P. 1
Pembahasan Kisi-Kisi Soal UAS Agama 2011, SMA

Pembahasan Kisi-Kisi Soal UAS Agama 2011, SMA

|Views: 6,712|Likes:
Published by es-em-ah
pembahasan kisi-kisi UASBN SMA tahun 2011, Yah, semoga keluar deh yang udah dibahas di sini :)
pembahasan kisi-kisi UASBN SMA tahun 2011, Yah, semoga keluar deh yang udah dibahas di sini :)

More info:

Published by: es-em-ah on Feb 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2015

pdf

text

original

Sections

Manusia Sebagai Khalifah

1. Surat Al Baqarah : 30

Artinya: ³Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ³Sesungguhnya Aku

hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.´ Mereka berkata: ³Mengapa

Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan

padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji

Engkau dan mensucikan Engkau?´ Tuhan berfirman: ³Sesungguhnya Aku mengetahui

apa yang tidak kamu ketahui.´.´ (QS Al Baqarah : 30)

a. Kandungan ayat

Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi

kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia

diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti

tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya,

perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang

ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu

semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-

benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman

kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

Kesimpulan kandungan Surat Al Baqarah : 30, diantaranya:

1. Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah

(wakil Allah) di bumi

1. Allah memilih manusia menjadi khalifah di muka bumi

2. malaikat menyangsikan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai

manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia suka membuat kerusakan dan

menumpahkan darah

3. Malaikat beranggapan bahwa yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah

dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah

4. Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat

2. Surat Al Mukminun : 12-14

Bacalah Surat Al Mukminun ayat 12-14 berikut dengan fasih dan benar! Teks

lihat ³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya: ³12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati

(berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang

disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami

jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal

daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang

belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia

makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling

Baik.´ (QS Al Mukminun : 12-14)

a. Kandungan ayat

Dalam surat Al Mukminun ayat 12-14 Allah SWT menerangkan tentang proses

penciptaan manusia. Sebelum para ahli dalam bidang kedokteran modern mengetahui

proses asal usul kejadian penciptaan manusia dalam rahim ibunya, Allah SWT sudah

terlebih dahulu mejelaskan perihal kejadian tersebut dalam Al Qur¶an seperti dalam

surat Al Mukminun ayat 12-14, dan diperkuat oleh ayat lainnya diantaranya Surat Al

Hasyr ayat 24 yang berbunyi: Teks lihat ³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya : Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa,

yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan

bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Al Hasyr : 24)

Pada surat Al Mukminun ayat 12 -14 Allah SWT menjelaskan bahwa proses

penciptaan manusia dalam rahim ibunya terbagi menjadi 3 fase yaitu:

1. Fase air mani

2. Fase segumpal darah

3. Fase segumpal daging

Yang masing-masing fasenya memakan waktu 40 hari, hal ini dijelaskan dalam sebuah

hadits yang di riwayatkan oleh bukhari:

Artinya :

Dari Abdullah bin Mas¶ud ra.,ia berkata : Rasululla saw bercerita kepada

kami, beliaulah yang benar dan dibenarkan : ³Sesungguhnva penciptaan

perseoranganmu terkumpul dalam perut ibunva empat puluh hari dan empat

puluh malam atau empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal darah,

semisal itu (40 hari = pen) kemudian menjadi segumpal daging, semisal itu

(40 hari = pen), kemudian Allah mengutus Malaikat, kemudian

dipermaklumkan dengan empat kata, kemudian malaikat mencari rizkinya,

ajalnya (batas hidupnya), amalnya serta celaka dan bahagianya kemudian

Malaikat meniupkan ruh padanya. Sesungguhnya salah seorang di

antaramu niscaya beramal dengan amal ahli (penghuni) sorga, sehingga

jarak antara sorga dengan dia hanya satu hasta, namun catatan

mendahuluinya, maka ia beramal dengan penghuni neraka, maka ia masuk

neraka. Dan sesungguhnya salah seorang diantaramu, beramal dengan

amal ahli neraka, sehingga jarak antara neraka dengan dia hanya satu

hasta, namun catatan mendahuinya, maka ia beramal dengan amal

penghuni sorga, maka ia masuk sorga.(Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Sedangkan dalam surat Al Hasyr Allah menjelaskan bahwa janin sebelum menjadi

manusia sempurna juga mengalami tiga fase, yaitu:

1. Taswir, yaitu digambarkan dengan bentuk garis-garis, waktunya setelah 42 hari

2. Al Khalq, yaitu dibuat bagian-bagian tubuhnya

3. Al Baru¶, yaitu penyempurnaan terhadap bentuk janin

Kesimpulan kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14 ini antara lain:

1. Menjelaskan tentang proses kejadian manusia

2. Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia

3. Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT

4. Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak

sombong kepada Allah dan sesama manusia

3. Surat Adz Dzariyat ayat 56

Bacalah surat Az Zariyat berikut ini dengan fasih dan benar! Teks lihat ³google

Al-Qur¶an onlines´

Artinya: ³Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah

kepadaku.´ (QS Adz Zariyat : 56)

a. Kandungan ayat

Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah,

termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan

diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi

manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya

fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini

adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua

alam semesta ini.

Seperti diutarakan pada surat Al Mukminun ayat 12-14 bahwa Allah SWT yang

menciptakan manusia dari saripati tanah yang terkandung dalam tetesan air yang hina,

yaitu air mani, oleh karenanya merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk

menyembah penciptanya, yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia

diantara makhluk lainnya.

4. Surat Al Hajj ayat 5

Bacalah surat Al Hajj ayat 5 berikut ini dengan fasih, tartil, dan benar! Teks lihat

³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya: ³Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),

maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,

kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari

segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar

Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami

kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan

kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah

kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di

antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak

mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu

lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,

hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-

tumbuhan yang indah. ³ (QS Al Hajj : 5)

B. PROSES KEJADIAN MANUSIA

Manusia dalam pandangan Islam tediri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani.

Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah.

Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya dia

alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah

dijelaskan dalam Al Qur¶anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW.

Tentang proses kejadian manusia, Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur¶an

surat Al Mukminun ayat 12 ± 14 Teks lihat ³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya: ³Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati

(berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang

disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami

jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal

daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang

belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk

yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.´ (QS

Al Mukminun : 12-14).

Tentang proses kejadian manusia ini juga dapat dilihat dalam pada QS As

Sajadah ayat 7 ± 9 yang berbunyi: Teks lihat ³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang

memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan

keturunannya dari saripati air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan

dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi

kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali

bersyukur. (QS As Sajadah : 7 ± 9)

Dalam hadits Rasulullah SAW tentang kejadian manusia, beliau bersabda yang

artinya: ³Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya 40

hari sebagai nutfah, kemudain sebagai alaqah seperti itu pula (40 hari), lalu sebagai

mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan

ruh kedalam tubuhnya.´ (Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari r.a dan muslim)

Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum

mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan (4X30 hari).

Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu

sendiri sudah ada semenjak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri

mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yang disebut dengan akal yang berpusat diotak,

serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan

substansi dai roh manusia.

C. PERANAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua

peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat.

Pertama, memakmurkan bumi (al µimarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya

perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri¶ayah).

1. Memakmurkan Bumi

Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia

harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia.

Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan

tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat

melanjutkan eksplorasi itu.

2. Memelihara Bumi

Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak

manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan

jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena

sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena

itu, hal semacam itu perlu dihindari.

Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia

mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa

(pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan

kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama

(Islam).

Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara

bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang

membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan

cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi ± nabi

sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat

kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang

Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang berbunyi : Teks lihat

³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: ³Sesungguhnya

kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan

menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar³. (QS Al Isra : 4)

Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan

fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap

Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai

orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat

77 yang berbunyi: Teks lihat ³google Al-Qur¶an onlines´

Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)

negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi

dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,

kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya

Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)

D. TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK

Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata

menyembah sebagai terjemahan dari lafal µabida-ya¶budu-µibadatun. Beribadah berarti

menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk

mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.

1. Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata

caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur¶an maupun

hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat,

puasa, zakat, haji dan sebagainya.

2. Ibadah µammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang

diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan

dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT

Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT,

karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah k=jiwa yang berbahagia,

mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin.

Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam

kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT

yang artinya: ³Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang

puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah

ke dalam surgaku.´ (QS Al Fajr : 27-30)

Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada

Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam

telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah.

Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus

disesuaikan dengan ajaran Islam.

Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di

muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki

oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain

Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik

dalam keadaan suka maupun duka.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh

kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan

dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul

berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan

keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga,

waktu, bahkan jiwa.

2. AL BAQARAH (Sapi betina)

wa-idz qaala rabbuka lilmalaa-ikati innii jaa'ilun fii al-ardhi khaliifatan qaaluu ataj'alu fiihaa man

yufsidu fiihaa wayasfiku alddimaa-a wanahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka qaala innii

a'lamu maalaa ta'lamuuna

[2:30] Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak

menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak

menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan

menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan

Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

23. AL MU'MINUUN (ORANG-ORANG YANG BERIMAN)

tsumma khalaqnaa alnnuthfata 'alaqatan fakhalaqnaa al'alaqata mudhghatan

fakhalaqnaaalmudhghata 'izhaaman fakasawnaa al'izhaama lahman tsumma ansya/naahu

khalqan aakhara fatabaaraka allaahu ahsanu alkhaaliqiina

[23:14] Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami

jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang

belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)

lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

3. ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN)

[ Daftar Surat ]

fabimaa rahmatin mina allaahi linta lahum walaw kunta fazhzhan ghaliizha alqalbi lainfadhdhuu

minhawlika fau'fu 'anhum waistaghfir lahum wasyaawirhum fii al-amri fa-idzaa 'azamta fatawakkal

'alaaallaahi inna allaaha yuhibbu almutawakkiliina

[3:159] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari

sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan

bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu246

. Kemudian apabila kamu telah

membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-

orang yang bertawakkal kepada-Nya.

42. ASY SYUURA (MUSYAWARAT)

[ Daftar Surat ]

waalladziina istajaabuu lirabbihim wa-aqaamuu alshshalaata wa-amruhum syuuraa baynahum

wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna

[42:38] Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan

shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

10. YUNUS

[ Daftar Surat ]

quli unzhuruu maatsaa fii alssamaawaati waal-ardhi wamaa tughnii al-aayaatu waalnnudzuru 'an

qawmin laa yu/minuuna

[10:101] Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa'at

tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak

beriman".

51. ADZ DZAARIYAAT (ANGIN YANG MENERBANGKAN)

[ Daftar Surat ]

wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya'buduuni

[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi

kepada-Ku.

16. AN NAHL (LEBAH)

[ Daftar Surat ]

waallaahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum laa ta'lamuuna syay-an waja'ala

lakumu alssam'a waal-abshaara waal-af-idata la'allakum tasykuruuna

[16:78] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui

sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Asmaul Husna

Di dalam kitab suci Al-Qur'an Allah SWT disebut juga dengan nama-

nama sebutan yang berjumlah 99 nama yang masing-masing

memiliki arti definisi / pengertian yang bersifat baik, agung dan

bagus. Secara ringkas dan sederhana Asmaul Husna adalah

sembilanpuluhsembilan nama baik Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :

"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya

dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang

yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-

namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang

telah mereka kerjakan".

Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :

1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah

2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi

3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja

Teragung

4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci

5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera

6. Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan

Keamanan

7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta

Pengawas

8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa

9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan

Segalanya

10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala

kebesaranNya

11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta

12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan

13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk

14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun

15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa

16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah

17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki

18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka

19. Al-'Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui

20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang

21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat

22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah /

Pengurang

23. Ar-Rafi' (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi

24. Al-Mu'izz (Al Mu'izz) Artinya Yang Maha Menghormati /

Memuliakan

25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina

26. As-Sami' (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar

27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat

28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili

29. Al-'Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil

30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus

31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui

32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar

33. Al-'Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung

34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun

35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur

36. Al-'Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar

38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara

39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga

40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung

41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia

42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah

43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada

44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul

45. Al-Wasi' (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas

46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana

47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang

48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

49. Al-Ba'ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula

50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan

51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar

52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir

53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat

54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh

55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi

56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji

57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung

58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal

59. Al-Mu'id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan

Memulihkan

60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan

61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan

62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup

63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri

64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu

65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia

66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa

67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal

68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan

69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya

70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa

71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera

72. Al-Mu'akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh

73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama

74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir

75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir

76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin

77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah

78. Al-Muta'ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan

80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat

81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang

Bersalah

82. Al-'Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun

83. Ar-Ra'uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang

84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang

Kekal

85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang

Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan

86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama

87. Al-Jami' (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul

88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap

89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan

Memakmurkan

90. Al-Mani' (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah

91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat

92. Al-Nafi' (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat

93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya

94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk

95. Al-Badi' (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada

BandinganNya

96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal

97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi

98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada

Kebenaran

99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

Iman Kepada Malaikat

Rukun akidah yang kedua setelah iman kepada Allah, adalah iman kepada adanya

malaikat. Iman kepada malaikat lebih didahulukan daripada iman kepada nabi dan

rasul, hal ini dikaitkan dengan salah satu fungsi utama malaikat, yaitu sebagai

penyampai wahyu Allah kepada nabi-Nya.

Salah satu dalil untuk mengetahui keberadaan malaikat adalah melalui berita yang

mutawatir (akurat), dan satu-satunya berita yang paling akurat adalah berita yang

dibawa Nabi Muhammad SAW, yaitu Al Qur¶an. Dalam Al Qur¶an masalah malaikat

disebutkan lebih dari 75 kali, tersebar dalam 33 surat .

Iman kepada malaikat merupakan bagian dari akidah. Apabila hal itu hilang, gugurlah

keIslaman seseorang.

"« Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,

Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat

sejauh-jauhnya." (An Nisaa¶ : 136)

Untuk mengenal malaikat, maka kita perlu mengenal sifat-sifatnya, yang dapat kita

ketahui melalui Al Qur¶an. Sifat-sifat malaikat tersebut antara lain :

1. Malaikat diciptakan dari cahaya.

"Para malaikat diciptakan Allah dari cahaya, dan diciptakan-Nya jin dari api,

sedangkan Adam diciptakan dari apa yang dijelaskan pada kalian." (HR. Muslim

dari Aisyah r.a.)

Karena malaikat diciptakan dari cahaya, maka mereka tentu mewarisi sifat

cahaya, sebagaimana manusia mewarisi sifat tanah. Para malaikat tidak bisa kita

lihat, dan mampu bergerak secepat cahaya.

2. Malaikat mempunyai kemampuan yang luar biasa dengan ijin-Nya.

Diantara kemampuan malaikat, mereka bisa berubah wujud, bahkan mampu

mengangkat singgasana (µarsy) Allah.

"«Dan, pada hari itu delapan malaikat menjunjung µArsy Tuhanmu di atas

(kepala) mereka." (Al Haqqah : 16)

3. Para malaikat diciptakan sebelum penciptaan manusia.

Hal ini nampak dengan jelas tersirat pada surat Al Baqarah 30;

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: µSesungguhnya

Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi¶. Mereka berkata:

µMengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang

akan membuat kerusakan padanya dan menumpankan darah, padahal kami

senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?¶

Tuhan berfirman: µSesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu

ketahui."

4. Malaikat selalu patuh dan taat kepada Allah.

Mereka senantiasa bertaqarrub kepada Allah dan sangat takut kepada-Nya.

"Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah

merasa enggan menyembah Allah daan mereka mentasbihkan-Nya dan

hanya kepada-Nyalah mereka bersujud." [Al A¶raf : 206]

5. Malaikat dijadikan Allah sebagai penyampai wahyu kepada siapa yang

dikehendaki-Nya.

"Dia menurunkan para malaikat dengan membawa wahyu dengan

perintahNya, kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya;

µPeringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidaak ada Tuhan yang hak

melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku¶."(An Nahl : 2)

6. Diantara para malakiat ada yang bertugas menyertai manusia.

Salah satu tugas malaikat tersebut adalah mencatat perbuatan orang-orang

mukallaf, tanpa lalai sedikit pun.

"(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang

duduk di sebelah kanan dan yang lainnya duduk di sebelah kiri. Tiada

suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat

pengawas yang selalu hadir." [QS. Qaaf: 17-18]

Selain itu ada pula malaikat yang menjaga kita dari bencana atau dampak

negatif.

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran,

di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah«"[Ar-

Ra¶d : 11]

7. Jumlah malaikat sangatlah banyak, tiada yang mengetahui kecuali Dia.

" «Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri «"

[Al Muddatstsir : 31]

Bahkan dalam sebuah hadits shahih, dikisahkan Rasulullah bersabda : "Bisinglajh

(suasana) di langit, dan memang sudah semestinya demikian, Tidaklah ada tempat

pijakan telapak kaki kecuali terdapat padanya malaikat bersujud atau beruku¶." (HR,

Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ath Thabari, dsb.)

Setelah mengetahui sifat-sifat malaikat melalui berita yang sangat akurat tersebut (Al

Qur¶an dan Hadits), maka sebagai mukallaf, di pundak kita terdapat beban,

konsekuensi dari pengimanan kita tersebut.

Melalui kebijaksanaan-Nya, Allah mengutus Rasul dari kalangan malaikat untuk

menyampaikan wahyu kepada nabi, rasul dan orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Hikmah tersebut antara lain bahwa tidak setiap orang (terutama yang bukan dari

golongan nabi dan rasul) mempunyai kekuatan untuk berhadapan langsung dengan

Allah. Untuk bertatap muka dengan Allah, diperlukan kekuatan fisik dan mental yang

sangat besar. Tidak semua rasul pernah bertemu dengan-Nya. Bahkan dalam sebuah

kisah dikatakan, sebuah gunung hancur menjadi debu ketika Allah menampakkan

wujud-Nya. Jadi sebagai hamba yang harus mengikuti perintah Allah, suatu kewajiban

bagi kita untuk selalu bersyukur atas kebijaksanaan-Nya dalam penyampaian wahyu.

Hikmah lainnya adalah, kita sebagai khalifah sekaligus abdullah harus introspeksi,

seberapa besar ketaatan dan kapatuhan kta kepad Allah, jika dibandingkan malaikat.

Memang kita ketahui bahwa ketaatan malaikat sangatlah tinggi. Tapi ketaatan malaikat

bersifat tetap, sedangkan ketakwaan dan keimanan manusia adalah dinamis. Mungkin

suatu waktu kepatuhan kita rendah, tapi di lain waktu menjadi sangat tinggi, bahkan

lebih tinggi daripada para malaikat. Hal inilah yang harus kits capai. Memang bukan hal

yang mudah, tapi bukan sesuatu yang µimpossible¶.

Salah satu caranya adalah kita harus sadar bahwa amal kita selalu diawasi Allah, baik

secara langsung maupun melalui malaikat-Nya. Tidak ada sepermikrodetik pun yang

lepas dari pengawasannya.

"«Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha

Mendengar dan Maha Melihat." [Asy Syuura : 11]

Oleh karena itu, kita harus mulai mengurangi perbuatan-perbuatan ynag tidak sesuai

dengan perintah-Nya dan memperbanyak amsl baik kita, dengan selalu diniatkan untuk

mengharap ridha-Nya.

Selain tiga hal tersebut, telah kita ketahui bahwa ada malaikat yang selalu menjaga kita

dalam kebaikan. Untuk itu, kita harus mulai menghilangkan rasa takut di hati kita,

terutama dalam mendakwahkan kalimat-kalimat Allah. Sebagai generasi muda,

kewajiban kitalah untuk menolng agama Allah.

"Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan

menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." [Muhammad : 7]

Menolong agama Allah berati mendakwahkan Islam. Tidak hanya kepada yang belum

tahu, tapi juga yang sudah tahu. Amar ma¶ruf nahi munkar adalah kewajiban setiap

muslim. Sebagai penutup, saya sampaikan ayat yang menjadi pedoman sekaligus

tujuan bagi kita semua.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh

kepada yang ma¶ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..."

[Ali Imran : 110]

Iman Kepada Rasul

Saudariku! Jangan Pandang Sebelah Mata Pembahasan Ini

Mungkin ada diantara kita yang merasa cukup dengan apa yang telah dipelajari selama

ini dari bangku SD hingga bangku SMA (bahkan bangku perkuliahan) atau merasa tidak

ada yang perlu dibahas lagi, sudah tahu bahwa Nabi itu ada 25, sifat nabi yang wajib

ada 4, shidiq, fatonah, amanah, dan tabligh. Jika demikian pemahamanmu wahai

saudariku, maka kebutuhanmu semakin besar dalam membaca tulisan kali ini, sehingga

dengan izin Allah, engkau akan menyadari makna dan konsekuensi yang benar dari

pernyataan keimananmu kepada Nabi dan Rasul-Nya µalaihimush shalatu wassalam.

Definisi Nabi dan Rasul

Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka

adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu

beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari

kata irsalyang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar¶i yang

masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan

untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam

syari¶at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya (*). Sebagian ulama menyatakan

bahwa definisi ini memiliki kelemahan, karena tidaklah wahyu disampaikan Allah ke

bumi kecuali untuk disampaikan, dan jika Nabi tidak menyampaikan maka termasuk

menyembunyikan wahyu Allah. Kelemahan lain dari definisi ini ditunjukkan dalam hadits

dari Nabi shallallahu µalaihi wa sallam,

(*) Syaikh Ibn Abdul Wahhab menggunakan definisi ini

dalam Ushulutsalatsah dan Kasyfu Syubhat, begitu pula Syaikh Muhammad ibn Sholeh

Al Utsaimin.

³Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dengan sekelompok

orang banyak, dan nabi bersama satu dua orang dan nabi tidak bersama seorang

pun.´ (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga menyampaikan wahyu kepada umatnya.

Ulama lain menyatakan bahwa ketika Nabi tidak diperintahkan untuk menyampaikan

wahyu bukan berarti Nabi tidak boleh menyampaikan wahyu. Wallahu¶alam. Perbedaan

yang lebih jelas antara Nabi dan Rasul adalah seorang Rasul mendapatkan syari¶at

baru sedangkan Nabi diutus untuk mempertahankan syari¶at yang sebelumnya.

Bagaimana Beriman Kepada Nabi dan Rasul ?

Ketahuilah saudariku! Beriman kepada Nabi dan Rasul termasuk ushul (pokok) iman.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul

dengan pemahaman yang benar. Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin

menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul

terkandung empat unsur di dalamnya (*).

(*) Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan

bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rosul-Nya.

1. Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang

mengingkari ± walaupun satu Rasul ± sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah

ta¶ala berfirman yang artinya, ³Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.´ (QS. Asy-

Syu¶araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi

Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.

2. Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara

global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. ± akan datang penjelasannya

-

3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul.

4. Mengamalkan syari¶at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi

adalah Nabi Muhammad shallallahu µalaihi wa sallam yang beliau diutus untuk

seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu

µalaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam

Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, ³Maka demi Tuhanmu, mereka tidak

beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka

perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan

terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan

sepenuhnya.´ (QS. An-NisaA¶ 4:65)

Jumlah Nabi dan Rasul

Ketahuilah saudariku, jumlah Nabi tidaklah terbatas hanya 25 orang dan jumlah Rasul

juga tidak terbatas 5 yang kita kenal dengan nama Ulul µAzmi. Hal ini berdasarkan

hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, ³Ya Rasulullah, berapa

jumlah rasul?´, Nabi shallallahu¶alaihiwasallam menjawab, ³Tiga ratus belasan

orang.´ (HR. Ahmad dishahihkan Syaikh Albani). Dalam riwayat Abu Umamah, Abu

Dzar bertanya, ³Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi?´,

Nabi shallallahu¶alaihiwasallam menjawab,³124.000 dan Rasul itu 315 orang.´ Namun

terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan

Rasul tidak dapat kita ketahui. Wallahu¶alam.

Oleh karena itulah, walaupun dalam Al-Qur¶an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap

mengimani secara global adanya Nabi dan Rasul yang tidak dikisahkan dalam Al-

Qur¶an. Allah ta¶ala berfirman yang artinya, ³Dan sesungguhnya telah Kami utus

beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan

kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.´ (QS. Al-

Mu¶min 40:78). Selain 25 nabi yang telah disebutkan dalam Al-Qur¶an, terdapat 2 nabi

yang disebutkan Nabishalallahu¶alaihiwasalam, yaitu Syts dan Yuusya¶.

Berkenaan dengan tiga nama yang disebut dalam Al-Qur¶an yaitu Zulkarnain, Tuba¶ dan

Khidir terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama apakah mereka Nabi

atau bukan. Akan tetapi, untuk Zulkarnain dan Tuba¶ maka yang terbaik adalah

mengikuti Rasulullah shalallahu¶alaihiwasalam,

Beliau shalallahu¶alaihiwasalam bersabda, ³Aku tidak mengetahui Tubba nabi atau

bukan dan aku tidak tahu Zulkarnain nabi atau bukan.´ (HR. Hakim dishohihkan Syaikh

Albani dalam Shohih Jami As Soghir). Maka kita katakanwallahu¶alam. Untuk Khidir,

maka dari ayat-ayat yang ada dalam surat Al-Kahfi, maka seandainya ia bukan Nabi,

maka tentu ia tidak ma¶shum dari berbagai perbuatan yang dilakukan dan Nabi

Musa µalaihissalam tidak akan mau mencari ilmu pada Khidir.Wallahu¶alam.

Tugas Para Rasul µalaihissalam

Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari¶at dari tiap

Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama.

Beberapa diantara tugas tersebut adalah:

1. Menyampaikan risalah Allah ta¶ala dan wahyu-Nya.

2. Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta¶ala.

3. Memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dari segala kejelekan.

4. Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.

5. Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.

6. Menegakkan hujjah atas manusia.

7. Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.

Kesalahan-Kesalahan Dalam Keimanan Kepada Nabi dan Rosul

Terdapat berbagai pemahaman yang salah dalam hal keimanan pada Nabi dan Rasul-

Nyaµalaihisholatu wassalam. Beberapa di antara kesalahan itu adalah:

1. Memberikan sifat rububiyah atau uluhiyah pada nabi. Ini adalah suatu kesalahan

yang banyak dilakukan manusia. Mereka meminta pertolongan pada

Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam ketika telah wafat, menyebut Nabi shallallahu

µalaihi wa sallamcahaya di atas cahaya (sebagaimana kita dapat temui dalam

sholawat nariyah) dan sebagainya yang itu merupakan hak milik Allah ta¶ala semata.

Nabi adalah manusia seperti kita. Mereka juga merupakan makhluk yang diciptakan

Allah ta¶ala. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan dari manusia biasa lainnya,

namun mereka tidak berhak disembah ataupun diagungkan seperti pengagungan

pada Allah ta¶ala. Mereka dapat dimintai pertolongan dan berkah ketika masih hidup

namun tidak ketika telah wafat.

2. Menyatakan sifat wajib bagi Nabi ada 4, yaitu shidiq, amanah, fatonah dan tabligh.

Jika maksud pensifatan ini untuk melebihkan Nabi di atas manusia lainnya, maka

sebaliknya ini merendahkan Nabi karena memungkinkan Nabi memiliki sifat lain yang

buruk. Yang benar adalah Nabi memiliki semua sifat yang mulia. Allah subhanahu

wa ta¶ala berfirman, ³Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang

agung.´(QS. Al-Qolam 68:4) Mustahil bagi orang yang akan memperbaiki akhlak

manusia tapi memiliki akhlak-akhlak yang buruk dan yang lebih penting lagi,

pensifatan ini tidak ada dasarnya dari Al-Qur¶an dan As-Sunnah.

3. Mengatakan bahwa ada nabi perempuan.

Kekhususan Bagi Nabi

1. Mendapatkan wahyu.

2. Ma¶shum (terbebas dari kesalahan).

3. Ada pilihan ketika akan meninggal.

4. Nabi dikubur ditempat mereka meninggal.

5. Jasadnya tidak dimakan bumi.

Kebutuhan manusia pada para Nabi dan Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul

Islam Ibn Taimiyah mengatakan, ³Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan

oleh hamba. Dan hajatnya mereka pada risalah ini di atas hajat mereka atas segala

sesuatu. Risalah adalah ruhnya alam dunia ini, cahaya dan kehidupan. Lalu bagaimana

mau baik alam semesta ini jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya dan tidak ada

cahayanya.´

Demikianlah saudariku. Kita mengetahui kebutuhan hamba akan risalah yang

disampaikan oleh Rasul-Nya sangatlah besar. Karena tidaklah seorang hamba dapat

melaksanakan ibadah yang dicintai dan diridhoi oleh Allah ta¶ala kecuali dengan

pengajaran Rasulullahshallallahu µalaihi wa sallam. Dan dengan diutusnya para Rasul

ini, kita mengetahui bahwa Allah menyayangi dan memberi pertolongan pada

hambanya. Oleh karena itulah kita wajib bersyukur dengan nikmat yang besar

ini. Wallahu µalam.

IMAN KEPADA KITAB ALLAH

Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah adalah mempercayai dan meyakini sepenuh

hati bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitabnya kepada para nabi atau rasul

yang berisi wahyu Allah untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Dalam Al

Qur¶an disebutkan bahwa ada 4 kitab Allah. Taurat diturunkan kepada nabi Musa a.s,

Zabur kepada nabi Daud a.s, Injil kepada nabi Isa a.s, dan Al Qur¶an kepada nabi

Muhammad SAW. Al Qur¶an sebagai kitab suci terakhir memiliki keistimewaan yakni

senantiasa terjaga keasliannya dari perubahan atau pemalsuan sebagaimana firman

Allah berikut. Artinya : ³ Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur¶an dan

Sesungguhnya Kami yang memeliharanya.´ (Al Hijr : 9) lihat al-Qur¶an online di Goole,

A. Pengertian Kitab dan Suhuf

Kitab yaitu kumpulan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk

diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Suhuf yaitu wahyu

Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi masih berupa lembaran-lembaran yang

terpisah.

Ada persamaan dan perbedaan antara kitab dan suhuf

Persamaan

Kitab dan suhuf sama-sama wahyu dari Allah.

Perbedaan

1. Isi kitab lebih lengkap daripada isi suhuf

2. Kitab dibukukan sedangkan suhuf tidak dibukukan.

Allah menyatakan bahwa orang mukmin harus meyakini adanya kitab-kitab suci

yang turun sebelum Al Qur¶an seperti disebutkan dalam firman Allah berikut ini.

Artinya : ³Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-

Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang

Allah turunkan sebelumnya´. (QS An Nisa : 136) lihat al-Qur¶an online di Goole,

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf yang berupa

lembaran-lembaran yang telah diturunkan kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s

dan nabi Musa a.s. Firman Allah SWT .

Artinya : ³ (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa´

(Al A¶la : 19) lihat al-Qur¶an online di Goole,

Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT

dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan

dalam firman Allah SWT berikut.

Artinya : ³Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa

yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail,

Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan

Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak

membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh

kepada-Nya.´ (QS Al Baqarah : 136) lihat al-Qur¶an online di Goole

,

B. Prilaku yang mencerminkan Keimanan Kepada Kitab Allah

1. Meyakini bahwa Kitab Allah itu benar datang dari Allah.

2. Menjadikan kitab Allah sebagai Pedoman (hudan) khusus kitab yang

diturunkan

kepada kita

3. Memahami isi kandungannya.

4. Mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari

Umat manusia, khususnya umat muslim harus meyakini bahwa Allah SWT telah

menurunkan kitab-kitab Nya kepada para nabi atau Rasul sebagai pedoman hidup bagi

umatnya masing-masing. Al Qur¶an sebagai kitab Allah yang terakhir dan penyempurna

sebelumnya telah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

Upaya memahami isi kandungan Al Qur¶an, ada beberapa tahapan yang perlu

kita jalani antara lain sebagai berikut.

1. Tahap pertama, kita harus mengetahui dan memahami filosofi Islam sebagai

agama yang mendapat ridha Allah SWT.

2. Tahap kedua, kita harus mengetahui tata krama membaca Al Qur¶an.

3. Tahap ketiga, kita harus mengetahui bahwa di dalam Al Qur¶an itu banyak sekali

surah atau ayat yang mengandung perumpamaan atau berupa perumpamaan.

4. Tahap keempat, kita harus mempergunakan akal ketika mempelajari dan

memahami Al Qur¶an.

5. Tahap kelima, kita harus mengetahui bahwa didalam Al Qur¶an banyak sekali

surah atau ayat yang mengandung hikmah atau tidak bisa langsung diartikan,

akan tetapi memiliki arti tersirat.

6. Tahap keenam, kita harus mengetahui bahwa Al Qur¶an tidak diturunkan untuk

menyusahkan manusia dan harus mendahulukan surah atau ayat yang lebih

mudah dan tegas maksudnya untuk segera dilaksanakan.

7. Tahap ketujuh, kita harus mengetahui bahwa ayat-ayat didalam Al Qur¶an terbagi

dua macam (QS Ali Imran : 7) yaitu pertama, ayat-ayat muhkamat yakni ayat-

ayat yang tegas, jelas maksudnya dan mudah dimengerti. Ayat-ayat muhkamat

adalah pokok-pokok isi Al Qur¶an yang harus dilaksanakan oleh manusia dan

dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupannya. Kedua, ayat-ayat yang

mutasyabihat adalah ayat-ayat yang sulit dimengerti dan hanya Allah yang

mengetahui makna dan maksudnya.

8. Tahap kedelapan, kita harus menjalankan isi kandungan Al Qur¶an sesuai

dengan keadaan dan kesanggupannya masing-masing (QS 12 : 22, 4 : 36, 65 :

7, 2 : 215, 3 : 92, 2 : 269).

B. Hikmah Iman Kepada Kita Allah

Ada hikmah yang bisa direnungi mengapa Allah menurunkan Al Qur¶an kepada

umat manusia yang diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Menjadikan manusia tidak kesulitan, atau agar kehidupan manusia menjadi

aman, tenteram, damai, sejahtera, selamat dunia dan akhirat serta mendapat

ridha Allah dalam menjalani kehidupan. (keterangan selanjutnya lihat QS Thaha :

Artinya: Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

1. Untuk mencegah dan mengatasi perselisihan diantara sesama manusia yang

disebabkan perselisihan pendapat dan merasa bangga terhadap apa yang

dimilkinya masing-masing, meskipun berbeda pendapat tetap diperbolehkan

(keterangan selanjutnya lihat QS Yunus : 19.

Artinya: Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.

Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu,

pastilah telah diberi keputusan di antara mereka]

, tentang apa yang mereka

perselisihkan itu. lihat al-Qur¶an online di Goole,

1. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa

(keterangan selanjutnya lihat QS Ali Imran : 138,

Artinya: (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk

serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. lihat al-Qur¶an online di

Goole,

1. Untuk membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya (keterangan selanjutnya lihat

QS Al Maidah : 48,

Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa

kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang

diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;

maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan

janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan

kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara

kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah

menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah

hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka

berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali

kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu

perselisihkan itu, lihat al-Qur¶an online di Goole,

1. Untuk menginformasikan kepada setiap umat bahwa nabi dan rasul terdahulu

mempunyai syariat (aturan) dan jalannya masing-masing dalam menyembah

Allah (keterangan selanjutnya lihat Al Hajj : 67

Artinya: Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari¶at tertentu yang mereka

lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam

urusan (syari¶at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu.

Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. lihat al-

Qur¶an online di Goole,

6 Untuk menginformasikan bahwa Allah tidak menyukai agama tauhid Nya (islam)

dipecah belah (keterangan selanjutnya lihat QS Al Hijr : 90-91, Al Anbiya : 92-93,

Al Mukminun : 52-54, Ar Rum : 30-32, Al Maidah : 54, an An Nisa : 150-152

7. Untuk menginformasikan bahwa Al Qur¶an berisi perintah-perintah Allah,

larangan-larangan Allah, hukum-hukum Allah, kisah-kisah teladan dan juga

kumpulan informasi tentang takdir serta sunatullah untuk seluruh manusia dan

pelajaran bagi orang yang bertakwa.

8. Al Qur¶an adalah kumpulan dari petunjuk-petunjuk Allah bagi seluruh umat

manusia sejak nabi Adam a.s sampai nabi Muhammad SAW yang dijadikan

pedoman hidup bagi manusia yang takwa kepada Allah untuk mencapai islam

selama ada langit dan bumi (keterangan selanjutnya lihat QS Maryam : 58, Ali

Imran : 33 & 88-85, Shad : 87, dan At Takwir : 27)

Manusia ingin mencapai kehidupan yang selamat sejahtera, baik didunia maupun di

akhirat harus menggunakan pedoman hidup yang lurus dan benar yaitu Al Qur¶an

(keterangan selanjutnya lihat QS Maryam : 58, Ali Imran : 33 & 84-85, dan At Takwir :

27).

Iman kepada Hari Akhir

A. Pengertian beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada Hari Akhir adalah percaya atau meyakini dengan sepenuh hati bahwa

Hari Akhir itu pasti akan terjadi atas kehendak Allah SWT. Hari Akhir yaitu hari

berakhirnya (hancurnya) segala sesuatu yang ada di alam dunia ini. Tidak ada satupun

makhluk yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Hari Akhir itu, hanya Allah

SWT yang mengetahuinya. Iman kepada Hari Akhir merupakan rukun iman yang

kelima, barangsiapa yang tidak mempercayai kedatangannya maka ia kafir. Tentang

Hari Akhir yang pasti terjadi itu, Allah menegaskan dalam Al-Qur¶an :

Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan

sungguh Allah akan membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj : 7)

Pada saat terjadinya Hari Akhir semua makhluk yang ada di bumi ini akan musnah,

matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, langit runtuh, gunung-gunung

dihancurkan, lautan dipanaskan (meluap), dan bumi memuntahkan segala isinya.

Perhatikan firman Allah berikut :

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat

itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang

menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita

yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya

mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (QS. Al-Hajj : 1-2)

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila

gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak

diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan

dijadikan meluap. (QS. At-Takwir : 1-6)

Hari Akhir juga sering disebut dengan nama-nama lain, diantaranya yaitu :

‡ Yaumul Qiyamat artinya hari kebangkitan

‡ Yaumul Jaza¶ artinya hari pembalasan

‡ Yaumul Ba¶ats artinya hari kebangkitan

‡ Yaumud Din artinya hari pertanggung jawaban agama ‡ Yaumul Hisab artinya hari

perhitungan amal

‡ Yaumul Mizan artinya hari penimbangan amal

‡ Yaumul Khulud artinya hari keabadian (kekal)

‡ Yaumul Hasyr artinya hari dikumpulkan

‡ Yaumut Taghobun artinya hari penyesalan

B. Hal-hal yang berkaitan dengan Hari Akhir

1. Alam Barzakh, yaitu batas antara alam fana (dunia) dengan alam baqa¶ (akhirat).

Alam barzakh disebut juga alam kubur. Di alam barzakh manusia akan mengalami dan

merasakan kehidupan sesuai dengan amal baik/ buruk selama di dunia. Apabila baik

amalnya ia akan merasakan nikmat kubur, sebaliknya apabila buruk amalnya ia akan

merasakan siksa kubur. Kehidupan di alam barzakh berlangsung sampai datangnya

hari kebangkitan (Yaumul Ba¶ats)

2. Yaumul Ba¶ats, yaitu hari dibangkitkannya seluruh umat manusia sejak zaman Nabi

Adam as hingga manusia terakhir dari alam kubur. Peristiwa ini terjadi setelah Malaikat

Isrofil meniup sengkakala yang kedua

3. Yaumul Makhsyar, hari berkumpulnya seluruh umat manusia sejak manusia pertama

hingga manusia paling akhir setelah mereka dibangkitkan dari alam kubur. Pada hari

tersebut matahari didekatkan sehingga panasnya akan terasa menyiksa bagi manusia

yang tidak beriman dan buruk amalnya. Sedangkan orang beriman yang baik amalnya

akan mendapatkan naungan/ perlindungan dari Allah SWT

4. Yaumul Mizan, yaitu hari penimbangan amal baik dan buruk yang dilakukan oleh

manusia selama hidup di dunia. Apabila timbangan amal baiknya lebih berat daripada

amal buruknya, ia akan memperoleh balasan berupa kesenangan hidup di surga.

Sebaliknya apabila timbangan amal buruknya lebih berat dari amal baiknya, maka ia

akan merasakan kesengsaraan hidup di neraka (Hawiyah)

5. Yaumul Hisab, yaitu hari penghitungan amal baik dan buruk yang dilakukan manusia

selama hidup di dunia. Semua manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa

yang telah dikerjakannya.

C. Kiamat Sughro dan Kubro

1. Kiamat Sughro (kiamat kecil), yaitu proses berpisahnya antara raga dan nyawa atau

berakhirnya kehidupan setiap makhluk. Semua makhluk hidup pasti akan mengalami

kematian (ajal) karena tidak yang kekal dan abadi selain Allah

2. Kiamat Kubro (kiamat besar), yaitu peristiwa berakhirnya kehidupan seluruh makhluk

di alam dunia ini secara serempak. Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari

yang mengerikan itu, kecuali Allah SWT. Para Malaikat dan Rasul tidak diberitahu

secara pasti waktu terjadinya hari kiamat tersebut. Para Rasul hanya diberitahu oleh

Allah beberapa tanda datangnya hari kiamat. Tanda-tanda datangnya hari kiamat itu

antara lain :

Tanda-tanda kiamat besar :

1. Keluarnya Dajjal

2. Turunnya Nabi Isa as

3. Keluarnya Ya¶juj dan Ma¶juj

4. Keluarnya Binatang (yang bisa berbicara) dari perut bumi

5. Terbitnya matahari dari arah barat

6. Munculnya Dukhan (kabut asap)

7. Gerhana dan gempa di timur

8. Gerhana dan gempa di barat

9. Gerhana dan gempa di Jazirah Arab

10. Keluarnya api dari tanah Yaman

Tanda-tanda kiamat kecil :

1. Wafatnya Rasulullah SAW

2. Disia-siakannya amanat

3. Orang yang hina menduduki jabatan terhormat

4. Penaklukan Baitul Maqdis oleh Muslimin

5. Sungai Efrat berubah menjadi emas

6. Banyak pemimpin yang fasiq dan jahat

7. Banyak para pembela kedzaliman

8. Fitnah merajalela dan banyak terjadi pembunuhan

9. Perang antara Yahudi dan umat Islam

10. Banyak terjadi gempa bumi

11. Banyak terjadi kematian mendadak

12. Banyak orang shaleh yang meninggal

13. Munculnya banyak kekejian, putusnya kekerabatan, dan hubungan dengan

tetangga yang tidak baik

14. Negara Arab menjadi subur dipenuhi rumput dan sungai

15. Bulan sabit kelihatan menjadi besar

16. Banyak pasar yang saling berdekatan

17. Dicabutnya ilmu dan dominannya kebodohan

18. Orang mengucapkan salam hanya kepada yang kenal saja

19. Terjadinya jual beli hukum

20. Tersebarnya alat musik dan khamer

21. Saling berlomba dalam meninggikan bangunan

22. Berwewah-mewahan dalam menghiasi masjid-masjid

23. Peredaran alam dan tata surya mulai tidak teratur

24. Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki

25. Banyak wanita berpakaian menyerupai laki-laki dan sebaliknya

26. Banyak wanita berpakaian tetapi hakikatnya telanjang

27. Umat terakhir melaknat umat terdahulu

28. Merebaknya perzinaan dan kemaksiatan

29. Merebaknya riba dan harta haram

30. Banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya

31. Banyak terjadi dusta dan sumpah palsu

32. Perkataan dusta dianggap hal biasa

33. Dan masih banyak lagi.

D. Balasan amal baik dan buruk

Semua amal perbuatan manusia selama di dunia akan mendapatkan balasan dari Allah

sekecil apapun amal itu. Orang yang berbuat baik sesuai dengan perintah Allah dan

Rasul-Nya akan mendapat balasan baik berupa surga dengan segala kenikmatannya

dan kekal di dalamnya. Sebaliknya orang yang selama hidupnya banyak melakukan

keburukan, inkar (kufur) terhadap Allah, atau berbuat kesyirikan mereka akan

mendapatkan balasan siksa neraka. Mereka akan diberi makan buah zaqqum (buah

yang paling buruk, rasanya pahit, busuk, dan berduri). Minumannya air panas mendidih

yang berasal dari nanah. Makanan dan minuman di neraka tidak pernah

mengenyangkan dan tidak pernah menghilangkan dahaga.

E. Hikmah beriman kepada Hari Akhir

Dengan beriman kepada Hari Akhir kita akan mendapatkan banyak sekali hikmah dan

manfaat, antara lain :

1. Bertambah iman dan taqwa kita kepada Allah SWT

2. Kita menyadari bahwa kehidupan dunia itu sementara dan semua akan binasa

3. Kita menyadari bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia, sehingga ada

keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat

4. Kita menyadari bahwa hidup di dunia seperti musafir atau pengembara menuju ke

suatu tempat. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, sehingga tidak terpedaya

olehnya

5. Dunia itu fana, sedangkan akhirat itu kekal. Untuk itu perbanyaklah mencari bekal

dengan ibadah dan amal shaleh untuk kehidupan akhirat

6. Selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, sebab semuanya akan mendapatkan

balasan yang sesuai dengan amal perbuatan kita

7. Berusaha meningkatkan amal ibadah menjadi semakin bertambah baik

8. Selalu mawas diri dalam setiap tindakan dan tidak sembrono

9. Dan sebagainya.

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

Pengertian Qadha dan Qadar Menurut bahasa Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu:

hukum, ketetapan,pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah Islam,

yang dimaksud dengan qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-

Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan Qadar arti qadar

menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan, ukuran. Adapun menurut Islam qadar

perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan

berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Firman Allah: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan

tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala

sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-

Furqan ayat 2).

Untuk memperjelas pengertian qadha dan qadar, berikut ini dikemkakan contoh. Saat ini

Abdurofi melanjutkan pelajarannya di SMK. Sebelum Abdurofi lahir, bahkan sejak zaman azali

Allah telah menetapkan, bahwa seorang anak bernama Abdurofi akan melanjutkan

pelajarannya di SMK. Ketetapan Allah di Zaman Azali disebut Qadha. Kenyataan bahwa saat

terjadinya disebut qadar atau takdir. Dengan kata lain bahwa qadar adalah perwujudan dari

qadha.

2. Hubungan antara Qadha dan Qadar

Pada uraian tentang pengertian qadha dan qadar dijelaskan bahwa antara qadha dan

qadar selalu berhubungan erat . Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah sejak

zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah. Jadi hubungan antara

qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.

Perbuatan Allah berupa qadar-Nya selalu sesuai dengan ketentuan-Nya. Di dalam surat

Al-Hijr ayat 21 Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya ´ Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak

menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.´

Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu istilah, yaitu

Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebut mengatakan, ´sudah

takdir´, maksudnya qadha dan qadar.

3.Kewajiban beriman kepada dan qadar

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang

berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya tentang Islam, Iman dan

Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab yang artinya: Hendaklah engkau beriman

kepada Allah, malaekat-malaekat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman

pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk. Lelaki tersebut berkata´ Tuan benar´.

(H.R. Muslim)

Lelaki itu adalah Malaekat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan pelajaran agama

kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jawaban Rasulullah yang dibenarkan oleh Malaekat Jibril

itu berisi rukun iman. Salah satunya dari rukun iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar.

Dengan demikian , bahwa mempercayai qadha dan qadar itu merupakan hati kita. Kita harus

yakin dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang

menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan adalah atas kehendak Allah.

Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah atas diri kita. Di dalam

sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: ´ Siapa yang tidak ridha dengan qadha-Ku

dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka

hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani)

Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai

dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah kita

beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika takdir

yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima

dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang

terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang diperbuatnya.

4.Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar

Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa

Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan

qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut yang artinya

´Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk

nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah

mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu

tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupny) sengsara atau

bahagia.´ (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas¶ud).

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak

sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa

manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap

berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.

Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan

berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, seorang pencuri

tertangkap dan dibawa kehadapan Khalifah Umar. ´ Mengapa engkau mencuri?´ tanya Khalifah.

Pencuri itu menjawab, ´Memang Allah sudah mentakdirkan saya menjadi pencuri.´

Mendengar jawaban demikian, Khalifah Umar marah, lalu berkata, ´ Pukul saja orang ini

dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!.´ Orang-orang yang ada disitu bertanya,

´ Mengapa hukumnya diberatkan seperti itu?´Khalifah Umar menjawab, ´Ya, itulah yang

setimpal. Ia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta atas

nama Allah´.

Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi

Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang itu

datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung

menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ´Kenapa

kuda itu tidak engkau ikat?.´ Orang Arab Badui itu menjawab, ´Biarlah, saya bertawakkal

kepada Allah´. Nabi pun bersabda, ´Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah´.

Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu,

namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan

terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar

dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo¶a. Dengan berdo¶a kita

kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang

terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.

Mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat,

bahwa takdir itu ada dua macam :

1.Takdir mua¶llaq: yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh

seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia

belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur

pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan

di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah

keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka

sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada

yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S Ar-

Ra¶d ayat 11)

2.Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan

atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan

mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan

sebagainya.

B.Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar

Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita

dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah

tersebut antara lain:

1.Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia

akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri.

Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian

Firman Allah: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya:´dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila

ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ´(

QS. An-Nahl ayat 53).

2.Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa

Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan,

ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun

merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus

asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.

Firman Allah SWT: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan

saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada

berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS.Yusuf ayat 87)

Sabda Rasulullah: yang artinya´ Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada sebiji

sawi dari sifat kesombongan.´( HR. Muslim)

3.Memupuk sifat optimis dan giat bekerja

Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu

menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi

harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa

optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu.

Firaman Allah: lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri

akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan

berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,

kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya

Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)

4.Menenangkan jiwa

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami

ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang

ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah

atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi. lihat Al-Qur¶an on line di google

Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi

diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah

kedalam sorga-Ku.( QS. Al-Fajr ayat 27-30)

HUSNUDZAN

A. Husnuzhan kepada Allah dan Sabar Menghadapi CobaanNya

1. Pengertian Husnudzan

Husnudan artinya adalah berbaik sangka, berperasangka baik atau dikenal juga dengan

istilah positiv thinking. Lawan katanya adalah su¶udzan yang memiliki pengertian buruk

sangka, berperasangka buruk atau dikenal juga dengan istilah negativ thinking.

Perbuatan husnudzan merupakan akhlak terpuji, sebab mendatangkan manfaat.

Sedangkan perbuatan su¶udzan merupakan akhlak tercela sebab akan mendatangkan

kerugian. Kedua sifat tersebut merupakan perbuatan yang lahir dari bisikan jiwa yang

dapat diwujudkan lewat perbuatan maupun lisan.

2. Dasar Hukum Husnudzan

Berperasangka baik atau husnudzan hukumnya adalah mubah (boleh). Sedangkan

berperasangka buruk atau su¶udzan Allah dan rasul-Nya telah melarangnya, seperti

dijelaskan dalam QS. Al-hujurat, 49 : 12 yang berbunyi :

Artinya :³Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,

sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari

kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain´.

(QS. Al-Hujurat, 49 : 12)

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :³Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena berperasangka buruk itu

sedusta-dusta pembicaraan (yakni jauhkan dirimu dari menuduh seseorang

berdasarkan sangkaan saja)´. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Hikmah Berbuat Husnudzan

a. Senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT

b. Bersikap Khaof (takut) dan Raja¶ (berharap) kepada Allah

c. Optimis dan tidak berkeluh kesah serta berputus asa

d. Akal fikiran menjadi jernih dan terjauhkan dari akal fikiran kotor

e. Dicintai dan disayangi Allah SWT, Rasul dan orang lain

f. Terjauh dari permusuhan dan lebih dapat mempererat silaturahmi

g. Terjauhkan dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain

4. Perbuatan-Perbuatan Husnudzan

a. Husnudzan kepada Allah SWT

Huznuzhan kepada Allah SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah

SWT, karena Allah SWT terhadap hambanya seperti yang hambanya sangkakan

kepadanya, kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka

buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamban

kepadanya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut. Rasulullah SAW

bersabda :

Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : ³Allah Ta¶ala berfirman

: ³Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat

kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu.

Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok

mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya

sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa.

Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-

lari kecil³. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Perbuatan-perbuatan husnudzan kepada Allah SWT yang dilakukan oleh seseorang

sebagai hamba-Nya adalah sebagai berikut :

1) Bersabar

Sabar dalam ajaran Islam memiliki pengertian yaitu tahan uji dalam menghadapi suka

dan duka hidup, dengan perasaan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah.

Sikap sabar diperintahkan Allah SWT dalam QS Al Baqarah ; 153 yang berbunyi :

Artinya: ³Hai orang-orana yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan

sabar dan (mengerjakan) shalat.´ (QS Al Baqarah ; 153)

Ujian dan cobaan pasti kan melintas dalam kehidupan setiap manusia. Ujian dan

cobaan tersebut bentuknya beragam, hal itu bisa berupa kemudahan dan kesulitan,

kesenangan dan kesedihan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu

dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya. Ketika semuanya melintas maka

yang harus dilakuakan adalah apabila itu merupakan kebahagiaan maka sukurilah dan

apabila hal tersebut merupakan kesedihan maka bersabarlah. Karena pada hakekatnya

Apa yang dialami manusia itu semua datangnya dari Allah dan merupakan ujian hidup

yang justru akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT

berfirman :

Artinya: ³155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit

ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita

gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa

musibah, mereka mengucapkan: ³Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji¶uun´.´ (QS Al Baqarah

: 155-156)

Apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah, kita harus berbaik

sangka dan kita harus tabah serta tawakal menghadapinya. Karena semakin sayang

Allah kepada seorang hambanya maka Allah akan menguji orang tersebut dengan

cobaan yang lebih besar, sehingga kadar keimanannya bertambah pula. Bila ia dapat

bersabar menerima cobaan yang Allah berikan maka Allah akan memberikan ganjaran

yang sangat mulia yaitu mendapatkan surganya Allah SWT seperti yang diuraikan

sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari:

Artinya :Dari Anas bin Malik, ia berkata : ³Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda :

³Sesungguhnya Allah berfirman : ³Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua

kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga´. (Hadits

ditakhrij oleh Bukhari).

Oleh sebab itu, apabila seseorang gagal dalam suatu usaha, maka tidak sepantasnya

menyalahkan Allah SWT atau su¶udzan kepada Allah SWT dengan menggap Allah

penyebab kagagalannya, Allah tidak mendengar doanya, Allah itu kikir, Allah tidak adil

dan lain sebagainya. Sebaliknya dan sebaiknya adalah harus berinstrospeksi diri,

barangkali kegagalan tersebut disebabkan usahanya belum sungguh-sunggu

dilaksanakan secara maksimal. Kegagalan tersebut harus dijadikan pelajaran, agar

pada masa yang akan datang tidak terulang lagi dan tetap selalu bersikap sabar

terhadap segala ujian dan cobaan yang menimpa. Berikut beberapa cara agar kita bisa

selalu bersikap sabar yaitu :

a. Senantiasa Berdzikir menyebut nama Allah SWT

Zikir bisa melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah.

Tetapi, zikir juga bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memperhatikan

kejadian di sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar

bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga. Orang yang sabar selalu

mengingat Allah dan menyebut asama Allah apabila menghadapi kesulitan dan

musibah, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bila seseorang berzikir dan

membaca Al Qur¶an hingga ia lupa untuk meminta sesuatu kepada Allah maka Allah

akan memberikan nikmat kepadanya melebihi apa yang sebelumnya ia inginkan

Artinya : ³Dari Abu Sa¶id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuhan

Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfinnan : ³Barang siapa yang sibuk membaca Al

Qur¶an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri

sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta´.

Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh

makhlukNya³. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).

Disebutkan pula dalam Firman Allah QS Ar Ra¶du ayat 28 sebagai berikut:

Artinya : ³(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan

mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.´

(QS Ar Ra¶du : 2)

Dalam ayat lain Allah menybutkan:

Artinya : ³Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah,

zikir yang sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab : 41)

b. Mengendalikan Emosi

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih mengendalikan nafsu atau

emosi agar bisa bersikap sabar yaitu:

1. Melatih serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membaca ayat-ayat

suci Al Qur¶an, shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Seseorang tidak akan terus

melampiaskan berang atau kemarahannya apabila ayat suci Al Qur¶an dibaca.

Oleh karena itu, bukan hal yang aneh apabila ayat suci Al Qur¶an bisa digunakan

untuk melerai orang yang bertikai. Demikian pula Rasulullah SAW memberikan

resep bagaimana caranya meredam amarah. ³Berwudu¶lah!´ Demikian anjuran

Rasulullah SAW.

2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dilarang agama. Orang yang mampu

menghindarkan diri dari kebiasaan yang dilarang agama, akan membuat

hidupnya terbiasa dengan hal-hal yang baik dan tidak mudah melakukan

perbuatan-perbuatan keji. Orang yang tidak sabar, pada umumnya adalah orang

yang tidak perduli, bersikap kasar, berbuat keji misalnya berjudi, minum-

minuman keras, berkelahi, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebarkan fitnah

dan masih banyak lagi.

3. Memilih lingkungan pergaulan yang baik. Agar bisa menjadi manusia yang

memiliki sifat sabar, maka bisa diperoleh dengan memasuki lingkungan

pergaulan yang baik, yang cinta akan kebenaran, kebaikan, dan keadilan.

2) Bersyukur

a) Pengertaian Syukur

Syukur menurut pengertian bahasa yaitu berasal dari bahasa Arab, yang berarti

terimakasih. Syukur secara istilah yaitu berterimakasih kepada Allah SWT dan

pengakuan secara tulus hati atas nikmat dan karunua-Nya, malalui ucapan, sikap dan

perbuatan.

b) Cara-cara bersyukur

Dengan hati.š

Yaitu dengan cara menyadari dan mengakui dengan tulus hati bahwa segala nikmat

dan karunia adalah merupakan pemberian dari Allah SWT dan tak ada selain Allah

SWT yang dapat memberikan nikmat dan karunia tersebut.

Dengan lisan.š

Yaitu dengan cara mengucapkan Alhamdulillah, mengucapkan lafal-lafal dzikir lainnya,

membaca al-quran, membaca buku ilmu pengetahuan dan amal ma¶ruf nahi munkar

dan senantiasa nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dengan perbuatan.š

Yaitu dengan cara melaksanakan segala ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada

kita dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah. Syukur dengan perbuatan

seperti sholat, belajar, membantu orang tua, berbuat baik terhadap sesama manusia

dan makhluk-makhluk Allah, dan menghormati guru.

Dengan harta benda.š

Yaitu dengan cara menafkahkan dan membelanjakan harta benda yang telah Allah

rizkikan kepada kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan

akhirat.

c) Hal-hal yang harus disyukuri

Nikmat jasmaniš

Kita harus mensyukuri karena Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang

paling sempurna, anatomi tubuh yang sempurna seperti bentuk hidung yang memiliki

libang di bawah, telinga yang elastis, bulu alis yang diletakkan di atas mata, tangan

yang memiliki jari-jari, kuku yang bisa mamanjang dan tidak terasa sakit ketika

dipotong, panca indra yang menjadikan segalanya menjadi terasa.

Nikmat rohaniš

Karunia dan anugrah Allah SWT atas nikmat rohani yang patut disukuri adalah Allah

telah mehirkan kita, diberikannya jasad kita ruh, kalbu/hati, nafsu dan akal sehingga kita

bisa hidup, berfikir, merasakan senang, bahagia, sedih, marah dan perasaan perasaan

yang melengkapi segala kehidupan kita.

Nikmat dunia dan seisinyaš

Apabila kita harus menghitung satu persatu nikmat Allah niscaya tidakalah akan

terhitung jumlanya. (QS. Al-Baqarah, 2 : 152 dan QS. Ibrahim, 14 : 34). Nikmat Allah

tersebar di darat, laut, udara. Segala yang Allah ciptakan, air, bebatuan, hamparan

tanah, gunung, hutan, api, salju, hembusan angin, sinar matahari, hujan, tumbuh-

tumbuhan, hewan, dingin, panas dan seluruh isi semesta merupakan nikmat dari Allah

SWT yang harus kita syukuri.

b. Husnudzan kepada diri kita senidiri

1. Percaya diri

Segala kemampuan yang kita miliki merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri.

Oleh karena itu, kemampuan yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik mungkin.

Kemampuan yang kita miliki akan menjadi tidak berarti apabila kita tidak percaya diri

terhadap kemampuan yang kita miliki.

Seseorang yang percaya diri tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga

di berani untuk menggunakan dan memanfaatkan kemampuannya dan mendapatkan

hasil atas kemampuan yang ia usahakannya.

2. Gigih

Pengertian gigih secara bahasa yaitu bersikap kerja keras. Gigis secara istilah berarti

mempunyai semangat hidup, tidak mengenal lelah, dan tidak menyerah. Gigih juga bisa

diartikan kemauan kuat seseorang dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita.

Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha.

Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan

gigih, dan penuh kesungguhan hati. Setiap muslim wajib memilki sifat dan sikap gigih.

Gigih dalam beribadah, gigih alam belajar untuk mencapai cita-cita dan gigih dalam

mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup. Allah SWT berfirman dalam QS

Alam Nasrah : 7 yang berbunyi:

Artinya: ³ Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah

dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.´ (QS Alam Nasrah : 7)

Ayat Al-Quran yang menyatakan tentang anjuran bersifat gigih juga dijelaskan dalam

QS. Al-Jumu¶ah : 10. Dan diperintahkan pula dalam sabda Rasulullah SAW:

.....

Artinya: ³Mukmin yang kuat lebih bagus dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin

yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu

mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kamu, mohonlah pertolongan kepada Allah

dan janganlah kamu merasa tak berdaya «´ (HR Muslim)

Selain sabda nabi yang tersebut di atas, dalam sabda Rasulullah SAW yang

diriwayatkan oleh Ibnu Sakir dinyatakan pula bahwa :

Artinya : ³Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup

selamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akheratmu seolah-olah kamu akan mati

besok.´ (HR. Ibnu Sakir)

Orang yang gigih tidak akan berpangku tangan dan tidak suka bermalas-malasan

sehingga ia akan merasa keberkahan hidup. Apabila setiap orang Islam memiliki sifat

gigih, niscaya hidayah dan karunia Allah akan menaungi kita. Gigihlah dalam berusaha,

Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kita, sehingga tidak akan

ada usaha kita yang sia-sia dan selalu ada perubahan pada diri kita ke arah yang lebih

baik sebagai mana sabda nabi Muhammad SAW :

Artinya : ³Barang siapa yang keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia adalah

orang yang beruntung. Barang siapa yang keadaan hari ini seperti kemarin dia adalah

orang yang rugi, dan barang siapa yang yang keadaan hari ini lebih buruk dari hari

kemarin dia terkutuk.´ (HR. Hakim)

Beberapa sikap yang dimiliki seseorang yang gigih antara lain adalah :

a. Gigih dalam berusaha dan menjalaninya dengan sabar dan ihlas

b. Memiliki program perencanaan yang baik dan membagi waktu yang tepat

c. Memiliki rasa tanggung jawab, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa

d. Selalu memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT

e. Selalu ada keinginan ke arah perubahan yang lebih baik,

3. Berinisiatif

Inisiatif secara bahasa berasal dari bahasa Belanda yang berarti prakarsa, perintis jalan

sebagai pelopor atau langkah pertama atau teladan. Inisiatif bisa difahami sebagai

sikap yang senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif menuntut

sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi. Seseorang yang memiliki inisiatif disebut

inisiator. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya : ³ Barang siapa merintis jalan kebaikan (meletakkan dasar), maka ia

memperoleh pahala secara langsung dari perbuatannya. Disamping juga dari pihak

orang yang mengikiti jejaknya. Demikian pula barang siapa merintis jalan maksiat maka

ia tertimpa siksa ganda (kejahatan dari diri sendiri dan orang yang menirunya).´ (Al-

Hadits)

Dalam Firman Allah SWT QS An Najm : 38-41 juga disebutkan :

Artinya : ³39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang

telah diusahakannya, 40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan

(kepadanya). 41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang

paling sempurna.´ (QS An Najm : 38-41)

Kemudian dijelaskan pula dalam firman Allah SWT QS. Alam Nasrah ayat 1-8 berikut ini

:

Artinya : ³1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, 2. dan Kami telah

menghilangkan daripadamu bebanmu, 3. yang memberatkan punggungmu? 4. Dan

Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan

itu ada kemudahan, 6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka

apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-

sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu

berharap. ³ (QS Alam Nasrah : 1-8)

Renungkanlah ayat diatas. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang

produktif. Artinya fokuskan pada satu pekerjaan, jika telah selesai kerjakan yang lain.

Tentu tidak hanya kerja keras saja melainkan dengan ketekunan, ketelitian,

penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, senantiasa mengefisienskan waktu

dalam menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan. Cara dalam menyelesaikan

pekerjaan tersebut diatas disebut produktivitas kerja. Senantiasa menghasilkan etos

kerjanya untuk menghasilkan yang lebih baik.

Contoh perilaku yang mencerminkan perbuatan inisiatif

1. Titeu Sunrani adalah siswa yang belajar disebuah sekolah SMA formal dan

sekaligus juga belajar di pondok pesantren. Ia harus selalu bisa mengikuti mata

pelajaran SMA dan pondok pesantren, sehingga dia harus bisa membagi dan

memanfaatkan waktunya untuk belajar materi mata pelajaran SMA dan belajar

materi mata pelajaran pondok pesantren. Kunci utama inisiatif Titeu Sunrani

adalah pengaturan waktu. Ia bisa membagi waktu kapan harus belajar mata

pelajaran SMA dan belajar mata pelajaran pondok pesantren. Akhirnya ia dapat

lulus dengan baik dan mendapatkan apa yang dicita-citakannya.

2. Contoh lain: Pak Dimas adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA.

Walaupun beliau sibuk mengajar namun bisa membagi waktunya untuk

kepentingan sekolahnya. Selain itu ia bertempat tinggal cukup jauh dari sekolah.

Jarak tempuh dari rumah ke sekolah bisa mencapai satu jam setengan dan itu ia

jalani setiap hari, akan tetapi dia selalu tepat waktu dan tidak pernah terlambat

dan selalu menjadi orang yang pertama datang di sekolah. Hal itu karena ia bisa

memperhitungkan waktu, mendata dan menentukan skala proiritas hal yang

harus didahulukan kemudian dikerjakan dengan tekun, teliti, kerja keras, kerja

cerdas dan kerja ihlas. Sehingga seberat dan sebanyak apapun beban pekerjaan

yang dialami Pak Dimas ia dapat menyelesaikannya dengan baik.

Kesimpulan dari contoh diatas adalah kerja keras itu bukan hanya gigih dan semangat

tinggi. Berinisiatif adalah usaha yang menghasilkan dengan pengaturan waktu yang

baik dan terencana.

4. Rela berkorban

a. Pengertian Rela Berkorban

Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan

kemaun sendiri. Berkorban berarti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun

menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan

masyarakat berati bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau

pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban

akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.

b. Bentuk Perilaku Rela Berkorban

1. Rela berkorban dalam lingkungan keluarga ;

y Biaya untuk sekolah yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya

y Keihlasan orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya

2. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah :

y Pemberian dari siswa berupa sumbangan pohon, tanaman dan bunga untuk

halaman sekolah

y Para siswa dan guru mengumpulkan sumbangan pakaian layak pakai untuk

meringankan beban warga yang tertimpa bencana.

3. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat :

y Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki jembatan yang rusak karena

longsor

y Warga masyarakat yang mampu menjadi guru sukarelawan bagi anak-anak yang

terlantar putus sekolah dan tidak mampu

4. Rela berkorban dalan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara :

y Para warga negara atau masyarakat membayar pajak sesuai dengan ketentuan

yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan

y Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi

dengan memperoleh penggantian yang layak

c. Cara Menumbuhkan Sifat Rela Bekorban

1. Selalu peduli dan memperhatikan kepentingan umum, bangsa dan negara selain

dari kepentingan pribadi.

2. Suka memberikan contoh dan pembinaan yang baik kepada sesama

3. Gemar memberikan pertolongan kepada sesama

4. Penyantun dan penyayang terhadap orang lain atau lingkungan.

5. Menjauhi sifat angkuh, egois, hedonis dan matrialistis.

c. Husnudzan kepada orang lain

1. Terhadap Keluarga

2. Terhadap Tetangga

3. Terhadap Masyarakat

Taubat

Di antara konsekuensi orang yg percaya dan bertauhid kepada Allah Ta¶ala adl

senantiasa melakukan muhasabah atas berbagai kelalaiannya dalam memenuhi hak-

hak Allah. Ia hendaknya selalu mengingat yaumal hisab terus memperbanyak bekal

sehingga tidak termasuk orang yg menyesal dan merugi pada hari yg penyesalan tiada

berguna lagi.

Muhasabah ini hendaknya didasar-kan pada Kitabullah dan SunnahRasulullah krn

keduanya itulah hakim yg adil dan timbangan yg jujur. Barang siapa meninggalkan

keduanya maka akan tersesat sebaliknya bagi yg berpegang teguh dengannya berarti

ia telah mendapat petunjuk Allah. Muhasabah yg benar adl mu-hasabah yg diikuti dgn

berserah diri dan bertaubat kepada Allah semata.

Taubat adl permulaan amal shaleh. Setiap kali seseorang mendekat-kan diri kepada

Allah hendaknya selalu disertai taubat kepadaNya. Sebab seorang mukmin adl orang

yg senantiasa merasa lalai meskipun ia sesungguhnya telah mencapai derajat ahli

ibadah. Allah menjadikan taubat sebagai sebab kemenangan. ³Dan bertaubatlah kalian

kepada Allah hai orang-orang yg beriman supaya kamu beruntung.´ Barangkali rahasia

ditujukannya seruan taubat -dalam ayat di atas- kepada orang-orang beriman adl

utk memberikan pemahaman bahwa taubat itu tak saja krn dosa yg dilakukan tetapi

juga krn perasaan lalai dan lengah dalam memenuhi hak-hak Allah. Semakin dekat

seorang hamba kepada Tuhannya ia akan semakin mengetahui kelengahan dan

kelalaian dirinya.

Disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu µAlaihi Wasallam -sedang beliau adl hamba

yg paling dekat kepada Allah- ³Wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Allah dan

mohon ampunlah kepadaNya sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak

seratus kali.´

Padahal Allah Ta¶ala melindungi beliau dari segala dosa dan menjaganya dari kelalaian

tetapi pengetahuan beliau akan hak-hak Allah menjadikan beliau merasa masih saja

lalai dalam memenuhi hak-hak Allah. Disinilah di antara rahasia firman Allah

³Sesungguhnya yg takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.´

Karena itu dalam banyak ayat Allah Ta¶ala memerintahkan kita supaya cepat bertaubat

demikian pula anjuran Rasulullah Shallallahu µAlaihi Wasallam dalam banyak haditsnya

sehingga kita tergolong orang yg berlomba-lomba dalam mendapatkan kebaikan dan

tidak termasuk orang-orang yg lengah. ³Hai orang-orang yg beriman bertaubatlah

kepada Allah dgn taubat yg semurni-murninya mudah-mudahan Tuhan kamu akan

menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasuk-kan kamu ke dalam surga yg

mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak

menghinakan Nabi dan orang-orang yg beriman yg bersama dgn dia sesungguhnya

cahaya mereka memancar di hadapan dan sebelah

kananmereka sambil mereka mengatakan ³Ya Tuhan kami sempurnakanlah bagi kami

cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala

sesuatu.´

³Dan barangsiapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yg zhalim.´ Orang

yg tidak bertaubat kepada Rabbnya adl orang yg menganiaya diri sendiri krn ia tidak

mengetahui Rabbnya tidak memahami hak-hakNya padahal betapa besar hak-hak

Allah atas dirinya. Taubat dianjurkan dalam tiap saat. Rasul Shallallahu µAlaihi

Wasallam telah bersabda ³Sesungguhnya Allah Ta¶ala membentangkan tanganNya

pada malam hari agar pendosa di siang hari bertaubat dan membentangkannya pada

siang hari agar pendosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari arah

barat.´ . Dalam hadits lain disebutkan ³Sesungguhnya Allah Ta¶ala menerima taubat

hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.´

Jika taubat krn merasa lengah dan lalai -dalam hak Allah- adl wajib atas manusia maka

taubat krn dosa tentu hukumnya lbh wajib. Jika yg pertama mengakibatkan derajat

kemuli-aannya berkurang maka yg kedua mengakibatkannya berada pada derajat yg

terendah. Sungguh amat jauh perbedaan antara orang yg meminta tambahan ni¶mat

dgn orang yg ingin bebas dari neraka Jahim.

Taubat kepada Allah Ta¶ala tidak membutuhkan perantara sehingga ia dikabulkan juga

tidak memerlukan pengakuan dosa di hadapan salah seorang manusia. Tiada lain yg

mesti dilakukan oleh orang yg bertaubat kecuali ia harus memohon ampun langsung

kepada Allah. Dan sungguh Allah lbh gembira dgn taubat hambaNya melebihi

kegembiraan seorang ibu yg menemukan kembali anaknya yg hilang setelah putus asa

mencarinya. ³Sungguh Allah lbh gembira dgn taubat hambaNya daripada seorang

darikamu yg menemukan kembali ontanya sedang ia telah kehilangan daripadanya di

gurun tandus.´

³Demi Dzat yg jiwaku ada di tanganNya seandainya kalian tidak melakukan dosa

niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan tentu akan mendatangkan suatu kaum yg

melakukan dosa kemudian merekamemohon ampun kepada Allah sehingga Allah

mengampuni mereka.´

Sungguh salah besar orang yg mengira bahwa taubat harus dgn pengakuan di hadapan

seorang syaikh sehingga bisa diterima. Pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja

yg menginginkan taubat selama ruhnya masih belum sampai ke tenggorokan

atau matahari terbit dari arah barat. Allah berfirman ³Sesungguhnya taubat di sisi Allah

hanyalah taubat bagi orang-orang yg mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yg

kemudian mereka bertaubat dgn segera maka mereka itulah yg diterima Allah

taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu

diterima Allah dari orang-orang yg mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal

kepada seseorang di antara merekaia mengatakan ³Sesungguhnya saya bertaubat

sekarang.´ Dan tidak orang-orang yg mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-

orang itu telah Kami sediakan siksa yg pedih.´

³Tidaklah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-

hambaNya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi

Penyayang.´ Sebagian orang berlebih-lebihan dalam melakukan ziarah ke

kubur Nabi. Mereka memohon agar Rasulullah Shallallahu µAlaihi Wasallam meminta-

kan ampun utk mereka seperti ketika beliau masih hidup. Mereka mendasar-kan

perbuatan tersebut kepada ayat ³Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya

dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohon-

kan ampun utk mereka tentulah mereka mendapatai Allah Maha Pene-rima taubat lagi

Maha Penyayang.´

Sungguh jauh berbeda antara orang yg datang kepada Rasul Shallallahu µAlaihi

Wasallam ketika beliau masih hidup dgn orang yg datang setelah beliau wafat dan

berada di kuburnya. Benar dan tidak diragukan lagi bahwa Rasul Shallallahu µAlaihi

Wasallam hidup dalam kuburnya tetapi kehidupan itu tidak seperti kehidupan beliau di

dunia. Tidak ada yg mengetahui hakekat kehidupan itu selaih Allah Ta¶ala. Allah

berfirman kepada NabiNya ³Sesungguhnya engkau akan mati dan mereka akan mati³.

Bahkan hingga orang yg datang kepada Nabi -saat beliau masih hidup- agar dimintakan

ampun kepada Allah tetapi memang tidak berhak mendapat ampunan Allah nisaya

Allah tidak akan mengampuni dirinya. Allah berfiman kepada RasulNya ³Kamu

memohonkan ampun bagi merekaatau tidak kamu memohonkan ampun bagi mereka .

Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali namun Allah

sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.´

Permohonan ampun dan do¶a orang hidup utk orang hidup lainnya adl dibolehkan dan

dianjurkan. Bahkan Allah memerintahkan agar orang-orang beriman mendo¶akan

orang-orang yg lbh dahulu beriman. Allah berfiman ³Dan orang-orang yg datang

sesudah mereka mereka berdo¶a ³Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan para

saudara kami yg telah beriman lbh dahulu dari kami.´ . Dalam tafsir ayat

³Sesungguhnya jikalaumereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu

memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampun

utk merekatentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha

Penyayang.´

Salah seorang ulama berkata Allah Maha Penerima Taubat dalam tiap saat bagi siapa

saja yg bertaubat. Allah Maha Penyayang dalam tiap saat bagi siapa yg mau kembali ..

Orang-orang yg mendapatkan turunnya ayat inimereka mempunyai kesempatan utk

dimohonkan ampun oleh Rasulullah tetapi masa itu kini telah lama berakhir tinggallah

pintu Allah yg senantiasa terbuka dan tak pernah dikunci. Sedang janji Allah tetap tegak

dan tiada pernah batal. Karena itu barangsiapa yg ingin maka hendaknya segera

bertaubat.

Semakin rahasia taubat dilakukan semakin lbh berpeluang utk dikabulkan dan semakin

jauh pula dari sifat riya¶ yg sering menyelimuti amal manusia. Dalam hadits shahih

tentang tujuh orang yg diberi perlindungan pada hari kiamat di antaranya disebutkan ³ ..

dan orang yg selalu meng-ingat Allah di kesepian sehingga air matanya mengalir.´

Dalam Al Qur¶an disebutkan beberapa sifat orang bertaqwa yg kelak pada hari kiamat

akan tinggal di surga di antaranya ³Dan di akhir-akhir malam mereka memohon

ampun ´ . Sebab pada waktu-waktu akhir malam adl waktu munajat dan khalwat antara

hamba dgn Rabbnya. Waktu yg tiap kali Allah turun ke langit bumi seraya berfirman

³Adakah orang yg bertaubat sehingga Aku menerima taubatnya? adakah orang yg

memohon ampun sehingga Aku mengampuninya? adakah orang yg meminta sehingga

Aku memberinya? hingga terbit fajar.´

Raja¶ dan Khauf

Raja¶ dan Khauf merupakan 2 sayap (janaahaan) yang dengannya terbang para

muqarrabiin ke segala tempat yang terpuji. Kedua sifat ini sangat penting untuk

didefinisikan, karena jika tidak akan terjadi dua kesalahan yang sangat berbahaya.

Pertama, adalah sikap berlebihan (ghuluww) sebagaimana yang dialami oleh sebagian

kaum sufi yang menjadi sesat karena mendalami lautan ma`rifah tanpa dilandasi oleh

syari`ah yang memadai [2]. Sedangkan kesalahan yang kedua, adalah sikap

mengabaikan (tafriith), sebagaimana orang-orang yang beribadah tanpa mengetahui

kepada siapa ia beribadah dan tanpa merasakan kelezatan ibadahnya, sehingga

ibadahnya hanyalah berupa rutinitas yang kering dan hampa dari rasa harap, cemas

dan cinta.

Raja¶ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si

penanti. Sikap ini bukan sembarang menanti tanpa memenuhi syarat-syarat tertentu,

sebab penantian tanpa memenuhi syarat ini disebut berangan-angan (tamniyyan).

Orang-orang yang menanti ampunan dan rahmat ALLAH tanpa amal bukanlah Raja¶

namanya, tetapi berangan-angan kosong.

Ketahuilah bahwa hati itu sering tergoda oleh dunia, sebagaimana bumi yang gersang

yang mengharap turunnya hujan. Jika diibaratkan, maka hati ibarat tanah, keyakinan

seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya,

sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen

kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak

berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu

tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawatnya.

Dengan mengambil perumpamaan di atas, maka Raja¶ seseorang atas ampunan

ALLAH adalah sebagaimana sikap penantian sang petani terhadap hasil tanamannya,

yang telah ia pilih tanahnya yang terbaik, lalu ia taburi benih yang terbaik pula,

kemudian diairinya dengan jumlah yang tepat, dan dibersihkannya dari berbagai

tanaman pengganggu setiap hari, sampai waktu yang sesuai untuk dipanen. Maka

penantiannya inilah yang disebut Raja¶.

Sedangkan petani yang datang pada sebidang tanah gersang lalu melemparkan

sembarang benih kemudian duduk bersantai-santai menunggu tanpa merawat serta

mengairinya, maka hal ini bukanlah Raja¶ melainkan bodoh (hamqan) dan tertipu

(ghuruur). Berkata Imam Ali ra tentang hal ini:

³Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang

menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.´

Maka renungkanlah wahai saudaraku !

Maka seorang hamba yang yang memilih benih iman yang terbaik, lalu mengairinya

dengan air ketaatan, lalu mensucikan hatinya dari berbagai akhlaq tercela, ia tekun

merawat dan membersihkannya, kemudian ia menunggu keutamaan dari ALLAH

tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya maka penantiannya yang panjang

dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan Raja¶. Berfirman ALLAH SWT:

³Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan ALLAH, mereka inilah

yang benar-benar mengharapkan rahmat ALLAH.´ (QS. Al-Baqarah, 2: 218).

Sementara orang yang tidak memilih benih imannya, tidak menyiraminya dengan air

ketaatan dan membiarkan hatinya penuh kebusukan, darah dan nanah serta

kehidupannya asyik mencari dan menikmati syahwat serta kelezatan duniawi lalu ia

berharapkan ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya maka orang ini bodoh dan

tertipu. Berfirman ALLAH SWT tentang mereka ini:

³Maka setelah mereka digantikan dengan generasi yang mewarisi Kitab yang

menjualnya dengan kerendahan, lalu mereka berkata ALLAH akan mengampuni kita.´

(QS. Al¶A¶raaf, 7: 169).

Dan mereka juga berkata:

³Jika seandainya saya dikembalikan kepada RABB-ku maka aku akan mendapat

tempat yang lebih baik dari ini.´ (QS. Al-Kahfi, 18: 36).

Bersabda Nabi SAW:

³Orang yang pandai adalah yang menjual dirinya untuk beramal untuk hari akhirat,

sementara orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya di dunia lalu

berangan-angan kepada ALLAH akan mengampuninya.´ (HR Tirmidzi 2459, Ibnu Majah

4260, Al-Baghawiy, Ahmad 4/124, Al-Hakim 1/57).

Keutamaan Raja¶ yang lainnya adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi

SAW sbb:

³Seorang hamba ALLAH diperintahkan untuk masuk ke neraka pada hari Kiamat, maka

iapun berpaling maka ditanya ALLAH SWT (padahal IA Maha Mengetahui): µMengapa

kamu menoleh?¶ Ia menjawab: µSaya tidak berharap seperti ini¶. ALLAH berfirman:

µBagaimana harapanmu?¶ Jawabnya: µENGKAU mengampuniku¶. Maka firman ALLAH:

µLepaskan dia¶.´

Raja¶ hanya bermanfaat bagi orang yang sudah berputus asa karena dosanya sehingga

meningggalkan ibadah, serta orang yang demikian khauf pada ALLAH SWT sehingga

membahayakan diri dan keluarganya. Sedangkan bagi orang yang bermaksiat, sedikit

ibadah dan berharap ampunan ALLAH, maka Raja¶ tidak berguna, melainkan harus

diberikan khauf.

Sebab-sebab Raja¶ adalah pertama dengan jalan i¶tibar yaitu merenungkan berbagai

nikmat ALLAH yang telah ditumpahkan-NYA setiap waktu pada kita yang tiada sempat

kita syukuri ditengah curahan kemaksiatan kita yang tiada henti pada-NYA, maka

siapakah yang lebih lembut dan penuh kasih selain DIA? Apakah terlintas bahwa IA

yang demikian lembut dan penuh kasih akan menganiaya hambanya?

Adapun jalan yang kedua adalah jalan khabar, yaitu dengan melihat firman-NYA, antara

lain:

³Wahai hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu

putus asa akan rahmat ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengampuni seluruh dosa-

dosa.´ (QS. Az-Zumar, 39: 53).

dan hadits-hadits Nabi SAW:

³Berfirman ALLAH SWT kepada Adam as: µBangunlah! Dan masukkan orang-orang

yang ahli neraka¶. Jawab Adam as: `Labbbaik, wa sa`daik, wal-khoiro fi yadaik, ya Rabb

berapa yang harus dimasukkan ke neraka?` Jawab ALLAH SWT: `Dari setiap 1000,

ambil 999!` Ketika mendengar itu maka anak-anak kecil beruban, wanita hamil

melahirkan dan manusia seperti mabuk (dan wanita yang menyusui melahirkan

bayinya, dan kamu lihat menusia mabuk, padahal bukan mabuk melainkan adzab

ALLAH di hari itu sangat keras. QS. Al-Hajj, 21: 2). Maka berkatalah manusia pada Nabi

SAW: `Ya Rasulullah! Bagaimana ini?` Jawab Nabi SAW: `Dari Ya¶juj wa ma¶juj 998

orang dan dari kalian 1 orang`. Maka berkatalah manusia: `ALLAHU Akbar!` Maka

berkatalah Nabi SAW pada para sahabat ra: `Demi ALLAH saya Raja¶ bahwa kalian

merupakan 1/4 dari ahli jannah! Demi ALLAH saya Raja¶ kalian merupakan 1/3 ahli

jannah! Demi ALLAH saya Raja¶ kalian menjadi 1/2 ahli jannah!` Maka semua orangpun

bertakbir, dan Nabi SAW bersabda: `Keadaan kalian di hari itu seperti rambut putih di

Sapi hitam atau seperti rambut hitam di Sapi putih`.´ (HR Bukhari 6/122 dan Muslim

1/139)

Tabdzir

Tabzir berasal dari kata badzr yang artinya boros, yaitu mengeluarkan sesuatu (seperti

harta) tanpa tujuan atau secara salah atau sia-sia belaka. Misalnya, menyediakan

makanan yang cukup untuk sepuluh orang terhadap dua orang tamu, sehingga

makanan itu sia-sia.

Allah berfirman : ³Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,

kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu

menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros

itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada

Tuhannya.´ (Q.S. Al-Isra/17 : 26-27)

Imam Ja¶far Shadiq ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan bahwa orang yang

mengeluarkan uang untuk maksiat kepada Allah, sesungguhnya ia telah melakukan

tabzir.

Ayat ini juga menegaskan bahwa boros merupakan salah satu perilaku setan,

karenanya, jika seseorang melakukan pemborosan, maka ia telah mengikuti jejak

langkah setan, dan telah menjadi sahabat atau saudaranya setan. Ini berarti, orang

yang boros bukan hanya di bawah pengaruh setan, tetapi juga telah bekerjasama

dengan setan dan membantu pekerjaannya. Hal ini karena, pemborosan merupakan

perbuatan merusak nikmat dan tanda tidak bersyukur akan pemberian Allah swt.

Pemborosan sering terjadi dalam masalah keuangan. Akan tetapi, boros juga dapat

merujuk pada nikmat-nikmat lain seperti anggota tubuh, mata, tangan, kaki, pikiran,

telinga, dan lainnya. Jika seseorang menggunakan anggota tubuhnya, untuk melakukan

maksiat kepada Allah, maka ia telah melakukan pemborosan dan kufur nikmat. Begitu

pula, boros dapat terjadi menyia-nyiakan umur, seperti µmenyia-nyiakan masa muda

hanya untuk hura-hura¶, µmenyia-nyiakan waktu belajar¶, µmenyia-nyiakan amanah dan

tanggung jawab¶, atau juga melakukan hal-hal lain yang tidak bermanfaat. Semua itu

merupakan perbuatan tabzir.

Ibadah puasa pada dasarnya mengajarkan kita untuk menghindari sifat mubazir ini. Kita

diajarkan untuk mengendalikan nafsu jasmaniyah dan juga nafsu ruhaniah. Kita dilatih

utk menjaga makanan, minuman, kesenangan, pikiran, hati, pembicaraan, dan seluruh

potensi diri untuk mencapai pencerahan dan kedekatan pada ilahi. Kita tidak mau saat

puasa mengajarkan kita untuk menghindari boros, malah kita terjebak dalam hidup

boros«kita menahan makan dan minum disiang hari, tetapi menumpuknya di malam

hari«kita menahan lidah saat puasa, tetapi tetapi mengulurkannya saat berbuka..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->