A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

kedua orang tua. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan.. anak-anak. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. 1 B. Sebab menurut anggapan mereka. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. baik berupa sandang. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. serta tidak pula berperang melawan musuh. baik dari harta peninggalan ayah. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. dan istri-. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Sementara itu. Islam memberi mereka hak waris. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. pangan.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. dan papan. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Jadi. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. tidak mampu memanggul senjata. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh).kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. suami. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. maupun kerabat mereka. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut.a. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak. --berupa ayat-ayat tentang waris-. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. tanpa direndahkan.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. ayah. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. suami. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. wanita.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. 2. Dengan demikian. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. Bagian istri: 1. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. . baik laki-laki maupun perempuan. Sementara itu. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. jika sendirian. mendapat separo harta peninggalan. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". Dalam ayat yang disebut terakhir ini. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. maka bagian istri adalah seperempat. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. Yang pertama dalam ayat ini. Oleh karenanya. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat.dibandingkan saudara seibu. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Jadi. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Sementara itu. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Bagian suami: 1. 2. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya.(dan) sesudah dibayar utangnya. Jika kamu mempunyai anak.

saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan.. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. Menurut saya. maka karena dariku dan dari setan. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. 2. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Jadi. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. Adapun bila pendapat ini salah. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan.a. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Jadi. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.2. 1. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. . misalnya. Begitulah hukum bagi saudara seayah. dan tidak mempunyai ayah atau anak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini.

cucu. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. kecuali hukum waris ini. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. ayah. istri. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). tanah. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. Dan Kami adalah pewarisnya." (an-Naml: 16) ". tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. demikian pula sabda Rasulullah saw. Oleh karena itu. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. suami. besar atau kecil. paman.. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. dari seluruh kerabat dan nasabnya... atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. . Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. kakek. dan ijma' para ulama sangat sedikit. baik berupa harta (uang) atau lainnya. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'.. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia.. apakah dia sebagai anak.II. Jadi.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . Definisi Waris Al-miirats. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. ibu. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal.

pembelian kain kafan. Artinya. menurut mereka. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Padahal. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. bila sang mayit berwasiat. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. seperti belum membayar zakat. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Namun. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. menurut saya. atau belum memenuhi kafarat (denda). Akan tetapi. Di antaranya. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. biaya pemakaman. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. atau belum menunaikan nadzar. sejak wafatnya hingga pemakamannya. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Menurut jumhur ulama. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. biaya memandikan. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. 2. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Pendapat mazhab ini. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli .

istri. baru kemudian melaksanakan wasiat. As-Sunnah. B. Catatan: Pada ayat waris. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Misalnya anak laki-laki pewaris. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. dan ijma'. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. 3.a.setelah ashhabul furudh menerima bagian). As-Sunnah. bersabda: "." 4. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. misalnya ibu.. Rasulullah saw. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. Ashhabul furudh. termasuk diambil untuk membayar utangnya. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Bahkan. ayah.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. saudara kandung pewaris. dan kesepakatan para ulama (ijma').. Ashabat nasabiyah. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Sementara itu. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Setelah ashhabul furudh. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. dan sepertiga itu banyak. Padahal secara syar'i. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Oleh karena itu. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. cucu dari anak laki-laki pewaris. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. dan lainnya). paman . suami. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Sepertiga. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah.

tidak pula 'ashabah. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. Hak waris secara tambahan. paman (saudara ibu). sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. dan sebagai 'ashabah. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. bibi (saudara ayah). dan . Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Baitulmal (kas negara). Maka. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. bibi (saudara ibu). Misalnya. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. Dengan demikian. Misalnya. seperti kedua orang tua. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. saudara. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. 2.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Misalnya. anak. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. B. cucu laki-laki dari anak perempuan. C. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. D. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. paman. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Ashabah karena sebab. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan).kandung. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Hak waris secara pertalian rahim. Mewariskan kepada kerabat. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. dan seterusnya. Misalnya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Bentuk-bentuk Waris A. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri.

Hal ini harus diketahui secara pasti. Pewaris.seterusnya. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Ahli waris. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. Al-Wala. Sebagai contoh. Harta warisan. F. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . 2. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. kecuali setelah ia meninggal. E. baik berupa uang. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. karena bagaimanapun keadaannya. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. termasuk jumlah bagian masing-masing. 2. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Pernikahan. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). dan sebagainya. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. yakni orang yang meninggal dunia. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. 2. atau lainnya. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Sebagai contoh. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. tanah. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah.

kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. dalam hal ini ada tiga: 1. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Misalnya. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. misalnya suami. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. saudara seayah. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan.maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. ada yang karena 'ashabah. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. dan sebagainya. serta ada yang tidak terhalang. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. atau membayar kafarat. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). membayar diyat. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. Para fuqaha menyatakan. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. secara langsung menjadi milik tuannya. 2. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. kerabat. tertimpa puing. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Misalnya.meninggal-. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Sebab. atau tenggelam. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. Alhasil. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. atau saudara seibu. G. istri.

Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Karena itu. Sementara itu. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Maksudnya. Menurut penulis. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. apa pun agamanya. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Sebagai contoh. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Ibnu Mas'ud. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. seperti membunuh atau berbeda agama. yakni murtad. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Menurut saya. 3. dalam haditsnya. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. tidak ada yang mengunggulinya). dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. dan lainnya. Sebab. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. Syafi'i. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. Wallahu a'lam. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. adanya kakek bersamaan . Karena itu. seperti ditegaskan Rasulullah saw.a. menurut mereka. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir.rajam. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. termasuk keempat imam mujtahid. Ali bin Abi Thalib." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul.

Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (3) bapak. Jadi. yaitu tiga per empat harta yang ada. (10) paman (saudara kandung bapak). yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. (7) saudara perempuan seayah. sisa harta yang ada. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. . Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. anak kita misalkan sebagai pembunuh. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. yaitu ayah. ibu. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (7) saudara laki-laki seibu. saudara kandung. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. (4) kakek (dari pihak bapak). Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. (13) anak laki-laki paman seayah. maka bagian istri seperdelapan. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. (11) paman (saudara bapak seayah). (10) perempuan yang memerdekakan budak. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. (9) istri. yaitu ayah pewaris H. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (6) saudara kandung perempuan.dengan adanya ayah. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. I. yaitu 7/8. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah.dan seterusnya. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. (5) saudara kandung laki-laki. dan anak --dalam hal ini. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). (2) ibu. dan seterusnya. (4) nenek (ibu dari ibu). (6) saudara laki-laki seayah. (14) suami. (5) nenek (ibu dari bapak).mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. Kemudian sisanya. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Jika terjadi hal demikian. serta saudara kandung. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. (8) saudara perempuan seibu.

. Dalilnya adalah firman Allah: ". bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". dua per tiga (2/3). yaitu setengah (1/2). dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). saudara kandung perempuan. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. anak perempuan. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). A. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum".III. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.. dan saudara perempuan seayah. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki).. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. dengan dua syarat: a. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan.. b. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. dengan tiga syarat: a. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. 4. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dengan tiga . dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. sepertiga (1/3).). Rinciannya seperti berikut: 1. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. penj. seperempat (1/4). b. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. 3. seperdelapan (1/8). satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. dan seperenam (1/6)." (an-Nisa': 12) 2. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada.

Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. b. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.'" (an-Nisa': 176) 5. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Apabila ia hanya seorang diri. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. dengan empat syarat: a.. b. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki.. yaitu suami dan istri. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). dan tidak pula mempunyai keturunan.syarat: a. .. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. Rinciannya sebagai berikut: 1. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua.. dan tidak pula anak.. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris." (an-Nisa': 12) . baik anak laki-laki maupun perempuan. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak...

Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Jika kamu mempunyai anak. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'.. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. . yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan ..a. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya.. Jadi. 2.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Jadi. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. Dengan kata lain. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.... maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. C. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. Dalilnya firman Allah berikut: "." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah." (an-Nisa': 12) D. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'.tentang bagian istri. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. yakni anak laki-laki dari pewaris. Wallahu a'lam. bila suami mempunyai anak atau cucu. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ".. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Istri.

baik laki-laki atau perempuan." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah.. 2. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Dalilnya adalah firman Allah: ".. b.. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Dalilnya adalah firman Allah: ... baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). atau kakek. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki." (an-Nisa': 176) 4. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Bila pewaris tidak mempunyai anak. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Dan dalilnya sama. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. ayah. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). b. Wallahu a'lam. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu.. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. dengan persyaratan sebagai berikut: a. 3.. E. b. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a.. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. juga tidak mempunyai ayah atau kakek.2.

Yakni. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Namun... dua orang atau lebih. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). maka ibunya mendapat seperenam. Misalnya dalam istilah shalat jamaah.. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.. juga tidak mempunyai ayah atau kakak.. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ".."." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan.. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. 2. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. . maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu.. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'... bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. Selain itu. maka ibunya mendapat sepertiga. Kesimpulannya.. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang..

yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. Dengan demikian. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Agar lebih jelas. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. ibu.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". ibu. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. saya sertakan contohnya. Akan tetapi. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. karena kedua istilah ini sangat masyhur. Dalam kasus ini. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). dan ayah. dan ayah. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. maka ibunya mendapat sepertiga".

Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris." (an-Nisa': 11) 2. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak.. tepatnya masa Umar bin Khathab r.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). (5) saudara perempuan seayah. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang.. menurut hemat saya. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki..a. Menurutnya. F. 3. jika yang meninggal itu mempunyai anak . (6) nenek asli. (3) ibu.. (2) kakek asli (bapak dari ayah). 1. Wallahu a'lam.. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.a. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Dalilnya firman Allah (artinya): ". Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r. Dan untuk dua orang ibu bapak. Jadi. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Mereka adalah (1) ayah. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. b. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Jadi. baik saudara laki-laki . Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu"..a. dengan dua syarat: a. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. baik anak laki-laki atau anak perempuan.

seayah. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang. 4. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3). dan saudara perempuan. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. baik sekandung.. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Dalilnya firman Allah (artinya): ". maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah.. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian.. bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak ." (an-Nisa': 11). Dalam keadaan demikian. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. 5. Selain itu.a.. Sebab jika lebih dari satu orang. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2)." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Jadi. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). sebagai pelengkap dua per tiga (2/3)." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. maka ibunya mendapat seperenam . Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu.. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. ataupun seibu. 6. Sebab bila ada anak laki-laki. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris.ataupun perempuan.

sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw.menguatkan dan melindungi. dan paman (saudara kandung ayah). Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). A. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu.meninggalkan anak. kata ini sering kali digunakan. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. jika yang meninggal itu mempunyai anak." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6). Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. baik laki-laki atau perempuan). untuk menuntut hak warisnya. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. IV. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. Ayat tersebut juga telah . Selain itu. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. anak laki-laki. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. 7. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. Wallahu a'lam. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). sedang kami golongan (yang kuat). Disebut demikian. Sebagai contoh.a. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat.

dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Namun. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. dan seterusnya. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. Arah bapak. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. misalnya . maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). kakek. Inilah makna 'ashabah.menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. dalam hal penggunaan kata "dzakar". " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. Namun. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). yang pasti hanya dari pihak laki-laki. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. dan seterusnya. bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. yaitu: 1. Maka jika masih tersisa. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. mencakup ayah." (an-Nisa': 176). Kemudian. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. mempunyai empat arah. Dengan demikian. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. Sebab. Oleh sebab itu. Arah anak. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. Catatan Dalam dunia faraid. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). cicit. jika ia tidak mempunyai anak. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. B.

Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. Sebagai misal. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. ayah dari kakak. ayah. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. 2. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. dan seterusnya. dan saudara kandung. Sementara itu. Dalam keadaan demikian. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. termasuk keturunan mereka. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Rinciannya. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. Sebagai misal. Sebab. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. termasuk keturunan mereka. Contoh lain. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. Pengecualiannya. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. Misalnya. mencakup saudara kandung laki-laki. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. saudara laki-laki seayah. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Arah paman. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. dan seterusnya. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki.ayah dari bapak. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. dan seterusnya. namun hanya yang laki-laki. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. saudara laki-laki seayah. Apabila anak tidak ada. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. kemudian mereka pun dalam satu arah. Arah saudara laki-laki. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi.

ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. dan seterusnya. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Sebagai contoh. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Dengan demikian. Oleh sebab itu. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Sebab. Artinya. jika yang meninggal itu mempunyai anak." (an-Nisa: 11).kandung. Dengan demikian. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). sedangkan bagian anak tidak disebutkan. keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Bahkan. Namun demikian. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. sedangkan dari . yakni arah anak dan arah bapak. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. demi kepentingan masa depan anaknya. Wallahu a'lam. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Sedangkan secara aqli. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw.

tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. dan saudara perempuan seayah). baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan.kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. saudara kandung perempuan. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. dan pembagiannya. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. 2. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. Misalnya. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Sebab dalam keadaan demikian. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Sebagai contoh. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Misalnya. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya.

Kemudian. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r.sama rata. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. Jadi. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. Selain itu. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah.. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. dan bagian saudara perempuan separo. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo.a. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12)." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu.akan menjadi 'ashabah.. Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-.

'ashabah ma'al ghair. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. dan saudara lakilaki seayah. Begitu juga saudara perempuan seayah. seperti anak keturunan saudara (keponakan). dua orang saudara kandung perempuan. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. Selain itu. paman kandung ataupun yang seayah. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. saudara perempuan. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. dan saudara laki-laki seayah. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah.

menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. seorang ibu. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). saudara perempuan seayah. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. saudara perempuan seayah. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . dan paman kandung (saudara dari ayah kandung).Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. kemudian sisanya yaitu seperempat-. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan.

cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. secara ringkas. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. dan ibu mendapatkan seperenam. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. dan seorang suami. seperti anak laki-laki. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. Begitulah seterusnya. C. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. Jadi. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. Misalnya. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Akan tetapi. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. saudara laki-laki seibu. Agar persoalan ini lebih jelas. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. . dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Inilah perbedaan keduanya. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya.

yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). dan seterusnya. Misalnya. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. Satu hal yang perlu diketahui di sini. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'.V. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. Selain itu. Jadi. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. B. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. . Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. dan seterusnya. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Misalnya. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'.

cicit. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. cicit. Selain itu. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. dan keturunan laki-laki (anak. dan seterusnya). Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. cicit. maka semuanya harus mendapatkan warisan. 2. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. cicit. dan seterusnya (semuanya laki-laki). Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. cucu kandung laki-laki. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. ibu. cucu. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). kecuali jika ada 'ashabah. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. serta oleh saudara laki-laki seayah. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. cucu. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. cucu. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. dan seterusnya). dan istri. ayah. ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). kakek. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. anak kandung perempuan. dan juga dengan adanya paman kandung.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. anak laki-laki. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. anak. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. cucu. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. suami. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. . Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan.

ayah juga seperenam (1/6) bagian. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. ibu seperenam (1/6) bagian. 2. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". anak perempuan. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. Selain itu. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. Kedua: Untuk lebih memperjelas. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. ibu. Padahal. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. dan seterusnya. ayah. Kemudian. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). kecuali bila adanya 'ashabah. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. anak perempuan. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. anak perempuan setengah. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. ibu seperenam (1/6) bagian. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. bapak. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. ayah seperenam (1/6) bagian. kakek. Oleh sebab itu. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. cucu. cucu. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. cicit. ibu. yakni saudara laki-laki yang merugikan. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. cicit.

di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. tabi'in. Maka. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. juga karena para sahabat. kemudian baru kepada para 'ashabah. masalah ini merupakan kasus kolektif. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. Sedangkan dalam contoh kedua. Berdasarkan kaidah yang berlaku. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Karena. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Ali. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). Di samping itu. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. tabi'in. Namun. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. ibu. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). dan imam mujtahidin. dan lainnya. Ibnu Abbas. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif." Namun demikian.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. Sementara itu. sejak masa para sahabat. dan imam mujtahidin. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). Contoh permasalahannya sebagai berikut. tabi'in. Ibnu . masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. Utsman.karena tidak ada pen-ta'shih. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki).

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. dan anak perempuan. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. 2. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: .dari dua pilihan yang ada. Pertama dengan cara pembagian. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. itulah yang menjadi bagiannya.istri.

kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. kakak. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. maka itulah bagian kakek. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. dengan pembagian. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan.1. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Misalnya.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. dan saudara kandung laki-laki. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Yang pasti. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. menerima sepertiga (1/3). Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. 2. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. dan sisanya dibagi dua. kakek. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. Yaitu.

ibu mendapatkan seperenam (1/6). dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Akan tetapi. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. kakek. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan sang kakek juga seperenam. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. mereka dianggap satu jenis. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. yakni saudara kandung laki-laki. dan tiga saudara kandung perempuan.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. seorang anak perempuan. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. kakek. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. kakek seperenam (1/6). E. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. . mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". dan sepuluh saudara kandung perempuan. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. nenek seperenam (1/6). Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. suami. dan kakek mendapat seperenam (1/6). kakek. Dalam contoh pertama. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. anak perempuan setengah (1/2). ibu. haknya menjadi gugur. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. Untuk keadaan seperti ini. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. maka saudara seayah mahjub. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. kakek. karena itu bagian kakek sepertiga (1/3).setelah diambil hak sang ibu. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. yaitu sepertiga. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. dan empat saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. nenek.

dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. kakek sepertiga (1/3). Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. kakek. tanpa menggunakan cara pembagian. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung.dalam contoh ini adalah ibu. Kemudian. yakni merugikan kakek pada cara pembagian.seorang saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). Pada contoh kedua ini.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Tabelnya sebagai berikut: . sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Oleh sebab itu. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. saudara kandung perempuan. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. dan dua orang saudara seayah. dan dua orang saudara perempuan seayah. yaitu sepertiga (1/3). Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. seorang saudara kandung laki-laki. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. kakek. Sisanya barulah untuk mereka. dan seorang saudara perempuan seayah.

). sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. cicit. Oleh sebab itu. dan seterusnya). kakek delapan (8) bagian. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. 6 10 18 2 F. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami.Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja.a. Setelah ditashih. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah .disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. kakek. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. cucu. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. Di samping itu. suami mendapat setengah (1/2). kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. bagian. Akan tetapi. Misalnya. dan seorang saudara kandung perempuan. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. ibu. Sebab. Berikut ini saya sertakan tabelnya. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. penj. ibu enam (6) bagian. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Sebab.

MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A.. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Bila ada salah satu yang diubah. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. Wallahu a'lam. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil.." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. seperti yang difirmankan-Nya: ". 9 6 8 4 3 2 1 0 VII. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul .ditashih. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.

Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. berarti mendapat bagian satu (1). Contoh lain. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). yaitu dua (2). Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. sedangkan yang empat tidak dapat. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya.a. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. dan dua puluh empat (24). Namun demikian. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). dan bagian saudara kandung perempuan setengah.. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya.furudh yang ada -.. saudara kandung laki-laki. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. Sebab bila aku berikan hak suami. dan siapa yang diakhirkan. C. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). dua belas (12). Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. Bagian suami setengah berarti satu (1). sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. Yang masyhur dalam ilmu faraid. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. dan sisanya menjadi bagian ayah. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. tiga (3). suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. B.tidak pernah terjadi." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan.a. dan saudara kandung . riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.meski bagian mereka menjadi berkurang. dan ayah dua bagian. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. dan delapan (8)." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. jadi ibu mendapat satu bagian." Secara lebih lengkap. empat (4). seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul.

Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. yakni tiga per delapan (3/8). angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). dan saudara perempuan seibu. anak perempuan. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). anak perempuan. Lebih dari angka itu tidak bisa. namun hanya untuk angka ganjilnya. perlu kita simak contoh-contohnya. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. lima belas (15). bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. Dengan demikian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. saudara kandung perempuan . saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Contoh kasus yang lain. Namun. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. ibu. sembilan. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. yakni dapat naik menjadi tujuh. Lebih dari itu tidak bisa. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. delapan. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). atau tujuh belas (17).perempuan. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". ibu.berarti satu bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Lebih jelasnya. dan saudara kandung perempuan. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. Sebagai misal. dan seorang saudara perempuan seibu. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. dan dua puluh empat (24). atau sepuluh. dua belas (12). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada.

Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. seorang saudara perempuan seayah. dan dua orang saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Oleh karena itu. yaitu menjadi tiga belas (13). Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. yaitu enam banding sepuluh (6:10). bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. ibu. yaitu tiga belas. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. dan empat orang saudara perempuan seibu. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. yaitu lima belas bagian. seorang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. 2. 2. ibu. Bila demikian. dan dua orang saudara kandung perempuan.berarti dua bagian. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. lima belas (15). Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. dua orang nenek. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. atau tujuh belas (17). ibu seperenam (1/6) berarti satu. delapan orang saudara perempuan seayah. dua orang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dua orang saudara perempuan seayah. ibu.setengah (1/2) berarti tiga. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dan dua orang saudara laki-laki seibu. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. dan seorang saudara perempuan seibu. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. yaitu delapan per enam (8/6). berarti delapan . Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya.

D. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). yakni tujuh belas berbanding dua belas. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. 2. maka pokok masalahuya dari empat (4). maka pokok masalahnya dari dua (2). dan tidak ada 'aul.bagian. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Catatan 1. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. dan tidak dapat di-'aul-kan. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. Selain itu. dan tidak ada 'aul. mengikuti jejak . Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. ayah. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya.' Lalu keduanya kembali. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. maka pokok masalahnya dari delapan. anak perempuan. Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). ibu. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. Sekali lagi ditegaskan. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.

Artinya. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . G. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu.-maka tidak mungkin ada arradd. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri.. F. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).mereka semula.. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. Sebagai misal. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. E. ada sisa harta waris. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd. . kecuali suami dan istri. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1.

dan dengan adanya suami atau istri 2. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Maka pembagiannya. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. H.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. maka pokok masalahnya dari tiga. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Sebagai misal. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. Contoh lain. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. dan seterusnya)-. Maka pokok masalahnya dari empat. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Sebab. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. semuanya berhak mendapat bagian setengah. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). Maka pokok masalahnya dari dua. Keempat macam itu: 1. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. yakni tiga. Misal lain. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. disebabkan bagiannya sama. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. saudara kandung perempuan. karena jumlah bagiannya ada empat.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. serta saudara laki-laki . maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. Sebagai misal.maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. sesuai jumlah ahli waris. atau seperempat. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh-contoh keadaan kedua 1. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki. bagi ibu seperenam (1/6). untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3).

Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. . Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sebagai misal. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. Contoh lain. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). serta seorang saudara perempuan seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. serta lima orang anak perempuan. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Oleh karena itu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Maka pokok masalahnya empat. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. dan saudara perempuan seibu. disertai salah satu dari suami atau istri. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. yakni sesuai jumlah kepala. Maka pokok masalahnya lima. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. yaitu istri. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris.seibu. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Dengan demikian. Contoh lain. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). saudara perempuan seayah. berarti mendapat satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Hitungan ini perlu pentashihan. berarti lima bagian. 2. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan itulah pokok masalahnya. Misal lain. anak perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. dua orang saudara laki-laki seibu. karena jumlah bagiannya empat. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. Maka pokok masalahnya dari empat. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. Pokok masalahnya adalah delapan. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. setiap anak memperoleh tiga bagian. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. dan itulah pokok masalahnya. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. karena jumlah bagiannya adalah lima. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). Begitu seterusnya.

Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. yakni yang seperdelapan. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). nenek. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. dua orang anak perempuan. tawaafuq (sepadan).asal pokok masalahnya dari enam. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya.asal pokok masalahnya dari delapan. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. mana yang paling tepat. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. dan ibu. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. yakni istri. yaitu istri. . dan dua orang saudara perempuan seibu. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). Apabila istri mengambil bagiannya. yakni seperempat (1/4). secara fardh dan radd. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. yakni tiga bagian. karena itulah jumlah bagian yang ada. yakni tiga bagian. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan tabaayun (perbedaan). dan dengan ar-radd menjadi dari lima. Sisanya.

Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. hingga pembagiannya benar-benar adil. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. . menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. ditambah bagian kedua anak perempuan. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. Jadi.Kini. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. Dalam hal ini. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. penj. Karena itu. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut.). tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. berarti ia mendapat lima (5) bagian. dengan radd. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid.

berarti itulah pokok masalahnya. berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. Akan tetapi. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). seperenam. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. seperempat (1/4). maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. maka pokok masalahnya sebelas. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. dan sebagainya-. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Misalnya. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Sebab. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). Maka pokok masalahnya dari dua (2).kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. Misalnya. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). dan demikian seterusnya. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. Misalnya. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). Contoh lain. seperempat (1/4).maka pokok masalahnya dari delapan (8). Misal lain. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dari enam (6). Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. Untuk memperjelas masalah ini. Artinya. 1/8). Misalnya. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. maka pokok masalahnya dari lima. misalnya ada yang berhak setengah.Untuk mengetahui pokok masalah. 1/4. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. bila dalam suatu keadaan.maka pokok masalahnya dari enam (6). atau yang mutabaayinah (saling berbeda). maka pokok masalahnya dari sepuluh. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. sepertiga (1/3). begitu seterusnya. maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. 1/3. dua laki-laki dan tiga perempuan. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . 1/4. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. maka pokok masalahnya dari empat (4). Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). dan seperdelapan (1/8). Kemudian. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. dan satu wanita satu kepala. dan seperenam (1/6). bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2).

atau salah satunya. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . perlu saya utarakan beberapa contoh.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. Maka berdasarkan kaidah. Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. maka ia tidak berhak menerima harta waris. dan seorang saudara laki-laki kandung.mengetahui pokok masalahnya. sedangkan paman sebagai 'ashabah. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). ibu seperenam (1/6). Bila tidak tersisa. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. 2. atau semuanya. ibu. Berdasarkan kaidah yang ada. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. ibu. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). Apabila dalam suatu keadaan. maka pokok masalahnya dari enam (6). Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. pokok masalahnya dari dua belas (12). dan paman kandung. yang merupakan kelompok kedua. Apabila dalam suatu keadaan. saudara laki-laki seibu. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. Misalnya. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. dua orang saudara laki-laki seibu. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. ibu sepertiga (1/3). Apabila dalam suatu keadaan. maka pokok masalahnya dari dua belas (12).

Apabila pokok masalah --harta waris-. A. (8 : 2 x 6 = 24). . Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. Begitulah seterusnya.Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. Yaitu. dan saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). ibu. bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Maka berdasarkan kaidah yang ada. Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. anak perempuan. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan istri. anak perempuan setengah (1/2). dan bagian ibu seperenam (1/6). at-tawaafuq (saling bertautan). karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). Namun. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih.

Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. demikian seterusnya. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. angka 8 dengan 11. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. angka 5 dengan 9. at-tawaafuq. yakni 'masuk'. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. penj. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. B. maka disebut tabaayun. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Misalnya. Pada hakikatnya. dan lima sama dengan lima. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Misalnya. yakni 'sama bentuknya'. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. attadaakhul.). angka tiga berarti sama dengan tiga. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. dan at-tabaayun. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. lawan kata dari "keluar". Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). Misalnya angka 7 dengan angka 4. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Misalnya. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. dan seterusnya. sehingga tidak . Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. Selain itu. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq.

dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. Maksudnya. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Namun.mengurangi ataupun menambahkan. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. ibu. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. dan bagiannya 2/3 dari 6. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah.). empat anak perempuan. (Misalnya. dua saudara perempuan seibu. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. maka tiap orang mendapat satu bagian. Untuk lebih memperjelas masalah ini. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Dengan demikian. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). maka ada kesamaan. ayah. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. . Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka setiap orang mendapat satu bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. dan empat saudara kandung perempuan. berarti 4. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. penj. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. setiap anak menerima satu bagian. Contoh lain yang at-tamaatsul.

keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan saudara kandung laki-laki. berarti dua bagian. dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). sedangkan bagian saudara . seseorang wafat dan meninggalkan istri. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. dan paman kandung. Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). Itulah tashih pokok masalah. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. anak perempuan. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. seseorang wafat dan meninggalkan suami. lima anak perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). berarti empat bagian. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. enam saudara kandung perempuan. ibu. yaitu dua (2). Contoh lain. yaitu dua (2). Maka 2 x 6 = 12. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Contoh lain. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ayah. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. berarti tiga (3). dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. dan dua orang saudara laki-laki seibu. berarti 3 x 9 = 27. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Misal lain. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. Setelah pentashihan. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. yakni 3 x 12 = 36. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. ibu. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. yakni angka enam (6). dan saudara kandung laki-laki. kemudian di-'aul-kan menjadi 27.Contoh masalah yang at-tawaafuq. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. Bagian istri 1/8 = 3.

Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. berarti 7 x 4 = 28. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. sedangkan saudara seibu mahjub. Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. dan saudara laki-laki seibu. dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). empat saudara kandung laki-laki. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). Misal lain.kandung laki-laki mahjub (terhalang). Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. yakni 27 x 5 = 135. dua orang nenek. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . kedua nenek 1/6-nya = 4. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. tujuh anak perempuan.

dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. C. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. suami. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. atau tanah. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian.contoh yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. benda. baik berupa harta. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. anak perempuan. kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. dan ibu. ibu. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Jadi. ayah.

bagian masing-masing ahli waris: Jadi.000 dinar. dan harta peninggalannya 3. Jadi. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.000:12 = 250 dinar Jadi.000 dinar 1.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. dan tiga saudara kandung laki-laki. 960 dinar: 24 = 40 dinar.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). Cucu pr. dua anak laki-laki. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. ayah. Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3.

Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9.100 dinar Total = = = = = 3. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.100 dinar 1. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah.900 dinar. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.100 dinar 1.200 dinar 9. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. dan nenek.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. dua saudara lakilaki seibu.100 dinar 1.000 dinar Contoh lain.300 dinar 2.100 dinar Jadi. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13.900: 9 = 1. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). dua anak perempuan.300 dinar 3. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). saudara kandung perempuan. ibu.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.200 dinar 2. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan suami. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 .

dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). ket.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). saudara laki-laki seayah. suami. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. ket. dua saudara kandung perempuan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan ibu. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. 12 Cucu pr. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. saudara perempuan seayah. Sedangkan .

Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). delapan (8) saudara perempuan seayah. Sedangkan ahli waris yang lain ter. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). seayah Ke-4 sdr. pr. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). pr. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. dan sisanya --dua bagian-. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. ket.mahjub.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Harta peninggalannya: 17 dinar. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. dan empat (4) saudara perempuan seibu. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra.harta peninggalan sebanyak 1. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah.500 dinar. Contoh masalahnya. dua (2) orang nenek. Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar.

12 saudara kandung laki-laki. dan seorang saudara kandung perempuan." Kemudian Ali bin Abi Thalib r. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. dua belas saudara kandung laki-laki. Ali bin Abi Thalib bertanya. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. seseorang wafat meninggalkan istri.a. "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. .a. dua anak perempuan. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. "Ya. Wallahu a'lam bish shawab. dua anak perempuan." Ali berkata. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. Jadi. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian). dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan.Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Tetapi. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. ibu. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. benar. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. ibu. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.

Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'.IX. anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. Jadi. Kemudian. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). Namun.. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. HUKUM MUNASAKHAT A. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah.. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Misalnya. seseorang mempunyai dua orang istri. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Ketika sang suami meninggal. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Misalnya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda. berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). yakni dari . Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. Bila salah seorang ahli waris meninggal. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.

Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. mereka mahjub. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. maka 3 x 4 = 12. dan seorang saudara kandung laki-laki. dan al-mubayanah. Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Maka. Karena itu. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. tanpa mempedulikan masalah pertama. Jadi. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. yaitu almumatsalah. Berikut ini saya sertakan tabelnya: . B. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Karena itu. dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. Kemudian. Merinci masalah baru. seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. termasuk hak ahli waris yang meninggal. Sebagai contoh. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat.ada mumatsalah (kesamaan). hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. 2. yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Kemudian. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. al-muwafaqah. khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). dua saudara kandung perempuan. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Kemudian.pewaris pertama dan dari pewaris kedua.ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. berarti 3 x 12 = 36. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. yaitu enam (6) bagian. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. keturunan anak lk. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Sdr. tiga anak perempuan. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). dan dua anak perempuan. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). Sdr. kandung lk. kandung lk. Kemudian. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya.Jumlah kepala 12 3 anak pr. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Oleh sebab itu. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. kandung pr. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Dalam keadaan demikian. Jumlahnya lima belas (15) bagian. 2/3 Sdr. dan saudara laki-laki seibu. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). kandung pr. yaitu dua puluh empat (24). ibu 1/6 (4 bagian). berarti dua bagian. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. ibu. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. istri. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. . Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. ayah. ibu. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. Sdr. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. ibu. dan dua anak laki-laki. ayah. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. kandung pr.

kemudian ada lagi yang meninggal. dan meninggalkan nenek. berarti 3 x 13 = 39. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. dan dua saudara laki-laki seibu. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. Misalnya. Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr.Kemudian. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. dan tashih ketiga pada posisi kedua. aljami'ah ketiga. dan seterusnya. Misalnya. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. Kemudian anak perempuan juga meninggal. Maka jika terjadi hal seperti ini. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. dan seterusnya. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. dan paman kandung (saudara ayah). seseorang wafat meninggalkan suami. dua saudara kandung perempuan. saudara perempuan seibu. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan ibu. ayah. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. dan seterusnya. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.

ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. 2/3 2 sdr. dan cara kedua.pr. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. kandung pr. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. Pertama.a. salah seorang istrinya. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. . At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i).Suami 1/2 Sdr. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. atau siapa saja yang ditunjuknya. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. Numadhir binti al-Asbagh. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. Ketika ia wafat. lk. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri.ialah seratus ribu dirham.

000. Lalu sisanya (yakni 24 . Misalnya. Dalam keadaan demikian. dan dua anak laki-laki. X.000 Bagian ayah 9 x 2. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka. dan istri.000. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Kemudian sebagai misal. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'.000.000 = 42. berarti tiga (3) saham.000. yakni seperdelapan dari dua puluh empat.000.000 = 24.adalah bagian anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42.000. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. Kemudian. Dengan demikian. anak perempuan.000.000. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan ayah. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya.000 + 18. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.Sebagai contoh.000: 21 = 2. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. dan uang sebanyak Rp 42 juta. pokok masalahnya dari delapan. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. pewaris meninggalkan sebuah rumah.000. Maka.000 = 18. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu. seorang anak perempuan. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).000 Total = 24. dan sisanya --yakni tujuh bagian-. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun.

dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Allah berfirman: ". di antaranya Umar bin Khathab. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. Maksudnya. dan sebagainya. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain.. Dengan demikian. . " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Muslim. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah.a. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. Misalnya. dan Ibnu Abbas r. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. bila tidak ada ashhabul furudh. dan Ali bin Abi Thalib. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. Jadi. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Jadi. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. dan juga merupakan pendapat dua imam. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah.. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). Dengan demikian. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'.a.rahim yang menyatukan asal mereka. B. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. dalam sebagian riwayat darinya. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris.. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. cucu laki-laki dari anak perempuan. Ibnu Mas'ud. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. paman (saudara laki-laki ibu).

beliau saw. mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an. para 'ashabah. Jadi.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. serta selain keduanya. Pendek kata. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk . Namun sebaliknya." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. termasuk ashhabul furudh. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. 3. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. sedangkan bibi tidak mendapatkannya.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. para ''ashabah. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. kerabat lain pun demikian. dan logika.2. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. atau selain dari keduanya-. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. Di sini. Harta peninggalan. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. bila diserahkan kepada kerabatnya. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. Rasulullah saw. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. As-Sunnah. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris... menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. Sebab. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. baik ashhabul furudh. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. Adapun golongan kedua. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya.

baik sedikit ataupun banyak. maka Rasulullah saw. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Dengan demikian.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham)." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw.a. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Sebab.--. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. dari ayah dan dari ibu. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. sedangkan saudara . Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. yakni saudara laki-laki ibunya. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya.a. Alasannya. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. Oleh karena itu. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Dengan turunnya ayat ini. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya. Oleh sebab itu. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Dengan pemberian Rasulullah saw. Umar bin Khathab r. ikatannya dari dua arah. Sebab. bertanya kepada Qais bin Ashim. dalam riwayat ini dikisahkan.

Maka muncul pertanyaan. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat.jawaban Rasulullah saw. tabi'in. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. adil. Misalnya. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat.seayah hanya dari ayah. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah." Melihat kenyataan demikian. Jadi. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Sebagai contoh. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Dengan demikian. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. . kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". khususnya pada masa kita sekarang ini. 1. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. Atau. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. bibi (saudara perempuan ibu). Di samping itu. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. dan imam mujtahidin. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. bibi (saudara perempuan ayah). seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. C. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. dan amanah. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. persatuan dan kesatuan muslimin. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. Di antaranya. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. baitulmal harus terjamin pengelolaannya. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. namun kesemuanya tidak mempunyai imam.

1/6 Begitulah cara pembagiannya. seibu paman kand. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. Sdr. 1/6.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. sdr. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). Dengan demikian. seayah 1/6. 1/2. pr. laki-laki seayah mahjub. saudara kandung perempuan. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. dan saudara laki-laki seayah. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. sdr.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian.. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. Mazhab ini tidak masyhur. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Oleh karena itu. 2. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. saudara perempuan seayah. pr. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. dan paman kandung. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. saudara perempuan seibu. dan sepertiga lagi diberikannya . Pr. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. 2. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. yakni pokoknya. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. karena itu ia mendapatkan sisanya. Sdr. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. 3/6. kand. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. kandung pr. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). 1/2. Inilah gambarnya: Sdr. bahkan dhaif dan tertolak. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3).

adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. baik laki-laki ataupun perempuan. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan.a. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. b. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. Selain itu. 2. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. Sebagaimana telah diungkapkan. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris.kepada bibi (dari pihak ibu). Keempat golongan tersebut adalah: 1. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. 3. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. baik laki-laki ataupun perempuan. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris.a. menurut mereka. dan seterusnya. dan seterusnya. Maka. Kakek yang bukan sahih. . yang tampak sangat logis. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. Hal ini. Yang dinisbati oleh pewaris: a. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Di samping itu. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Sebab. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. Oleh karena itu. Selain itu. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan.

Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. dan seterusnya. Nenek yang bukan sahih. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). dan seterusnya. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). Dengan demikian. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. Paman kakak yang seibu. 2. ataupun seibu. maka pokoknya: ayah. Bila mereka tidak ada. dan seterusnya). cucu. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". atau seibu. seibu.. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). dan paman (saudara ayah) ibu. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. atau seayah. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. seayah.b. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. dan seterusnya. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. baik yang kandung. atau yang seibu. seayah. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. kakek. menurut ahlul qarabah. dan juga paman nenek. Bibi dari ayah pewaris. Jika tidak ada juga. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). baik yang kandung maupun yang seayah). Bila mereka tidak ada. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a.dari kakek dan nenek. Keturunan saudara kandung perempuan. baik bibi kandung. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. b. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. ibu dari ibu ayahnya ibu. atau yang seayah. Jika tidak ada. b. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. dan bibi (saudara perempuan ibu).

Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Sebab. Dalam contoh ini. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. D. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. dan seorang anak perempuan dari anak paman . mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Misalnya. Misalnya. 2. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). Tidak ada penta'shib ('ashabah). Begitulah seterusnya. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Misalnya. maka pembagiannya dilakukan secara merata. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. maka ia akan menerima sisanya. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Begitu seterusnya. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. Dengan demikian. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Misalnya. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Hanya saja. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Tidak ada shahibul fardh. Dengan demikian. Namun. Artinya. setelah diambil hak para shahibul fardh. 2. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada.mereka. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. jika ada shahibul fardh. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dan bila ada shahibul fardh. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris.

bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Misalnya. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. Oleh karena itu. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Bila urinenya keluar dari penis. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya.kandung yang lain. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. Selain itu. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Oleh karenanya. Namun. khanatsa wa takhannatsa. Sebab.a. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. XI. Atau dengan redaksi lain. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. penj. artinya tidak ada kejelasan. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. dan para ulama mazhab Hanafi. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. Sebenamya.). terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. maka ia divonis sebagai laki-laki dan . Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil.

dan tidak menerima vonis tersebut. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Di samping melalui cara tersebut. lihatlah jalan keluarnya air seni. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Mazhab Syafi'i berpendapat. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Namun. Bila keluar dari penis. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. . Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. 2. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. apakah ia haid atau hamil. Ia berkata: "Wahai kaumku. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Ketika Islam datang. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. dikukuhkanlah vonis tersebut. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. ia dinyatakan sebagai perempuan. maka ia sebagai laki-laki. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. tetapi bila keluar dari vagina. apakah ia tumbuh kumis. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. C. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. apakah tumbuh payudaranya. Melihat sang majikan gelisah. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil." B. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. penj.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. Misalnya. Maksudnya. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. bahwa Rasulullah saw. Mazhab Maliki berpendapat.).a. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. dan sebagainya. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina.

saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. 2. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. dan . Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. seorang anak perempuan. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24).yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. Bahkan. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. dan seorang anak banci. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan sisanya kita bekukan.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. maka gugurlah hak warisnya. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. 3. maka pokok masalahnya dua (2). Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. dan bagian anak banci lima (5). ibu enam (6) bagian. seperti dalam masalah al-munasakhat. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. dan saudara laki-laki banci. sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4).'aul-kan. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. maka pokok masalahnya dari lima (5). maka divonis sebagai laki-laki. saudara kandung perempuan. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). ibu. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. dan saudara laki-laki seayah banci. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki.

yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. 1/2 Sdr. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. yakni dua (2) bagian dibekukan. 1 1 Suami 1/2 Sdr.. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. Berkaitan dengan hal ini. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. Setelah itu. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang .. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. pr. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. ibunya mengandungnya dengan susah payah. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. baik laki-laki maupun perempuan. dan satu atau kembar. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. Secara ringkas dapat dikatakan. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. Dengan demikian." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. pr.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Namun demikian.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. kdg. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. pr. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Bagian suami enam (6). kdg. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). 1/2 Banci lk. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat. laki-laki atau perempuan. Karena itu. Adapun sisanya. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) .

E. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. ia tidak berhak mewarisi. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad.a. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. F. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan.a. Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Kelima keadaan tersebut: 1. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut." Pernyataan Aisyah r. mau menyusui ibunya. 2. atau yang semacamnya. menurut mazhab Hanafi. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. bersin. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). Dengan demikian. dan ia dianggap tidak ada. . tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. maka tidak berhak mendapatkan waris. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Bahkan. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati).: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad.. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun.ada.

Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Pokok masalahnya dari empat (4). berarti menjadi saudara laki-laki seayah. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sebagai ahli waris tunggal. Namun. tiga saudara perempuan seibu. Bila yang lahir anak laki-laki. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. Namun. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. ibu. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. Sebagai misal. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. 2. Namun. bila ternyata bayi tersebut perempuan. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). Setelah janin lahir dengan selamat. seseorang wafat dan meninggalkan istri. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. dan istri ayah yang sedang hamil. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). maka hak warisnya diberikan kepadanya. apabila yang lahir anak perempuan. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. paman (saudara ayah). Sebagai misal. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). ayah. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. Bila yang lahir bayi perempuan. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. seseorang wafat dan meninggalkan istri. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. Contoh lain.

hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. seibu 1/3 Sdr. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6).maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. dalam kedua keadaannya. Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. maka kita sisihkan bagian warisnya. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. Sebagai contoh. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. dibekukan. ibu. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. saudara perempuan seayah.Ibu 1/6 3 sdr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). pr. boleh jadi. sbg. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). Sebagai misal. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. Dalam keadaan demikian.pr. ayah seperenam (1/6). Inilah tabelnya. dan bagian istri seperdelapan (1/8). Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . Dengan demikian. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). 'ashabah Sisanya satu (1). Sebab. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. dan ayah. baik ia laki-laki ataupun perempuan. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. Atau terkadang terjadi sebaliknya.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). Jadi.

seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. al-mafqud berarti orang yang hilang. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr.6 Sdr. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). pr. dan aku menjamin terhadapnya. terputus beritanya. Sebab. pr. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. Sebagai misal. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. 1/2 Sdr. kdg. TENGGELAM. Karenanya. anak perempuan setengah (1/2) bagian. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. Akan tetapi. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. Contoh lain. pr. dan . maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. 1/2 Sdr. kdg. pr. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. DAN TERTIMBUN A. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki.

sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. apakah dia masih hidup atau sudah mati. Sementara itu. Dalam riwayat lain. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya.telah mati. maka hendaknya dia bersabar. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. Bila usai masa idahuya.tidak diketahui rimbanya. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. Namun. dari Abu Hanifah. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. Dalam riwayat lain. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal." B.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. yaitu empat bulan sepuluh hari. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). dari Imam Malik.a. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Karena menurut Imam Syafi'i. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. Akan tetapi. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. atau menjadi salah seorang penumpang . di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. hartanya tidak boleh diwariskan. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan.

Karena itu. Namun. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. saudara kandung perempuan. Maksudnya. Sebab. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. C. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. saudara laki-laki seayah. Menurut hemat penulis. melancong. dan dua saudara perempuan seayah. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Sebagai contoh. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. Pertama. Demikian juga istrinya. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. 2. dan anak laki-laki yang hilang. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati.kapal yang tenggelam-. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Karena itu. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. atau untuk menuntut ilmu. ia dapat menempuh masa idahnya. atau banyak perampok dan penjahat. Misalnya. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Kapan saja hakim memvonisnya. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Misal lain. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Kedua. maka itulah yang berlaku. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Sedangkan pada keadaan kedua. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. hendaknya ia . tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Namun. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). seperti pergi untuk berniaga.

atau tanpa ada yang dibekukan). hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. hdp. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. pr 1 1 Sdr. kdg. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. dan cucu laki-laki dari . Dalam keadaan demikian. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. Namun. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. saudara kandung perempuan. ibu seperenam (1/6). saudara laki-laki seayah. bagian istri adalah seperempat (1/4). kdg. seseorang wafat dan maninggalkan istri. kdg. Sebagai contoh. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. kdg. kdg. lk. kemudian membekukan sisanya. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. Dalam contoh tersebut. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. ibu. hlg 1 Sdr. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. pr 1 Sdr. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. saudara kandung.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. Namun. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. kdg. lk. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. ibu. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal.

pr. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh.dr. (hilang) 3 Anak lk. 8 Anggapan sdh. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. mati Suami 1/4 Cucu pr.kdg. (hilang) 17 Cucu lk. hdp. mati 12 24 . lk.anak. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. dan anak laki-laki yang hilang. Suami 1/4 Cucu pr. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. hdp. (mahjub) Sdr.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk. mahjub Sdr.lk. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk. (hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri.kdg. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr.pr.kdg.lk.lk. anak paman kandung (sepupu). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan suami. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh. hdp.dr.keturunan anak laki-laki.anak. saudara kandung perempuan. saudara laki-laki seibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.

dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya.. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya.seibu (mahjub) Sdr. Misalnya. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. (hilang) 4 Cucu pr. lk. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban.. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). lalu mengalami kecelakaan. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. lk. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. 'ashabah 3 Sepupu. tanpa diduga. dan cobaan. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr.lk. D. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali". (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. ujian.lk. Sayangnya.

Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). dua orang bersaudara mati secara berbarengan." Hal demikian. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. Menurut ulama faraid. Begitulah seterusnya. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. amin. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. dan anak paman kandung (sepupu). dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. . hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. seluruh isi langit dan bumi. Sebagai contoh. anak perempuan. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. Yang satu meninggalkan istri. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. harta ketiga anak laki-laki. menurut para ulama. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Sebagai contoh. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Kemudian. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. pengatur alam semesta. Dialah Yang Maha Kekal. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. Misal lain.

dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Yaitu. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika mereka tidak mempunyai anak. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. Jika kamu mempunyai anak. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). junjungan kita Muhammad saw. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. jika anak perempuan itu seorang saja. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jika seseorang mati. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. . Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. Mekah.tidak akan rusak dan tidak akan mati. maka ibunya mendapat sepertiga. para sahabatnya. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa. maka ibunya mendapat seperenam. jika yang meninggal itu mempunyai anak. maka ia memperoleh separo harta.

maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nisa': 176) . maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan).baik laki-laki maupun perempuan. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. supaya kamu tidak sesat. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. jika ia tidak mempunyai anak. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful