A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

serta tidak pula berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan.a. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. ayah. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. wanita.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan.. Jadi. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. anak-anak. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. maupun kerabat mereka. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. tidak mampu memanggul senjata. suami. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). pangan. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. dan papan. --berupa ayat-ayat tentang waris-. 1 B. dan istri-. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Sementara itu. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r. suami. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. baik dari harta peninggalan ayah. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. kedua orang tua. tanpa direndahkan. baik berupa sandang. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). Sebab menurut anggapan mereka. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Islam memberi mereka hak waris. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

jika sendirian. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Sementara itu. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Jika kamu mempunyai anak. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. . Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Dengan demikian. Bagian istri: 1." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. maka istri mendapat bagian seperdelapan. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. maka bagian istri adalah seperempat. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. Bagian suami: 1. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Jadi. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). mendapat separo harta peninggalan.dibandingkan saudara seibu. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'.(dan) sesudah dibayar utangnya. Yang pertama dalam ayat ini. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). 2. 2. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Sementara itu. Oleh karenanya. baik laki-laki maupun perempuan. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan).

Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.2. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. maka karena dariku dan dari setan.. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Adapun bila pendapat ini salah. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. 2. misalnya. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. Jadi.a. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. dan tidak mempunyai ayah atau anak.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. Menurut saya. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. 1. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. Begitulah hukum bagi saudara seayah. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. . Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Jadi. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut.

baik berupa harta (uang) atau lainnya.. kakek. Definisi Waris Al-miirats. kecuali hukum waris ini. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. paman... Jadi. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud .." (an-Naml: 16) ". Dan Kami adalah pewarisnya. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini.. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. suami. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. ibu. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. cucu. ayah.II.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. dari seluruh kerabat dan nasabnya. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. istri. Oleh karena itu. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. atau dari suatu kaum kepada kaum lain." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. tanah. apakah dia sebagai anak. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. besar atau kecil. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. demikian pula sabda Rasulullah saw. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). .

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . biaya memandikan. 2. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Namun. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. sejak wafatnya hingga pemakamannya. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Di antaranya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. menurut mereka.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. Artinya. atau belum memenuhi kafarat (denda). Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Akan tetapi. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. menurut saya. bila sang mayit berwasiat. seperti belum membayar zakat. Padahal. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Pendapat mazhab ini. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. pembelian kain kafan. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. biaya pemakaman. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. atau belum menunaikan nadzar. Menurut jumhur ulama.

Sementara itu. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Setelah ashhabul furudh. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. dan kesepakatan para ulama (ijma'). 3. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. misalnya ibu. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Padahal secara syar'i. Misalnya anak laki-laki pewaris. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. As-Sunnah.setelah ashhabul furudh menerima bagian). Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. istri. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. paman . persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Catatan: Pada ayat waris.a. bersabda: ". ayah. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. B. termasuk diambil untuk membayar utangnya. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. dan ijma'. Ashhabul furudh. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Oleh karena itu.. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. saudara kandung pewaris.. cucu dari anak laki-laki pewaris. As-Sunnah. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Rasulullah saw. Sepertiga. baru kemudian melaksanakan wasiat. Ashabat nasabiyah. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang." 4. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. suami. dan lainnya). dan sepertiga itu banyak. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. Bahkan. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan.

Hak waris secara pertalian rahim. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). tidak pula 'ashabah. 2. C. D. Misalnya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Baitulmal (kas negara). Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Ashabah karena sebab. B. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Mewariskan kepada kerabat. seperti kedua orang tua. bibi (saudara ibu). bibi (saudara ayah). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Misalnya. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. anak. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Dengan demikian. Hak waris secara tambahan. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri.kandung. paman. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. dan . Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. cucu laki-laki dari anak perempuan. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. paman (saudara ibu). dan seterusnya. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. dan sebagai 'ashabah. Maka. saudara. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Misalnya. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Bentuk-bentuk Waris A. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Misalnya.

manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . yaitu kekerabatan karena sebab hukum. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. tanah. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. Sebagai contoh. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. 2. baik berupa uang. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Pewaris. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. atau lainnya. Hal ini harus diketahui secara pasti. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. E. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. dan sebagainya. Harta warisan. 2. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Sebagai contoh. F. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. yakni orang yang meninggal dunia. karena bagaimanapun keadaannya. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. 2.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Pernikahan. Ahli waris. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Al-Wala. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. termasuk jumlah bagian masing-masing. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal.seterusnya. kecuali setelah ia meninggal.

mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. atau tenggelam. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. dalam hal ini ada tiga: 1. Misalnya. tertimpa puing. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). kerabat. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. ada yang karena 'ashabah. secara langsung menjadi milik tuannya. Sebab. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. saudara seayah. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni).meninggal-. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. dan sebagainya. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. istri. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. Alhasil. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. atau membayar kafarat. atau saudara seibu. membayar diyat. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Misalnya. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). 2. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman .: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. misalnya suami. serta ada yang tidak terhalang. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Para fuqaha menyatakan.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. G.

Karena itu. Sementara itu. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. Ibnu Mas'ud. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. Menurut saya. 3. Syafi'i. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Menurut penulis. menurut mereka. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. apa pun agamanya. Sebagai contoh. seperti membunuh atau berbeda agama. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. seperti ditegaskan Rasulullah saw. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. dalam haditsnya. tidak ada yang mengunggulinya).rajam. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. Wallahu a'lam. Ali bin Abi Thalib. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi.a. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. yakni murtad. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Sebab. Karena itu. termasuk keempat imam mujtahid. adanya kakek bersamaan . ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Maksudnya. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. dan lainnya. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid.

Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. yaitu tiga per empat harta yang ada. (10) paman (saudara kandung bapak). saudara kandung. (11) paman (saudara bapak seayah).dan seterusnya. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. dan anak --dalam hal ini. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (3) bapak.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. (6) saudara kandung perempuan. (5) saudara kandung laki-laki. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. Jika terjadi hal demikian. (4) nenek (ibu dari ibu). Jadi. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. maka bagian istri seperdelapan. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. I. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. (7) saudara laki-laki seibu. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. yaitu ayah.dengan adanya ayah. yaitu ayah pewaris H. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. (14) suami. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (2) ibu. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. sisa harta yang ada. (8) saudara perempuan seibu. . dan seterusnya. (9) istri. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. (10) perempuan yang memerdekakan budak. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. (7) saudara perempuan seayah. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. Kemudian sisanya. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). anak kita misalkan sebagai pembunuh. serta saudara kandung. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. (6) saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (4) kakek (dari pihak bapak). (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). yaitu 7/8. (5) nenek (ibu dari bapak). ibu. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. (13) anak laki-laki paman seayah.

dengan tiga . seperdelapan (1/8). dan saudara perempuan seayah. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal.III. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris.. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . penj. Dalilnya adalah firman Allah: ". Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki." (an-Nisa': 12) 2. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). dua per tiga (2/3). siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima.. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang.). Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dengan tiga syarat: a. seperempat (1/4). b. anak perempuan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Rinciannya seperti berikut: 1. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. sepertiga (1/3). A. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. dan seperenam (1/6). 4. yaitu setengah (1/2). Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. saudara kandung perempuan. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. dengan dua syarat: a. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. 3. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum".. b..

Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. b. baik anak laki-laki maupun perempuan. dengan empat syarat: a. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Rinciannya sebagai berikut: 1. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. dan tidak pula mempunyai keturunan. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. dan tidak pula anak... yaitu suami dan istri. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Apabila ia hanya seorang diri. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak.." (an-Nisa': 12) .. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya.. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. b..syarat: a.. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia.. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya).'" (an-Nisa': 176) 5. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. .

Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Istri.. Jadi. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ".. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'.. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. Wallahu a'lam." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. bila suami mempunyai anak atau cucu. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Jadi. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . yakni anak laki-laki dari pewaris. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. C. Jika kamu mempunyai anak. Dengan kata lain.a. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. 2. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Dalilnya firman Allah berikut: ". Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. hal ini merupakan kesepakatan para ulama.." (an-Nisa': 12) D. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan .. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. . melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'.tentang bagian istri.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh.. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain.

Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. atau kakek. Dalilnya adalah firman Allah: ". Wallahu a'lam. 3. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ".. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Bila pewaris tidak mempunyai anak. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. b. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan.. 2. Dan dalilnya sama. dengan persyaratan sebagai berikut: a. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . baik laki-laki atau perempuan..2." (an-Nisa': 176) 4.. Dalilnya adalah firman Allah: . b. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. E. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). juga tidak mempunyai ayah atau kakek.. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ayah.. b.

. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang... Yakni. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). maka ibunya mendapat seperenam. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. 2.. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Kesimpulannya. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). Selain itu.. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Namun.... Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Adapun dalilnya adalah firman Allah: "." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'.. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Misalnya dalam istilah shalat jamaah. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. dua orang atau lebih. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan.. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. maka ibunya mendapat sepertiga."... maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan.

dan ayah. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. dan ayah. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. Agar lebih jelas. ibu. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. maka ibunya mendapat sepertiga". Dengan demikian. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. Akan tetapi. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Dalam kasus ini. ibu. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. karena kedua istilah ini sangat masyhur. saya sertakan contohnya.

Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.a. baik anak laki-laki atau anak perempuan. Dalilnya firman Allah (artinya): ".. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Menurutnya. (3) ibu. Dan untuk dua orang ibu bapak. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". (5) saudara perempuan seayah. Mereka adalah (1) ayah. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani.. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. menurut hemat saya. Jadi. 3. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal.a. (2) kakek asli (bapak dari ayah). yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri.. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. dengan dua syarat: a. baik saudara laki-laki . (6) nenek asli.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6)." (an-Nisa': 11) 2. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada.. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Jadi.. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r.. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri.a. b. F. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). jika yang meninggal itu mempunyai anak . Wallahu a'lam. tepatnya masa Umar bin Khathab r. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). 1.

dan saudara perempuan. ataupun seibu. Sebab bila ada anak laki-laki. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan.. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2)." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud." (an-Nisa': 11). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Selain itu. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. Dalam keadaan demikian. maka ibunya mendapat seperenam . maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. seayah. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris.. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan.ataupun perempuan. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. 5. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. 6. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak . Jadi.. Sebab jika lebih dari satu orang. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. 4. Dalilnya firman Allah (artinya): ".. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3)..a. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. baik sekandung. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2).

Selain itu.menguatkan dan melindungi. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). 7." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). Disebut demikian. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. IV. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. dan paman (saudara kandung ayah). baik laki-laki atau perempuan). kata ini sering kali digunakan. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. sedang kami golongan (yang kuat). Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). jika yang meninggal itu mempunyai anak. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. A. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. Ayat tersebut juga telah . maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua.meninggalkan anak. anak laki-laki. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Sebagai contoh. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. Wallahu a'lam. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. untuk menuntut hak warisnya. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan.a. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.

maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. mencakup ayah. Catatan Dalam dunia faraid. Maka jika masih tersisa. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. dalam hal penggunaan kata "dzakar". apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Oleh sebab itu. dan seterusnya. B. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". Inilah makna 'ashabah. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. misalnya . cicit. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. Arah bapak. Namun. kakek. dan seterusnya. Sebab. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu." (an-Nisa': 176). bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). mempunyai empat arah. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Dengan demikian. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. jika ia tidak mempunyai anak. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. yaitu: 1. Kemudian. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. yang pasti hanya dari pihak laki-laki.menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Namun. Arah anak. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu.

Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. saudara laki-laki seayah. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. termasuk keturunan mereka. dan seterusnya. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . seorang istri wafat dan meninggalkan suami. termasuk keturunan mereka. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. ayah. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. kemudian mereka pun dalam satu arah. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. ayah dari kakak. Sebab. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. 2.ayah dari bapak. Sebagai misal. saudara laki-laki seayah. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Misalnya. Apabila anak tidak ada. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. Arah saudara laki-laki. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. Sebagai misal. Rinciannya. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. saudara kandung perempuan. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. Contoh lain. dan seterusnya. namun hanya yang laki-laki. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Sementara itu. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. mencakup saudara kandung laki-laki. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Dalam keadaan demikian. Arah paman. dan saudara kandung. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Pengecualiannya. dan seterusnya. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2).

ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya.kandung. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. Sedangkan secara aqli. Dengan demikian. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Oleh sebab itu. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Wallahu a'lam. Bahkan. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Artinya. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. sedangkan dari . orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. dan seterusnya. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Dengan demikian. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Namun demikian. Sebab. Sebagai contoh. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah." (an-Nisa: 11). maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. yakni arah anak dan arah bapak. demi kepentingan masa depan anaknya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah.

Anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Sebagai contoh. Misalnya. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . 2. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. dan saudara perempuan seayah). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. dan pembagiannya. saudara kandung perempuan. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. Sebab dalam keadaan demikian. Misalnya. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan.kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.

Jadi.sama rata.akan menjadi 'ashabah. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). Kemudian. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian.. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka.a. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-. Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . Selain itu." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu.. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. dan bagian saudara perempuan separo. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan.

baik yang laki-laki maupun yang perempuan. seperti anak keturunan saudara (keponakan). dan saudara laki-laki seayah. paman kandung ataupun yang seayah. Begitu juga saudara perempuan seayah. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. saudara perempuan. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka.'ashabah ma'al ghair. dua orang saudara kandung perempuan. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. dan saudara lakilaki seayah. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. Selain itu. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh.

kemudian sisanya yaitu seperempat-. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya.menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara perempuan seayah. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. seorang ibu. saudara perempuan seayah. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh.

anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. dan ibu mendapatkan seperenam. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. seperti anak laki-laki. Inilah perbedaan keduanya. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Misalnya. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. dan seorang suami. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Begitulah seterusnya. Akan tetapi. . secara ringkas. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. Agar persoalan ini lebih jelas. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. Jadi. C. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga.

Misalnya. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. dan seterusnya. Jadi. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak.V. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Selain itu. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Satu hal yang perlu diketahui di sini. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. dan seterusnya. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). Misalnya. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. B. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. .

anak laki-laki. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. serta oleh saudara laki-laki seayah. cicit. kakek. ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). anak kandung perempuan. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan juga dengan adanya paman kandung. suami. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. dan seterusnya). dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. dan keturunan laki-laki (anak. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. cicit. cucu. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. maka semuanya harus mendapatkan warisan. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. dan seterusnya). ayah. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. dan seterusnya (semuanya laki-laki). cucu. kecuali jika ada 'ashabah. dan istri. cucu. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. . Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). cicit. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Selain itu. anak. 2. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). cucu. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). ibu. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. cicit. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. cucu kandung laki-laki.

dan seterusnya. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. ibu seperenam (1/6) bagian. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. kecuali bila adanya 'ashabah. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. yang sebelumnya tidak mendapat fardh.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. yakni saudara laki-laki yang merugikan. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). Kemudian. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ayah. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. Padahal. cicit. bapak. ibu seperenam (1/6) bagian. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). Oleh sebab itu. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. cicit. Kedua: Untuk lebih memperjelas. anak perempuan. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Selain itu. ayah juga seperenam (1/6) bagian. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). cucu. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. 2. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. kakek. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. cucu. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. ayah seperenam (1/6) bagian. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . ibu. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". anak perempuan setengah. anak perempuan. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak.

Sedangkan dalam contoh kedua. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. Ibnu . bila mempunyai saudara laki-laki seayah. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. tabi'in. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. Maka. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. juga karena para sahabat. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. sejak masa para sahabat. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Namun. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. Ibnu Abbas. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3).karena tidak ada pen-ta'shih. tabi'in. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C." Namun demikian. ibu. Contoh permasalahannya sebagai berikut. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. kemudian baru kepada para 'ashabah.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). Sementara itu. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. masalah ini merupakan kasus kolektif. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). tabi'in. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. dan lainnya. dan imam mujtahidin. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Ali. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. Berdasarkan kaidah yang berlaku. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. dan imam mujtahidin. Utsman. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Karena. Di samping itu. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu.

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek.dari dua pilihan yang ada. 2. Pertama dengan cara pembagian. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. itulah yang menjadi bagiannya. Kakek dengan saudara kandung perempuan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung.istri. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: . Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. dan anak perempuan. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian.

maka itulah bagian kakek. Misalnya. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. kakak. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. menerima sepertiga (1/3). Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. 2. Yang pasti. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6).1. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. dan saudara kandung laki-laki. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Yaitu. dan sisanya dibagi dua. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. kakek. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. dengan pembagian. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-.

Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. dan tiga saudara kandung perempuan. ibu mendapatkan seperenam (1/6). Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. kakek. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). dan kakek mendapat seperenam (1/6). ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). kakek. Untuk keadaan seperti ini. yaitu sepertiga. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. haknya menjadi gugur. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). kakek. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. kakek seperenam (1/6). dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). anak perempuan setengah (1/2). sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). mereka dianggap satu jenis. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. nenek. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. E. ibu. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. dan sang kakek juga seperenam. Dalam contoh pertama. maka saudara seayah mahjub. kakek. nenek seperenam (1/6). .setelah diambil hak sang ibu. dan empat saudara kandung laki-laki. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. suami. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). yakni saudara kandung laki-laki. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. seorang anak perempuan. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. Akan tetapi. dan sepuluh saudara kandung perempuan. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus.

seorang saudara kandung laki-laki. dan seorang saudara perempuan seayah. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. tanpa menggunakan cara pembagian. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi.seorang saudara laki-laki seayah. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2).dalam contoh ini adalah ibu. yaitu sepertiga (1/3). yakni merugikan kakek pada cara pembagian. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. dan dua orang saudara perempuan seayah. dan dua orang saudara seayah. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Kemudian. Oleh sebab itu. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. saudara kandung perempuan. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. kakek. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Pada contoh kedua ini. Tabelnya sebagai berikut: . sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. kakek. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Sisanya barulah untuk mereka. kakek sepertiga (1/3).keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian.

kakek. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. penj. ibu. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. kakek delapan (8) bagian. Sebab. bagian.). dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . Sebab.a. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). dan seorang saudara kandung perempuan.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. cicit. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27).Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. Oleh sebab itu. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Di samping itu. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. suami mendapat setengah (1/2). dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. dan seterusnya). hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. 6 10 18 2 F. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Setelah ditashih. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Akan tetapi. Berikut ini saya sertakan tabelnya. Misalnya. ibu enam (6) bagian. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. cucu. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut.

Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Bila ada salah satu yang diubah. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. 9 6 8 4 3 2 1 0 VII. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. Wallahu a'lam.. seperti yang difirmankan-Nya: "..ditashih.

bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. dan siapa yang diakhirkan. C. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. Contoh lain. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). sedangkan yang empat tidak dapat. tiga (3). Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Yang masyhur dalam ilmu faraid. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. dan saudara kandung .meski bagian mereka menjadi berkurang. Begitu juga sebaliknya. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. jadi ibu mendapat satu bagian. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. empat (4). riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.tidak pernah terjadi." Secara lebih lengkap.. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Bagian suami setengah berarti satu (1). seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. Namun demikian. dan delapan (8). dan ayah dua bagian. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. B." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul.. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. saudara kandung laki-laki. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. dua belas (12). Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. dan dua puluh empat (24). Sebab bila aku berikan hak suami. Dengan demikian. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. yaitu dua (2). Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3).a.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh.a. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2).furudh yang ada -. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. berarti mendapat bagian satu (1). kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. dan sisanya menjadi bagian ayah.

Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. delapan. yakni tiga per delapan (3/8). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. dan seorang saudara perempuan seibu. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. perlu kita simak contoh-contohnya. Lebih dari itu tidak bisa. ibu. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Lebih jelasnya. dan saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. yakni dapat naik menjadi tujuh. ibu. anak perempuan. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. atau tujuh belas (17). sembilan. dan dua puluh empat (24).berarti satu bagian. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. anak perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). dua belas (12). lima belas (15). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan saudara perempuan seibu. atau sepuluh. Contoh kasus yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). anak setengah (1/2) berarti empat bagian. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). saudara kandung perempuan . Namun. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. Dengan demikian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. namun hanya untuk angka ganjilnya. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan.perempuan. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". Lebih dari angka itu tidak bisa. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. saudara kandung perempuan. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Sebagai misal.

setengah (1/2) berarti tiga. yaitu menjadi tiga belas (13). ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. dua orang nenek. berarti delapan . 2. ibu. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Bila demikian. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). yaitu delapan per enam (8/6). asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. dan empat orang saudara perempuan seibu.berarti dua bagian. yaitu lima belas bagian. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. delapan orang saudara perempuan seayah. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). dan dua orang saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. dan seorang saudara perempuan seibu. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. dan dua orang saudara laki-laki seibu. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. lima belas (15). ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. seorang saudara kandung perempuan. dua orang saudara kandung perempuan. dan dua orang saudara perempuan seibu. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). atau tujuh belas (17). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. ibu. Oleh karena itu. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. 2. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dua orang saudara perempuan seayah. ibu seperenam (1/6) berarti satu. yaitu tiga belas. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. seorang saudara perempuan seayah. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. yaitu enam banding sepuluh (6:10). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri.

ibu. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Sekali lagi ditegaskan. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. dan tidak ada 'aul.' Lalu keduanya kembali. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. ayah. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. yakni tujuh belas berbanding dua belas. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). dan tidak ada 'aul. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. Catatan 1. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. 2. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. maka pokok masalahnya dari delapan. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). mengikuti jejak . Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. anak perempuan.bagian. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. maka pokok masalahuya dari empat (4). Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. D. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. maka pokok masalahnya dari tiga (3). dan tidak dapat di-'aul-kan. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. Selain itu. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. maka pokok masalahnya dari dua (2). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.

Artinya.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. G.-maka tidak mungkin ada arradd. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. Sebab dalam keadaan bagaimanapun.mereka semula. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-.. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. kecuali suami dan istri. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. Sebagai misal. E. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. ada sisa harta waris. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. .. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku)." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2. F.

dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. dan seterusnya)-. Sebab. Keempat macam itu: 1. Contoh lain. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. semuanya berhak mendapat bagian setengah. serta saudara laki-laki . saudara kandung perempuan. H. Misal lain. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. bagi ibu seperenam (1/6). seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. Sebagai misal. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). Maka pokok masalahnya dari empat. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. maka pokok masalahnya dari sepuluh. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. yakni tiga. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh-contoh keadaan kedua 1. atau seperempat. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. dan dengan adanya suami atau istri 2. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. sesuai jumlah ahli waris. Maka pembagiannya. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Maka pokok masalahnya dari dua. karena jumlah bagiannya ada empat. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. Sebagai misal. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. disebabkan bagiannya sama. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. maka pokok masalahnya dari tiga.

Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). Maka jumlah bagiannya adalah lima. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Misal lain. Maka pokok masalahnya empat. dan itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. serta seorang saudara perempuan seibu. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. saudara perempuan seayah. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). berarti mendapat satu bagian. karena jumlah bagiannya empat. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. 2. . yakni sesuai jumlah kepala. berarti lima bagian. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Begitu seterusnya. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. anak perempuan. Hitungan ini perlu pentashihan. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. Pokok masalahnya adalah delapan. karena jumlah bagiannya adalah lima. serta lima orang anak perempuan. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh lain. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Sebagai misal. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. disertai salah satu dari suami atau istri. yaitu istri. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Oleh karena itu. Dengan demikian. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. dua orang saudara laki-laki seibu. Maka pokok masalahnya lima.seibu. setiap anak memperoleh tiga bagian. dan itulah pokok masalahnya. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Contoh lain. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). Maka pokok masalahnya dari empat. dan saudara perempuan seibu. Maka jumlah bagiannya adalah lima.

asal pokok masalahnya dari delapan. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. yakni tiga bagian. yaitu istri.asal pokok masalahnya dari enam. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). yakni tiga bagian. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. secara fardh dan radd. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. tawaafuq (sepadan). Sisanya. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan ibu. yakni seperempat (1/4). Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. dan tabaayun (perbedaan). dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). Apabila istri mengambil bagiannya. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. yakni istri. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. nenek. karena itulah jumlah bagian yang ada. yakni yang seperdelapan. dua orang anak perempuan. mana yang paling tepat. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. dan dua orang saudara perempuan seibu. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. . Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya.

. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. dengan radd.). berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Dalam hal ini. Karena itu. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. berarti ia mendapat lima (5) bagian. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. hingga pembagiannya benar-benar adil. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. ditambah bagian kedua anak perempuan. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian.Kini. penj. Jadi. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing.

sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya dari lima. bila dalam suatu keadaan. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). Misalnya. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Kemudian.maka pokok masalahnya dari delapan (8).maka pokok masalahnya dari enam (6). Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. dan seperdelapan (1/8). jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. Artinya. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. maka pokok masalahnya dari enam (6). Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. 1/4. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. 1/8). seperenam. dan seperenam (1/6). dan demikian seterusnya. begitu seterusnya. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. Misalnya. dua laki-laki dan tiga perempuan. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. seperempat (1/4). misalnya ada yang berhak setengah. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. 1/3. dan satu wanita satu kepala. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. dan sebagainya-. Maka pokok masalahnya dari dua (2). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. Untuk memperjelas masalah ini. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. maka pokok masalahnya dari empat (4). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). maka pokok masalahnya sebelas. seperempat (1/4). Misalnya. Misal lain. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. maka pokok masalahnya dari tiga (3).Untuk mengetahui pokok masalah. Sebab. Akan tetapi. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). 1/4. Misalnya. maka pokok masalahnya dari sepuluh. berarti itulah pokok masalahnya. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Contoh lain. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda.

Misalnya. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Bila tidak tersisa.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. ibu. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. dan paman kandung. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-.mengetahui pokok masalahnya. atau semuanya. ibu sepertiga (1/3). Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . atau salah satunya. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. maka ia tidak berhak menerima harta waris. Apabila dalam suatu keadaan. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka pokok masalahnya dari enam (6). yang merupakan kelompok kedua. sedangkan paman sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. pokok masalahnya dari dua belas (12). ibu seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu. 2.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). dan seorang saudara laki-laki kandung. Apabila dalam suatu keadaan. Apabila dalam suatu keadaan. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). perlu saya utarakan beberapa contoh. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. ibu. dua orang saudara laki-laki seibu. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). Berdasarkan kaidah yang ada. Maka berdasarkan kaidah.

Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. at-tawaafuq (saling bertautan). maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Namun. anak perempuan setengah (1/2). A. Yaitu. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. dan saudara kandung laki-laki. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Begitulah seterusnya. dan bagian ibu seperenam (1/6).Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). . at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). Apabila pokok masalah --harta waris-. Maka berdasarkan kaidah yang ada. (8 : 2 x 6 = 24).

Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. at-tawaafuq. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). angka 5 dengan 9. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. dan seterusnya. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. Misalnya. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. Misalnya angka 7 dengan angka 4. yakni 'masuk'. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. dan lima sama dengan lima. maka kedua bilangan itu tadaakhul.). kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. dan at-tabaayun. B. angka 8 dengan 11. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. sehingga tidak . dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Misalnya. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. lawan kata dari "keluar". Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. attadaakhul. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. demikian seterusnya. penj. maka disebut tabaayun. Misalnya. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Pada hakikatnya. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. Selain itu. Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. yakni 'sama bentuknya'. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. angka tiga berarti sama dengan tiga. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9).

mengurangi ataupun menambahkan. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. penj. Maksudnya. ibu. . tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. maka setiap orang mendapat satu bagian. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. berarti 4. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. Contoh lain yang at-tamaatsul. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). dan bagian yang mereka peroleh juga empat. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. maka tiap orang mendapat satu bagian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian.). setiap anak menerima satu bagian. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. dan empat saudara kandung perempuan. Untuk lebih memperjelas masalah ini. Dengan demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6).maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). maka ada kesamaan. dua saudara perempuan seibu. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). dan bagiannya 2/3 dari 6. (Misalnya. Namun. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). empat anak perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. ayah. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah.

dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. yakni 3 x 12 = 36. Contoh lain. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. berarti tiga (3). Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. Maka 2 x 6 = 12. Contoh lain. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. enam saudara kandung perempuan. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Itulah tashih pokok masalah. lima anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. sedangkan bagian saudara . berarti 3 x 9 = 27. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. ayah. Setelah pentashihan. dan saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan saudara kandung laki-laki. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). ibu. yaitu dua (2). Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan).Contoh masalah yang at-tawaafuq. Misal lain. berarti empat bagian. berarti dua bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). yakni angka enam (6). dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Bagian istri 1/8 = 3. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. dan paman kandung. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. anak perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan dua orang saudara laki-laki seibu. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. yaitu dua (2). ibu.

Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. tujuh anak perempuan. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini.kandung laki-laki mahjub (terhalang). seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. berarti 7 x 4 = 28. yakni 27 x 5 = 135. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. dan saudara laki-laki seibu. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. empat saudara kandung laki-laki. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). kedua nenek 1/6-nya = 4. sedangkan saudara seibu mahjub. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Misal lain. dua orang nenek.

maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. atau tanah. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. ayah.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). dan ibu. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. C. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. baik berupa harta.contoh yang lain. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. ibu. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. anak perempuan. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. suami. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Jadi. benda.

dua anak laki-laki. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3. ibu. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1.000:12 = 250 dinar Jadi. Cucu pr. dan tiga saudara kandung laki-laki. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. dan harta peninggalannya 3. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = .000 dinar 1. 960 dinar: 24 = 40 dinar. bagian masing-masing ahli waris: Jadi.000 dinar. Jadi. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. ayah. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.

100 dinar 1. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. dua saudara lakilaki seibu. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. saudara kandung perempuan. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).200 dinar 9.100 dinar 1. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 .300 dinar 2. ibu. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. dua anak perempuan.300 dinar 3. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian).100 dinar 1.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3. seseorang wafat dan meninggalkan suami.100 dinar Jadi. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. dan nenek. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.900 dinar. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki.200 dinar 2.900: 9 = 1.000 dinar Contoh lain.100 dinar Total = = = = = 3. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1.

Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. Sedangkan . dua saudara kandung perempuan. suami. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ket. 12 Cucu pr. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. ibu. saudara laki-laki seayah. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). ket. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). saudara perempuan seayah. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain.

dan empat (4) saudara perempuan seibu. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. dua (2) orang nenek. Sedangkan ahli waris yang lain ter. seayah Ke-4 sdr. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. Harta peninggalannya: 17 dinar. ket.500 dinar. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian).mahjub. pr. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. dan sisanya --dua bagian-.harta peninggalan sebanyak 1. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. delapan (8) saudara perempuan seayah. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . pr.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Contoh masalahnya. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. ('ashabah) Saudara perempuan seayah.

Jadi. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Ali bin Abi Thalib bertanya.a. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). Wallahu a'lam bish shawab. "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. dua belas saudara kandung laki-laki. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian).a. yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar." Ali berkata. dua anak perempuan. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600." Kemudian Ali bin Abi Thalib r. benar. ibu. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Tetapi. 12 saudara kandung laki-laki. dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. seseorang wafat meninggalkan istri. dua anak perempuan. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian).Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. ibu. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. "Ya. dan seorang saudara kandung perempuan. . Dengan demikian.

maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Misalnya. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Namun. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan.. Ketika sang suami meninggal. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). yakni dari . anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. Misalnya. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya.. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. seseorang mempunyai dua orang istri. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. HUKUM MUNASAKHAT A. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Kemudian. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Jadi. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah).IX. Bila salah seorang ahli waris meninggal.

Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. Kemudian. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. 2. tanpa mempedulikan masalah pertama. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Berikut ini saya sertakan tabelnya: . dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. termasuk hak ahli waris yang meninggal. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). yaitu enam (6) bagian. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. maka 3 x 4 = 12. mereka mahjub. Kemudian. al-muwafaqah. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. B. dan seorang saudara kandung laki-laki. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Maka. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). Merinci masalah baru. berarti 3 x 12 = 36. dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. Karena itu. dua saudara kandung perempuan.ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. Sebagai contoh. yaitu almumatsalah. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4).ada mumatsalah (kesamaan). Kemudian. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Jadi. Karena itu. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. dan al-mubayanah.

kandung lk. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Sdr. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. dan dua anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). kandung pr. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. 2/3 Sdr. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. istri. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). seseorang wafat dan meninggalkan istri. tiga anak perempuan. Kemudian. . dan saudara laki-laki seibu. ibu. kandung pr. Sdr. Oleh sebab itu. ibu. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. ayah. dan dua anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. keturunan anak lk. yaitu dua puluh empat (24).Jumlah kepala 12 3 anak pr. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). kandung lk. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). ibu. Sdr. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. kandung pr. Jumlahnya lima belas (15) bagian. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. ibu. ayah. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. berarti dua bagian. ibu 1/6 (4 bagian). Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Dalam keadaan demikian.

Misalnya. seseorang wafat meninggalkan suami. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. dan seterusnya. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. dan meninggalkan nenek. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). kemudian ada lagi yang meninggal. berarti 3 x 13 = 39. dan seterusnya. ayah.Kemudian. dan paman kandung (saudara ayah). Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . dan seterusnya. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). dan ibu. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). saudara perempuan seibu. aljami'ah ketiga. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. Maka jika terjadi hal seperti ini. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. Kemudian anak perempuan juga meninggal. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. dan dua saudara laki-laki seibu. dua saudara kandung perempuan. Misalnya. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan tashih ketiga pada posisi kedua. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama.

maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. Pertama. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. kandung pr.ialah seratus ribu dirham. atau siapa saja yang ditunjuknya. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. lk. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. salah seorang istrinya. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". dan cara kedua. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. Numadhir binti al-Asbagh.pr. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. . saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. 2/3 2 sdr.a. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr.Suami 1/2 Sdr. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. Ketika ia wafat.

seorang anak perempuan. Kemudian.000 Total = 24. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. Kemudian sebagai misal. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. X. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. Dengan demikian.000: 21 = 2. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya.000 = 42.000.000.000.000. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya.adalah bagian anak perempuan. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. dan uang sebanyak Rp 42 juta. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. pokok masalahnya dari delapan.000.Sebagai contoh. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. pewaris meninggalkan sebuah rumah. Misalnya. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu.000.000. dan dua anak laki-laki.000. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42.000 = 18. anak perempuan. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000 + 18. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. dan istri.000 = 24. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. Lalu sisanya (yakni 24 . HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka.000. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. berarti tiga (3) saham. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. Maka. dan sisanya --yakni tujuh bagian-.000 Bagian ayah 9 x 2. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. Dalam keadaan demikian. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'.

yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Jadi. dan Ali bin Abi Thalib. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. Ibnu Mas'ud. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. keponakan laki-laki dari saudara perempuan.rahim yang menyatukan asal mereka. paman (saudara laki-laki ibu). Muslim. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. dalam sebagian riwayat darinya. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. bila tidak ada ashhabul furudh. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Misalnya. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. di antaranya Umar bin Khathab.a. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah.. dan Ibnu Abbas r. Maksudnya. Jadi. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris.a. Dengan demikian. B. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. Dengan demikian. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Allah berfirman: ". bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). . dan juga merupakan pendapat dua imam. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. cucu laki-laki dari anak perempuan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. dan sebagainya. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari.. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam..

sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. tidak memberikan hak waris kepada para bibi.. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. Di sini. para 'ashabah. atau selain dari keduanya-. Sebab.beliau saw. serta selain keduanya. Harta peninggalan. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk .bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum.2. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. As-Sunnah. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. Namun sebaliknya. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Pendek kata. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. kerabat lain pun demikian." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. 3. bila diserahkan kepada kerabatnya. dan logika.. Jadi. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Adapun golongan kedua. para ''ashabah. baik ashhabul furudh. termasuk ashhabul furudh. Rasulullah saw.

" Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. yakni saudara laki-laki ibunya.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Sebab. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. dari ayah dan dari ibu. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. Dengan turunnya ayat ini. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. maka Rasulullah saw. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Umar bin Khathab r. Dengan pemberian Rasulullah saw. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Oleh karena itu. baik sedikit ataupun banyak. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Oleh sebab itu. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. bertanya kepada Qais bin Ashim. Alasannya. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. ikatannya dari dua arah.a.--. sedangkan saudara . Sebab. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. dan kami tidak mengetahui kerabatnya.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.a. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. dalam riwayat ini dikisahkan. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Dengan demikian. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab.

1. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. bibi (saudara perempuan ibu). ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. Maka muncul pertanyaan. . kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. bibi (saudara perempuan ayah). kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. C. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. Misalnya.seayah hanya dari ayah. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). dan amanah. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. Dengan demikian. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. persatuan dan kesatuan muslimin.jawaban Rasulullah saw. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. adil. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. Di samping itu. Sebagai contoh. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. Atau. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. Jadi. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. Di antaranya. tabi'in. dan imam mujtahidin. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. baitulmal harus terjamin pengelolaannya." Melihat kenyataan demikian. khususnya pada masa kita sekarang ini.

laki-laki seayah mahjub. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). pr. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. Inilah gambarnya: Sdr. sdr. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). 3/6. 1/2. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. yakni pokoknya. dan saudara laki-laki seayah. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. sdr. kand. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. 2. 1/2. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. bahkan dhaif dan tertolak. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. seibu paman kand. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. dan paman kandung. karena itu ia mendapatkan sisanya. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. Pr. saudara perempuan seibu. Mazhab ini tidak masyhur. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. Oleh karena itu.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. pr. seayah 1/6. saudara perempuan seayah. Dengan demikian. 1/6. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. 2. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. kandung pr.. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. Sdr. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. saudara kandung perempuan. dan sepertiga lagi diberikannya . Sdr. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). Inilah gambarannya: Anak kandung pr.

Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan.kepada bibi (dari pihak ibu). dan seterusnya. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Maka. menurut mereka. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Selain itu. Di samping itu.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris.a. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Kakek yang bukan sahih. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. 2. yang tampak sangat logis. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Sebagaimana telah diungkapkan. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. baik laki-laki ataupun perempuan. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Oleh karena itu. Selain itu. Sebab. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu).a. Yang dinisbati oleh pewaris: a. b. Hal ini. Keempat golongan tersebut adalah: 1. 3. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. .

keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. atau yang seayah. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. dan seterusnya). baik yang kandung maupun yang seayah). Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). b. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. cucu. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. seibu. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. dan juga paman nenek. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. Jika tidak ada. ibu dari ibu ayahnya ibu. dan seterusnya. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). atau seibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. dan seterusnya. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. maka pokoknya: ayah. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. dan paman (saudara ayah) ibu. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Jika tidak ada juga. baik yang kandung. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu).dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. menurut ahlul qarabah. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. seayah. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. b..b. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Keturunan saudara kandung perempuan. dan seterusnya. Bibi dari ayah pewaris. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). Dengan demikian. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . Bila mereka tidak ada. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. atau yang seibu. dan bibi (saudara perempuan ibu). baik bibi kandung. atau seayah. baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Nenek yang bukan sahih.dari kakek dan nenek. 2. Paman kakak yang seibu. seayah. Bila mereka tidak ada. ataupun seibu. kakek. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah.

apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. maka pembagiannya dilakukan secara merata. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Artinya. Begitulah seterusnya. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. Misalnya. Misalnya. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. Begitu seterusnya. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Dengan demikian. setelah diambil hak para shahibul fardh. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. D. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Misalnya. maka ia akan menerima sisanya. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. Tidak ada penta'shib ('ashabah). Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. 2. Sebab. Dan bila ada shahibul fardh. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Dengan demikian. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian.mereka. Dalam contoh ini. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Misalnya. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Hanya saja. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Namun. dan seorang anak perempuan dari anak paman . Tidak ada shahibul fardh. jika ada shahibul fardh. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). 2. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung).

misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. dan para ulama mazhab Hanafi. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Bila urinenya keluar dari penis. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . Oleh karena itu. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r.kandung yang lain. Selain itu. Sebenamya. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. XI. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan.a. artinya tidak ada kejelasan. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. khanatsa wa takhannatsa. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. Sebab.). bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Atau dengan redaksi lain. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). maka ia divonis sebagai laki-laki dan . sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Namun. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Oleh karenanya. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Misalnya. penj.

maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. Mazhab Maliki berpendapat.). 2. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. Ia berkata: "Wahai kaumku. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. C. dan tidak menerima vonis tersebut. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. tetapi bila keluar dari vagina. Misalnya. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. . bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita." B. dan sebagainya." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. apakah ia tumbuh kumis. ia dinyatakan sebagai perempuan. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. Melihat sang majikan gelisah. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. penj. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. apakah tumbuh payudaranya. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Bila keluar dari penis. dikukuhkanlah vonis tersebut. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Maksudnya. Mazhab Syafi'i berpendapat. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. apakah ia haid atau hamil. maka ia sebagai laki-laki.a. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Namun. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. bahwa Rasulullah saw. Ketika Islam datang. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. lihatlah jalan keluarnya air seni. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Di samping melalui cara tersebut.

Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. maka gugurlah hak warisnya. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. seorang anak perempuan. saudara kandung perempuan. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. 2. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. 3. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. ibu enam (6) bagian. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. dan seorang anak banci. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). maka pokok masalahnya dua (2). sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. maka divonis sebagai laki-laki. ibu. dan bagian anak banci lima (5).'aul-kan. dan saudara laki-laki seayah banci. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). dan saudara laki-laki banci. seperti dalam masalah al-munasakhat. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8).yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. maka pokok masalahnya dari lima (5). maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. dan . Bahkan. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan sisanya kita bekukan.

Berkaitan dengan hal ini. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. baik laki-laki maupun perempuan. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. pr. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Secara ringkas dapat dikatakan. Adapun sisanya. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-.. dan satu atau kembar. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. Setelah itu. 1/2 Banci lk.. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . laki-laki atau perempuan. kdg.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. kdg. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang . apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. pr. 1 1 Suami 1/2 Sdr. Namun demikian. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). Dengan demikian. yakni dua (2) bagian dibekukan. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. pr. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. ibunya mengandungnya dengan susah payah. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. 1/2 Sdr. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Bagian suami enam (6). demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. Karena itu.

Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. dan ia dianggap tidak ada. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. E. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). Kelima keadaan tersebut: 1. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati.ada." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. ia tidak berhak mewarisi. maka tidak berhak mendapatkan waris. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. . jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. atau yang semacamnya. menurut mazhab Hanafi. F. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. Dengan demikian. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun.a. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. bersin. 2. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. Bahkan.a. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal." Pernyataan Aisyah r. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. mau menyusui ibunya. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw..

Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Setelah janin lahir dengan selamat. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Bila yang lahir anak laki-laki. Namun. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. 2. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. Namun. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Sebagai ahli waris tunggal. Namun. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). dan istri ayah yang sedang hamil. ibu. maka hak warisnya diberikan kepadanya. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. bila ternyata bayi tersebut perempuan. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). apabila yang lahir anak perempuan. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. Sebagai misal. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). namun bila ternyata laki-laki yang lahir. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. Contoh lain. Sebagai misal. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. ayah. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Pokok masalahnya dari empat (4). ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. paman (saudara ayah). Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. Bila yang lahir bayi perempuan. tiga saudara perempuan seibu.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya.

saudara perempuan seayah. Jadi. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. pr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. maka kita sisihkan bagian warisnya. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. Dengan demikian. Sebagai misal. ayah seperenam (1/6). boleh jadi. dibekukan.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). Atau terkadang terjadi sebaliknya. Sebagai contoh. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. sbg. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal.Ibu 1/6 3 sdr. ibu. dan ayah. Sebab. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. baik ia laki-laki ataupun perempuan. dan bagian istri seperdelapan (1/8). Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Inilah tabelnya. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan).maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. Dalam keadaan demikian. seibu 1/3 Sdr. dalam kedua keadaannya. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. jika bayi itu masuk kategori laki-laki.pr. 'ashabah Sisanya satu (1). Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris.

seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. terputus beritanya. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. pr. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Sebagai misal. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. dan ." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. DAN TERTIMBUN A.6 Sdr. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. pr. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. Sebab. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. Karenanya. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Bila janin itu lahir dengan hidup normal. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. dan aku menjamin terhadapnya. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. kdg. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. kdg. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. 1/2 Sdr. pr. pr. TENGGELAM. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. al-mafqud berarti orang yang hilang. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. 1/2 Sdr. anak perempuan setengah (1/2) bagian. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. Contoh lain. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. Akan tetapi.

tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Bila usai masa idahuya. Akan tetapi. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Dalam riwayat lain. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya." B. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. dari Imam Malik. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Namun. hartanya tidak boleh diwariskan. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut.telah mati. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Karena menurut Imam Syafi'i. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada.a. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi.tidak diketahui rimbanya. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. maka hendaknya dia bersabar. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. yaitu empat bulan sepuluh hari. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. apakah dia masih hidup atau sudah mati. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. Sementara itu. Dalam riwayat lain. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. atau menjadi salah seorang penumpang . Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. dari Abu Hanifah.

memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. dan dua saudara perempuan seayah. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Sebab. Sebagai contoh. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Sedangkan pada keadaan kedua. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). Namun. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. Maksudnya.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Kapan saja hakim memvonisnya. Namun. maka itulah yang berlaku. saudara laki-laki seayah. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. hendaknya ia . Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. melancong. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. Menurut hemat penulis. saudara kandung perempuan. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. atau banyak perampok dan penjahat. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. seperti pergi untuk berniaga. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Karena itu. Demikian juga istrinya. ia dapat menempuh masa idahnya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. atau untuk menuntut ilmu. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. 2. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Misal lain. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. dan anak laki-laki yang hilang. Karena itu.kapal yang tenggelam-. Kedua. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. Misalnya. Pertama. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. C. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati.

atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. kdg. saudara laki-laki seayah. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. atau tanpa ada yang dibekukan). Sebagai contoh. kdg. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. saudara kandung perempuan. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. kemudian membekukan sisanya. seseorang wafat dan maninggalkan istri. lk. Namun. Dalam contoh tersebut. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. saudara kandung. lk. ibu. kdg. Namun. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. bagian istri adalah seperempat (1/4). hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. kdg. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. dan cucu laki-laki dari . yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. pr 1 1 Sdr. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. kdg. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. ibu seperenam (1/6). hlg 1 Sdr. ibu. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. Dalam keadaan demikian. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). kdg. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. pr 1 Sdr. hdp.

pr. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. saudara kandung perempuan. hdp. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. seseorang wafat dan meninggalkan suami.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. Suami 1/4 Cucu pr. hdp. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. Istri 1/8 2 Anggapan sdh.dr.anak.lk. dan anak laki-laki yang hilang. (hilang) 3 Anak lk. saudara laki-laki seibu. lk.kdg. 8 Anggapan sdh.dr. (mahjub) Sdr. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh.kdg.pr. (hilang) 17 Cucu lk.lk.lk. mahjub Sdr. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk. mati Suami 1/4 Cucu pr.kdg. (hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. mati 12 24 .keturunan anak laki-laki. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. anak paman kandung (sepupu). hdp.anak.

D. lalu mengalami kecelakaan. (hilang) 4 Cucu pr.lk..lk. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. tanpa diduga. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. ujian. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti.. 'ashabah 3 Sepupu. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah.seibu (mahjub) Sdr. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . Sayangnya. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. lk. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali". lk. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. dan cobaan. Misalnya. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya.

Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Menurut ulama faraid. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. amin. Sebagai contoh. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. Sebagai contoh. seluruh isi langit dan bumi. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Kemudian. Misal lain. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. harta ketiga anak laki-laki. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. pengatur alam semesta. menurut para ulama. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Dialah Yang Maha Kekal. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. anak perempuan. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. Begitulah seterusnya." Hal demikian. dan anak paman kandung (sepupu). anak perempuan yang pertama setengah (1/2). suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. Yang satu meninggalkan istri. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. . dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu.

AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. maka ibunya mendapat seperenam. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. Ini adalah ketetapan dari Allah. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. Jika seseorang mati. jika mereka tidak mempunyai anak. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. jika anak perempuan itu seorang saja. para sahabatnya. jika yang meninggal itu mempunyai anak. maka ia memperoleh separo harta. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Mekah. Jika kamu mempunyai anak. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.tidak akan rusak dan tidak akan mati. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. junjungan kita Muhammad saw. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka ibunya mendapat sepertiga." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. . dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang.

dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal." (an-Nisa': 176) . Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). jika ia tidak mempunyai anak. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. supaya kamu tidak sesat. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia.baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful