A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

ayah. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. Islam memberi mereka hak waris. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat. kedua orang tua. maupun kerabat mereka. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. anak-anak.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. pangan. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. Sementara itu. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya. serta tidak pula berperang melawan musuh.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. tanpa direndahkan. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. harta warisan anak perempuan semakin bertambah.a. wanita. Sebab menurut anggapan mereka. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. Jadi. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. baik dari harta peninggalan ayah. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. --berupa ayat-ayat tentang waris-. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" .. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. dan istri-. tidak mampu memanggul senjata. baik berupa sandang.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. suami.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh. suami. dan papan. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil. 1 B. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. "Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

2. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'.(dan) sesudah dibayar utangnya. Dalam ayat yang disebut terakhir ini. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). baik laki-laki maupun perempuan. Yang pertama dalam ayat ini. maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu".dibandingkan saudara seibu.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali. Jika kamu mempunyai anak. Jadi. Sementara itu. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. . maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga. Dengan demikian. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka bagian istri adalah seperempat. maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. mendapat separo harta peninggalan. 2. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. Bagian suami: 1. Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). Bagian istri: 1. Oleh karenanya. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. jika sendirian. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). Sementara itu.

2. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas. 1. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. maka wajib untuk tidak dilaksanakan.a. Adapun bila pendapat ini salah. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. maka karena dariku dan dari setan. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. Menurut saya. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-.. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. dan tidak mempunyai ayah atau anak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. Jadi. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. misalnya. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. . 2. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. Begitulah hukum bagi saudara seayah. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. Jadi. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'.

II. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw.." (an-Naml: 16) ". suami.. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Jadi. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. ayah. kakek.. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. demikian pula sabda Rasulullah saw. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. baik berupa harta (uang) atau lainnya. apakah dia sebagai anak. besar atau kecil. Dan Kami adalah pewarisnya. istri. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. Oleh karena itu. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. kecuali hukum waris ini. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup.. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. paman. ibu. cucu. dan ijma' para ulama sangat sedikit. dari seluruh kerabat dan nasabnya. Definisi Waris Al-miirats. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. ." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). tanah..

seperti belum membayar zakat." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Di antaranya. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. menurut saya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. biaya memandikan. atau belum menunaikan nadzar. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. biaya pemakaman. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Akan tetapi. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Artinya. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. pembelian kain kafan. atau belum memenuhi kafarat (denda). sejak wafatnya hingga pemakamannya. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Pendapat mazhab ini. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. 2. Namun. bila sang mayit berwasiat. Padahal. menurut mereka. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. Menurut jumhur ulama. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1.

dan kesepakatan para ulama (ijma'). dan lainnya). jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Sementara itu. Setelah ashhabul furudh. misalnya ibu. Catatan: Pada ayat waris. dan sepertiga itu banyak. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Ashabat nasabiyah. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal." 4.. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. saudara kandung pewaris.a. Ashhabul furudh. dan ijma'. 3. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Bahkan. As-Sunnah. bersabda: ". Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. Rasulullah saw.setelah ashhabul furudh menerima bagian). As-Sunnah. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Padahal secara syar'i. Oleh karena itu. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Sepertiga. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw. ayah. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan.. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. baru kemudian melaksanakan wasiat. paman . istri. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. termasuk diambil untuk membayar utangnya. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. cucu dari anak laki-laki pewaris. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. B. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut. suami. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya.

maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. Hak waris secara tambahan. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Misalnya. Maka. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. bibi (saudara ibu). Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. C. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). saudara. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. dan seterusnya. Misalnya. maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. anak. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. seperti kedua orang tua. paman. bibi (saudara ayah). paman (saudara ibu). Baitulmal (kas negara). Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Misalnya. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. D. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah.kandung. cucu laki-laki dari anak perempuan. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. 2. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). dan sebagai 'ashabah. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Misalnya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Mewariskan kepada kerabat. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. B. Bentuk-bentuk Waris A. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Ashabah karena sebab. Hak waris secara pertalian rahim. dan . tidak pula 'ashabah. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Dengan demikian.

termasuk jumlah bagian masing-masing. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Pernikahan. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. dan sebagainya. baik berupa uang. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. Harta warisan. Ahli waris. 2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. F. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . karena bagaimanapun keadaannya. tanah. Pewaris.seterusnya. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Al-Wala. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Sebagai contoh. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. yakni orang yang meninggal dunia.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. atau lainnya. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. kecuali setelah ia meninggal. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. E. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. Hal ini harus diketahui secara pasti. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. 2. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. 2. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup.

maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. kerabat. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Misalnya. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. serta ada yang tidak terhalang. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. dalam hal ini ada tiga: 1. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. secara langsung menjadi milik tuannya. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. istri. Alhasil. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan.meninggal-. saudara seayah. ada yang karena 'ashabah. 2. atau membayar kafarat. Para fuqaha menyatakan. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). misalnya suami. tertimpa puing. membayar diyat. mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. Sebab. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Misalnya. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. atau tenggelam.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. atau saudara seibu. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub). G. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris.

bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. termasuk keempat imam mujtahid. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. dan lainnya.rajam. seperti membunuh atau berbeda agama. Karena itu. yakni murtad. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Menurut saya. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Ibnu Mas'ud. Sebagai contoh. Sebab. Maksudnya. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. Karena itu. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. tidak ada yang mengunggulinya). 3. Ali bin Abi Thalib. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. Menurut penulis. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. apa pun agamanya. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal.a. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. Sementara itu. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. menurut mereka. adanya kakek bersamaan . Syafi'i. dalam haditsnya." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. seperti ditegaskan Rasulullah saw. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. Wallahu a'lam. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi.

Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. sisa harta yang ada. dan anak --dalam hal ini. (11) paman (saudara bapak seayah). menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. I. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. (6) saudara kandung perempuan. Kemudian sisanya. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. Jika terjadi hal demikian. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. (4) kakek (dari pihak bapak). . Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. (4) nenek (ibu dari ibu). Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. yaitu tiga per empat harta yang ada. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. (3) bapak. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki. (9) istri. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. anak kita misalkan sebagai pembunuh. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). yaitu ayah pewaris H. yaitu 7/8. (10) perempuan yang memerdekakan budak. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan.dan seterusnya. saudara kandung. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. (7) saudara laki-laki seibu. (8) saudara perempuan seibu. (6) saudara laki-laki seayah. serta saudara kandung. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). ibu. (2) ibu. (5) saudara kandung laki-laki. maka bagian istri seperdelapan.mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. (14) suami. yaitu ayah. (13) anak laki-laki paman seayah. Jadi.dengan adanya ayah. dan seterusnya. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. (12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). (7) saudara perempuan seayah. (5) nenek (ibu dari bapak). Begitu juga halnya dengan saudara seayah. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. (10) paman (saudara kandung bapak).

Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). sepertiga (1/3). Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan.. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. dengan dua syarat: a. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. seperempat (1/4). saudara kandung perempuan." (an-Nisa': 12) 2. b. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. 3. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Rinciannya seperti berikut: 1. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima.). A. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. dan saudara perempuan seayah. penj. maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). anak perempuan. seperdelapan (1/8). dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. dua per tiga (2/3).. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan.. yaitu setengah (1/2). dengan tiga syarat: a. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. dan seperenam (1/6).III. Dalilnya adalah firman Allah: ". 4. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. b. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami.. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . dengan tiga .

Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak.. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya.syarat: a.. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ".. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Apabila ia hanya seorang diri. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. dan tidak pula anak. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki.. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". . baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). b. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki." (an-Nisa': 12) . dengan empat syarat: a. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. dan tidak pula mempunyai keturunan.. baik anak laki-laki maupun perempuan.... b. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . Rinciannya sebagai berikut: 1.'" (an-Nisa': 176) 5. yaitu suami dan istri. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu.

Dengan kata lain." (an-Nisa': 12) D.. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. Dalilnya firman Allah berikut: ". . hal ini merupakan kesepakatan para ulama. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu .. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. 2.a. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan ." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah.. Jika kamu mempunyai anak. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut.tentang bagian istri. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". Jadi. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. yakni anak laki-laki dari pewaris.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. C. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu. Wallahu a'lam.. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. bila suami mempunyai anak atau cucu. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain.. Jadi.. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. Istri.

E.. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan).. b. Bila pewaris tidak mempunyai anak. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). Dalilnya adalah firman Allah: . maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal ... Pewaris tidak mempunyai anak kandung. ayah. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. 3. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah. baik laki-laki atau perempuan. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a. b.. Dalilnya adalah firman Allah: ". Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3).2. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. b. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. dengan persyaratan sebagai berikut: a." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah..." (an-Nisa': 176) 4. atau kakek. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a. Wallahu a'lam. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). juga tidak mempunyai ayah atau kakek.. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. 2. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dan dalilnya sama. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.

Selain itu. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. dua orang atau lebih. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan.. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan). lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'.. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1.. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. maka ibunya mendapat sepertiga.. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama.. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga).. Kesimpulannya.. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. Misalnya dalam istilah shalat jamaah. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. .." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ". yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. Yakni. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). 2. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.."." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'. Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak. Namun.... maka ibunya mendapat seperenam. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada. Akan tetapi. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris. Agar lebih jelas. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. maka ibunya mendapat sepertiga". Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". dan ayah. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'.berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Dalam kasus ini. saya sertakan contohnya. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. ibu. Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. ibu. karena kedua istilah ini sangat masyhur. yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Dengan demikian. dan ayah.

Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. dengan dua syarat: a. tepatnya masa Umar bin Khathab r. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. baik anak laki-laki atau anak perempuan. 3. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. Wallahu a'lam. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r.. menurut hemat saya.a. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani.. 1.. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. (3) ibu. Mereka adalah (1) ayah. Dan untuk dua orang ibu bapak. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. Dalilnya firman Allah (artinya): ". jika yang meninggal itu mempunyai anak . dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. Jadi.. (6) nenek asli. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4). baik saudara laki-laki .a.a. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Jadi.Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). b. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya). Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri... Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. F. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu." (an-Nisa': 11) 2. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (5) saudara perempuan seayah. Menurutnya.

apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. dan saudara perempuan. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r." (an-Nisa': 11). dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak . maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu. ataupun seibu. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3)." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki.a." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. Sebab jika lebih dari satu orang. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. Dalam keadaan demikian. maka ibunya mendapat seperenam . Dalilnya firman Allah (artinya): ". Selain itu. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang.. apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). 5. baik sekandung. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya... jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. 4. 6. seayah.ataupun perempuan. Sebab bila ada anak laki-laki. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris.. Jadi. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud..

Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat.meninggalkan anak. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). jika yang meninggal itu mempunyai anak. DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan paman (saudara kandung ayah). Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. Wallahu a'lam. Selain itu. baik laki-laki atau perempuan). anak laki-laki. kata ini sering kali digunakan. yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.a. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.menguatkan dan melindungi. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. sedang kami golongan (yang kuat). Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. Sebagai contoh. Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. Disebut demikian. memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). 7. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. A. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. Ayat tersebut juga telah . jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). IV. untuk menuntut hak warisnya. maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11)." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6).

bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian. dan seterusnya. mempunyai empat arah. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. yaitu: 1. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. cicit. dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Maka jika masih tersisa. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). Namun. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. Arah anak. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. Catatan Dalam dunia faraid. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). dan seterusnya. Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. Inilah makna 'ashabah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. jika ia tidak mempunyai anak. Oleh sebab itu. Dengan demikian." (an-Nisa': 176). yang pasti hanya dari pihak laki-laki. maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. Namun. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. Kemudian.menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. Arah bapak. Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. kakek. B. Sebab. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul".: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw. mencakup ayah. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). misalnya .

dan seterusnya. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. Dalam keadaan demikian. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. termasuk keturunan mereka. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. saudara laki-laki seayah. Contoh lain. Rinciannya. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Sebab. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. ayah dari kakak. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. saudara kandung perempuan. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. termasuk keturunan mereka. mencakup saudara kandung laki-laki. Pengecualiannya. namun hanya yang laki-laki. Apabila anak tidak ada.ayah dari bapak. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). Sementara itu. dan seterusnya. Misalnya. Sebagai misal. kemudian mereka pun dalam satu arah. dan seterusnya. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih. Arah saudara laki-laki. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. dan saudara kandung. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. Arah paman. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. 2. Sebagai misal. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. ayah. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. saudara laki-laki seayah.

Dengan demikian. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. dan seterusnya. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Bahkan. Namun demikian. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Artinya.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. demi kepentingan masa depan anaknya. yakni arah anak dan arah bapak. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. Sedangkan secara aqli. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Dengan demikian. Sebab. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Wallahu a'lam. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Sebagai contoh. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. sedangkan dari . keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. Oleh sebab itu. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya.kandung." (an-Nisa: 11). bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli.

Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. Anak perempuan. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Misalnya. ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. dan saudara perempuan seayah). dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. dan pembagiannya. anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. saudara kandung perempuan. Sebagai contoh. Sebab dalam keadaan demikian. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. 2. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. Misalnya. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh.kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak.

karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah)." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw.sama rata." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. Kemudian.. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r. Jadi. dan bagian saudara perempuan separo. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12). sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi . maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi).a. Selain itu. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu..akan menjadi 'ashabah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh.

dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. saudara perempuan. seperti anak keturunan saudara (keponakan). maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. dua orang saudara kandung perempuan. dan saudara laki-laki seayah. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Selain itu. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dan saudara lakilaki seayah. Begitu juga saudara perempuan seayah.'ashabah ma'al ghair. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 . apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. paman kandung ataupun yang seayah.

Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. saudara perempuan seayah. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. seorang ibu. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). kemudian sisanya yaitu seperempat-. saudara perempuan seayah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki.menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan.

Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Agar persoalan ini lebih jelas. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. C. dan ibu mendapatkan seperenam. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. secara ringkas. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6). Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. Begitulah seterusnya. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. Misalnya. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. seperti anak laki-laki. Jadi. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Inilah perbedaan keduanya. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. saudara laki-laki seibu. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan seorang suami. Akan tetapi. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. . atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim.

dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Satu hal yang perlu diketahui di sini. dan seterusnya. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Jadi. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. dan seterusnya. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. . Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak). Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. Misalnya. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. Misalnya. Selain itu.V. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. B. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang.

baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. dan juga dengan adanya paman kandung. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. suami. anak kandung perempuan. . Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak. maka semuanya harus mendapatkan warisan. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. serta oleh saudara laki-laki seayah. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. ayah. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. cicit. cicit. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. dan istri. kakek. cucu kandung laki-laki. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. ibu. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. kecuali jika ada 'ashabah. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. cicit. Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. cucu. anak. dan seterusnya). anak laki-laki. cucu. cucu. cicit. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. dan seterusnya (semuanya laki-laki). Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. 2.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki. cucu. Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). dan seterusnya). dan keturunan laki-laki (anak. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. Selain itu.

Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. ibu seperenam (1/6) bagian. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). ayah juga seperenam (1/6) bagian. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. yakni saudara laki-laki yang merugikan. cicit. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. Padahal. ayah. bapak. ibu. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Kemudian. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. anak perempuan setengah. cucu. ibu. dan seterusnya. kecuali bila adanya 'ashabah. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. 2. Kedua: Untuk lebih memperjelas. cicit. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. anak perempuan. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. ibu seperenam (1/6) bagian. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3).Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. Selain itu. Oleh sebab itu. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". kakek. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. ayah seperenam (1/6) bagian. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. cucu. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki.

Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. Di samping itu. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. Namun. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. tabi'in. Ibnu . Berdasarkan kaidah yang berlaku. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. kemudian baru kepada para 'ashabah. sejak masa para sahabat. hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). Karena. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. Ibnu Abbas. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). Sementara itu. bila mempunyai saudara laki-laki seayah." Namun demikian. tabi'in. tabi'in. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. Ali. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Contoh permasalahannya sebagai berikut.karena tidak ada pen-ta'shih. dan lainnya. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). juga karena para sahabat. dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Sedangkan dalam contoh kedua. Maka. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. ibu. masalah ini merupakan kasus kolektif. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. dan imam mujtahidin. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. Utsman. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. dan imam mujtahidin. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami.

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: . Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. 2. Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. Kakek dengan saudara kandung perempuan. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kakek dengan saudara kandung laki-laki.dari dua pilihan yang ada. Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5). Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung.istri. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. itulah yang menjadi bagiannya. Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). dan anak perempuan. Pertama dengan cara pembagian. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek.

Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3). dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Yang pasti. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-.1. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya.maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. menerima sepertiga (1/3). seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. dengan pembagian. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta . Misalnya. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. Yaitu. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. dan saudara kandung laki-laki. 2. kakak. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. maka itulah bagian kakek. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. dan sisanya dibagi dua. kakek.

karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8). Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). . Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. yaitu sepertiga. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. anak perempuan setengah (1/2). Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. kakek. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. maka saudara seayah mahjub. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. E. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. dan sang kakek juga seperenam. Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). yakni saudara kandung laki-laki.sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. dan kakek mendapat seperenam (1/6). kakek seperenam (1/6). Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. Akan tetapi. haknya menjadi gugur. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). dan sepuluh saudara kandung perempuan. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. dan empat saudara kandung laki-laki. Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. seorang anak perempuan. kakek. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. kakek. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". ibu mendapatkan seperenam (1/6). Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). ibu. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. Untuk keadaan seperti ini. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. suami. sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. nenek. dan tiga saudara kandung perempuan. kakek. mereka dianggap satu jenis. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). nenek seperenam (1/6). Dalam contoh pertama.setelah diambil hak sang ibu.

Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. yaitu sepertiga (1/3). Tabelnya sebagai berikut: . Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. kakek sepertiga (1/3). Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. dan dua orang saudara seayah. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. kakek.seorang saudara laki-laki seayah. Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-. Oleh sebab itu. dan seorang saudara perempuan seayah. Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Sisanya barulah untuk mereka. saudara kandung perempuan. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung. Kemudian. seorang saudara kandung laki-laki. kakek. tanpa menggunakan cara pembagian. sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. dan dua orang saudara perempuan seayah. Pada contoh kedua ini. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3).dalam contoh ini adalah ibu. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2).

Sebab. dan seterusnya). masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27). dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. cucu. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Akan tetapi. kakek delapan (8) bagian. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. cicit. dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. Oleh sebab itu. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. 6 10 18 2 F.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. bagian. Misalnya. Di samping itu. dan seorang saudara kandung perempuan. ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian.).Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. suami mendapat setengah (1/2). Setelah ditashih. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. penj. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. kakek. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). Sebab. Berikut ini saya sertakan tabelnya. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita.a. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. ibu enam (6) bagian. ibu. dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian.

Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Bila ada salah satu yang diubah. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil. 9 6 8 4 3 2 1 0 VII. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A.. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti.." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. seperti yang difirmankan-Nya: ". Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.ditashih. Wallahu a'lam. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.

yaitu dua (2). pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. sedangkan yang empat tidak dapat. Namun demikian. dan sisanya menjadi bagian ayah. seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). Dengan demikian. B. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat. dan bagian saudara kandung perempuan setengah. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. Begitu juga sebaliknya. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab. bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah. tiga (3). Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. Contoh lain. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Sebab bila aku berikan hak suami. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga).. Bagian suami setengah berarti satu (1). dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul. Yang masyhur dalam ilmu faraid.a. dua belas (12). mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya.tidak pernah terjadi. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3). Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. siapakah di antara kalian yang harus didahulukan. dan delapan (8). empat (4). dan ayah dua bagian.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. saudara kandung laki-laki. dan saudara kandung .a. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. berarti mendapat bagian satu (1). Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. C.meski bagian mereka menjadi berkurang. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2)..furudh yang ada -. jadi ibu mendapat satu bagian. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. dan siapa yang diakhirkan. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3)." Para sahabat menyepakati langkah tersebut." Secara lebih lengkap. dan dua puluh empat (24). kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan.

Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. Lebih dari angka itu tidak bisa. delapan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. atau sepuluh. yakni tiga per delapan (3/8). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). perlu kita simak contoh-contohnya. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. lima belas (15). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). saudara kandung perempuan . pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Sebagai misal. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). atau tujuh belas (17). dan seorang saudara perempuan seibu. saudara kandung perempuan. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. dan saudara perempuan seibu. ibu. sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. Dengan demikian. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua belas (12). yakni dapat naik menjadi tujuh. dan dua puluh empat (24). ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. namun hanya untuk angka ganjilnya. sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Namun. anak perempuan.berarti satu bagian. Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. anak perempuan. Lebih dari itu tidak bisa. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. dan saudara kandung perempuan.perempuan. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. sembilan. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Contoh kasus yang lain. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. saudara kandung perempuan. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. Lebih jelasnya. dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6).

seorang saudara perempuan seayah. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. yaitu tiga belas. seorang saudara kandung perempuan. lima belas (15). dua orang nenek. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. ibu. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Oleh karena itu. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri.setengah (1/2) berarti tiga. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. dua orang saudara kandung perempuan. ibu. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. yaitu delapan per enam (8/6). dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. yaitu menjadi tiga belas (13).berarti dua bagian. 2. 2. dan dua orang saudara perempuan seibu. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. Bila demikian. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. yaitu enam banding sepuluh (6:10). karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). dan seorang saudara perempuan seibu. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). atau tujuh belas (17). ibu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. dan empat orang saudara perempuan seibu. delapan orang saudara perempuan seayah. dan dua orang saudara kandung perempuan. ibu seperenam (1/6) berarti satu. dua orang saudara perempuan seayah. berarti delapan . yaitu lima belas bagian. Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1.

hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian. dan tidak ada 'aul. dan tidak ada 'aul. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. maka pokok masalahuya dari empat (4). dan tidak dapat di-'aul-kan. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. ayah. ibu. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Sekali lagi ditegaskan.' Lalu keduanya kembali. pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. 2. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. maka pokok masalahnya dari dua (2).bagian. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. Selain itu. mengikuti jejak . anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. yakni tujuh belas berbanding dua belas. maka pokok masalahnya dari delapan. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. D. Catatan 1. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. anak perempuan.

kecuali suami dan istri. suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. ada sisa harta waris. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. Sebab dalam keadaan bagaimanapun. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi.. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan . G. E. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2. Sebagai misal. sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. F. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Artinya. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul.mereka semula.-maka tidak mungkin ada arradd. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan.. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. . saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd.

maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. bagi ibu seperenam (1/6). dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. Maka pokok masalahnya dari empat. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. atau seperempat. Sebab. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. H. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). semuanya berhak mendapat bagian setengah. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3). maka pokok masalahnya dari sepuluh. dan seterusnya)-. Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. serta saudara laki-laki . yakni tiga. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. disebabkan bagiannya sama. Sebagai misal. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda.dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. maka pokok masalahnya dari tiga. Misal lain.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. Maka pembagiannya. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. Contoh lain. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. Sebagai misal. Maka pokok masalahnya dari dua. Keempat macam itu: 1. Contoh-contoh keadaan kedua 1. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki. sesuai jumlah ahli waris. karena jumlah bagiannya ada empat. dan dengan adanya suami atau istri 2. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu.

Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Pokok masalahnya adalah delapan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. karena jumlah bagiannya empat. Begitu seterusnya. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. disertai salah satu dari suami atau istri. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). dan itulah pokok masalahnya. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dengan demikian. Oleh karena itu. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. dua orang saudara laki-laki seibu. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. yaitu istri. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. dan itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. dan saudara perempuan seibu. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. Maka pokok masalahnya dari empat. Maka pokok masalahnya lima. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Sebagai misal. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. berarti lima bagian. serta seorang saudara perempuan seibu.seibu. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. berarti mendapat satu bagian. setiap anak memperoleh tiga bagian. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian. 2. Misal lain. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. anak perempuan. saudara perempuan seayah. . Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). Contoh lain. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. yakni sesuai jumlah kepala. Hitungan ini perlu pentashihan. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Maka pokok masalahnya empat. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). serta lima orang anak perempuan. karena jumlah bagiannya adalah lima. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. Contoh lain.

Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. mana yang paling tepat. dan tabaayun (perbedaan). yakni yang seperdelapan. nenek. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. yakni tiga bagian. dua orang anak perempuan. yakni tiga bagian. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. yakni seperempat (1/4). dan dengan ar-radd menjadi dari lima. . Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. tawaafuq (sepadan). Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. Sisanya. yaitu istri. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. secara fardh dan radd. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. yakni istri. Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. dan ibu. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. dan dua orang saudara perempuan seibu. Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Apabila istri mengambil bagiannya.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya.asal pokok masalahnya dari enam.asal pokok masalahnya dari delapan. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan). karena itulah jumlah bagian yang ada. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut.

para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. penj. . setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Dalam hal ini.Kini. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. dengan radd. hingga pembagiannya benar-benar adil. ditambah bagian kedua anak perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri.). Karena itu. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. Jadi. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. berarti ia mendapat lima (5) bagian. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid.

misalnya ada yang berhak setengah. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). 1/4. sepertiga (1/3). 1/4. maka pokok masalahnya dari empat (4). Misal lain. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). Artinya. dan sebagainya-. 1/8). Contoh lain. Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). maka pokok masalahnya dari enam (6). berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. dan demikian seterusnya. dua laki-laki dan tiga perempuan. seperenam. Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2). seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. maka pokok masalahnya dari tiga (3). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). dan satu wanita satu kepala. 1/3. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah.maka pokok masalahnya dari delapan (8). maka pokok masalahnya dari lima. seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. Sebab. Untuk memperjelas masalah ini. Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. bila dalam suatu keadaan. seperempat (1/4). terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. dan seperdelapan (1/8). atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. maka pokok masalahnya sebelas. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam. Maka pokok masalahnya dari dua (2). Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. Misalnya. berarti itulah pokok masalahnya. Misalnya. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. Misalnya. dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk .maka pokok masalahnya dari enam (6). bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). maka pokok masalahnya dari sepuluh. Kemudian. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). Kedua: bagian dua per tiga (2/3). jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama.Untuk mengetahui pokok masalah. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. seperempat (1/4). atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Misalnya. Akan tetapi. dan seperenam (1/6).kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. begitu seterusnya.

ibu. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1. yang merupakan kelompok kedua. maka pokok masalahnya dari dua belas (12). seseorang wafat dan meninggalkan suami. seseorang wafat dan meninggalkan istri. dua orang saudara laki-laki seibu. sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. Misalnya. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Bila tidak tersisa. Berdasarkan kaidah yang ada. perlu saya utarakan beberapa contoh. saudara laki-laki seibu. sedangkan paman sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). Apabila dalam suatu keadaan. dan paman kandung. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. dan seorang saudara laki-laki kandung. ibu seperenam (1/6). saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). ibu. Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). Apabila dalam suatu keadaan. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). atau salah satunya. Apabila dalam suatu keadaan. 2.dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. atau semuanya. maka pokok masalahnya dari enam (6). ibu sepertiga (1/3). pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung.mengetahui pokok masalahnya. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Maka berdasarkan kaidah.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. pokok masalahnya dari dua belas (12). Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . maka ia tidak berhak menerima harta waris.

bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). at-tawaafuq (saling bertautan). . maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua. (8 : 2 x 6 = 24). sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). seseorang wafat dan meninggalkan istri. anak perempuan. dan bagian ibu seperenam (1/6). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). anak perempuan setengah (1/2). dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa. Yaitu. Namun. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur).Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. Apabila pokok masalah --harta waris-. dan saudara kandung laki-laki. maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). Begitulah seterusnya. ibu. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. A. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. Maka berdasarkan kaidah yang ada. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi.

Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. B. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. maka disebut tabaayun. Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. maka kedua bilangan itu tadaakhul. Misalnya. Misalnya. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. Selain itu. angka 8 dengan 11. Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil.). Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. yakni 'sama bentuknya'. sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. penj. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. Pada hakikatnya. demikian seterusnya. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai. angka 5 dengan 9. dan lima sama dengan lima. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. at-tawaafuq. yakni 'masuk'. Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. dan seterusnya. dan at-tabaayun. Misalnya. attadaakhul. angka tiga berarti sama dengan tiga. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun. sehingga tidak . Misalnya angka 7 dengan angka 4. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. lawan kata dari "keluar". angka delapan (8) dengan angka empat (4).

Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. ibu. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. dan bagiannya 2/3 dari 6.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Contoh lain yang at-tamaatsul. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Untuk lebih memperjelas masalah ini. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. maka tiap orang mendapat satu bagian. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. empat anak perempuan. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. . tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. penj. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. setiap anak menerima satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Namun. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya.). Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian.mengurangi ataupun menambahkan. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. dan empat saudara kandung perempuan. (Misalnya. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). maka setiap orang mendapat satu bagian. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. Sebab setiap anak mendapat bagian satu). dua saudara perempuan seibu. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ayah. berarti 4. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. maka ada kesamaan. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Dengan demikian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Maksudnya.

maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Contoh lain. yakni angka enam (6). Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. Bagian istri 1/8 = 3. dan dua orang saudara laki-laki seibu. keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. dan saudara kandung laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. lima anak perempuan. dan saudara kandung laki-laki. anak perempuan. bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). berarti tiga (3). dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). Itulah tashih pokok masalah. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. ibu. yakni 3 x 12 = 36. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. yaitu dua (2). ayah memperoleh 1/6 berarti 4. seseorang wafat dan meninggalkan suami. enam saudara kandung perempuan. sedangkan bagian saudara . dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. berarti dua bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. yaitu dua (2). karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. Setelah pentashihan. Maka 2 x 6 = 12. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah.Contoh masalah yang at-tawaafuq. berarti 3 x 9 = 27. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. dan paman kandung. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ayah. Misal lain. berarti empat bagian. Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). kemudian di-'aul-kan menjadi 27. Contoh lain. ibu. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6).

Misal lain. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun).kandung laki-laki mahjub (terhalang). Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. berarti 7 x 4 = 28. sedangkan saudara seibu mahjub. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). tujuh anak perempuan. dan saudara laki-laki seibu. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . empat saudara kandung laki-laki. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. kedua nenek 1/6-nya = 4. dua orang nenek. yakni 27 x 5 = 135. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16.

kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar.contoh yang lain. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). ayah. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. C. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. ibu. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. suami. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Jadi. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. anak perempuan. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. baik berupa harta. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. dan ibu. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. atau tanah.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. benda.

000 dinar.000 dinar 1. ibu. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan.000:12 = 250 dinar Jadi. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. ayah. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. Jadi. dua anak laki-laki. dan tiga saudara kandung laki-laki. berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). bagian masing-masing ahli waris: Jadi. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. dan harta peninggalannya 3. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. Cucu pr. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3. 960 dinar: 24 = 40 dinar. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain.

900 dinar. dua saudara lakilaki seibu.100 dinar Jadi. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3.000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu. sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh.900: 9 = 1. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).100 dinar 1. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13.100 dinar 1.000 dinar Contoh lain. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3.200 dinar 9. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah.200 dinar 2. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). saudara kandung perempuan. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1).300 dinar 2. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 . dua anak perempuan. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. dan nenek. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan suami.300 dinar 3.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3.100 dinar Total = = = = = 3. satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki.100 dinar 1.

seseorang wafat dan meninggalkan ibu. ibu. suami. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. Sedangkan . dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah. dua saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. saudara perempuan seayah. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. ket.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. ket. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). 12 Cucu pr. saudara laki-laki seayah.

seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. pr. 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . Harta peninggalannya: 17 dinar. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). dua (2) orang nenek. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. anak laki-laki Dua saudara kandung pr. seayah Ke-4 sdr. dan empat (4) saudara perempuan seibu. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. dan sisanya --dua bagian-. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar.500 dinar. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Sedangkan ahli waris yang lain ter. ket.menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah.mahjub. Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). pr.harta peninggalan sebanyak 1. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. delapan (8) saudara perempuan seayah. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Contoh masalahnya. Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr.

bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. 12 saudara kandung laki-laki.a. yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar.Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. Tetapi. ibu. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. ibu. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. dan seorang saudara kandung perempuan. seseorang wafat meninggalkan istri. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. "Ya. yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. . namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. dua anak perempuan. Wallahu a'lam bish shawab. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. dua anak perempuan." Ali berkata.a. dua belas saudara kandung laki-laki. benar. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. Jadi. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian). Dengan demikian." Kemudian Ali bin Abi Thalib r. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Ali bin Abi Thalib bertanya.

berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama. Jadi. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda.. Namun. Misalnya.. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. Ketika sang suami meninggal. HUKUM MUNASAKHAT A. sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Kemudian.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama.IX. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. seseorang mempunyai dua orang istri. yakni dari . Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Misalnya. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah). tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Bila salah seorang ahli waris meninggal. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris.

al-muwafaqah. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). dua saudara kandung perempuan. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. tanpa mempedulikan masalah pertama. Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian.ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Merinci masalah baru. Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. Kemudian. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. mereka mahjub. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). termasuk hak ahli waris yang meninggal. Karena itu. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). Berikut ini saya sertakan tabelnya: . yaitu enam (6) bagian. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). dan seorang saudara kandung laki-laki. 2. maka 3 x 4 = 12. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-.ada mumatsalah (kesamaan). Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. yaitu almumatsalah. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Karena itu. Kemudian. Jadi. disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. B. Sebagai contoh. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. dan al-mubayanah. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36). Kemudian. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. berarti 3 x 12 = 36. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. Maka. seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan.

yaitu dua puluh empat (24). tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Sdr. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. seseorang wafat dan meninggalkan istri. kandung pr. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. ayah. Kemudian. Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. ibu. 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). Dalam keadaan demikian. ibu 1/6 (4 bagian). kandung pr. kandung pr. cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). kandung lk. ibu. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. dan dua anak laki-laki. Oleh sebab itu. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. . Sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). Sdr. istri. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. ibu. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. ayah. berarti dua bagian. kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama.Jumlah kepala 12 3 anak pr. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru. keturunan anak lk. 2/3 Sdr. Jumlahnya lima belas (15) bagian. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. kandung lk. dan saudara laki-laki seibu. tiga anak perempuan. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). dan dua anak perempuan. ibu.

Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. dan seterusnya. saudara perempuan seibu. dan seterusnya. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. Maka jika terjadi hal seperti ini. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. dan ibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. ayah. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. dan dua saudara laki-laki seibu. Misalnya. dan meninggalkan nenek. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. Kemudian anak perempuan juga meninggal. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . kemudian ada lagi yang meninggal. dan seterusnya. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. dua saudara kandung perempuan. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua.Kemudian. aljami'ah ketiga. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. dan paman kandung (saudara ayah). berarti 3 x 13 = 39. seseorang wafat meninggalkan suami. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Misalnya. karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris).

1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. Pertama. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya.a.Suami 1/2 Sdr. Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain. Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. salah seorang istrinya. atau siapa saja yang ditunjuknya. Numadhir binti al-Asbagh. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. dan cara kedua. kandung pr. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya.pr. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada.ialah seratus ribu dirham. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. Ketika ia wafat. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. lk. . ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. 2/3 2 sdr. menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri.

warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . dan istri.Sebagai contoh.000 Bagian ayah 9 x 2. berarti tiga (3) saham. Dengan demikian.000.000.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. dan dua anak laki-laki. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000. pokok masalahnya dari delapan.000 = 18.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri.000 + 18. seorang anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan ayah.000. Lalu sisanya (yakni 24 . yakni seperdelapan dari dua puluh empat.000. Dalam keadaan demikian. maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi.000: 21 = 2.000. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000 = 42. X. pewaris meninggalkan sebuah rumah.000 Total = 24. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun.adalah bagian anak perempuan. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya.000. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya. anak perempuan. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. dan uang sebanyak Rp 42 juta. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. Misalnya. Kemudian. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri. Maka. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'. Kemudian sebagai misal.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A.000. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka. dan sisanya --yakni tujuh bagian-.000.000 = 24.

Maksudnya. dalam sebagian riwayat darinya. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. dan juga merupakan pendapat dua imam. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). Dengan demikian. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Muslim. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris.a. dan sebagainya. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. Allah berfirman: ". di antaranya Umar bin Khathab. dan Ibnu Abbas r. cucu laki-laki dari anak perempuan. Jadi. Pendapat ini merupakan jumhur ulama. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. Dengan demikian. paman (saudara laki-laki ibu).a. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. .. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. dan Ali bin Abi Thalib. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Misalnya. B. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. Ibnu Mas'ud. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw...rahim yang menyatukan asal mereka. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. bila tidak ada ashhabul furudh. Jadi. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah.

maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. 3. Harta peninggalan. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris. Pendek kata. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun. Rasulullah saw. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. para ''ashabah. Adapun golongan kedua. atau selain dari keduanya-. Jadi.2. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. dan logika." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. tidak memberikan hak waris kepada para bibi." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk . yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Namun sebaliknya. para 'ashabah. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya.. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. baik ashhabul furudh. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. Sebab. As-Sunnah." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah.. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. bila diserahkan kepada kerabatnya. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal.beliau saw. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. Di sini. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: ". Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. kerabat lain pun demikian. serta selain keduanya. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. termasuk ashhabul furudh. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil.

ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. baik sedikit ataupun banyak. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. yakni saudara laki-laki ibunya. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. sedangkan saudara . Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Oleh karena itu. dari ayah dan dari ibu. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. dalam riwayat ini dikisahkan. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. ikatannya dari dua arah. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar. Oleh sebab itu.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. bertanya kepada Qais bin Ashim." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat. Alasannya. Sebab.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah.a. maka Rasulullah saw. Sebab. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Dengan pemberian Rasulullah saw. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh.--.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. Dengan demikian. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya.a. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Dengan turunnya ayat ini. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. Umar bin Khathab r. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya.

baitulmal harus terjamin pengelolaannya. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. adil. Jadi. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. khususnya pada masa kita sekarang ini. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. . ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. tabi'in. para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. bibi (saudara perempuan ibu). dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. Di samping itu. C." Melihat kenyataan demikian. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan.seayah hanya dari ayah. Sebagai contoh. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. dan imam mujtahidin. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat. Dengan demikian. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. Di antaranya. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. namun kesemuanya tidak mempunyai imam. Atau.jawaban Rasulullah saw. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). dan amanah. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. persatuan dan kesatuan muslimin. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. Maka muncul pertanyaan. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman. Misalnya. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. bibi (saudara perempuan ayah). 1. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-.

Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. Inilah gambarnya: Sdr. pr. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. sdr. dan sepertiga lagi diberikannya . Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. 1/6.. 1/2. Mazhab ini tidak masyhur. karena itu ia mendapatkan sisanya. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. Pr. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dan paman kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian. saudara perempuan seibu. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. 1/2. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. kand. Oleh karena itu. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. seayah 1/6. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. 3/6. 2. kandung pr. Dengan demikian. 2. sdr. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. saudara perempuan seayah. seibu paman kand. pr. dan saudara laki-laki seayah. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). Sdr. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. laki-laki seayah mahjub. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. bahkan dhaif dan tertolak.Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. Sdr. yakni pokoknya. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. saudara kandung perempuan. dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah.

Oleh karena itu. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok.kepada bibi (dari pihak ibu). yang tampak sangat logis. baik laki-laki ataupun perempuan. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. dan seterusnya.a. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. Di samping itu. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan.a. Selain itu. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. Sebagaimana telah diungkapkan. 2. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. dan seterusnya seperti ayah dari ibu.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. baik laki-laki ataupun perempuan. Yang dinisbati oleh pewaris: a. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-. Selain itu. Hal ini. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. 3. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. Keempat golongan tersebut adalah: 1. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah. . ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Sebab. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. b. dan seterusnya. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Kakek yang bukan sahih. menurut mereka. Maka. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris.

atau yang seibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. Dengan demikian. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. ataupun seibu. dan bibi (saudara perempuan ibu). Keturunan saudara kandung perempuan. baik yang kandung. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . Nenek yang bukan sahih. dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. b. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. seibu. dan seterusnya). baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. dan juga paman nenek. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya. b. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. dan seterusnya. Jika tidak ada juga. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. 2. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah).dari kakek dan nenek. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. ibu dari ibu ayahnya ibu. atau seayah. dan seterusnya. Bila mereka tidak ada. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. baik yang kandung maupun yang seayah). keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. atau yang seayah. dan paman (saudara ayah) ibu. Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Paman kakak yang seibu. Bila mereka tidak ada. dan seterusnya. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". cucu. Jika tidak ada. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). maka pokoknya: ayah. seayah.. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. menurut ahlul qarabah. kakek.b.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). baik bibi kandung. atau seibu. Bibi dari ayah pewaris. seayah. maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu).

Tidak ada shahibul fardh. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. dan seorang anak perempuan dari anak paman . jika ada shahibul fardh. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). Dengan demikian. berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Begitu seterusnya. maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. 2. Dalam contoh ini. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. Misalnya. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. maka ia akan menerima sisanya. D. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Tidak ada penta'shib ('ashabah). seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. Misalnya. maka pembagiannya dilakukan secara merata. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Sebab. 2. pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. Dan bila ada shahibul fardh. Misalnya. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. maka ia akan menerima seluruh harta waris. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. Misalnya. Begitulah seterusnya. Artinya. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Namun. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. Dengan demikian. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. Hanya saja. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya.mereka. setelah diambil hak para shahibul fardh.

penj. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. Misalnya.a. Sebenamya. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. maka ia divonis sebagai laki-laki dan . Namun. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki. Selain itu. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Atau dengan redaksi lain. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. Bila urinenya keluar dari penis. dan para ulama mazhab Hanafi.kandung yang lain." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". artinya tidak ada kejelasan. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Oleh karena itu. Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. khanatsa wa takhannatsa. Sebab. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. Oleh karenanya. XI. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas.). pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad.

Mazhab Maliki berpendapat." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Misalnya. Mazhab Syafi'i berpendapat. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. bahwa Rasulullah saw. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. dan tidak menerima vonis tersebut. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. Bila keluar dari penis. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. Maksudnya. dikukuhkanlah vonis tersebut. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. Di samping melalui cara tersebut. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. apakah ia tumbuh kumis. Namun. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. tetapi bila keluar dari vagina.a.). ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua. dan sebagainya. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. apakah tumbuh payudaranya. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. lihatlah jalan keluarnya air seni. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. apakah ia haid atau hamil. . bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Ketika Islam datang. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. C. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. maka ia sebagai laki-laki. Ia berkata: "Wahai kaumku. 2. Melihat sang majikan gelisah. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. penj. ia dinyatakan sebagai perempuan. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina." B.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita.

dan bagian anak banci lima (5). Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. ibu. saudara kandung perempuan. maka pokok masalahnya dua (2). Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara.'aul-kan. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. maka gugurlah hak warisnya. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. 3. dan . maka divonis sebagai laki-laki. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. sedangkan bagian anak perempuan empat (4).yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. seorang anak perempuan. dan seorang anak banci. dan sisanya kita bekukan. dan saudara laki-laki banci. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. Bahkan. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. 2. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. dan saudara laki-laki seayah banci. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. seperti dalam masalah al-munasakhat. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). ibu enam (6) bagian. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. maka pokok masalahnya dari lima (5). sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4).

Secara ringkas dapat dikatakan. ibunya mengandungnya dengan susah payah. Bagian suami enam (6). Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . kdg. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. 1 1 Suami 1/2 Sdr. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya.. Adapun sisanya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Berkaitan dengan hal ini. yakni dua (2) bagian dibekukan. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin). Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. pr. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Namun demikian.yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14)." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. pr. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang . 1/2 Banci lk. 1/2 Sdr. kdg. dan satu atau kembar. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. laki-laki atau perempuan.. Karena itu. Setelah itu. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. pr. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat.

F. ia tidak berhak mewarisi." Pernyataan Aisyah r. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. . dan ia dianggap tidak ada. bersin. Bahkan. maka tidak berhak mendapatkan waris. 2. Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun.. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Kelima keadaan tersebut: 1. Dengan demikian. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati).a. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. mau menyusui ibunya. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. E. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. menurut mazhab Hanafi. atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan.ada.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup.a. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad. maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan. atau yang semacamnya. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-.

maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Namun. seseorang wafat dan meninggalkan istri. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. maka hak warisnya diberikan kepadanya. Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. Sebagai ahli waris tunggal. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). 2. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Pokok masalahnya dari empat (4). Namun. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. dan istri ayah yang sedang hamil. Contoh lain. seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu. Bila yang lahir bayi perempuan. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. Sebagai misal. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. paman (saudara ayah). Setelah janin lahir dengan selamat. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. apabila yang lahir anak perempuan. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. tiga saudara perempuan seibu. Namun. Bila yang lahir anak laki-laki. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). Sebagai misal. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. ayah. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung. bila ternyata bayi tersebut perempuan.

maka kita sisihkan bagian warisnya. Dengan demikian. jika bayi itu masuk kategori laki-laki. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. seibu 1/3 Sdr. saudara perempuan seayah. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. baik ia laki-laki ataupun perempuan. dan ayah. Inilah tabelnya. ibu. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris).pr. Sebagai contoh.Ibu 1/6 3 sdr. dalam kedua keadaannya. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). Sebagai misal.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. pr. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. ayah seperenam (1/6). Dalam keadaan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil. boleh jadi. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6).seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. 'ashabah Sisanya satu (1). Jadi. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. dan bagian istri seperdelapan (1/8). baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Sebab. dibekukan. sbg. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan.

maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. Karenanya. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. Sebab. Contoh lain. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. 1/2 Sdr. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. DAN TERTIMBUN A. 1/2 Sdr. anak perempuan setengah (1/2) bagian. TENGGELAM. XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. terputus beritanya. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. pr. kdg. pr. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. Akan tetapi. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. dan . bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. namun jika ia lahir dalam keadaan mati.6 Sdr. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. kdg. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). Sebagai misal. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. pr. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. al-mafqud berarti orang yang hilang. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. pr." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. dan aku menjamin terhadapnya. atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu.

Dalam riwayat lain. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. yaitu empat bulan sepuluh hari. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim. maka hendaknya dia bersabar. sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. Bila usai masa idahuya. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun. Akan tetapi. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. hartanya tidak boleh diwariskan. Dalam riwayat lain.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada.telah mati. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). dari Abu Hanifah." B. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal. atau menjadi salah seorang penumpang . apakah dia masih hidup atau sudah mati.a.tidak diketahui rimbanya. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. Sementara itu. Karena menurut Imam Syafi'i. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. dari Imam Malik. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. Namun.

Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. Karena itu. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. atau banyak perampok dan penjahat. Sedangkan pada keadaan kedua. Sebab. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). C. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. Karena itu. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. Demikian juga istrinya. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. Misalnya. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Namun. atau untuk menuntut ilmu. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. Namun. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. maka itulah yang berlaku. dan anak laki-laki yang hilang. Maksudnya. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. 2. Kapan saja hakim memvonisnya. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. melancong.kapal yang tenggelam-. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada. seperti pergi untuk berniaga. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. hendaknya ia . Kedua. Pertama. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. Sebagai contoh. saudara laki-laki seayah. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. saudara kandung perempuan. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. dan dua saudara perempuan seayah. ia dapat menempuh masa idahnya. Misal lain. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. Menurut hemat penulis. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1.

lk. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr. Namun. Namun. lk. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. dan cucu laki-laki dari . Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. hlg 1 Sdr. ibu. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. ibu seperenam (1/6). dan saudara kandung laki-laki yang hilang. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. pr 1 Sdr. kdg. hdp. kdg. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. saudara kandung. Sebagai contoh. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. kdg. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. seseorang wafat dan maninggalkan istri. kdg. hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. pr 1 1 Sdr. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. Dalam contoh tersebut. bagian istri adalah seperempat (1/4). atau tanpa ada yang dibekukan). Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. ibu. kdg. saudara laki-laki seayah. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. saudara kandung perempuan. pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). kemudian membekukan sisanya. kdg. Dalam keadaan demikian.

(hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. saudara kandung perempuan.lk.kdg.kdg.dr.lk.kdg.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.anak. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain.keturunan anak laki-laki. hdp. Suami 1/4 Cucu pr.lk.dr. mati 12 24 . dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan suami.anak. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. mahjub Sdr. dan anak laki-laki yang hilang. hdp. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh.pr. lk. mati Suami 1/4 Cucu pr. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh. Istri 1/8 2 Anggapan sdh. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. (mahjub) Sdr. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. 8 Anggapan sdh. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk. saudara laki-laki seibu. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. anak paman kandung (sepupu). (hilang) 17 Cucu lk.pr. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr. (hilang) 3 Anak lk. hdp.

Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. (hilang) 4 Cucu pr. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-. tanpa diduga. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. lk. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya.lk. 'ashabah 3 Sepupu. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman.. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. ujian. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? . Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut.senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".lk. lalu mengalami kecelakaan. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr.. lk.seibu (mahjub) Sdr. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. Misalnya. D. (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya. Sayangnya. dan cobaan. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr.

Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. Yang satu meninggalkan istri." Hal demikian.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. seluruh isi langit dan bumi. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. Menurut ulama faraid. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Sebagai contoh. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. Sebagai contoh. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan). dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. . maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. anak perempuan. Kemudian. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. dan anak paman kandung (sepupu). sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Misal lain. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. pengatur alam semesta. Dialah Yang Maha Kekal. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. harta ketiga anak laki-laki. menurut para ulama. Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Begitulah seterusnya. amin.

maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. Mekah. . Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. junjungan kita Muhammad saw. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). jika yang meninggal itu mempunyai anak. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. Jika seseorang mati. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. jika anak perempuan itu seorang saja. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Yaitu. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja)." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. Ini adalah ketetapan dari Allah. Jika kamu mempunyai anak. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. jika mereka tidak mempunyai anak. para sahabatnya. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. maka ibunya mendapat sepertiga. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa.tidak akan rusak dan tidak akan mati. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. maka ia memperoleh separo harta. maka ibunya mendapat seperenam. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I.

sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. jika ia tidak mempunyai anak. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya." (an-Nisa': 176) . tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.baik laki-laki maupun perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful