A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

tanpa direndahkan. Sebab menurut anggapan mereka. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. Jadi. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak.a. --berupa ayat-ayat tentang waris-. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. maupun kerabat mereka. dan istri-. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Islam memberi mereka hak waris. kedua orang tua.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya. Sementara itu. serta tidak pula berperang melawan musuh.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh.. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. tidak mampu memanggul senjata. baik dari harta peninggalan ayah. 1 B. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. suami. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). wanita.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . suami. anak-anak. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. ayah. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. pangan. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. dan papan. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. baik berupa sandang.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

2. Oleh karenanya. Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan).tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. . tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). mendapat separo harta peninggalan. Yang pertama dalam ayat ini. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Sementara itu. jika sendirian. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Bagian suami: 1. 2. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. baik laki-laki maupun perempuan. Jika kamu mempunyai anak. maka istri mendapat bagian seperdelapan. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga.(dan) sesudah dibayar utangnya. Sementara itu." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. Bagian istri: 1. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Dengan demikian. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang.dibandingkan saudara seibu. Jadi. maka bagian istri adalah seperempat.

Jadi. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. . maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. misalnya. 1. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. Menurut saya.a. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. maka karena dariku dan dari setan. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'.. Begitulah hukum bagi saudara seayah. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Adapun bila pendapat ini salah. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. Jadi. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. 2. dan tidak mempunyai ayah atau anak. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata.2. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih.

WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. apakah dia sebagai anak. dan ijma' para ulama sangat sedikit. kecuali hukum waris ini. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. tanah. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. cucu. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. . dari seluruh kerabat dan nasabnya. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. besar atau kecil. paman. kakek. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya." (an-Naml: 16) ". Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. demikian pula sabda Rasulullah saw. Dan Kami adalah pewarisnya. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud .. Jadi. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai)." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. baik berupa harta (uang) atau lainnya. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris.. suami. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). istri. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan.. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris.. ibu. Definisi Waris Al-miirats. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia.II. ayah. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'.. Oleh karena itu. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu.

atau belum memenuhi kafarat (denda).Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. atau belum menunaikan nadzar. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. 2. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. biaya pemakaman. biaya memandikan. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Namun. seperti belum membayar zakat. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Menurut jumhur ulama. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. sejak wafatnya hingga pemakamannya. pembelian kain kafan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Akan tetapi. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. menurut mereka. Artinya. bila sang mayit berwasiat. menurut saya. Di antaranya. Padahal. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Pendapat mazhab ini. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit.

Ashhabul furudh... wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. termasuk diambil untuk membayar utangnya. istri. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya.setelah ashhabul furudh menerima bagian). Ashabat nasabiyah. Oleh karena itu. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. dan kesepakatan para ulama (ijma'). paman . Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. saudara kandung pewaris. B. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. cucu dari anak laki-laki pewaris. Sepertiga. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. ayah. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Sementara itu. bersabda: ". Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Bahkan. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Misalnya anak laki-laki pewaris. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Rasulullah saw. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan." 4. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. As-Sunnah. Setelah ashhabul furudh. misalnya ibu. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r.a. Padahal secara syar'i. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. 3. suami. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. baru kemudian melaksanakan wasiat. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. dan ijma'. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. dan lainnya). Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. As-Sunnah. Catatan: Pada ayat waris. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. dan sepertiga itu banyak.

para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Hak waris secara tambahan. C. Misalnya. bibi (saudara ayah). Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Misalnya. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Ashabah karena sebab. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. cucu laki-laki dari anak perempuan. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. bibi (saudara ibu). Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. B. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. paman (saudara ibu). 2. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). seperti kedua orang tua. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. paman. dan sebagai 'ashabah. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). Misalnya. saudara. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Dengan demikian. tidak pula 'ashabah. bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. dan seterusnya. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris.kandung. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. dan . istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. Hak waris secara pertalian rahim. Baitulmal (kas negara). Maka. anak. Mewariskan kepada kerabat. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. Bentuk-bentuk Waris A. D. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. Misalnya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri).

Pernikahan. Sebagai contoh. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. karena bagaimanapun keadaannya. Hal ini harus diketahui secara pasti. 2. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . tanah. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. 2. Al-Wala. Harta warisan. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. E. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Sebagai contoh. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. baik berupa uang. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. atau lainnya. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. 2. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. dan sebagainya. kecuali setelah ia meninggal. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Ahli waris. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Pewaris. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. yakni orang yang meninggal dunia.seterusnya. termasuk jumlah bagian masing-masing. F. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya.

Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). 2. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. atau saudara seibu. istri. dalam hal ini ada tiga: 1. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. ada yang karena 'ashabah. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). serta ada yang tidak terhalang. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. atau tenggelam. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Sebab. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris.meninggal-. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Misalnya. dan sebagainya. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). G. atau membayar kafarat. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. secara langsung menjadi milik tuannya. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. misalnya suami.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. tertimpa puing. Para fuqaha menyatakan. kerabat. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). membayar diyat. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. Misalnya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. saudara seayah. Alhasil.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.

yakni murtad. dan lainnya. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. seperti ditegaskan Rasulullah saw." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Ibnu Mas'ud. Karena itu. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. Sementara itu. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Sebab. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. menurut mereka. 3. apa pun agamanya. Syafi'i. Karena itu. Menurut saya. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. tidak ada yang mengunggulinya). orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Menurut penulis. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Wallahu a'lam. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r.rajam. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Sebagai contoh. Maksudnya. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. adanya kakek bersamaan . di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad.a. Ali bin Abi Thalib. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. termasuk keempat imam mujtahid. seperti membunuh atau berbeda agama. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. dalam haditsnya. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi.

(8) saudara perempuan seibu. yaitu ayah pewaris H. (7) saudara perempuan seayah. (7) saudara laki-laki seibu. yaitu tiga per empat harta yang ada.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). (9) istri. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. (4) nenek (ibu dari ibu). Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. Jadi. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). (15) laki-laki yang memerdekakan budak. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. (11) paman (saudara bapak seayah). saudara kandung.dan seterusnya. (10) paman (saudara kandung bapak). yaitu 7/8. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. (6) saudara laki-laki seayah. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. (5) nenek (ibu dari bapak). sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. (4) kakek (dari pihak bapak). ibu. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. Kemudian sisanya. I. . (10) perempuan yang memerdekakan budak. (5) saudara kandung laki-laki. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. dan anak --dalam hal ini. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. sisa harta yang ada. (13) anak laki-laki paman seayah. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. maka bagian istri seperdelapan. yaitu ayah. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. anak kita misalkan sebagai pembunuh. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. serta saudara kandung. (14) suami. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (3) bapak. (6) saudara kandung perempuan. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. dan seterusnya. Jika terjadi hal demikian. (2) ibu.dengan adanya ayah.

sepertiga (1/3). dengan tiga syarat: a. A. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. yaitu setengah (1/2). Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". saudara kandung perempuan. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. 4.III. seperempat (1/4). Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dua per tiga (2/3).. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah." (an-Nisa': 12) 2. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima.).. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. b. anak perempuan. dengan dua syarat: a. dan saudara perempuan seayah. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. dan seperenam (1/6). Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). b. penj. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. dengan tiga . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. 3. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Dalilnya adalah firman Allah: ". Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal.. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami.. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). seperdelapan (1/8). Rinciannya seperti berikut: 1. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan.

dengan empat syarat: a. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan).'" (an-Nisa': 176) 5. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. . Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". b. Apabila ia hanya seorang diri. b. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak... yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176)... dan tidak pula mempunyai keturunan. dan tidak pula anak. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan.." (an-Nisa': 12) .. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. yaitu suami dan istri. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya).. Rinciannya sebagai berikut: 1. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak .syarat: a. baik anak laki-laki maupun perempuan. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya.

Dalilnya firman Allah berikut: ". Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Wallahu a'lam. .a. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw.. Jadi. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. yakni anak laki-laki dari pewaris. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut.. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu .tentang bagian istri.. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Jika kamu mempunyai anak. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1.. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.." (an-Nisa': 12) D. bila suami mempunyai anak atau cucu. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki.. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. 2. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . C. Dengan kata lain. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Jadi.. Istri.

baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu." (an-Nisa': 176) 4.. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). dengan persyaratan sebagai berikut: a. 2. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.. 3. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan).. Dalilnya adalah firman Allah: ". Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak kandung.2. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan).. Dalilnya adalah firman Allah: . Bila pewaris tidak mempunyai anak. E. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua.. b. Dan dalilnya sama. b. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. baik laki-laki atau perempuan. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Wallahu a'lam.. b. ayah. atau kakek. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu.. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1.

. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah... dua orang atau lebih. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. Namun." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. Selain itu. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. maka ibunya mendapat seperenam..... satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. maka ibunya mendapat sepertiga. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. . Kesimpulannya. Yakni. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. 2. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu.". yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Adapun dalilnya adalah firman Allah: "." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja)... akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1.. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'.

Dengan demikian. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. ibu. dan ayah. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Akan tetapi. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. dan ayah. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. saya sertakan contohnya. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. Agar lebih jelas. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Dalam kasus ini. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. ibu. maka ibunya mendapat sepertiga". ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada.

(7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.. tepatnya masa Umar bin Khathab r. baik anak laki-laki atau anak perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. 1. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Jadi. b. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. Wallahu a'lam. baik saudara laki-laki . (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki.. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Menurutnya.a. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. (3) ibu. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu"." (an-Nisa': 11) 2. (6) nenek asli... (5) saudara perempuan seayah. Dalilnya firman Allah (artinya): ".. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r.. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. menurut hemat saya. dengan dua syarat: a. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Mereka adalah (1) ayah. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.a. (2) kakek asli (bapak dari ayah).a. F. Jadi. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. 3. Dan untuk dua orang ibu bapak.

anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Dalilnya firman Allah (artinya): ". Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. seayah.ataupun perempuan. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. baik sekandung. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak . pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. 5. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki.. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. ataupun seibu. 4. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. 6. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r.. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. dan saudara perempuan." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw." (an-Nisa': 11). Jadi. Selain itu.. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. Sebab bila ada anak laki-laki.. Sebab jika lebih dari satu orang. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Dalam keadaan demikian. maka ibunya mendapat seperenam . sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih.a.. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6).

Selain itu. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja).'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. baik laki-laki atau perempuan). cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.meninggalkan anak. Sebagai contoh. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. 7. Wallahu a'lam. dan paman (saudara kandung ayah). memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). Disebut demikian. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa.menguatkan dan melindungi. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. A. anak laki-laki. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. sedang kami golongan (yang kuat). Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.a. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). kata ini sering kali digunakan. IV. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. untuk menuntut hak warisnya. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Ayat tersebut juga telah .

kakek. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). Arah anak. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. cicit. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. Kemudian. Inilah makna 'ashabah. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. Namun. Dengan demikian. dalam hal penggunaan kata "dzakar". maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. mempunyai empat arah. Oleh sebab itu. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak.menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). dan seterusnya. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). Arah bapak. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. misalnya . dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. Sebab. yaitu: 1. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. Namun. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. jika ia tidak mempunyai anak. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. dan seterusnya. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Catatan Dalam dunia faraid. B." (an-Nisa': 176). Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). Maka jika masih tersisa. mencakup ayah.

anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Sebagai misal. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Apabila anak tidak ada. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. namun hanya yang laki-laki. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. Dalam keadaan demikian. dan seterusnya. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. mencakup saudara kandung laki-laki.ayah dari bapak. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. dan saudara kandung. 2. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. dan seterusnya. kemudian mereka pun dalam satu arah. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. saudara kandung perempuan. ayah. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. Sebagai misal. Misalnya. termasuk keturunan mereka. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. termasuk keturunan mereka. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. saudara laki-laki seayah. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Sementara itu. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Arah paman. ayah dari kakak. Rinciannya. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. dan seterusnya. Sebab. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. Contoh lain. Pengecualiannya. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. saudara laki-laki seayah. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Arah saudara laki-laki. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh.

yakni arah anak dan arah bapak. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya." (an-Nisa: 11). maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. Dengan demikian. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. Wallahu a'lam. Dengan demikian. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Oleh sebab itu. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Bahkan. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. demi kepentingan masa depan anaknya. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. dan seterusnya. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Sebagai contoh. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. sedangkan dari . baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Namun demikian. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang.kandung. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. Artinya. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Sebab. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Sedangkan secara aqli.

maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. Sebab dalam keadaan demikian. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). saudara kandung perempuan. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. dan pembagiannya. dan saudara perempuan seayah). 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. 2. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11).kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Misalnya. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Sebagai contoh. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Misalnya. Anak perempuan. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki.

dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. Kemudian. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan.sama rata. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan.. Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris.a. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan.akan menjadi 'ashabah. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan.. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. Jadi. dan bagian saudara perempuan separo. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). Selain itu.

'ashabah ma'al ghair. saudara perempuan. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. Selain itu. dan saudara lakilaki seayah. paman kandung ataupun yang seayah. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. seperti anak keturunan saudara (keponakan). Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. dua orang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . Begitu juga saudara perempuan seayah. dan saudara laki-laki seayah. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah.

saudara perempuan seayah. saudara perempuan seayah. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. seorang ibu. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung.menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. kemudian sisanya yaitu seperempat-. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan).

dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. Akan tetapi. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. secara ringkas. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. seperti anak laki-laki. Agar persoalan ini lebih jelas. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. saudara laki-laki seibu. C. dan seorang suami. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Jadi. Misalnya. Inilah perbedaan keduanya. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. dan ibu mendapatkan seperenam. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. Begitulah seterusnya. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. .Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga.

Misalnya. dan seterusnya. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris.V. dan seterusnya. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. Jadi. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. B. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Misalnya. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Satu hal yang perlu diketahui di sini. . Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. Selain itu. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A.

cucu kandung laki-laki. cicit. maka semuanya harus mendapatkan warisan. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. anak kandung perempuan. cicit. 2. dan seterusnya). cucu. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. suami. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. dan keturunan laki-laki (anak. cucu. ayah. kakek. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). ibu. . cicit. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. cucu. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. cicit. dan juga dengan adanya paman kandung. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. dan istri. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan seterusnya (semuanya laki-laki). Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. cucu. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. serta oleh saudara laki-laki seayah. anak laki-laki. anak. dan seterusnya). ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Selain itu. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. kecuali jika ada 'ashabah.

Selain itu. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. anak perempuan. anak perempuan. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. ibu seperenam (1/6) bagian. kecuali bila adanya 'ashabah. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. yakni saudara laki-laki yang merugikan. Padahal. cucu. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. Oleh sebab itu. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. Kedua: Untuk lebih memperjelas. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). ayah seperenam (1/6) bagian. Kemudian. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. ibu. ayah. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. dan seterusnya. bapak. cicit. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". ayah juga seperenam (1/6) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. ibu. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan setengah. cicit.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. ibu seperenam (1/6) bagian. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. kakek. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. cucu. 2. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah.

yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. tabi'in.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). Ibnu . dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Maka. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang).karena tidak ada pen-ta'shih. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. Ibnu Abbas. masalah ini merupakan kasus kolektif. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. dan lainnya. Contoh permasalahannya sebagai berikut. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. tabi'in. sejak masa para sahabat. juga karena para sahabat. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Ali. Namun. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. Di samping itu. kemudian baru kepada para 'ashabah. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. Utsman. ibu. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. tabi'in. bila mempunyai saudara laki-laki seayah." Namun demikian. Sementara itu. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. dan imam mujtahidin. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. Berdasarkan kaidah yang berlaku. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. dan imam mujtahidin. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). Karena. Sedangkan dalam contoh kedua. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3).

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5).istri. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: . dan anak perempuan. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. 2. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). itulah yang menjadi bagiannya. Pertama dengan cara pembagian. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya.dari dua pilihan yang ada. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian.

Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. 2. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. dan sisanya dibagikan kepada para saudara.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . menerima sepertiga (1/3). Yaitu. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris.1. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. maka hendaknya dibagi dengan cara itu.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. dan saudara kandung laki-laki. Misalnya. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. kakak. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. dan sisanya dibagi dua. maka itulah bagian kakek. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Yang pasti. dengan pembagian. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. kakek. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.

dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). dan sepuluh saudara kandung perempuan.setelah diambil hak sang ibu. ibu. suami. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. Akan tetapi. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. kakek. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. kakek. kakek seperenam (1/6). Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2).sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. mereka dianggap satu jenis. dan kakek mendapat seperenam (1/6). seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). nenek. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). . nenek seperenam (1/6). Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. kakek. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. dan tiga saudara kandung perempuan. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. anak perempuan setengah (1/2). Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. seorang anak perempuan. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). dan sang kakek juga seperenam. yakni saudara kandung laki-laki. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. dan empat saudara kandung laki-laki. Dalam contoh pertama. maka saudara seayah mahjub. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. kakek. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. E. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. haknya menjadi gugur. ibu mendapatkan seperenam (1/6). mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. yaitu sepertiga. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. Untuk keadaan seperti ini.

seorang saudara kandung laki-laki. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. kakek. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. kakek. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Oleh sebab itu. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.seorang saudara laki-laki seayah. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. saudara kandung perempuan. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. Kemudian.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. Tabelnya sebagai berikut: . dan dua orang saudara perempuan seayah. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. tanpa menggunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dan dua orang saudara seayah. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. Pada contoh kedua ini. dan seorang saudara perempuan seayah. Sisanya barulah untuk mereka. kakek sepertiga (1/3). sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung.dalam contoh ini adalah ibu. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. yaitu sepertiga (1/3). saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. yakni merugikan kakek pada cara pembagian.

dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. suami mendapat setengah (1/2). sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. kakek delapan (8) bagian. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. bagian. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Misalnya. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. ibu enam (6) bagian.Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. Akan tetapi. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Sebab. penj. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada.a. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. cicit. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). dan seterusnya). Berikut ini saya sertakan tabelnya. Di samping itu. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. Sebab. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. 6 10 18 2 F. dan seorang saudara kandung perempuan. Oleh sebab itu. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami.). ibu. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. kakek. cucu. Setelah ditashih. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-.

padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Wallahu a'lam. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. Bila ada salah satu yang diubah. Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti.. seperti yang difirmankan-Nya: ".ditashih. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. 9 6 8 4 3 2 1 0 VII.

sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Contoh lain. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. tiga (3). seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. Namun demikian. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. Begitu juga sebaliknya. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. C. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw.meski bagian mereka menjadi berkurang. Yang masyhur dalam ilmu faraid. sedangkan yang empat tidak dapat. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. dan ayah dua bagian. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. dua belas (12).a. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Sebab bila aku berikan hak suami. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3).furudh yang ada -. Bagian suami setengah berarti satu (1). Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. B. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. dan siapa yang diakhirkan. dan saudara kandung . Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). empat (4). saudara kandung laki-laki. dan dua puluh empat (24).tidak pernah terjadi.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). jadi ibu mendapat satu bagian. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. berarti mendapat bagian satu (1).. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan." Para sahabat menyepakati langkah tersebut.a.." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. dan delapan (8). pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris." Secara lebih lengkap. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). Dengan demikian. yaitu dua (2). dan sisanya menjadi bagian ayah. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian.

Sebagai misal. saudara kandung perempuan. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan dua puluh empat (24). seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dua belas (12). ibu. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah".berarti satu bagian. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. dan saudara kandung perempuan. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). yakni dapat naik menjadi tujuh. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. anak perempuan. Dengan demikian. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). Namun. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). ibu. lima belas (15). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. anak perempuan. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. dan seorang saudara perempuan seibu. namun hanya untuk angka ganjilnya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Lebih jelasnya. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. saudara kandung perempuan.perempuan. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Lebih dari angka itu tidak bisa. yakni tiga per delapan (3/8). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. perlu kita simak contoh-contohnya. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. atau sepuluh. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. Contoh kasus yang lain. sembilan. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Lebih dari itu tidak bisa. atau tujuh belas (17). delapan. saudara kandung perempuan . Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. dan saudara perempuan seibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6).

Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Oleh karena itu. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Bila demikian. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. berarti delapan . Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. ibu. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. dua orang saudara kandung perempuan. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. ibu seperenam (1/6) berarti satu. dan dua orang saudara laki-laki seibu. 2. seorang saudara perempuan seayah. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga.setengah (1/2) berarti tiga. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. 2.berarti dua bagian. ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. dan empat orang saudara perempuan seibu. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. atau tujuh belas (17). Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). dan seorang saudara perempuan seibu. dua orang nenek. yaitu delapan per enam (8/6). dua orang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. yaitu menjadi tiga belas (13). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. yaitu enam banding sepuluh (6:10). Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. lima belas (15). sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. dan dua orang saudara perempuan seibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. yaitu tiga belas. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). yaitu lima belas bagian. ibu. delapan orang saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. dan dua orang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). seorang saudara kandung perempuan.

ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. ayah. Sekali lagi ditegaskan. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka pokok masalahnya dari delapan.bagian. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). 2. Selain itu. mengikuti jejak . dan tidak ada 'aul. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. dan tidak dapat di-'aul-kan. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. D. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. Catatan 1.' Lalu keduanya kembali. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). dan tidak ada 'aul. yakni tujuh belas berbanding dua belas. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). anak perempuan. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. maka pokok masalahuya dari empat (4). ibu. maka pokok masalahnya dari dua (2). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian.

Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada.. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. kecuali suami dan istri. G. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh.. E. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. ada sisa harta waris.-maka tidak mungkin ada arradd. Artinya. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. F. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1.mereka semula. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. Sebagai misal. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. .

serta saudara laki-laki . bagi ibu seperenam (1/6). dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. maka pokok masalahnya dari tiga. Sebagai misal. Maka pokok masalahnya dari empat. Contoh-contoh keadaan kedua 1. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. maka pokok masalahnya dari sepuluh. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh lain. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). H. Keempat macam itu: 1. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. atau seperempat. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. sesuai jumlah ahli waris. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. Maka pokok masalahnya dari dua. dan dengan adanya suami atau istri 2. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. karena jumlah bagiannya ada empat.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. semuanya berhak mendapat bagian setengah. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. Sebab. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Misal lain. dan seterusnya)-. Maka pembagiannya. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. yakni tiga. Sebagai misal. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. saudara kandung perempuan. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. disebabkan bagiannya sama.

dan itulah pokok masalahnya. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Hitungan ini perlu pentashihan. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. dan saudara perempuan seibu. yaitu istri. karena jumlah bagiannya adalah lima. Contoh lain. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Sebagai misal. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Dengan demikian. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Maka pokok masalahnya dari empat. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Contoh lain. berarti lima bagian. serta seorang saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. . saudara perempuan seayah. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. karena jumlah bagiannya empat. disertai salah satu dari suami atau istri. Maka pokok masalahnya lima. berarti mendapat satu bagian. setiap anak memperoleh tiga bagian. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. berarti masing-masing menerima tujuh bagian.seibu. Maka pokok masalahnya empat. dua orang saudara laki-laki seibu. yakni sesuai jumlah kepala. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. 2. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). Begitu seterusnya. anak perempuan. Misal lain. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. dan itulah pokok masalahnya. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Pokok masalahnya adalah delapan. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). serta lima orang anak perempuan. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. Oleh karena itu. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian.

Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri.asal pokok masalahnya dari delapan. dan tabaayun (perbedaan). merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. mana yang paling tepat. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. yaitu istri. tawaafuq (sepadan). Apabila istri mengambil bagiannya.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. secara fardh dan radd. Sisanya. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. karena itulah jumlah bagian yang ada. dan dua orang saudara perempuan seibu. dua orang anak perempuan. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. dan ibu. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). yakni seperempat (1/4). Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian.asal pokok masalahnya dari enam. yakni tiga bagian. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). yakni yang seperdelapan. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. . Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. nenek. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. yakni istri. yakni tiga bagian.

yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. Dalam hal ini. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. berarti ia mendapat lima (5) bagian. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. hingga pembagiannya benar-benar adil. Karena itu. Jadi. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. dengan radd. penj.Kini. . yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada.). Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. ditambah bagian kedua anak perempuan.

seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. seperempat (1/4). Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). berarti itulah pokok masalahnya. Misalnya. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. seperempat (1/4). dan seperdelapan (1/8). 1/3. begitu seterusnya. sepertiga (1/3). Maka pokok masalahnya dari dua (2). Misalnya. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. maka pokok masalahnya dari empat (4). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . Untuk memperjelas masalah ini. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. maka pokok masalahnya sebelas. Sebab. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Misalnya. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. maka pokok masalahnya dari sepuluh. dan demikian seterusnya. dua laki-laki dan tiga perempuan. 1/4. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. dan satu wanita satu kepala. Misalnya. misalnya ada yang berhak setengah. dan sebagainya-. seperenam.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. 1/8). Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. maka pokok masalahnya dari enam (6). yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-.maka pokok masalahnya dari enam (6). Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari lima. dan seperenam (1/6). 1/4. Kemudian. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. Artinya. Contoh lain. bila dalam suatu keadaan. Akan tetapi. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). Misal lain. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2.maka pokok masalahnya dari delapan (8). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan).Untuk mengetahui pokok masalah. maka pokok masalahnya dari tiga (3).

ibu. ibu seperenam (1/6). ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing.mengetahui pokok masalahnya. perlu saya utarakan beberapa contoh. 2. Apabila dalam suatu keadaan.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). Maka berdasarkan kaidah. maka ia tidak berhak menerima harta waris. dan seorang saudara laki-laki kandung. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . pokok masalahnya dari dua belas (12). Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). yang merupakan kelompok kedua. ibu. sedangkan paman sebagai 'ashabah. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Apabila dalam suatu keadaan. seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu sepertiga (1/3). maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. atau salah satunya. maka pokok masalahnya dari enam (6). Apabila dalam suatu keadaan. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. dua orang saudara laki-laki seibu. sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). saudara laki-laki seibu. dan paman kandung. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. Berdasarkan kaidah yang ada. Bila tidak tersisa. Misalnya. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. atau semuanya. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). maka pokok masalahnya dari dua belas (12).

ibu. dan saudara kandung laki-laki. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris.Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. Maka berdasarkan kaidah yang ada. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. (8 : 2 x 6 = 24). . Apabila pokok masalah --harta waris-. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). A. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). seseorang wafat dan meninggalkan istri. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24).dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tawaafuq (saling bertautan). Namun. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. Yaitu. Begitulah seterusnya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan bagian ibu seperenam (1/6). kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. anak perempuan setengah (1/2). maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. anak perempuan.

dan seterusnya. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. attadaakhul.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. Misalnya. angka tiga berarti sama dengan tiga. B. penj. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. maka disebut tabaayun. dan lima sama dengan lima. Misalnya angka 7 dengan angka 4. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. demikian seterusnya. dan at-tabaayun. at-tawaafuq. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Pada hakikatnya. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. angka 8 dengan 11. Misalnya. maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. yakni 'sama bentuknya'. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. angka 5 dengan 9. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. lawan kata dari "keluar". kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. Misalnya. sehingga tidak .). Selain itu. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). yakni 'masuk'. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya.

Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. . kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. (Misalnya.). Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. empat anak perempuan. Contoh lain yang at-tamaatsul. dan bagiannya 2/3 dari 6. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). dan empat saudara kandung perempuan. maka tiap orang mendapat satu bagian. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Maksudnya. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. penj. Dengan demikian. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. setiap anak menerima satu bagian. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. Untuk lebih memperjelas masalah ini. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. ayah. ibu. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis.mengurangi ataupun menambahkan. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Namun. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. maka ada kesamaan. dua saudara perempuan seibu. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). maka setiap orang mendapat satu bagian. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. berarti 4. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah.

dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. berarti dua bagian. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. ibu. ibu. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. yaitu dua (2). lima anak perempuan. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. sedangkan bagian saudara . Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. Contoh lain. Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. dan saudara kandung laki-laki. dan paman kandung. yaitu dua (2). ayah. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. Setelah pentashihan. anak perempuan. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Misal lain. enam saudara kandung perempuan. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. dan dua orang saudara laki-laki seibu. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Itulah tashih pokok masalah. berarti 3 x 9 = 27. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. berarti empat bagian. Bagian istri 1/8 = 3. seseorang wafat dan meninggalkan suami.Contoh masalah yang at-tawaafuq. yakni angka enam (6). Contoh lain. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dan saudara kandung laki-laki. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Maka 2 x 6 = 12. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). seseorang wafat dan meninggalkan istri. yakni 3 x 12 = 36. berarti tiga (3).

kandung laki-laki mahjub (terhalang). Misal lain. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. dan saudara laki-laki seibu. kedua nenek 1/6-nya = 4. empat saudara kandung laki-laki. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. berarti 7 x 4 = 28. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. sedangkan saudara seibu mahjub. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. tujuh anak perempuan. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. dua orang nenek. yakni 27 x 5 = 135. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4).

maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. suami. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. ibu.contoh yang lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. baik berupa harta. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. dan ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Jadi. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . C. atau tanah. benda. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. anak perempuan. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. ayah. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian.

000:12 = 250 dinar Jadi. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Jadi. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. 960 dinar: 24 = 40 dinar. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. ibu. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. dua anak laki-laki.000 dinar 1. dan tiga saudara kandung laki-laki. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). ayah. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. bagian masing-masing ahli waris: Jadi. Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). Cucu pr.000 dinar.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . dan harta peninggalannya 3.

dan nenek.100 dinar 1. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).100 dinar Total = = = = = 3. dua anak perempuan.100 dinar 1.300 dinar 3.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3.000 dinar Contoh lain. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. dua saudara lakilaki seibu. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. seseorang wafat dan meninggalkan suami. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).200 dinar 2.900: 9 = 1.100 dinar 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. saudara kandung perempuan.300 dinar 2. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). ibu. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.200 dinar 9. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.900 dinar. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 .100 dinar Jadi.

ket. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). saudara perempuan seayah. dua saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. saudara laki-laki seayah.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. ibu. ket. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan . 12 Cucu pr. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. suami.

Harta peninggalannya: 17 dinar.harta peninggalan sebanyak 1. delapan (8) saudara perempuan seayah. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. seayah Ke-4 sdr. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian).mahjub. pr.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Sedangkan ahli waris yang lain ter. pr. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid.500 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan empat (4) saudara perempuan seibu. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dan sisanya --dua bagian-. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. dua (2) orang nenek. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. ket. Contoh masalahnya. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian).

Dengan demikian. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. dua belas saudara kandung laki-laki. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. seseorang wafat meninggalkan istri. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. dua anak perempuan. Wallahu a'lam bish shawab. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian).a. dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Ali bin Abi Thalib bertanya. yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. . Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya).Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. "Ya. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian)." Ali berkata. dua anak perempuan. ibu. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. dan seorang saudara kandung perempuan. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar." Kemudian Ali bin Abi Thalib r. "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar.a. Tetapi. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). Jadi. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. ibu. benar. 12 saudara kandung laki-laki.

. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris.IX.. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Bila salah seorang ahli waris meninggal. HUKUM MUNASAKHAT A. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Namun. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah. tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Ketika sang suami meninggal.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. Jadi. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. seseorang mempunyai dua orang istri. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. Misalnya. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. yakni dari . dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Kemudian. sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). Misalnya. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama.

Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. Karena itu. Kemudian. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. 2. Kemudian. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. Sebagai contoh. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). mereka mahjub. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. B. Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. Kemudian. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan.ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Maka. Berikut ini saya sertakan tabelnya: . dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). yaitu enam (6) bagian. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. termasuk hak ahli waris yang meninggal. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). Jadi. yaitu almumatsalah. tanpa mempedulikan masalah pertama. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. maka 3 x 4 = 12. dan al-mubayanah. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. dua saudara kandung perempuan. khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. Merinci masalah baru. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. berarti 3 x 12 = 36. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. dan seorang saudara kandung laki-laki. Karena itu. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. al-muwafaqah.ada mumatsalah (kesamaan). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal.

Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. tiga anak perempuan. ibu. Sdr. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. keturunan anak lk. Sdr. kandung pr. dan dua anak perempuan. . dan dua anak laki-laki. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. yaitu dua puluh empat (24). 2/3 Sdr. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. ibu.Jumlah kepala 12 3 anak pr. kandung lk. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Dalam keadaan demikian. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. berarti dua bagian. Jumlahnya lima belas (15) bagian. istri. kandung pr. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. ibu. ayah. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. kandung lk. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. kandung pr. Kemudian. ayah. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Oleh sebab itu. tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. ibu 1/6 (4 bagian). ibu. dan saudara laki-laki seibu. Sdr.

dua saudara kandung perempuan. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. dan paman kandung (saudara ayah). takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. ayah. dan tashih ketiga pada posisi kedua. seseorang wafat meninggalkan suami. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu.Kemudian. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Maka jika terjadi hal seperti ini. Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Kemudian anak perempuan juga meninggal. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . dan meninggalkan nenek. dan seterusnya. dan dua saudara laki-laki seibu. dan ibu. aljami'ah ketiga. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. Misalnya. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. saudara perempuan seibu. Misalnya. dan seterusnya. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). berarti 3 x 13 = 39. kemudian ada lagi yang meninggal. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. dan seterusnya.

ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri.pr. Pertama. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. . sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. Ketika ia wafat.Suami 1/2 Sdr. atau siapa saja yang ditunjuknya. salah seorang istrinya. 2/3 2 sdr. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. Numadhir binti al-Asbagh. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya.ialah seratus ribu dirham. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. kandung pr. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. lk. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. dan cara kedua. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada.a. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C.

Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. dan uang sebanyak Rp 42 juta. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).000 = 42. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. dan sisanya --yakni tujuh bagian-.000 = 18. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. dan dua anak laki-laki.000. X. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.000 Total = 24. pewaris meninggalkan sebuah rumah.000.adalah bagian anak perempuan.000 Bagian ayah 9 x 2.000 + 18. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. seseorang wafat dan meninggalkan ayah.000. berarti tiga (3) saham. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.000. Dalam keadaan demikian.000.000: 21 = 2. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri.000. Dengan demikian.000.000 = 24. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. seorang anak perempuan.Sebagai contoh. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Misalnya. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah.000. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.000. anak perempuan.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. pokok masalahnya dari delapan. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. Kemudian sebagai misal. Kemudian. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya. Maka. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. dan istri. Lalu sisanya (yakni 24 .

Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. dan sebagainya.. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. dalam sebagian riwayat darinya. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. dan Ali bin Abi Thalib. dan Ibnu Abbas r. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah.a. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah.. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah.. Ibnu Mas'ud. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah.a. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Misalnya. dan juga merupakan pendapat dua imam. . Dengan demikian.rahim yang menyatukan asal mereka. Muslim. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. cucu laki-laki dari anak perempuan. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Jadi. paman (saudara laki-laki ibu). Dengan demikian. B. di antaranya Umar bin Khathab. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). Allah berfirman: ". Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. bila tidak ada ashhabul furudh. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Maksudnya. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. Jadi.

Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk . Di sini. para 'ashabah. Namun sebaliknya. termasuk ashhabul furudh. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. bila diserahkan kepada kerabatnya. atau selain dari keduanya-. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. baik ashhabul furudh. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. As-Sunnah. mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum.beliau saw.. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. maka tidak pula kepada kerabat yang lain.2. Harta peninggalan. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. kerabat lain pun demikian." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Jadi.. Adapun golongan kedua. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Pendek kata. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. serta selain keduanya. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Rasulullah saw. Sebab. para ''ashabah. 3. dan logika. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim.

Dengan demikian. dari ayah dan dari ibu. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. maka Rasulullah saw. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. Dengan pemberian Rasulullah saw. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. sedangkan saudara . Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. bertanya kepada Qais bin Ashim. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman.a. Oleh sebab itu. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. ikatannya dari dua arah. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Dengan turunnya ayat ini. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham).merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. yakni saudara laki-laki ibunya. Sebab. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia.--. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Umar bin Khathab r. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Sebab. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris.a. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. baik sedikit ataupun banyak. Alasannya. Oleh karena itu. dalam riwayat ini dikisahkan. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang.

Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. persatuan dan kesatuan muslimin. Di samping itu. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. tabi'in. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". namun kesemuanya tidak mempunyai imam. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. adil. Sebagai contoh. 1. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. dan amanah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. . Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. C." Melihat kenyataan demikian. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. Misalnya. Maka muncul pertanyaan. Atau. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini.seayah hanya dari ayah. Di antaranya. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Jadi. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. bibi (saudara perempuan ayah). bibi (saudara perempuan ibu). adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. khususnya pada masa kita sekarang ini. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. dan imam mujtahidin. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. Dengan demikian. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus.jawaban Rasulullah saw. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan.

Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. 1/6. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. sdr. dan paman kandung.. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. kand. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. karena itu ia mendapatkan sisanya. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). pr. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. seibu paman kand. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. seayah 1/6. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. sdr. kandung pr. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. saudara perempuan seayah. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). Mazhab ini tidak masyhur. 1/2. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. 3/6. 2. saudara perempuan seibu. dan sepertiga lagi diberikannya . Dengan demikian. laki-laki seayah mahjub. Sdr. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. yakni pokoknya. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. bahkan dhaif dan tertolak. Oleh karena itu. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. dan saudara laki-laki seayah. Pr. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. saudara kandung perempuan. Inilah gambarnya: Sdr. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. 1/2. 2. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. Sdr. pr.

jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. Selain itu. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. dan seterusnya. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Sebagaimana telah diungkapkan. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Sebab. Selain itu. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. Di samping itu. Yang dinisbati oleh pewaris: a. 3. Keempat golongan tersebut adalah: 1. b.a. 2. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. dan seterusnya. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Kakek yang bukan sahih. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. . kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris.a. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. yang tampak sangat logis.kepada bibi (dari pihak ibu). dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. baik laki-laki ataupun perempuan. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. Hal ini. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Oleh karena itu. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. menurut mereka. Maka. baik laki-laki ataupun perempuan. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok.

seayah. Jika tidak ada. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). atau seibu.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. Paman kakak yang seibu. Keturunan saudara kandung perempuan. kakek.. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. ibu dari ibu ayahnya ibu. atau yang seayah. Bila mereka tidak ada. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". cucu. Dengan demikian. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). seibu. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. Bibi dari ayah pewaris. dan seterusnya. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. b. 2. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. dan paman (saudara ayah) ibu. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. Jika tidak ada juga. Nenek yang bukan sahih. baik yang kandung. baik yang kandung maupun yang seayah). dan juga paman nenek. maka pokoknya: ayah.dari kakek dan nenek. dan seterusnya). baik bibi kandung. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. atau yang seibu. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). seayah. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. menurut ahlul qarabah. dan seterusnya. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. b. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. dan bibi (saudara perempuan ibu). Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. atau seayah. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . Bila mereka tidak ada. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki.b. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. ataupun seibu. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. dan seterusnya.

Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. Dalam contoh ini. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. maka pembagiannya dilakukan secara merata. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. setelah diambil hak para shahibul fardh. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Tidak ada shahibul fardh. Begitu seterusnya. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. 2. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. D. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. Dan bila ada shahibul fardh. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Misalnya. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Hanya saja. Namun. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Misalnya. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. 2. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Dengan demikian. dan seorang anak perempuan dari anak paman . Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Artinya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. maka ia akan menerima sisanya. Dengan demikian. Misalnya. Misalnya. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Begitulah seterusnya. jika ada shahibul fardh.mereka. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). Tidak ada penta'shib ('ashabah). keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Sebab.

kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. XI. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. Bila urinenya keluar dari penis. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah.). yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. Sebenamya. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. Oleh karena itu. Selain itu. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Namun. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Atau dengan redaksi lain. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan.a. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu.kandung yang lain. penj. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Misalnya. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. artinya tidak ada kejelasan. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. dan para ulama mazhab Hanafi. Sebab. khanatsa wa takhannatsa. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. Oleh karenanya. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. maka ia divonis sebagai laki-laki dan ." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit).

maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Bila keluar dari penis. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. penj. dan tidak menerima vonis tersebut. tetapi bila keluar dari vagina. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Di samping melalui cara tersebut. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Ia berkata: "Wahai kaumku. C." B. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. apakah ia tumbuh kumis. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. Ketika Islam datang.). lihatlah jalan keluarnya air seni. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. 2. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit.a. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. dikukuhkanlah vonis tersebut. Namun. Melihat sang majikan gelisah. dan sebagainya. Mazhab Syafi'i berpendapat. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. ia dinyatakan sebagai perempuan. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Mazhab Maliki berpendapat." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Maksudnya. bahwa Rasulullah saw. maka ia sebagai laki-laki. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. apakah ia haid atau hamil. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. Misalnya. . dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. apakah tumbuh payudaranya.

maka pokok masalahnya dua (2). 3. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). maka pokok masalahnya dari lima (5). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki.'aul-kan. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. 2. dan saudara laki-laki banci. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. maka divonis sebagai laki-laki. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. dan bagian anak banci lima (5). maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. ibu. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). dan . maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). seorang anak perempuan. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. ibu enam (6) bagian. saudara kandung perempuan.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. dan seorang anak banci.yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. Bahkan. dan sisanya kita bekukan. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. dan saudara laki-laki seayah banci. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. seperti dalam masalah al-munasakhat. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. maka gugurlah hak warisnya.

. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. yakni dua (2) bagian dibekukan. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D.. Dengan demikian. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. pr. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). Secara ringkas dapat dikatakan. Bagian suami enam (6). 1/2 Banci lk. 1/2 Sdr. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. baik laki-laki maupun perempuan. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. pr. ibunya mengandungnya dengan susah payah. laki-laki atau perempuan. Namun demikian. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. kdg. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. Berkaitan dengan hal ini. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. dan satu atau kembar. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. kdg.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. Adapun sisanya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. 1 1 Suami 1/2 Sdr. pr. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. Setelah itu. Karena itu. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang .

Kelima keadaan tersebut: 1.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati)." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.ada." Pernyataan Aisyah r. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. E. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Dengan demikian. . ia tidak berhak mewarisi. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. atau yang semacamnya. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad.. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). bersin. F.a. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. menurut mazhab Hanafi. maka tidak berhak mendapatkan waris. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. 2. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan).: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal.a. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. mau menyusui ibunya. dan ia dianggap tidak ada. Bahkan.

Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. apabila yang lahir anak perempuan. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). Bila yang lahir bayi perempuan. Sebagai ahli waris tunggal. ibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. bila ternyata bayi tersebut perempuan. dan istri ayah yang sedang hamil. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. tiga saudara perempuan seibu. Pokok masalahnya dari empat (4). Sebagai misal. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). 2. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. maka hak warisnya diberikan kepadanya. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. Namun. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. Namun. Namun. Contoh lain. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. Sebagai misal. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Setelah janin lahir dengan selamat. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. ayah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. Bila yang lahir anak laki-laki. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. paman (saudara ayah). Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4).

dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. dalam kedua keadaannya. seibu 1/3 Sdr. ibu. maka kita sisihkan bagian warisnya. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. dibekukan. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). ayah seperenam (1/6). Atau terkadang terjadi sebaliknya. baik ia laki-laki ataupun perempuan. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6).maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. Dengan demikian. Sebab. sbg. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). Dalam keadaan demikian. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . jika bayi itu masuk kategori laki-laki. Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. Jadi. boleh jadi.pr. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. Inilah tabelnya. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). Sebagai contoh. dan ayah. pr. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. saudara perempuan seayah. 'ashabah Sisanya satu (1). berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. Sebagai misal. dan bagian istri seperdelapan (1/8).Ibu 1/6 3 sdr.

namun jika ia lahir dalam keadaan mati. pr. pr. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. Sebab. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. 1/2 Sdr. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. 1/2 Sdr. Sebagai misal. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. Contoh lain.6 Sdr. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. terputus beritanya. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. pr. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). DAN TERTIMBUN A. anak perempuan setengah (1/2) bagian. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. dan aku menjamin terhadapnya. Akan tetapi. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. al-mafqud berarti orang yang hilang. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. kdg. kdg. pr. Karenanya. TENGGELAM. dan . bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.

Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). Bila usai masa idahuya. hartanya tidak boleh diwariskan. Dalam riwayat lain.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. dari Imam Malik.a. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi." B. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). Sementara itu. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Karena menurut Imam Syafi'i. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. atau menjadi salah seorang penumpang .tidak diketahui rimbanya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Akan tetapi. Dalam riwayat lain. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. yaitu empat bulan sepuluh hari. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Namun. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. maka hendaknya dia bersabar. apakah dia masih hidup atau sudah mati.telah mati. dari Abu Hanifah.

Pertama. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. Karena itu. Sebagai contoh. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. dan dua saudara perempuan seayah. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. C. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. atau untuk menuntut ilmu. saudara kandung perempuan.kapal yang tenggelam-. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). Namun. saudara laki-laki seayah. ia dapat menempuh masa idahnya. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. seperti pergi untuk berniaga. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. Misalnya. Demikian juga istrinya. Sedangkan pada keadaan kedua. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. melancong. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. 2. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). Kapan saja hakim memvonisnya. maka itulah yang berlaku. Namun. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. Karena itu. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. Maksudnya. hendaknya ia . dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. dan anak laki-laki yang hilang. Menurut hemat penulis. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. Misal lain. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. Sebab. Kedua. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. atau banyak perampok dan penjahat.

hlg 1 Sdr. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. kdg. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. kdg. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). Sebagai contoh. bagian istri adalah seperempat (1/4). atau tanpa ada yang dibekukan). dan saudara kandung laki-laki yang hilang. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. dan cucu laki-laki dari . maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). seseorang wafat dan maninggalkan istri. kdg. lk. Dalam keadaan demikian.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. saudara kandung. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. pr 1 1 Sdr. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. ibu. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). Dalam contoh tersebut. hdp. kemudian membekukan sisanya. ibu. pr 1 Sdr. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. kdg. kdg. saudara laki-laki seayah. ibu seperenam (1/6). saudara kandung perempuan. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. lk. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. kdg. hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Namun. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. Namun.

cucu perempuan keturunan anak laki-laki. hdp.pr. (hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.dr.kdg.pr. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. saudara kandung perempuan.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh.anak.lk. hdp. saudara laki-laki seibu. Istri 1/8 2 Anggapan sdh.lk. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. Suami 1/4 Cucu pr. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. hdp. dan anak laki-laki yang hilang. (mahjub) Sdr.keturunan anak laki-laki. (hilang) 3 Anak lk. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.dr. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr. lk. seseorang wafat dan meninggalkan suami. mati Suami 1/4 Cucu pr.lk. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. mahjub Sdr. 8 Anggapan sdh.kdg. anak paman kandung (sepupu). mati 12 24 .kdg. (hilang) 17 Cucu lk.anak.

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Misalnya. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah.lk. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. (hilang) 4 Cucu pr. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . lk. tanpa diduga. lk. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. 'ashabah 3 Sepupu. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu.lk. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". D.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. lalu mengalami kecelakaan. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada.seibu (mahjub) Sdr.. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. ujian. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Sayangnya. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. dan cobaan.

dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Begitulah seterusnya. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. . Sebagai contoh. amin. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. Kemudian. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. anak perempuan. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. harta ketiga anak laki-laki. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Sebagai contoh. Misal lain. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian." Hal demikian. Yang satu meninggalkan istri. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). menurut para ulama. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. seluruh isi langit dan bumi. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. Menurut ulama faraid. Dialah Yang Maha Kekal. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. pengatur alam semesta. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. dan anak paman kandung (sepupu). dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah.

kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. maka ibunya mendapat seperenam. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. . Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. jika mereka tidak mempunyai anak. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. maka ibunya mendapat sepertiga. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. maka ia memperoleh separo harta. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Ini adalah ketetapan dari Allah. jika yang meninggal itu mempunyai anak. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. jika anak perempuan itu seorang saja. junjungan kita Muhammad saw. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. para sahabatnya. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. Mekah. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Yaitu. Jika seseorang mati.tidak akan rusak dan tidak akan mati. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika kamu mempunyai anak. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.

Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. jika ia tidak mempunyai anak. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)." (an-Nisa': 176) . maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal.baik laki-laki maupun perempuan. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. supaya kamu tidak sesat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful