BUDI DAYA UDANG

Page 1
Universitas Kristen Petra

187 Lampiran 1 : Kaidah pemeliharaan yang baik untuk udang. 1. Pengelolaan Media Budi Daya Kualitas air tambak harus dipertahankan dalam kondisi prima. Kondisi air akan berubah selama pemeliharaan, antara lain akibat tingginya laju pertumbuhan plankton. Pertumbuhan plankton yang terlalu tinggi akibat pemberian pakan yang berlebihan bisa membahayakan kehidupan udang karena akan mempengaruhi ketersediaan oksigen. Tipisnya ketersediaan oksigen terutama terjadi pada malam hari, yakni ketika proses fotosintesis tidak berlangsung. Pada malam hari, plankton membutuhkan oksigen lebih banyak sehingga terjadi persaingan memperebutkan oksigen dengan udang. Jika kadar oksigen yang terlarut di dalam tambak hanya sedikit, udang akan mengalami stres. Tanda udang yang stres adalah sering berenang ke permukaan air dan pada tahap yang lebih kritis udang akan berlompatan ke udara. Jika masalah ini tidak segera ditangani, udang akan mati. Hal ini biasanya terjadi pada pukul 02.00-05.00 pagi. Karena itu, pada saat-saat tersebut perlu dilakukan pengukuran kadar oksigen terlarut. Pengukuran parameter kualitas air, seperti pH, salinitas, kandungan amonia, nitrit, dan nitrat, juga harus dilakukan secara berkala. Jika terjadi kekurangan oksigen seperti di atas atau parameter kualitas air lainnya tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan, perlu segera diambil tindakan penggantian air yang lebih banyak. Pada waktu penggantian air, aerator atau kincir air tetap dioperasikan. Posisi aerator tersebut diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran dan perputaran air tambak secara merata. 2. Pengendalian Predator Selama masa pelmeliharaan, meskipun air yang masuk ke tambak sudah melalui penyaringan, kemungkinan besar telur ikan, benih ikan, kepiting, dan udang liar yang menjadi predator udang masih bisa terbawa masuk bersama dengan aliran air. Beberapa waktu kemudian hewan-hewan itu akan tumbuh besar dan menyamai, bahkan melebihi ukuran udang yang dipelihara sehingga mengancam kehidupan udang. Udang liar pun akan memangsa udang yang dipelihara terutama saat udang sedang berganti kulit (molting). Pemberantasan predator bisa dilakukan dengan cara penebaran pestisida, misalnya pestisida saponin dengan dosis 5 ppm. Pestisida yang diberikan akan membunuh ikan, tetapi tidak akan membunuh udang yang dipilihara. Cara pemberantasannya adalah menutup sementara pintu pemasukan air, kemudian saponin langsung disebar. Beberapa saat kemudian, ikan yang menjadi predator akan mati dan segera dibuang dari tambak. Jika semua ikan diperkirakan mati, air kembali dimasukkan dan kincir air kembali beroperasi seperti semula. 3. Pengelolaan Pakan

dan 03. dan 05. Dengan demikian. Karena itu. Selera makan udang bisa diketahui dari sampling. 20. pakan yang tidak merata sehingga pertumbuhan udang tidak seragam. 20. kekurangan pemberian pakan akan menghambat pertumbuhan udang. sementara itu jika dasar pakan berlumpur. Sementara itu. Agar pakan tersebar merata ke seluruh tambak.00. Jika lima kali sehari. porsi pakan yang diberikan dikurangi 3% dari total BB udang yang dipelihara.00. 17. Jika selera makan udang berkurang. 22. Umumnya. Udang tidak memiliki kebiasaan mencari makanan hingga ke dalam lumpur. sebaiknya dilakukan pada pukul 10. Sebagai patokan.30. sifat udang termasuk lambat dan terus menerus. teknik penebaran pakan pada malam hari adalah 50% di sisi tambak dan 50% di tengah tambak. Jika pakan diberikan sebanyak empat kali sehari. jika pakan diberikan enam kali sehari. 16.00. Persoalan lain dalam pemberian pakan adalah penyebaran Page 2 Universitas Kristen Petra 188 Lampiran 1 : Kaidah pemeliharaan yang baik untuk udang. Selain dengan jembatan. Udang ukuran 2-15 gram/ekor sebanyak 6-10% dari BB per hari dan untuk udang yang lebih besar dari 15 gram/ekor sebanyak 3-5% dari BB per hari.00.00. sedangkan jika selera udang meningkat.00.00. pakan udang sebaiknya disediakan sepanjang waktu terutama pada malam hari. .00. tergantung dari ukuran udang dan laju pertumbuhannya. Jumlah atau dosis pakan yang diberikan setiap hari dipengaruhi oleh ketersediaan pakan alami di dalam tambak. baik jumlah maupun kualitasnya Pemberian pakan ini dilakukan secara rutin. Pemberian pakan dengan cara ditebar langsung dianjurkan dilakukan di tambak yang dasarnya cukup keras dan tidak berlumpur. yakni penebaran langsung ke seluruh tambak dan penggunaan tempat khusus yang disebut baki pakan (feed tray). Sementara itu. udang perlu diberi pakan yang cukup. sebaiknya dilakukan pada pukul 05. penyebaran pakan juga bisa menggunakan perahu. porsi pakannya diperbesar menjadi 5% dari BB. pemberian pakan perlu direncanakan secara baik sejak awal. 24. Dosis pakan yang diberikan bervariasi.00. udang ukuran 0. Selain menyebabkan pemborosan. 16.00. Teknik penyebaran pakan pada siang hari adalah 25% di sisi tambak dan 75% di tengah tambak. dilakukan pada pukul 10. sebaiknya menggunakan baki pakan.5-2 gram/ekor diberi pakan 10-15% dari BB (berat badan) per hari. Sementara itu. Ada dua cara pemberian pakan yang lazim dilakukan. pabrik pakan mencantumkan dosis pemberian pakan pada kemasan produknya.00. pemberian pakan sebaiknya dilakukan 4-6 kali sehari. dan 04. 24.00. Artinya. Di samping bersifat nocturnal atau aktif mencari makanan pada malam hari. Dari segi kepraktisan.00. ditengah tambak perlu dilengkapi jembatan. 11. kesalahan dalam pemberian pakan juga bisa menurunkan kualitas air sehingga terjadi kegagalan panen. pakan yang diberikan hendaknya mudah dicapai udang.00. Prinsip dasar pemberian pakan pada udang adalah pakan harus tepat sasaran.Sejak ditebar dan selama pemeliharaan hingga menjelang panen.

00 Tabel laju pertumbuhan normal udang windu di tambak.00 55 10. minimum setiap 2-3 minggu sekali.53 19 1. sampling atau pengambilan contoh udang yang dipelihara perlu dilakukan secara rutin.00 91 28.00 102 29. Sampling Selama pemeliharaan berlangsung.50 37 5.00 109 30. Laju pertumbuhan dan jumlah populasi udang berkaitan dengan dosis pakan.00 73 20. Sampling dilakukan dengan cara menangkap udang secara acak di lokasi yang mewakili kemudian dilakukan pengukuran panjang dan berat tubuh udang.10 28 2.4.50 46 8. Selain untuk menduga jumlah udang yang terdapat pada tambak.012 10 0. Page 3 Universitas Kristen Petra 189 Lampiran 1 : Kaidah pemeliharaan yang baik untuk udang. sampling juga digunakan untuk melihat laju pertumbuhan dan status kesehatan udang. Umur (Hari) Berat (Gram) PL 20-30 0.00 120 33. .00 82 24.00 64 15. Tabel di bawah menuunjukkan laju pertumbuhan normal udang windu di tambak.

Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk pengobatan penyakit pada ikan dan udang 2 4. dan panen akan gagal memenuhi target.Page 4 Universitas Kristen Petra 190 Lampiran 2 : Hasil Kuisioner tentang Pengujian dan Penilaian Program oleh Responden I No Kriteria Penilaian Penilaian 1. Kemudahan penggunaan program 3 5. Page 5 Universitas Kristen Petra 191 Lampiran 3 : Hasil Kuisioner tentang Pengujian dan Penilaian Program oleh . dimana nilai 1 merupakan nilai terendah sedangkan nilai 5 merupakan nilai maksimum. Kriteria penilaian adalah sebagai berikut : • Nilai 1 : Sangat Kurang • Nilai 2 : Kurang • Nilai 3 : Cukup • Nilai 4 : Baik • Nilai 5 : Sangat Baik Saran : • Untuk pengobatan pada udang cukup sesuai dengan teori. Kelayakan program 3 2. • Tambah lagi varian spesies dan penyakit-penyakit baru. tetapi yang lebih penting masukkan cara pencegahan-pencegahan yang harus dilakukan agar penyakit tidak timbul. karena 90% tambak terkena penyakit tidak dapat disembuhkan. Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk mendeteksi penyakit pada ikan dan udang 3 3. Tampilan program 4 Keterangan : Penilaian menggunakan skala 1 sampai 5.

Kriteria penilaian adalah sebagai berikut : • Nilai 1 : Sangat Kurang • Nilai 2 : Kurang • Nilai 3 : Cukup • Nilai 4 : Baik • Nilai 5 : Sangat Baik Saran : • Database kurang banyak. Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk mendeteksi penyakit pada ikan dan udang 3 3. Kemudahan penggunaan program 5 5. • Detail database kurang. dimana nilai 1 merupakan nilai terendah sedangkan nilai 5 merupakan nilai maksimum.Responden II No Kriteria Penilaian Penilaian 1. Kelayakan program 3 . Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk pengobatan penyakit pada ikan dan udang 3 4. Kelayakan program 4 2. • Beberapa pertanyaan membingungkan. Tampilan program 5 Keterangan : Penilaian menggunakan skala 1 sampai 5. Page 6 Universitas Kristen Petra 192 Lampiran 4 : Hasil Kuisioner tentang Pengujian dan Penilaian Program oleh Responden III No Kriteria Penilaian Penilaian 1.

seharusnya diberi kompensasi untuk jawaban. dimana nilai 1 merupakan nilai terendah sedangkan nilai 5 merupakan nilai maksimum. Tampilan program 4 Keterangan : Penilaian menggunakan skala 1 sampai 5. 2. • Gambar-gambar perlu diperbanyak. terkadang penyakit tersebut tidak menampakan gejala-gejala yang mencolok.2. Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk mendeteksi penyakit pada ikan dan udang 3 3. Judul Pembuatan Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendeteksi Penyakit Ikan Dan Udang Pada Tambak. namun dampaknya bila sampai parah bisa menghabiskan atau mematikan seluruh ternak di petak tersebut. dan dapat juga mengurangi . Kemudahan penggunaan program 4 5. Latar Belakang Seiring makin kompleksnya penyakit yang timbul pada hewan air dan berkembangnya kebutuhan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan secara cepat (khususnya untuk mendapatkan informasi dalam melakukan pencegahan dan pengobatan). sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan agar dapat mengurangi kematian ikan dan udang pada tambak air payau tersebut. Karena itu penulis membuat Tugas Akhir ini untuk membantu para pemilik tambak air dalam mengidentifikasi penyakit-penyakit yang merugikan tambak mereka . keterangan diperjelas. • Variasi penyakit perlu diperbanyak. Keakuratan dan kesimpulan yang dihasilkan program dibandingkan dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh responden untuk pengobatan penyakit pada ikan dan udang 3 4. Kriteria penilaian adalah sebagai berikut : • Nilai 1 : Sangat Kurang • Nilai 2 : Kurang • Nilai 3 : Cukup • Nilai 4 : Baik • Nilai 5 : Sangat Baik Saran : • Rule terlalu kompleks. Page 7 1. Maka dengan berkembangnya teknologi komputerisasi sekarang ini diharapkan dapat memudahkan untuk mendeteksi penyakit-penyakit yang timbul pada hewan air tersebut.

Penaeus aztecus dan Penaeus Page 9 duorarum.1. Penyakit Virus Jepang. Sebagian dari data-data penyakit tersebut adalah sebagai berikut : • Penyakit White Spot Syndrome Baculovirus Complex (WSBV) atau penyakit bintik putih. Tujuan Tugas Akhir Membantu para pemilik tambak air payau dan tawar dalam mengidentifikasi penyakit yang diderita binatang yang diternakannya sehingga dapat diambil tindakan pencegahan agar penyakit tersebut tidak semakin parah sehingga jumlah kematian ternak akibat penyakit dan kerugian yang diderita pemilik tambak dapat ditekan seminimal mungkin. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap expert (pakar) insinyur perikanan untuk pengumpulan datanya. Penaeus japonicus. Penyakit bintik putih. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup Masalah yang timbul adalah jika ternak terjangkit penyakit dan penyakit terlambat untuk diidentifikasi maka penyakit akan susah untuk disembuhkan dan untuk menghindari kerugian lebih lanjut maka ternak harus di-panen saat itu juga walau umur dan size-nya belum cukup besar. Page 8 • Sasaran pengguna dari software ini adalah para pemilik dan teknisi tambak air payau dan tawar. Cina & Korea) . RV-PJ (Rod-Shaped Nuclear Virus of Penaeus Japonicus. Penaeus chinensis (=orientalis).0. untuk kemudian dijadikan knowledge based. • Penyakit WSBV dapat terjangkit pada spesies udang famili Penaeus Monodon (Udang Windu). Penaeus merguiensis. Sekaligus pengobatan-pengobatan apa saja yang harus dilakukan apabila gejala-gejala penyakit tersebut mulai muncul. • Database yang digunakan adalah Microsoft Access 2003. Adapun sebagian dari data-data tersebut adalah sebagai berikut: 5. Tinjauan Pustaka Penulis mempelajari dan mengumpulkan data dari buku-buku tentang hama dan penyakit hewan air. Penaeus Setiferus. Penyakit Virus Thailand). Khusus pada 5 famili terakhir . Litopenaeus vannamei (udang putih). • Desain software menggunakan software Borland Delphi 7. SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus. Penaeus indicus. Ruang lingkup dibatasi pada: • Penyakit hewan air tawar dan payau khususnya spesies udang dan ikan yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia. 5. Shrimp Explosive Epidermic Desease (SEED). 3. Penyakit Virus Cina . Penyakit Merah. Mempunyai nama lain HHNBV (Baculoviral Hypodermal & Hematopoietic Necrosis. jika terjangkit penyakit . 4. Litopenaeus stylirostris (Blue Shrimp / lansia).kerugian yang diderita oleh para pemilik tambak air payau.

• Kolam lele juga seringkali terkena penyakit bintik merah. yakni pH air yang tidak ideal dan toksid (racun) yang tinggi di dasar kolam. • Peran dari expert (ahli) ini adalah untuk membantu mahasiswa dalam pembuatan Tugas Akhir . maka bisa berakibat sangat fatal yaitu kematian secara serentak (massal). Penyakit ini sangat dikenal pada tahap pembenihan Penaeus Vannamei yang muncul dalam 14 hingga 40 hari penyediaan postlarvae ke dalam kolam dan tangki pemeliharaan. khususnya pada tahap pengumpulan data. Para Expert di bidang perikanan. Juga jenis-jenis plankton tertentu dapat pula menjadi penyebab dari penyakitpenyakit.3. Pada ikan lele penyakit ini disebabkan oleh protozoa seperti chilodonella atau trichodina. Jika tidak diantisipasi secara cepat . 5.05 gram hingga kurang dari 5 gram. Udang yang terkena TSV adalah benih yang kecil dan khas dengan berat 0.WSBV dapat menimbulkan infeksi yang keras dan mematikan. • Metode backward chaining adalah proses penalaran dengan pendekatan goal-driven. tidak hanya spesies udang. • Ir. Metode pencariannya menggunakan metode mix-mode (forward chaining dan backward chaining). Hanya saja perbedaan terletak pada tanda ke-2 . Penyakit ini mempunyai tahap Peracute / akut dan tahap Kronis / penyembuhan. • Ir. Perikanan Norman. Perikanan Bambang Tri. yaitu pada sirip punggung dan sirip dada ada pendarahan. yaitu pada sekujur tubuh ikan tampak bintik-bintik putih. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri jenis pseudomonas dan aeromonas.2. Perikanan Etty Ernawati. Para expert tersebut adalah : • Ir. Tandatandanya mirip dengan penyakit bintik putih . Penyebab utama adalah adanya perubahan suhu yang drastis. Perikanan Mai Sony Ardianto. • Segala penyakit yang menyerang budidaya ikan pada dasarnya bersumber dari dua hal . • Penyakit WSBV juga dapat menyerang spesies ikan . Pendekatan goal-driven memulai titik pendekatannya dari goal yang akan dicari nilainya kemudian bergerak untuk mencari informasi (fakta-fakta) yang mendukung goal (solusi) . • Ir. Ikan lele juga bisa terkena penyakit ini. Perikanan Setio Wahyudi. • Penyakit Taura Syndrome Virus (TSV) atau Taura Syndrome (TS) disebut juga penyakit ekor merah. Page 10 Expert juga akan membantu dalam proses mengubah data-data tersebut menjadi bentuk rule-rule. • Tingkat dari Alkanitas dan Salinitas dari air tambak air payau juga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan ternak. 5. • Ir.

5. Pendekatan data-driven memulai titik pendekatannya dari primitive yang akan dimasukkan nilainya kemudian dari informasi (fakta-fakta) yang dimasukkan akan dicari goal (solusi) yang didukung oleh informasi tersebut.tersebut. Tugas akhir dinyatakan berhasil bila sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan user friendly. Bila masih terdapat error. 6. Pengambilan kesimpulan ini didapatkan dari hasil pengujian yang telah dilakukan. Cara kerja dari metode ini adalah dengan pertama kali memakai forward chaining untuk me-reduce kemungkinan dari goal–goal yang ada . Selain itu juga dilakukan dokumentasi selama tahap ini. Yang nantinya akan digunakan dalam pembuatan software. • Metode mix-mode adalah metode yang memakai forward chaining dan backward chaining dalam 1 inference engine. • Analisa rancangan software Melakukan analisa terhadap hasil pengolahan data untuk menetapkan metode apa yang akan digunakan. yang merupakan metode yang akan digunakan penulis untuk membuat tugas akhir ini. • Pengolahan data Data yang telah dikumpulkan akan diubah dalam bentuk rule-rule. • Borland Delphi 7 adalah sebuah software yang digunakan untuk membuat suatu software dengan menggunakan bahasa pemrograman dari Pascal. cara-cara untuk membuat rule-rule yang diperlukan. lalu setelah semua informasi yang diketahui sudah dimasukkan . Software-nya akan dibuat menggunakan software Borland Delphi 7. • Pembuatan software Dilakukan pembuatan software sesuai dengan hasil desain dan analisa yang telah dilakukan.4. • Metode forward chaining adalah proses penalaran dengan pendekatan data-driven. • Penarikan kesimpulan Pengambilan kesimpulan dari hasil pembuatan tugas akhir. maka akan dilakukan perbaikan terhadap software. • Pengumpulan data Cara pengumpulan data adalah melalui studi literatur tentang penyakit ternak tambak air payau dan tawar dan wawancara dengan pakar insinyur perikanan. . baru proses backward chaining dimulai untuk menanyakan hal–hal yang lebih detail sampai suatu goal (solusi) terbukti. Metodologi Penelitian Page 11 • Studi literatur Mempelajari tentang Aplikasi Sistem Pakar (ASP). Serta mempelajari metode forward chaining dan backward chaining. • Pengujian software Tahap pengujian software yang telah dibuat apakah bebas dari error.

. Dr. Hama dan Penyakit Ikan. Ir. Pengembangan Udang Galah dalam Hatchery dan Budidaya. Buchanan. Amri. 8 in Colour and 62 Tables. and Meyer. Estelle D.. Relevansi Software yang dibuat penulis dapat digunakan oleh para pemilik dan teknisi dari tambak air payau dan tawar untuk membantu dalam mengidentifikasi penyakit yang diderita hewan ternaknya agar dapat diambil tindakan pencegahan supaya penyakit tersebut tidak semakin parah sehingga angka kematian ternak dapat dibuat seminimal mungkin. New York: The Macmillan Company. Expert System: Design and Development.. Rantetondok. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI). Page 12 8. Prior. Durkin. Malang: Universitas Brawijaya Fakultas Perikanan.Si. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Inra Editions. Budidaya Udang Windu secara Intensif. Allen J.7. Jakarta: AgroMedia Pustaka.. Ernawati. M. 1994. M. Robert E. New Jersey: Macmillan Publishing Company. Daftar Pustaka A. Bacteriology. New York: Springer-Verlay Berlin Heidelberg . Dr. Sc. Etty. Malang: Universitas Brawijaya Fakultas Perikanan. 2001. Shepherdstown . Cahyono.. 2003. Fish. Jadwal Kegiatan Januari Februari Maret April Daftar Kegiatan 1234123412341234 Pengumpulan Data Analisa sistem Perancangan sistem Pembuatan Program Uji coba program Penyusunan laporan 9. Parasites of Freshwater Fishes.. 1998.. Fred P.. and Buchanan. West Virginia: Bureau of Sport Fisheries and Wildlife . Eplhinstone. Ir. Jatna. Isolasi Bioaktif Ekstrak Kasar Dari Jaringan Tentakel Ubur-ubur dan Aplikasinya Terhadap Pertumbuhan Bakteri Vibrio harveyi. Hadie. 1986. 1992. 1998. Page 13 Hoffman. John. Glenn L. Bacterial Wilt Diease Molecular and Ecological Aspects with 98 Figures . Ujung Pandang : Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin. Wartono dan Supriatna. Ifnu. Ph. C. Khairul. . Fifth Edition.

1987. M.Division of Fishery Research edited by Dr. Ghufran H. Diseases of Fishes. FAO Species Catalogue Vol. 1974.. 1992. 1970. and Axelrod.W. The Netherlands.. Molecular Biology of Bacterial Infection Current Status and Future Perspectives. Sniezko. C. 1 – Shrimps And Prawns of The World. John C. Shepherd College.. Penn.B. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta: PT Rineka Cipta dan PT Bina Adiaksara. Dr. . 2004. 1980. Holthuis Rijksmuseum van Natuurlijke Historie Leiden. West Virginia 25430: Bureau of Sport Fisheries and Wildlife Eastern Fish Disease Laboratory Kearneysville.E. Wageningen: Universitas Brawijaya Fakultas Perikanan... C. Kordi K. Landolt . Rome: Food And Agriculture Organization of The United Nations. Common Parasitical Infections in Clarias BatrachusCulture in East-Java. Herbert R. Cambridge: The Society of General Microbiology . C. Stanislas F. and Smyth.J. Hormaeche.. L. Dr. Vincent van Ginneken. Trinity 400.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful