P. 1
Proses Belajar

Proses Belajar

|Views: 152|Likes:
Published by dudi_achadiat

More info:

Published by: dudi_achadiat on Mar 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2011

pdf

text

original

dsrkp 05

Proses Belajar.
Penyempurnaan Proses Belajar Mengajar - Pokok-pokok Pedoman Proses Belajar Mengajar - BUKU II - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus – 1980

DAFTAR ISI
1. PROSES BELAJAR. ..............................................................................................................................1 1.1. Belajar itu menambah pengetahuan. ......................................................................................1 1.1.1. Identifikasi Tujuan Belajar. ......................................................................................................1 1.1.2. Identifikasi Posisi Mahasiswa "Sekarang"...............................................................................2 1.1.3. Memilih Perilaku Mahasiswa (Entry Behavior). .......................................................................2 1.1.4. Tujuan Perilaku (Behavioral Objectives). ................................................................................2 1.2. Belajar itu menurut suatu hukum dan dapat diduga................................................................2 1.2.1. Motivasi untuk belajar. ............................................................................................................3 1.2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat dan derajat belajar. ...............................................3 1.2.3. Partisipasi aktif........................................................................................................................4 1.3. 1.4. Faktor-faktor masa lalu ......... .................................................................................................4 Interaksi mahasiswa-dosen yang produktif .............. ..............................................................5

2. PENGANTAR PEMILIHAN METODA PENGAJARAN YANG BAIK. ....................................................5

i

penyempurnaan proses belajar menajar

1.

Proses Belajar.

Belajar adalah mengingat, mengerti, menerangkan, menganalisis, mensintesa, mengevaluasi, berfikir, merasakan, percaya, berpartisipasi, melaksanakan, dll.......... (1 - p. 105). Belajar adalah setiap perubahan dari tingkah laku yang bukan merupakan pendewasaan/pematangan atau yang disebabkan oleh sesuatu kondisi sementara dari organisme (1 - p. 105). Sifat pembawaan seseorang dapat membantu atau menghalangi keterampilan belajar. Dosen tidak akan pernah mampu membuat tujuan belajar menjadi sesuatu yang sudah pasti dicapai, terlampau banyak faktor yang berada diluar jangkauan kekuasaan dosen dan mahasiswa, sehingga tujuan belajar itu sesungguhnya adalah : membuat belajar lebih mungkin, lebih ekonomis, lebih efektif dan lebih terduga (1 - p. 107). Agar kemungkinan keberhasilan belajar itu dapat ditingkatkan secara efektif, kita harus menerima empat dalil utama belajar yang telah dibenarkan oleh penelitian sebagai berikut (1 - pp. 107-108) : 1. Belajar itu menambah pengetahuan (incremental). Komponen-komponen belajar yang lebih sederhana membentuk perilaku belajar yang lebih kompleks. Suatu pelajaran yang kompleks (complex learning) haruslah ditempuh langkah demi langkah secara sistematis. 2. Belajar itu pada dasarnya menurut suatu hukum dan dapat diduga (predictable), dengan mengindahkan prinsip-prinsip belajar, maka kita akan dapat meningkatkan pengendalian terhadapnya. Sehingga, seyogyanya, pengajar dan mahasiswa mencari pengetahuan psikologis yang akan menghasilkan peningkatan kontrol maupun fasilitas untuk memudahkan upaya pencapaian tujuan pelajaran. 3. Faktor-faktor masa lalu tidak menutup kemungkinan maupun menjamin keberhasilan belajar saat ini, walaupun demikian, predisposisi (predisposes) dan proses belajar sebelumnya tetap berpengaruh terhadap prestasi-prestasi belajar mahasiswa saat ini, sehingga yang penting dilakukan adalah : memusatkan perhatian pada upaya belajar saat ini dan mengurangi (menghapuskan) pengaruh negatif masa lalu mahasiswa. 4. Interaksi mahasiswa vs. dosen yang produktif akan menghasilkan proses belajar yang jauh lebih baik.

1.1. Belajar itu menambah pengetahuan.
Dalil belajar itu menambah pengetahuan (incremental) menyiratkan pengertian bahwa : komponen-komponen belajar yang lebih sederhana membentuk perilaku belajar yang lebih kompleks. Suatu pelajaran yang kompleks (complex learning) haruslah ditempuh langkah demi langkah secara sistematis. Seberapa efisien dan efektifnya suatu proses belajar, salah satu diantaranya, sangatlah ditentukan oleh : sejauh mana proses belajar tersebut selaras dengan dalil ini (1 - p. 110). Sehubungan dengan dalil belajar itu menambah pengetahuan (incremental) , tahap langkah pertambahan dalam pencapaian tujuan adalah penting untuk jelas diketahui dan teridentifikasi, dan yang lebih penting lagi : 1. serangkaian tahap-tahap langkah pertambahan hasil belajar haruslah ditempuh untuk dapat tercapainya tujuan ybs., 2. dalam hal serangkaian tahap-tahap langkah untuk diperolehnya pertambahan hasil belajar telah dilalui namun belum dicapai hasil sebagaimana yang diharapkan, dosen dan mahasiswa haruslah berupaya mencari tahap langkah (tahap-tahap langkah) terlewatkan (tidak disadari sebelumnya perlu ada), kemudian menyelesaikan tahap langkah ini sebelum berlanjut pada tahap langkah selanjutnya.

1.1.1. Identifikasi Tujuan Belajar.
Untuk dapat terbentuknya perilaku belajar yang efisien, tujuan belajar haruslah terlebih dahulu teridentifikasi secara cermat. Kriteria cermat yang dimaksud disini kurang lebih sbb (1 - p. 109) : 1. menyatakan perilaku yang sesuai dengan tujuan belajar, 2. merupakan "alat" dengan mana dapat teridentifikasi perilaku-perilaku yang tidak relevan dengan tujuan atau sia-sia,

1

penyempurnaan proses belajar menajar

3. menyatakan dengan jelas kapan belajar yang berhasil itu tercapai (jangka waktu pencapaian tujuan oleh mahasiswa yang masuk akal adalah hal penting yang harus ternyatakan dalam suatu rumusan tujuan belajar), 4. agar upaya belajar mahasiswa dapat lebih terarah sebagaimana mestinya, tujuan-tujuan belajar haruslah bersifat sekarang dan lebih segera, dalam konteks ini, tujuan-tujuan jangka panjang sifatnya adalah untuk meningkatkan motivasi.

1.1.2. Identifikasi Posisi Mahasiswa "Sekarang".
Penerapan pengertian langkah-langkah "incremental" dalam proses belajar mahasiswa menuntut dilakukannya identifikasi kompetensi mahasiswa (yang ada / telah tercapai) pada saat "sekarang", apa yang diketahui mahasiswa "sekarang" dan apa pengetahuan siapnya untuk memungkinkan ia mempelajari hal berikutnya (1 - p. 110). Mahasiswa dan/atau dosen harus menentukan posisi mahasiswa pada "continuum" belajar tersebut sehingga pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diharapkan akan dapat terbentuk secara kumulatif dan bukan secara acak-acakan (1 - p. 110).

1.1.3. Memilih Perilaku Mahasiswa (Entry Behavior).
Setelah tujuan belajar dapat teridentifikasi secara spesifik, dalam rangka tercapainya tujuan tersebut secara efektif dan efisien, salah satu langkah yang kemudian harus ditempuh adalah memilih bentuk perilaku yang akan paling produktif dan relevan sehubungan dengan tujuan tersebut (1 - p. 110). Hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan/memilih bentuk perilaku yang akan paling produktif misalnya : dengan bahan apa dan dalam kondisi bagaimana mahasiswa belajar terbaik, apakah dengan mendengar ?, membaca ?, melihat ?, mendiskusikan ?, merasa ?, bergerak ? (1 - p. 110). Pengajar mengenal mahasiswa dan mahasiswa mengenal dirinya merupakan suatu hal yang sangat penting, karena tujuan dasar dalam pendidikan adalah : agar pengajar dan mahasiswa semakin terampil mengatur dengan baik proses belajar mahasiswa (1 - p. 111). Penetapan/pemilihan bentuk perilaku seperti dimaksud diatas haruslah sedemikian sehingga mahasiswa dapat semakin melibatkan diri dalam bentuk-bentuk perilaku yang dipilih/ditetapkan tersebut karena dialah yang pada akhirnya memikul tanggung jawab belajar untuk dirinya (1 - p. 111). Apabila seorang mahasiswa berhasil menemukan untuk dirinya perilaku-perilaku belajarnya yang paling efektif, seyogyanya, yang demikian ini, dipandang sebagai suatu pencapaian yang paling berharga untuk mahasiswa tersebut (1 - p. 111). Suatu tujuan tambahan yang penting adalah : pengembangan secara sadar dari berbagai cara belajar sehingga mahasiswa memiliki seperangkat (repertoire) perilaku belajar (1 - p. 111).

1.1.4. Tujuan Perilaku (Behavioral Objectives).
Penetapan Tujuan Perilaku (Behavioral Objectives) atau Sasaran Pendidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi dengan cermat serta menyesuaikan dengan kondisi mahasiswa 2 hal sbb. (1 - p. 112) : 1. tujuan-tujuan pelajaran yang hendak dicapai, serta 2. perilaku yang relevan dengan pelajaran tersebut Semakin besar tanggung jawab yang dapat dipegang oleh mahasiswa untuk secara "intelligent" menentukan tujuan perilaku dirinya, semakin berdikari dan kompetenlah ia dalam mengembangkan pengendalian proses belajar dirinya (1 - p. 112). Adalah sama salahnya untuk mengembangkan suatu program instruksional yang menempatkan semua tanggung jawab pada setiap mahasiswa ataupun melanjutkan suatu program yang tidak menaruh suatu tanggung jawab dalam diri mahasiswa. Tanggung jawab yang dipikul mahasiswa hanyalah akan berfaedah apabila hal itu produktif (1 - p. 112).

1.2. Belajar itu menurut suatu hukum dan dapat diduga.
Dengan mengindahkan prinsip-prinsip belajar, maka kita akan dapat meningkatkan daya kendali terhadapnya. Sehingga, seyogyanya, pengajar dan mahasiswa mencari pengetahuan psikologis 2

penyempurnaan proses belajar menajar

yang akan menghasilkan peningkatan daya kendali maupun fasilitas untuk memudahkan upaya pencapaian tujuan pelajaran (1 - p. 118).

1.2.1. Motivasi untuk belajar.
Motivasi untuk belajar sangatlah mungkin merupakan satu-satunya faktor yang terpenting untuk dapat tercapainya tujuan belajar (1 - p. 113). Motivasi atau keinginan untuk belajar adalah dorongan dasar manusiawi, seperti halnya keinginan akan keamanan, pangan dan rumah. Dorongan belajar adalah dorongan untuk "mencari/menemukan"; dorongan untuk menguasai suatu "kompetensi", dorongan untuk "menguasai lingkungan", dorongan untuk dapat "menjelaskan yang tidak/belum diketahui", dll.... (1 - p. 114). Motivasi yang ada dalam diri mahasiswa, tidak berada dibawah kendali langsung, namun sangat responsif terhadap faktor-faktor lingkungan yang berada dibawah kendali langsung mahasiswa maupun dosen yakni (1 - pp. 113-114) : 1. tingkat kecemasan atau kepribadian mahasiswa terhadap pelajaran, 2. nada perasaan mahasiswa sehubungan dengan pelajaran, 3. perhatian mahasiswa terhadap pelajaran, 4. tingkat keberhasilan belajar mahasiswa dalam belajar, 5. pengetahuannya mengenai hasil-hasil atau umpan balik dari performance belajarnya, 6. hubungan dari kegiatan belajar mahasiswa dengan tujuan yang ingin dicapainya. Faktor-faktor yang diuraikan diatas dapat dimanipulir atau dirubah oleh mahasiswa maupun oleh dosen (1 - p. 114). Dosen yang faham dan memiliki kecakapan mempengaruhi ke-enam faktor motivasional diatas akan dapat sangat membantu mahasiswa yang tidak termasuk "self-starter". Motivasi extrinsic yang demikian efektif untuk meningkatkan belajar mahasiswa dan merupakan dorongan pendahuluan untuk dapat berkembangnya motivasi intrinsic (1 - p. 115). .Dalam keadaan-keadaan tertentu keinginan belajar, secara tidak sadar, telah terpadamkan atau telah sampai pada kondisi dimana mahasiswa telah "belajar" untuk tidak berusaha belajar lagi. Situasi yang demikian nampak pada mahasiswa remedial yang telah "menyerah", yakin bahwa ia tidak mampu untuk belajar atau yakin bahwa belajar itu tidak ada gunanya. Dalam kondisi yang demikian, apabila mahasiswa yang demikian akan dilibatkan kembali dalam proses belajar, maka motivasi belajarnya haruslah terlebih dahulu dihidupkan kembali. Penghidupan motivasi seperti yang demikian ini amat jarang dapat dilakukan sendiri oleh mahasiswa ybs., sehingga biasanya diperlukan intervensi dosen khususnya dalam menentukan variabel motivasional mana didalam lingkungannya yang dapat dimanfaatkan sehingga berdampak paling produktif terhadap upaya belajar mahasiswa ybs. (1 - p. 114).

1.2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat dan derajat belajar.
Setelah pada mahasiswa timbul dorongan untuk belajar, entah dorongan itu muncul dari dirinya atau berasal dari dosen atau dari berasal dari siapapun, apa yang dilakukan oleh mahasiswa dapat merupakan kegiatan belajar yang efisien, namun dapat pula merupakan suatu penghamburan energi, waktu, berbagai sumber daya dll.... (1 - p. 115). Sekedar mengalokasikan lebih banyak waktu sama adalah suatu cara yang sangat tidak efisien untuk menambah tingkat dan derajat belajar. Yang lebih penting adalah : apa yang diperbuat mahasiswa dalam jangka waktu yang tersedia (1 - p. 115). Dalam rangka menaikkan tingkat dan derajat belajar mahasiswa yang penting dipertimbangkan adalah (1 - pp. 115-116) : 1. Materi yang akan dipelajari. Dalam mempertimbangkan materi, haruslah diperoleh jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan sbb. : • berapa banyak materi yang akan dikerjakan dalam jangka waktu yang ditentukan ? 3

penyempurnaan proses belajar menajar

• •

dalam urutan yang bagaimana materi ini akan dipelajari ? (dan yang terpenting, bagaimana caranya membentuk hubungan-hubungan penting baik untuk hubungan-hubungan yang ada didalam materi tsb., ataupun hubungannya dengan pelajaran sebelumnya, sehingga semua itu akan lebih mempunyai arti (manfaat) ?. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas haruslah mengindahkan prinsip-prinsip belajar yang berlaku yang kemudian diterapkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan ciri-ciri khas (idiosyncrasies) mahasiswa ybs.

2. Perilaku mahasiswa atau apa yang akan dilakukan mahasiswa untuk mencapai tujuan pelajaran tersebut. Penilaian atau pertimbangan harus dilakukan sehubungan dengan perilaku mahasiswa pada saat ia terlibat dalam proses belajar, dalam kegiatan-kegiatan manakah (membaca, mendengar, berdiskusi, membuat ikhtisar, ........ ) mahasiswa akan terlibat. Keputusan sehubungan dengan ini, selain telah mempertimbangkan karakteristik khas mahasiswa ybs.(misalnya : umur mahasiswa, kemampuan untuk memusatkan perhatian, derajat perhatian terhadap pelajaran, ....dll....), haruslah juga sejalan dengan prinsip-prinsip belajar yang berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan terbukti efektif. Sehubungan dengan prinsip bahwa :  praktek belajar dalam jangka waktu tertentu yang dipadatkan menghasilkan proses belajar yang cepat, dan  praktek belajar yang didistribusikan dalam jangka waktu yang lebih panjang akan dapat diingat lebih lama, maka pengaturan waktu praktek belajar mahasiswa seyogyanya diatur sbb. : dipadatkan pada tahap awal, kemudian setelah derajat kompetensi tertentu dicapai, didistribusikan dalam jangka waktu yang lebih panjang

1.2.3. Partisipasi aktif.
Idealnya, mahasiswa terlibat secara aktif dalam upaya pencapaian tujuan belajar dan dosen dapat menjalankan suatu peran bimbingan yang telah tersesuaikan dengan karakteristik khas mahasiswa yang sifatnya sangat membantu menjadikan segala kegiatan dan upaya mahasiswa relevan dengan tujuan belajar, serta efisien, efektif dan berhasil dalam mencapai tujuan tersebut (1 - p. 117). Belajar dengan cara melakukan (learning by doing) tidaklah selamanya merupakan hal yang perlu dilakukan dan menghasilkan suatu efisiensi yang baik (1 - p. 117). Hampir semua orang belajar secara efektif bahwa ular sendok itu berbahaya tanpa harus terlebih dahulu kena gigitan ular tersebut atau memeliharanya, sebaliknya, tak seorangpun akan pernah berhasil belajar melukis dengan cat minyak tanpa ia pernah bekerja dengan kuas dan kanvas. Dengan analogi yang sama, apabila seorang dosen tidak pernah "bekerja" dengan mahasiswa, maka, dapat dipastikan, ia akan mengalami kesulitan untuk belajar membuat keputusan-keputusan mengajar yang syah (dapat dipertanggungjawabkan) (1 - p. 118). Ribuan orang telah bekerja dengan cat minyak, namun mereka bukanlah pelukis-pelukis yang baik, dan ada juga beberapa orang dewasa yang praktis bekerja tiap hari di depan kelas, namun mereka tidak pernah menjadi dosen yang baik. Sekedar "melakukannya" tidaklah mesti menghasilkan pelajaran yang diinginkan dan efektif, walaupun demikian, keterlibatan aktif dalam apa yang hendak dipelajari, dalam kebanyakan hal, memang terbukti, dapat mempercepat (proses) belajar (1 - p. 118).

1.3. Faktor-faktor masa lalu .........
Faktor-faktor masa lalu tidak menutup kemungkinan maupun menjamin keberhasilan belajar saat ini, walaupun demikian, predisposisi (predisposes) dan proses belajar sebelumnya tetap berpengaruh terhadap prestasi-prestasi belajar mahasiswa saat ini, sehingga yang penting dilakukan adalah : memusatkan perhatian pada upaya belajar saat ini dan mengurangi (menghapuskan) pengaruh negatif masa lalu mahasiswa (1 - p. 118). Banyak fihak yang menjadikan masa lalu sebagai alasan atau dalih dari kegagalan belajar saat ini. Yang demikian ini tidak dapat dipertahankan lebih lama, mengingat telah terbukti bahwa tidak ada faktor keturunan maupun lingkungan yang sama sekali tidak memungkinkan belajar saat ini. Namun sebaliknya, juga tidak ada faktor keturunan maupun pengaruh pengalaman masa lalu yang menjamin sepenuhnya keberhasilan belajar saat ini. Yang pasti benar adalah : masa lalu memang merupakan faktor yang dapat mengakibatkan keberhasilan atau kegagalan lebih berkemungkinan terjadi. Hal yang ditekankan disini adalah : memang tidak semua orang dapat menjadi lulusan perguruan tinggi, 4

penyempurnaan proses belajar menajar

namun belajar yang kondisinya tersesuaikan dengan ybs. adalah mungkin (possible) untuk setiap orang (1 - pp. 119-120). Pengetahuan mengenai faktor-faktor masa lalu merupakan informasi yang dapat membantu mahasiswa ataupun dosen merancang masa kini dengan lebih baik. Gagal atau berhasilnya upaya pencapaian tujuan belajar lebih ditentukan oleh tujuan dan perilaku belajar di masa kini (1 - p. 120). Pengaruh-pengaruh yang mungkin dari masa lalu sama sekali tidak boleh diremehkan. Pengetahuan mengenai masa lalu ini haruslah hanya dimanfaatkan untuk mengelola proses belajar yang sedang berlangsung sedemikian rupa sehingga pengaruh masa lalu tersebut ditekan semaksimal mungkin agar tidak lagi bersifat merugikan (1 - p. 120).

1.4. Interaksi mahasiswa-dosen yang produktif ..............
Dalil ke 4 yang menyebutkan bahwa : Interaksi mahasiswa vs. dosen yang produktif akan menghasilkan proses belajar yang jauh lebih baik, menekan pada pentingnya arti pengajar sebagai suatu profesi. Harus selalu diingat bahwa : "belajar" itu harus dilakukan oleh mahasiswa, tugas dosen adalah : mengupayakan agar dengan mengajar (pengajarannya) proses belajar mahasiswa menjadi ter-fasilitas-i (dapat berlangsung) (1 - p. 108). Salah satu pembeda penting antara mahasiswa yang efisien dan tidak efisien adalah bagaimana mahasiswa tersebut dapat memanfaatkan seorang dosen sebagai tambahan sumberdaya (resources) yang (sebenarnya) disediakan untuk dirinya (1 - p. 120). Kemampuan profesional khusus yang seyogyanya dimiliki oleh seseorang yang disebut sebagai pendidik adalah : kemampuan untuk memudahkan atau mem-fasilitas-i (facilitate) berlangsungnya proses belajar mahasiswa. Kemampuan profesional khusus yang demikian setidaknya meliputi 2 kemampuan sebagai berikut (1 - p. 121) : 1. kemampuan melakukan identifikasi kearah mana bimbingan dan upaya belajar mahasiswa harus ditujukan, 2. kemampuan memasukkan prinsip-prinsip belajar kedalam perilaku belajar mahasiswa sedemikian rupa sehingga pencapaian tujuan belajar menjadi lebih terjamin. Hubungan dosen dengan mahasiswa yang baik biasanya digambarkan dengan sebutan : "hangat", "turut merasakan", "terbuka", dlsb......, namun haruslah selalu diingat bahwa : walaupun kriteriakriteria yang digambarkan dengan sebutan-sebutan semacam ini telah terpenuhi, hubungan dosen dengan mahasiswa tetap tidak dapat dikatakan berhasil apabila kriteria :  sehat, tidak menimbulkan akibat-akibat sampingan yang tidak diingini, serta  produktif (dapat membuahkan perilaku dan produk belajar mahasiswa yang sesuai dengan tujuan belajar yang ditetapkan) belum terpenuhi (1 - p. 121). Interaksi dosen-mahasiswa haruslah diupayakan tercipta dalam kondisi dimana : 1. mahasiswa mengemban kewajiban dan tanggung jawab utama untuk melakukan berbagai usaha/upaya belajar serta ber-perilaku seperti yang seharusnya (sedemikian rupa sehingga tujuan belajar dapat tercapai), 2. mahasiswa dapat memanfaatkan dosennya (dengan sebaik-baiknya) sebagai seorang pembimbing, konsultan, nara sumber, dan bila diperlukan juga sebagai "navigator" dari berbagai usaha, upaya dan perilaku belajarnya.

2.

Pengantar pemilihan Metoda Pengajaran yang baik.

(diambil dari BUKU II, Penyempurnaan Proses Belajar Mengajar, Pokok-pokok Pedoman Proses Belajar Mengajar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Normalisasi Kampus, 1980, saduran terjemahan dari : Ford L., A Primer for Teachers and Leaders). Prakiraan akan efektif atau tidaknya suatu Metoda Pengajaran yang akan diterapkan haruslah dipertimbangkan dengan "melihat" :  tujuan pengajaran,  kemampuan dosen yang akan membawakan pengajaran,  kemampuan mahasiswa,  besarnya kelompok mahasiswa yang akan diajar,  waktu (kapan dan berapa lama) pengajaran akan dibawakan,  fasilitas pengajaran yang tersedia (1 - pp. 126-131). 5

penyempurnaan proses belajar menajar

Metoda -metoda pengajaran yang dapat dipilih, diantaranya, adalah sebagai berikut (1 - pp. 133-157) : 1. :Ceramah, pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara di depan sekolompok pendengar. 2. Diskusi Kelompok, percakapan yang direncanakan atau dipersiapkan diantara tiga orang atau lebih tentang topik tertentu, dengan seorang pemimpin. 3. Panel, pembicaraan yang sudah direncanakan di depan pengunjung tentang topik; diperlukan tiga panelis atau lebih dan seorang pemimpin. 4. Panel-Forum, ialah Panel yang disertai partisipasi pengunjung. 5. Kelompok-Studi Kecil, Kelompok Studi Kecil (Buzz Group) adalah pemecahan kelompok yang lebih besar, Kelompok kecil ini membahas tugas yang diberikan, dan biasanya melaporkan hasilnya kepada kelompok besar. 6. Role Play, pemeranan sebuah situasi dalam hidup manusia dengan atau tanpa diadakan latihan; dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan analisis oleh kelompok. 7. Studi-Kasus (Case-Study), sekumpulan situasi masalah, termasuk detail-detail yang memungkinkan kelompok melakukan analisis masalah tersebut. Permasalahan tsb. merupakan "bagian dari hidup" yang mengandung diagnose, dan pengobatan. Dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis, juga secara dramatis, atau dengan film, dapat juga berupa rekaman. 8. Brainstorming, semacam cara pemecahan masalah dimana anggota mengusulkan dengan cepat semua kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan. Tidak ada kritik. Analisis atas pendapat-pendapat tadi dilakukan kemudian. 9. Kelompok Pendengar, adalah kelompok yang dibentuk dengan membagi pengunjung menjadi beberapa kelompok sebelum suatu acara penyajian. Setiap kelompok ditugaskan untuk mendengarkan dengan tugas khusus. Laporan tentang tugas disampaikan setelah acara penyajian selesai. 10. Debat, sebuah metoda dimana pembicara dari fihak yang pro dan kontra menyampaikan pendapat mereka. Dapat diikuti dengan suatu tangkisan atau tidak perlu. Anggota kelompok dapat juga bertanya kepada peserta debat/pembicara. 11. Diskusi Formil, metoda pemecahan masalah yang sistematis meliputi :  penyampaian masalah,  mengumpulkan data,  mempertimbangkan pemecahan masalah yang mungkin,  memilih cara pemecahan masalah yang terbaik. 12. Simposium, serangkaian pidato pendek didepan pengunjung dengan seorang pemimpin; pidato-pidato yang disampaikan mengungkapkan aspek-aspek yang berbeda mengenai suatu topik tertentu. 13. Simposium-Forum, simposium yang diikuti dengan partisipasi pengunjung.

6

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA CERAMAH (1 - p. 134).
(pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara di depan sekolompok pendengar)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. pada waktu memberi informasi, 2. ketika motivasi pendengar/mahasiswa sedang baik, 3. jika pembicara mahir menggunakan "gambar" dalam kata-kata, 4. jika kelompok pendengar terlalu besar untuk memakai metoda yang lain, 5. jika ingin menambah atau menekankan apa yang sudah dipelajari, 6. ketika mengulangi atau menyampaikan pengantar suatu pelajaran atau kegiatan, 7. jika pendengar akan dapat memahami katakata yang digunakan.

KEUNGGULAN
1. dapat diterapkan untuk orang dewasa, 2. menghabiskan waktu dengan baik, 3. dapat diterapkan untuk kelompok besar, 4. tidak melibatkan banyak alat bantu, 5. dapat dipakai sebagai penambah bahan yang sudah dibaca, 6. dapat dipakai untuk mengulang atau sebagai pengantar suatu pelajaran atau aktifitas.

KELEMAHAN
1. menghalangi respons dari (pendengar), 2. hanya sedikit pengajar yang dapat menjadi pembicara yang baik, 3. pembicara harus menguasai pokok pembicaraan, 4. dapat menjadi kurang menarik, 5. pembicara dapat memanfaatkan pendengarnya, 6. sulit dipakai pada anak-anak, 7. hal-hal yang daya ingat lebih terbatas, 8. biasanya hanya satu indera yang dipakai, 9. pembicara tidak selalu dapat menilai reaksi pendengar

7

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA DISKUSI KELOMPOK (1 - p. 136).
(percakapan yang direncanakan atau dipersiapkan diantara tiga orang atau lebih tentang topik tertentu, dengan seorang pemimpin)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. pada saat diperlukan untuk saling mengemukakan pendapat, 2. untuk menjadikan permasalahan menjadi menarik, 3. untuk membantu peserta mengemukakan pendapatnya, 4. untuk mengenal dan mengolah permasalahan, 5. untuk menciptakan suasana informil, 6. untuk memperoleh pendapat dari orangorang yang tidak suka berbicara.

KEUNGGULAN
1. memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat, 2. merupakan pendekatan yang demokratis, 3. mendorong rasa kesatuan, 4. memperluas pandangan, 5. menghayati kepemimpinan bersama-sama, 6. membantu pengembangan kepemimpinan.

KELEMAHAN
1. tidak dapat terapkan untuk kelompok besar, 2. peserta mendapat informasi terbatas, 3. diskusi mudah menjerumuskan, 4. membutuhkan pemimpin yang terampil, 5. mungkin hanya dikuasai oleh orang-orang yang suka bicara, 6. biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formil.

8

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA PANEL (1 - p. 138)
(pembicaraan yang sudah direncanakan di depan pengunjung tentang topik; diperlukan tiga panelis atau lebih dan seorang pemimpin)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. pada waktu mengemukakan pendapat yang berbeda, 2. jika ada panelis yang memenuhi syarat, 3. jika pokok pembicaraan terlalu luas untuk didiskusikan dalam kelompok tersebut, 4. jika dipandang lebih baik untuk mengajak pengunjung "melihat kedalamnya", tetapi tidak memberi tanggapan secara verbal dalam diskusi, 5. ketika mempertimbangkan keuntungan dan kerugian suatu pemecahan masalah, 6. jika panelis dan moderator bersedia untuk mempersiapkan diri.

KEUNGGULAN
1. membangkitkan pikiran, 2. mengemukakan pandangan yang berbedabeda, 3. mendapatkan hasil, 4. mendorong dilakukannya analisis, 5. memanfaatkan orang yang betul-betul memenuhi syarat.

KELEMAHAN
1. mudah menjadi tersesat, 2. memungkinkan panelis berbicara terlampau banyak, 3. tidak memungkinkan semua peserta mengambil bagian, 4. cenderung untuk menjadi serial pidato pendek, 5. memecahkan pendengar ketika mereka setuju pada panelis tertentu, 6. membutuhkan waktu dan persiapan yang cukup banyak, 7. memerlukan seorang moderator yang terampil.

9

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA PANEL-FORUM (1 - p. 140)
(pembicaraan yang sudah direncanakan di depan pengunjung tentang topik; diperlukan tiga panelis atau lebih dan seorang pemimpin, yang disertai partisipasi pengunjung)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. jika ingin menggabungkan penyajian isi dengan reaksi pengunjung. 2. jika anggota kelompok diharapkan memberi reaksi pada diskusi itu, 3. jika ada pendapat yang sulit dikuasai sehingga perlu dibahas sebelum diajukan secara terbuka, 4. jika waktunya cukup, 5. ketika mempertimbangkan untung-rugi suatu pemecahan masalah, 6. jika ada panelis yang memenuhi syarat, 7. jika mengajukan pandangan yang berbedabeda.

KEUNGGULAN
1. memungkinkan setiap anggota ambil bagian, 2. memungkinkan perputaran tanggung jawab, 3. memungkinkan peserta menyatakan reaksinya, 4. membuat peserta mendengar dengan penuh perhatian, 5. memungkinkan adanya tanggapan terhadap panelis, 6. ada hasilnya, 7. mengemukakan pendapat yang berbedabeda.

KELEMAHAN
1. membutuhkan banyak waktu, 2. memerlukan moderator yang terampil, 3. mungkin terasa terputus-putus, 4. memungkinkan panelis memberi pidato dan bukan berbicara dengan pengunjung, 5. mudah tersesat, 6. mungkin peserta kurang dapat bertanya dengan "betul". 7. memungkinkan orang yang suka bicara memakai waktu yang banyak.

10

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA KELOMPOK STUDI KECIL (BUZZ GROUP) (1 - p. 142)
(Kelompok Studi Kecil (Buzz Group) adalah pemecahan kelompok yang lebih besar, melaporkan hasilnya kepada kelompok besar) Kelompok kecil ini membahas tugas yang diberikan, dan biasanya

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. jika kelompok terlalu besar sehingga tidak memungkinkan setiap orang berpartisipasi, 2. ketika mengolah beberapa segi sebuah pokok, 3. jika ada anggota kelompok yang lamban dalam mengambil bagian, 4. jika waktu terbatas, 5. untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelompok.

KEUNGGULAN
1. mendorong peserta yang malu-malu, 2. menciptakan suasana yang menyenangkan, 3. memungkinkan pembagian tugas kepemimpinan, 4. menghemat waktu, 5. memupuk kepemimpinan, 6. memungkinkan pengumpulan pendapat, 7. dapat dipakai bersama metoda lainnya, 8. memberi variasi.

KELEMAHAN
1. mungkin terjadi kelompok yang terdiri dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa, 2. mungkin berputar-putar, 3. mungkin ada pemimpin yang lemah, 4. laporan mungkin tidak tersusun dengan baik, 5. perlu belajar sebelumnya bila ingin mencapai hasil yang baik, 6. mungkin terjadi klik-klik untuk sementara, 7. biasanya banyak makan waktu untuk mempersiapkan.

11

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA ROLE PLAY (1 - p. 144)
(pemeranan sebuah situasi dalam hidup manusia dengan atau tanpa diadakan latihan; dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan analisis oleh kelompok)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. jika peserta perlu mengetahui lebih banyak tentang pandangan yang berlawanan, 2. jika peserta mempunyai kemampuan untuk memakainya, 3. pada waktu membantu peserta "memahami" suatu masalah, 4. jika ingin mencoba mengubah sikap, 5. jika pengaruh emosi dapat membantu dalam penyajian masalah, 6. didalam pemecahan masalah.

KEUNGGULAN
1. segera mendapat perhatian, 2. dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil, 3. membantu anggota untuk melakukan analisis situasi, 4. menambah rasa percaya diri pada peserta, 5. membantu anggota menyelami permasalahan, 6. membantu anggota mendapat pengalaman yang ada pada fikiran orang lain, 7. membangkitkan saat untuk pemecahan masalah.

KELEMAHAN
1. mungkin masalahnya disatukan dengan pemerannya, 2. banyak yang tidak senang memerankan sesuatu, 3. membutuhkan pemimpin yang terlatih, 4. terbatas pada beberapa situasi saja, 5. ada kesulitan dalam memerankan.

12

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA STUDI KASUS (CASE STUDY) (1 - p. 146) (sekumpulan situasi masalah, termasuk detail-detail yang memungkinkan kelompok melakukan analisis masalah tersebut. Permasalahan tsb. merupakan "bagian dari hidup" yang mengandung diagnose, dan pengobatan. Dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis, juga secara dramatis, atau dengan film, dapat juga berupa rekaman) KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. ketika menghubungkan masalah dengan situasi hidup, 2. ketika melakukan analisis suatu masalah, 3. jika anggota tidak mampu untuk role-play, 4. untuk membantu anggota memahami masalah, 5. jika mencari kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah, 6. ketika melakukan analisis fakta yang ada tentang suatu masalah.

KEUNGGULAN
1. dapat tertulis, lisan, di-film-kan, direkam, diperankan, atau diceritakan, 2. dapat ditugaskan sebelum diskusi, 3. memungkinkan kesempatan yang sama bagi anggota untuk mengusulkan masalah, 4. menciptakan suasana untuk pertukaran pendapat, 5. mengenai masalah yang menyangkut hidup, 6. memberi kesempatan untuk memakai pengetahuan dan keterampilan, 7. memungkinkan semacam "follow-throughsimulation.

KELEMAHAN
1. membutuhkan keterampilan untuk "menuliskan" masalah, 2. masalah itu tidak selalu sama pentingnya bagi anggota, 3. memerlukan banyak waktu jika dilakukan secara mendalam, 4. meskipun cukup datanya, tetap mungkin timbul perdebatan, 5. membutuhkan pemimpin yang terampil.

13

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA BRAINSTORMING (1 - p. 148) (semacam cara pemecahan masalah dimana anggota mengusulkan dengan cepat semua kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan. Analisis atas pendapat-pendapat tadi dilakukan kemudian) KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. untuk membangkitkan fikiran yang kreatif, 2. untuk merangsang partisipasi, 3. pada waktu mencari kemungkinan pemecahan masalah, 4. berhubungan dengan metoda lainnya, 5. untuk membangkitkan pendapat-pendapat baru, 6. untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelompok.

Tidak ada kritik.

KEUNGGULAN
1. membangkitkan pendapat baru, 2. merangsang semua anggota untuk ambil bagian, 3. menghasilkan "reaksi-rantai" dalam pendapat, 4. tidak menyita banyak waktu, 5. dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil, 6. tidak memerlukan pemimpin yang terlalu hebat, 7. hanya sedikit peralatan yang diperlukan.

KELEMAHAN
1. mudah menjadi tidak terkendali, 2. harus dilanjutkan dengan analisis/evaluasi jika diharapkan efektif, 3. mungkin sulit membuat anggota tahu bahwa segala pendapat dapat diterima, 4. anggota cenderung untuk mengadakan analisis/evaluasi segera setelah satu pendapat diajukan.

14

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA KELOMPOK PENDENGAR (1 - p. 150)
(adalah kelompok yang dibentuk dengan membagi pengunjung menjadi beberapa kelompok sebelum suatu acara penyajian. mendengarkan dengan tugas khusus. Laporan tentang tugas disampaikan setelah acara penyajian selesai) Setiap kelompok ditugaskan untuk

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. kalau ada pendapat tertentu yang mungkin luput dari perhatian, 2. kalau berbagai segi masalah itu memerlukan penekanan, 3. jika kelompok itu besar, 4. untuk memberi tujuan pada diskusi, 5. untuk menyajikan informasi.

KEUNGGULAN
1. dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil, 2. menunjukan beberapa ide secara terpisah, 3. memberi tujuan pada pendengar, 4. menambah perhatian, 5. membimbing umpan balik, 6. membangkitkan daya tarik, 7. memungkinkan semua anggota mengambil bagian dengan cara mendengarkan, 8. memungkinkan diskusi tindak-lanjut, 9. mengurangi dominasi seseorang atau sekelompok orang, 10. memberi kesempatan pada pemimpin untuk mempertimbangkan keinginan/perhatian anggotanya, 11. memungkinkan "pengulangan" dengan umpan-balik.

KELEMAHAN
1. pengunjung hanya "mendengar" apa-apa yang berhubungan dengan tugasnya, 2. cenderung untuk mengurangi keseluruhan pendapat, 3. membatasi pertukaran pendapat.

15

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA DEBAT (1 - p. 152) (sebuah metoda dimana pembicara dari fihak yang pro dan kontra menyampaikan pendapat mereka. Anggota kelompok dapat juga bertanya kepada peserta debat/pembicara) KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. jika hasil pembicaraan perlu "diasah", 2. untuk membangkitkan terjadinya proses analisis, 3. untuk menyampaikan pendapat yang berbeda-beda, 4. jika anggota bersedia untuk mendengar ke dua segi permasalahan, 5. jika kelompok itu besar.

Dapat diikuti dengan suatu tangkisan atau tidak perlu.

KEUNGGULAN
1. mempertajam hasil, 2. menyajikan ke dua segi permasalahan, 3. membangkitkan analisis dari kelompok, 4. menyampaikan fakta dari ke dua sisi masalah, 5. membangkitkan daya tarik, 6. mempertahankan daya tarik, perhatian, 7. dapat dipakai pada kelompok yang besar.

KELEMAHAN
1. keinginan untuk menang mungkin terlalu besar, 2. mungkin anggota mendapat kesan yang salah tentang orang yang berdebat, 3. membatasi partisipasi kelompok, kecuali jika diikuti diskusi, 4. mungkin terlalu banyak emosi yang terlibat, 5. memerlukan banyak persiapan.

16

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA DISKUSI FORMIL (1 - p. 154)
(metoda pemecahan masalah yang sistematis meliputi :  penyampaian masalah,  mengumpulkan data,  mempertimbangkan pemecahan masalah yang mungkin,  memilih cara pemecahan masalah yang terbaik)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. jika ada waktu yang cukup banyak, 2. pada waktu memberi latihan untuk pemecahan permasalahan, 3. untuk membangkitkan pemikiran yang logis, 4. ketika permasalahan itu sudah dirumuskan dengan jelas, 5. jika ada permasalahan yang memerlukan perumusan, 6. untuk mendorong kepada pemecahan masalah secara menyeluruh, 7. jika pemimpin cukup terampil dengan metoda ini, 8. jika kelompok tidak terlalu besar sehingga memungkinkan setiap peserta ambil bagian.

KEUNGGULAN
1. membangkitkan pemikiran yang logis, 2. mendorong kepada analisis yang menyeluruh, 3. prosedurnya dapat diterapkan pada bermacam-macam permasalahan, 4. membangkitkan tingkat konsentrasi yang tinggi pada diri peserta, 5. meningkatkan keterampilan dalam mengenali permasalahan.

KELEMAHAN
1. membutuhkan banyak waktu, 2. memerlukan pemimpin yang terampil, 3. sulit dipakai pada kelompok yang besar, 4. mengharuskan setiap anggota kelompok untuk mempelajari terlebih dahulu, 5. mungkin perlu dilanjutkan pada diskusi lain.

17

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA SIMPOSIUM (1 - p. 156) (serangkaian pidato pendek didepan pengunjung dengan seorang pemimpin; pidato-pidato yang disampaikan mengungkapkan aspek-aspek yang berbeda mengenai suatu topik tertentu) KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari topik tertentu, 2. jika kelompok itu besar, 3. jika kelompok itu membutuhkan keterangan yang ringkas, 4. jika ada pembicara yang memenuhi syarat, 5. jika tidak memerlukan reaksi pengunjung, 6. ketika pokok pembicaraan sudah ditentukan.

KEUNGGULAN
1. dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil, 2. dapat mengemukakan banyak informasi dalam waktu yang singkat, 3. menyoroti hasil, 4. pergantian pembicara menambah variasi dan menjadikan lebih menarik, 5. dapat direncanakan jauh hari sebelumnya.

KELEMAHAN
1. kurang spontanitas dan kreativitas, 2. kurang interaksi kelompok, 3. menekankan pokok pembicaraan, 4. agak terasa formil, 5. kepribadian pembicara dapat menekankan isi dengan kurang tepat, 6. sulit mengadakan pengendalian waktu, 7. secara umum membatasi pendapat pembicara, 8. membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati-hati, untuk menjamin jangkauan yang tepat, 9. cenderung untuk dipakai secara berlebihan.

18

penyempurnaan proses belajar menajarZ

METODA SIMPOSIUM-FORUM (1 - p. 159)
(serangkaian pidato pendek didepan pengunjung dengan seorang pemimpin; pidato-pidato yang disampaikan mengungkapkan aspek-aspek yang berbeda mengenai suatu topik tertentu, yang diikuti dengan partisipasi pengunjung)

KONDISI APLIKASI YANG COCOK
1. untuk memberi kesempatan interaksi kelompok setelah simposium, 2. pada saat diperlukan kombinasi penyajian isi dan reaksi pengunjung, 3. ketika ada pendapat yang sulit yang harus ditangani secara benar sebelum didiskusikan secara terbuka, 4. jika ada waktu dan persiapan yang cukup, 5. jika mengajukan beberapa pandangan yang berbeda untuk minta tanggapan dari pengunjung, 6. jika kelompok itu besar, 7. jika kelompok membutuhkan keterangan yang ringkas.

KEUNGGULAN
1. menambah nilai simposium dengan reaksi pengunjung, 2. dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil (khususnya kelompok besar), 3. dapat dipakai untuk menyajikan banyak keterangan dalam waktu yang singkat, 4. menyoroti hasil, 5. penggantian pembicara menambah variasi dan membuat lebih menarik, 6. reaksi pengunjung mendorong pengunjung untuk mendengarkan dengan perhatian yang lebih baik.

KELEMAHAN
1. membutuhkan banyak waktu, 2. tanggapan dari kelompok tertunda, 3. kepribadian pembicara memungkinkan penekanan pada isi yang kurang tepat, 4. sulit melakukan pengendalian waktu, 5. periode forum mudah terulur.

19

penyempurnaan proses belajar menajar

BEBERAPA PERTANYAAN UNTUK DIPIKIRKAN (1 - pp. 158-160) : 1. Bagaimana seorang guru atau dosen atau pemimpin membantu seseorang menemukan apa yang perlu dan ingin dipelajarinya ? 2. Untuk menjadi efektif, metoda tergantung pada apa saja ? 3. Seberapa jauhkah besar kecilnya suatu kelompok menentukan metoda yang paling baik ? 4. Metoda-metoda manakah yang membutuhkan keterampilan yang guru/dosen/pemimpin yang tinggi ? 5. Metoda-metoda manakah yang semata-mata tergantung pada guru/dosen/pemimpin ? 6. Dimana letak perbedaan antara panel dan simposium ? 7. Dimana letak perbedaan antara panel dan panel-forum ? 8. Metoda manakah yang mendorong anggota-anggota yang malu-malu untuk berbicara (mengambil bagian) ? 9. Metoda-metoda mana yang dapat dipakai sesudah brainstorming ?, jelaskan ! 10. Sebutkan beberapa cara untuk mengutarakan sebuah case-study ? 11. Apakah keuntungan dan kerugiannya jika memakai metoda kelompok pendengar didalam suatu pelajaran ? 12. Apakah keuntungan dan kerugiannya jika memakai metoda role-play didalam suatu pelajaran ? Apakah keuntungan dan kerugiannya jika memakai metoda didalam suatu pelajaran ? 13. Apakah keuntungan dan kerugiannya jika memakai metoda debat didalam suatu pelajaran ? Apakah keuntungan dan kerugiannya jika memakai metoda diskusi formil didalam suatu pelajaran ?

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->