PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN MELALUI TEKNIK PENGANDAIAN DIRI SEBAGAI TOKOH DALAM CERITA DENGAN MEDIA AUDIO

VISUAL PADA SISWA KELAS X4 SMA N 2 TEGAL

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh Nama NIM Program Studi Jurusan :Nurul Melti Indah Septiani : : Sastra Indonesia : Bahasa Dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI, UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG. 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang,

Agustus 2007

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Drs. Agus Nuryatin. M.Hum

Drs. Mukh Doyin. M.Si

SARI Septiani, Nurul Melti Indah. 2007. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita dengan Media Audio Visual pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I. Drs. Agus Nuryatin, M.Si. Pembimbing II. Drs. Mukh Doyin, M. Si. Kata Kunci : Kemampuan Menulis Cerpen, Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita, dan Media Audio Visual. Pada umumnya, dalam situasi resmi siswa SMA masih mengalami kesulitan untuk menuliskan gagasan serta ide-idenya dengan baik dan benar. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar siswa SMA N 2 Tegal. Kesulitan menulis cerpen disebabkan oleh 3 faktor yaitu: faktor guru, faktor siswa, faktor media beserta teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Masalahmasalah yang dialami siswa meliputi sulit mengeluarkan ide-ide, kehabisan bahan, tidak tahu bagaimana memulai menuliskan sebuah cerita, dan sulit menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masalah yang dialami guru yaitu kurang memberi respons terhadap pelajaran menuli cerpen sehingga sering dilewati, tidak memanfaatkan media yang tersedia, kurang kreatif dalam pengembangan potensi diri para siswa. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah 1) apakah penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen, dan 2) adakah pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran menulis cerpen. Tujuan penelitian ini yaitu 1) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual, dan 2) mendeskripsikan pengaruh penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dalam menulis cerpen. Berdasarkan rumusan masalah dari hasil penelitian serta pembahasannya, maka disimpulkan bahwa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerota dengan media audio visual kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA N2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11,63 atau 18,30 %. Hasil ratarata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 63,56 dan pada siklus I rataratanya menjadi 70,31 atau meningkat sebesar 10,62 % dari rata-rata pratindakan, kemudian pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75,19 atau meningkat sebesar 6,94 dari siklus I. Pemerolehan ini menunjukan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dapat meningkat dan berhasil. Sedangkan perilaku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik iii

dari hasil penelitian tersebut. Perubahan tersebut ditunjukan dengan perilaku siswa yang kelihatan lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen. Salah satu alternatif dalam menggunakan media pembelajaran adalah penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang diputar melalui media audio visual yang telah terbukti dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen secara aktif dan menyenangkan. Hal ini dimungkinkan karena siswa lebih banyak menggunakan alat inderanya yang mencakup pendengaran dan penglihatan. Selanjutnya.pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual mengalami perubahan kearah positif. sehingga pembelajaran menulis cerpen ini hendaknya mendapat porsi yang cukup dan tidak dilewati begitu saja. iv . maka penulis menyarankan beberapa hal dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis cerpen sebagai berikut: 1) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya memandang bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. 2) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya lebih bervariasi dalam memilih teknik dan media pembelajaran agar siswa menjadi lebih berminat mengikuti proses pembelajaran dan tidak merasa jenuh. 3) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya mengembangkan penggunaan media audio visual secara kreatif dan efektif misalnya dengan cara memperbanyak jenis cerita dan bahan ajar lain yang berhubungan kesusastraan. 4) hendaknya media audio visual juga digunakan pada mata pelajaran yang lain secara bervariasi dengan media-media yang lain.

Semarang. bukan jiplakan dari karya orang lain.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar karya sendiri. baik sebagian atau seluruhnya. Agustus 2007 Nurul Melti Indah Septiani v . Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

M. Mukh. M.Hum NIP 132005032 Penguji II.HALAMAN PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Skripsi Fakultas Bahasa dan Seni. Agus Nuryatin. Mukh Doyin. Doyin. Penguji III. M. Rustono.Hum NIP 131813650 MOTTO DAN PERSEMBAHAN vi . Prof.Si NIP 132106367 Penguji I.Hum NIP 131281222 Drs. M. Subyantoro. Sekertaris.Si NIP 132106367 Drs. Dr. M. DR. Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Selasa : 14 Agustus 2007 Panitia Ujian Ketua. Drs.

Motto : Jangan takut menyerah atas sesuatu yang baik untuk menuju sesuatu yang lebih baik (Kenny Rogers) Manusia sejati adalah mereka yang tersenyum pada masalah. bintang dalam taman hatiku terimakasih atas segala pengorbananmu damailah dalam firdaus-Nya Ibu pelita hidupku yang tak pernah letih terangi hatiku dan sejukkan ranting dahagaku. keluarga besarku dan sahabat-sahabatku yang telah mengisi hari-hariku. vii . mengumpulkan kekuatan dari penderitaan dan tumbuh berani dengan bercermin diri (Thomas Paine) Berbahagialah mereka yang memiliki impian dan mau berusaha untuk mewujudkannya (Anonim) Persembahan Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah swt karya kecil ini kupersembahkan untuk Bapak (Alm).

Mukh. Drs. Agus Nuryatin M. Bapak dan Ibu dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah menyemaikan ladang dan menanamkan ilmu sebagai bekal yang sangat bermanfaat. Drs. baik dalam ilmu maupun pengetahuan. 2. keikhlasan. dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II yang disela-sela kesibukannya dengan penuh kesabaran. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni. Doyin M. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan. arahan dan masukan kepada penulis.Si. atas segala limpahan nikmat dan karunia yang diberikan kepada penilis. 3. bantuan. dan sumbang saran dari segala pihak.Hum dan Drs.PRAKATA Puji syukur tiada terhingga ke hadirat Allah swt. Surono. serta Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. kepala SMA N 2 Tegal yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini. meskipun penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kelemahan-kelemahan dan semata-mata karena keterbatasan penulis. dan kebijaksanaan memberikan bimbingan. viii . Rektor Universitas Negeri Semarang. yang telah memberikan izin penelitian ini. 4. oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat: 1. sehingga penulis memperoleh kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini.

Terimakasih atas kebahagiaan yang kalian bagi untukku. Soma. kesabaran. Upi. Lusy bersama mereka aku belajar menjalani hidup ini. Wiwin. Insya Allah jasa-jasa mereka akan saya kenang sepanjang hayat dan semoga Yang Mahakuasa memberikan yang terbaik dan Ridlo-Nya kepada kita semua di kehidupan sekarang dan yang akan datang. Anna. 11. Teman-teman seperjuangan di PBSI angkatan 2003 terima kasih atas segala informasi. Siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. Bu de serta kakak-kakaku tercinta Mba Edang. Mba Dian. bersama kalian kumengerti arti sebuah persahabatan yang sesungguhnya. dukungan. perhatian. Ari. 10. Achel. Pa de. yang telah bersedia membantu pelaksanaan penelitian. Mar. Utty. Sahabat-sahabatku Ita. ix . serta bantuan moril maupun materialnya hingga kudapat menyelesaikan karya kecil ini 9. Teman-teman Florist kost.5. Mamih. Bilqis. kasih sayang dan pengorbanannya selama ini. Kiki. Keluarga Besarku. Sri Mulyani R. Mas Untung dan Mas Achyar terimakasih atas doa. Bapak dan Ibu tercinta. dan Mas Fendi. bantuan. Dra. Roger dan Aee trimakasih atas bantuan fasilitas komputernya. terimakasih atas doa. Dani. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA N2 Tegal yang telah memberikan motivasi serta kerelaannya membantu penulis dalam penelitian. 7. 8. dukungan dan semua yang telah diberikan. motivasi. 6.

kritik dan saran yang membangun dari pembaca saya harapkan. Agustus 2007 Nurul Melti Indah S x . Oleh karena itu.Penulis sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Yang Maha Sempurna dan skripsi ini pun masih jauh dari kesempurnaan. Penulis juga sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Semarang.

...................4 Rumusan Masalah .......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1..................................... 15 xi .......................................................................................................................................... 7 1...............2............................................................................................................ 5 1.......................................................................6 Manfaat Penelitian .............................................................................. DAFTAR GAMBAR ..................................... PERNYATAAN.............................. 1 1........................ DAFTAR TABEL............................................3 Pembatasan Masalah ..............................................................................................................5 Tujuan Penelitian ..........1 Kajian Pustaka. 8 1............... 7 1................................................................1 Pendahuluan .............................................................................. PRAKATA...................................................... 14 2........................................................................... SARI.. 10 2........................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................... DAFTAR ISI .. PENGESAHAN .....2 Landasan Teoretis ..................................................................................................1 Hakikat Menulis ..............2 Identifikasi Masalah ....................................................................................................................................................................................................... 8 BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN ii iii v vi vii viii xi xiv xvii 2.........DAFTAR ISI PERSETUJUAN PEMBIMBING.....................

.....3 Kerangka Berfikir .................................1 Perencanaan .....................................................5.............................5 Tujuan Penggunaan Media Audio Visual ...............1 Desain Penelitian ..................................... 42 Pembelajaran dengan Media Audio Visual .5 Hakikat Media ... 44 3........................................ 37 2................ 42 3......................................................2......4 Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita ..................................4......... 43 3.....................................5 Siklus I .......3 Fungsi Media dalam Proses Belajar Mengajar .............................................5...................... 29 2....1 Pengertian Media .................................................... 40 3...2...................................... 57 xii ................6 Penggunaan Media Audio Visual ...........................................4..................................................................2 Instrumen Nontes .......... 44 3.........2....... 31 2.....................................4 Instrumen Penelitian ..5...........................................................5...........2...............5.........................1 Instrumen Tes ............................ 53 3........ 36 2........2 Keterampilan Menulis Cerpen .......2..................4 Hipotesis Tindakan ......................................2..................1 3.....5..2 Dasar Pertimbangan Pemilihan Media ................................................. 35 2.............................................. 34 2. 15 2........2........ 33 2....................................................5..................3. 56 3..............3 Variabel Penelitian .....................................................................2.........................4 Media Audio Visual ...3............... 38 2..2...........................2..3 Hakikat Menulis Kreatif Cerita Pendek ................. 33 2............. 39 BAB III METODE PENELITIAN 3..........................2 Hakikat Cerita Pendek ......................................... 32 2........ 41 3......2 Subjek Penelitian .2.....

........................................................................................................................... 77 4.....1 Hasil Tes ................ 60 3........ 60 3...... 58 3..................................................................2.............................................5...........................8.......................2. 65 3........3 Wawancara .....3 Refleksi ......... 69 4................................................3.......... 98 xiii .............................6 Siklus II ....1 Bentuk Instrumen ..6.................................................3 Pengamatan dan Observasi .................................... 67 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4............2 Tindakan ............................................................... 59 3.................4 Dokumen yang berupa foto .......2 Hasil Nontes ..6...........................................................................9 Teknik Analisis Data ......................1........................ 60 3............... 58 3...........................................1..........1.......................................................... 57 3......... 86 4.............................. 78 4.............................................7....1 Perencanaan ........................................ 61 3.......... 58 3.......2 Penilaian Hasil Menulis Cerpen ...........................................................5...........................................7................1 Hasil Penelitian ...1...............3 Hasil Tes Siklus II.............................................7............................8 Teknik Pengumpulan Data .............................. 63 3...................................................8..1 Kondisi Awal ...................................................4 Refleksi ....7......... 66 3.................................. 64 3..................................................5..........2 Pengamatan dan Observasi ....................6......2 Teknik Nontes ................................................. 64 3........ 59 3...1 Teknik Tes ...1.................. 69 4.........................7 Instrumen Penelitian ................................................................................................................2 Hasil Tes Siklus I ...................

4.1.3.1 Hasil Tes ........................................................................... 99 4.1.3.2 Hasil Nontes ...................................................................... 107 4.2 Pembahasan............................................................................................. 117 4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal. ........ 117 4.2.2 Peningkatan Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual dengan Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal .............. 123 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ................................................................................................. 125 5.2 Saran ....................................................................................................... 126 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 127 LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................ 128

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Daftar Jumlah Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal .............................. 42 Tabel 2 : Tabel Pedoman Penilaian ............................................................... .... 45 Tabel 3 : Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Cerita Pendek .................. 45 Tabel 4 : Daftar Skala Skor Keterampilan Menulis Cerita Pendek ................. 52 Tabel 5 : Kriteria Penilaian Hasil Menulis Cerita Pendek ............................... 61 Tabel 6 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan ........ 70 Tabel 7 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 71 Tabel 8 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ........................................................................................ 72 Tabel 9 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ....................................................................................... 72 Tabel 10 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ....................................................................... 73 Tabel 11 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa .......................................................................... 74 Tabel 12 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan ........................................................... 75 Tabel 13 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 76 Tabel 14 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus I ................... 78 Tabel 15 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 79 Tabel 16 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ....................................................................................... 80 Tabel 17 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ....................................................................................... 80

xv

Tabel 18 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ....................................................................... 81 Tabel 19 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa .......................................................................... 82 Tabel 20 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan ........................................................... 83 Tabel 21 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 84 Tabel 22 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus II .................. 99 Tabel 23 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 101 Tabel 24 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ....................................................................................... 102 Tabel 25 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ...................................................................................... 102 Tabel 26 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ...................................................................... 103 Tabel 27 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa ......................................................................... 104 Tabel 28 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan .......................................................... 105 Tabel 29 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 106 Tabel 30 : Tabel Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek ................ 119 Tabel 31 : Prosentase Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek ........ 120 Tabel 32 : Daftar Nilai Pra Tindakan ................................................................ 127 Tabel 33 : Daftar Nilai Siklus I ......................................................................... 128 Tabel 34 : Daftar Nilai Siklus II ......................................................................... 129 Tabel 35 : Observasi Siklus I ............................................................................. 130 Tabel 36 : Observasi Siklus II ............................................................................ 132 Tabel 37 : Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa Siklus I .............................. 134 xvi

...... 138 Tabel 42 : Rekap Observasi Peningkatan Perilaku Negatif Siswa Siklus II ................ 142 Tabel 45 : Daftar Peningkatan Prosentase Nilai 7 Aspek Pada Tiap Siklus .................... 139 Tabel 43 : Rekap Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II ...........................Tabel 38 : Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa Siklus I ....................................... 137 Tabel 41 : Rekap Observasi Peningkatan Perilaku Positif Siswa Siklus I ........... 143 Tabel 46 : Daftar Siswa Kelas X4 Tahun Pelajaran 2006/2007 SMA N 2 Tegal ................. 144 Tabel 47 : Rekapitulasi Hasil Angket Siklus I ............. 147 xvii .............................................. 145 Tabel 48 : Rekapitulasi Hasil Angket Siklus II................................................... 135 Tabel 39 : Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa Siklus II ............... 140 Tabel 44 : Daftar Peningkatan Nilai 7 Aspek Pada Tiap Siklus ................. 136 Tabel 40 : Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa Siklus II ...........................................................................

...............DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Aktivitas Guru Memberikan Apersepsi ....... 114 Gambar 7 : Aktivitas Siswa Menulis Cerita Pendek ............................ 115 Gambar 8 : Aktivitas Siswa Membacakan Ceria Pendek ..... 94 Gambar 2 : Aktivitas Guru Memberikan Materi Pembelajaran ........ 116 xviii ......... 96 Gambar 5 : Aktivitas Siswa Menulis Sebuah Cerita Pendek ................. 96 Gambar 4 : Aktivitas Siswa Bertanya Jawab denganGuru ........................... 95 Gambar 3 : Aktivitas Siswa Menyaksikan Pemutaran Film .......................... 97 Gambar 6 : Aktivitas Siswa Menyaksikan Pemutaran Film ....................................................................................

............... Diagram 4 : Hasil Peningkatan Menulis Cerita Pendek .... Diagram 3 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II ....................... 85 3............DAFTAR DIAGRAM 1............ 77 2....... 122 xix . Diagram 1 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan ................................. 107 4.. Diagram 2 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus I ......

Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung tetapi juga dapat memahami informasi yang disampaikan secara terselubung atau tidak secara langsung Menurut Tarigan (1983:1) keterampilan berbahasa mencakup 4 segi yaitu menyimak (Listening Skill).1 Latar Belakang Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi oleh karena itu. maka sang penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi. Berbicara (Speacking Skill). Dalam kegiatan menulis ini. Membaca (Reading Skill). dan Menulis (Reading Skill). Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan 1982:4) kegiatan menulis bertujuan untuk mengungkapkan fakta- 1 . pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis melainkan harus melalui latihan. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. struktur bahasa dan kosakata.BAB I PENDAHULUAN 1.

Beberapa kali menulis selalu tidak lancar. melaporkan. ada seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat. Kata menulis mempunyai dua arti Pertama. Berkat seringnya menulis dia menjadi terkenal.2 fakta. semakin rajin berlatih. Komunikasi akan lebih banyak berlangsung secara tertulis. Siswa yang sering menulis akan menjadi terampil dan terarah kemampuan berekspresinya sehingga secara tidak langsung akan mempertajam kemampuan berpikir. Ia terus belajar dan mencoba. pesan sikap dan isi pikiran secara jelas dan efektif kepada para pembacanya. Bahkan sering pula macet dan gagal total. memberitahukan. Di dalam dunia pendidikan menulis mempunyai arti yang sangat penting. Keterampilan menulis sangat dibutuhkan di dalam kehidupan yang serba modern ini. merekam. Untuk itu keterampilan menulis siswa perlu ditumbuh kembangkan. dan mempengaruhi. Sehubungan dengan hal tersebut. Mula-mula dia merasa sulit sekali menulis. disampaikan setelah dia mengalami sendiri. . Keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis merupakan kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis. meyakinkan. Beruntunglah pengalaman pahit itu tidak membuatnya putus asa. kemampuan menulis akan meningkat. menulis berarti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis (Wiyanto 2004:3) kesimpulan itu. Kemampuan menulis merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih.

cerpen itu sendiri merupakan salah satu genre sastra berbentuk prosa yang berbeda bentuk dengan bentuk sastra yang lain misalnya novel.3 Dalam perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana yang menarik agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi siswa adalah menulis sebuah cerpen. untuk itu diperlukan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam upaya untuk mengembangkan pendidikan. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada perkembangan pendidikan di Indonesia. Tetapi keterampilan menulis cerpen yang diajarkan selama ini masih menggunakan metode konvensional yang kurang menarik dan membosankan. Upaya pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan hendaknya terus dilakukan karena media pendidikan mempunyai peranan . Di sini peneliti mencoba meneliti penggunaan media audio visual sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen. Untuk itu. cerpen merupakan cerita fiksi berbentuk prosa yang relatif pendek ruang lingkup permasalahannya yang menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal. diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru yang lebih memberdayakan siswa dan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang dewasa ini. Selain itu.

Media ini dapat membantu siswa dalam belajar menulis cerpen karena media audio visual yang digunakan dalam penelitian ini berupa video compact disc merupakan perpaduan antara media suara (audio) dan media gambar (visual) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya dan dapat digunakan untuk merangsang daya imajinasi siswa sehingga siswa dapat dengan mudah menuangkan gagasan-gagasan dan ide-idenya ke dalam sebuah rangkaian kata-kata indah hingga menjadi sebuah cerita yang dapat dinikmati. karena audio visual merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen. media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar (Pranggawidagda 2002:145).4 penting dalam komunikasi. Selain itu. Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya (Sudjana dan Rivai 2001:2). Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan suatu program pengembangan pengetahuan. di sini peneliti menggunakan media audio visual. media memiliki fungsi yang sangat penting. Oleh karena itu. Dengan adanya media audio visual yang menampilkan gambar beserta suaranya akan mempermudah siswa untuk menangkap informasi yang . Dalam proses belajar mengajar. keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor guru. 1. Masalah-masalah yang dialami siswa meliputi sulit mengeluarkan ide-ide.2 Identifikasi Masalah Kemampuan menulis cerpen pada siswa SMA N 2 Tegal masih rendah. pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan untuk menulis sebuah cerpen. kurang kreatif dalam mengembangkan .5 dibutuhkan dalam mengembangkan inspirasi maupun gagasan yang akan dituangkan dalam menulis sebuah cerpen. siswa. dan sulit menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak memanfaatkan media yang tersedia. Selain itu proses belajar mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media audio (suara). tidak tahu bagaimana memulai menuliskan sebuah cerita. Sedangkan masalah yang dialami guru yaitu kurang memberi respon terhadap pelajaran menulis cerpen sehingga sering dilewati. Masalah yang muncul pada diri siswa ini dapat diatasi dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang disajikan dalam bentuk yang lebih menarik antara lain dengan penggunaan media yang tepat yaitu penggunaan media audio visual agar siswa merasa lebih senang dan tidak jenuh. dan media beserta teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar. kehabisan bahan.

Oleh karena itu. Faktor ketiga yang menyebabkan rendahnya keinginan siswa menulis cerpen ialah media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena selama ini guru hanya memberikan penjelasan cara-cara menulis cerpen secara teori tanpa adanya media yang digunakan untuk mendukung serta menarik perhatian siswa yang sebenarnya sangat penting disuguhkan untuk meningkatkan kreativitas dan daya imajinasi siswa dalam mengungkapkan perasaan ide-ide yang sebenarnya ada dalam potensi setiap siswa hingga dapat memudahkan mereka untuk bercerita yang akan dituangkan atau disajikan dalam bentuk tulisan yang nantinya bisa menjadi rangkaian kata-kata yang sangat indah meski relatif pendek. masalah yang muncul sangatlah kompleks sehingga perlu dibatasi.6 potensi diri para siswa. Pembelajaran menulis cerpen harus mendapat porsi yang cukup karena banyak unsur-unsur yang perlu diketahui dan diajarkan secara terperinci agar siswa lebih mudah memahaminya. 1. menghargai hasil karya siswa dengan memberikan penilaian dan pujian seperlunya. menggunakan bermacam-macam metode secara bervariasi sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan secara kreatif menggunakan sarana dan media yang ada untuk menarik minat siswa.3 Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas. . Pembatasan masalah ini bertujuan agar pembahasan masalah tidak terlalu luas.

Permasalahan tersebut akan diatasi dengan cara menggunakan sebuah media yang dapat membantu merangsang daya imajinasi siswa dalam menulis sebuah cerita pendek yaitu dengan menggunakan media audio visual 1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal .4 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.7 permasalahan yang akan diteliti oleh penulis yaitu : rendahnya kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas X SMA N 2 Tegal. Seberapa besarkah penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal ? 2.5 Tujuan Penelitian Tujuan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Adakah pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam proses pembelajaran menulis cerpen? 1.

sehingga dapat memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar terutama dalam meningkatkan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita.6 Manfaat Penelitian Setelah penelitian ini diharapkan hasilnya dapat bermanfaat bagi beberapa pihak. Selain itu dapat merangsang imajinasi siswa dalam mengembangkan sebuah cerita dan menuangkan gagasan-gagasannya secara . Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan hasilnya dapat bermanfaat untuk mengembangkan teori pembelajaran. Mendeskripsikan pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam proses pembelajaran menulis cerpen. Dengan adanya pemanfaatan media audio visual akan memberikan daya tarik kepada siswa untuk meningkatkan kemampuannya melalui daya imajinasi dalam menuliskan sebuah cerita sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan. Manfaat dari penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis.8 2. Manfaat penelitian bagi siswa temuan penelitian ini akan mempermudah siswa untuk menemukan ide-ide secara cepat agar dapat dituangkan dalam sebuah cerita yang relatif singkat yang lebih dikenal dengan cerpen. 1.

. Sedangkan bagi penulis atau peneliti. temuan penelitian ini dapat dijadikan penambah semangat dan wawasan kehidupan terutama wawasan dalam karya penulisan.9 tertulis dan teknik pengandaian diri yang digunakan dalam penelitian ini juga akan mempermudah para siswa dalam menciptakan karakter-karakter tokoh yang akan digunakan dalam tulisan yang berbentuk cerpen.

Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam komunikasi adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis adalah suatu proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan. 1983: 3-4). Urgensi bahasa mencakup segala bidang kehidupan.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2. dan dirasakan oleh seseorang dapat dipahami oleh orang lain. Ide/gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam wujud rangkaian kalimat. agar orang lain dapat membaca tulisan yang ditulis maka di tuntut adanya bahasa yang mudah dipahami. diamati. Tetapi dalam menulis banyak hal yang perlu diperhatikan salah satunya adalah penggunaan bahasa. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan. keterampilan ini membutuhkan perhatian dan keseriusan dari seluruh instrumen penyelenggara pendidikan terutama guru dan kurikulum yang mendukung. apabila telah diungkapkan dengan bahasa. Oleh karena itu. baik lisan maupun tulisan. selain itu menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. karena suatu yang dihayati.1 Kajian Pustaka Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat. tidak secara tatap muka dengan orang lain. 10 .

Tetapi penelitian mengenai keterampilan menulis cerpen masih terbatas. Terdapat penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini. dan argumentatif. Pemakaian media dan metode pada setiap penelitian tersebut desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Claasroom Action Resarch (CAR). Penelitian ini berjudul. Oleh karena itu. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh Dalam Cerita Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X SMU N 2 Tegal. peneliti menganggap perlu untuk melakukan penelitian keterampilan menulis cerpen. Oleh karena itu. perlulah kiranya guru mencari dan menerapkan metode dan penggunaan media dalam upaya meningkatkan keterampilan keterampilan menulis. . bahkan juga oleh mahasiswa. Menulis juga dianggap sesuatu kegiatan yang menjenuhkan dan membosankan. Penelitian tentang keterampilan menulis telah banyak dilakukan. Penelitian tersebut antara lain penelitian keterampilan menulis naratif. Penelitian mengenai keterampilan menulis banyak dilakukan dengan menawarkan metode/ media yang bermacam-macam sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. deskriptif. Setidaknya relevan dalam hal pemakaian metode.11 Realitas menunjukan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa. khususnya menulis sebuah cerpen para siswa. media maupun desain penelitian.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh fariqoh menunjukkan bahwa. penelitian tersebut berjudul Peningkatan Menulis Cerita Pendek dengan metode karya wisata pada siswa kelas I3 MA Ma’hadut Thalabah Babakan Lebaksiu Tegal Tahun Ajaran 2001/2002.72 % dari tindakan siklus I ke tindakan siklus II meningkat sebesar 7. penelitian tersebut berjudul. Penelitian lain yang relevan ialah penelitian yang dilakukan oleh Fariqoh pada tahun 2002.12 Penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh Kusworosari pada tahun 2007. Berdasarkan analisis data penelitian. penelitian menulis cerita pendek (cerpen) dengan menggunakan metode karya wisata mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan siklus I sebesar 10. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Dengan Pengalaman Pribadi sebagai Basis Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Pada Siswa kelas X1 SMA N 5 Semarang. keterampilan menulis cerpen dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 11. diikuti adanya perubahan perilaku belajar yang positif dari perilaku negatif. Melalui pendekatan proses dan pengalaman pribadi penelitian yang dilakukan Kusworowati mengalami peningkatan.65% peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X1 SMA N 5 Semarang.25 % dan dengan demikian pengajaran penulisan cerita pendek dengan metode karya wisata dapat meningkatkan penguasaan ide siswa mengenai unsur-unsur pembangun cerpen .31 atau 18% dengan nilai rata-rata klasikal pada siklus II 73.

Penelitiannya mengkaji tentang metode karya wisata yang berguna untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerkak. Penelitian yang relevan lainnya.27. setelah menggunakan metode karya wisata nilai rata-rata keterampilan siswa dalam menulis cerkak meningkat sebesar 0. dari beberapa penelitian tentang menulis cerpen di atas menunjukkan adanya peningkatan.1% selain itu dengan adanya penelitian ini terjadi perubahan positif perilaku terhadap proses pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media Audio Visual sebagian siswa merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran yang dilaksanakan. dengan menggunakan media Audio Visual mengalami peningkatan sebesar 10.51. diketahui bahwa penelitian tentang menulis cerpen sudah mulai banyak dilakukan meski masih terbatas. Berdasarkan beberapa judul skripsi di atas. Penelitian yang telah dilakukan memperoleh hasil peningkatan keterampilan siswa yang signifikan dengan nilai rata-rata siswa pada kegiatan pembelajaran prasiklus ke siklus I meningkat sebesr 2. setidaknya sama-sama menggunakan media Audio Visual penelitian yang dilakukan oleh Pangesti pada tahun 2005. Penelitian tersebut berjudul peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan media Audio Visual pada siswa kelas VII D SMP N 30 Semarang. Berdasarkan penelitian tersebut.13 Penelitian lain yang relevan ialah penelitian yang dilakukan oleh Tutiyah (2005) dalam penelitiannya yang berbentuk skripsi berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Cerkak dengan Metode Karya Wisata pada Siswa Kelas IE SMP Negeri 1 Banjarmangun. masing-masing penelitian menggunakan media dan teknik yang .

selain itu kehadiran media audio visual dalam pembelajaran masih dianggap sebagai hal yang baru oleh banyak sekolah serta memerlukan keterampilan khusus untuk mengoperasikan. Salah satu cara peningkatan keterampilan menulis yang dipilih oleh penulis adalah peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual Dari beberapa penelitian tentang menulis cerpen di atas belum ada satu pun yang memanfaatkan media audio visual untuk meningkatkan keterampilan para siswa dalam menulis cerpen oleh karena itu peneliti merasa perlu memanfaatkan media ini untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen. teknik pengandaian diri dan media audio visual . Beberapa sekolah.14 berbeda-beda dan menghasilkan peningkatan yang berbeda-beda pula. namun seberapa besar manfaatnya belum diketahui secara pasti. terutama yang berlokasi di kota besar. memang sudah menerapkan penggunaan media ini di samping media elektronik lain seperti televisi dan tape recorder. Tetapi upaya peningkatan menulis cerpen masih perlu di kembangkan dan dilakukan melalui berbagai cara.2 Landasan Teoretis Dalam landasan teori ini penulis menguraikan teori-teori yang diungkapkan para ahli dari berbagai sumber yang mendukung penelitian landasan teori tersebut terdiri atas teori tentang menulis cerpen. 2.

melalui tulisan kreatif sebagai sesuatu yang bermakna. perasaan dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Salah satu jenis kegiatan menulis adalah menulis kreatif dalam hal ini.2. 2.2. Pengertian Cerita Pendek Cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh yang terdapat di .2 Hakikat Cerita Pendek 1. Salah satu teks bersifat kreatif adalah teks cerpen seperti penulisan cerpen.1 Hakikat Menulis Menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulis menulis juga dapat diartikan sebagai cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran. Sumiharja dkk dalam Kusworosari Menurut Trianto dalam Kusworosari (2002:2) Tulisan kreatif merupakan tulisan yang bersifat apresiatif dan ekspresif. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam diri kita. menikmati. Apresiatif maksudnya melalui kegiatan menulis kreatif orang dapat mengenali menyenangi. menulis cerpen termasuk salah satu kegiatan menulis kreatif.15 2. untuk dikomunikasikan kepada orang lain. dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri dan memanfaatkan berbagai hal tersebut ke dalam kehidupan nyata.

Styagraha dalam Murdiati (1985:49) berpendapat bahwa cerpen adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian-kejadian dari pada kejadian itu sendiri satu persatu. alur. dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal. dan juga mempunyai efek tunggal. Dari beberapa pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya pendek dan ruang lingkup permasalahannya menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang menarik perhatian pengarang. . jika ruang lingkup dan permasalahan yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek (Suharianto 1982:39). Apa yang terjadi di dalamnya lazim merupakan suatu pengalaman / penjelajahan. Selanjutnya Suharianto (1982:39) juga menambahkan bahwa “cerita pendek adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang”. Jadi sebuah cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan menjadi tokoh cerita pengarang. karakter. dan latar yang terbatas. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. peristiwa pokok itu tidak selalu “sendirian” ada peristiwa lain yang sifatnya mendukung peristiwa pokok. Cerpen memuat penceritaan kepada satu peristiwa pokok. Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek.16 dalam cerita itu.

tidak hanya dalam temporalnya tetapi juga dalam hubungannya secara kebetulan. gaya bahasa. alur merupakan suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang tidak terputus-putus oleh sebab itu. Keterkaitan antara unsur-unsur pembangun cerita tersebut membentuk totalitas yang bersifat abstrak. Alur atau plot Pengertian alur dalam cerita pendek atau dalam karya fiksi pada umumnya adalah “rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita” (Aminuddin 1987:17). sudut pandang (point of view). Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dalam pengertian ini. tokoh penokohan. Alur membuat kita sadara akan peristiwa-peristiwa tidak hanya sebagai elemen-elemen temporal tetapi juga sebagai pola yang berbelit-belit tentang sebab dan akibat. suatu kejadian dalam suatu cerita menjadi sebab akibat kejadian yang lain.latar (setting). Koherensi dan keterpaduan semua unsur cerita yang membentuk sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu bentuk ciptaan sastra. dan tema. Unsur-unsur pembangun cerpen Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. a.17 2. Alur menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian kejadian kepada kita. Kejadian . Unsur-unsur dalam cerpen terdiri atas: alur atau plot. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa alur adalah hubungan sebab akibat.

(2) penggawatan. alur tengah. sikap kepribadian dan sebagainya. tetapi juga menyangkut perubahan tingkah laku tokoh yang bersifat non fisik. Disebut alur lurus apabila cerita disusun mulai dari awal diteruskan dengan kejadian-kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan . yaitu (1) pemaparan atau pendahuluan. Menurut Suharianto (1982:28) menyebutkan bahwa alur atau plot terdiri atas lima bagian. yaitu bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita mulai bergerak. (3) seperti yang disebutkan di atas mulai memuncak. Alur merupakan tulang punggung suatu cerita unsur alur yang penting adalah konflik dan klimaks. Mulai bagian ini secara bertahap terasakan adanya konflik dalam cerita tersebut. alur puncak dan alur tutup. (4) puncak atau klimaks yaitu bagian yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya (5) peleraian yaitu bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam cerita atau bagian. dan alur campuran. antar tokoh dan masyarakat sekitar. Dilihat dari cara penyusunannya bagian-bagian alur tersebut. alur atau plot cerita dapat dibedakan menjadi alur lurus. Konflik dalam fiksi terdiri dari konflik internal dan konflik eksternal Baribin dalam Murdiati (1985: 61-62). Alur cerita rekaan terdiri dari alur buka.18 atau peristiwa-peristiwa itu tidak hanya berupa perilaku yang tampak seperti pembicaraan atau gerak gerik. yakni bagian cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita. Konflik itu dapat terjadi antara tokoh dan tokoh. atau antar tokoh dengan nuraninya sendiri. alur sorot balik (flash back). seperti perubahan cara berpikir.

Sedangkan alur campuran yakni gabungan dari sebagian alur lurus dan sebagian alur sorot balik. Tetapi keduanya dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan ada dua buah cerita atau peristiwa yang terpisah. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita.19 masalah. keinginan. pengarang . Dari pendapat-pendapat tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa alur atau plot adalah jalinan peristiwa secara beruntutan dalam cerita dengan memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan kesatuan yang padu. yakni dari bagian akhir dan bergerak ke muka menuju titik awal cerita disebut alur sorot balik. tokoh fiksi dibedakan menjadi dua. yaitu tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan ( Sayuti. 1988:31) Ada dua cara memperkenalkan tokoh dan perwatakan tokoh dalam fiksi yaitu secara analitik dan secara dramatik. Secara analitik yaitu pengarang langsung memaparkan tentang watak tokoh atau karakter tokoh. yang kedua adalah mengacu kepada pembauran dari minat. bulat dan utuh. dan moral yang membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita. Tokoh dan Penokohan Menurut Baribin dalam Murdiati (1985:54) berpendapat bahwa perwatakan dalam suatu fiksi biasanya dapat dipandang dari dua segi. Pertama mengacu pada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita. baik waktu maupun tempat kejadian (Suharianto 1982:29). Tokoh adalah yang melahirkan peristiwa Saleh Saad dalam Lukman Ali. b. emosi.(1967:122). Apabila cerita disusun sebaliknya.

melalui penggambaran fisik / postur tubuh. tetapi hal itu disampaikan melalui pilihan nama. keras kepala. melayani. 1967:122). Tokoh Tokoh adalah yang melahirkan peristiwa (Saleh Saad dalam Lukman Ali. Pemunculannya hanya di hadapkan pada suatu . Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. lingkungannya dan sebagainya dan melalui dialog (Baribin 1985 : 55-57 dalam Murdiati). mendukung pelaku utama 3) Pelaku protagonis adalah pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga di senangi pembaca 4) Pelaku antagonis adalah pelaku yang tidak sesuai dengan apa yang di dambakan oleh pembaca 5) Charcter adalah pelaku yang tidak banyak menunjukkan adanya kompleksitas masalah. cara berpakaian. tokoh fiksi dibedakan menjadi dua. tingkah laku terhadap tokoh-tokoh lain. 1988:31). penyayang dan sebagainya.20 langsung menyebutkan bahwa tokoh tersebut keras hati. yaitu tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan ( Suminto. Ragam tokoh atau pelaku menurut Aminudin dibedakan menjadi 1) Pelaku utama / inti adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita 2) Pelaku tambahan atau pelaku pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi. Secara dramatik yaitu penggambaran perwatakan yang tidak diceritakan langsung.

Termasuk di dalamnya adalah tokoh strereotif 2) Tokoh bulat/ kompleks atau bundar. yakni tokoh yang hanya diungkapkan salah satu segi wataknya saja.21 permasalahan tertentu yang tidak banyak menimbulkan adanya obsesi batin yang kompleks. Tokoh ini dapat mengejutkan . Watak tokoh datar sedikit sekali berubah. Complek character juga ditandai dengan munculnya pelaku yang memilik obsesi batin yang cukup kompleks sehingga kehadirannya banyak memberikan gambaran perwatakan yang kompleks pula. yakni tokoh yang wataknya kompleks. Ia menjadi sorotan dalam cerita Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita. tokoh dibedakan menjadi: 1) Tokoh dasar/ sederhana atau pipih. yakni: 1) Tokoh sentral adalah tokoh utama yang diceritakan dalam cerita. tokoh dapat di bagi menjadi dua. Ia mempunyai watak yang dapat dibedakan dengan tokoh-tokoh yang lain. 6) Complek character adalah pelaku yang pemunculannya banyak dibebani permasalahan. terlihat kekuatan dan kelemahannya. Tokoh sentral dibedakan menjadi 2) Tokoh utama atau protagonis yakni tokoh yang memegang peran pimpinan. 7) Pelaku dinamis adalah pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya 8) Pelaku statis adalah pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita itu berakhir Berdasarkan fungsinya.

Suharianto (1982:31) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita. adat istiadatnya.22 pembaca. Tokoh / pelaku cerita. keyakinannya. Penokohan merupakan pelaku karena yang dilukiskan adalah mengenai watak-watak. Sedangkan yang dimaksud watak adalah kualitas tokoh. sikapnya. kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain. maka disebut dengan perwatakan / . baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya. karena kadang-kadang dalam dirinya dapat terungkap watak yang tidak terduga sebelumnya Bagan berikut akan memperjelas uraian di atas Tokoh utama/protagonist Tokoh sentral Menurut fungsinya Tokoh bawahan Tokoh Tokoh andalan Tokoh tambahan Tokoh antagonis Tokoh wirawan/wirawati Menurut cara menampilkan Tokoh datar/sederhana/pipih Tokoh bulat/kompleks/bundar Penokohan Menurut Aminuddin (1987:79) penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku. dan sebagainya.

di kafetaia. di sebuah kapal yang berlayar ke Hongkong. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. (3) waktu terjadinya action “Peristiwa” (tindakan). waktu dan situasi . Latar atau setting Latar atau landasan tumpu (setting) cerita adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi termasuk di dalam latar ini adalah tempat atau ruang yang dapat diamati. hari. intelektual. Latar dibedakan menjadi dua yaitu latar sosial dan latar fisik (latar material) latar sosial mencakupi penggambaran keadaan masyarakat. atau lingkungan terjadinya peristiwa. Adapun yang dimaksud latar fisik adalah latar di dalam wujud fisik. Latar tidak hanya sebagai background saja. cara hidup. c. dan juga detil-detil interior sebuah kamar / ruangan. tempat. Termasuk di dalam unsur latar atau landas tumpu ini adalah waktu. Latar ialah waktu. moral. scenery “Pemandangan” tertentu. tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung unsur cerita lainnya. di sebuah puskesmas. termasuk di dalamnya periode historis. Penggambaran tempat. musim. termasuk di dalamnya topografi. Suminto A. di dalam penjara dan sebagainya. dan (4) lingkungan religius. sikap dan tingkah lakunya dalam cerita.23 penokohan adalah pelukisan tokoh/ pelaku cerita melalui sifat-sifat. adat istiadat. tahun dan sebagainya. (1) lokasi geografis yang sesungguhnya. musim atau periode sejarah dan sebagainya (Baribin 1985 : 63-64 dalam Murdiati). bahasa dan lain-lain. sosial dan emosional tokoh-tokohnya. tahun. (2) pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari. seperti di kampus. Sayuti (1988:60) mengemukakan bahwa paling tidak ada empat unsur yang membentuk latar fiksi yaitu.

Dijelaskan oleh Suminto A. petunjuk. Sudut pandang atau point of view Sudut pandang atau point of view adalah cara pengarang memandang siapa yang bercerita di dalam cerita itu atau sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. (2) sudut pandang first-person-peripherial atau akuan-taksertaan. Suminto A. sedangkan di dalam sudut pandang akuan-taksertaan tokoh “aku” biasanya hanya menjadi pembantu atau pengantar tokoh lain yang . d. Sayuti (1988: 74) dengan mengkompilasi pendapat Robert Stanson dan William Kenney mengemukakan bahwa ada empat macam sudut pandang yang dapat dipilih oleh pengarang. (3) sudut pandang third person-om-niscient atau diaanmahatahu. Untuk menceritakan suatu hal dalam cerita fiksi. dan (4) sudut pandang third-person-limited atau diaan-terbatas. waktu dan suasana cerita. yang berkaitan dengan tempat. Latar juga dimaksudkan untuk membangun atau menciptakan suasana tertentu yang dapat menggerakan perasaan dan emosi pembaca serta menciptakan mood atau suasana batin pembaca Dari pendapat-pendapat tersebut dapat di simpulkan latar (setting) adalah segala keterangan. Sayuti (1988:74) bahwa di dalam sudut pandang akuan-sertaan tokoh sentral cerita adalah pengarang yang secara langsung terlibat dalam cerita. Sudut pandang ini berfungsi melebur atau menggabungkan tema dengan fakta. yaitu (1) sudut pandang firstperson-central atau akuan-sertaan.24 akan membuat cerita tampak lebih hidup logis. pengarang dapat memilih dari sudut mana ia akan menyajikannya. pengacuan.

Adapun di dalam sudut pandang diaan-mahatahu. . (2) pengarang sebagai tokoh samping.25 lebih penting. pengarang berada di luar cerita. Dalam sudut pandang ini pengarang memperguanakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya. Di sini pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita Pengertian yang diungkapkan oleh Suminto A. Sudut pandang adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya atau dari mana ia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam ceritanya itu. (3) pengarang sebagai orang ketiga. biasannya pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang mahatahu dan mampu berdialaog langsung dengan pembaca. Pencerita dalam sudut pandang akuan-taksertaan biasanya hanya muncul di awal atau di akhir cerita saja. Point of view pada dasarnya adalah visi pengarang artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Berbeda dengan hal itu adalah sudut pandang diaan-terbatas. Yang dimaksud titik pandang atau point of view adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan (Aminuddin 1987:90). Ada beberapa macam sudut pandang yaitu (1) pengarang sebagai tokoh cerita. Sayuti data sebenarnya tidak jauh beda dengan yang di kemukakan oleh Baribin dan Suharianto dalam bukunya yang berjudul “Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi” dan “Dasar-Dasar Karya Sastra” mengemukakan bahwa. (4) pengarang sebagai pemain dan narator (Baribin 1985 : 75-76 dalam Murdiati).

yaitu (1) pengarang sebagai pelaku utama cerita. Dalam hal ini pengarang tidak berperan sebagai apa-apa. dan sebagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah cerita kepada pembaca. Pelaku utama cerita tersebut orang lain dapat “dia” atau kadang-kadang disebut namanya tetapi pengarang serba tahu apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada dalam pikiran pelaku cerita. Menurut Suharianto (1982:36) jenis pusat pengisahan. Gaya Gaya erat hubungannya dengan nada cerita. Aminudin (1987:72) mengemukakan bahwa gaya bahasa mengandung pengertian cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Dari beberapa pendapat peneliti simpulkan bahwa sudut pandang atau point of view adalah cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Wiyanto (2005:84) mengemukakan bahwa Gaya bahasa adalah: cara khas dalam menyampaikan . e. (3) pengarang serba hadir. Gaya merupakan pemakaian bahasa yang spesifik dari seorang pengarang. dalam pusat pengisahan ini pengarang seakan-akan tidak tahu apa yang akan dilakukan pelaku cerita atau yang ada dalam pikirannya. tindakan latar. Tokoh yang akan menyebut dirinya sebagai “aku” (2) pengarang ikut main tetapi bukan sebagai pelaku utama. (4) pengarang peninjau. Pengarang sepenuhnya hanya mengatakan/menceritakan apa yang dilihatnya.26 Ada beberapa jenis pusat pengisahan (point of view).

Ia terasa dan mewarnai karya sastra tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Dengan cara yang khas itu kalimat-kalimat yang dihasilkannya menjadi hidup. sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan karyanya itu. itulah gaya seorang pengarang. Tema Menurut Wiyanto (2005:78) Tema adalah pokok pembicaraan yang mendasari cerita.27 pikiran dan perasaan. dan dapat menimbulkan tanggapan pikiran pembaca. dapat menimbulkan reaksi tertentu. . Dan sebagai pribadi. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya adalah keterampilan pengarang dalam mengolah dan memilih bahasa secara tepat dan sesuai dengan watak pikiran dan perasaan. meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerpen. Dengan kata lain gaya adalah pribadi pengarang itu sendiri. Semua itu menyebabkan karya sastra menjadi indah dan bernilai seni. persoalan. ia berada secara khas di dunia ini. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema. f. selanjutnya Suharianto (1982:28) mengatakan: Tema sering disebut juga dasar cerita: yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. gaya bahasa dapat menimbulkan perasaan tertentu. Selanjutnya Sumardjo (1986:92) mengemukakan gaya bahasa adalah cara khas pengungkapan seseorang. Karena itu. Setiap pengarang mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam mengungkapkan hasil karyanya. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut.

oleh karena sebuah karya sastra yang jelek sekalipun akan memberikan manfaat kepada kita. Amanat dapat disampaikan secara implisit dan eksplisit. yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat karya sastra yang ditulisnya. Menurut Suharianto (1983 :70) amanat ialah nilainilai yang ada di dalam cerpen.28 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud tema adalah ide atau gagasan atau permasalahan yang mendasari suatu cerita yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra. g. Amanat Amanat dapat diartikan pesan berupa ide. Pembaca karya sastra baru dapat mengetahui unsur pendidikannya setelah membaca seluruhnya. . Dari tema cerita tergambar amanat yang ingin sampaikan oleh pengarang. Menurut Wiyanto (2005:84) amanat adalah unsur pendidikan. maka amanat itu menyorot pada masalah manfaat yang dapat dipetik dari cerita yang dibaca. amanat biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan secara praktis. gagasan. jika kita mampu memetik manfaatnya. Unsur pendidikan ini tentu saja tidak disampaikan secara langsung. ajaran moral dan nilainilai kemanusiaan yang ingin disampaikan pengarang lewat cerita. terutama pendidikan moral. Amanat pengarang terdapat secara implisit dan eksplisit di dalam karya sastra (Zulfahnur 1996 : 26 dalam…).

Proses itu di mulai dari (1) munculnya ide dalam benak penulis. (3) bakat.29 2. 2003:31) Kreativitas dapat di artikan sebagai perilaku yang berbeda dengan perilaku umum. (2) menangkap dan merenungkan ide tersebut (3) mematangkan ide agar menjadi jelas dan utuh. kreativitas ini dalam ide maupun akhirnya (Titik. kreativitas sangat penting untuk memacu munculnya ide-ide baru.3 Hakikat Menulis Kreatif Cerita Pendek Dasar penulisan kreatif atau creative writting sama dengan menulis biasa. bentuk berpikir yang cenderung jlimet dan menentang arus. (2) kepekaan emosi. pada umumnya. Menurut (Roekhan 1991:1 dalam Kusworosari) proses penulisan kreatif sastra pada hakikatnya yaitu:proses penciptaan karya sastra. berbeda dengan yang pernah ada (Roekhan 1991:4-5 dalam Kusworosari) Terdapat empat unsur dalam kreativitas yakni: (1) keterampilan berpikir kritis. dan (4) daya imajinasi. (2) bekal keterampilan bahasa. dan (3) bekal keterampilan sastra. dkk.2. menangkap . dan diakhiri dengan (5) menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra Dalam penulisan kreatif sastra terdapat tiga unsur penting yakni: (1) kreativitas. kecenderungan jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru lain dari yang umum. Unsur kreativitas mendapat tekanan dan perhatian besar karena dalam hal ini sangat penting peranannya dalam penggembangan proses kreatif seorang penulis/pengarang dalam karya-karyanya. Pengertian kreativitas dapat juga mengacu pada pengertian hasil yang baru. (4) membahasakan ide tersebut dan menatanya (ini masih dalam benak penulis).

dan mendayagunakan bekal sastra untuk dapat menghasilkan karya-karya sastra yang berwarna baru. Tujuan Menulis Kreatif Cerita Pendek Tujuan kreatif yakni tujuan tulisan yang bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistic dan nilai-nilai kesenian. menikmati. Terdapat dua tujuan yang dapat dicapai melalui pengembangan penulisan kreatif. Ciri-ciri pribadi kreatif tersebut adalah (1) keterbukaan terhadap pengalaman baru. (3) kebebasan dalam mengemukakan pendapat (4) kaya imajinasi (5) perhatian yang besar terhadap . ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam diri kita untuk dikomunikasikan kepada orang lain dalam dan melalui tulisan kreatif. (2) keluwesan dalam berpikir. Berdasarkan kenyataan harus diakui bahwa ciri-ciri yang melekat pada pribadi yang kreatif antara ciri yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan secara tegas. Dalam kaitan ini. Apresiatif maksudnya bahwa melalui kegiatan penulisan kreatif orang dapat mengenal.30 dan mematangkan ide. sebagai sesuatu yang bermakna Sayuti dalam Kusworosari (2002:5) Kedua tujuan tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pembentukan pribadi kreatif. dan mungkin menciptakan kembali secara kritis sebagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri. yakni yang bersifat apresiatif dan yang bersifat ekspresif. menyenangi. kepribadian hendaknya dipahami tidak hanya sebagai kumpulan sejumlah unsur kepribadian. mendayagunakan bahasa secara optimal.

Pengaluran imajinasi itu menunjukan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru. Dari aspek pribadi tersebut kreatifitas merupakan suatu tindakan yang muncul dari tindakan pribadi yang unik dan khas. proses kreatif itu bersifat personal. tanggapan seseorang penulis (pengarang) terhadap lingkungan itu akan menolong inisiatif mengulur imajinasi. (6) Keteguhan dalam mengajukan pendapat atau pandangan dan.4 Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita Pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita akan membantu dan mempermudah siswa untuk mengembangkan ide cerita karena mereka dapat berimajinasi untuk menjalankan sebuah cerita dengan mudah sesuai dengan karakter yang ingin mereka bangun dalam tokoh tersebut sehingga dapat mempengaruhi jalan cerita yang diinginkan dan mereka dapat mengemas maupun merubah jalan cerita dalam film menjadi sebuah cerpen yang menarik sesuai daya khayal dan imajinasi yang mereka bangun lewat tokoh yang mereka pilih. 2. (7) Kemandirian dalam mengambil keputusan Sayuti 2002:2 (dalam Kusworosari) Proses kreatif adalah perubahan organisasi kehidupan pribadi. sebagai tanggapan terhadap lingkungannya. Setiap pengarang memiliki daya juang kreatif yang tidak dimiliki oleh orang lain.31 kegiatan cipta mencipta. Jadi.2. Seperti yang di jelaskan di atas tentang tokoh dan penokohan kita dapat mempelajari beberapa karakter tokoh yang akan mendukung jalannya sebuah .

perlu dipergunakan sarana yang disebut media (Suratno 2006: 41) . Karena tanpa tokoh beserta karakternya sebuah cerita tidak akan pernah bisa tercipta. Oleh karena itu.5 Hakikat Media Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi/ proses penyampaian pesan. dan meminta mereka agar mereka berimajinasi seolah-olah mereka menjadi tokoh dalam film tersebut dan mengembangkan jalan cerita sesuai keinginannya melalui karakter tokoh yang telah dipilih. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita karena peneliti melihat bahwa karakter sebuah tokoh sangatlah penting dan sangat berpengaruh dalam proses pembuatan cerpen. Hal ini akan mempermudah siswa untuk menuangkan idenya dalam membuat sebuah cerita yang menarik dan mereka dapat dengan mudah mengembangkan cerita tersebut menjadi sebuah cerpen yang indah. 2. keterampilan dan sikap yang baru untuk mempermudah penyampaian pesan atau informasi dalam proses komunikasi.2. Pesan atau informasi di sini dapat berupa pengetahuan.32 peristiwa dalam cerita. Proses ini harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dengan siswa. peneliti mengarahkan siswa untuk memilih salah satu tokoh yang menarik dalam film yang telah diputarkan.

5. Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar dengan segala alat lahir yang dapat menyajikan pesan.2 Dasar Pertimbangan Pemilihan Media Memilih media yang terbaik untuk tujuan pengajaran bukan pekerjaan yang mudah. 2. didengar dan dibaca.5.1 Pengertian Media Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.2. media hendaknya dapat dimanipulasi. (3) media yang . teknik dan jenis komponen yang berfungsi sebagai perangsang kegiatan belajar. metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran (Hamalik 1994:12) Batasan-batasan mengenai pengertian media di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah suatu alat lahir.2. metode. media merupakan alat. menyebar ide laporan dan merupakan bentuk komunikasi antara pengirim dan penerimaan pesan dalam bentuk Audio maupun Audio Visual. (2) pengadaan media dapat dipertanggung jawabkan untuk pelajaran yang bersangkutan. dapat dilihat.33 Media adalah suatu alat yang digunakan dalam proses mengajar yang berupa perangkat keras maupun lunak berfungsi untuk menyampaikan dan memperjelas materi untuk mencapai tujuan. pemilihan itu didasarkan pada beberapa faktor yang saling berhubungan sebagai berikut (1) situasi dan latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu ditiru dalam pengajaran. 2.

(4) nilai bahan pelajaran (perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi. Penggunaan media memiliki keuntungan dan kerugian. dan menambah variasi teknik penyajian pelajaran.3 Fungsi Media dalam Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar. memperjelas informasi yang disampaikan guru. dan keterampilan khusus. Oleh karena itu media dapat digunakan secara tepat.5.34 dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian. dana. media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara pengajar dan siswa. serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar. dan isi mata pelajaran) sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan media tersebut . membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar. jumlah siswa yang dilatih. hasil pembelajaran dapat lebih optimal. . Keuntungannya yaitu membangkitkan motivasi. Selain itu. 2. media memiliki fungsi yang sangat penting. perlu ruangan dan tempat yang aman dan layak. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai (Sudjana dan Rivai 2001: 2). Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan.2. tenaga. Adapun kerugian dalam penggunaan media yaitu membutuhkan waktu. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan minat. perlu pemeliharaan dan perbaikan.

Reverse /fast for word Gerak cepat / gerak lambat baik maju/mundur b. Stereosound Media Audio Visual mempunyai dua perangkat yaitu perangkat keras atau hardware dan perangkat lunak atau software. Penggunaan Audio Visual merupakan perpaduan antara media Audio(suara) dengan media Visual (gambar) yang sangat memungkinkan terjalinnya komunikasi dua arah antara guru sebagai tenaga pengajar dan siswa dalam proses pembelajaran media Audio Visual merupakan sinkronisasi antar media Audio dan media Visual. Adapun perangkat keras . maksud penggunaan Audio Visual di sini adalah penggunaan media yang dapat didengar sekaligus dilihat / disajikan dan alat yang digunakan adalah berupa piringan bergambar dan bersuara seperti yang kita kenal dengan sebutan VCD (Video Compact Disk). yang sangat mendukung dan mampu menggugah perasaan dan pemikiran bagi audien atau pendengar Audio Visual atau yang lebih dikenal dengan VCD. Singgle frame baik gerak maju / mundur c.4 Media Audio Visual Media Audio Visual.5.35 2. VCD ( Video Compact Disk ) adalah sistem penyimpanan dan rekaman video dimana signal Audio Visual direkam pada disket plastik bukan pita magnetik ( Arsyad. Pencari gambar secara cepat d. VCD ( Video Compact Disk )mempunyai keterampilan antara lain: a.2. 2003:36).

Manfaat penggunaan media pembelajaran antara lain sebagai berikut: 1. Metode mengajar akan lebih bervariasi.5. sehingga siswa tidak bosan dan guru mengajar setiap jam pelajaran 4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar tetapi juga aktivitas seperti mengamati. alat tersebut berupa televisi yang nantinya di hubungkan dengan player melalui kabel Sudjana (1997:2) mengatakan bahwa penggunaan media mempunyai manfaat dalam proses pembelajaran. melakukan mendemonstrasikan dll. 2.36 dari Video Compact Disk adalah Player atau alat yang memproses perangkat lunak ke dalam tampilan gambar sedangkan perangkat lunak berupa kepingan disk yang berisi data yaitu : film (jalan cerita) selain player dan kepingan disk dan software ada alat yang membantu fungsi player dan kepingan disk dalam menampilkan gambar. Pembelajaran akan semakin menarik sehingga menarik perhatian siswa sehingga menumbuhkan motivasi belajar 2. serta memperjelas .5 Tujuan Penggunaan Media Audio Visual Penggunaan media Audio Visual dalam proses pembelajaran bertujuan untuk (1) memperkenalkan. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru.2. membentuk. memperkaya. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik 3.

Menjelaskan tujuan yang akan dicapai .5.6 Penggunaan Media Audio Visual Penggunaan media audiovisual menuntut persiapan yang matang serta keterampilan khusus mengenai cara mengoperasikan media agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar. Materi Audio Visual hanya akan berarti bila dipergunakan sebagai proses pengajaran. Persiapan Sebelum menggunakan media Audio Visual setiap guru hendaknya mengikuti langkah a. terhindar dari resiko kerusakan media. dan mencegah akibat buruk yang berhubungan dengan pemakaian arus listrik 1. Penekanan dalam pengajaran menggunakan media Audio Visual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman kongkret. 2.2. Peralatan Audio Visual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari penginderaan yaitu indra penglihatan dan indra pendengaran. tidak hanya akan berarti bila dipergunakan sebagai proses pengajaran. Menentukan topik dan program b. tetapi sebagai alat teknologis yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman konkret kepada para siswa (Sudjana 2001 :58).37 pengertian dan konsep yang abstrak kepada siswa (2) mengembangkan sikapsikap yang dikehendaki (3) mendorong siswa untuk melakukan kegiatan lebih lanjut.

Siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu 3. Pelaksanaan Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat penyajian program yaitu a. Memperhitungkan durasi waktu pemakaian sesuai dengan alokasi waktu pelajaran 2.3 Kerangka Berpikir Pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui media Audio Visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbahasa dan bersastra. Pembelajaran ini bertujuan agar siswa terampil dalam menyampaikan idenya secara mendetail dan dapat mengembangkan cerita dengan mudah sesuai karakter yang ingin dibangun lewat pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita tersebut sehingga . Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak b. Menempatkan layar TV/VCD pada posisi yang tepat e. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen. Guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD c. 2. Mengecek peralatan yang akan dipergunakan d.38 c. Penulisan Cerita Pendek Kegiatan ini dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran media audio visual.

39 seolah-olah siswa ikut masuk berperan dalam cerita dalam film yang diputarkan agar dapat diubah menjadi cerpen yang menarik sebelum siswa menulis cerpen sehingga mereka dapat menulis cerpen dengan baik. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti melakukan penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Pembelajaran menulis cerpen dilakukan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen karena permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan guru adalah cara mengatasi rendahnya keterampilan siswa dalam menulis cerpen.4 Hipotesis Tindakan Berdasarkan tinjauan pustaka di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini dapat meningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa Kelas X SMA N 2 Tegal . Dengan mengandaikan diri siswa akan lebih mudah untuk mengembangkan sebuah cerita dan penggunaan media audio visual di sini untuk memunculkan ide-ide siswa setelah menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual 2.

Tiap siklus terdiri atas empat langkah yaitu: 1. Peneliti memilih rancangan penelitian tindakan kelas karena keterampilan menulis cerpen di kelas X4 masih rendah.Tindakan adalah pembelajaran macam apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya peningkatan keterampilan menulis cerpen 3. Dengan rancangan ini peneliti berharap agar keterampilan menulis cerpen di kelas X4 semakin meningkat. Penelitian tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan keterampilan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus.1 Desain Penelitian Penelitian dalam skripsi ini menggunakan model tindakan kelas.Refleksi adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil pengamatan sehingga dapat dilakukan revisi terhadap proses belajar mengajar selanjutnya 40 .Perencanaan adalah rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen 2.Observasi atau pengamatan adalah pengamatan terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil kerja siswa 4.BAB III METODE PENELITIAN 3.

Refleksi Siklus I 2. Perencanaan 1. Perencanaan 4. Pengamatan 3. Tindakan 3.41 Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua siklus ini dapat digambarkan dengan mengikuti alur sebagai berikut: Masalah Siswa kurang terampil menulis cerpen Hasil Siswa terampil menulis cerpen 1. Refleksi Siklus II 2. Pengamatan Gambar 1 : Skema model tindak lanjut kelas 3. Tindakan 4.2 Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis cerita pendek siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal Kelas X SMA N 2 Tegal terbagi menjadi delapan kelas. rincian yang jelas tentang siswa kelas X SMA N 2 Tegal seperti yang terdapat pada tabel berikut: .

8. 4. peneliti atau penulis hanya mengambil subjek penelitian pada kelas X4 yang berjumlah 39 siswa dan terdiri dari 18 putri dan 21 putra. 5.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini ada dua macam yaitu keterampilan menulis cerpen dan pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual 3. 3.1 Keterampilan menulis cerpen Keterampilan menulis cerpen yang dimaksud adalah keterampilan siswa untuk menuliskan sebuah cerita setelah melihat dan mendengarkan / menyaksikan pemutaran film remaja yang digunakan untuk mempermudah dalam menemukan ide-ide dan mengembangkan sebuah cerita. Indikator keterampilan menulis dapat .3. 3. 7.42 Tabel 1 : daftar Jumlah siswa kelas X SMA N 2 Tegal No 1. Kelas X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 Siswa Putra 17 17 16 18 17 18 17 17 Siswa Putri 23 22 22 21 22 20 22 22 Jumlah 40 39 38 39 39 38 39 39 Dari jumlah kelas X tersebut. 6. 2.

Kemudian pembelajaran menulis cerpen dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual. siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu. Target penelitian ini adalah untuk menentukan solusi terhadap kondisi siswa yang keterampilan menulis cerpennya masih rendah sehingga dicapai suatu kondisi baru yaitu siswa terampil menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar. guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD. serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Tindakan yang hendak dilakukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen yaitu pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang memerlukan persiapan yang matang. Isi cerpen yang sesuai dengan judul dan alur cerita yang terarah. Setelah pemutaran VCD. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan . Pembelajaran menulis cerpen didahului dengan pemutaran VCD. secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar. Bagian-bagian inti lengkap seperti pembukaan. 3.2 Pembelajaran dengan Media Audio Visual Penggunaan media audio visual dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa.43 diamati dari kesesuaian isi cerpen. isi dan penutup. Oleh karena itu media audio visual dapat digunakan secara tepat.3. Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak.

Pada hasil tes siklus I dianalisis. yang pada akhirnya setelah analisis hasil tes siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita 3.4. yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual.1 Instrumen Tes Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II dengan tujuan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Tes tersebut dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II.44 mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen.4 Instrumen Penlitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. adalah tes dan nontes untuk mengukur peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. yang selanjutnya sebagai dasar untuk menghadapi tes pada siklus II. 3. . dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam kegiatan menulis cerpen.

Latar 5.45 1. 7) Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Tabel 2 : Tabel Pedoman Penilaian No 2. Tokoh dan Penokohan 8. 3) Latar. Tema 3. Sudut pandang 6. 5) Gaya Bahasa. baik dalam menyajikan tema dari . 4) Sudut pandang. Gaya Bahasa 7. Jumlah Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Aspek Penilaian Skor Maksimal 10 20 10 10 10 20 20 100 Tabel 3 : Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Cerita Pendek (Cerpen) No 1 Aspek penilaian Tema Skala Nilai Sangat baik Patokan Baik dalam mendeskripsikan tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. kriteria-kriteria penilaian tersebut yakni 1) Tema. 2) Alur. Tes yang berupa soal esai menulis cerpen dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen dengan memperhatikan kriteriakriteria penilaian yang telah ditentukan . 6) Tokoh dan Penokohan. Alur 4.

baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita 2.46 kesimpulan keseluruhan cerita. Baik Cukup baik dalam mendeskripsikan tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. pembayangan . Alur Sangat baik Permainan alur/plot menarik. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita Tidak baik dalam mendeskripsikan Kurang baik tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. pembayangan atmosfer cerita khas Baik Permainan alur/plot cukup menarik. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita Kurang baik dalam mendeskripsikan Cukup baik tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca.

tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. dan tepat yang menggambarkan suasana mendukung peristiwa Baik Cukup tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa.47 atmosfer cerita khas Cukup baik Permainan alur/plot kurang menarik. pembayangan atmosfer cerita khas Kurang baik Permainan alur/plot tidak menarik. dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa . ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. Latar/setting Sangat baik Tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. pembayangan atmosfer cerita khas 3.

tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa Kurang baik Tidak tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa 4. . Baik Cukup baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. Sudut Pandang Sangat baik Baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca.48 Cukup baik Kurang tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca.

baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca. baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca 5. mengedepankan sesuatu dan yang mengaktualkan dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan Baik Cukup tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif.49 Cukup baik Kurang baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. Kurang baik Tidak baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. Gaya Bahasa Sangat baik Tepat dalam memilih bahasa yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif. unsur emotif mengedepankan dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu .

50

yang diungkapkan Cukup baik Kurang tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif, unsur emotif

mengedepankan

dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan Kurang baik Tidak tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif, unsur emotif

mengedepankan

dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan

6.

Tokoh penokohan

dan Sangat baik

Pelukisan watak tokoh tajam dan nyata, pembaca cerita tokoh mampu membawa peristiwa

mengalami

Baik

Pelukisan watak tokoh cukup tajam dan nyata, tokoh mampu membawa

51

Cukup baik

pembaca mengalami peristiwa cerita Pelukisan watak tokoh kurang tajam dan nyata, tokoh mampu membawa

Kurang baik

pembaca mengalami peristiwa cerita Pelukisan watak tokoh tidak tajam dan nyata, tokoh mampu membawa pembaca mengalami peristiwa cerita

7.

Kepaduan

unsur- Sangat baik

Perpaduan

keenam

unsur

dalam

unsur dalam cerpen

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan baik menjadi menarik Baik Perpaduan keenam unsur dalam sebuah cerita yang

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan

cukup baik menjadi sebuah cerita yang menarik Cukup baik Perpaduan keenam unsur dalam

cerpen seperti: Tema, alur, latar,

52

sudut pandang, gaya bahasa, tokoh dan penokohan dikemas dengan

kurang baik menjadi sebuah cerita yang menarik Kurang baik Perpaduan keenam unsur dalam

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan tidak baik menjadi sebuah cerita yang menarik Berdasarkan kriteria pada tabel di atas, dapat di ketahui siswa yang berhasil mencapai skala nilai sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik Berikut ini skala nilai menulis cerita pendek (cerpen) Tabel 4 : daftar Skala Skor Keterampilan Menulis Cerita Pendek No. Aspek Penilaian SB 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tema Alur Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa Tokoh dan Penokohan Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen 16-20 8-10 8-10 8-10 8-10 16-20 16-20 Skala Skor B 11-15 6-8 6-8 6-8 6-8 11-15 11-15 C 6-10 3-5 3-5 3-5 3-5 6-10 6-10 K 0-5 0-2 0-2 0-2 0-2 0-5 0-5

Proses observasi dan pengamatan segera mungkin direkam dalam benak peneliti dengan membuat catatan-catatan khusus mengenai perilaku-perilaku yang terjadi selama pembelajaran berlangsung atau dengan memberikan chek list pada lembar observasi yang sudah dipersiapkan oleh peneliti. jurnal. wawancara. Dalam observasi ini ketiga orang ini mengamati perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung. dan dokumentasi a) Pedoman Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan khusus mengenai perilaku siswa dalam kegiatan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.53 Keterangan: SB B C K : Sangat Baik : Baik : Cukup Baik : Kurang Baik 3. Observasi atau pengamatan dilakukan oleh peneliti. Observasi juga dilakukan terhadap peneliti maupun siswa itu sendiri .2 Instrumen nontes Instrumen non tes dalam penelitian ini adalah observasi. dibantu oleh guru mata pelajaran dan teman sejawat. Peneliti sebelumnya mempersiapkan lembar observasi untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan data. Observasi dipergunakan untuk memperoleh data tentang perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus I dan pada siklus II.4.

jurnal siswa dan jurnal guru. kesan. wawancara tidak dilakukan pada semua subjek penelitian. siswa diminta untuk memberi tanggapan.54 b) Pedoman Wawancara Wawancara dipergunakan untuk memperoleh data secara langsung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Untuk jurnal siswa. Respon siswa terhadap pembelajaran menulis 4. namun hanya pada siswa yang terlihat menonjol dalam: 1. kritikan . Sikap positif dalam kegiatan menulis cerpen 4. Penyebab peningkatan penulisan cerpen 5. Penurunan hasil menulis cerpen bagi yang mendapat nilai terendah 3. Penyebab penurunan penulisan cerpen c) Pedoman jurnal Teknik jurnal dalam penelitian ini ada dua yaitu. Kebiasaan bersikap negatif dalam menulis cerpen 3. pesan dan pendapat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen. Peningkatan hasil menulis cerpen bagi yang mendapat nilai tertinggi 2. Bersikap negatif dalam kegiatan menulis cerpen Aspek yang diungkapkan dalam wawancara ini adalah: 1. Data yang diambil mengenai kesan. Pedoman wawancara digunakan untuk mengambil data dengan wawancara terstruktur dan terbuka. Kebiasaan bersikap positif dalam menulis cerpen 2.

Respon negatif siswa terhadap metode yang digunakan . Sikap negatif siswa tentang cara menulis cerita pendek 3. Respon negatif siswa dalam proses pembelajaran 5.55 terhadap pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yaitu cara peneliti menyampaikan materi / bahan yang digunakan untuk menuliskan sebuah cerpen. Seperti yang diungkapkan di atas setelah selesai pembelajaran menulis cerpen melalui media audio visual. keaktifan siswa pada saat pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri dengan media audio visual. Respon positif siswa terhadap metode yang digunakan 8. Sikap negatif siswa terhadap metode pembelajaran 7. Dengan demikian akan terungkap kekurangan dan kelebihan para siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Jurnal guru berisi catatan-catatan mengenai perilaku siswa dan respon siswa. Sikap positif siswa tentang cara menulis cerita pendek 2. penulis membuat jurnal guru sebagai refleksi yang menggunakan aspek: 1. Jurnal diberikan pada siswa setelah pembelajaran sikluls I berakhir. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk mengevaluasi dan merefleksi jurnal siswa tersebut. Sikap positif siswa terhadap metode pembelajaran 6. Respon positif siswa dalam proses pembelajaran 4.

Peneliti menanggapi hal ini perlu dijadikan sebagai data. Yang perlu dijadikan dokumentasi dalam penelitian ini yaitu pada inti kegiatan menulis cerpen. Persiapan siswa saat menulis cerpen selama menggunakan meida audio visual. Selain itu juga digunakan untuk memperoleh hasil pembelajaran yang dapat digunakan . Penyebab kemudahan dalam menulis cerpen 3. pada saat para siswa menyaksikan pemutaran film dengan penuh perhatian dan pemahaman akan isi cerita pada film yang ditayangkan dan pada saat siswa mencoba menuangkan atau menuliskan cerita film tersebut menjadi sebuah cerpen yang dikembangkan sendiri.5 Siklus I Siklus pertama ini dimaksudkan untuk melakukan pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan cara yang sudah biasa dilakukan guru. Hal ini dimaksudkan dapat sebagai bukti bahwa penelitian peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual benar-benar nyata dilakukan oleh peneliti 3. Penyebab kesulitan dalam menulis cerpen 2.56 Siswa setiap selesai pembelajaran menulis cerpen melalui media audio visual juga membuat jurnal yang mengungkapkan aspek 1. d) Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data nontes yang berupa gambar (foto) yang diambil peneliti pada proses pembelajaran siklus I maupun siklus II berlangsung.

2 Tindakan Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah mengadakan apresiasi berupa Tanya jawab tentang berbagai macam film remaja yang digemari para siswa. (3) alat pelajaran dan metode pembelajaran. Jenis penilaian yang digunakan adalah nontes yaitu pengamatan (observasi) terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan penilaian terhadap hasil menulis cerpen para siswa. kegiatan inti.5. Tujuan dari apresiasi ini adalah menggali pengetahuan dan pengalaman siswa tentang berbagai macam film remaja yang pernah dilihat. alur cerita. indikator hasil belajar. penulis menyusun rencana pembelajaran yang berisi (1) judul yang meliputi jenis mata pelajaran.pemutaran film dan penugasan. Hasil menulis cerpen siswa diobservasi meliputi isi. panjang cerpen. pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dengan menggunakan lembar observasi. kompetensi dasar.5.1 Perencanaan Pada siklus pertama. Langkah. dan alokasi waktu (2) langkah-langkah pembelajaran yang meliputi apresiasi. dan (6) lembar kerja siswa.57 sebagai bahan kajian serta bahan pembanding dengan pembelajaran pada siklus kedua.langkah yang digunakan pada siklus pertama yaitu: 3. kesesuaian judul. (4) jenis penilaian. Di samping itu peneliti . (5) sumber bahan. Tanya jawab. dan penutup. Alat pelajaran yang digunakan adalah media audio visual dengan CD film remaja yang berjudul “Dealova” metode yang digunakan adalah ceramah. kelas dan semester. 3.

Hasil analisa digunakan sebagai kajian dan bahan pembanding terhadap hasil siklus kedua. 3. alur. Analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran menulis cerpen. Hasil penulisan cerpen siswa diobservasi di luar jam pelajaran berdasarkan isi.5.5. Analisa hasil menulis cerpen dilakukan dengan menentukan rata-rata nilai kelas.58 juga memberikan penjelasan mengenai kegiatan belajar mengajar yang hendak dilaksanakan yaitu mengenai menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Hasil pembelajaran pada siklus kedua ini diharapkan lebih baik . 3. pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dalam cerita.4 Refleksi Penulis menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan hasil kerja siswa. 3. panjang cerita.6 Siklus II Siklus kedua ini dilakukan sebagai usaha peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen dengan cara melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yaitu dengan memutarkan sebuah film remaja “Cinta Pertama”.3 Pengamatan dan observasi Peneliti mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung yaitu observasi tentang keaktifan dan keantusiasan siswa.

Setelah apresiasi.1 Perencanaan Pada siklus kedua ini. setelah itu siswa dapat menulis cerpen pada lembar yang telah disediakan.2 Pengamatan atau Observasi Dalam siklus kedua ini peneliti juga mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung. dan memilih karakter tokoh yang akan membantu siswa dalam mengembangkan cerita yang akan ditulis. 3.59 dibanding dengan hasil pembelajaran pada siklus pertama. 3. Apakah siswa lebih aktif melaksanakan kegiatan dan apakah siswa lebih antusias menulis cerpen.6.6. Perbedaannya terdapat pada langkah-langkah pembelajaran. siswa menyaksikan pemutaran film “Dealova” yang akan memudahkan siswa menemukan ide cerita. Hasil menulis cerpen siswa juga diobservasikan dengan cara yang sama dengan siklus pertama . Siklus kedua ini juga melalui langkah-langkah yang sama dengan siklus pertama. peneliti membuat rencana pembelajaran yang bagian-bagiannya sama dengan rencana pembelajaran siklus pertama. Selain itu peneliti juga bertanya langsung kepada beberapa siswa apakah mereka lebih menyukai pembelajaran pada siklus kedua dari pada pembelajaran pada siklus pertama beserta alasanalasannya.

1 Bentuk Instrumen Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk penilaian nontes dan dokumentasi yang berupa foto. Dalam sub.7 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diteliti. Dengan demikian permasalahan seberapa besar peningkatan minat dan seberapa besar peningkatan keterampilan siswa kelas X SMA N 2 Tegal dapat diketahui 3.6. Hasil analisa dipergunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding terhadap hasil penilaian siklus pertama dalam bentuk prosentase. Analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa antusias terhadap kegiatan menulis cerpen dan membandingkannya dengan hasil pengamatan pada siklus pertama dalam bentuk prosentase.60 3. Apakah ada peningkatan ratarata nilai. penilaian hasil menulis cerpen siswa. Apakah ada peningkatan atau tidak.7.3 Refleksi Pada siklus kedua ini penulis menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan penilaian hasil kerja siswa. kesulitan. dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen . dan wawancara dengan beberapa siswa tentang sikap. Peneliti juga menganalisa hasil menulis cerpen siswa dengan dengan cara menentukan rata-rata nilai kelas.bab ini dibahas bentuk dan validitas instrumen 3. Ada tiga jenis penilaian nontes yang digunakan yaitu penilaian kinerja siswa. respon.

pemilihan karakter tokoh.61 3. Penilaian meliputi isi cerita. kesesuaian judul dengan isi. Sudut Pandang Sangat baik Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh dengan baik 9-10 Baik Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh cukup baik 6-8 Cukup Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh kurang baik 3-5 Kurang Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh tidak baik 0-2 . alur cerpen dengan menggunakan kriteria penilaian sebagai berikut: Tabel 6 : Kriteria penilaian hasil menulis cerpen No Aspek 1. Latar Sangat baik Baik Latar dapat menggambarkan karakter tokoh cukup baik 6-8 Cukup Latar dapat menggambarkan karakter tokoh kurang baik 3-5 Kurang Latar dapat menggambarkan karakter tokoh tidak baik 0-2 4. Alur Sangat baik Baik Cukup Kurang Rangkaian peristiwa yang sangat runtut Rangkaian peristiwa yang runtut Rangkaian peristiwa yang cukup runtut Rangkaian peristiwa yang tidak runtut Latar dapat menggambarkan karakter tokoh dengan baik 18-20 12-16 6-10 0-4 9-10 3.7. Tema Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Profil Penilaian Sangat relevan dengan cerpen yang ditulis Relevan dengan cerpen yang ditulis Cukup relevan dengan cerpen yang ditulis Tidak relevan dengan cerpen yang ditulis Rentang skor 9-10 6-8 3-5 0-2 2.2 Penilaian Hasil Menulis Cerpen Penilaian hasil menulis cerpen para siswa dilakukan setelah mereka selesai menuliskan atau menuangkan sebuah cerita dalam lembar kerja yang disediakan pada siklus I maupun siklus II.

Nilai setiap siswa diperoleh dari jumlah skor dikalikan bobot setiap aspek dengan rumusan sebagai berikut : N = Σ S x 10 = Nilai setiap aspek Keterangan : N Σ S = Jumlah skor 6. kesesuaian isi dengan judul.62 5. nantinya akan dapat dibuat instrumen penelitian untuk hasil menulis cerpen yang meliputi penilaian. Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Sangat baik Baik Cukup Kurang Berdasarkan profil skor penilaian tersebut. Dengan rumusan sebagai berikut : R = ΣΝ Σr . isi cerpen.25 = Bobot tiap aspek Rata-rata nilai diperoleh dengan menjumlahkan nilai seluruh responden kemudian membaginya dengan jumlah responden. Gaya Bahasa Sangat baik Penggunaan bahasa yang sesuai dan tepat 9-10 Baik Penggunaan bahasa yang sesuai dan cukup tepat 6-8 Cukup Penggunaan bahasa yang sesuai dan agak tepat 3-5 Kurang Penggunaan bahasa yang tidak sesuai Sangat sesuai dengan tokoh film Sesuai dengan tokoh dalam film Cukup sesuai dengan tokoh dalam film Kurang sesuai dengan tokoh dalam film Perpaduan antar unsur sangat baik Perpaduan antar unsur baik Perpaduan antar unsur sangat baik Perpaduan antar unsur kurang 0-2 18-20 12-16 6-10 0-4 18-20 12-16 6-10 0-4 6. Tokoh dan Sangat baik Baik Cukup Kurang penokohan 7. dan alur cerita. pemilihan karakter tokoh.

satu unit televisi.63 Keterangan : R = Rata-rata nilai siswa ΣΝ = Jumlah nilai seluruh siswa Σ r = Jumlah responden Selain instrument-instrumen di atas. 3.3 Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti di luar waktu proses belajar mengajar setelah siklus kedua dilaksanakan terhadap siswa yang nilai hasil menulis cerpen pada siklus II masih kurang dan siswa yang nilainya mengalami peningkatan menjadi lebih baik Aspek yang diungkapkan dalam wawancara yaitu: 1) Sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran baik pada siklus pertama maupun kedua 2) Kesulitan yang dialami siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus pertama maupun kedua 3) Tanggapan / respon yang dilakukan siswa terhadap proses pembelajaran pada siklus pertama dan kedua 4) Motivasi yang menyebabkan siswa mengalami peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siklus pertama Hasil wawancara dianalisa dan disimpulkan sebagai penguat jawaban terhadap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap . satu unit VCD player. diperlukan pula instrument fisik yaitu sebuah CD yang berisi film remaja berjudul ”Cinta Pertama”.7. dan satu daya yang sesuai.

Untuk mengumpulkan data yang diperlukan suatu alat penelitian yang akurat. (3) Kegiatan siswa menyaksikan film. Proses pengambilan foto dilakukan pada saat siswa melaksanakan proses pembelajaran yang terdiri dari (1) Kegiatan awal pembelajaran. Pengambilan data melalui dokumentasi foto dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung.8 Teknik pengumpulan data Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data yang diperlukan. karena hasilnya sangat menentukan mutu dan penelitian. Foto yang diambil sebagai sumber data yang dapat memperjelas hasil penelitian 3. (4) Kegiatan tanya jawab. Gambar-gambar foto di deskripsikan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan siswa pada setiap siklus. peneliti meminta bantuan teman untuk mengambil gambar atau mendokumentasikan pembelajaran melalui foto.64 pembelajaran menulis cerpen setelah siswa mengalami pembelajaran menulis cerpen menggunakan media audio visual. (5) Kegiatan menulis cerpen. 3. (6) Kegiatan membacakan hasil menulis cerpen Pengambilan foto dalam proses pembelajaran menulis cerpen dapat dijadikan gambaran perilaku siswa dalam penelitian.4 Dokumen yang berupa foto Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas siswa dalam penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu teknik tes dan teknik nontes .7. (2) Kegiatan belajar mengajar.

Mengarahkan siswa dalam proses pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita d. Memberikan materi pembelajaran menulis cerpen b.65 3.Siswa ditugasi menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh e.Memutarkan sebuah film c. Meneliti dan mengolah data dari hasil penelitian f. tes ini dilakukan sebanyak dua kali yakni pada kedua siklus dilakukan tes menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik penandaian diri sebagai tokoh. Kekurangan yang terdapat pada siklus pertama harus dapat diperbaiki pada siklus kedua.8. .1 Teknik Tes Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan tes. Dalam penelitian ini siswa melaksanakan tugas secara individu yakni setiap siswa menulis sebuah cerpen pada lembar yang telah disediakan. Peneliti mengukur kemampuan menulis siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II Berdasarkan hasil tes siklus I dan siklus II target tingkat keberhasilan siswa ditetapkan jika dapat mencapai nilai rata-rata kelas 75 dan batas ketuntasan yang dicapai siswa adalah 60. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dengan teknik tes adalah: a.

Teknik pengumpulan data nontes diperlukan untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini ada tiga jenis teknik nontes yang dipergunakan yaitu pengamatan kinerja siswa dilaksanakan pada saat pembelajaran.2 Nontes Teknik nontes yang digunakan yaitu observasi. Adapun tahap observasi oleh peneliti dibantu seorang teman dan peneliti. Adapun tahap penelitiannya yaitu: a. jurnal dan dokumentasi. Mempersiapkan lembar observasi yang berisi beberapa pertanyaan tentang keaktifan siswa dalam proses pembelajaran b. wawancara. . Mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan 2. Observasi Observasi digunakan untuk mengungkapkan data keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. c. Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk mengungkapkan data penyebab kesulitan hambatan dalam pembelajaran menulis cerpen. sedangkan penilaian hasil wawancara dilaksanakan setelah proses pembelajaran 1.8. Penilaian ini didapat berdasarkan nilai tes siklus I dan berdasarkan observasi yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran . proses belajar mengajar sampai dengan siswa menulis cerpen. Wawancara dilakukan pada 4 siswa yaitu 2 siswa yang mendapat nilai tertinggi dan 2 siswa yang mendapat nilai rendah.66 3. Melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru.

Jurnal Setiap akhir pembelajaran menulis cerpen siswa menulis jurnal yang berisi pesan dan kesan yang mereka hadapi dalam menulis cerpen. (6) Kegiatan membacakan hasil menulis cerpen Pengambilan foto dalam proses pembelajaran menulis cerpen dapat dijadikan gambaran perilaku siswa dalam penelitian.67 3. Data yang diperoleh dari pengamatan kinerja setiap siswa pada siklus pertama dan siklus kedua berupa skor dijumlahkan dan diubah menjadi nilai kuantitatif dengan rumus : . serta saran tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual atau hal-hal yang ingin di kemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran menulis cerpen 4. Peneliti meminta bantuan teman untuk mengambil gambar atau mendokumentasikan pembelajaran melalui foto. Foto yang diambil sebagai sumber data 3. Proses pengambilan foto dilakukan pada saat siswa melaksanakan proses pembelajaran yang terdiri dari (1) Kegiatan awal pembelajaran. Dokumentasi Pengambilan data melalui dokumentasi foto dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. (2) Kegiatan belajar mengajar. (3) Kegiatan siswa menyaksikan film. (4) Kegiatan tanya jawab. Hasil wawancara menggunakan metode kualitatif. (5) Kegiatan menulis cerpen.9 Teknik Analisis Data Pengkajian atau analisis data dilakukan dengan metode kuantitatif untuk pengamatan kinerja siswa dan penilaian hasil menulis cerpen.

.Ν R1 x 100 % Ν R1 PP = Prosentase kenaikan nilai menulis cerpen siswa NR1= Rata-rata siklus 1 NR2= Rata-rata siklus 2 Persentase tersebut digunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding dalam menjawab permasalahan seberapa besar peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen setelah diberi pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Selisih rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua di prosentasekan dengan rumus: ΡΡ = Keterangan: Ν R2 . Selisih rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua.68 N1 = JS x 10 N2 = JS x 10 Keterangan : N1 = Nilai siklus 1 N2 = Nilai siklus 2 JS = Jumlah skor 10 = Bobot tiap skor Nilai seluruh siswa dijumlahkan dan di rata-rata kemudian dibandingkan antara hasil siklus pertama dengan siklus kedua.

69 69 .1 Hasil Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas diperoleh dari hasil tes dan nontes. Hasil tindakan siklus I dan siklus II tersebut disajikan dalam bentuk data kuantitatif. baik pada siklus I maupun siklus II. 4. Hal ini diketahui dari data yang peneliti peroleh dari guru mata pelajaran di SMA tersebut. Siswa tampak kesulitan dalam menuangkan ide-ide ke dalam bentuk cerpen. Hasil tes tindakan siklus I dan siklus II berupa keterampilan siswa menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. wawancara dan dokumentasi foto. Hasil nontes siklus I dan siklus II diperoleh dari data observasi.1 Kondisi Awal Kemampuan siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam menulis cerita pendek rata-rata masih rendah. hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti penggunaan media dan teknik pembelajaran yang kurang sesuai. Hasil penelitian nontes siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk deskriptif data kualitatif. Hasil kedua tes tersebut terangkum dalam dua bagian yaitu: siklus I dan siklus II.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Dari hasil pengamatan selama peneliti melakukan observasi masih banyak siswa yang kurang tertarik pada pembelajaran menulis cerpen. jurnal.

Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 50-59 0-49 39 2748 100 10 19 10 26 1223 546 26 48 26 2479 : 39 = 63. (2)Alur. Dari 39 siswa tidak ada satupun siswa yang berhasil meraih predikat sangat baik selanjutnya sebanyak 10 siswa atau 26 % memperoleh nilai baik yaitu antara 7084. meliputi: (1)Tema. (6)Tokoh dan Penokohan. (5)Gaya Bahasa. (7)Kepaduan antar unsur dalam cerpen. ada 19 siswa atau 48 % memperoleh nilai cukup dengan skor antara 60-69 kemudian ada 10 siswa atau 26 mendapat nilai kurang dengan skor antara 0-59. hal ini terbukti dari isi cerpen yang tidak sesuai dengan tema atau bahan pengajaran. Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor tujuh aspek penilaian yang diujikan. alur yang tidak jelas. 2. isi cerpen tidak sesuai dengan judul. konflik dan karakter tokoh yang kurang sesuai. 5.70 Kesulitan-kesulitan siswa juga tampak dari hasil kerja siswa. 4. .56 dalam kategori baik. Kategori Rentang Nilai 1. Hasil yang dicapai siswa masih rendah.56 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Dari tabel 1 diatas menunjukan bahwa hasil tes keterampilan menulis cerita pendek peserta didik mencapai nilai rata-rata 63. Seperti nampak pada tabel berikut: Tabel 1 Hasil Tes Kemampuan Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan No. 3. (3)Latar. (4)Sudut Pandang.

1.46 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 2 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada siswa yang mencapainya.1. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut: . 2. 3.1. 1.71 4.2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Pra Tindakan Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Pra Tindakan Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 6. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. 4. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100%.1.46 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik. 4. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 252 100 39 252 100 252 :39 6.

3. 2.72 Tabel 3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur No.36 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik.1.36 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 3 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 2. Jadi rata-rata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 12. 1.3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Pra Tindakan Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.72 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata . 4. 4. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar No. 1. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 10 siswa atau 26% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.1. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 482 100 29 10 382 100 74 26 482 : 39 = 12. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%. 3. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 262 100 39 262 100 262 : 39 =6.

Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. 4.1. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 4.72 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 5 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 2.15 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Pra Tindakan Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang No. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97%. 1. Jadi rata-rata pada aspek Sudut . Jadi rata-rata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.73 Data tabel 4 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 262 100 39 262 100 262 : 39 = 6.1. 3.

4. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 2.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Pra Tindakan Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 3.1. Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa No. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 6. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.74 Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 6.1.79 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 6 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 4.79 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik.72 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik. 1. . Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 265 100 39 265 100 265 :39 = 6.

Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No.33 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 7 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa yang mencapainya. 4. . 1. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 481 100 29 10 381 100 74 26 481 : 39 = 12. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%.33 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik.1. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 12.1.75 4. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 10 siswa atau 26 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Pra Tindakan Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 2. 3.

1.18 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 8 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 12.76 4. 4.1. Hasil tes menulis cerita pendek pada pra tindakan dapat dilihat pada diagram dibawah ini: .7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Pra Tindakan Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 8 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur No. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 475 100 30 9 385 90 77 23 475 : 39 = 12.18 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik. 1. 2. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 30 siswa atau 77%. Kategori cukup dengan skor 6-10 dicapai 9 siswa atau 23% dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 3.

Hasil kedua data tersebut diuraikan secara rinci sebagai berikut: 4.2 Hasil Tes Siklus I Hasil penelitian siklus I ini merupakan tindakan awal penelitian melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen siklus I terdiri atas tes dan nontes.1. yakni: (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya .1 Hasil Tes Hasil tes menulis cerita pendek siklus I ini merupakan data awal setelah dilakukannya tindakan pembelajaran melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh.2.77 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan 50 Persen (%) 48 26 26 40 30 20 10 0 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram I Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan 4. Kriteria perincian pada siklus I meliputi tujuh aspek penilain.1.

78 bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen.31 dalam kategori baik. Secara umum hasil tes keterampilan menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat dilihat pada tabel 1 berikut : Tabel 9 Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus I No. (7)Kepaduan antar unsur dalam cerpen. 2. (4)Sudut Pandang. Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor tujuh aspek penilaian yang diujikan. . Dari 39 siswa tidak ada satupun siswa yang berhasil meraih predikat sangat baik selanjutnya sebanyak 27 siswa atau 69 % memperoleh nilai baik yaitu antara 7084 ada 10 siswa atau 26% yang mendapat skor antara 60-69 kemudian ada 2 siswa atau 5% mendapat skor antara 0-59. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor 1. 4. 5. meliputi: (1)Tema. (6)Tokoh dan Penokohan. 31 0 27 10 2 0 1908 720 114 0 69 26 5 2742 : 39 Persen Rata-rata Dari tabel 9 diatas menunjukan bahwa hasil tes keterampilan menulis cerita pendek peserta didik mencapai nilai rata-rata 70. (3)Latar. (5)Gaya Bahasa. (2)Alur. 3. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 50-59 0 -49 39 2742 100 70.

1. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No.1.1. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut : . 4. 2.2. 4. 3.1. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100%.2.1. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 6.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Siklus I Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 257 100 39 257 100 257 :39 6.59 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 10 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada siswa yang mencapainya.2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Siklus I Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.79 4.59 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik.

Kategori baik dengan skor 16-12 dicapai 36 siswa atau 92%. 2. Jadi ratarata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 13. 3. 4. 4. 1. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 3 siswa atau 8% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.2. 1.80 Tabel 11 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur No. 4.92 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 11 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 20-18 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya.1.92 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik.3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Siklus I Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 12 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar No.1.15 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata . Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 279 100 38 1 274 5 97 3 279 : 39 7. 3. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 543 100 36 3 513 30 92 8 533 : 39 13. 2.

1. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97%.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Siklus I Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 278 100 39 278 100 278 : 39 7.1. 2.13 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 13 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang . 4. 3. 1. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 13 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang No.15 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik.2. 4. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.81 Data tabel 12 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Jadi ratarata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7.

1. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.67 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 14 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 4.67 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik. 3. . Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa No. 2. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 283 100 38 1 278 5 97 3 283 :39 13. Jadi rata-rata pada aspek Sudut Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 7.2.13 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik 4.82 dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. 1. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 13.1.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Siklus I Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.

Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 2 siswa atau 5 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.1. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 36 siswa atau 92%. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14.83 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 560 100 Frekuensi 1 36 2 Bobot Skor 18 522 20 Persen 3 92 5 560 : 39 14.6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus I Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.36 Rata-rata Data tabel 15 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa yang mencapainya.2. Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 15 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No. . 4. 1.1.36 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik. 2. 3.

1. 3. Kategori cukup dengan skor 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 4.90dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik.2. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 16 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No.7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Siklus I Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. Jadi ratarata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 13.84 4. 1. 2. Hasil tes keterampilan menulis cerita pendek pada siklus I dapat dilihat pada diagram berikut ini : . Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 542 100 39 542 100 542 : 39 13. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 39 siswa atau 100%.90 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 16 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya.1.

Kategori baik sebesar 72% kategori cukup baik sebesar 23 % dan kategori kurang sebesar 2 %.31 dalam kategori cukup.85 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus I 70 60 50 40 30 20 10 0 69 Persen (%) 26 5 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram 2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus 1 Data diagram menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek siswa mencapai 70. Untuk kategori sangat baik tidak ada siswa yang dapat mencapainya. . Masih minimnya kemampuan menulis cerpen kemungkinan disebabkan teknik yang digunakan oleh peneliti masih baru dan siswa masih merasa asing sehingga siswa perlu menyesuaikan diri.

wawancara. Semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 6.2.86 4. Semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 5.1.2 Hasil Nontes Hasil nontes pada siklus I didapatkan dari observasi. Semua siswa aktif bertanya. Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut : 4.2. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik 3. jurnal.2. Semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 2.1 Hasil Observasi Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. dan dokumentasi foto. Semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun . menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 4. Pengambilan data observasi bertujuan untuk mengetahui respon perilaku siswa dalam menerima pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Berikut beberapa aspek observasi: 1.1.

Dari aspek pertama yaitu semua siswa aktif dan bersemangat mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dikatagorikan baik karena sekitar 85% siswa yang begitu antusias mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Selama pembelajaran berlangsung sebagian siswa atau 15% dari . Selama pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual belum semua siswa dapat mengikuti dengan baik. Masih banyak siswa yang asik bercerita dengan teman sebelahnya dan rame sendiri. Aspek yang kedua yaitu semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik. Hal tersebut dapat dimaklumi. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi setiap aspek yang telah diobservasi oleh peneliti dengan bantuan seorang teman. Siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. karena pola pembelajaran yang diterapkan merupakan hal baru bagi siswa sehingga perlu proses untuk menyesuaikan diri Hasil observasi ini dapat diketahui bahwa belum ada perubahan atau peningkatan tingkah laku yang cukup berarti.87 7. Pada siklus I ini terdapat beberapa perilaku siswa yang dapat terdeskripsi melalui observasi. Siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat 8.

Pada siklus I siswa belum terbiasa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Siswa yang bersemangat menulis cerita pendek hanya sebesar 69% atau termasuk dalam kategori cukup. Semangat siswa bisa ditumbuhkan dengan selalu memotivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung Aspek yang keenam yaitu semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun termasuk dalam kategori baik.88 jumlah keseluruhan kurang memperhatikan penjelasan guru. Menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru. Aspek yang keempat yaitu semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru termasuk dalam kategori cukup karena sekitar 90% dari jumlah seluruh siswa mencatat meteri /hal-hal yang penting sisanya mereka masih asik bercerita dengan teman Aspek yang kelima yaitu semua siswa bersemangat dalam menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual. karena hanya 77% siswa yang serius dan tekun dalam mengerjakan tugas menulis cerita pendek. Hanya 85% dari jumlah siswa yang dengan serius memperhatikan penjelasan guru. Masih banyak yang bertanya karena kurang jelas terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru karena mereka tidak memperhatikan ketika dijelaskan Aspek yang ketiga yaitu semua siswa aktif bertanya. Siswa yang lain masih ngobrol dengan teman-temannya . Hasil dari observasi hanya 13% siswa yang aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan oleh guru.

Pada aspek ini terlihat hanya 64% siswa yang mampu merefleksi hasil menulis cerpen.89 Aspek yang ketujuh yaitu semua siswa mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat waktu. kesan. Pengisian jurnal dilaksanakan pada akhir pembelajaran menulis cerita pendek melalui media teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita denan media audio visual. Pada siklus I ini dapat dikatakan termasuk kategori cukup karena 69% siswa dapat mengumpulkan tugas menulis cerpen dengan tertib tetapi masih ada sebagian siswa yang masih meminta tambahan waktu Aspek yang kedelapan yaitu siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Pengisian jurnal dilaksanakan oleh seluruh siswa dikelas X4 SMA N 2 Tegal tanpa kecuali jurnal tersebut berisi tentang ungkapan perasaan siswa selama pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung.2 Hasil Jurnal Siswa Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal siswa.2.2.1. dan saran dari siswa selama pembelajaran berlangsung. 4. Tujuan diadakan jurnal untuk mengetahui pesan. kesan dan saran tersebut terangkum dalam dua pertanyaan yakni (1) Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual ? . Pesan.

mereka menganggap menulis cerita pendek adalah hal yang sulit dan mereka juga masih belum terbiasa dengan menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh seperti dalam cerita yang di perkenalkan oleh guru (peneliti).90 (2) Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (3) Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? (4) Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian dirisebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual? (5) Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yang telah diajarkan! Dari hasil jurnal siklus I. dapat diketahui 35 siswa atau sebanyak 90% memberikan kesan yang baik. Siswa merasa butuh terhadap materi yang disampaikan oleh . Sisanya 4 siswa atau sebanyak 10 % merasa kurang senang. Siswa merasa senang karena mereka dapat mengungkapkan/ menyalurkan isi hatinya. mangasah kemampuan berbahasa. menambah pengetahuan siswa tentang menulis cerpen dan selama proses belajar mereka merasa rilek (santai). siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. melatih imajinasinya. kemudian sebanyak 35 siswa atau 90 % siswa memberikan pesan yang baik yang dapat mendukung proses pembelajaran. mengekspresikan diri.

Namun 4 siswa lainnya atau 10 % tidak memberikan pesan yang mendukung pembelajaran. yakni saran yang dapat mendukung pembelajaran menulis cerita pendek.91 peneliti.2. minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat dikatakan cukup baik. Dalam siklus II ini 35 siswa atau sebanyak 90 % memberikan saran yang positif.2.3 Hasil Jurnal Guru Berdasarkan pengamatan guru pada saat pembelajaran berlangsung.1. Hal tersebut dapat dilihat pada keaktifan siswa ketika mengikuti pelajaran dan pada saat Tanya jawab Minat siswa tersebut juga didukung dengan pemutaran film remaja yang sesuai dan disukai para siswa sehingga siswa sudah terkondisi dengan sendirinya dengan rasa tertarik mereka terhadap cerita film yang diputarkan yang bisa dijadikan acuan untuk menulis cerpen Tingkah laku siswa dalam kelas sudah baik mereka tampak serius memahami isi cerita film yang sedang diputarkan tetapi masih ada beberapa anak yang asik bercerita dengan teman disebelahnya sehingga mereka kurang memahami isi film yang dapat memudahkan mereka menulis cerpen. 4 siswa lainnya atau 10 % tidak memberikan saran yang dapat mendukung pembelajaran 4. .

2.2.4 Hasil Wawancara Pada siklus I sasaran wawancara terhadap empat orang siswa terdiri atas dua siswa yang mendapatkan nilai baik dan dua orang yang mendapatkan nilai rendah. .1.92 4. Selain itu peneliti juga mewawancarai dua siswa yang terlihat kurang semangat mengikuti pelajaran hal ini dilakukan sebagai penguat jawaban terdahap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Wawancara ini mencakup tujuh pertanyaan yakni: (1) Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? (2) Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! (3) Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (4) Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? (5) Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi cerita melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (6) Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? Wawancara dilakukan diluar jam pelajaran yaitu setelah pembelajaran selesai peneliti mewawancari dua siswa yang terlihat aktif dan serius mengerjakan saat pembelajaran berlangsung.

2. cepat menemukan ide-ide dan memudahkan mereka menemukan karakter tokoh yang sesuai sedang dua siswa yang lain mereka merasa kesulitan karena tidak terlalu jelas mencerna isi film yang diputarkan dan sulit memilih karakter tokoh yang sesuai. Dokumentasi foto yang diambil pada saat penelitian meliputi: . mereka merasa lebih santai.1.2. Dokumentasi foto ini merupakan bukti konkret selama pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual. berupa kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengadaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual meliputi kegiatan menampilkan sebuah film remaja yang digemari oleh siswa kemudian siswa menyaksikan pemutaran film dengan konsentrasi penuh terhadap cerita dan tokoh-tokoh dalam film tersebut yang akan membantu dan mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek.5 Hasil Dokumentasi Pada siklus 1 dokumentasi foto yang difokuskan pada kegiatan selama pembelajaran berlangsung.93 Dari keempat siswa menjawab mereka pernah menulis cerpen karena sebelumnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia telah mengajarkan pembelajaran menulis cerpen dan pada umumnya mereka menjawab bahwa jenis cerpen yang biasa ditulis yaitu cerpen yang bertemakan cinta. Dua orang siswa menjawab kalau mereka senang menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Dari ke empat siswa mereka masih merasa kesulitan dalam menentukan judul (tema) dan cara mengembangkan cerita yang baik 4.

5) Siswa menulis sebuah cerpen. 2) Kegiatan guru memberikan sedikit materi. .94 1) Kegiatan awal pembelajaran. yaitu pada awal pembelajaran saat guru melaksanakan apersepsi dan menyampaikan tujuan pelajaran dari gambar diatas terlihat kondisi kelas dan siswa yang beraneka ragam. Deskripsi siklus I selengkapnya dipaparkan sebagai berikut : Gambar 1 (Kegiatan awal pembelajaran menulis cerpen) Pada tahap siklus I pada gambar 1 tersebut menunjukan kegiatan siswa saat pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung. 4) Guru memberikan penjelasan kepada siswa yang bertanya. 3) Para siswa menyaksikan pemutaran film. dan terlihat sebagian besar siswa begitu antusias memperhatikan penjelasan guru .

95 Gambar 2 (Kegiatan guru memberikan materi) Pada gambar 2 diatas tampak guru sedang memberikan / menuliskan materi atau hal-hal penting yang harus diperhatikan siswa dalam menulis cerpen sehingga mereka dapat membuat cerpen dengan mudah dan menarik. .

96 Gambar 3 (Kegiatan siswa menyaksikan film) Pada gambar 3 diatas tampak para siswa begitu senang dan serius menyaksikan pemutaran film “Dealova” yang digunakan sebagai media untuk mempermudah siswa dalam menulis cerpen pada siklus I Gambar 4 (Kegiatan guru memberikan penjelasan pada salah satu siswa) .

Semua siswa terlihat serius dalam menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diajarkan oleh peneliti. Gambar 5 ( Kegiatan siswa menulis cerpen) Pada gambar diatas tampak siswa begitu serius menulis sebuah cerita pendek setelah selesai menyaksikan pemutaran film “Dealova”.97 Pada gambar 4 diatas tampak beberapa orang siswa menanyakan seputar isi dan karakter tokoh dalam film yang telah dilihat kepada guru dan guru memberikan arahan kepada mereka tentang penggunaan karakter tokoh dalam film tersebut yang bisa dijadikan gambaran dan memudahkan mereka dalam menulis sebuah cerita pendek yang menarik .31. sebagian siswa masih sulit dalam menentukan tema dan karaktek tokoh dalam cerpen. . Hasil siklus I sudah mencapai target namun rata-rata hasil menulis siswa masih minim yakni 70.

Selain perubahan perilaku dalam pembelajaran menulis cerita pendek masih tergolong normal dan belum tampak perubahan yang berarti. Pada siklus II penelitian dilaksanakan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang dari pada siklus I.31 hal ini disebabkan adanya sedikit kendala yakni sebagian siswa sulit menentukan tema cerita dan karakter tokoh yang sesuai. Disamping itu berdasarkan jurnal siswa. observasi dan dokumentasi foto diperoleh hasil perilaku siswa belum mengalami perubahan perilaku yang cukup berarti. hal ini di sebabkan masih banyak siswa yang kurang tertarik untuk menulis sebuah cerpen dan penggunaan teknik pengandaian diri hal ini dikarenakan teknik ini baru mereka ketahui dan belum memahami benar bagaimana penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dan penggunaan media audio visual dalam pembelajaran menulis cerpen.98 4.3 Hasil Tes Siklus II Tindakan siklus II dilaksanakan karena karena pada siklus I keterampilan menulis cerita pendek pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal masih dalam kategori yang cukup dan belum memenuhi target maksimal pencapaian nilai rata-rata kelas yang ditentukan.1. yakni hanya mencapai rata-rata 70. 4. Dengan demikian tindakan siklus II diadakan untuk mengatasi masalah tersebut.1. Dari hasil tes menulis cerita pendek diperoleh hasil nilai siswa masih sudah mencapai target yang diinginkan namun hasilnya masih minim. Dengan adanya perbaikan-perbaikan yang mengarah pada peningkatan hasil pembelajaran tanpa mengesampingkan penggunaan media .1.3 Refleksi Hasil Penelitian Siklus I Berdasarkan penelitian pada siklus I ini dapat diketahui bahwa hasil yang diperoleh siswa belum memuaskan baik dari segi tes maupun nontes. wawancara.

5. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 0-59 0-49 39 2933 100 1 34 4 86 2592 255 3 87 10 2933 : 39 = 75.3. Secara umum hasil tes menulis cerita pendek melalui pendekatan keterampilan proses dapat dilihat pada tabel berikut. namun masih tetap menggunakan teknik pengandaian diri melalui media audio visual. Hasil selengkapnya mengenai tes dan nontes siklus II ini diuraikan sebagai berikut: 4. Kriteria penilaian pada siklus ini masih tetap sama seperti pada siklus I meliputi 7 aspek yaitu: (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen.99 audio visual dan teknik pengandaian diri sebagai tokoh.1 Hasil Tes Hasil tes menulis cerita pendek pada siklus II ini merupakan data kedua setelah diberlakukan perbaikan tindakan pembelajaran pada pra tindakan dan siklus I.1. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor 1. maka hasil penelitian yang berupa hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa meningkat dari kategori cukup meningkat ke kategori baik. 2. 4. kreatif. Tabel 17 Hasil Tes Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siklus II No. 3. dan lebih terbuka dalam menerima pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual.21 Persen Rata-rata . Meningkatnya nilai tes ini diikuti pula dengan peningkatan perilaku siswa yang lebih aktif.

21 yang berada diantara skor 70-84. Faktor internal dapat dilihat dari kemampuan siswa yang semakin meningkat. Hasil rata-rata yang meningkat ini merupakan keberhasilan guru atau peneliti dan siswa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. secara klasikal mencapai nilai rata-rata 75. Faktor eksternal yang tak kalah pentingnya adalah strategi atau pendekatan yang digunakan oleh guru atau peneliti. Sekarang siswa kelas X4 sudah bisa menulis cerita pendek dengan baik dan mempehatikan 7 aspek dalam . 4 siswa atau 10% mendapat nilai cukup baik yaitu pada rentang nilai 60-69 dan tidak ada siswa yang mendapatkan nilai kurang yaitu pada rentang 0-59. siswa mulai paham dengan apa yang diajarkan guru atau peneliti. ada 1 siswa atau 3% yang mendapat nilai sangat baik yaitu pada rentang nilai 85-100. dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual peneliti berhasil meningkatkan pemahaman siswa dalam menulis cerita pendek. Dari 39 siswa. 34 siswa atau 87 % mendapatkan nilai baik yaitu pada rentang nilai 70-84.100 Dari tabel 17 di atas menunjukan bahwa hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal masuk dalam kategori baik. Latihan menulis cerita pendek secara terus menerus akan berdampak positif pada kemampuan siswa yakni kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek semakin meningkat. Peningkatan kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal disebabkan beberapa faktor yang melingkupinya. yakni faktor internal dan eksternal. Melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual guru atau peneliti dapat mengatasi persoalan yang dialami oleh siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal.

1. 4. 4.3. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 7. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 303 100 Frekuensi 3 36 Bobot Skor 27 276 Persen 8 92 Rata-rata 303 :39 = 7. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan.1. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No. 2.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Siklus II Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek.Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil pencapaian skor siswa yang mengalami peningkatan pada tiap aspek penilaian cerita pendek dibawah ini. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 36 siswa atau 92%. 3.77 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik. 1.77 Data tabel 18 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 3 siswa atau 8% yang mencapainya.101 cerpen seperti : (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen. .

102

4.1.3.1.2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Siklus II

Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 19 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 600 100 15,38 Frekuensi 6 33 Bobot Skor 107 493 Persen 15 85 600 : 39 Rata-rata

Data tabel 19 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 20-18 atau maksimal ada 6 siswa atau 15% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 16-12 dicapai 33 siswa atau 85%. Kategori cukup 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Jadi rata-rata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 15,38 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik.
4.1.3.1.3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Siklus II

Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut

103

Tabel 20 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 300 100 Frekuensi 2 37 Bobot Skor 18 282 Persen 5 95 300 : 39 7,69 Rata-rata

Jumlah

Data tabel 20 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 2 siswa atau 5% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 37 siswa atau 95%. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Jadi rata-rata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7,69 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik.

4.1.3.1.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Siklus II

Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 21 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 300 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 9 291 Persen 3 97 300 : 39 7,69 Rata-rata

104

Data tabel 21 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 1 siswa atau 3% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Jadi rata-rata pada aspek Sudut Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 7, 69 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik.

4.1.3.1.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Siklus II

Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 22 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 288 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 9 289 Persen 3 97 298 :39 7,64 Rata-rata

Jumlah

Data tabel 22 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 1 siswa atau 3% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor

.6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus II Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 4.105 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 3. Kategori baik dengan skor 1216 dicapai 38 siswa atau 97%. 1. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14.92 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik. Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 23 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No. Kategori cukup 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.3.1.1. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 582 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 18 564 Persen 3 97 582 : 39 14. 2.64 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik.92 Rata-rata Data tabel 23 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa atau 3 % yang mencapainya. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 7.

1. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14.10 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik.1.1.3. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 24 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Keterpaduan Antar Unsur No. 3. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 662 100 29 10 390 160 74 26 550 : 39 14. .106 4. 4. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%.7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Siklus II Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.10 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 24 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 2. Kategori cukup dengan skor 6-10 dicapai 10 siswa atau 26%.

Pengambilan data observasi bertujuan untuk mengetahui respon perilaku siswa dalam menerima pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Keterangan aspek observasi: .3.1. Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut: 4.2.1 Hasil Observasi Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. jurnal. dan dokumentasi foto.107 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 87 persen (%) 10 3 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram 3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II 4. wawancara.3.1.2 Hasil Nontes Hasil nontes pada siklus I didapatkan dari observasi.

menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 4. Siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat 8. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik 3. Semua siswa aktif bertanya. Semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 5. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi setiap aspek yang telah diobservasi / diamati oleh peneliti pada siklus II yaitu sebesar 69%. Siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 6. Semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 2. Ini berarti sebagian besar siswa mengalami peningkatan dari perilaku negatif menjadi perilaku positif Aspek observasi yang pertama yaitu semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dapat dikategorikan sangat . Dari hasil observasi pada siklus II dapat diketahui perubahan tingkah laku siswa kearah yang positif. Semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun 7.108 1.

Dari aspek observasi yang ketiga yakni siswa aktif bertanya dan menjawab serta berkomentar mengenai materi yang disampaikan oleh guru atau peneliti. Pada siklus II ini sudah ada peningkatan perilaku dari siklus I. Aspek yang keempat yaitu semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru dapat dikategorikan sangat baik atau mencapai skor 100%. Aspek yang kelima semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Ketika siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru atau peneliti siswa terlihat lebih bersemangat.109 baik dengan pencapaian 92%. Selama pembelajaran berlangsung belum memperoleh hasil yang memuaskan namun sudah ada peningkatan karena 21% dari siswa aktif dalam bertanya dan berkomentar terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru atau peneliti. Semua siswa rajin menuliskan hal-hal yang penting dalam buku catatannya. . Persentase pembelajaran ini mencapai 77% Aspek yang keenam yaitu semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun mencapai 87% atau masuk dalam kategori sangat baik. Siswa sudah mulai semangat dan antusias mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual Aspek yang kedua yaitu semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan sangat baik. Pada siklus II 95% dari siswa memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru atau peneliti.

3. Kemampuan siswa untuk merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerpen semakin meningkat yaitu mencapai 72% atau termasuk dalam kategori baik. 4. jurnal tersebut berisi tentang ungkapan perasaan siswa selama pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung. Jurnal siswa diisi oleh semua siswa di kelas X4 SMA N 2 Tegal.1. Suasana pada saat siswa mengisi jurnal tampak tenang. Siswa tampak senang memperoleh lembar jurnal dan ingin segera mengisinya.2 Hasil Jurnal Siswa Jurnal yang digunakan pada siklus II masih sama dengan yang digunakan pada siklus I. Aspek yang kedelapan yaitu siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Pengisian jurnal dilaksanakan pada akhir pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Mereka menjawab semua pertanyaan dibawah ini : . Pada siklus II ini semua siswa mengumpulkan tugas menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat. Pada aspek ini mencapai persentase 97% atau termasuk kategori sangat baik.110 Aspek yang ketujuh siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat.2. Pengisian jurnal pada siklus II ini sudah pernah dilakukan siswa pada siklus I.

Peningkatan ini disebabkan siswa telah mengenal teknik dan media yang digunakan peneliti. melatih imajinasinya.111 (1) Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual ? (2) Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (3) Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? (4) Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian dirisebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual? (5) Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yang telah diajarkan! Dari hasil jurnal siklus II. mengekspresikan diri. siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. mangasah kemampuan berbahasa. dapat diketahui 39 siswa atau sebanyak 100% memberikan kesan yang baik. menambah pengetahuan siswa tentang menulis cerpen dan selama proses belajar mereka merasa rilek (santai). Sebanyak 38 siswa atau 97 % siswa memberikan pesan . Siswa merasa senang karena mereka dapat mengungkapkan/ menyalurkan isi hatinya. kemudian mereka merasa teknik dan media yang digunakan oleh guru (peneliti) dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.

4.1.3.3 Hasil Wawancara Pada siklus II sasaran wawancara terhadap empat orang siswa terdiri atas dua siswa yang mendapatkan nilai baik dan dua orang yang mendapatkan nilai rendah. Namun 1 siswa lainnya atau 3 % tidak memberikan pesan yang mendukung pembelajaran.112 yang baik yang dapat mendukung proses pembelajaran. Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3. pesan. Dalam siklus II ini 38 siswa atau sebanyak 97 % memberikan saran yang positif. Wawancara ini mencakup tujuh pertanyaan yakni: 1. Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? . 1 siswa lainnya atau 3 % tidak memberikan saran yang dapat mendukung pembelajaran Dari hasil penilaian di atas dapat diketahui bahwa dari aspek yang diungkapkan dari jurnal yakni. yakni saran yang dapat mendukung pembelajaran menulis cerita pendek. kesan dan saran secara keseluruhan mengalami peningkatan. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2. Hal ini disebabkan siswa sudah mulai terbiasa dengan pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti.2. Siswa merasa butuh terhadap materi yang disampaikan oleh peneliti. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4.

Selain itu peneliti juga mewawancarai dua siswa yang terlihat kurang semangat mengikuti pelajaran hal ini dilakukan sebagai penguat jawaban terdahap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi cerita melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6.113 5. . cepat menemukan ide-ide dan memudahkan mereka menemukan karakter tokoh yang sesuai sedang dua siswa yang lain mereka merasa kesulitan karena tidak terlalu jelas mencerna isi film yang diputarkan dan sulit memilih karakter tokoh yang sesuai. Dua orang siswa menjawab kalau mereka senang menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? Pada umumnya Wawancara dilakukan diluar jam pelajaran yaitu setelah pembelajaran selesai peneliti mewawancari dua siswa yang terlihat aktif dan serius mengerjakan saat pembelajaran berlangsung. Dari keempat siswa menjawab mereka pernah menulis cerpen karena sebelumnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia telah mengajarkan pembelajaran menulis cerpen dan pada umumnya mereka menjawab bahwa jenis cerpen yang biasa ditulis para siswa yaitu cerpen yang bertemakan cinta. mereka merasa lebih santai. Dari ke empat siswa mereka sudah bisa mentukan tema dan memilih karakter tokoh yang sesuai.

4 Hasil Dokumentasi Pada siklus 1 dokumentasi foto yang difokuskan pada kegiatan selama pembelajaran berlangsung.1.2. Dokumentasi foto yang diambil pada saat penelitian meliputi: 1) Kegiatan awal pembelajaran 2) Kegiatan guru memberikan sedikit materi 3) Para siswa menyaksikan pemutaran film 4) Guru memberikan penjelasan kepada siswa yang bertanya 5) Siswa menulis sebuah cerpen Deskripsi siklus II selengkapnya dipaparkan sebagai berikut: Gambar 6 (Kegiatan siswa menyaksikan film) . Dokumentasi foto ini merupakan bukti konkret selama pembelajaran menulis cerrpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual.114 4. berupa kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengadaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual meliputi kegiatan menampilkan sebuah film remaja yang digemari oleh siswa kemudian siswa menyaksikan pemutaran film dengan konsentrasi penuh terhadap cerita dan tokoh-tokoh dalam film tersebut yang akan membantu dan mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek.3.

21. . Semua siswa terlihat serius dalam menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diajarkan oleh peneliti. Hasil siklus II sudah mencapai target namun rata-rata hasil menulis siswa yaitu 75.115 Pada gambar 6 diatas tampak para siswa begitu senang dan serius menyaksikan pemutaran film “Cinta Pertama” yang digunakan sebagai media untuk mempermudah siswa dalam menulis cerpen pada siklus II Gambar 7 (Kegiatan siswa menulis cerpen) Pada gambar diatas tampak siswa begitu serius menulis sebuah cerita pendek setelah selesai menyaksikan pemutaran film “Cinta Pertama”.

116

Gambar 8 (Kegiatan siswa membacakan hasil menulis cerpen) Tampak salah seorang siswa sedang membacakan hasil menulis cerpen. Dalam membacakan cerpennya, ekspresi siswa ini nampak menghayati dalam menyampaikan isi cerita pendek kepada teman-temannya. Siswa yang lain memperhatikan pembacaan cerpen tersebut, tetapi masih ada beberapa anak tersenyum melihat ekspresi temannya yang sedang menghayati isi cerpen. Siswa ini nampak berhasil dalam membawakan / mengekspresikan karakter tokoh.

4.1.3 Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari peneliti siklus II ini, sudah banyak terjadi peningkatan nilai dan perilaku siswa kelas X4 SMA N2 Tegal. Pada siklus II ini, rata-rata siswa mencapai 75,21 % nilai tersebut sudah melebihi standar nilai

117

yang ditargetkan. Hal ini disebabkan siswa sudah lebih memahami mengenai cerita pendek, siswa sudah mulai terbiasa dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diterapkan. Dari perilaku siswa sudah ada peningkatan dari siklus I pada siklus II, siswa sudah lebih aktif dan memperhatikan penjelasan guru (peneliti) dengan baik .

4.2 Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ditujukan untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Permasalahan pertama yaitu adakah peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. Permasalahan yang kedua yaitu adakah perubahan perilaku siswa kelas X4 SMA N2 Tegal.

4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal.

Persoalan peningkatan kemampuan menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dapat dijawab dengan deskriptis data secara kuantitatif untuk mengetahui peningkatan rata-rata kemampuan menulis certia pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dari tahap siklus I ke siklus II.

118

Pada kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual siklus I terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek belum memenuhi rata-rata yang telah ditentukan. Hasil tes menulis cerita pendek siswa pada siklus I mencapai 70,31. Pembelajaran menulis cerita pendek pada siklus I walaupun dioptimalkan pembelajarannya dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual namun hasilnya belum memuaskan. Keadaan tersebut disebabkan oleh masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerita pendek diantaranya dalam menentukan tema dan karakter tokoh yang sesuai, siswa juga belum begitu memahami aspekaspek yang terdapat dalam penulisan cerita pendek. Siswa belum dapat mengemas kata-kata hingga menjadi rangkaian kata yang menarik dan indah ke dalam bentuk cerpen Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Hasil pada siklus II lebih baik dari siklus I, hasil siklus II mengalami peningkatan. Lebih rinci peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat dilihat pada tiap aspek penilaian yang disajikan pada tabel berikut :

Tokoh Penokohan dan 61. Tema 64.9 = 66 69.5 = 71 0.8 = 62 1.8 = 62 antar 60.88 11.41 0.92 63.9 = 77 76.2 = 67 0.21 6.4 = 76 74. Latar 67.03 0.56 0.6 = 75 70.6 = 70 71.31 2.3 = 71 72.9 = 77 76.63 .43 0.47 0.75 = 64 = 70 = 75 4.20 1.02 3. Gaya Bahasa 67.56 70.31 75.119 Tabel Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek No Aspek Penilaian Nilai Rata-rata Kelas PT SI S II PT – S I Peningkatan SI – SII PT – S II 1.6 = 73 77.85 6.6 =65 65.97 4.72 0.13 1.56 2.46 3.59 7.5 = 70 2.9 = 68 0.97 5.5 = 72 71.9 = 61 = 72 69. Kepaduan unsur 1. Alur 61.7 = 78 76.2 =67 0.56 1.65 71.9 = 77 76. Sudut Pandang 67.18 1.54 0.38 0.

44 15. Tema Alur Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa Tokoh Penokohan 0.49 7. 5.95 15.01 12.90 20.97 0.85 2.20 1.90 10. Hasil tes siklus I menulis cerita pendek dengan rata-rata nilai mencapai 70 atau dalam kategori baik karena dalam rentang 70 -84.92 16.56 0.72 0.76 6.43 0. tetapi nilai tersebut belum memenuhi rata-rata nilai yang ditentukan yaitu 75.62 6.02 0.63 10.23 3.54 0.85 5. 6. Uraian tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut.46 Data tabel diatas merupakan rekapitulasi hasil tes kemampuan menulis cerita pendek siklus I dan siklus II.31 3.12 1.46 0.40 6.75 4.43 14.43 12.88 11.38 0.59 2.120 Tabel Prosentase Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek No Aspek Penilaian Nilai Rata-rata Kelas PT SI S II Peningkatan (%) PT – S I SI – SII PT – S II 1.97 0.43 14. 4. 3.10 6. Nilai rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian. 2.18 1.92 14.03 1.13 1. .41 0. Kepaduan unsur antar 1.28 24.56 1.56 0.46 17.47 dan 2.55 7.62 7.52 21 7.

Aspek penggunaan alur nilai rata-rata sebesar 77 masuk ktegori baik. Aspek gaya bahasa nilai rata-rata 76 masuk dalam kategori baik.121 Pada aspek tema nilai rata-rata sebesar 66 masuk dalam kategori cukup. Aspek penggunaan sudut pandang nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Kemampuan siswa menulis cerpen pda siklus I belum bias mencapai nilai rata-rata hal ini disebabkan oleh beberapa factor yang melingkupinya. Nilai masing-masing aspek diuraikan sebagai berikut. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian tiap aspek menunjukan hasil yang kurang memuaskan. Factor internal ini dapat dilihat dari hasil menulis cerita pendek dalam aspek kebahasaan dan aspek kesastraan yang masih kurang. Aspek penggunaan latar nilai rata-rata sebesar 72 masuk dalam kategori baik. Pencapaian nilai tersebut telah mencapai nilai rata-rata yang ditentukan. Pada aspek tema nilai rata-rata sebesar 78 masuk dalam kategori baik. Faktor eksternal berasal dari penggunaan teknik dan media pembelajaran yang kurang sesuai. Aspek gaya bahasa nilai rata-rata 73 masuk dalam kategori baik. Aspek penentuan karakter tokoh/ penokohan nilai rata-rata 72 masuk dalam kategori baik. Aspek penggunaan alur nilai rata-rata sebesar 70 masuk kategori cukup. Aspek penentuan .21 dalam kategori baik. Aspek kepaduan antar unsur nilai rata-rata 70 masuk dalam kategori baik. seperti faktor internal dan eksternal. Aspek penggunaan latar nilai rata-rata sebesar 72 masuk dalam kategori baik. karena berada dalam rentang 70-84. Aspek penggunaan sudut pandang nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Hasil tes menulis cerita pendek siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75.

Kemampuan siswa menulis cerpen pda siklus II sudah bisa mencapai nilai rata-rata. Aspek kepaduan antar unsur nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Karena pada siklus II ini nilai rata-rata siswa mencapai 75 hal ini dikarenakan penggunaan teknik dan media yang sesuai sehingga dapat mendukung atau mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek yang baik dan menarik. dan siklus II dapat dilihat pada diagram batang sebagai berikut.122 karakter tokoh/ penokohan nilai rata-rata 75 masuk dalam kategori baik. dan Siklus II Keterangan: PT = Pratindakan. 80 70 Nilai Rata-rata 60 50 40 30 20 10 0 PT SI S II 64 70 75 Diagram batang 4. Hasil Keterampilan Menulis Cerpen Pratindakan. SII = Siklus II . SI = Siklus I. Siklus I. siklus I. Peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dari pratindakan.

jurnal. sikap siswa dalam menerima materi pembelajaran juga belum terfokus. Menurut sebagian besar siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal yang menyatakan bahwa teknik tersebut dapat mempermudah mereka dalam menulis cerpen karena kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dapat diatasi dengan teknik tersebut. kesiapan mengikuti pelajaran sudah mulai terliat dan sikap siswa dalam menerima pelajaran sudah mulai terfokus.123 4. adanya siswa yang bercanda dan tidak bersemangat mengikuti pembelajaran Pada siklus II sudah ada perubahan perilaku siswa. sebagian besar siswa mencatat materi yang disampaikan oleh guru dan mereka nampak serius memperhatikan isi cerita film beserta karakter para tokoh dalam film yang diputarkan. hanya beberapa siswa saja yang masih tetap mengobrol sendiri Berdasarkan hasil jurnal dari siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin senang terhadapteknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya siswa yang mengobrol sendiri. yang dipaparkan dalam uraian di bawah ini.2 Peningkatan Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual dengan Teknik Pengandaian diri sebagai Tokoh dalam cerita terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai perubahan perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siklus I dan siklus II. Dari hasil nontes yaitu melalui observasi pada siklus I kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual terlihat. Perubahan perilaku tersebut diperoleh dari observasi. .2. wawancara dan dokumentasi foto.

Berdasarkan kedua gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku negatif siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen mengalami peningkatan. Selain itu teknik tersebut juga dapat memotivasi dan menumbuhkan minat bagi siswa untuk menulis cerpen.124 Berdasarkan hasil angket dari siklus I ke siklus II diperoleh hasil bahwa sebagian dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan setuju bahwa teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dalam menulis cerpen sangat menyenangkan dan dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis cerpen. terdapat perubahan perilaku . Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen. siswa semakin tahu banyak tentang cerpen dan bagaimana menulis cerpen. siswa terlihat sangat serius dalam menulis cerpen. Selain itu pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu siswa semakin berminat menulis cerpen. Berdasarkan hasil dokumen foto siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin tertib dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. terlihat masih ada siswa yang melakukan perilaku negatif yaitu bercanda dengan temannya saat proses belajar di kelas. Dari hasil foto (gambar 5) menunjukkan aktivitas saat menulis cerpen pada siklus I. sedangkan pada siklus II yang ditunjukkan pada gambar 7. Siswa juga dapat mengambil manfaat dari pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa siswa senang dan tertarik dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Selain itu.

125 yaitu dari perilaku negatif ke perilaku positif siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerita pendek. .

maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Perilaku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual mengalami perubahan kearah positif.31) atau meningkat sebesar 10. kemudian pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75 (pembulatan ke bawah dari 75.63 atau 18. Hasil rata-rata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 64 (pembulatan ke atas dari 63. 126 . 2.19) atau meningkat sebesar 6. Perubahan tersebut ditunjukan dengan perilaku siswa yang kelihatan lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen.1 Simpulan Berdasarkan rumusan masalah dari hasil penelitian serta pembahasannya.30 %. Kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA N 2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11.94 dari siklus I. Pemerolehan ini menunjukan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dapat meningkat dan berhasil.62 % dari rata-rata pratindakan.BAB V PENUTUP 5.56) dan pada siklus I rata-ratanya menjadi 70 (pembulatan ke bawah dari 70.

127 5. maka penulis menyarankan beberapa hal dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis cerpen sebagai berikut: 1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya lebih bervariasi dalam memilih teknik dan media pembelajaran agar siswa menjadi lebih berminat mengikuti proses pembelajaran dan tidak merasa jenuh. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya mengembangkan penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dan media audio visual secara kreatif dan efektif misalnya dengan cara memperbanyak jenis cerita dan bahan ajar lain yang berhubungan kesusastraan. 3. Teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat membantu siswa dalam menulis cerpen karena siswa lebih banyak menggunakan alat inderanya yang mencakup pendengaran dan penglihatan. Hendaknya media audio visual juga digunakan pada mata pelajaran yang lain secara bervariasi dengan media-media yang lain.2 Saran Berdasarkan simpul hasil penelitian ini. 2. . Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya memandang bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. sehingga pembelajaran menulis cerpen ini hendaknya mendapat porsi yang cukup dan tidak dilewati begitu saja. 4. Salah satu alternatif dalam menggunakan media pembelajaran adalah penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang diputar melalui media audio visual yang telah terbukti dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen secara aktif dan menyenangkan.

Dasar-dasar Teori Sastra. Murdiati. Media Pembelajaran. 2003. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. Suwara.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Pengalaman Pribadi sebagai Basis melalui Pendekatan Proses pada Siswa Kelas X SMA N 5 Semarang. 2001. 1982. Strategi Penguasaan Bahasa. Jakarta : Grasindo 128 . Media Pengajaran. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. Yogyakarta : Adi Cita Suharianto. Teknik Menulis Cerita Anak. Oemar. 1983. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. Bandung: Sinar Barulgensindo Arsyad. 1994. 2006. Optimalisasi Majalah Dinding dalam Pembelajaran Apresiasi Cerpen dengan Pembelajaran Kontekstual pada Siswa Kelas X4 SMA N 1 Keling Kabupaten Jepara tahun ajaran 2005/2006. Yogyakarta. Titik. 2007. Azhar. Hamalik. Surakarta : Widya Duta Sudjana. 2004. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Peningkatan Keterampilan Menyimak Berita melalui Media Audio Visual dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry pada Siswa Kelas VII A SMP N Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2005/2006 Sayuti. A Suminto. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Tarigan. Bandung : Citra Aditya Bakti Kusworosari. Media Pendidikan. Pengantar Kemampuan Menulis Cerpen dengan Metode Karya Wisata pada Siswa Kelas 1-3 MA Ma’mahadut Thalabah Babakan Lebaksiu Tegal tahun ajaran 2001/2002. 2002. 2005. Pranggawidagda. dkk. Nana dan Achmad Rivai. Jakarta : PT. Asul. Jakarta : Sinar Baru Algensindo Suratno. 2006. Bandung : Angkasa Bandung. 2002. Wiyanto. Raja Grafindo Persada Fariqoh. Kesusastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Cara Menulis Kreatif. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. 1988. 1987.

INDIKATOR Menulis cerpen berdasarkan 7 aspek dalam cerpen Mengembangkan ide dalam bentuk cerpen D.151 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran Jenjang Kelas Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : SMA :X : 2 x 45 A. gagasan. B. Guru bertanya jawab tentang cerpen dan bertanya tentang film favorit yang bisa dilihat siswa 2. SKENARIO PEMBELAJARAN PENDAHULUAN 1. menulis cerpen. KOMPETENSI DASAR Menulis berbagai karya sastra (Puisi & Cerpen) C. Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dipelajari . atau menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai latar/ setting. MATERI POKOK Menulis Cerpen E. STANDAR KOMPETENSI Mampu mengungkapkan pendapat. dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi.

Penilaian proses Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Siswa menyaksikan pemutaran film dengan perhatian/konsentrasi penuh pada cerita film 4. Erlangga G. Guru mengenalkan kepada siswa media audio visual yang akan dipergunakan dalam pembelajaran menulis cerpen 2. MEDIA / SUMBER Media Sumber : TV dan VCD : 1) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X 2) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan . Guru beserta siswa merefleksi unsur-unsur dan cara yang digunakan dalam menulis cerpen 2. Siswa menulis sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dan mengembangkan cerita sesuai keinginannya PENUTUP 1. Siswa dibantu guru mengidentifikasi unsur-unsur dalam film tersebut yang dapat digunakan untuk menulis cerpen 5. Guru memutarkan sebuah film yang digunakan dalam pembelajarn untuk menarik perhatian dan minat siswa 3. Guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen F. Siswa mengandaikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam film dan mengembangkan cerita sesuai daya imajinasinya 6. PENILAIAN 1.152 INTI 1.

S NIM. 132141542 Nurul Melti I.153 2. Sri Mulyani R NIP. 2101403564 . April 2007 Guru Mata Pelajaran Peneliti Dra. Penelitian hasil Buatlah sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang telah diputarkan Tegal.

Guru menyampaikan kompetensi dasar yang dipelajari . INDIKATOR Menulis cerpen berdasarkan 7 aspek dalam cerpen Mengembangkan ide dalam bentuk cerpen D. menulis cerpen. Guru bertanya jawab tentang pembelajaran menulis cerpen pada pembelajaran sebelumnya 2. B. dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi. STANDAR KOMPETENSI Mampu mengungkapkan pendapat. SKENARIO PEMBELAJARAN PENDAHULUAN 1. KOMPETENSI DASAR Menulis berbagai karya sastra (Puisi & Cerpen) C. gagasan. MATERI POKOK Menulis Cerpen E.154 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran Jenjang Kelas Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : SMA :X : 2 x 45 A. atau menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai latar/ setting.

155 INTI 1. Guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen F. Erlangga G. Siswa dibantu guru mengidentifikasi unsur-unsur dalam film tersebut yang dapat digunakan untuk menulis cerpen 4. Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X b. Penilaian proses Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan . Siswa mengandaikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam film dan mengembangkan cerita sesuai daya imajinasinya 5. PENILAIAN 1. Siswa menyaksikan pemutaran film dengan perhatian/konsentrasi penuh pada cerita film 3. Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X. Guru memutarkan sebuah film yang digunakan dalam pembelajarn untuk menarik perhatian dan minat siswa 2. Siswa menulis sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dan mengembangkan cerita sesuai keinginannya PENUTUP 1. Guru beserta siswa merefleksi unsur-unsur dan cara yang digunakan dalam menulis cerpen 2. MEDIA / SUMBER Media Sumber : TV dan VCD : a.

Sri Mulyani R NIP. 2101403564 . April 2007 Guru Mata Pelajaran Peneliti Dra.S NIM. 132141542 Nurul Melti I. Penelitian hasil Buatlah sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang telah diputarkan Tegal.156 2.

6. 4. 7. 2. 10. 9. 8. 5.157 Nama : No/Kelas : FORMAT ANGKET Berilah tanda ( √ ) pada setiap pertanyaan siswa yang sesuai dengan skala penelitian yang tersedia dibawah ini: No 1. Keterangan : SS : Sangat setuju S : Setuju KS : Kurang setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju . Pertanyaan SS Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menulis cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat mengungkapkan dan menuangkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan Skala Penilaian S KS TS STS 3.

……………………………………………………………………………. 3. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! ……………………………………………………………………………. 5. ……………………………………………………………………………. 2. Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? …………………………………………………………………………….158 Nama : No/Kelas : FORMAT JURNAL SISWA Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? ……………………………………………………………………………. 4. ……………………………………………………………………………. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. .

.. Bagaimanakan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 4... Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cepen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 2.. Bagaimanakah respon siswa terhadap pembelajaran menuls menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………. Bagaimanakan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………. 3. 5. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… .159 Nama : No/Kelas : FORMAT JURNAL GURU 1..

Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi dongeng melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6. Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? 5. Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3. Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? .160 PEDOMAN WAWANCARA SIKLUS I DAN II 1. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4.

Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? . Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi dongeng melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4.161 WAWANCARA SIKLUS I DAN II Responden No Responden Hari dan tanggal Tempat Kelas Waktu Topik : : : : : : : 1. Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3. Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? 5. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2.

Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. 2. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. 3. 5. 4.162 Nama : No/Kelas : JURNAL SISWA SIKLUS I Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! ……………………………………………………………………………. Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. ……………………………………………… .

……………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………….163 Nama : No/Kelas : JURNAL SISWA SIKLUS II Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. 5. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. . Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! ……………………………………………………………………………. 3. 4. 2.

........................................................................... .............................................................................................................................................................................................................................................................................................................. ................ ...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................164 Lembar Kerja Siswa Nama : No/Kelas : ...................................................................................................................... ...... .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. ........................ ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ................................................................. ........................................................................................................................................................................ ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ............................................................... ....................................................... .......................................................................................................................................................................................................................................................... .................... ............... .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ......................... ........................................................... .................................................................................... ........................................................................ ................................................................................................ ....................................................... ........................

........................................................................................................ ........................................... ............................................................................................................................................................................................................................................ .......................................................................... ............................................................................................................................................................................................................................................................................................ ......................................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................. .................... ............................................................................................................... ................. .................................................................................................................. ................................ ...................................... .............................................. ............................................................................................................ ..................................................................................................................................................................................................................................... ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. ........ ....................................................................................................................................................................................................................................................... ...............165 .................................................................................................. ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ...................................... ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................. .......................................................................................................................... .......................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... .................................................................. ........................................................ .................................................................................................................................................................................................................. ............... ...................................................................................................

................................................... .............................................166 ..............................................

46 visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menuliskan 28 71.46 2 5. 4.41 15 38.97 1 2.41 3 7. 1.149 REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKLUS II No.90 digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio 15 38.51 dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang 14 35.13 TS ∑ % STS ∑ % - 2.26 - - - - 22 56. 3.13 - - - - 27 69.69 - - - - 23 58. 5.56 1 2. Aspek SS S KS ∑ % ∑ % ∑ % 22 56. Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa 9 23.08 senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang 8 20.79 2 5.23 4 10.56 - - .

64 20 51.08 - - - - 14 35. 10.97 2 5.13 - - - - . 9.80 9 23.33 2 5.150 6.15 13 33.03 8 20.56 7 17.95 23 58.90 23 58. 8.51 - - - - 5 12.82 18 46.08 - - - - 10 25.46 16 41.13 1 2.28 9 23. 7. cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat menggungkapkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan 15 38.

46 5 12. 11 28.147 REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKLUS I No. 11 28.26 - - - - 3.26 - - - - 4.82 - - - - .10 3 7. Aspek Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menuliskan ∑ 22 SS % 56. 12 30.13 ∑ TS % ∑ STS % - 2.72 15 38.97 4 10. 19 48.41 ∑ 15 S % 38.69 - - - - 5.77 23 58.46 ∑ 2 KS % 5.21 25 64.54 4 10.21 24 61. 1.

26 - - - - 10.26 1 2. 13 33.41 4 10.95 25 64.64 4 10.41 4 10.33 22 56.46 10 25.33 22 56.148 cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat menggungkapkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan 6. 9 23.56 8.08 15 38.10 7 17.26 - - - - 7.41 8 20. 7 17.95 - - - - .08 22 56.51 - - - - 9. 13 33. 9 23.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful