada bagian ini tumpal yang ada menghadap ke bawah. 4 dan 7. Pada bagian selanjutnya terdapat beberapa pengulangan. Pada bagian tengahnya. dimana di sana terdapat bentuk sepasang sayap pula. di tengah mirong tersebut terdapat bentuk belah ketupat (segitaga atas dan segitiga bawah) di mana ditengahnya terdapat sepasang sayang yang di setiap sisinya terdapat 7 buah bulu. terdapat bentuk seperti bunga dengan empat kelopak dan satu titik pusat. 101 . Sebagai gantinya.bagian lar tampak kerangka batik yang membentuk visualisasi sayap berupa naga dengan kedua cakar yang jumlahnya masing-masing 5 ruas jari dan gigi menonjol yang berjumlah empat di sisi kanan dan kirinya (jumlah keseluruhan 8). Diantara kedua lar yang saling berhadapan. terdapat sawat yang tidak dilengkapi dengan ekor (mirong). 5 dan 9. namun jika dibagian awal tumpal yang muncul mengarah ke atas. Pada bagian bawah mirong tersebut terdapat bentuk yang menyerupai bunga lotus tampak samping yang jika di lihat sekilas tampak seperti segitiga atas. maka pada mirong. Selain itu. Selanjutnya di bawah stilasi bunga lotus tersebut terdapat tumpal dengan lingkaran berjumlah 8 di kanan dan kirinya dengan bentuk segitiga utama di atasnya. jika jumlah lar yang berada di tengah-tengah tersebut berjumlah 3. jumlah bulu yang muncul secara berurutan adalah 2.

PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Dalam ranah pemaknaan Jawa.1 SUMBER : BATIK. Alasan tampilnya angka-angka tersebut pada mirong juga merupakan penekanan pada sesuatu yang bersifat kepemerintahan. pola lima yang memberi penekanan berarti pada sebuah pemusatan dan pola sembilan yang merupakan perluasan dari sentralisasi tersebut.GAMBAR 4. mulai dari pola tiga yang sudah mengenal penyelarasan dan harmoni.15 DETAIL POLA LUNG-LUNGAN MOTIF BONDHET BAG. keperkasaan dan korelasinya dengan dunia atas. angka-angka yang muncul pada pola ini bukannya tanpa alasan. 102 . Angka 3. 5 dan 9 yang muncul pada mirong merupakan representasi pengembangan pola dalam masyarakat Jawa. dimana mirong merupakan turunan visualisasi dari garuda yang dalam mitologi Hindu terkenal dengan pengabdian.

Penyatuan bentuk sawat yang diyakini sebagai representasi dari dunia atas dengan bentuk Naga sebagai kerangka merupakan suatu cara menghasilkan transendensi. yaitu pola Bondhet. namun diharmonisasikan dalam satu kesatuan pola. Selain itu hal tersebut juga tampak pada visualisasi tumpal yang menyerupai bentuk gigi Naga dengan jumlah gigi 4 pada setiap sisinya.2 SUMBER : BATIK. pengulangan pada 103 .GAMBAR 4. PENGARUH ZAMAN DAN LINGKUNGAN Pembahasan selanjutnya adalah penyatuan paradoksial pada bentuk lar yang menghasilkan suatu harmonisasi dan transendensi.16 DETAIL POLA LUNG-LUNGAN MOTIF BONDHET BAG. Selanjutnya ditengahnya terdapat bentuk menyerupai bunga berkelopak empat dengan satu titik pusat. Hal ini diperkuat dengan pemilihan warna hitam dan merah yang merupakan perlambangan dari dunia atas dan dunia bawah. Penguraian tersebut tampak jelas merujuk pada pola 4 dan pengembangannya yaitu pola 9.

dan yang abadi hanyalah Tuhan Yang maha Esa. 104 . kadang diberikan cobaan. hal ini juga dapat diartikan sebagai pasang surut kehidupan. Hal tersebut mengingatkan pada konsep pola Parang yang mengadopsi dari konsep motif arabesque yang bersifat tak berujung pangkal seperti halnya seharusnya sebuah doa. kali ini tumpalnya menghadap bawah. dimana kadang manusia berada di atas. Juga seperti halnya keberadaan Tuhan yang tidak berujung pangkal. Kadang di beri kemudahan. Pada sisi selanjutnya tidak terdapat banyak perbedaan. Namun jika disisi sebelumnya tumpalnya menghadap ke atas. Pola ini juga berusaha menyampaikan bahwa dalam hidup segala sesuatunya adalah fana.tampilan segitiga atas dengan 8 lingkaran di kanan kirinya merupakan penegasan pada manca-pat itu sendiri. Pengulangan yang ditampilkan bukan hanya berusaha memberikan penekanan bahwa perjalanan hidup manusia yang selalu naik turun. namun juga dalam pergerakan itu terdapat harmonisasi yang menghasilkan transendensi. Dalam pola ini secara keseluruhan memuat suatu arahan tentang kehidupan. suatu hubungan yang vertikal dengan Tuhan. Melalui visualisasi ini tampak usaha untuk menghadirkan dunia bawah untuk mencapai suatu transendensi. Di sisi lain. kadang berada di bawah. dimana kita seyogyanya dapat menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. dan tetap berdoa dan berusaha saat cobaan dan kesenangan datang.

Pulau Mula sebagai salah satu contohnya. Menurut falsafah Jawa. tritik dan plangi. berkembang menjadi batik yang merupakan titik puncak dari perkembangan rintang warna di Indonesia. Karena itulah. batik adalah suatu cara untuk mencapai transendensitas. dilakukan berbagai upaya untuk berada atau menggambarkan transendenitas tersebut. Teknik rintang warna lainnya yang juga sederhana dapat dilihat dari celu ikat. pemilihan ornamen yang muncul biasanya berasal dari lingkungan sekitar yang dianggap mampu merepresentasi maksud yang diharapkan. Hal ini dapat dipahami. jumputan. Teknik pembuatan celup ikat bertujuan untuk memuja nenek moyang sehingga diharapkan mampu menolak pengaruh roh Jahat dan mendapat perlindungan dari roh baik. Transendenitas itu sendiri merupakan salah satu cara untuk beribadah pada Tuhan.BAB V SIMPULAN DAN SARAN I. karena hampir seluruh bentuk kesenian tradisi Indonesia pembuatannya bertujuan untuk menciptakan penyelarasan dan harmonisasi. Berangkat dari rintang warna yang sangat sederhana itulah. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan gambar telapak tangan pada lukian dinding di Gua-gua daerah Sulawesi Tenggara. Dalam hal visual. Simpulan Teknik rintang warna telah dikenal di Indonesia sejak masa prasejarah. Teknik rintang warna tertua ini dilakukan dengan cara merentangkan telapak tangan yang kemudian pada sela-sela jari dan telapak tangan dibubuhi pigmen merah yang berasal dari tanah. Hal ini dapat dilihat dari pola Kawung yang mengadopsi bentuk 105 .

merah dan coklat. tetapi juga tersampaikan pada pemilihan warnanya. Telah kita ketahui sebelumnya bahwa dalam kepercayaan Jawa warna merah mewakili dunia atas. bukan hanya mengisi ruang kosong agar tidak di isi oleh sesuatu yang ‘lain’. Stilasi hewan yang ditampilkan bertolak pada hewan-hewan yang ada di alam sekitarnya atau mengadopsi dari hewan-hewan Mitologi. Dalam ranah Non Geometris. Contoh lain dapat dilihat dari pola Parang Barong yang merupakan stilasi bentuk dari senjata keris. ornamen yang muncul diharapkan mampu memberikan suatu hal yang positif. sedangkan penanda status sosial dengan sangat jelas mengacu pada strata sosial tertentu. Selain itu. dapat kita lihat pola Alas-alasan yang menggambarkan kehidupan belantara hutan yang liar. Untuk pemilihan warna pada batik keraton Surakarta ini lebih memberikan kesan gradasi dibanding kesan kontras antara satu warna dengan yang lain. yang dalam hal ini adalah Raja dan para bangsawan. pola ini juga menampilkan sistem kepercayaan saat itu. yang berkisar antara warna hitam. yaitu manca-pat sekaligus pengembangannya. Hal ini dapat dilihat dalam pola batik Bondhet yang secara keseluruhan mengusung tema tentang penyelarasan atau transendensi antara dunia atas dan dunia bawah. Hal ini bertolak pada falsafah yang mengajarkan bahwa segala sesuatunya harus 106 . Transendenitas tersebut berusaha ditampilkan bukan hanya melalui motif lar (turunan bentuk Garuda. Pada masa itu. hitam representasi dari dunia bawah sedangkan coklat adalah dunia tengah pada pencampuran kedua warna tersebut. Lebih jauh. Senjata merupakan representasi dari kekuasaan dan pemerintahan. keris merupakan senjata yang sekaligus menjadi penanda status sosial. dunia atas) yang disekelilingnya dibentuk oleh ular (dunia bawah). motif ini sekilas terlihat seperti biji yang merujuk pada pertumbuhan dan kesuburan.bunga yang sedang mekar. Selain itu. Karena meskipun memiliki kecenderungan Horror vacui. setiap ornamen yang muncul pada satu kesatuan pola batik bukanlah tanpa maksud. seperti Garuda yang merupakan pengaruh agama Hindu. yaitu pola sembilan.

bukan hal yang mengejutkan bahwa pembagian hierarki sosial merupakan paham yang diterapkan dalam masyarakat pendukung kebudayaan batik ini. Kedua bentuk kesenian tersebut selain menghargai proses ritual pengerjaannya (bukannya melulu visualisasi akhir). dimana bagian yang dicukil atau dibubuhi malam adalah bagian yang resist terhadap warna. Di sisi lain. kain batik dengan tata aturannya tertentu hanya boleh digunakan segelintir orang dengan pembagian penggunaan motif yang ketat. Dalam kasus ini. Karena itulah. layaknya kebanyakan shaman yang ada. Hasil akhir pewarnaannyapun lebih lembut dan tidak mencolok mata. jika dalam membatik pada proses pewarnaan dengan pewarna alam mengandung makna filosofi perjalanan bertahap dalam upaya mendekatkan diri dengan Yang maha Kuasa. Dengan sistem pemerintahan feodal yang terpusat dan absolut. Hal ini diperkuat dengan proses pewarna alami yang membutuhkan beberapa kali membabaran untuk meningkatkan kepekatan warna. Dalam penelitian kali ini penulis juga melihat persamaan dasar antara kegiatan membatik dengan seni cetak Grafis. sehingga semakin banyak budaya Hindu yang diadopsi dalam penerapan kain batik ini.dilakukan perlahan-lahan dan berproses. penerapan pola larangan melalui maklumat Surakarta mengukuhkan posisi keraton sebagai ranah absolute dan adikuasa. Lebih lanjut. hal tersebut dapat dilihat dalam Etsa saat melakukan 107 . prinsip auratis pada kain batik mengingatkan pada lukian auratis pada zaman pra-rennaissance. Dan seperti halnya kepemilikan karya lukis pada zaman pra-renaissance hanya sebatas raja dan golongan bangsawan lainnya. Dalam seni grafis. pembatik adalah shaman atau media perantara antara dunia bawah (manusia) dengan Tuhannya. pembatik biasanya anak gadis yang belum mendapat haid atau nenek tua yang sudah menopause. dimana karya lukis adalah wahyu dan seniman adalah nabi. juga menerapkan teknik negatif. Hal ini jugalah yang menyebabkan lebih mudahnya penerimaan budaya serta agama Hindu. Selain itu.

dibutuhkan suatu eksklusifitas untuk mengukuhkan hal tersebut. juga dalam hal ketidakberbatasan Tuhan yang mengadopsi dari budaya Islam. atau seorang perempuan hamil. Meskipun pengembangan batik. Deawasa ini. namun pemakaiannyapun tetap disesuaikan dengan konteks acara yang dilangsungkan. Saran Batik sebagai hasil produk budaya masyarakat tradisi Indonesia telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan pergerakan zaman. Meskipun hubungan yang transenden bukanlah hal yang baru dalam alam pemikiran mereka. Dalam masyarakat sawah yang terpusat dan hierarkis. sehingga dikeluarkanlah maklumat Surakarta yang isinya tentang pelarangan penggunaan motif-motif tertentu beserta tata aturan pemakaian bagi siapa yang boleh mengenakannya. namun perlu disadari bahwa batik keraton adalah suatu batik yang dengan pakem-pakemnya yang berlaku mampu menciptakan ciri khas 108 . baik secara visualisasi seperti munculnya bentuk lotus atau Garuda. Seperti halnya penggunaan pola Truntum yang hanya boleh digunakan oleh pasangan pengantin yang menikah. Hal tersebut dapat dilihat dari masuknya pengaruh-pengaruh dari luar. namun kesadaran dan cara penuturan yang berkesan tak berujung pangkal tersebut merupakan sumbangan dari budaya Islam. pelarangan penggunaan pola tertentu dihapuskan. Dewasa ini pelestarian batik tradisional dilakukan oleh para produsen batik yang menyebarluaskan batik ke berbagai tempat.teknik pengasaman bertingkat untuk menghasilkan tingkat kepekatan warna yang berbeda-beda. baik dari segi visual maupun proses pengerjaan mengarah pada perkembangan yang positif. atau penggunaan motif Babon Angrem sebagai harapan akan kesuburan yang hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang telah menikah dan ingin dikaruniai seorang anak. II. sehingga batik tidak hanya dikenal di Nusantara namun juga di luar Negeri.

sehingga menghasilkan suatu wastra batik keraton yang tidak kehilangan nilai budayanya. Hal ini bukan berarti mengacu pada pengkultusan suatu kelompok tertentu seperti halnya yang terjadi pada zaman feodal terdahulu.tersendiri. 109 . namun lebih kepada melestarikan budaya bangsa dan falsafah yang terkandung didalamnya. Selain itu. diharapkan dalam pengembangan batik keraton ini tidak terlepas dari pemahaman akan batik keraton itu sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->