PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN MELALUI TEKNIK PENGANDAIAN DIRI SEBAGAI TOKOH DALAM CERITA DENGAN MEDIA AUDIO

VISUAL PADA SISWA KELAS X4 SMA N 2 TEGAL

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh Nama NIM Program Studi Jurusan :Nurul Melti Indah Septiani : : Sastra Indonesia : Bahasa Dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI, UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG. 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang,

Agustus 2007

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Drs. Agus Nuryatin. M.Hum

Drs. Mukh Doyin. M.Si

SARI Septiani, Nurul Melti Indah. 2007. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita dengan Media Audio Visual pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I. Drs. Agus Nuryatin, M.Si. Pembimbing II. Drs. Mukh Doyin, M. Si. Kata Kunci : Kemampuan Menulis Cerpen, Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita, dan Media Audio Visual. Pada umumnya, dalam situasi resmi siswa SMA masih mengalami kesulitan untuk menuliskan gagasan serta ide-idenya dengan baik dan benar. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar siswa SMA N 2 Tegal. Kesulitan menulis cerpen disebabkan oleh 3 faktor yaitu: faktor guru, faktor siswa, faktor media beserta teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Masalahmasalah yang dialami siswa meliputi sulit mengeluarkan ide-ide, kehabisan bahan, tidak tahu bagaimana memulai menuliskan sebuah cerita, dan sulit menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masalah yang dialami guru yaitu kurang memberi respons terhadap pelajaran menuli cerpen sehingga sering dilewati, tidak memanfaatkan media yang tersedia, kurang kreatif dalam pengembangan potensi diri para siswa. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah 1) apakah penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen, dan 2) adakah pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran menulis cerpen. Tujuan penelitian ini yaitu 1) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual, dan 2) mendeskripsikan pengaruh penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dalam menulis cerpen. Berdasarkan rumusan masalah dari hasil penelitian serta pembahasannya, maka disimpulkan bahwa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerota dengan media audio visual kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA N2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11,63 atau 18,30 %. Hasil ratarata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 63,56 dan pada siklus I rataratanya menjadi 70,31 atau meningkat sebesar 10,62 % dari rata-rata pratindakan, kemudian pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75,19 atau meningkat sebesar 6,94 dari siklus I. Pemerolehan ini menunjukan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dapat meningkat dan berhasil. Sedangkan perilaku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik iii

pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual mengalami perubahan kearah positif. iv . Selanjutnya. maka penulis menyarankan beberapa hal dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis cerpen sebagai berikut: 1) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya memandang bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.dari hasil penelitian tersebut. 3) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya mengembangkan penggunaan media audio visual secara kreatif dan efektif misalnya dengan cara memperbanyak jenis cerita dan bahan ajar lain yang berhubungan kesusastraan. Hal ini dimungkinkan karena siswa lebih banyak menggunakan alat inderanya yang mencakup pendengaran dan penglihatan. 2) para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya lebih bervariasi dalam memilih teknik dan media pembelajaran agar siswa menjadi lebih berminat mengikuti proses pembelajaran dan tidak merasa jenuh. 4) hendaknya media audio visual juga digunakan pada mata pelajaran yang lain secara bervariasi dengan media-media yang lain. Salah satu alternatif dalam menggunakan media pembelajaran adalah penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang diputar melalui media audio visual yang telah terbukti dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen secara aktif dan menyenangkan. Perubahan tersebut ditunjukan dengan perilaku siswa yang kelihatan lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen. sehingga pembelajaran menulis cerpen ini hendaknya mendapat porsi yang cukup dan tidak dilewati begitu saja.

Semarang. Agustus 2007 Nurul Melti Indah Septiani v . Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar karya sendiri. baik sebagian atau seluruhnya. bukan jiplakan dari karya orang lain.

Si NIP 132106367 Penguji I. M. Drs.Hum NIP 131813650 MOTTO DAN PERSEMBAHAN vi . Prof. Mukh.HALAMAN PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Skripsi Fakultas Bahasa dan Seni. M.Si NIP 132106367 Drs. Subyantoro.Hum NIP 131281222 Drs. Mukh Doyin.Hum NIP 132005032 Penguji II. Doyin. Dr. DR. Rustono. Sekertaris. Agus Nuryatin. M. M. Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : Selasa : 14 Agustus 2007 Panitia Ujian Ketua. Penguji III. M.

mengumpulkan kekuatan dari penderitaan dan tumbuh berani dengan bercermin diri (Thomas Paine) Berbahagialah mereka yang memiliki impian dan mau berusaha untuk mewujudkannya (Anonim) Persembahan Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah swt karya kecil ini kupersembahkan untuk Bapak (Alm). vii .Motto : Jangan takut menyerah atas sesuatu yang baik untuk menuju sesuatu yang lebih baik (Kenny Rogers) Manusia sejati adalah mereka yang tersenyum pada masalah. keluarga besarku dan sahabat-sahabatku yang telah mengisi hari-hariku. bintang dalam taman hatiku terimakasih atas segala pengorbananmu damailah dalam firdaus-Nya Ibu pelita hidupku yang tak pernah letih terangi hatiku dan sejukkan ranting dahagaku.

keikhlasan. Surono. Bapak dan Ibu dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah menyemaikan ladang dan menanamkan ilmu sebagai bekal yang sangat bermanfaat. meskipun penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kelemahan-kelemahan dan semata-mata karena keterbatasan penulis. dan sumbang saran dari segala pihak. 4.PRAKATA Puji syukur tiada terhingga ke hadirat Allah swt. dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II yang disela-sela kesibukannya dengan penuh kesabaran. arahan dan masukan kepada penulis. Mukh. 3. 2. oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat: 1. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni. bantuan. Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang. Doyin M. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan. Drs. yang telah memberikan izin penelitian ini. dan kebijaksanaan memberikan bimbingan. sehingga penulis memperoleh kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini. viii . baik dalam ilmu maupun pengetahuan. atas segala limpahan nikmat dan karunia yang diberikan kepada penilis. kepala SMA N 2 Tegal yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini.Si. serta Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Agus Nuryatin M.Hum dan Drs.

Anna. Upi. Kiki. Pa de. 10. Roger dan Aee trimakasih atas bantuan fasilitas komputernya. terimakasih atas doa. Bilqis.5. Sahabat-sahabatku Ita. bersama kalian kumengerti arti sebuah persahabatan yang sesungguhnya. Mamih. dukungan. serta bantuan moril maupun materialnya hingga kudapat menyelesaikan karya kecil ini 9. Utty. Wiwin. Dra. dukungan dan semua yang telah diberikan. Mas Untung dan Mas Achyar terimakasih atas doa. motivasi. Mar. ix . Ari. 11. Mba Dian. Teman-teman Florist kost. Soma. Bu de serta kakak-kakaku tercinta Mba Edang. Terimakasih atas kebahagiaan yang kalian bagi untukku. Siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. kasih sayang dan pengorbanannya selama ini. Insya Allah jasa-jasa mereka akan saya kenang sepanjang hayat dan semoga Yang Mahakuasa memberikan yang terbaik dan Ridlo-Nya kepada kita semua di kehidupan sekarang dan yang akan datang. dan Mas Fendi. Bapak dan Ibu tercinta. bantuan. kesabaran. Achel. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA N2 Tegal yang telah memberikan motivasi serta kerelaannya membantu penulis dalam penelitian. perhatian. Sri Mulyani R. 7. Keluarga Besarku. 8. Teman-teman seperjuangan di PBSI angkatan 2003 terima kasih atas segala informasi. Dani. 6. yang telah bersedia membantu pelaksanaan penelitian. Lusy bersama mereka aku belajar menjalani hidup ini.

Oleh karena itu. kritik dan saran yang membangun dari pembaca saya harapkan. Penulis juga sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Agustus 2007 Nurul Melti Indah S x .Penulis sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Yang Maha Sempurna dan skripsi ini pun masih jauh dari kesempurnaan. Semarang.

................................................2....6 Manfaat Penelitian ............ DAFTAR GAMBAR ....................................................................3 Pembatasan Masalah ... DAFTAR TABEL................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................ 7 1.............................................1 Pendahuluan ................................. 8 BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN ii iii v vi vii viii xi xiv xvii 2.......... PENGESAHAN ........1 Kajian Pustaka............................. 5 1..................................................................................................................................................................2 Landasan Teoretis ...................................................... SARI........ 8 1..................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.........4 Rumusan Masalah ............................................................... 1 1................................................................................................................................... 15 xi ................................................................DAFTAR ISI PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................1 Hakikat Menulis .................................................................................................................................................................. 7 1..................................5 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 14 2....2 Identifikasi Masalah ............................. 10 2............................................................................................ PRAKATA.................................. DAFTAR ISI ....................................................................... PERNYATAAN.....................................................................

........................................................................... 32 2.....................................1 Instrumen Tes ......................5..3 Variabel Penelitian ..........2..........2....................................2 Subjek Penelitian ......2....4 Media Audio Visual ..........................4 Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita ... 39 BAB III METODE PENELITIAN 3...................................... 42 Pembelajaran dengan Media Audio Visual ...............................................................2.......................2 Keterampilan Menulis Cerpen ...........3.................................. 31 2.5 Siklus I .....4 Hipotesis Tindakan .........5 Tujuan Penggunaan Media Audio Visual .....................................................................3....4 Instrumen Penelitian ............... 33 2............................1 Pengertian Media ............................ 34 2..................2................ 37 2...2...........................2 Instrumen Nontes .....................5..........2..........5 Hakikat Media ....... 15 2............................... 44 3.............. 57 xii ...................................... 38 2...................5........................................................................ 40 3.......................... 53 3.............5................................................... 43 3..2 Dasar Pertimbangan Pemilihan Media .....................................................2 Hakikat Cerita Pendek ........................................ 42 3......................... 36 2.........1 Desain Penelitian ...1 3...............4....................1 Perencanaan ...................4............. 41 3.... 33 2......... 35 2..............2.3 Kerangka Berfikir ... 44 3.................................2....2.............5...................5...............................................3 Hakikat Menulis Kreatif Cerita Pendek ....... 29 2.................................................................2...5...........6 Penggunaan Media Audio Visual .............3 Fungsi Media dalam Proses Belajar Mengajar ........................................ 56 3............

....2 Teknik Nontes .......................3 Pengamatan dan Observasi ........................... 65 3.....................1 Hasil Tes ......................1........3 Refleksi ...........9 Teknik Analisis Data ........7 Instrumen Penelitian .................................................1.................................... 98 xiii ......................................6 Siklus II ........... 78 4............................ 77 4............. 60 3....8.......... 86 4....1 Perencanaan ...........6..............4 Refleksi .......................................... 69 4........................................ 59 3................................................................1 Teknik Tes .......2 Hasil Nontes ........... 67 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4..................... 58 3................... 63 3.1 Kondisi Awal .................. 60 3......................................................6................................................1................................................................................ 58 3...........................2 Pengamatan dan Observasi ..............................1 Hasil Penelitian .........................................................2 Hasil Tes Siklus I ................... 69 4............................. 64 3............................5..... 60 3.............7................5....4 Dokumen yang berupa foto .....................................................................................................................8 Teknik Pengumpulan Data ........................................................1...................................7............ 58 3...........3.....................3 Hasil Tes Siklus II... 64 3.......1 Bentuk Instrumen .................................5............................................................1...8..............................................................2 Tindakan .....................2 Penilaian Hasil Menulis Cerpen .........2..............................................7................7..................................... 57 3............3 Wawancara .............6................ 59 3...........2........................................................................................................ 66 3.............................. 61 3................

4.1.3.1 Hasil Tes ........................................................................... 99 4.1.3.2 Hasil Nontes ...................................................................... 107 4.2 Pembahasan............................................................................................. 117 4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal. ........ 117 4.2.2 Peningkatan Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual dengan Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal .............. 123 BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ................................................................................................. 125 5.2 Saran ....................................................................................................... 126 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 127 LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................ 128

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Daftar Jumlah Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal .............................. 42 Tabel 2 : Tabel Pedoman Penilaian ............................................................... .... 45 Tabel 3 : Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Cerita Pendek .................. 45 Tabel 4 : Daftar Skala Skor Keterampilan Menulis Cerita Pendek ................. 52 Tabel 5 : Kriteria Penilaian Hasil Menulis Cerita Pendek ............................... 61 Tabel 6 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan ........ 70 Tabel 7 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 71 Tabel 8 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ........................................................................................ 72 Tabel 9 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ....................................................................................... 72 Tabel 10 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ....................................................................... 73 Tabel 11 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa .......................................................................... 74 Tabel 12 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan ........................................................... 75 Tabel 13 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 76 Tabel 14 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus I ................... 78 Tabel 15 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 79 Tabel 16 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ....................................................................................... 80 Tabel 17 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ....................................................................................... 80

xv

Tabel 18 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ....................................................................... 81 Tabel 19 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa .......................................................................... 82 Tabel 20 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan ........................................................... 83 Tabel 21 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 84 Tabel 22 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus II .................. 99 Tabel 23 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tema ...................................................................................... 101 Tabel 24 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Alur ....................................................................................... 102 Tabel 25 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Latar ...................................................................................... 102 Tabel 26 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang ...................................................................... 103 Tabel 27 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa ......................................................................... 104 Tabel 28 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan .......................................................... 105 Tabel 29 : Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan Antar Unsur .......................................................... 106 Tabel 30 : Tabel Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek ................ 119 Tabel 31 : Prosentase Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek ........ 120 Tabel 32 : Daftar Nilai Pra Tindakan ................................................................ 127 Tabel 33 : Daftar Nilai Siklus I ......................................................................... 128 Tabel 34 : Daftar Nilai Siklus II ......................................................................... 129 Tabel 35 : Observasi Siklus I ............................................................................. 130 Tabel 36 : Observasi Siklus II ............................................................................ 132 Tabel 37 : Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa Siklus I .............................. 134 xvi

........... 143 Tabel 46 : Daftar Siswa Kelas X4 Tahun Pelajaran 2006/2007 SMA N 2 Tegal .............. 137 Tabel 41 : Rekap Observasi Peningkatan Perilaku Positif Siswa Siklus I ................................................................... 136 Tabel 40 : Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa Siklus II ................ 140 Tabel 44 : Daftar Peningkatan Nilai 7 Aspek Pada Tiap Siklus .................................. 142 Tabel 45 : Daftar Peningkatan Prosentase Nilai 7 Aspek Pada Tiap Siklus ...................Tabel 38 : Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa Siklus I .............................. 144 Tabel 47 : Rekapitulasi Hasil Angket Siklus I ....... 147 xvii ...... 145 Tabel 48 : Rekapitulasi Hasil Angket Siklus II.............................. 139 Tabel 43 : Rekap Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II ........................................................................... 138 Tabel 42 : Rekap Observasi Peningkatan Perilaku Negatif Siswa Siklus II ......................................... 135 Tabel 39 : Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa Siklus II ...

.......... 116 xviii ........................ 96 Gambar 5 : Aktivitas Siswa Menulis Sebuah Cerita Pendek ........................................... 97 Gambar 6 : Aktivitas Siswa Menyaksikan Pemutaran Film ........................DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Aktivitas Guru Memberikan Apersepsi ................. 95 Gambar 3 : Aktivitas Siswa Menyaksikan Pemutaran Film .............................. 96 Gambar 4 : Aktivitas Siswa Bertanya Jawab denganGuru .................................. 94 Gambar 2 : Aktivitas Guru Memberikan Materi Pembelajaran ...................... 114 Gambar 7 : Aktivitas Siswa Menulis Cerita Pendek .................... 115 Gambar 8 : Aktivitas Siswa Membacakan Ceria Pendek ..

.......... Diagram 4 : Hasil Peningkatan Menulis Cerita Pendek ............ 77 2......... Diagram 3 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II . 85 3........ 122 xix .....DAFTAR DIAGRAM 1........ Diagram 1 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan ............... Diagram 2 : Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus I ...... 107 4.........................................

Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung.BAB I PENDAHULUAN 1. maka sang penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi. dan Menulis (Reading Skill). Berbicara (Speacking Skill). keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis melainkan harus melalui latihan. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung tetapi juga dapat memahami informasi yang disampaikan secara terselubung atau tidak secara langsung Menurut Tarigan (1983:1) keterampilan berbahasa mencakup 4 segi yaitu menyimak (Listening Skill). Dalam kegiatan menulis ini. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Membaca (Reading Skill). struktur bahasa dan kosakata. pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan.1 Latar Belakang Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi oleh karena itu. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan 1982:4) kegiatan menulis bertujuan untuk mengungkapkan fakta- 1 .

merekam. semakin rajin berlatih. melaporkan. Kata menulis mempunyai dua arti Pertama. Beruntunglah pengalaman pahit itu tidak membuatnya putus asa. Mula-mula dia merasa sulit sekali menulis.2 fakta. menulis berarti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis (Wiyanto 2004:3) kesimpulan itu. Kemampuan menulis merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih. pesan sikap dan isi pikiran secara jelas dan efektif kepada para pembacanya. Di dalam dunia pendidikan menulis mempunyai arti yang sangat penting. Ia terus belajar dan mencoba. Berkat seringnya menulis dia menjadi terkenal. Untuk itu keterampilan menulis siswa perlu ditumbuh kembangkan. Komunikasi akan lebih banyak berlangsung secara tertulis. Bahkan sering pula macet dan gagal total. kemampuan menulis akan meningkat. Menulis merupakan kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis. meyakinkan. Keterampilan menulis sangat dibutuhkan di dalam kehidupan yang serba modern ini. dan mempengaruhi. ada seorang penulis yang mengatakan bahwa menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat. Beberapa kali menulis selalu tidak lancar. Sehubungan dengan hal tersebut. Keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. . memberitahukan. Siswa yang sering menulis akan menjadi terampil dan terarah kemampuan berekspresinya sehingga secara tidak langsung akan mempertajam kemampuan berpikir. disampaikan setelah dia mengalami sendiri.

cerpen merupakan cerita fiksi berbentuk prosa yang relatif pendek ruang lingkup permasalahannya yang menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal. diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru yang lebih memberdayakan siswa dan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang dewasa ini. Tetapi keterampilan menulis cerpen yang diajarkan selama ini masih menggunakan metode konvensional yang kurang menarik dan membosankan. Upaya pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan hendaknya terus dilakukan karena media pendidikan mempunyai peranan . Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada perkembangan pendidikan di Indonesia. Di sini peneliti mencoba meneliti penggunaan media audio visual sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen. cerpen itu sendiri merupakan salah satu genre sastra berbentuk prosa yang berbeda bentuk dengan bentuk sastra yang lain misalnya novel. Untuk itu.3 Dalam perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana yang menarik agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi siswa adalah menulis sebuah cerpen. Selain itu. untuk itu diperlukan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam upaya untuk mengembangkan pendidikan.

Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan suatu program pengembangan pengetahuan. Media ini dapat membantu siswa dalam belajar menulis cerpen karena media audio visual yang digunakan dalam penelitian ini berupa video compact disc merupakan perpaduan antara media suara (audio) dan media gambar (visual) yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya dan dapat digunakan untuk merangsang daya imajinasi siswa sehingga siswa dapat dengan mudah menuangkan gagasan-gagasan dan ide-idenya ke dalam sebuah rangkaian kata-kata indah hingga menjadi sebuah cerita yang dapat dinikmati. Selain itu. karena audio visual merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya (Sudjana dan Rivai 2001:2). Dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu. di sini peneliti menggunakan media audio visual. media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar (Pranggawidagda 2002:145). Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan.4 penting dalam komunikasi. keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan adanya media audio visual yang menampilkan gambar beserta suaranya akan mempermudah siswa untuk menangkap informasi yang . media memiliki fungsi yang sangat penting.

pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan untuk menulis sebuah cerpen. Sedangkan masalah yang dialami guru yaitu kurang memberi respon terhadap pelajaran menulis cerpen sehingga sering dilewati. siswa. dan media beserta teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar.2 Identifikasi Masalah Kemampuan menulis cerpen pada siswa SMA N 2 Tegal masih rendah. Tidak memanfaatkan media yang tersedia. kurang kreatif dalam mengembangkan . dan sulit menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masalah yang muncul pada diri siswa ini dapat diatasi dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang disajikan dalam bentuk yang lebih menarik antara lain dengan penggunaan media yang tepat yaitu penggunaan media audio visual agar siswa merasa lebih senang dan tidak jenuh. tidak tahu bagaimana memulai menuliskan sebuah cerita. Masalah-masalah yang dialami siswa meliputi sulit mengeluarkan ide-ide. Selain itu proses belajar mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media audio (suara).5 dibutuhkan dalam mengembangkan inspirasi maupun gagasan yang akan dituangkan dalam menulis sebuah cerpen. 1. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor guru. kehabisan bahan.

Pembatasan masalah ini bertujuan agar pembahasan masalah tidak terlalu luas. Faktor ketiga yang menyebabkan rendahnya keinginan siswa menulis cerpen ialah media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena selama ini guru hanya memberikan penjelasan cara-cara menulis cerpen secara teori tanpa adanya media yang digunakan untuk mendukung serta menarik perhatian siswa yang sebenarnya sangat penting disuguhkan untuk meningkatkan kreativitas dan daya imajinasi siswa dalam mengungkapkan perasaan ide-ide yang sebenarnya ada dalam potensi setiap siswa hingga dapat memudahkan mereka untuk bercerita yang akan dituangkan atau disajikan dalam bentuk tulisan yang nantinya bisa menjadi rangkaian kata-kata yang sangat indah meski relatif pendek. Oleh karena itu.6 potensi diri para siswa. masalah yang muncul sangatlah kompleks sehingga perlu dibatasi. menggunakan bermacam-macam metode secara bervariasi sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. . menghargai hasil karya siswa dengan memberikan penilaian dan pujian seperlunya.3 Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan secara kreatif menggunakan sarana dan media yang ada untuk menarik minat siswa. Pembelajaran menulis cerpen harus mendapat porsi yang cukup karena banyak unsur-unsur yang perlu diketahui dan diajarkan secara terperinci agar siswa lebih mudah memahaminya. 1.

Permasalahan tersebut akan diatasi dengan cara menggunakan sebuah media yang dapat membantu merangsang daya imajinasi siswa dalam menulis sebuah cerita pendek yaitu dengan menggunakan media audio visual 1.7 permasalahan yang akan diteliti oleh penulis yaitu : rendahnya kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas X SMA N 2 Tegal. Adakah pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam proses pembelajaran menulis cerpen? 1.5 Tujuan Penelitian Tujuan diadakan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.4 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal . Seberapa besarkah penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal ? 2.

6 Manfaat Penelitian Setelah penelitian ini diharapkan hasilnya dapat bermanfaat bagi beberapa pihak. Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan hasilnya dapat bermanfaat untuk mengembangkan teori pembelajaran.8 2. Mendeskripsikan pengaruh penggunaan media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam menulis cerpen terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam proses pembelajaran menulis cerpen. sehingga dapat memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar terutama dalam meningkatkan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Selain itu dapat merangsang imajinasi siswa dalam mengembangkan sebuah cerita dan menuangkan gagasan-gagasannya secara . Manfaat penelitian bagi siswa temuan penelitian ini akan mempermudah siswa untuk menemukan ide-ide secara cepat agar dapat dituangkan dalam sebuah cerita yang relatif singkat yang lebih dikenal dengan cerpen. 1. Manfaat dari penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis. Dengan adanya pemanfaatan media audio visual akan memberikan daya tarik kepada siswa untuk meningkatkan kemampuannya melalui daya imajinasi dalam menuliskan sebuah cerita sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan.

Sedangkan bagi penulis atau peneliti.9 tertulis dan teknik pengandaian diri yang digunakan dalam penelitian ini juga akan mempermudah para siswa dalam menciptakan karakter-karakter tokoh yang akan digunakan dalam tulisan yang berbentuk cerpen. . temuan penelitian ini dapat dijadikan penambah semangat dan wawasan kehidupan terutama wawasan dalam karya penulisan.

10 . Tetapi dalam menulis banyak hal yang perlu diperhatikan salah satunya adalah penggunaan bahasa. Ide/gagasan tersebut kemudian dikembangkan dalam wujud rangkaian kalimat. selain itu menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. 1983: 3-4). tidak secara tatap muka dengan orang lain.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2. keterampilan ini membutuhkan perhatian dan keseriusan dari seluruh instrumen penyelenggara pendidikan terutama guru dan kurikulum yang mendukung. dan dirasakan oleh seseorang dapat dipahami oleh orang lain. baik lisan maupun tulisan. apabila telah diungkapkan dengan bahasa.1 Kajian Pustaka Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Keterampilan menulis adalah suatu proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif (Tarigan. Urgensi bahasa mencakup segala bidang kehidupan. Oleh karena itu. agar orang lain dapat membaca tulisan yang ditulis maka di tuntut adanya bahasa yang mudah dipahami. Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam komunikasi adalah keterampilan menulis. diamati. karena suatu yang dihayati.

Oleh karena itu. bahkan juga oleh mahasiswa. Penelitian tersebut antara lain penelitian keterampilan menulis naratif. deskriptif. Pemakaian media dan metode pada setiap penelitian tersebut desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Claasroom Action Resarch (CAR). peneliti menganggap perlu untuk melakukan penelitian keterampilan menulis cerpen. khususnya menulis sebuah cerpen para siswa. Oleh karena itu. Terdapat penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini. . Penelitian ini berjudul. Mereka kebanyakan menganggap bahwa menulis bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Tetapi penelitian mengenai keterampilan menulis cerpen masih terbatas.11 Realitas menunjukan bahwa keterampilan menulis belum optimal dikuasai oleh siswa. media maupun desain penelitian. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Teknik Pengandaian Diri Sebagai Tokoh Dalam Cerita Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X SMU N 2 Tegal. Setidaknya relevan dalam hal pemakaian metode. perlulah kiranya guru mencari dan menerapkan metode dan penggunaan media dalam upaya meningkatkan keterampilan keterampilan menulis. Penelitian mengenai keterampilan menulis banyak dilakukan dengan menawarkan metode/ media yang bermacam-macam sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. dan argumentatif. Menulis juga dianggap sesuatu kegiatan yang menjenuhkan dan membosankan. Penelitian tentang keterampilan menulis telah banyak dilakukan.

penelitian tersebut berjudul.65% peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas X1 SMA N 5 Semarang.31 atau 18% dengan nilai rata-rata klasikal pada siklus II 73. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Dengan Pengalaman Pribadi sebagai Basis Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Pada Siswa kelas X1 SMA N 5 Semarang. penelitian menulis cerita pendek (cerpen) dengan menggunakan metode karya wisata mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan siklus I sebesar 10. Berdasarkan analisis data penelitian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh fariqoh menunjukkan bahwa. diikuti adanya perubahan perilaku belajar yang positif dari perilaku negatif.72 % dari tindakan siklus I ke tindakan siklus II meningkat sebesar 7.25 % dan dengan demikian pengajaran penulisan cerita pendek dengan metode karya wisata dapat meningkatkan penguasaan ide siswa mengenai unsur-unsur pembangun cerpen .12 Penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh Kusworosari pada tahun 2007. penelitian tersebut berjudul Peningkatan Menulis Cerita Pendek dengan metode karya wisata pada siswa kelas I3 MA Ma’hadut Thalabah Babakan Lebaksiu Tegal Tahun Ajaran 2001/2002. Melalui pendekatan proses dan pengalaman pribadi penelitian yang dilakukan Kusworowati mengalami peningkatan. Penelitian lain yang relevan ialah penelitian yang dilakukan oleh Fariqoh pada tahun 2002. keterampilan menulis cerpen dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 11.

dari beberapa penelitian tentang menulis cerpen di atas menunjukkan adanya peningkatan.51. Berdasarkan beberapa judul skripsi di atas. Penelitian yang relevan lainnya. Penelitiannya mengkaji tentang metode karya wisata yang berguna untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerkak. diketahui bahwa penelitian tentang menulis cerpen sudah mulai banyak dilakukan meski masih terbatas.1% selain itu dengan adanya penelitian ini terjadi perubahan positif perilaku terhadap proses pembelajaran menyimak dongeng dengan menggunakan media Audio Visual sebagian siswa merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran yang dilaksanakan. setelah menggunakan metode karya wisata nilai rata-rata keterampilan siswa dalam menulis cerkak meningkat sebesar 0. setidaknya sama-sama menggunakan media Audio Visual penelitian yang dilakukan oleh Pangesti pada tahun 2005. Penelitian tersebut berjudul peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan media Audio Visual pada siswa kelas VII D SMP N 30 Semarang. dengan menggunakan media Audio Visual mengalami peningkatan sebesar 10. Berdasarkan penelitian tersebut.13 Penelitian lain yang relevan ialah penelitian yang dilakukan oleh Tutiyah (2005) dalam penelitiannya yang berbentuk skripsi berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Cerkak dengan Metode Karya Wisata pada Siswa Kelas IE SMP Negeri 1 Banjarmangun. masing-masing penelitian menggunakan media dan teknik yang .27. Penelitian yang telah dilakukan memperoleh hasil peningkatan keterampilan siswa yang signifikan dengan nilai rata-rata siswa pada kegiatan pembelajaran prasiklus ke siklus I meningkat sebesr 2.

Beberapa sekolah. teknik pengandaian diri dan media audio visual . terutama yang berlokasi di kota besar. memang sudah menerapkan penggunaan media ini di samping media elektronik lain seperti televisi dan tape recorder.2 Landasan Teoretis Dalam landasan teori ini penulis menguraikan teori-teori yang diungkapkan para ahli dari berbagai sumber yang mendukung penelitian landasan teori tersebut terdiri atas teori tentang menulis cerpen. selain itu kehadiran media audio visual dalam pembelajaran masih dianggap sebagai hal yang baru oleh banyak sekolah serta memerlukan keterampilan khusus untuk mengoperasikan.14 berbeda-beda dan menghasilkan peningkatan yang berbeda-beda pula. Salah satu cara peningkatan keterampilan menulis yang dipilih oleh penulis adalah peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual Dari beberapa penelitian tentang menulis cerpen di atas belum ada satu pun yang memanfaatkan media audio visual untuk meningkatkan keterampilan para siswa dalam menulis cerpen oleh karena itu peneliti merasa perlu memanfaatkan media ini untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen. Tetapi upaya peningkatan menulis cerpen masih perlu di kembangkan dan dilakukan melalui berbagai cara. 2. namun seberapa besar manfaatnya belum diketahui secara pasti.

Pengertian Cerita Pendek Cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh yang terdapat di . menulis cerpen termasuk salah satu kegiatan menulis kreatif. Apresiatif maksudnya melalui kegiatan menulis kreatif orang dapat mengenali menyenangi.1 Hakikat Menulis Menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulis menulis juga dapat diartikan sebagai cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran. 2.2. Sumiharja dkk dalam Kusworosari Menurut Trianto dalam Kusworosari (2002:2) Tulisan kreatif merupakan tulisan yang bersifat apresiatif dan ekspresif. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam diri kita. dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri dan memanfaatkan berbagai hal tersebut ke dalam kehidupan nyata.2 Hakikat Cerita Pendek 1. untuk dikomunikasikan kepada orang lain. melalui tulisan kreatif sebagai sesuatu yang bermakna.15 2. perasaan dan kehendak kepada orang lain secara tertulis.2. menikmati. Salah satu teks bersifat kreatif adalah teks cerpen seperti penulisan cerpen. Salah satu jenis kegiatan menulis adalah menulis kreatif dalam hal ini.

Cerpen memuat penceritaan kepada satu peristiwa pokok. jika ruang lingkup dan permasalahan yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek (Suharianto 1982:39). dan latar yang terbatas. Jadi sebuah cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan menjadi tokoh cerita pengarang. dan keseluruhan cerita memberi kesan tunggal. Dari beberapa pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang bentuknya pendek dan ruang lingkup permasalahannya menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang menarik perhatian pengarang. karakter. alur. . Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek. peristiwa pokok itu tidak selalu “sendirian” ada peristiwa lain yang sifatnya mendukung peristiwa pokok. dan juga mempunyai efek tunggal. Selanjutnya Suharianto (1982:39) juga menambahkan bahwa “cerita pendek adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang”. melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut.16 dalam cerita itu. Apa yang terjadi di dalamnya lazim merupakan suatu pengalaman / penjelajahan. Styagraha dalam Murdiati (1985:49) berpendapat bahwa cerpen adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian-kejadian dari pada kejadian itu sendiri satu persatu.

suatu kejadian dalam suatu cerita menjadi sebab akibat kejadian yang lain.17 2. Koherensi dan keterpaduan semua unsur cerita yang membentuk sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu bentuk ciptaan sastra. tokoh penokohan. sudut pandang (point of view). dan tema.latar (setting). Alur atau plot Pengertian alur dalam cerita pendek atau dalam karya fiksi pada umumnya adalah “rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita” (Aminuddin 1987:17). tidak hanya dalam temporalnya tetapi juga dalam hubungannya secara kebetulan. Alur membuat kita sadara akan peristiwa-peristiwa tidak hanya sebagai elemen-elemen temporal tetapi juga sebagai pola yang berbelit-belit tentang sebab dan akibat. gaya bahasa. a. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa alur adalah hubungan sebab akibat. Unsur-unsur dalam cerpen terdiri atas: alur atau plot. Kejadian . Alur menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian kejadian kepada kita. Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis dalam pengertian ini. Unsur-unsur pembangun cerpen Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. alur merupakan suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang tidak terputus-putus oleh sebab itu. Keterkaitan antara unsur-unsur pembangun cerita tersebut membentuk totalitas yang bersifat abstrak.

tetapi juga menyangkut perubahan tingkah laku tokoh yang bersifat non fisik. (4) puncak atau klimaks yaitu bagian yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya (5) peleraian yaitu bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam cerita atau bagian. alur sorot balik (flash back). yakni bagian cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita. Konflik itu dapat terjadi antara tokoh dan tokoh. antar tokoh dan masyarakat sekitar. Menurut Suharianto (1982:28) menyebutkan bahwa alur atau plot terdiri atas lima bagian. (3) seperti yang disebutkan di atas mulai memuncak. Dilihat dari cara penyusunannya bagian-bagian alur tersebut. sikap kepribadian dan sebagainya. Alur merupakan tulang punggung suatu cerita unsur alur yang penting adalah konflik dan klimaks. (2) penggawatan. seperti perubahan cara berpikir.18 atau peristiwa-peristiwa itu tidak hanya berupa perilaku yang tampak seperti pembicaraan atau gerak gerik. Konflik dalam fiksi terdiri dari konflik internal dan konflik eksternal Baribin dalam Murdiati (1985: 61-62). alur atau plot cerita dapat dibedakan menjadi alur lurus. atau antar tokoh dengan nuraninya sendiri. Disebut alur lurus apabila cerita disusun mulai dari awal diteruskan dengan kejadian-kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan . Alur cerita rekaan terdiri dari alur buka. alur puncak dan alur tutup. dan alur campuran. Mulai bagian ini secara bertahap terasakan adanya konflik dalam cerita tersebut. yaitu (1) pemaparan atau pendahuluan. yaitu bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita mulai bergerak. alur tengah.

yaitu tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan ( Sayuti. keinginan. yakni dari bagian akhir dan bergerak ke muka menuju titik awal cerita disebut alur sorot balik.19 masalah. Sedangkan alur campuran yakni gabungan dari sebagian alur lurus dan sebagian alur sorot balik. baik waktu maupun tempat kejadian (Suharianto 1982:29). Dari pendapat-pendapat tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa alur atau plot adalah jalinan peristiwa secara beruntutan dalam cerita dengan memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu merupakan kesatuan yang padu. pengarang . bulat dan utuh. 1988:31) Ada dua cara memperkenalkan tokoh dan perwatakan tokoh dalam fiksi yaitu secara analitik dan secara dramatik. Pertama mengacu pada orang atau tokoh yang bermain dalam cerita. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. Tokoh adalah yang melahirkan peristiwa Saleh Saad dalam Lukman Ali. yang kedua adalah mengacu kepada pembauran dari minat. Apabila cerita disusun sebaliknya. emosi. Tetapi keduanya dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan ada dua buah cerita atau peristiwa yang terpisah. Tokoh dan Penokohan Menurut Baribin dalam Murdiati (1985:54) berpendapat bahwa perwatakan dalam suatu fiksi biasanya dapat dipandang dari dua segi.(1967:122). tokoh fiksi dibedakan menjadi dua. Secara analitik yaitu pengarang langsung memaparkan tentang watak tokoh atau karakter tokoh. b. dan moral yang membentuk individu yang bermain dalam suatu cerita.

Tokoh Tokoh adalah yang melahirkan peristiwa (Saleh Saad dalam Lukman Ali. Ragam tokoh atau pelaku menurut Aminudin dibedakan menjadi 1) Pelaku utama / inti adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita 2) Pelaku tambahan atau pelaku pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi. Secara dramatik yaitu penggambaran perwatakan yang tidak diceritakan langsung. melayani. 1967:122).20 langsung menyebutkan bahwa tokoh tersebut keras hati. Pemunculannya hanya di hadapkan pada suatu . cara berpakaian. melalui penggambaran fisik / postur tubuh. mendukung pelaku utama 3) Pelaku protagonis adalah pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga di senangi pembaca 4) Pelaku antagonis adalah pelaku yang tidak sesuai dengan apa yang di dambakan oleh pembaca 5) Charcter adalah pelaku yang tidak banyak menunjukkan adanya kompleksitas masalah. lingkungannya dan sebagainya dan melalui dialog (Baribin 1985 : 55-57 dalam Murdiati). 1988:31). keras kepala. tokoh fiksi dibedakan menjadi dua. Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita. tetapi hal itu disampaikan melalui pilihan nama. yaitu tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan ( Suminto. penyayang dan sebagainya. tingkah laku terhadap tokoh-tokoh lain.

Termasuk di dalamnya adalah tokoh strereotif 2) Tokoh bulat/ kompleks atau bundar. 6) Complek character adalah pelaku yang pemunculannya banyak dibebani permasalahan. Tokoh sentral dibedakan menjadi 2) Tokoh utama atau protagonis yakni tokoh yang memegang peran pimpinan. terlihat kekuatan dan kelemahannya. yakni tokoh yang hanya diungkapkan salah satu segi wataknya saja. Complek character juga ditandai dengan munculnya pelaku yang memilik obsesi batin yang cukup kompleks sehingga kehadirannya banyak memberikan gambaran perwatakan yang kompleks pula. yakni tokoh yang wataknya kompleks.21 permasalahan tertentu yang tidak banyak menimbulkan adanya obsesi batin yang kompleks. Watak tokoh datar sedikit sekali berubah. 7) Pelaku dinamis adalah pelaku yang memiliki perubahan dan perkembangan batin dalam keseluruhan penampilannya 8) Pelaku statis adalah pelaku yang tidak menunjukkan adanya perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul sampai cerita itu berakhir Berdasarkan fungsinya. Tokoh ini dapat mengejutkan . tokoh dapat di bagi menjadi dua. Ia menjadi sorotan dalam cerita Berdasarkan cara menampilkan tokoh dalam cerita. Ia mempunyai watak yang dapat dibedakan dengan tokoh-tokoh yang lain. yakni: 1) Tokoh sentral adalah tokoh utama yang diceritakan dalam cerita. tokoh dibedakan menjadi: 1) Tokoh dasar/ sederhana atau pipih.

Penokohan merupakan pelaku karena yang dilukiskan adalah mengenai watak-watak. maka disebut dengan perwatakan / . karena kadang-kadang dalam dirinya dapat terungkap watak yang tidak terduga sebelumnya Bagan berikut akan memperjelas uraian di atas Tokoh utama/protagonist Tokoh sentral Menurut fungsinya Tokoh bawahan Tokoh Tokoh andalan Tokoh tambahan Tokoh antagonis Tokoh wirawan/wirawati Menurut cara menampilkan Tokoh datar/sederhana/pipih Tokoh bulat/kompleks/bundar Penokohan Menurut Aminuddin (1987:79) penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku.22 pembaca. kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain. dan sebagainya. keyakinannya. baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya. Tokoh / pelaku cerita. Sedangkan yang dimaksud watak adalah kualitas tokoh. adat istiadatnya. sikapnya. Suharianto (1982:31) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita.

atau lingkungan terjadinya peristiwa. scenery “Pemandangan” tertentu. Termasuk di dalam unsur latar atau landas tumpu ini adalah waktu. tempat. Latar ialah waktu. di dalam penjara dan sebagainya. musim. musim atau periode sejarah dan sebagainya (Baribin 1985 : 63-64 dalam Murdiati). adat istiadat. (2) pekerjaan dan cara-cara hidup tokoh sehari-hari. di sebuah kapal yang berlayar ke Hongkong. di kafetaia. tahun dan sebagainya. waktu dan situasi . Latar tidak hanya sebagai background saja. bahasa dan lain-lain. (3) waktu terjadinya action “Peristiwa” (tindakan). sosial dan emosional tokoh-tokohnya. hari. tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung unsur cerita lainnya. c. kelompok-kelompok sosial dan sikapnya. intelektual. moral. Sayuti (1988:60) mengemukakan bahwa paling tidak ada empat unsur yang membentuk latar fiksi yaitu. di sebuah puskesmas. Suminto A. dan juga detil-detil interior sebuah kamar / ruangan. termasuk di dalamnya periode historis. termasuk di dalamnya topografi. dan (4) lingkungan religius. Latar dibedakan menjadi dua yaitu latar sosial dan latar fisik (latar material) latar sosial mencakupi penggambaran keadaan masyarakat. seperti di kampus. Penggambaran tempat. cara hidup. tahun. (1) lokasi geografis yang sesungguhnya. sikap dan tingkah lakunya dalam cerita. Adapun yang dimaksud latar fisik adalah latar di dalam wujud fisik.23 penokohan adalah pelukisan tokoh/ pelaku cerita melalui sifat-sifat. Latar atau setting Latar atau landasan tumpu (setting) cerita adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi termasuk di dalam latar ini adalah tempat atau ruang yang dapat diamati.

Dijelaskan oleh Suminto A. waktu dan suasana cerita. yang berkaitan dengan tempat. (2) sudut pandang first-person-peripherial atau akuan-taksertaan. Untuk menceritakan suatu hal dalam cerita fiksi.24 akan membuat cerita tampak lebih hidup logis. petunjuk. Sayuti (1988:74) bahwa di dalam sudut pandang akuan-sertaan tokoh sentral cerita adalah pengarang yang secara langsung terlibat dalam cerita. yaitu (1) sudut pandang firstperson-central atau akuan-sertaan. sedangkan di dalam sudut pandang akuan-taksertaan tokoh “aku” biasanya hanya menjadi pembantu atau pengantar tokoh lain yang . (3) sudut pandang third person-om-niscient atau diaanmahatahu. Latar juga dimaksudkan untuk membangun atau menciptakan suasana tertentu yang dapat menggerakan perasaan dan emosi pembaca serta menciptakan mood atau suasana batin pembaca Dari pendapat-pendapat tersebut dapat di simpulkan latar (setting) adalah segala keterangan. Sayuti (1988: 74) dengan mengkompilasi pendapat Robert Stanson dan William Kenney mengemukakan bahwa ada empat macam sudut pandang yang dapat dipilih oleh pengarang. Sudut pandang atau point of view Sudut pandang atau point of view adalah cara pengarang memandang siapa yang bercerita di dalam cerita itu atau sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Suminto A. dan (4) sudut pandang third-person-limited atau diaan-terbatas. Sudut pandang ini berfungsi melebur atau menggabungkan tema dengan fakta. pengacuan. pengarang dapat memilih dari sudut mana ia akan menyajikannya. d.

(3) pengarang sebagai orang ketiga.25 lebih penting. Berbeda dengan hal itu adalah sudut pandang diaan-terbatas. Pencerita dalam sudut pandang akuan-taksertaan biasanya hanya muncul di awal atau di akhir cerita saja. (4) pengarang sebagai pemain dan narator (Baribin 1985 : 75-76 dalam Murdiati). pengarang berada di luar cerita. biasannya pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang mahatahu dan mampu berdialaog langsung dengan pembaca. Sudut pandang adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya atau dari mana ia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam ceritanya itu. Point of view pada dasarnya adalah visi pengarang artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Adapun di dalam sudut pandang diaan-mahatahu. Yang dimaksud titik pandang atau point of view adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan (Aminuddin 1987:90). (2) pengarang sebagai tokoh samping. Sayuti data sebenarnya tidak jauh beda dengan yang di kemukakan oleh Baribin dan Suharianto dalam bukunya yang berjudul “Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi” dan “Dasar-Dasar Karya Sastra” mengemukakan bahwa. Di sini pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita Pengertian yang diungkapkan oleh Suminto A. Dalam sudut pandang ini pengarang memperguanakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya. . Ada beberapa macam sudut pandang yaitu (1) pengarang sebagai tokoh cerita.

(3) pengarang serba hadir. Tokoh yang akan menyebut dirinya sebagai “aku” (2) pengarang ikut main tetapi bukan sebagai pelaku utama. tindakan latar. e. Aminudin (1987:72) mengemukakan bahwa gaya bahasa mengandung pengertian cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. dalam pusat pengisahan ini pengarang seakan-akan tidak tahu apa yang akan dilakukan pelaku cerita atau yang ada dalam pikirannya. Dalam hal ini pengarang tidak berperan sebagai apa-apa.26 Ada beberapa jenis pusat pengisahan (point of view). Pengarang sepenuhnya hanya mengatakan/menceritakan apa yang dilihatnya. yaitu (1) pengarang sebagai pelaku utama cerita. Dari beberapa pendapat peneliti simpulkan bahwa sudut pandang atau point of view adalah cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Pelaku utama cerita tersebut orang lain dapat “dia” atau kadang-kadang disebut namanya tetapi pengarang serba tahu apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada dalam pikiran pelaku cerita. dan sebagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah cerita kepada pembaca. Gaya Gaya erat hubungannya dengan nada cerita. (4) pengarang peninjau. Gaya merupakan pemakaian bahasa yang spesifik dari seorang pengarang. Wiyanto (2005:84) mengemukakan bahwa Gaya bahasa adalah: cara khas dalam menyampaikan . Menurut Suharianto (1982:36) jenis pusat pengisahan.

gaya bahasa dapat menimbulkan perasaan tertentu. ia berada secara khas di dunia ini. Ia terasa dan mewarnai karya sastra tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Setiap pengarang mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam mengungkapkan hasil karyanya. Tema Menurut Wiyanto (2005:78) Tema adalah pokok pembicaraan yang mendasari cerita. meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerpen. Semua itu menyebabkan karya sastra menjadi indah dan bernilai seni. selanjutnya Suharianto (1982:28) mengatakan: Tema sering disebut juga dasar cerita: yakni pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. persoalan. Cara bagaimana seorang pengarang memilih tema. dapat menimbulkan reaksi tertentu. Dengan cara yang khas itu kalimat-kalimat yang dihasilkannya menjadi hidup. Selanjutnya Sumardjo (1986:92) mengemukakan gaya bahasa adalah cara khas pengungkapan seseorang. f. Dan sebagai pribadi. . sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan karyanya itu. Dengan kata lain gaya adalah pribadi pengarang itu sendiri.27 pikiran dan perasaan. Karena itu. dan dapat menimbulkan tanggapan pikiran pembaca. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya adalah keterampilan pengarang dalam mengolah dan memilih bahasa secara tepat dan sesuai dengan watak pikiran dan perasaan. itulah gaya seorang pengarang.

Menurut Wiyanto (2005:84) amanat adalah unsur pendidikan. oleh karena sebuah karya sastra yang jelek sekalipun akan memberikan manfaat kepada kita. amanat biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan secara praktis. Dari tema cerita tergambar amanat yang ingin sampaikan oleh pengarang. terutama pendidikan moral. yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat karya sastra yang ditulisnya. Amanat Amanat dapat diartikan pesan berupa ide. Amanat pengarang terdapat secara implisit dan eksplisit di dalam karya sastra (Zulfahnur 1996 : 26 dalam…). . Amanat dapat disampaikan secara implisit dan eksplisit. Menurut Suharianto (1983 :70) amanat ialah nilainilai yang ada di dalam cerpen. maka amanat itu menyorot pada masalah manfaat yang dapat dipetik dari cerita yang dibaca. Pembaca karya sastra baru dapat mengetahui unsur pendidikannya setelah membaca seluruhnya. gagasan. Unsur pendidikan ini tentu saja tidak disampaikan secara langsung.28 Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud tema adalah ide atau gagasan atau permasalahan yang mendasari suatu cerita yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra. jika kita mampu memetik manfaatnya. ajaran moral dan nilainilai kemanusiaan yang ingin disampaikan pengarang lewat cerita. g.

2003:31) Kreativitas dapat di artikan sebagai perilaku yang berbeda dengan perilaku umum. bentuk berpikir yang cenderung jlimet dan menentang arus. (3) bakat. kreativitas sangat penting untuk memacu munculnya ide-ide baru. kecenderungan jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru lain dari yang umum. kreativitas ini dalam ide maupun akhirnya (Titik. (2) menangkap dan merenungkan ide tersebut (3) mematangkan ide agar menjadi jelas dan utuh. pada umumnya. dan (4) daya imajinasi. menangkap . dan (3) bekal keterampilan sastra.2. Unsur kreativitas mendapat tekanan dan perhatian besar karena dalam hal ini sangat penting peranannya dalam penggembangan proses kreatif seorang penulis/pengarang dalam karya-karyanya. Menurut (Roekhan 1991:1 dalam Kusworosari) proses penulisan kreatif sastra pada hakikatnya yaitu:proses penciptaan karya sastra. (2) bekal keterampilan bahasa. dkk. (2) kepekaan emosi.3 Hakikat Menulis Kreatif Cerita Pendek Dasar penulisan kreatif atau creative writting sama dengan menulis biasa. Proses itu di mulai dari (1) munculnya ide dalam benak penulis. berbeda dengan yang pernah ada (Roekhan 1991:4-5 dalam Kusworosari) Terdapat empat unsur dalam kreativitas yakni: (1) keterampilan berpikir kritis. Pengertian kreativitas dapat juga mengacu pada pengertian hasil yang baru. dan diakhiri dengan (5) menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya sastra Dalam penulisan kreatif sastra terdapat tiga unsur penting yakni: (1) kreativitas. (4) membahasakan ide tersebut dan menatanya (ini masih dalam benak penulis).29 2.

Ciri-ciri pribadi kreatif tersebut adalah (1) keterbukaan terhadap pengalaman baru. (3) kebebasan dalam mengemukakan pendapat (4) kaya imajinasi (5) perhatian yang besar terhadap . mendayagunakan bahasa secara optimal. Apresiatif maksudnya bahwa melalui kegiatan penulisan kreatif orang dapat mengenal. dan mungkin menciptakan kembali secara kritis sebagai hal yang dijumpai dalam teks-teks kreatif karya orang lain dengan caranya sendiri. Tujuan Menulis Kreatif Cerita Pendek Tujuan kreatif yakni tujuan tulisan yang bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistic dan nilai-nilai kesenian. kepribadian hendaknya dipahami tidak hanya sebagai kumpulan sejumlah unsur kepribadian. Berdasarkan kenyataan harus diakui bahwa ciri-ciri yang melekat pada pribadi yang kreatif antara ciri yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan secara tegas. menyenangi.30 dan mematangkan ide. Terdapat dua tujuan yang dapat dicapai melalui pengembangan penulisan kreatif. sebagai sesuatu yang bermakna Sayuti dalam Kusworosari (2002:5) Kedua tujuan tersebut sekaligus memberikan peluang bagi pembentukan pribadi kreatif. yakni yang bersifat apresiatif dan yang bersifat ekspresif. (2) keluwesan dalam berpikir. Dalam kaitan ini. dan mendayagunakan bekal sastra untuk dapat menghasilkan karya-karya sastra yang berwarna baru. menikmati. ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengekspresikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejala dalam diri kita untuk dikomunikasikan kepada orang lain dalam dan melalui tulisan kreatif.

Setiap pengarang memiliki daya juang kreatif yang tidak dimiliki oleh orang lain. proses kreatif itu bersifat personal. Pengaluran imajinasi itu menunjukan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru.4 Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita Pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita akan membantu dan mempermudah siswa untuk mengembangkan ide cerita karena mereka dapat berimajinasi untuk menjalankan sebuah cerita dengan mudah sesuai dengan karakter yang ingin mereka bangun dalam tokoh tersebut sehingga dapat mempengaruhi jalan cerita yang diinginkan dan mereka dapat mengemas maupun merubah jalan cerita dalam film menjadi sebuah cerpen yang menarik sesuai daya khayal dan imajinasi yang mereka bangun lewat tokoh yang mereka pilih. (6) Keteguhan dalam mengajukan pendapat atau pandangan dan. (7) Kemandirian dalam mengambil keputusan Sayuti 2002:2 (dalam Kusworosari) Proses kreatif adalah perubahan organisasi kehidupan pribadi.2. Dari aspek pribadi tersebut kreatifitas merupakan suatu tindakan yang muncul dari tindakan pribadi yang unik dan khas. Jadi. tanggapan seseorang penulis (pengarang) terhadap lingkungan itu akan menolong inisiatif mengulur imajinasi. Seperti yang di jelaskan di atas tentang tokoh dan penokohan kita dapat mempelajari beberapa karakter tokoh yang akan mendukung jalannya sebuah . 2.31 kegiatan cipta mencipta. sebagai tanggapan terhadap lingkungannya.

2. perlu dipergunakan sarana yang disebut media (Suratno 2006: 41) . Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita karena peneliti melihat bahwa karakter sebuah tokoh sangatlah penting dan sangat berpengaruh dalam proses pembuatan cerpen. peneliti mengarahkan siswa untuk memilih salah satu tokoh yang menarik dalam film yang telah diputarkan. Karena tanpa tokoh beserta karakternya sebuah cerita tidak akan pernah bisa tercipta. keterampilan dan sikap yang baru untuk mempermudah penyampaian pesan atau informasi dalam proses komunikasi. Proses ini harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dengan siswa. 2.32 peristiwa dalam cerita. Oleh karena itu.5 Hakikat Media Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi/ proses penyampaian pesan. Hal ini akan mempermudah siswa untuk menuangkan idenya dalam membuat sebuah cerita yang menarik dan mereka dapat dengan mudah mengembangkan cerita tersebut menjadi sebuah cerpen yang indah. dan meminta mereka agar mereka berimajinasi seolah-olah mereka menjadi tokoh dalam film tersebut dan mengembangkan jalan cerita sesuai keinginannya melalui karakter tokoh yang telah dipilih. Pesan atau informasi di sini dapat berupa pengetahuan.

pemilihan itu didasarkan pada beberapa faktor yang saling berhubungan sebagai berikut (1) situasi dan latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu ditiru dalam pengajaran.2. 2.5.2. didengar dan dibaca.33 Media adalah suatu alat yang digunakan dalam proses mengajar yang berupa perangkat keras maupun lunak berfungsi untuk menyampaikan dan memperjelas materi untuk mencapai tujuan. metode. media merupakan alat. media hendaknya dapat dimanipulasi. teknik dan jenis komponen yang berfungsi sebagai perangsang kegiatan belajar. 2. menyebar ide laporan dan merupakan bentuk komunikasi antara pengirim dan penerimaan pesan dalam bentuk Audio maupun Audio Visual.2 Dasar Pertimbangan Pemilihan Media Memilih media yang terbaik untuk tujuan pengajaran bukan pekerjaan yang mudah. Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar dengan segala alat lahir yang dapat menyajikan pesan. (2) pengadaan media dapat dipertanggung jawabkan untuk pelajaran yang bersangkutan. dapat dilihat.5. (3) media yang .1 Pengertian Media Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran (Hamalik 1994:12) Batasan-batasan mengenai pengertian media di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah suatu alat lahir.

3 Fungsi Media dalam Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar. Penggunaan media memiliki keuntungan dan kerugian. 2. media memiliki fungsi yang sangat penting. dana. jumlah siswa yang dilatih. membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar. dan isi mata pelajaran) sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan media tersebut . dan menambah variasi teknik penyajian pelajaran. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan minat. Selain itu. Adapun kerugian dalam penggunaan media yaitu membutuhkan waktu. Keuntungannya yaitu membangkitkan motivasi. hasil pembelajaran dapat lebih optimal. . Oleh karena itu media dapat digunakan secara tepat. Dengan demikian. perlu pemeliharaan dan perbaikan. secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar. tenaga. perlu ruangan dan tempat yang aman dan layak.2.5. (4) nilai bahan pelajaran (perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi. Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai (Sudjana dan Rivai 2001: 2). media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara pengajar dan siswa. memperjelas informasi yang disampaikan guru. serta dapat mempengaruhi psikologi siswa.34 dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa. dan keterampilan khusus.

yang sangat mendukung dan mampu menggugah perasaan dan pemikiran bagi audien atau pendengar Audio Visual atau yang lebih dikenal dengan VCD. Reverse /fast for word Gerak cepat / gerak lambat baik maju/mundur b. maksud penggunaan Audio Visual di sini adalah penggunaan media yang dapat didengar sekaligus dilihat / disajikan dan alat yang digunakan adalah berupa piringan bergambar dan bersuara seperti yang kita kenal dengan sebutan VCD (Video Compact Disk). Penggunaan Audio Visual merupakan perpaduan antara media Audio(suara) dengan media Visual (gambar) yang sangat memungkinkan terjalinnya komunikasi dua arah antara guru sebagai tenaga pengajar dan siswa dalam proses pembelajaran media Audio Visual merupakan sinkronisasi antar media Audio dan media Visual.4 Media Audio Visual Media Audio Visual. 2003:36). Singgle frame baik gerak maju / mundur c.35 2. Adapun perangkat keras .5. VCD ( Video Compact Disk )mempunyai keterampilan antara lain: a. Pencari gambar secara cepat d.2. Stereosound Media Audio Visual mempunyai dua perangkat yaitu perangkat keras atau hardware dan perangkat lunak atau software. VCD ( Video Compact Disk ) adalah sistem penyimpanan dan rekaman video dimana signal Audio Visual direkam pada disket plastik bukan pita magnetik ( Arsyad.

36 dari Video Compact Disk adalah Player atau alat yang memproses perangkat lunak ke dalam tampilan gambar sedangkan perangkat lunak berupa kepingan disk yang berisi data yaitu : film (jalan cerita) selain player dan kepingan disk dan software ada alat yang membantu fungsi player dan kepingan disk dalam menampilkan gambar. Manfaat penggunaan media pembelajaran antara lain sebagai berikut: 1. alat tersebut berupa televisi yang nantinya di hubungkan dengan player melalui kabel Sudjana (1997:2) mengatakan bahwa penggunaan media mempunyai manfaat dalam proses pembelajaran. Pembelajaran akan semakin menarik sehingga menarik perhatian siswa sehingga menumbuhkan motivasi belajar 2. sehingga siswa tidak bosan dan guru mengajar setiap jam pelajaran 4. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik 3. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru.5.2. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar tetapi juga aktivitas seperti mengamati. Metode mengajar akan lebih bervariasi. 2. memperkaya. melakukan mendemonstrasikan dll.5 Tujuan Penggunaan Media Audio Visual Penggunaan media Audio Visual dalam proses pembelajaran bertujuan untuk (1) memperkenalkan. membentuk. serta memperjelas .

Menjelaskan tujuan yang akan dicapai . Penekanan dalam pengajaran menggunakan media Audio Visual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman kongkret. 2. dan mencegah akibat buruk yang berhubungan dengan pemakaian arus listrik 1.2. Menentukan topik dan program b. Peralatan Audio Visual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari penginderaan yaitu indra penglihatan dan indra pendengaran. Persiapan Sebelum menggunakan media Audio Visual setiap guru hendaknya mengikuti langkah a.5.37 pengertian dan konsep yang abstrak kepada siswa (2) mengembangkan sikapsikap yang dikehendaki (3) mendorong siswa untuk melakukan kegiatan lebih lanjut. Materi Audio Visual hanya akan berarti bila dipergunakan sebagai proses pengajaran. tetapi sebagai alat teknologis yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman konkret kepada para siswa (Sudjana 2001 :58). tidak hanya akan berarti bila dipergunakan sebagai proses pengajaran.6 Penggunaan Media Audio Visual Penggunaan media audiovisual menuntut persiapan yang matang serta keterampilan khusus mengenai cara mengoperasikan media agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar. terhindar dari resiko kerusakan media.

2. Siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu 3. Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak b. Memperhitungkan durasi waktu pemakaian sesuai dengan alokasi waktu pelajaran 2. Penulisan Cerita Pendek Kegiatan ini dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran media audio visual. Pelaksanaan Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat penyajian program yaitu a.38 c. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen. Pembelajaran ini bertujuan agar siswa terampil dalam menyampaikan idenya secara mendetail dan dapat mengembangkan cerita dengan mudah sesuai karakter yang ingin dibangun lewat pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita tersebut sehingga . Mengecek peralatan yang akan dipergunakan d.3 Kerangka Berpikir Pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui media Audio Visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbahasa dan bersastra. Guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD c. Menempatkan layar TV/VCD pada posisi yang tepat e.

4 Hipotesis Tindakan Berdasarkan tinjauan pustaka di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini dapat meningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa Kelas X SMA N 2 Tegal . Pembelajaran menulis cerpen dilakukan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen karena permasalahan yang dihadapi oleh kebanyakan guru adalah cara mengatasi rendahnya keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Dengan mengandaikan diri siswa akan lebih mudah untuk mengembangkan sebuah cerita dan penggunaan media audio visual di sini untuk memunculkan ide-ide siswa setelah menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual 2. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti melakukan penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual.39 seolah-olah siswa ikut masuk berperan dalam cerita dalam film yang diputarkan agar dapat diubah menjadi cerpen yang menarik sebelum siswa menulis cerpen sehingga mereka dapat menulis cerpen dengan baik.

BAB III METODE PENELITIAN 3.Perencanaan adalah rencana tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen 2. Dengan rancangan ini peneliti berharap agar keterampilan menulis cerpen di kelas X4 semakin meningkat. Penelitian tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan keterampilan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah.Observasi atau pengamatan adalah pengamatan terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan pengamatan terhadap hasil kerja siswa 4. Tiap siklus terdiri atas empat langkah yaitu: 1.Refleksi adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan hasil pengamatan sehingga dapat dilakukan revisi terhadap proses belajar mengajar selanjutnya 40 .Tindakan adalah pembelajaran macam apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya peningkatan keterampilan menulis cerpen 3.1 Desain Penelitian Penelitian dalam skripsi ini menggunakan model tindakan kelas. Peneliti memilih rancangan penelitian tindakan kelas karena keterampilan menulis cerpen di kelas X4 masih rendah. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus.

2 Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis cerita pendek siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal Kelas X SMA N 2 Tegal terbagi menjadi delapan kelas. Perencanaan 1. Refleksi Siklus II 2. Pengamatan 3. Refleksi Siklus I 2. rincian yang jelas tentang siswa kelas X SMA N 2 Tegal seperti yang terdapat pada tabel berikut: . Pengamatan Gambar 1 : Skema model tindak lanjut kelas 3. Perencanaan 4. Tindakan 4.41 Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua siklus ini dapat digambarkan dengan mengikuti alur sebagai berikut: Masalah Siswa kurang terampil menulis cerpen Hasil Siswa terampil menulis cerpen 1. Tindakan 3.

1 Keterampilan menulis cerpen Keterampilan menulis cerpen yang dimaksud adalah keterampilan siswa untuk menuliskan sebuah cerita setelah melihat dan mendengarkan / menyaksikan pemutaran film remaja yang digunakan untuk mempermudah dalam menemukan ide-ide dan mengembangkan sebuah cerita. 8.3. 4. 7. 3.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini ada dua macam yaitu keterampilan menulis cerpen dan pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual 3. Kelas X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 Siswa Putra 17 17 16 18 17 18 17 17 Siswa Putri 23 22 22 21 22 20 22 22 Jumlah 40 39 38 39 39 38 39 39 Dari jumlah kelas X tersebut. 6. 5. 3. 2. Indikator keterampilan menulis dapat .42 Tabel 1 : daftar Jumlah siswa kelas X SMA N 2 Tegal No 1. peneliti atau penulis hanya mengambil subjek penelitian pada kelas X4 yang berjumlah 39 siswa dan terdiri dari 18 putri dan 21 putra.

43 diamati dari kesesuaian isi cerpen. secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar. guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD. serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. 3. isi dan penutup. Oleh karena itu media audio visual dapat digunakan secara tepat. Kemudian pembelajaran menulis cerpen dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan . Setelah pemutaran VCD. Isi cerpen yang sesuai dengan judul dan alur cerita yang terarah. siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu.2 Pembelajaran dengan Media Audio Visual Penggunaan media audio visual dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa. Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak. membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran menulis cerpen didahului dengan pemutaran VCD. Target penelitian ini adalah untuk menentukan solusi terhadap kondisi siswa yang keterampilan menulis cerpennya masih rendah sehingga dicapai suatu kondisi baru yaitu siswa terampil menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Bagian-bagian inti lengkap seperti pembukaan. Tindakan yang hendak dilakukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen yaitu pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang memerlukan persiapan yang matang.3.

.44 mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen. dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam kegiatan menulis cerpen. yang selanjutnya sebagai dasar untuk menghadapi tes pada siklus II. yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes.4. Pada hasil tes siklus I dianalisis. 3.4 Instrumen Penlitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. adalah tes dan nontes untuk mengukur peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II dengan tujuan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Tes tersebut dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II. yang pada akhirnya setelah analisis hasil tes siklus II dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita 3.1 Instrumen Tes Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes.

Jumlah Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Aspek Penilaian Skor Maksimal 10 20 10 10 10 20 20 100 Tabel 3 : Kriteria Penilaian Keterampilan Menulis Cerita Pendek (Cerpen) No 1 Aspek penilaian Tema Skala Nilai Sangat baik Patokan Baik dalam mendeskripsikan tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. baik dalam menyajikan tema dari . Tes yang berupa soal esai menulis cerpen dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis cerpen dengan memperhatikan kriteriakriteria penilaian yang telah ditentukan . Tema 3. 3) Latar. kriteria-kriteria penilaian tersebut yakni 1) Tema. 7) Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Tabel 2 : Tabel Pedoman Penilaian No 2. 5) Gaya Bahasa. 4) Sudut pandang. Alur 4. Latar 5. Gaya Bahasa 7. 6) Tokoh dan Penokohan.45 1. Tokoh dan Penokohan 8. 2) Alur. Sudut pandang 6.

pembayangan . Alur Sangat baik Permainan alur/plot menarik. baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita Tidak baik dalam mendeskripsikan Kurang baik tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita Kurang baik dalam mendeskripsikan Cukup baik tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi.46 kesimpulan keseluruhan cerita. Baik Cukup baik dalam mendeskripsikan tema yang terkandung dalam cerita dan ditawarkan kepada pembaca. pembayangan atmosfer cerita khas Baik Permainan alur/plot cukup menarik. baik dalam menyajikan tema dari kesimpulan keseluruhan cerita 2. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi.

Latar/setting Sangat baik Tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa . dan tepat yang menggambarkan suasana mendukung peristiwa Baik Cukup tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. pembayangan atmosfer cerita khas 3.47 atmosfer cerita khas Cukup baik Permainan alur/plot kurang menarik. ada tegangan dan yang kejutan akan serta terjadi. pembayangan atmosfer cerita khas Kurang baik Permainan alur/plot tidak menarik.

dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa Kurang baik Tidak tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa.48 Cukup baik Kurang tepat dalam memilih tempat yang mengukuhkan terjadinya peristiwa. . Sudut Pandang Sangat baik Baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca. dan tepat menggambarkan suasana yang mendukung peristiwa 4. Baik Cukup baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer. tepat memilih waktu yang memiliki tampakan atmosfer.

baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca 5.49 Cukup baik Kurang baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh. unsur emotif mengedepankan dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu . baik dalam menjelaskan kepada pembaca siapa yang dituju dan menunjukkan perasaan tokoh kepada pembaca. mengedepankan sesuatu dan yang mengaktualkan dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan Baik Cukup tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif. Gaya Bahasa Sangat baik Tepat dalam memilih bahasa yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif. Kurang baik Tidak baik dalam memberikan perasaan kedekatan tokoh.

50

yang diungkapkan Cukup baik Kurang tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif, unsur emotif

mengedepankan

dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan Kurang baik Tidak tepat dalam memilih bahasa yang bersifat mengandung konotatif, unsur emotif

mengedepankan

dan mengaktualkan sesuatu yang dituturkan dan tepat dalam memilih ungkapan yang mewakili sesuatu yang diungkapkan

6.

Tokoh penokohan

dan Sangat baik

Pelukisan watak tokoh tajam dan nyata, pembaca cerita tokoh mampu membawa peristiwa

mengalami

Baik

Pelukisan watak tokoh cukup tajam dan nyata, tokoh mampu membawa

51

Cukup baik

pembaca mengalami peristiwa cerita Pelukisan watak tokoh kurang tajam dan nyata, tokoh mampu membawa

Kurang baik

pembaca mengalami peristiwa cerita Pelukisan watak tokoh tidak tajam dan nyata, tokoh mampu membawa pembaca mengalami peristiwa cerita

7.

Kepaduan

unsur- Sangat baik

Perpaduan

keenam

unsur

dalam

unsur dalam cerpen

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan baik menjadi menarik Baik Perpaduan keenam unsur dalam sebuah cerita yang

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan

cukup baik menjadi sebuah cerita yang menarik Cukup baik Perpaduan keenam unsur dalam

cerpen seperti: Tema, alur, latar,

52

sudut pandang, gaya bahasa, tokoh dan penokohan dikemas dengan

kurang baik menjadi sebuah cerita yang menarik Kurang baik Perpaduan keenam unsur dalam

cerpen seperti: Tema, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa,tokoh dan penokohan dikemas dengan tidak baik menjadi sebuah cerita yang menarik Berdasarkan kriteria pada tabel di atas, dapat di ketahui siswa yang berhasil mencapai skala nilai sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik Berikut ini skala nilai menulis cerita pendek (cerpen) Tabel 4 : daftar Skala Skor Keterampilan Menulis Cerita Pendek No. Aspek Penilaian SB 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tema Alur Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa Tokoh dan Penokohan Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen 16-20 8-10 8-10 8-10 8-10 16-20 16-20 Skala Skor B 11-15 6-8 6-8 6-8 6-8 11-15 11-15 C 6-10 3-5 3-5 3-5 3-5 6-10 6-10 K 0-5 0-2 0-2 0-2 0-2 0-5 0-5

4. Dalam observasi ini ketiga orang ini mengamati perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung. Peneliti sebelumnya mempersiapkan lembar observasi untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan data. Proses observasi dan pengamatan segera mungkin direkam dalam benak peneliti dengan membuat catatan-catatan khusus mengenai perilaku-perilaku yang terjadi selama pembelajaran berlangsung atau dengan memberikan chek list pada lembar observasi yang sudah dipersiapkan oleh peneliti. dibantu oleh guru mata pelajaran dan teman sejawat.53 Keterangan: SB B C K : Sangat Baik : Baik : Cukup Baik : Kurang Baik 3.2 Instrumen nontes Instrumen non tes dalam penelitian ini adalah observasi. Observasi juga dilakukan terhadap peneliti maupun siswa itu sendiri . Observasi atau pengamatan dilakukan oleh peneliti. dan dokumentasi a) Pedoman Observasi Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan khusus mengenai perilaku siswa dalam kegiatan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. wawancara. jurnal. Observasi dipergunakan untuk memperoleh data tentang perilaku siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus I dan pada siklus II.

kesan. siswa diminta untuk memberi tanggapan. Kebiasaan bersikap positif dalam menulis cerpen 2. wawancara tidak dilakukan pada semua subjek penelitian. jurnal siswa dan jurnal guru. pesan dan pendapat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen. Peningkatan hasil menulis cerpen bagi yang mendapat nilai tertinggi 2. namun hanya pada siswa yang terlihat menonjol dalam: 1. Pedoman wawancara digunakan untuk mengambil data dengan wawancara terstruktur dan terbuka. Untuk jurnal siswa. Penurunan hasil menulis cerpen bagi yang mendapat nilai terendah 3. Kebiasaan bersikap negatif dalam menulis cerpen 3. Bersikap negatif dalam kegiatan menulis cerpen Aspek yang diungkapkan dalam wawancara ini adalah: 1.54 b) Pedoman Wawancara Wawancara dipergunakan untuk memperoleh data secara langsung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Penyebab penurunan penulisan cerpen c) Pedoman jurnal Teknik jurnal dalam penelitian ini ada dua yaitu. kritikan . Data yang diambil mengenai kesan. Respon siswa terhadap pembelajaran menulis 4. Penyebab peningkatan penulisan cerpen 5. Sikap positif dalam kegiatan menulis cerpen 4.

Respon negatif siswa dalam proses pembelajaran 5. Sikap positif siswa terhadap metode pembelajaran 6. Dengan demikian akan terungkap kekurangan dan kelebihan para siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk mengevaluasi dan merefleksi jurnal siswa tersebut.55 terhadap pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yaitu cara peneliti menyampaikan materi / bahan yang digunakan untuk menuliskan sebuah cerpen. Seperti yang diungkapkan di atas setelah selesai pembelajaran menulis cerpen melalui media audio visual. Sikap negatif siswa terhadap metode pembelajaran 7. Respon negatif siswa terhadap metode yang digunakan . Sikap negatif siswa tentang cara menulis cerita pendek 3. Respon positif siswa dalam proses pembelajaran 4. Jurnal diberikan pada siswa setelah pembelajaran sikluls I berakhir. penulis membuat jurnal guru sebagai refleksi yang menggunakan aspek: 1. keaktifan siswa pada saat pembelajaran keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri dengan media audio visual. Sikap positif siswa tentang cara menulis cerita pendek 2. Respon positif siswa terhadap metode yang digunakan 8. Jurnal guru berisi catatan-catatan mengenai perilaku siswa dan respon siswa.

Selain itu juga digunakan untuk memperoleh hasil pembelajaran yang dapat digunakan . Peneliti menanggapi hal ini perlu dijadikan sebagai data.56 Siswa setiap selesai pembelajaran menulis cerpen melalui media audio visual juga membuat jurnal yang mengungkapkan aspek 1. Persiapan siswa saat menulis cerpen selama menggunakan meida audio visual. pada saat para siswa menyaksikan pemutaran film dengan penuh perhatian dan pemahaman akan isi cerita pada film yang ditayangkan dan pada saat siswa mencoba menuangkan atau menuliskan cerita film tersebut menjadi sebuah cerpen yang dikembangkan sendiri. Hal ini dimaksudkan dapat sebagai bukti bahwa penelitian peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual benar-benar nyata dilakukan oleh peneliti 3. Penyebab kesulitan dalam menulis cerpen 2. Yang perlu dijadikan dokumentasi dalam penelitian ini yaitu pada inti kegiatan menulis cerpen. d) Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data nontes yang berupa gambar (foto) yang diambil peneliti pada proses pembelajaran siklus I maupun siklus II berlangsung.5 Siklus I Siklus pertama ini dimaksudkan untuk melakukan pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan cara yang sudah biasa dilakukan guru. Penyebab kemudahan dalam menulis cerpen 3.

alur cerita. kelas dan semester.1 Perencanaan Pada siklus pertama.5.pemutaran film dan penugasan. dan (6) lembar kerja siswa. kegiatan inti. kompetensi dasar. indikator hasil belajar.5.2 Tindakan Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah mengadakan apresiasi berupa Tanya jawab tentang berbagai macam film remaja yang digemari para siswa. (3) alat pelajaran dan metode pembelajaran.langkah yang digunakan pada siklus pertama yaitu: 3. (5) sumber bahan. dan penutup. Tanya jawab. panjang cerpen.57 sebagai bahan kajian serta bahan pembanding dengan pembelajaran pada siklus kedua. dan alokasi waktu (2) langkah-langkah pembelajaran yang meliputi apresiasi. 3. Jenis penilaian yang digunakan adalah nontes yaitu pengamatan (observasi) terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan penilaian terhadap hasil menulis cerpen para siswa. kesesuaian judul. Alat pelajaran yang digunakan adalah media audio visual dengan CD film remaja yang berjudul “Dealova” metode yang digunakan adalah ceramah. Di samping itu peneliti . Hasil menulis cerpen siswa diobservasi meliputi isi. pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dengan menggunakan lembar observasi. (4) jenis penilaian. penulis menyusun rencana pembelajaran yang berisi (1) judul yang meliputi jenis mata pelajaran. Langkah. Tujuan dari apresiasi ini adalah menggali pengetahuan dan pengalaman siswa tentang berbagai macam film remaja yang pernah dilihat.

3.58 juga memberikan penjelasan mengenai kegiatan belajar mengajar yang hendak dilaksanakan yaitu mengenai menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.5. Hasil analisa digunakan sebagai kajian dan bahan pembanding terhadap hasil siklus kedua. Hasil pembelajaran pada siklus kedua ini diharapkan lebih baik .3 Pengamatan dan observasi Peneliti mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung yaitu observasi tentang keaktifan dan keantusiasan siswa. 3. pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dalam cerita. Hasil penulisan cerpen siswa diobservasi di luar jam pelajaran berdasarkan isi.4 Refleksi Penulis menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan hasil kerja siswa. Analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran menulis cerpen. 3. Analisa hasil menulis cerpen dilakukan dengan menentukan rata-rata nilai kelas.6 Siklus II Siklus kedua ini dilakukan sebagai usaha peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen dengan cara melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yaitu dengan memutarkan sebuah film remaja “Cinta Pertama”.5. alur. panjang cerita.

Perbedaannya terdapat pada langkah-langkah pembelajaran.59 dibanding dengan hasil pembelajaran pada siklus pertama. siswa menyaksikan pemutaran film “Dealova” yang akan memudahkan siswa menemukan ide cerita.2 Pengamatan atau Observasi Dalam siklus kedua ini peneliti juga mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung. setelah itu siswa dapat menulis cerpen pada lembar yang telah disediakan.6. Apakah siswa lebih aktif melaksanakan kegiatan dan apakah siswa lebih antusias menulis cerpen.1 Perencanaan Pada siklus kedua ini.6. Setelah apresiasi. dan memilih karakter tokoh yang akan membantu siswa dalam mengembangkan cerita yang akan ditulis. 3. Hasil menulis cerpen siswa juga diobservasikan dengan cara yang sama dengan siklus pertama . Siklus kedua ini juga melalui langkah-langkah yang sama dengan siklus pertama. 3. Selain itu peneliti juga bertanya langsung kepada beberapa siswa apakah mereka lebih menyukai pembelajaran pada siklus kedua dari pada pembelajaran pada siklus pertama beserta alasanalasannya. peneliti membuat rencana pembelajaran yang bagian-bagiannya sama dengan rencana pembelajaran siklus pertama.

Apakah ada peningkatan ratarata nilai. dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen . dan wawancara dengan beberapa siswa tentang sikap. penilaian hasil menulis cerpen siswa. respon.7.6. Apakah ada peningkatan atau tidak. Ada tiga jenis penilaian nontes yang digunakan yaitu penilaian kinerja siswa.bab ini dibahas bentuk dan validitas instrumen 3.1 Bentuk Instrumen Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk penilaian nontes dan dokumentasi yang berupa foto.60 3. Dengan demikian permasalahan seberapa besar peningkatan minat dan seberapa besar peningkatan keterampilan siswa kelas X SMA N 2 Tegal dapat diketahui 3.7 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diteliti. Peneliti juga menganalisa hasil menulis cerpen siswa dengan dengan cara menentukan rata-rata nilai kelas. kesulitan. Dalam sub. Analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa antusias terhadap kegiatan menulis cerpen dan membandingkannya dengan hasil pengamatan pada siklus pertama dalam bentuk prosentase.3 Refleksi Pada siklus kedua ini penulis menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan penilaian hasil kerja siswa. Hasil analisa dipergunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding terhadap hasil penilaian siklus pertama dalam bentuk prosentase.

7.2 Penilaian Hasil Menulis Cerpen Penilaian hasil menulis cerpen para siswa dilakukan setelah mereka selesai menuliskan atau menuangkan sebuah cerita dalam lembar kerja yang disediakan pada siklus I maupun siklus II. Alur Sangat baik Baik Cukup Kurang Rangkaian peristiwa yang sangat runtut Rangkaian peristiwa yang runtut Rangkaian peristiwa yang cukup runtut Rangkaian peristiwa yang tidak runtut Latar dapat menggambarkan karakter tokoh dengan baik 18-20 12-16 6-10 0-4 9-10 3. Latar Sangat baik Baik Latar dapat menggambarkan karakter tokoh cukup baik 6-8 Cukup Latar dapat menggambarkan karakter tokoh kurang baik 3-5 Kurang Latar dapat menggambarkan karakter tokoh tidak baik 0-2 4.61 3. kesesuaian judul dengan isi. Tema Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Profil Penilaian Sangat relevan dengan cerpen yang ditulis Relevan dengan cerpen yang ditulis Cukup relevan dengan cerpen yang ditulis Tidak relevan dengan cerpen yang ditulis Rentang skor 9-10 6-8 3-5 0-2 2. alur cerpen dengan menggunakan kriteria penilaian sebagai berikut: Tabel 6 : Kriteria penilaian hasil menulis cerpen No Aspek 1. Sudut Pandang Sangat baik Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh dengan baik 9-10 Baik Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh cukup baik 6-8 Cukup Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh kurang baik 3-5 Kurang Sudut pandang dapat menjelaskan tokoh tidak baik 0-2 . Penilaian meliputi isi cerita. pemilihan karakter tokoh.

nantinya akan dapat dibuat instrumen penelitian untuk hasil menulis cerpen yang meliputi penilaian. Nilai setiap siswa diperoleh dari jumlah skor dikalikan bobot setiap aspek dengan rumusan sebagai berikut : N = Σ S x 10 = Nilai setiap aspek Keterangan : N Σ S = Jumlah skor 6. dan alur cerita. kesesuaian isi dengan judul. Tokoh dan Sangat baik Baik Cukup Kurang penokohan 7. Dengan rumusan sebagai berikut : R = ΣΝ Σr . pemilihan karakter tokoh. isi cerpen. Gaya Bahasa Sangat baik Penggunaan bahasa yang sesuai dan tepat 9-10 Baik Penggunaan bahasa yang sesuai dan cukup tepat 6-8 Cukup Penggunaan bahasa yang sesuai dan agak tepat 3-5 Kurang Penggunaan bahasa yang tidak sesuai Sangat sesuai dengan tokoh film Sesuai dengan tokoh dalam film Cukup sesuai dengan tokoh dalam film Kurang sesuai dengan tokoh dalam film Perpaduan antar unsur sangat baik Perpaduan antar unsur baik Perpaduan antar unsur sangat baik Perpaduan antar unsur kurang 0-2 18-20 12-16 6-10 0-4 18-20 12-16 6-10 0-4 6.25 = Bobot tiap aspek Rata-rata nilai diperoleh dengan menjumlahkan nilai seluruh responden kemudian membaginya dengan jumlah responden.62 5. Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen Sangat baik Baik Cukup Kurang Berdasarkan profil skor penilaian tersebut.

dan satu daya yang sesuai. diperlukan pula instrument fisik yaitu sebuah CD yang berisi film remaja berjudul ”Cinta Pertama”.63 Keterangan : R = Rata-rata nilai siswa ΣΝ = Jumlah nilai seluruh siswa Σ r = Jumlah responden Selain instrument-instrumen di atas.7. satu unit televisi. satu unit VCD player.3 Wawancara Wawancara dilakukan oleh peneliti di luar waktu proses belajar mengajar setelah siklus kedua dilaksanakan terhadap siswa yang nilai hasil menulis cerpen pada siklus II masih kurang dan siswa yang nilainya mengalami peningkatan menjadi lebih baik Aspek yang diungkapkan dalam wawancara yaitu: 1) Sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran baik pada siklus pertama maupun kedua 2) Kesulitan yang dialami siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus pertama maupun kedua 3) Tanggapan / respon yang dilakukan siswa terhadap proses pembelajaran pada siklus pertama dan kedua 4) Motivasi yang menyebabkan siswa mengalami peningkatan keterampilan menulis cerpen pada siklus pertama Hasil wawancara dianalisa dan disimpulkan sebagai penguat jawaban terhadap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap . 3.

peneliti meminta bantuan teman untuk mengambil gambar atau mendokumentasikan pembelajaran melalui foto. Gambar-gambar foto di deskripsikan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan siswa pada setiap siklus. 3. (3) Kegiatan siswa menyaksikan film. (2) Kegiatan belajar mengajar. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan suatu alat penelitian yang akurat. Foto yang diambil sebagai sumber data yang dapat memperjelas hasil penelitian 3. karena hasilnya sangat menentukan mutu dan penelitian.64 pembelajaran menulis cerpen setelah siswa mengalami pembelajaran menulis cerpen menggunakan media audio visual. (4) Kegiatan tanya jawab. (5) Kegiatan menulis cerpen.8 Teknik pengumpulan data Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data yang diperlukan. (6) Kegiatan membacakan hasil menulis cerpen Pengambilan foto dalam proses pembelajaran menulis cerpen dapat dijadikan gambaran perilaku siswa dalam penelitian. Proses pengambilan foto dilakukan pada saat siswa melaksanakan proses pembelajaran yang terdiri dari (1) Kegiatan awal pembelajaran.7. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu teknik tes dan teknik nontes . Pengambilan data melalui dokumentasi foto dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung.4 Dokumen yang berupa foto Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas siswa dalam penelitian.

Siswa ditugasi menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh e.Memutarkan sebuah film c. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data dengan teknik tes adalah: a. tes ini dilakukan sebanyak dua kali yakni pada kedua siklus dilakukan tes menulis cerpen melalui media audio visual dengan teknik penandaian diri sebagai tokoh. Mengarahkan siswa dalam proses pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita d. Kekurangan yang terdapat pada siklus pertama harus dapat diperbaiki pada siklus kedua. Memberikan materi pembelajaran menulis cerpen b.1 Teknik Tes Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan tes. Meneliti dan mengolah data dari hasil penelitian f. Peneliti mengukur kemampuan menulis siswa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II Berdasarkan hasil tes siklus I dan siklus II target tingkat keberhasilan siswa ditetapkan jika dapat mencapai nilai rata-rata kelas 75 dan batas ketuntasan yang dicapai siswa adalah 60.65 3.8. Dalam penelitian ini siswa melaksanakan tugas secara individu yakni setiap siswa menulis sebuah cerpen pada lembar yang telah disediakan. .

jurnal dan dokumentasi. Wawancara dilakukan pada 4 siswa yaitu 2 siswa yang mendapat nilai tertinggi dan 2 siswa yang mendapat nilai rendah. Mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan 2.66 3. proses belajar mengajar sampai dengan siswa menulis cerpen. sedangkan penilaian hasil wawancara dilaksanakan setelah proses pembelajaran 1. Mempersiapkan lembar observasi yang berisi beberapa pertanyaan tentang keaktifan siswa dalam proses pembelajaran b. . Adapun tahap observasi oleh peneliti dibantu seorang teman dan peneliti. Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk mengungkapkan data penyebab kesulitan hambatan dalam pembelajaran menulis cerpen. Melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru. Teknik pengumpulan data nontes diperlukan untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini ada tiga jenis teknik nontes yang dipergunakan yaitu pengamatan kinerja siswa dilaksanakan pada saat pembelajaran.2 Nontes Teknik nontes yang digunakan yaitu observasi. Penilaian ini didapat berdasarkan nilai tes siklus I dan berdasarkan observasi yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran . wawancara.8. c. Adapun tahap penelitiannya yaitu: a. Observasi Observasi digunakan untuk mengungkapkan data keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.

Peneliti meminta bantuan teman untuk mengambil gambar atau mendokumentasikan pembelajaran melalui foto. Jurnal Setiap akhir pembelajaran menulis cerpen siswa menulis jurnal yang berisi pesan dan kesan yang mereka hadapi dalam menulis cerpen. Dokumentasi Pengambilan data melalui dokumentasi foto dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung.67 3. Data yang diperoleh dari pengamatan kinerja setiap siswa pada siklus pertama dan siklus kedua berupa skor dijumlahkan dan diubah menjadi nilai kuantitatif dengan rumus : . (4) Kegiatan tanya jawab. Hasil wawancara menggunakan metode kualitatif. Foto yang diambil sebagai sumber data 3. (5) Kegiatan menulis cerpen. serta saran tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual atau hal-hal yang ingin di kemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran menulis cerpen 4. Proses pengambilan foto dilakukan pada saat siswa melaksanakan proses pembelajaran yang terdiri dari (1) Kegiatan awal pembelajaran.9 Teknik Analisis Data Pengkajian atau analisis data dilakukan dengan metode kuantitatif untuk pengamatan kinerja siswa dan penilaian hasil menulis cerpen. (2) Kegiatan belajar mengajar. (3) Kegiatan siswa menyaksikan film. (6) Kegiatan membacakan hasil menulis cerpen Pengambilan foto dalam proses pembelajaran menulis cerpen dapat dijadikan gambaran perilaku siswa dalam penelitian.

Selisih rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua.Ν R1 x 100 % Ν R1 PP = Prosentase kenaikan nilai menulis cerpen siswa NR1= Rata-rata siklus 1 NR2= Rata-rata siklus 2 Persentase tersebut digunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding dalam menjawab permasalahan seberapa besar peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen setelah diberi pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. . Selisih rata-rata nilai dari siklus pertama dan kedua di prosentasekan dengan rumus: ΡΡ = Keterangan: Ν R2 .68 N1 = JS x 10 N2 = JS x 10 Keterangan : N1 = Nilai siklus 1 N2 = Nilai siklus 2 JS = Jumlah skor 10 = Bobot tiap skor Nilai seluruh siswa dijumlahkan dan di rata-rata kemudian dibandingkan antara hasil siklus pertama dengan siklus kedua.

4. Hasil tindakan siklus I dan siklus II tersebut disajikan dalam bentuk data kuantitatif. Dari hasil pengamatan selama peneliti melakukan observasi masih banyak siswa yang kurang tertarik pada pembelajaran menulis cerpen. Hal ini diketahui dari data yang peneliti peroleh dari guru mata pelajaran di SMA tersebut. Hasil tes tindakan siklus I dan siklus II berupa keterampilan siswa menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas diperoleh dari hasil tes dan nontes. 69 69 . Hasil kedua tes tersebut terangkum dalam dua bagian yaitu: siklus I dan siklus II. Hasil penelitian nontes siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk deskriptif data kualitatif. Siswa tampak kesulitan dalam menuangkan ide-ide ke dalam bentuk cerpen. wawancara dan dokumentasi foto. hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti penggunaan media dan teknik pembelajaran yang kurang sesuai. jurnal. baik pada siklus I maupun siklus II.1. Hasil nontes siklus I dan siklus II diperoleh dari data observasi.1 Kondisi Awal Kemampuan siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dalam menulis cerita pendek rata-rata masih rendah.

konflik dan karakter tokoh yang kurang sesuai. (5)Gaya Bahasa. . isi cerpen tidak sesuai dengan judul. hal ini terbukti dari isi cerpen yang tidak sesuai dengan tema atau bahan pengajaran. (3)Latar.56 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Dari tabel 1 diatas menunjukan bahwa hasil tes keterampilan menulis cerita pendek peserta didik mencapai nilai rata-rata 63. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 50-59 0-49 39 2748 100 10 19 10 26 1223 546 26 48 26 2479 : 39 = 63. alur yang tidak jelas. Hasil yang dicapai siswa masih rendah. (6)Tokoh dan Penokohan.56 dalam kategori baik. ada 19 siswa atau 48 % memperoleh nilai cukup dengan skor antara 60-69 kemudian ada 10 siswa atau 26 mendapat nilai kurang dengan skor antara 0-59. 5. (4)Sudut Pandang. (2)Alur. meliputi: (1)Tema. 3. 4. Kategori Rentang Nilai 1.70 Kesulitan-kesulitan siswa juga tampak dari hasil kerja siswa. (7)Kepaduan antar unsur dalam cerpen. Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor tujuh aspek penilaian yang diujikan. Seperti nampak pada tabel berikut: Tabel 1 Hasil Tes Kemampuan Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan No. 2. Dari 39 siswa tidak ada satupun siswa yang berhasil meraih predikat sangat baik selanjutnya sebanyak 10 siswa atau 26 % memperoleh nilai baik yaitu antara 7084.

2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Pra Tindakan Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100%. 3.1. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 252 100 39 252 100 252 :39 6.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Pra Tindakan Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut: .71 4.46 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik. 1.1.1. 2.46 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 2 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada siswa yang mencapainya. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 6. 4. 4.1. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No.

4. 3. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 262 100 39 262 100 262 : 39 =6.36 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik.3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Pra Tindakan Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 10 siswa atau 26% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 2. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar No. 4. 2. 4. Jadi rata-rata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 12.1. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 482 100 29 10 382 100 74 26 482 : 39 = 12.72 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata . 1. 3. 1.72 Tabel 3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur No.36 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 3 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%.1.

4. 4. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 2.1. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang No.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Pra Tindakan Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.1. Jadi rata-rata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7. 3. Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 262 100 39 262 100 262 : 39 = 6. Jadi rata-rata pada aspek Sudut .15 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97%.73 Data tabel 4 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 1.72 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 5 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.

Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 265 100 39 265 100 265 :39 = 6. Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa No.1. 2.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Pra Tindakan Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.74 Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 6. 4. . 4.72 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik. 1.79 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 6 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya.79 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.1. 3. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 6.

6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Pra Tindakan Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.1.1. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 481 100 29 10 381 100 74 26 481 : 39 = 12. 3. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%. . 4. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 10 siswa atau 26 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.75 4. 1.33 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 7 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa yang mencapainya.33 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik. 2. Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 12.

7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Pra Tindakan Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 1.76 4. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 12.1.18 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 8 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 30 siswa atau 77%.18 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik. 4. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 8 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur No.1. Kategori cukup dengan skor 6-10 dicapai 9 siswa atau 23% dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 475 100 30 9 385 90 77 23 475 : 39 = 12. 2. Hasil tes menulis cerita pendek pada pra tindakan dapat dilihat pada diagram dibawah ini: . 3.

Pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen siklus I terdiri atas tes dan nontes.77 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan 50 Persen (%) 48 26 26 40 30 20 10 0 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram I Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan 4. Hasil kedua data tersebut diuraikan secara rinci sebagai berikut: 4.2 Hasil Tes Siklus I Hasil penelitian siklus I ini merupakan tindakan awal penelitian melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Kriteria perincian pada siklus I meliputi tujuh aspek penilain.1.1. yakni: (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya .2.1 Hasil Tes Hasil tes menulis cerita pendek siklus I ini merupakan data awal setelah dilakukannya tindakan pembelajaran melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh.

4. (4)Sudut Pandang. Dari 39 siswa tidak ada satupun siswa yang berhasil meraih predikat sangat baik selanjutnya sebanyak 27 siswa atau 69 % memperoleh nilai baik yaitu antara 7084 ada 10 siswa atau 26% yang mendapat skor antara 60-69 kemudian ada 2 siswa atau 5% mendapat skor antara 0-59. meliputi: (1)Tema. 5. (7)Kepaduan antar unsur dalam cerpen. (5)Gaya Bahasa.31 dalam kategori baik. Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor tujuh aspek penilaian yang diujikan. 2. 3. (6)Tokoh dan Penokohan. (3)Latar. 31 0 27 10 2 0 1908 720 114 0 69 26 5 2742 : 39 Persen Rata-rata Dari tabel 9 diatas menunjukan bahwa hasil tes keterampilan menulis cerita pendek peserta didik mencapai nilai rata-rata 70. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 50-59 0 -49 39 2742 100 70. Secara umum hasil tes keterampilan menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat dilihat pada tabel 1 berikut : Tabel 9 Hasil Tes Keterampilan Menulis Cerita Pendek Siklus I No.78 bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor 1. (2)Alur. .

79 4.2.1. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut : . Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100%.59 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No.59 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 10 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada siswa yang mencapainya. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 6. 4. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 257 100 39 257 100 257 :39 6.2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Siklus I Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.2.1. 3. 1.1. 2.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Siklus I Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek.1. 4. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan.

Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 279 100 38 1 274 5 97 3 279 : 39 7.92 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 11 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 20-18 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 1. Jadi ratarata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 13. 1.15 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata .3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Siklus I Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. 3.80 Tabel 11 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur No. Kategori baik dengan skor 16-12 dicapai 36 siswa atau 92%. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 3 siswa atau 8% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 12 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar No. 4. 4.92 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 543 100 36 3 513 30 92 8 533 : 39 13. 3.2. 2.1.1. 2. 4.

Jadi ratarata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7.15 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 13 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang No.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Siklus I Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek.81 Data tabel 12 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97%.2. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 278 100 39 278 100 278 : 39 7.1. Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang .1. 4. 2. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3% dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 3. 1. 4. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 39 siswa atau 100 %.13 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 13 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya.

Jadi rata-rata pada aspek Sudut Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 7.1.82 dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. .2. 3.67 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik. 4. 1.1. Kategori cukup 3-5 dicapai oleh 1 siswa atau 3 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 283 100 38 1 278 5 97 3 283 :39 13. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 13.13 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik 4. Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 14 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa No.67 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 14 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 2.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Siklus I Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.

4.1. 1.6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus I Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 3. Kategori cukup 6-10 dicapai oleh 2 siswa atau 5 % dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.36 Rata-rata Data tabel 15 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa yang mencapainya.2. 2.83 4. .1. Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 15 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 36 siswa atau 92%.36 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 560 100 Frekuensi 1 36 2 Bobot Skor 18 522 20 Persen 3 92 5 560 : 39 14.

90dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik.1. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 542 100 39 542 100 542 : 39 13. Hasil tes keterampilan menulis cerita pendek pada siklus I dapat dilihat pada diagram berikut ini : .90 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 16 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya. 3. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 16 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No.2. 2. Jadi ratarata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 13. 4.1. 1. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 39 siswa atau 100%. Kategori cukup dengan skor 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Siklus I Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.84 4.

31 dalam kategori cukup. Masih minimnya kemampuan menulis cerpen kemungkinan disebabkan teknik yang digunakan oleh peneliti masih baru dan siswa masih merasa asing sehingga siswa perlu menyesuaikan diri. . Untuk kategori sangat baik tidak ada siswa yang dapat mencapainya.85 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus I 70 60 50 40 30 20 10 0 69 Persen (%) 26 5 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram 2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus 1 Data diagram menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek siswa mencapai 70. Kategori baik sebesar 72% kategori cukup baik sebesar 23 % dan kategori kurang sebesar 2 %.

menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 4. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik 3.1 Hasil Observasi Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal.2. wawancara. Pengambilan data observasi bertujuan untuk mengetahui respon perilaku siswa dalam menerima pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Berikut beberapa aspek observasi: 1. Semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 2. Semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun . Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut : 4. jurnal.2 Hasil Nontes Hasil nontes pada siklus I didapatkan dari observasi.2. Semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 5. Semua siswa aktif bertanya.1.86 4.1.2. Semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 6. dan dokumentasi foto.

Aspek yang kedua yaitu semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik. Dari aspek pertama yaitu semua siswa aktif dan bersemangat mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dikatagorikan baik karena sekitar 85% siswa yang begitu antusias mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat 8. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi setiap aspek yang telah diobservasi oleh peneliti dengan bantuan seorang teman. Masih banyak siswa yang asik bercerita dengan teman sebelahnya dan rame sendiri. karena pola pembelajaran yang diterapkan merupakan hal baru bagi siswa sehingga perlu proses untuk menyesuaikan diri Hasil observasi ini dapat diketahui bahwa belum ada perubahan atau peningkatan tingkah laku yang cukup berarti. Selama pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual belum semua siswa dapat mengikuti dengan baik.87 7. Hal tersebut dapat dimaklumi. Pada siklus I ini terdapat beberapa perilaku siswa yang dapat terdeskripsi melalui observasi. Selama pembelajaran berlangsung sebagian siswa atau 15% dari .

Masih banyak yang bertanya karena kurang jelas terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru karena mereka tidak memperhatikan ketika dijelaskan Aspek yang ketiga yaitu semua siswa aktif bertanya. Semangat siswa bisa ditumbuhkan dengan selalu memotivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung Aspek yang keenam yaitu semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun termasuk dalam kategori baik. Siswa yang bersemangat menulis cerita pendek hanya sebesar 69% atau termasuk dalam kategori cukup. Hasil dari observasi hanya 13% siswa yang aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan oleh guru. Hanya 85% dari jumlah siswa yang dengan serius memperhatikan penjelasan guru. karena hanya 77% siswa yang serius dan tekun dalam mengerjakan tugas menulis cerita pendek.88 jumlah keseluruhan kurang memperhatikan penjelasan guru. Menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru. Pada siklus I siswa belum terbiasa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Aspek yang keempat yaitu semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru termasuk dalam kategori cukup karena sekitar 90% dari jumlah seluruh siswa mencatat meteri /hal-hal yang penting sisanya mereka masih asik bercerita dengan teman Aspek yang kelima yaitu semua siswa bersemangat dalam menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual. Siswa yang lain masih ngobrol dengan teman-temannya .

2. 4. Pengisian jurnal dilaksanakan oleh seluruh siswa dikelas X4 SMA N 2 Tegal tanpa kecuali jurnal tersebut berisi tentang ungkapan perasaan siswa selama pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung. kesan dan saran tersebut terangkum dalam dua pertanyaan yakni (1) Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual ? .89 Aspek yang ketujuh yaitu semua siswa mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat waktu. kesan.2 Hasil Jurnal Siswa Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal siswa.2. Pesan. Pada siklus I ini dapat dikatakan termasuk kategori cukup karena 69% siswa dapat mengumpulkan tugas menulis cerpen dengan tertib tetapi masih ada sebagian siswa yang masih meminta tambahan waktu Aspek yang kedelapan yaitu siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Tujuan diadakan jurnal untuk mengetahui pesan. Pada aspek ini terlihat hanya 64% siswa yang mampu merefleksi hasil menulis cerpen. Pengisian jurnal dilaksanakan pada akhir pembelajaran menulis cerita pendek melalui media teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita denan media audio visual.1. dan saran dari siswa selama pembelajaran berlangsung.

Sisanya 4 siswa atau sebanyak 10 % merasa kurang senang. melatih imajinasinya. Siswa merasa butuh terhadap materi yang disampaikan oleh . kemudian sebanyak 35 siswa atau 90 % siswa memberikan pesan yang baik yang dapat mendukung proses pembelajaran. mengekspresikan diri. siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.90 (2) Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (3) Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? (4) Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian dirisebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual? (5) Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yang telah diajarkan! Dari hasil jurnal siklus I. mereka menganggap menulis cerita pendek adalah hal yang sulit dan mereka juga masih belum terbiasa dengan menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh seperti dalam cerita yang di perkenalkan oleh guru (peneliti). mangasah kemampuan berbahasa. Siswa merasa senang karena mereka dapat mengungkapkan/ menyalurkan isi hatinya. dapat diketahui 35 siswa atau sebanyak 90% memberikan kesan yang baik. menambah pengetahuan siswa tentang menulis cerpen dan selama proses belajar mereka merasa rilek (santai).

yakni saran yang dapat mendukung pembelajaran menulis cerita pendek. minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat dikatakan cukup baik.3 Hasil Jurnal Guru Berdasarkan pengamatan guru pada saat pembelajaran berlangsung.1. Hal tersebut dapat dilihat pada keaktifan siswa ketika mengikuti pelajaran dan pada saat Tanya jawab Minat siswa tersebut juga didukung dengan pemutaran film remaja yang sesuai dan disukai para siswa sehingga siswa sudah terkondisi dengan sendirinya dengan rasa tertarik mereka terhadap cerita film yang diputarkan yang bisa dijadikan acuan untuk menulis cerpen Tingkah laku siswa dalam kelas sudah baik mereka tampak serius memahami isi cerita film yang sedang diputarkan tetapi masih ada beberapa anak yang asik bercerita dengan teman disebelahnya sehingga mereka kurang memahami isi film yang dapat memudahkan mereka menulis cerpen.2.91 peneliti. 4 siswa lainnya atau 10 % tidak memberikan saran yang dapat mendukung pembelajaran 4. Namun 4 siswa lainnya atau 10 % tidak memberikan pesan yang mendukung pembelajaran. . Dalam siklus II ini 35 siswa atau sebanyak 90 % memberikan saran yang positif.2.

2.2.1. Selain itu peneliti juga mewawancarai dua siswa yang terlihat kurang semangat mengikuti pelajaran hal ini dilakukan sebagai penguat jawaban terdahap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual.92 4. Wawancara ini mencakup tujuh pertanyaan yakni: (1) Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? (2) Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! (3) Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (4) Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? (5) Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi cerita melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (6) Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? Wawancara dilakukan diluar jam pelajaran yaitu setelah pembelajaran selesai peneliti mewawancari dua siswa yang terlihat aktif dan serius mengerjakan saat pembelajaran berlangsung.4 Hasil Wawancara Pada siklus I sasaran wawancara terhadap empat orang siswa terdiri atas dua siswa yang mendapatkan nilai baik dan dua orang yang mendapatkan nilai rendah. .

mereka merasa lebih santai.2. berupa kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengadaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual meliputi kegiatan menampilkan sebuah film remaja yang digemari oleh siswa kemudian siswa menyaksikan pemutaran film dengan konsentrasi penuh terhadap cerita dan tokoh-tokoh dalam film tersebut yang akan membantu dan mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek. Dokumentasi foto yang diambil pada saat penelitian meliputi: . Dari ke empat siswa mereka masih merasa kesulitan dalam menentukan judul (tema) dan cara mengembangkan cerita yang baik 4. Dua orang siswa menjawab kalau mereka senang menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. Dokumentasi foto ini merupakan bukti konkret selama pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual.93 Dari keempat siswa menjawab mereka pernah menulis cerpen karena sebelumnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia telah mengajarkan pembelajaran menulis cerpen dan pada umumnya mereka menjawab bahwa jenis cerpen yang biasa ditulis yaitu cerpen yang bertemakan cinta. cepat menemukan ide-ide dan memudahkan mereka menemukan karakter tokoh yang sesuai sedang dua siswa yang lain mereka merasa kesulitan karena tidak terlalu jelas mencerna isi film yang diputarkan dan sulit memilih karakter tokoh yang sesuai.5 Hasil Dokumentasi Pada siklus 1 dokumentasi foto yang difokuskan pada kegiatan selama pembelajaran berlangsung.1.2.

4) Guru memberikan penjelasan kepada siswa yang bertanya. .94 1) Kegiatan awal pembelajaran. dan terlihat sebagian besar siswa begitu antusias memperhatikan penjelasan guru . 3) Para siswa menyaksikan pemutaran film. Deskripsi siklus I selengkapnya dipaparkan sebagai berikut : Gambar 1 (Kegiatan awal pembelajaran menulis cerpen) Pada tahap siklus I pada gambar 1 tersebut menunjukan kegiatan siswa saat pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung. 5) Siswa menulis sebuah cerpen. yaitu pada awal pembelajaran saat guru melaksanakan apersepsi dan menyampaikan tujuan pelajaran dari gambar diatas terlihat kondisi kelas dan siswa yang beraneka ragam. 2) Kegiatan guru memberikan sedikit materi.

95 Gambar 2 (Kegiatan guru memberikan materi) Pada gambar 2 diatas tampak guru sedang memberikan / menuliskan materi atau hal-hal penting yang harus diperhatikan siswa dalam menulis cerpen sehingga mereka dapat membuat cerpen dengan mudah dan menarik. .

96 Gambar 3 (Kegiatan siswa menyaksikan film) Pada gambar 3 diatas tampak para siswa begitu senang dan serius menyaksikan pemutaran film “Dealova” yang digunakan sebagai media untuk mempermudah siswa dalam menulis cerpen pada siklus I Gambar 4 (Kegiatan guru memberikan penjelasan pada salah satu siswa) .

Gambar 5 ( Kegiatan siswa menulis cerpen) Pada gambar diatas tampak siswa begitu serius menulis sebuah cerita pendek setelah selesai menyaksikan pemutaran film “Dealova”. sebagian siswa masih sulit dalam menentukan tema dan karaktek tokoh dalam cerpen. .31. Hasil siklus I sudah mencapai target namun rata-rata hasil menulis siswa masih minim yakni 70.97 Pada gambar 4 diatas tampak beberapa orang siswa menanyakan seputar isi dan karakter tokoh dalam film yang telah dilihat kepada guru dan guru memberikan arahan kepada mereka tentang penggunaan karakter tokoh dalam film tersebut yang bisa dijadikan gambaran dan memudahkan mereka dalam menulis sebuah cerita pendek yang menarik . Semua siswa terlihat serius dalam menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diajarkan oleh peneliti.

3 Hasil Tes Siklus II Tindakan siklus II dilaksanakan karena karena pada siklus I keterampilan menulis cerita pendek pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal masih dalam kategori yang cukup dan belum memenuhi target maksimal pencapaian nilai rata-rata kelas yang ditentukan. Pada siklus II penelitian dilaksanakan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang dari pada siklus I. Dengan demikian tindakan siklus II diadakan untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan adanya perbaikan-perbaikan yang mengarah pada peningkatan hasil pembelajaran tanpa mengesampingkan penggunaan media . yakni hanya mencapai rata-rata 70.3 Refleksi Hasil Penelitian Siklus I Berdasarkan penelitian pada siklus I ini dapat diketahui bahwa hasil yang diperoleh siswa belum memuaskan baik dari segi tes maupun nontes. Disamping itu berdasarkan jurnal siswa. Selain perubahan perilaku dalam pembelajaran menulis cerita pendek masih tergolong normal dan belum tampak perubahan yang berarti. Dari hasil tes menulis cerita pendek diperoleh hasil nilai siswa masih sudah mencapai target yang diinginkan namun hasilnya masih minim.31 hal ini disebabkan adanya sedikit kendala yakni sebagian siswa sulit menentukan tema cerita dan karakter tokoh yang sesuai.1. hal ini di sebabkan masih banyak siswa yang kurang tertarik untuk menulis sebuah cerpen dan penggunaan teknik pengandaian diri hal ini dikarenakan teknik ini baru mereka ketahui dan belum memahami benar bagaimana penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dan penggunaan media audio visual dalam pembelajaran menulis cerpen.1. observasi dan dokumentasi foto diperoleh hasil perilaku siswa belum mengalami perubahan perilaku yang cukup berarti.1.98 4. 4. wawancara.

4. 2. dan lebih terbuka dalam menerima pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. 3. Meningkatnya nilai tes ini diikuti pula dengan peningkatan perilaku siswa yang lebih aktif.3. maka hasil penelitian yang berupa hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa meningkat dari kategori cukup meningkat ke kategori baik.21 Persen Rata-rata . kreatif. namun masih tetap menggunakan teknik pengandaian diri melalui media audio visual. Hasil selengkapnya mengenai tes dan nontes siklus II ini diuraikan sebagai berikut: 4.1. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor 1.1 Hasil Tes Hasil tes menulis cerita pendek pada siklus II ini merupakan data kedua setelah diberlakukan perbaikan tindakan pembelajaran pada pra tindakan dan siklus I. Secara umum hasil tes menulis cerita pendek melalui pendekatan keterampilan proses dapat dilihat pada tabel berikut. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang Jumlah 85-100 70-84 60-69 0-59 0-49 39 2933 100 1 34 4 86 2592 255 3 87 10 2933 : 39 = 75.99 audio visual dan teknik pengandaian diri sebagai tokoh. Tabel 17 Hasil Tes Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siklus II No. 5. Kriteria penilaian pada siklus ini masih tetap sama seperti pada siklus I meliputi 7 aspek yaitu: (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen.

4 siswa atau 10% mendapat nilai cukup baik yaitu pada rentang nilai 60-69 dan tidak ada siswa yang mendapatkan nilai kurang yaitu pada rentang 0-59. yakni faktor internal dan eksternal. ada 1 siswa atau 3% yang mendapat nilai sangat baik yaitu pada rentang nilai 85-100. Dari 39 siswa. Peningkatan kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal disebabkan beberapa faktor yang melingkupinya. Faktor internal dapat dilihat dari kemampuan siswa yang semakin meningkat. Faktor eksternal yang tak kalah pentingnya adalah strategi atau pendekatan yang digunakan oleh guru atau peneliti. secara klasikal mencapai nilai rata-rata 75. Hasil rata-rata yang meningkat ini merupakan keberhasilan guru atau peneliti dan siswa melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.21 yang berada diantara skor 70-84. 34 siswa atau 87 % mendapatkan nilai baik yaitu pada rentang nilai 70-84. dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual peneliti berhasil meningkatkan pemahaman siswa dalam menulis cerita pendek. Melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual guru atau peneliti dapat mengatasi persoalan yang dialami oleh siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal.100 Dari tabel 17 di atas menunjukan bahwa hasil tes kemampuan menulis cerpen siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal masuk dalam kategori baik. Sekarang siswa kelas X4 sudah bisa menulis cerita pendek dengan baik dan mempehatikan 7 aspek dalam . siswa mulai paham dengan apa yang diajarkan guru atau peneliti. Latihan menulis cerita pendek secara terus menerus akan berdampak positif pada kemampuan siswa yakni kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek semakin meningkat.

1. Jadi rata-rata pada aspek Tema dalam menulis cerita pendek sebesar 7.101 cerpen seperti : (1) Tema (2) Alur (3) Latar (4) Sudut pandang (5) Gaya bahasa (6) Tokoh dan penokohan (7) Kepaduan antar unsur dalam cerpen. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Hasil penilaian tema dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 18 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema No.1 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tema Siklus II Penilaian aspek Tema difokuskan pada pembentukan Tema dari cerita yang akan ditulis dalam menulis cerita pendek.3. 4.1. Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 303 100 Frekuensi 3 36 Bobot Skor 27 276 Persen 8 92 Rata-rata 303 :39 = 7.Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil pencapaian skor siswa yang mengalami peningkatan pada tiap aspek penilaian cerita pendek dibawah ini. 4. 3.1.77 Data tabel 18 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Tema untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 3 siswa atau 8% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 36 siswa atau 92%. 2. .77 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tema pada cerpennya sudah baik.

102

4.1.3.1.2 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur Siklus II

Penilaian aspek alur difokuskan pada jalinan peristiwa yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian alur dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 19 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Alur
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 600 100 15,38 Frekuensi 6 33 Bobot Skor 107 493 Persen 15 85 600 : 39 Rata-rata

Data tabel 19 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Alur untuk kategori sangat baik dengan skor 20-18 atau maksimal ada 6 siswa atau 15% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 16-12 dicapai 33 siswa atau 85%. Kategori cukup 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Jadi rata-rata pada aspek Alur dalam menulis cerita pendek sebesar 15,38 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan alur pada cerpennya sudah baik.
4.1.3.1.3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar Siklus II

Penilaian aspek Latar difokuskan setting tempat dan waktu yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian Latar dapat dilihat pada tabel berikut

103

Tabel 20 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Latar
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 300 100 Frekuensi 2 37 Bobot Skor 18 282 Persen 5 95 300 : 39 7,69 Rata-rata

Jumlah

Data tabel 20 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Latar untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 2 siswa atau 5% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 37 siswa atau 95%. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Jadi rata-rata pada aspek latar dalam menulis cerita pendek sebesar 7,69 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan latar pada cerpennya sudah baik.

4.1.3.1.4 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang Siklus II

Penilaian aspek sudut pandang difokuskan pada sudut pandang yang akan digunakan oleh penulis yang akan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian sudut pandang dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 21 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Sudut Pandang
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 300 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 9 291 Persen 3 97 300 : 39 7,69 Rata-rata

104

Data tabel 21 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek Sudut Pandang untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 1 siswa atau 3% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. Kategori cukup dengan skor 3-5 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan. Jadi rata-rata pada aspek Sudut Pandang dalam menulis cerita pendek sebesar 7, 69 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan sudut pandang pada cerpennya sudah baik.

4.1.3.1.5 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa Siklus II

Penilaian aspek gaya bahasa difokuskan pada gaya bahasa yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. Hasil penilaian gaya bahasa dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 22 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Gaya Bahasa
No. 1. 2. 3. 4. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Rentang Nilai 9-10 6-8 3-5 0-2 39 288 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 9 289 Persen 3 97 298 :39 7,64 Rata-rata

Jumlah

Data tabel 22 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek gaya bahasa untuk kategori sangat baik dengan skor 9-10 atau maksimal ada 1 siswa atau 3% yang mencapainya. Kategori baik dengan skor 6-8 dicapai 38 siswa atau 97 %. Kategori cukup 3-5 dan kategori kurang dengan skor

Kategori baik dengan skor 1216 dicapai 38 siswa atau 97%. 4. Kategori cukup 6-10 dan kategori kurang dengan skor 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. . 2.64 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan gaya bahasa pada cerpennya sudah baik. 4.3. 3.6 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan Siklus II Penilaian aspek tokoh dan penokohan difokuskan pada tokoh dan penokohan yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek.92 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan pada cerpennya sudah baik. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14.1. Hasil penilaian tokoh dan penokohan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 23 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Tokoh dan Penokohan No.92 Rata-rata Data tabel 23 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal ada 1 siswa atau 3 % yang mencapainya. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 582 100 Frekuensi 1 38 Bobot Skor 18 564 Persen 3 97 582 : 39 14.105 0-2 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. 1. Jadi rata-rata pada aspek gaya bahasa dalam menulis cerita pendek sebesar 7.1.

Kategori cukup dengan skor 6-10 dicapai 10 siswa atau 26%. Kategori baik dengan skor 12-16 dicapai 29 siswa atau 74%. Hasil penilaian kepaduan antar unsur dalam cerpen dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 24 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Keterpaduan Antar Unsur No. Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah Rentang Nilai 18-20 12-16 6-10 0-4 39 662 100 29 10 390 160 74 26 550 : 39 14.106 4. 3. 2.10 dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memadukan antar unsur pada cerpennya sudah baik.7 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Aspek Kepaduan antar unsur dalam cerpen Siklus II Penilaian aspek kepaduan atar unsur dalam cerpen difokuskan pada kesesuaian/ kepaduan antar unsur yang dapat membangun sebuah cerita yang akan digunakan oleh penulis dan ditampilkan dalam cerita pendek. 1. Jadi rata-rata pada aspek tokoh dan penokohan dalam menulis cerita pendek sebesar 14.10 Frekuensi Bobot Skor Persen Rata-rata Data tabel 24 menunjukan bahwa keterampilan menulis cerita pendek dalam aspek tokoh penokohan untuk kategori sangat baik dengan skor 18-20 atau maksimal tidak ada siswa yang mencapainya.3. dan kategori kurang dengan skor 0-4 tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang.1. .1. 4.

3. jurnal.3.1.1 Hasil Observasi Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal.2. wawancara.1. Pengambilan data observasi bertujuan untuk mengetahui respon perilaku siswa dalam menerima pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Keterangan aspek observasi: .107 Diagram Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 87 persen (%) 10 3 Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Kategori Diagram 3 Hasil Tes Menulis Cerita Pendek Siklus II 4. dan dokumentasi foto.2 Hasil Nontes Hasil nontes pada siklus I didapatkan dari observasi. Hasil selengkapnya dijelaskan pada uraian berikut: 4.

Siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan baik 3. Siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat 8. Semua siswa aktif bertanya.108 1. Semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 6. Semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun 7. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi setiap aspek yang telah diobservasi / diamati oleh peneliti pada siklus II yaitu sebesar 69%. Semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual 2. Dari hasil observasi pada siklus II dapat diketahui perubahan tingkah laku siswa kearah yang positif. Semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 5. Ini berarti sebagian besar siswa mengalami peningkatan dari perilaku negatif menjadi perilaku positif Aspek observasi yang pertama yaitu semua siswa antusias dan semangat mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dapat dikategorikan sangat . menjawab dan berkomentar mengenai materi yang dijelaskan oleh guru 4.

Siswa sudah mulai semangat dan antusias mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual Aspek yang kedua yaitu semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan sangat baik. . Dari aspek observasi yang ketiga yakni siswa aktif bertanya dan menjawab serta berkomentar mengenai materi yang disampaikan oleh guru atau peneliti. Ketika siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru atau peneliti siswa terlihat lebih bersemangat. Aspek yang kelima semua siswa bersemangat menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual.109 baik dengan pencapaian 92%. Selama pembelajaran berlangsung belum memperoleh hasil yang memuaskan namun sudah ada peningkatan karena 21% dari siswa aktif dalam bertanya dan berkomentar terhadap penjelasan yang disampaikan oleh guru atau peneliti. Semua siswa rajin menuliskan hal-hal yang penting dalam buku catatannya. Aspek yang keempat yaitu semua siswa membuat catatan mengenai materi yang dijelaskan oleh guru dapat dikategorikan sangat baik atau mencapai skor 100%. Pada siklus II 95% dari siswa memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru atau peneliti. Persentase pembelajaran ini mencapai 77% Aspek yang keenam yaitu semua siswa mengerjakan tugas menulis cerita pendek dengan serius dan tekun mencapai 87% atau masuk dalam kategori sangat baik. Pada siklus II ini sudah ada peningkatan perilaku dari siklus I.

Mereka menjawab semua pertanyaan dibawah ini : .3. 4. Aspek yang kedelapan yaitu siswa mampu merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.2 Hasil Jurnal Siswa Jurnal yang digunakan pada siklus II masih sama dengan yang digunakan pada siklus I. Jurnal siswa diisi oleh semua siswa di kelas X4 SMA N 2 Tegal. jurnal tersebut berisi tentang ungkapan perasaan siswa selama pembelajaran menulis cerita pendek berlangsung.110 Aspek yang ketujuh siswa mampu mengumpulkan hasil menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat. Pengisian jurnal dilaksanakan pada akhir pembelajaran menulis cerita pendek melalui media audio visual dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita. Pada siklus II ini semua siswa mengumpulkan tugas menulis cerita pendek dengan tertib dan tepat. Pengisian jurnal pada siklus II ini sudah pernah dilakukan siswa pada siklus I.1. Kemampuan siswa untuk merefleksi proses dan hasil pembelajaran menulis cerpen semakin meningkat yaitu mencapai 72% atau termasuk dalam kategori baik.2. Siswa tampak senang memperoleh lembar jurnal dan ingin segera mengisinya. Pada aspek ini mencapai persentase 97% atau termasuk kategori sangat baik. Suasana pada saat siswa mengisi jurnal tampak tenang.

mengekspresikan diri. Siswa merasa senang karena mereka dapat mengungkapkan/ menyalurkan isi hatinya. melatih imajinasinya. Peningkatan ini disebabkan siswa telah mengenal teknik dan media yang digunakan peneliti. siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran menulis cerita pendek melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. mangasah kemampuan berbahasa. dapat diketahui 39 siswa atau sebanyak 100% memberikan kesan yang baik. Sebanyak 38 siswa atau 97 % siswa memberikan pesan . kemudian mereka merasa teknik dan media yang digunakan oleh guru (peneliti) dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan.111 (1) Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual ? (2) Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? (3) Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? (4) Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian dirisebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual? (5) Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual yang telah diajarkan! Dari hasil jurnal siklus II. menambah pengetahuan siswa tentang menulis cerpen dan selama proses belajar mereka merasa rilek (santai).

Siswa merasa butuh terhadap materi yang disampaikan oleh peneliti. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4. Hal ini disebabkan siswa sudah mulai terbiasa dengan pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2.2. 4.3 Hasil Wawancara Pada siklus II sasaran wawancara terhadap empat orang siswa terdiri atas dua siswa yang mendapatkan nilai baik dan dua orang yang mendapatkan nilai rendah. pesan. Wawancara ini mencakup tujuh pertanyaan yakni: 1.112 yang baik yang dapat mendukung proses pembelajaran. Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3.1. Dalam siklus II ini 38 siswa atau sebanyak 97 % memberikan saran yang positif. Namun 1 siswa lainnya atau 3 % tidak memberikan pesan yang mendukung pembelajaran. Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? . 1 siswa lainnya atau 3 % tidak memberikan saran yang dapat mendukung pembelajaran Dari hasil penilaian di atas dapat diketahui bahwa dari aspek yang diungkapkan dari jurnal yakni. kesan dan saran secara keseluruhan mengalami peningkatan. yakni saran yang dapat mendukung pembelajaran menulis cerita pendek.3.

Dari ke empat siswa mereka sudah bisa mentukan tema dan memilih karakter tokoh yang sesuai. Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi cerita melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6. Dua orang siswa menjawab kalau mereka senang menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual.113 5. mereka merasa lebih santai. Selain itu peneliti juga mewawancarai dua siswa yang terlihat kurang semangat mengikuti pelajaran hal ini dilakukan sebagai penguat jawaban terdahap permasalahan seberapa besar peningkatan minat siswa terhadap pembelajaran menulis cerpen menggunakan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. cepat menemukan ide-ide dan memudahkan mereka menemukan karakter tokoh yang sesuai sedang dua siswa yang lain mereka merasa kesulitan karena tidak terlalu jelas mencerna isi film yang diputarkan dan sulit memilih karakter tokoh yang sesuai. . Dari keempat siswa menjawab mereka pernah menulis cerpen karena sebelumnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia telah mengajarkan pembelajaran menulis cerpen dan pada umumnya mereka menjawab bahwa jenis cerpen yang biasa ditulis para siswa yaitu cerpen yang bertemakan cinta. Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? Pada umumnya Wawancara dilakukan diluar jam pelajaran yaitu setelah pembelajaran selesai peneliti mewawancari dua siswa yang terlihat aktif dan serius mengerjakan saat pembelajaran berlangsung.

Dokumentasi foto ini merupakan bukti konkret selama pembelajaran menulis cerrpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual.4 Hasil Dokumentasi Pada siklus 1 dokumentasi foto yang difokuskan pada kegiatan selama pembelajaran berlangsung.114 4. berupa kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengadaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual meliputi kegiatan menampilkan sebuah film remaja yang digemari oleh siswa kemudian siswa menyaksikan pemutaran film dengan konsentrasi penuh terhadap cerita dan tokoh-tokoh dalam film tersebut yang akan membantu dan mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek. Dokumentasi foto yang diambil pada saat penelitian meliputi: 1) Kegiatan awal pembelajaran 2) Kegiatan guru memberikan sedikit materi 3) Para siswa menyaksikan pemutaran film 4) Guru memberikan penjelasan kepada siswa yang bertanya 5) Siswa menulis sebuah cerpen Deskripsi siklus II selengkapnya dipaparkan sebagai berikut: Gambar 6 (Kegiatan siswa menyaksikan film) .3.2.1.

115 Pada gambar 6 diatas tampak para siswa begitu senang dan serius menyaksikan pemutaran film “Cinta Pertama” yang digunakan sebagai media untuk mempermudah siswa dalam menulis cerpen pada siklus II Gambar 7 (Kegiatan siswa menulis cerpen) Pada gambar diatas tampak siswa begitu serius menulis sebuah cerita pendek setelah selesai menyaksikan pemutaran film “Cinta Pertama”. . Hasil siklus II sudah mencapai target namun rata-rata hasil menulis siswa yaitu 75.21. Semua siswa terlihat serius dalam menuliskan sebuah cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diajarkan oleh peneliti.

116

Gambar 8 (Kegiatan siswa membacakan hasil menulis cerpen) Tampak salah seorang siswa sedang membacakan hasil menulis cerpen. Dalam membacakan cerpennya, ekspresi siswa ini nampak menghayati dalam menyampaikan isi cerita pendek kepada teman-temannya. Siswa yang lain memperhatikan pembacaan cerpen tersebut, tetapi masih ada beberapa anak tersenyum melihat ekspresi temannya yang sedang menghayati isi cerpen. Siswa ini nampak berhasil dalam membawakan / mengekspresikan karakter tokoh.

4.1.3 Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari peneliti siklus II ini, sudah banyak terjadi peningkatan nilai dan perilaku siswa kelas X4 SMA N2 Tegal. Pada siklus II ini, rata-rata siswa mencapai 75,21 % nilai tersebut sudah melebihi standar nilai

117

yang ditargetkan. Hal ini disebabkan siswa sudah lebih memahami mengenai cerita pendek, siswa sudah mulai terbiasa dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual yang telah diterapkan. Dari perilaku siswa sudah ada peningkatan dari siklus I pada siklus II, siswa sudah lebih aktif dan memperhatikan penjelasan guru (peneliti) dengan baik .

4.2 Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ditujukan untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Permasalahan pertama yaitu adakah peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal. Permasalahan yang kedua yaitu adakah perubahan perilaku siswa kelas X4 SMA N2 Tegal.

4.2.1 Peningkatan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Melalui Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal.

Persoalan peningkatan kemampuan menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dapat dijawab dengan deskriptis data secara kuantitatif untuk mengetahui peningkatan rata-rata kemampuan menulis certia pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual dari tahap siklus I ke siklus II.

118

Pada kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh melalui media audio visual siklus I terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek belum memenuhi rata-rata yang telah ditentukan. Hasil tes menulis cerita pendek siswa pada siklus I mencapai 70,31. Pembelajaran menulis cerita pendek pada siklus I walaupun dioptimalkan pembelajarannya dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual namun hasilnya belum memuaskan. Keadaan tersebut disebabkan oleh masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis cerita pendek diantaranya dalam menentukan tema dan karakter tokoh yang sesuai, siswa juga belum begitu memahami aspekaspek yang terdapat dalam penulisan cerita pendek. Siswa belum dapat mengemas kata-kata hingga menjadi rangkaian kata yang menarik dan indah ke dalam bentuk cerpen Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita melalui media audio visual. Hasil pada siklus II lebih baik dari siklus I, hasil siklus II mengalami peningkatan. Lebih rinci peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dapat dilihat pada tiap aspek penilaian yang disajikan pada tabel berikut :

56 1.88 11.6 = 73 77.18 1. Gaya Bahasa 67. Tema 64. Alur 61.97 4. Sudut Pandang 67.46 3. Kepaduan unsur 1.59 7.8 = 62 1.31 75.56 2.54 0.6 = 75 70.9 = 77 76.8 = 62 antar 60.9 = 66 69.03 0.20 1.41 0.92 63.4 = 76 74.9 = 77 76.56 70.9 = 61 = 72 69.3 = 71 72.97 5.31 2.6 =65 65. Latar 67.47 0.9 = 77 76. Tokoh Penokohan dan 61.5 = 71 0.02 3.2 =67 0.2 = 67 0.65 71.21 6.72 0.5 = 70 2.63 .75 = 64 = 70 = 75 4.38 0.119 Tabel Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek No Aspek Penilaian Nilai Rata-rata Kelas PT SI S II PT – S I Peningkatan SI – SII PT – S II 1.85 6.7 = 78 76.5 = 72 71.56 0.9 = 68 0.6 = 70 71.43 0.13 1.

72 0.43 14.59 2.43 14. tetapi nilai tersebut belum memenuhi rata-rata nilai yang ditentukan yaitu 75.01 12.46 Data tabel diatas merupakan rekapitulasi hasil tes kemampuan menulis cerita pendek siklus I dan siklus II.55 7. Nilai rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian.43 0.90 10.13 1. Kepaduan unsur antar 1.23 3. 2.62 7.02 0.18 1.47 dan 2.85 5. Tema Alur Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa Tokoh Penokohan 0.75 4.49 7.46 0.63 10. . 5. Hasil tes siklus I menulis cerita pendek dengan rata-rata nilai mencapai 70 atau dalam kategori baik karena dalam rentang 70 -84. Uraian tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut.12 1.97 0.56 0.31 3. 6. 4.90 20.03 1.88 11.56 1.92 16.44 15.76 6.41 0.120 Tabel Prosentase Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek No Aspek Penilaian Nilai Rata-rata Kelas PT SI S II Peningkatan (%) PT – S I SI – SII PT – S II 1.97 0.38 0.43 12.28 24.92 14.95 15.40 6.54 0. 3.10 6.52 21 7.56 0.62 6.46 17.20 1.85 2.

Aspek penggunaan alur nilai rata-rata sebesar 70 masuk kategori cukup. Aspek penggunaan sudut pandang nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Aspek penggunaan latar nilai rata-rata sebesar 72 masuk dalam kategori baik. Faktor eksternal berasal dari penggunaan teknik dan media pembelajaran yang kurang sesuai. Aspek gaya bahasa nilai rata-rata 76 masuk dalam kategori baik.21 dalam kategori baik. Aspek gaya bahasa nilai rata-rata 73 masuk dalam kategori baik. Aspek kepaduan antar unsur nilai rata-rata 70 masuk dalam kategori baik.121 Pada aspek tema nilai rata-rata sebesar 66 masuk dalam kategori cukup. Aspek penentuan karakter tokoh/ penokohan nilai rata-rata 72 masuk dalam kategori baik. Pencapaian nilai tersebut telah mencapai nilai rata-rata yang ditentukan. Hasil tes menulis cerita pendek siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75. Aspek penggunaan alur nilai rata-rata sebesar 77 masuk ktegori baik. Aspek penentuan . seperti faktor internal dan eksternal. Aspek penggunaan latar nilai rata-rata sebesar 72 masuk dalam kategori baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian tiap aspek menunjukan hasil yang kurang memuaskan. Nilai masing-masing aspek diuraikan sebagai berikut. Aspek penggunaan sudut pandang nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Kemampuan siswa menulis cerpen pda siklus I belum bias mencapai nilai rata-rata hal ini disebabkan oleh beberapa factor yang melingkupinya. karena berada dalam rentang 70-84. Factor internal ini dapat dilihat dari hasil menulis cerita pendek dalam aspek kebahasaan dan aspek kesastraan yang masih kurang. Pada aspek tema nilai rata-rata sebesar 78 masuk dalam kategori baik.

SII = Siklus II . Hasil Keterampilan Menulis Cerpen Pratindakan. Karena pada siklus II ini nilai rata-rata siswa mencapai 75 hal ini dikarenakan penggunaan teknik dan media yang sesuai sehingga dapat mendukung atau mempermudah siswa dalam menulis sebuah cerita pendek yang baik dan menarik. dan siklus II dapat dilihat pada diagram batang sebagai berikut. SI = Siklus I. Kemampuan siswa menulis cerpen pda siklus II sudah bisa mencapai nilai rata-rata.122 karakter tokoh/ penokohan nilai rata-rata 75 masuk dalam kategori baik. siklus I. dan Siklus II Keterangan: PT = Pratindakan. 80 70 Nilai Rata-rata 60 50 40 30 20 10 0 PT SI S II 64 70 75 Diagram batang 4. Siklus I. Aspek kepaduan antar unsur nilai rata-rata 71 masuk dalam kategori baik. Peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dari pratindakan.

Perubahan perilaku tersebut diperoleh dari observasi.2 Peningkatan Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual dengan Teknik Pengandaian diri sebagai Tokoh dalam cerita terhadap perubahan tingkah laku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai perubahan perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siklus I dan siklus II. yang dipaparkan dalam uraian di bawah ini. kesiapan mengikuti pelajaran sudah mulai terliat dan sikap siswa dalam menerima pelajaran sudah mulai terfokus. wawancara dan dokumentasi foto. .123 4. jurnal. sikap siswa dalam menerima materi pembelajaran juga belum terfokus. adanya siswa yang bercanda dan tidak bersemangat mengikuti pembelajaran Pada siklus II sudah ada perubahan perilaku siswa.2. Dari hasil nontes yaitu melalui observasi pada siklus I kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual terlihat. Menurut sebagian besar siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal yang menyatakan bahwa teknik tersebut dapat mempermudah mereka dalam menulis cerpen karena kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dapat diatasi dengan teknik tersebut. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya siswa yang mengobrol sendiri. sebagian besar siswa mencatat materi yang disampaikan oleh guru dan mereka nampak serius memperhatikan isi cerita film beserta karakter para tokoh dalam film yang diputarkan. hanya beberapa siswa saja yang masih tetap mengobrol sendiri Berdasarkan hasil jurnal dari siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin senang terhadapteknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.

Dari hasil foto (gambar 5) menunjukkan aktivitas saat menulis cerpen pada siklus I. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa siswa senang dan tertarik dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. sedangkan pada siklus II yang ditunjukkan pada gambar 7. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Siswa juga dapat mengambil manfaat dari pembelajaran tersebut.124 Berdasarkan hasil angket dari siklus I ke siklus II diperoleh hasil bahwa sebagian dari jumlah keseluruhan siswa menyatakan setuju bahwa teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual dalam menulis cerpen sangat menyenangkan dan dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis cerpen. terlihat masih ada siswa yang melakukan perilaku negatif yaitu bercanda dengan temannya saat proses belajar di kelas. Selain itu. Berdasarkan kedua gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku negatif siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen mengalami peningkatan. Selain itu teknik tersebut juga dapat memotivasi dan menumbuhkan minat bagi siswa untuk menulis cerpen. siswa terlihat sangat serius dalam menulis cerpen. siswa semakin tahu banyak tentang cerpen dan bagaimana menulis cerpen. Selain itu pembelajaran menulis cerpen melalui metode latihan terbimbing dengan media teks lagu siswa semakin berminat menulis cerpen. terdapat perubahan perilaku . Berdasarkan hasil dokumen foto siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin tertib dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual.

125 yaitu dari perilaku negatif ke perilaku positif siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerita pendek. .

31) atau meningkat sebesar 10.56) dan pada siklus I rata-ratanya menjadi 70 (pembulatan ke bawah dari 70.1 Simpulan Berdasarkan rumusan masalah dari hasil penelitian serta pembahasannya.30 %. 2. Perilaku siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual mengalami perubahan kearah positif. Pemerolehan ini menunjukan bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual pada siswa kelas X4 SMA N 2 Tegal dapat meningkat dan berhasil. Kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA N 2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11.94 dari siklus I. Perubahan tersebut ditunjukan dengan perilaku siswa yang kelihatan lebih serius dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen. 126 .63 atau 18. Hasil rata-rata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 64 (pembulatan ke atas dari 63.62 % dari rata-rata pratindakan. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. kemudian pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75 (pembulatan ke bawah dari 75.BAB V PENUTUP 5.19) atau meningkat sebesar 6.

Salah satu alternatif dalam menggunakan media pembelajaran adalah penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang diputar melalui media audio visual yang telah terbukti dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen secara aktif dan menyenangkan. . 3. 2. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya lebih bervariasi dalam memilih teknik dan media pembelajaran agar siswa menjadi lebih berminat mengikuti proses pembelajaran dan tidak merasa jenuh. Teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dapat membantu siswa dalam menulis cerpen karena siswa lebih banyak menggunakan alat inderanya yang mencakup pendengaran dan penglihatan. maka penulis menyarankan beberapa hal dalam rangka mengembangkan kemampuan menulis cerpen sebagai berikut: 1. 4. sehingga pembelajaran menulis cerpen ini hendaknya mendapat porsi yang cukup dan tidak dilewati begitu saja.2 Saran Berdasarkan simpul hasil penelitian ini.127 5. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya memandang bahwa pembelajaran menulis cerpen merupakan bagian yang penting dan tak terpisahkan dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Hendaknya media audio visual juga digunakan pada mata pelajaran yang lain secara bervariasi dengan media-media yang lain. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya mengembangkan penggunaan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dan media audio visual secara kreatif dan efektif misalnya dengan cara memperbanyak jenis cerita dan bahan ajar lain yang berhubungan kesusastraan.

2005. Kesusastraan Sekolah Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. 1982. 1994. Bandung : Citra Aditya Bakti Kusworosari. Wiyanto. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. Hamalik. Titik. Bandung: Sinar Barulgensindo Arsyad. Pengantar Kemampuan Menulis Cerpen dengan Metode Karya Wisata pada Siswa Kelas 1-3 MA Ma’mahadut Thalabah Babakan Lebaksiu Tegal tahun ajaran 2001/2002. Cara Menulis Kreatif. Oemar. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Pengalaman Pribadi sebagai Basis melalui Pendekatan Proses pada Siswa Kelas X SMA N 5 Semarang. Asul. Jakarta : Grasindo 128 . Surakarta : Widya Duta Sudjana. Dasar-dasar Teori Sastra. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. Strategi Penguasaan Bahasa. 2004. Skripsi : Universitas Negeri Semarang. 2006.DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 2001. Media Pembelajaran. Yogyakarta : Adi Cita Suharianto. Pranggawidagda. Raja Grafindo Persada Fariqoh. Teknik Menulis Cerita Anak. 2006. dkk. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. 1988. Media Pendidikan. Bandung : Angkasa Bandung. A Suminto. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Azhar. Suwara. Nana dan Achmad Rivai. 2002. Optimalisasi Majalah Dinding dalam Pembelajaran Apresiasi Cerpen dengan Pembelajaran Kontekstual pada Siswa Kelas X4 SMA N 1 Keling Kabupaten Jepara tahun ajaran 2005/2006. 1987. 2003. Peningkatan Keterampilan Menyimak Berita melalui Media Audio Visual dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Inquiry pada Siswa Kelas VII A SMP N Tarub Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2005/2006 Sayuti. Media Pengajaran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Tarigan. Jakarta : PT. Jakarta : Sinar Baru Algensindo Suratno. 2007. 2002. Yogyakarta. Murdiati. 1983.

B. Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dipelajari . gagasan. Guru bertanya jawab tentang cerpen dan bertanya tentang film favorit yang bisa dilihat siswa 2. SKENARIO PEMBELAJARAN PENDAHULUAN 1. dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi. INDIKATOR Menulis cerpen berdasarkan 7 aspek dalam cerpen Mengembangkan ide dalam bentuk cerpen D.151 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran Jenjang Kelas Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : SMA :X : 2 x 45 A. KOMPETENSI DASAR Menulis berbagai karya sastra (Puisi & Cerpen) C. atau menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai latar/ setting. MATERI POKOK Menulis Cerpen E. STANDAR KOMPETENSI Mampu mengungkapkan pendapat. menulis cerpen.

Guru memutarkan sebuah film yang digunakan dalam pembelajarn untuk menarik perhatian dan minat siswa 3. Siswa menyaksikan pemutaran film dengan perhatian/konsentrasi penuh pada cerita film 4. Penilaian proses Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Guru mengenalkan kepada siswa media audio visual yang akan dipergunakan dalam pembelajaran menulis cerpen 2. Siswa menulis sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dan mengembangkan cerita sesuai keinginannya PENUTUP 1. Guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen F. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan . Siswa dibantu guru mengidentifikasi unsur-unsur dalam film tersebut yang dapat digunakan untuk menulis cerpen 5. Erlangga G. MEDIA / SUMBER Media Sumber : TV dan VCD : 1) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X 2) Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X. Siswa mengandaikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam film dan mengembangkan cerita sesuai daya imajinasinya 6. PENILAIAN 1. Guru beserta siswa merefleksi unsur-unsur dan cara yang digunakan dalam menulis cerpen 2.152 INTI 1.

153 2.S NIM. 132141542 Nurul Melti I. April 2007 Guru Mata Pelajaran Peneliti Dra. Sri Mulyani R NIP. 2101403564 . Penelitian hasil Buatlah sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang telah diputarkan Tegal.

SKENARIO PEMBELAJARAN PENDAHULUAN 1.154 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran Jenjang Kelas Waktu : Bahasa dan Sastra Indonesia : SMA :X : 2 x 45 A. gagasan. MATERI POKOK Menulis Cerpen E. Guru menyampaikan kompetensi dasar yang dipelajari . STANDAR KOMPETENSI Mampu mengungkapkan pendapat. dan perasaan dalam berbagai bentuk tulisan sastra melalui menulis puisi. menulis cerpen. INDIKATOR Menulis cerpen berdasarkan 7 aspek dalam cerpen Mengembangkan ide dalam bentuk cerpen D. atau menciptakan karya sastra berdasarkan berbagai latar/ setting. Guru bertanya jawab tentang pembelajaran menulis cerpen pada pembelajaran sebelumnya 2. B. KOMPETENSI DASAR Menulis berbagai karya sastra (Puisi & Cerpen) C.

Guru memutarkan sebuah film yang digunakan dalam pembelajarn untuk menarik perhatian dan minat siswa 2. Erlangga G. Guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran menulis cerpen F. Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X b. Siswa menyaksikan pemutaran film dengan perhatian/konsentrasi penuh pada cerita film 3. PENILAIAN 1. Buku paket Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa kelas X. Siswa dibantu guru mengidentifikasi unsur-unsur dalam film tersebut yang dapat digunakan untuk menulis cerpen 4. Penilaian proses Penilaian proses dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Siswa menulis sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dan mengembangkan cerita sesuai keinginannya PENUTUP 1.155 INTI 1. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan . MEDIA / SUMBER Media Sumber : TV dan VCD : a. Guru beserta siswa merefleksi unsur-unsur dan cara yang digunakan dalam menulis cerpen 2. Siswa mengandaikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam film dan mengembangkan cerita sesuai daya imajinasinya 5.

April 2007 Guru Mata Pelajaran Peneliti Dra. 132141542 Nurul Melti I. Sri Mulyani R NIP.S NIM. 2101403564 .156 2. Penelitian hasil Buatlah sebuah cerpen berdasarkan pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita film yang telah diputarkan Tegal.

2.157 Nama : No/Kelas : FORMAT ANGKET Berilah tanda ( √ ) pada setiap pertanyaan siswa yang sesuai dengan skala penelitian yang tersedia dibawah ini: No 1. 8. 5. 7. 6. 9. Keterangan : SS : Sangat setuju S : Setuju KS : Kurang setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju . 4. Pertanyaan SS Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menulis cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat mengungkapkan dan menuangkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan Skala Penilaian S KS TS STS 3. 10.

. ……………………………………………………………………………. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. 4. 2. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! ……………………………………………………………………………. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? …………………………………………………………………………….158 Nama : No/Kelas : FORMAT JURNAL SISWA Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. ……………………………………………………………………………. Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? ……………………………………………………………………………. 3. ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. 5.

5..... Bagaimanakah respon siswa terhadap pembelajaran menuls menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………. Bagaimanakan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 4.159 Nama : No/Kelas : FORMAT JURNAL GURU 1. Bagaimanakan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………. Uraikan fenomena-fenomena lain yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… . 3.. Bagaimanakah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cepen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 2..

Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? . Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? 5. Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi dongeng melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6.160 PEDOMAN WAWANCARA SIKLUS I DAN II 1. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4. Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3.

Apakah kesulitan yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? . Jenis cerpen apa yang biasanya anda sukai? Berikan alasannya! 3. Apakah anda senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 4. Apakah yang menyebabkan anda senang atau tidak senang dengan pembelajaran menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dengan media audio visual? 5. Apakah anda lebih mudah menerima dan memahami isi dongeng melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual? 6. Apakah anda pernah melakukan kegiatan menulis cerpen? 2.161 WAWANCARA SIKLUS I DAN II Responden No Responden Hari dan tanggal Tempat Kelas Waktu Topik : : : : : : : 1.

…………………………………………………………………………….162 Nama : No/Kelas : JURNAL SISWA SIKLUS I Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. 5. ……………………………………………………………………………. Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. 3. 4. 2. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! ……………………………………………………………………………. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………… . ……………………………………………………………………………. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? …………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………. 3. . 5. ……………………………………………………………………………. 4. Apakah anda senang dengan materi menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan menggunakan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………. 2. ……………………………………………………………………………. Berilah kesan dan pesan tentang pembelajaran menulis cerpen melalui pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) yang telah diajarkan oleh guru (peneliti)! …………………………………………………………………………….163 Nama : No/Kelas : JURNAL SISWA SIKLUS II Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jujur ! 1. ……………………………………………………………………………. Apakah anda merasa lebih faham dan tertarik belajar menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Kesulitan apakah yang anda alami dalam menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audiovisual (pemutaran film)? ……………………………………………………………………………. Apakah melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual (pemutaran film) memberikan kemudahan dalam menulis cerpen? …………………………………………………………………………….

................................................................ .................................................................................................................................................................................................................................................................. ....................... ...................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................................................................................................................................... ..................................... .............................................. ............... ................................................................................... .... ................................................................. .................................... ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................... .................................................................................................................................................................................................................................................................. ......................164 Lembar Kerja Siswa Nama : No/Kelas : .............................. ....... .............................................................................................................................................................................................................................................. ........ ....................... ...................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

......... ..................................................... ................................................................................................................................. ..................................................................................... ........... .......... ................ ................................................................................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................. ......................................... ....................................................................................................................................................................................165 ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................ ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................................................ ............................ ................................................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................ .................................................................................................................................................... ......................................................... ...................................................................................................................................................................... ........................ ......................................................................................................................................... .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................. ................................................................................................................................................................... ................................................................... .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ..................................... ................................................................................... ................................................................................. ..........................................................................

.................................................... ...................................166 .......................................................

79 2 5.46 visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menuliskan 28 71. 4.149 REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKLUS II No.56 1 2. 3.41 3 7.41 15 38. Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa 9 23.23 4 10.08 senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang 8 20.69 - - - - 23 58.26 - - - - 22 56.51 dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang 14 35. 1.13 - - - - 27 69.46 2 5. 5.90 digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio 15 38.97 1 2.56 - - . Aspek SS S KS ∑ % ∑ % ∑ % 22 56.13 TS ∑ % STS ∑ % - 2.

10.64 20 51.46 16 41. cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat menggungkapkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan 15 38.56 7 17.08 - - - - 10 25.15 13 33.90 23 58.33 2 5.13 1 2.80 9 23.97 2 5. 9.13 - - - - .95 23 58.08 - - - - 14 35.03 8 20.28 9 23. 7.82 18 46.51 - - - - 5 12.150 6. 8.

97 4 10. 19 48.46 ∑ 2 KS % 5.46 5 12.21 25 64. Aspek Keterampilan menulis cerpen dapat meningkatkan kretifitas siswa dalam belajar Siswa merasa senang terhadap cara guru menerangkan keterampilan menulis cerpen melalui teknik pengandaian sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual Saya senang dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen Teknik yang digunakan oleh guru dapat memotivasi siswa untuk menulis cerpen Media audio visual dengan pemutaran film remaja dapat memudahkan siswa menemukan ide sehingga siswa dapat menuliskan ∑ 22 SS % 56.82 - - - - .72 15 38.21 24 61. 11 28.54 4 10.69 - - - - 5.41 ∑ 15 S % 38. 11 28.13 ∑ TS % ∑ STS % - 2. 1.77 23 58. 12 30.26 - - - - 4.26 - - - - 3.147 REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKLUS I No.10 3 7.

64 4 10. 9 23.41 4 10.33 22 56.46 10 25.51 - - - - 9. 9 23.26 1 2.41 8 20. 13 33.26 - - - - 10.148 cerpen dengan baik Saya senang dengan media audio visual (pemutaran film) yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran Suasana kelas dapat membantu pemahaman siswa dalam menulis cerpen Saya senang dengan pembelajaran menulis cerpen dengan teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita Saya dapat menggungkapkan dan menuangkan ide dan gagasan dalam cerpen Pembelajaran yang dilakukan oleh guru sekarang lebih menyenangkan 6.08 22 56. 7 17.10 7 17.56 8.33 22 56.95 25 64. 13 33.95 - - - - .08 15 38.26 - - - - 7.41 4 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful