P. 1
pembagian harta waris dalam islam LENGKAP

pembagian harta waris dalam islam LENGKAP

5.0

|Views: 15,852|Likes:
Published by d-fbuser-20858414

More info:

Published by: d-fbuser-20858414 on Feb 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Sementara itu. baik dari harta peninggalan ayah. kedua orang tua. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. maupun kerabat mereka. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). baik berupa sandang. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. ayah. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. serta tidak pula berperang melawan musuh. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. suami. Jadi. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). pangan. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. --berupa ayat-ayat tentang waris-. 1 B. anak-anak. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Sebab menurut anggapan mereka. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r. suami. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. Islam memberi mereka hak waris. tidak mampu memanggul senjata. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak.a. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. tanpa direndahkan. dan istri-. wanita. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya.. dan papan.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris).dibandingkan saudara seibu. Sementara itu. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). 2. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Dengan demikian. Sementara itu. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. Yang pertama dalam ayat ini. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. jika sendirian. Jadi. Oleh karenanya. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". . karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. mendapat separo harta peninggalan. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.(dan) sesudah dibayar utangnya. 2. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Jika kamu mempunyai anak. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. maka bagian istri adalah seperempat. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. baik laki-laki maupun perempuan.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. Bagian suami: 1. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Bagian istri: 1.

Menurut saya. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Jadi. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. dan tidak mempunyai ayah atau anak. 2. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. 1. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. . Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan.a. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Begitulah hukum bagi saudara seayah. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata.2. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. Jadi. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. maka karena dariku dan dari setan. maka wajib untuk tidak dilaksanakan.. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Adapun bila pendapat ini salah. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. misalnya.

tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang.. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). kecuali hukum waris ini. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). tanah. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. apakah dia sebagai anak. cucu." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. paman. demikian pula sabda Rasulullah saw. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. ayah. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw..II. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. dari seluruh kerabat dan nasabnya. suami. Definisi Waris Al-miirats. Dan Kami adalah pewarisnya. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. baik berupa harta (uang) atau lainnya. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. ibu. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. dan ijma' para ulama sangat sedikit.. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris." (an-Naml: 16) ". kakek. besar atau kecil. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Jadi. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A.. . istri. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun..

Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. Di antaranya. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Namun. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. atau belum menunaikan nadzar. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. menurut saya. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. dengan catatan tidak boleh berlebihan. seperti belum membayar zakat. biaya pemakaman. Menurut jumhur ulama.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. pembelian kain kafan. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Artinya. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. menurut mereka. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Padahal. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. atau belum memenuhi kafarat (denda). 2. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. bila sang mayit berwasiat. Akan tetapi. Pendapat mazhab ini. biaya memandikan. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya.

Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. Setelah ashhabul furudh. As-Sunnah.. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. B. Sementara itu. Misalnya anak laki-laki pewaris. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. 3. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Ashabat nasabiyah. Oleh karena itu. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. bersabda: ". Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. suami. dan ijma'. dan kesepakatan para ulama (ijma'). istri. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Rasulullah saw. paman . Ashhabul furudh.setelah ashhabul furudh menerima bagian). termasuk diambil untuk membayar utangnya.. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. misalnya ibu. Padahal secara syar'i. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Catatan: Pada ayat waris. ayah. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. cucu dari anak laki-laki pewaris. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Sepertiga. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. As-Sunnah. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. baru kemudian melaksanakan wasiat. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r." 4.a. Bahkan. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. dan lainnya). Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. dan sepertiga itu banyak. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. saudara kandung pewaris. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya.

maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Hak waris secara pertalian rahim. C.kandung. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. bibi (saudara ayah). Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). dan seterusnya. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). paman. Hak waris secara tambahan. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. dan . Misalnya. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. Bentuk-bentuk Waris A. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). 2. saudara. anak. paman (saudara ibu). Mewariskan kepada kerabat. Misalnya. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. bibi (saudara ibu). Baitulmal (kas negara). Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. B. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. tidak pula 'ashabah. Dengan demikian. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Misalnya. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. seperti kedua orang tua. Ashabah karena sebab.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Misalnya. Maka. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). D. cucu laki-laki dari anak perempuan. dan cucu perempuan dari anak perempuan. dan sebagai 'ashabah. artinya bukan salah seorang dan ahli waris.

Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Pernikahan. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. baik berupa uang. 2. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. E. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. termasuk jumlah bagian masing-masing. kecuali setelah ia meninggal. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. Ahli waris. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Al-Wala. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Pewaris.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Hal ini harus diketahui secara pasti. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. F. atau lainnya. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. dan sebagainya. 2. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Sebagai contoh. 2. yakni orang yang meninggal dunia. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Harta warisan. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. tanah. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Sebagai contoh.seterusnya. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. karena bagaimanapun keadaannya.

G. tertimpa puing. dan sebagainya. membayar diyat. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. atau saudara seibu. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. saudara seayah. Para fuqaha menyatakan. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. 2. kerabat. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. serta ada yang tidak terhalang. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Sebab. Misalnya. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Misalnya. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. atau membayar kafarat. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. atau tenggelam. istri. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. dalam hal ini ada tiga: 1. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . misalnya suami.meninggal-. ada yang karena 'ashabah. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. secara langsung menjadi milik tuannya. Alhasil. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan.

Ali bin Abi Thalib. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Syafi'i. Maksudnya. Menurut saya. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Sebab. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir.rajam.a. tidak ada yang mengunggulinya). Wallahu a'lam. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. seperti membunuh atau berbeda agama. 3. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. adanya kakek bersamaan . Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. yakni murtad. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. Karena itu. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. dalam haditsnya. termasuk keempat imam mujtahid. menurut mereka. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. Ibnu Mas'ud. Karena itu. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Sementara itu. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Sebagai contoh. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Menurut penulis." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. apa pun agamanya. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. seperti ditegaskan Rasulullah saw. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. dan lainnya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian.

(9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (13) anak laki-laki paman seayah. (7) saudara perempuan seayah. I. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. yaitu 7/8.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (3) bapak. yaitu ayah. saudara kandung. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. anak kita misalkan sebagai pembunuh. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (10) perempuan yang memerdekakan budak. (5) saudara kandung laki-laki. yaitu ayah pewaris H. (9) istri. ibu.dan seterusnya. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). (4) nenek (ibu dari ibu). (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. Jika terjadi hal demikian. (14) suami. dan anak --dalam hal ini. (8) saudara perempuan seibu. (11) paman (saudara bapak seayah). (15) laki-laki yang memerdekakan budak. Kemudian sisanya. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. maka bagian istri seperdelapan. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. (7) saudara laki-laki seibu. (10) paman (saudara kandung bapak). menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. (2) ibu. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (6) saudara laki-laki seayah. sisa harta yang ada. Jadi. . menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. (6) saudara kandung perempuan. serta saudara kandung. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (5) nenek (ibu dari bapak). ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. dan seterusnya.dengan adanya ayah. (4) kakek (dari pihak bapak). Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. yaitu tiga per empat harta yang ada. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub.

Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. dengan tiga . dua per tiga (2/3). penj... Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. seperempat (1/4). maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . 3. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). dengan tiga syarat: a.). mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. seperdelapan (1/8). Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". Dalilnya adalah firman Allah: ". Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. sepertiga (1/3). Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki." (an-Nisa': 12) 2. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. dengan dua syarat: a. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. b. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami.III. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. A. b. yaitu setengah (1/2). Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. saudara kandung perempuan. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dan saudara perempuan seayah.. dan seperenam (1/6). Rinciannya seperti berikut: 1. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. 4..

yaitu suami dan istri. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. . baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan.'" (an-Nisa': 176) 5.. dengan empat syarat: a. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . b. Apabila ia hanya seorang diri. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki... b. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan." (an-Nisa': 12) .. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2.syarat: a. Rinciannya sebagai berikut: 1. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. dan tidak pula mempunyai keturunan. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. baik anak laki-laki maupun perempuan. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. dan tidak pula anak..

2. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya.. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. bila suami mempunyai anak atau cucu.. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. yakni anak laki-laki dari pewaris. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'.. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki.a. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. Jadi. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. C." (an-Nisa': 12) D. Jadi. Dalilnya firman Allah berikut: ". Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Wallahu a'lam.. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-.... dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Istri. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Jika kamu mempunyai anak. Dengan kata lain.tentang bagian istri.

ayah. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah.. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. b. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Wallahu a'lam. 2.. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Bila pewaris tidak mempunyai anak. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Dalilnya adalah firman Allah: ". juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. b.. dengan persyaratan sebagai berikut: a. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki." (an-Nisa': 176) 4. 3. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .2. Dalilnya adalah firman Allah: . Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan).. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. baik laki-laki atau perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. atau kakek. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). b. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. E. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Dan dalilnya sama. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu..

dua orang atau lebih. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak.. maka ibunya mendapat seperenam.. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan.. 2." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: "... dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja)." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. . Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. maka ibunya mendapat sepertiga. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'.. Yakni. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. Namun. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". Misalnya dalam istilah shalat jamaah. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).". dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan.. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Kesimpulannya. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih.. Selain itu. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan... lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama.

Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. saya sertakan contohnya. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Agar lebih jelas. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . Akan tetapi.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Dalam kasus ini. ibu. maka ibunya mendapat sepertiga". hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. dan ayah. Dengan demikian. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. ibu. dan ayah. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--.

Menurutnya. (6) nenek asli. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). b. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. baik saudara laki-laki ." (an-Nisa': 11) 2. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. menurut hemat saya. (3) ibu. dengan dua syarat: a. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. (5) saudara perempuan seayah. Jadi. baik anak laki-laki atau anak perempuan. 3. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri.. Mereka adalah (1) ayah.a. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri.. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. Dan untuk dua orang ibu bapak. Wallahu a'lam.... Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri.a. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. tepatnya masa Umar bin Khathab r. 1. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Dalilnya firman Allah (artinya): ". Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah.a. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. F. Jadi.

" Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya.. 5. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. ataupun seibu. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. baik sekandung. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3).. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. dan saudara perempuan. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak . Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. maka ibunya mendapat seperenam .. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. seayah. Selain itu." (an-Nisa': 11). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Sebab jika lebih dari satu orang. Dalilnya firman Allah (artinya): ". bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris.. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). 4. 6. Sebab bila ada anak laki-laki. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6)." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Jadi. Dalam keadaan demikian. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian.a. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2).ataupun perempuan. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw.. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.

Demikian juga di dalam Al-Qur'an. kata ini sering kali digunakan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". Sebagai contoh. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu.menguatkan dan melindungi. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6)." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. 7. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. Selain itu. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.a. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. IV. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. Ayat tersebut juga telah .meninggalkan anak. Wallahu a'lam. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan paman (saudara kandung ayah). sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. sedang kami golongan (yang kuat). di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. Disebut demikian. A. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. baik laki-laki atau perempuan). Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. untuk menuntut hak warisnya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. anak laki-laki.

Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). misalnya . yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. B. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. dan seterusnya. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). cicit. Namun. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). mempunyai empat arah. Arah bapak. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. Arah anak. Sebab. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. Kemudian. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain).menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Oleh sebab itu. Maka jika masih tersisa. Catatan Dalam dunia faraid. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. dalam hal penggunaan kata "dzakar". dan seterusnya. kakek. Dengan demikian. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia." (an-Nisa': 176). dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Namun. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. yaitu: 1. mencakup ayah. Inilah makna 'ashabah. jika ia tidak mempunyai anak. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham.

saudara kandung perempuan. termasuk keturunan mereka. Arah saudara laki-laki. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Arah paman. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Misalnya. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah.ayah dari bapak. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. mencakup saudara kandung laki-laki. Contoh lain. kemudian mereka pun dalam satu arah. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. saudara laki-laki seayah. ayah. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. dan seterusnya. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. dan seterusnya. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. namun hanya yang laki-laki. Sebagai misal. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. dan seterusnya. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Sementara itu. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. dan saudara kandung. 2. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. Dalam keadaan demikian. Sebagai misal. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Apabila anak tidak ada. saudara laki-laki seayah. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. termasuk keturunan mereka. ayah dari kakak. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Rinciannya. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Pengecualiannya. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Sebab.

tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. sedangkan dari . pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an.kandung. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Artinya. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Sebab. Sebagai contoh. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. Dengan demikian. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Dengan demikian. Namun demikian. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Sedangkan secara aqli. Wallahu a'lam. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. yakni arah anak dan arah bapak. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Oleh sebab itu. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. dan seterusnya. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). demi kepentingan masa depan anaknya. Bahkan." (an-Nisa: 11). Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. jika yang meninggal itu mempunyai anak. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris.

bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. dan pembagiannya. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. dan saudara perempuan seayah). Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . Misalnya. Sebagai contoh. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Sebab dalam keadaan demikian. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki).kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. Misalnya. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Anak perempuan. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. 2.

dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah... Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. Kemudian. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah.akan menjadi 'ashabah.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12).sama rata. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Selain itu. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. dan bagian saudara perempuan separo. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.a. Jadi. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm.

dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami.'ashabah ma'al ghair. Selain itu. paman kandung ataupun yang seayah. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . saudara perempuan. dan saudara lakilaki seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. seperti anak keturunan saudara (keponakan). apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. dua orang saudara kandung perempuan. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. Begitu juga saudara perempuan seayah. dan saudara laki-laki seayah.

saudara perempuan seayah. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). cucu perempuan keturunan anak laki-laki.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya.menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). kemudian sisanya yaitu seperempat-. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. saudara perempuan seayah. seorang ibu.

Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. C. Begitulah seterusnya. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. seperti anak laki-laki. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Akan tetapi. Inilah perbedaan keduanya. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. secara ringkas. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. Misalnya. Agar persoalan ini lebih jelas. dan seorang suami. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. saudara laki-laki seibu. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. dan ibu mendapatkan seperenam. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. . dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Jadi. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh.

. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. dan seterusnya. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. B. Misalnya. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. dan seterusnya. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Selain itu. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'.V. Satu hal yang perlu diketahui di sini. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. Misalnya. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Jadi. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak).

cicit. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Selain itu. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). kecuali jika ada 'ashabah. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. cucu. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. dan seterusnya). Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. dan seterusnya (semuanya laki-laki). sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. ibu. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). cucu. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. cucu. cicit. . juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. anak laki-laki. kakek. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. cicit. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. dan seterusnya). Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. 2. dan juga dengan adanya paman kandung. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. maka semuanya harus mendapatkan warisan. dan keturunan laki-laki (anak. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. dan istri. anak. ayah. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. cucu. ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). serta oleh saudara laki-laki seayah. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. anak kandung perempuan. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. suami. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. cucu kandung laki-laki. cicit.

Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". cucu. yakni saudara laki-laki yang merugikan. ibu. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. kecuali bila adanya 'ashabah. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. Oleh sebab itu. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Selain itu. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. ibu seperenam (1/6) bagian. dan seterusnya. anak perempuan setengah. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. Padahal. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. ayah juga seperenam (1/6) bagian. ayah seperenam (1/6) bagian. 2. anak perempuan. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. cucu. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Kedua: Untuk lebih memperjelas. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). dan cucu perempuan dari anak laki-laki. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. bapak. ayah. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. ibu seperenam (1/6) bagian. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. ibu. kakek. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. anak perempuan. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. Kemudian. cicit. cicit.

Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. dan lainnya. ibu. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. tabi'in. sejak masa para sahabat. Maka. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. Karena.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. kemudian baru kepada para 'ashabah. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. Di samping itu. Contoh permasalahannya sebagai berikut. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. Utsman." Namun demikian. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. dan imam mujtahidin. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. tabi'in. juga karena para sahabat. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. Berdasarkan kaidah yang berlaku. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). tabi'in. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. masalah ini merupakan kasus kolektif. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. Ibnu . selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Ali. Sedangkan dalam contoh kedua. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami.karena tidak ada pen-ta'shih. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. Sementara itu. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. dan imam mujtahidin. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Namun. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Ibnu Abbas.

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). 2. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. itulah yang menjadi bagiannya. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian.istri. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Pertama dengan cara pembagian. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. dan anak perempuan. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain.dari dua pilihan yang ada. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: . Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek.

kakak. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakek. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. menerima sepertiga (1/3). maka itulah bagian kakek. 2. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan sisanya dibagi dua. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. Yang pasti. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). dengan pembagian. dan saudara kandung laki-laki. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya.1. dan sisanya dibagikan kepada para saudara.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Yaitu. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Misalnya. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid.

kakek. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. anak perempuan setengah (1/2). dan sepuluh saudara kandung perempuan. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). yakni saudara kandung laki-laki. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. kakek. E. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. ibu. ibu mendapatkan seperenam (1/6). seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.setelah diambil hak sang ibu. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. kakek. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. haknya menjadi gugur. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). dan tiga saudara kandung perempuan. seorang anak perempuan. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. . lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. yaitu sepertiga. kakek seperenam (1/6). jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. kakek. Untuk keadaan seperti ini. nenek. dan kakek mendapat seperenam (1/6). dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. mereka dianggap satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. maka saudara seayah mahjub. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". dan empat saudara kandung laki-laki. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. dan sang kakek juga seperenam. Akan tetapi. suami. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Dalam contoh pertama. nenek seperenam (1/6). sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek.

Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. dan dua orang saudara perempuan seayah. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung.dalam contoh ini adalah ibu. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. seorang saudara kandung laki-laki. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Oleh sebab itu. kakek. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. tanpa menggunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. kakek sepertiga (1/3).keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. dan dua orang saudara seayah. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Sisanya barulah untuk mereka. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. yaitu sepertiga (1/3). Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Pada contoh kedua ini. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). dan seorang saudara perempuan seayah. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Tabelnya sebagai berikut: . saudara kandung perempuan. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. kakek. Kemudian.seorang saudara laki-laki seayah.

ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). Akan tetapi.Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. Setelah ditashih. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. bagian. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Sebab. suami mendapat setengah (1/2).). dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . kakek. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. penj. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit.a. ibu enam (6) bagian. dan seorang saudara kandung perempuan. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. cucu. Oleh sebab itu.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Berikut ini saya sertakan tabelnya. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. 6 10 18 2 F. cicit. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. ibu. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. kakek delapan (8) bagian. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. dan seterusnya). Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. Misalnya. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. Sebab. Di samping itu. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita.

padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. 9 6 8 4 3 2 1 0 VII. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.ditashih. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah.." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . seperti yang difirmankan-Nya: ".. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. Wallahu a'lam. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Bila ada salah satu yang diubah. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.

Bagian suami setengah berarti satu (1). Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Begitu juga sebaliknya.a. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. dan sisanya menjadi bagian ayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). Yang masyhur dalam ilmu faraid. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. dan siapa yang diakhirkan." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. dan delapan (8). Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Dengan demikian. saudara kandung laki-laki.meski bagian mereka menjadi berkurang." Secara lebih lengkap.furudh yang ada -. dan saudara kandung . Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. tiga (3). Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak.. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. C. berarti mendapat bagian satu (1). seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). sedangkan yang empat tidak dapat. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r.. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. B. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3).a. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan.tidak pernah terjadi. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. Namun demikian. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). dan dua puluh empat (24). Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Contoh lain. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. dua belas (12). Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. jadi ibu mendapat satu bagian. dan ayah dua bagian. yaitu dua (2). Sebab bila aku berikan hak suami. empat (4). Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian.

karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). dan seorang saudara perempuan seibu. dan saudara kandung perempuan. sembilan. anak perempuan. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan dua puluh empat (24). seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. delapan. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. saudara kandung perempuan. dan saudara perempuan seibu. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). Lebih jelasnya. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Lebih dari angka itu tidak bisa. yakni dapat naik menjadi tujuh. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. lima belas (15). bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. namun hanya untuk angka ganjilnya.berarti satu bagian. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. ibu. ibu. atau sepuluh. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Lebih dari itu tidak bisa. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Namun. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. anak perempuan. Sebagai misal. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. Contoh kasus yang lain. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. saudara kandung perempuan . perlu kita simak contoh-contohnya. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. dua belas (12). bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. yakni tiga per delapan (3/8). dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". atau tujuh belas (17).perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Dengan demikian. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian.

ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12).berarti dua bagian. berarti delapan . Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dua orang saudara perempuan seayah. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan dua orang saudara laki-laki seibu. 2. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. dan seorang saudara perempuan seibu. yaitu delapan per enam (8/6). jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. yaitu lima belas bagian. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. yaitu tiga belas. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. Oleh karena itu. yaitu enam banding sepuluh (6:10).setengah (1/2) berarti tiga. Bila demikian. yaitu menjadi tiga belas (13). Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. delapan orang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. lima belas (15). Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). ibu seperenam (1/6) berarti satu. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. dan dua orang saudara perempuan seibu. ibu. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. ibu. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. seorang saudara kandung perempuan. dua orang saudara kandung perempuan. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). seorang saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dan empat orang saudara perempuan seibu. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). atau tujuh belas (17). 2. ibu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. dan dua orang saudara kandung perempuan. dua orang nenek. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya.

Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris.' Lalu keduanya kembali.bagian. D. Sekali lagi ditegaskan. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. anak perempuan. mengikuti jejak . Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. ayah. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. yakni tujuh belas berbanding dua belas. dan tidak ada 'aul. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. dan tidak dapat di-'aul-kan. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Selain itu. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. 2. dan tidak ada 'aul. maka pokok masalahnya dari tiga (3). pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. maka pokok masalahnya dari delapan. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). maka pokok masalahuya dari empat (4). maka pokok masalahnya dari dua (2). dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Catatan 1. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ibu. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3).

-maka tidak mungkin ada arradd. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2.mereka semula. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. . kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . F.. Sebagai misal. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. G.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. kecuali suami dan istri. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. Artinya. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. ada sisa harta waris. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. E.. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd.

maka pokok masalahnya dari tiga. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. Sebagai misal. karena jumlah bagiannya ada empat. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh lain. semuanya berhak mendapat bagian setengah. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. maka pokok masalahnya dari sepuluh. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. disebabkan bagiannya sama. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Contoh-contoh keadaan kedua 1. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. sesuai jumlah ahli waris. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. yakni tiga. bagi ibu seperenam (1/6). Maka pembagiannya. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). Misal lain. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. Maka pokok masalahnya dari empat. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. dan seterusnya)-. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. atau seperempat. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Sebab. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. Keempat macam itu: 1. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. dan dengan adanya suami atau istri 2. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. serta saudara laki-laki . adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. Maka pokok masalahnya dari dua. dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. H. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Sebagai misal. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris.

dan itulah pokok masalahnya. Begitu seterusnya. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. berarti mendapat satu bagian. Maka pokok masalahnya dari empat. setiap anak memperoleh tiga bagian.seibu. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. Maka jumlah bagiannya adalah lima. dan saudara perempuan seibu. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Contoh lain. dan itulah pokok masalahnya. disertai salah satu dari suami atau istri. Sebagai misal. berarti lima bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Hitungan ini perlu pentashihan. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. saudara perempuan seayah. Dengan demikian. Misal lain. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). yaitu istri. serta seorang saudara perempuan seibu. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Contoh lain. anak perempuan. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). Maka pokok masalahnya lima. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. serta lima orang anak perempuan. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. yakni sesuai jumlah kepala. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. 2. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dua orang saudara laki-laki seibu. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. Oleh karena itu. Maka pokok masalahnya empat. karena jumlah bagiannya adalah lima. karena jumlah bagiannya empat. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Pokok masalahnya adalah delapan. .

Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. yaitu istri. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. yakni seperempat (1/4). Sisanya. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan tabaayun (perbedaan). Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri.asal pokok masalahnya dari enam.asal pokok masalahnya dari delapan. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). mana yang paling tepat. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. . tawaafuq (sepadan). dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. yakni tiga bagian. dua orang anak perempuan. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. Apabila istri mengambil bagiannya. karena itulah jumlah bagian yang ada. nenek. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). yakni istri. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima).Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. dan ibu. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. yakni tiga bagian. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. yakni yang seperdelapan. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. dan dua orang saudara perempuan seibu. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. secara fardh dan radd. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada.

dengan radd. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Jadi. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Karena itu.Kini. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. penj.). yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. Dalam hal ini. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. hingga pembagiannya benar-benar adil. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. . ditambah bagian kedua anak perempuan. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. berarti ia mendapat lima (5) bagian. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65.

terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Misal lain. Maka pokok masalahnya dari dua (2). dua laki-laki dan tiga perempuan. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). atau yang mutabaayinah (saling berbeda). sepertiga (1/3). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . begitu seterusnya.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. berarti itulah pokok masalahnya. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). Misalnya. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. maka pokok masalahnya dari sepuluh. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6).maka pokok masalahnya dari enam (6). bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Artinya. Misalnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. dan seperenam (1/6). atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Akan tetapi. dan seperdelapan (1/8). Sebab. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). 1/8). Misalnya. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. Misalnya. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.Untuk mengetahui pokok masalah. seperempat (1/4). Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). maka pokok masalahnya dari enam (6). seperempat (1/4). Kedua: bagian dua per tiga (2/3). dan demikian seterusnya. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. 1/3. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Untuk memperjelas masalah ini. misalnya ada yang berhak setengah. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. 1/4. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2.maka pokok masalahnya dari delapan (8). bila dalam suatu keadaan. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. maka pokok masalahnya dari empat (4). seperenam. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Kemudian. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). dan sebagainya-. maka pokok masalahnya dari lima. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. maka pokok masalahnya sebelas. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). Contoh lain. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. 1/4. dan satu wanita satu kepala.

seseorang wafat dan meninggalkan suami. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. dan seorang saudara laki-laki kandung. atau salah satunya. Apabila dalam suatu keadaan. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). yang merupakan kelompok kedua. pokok masalahnya dari dua belas (12). saudara laki-laki seibu. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. ibu sepertiga (1/3). atau semuanya. Bila tidak tersisa.mengetahui pokok masalahnya. Apabila dalam suatu keadaan. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. ibu seperenam (1/6). perlu saya utarakan beberapa contoh. maka pokok masalahnya dari enam (6). Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). ibu. Apabila dalam suatu keadaan. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. sedangkan paman sebagai 'ashabah. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). ibu. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). dua orang saudara laki-laki seibu. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan paman kandung. Maka berdasarkan kaidah. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . maka ia tidak berhak menerima harta waris. 2. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. Berdasarkan kaidah yang ada. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6).dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. Misalnya.

anak perempuan. A. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. at-tawaafuq (saling bertautan).Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. (8 : 2 x 6 = 24). ibu. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). . dan saudara kandung laki-laki. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Yaitu. Namun. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Apabila pokok masalah --harta waris-. Maka berdasarkan kaidah yang ada. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). dan bagian ibu seperenam (1/6). maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. anak perempuan setengah (1/2). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6).dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Begitulah seterusnya.

attadaakhul. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Misalnya. maka kedua bilangan itu tadaakhul.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. dan seterusnya. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. Misalnya. dan at-tabaayun. Pada hakikatnya. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. Misalnya.). Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. at-tawaafuq. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. angka tiga berarti sama dengan tiga. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. angka delapan (8) dengan angka empat (4). lawan kata dari "keluar". sehingga tidak . Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. penj. Misalnya angka 7 dengan angka 4. demikian seterusnya. Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. yakni 'masuk'. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. dan lima sama dengan lima. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. angka 5 dengan 9. yakni 'sama bentuknya'. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. angka 8 dengan 11. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. maka disebut tabaayun. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. B. Selain itu. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9).Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain.

Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. empat anak perempuan. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. penj. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. dan empat saudara kandung perempuan. dua saudara perempuan seibu. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian.mengurangi ataupun menambahkan. dan bagiannya 2/3 dari 6. Untuk lebih memperjelas masalah ini. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Namun. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. berarti 4. . Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Contoh lain yang at-tamaatsul. maka tiap orang mendapat satu bagian. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. ayah. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. maka setiap orang mendapat satu bagian. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. maka ada kesamaan. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Maksudnya. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Dengan demikian. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. (Misalnya. ibu.). Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). setiap anak menerima satu bagian. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian.

yakni 3 x 12 = 36. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. berarti 3 x 9 = 27. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan).Contoh masalah yang at-tawaafuq. seseorang wafat dan meninggalkan suami. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. dan paman kandung. yakni angka enam (6). dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). ibu. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. ibu. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Itulah tashih pokok masalah. enam saudara kandung perempuan. sedangkan bagian saudara . Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. yaitu dua (2). ayah. yaitu dua (2). ayah memperoleh 1/6 berarti 4. dan saudara kandung laki-laki. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. lima anak perempuan. Bagian istri 1/8 = 3. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. seseorang wafat dan meninggalkan suami. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). berarti empat bagian. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). Maka 2 x 6 = 12. Setelah pentashihan. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. berarti tiga (3). seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. anak perempuan. Contoh lain. Misal lain. Contoh lain. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). dan saudara kandung laki-laki. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. berarti dua bagian.

Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Misal lain. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). sedangkan saudara seibu mahjub. tujuh anak perempuan. berarti 7 x 4 = 28. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. yakni 27 x 5 = 135. dan saudara laki-laki seibu. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. dua orang nenek. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka.kandung laki-laki mahjub (terhalang). empat saudara kandung laki-laki. kedua nenek 1/6-nya = 4. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun).

Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. atau tanah. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain.contoh yang lain. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. benda. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. ibu. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. anak perempuan. dan ibu. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. baik berupa harta. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. suami. ayah. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. C. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. Jadi. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah.

Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. Jadi.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3.000 dinar. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dua anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan.000:12 = 250 dinar Jadi. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Cucu pr. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1. dan harta peninggalannya 3. bagian masing-masing ahli waris: Jadi. 960 dinar: 24 = 40 dinar. ayah. dan tiga saudara kandung laki-laki. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian).000 dinar 1. ibu. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.

ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. dan nenek.100 dinar Total = = = = = 3.100 dinar 1. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.000 dinar Contoh lain. ibu. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).900: 9 = 1.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3.200 dinar 9.100 dinar Jadi.100 dinar 1. dua saudara lakilaki seibu. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian).900 dinar. saudara kandung perempuan. dua anak perempuan. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 .300 dinar 2.300 dinar 3. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.200 dinar 2. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh.100 dinar 1. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13.

anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. ibu. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. 12 Cucu pr. ket. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. saudara laki-laki seayah. ket.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. suami. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. dua saudara kandung perempuan. Sedangkan .

('ashabah) Saudara perempuan seayah.500 dinar. pr. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. delapan (8) saudara perempuan seayah. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. pr. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). dan sisanya --dua bagian-. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. ket. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). dua (2) orang nenek. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian).mahjub. seayah Ke-4 sdr. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr.harta peninggalan sebanyak 1. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. dan empat (4) saudara perempuan seibu. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian).menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. Sedangkan ahli waris yang lain ter. Contoh masalahnya. Harta peninggalannya: 17 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . anak laki-laki Dua saudara kandung pr. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).

ibu." Ali berkata. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. dua anak perempuan. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. 12 saudara kandung laki-laki. ibu.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. seseorang wafat meninggalkan istri. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. dua anak perempuan. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Tetapi. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). Jadi. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. . "Ya. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian). yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ali bin Abi Thalib r. "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. Ali bin Abi Thalib bertanya. Dengan demikian. dua belas saudara kandung laki-laki. benar. yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar.Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Wallahu a'lam bish shawab.a. dan seorang saudara kandung perempuan.

Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan).IX. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Ketika sang suami meninggal. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Namun. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Jadi. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. seseorang mempunyai dua orang istri.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah.. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Misalnya.. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Bila salah seorang ahli waris meninggal. Kemudian. HUKUM MUNASAKHAT A. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. yakni dari . sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. Misalnya.

Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Karena itu. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. Merinci masalah baru. dua saudara kandung perempuan. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Sebagai contoh. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris.ada mumatsalah (kesamaan). yaitu enam (6) bagian. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). Kemudian. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. Jadi. jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. mereka mahjub. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. Karena itu. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). B. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. Kemudian. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. maka 3 x 4 = 12. Kemudian. disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. 2. dan seorang saudara kandung laki-laki. termasuk hak ahli waris yang meninggal. Berikut ini saya sertakan tabelnya: .ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Maka. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). al-muwafaqah. berarti 3 x 12 = 36. tanpa mempedulikan masalah pertama. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. yaitu almumatsalah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). dan al-mubayanah. khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian).

istri. kandung lk. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Kemudian. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. dan dua anak laki-laki. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. cucu perempuan keturunan anak lakilaki.Jumlah kepala 12 3 anak pr. tiga anak perempuan. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. . kandung lk. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. Sdr. ibu. ibu 1/6 (4 bagian). dan dua anak perempuan. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. berarti dua bagian. Oleh sebab itu. ayah. kandung pr. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. kandung pr. kandung pr. ayah. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). keturunan anak lk. 2/3 Sdr. Sdr. Jumlahnya lima belas (15) bagian. Sdr. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Dalam keadaan demikian. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. ibu. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. dan saudara laki-laki seibu. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). yaitu dua puluh empat (24). Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). ibu. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). ibu.

berarti 3 x 13 = 39. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan paman kandung (saudara ayah). Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. dua saudara kandung perempuan. Kemudian anak perempuan juga meninggal. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr.Kemudian. kemudian ada lagi yang meninggal. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). Misalnya. dan ibu. Misalnya. dan seterusnya. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. dan dua saudara laki-laki seibu. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. dan seterusnya. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. dan meninggalkan nenek. ayah. dan seterusnya. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . seseorang wafat meninggalkan suami. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. aljami'ah ketiga. dan tashih ketiga pada posisi kedua. saudara perempuan seibu. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. Maka jika terjadi hal seperti ini.

Pertama. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. 2/3 2 sdr. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya.Suami 1/2 Sdr. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. lk. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya.ialah seratus ribu dirham. dan cara kedua. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. kandung pr. salah seorang istrinya. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. atau siapa saja yang ditunjuknya. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. . Numadhir binti al-Asbagh. saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada.pr.a. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. Ketika ia wafat.

Lalu sisanya (yakni 24 .000 + 18.000.000 = 42.000: 21 = 2. Misalnya. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya.000 Bagian ayah 9 x 2. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. seorang anak perempuan. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.000.000. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan.000 Total = 24.000.000. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. dan dua anak laki-laki. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. berarti tiga (3) saham. Maka.000 = 18. Kemudian. Kemudian sebagai misal.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. dan uang sebanyak Rp 42 juta. anak perempuan. Dengan demikian.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya.000 = 24. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . pewaris meninggalkan sebuah rumah. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. pokok masalahnya dari delapan. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. dan sisanya --yakni tujuh bagian-.000. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000. X.adalah bagian anak perempuan.000. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Dalam keadaan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.000. dan istri.Sebagai contoh.

. . Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Misalnya. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. paman (saudara laki-laki ibu). ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. B. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r.rahim yang menyatukan asal mereka. Dengan demikian. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. dan (peliharalah) hubungan silaturahim.. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. Muslim. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. bila tidak ada ashhabul furudh. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. Ibnu Mas'ud. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. dan Ali bin Abi Thalib. Maksudnya. dan juga merupakan pendapat dua imam. Dengan demikian. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. di antaranya Umar bin Khathab. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Jadi. dan sebagainya. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham.a. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Allah berfirman: ".a. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. Jadi. dan Ibnu Abbas r. cucu laki-laki dari anak perempuan.. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. dalam sebagian riwayat darinya. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat.

mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an. serta selain keduanya.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. As-Sunnah. para 'ashabah.. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Namun sebaliknya. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. dan logika. Harta peninggalan. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". maka tidak pula kepada kerabat yang lain. para ''ashabah." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk . tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. 3.2. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. Di sini. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. kerabat lain pun demikian.beliau saw. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. atau selain dari keduanya-. Pendek kata. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. bila diserahkan kepada kerabatnya. Adapun golongan kedua. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim.. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. baik ashhabul furudh. termasuk ashhabul furudh. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Rasulullah saw. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. Jadi. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. Sebab.

maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Alasannya.a. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya.a. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. yakni saudara laki-laki ibunya. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. Dengan turunnya ayat ini. Umar bin Khathab r. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. dari ayah dan dari ibu. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. Dengan demikian. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat.--. Oleh sebab itu. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. bertanya kepada Qais bin Ashim. maka Rasulullah saw. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. dalam riwayat ini dikisahkan. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Oleh karena itu. baik sedikit ataupun banyak. Sebab. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. ikatannya dari dua arah. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Dengan pemberian Rasulullah saw. sedangkan saudara . "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Sebab. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan.

C. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. bibi (saudara perempuan ayah). Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada.jawaban Rasulullah saw." Melihat kenyataan demikian. Misalnya. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu.seayah hanya dari ayah. persatuan dan kesatuan muslimin. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. Maka muncul pertanyaan. dan amanah. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. . Atau. dan imam mujtahidin. Di antaranya. Dengan demikian. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. bibi (saudara perempuan ibu). Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. tabi'in. Di samping itu. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. Jadi. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. Sebagai contoh. adil. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. 1. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. khususnya pada masa kita sekarang ini. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus.

keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. Dengan demikian. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. 1/6. Mazhab ini tidak masyhur.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. dan saudara laki-laki seayah. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. sdr. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. dan paman kandung. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan.. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. 3/6. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. dan sepertiga lagi diberikannya . saudara perempuan seayah. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. saudara perempuan seibu. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. Pr.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. laki-laki seayah mahjub. yakni pokoknya. 1/2. pr. karena itu ia mendapatkan sisanya. seayah 1/6. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). saudara kandung perempuan. pr. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. 2. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. 2. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. bahkan dhaif dan tertolak. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. kandung pr. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. seibu paman kand. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. 1/2. Oleh karena itu. kand. Inilah gambarnya: Sdr. sdr. Sdr. Sdr.

Maka. yang tampak sangat logis. Yang dinisbati oleh pewaris: a. Selain itu. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). Keempat golongan tersebut adalah: 1. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. . Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Kakek yang bukan sahih. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. b. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. menurut mereka. baik laki-laki ataupun perempuan. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. Sebagaimana telah diungkapkan. baik laki-laki ataupun perempuan. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Hal ini. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. Oleh karena itu. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita.a. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. dan seterusnya. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. 2. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. dan seterusnya. 3.kepada bibi (dari pihak ibu). kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris.a. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Di samping itu. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Sebab. Selain itu. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka.

seayah. cucu. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. Dengan demikian. Jika tidak ada. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. dan seterusnya. ibu dari ibu ayahnya ibu. seibu. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. atau seayah. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Keturunan saudara kandung perempuan. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. baik yang kandung maupun yang seayah). dan juga paman nenek. maka pokoknya: ayah. kakek.. Jika tidak ada juga. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. dan seterusnya. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. atau seibu. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". 2. baik bibi kandung. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. b. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. atau yang seayah. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . Bibi dari ayah pewaris. dan paman (saudara ayah) ibu. Paman kakak yang seibu. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. menurut ahlul qarabah. dan seterusnya. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. Bila mereka tidak ada.dari kakek dan nenek.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. seayah. dan seterusnya). ataupun seibu. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. b. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). baik yang kandung. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu.b. atau yang seibu. dan bibi (saudara perempuan ibu). Bila mereka tidak ada. Nenek yang bukan sahih. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a.

Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Artinya. Begitu seterusnya. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Hanya saja. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. 2. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. Dan bila ada shahibul fardh. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. Begitulah seterusnya. Dengan demikian. Misalnya. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Tidak ada penta'shib ('ashabah). Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. maka pembagiannya dilakukan secara merata. 2. Dalam contoh ini. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. D. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya.mereka. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. dan seorang anak perempuan dari anak paman . Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Misalnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. Tidak ada shahibul fardh. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. Misalnya. setelah diambil hak para shahibul fardh. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. maka ia akan menerima sisanya. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Dengan demikian. Sebab. Misalnya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Namun. jika ada shahibul fardh. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu.

setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). Oleh karena itu. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Atau dengan redaksi lain. maka ia divonis sebagai laki-laki dan . terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan.). penj. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. dan para ulama mazhab Hanafi. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". Sebenamya.a. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. Sebab. khanatsa wa takhannatsa. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Oleh karenanya. artinya tidak ada kejelasan. Misalnya. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. XI. Selain itu.kandung yang lain. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Bila urinenya keluar dari penis. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. Namun. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan.

bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Misalnya. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Ia berkata: "Wahai kaumku. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. penj. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Melihat sang majikan gelisah. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. Mazhab Syafi'i berpendapat. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. lihatlah jalan keluarnya air seni. Mazhab Maliki berpendapat. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Ketika Islam datang.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Namun. Maksudnya.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. apakah ia tumbuh kumis. ia dinyatakan sebagai perempuan. dikukuhkanlah vonis tersebut. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Di samping melalui cara tersebut. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. apakah tumbuh payudaranya. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. C." B. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. apakah ia haid atau hamil. maka ia sebagai laki-laki. bahwa Rasulullah saw. tetapi bila keluar dari vagina. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Bila keluar dari penis. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin.a." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. . Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya.). Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. dan sebagainya. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. dan tidak menerima vonis tersebut. 2.

3.'aul-kan. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Bahkan. seorang anak perempuan. ibu. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki.yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). dan saudara laki-laki banci. maka gugurlah hak warisnya. ibu enam (6) bagian. seperti dalam masalah al-munasakhat. saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. 2. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. dan seorang anak banci. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. maka pokok masalahnya dari lima (5). maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. dan bagian anak banci lima (5). Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. dan . dan saudara laki-laki seayah banci. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. dan sisanya kita bekukan. maka pokok masalahnya dua (2). Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. maka divonis sebagai laki-laki. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian.

baik laki-laki maupun perempuan. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Berkaitan dengan hal ini. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Bagian suami enam (6).penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. Secara ringkas dapat dikatakan.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. Dengan demikian. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. Namun demikian. kdg. dan satu atau kembar. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. pr.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. Adapun sisanya. Setelah itu. pr. Karena itu. 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. 1/2 Banci lk. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. yakni dua (2) bagian dibekukan. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. pr. ibunya mengandungnya dengan susah payah. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. 1 1 Suami 1/2 Sdr." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. laki-laki atau perempuan. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. kdg.. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ..

. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). atau yang semacamnya. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil.a.a. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. mau menyusui ibunya. E. Dengan demikian. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi.ada. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan)." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. menurut mazhab Hanafi. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. dan ia dianggap tidak ada. Bahkan.. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. bersin. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup." Pernyataan Aisyah r. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. maka tidak berhak mendapatkan waris. Kelima keadaan tersebut: 1. 2. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. ia tidak berhak mewarisi. F.

Setelah janin lahir dengan selamat. 2. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Sebagai misal. apabila yang lahir anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. Namun. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. tiga saudara perempuan seibu. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. Sebagai misal. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). maka hak warisnya diberikan kepadanya. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Namun. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Bila yang lahir anak laki-laki. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. Bila yang lahir bayi perempuan. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). dan istri ayah yang sedang hamil. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. Namun. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. Pokok masalahnya dari empat (4). atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. Sebagai ahli waris tunggal. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. ayah. ibu. Contoh lain. bila ternyata bayi tersebut perempuan. paman (saudara ayah). tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan.

dan ayah. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dibekukan. Sebagai misal. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-.Ibu 1/6 3 sdr. Dengan demikian. Inilah tabelnya. dalam kedua keadaannya. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. sbg. Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. seibu 1/3 Sdr. Jadi. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). 'ashabah Sisanya satu (1). Sebagai contoh. Dalam keadaan demikian. ayah seperenam (1/6). Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. baik ia laki-laki ataupun perempuan. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). Sebab. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). dan bagian istri seperdelapan (1/8). pr. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. ibu. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). saudara perempuan seayah. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris.pr. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. boleh jadi. Atau terkadang terjadi sebaliknya. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. maka kita sisihkan bagian warisnya.

pr. dan aku menjamin terhadapnya. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. TENGGELAM. dan . al-mafqud berarti orang yang hilang. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. Bila janin itu lahir dengan hidup normal." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. 1/2 Sdr. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. pr. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. Akan tetapi. Contoh lain. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. kdg. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). terputus beritanya. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. Sebagai misal. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG.6 Sdr. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. pr. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. DAN TERTIMBUN A. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. Karenanya. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. anak perempuan setengah (1/2) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. 1/2 Sdr. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. Sebab. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. kdg. pr.

seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan.tidak diketahui rimbanya. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. Bila usai masa idahuya. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. maka hendaknya dia bersabar. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. Dalam riwayat lain. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. Sementara itu. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu.a. hartanya tidak boleh diwariskan. dari Imam Malik. Dalam riwayat lain. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. Karena menurut Imam Syafi'i. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. apakah dia masih hidup atau sudah mati. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90)." B. atau menjadi salah seorang penumpang . Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada.telah mati. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. Akan tetapi. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. yaitu empat bulan sepuluh hari. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. Namun. dari Abu Hanifah.

Karena itu. 2. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Demikian juga istrinya. saudara laki-laki seayah. Sedangkan pada keadaan kedua. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada.kapal yang tenggelam-. C. Menurut hemat penulis. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. ia dapat menempuh masa idahnya. dan dua saudara perempuan seayah. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Kapan saja hakim memvonisnya. maka itulah yang berlaku. atau untuk menuntut ilmu. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Namun. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. seperti pergi untuk berniaga. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). hendaknya ia . Maksudnya. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). melancong. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. Pertama. Sebab. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Sebagai contoh. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Misalnya. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. Namun. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. Karena itu. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. saudara kandung perempuan. Misal lain. atau banyak perampok dan penjahat. Kedua. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. dan anak laki-laki yang hilang.

yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. kdg. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). ibu seperenam (1/6). dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya).diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. hlg 1 Sdr. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. kdg. Dalam contoh tersebut. ibu. pr 1 1 Sdr. kdg. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. pr 1 Sdr. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Namun. kdg. hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. saudara kandung perempuan. kemudian membekukan sisanya. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. hdp. seseorang wafat dan maninggalkan istri. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. saudara laki-laki seayah. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. bagian istri adalah seperempat (1/4). Sebagai contoh. saudara kandung. kdg. lk. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. ibu. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. dan cucu laki-laki dari . lk. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. Namun. Dalam keadaan demikian. atau tanpa ada yang dibekukan). kdg.

(hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.pr. lk. mahjub Sdr.lk. (mahjub) Sdr. dan anak laki-laki yang hilang.dr.anak.lk. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.anak. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. hdp. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 8 Anggapan sdh. hdp. saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan suami.pr. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh. saudara kandung perempuan. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. hdp.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. mati 12 24 .keturunan anak laki-laki. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. anak paman kandung (sepupu).lk. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. mati Suami 1/4 Cucu pr. (hilang) 3 Anak lk. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr.kdg.kdg. (hilang) 17 Cucu lk. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. Suami 1/4 Cucu pr.dr. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk.kdg.

sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). lk. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. tanpa diduga. lk. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. (hilang) 4 Cucu pr.seibu (mahjub) Sdr. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh... (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. dan cobaan. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. 'ashabah 3 Sepupu.lk. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Sayangnya. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . Misalnya. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali". Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". ujian. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban.lk. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. lalu mengalami kecelakaan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. D.

anak perempuan yang pertama setengah (1/2). begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. amin. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Dialah Yang Maha Kekal. Sebagai contoh. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Menurut ulama faraid. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Misal lain. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. dan anak paman kandung (sepupu). seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Kemudian. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. seluruh isi langit dan bumi. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. ." Hal demikian. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. Begitulah seterusnya. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. harta ketiga anak laki-laki. pengatur alam semesta. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Sebagai contoh. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. anak perempuan. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. menurut para ulama. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. Yang satu meninggalkan istri. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3).

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. para sahabatnya. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. jika anak perempuan itu seorang saja. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Mekah." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Yaitu. Jika seseorang mati. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. maka ibunya mendapat seperenam. maka ibunya mendapat sepertiga. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. Ini adalah ketetapan dari Allah. junjungan kita Muhammad saw. Jika kamu mempunyai anak. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. . dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang.tidak akan rusak dan tidak akan mati. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. jika mereka tidak mempunyai anak. maka ia memperoleh separo harta." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu.

dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan." (an-Nisa': 176) . maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. supaya kamu tidak sesat. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. jika ia tidak mempunyai anak.baik laki-laki maupun perempuan. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->