Edisi 14, J uli 2005

PENGETAHUAN MATEMATIKA
15
Mengenal 7 Raja
Dalam Matematika
Oleh : Sumardyono
(Staf Unit Rancang Bangun PPPG Matematika)
Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang ada, penulis menyimpulkan
setidaknya ada tujuh unsur dalam matematika yang begitu banyak berperan dalam
perkembangan matematika. Berikut ini ulasan ketujuh unsur, yang penulis sebut “raja”,
untuk menambah pemahaman dan wawasan kita.
Raj a Per t ama Mat emat i ka: 1
Tidak sulit untuk meyakini bahwa raja inilah
yang pertama kali lahir di antara ketujuh raja
tersebut. Di mana saja peradaban manusia
berada dan seprimitif apa pun, maka konsep
“bilangan satu” sudah dapat dipastikan telah
mereka punyai, walaupun tidak dalam bentuk
formal. Bilangan ini juga “raja” yang sangat
berperan dibandingkan dengan keenam “raja”
yang lain, oleh karena tanpa konsep bilangan
satu maka kita tidak mengenal konsep “raja-raja”
yang lainnya. Karena bilangan satu adalah “ibu”
dari seluruh bilangan lain. Dalam bahasa
matematika (aljabar abstrak), satu atau unity
adalah pembangkit (generator) bilangan-
bilangan atau unsur-unsur yang lain. Lucunya,
karena keistimewaan tersebut maka “satu”, yang
dalam geometri digambarkan dengan titik, tidak
dianggap oleh para Pythagorean sebagai bila-
ngan nyata, karena apa yang dipikirkan sebagai
bilangan adalah sesuatu yang tersusun dari unit-
unit, sebagaimana dikatakan Euclid. Lambang
“1” untuk bilangan satu, mungkin berasal dari
maksud untuk mewakili sesuatu yang tunggal,
yaitu dengan sebuah garis tunggal. Hampir
seluruh numeral yang digunakan di dunia, dari
bangsa primitif hingga masyarakat modern, dari
peradaban kuno hingga peradaban modern, dari
pemakaian sehari-hari hingga pada pemakaian
dalam teknologi tinggi, semuanya menggunakan
bentuk yang mirip dengan lambang “1”. Karena
itu, tidak ada yang mengetahui siapa yang
pertama kali “menemukan” lambang bilangan
“1”.
Berikut ini sifat-sifat matematik dari
bilangan satu untuk sebarang bilangan real x.
1) 1.x = x.1 = x
2) x/ 1 = x
3) x
1
= x
4) 1
x
= 1
5)
x
log 1 = 0 , x > 0
6) 1! = 1
7) 1 bukan bilangan komposit bukan pula
bilangan prima. Ada matematikawan
yang menganggap 1 sebagai prima,
karena mendefinisikan bilangan prima
sebagai bilangan yang hanya dapat dibagi
1 atau dirinya sendiri. Tetapi untuk
ketunggalan faktorisasi, khusus-nya
Teorema Dasar Aritmetika, maka
sekarang kita menganggap 1 bukan
prima.
Raj a Kedua Mat emat i ka: O
Kalau bilangan satu dapat mewakili sifat
“ada”, maka bilangan nol mewakili sifat “tidak
ada” atau “kosong”. Sifat ini pulalah yang
mungkin menyebabkan kita (baca: manusia)
lambat mengenal bilangan nol. Asal tahu saja,
kita belum lama mengenal konsep matematika
bilangan nol.
Sebagai contoh, tahukah Anda bahwa orang
Romawi hingga masuknya peradaban Islam,
mereka belum mengenal berhitung dengan
angka nol? Ya, itu karena mereka memiliki
sistem bilangan dimulai dengan bilangan satu!
Ini berbeda dengan India Kuno, misalnya. Dari
India pulalah sebenarnya konsep bilangan nol
dan sistem nilai tempat berasal. Kalau bilangan
satu demikian penting sebagai “ibu” dari
bilangan-bilangan yang lain, maka bilangan nol
PENGETAHUAN MATEMATIKA
16
sangat penting karena ia yang “melahirkan”
sistem nilai tempat. Dengan sistem nilai tempat
ini pula kita dapat mengembangkan matematika
demikian cepat dan mudah.
Bagaimana mungkin kita menulis bilangan
“dua ratus lima” bila kita tidak mengenal angka
nol, bukan? Angka Romawi tidak mengenal
lambang untuk “kekosongan”, selain itu, penu-
lisan angka Romawi yang berdasarkan pengu-
langan juga menjadi penyebab timbulnya
kesulitan ini. Penggunaan angka nol untuk
sistem nilai tempat, pertama kali digunakan oleh
al-Kwarizmi. Lewat karya al-Khwarizmi, Abu
Kamil, dan lain-lain, Eropa mengenal sistem
nilai tempat dengan angka Arab tersebut, antara
lain berkat jasa Fibonacci.
Tidak ada bilangan Romawi untuk “satu
juta” atau bilangan yang lebih besar lagi. Tapi
dengan sistem nilai tempat, kita dapat menulis
berapa pun juga, hanya dengan menggunakan
sepuluh macam angka saja! Lagi, dalam sistem
angka Romawi kita tidak mengenal bilangan
pecahan. Tetapi dengan angka Arab yang
menggunakan sistem nilai tempat, hal ini
menjadi sangat mudah dengan memberi tanda
titik atau koma. Konsep pecahan desimal ini
pertama kali “ditemukan” oleh al-Kasyi.
Dengan gambaran mengenai keuntungan-
keuntungan penulisan bilangan dengan sistem
nilai tempat, sungguh tidak dapat disangsikan
akan peran bilangan nol. Tanpa nol, maka tidak
ada sistem nilai tempat, tidak ada penulisan
bilangan yang mudah, tidak ada perkembangan
matematika yang demikian cepat ini! “Raja”
bilangan nol pada awal kelahirannya, diwakili
dengan tanda “titik”. Pada peradaban India,
bilangan nol juga ditandai dengan titik. Lalu, di
wilayah Islam, bilangan nol memiliki dua
bentuk: yang pertama, tetap menggunakan tanda
“titik”, sedang yang kedua menggunakan tanda
mirip “lingkaran kecil”. Model yang kedua
kemudian diterima secara mendunia hingga
menjadi bentuk seperti yang kita kenal sekarang.
Siapa yang pertama kali menulis bilangan nol
dengan tanda “lingkaran”? Tidak jelas. Yang
pasti di tangan para matematikawan muslim
antara abad 9 hingga abad 14, bilangan nol mulai
ditandai dengan lambang “0”.
Berikut ini sifat-sifat matematik bilangan nol
untuk sebarang bilangan real x.
1) x + 0 = 0 + x = x
2) x – 0 = x
3) 0 – x = –x
4) 0/ x = 0 untuk x = 0
5) 1/ 0 tak terdefinisi
6) 0/ 0 tak terdefinisi
7) x
0
= 1 untuk x = 0
8) 0
x
= 0 untuk x > 0
9) 0
0
tak terdefinisi
10) log 0 tak terdefinisi
Raj a Ket i ga Mat emat i ka: t
Bilangan yang dikenal siswa dengan
7
22
atau
3,14 hanyalah pendekatan untuk bilangan t.
Bilangan ini adalah nilai perbandingan keliling
lingkaran dengan diameter lingkaran. Perban-
dingan tersebut tetap untuk setiap lingkaran,
berapa pun besarnya. Lalu keistimewaan apa
yang menjadikan t “raja” matematika? Bilangan
t dapat dikatakan sebagai karakteristik dari
kurva lengkung. Tanpa adanya bilangan t maka
kita tidak dapat menangani dengan baik bangun-
bangun geometri yang memuat permukaan
lengkung atau sisi lengkung, seperti lingkaran,
ellips, bola, dan lain-lain. Selain itu, bilangan t
telah menimbulkan usaha yang luar biasa dalam
perkembangan matematika, bilangan ini telah
melahirkan pula bidang-bidang kajian yang
menarik perhatian para matematikawan, seperti
mencari nilai pendekatan dengan angka desimal
terbanyak, meneliti sifat irasionalitas, masalah
squaring a circle, transendental, normalitas
bilangan, dan lain-lain.
Bilangan t dikenal dengan berbagai lambang
pada zaman dahulu. Al-Kasyi yang berhasil
menghitung bilangan t hingga 16 desimal
(terbanyak hingga zamannya) menulisnya
dengan huruf “tho”, huruf ke-16 dalam huruf
Arab. Secara mengejutkan, lambang t yang kita
gunakan sekarang juga huruf ke-16 dari alfabet
Yunani. Lambang t pertama kali digunakan oleh
William J ones tahun 1706. Baru setelah
dipopulerkan oleh Euler, lambang t untuk
perbandingan keliling dan diameter itu diterima
secara luas.
Orang Babilonia dan Mesir Kuno belum
secara eksplisit mengenal bilangan t, dan dalam
perhitungan mereka kita dapatkan nilai untuk t
yang masih kasar (belum cukup mendekati).
Baru sejak dibahas secara matematik oleh
Archimedes yang mendapatkan bahwa 223/ 71 <
t < 22/ 7 , “pencarian” bilangan ini pun mulai
mendapat perhatian serius. Mulai dengan
Edisi 14, J uli 2005
PENGETAHUAN MATEMATIKA
17
metode menghitung luas, penggunaan deret
bilangan, trigonometri, hingga penggunaan
metode peluang. Perburuan desimal t dengan
komputer pertama kali dirintis oleh komputer
ENIAC (1949) yang dalam tempo 70 jam berhasil
menghitung hingga 2037 tempat desimal. Saat
ini kecepatan komputer jauh lebih tinggi.
Matematikawan J epang telah menghitungnya
hingga 2 milyar desimal!
Euler pertama kali menyuguhkan masalah
apakah t rasional atau bukan, termasuk aljabar
atau transendental? Masalah ini baru tuntas 107
tahun kemudian. Bilangan t bersifat irasional
(irrasional number). Dengan begitu pula,
hampiran desimal yang terbaik untuk t telah
menjadi bahan eksplorasi yang menggairahkan
sejak berabad-abad yang lalu hingga kini. Al-
Biruni pada abad ke-11 telah menyarankan sifat
irasionalitas t berdasarkan argumentasi geome-
trik. Sifat irasionalitas t pertama kali dibuktikan
dengan jelas oleh Lambert tahun 1767, lalu
diikuti oleh bukti yang lebih baik oleh Legendre
(1794). Bilangan t juga bersifat transendental
(non aljabar), artinya bilangan tersebut tidak
dapat menjadi akar suatu polinom (persamaan
suku banyak) dengan koefisien-koefisien bulat.
Bukti bahwa t transendental pertama kali
diberikan oleh Lindemann tahun 1882. Dengan
terjawabnya sifat transendental t ini maka
berakhir pula perburuan pemecahan atas
masalah klasik sejak 20 abad sebelumnya, yaitu
bagaimana melukis dengan jangka dan penggaris
sebuah lingkaran yang memiliki luas sama
dengan persegi yang diberikan (squaring of the
circle).
Beberapa sifat matematik mengenai
bilangan t:
1) Luas ellips dengan sumbu mayor 2a dan
minor 2b adalah tab.
2) Luas lingkaran = tr
2
, luas pemukaan bola
= 4tr
2
, volum bola = 4/ 3.tr
3
. dengan
jari-jari r .
3) 180o = t radian.
4) t irasional .
5) t transendental.
6) t (diduga kuat) bersifat normal,
distribusi angka-angkanya merata.
7) ......
5
1
4
1
3
1
2
1
1
1
6
2 2 2 2 2
2
+ + + + + =
t
.
8)
........ 5 5 3 3 1 1
....... 6 6 4 4 2 2
2 x x x x x x
x x x x x x
=
t
.
Raj a Keempat Mat emat i ka: i
Berapa x bila x
2
+ 1 = 0? Tidak ada bilangan
nyata (real) yang memenuhi persamaan tersebut.
Persoalan serupa mungkin telah dihadapi oleh para
matematikawan zaman dulu, tetapi karena tidak
berkenaan dengan kuantitas yang nyata (real) maka
tidak mendapat perhatian. Bilangan negatif saja
tidak “dikenal” oleh matematikawan Yunani karena
mereka berpikir tidak ada panjang yang negatif.
