A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh).' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . Sebab menurut anggapan mereka. anak-anak. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Jadi. serta tidak pula berperang melawan musuh. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. Islam memberi mereka hak waris. tidak mampu memanggul senjata. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. tanpa direndahkan. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak. wanita. 1 B.a. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya.. suami. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. baik dari harta peninggalan ayah. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). pangan. suami. ayah.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). kedua orang tua." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. dan istri-. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. --berupa ayat-ayat tentang waris-.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. dan papan. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. Sementara itu. baik berupa sandang. maupun kerabat mereka.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Bagian suami: 1. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Bagian istri: 1. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Sementara itu. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. baik laki-laki maupun perempuan. Yang pertama dalam ayat ini. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. . yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Jika kamu mempunyai anak. 2. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). mendapat separo harta peninggalan." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Jadi. 2. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu.dibandingkan saudara seibu.(dan) sesudah dibayar utangnya. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka istri mendapat bagian seperdelapan. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Sementara itu. jika sendirian. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. Oleh karenanya. Dengan demikian. maka bagian istri adalah seperempat. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.

baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. . Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Adapun bila pendapat ini salah. dan tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala.2. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. maka karena dariku dan dari setan. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. Jadi. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. Begitulah hukum bagi saudara seayah. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. 1. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. 2. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Jadi. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Menurut saya. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". maka wajib untuk tidak dilaksanakan.. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. misalnya. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak.a.

tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal.. cucu." (an-Naml: 16) ".: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. atau dari suatu kaum kepada kaum lain.. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. Oleh karena itu. . Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Dan Kami adalah pewarisnya. istri. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris.. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Definisi Waris Al-miirats. suami. kecuali hukum waris ini. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang).. kakek. ibu. tanah. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya).II. dan ijma' para ulama sangat sedikit. ayah. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris.. paman. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. apakah dia sebagai anak. demikian pula sabda Rasulullah saw. dari seluruh kerabat dan nasabnya. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). baik berupa harta (uang) atau lainnya. Jadi. besar atau kecil. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun.

Menurut jumhur ulama. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. seperti belum membayar zakat. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . Pendapat mazhab ini. dengan catatan tidak boleh berlebihan. biaya pemakaman. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Namun. 2. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. sejak wafatnya hingga pemakamannya.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. menurut mereka. Padahal. biaya memandikan. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Di antaranya. pembelian kain kafan. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. bila sang mayit berwasiat. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Artinya. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. atau belum memenuhi kafarat (denda). tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. atau belum menunaikan nadzar. Akan tetapi. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. menurut saya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1.

ayah. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Ashabat nasabiyah. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. 3. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. dan ijma'. paman . Setelah ashhabul furudh. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Bahkan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. Padahal secara syar'i. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan." 4. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya.. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. suami. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. As-Sunnah. bersabda: ". Sementara itu. dan lainnya). Misalnya anak laki-laki pewaris. dan kesepakatan para ulama (ijma'). Ashhabul furudh. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. saudara kandung pewaris. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. cucu dari anak laki-laki pewaris. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. baru kemudian melaksanakan wasiat. As-Sunnah. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Catatan: Pada ayat waris. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya.setelah ashhabul furudh menerima bagian). misalnya ibu. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Sepertiga. dan sepertiga itu banyak. B. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. istri. termasuk diambil untuk membayar utangnya.a. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. Oleh karena itu. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Rasulullah saw. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya..warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba.

bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya. Misalnya. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. seperti kedua orang tua. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. dan sebagai 'ashabah. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Baitulmal (kas negara). Hak waris secara tambahan. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. cucu laki-laki dari anak perempuan. dan . seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. B. tidak pula 'ashabah. Hak waris secara pertalian rahim. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). artinya bukan salah seorang dan ahli waris. 2. bibi (saudara ayah). Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. saudara. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Dengan demikian. Misalnya. Ashabah karena sebab. Mewariskan kepada kerabat. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). C. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. anak. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Maka. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. bibi (saudara ibu). dan seterusnya. Misalnya. D. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. paman (saudara ibu). Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Bentuk-bentuk Waris A. paman. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Yang dimaksud di sini ialah orang lain.kandung. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri).

dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. tanah. Sebagai contoh. kecuali setelah ia meninggal. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). termasuk jumlah bagian masing-masing. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. baik berupa uang. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Harta warisan. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. 2. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. E. Pewaris.seterusnya.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. F. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. karena bagaimanapun keadaannya. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Sebagai contoh. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. 2. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Pernikahan. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. atau lainnya. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. 2. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. yakni orang yang meninggal dunia. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. dan sebagainya. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. Hal ini harus diketahui secara pasti. Al-Wala. Ahli waris.

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Misalnya. kerabat. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). atau saudara seibu. secara langsung menjadi milik tuannya. Alhasil. 2. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). Misalnya. Sebab. tertimpa puing. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. saudara seayah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. membayar diyat. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. atau membayar kafarat. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. dalam hal ini ada tiga: 1. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. maka dia tidak mendapatkan bagiannya.meninggal-. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. atau tenggelam. G.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. dan sebagainya. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). serta ada yang tidak terhalang. istri. ada yang karena 'ashabah. misalnya suami. Para fuqaha menyatakan. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya.

atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. menurut mereka. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. Menurut penulis. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Ibnu Mas'ud. dan lainnya. seperti membunuh atau berbeda agama.rajam. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Sebagai contoh. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Maksudnya." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim.a. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. Karena itu. Wallahu a'lam. apa pun agamanya. tidak ada yang mengunggulinya). 3." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. yakni murtad. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib. seperti ditegaskan Rasulullah saw. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Sementara itu. Sebab. Menurut saya. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. adanya kakek bersamaan . Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. dalam haditsnya. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Syafi'i. termasuk keempat imam mujtahid. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Karena itu. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad.

maka bagian istri seperdelapan.dan seterusnya. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. saudara kandung. (7) saudara laki-laki seibu. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. (5) saudara kandung laki-laki. yaitu 7/8. Kemudian sisanya. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. (10) perempuan yang memerdekakan budak. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). anak kita misalkan sebagai pembunuh. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. (7) saudara perempuan seayah. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (8) saudara perempuan seibu. Jika terjadi hal demikian. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. yaitu ayah. (5) nenek (ibu dari bapak). menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. yaitu ayah pewaris H. (9) istri. serta saudara kandung. sisa harta yang ada. . Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. dan anak --dalam hal ini. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. yaitu tiga per empat harta yang ada.dengan adanya ayah. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. dan seterusnya. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. (10) paman (saudara kandung bapak). (6) saudara kandung perempuan. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. (14) suami. ibu. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (3) bapak. (11) paman (saudara bapak seayah). I. (4) kakek (dari pihak bapak). ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (13) anak laki-laki paman seayah. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (2) ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. Jadi. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. (6) saudara laki-laki seayah. (4) nenek (ibu dari ibu).

Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. seperdelapan (1/8). Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. dengan tiga syarat: a.. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. dua per tiga (2/3). A." (an-Nisa': 12) 2.. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. dan saudara perempuan seayah. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. yaitu setengah (1/2). PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada.III.). Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. saudara kandung perempuan. Rinciannya seperti berikut: 1. b. penj. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). b.. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. dengan tiga . dengan dua syarat: a. 3. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dan seperenam (1/6). baik anak laki-laki maupun anak perempuan.. 4. anak perempuan. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. Dalilnya adalah firman Allah: ". sepertiga (1/3). seperempat (1/4). Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan.

dengan empat syarat: a. baik anak laki-laki maupun perempuan... dan tidak pula anak. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak.. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan.'" (an-Nisa': 176) 5. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki.. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. b. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. ." (an-Nisa': 12) . b. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176).. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. dan tidak pula mempunyai keturunan. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. yaitu suami dan istri. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya.. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Rinciannya sebagai berikut: 1. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat.syarat: a.. Apabila ia hanya seorang diri. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak.

sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Dengan kata lain. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih.. Istri. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Jadi. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r.tentang bagian istri. Dalilnya firman Allah berikut: "... Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Jika kamu mempunyai anak." (an-Nisa': 12) D. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki.. yakni anak laki-laki dari pewaris. bila suami mempunyai anak atau cucu. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . Jadi. Wallahu a'lam. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. . yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . C. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain.a. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. 2....." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.

3.. ayah. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . baik laki-laki atau perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak. Dan dalilnya sama. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat "... Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Dalilnya adalah firman Allah: ... Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan.. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. b. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. E. b. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan).2. Dalilnya adalah firman Allah: ". Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. atau kakek. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Wallahu a'lam. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki." (an-Nisa': 176) 4. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3)." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah.. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. b. 2. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). dengan persyaratan sebagai berikut: a. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.

maka ibunya mendapat seperenam.". Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. Selain itu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja)." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak.. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah... dua orang atau lebih.. Yakni. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Namun. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . juga tidak mempunyai ayah atau kakak. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ".. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Adapun dalilnya adalah firman Allah: "." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. . Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.. maka ibunya mendapat sepertiga. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan.. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum... Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. 2. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Kesimpulannya.

Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. Akan tetapi. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. ibu. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. dan ayah. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. maka ibunya mendapat sepertiga". sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Dalam kasus ini. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. Agar lebih jelas.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. dan ayah. Dengan demikian. saya sertakan contohnya. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. ibu. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--.

. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. 3.a.. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). menurut hemat saya. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Dalilnya firman Allah (artinya): ". (6) nenek asli. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri.a.. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak." (an-Nisa': 11) 2. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r.. Mereka adalah (1) ayah. b. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. 1. baik anak laki-laki atau anak perempuan. tepatnya masa Umar bin Khathab r. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". Jadi. F.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). Dan untuk dua orang ibu bapak. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. (5) saudara perempuan seayah. jika yang meninggal itu mempunyai anak ...a. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. dengan dua syarat: a. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Menurutnya. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. Wallahu a'lam. baik saudara laki-laki . Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Jadi. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. (3) ibu.

Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. Sebab jika lebih dari satu orang. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6)." (an-Nisa': 11)... bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih.. 5. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak . Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2)." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian.a. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6).. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. Dalilnya firman Allah (artinya): ". 6. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Selain itu.. Jadi. baik sekandung. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. seayah. dan saudara perempuan. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. ataupun seibu. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. Dalam keadaan demikian. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Sebab bila ada anak laki-laki.ataupun perempuan." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. maka ibunya mendapat seperenam . 4. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud.

Wallahu a'lam. IV. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.menguatkan dan melindungi. 7. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. untuk menuntut hak warisnya." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak.meninggalkan anak. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. anak laki-laki. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. Sebagai contoh. jika yang meninggal itu mempunyai anak. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. kata ini sering kali digunakan." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. sedang kami golongan (yang kuat). maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. Selain itu. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. Disebut demikian. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ayat tersebut juga telah . dan paman (saudara kandung ayah). dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. baik laki-laki atau perempuan). A.a. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta".

penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. misalnya . agar memberikan hak waris kepada ahlinya. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. Namun. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3).menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). yaitu: 1. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Namun. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Sebab." (an-Nisa': 176). yang pasti hanya dari pihak laki-laki. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. Arah anak. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Dengan demikian. dan seterusnya. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). mencakup ayah. mempunyai empat arah. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. Catatan Dalam dunia faraid. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. Maka jika masih tersisa. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. Arah bapak. Inilah makna 'ashabah. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. Kemudian. kakek. B. Oleh sebab itu. jika ia tidak mempunyai anak. cicit. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. dan seterusnya. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki.

mencakup saudara kandung laki-laki. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. dan seterusnya. Sementara itu. Apabila anak tidak ada. Sebagai misal. dan saudara kandung. Arah saudara laki-laki. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Sebagai misal. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. saudara kandung perempuan. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Arah paman. Rinciannya. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. Dalam keadaan demikian. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. saudara laki-laki seayah. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. saudara laki-laki seayah. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. ayah dari kakak. ayah. dan seterusnya. Sebab. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Misalnya. termasuk keturunan mereka. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. dan seterusnya. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. namun hanya yang laki-laki. Contoh lain. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Pengecualiannya. kemudian mereka pun dalam satu arah.ayah dari bapak. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). 2. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. termasuk keturunan mereka. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri.

" (an-Nisa: 11). bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki.kandung. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. demi kepentingan masa depan anaknya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). semuanya demi kesejahteraan keturunannya. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Wallahu a'lam. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. sedangkan dari . Sedangkan secara aqli. Sebab. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Artinya. Dengan demikian. yakni arah anak dan arah bapak. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Bahkan. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Namun demikian. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. Sebagai contoh. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. dan seterusnya. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Dengan demikian.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Oleh sebab itu.

'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. 2. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Misalnya. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). cucu perempuan keturunan anak lakilaki. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Anak perempuan. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. saudara kandung perempuan. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat.kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . Sebab dalam keadaan demikian. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). dan pembagiannya. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Misalnya. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Sebagai contoh. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. dan saudara perempuan seayah). Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki).

Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . cucu perempuan keturunan anak laki-laki.a.. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Selain itu. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. Kemudian.sama rata. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-.akan menjadi 'ashabah. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. Jadi. dan bagian saudara perempuan separo. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan.. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada.

maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. seperti anak keturunan saudara (keponakan). Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. dan saudara laki-laki seayah. dua orang saudara kandung perempuan. Begitu juga saudara perempuan seayah. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. saudara perempuan. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. dan saudara lakilaki seayah. paman kandung ataupun yang seayah. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . Selain itu. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki.'ashabah ma'al ghair. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki.

Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. seorang ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara perempuan seayah. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan).menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. kemudian sisanya yaitu seperempat-. saudara perempuan seayah. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan.

Begitulah seterusnya. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. Misalnya. . Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. secara ringkas. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Inilah perbedaan keduanya. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. dan ibu mendapatkan seperenam. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. saudara laki-laki seibu. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Agar persoalan ini lebih jelas. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. C. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Jadi. seperti anak laki-laki. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. dan seorang suami. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. Akan tetapi.

sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Jadi. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. dan seterusnya. . PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad.V. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. B. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). Misalnya. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Selain itu. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Misalnya. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Satu hal yang perlu diketahui di sini. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. dan seterusnya. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan.

Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. cucu. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan seterusnya (semuanya laki-laki). kakek. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). dan seterusnya). 2. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan seterusnya). suami. cucu. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. cicit. ayah. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. cicit. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. cucu. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. anak kandung perempuan. kecuali jika ada 'ashabah. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. cicit. cicit. dan istri. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. dan keturunan laki-laki (anak. cucu kandung laki-laki. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. serta oleh saudara laki-laki seayah. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. ibu. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. maka semuanya harus mendapatkan warisan. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). dan juga dengan adanya paman kandung. Selain itu. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. anak. cucu. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. . Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. anak laki-laki. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1.

gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. ibu. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. cucu. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. ayah seperenam (1/6) bagian. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). 2. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Oleh sebab itu. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). ibu. anak perempuan setengah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. dan seterusnya. kakek. yakni saudara laki-laki yang merugikan. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Kemudian. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. kecuali bila adanya 'ashabah. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). ayah juga seperenam (1/6) bagian. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. bapak. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Padahal. cicit. ibu seperenam (1/6) bagian. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. anak perempuan. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. ayah. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Selain itu. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. ibu seperenam (1/6) bagian. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. cucu. cicit. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. Kedua: Untuk lebih memperjelas. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.

(artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. dan imam mujtahidin. sejak masa para sahabat. bila mempunyai saudara laki-laki seayah.karena tidak ada pen-ta'shih." Namun demikian. Sementara itu. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. Ibnu Abbas. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3).karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. Utsman. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. kemudian baru kepada para 'ashabah. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. tabi'in. Sedangkan dalam contoh kedua. Karena. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. Berdasarkan kaidah yang berlaku. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. tabi'in. juga karena para sahabat. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. masalah ini merupakan kasus kolektif. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). tabi'in. ibu. dan imam mujtahidin. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. Namun. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. Ibnu . masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Di samping itu. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. Ali. dan lainnya. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. Contoh permasalahannya sebagai berikut. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. Maka. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki.

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. dan anak perempuan. 2. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Pertama dengan cara pembagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. itulah yang menjadi bagiannya. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3).istri. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: .dari dua pilihan yang ada.

atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. dan saudara kandung laki-laki. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. dengan pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Yang pasti. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. kakek. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. maka itulah bagian kakek. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. dan sisanya dibagi dua. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara.1. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. kakak. menerima sepertiga (1/3). Misalnya.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Yaitu. 2. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-.bagian sang kakek lebih menguntungkannya.

Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). E. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. Untuk keadaan seperti ini. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. dan sepuluh saudara kandung perempuan. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. suami. kakek. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3).setelah diambil hak sang ibu. kakek. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). ibu. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. yaitu sepertiga. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. mereka dianggap satu jenis. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. anak perempuan setengah (1/2). nenek. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka saudara seayah mahjub. haknya menjadi gugur. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. kakek. kakek seperenam (1/6). . Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. dan sang kakek juga seperenam. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). seorang anak perempuan. yakni saudara kandung laki-laki. dan empat saudara kandung laki-laki.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. nenek seperenam (1/6). Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. Akan tetapi. dan tiga saudara kandung perempuan. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. ibu mendapatkan seperenam (1/6). dan kakek mendapat seperenam (1/6). Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. kakek. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Dalam contoh pertama. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris.

yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. Pada contoh kedua ini. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. Oleh sebab itu. Kemudian. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian.dalam contoh ini adalah ibu. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). tanpa menggunakan cara pembagian. seorang saudara kandung laki-laki. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Sisanya barulah untuk mereka. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. dan seorang saudara perempuan seayah. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung.seorang saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. kakek sepertiga (1/3). kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. yaitu sepertiga (1/3). dan dua orang saudara seayah. kakek. Tabelnya sebagai berikut: .keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. kakek. dan dua orang saudara perempuan seayah. saudara kandung perempuan. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -.

sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. Oleh sebab itu.a. kakek. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. cucu. bagian. ibu. Di samping itu. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. dan seorang saudara kandung perempuan. penj. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. Akan tetapi. dan seterusnya). Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. ibu enam (6) bagian. Setelah ditashih. Sebab. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. kakek delapan (8) bagian. cicit.Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. 6 10 18 2 F. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . Berikut ini saya sertakan tabelnya. suami mendapat setengah (1/2). hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Misalnya. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar.). Sebab. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian.

Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Bila ada salah satu yang diubah. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.ditashih.. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. seperti yang difirmankan-Nya: ". 9 6 8 4 3 2 1 0 VII. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Wallahu a'lam. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti..

Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. dan dua puluh empat (24). Begitu juga sebaliknya. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). siapakah di antara kalian yang harus didahulukan.a. berarti mendapat bagian satu (1). Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. Namun demikian. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). tiga (3). kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). B. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw.. Sebab bila aku berikan hak suami. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. jadi ibu mendapat satu bagian. saudara kandung laki-laki." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. sedangkan yang empat tidak dapat. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Contoh lain. Yang masyhur dalam ilmu faraid. empat (4). Dengan demikian.a. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6)." Secara lebih lengkap. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Bagian suami setengah berarti satu (1). dan bagian saudara kandung perempuan setengah. dua belas (12). dan siapa yang diakhirkan. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. dan sisanya menjadi bagian ayah.tidak pernah terjadi. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan.. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. begitupun dua orang saudara kandung perempuan.furudh yang ada -.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. yaitu dua (2). Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). dan delapan (8). dan saudara kandung .meski bagian mereka menjadi berkurang. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. C. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. dan ayah dua bagian.

lima belas (15). anak perempuan. perlu kita simak contoh-contohnya. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Sebagai misal. saudara kandung perempuan. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. dan saudara perempuan seibu. sembilan. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. dua belas (12). atau sepuluh. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). Dengan demikian. Contoh kasus yang lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). delapan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Lebih jelasnya. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. namun hanya untuk angka ganjilnya. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. yakni tiga per delapan (3/8). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Namun. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan dua puluh empat (24). Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. ibu. saudara kandung perempuan. anak perempuan. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10).berarti satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. saudara kandung perempuan .perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Lebih dari itu tidak bisa. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. dan saudara kandung perempuan. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. ibu. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Lebih dari angka itu tidak bisa. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. atau tujuh belas (17). yakni dapat naik menjadi tujuh. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan seorang saudara perempuan seibu.

dan empat orang saudara perempuan seibu. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). 2. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. seorang saudara kandung perempuan. Bila demikian. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. lima belas (15). Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. berarti delapan .setengah (1/2) berarti tiga.berarti dua bagian. yaitu lima belas bagian. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. ibu. ibu. ibu. ibu seperenam (1/6) berarti satu. yaitu delapan per enam (8/6). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan dua orang saudara perempuan seibu. dan seorang saudara perempuan seibu. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. atau tujuh belas (17). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. dua orang nenek. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. dan dua orang saudara laki-laki seibu. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. delapan orang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua orang saudara kandung perempuan. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. yaitu tiga belas. seorang saudara perempuan seayah. dua orang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. 2. yaitu enam banding sepuluh (6:10). sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Oleh karena itu. dan dua orang saudara kandung perempuan. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. yaitu menjadi tiga belas (13). Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15).

bagian. yakni tujuh belas berbanding dua belas. maka pokok masalahuya dari empat (4). dan tidak dapat di-'aul-kan. ayah. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. maka pokok masalahnya dari dua (2). maka pokok masalahnya dari delapan. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Sekali lagi ditegaskan. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. ibu. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). D. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian.' Lalu keduanya kembali. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Selain itu. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. dan tidak ada 'aul. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24).hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. dan tidak ada 'aul. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). 2. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Catatan 1. anak perempuan. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). mengikuti jejak . Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh.

G. ada sisa harta waris. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. . F. Sebagai misal..maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. kecuali suami dan istri. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . Sebab dalam keadaan bagaimanapun. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh.mereka semula. E. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2.-maka tidak mungkin ada arradd. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada.. Artinya. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri.

Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. maka pokok masalahnya dari sepuluh. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. yakni tiga. saudara kandung perempuan. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. dan dengan adanya suami atau istri 2. Sebagai misal. maka pokok masalahnya dari tiga. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. serta saudara laki-laki . Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. Contoh lain. Maka pokok masalahnya dari dua. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. sesuai jumlah ahli waris. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). disebabkan bagiannya sama. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. karena jumlah bagiannya ada empat. Sebab. semuanya berhak mendapat bagian setengah. bagi ibu seperenam (1/6). disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. H. dan seterusnya)-. Maka pokok masalahnya dari empat. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. Maka pembagiannya. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Contoh-contoh keadaan kedua 1.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. Misal lain. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. atau seperempat. Sebagai misal. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Keempat macam itu: 1. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan.

yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata.seibu. Contoh lain. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). Maka pokok masalahnya lima. dan saudara perempuan seibu. Maka pokok masalahnya dari empat. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). Oleh karena itu. serta lima orang anak perempuan. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. berarti mendapat satu bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Begitu seterusnya. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). saudara perempuan seayah. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. yakni sesuai jumlah kepala. Sebagai misal. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. yaitu istri. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Hitungan ini perlu pentashihan. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. serta seorang saudara perempuan seibu. Pokok masalahnya adalah delapan. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. setiap anak memperoleh tiga bagian. dan itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Maka pokok masalahnya empat. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. anak perempuan. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. dua orang saudara laki-laki seibu. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). Dengan demikian. berarti lima bagian. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Misal lain. karena jumlah bagiannya empat. disertai salah satu dari suami atau istri. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. . Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. 2. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. Maka jumlah bagiannya adalah lima. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. dan itulah pokok masalahnya. karena jumlah bagiannya adalah lima.

maka sisanya tujuh per delapan (7/8). yaitu istri. . kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. yakni tiga bagian. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. nenek. yakni seperempat (1/4). dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. secara fardh dan radd. dua orang anak perempuan. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). yakni tiga bagian. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. dan tabaayun (perbedaan). dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. Sisanya. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. mana yang paling tepat. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. karena itulah jumlah bagian yang ada. yakni istri.asal pokok masalahnya dari delapan. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Apabila istri mengambil bagiannya. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd.asal pokok masalahnya dari enam. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. yakni yang seperdelapan. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. tawaafuq (sepadan). Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Kemudian bila istri mendapat bagiannya. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. dan dua orang saudara perempuan seibu. dan ibu. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian.

). Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. hingga pembagiannya benar-benar adil. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Jadi. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. ditambah bagian kedua anak perempuan. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Dalam hal ini. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. penj. dengan radd. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada.Kini. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. berarti ia mendapat lima (5) bagian. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. . Karena itu.

seperenam. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. bila dalam suatu keadaan. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan.maka pokok masalahnya dari delapan (8). 1/4. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. maka pokok masalahnya sebelas. maka pokok masalahnya dari enam (6). atau yang mutabaayinah (saling berbeda). jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. dua laki-laki dan tiga perempuan. Misalnya. dan sebagainya-. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. Misalnya. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). dan seperenam (1/6). Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Misal lain. misalnya ada yang berhak setengah. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. 1/8). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. Kemudian. Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). Untuk memperjelas masalah ini. Maka pokok masalahnya dari dua (2). 1/3. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Akan tetapi. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Artinya. dan satu wanita satu kepala. seperempat (1/4). Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). begitu seterusnya.maka pokok masalahnya dari enam (6). kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya dari empat (4). Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. Sebab. dan seperdelapan (1/8). seperempat (1/4). maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki.Untuk mengetahui pokok masalah. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. maka pokok masalahnya dari sepuluh. dan demikian seterusnya. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . Misalnya. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. 1/4.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. Misalnya. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). maka pokok masalahnya dari lima. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. berarti itulah pokok masalahnya.

seseorang wafat dan meninggalkan suami. sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. seseorang wafat dan meninggalkan istri. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Apabila dalam suatu keadaan. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. dan seorang saudara laki-laki kandung. dua orang saudara laki-laki seibu. saudara laki-laki seibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). ibu sepertiga (1/3). pokok masalahnya dari dua belas (12). Apabila dalam suatu keadaan. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. Berdasarkan kaidah yang ada. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Bila tidak tersisa. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. ibu. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). sedangkan paman sebagai 'ashabah. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. ibu. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6).bercampur dengan seluruh kelompok kedua. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). Maka berdasarkan kaidah. Apabila dalam suatu keadaan. Misalnya. 2.mengetahui pokok masalahnya. maka pokok masalahnya dari enam (6). perlu saya utarakan beberapa contoh.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). maka ia tidak berhak menerima harta waris. yang merupakan kelompok kedua. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. atau semuanya. atau salah satunya. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). ibu seperenam (1/6). Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. dan paman kandung.

Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Namun. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. anak perempuan setengah (1/2). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. Maka berdasarkan kaidah yang ada.Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. (8 : 2 x 6 = 24). Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. at-tawaafuq (saling bertautan). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24).dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. dan saudara kandung laki-laki. anak perempuan. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). dan bagian ibu seperenam (1/6). A. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu. Yaitu. Apabila pokok masalah --harta waris-. Begitulah seterusnya. .

Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. angka 5 dengan 9. Misalnya angka 7 dengan angka 4. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. yakni 'masuk'. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. angka tiga berarti sama dengan tiga. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. B. Misalnya. Selain itu. dan lima sama dengan lima. yakni 'sama bentuknya'. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. maka disebut tabaayun. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. penj. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. angka 8 dengan 11. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. Misalnya. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. at-tawaafuq.). Misalnya. sehingga tidak . attadaakhul.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. dan seterusnya. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. dan at-tabaayun. lawan kata dari "keluar". maka kedua bilangan itu tadaakhul. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. demikian seterusnya. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Pada hakikatnya. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai.

ayah. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. . oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. Namun. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Dengan demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). maka ada kesamaan. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Untuk lebih memperjelas masalah ini. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. setiap anak menerima satu bagian. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). berarti 4. penj. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. dua saudara perempuan seibu. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. maka setiap orang mendapat satu bagian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini.). maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. dan empat saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu.mengurangi ataupun menambahkan. (Misalnya. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Maksudnya. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. dan bagiannya 2/3 dari 6. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Contoh lain yang at-tamaatsul. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. maka tiap orang mendapat satu bagian. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. ibu. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. empat anak perempuan. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4).

Itulah tashih pokok masalah. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). Misal lain. Maka 2 x 6 = 12. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. anak perempuan. enam saudara kandung perempuan. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. berarti tiga (3). seseorang wafat dan meninggalkan suami. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Contoh lain. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. dan paman kandung. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. sedangkan bagian saudara . Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Contoh lain. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). lima anak perempuan. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. yakni 3 x 12 = 36. ayah. Setelah pentashihan. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. ibu. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4.Contoh masalah yang at-tawaafuq. yakni angka enam (6). yaitu dua (2). berarti 3 x 9 = 27. berarti empat bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. dan saudara kandung laki-laki. yaitu dua (2). berarti dua bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). dan saudara kandung laki-laki. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Bagian istri 1/8 = 3. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka.

dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. berarti 7 x 4 = 28. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. kedua nenek 1/6-nya = 4. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. empat saudara kandung laki-laki. tujuh anak perempuan. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. yakni 27 x 5 = 135.kandung laki-laki mahjub (terhalang). Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. dan saudara laki-laki seibu. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. sedangkan saudara seibu mahjub. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Misal lain. dua orang nenek.

Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. benda. suami. C. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. anak perempuan. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. dan ibu. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. baik berupa harta. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. ayah. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). Jadi. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. atau tanah. ibu. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris.contoh yang lain. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima.

000:12 = 250 dinar Jadi. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). Jadi. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. bagian masing-masing ahli waris: Jadi. ibu. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. dan tiga saudara kandung laki-laki.000 dinar 1. ayah. 960 dinar: 24 = 40 dinar. dua anak laki-laki. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3. Cucu pr.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. dan harta peninggalannya 3.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1.000 dinar.

100 dinar 1. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 . Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). dua anak perempuan. saudara kandung perempuan. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.300 dinar 3. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3.200 dinar 9.100 dinar 1. dan nenek.100 dinar 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1.100 dinar Jadi.900 dinar.200 dinar 2. ibu. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3.900: 9 = 1.000 dinar Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan suami. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).100 dinar Total = = = = = 3.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. dua saudara lakilaki seibu. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3.300 dinar 2. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).

ibu. dua saudara kandung perempuan. 12 Cucu pr.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. Sedangkan . cucu perempuan keturunan anak laki-laki. ket. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. saudara perempuan seayah. suami. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. saudara laki-laki seayah. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). ket.

dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. seayah Ke-4 sdr. pr.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr.500 dinar. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. dan sisanya --dua bagian-. delapan (8) saudara perempuan seayah. dan empat (4) saudara perempuan seibu. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6.harta peninggalan sebanyak 1. dua (2) orang nenek. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. pr. 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Sedangkan ahli waris yang lain ter. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Contoh masalahnya. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. ket.mahjub. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Harta peninggalannya: 17 dinar.

mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. Ali bin Abi Thalib bertanya. benar.a. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Wallahu a'lam bish shawab. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Dengan demikian. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. ibu. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. dua anak perempuan. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). dua anak perempuan. ibu. "Ya." Ali berkata. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. 12 saudara kandung laki-laki. .a. yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. dan seorang saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). seseorang wafat meninggalkan istri.Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Jadi. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian). ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. dua belas saudara kandung laki-laki. Tetapi. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan." Kemudian Ali bin Abi Thalib r.

Jadi. Bila salah seorang ahli waris meninggal. Namun. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah. anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan.. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. seseorang mempunyai dua orang istri. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal.IX." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". HUKUM MUNASAKHAT A. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. yakni dari . sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). dalam hal ini pembagiannya akan berbeda. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya.. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Ketika sang suami meninggal. berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Misalnya. Misalnya. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Kemudian.

Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. yaitu almumatsalah. Merinci masalah baru. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. B. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. Karena itu. Kemudian. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). Berikut ini saya sertakan tabelnya: . disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. 2. Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). tanpa mempedulikan masalah pertama.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. dan seorang saudara kandung laki-laki. yaitu enam (6) bagian. termasuk hak ahli waris yang meninggal. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Sebagai contoh. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. dan al-mubayanah. al-muwafaqah. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Kemudian. Kemudian. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. Karena itu. berarti 3 x 12 = 36. mereka mahjub. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan.ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Jadi. dua saudara kandung perempuan. maka 3 x 4 = 12. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah.ada mumatsalah (kesamaan). khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. Maka. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36).

kandung pr. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. dan dua anak laki-laki. Kemudian. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. 2/3 Sdr. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. kandung lk. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). cucu perempuan keturunan anak lakilaki. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian.Jumlah kepala 12 3 anak pr. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. kandung pr. ibu. ayah. Dalam keadaan demikian. yaitu dua puluh empat (24). Sdr. dan saudara laki-laki seibu. Sdr. keturunan anak lk. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. Oleh sebab itu. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. tiga anak perempuan. kandung pr. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). ibu. ibu. kandung lk. Jumlahnya lima belas (15) bagian. dan dua anak perempuan. . 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. berarti dua bagian. istri. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. ayah. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). ibu 1/6 (4 bagian). tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Sdr. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). ibu.

Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. ayah. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. Misalnya. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. seseorang wafat meninggalkan suami. kemudian ada lagi yang meninggal. dua saudara kandung perempuan. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. saudara perempuan seibu. dan meninggalkan nenek. dan seterusnya. dan dua saudara laki-laki seibu. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. aljami'ah ketiga. dan paman kandung (saudara ayah). dan ibu. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . Kemudian anak perempuan juga meninggal. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. dan seterusnya. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. dan seterusnya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. Maka jika terjadi hal seperti ini.Kemudian. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. berarti 3 x 13 = 39. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Misalnya.

a. kandung pr. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya.ialah seratus ribu dirham. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. dan cara kedua. atau siapa saja yang ditunjuknya. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. lk. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. Numadhir binti al-Asbagh. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. Ketika ia wafat. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Pertama.pr. 2/3 2 sdr.Suami 1/2 Sdr. . salah seorang istrinya. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan.

warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.adalah bagian anak perempuan. Dengan demikian. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan.Sebagai contoh. Kemudian sebagai misal. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. anak perempuan. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya. Dalam keadaan demikian. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'.000. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Kemudian. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).000. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.000 Total = 24. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. Misalnya. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian.000. Lalu sisanya (yakni 24 . dan uang sebanyak Rp 42 juta.000 = 18. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi.000 = 24. dan sisanya --yakni tujuh bagian-. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka. berarti tiga (3) saham. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. pokok masalahnya dari delapan.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya.000. pewaris meninggalkan sebuah rumah. dan istri.000. dan dua anak laki-laki. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. X.000.000 = 42.000.000 Bagian ayah 9 x 2.000 + 18. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. seorang anak perempuan. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'.000: 21 = 2. dan setelah ditashih menjadi empat puluh. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.000.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. Maka. seseorang wafat dan meninggalkan ayah.000. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri.

sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'.. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. di antaranya Umar bin Khathab. dan Ibnu Abbas r.. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. Jadi. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. Maksudnya. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. dan sebagainya. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. Allah berfirman: ". Muslim..a. Ibnu Mas'ud. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. Jadi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Dengan demikian. paman (saudara laki-laki ibu). bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya.a. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. dan Ali bin Abi Thalib. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. Misalnya.rahim yang menyatukan asal mereka. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. cucu laki-laki dari anak perempuan. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Dengan demikian. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. B. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. . keponakan laki-laki dari saudara perempuan. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. dalam sebagian riwayat darinya. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. dan juga merupakan pendapat dua imam. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. bila tidak ada ashhabul furudh.

Jadi. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Namun sebaliknya. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. atau selain dari keduanya-. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. kerabat lain pun demikian. Adapun golongan kedua. Rasulullah saw." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. baik ashhabul furudh. Pendek kata. Harta peninggalan.. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal.2. As-Sunnah." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. serta selain keduanya. Di sini. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. para 'ashabah. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. bila diserahkan kepada kerabatnya. para ''ashabah. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. termasuk ashhabul furudh. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. 3. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an.. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Sebab. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil.beliau saw. tidak memberikan hak waris kepada para bibi." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk .bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. dan logika.

Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.a. dalam riwayat ini dikisahkan. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya.a. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Sebab. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. Dengan turunnya ayat ini." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Dengan pemberian Rasulullah saw. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. yakni saudara laki-laki ibunya. maka Rasulullah saw. Sebab. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. dari ayah dan dari ibu. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. Oleh karena itu. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Oleh sebab itu. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. sedangkan saudara . ikatannya dari dua arah. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Umar bin Khathab r. bertanya kepada Qais bin Ashim. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Alasannya. baik sedikit ataupun banyak. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan.--.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Dengan demikian. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r.

sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. Misalnya. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". Dengan demikian. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. bibi (saudara perempuan ibu). kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. dan imam mujtahidin. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. C. Sebagai contoh. persatuan dan kesatuan muslimin. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. . seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. Jadi. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. 1. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal.jawaban Rasulullah saw." Melihat kenyataan demikian. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. bibi (saudara perempuan ayah). Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. Maka muncul pertanyaan. Di samping itu. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. khususnya pada masa kita sekarang ini. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. adil. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. tabi'in. dan amanah.seayah hanya dari ayah. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. Atau. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. Di antaranya.

Sdr. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. dan saudara laki-laki seayah. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. seibu paman kand. sdr. bahkan dhaif dan tertolak. kandung pr. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. 2. sdr. karena itu ia mendapatkan sisanya. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. pr. kand. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits.. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). dan sepertiga lagi diberikannya . Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. Pr. saudara perempuan seayah. 1/2. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. 3/6. yakni pokoknya.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Mazhab ini tidak masyhur. pr. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). 1/6. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. seayah 1/6. Inilah gambarnya: Sdr. laki-laki seayah mahjub. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. Dengan demikian. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. 1/2. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. Oleh karena itu. 2. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. saudara perempuan seibu. Sdr. saudara kandung perempuan.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. dan paman kandung.

baik laki-laki ataupun perempuan. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. Di samping itu. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. . Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. Selain itu. 2. dan seterusnya. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. Sebab.a. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. Kakek yang bukan sahih. Oleh karena itu. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. b. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. 3. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. baik laki-laki ataupun perempuan. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. menurut mereka. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris.kepada bibi (dari pihak ibu). Yang dinisbati oleh pewaris: a. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). dan seterusnya. yang tampak sangat logis. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Selain itu. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Maka.a. Sebagaimana telah diungkapkan. Keempat golongan tersebut adalah: 1. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Hal ini.

Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. baik yang kandung. seayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. cucu. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. dan bibi (saudara perempuan ibu). 2. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. dan paman (saudara ayah) ibu. atau seayah.. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. atau yang seibu. Nenek yang bukan sahih. Jika tidak ada. dan seterusnya. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. atau seibu. baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Bila mereka tidak ada. ataupun seibu. dan seterusnya. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. b. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. kakek. Dengan demikian. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . dan juga paman nenek. b. maka pokoknya: ayah.b. Jika tidak ada juga. menurut ahlul qarabah. seayah. Bila mereka tidak ada. Keturunan saudara kandung perempuan. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Paman kakak yang seibu. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan).dari kakek dan nenek. seibu. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. dan seterusnya). Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. atau yang seayah. Bibi dari ayah pewaris. baik yang kandung maupun yang seayah). Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. ibu dari ibu ayahnya ibu. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). dan seterusnya. baik bibi kandung.

maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Artinya. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka ia akan menerima sisanya. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Namun. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. jika ada shahibul fardh. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. setelah diambil hak para shahibul fardh. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Dengan demikian. Misalnya. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya.mereka. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. Dalam contoh ini. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Sebab. 2. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. Begitulah seterusnya. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. dan seorang anak perempuan dari anak paman . 2. Dan bila ada shahibul fardh. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. D. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Begitu seterusnya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. Misalnya. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Misalnya. maka pembagiannya dilakukan secara merata. Misalnya. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Tidak ada shahibul fardh. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Hanya saja. Dengan demikian. Tidak ada penta'shib ('ashabah). semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan.

Oleh karena itu. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw.). Atau dengan redaksi lain. Oleh karenanya. Selain itu. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. Misalnya. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. dan para ulama mazhab Hanafi. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . khanatsa wa takhannatsa. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. Sebab. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". Sebenamya. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. Namun. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit).a. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. penj.kandung yang lain. Bila urinenya keluar dari penis. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. artinya tidak ada kejelasan. maka ia divonis sebagai laki-laki dan . setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. XI. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan.

tetapi bila keluar dari vagina. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. C. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. bahwa Rasulullah saw. dan tidak menerima vonis tersebut. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Di samping melalui cara tersebut. Bila keluar dari penis.a. dan sebagainya. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. maka ia sebagai laki-laki." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Misalnya. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. 2.). apakah tumbuh payudaranya. . maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. dikukuhkanlah vonis tersebut. Mazhab Maliki berpendapat. ia dinyatakan sebagai perempuan. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Ketika Islam datang. apakah ia tumbuh kumis. Namun. Maksudnya. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. apakah ia haid atau hamil. Ia berkata: "Wahai kaumku. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. lihatlah jalan keluarnya air seni. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1." B. penj.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. Mazhab Syafi'i berpendapat. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Melihat sang majikan gelisah. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita.

Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). saudara kandung perempuan. maka divonis sebagai laki-laki. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). dan bagian anak banci lima (5). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki.yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. maka gugurlah hak warisnya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. ibu. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. maka pokok masalahnya dari lima (5). ibu enam (6) bagian. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). seperti dalam masalah al-munasakhat. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. dan saudara laki-laki banci. Bahkan. 3. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. dan seorang anak banci. seorang anak perempuan.'aul-kan. dan saudara laki-laki seayah banci. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. dan sisanya kita bekukan. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). maka pokok masalahnya dua (2). 2. dan .

Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. yakni dua (2) bagian dibekukan. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. Setelah itu. pr. 1/2 Sdr.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). saudara kandung perempuan enam (6) bagian. Secara ringkas dapat dikatakan. Berkaitan dengan hal ini. Bagian suami enam (6). seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . Adapun sisanya. dan satu atau kembar. ibunya mengandungnya dengan susah payah. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. baik laki-laki maupun perempuan. 1 1 Suami 1/2 Sdr. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. pr. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. Dengan demikian. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. pr. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya.. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang .telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. kdg. Namun demikian.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. 1/2 Banci lk. Karena itu. kdg. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. laki-laki atau perempuan..

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. atau yang semacamnya. .: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. menurut mazhab Hanafi. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup.a. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Dengan demikian. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). maka tidak berhak mendapatkan waris.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Kelima keadaan tersebut: 1.a. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. bersin.. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. E. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. F. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. ia tidak berhak mewarisi. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan." Pernyataan Aisyah r. mau menyusui ibunya.ada. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Bahkan. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. 2. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. dan ia dianggap tidak ada. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal.

Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Bila yang lahir anak laki-laki. paman (saudara ayah). Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. Namun. Namun.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. Sebagai misal. Pokok masalahnya dari empat (4). Sebagai ahli waris tunggal. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. Contoh lain. 2. apabila yang lahir anak perempuan. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Namun. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Bila yang lahir bayi perempuan. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. ayah. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). ibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. Setelah janin lahir dengan selamat. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. maka hak warisnya diberikan kepadanya. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. dan istri ayah yang sedang hamil. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. bila ternyata bayi tersebut perempuan. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). tiga saudara perempuan seibu. Sebagai misal. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung.

pr. ayah seperenam (1/6). Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. ibu. Sebagai misal. dibekukan. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. dalam kedua keadaannya.Ibu 1/6 3 sdr. 'ashabah Sisanya satu (1). Jadi. Dalam keadaan demikian. Sebagai contoh. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). maka kita sisihkan bagian warisnya. saudara perempuan seayah. dan bagian istri seperdelapan (1/8). dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Atau terkadang terjadi sebaliknya. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. sbg. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. boleh jadi. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. Inilah tabelnya. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Dengan demikian. jika bayi itu masuk kategori laki-laki.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. seibu 1/3 Sdr. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. dan ayah. baik ia laki-laki ataupun perempuan. Sebab. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna.pr. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki.

Karenanya. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. terputus beritanya. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. pr. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. pr. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. 1/2 Sdr. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. dan aku menjamin terhadapnya. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. TENGGELAM. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. Contoh lain.6 Sdr. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. pr. Sebab. al-mafqud berarti orang yang hilang. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. DAN TERTIMBUN A. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. kdg. dan ." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. Akan tetapi. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. kdg. anak perempuan setengah (1/2) bagian. pr. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). Sebagai misal. 1/2 Sdr. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian.

Karena menurut Imam Syafi'i. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. apakah dia masih hidup atau sudah mati. dari Imam Malik. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya.tidak diketahui rimbanya. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. maka hendaknya dia bersabar. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.a. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. Sementara itu. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya.telah mati. Namun. Akan tetapi. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. Bila usai masa idahuya. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. Dalam riwayat lain. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. dari Abu Hanifah. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. atau menjadi salah seorang penumpang . disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r." B. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. yaitu empat bulan sepuluh hari. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. hartanya tidak boleh diwariskan.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. Dalam riwayat lain. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati.

seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. Pertama. Menurut hemat penulis. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Kedua. Maksudnya. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. Karena itu. Sebagai contoh. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. Karena itu. Sebab. atau banyak perampok dan penjahat. dan anak laki-laki yang hilang. Namun. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya.kapal yang tenggelam-. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. saudara kandung perempuan. maka itulah yang berlaku. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. ia dapat menempuh masa idahnya. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. Misal lain. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. dan dua saudara perempuan seayah. 2. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. Sedangkan pada keadaan kedua. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. atau untuk menuntut ilmu. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). melancong. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Namun.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. seperti pergi untuk berniaga. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. C. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Kapan saja hakim memvonisnya. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. hendaknya ia . apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Demikian juga istrinya. Misalnya. saudara laki-laki seayah. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu.

dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. kdg. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. atau tanpa ada yang dibekukan). saudara kandung perempuan. kdg. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. pr 1 Sdr. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. dan cucu laki-laki dari . seseorang wafat dan maninggalkan istri. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. kemudian membekukan sisanya. Namun. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. kdg. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. lk. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. kdg. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. Namun. Dalam keadaan demikian. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. bagian istri adalah seperempat (1/4). lk. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. hdp. Dalam contoh tersebut. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. saudara laki-laki seayah. saudara kandung. kdg. ibu. kdg. ibu. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. hlg 1 Sdr. ibu seperenam (1/6). bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. Sebagai contoh. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. pr 1 1 Sdr. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh.

keturunan anak laki-laki. saudara kandung perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. Istri 1/8 2 Anggapan sdh.lk. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. anak paman kandung (sepupu).anak. mati 12 24 . (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. (hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.dr.kdg.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. hdp. seseorang wafat dan meninggalkan suami. (hilang) 3 Anak lk. Suami 1/4 Cucu pr. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. mahjub Sdr. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. hdp. (mahjub) Sdr. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr.kdg. lk. (hilang) 17 Cucu lk.kdg. hdp. mati Suami 1/4 Cucu pr. saudara laki-laki seibu.dr.pr. dan anak laki-laki yang hilang. 8 Anggapan sdh.anak.pr.lk. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh.lk.

bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.lk. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. ujian. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-. D. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. lk. Misalnya. (hilang) 4 Cucu pr. Sayangnya. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. dan cobaan. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran).Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya.. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. 'ashabah 3 Sepupu.seibu (mahjub) Sdr. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali". Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan.lk. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban.. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. lalu mengalami kecelakaan. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. lk. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . tanpa diduga.

menurut para ulama. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. pengatur alam semesta. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. amin. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. anak perempuan. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. Sebagai contoh. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. seluruh isi langit dan bumi. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. Yang satu meninggalkan istri. harta ketiga anak laki-laki. Menurut ulama faraid. dan anak paman kandung (sepupu). Sebagai contoh. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. Dialah Yang Maha Kekal. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan." Hal demikian. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). . dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Misal lain. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Begitulah seterusnya. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. Kemudian. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu.

Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka ibunya mendapat seperenam. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. . Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja)." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. Mekah. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Jika kamu mempunyai anak. Ini adalah ketetapan dari Allah. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. maka ibunya mendapat sepertiga. jika anak perempuan itu seorang saja. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. junjungan kita Muhammad saw. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. Yaitu. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. maka ia memperoleh separo harta. jika mereka tidak mempunyai anak. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. para sahabatnya.tidak akan rusak dan tidak akan mati. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Jika seseorang mati. jika yang meninggal itu mempunyai anak.

Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris)." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)." (an-Nisa': 176) . jika ia tidak mempunyai anak. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah.baik laki-laki maupun perempuan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. supaya kamu tidak sesat. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.