LISTRO DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN LISTRIK STATIS DI SMA NEGERI 1 RAMBAH Disusun Oleh: Ali Pullaila, S.Pd.

Guru SMA Negeri 1 Rambah – Kab. Rokan Hulu
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pengajaran materi listrik statis cendrung dilakukan secara abstrak, dengan metode ceramah dan teks book, sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna, yang menyebabkan siswa bosan dan tidak tertarik mendalami materi ini. Padahal materi listrik statis awal dari semua teknologi listrik. Agar penyajian materi listrik statis menarik dalam penyampaian dan bermakna dalam pembelajaran dan mantap dalam konsep diperlukan rancangan peralatan untuk penunjang pembelajaran tersebut. Ada beberapa peralatan yang sudah tersedia di sekolah sebagai alat peraga materi listrik statis tapi mempunyai beberapa kelemahan. Peraga listrik statis yang ada biasanya hanya untuk melihat pengaruh gaya tolak benda sejenis dan gaya tarik benda berlainan jenis. Namun belum dapat melihat seberapa besar gaya tarik atau gaya tolak muatan tersebut serta tidak dapat menyatakan muatan itu positif atau negatif.

Keterbatasan peralatan laboratorium yang ada di sekolah penulis, dalam menyampaikan materi listrik statis, mengilhami penulis membuat alat peraga sederhana untuk pembelajaran listrik statis tersebut. Alat ini penulis buat dengan sederhana dengan sedikit modifikasi dan analogi dan penulis buat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh di masyarakat. Hal ini penulis lakukan demi efisiensi dan efektivitas pembelajaran dan untuk menumbuhkan minat belajar siswa dalam mempelajari fisika. Alat ini penulis beri nama “listro” listrik statis elektromagnet.
2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup yang akan penulis bahas pada karya tulis ini sebagai berikut. 1. Cara pembuatan dan cara kerja alat peraga listro. 2. Penyusunan dan penyajian program pengajaran yang berkaitan dengan alat peraga listro. 3. Penilaian proses belajar dan analisis hasil belajar menggunakan alat peraga listro.
3. Tujuan dan Manfaat a. Tujuan

Adapun tujuan pembuatan alat peraga listro adalah sebagai berikut. 1. 2. Untuk membantu siswa dalam memahami konsep listrik statis secara menyeluruh. Untuk membantu guru/sekolah dalam hal pembuatan alternatif alat eksperimen listrik statis.

1

b. Manfaat

1. Menjelaskan materi fisika tentang listrik statis, meliputi muatan sejenis tolak-menolak dan muatan berlainan jenis tarik menarik, gaya tarik muatan beda jenis dan gaya tolak muatan sejenis, medan listrik disekitar muatan listrik, beda potensial listrik dan kapasitor. 2. Alat peraga yang dirancang secara sederhana dapat dibuat sendiri dengan biaya sedikit dan dapat diguanakan di sekolah. 4. Penjelasan Istilah Kata “listrik” dalam bahasa Inggris electric, berasal dari bahasa Yunani elektron, yang berarti “amber”. Amber adalah pohon damar yang membatu, dan pengetahuan kuno membuktikan bahwa jika anda menggosok batang amber dengan sepotong kain, maka amber menarik potongan daun kecil-kecil atau debu. Batang karet keras, batang kaca, atau penggaris plastik, jika digosok dengan sepotong kain juga akan menunjukkan “efek amber” atau listrik statis (Budi Jatmiko, 2004). Listro adalah singkatan dari listrik statis menggunakan elektromagnet. Bahanbahannya terdiri dari: 1. Magnet buatan (dimasukkan kedalam bola sebagai muatan (q1) +/-) 2. Gulungan kawat penghasil elektromagnet (dimasukkan kedalam bola sebagai muatan (q2) +/-) 4. Catu Daya Regulasi (sebagai nilai muatan q2). 5. Neraca Pegas (diasumsikan sebagi pengukur gaya tarik/tolak (F)akibat dua muatan yang didekatkan). 6. Kedudukan.

2

Memformulasikan konsep induksi elektromagnetik 8. Indikator.B. Mengaplikasikan hukum Coulomb dan Gauss untk mencari medan listrik bagi distribusi muatan kontinu 3. Menerapkan prinsip induksi magnetik dan gaya magnetik dalam teknologi seperti pada bel listrik atau motor listrik 7. LAPORAN KEGIATAN 1. fluks. Menerapkan konsep listrik statis dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi II. Mendeskripsikan gaya elektrostatik (hukum Coulomb) pada muatan titik 2. kuat medan listrik.1 Memformulasikan gaya listrik. Mendeskripsikan gaya magnetik pada kawat berarus dan muatan bergerak 6.2 2. Memformulasikan konsep arus induksi dan ggl induksi 10. energi potensial listrik serta penerapannya pada keping sejajar 2. Kompetensi Dasar 2. 1. Memformulasikan konsep arus dan tegangan bolak-balik 3 .3 Menerapkan induksi magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk teknologi Memformulasikan konsep induksi Faraday dan arus bolak-balik serta penerapannya III. Standar Kompetensi 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas /Semester Konsep Alokasi waktu : SMA NEGERI 1 RAMBAH : Fisika : XII/I : Listrik Statis : 12 Jam Pelajaran I. Mendeskripsikan induksi magnetik sekitar kawat berarus 5. potensial listrik. Memformulasikan energi potensial listrik dan kaitannya dengan gaya/medan listrik dan potensial listrik 4. Penyusunan Program Pembelajaran a. Menerapkan konsep induksi elektromagnetik pada teknologi (misalnya generator dan transformator) 9.

Nip. 4. Penilain kinerja praktikum: Dilakukan saat siswa praktikum 2. Sarana Dalam pembelajaran ini diperlukan sarana seperti yang tercantum dalam LKS B. W. Jewed. S. 3. Jakarta: Erlangga. Pertanyaan tertulis : Tes formatif setelah selesai keseluruhan materi pembelajaran listrik dinamis. Mengetahui Kepala Sekolah SMA N 1 Rambah Iskandar. Gaya elektrostatik b. Giancoli. California: Thomson Brooks/Cole 6. Physics for Scientists and Engineers.Pd Nip. Erlangga. J.Pd. S. tes ini berdasarkan kompetensi dasar dan indikator. P. Penilaian. Kapasitor keping sejajar e. 2. Tipler.IV. 5.C. Jakarta: Erlangga 3. 6th Edition. S. Jakarta. D. Jilid II. (2004). Pertanyaan lisan: Dilakukan secara terpadu selama proses belajar mengajar. Fisika untuk SMA Kelas XII. Fisika Untuk Sains dan Teknik. (2001). Serway. (2001). mengungkap penguasaan siswa tentang materi yang sedang dipelajari. Model Pembelajaran : Inkuiri Terbimbing VII. Potensial dan energi potensial listrik d. A. Physics for Scientists and Engineers. Rangkaian kapasitor V. Sumber pembelajaran: 1.197510202002121005 4 . Marten Kanginan (2004). Fisika Jilid I. 1. homson Brooks/Cole © 2004. Sarana dan Sumber Pembelajaran A. R dan Jewett.196507211989011001 Guru Bidang Studi Ali Pullaila. Materi Pembelajaran Listrik Statis a. VI. Medan listrik dan hukum Gauss c. (2004).

dengan jarak pisah r. saling didekatkan. Interaksi antara muatan-muatan dapat dinyatakan sebagai berikut : “Dua muatan yang sejenis (kedua-duanya positif atau kedua-duanya negatif) saling tolak menolak.1 Memformulasik an gaya listrik. Bila dua buah muatan listrik dengan harga q1 dan q2. mengapa penggaris plastik yang digosokkan pada wol/rambut lalu didekatkan pada sisir yang terbuat dari plastik yang digantung Listrik Statis 2. q 2 r2 6 . maka keduanya akan saling tarik-menarik atau tolak-menolak menurut hukum Coulomb adalah: “Berbanding lurus dengan besar muatan-muatannya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua muatan”. Pada permukaan yang runcing makin rapat muatannya. * Hukum Coulomb. F=k Gambar. 1. * Muatan Listrik. sedangkan dua muatan yang tidak sejenis (yang satu positif dan yang lain negatif) akan saling tarik menarik ”. menunjukkan bahwa gelas timbul muatan listrik. muatannya tersebar pada permukaan luar dari benda dan menyebarnya muatan listrik pada permukaan luar benda tidak sama rata.Pendahuluan Guru membangkitkan tanya jawab atau diskusi tentang peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan listrik statis. Salah satu sifat muatan listrik adalah adanya dua macam muatan yang menurut konvensi disebut muatan positif dan negatif. q1 . kuat medan Suatu pengamatan dapat memperlihatkan bahwa bila sebatang gelas digosok dengan kain wool atau bulu domba. B.Rencana Pembelajaran Indikator Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran A. Pengamatan lain yaitu: benda yang bermuatan listrik. batang gelas tersebut mampu menarik sobekan-sobekan kertas. Selain dengan cara menggosok kain wool pada batang kaca tersebut. maka salah satu cara untuk membuat benda dapat dijadikan listrik adalah dengan cara INDUKSI. Ini listrik. Mengapa rol plastik yang digosokkan pada rambut dapat menarik sobekan-sobekan kertas seberapa besar gaya tarik rol tersebut? 2. Kegiatan Inti Tahap I : Penyajian masalah Guru memancing siswa dengan masalah yang akan di jadikan landasan untuk memulai pelajaran dengan cara memberikan pertanyaan mengenai listrik statis.

memperhatikan siswa Saling tolak-menolak. Guru (permitivitasnya).Bila pengamatan dilakukan diruang hampa/udara. seberapak kuat gaya tolaknya ? Tahap II : Pengumpulan dan verifikasi data Siswa diminta membuat jawaban sementara (hipotesis) Konstanta pembanding (“k”) harganya tergantung pada tempat dimana muatan tersebut dari masalah yang diajukan. berdiskusi kelompok dalam satuan cgs . ε 7 . maka harga k juga lain. Sebab tergantung dari permasalahan.109 eksperimen dengan perangkat listro yang cgs dyne centimeter statcoulomb 1 telah disediakan sebelumnya untuk Catatan : menjawab − Untuk medium selain udara.Saling tarik menarik. besar “k” dalam sistem SI adalah: mengemukakan pendapatnya) 9 2 2 k= 9 x 10 Nm /Coulomb 1 Tahap III : Menguji Hipotesis Harga pastinya : k = • Siswa melakukan 4π 0 kajian literatur dan ε 0 = permitivitas udara atau ruang hampa. (Diharapkan siswa dapat berada.SI newton meter coulomb 9. beberapa saat sisir tersebut akan bergerak menjauh ditolak. k=1 dyne cm2/statcoulomb2 untuk menjawab permasalahan yang diberikan. F r q k • Siswa melakukan MKS . Guru mengarahkan siswa dalam berdiskusi.

Besarnya kuat medan listrik (“E”) pada suatu titik di sekitar muatan listrik (Q) adalah : Hasil bagi antara gaya yang dialami oleh muatan uji “q” dengan besarnya muatan uji tersebut. . − ε 0 = 8. Tahap V : Menganalisa F Qq E= = (k 2 ) / q prosedur inkuiri q r • Guru bersama siswa Q menyimpulkan konsep E=k 2 r listrik statis tentang Kuat medan listrik (E) adalah suatu besaran vector. Penutup Gambar • Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai konsep yang belum dipahami. bila muatan sumbernya positif maka meninggalkan dan bila negatif arahnya menuju. total dapat dijumlahkan dengan mempergunakan aturan vektor. Arah dari kuat medan listrik.85 x 10-12 Coulomb2 / newton m2 * Medan Listrik. − Karena F adalah vektor. medan Newton/Coulomb atau dyne/statcoulomb.109 statcoulomb. listrik dan tegangan Bila medan di sebuah titik disebabkan oleh beberapa sumber. maka besarnya kuat medan listrik statis.− 1 Coulomb = 3. • Guru meminta siswa 8 . penjumlahannya juga memenuhi aturan vektor. Tahap IV : Merumuskan Penjelasan Guru memberikan waktu kepada siswa untuk : • Mengungkapkan proses gaya tarik/tolak muatan yang berlainan jenis. maka bila gaya resultan yang disebabkan oleh 3 titik muatan. C. Satuan dari kuat medan listrik adalah gaya Coulomb. Medan listrik adalah daerah dimana pengaruh dari muatan listrik ada. Antara +Q dan -Q ada gaya tarik menarik sebesar : Qq F=k 2 r sehingga besarnya kuat medan listrik di titik p adalah dalam eksperimen dan mengarahkan siswa pada diskusi kelas melalui presentasi hasil eksperimen.

. 1. 9 .dititik S. yang berada sejauh r terhadap pusat bola. R = jari-jari bola R .dititik P. Q Es = k 2 Q = muatan bola . .dititik R. yang berada didalam bola ER=0. Q Ep = k 2 r Bila digambarkan secara diagram diperoleh. yang berada pada kulit bola. Sebab di dalam bola tidak ada muatan.untuk mengulangi mempelajari konsep dan mengaitkannya dengan materi selanjutnya Contoh kuat medan listrik. Kuat medan listrik yang disebabkan oleh bola berongga bermuatan.

* ER = 0 Q Q * Ep = k 2 2 R r 2. 3. tetapi untuk titik R kuat medan listriknya tidak sama dengan nol. Bila Bola pejal dan muatan tersebar merata di dalamnya dan dipermukaannya ( Muatan total Q ). * Es = k − Besarnya kuat medan listrik di titik P dan S sama seperti halnya bola berongga bermuatan. Kuat medan disekitar pelat bermuatan. maka besarnya kuat medan listriknya : Q. r ER = k 3 R r = jarak titik R terhadap pusat bola R = jari-jari bola. ER = 0 − Bila titik R berjarak r terhadap titik pusat bola. 10 .

Ep = Q ) A σ 2ε 0 . tetapi berlawanan tanda. E = 0 11 . dengan muatan sama besar.muatan-muatan persatuan luas pelat ( σ = Bila 2 pelat sejajar. E P = E1 + E 2 = EP = ε σ σ + 2ε 0 2ε 0 σ 0 Untuk titik P yang tidak di antara kedua pelat.

Bola tersebut selanjutnya diasumsikan sebagai muatan listrik dapat dianggap muatan positif/negatif (tapi hanya perumpamaan). Gulungan kawat ini juga dimasukkan kedalam bola. Bola berisi Elektromagnet Kawat email yang dililitkan pada baut merupakan penghasil elektromagnet yang kekuatannya dapat diubah-ubah.b. Gambar 2. 12 . Magnet Buatan untuk Magnet ini dimasukkan kedalam bola. nilai tegangan selanjutnya diasumsikan sebagai nilai muatan titik 1 volt diasumsikan sebagi 1 mikro Coulomb. Sumber elektromagnet adalah sebuah adaptor stabilisator yang tegangangannya dapat diubah dari 0 volt – 18 volt dc. dan konstanta k.. Bola bermuatan digantung pada kedudukan statip secara utuh dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. Besarnya gaya tarik/tolak dapat dibaca pada neraca pegas yang diikatkan pada bola (q) yang berisi elektromagnet. hasil pembacaan oleh neraca pegas dicocokan/kalibrasi dengan nilai jarak (r). dengan demikian siswa dapat mengamati secara langsung penggunaan persamaan gaya tarik/tolak muatan bila didekat. Rancangan Listro Magnet buatan yang dimaksud adalah magnet buatan untuk mainan anak-anak yang berbentuk oval atau bulat dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 1. F = (k q1 q2)/r2 …………………………………………….(1). Bola berisi Magnet Buatan Gambar 3. selanjutnya dapat dianggap sebagai muatan kedua dimana bila didekatkan pada bola yang berisi magnet buatan akan terjadi gaya tarik/tolak oleh perubahan elektromagnet. besarnya muatan yang dihasilakn catu daya .

bertambahnya tegangan pada rangkaian elektromagnet mengakibatkan bola (q2) menjadi magnet kuat yang dapat menaarik/menolak p bola q1. Rancangan Percobaan Listro. Prosedur Penentuan Kelas Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII semester 1 tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah tiga kelas pada salah satu SMA Negeri di Kabupaten Rokan Hulu Riau. Penyajian Program Pembelajaran a. 2. homogenitas dan normalitas sampel penelitian. untuk menghasilkan gaya tolak atau gaya tarik oleh elektromagnet dapat dilakukan dengan menukar polaritas pada adaptor regulator yang dipanjarkan pada rangakaian elektromagnet di bola (q2). Cara kerja Listro Setelah rangkaian listro tersusun seperti pada gambar 4 selanjutnya dengan menaikkan nilai q2 dengan membesarkan nilai beda potensial pada adaptor yang dianggap sebagai nilai muatan (q). Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari: 1. c. Perbandingan gain antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dilihat berdasarkan rerata gain ternormalisasi secara keseluruhan.Gambar 4. Untuk mengukur penguasaan konsep ini maka tes dikembangkan sesuai dengan kompetensi dasar. 2. Pengaruh penerapan model pada kelas eksperimen didasarkan atas besarnya gain antara postes dan pretes. b. Dari ketiga kelas tersebut selanjutnya dipilih secara acak dua kelas sebagai sampel penelitian masing-masing sebagai kelas eksperimen dan kerlas kontrol. Lembar Observasi 13 . Tes Penguasaan Konsep Tes ini digunakan untuk mengukur penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran. Pre-test dari tes ini digunakan untuk melihat kondisi awal subyek penelitian.

Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan dua kegiatan yaitu penyusunan perangkat pembelajaran dan pengembangan instrumen penelitian. Validitas Tes Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauhmana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Implementasi model pembelajaran yang telah disusun pada kelas eksperimen. dan 3) Pengolahan dan analisis data. d. c. Tahap Pelaksanaan Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data. b. Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Pada tahap ini dilakukan implementasi model pembelajaran yang disusun.Instrumen ini dimaksudkan untuk mengobservasi kegiatan siswa dan keterlaksanaan model inkuiri terbimbing berlangsung dalam pengajaran listrik statis. Pemberian tes akhir untuk melihat peningkatan penguasaan konsep. Validitas butir soal digunakan untuk mengetahui dukungan suatu butir soal terhadap skor total. Untuk perangkat pembelajaran maka beberapa hal perlu diperhatikan antara lain. Secara garis besar kegiatankegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain: a. d. Pemberian tes awal untuk mengetahui penguasaan konsep. Untuk menguji validitas setiap butir soal. kemudian melakukan analisa terhadap data tersebut dan seterusnya mengambil kesimpulan. materi pelajaran yang akan dikaji. 2) tahap pelaksanaan. Dukungan setiap butir soal dinyatakan dalam bentuk 14 . skorskor yang ada pada butir soal yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total. sedang pada kelas kontrol sebagai kelas pembanding dilakukan model pembelajaran konvensional. yaitu: 1) tahap persiapan. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan melalui tiga tahap. Analisis Instrumen Pada tahap ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pengisian angket guru dan siswa untuk melengkapi data yang telah diperoleh. Sebuah soal akan memiliki vasliditas yang tinggi jika skor soal tersebut memiliki dukungan yang besar terhadap skor total. Kuesioner Kuesioner digunakan untuk menjaring tanggapan siswa dan guru terhadap model pembelajaran yang diterapkan. c. Tahap Analisis Data Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan dan penskoran data yang telah didapatkan. 3. Dalam bahasa Indonesia “valid” disebut dengan istilah “sahih”.

80 0.dua variabel yang dikorelasikan.40< rxy ≤ 0. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson. sehingga untuk mendapatkan validitas suatu butir soal digunakan rumus korelasi. 2005) Keterangan: : koefesien korelasi antara variabel X dan variabel Y.80< rxy ≤ 1.40 0.00< rxy ≤ 0. rxy = {NΣX rxy NΣXY − (ΣX )( ΣY ) 2 − (ΣX ) 2 }{ NΣY 2 − (ΣY ) 2 } (Arikunto.1992) Keterangan: t : Daya pembeda dari uji t N : Jumlah subjek rxy : Koefesien korelasi 15 .60< rxy ≤ 0.20< rxy ≤ 0.20 Kategori Sangat tinggi (sangat baik) tinggi (baik) cukup(sedang) rendah (kurang) sangat rendah (sangat kurang) Kemudian untuk mengetahui signifikansi korelasi dilakukan uji-t dengan rumus berikut: t = rxy N −2 1 − rxy 2 (Sudjana.60 0. X : Skor item Y : Skor total N : jumlah siswa Interpretasi besarnya koefesien korelasi adalah sebagai berikut: Tabel 1 Kategori Validitas Butir Soal Batasan 0.00 0.korelasi.

2. Indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi) yang dihitung dengan rumus: P= B JS Keterangan: P : Indeks kesukaran B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes 16 .00 sampai 1.00 0.40< r11 ≤ 0.60 0.60< r11 ≤ 0.20< r11 ≤ 0. Suatu tes dapat dikatakan memiliki taraf reliabilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap yang dihitung dengan koefesien reliabilitas.20 Kategori sangat tinggi (sangat baik) tinggi (baik) cukup(sedang) rendah (kurang) sangat rendah (sangat kurang) 3.40 ≤ 0.0. Interpretasi derajar reliabilitas suatu tes menurut Arikunto (2005) adalah sebagai berikut: Tabel 2 Kategori Reliabilitas Butir soal Batasan 0. Besarnya indeks kesukaran berkisar antara 0.80< r11 ≤ 1.80 0.0 menunjukkan bahwa soal tersebut terlalu mudah. Soal dengan indeks kesukaran 0. Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal.0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar. 2005) r11 = dimana: 2 r1 1 2 2 1 + r   1 1   2 2 r11 : koefesien reliabilitas yang telah disesuaikan r1 1 2 2 : Koefesien antara skor-skor setiap belahan tes Harga dari r1 2 1 2 dapat ditentukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment Pearson. sebaliknya indeks 1. Menghitung reliabilitas soal dengan rumus (Arikunto. Reliabilitas Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya.

00 Kategori jelek cukup baik baik sekali 17 .70 < D ≤ 1.20 < D ≤ 0.70 0.00 Kategori soal sukar soal sedang soal mudah 4.00 ≤ P < 0.00 ≤ D ≤ 0.40 0. Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah: B B D = A − B = PA − PB (Arikunto.30 0.70 ≤ P < 1.30 ≤ P < 0.20 0. 2005) JA JB Keterangan: JA : Banyaknya peserta kelompok atas JB : Banyaknya peserta kelompok bawah BA: Banyaknya kelompok atas yang menjawab benar BB: Banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar PA: proporsi kelompok atas yang menjawab benar PB : proporsi kelompok bawah yang menjawab benar Kategori daya pembeda adalah sebagai berikut: Tabel 4 Kategori Daya Pembeda Batasan 0. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut Indeks diskriminasi (D).70 0.40 < D ≤ 0. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.Klasifikasi untuk indeks kesukaran adalah sebagai berikut: Tabel 3 Kategori tingkat Kesukaran Butir Soal Batasan 0.

diperoleh sejumlah data berupa data kualitatif dan kuantitatif. terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dengan uji kolmogorof smirnov dan uji homogenitas data dengan uji Levene test. 18 . Jenis Data Setelah model pembelajaran diimplementasikan. postes dan gain ternormalisasi data penguasaan konsep b. 2004) Keterangan: : Skor postes : Skor pretas S maks : Skor maks ideal Tabel 5 Kategori Perolehan Skor Batasan 0. Data kuantitatif berupa: skor tes awal. Analisa Data untuk Menjawab Pertanyaan Penelitian.7 N-gain < 0. Tes penguasaan konsep dan dilakukan sebelum pembelajaran (pretes) dan sesudah pembelajaran (postes). Mengolah Data dengan menggunakan program SPSS Sebelum dilakukan uji hipotesis (analisis inferensial). skor tes akhir dan gain. 4. Analisis dan pengolahan data berpedoman pada data yang terkumpul dan pertanyaan-pertanyaan penelitian.3 ≤ N-gain < 0. Menghitung gain ternormalisasi tes penguasaan konsep dengan rumus g factor (gain score normalized) g= S post − S pre S post S pre S maks − S pre (Cheng et al.e. Pengolahan dan Analisis Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengolahan data meliputi : a. Kuesioner digunakan menjaring tanggapan guru dan siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. kuesioner dan format observasi. 2. f.3 Kategori tinggi sedang rendah 3. Melakukan penskoran pretes. Kuesioner diberikan kepada siswa setelah selesai mengikuti pembelajaran. Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui: tes penguasaan konsep. Tes digunakan untuk melihat perbandingan antara penguasaan konsep sebelum dan sesudah pembelajaran. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1.7 ≤ N-gain ≤ 1 0.

Penguasaan Konsep Listrik Statis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Secara Umum Data hasil pengolahan skor pretes.1 0. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep siswa setelah mengikuti pembelajaran secara umum mengalami peningkatan dimana siswa pada kelas eksperimen memiliki penguasaan konsep yang lebih baik dibandingkan dengan siswa pada kelas kontrol. postes.5 % dari skor ideal).6 7. a.3 2. Peningkatan skor rata-rata gain ternormalisasi penguasaan konsep kelas eksperimen sebesar 0. Perolehan skor rata-rata pretes.3 15.6 dan kelas kontrol sebesar 0.3. postes dan gain ternormalisasi pada pada tabel 4. 19 .5 %). postes dan gain ternormalisasi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel 6 Tabel 6 Deskripsi skor penguasaan konsep pada kedua kelas Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Pretes Postes g Pretes Postes g N (jumlah siswa) 47 47 47 47 Rata-rata 8.1. (2) Aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran inkuiri terbimbing berlangsung.4.1 1.7 (38.1 Ket : g adalah gain ternormalisasi Berdasarkan perolehan skor rata-rata pretes.1 (75. Hal ini menunjukkan bahwa perolehan skor rata-rata pretes penguasaan konsep siswa kedua kelas tidak berbeda secara signifikan. diketahui bahwa skor rata-rata postes kelas eksperimen sebesar 15. dan (4) Tanggapan siswa dan guru terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing menggunakan listro.4 0. diketahui bahwa skor rata-rata pretes siswa kelas eksperimen sebesar 8. Selanjutnya berdasarkan perolehan skor rata-rata postes pada kedua kelas.0 %). gain dan gain ternormalisasi penguasaan konsep listrik statis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol selengkapnya dapat dilihat pada lampiran A. Laporan Hasil Pada bagian ini dideskripsikan hasil-hasil penelitian yang meliputi hasil implementasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pengajaran fisika menggunakan listro yang mencakup: (1) Penguasaan siswa terhadap konsep-konsep listrik statis.4 Standar Deviasi 2.3 (41.9 2. sementara kelas kontrol perolehan skor rata-rata postes sebesar 12. sementara skor rata-rata pretes pada kelas kontrol sebesar 7. Hasil Penelitian 1.5 % dari skor ideal). dengan demikian rata-rata gain ternormalisasi kelas eksperimen lebih besar dari rata-rata gain ternormalisasi kelas kontol.7 12.4 (62.

Uji Normalitas Data Uji normalitas data skor pretes.2 0. data dikatakan berasal dari populasi yang homogen jika nilai probabilitas > 0.6 Homogen Gain ternormalisasi 0.** Keputusan Pretes 0.05.1 0. 2). postes dan gain ternormalisasi penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. postes dan gain ternormalisasi kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh signifikansi > 0.1 0. postes dan gain ternormalisasi penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol Sumber data Pretes Postes Gain ternormalisasi Sig. Uji Homogenitas Data Uji homogenitas data pretes.05. Selanjutnya dilakukan uji statistik parametrik (uji-t). Dari tabel 4.3 terlihat bahwa hasil uji homogenitas data skor pretes.1).2 terlihat bahwa hasil uji normalitas data pretes.*= Signifikan Kelas Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Sig. postes dan gain ternormalisasi kedua kelas selengkapnya disajikan pada tabel 8 Tabel 8 Hasil uji-homogenitas skor pretes. postes dan gain ternormalisasi kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh signifikansi > 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa varians kedua kelas adalah homogen.05.2 Keputusan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Dari tabel 4.2 0. postes dan gain ternormalisasi penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol Sumber data Sig. Hasil pengujian dengan uji-t selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 9 20 .2 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data skor pretes.1 Homogen Postes 0.5 Homogen * Digunakan uji Levene-tes. Uji ini dimaksudkan untuk melihat perbedaan dua rata-rata skor peningkatan penguasaan konsep siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. postes dan gain ternormalisasi penguasaan konsep siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel 7 Hasil Uji-Normalitas skor pretes.* 0.

0 38.0 60. Persentase pencapaian skor rata-rata pretes.2 t-tes 1. postes dan gain ternormalisasi penguasaan konsep siswa kedua kelas 21 . Karena Sig < 0.1 5.Tabel 9 Uji beda rata-rata penguasaan konsep listrik statis pada kelas eksperimen dan kontrol Kelas Eksperimen Pretes Kontrol Eksperimen Postes Kontrol Eksperimen Gain ternormalisasi Kontrol Sumber data Rata-rata 8.4 0. postes dan N-gain penguasaan konsep listrik statis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada gambar 5 berikut ini.0 40.2 0. maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan skor postes penguasaan konsep siswa antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. 3 1. Karena Sig > 0.2 0.4 5.9 2. maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan skor pretes antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.3 6.0 10.0 Pretes Postes g 41.1 6.0 50. Hal ini berarti bahwa penguasaan konsep listrik statis siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan siswa kelas kontrol.0 0.0 60. Selanjutnya untuk skor postes diperoleh thitung = 6.0 20. Dev 2.0 0.5 40.0 30.05.1 2.3 1.0 0.3 dengan signifikansi p = 0.5 62.0 0.4 Std. Prosentase skor rata-rata 80.1 0.0 Eksperimen Kontrol 75.7 15.0 Gambar 5 Perbandingan skor rata-rata pretes.4 Sig* (2-tailed) 0.05.0.0 70.6 0.1 12.2 7.0 Berdasarkan tabel 9 terlihat bahwa skor pretes pada kedua kelas besarnya thitung = 1.2 0.2.1 dengan signifikansi p = 0.

5.3 132 56. sementara pada kelas kontrol gain ternormalisasi lebih tinggi karena langkah percobaan tersebut diterangkan terlebih dulu oleh guru dengan metode ceramah. 11.3 dengan kategori sedang. 9. Menurut analisis peneliti hal ini disebabkan karena siswa kelas eksperimen tidak dapat melakukan percobaan dengan sempurna karena bahan yang diminta pada LKS tidak tersedia dengan cukup. postes dan gain ternormalisasi. 18 2. 17.8 Postes Skor 112 218 113 % 59. sub pokok bahasan Medan Listrik. sub pokok bahasan potensial listrik dan sub pokok bahasan kapasitor. 16 10. 7. Penguasaan konsep setiap sub pokok bahasan masing-masing dapat lihat pada tabel 10.4 0.2 Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa perolehan gain ternormalisasi tertinggi penguasaan konsep siswa kelas kontrol terjadi pada sub pokok bahasan medan listrik dan kapasitor masing-masing sebesar 0. 14.2 0.4 104 44.6 66.7 Eksperimen Postes Skor 138 225 142 % 73.3 Pretes skor 63 152 69 % 33.2.3 39.5 46. 22 . sementara perolehan gain ternormalisasi tertinggi penguasaan konsep siswa kelas eksperimen terjadi pada sub gaya coulomb dan potensial listrik masing-masing sebesar 0. 15. 13. 20 Pretes skor 72 130 73 % 38.4 0.2 36.5 38. Sub pokok bahasan tersebut yaitu sub pokok bahasan gaya Coulomb.1 g 0.3 60. 19. 12 6.3 0. 3. 4. sedangkan perolehan gain ternormalisasi terendah terjadi pada sub konsep kapasitor sebesar 0.4 dengan kategori sedang dan perolehan gain ternormalisasi terendah terjadi pada sub pokok bahasan gaya coulomb dan potensial listrik masing-masing sebesar 0.4 0.4 68. 8.4 g 0.6 dengan kategori sedang.4 60. Tabel 10 Skor pretes dan skor postes setiap sub pokok bahasan kelas kontrol dan eksperimen Sub Pokok Bahasan Gaya Coulomb Medan Listrik Beda Potensial Listrik Kapasitor Kontrol No soal 1.6 86 36. Masing-masing sub pokok bahasan dianalisis ketercapaiannya berdasarkan skor pretes.6 0.6 142 60.2 dengan kategori rendah. Penguasaan Siswa pada Setiap Sub Pokok Bahasan Listrik Statis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Pokok bahasan listrik statis yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri atas empat sub pokok bahasan.

sedangkan jumlah gain ternormalisasi pada kelas kontrol adalah 0.6% dan persentase tertinggi adalah sub pokok bahasan medan listrik sebesar 66. 60 Prosentase g 50 40 30 20 10 0 A B C D 30 60 40 40 30 20 60 40 Eksperimen Kontrol Gambar 6 Persentase penguasaan sub konsep setelah dilakukan postes Keterangan : A : Sub Pokok Bahasan gaya Coulomb B : Sub Pokok Bahasan Medan Listrik C : Sub Pokok Bahasan Potensial Listrik D : Sub Pokok Bahasan Kapasitor 23 .4% dan persentase terendah terjadi pada sub konsep kapasitor sebesar 56.6% dan tertinggi terjadi pada sub pokok bahasan medan listriksebesar 39. sedangkan persentase tertinggi penguasaan konsep siswa kelas eksperimen setelah dilakukan postes adalah sub konsep gaya Coulomb 73. Dengan demikian.2% dan terendah sub pokok bahasan gaya Coulomb sebesar 33.5%. diketahui bahwa persentase terendah perolehan penguasaan konsep pada saat pretes siswa kelas kontrol terjadi pada sub pokok bahasan kapasitor sebesar 36. Rata-rata gain ternormalisasi dari keempat sub pokok bahasan pada kelas eksperimen adalah 0.Selanjutnya berdasarkan persentase perolehan skor penguasaan konsep pretes dan postes siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. sedangkan persentase terendah siswa kelas kontrol setelah dilakukan postes terjadi pada sub pokok bahasan gaya Coulomb sebesar 59.5 %.35. Hal ini berarti bahwa rata-rata skor gain ternormalisasi kelas eksperimen lebih besar dibanding rata-rata skor gain ternormalisasi kelas kontrol.3%. Pada kelas eksperimen persentase tertinggi perolehan skor penguasaan konsep pada saat pretes terjadi pada sub pokok bahasan medan listrik sebesar 46.45.2%. Persentase pencapaian penguasaan setiap sub konsep skor postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada gambar 6. persentase pencapaian penguasaan setiap sub konsep pada materi listrik statis setelah dilakukan postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami peningkatan.

pernyataan ini disetujui oleh 45 orang (95.6%) menyatakan.1 3. Dengan demikian pembelajaran seperti 24 .4 Ketertarikan Siwa pada Listro dengan Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing Materi listrik statis yang dipelajari tidak akan dirasakan sulit oleh siswa bila di ajarkan dengan model inkuiri terbimbing menggunakan listro dan diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari.7%) lainnya tidak setuju akan hal ini. yaitu sebanyak 7 orang (14. siswa merasakan bahwa fisika itu memang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sifat Pernyataan Positif Pandangan Siswa Terhadap Materi Listrik statis Positif Negatif Negatif Negatif Positif Jawaban Siswa/Skor SS 37 4 27 4 0 1 0 1 0 1 20 4 S 10 3 19 3 2 2 7 2 1 2 24 3 TS 0 2 1 2 38 3 35 3 21 3 3 2 STS 0 1 0 1 7 4 5 4 25 4 0 1 Rata-rata Skor Sikap Siswa 3. Sebanyak 44 orang (93. Tapi ada juga yang setuju bahwa hal itu akan membuang waktu saja. untuk memahami materi listrik statis ini dengan baik kita harus membaca lebih dari satu buku.8 3.5 3. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 14 di bawah ini. Tabel 14 Rekapitulasi Hasil Jawaban Skala sikap Siswa Terhadap Materi Listrik statis Sikap No soal 9 10 11 13 14 15 4. Sebanyak 38 orang (80.3. yaitu sebanyak 7 orang (14.5 3.0 3. Sikap Siswa terhadap Materi listrik statis Secara keseluruhan ( 100%) siswa menganggap mempelajari materi listrik statis ini sangat mengasikkan.8%) menyatakan sangat setuju dan setuju kalau pembelajaran inkuiri terbimbing itu dapat menambah motivasi dalam belajar. pernyataan ini disetujui oleh 41 orang (87. yang sangat setuju dan setuju dengan pernyataan ini masing-masing sebanyak 27 orang (57.7%). Setelah mempelajari materi ini.8%). Konsep-konsep dalam materi listrik statis dapat dilihat aplikasinya dalam kehidupan.8%).2%) dan 6 orang (12. Namun demikian ada juga yang menyatakan materi listrik statis ini sulit untuk dipelajari.4%).

Tabel 15 Rekapitulasi Hasil Jawaban Skala Sikap Siswa Terhadap Ketertarikan Siswa Pada Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Sikap No Soal 20 Ketertarikan siswa terhadap pelaksanaan pembelajara inkuiri terbimbing 21 22 23 29 Sifat Pernyataan Positif Negatif Positif Positif Positif Jawaban siswa/Skor SS 2 4 0 1 12 4 25 4 30 4 S 39 3 7 2 26 3 21 3 17 3 TS 6 2 14 3 5 2 1 2 0 2 STS 0 1 26 4 4 1 0 1 0 1 Rata-rata skor sikap siswa 2. Dengan pengamatan langsung lebih meningkatkan kemampuan pemahaman siswa. selanjutnya diberikan postes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal.8%) menyatakan setuju. 1987). ternyata kedua kelas mengalami peningkatan kemampuan dalam hal penguasaan konsep. Dari hasil analisis tersebut. Kemudian dilakukan analisis terhadap data postes dan data N-gain kedua kelas. menggunakan daya ingat.5 3.ini sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran fisika. Pembahasan Hasil Penelitian 1. dan mengembangkan konsep seperti yang diungkapkan Bruner (Amin. sebanyak 46 orang (97.0 3. berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. Ia mengatakan penemuan merupakan suatu proses mental dimana siswa terlibat langsung dalam menggunakan proses mentalnya untuk menemukan suatu konsep atau prinsip. karena siswa memahami konsep. 25 .9 3. merumuskan hipotesis.4 3. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Dahar (1996). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 15.6 B. Namun peningkatan penguasaan konsep yang terjadi pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada yang terjadi pada kelas kontrol. Penguasaan Konsep Setelah dilakukan pembelajaran pada kedua kelompok dengan model pembelajaran yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran listro dengan model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Berdasarkan hasil jawaban siswa baik kelengkapan pada LKS maupun soal postes. melibatkannya dalam aktivitas pembelajaran dan mengembangkan sikap positif terhadap sains karena bagaimana pun pembelajaran inkuiri terbimbing dapat memberikan pengalaman konrit bagi siswa. kalor 60. 2006) yang menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing memungkinkan untuk memelihara rasa ingin tahu siswa. 26 . Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Esler (dalam Ridwan.4%. yang tertinggi terjadi pada sub konsep gaya Coulomb 73.Untuk penguasaan konsep peningkatan terjadi pada semua konsep listrik statis.6% untuk sub konsep gaya Coulomb. Pada kelas kontrol 59.1% pada sub konsep potensial listrik dan 60. 2.4% untuk sub konsep kapasitor. Tanggapan Siswa terhadap listro dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Secara umum siswa merespon positif pembelajaran listrik statis dengan model inkuiri terbimbing. walaupun masih ada siswa belum mencapai hasil yang diharapkan.4% dan kapasitor 56. pada kelas eksperimen. Siswa menemukan langsung sesuai dengan kepentingannya (Dirjen Dikdasmen 2003). 60.3% pada sub konsep Medan Listrik. Ini memperlihatkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh besara pada penguasaan konsep siswa pada pokok bahasan listrik statis. Sama seperti halnya dari hasil observasi ternyata para siswa menyatakan sikapnya bahwa dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing memungkinkan mereka lebih berani berpendapat dan bertanya untuk memperoleh atau menemukan konsep. Hal ini tidak terlepas dari teknik dan cara guru dalam menyajikan serta mengemas materi pelajaran kepada siswa. Meningkatnya minat dan motivasi siswa dalam belajar karena siswa merasa pembelajaran berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga para siswa lebih rajin dalam belajar dan mau bekerja keras mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. 66. terlihat bahwa siswa memiliki antusias dan semangat yang tinggi terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Hal ini ditunjukkan dengan respon siswa agar pembelajaran seperti ini diterapkan pada konsep-konsep yang memiliki karakteristik yang sama dengan konsep listrik statis. medan listrik 68.2%.4%.

Saran-Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan. oleh karenanya penemuan langsung konsep sangat membantu memahami masalah yang berkaitan dengan konsep listrik statis. Aktivitas siswa dalam menemukan konsep dilakukan dengan kajian literatur. yakni dengan menerapkan listro dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen. sehingga guru pada prinsipnya hanya sebagai fasilitator dan sebagai motivator. Kesimpulan Dari eksperimen yang dilakukan. diskusi dalam kelompok inkuiri dan sesekali bertanya kepada guru sehingga konsep tersebut ditemukan langsung oleh siswa. 27 . 2. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Berdasarkan pertanyaan penelitian pada bab sebelumnya.C. sehingga ia meraskan kemudahan dan termotivasi untuk belajar fisika 2) Untuk menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebaiknya langkah-langkah inkuiri terbimbing yang digunakan jelas dan terarah. peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut: 1) Untuk memberikan nuansa tersendiri dalam pembelajaran fisika maka metode pengalaman langsung dapat lebih ditinggikan frekuensinya untuk menjawab kekhawatiran siswa bahwa fisika itu penuh dengan rumus-rumus. maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Analisis N-Gain menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan konsep listrik statis. 2) Selama pembelajaran inkuiri terbimbing ditemukan siswa lebih terlihat kreatif dan memiliki semangat yang tinggi dalam memecahkan masalah yang diberikan. siswa merasakan bahwa materi ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 3) Tanggapan siswa dan guru yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing sangat baik. bagi siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran laboratorium verifikasi. Tanggapan guru terhadap model yang diterapkan dalam pembelajaran sangat positif karena menemukan langsung merupakan tuntutan dalam memahami konsep listrik statis yang sangat banyak ditemukan sehari-hari. kemudian dibandingkan dengan kelas kontrol terhadap penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif siswa SMA ternyata terjadi perbedaan pada hasil akhirnya.

. R. Jakarta: PT.net).. Cheng. R dan Jewett. (2004). Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi. Serway. W. homson Brooks/Cole © 2004.K. Jakarta: Erlangga Jewed. R. S.DAFTAR PUSTAKA Amin. (2001).e-dukasi. W. 72. Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam dengan Menggunakan Metode”Discovery” dan “Inquiry” Bagian I. Tersedia: (http://www. Jakarta: Erlangga. Jakarta : Erlangga Giancoli. Fisika SMA Kelas XI. (1996). N. A.S. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Pustekom Diknas. Fisika Jilid I. Bandung: Penerbit Tarsito Tipler. Physics for Scientists and Engineers. Metoda Statistika.B. Teori-Teori Belajar. (2001). Arikunto. M. D. (1979). A. K. Psikologi Pengajaran. (1996). 6th Edition. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarat: Depdikbud. (2004). Thacker. Physics for Scientists and Engineers. Jakarta: Rineka Cipta Sudjana. American Journal of Physics. M. Winkel. P. Slameto. ”Using an online homework system enhances students’ learning of physics concepts in an introductory physics course”. 1447-1453.W.S. Grasindo 28 . Jakarta: Erlangga Kartiasa. California: Thomson Brooks/Cole Kanginan. Jilid II. Dahar. (11). (2003). (1987). (1992). Yogyakarta: PT Bumi Aksara. J. (2004). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. and Cardenas. (2000).C. Pengelolaan Laboratorium Sekolah dan Manual Alat Ilmu Pengetahuan Alam.L. (2005). (2004).

Tentang Penulis Ali Pullaila Lahir: Pasirpengarayan. tahun 2001-2003. Riau. dan menyelesaikan S2 Pendidikan IPA Fisika SL di UPI Bandung (dulu IKIP Bandung) . Rokan Hulu Prop.com Phone : (0762)91799 085221913075 29 . Rokan Hulu Propinsi Riau 28457 Mail : alifkemba@yahoo. tahun 2007 Pekerjaan: PNS Guru Fisika SMA N 1 Rambah Pasir pengarayan. 20 Oktober 1975. tahun 1993-1997. Pekanbaru tahun 2000. Fuji Elektrik. tahun 1992. Siera dan Modern di Pekanbaru. Teknisi Service Center Televisi merk Samsung. Pendidikan Formal: Jurusan Teknik Elektronika Komunikasi STM Tunas Karya Pekan Baru. tahun 2002 – sekarang. Dosen Luar Biasa UPP 2009-sekarang. di sebuah desa kecil di Kabupaten Rokan Hulu Propinsi Riau Daratan. Sub Kontraktor Elephant Elektric Fence System (Pagar listrik untuk mencegah hama gajah di perkebunan sawit) untuk wilayah Riau dan Sumatera Utara tahun 1994-1996. Sarjana FKIP Pendidikan Fisika Universitas Riau. Tambahan Pengalaman: Dosen Luar biasa FKIP Fisika UNRI Pekanbaru. Kab. Tulisan pernah dimuat: Beberapa Opini tentang pendidikan pada Harian Riau Mandiri Cerpen pada Majalah Budaya Sangang sekitar Tahun 1997 ”Penghianat Rakyat Riau” Cerpen Pada Bahana Mahasiswa tahun 1996 ”Telanjang” Buku: Teknik Reparasi TV Penerbit Oase Media Bandung Cet II tahun 2009 Alamat: Jl Riau no 137 Pasirpengaraian Kab.