Girolamo Cardano yang mungkin menulis secara
jelas masalah ini untuk pertama kali pun, tidak
memberi tanggapan yang serius. Ia menemukan
akar negatif dari 121, tapi hanya memberi catatan
sebagai bilangan “tak berguna”. Penanganan
bilangan “tak real” ini mulai serius di tangan
beberapa matematikawan berikutnya, antara lain
Girard dan Euler.
Bilangan 1 ÷ adalah salah satu akar dari
x
2
+ 1 = 0. Kita menyebut 1 ÷ dengan satuan
imajiner dan diberi lambang i (diperkenalkan
Euler tahun 1777). Bilangan i ini merupakan salah
satu “raja” dalam matematika. Bagaimana tidak, i
lah yang “melahirkan” semua bilangan imajiner,
seperti 1 yang melahirkan semua bilangan real.
Mereka bersama-sama pada akhirnya yang
membentuk “kerajaan” yang lebih luas lagi yang
kita sebut himpunan bilangan kompleks.
Himpunan bilangan kompleks yang kita notasinya
dengan C berbentuk a + bi , dengan a dan b adalah
bilangan-bilangan real. Membahas bilangan
kompleks berarti kita harus menghargai
sumbangsih dari pangeran matematika, Carl F.
Gauss. J ika Euler berhasil mengembangkan
bilangan imajiner maka Gauss menuntaskan dasar-
dasar bilangan kompleks. Salah satu yang sangat
penting adalah apa yang disebut Teorema Dasar
Aljabar: persamaan aljabar berderajat n memiliki
tepat n buah akar/ penyelesaian berbentuk a + bi
dengan a dan b bilangan-bilangan real.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah ada
himpunan bilangan yang lebih luas dari bilangan
kompleks? J awabnya ada. Kita dapat menyebutnya
seperti quaternion, atau oktanion. Tetapi sejauh ini
bilangan kompleks sudah dapat menangani semua
aplikasi matematika dalam sains. Hal ini antara
lain karena kita tidak membutuhkan “bilangan”
yang baru untuk menangani semua persamaan
polinomial.
Bilangan imajiner memiliki banyak sekali
aplikasi dalam berbagai sains, seperti pada ilmu
elektromagnetika, mekanika quantum, dan
kartografi. Karena itu, ia tidak benar-benar
“imajiner” atau “khayalan”, bukan?
PENGETAHUAN MATEMATIKA
18
Beberapa sifat matematik dari satuan imajiner,
i, yaitu:
1. Perpangkatan pada bilangan i memiliki
nilai yang berulang.
i
1
= i , i
2
= ÷1, i
3
= ÷i , i
4
= 1,
i
5
= i , i
6
= ÷1, i
7
= ÷i , i
8
= 1, dst.
2. (a + bi) (a ÷ bi) = a
2
÷ b
2
.
3. i
i
= e
÷t
/ 2
(suatu hasil menarik dalam kajian
peubah kompleks) .
Raj a Kel i ma Mat emat i ka: ·
Sifat ketakhinggaan telah menjadi bagian
kajian pada zaman dulu, antara lain dimulai oleh
Archimedes. Tetapi perhatian terhadap ketak-
hinggaan sebagai kajian utama secara baik baru
dimulai lebih seribu tahun kemudian. Dali S. Naga
menyebutnya sebagai penemuan terbesar dalam
matematika di samping penemuan bilangan nol.
Ketakhinggaan dalam matematika dinotasikan
dengan ·. Wallis adalah orang pertama yang
menggunakan lambang · untuk ketakhinggaan.
Tidak saja bilangan nol yang menimbulkan
masalah, ketakhinggaan pun menimbulkan
masalah. Hal ini disebabkan karena keduanya
seperti “saudara kembar”. Bilangan berapa pun bila
dibagi dengan bilangan yang sangat kecil
mendekati nol maka hasilnya berupa bilangan yang
sangat besar “hampir” tak hingga, begitu pula
sebaliknya. Walaupun ini jelas secara intuitif, tetapi
belum berarti apa-apa bagi matematika.
Berikut ini contoh bagaimana konsep
ketakhinggaan begitu membingungkan bagi
kebanyakan orang.
Pandang deret bilangan berikut:
S = 1 – 1 + 1 – 1 + 1 – 1 + 1 – 1 + … (polanya
berulang tak hingga).
Orang A: S = (1 – 1) + (1 – 1) + (1 – 1) + …= 0
Orang B: S = 1 + (–1+ 1) + (–1+ 1) + …= 1
Orang C: S = 1 – 1 + 1 – 1 + 1 + …
S = 1 – (1 – 1 + 1 – 1 + …)
S = 1 – S atau S =
1
/ 2
Semua jawaban di atas salah. Secara matematik,
kita menjawab soal itu sebagai deret yang tidak
memiliki limit jumlah deret (divergen). Perhatikan
barisan hasil jumlahan satu suku, dua suku, tiga
suku, dan seterusnya:
1, 0, 1, 0, 1, 0, …. J elas, ia tidak mempunyai hasil
yang tetap, bukan?
Sekarang perhatikan problem berikut.
· + 1 = ·
lalu apakah 1 = 0 dan 1/ · = 0, benarkah?
Semuanya salah. Kuncinya terletak pada
interpretasi terhadap ·. Notasi · bukan
“bilangan”, ia hanyalah sebuah “konsep”. Ingat,
sekali sesuatu dianggap sebagai bilangan, pasti ada
bilangan di atasnya lagi! J adi, · + 1 sebenarnya
tidak memiliki arti! Begitu pula dengan 1/ · .
Tetapi di bidang topologi, tidaklah salah untuk
menulis kalimat seperti:
n
n
1
lim
0 ÷
= · atau
barisan bilangan asli 1, 2, 3, 4, 5, …konvergen ke
·.
J uga dalam teori himpunan seperti menyatakan
kalimat: “ukuran dari himpunan bilangan asli
adalah ·” (secara sederhana, banyak elemen
himpunan bilangan asli adalah tak hingga). Bahkan
dalam teori himpunan, kita akan menjumpai ragam
konsep ketakhinggaan. Sebagai contoh,
ketakhinggaan ukuran himpunan bilangan asli
berbeda dengan ketakhinggaan ukuran himpunan
bilangan real. Tapi untuk memaha-minya, maka
harus dipelajari teori himpunan yang diciptakan
oleh Cantor ini terlebih dahulu!
Beberapa sifat matematik dari konsep
ketakhinggaan(·):
1) Ketakhinggaan bukan “bilangan” tetapi hanya
“konsep”. Karena itu, dalam sistem bilangan, ia
“tidak ada”, tetapi ia “ada” dalam topologi
maupun teori himpunan.
2) Ketakhinggaan tidak dapat terlibat dalam
operasi hitung aritmetika.
Raj a Keenam Mat emat i ka: e
Apa itu bilangan e? Dari ketujuh “raja”
matematika, ada tiga “raja” yang merupakan
bilangan pecahan sekaligus sangat dekat dengan
alam nyata, yaitu bilangan t, bilangan e, dan
bilangan m.
Bilangan e muncul dalam kasus-kasus
pertumbuhan dan penyusutan (peluruhan).
Contohnya pertumbuhan populasi dan pertum-
buhan modal di bank. Banyaknya populasi suatu
spesies setelah waktu t tahun adalah P.e
rt
,
dengan P adalah banyak populasi mula-mula,
dan r adalah rata-rata pertumbuhan.
Sejarah bilangan e yang dalam beberapa
desimal 2.71828182845904523536… cukuplah
berliku. Dapat dikatakan ia bermula dari problem
logaritma yang isunya telah dirintis oleh Napier.
Bilangan e hadir dalam bentuk logaritma natural
pertama kali oleh Mercantor, dan penemuan
“bilangan” e untuk pertama kali oleh J acob
Bernaoulli tahun 1683 dalam studi tentang bunga
majemuk. J ika dana sebesar M rupiah ditabung di
bank, dan bank memberi bunga majemuk r
(biasanya dalam pecahan persen) per tahun maka
Edisi 14, J uli 2005
PENGETAHUAN MATEMATIKA
19
dana setelah t adalah M.
nt
n
r
|
|
.
|

\
|
+ 1 dengan n kali
bunga ditambahkan tiap tahun. Katakan bunganya
tiap hari, maka setelah t tahun adalah
M.
t
r
365
365
1
|
|
.
|

\
|
+ .
Ini sangat dekat dengan M. e
rt
. Saat ini, persoalan
tersebut ditangani dalam kalkulus dengan kalimat:
e
n
n
n
=
|
|
.
|

\
|
+
· ÷
1
1 lim .
Bilangan ini juga muncul dalam teori peluang.
Bila terdapat sejumlah nama benda berbeda dan
gambar benda-bendanya, kemudian secara acak
dipasangkan nama dan gambar benda-benda
tersebut maka peluang tidak ada nama dan gambar
yang cocok adalah
e
1
.
Dalam matematika, bilangan e melahirkan dua
fungsi utama yaitu fungsi logaritma natural (ln) dan
fungsi eksponensial (exp).
Notasi e untuk bilangan ini pertama kali
diberikan oleh Euler. Tidak seperti bilangan t,
tidak banyak orang yang mencoba mencari angka-
angka desimal bilangan e. Mungkin Shanks yang
pertama (pada tahun 1854) mencari desimalnya
dalam jumlah besar yaitu 205 tempat desimal.
Sekarang cukup membuka internet untuk
mendapatkan bilangan e dalam ratusan ribu
desimal.
Beberapa sifat matematik dari e :
1) Differensial dari e
x
tetap e
x
,
x x
e e
dx
d
= .
2) e = 1 +
! 1
1
+
! 2
1
+
! 3
1
+
! 4
1
+
! 5
1
+ …. Deret ini
cukup cepat, untuk 200 desimal cukup 120
suku saja.
3) Bilangan e bersifat irasional (kebanyakan
menyebut Euler yang pertama kali memberi
bukti) .
4) Bilangan e bersifat transendental (pertama kali
dibuktikan oleh Hermite tahun 1873) .
Raj a Ket uj uh Mat emat i ka: m
“Raja” terakhir yang kita bahas adalah
m =
2
5 1+
= 1,6180339887 ….
Bilangan ini kadang dikacaukan dengan bilangan
0,6180339887 … . Walau keduanya memiliki
hubungan tetapi yang disebut bilangan atau
potongan keemasan (golden section) adalah m.
Bilangan ini telah menjadi kajian para
matematikawan Yunani Kuno. Mereka
mengenalnya sebagai perbandingan keemasan, oleh
karena perbandingan 1 : m dalam bentuk-bentuk
geometrik terasa enak untuk dipandang. Ini
semakin menguat dengan ditemukannya pada
bangun-bangun seperti segilima, dodekahedron,
dan lain-lain. Secara aljabar, bilangan ini pun
muncul sebagai salah satu akar dari persamaan
kuadrat x
2
– x – 1 = 0. Ini secara langsung dapat
diperoleh dari pengertian perbandingan keemasan
tadi, yaitu sebagai perbandingan dua kuantitas a
dan b dengan a lebih besar daripada b sedemikian
hingga
b a
b
b
a
-
= .
Bilangan ini juga berkaitan erat dengan barisan
bilangan Fibonacci: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, ….
Barisan Fibonacci dibentuk dengan dua bilangan 1
dan bilangan berikutnya sebagai jumlah dua
bilangan sebelumnya. Perbandingan bilangan
1 ÷ n
n
F
F
menuju pada bilangan m. Bahkan ini juga berlaku
bagi barisan seperti barisan bilangan Fibonacci,
dengan dua suku awal berapa pun.
Dapat ditunjukkan bahwa hanya ada 2
bilangan real positif yang kuadratnya,
kebalikannya, dan bilangan itu sendiri memiliki
bagian desimal yang sama yaitu 1 dan m.
m = 1,6180339887 …, m
2
= 2,6180339887 …, dan
m
1
= 0,6180339887 …
Potongan Keemasan telah muncul dalam
banyak ragam kegiatan seni, mulai dari seni lukis
hingga musik dan arsitektur. Contoh yang menarik
tentang pemakaian m dalam musik Debussy,
berdasarkan analisis dari matematikawan Howat.
Bahkan ahli psikologis, Fechner (1876) telah
melaporkan bahwa m juga berkaitan dengan
masalah sosial. Hal ini antara lain kemudian
dibuktikan oleh Benjafield (1976) dan McManus
(1980), bahwa kecenderungan yang dijumpai di
dalam masyarakat dalam mengorganisasikan
antara kesenangan dan kesedihan, kekuatan dan
kelemahan, aktif dan pasif adalah dalam
perbandingan m. Hasil ini telah dibuktikan dalam
banyak penyelidikan. Dengan karakteristik
bilangan m tersebut, bagaimana tidak bilangan m
sebagai “raja” matematika?
Beberapa sifat matematik bilangan m:
1) Bilangan m jelas irasional (mengapa?)
2) Bilangan m juga aljabar atau non-transendental
(mengapa?).
3) m = 1 +
. . . 1
1
1
1
1
1
+
+
+
.
PENGETAHUAN MATEMATIKA
20
---™™™---
Beber apa per samaan dan kesamaan
yang mel i bat kan t uj uh “ r aj a”
t er sebut
Rumus Euler : e
i
t
+ 1 = 0
Rumus Euler Umum : e
ix
= cos x + i sin x
Rumus Stirling : n! ~
n
n
e n
÷
+
. . 2
)
2
1
(
t
Hampiran semakin baik untuk n yang semakin
besar. Rumus ini banyak digunakan dalam teori
kombinatoral dan probabilitas.
Beberapa hubungan menarik lainnya:
1.
t
m
4
~
2.
163 t
e ~ suatu bilangan bulat.
3. Bilangan m, e, dan t merupakan panjang sisi-
sisi segitiga yang “hampir” siku-siku.
DAFTAR BACAAN
Annemarie Scimmel. 2004. Misteri Angka-angka.
Bandung: Pusataka Hidayah
Benjafield, J ohn G. 1992. Cognition. New J ersey:
Prentice-Hall, Inc.
Cooke, Roger. 1997. The History of Mathematics, A
Brief Course. New York: J ohn Willey & Sons,
Inc.
Dali S. Naga. 1980. Berhitung, Sejarah dan
Perkembangannya. J akarta: Gramedia.
Zerger, Monte J . Golden Agreement. dalam
Mathematics Teacher. Vol. 95, No. 5, Maret
2002, NCTM.
http:/ / dspace.dial.pipex.com/ town/ way/ po28/ mat
hs/ constant.htm
http:/ / ubmail.ubalt.edu/ ~harsham/
http:/ / encyclopedia.thefreedictionary.com/ Imagin
ary+number
http:/ / www.clarku.edu/ ~djoyce/ complex/
http:/ / www-history.mcs.st-
andrews.ac.uk/ history/ HistTopics/
http:/ / www.c3.lanl.gov/ mega-math/ gloss/ infinity/
http:/ / www.math.toronto.edu/ mathnet/ plain/ ans
wers/ infinity.html

Bilangan dikenal dengan berbagai lambang pada zaman dahulu.14 hanyalah pendekatan untuk bilangan . kita dapat menulis berapa pun juga. sedang yang kedua menggunakan tanda mirip “lingkaran kecil”. tidak ada penulisan bilangan yang mudah. dan lain-lain. hal ini menjadi sangat mudah dengan memberi tanda titik atau koma. Selain itu. bukan? Angka Romawi tidak mengenal lambang untuk “kekosongan”. bilangan nol juga ditandai dengan titik. Tanpa adanya bilangan maka kita tidak dapat menangani dengan baik bangunbangun geometri yang memuat permukaan lengkung atau sisi lengkung.PENGETAHUAN MATEMATIKA sangat penting karena ia yang “melahirkan” sistem nilai tempat. Lambang pertama kali digunakan oleh William Jones tahun 1706. Tetapi dengan angka Arab yang menggunakan sistem nilai tempat. antara lain berkat jasa Fibonacci. sungguh tidak dapat disangsikan akan peran bilangan nol. dan lain-lain. dan dalam perhitungan mereka kita dapatkan nilai untuk yang masih kasar (belum cukup mendekati). Dengan sistem nilai tempat ini pula kita dapat mengembangkan matematika demikian cepat dan mudah. Model yang kedua kemudian diterima secara mendunia hingga menjadi bentuk seperti yang kita kenal sekarang. bola. Tidak ada bilangan Romawi untuk “satu juta” atau bilangan yang lebih besar lagi. Siapa yang pertama kali menulis bilangan nol dengan tanda “lingkaran”? Tidak jelas. transendental. dan lain-lain. selain itu. maka tidak ada sistem nilai tempat. masalah squaring a circle. Dengan gambaran mengenai keuntungankeuntungan penulisan bilangan dengan sistem nilai tempat. Yang pasti di tangan para matematikawan muslim antara abad 9 hingga abad 14. bilangan nol mulai ditandai dengan lambang “0”. Orang Babilonia dan Mesir Kuno belum secara eksplisit mengenal bilangan . ellips. Baru setelah dipopulerkan oleh Euler. diwakili dengan tanda “titik”. Bilangan ini adalah nilai perbandingan keliling lingkaran dengan diameter lingkaran. dalam sistem angka Romawi kita tidak mengenal bilangan pecahan. 1) x + 0 = 0 + x = x 2) x – 0 = x 3) 0 – x = –x 4) 0/x = 0 untuk x 0 5) 1/0 tak terdefinisi 6) 0/0 tak terdefinisi 7) x0 = 1 untuk x 0 8) 0x = 0 untuk x 0 9) 00 tak terdefinisi 10) log 0 tak terdefinisi Raja Ketiga Matematika: 22 Bilangan yang dikenal siswa dengan 7 atau 3. Penggunaan angka nol untuk sistem nilai tempat. Lewat karya al-Khwarizmi. Bagaimana mungkin kita menulis bilangan “dua ratus lima” bila kita tidak mengenal angka nol. tidak ada perkembangan matematika yang demikian cepat ini! “Raja” bilangan nol pada awal kelahirannya. tetap menggunakan tanda “titik”. Abu Kamil. Tapi dengan sistem nilai tempat. bilangan telah menimbulkan usaha yang luar biasa dalam perkembangan matematika. huruf ke-16 dalam huruf Arab. berapa pun besarnya. seperti mencari nilai pendekatan dengan angka desimal terbanyak. lambang untuk perbandingan keliling dan diameter itu diterima secara luas. Lalu keistimewaan apa yang menjadikan “raja” matematika? Bilangan dapat dikatakan sebagai karakteristik dari kurva lengkung. Perbandingan tersebut tetap untuk setiap lingkaran. “pencarian” bilangan ini pun mulai mendapat perhatian serius. meneliti sifat irasionalitas. Secara mengejutkan. seperti lingkaran. di wilayah Islam. normalitas bilangan. lambang yang kita gunakan sekarang juga huruf ke-16 dari alfabet Yunani. penulisan angka Romawi yang berdasarkan pengulangan juga menjadi penyebab timbulnya kesulitan ini. Pada peradaban India. hanya dengan menggunakan sepuluh macam angka saja! Lagi. Tanpa nol. Konsep pecahan desimal ini pertama kali “ditemukan” oleh al-Kasyi. bilangan ini telah melahirkan pula bidang-bidang kajian yang menarik perhatian para matematikawan. pertama kali digunakan oleh al-Kwarizmi. Al-Kasyi yang berhasil menghitung bilangan hingga 16 desimal (terbanyak hingga zamannya) menulisnya dengan huruf “tho”. Mulai dengan 16 . Baru sejak dibahas secara matematik oleh Archimedes yang mendapatkan bahwa 223/71 22/7 . Berikut ini sifat-sifat matematik bilangan nol untuk sebarang bilangan real x. Lalu. Eropa mengenal sistem nilai tempat dengan angka Arab tersebut. bilangan nol memiliki dua bentuk: yang pertama.

yaitu bagaimana melukis dengan jangka dan penggaris sebuah lingkaran yang memiliki luas sama dengan persegi yang diberikan (squaring of the circle). tapi hanya memberi catatan sebagai bilangan “tak berguna”. Salah satu yang sangat penting adalah apa yang disebut Teorema Dasar Aljabar: persamaan aljabar berderajat n memiliki tepat n buah akar/penyelesaian berbentuk a + bi dengan a dan b bilangan-bilangan real. seperti 1 yang melahirkan semua bilangan real. termasuk aljabar atau transendental? Masalah ini baru tuntas 107 tahun kemudian. distribusi angka-angkanya merata.. lalu diikuti oleh bukti yang lebih baik oleh Legendre (1794). Dengan begitu pula.PENGETAHUAN MATEMATIKA metode menghitung luas. 8) = 2 1x1x3 x3 x5 x5 x.. Tetapi sejauh ini bilangan kompleks sudah dapat menangani semua aplikasi matematika dalam sains.. volum bola = 4/3.. tetapi karena tidak berkenaan dengan kuantitas yang nyata (real) maka tidak mendapat perhatian. bukan? Edisi 14.. Karena itu. r3 . i lah yang “melahirkan” semua bilangan imajiner. 6 1 2 3 4 5 2 x 2 x 4 x 4 x6 x6 x.. dengan jari-jari r . Beberapa sifat matematik mengenai bilangan : 1) Luas ellips dengan sumbu mayor 2a dan minor 2b adalah ab.. 1 adalah salah satu akar dari Bilangan + 1 = 0. trigonometri. Ia menemukan akar negatif dari 121. Mereka bersama-sama pada akhirnya yang membentuk “kerajaan” yang lebih luas lagi yang kita sebut himpunan bilangan kompleks. Gauss. dan kartografi. Sifat irasionalitas pertama kali dibuktikan dengan jelas oleh Lambert tahun 1767. Matematikawan Jepang telah menghitungnya hingga 2 milyar desimal! Euler pertama kali menyuguhkan masalah apakah rasional atau bukan. Bilangan bersifat irasional (irrasional number). dengan a dan b adalah bilangan-bilangan real. seperti pada ilmu elektromagnetika.. Persoalan serupa mungkin telah dihadapi oleh para matematikawan zaman dulu. hampiran desimal yang terbaik untuk telah menjadi bahan eksplorasi yang menggairahkan sejak berabad-abad yang lalu hingga kini. Bagaimana tidak. atau oktanion. Himpunan bilangan kompleks yang kita notasinya dengan C berbentuk a + bi . 3) 180o = radian. Jika Euler berhasil mengembangkan bilangan imajiner maka Gauss menuntaskan dasardasar bilangan kompleks. 4) irasional .. Bilangan negatif saja tidak “dikenal” oleh matematikawan Yunani karena mereka berpikir tidak ada panjang yang negatif. Perburuan desimal dengan komputer pertama kali dirintis oleh komputer ENIAC (1949) yang dalam tempo 70 jam berhasil menghitung hingga 2037 tempat desimal... mekanika quantum. Kita dapat menyebutnya seperti quaternion. tidak memberi tanggapan yang serius. x2 Mungkin ada yang bertanya-tanya. Juli 2005 17 .. penggunaan deret bilangan. Saat ini kecepatan komputer jauh lebih tinggi. .. Bilangan imajiner memiliki banyak sekali aplikasi dalam berbagai sains. luas pemukaan bola = 4 r2 .. Membahas bilangan kompleks berarti kita harus menghargai sumbangsih dari pangeran matematika.. artinya bilangan tersebut tidak dapat menjadi akar suatu polinom (persamaan suku banyak) dengan koefisien-koefisien bulat. Bilangan juga bersifat transendental (non aljabar).. AlBiruni pada abad ke-11 telah menyarankan sifat irasionalitas berdasarkan argumentasi geometrik. Kita menyebut 1 dengan satuan imajiner dan diberi lambang i (diperkenalkan Euler tahun 1777). Bukti bahwa transendental pertama kali diberikan oleh Lindemann tahun 1882. Hal ini antara lain karena kita tidak membutuhkan “bilangan” yang baru untuk menangani semua persamaan polinomial. antara lain Girard dan Euler. . 2) Luas lingkaran = r2. hingga penggunaan metode peluang. Carl F. Penanganan bilangan “tak real” ini mulai serius di tangan beberapa matematikawan berikutnya. 6) (diduga kuat) bersifat normal. Raja Keempat Matematika: i Berapa x bila x2 + 1 = 0? Tidak ada bilangan nyata (real) yang memenuhi persamaan tersebut. Girolamo Cardano yang mungkin menulis secara jelas masalah ini untuk pertama kali pun. Dengan ini maka terjawabnya sifat transendental berakhir pula perburuan pemecahan atas masalah klasik sejak 20 abad sebelumnya.. ia tidak benar-benar “imajiner” atau “khayalan”.. apakah ada himpunan bilangan yang lebih luas dari bilangan kompleks? Jawabnya ada. 2 1 1 1 1 1 7) = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + . 5) transendental. Bilangan i ini merupakan salah satu “raja” dalam matematika.

dan bank memberi bunga majemuk r (biasanya dalam pecahan persen) per tahun maka Sekarang perhatikan +1= problem berikut. i5 = i . 4. . Tapi untuk memaha-minya. kita akan menjumpai ragam konsep ketakhinggaan. Berikut ini contoh bagaimana konsep ketakhinggaan begitu membingungkan bagi kebanyakan orang. dua suku. lalu apakah 1 = 0 dan 1/ Semuanya salah. 0. i1 = i . Perpangkatan pada bilangan i memiliki nilai yang berulang. Orang A: S = (1 – 1) + (1 – 1) + (1 – 1) + … = 0 Orang B: S = 1 + (–1+ 1) + (–1+ 1) + … = 1 Orang C: S = 1 – 1 + 1 – 1 + 1 + … S = 1 – (1 – 1 + 1 – 1 + … ) S = 1 – S atau S = 1/2 Semua jawaban di atas salah. Walaupun ini jelas secara intuitif. dan bilangan . 0. …. Jika dana sebesar M rupiah ditabung di bank. banyak elemen himpunan bilangan asli adalah tak hingga).71828182845904523536… cukuplah berliku. 2) Ketakhinggaan tidak dapat terlibat dalam operasi hitung aritmetika. ia tidak mempunyai hasil yang tetap. 0. Banyaknya populasi suatu spesies setelah waktu t tahun adalah P. dst. Bilangan e muncul dalam kasus-kasus pertumbuhan dan penyusutan (peluruhan). tetapi belum berarti apa-apa bagi matematika. i2 = 1. tidaklah salah untuk menulis kalimat seperti: lim n 0 1 n = atau Raja Kelima Matematika: Sifat ketakhinggaan telah menjadi bagian kajian pada zaman dulu. 1. Bilangan berapa pun bila dibagi dengan bilangan yang sangat kecil mendekati nol maka hasilnya berupa bilangan yang sangat besar “hampir” tak hingga. Tetapi di bidang topologi. Sebagai contoh. dan seterusnya: 1. ia “tidak ada”. Sejarah bilangan e yang dalam beberapa desimal 2. Dapat dikatakan ia bermula dari problem logaritma yang isunya telah dirintis oleh Napier. begitu pula sebaliknya. yaitu bilangan . Tidak saja bilangan nol yang menimbulkan masalah. pasti ada bilangan di atasnya lagi! Jadi. Tetapi perhatian terhadap ketakhinggaan sebagai kajian utama secara baik baru dimulai lebih seribu tahun kemudian. sekali sesuatu dianggap sebagai bilangan. 5. Perhatikan barisan hasil jumlahan satu suku. i. Raja Keenam Matematika: e Apa itu bilangan e? Dari ketujuh “raja” matematika. i4 = 1. 1. benarkah? terletak pada 18 . Juga dalam teori himpunan seperti menyatakan kalimat: “ukuran dari himpunan bilangan asli adalah ” (secara sederhana. ketakhinggaan ukuran himpunan bilangan asli berbeda dengan ketakhinggaan ukuran himpunan bilangan real. Contohnya pertumbuhan populasi dan pertumbuhan modal di bank. i i = e /2 (suatu hasil menarik dalam kajian peubah kompleks) . kita menjawab soal itu sebagai deret yang tidak memiliki limit jumlah deret (divergen). dan penemuan “bilangan” e untuk pertama kali oleh Jacob Bernaoulli tahun 1683 dalam studi tentang bunga majemuk. Bahkan dalam teori himpunan. + 1 sebenarnya tidak memiliki arti! Begitu pula dengan 1/ . ada tiga “raja” yang merupakan bilangan pecahan sekaligus sangat dekat dengan alam nyata. bukan? barisan bilangan asli 1. Naga menyebutnya sebagai penemuan terbesar dalam matematika di samping penemuan bilangan nol.ert . Jelas. 2. antara lain dimulai oleh Archimedes. ketakhinggaan pun menimbulkan masalah. 3. Karena itu. Pandang deret bilangan berikut: S = 1 – 1 + 1 – 1 + 1 – 1 + 1 – 1 + … (polanya berulang tak hingga). yaitu: 1. Wallis adalah orang pertama yang menggunakan lambang untuk ketakhinggaan. ia hanyalah sebuah “konsep”. Ingat. tetapi ia “ada” dalam topologi maupun teori himpunan. tiga suku. dalam sistem bilangan. 3. … konvergen ke . Dali S. i6 = 1. bilangan e. Kuncinya = 0. Notasi bukan interpretasi terhadap “bilangan”. Secara matematik. dan r adalah rata-rata pertumbuhan. i8 = 1. i3 = i .PENGETAHUAN MATEMATIKA Beberapa sifat matematik dari satuan imajiner. maka harus dipelajari teori himpunan yang diciptakan oleh Cantor ini terlebih dahulu! Beberapa sifat matematik dari konsep ketakhinggaan( ): 1) Ketakhinggaan bukan “bilangan” tetapi hanya “konsep”. Ketakhinggaan dalam matematika dinotasikan dengan . dengan P adalah banyak populasi mula-mula. i7 = i . 2. Hal ini disebabkan karena keduanya seperti “saudara kembar”. Bilangan e hadir dalam bentuk logaritma natural pertama kali oleh Mercantor. (a + bi) (a bi) = a2 b2 .

Bila terdapat sejumlah nama benda berbeda dan gambar benda-bendanya. 55. bagaimana tidak bilangan bilangan sebagai “raja” matematika? Beberapa sifat matematik bilangan : 1) Bilangan jelas irasional (mengapa?) 2) Bilangan juga aljabar atau non-transendental (mengapa?). 5. kemudian secara acak dipasangkan nama dan gambar benda-benda tersebut maka peluang tidak ada nama dan gambar yang cocok adalah 1 e . dengan dua suku awal berapa pun. 2. Perbandingan bilangan Fn Fn 1 . Bilangan ini telah menjadi kajian para matematikawan Yunani Kuno. … .PENGETAHUAN MATEMATIKA dana setelah t adalah M. bahwa kecenderungan yang dijumpai di dalam masyarakat dalam mengorganisasikan antara kesenangan dan kesedihan. 2 = 2. 4) Bilangan e bersifat transendental (pertama kali dibuktikan oleh Hermite tahun 1873) . Mungkin Shanks yang pertama (pada tahun 1854) mencari desimalnya dalam jumlah besar yaitu 205 tempat desimal. 3. bilangan ini pun muncul sebagai salah satu akar dari persamaan kuadrat x2 – x – 1 = 0. Dengan karakteristik tersebut. mulai dari seni lukis hingga musik dan arsitektur. Katakan bunganya tiap hari. 3) Bilangan e bersifat irasional (kebanyakan menyebut Euler yang pertama kali memberi bukti) . 1+ r 365 365t . 1. Barisan Fibonacci dibentuk dengan dua bilangan 1 dan bilangan berikutnya sebagai jumlah dua bilangan sebelumnya. kekuatan dan kelemahan. 1+ r n nt dengan n kali bunga ditambahkan tiap tahun. Bilangan ini juga berkaitan erat dengan barisan bilangan Fibonacci: 1. 8. Notasi e untuk bilangan ini pertama kali diberikan oleh Euler.6180339887 … . maka setelah t tahun adalah M. Ini secara langsung dapat diperoleh dari pengertian perbandingan keemasan tadi. Saat ini. bilangan e melahirkan dua fungsi utama yaitu fungsi logaritma natural (ln) dan fungsi eksponensial (exp). dan lain-lain. Mereka mengenalnya sebagai perbandingan keemasan. oleh .6180339887 ….. + 1 1 1 1 + + + + 2! 3! 4! 5! … . Dalam matematika. 34. Ini sangat dekat dengan M. dan bilangan itu sendiri memiliki bagian desimal yang sama yaitu 1 dan . Walau keduanya memiliki hubungan tetapi yang disebut bilangan atau potongan keemasan (golden section) adalah . Bilangan ini kadang dikacaukan dengan bilangan 0. aktif dan pasif adalah dalam perbandingan . 3) =1+ 1+ 1+ 1 1 1 1 + . Deret ini cukup cepat. = 1. tentang pemakaian berdasarkan analisis dari matematikawan Howat. 21. kebalikannya. Hasil ini telah dibuktikan dalam banyak penyelidikan. Edisi 14. 13. = 1. Tidak seperti bilangan . Bahkan ahli psikologis. ert. Sekarang cukup membuka internet untuk mendapatkan bilangan e dalam ratusan ribu desimal. Raja Ketujuh Matematika: “Raja” terakhir yang kita bahas = 1+ 5 2 adalah Potongan Keemasan telah muncul dalam banyak ragam kegiatan seni.. Juli 2005 19 . Secara aljabar. Dapat ditunjukkan bahwa hanya ada 2 bilangan real positif yang kuadratnya. karena perbandingan 1 : dalam bentuk-bentuk geometrik terasa enak untuk dipandang. Hal ini antara lain kemudian dibuktikan oleh Benjafield (1976) dan McManus (1980). yaitu sebagai perbandingan dua kuantitas a dan b dengan a lebih besar daripada b sedemikian hingga a b = b a-b Bilangan ini juga muncul dalam teori peluang. persoalan tersebut ditangani dalam kalkulus dengan kalimat: n lim 1 + 1 n n =e.6180339887 …. dan 1 = 0. untuk 200 desimal cukup 120 suku saja.6180339887 …. Bahkan ini juga berlaku bagi barisan seperti barisan bilangan Fibonacci. Ini semakin menguat dengan ditemukannya pada bangun-bangun seperti segilima. Fechner (1876) telah juga berkaitan dengan melaporkan bahwa masalah sosial. Beberapa sifat matematik dari e : 1) Differensial dari ex tetap ex .6180339887 … . tidak banyak orang yang mencoba mencari angkaangka desimal bilangan e. dodekahedron. Contoh yang menarik dalam musik Debussy. 2) e = 1 + 1 1! d x x e =e dx menuju pada bilangan .

4 163 2. e suatu bilangan bulat. A Brief Course. Beberapa hubungan menarik lainnya: 1. Roger. Misteri Angka-angka.math.e n DAFTAR BACAAN Annemarie Scimmel. No. Vol.thefreedictionary. Berhitung.mcs. Inc. 1997. Zerger.standrews. dan merupakan panjang sisisisi segitiga yang “hampir” siku-siku.ubalt.clarku.edu/~djoyce/complex/ http://www-history.com/town/way/po28/mat hs/constant.html Hampiran semakin baik untuk n yang semakin besar.PENGETAHUAN MATEMATIKA Beberapa persamaan dan kesamaan yang melibatkan tujuh “raja” tersebut Rumus Euler : ei + 1 = 0 Rumus Euler Umum : eix = cos x + i sin x Rumus Stirling : n! 2 . --- --- 20 . Dali S.ac.lanl. John G. New York: John Willey & Sons. The History of Mathematics. 1980. Naga. New Jersey: Prentice-Hall.htm http://ubmail. 2004.toronto.com/Imagin ary+number http://www.uk/history/HistTopics/ http://www.dial. Rumus ini banyak digunakan dalam teori kombinatoral dan probabilitas. 3. Golden Agreement. e. 95. Maret 2002. Monte J. Jakarta: Gramedia.gov/mega-math/gloss/infinity/ http://www. Cooke. NCTM. Cognition. Sejarah dan Perkembangannya. dalam Mathematics Teacher.n 1 (n + ) 2 . Inc.edu/~harsham/ http://encyclopedia. 5. Bilangan .c3.edu/mathnet/plain/ans wers/infinity.pipex. Bandung: Pusataka Hidayah Benjafield. 1992. http://dspace.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful