A.

Definisi Keracunan Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorpsi, menempel pada kulit, atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil dapat mengakibatkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia (Brunner & Suddarth, 2001). Arti lain dari racun adalah suatu bahan dimana ketika diserap oleh tubuh organisme makhluk hidup akan menyebabkan kematian atau perlukaan (Muriel, 1995). Racun dapat diserap melalui pencernaan, hisapan, intravena, kulit, atau melalui rute lainnya. Reaksi dari racun dapat seketika itu juga, cepat, lambat, atau secara kumulatif. Keracunan dapat diartikan sebagai setiap keadaaan yang menunjukkan kelainan multisistem dengan keadaan yang tidak jelas (Arif Mansjoer, 1999). Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi tosik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan merupakan kondisi bahaya kesehatan. Jenis-jenis keracunan (FK-UI,1995) dapat dibagi berdasarkan : 1. Cara terjadinya, terdiri dari : a. Self Poisoning Pada keadaan ini pasien memakan obat dengan dosis yang berlebih tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini tak membahayakan. Pasien tidak bermaksud bunuh diri, hanya bermaksud untuk mencari perhatian saja. b. Attempted Suicide Pada keadaan ini, pasien bermaksud unutk bunuh diri, bisa berakhir dengan kematian atau pasien dpat sembuh bila salah tafsir dengan dosis yang dipakai. c. Accidental Poisoning Keracunan yang merupakan kecelakaan, tanpa adanya faktor kesengajaan. d. Homicidal Poisoning Keracunan akibat tindakan kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni orang lain. 2. Mula waktu terjadi, terdiri dari : a. Keracunan kronik Keracunan yang gejalanya timbul perlahan dan lama setelah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setelah pemajanan berkali-kali dalam dosis relatif kecil. Ciri khasnya adalah zat penyebab diekskresikan 24 jam lebih lama dan waktu paruh lebih panjang sehingga terjadi akumulasi. b. Keracunan Akut Biasanya terjadi mendadak setelah makan sesuatu, sering mengenai banyak orang (pada keracunan makanan dapat mengenai seluruh keluarga atau penduduk sekampung), dan gejalanya seperti sindrom penyakit muntah, diare, konvulsi, dan koma. Menurut alat tubuh yang terkena Pada jenis ini, keracunan digolongkan berdasarkan organ yang terkena, contohnya racun hati, racun ginjal, racun SSP, racun jantung. Menurt jenis bahan kimia Golongan zat kimia tertentu biasanya memperlihatkan sifat toksik yang sama, misalnya golongan alkohol, fenol, logam berat, organoklorin dan sebagainya.

3.

4.

Penggolongan keracunan yang lain (Brunner & Suddarth, 2001) didasarkan pada : 1. Racun yang tertelan atau tercerna 2. Keracunan korosif, yaitu keracunan yang disebabkan oleh zat korosif yang meliputi produk alkalin (Lye, pembersih kering, pembersih toilet, deterjen non pospat, pembersih oven, tablet klinitest, dan baterai yang digunakan untuk jam, kalkulator, dan kamera) dan produk asam (pembersih toilet, pembersih kolam renang, pembersih logam, penghilang karat, dan asam baterai) 3. Keracunan melalui inhalasi, yaitu keracunan yang disebabkan oleh gas (karbon monoksida, karbon dioksida, Hydrogen Sulfid ) 4. Keracunan kontaminasi kulit (luka bakar kimiawi) 5. Keracunan melalui tusukan yang terdiri dari sengatan serangga (tawon, kalajengking, dan laba-laba) dan gigitan ular 6. Keracunan makanan, yaitu keracunan yang disebabkan oleh perubahan kimia (fermentasi) dan pembusukkan karena kerja bakteri (daging busuk) pada bahan makanan, misalnya ubi ketela (singkong) yang mengandung asam sianida (HCn), jengkol, tempe bongkrek, dan racun pada udang maupun kepiting 7. Penyalahgunaan zat yang terdiri dari penyalahgunaan obat stimulan (Amphetamin), depresan (barbiturat), atau halusinogen (morfin), dan penyalahgunaan alkohol. C. Pengkajian dan Tanda Gejala Keracunan 1. Pengkajian a. Kaji gejala klinis yang tampak pada klien b. Anamnesis informasi dan keterangan tentang keracunan dari korban atau dari orang-orang yang mengetahuinya c. Identifikasi sumber dan jenis racun d. Kaji tentang bentuk bahan racun e. Kaji tentang bagaimana racun dapat masuk dalam tubuh pasien

1

diare. pusing. Pada keracunan karena gigitan tawon dan lebah. halusinasi. sinkop. dan syok. dan koma. Pada keracunan gas Hydrogen Sulfid (H2S) yang sifatnya mempengaruhi. Pada keracunan oleh gigitan serangga laba-laba dapat dijumpai gejala adanya sakit perut. sakit dan nyeri pada lambung yang disertai rasa mual. pusing. dan perubahan struktur DNA sel (mutagenic) oleh Alfatoxin yang dihasilkan jamur atau bakteri yang bersangkutan. dan sinkop. pusing. palpitasi. Pada keracunan gas CO akan ditemui tanda hipoksia cerebral. urine berbau. dan pusat. hemoragi. Harga diri rendah berhubungan dengan stigma sosial yang melekat pada tindakan penyalahgunaan obat 7. merangsang. hematuri dan pyuria dalam jumlah sedikit. sinkop. Drowsines. nadi cepat. hematuria. dan Insektisida lain akan dijumpai konvulsi atau kejang. muntah. Pada keracunan narkotik golongan stimulan dapat dijumpai tremor. mual muntah. mual muntah. Alkohol yang menjadi racun dan terkonsumsi oleh tubuh akan menyebakan keracunan dengan gejala gangguan emosi dan perasaan. Pada keracunan depresan akan dijumpai gejala depresi pada kerja SSP sehingga terdapat tanda mudah tertidur. nadi lemah. hidung dan kulit gatal. gelisah. ulserasi pada kulit. Pada keracunan makanan yang telah terkontaminasi dengan jamur dan bakteri akan mengakibatkan adanya gejala yang mengakibatkan adanya keracunan hati (hepatotoxic). dan kebutuhan pengobatan 8. Pada keracunan yang disebabkan oleh sengatan bisa serangga atau ular dapat ditemui ciri adanya gatal. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan efek langsung racun pada sistem respiratori 3. tremor. dan kematian. kulit pucat. Identifikasi lingkungan dimana pasien dapat terpapar oleh racun 2. Masalah Keperawatan yang dapat muncul dalam Keracunan Masalah keperawatan yang dapat muncul pada Asuhan Keperawatan Klien dengan Keracunan.f. e. koordinasi dan reflek lemah. agresif. drowsiness. keringat berlebih. nadi kecil dan lemah. batuk kering dan pada kondisi yang parah akan disertai dengan sesak nafas dan muntah darah. banyak keluar keringat. oedema paru. gelisah . dan sinkop. lokal iskemik. berkeringat. rasa haus. Tanda dan gejala a. bibir kering. hipertensi dan angina. akan timbul gejala seperti rasa pedih dan panas pada tenggorok. syok. Perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan perubahan kimiawi. B. prognosis. kadang muntah atau dalam keadaan parah dapat menyebabkan anuria (saluran kemih penuh dengan asam jengkol. sulit nafas. kulit kebiruan. ketakutan 6. asfiksi. hipotensi. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan organ 9. secara umum dapat terdiri dari : 1. agresif. nekrotik. kelemahan badan. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan menelan racun korosif 2. dan mual. takikardi. dan merusak Sistem Saraf Pusat dapat menimbulkan kematian mendadak dikarenakan kegagalan bernafas. Keracunan oleh bahan makanan seperti jengkol dapat dijumpai gejala nyeri daerah pinggang. perut gembung . ginjal. bronkospasme berat. Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan sensori SSP 2 . dan akhirnya mati. muntah. banyak berkeringat. konfusi mental dan koma. Gejala pada keracunan singkong dapat terdiri dari mual. ansietas. hipotensi dan hipotermi. letargi. timbul gelembung kecil dan merata seperti luka bakar oleh air panas. muka merah. Defisit pengetahuan diri berhubungan dengan kondisi. drowsiness. rasa ingin muntah dan cairan muntah berwarna coklat (kopi) karena bercampur dengan darah. tremor. f. Keracunan bahan kimia korosif asam kuat atau basa yang tertelan akan segera timbul tanda-tanda pada bibir dan selaput lendir mulut berwarna keputih-putihan atau kebiru-biruan akibat luka bakar kimiatimbul rasa panas dan terbakar pada tenggorok. palpitasi. c. faktor eksogen (obat golongan stimulan. depresan. sianosis. Pada keracunan melalui inhalasi oleh karena menghirup bahan kimia dalam bentuk gas. kulit berwarna kemerahan sampai pucat. insomnia. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan disfungsi sistem gastro intestinal 5. malaise. pusing. d. Koping tak efektif berhubungan dengan kecemasan. kelemahan otot dan reflek. konvulsi. oedema laring. timbulnya kanker (Carciotoxic). muntah. pusing. kulit menjadi kering dan bersisik dan berpotensi timbul infeksi sekunder dermatitis. diplopia. badan lemah. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tindakan rehabilitatif dan terapeutik 10. halusinogen) 4. oedema paru. Pada keracunan yang disebabkan oleh gigitan ular dapat dijumpai gejala hemoragi pada rongga mulut dan pernafasan atau pori-pori kulit. dan pengeluaran keringat atau ludah yang berlebihan b. dan bronkospasme. kulit dingin dan pucat. Pada golongan halusinogen dapat dijumpai gejala euforia. diare. Baygon. anoreksi. pusing. uap atau kabut yang merangsang dan merusak selaput lendir alat pernafasan. Pada keracunan kontaminasi kulit oleh bahan kimia Carbon Disulfid maka akan tampak kemerahan. konvulsi. Pada bahan kimia yang lain seperti DDT. pernafasan pendek. konvulsi. sakit kepala kelemahan otot. gejala yang dapat muncul adalah rasa mual. Gejala pada keracunan tempe bongkrek atau oncom dapat ditemui adanya kram perut. badan menggigil. syok. mual. g.

Dukung pasien yang mengalami kejang. Rodentisida : Untuk membasmi tikus 3 . Dapatkan spesimen darah untuk test konsentraasi obat atau racun. ventilasi dan oksigenasi a. Pantau status neurologi (meliputi fungsi kognitif) : pantau tanda vital dan status neurologik lanjut j. 12. 15.11. yaitu menetralkan racun dengan memberikan obat antidote khusus dan antidote umum d. Tangani syok yang tepat 4. tekanan darah. Insektisida : Khusus untuk serangga b. bila tepat 5. Mengencerkan bahan racun yang terkonsumsi oleh tubuh dengan cara memberikan minum yang banyak. A. Racun mungkin memicu sistem syaraf pusat atau paasien mungkin mengalami kejang karena oksigen tidak LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN INTOKSIKASI INSEKTISIDA FOSFAT ORGANIK (IFO) Pengertian umum : Pestisida adalah semua yang dipakai untuk membasmi hama. tidak sadar. Neutralizer. i. Kaji tanda vital kardiovaskuler dengan mengukur nadi. ketakutan berhubungan dengan efek delusi penggunaan obat Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan efek racun pada miokardium Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan menurunnya koordinasi otot akibat kerja racun Resiko tinggi terhadap tindak kekerasan pada diri sendiri dan orang lain Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perubahan pada aliran darah otak Perubahan proses berfikir berhubungan dengan depresi SSP Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem imun akibat mekanisme toksikasi Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan disfungsi sistem respiratori Rencana Tindakan Penatalaksanaan Umum Kegawatdaruratan Keracunan Prinsip Pertolongan pada Keracunan Prinsip pertolongan pada keracunan adalah mencegah penyebaran racun ke dalam tubuh yaitu dengan cara : a. usia. Stabilkaan fungsi (kardiovaskuler) dari pantau EKG g. antara lain terdiri dari : a. sianosis. Cathartic. berat pasien dan riwayat kesehatan yang tepat. dan syok. tekanan vena sentral. kapan waktu tertelan. Emetic. jumlah. Dapatkan kontrol jalan nafas. 16. yaitu mencuci atau menguras isi lambung (Gastric Lavage) dengan menggunakan kateter lambung melalui mulut memakai air hangat biasa atau larutan khusus untuk lambung c. dan suhu (internal dan perifer) c. hal berikut mungkin digunakan: y Sirup ipekak untuk merangsang muntah pada pasien sadar y Bilas lambung y Karbon diaktivasi diberikan jika racun adalah salah satu yang dapat diabsorbsi oleh karbon y Katartik. berikan antagonis kimia yaang spesifik atau antagonis fisiologik secepat mungkin untuk mengubah ataau menurunkan efek toksin. 13. d. 17. Hubungi pusat kontrol racun di area jika agens toksisk tidak diketahui aatau jika dibutuhkan mengidentifikasi anti dot untuk agens toksik yang diketahui 3. C. Masukkan kateter urinarius tidak menetap untuk memantau fungsi ginjal h. Gunakan prosedur pengosongan lambung sesuai ketentuan. Coba untuk menentukan zat yang merupakan racun. 14. 2. gejala. Kaji ventilasi adekuat dengan observasi usaha ventilasi melalui analisis gas darah atau spirometri. Berikan terapi spesifik. Mencerna atau menelan racun 1. Hilangkan ataau kurangi absorbsi racun. yaitu mengeluarkan racun yang tertelan dengan jalan dimuntahkan. Ansietas. Tekanan ekspresi positif diberikan pada jalan nafas. memberikan obat pencahar untuk mencegah absorpsi lanjut oleh usus dan mempercepat defikasi b. 18. b. Lakukan pemeriksaan fisik cepat. e. Berikan oksigen untuk depresi pernafasan. Siapkan untuk veentilasi mekanik jika terjadi depresi pernafasan. Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien diturunkan menggunakaan jalan nafas orofaring dan pengisap f. Masker kantong dapat membantu menjaga alveoli tetap mengembang.

Akibatnya akan terjadi penumpukan Akh ditempat-tempat tertentu.Konvulsi .Tremor lidah .Blokade jantung. kelainan visus dan kesukaran bernapas.Akhirnya meninggal 2.Anoriksia . penting untuk memastikan diagnosis keracunan akut maupun kronik (menurun sekian % dari harga normal) Keracunan akut : ringan 40 ± 70 % N 4 .Tremor kelopak mata . terutama pada otot-otot bergaris.Bradikardi c. c.Inkotinensia feses . Urinasi dan diare). Keracunan sedang . b. enzim KhE bekerja untuk menghidralisis Akh dengan jalan mengadakan ikatan Akh-KhE yang bersifat inaktif. bronkhus dan jantung. Pemeriksaan rutin tidak banyak menolong b. ikatan IFO-KhE menetap (Irreversible) Pada keracunan carbamate : bersifat sementara (reversible) Secara farmakologik efek Akh dapat dibagi dalam 3 bagian.Diare .Rasa lemah .Sianosos .Nausea .Reaksi cahaya (-) . yang akan menimbulkan efek muskarinik. pupil. Insektisida untuk dipakai dalam pertanian : Tolly (Malathion) Parathion Basudin Diazinon Phosdrin Systox 2. Dua macam insektisidayang paling banyak dipakai : 1. kelenjar ludah dan keringat. Insektisida fosfat organik (IFO =organo phosphate insectiside) Sifat-sifat IFO Insektisida penghambat kholin esterase (cholinesterase inhibitor insecticide) merupakan insektisida poten yang paling banyak digunakan dalam pertanian dengan toksisitas yang tinggi. Dapat menembus kulit yang normal. sehingga timbul gejala-gejala rangsangan Akh yang berlebihan.Fasikulasi otot . lidah. kelopak mata dan otot pernapasan.Inkonteinensia urine .Pupil ³pin-Point´ . Diagnosis 1. Lakrimasi. kejang-kejang sampai koma.Nyeri kepala . perubahan emosi.Sesak napas . menimbulkan rasa nyeri kepala. SSP.Muntah-muntah . tidak berakumulasi dalam jaringan tubuh seperti halnya golongan IHK. a.Koma . dapat diserap lewat paru dan saluran makanan. nikotinik dan SSP (menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP).Hipersalivasi . bola mata. yaitu : a.Pupil miosis b.Edema paru .c. Keracunan ringan . b.Hiperhidrosis . c. Nikotinik. Dalam keadaan normal. Pemeriksaan khusus : pengukuran kadar kHE dalam sel darahmerah dan plasma. Herbisida : Untuk membasmi tanaman pengganggu. Keracunan berat .Rasa takut . IFO bekerja dengan cara menghambat (inaktivasi) enzim asetil kholin esterase tubuh (KhE). Pemeriksaan laboratorium a. Insektisida hidrokarbon khorin (HK = Chlorida hydrocarbon) 2. Gambaran klinik Yang palig menonjol adalah hiperaktivitas kelenjar-kelenjar ludah/air mata/keringat/urine/saluran pencernaan makanan (disngkat dengan SLUD = Salivasi. Insektisida untuk keperluan rumah tangga Mafu (DDVP = Dichiorvos) Baygon (DDVP + Propoxur) Raid (DDVP + Propoxur) Startox (DDVP + Allethrin) Shelltox (DDVP + Pyrethroid) Pathogenesis a. Pada keracunan IFO.Kejang/keram perut. . Muskarinik terutama pada otot polos saluran pencernaan makanan. Jenis-jenis IFO 1.

pada anak 0. kontra indikasi pada keracunan carbamate. Dilanjutkan dengan 05 ±1 mg setiap 5 ± 10 menit sampai timbul gejala-gejala atropinisasi (muka merah. Yang terkenal 2 PAM (pyrydin ± 2 ± aldoxime methiodide /methcloride = Pralidoxime = Protopam). midriasis. peka rangsangan. d. hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas. e. Eliminasi racun kurang baik. Pada anak 0. d. sering hanya ditemukan adanya edema paru. maksimal 1 gr/hari. 3. Resusitasi a. Dosis 1 gr iv perlahan-lahan (10 ± 20 menit). c. d. rasa terbakar pada selaput mukosa mulut dan esofagus. Kardiovaskuler Disritmia. Neurologi IFO menyebabkan tingkat toksisitas SSP lebih tinggi.05 mg/kg. Bebaskan jalan napas b. Laboratorium . Resusitasi kurang baik dikerjakan. diulang setelah 6 ± 8 jam.Proteinuria 5 . mual dan muntah. GI Tract Iritasi mulut. Pengobatan 1. Pemberian SA dihentkan minimal 2 x 24 jam. stupor & koma. c.Distress pernapasan .02 ± 0. mulut kering. a. Antidotum Atropin sulfat (SA) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada pada tempat-tempat penumpukannya.Sedang 20 % N Berat < 20 % N Keracunan kronik : bila kadar KhE menurun sampai 25 ± 50 %. setiap individu yang berhubungan dengan insektisida ini harus segera disingkirkan dan baru diizinkan bekerja kembali bila kadar KhE telah meningkat > 75 % N. keramas rambut dan mandikan seluruh tubuh dengan sabun. Eliminasi Emesis. dapat dipakai sebagai petunjuk adanya keracunan atropin. Timbulnya gejala-gejala atropinisasi yang lengkap. beberapa kesalahan pengobatan sering terjadi. takhikardi. Pada anak-anak 25 ± 50 mg/kg BB iv. Mula-mula berikan bolus intra vena 1 ± 2. c. psikosis. b.5 mg. Dosis atropin kurang adekuat. atau terlalu cepat dihentikan. Penghentian SA yang mendadak dapat menimbulkan ³rebound efect´ berupa edema paru/kegagalan pernapasan akut. kalau perlu gunakan respirator pada kegagalan napas yang berat. Hindari obat-obatan penekan SSP 2. bila pengobatan belum terlambat. c. pusing. Okuler Luka bakar kurnea g. Napas buatan + O2. Selanjutnya setiap 2 ± 4 ± 6 dan 12 jam. febris. e. sering fatal. kumbah lambung. dilatasi kapiler dan hiperemi paru. Prognosis Pada umumnya baik.Sianosis . 3. Pemeriksaan PA Pada keracunan akut. Dermal Iritasi kulit f. Pengkajian Keperawatan a. Tanda-tanda vital . berupa : a. hanya diberikan bila pemberian atropin telah adekuat.05 mg/kg iv tiap 10 ± 30 menit. Hanya bermanfaat pada keracunan IFO.Takipnoe b. katarsis. otak dan organ-organ lain. Infus cairan kristaloid. Reaktivator KhE bekerja dengan memotong ikatan IFO-KhE sehinggatimbul reaktivitas ensim KhE. dapat diulang setelah 6 ± 8 jam.Eritrosit menurun . b. efek-efeknya termasuk letargi.

Lakukan lavage pada pasien yang memerlukan dekontaminasi tetapi terlalu sakit untuk diberikan ipekak 3. Monitor suhu kulit. Arang obat 4. Rasional : Pemasukan peroral bergantung kepada pengembalian fungsi gastrointestinal. Ht).Jalan napas bersih. proses inflamasi. Diagnosa .Tanda-tanda vital stabil . Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan. 6. 2. . Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul Diagnosa .2 : Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas IFO. Distilat petroleum dalam jumlah yang besar b. Hidrokarbon aromatik halogen. 2. Pantau studi laboratorium (Hb.Hipoplasi sumsum tulang Diagnostik . insektisida) c.Membran mukosa lembab . Sirkulasi Pencegahan Absorbsi 1. GDA. EKG.Hematuria .Analisa gas darah. peningkatan pernapasan mengindikasikan kekurangan cairan (dehindrasi/hipovolemia).Pengeluaran urine normal 1 ± 2 cc/kg BB/jam Intervensi : 1. 8. perdarahan Rasional : Mual. palpasi denyut perifer. Ipekak dianjurkan pada pasien dalam keadaan sadar dengan ingesti terhadap : a. Rasional : Sebagai indikator/volume sirkulasi dengan kehilanan cairan. Rasional : Cairan parenteral dibutuhkan untuk mendukung volume cairan /mencegah hipotensi. Kolaborasi dalam pemberian antiemetik Rasional : Antiemetik dapat menghilangkan mual/muntah yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pemasukan. Pernapasan 3. Intervensi secara umum Perawatan Suportif 1.Radiografi dada dasar/foto polos dada .1 : Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal Tujuan : Tidak terjadi kekurangan cairan Kriteria evaluasi : Keseimbangan cairan adekuat .h. Katartik Saline Pemantauan Jantung : pada pasien simptomatik Tekanan Ekspirasi : Akhir positif mungkin diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat. 7. Rasional : Dokumentasi yang akurat dapat membantu dalam mengidentifikasi pengeluran dan penggantian cairan. Rasional : Kulit dingain dan lembab. 5.RR normal : 14 ± 20 x/menit . 4. denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk pengantian cairan tambahan. Tujuan : Pola napas efektif Kriteria Evaluasi : . Catat adanya mual. Jalan nafas 2.Turgor kulit stabil . Pantau tanda-tanda vital Rasional : Hipotensi. takikardia. Distilat petroleum dengan adiktif toksik serius (logam berat. 3. muntah dan perdarahan yang berlebihan dapat mengacu pada hipordemia. sputum tidak ada 6 . muntah. Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur. Berikan cairan parinteral dengan kolaborasi dengan tim medis.

diagfragma bagian bawah untuk untuk menigkatkan inflasi paru. Diagnosa .Mampu menggunakan keterampilan koping dalam pemecahan masalah .Melakukanperubahan perilaku. 2. 7. Rasional : Memberi informasi tentang derajar menyangkal. Dorong untuk batuk/ nafas dalam Rasional : Memudahkan ekspansi paru & mobilisasi sekresi untuk mengurangi resiko atelektasis/pneumonia. Intervensi : 1. Rasional : Dengnan pemahaman dan dukungan dari keluarga /teman sebaya dapat membantu menngkatkan kesadaran. krisis situasi. Pantau tingkat. tidak terjadi kerusakan perilaku adaptif dalam pemecahan masalah.Mendukung terhadap program pengobatan & perawatan keluarga. 3. Intervensi : 1. sosial. Rasional : Menunjukkan penghargaan dan hormat 2.3 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi. Auskultasi suara napas Rasional : Pasien beresiko atelektasis dihubungkan dengan hipoventilasi & pneumonia. Diagnosa . Kaji riwayat keluarga. 2. Tujuan : Koping keluarga efektif. 4. 7 .Mampu melakukan hubungan /interaksi sosial. GDA Rasional : Memantau kemungkinan munculnya komplikasi sekunder seperti atelektasis/pneumonia. Tentukan pemahaman situasi saat ini & metode koping sebelumnya terhadap masalah kehidupan. 5. Kolaborasi untuk sinar X dada. 4. gali masing-masing peran anggota keluarga Rasional : Menentukan area untuk fokus. mengidentifikasi koping yang digunakan pada rencana perawatan saat ini 3. Kaji tingkat situasi/fungsi saat ini dari anggota keluarga. . Gunakan dukungan keluarga/teman sebaya untuk mendapatkan cara-cara koping. . Kriteria Evaluasi : . Kriteria Evaluasi : . Tetap tidak bersikap tidak menghakimi Rasional : Konfrontasi menyebabkan peningkatan agitasi yang menurunkan keamanan pasien. potensial perubahan. Tentukan pemahaman situasi saat ini dan metode sebelumnya dari koping dengan masalah kehidupan. Berikan informasi tentang efek meneguk insektisida Rasional : Agar klien mengetahui efek samping yang berakibat fatal pada organ-organ vital bila menelan insektisida (baygon) 8. Berikan O2 jika dibutuhkan Rasional : Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi pernapasan 6.Klien mampu mengungkapkan kesadaran tentang penyalahgunaan bahan insektisida. Pertahankan harapan pasti bahwa pasien ikut serta dalam terapi Rasional : Keikut sertaan dihubungkan dengan penerimaan kebutuhan terhadap bantuan. evaluasi kefektifan dari usaha pernapasan. Rasional : Memberikan dasar informasi sebagai dasar perencanaan saat ini 3. . 6. untuk bekerja. Bantu pasien untuk menggunakan keterampilan relaksasi Rasional : Relaksasi adalah pengembangan cara baru menghadapi stress. . Berikan umpan balik positif Rasional : Umpan balik yang positif perlu untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan kesadaran diri dalam perilaku 5.Mampu mengidentifikasi perilaku koping tidak efektif.Intervensi : 1. Pastikan dengan apa pasien ingin disebut/dipanggil.4 Koping keluarga tidak efektif (tidak mampu) berhubungan dengan kerentanan pribadi anggota keluarga. pengkajian yang berulang kali sangat penting karena kadar toksisitas mungkin berubah-ubah secara drastis. irama pernapasan & suara napas serta pola pernapasan Rasional : Efek IFO mendepresi SSP yang mungkin dapat mengakibatkan hilangnya kepatenan aliran udara atau depresi pernapasan. Tinggikan kepala tempat tidur Rasional : Menurunkan kemungkinan aspirasi.Mengungkapkan pengertian dinamika saling tergantung dan partisipasi dalam program individu dan keluarga. kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi. Tujuan : Koping individu efektif.

Rasional : Bermanfaat dalam membuat kebutuhan terapi untuk individu yang tergantung. Rasional : Banyak orang atau pasien yang tidak sadar tentang sifat bahan insektisida Dorong orang terdekat menyadari perasaan mereka sendiri dengan melihat situasi dengan perspektif dan objektivitas. individu ditolong dan tidak ingin merasa tidak tidak berdaya untuk menolong orang lain & megeluh perilaku yang sangat destruktif. 5. Berikan informasi faktual pada pasien dan keluarga tentang efek perilaku penalahgunaan zat pada keluarga dan apa yang diharapkan setelah pulang. 6. Bila meeka berubah pasien dapat menghadapi konsekuensi tindakan pasien sendiri dan dapat memilih untuk mendapatkan yang baik.4. Tentukan luasnya perilaku mampu yang dibuktikan oleh anggota keluarga gali dengan individu dan pasien. Rasional : Mampu adalah melakukan untuk pasien apa yang perlu untuk dirinya sendiri. 7. Rasional : Bila anggota keluarga yang tergantung manjadi sadar tentang tindakan mereka sendiri yang secara terusmenerus ada masalah. Rasional : Mempengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi situasi. Kaji perasaan yang menimbulkan konflik individu. mereka perlu untuk memutuskan untuk mengubah diri mereka. 8 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful