Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Potensi dan Kesejahteraan Sosial (PSKS) Tahun 2009 sumber departemen

sosial ri

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kehidupan masyarakat yang semakin kompleks dewasa ini ditandai dengan kemajuan teknologi, industrialisasi, urbanisasi dan berbagai gejolak kemasyarakatan menimbulkan banyak masalah sosial. Apabila tidak segera ditangani, maka masalah ini akan semakin menyebar dan semakin berdampak pada masyarakat. Untuk itu diperlukan suatu upaya yang terintegrasi dan terorganisasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Masalah sosial timbul dari berbagai sebab, baik faktor pelaku (internal faktors) maupun faktor lingkungan (eksternal faktors). Faktor-faktor internal dan eksternal saling berinteraksi dan berinterdependensi, sehingga masalah sosial biasanya kompleks dan tidak mudah dipecahkan. Masalah sosial mempunyai berbagai dimensi, baik ekonomi, sosial, budaya, biologis, psikologis, spiritual, hukum, maupun keamanan, sehingga masalah sosial hanya bisa didekati secara lintas sektor dan interdisipliner Perubahan dan perkembangan masyarakat terjadi secara bervariasi, artinya ada yang terjadi secara lambat (evolusion), namun ada yang terjadi secara cepat (revolution). Perubahan dan perkembangan masyarakat secara cepat, apalagi tidak direncanakan dengan baik (unplanned), biasanya menimbulkan masalah sosial. Masyarakat senantiasa berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan tersebut, namun biasanya ada sekelompok individu yang tidak mampu melakukannya, sehingga berada dalam kesulitan (private troubles) dan masalah (private problems). Pada umumnya, masalah sosial yang berkembang pada saat ini terbagi ke dalam dua golongan, yaitu : Masalah sosial konvensional (persistent sosial problems) atau disebut juga masalah sosial tradisional. Jenis masalah ini pada dasarnya senantiasa ada sejak aman dahulu. Keberadaannya kurang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi serta proses perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Masalah sosial konvensional, diantaranya : Kemiskinan, baik yang terjadi di pedesaan maupun perkotaan. Karakteristik penduduk yang tergolong ke dalam masalah kemiskinan adalah kelompok fakir, kelompok miskin, dan kelompok kelas bawah atau warga kurang beruntung serta kelompok residual atau marginal.

dan pemukiman tidak layak huni. yang termasuk kedalam kelompok ini adalah masyarakat terasing atau komunitas adat terpencil (KAT). Usaha dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan sosial di Indonesia merupakan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat. Ketunaan Sosial Bencana. Masalah sosial yang termasuk ke dalam kelompok masalah sosial kontemporer diantaranya korban tindak kekerasan/perlakuan salah.Wanita rawan sosial ekonomi. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial sebagai unit yang mempunyai tugas menyajikan data dan informasi. yang berdampak tingginya beban ekonomi masyarakat. Masalah sosial kontemporer disebut juga masalah sosial baru. merupakan untuk masalah sosial yang timbul karena berbagai dampak pembangunan atau kebijakan politik dewasa ini serta perubahan dan perkembangan masyarakat. . keterisolasian. dan menurunnya ketertiban umum serta ketentraman masyarakat. Permasalahan sosial itu tentunya haruslah ditangani melalui suatu pembangunan kesejahteraan sosial. Kecacatan. Anak terlantar. meliputi : Balita terlantar. sedangkan pemerintah adalah menetapkan regulasi dan memberikan fasilitas. rendahnya partisipasi aktif masyarakat. korban Penyalahgunaan Narkoba. ulah manusia maupun kombinasi keduanya. dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi. Hal ini ditandai dengan ragam kehidupan sosial masyarakat yang penuh kerentanan. anak jalanan. keluarga yang bermasalah sosial psikologis. Keluarga berumah tidak layak huni Keterlantaran. Agar berhasilnya pembangunan tersebut diperlukan suatu perencanaan yang tepat. guna kebutuhan tersebut menerbitkan buku Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) tahun 2009. menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat. ketidakberdayaan. Masyarakat berperan sebagai pelaksana utama. psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) HIV/AIDS. Berdasarkan kondisi tersebut. Sebuah perencanaan pembangunan kesejahteraan sosial yang tepat memerlukan data-data yang cepat. baik yang diakibatkan oleh peristiwa alam. Disadari pula bahwa pembangunan kesejahteraan sosial memerlukan dukungan dari masyarakat. tepat dan dapat dipercaya. Saat ini masyarakat sebagai pelaksana usaha kesejahteraan sosial cenderung mengalami penurunan kepedulian. lanjut usia terlantar Keterasingan/keterpencilan.

keluarga atau kelompok masyarakat yang karena suatu hambatan. ketelantaran. atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya sehingga tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani. Hambatan. rohani. Lanjut Usia Korban Tindak Kekerasan menjadi Korban Tindak Kekerasan saja. Tujuan : Tersedianya database Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) serta penyebarannya pada setiap kabupaten/kota di seluruh IndonesiaSebagai sumber referensi dalam perencanaan program pembangunan kesos Sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan Melakukan pemutakhiran pada server database kesejahteraan sosial.Sistematika penyajian ini dibagi dua bagian. atau gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan. kecacatan. ketunaan . pertama data dan informasi yang bersifat nasional dan kedua data dan informasi di masing-masing propinsi. Anak Cacat dan Penyandang Cacat eks Penyakit Kronis digabung menjadi Penyandang Cacat saja Nomenklatur Masyarakat Yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana dihilangkan Nomenklatur Eks Narapidana menjadi Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK) Maksud dan Tujuan Maksud : Pembuatan Buku Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Tahun 2009 adalah untuk menyajikan data dan informasi PMKS dan PSKS secara nasional dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Wanita Korban Tindak Kekerasan. Data yang ditampilkan dalam buku ini berisi 22 jenis PMKS karena perubahan nomenklatur PMKS. kesulitan. maupun sosial secara memadai dan wajar. Kementerian Sosial RI BAB II PENGERTIAN PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) POTENSI DAN SUMBER KESEJAHTERAAN SOSIAL (PSKS) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang. kesulitan. dengan melakukan penggolongan yaitu : Anak korban Tindak Kekerasan.

keluarganya dan orang lain.adalah anak yang berusia 5-18 tahun yang berperilaku menyimpang dari norma dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. yang terdiri dari penyandang cacat fisik. Anak Jalanan.adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani. yaitu sebagai berikut : Anak Balita Telantar. . Saatini Kementerian Sosial menangani 22 jenis PMKS. Penyandang Cacat. rohani dan sosial. karena faktor-faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani. tidak ada pengasuh/pengampu) sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani. anak balita sakit) sehingga terganggu kelangsungan hidup. pertumbuhan dan perkembangannya baik secara jasmani. salah seorang atau kedua-duanya meninggal.adalah seorang wanita dewasa berusia 18-59 tahun belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan : miskin/tidak mampu.sosial. penyandang cacat mental dan penyandang cacat fisik dan penyandang cacat mental. Anak Telantar. rohani maupun sosial. orang tuanya tidak dapat melakukan kewajibannya (karena beberapa kemungkinan seperti miskin atau tidak mampu. salah seorang dari orangtuanya atau keduaduanya sakit. rohani maupun sosialnya secara layak. Anak Nakal. dan bencana alam maupun bencana sosial. salah seorang/keduaduanya.adalah anak berusia 5-18 tahun yang karena sebab tertentu. . meninggal. Tuna Susila. keterasingan/ketertinggalan. Wanita Rawan Sosial Ekonomi. salah seorang sakit. keterbelakangan.adalah seseorang yang melakukan hubungan seksual dangan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang. keluarga tidak harmonis. Lanjut Usia Telantar. rohani dan sosial.lingkungannya sehingga merugikan dirinya. adalah seseorang yang mengalami tindak kekerasan. diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan terdekatnya. dan terancam baik secara fisik maupun non fisik. Korban Tindak Kekerasan. adalah anak yang berusia 0-4 tahun karena sebab tertentu. akan tetapi karena usia belum dapat dituntut secara hukum. serta mengganggu ketertiban umum.adalah anak yang berusia 5-18 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di jalanan maupun tempat-tempat umum.adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.materi atau jasa.

mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana alam yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.adalah seseorang yang menggunakan narkotika. keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik. Keluarga Berumah Tidak Layak Huni. serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat umum. Korban Bencana Alam.sehingga memerlukan pemberdayaan dalam menghadapi perubahan lingkungan dalam arti luas. tanah longsor.adalah perorangan.kencang. adalah kelompok orang atau masyarakat yang hidup dalam kesatuan kesatuan sosial kecil yang bersifat lokal dan terpencil. dan kebakaran hutan atau lahan. adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat. banjir. Gelandangan. Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK). adalah orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta di tempat umum dengan berbagai cara dengan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain. Korban Penyalahgunaan NAPZA. kebakaran permukiman. adalah seseorang atau kepala keluarga yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian akan tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga yang layak bagi kemanusiaan. adalah keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami -istri kurang serasi. kekeringan. letusan gunung berapi. adalah keluarga yang kondisi perumahan dan lingkungannya tidak memenuhi persyaratanyang layak untuk tempat tinggal baik secara fisik. Komunitas Adat Terpencil. dan masih sangat terikat pada sumber daya alam dan habitatnya secara sosial budaya terasing dan terbelakang dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. gelombang pasang atau tsunami. psikotropika dan zat-zat adiktif lainnya termasuk minuman keras diluar tujuan pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.Termasuk dalam korban bencana alam adalah korban bencana gempa bumi tektonik. Keluarga Fakir Miskin. . kesehatan maupun sosial. sehingga mendapat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis. sehingga tugastugas dan fungsi keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar .adalah seseorang yang telah selesai atau dalam 3 bulan segera mengakhiri masa hukuman atau masa pidananya sesuai dengan keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat.Pengemis.

adalah keluarga muda yang baru menikah (sampai dengan lima tahun usia pernikahan) yang mengalami masalah sosial dan ekonomi (berpenghasilan sekitar 10% di atas garis kemiskinan) sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Wahana ini berupa jejaring kerja dari pada kelembagaan sosial komunitas lokal. adalah perorangan. keluarga atau kelompok masyarakat yang menderita baik secara fisik. Organisasi Sosial. Korban Bencana Sosial atau Pengungsi.adalah warga masyarakat yang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial serta didorong oleh rasa kebersamaan. kekeluargaan. adalah Organisasi Sosial Kepemudaan. lembaga maupun jaringan pendukungnya. Pekerja Migran Telantar. wadah pengembangan generasi muda.kecelakaan pesawat terbang. perahu dan musibah industri (kecelakaan kerja). adalah seseorang yang dengan rekomendasi profesional (dokter) atau petugas laboratorium terbukti tertular virus HIV sehingga mengalami sindrom penurunan daya tahan tubuh (AIDS) dan hidup telantar. baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan Usaha Kesejahteraan Sosial Karang Taruna. adalah sistem kerja sama antar keperangkatan pelayanan sosial di akar rumput yang terdiri atas usaha kelompok. mental maupun sosial ekonomi sebagai akibat dari terjadinya bencana sosial kerusuhan yang menyebabkan mereka mengalami hambatan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. baik yang . alam dan institusi sosial yang dapat digunakan untuk usaha kesejahteraan sosial. Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM). kereta api. adalah suatu perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat. Keluarga Rentan. dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas sosial sederajat. Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) adalah potensi dan sumber yang ada pada manusia. yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial dan secara organisasi berdiri sendiri. yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggungjawab sosial dari. Selanjutnya Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial meliputi : Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). adalah seseorang yang bekerja di luar tempat asalnya dan menetap sementara di tempat tersebut dan mengalami permasalahan sosial sehingga menjadi telantar. oleh. dan kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi di bidang Kesejahteraan Sosial.

Pekerja Migran Telantar. Jawa Tengah. BAB III METODOLOGI PENDATAAN Pendataan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dilakukan dengan metode survey dan sensus di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia yang dilakukan oleh masing-masing Dinas/Instansi Sosial Provinsi yang berwenang dalam pendataan PMKS dan PSKS. 5 jenis PSKS yakni : Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). . Korban Penyalahgunaan NAPZA. sehingga dapat menumbuh kembangkan sinergi lokal dalam pelaksanaan tugas di bidang Usaha Kesejahteraan Sosial. Pengemis. Sumber Data Buku Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Tahun 2009 disusun dengan sumber data : Dinas/Instansi Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota.Komunitas Adat Terpencil. Banten. dengan.dengan. Korban Bencana Alam. adalah organisasi komersial seluruh lingkungan industri dan produksi barang/jasa termasuk BUMN dan BUMD serta atau wirausahawan beserta jaringannya yang dapat melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Wanita Rawan Sosial Ekonomi. Badan Pusat Statistik . Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). lanjut usia terlantar. Korban Bencana Sosial atau Pengungsi. Gelandangan.Yogyakarta. Dinas/Instansi Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota. jenis PMKS : anak balita Terlantar. anak terlantar. . Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis. Adapun pendekatan yang dilakukan dalam Pengumpulan data PMKS dan PSKS adalah : Pendekatan Keluarga . Keluarga Rentan. dan Jawa Timur. Anak Jalanan. Penyandang Cacat dengan Klasifikasi International Classification of Funtioning (ICF) di 5 Provinsi : DKI Jakarta. Dunia Usaha yang Melakukan UKS. DI.Korban Tindak Kekerasan. Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK). jenis PMKS : Anak Nakal. Organisasi Sosial (Orsos) Karang Taruna (KT) Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Dunia Usaha (DU) yang Melakukan UKS. rumah tangga tidak layak huni. Tuna Susila.tumbuh melalui proses alamiah dan tradisional maupun lembaga yang sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat pada tingkat lokal. dengan.

Pendekatan kelembagaan ini untuk menjaring data 14 jenis PMKS. Pendataan dilakukan secara sensus dari rumah ke rumah dengan sasaran responden kepala keluarga atau yang mewakili.Pendekatan secara keluarga dilakukan untuk menjaring data 8 (delapan) jenis PMKS. Untuk 8 (delapan) jenis PMKS ini terdiri dari : Anak Balita Telantar Anak Telantar Wanita Rawan Sosial Ekonomi Lanjut Usia Telantar Penyandang Cacat Keluarga Fakir Miskin Keluarga yang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni Keluarga Rentan Pendekatan Kelembagaan Pada pendekatan kelembagaan sumber data atau responden adalah instansi sosial di tingkat kabupaten/kota. Instansi terkait setempat untuk memperoleh informasi awal mengenai jumlah dan lokasi keberadaan lembaga terkait yang ada di desa/kelurahan wilayah tugas pendata Setelah diperoleh informasi awal. dilakukan dengan cara sebagai berikut : Melakukan pendekatan dengan Dinas/Instansi Sosial. dan dilakukan rekapitulasi oleh dinas/instansi sosial provinsi. petugas melakukan Pendataan secara langsung PMKS terkait Untuk 14 (empat belas) jenis PMKS ini terdiri dari : Anak Nakal Anak Jalanan Korban Tindak Kekerasan/Diperlakukan Salah Tuna Susila . dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Wilayah pendataan per desa/kelurahan dibagi habis kepada semua petugas pendata Melakukan identifikasi nama dan jumlah keluarga pada masing-masing Rukun Tetangga (RT) untuk menghindari responden ganda atau yang tidak terdata.

Anak Terlantar.Pengemis Gelandangan Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK) Korban Penyalahgunaan Napza Komunitas Adat Terpencil Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerja Migran Bermasalah Sosial Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Proses Pengumpulan dan Pengolahan Data Proses Pengumpulan dan pengolahan data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dilakukan dengan metode survey dan sensus di seluruh kabupaten/Kota di Indonesia dengan memenuhi ketentuan sebagai berikut: Pendataan pada responden untuk 22 jenis PMKS dan PSKS sesuai dengan pendekatan yang digunakan pada tingkat desa/kelurahan dilakukan oleh petugas pendata dari Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota selanjutnya pengolahan data dilaksanakan di tingkat Kabupaten/Kota masing-masing. Kemudian Pengolahan data dari tingkat Kabupaten/Kota dilakukan di Dinas/Instansi Sosial Provinsi sehingga tersedia rekapitulasi data PMKS tingkat Provinsi Untuk variabel Keluarga Fakir Miskin menggunakan data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 Untuk Variabel Anak Balita Terlantar. Penyandang Cacat dan Rumah Tidak layak huni Pusdatin Kesos menggunakan data Susenas dengan pertimbangan: Sejak tahun 2000 Pusdatin Kesos bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) sampai dengan tahun 2010 Pusdatin Kesos bekerjasama dengan BPS mengakomodir 5 (lima) variabel PMKS yakni. Penyandang Cacat dan Rumah Tidak layak huni pada kegiatan Susenas yang hasilnya digunakan sebagai data PMKS Depsos . Anak Balita Terlantar. Anak Terlantar. Lanjut Usia Terlantar. Lanjut Usia Terlantar.

dimana kemiskinan walaupun mengalami penurunan jumlah namun masih tergolong besar yakni 32. POTENSI DAN SUMBER KESEJAHTERAAN SOSIAL (PSKS) SERTA ANALISIS PERMASALAHAN Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Rekapitulasi PMKS hasil pendataan Tahun 2009. Anak Telantar. kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel data. Lanjut Usia Telantar. anak dan lansia telantar.530. masalah kemiskinan kemudian menyentuh dimensi kesejahteraan sosial. hasil pendataan 2009 pada umumnya terjadi peningkatan dibandingkan dengan jumlah PMKS tahun 2008. Anak Jalanan. Dari kondisi diatas. dan rumah tidak layak huni. Gelandangan. Berdasarkan rasio jumlah kabupaten terhadap kota maka jumlah PMKS secara keselurahan lebih banyak terdapat di kabupaten. Bekas Warga Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK). penyandang cacat. dari masing-masing Provinsi. pekerja migran terlantar.000 jiwa (BPS 2009). nampaknya faktor kemiskinan memegang peranan penting dari terjadinya peningkatan jumlah PMKS. seperti fakir miskin. Keluarga yang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sementara 5 jenis PMKS mengalami penurunan jumlah. Korban Penyalahgunaan Napza. Tuna Susila. orang dengan kecacatan (ODK). anak nakal. Korban Tindak Kekerasan/Diperlakukan Salah. Wanita Rawan Sosial Ekonomi. BAB IV REKAPITULASI DAN DISTRIBUSI DATA PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) .Data Susenas dan PPLS 2008 telah mengacu pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik Selanjutnya dilakukan pengolahan data (tabulasi) di tingkat pusat yang berasal dari rekapitulasi data PMKS tingkat Provinsi. Korban Bencana Alam. Populasi yang mengalami . Secara umum Penyebaran jumlah PMKS dideskripsikan lebih besar di Pulau Jawa hal ini wajar mengingat distribusi penduduk Indonesia lebih besar di Pulau Jawa kondisi ini sejalan dengan data kepadatan penduduk menunjukkan bahwa kepadatan tertinggi adalah Pulau Jawa. Total Kabupaten/Kota yang dilakukan pendataan PMKS di seluruh Indonesia adalah 465 Kabupaten/Kota. Di era sekarang ini. Komunitas Adat Terpencil. Data ini dapat diinterpretasikan bahwa permasalahan sosial merupakan salah satu akibat dari perubahan sosial ternyata menimbulkan akibat atau dampak pada tumbuh dan berkembangnya permasalahan sosial pada tingkat lokal. dan keluarga fakir miskin Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa 17 jenis PMKS mengalami peningkatan jumlah yakni Anak Balita Telantar. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis. Pengemis. Namun. secara khusus. Korban Bencana Sosial. Untuk jumlah PMKS secara keseluruhan. tapi ada juga yang mengalami penurunan yakni keluarga rentan. kemiskinan merupakan masalah utama yang terbentang dalam domain masalah sosial dan masalah kesejahteraan sosial.

laki-laki dan perempuan. tingginya beban biaya pendidikan. dan menjadi anak jalanan untuk mencari uang. Kemiskinan membuat anak-anak usia sekolah menjadi tidak bersekolah. buruh migran. dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Banyak anak tidak bersekolah. daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan. Masalah yang mereka hadapi adalah masalah biaya. kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi. kesehatan. lantai masih . Biaya pendidikan merupakan salah satu bagian yang cukup besar dari pengeluaran rumahtangga berpendapatan rendah.problema ini dikenal dengan istilah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) atau Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi kemiskinan ini sangat berhubungan dengan peningkatan jumlah PMKS. membeli seragam. pendidikan. Hubungan kemiskinan dengan PMKS dapat terlihat dalam gambar 1 berikut ini : Gambar 1 : hubungan kemiskinan dengan PMKS Sekarang ini. Keterbatasan masyarakat miskin untuk mengakses layanan pendidikan dasar terutama disebabkan terbatasnya jangkauan fasilitas pendidikan. Sedangkan mutu pendidikan ditunjukkan oleh rasio siswa dengan guru. Kemiskinan juga menyebabkan penduduk tidak mampu memiliki rumah yang layak huni (RTLH) dari sisi kesehatan. Adapun pos-pos yang mereka keluarkan untuk biaya pendidikan bagi rumah tangga yang termasuk berpenghasilan rendah yakni biaya pendidikan per anak untuk SD. terbatasnya prasarana dan sarana pendidikan. asupan gizi. sarana belajar. termasuk ketersediaan dan koleksi perpustakaan. dan terbatasnya jumlah SLTP di daerah perdesaan. tetapi juga kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang. Masyarakat miskin menaruh harapan bahwa pendidikan akan membawa perbaikan taraf hidup yang lebih baik. Kondisi kemiskinan terlihat dari pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan. Dari biaya pendidikan tersebut belum termasuk untuk transportasi. Dari Kondisi yang telah disebutkan menyebabkan anak-anak dari keluarga miskin menjadi terlantar dalam bidang pendidikan. antara lain luas lantai atau rumah kurang dari delapan meter persegi. menjadi pekerja anak. Rendahnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan ditunjukkan oleh Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). putus sekolah. prestasi belajar siswa. dan rumah tinggal yang layak huni. biaya pendaftaran. terbatasnya akses layanan pendidikan dan rendahnya mutu layanan pendidikan. terbatasnya jumlah sekolah yang layak untuk proses belajar-mengajar. gelandangan dan pengemis. dan putus sekolah. angka putus sekolah. Menurut BPS ada 14 kriteria rumah tidak layak huni. jumlah guru bermutu. dan pengeluaran lain-lain. Bagamana kemiskinan ini menimbulkan semakin bertambahnya jumlah PMKS di Indonesia sesuai data yang diperoleh dari kegiatan kompilasi data PMKS 2009. untuk SLTP dan untuk SLTA.

Faktor-faktor ini juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah balita terlantar. Tantangan lainnya adalah bagaimana menjaga . berdinding bambu. perilaku berisiko seperti penggunaan jarum suntik bersama. Ancaman epidemi telah terlihat melalui data infeksi HIV yang terus meningkat khususnya di kalangan kelompok berisiko tinggi di beberapa tempat di Indonesia. menurunya derajat kesehatan kesehatan seperti tingginya angka kejadian diare. menjadi cacat. Dari sisi ini terlihat bahwa akan banyak balita menjadi terlantar dalam hal asupan gizi.berupa tanah. penyakit kulit. Pemenuhan kebutuhan pangan yang layak masih menjadi persoalan bagi masyarakat miskin. Saat ini epidemi HIV ini masih terkonsentrasi. namun tinggi pada populasi-populasi tertentu. menurut data BPS. belum mempunyai jamban. TBC. serta kurangnya pengetahuan dan informasi pencegahan HIV/AIDS. dan beban penyakit terberat. Angka kematian bayi (AKB) pada kelompok berpendapatan rendah masih selalu di atas AKB masyarakat berpendapatan tinggi. dan penyakit lain akibat rendahnya kualitas air yang digunakan. HIV/AIDS di Indonesia adalah sebuah epidemi. Pada umumnya kesulitan pemenuhan pangan ini disebabkan oleh rendahnya daya beli. Pada umumnya tingkat kesehatan masyarakat miskin masih rendah. Status kesehatan masyarakat miskin diperburuk dengan masih tingginya penyakit menular seperti malaria. dan mandi) pada rumah tangga tidak layak huni terutama pada kawasan pedesaan erat kaitannya dengan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di Indonesia yang dapat mempercepat penyebaran HIV/AIDS antara lain meningkatnya penggunaan napza suntik. dengan tingkat penularan HIV yang rendah pada populasi umum. Terbatasnya kecukupan dan kelayakan pangan berkaitan dengan rendahnya gizi baik nutrisi maupun kalori.3% penduduk atau lebih dari 90 juta orang hidup di daerah endemik malaria. Hal ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS telah menjadi ancaman bagi Indonesia. keengganan pelanggan seks pria untuk menggunakan kondom. meskipun telah turun dari 61 (per 1000 kelahiran) pada tahun 1999 menjadi 64 pada tahun 2000. tingginya angka migrasi dan perpindahan penduduk. termasuk diantaranya harm reduction pada pengguna napza suntik. Sekitar 46. Salah satu kriteria RTLH adalah akses sanitasinya. dan belum menggunakan penerangan listrik. Tidak adanya MCK yang memenuhi syarat kesehatan dan rendahnya cakupan air bersih (air minum. anak balita dan ibu. Kondisi ini mengakibatkan persoalan-persoalan seperti meningkatnya jumlah rumah tanga tidak layak huni. Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi. tingginya kematian balita di Indonesia. kecenderungan melahirkan bayi cacat atau lahir dengan resiko penyakit yang membahayakan kesehatan ketika dewasa nanti. tingginya penyakit seksual menular pada anak jalanan. dan 53 pada tahun 2001 kemudian data BPS tahun 2009 menurun menjadi 51. dan HIV/AIDS. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melaksanakan program yang secara efektif bisa mengatasi faktor risiko ini.

budaya masyarakat lebih mendahulukan bapak.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS serta sekitar sejuta orang yang mengidap virus HIV.10 Antar permasalahan tersebut pun saling berhubungan. kemudian anak laki-laki. Asupan gizi anggota keluarga dalam satu rumahtangga miskin berbeda antara perempuan dan anak perempuan dengan laki-laki dan anak laki-laki. terbatasnya peluang pengembangan usaha. Akibat kondisi ini. Usaha yang dilakukan masyarakat miskin juga sulit berkembang karena menghadapi persaingan yang tidak seimbang. Akibat penyakit HIV juga berpengaruh langsung terhadap penduduk usia produktif dan para pencari nafkah dengan kasus yang terus meningkat. dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga. sehingga juga menimbulkan meningkatnya jumlah anak terlantar. Hal ini terjadi karena dalam hal makan. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini seringkali menyebabkan mereka terpaksa melakukan pekerjaan yang beresiko tinggi dengan imbalan yang kurang seimbang dan kurang kepastian akan keberlanjutannya. data PMKS ODHA menunjukkan adanya peningkatan di banding data tahun 2009. buruh migran. Oleh karena itu.ketersediaan dan keterjangkauan obat antiretroviral. Kematian laki-laki dan perempuan pencari nafkah yang disebabkan oleh penyakit tersebut berakibat pada hilangnya pendapatan masyarakat miskin dan meningkatnya jumlah anak yatim/piatu. Bagi perempuan permasalahannya menjadi lebih kompleks karena negara melegitimasi diskriminasi upah bagi perempuan melalui UU Perkawinan Tahun 1974 pasal I yang mengatakan laki-laki sebagi kepala keluarga dan perempuan sebagai ibu rumahtangga. pengemis. lalu cacat yang terjadi pada saat bayi dalam masa pertumbuhan. keterbatasan modal. dan konflik-konflik sosial. lemahnya perlindungan terhadap aset usaha. Banyaknya kejadian bencana alam. Kemiskinan juga menyebabkan mereka menjadi gelandangan. dan baalita terlantar. Buruknya kondisi gizi ibu hamil akibat kebiasaan tersebut mengakibatkan tingginya angka kematian ibu pada waktu melahirkan dan setelah melahirkan kemudian orang tua (ibu) melahirkan bayi yang cacat. Namun data terbanyak menyebutkan jumlah paca terjadi akibat dari bawaan sejak lahir dan pengaruh dari kesehatan orang tua nya (kurangnya gizi ibu hamil) Masyarakat miskin hanya memiliki sedikit pilihan atas pekerjaan yang layak dan peluang yang terbatas untuk mengembangkan usaha mereka. UU ini yang dijadikan rujukan bagi pembuatan peraturan pengupahan. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) . serta kurangnya ketrampilan dan pendidikan. banyak lanjut usia terlantar dan wanita rawan sosial ekonomi. baru kemudian anak perempuan dan terakhir ibu. menyebabkan bertambahnya jumlah korban bencana alam dan bencana sosial. disamping cacat yang diakibatkan kecelakaan. Diperkirakan bahwa pada 2010 akan ada sekitar 110. masalah utama yang dihadapi masyarakat miskin adalah terbatasnya kesempatan kerja.

yakni PSM. Selama ini dalam berbagai masalah sosial. program kemitraan ekonomi masyarakat. Karang taruna merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan yang berada di setiap desa/kelurahan. . Perlahan-lahan jumlah mereka selalu mengalami penurunan. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan. Karang Taruna. dan WKBSM. maka banyak PSM kehilangan pegangan. yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial. yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari. program peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. WKBSM. melalui program-program antara lain pembangunan infrastruktur sosial ekonomi masyarakat. pertumbuhan dan perkembangan KUBE. Demikian juga dengan karang taruna. Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap keberadaan karang taruna menyebabkan terjadinya penurunan jumlah karang taruna. Keberadaan dunia usaha dalam melaksanakan program pembangunan kesejahteraan sosial merupakan perwujudan dari tanggung jawab sosial dunia usaha (Corporate Sosial Responsibility) agar masyarakat sekitar perusahaan maju dan berkembang seiring dengan kemajuan perusahaan. Orsos. Dunia usaha relatif tetap jumlahnya. serta program penguatan kapasitas kelembagaan pemberdayaan masyarakat. Karang taruna dalam program KUBE berperan menjadi pendamping dibawah kordinasi Depsos. kemantapan. langkah ini bertujuan menjamin kelangsungan. agar jumlah mereka meningkat. Perlu dilakukan usaha-usaha untuk menumbuhkan kepedulian dunia usaha terhadap usaha kesejahteraan sosial. dimana PSM kehilangan induknya pada saat Depsos dibubarkan. Dengan demikian sangatlah penting mempertahankan keberadaan dunia usaha yang melakukan usaha kesejahteraan sosial. oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa / Kelurahan atau komunitas sosial sederajat. Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia dilingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada. Program pembangunan kesejahteraan sosial yang telah banyak dilakukan oleh dunia usaha selama ini telah memberikan kontribusi yang nyata dalam hal peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Pendampingan dilaksanakan mengingat karakteristik PMKS yang memiliki keterbatasan wawasan dan akses terhadap informasi serta potensi sosial ekonomi disamping kecenderungan anggota KUBE untuk menarik diri / keluar cukup tinggi. dan tidak memiliki arah tugas yang jelas. karang taruna merupakan mitra Depsos yang membantu dalam penanganan masalah tersebut.Data 2009 menunjukkan bahwa terjadi penurunan pada jumlah PSKS pada tiap jenisnya. Di era otonomi daerah ini karang taruna mengalami penurunan jumlah. Organisasi ini menjadi sarana bagi para pemuda dan pemudi untuk mengaktualisasi bakat dan kemampuannya. orsos. Seiring dengan era otonomi. hanya Dunia Usaha yang menunjukkan peribahan relatif tetap.

keterbelakangan. bimbingan. Keterlibatan langsung orsos akan menjadi kekuatan dahsyat untuk mendobrak permasalahan klasik yang selama ini membelenggu kehidupan masyarakat. Perekat inilah yang jika kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah dikhawatirkan akan menjadi pudar. Orsos memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk merubah kultur/mentalitas dari menggantungkan diri menjadi mandiri yang berjiwa wirausaha.462Jiwa 3Anak NakalAN155. Orsos memiliki tanggung jawab untuk melibatkan diri secara langsung didalam proses pembangunan kesos. Dalam hal ini pemerintah daerah hendaknya memberikan dorongan yang kuat bagi orsos untuk lebih meningkatkan peranannya agar menjadi pelopor penggerak pembangunan kesos di daerahnya dan juga dapat memicu orsos semakin bertambah jumlahnya. Secara universal dalam kehidupan masyarakat memang terdapat keperangkatan.WKSBM adalah media interaktif warga masyarakat dalam upaya membangun daya (kemampuan) warga masyarakat sendiri agar mampu meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya melalui pemberian dorongan. REKAPITULASI JUMLAH PMKS TINGKAT NASIONAL PER JENIS PMKS TAHUN 2009 NOJENIS PMKSSINGKATANJUMLAHSATUAN 1Anak Balita TerlantarABT1. kepranataan dan nilai sosial budaya dalam berbagai sektor kehidupan dalam suatu pola kehidupan bermasyarakat yaitu berupa modal sosial. WKBSM terbentuk dari perangkat kepranataan lokal.843Jiwa . yakni masalah kemiskinan.941Jiwa 2Anak TerlantarAT3. Kondisi demikian akan menumbuhkan daya kreasi yang sangat berguna bagi sukses tidaknya pembangunan kesos. motivasi.284. dan pendampingan. Organisasi sosial (orsos) juga merupakan pilar pembangunan kesejahteraan sosial. ketunaan dan kebodohan.776Jiwa 5Wanita Rawan Sosial EkonomiWRSE1. serta membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya sehingga menjadi kekuatan efektif juga dalam mengatasi permasalahan-permasalahan kesejahteraan sosial keluarga maupun masyarakat lokal. sehingga pada akhirnya secara perlahan-lahan jumlah WKBSM akan menurun.228Jiwa 6Korban Tindak KekerasanKTK100. secara arif merupakan perekat perilaku masyarakat sejalan dalam proses transformasi sosial budaya melalui wujud dengan terjadi kebangkitan civil society yang diakomodasikan oleh warganya menjadi komitmen besar dalam menghantir permasalahan kesejahteraan sosial warga masyarakatnya diwilayahnya sendiri.186.444Jiwa 4Anak JalananAJ83.176.

631KK REKAPITULASI JUMLAH PSKS TINGKAT NASIONAL PER JENIS PSKS TAHUN 2009 KodeProvinsiPSMORSOSKARANG TARUNAWKSBMDunia Usaha 1234567 11Nanggroe Aceh Darussalam4.6253156.719Jiwa 13Korban Penyalahgunaan NAPZANAPZA48.449Jiwa 22Keluarga RentanRENTAN1.499KK 16Keluarga Bermasalah Sosial PsikologisKBSP360.994.931Jiwa 14Keluarga Fakir MiskinSM2.541.323Jiwa 11GelandanganGLD55.642KK 17Komunitas Adat TerpencilKAT499.414Jiwa 18Korban Bencana AlamKBA1.831Rumah Tangga 15Keluarga Tinggal di Rumah Tak Layak HuniRTLH5.9162540 .7Lanjut Usia TerlantarLUT2.254.935.433Jiwa 12Bekas Warga Binaan Lembaga KemasyarakatanBWBLK136.330Jiwa 8Penyandang CacatPACA1.112Jiwa 20Pekerja Migran TerlantarPMT118.891Rumah Tangga HM7.561.3908253 12Sumatera Utara4.931.833Jiwa 19Korban Bencan SosialKBS318.880.038Rumah Tangga M6.6561914.989.092Jiwa 21Orang dengan HIV/AIDSODHA19.043Jiwa 10PengemisPNG33.942Jiwa 9Tuna SusilaTS47.

8606502.4451.2011.1892431.14362Kalimantan Tengah50416540695744 63Kalimantan Selatan4.9296532.1264071.46638874Sulawesi Tenggara1.2271.7461.543432618 34DI.64513985820271Sulawesi Utara90339631318 72Sulawesi Tengah6036327610073Sulawesi Selatan3.3994.480776 33Jawa Tengah38. Yogyakarta4.1681725 18Lampung2.7431.0068.426626821190160 15Propinsi Jambi389201745-16Sumatera Selatan1.7577.262185 52Nusa Tenggara Barat2.84620761Kalimantan Barat9.6413041.512228553431103 14Riau1.46636553 75Gorontalo301040655 76Sulawesi Barat537416618334- .23268560020911 53Nusa Tenggara Timur13.13Sumatera Barat2.5997356901.4628.43141.43532443813048 35Jawa Timur25.0267.825321 64Kalimantan Timur1.400 36Banten 5.71752183 17Bengkulu1.2862002.5791.832267-32Jawa Barat7.6569001.873 51Bali3.7131.7971151.4573362.1845047 19Kepulauan Bangka Belitung4035033910728 21Kepulauan Riau294136-4686 31DKI Jakarta 3.

170 .2096.69557.2127325 Indonesia152.11019.78961.81Maluku417219114-82Maluku Utara895866485201204 91Papua Barat680197913203 94Papua3.1597181.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful