A.

Penjelasan
Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut --yang kesemuanya termaktub dalam surat an-Nisa'-menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. Selain itu, juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris, kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu", dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid, di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. Oleh sebab itu, orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris, sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. Maha Suci Allah. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia, meniadakan kezaliman di kalangan mereka, menutup ruang gerak para pelaku kezaliman, serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa ketiga ayat tersebut merupakan salah satu rukun agama, penguat hukum, dan induk ayat-ayat Ilahi. Oleh karenanya faraid memiliki martabat yang sangat agung, hingga kedudukannya menjadi separo ilmu. Hal ini tercermin dalam hadits berikut, dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Pelajarilah Al-Qur'an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu ini pun bakal sirna hingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. " (HR Daruquthni) Lebih jauh Imam Qurthubi mengatakan, "Apabila kita telah mengetahui hakikat ilmu ini, maka betapa tinggi dan agung penguasaan para sahabat tentang masalah faraid ini. Sungguh mengagumkan pandangan mereka mengenai ilmu waris ini. Meskipun demikian, sangat disayangkan kebanyakan manusia (terutama pada masa kini) mengabaikan dan melecehkannya."1 Perlu kita ketahui bahwa semua kitab tentang waris yang disusun dan ditulis oleh para ulama merupakan penjelasan dan penjabaran dari apa yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut. Yakni penjabaran kandungan ayat yang bagi kita sudah sangat jelas: membagi dan adil. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum dan syariat-Nya. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya dalam hati, adakah ayat lain yang berkenaan dengan waris selain dari ketiga ayat tersebut? Di dalam Al-Qur'an memang ada beberapa ayat yang menyebutkan masalah hak waris bagi para kerabat (nasab), akan tetapi tentang besar-kecilnya hak waris yang mesti diterima mereka tidak dijelaskan secara rinci. Di antaranya adalah firman Allah berikut: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetaplan. " (an-Nisa': 7)

"... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (al-Anfal: 75) "... Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (warismewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (al-Ahzab: 6) Itulah ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah hak waris, selain dari ketiga ayat yang saya sebutkan pada awal pembahasan. Pada ayat kedua dan ketiga (al-Anfal: 75 dan al-Ahzab: 6) ditegaskan bahwa kerabat pewaris (sang mayit) lebih berhak untuk mendapatkan bagian dibandingkan lainnya yang bukan kerabat atau tidak mempunyai tali kekerabatan dengannya. Mereka lebih berhak daripada orang mukmin umumnya dan kaum Muhajirin. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam, bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw., seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Pada permulaan datangnya Islam, kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi, namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat, kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya, dan kaidah-kaidah agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim. Maka setelah peristiwa penaklukan kota Mekah, Allah memansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan persaudaraan, dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah, yakni wanita dan anak-anak. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan, yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar, laki-laki ataupun wanita. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit, maupun pewaris itu rela atau tidak rela, yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah. Meskipun demikian, ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global), sedangkan rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (anNisa': 11-12 dan 176). Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut, mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita, padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya, karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu saya utarakan beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim, di antaranya sebagai berikut: 1. Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya, dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. Sebaliknya, kaum

lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum, dan sandang. Dan ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan, dan papan. 2. Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Sementara kaum wanita tidaklah demikian. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki --dua kali lebih besar-- dan kaum wanita. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan, ingin sekali saya sebutkan hikmah-hikmah tersebut sebanyak mungkin. Secara logika, siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar --hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak-- maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita, Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya, berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Dengan demikian, tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Sebab, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki, namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya), selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya, khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf ..." (al-Baqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. Seseorang meninggal dan mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Ternyata orang tersebut meninggalkan harta, misalnya sebanyak Rp 3 juta. Maka, menurut ketetapan syariat Islam, laki-laki mendapatkan Rp 2 juta sedangkan anak perempuan mendapatkan Rp 1 juta. Apabila anak laki-laki tersebut telah dewasa dan layak untuk menikah, maka ia berkewajiban untuk membayar mahar dan semua keperluan pesta pernikahannya. Misalnya, ia mengeluarkan semua pembiayaan keperluan pesta pernikahan itu sebesar Rp 20 juta. Dengan demikian, uang yang ia terima dari warisan orang tuanya tidak tersisa. Padahal, setelah menikah ia mempunyai beban tanggung jawab memberi nafkah istrinya. Adapun anak perempuan, apabila ia telah dewasa dan layak untuk berumah tangga, dialah yang mendapatkan mahar dari calon suaminya. Kita misalkan saja mahar itu sebesar Rp 1 juta. Maka anak

"Bagaimana mungkin kami memberikan warisan (harta peninggalan) kepada orang yang tidak bisa dan tidak pernah menunggang kuda. harta warisan anak perempuan semakin bertambah. sekalipun ia memiliki harta yang banyak dan hidup dalam kemewahan. Hak Waris Kaum Wanita sebelum Islam Sebelum Islam datang. sehingga pembagian hak laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada hak kaum wanita. atau kita meminta kepada beliau agar berkenan untuk mengubahnya. suami. Mereka sangat berharap kalau saja hukum yang tercantum dalam ayat tersebut dapat dihapus (mansukh). anak-anak. memberi warisan kepada kaum wanita dan anak-anak sangat bertentangan dengan kebiasaan dan adat yang telah lama mereka amalkan sebagai ajaran dari nenek moyang. serta tidak pula berperang melawan musuh. baik berupa sandang.. Sebab menurut anggapan mereka. Ia berkata: "Ketika ayat-ayat yang menetapkan tentang warisan diturunkan Allah kepada RasulNya --yang mewajibkan agar memberikan hak waris kepada laki-laki. Semoga saja Rasulullah melalaikan dan mengabaikannya.a. Barulah setelah Islam datang ada ketetapan syariat yang memberi mereka hak untuk mewarisi harta peninggalan kerabat.sebagian bangsa Arab merasa kurang senang terhadap ketetapan tersebut. dan tidak pula dapat andil membela kaum kerabatnya. tidak mampu memanggul senjata. Sebaiknya kita tidak perlu membicarakan hukum tersebut. padahal mereka tidak dapat menunggang kuda dan memanggul senjata untuk ikut berperang melawan musuh?'" . Dan haruskah kami memberikan hak waris kepada anak-anak perempuan kami. Jadi. pangan. Dengan nada keheranan sambil mencibirkan mereka mengatakan: 'Haruskah memberi seperempat bagian kepada kaum wanita (istri) atau seperdelapan. Sangat jelas bagi kita bahwa sebelum Islam datang bangsa Arab memperlakukan kaum wanita secara zalim. baik dari harta peninggalan ayah. ayah.' Memberikan anak perempuan setengah bagian harta peninggalan? Juga haruskah memberikan warisan kepada anak-anak ingusan? Padahal mereka tidak ada yang dapat memanggul senjata untuk berperang melawan musuh. Islam memberi mereka hak waris. kaum wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk menerima warisan dari peninggalan pewaris (orang tua ataupun kerabatnya). dan papan. tanpa direndahkan. Dalam keadaan seperti ini manakah di antara kaum laki-laki dan kaum wanita yang lebih banyak menikmati harta dan lebih berbahagia keadaannya? Laki-laki ataukah wanita? Inilah logika keadilan dalam agama. Inilah ketetapan yang telah Allah pastikan dalam syariat-Nya sebagai keharusan yang tidak dapat diubah. Sebab dalam Islam kaum laki-lakilah yang berkewajiban memberi nafkah istrinya.' Sebagian dari mereka berkata kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah. Bangsa Arab jahiliah dengan tegas menyatakan. Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan sebuah kisah yang bersumber dari Abdullah Ibnu Abbas r. --berupa ayat-ayat tentang waris-. Mereka tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak. haruskah kami memberikan warisan kepada anak kecil yang masih ingusan? Padahal kami tidak dapat memanfaatkan mereka sama sekali. sedangkan harta warisan anak laki-laki habis. dan istri-. maupun kerabat mereka. atau suami mereka dengan penuh kemuliaan. Dengan dalih bahwa kaum wanita tidak dapat ikut berperang membela kaum dan sukunya.kalangan bangsa Arab pada saat itu merasa tidak puas dan keberatan. tanpa boleh siapa pun mengusik dan menentangnya. 1 B. suami. sebagaimana mereka mengharamkannya kepada anak-anak kecil.perempuan itu telah memiliki uang sebanyak Rp 2 juta (satu juta dari harta warisan dan satu juta lagi dari mahar pemberian calon suaminya). wanita. sebagai istri ia tidak dibebani tanggung jawab untuk membiayai kebutuhan nafkah rumah tangganya. Sementara itu." Mereka mengharamkan kaum wanita menerima harta warisan. kedua orang tua. Ketika turun wahyu kepada Rasulullah saw.

Inilah salah satu bentuk nyata ajaran syariat Islam dalam menyantuni kaum wanita; Islam telah mampu melepaskan kaum wanita dari kungkungan kezaliman zaman. Islam memberikan hak waris kepada kaum wanita yang sebelumnya tidak memiliki hak seperti itu, bahkan telah menetapkan mereka sebagai ashhabul furudh (kewajiban yang telah Allah tetapkan bagian warisannya). Kendatipun demikian, dewasa ini masih saja kita jumpai pemikiran yang kotor yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang yang berhati buruk. Mereka beranggapan bahwa Islam telah menzalimi kaum wanita dalam hal hak waris, karena hanya memberikan separo dari hak kaum laki-laki. Anggapan mereka semata-mata dimaksudkan untuk memperdaya kaum wanita tentang hak yang mereka terima. Mereka berpura-pura akan menghilangkan kezaliman yang menimpa kaum wanita dengan cara menyamakan hak kaum wanita dengan hak kaum laki-laki dalam hal penerimaan warisan. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya menghasut kaum wanita agar mereka menjadi pembangkang dan pemberontak dengan menolak ajaran dan aturan hukum dalam syariat Islam. Sehingga pada akhirnya kaum wanita akan menuntut persamaan hak penerimaan warisan yang sama dan seimbang dengan kaum laki-laki. Yang sangat mengherankan dan sulit dicerna akal sehat ialah bahwa mereka yang berpura-pura prihatin tentang hak waris kaum wanita, justru mereka sendiri sangat bakhil terhadap kaum wanita dalam hal memberi nafkah. Subhanallah! Sebagai bukti, mereka bahkan menyuruh kaum wanita untuk bekerja demi menghidupi diri mereka, di antara mereka bekerja di ladang, di kantor, di tempat hiburan, bar, kelab malam, dan sebagainya. Corak pemikiran seperti ini dapat dipastikan merupakan hembusan dari Barat yang banyak diikuti oleh orang-orang yang teperdaya oleh kedustaan mereka. Kultur seperti itu tidak menghormati kaum wanita, bahkan tidak menempatkan mereka pada timbangan yang adil. Budaya mereka memandang kaum wanita tidak lebih sebagai pemuas syahwat. Mereka sangat bakhil dalam memberikan nafkah kepada kaum wanita, dan mengharamkan wanita untuk mengatur harta miliknya sendiri, kecuali dengan seizin kaum laki-laki (suaminya). Lebih dari itu, budaya mereka mengharuskan kaum wanita bekerja guna membiayai hidupnya. Kendatipun telah nyata demikian, mereka masih menuduh bahwa Islam telah menzalimi dan membekukan hak wanita.

C. Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris
Banyak riwayat yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa'ad bin ar-Rabi' datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa'ad bin ar-Rabi' yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa'ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa'ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Semoga Allah segera memutuskan perkara ini." Maka turunlah ayat tentang waris yaitu (an-Nisa': 11). Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa'ad dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa'ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa'ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara kandung Sa'ad. Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Masih ada sederetan riwayat sahih yang mengisahkan tentang sebab turunnya ayat waris ini. Semua riwayat tersebut tidak ada yang menyimpang dari inti permasalahan, artinya bahwa turunnya ayat waris sebagai penjelasan dan ketetapan Allah disebabkan pada waktu itu kaum wanita tidak mendapat bagian harta warisan.

D. Kajian terhadap Ayat-ayat Waris
Pertama: Firman Allah yang artinya "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan," menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Apabila ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan. Apabila bersama anak (sebagai ahli waris) ada juga ashhabul furudh, seperti suami atau istri, ayah atau ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Apabila pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan. Meskipun ayat yang ada tidak secara sharih (tegas) menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat yang dikutip sebelumnya (Butir 1) rnenunjukkan bahwa bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat (artinya) "jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta". Dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris. 2. Adapun bagian keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), jumlah bagian mereka sama seperti anak, apabila sang anak tidak ada (misalnya meninggal terlebih dahulu). Sebab penggalan ayat (artinya) "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu", mencakup keturunan anak kandung. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma'. Kedua: Hukum bagian kedua orang tua. Firman Allah (artinya): "Dan untuk dua orang ibu-hapak, bagi masingmasingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam." Penggalan ayat ini menunjukkan hukum-hukum sebagai berikut: 1. Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila yang meninggal mempunyai keturunan. Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi, pengertiannya, sisanya merupakan bagian ayah. 2. Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai saudara (dua orang atau lebih), maka ibunya mendapat seperenam bagian. Sedangkan ayah mendapatkan lima per enamnya. Adapun

saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dalam Islam dinyatakan sebagai hajib (penghalang). Jika misalnya muncul pertanyaan apa hikmah dari penghalangan saudara pewaris terhadap ibu mereka --artinya bila tanpa adanya saudara (dua orang atau lebih) ibu mendapat sepertiga bagian, sedangkan jika ada saudara kandung pewaris ibu hanya mendapatkan seperenam bagian? Jawabannya, hikmah adanya hajib tersebut dikarenakan ayahlah yang menjadi wali dalam pernikahan mereka, dan wajib memberi nafkah mereka. Sedangkan ibu tidaklah demikian. Jadi, kebutuhannya terhadap harta lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ibu, yang memang tidak memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan mereka. Ketiga: Utang orang yang meninggal lebih didahulukan daripada wasiat. Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya." Secara zhahir wasiat harus didahulukan ketimbang membayar utang orang yang meninggal. Namun, secara hakiki, utanglah yang mesti terlebih dahulu ditunaikan. Jadi, utang-utang pewaris terlebih dahulu ditunaikan, kemudian barulah melaksanakan wasiat bila memang ia berwasiat sebelum meninggal. Inilah yang diamalkan Rasulullah saw.. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya kalian telah membaca firman Allah [tulisan Arab] dan Rasulullah telah menetapkan dengan menunaikan utang-utang orang yang meninggal, lalu barulah melaksanakan wasiatnya." Hikmah mendahulukan pembayaran utang dibandingkan melaksanakan wasiat adalah karena utang merupakan keharusan yang tetap ada pada pundak orang yang utang, baik ketika ia masih hidup ataupun sesudah mati. Selain itu, utang tersebut akan tetap dituntut oleh orang yang mempiutanginya, sehingga bila yang berutang meninggal, yang mempiutangi akan menuntut para ahli warisnya. Sedangkan wasiat hanyalah suatu amalan sunnah yang dianjurkan, kalaupun tidak ditunaikan tidak akan ada orang yang menuntutnya. Di sisi lain, agar manusia tidak melecehkan wasiat dan jiwa manusia tidak menjadi kikir (khususnya para ahli waris), maka Allah SWT mendahulukan penyebutannya. Keempat: Firman Allah (artinya) "orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu." Penggalan ayat ini dengan tegas memberi isyarat bahwa Allah yang berkompeten dan paling berhak untuk mengatur pembagian harta warisan. Hal ini tidak diserahkan kepada manusia, siapa pun orangnya, cara ataupun aturan pembagiannya, karena bagaimanapun bentuk usaha manusia untuk mewujudkan keadilan tidaklah akan mampu melaksanakannya secara sempurna. Bahkan tidak akan dapat merealisasikan pembagian yang adil seperti yang telah ditetapkan dalam ayat-ayat Allah. Manusia tidak akan tahu manakah di antara orang tua dan anak yang lebih dekat atau lebih besar kemanfaatannya terhadap seseorang, tetapi Allah, Maha Suci Dzat-Nya, Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembagian yang ditentukan-Nya pasti adil. Bila demikian, siapakah yang dapat membuat aturan dan undang-undang yang lebih baik, lebih adil, dan lebih relevan bagi umat manusia dan kemanusiaan selain Allah? Kelima: Firman Allah (artinya) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istriistrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau

maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. Dengan demikian. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja).(dan) sesudah dibayar utangnya. Oleh karenanya. Bagi suami atau istri masing-masing mempunyai dua cara pembagian. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). maka suami mendapat bagian separo dari harta yang ditinggalkan istrinya. . Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai anak (keturunan). maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. 2. Keenam: Hukum yang berkenaan dengan hak waris saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. dapat dipastikan bahwa pengertian kata ikhwah dalam ayat tersebut (an-Nisa': 12) adalah 'saudara seibu'. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. karena saudara kandung atau saudara seayah kedudukannya lebih dekat --dalam urutan nasab-. Yang pertama dalam ayat ini.dibandingkan saudara seibu. baik laki-laki maupun perempuan. pengertian istilah ikhwah dalam ayat ini harus dibedakan dengan pengertian ikhwah yang terdapat dalam ayat akhir surat an-Nisa' untuk meniadakan pertentangan antara dua ayat. 2. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. maka Allah menetapkan bagian keduanya lebih besar dibandingkan saudara seibu. Sementara itu. sedangkan bila dua atau lebih ia mendapat bagian dua per tiga." Penggalan ayat tersebut menjelaskan tentang hukum waris bagi suami dan istri. bagi satu saudara mendapat seperenam bagian. Bagian istri: 1. Firman-Nya (artinya): "Jika seseorang mati. mendapat separo harta peninggalan. Rincian Beberapa Keadaan Bagian Saudara Seibu 1. maka bagian istri adalah seperempat. Pengertian inilah yang disepakati oleh ulama. Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan (anak). Dalam ayat yang disebut terakhir ini. sedangkan untuk kata yang sama di dalam akhir surat an-Nisa' memiliki pengertian 'saudara kandung' atau 'saudara seayah'. Adapun yang dijadikan dalil oleh ulama ialah bahwa Allah SWT telah menjelaskan --dalam firmanNya-. sedangkan bila jumlah saudaranya banyak maka mendapatkan sepertiga dari harta peninggalan dan dibagi secara rata. Jika kamu mempunyai anak. tidak mencakup saudara kandung dan tidak pula saudara laki-laki atau saudara perempuan "seayah lain ibu". Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai anak (keturunan). maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. dan yang kedua pada akhir surat an-Nisa'. " Yang dimaksud ikhwah (saudara) dalam penggalan ayat ini (an-Nisa': 12) adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan "seibu lain ayah". maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. Bagian suami: 1. ayat akhir surat an-Nisa' menjelaskan bahwa saudara perempuan. Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan (anak). Jadi. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. jika sendirian. Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu. maka istri mendapat bagian seperdelapan. Sementara itu.tentang hak waris saudara dari pewaris sebanyak dua kali.

Begitulah hukum bagi saudara seayah. Jadi.2. dan ia tidak mempunyai ayah atau anak. maka ahli waris mendapat separo harta peninggalan. Hukum Keadaan Saudara Kandung atau Seayah Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa': 176 mengisyaratkan adanya beberapa keadaan tentang bagian saudara kandung atau saudara seayah. Ayat tersebut menunjukkan dengan tegas bahwa apabila wasiat dan utang nyata-nyata mengandung kemudaratan. dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. dan tidak mempunyai ayah atau anak.maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala. Jadi. Ulama sepakat (ijma') bahwa kalaalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan. atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. maka bagi ahli waris yang laki-laki mendapatkan dua kali bagian saudara perempuan. Sebab yang zhahir dari firman-Nya [tulisan Arab] menunjukkan adanya keharusan untuk dibagi dengan rata sama besar-kecilnya. Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dua orang atau lebih. maka bagian ahli waris adalah dua per tiga dibagi secara rata. Apabila pewaris mempunyai banyak saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan atau seayah. Adapun bila pendapat ini salah. mereka mendapatkan dua per tiga bagian dan dibagi secara rata. maka karena dariku dan dari setan. baik wasiat atau utang yang dapat menimbulkan mudarat (berdampak negatif) pada ahli waris tidak wajib dilaksanakan. Apabila seorang saudara kandung perempuan meninggal. saudara laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian saudara perempuan. 1. Kalaalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak. " Ketujuh: Firman Allah (artinya) "sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sudah dibayar utangnya dengan tidak membebani mudarat (kepada ahli waris)". . Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dampak negatif mengenai wasiat yang dimaksudkan di sini. seseorang yang berwasiat untuk menyedekahkan hartanya lebih dari sepertiga. Kata kalaalah diambil dari kata al-kalla yang bermakna 'lemah'. Apabila pewaris mempunyai dua orang saudara kandung perempuan atau seayah ke atas.a. misalnya seseorang yang mengakui mempunyai utang padahal sebenamya ia tidak berutang. misalnya. maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara kandung laki-lakinya. ia berkata: "Saya mempunyai pendapat mengenai kalaalah. Sedangkan utang yang dimaksud berdampak negatif. jika ternyata tidak ada saudara laki-laki yang sekandung atau saudara perempuan yang sekandung. Apabila seseorang meninggal dan hanya mempunyai satu orang saudara kandung perempuan ataupun seayah. yang artinya 'apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya'. Kata ini misalnya digunakan dalam kalimat kalla ar-rajulu. bila ternyata pewaris (yang meninggal) tidak mempunyai ayah atau anak.. 2. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq r. maka wajib untuk tidak dilaksanakan. Menurut saya. Apabila saudara kandungnya banyak --lebih dari satu-. Makna Kalaalah Pengertian kalaalah ialah seseorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturunan.

ayah. dan ijma' para ulama sangat sedikit.II.. atau dari suatu kaum kepada kaum lain. besar atau kecil. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris.. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. paman. Jadi. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci.. apakah dia sebagai anak. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya.. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. baik berupa harta (uang) atau lainnya. WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . ibu. kakek. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun.. Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris." (an-Naml: 16) ". Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. suami. cucu. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. dari seluruh kerabat dan nasabnya. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). istri. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini. tanah. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. . Dan Kami adalah pewarisnya.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat A. Definisi Waris Al-miirats." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. Oleh karena itu. kecuali hukum waris ini. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). demikian pula sabda Rasulullah saw. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu.

atau belum memenuhi kafarat (denda). seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. Padahal. menurut mereka. tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. Artinya. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. Di antaranya. Akan tetapi. biaya memandikan.Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. 2. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. Menurut jumhur ulama. menurut saya. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. biaya pemakaman. Pendapat mazhab ini. bila sang mayit berwasiat. atau belum menunaikan nadzar. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan. Sedangkan jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Bahkan menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. Kalangan ulama mazhab Hanafi beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Namun. pembelian kain kafan. maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli . seperti belum membayar zakat. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan.

ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. dan ijma'. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw.setelah ashhabul furudh menerima bagian). Sepertiga. suami. As-Sunnah. 3." 4. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. saudara kandung pewaris. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. cucu dari anak laki-laki pewaris. Bahkan. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. Ashhabul furudh. Hal ini tentu saja berbeda dengan utang piutang. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan. termasuk diambil untuk membayar utangnya. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. paman . Oleh karena itu. istri. Rasulullah saw.a. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadang-kadang seseorang enggan menunaikannya. Setelah ashhabul furudh. baru kemudian melaksanakan wasiat. dan sepertiga itu banyak. Ashabat nasabiyah. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Sementara itu. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an.warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. misalnya ibu. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. B. As-Sunnah. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. bersabda: ". ayah. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. Padahal secara syar'i. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. dan kesepakatan para ulama (ijma'). Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut.. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Catatan: Pada ayat waris. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. Misalnya anak laki-laki pewaris.. dan lainnya). Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris.

sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. C. Maka. Mewariskan kepada kerabat. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. Misalnya. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. paman. D. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. 2. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian. bibi (saudara ayah). bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. dan . Bentuk-bentuk Waris A.kandung. Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Hak waris secara tambahan. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. Misalnya. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. cucu laki-laki dari anak perempuan. dan seterusnya. bibi (saudara ibu). dan sebagai 'ashabah. Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Pada bagian berikutnya butir-butir tersebut akan saya jelas secara detail. Ashabah karena sebab. Misalnya. paman (saudara ibu). Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Misalnya. Baitulmal (kas negara). seperti kedua orang tua.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. B. Dengan demikian. saudara. anak. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. tidak pula 'ashabah. Hak waris secara pertalian rahim. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan.

Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. E. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi meninggal dalam satu peristiwa --atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu . yakni orang yang meninggal dunia. manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. Ahli waris. atau vonis yang ditetapkan hakim terhadap seseorang yang tidak diketahui lagi keberadaannya. kecuali setelah ia meninggal. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan. Syarat Pertama: Meninggalnya pewaris Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris --baik secara hakiki ataupun secara hukum-. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. orang yang hilang yang keadaannya tidak diketahui lagi secara pasti. dan sebagainya. atau lainnya. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Pewaris. Pernikahan. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). 2. F. Sebagai contoh. Harta warisan. sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki.seterusnya. sehingga hakim memvonisnya sebagai orang yang telah meninggal. pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. tanah. baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Sebagai contoh. baik berupa uang. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. 2. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang.-ialah bahwa seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka. Al-Wala. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Syarat Kedua: Masih hidupnya para ahli waris Maksudnya. Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. 2. termasuk jumlah bagian masing-masing. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. Hal ini harus diketahui secara pasti. karena bagaimanapun keadaannya. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1.

mereka adalah golongan orang yang tidak dapat saling mewarisi. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Sebab. atau membayar kafarat. maka dia tidak mendapatkan bagiannya." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. ada yang terhalang hingga tidak mendapatkan warisan (mahjub).maka di antara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang mereka miliki ketika masih hidup. sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Akan tetapi harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung. atau saudara seibu. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. dalam hukum waris perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima. tertimpa puing. Para fuqaha menyatakan. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman . Hal seperti ini oleh kalangan fuqaha digambarkan seperti orang yang sama-sama meninggal dalam suatu kecelakaan kendaraan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. misalnya suami. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. Syarat Ketiga: Diketahuinya posisi para ahli waris Dalam hal ini posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. istri. membayar diyat. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak. Alhasil. serta ada yang tidak terhalang.meninggal-. dan sebagainya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. 2. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Misalnya. Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan yang mengharuskan pelakunya diqishash. atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). atau tenggelam.: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. ada yang karena 'ashabah. G. secara langsung menjadi milik tuannya. pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. ada yang berhak menerima warisan karena sebagai ahlul furudh. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya. Misalnya. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian. dalam hal ini ada tiga: 1. kerabat. saudara seayah.

tidak ada yang mengunggulinya). Sebab. Perbedaan antara al-mahrum dan al-mahjub Ada perbedaan yang sangat halus antara pengertian al-mahrum dan al-mahjub. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya.a. termasuk keempat imam mujtahid. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Sebagai contoh. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama. Karena itu.rajam. Ali bin Abi Thalib. dalam haditsnya. Karena itu. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. ada baiknya saya jelaskan perbedaan makna antara kedua istilah tersebut. di kalangan fuqaha dikenal dengan istilah mahrum. yakni murtad. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. Sementara itu. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki. karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. adanya kakek bersamaan . tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. menurut mereka. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. seperti membunuh atau berbeda agama. 3. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. seperti ditegaskan Rasulullah saw. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Wallahu a'lam. Ibnu Mas'ud. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. Menurut saya. Seseorang yang tergolong ke dalam salah satu sebab dari ketiga hal yang dapat menggugurkan hak warisnya. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Sedangkan mahjub adalah hilangnya hak waris seorang ahli waris disebabkan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya atau lebih kuat kedudukannya. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. apa pun agamanya. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Maksudnya. Menurut penulis. yang terkadang membingungkan sebagian orang yang sedang mempelajari faraid. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. dan lainnya. dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Syafi'i.

(12) anak laki-laki dari paman (saudara kandung ayah). (9) istri. (6) saudara kandung perempuan. (5) nenek (ibu dari bapak). (4) nenek (ibu dari ibu). (11) paman (saudara bapak seayah). (7) saudara perempuan seayah. (7) saudara laki-laki seibu. Maka kakek dan saudara seayah dalam hal ini disebut dengan istilah mahjub. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. dan anak --dalam hal ini. atau saudara seayah dengan adanya saudara kandung. Jadi. Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat bagian seperempat harta yang ada. Demikian pula yang dimaksud dengan nenek --baik ibu dari ibu maupun ibu dari bapak-. yaitu ayah pewaris H.dengan adanya ayah. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki).mahjub oleh adanya ahli waris yang lebih dekat dan kuat dibandingkan mereka. . yaitu 7/8. saya sertakan contoh kasus dari keduanya. yaitu tiga per empat harta yang ada. (13) anak laki-laki paman seayah. Jika terjadi hal demikian. sedangkan saudara kandung tidak mendapatkan bagian disebabkan sebagai ahli waris yang mahjub dengan adanya anak pewaris. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. maka bagian istri seperdelapan. (2) ibu. (4) kakek (dari pihak bapak). Catatan Bagi cucu laki-laki yang disebut sebagai ahli waris di dalamnya tercakup cicit (anak dari cucu) dan seterusnya. yaitu ayah. Begitu juga halnya dengan saudara seayah. (5) saudara kandung laki-laki. ia tidak memperoleh bagian disebabkan adanya saudara kandung pewaris. (10) paman (saudara kandung bapak). Untuk lebih memperjelas gambaran tersebut. dan seterusnya. menjadi hak sang anak sebagai 'ashabah. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. (6) saudara laki-laki seayah. yang penting perempuan dari keturunan anak laki-laki. Contoh Kedua Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan ayah. sisa harta yang ada. karena pewaris dianggap tidak memiliki anak. Contoh Pertama Seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri. (14) suami. (8) saudara perempuan seibu. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. ibu. serta saudara kandung. anak kita misalkan sebagai pembunuh. I. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). saudara kandung. maka kakek tidak mendapatkan bagian warisannya dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan pewaris. Begitu pula yang dimaksud dengan kakek. Kemudian sisanya.dan seterusnya. Catatan Cucu perempuan yang dimaksud di atas mencakup pula cicit dan seterusnya. (3) bapak. Kalau saja anak itu tidak membunuh pewaris. menjadi hak saudara kandung sebagai 'ashabah Dalam hal ini anak tidak mendapatkan bagian disebabkan ia sebagai ahli waris yang mahrum. (10) perempuan yang memerdekakan budak. Maka saudara kandung tidak mendapatkan warisan dikarenakan ter. yang penting laki-laki dan dari keturunan anak laki-laki.

penj. dengan tiga syarat: a. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan." (an-Nisa': 12) 2.. sepertiga (1/3). Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang.. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal. satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. dan saudara perempuan seayah. dengan tiga . cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). maka ia mendapat separo harta warisan yang ada".. dengan dua syarat: a. Dalilnya adalah firman Allah: ". mencakup anak dan anak laki-laki dari keturunan anak. b. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. seperdelapan (1/8). Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada.. dan seperenam (1/6). Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . dua per tiga (2/3).III. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. Rinciannya seperti berikut: 1. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. PEMBAGIAN WARIS MENURUT AL-QUR'AN JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam.). 4. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada. yaitu setengah (1/2). b. Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. anak perempuan. Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". seperempat (1/4). 3. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. saudara kandung perempuan. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci. A.

Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Rinciannya sebagai berikut: 1. baik anak laki-laki maupun perempuan. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". Apabila ia hanya seorang diri. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki." (an-Nisa': 12) .. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2. dan tidak pula mempunyai keturunan. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). dan tidak pula anak. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek.. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya . dengan empat syarat: a. b. yaitu suami dan istri..syarat: a..... Jika istri-istrimu itu mempunyai anak.'" (an-Nisa': 176) 5. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. b. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak.. .

..a. Jadi. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh.tentang bagian istri. Jika kamu mempunyai anak. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . bila suami mempunyai anak atau cucu. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama. 2. Istri. Dengan kata lain. Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini." (an-Nisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ". baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu.. Wallahu a'lam.Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. . Hal ini berdasarkan firman Allah di atas.. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu .. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.. Dalilnya firman Allah berikut: ". C. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Jadi. yakni anak laki-laki dari pewaris. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'." (an-Nisa': 12) D.. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw.. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'.

hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: a." (an-Nisa': 176) 4. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Dalilnya adalah firman Allah: . baik laki-laki atau perempuan. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. atau kakek. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a.2. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan).. Dan dalilnya sama. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang.. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dengan persyaratan sebagai berikut: a. 2.. Wallahu a'lam. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. E. Bila pewaris tidak mempunyai anak.. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah... ayah. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ". b.. b. 3. atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . b. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Dalilnya adalah firman Allah: "." (an-Nisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). Sedangkan saudara perempuan seibu tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal .. atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1.

maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. bagian saudara laki-laki dan perempuan seibu bila telah memenuhi syarat-syarat di atas ialah sepertiga. lafazh ini bermakna 'dua atau lebih'. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Sebab dalam bahasa bentuk jamak terkadang digunakan dengan makna 'dua orang'. akan mendapat bagian sepertiga dengan syarat sebagai berikut: 1. Selain itu. Dalil lain yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah firman Allah berikut: "Jika kamu berdua bertobat kepada Allah. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki ataupun perempuan).. maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) É" (at-Tahrim: 4) Kemudian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. ada hal lain yang perlu kita tekankan di sini yakni tentang firman "fahum syurakaa 'u fits tsulutsi" (mereka bersekutu dalam yang sepertiga). Misalnya dalam istilah shalat jamaah. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu . sebagaimana makna yang masyhur dalam bahasa Arab --sebagai bentuk jamak.. Yakni.. maka ibunya mendapat seperenam..". maka ibunya mendapat sepertiga. dan pembagiannya sama rata baik yang laki-laki maupun perempuan. Pembagian mereka berbeda dengan bagian para saudara laki-laki/perempuan kandung dan seayah." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ".." (an-Nisa': 12) Catatan Yang dimaksud dengan kalimat "walahu akhun au ukhtun" dalam ayat tersebut adalah 'saudara seibu'. satu sebagai imam dan satu lagi sebagai makmum. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.. Juga menjelaskan hukum yang berkaitan dengan bagian saudara laki-laki dan perempuan seayah dalam ayat yang sama. dua orang atau lebih.. 2. Karena itu seluruh ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "akhun au ukhtun" dalam ayat itu adalah saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu. mereka harus membagi sama di antara saudara laki-laki dan perempuan seibu tanpa membedakan bahwa laki-laki harus memperoleh bagian yang lebih besar daripada perempuan. juga tidak mempunyai ayah atau kakak. yang dalam hal ini bagian saudara laki-laki dua kali lipat bagian saudara perempuan.. Kata bersekutu menunjukkan kebersamaan.. Adapun dalilnya adalah firman Allah: ". Sebab Allah SWT telah menjelaskan hukum yang berkaitan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan sekandung dalam akhir surat an-Nisa'. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja)." (an-Nisa': 11) Catatan: Lafazh ikhwatun bila digunakan dalam faraid (ilmu tentang waris) tidak berarti harus bermakna 'tiga atau lebih'... Namun.. yang berarti sah dilakukan hanya oleh dua orang. . Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. Kesimpulannya. Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih.

berdasarkan pemahaman bagian ayat (artinya) "jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibubapaknya (saja). ibu. karena kedua istilah ini sangat masyhur. hak ayah menjadi dua kali lipat dari bagian yang diterima ibu. Istri mendapat bagian seperempat (1/4) dari seluruh harta peninggalan suaminya. Agar lebih jelas. dan ayah. sebab bila ia memperoleh sepertiga dari seluruh harta yang ada maka ia akan mendapat bagian dua kali lipat bagian ayah. Kemudian ayah mendapat seluruh sisa yang ada. Dalam kasus ini. setelah sebelumnya dikurangi bagian suami atau istri. ibu. Contoh Pertama Seorang istri wafat dan meninggalkan suami. Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Isteri 1/4 Jumlah Bagian Nilai 1 . sedangkan ibu mendapat bagian tiga per empat dari sisa setelah diambil hak istri. Untuk lebih jelas lagi saya berikan tabelnya: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Suami Ibu Ayah 1/2 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian suami Seluruh sisa peninggalan sebagai 'ashabah Jumlah Bagian Nilai 3 1 2 Dalam contoh kasus ini ibu mendapatkan bagian sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami pewaris.Masalah 'Umariyyatan Pada asalnya. Disebut 'umariyyatan sebab kedua hal ini dilakukan oleh Umar bin Khathab dan disepakati oleh jumhur sahabat ridhwanullah 'alaihim. dan ayah. Contoh Kedua Seorang suami meninggal dunia dan ia meninggalkan istri. Dengan demikian. maka ibunya mendapat sepertiga". yakni 'umariyyatan dan al-gharawaini. seorang ibu akan mendapat bagian sepertiga dari seluruh harta peninggalan pewaris bila ia mewarisi secara bersamaan dengan bapak --seperti telah saya jelaskan--. ibu mendapat bagian sepertiga dari harta warisan setelah diambil hak suami pewaris. Sedangkan al-gharawaini bermakna 'dua bintang cemerlang'. berkaitan dengan ini ada dua istilah yang muncul dan dikenal di kalangan fuqaha. Ibu mendapat sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil bagian suami. Sedangkan bagian ayah adalah sisa harta yang ada sebagai 'ashabah. ibu hanya diberi sepertiga bagian dari sisa harta warisan yang ada. saya sertakan contohnya. Hal ini tentunya bertentangan dengan kaidah dasar faraid yang telah ditegaskan dalam Al-Qur'an dalam bagian ayat "lidzdzakari mitslu hazhzhil untsayain". Karenanya untuk tetap menegakkan kaidah dasar tersebut. Akan tetapi. Suami mendapat bagian setengah (1/2) dari seluruh harta warisan yang ada.

Ibu Ayah 1/3 dari sisa setelah dikurangi bagian isteri Mendapat bagian seluruh sisa peninggalan yang ada sebagai 'ashabah 1 2 Dari kedua contoh tersebut tampak oleh kita bahwa pada hakikatnya bagian ibu pada tabel pertama adalah seperenam (1/6). baik saudara laki-laki . Jadi." (an-Nisa': 11) 2.a. menurut hemat saya. sedangkan pada tabel kedua adalah seperempat (1/4).a. b. tepatnya masa Umar bin Khathab r.a. Mereka adalah (1) ayah. Wallahu a'lam. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Adapun penyebutannya dengan istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri adalah karena menyesuaikan adab qur'ani. kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Sebab yang disebutkan di dalam Al-Qur'an hanya "wawaritsahu abawahu". jika yang meninggal itu mempunyai anak . Menurutnya. ibu tetap mendapat bagian sepertiga (1/3) dari seluruh harta yang ditinggalkan suami atau istri (anaknya).. (6) nenek asli. Dan untuk dua orang ibu bapak.. Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih.. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. 3. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. yang kemudian diambil oleh jumhur ulama serta dikokohkan oleh Umar bin Khathab dengan menyatakan bahwa bagian ibu adalah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada.. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris. Bahkan Ibnu Abbas menyanggah pendapat Zaid bin Tsabit: "Apakah memang ada di dalam Al-Qur'an istilah sepertiga dari sisa setelah diambil hak suami atau istri?" Zaid menanggapinya dengan mengatakan: "Di dalam Kitabullah juga tidak disebutkan bahwa bagian ibu sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang ada bila ibu bersama-sama mewarisi dengan salah satu suami atau istri. Pendapat pertama dintarakan oleh Zaid bin Tsabit r. Dalilnya firman Allah (artinya): ". F. Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. (5) saudara perempuan seayah. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang terkenal. baik anak laki-laki atau anak perempuan. Sedangkan pendapat yang kedua diutarakan oleh Ibnu Abbas r.. apa yang dipahami Zaid dan dipilih oleh jumhur ulama serta ditetapkan oleh Umar bin Khathab itulah pendapat yang sahih. dengan dua syarat: a. 1. (3) ibu.. Jadi. Masalah 'umariyyatan ini pernah terjadi pada masa sahabat.

dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. Sebab ketika saudara perempuan kandung memperoleh setengah (1/2) bagian. 6. Selain itu.a. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. maka anak tersebut menjadi penggugur hak sang cucu.ataupun perempuan. 4. Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengah-tengah kalian. Dalilnya firman Allah (artinya): ". bila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah atau lebih. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. dan sekaligus menjadi penggugur (penghalang) hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris. apabila yang meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) "jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak .. Hal ini hukumnya sama denga keadaan jika cucu perempuan keturunan anak laki-laki bersamaan dengan adanya anak perempuan. sang penanya kembali menemui Abu Musa al-Asy'ari dan memberi tahu permasalahannya. Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6).. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan." Mendengar jawaban Ibnu Mas'ud. anakanak perempuan itu berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3).. Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). apabila pewaris mempunyai seorang saudara kandung perempuan. Sebab jika lebih dari satu orang." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). dan saudara perempuan." (an-Nisa': 11). seayah. Dalam keadaan demikian. maka ibunya mendapat seperenam . dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki pewaris mendapat seperenam (1/6). baik sekandung. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. 5. Saudara laki-laki atau perempuan seibu akan mendapat bagian masing-masing seperenam (1/6) bila mewarisi sendirian. maka saudara perempuan seayah mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna dari dua per tiga (2/3). Jadi.. Sebab bila ada anak laki-laki. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2). dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris." Catatan Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian seperenam (1/6) dengan syarat bila pewaris tidak mempunyai anak laki-laki. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya. ataupun seibu.. maka tidak ada sisa kecuali seperenam (1/6) yang memang merupakan hak saudara perempuan seayah. pewaris juga tidak mempunyai anak perempuan lebih dari satu orang.

Hal ini berlandaskan pada apa yang telah ditetapkan di dalam hadits sahih dan ijma' seluruh sahabat. jika yang meninggal itu mempunyai anak. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagian di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan tegas. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta". cucu laki-laki keturunan anak laki-laki.menguatkan dan melindungi. ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.meninggalkan anak." Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengatakan kepada Abu Bakar: "Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah saw. di antaranya dalam firman Allah berikut: "Mereka berkata: 'Jika ia benar-benar dimakan serigala. dan paman (saudara kandung ayah). Dalam ayat ini disebutkan bahwa bagian kedua orang tua (ibu dan bapak) masing-masing mendapatkan seperenam (1/6) apabila pewaris mempunyai keturunan. Demikian juga di dalam Al-Qur'an. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). maka ibunya mendapat sepertiga" (an-Nisa': 11). memberikan hak seorang nenek seperenam (1/6). Dalam kalimat bahasa Arab banyak digunakan kata 'ushbah sebagai ungkapan bagi kelompok yang kuat. Pengertian 'ashabah yang sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r. baik laki-laki atau perempuan). DEFINISI 'ASHABAH KATA 'ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak. Sebagai contoh.'" (Yusuf: 14) Maka jika dalam faraid kerabat diistilahkan dengan 'ashabah hal ini disebabkan mereka melindungi dan menguatkan. IV. Wallahu a'lam. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. Abu Bakar menjawab: "Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur'an maka pulanglah dulu. Ketentuan demikian baik nenek itu hanya satu ataupun lebih (dari jalur ayah maupun ibu). kata ini sering kali digunakan.a. Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah (artinya): "dan untuk dua orang ibu bapak. dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah saw. Dan persyaratannya adalah bila pewaris tidak mempunyai pokok (yakni kakek) dan tidak pula cabang (yakni anak. Ayat tersebut juga telah . Selain itu. Tetapi bila pewaris tidak mempunyai anak. Inilah pengertian 'ashabah dari segi bahasa. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). yang jelas seperenam itu dibagikan secara rata kepada mereka. Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah. dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-. 7. anak laki-laki. Nenek asli mendapatkan bagian seperenam (1/6) ketika pewaris tidak lagi mempunyai ibu. maka seluruh harta peninggalannya menjadi milik kedua orang tua. Dalil Hak Waris Para 'Ashabah Dalil yang menyatakan bahwa para 'ashabah berhak mendapatkan waris kita dapati di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. untuk menuntut hak warisnya. Disebut demikian. A. sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi. sedang kami golongan (yang kuat)." Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam (1/6).

maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Sebab. Oleh sebab itu. ayat tersebut tidak menjelaskan berapa bagian ayah. dan seterusnya. 'Ashabah bin nafs 'Ashabah bin nafs. agar memberikan hak waris kepada ahlinya. yaitu laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri kaum wanita. seorang tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan. dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashabah bersama-sama dengan yang lain). Dengan demikian. Ada satu keistimewaan dalam hadits ini menyangkut kata yang digunakan Rasulullah dengan menyebut "dzakar" setelah kata "rajul". maka yang dimaksud adalah 'ashabah bin nafs. jika ia tidak mempunyai anak. mencakup ayah. Arah bapak. dan seterusnya. makna kalimat "wahuwa yaritsuha" memberi isyarat bahwa seluruh harta peninggalan menjadi haknya. yang disebutkan justru saudara kandung akan menguasai (mendapatkan bagian) seluruh harta peninggalan yang ada bila ternyata pewaris tidak mempunyai keturunan. sedangkan kata "rajul" jelas menunjukkan makna seorang laki-laki. Dalil Al-Qur'an yang lainnya ialah (artinya) "jika seorang meninggal dunia. Arah anak. apabila lafazh 'ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa dibarengi bil ghair atau ma'al ghair). bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan sebagai 'ashabah dan menguasai seluruh harta warisan yang ada jika dia sendirian." (an-Nisa': 176). dua per tiganya (2/3) menjadi hak ayah. Dari sini dapat kita pahami bahwa sisa setelah diambil bagian ibu. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. " (HR Bukhari) Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah saw. Macam-macam 'Ashabah 'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). mempunyai empat arah. mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu. Inilah makna 'ashabah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari salah paham. jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk orang dewasa dan cukup umur. maka ibu mendapat bagian sepertiga (1/3). Jenis 'ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. hendaklah diberikan kepada orang laki-laki yang paling utama dari 'ashabah. kakek. Kemudian. Catatan Dalam dunia faraid. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Maka jika masih tersisa. dalam hal penggunaan kata "dzakar". Namun. (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yang lain). Pada ayat ini tidak disebutkan bagian saudara kandung. yaitu: 1. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). penerimaan ayah disebabkan ia sebagai 'ashabah. B. Namun. yang pasti hanya dari pihak laki-laki. misalnya . Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidak tercampur unsur wanita). dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. cicit.: "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. Inilah rahasia makna sabda Rasulullah saw.menegaskan bahwa bila pewaris tidak mempunyai anak.

Kedua: Pentarjihan secara Derajat Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang 'ashabah bi nafsihi. anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki. Sementara itu. insya Allah akan saya paparkan pada bab tersendiri. Saudara seayah tidak mendapat bagian disebabkan ashhabul furudh telah menghabiskannya. Dalam keadaan demikian. dan seterusnya. maka para 'ashabah pun tidak mendapat bagian. atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersamasama dengan anak laki-laki. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya. Rinciannya. maka sebagai 'ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. ayah. maka cara pentarjihannya (pengunggulannya) sebagai berikut: Pertama: Pertarjihan dari Segi Arah Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa 'ashabah bin nafsih.ayah dari bapak. maka ia berhak mengambil seluruh warisan yang ada. sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. dan saudara kandung. bila antara saudara kandung laki-laki maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakak. Arah saudara laki-laki. mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yang seayah. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. dan derajat kekuatan hak warisnya sesuai urutannya. maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. saudara kandung perempuan. Arah paman. dan seterusnya. Arah anak lebih didahulukan (lebih kuat) daripada arah ayah. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Dalam hal ini hak warisnya secara 'ashabah diberikan kepada anak. seorang istri wafat dan meninggalkan suami. anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah. Adapun bila para 'ashabah bin nafs lebih dari satu orang. seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh. maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. termasuk keturunan mereka. Misalnya. Sebagai misal. Bila salah satunya secara tunggal (sendirian) menjadi ahli waris seorang yang meninggal dunia. Hukum 'Ashabah bin nafs Telah saya jelaskan bahwa 'ashabah bi nafsihi mempunyai empat arah. Sebab. ayah dari kakak. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yang seayah. termasuk keturunan mereka. siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. kemudian mereka pun dalam satu arah. Pengecualiannya. bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara . saudara perempuan mendapat bagian setengah (1/2). namun hanya yang laki-laki. Apabila anak tidak ada. Sebagai misal. saudara laki-laki seayah. dan arah ayah lebih kuat daripada arah saudara. 2. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki. Contoh lain. maka pentarjihannya dengan melihat derajat mereka. Keempat arah 'ashabah bin nafs tersebut kekuatannya sesuai urutan di atas. dan seterusnya. anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. mencakup saudara kandung laki-laki. Sang suami mendapat bagian setengah (1/2). yang menjadi 'ashabah adalah anak laki-laki. saudara laki-laki seayah.

ada dua landasan mengapa garis anak lebih didahulukan. Bahkan. jelaslah bahwa anak akan mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan pewaris. jika yang meninggal itu mempunyai anak. semuanya demi kesejahteraan keturunannya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. dan seterusnya. Artinya. sedangkan dari . keduanya memiliki posisi sederajat dari segi kedekatan nasab pada seseorang. bahwa kaidah tersebut hanya dipakai untuk selain dua arah." (an-Nisa: 11). pentarjihan menurut kuatnya kekerabatan hanya digunakan untuk arah saudara dan arah paman. Tidak sedikit orang tua yang menjadi pengecut hanya disebabkan menjaga kemaslahatan keturunannya pada hari depannya. saudara kandung lebih kuat daripada seayah. Sebab. maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Keadaan seperti ini disebut pentarjihan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris. Dengan demikian. mereka takut berhadapan dengan musuh atau siapa pun yang mengganggu kemudahan jalan rezekinya. Landasan pertama berupa dalil Al-Qur'an. Namun demikian. anak dari saudara kandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjadikan ayah sebagai ashhabul furudh bila pewaris mempunyai anak. baik dalam hal keselamatannya maupun kehidupan masa depannya. paman kandung lebih kuat daripada paman seayah. Berdasarkan posisi ini sebaiknya garis anak tidak didahulukan daripada garis ayah. tidak sedikit orang tua yang bersikap bakhil. Oleh sebab itu. Sebagai contoh. Inilah alasan bahwa hati seseorang cenderung lebih dekat kepada anaknya dibandingkan kepada ayahnya. sedangkan yang kedua berupa dalil aqli. Sebab ia lebih dekat kedudukannya dari pada anak saudara kandung. orang tua berusaha bekerja keras untuk memperoleh harta dan berhemat dalam membelanjakannya. Sedangkan secara aqli. Catatan Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa 'ashabah bi nafsihi harus dari kalangan laki-laki.karena sangat khawatir terhadap masa depan anaknya. Karena itu mereka tidak segan-segan menimbun harta dan kekayaan demi menyenangkan keturunan pada masa mendatang. Catatan Perlu untuk digarisbawahi dalam hal pentarjihan dari segi kuatnya kekerabatan di sini. sangat kikir dalam membelanjakan hartanya. sedangkan bagian anak tidak disebutkan. Ketiga: Pentarjihan Menurut Kuatnya Kekerabatan Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak 'ashabah bi nafsihi yang sama dalam arah dan derajatnya. manusia pada umumnya merasa khawatir terhadap anak (keturunannya). Firman-Nya (artinya) "dan untuk dua orang ibu-bapak. Maka sangat tepat apa yang disabdakan Rasulullah saw. setelah masing-masing dari ashhabul furudh telah mendapatkan bagiannya. maka pentarjihannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Dengan demikian. dalam sebuah haditsnya "al-waladu mabkhalah majbanah" (anak dapat membuat seseorang berlaku bakhil dan pengecut). ayah sebagai pokok dan anak merupakan cabang. Makna hadits tersebut sangat jelas bahwa orang tua menjadi kikir --bahkan pengecut-.kandung. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa garis anak lebih didahulukan daripada garis bapak. Wallahu a'lam. Mengapa Anak Lebih Didahulukan daripada Bapak? Satu pertanyaan yang sangat wajar dan mesti diketahui jawaban serta hikmah di dalamnya. yakni arah anak dan arah bapak. demi kepentingan masa depan anaknya.

anak laki-laki tidak dapat menjadi pen-ta'shih (penguat) cucu perempuan. Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki. dan saudara perempuan seayah). Dalil Hak Waris 'Ashabah bi Ghairihi Dalil bagi hak waris para 'ashabah bi ghairih adalah firman Allah (artinya): "bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan" (an-Nisa': 11). Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang saya sebutkan (yakni anak perempuan. bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Ketiga: laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuat dengan ahli waris perempuan shahibul fardh. maka tidak akan menjadi 'ashabah bi ghairih. 'Ashabah bi Ghairihi dan Hukumnya 'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita: 1. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan "ikhwatan" dalam ayat tersebut adalah saudara lakilaki dan saudara kandung perempuan dan yang seayah. baik sederajat dengannya atau bahkan lebih di bawahnya. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki. dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh. tidaklah dapat menguatkan saudara kandung perempuan disebabkan tidak sederajat. Syarat-syarat 'Ashabah bi Ghairihi 'Ashabah bi Ghairihi tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut: Pertama: haruslah wanita yang tergolong ashhabul furudh. Misalnya. Misalnya. Sebagai contoh. Kedua: laki-laki yang menjadi 'ashabah (penguat) harus yang sederajat. Sebab dalam keadaan demikian. dan pembagiannya. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan" (an-Nisa': 176). Catatan Setiap perempuan ahli waris berhak mendapat bagian setengah (1/2) jika sendirian. Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. saudara kandung perempuan. anak perempuan saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh. akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki). Mereka berpendapat bahwa kata ikhwatan tidak . ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga (2/3) bila menerima bersama saudara perempuannya. bahkan ia berfungsi sebagai pen-tahjib (penghalang) hak waris cucu. Dan juga berlandaskan firman-Nya (artinya): "dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. bila budak yang dibebaskannya tidak mempunyai keturunan (kerabat). cucu perempuan keturunan anak lakilaki. saudara laki-laki seayah tidak dapat men-ta'shih saudara kandung perempuan. dan akan menjadi 'ashabah bila mempunyai saudara laki-laki. atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki). anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi 'ashabah bi ghairih dengan adanya saudara kandung laki-laki dalam deretan ahli waris. Anak perempuan.kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. 2. Sebab saudara kandung perempuan lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah. Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Jika demikian berarti wanita tersebut sebagai 'ashabah bi nafsihi.

Kemudian." Dalil 'Ashabah ma'al Ghair Yang menjadi landasan bagi hak waris 'ashabah ma'al ghair adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya." Dari penjelasan Ibnu Mas'ud dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersamasama dengan anak perempuan mengambil sisa harta pembagian yang ada. hak waris mereka pun antara lakilaki dan perempuan-. 'Ashabah ma'al Ghair 'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh.mencakup saudara laki-laki atau perempuan yang seibu. disebabkan hak waris mereka berdasarkan fardh (termasuk ashhabul furudh) bukan sebagai 'ashabah. seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyatul Bajuri (hlm. seperti saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah mereka.sama rata. Hal ini berarti saudara kandung perempuan atau saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair.. dan dijawab: "Aku akan memvonis seperti apa yang diajarkan Rasulullah saw. di segi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan. Jadi. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah 'ashabah ma'al ghair. sedangkan sisanya menjadi hak saudara perempuan kandung atau seayah. berdasarkan firman-Nya (artinya): "maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu" (an-Nisa': 12).. Satu hal yang perlu diketahui dalam masalah ini. karena itu dijadikanlah saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah agar terkena pengurangan. Lalu Abu Musa berkata: "Janganlah kalian menanyakannya kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas'ud) berada bersama kalian. sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. bahwa Abu Musa al-Asy'ari ditanya tentang hak waris anak perempuan. Selain itu. akan tetapi karena adanya 'ashabah lain ('ashabah bi nafsihi). 108): "Adapun saudara perempuan (kandung dan seayah) menjadi 'ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan.a. Bila para 'ashabah bi nafsihi itu tidak ada. Abu Musa menjawab: "Bagian anak perempuan separo. dan saudara perempuan (sekandung atau seayah). cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sebab Penamaan 'Ashabah bi Ghairihi Adapun sebab penamaan 'ashabah bi ghairihi adalah karena hak 'ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris. dan bagian saudara perempuan separo. bagian anak perempuan setengah (1/2) dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). maka keempat wanita tersebut mendapat hak warisnya secara fardh. saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan --atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya-. maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang." Penanya itu pun kembali kepada Abu Musa al-Asy'ari dan menceritakan apa yang telah diputuskan Ibnu Mas'ud." Penanya itu lalu pergi menanyakannya kepada Ibnu Mas'ud r.akan menjadi 'ashabah. Catatan Sangat penting untuk diketahui bersama bahwa bila seorang saudara kandung perempuan menjadi .

seperti anak keturunan saudara (keponakan). Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena saudara kandung perempuan menjadi 'ashabah. dua orang saudara kandung perempuan. saudara perempuan. apabila menjadi 'ashabah ma'al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris. Contoh Kedua Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. dan saudara lakilaki seayah. paman kandung ataupun yang seayah. maka ia menjadi seperti saudara kandung laki-laki sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah. cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki. dan saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti dalam tabel berikut: Pokok masalahnya dari 4 Keterangan Suami Cucu perempuan Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seayah Jumlah Bagian 1/4 1/2 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 1 2 1 0 Jumlah Bagian 1/2 1/2 gugur Nilai 1 1 0 .'ashabah ma'al ghair. Selain itu. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung perempuan disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka. maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya. Begitu juga saudara perempuan seayah. Untuk lebih menjelaskan masalah tersebut saya sertakan contoh seperti berikut: Contoh Pertama Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan. baik yang laki-laki maupun yang perempuan. maka pembagiannya adalah sebagai berikut: Pokok masalahnya dari 2 Keterangan Anak perempuan Saudara kandung perempuan 'ashabah ma'al ghair Saudara laki-laki seayah Keterangan Bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh. yang kekuatannya seperti saudara kandung laki-laki.

Contoh Keempat Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan. dan anak laki-laki saudara laki-laki (kemenakan). dan paman kandung (saudara dari ayah kandung). kemudian sisanya yaitu seperempat-. saudara perempuan seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 6 Keterangan Anak perempuan Cucu perempuan Ibu Saudara perempuan seayah Keterangan Jumlah Bagian 1/2 1/6 1/6 'ashabah ma'al ghair Nilai 3 1 1 1 Jumlah Bagian 2/3 'ashabah ma'al ghair mahjub Nilai 2 1 0 . cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Contoh Ketiga Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara kandung. seorang ibu. Sedangkan anak saudara laki-laki ter-mahjub oleh saudara perempuan seayah. saudara perempuan seayah.Keterangan Suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cabang ahli warisnya. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 3 Keterangan Dua anak perempuan Saudara perempuan seayah Anak saudara laki-laki Keterangan Dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi 'ashabah ma'al ghair.menjadi hak dua saudara kandung perempuan pewaris sebagai 'ashabah ma'al ghair. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh.

seperti anak laki-laki. anak perempuan atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian secara fardh. Agar persoalan ini lebih jelas. dan ibu mendapatkan seperenam. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga. Sedangkan dalam 'ashabah ma'al ghair tidak terdapat sosok 'ashabah bi nafsih. saudara kandung lakilaki dan saudara laki-laki seayah.Anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh. misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai 'ashabah. Perbedaan 'Ashabah bil Ghair dengan 'Ashabah ma'al Ghair Dari uraian sebelumnya dapat kita ketahui bahwa 'ashabah bil ghair adalah setiap wanita ahli waris yang termasuk ashhabul furudh. suami setengah (1/2) sebagai fardh-nya. bibi (saudara ibu) yang salah satunya menjadi istrinya. Contoh lain: seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan dua anak perempuan. C. dan hak lainnya ialah ikut mendapat bagian sisa yang ada karena ikatan rahim. secara ringkas. Begitulah seterusnya. dan dalam hal ini mereka mendapatkan bagian sisa seluruh harta peninggalan sesudah ashhabul furudh mengambil bagian masing-masing. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (lakilaki/perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi 'ashabah. . Akan tetapi. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). Catatan Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Dalam hal ini bagi yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah menjadi 'ashabah bil ghair dengan adanya saudara kandung laki-laki ataupun saudara laki-laki seayah. pada 'ashabah bil ghair para 'ashabah bi nafsih menggandeng kaum wanita ashhabul furudh menjadi 'ashabah dan menggugurkan hak fardh-nya. Adapun 'ashabah ma'al ghair adalah para saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengan anak perempuan. Seorang saudara perempuan sekandung atau seayah tidak menerima bagian seperti bagian anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Misalnya. pada 'ashabah bil ghair selalu ada sosok 'ashabah bi nafsih. Jadi. dan sisanya untuk suami sebagai 'ashabah karena ia anak paman kandung. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai 'ashabah ma'al ghair. Maka pembagiannya seperti berikut: sang istri mendapat bagian seperempat sebagai fardh-nya karena adanya ikatan perkawinan. dan akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengan saudara lakilakinya. Tampak semakin jelas perbedaan antara dua macam 'ashabah itu. karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman kandung. saudara laki-laki seibu. anak perempuan menjadi 'ashabah bila bersama saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki pewaris). Maka dapat ditegaskan bahwa seseorang bisa saja mendapatkan warisan dari dua arah yang berlainan. kemudian saudara perempuan sekandung atau seayah mendapatkan sisanya. Dapatkah Seseorang Mewarisi dari Dua Arah? Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti itu. saya sertakan contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek. dan seorang suami. Sedangkan 'ashabah ma'al ghair tidaklah demikian. dan tentu saja hal ini memerlukan jawaban. cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. atau satu dari arah fardh dan yang kedua dari arah karena rahim. Inilah perbedaan keduanya. Maka pembagiannya sebagai berikut: Untuk nenek seperenam (1/6).

Misalnya. Selain itu. dalam bahasa Arab juga kita kenal kata hajib yang bermakna 'tukang atau penjaga pintu'. tidak dapat melihat Tuhan mereka di hari kiamat nanti. dalam dunia faraid apabila kata al-hujub disebutkan tanpa diikuti kata lainnya. misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan). terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya ayah. dan seterusnya. Definisi al-Hujub Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna 'penghalang' atau 'penggugur'. baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya. . Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang. dan al-mahjub berarti orang yang terhalang mendapatkan warisan. disebabkan ia menghalangi orang untuk memasuki tempat tertentu tanpa izin guna menemui para penguasa atau pemimpin. B. Adapun hujub nuqshan (pengurangan hak) yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Jadi. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris. Maka makna al-hajib menurut istilah ialah orang yang menghalangi orang lain untuk mendapatkan warisan. Ini merupakan hal mutlak dan tidak akan dipakai dalam pengertian hujub nuqshan. maka yang dimaksud adalah hujub hirman. Macam-macam al-Hujub Al-hujub terbagi dua. Misalnya. dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain). Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuqshan. sang istri dari seperempat menjadi seperdelapan karena pewaris mempunyai anak.V. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Demikian juga seperti penghalangan bagian seorang suami yang seharusnya mendapatkan setengah menjadi seperempat. terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu. Satu hal yang perlu diketahui di sini. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka" (al-Muthaffifin: 15) Yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum kuffar yang benar-benar akan terhalang. dan seterusnya. bentuk isim fa'il (subjek) untuk kata hajaba adalah hajib dan bentuk isim maf'ul (objek) ialah mahjub. PENGHALANG HAK WARIS (AL-HUJUB) A. terhalangnya hak waris saudara seayah karena adanya saudara kandung. penghalangan terhadap hak waris ibu yang seharusnya mendapatkan sepertiga menjadi seperenam disebabkan pewaris mempunyai keturunan (anak).

Saudara laki-laki dan perempuan yang seibu akan terhalangi oleh pokok (ayah. anak. 2. anak laki-laki. Paman seayah akan terhalangi dengan adanya sosok yang menghalangi paman kandung. Bila orang yang mati meninggalkan salah satu atau bahkan keenamnya. Sedangkan lima ahli waris dari kelompok wanita adalah: 1. cicit. Sepupu kandung laki-laki (anak paman kandung) akan terhalangi oleh adanya paman seayah. . ayah. cicit. dan juga dengan adanya paman kandung. dan juga oleh kakek yang lebih dekat dengan pewaris. dan terhalang dengan adanya ayah serta keturunan laki-laki (anak.Ahli Waris yang Tidak Terkena Hujub Hirman Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hujub hirman. Sepupu laki-laki (anak paman seayah) akan terhalangi dengan adanya sepupu laki-laki (anak paman kandung) dan dengan adanya sosok yang menghalangi sepupu laki-laki (anak paman kandung). dan keturunan laki-laki (anak. cucu kandung laki-laki. cicit. kakek. Selain itu. dan seterusnya) dan juga oleh cabang (anak. dan seterusnya (semuanya laki-laki). Demikian juga para cucu akan terhalangi oleh cucu yang paling dekat (lebih dekat). ibu. cucu. kecuali jika ada 'ashabah. suami. Ahli Waris yang Dapat Terkena Hujub Hirman Sederetan ahli waris yang dapat terkena hujub hirman ada enam belas. juga terhalangi oleh adanya sosok yang menghalangi keponakan laki-laki dari saudara laki-laki seayah. Cucu perempuan (keturunan anak laki-laki) akan terhalang oleh adanya anak laki-laki. cucu. Kakek (bapak dari ayah) akan terhalang oleh adanya ayah. juga akan terhalangi oleh adanya dua orang anak perempuan atau lebih. baik cucu itu hanya seorang ataupun lebih. cucu. cicit. serta oleh saudara laki-laki seayah. Saudara kandung laki-laki akan terhalang oleh adanya ayah. anak kandung perempuan. Keenam orang tersebut adalah anak kandung laki-laki. Cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. Nenek (baik ibu dari ibu ataupun dari bapak) akan terhalangi dengan adanya sang ibu. Keponakan laki-laki (anak dari saudara laki-laki seayah) akan terhalangi dengan adanya orang-orang yang menghalangi keponakan (dari anak saudara kandung laki-laki). Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris. Saudara kandung perempuan akan terhalangi oleh adanya ayah. juga terhalang oleh saudara kandung perempuan yang menjadi 'ashabah ma'al Ghair. Keponakan laki-laki (anak saudara kandung laki-laki) akan terhalangi dengan adanya ayah dan kakek. ditambah dengan adanya keponakan (anak laki-laki dari keturunan saudara kandung laki-laki). dan seterusnya) baik anak laki-laki maupun anak perempuan. maka semuanya harus mendapatkan warisan. cucu. dan seterusnya). dan juga oleh sosok yang menghalangi paman seayah. sebelas terdiri dari laki-laki dan lima dari wanita. dan istri. Adapun ahli waris dari laki-laki sebagai berikut: 1. dan seterusnya). Saudara laki-laki seayah akan terhalang dengan adanya saudara kandung laki-laki. Paman kandung (saudara laki-laki ayah) akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki dari saudara lakilaki. akan terhalangi oleh adanya anak laki-laki.

kecuali bila ada saudara laki-laki seayah. serta cucu lakilaki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki. Selain itu. Oleh sebab itu. gugurlah hak waris para saudara perempuan seayah. Kedua: Untuk lebih memperjelas. maka cucu laki-laki dapat menyeret cucu perempuan itu sebagai 'ashabah. Kecuali bila ia mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki keturunan anak laki-laki) yang sederajat ataupun yang lebih rendah dari derajat cucu perempuan. dan seterusnya) baik laki-laki ataupun perempuan. Saudara perempuan seibu akan terhalangi oleh adanya sosok laki-laki (ayah. Agar lebih jelas saya berikan beberapa contoh kasus. Disebut saudara laki-laki yang merugikan karena keberadaannya menyebabkan ahli waris dari kalangan wanita tidak mendapatkan warisan. ibu seperenam (1/6) bagian. Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. anak perempuan. cicit. dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3) karena merupakan bagian wanita. dan seterusnya. dalam contoh berikut saya sertakan saudara laki-laki yang merugikan. 2. Maka pembagiannya seperti berikut: suami seperempat (1/4) bagian. Saudara Laki-laki yang Merugikan Kalau sebelumnya saya jelaskan tentang saudara laki-laki yang membawa berkah. dan seterusnya) juga oleh adanya cabang (anak. yang sebelumnya tidak mendapat fardh. Sebab saudara laki-laki seayah itu akan menggandengnya menjadi 'ashabah. cucu perempuan tidak akan mendapat warisan. maka gugurlah hak cucu perempuan tersebut. ahli waris wanita itu akan mendapatkan waris. apabila saudara laki-laki itu tidak ada. ibu.Saudara perempuan seayah akan terhalangi dengan adanya saudara kandung perempuan jika ia menjadi 'ashabah ma'al ghair. ayah seperenam (1/6) bagian. kecuali bila adanya 'ashabah. Kemudian. Seandainya dalam kasus ini terdapat cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. ayah. Maka pembagiannya seperti berikut: suami memperoleh seperempat (1/4) bagian karena istri mempunyai anak (keturunan). cucu. Disebut demikian karena tanpa cucu laki-laki. Keadaan seperti ini dinamakan sebagai saudara yang berkah. yakni saudara laki-laki yang merugikan. Inilah rahasia mengapa ulama faraid mengistilahkannya sebagai "saudara laki-laki yang merugikan". ibu. anak perempuan setengah. ayah juga seperenam (1/6) bagian. kakek. dan cucu perempuan dari anak laki-laki. gugurlah hak waris cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ibu seperenam (1/6) bagian. Keadaan seperti ini dalam faraid disebut sebagai kerabat yang berkah atau saudara laki-laki yang berkah. Padahal. khusus kalangan laki-laki) serta terhalang oleh adanya dua orang saudara kandung perempuan bila keduanya menyempurnakan bagian dua per tiga (2/3). maka kini saya akan menjelaskan kebalikannya. Pertama: Seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami. keberadaan saudara laki-laki dari cucu perempuan keturunan anak laki-laki itu merugikannya. anak perempuan. Saudara Laki-laki yang Berkah Apabila anak perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). cicit. sedangkan anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian . apabila saudara kandung perempuan telah sempurna mendapat bagian dua per tiga (2/3). bapak. sebab tanpa keberadaannya para saudara kandung perempuan itu tidak akan menerima hak waris mereka. juga terhalang oleh adanya ayah dan keturunan (anak. cucu.

dan sisanya diberikan kepada kerabat laki-laki yang lebih dekat. Contoh pertama tidak merugikan karena memang tidak ada cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. sesuatu yang keluar dan menyimpang dari kaidah aslinya. selain sebagai masalah yang menyimpang dari kaidah aslinya. ibu. seorang wanita wafat dan meninggalkan seorang suami. Ibnu . sehingga cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai penyempurna saham dua per tiga (2/3). Berdasarkan kaidah yang berlaku. Di samping itu. dalam masalah ini ternyata terjadi sesuatu yang kontradiktif. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa hak waris pada saudara kandung dikolektifkan dengan hak waris para saudara laki-laki seibu. tetapi pada kasus ini justru terjadi sebaliknya. yakni adanya cucu laki-laki keturunan dari anak laki-laki.karena ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat. cucu perempuan dirugikan --tidak mendapat waris-. Utsman. juga karena para sahabat. dan lainnya. Sementara itu. Masalah ini dikenal juga dengan istilah "kasus musytarakah" (kasus kolektif). dua saudara laki-laki seibu (atau lebih dari dua orang). hingga mereka mendapat sepertiga (1/3) bagian dan dibagikan secara rata di antara mereka (termasuk saudara kandung laki-laki). dan dua orang saudara seibu mendapat bagian sepertiga (1/3). tabi'in. bila mempunyai saudara laki-laki seayah. Perbedaan Pendapat Para Fuqaha Dalam masalah musytarakah (kolektif) ini ada dua kubu pendapat yang masyhur dalam hal membagi hak waris sebagaimana contoh kasus tersebut. Para ulama menyandarkan kaidah ini pada hadits Rasulullah saw. Karena. masalah ini juga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. dan dua orang saudara kandung laki-laki (atau lebih dari dua orang). tabi'in. pembagian harta waris dimulai dengan ashhabul furudh. (artinya): "Berikanlah hak waris kepada ashhabul furudh. maka saudara perempuan seayah tidak mendapat bagian apa-apa C. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak waris saudara kandung digugurkan sebagaimana mengikuti kaidah yang ada. Ilustrasi seperti itu dapat kita ubah susunan ahli warisnya. kemudian baru kepada para 'ashabah. misalnya posisi cucu perempuan keturunan anak laki-laki diganti dengan saudara perempuan seayah dan posisi cucu laki-laki keturunan anak lakilaki diganti dengan saudara laki-laki seayah. masalah ini merupakan kasus kolektif. Pendapat ini dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. tabi'in. Tentang Kasus Kolektif Menurut kaidah yang biasa dikenal dan dipakai ulama faraid. Pendapat ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar.karena tidak ada pen-ta'shih. Sedangkan dalam contoh kedua. serta para imam mujtahidin --dalam contoh kasus seperti ini-menyatakan bahwa saudara kandung laki-laki disamakan dengan saudara laki-laki yang seibu. Ibnu Abbas. sedangkan cucu laki-laki dan perempuan tidak mendapat bagian. Pembagiannya adalah seperti berikut: suami mendapat setengah (1/2) bagian dikarenakan pewaris tidak mempunyai anak secara fardh. Itulah contoh tentang saudara laki-laki yang merugikan. Namun. saudara perempuan seayah akan mendapat waris bila tidak mempunyai saudara laki-laki seayah yang masih hidup. Contoh permasalahannya sebagai berikut. dan imam mujtahidin." Namun demikian. Sedangkan saudara kandung laki-laki tidak mendapatkan bagian karena ia sebagai 'ashabah --sedangkan harta waris yang dibagikan telah habis. Maka. Ali. dan imam mujtahidin. ibu mendapat seperenam (1/6) bagian disebabkan pewaris mempunyai dua orang saudara laki-laki atau lebih. di sisi lain masalah ini telah memancing perbedaan pendapat sejak masa para sahabat. saudara kandung laki-laki sebenamya memiliki kekerabatan lebih kuat dibandingkan saudara laki-laki seibu. sejak masa para sahabat.

Mas'ud, dan lainnya. Pendapat pertama dianut dan diikuti oleh mazhab Hanafi dan Hambali, sedangkan pendapat yang kedua diikuti dan dianut oleh mazhab Maliki dan Syafi'i. Selain itu, masalah ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan "umariyah", karena Umar bin Khathab pernah memvonis masalah ini --juga pernah dikenal dengan sebutan Himariyah, Hajariyah, dan Yammiyah. Diriwayatkan bahwa masalah musytarakah ini pernah diajukan ke hadapan Umar bin Khathab r.a.. Umar baru pertama kali menjumpai kasus seperti ini dan memvonis: saudara kandung tidak mendapat bagian hak waris sedikit pun. Kemudian pada tahun berikutnya, masalah ini diajukan kembali kepadanya. Ketika ia hendak memvonis seperti tahun lalu, proteslah salah seorang ahli warisnya: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh mustahil bila ayah kami dianggap keledai atau batu yang terbuang di sungai. Bukankah kami ini anak dari seorang ibu?" Umar menyimak perkataan orang itu dan berpikir bahwa apa yang diucapkannya benar dan tepat. Maka ia memvonis dengan memberi hak kepada mereka (saudara seibu dan saudara sekandung) secara bersamaan dan dibagi sama rata. Contohnya adalah sebagai berikut: Asal masalah dari enam 6 naik menjadi 18 Suami 1/2 harta waris yang ada secara fardh Ibu 1/6 harta waris yang ada secara fardh Saudara seibu 1/3 secara fardh dan dibagi merata dengan saudara kandung Saudara kandung dapat hak waris, karena dianggap seperti saudara seibu dengan mendapat bagian sepertiga (1/3) dibagi adil Persyaratan Masalah Kolektif 1. Jumlah saudara seibu dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan. Saudara yang ada benar-benar saudara kandung, sebab bila saudara seayah maka gugurlah haknya secara ijma'. Dan dalam hal ini tidak berbeda apakah hanya satu orang atau banyak. 2. Saudara kandung itu harus saudara laki-laki. Sebab bila perempuan, maka akan mewarisi secara fardh, dan masalahnya pun akan naik, serta kekolektifan ini akan batal. Beberapa Kaidah Penting Hak waris banul a'yan (saudara kandung laki-laki/perempuan), dan banul 'allat (saudara lakilaki/perempuan seayah), serta banul akhyaf (saudara laki-laki/perempuan seibu) akan gugur (terhalangi) oleh adanya anak laki-laki pewaris, cucu laki-laki (keturunan anak laki-laki), dan ayah. Hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama. Menurut mazhab Abu Hanifah hak mereka juga digugurkan oleh adanya kakek pewaris. Sedangkan menurut ketiga imam mazhab yang lain tidaklah demikian. Masih menurut mazhab Hanafi, hak waris banul akhyaf digugurkan dengan adanya anak perempuan pewaris, cucu perempuan keturunan anak laki-laki pewaris, dan seterusnya. Kaidah yang lain ialah bahwa banul akhyaf mendapatkan hak waris secara merata pembagiannya antara yang laki-laki dengan yang perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya) "mereka bersekutu 3 1 2 9 3 4 2

dalam yang sepertiga."

VI HAK WARIS KAKEK DENGAN SAUDARA
A. Pengertian Kakek yang Sahih
Makna kakek yang sahih ialah kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri jenis wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya. Sedangkan kakek yang berasal garis wanita disebut sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah. Hal ini didasarkan sesuai dengan kaidah yang ada di dalam faraid: "bilamana unsur wanita masuk ke dalam nasab lakilaki, maka kakek menjadi rusak nasabnya. Namun bila tidak termasuki unsur wanita, itulah kakek yang sahih."

B. Hukum Waris antara Kakek dengan Saudara
Baik Al-Qur'an maupun hadits Nabawi tidak menjelaskan tentang hukum waris bagi kakek yang sahih dengan saudara kandung ataupun saudara seayah. Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhatihati dalam memvonis masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas'ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: "Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakak yang sahih dengan saudara." Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib: "Barangsiapa yang ingin diceburkan ke dalam neraka Jahanam, maka hendaklah ia memvonis masalah waris antara kakek yang sahih dengan para saudara." Ketakutan dan kehati-hatian para sahabat dalam memvonis masalah hak waris kakek dan saudara itu tentu sangat beralasan, karena tidak ada nash Al-Qur'an atau hadits Nabi yang menjelaskannya. Dengan demikian, menurut mereka, masalah ini memerlukan ijtihad. Akan tetapi di sisi lain, ijtihad ini sangat mengkhawatirkan mereka, karena jika salah berarti mereka akan merugikan orang yang sebenarnya mempunyai hak untuk menerima warisan, dan memberikan hak waris kepada orang yang sebenamya tidak berhak. Terlebih lagi dalam masalah yang berkenaan dengan materi, atau hukum tentang hak kepemilikan, mereka merasa sangat takut kalau-kalau berlaku zalim dan aniaya. Perlu saya tekankan bahwa masalah waris sangatlah berbahaya dan sensitif. Karena itu Allah SWT tidak membiarkan begitu saja hukum yang berkenaan dengan masalah hak kepemilikan materi ini. Dia menjelaskannya di dalam Al-Qur'an dengan detail agar tidak terjadi kezaliman dan perbuatan aniaya di kalangan umat manusia, khususnya para ahli waris. Namun demikian, masalah yang sangat dikhawatirkan itu hilang setelah munculnya ijtihad para salaf ash-shalih dan para imam mujtahidin. Ijtihad dan pendapat tersebut dijaga serta dibukukan secara lengkap dan detail beserta dalil-dalilnya. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin mengetahuinya sambil bersandar kepada ijtihad yang dianggapnya lebih rajih (kuat dan tepat) serta dapat dijadikannya sandaran dalam berfatwa.

C. Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek
Para imam mazhab berbeda pendapat mengenai hak waris kakak bila bersamaan dengan saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.. Perbedaan tersebut dapat

digolongkan ke dalam dua mazhab. Mazhab pertama: mereka menyatakan bahwa para saudara --baik saudara kandung, saudara seayah, ataupun seibu-- terhalangi (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling 'tinggi'. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata 'ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekalikali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika 'ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila 'ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Lebih lanjut golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah --mencakup kakek dan seterusnya-- lebih didahulukan daripada arah saudara. Karena itu hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Mazhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Hanafi. Mazhab kedua: berpendapat bahwa para saudara kandung laki-laki/perempuan dan saudara laki-laki seayah berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara kandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah, sedangkan saudara adalah cabang dari ayah, karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara kandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi. Alasan lain yang dikemakakan mazhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara --yang jelas lebih muda daripada kakek--terhadap harta jauh lebih besar ketimbang para kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan kepada para kakek, kemudian ia wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya yang berarti paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal. Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi'in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, asy-Syi'bi, dan Ahli Madinah ridhwanullah 'alaihim.

D.Tentang Mazhab Jumhur
Untuk lebih menjelaskan pendapat yang rajih --yakni pendapat jumhur ulama-- maka saya perlu mengatakan bahwa sesungguhnya jika kakak mewarisi bersamaan dengan saudara, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri. Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya. Keadaan kedua: kakak mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu,

Pada keadaan kelima kakek mendapat dua per lima (2/5). Pada keadaan kedua kakek mendapat setengah (1/2). Hukum Keadaan Pertama Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain. Mana di antara kedua cara tersebut yang lebih baik bagi kakek. Makna Pembagian Makna pembagian menurut ulama faraid adalah kakek dikategorikan seperti saudara kandung.dari dua pilihan yang ada. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut: 1. dan anak perempuan. Pertama dengan cara pembagian. dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Pada keadaan keempat kakek mendapat setengah (1/2). Adapun penjelasannya seperti berikut: Pada keadaan pertama kakak mendapat dua per tiga (2/3). Pembagian dan Jumlah 1/3 yang Berimbang Ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Pembagian yang Lebih Menguntungkan Kakek Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kakek dengan tiga orang saudara kandung perempuan. Ketiga keadaan itu sebagai berikut: . Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung. Bila cara pembagian tersebut kemungkinan merugikan kakek. Bila pembagian lebih baik baginya maka hendaklah dengan cara pembagian. dan kedua dengan cara mendapatkan sepertiga (1/3) harta warisan. Kakek dengan saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan. maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara kandung laki-laki. Kakek dengan dua orang saudara kandung perempuan. maka diberikan dengan memilih cara mendapat sepertiga (1/3) harta waris yang ada. Kakek dengan saudara kandung laki-laki. itulah yang menjadi bagiannya. 2. Kakek dengan saudara kandung perempuan. ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara kandung laki-laki. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan kandung. Pada keadaan ketiga kakek mendapat dua per lima (2/5).istri. maka bagi kakek dipilihkan perkara yang afdhal baginya --agar lebih banyak memperoleh harta warisan-. Kelima keadaan itu lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian.

Kalau jumlah harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tidak tersisa kecuali seperenam atau bahkan kurang. maka pemberian sepertiga (1/3) kepada sang kakek lebih menguntungkannya. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Dalam hal ini kakek mendapat sepertiga (1/3).maka hukumnya sama dengan hukum yang saya jelaskan di atas. dengan pembagian. yakni kakak seperempat dan saudara kandung laki-laki juga seperempat. menerima sepertiga (1/3). Kakek dengan dua orang saudara kandung laki-laki. Adapun bila cara pembagian --setelah para ashhabul furudh mengambil bagiannya-. Dan hal ini pun dengan syarat bagiannya tidak kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Contoh Keadaan Kedua Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka itulah bagian kakek. dengan ketentuan bagi laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Dan jika sepertiga (1/3) sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid. Yaitu. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara. maka hendaknya dibagi dengan cara itu. Sebab dengan pembagian ia mendapatkan bagian lebih dari seperenam (1/6). kakek mendapat sepertiga (1/3) dari sisa harta yang ada. maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari sepertiga harta warisan. Dalam contoh kedua ini bagian kakek lebih menguntungkan. ia mendapatkan sepertiga dari sisa harta .1. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian. dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan. Pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan cara pembagian. maka tetaplah kakek diberi bagian seperenam (1/6) secara fardh. Kakek dengan seorang saudara kandung laki-laki dan dua orang saudara kandung perempuan. yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. 2.maka bagi kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya. Misalnya. bagian kakek tidaklah boleh kurang dari seperenam (1/6) bagaimanapun keadaannya. Catatan Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan perempuan seayah ketika bersama dengan kakek --tanpa saudara kandung laki-laki atau perempuan-. Hukum Keadaan Kedua Bila kebersamaan antara kakek dengan para saudara dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain --yakni ahli waris lainnya-. kakak. Pembagian Sepertiga Lebih Menguntungkan Kakek Selain dari delapan keadaan yang saya kemukakan itu. atau seorang kakek dan lima saudara kandung perempuan atau lebih. dan sisanya dibagi dua. Yang pasti. Kakek dengan empat orang saudara kandung perempuan. dan saudara kandung laki-laki. dan para saudara kandung digugurkan atau dikurangi haknya. Sebab bagian tersebut adalah bagiannya yang telah ditentukan syariat. atau menerima seperenam (1/6) dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris. dan sisanya dibagikan kepada para saudara. Maka pembagiannya seperti berikut: suami faradh-nya setengah (1/2) karena pewaris tidak mempunyai anak.bagian sang kakek lebih menguntungkannya. dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. kakek.

dan empat saudara kandung laki-laki. Maka pembagiannya sebagai berikut: kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Kebetulan dalam kasus ini kedua cara pemberian waris bagi kakek menghasilkan bagian yang sama. Maka pembagiannya sebagai berikut: untuk kedua orang istri seperdelapan (1/8).sebab jika saudara kandung dan seayah bersama-sama. dan sisanya dibagikan kepada para saudara kandung perempuan sesuai jumlah orangnya secara rata. sedangkan saudara laki-laki seayah terhalangi oleh adanya ahli waris yang lebih kuat dan dekat. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara kandung. Contoh kedua: seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung perempuan. Apabila pemberian dilakukan secara pembagian. kakek seperenam (1/6). mereka dianggap satu jenis. lima anak perempuan mendapat dua per tiga (2/3). haknya menjadi gugur. keberadaan saudara seayah dalam keadaan seperti ini dikategorikan sebagai merugikan kakek. ibu mendapatkan seperenam (1/6). Maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat seperempat (1/4). . dan kakek mendapat seperenam (1/6). saudara laki-laki dikategorikan sebagai ahli waris. dan sepuluh saudara kandung perempuan. nenek seperenam (1/6). Contoh kelima: seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri. suami. tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. dan saudara kandung laki-laki memperoleh dua per tiga (2/3) bagian. Sedangkan sepuluh saudara kandung perempuan tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. ibu. Contoh pertama: seseorang wafat dan meninggalkan kakek. seluruh sisa harta waris yang ada hanya menjadi hak para saudara kandung -. seorang anak perempuan. Hal ini telah disepakati ulama mujtahid. yaitu sepertiga. kakek. maka saudara seayah mahjub. E. ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara kandung. dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). anak perempuan setengah (1/2). Dalam contoh pertama. Meskipun setelah kakek mendapatkan bagian. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan. setelah diambil hak saudara kandung perempuan (1/2) dan hak kakek (1/3). karena itu bagian kakek sepertiga (1/3). nenek. Berarti kakek mendapat sepertiga (1/3) dari lima per enam (5/6). kakek.setelah diambil hak sang ibu. jika saudara seayah mewarisi bersama kakek dan seorang saudara kandung perempuan. Jumlah sepertiga (1/3) bagi kakek dalam contoh kasus ini sesuai dengan kaidah yang ada: "hendaklah kakek diberi dengan salah satu dari dua cara yang paling menguntungkannya. Agar persoalan ini tidak terlalu kabur dan membingungkan saya sertakan beberapa contoh kasus. dan tiga saudara kandung perempuan. Akan tetapi. maka para saudara laki-laki seayah akan mendapatkan bagian sisa harta yang ada. Pembagiannya sebagai berikut: bagi anak perempuan setengah (1/2). yakni saudara kandung laki-laki. Untuk keadaan seperti ini. saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah. sedangkan saudara laki-laki seayah mahjub (terhalangi) karena adanya saudara kandung laki-laki. kakek. hak saudara kandung laki-laki dua per tiga (2/3). sedangkan empat saudara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. mendapat sepertiga harta waris atau dengan cara pembagian". Bila Saudara Kandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek Persoalan yang saya jelaskan sebelumnya berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara kandung. Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan. seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. kakek. dan sang kakek juga seperenam.

Catatan Pada contoh ketiga --seperti telah diutarakan-.keberadaan saudara laki-laki/perempuan seayah merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. saya berikan haknya dengan cara yang paling menguntungkannya. kakek. sedangkan bagian dua orang saudara seayah sisanya. Masalahnya 12 Bagian ibu 1/6 secara fardh Bagian kakek 2/6 secara pembagian dengan saudara kandung laki-laki Bagian saudara kandung (sisanya) Bagian saudara perempuan seayah mahjub 2 4 6 0 Contoh keempat: seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. tanpa menggunakan cara pembagian. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu mendapat seperenam (1/6) bagian. Karena sebagaimana telah saya kemukakan bahwa keberadaan para saudara lakilaki/perempuan seayah sebagai perugi. karena ia lebih kuat dan lebih dekat kekerabatannya terhadap pewaris dibandingkan para saudara laki-laki/perempuan seayah. sedangkan sisanya diberikan kepada para saudara laki-laki dan perempuan seayah --dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Contoh ketiga: seseorang wafat dan meninggalkan ibu. dan dua orang saudara seayah. dan keberadaannya hanya merugikan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kemudian. kakek sepertiga (1/3). tentu hal ini akan merugikannya karena ia akan menerima bagian kurang dari sepertiga (1/3) harta waris yang ada. kakek mendapat sepertiga (1/3) bagian. Oleh sebab itu. kakek. seorang saudara kandung laki-laki.dalam contoh ini adalah ibu. saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. dan saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2). sebab saudara perempuan seayah gugur haknya oleh adanya saudara laki-laki kandung. yaitu sepertiga (1/3). Barangkali untuk lebih memperjelas masalah ini perlu pula saya sertakan tabelnya. saya langsung memberikan hak kakek sepertiga (1/3). dan sisanya diberikan kepada saudara kandung laki-laki. dan itu menjadi bagian saudara lakilaki kandung. Sisanya barulah untuk mereka. yakni merugikan kakek pada cara pembagian. Dalam hal ini saudara perempuan seayah gugur sebab ada saudara kandung.seorang saudara laki-laki seayah. Maka pembagiannya seperti berikut: ibu memperoleh seperenam (1/6) bagian. Bila kita lihat secara seksama akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan kakek dalam hal ini adalah cara pembagian. dalam masalah ini kita berikan nasib (bagian) saudara perempuan seayah sebanyak dua per enam (2/6). Pada contoh kedua ini. Setelah itu saya berikan hak waris saudara kandung perempuan setengah secara fardh. bukan dengan cara menerima sepertiga (1/3) sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh -. dan seorang saudara perempuan seayah. dan dua orang saudara perempuan seayah. Kalaulah pemberian kepada kakak dalam contoh ini menggunakan cara pembagian. kakek memperoleh dua per enam (2/6) bagian. Tabelnya sebagai berikut: .

dari mulai yang sesuai dengan kaidah aslinya hingga setelah . dan menaikkan masalahnya dari enam (6) menjadi sembilan (9). ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. yakni tidak mempunyai pokok (ayah dan seterusnya) dan tidak pula mempunyai cabang (anak.). Kemudian ia menyatukan hak saudara kandung perempuan dengan saham kakak. masalahnya menjadi dua puluh tujuh (27).a. kakek. dan seorang saudara kandung perempuan. maka seluruh warisan merupakan bagian kakek.Masalahnya 12 dan naik menjadi 36 Bagian ibu 1/6 Bagian kakek 1/3 (sisa setelah diambil ibu) Bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) Bagian dua orang saudara laki-laki seayah (sisanya) Catatan Apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara laki-laki/perempuan seibu saja. Masalah al-Akdariyah Istilah al-akdariyah muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. dan pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan (9) bagian. Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi'i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit. ibu enam (6) bagian. Dia pernah menghadapi masalah waris dan memvonisnya dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha --termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendirimaka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara kandung perempuan. Permasalahannya seperti berikut: bila seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. Berikut ini saya sertakan tabelnya. kakek delapan (8) bagian. seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid. Oleh sebab itu. suami mendapat setengah (1/2). dan sisanya hanya seperenam (1/6) yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan --karena merupakan haknya secara fardh. kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. penj. Akan tetapi. Dan hak waris saudara seibu hanyalah bila pewaris sebagai kalalah. maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah --yang artinya 'kotor' atau 'mengotori'-. Misalnya. Setelah ditashih. Di samping itu. dalam kasus ini Zaid bin Tsabit r. dan saudara kandung perempuan empat (4) bagian. sudah semestinya bagian saudara kandung perempuan digugurkan karena tidak ada sisa harta waris. cucu. cicit. Sebab.disebabkan masalah ini cukup mengotori mazhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang sangat dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam faraid. 6 10 18 2 F. ibu. hal lain yang telah menjadi ijma' seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris dari keturunan para saudara kandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Dia memberi saudara kandung setengah (1/2) bagian. Sebab. dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. bagian. dan seterusnya). bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak saudaranya. memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada.

9 6 8 4 3 2 1 0 VII." (an-Nisa': 3) Al-'aul juga bermakna 'naik' atau 'meluap'. Al-'aul bisa juga berarti 'bertambah'.ditashih. Dikatakan 'alaa al-ma'u idzaa irtafa'a yang artinya 'air yang naik meluap'. seperti yang difirmankan-Nya: ". Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yang dibagikan habis.. Wallahu a'lam. padahal di antara mereka ada yang belum menerima bagian. Definisi al-'Aul Al-'aul dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Bila ada salah satu yang diubah. seperti tampak dalam kalimat ini: 'alaa al-miizaan yang berarti 'berat timbangannya'. maka berarti telah keluar dari hukum tersebut.. Masalahnya adalah dari enam (6) Suami mendapat setengah (1/2) secara fardh Ibu mendapat sepertiga (1/3) secara fardh Kakek mendapat seperenam (1/6) sisanya/fardh-nya Saudara kandung perempuan mahjub Adapun tabel setelah ditashih menurut al-akdariyah seperti berikut: Masalahnya naik dari enam (6) menjadi dua puluh tujuh (27) Bagian suami menjadi Bagian ibu menjadi Bagian kakek menjadi Bagian saudara kandung perempuan menjadi Catatan Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris. Dalam keadaan seperti ini kita harus menaikkan atau menambah pokok masalahnya sehingga seluruh harta waris dapat mencukupi jumlah ashhabul . MASALAH AL 'AUL DANAR-RADD A. di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidak adil.

Di antara mereka ada Zaid bin Tsabit dan menganjurkan kepada Umar agar menggunakan 'aul.furudh yang ada -. C. Begitu pula halnya dengan ashhabul furudh yang lain. Maka dalam masalah ini tidak menggunakan 'aul. Dan hal itu ia lakukan ketika fardh yang harus diberikan kepada ahli waris bertambah banyak. Masalah 'aul pertama kali muncul pada masa khalifah Umar bin Khathab r. dua belas (12)." Secara lebih lengkap. begitupun dua orang saudara kandung perempuan. Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. yaitu dua (2). Menghadapi kenyataan demikian Umar kebingungan. sedangkan yang empat tidak dapat. empat (4). bagian yang mesti diterima suami adalah setengah (1/2). suami tersebut tetap menuntut haknya untuk menerima setengah dari harta waris yang ditinggalkan istri. Pembagiannya: ibu mendapat sepertiga (1/3) bagian. Umar menerima anjuran Zaid dan berkata: "Tambahkanlah hak para ashhabul furudh akan fardh-nya. dan saudara kandung . sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). bagian mereka dapat berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah." Umar kemudian mengajukan persoalan ini kepada para sahabat Rasulullah saw.. Maka dalam hal ini seorang suami yang semestinya mendapat bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga). berarti mendapat bagian satu (1)." Para sahabat menyepakati langkah tersebut. dan ayah dua bagian. Bagian suami setengah berarti satu (1). mereka tetap menuntut dua per tiga yang menjadi hak waris keduanya. Misalnya bagian seorang suami yang semestinya mendapat setengah (1/2) dapat berubah menjadi sepertiga (1/3) dalam keadaan tertentu. dan delapan (8). Namun demikian.tidak pernah terjadi. Contoh lain. B. Dalam contoh ini pokok masalahnya tiga (3).meski bagian mereka menjadi berkurang. Sebagai contoh pokok yang dapat di-'aul-kan: seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Dia berkata: "Sungguh aku tidak mengerti. Sedangkan pokok masalah yang tidak dapat di-'aul-kan ada empat.a. kasus 'aul atau penambahan --sebagai salah satu persoalan dalam hal pembagian waris-. dan bagian saudara kandung perempuan setengah.. Latar Belakang Terjadinya 'Aul Pada masa Rasulullah saw. tiga (3). dan dua puluh empat (24). seperti bila pokok masalahnya dinaikkan dari semula enam (6) menjadi sembilan (9). berarti fardh-nya telah melebihi peninggalan pewaris. Ibnu Abbas berkata: "Orang yang pertama kali menambahkan pokok masalah (yakni 'aul) adalah Umar bin Khathab.a. saudara kandung laki-laki.kan Pokok masalah yang ada di dalam ilmu faraid ada tujuh. Yang masyhur dalam ilmu faraid. Dengan demikian. sampai masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq r. Sebab bila aku berikan hak suami. dan siapa yang diakhirkan. bila aku berikan terlebih dahulu hak kedua saudara kandung perempuan pewaris maka akan berkuranglah nashib (bagian) suami. riwayatnya dituturkan seperti berikut: seorang wanita wafat dan meninggalkan suami dan dua orang saudara kandung perempuan. Pokok Masalah yang Dapat dan Tidak Dapat Di-'aul. jadi ibu mendapat satu bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua (2). Tiga di antaranya dapat di-'aul-kan. seseorang wafat dan meninggalkan ayah dan ibu. dan menjadilah hukum tentang 'aul (penambahan) fardh ini sebagai keputusan yang disepakati seluruh sahabat Nabi saw. dan sisanya menjadi bagian ayah. pastilah saudara kandung perempuan pewaris akan dirugikan karena berkurang bagiannya. Begitu juga sebaliknya. Ketiga pokok masalah yang dapat di-'aul-kan adalah enam (6). siapakah di antara kalian yang harus didahulukan.

dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Dengan demikian. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari delapan (8). dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yang memang masyhur di kalangan ulama faraid dengan sebutan "masalah al-mimbariyyah". dua belas (12).berarti satu bagian. bagian saudara kandung perempuan setengah (1/2) berarti tiga. pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan ke tiga belas (13). Dalam contoh kasus ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalah. bagian anak perempuan tiga per enam (3/6) berarti tiga bagian. ketiga pokok masalah itu masing-masing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. Seseorang wafat dan meninggalkan ayah. bagian istri seperdelapan (1/8) berarti satu bagian.perempuan. anak setengah (1/2) berarti empat bagian. Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapat di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja. jumlah bagian (fardh-nya) cocok dengan pokok masalahnya. saudara kandung perempuan . delapan. bagian ayah seperenam (1/6) berarti satu bagian. Namun. dan dua puluh empat (24). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. Pokok Masalah yang Dapat Di-'aul-kan Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Sebagai misal. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. atau sepuluh. Lebih dari angka itu tidak bisa. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapat dinaikkan empat kali saja. yakni dapat naik menjadi tujuh. saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Maka angka dua belas (12) hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Lebih jelasnya. Beberapa Contoh Masalah 'Aul 1. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. lima belas (15). bagian istri seperempat (1/4) berarti satu (1) bagian. sedangkan sisanya (yakni 3/4) dibagi dua antara saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuan. namun hanya untuk angka ganjilnya. angka enam (6) hanya dapat di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10). perlu kita simak contoh-contohnya. Dalam contoh ini tidak ada 'aul. saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari enam (6). ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. anak perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan saudara perempuan seibu. sembilan. Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapat dinaikkan hingga tujuh belas (17). sedangkan saudara kandung perempuan menerima sisanya. atau tujuh belas (17). dan saudara kandung perempuan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pokok masalah dalam contoh-contoh yang saya kemukakan semuanya tidak dapat di-'aulkan. ibu. yakni tiga per delapan (3/8). Contoh kasus yang lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari empat (4). sebab masalahnya sesuai dengan fardh yang ada. angka-angka pokok masalah yang dapat di-'aul-kan ialah angka enam (6). sedangkan bagian saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. anak perempuan. Lebih dari itu tidak bisa. Untuk lebih menjelaskan dan memantapkan pemahaman kita terhadap pokok-pokok masalah yang di-'aul-kan. sedangkan bagian cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga-. dan seorang saudara perempuan seibu. ibu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. karenanya pokok masalah enam harus dinaikkan menjadi tujuh (7). sebab pokok masalahnya cocok atau tepat dengan bagian para ashhabul furudh.

Seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami. sedangkan bagian kedua nenek adalah seperenam (1/6) yang berarti dua bagian. seorang saudara perempuan seayah. Karena itu kita harus menaikkan pokok masalahnya yang semula enam menjadi sepuluh. Seseorang wafat dan meninggalkan istri. yaitu delapan per enam (8/6). Seseorang wafat dan meninggalkan suami. 2. sedangkan bagian dua orang saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti delapan bagian. Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya enam. yaitu lima belas bagian. atau tujuh belas (17). sehingga jumlah bagian sesuai dengan pokok masalahnya. ibu. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. bagian dua orang saudara seayah dua per tiga (2/3) berarti empat. ibu. sedangkan saudara perempuan seibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Oleh karena itu. dan dua orang saudara kandung perempuan. lima belas (15). Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dua belas (12). dua orang nenek.setengah (1/2) berarti tiga. Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga. Bila demikian. Contoh 'Aul Pokok Masalah Dua Belas (12) Seperti telah saya kemukakan bahwa pokok masalah dua belas hanya dapat di-'aul-kan tiga kali saja. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dua belas (12). Maka pembagiannya sebagai berikut: pokok masalahnya dari dua belas (12). Bagian ketiga orang istri adalah seperempat (1/4) berarti tiga bagian. sedangkan saudara perempuan seayah seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua pertiga-. bagian ibu seperenam (1/6) berarti dua bagian. ibu seperenam (1/6) berarti satu. Dalam contoh tersebut jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya. dua orang saudara kandung perempuan. Dalam contoh ini tampak jumlah bagiannya telah melebihi pokok masalahnya.berarti dua bagian. Sedangkan bagian dua saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat bagian. Dalam contoh ini jumlah bagian yang ada melebihi pokok masalahnya. karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi sembilan. saudara kandung perempuan memperoleh setengah (1/2) berarti enam bagian. Karena itu pokok masalahnya di-'aul-kan menjadi lima belas (15). dan bagian saudara perempuan seibu juga seperenam (1/6) berarti dua bagian. yaitu enam banding sepuluh (6:10). ibu. dan seorang saudara perempuan seibu. dua orang saudara perempuan seayah. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah syuraihiyah. asal pokok masalah enam dinaikkan menjadi delapan. Bagian istri seperempat (1/4) berarti tiga. bagi kedelapan saudara perempuan seayah dua per tiga (2/3)-nya. Seseorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. sedangkan bagian dua orang saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. jumlah bagiannya telah melebihi jumlah pokok masalah. dan bagian dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. Maka pembagianya seperti berikut: pokok masalahnya enam (6). 2. ibu mendapat seperenam (1/6) berarti dua bagian. berarti delapan . delapan orang saudara perempuan seayah. Masalah ini oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah al-mubahalah. Jumlah bagian dalam contoh ini telah melebihi pokok masalah. yaitu menjadi tiga belas (13). Berikut ini saya berikan contohcontohnya: 1. dan empat orang saudara perempuan seibu. dan dua orang saudara laki-laki seibu. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. seorang saudara kandung perempuan. Karena itu harus dinaikkan menjadi tiga belas (13) sehingga tepat sesuai dengan jumlah bagian yang ada. Masalah ini dikenal dengan sebutan masalah marwaniyah. dan dua orang saudara perempuan seibu. yaitu tiga belas.

maka pokok masalahuya dari empat (4). kemudian yang lain berhak mendapatkan sisanya. dalam masalah al-mimbariyyah ini pokok masalah dua puluh empat hanya bisa di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh. dan tidak ada 'aul. Seperti terdapat dalam firman Allah berikut: "Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari. Contoh masalah ini seperti berikut: seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. Selain itu. Karena itu pokok masalahnya harus di-'aul-kan dari dua belas menjadi tujuh belas. mengikuti jejak . anak perempuan. dan bagian keempat saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) yang berarti empat bagian.' Lalu keduanya kembali. 2. maka pokok masalahnya dari delapan. istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti tiga bagian. dan dalam hal ini tidak ada 'aul. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperempat (1/4) dan yang lain berhak mendapat setengah (1/2). sedangkan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) --sebagai penyempurna dua per tiga (2/3)-berarti empat bagian. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat seperdelapan dan yang lainnya setengah. D. Dalam contoh tersebut tampak sangat jelas bahwa jumlah bagian yang diterima atau yang menjadi hak ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalahnya. Catatan 1. Definisi ar-Radd Ar-radd dalam bahasa Arab berarti 'kembali/kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. dan tidak ada 'aul. atau dua orang ahli waris yang masing-masing berhak mendapatkan bagian setengah (1/2). Karena itu kita harus meng-'aul-kan pokok masalahnya hingga sesuai dengan jumlah bagian yang harus diberikan kepada para ashhabul furudh.bagian. maka pokok masalahnya dari dua (2). Maka pembagiannya seperti ini: pokok masalahnya dua puluh empat (24). Ayah mendapat seperenam (1/6) berarti empat bagian. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperdelapan (1/8) dan yang lain sisanya. Sekali lagi ditegaskan. Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapatkan bagian setengah (1/2) dari harta waris. maka pokok masalahnya dari tiga (3). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lain sisanya. anak perempuan mendapat setengah (1/2) berarti dua belas bagian. Dalam contoh ini tampak dengan jelas bahwa jumlah bagian ashhabul furudh telah melampaui pokok masalahnya. dan tidak dapat di-'aul-kan. dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. ibu memperoleh seperenam (1/6) berarti empat bagian. Contoh 'Aul Dua Puluh Empat (24) Pokok masalah dua puluh empat (24) --sebagaimana telah saya jelaskan-. ayah.hanya dapat di-'aul-kan menjadi angka dua puluh tujuh (27). pokok masalah ini hanya ada dalam kasus yang oleh ulama faraid dikenal dengan masalah al-mimbariyah. atau dua orang ahli waris yang satu berhak mendapat bagian sepertiga (1/3) dan yang lainnya dua per tiga (2/3). Setiap masalah atau keadaan yang di dalamnya terdapat ahli waris yang berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dan yang lain sisanya. ibu. Mereka menyebutnya demikian karena Ali bin Abi Thalib ketika memvonis masalah ini sedang berada di atas mimbar (podium). yakni tujuh belas berbanding dua belas.

Sebab dalam keadaan bagaimanapun. Sebagai misal. Ahli Waris yang Berhak Mendapat ar-Radd Ar-radd dapat terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh. Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan .mereka semula. dalam suatu keadaan (dalam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing. bila dalam pembagian hak waris terdapat salah satunya --ayah atau kakek-. Artinya. Ahli Waris yang Tidak Mendapat ar-Radd Adapun ahli waris dari ashhabul furudh yang tidak bisa mendapatkan ar-radd hanyalah suami dan istri. mereka tidak bisa mendapatkan ar-radd.-maka tidak mungkin ada arradd.maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Syarat-syarat ar-Radd Ar-radd tidak akan terjadi dalam suatu keadaan. kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini: 1. kecuali suami dan istri." (al-Ahzab: 25) Dalam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah. saudara laki-laki seibu Adapun mengenai ayah dan kakek. Ar-radd merupakan kebalikan dari al-'aul. anak perempuan cucu perempuan keturunan anak laki-laki saudara kandung perempuan saudara perempuan seayah ibu kandung nenek sahih (ibu dari bapak) saudara perempuan seibu 2.. karena keduanya akan menerima waris sebagai 'ashabah. Adapun ashhabul furudh yang dapat menerima ar-radd hanya ada delapan orang: 1. adanya ashhabul furudh tidak adanya 'ashabah 2. Bila dalam pembagian waris tidak ada ketiga syarat tersebut maka kasus ar-radd tidak akan terjadi. ada sisa harta waris. G. E. . suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidak mendapat bagian tambahan dari sisa harta waris yang ada. tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidak ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-. palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku). sekalipun keduanya termasuk ashhabul furudh dalam beberapa keadaan tertentu. F..

maka cara pembagiannya dihitung dan nilai bagiannya. disebabkan bagiannya sama. yaitu adanya ikatan tali pernikahan. maka pokok masalahnya dari tiga.Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab. bagian mereka sesuai fardh adalah dua per tiga (2/3).dan dalam keadaan itu tidak terdapat suami atau istri. dan tanpa suami atau istri adanya pemilik bagian yang sama. Maka pembagiannya. maka cara pembagiannya dihitung berdasarkan jumlah ahli waris. disebabkan mereka merupakan ahli waris dari bagian yang sama. dan dengan adanya suami atau istri Hukum Keadaan Pertama Apabila dalam suatu keadaan ahli warisnya hanya terdiri dari sahib fardh dengan bagian yang sama --yakni dari satu jenis saja (misalnya. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian. bila seseorang wafat dan hanya meninggalkan sepuluh saudara kandung perempuan. serta saudara laki-laki . Karena itu pembagian hak masing-masing sesuai jumlah mereka. dan seterusnya)-. dan sisanya mereka terima secara ar-radd. Sebagai misal. bukan dari jumlah ahli waris (per kepala). Sebab. akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab). H. adanya ahli waris pemilik bagian yang sama. dan tanpa adanya suami atau istri adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. suami atau istri tidak mendapatkan bagian sebagai tambahan. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap bertele-tele dan agar lebih cepat sampai pada tujuan dengan cara yang paling mudah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu. untuk kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). Maka apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat kelebihan atau sisa dari harta waris. Keempat macam itu: 1. Hukum Keadaan Kedua Apabila dalam suatu keadaan terdapat bagian ahli waris yang beragam --dan tidak ada salah satu dari suami atau istri-. dan dengan adanya suami atau istri 2. sesuai jumlah ahli waris. dan masing-masing mempunyai cara atau hukum tersendiri. Mereka hanya mendapat bagian sesuai bagian yang menjadi hak masing-masing. Seseorang wafat meninggalkan seorang anak perempuan serta seorang cucu perempuan keturunan anak lak-laki. Macam-macam ar-Radd Ada empat macam Ar-radd. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Di sini tampak jumlah bagiannya tiga. Contoh lain. bagi ibu seperenam (1/6). Dan pembagiannya pun secara fardh dan ar-radd. karena jumlah bagiannya ada empat. yakni tiga. semuanya berhak mendapat bagian setengah. Contoh-contoh keadaan kedua 1. adanya pemilik bagian yang berbeda-beda. Maka pokok masalahnya dari dua. Misal lain. saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu dan dua orang saudara laki-laki seibu. Maka pokok masalahnya dari empat. maka dari itu mereka (suami dan istri) tidak berhak mendapatkan ar-radd. seseorang wafat dan meningalkan seorang nenek dan saudara perempuan seibu. atau seperempat. Sebagai misal. seseorang wafat dan hanya meninggalkan tiga anak perempuan. dan itulah angka yang dijadikan pokok masalah.

. Misal lain. Berarti bila pokok masalahnya dari empat (4). Contoh lain. 2. dan setelah ditashih pokok masalahnya menjadi empat puluh. Oleh karena itu. diambil dari istri sebagai sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. setiap anak memperoleh tiga bagian. Hukum keadaan Ketiga Apabila para ahli waris semuanya dari sahib fardh (bagian) yang sama. berarti lima bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami dan dua anak perempuan. angka ini diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan (tidak berhak untuk ditambah). Pembagiannya: istri mendapatkan seperempat (1/4) bagian. sedangkan sisanya --tiga puluh lima bagian-dibagikan secara merata kepada kelima anak perempuan pewaris. Sehingga pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4) dari enam belas berarti empat bagian. pokok masalah yang mulanya empat (4) naik menjadi enam belas (16). seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri dan empat anak perempuan. Begitu seterusnya. Dalam hal ini pokok masalahnya dari empat. dan saudara perempuan seibu. Maka pokok masalahnya lima. dan itulah pokok masalahnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. dan sisanya (yakni 3/4) merupakan bagian kedua anak perempuan dan dibagi secara rata. suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian berarti satu. seseorang wafat dan meninggalkan seorang istri. yang bagiannya dalam keadaan demikian seperempat (1/4). anak perempuan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan serta saudara perempuan seayah. karena angka itu diambil dari sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. Seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Maka pokok masalahnya empat. yang penting tidak ada salah satu dari suami atau istri. Maka suami mendapatkan seperempat (1/4) bagian.seibu. berarti mendapat satu bagian. Maka jumlah bagiannya adalah lima. Dalam contoh ini juga harus ada pentashihan pada pokok masalahnya. sedangkan sisanya tujuh per delapan (7/8) merupakan bagian kelima anak perempuan dan dibagi secara merata di antara mereka. maka kaidah yang berlaku ialah kita jadikan pokok masalahnya dari sahib fardh yang tidak dapat ditambah (di-radd-kan) dan barulah sisanya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan jumlah per kepala. yaitu istri. Maka jumlah bagiannya adalah lima. serta seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. dan itulah pokok masalahnya. serta seorang saudara perempuan seibu. saudara perempuan seayah. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang nenek. Hitungan ini perlu pentashihan. disertai salah satu dari suami atau istri. berarti masing-masing menerima tujuh bagian. serta lima orang anak perempuan. Sedangkan sisanya dua belas bagian dibagikan secara merata kepada keempat anak perempuan pewaris. yakni sesuai jumlah kepala. Sebagai misal. Contoh lain. Maka pokok masalahnya dari empat. Pokok masalahnya adalah delapan. karena jumlah bagiannya adalah lima. karena jumlah bagiannya empat. hitungan (bagiannya) sebagai berikut: ibu mendapatkan seperdelapan dari empat puluh. Maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. Dengan demikian. dan sisanya (tiga per empat) dibagikan kepada anak secara merata. sedangkan sisanya --tiga per empat (3/4)-dibagi secara merata untuk keempat anak perempuan pewaris. dua orang saudara laki-laki seibu.

dengan ar-radd menjadi dari lima (yakni dari jumlah bagian yang ada). Bagian nenek seperenam (1/6) berarti satu bagian. nenek. yakni tiga bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami dan istri: Pokok masalahnya dari enam. maka sisa harta waris tinggal tiga bagian. Seperti kita ketahui bahwa antara tujuh dan lima itu tabaayun (berbeda). dan dua orang saudara perempuan seibu. yaitu istri. mana yang paling tepat. secara fardh dan radd. Kemudian bila istri mendapat bagiannya. Kemudian langkah berikutnya kita kalikan pokok masalah kedua (delapan) dengan pokok masalah pertama (lima). Bagian istri seperempat (1/4) berarti memperoleh satu bagian. Setelah itu barulah kita lihat kedua ilustrasi tersebut dengan salah satu dari tiga kriteria yang ada. Bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) = 2 bagian.Hukum keadaan Keempat Apabila dalam suatu keadaan terdapat ashhabul furudh yang beragam bagiannya. yakni tiga bagian. Contoh lain: seseorang wafat meninggalkan istri. dan cukuplah kita jadikan ilustrasi masalah kedua itu sebagai pokok masalah. Ilustrasi kedua menyertakan suami atau istri: Pokok masalahnya dari empat. maka sisanya tujuh per delapan (7/8). Maka hasil perkalian antara kedua pokok masalah itu adalah pokok masalah bagi kedua ilustrasi tersebut. Dengan melihat kedua ilustrasi tersebut. dan di dalamnya terdapat pula suami atau istri. Angka tiga tersebut berarti tamaatsul (sama) dalam kedua ilustrasi. Apabila istri mengambil bagiannya. maka menurut kaidah yang berlaku kita harus menjadikannya dalam dua masalah. dan pada persoalan kedua kita menyertakan suami atau istri. Pada persoalan pertama kita tidak menyertakan suami atau istri. yakni istri. Untuk lebih memperjelas masalah yang rumit ini perlu saya sertakan contoh kasusnya: Seseorang wafat dan meninggalkan istri. merupakan bagian nenek dan kedua saudara perempuan seibu. dan dengan ar-radd menjadi dari lima. dan sisa ini merupakan bagian dua anak perempuan dengan ibu. Ilustrasi ini juga merupakan tamaatsul (sama) dengan masalah ar-radd. Sedangkan dalam ilustrasi kedua --menyertakan suami/istri-. dua orang anak perempuan. Sisanya. kita dapati bagian yang sama antara bagian nenek dan bagian dua saudara perempuan seibu. yaitu diambil dari bagian sahib fardh yang tidak dapat di-radd-kan. yakni yang seperdelapan. dan ibu. dan tabaayun (perbedaan). tawaafuq (sepadan).asal pokok masalahnya dari delapan. Kemudian kita buat diagramnya secara terpisah. karena merupakan fardh orang yang tidak dapat di-radd-kan. karena itulah jumlah bagian yang ada. Sedangkan ketiga kriteria yang dimaksud ialah tamaatsul (kemiripan).asal pokok masalahnya dari enam. Karenanya tidak lagi memerlukan tashih. Pada ilustrasi pertama --tanpa menyertakan suami/istri-. . yakni seperempat (1/4).

Kini. Bagian kedua anak perempuan dan ibu adalah sisa setelah diambil bagian istri --yang tersisa tiga puluh lima (35) bagian.). berarti ia mendapat lima (5) bagian. . Jadi. penj. Hal ini agar kita dapat mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris. Adapun bagian ibu adalah hasil perkalian antara bagiannya dalam ilustrasi pertama (satu bagian) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian dalam ilustrasi kedua) berarti tujuh (7) bagian. menjadi 5 Bagian kedua anak perempuan 2/3 Bagian ibu seperenam (1/6) Jumlah bagian Ilustrasi kedua dengan menyertakan suami/istri Pokok masalah dari delapan. berarti Bagian dua anak perempuan dan ibu setelah tashih bagian anak perempuan bagian ibu 1 7 4x7 4x7 28 7 setelah tashih menjadi setelah tashih 40 5 berarti berarti 4 1 5 VIII. PENGHITUNGAN DAN PENTASHIHAN MENGETAHUI pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yang mengkaji ilmu faraid. yang berarti usaha untuk mengetahui pokok masalah. Lihat tabel berikut: Ilustrasi pertama tanpa menyertakan suami/istri Pokok masalahnya aslinya dari 65. dari jumlah keseluruhan antara bagian istri. hingga pembagiannya benar-benar adil. ditambah bagian ibu adalah 5 + 28 + 7 = 40. ditambah bagian kedua anak perempuan. dengan radd. Maka pembagiannya sebagai berikut: bagian kedua anak perempuan adalah hasil perkalian antara empat (bagiannya dalam ilustrasi pertama) dengan tujuh (yang merupakan sisa bagian pada ilustrasi kedua) berarti dua puluh delapan (28) bagian. yang perlu diketahui adalah bagaimana dapat memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yang rumit. maka bagian istri adatah seperdelapan dari empat puluh bagian yang ada. diambil dari ahlul fardh yang tak dapat di-radd Bagian istri 1/8. setelah kita kenali pokok masalah dari kedua ilustrasi masalah tersebut. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah at-ta'shil. Karena itu. para ulama ilmu faraid tidak mau menerima kecuali angka-angka yang jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan. Dalam hal ini. tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing.

Bila semuanya seperempat (1/4) atau seperdelapan (1/8). bila mayit meninggalkan lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Pokok masalahnya juga dihitung dari jumlah per kepala. Kedua: bagian dua per tiga (2/3). 1/4. Begitu juga bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari sahib fardh sepertiga (1/3) dengan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengan seperenam (1/6). 1/3. Maka pokok masalahnya dari dua (2). Maka pokok masalahnya berarti tujuh (7). berarti pokok masalahnya dari angka yang paling besar. jika ternyata ahli waris yang ada semuanya dari ashhabul furudh yang sama. Misalnya. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2). dan 1/6) diperlukan kaidah yang lain untuk . dan demikian seterusnya. maka pokok masalahnya sebelas. dua laki-laki dan tiga perempuan. dan sebagainya-. Apabila seluruh ahli waris yang ada semuanya dari 'ashabah. yakni antara angka-angka yang mutamatsilah (sama) atau yang mutadaakbilah (saling berpadu). seperempat (1/4). seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki. Untuk memperjelas masalah ini. Misal lain. Sebab angka tiga merupakan bagian dari angka enam.maka pokok masalahnya dari delapan (8).maka pokok masalahnya dari enam (6). begitu seterusnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa bila ahli waris semuanya sama --misalnya masing-masing berhak mendapat seperenam (1/6)-. baiklah kita simak kaidah yang telah diterapkan oleh para ulama ilmu faraid. Sedangkan jika para ahli waris yang ditinggalkan pewaris terdiri dari banyak bagian --yakni tidak dari satu jenis. Maka dalam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yang terbesar. seperenam. dan seperenam (1/6). Contoh lain. maka pokok masalahnya dari tiga (3).Untuk mengetahui pokok masalah.kita harus mengalikan dan mencampur antara beberapa kedudukan. seperempat (1/4). seseorang wafat dan hanya meninggalkan lima orang anak. atau yang mutabaayinah (saling berbeda). Bila ternyata ahli waris yang ada terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. atau semuanya hanya dari ashhabul furudh. Sebab. Akan tetapi. maka pokok masalahnya dari lima. 1/4. dan satu wanita satu kepala. Misalnya. seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami dan saudara kandung perempuan. bila dalam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dari para sahib fardh setengah (1/2). terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. dan seperdelapan (1/8). berarti itulah pokok masalahnya. Artinya. Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dari bagian yang pertama saja (yakni 1/2. Misalnya. kita harus mengetahui apakah ahli waris yang ada semuanya hanya termasuk 'ashabah. maka pokok masalahnya dari enam (6). ahli warisnya dari sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4). maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dari laki-laki. dan 1/8) dengan kelompok kedua (2/3. atau gabungan antara 'ashabah dengan ashhabul furudh. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki. 1/8). sepertiga (1/3). maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan). Misalnya. Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untuk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dari berbagai sahib fardh yang mempunyai bagian berbeda-beda. bila dalam suatu keadaan. Bila semuanya berhak sepertiga (1/3). dan seperdelapan (1/8) --atau hanya seperempat dengan seperdelapan-. maka pokok masalahnya dari empat atau delapan. Hal ini diambil dari kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. misalnya ada yang berhak setengah. maka pokok masalahnya dari empat (4). jika dalam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2. maka pokok masalahnya dari sepuluh. Kemudian. bagian suami setengah (1/2) dan bagian saudara kandung perempuan juga setengah (1/2).

sebagai 'ashabah 3 1 2 0 Contoh lain. maka ia tidak berhak menerima harta waris. sahib fardh seperempat (1/4) yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan seluruh kelompok kedua atau salah satunya. Maka berdasarkan kaidah. saudara laki-laki seibu seperenam (1/6). atau semuanya. Kaidah yang dimaksud seperti tersebut di bawah ini: 1.bercampur dengan seluruh kelompok kedua. atau salah satunya. Tabelnya tampak berikut ini: Pokok masalah dari dua belas (12) Istri seperempat (1/4)) Ibu seperenam (1/6) 3 2 . Lihat diagram: Pokok masalah dari enam (6) Suami setengah (1/2) Saudara laki-laki seibu seperenam (1/6) Ibu sepertiga (1/3) Paman kandung. dan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. pokok masalah pada contoh tersebut dari enam. 2. dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). ibu sepertiga (1/3). sedangkan paman sebagai 'ashabah. ibu. Apabila dalam suatu keadaan. dan seorang saudara laki-laki kandung. Bila tidak tersisa. Pada contoh ini tampak ada campuran antara bagian seperempat (1/4) --yang termasuk kelompok pertama-. Maka pembagiannya seperti berikut: bagian istri seperempat (1/4). Dari contoh tersebut tampak ada campuran antara kelompok pertama (yakni 1/2) dengan sepertiga (1/3) dan seperenam (1/6). ibu seperenam (1/6).dengan seperenam (1/6) dan sepertiga (1/3). Apabila dalam suatu keadaan. saudara laki-laki seibu. sahib fardh setengah (1/2) --yang merupakan kelompok pertama-bercampur dengan salah satu dari kelompok kedua. perlu saya utarakan beberapa contoh. Maka pembagiannya sebagai berikut: suami mendapat setengah (1/2). maka pokok masalahnya dari enam (6). Apabila dalam suatu keadaan. Angka tersebut merupakan hasil perkalian antara empat (yang merupakan bagian istri) dengan tiga (sebagai bagian kedua saudara laki-laki seibu). maka pokok masalahnya dari dua belas (12). yang merupakan kelompok kedua. Misalnya. sahib fardh seperdelapan (1/8) yang merupakan kelompok pertama-. Untuk lebih memperjelas kaidah tersebut. ibu. pokok masalahnya dari dua belas (12). Berdasarkan kaidah yang ada.mengetahui pokok masalahnya. ia akan mendapat sisa yang ada setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. dan paman kandung. dua orang saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. seseorang wafat dan meninggalkan suami. maka pokok masalahnya dari dua puluh empat (24).

maka kita harus mengetahui nisbah-nya (koneksi) dengan keempat istilah perhitungan.Dua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3) Saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah (sisanya) 4 3 Misal lain. Pada contoh ini tampak ada percampuran antara seperdelapan (1/8) sebagai kelompok pertama dengan seperenam (1/6) sebagai kelompok kedua.dalam suatu pembagian waris cocok (sesuai) dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. Sedangkan saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. Berikut ini tabelnya: Pokok masalah dari 24 Bagian istri seperdelapan (1/8) Bagian anak perempuan setengah (1/2) Cucu perempuan dari anak laki-laki seperenam (1/6) Bagian ibu seperenam (1/6) Saudara kandung laki-laki. dan at-tabaayun (berbeda/saling berjauhan). pokok masalah pada contoh ini dari dua pulah empat (24). . cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Apabila pokok masalah --harta waris-. karenanya kita ambil setengah dari salah satu angka tadi. anak perempuan. (8 : 2 x 6 = 24). maka kita tidak perlu menggunakan cara-cara yang berbelit dan memusingkan. at-tadaakhul (saling terkait/saling bercampur). maka dalam hal ini memerlukan pentashihan pokok masalahnya. Yaitu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Namun. atau jumlah bagian ashhabul furudh melebihi jumlah pokok masalah. Begitulah seterusnya. at-tawaafuq (saling bertautan). dan bagian ibu seperenam (1/6). Maka pembagiannya sebagai berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8). cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). A. ibu. anak perempuan setengah (1/2). sebagai 'ashabah (sisa) berarti berarti berarti berarti 3 12 4 4 1 Angka dua puluh empat (24) yang dijadikan sebagai pokok masalah timbul sebagai hasil perkalian antara setengah dari enam (yakni 3) dengan delapan (6 : 2 x 8 = 24). at-tamaatsul (kemiripan/kesamaan). Atau setengah dari delapan (yakni empat) kali enam (6). bila harta waris tersebut kurang dari jumlah bagian yang mesti diterima setiap ahli waris. Hal seperti ini disebabkan setengah dari dua angka tersebut (yakni enam dan delapan) ada selisih. Maka berdasarkan kaidah yang ada. Tentang Tashih Agar kita dapat memahami dan menelusuri rincian pentashihan pokok masalah. kemudian kita kalikan dengan angka yang lain dengan sempurna. dan saudara kandung laki-laki. karenanya ia mendapat sisa harta waris bila ternyata masih tersisa.

dan lima sama dengan lima. maka disebut tabaayun. Apabila angka yang besar dibagi angka yang lebih kecil. angka 5 dengan 9. sehingga menurut mereka di antara kedua bilangan itu ada tadaakhul. penj. Misalnya. at-tawaafuq. untuk mewujudkan keadilan mereka berusaha mengetahui jumlah bagian yang merupakan hak setiap ahli waris. sehingga tidak . Sedangkan menurut ulama faraid adalah pembagian angka yang besar oleh angka yang lebih kecil. lawan kata dari "keluar". Angka 8 dengan 20 sama-sama dapat dibagi oleh angka 4. Sedangkan apabila suatu angka tidak dapat dibagi oleh bilangan lain. demikian seterusnya. kita bandingkan pengertiannya dengan istilah lainnya. Definisi at-Tamaatsul At-Tamaatsul dalam bahasa Arab berarti at-tasyabuh. kalangan ulama faraid tidak mau menerima permasalahan pembagian waris kecuali dengan angka-angka yang pasti (maksudnya tanpa pecahan. attadaakhul. angka delapan (8) dengan angka empat (4). Selain itu.maka kedua bilangan itu ada tawaafuq. Misalnya. Cara Mentashih Pokok Masalah Setelah kita ketahui dengan baik makna-makna at-tamaatsul. Angka 12 dengan angka 30 sama-sama dapat dibagi oleh angka 6. Sedangkan menurut ulama faraid berarti sama dalam jumlah atau nilai.). sehingga dari pembagian itu tidak ada lagi angka atau jumlah yang tersisa. maka kedua bilangan itu tadaakhul. maka kita perlu mengetahui kapan kita dapat atau memungkinkan untuk mentashih pokok masalah? Dan apa tujuannya. Misalnya angka 7 dengan angka 4. yakni 'sama bentuknya'. angka 8 dengan 6 keduanya dapat dibagi oleh angka 2. Sedangkan menurut istilah ilmu faraid ialah setiap dua angka yang dapat dibagi angka ketiga. B. yakni 'masuk'. yakni saling berjauhan atau saling berbeda. angka tiga berarti sama dengan tiga. Definisi at-Tabaayun At-Tabaayun dalam bahasa Arab berarti tabaa'ud. Apabila angka yang besar tidak dapat dibagi angka yang kecil --tetapi dibagi angka yang lain-. Untuk mengetahui secara tepat pengertian tabaayun.Definisi Tashih Tashih dalam bahasa Arab berarti 'menghilangkan penyakit'. yang satu tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari yang lain. dan tidak pula dapat dibagi oleh bilangan lain (ketiga). maka di antara kedua bilangan tersebut adalah mutamaatsilan. Sedangkan menurut ulama ilmu faraid berarti mewujudkan jumlah yang kurang dari bagian setiap ahli waris tanpa pecahan dalam pembagiannya. angka delapan belas (18) dengan angka enam (6). Definisi at-Tadaakhul At-Tadaakhul dalam bahasa Arab berasal dari kata dakhala. Hal ini dimaksudkan agar dapat mewujudkan keadilan yang optimal dalam pembagian tersebut. Misalnya. Sedangkan menurut kalangan ulama ilmu faraid ialah setiap bilangan yang satu dengan lainnya tidak dapat membagi. Tetapi apabila kedua bilangan itu sama. Pada hakikatnya. angka 8 dengan 11. angka dua puluh tujuh (27) dengan angka sembilan (9). Definisi at-Tawaafuq At-Tawaafuq dalam bahasa Arab berarti 'bersatu'. dan at-tabaayun. dan seterusnya.

Sebab setiap anak mendapat bagian satu). maka setiap orang mendapat satu bagian. penj. ayah. Namun. Contoh amaliah tentang pentashihan pokok masalah Seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Berarti kesesuaian pembagian tersebut tidak memerlukan pentashihan pokok masalah. Bagian keempat anak perempuan ialah dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian.). maka hasil dari perkalian itu yang menjadi pokok masalah sebenamya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). . kemudian di-'aul-kan menjadi tujuh (7). berarti 4. Bila jumlah per kepala setelah dibagi cocok dan pas dengan jumlah bagian setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Inilah yang disebut "pentashihan pokok masalah" oleh kalangan ulama faraid.maka kita harus melihat apakah ada kecocokan di antara kedua hal itu ataukah tidak. Seseorang wafat dan meninggalkan ibu. Bagian ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. Sehingga dalam pembagiannya akan dengan pas dan mudah. Bagi kedua saudara perempuan seibu dua bagian. Bagi keempat saudara kandung perempuan empat bagian. bila jumlah per kepalanya jauh lebih sedikit dari jumlah bagian ahli waris yang ada --jumlah pokok masalahnya sudah habis. sebab bagian yang mesti dibagikan kepada mereka (keempat anak perempuan itu) tidak lagi memerlukan pecahanpecahan. Hal ini merupakan satu perhatian yang sangat baik dari para ulama faraid dalam usaha mereka mewujudkan kemaslahatan yang menyeluruh. Adapun bila terjadi mubayaanah (ada selisih) maka kalikan jumlah per kepalanya dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. (Misalnya. ibu. sebagaimana yang dikehendaki ad-Din al-Islam. Bila ada kesesuaian antara bagian tiap ahli waris dengan jumlah per kepalanya. tahulah kita bahwa contoh masalah tersebut cenderung (bernisbat) pada at-tamaatsul. Contoh lain yang at-tamaatsul. maka ada kesamaan. setiap anak menerima satu bagian. kemudian bagian kedua saudara perempuan seibu sepertiga (1/3) berarti dua bagian. kita lihat bahwa pokok masalahnya tidak memerlukan pentashihan. dan empat saudara kandung perempuan. sebagai bagian khusus yang berkaitan dengan setiap bagian pada pokok masalah. sedangkan bagian keempat saudara kandung perempuan adalah dua per tiga (2/3) yang berarti empat (4) bagian. Sang ayah seperenam berarti satu bagian. dan tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dua saudara perempuan seibu. perlu saya kemukakan contoh kasus sehingga pembaca dapat lebih memahaminya. melihat bagian setiap ahli waris dan jumlah per kepalanya. Untuk lebih memperjelas masalah ini. Bila kita perhatikan baik-baik contoh ini. dengan cara mengalikan jumlah per kepala dengan pokok masalah atau dengan meng-'aul-kannya. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). Dengan demikian. Cara pentashihan yang biasa dilakukan para ulama faraid seperti berikut: langkah pertama. Karena itu tidak lagi memerlukan pentashihan pokok masalah. Sebab jumlah per kepalanya sesuai dengan jumlah yang dibagikan. Dalam contoh tersebut kita lihat jumlah anak perempuan ada empat (4). dan sang ibu juga seperenam berarti satu bagian. Sedangkan tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tidak mendapat bagian (mahjub karena anak pewaris lebih dari dua orang. tetapi ada ahli waris yang belum mendapat bagian-. Maksudnya. dan bagiannya 2/3 dari 6. maka tiap orang mendapat satu bagian. empat anak perempuan.mengurangi ataupun menambahkan. dan bagian yang mereka peroleh juga empat. maka inilah yang sempurna dan sangat diharapkan. maka setiap anak berhak mendapat bagian sesuai dengan jumlah per kepalanya. Sedangkan mengenai bagian untuk mengalikan pokok masalah atau meng-'aul-kan dengan tujuan mentashih pokok masalah. oleh ulama faraid disebut dengan juz'us sahm.

Itulah tashih pokok masalah. Misal lain. ibu. berarti dua bagian. dan sisanya (satu bagian) adalah bagian paman kandung sebagai 'ashabah. maka pembagiannya seperti berikut: suami mendapat sembilan bagian (9). bagian anak perempuan 1/2 berarti enam (6) bagian. Kita lihat dalam contoh di atas ada at-tawaafuq antara jumlah per kepala anak perempuan dengan jumlah bagian yang mereka peroleh. lima anak perempuan. berarti 3 x 9 = 27. dan saudara kandung laki-laki. karenanya kita kalikan angka 3 dengan pokok masalahnya. dan dua orang saudara laki-laki seibu. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12. dan bagian kedua saudara laki-laki seibu sepertiga (1/3). ayah. dan bagian saudara kandung laki-laki satu bagian (sisanya) sebagai 'ashabah bin nafsihi. Hasil dari perkalian itulah yang akhirnya menjadi pentashihan pokok masalah. kemudian di-'aul-kan menjadi sembilan (9). sedangkan bagian saudara . seseorang wafat dan meninggalkan suami. Seseorang wafat dan meninggalkan delapan (8) anak perempuan. tiga cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bagian suami 1/4 berarti tiga (3) bagian. seseorang wafat dan meninggalkan suami. Contoh lain. Contoh lain. Maka bagian masing-masing seperti berikut: pokok masalahnya dari 24. Angka dua itulah yang menurut istilah ulama faraid sebagai bagian dari bagian juz'us sahm kemudian bagian dari bagian itu dikalikan dengan pokok masalah. yakni angka enam (6). keenam saudara kandung perempuan mendapat dua belas bagian. Dalam contoh di atas kita lihat ada tawaafuq antara jumlah bagian yang diterima para saudara kandung perempuan dengan jumlah per kepala mereka. yaitu dua (2). ibu seperenam (1/6) berarti satu bagian. yaitu dua (2).Contoh masalah yang at-tawaafuq. kelima anak perempuan mendapat bagian 2/3 yang berarti 16. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahuya dari enam (6). dan kedua saudara laki-laki seibu mendapat enam bagian (9 + 12 + 6 = 27). Bagian istri 1/8 = 3. dan ibu mendapat 1/6 yang berarti 4. berarti tiga (3). dan kita kalikan dengan pokok masalah setelah di-'aul-kan yakni angka sembilan (9). Inilah tabelnya: 3 12 Suami 1/4 Anak perempuan 1/2 Tiga cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 Saudara kandung laki-laki ('ashabah) 3 6 2 1 36 9 18 6 3 Berdasarkan tabel tersebut kita lihat antara bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki dengan jumlah per kepala mereka (yakni 2 dengan 3) ada tabaayun (perbedaan). anak perempuan. ibu. kemudian di-'aul-kan menjadi 27. dan paman kandung. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari enam (6). enam saudara kandung perempuan. Maka 2 x 6 = 12. ayah memperoleh 1/6 berarti 4. Bagian kedelapan anak perempuan dua per tiga (2/3) berarti empat (4) bagian. yakni 3 x 12 = 36. sedangkan bagian keenam saudara kandung perempuan dua per tiga (2/3). Bagian suami setengah (1/2) berarti tiga bagian. Kemudian kita ambil separo jumlah per kepala mereka. Setelah pentashihan. dan saudara kandung laki-laki. dan bagian cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna 2/3 berarti 2 bagian. maka angka 36 itu berarti pokok masalah hasil pentashihan. berarti empat bagian.

berarti 7 x 4 = 28. Kemudian kita kalikan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan (yakni 27) dengan jumlah per kepala mereka. Angka itu merupakan pokok masalah setelah pentashihan. dan saudara laki-laki seibu. Tujuh anak perempuan mendapat 2/3-nya = 16. Perhatikan tabel berikut: 28 24 3 istri bagiannya 1/8 7 anak perempuan 2/3 2 orang nenek 1/6 saudara kandung laki-laki ('ashabah) Saudara laki-lah seibu (mahjub 3 16 4 1 672 84 448 112 28 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian anak perempuan (16) dengan jumlah per kepala mereka (7) ada perbedaan (tabaayun). Inilah tabelnya: 5 24 Istri 1/8 Lima anak perempuan 2/3 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Saudara kandung laki-laki (mahjub) 27 3 16 4 4 135 15 80 20 20 - Dalam tabel tersebut kita lihat bahwa bagian kelima anak perempuan tidak bisa dibagi oleh jumlah per kepala mereka. tujuh anak perempuan. Untuk mentashih pokok masalah dari contoh ini. Karenanya di antara keduanya ada tabaayun (perbedaan). kedua nenek 1/6-nya = 4. Angka tersebut (yakni 28) merupakan juz'us sahm. dan empat saudara kandung laki-laki (sisanya) yaitu 1 sebagai 'ashabah. begitu juga dengan bagian keempat saudara kandung yang hanya satu bagian. kita kalikan jumlah per kepala anak perempuan (yakni 7) dengan jumlah per kepala saudara kandung (yakni 4). Ketiga istri mendapat 1/8 = 3. seorang wafat dan meninggalkan tiga orang istri. yakni 27 x 5 = 135. Kemudian juz'us sahm tersebut kita kalikan dengan pokok masalahnya (28 x 24 = 672) hasilnya itulah yang menjadi pokok masalah setelah pentashihan. Pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. Pentashihan seperti ini dapat diterapkan dalam contoh- . dan jumlah per kepala mereka ada perbedaan (tabaayun). sedangkan saudara seibu mahjub. Misal lain. Dan angka lima (5) itulah yang dinamakan juz'us sahm. dua orang nenek. empat saudara kandung laki-laki.kandung laki-laki mahjub (terhalang).

baik berupa harta. suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian. C. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada. anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24). kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh. atau tanah. Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya. Tabelnya seperti berikut: 2 12 24 . anak perempuan. dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24.dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 24. bagian istri Anak perempuan Ibu Ayah ('ashabah) 3 bagian 12 bagian 4 bagian 5 bagian x x x x 20 dinar 20 dinar 20 dinar 20 dinar Total = = = = = 60 dinar 240 dinar 80 dinar 100 dinar 480 dinar Contoh lain. ibu. kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya.contoh yang lain. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar. Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. benda. ayah. berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian. Pembagian Harta Peninggalan At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. Contoh Cara Pertama Seseorang wafat dan meninggalkan istri. istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris. ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian. suami. sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima. dan ibu. seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan. Jadi.

dan tiga saudara kandung laki-laki. sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian). berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian). Cucu pr. Simak tabel berikut: 2 6 Empat anak perempuan Dua anak laki-laki Ayah Ibu Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub) Adapun nilai per bagiannya adalah 3. dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak. keturunan anak laki-laki Suami Ibu Dua saudara kandung perempuan 12 6 4 2 x x x x 40 dinar 40 dinar 40 dinar 40 dinar Total = = = = = 480 dinar 240 dinar 160 dinar 80 dinar 960 dinar Contoh lain. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. Jadi. sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub.000 dinar 1.24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki Suami 1/4 Ibu 1/6 2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair) 1/2 1/4 1/6 1 6 3 2 2 12 6 4 Adapun nilai per bagian. dua anak laki-laki. ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. ibu. Jadi bagian 4 anak perempuan dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1.000 dinar. bagian masing-masing ahli waris: Jadi. seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian. 960 dinar: 24 = 40 dinar.000:12 = 250 dinar Jadi. dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.000 dinar 1/6 1/6 4 3 1 1 12 4 4 2 2 4 x 250 dinar = . ayah. dan harta peninggalannya 3.

sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. dua saudara lakilaki seibu. saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3.200 dinar 9. dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13.300 dinar 3.300 dinar 2.900: 9 = 1. Perhatikan tabel berikut: Suami 12 1/4 13 3 .000 dinar 1/2 1/2 1/3 1/6 9 3 3 2 1 Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami.100 dinar 1. dua anak perempuan. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian). satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. ibu. sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar. 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki. seseorang wafat dan meninggalkan suami.000 dinar Contoh lain.100 dinar 1. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian).200 dinar 2. dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2.100 dinar 1.100 dinar Total = = = = = 3.ibu ayah 2 2 x x 250 dinar 250 dinar Total = = = 500 dinar 500 dinar 3. Perhatikan tabel berikut: 6 Suami Saudara kandung perempuan Saudara laki-laki seibu Nenek Adapun nilai per bagiannya adalah 9. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9. Suami Saudara perempuan kandung Dua saudara laki-laki seibu Nenek 3 3 2 1 x x x x 1. Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah.900 dinar. dan nenek.100 dinar Jadi. saudara kandung perempuan.

dua saudara kandung perempuan. seseorang wafat dan meninggalkan ibu. sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. saudara laki-laki seayah. suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24. ket. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah.Ibu Dua anak perempuan Tiga cucu perempuan Dua cucu perempuan Jadi. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. suami. cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian). 12 Cucu pr. Suami Ibu Dua anak perempuan 3 2 8 x x x 1/6 2/3 'ashabah 585:13 dinar 585:13 dinar 585:13 dinar Total = = = = 2 8 135 dinar 90 dinar 360 dinar 585 dinar Contoh lain. saudara perempuan seayah. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) Cucu pr. ket. Sedangkan . seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung. anak laki-laki Ibu Suami Dua saudara kandung ('ashabah) 12 4 6 2 x x x x 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar 240:24 dinar Total 1/2 1/6 1/4 6 2 3 1 = = = = = 24 12 4 6 2 120 dinar 40 dinar 60 dinar 20 dinar 240 dinar Misal lain. ibu.

Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6.harta peninggalan sebanyak 1. dan sisanya --dua bagian-. kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian). anak laki-laki Dua saudara kandung pr. delapan (8) saudara perempuan seayah. yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Sedangkan ahli waris yang lain ter. Inilah tabelnya: 6 Ibu Cucu pr. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian). Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar. dan empat (4) saudara perempuan seibu. cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian). Berikut ini tabelnya: 12 Ke-3 istri Kedua nenek Ke-8 sdr. seibu Masalah Dinariyah al-Kubra Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Contoh masalahnya. pr. ket.mahjub. seayah Ke-4 sdr. Harta peninggalannya: 17 dinar. dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu.500 dinar. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut addinariyah al-kubra. dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian). Dua saudara laki-laki seayah (mahjub) Masalah Dinariyah ash-Shughra Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid. pr. 1/4 1/6 2/3 1/3 17 3 2 8 4 masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar masing-masing 1 bagian = 1 dinar 1/6 1/2 1 3 2 - . Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri. dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar. jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17. sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar. dua (2) orang nenek. sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian).menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. ('ashabah) Saudara perempuan seayah. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian).

yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar.a. kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian). Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Berikut ini tabelnya: 25 24 Istri Ibu Kedua anak perempuan 12 saudara kandung laki-laki 1 saudara kandung perempuan ('ashabah) 1/8 1/6 2/3 1 3 4 16 600 75 100 100 24 1 Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian). ibu." Kemudian Ali bin Abi Thalib r." Ali berkata.a. dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya. dua anak perempuan. ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian). "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri. Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang. 12 saudara kandung laki-laki. dua belas saudara kandung laki-laki. benar. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan. mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu. bagian Istri Ibu Kedua anak perempuan 3 4 16 x x x 600:24 dinar 600:24 dinar 600:24 dinar Total = = = = 75 dinar 100 dinar 400 dinar 575 dinar Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya. dua anak perempuan. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya. "Ya. Wallahu a'lam bish shawab. Jadi. dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Tetapi. dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah. Ali bin Abi Thalib bertanya. seseorang wafat meninggalkan istri. wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r. dan seorang saudara kandung perempuan.Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya. . yakni 25 dinar sebagai 'ashabah. Dengan demikian. ibu. dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab.

Maka ahli waris anak perempuan ini adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama (ayah). Sedangkan dari istri kedua mempunyai keturunan tiga anak perempuan. Makna yang pertama --yakni memindahkan/menukil-. misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'. nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilangkan bayang-bayang'. Misalnya. Kemudian. Tetapi dalam keadaan yang kedua (meninggalnya anak perempuan). Dari istri yang pertama mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Pada keadaan yang pertama (meninggalnya ayah).. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. maka seluruh harta waris yang ada hanya dibagikan kepada keempat anak yang tersisa. Kemudian salah seorang dari kelima anak itu ada yang meninggal. dalam kedua keadaan itu terdapat perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab kepada pewaris. Bila salah seorang ahli waris meninggal. atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. dalam hal ini pembagiannya akan berbeda. namun ada perbedaan dalam hal jauh-dekatnya nasab mereka terhadap pewaris. Misalnya. maka hak warisnya berpindah kepada ahli warisnya. Ketika sang suami meninggal.sesuai dengan firman Allah SWT berikut: ". dan cara pembagian warisnya pun tidak berbeda. Al-munasakhat mempunyai tiga macam keadaan: Keadaan pertama: sosok ahli waris yang kedua adalah mereka yang juga merupakan sosok ahli waris yang pertama. dan yang perempuan sebagai saudara kandung perempuan. seseorang mempunyai dua orang istri. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.IX. Definisi Munasakhat Al-munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan'. yakni dari . Karenanya di sini akan timbul suatu masalah yang oleh kalangan ulama faraid dikenal dengan sebutan al-jami'ah. Keadaan kedua: para ahli waris dari pewaris yang kedua adalah sosok ahli waris dari pewaris pertama. salah seorang anak perempuan itu meninggal sebelum harta waris peninggalan ayahnya dibagikan. berarti ia meningalkan dua orang istri dan empat anak (satu laki-laki dan tiga perempuan). anak laki-laki menduduki posisi sebagai anak. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (alBaqarah: 106) Adapun pengertian al-munasakhat menurut istilah ulama faraid ialah meninggalnya sebagian ahli waris sebelum pembagian harta waris sehingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya yang lain. Dalam kasus seperti ini masalahnya tidak berubah. anak laki-laki terhadap yang meninggal berarti merupakan saudara laki-laki seayah.." (alJatsiyah: 29) Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut: "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan. Jadi. dan mengharuskan kita untuk mengamalkan suatu cara yang disebut oleh kalangan ulama faraid sebagai masalah al-jami'ah. tetapi yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris kecuali saudaranya yang empat orang. HUKUM MUNASAKHAT A. sedangkan ia belum menerima hak warisnya (karena memang belum dibagikan). seolah-olah ahli waris yang meninggal itu tidak ada dari awalnya. Atau sebagian ahli warisnya termasuk sosok yang berhak untuk menerima waris dari dua arah. ada seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak. Namun. Keadaan ketiga: para ahli waris dari pewaris kedua bukan ahli waris dari pewaris pertama.

Berarti ia meninggalkan seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. kita lihat antara bagian pewaris kedua (yaitu 3) dengan pokok masalahnya (juga dari 3) ada kesamaan (tamatsul). al-jami'ah di sini sama dengan hasil pentashihan pada masalah yang pertama (yakni dari 36).ditambah dengan bagian yang berasal dari saudara kandung perempuan yang meninggal. Kemudian salah seorang saudara kandung perempuan itu meninggal.pewaris pertama dan dari pewaris kedua. Bila antara keduanya --yakni antara bagian pewaris yang kedua dan masalah ahli warisnya yang lain-. termasuk hak ahli waris yang meninggal. seseorang wafat dan meninggalkan tiga anak perempuan. pembagiannya seperti berikut: ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (24 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari tiga (3). yaitu almumatsalah. hak waris/bagian saudara kandung perempuan yang meninggal (3 bagian) hanya dibagikan kepada ahli waris. maka 3 x 4 = 12. Maka saudara laki-laki kandung memperoleh delapan (8) bagian. Kemudian. Kemudian. Membandingkan antara bagian pewaris kedua dalam masalah pertama. mereka mahjub. maka dibenarkan kedua masalah hanya dengan tashih yang pertama (lihat tabel). disebabkan kedudukannya hanyalah sebagai keponakan pewaris kedua. dan al-mubayanah. Sedangkan saudara kandung laki-laki mendapatkan dua (2) bagian. Ketiga anak perempuan mendapat 2/3 (2 bagian). Perbandingan antara keduanya itu dalam kecenderungannya terhadap ketiga nisbat. sebab pembagian bagi tiap-tiap ahli waris yang ada berbeda dan berlainan. Merinci masalah baru. Dalam hal seperti ini kita juga harus melakukan teori aljama'iyah. yaitu satu (1) bagian (3 + 1 = 4). 2. dan sisanya (12 bagian) dibagikan untuk dua orang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. dan seorang saudara kandung laki-laki. yaitu enam (6) bagian. Kemudian angka ini kita kaLikan dengan pokok masalahnya. Jadi. Kemudian. dengan pentashihan masalah dan para ahli warisnya dalam masalah kedua.ada mumatsalah (kesamaan). dan saudara lakilaki kandung enam (6) bagian. Maka. Sebagai contoh. dua saudara kandung perempuan. jadi setiap saudara kandung perempuan mendapat tiga (3) bagian. khususnya yang berkenaan dengan kematian pewaris kedua. Dan sisanya (satu bagian) merupakan hak para 'ashabah (yakni dua saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki). yaitu seorang saudara kandung perempuan dan seorang saudara kandung laki-laki. Karena itu. Rincian Amaliah al-Munasakhat Sebelum kita melakukan rincian tentang amaliah al-munasakhat. yakni anak perempuan dari saudara laki-laki pewaris kedua. berarti 3 x 12 = 36. Kemudian kita lihat jumlah per kepalanya ada tabayun (perbedaan). al-muwafaqah. Mentashihkan masalah pewaris yang pertama dengan memberikan hak waris kepada setiap ahlinya. Berikut ini saya sertakan tabelnya: . dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Adapun tiga anak perempuan pewaris pertama. hasil pembagian itu ditambahkan pada hasil bagian mereka yang pertama. Karena itu. yang kemudian ditambahkan dengan perolehannya dari peninggalan pada masalah pertama. kita terlebih dahulu harus melakokan langkah-langkah berikut: 1. dalam masalah kedua ini tidak mendapatkan hak waris. Bilangan inilah yang kemudian menjadi pokok masalah hasil pentashihan. tanpa mempedulikan masalah pertama. bagian saudara kandung perempuan menjadi empat (4): tiga (3) bagian --yang diperolehnya dari masalah pertama-. B.

dan saudara laki-laki seibu. kandung lk. Sdr. Jumlah semuanya adalah dua puluh empat (24) bagian. Ayah mendapatkan seperenam (1/6) berarti dua bagian. Jumlahnya lima belas (15) bagian. Suami mendapatkan seperempat (1/4) berarti tiga bagian. Kemudian dua anak perempuan mendapatkan dua per tiga (2/3) berarti delapan (8) bagian. tiga anak perempuan. tetapi cukup menjadikan aljami'ah yang pertama itu berlaku pada masalah kedua. Istri mendapatkan 1/4 (3 bagian). Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua belas (12) kemudian di-'aul-kan menjadi lima belas (15). cucu perempuan keturunan anak laki-laki 1/2 (12 bagian). sedangkan sisanya (lima bagian) merupakan bagian ayah sebagai jumlah 'ashabah. begitu juga dengan bagian ibu yakni seperenam (1/6). Kemudian suami wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. Sdr. kandung pr. Kemudian cucu tersebut meninggal dengan meninggalkan suami. Hal ini karena kita dapati bagian pewaris kedua (cucu perempuan keturunan anak laki-laki) dalam masalah pertama ada tamatsul (kesamaan) dengan pokok masalah yang kedua. ibu 1/6 (4 bagian). seseorang wafat dan meninggalkan istri. ibu. ayah. dan dua anak laki-laki. kita tidak lagi membuat al-jami'ah yang baru.Jumlah kepala 12 3 anak pr. Sedangkan pokok masalah yang kedua dari dua belas (12) yang di-'aul-kan menjadi tiga belas (13). kita lihat al-jami'ah dalam masalah ini sama dengan pokok masalah pertama. Tashih masalah ke I 3 2 3 1 6 36 24 3 meninggal Sdr. kandung pr. cucu perempuan keturunan anak lakilaki. kandung pr. ibu. kaidah yang berlaku di kalangan ulama faraid adalah kita menjadikan pokok masalah pertama sebagai al-jami'ah. . yang berarti bagian pewaris kedua hanya dibagikan kepada ahli warisnya. 3 1 2 al-Jami'ah 36 24 3+1=4 6+2=8 Contoh lain. keturunan anak lk. yaitu dua puluh empat (24). Maka pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). 1/2 Suami 1/4 3 4 5 12 3 meninggal Pokok Masalah II 12 al-Jami'ah 24 3 4 5 3 Contoh yang memiliki kasus al-mubayanah: seseorang wafat dan meninggalkan suami. 2/3 Sdr. ayah. ibu. istri. dan dua anak perempuan. Kemudian. Dalam keadaan demikian. ibu. Berikut ini tabelnya: Pokok Masalah I 24 Istri 1/8 Ibu 1/6 Ayah ('ashabah) Cucu pr. Sdr. berarti dua bagian. Oleh sebab itu. kandung lk.

Juz'us sahm ini kemudian kita kalikan dengan bagian tiap-tiap ahli waris yang ada. takni kita tempatkan tashih kedua pada posisi pertama. Misalnya. Kemudian anak perempuan juga meninggal. saudara perempuan seibu. dan ibu. Maka angka 39 ini merupakan jumlah bagian seluruh ahli waris dalam masalah kedua. Kemudian suami wafat dan meninggalkan anak perempuan. Maka hasil dari perkalian itu (yakni 15 x 13 = 195) merupakan al-jami'ah (penyatuan) antara dua masalah. ayah. yang mendapat tiga bagian) di atas pokok masalah kedua. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. kita lihat hasil perkaliannya: perkalian antara juz'us sahm yaitu tiga (3) dengan pokok masalahnya setelah di-'aul-kan. dan ini merupakan juz'us sahm (bagian dari bagian hak waris). Misalnya. dua saudara kandung perempuan. Dan hasilnya dinamakan al-jami'ah kedua. dan meninggalkan nenek. dalam suatu keadaan pembagian waris salah seorang ahli warisnya wafat sebelum pembagian. kemudian ada lagi yang meninggal. antara masalah yang pertama dengan masalah yang kedua ada mubayanah (perbedaan). Kandung perempuan (2/3) Ibu 1/6 Istri 1/4 Sdr. dan seterusnya. Perhatikan tabel berikut: 2 6 1 6 7 12 6 3 7 8 84 13 15 3 2 2 8 12 meninggal 3 13 6 2 3 2 39 26 26 104 18 6 9 6 . Lalu kita tempatkan bagian pewaris yang kedua (suami. laki-laki seibu 1/6 Catatan Kemungkinan besar dapat pula terjadi adanya al-jami'ah lebih dari satu. dan paman kandung (saudara ayah). maka akan merupakan hasil bagian ahli waris dari al-jami'ah (penyatuan dari dua masalah). karenanya kita kalikan pokok masalah pertama (yakni 15) dengan pokok masalah yang kedua (yakni 13). berarti 3 x 13 = 39. kita tetap harus menempuh cara seperti yang telah kita tempuh dalam al-munasakhat. aljami'ah ketiga. dan seterusnya. Maka jika terjadi hal seperti ini.Kemudian. dan seterusnya. dan tashih ketiga pada posisi kedua. Lihat tabel berikut: 12 Suami 1/4 Ayah 1/6 Ibu 1/6 2 anakperempuan (2/3) Sdr. Untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah kedua ini. seseorang wafat meninggalkan suami. Untuk menjelaskan hal ini perlu kiranya saya kemukakan contoh tentang bentuk al-jami'ah yang lebih dari satu ini. dan dua saudara laki-laki seibu.

Hal ini dalam syariat Islam dibenarkan dan diperbolehkan. Jumlah yang diambilnya --sebagaimana disebutkan dalam riwayat-. Diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf r. Tata Cara Pelaksanaannya Apabila salah seorang ahli waris ada yang menyatakan mengundurkan diri.ialah seratus ribu dirham. At-Takharuj min at-Tarikah Yang dimaksud dengan at-takharuj min at-tarikah ialah pengunduran diri seorang ahli waris dari hak yang dimilikinya untuk mendapatkan bagian (secara syar'i). menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil hak waris sekadar seperempat dari seperdelapan yang menjadi haknya. Cara pertama: kenalilah pokok masalahnya. kemudian keluarkanlah bagian ahli waris yang mengundurkan diri. maka ada dua cara yang dapat menjadi pilihannya. kandung pr.Suami 1/2 Sdr. . adalah seorang sahabat yang mempunyai empat orang istri. ia menyatakannya kepada seluruh ahli waris yang ada. sehingga seolah-olah ia telah menerima bagiannya. ia hanya memberitahukannya kepada salah seorang dari ahli waris yang ditunjuknya dan bersepakat bersama. Pertama. Ketika ia wafat. dan sisanya dibagikan kepada ahli waris yang ada. seibu 1/6 Paman ('ashabah) Anak perempuan 1/2 Cucu pr. 1/6 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Nenek 1/6 2 sdr. atau siapa saja yang ditunjuknya. Kasus seperti ini di kalangan ulama faraid dikenal dengan istilah "pengunduran diri" atau "menggugurkan diri dari hak warisnya". Dalam hal ini dia hanya meminta imbalan berupa sejumlah uang atau barang tertentu dari salah seorang ahli waris lainnya ataupun dari harta peninggalan yang ada. dan cara kedua. lk. Numadhir binti al-Asbagh. saudara seibu 1/3 3 1 2 meninggal 2 4 3 1 1 1 3 1 1 1 meninggal 14 28 1 4 2 7 7 7 3 12 6 C. Maka jumlah sisa bagian yang ada itulah pokok masalahnya. salah seorang istrinya.pr. atau menyatakan hanya akan mengambil sebagian saja dari hak warisnya. Syariat Islam juga memperbolehkan apabila salah seorang ahli waris menyatakan diri tidak akan mengambil hak warisnya. 2/3 2 sdr.a. dan bagian itu diberikan kepada ahli waris yang lain.

000. dengan imbalan sesuatu yang telah disepakati oleh keduanya. dan setelah ditashih menjadi empat puluh.000 Bagian ayah 9 x 2. Kemudian dari pokok masalah itu dibagikan untuk hak ayah dan anak perempuan. Kemudian dikembangkan menjadi 'kerabat'.000. maka warisan harta tersebut hanya dibagikan kepada anak perempuan dan ayah. seseorang wafat dan meninggalkan seorang isteri.000 Cara kedua: apabila salah seorang ahli waris menyerahkan atau menggugurkan hakuya lalu memberikannya kepada salah seorang ahli waris lainnya. Kemudian sebagai misal. Perhatikan tabel berikut: Pokok masalah 8 Isteri 1/8 Anak laki laki ('ashabah) Anak laki laki ('ashabah) Anak perempuan ('ashabah) 7 1 Tashih 40 5 14 14 7 40 5 14 14+14 - Maka. hasilnya seperti berikut: Nilai per bagian adalah 42. seseorang wafat dan meninggalkan ayah.000 = 18. berarti tiga (3) saham. seorang anak perempuan.3 = 21) merupakan pokok masalah bagi hak ayah dan anak perempuan. hak anak perempuan itu diberikan kepada salah seorang saudara laki-lakinya yang ia tunjuk sebelumnya.000 = 24.Sebagai contoh. Maka. Lalu jumlah bagian kedua ahli waris itulah yang menjadi pokok masalahnya. dan dua anak laki-laki. dan istri. HAK WARIS DZAWIL ARHAM A. Dalam keadaan demikian.000: 21 = 2. Dengan demikian.000 + 18.000.000 Bagian anak perempuan adalah 12 x 2. yakni seperdelapan dari dua puluh empat. pokok masalahnya dari delapan.000 Total = 24. yang asalnya dalam bahasa Arab berarti 'tempat pembentukan/menyimpan janin dalam perut ibu'. Istri mendapat seperdelapan (1/8) berarti lima (5) bagian. warisan itu hanya dibagikan kepada istri dan kedua anak laki-laki.000. dan menggugurkan haknya untuk menerima bagian dari harta yang berjumlah Rp 42 juta itu.000.000. Lalu sisanya (yakni 24 . maka pembagiannya hanya dengan cara melimpahkan bagian hak ahli waris yang mengundurkan diri itu kepada bagian orang yang diberi. sedangkan bagian anak perempuan dilimpahkan kepada salah seorang saudara laki-laki yang diberinya hak bagian. Pengertian ini tentu saja disandarkan karena adanya . anak perempuan.adalah bagian anak perempuan. pewaris meninggalkan sebuah rumah.000 = 42. Definisi Dzawil Arham Arham adalah bentuk jamak dari kata rahmun. dan bagian setiap anak laki-laki empat belas (14) bagian. Misalnya.000. X.000. dan sisanya --yakni tujuh bagian-. Rincian pembagiannya seperti berikut: Pokok masalahnya dari dua puluh empat (24). Kemudian. baik datangnya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. dan uang sebanyak Rp 42 juta.000. Kemudian anak perempuan itu menggugurkan haknya dan memberikannya kepada salah seorang dari saudara laki-lakinya. kemudian kita hilangkan (ambil) hak istri. Kemudian istri menyatakan bahwa dirinya hanya akan mengambil rumah.

Jadi. Hal seperti ini menurut syariat Islam adalah batil. maka seketika itu dilimpahkan kepada baitulmal kaum muslim untuk disalurkan demi kepentingan masyarakat Islam pada umumnya. cucu laki-laki dari anak perempuan. dan (peliharalah) hubungan silaturahim. dzawil arham adalah mereka yang bukan termasuk ashhabul furudh dan bukan pula 'ashabah. maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi (HR Bukhari. Kedua: golongan kedua ini berpendapat bahwa dzawil arham (kerabat) berhak mendapat waris. Maksudnya. dan Ali bin Abi Thalib. dan Ibnu Abbas r. bila kita memberikan hak waris kepada mereka (dzawil arham) berarti kita memberikan hak waris tanpa dilandasi dalil pasti dan kuat. Pendapat ini merupakan jumhur ulama.. yaitu Malik dan Syafi'i rahimahumullah. Dengan demikian. Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama: golongan ini berpendapat bahwa dzawil arham atau para kerabat tidak berhak mendapat waris. Ibnu Mas'ud. Misalnya.rahim yang menyatukan asal mereka. keponakan laki-laki dari saudara perempuan. sama halnya dengan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. dan sebagainya. baik dalam bahasa Arab ataupun dalam istilah syariat Islam. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah. bibi (saudara perempuan ayah atau ibu). dzawil arham adalah ahli waris yang mempunyai tali kekerabatan dengan pewaris. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain.. dalam sebagian riwayat darinya. " (an-Nisa': 1) "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22) Rasulullah saw. .a. Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh Imam Malik dan Syafi'i (golongan pertama) ialah: 1. bersabda: "Barangsiapa yang berkehendak untuk dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya. paman (saudara laki-laki ibu). dan bukan pula termasuk dari para 'ashabah. baik dalam Al-Qur'an ataupun Sunnah. bila tidak ada ashhabul furudh.. Pendapat Beberapa Imam tentang Dzawil Arham Para imam mujtahid berbeda pendapat dalam masalah hak waris dzawil arham. di antaranya Umar bin Khathab. Lebih jauh golongan kedua ini mengatakan bahwa dzawil arham adalah lebih berhak untuk menerima harta waris dibandingkan lainnya. ataupun 'ashabah yang menerima harta pewaris. namun mereka tidak mewarisinya secara ashhabul furudh dan tidak pula secara 'ashabah.a. Karena itu mereka lebih diutamakan untuk menerima harta tersebut daripada baitulmal. B. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa bila harta waris tidak ada ashhabul furudh atau 'ashabah yang mengambilnya. tidak dibenarkan jika harta tersebut diberikan kepada dzawil arham. Asal pemberian hak waris atau asal penerimaan hak waris adalah dengan adanya nash syar'i dan qath'i dari Al-Qur'an atau Sunnah. Di antara mereka yang berpendapat demikian ialah Zaid bin Tsabit r. dan juga merupakan pendapat dua imam. dan lainnya) Adapun lafazh dzawil arham yang dimaksud dalam istilah fuqaha adalah kerabat pewaris yang tidak mempunyai bagian/hak waris yang tertentu. Jadi. Dan dalam hal ini tidak ada satu pun nash yang pasti dan kuat yang menyatakan wajibnya dzawil arham untuk mendapat waris. Muslim. Dengan demikian. sebab mereka memiliki kekerabatan dengan pewaris. lafazh rahim tersebut umum digunakan dengan makna 'kerabat'. Allah berfirman: ".

Dalil Al-Qur'an yang dimaksud ialah: "." (an-Nisa': 7) Melalui ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki dan wanita mempunyai hak untuk . mereka mendasari pendapatnya itu dengan AlQur'an.. Sebab. maka kegunaan dan faedahnya akan sangat minim. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. maka berikanlah harta waris itu kepada kerabatnya dan janganlah mendahulukan yang lain. Harta peninggalan. Bila pewaris mempunyai kerabat dan kebetulan ia meninggalkan harta waris. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Hal demikian dalam dunia fiqih dikenal dengan istilah tarjih bilaa murajjih yang berarti batil. menyatakan bahwa dzawil arham atau para kerabat berhak mendapatkan waris." (al-Anfal: 75) Makna yang mendasar dari dalil ini ialah bahwa Allah SWT telah menyatakan atau bahkan menegaskan dalam Kitab-Nya bahwa para kerabat lebih berhak untuk mendapatkan atau menerima hak waris daripada yang lain. serta selain keduanya. lafazh arham yang berarti kerabat adalah umum. sebab umat Islam akan ikut merasakan faedah dan kegunaannya. 3. Di sini.bila diserahkan ke baitulmal akan dapat mewujudkan kemaslahatan umum. atas dasar inilah maka para kerabat pewaris lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang baitulmal. makna kata itu mencakup kerabat yang mempunyai hubungan rahim atau lebih umumnya hubungan darah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. As-Sunnah. sedangkan bibi tidak mendapatkannya. dan logika. Atas dasar inilah maka baitulmal lebih diutamakan untuk menyimpan harta waris yang tidak ada ashhabul furudh dan 'ashabahnya ketimbang para kerabat. tidak memberikan hak waris kepada para bibi. tidak mungkin dan tidak dibenarkan bila kita memberikan hak waris kepada kerabat lain. kerabat lain pun demikian. ketika ditanya tentang hak waris bibi --baik dari garis ayah maupun dari ibu-. para 'ashabah. bila ternyata tidak ada ahli warisnya secara sah dan benar --baik dari ashhabul furudh-nya ataupun para 'ashabahnya-. Dengan dasar ini dapat dipetik pengertian bahwa karena Rasulullah saw. dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dan harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. yakni Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. bila diserahkan kepada kerabatnya. menjawab: "Sesungguhnya Jibril telah memberitahukan kepadaku bahwa dari keduanya tidak ada hak menerima waris sedikit pun." Memang sangat jelas betapa dekatnya kekerabatan saudara perempuan ayah ataupun saudara perempuan ibu dibandingkan kerabat lainnya.. Pendek kata.merekalah yang lebih berhak untuk menerima hak waris ketimbang yang bukan kerabat. baik ashhabul furudh. Hal ini juga berdasarkan firman-Nya yang lain: "Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya. Namun sebaliknya. dan hanya kalangan mereka saja yang merasakannya. Maka jika keduanya tidak berhak untuk menerima harta waris. para ''ashabah. Padahal dalam kaidah ushul fiqih telah ditegaskan bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan daripada kemaslahatan pribadi.2. atau selain dari keduanya-.beliau saw. Adapun golongan kedua. Ayat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa yang disebut kerabat --siapa pun mereka. termasuk ashhabul furudh. Jadi. maka tidak pula kepada kerabat yang lain. Rasulullah saw.

Umar menanggapi masalah itu dan memerintahkan kepada Abu Ubaidah untuk memberikan harta peninggalan Sahal kepada pamannya. Permasalahan ini sama seperti dalam kasus adanya saudara kandung laki-laki dengan saudara laki-laki seayah dalam suatu keadaan pembagian harta waris. pada masa itu kaum muslimin saling mewarisi disebabkan menolong dan hijrah. untuk memberikan kepada paman Sahal tersebut. Dan hal ini terbukti seperti yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab tarikh. yakni saudara laki-laki ibunya. sedangkan saudara . ikatan dari dua arah sudah barang tentu akan lebih kuat dibandingkan ikatan satu arah. bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mengajukan persoalan kepada Umar." Atsar ini --yang di dalamnya Umar al-Faruq memberitakan sabda Rasulullah saw. Umar bin Khathab r. dan kami tidak mengetahui kerabatnya. Sebab. yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundir. maka Rasulullah saw.a. Berbeda halnya dengan seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris. Dalam suatu atsar diriwayatkan dari Umar bin Khathab r. karena ikatan antara baitulmal dan pewaris hanya dari satu arah. dalam hal ini ia mempunyai dua ikatan: ikatan Islam dan ikatan rahim. Adapun dalil dari Sunnah Nabawiyah adalah seperti yang diberitakan dalam sebuah riwayat masyhur. akan hak waris kepada dzawil arham menunjukkan dengan tegas dan pasti bahwa para kerabat berhak menerima harta waris bila ternyata pewaris tidak mempunyai ashhabul furudh yang berhak untuk menerimanya atau para 'ashabah. Abu Ubaidah menceritakan bahwa Sahal bin Hunaif telah meninggal karena terkena anak panah yang dilepaskan seseorang. Keponakan laki-laki dari anak saudara perempuan tidak lain hanyalah merupakan kerabat.menerima warisan yang ditinggalkan kerabatnya. Oleh sebab itu. Dengan turunnya ayat ini. Kalaulah baitulmal lebih berhak untuk menampung harta peninggalan pewaris yang tidak mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh dan 'ashabah-nya. kecuali hanya anak laki-laki dari saudara perempuannya.a. "Apakah engkau mengetahui nasab orang ini?" Qais menjawab. Dengan demikian. yang bukan dari ashhabul furudh dan bukan pula termasuk 'ashabah. Dengan pemberian Rasulullah saw. maka yang dapat saling mewarisi hanyalah antara sesama kerabat (dzawil arham). Karena sesungguhnya aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw. Alasannya. Kemudian sebagaimana dinyatakan oleh mayoritas ulama bahwa ayat di atas me-mansukh (menghapus) kebiasaan pada awal munculnya Islam. dari ayah dan dari ibu. yaitu ikatan Islam --karena pewaris seorang muslim. dalam riwayat ini dikisahkan. mereka (dzawil arham) berhak untuk menerima warisan. ikatannya dari dua arah. maka Umar bin Khathab pasti tidak akan memerintahkan kepada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah r. Sebab. Kemudian Rasul pun memberikan harta warisan peninggalan Tsabit kepada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir. yang dalam hal ini seluruh harta waris menjadi hak saudara kandung laki-laki. Ketika Tsabit bin ad-Dahjah meninggal dunia. "Yang kami ketahui orang itu dikenal sebagai asing nasabnya. Seperti yang disepakati oleh jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan dzawil arham adalah para kerabat. Adapun dalil logikanya seperti berikut: sesungguhnya para kerabat jauh lebih berhak untuk menerima harta warisan daripada baitulmal. bertanya kepada Qais bin Ashim.--. Oleh karena itu. bersabda: "(Saudara laki-laki ibu) berhak menerima waris bagi mayit yang tidak mempunyai keturunan atau kerabat yang berhak untuk menerimanya. Sedangkan Sahal tidak mempunyai kerabat kecuali hanya paman.merupakan dalil yang kuat bahwa kerabat lebih berhak menerima harta waris peninggalan pewaris ketimbang baitulmal. para kerabatlah yang paling berhak untuk menerima harta peninggalan seorang pewaris.a adalah seorang khalifah Islam yang dikenal sangat mengu tamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. baik sedikit ataupun banyak.

Dengan demikian. Sebagai contoh. Di samping itu. adil. .jawaban Rasulullah saw. ahlur-rahmi menyatakan bahwa semua kerabat berhak mendapat waris secara rata. Hal ini dapat terlihat tentunya dengan melihat dan mempertimbangkan kemaslahatan yang ada. adil dalam memberi kepada setiap yang berhak. bibi (saudara perempuan ayah). para ulama dari mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i mutakhir memberikan fatwa dengan mendahulukan para kerabat ketimbang baitulmal. Cara Pembagian Waris Para Kerabat Di antara fuqaha terjadi perbedaan pendapat mengenai tata cara memberikan hak waris kepada para kerabat." Melihat kenyataan demikian. seseorang wafat dan meninggalkan seorang cucu perempuan keturunan anak perempuan. Inilah usaha untuk menyatukan dua hadits yang sepintas bertentangan. dan imam mujtahidin. tanpa membedakan jauh-dekatnya kekerabatan. Di samping dalil yang mereka kemukakan lebih kuat dan akurat. Maka muncul pertanyaan. seorang keponakan perempuan dari saudara perempuan. dari mulai akhir abad ketiga Hijriah hingga masa kita dewasa ini. bibi (saudara perempuan ibu). baitulmal harus terjamin pengelolaannya. tabi'in. 1. tanpa melebihkan atau mengurangi salah seorang dari ahli waris yang ada. dapat kita katakan bahwa kedua kelompok ulama tersebut pada akhirnya bersepakat untuk lebih mengutamakan pemberian harta waris kepada kerabat ketimbang baitulmal. dan tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan. persatuan dan kesatuan muslimin. Tidak ada jawaban lain untuk pertanyaan seperti itu kecuali: "telah lama tiada". mungkin juga bahwa bibi (baik dari ayah atau ibu) tidak berhak mendapat waris ketika berbarengan dengan ashhabul furudh atau para 'ashabah. dan keponakan laki-laki keturunan saudara laki-laki seibu. Misalnya. Menurut Ahlur-Rahmi Mengenai cara pembagian hak waris para kerabat. Maka dalam hal ini mereka mendapatkan bagian waris secara rata. dan amanah. C. Atau. kelompok kedua (jumhur ulama) ini menyanggah dalil yang dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i bahwa hadits itu kemungkinannya ada sebelum turunnya ayat di atas. Setelah membandingkan kedua pendapat itu. namun kesemuanya tidak mempunyai imam.seayah hanya dari ayah. kemudian membagi-baginya menjadi negeri dan wilayah yang tidak memiliki kekuatan. ketika pengelolaan baitulmal tidak lagi teratur sehingga terjadi penyalahgunaan. dimanakah adanya baitulmal yang demikian. dan tepat guna dalam menyalurkan harta baitulmal. sementara di sisi lain mereka mensyaratkan keberadaan baitulmal dengan persyaratan khusus. karena memang merupakan pendapat mayoritas sahabat. yang jelas --jika melihat konteks hadits yang pernah dikemukakan-. tentang hak waris bibi ketika itu disebabkan ada ashhabul furudh atau ada 'ashabah-nya. kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat jumhur ulama (kelompok kedua) lebih rajih (kuat dan akurat). Di antaranya. juga tampak lebih adil apalagi jika dihubungkan dengan kondisi kehidupan dewasa ini. Terlebih lagi pada masa kita sekarang ini. khususnya setelah abad ketiga Hijriah. ketika musuh-musuh Islam berhasil memutus kelangsungan hidup khilafah Islam dengan memporakporandakan barisan. Jadi. khususnya pada masa kita sekarang ini. dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok pendapat. kelompok pertama berpendapat lebih mengutamakan baitulmal ketimbang kerabat. Sungguh tepat apa yang digambarkan seorang penyair dalam sebuah bait syairnya: "Setiap jamaah di kalangan kita mempunyai iman.

Mazhab ini dikenal dengan sebutan ahlur-rahmi disebabkan orang-orang yang menganut pendapat ini tidak mau membedakan antara satu ahli waris dengan ahli waris yang lain dalam hal pembagian. Adapun yang dijadikan dalil oleh mazhab ahlut-tanzil ini ialah riwayat yang marfu' (sampai sanadnya) kepada Rasulullah saw. Mereka tidak memperhitungkan ahli waris yang ada (yang masih hidup). dan sepupu perempuan keturunan paman kandung (saudara laki-laki seayah). Dengan demikian. seibu paman kand. kandung pr. 1/6. Seseorang wafat dan meninggalkan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. 1/2. keponakan perempuan keturunan saudara perempuan seayah. Maka keadaan ini dapat dikategorikan sama dengan meninggalkan anak perempuan. Karenanya tidak ada satu pun dari ulama atau para imam mujtahid vang mengakuinya apalagi mengikuti pendapat ini dengan alasan telah sangat nyata bertentangan dengan kaidah syar'iyah yang masyhur dalam disiplin ilmu mawarits. saudara kandung perempuan. dan sepupu perempuan anak dari paman kandung juga mendapatkan seperenam (1/6) bagian sebagai 'ashabah. karena itu ia mendapatkan sisanya. pembagiannya seperti berikut: anak perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. sedangkan saudara lakilaki seayah tidak mendapat bagian (mahjub) disebabkan saudara kandung perempuan di sini sebagai 'ashabah. yakni pokoknya.. Maka pembagiannya seperti berikut: keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan mendapatkan setengah (1/2) bagian.maka beliau memberi bibi (dari pihak ayah) dengan dua per tiga (2/3) bagian. dan keponakan perempuan keturunan saudara laki-laki seayah. 3/6. 1/2. Untuk memperjelas pemahaman tentang mazhab ini perlu saya kemukakan contoh-contoh seperti berikut: 1. 2. saudara perempuan seayah. seayah 1/6. Bila seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak perempuan. Inilah gambarannya: Anak kandung pr. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu mendapatkan seperenam (1/6) bagian secara fardh. saudara kandung perempuan mendapat setengah (1/2) bagian. kand. Oleh karena itu. Menurut Ahlut-Tanzil Golongan ini disebut ahlut-tanzil dikarenakan mereka mendudukkan keturunan ahli waris pada kedudukan pokok (induk) ahli waris asalnya. 2. sdr. pr. keponakan perempuan keturunan dari saudara perempuan seayah mendapat seperenam (1/6) sebagai penyempurna dua per tiga (2/3). yakni dengan melihat kepada yang lebih dekat derajat kekerabatannya kepada pewaris. 1/6 Begitulah cara pembagiannya. mereka akan membagikan hak ahli waris yang ada sesuai dengan bagian ahli waris yang lebih dekat. dan saudara laki-laki seayah. Mazhab ini tidak masyhur. Ketika beliau memberi hak waris kepada seorang bibi (saudara perempuan ayah) dan bibi (saudara perempuan ibu) kebetulan saat itu tidak ada ahli waris lainnya-. laki-laki seayah mahjub. dan sepertiga lagi diberikannya . Pr. saudara perempuan seibu. mereka juga tidak menganggap kuat serta lemahnya kekerabatan seseorang. bahkan dhaif dan tertolak. tetapi melihat pada yang lebih dekat dari ashhabul furudh dan para 'ashabahnya. keponakan laki-laki keturunan saudara kandung perempuan. sdr. Hal demikian dikarenakan sama saja dengan pewaris meninggalkan saudara kandung perempuan. Sdr. keponakan laki-laki keturunan saudara perempuan seibu. pr. juga merupakan pendapat para ulama mutakhir dari kalangan Maliki dan Syafi'i. Inilah gambarnya: Sdr. dan paman kandung. Inilah pendapat mazhab Imam Ahmad bin Hambal. Yang menjadi landasan mereka ialah bahwa seluruh ahli waris menyatu haknya karena adanya ikatan kekerabatan. Sdr.

sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengenali dan menuntaskan masalah ini kecuali dengan mengembalikan atau menisbatkannya kepada pokok ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya kepada pewaris. Keempat golongan tersebut adalah: 1. Di samping itu. adalah bahwa memberikan hak waris kepada dzawil arham tidak dibenarkan kecuali dengan berlandaskan pada nash-nash umum --yang justru tidak memberikan rincian mengenai besarnya bagian mereka masing-masing dan tidak ada pentarjihan secara jelas. pelaksanaannya tetap mengikuti kaidah umum pembagian waris: bagian laki-laki adalah dua kali bagian wanita. Yang bernisbat kepada pewaris sebagai berikut: a. 3. Orang-orang yang dinisbati kekerabatan oleh pewaris. Hal ini. Orang-orang (ahli waris) yang bernisbat kepada pewaris. Sebab. Lebih jauh akan dijelaskan hak masing-masing golongan dan cabang tersebut akan hak warisnya. Orang-orang yang bernisbat kepada kedua kakek pewaris atau kedua nenek pewaris. dalam hal melaksanakan pembagian waris untuk dzawil arham mazhab ini membaginya secara kelompok. Buyut laki-laki dari keturunan cucu perempuan dan keturunan anak laki-laki. berarti yang paling berhak di antara mereka (para 'ashabah) adalah yang paling dekat kepada pewaris dari segi dekat dan kuatnya kekerabatan. Sebagaimana telah diungkapkan. Maka. juga berlandaskan fatwa Ibnu Mas'ud r. . Orang-orang yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris. dan seterusnya. menurut mereka. Yang dinisbati oleh pewaris: a. dan keponakan perempuan keturunan saudara kandung perempuan. dengan mengembalikan kepada pokoknya --karena memang lebih mendekatkan posisinya kepada pewaris-.kepada bibi (dari pihak ibu). dan keputusan yang dilakukan Ibnu Mas'ud menunjukkan betapa kuatnya pendapat mereka.jauh lebih utama dan bahkan lebih berhak. Adapun dalih orang-orang yang memperkuat mazhab kedua ini. baik laki-laki ataupun perempuan. Selain itu.a. mazhab ketiga ini telah mengelompokkan dan membagi dzawil arham menjadi empat golongan. baik laki-laki ataupun perempuan. Oleh karena itu. Menurut Ahlul Qarabah Adapun mazhab ketiga menyatakan bahwa hak waris para dzawil arham ditentukan dengan melihat derajat kekerabatan mereka kepada pewaris. kemudian menjadikan masing-masing golongan mempunyai cabang dan keadaannya. Mazhab ini merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib r. ketika ia menerima pengaduan tentang pembagian waris seseorang yang wafat dan meninggalkan cucu perempuan keturunan anak wanita. rincian besarnya bagian ashhabul furudh dan para 'ashabah telah dijelaskan. Cucu laki-laki keturunan anak perempuan. yang tampak sangat logis. 2. b. kemudian barulah yang lebih kuat di antara kerabat yang ada. Maka Ibnu Mas'ud memberikan setengah bagian untuk cucu perempuan dan setengah bagian lainnya untuk keponakan perempuan. Selain itu. dan seterusnya. dilakukan dengan mengqiyaskannya pada hak para 'ashabah.a. ayah dari ayahnya ibu (kakek dari ibu). Kakek yang bukan sahih. yaitu melihat siapa yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan pewaris. dan diikuti oleh para ulama mazhab Hanafi. dan seterusnya seperti ayah dari ibu. Dalam prakteknya sama seperti membagi hak waris para 'ashabah. Lebih jauh mazhab ini menyatakan bahwa hadits Rasulullah saw.

dan juga paman nenek. Bila mereka tidak ada.dari kakek dan nenek. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan di atas (Butir e) dan seterusnya. ibu dari ibu ayahnya ibu. yang pertama kali berhak menerima waris adalah keturunan pewaris (anak. atau seayah. seayah. Dasar yang dianggap oleh ahlut-tanzil dalam mendahulukan satu dari yang lain adalah "dekatnya keturunan" dengan sang ahli waris shahibul fardh atau 'ashabah. Keturunan dari saudara laki-laki seibu dan seterusnya. Juga semua pamannya dan bibinya (paman dan bibi dari ayah). Dengan demikian. Jika tidak ada juga. dan seterusnya. seayah.dengan mengqiyas pada jalur 'ashabah. menurut ahlul qarabah. ternyata kita menemukan beberapa perbedaan yang jelas antara mazhab ahlut-tanzil dengan ahlul qarabah: 1. dan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita sebagaimana yang berlaku pula dalam kalangan ahlul 'ashabah. Yang bernisbat kepada kedua orang tua pewaris: a. Yang bernisbat kepada kedua kakek atau nenek dari pihak ayah ataupun ibu: a. b. keturunan dari pamannya (saudara laki-laki ibu). dan tidak pula mendahulukan antara satu dari yang lain. Juga pamannya (saudara ayah) yang seibu (mencakup semua paman dan bibi dari ibu. Kemudian paman dan bibi --baik dari ayah maupun ibu-. Keturunan dari bibi (saudara perempuan ayah). maka barulah keturunan paman (dari pihak ayah dan ibu). Bila mereka tidak ada. keturunan bibinya (saudara perempuan ibu). 2. keturunan paman (saudara laki-laki ayah) yang seibu. baik yang kandung maupun yang seayah). baik keturunan lakilaki ataupun perempuan. Bibi dari ayah pewaris. Cara Pembagian Waris Menurut Ahlul Qarabah Telah saya kemukakan bahwa ahlul qarabah ini mengelompokkan dan memberikan urutan --dalam pembagian hak waris-. atau yang seayah. dan seterusnya. b.b. dan seterusnya seperti ibu dari ayahnya ibu. Sedangkan ahlul qarabah menyusun secara berurutan dan mendahulukan satu dari yang lain sebagai analogi dari 'ashabah bi nafsihi. dan paman (saudara ayah) ibu. Bibi (saudara perempuan ayah) pewaris. Kemudian paman (saudara laki-laki ibu) pewaris. dan seterusnya). dan seterusnya. maka barulah keturunan saudara laki-laki (keponakan). Keturunan saudara kandung perempuan. misalnya keturunan laki-laki dan perempuan dari bibi sang ayah. Itulah keenam kelompok yang bernisbat kepada kedua kakek dan kedua nenek pewaris. atau seibu. Ahlut-tanzil tidak menyusun secara berurutan kelompok per kelompok. Seluruh keturunan kelompok yang saya sebutkan itu dan seterusnya.. Sedangkan oleh ahlul qarabah yang dijadikan anggapan ialah "dekatnya dengan kekerabatan". Perbedaan antara Ahlut-tanzil dengan Ahlul Qarabah Dari uraian-uraian sebelumnya. dan bibi (saudara perempuan ibu). baik yang kandung. Keturunan perempuan dari saudara kandung laki-laki. Nenek yang bukan sahih. cucu. ataupun seibu. Jika tidak ada. Paman kakak yang seibu. baik bibi kandung. kakek. maka pokoknya: ayah. maka barulah keturunan mereka yang sederajat dengan . atau yang seibu. seibu.

pewaris meninggalkan ahli waris cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Apabila dalam suatu keadaan terjadi persamaan. seorang anak perempuan dari anak paman yang lain (kandung). maka dalam keadaan seperti ini kita harus mengutamakan keponakan kandung. maka yang lebih didahulukan adalah cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Sebab 'ashabah akan mengambil seluruh hak waris yang ada. sisa harta waris akan diberikan kepada dzawil arham. Tidak ada penta'shib ('ashabah). seseorang wafat dan meninggalkan anak perempuan dari saudara kandung laki-laki (yakni keponakan kandung) dengan anak perempuan dari saudara lakilaki seayah (keponakan bukan kandung). berdasarkan urutan tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok ahli waris yang lebih awal disebutkan dapat menggugurkan kelompok berikutnya. Misalnya. tampak ada kesamaan derajat di antara kedua ahli waris. D. seseorang wafat dan meninggalkan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Syarat-syarat Pemberian Hak Waris bagi Dzawil Arham 1. Misalnya. maka pembagiannya sebagai berikut: 1. semua ahli waris dari dzawil arham berhak menerima bagian. Misalnya. apabila shahibul fardh hanya terdiri dari suami atau istri saja. Hanya saja. Mengutamakan dekatnya kekerabatan. maka para 'ashabah akan menerima sisa harta waris yang ada. Sedangkan kita ketahui bahwa kedudukan ahli waris secara ar-radd dalam penerimaan waris lebih didahulukan dibandingkan dzawil arham. Yang demikian itu disebabkan keponakan kandung lebih kuat kekerabatannya. jika ada shahibul fardh. Sebab kedudukan hak suami atau istri secara radd itu sesudah kedudukan dzawil arham. dan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan. Dalam contoh ini. mereka tidak sekadar mengambil bagiannya. sedangkan cucu laki-laki dari keturunan anak perempuan melalui dzawil arham. maka yang lebih berhak untuk dintamakan adalah yang paling dekat dengan pewaris lewat shahibul fardh atau 'ashabah. 2. maka ia akan menerima hak warisnya secara fardh. seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan dari anak paman kandung. Dan bila ada shahibul fardh. Begitu seterusnya. seperti anak perempuan dari paman kandung atau seayah. Apabila ada kesamaan pada kedekatan derajat kekerabatan. 2. Dan bila bersamaaan dengan ahli waris lain. Namun. bila ternyata tidak ada shahibul fardh. tetapi sisanya pun akan mereka ambil karena merupakan hak mereka secara radd. Artinya. maka ia akan menerima sisanya. Dengan demikian. keduanya memiliki hubungan kekerabatan dengan pewaris sama-sama sebagai cucu. Beberapa Catatan Penting: Apabila dzawil arham (baik laki-laki maupun perempuan) seorang diri menjadi ahli waris. maka haruslah mengutamakan mana yang lebih kuat kedekatan kekerabatannya. dan sisanya diberikan kepada dzawil arham. cucu perempuan keturunan anak laki-laki bernasab kepada pewaris lewat ahli waris. Apabila segi derajat dan kedekatannya kepada pewaris sama. Sebab. dengan anak cucu perempuan dari keturunan anak perempuan. Dengan demikian. Sedangkan jika dia berbarengan dengan salah satu dari suami atau istri. maka ia akan menerima seluruh harta waris. Misalnya. setelah diambil hak para shahibul fardh. Tidak ada shahibul fardh. maka yang didahulukan adalah cucu perempuan dari anak perempuan. dan seorang anak perempuan dari anak paman .mereka. maka pembagiannya dilakukan secara merata. Begitulah seterusnya. dan berarti seluruh harta waris menjadi haknya.

Bila urinenya keluar dari penis. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Sebenamya. Maka harta warisnya dibagi secara merata di antara mereka. yang kemudian dianut oleh ulama muta'akhirin mazhab Maliki dan Syafi'i ---karena dari segi pengamalannya memang lebih mudah." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lakilaki.kandung yang lain.). Pendapat ini banyak diterapkan di sebagian negara Arab dan negara Islam lainnya. terutama antara Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad (keduanya murid dan teman dekat Abu Hanifah. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Oleh karena itu. khanatsa wa takhannatsa. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang lakilaki menyerupai wanita: lembut dan melenggak-lenggok. sekalipun dzawil arham itu keturunan saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu. Catatan lain Di antara persoalan yang perlu saya kemukakan di sini ialah bahwa dalam pemberian hak waris terhadap para dzawil arham . atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Misalnya. karena ketiganya memiliki derajat yang sama dari segi kekerabatan. pada prinsipnya yang banyak diamalkan adalah pandangan mazhab ahlut-tanzil sebagai mazhab Imam Ahmad. Namun. maka ia divonis sebagai laki-laki dan . orang yang wafat ini meninggalkan tiga putri keturunan anak paman kandung. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL A. dan para ulama mazhab Hanafi. artinya tidak ada kejelasan. Oleh karenanya. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada--disebut sebagai musykil. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. seperti halnya dalam pembagian para 'ashabah. bagi yang menghendaki pengetahuan lebih luas dalam masalah ini dapat merujuknya pada kitab-kitab fiqih. di kalangan ulama mazhab ini banyak dijumpai perbedaan tentang cara pembagian masing-masing kelompok tadi. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. saya tidak mengemukakannya di sini sebab akan bertele-tele dan menjenuhkan. Penutup Itulah sekelumit mengenai hak waris para dzawil arham menurut mazhab ahlul qarabah yang merupakan mazhab imam Ali bin Abi Thalib r. penj. bagian laki-laki dua kali lebih besar bagian perempuan. Atau dengan redaksi lain. Selain itu.a. Sebab. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw. XI.

penj. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. Bila keluar dari penis. Maksudnya. C. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masingmasing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. maka ia divonis sebagai khuntsa musykil.). bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. Ia berkata: "Wahai kaumku. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. apakah ia haid atau hamil. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. ia dinyatakan sebagai perempuan. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. maka ia sebagai laki-laki. . Misalnya. bahwa Rasulullah saw. Melihat sang majikan gelisah. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. tetapi bila keluar dari vagina. dikukuhkanlah vonis tersebut." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. apakah tumbuh payudaranya. lihatlah jalan keluarnya air seni. dan sebagainya.a. apakah ia tumbuh kumis. Mazhab Maliki berpendapat. Ketika Islam datang. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Mazhab Syafi'i berpendapat. atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. budak wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. dan tidak menerima vonis tersebut. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Di samping melalui cara tersebut. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi'i serta pendapat mayoritas sahabat.mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Namun. 2. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya." B. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah.

menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat (24). Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. Bahkan. ibu enam (6) bagian. seorang anak perempuan. Pokok masalahnya dari enam (6) bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. Seseorang wafat dan meninggalkan suami. dan saudara laki-laki banci. Inilah tabelnya: 6 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci 8 3 2 3 Suami 1/2 Ibu 1/3 Banci kandung 6 3 2 1 24 9 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima (5) bagian dibekukan sementara. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh (7). Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. dan saudara laki-laki seayah banci. maka pokok masalahnya dari lima (5). Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan (9) bagian. dan seorang anak banci. maka divonis sebagai laki-laki. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. maka pokok masalahnya dari enam (6) tanpa harus di. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan (8). Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-.Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. saudara laki-laki banci tiga (3) bagian. sedangkan bagian anak perempuan empat (4). Bagian anak laki-laki adalah delapan (8). sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat (4). dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. dan bagian anak banci lima (5). Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris. ibu.'aul-kan. 3. seperti dalam masalah al-munasakhat. Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i.yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita). saudara kandung perempuan. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. maka gugurlah hak warisnya. Sisa harta waris yaitu tiga (3) kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. maka pokok masalahnya dua (2). dan sisanya kita bekukan. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. dan . 2.

pr. Secara ringkas dapat dikatakan. maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Pada pembahasan sebelumnya --tentang persyaratan hak waris/mewarisi-. 1/2 Banci lk. dan satu atau kembar. Namun demikian. Berkaitan dengan hal ini. Definisi Hamil Al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata hamalat." (al-Ahqaf: 15) Sedangkan menurut istilah fuqaha. seayah 1/6 6 7 3 3 1 14 6 6 - D. Bagian suami enam (6). baik laki-laki maupun perempuan. karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya. Adapun sisanya. Dengan demikian. apakah bayi tersebut akan lahir selamat atau tidak. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. pr. Hanya kepada Allah saya memohon pertolongan. demikian juga jika ia lahir dalam keadaan mati. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya. yakni dua (2) bagian dibekukan.. bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya. Karena itu. para pakar faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang . ibunya mengandungnya dengan susah payah. kdg. untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir. maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. saudara kandung perempuan enam (6) bagian. yaitu janin yang dikandung dalam perut ibunya. Dikatakan: "al-mar'atu haamil ma haamilatun idsaa kaanat hublaa" (wanita itu hamil apabila ia sedang mengandung janin).yang mengharuskan kita untuk segera membagi harta warisan dalam bentuk awal.penyatuan dari keduanya menjadi empat belas (14). kdg. dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . pr. Setelah itu. 1 1 Suami 1/2 Sdr. tidak tertutup kemungkinan kita dihadapkan pada keadaan darurat --menyangkut kemaslahatan sebagian ahli waris-. laki-laki atau perempuan.. barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi.telah saya kemukakan bahwa salah satu syarat yang harus terpenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. dan pada kesempatan ini saya hanya akan utarakan secara global. Setelah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup. 1/2 Sdr. Dalam masalah hamil ini ada beberapa hukum yang berkaitan dengan hak waris. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya.

atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati. atau yang semacamnya. Keadaan Janin Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan). Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan.a. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-. bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. bersin. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Kelima keadaan tersebut: 1. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya. E. hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut.. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup." Pernyataan Aisyah r. Bahkan. dan ia dianggap tidak ada. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal. ia tidak berhak mewarisi. seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun. Dengan demikian.a. 2. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris. maka tidak berhak mendapatkan waris.maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup.ada. atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil. F. baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati). Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. . maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan. dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin ganda (banci). apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati. sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. menurut mazhab Hanafi. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali. jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r. mau menyusui ibunya.

karena tidak ada sisa dari harta waris setelah diambil para ashhabul furudh yang ada. Namun. Setelah janin lahir dengan selamat. atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin. maka dalam hal ini ia berhak mendapat bagian separo (1/2). Namun. Pembagiannya seperti berikut: apabila istri ayah tersebut melahirkan bayi laki-laki. Setelah ashhabul furudh menerima bagian masing-masing. maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperempat (1/4). dan sisanya yang dua per tiga (2/3) dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Dalam keadaan demikian berarti mahjub hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. dan sisanya menjadi bagian ayah sebagai 'ashabah. Sebagai ahli waris tunggal. Bila yang lahir bayi perempuan. oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. Karenanya harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri seperempat (1/4). Sebab keponakan perempuan (anak perempuan keturunan saudara laki-laki) termasuk dzawil arham. tiga saudara perempuan seibu. dan pokok masalahnya dari enam (6) di-'aul-kan menjadi sembilan (9). maka sisa bagian yang dibekukan menjadi bagiannya. berarti ia menjadi saudara perempuan seayah. tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan. namun bila ternyata laki-laki yang lahir. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Keadaan Pertama Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yangada secara langsung.Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya. Bila yang lahir anak laki-laki. kita lihat sisanya yang menjadi bagian bayi yang masih dalam kandungan. dan ipar perempuan yang sedang hamil (istri saudara kandung laki-laki). maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada. ibu. apabila yang lahir anak perempuan. Sebab kedudukannya sebagai keponakan laki-laki (anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki). seseorang wafat dan meninggalkan istri. maka dialah yang berhak untuk mendapatkan sisa harta yang dibekukan tadi. Keadaan Kedua Seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris. bila ternyata bayi tersebut perempuan. maka hak warisnya diberikan kepadanya. Sebagai misal. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. 2. ibu sepertiga (1/3) dari sisa setelah diambil hak istri. dan istri ayah yang sedang hamil. ayah. Maka dalam keadaan demikian ia tidak berhak mendapatkan waris. berarti menjadi saudara laki-laki seayah. paman (saudara ayah). Namun. baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. namun untuk sementara bagiannya dibekukan hingga kelahirannya. seseorang wafat dan meninggalkan istri. Contoh lain. Pokok masalahnya dari empat (4). disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi. bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris. Sebagai misal. dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Tabelnya seperti berikut: 6 Suami 1/2 9 3 . maka sisa harta waris yang dibekukan tadi diberikan dan dibagikan kepada ahli waris yang ada.

saudara perempuan seayah. kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris seperenam (1/6). boleh jadi. maka bagian warisnya tetap seperenam (1/6). ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Dengan demikian. dibekukan. dalam kedua keadaannya. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan. maka kita sisihkan bagian warisnya. Inilah tabelnya. Sebagai contoh. ibu.maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi. ayah seperenam (1/6). Dalam keadaan demikian. 3 4 4 13 Istri 1/8 Ayah 'ashabah Ibu 1/6 Janin pr.Ibu 1/6 3 sdr. hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya. Agar keadaan ketiga ini lebih jelas maka perlu saya kemukakan contoh tabel dalam dua kategori (lakilaki dan perempuan). 'ashabah Sisanya satu (1). untuk sementara dibekukan hingga janin telah dilahirkan. dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. Jadi. berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris. baik ia laki-laki ataupun perempuan. seibu 1/3 Sdr. dan ayah. Keadaan Keempat Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan. dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai 'ashaloub. dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). Keadaan Ketiga 1 1 1 Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya --hanya saja hak waris yang dimilikinya berbeda-beda (bisa laki-laki dan bisa perempuan)-. sbg. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. dan bagian istri seperdelapan (1/8). jika bayi itu masuk kategori laki-laki. Atau terkadang terjadi sebaliknya. dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna. 24 Istri 1/8 Ayah 1/6 Ibu 1/6 Janin lk. Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil.seayah (hamil) 1/2 Sisanya tiga (3). dan pembagiannya seperti berikut: ibu seperenam (1/6). baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan. pr. 1/2 24 3 5 4 12 24 3 4 4 12 . Sebab. dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada lebih sedikit dari bagianbagian masing-masing. bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki.pr. Sebagai misal.

atau ada ahli waris lain akan tetapi mahjub haknya karena adanya janin. dan sisanya akan dibagikan sebagai tambahan (ar-radd) bila ternyata tidak ada 'ashabah. dan sisanya merupakan bagian saudara kandung laki-laki sebagai 'ashabah. dan aku menjamin terhadapnya. Bila janin itu lahir dengan hidup normal. maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. pr." (Yusuf: 72) Sedangkan menurut istilah para fuqaha. pr. seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil dan saudara kandung laki-laki. maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka dialah yang akan mengambil hak warisnya. 1/2 Sdr. kdg. dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai 'ashabah. dan saudara laki-laki tidak mendapat bagian bila janin yang dikandung tadi laki-laki. bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Akan tetapi. 1/2 Sdr. bila bayi tersebut perempuan maka istri mendapatkan seperdelapan (1/8) bagian. namun jika ia lahir dalam keadaan mati. Definisi Al-mafqud dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna 'hilang'. seibu 1/6 6 3 1 1 1 Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan. maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. TENGGELAM. Contoh lain. Dikatakan faqadtu asy-syai'a idzaa adha'tuhu (saya kehilangan bila tidak mengetahui di mana sesuatu itu berada). dan akan mendapat bagian separo (1/2) harta \varis yang ada. seayah 1/6 Ibu (hamil) 1/6 (Janin) sdr. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan. seayah 1/6 Ibu (Janin) sdr. seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dan anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. al-mafqud berarti orang yang hilang. seibu 1/6 Keadaan Kelima 3 1 1 1 Sdr. terputus beritanya. dan .6 Sdr. Karenanya. dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. DAN TERTIMBUN A. kdg. anak perempuan setengah (1/2) bagian. Sebab. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan pokok ahli waris. Sebagai misal. pr. baik kelak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Kita juga bisa simak firman Allah SWT berikut: "Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja. pr. Maka bagian istri adalah seperdelapan (1/8). XII HAK WARIS ORANG YANG HILANG. akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi.

Dalam riwayat lain. Hal ini didasarkan pada lafazh hadits secara umum yang menyatakan bahwa umur umat Muhammad saw. Karena menurut Imam Syafi'i. Dalam riwayat lain. disebutkan bahwa istri dari orang yang hilang di wilayah Islam --hingga tidak dikenal rimbanya-. Hukum Orang yang Hilang Para fuqaha telah menetapkan beberapa hukum yang berkenaan dengan orang yang hilang/menghilang. apakah dia masih hidup atau sudah mati. dari Abu Hanifah. Ali berkata: "Dia adalah seorang istri yang tengah diuji. menyatakan bahwa batasnya adalah sembilan pulah tahun (90). dari Imam Malik. yakni dengan melihat umur orang-orang yang sebaya di wilayahnya. tentang wanita yang suaminya hilang dan tidak diketahui rimbanya. dan hak kepemilikannya tidak boleh diusik. seorang hakim hendaknya berijtihad kemudian memvonis bahwa orang yang hilang dan tidak lagi dikenal rimbanya sebagai orang yang sudah mati. Sementara itu. mazhab Hambali berpendapat bahwa bila orang yang hilang itu dalam keadaan yang dimungkinkan kematiannya seperti jika terjadi peperangan. maka sang hakim memberikan batas bagi istrinya selama empat puluh tahun untuk menunggu. Yang demikian itu berdasarkan ucapan Ali bin Abi Thalib r. yaitu empat bulan sepuluh hari. Bila masa empat puluh tahun telah usai dan yang hilang belum juga diketemukan atau dikenali rimbanya.telah mati. maka hendaknya dia bersabar. Sedangkan dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa batas waktu orang yang hilang adalah sembilan puluh tahun.dibolehkan mengajukan gugatan kepada hakim guna mencari tahu kemungkinan-kemungkinan dan dugaan yang dapat mengenali keberadaannya atau mendapatkan informasi secara jelas melalui sarana dan prasarana yang ada. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa orang yang hilang dan tidak dikenal rimbanya dapat dinyatakan sebagai orang yang sudah mati dengan melihat orang yang sebaya di wilayahnya --tempat dia tinggal.tidak diketahui rimbanya. Namun. di antaranya: istrinya tidak boleh dinikahi/dinikahkan. maka mulailah ia untuk menghitung idahnya sebagaimana lazimaya istri yang ditinggal mati suaminya. maka ia diperbolehkan untuk menikah lagi. hingga benar-benar tampak dugaan yang sebaliknya (yakni benar-benar sudah mati). sampai benar-benar diketahui keadaannya dan jelas apakah ia masih hidup atau sudah mati. hartanya tidak boleh diwariskan. Apabila orang-orang yang sebaya dengannya sudah tidak ada. dan tidak halal untuk dinikahi hingga ia mendapatkan berita yang meyakinkan akan kematian suaminya. sesudah berlalunya waktu tertentu --kebanyakan orang tidak hidup melebihi waktu tersebut. maka ia dapat diputuskan sebagai orang yang sudah meninggal. kemudian divonisnya sebagai orang yang telah mati. Akan tetapi. antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Kadang-kadang bisa juga ditetapkan sebagai orang yang masih hidup berdasarkan asalnya. pendapat yang paling sahih menurut anggapan Imam Syafi'i ialah bahwa batas waktu tersebut tidak dapat ditentukan atau dipastikan. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa batasnya adalah tujuh puluh tahun (70). cukup dengan apa yang dianggap dan dilihat oleh hakim.a. dan hakim pun telah memvonisnya sebagai orang yang dianggap telah mati. Batas Waktu untuk Menentukan bahwa Seseorang Hilang atau Mati Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini terutama para ulama dari mazhab yang empat. Bila usai masa idahuya. Atau telah berlalu selama waktu tertentu dan diperkirakan secara umum -. Apabila langkah tersebut mengalami jalan buntu. atau menjadi salah seorang penumpang ." B.

bila ternyata hakim telah memvonisnya sebagai orang yang telah mati. saudara kandung perempuan. apabila hilangnya orang itu bukan dalam kemungkinan meninggal. Inilah pendapat yang lebih mendekatkan kepada wujud kemaslahatan. Sedangkan pada keadaan kedua. Dan bila ternyata telah divonis oleh hakim sebagai orang yang telah meninggal. C. Namun. dan pendapat inilah yang dipilih az-Zaila'i (ulama mazhab Hanafi) dan disepakati oleh banyak ulama lainnya. Pertama. Demikian juga istrinya. maka harta waris tadi dibagikan kepada seluruh ahli waris yang ada dan masing-masing mendapatkan sesuai dengan bagian atau fardh-nya.kapal yang tenggelam-. Bila ahli waris yang hilang ternyata masih hidup. dan anak laki-laki yang hilang. atau untuk menuntut ilmu.yang dalam dua keadaan orang yang hilang tadi sama bagian hak warisnya. Posisi anak laki-laki dalam hal ini sebagai "penghalang" atau hajib hirman apabila masih hidup. Misal lain. Misalnya. akan berbeda halnya dengan orang yang hilang bukan dalam keadaan yang demikian. hendaknya ia . Apabila setelah empat tahun belum juga diketemukan atau belum diketahui beritanya. Namun. maka cara pemberian hak warisnya ada dua keadaan: 1. Karenanya untuk sementara harta waris yang ada dibekukan hingga hakikat keberadaannya nyata dengan jelas. dan di antara ahli warisnya ada yang hilang tidak dikenal rimbanya. seluruh harta waris yang ada untuk sementara dibekukan hingga anak laki-laki yang hilang telah muncul. atau mirip dengan pembagian hak waris banci). pendapat mazhab Hambali dalam hal ini lebih rajih (lebih tepat). maka itulah yang berlaku. Menurut hemat penulis. bila ahli waris yang ada --siapa saja di antara mereka-. Hak Waris Orang Hilang Apabila seseorang wafat dan mempunyai ahli waris. dengan alasan berbedanya keadaan wilayah dan personel. maka barulah harta waris tadi dibagikan untuk ahli waris yang ada. menunggu sampai diperkirakan umurnya mencapai sembilan puluh tahun Sebab sebagian besar umur manusia tidak mencapai atau tidak melebihi sembilan puluh tahun. atau banyak perampok dan penjahat. memang tidak tepat jika hal ini hanya disandarkan pada batas waktu tertentu. Ahli waris yang hilang sebagai hajib hirman bagi ahli waris yang lain. Kedua. seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung laki-laki. seperti pergi untuk berniaga. maka hartanya boleh dibagikan kepada ahli warisnya. dan dua saudara perempuan seayah. dalam hal ini ijtihad dan usaha seorang hakim sangat berperan guna mencari kemungkinan dan tanda-tanda kuat yang dapat menuntunnya kepada vonis: masih hidup atau sudah mati. ia dapat menempuh masa idahnya. melancong. Kapan saja hakim memvonisnya. ahli waris yang ada berhak untuk menerima bagian yang paling sedikit di antara dua keadaan orang yang hilang (sebagai ahli waris yang hidup atau yang mati. 2. Sebab. menyerahkan seluruhnya kepada ijtihad hakim. dan ia boleh menikah lagi setelah masa idah yang dijalaninya selesai. maka Imam Ahmad dalam hal ini memiliki dua pendapat.untuk sementara hingga ahli waris yang hilang muncul atau diketahui tempatnya. Posisi saudara kandung bila masih hidup adalah sebagai haiib bagi seluruh ahli waris yang ada. Maksudnya. saudara laki-laki seayah.maka hendaknya dicari kejelasannya selama empat tahun. Karena itu. tetapi bahkan sama berhak mendapat waris sesuai dengan bagian atau fardh-nya (yakni termasuk ashhabul fardh) Pada keadaan pertama: seluruh harta warisan peninggalan pewaris dibekukan --tidak diberikan kepada ahli waris-. Karena itu. Sebagai contoh. orang yang hilang pada saat peperangan dan pertempuran. seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara kandung laki-laki. maka dialah yang berhak untuk menerima atau mengambil seluruh harta warisnya. Bukan sebagai hajib (penghalang) bagi ahli waris yang ada.

saudara kandung. bagian istri adalah seperempat (1/4). dan sisanya (yakni yang seperenam) lagi untuk sementara dibekukan hingga ahli waris yang hilang telah nyata benar keadaannya. saudara kandung perempuan. hlg 1 Sdr. yaitu bagian ibu seperenam (1/6). bagi siapa saja yang tidak berhak untuk mendapatkan waris dalam dua keadaan orang yang hilang. maka ibu akan mendapat bagian sepertiga (1/3). dan saudara kandung laki-laki yang hilang. ibu seperenam (1/6). kdg. kdg. ibu. kdg. dan cucu laki-laki dari . Dalam contoh tersebut. pr 1 Sdr. maka pembagiannya sebagai berikut: Dalam hal ini kita harus memboat dua cara pembagian. Kemudian kita menggunakan cara al-jami'ah (menyatukan) kedua cara tadi. dan saudara kandung laki-laki yang hilang. hdp. Dari sinilah kita keluarkan hak waris masing-masing. Suami 1/2 2 1 7 8 4 Anggapan sdh. lk. hlg - Misal lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. lk. Namun. bagi ahli waris yang berbeda bagian hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi (yakni keadaan hidup dan matinya). pr 2 16 yang dibekukan 9 Sdr. dengan sendirinya tidak berhak untuk mendapatkan harta waris sedikit pun. Tabelnya sebagai berikut: 4 Anggapan msh. seseorang wafat dan maninggalkan istri. atau tanpa ada yang dibekukan). Sedangkan saudara laki-laki yang sesyah tidak mendapat hak waris apa pun. maka mereka diberi lebih sedikit di antara kedua keadaan tadi. dan yang kedua dalam kategori sudah meninggal. kemudian membekukan sisanya. Dalam keadaan demikian. ibu. Sebab bila ahli waris yang hilang tadi telah divonis hakim sebagai orang yang telah meninggal. pr 2 16 yang dibekukan 9 2/3 Sdr. tampak ada penyatuan antara ahli waris yang tidak berbeda bagian warisnya dalam dua keadaan orang yang hilang --yaitu bagian istri seperempat (1/4)--dengan ahli waris yang berbeda hak warisnya di antara dua keadaan ahli waris yang hilang tadi. pr 1 1 Sdr. atau telah divonis sebagai orang yang sudah meninggal. saudara laki-laki seayah. mati Suami 1/2 6 3 8 7 24 56 yang dibekukan 4 Sdr.diberi hak waris secara sempurna (tanpa dikurangi atau dilebihkan. kdg. Contoh-contoh Kasus Seseorang wafat dan meninggalkan suami. kdg. Namun. yang pertama dalam kategori orang yang hilang tadi masih hidup. kdg. Sebagai contoh.

hdp. (hilang) 17 Cucu lk. anak paman kandung (sepupu). Istri 1/8 2 Anggapan sdh. maka bagian masing-masing seperti berikut: Anggapan msh. (hilang) 3 Anak lk. mahjub Sdr.pr. hdp. saudara laki-laki seibu.'ashabah 5 10 yang dibekukan 10 Cucu lk.dr. mati Suami 1/4 Cucu pr.kdg.kdg. dan anak laki-laki yang hilang. hdp. (mahjub) 4 1 Anggapan sdh.kdg. lk. (hilang) Jumlah yang dibekukan 17 Contoh lain. Suami 1/4 Cucu pr.lk. mati 12 24 . dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki.anak.dr. 1/2 4 1 2 4 1 2 yang dibekukan 2 Sdr. Maka rincian pembagiannya seperti berikut: Anggapan msh. saudara kandung perempuan. 8 Anggapan sdh.keturunan anak laki-laki.lk. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (hilang) - Contoh lain: seseorang wafat dan meninggalkan istri. 'ashabah 1 1 yang dibekukan 1 Anak lk.pr. mati Istri 1/4 24 3 12 3 24 6 yang dibekukan 3 Ibu 1/6 4 Ibu 1/3 4 8 yang dibekukan 4 Sdr. (mahjub) Sdr. seseorang wafat dan meninggalkan suami.lk.anak. maka bagian masing-masing ahli waris itu seperti berikut: 1 Anggapan msh.

senantiasa mengucapkan: "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kita kembali". dan cobaan. karena mereka selalu melekatkan kehidupannya dengan iman. D.. lk. tanpa diduga. seibu 1/6 2 4 yang dibekukan 4 Sepupu. Hanya orang-orang mukmin yang ternyata tetap bersabar dalam menghadapi musibah. Terkadang kejadian dan musibah itu tibatiba datangnya. Maka jika di antara mereka ada yang mempunyai keturunan. Begitulah kehidupan dunia yang selalu silih berganti. sehingga sebagian anggota keluarga mereka menjadi korban. Misalnya. Hak Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Betapa banyak kejadian dan musibah yang kita alami dalam kehidupan di dunia ini.lk. tentulah akan muncul persoalan dalam kaitannya dengan kewarisan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. ujian. sementara lisan mereka --jika menghadapi musibah-. Oleh karenanya tidak ada sikap yang lebih baik kecuali berlaku sabar dan berserah diri kepada-Nya. Kadangkadang manusia tertawa dan merasa lapang dada. Sehingga hal ini sering kali membuat manusia bertekuk lutut dan tidak berdaya. mereka mengucapLan 'Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un. Perhatikan firman Allah SWT berikut: ". tetapi dalam sekejap keadaan dapat berubah sebaliknya. Sayangnya. lk.lk. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah.Istri 1/8 1 Istri 1/4 3 6 yang dibekukan 3 Sdr. (hilang) - yang dibekukan 12 Demikianlah beberapa contoh tentang hak waris yang di antara ahli warisnya ada yang hilang atau belum diketahui keadaannya.'" (al-Baqarah: 155-156) Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam suatu waktu dua orang bersaudara bepergian bersama-sama menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. bahkan sebagian manusia berani melakukan hal-hal yang menyimpang jauh dari kebenaran dalam menghadapinya. sangat sedikit di antara kita yang mau mengambil i'tibar (pelajaran). (hilang) 4 Cucu pr. bagaimana cara pelaksanaan pemberian hak waris kepada masingmasing ahli waris? .. lalu mengalami kecelakaan.seibu (mahjub) Sdr. Atau mungkin saja terjadi bencana alam yang mengakibatkan rumah yang mereka huni runtuh. 'ashabah 7 14 yang dibekukan 5 Cucu pr. 'ashabah 3 Sepupu. Semua yang menimpa mereka terasa sebagai sesuatu yang ringan. dan berpegang teguh pada salah satu rukunnya --yaitu iman kepada qadha dan qadar-Nya.

amin. pengatur alam semesta. sedangkan yang satunya lagi meninggalkan dua anak perempuan. hal ini telah memenuhi syarat hak mewarisi. dan tidak pula bagi kedua saudara yang mati karena tertimbun reruntuhan. . Sebagai contoh. Sebagai contoh. Dialah Yang Maha Kekal. apabila dua orang bersaudara tenggelam secara bersamaan lalu yang seorang meninggal seketika dan yang seorang lagi meninggal setelah beberapa saat kemudian. maka yang mati kemudian inilah yang berhak menerima hak waris. Adapun bagian kedua anak perempuan (dari yang kedua) adalah dua per tiga (2/3). Maka pembagiannya seperti berikut: Harta istri yang meninggal untuk anaknya. seluruh isi langit dan bumi. pembagian waris lebih mudah dilaksanakan. maka kepemilikan harta waris tadi berpindah kepada ahli warisnya yang berhak. Maka seluruh harta peninggalan yang ada segera dibagikan kepada ahli waris dari kerabat yang masih hidup. dan anak paman kandung (sepupu). Allahlah yang memberi taufik dan petunjuk kepada kita.Kaidah Pembagian Waris Orang yang Tenggelam dan Tertimbun Kaidah yang berlaku dalam pembagian hak waris orang yang tenggelam dan tertimbun yaitu dengan menentukan mana di antara mereka yang lebih dahulu meninggal. sedangkan harta suami yang meninggal seperdelapannya (1/8) merupakan bagian istrinya yang masih hidup. MUKADIMAH Segala puji bagi Allah. menurut para ulama. suami-istri meninggal secara bersamaan dan mempunyai tiga anak laki-laki. serta yang meninggal seketika karena kecelakaan dan bencana lainnya. Apabila hal ini telah diketahui dengan pasti. dua orang bersaudara mati secara berbarengan. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan banyak manfaat bagi para penuntut ilmu faraid. dan anak laki-laki paman kandung (sepupu yang pertama disebutkan)." Hal demikian. yakni dengan memberikan hak waris kepada orang yang meninggal kemudian. seperenamnya (1/6) diberikan atau merupakan bagian saudara laki-laki mereka yang seibu. sekalipun masa hidup yang kedua hanya sejenak setelah kematian saudaranya yang pertama. Misal lain. Kemudian sang istri pernah mempunyai anak laki-laki dari suaminya yang dahulu. dan sisanya merupakan bagian sepupu tadi sebagai 'ashabah. Pembahasan tentang hak waris-mewarisi bagi orang-orang yang mati tenggelam atau tertimbun reruntuhan atau musibah lainnya merupakan bagian terakhir dari buku ini. dan saya akhiri pembahasan ini dengan pujian kepada Rabb semesta alam. Suami-istri itu masing-masing mempunyai harta. Menurut ulama faraid. Begitulah seterusnya. dan sisanya merupakan bagian saudara lakilakinya yang seayah dengan mereka. Kemudian. begitupun sang suami telah mempunyai istri lain dan mempunyai anak laki-laki. maka tidak ada hak waris di antara keduanya atau mereka tidak saling mewarisi. yaitu hidupnya ahli waris pada saat kematian pewaris. Setelah orang kedua (yang meninggal kemudian) meninggal. Sedangkan jika keduanya sama-sama tenggelam atau terbakar secara bersamaan kemudian mati tanpa diketahui mana yang lebih dahulu meninggal. Maka pembagiannya seperti berikut: istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian. anak perempuan yang pertama setengah (1/2). anak perempuan. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama faraidh yang menyebutkan: "Tidak ada hak saling mewarisi bagi kedua saudara yang mati karena tenggelam secara bersamaan. dan sisanya adalah untuk anak laki-lakinya dari istri yang masih hidup itu. Yang satu meninggalkan istri. disebabkan tidak terpenuhinya salah satu persyaratan dalam mendapatkan hak waris. dan sisanya untuk bagian sepupu sebagai 'ashabah. harta ketiga anak laki-laki.

maka ibunya mendapat sepertiga. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Yaitu. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. . Kemudian saya tergerak untuk mengumpulkan dan menyatukannya hingga menjadi buku dengan harapan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Buku ini saya susun dengan sistematika yang sangat sederhana dan tidak bertele-tele. jika mereka tidak mempunyai anak. Semoga shalawat dan salam juga Allah berikan kepada seluruh kerabatnya. dan siapa pun yang mengikuti jejaknya. jika anak perempuan itu seorang saja. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jumadil Akbir 1389 H Muhammad Ali ash-Shabuni I. dan umumnya bagi seluruh kaum muslim yang memiliki keinginan untuk mengetahui dengan pasti mengenai faraid (ilmu yang mengatur pembagian harta pusaka). dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Jika kamu mempunyai anak. yang telah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya. Dengannyalah Allah SWT menghilangkan kesesatan dan kegelapan. para sahabatnya. Jika seseorang mati. Ini adalah ketetapan dari Allah. maka ibunya mendapat seperenam. maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. jika yang meninggal itu mempunyai anak. perintis kemanusiaan dan penunjuk jalan. Buku ini merupakan kumpulan materi perkuliahan untuk mata kuliah waris yang pernah saya berikan kepada para mahasiswa Fakultas Syari'ah di Mekah al-Mukarramah. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. maka ia memperoleh separo harta. Saya bermohon kepada Allah semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa. Mekah." (Maryam: 40) Semoga shalawat dan salam tetap Allah anugerahkan kepada sang pembawa cahaya. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. dan dengannyalah Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada alam yang terang benderang. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua doa dan Maha Mampu untuk memenuhinya. bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.tidak akan rusak dan tidak akan mati. junjungan kita Muhammad saw." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu.

(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta." (an-Nisa': 176) . Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu.baik laki-laki maupun perempuan. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. jika ia tidak mempunyai anak. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. supaya kamu tidak sesat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful