P. 1
0000 in one volume

0000 in one volume

|Views: 426|Likes:
Published by hasyimabdullah1481

More info:

Published by: hasyimabdullah1481 on Mar 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2012

pdf

text

original

BABAD TANAH SUNDA BABAD CIREBON.

PRAKATA Yang disuguhkan dalam tulisan ini adalah terjemahan dari tulisan huruf pegon/huruf Arab berbahasa Cirebon madya yang asli/otentik. Semoga manfaat menjadi pegangan untuk menengah-nengahi Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon dari luar yang simpang siur sejare-jare akibat Nusantara/Indonesia, pulau Jawa khususnya di selang/ dijajah oleh Belanda lebih-kurang 350 tahun. Semoga ditemukan yang dicari biidnillah insya Allah s.w.t. Dan tiap-tiap membaca Babad Tanah Sunda ini seyogya baca al-Fatihah terlebih dahulu untuk Yang Sinuhun Susuhunan Cirebon, pula setelah membacanya. Tsumma ila hadharati Sayyidina wa Maulana Sulthan Mahmud Syekh Syarif Hidayatillah Awliya Allahu Taala Kutubizzaman khalifatur-Rasulillah s.a.w. sailun lillahi al-Fatihah, baca Fatihah sekali sehingga selesai. Semoga ada manfaatnya, insya Allah s.w.t. Penyusun: P.S. Sulendraningrat.

1. Negara Pejajaran. Pertama-tama diceritakan perihal perjalanan hidup Pangeran Walangsungsang, hingga datang kepada ceriatan Yang Sinuhun Susuhunan Cirebon. Adapun yang dibuka oleh serita ini adalah menceritakan suatu praja di Pejajaran Ratu Agung di Tanah Sunda yang bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisera, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi. Beristri tiga orang, ialah Ambetkasih, Aci Bedaya dan permaisuri Ratu Subanglarang. Sang Prabu berputra empat puluh orang.

Sang Prabu bersabda: "Hai anakku Walangsungsang, aku lihat engkau bermuram durja, semuanya prihatin tidak sama dengan sesama yang berkumpul duduk. Apa yang jadi kesedihan engkau, bukankah engkau calon Prabu Anom memangku negara? Atau putri yang engkau inginkan, beri tahu saja mana yang engkau sukai, jangan engkau bersedih hati, tidak baik bagi pribawa semuanya kraton." Sang putra menjawab dengan khidmat sambil menundukkan kepala dan mengeluarkan air mata. "Duhai Gusti, murka Dalem yang hamba mohon, karena tadi malam hamba mimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok danagung memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang jadi Utusan Yang Widi, namun menyesal sekali belum tuntas hamba sudah terjaga. Sekarang hamba rindu sekali kepada agama Islam, mengingat tidak adanya guru untuk meneruskan pelajaran agama Isalam itu." Sang Prabu berkata sambil senyum: "Walangsungsang, engkau orang muda jangan terlanjur, engkau kena sihir, kena bius Muhammad yang mengaku anutan, yang jadi dutanya Widi, sunguh dusta seenak nafsunya, karena sesungguhnya anutan itu adalah Yuang Brahma Yuang Wisnu itu sesungguhnya agama Dewa yang mulia. Yang Jagat Nata Pangerannya orang setriloka. Sejak dahulu hingga sekarang para leluhur tidak menghendaki dirubah." Walangsungsang menjawab sambil menyembah: "Duhai Gusti mohon ampunan Dalem, pengertian, kebijaksanaan dan pemaafan. Dalem yang hamba mohonkan, karena hamba lebih condong/suka sarengat Jeng Nabi Muhammad dan sesungguhnya Illahi yang wajib disembah itu melainkan Allah yang tiada sekutu sesama yang baharu (makhluk)." Sang Prabu murka, karena sang putra tidak patuh, bertentangan dengan agamanya. Sang putra dimarahi diusir keluar dari praja Pejajaran. Walangsungsang menjadi suka hati, segera pamit, menghindar dari hadapan Sang Prabu, keluar dari Istana, terus berjalan masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung menuju ke arah timur. Ratu Mas Rarasantang sedang rindu kepada kakaknya, ialah Walangsungsang, menangis siang malam selama empat hari akhirnya Rarasantang, mimpi bertemu dengan seorang lelaki pula yang berupa satria lagi berbau harum memberi pelajaran agama Islam, menyuruh berguru sarengat Jeng Nabi Muhammad dan diramal kelak mempunyai suami Ratu Islam dan akan mempunyai anak lelaki yang punjul.

Rarasantang segera terbangun, ingat kepada impiannya lalu keluar dari keraton, menyusul kakaknya, Walangsungsang, terus berjalan. Diceritakan di dalam kraton geger busekan/panik, karena sang putri menghilang melolos tanpa bekas. Jeng Ratu Subanglarang sangat olehnya menangis menyungkemi Sang Prabu karena kedua-dua putranya hilang. Sang Prabu kaget sekali, segera memanggil menghadap seluruh para putra sentara, patuh, bupati, para wadyabala dikumpulkan. Sang Prabu berkata: "Hai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putraku, Dewi Rarasantang hilang dari kraton dan Walangsungsang sisuruh pulang. Sungguh jangan tidak teriring keduanya." Patih Argatala menjawab sandika. Ia segera keluar dari kraton mengumumkan kepada seluruh para wadyabala di Pejajaran geger panik lalu menyebar ke berbagai penjuru. Patih Argatala mencarinya dengan berlaku betapa menuruti perjalanan pendeta. Dipati Siput mencarinya memasuki hutan menuruti perjalanan khewan. Para putra pada bertapa atau berlaku sebagai dukun, sebagian membangun kerajaan. Pada wadyabala bubar ke masing-masing tujuannya, mereka takut, tidak berani pulang sebelum mendapat karya. 2. GUNUNG MARAAPI. Diceritakan Pangeran Walangsungsang telah datang di kaki runung Maraapi (di Rajadesa, Ciamis Timur) sedang tafakur, tak lama kemudian datanglah Sanghyang Danuwarsih, datang sudah di hadapannya. Sang Danuwarsih berkata: "Hai siapa engkau, putra mana dan apa yang dikehendaki?" Walangsungsang berkata: "Walangsungsang namanya, putra dari praja Pejajaran yang beribu Ratu Subanglarang, yang hendak berguru agama Islam." Berkata Sang Danuwarsih: "Baik sekarang turutlah dengan si Rama di puncak gunung Meraapi, niscaya bertemu dengan jodoh engkau; “Walangsungsang mematuhi. Segera turut bersama menuju kayuangannya Sang Danuwarsih, datang sudah mereka berdua di puncaknya gunung Maraapi. Sang Danuwarsih berkata: “Hati putriku, nini Indangayu, sekarang lekas bikin jamuan, jodoh engkau sudah datang.” Nyi Mas Indangayu telah menghidangkan jamuan. Ayahnya bersuka cita. Segera ditari/didimai. “Hai Walang sungsang Indangayu, sekarang aku kawinkan kamu kedua jadi satu, karena tidak lain trah (turunan) dari Galuh.” Sang putra berdua menyetujui.

rahayu dari bahaya. putri Sanghyang Danuwarsih yang berada di gunung Maraapi. Ini wataknya cincin Ampal kalau diterawangkan tahu isinya jagat bumi tujuh langit tujuh bisa terlihat dan di dalam cincin Ampal dapat memuat laut dan gunung. Jeng Pangeran Walang sungsang pada waktu itu berusia 23 tahun. temuilah Ajar Sakti. terus berjalan menuju puncaknya gunung Maraapi. baik engkau menyusul ke sana dan aku memberi engkau nama Ratnaeling. semoga lekas bertemu. engkau siapa dan apa yang engkau cari sendirian berada di sini tanpa kawan?” Sang Dewi Rarasantang menjawab: “Eyang. Tak lama kemudian ada datangnya Nyi Indang Sukati datang sudah di hadapannya. Ia Berkata: “Bayi. pakaiannya cabik-cabik. sang putri mengucap terima kasih dan mohon petunjuk kakaknya ada dimana. hamba sesungguhnya putri Pejajaran dari ibu Subanglarang. Berkata Nyi Indang Sukati: “Engkau datanglah terlebih dahulu di gunung Liwang. Berkata Sang Danuwarsih. mohon pertolongan Eyang. segera pamit. kakak engkau. namun . Diceritakan Ratu Mas Rarasantang yang sedang dalam perjalanan berada digunung Tangkubangprahu kelelahan beristirahat di bawah pohon beringin dengan menggosok kakinya yang pada bengkak. yang dituju menyusul saudara tua Walangsungsang. kelak dipastikan mempunyai putra lelaki yang punjul sebuana. menyungkemi kakinya sambil mohon petunjuk kakaknya ada di mana. Indangayu namanya. bahkan sebentar sudah datang. Nyi Indang berkata: “Hai bayi. bisa untuk sebanyak simpanan. Ki Ajar waspada penglihatannya. terlaksana dengan sebentar Sang Putri telah datang di gunung Liwang di hadapan Ki Ajar Sakti.” Segera sudah dipakai baju si Dewa Mulya. Syahdan Pangeran Walangsungsang yang sedang tapakur di hadapan Sang Danuwarsih.Segera telah kawin tetap catap (syah) perkawinannya pada tahun 1442 M. “Hai putraku Walangsungsang terimalah cincin pusaka turunan dari dipati Suryalaga sama turunan engkau.” Segera Sang Dewi menyembah pamit. terkabul yang dikehendaki. mengetahui maksud Sang Putri.” Sang putri mengucap terima kasih. Ia menangis sambil menyebut-nyebut nama abangnya. di situlah dapat petunjuk. terimalah baju Sang Dewa mulya. Walangsungsang sudah punya istri. Rarasantang nama hamba.” Nyi Indang Sukati merasa kasihan: “Duhai bayi. berwatak cepat cepat berjalan seperti angin dan tidak panas di dalam api dan tidak basah dalam air.

Ia berkata: “Hai orang muda selamat datang.” Walangsungsang mengucap terima kasih sambil menerima semua pemberian Sang Ayahanda. Sedangkan mereka berkumpul tak lama kemudian datanglah Sang Dewi Rarasantang bertemu rangkul merangkul dengan kakaknya. kekuatan. kelak seantara lagi engkau tahu. tidakkah engkau lebih senang di dalam kraton. tiap . Sang Danuwarsih mendekati dan berkata: “Hai putraku. 3. Dan engkau dapat petunjuk jalan dari siapa?” Sang Rarasantang berkata sambil menangis perihal perjalanannya dan awal hingga akhir.” Para putra bertiga sudah di hadapan Sang Danuwarsih. nanti seantara lagi engkau mendapatkannya. Berkata Walangsungsang sambil menangis: “Duhai bayi adikku. Sedangkan mereka berdua bercakap-cakap. sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu dengan si kakak. asal putra mana dan siapa nama engkau?” Dijawab oleh Walangsungsang: “Putra Raja Pejajaran. mudah-mudahan mendapat sihnya guru. kekebalan. hanya si bapak memberi ilmu kedewaan dan menghilang. Rarasantang namanya. itu bayi perempuan siapa berangkulan bertangisan?” Menjawab Sang Putra: “Sungguh saudari kandung hamba seayah seibu. Segera pamit terus berjalan akhirnya telah datang di gunung Ciangkup bertemu di hadapan Sanghyang Nanggo.agama Islam si Rama tidak bisa.” Sanghyang Nanggo berkata: “Hai Walangsungsang. Walangsungsang namanya. sang istri dan sang adik sudah dimasukkan ke dalam cincin Ampal. GUNUNG CIANGKUP Setelah antara sebulan lamanya Ki Sanghyang berkata: “Hai putraku semua marilah berkumpul. hanya itu terimalah aji-aji dan kemenayan (melumpuhkan) pengabaran (menurut) dan pengasihan (pekasih). sekarang baik berguru kepada Sanghyang Nanggo di gunung Ciangkup. aku tidak tahu agama Islam.” Segera Nyi Indangayu merangkul adik iparnya. apa yang engkau kehendaki.” Sang putra mematuhi perintah Jeng Rama. apa sebabnya engkau menyusul. berkata: “Hai Walangsungsang. Indangayu dan Rarasantang. ingin berguru agama Islam. terimalah sih pemberian si bapak dan ini Golokcabang pusaka para leluhur terimalah. Ini golok bisa bicara bahasa manusia dan bisa terbang dan bisa keluar api.

GUNUNG CANGAK Sanghyang Naga berkata: “Engkau sekarang pergi bergurulah ke gunung Cangak di situ engkau akan dapat petunjuk perihal agama Islam. walaupun Dewa tidak tahan. Walangsungsang terheran-heran melihat sedemikian banyak burung burung . ialah peci waring. kelak pada kahirnya engkau yang punya. Sanghyang Naga berkata: “Dan ini pusaka yang tiga warna kepunyaan Juwata sekarang dapat wangsit terimalah dari sih pemberian Dewa. Diceritakan yang berada di gunung Cangak di pohon beringin besar rombongan burung-burung bangau banyak sekali berhinggap. menghilang dan aji titimurti (Membesarkan tubuh hingga segunung anakan). gunung ambruk dan laut kering. mengetahui omongannya segala binatang.” Setelah sebulan lamanya Walangsungsang mohon pamit segera menuju ke gunung Cangak. 4.yang terkena olehnya niscaya lebur.” Walangsungsang mengucap terima kasih atas sih pemberian guru. datang sudah di hadapan Sanghyang Naga. jin. siapa engkau. berwatak rahayu dari senjata musuh dan melemahkan musuh. Walangsungsang namanya putra Pejajaran. umbul-umbul waring. Gunung Kumbang Setelah sebulan lamanya Sanghyang Nanggo berkata: “Hai Walangsungsang sekarang engkau baik bergurulah lagi kepada Sanghyang Naga di gunung Kumbang. agama Islam belum ada. asal putra mana dan apa yang engkau kehendaki?” Sang Walangsungsang menjawab: “Hamba ingin berguru agama Islam. hanya si bapak bisa memberi ilmu kesaktian. Walangsungsang mengucap terima kasih.” Sanghyang Naga berkata: “Hai Walangsungsang. aji dipa. kepewiraan. mudah-mudahan ada sihnya guru. namun diakali dulu Ratunya Bangau hingga sampai tertangkap. kalau dipakai tidak terlihat oleh semua penglihatan. lalu jimat yang warna tiga itu disimpan di dalam cincin Ampal. badong batok berwatak dianuti oleh sileman siluman.” Diterima sudah.” Walangsungsang mematuhi perintahnya guru. mungkin seantara lagi. 5. Berkata Sanghyang Naga: “Hai orang muda. “Walangsungsang sudah menerima semua apa sih pemberian guru. setan pada sika asih. segera pamit terus berjalan menuju gunung Kumbang.

bangau berseliweran dan bingung mana yang jadi Ratunya. Cepat Walangsungsang menangkap leher Sang nata Bangau sambil diancam dengan Golok cabang di atas lehernya. 6. Walansungsang sedangnya melongo keheranan melihat ada kraton. Piring panjang berwatak tidak diisi lagi lalu mengisi sendiri lengkap segala-galanya. Walangsungsang kebingungan. Tal lama kemudian hilanglah ujud pohon beringin itu salin rupa menjadi sebuah kraton yang indah sekali. Walangsungsang berkata: “Hai Pendeta. papan. Kena ampuhnya aji penurutan Sang Nata Bangau segera temurun. tal lama lalu ada 40 orang anak-anak bule yang menghidangkan jamuan sambil menyilahkan duduk di sebuah permadani semas.” Walangsungsang segera menyusul. bertubuh lebih besar dari sesama burung bangau. ialah panjang . Ikan deleg di dalam wadah/perangkap lalu dipatuknya. panjang. Walangsungsang sedangnya enak duduk sambil makan minum tak lama kemudian datanglah Sang Pedeta Luhung duduk sejajar. pendil.” Lalu Sang Nata Bangau dilepaskan. Sang Nata Bangau lenyap setelah datang di pohon beringin di puncak gunung itu. lalu ia terbang sambil berkata: “Hai manusia susullah aku di puncak gunung ini yang berada di pohon beringin. Sang Nata Bangau berteriak tolongtolong minta hidup. Pendil berwatak kalau dikeruk nasinya bisa untuk memberi makan dua tiga segara. pangan. nasi kuning. GUNUNG JATI . dan bareng/bende. lauk pauk selalabnya dan sejuk pribawanya kepada kawula warganya. suaranya membungungkan mausuh. Baren/bende wataknya keluar air banjir. pendil. anda siapa yang bertemu di hadapan menjadikan terkejutnya hatiku?” Ki Pendeta menjawab: “Sanghyang Bangau namaku yang membangun kayuwangan di gunung Cangak. nanti anda aku beri pusaka warna??? tiga. Segera ia memakai peci waring dan mengeluarkan kesaktian sebuah wadah yang berisikan ikan deleg diletakkan di pohon.” Diterima sudah jimat yang warga tiga. fardhu memenuhi janji memasrahkan jimat pusaka yang warga??? tiga. cukup sandang. bareng/bende. Walangsungsang mengucap terima kasih dan berguru kepada Pendeta sebulan lamanya.

datang sudah di hadapan Syekh Nurjati. tak lama kemudian segera pamit. nama kalian siapa?” Berakta Walangsungsang: “Hamba hendak berguru agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad. Kebon Pesisir Lemah Wungkuk Antara lama kemudian Ki Syekh berkata: “Somadullah. tetap patuh kepada Guru. adapun istri hamba Indangayu namanya. ke arah selatan perjalanannya menyusuri pinggir pantai bersama sang istri dan sang adik. selawat dan dzikir. putra Pejajaran. Indangayu. suhud sekali. putri gunung Maraapi Sanghyang Danuwarsih. Walangsungsang. .” Walangsungsang segera pamit menuju gunung Jati. asal dari mana. Sementara perjalanannya membelok ke arah barat menuju ke Lemahwungkuk ada sebuah rumak Kaki Tua yang bernama Ki Gedeng Alang Alang. Sambil senyum ia berkata: “Hai tiga orang muda di hadapanku dengan memberi hormat. Ki Syekh segera memberi wejangan kepada ketiga putra ngucapkan sahadat kalimah dua.” 7. dan naik haji. sudah dipatuhi semua apa yang diwejangkan dan diperintah oleh guru. Ki Syekh memanggil: “Walangsungsang aku beri nama Somadullah. Kitab Fikih dan Tasawuf. Rarasantang sudah lama olehnya berguru. yang sedang bertapa tidur dialah yang empunya agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad.” pada tahun babad jaman/Sakakala 1367/1445 M Somadullah mematuhi perintah guru. membangun sebuah dukuh/pemukiman dimulai pada hari Ahad tanggal 1 bulan Sura. Zakat fitrah. salat lima waktu dan diwejang Qur’an. bersama adik kandung hamba Rarasantang. sekarang aku beri idzin babakyasa. asal dari Mekah. datanglah di gunung Jati Syekh Nurjati namanya. Sang istri dan sang adik lalu dikeluarkan dari cincin Ampal disuruh sujud menghaturkan hormat. puasa bulan Ramadhan.” Syekh Nurjati berkata: “Bagaimana mulanya orang Budha dan putra Raja menghendaki Islam dan dapat petunjuk dari siapa tahu kepada gunung Jati?” Walangsungsang menceritakan sesungguhnya lantaran mau Islam dari awal hingga akhir.Walangsungsang mohon pamit hendak meneruskan mencari agama Islam serengat Jeng Nabi Muhammad Ki Pendeta berkata: “ Hai putra. hamba bernama Walangsungsang. apa kemauan kalian. Ki Syekh Nurjati segera terjaga melihat tiga orang tamu.

tanah pantai yang jadi dedukuh/pemukiman. lama olehnya ia babad/membuka hutan yang sudah lapang lalu ditanami palawija membangun perkebunan. Sekarang sudah diangkat anak. Berkata Sang Prabu: “Hai Dipati Palimanan. berkebun dan menetap. Rebon ditumbuk dibikin terasi. mereka turut berkebun dan semua tanaman serba jadi. Mereka memberitahukan kepada tangga desa-desanya. Somadullah namanya. dapat idzin dari guru disuruh berkebun membangun sebuah dukuh/pemukiman. suku/alat penangkap ikan dan jakung/perahu kecil. .Diceritakan Somadullah istirahat di sana dan sembahyang dalam rumah Kaki Tua itu. banyak orang yang berkebun dan ada nelayan yang menangkap ikan dan rebon. Orang-orang pegunungan banyak turut menanam. RAJA GALUH Diceritakan Prabu Rajagaluh mengadakan sewaka/seba (jumpa pejabatpejabat pemerintahan). tiap malam berkendaraan jakung itu pergi menangkap ikan dan rebon (rebon— sebangsa udang kacil). sekarang bawahan engkau. Adapun palawija sebanyaknya buah-buahan itu sudah dikulakan kepada tengkulak-tengkulak Palimanan dan Rajagaluh laksana semut berkerumunan pada waktu itu orang pegunungan yang telah datang. sekarang kamu tiga orang aku akui sebagai anak. serah jiwa raga dan tempat. aku lebih terasih kepada tubukan ikan rebon. paginya membabad hutan. Hari esok dimulainya badad/menebang pepohonan besar kecil dan kalau diidzinkan mohon mondok sementara waktu tiga orang banyaknya.” Berkata Kaki Tua: “Hai Somadullah. seluruh para Bupati. engkau aku beri nama Cakrabumi. si bapak tidak punya anak dan kawan. Kaki Tua melihat hutan sudah lapang dan banyak ditanami palawija ia suka cita sekali Cakrabumi disuruh menangkap ikan dan rebon diberi waring/jala. Kaki Tua heran sambil berkata: “Hai orang muda. Sebakdanya salat. Gedeng Kiban namanya. Sentana mantri dan para Gegedeng sudak kumpul dihadapannya Sang Prabu segera memanggil Ki Dipati Palimanan. engkau siapa bertemu di sini dan sedang apa?” Berkatalah Somadullah: “Hamba santri gunung Jati.” Somadullah menerimanya. dan setelah datang pada waktunya pagi hari Ahad lalu ia memasuki hutan rawa belukar menebangi pepohonan besar kecil tiap hari. Cakrabumi bergenbira karena sudah banyak tetangga/pendatang baru. Berebutan saling mendahului orang-orang yang membeli. 8. Cakrabumi mematuhi perintah Kaki Tua.

” Ki Dipati mengucap sandika (siap menjalankan perintah). Harap diperiksa yang sampai terang. ada berapa cacah jiwanya dan nelayan penangkap ikan rebon seyogya diberi ketetapan pajak tiap tahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan. karena Sang Prabu terasih sekali kepada bubukan rebon yang sudah gelondongan (bulat panjang). Adapun menangkapnya dengan jala tiap malam.agar diperiksa yang sampai terang dan ditetapkan pajak bagi nelayan rebon itu dalam setahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan dan ada berapa cacah jiwanya orang-orang yang bermukim di pantai. Orang yang mengkulak rebon berebut saling mendahului.” Cakrabumi mengucap sandika. Diceritakan Cakrabumi bersama sang istri dan sang adik sedang menumbuk rebon di lumpang batu dengan halu batu. sambisaling berkata. Masakan perasan air rebon lebih enak. Tidak lama datanglah utusan Falimanan Mantri pepitu memeriksa. mereka terus berjalan menuju ke pantai. Rebon lalu diuyahi seantara lalu diperas. Karenanya Ki Mantri pepitu . engkau oleh perintah Sang Prabu diharuskan mengirim pajak tiap-tiap tahun datu pikul bubukan rebon gelondongan. memanggil ponggawa penipu (pepitu???) (tujuh orang mantri) sudah menghadap kepadanya. karena Sang Prabu lebih terasih dan aku beri nama bubukan gelondongan. Ki Dipati berkata: “Hai ponggawa pepitu. Mereka lalu makan bersama dengan lauk pauk petis blendrang. diberi nama petis blendrang. Berkata jubir Mantri pepitu: “Hai tukang penangkap rebon. Setelah masak lalu dihidangkan kepada Ki Mantri pepitu. geura bebek (Cepat-cepatlah ditumbuk!) Jadi mashur pedukuhan baru itu desebut nama Grage. sekarang periksalah sesukuh baru di pinggir pantai. bahwa cai/air rebon lebih enak ketimbang gragenya (trasinya). geura age. karena Sang Prabu Rajagaluh lebih terasih sekali minta keterangannya bagaimana membikin terasi itu.” Ki Mantri berkata: “Coba ingin tahu rasanya cai/air rebon itu. dedukuh/pemukiman baru itu. demikian. sudah ada cacah jiwa 364 orang. segera keluar meninggalkan sidang. Adapun air perasannya dimasak dengan diberi bumbu-bumbu.” Cakrabumi segera menyuruh istrinya memasak air perasan rebon. Segera menghindar dari hadapannya.” Ki Mantri pepitu mengucap sandika. berdesak-desak sambil berceloteh” Oga age. setelah kering lalu ditumbuk digelondongi. setelahnya lalu dijemur. Ki Cakrabumi sudah bertemu di hadapan mereka. diambilnya pagi-pagi.

Cepat sang putri dipanggil dan berkata: “Hai bayi. lalu cupu ditutup kembali dan disimpan. tas yang berisi tirta nur/air cahaya supaya dibawa sekarang. semufakat rakyat Dukuh Cirebon Kaki Tua Gedeng Alang Alang yang terpilih jadi pikuat/Kuwu Dukuh Cirebon. tas titipan santri yang berisi cupu tirta nur sekarang diminta oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan aku diberi wejangan Sahada Mutaakhirah. ini tas simpanlah yang baik. Cakrabumi memanggil kumpul semua tetangga berniat mensucikan jenazah . ada seorang santri gunung Jati menitipkan tas ini. kala waktu tahun 1447 M. Setelah tamat Jeng Nabi berkata: “Hai Kaki Tua. ternyata ada sebuah cupu hijau yang berisi air cahaya. lalu Ki Kuwu memanggil putri Rarasantang dan berkata: “Bayi. Tas dibuka. aku ingin tahu. Antara lama kemudian Ki Gedeng Alang Alang Wafat. Oleh karenanya Ki Kuwu gelisah dan menangis hingga jatuh sakit. Pada tahun itu juga Mantri pepitu memanggil kumpul rakyat Dukuh Cirebon untuk memilih seorang pikuat/Kuwu Dukuh Cirebon. antara lama kemudian ada seorang santri datang mampir di rumah Ki Kuwu. Lalu isinya diminum oleh Rarasantang hingga habis.mengumumkan kepada rakyat dedukuh baru itu.” Tas itu sudah diterima. harap ayahanda mengetahuinya.” Ki Kuwu kebingungan sekali takut kepada Rasulullah dan kepada santri yang empunya tas itu. DUKUH CIREBON Syahdan Ki Gedeng Alang Alang sudah masyhur sebagai Kuwu Cirebon. setelah usai Ki Mantri pepitu lalu pulang kembali ke Palimanan untuk memberi laporan kepada Ki Dipati Palimanan.” Kaki Tua ingat kepada tas titipan santri. tas diterima sudah Ki santri meneruskan perjalanannya. Mantri pepitu menetapkan Ki Gedeng Alang Alang yang jadi Kuwu dukuh Cirebon dan Ki Cakrabumi sebagai wakilnya.” Sang putri menjawab: “Sungguh tas itu berisi tirta nur. Diceritakan Kuwu Cirebon yang sedang tidur seantara lalu mimpi bertemu dengan Jeng Nabi Muhammad memberi wejangan kepadanya sahabat Mutaakhirah/ Sahabat kalimat dua. lalu Rarasantang masuk ke kamarnya. 9. akan tetapi cupu itu isinya sudah saya minum. segera terjaga menggerayangi sesuatu. Ia seorang santri gunung Jati menitipkan sebuah tas karena ia mau menghadapi kepada Syekh Nurjati. memberi nama Dukuh Cirebon.

Rakyat Cirebon kebanyakan sudah Islam/permulaan ada pemerintahan Islam di pulau Jawa. Orang-orang Budha para tetangga sangat heran sekali melihat kejadian jenazah Kaki Tua yang telah masuk Islam. Akan tetapi jenazah Kaki Tua itu lenyap tanpa bekas hanya tinggal bungkus putihnya saja dan berbau harum sekali. sebakdanya lalu dikubur. pada tahun 1447 M. Terlaksana sudah jenazah Kaki Tua disalatkan. ialah agama resmi adalah Islam. Segera para tetangga mau turut mengurus mematuhi perintahnya Cakrabumi karena ada ganjarannya. . Orang banyak berkata satu sama lain mufakat yang meneruskan jadi Kuwu Cirebon ialah Cakrabumi ditetapkan sebagai Kuwu Cirebon. berkumpul lebih suhud. Adapun para tetangga seorangpun tidak ada yang mau mendekatinya karena memakai cara bangsa Islam. bergelar Pangeran Cakrabuana. NAIK HAJI Cakrabumi sudah masyhur sebagai Kuwu Cirebon. Sebakdanya kubur para tetangga dihidangi makan semua. Cakrabumi mengumumkan barangsiapa yang mau turut mengurusi dan mengeduk kuburan akan diganjar tiap orang uang sebaru/35 sen dan nasi sebungkus dengan lauk pauk sepepes ikan. hanya sebagai pengguron/pesantren. seperti Ampeldenta. Cakrabumi mengumumkan: “Barangsiapa orang yang mati Islam niscaya seperti demikian itu lebih sempurna patinya pula yang turut membantu niscaya mendapat berkah orang yang Islam.” Lalu para tetangga yang masih Budha pada tertarik masuk Islam turut sarengat Jeng Nabi Muhammad. namun tidak ada paksaan dalam memeluk agama. /Sedangkan Demak diakui sebagai sebuah desa oleh Majapahit baru pada tahun 1478 M. Daerahnya diakui sebagai sebuah desa oleh negara berdaulat Rajagaluh. 10.Ki Gedeng Alang Alang sebagaimana cara bangsa Islam. dan bebas beragama pada tahun 1447 M. Gresik dan Krawang. Lain-lain daerah adalah bukan pemerintahan.

Cakrabuana dan Rarasantang merasa senang bermukim di Mekah pagi dan sore mengaji Qur’an dan Kitab. Ki Syekh segera berkata: “Hai orang muda. Syekh Nurjati berkata: Somadullah. Syekh Bayan bersuka cita. anda siapa menghadapku dan apa kehendaknya. BERTEMU JODOHNYA Diceritakan di negara Mesir Jeng Sultan Maulana Mahmud Syarif Abdullah sedang diseba/dihadap oleh seluruh para pejabat pemerintahan. datang sudah di hadapannya. hakikat dan ma’rifat. Fardhu hamba mohon be’at tabaruk Jeng maulana. tarekat. Cakrabuana namanya. Mohon sih kemurahan Allah siang malam tekun dzikir memuji kepada Ilahi menjernihkan cipta. segera mohon pamit. Rarasantang adik hamba. oleh karena engkau sudah terlaksana membangun desa Cirebon dan masyarakat sudah banyak turut mengamalkan/memeluk agama Islam. Cakrabuana dan Rarasantang diberi wejangan ilmu sarengat.Ki Kuwu bersuka hati desanya sudah luas/besar. Sekarang engkau dan adik engkau pergi be’atlah kepada Syekh Maulan Ibrahim. Segera memanggil sang istri dan sang adik untuk bersama menghadap kepada sang Guru. terus pergi berlayar menuju negara Campa. patuhilah perintah Guru. Antara sepekan Cakrabuana dan sang adik disuruh naik haji ke Baitullah dan dibawakan surat untuk Syekh Bayan dan Syekh Absullah di tanah Mekah. Jeng Sultan lama bermuram durja setelah wafatnya Sang Permaisuri. Penghulu dan Bupati sentana mantri kumpul semua di hadapan Sang Sultan. 11. Syekh Nurjati. datang sudah di hadapan Syekh Maulana Ibrahim. Patih. Antara lam kemudian mereka berdua datang sudah di hadapan Syekh Bayan dan Syekh Abdullah menerimakan sepucuk surat dari Sang Guru Maulana Ibrahim. Permohonannya ditetima lalu Ki Ayekh memberi wejangan tarekat satariyah kepada putra berdua itu berikut semua ilmu tarekat. di negara Campa. pada akhirnya kelak menjadi negara besar dan jadi tempat berkumpulnya para Wali.” Cakrabuana menjawab: “Hamaba adalah santri gunung Jati. Tidak antara lama kemudian ada hawatif/suara tanap rupa terdengar: “Sesungguhnya jodoh anda sekarang berada di Mekah!” Sanga Sultan ingat kepada wangsit segera kiyan Patih Lamalulail dipanggil .” Cakrabuana mengucap sandika (siap menjalankan perintah Guru).

itu santri perempuan yang punjul rupanya dari negara nama dan anak siapa. Lalu mereka berlayar menuju Mesir. oleh karena memperoleh karya.” . karena waktu haji anda pergilah ke Mekah. Segera turut rombongan Ki Patih yang bergembira sekali. fardhunya mengaji dan menetapi fardhu haji. harap jangan menghalangi.000 ringgit. carilah seorang perempuan yang pantas untuk jadi permaisuri. Berkata Ki Patih: “Hai Syekh Bayan. ditemukan di rumah Ki Syekh Bayan di Mekah setelah usai haji. supaya hari ini juga turut bersama kami ke Mesir. bawalah wadya empat puluh orang dan aku beri bekal 2. semoga memperoleh seperti permaisuri almarhumah. dahulu anda aku utus. Cakrabuana. Ki Patih dan Ki Penghulu tidak ketinggalan hadir.” Berkata Ki Syekh: “Ini adalah santri putri dari tanah Pejajaran orang pulau Jawa.” Ki Patih berkata: “Kalau disetujui dan semufakat ahlinya itu putri Jawa akan dipinang oleh Jeng Sultan Mesir. dan sekarang ditempatkan di rumah Ki Penghulu Jamaluddin. Rarasantang namanya. Jeng Sultan berkata: “Hai Paman Patih. menurutlah kepada kamauan Ki Patih. Tidak antara lama kemudian mereka datanglah di Jedah. Pada suatu hari Sang Sultan sewaka.menghadap. ingatlah kepada impian anda. Kebetulan waktu haji. Rarasantang namanya. turutlah kemauan Ki Patih. lalu dikuntit lalu bertemu di rumah Syekh Bayan. lelaki perempuan pada kumpul di Baitullah. Ki Patih dan rombongan turut beribadah haji. karena sekarang sudah lebaran haji.” Ki Syekh berkata: “ Hai bayi Rarasantang. adik dari Cakrabuana. Ki Patih dan rombongan lalu mendarat meneruskan perjalanannya menuju ke Mekah.” Kiyan Patih mengucap sandika. Antara lama buburan haji Ki Patih melihat seorang perempuan yang cantik sekali menggungguli orang senegara. di sana akan bertemu dengan jodoh anda. datang sudah di praja Mesir. Kedua putra Jawa diberi pondokan dalam rumah Ki Penghulu Jamaluddin. Sang Sultan berkata: “Hai Patih. Putri Pejajaran pulau Jawa bersama saudara tuanya Kaki Cakrabuana. serupa dengan permaisuri paduka yang telah wafat. Menghindar dari hadapan Sang Sultan.” Cakrabuana dan Rarasantang mematuhi perintahnya sang Guru. meneruskan perjalanan dengan diiringi wadya/pengiring empat puluh orang berlayar mengendarai kapal. karena sama rupanya dengan permaisuri Mesir yang sudah meninggal. wangsit jodoh anda adalah Raja Islam. mendapat karya atau tidak?” Ki Patih menjawab: “Brekah Dalem . berkumpul semua para pejabat di hadapan Sang Sultan. berhasil. selekasnya anda berangkat.

” Berkata Jeng Pangeran Cakrabuana: “Duhai Gusti melainkan menyetujui. sekarang .” Ki Penghulu secepatnya membawa kedua putra Jawa ke dalam Mesjid Tursina. mohon pertolongan. saya ridho. anda akan dimuliakan sebagai mustikanya kraton. Tidak lama kemudian ada terdengar hawatif: “Sesungguhnya itu perempuan pasti jodoh anda dan punya anak lelaki Waliyullah yang punjul sebuana. oleh karena aku suka kepada adik anda Rarasantang. lalu H. Setelah berada kraton Jeng Sultan sewaka mengundang saudara ipar tua H. Ki Penghulu bergembira. Cakrabuana segera sudah menikahkan Sang Sultan dengan Sang Adik. Segera sang putri didekati dan berkata: “Hai putri Jawa. bungkam tidak bisa bicara. saudara saya Abdullah Iman namanya. datang sudah Jeng Sultan melihat kepada putri Jawa setuju sekali. siapa nama anda dan saudara anda siapa?” Saya menjawab: “Rarasantang nama saya. Aku muji syukur kepada Allah. setuju tidak kalau jadi permaisuri Mesir. Gunung Tursina hingga bergerak tanda dibenarkan/dikabulkan kehendak Jeng Sultan. Abdullah Iman menghadap Sultan. sekarang aku memintanya untuk permaisuri. Sang Sultan berkata: “Hai kakak Abdullah Iman. Abdullah Iman. pada tahun 1447 M. Ki Patih bersuka ria sewadya pada kumpul. insya Allah terkabul sekehendak anda. Segera mengheningkan cipta menyerahkan persoalannya kepada Yang Mahakuasa . Adapun sebakdanya nikah Jeng Sultan meninggalkan mesjid bersama permaisuri putri Jawa. 12 AKAD NIKAH Sudah selesai olehnya berdamaian. lindu/gempa.” Rarasantang berkata: “Saya terima sekali kehendak Paduka. dan pula harap menjadi tahu kakak dan para wadyaku.” Jeng Sultan anggleking manah/hatinya masghul.” Karenanya Jeng Sultan hatinya gembira. pusaka dari Rasulullah. aku akan tanyanya sendiri. ini destar harap kakak terima. lalu Penghulu sekaumnya dipanggil karena Jeng Sultan akan nikah.” Jeng Sultan sudah selesai berdamaian dengan Dewi Rarasantang. geter/gerak alamiah. Malah disaksikan oleh ketug/bebunyian alamiah.Sang Sultan berkata: “Hai Penghulu. lekas putri Jawa suruh datang di Masjid Tursina. mirip dengan permaisurinya yang telah meninggal. Jeng Sultan berkata: “Hai Haji Abdullah Iman. tiga puluh depa.” Jeng Sultan berkata: “Hai Rarasantang. segera berkata: “Rarasantang. kalau saya dikaruniai anak lelaki Waliyullah yang punjul (unggul) sebuana. namun seyogya Paduka tanyai pribadi karena adik sudah baligh.

dan mohon izin mau pulang ke Jawa. Cakrabuana mengucap terima kasih. Bayanullah pulang dari Aceh mampir di Palembang. Segera sudah berangkat diiring wadyabala dua ribu orang berlayar mengendarai kapal datang sudah di Jidah. cahayanya meredupkan cahaya matahari. karena Syekh Abdullah kala waktu dulu sudah memberinya nama Abdullah Iman. . Seluruh masyarakat desa Cirebon pada kumpul dan bersuka ria menerima kedatangan Ki Kuwunya. Lalu menuju ke Mekah dan meneruskan perjalanan ke Madinah. Abdullah Iman memberi tahu. H. Sang Permaisuri sudah cukup bulannya untuk bersalin. Antara sebelum lamanya. Abdullah Iman antara setengah tahun lamanya. Jeng Sultan gembira sekali. Jeng Sultan memberi izin dan memberinya pesangon 1.Dewi Rarasantang diganti namanya dengan nama H. diberi nama Syarif Hidayatullah. bahwa Rarasantang sudah diperistri oleh Jeng Sultan Mesir. datang sudah Sultan dan rombongan di hadapan kubur Jeng Nabi Muhammad Rasulullah. Abdullah Iman segera pulang terus berjalan mampir di Mekah menuju kepada sang Guru Syekh Bayan dan Syekh Abdullah sudah pada berjumpa. dirubung oleh para Ulama dan para mukmin. Abdullah Iman meneruskan memangku jabatannya sebagai Kuwu Cirebon. seterusnya H. H. ZHAHIRNYA WALI KUTUB Diceritakan di negara Mesir Jeng Sultan Syarif Abdullah dan permaisuri Syarifah Mudaim sudah mengandung tujuh bulan pergi ziarah ke mekah dan Madinah. lalu dibawa tawaf di Baitullah. Cakrabuana lalu mohon pamit pulang kembali ke Jawa.000 dirham. Adapun antara hari bulan Mulud tanggal 12 Bakda Subuh Syarifah Mudaim melahirkan seorang jabang lelaki yang elok sekali. datang sudah ia di Cirebon. bertepatan pada tahun 1448 M. Ki Syekh Bayan memberinya nama Bayanullah. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya mampir kepada Jeng Sultan Aceh. Setelah selesai ziarah kemudian mereka pulang kembali ke Mekah. Kemudian antara tiga bulan lamanya Bayanullah pulang dari Palembang menuju ke gunung Jati. adapun sang adik Syarifah Mudaim sudah mengandung tiga bulan.” Cakrabuana mengucap terima kasih dan destar diterima. Syarifah Mudaim. Permaisuri dan putra berlayar pulang kembali datang sudah di negeri Mesir. Antara 60 hari kemudian rombongan Jeng Sultan. 13.

Antara dua bulan lamanya Syarif Abdurrahman tidak tidur. Setelah membangun kraton Ki Kuwu Cakrabuana bergelar Sri Mangan (Cirebon sejak tahun 1454 M. gegembyungan/menabuh trebang di jalan-jalan bersama penganut-penganutnya. Setelah datang kepada waktunya lalu lahirlah seorang jabang lelaki pula dan diberi nama Syarif Nurullah pada tahun 1450 M.w.). Pada suatu hari Jeng Sultan Sulaiman sewaka . Keraton Pakungwati diperlebar dan diperbesar pada tahun 1479 M.t. Tidak antara tahun Jeng Sultan Syarif Abdullah wafat. tidak makan karena sedang majnun bilahi Ta’ala (cinta rindu mabuk kepayang kepada Allah s.Antara tahun Syarifah Mudaim mengandung lagi. tidak mengindahkan batal haram. karena sang putra. namun tetap tidak ada paksaan dalam memeluk agama. diakui oleh Prabu Siliwangi Pejajaran sebagai Sri Mangan/Prabu Anom). Abdullah Iman. istrinya Dewi Indangayu sudah melahirkan bayi perempuan diberi nama Ratu Mas Pakungwati. Setelah wafatnya Jeng Sultan lalu Patih Jamalullail/Patih Ongka Jutra dilantik sebagai Pejabat Sultan Mesir memolmaki/mewakili Syarif Hidayatullah selama belum dewasa. 15. setelah datang pada waktunya lalu melahirkan seorang bayi lelaki diberi nama Pangeran Carbon pada tahun 1454 M. Pula di sebelah timurnya dibangun sebuah tajug jami’ di pinggir pantai disebut kampung Grubugan/Sitimulnya). menjadi sebuah negara beragama Islam. Syarif Kafi dan Syarifah Baghdad mengikuti tingkah lakunya saudara tua. Syarif Abdurrahman bertentangan dengan serengat agama Islam. ialah Syarif Abdurrahman. Antara tahun istrinya yang kedua mengandung. Kemudian Ki Kuwu membangun kraton disebut kraton Pakungwati pada tahun 1452 M. Siang malam membopong anjing. PANGERAN PANJURAN Diceritakan di Baghdad (ibukota Irak) Sultan Maulana Sulaiman sudah lama bersedih hati. 14. Kepala negaranya adalah Pangeran Cakrabuana yang bersemayam di kraton Pakungwati. Adapun saudara-saudara mudanya. DIBANGUNNYA KRATON PAKUNGWATI Diceritakan Ki Kuwu Cirebon H.

karena aku adalah menjabat sebagai Sultan penetap panata agama (Sultan yang berkuasa atas agama dan politis). jangan suka bertentangan dengan serengat agama Islam. Syarif Abdurrahman menuju ke gunung Jati. Semuanya ada kapal empat buah segera berlayar empat orang putra itu menuju ke pulau Jawa. datang sudah di pinggir pantai. Syekh Junaid berkata kepada Syarif Abdurrahman: “Engkau jangan berkelana ke lain negara. Adapun Syarif Abdurrahman berlaku tinggal adat bukan adat yang lumrah. sang putra sangat dimarahi. Segera mohon pamit meneruskan perjalanan. Keempat putra mohon izin akan menghadap kepada Ki Kuwu Cirebon. Syarif Abdurrahman telah membangun sedukuh/pemukiman semua wadyanya disebar. Ki Kuwu lebih kasih sayang. Adapun Syarif . kapal satu putra seorang. sempurna ilmu engkau. bergurulah kepada Syekh Nurjati yang berada di gunung Jati dan engkau jangan syak dan ragu kepada apa yang aku wejangkan sebagai guru engkau. mematuhi perintah gurunya. Sudah selesai olehnya memuat. Jeng Sultan berkata: “Hai Abdurrahman.200 orang. putraku buanglah adat yang buruk. bermukimlah di Cirebon.” Ki Syekh sudah memberi wejangan ilmu hak. Oleh karenanya Jeng Sultan murka. keempat putra itu lalu memberi hormat. menujulah ke pulau Jawa. yang tetap zhahir batin. Segera Ki Syekh Nurjati berkata: “Hai para putra. Sang adik Siti Baghdad dan Syarif Abdurrahman disuruh mengendarai kapal kepunyaan ayahandanya. Keempat putra dan rombongan lalu naik ke darat. diusir keluar dari negara Irak. Syarif Abdurrahman sudah bertemu dengan Ki Kuwu Cirebon. yang dari empat buah kapal itu berjumlah 1. Lalu meneruskan perjalanannya datanglah sudah di desa Cirebon. bahkan bertambah meningkat ulahnya yang tidak wajar. empat kapal yang diminta. Satu kapal memuat tiga ratus orang.” Sang putra mengucap terima kasih. keempat putra sudah diberi pemukiman di sebelah utara. selesailah sudah olehnya mereka berguru. kalian siapa dan apa kehendaknya datang di hadapanku?” Menjawab sang putra Syarif Abdurrahman: “Hamba sekalian adalah sungguh dari Baghdad hendak berguru kepada Jeng Maulana Syekh Nurjati dan mohon diizinkan hamba sekalian akan mukim di Cirebon/Jawa. Syarif Abdurrahman tidak mematuhi perintah Sang Ayahanda. Syarif Abdurrahman menghindar sudah dari hadapan Sang Sultan.(jumpa pejabat-pejabat pemerintahan). Semua para pejabat pemerintahan kumpul pula sang putra lelaki bertiga sudah berada di hadapannya. pada akhirnya mereka datang sudah di Cirebon.

a. Adapun Jeng Pangeran Panjunan yang diamalkan itu adalah ilmu hakiki dan setauhidan. pula dukuhnya/pemukimannya disebut dengan nama Kejaksaan. Adapun Syarif Abdurrahman menjabat sebagai jaksa untuk mengurus agama dan drigama (urusan duniawi) karenanya disebut Pangeran Kejaksaan. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya pada tanggal 5 bulan Jumadilawal tahun 1466 M. Antara malam mimpi bertemu dengan sang suami almarhum. janganlah anda cari yang bangsa tiada. hingga sungguh-sungguh berkehendak berguru kepada Jeng Rasulullah. para ulama yang anda pilih yang anda sukai. Segera berkata: “Duhai ibu.Kafi. disebut Syekh Datuk Kafi. datang sudah di hadapannya. hendak dicari di mana adanya. Jeng Maulana segera keluar dari gedung perpustakaan itu menghadap kepada ibundanya. Adapun Syarif Abdurrahman yang menjadi ayunaning orang/pemimpin dan membikin barang-barang keramik dari tanah liat disebut Pangeran Panjunan. bahkan sudah turun ke-22 kepada anda. Sang Ibunda lalu merangkulnya dan berkata: “Mas sayang putraku. Di antara mereka telah berkarya sebuah bangunan mesjid di Jepura. 16. seyogyanya anda tahu Jeng Rasulullah sudah tiada. Jeng Ratu Rarasantang. Sang Ibu menangis gelisah ditinggal oleh sang putra. Baik bergurulah kepada para Awliya.” Jeng putra memaksa tidak kena ditahan. Adapun semua wadyabala Baghdad (pengikut-pengikut keempat orang putra itu) sudah menetap di berbagai tempat tanah Pasungan.w. pembesar-pembesar Jepura semua tunduk. walaupun menurut kabar dan kenyataannya Jeng Rasulullah sudah tiada tetapi Gusti Allah lebih kuasa dan yang bangsa rohaniah itu adalah abadi tidak berubah. Jeng Sultan Mesir yang berkata: “Hai adik . Diceritakan di negara Mesir Sang Raja Putra Hidayatullah sedang sendirian dalam gedung peminatan/gedung perpustakaan membaca kitab Usulkalam yang sangat terperinci/halus. pula pemukimannya disebut dukuh Panjunan pada tahun 1464 M. Jeng Maulana sudah menerima/menangkap surasaning/tersiratnya kitab yang dibaca itu. SYARIF HIDAYATULLAH BERTEMU DENGAN JENG NABI MUHAMMAD s. mohon izin akan berguru kepada Jeng Rasulullah. Siti Baghdad yang berdiam di gunung Jati siang malam memberi wejangan kitab Qur’an kepada masyarakat.

” Jeng Maulana menuruti kehendak Pendeta ziarah bersama kepada kuburnya Nabiyullah Sulaiman. yang percaya kepada Allah. asal dari neraka kalawaktu jaman Nabiyullah Sulaiman dan engkau jangan terus ke Mekah dan Madinah karena Jeng Rasulullah sudah sirna sempurna. bisanya menyala-nyala seperti api menghadapi perjalanan Jeng Maulana sambil berkata: “Hai orang muda. berkeinginan hendak berguru kepada Jeng Rasulullah dan engkau Naga apa tidak sama dengan sesama engkau dan engkau bisa berkata bahasa manusia.” Sang Naga mengucap: “Saya ini namanya Yamlika.Syarifah Mudaim. mudahmudahan putra anda karena inilah lantarannya menjadi punjul (unggul). Diceritakan Jeng Maulana Hidayatullah yang sedang berjalan naik gunung turun gunung. kalau diterawangkan mengetahui yang gaib dan berkhasiat seluruh obat-obatan walaupun sudah mati bisa hidup kembali. masuk hutan keluar hutan. hendak ziarah. oleh karena dahulu anda ingin mempunyai putra Waliyullah yang punjul sebuana. segera berkata: “Hai orang muda. ikhlaskanlah. Tidak antara lama kemudian ada datangnya Nata Ular Naga yang besar sekali menghadangi di perjalanan. hanya kebingungan di jalannya. Hidayatullah namanya.” Syarifah Mudaim ingat kepada mimpinya lalu bertobat kepada Allah tekun memuji. berjalanlah ke arah barat menuju pulau Mejeti dan ini cupu manik waris engkau terimalah. baik anda berdualah kepada Allah. Segera pamit meneruskan perjalanannya ke arah barat lebih mantap kehendaknya serah diri kepada Allah Yang Mahakuasa. bagaimana daya upaya anda?” Jeng Maulana berkata: “Hai . Tak lama kemudian datanglah Jeng Maulana. Ki Pendeta gemetar sambil berkata: “Hidayatullah. siapa anda bertemu denganku di sini dan apa keinginannya?” Berkata Jeng Maulana: “Saya putra Mesir.” Cupu diterima sudah. Tidak antara lama lalu bertemu dengan Nagasaka yang besar sekali.” Berkata Pendeta: “Apa anda belum mengetahui kepada kabar bahwa Nabi Muhammad itu sudah sirna sempurna berabad-abad. aku sungguh putra Mesir. berkeinginan hendak berguru kepada Jeng Rasulullah. Ki Pendeta gembira. baik kita pada ziarah ke kuburnya Nabiyullah Sulaiman di pulau Maceti. kalau engkau sungguh-sungguh. engkau siapa dan apa kehendak engkau makanya berjumpa denganku di sini?” Jeng Maulana berkata: “Hai Naga. Diceritakan Ki Pendeta Ampini sedang berada di pinggirnya pulau Maceti. terus berjalan. Jeng Maulana mematuhi perkataan Naga.

lalu kendi diletakkan. kalawaktu turun jamannya Nabiyullah Nuh. setan.” Lalu kendi segera terbang ke angkasa pulang kembali ke asalnya. seluruh yang gaib terlihat dan tubuhnya . tatkala saya memulai betapa. akan tetapi tidak sampai terus.” Jeng Maulana berkata: “Hai kendi pertula. iya Tuan yang empunya milik. Ki pendeta remuk hancur sirna sudah. yang dikehendaki itu adalah cincin Maklumat Jeng Nabi Sulaiman.” Kendi lalu diminum kembali hingga airnya habis. Pratula berkata: “Selanjutnya negara Tuan abadi tidak terjajah. merdeka mulia negaranya.” Kendi menjawab: “Saya kendi asal dari surga. Jeng Maulana dan Ki Pendeta telah datang di hadapan kuburnya Jeng Nabiyullah Sulaiman. diselang/direbut hingga terjajah.” Sang Naga berkata: “Hai orang muda. banyak longok. tidak berubah. Ki Pendeta bersuka cita.” Sang Tapa membalas: “Wallahu a’lam.sang Naga sumingga sumingkira/harap minggir memberi jalan aku sungguh putra Mesir dan hendak ziarah ke Nabiyullah Sulaiman. itu kendi milik siapa. Jeng Nabi Sulaiman memberi sasmita jari penunjuknya bergerak. Keng Maulana terlempar ke angkasa hingga jatuh di puncaknya sebuah gunung. karena kemurkaan Nabiyullah Sulaiman Jeng Maulana merasa mati.” Lalu kendi airnya diminum tidak sampai habis. Jeng Maulana merasa terang benderang. Segera Jeng Maulana bertobat kepada Allah oleh karena menemani orang yang berlaku durjana. engkau siapa yang mempunyai milik. tidak berani mengadu biru selamat dari bahaya. semoga terlaksana. tidak antara lama lalu ada gelap seribu menyambar.” Kendi Pertula berkata lagi: “Saya kelak mengabdi kalau Tuan sudah jadi Raja. Cepat Jeng Maulana mengambil lawe itu dari telinganya Sang Nata Ular. Kendi segera mengucap: “Tuan pasti menjadi Nata/Raja keturunannya. saya izinkan.” Jeng Hidayatullah menjawab: “Iya. Segera meneruskan perjalanannya bersama Ki Pendeta. jin. kendi itu sudah ada. terlaksana sebanyak ular. Sang Naga lalu mabuk lalu menggelundung di tanah ternyata keluar dari telinganya sesuatu seperti lawe/kanthe. Setelah bertobat lalu meneruskan perjalanan berjumpa dengan seorang petapa yang di sisinya ada sebuah kendi pertula. tetap. Jeng Maulana berkata: “Hai Sang Tapa. Jeng Maulana lebih hormat dan khidmat. karena saya ingin minum. saya ingin minum.” Jeng Maulana dan Ki Pendeta lalu mencari air susu mendapat sekaleng besar kemudian air susu itu diminumkan sudah. namun saya minta air susu tumbal/penolak bisa dan rahayu dari bahaya.

lalu dimakannya hingga habis. tidak lama kemudian dihadang oleh seorang lelaki ingin mengabdi pula dan mendengar suara di angkasa yang indah merdu sekali. hewan dan bangsa angin pun mengerti bahasanya semua. dan mengetahui seluruh bahasa sebanyak barang kumilik. dari khasiatnya buah-buahan tadi dan berkahnya menurun hingga tiga turunan. Jeng Maulana meneruskan perjalanannya lalu ditimpa oleh gelap gulita merasa menderita sekali karenanya. Jeng Maulana tidak mau menerimanya. Jeng Maulana segera menghaturi bakti hormat. berwatak kalau dipakai seperti Malaikat. Tidak lama kemudian datanglah Nabiyullah Khidhir mengendarai kuda sembrani. Berkata Nabiyullah Ilyas: Terimalah baju ini. jin. Sang . sekarang naiklah di puncak sebuah bukti berjumpa dengan seorang lelaki yang mengendarai kuda. kalau bepergian hanya sekecap mata. karena mengetahui dari godaan ratu dunia. Jeng Maulana mengucap terima kasih. akan tetapi Jeng Maulana tidak mau menerimanya. Jeng Nabi Ilyas berkata: “Aku tuduhkan anda. Segera meneruskan perjalanannya.” Baju sudah diterima dan dipakai sambil mengucap terima kasih. Jeng Maulana segera sungkem menghaturi bakti hormat. Sang Petapa ingat kepada sasmita. Jeng Maulana mengucap terima kasih. Sang Petapa terheran-heran tidak disangka bahwa sebuah kendi bisa berkata seperti manusia dan bisa terbang di angkasa. Diceritakan ada seorang perempuan yang punjul sebuana ingin mengabdi. Jeng Nabi Khidhir lalu memberinya sebuah buah-buahan yang hijau dari surga. disuruh bonceng bersama mengendarai kuda. Jeng Maulana mematuhi lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya datang di sebuah puncak gunung. anda seyogya mohon pertolongan. malaikat. Segera terbang ke angkasa melerep seperti kilat dan pada akhirnya telah datang di Ajrak. lebih nikmat sekali dan keluar cahaya nurbuat teja kuwung-kuwung (seperti cahaya pelangi). Jeng Maulana mohon petunjuk semoga lekas berhasil apa yang dikehendaki Jeng Nabi Khidhir suka menolongnya. manusia. oleh karena mengetahui bahwa mereka itu adalah ratunya setan sewadiyanya ingin menggodanya. di dalam air tidak basah. api tidak mendatangkan panas.merasa sehat segar dan berbau harum. Tidak lama kemudian ada datangnya Nabiyullah Ilyas. bisa memasuki barang keras/padat tanap berlubang. segera cincin Merbun diberikannya yang berwatak terang yang bangsa gaib dan tujuh langit tujuh bumi terlihat terang nyata dan bisa memuat seluruh isi alam. setan. Jeng Maulana disuruh turun. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya. sebagai pangruwating penangkal badan/tubuh.

Para Anbiya dan para Malaikat yang berjumpa semua diuluki salam. Jeng Maulana terharu nikmat tiada lain yang terlihat hanya cahaya yang lebih agung laksana meliputi tujuh dunia. melihat para arwah orang-orang yang mati sabil dan orang-orang yang ahlul makrifat. Setelah Jeng Maulana mendengar suara yang mengawang lalu menengadah ke langit melihat langit sudah terbuka. Berkata Sang Prabu: “Ya bahagia datangnya cucuku. Jeng Maulana lalu naik ke langit ketiga. Jeng Maulana dirangkul lalu duduk sejajar. sedunia tanpa tanding. seribu nikmat. seribu rahmat laksana lenyapnya papan dengan tulis.” Segera Sang Maulana dibawa di dalam Masjid Mirawulung. dibalas oleh semua para Malaikat dan semua para Malaikat itu bertindak menggembirakan Jeng Maulana. Jeng Maulana segera terbang.Maulana lalu turun datang di kraton Ajrak bertemu di hadapan Sang Prabu jin Islam Abdullah Safari. bahagia sekali anda bertemu di sini. Prabu gembira sekali.” Kala waktu 28 Rajab. Jeng Maulana terus naik ke langit ke enam. Jeng Maulana segera telah datang di langit ke enam. mereka bergembira sekali memuji syukur kepada Allah. masukkanlah di dalam mesjid Mirawulung. Jeng Maulana lalu sujud. waktu mi’rajnya Jeng Maulana Hidayatullah. sesungguhnya saya sedang mencari Jeng Rasulullah. para Malaikat pada melambai-lambai. rasanya seribu nikmat. berkahnya menurun hingga sembilan turunan. bermaksud sungguhsungguh berguru kepadanya. Jeng Maulana hingga pingsan karena nikmatnya. Jeng Maulana segera semedi mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada kehendak Ilahi. Jeng Maulana uluk salam. seribu khasiat.a.w. semoga Eyang berkenan memberi petunjuk. tahun 1466 M. apa yang dikehendaki datang di hadapan Eyang/Kakek?” Berkata Jeng Maulana: “Cucunda hatur bertahu. Jeng Maulana bercakapcakap dengan semua arwah dan pada menduakan semoga lekas terlaksana maksudnya.” Sang Prabu berkata sambil senyum: “Kurang seantara waktu lagi akan bisa bertemu dan buah-buahan pemberian Malaikat. Tidak antara lama Jeng Maulana terjaga merasa lain jaman. Sang Prabu lalu memanggil Kiyan Patih Osad Asid: “Ini cucuku bawalah ke Damsik (ibukota negara jin Islam Ajrak). Tidak lama kemudian ada terdengar suara: “Hai bahagia sekali engkau orang muda diridai oleh Allah naik ke langit hingga tingkat enam bertemu/terlaksana kemauan engkau dengan Nabi Muhammad s. Maka lalu ada . datang sudah di dalam langit yang pertama.” Buah-buahan sudah diterima lalu dimakan hingga habis.

17. sujudlah kepada Yang Qadim!” Jeng Maulana mendengar suara itu lalu mengangkat kepalanya ke atas melihat kepada Hak yang sesungguhnya.suara yang terdengar: “Janganlah anda sujud kepada sesama yang baharu. Tidak lama kemudian datanglah sudah Insankamil di Kraton Mesir. Geger orang senegara bersuka ria setelah datangnya Jeng Maulana Insankamil. menjabat sebagai Wali Kutub sebagai Wakil mutlakku. Insankamil lalu mohon pamit. dibahas oleh semua para anbiya dan semua para malaikat. lalu datang di hadapan Ibundanya. segera turun ke langit kelima terus hingga langit pertama. sambil menangis. tidak ada aku ya adanya anda. naik haji bagi orang yang kuasa di jalannya dan patuhilah apa yang tersebut dalam Qur’an dan ingat anda janganlah mengunggul-ungguli menghebat-hebati yang tanpa amal kebajikan dan anda bergurulah apa adat biasa di dunia. Jeng Nabi berkata: “Aku beri anda gelar Insankamil. Alhamdulillah rabbil alamina dan tasbih. Kiyan Patih. zakat fitrah. Setelah usai olehnya wejang.” Jeng Maulana mengucap terima kasih atas apa sih pemberian Rasul. rukunnya lima perkara. tidak adanya Nabi ya adanya aku Wali Kutub. syahadat. puasa. karena rindu sekali. Insankamil sudah pamit uluk salam. Jeng Nabi Muhammad memberi wejangan sejatinya syahadat yang bangsa lathifatusirri. dan anda gelarkanlah agama Islam. Jeng Maulana Insankamil sudah menceritakan dari awal sampai akhir pengalaman perjalanannya yang berhasil itu. bahkan tidak ada wujud dua. salat. kalawaktu nisfu Sya’ban pada tahun 1466 M. JENG MAULANA INSANKAMIL NAIK HAJI Antara sebulan lamanya bakda bulan puasa Maulana Insankamil mohon izin dari ibundanya akan pergi ke Baitullah dan ke Madinah untuk mengamalkan . yang benar lakunya nasihati hati-hati yang sejatinya. Ki Penghulu dan Bupati sentara mantri pada menghadap menghaturkan selamat datang. Segera dirangkul-rangkul oleh Sang Ibu. Sang Prabu bertemu di hadapan dan bergembira sekali. Tidak antara hari Insankamil mohon pamit meneruskan perjalanannya mengendarai mahligai emas diiringi oleh jin Islam sedonasi (80 orang) dan Patih Osad Asid turun serta. dihormathormat. Insankamil turun dengan mengendarai awan putih datang sudah di Kraton Ajrak.

Sebakdanya ziarah kepada kubur Jeng Rasulullah lalu Jeng Maulana dan rombongan berguru di tanah mazhab Hanafi. Tidak lama kemudian ada datangnya para begal (perampok) sembilan orang Yahudi. Jeng Maulana dinobatkan menjadi Sultan Mesir Maulana Mahmud.” Para Yahudi itu menerimanya dengan berebutan.a. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK MENUJU CIREBON DI PULAU JAWA. pada akhirnya mereka datanglah sudah di tanah Mekah yang pada waktu itu sedang waktu haji. kamu menghendaki kepada dunia. Jeng Maulana Insankamil segera meneruskan perjalanannya ke tanah Mekah diiring para Yahudi yang sembilan itu. kalau sudah mempunyai ilmu itu tentu senang. Ibu sekarang menggugat perjanjian Ayahanda kelak kalau mempunyai anak lelaki yang . 18. selesainya mazhab Maliki lalu masuk guru kepada mazhab Syafii. Lebih aman pribawanya Awliya Allah Kutubijaman Khalifaur-Rasulullah s. jadi sungguh-sungguh mereka bermaksud mengabdi kepada Maulana Insankamil.” Orang-orang Yahudi jadi terheran-heran ada pohon ditunjuk jadi emas. Jeng Maulana lalu memberi wejangan syahadat kalimah dua. Ratu berkata: “Hai Putraku. Seluruh para wadya dan rakyat Mesir semua bersuka ria karena Sang Gusti sudah menjabat sebagai Sultan. Dalam pikiran Yahudi itu ini tentu mempunyai ilmu keduniaan. Diceritakan Ibunda Kanjeng Ratu Syarifah Mudaim pada suatu hari mendekati Sang Putra Kanjeng Sultan Mahmud. Akan tetapi dalam pikiran para begal itu terlintas tentu ini masih banyak dalam kantongnya. pada tahun 1468 M. ini ada lagi sebuah pohon emas bagilah di antara kawanmu. Jeng Maulana berkata: “Hai begal. karena sudah menjabat sebagai Sultan memangku negara. Setelah selesai olehnya berguru Jeng Maulana segera kembali ke praja Mesir. Orang sembilan itu lalu sujud tobat mohon diwejang ilmu keduniaan. berkah yang memberi wejangan sembilan orang Yahudi itu keluar keramatnya. terimalah dirham 100 dari pemberian Jeng Ibu.ibadah haji. karena mereka akan menggumulinya lagi. Maulana Insankamil berkata: “Hai orang Yahudi.w. sebakdanya haji itu lalu pergi ke Madinah. meneruskan perjalanannya datang sudah dalam hutan besar. Jeng Maulana dan rombongan pada turut mengamalkan ibadah haji. Sejak itulah para Yahudi itu sudah Islam semua. apa kamu belum merasa cukup. Jeng Insankamil pergi seharian tidak mau dengan pengiring. tidak usah adang atau membegal. Sang Ibunda mengizinkannya dan memberi bekal uang 100 dirham. selesainya dari mazhab Hanafi lalu mereka berguru kepada mazhab Hambali.

bertindak mengislamkan orang sepulau Jawa dan para kerabat di Pejajaran. sekarang sudah sedang waktunya seyogya datanglah di pulau Jawa menghadaplah kepada Pakde Kuwu Cirebon. Berkata Syekh Nurjati: “Semoga Putra mau menghadap kepada Sunan Ampel di Ampeldenta. hatur beritahu sungguh seorang putra Rarasantang. bagaimana Ibu Dalem dan Putra apa yang dikehendaki mungkin mengemban perintah Ibunda?” Menjawab Jeng Maulana Insankamil: “Sungguh ananda diutus oleh Ibunda disuruh menghaturkan sembah baktinya dan pula disuruh mengislamkan para kerabat di Pejajran. Segera Sang Kemenakan dibawa masuk ke dalam kraton Pakungwati.” Segera Syekh Nurjati memberinya wejangan tarekat sempurnanya ilmu hingga tamat semua. Ki Kuwu bergembira sekali sambil merangkulnya. Ki Kuwu bertanya: “Hai Putra.” Jeng Maulana segera berangkat dengan Ki Kuwu menuju gunung Jati datang sudah di hadapan Syekh Nurjati. Rama Guru. Segera Jeng Maulana Insankamil mohon pamit. jadilah polmak/pejabat mewakili kedudukanku. sekarang serah negaraharap diurus dengan baik. bagaimana yang dikehendaki. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya.” Syarif Nurullah menyanggupinya. Jeng Ibu memberi izin lalu meneruskan perjalanan. namun pesannya bahwa Ibunda menyerahkan perkara ini kepada Pakde bagaimana seharusnya.” Berkata Jeng Maulana: “Menurut suruhan Rasul tidak boleh mengatas-atasi. kakak hendak mematuhi perintah orang tuwa bertolak ke pulau Jawa Cirebon yang dituju.” Berkata Ki Kuwu: “Sekarang belum waktunya. Syekh Nurjati berkata: “Selamat datang Maulana Insankamil yang jadi Khalifat-ur-Rasulullah. sebaiknya Putra berguru dulu kepada Ki Syekh Nurjati yang berpengguron di gunung Jati. 19. Orang Cirebon setelah mengetahuinya geger bercerita satu sama lain dengan gembira sekali. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK KE AMPELDENTA . saya mohon berguru kepada Tuan. tidakkah Tuan yang sudah dimuliakan. bibitnya Wali di pulau Jawa. baik mohon berguru kepadany: “Jeng Maulana Insankamil mematuhi perintah Guru. segera memanggil Sang Adil Nurullah dan berkata: “Hai adik. Jeng Maulana Insankamil datang sudah di Cirebon. ananda tunduk. serahlah anda kepada orang tuwa apa yang seharusnya dituruti perintah Ibunda. digembirakan dan dihormat-hormat. pada tahun 1479 M. nanti bagaimana kehendak. disuruh berguru apa kebiasaan di dunia.

Orang Tartar dan pembesar-pembesarnya berturut-turut berhasil diislamkan. datang sudah di pinggir pantai. Sunan Undang dan Sunan Giri. karena sudah ada izin untuk menggelarkan agama Islam. para Wali lebih hormat.” Tidak antara lama datanglah Jeng Maulana Insankamil berteja kuwungkuwung (bercahaya pelangi di atas kepalanya). derajatnya Wali yang punjul. Para Wali melihatnya dengan terperanjat.” Jeng Sunan Ampel segera memberinya wejangan tarekat yang bangsa latifah. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya. Syahdan pada suatu waktu Jeng Maulana Insankamil bertolak ke negara Cina. Setelah tukang keramik piring panjang itu masuk Islam. Syekh Majagung dan Pangeran Makdum. tidak ada Nabi ya adanya Wali. saya disuruh berguru bagaimana lumrah adat dunia. bagaimana kehendaknya. saya mohon berguru kepada Tuan. Sudah pada bersalaman. namun saya lebih dhaif. tidaklah Tuan yang menjabat Wali Kutub. Jeng Maulana mematuhi perintah Guru. Pangeran Welang. Jeng Maulana sementara waktu lamanya bermukim di sana terdengar oleh berbagai negara tetangga. Jeng Maulana mendatangi tukang keramik pembikin piring panjang. nanti sebentar lagi akan ada datangnya Wali Kutub yang menjadi Khalifah Rasulullah. Berkata Jeng Sunan Ampel: “Selamat datang Putra. Sang Putra Sunan Bonang. disangka Jeng Rasulullah. seluruh para murid pada kumpul.Syahdan pada suatu hari Jeng Sinuhun Ampeldenta sedang sinewaka/dihadap oleh para murid. Jeng Maulana meneruskan perjalanannya ke tukang bikin penimbal poci. Syekh Lemahabang. menurut suruhan Rasul. Pangeran Drajat. Jeng Sunan Ampel berkata: “Hai adik Sunan Giri dan para murid semuanya harap menjadi tahu kalian. Jeng Maulana sudah selesai olehnya sabda guru.” Berkata Jeng Maulana: “Betul perkataan Dalem. lalu ditunjuk menjabat Imam di Cirebon dan diridhai menggelarkan agama Islam mengislamkan yang belum Islam. Syekh Bentong. Setelah tukang bikin poci masuk Islam Jeng Maulana meneruskan perjalanannya ke praja Tartar datang sudah di ibukota. 20. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK KE NEGARA CINA. bahkan empat negara sudah memeluk agama . Syekh Magrib.

” Lalu membalas Jeng Maulana: “Hai Raja Cina. Antara hari kemudian datanglah ia di negara Tartar dan bertemu dengan Jeng Maulana Insankamil lalu duduk sejajar. Diceritakan dalam kraton Sri Maharaja Ong Te ratu agung di negara Cina sedang diseba oleh seluruh para wadya (jumpa para pejabat pemerintahan). Berkata Sang Maharaja: “Hai patih. itu anak anda mengandung karena kuasanya Allah . Berkata Jeng Maulana: “Hai Patih. segera Kiyan Patih berlalu sudah dari hadapan Sang Raja. atau apakah mengandung sebenarnya. segera pulang kembali ke ibukota lebih dipercepat perjalanannya. lalu dikeluarkan menghadap sang Ayahanda. kalau mengandung dengan siapa.” Segera Sang Raja mengadakan percobaan. perjalanannya dipercepat dengan mengendarai kuda. apakah nyata kebijaksanaannya?” Kiyan Patih berkata: “sungguh menurut kabar bahwa pendeta baru itu bijaksana. siapa nama dan dari nama asalnya?”Dijawab: Dari pulau Jawa. Jeng Maulana sudah berada di hadapan Sang Raja Cina. supaya selekasnya anda memberi petunjuk. harap jangan sampai tidak terbawa.Islam. menurut khabar. Diceritakan Raja Cina yang sedang diseba. lihatlah putriku itu apakah ia mengandung oleh karena penyakit. Segera Sang Raja berkata: “Apakah itu orangnya pendeta baru di negara Tartar. Berkata Sang Raja: “Hai pendeta muda. bahwa di negara Tartar ada pendeta baru termashur bijaksana waspada penglihatannya.” Berkata Jeng Maulana: “Hai Patih harap anda terlebih dahulu nanti aku bertemu di dalam kraton tidak usah diiringkan. kalau kena penyakit apa obatnya.” Berkata Kiyan Patih: “Apakah anda pendeta yang mashur itu. sekarang undanglah menghadap supaya bersama seperjalanan.” Kiyan Patih berkata: “Sekarang juga dipanggil menghadap oleh Sang Prabu Cina sungguh sekarang juga harap bersama seperjalanan. Cirebon tempatnya.” Kiyan Patih mengucap andika. anda datang tergesa-gesa seperti ada keperluan yang penting.” Kiyan Patih mematuhinya. selamat datang. Insankamil namaku. termashur lebih bijaksana waspada penglihatannya (weruh sedurunge winarah/tahu sebelum terjadi). Sang Putra perempuan di atas perutnya diletakkan sebuah bakor kuningan dihias sedemikian rupa hingga sang putri terlihat sebagai sedang mengandung. Kiyan Patih terheran-heran sekali bahwasanya Jeng Maulana itu telah datang terlebih dahulu. tidak antara lama dantanglah Kiyan Patih.

Cirebon tujuannya. Segera berlayar menuju ke pulau Jawa. Segera putri meneruskan perjalanannya diiring wadyabala 1. Ong Te terbengong-bengong dan heran sekali.tanpa lawan jenis. kalau tidak dituruti niscaya sang putri mati. kong. Jeng Maulana sangat dimarahi dan diusir. Diceritakan Patih keling dan rombongannya berjumlah 99 orang sedang mengadakan upacara tradisi merubung jenazah Rajanya di atas kapal layar di tengah laut. PATIH KELING BERSAMA PARA BAWAHANNYA MASUK ISLAM. jembangan dan uang semilyun. serah jiwa raga. isilah guci. Kelak kalau sudah bertemu dengan pendeta muda itu dimohon pulang ke negara Tartar. Segera Ong Te menyebar wadyabala untuk mencari Jeng Maulana di negara Tartar sudak tidak ada. panjang. Diceritakan Sang Putri Cina bakor kuningan yang terletak di atas perutnya itu lenyap. Bertanyalah Jeng Maulana: “Ini adalah . sang putri Cina sangat rindu dan berkata: “Duhai Ayahanda Prabu.500 orang datang sudah di pinggir pantai. Sang putri segera masuk kapal seperingiringnya. barang-barang sudah dimuat. lima negara bagian yang aku akan memberikannya sungguh janganlah tidak sampai terbawa dan barang-barang di dalam dua kapal dan orang-orang sekapal itu berikanlah kepada pendeta muda. Kalau putri suka di pulau Jawa supaya diserahkan tetap bermukim di pulau Jawa untuk mengabdi kepada pendeta muda: “Kiyan Patih mengucap sandika.” Sang Prabu segera memanggil Kiyan Patih: “Hai Patih. bunuhlah putra Paduka. Tidak lama kemudian kebetulan datanglah Jeng Maulana Insankamil di hadapan mereka. hidup tanpa guna kalau tidak jadi satu dengan pendeta muda itu.” Oleh karenanya Ong te murka sekali.” Sang Prabu kebingungan sekali.500 orang dan kapal tiga. wadyabala 1. 21. jadi mengandung sesungguhnya. engkau iringilah putriku Ong Tien bertolak kepada pendeta muda yang berada di pulau Jawa dan bawalah seorang Bupati. kalau diridhai saya mau menyusul sendiri ke pulau Jawa. Sang Putri jatuh cinta kepada Jeng Maulana siang malam menangis tidak ada yang terlihat selain Jeng Maulana. Jeng Maulana segera pulang meneruskan perjalanannya.

Jeng Maulana segera memberi wejangan sahadat agama Islam. Syekh Majagung. Pangeran Kejaksan. Antara hari lalu Ki Kuwu berkata: “Hai Putra Insankamil. sekarang seyogyanya jadi Imam menggelarkan agama Islam. mata mereka mendelik.prang apa ada bangkai dirubung dijaga-jaga. Segera orang-orang Keling mohon ampun dan sembuh lagi seperti sedia kala.” Orang-orang Keling karenanya tersinggung dan marah. terimalah semuanya. orang-orang Keling lalu waluya lagi/sembuh lagi seperti semula.” Jeng Maulana menjawab: “Terima kasih atas sih pemberian Pak De. Syekh Bentong. karena belum mempunyai karya. Syekh Lemahabang. semoga Putra menjabat sebagai Nata/Raja . Pangeran Panjutan. namun gunung Sembung saya terima untuk pemukiman orang-orang Keling. Jeng Maulana lalu bermukim di pesanggahan Gunung Sembung dan merasa senang. sebaiknya kamu sekalian masuk agama Islam. Syekh Magrib dan para Gegedeng sudah pada datang Ki Kuwu berkata: “Sekarang Rama memasyrahkan putri saya nama Ratna Pakungwati dan kratonnya berikut seluruh wilayah Cirebon yang dapat babakyasa/membangun si Rama pribadi. pula di Rama menyerahkan kraton Pakungwati tanah Cirebon serakyatnya dan si Rama menyediakan pesanggrahan di gunung Sembung. Syekh Datuk Khafid. CIREBON DISERAHKAN KEPADA JENG MAULANA INSANKAMIL Syahdan pada suatu hari para murid pada berkumpul. Ki Patih dan rombongan lalu mengabdi. Sang Putra dibahagiakan dan dihormat-hormat.” Ki Kuwu menyetujui. Sri Mangana bergembira sekali. 22. robong jenazah Taja diburak lalu ditinggalkan. Oleh karena kramatnya Jeng Maulana orang-orang Keling satu per satu roboh tidak bisa bergerak. Diceritakan Sri Mangana telah membangun pesanggrahan/petamanan di gunung Sembung untuk Sang Putra ponakan. Segera orang-orang Keling beberes di gunung Sembung. pada waktu sekarang belum dapat menerima negara. Sri Mangana sedangnya berkumpul di Masjid Pejlagrahan tidak lama kemudian datanglah Sang Putra Insankamil sudah di hadapannya dengan diiring oleh Ki Patih Keling dan rombongannya. Ki Kuwu sudah menghadap. mereka mengiring Jeng Maulana terus berlayar menuju Cirebon.

Jeng Maulana mengetahui kemauan Naga itu lalu berkata: “Hai sang Naga. gurinyangnya pulau Jawa. Sebakdanya salat lalu ada datangnya seekor naga yang lebih besar sekali. antara bakda Jum’ah mengumumkan kepada khalayak ramai. dan ridhanya bumi sukanya negara. karena hamba ingin mengabdi mohon diterima. para Pangeran. jadilah sebuah keris untuk agemamnya yang jadi Nata. para Gegedeng dan Ki Kuwu Sri Mangana. bagaimana nantinya wadyabala manusia. Seluruh para Wali dan Para wadya Cirebon sudah berkumpul.” Jeng Maulana menjawab: “Kalau engkau sungguh-sungguh mau mengabdi. lalu pulang ke kraton Pakungwati terus salat Subuh dalam masjid Pejlagrahan. Sebakdanya salat mereka tetap pada berkumpul segenap para Syekh. oleh karena si Raka mau pergi betapa. Jeng Maulana menerimanya. Jeng Maulana sudah dikabul hajatnya oleh Allah keridaan jadi Nata/Raja. Jeng Maulana Insankamil sebakdanya nikah pada waktu tengah malam pergi ke gunung Jati salat hajat empat raka’at. setelah Jeng Maulana dinobatkan oleh Wali Sanga Jawadwipa sebagai kepala negara Cirebon.” Syekh Datuk Khafid dan Pangeran Kejaksaan pula menyerahkan penganut-penganutnya. bahwasanya Jeng Maulana . datang sudah di dalam kraton. Berkata Pangeran Panjunan. “Pla si Raka (kakak) menyerahka adik Siti Bagdad serombongannya berikut Dukuh Panjunan serakyatnya. bertolak ke kraton Pakungwati. dan malam Juma’at Jeng Maulana lalu menikah dengan putra Sir Mangana yang bernama Ratu Pakungwati.” Jeng Maulana menerimanya menuruti kehendak Rama Uwa/Pak De. para Syekh. Keris lekas dipegang disebut Kaki Naga Gede.” Sang Naga berucap: “Duhai Gusti. hanya semoga rakyat Panjunan diberi tanah untuk penghidupannya (tanah liat untuk membikin keramik) seturunannya. membelit melata mohon diterima mengabdi. oleh karena engkau hewan yang lebih besar sekali mengabdi kepadaku.” Jeng Maulana menyetujuinya. Ki Kuwu bergembira sekali menyelenggarakan hidangan kehormatan. Ki Kuwu berkata: “Putra semoga memasuki kraton Pakungwati dan hari besok dinobatkan. lebih dekat pengabdi engkau ketimbang wadya manusia. Segera dari gunung Jati Jeng Maulana diiring oleh rombongan segenap para murid. para Pangeran.” Sekonyong-konyong Naga jadi keris dapur naga berluk sembilan. niscaya tidak ada yang berani dekat. semoga keridaan oleh Allah menjadi Nata/Raja mohon terus langsung seketurunannya.Cirebon memangku kraton Pakungwati. bagaimana kehendak Paduka. dan para Gegedeng.

. Susuhunan Cirebon diakui pula oleh Wali Sanga Jawadwipa sebagai Panetep Panata Agama seluruh Sunda. Diceritakan Sang Putri Cina dan Ki Patih kapalnya sudah datang di pantai Cirebon. sebaiknya sekarang anutilah agama Islam. Sang Putri segera dengan rombongannya bertolak ke Luragung. SUNAN JATI BERTOLAK KE LURAGUNG Pada suatu hari Ki Kuwu berkata: “Putra lekas bertolaklah ke Luragung menyiarkan agama Islam dan melebarkan wilayah di tanah Luragung. Pepatih Dalem Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon. Orang Cina menanyakan kabar bahwa Insankamil ada di mana.a. Rajanya masih belum Islam serakyatnya. terus bertolak datang sudah di kraton Luragung. pada tahun 1481 M. Segera ia memeluk agama Islam dan seluruh para putra sentana Bupati pula para Gegedeng pada anut agama Islam serakyat kota yang pada masuk agama Islam dan tetangga negara para Gegedengnya pada menghadap. Berkata Jeng Sunan Jati: “Hai Sang Raja.” Sang Raja Luragung terkena pengabaran/penurutan hatinya lebih kasih.Insankamil menjabat sebagai Yang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panata agama Awliya Allah Kutubijaman Khalifatur Rasulullah s. hanya Majapahit tidak mengadakan tindakan apa-apa. barang-barang sudah di darat diterima oleh Patih Keling. pada tahun 1479 M. Sang Putri meneruskan perjalanannya datang sudah di Luragung. karena dekat seyogyanya dipercepat keislamannya. Jeng Maulana sesudah selesai dinobatkan sebagai Yang Sinuhun. anda dan seluruh rakyatnya.” Jeng Sunan Jati mematuhi perintah Jeng Rama. Sejak tahun ini pula Cirebon memberhentikan upeti tahunannya kepada Pejajaran dan Rajagaluh. Patih Keling diangkat menjadi Patihnya disebut Dipati Suranenggala. namun Brawijaya Majapahit masih mengakui Demak sebagai negara bagian Majapahit. Orang Cirebon menjawab bahwasanya Jeng Maulana sekarang sedang berada di Luragung. Pada tahun ini pula Wali Sanga Jawadwipa mengakui Raden Patah sebagai Sultan Demak. Antara hari kemudian lalu membangun tembok keliling kraton. Sang Raja Luragung dan Jeng Sunan Jati sudah duduk sejajar. Kanjeng Susuhunan Cirebon yang bersemayam di kraton Pakungwati Cirebon. 23.w.

lalu tafakur di gunung Jati. pula Patih Cina segera berkata sambil sujud menerimakan perkataan Sang Prabu Cina dan menyerahkan putri dan kapal tiga seisinya semoga diterima. Tidak antara hari kemudian Nyi Mas Rarakerta.” Saksana/sekonyong-konyong bokor lenyap jadi bayi elok warnanya semunya meejurit.” Ki Gedeng mengucap sandika. Jeng Sunan Jati segera pulang oleh Ki Gedeng Kemuning. yang jadi wakilnya adalah Gedeng Kwmuning. Antara lam kemudian Sang Putri wafat. Diceritakan Jeng Sunan Jati sudah pulang di pesanggrahan gunung Sembung. lalu merasa sir. karenanya Pangeran Kuningan disusukan bersama anaknya itu dan Raja Putra Pangeran Kuningan dipelihara sebaik-baiknya. segar dan gemuk. Jeng Sunan Jati segera bertolak ke pedesaan. Jeng Sunan Jati berkata: “Hai Gedeng Kemuning. kalu seorang manusia melahirkan tentu keluar bayi. Jeng Sunan Jati sebakdanya mengambil air wudu’ lalu bajunya dikenakan kembali lalu pohon bunga cempaka hidup kembali seperti sediakala. Bayi diberi nama Pangeran Kuningan. semua jajahanku yang sudah ada sekarang serahkalah kepada Pangeran Kuningan. seorang putri Ki Gedeng Jatimera tatkala sedang berjalan di perkebunan. peliharalah dengan baik. Tidak antara lama kemudian datanglah putri Cina lalu sujud menghaturkan bakti memasrahkan jiwa raga kepada Jeng Sunan Jati. karenanya ia bergembira sekali. oleh karena Pangeran Kuningan menetap di sana. Nyi Mas segera berkata: “Siapakah orangnya yang telah bisa menghidup-segarkan kembali . Adapun dukuh Ki Gedeng Kemuning sejak itu disebut Kuningan. kelak di kemudian hari menjadikan tumbuh bungnya bambu di tempat itu. Sang putri Cina dan rombongannya sudah diislamkan semua. kebetulan ia mempunyai anak pula yang masih menyusu.Jeng Sunan Jati sedang duduk bersama dengan Gedeng Kemuning. Jeng Sunan Jati berkata: “Tidak ada adatnya orang melahirkan bokor. Bajunya disangkutkan pada dahan bunga cempaka yang sudah mati meranggas daunnya. Jeng Sunan Jati melihat betisnya tersingkap. Tidak lama kemudian Nyi Retna Babadan keluar dari rumahnya melihat pepohonan bunganya sudah walunya/segar kembali seperti sediakala. ini bayi akuilah sebagai anak anda. dan pada waktu Ashar mampir di rumah Ke Gedeng Babadan mau mandi dan wudu’.Jeng Sunan Jati karenanya merindukan sekali. atas wafatnya Putri Cina. Jeng Sunan Jati sudah menerimanya Sang putri setelah datang pada waktunya tidak lama kemudian lalu melahirkan bokor kuningan. Adapun putri Cina setelah masuk Islam lalu dinikahi disebut Nyi Mas Rarasumanding.

orang Pejajaran sudah siap-siap. mudah-mudahan hidup segarnya pepohonan bunga itu adalah menjadi segarnya hatiku lantaran anda. oleh karena Eyang sekarang mungkin sudak agak ada condongnya/sukanya. apabila lelaki aku terimanya sebagai suami.” Berkata Ki Buyut Talibarat: “Hai Sang Prabu. Ki Gedeng dipanggil menghadap.” Jeng Sunan Jati mematuhi kehendak Sang Rama Uwa. oleh karena itu Sang Rama Prabu sudah waktunya demoga putra mau datang di Pejajaran untuk mengislamkan Eyang/Kakek dan kerabat-kerabat. Tidak antara hari lamanya Nyi Mas Retna Babadan sibawa pulang ke gunung Sembung. BURAK PEJAJARAN Pada suatu hari Ki Kuwu Sri Mangana menghadap kepada Jeng Sunan Jati dan Sunan Jati berkata: “Ratna Uwa (Pak De) selamat datang dan apa yang dikehendaki?” Berkata Sri Mangana: “Sekarang Jeng Rama Prabu Siliwangi (Sri Sang Ratu Dewata Wisesa) sudah mengirim utusan enam puluh orang yang dikepalai oleh Tumenggung Jagabaya untuk meninjau atas nama Sang Prabu bagiamana keadaan anak cucunya (anak adalah Pangeran Cakrabuana dan Ratu Mas Rarasantang dan cucu adalah Sunan Jati Purba dan Ratumas Pakungwati). agama orang yang bosok bolong/busuk . segera lalu Nyi Mas Retna Babadan dinikah sudah. namun sekarang wadyabala Pejajaran yang enam puluh orang itu dengan Ki Tumenggung Jagabaya sudah memeluk agama Islam. Sang Prabu berkata: “Eyang Talibarat selamat datang. apa yang dikehendaki dengan takluk kepada sang cucu hendak melakukan agama Islam. Jeng Sunan Jati segera menerimanya. datangnya tergesa-gesa seperti ada perkara yang penting. Diceritakan di kraton Pejajaran Sang Prabu Siliwangi dan semua istrinya dan para swlir hendak datang meninjau Sang Prabu Cakrabuana dan Sang Cucu Insankamil di Ceribon. 24.pepohonan bungaku ini dengan sekejap mata.” Nyi Mas Retna Babadan segera sujud memasrahkan jiwa raga oleh karena tunduk kepada janjinya sendiri.” Tidak lama kemudian Jeng Sunan Jati keluar setelah salat Ashar lalu berkata: “Itu pepohonan bunga anda hidup segar kembali atas kehendak Allah lantaran oleh bajuku. Segera Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu Cakrabuana bertolak ke Pejajaran hendak mengislamkan mengganti agama Sanghyang dengan agama Islam. dan apabila perempuan aku terimanya sebagai saudara. Tidak lama kemudian ada datangnya Ki Buyut Talibarat sudah ada di hadapan Sang Prabu.

sejak dahulu hingga sekarang mongmonganku para leluhur yang menganut agama Desa Mulya. Adapun Arya Kebo Kamale sudah tertangkap akan tetapi tidak mau Islam. apakah Sang Prabu silau melihat kepada putra cucu. amoh ajur/rapuh remuk. mendekati para pembesar dan para kerabat yang pada anut agama Islam.” Sang Prabu mematuhi saran Ki Buyut Talibarat Sengera Kraton ditanami pusaka lidi lelaki. ialah Sastrajendra Ayuningrat yang dipusti amalkan. nanti ini kraton kutanami pusaka lidi lelaki supaya kraton tidak tertampak dan Sang Prabu haraplah ngahyang sekarang juga. Seluruh para famili. menangkapi para penghuninya. berjanji nanti di akhir jaman. para bahwahannya menjadi macan loreng. Ki Patih Argatala sebawahannya pada bersembunyi di pegunungan Jeng Sunan Jati dapat melihat mereka lalu berkata: “Patih Argatala sebawahannya seperti siluman tidak bercampur dengan manusia. Akan tetapi Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu masih jelas melihat kraton Pejajaran itu sebagai semula lalu masuk ke dalam kraton.berlubang. ada yang tertangkap di dalam bumi. Kraton terlihat jadi hutan besar. Para sang istri (ratu Subanglarang/permaisuri Pejajaran Ibunda Pangeran Cakrabuana sudah wafat) dan pada sang selir dibawa ngahyang lalu lenyap tanpa bekas. oleh karena Sang Putra dan Sang Cucu sebentar lagi datang. Lalu disuruh kemit/jaga di Cirebon. sebagai hewan dan siluman. Raja Sengara tertangkap dan para sentara.” Akan tetapi Dipati Siput sebawahannya diterima pengabdiannya disuruh kemit/jaga di Cirebon. Jeng Sunan Jati lalu mendekati Dipati Siput sebawahannyayang bersembunyi di hutan. Jeng Sunan Jati mengampuninya akan tetapi disuruh berkumpul jaga di Cirebon. Lalu Jeng Sunan Jati memasuki kraton Pejajaran lagi. yang sebagian sudah bubar. Dipati lalu sujud bertobat namun mohon nanti di akhir jaman melaksanakan agama Islam. Ada yang tertangkap di angkasa. Jeng Sunan Jati . Berkata Jeng Sunan Jati: “Dipati Siput sebawahannya berlaku seperti hewan bersembunyi di hutan: “Saksama/sekonyong-konyong Dipati Siput menjadi macan putih. para eyang sudah diislamkan. Tidak antara lama kemudian datanglah Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu Cirebon mengetahui bahwa Sang Prabu sudah tidak ada dalam kraton. Berkata Jeng Sunan Jati: “Barangsiapa yyang ikut kepada agama tidak diperbolehkan campur dengan manusia. para putra Sentara tidak dibawa tertinggal di kraton Pejajaran pada tahun 1482 M.” Ki Patih lalu sujud tobat namun agama Islam mohon nanti di akhir jaman.

12. Sanghyang Kartamana bermukim di Limbangan. 10. Raden Lawean bermukim di Pasir Panjang. famili sunda bubar ke tujuan masing-masing. Sanghyang Tubur bermukim di Panembong. 2. Sanghyang Jamsana bermukim di Batulayang. Sanghyang Mayak bermukim di Cilutung. . Sunan Pajengan bermukim di Kuningan. 13. kemudian membangun kraton lagi di luaribukota Pakwan.” Berkata Raja Sengara: “Namun Rama Dalem Cakrabuana sudah bermukim di Cirebon Jeng akan tetapi Rama Raja Sengara jangan berdiam di kraton. semoga Sang Rama mau bermukim di lain tempat. 11. tumbak.” Raja Sengara mematuhi permintaan Sang Putra. 16. 5. Raden Teel bermukim di gunung Bandang. Diceritakan masih ada seorang putra perempuan Prabu Siliwangi yang tertinggal bernama Dewi Balilayaran dapat jodoh dengan satria trah/ turunan Galuh kuna. 8. Negaranya meneruskan nama Pejajaran yang kelak di jaman Prabu Seda negaranya dibubarkan oleh bala tentara Banten Sultan Maulana Yusuf dibantu oleh bala tentara Cirebon Sultan Panembahan Ratu. Dalem Naya bermukim di Ender. 15. tidak ada raja lagi. 17. pedang. 14.memanggil Sang Rama paman Raja Sengara dan berkata: “Rama seyogyanya mengosongkan kraton Pejajaran. keris. karena kraton Pejajaran sudah pasti menjadi hutan. 9. Prabu Sedanglumu bermukim di Selaherang. disebut Sunan Kabuaran. Seorang putra perempuan Sunan kabuaran yang bernama Dewi Mendapa/Dewi Tanduran Gagang ialah yang menjadi lantaran kelak ada raja menyelang/menjajah di jaman akhir. Lumansanjaya bermukim di di Sundalarang. 7. Sanghyang Sogol bermukim di Maleber. Prabu Seda hingga seda/wafat pada tahun 1579 M. oleh karena Eyang Prabu tidak mau Islam. 1. Borongora bermukim di Panjalu. Sri Puaciputi bermukim di Kawali. Sunan Ranjam bermukim di Cihaur. 6. Ada lah kraton pakwan Pejajaran setelah ngahyangnya Prabu Siliwangi itu kosong menjadi hutan besar. Sanghyang Pandahan bermukim di Ukur menjadi Dipati Ukur. hanya ini balai tempat duduk Sang Rama Prabu saya mohon supaya dibawa ke Cirebon dan alatalat. 3. Dalem Mayak bermukim di Cilutung. Sunan Manyak bermukim di Traju. 4.

di Bogor. JENG SUNAN JATI DAN KI KUWU CIREBON BERTOLAK KE BANTEN. bukan seyogya tempatnya orang-orang tuwa. Syekh Majagung.” Berkata Pangeran Panjunan: “Dan apalah bawaan adik dari Mesir. Para gegedeng tetangganya sudak pada suhud anut. seyogya orang-orang muda yang pada merubung. Taji Malela bermukim di Sumedang. seluruh para murid pada berkumpul semua. sarengat yang digelarkan. Jeng Sunan Jati bersama Ki Kuwu lalu bertolak terus ke arah barat tujuannya ke Banten. karena adik adalah orang bodoh. Dewi kawunganten. Syekh Bentong. Jeng Sunan Jati berhasil mengislamkan Ki Gedeng Kawanganten seanak cucunya dan serakyat Kawunganten sudah turut masuk Islam. sayang yang jadi Imam wejangannya hanya fikih saja. Dalam fikiran Pangeran Panjunan terlintas suatu pendapat.” Berkata Pangeran Panjunan: “Adik. Syekh Lemahabang. Karenanya Pangeran Panjunan tidak mau menghadap lagi. seterusnya tafakur saja di dalam masjid Panjunan. untuk orang yang berilmu kurang condong/kurang suka. Pangeran Kejaksan dan Syekh Datuk Khafid pada menghadap Jeng Sunan Jati siang malam memberi wejangan kitab Qur’an. Tidak antara lama kemudian Jeng Sunan Jati datanglah menemui Pangeran Panjunan. bagaimana yang dikehendaki?” Berkata Jeng Sunan Jati: “Mungkin adik tidak seyogya menjadi Imam yang digelarkan hanya kitab Fikih dan Qur’an. Jeng Sunan Jati segera menggelarkan agama meneruskan sebagai Imam. Sebakdanya pernikahan kemudian antara sebulan lamanya lalu Jeng Sunan Jati. Pangeran Panjunan berkata: “Selamat datang adik Sunan. kahyangan yang menurun kepada menak-menak di Sumedang. datang sudah di pesanggrahan gunung Sembung.18. di Krawang itu semua adalah turunan Taji Makeka. Syekh Magrib. di Ciasem. datang sudah di Kegeng Kawunganten. Para gegedeng pula para buyut. Sahadatdan . lalu diminta untuk dijadikan istri. Syahdan Jeng Sunan Jati melihat putrinya Ki Gedeng Kawunganten yang bernama Dewi Kawunganten merasa suka. ilmu apakah yang jadi pegangan?” Jeng Sunan Jati menjawab: “Si adik hanya membawa ilmu sahabat yang jadi pegangan. di Cianjur. segeralah Pangeran Panjunan memnubruk Jeng Sunan jati dikanti/dibimbing duduk sejajar. dan Pangeran Panjunan. 25. tidak disangka maut datang di Panjunan.

27. Sunan Jati Syarif Hidayatullah sebagai Ketua/Kutub 1. Setelah Sunan Ampel wafat jabatan dipegang seterusnya oleh Jeng Sunan Jati. ketauhidan. 6. itu adalah amalan sarengat untuk santri dan kaum agamanya. Syekh Lemahabang/ setelah wafat tidak diteruskan. Syekh Maulana Magrib. Sunan Muria.” Lalu tidak antara lama Jeng Sunan mohon pamit. lebih seyogya Jeng Kakak yang menjabatnya. Syekh Bentong. adapun ilmu kemakrifatan dan ketauhidan. Sunan Undang/ setelah gugur diteruskan oleh putranya. 8. 9. seledailah sudah wejangannya. Sunan Ampel almarhum tidak mengalami jatuhnya Majapahit dan zhahirnya Kesultanan Demak. Sunan Ampel almarhum/diteruskan oleh Sunan Giri. Sunan Bonang. 7.” Berkata Hidayatullah: “Semoga ada sih Jeng Kakak si adik diberi wejangan ilmu kemakrifatan atau kesempurnaannya. Sunan Kudus. si kakak tidak kejatuhan waris menjadi Ratu/Raja dan menggelarkan sarengat agama.sarengat adalah untuk orang awam. akan tetapi si Raka menyetujuinya. Jeng Sunan Jati mengucap terima kasih lalu berkata: “Jeng Kakak seyogya jadi Raja Panetep Panata Agama. Sunan Kalijaga. ilmu kesempurnaan seyogya adik yang empunya.” Berkata Pangeran Panjunan: “Sudah dipastikan tidak boleh dirubah Jeng Adik yang menjadi Nata/Raja seturunannya dan waris pemegang agama. WALI SANGA JAWADWIPA Yang terpilih menjadi Ketua/Kutub ialah Jeng Sunan Jati. Hanya untuk memuliakan Guru dan sesepuh para Wali jabatan ketua sementara diserahkan kepada Sunan Ampel. 5. Syekh Majagung. BUNG CIKAL . segera datang sudah di gunung Sembang. 26. umum sudah mengetahuinya. 2. 3. 4.

bertemu di hadapanku. Nyi Mas Rarakerta sudah dinikah menjadi seorang istri Jeng Sunan Jati. Pada antara hari bekas sempayen Dalem berdiri disungkemi oleh Rarakerta siang malam. akan tetapi itu anak sekarang tidak dapat waris. dan sesudah datang pada waktunya lalu melahirkan seorang bayi lelaki. Rarakerta. para pejabat pemerintahan dan Patih Suranenggala suadh di hadapannya. Segera Jeng Sunan Jati berkata: “Gedeng Jatimerta. lalu bungnya bambu itu dimakannya. Antara sebulan lamanya lalu tumbuh bungnya bambu. Terlintas dalam fikirannya apakah beliau tidak mengetahui . Namun Rarakerta sekarang aku pinta untuk dijadikan istri. tidak antara lama si Rarakerta pulang sambil menangis jatuh cinta kepada sampeyan Dalem. Antara sebulan lamanya kemudian Rarakerta mengandung.Diceritakan pada suatu waktu bertepatan dengan hari Isnen Kanjeng Sunan Jati sedang diseba oleh seluruh para murid.” Ki Gedeng mengucap sendika. lalu Bung Cikal dibawa betapa.” Jeng Sunan Jati lalu ingat kalawaktu merasa sir waktu melihat seorang perempuan sedangnya beliau tafakur di gunung jati. iya inilah yang hamba bawa caos/menghadap di hadapan Paduka. mohon sih ampunan Dalem hamba lancang menghadap. 28. wallahu a’lam kelak di akhir jaman. Tidak lama kemudian datanglah Ki Gedeng Jatimerta bersama sang cucu sudah menghadap di hadapan Jeng Sunan Jati. Jeng Sinuhun sedang tiada karenanya Lokacaya menunggu sedatangnya.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Sebabnya aku mempunyai putra bersatu denga Rarakerta karena aku belum merasa nikah. oleh karena membawa putra Dalem yang telah lahir dari putri hamba. hanya aku memberinya nama Bung Cikal. LOKACAYA Diceritakan Lokacaya putra Ki Wilatifka Tumenggung Tuban bermaksud berguru kepada Sunan Jati Cirebon. datang sudah di kraton Pakungwati Cirebon. apa kemauan anda yang penting?” Ki Gedeng segera berakta: “Duhai Gusti. itu nyatanya anak termasuk anak sir seyogya peliharalah yang baik.” Ki Gedeng berkata: “Adapun waktu dulu anak hamba Rarakerta sedang berjalan di perkebunan ia melihat sampeyan Dalem sedang berdiri. Jeng Sunan Jati berkata: “Gedeng Jatimerta menghadapnya dengan anak kecil dan tergesa-gesa.

sebagai ganjaran orang yang mematuhi perintah Guru. buah-buahan warnawarni. seyogya jangan pergi-pergi dari pinggir sungai ini. kantong dan panurat/ alat menulis dan makanlah sekenyangnya. bebungaan manca warna.” Nabiyullah Khidir berkata sambil tertawa: “Jabeng/tole Kalijaga. terimalah. ia mengambil cangkir itu hendak diminum istrinya. jadi mashur deisebut kebun Kalijaga. dan sang adik aku beri nama Kalijaga. Kalijaga lalu mohon . melihat lain jaman. Lokacaya lalu hanyut akhirnya datang dalam dasar laut. Lokacaya mematuhi perintah guru. semuanya merasa malu lalu cangkir diletakkan kembali sungguh kramatnya Sinuhun Cirebon.” Jeng Sunan Jati melihat dalem lauhil mahfuzh seharusnya Nabiyullah Khidir yang memberinya wejangan itu. Jeng Sunan Jati melihat bahwa Lokacaya itu adalah sungguh Waliyullah. Ia segera sungkem menghaturkan bakti. Tidak lama kemudian lalu Jeng Sunan Jati datang di hadapan Lokacaya. segera datang adik Lokacaya dan bagaimana di Ampel dan para saudara di Bonang dan Undang. Lokacaya segera terjun ke dalam sungai untuk mengambil buah kemiri-kemiri itu namun sekonyong-konyong ditimpa oleh banjir besar. dan ia sudah berada di hadapan Baginda Khidir.” Lalu Kalijaga segera makan. Lalu berkata: “Kalau sang adik sungguh-sungguh keinginannya semoga di tempat yang sunyi. kalau malam menaik dalam pohon andul. lalu ingatlah sang Lokacaya kepada terang benderang laksana di dalam sebuah negara. namun hamba mohon sih kemurahan Dalem semoga diberi wejangan sejatinya sahadat dan sempurnanya tauhid. kalau siang membangun perkebunan. sekarang aku beri anda sesuatu.” Segera Lokacaya bersama Jeng Sunan Jati bertolak ke hutan yang sunyi datang sudah di hutan di pinggir sungai di bawah pohon andul. semua para saudara sedang ada sehat-sehat saja. Berkata Jeng Sunan Jati: “Ini buah kemiri seratus banyaknya untuk bilangan. Pada suatu hari antara bulan kemudian buah kemiri yang seratus itu jatuh dalam sungai.bahwa aku di sini telah lama menunggu. Lokacaya segera menubruk sujud beraba-raba sambil berkata: “Duhai Eyang mohon sih berkah Dalem. merasa seribu nikmat seribu rahmat.” Jeng Sunan Jati lalu pulang. Karenanya Lokacaya lebih mantap kemauannya setia tuhu kepada Guru. hamba ini bagaimana. Sudah selesai olehnya ia diwejang. setelah makan lalu diberinya wejangan sempurnanya tauhid oleh Nabiyullah Khidir. Berkata Lokacaya: “Berkah Dalem. Segera ia ditangkap oleh Nabiyullah Khidir. Cangkir mengucap: “Belum ada yang mengizinkan koq berani akan dimunim isinya?” Lokacaya terkejut ada cangkir bisa bicara. Tidak lama kemudian ada cangkir dari batu mirah sepasang penuh berisi.

lalu Jeng Sunan berkata: “Adik Nurullah sejak sekarang tetap menjabat sebagai Sultan. Berkata Jeng Sinuhun: “Semoga ibu mengetahui di Pejajaran sudah pada Islam.” Segera Dipati Awangga berjalan terus ke laut. KANJENG SINUHUN CIREBON BERTOLAK KE NEGARA MESIR. seorang cucu dari Prabu Siliwangi. pula para akrab. di situlah akan menemukan lantarannya kemuliaan lagi perwira sakti. . serahlah negara Mesir seketurunannya. kakak tadi malam dapat sasmitanya Dewa disuruh pergi ke laut. tidak akan pulang kalau belum trelaksana. namun tidak lama lalu meninggal. Sri Mangana. Berkah Ibunda di Cirebon dan di Pasundan sudah terselenggara/berlaku agama Islam. Diceritakan di kraton Mesir Kanjeng Sunan Jati sudah datang duduk sejajar dengan Ibundanya. dan putra sudah dapat jodoh. Kanjeng Ratu Syarifah Mudaim dan adik Syarif Nurullah. Diceritakan di tanah Pasundan di Maleber Babakan Cianjur.” Ibundanya menyetujui kehendak sang putra. siang malam merendam diri mencari udang lelaki perempuan. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Cirebon bertolak ke negara Mesir hendak menghadap kepada Ibundanya terus perjalanannya datang sudah di kraton Mesir. putri Rama Uwa. Pula putra sudah menjabat sebagai Sinuhun di Cirebon diangkat oleh Rama Uwa Cakrabuana. Berkata Dipati Awangga: “Adik Selalarang. seorang putri Ki Gedeng Jatimerta bernama Rarakerta. seorang putri Ki Gedeng Kawunganten. Dipati Awangga dan sang adik Dipati Selalarang. yang bernama Ratu Pakungwati berikut diserahkan kratonnya. Adapun negara Mesir diserahkan kepada sang adik Nurullah. namun Eyang Prabu Siliwangi para istri dan para selir tidak Islam ngahyang meninggalkan kraton. sudah empat istri yang dinikah. di antaranya Putri Cina. seorang putri Gedeng Babadan. Pula para saudara dari Bagdad telah menyerahan seluruh pengikutnya dan para gegedeng dan para tetangga negara pada tunduk. 29. yang benar mengurusnya. putri Dewi Siliwati bersuami dengan Sang Ngewalarang. adik sekarang tinggallah di sini. disuruh mencari udang lelaki perempuan yang sedang beriringan. Maka daripada itu semoga Ibunda berkehendak bermukim di Cirebon karena putra senang bermukim di Cirebon.pamit. segera pulang datang sudah di darat terus masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung merantau sesukanya.

di sanalah lantarannya memperoleh kemuliaan lagi pewira sakti. Baik sekarang turutlah ke Cirebon bersama mengiring Jeng Ibu.” Dipati Awangga mematuhi perkataan Kanjeng Sunan. berupa warna pusaka empat. akan tetapi putra senantiasa kebingungan. Tidak lama kemudian lalu datanglah sudah di kraton Pakungwati. lantarannya putra ada di sini di laut. Dipati Awangga namanya. Tidak antara lama kemudian datanglah Kanjeng Ratu Rarasantang sedang berjalan beiringan dengan Sang Putra kanjeng Sinuhun di atas air laut. bahagia bertemu di sini. akan tetapi belum berhasil senantiasa kebingungan oleh warnanya.berdasarkan hadits dalil. sesungguhnya hamba adalah putra adik Paduka Dewi Siliwati. destar pusaka dari Rasulullah dan Ibu minta untuk kebawaan piring-piring panjang dan barang-barang dan orang empat puluh dan kapal satu. Di ceritakan Dipati Awangga yang sedang mencari urang/udang lelaki perempuan hingga koyak-koyak pakaiannya untuk berendam di laut. permaisuri Mesir putra Siliwangi Pejajaran negaranya. berhentilah terlebih dahulu. Segera ia menegur: “Hai manusia lelaki perempuan.” Segera lalu dirangkul-rangkul oleh Kanjeng Ratu: Mas bopo ponakanku!” Kanjeng Sunan berkata: “Adik Dipati Awangga supaya menjadi tahu perihal sasmitanya Dewa yang dimaksud urang/udang lelaki perempuan di atas laut yang sedang beriringan itu nyatanya adalah si kakak sebagai urang/udang lelaki dan Kanjeng Ibu sebagai urang/udang perempuan. kitab Usul kalam. ialah pedang jimat selawat Nabi.” Ibunda berkata: “Hai Putra Nurullah semoga adil orang yang menjadi raja. Terkejutlah Dipati Awangga melihat ada orang lelaki perempuan beriringan di atas air laut. Sang Dipati sangat setia tuhu. Adapun Kanjeng Sinuhun bersama Kanjeng Ibu menghendaki berjalan di atas air laut. karena kalawaktu dulu ada sasmitanya Dewa menyuruh mencari urang/udang lelaki perempuan yang sedang beriringan. karenanya hingga sekarang belum berhasil. kalian apakah sesungguhnya manusia atau jin mrekayangan dan kalian asal dari mana?” Kanjeng Ratu Rarasantang berkata: “Rarasantang namaku.” Dipati Awangga segera menubruk menyungkemi sambil berkata: “Duhai Ibu. Segera sebuah kapal sudah dimuati piring-piring panjang dan barang-barang serta empat puluh orang.” Sang Putra meluluruskannya. . lalu segera berangkat terus menuju Cirebon. cuma Ibu minta sebagai waris kakak anda. Ibu hendak bermukim di Cirebon. mendadak bisa bersama berjalan di atas air laut.

sungguh Paduka itu Wali Kutub. . Pangeran Moh.Ki Kuwu bergembira sekali. Kemudian antara sebulan lalu Dipati Awangga membawa anak istrinya ke Kuningan. karena sang adik Ratu Rarasantang sudah datang. kemudian Dipati Awangga angempu/membikin alat-alat pedang. Hasanuddin.” Dipati Awangga mematuhi perintahnya Sang Kakak. Kemudian Jeng Sunan datang menemuinya. Diceritakan Sang Kalijaga merantau menuruti sekehendaknya kemudian datanglah di kebun kalijaga dengan mengendarai kuda lumping. yang lahir dari Kanjeng Ratu Pakungwati ialah Ratu Ayu. akan tetapi rayi bercahaya anguwung (seperti cahayanya pelangi) laksana pangrasuknya/akbatnya ilmu sejati. PARA PUTRA YANG SINUHUN CIREBON Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sudah mempunyai putra yang lahir dari Nyi Mas Kawunganten itu adalah yang pertama Ratu Winaon.” Jeng Sunan meluluskannya. Orang Cirebon bergembira sekali ria. oleh karena Sang Gusti telah datang. Sang Dipati Awangga lebih hati-hati olehnya mewakili dan mengurus para wadyabala dan negara. mengetahui jalannya kemuliaan. berhasil atau belum. Arifin lahir di liang lahat (karena Ibunya meninggal sebelum melahirkannya). Sang Kalijaga ketawa dan menyungkumi. 30. Para menantu pada menghadap menghaturkan bakti.” Berkata Sang Kalijaga: “Sungguh betul perkataan Paduka. Jeng Sunan kemudian memanggil Dipati Awangga diwejang sahadat kalimah dua dan agama Islam. Jeng Sunan berkata sambil senyum: “Rayi/adik Kalijaga bagaimana hasilnya yang dimaksud. yang lahir dari Nyi Mas Rarakerta adalah Pangeran Jayalelana. Jeng Dipati lalu mohon pamit terus berjalan datang sudah di Kuningan. Sang Dipati Awangga merasa senang dan suka kepada Agama Islam hingga lupa kepada anak istri dan daerahnya. hamba lebih setia tuhu menghadap kepada Paduka dan hamba mohon izin hendak bermukim di tempat kebun Kalijaga ini. pada waktu itu barulah sebanyak itu putranya. Adiknya ialah Dipati Selalarang sudah memeluk agama Islam pula. tombak dan baris upacara. Jeng Sunan berkata: “Adik seyogya bermukim di Kuningan mewakili Sang Putra Pangeran Kuningan sebagai pejabat Adipati. Pangeran Dipati Moh.

Ki Kotim adalah murid yang pertama. Pangeran Patah rajin olehnya menghadap seperti ada keperluan yang penting.Lokacaya/Sunan Kalijaga membuka perkebunan dan melakukan kelakuan Jaya Sempurna. Antara hari lalu Sunan Kalijaga menghadap kepada Sunan Cirebon datang sudah di hadapannya. akan tetapi sekarang babakyasa terlebih dulu. orang Palembang diperintah membangun dukuh/pemukiman Aryadilah memndirikan pesantren. Berkata Jeng Sinuhunan: “Ada apa keperluannya. para kerabat dan putra pula Kanjeng Sultan Palembang. ialah mandi tiap malam waktu sepertiganya malam. putraku pasti jodoh dengan rayi. aku lebih percaya. yang kelak akan mengkurat/memangku setanah Jawa sebelah timur tanah Sunda. Sang Ratu Brawijaya. Tidak antara bulan kemudian tanah rawa harum telah diketemukan. carilah tanah yang ada rawa harumnya. 31 DUKUH DEMAK Diceritakan di Ampelgading Jeng Sinuhun Ampel sedang diseba. dan Jum’ah depan dititahkannya.” Sunan Kali menyetujuinya. Segera berkata Jeng Sultan Palembang: “Mohon berembugnya. Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Patah patuh kepada nasehatnya Rama Guru. Nanti kalau sudah diluluti/disenangi oleh para Wali barulah apa yang dikehendaki. Setelah nikah Sunan Kalijaga lalu menjabat sebagai wakil Imam. tadi malam hamba bermimpi memanggul bulan. Seluruh para murid.” Berkata Jeng Sunan Ampel: “Betul Rama anda itu masih belum Islam. camkanlah jangan dulu diganggu sebelum aku sirna meninggal. akan tetapi beliau kasih sayang kepada orang-orang Islam. bangunlah sebuah duduk/pemukiman. di sana bangunlah yasa/karya. tetangga desa banyak yang pada anut. bagaimana karena Rama Prabu Brawijaya belum Islam diraakan tidak enak dalam hati. sebab sudah pasti Pangeran Patah yang akan menggatikan kedudukan ayahandanya. meneruskan perjalanannya diiring bala tentara Palembang dua ratus orang. Tetangga . Termashur. Segera Pangeran Patah membangun perumahan. Segera mohon pamit hendak mencari tanah rawa harum. segera berkata: “Rayi/adik itu akan mendapat ganjaran putri Ratna Winaon.” Berkata Sunan Kali: “Mohon diterangkan artinya mimpi.” Jeng Sunan mengetahui kehendaknya.

sebab lahang jadi berhenti menetes. pada tahun 1475 M. Kemudian seterusnya dengan keputusan Prabu Majapahit Demak diumumkan menajdi dukuh Demak dalam kawasan negara Majapahit. ada du’a pemahat mau ditukar. kalau tidak percaya cobalah terlebih dulu. . 32. Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Penderesan. sekarang engkau aku alih namanya Gedeng Sangkanurip. akan tetapi engkau belum menerimanya. saksana/sekonyong-konyong panggang ayam itu hidup lagi lalu terbang ke petarangannya (tempat mengerami telurnya). segera lahang menjadi berhenti setetespun tidak keluar.” Bungbung/ruas bambu segera dilihat. Buruk sekali hatinya dan engkau orang mana?” Berkata Jeng Sunan: “Aku orang Cirebon membikin keuntungan kepada engkau. Ki Gedeng segera berkata: “Ini orang membohongi jadi mematikan pangan. lalu dicobanya . sekarang aku tempuhkan/minta ganti harganya yang selodong/seuras bambu searu (35 sen). Berkata Gedeng Penderesan: “Ini orang lebih ngerekel (seenaknya sendiri saja). sedangkan getak getok sambil bernyanyi tidak lama kemudian datanglah Sunan Jati. aku punya du’a yang lebih bagus dan tidak usah dengan suara nyaring lagi. anda sedang membaca du’a apa sedemikian nyaringnya.” Ki Gedeng menjawab: “Untungnya dari mana?. LAKU LAMPAH SUNAN JATI CIREBON Diceritakan pada suatu hari Gedeng Penderesan yang sedang memahat lahang/tuak. Berkata Jeng Sunan: “Sangkan-sangkan lantaran terjadi ayam mengeram bisa hidup kembali. baik pada saling tukar. Ki Gedeng segera sujud lalu pulang menghormati Jeng Sunan dengan tumpeng panggang ayam. engkau orang apa.” Jeng Sunan segera memberi wejangan sahadat kalimah dua. coba berilah aku pelajaran terlebih dulu. itu wataknya du’a tadi lihatlah dalam ruas bambunya ada lebih dari harga sereal. kemudian termashur disebut pedukunan Demak (dari tanah demek/ berair). Jeng Sunan lalu memegang panggang ayam. ternyata isinya penuh dengan pasir emas. Ki Gedeng sudah menerimanya.” Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Penderesam.desanya pada anut. kalau sekiranya menjadi bagus kepada lahang tentu saya teruskannya. Gedeng Penderesan sejak itu disebut Gedeng Sangkanurip.” Jeng Sunan lalu berlalu dari situ.

Syekh Bentong. Sunan Ampel/Sunan Giri. Sunan Bonang.” Segera para Wali lalu masuk ke dalam kawah.” Lalu Jeng Sunan pulang ke Cirebon. mungkin itulah tandanya Kutub. Syekh Maulana Magrib. Ki Gedeng mengiringi beliau datang sudah di kraton Pakungwati. Wali Sanga pada kumpul. Suana Muria. 33. ada yang mengendarai kuda lumping. 1. 7. Sunan Kalijaga.” Berkata Sunan Ampel: “Aku lihat di gunung ada cahaya anguwung (sperti cahaya pelangi) hampir menyentuh langit. 4. ada yang mengendarai angin. Lalu pada bubar. ada yang memasuki ke dalam bumi dan ada yang menghilang. 6. 3. Jeng Sunan sedang beristirahat tidak lama kemudian datanglah Gedeng Sangkanurip sujud meraba-raba sambil berkata: “Duhai Gusti lebih bijaksana hamba mohon ampun dan ingin berguru. Sunan Jati sebagai Wali Kutub/Imam. Syekh Majagung.Ki Gedeng segera menyusul bermaksud bakti dengan sangkaannya mungkin ini orangnya yang bernama Sunan Jati. sepuluh Kutub (Sunan Jati Cirebon). yang lain lagi terbang di angkasa. 8. Lalu berkata Sunan Bonang: “Di manakah yang menjadi Kutub. para kawan Cuma sembilan. Adapun Sunan Jati Purba dan . 5. nuhun sih kemurahan Dalem. Sunan Undung/Pangeran Kudus. Suana Jati Purba sudah berada di hadapan. Seterusnya Ki Gedeng sudah memeluk agama Islam. Syekh Lemahabang. para Wali menyetujuinya. ada yang mengedarai awan. RIUNGAN WALI SANGA JAWADWIPA Diceritakan Kajeng Suna Ampelgading menghendaki mengumpulkan para yang menjadi Wali Sanga Jawadwipa. Permulaan jadi caremnya/musyawarahnya Wali Sanga. sebakdanya para Wali bermusyawarah Sunan Jati Purba menyilahkan mengambil tempat musyawarah bagi seluruh para Wali Sanga selanjutnya di gunung Jati. 9. 2. Datang sudah di gunung Ciremi.

Pangeran Drajat. Pangeran Kudus. Setelah selesai musyawarah dengan kehendak Sunan Ampel dan semufakat para Wali. para akrab. Sunan Giri. Pangeran Makdum.” Seluruh para Wali pada menerima sungguh-sungguh wasiat Cirebon. 34. mengunggul-ungguli yang tanpa amal kebajikan dan janganlah menduduki yang bukan makamnya.a. PERANG DEMAK MAJAPAHIT Tidak antara bulan kemudian diwartakan di Ampel Gading Jeng Sunan Ampel meninggal. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.” Pangeran Kudus segera tobat semunya malu. Antara hari kemudian Aryadila dan Pangeran Patah minta sangat seluruh para Wali Sanga dimohon datangnya di pedukuhan Demak. Sunan Cirebon dan Pangeran Cakrabuana. Tidak lama kemudian datanglah para Wali sudah pada duduk lalu barulah Pangeran Kudus datang. dan Ki Syekh Magrib. para murid. akan tetapi perjalanannya terlebih dulu. waktu kapankah kita akan datang di gunung Jati. mungkin para Wali sudah pada datang. Pangeran Welang. Seluruh para Wali. Jeng Sunan Jati Purba berkata: “Menurut wejangan Jeng Nabi Muhammad s. Adapun jalannya jenazah kemudian sudah selesai sirna sempurna. Sunan Cirebon mengabulkannya segera seluruh para Wali bertolak bersama-sama ke Demak .w. Syekh Majagung. pada berkumpul. Sunan Undung. Berkata Sunan jati: “Pangeran Kudus rupanya terlambat datangnya. Segera pada mohon ijazah.Pangeran Kudus menghendaki berjalan kaki dari dalam kawah sampai ke puncak. Berkata Pangeran Kudus: “Kaki Cirebon bagaimana perjalanan kita nantinya. Setelahnya Jeng Sunan Ampel pulang dan seluruh para Wali pada bubar. janganlah menghebat-hebat. Syekh Bentong. para putra.” Segera Pangeran Kudus mendahuluinya mempercepat perjalanannya seperti kilat. Sunan Cirebon sejak itulah disebut Susuhanan Gunung Jati karena di gunung Jati itulah waktu beliau dinilai lebih tinggi derajatnya melebihi derajat para Wali lainnya oleh para Wali Sanga Jawadwipa. Syekh Lemahabang dan Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Patah sudah berkumpul. Diceritakan Sunan Jati telah datang di gunung jati dan sudah bersedia gelaran di balai amparan. Seluruh para Wali pada merasa jauhnya derajat terhadap Sunan Jati Purba.” Berkata Sunan Cirebon: “Seyogya Pangeran Kudus mendahului untuk mengadakan gelaran di gunung Jati menyediakan bagi para Wali yang telah datang.

w. lalu menulis sebuah surat. Adapun bungkusnya yang berupa kulit itu diberikan kepada Sunan Bonang. bagaimana mufakatnya para saudara. Para Wali pada muji syukuran kepada Allah. Selesainya salat Subuh lalu para Wali melihat ada menggantungnya sebuah bungkusan berisi baju jubah yang dibungkus dengan kulit dan ada tulisan yang dialamatkan kepada Sunan Bonang. segera duta tujuh diusir. tangan kanan memegang Baitullah tangan kiri memegang masjid.” Berkata Sunan Cirebon: “Raka Aryadila dan Pangeran Patah seyogya mengirim surat terlebih dulu kepada Prabu Majapahit dimohon memeluk Islam.datang sudah di demak. Para Wali barulah mufakat kepada arahnya kiblat. Para wali masih belum mufakat pada berempug arahnya kiblat. Sang Prabu telah mengetahui seluruh isi surat. surat diterima sudah oleh Sang Prabu Brawijaya.” Aryadila dan Pangeran Patah mematuhi nasehatnya Sunan Gunung Jati. Setelah selesainya mufakat Baitullah segera pulang ke asalnya. ponggawa tujuh yang diutus yang diutus membawa surat itu datang sudah di Majapahit. Berkata Sunan Bonang: “Oleh karena Rama di Ampel sudah sirna sempurna sejak sekarang Ratu di Majapahit dapat diganggu gugat. semoga diberikan kepada Jeng Sunan Kali karena yang mengesahkan kiblatnya masjid. Adapun tidak antara hari lalu para Wali membangun masjid Demak dimulai bakda Isya dan pada waktu Subuh selesai. kalau nanti Sang Prabu menolak dan murka karenanya barulah kita hadapi. akan tetapi setelah mau diadakan salat Subuh para Wali merasa ragu-ragu perihal kiblatnya.” Berkata Sunan Undung: “Seumpama Sang Prabu menolak dan karenanya kita terpaksa mengadakan peperangan bolehlah orang Undung yang ajdi Denapati ing ngalaga. Selanjutnya berkumpulnya para wali di masjid itu lalu dihidangkan jamuan makan dan berbagai warna warni makanan. Baju jubah lalu diterima oleh Jeng Sunan Kali segera dipakai sudah diberi nama Baju Antakusuma. Pageran patah dan Aryadila mengadakan jamuan kehormatan. lalu dibikin baju kutang diberi nama baju Ki Kundil. Segera Sunan Kali bertindak. semuanya Sang Prabu murka lalu memanggil Dipati Teterung diperintah mengumumkan seluruh para wadyabala bupati sentana mantri dan . lalu disentuhkan sampai rapat. Lalu para Wali mulai salat Subuh pada tahun 1411 Sakakala/1489 M. Adapun Sultan Palembang dan Pangeran Patah lalu mohon berempungan karena Rama Prabu Majapahit masih belum Islam semoga memeluk agama Islam serakyatnya semua. Baju jubah darih sih pemberian Jeng Nabi Muhammad s.a.

Sunan Kali mengetahui bahwa Sunan Undung gugur lalu jenazahnya diambil dibawa pulang Sunan Kudus yang mengganikan jadi Senapati.”Siapa gembar gembor menantang tapi seperti setan tidak terlihat. tumbak. lalu Sunan Undung memperlihatkan dirinya. Tikus dibunuh seekor menjadi dua. diliputi gelap gulita. mimis seperti hujan. Diceritakan yang sedang bermusyawarah tak lama kemudian duta tujuh sudah datang. banyak yang mati. Segera Sunan Undung mengenakan baju Ki Kundil dan Antakusuma. menantang gembar gembor: “Hai orang Majapahit. Lalu diputuskan oleh para Wali yang jadi Senopati itu adalah Sunan Undung. disengati oleh ribuan lebah. meriem. Sunan Bonang segera maju di medan laga dan Sunan Gunung Jati diiring oleh Ki Kuwu Cirebon. di mana Ratu kalian Brawijaya kalau mau aku Islamkan kalau tidak aku potong lehernya. Segera barisan Demak. hadapilah Senapati Dalem Majapahit. Seluruh wadyabala Majapahit geger busekan/geger panik. panah. Aryadila sudah di tengah-tengah medan perang membawa peti jimat lalu peti dibuka mengeluarkan gelap gulita menyerang menyelimuti musuh. Bonang. Lalu Pangeran Kudus memukul tanda bende si Macan. Ki Kuwu Cirebon mengusap badon batok lalu mengeluarkan tikus putih sepasang terus mengamuk. Sunan Bonang menghunus keris mengeluarkan lebah ratusan ribuan menyerang menyengati musuh. hilang . Diceritakan Senapati ngalaga Kanjeng Sunan Undung maju di medan laga. pedang. dilepaskannya baju Ki Kundil dan Antakusuma lalu baju pulang dengan sendirinya dengan terbang mendekati yang empunya.” Kanjeng Sunan Undung mengetahui pastinya memperoleh derajat Awliya Sabilullah. Segera pecahlah perang besar. Dipati Teterung namanya. kalau engkau sesungguhnya Wali perlihatkanlah diri engkau. Segera cepat Dipati Teterung menombak tubuh Sunan Undung dan jatuhlah ia di tanah gugur terbareng dengan terdesaknya tentara Islam. menyerang wadyabala Malapahit. Telah selesai olehnya mufakat dan penuh siap siaga keperluan untuk berperang. Palembang. surak gegap gempita laksana gemuruhnya daratan longsor berbaurnya suara gong beri dan gendang bende laksana berhentinya daratan. seluruh wadyabala Islam sudah disiap-siapkan terus maju jalan menuju Majapahit datang sudah di medan peperangan. panah totog tulup bandring brengkolan gegetuk ramai berperang campur. Undung. Bala tentara Majapahit sudah siap siaga menghadang. baris upacara supaya siap siaga penuh untuk berperang. bedil. totog dan keris. bedil. Cirebon.tamtama diharuskan siap siaga seluruh alat perang. meriam.” Berkata Dipati Teterung. Kudus.

dua jadi empat hingga berketi-keti berjuta-juta. Alat-alat perang dan alat-alat rumah tangga barang-barang benda kayu rusak semau digigiti oleh tikus. Wadyabala dan rakyat Majapahit lari bubar ke tujuannya masing-masing, yang sebagian turut Islam dan yang sebagian lari ke gunung-gunung. Dapati Teterung sudah dibelenggu oelh Pangeran Kudus. Diceritakan Sang Prabu Brawijaya merasa tidak tahan karena sangat pribawanya para Wali lalu ngahyang/keluar dari kraton bersama istri dan para putri dari Cempa, lalu Prabu Brawijaya dan pengiringnya lenyap sudah dari pemandangan. Seluruh para Bupati sentara mantri dan kraton sekekayaannya sudah dijarahi/dirampas. Rakyat Majapahit sudah memeluk agama Islam. Tidak antara lama kemudian Prabu Kediri, sebuah negara bagian Majapahit, yang bernama Gridhra Wardhana mengumumkan Majapahit merdeka tidak takluk kepada Demak beri kubu kota di Kediri. Diceritakan para Wali mengadakan riungan di pesanggrahan Demak. Pangeran Kudus sudah datang mengiringkan tawanannya tawanannya Dipati Teterang dan para Bupati sentana mantri dan rampasan perang berupa dunyabrana/emas picis dan lain-lain. Berkata Pangeran Kudus: “Semoga diterima dengan hormat menyerahkan tawanan dan rampasan perang, namun Dipati Teterung dimohon hukum mati, oleh karena telah membunuh Ramanda Sunan Undung.” Berkata Sunan Gunung jati: “Dipati Teterung diminta supaya memeluk agama Islam. Adapun gugurnya Sunan Undung itu lebih sempurna derajatnya Awliya Sabilullah lantaran dari Dipati Teterung dan sebanyak dunyabrana itu agar dibagikan sebagai ganjaran para prajurit prajurit yang turut berperang. Adapun para Bupati sentara mantari seluruh wadyabala Majapahit dan negara seluruh bawahan Majapahit supaya diserahkan kepada rayi Pangeran Patah, sebab yang empunya waris yang akan jadi Ratu menruskan kedudukannya Sang Prabu Brawijaya, akan tetapi raka Sultan Palembang hendaknya mau menyetujuinya, oleh karena raka sudah menjadi Sultan di Palembang.” Jeng Sultan Palembang sudah setuju di tanah Jawa sang rayi Pangeran Patah yang menjadi Raja. Para Wali sudah mufakat. Aryadila berkata: “Rayi Patah menjadi raja di tanah Jawa akan tetapi para akrab yang sudah memeluk agama Islam seyogya diberi tanah atau lainnya sebagai warisnya dari sih kemurahannya saudara dan yang adil olehnya menjadi raja berpeganganlah kepada hukum Rasul apa yang disebut

di dalam Qur’an (ialah agama resmi adalah agama islam akan tetapi tidak ada paksaan dalam memeluk agama/bebas beragama). Sudah selesai olehnya bratayuda dan urusan tawanan dan rampasan, segera Arya dila pulang ke kota Demak pula para Wali dan semua para wadyabala Majapahit, bupati sentara mantri dan gegedeng/para pembesar sudah tunduk Aryadila, Pangeran Patah dan para Wali sudah datang di kota Demak lalu berkumpul dalam masjid. Segera Aryadila memanggil para wadya majapahit diharuskan membangun kraton. Seluruh para wadya sudah bertindak. Berkata Sunan Jati: “Rayi Patah sudah waktunya dinobatkan jadi Ratu/Raja di pulau Jawa sebelah timur tanah Sunda bekas negara Majapahit menjabat sebagai Susuhunan di kraton Demak.” Segera Sunan Kalijaga mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa Sunan Jati Purba dan para Wali menetapkan Pangeran Patah dinobatkan menjadi Susuhunan di kraton Demak yang mangkurat/memangku senusa jawa sebelah timur tanah Sunda mengganti meneruskan Sang Ratu Majapahit. Seluruh rakyat Jawa Tengah, Jawa Timur sudah mengakui bahwa Raden Patah itu termashur jadi Ratu tanah Jawa bersemayam di kraton Demak disebut Sunan Bentara dan Kanjeng Sultan Abdul Patah pada akhir tahun 1489 M. (bersamaan dengan tahunnya pembangunan Masjid Demak ialah pada tahun 1411 Sakakala/1489 M.). Majapahit Grindhra Wardhana Kediri direbut oleh Demak pada tahun 1517 M. Pula Prabu Udara Singosari (sesudah ibukota Majapahit Wilwatika/Trowulan ambruk, Grindhra Wardhana raja negara bagian Majapahit mengumumkan Majapahit merseka, ibukotanya Kediri, dengan gelar Prabu Brawijaya VI dan Prabu Udara dengan gelar Prabu Brawijaya VII). Oleh karena Sunan Bentara sudah jadi Ratu/Raja tanah Jawa yang bersemayam di kraton Demak, segera memberi ganjaran seluruh para Wali dan para Pinangeran pula seluruh akrab dan para wadya sudah menerima ganjaran. Semua Cirebon diberikan pengakuan menjadi Sunan mangkurat/memangku di Jawa Barat tanah Sunda bersemayam di kraton Pakungwati Cirebon dan diberi keris tombak baris upacara pula Raden Sepat, Gedeng Trepas sebawahannya seratus orang sebaliknya Cirebon memberikan pengakuan kepada kesultanan Demak. Sunan Giri sudah menerima ganjaran tetap senegara dan Sunan Bonang diberi ganjaran tanah senegara dan diangkat menjadi Susuhunan.

Adapun Pangeran Kudus diganjar tanah senegara pula dari Undung serakyatnya tetap diwaris oleh Pangeran Kudus sebagai putranya dan diangkat menjadi Susuhunan dan ditetapkan sebagai Senapati ngalaga Demak. Adapun Sunan Kali diberi tanah senegara akam tetapai yang dipilih tanah yang berawa dibangun kraton menjadi Susuhunan Kadilangu disebut nama Sunan Kalijaga. Ada para Wali dari Daerah barat empat orang yang menolak menerima ganjaran ialah Syekh Bentong, Syekh Lemahabang, Syekh Magrib dan Syekh Majagung. Selain dari wali yang empat orang itu semua para Wali mendapat ganjaran dan para bupati sentara mantri dan para gegedeng sudah diterimanya semua ganjaran dari Sunan Demak. Ganjaranganjaran itu semuanya berada dalam kawasan kesultanan Demak. Sesudah selesai lalu para Wali pulang ke masing-masing daerahnya (ada tembang/nyanyian Jawa yang berbunyi: “Ana timun ginotong wong wolu/ada bonteng digotong orang delapan, tersiratnya), seumpama Demak tidak dibantu oleh para Wali delapan (Sunan Ampel sudah wafat), terutama oleh Cirebon yang sudah lama jadi negara beragama Islam, pasti kesultanan Demak tidak akan ada di dunia, karena melawan Majapahit itu adalah laksana bonteng melawan durian dan kesultanan Demak baru penuh jadi negara merdeka dan berdaulat di seluruh bekas kawasan Majapahit setelah direbutnya Kediri dan Singasari pada tahun 1517 M.) Sankalan tahun dibangunnya masjid Agung Demak ialah dengan gambar bulus yang bermakna: kepalanya = 1, tubuhnya = 1, kakinya = 4, buntutnya = 1, jadi 1411, dibalik jadi 1411 Sakakala/1489 M. 35. KRATON PAKUNGWATI DIPUGAR DAN DIBANGUNNYA MASJID AGUNG CIREBON Diceritakan Sunan Cirebon dan Ki Kuwu Cirebon sudah pulang ke negaranya membawa tawanan dari Majapahit seratus orang dan keris, tombak, baris upacara dan Raden Sepat, Gedeng Trepas seanaknya semua mengiring ke Cirebon. Adapun Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Makhdum, Pangeran Derajat, pula Pangeran Welang turut mengiring ke Cirebon memohon berguru kepada Sunan Jati Cirebon. Adapun Sunan Jati tidak antara hari kemudian menghendaki melebari kraton menyontoh kraton Majapahit hanya agak kecil. Orang-orang Majapahit sudah bertindak. Raden Sepat dan Gedeng Tepas yang mengurus, Sunan Kali yang menjadi kepala, kemudian selesailah sudah, pada tahun 1489 M. Pada tahun itu juga tidak antara lama para Wali pada berkumpul hendak meneruskan membangun

Seluruh para Wali lalu salat Subuh. Antara hari kemudian lalu Jeng Sunan Cirebon memberi wejangan ilmu sejati.” Semua para Wali lalu pada membuka destarnya meraba masing-masing kepalanya. sekarang hendak diteruskan. kemauannya sendiri. kalau di kepalanya ada najis itu batal salatnya dan tidak lulus kewaliannya. Setelah selesai dan perihal kiblatnya masjid para Wali sudah pada mufakat. Tidak antara hari lalu Pangeran Luhung dan Pangeran Kajoran datanglah. Segera berkata Sunan Kali: “Pangeran Makdum tadi olehnya makmum hatinya syak/ tidak diterima. Pangeran Derajat. Setelah mereka selesai diwejang lalu Pangeran Derajat hanya mencapai sederajatnya Wali. oleh karena Sunan Kali bertindak seperti kalawaktu mengepaskan kiblatnya Masjid Demak. karenanya para Wali pada ketawa.Masjid Agung karena tadinya fundamennya sudah dibuat. sekarang batal salatnya dan tidak lulus kewaliannya. ternyata Pangeran Makdum setelah membuka destarnya itu ada najis atau bangkai cecak sebesar jari kelingking. namun Rama ing Giri/Sunan Giri yang tetap menggantikan meneruskan Rama ing Ampel almarhum/Sunan Ampel almarhum termasuk seorang Wali Sanga. akan tetapi pada . Pangeran Welang. Pangeran Makdum. karena bertentangan dengan hukum syara’ (kejadian ini Sunan Kali sedang menguji kemulusan tauhidnya para Wali). usholi kambing merah itu adalah kambing hitam. Jeng Sunan Cirebon mengumumkan pada suatu Jum’ah bahwa Pangeran Jayalelana mau mengimami Jum’ah. Sunan Kali yang menjadi Imam. karenanya tihang ini seterusnya disebut Saka Tatal. kedatangannya hendak mohon berguru kepada Sunan Cirebon dan diberinya wejangan sudah. sedemikian pula kalau mantap tobatnya kepada Allah. Kalawaktu pada salah satu salat Jum’ah Sunan Kali membaca khotbahnya memakai istilah kambing merah ceplok-ceplok kemauan siapa. Pangeran Welang baru welan-welan/baru beberapa bagian ia mohon izin hendak betapa. Aryadila hanya mendapat derajat selakaring/menuju tingkat Wali. lalu betapa tidur. fatihahnya dandang gula. Setelah selesai salat Sunan Kali berkata: “Barangsiapa yang tadi salat makmum kepadaku. cuma sedumdumane/sebagian bagiannya Wali. jadi disebut Pangeran Pelakaran.” Pangeran Makdum semunya malu lalu mohon maaf kepada seluruh para Wali. semuanya yang makmum hanya Pangeran Makdum yang syak (tidak menerimakan) hatinya. Mulai dibangun bakda Isya dan pada waktu Subuh selesai hanya satu tihang yang masih kurang. Lalu Sunan Kali bertindak mengumpulkan tatal/serpihan kayu dibikin sedemikian rupa hingga menjadi tihang untuk melengkapi tihang yang kurang.

waktu itu ia gugur mengimamkannya, karena sedang cengeng kepada Allah (penglihatannya sedang tertuju hanya kepada Allah), tidak ubah tidak gerak, semua yang pada makmum tidak suka terima. Karenanya Pangeran Kejaksaan memutuskan hukum mati kepadanya, akan tetapi dapat pertimbangan dari Jeng Sunan Cirebon. Pangeran Jayalelana ditebus dengan emas picis dunyabrana seberat timbangan tubuhnya. Sejak itukah Jeng Sunan Cirebon lalu mengangkat Penghulu Kalamuddin, abdi Dalem dari Mesir. Sangkalan dibangunnya Masjid Agung Cirebon ialah: mungal = 1, mangil = 1, mungup = 1, jemblung = 2, gateling = 1, asu = 1, jadi 111211= 41 dibalik jadi 1411 Sakakala/ 1489 M. 36. PANGERAN KUNINGAN Diceritakan di Kuningan setelah wafatnya Dipati Awangga asal Cianjur pejabat kepada daerah Pangeran Kuningan. Ki Gedeng Kemuning dengan hormat hendak memberi tahu kepada Cirebon bersama dengan Pangeran Kuningan dan empat orang putra lelaki Dipati Awangga almarhum, Segera mereka datanglah sudah di hadapan Jeng Sunan Cirebon. Berkata Sunan Cirebon: “Selamat datang Gedeng Kemuning, kemungkinan ada warta yang penting.” Segera Ki Gedeng Kemuning berkata: “Semoga jadi pengetahuan Dalem karena rayi Dalem Dipati Awangga sudah sirna sempurna meninggalkan empat anak lelaki, dan ini menghadapkan putra Dalem Pangeran Kuningan mudah-mudahan sudah seyogya menjadi Adipati memangku negara.” Jeng Sunan Jati meluruskannya lalu berkata: “Sekarang putraku Pangeran Kuningan aku angkat dengan diberi gelar Pangeran Dipati Awangga yang memangku negara Kuningan dan anak anda yang jadi saudara tunggal menyusu. Adapun anak rayi Dipati Awangga almarhum diberi nama yang pertama Dipati Anom, yang kedua Dipati Cangkwang, yang ketiga Dipati Sukawayana dan yang keempat Dipati Semanunggal menjabat sebagai pembantu Dipati Awangga/Pangeran Dipati Kuningan, adapun anak anda Arya Kemuning menjabat sebagai pelaksananya.” Setelah selesai keputusan Jeng Sunan Jati, Gedeng Kemuning lalu mohon pamit bersama Pangeran Dipati Awangga pulang kembali menuju Kuningan pada tahun 1499 M.

37. BANTEN Diceritakan Kanjeng Sunan Gunung Jati sedang berempug dengan sang istri Nyi Mas Kawunganten karena tanah barat belum ada yang jadi pikuat agama drigama. Adapun yang dikehendaki hanya sang putra Pangeran Moh. Hasanuddin. Sang istri berkata: “Setuju sekali namun mohon bertempat di lingkungan Kawunganten.” Jeng Sunan Jati meluluskanny. Lalu Jeng Sunan Jati karsa/menghendaki bertolak ke Kawunganten bersama dengan sang istri dengan sang putra Moh. Hasanuddin/Sebakingkin mengendarai kapal layar berlayar datang sudah di pantai barat, Jeng Sunan Jati bersama sang istri sang putra lalu datang di Kawunganten. Seluruh para murid pada kumpul menghadap dengan bersuka ria dan para gegedeng tetangga desa sudah pada menghadap. Berkata Jeng Sunan Jati: “Semoga kalian jadi tahu sekarang aku membangun pikuat mengukuhkan agama drigama sebagai wakil mutlakku, menjabat penata agama ialah putraku yang bernama Pangeran Moh. Hasanuddin.” Jeng Sunan Jati lalu memerintahkan membangun kraton di ibunegara/ibukota. Seluruh para murid sudah turut, disebut dengan gelar Kanjeng Sultan Moh. Hasanuddin sudah termasyhur bersemayam di kraton Banten. Jeng Sunan Jati sudah selesai menobatkan sang putra menjabat sebagai Sultan Banten dan diberi keris Kaki Naga Gede dan lain-lain pada tahun 1526 M. Antara hari kemudian lalu Jeng Sunan Jati pulang ke Cirebon mengendarai kapal layar. Segera berlayar dan setelah datang di tengah lautan diserang bahaya, kapal layarnya terputar di air pusar. Seluruh para awak kapal pada mohon pertolongan kepada Gusti Sunan Jati. Segera Jeng Sunan Jati menyawuk/menangkap air yang mulek/ air puser itu saksana/sekonyongkonyong air dicawuk menjadi keris berluk sembilan lalu keris diberi nama Kaki Air Mulek. Setelah air dicawuk menjadi keris lalu air yang menjadi bahaya tadi lenyap bisa lagi seperti semula. Segera kapal layar lalu dipercepat perjalanannya datang sudah di pesisir/pantai Cirebon. Jeng Sunan Jati lalu masuk ke dalam kraton Pakungwati. 38. RAJA GALUH DAN SAYAMBARA PANGURAGAN

Diceritakan di kraton Rajagaluh Sang Prabu Cakraningrat sedang diseba. Seluruh pada Danghyang, pula Dipati, para Gegedeng dan para perwira tentara pada berkumpul. Berkata Sang Prabu: “Hai Dipati Palimanan, mana keterangannya Sunan Cirebon, sebab itu adalah orang ngumandi/menjadi benalu sudah lama belum ada permohonan izinnya.” Berkata Dipati Palimanan: “Duhai Gusti, mohon ampunan Dalem karena tidak berhasil, betapa seringnya hamba mengurus para gegedeng dan bertindak pribadi, akan tetapi negara Cirebon tidak terlihat, apabila sementara para gegedeng dapat melihat Sunan Jati atau bisa memasuki negara Cirebon dan bertemu dengan Sunan Jati mereka tidak pulang kembali, para gegedeng sudah banyak yang pada anut.” Berkata Sang Prabu: “Demang Rajagaluh sekarang supaya bertolak ke Cirebon hingga sampai bertemu sendiri dengan Sunan, harap diberitahu supaya mau seba ke Rajagaluh, dan harus mengirim upeti tiap tahun, kalau tidak anut kepadaku niscaya Sunan Cirebon akan dirampas rajakayane/kekayaannya dan boleh dipotong lehernya, kalau menghendaki perang tentu aku serbu dibikin tanah hitam (Cirebon akan dibumihanguskan).” Ki Demang mengucap sandika. Segera mohon pamit terus perjalanannya dengan mengepalai prajurit empat puluh orang Ki Demang perjalanannya putar-putar kembali lagi ke tempat semula, kalau ke utara terus menerus tersesat ke utara, kalau ke selatan terus tersesat pula ke selatan, senantiasa tersesat tidak tahu arah. Diceritakan Ki Gedeng Selapangan diwartakan sejak dahulu tatkala bertapa di gunung Mendang di bawah pohon pudak memuja semedi ingin mempunyai anak yang sakti lagi punjul. Permulaan bertapa bunga pudak baru kuncup, sekarang berjatuhan di hadapan Ki Pendeta saksana/sekonyong-konyong dikabul oleh Rabbul ‘Alamin di antara bunga pudak yang jatuh di tanah itu ternyata jadi bayi perempuan, lalu bayi itu dibawa pulang. Ki Pendeta baru usai dari tapanya lalu bayi itu diberi nama Panguragan. Menurut kaol (riwayat) lain Panguragan adalah putra angkatnya dari Sultan Aceh dan seorang adik kandung perempuan dari Fadhillah Khan/Faletehan. Ki Pendeta (Pangeran Cakrabuana) lalu membangun dukuh/pemukiman semua tanam-tanaman serba jadi, seterusnya termasyhur dukuh itu disebut dukuh Panguragan.

Diceritakan orang-orang dua puluh lima negara sudah membangun pemondokan menunggu utusan Ki Pendeta membawa balasan lamarannya masingmasing. segera sudah mengumumkan kepada seluruh gegedeng. seandainya ada seorang yang diterima lamarannya pasti yang lain tidak menerimakannya. bahkan sudah banyak para gegedeng para bupati dan para satria pula para juragan. .” Berkata Sang Putri: “Rama. Berkata Ki Pendeta: “Putriku Pengurangan aku minta engkau supaya mau bersuami. walaupun orang melarat kalau bisa menangkap hamba itu tandanya jodoh hamba. Bupati. sudah cukup waktunya engkau mempunyai suami. tidak enak orang yang jadi kembang bibir. masih enak mengolah tubuh. jangan lagi para pembesar. dan para Gegedeng pula para juragan. yang melebihi kesaktian hamba. sekarang sang putra belum suka mempunyai suami. Diceritakan Pendeta Salapandan memanggil menghadap Sang Putra Nyi Mas Panguragan yang disebut pula Gandasari. silahkan Rama mengadakan sayembara kepada orang-orang dua puluh lima negara. Pembantu itu keluar sudah. Dikatakan oleh Jeng Sunan Jati bahwa walaupun engkau adalah perempuan tetapi engkau adalah menjadi prajurit Awliya. dan engkau kalau tidak mau bersuami tentu dirusak dukuh Panguragan ini. hamba mau pula bersuami akan tetapi kalau hamba sudah terkalahkan siapa saja yang bisa menangkap hamba. satria dan para nakhoda. beritahulah kepada si bapak yang engkau senangi.” Berkata Ratna Gandasari: “Rama.” Segera Ki Pendeta memanggil seorang pembantu diminta pergi ke pemondokan orang-orang dua puluh lima negara untuk mengumumkan siapa saja yang bisa mengungguli keperwiraannya dapat menangkap Ratna Panguragan ia itulah menjadi tanda jodohnya dan mengabdi kepadanya. Demang. mana yang engkau pilih salah seorang dari semua yang telah melamar engkau.Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah berumur limabelas tahun. para nakhoda yang sudah melamar berduyun-duyun. itulah orang yang hamba akan mengabdi kepadanya. para nakhoda yang sedang menunggu di pondokannya masing-masing. Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah termasyhur ke lain-lain desa keperwiraan saktinya lagi indah elok cantik rupanya seperti punjul sebuana. bahkan ia sudah be’at/berguru kepada Sunan Gunung Jati. Satria.” Berkata Ki Pendeta: “Hai bayi. Mantri. disebut-sebut namanya oleh tiap orang.

Gedeng Plumbon melambai-lambai: “Adik turunlah dibimbing oleh si kakak. larilah sampai akhir jagat si kakak tentu mengiringi. Sang Putri terus berlari di ladang persawahan. Segera Sang Putri menantang: “Hai orang-orang dua puluh lima negara. para Ifrit pada mengiringinya ke medan laga sambil menyiarkan bebauan harum sekali memenuhi sekeliling medan laga. oleh karena ia adalah seorang manusia yang tubuhnya berbau harum sekali.” Sang Putri segera turun sambil mendupak Ki Plumbon jatuh terjengkang berguling di tanah diinjak perutnya yang buncit. si kakak sungguh cinta lubang disusun dengan batu bata.” Segera orangorang dua puluh lima negara maju serentak saling berebut dahulu mendahului saling desak mendesak. Dengan gugup Ki Gedeng Plered berusaha menangkapnya segera Sang Putri melesat ke atas. kalau memakai kembang dari para Aruman. jangan memelet jangan menduyung. barangsiapa yang bisa menangkapnya sungguh jantan. kakak cinta sendiri kembang biru di atas kuburan. jauh-jauh dari kandanggaru akhirnya ditinggal lari. seluruh dedaunan dan pepohonan yang pada tersentuh olehnya jadi berbau harum. oleh karena tubuhnya yang harum. para Ifrit. Seluruh para Aruman. Sang Putri masuk ke dalam hutan. Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah memasuki arena sayembara di tengah-tengah balabar/batas medan sayembara berbusana putri raja indah gemerlapan laksana bidadari dari surga. Ki Gedeng Kandanggaru menyandak. karenanya seluas hutan itu nantinya disebut hutan Wanasari makanya Nyi mas Panguragan disebut pula Nyi Mas Gandasari. Ki Plered ditendangnya jatuh terjengkang.” Lalu sang putri lari dikejar sampai di pedesaan. Ki Ujung gebang menubruknya meleset karenanya jatuh tengkurap. Orang-orang dua puluh lima negara melihat keluarnya Sang Putri dan pengiring pada terlongong-longong masing-masing tidak berkedip. rebutlah tubuhku. Ki Gedeng Kandanggaru berusaha memegangnya tetapi tidak kunjung kena bahkan ia terserempet . kelapa tua beriringan seperjalanan. Ki Gedeng ketawa terbahak-bahak sambil berkata: “Nini putri jangan lari. unggulilah kesaktianku niscaya aku mengabdi kepadanya. Berjatuhanlah ke tanah kembang dari Sang Putri. sepanjang umur aku gauli.Segera mereka siap bertindak memasuki medan sayembara. sebab harumnya Nyi Mas Panguragan melebihi harumnya bunga atau minyak wangi. Orang-orang dua puluh lima negara bersuka ria saling berebut dulu mendahului. tangkai waru janganlah suka menghindari bokor tanah. Sang Putri meleset. orang ayu janganlah suka mengecewakan. bantu berumpun. Sang Putri segera siap siaga.

Nin Putri baiklah tunduk. Diceritakan seorang putra sebrang yang baru mendarat di pantai Cirebon dari laut. jangan nanti sampai elik/menolak di belakang hari.” Sang Putri lalu pulang menghadapi lagi sayembara ramai sudah orang-orang menonton pada sorak gegap gempita berjubel-jubel. Jaka Supetak namaku. Ki Gedeng karenanya merasa malu sekali lalu pulang sambil berkata: “jangan sekalikali anak cucuku menanam padi merah karena aku mendapat malu itu dikarenakan oleh padi merah. karenanya orang-orang Indramayu lalu mengundurkan diri. siapa nama anda?” Berkata Jaka Supetak: “Putra dari sebrang. Sang Putri cepat panah ditangkis. jangan cari gara-gara. Segera anak panah itu dilepaskan. lekaslah anda menurut bersama-samaku pulang ke negara Indramayu. dan Jaka Supetak berjalan ke darat hingga datang di Panguragan berbarengan dengan terdengarnya suara sorak-sorak gegap gempita. Diceritakan yang sedang menghadapi sayembara itu adalah putra Dalem Indramayu yang bernama Satria Indrakusuma memegang busur panah yang pada anak panahnya tertulis ditujukan kepada Sang Putri yang dirindui oleh hatiku tidak lain terbayang di hitam-hitamnya mataku hanya Ratna Pengurangan sebagai calon mustika yang senantiasa akan dipuja. Jaka Pakik berjalan ke selatan. Segera Jaka Supetak melihat sayembara lalu ia memasuki ke tengah balabar/batas tempat sayembara. Lalu Jaka Supetak mendekatinya.” . Sang Putri membalas melepaskan anak panah yang sudah cepat terlepas laksana kilat dan mengenai tubuh Satria Indrakusuma itu karenanya ia jatuh berguling di tanah dengan disuraki gemuruh. negara Cempa bawah angin. Jaka Supetak menadahi. berkata Sang Putri: “Hai satria. yang bernama Jaka Supetak dan Jaka Pekik dengan mengepalai wadyabala seratus orang siluman yang beruap manusia hendak menerobos negara menguasai se pulau Jawa. orang cantik ayu sayanglah kalau tidak jadi mustikannya kratonku. janganlah mati sebelum diketahui namanya. ia mengetahui tulisan yang ada di anak panah itu. Karena aku tersesat memasuki sayembara ini niscaya musuh tidak ada yang keluar hidup-hidup.” Sang Putri segera memegang busur panah dan anak panahnya dilepaskan. habiskanlah sekehendak anda terlebih dahulu. jatuhnya anak panah ke tubuh Jaka Supetak hanya seperti batu yang dilemparkan. namun datangnya tersesat di pantai Cirebon Kedua putra ini kebingungan lalu berjalan ke arah masing-masing untuk menyelidiki daerah baru itu. Sang Putri mencibirinya. Berkata Jaka Supetak sambil ketawa: “Hai sang putri mana panah yang paling ampuh habiskanlah prawira sakti anda kalau mau menguji calon suami anda.oleh padi merah lalu jatuh tengkurap.

baiklah Tuan bunuh hamba. Jati Purba namaku. Jaka Supetak malu sangat tidak bisa mengangkat mukanya diam mematung. hamba merasa Tuan itu beribu sakti perwira. ada manusia .” Segera Jaka Supetak sewadyabalanya terjun ke dalam sungai. Jeng Sunan Jati berkata: “Itulah buahnya orang yang mendahului karsa Ilahi jadi engkau adalah siluman beruap manusia engkau menyangka lebih perwira sakti mau merebut negara menguasai sepulau Jawa akan tetapi kenyataannya engkau baru oleh seorang perempuan saja sudah dikalahkan. baiklah turut ke Cirebon. Sang putri lalu lari merasa tidak kuat. Jeng Sunan Jati berkata: “Aku adalah Susuhunan Cirebon.” Berkata Jaka Supetak: “Oleh karena hamba lebih sangat malu sekali hamba seterusnya tidak bisa bercampur lagi dengan manusia. engkau janganlah menghadapi buruanku. ia berkutetan berusaha mengangkat tubuhnya sang putri namun sang putri tidak berubah dan tidak bergerak.” Jaka Supetak lalu menyembah sujud dengan berkata: “Siapakah Tuan itu. Jaka Supetak mengejarnya. namun hamba mohon izin bermukim di dalam sungai ini. jangan lagi membuka merebut senusa Jawa tapi oleh seorang perempuan saja engkau menyerah. terimalah keris ini. hamba merasa malu sekali tidak bisa bercampur lagi dengan sesama manusia. Panguragan telah kalah dalam pertandingan karenanya ia sudah dipastikan menjadi istriku. Segera ia berkata: “Hai Paman. namanya. Keris Jaka Supetak mengeluarkan api bersemburan. tapi sang putri tidak bisa terangkat bahkan tidak bergeming. Jaka Supetak sudah di hadapannya. bangunlah sebuah dukuh sekehendak engkau.” Keris lalu diterima.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Aku belum nyata bahwa Panguragan kalah dalam pertandingan. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Jati Purba yang sedang berdiri di pinggir sebuah sungai.” Jaka Supetak segera mengangkat sang putri. Jaka Supetak menangkis dengan sebuah keris saling tangkis menangkis. tidak antara lama datanglah Nyi Mas Gandasari mohon senjata pertolongan.Sang putri memegang senjata andalannya segera ditusukkan ke tubuh Jaka Supetak. Berkata: “Jeng Sunan: “Jaka Supetak sewadyabalanya seperti buaya. Jaka Supetak engkau belum waktunya mati. kalau bisa terangkat oleh engkau nyatalah ia jodoh engkau. oleh karena Jaka Supetak sangat dengan sekuat tenaga berusaha mengangkat sang putri hingga terkentut. Kerannya sang putri tertawa terbahak-bahak sambil mengejek.

jangan ngobrol saja. Diceritakan ada satria yang baru datang di pantai Cirebon membawa kitab dua perahu dari Negara Syam/Syria yang bernama Syarif Syam. sungguh Paduka itu adalah Awliya Allah hamba mohon berguru. Setelah selesai Ki Bentong lalu berkata: “Adapun ilmu .bermukim di dalam air. dan berkata: “Hai kaki masuklah anda terlebih dulu nanti aku mengikuti. yang jadi Imam ternyata adalah Ki Bentong.” Berkata Syarif Syam: “Ini waktu sudah Zhuhur. Termasyhur seterusnya sungai itu disebut sungai/kali Kapetakan. karena tadinya ada hawatif/suara tanpa rupa terdengar menyuruh mencari guru yang mursyid/guru petunjuk Awliya Kutub di Cirebon. lalu datang di kebun bayam. dan ia itulah yang bisa memotong rambutnya yang seperti kawat.” Berkata Ki Bentong: “Di bungbung/bambu ini yang terkait di pagar.” Berkata Ki Bentong: “Itu kitab dua perahu bagaimana membacanya. marilah Kaki Kita salat. di mana tempatnya salat. Syarif syam namaku mau berguru kepada Awliya Cirebon dan yang bisa memotong rambutku sungguh aku akan mengabdi kepadanya.” Segera Ki Bentong masuk ke dalam bung-bung sambil memanggil-manggil.” Ternyatalah Jaka Supetak sewadyabalanya salin rupa menjadi buaya. Pula aku membawa kitab dua perahu untuk mufakatkan perihal ilmu. bagi orang Jawa untuk mengerti syahadat saja itu sudah terhitung dhaif.” Ki Bentong lalu memberinya wejangan ilmu kezhahiran. Syarif Syam lalu turut makmum. Syarif Syam lalu mendarat di pantai Cirebon mau mencari Awliya Kutub meneruskan perjalanannya. silahkanlah anda masuk di dalam bung-bung. kegunaan perwira sakti.” Syarif Syam terheran-heran ada percaya ada tidak. di situlah tempatnya aku menjalankan salat. mungkin pula Waliyullah di situlah kediamannya dan anda dari mana. mohon sih ampun Dalem. Sebakdanya salat Syarif Syam lalu sujud menyembah sambil berkata: “Duhai Kyai. Segera Nyi Mas Gandasari pulang ke Pengurangan dan Sunan Jati lalu pulang ke kraton Pakungwati. Syarif Syam melihat bahwa bung-bung itu ternyata adalah sebuah pintu besar lalu ia masuk. siapa namanya dan apa keperluannya?” Syarif Syam menjawab: “Saya berasal dari negara Syam. dan semoga Paduka mau memotong rambut hamba. di dalamnya terlihatlah masjid yang lebih besar dan banyak orang yang turut makmum. Syarif Syam melihat ada seorang lelaki yang sedang membentong/memukul buah gayam untuk diambil isinya lalu memanggilnya: “Hai Kaki di mana tempatnya Awliya Cirebon dan ke mana arahnya negara/kota?” Berkata Syekh Bentong: “Di selatan arahnya negara Cirebon.

Segera orang dua puluh lima negara menyerbu dengan serempak. Kakek Tua lalu memegang rambutnya. namun saya minta melihatnya dari belakang. Kakek Tua lalu lenyap.” Berkata kakek Tua: “Wallahu a’lam tempatnya Sunan Cirebon dan anda dari mana.” Remagelung mengucap sandika. seyogya cepatlah datang ke Cirebon. majulah semuanya. Berkata Remagelung: “Hai kakek tua di mana tempatnya Sunan Cirebon. Ki Demang Citratanaya menubruk.” Remagelung berkata: “Sukalila/suka ridha kalau Kakek Tua mau memotongnya. Mas Behi maju ke depan ditampar lehernya bengkok. kalau menjadikan sukalilanya saya akan memotongnya. Sang Putri meleset ke atas sambil mendupak dan menampar. siapa namanya dan apa kemauannya?” Berkata Remagelung: “Putra Syam mau berguru kepada Sunan Cirebon yang bisa memotong rambutku sungguh-sungguh aku akan mengabdi kepadanya. rambutnya bergelantungan tidak dapat digelung karena kerasnya seperti kawat. Segera pangeran Sukalila meneruskan perjalanannya mencari Kakek Tua siang malam tidak ditemukan.” Segera Remagelung membelakanginya. segera rambut itu getas/rapuh putus berjatuhan di tanah. Sang Putri bertindak. Ki Dipati Rangkong hendak menangkap disambut dengan patrem lehernya terkulai mundur ditandu. Lalu ia terbang ke angkasa ke utara barat menujunya kemudian ia datang di Pengurangan. melihat orang-orang sedang bersayembara penuh berjubel sambil sorak-sorak gegap gempita. Ki Demang jungkir balik mundur dengan merangkak. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya. Remagelung kehilangan Kakek Tua. sebab mengingat tatkala getasnya/rapuhnya rambut Remagelung.” Berkata Kakek Tua: “Kasihan sekali orang Syam ini. Ki Nakhoda . karena suka ridha dipotong rambutnya dan jadi masyhur tempat itu seterusnya disebut Karanggetas. Antara lama kemudian Ramagelung berjumpa dengan seorang kakek tua. Ki Tumenggung memuluk disambut dengan patrem/ badik punggungnya sobek.kebatinan setauhidan Sunan Cirebon nanti yang memberi wejangan pula yang memotong rambut anda dan anda diberi nama Pangeran Remagelung. Lalu rambut itu ditanamnya di bawah pohon asem di tempat itu pula. Diceritakan Sang Ratna Panguragan sudah keluar berada di tengah-tengah medan laga di dalam balabar arena sayembara sambil menantang: “Hai wong salawe negara/orang dua puluh lima negara (maksudnya kepada orang-orang yang turut memasuki sayembara) janganlah maju seorangseorang. sudah gundul kepalanya lalu memakai dester hijau seterusnya disebut Pangeran Sukalila.

Sang Putri segera ditangkapnya tapi tidak tertangkap seperti menangkap bayangan. Jeng Pangeran menyusul dantang sudah di hadapannya.” Jeng Sunan Jati lalu melepas cincinnya. Jeng Putri masuk ke dalam bumi. Jeng Pangeran sudah ada di belakangnya. Jeng Pangeran merupa jadi lebah. tidak jadi melihat sabuk. Sang Putri mendahaki.” Berkata Pangeran Sukalila: “Sebaiknya anda menurut kepadaku untuk menghindari kemungkinan tewas.” Jeng Sunan Jati lalu melepaskannya. Jeng Pangeran hanya berdiri tidak bergeming sambil senyum. siapa saja yang bisa menangkap saya. tapi cincinnya aku mau lihat rupanya lebih bagus.” Segera Sang Putri melepas sarotama dan melepas senjata-senjata laksana hujan. anda perempuan siapa dikeroyok oleh orang dua puluh lima negara. Sang Putri lenyap memasuki bunga cempaka. Gandasari segera keluar dari cincin itu . ulahnya cekatan. sayang sekali oleh kecantikan anda yang punjul. Segera Pangeran Sukalila datang sudah di hadapan Ratna Panguragan. dikejar olehnya dari belakang.” Berkata Sang Putri: “Hai satria disayangkan sekali sombong perkataan anda. Gandasari sudah bersembunyi di sabuknya: “Hai Paman. pantas lebih seyogya anda kalau diperistri olehku.” Berkata Pangeran Sukalila: “Putra negara Syam. sedang berdiri di pintu gerbang bersama Ki Kuwu Cakrabuana. Berkata Pangeran Sukalila: “Hai Paman. “Hai Paman. kembang dihisap sarinya.hendak memeluk. jangan mati tanpa nama. rupanya anda prajurit perwira sakti. siapa anda yang turut masuk sayembara. jangan anda hendak membantu: “Nyi Mas Gandasari berkata: “Aku mengadakan sayembara. Lalu Pangeran Sukalila datanglah sudah di hadapan Jeng Sunan Jati. minggirlah dulu. Berkata Sang Putri: “Hai satria. Gandasari sudah keluar dari sabuk lalu bersembunyi di cincin kelingking yang kiri Sunan Jati. Orang dua puluh lima negara semuanya ketakutan. sabuk anda aku lihat. Jeng Pangeran menadahi sebuah panah pun tidak ada yang mempan. Sang Putri meleset ke angkasa bersembunyi di mega putih. Nakhoda mukanya rusak mundur dicikrak. aku minta sukanya. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Jati sedang membangun ketemenggungan dan masjid Jagabayan dan tempat penjagaan untuk orang-orang jaga/piket di suatu pintu kota pada tahun 1500 M. Tidak lama kemudian ada datangnya Nyi Mas Gandasari bersembunyi di bawah telapak kaki Sunan Jati. Segera Sang Putri mencabut aptrem ditusuk-tusukannya. lalu Sang Putri lari. kalau anda sungguh perwira sakti sediakanlah dada anda ditimpa sarotamaku/tumbakku. Seluruh penonton sorak-sorak gegap gempita.” Jeng Sunan Jati lalu minggir dari situ. Sukalila namaku. anda jangan berdiri di situ.. itu tandanya jodoh saya.

siapa nama anda. semoga Paduka suka mengaku kepada hamba dan menerimanya kitab seperahu dan pengiring hamba dari Syam semoga diterima dan pula hamba mohon dapat terlaksana dijodohkan dengan abdi Dalem yang bersama Gandasari. setelah datang di suatu tempat yang ada tumbuhan pohon kendal besar Pangeran Sukalila dan rombongan beristirahat merasa senang lalu membangun dukuh di sana seterusnya dukuh itu disebut dukuh Karangkendal dan Pangeran Sukalila seterusnya disebut Pangeran kaangkendal.” Menjawab Sang Ratna Gandasari: “Hamba menurut kehendak Paduka akan tetapi hamba mohon batin (mohon kelak nanti saya di akhirat). KI GEDENG PALUAMBA DAN PERANG RAJAGALUH . sungguh hamba bermaksud berguru kepada Paduka dan menghadap zhahir batin. Jati Purba namaku dan anda berasal dari mana. lebih seyogya kalau engkau jadi satu dengannya. di lahir hamba persaudaraan dengan Gandasari. 39. Paduka itu siapa hamba tidak mengetahui. Jeng Sunan Jati lalu diterjangnya berusaha menangkap Gandasari. oleh karena itulah anda supaya menerimanya.bersembunyi di belakang Jeng Sunan Jati. engkau aku tari/damai kalau bersuami menuruti permintaan Pangeran Sukalila. Adapun Pangeran Sukalila oleh karena sudah mendapat izin untuk membangun sebuah dukuh/pemukiman. sesungguhnya Paduka yang hamba cari. Pangeran Sukalila habis kesabarannya.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Aku adalah Sunan Cirebon. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya diiring oleh rombongannya dua puluh lima orang ke arah utara. Seterusnya dukuhnya itu tambah ramai turut dihuni oleh pendatang-pendatang baru.” Perjanjian Nyi Mas Gandasari dengan Pangeran Sukalila disaksikan oleh Ki Kuwu Cirebon pula oleh Sinuhun Jati Cirebon dan Pangeran Sukalila disuruh selanjutnya membangun dukuh sekehendaknya.” Jeng Sunan Jati sudah menerima apa yang dikatakan oleh Pangeran Sukalila lalu berkata: “Gandasari.” Berkata pangeran Sukalila: “Mematuhi kehendak Dalem Gandasari di batin istri hamba. Sukalila namanya memang Paduka dari awal yang dimaksud/dicari karena hamba hingga telah memasuki sayembara Panguragan. Pangeran Sukalila saksana/sekonyong-konyong lumpuh jatuh di hadapan Jeng Sunan Jati tidak bisa ubah dan bergerak.” Pangeran Sukalila menjawab: “Hamba adalah putra Syam.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Pangeran Sukalila dari kesediaannya Gandasari supaya minta bersuami nanti saja di batin. Pangeran Sukalila lalu bertobat sambil berkata: “Duhai Gusti mohon perampunan.

Dipati Sukawayana.Diceritakan di negara Kuningan Pangeran Dipati Awangga/Pangeran Dipati Kuningan dengan Dipati Anom. Dipati Cangkeang. mau ke Cirebon diutus supaya memberi tahu kepada Sunan Cirebon seyogya mau menghadap seba kepada Sang Prabu Rajagaluh dan diharuskan mengirim upeti setiap tahun. Diceritakan di tengah jalan Ki Gedeng Kemuning berjumpa dengan Ki Gedeng Paluamba.” Berkata pangeran Dipati Awangga: “Hai Demang Rajagaluh. Berkata Dipati Awangga: “Hai Ponggawa.” Ki Gedeng Paluamba dan Ki Gedeng Kemuning lalu meneruskan tujuannya masing-masing. karena syahadat itu anak gembala juga bisa. Adapun Pangeran Dipati Awangga mengendarai kuda bernama Winduhaji keturunan dari kuda sembrani meneruskan perjalanannya. Ki Gedeng Kemuning meneruskan perjalanannya ke arah utara mengiring Pangeran Dipati Awangga. siapa anda bertemu di jalan dan mau ke mana?” Berkata Ki Demang: “Saya adalah utusan Rajagaluh. pendapat si adik itu tidak ada gunanya. Demang Dipasara namanya. kalau tidak dipatuhi Sunan Cirebon boleh di bunuh dan dirampas kekayaannya. beritahulah kepada Gusti engkau tidak usah engkau bertemu dengan Kanjeng Rama Sunan Cirebon.” Berkata Gedeng Paluamba: “Si adik merantau di pegunungan mau bertapa. kalau suka dipersilakan datang di Kuningan. oleh karena telah turut sayembara putri di Penguragan berhasil tidak bahkan mendapat malu. kalau menghendaki perang akan digempar kotanya dibikin tanah hitam (dibumi hanguskan). san Dipati Semanunggal hendak menghadap kepada Jeng Sunan Jati Cirebon diiring oleh Ki Gedeng Kemuning. untunglah . Antara lama kemudian Dipati Awangga berjumpa di tengah jalan dengan Demang Rajagaluh serombongannya. makanya kakak percuma saja berguru kepada Sunan Cirebon. kakak janganlah terlanjur menghadap kepada Sunan Cirebon. Arta Kemuning dan para prajurit Kemuning sebanyak limaratus orang. Berkata Ki Gedeng Paluamba: “Kakak Gedeng Kemuning. Si Kaka mau menghadap kepada Sunan Cirebon dengan Pangeran Dipati Awangga dan adik Gedeng Paluamba mau ke mana. Gedeng Paluamba meneruskan perjalanannya ke arah selatan terus ke Kuningan. berguru kepada Sunan Cirebon hanya diberi wejangan syahadat selawat saja.” Berkata Gedeng Kemuning: “Karena si kakak sudah tuwa tidak menghendaki berpaling ke belakang. akan tetapi saya masih bingung karena belum menemukan kenyataannya negara Cirebon.

Syekh Maulana Magrib. Karangkendal. orang Kuningan gembar gembor menantang perang. Ki Gendeng Jatimerta. Orang Rajagaluh lari terbirit-birit tunggang langgang berebut dulu mendahului. Ki Demang dengan wadyabala Kuningan seterusnya lalu bertolak menyerbu Rajagaluh. Gedeng Tegal Gubug. Syekh Lemahabang dan Syekh Bentong. Dipati Semanunggal. Gedeng Embat Embat. sedang duduk di balai amparan dalam riungan pada Wali dan para murid sedang memberi wejangan kitab Qur’an mengurus jalannya peraturan serengat agama. Pangeran Rudamala.” Segera Ki Dipasara pulang kembali dengan tergesa-gesa sambil dibrengkolangi/dilempari oleh orang Kuningan. Diceritakan di Cirebon Kanjeng Susuhunan Jati sedang berada di gunung Jati. Gedeng Rawagatel.” Berkata . Syekh Majagung bersama Syekh Datuk Khafid. Sunan Bonang dengan Sunan Kali. Berkata Kanjeng Sunan Cirebon: “Selamat datang Jeng rayi Sunan Demak sebagaimana yang dikehendaki?” Berkata Kanjeng Sunan Demak: “Dengan menghadapnya rayi di hadapan Jeng Raka seyogya ada sih berkenan mohon diberi wejangan ilmu sejati. Abdullah Iman bersama Pangeran Kejaksaan. bersama Pangeran Dipati Awangga sudah di hadapannya pula Dipati Sokawayana. Pangeran Dipati Awangga yang memutuskan. Tumenggung Jagabaya. Gedeng Bayalangu. H. Buyut Kresek. Gedeng Ujung Gebang. Dipati Cangkwang.engkau bertemu denganku. Gedeng Sangkanuripi. Sunan Kudus. sebaiknya Sang Prabu Rajagaluh takluk kepada Cirebon. Ki Gedeng Babadan bersama Gedeng Bungko. orang Cirebon berani digempur atau menggempur. kalau tidak mau mematuhi niscaya akan ku serbu negaranya. Jeng Sunan Demak sudah duduk sejajar. Dipati Suranenggala. Adapun Demang Sing (Demang Kuningan) diperintah pulang untuk menyiap siagakan wadyabala Kuningan dengan membawa lengkap alat-alat perangnya. Dipati Awangga dan rombongan lalu mempercepat perjalanannya datang sudah di hadapan Jeng Sunan Cirebon. Buyut Kandang. pula Ki Gedeng Kemuning dan Kanjeng Susuhunan Demak baru saja datang diiring oleh bala tentara Demak tujuh ratus orang banyaknya. pula karena Jeng Raka mempunyai putra lelaki yang belum mempunyai istri supaya berkenan dijodohkan dengan anak perempuan si rayi karena sudah cukup waktunya seyogya dipertemukan Pangeran Jayalelana dan Bratalelana dimohon kedua-duanya. sekarang engkau lekaslah pulang. Gedeng Jungjang.

hamba telah mencari negara Cirebon sungguh belum ditemukan senantiasa tersesat ke arah utara. Sang Prabu duduk di atas permadani emas diseba oleh seluruh para Sanghyang. dari perkataan Dipati Kuningan. Para Dipati dan sentana. Diceritakan di kraton Rajagaluh Prabu Cakraningrat sedang mengadakan sidang di dalam bungsal agung.” Ada pun Sunan Cirebon lalu bertolak ke gunung Sembung. semuanya tidak memberi izin Pangeran Dipati Awangga segera keluar. Ki Demang segera mempercepat perjalanannya. Berkata Sang Prabu: “Hai Demang Dipasara. kalawaktu dulu engkau diutus. kalau sekiranya menghendaki kotanya. Dipati Kiban. sekarang engkau baru datang lekaslah beritahu Sunan Cirebon tunduk atau tidak?” Segera Ki Demang hatur beritahu: “Duhai Gusti.” Sedangnya sidang riungan itu saling berkata lalu disela oleh Pangeran Dipati Awangga segera menghaturkan kata: “Jeng Rama dengan hormat semoga jadi pengetahuan Dalem karena tadi sang putra sudah berjumpa utusan dari Rajagaluh diutus oleh Sang Prabu Rajagaluh bahwa Jeng Rama diperintah seba/menghadap pula diharuskan mengirim upeti tiap tahun. kalau menolak pasti Rajagaluh akan diserbu. mohon perampunan murka Dalem. Jeng Sunan Jati diam tidak berkata. mantri. hamba tidak berhasil. maka daripada itu sang putra mohon izin Dalem akan menyerbu untuk membawa kepala Sang Prabu Rajagaluh. Patih Bangong Dipasara sudah di hadapannya.Sunan Gunung Jati: “Si Raka menyetujui kehendak rayi kedua-dua anak Raka silahkan diterima. untuk memberi wejangan kepada Sunan Demak. di tengah jalan hamba berjumpa dengan Dipati Kuningan. Sanghyang Sutem. Diceritakan Pangeran Kuningan sudah mengumumkan kepada seluruh para wadyabala akan berangkat menyerbu Rajagaluh lalu memanggil Demak Singagati diutus terlebih dahulu ke Rajagaluh membawa sepucuk surat menyatakan perang. akan tetapi putra sudah memutuskan orang Cirebon bersedia melurug/menyerbu dan bersedia dilurug/diserbu dan Prabu Rajagaluh itu sekarang diminta dengan hormat takluk kepada Cirebon. kalau Jeng Ratna menolak dapat dirampas kekayaannya atau dipotong lehernya. hamba ditolak disuruh pulang. Sanghyang Gempol. kalau . para pembesar sudah menghadap semua. Sunan Kali berkata: “Orang Kuningan tidak mau merendah melancangi kemauan orang tua. Cirebon berani dilurug dan berani melurug dan Sang Prabu Rajagaluh aku minta dengan hormat menaklukkan kepada Cirebon supaya memeluk agama Islam. Prabu Wawangi.

Ki Kuwu menadahnya dengan tenang. masih untung bermusuhan denganku ketimbang dengan engkau walaupun engkau adalah Ratu akan tetapi masih jahiliyah hukumnya. Kodok mau disambar cepat menghilang masuk ke dalam bumi. Ki Kuwu lalu cepat merupa diri jadi ular putih. Cakrabuanna namaku.tidak mau takluk inilah Senapati Cirebon yang bernama Pangeran Dipati Awangga yang menanggung memotong lehernya orang Rajagaluh. berkata Sang Prabu: “Siapa orangnya yang berani mencampuri perkelahian orang lain?” Berkata Ki Kuwu: “Aku adalah Kuwu Cirebon. Ki Kuwu sudah berada di belakangnya Sang Prabu cepat meleset ke angkasa bersembunyi di mega hitam. Sang Prabu segera menghindar mencari medan yang lebar. Sang Prabu lalu turun ditangkap tidak tertangkap Sang Prabu lalu melenyapkan diri secepatnya. saling banting membanting saling lempar melempar karenanya tidak terdengar datang Ki Kuwu menangkap Sang Prabu dari belakang.” Berkata Sang Prabu: “Aku merasa terhina perang tanding dengan engkau. karena engkau adalah bukan tandinganku sebagai Ratu/Raja bertanding dengan orang yang menjual terasi. Ki Kuwu menadahi dengan cincin Ampal. Diceritakan Sang Prabu dengan Pangeran Karangkendal sedang berkelahi. seluruh anak-anak panah Aji Wisesa terhisap masuk ke dalam cincin Ampal. Lalu Sang Prabu merapatkan Aji Wisesa. Ki Kuwu menadahi. hati-hati hanya/cuma hari inilah engkau tahu kepada terang (akan segera terbunuh).” Berkata Ki Kuwu: “Tidak usah Sunan Jati. segera keris dituding oleh Ki Kuwu menjadi melengkung.” Berkata Sang Prabu: “Hai pabela (orang kampung pesisir) kalau engkau sungguh perwira sediakanlah dada engkau ditimpa trisula. Sang Prabu menghindar lalu merupa diri jadi kodok putih. Sang Prabu sangat heran sekali lalu mau ditangkap. Ki Kuwu berjumpa di hadapannya. ini walaupun orang kampung pesisir penjaul terasi namun aku sudah memelu agama Islam.” Segera trisula dilepaskan. bermaksud mengislamkan. sebaiknya anda turut. hanya tinggal suaranya saja: . Lalu Sang Prabu melepaskan senjata capa (pedang pendek). keluarlah anak panah laksana hujan.” 40. karena berkahnya badong batok dan cincin Ampal pula berderajat prajurit Aeliya senjata itu tidak mempan. Sang Prabu lalu menghunus keris. mana Sunan Cirebon. RAJAGALUH KALAH PERANG DAN DIGABUNGKAN KEPADA CIREBON PADA TAHUN 1528 M. tidak penasaran perang tanding denganku.

Berkata Jeng Sunan Cirebon: “Jadi jimat pusaka Rajagaluh itu ternyata adalah bentuk ulat seperti keris.” Saksana/sekonyogn-konyong jadi keris seterusnya disebut Kaki Kanta Naga. Karangkendal segera unjuk beritahu: “Bagaimana kehendak Dalem mengenai seluruh boyongan dan mereka yang sibelenggu dan para barisan dan rakyat Rajagaluh. emas picis.” Ki Kuwu mendengar suara itu lalu menjawab: “Kelak berani. sekarang berani. kandaga sudah diterimanya. Segera kandaga dibuka lalu terlihatlah patung ular emas itu. Ki Kuwu lalu menerangkan kejadian perang Rajagaluh dari awal hingga akhirnya dan menyerahkan tawanan dan mereka yang terbelenggu. Seluruh para wadyabala dan rakyat. mengadakan sidang para Wali dan Sultan Demak.” Berkata yang Sinuhun: “Seluruh mereka yang dibelenggu supaya sisuruh memeluk . Ki Arya mau lari. Ki Arya Mangkabumi menusuknya cepat ditangkap kerisnya putus. dari pedesaan dan sindangkasih bawahan Rajagaluh sudah pada menakluk. Tidak antara lama kemudian datanglah Ki Kuwu Cirebon dan Seluruh para wadyabala mengiringkan tawanan perang dan pembesar-pembesar Rajagaluh yang terbelenggu sudah berada di hadapannya. Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sedang duduk di Dalem Agung Gandasari telah datang si hdapannya sambil menghaturkan kandaga/guci emas yang berisi patung naga emas. pada waktu itulah harus berhati-hati.“Hai Cakrabuana. Jeng Sunan Cirebon lalu keluar dari Dalem Agung duduk di Sitiinggil. dunya berhala. para Gegedeng tidak ada yang berani menangkapnya. Limunding dan Palimanan sudak tunduk. kelak di akhir jaman pembalasanku kepada keturunan engkau dijajah orang. jand kembang dan perawan-perawannya dirampas semua menjadi tawanan. Lalu pada pulang selesailah sudah perang Bratayuda itu.” Pangeran Cakrabuana lalu pulang. Gedeng Bungko menari-nari sambil menyanyi-nyanyi sepanjang jalan sebagian mereka berbimbingan dan saling bergembira bergurau. berikut kerbau sapinya dan para putri. kapan saja berani. Segera Pangeran Karangkendal maju. Pangeran Karangkendal lalu merampasi seluruh kekayaan kraton Rajagaluh. Orang Cirebon sambil sorak-sorai mengiringkan para tawanan. Diceritakan Ki Arya Mangkabumi menghunus kerisnya mau mengamuk karena kepergok. wadyabala bawahan tidak berani mendekat. segera tertangkap lalu dibelenggu sudah. nanti berani. Adapun Sang Prabu Rajagaluh tidak tertangkap sudah mereka yang seperti siluman.

Jeng Sunan lalu memanggil Pangeran Karangkendal sambil memutuskan: “Anda hai karangkendal sekarang aku angkat kedudukan putra.” Lalu Ki Kuwu pulang beserta Pangeran Kuningan datang sudah di hadapan Jeng Sunan Jati. segera seluruh para putri dan janda kembang berikut para perawannya yang dibagikan kepada para Pinangeran dan para Gegedeng selesailah sudah Ki Kuwu memberi ganjaran kepada seluruh wadyabala yang turut berperang.agama Islam setelah mereka dibebaskan.” Ki Kuwu segera membagikan sebagai pemberian ganjaran kepada seluruh wadyabala Cirebon dan wadyabala Demak. Pangeran Kuningan terserimpet oleh pohon menjalar yang bernama Oyong karenanya ia jatuh ke tanah. Sang Kiban lalu merekayangan masuk ke dalam gunung Gundul sambil meninggalkan suara: “Hai Kuwu. Diceritakan yang sedang berkelahi Dipati Kiban dengan Pangeran Dipati Kuningan. INDRAMAYU. emas picis dunya berhala. nanti berani. dan cepat Sang Kiban menubruknya. PRABU INDRAWIJAYA/ARYA WIRALODRA MEMELUK AGAMA ISLAM SAMBIL MENYERAHKAN DAERAHNYA. Segera Ki Kuwu berkata: “Si Rama mohon izin hendak mencari putra dalem. KEPADA CIREBON (KEPADA SUNAN JATI CIREBON) PADA TAHUN 1528 MASEHI Pada suatu hari Sinuhun Jati sedang berada di gunung Jati.” Ki Kuwu lalu mohon pamit terus berangkat.” Seterusnya ia disebut dengan nama Oangeran Arya Karangkendal. naik gunung turun gunung. Jeng Pangeran tidak berdaya namun segera datanglah Ki Kuwu sambil menghunus Golok Cabang. kapan saja berani. sedangnya dorong mendorong banting membanting lempar melempar. Pangeran Kuningan. sekarang berani. hingga sekarang belum ada akhirnya.” Ki Kuwu segera menjawab: “Kelak berani. Berkata Jeng Sinuhun senyum: “Dipati Kuningan. 41. kerbau sapi sudah dibagikan semua. diberi nama Oangeran Arya. kelak pada jaman akhir keturunan engkau negaranya ada yang menjajah paa waktu itu adalah pembalasanku. disabetkan kepada lehernya Sang Kiban. kepalanya orang Rajagaluh sudah dibawa atau belum?” Mana belengguannya Sang Prabu Rajagaluh?” Berkata . dan seluruh tawanan Rama Kuwu yang membagikannya. untuk ia masih dapat tahan.

Antara lama kemudian datanglah Pangeran Kuningan berkendaraan kuda si Winduhaji diiring oleh seluruh para wadyabala Kuningan datang sudah di kali Kamal. kalau tidak ada Eyang Kuwu pasti Sang Putra menemui sengsara besar.” Segera Sang Prabu sendirian bertolak menuju kali Kamal memasang jimat Oyod Mingmang dan memasang jimat Lembu Tirta di dalam kali/sungai. kidang lalu mencebur ke dalam sungai. berkah Dalem sambil semuanya malu.” Lalu berkata Jeng Sunan: “Walaupun orang Dermayu itu jelek rupanya namun baik itikadnya. pasti periuk ini harus sering diisi. rusa) kuning di hadapan Sang Dipati. Berkata Sang Prabu: “Menurut kabar negara Indramayu akan diserbu oleh musuh. Berkata Ki Kuwu: “Ya nantinya harus banyak berasnya cuma piring panjang berkaki harus jangan diisi lagi. Sang Prabu lalu merupa diri jadi kidang/rusa kuning. tidak mau merendah. segera mohon pamit meninggalkan tempat itu. Sunan Kali mempersiapkan hidangan menanak nasi di periuk besi asapnya memasuki gua.” Pangeran Kuningan tidak mematuhi. Berkata Sunan Kali: “Orang Kuningan tanah tinggi. seluruh para pembesar dan Patih Danujaya sudah berada di hadapannya.” Diceritakan San gPrabu Dermayu bernama Prabu Indrawijaya sedang diseba/mengadakan sidang. Jeng Sunan Jati menamengkan tangannya dari asap itu sambil menoleh. Segera Pangeran Kuningan terjun ke dalam sungai. perwira). Lalu periuk itu kosong berkelontangan.Pangeran Kuningan: “Duhai Rama. Berkata Sunan Kali: “Bagaimana sampeyan Dalem berlaku demikian. akan tetapi itu sudah condong/berhasrat untuk menakluk pada Sunan Cirebon. . Lalu kidang hendak ditangkapnya tetapi menghindar. Tidak lama lalu ada datangnya seekor kidang (kijang. nasi ini adalah untuk menjamu tamu Dalem. karena negara Dermayu belum menakluk.” Ternyata periuk itu nasinya habis. tidak patuh kepada orang tua. orang Kuningan ramai-ramai mengepungnya. kalau diisi pasti selamanya harus diisi. aku akan mencoba Pangeran Kuningan. ialah Dipati Kuningan dengan barisannya akan datang sekarang. sekarang putra Dalem mohon izin. tetapi putra Dalem masih sanggup jadi Senapati (hulubalang.” Pangeran Kuningan sudah berada di luar mengumumkan kepada seluruh wadyabala Kuningan maju jalan ke Dermayu dengan berkendaraan kuda si Winduhaji. siap siagakanlah penjaga keamanan praja Indramayu. apakah tidak sedang kepada baunya nasi.

” Berkata Pangeran Kuningan: “Dipati Awangga namanya putra Nata/Raja Cirebon. Tidak lama lalu Dipati Kuningan datang. kalau tidak ada kakek tua di pulau Menyawak pasti putra Dalem mati di dalam laut. alup) Indramayu. segera hatur beritahu: “Berkah Dalem selamat sehat. Barisan Kuningan lekas dipanggil siap untuk terus maju jalan menuju praja Indramayu. Jeng Pangeran sudah merasa telah datang di alun-alun (lapangan. para pembesat dan Dalem Indramayu sudah sudah dihadapannya sedang menyatakan memeluk agama Islam dan menyerahkan praja Indramayu kepada Sunan Jati Purba Cirebon. Berkata kakek tua: “Hai engkau siap dan apa maksud engkau hingga timbul tenggelam di laut. bermaksud menaklukkan orang Indramayu agar memeluk agama Islam. lekaslah engkau pulang. sebaiknya engkau bertobatlah. Orang Kuningan pada bingung. lalu masuk ke dalam kraton Pakungwati. kalau ada karya usapkanlah berjuta-juta. berkat wataknya jimat Oyod Mingmang mereka tidak datang di alun-alun Indramayu. Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sedang bersidang di Sittinggil. maka daripada itu mohon sih pertolongannya Kyai.” Berkata kakek tua: “Terimalah jimat cupu (botol kecil. Berkata Jeng Sunan Jati sambil senyum: “Dipati Kuningan. mereka mau pulang putar-putar balik lagi di tempat semula lalu Jeng Pangeran datang.” Segera Sang Pageran mohon pamit meneruskan perjalanan mengendarai jukung datang sudah di kali Kamal. Para Wali dan Sultan Demak dan para Pinangeran.sekonyong-konyong kidang lenyap.” Dipati Awangga sangat malu sekali. kotak kecil) yang berisi Tirta Bata. pakailah ini jukung/perahu kecil datanglah lagi tempat engkau semula. karena sudah dua kali tidak berhasil mendapat karya. wadyabala Kuningan mematuhi. Jeng Pangeran ditimpa oleh banjir besar hanyut terbawa air banjir hingga ke laut lepas datang di pulau Menyawak. akan tetapi sebentulnya mereka telah datang di alun-alun Cirebon karenanya Jeng Pangeran Kuningan jadi terheran-heran. Tak lama lalu datang seorang kakek tua menolong Jeng Pangeran sudah didaratkan di pulau Menyawak. Berkata pengeran Kuningan: “Akan tetapi putra Dalem . mana tawanan orang Indramayu dan mana belengguannya?” Jeng Pangeran Kuningan semuanya mali.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Dalem Indramayu sudah berada memeluk agama Islam.

Sukapura dan Krawang bermaksud menakluk dan memeluk agama Islam. pula seluruh para Wali dan Rama Sri Mangana semoga mau merubung (mengelilingi. Bratelelana bertemu dengan putra si rayi bernama Ratu Pulung. Jeng Sunan Jati lalu membaca du’a tolah bala karenanya sekonyong-konyong wadyabala ciptaan itu lenyap.masih sanggup jadi Senapati. mohon izin untuk menaklukkan para Raja di lain pulau atau para Dipati dan para pembesar yang belum Islam. dimohon raka datangnya di Demak.” Segera Pangeran Kuningan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kerikil dan merang lalu merang dipotong-potong lalu ditetesinya dengan jimat cupu tirta itu. Ratu Nyawa. TELAGA MENYERAH KEPADA CIREBON PADA TAHUN 1529 MASEHI Lalu berkata Sultan Demak: “Raka Sunan Jati si rayi/adik mohon izin pulang dan bulan depan nikahnya putra Dalem kedua-duanya. Segera pulang .” Menjawab Pangeran Kuningan sambil menyembah: “ Hamba mempunyai jimat cupu tirta bala dari pulau Menyawak. menjadikan geger orang Cirebon ada wadyabala datangnya sekonyong-konyong. wataknya kalau diteteskan kepada kerikil atau merang sekonyong-konyong akan menjadi wadyabala berpuluh ribu berjuta-juta.” Dipati Awangga Dipati Kuningan bungkam seribu basa semuanya sedih. segera mereka diberi wejangan sudah. para Dipati dan para pembesar insya Allah di kawasan tanah Pasundan akan pada takluk sendiri dan engkau apakah yang masih khawatir. Lalu Ki Kuwu dipersilahkan setelah mereka membaca syahadat memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Rasulullah s. kembali kepada asalnya.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Tidak usah ditaklukkan lagi. 42. Pangeran Jayalelana. ternyata sekonyong-konyong ada kejadian berupa wadyabala berpuluhpuluh ribu berjuta-juta hingga penuh berjejal di laun-alun dan di kota Cirebon. jadi tidak ada gunanya yang demikian itu bagi prajurit Awliya.w. mengerumuni). Berkata Jeng Sunan Cirebon: “Dipati Awangga.a. Tidak lama kemudian datanglah para pembesar dan para Dipati dari tanah Pasundan. kalau sampeyan Dalem kurang percaya marilah melihatnya abdi Dalem mencobanya. telah aku bacakan du’a tolak bala karenanya wadyabala ciptaan itu lenyap.” Jeng Sunan Jati menyanggupinya Sultan Demak lalu pamit.

Diceritakan Sunan Jati pada sekali waktu mengadakan riungan di Sittinggil bersama sang putra Jayalelana. Orang Kuningan pada pulang.” Tidak lama lalu ada datangnya seorang santri turut memandikan jenazah lalu jenazah mengecil. Bratalelana dan Syekh Magrib. Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Plumbon dipastikan gugur ilmunya. Dipati Awangga. para murid bubar. Berkata Sunan Jati: “Rama Sri Mangana. sebakdanya lalu dikubur. Syekh Majagung pula Ki Kuwu Cirebon dan Gedeng Bungko dan Gedeng Jatimerta. yang mengerti berhati-hati. Baunya hilang pula bau yang anyir busuk lalu gemilang cahayanya jenazah itu lagi berbau harum mewangi. ternyata jenazah lenyap tinggal bau harumnya saja Gedeng Plumbon lebih sangat menyesal sekali. hormatilah sang mertua. kurang baik orang yang senantiasa bangun siang dan tidur pada waktu Subuh itu apes/sial wataknya. mengabdilah yang patuh. tapi jangan melewati waktu Ashar itu kurang baik pribawanya. aku memberi ingat. jenazahnya kakak Gedeng Kemuning membengkak seperti bangkai.” Kanjeng Sunan berkata pula: “Putraku Jayalelana. Gedeng Plumbon bertobat sujud merengek-rengek. Ki Gedeng Plumbon segera menekuni puja tobat kepada Allah. Syekh Lemahabang. kalau masih ingin tidur diperboleh tidur lagi pada waktu bakda Zhuhur. segera jenazah disalatkan. cara) (laku palampahan = hadiah seorang jajaka kepada kekasihnya) engkau dan hati-hati janganlah engkau meringankan ibadah beramallah kebajikan dan pada berbaiklah dengan kawan-kawan engkau semua dan hati-hati janganlah engkau mambanyakkan makan tidur. hair ini dipersilahkan berangkat kecuali Pangeran Kuningan dan Dipati Suranenggala untuk tunggu kraton. ini tandanya murid Cirebon kebanyakan syahadat selawat. Syekh Bentong. yang benar laku lampah (jalan. sebab mencari Guru Wallahu a’lam kehendak Allah. jadi seterusnya disebut nama Ki Gedeng Cigugur karena sudah gugur ilmunya. kecuali Pangeran Dipati Awangga tertinggal dan tidak pulang. Diceritakan Gedeng Kemuning setelah datang dari Cirebon lalu jatuh sakit tidak lama kemudian lalu wafat. Patih Suranenggala. Gedeng Plumbon turut memandikan sambil berkata: “Hai orang Kuningan.dengan bala tentaranya pula diiring oleh Sunan Kalijaga. Karenanya Gedeng Plumbon terheran-heran. Orang Kuningan pada siap memandikan jenazahnya. tak lama lalu datanglah Sunan Jati Purba. Bratalelana. mantaplah tobat engkau. janganlah oleh karena . peganglah sebagai peringatan untuk selama-lamanya.” Jeng Sunan lalu pulang. karena sudah waktunya bertolak ke Demak untuk pernikahannya sang cucu Jayalelana dan Bratalelana. baunya busuk ke mana-mana. nanti kalau engkau sudah berada di Demak.

Gedeng Bungko pula seluruh lamaran sudah diterimakan dan setelah datang pada malam Juma. sekarang umumkanlah kepada para abdi Dalem untuk membikin riasan dan menyediakan penginapan yang layak dan semua tetabuhan dan riasan yang indah dan mengadakan baris upacara yang lengkap dan kendaraan yang sentosa perjalanannya orang yang mempunyai karya. Syekh Lenahabang. Sebakdanya nikah penganten lalu diarak berkeliling di alunalun Demak.beranggapan engkau adalah berkedudukan sebagai putra mertua jadi Ratu.” Kiyan Patih berhatur sandika. kedua penganten diiring oleh Syekh Lemahabang dan Syekh Magribi. Ratu Pulung dan Ratu Nyawa dapat jodoh dengan putra Cirebon. Dengan keramatnya Sunan Jati arak-arakan penganten tidak terasa berkeliling hingga datang di praja Telaga.” Jeng Sunan mufakati lalu penganten nikah. Sultan Demak pribadi yang menukahkan. Berkata Sunan Kali: “Mas kawinnya Pangeran Jayalelana adalah potong dakar. Berkata Sunan Kali: “Oleh karena berbesan Ratu Awliya apakah mas kawinnya. Diceritakan Yang Sinuhun Kanjeng Sultan Demak. sedang mengadakan riungan di Sittinggil bersama patih Danureja dan Tumenggung Kertanegara. Syekh Bentong. Ki Tumenggung lalu mengumumkan kepada semua para abdi Dalem. Syekh Majagung. Berkata Sultan Demak: “Patih Danureja karena aku pekan depan akan menikahkan putraku. Gedeng Bungko dan yang membawa lamaran meron yang layak sebagai lamarannya raja. Syekh Bentong dan Pangeran Cakrabuana dan Gedeng Jatimerta. pengobengnya sudak siap bekerja. Segera Jeng Sunan bertolak ke Demak bersama sang putra berdua diiring oleh Ki Kuwu Cirebon dan Syekh Magrib.” Sang Purba berdua sudah menerima dawuhnya (nasehat) Sang Rama. hati-hati jangalah ada kekurangan. yang ingat selamanya orang tua. Syekh Majagung. segera bertindak. pula Gedeng Jatimerta. adapun mas kawinnya Pangeran Bratalelana adalah perang sabil. berhatur akan mematuhinya. warna-warni riasan sudah diselenggarakan semua tetabuhan sekati.” .ah kedua penganten lalu nikah. Ki Panghulu sekaumnya. lokananra dan polog selendro dan blangbang Susuhanan Cirebon. namun seluruh orang yang mengiring masih merasa berada di alun-alun Demak. blandongan.” Sunan Cirebon dan Sultan Demak menyerahkan perihal mas kawinnya sebagaimana yang jadi layaknya.

Ki Tumenggung Kertanegara lari jatuh bangun kena pribawanya tumbak menyala-nyala bagaikan api. Ki Demang segera mengamuk.” Lalu menjawab Sang Prabu Telaga: “Hamba mau masuk Islam. sekarang mau aku Islamkannya. Arya Salingsingan turut mengiring. seorangpun tidaj ada yang berani dekat. Orang Demak pada bubar. Ki Demang berkata tetapi seorang pun tidak ada yang menjawab (oleh karena tidak mengerti bahasa Sunda). Arya Salingsingan segera jatuh lumpuh di hadapan Jeng Sunan.” Segera Sunan Jati menangkap Sunan Telaga dari dalam bumi. Berkata Jeng Sunan: “Rama anda di mana. ini bukan Rama anda Sunan Pucukumun yang aku tangkap dan mau memeluk agama Islam atau tidak. pengiringnya tidak wajar memakai upacaranya Ratu membikin kaget kepada pembesar Telaga. Adapun Ratu Mendapa saudari muda Sunan Telaga melolos dari kraton mau bertapa. Prabu Pucukumun. memohon ampun seribu ampun. Rama anda menghilang sekarang ada di mana?” Menajwab Arya Salingsinga: “Abdi Dalem tidak mengetahui persembunyiannya Rama Prabu. dapat izin dari siapa?” Orang Demak menjadi heran sekali pada bingung hatinya karena berada di tanah Pasundan. Berkata Jeng Sunan: “Arya Sulingsingan. lalu Jeng Pangeran mengamuk. masyarakat Telaga lalu masuk Islam.” Arya Salingsingan berkata: “Juga abdi Dalem menghadap lahir batin. Tidak lama lalu datanglah Sunan Jati Purba. Orang Demak jadi geger. menghaturkan tobat.” Jeng Sunan segera memasuki kraton. Segera Sang Putri Cayadi dinikahkan dengan Pangeran Jayalelana. seterusnya disebut Indang Leuwih Panas (Tanduran gagang) di Batu .” Jeng Sunan segera menerima tumbak dan keris (lambang negara Telaga) dan putri itu. Segera Tumenggung Kertanegara maju. semoga diterima tumbak Kaki Cuntangbarang. lalu berkata: “Hai Arya Salingsingan. menjadikan onar. menghadap lahir batin dan hamba menghaturkan keris pusaka yang bernama Kaki Naga Dawa dan anak perempuan hamba Nhay Candi. panas yang pribawa. Ki Demang Telaga ditusuk lambungnya robek. Prabu Pucukumun segera bersembunyi di dalam bumi.Diceritakan orang praja Telaga geger panik Ki Demang Telaga menghadapi sambil mengucap: “Hai penganten siapa berkeliling di alun-alun Telaga.” Menjawab Sang Salingsingan: “Adapun Jeng Rama Prabu ada si dalam pura/kraton semoga berkenan sampeyang Dalem datang ke dalam pura. Jeng Sunan Jati bersama Pangeran Jayalelana dan arak-arakan penganten lalu pulang kembali ke Demak. Pangeran Arya Salingsingan (putra mahkota Telaga) keluar dari kraton Telaga sambil memegang tumbak kaki Cuntangbarang karena Ki Demang digegerkan mati.

dan Syekh Majagung. Sunan Kali.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah tidak warna tidak rupa tidak arah tidak tempat tidak bahasa tidak suara wajib adanya muhal (tidak mungkin) tiadanya. Berkata Syekh Lemahabang: “Marilah kawan pada kita selesaikan membicarakan ilmu yang samapi terang.” Tidak lama lalu datanglah Sultan Demak dan Ki Patih beserta Ki Penghulu. Lalu para Wali segera pada bubar. 43. kenapa kawan pada memakai tedeng. Syekh Lemahabang. para Wali mufakat karena di antara kawan. Lalu berkata Sunan Purba: “Tidak ada lain Pangeran/Ilahi melainkan Allah.” Berkata Sunan Kudus: “Barangsiapa tahu kepada tubuhnya. Segera para Wali meneruskan mengadakan riungan di gunung Ceremai datang sudah dan berkumpul.” Berkata Sunan Giri: “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas.” Berkata Syekh Bentong: “Allah itu adalah bukan di sana sini ya inilah. dan Sunan Giri. Syekh Magribi.” Berkata Sunan Kali: “Barangsiapa mencari Pangeran maka lain dari tubuhnya jadi yang lebih jauh.” Berkata Syekh Lemahabang: “Allah itu adalah keadaanku. tapi tidak dengan tedeng aling-aling. Adapun para Wali sedang mengadakan riungan di dalam masjid Demak.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah bukan di sana bukan itu tetapi ini. oleh karena Ratu Mendapa tidak mau memeluk agama Islam. Sunan Cirebon. MEMBICARAKAN ILMU TANPA TEDENG ALING-ALING Diceritakan di Demak kedua pasang penganten sudah dijejerkan di pelamina.” Disetujui oleh seluruh para Wali. Syekh Bentong.” Berkata Sunan Kali: “Allah itu adalah umpamanya Dalang melakinkan wayang.” Berkata Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adalah Allah itu tidak bersekutu dengan sesama baharu. tapi janganlah memakai kedok/topeng. maka tahu kepada Pangerannya.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah sirna pada ada. Berkata Syekh Magribi: “Allah itu adalah tidak sebadan tidak .” Berkata Sunan Giri: “Tidak ada lainnya yang wujud melainkan Allah. Lalu berkata Sunan Jati: “Adapun Allah itu adalah Yang Wujud Hak. kemudian tamu-tamu undangan berturut-turut sudah bubar. Sunan Bonang. yang nantinya nafsu pembalasan dendamnya menjelma jadi penjajah Belanda. Sunan Kudus. sambil membawa berkatnya masing-masing. dekatnya tanpa rabaan.Ruyuk.” Syekh Magribi berkata: “Allah itu adalah meliputi kepada segala sesuatu. seluruh para Wali sanga berembug untuk bermusyawarah ilmu membuka yang tersembunyi.

baik kawan kita undangnya. “Tidak ada Allah.” Berkata Sunan Jati. ialah Syekh Lemahabang yang berdiam di rumahnya. lalu pamit dating sudah di hadapan Syekh Lemahabang. “Hamba diutus oleh rayi/adik Paduka Sunan Kali. tetapi Sang rama janganlah terlanjur bahasa kurang seyogya menurut hukum. datang sudah di hadapan Syekh Lemahabang. sudah ditunggu oleh para saudara Dalem.” Lalu Jeng Sunan Jati menghendaki mengadakan riungan di dalam masjid Agung Cirebon. “Anna/Sesungguhnya aku Hak illallah pun tiada wujud dua. Berkata Sunan Jati. semoga berkenan datang sudah ditunggu oleh para Wali.” Berkata Syekh Lemahabang. Segera Ki Khatim hatur bertahu. tidaklah membicarakan ilmu telah saling berjanji membuka yang tersembunyi. 44. karena ucapanya. tunggal tan tunggal. tetapi Syekh Lemahabang yang ada. “Anda kembalilah lagi undanglah Allah.” Berkata Sunan Kudus: “Memang benar. nanti Allah sekarang Allah.” Ki Khatim segera pamit. hanya seorang Wali yang tidak mau turut berkumpul di dalam masjid.” . lekaslah pulang anda Khatim. “Kawan kita kurang seorang. PENGADILAN WALI SANGA JAWADWIPA DI DALAM MASJID AGUNG CIREBON Segera para Wali bubar seterusnya dating sudah di dalam masjid Agung Cirebon. tetap zhahir batin Allah kenapa kawan masih memakai gegedong/tedeng aling-aling. dan masakah Allah kena diungang oleh anda. “Ya Allah. segera ia hatur bertahu.” Ki Khatim lalu pamit. anda aku utus untuk mengaundang raka Syekh Lemahabang supaya lekas dating bersama anda. Segera Ki Khatim berhatur tahu. semoga lekas sekarang juga. “Adapun raka dalem Syekh Lamahabang tidak mau dating. Syekh Lemahabang yang berselisih paham munkin menjadi hati. supaya paduka berkenan datang di masjid Agung. “Berkata Syekh Lamahabang.” Berkata Syekh Lemahabang.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah Asma nyatanya yang ada. “Berkata Sunan Kali. “Tidak ada Syekh Lemahabang tapi Allah yagn ada.” Berkata Syekh Lemahabang: “Hukum siapa yang punya kenapa kawan tadinya pada berjanji. para Wali menyetujuinya. tidak ada Syekh Lemahabang tapi Allah yang ada. Syekh Lemahabang seyogya teriring.” Ki Khatim berhatur sandika. “Syekh Khatim. datang sudah di hadapan para Wali.senyawa.

apakah tidak takut kepada hukum?” Syekh Lemahabang menjawab: “Hukum apa yang aku takuti.” Para Wali mufakat.” Syekh Lemahabang lalu turut bersama para Wali yang empat itu datang sudah di hadapan Sunan Purba di dalam masjid Agung.” Berkata Sunan Kudus: “Memang benar perkataan sang rama. tergesa-gesa kedatanganya seperti ada perlu yang penting.” Berkata Syekh Bentong: “Allah itu tidak dekat tidak jauh.” Segera Syekh Lemahabang: “Allah itu adalah nyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam zhahir batin.” . “Para saudaraempat orang seyogya mau menjemput Syekh Lemahabang supaya bias teriring.Ki Khatim segera pamit datang sudah di hadapan para Wali. Syekh Bentong dan Sunan Kudus. tetapi janganlah pada memakai hijab. “Berkata Sunan Purba. Syekh Majagung. tidak ada Allah tetapi Syekh Lemahabang yagn ada.” Dijawab. ialah Syekh Magribi. “Menurut perkataan raka dalem.” Segera mereka pamit datang sudah di hadapan .” Berkata Sunan Jati. kawan masih memakai gegedeng. Berkata Syekh Lemahabang.” Berkata Syekh Lemahabang: “Tidak merasa terlanjur bahasa.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah lebih ketimbang hitamnya mata.” Berkata Syekh Magribi. dan masakah Allah kena diundang oleh anda. sekecap pun tidak. “Dari tadi juga sang raka mohon antar kawan untuk membuka i’tikad sejatinya. ia segera hatur bertahu.” Berkata Sunan Kali: “Allah itu adalah mengganti tidak mengganti tapi menggati kepadaNya. tetapi janganlah terlanjur bahasa. sebab menyatakan adanya Allah nanti Allah sekarang Allah. rayi diundang berkumpul di dalam masjid Agung selekasnya sekarang jura bersama-sama dengan kami Wali empat orang.” Berkata Sunan Bonang: “Sekarang kawan pada kita mulai lagi membicarakan membuka i’tikad sejati. “Selamat datang para saudara.” Berkata Syekh Magribi: “Allah itu adalah tauhid tan tunggal. Berkata Syekh Lemahabang sambil ketawa. Segera Sunan Jati berkata: “Allah itu adalah sah Dzat ShifatNya. bersih tidak kecampuran.” Berkata Sunan Giri: “Allah itu adalah bingung karena mudahnya.” Berkata Sunan Kudus: “Sang Rama senantiasa mengumbar bahasa. “Sang Raka diutus oleh Sunan Purba. “Bagaimana kehendak Paduka karena bertubi-tubi datangnya undangan itu.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah tidak bersama tidak di luar tidak di dalam. “Adapun sang raka berkali-kali diundang karena kosong kurang seorang untuk membicarakan ilmu membuka yang tersembunyi. walaupun sibunuh sang Rama tameng dada i’tikad yang abadi tidak boleh berubah.

Sunan Kudus segera berkata: “Kanjeng Rama Sunan Jati. Segera usungan jenazah dibawa menyebrang sebuah sungai ke sebelah kiri jalan ke arah utara.” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Ayolah SunanKudus tusuklah aku lagi.” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Sunan Kudus.” Sunan Jati segera memberikan keris Kaki Kanta Naga lalu Sunan Kudus menerima sasmitanya. Segera Syekh Lemahabang ditusuk bergenjrang tidak mempan. sebakdanya disucikan lalu disalatkan lalu jenazahnya dibawa untuk dikuburkan.” Segera Syekh lemahabang menjadi kecil sekuncup kembang melati. tapi di tengah jalan digubed/dihalangi dua orang penakawan Syekh Lemahabang sambil berkata: “Hamba Allah besar. yang seorangnya lagi hamba Allah kecil. Syekh Lemahabang hingga utama mengaku Rabbil a’lamin. Lalu diperintahkan selekasnya jenazah (????? Sekuncup kembang melati itu?) Syekh Lemahabang disucikan. kelak pada akhir jaman ada kebau bule mata kucing yang mendarat dari laut itulah yang akan menumpas/menjajah turunannya. seteursnya jenazah itu dikubur cuma sebesar kuncup kembang melati baunya harum mewangi.” Segera kedua penakawan itu dibunuh pula. Para Wali berkata sambil ketawa: “Ada Allah keluar darah putih seperti cacing. dan ada suara yang terdengar mengawang: “Sunan Jati dan para Wali. .” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Ayolah Sunan Kudus tusuklah aku lagi. ayo tusuklah aku lagi.” Lalu ditusuk lagi Syekh Lemahabang mengeluarkan darah putih.” Berkata Sunan Jati: “Ini ada suara yang tidak enak akan menjadi kenyataan pada akhitnya. lalu dikubur di samping jalan sebelah kanan dari arah Cirebon seterusnya disebut Astana gobed karena mengubed/menghalang halangi lajunya usungan jenazah.” Syekh Lemahabang lalu memperlihatkan diri terlentang seperti orang mati.” Lalu ia ditusuk lagi segera Syekh Lemahabang menghilang tidak terlihat wujudnya. Berkata Para Wali sambil bersorak-sorak: “Ada Allah matinya seperti kayu. seterusnya jadi disebut Astana Pamlaten karena jenazah Syekh Lemahabang cuma sebasar kuncup kembang melati (sekarang kuburannya masih ada). bagaimana hukumnya orang yang mengaku Allah. Para Wali berkata sambil bersorak: “Ada Allah keluar darah merah seperti kambing. para Wali pada ketawa: “Ada Allah keras seperti batu.” Lalu Syekh Lemahabang ditusuk lagi hingga dalam karis memasuki tubuhnya karenanya keluar darah merah.” lalu membaca du’a supaya anak cucunya (rakyat Cirebon. lalu di suatu tempat usungan jenazah itu berhenti. Para Wali berkata dambil ketawa: Ada Allah wujudlah hilang seperti setan. Indonesia pada umumnya) seterusnya selamat sehat walunya mulya terhindar daripanca bahaya. pulau Jawa.

hati-hati kalian janganlah usil. Kaki Langlang Kewu. Antara satu tahun kemudian selesailah sudah. karena teringat kepada suaranya kendi pertula kalawaktu diminum airnya. Kumendung. (Para Mpu setelahnya diperintah lagi untuk membikin beberapa duplikatnya keris-keris itu). Jeng Sunan lalu memerintahkan kepada para Mpu tujuh disuruh membikin keris tujuh buah. keirs dapur jalak. Kaki Kalabrama. ialah kelak di akhir zaman anak cucu Paduka ada yang menjajah hingga negaranya terjajah. sebab yang bisa menyalahkan salah seorang Wali itu bukan bersengketa akan tetapi mengadakan kesenangan. SUNAN JATI PURBA SALAT HAJAT MENDU’AKAN ANAK CUCU/RAKYAT INDONESIA Adapun Sunan Cirebon sudah bersemayam di dalam kraton Pakungwati akan tetapi tidak merasa wnak hatinya. besinya Malela Gagak. merasa perkataan Syekh Lemahabang itu sidik (benar). Kaki Kunci. kalawaktu wafatnya Syekh Lemahabang (menurut satu kaol (riwayat) lain kejadian ini adalah pada tahun 1506 M. lalu beliau keluar sambil membawa keris itu dan siberi nama Kaki Jimat Pasalatan. masingmasing diberi nama Kaki Panuding. jadi tujuh buah keris. sebab belum datang kepada derajatnya Awliya. janganlah kalian berani menyalahkan i’tikadnya para Wali mungkin kalian terkena sesiku. Samber Nyawa dan Panuwek.” Lalu seluruh yang bercakap-cakap itu pada bungkam.” Menjawab Ki Khatim: “Apakah Syekh Lemahabang itu salah i’tikadnya hingga sampai dihukum mati?” Ki Kuwu Cakrabuana lalu menoleh ke belakang sambil membegis (memperingatkan dengan keras): “Hai Penghulu dan engkau Khatim. walaupun aku tidak berani. Segera Jeng Sunan salat hajat memohon kelak anak cucunya/rakyat Indinesia semoga merdeka kembali jangan sampai ditimpa sengsara besar. Segera para Mpu pada melaksanakan. 45. Sebakdanya salat lalu ada sebuah keris terletak di pangkuan Jeng Sunan.Seluruh para Wali pengiring setelah menguburkannya lalu pada pulang ke rumahnya masing-masing pada hari Rabu pertama bulan Sapar tahun 1529 M.) Berkata Penghulu Kalamuddin: “Biarpun Wali kalau salah i’tikadnya pasti dihukum mati. .

46. Sunan Kali lalu berhatur kata: “Harap menjadi tahu Dalem karena anak-anak gembala kerbau dua puluh satu orang banyaknya penakawan Syekh Lemahabang sekarang menangis siang malam menjeritjerit karena tidak ada yang mengurus mungkin lama kelamaan bisa menjadi gara-gara kurang baik kepada negara Dalem. para modin. PANGERAN SEDANGLAUTAN DIBUNUH OLEH BAJAK LAUT. PANGERAN PASEH MLEBU/MASUK GURU KEPADA SUNAN JATI PURBA.” Jeng Sunan Kali lalu keluar mengumumkan kepada anak-anak gembala kerbau itu. apabila pada hari Rabu bulan Sapar ada anak-anak gembala berkeliling memuji selamat panjang umur itu pada bertawurlah uang sekuasanya atau nasi atau spem.” Ki Penghulu dan Ki Patih segera mengumumkan sebagaimana diperintahkannya oleh Kanjeng Gusti. apabila pada hari Jum’ah ada anak-anak gembala datang supaya seluruh kalau kuasa jangan menolak. itu anak-anak gembala seyogya diurus sandang pangangnya. Segera Sunan Kali memberi makan kepada anak-anak gembala itu. sebakdanya lalu caos/menghadap kepada Sunan Cirebon.” Berkata Sunan jati: “Rayi. datang sudah di hadapannya. Segera mereka pada melakukannya. sebab lekas kabul du’anya anak-anak itu. sungguh bahaya terlaksana sepemujinya anak-anak dan anda penghulu umumkanlah kepada kaum. dan tiap Juma’ah suruh datang di mesjid Agung dan tiap bulan Sapar hari Rabu keliling di dalam kota sambil memuji selamat panjang umur.Diceritakan dua puluh satu orang anak-anak gembala kerbau panakawan Ki Syekh Lemahabang yang telah dihukum mati berikut dua panakawan kepada anak-anak gembala kerbau itu. akan tetapi kalau mereka dibaiki dan diberi pangan bisa menjadikan kesejahteraan para rakyat dan pada pembesar karenanya menjadikan sentosanya negara. karenanya anak-anak gembala kerbau itu tidak ada yang mengurus menangis siang malam menjerit-jerit gelasahan. oleh karena kalawaktu meninggal Syekh Lemahabang itu pada hari Rabu pertama bulan Sapar. para jemaah. . sebab jadi pengruating bala/penangkal yang berada dimesjid itu pada sukalah semua jangan menolak kepada permintaannya kalau pada punya. Berkata Jeng Sunan: ‘Umumkanlah kepada masyarakat. Yang Sinuhun Jati segera memanggil Ki Penghulu dan Ki Patih datang sudah di hadapannya.

yang sekapal lagi pada bubar. sebakdanya lalu pergi bertapa. Segera kedua panakawan itu mendekatinya dan dimabilnya sudah. kedua panakawannya lalu terjun ke air membawa duyung. Oleh karena kelelahan Jeng Pageran dan kedua panakawannya pada malam harinya tertidur. karena sang raka Pangeran Jayalelana sudah memenuhi mas kawinnya ialah potong dakar. Diceritakan di praja Demak menantu Dalem Pangeran Bratalelana sedang berada di taman bersama dua orang panakawan. segera pernikahannya telah dilaksanakan. Jeng Pangeran dan panakawan sudah menduduki kapal bajak laut. segera kelaur ingin pulang ke Cirebon. pula disebut Maulana Fadhilah Khan. lalu jenazahnya Sang Pangeran sibelenggu lalu dibuang ke laut. kerisnya dihunus akhirnya bajakbajak yang sekapal sudah tertumpas. Tidak lama bajak-bajak yang pada bubar datang lagi.Diceritakan seorang putra Paseh yang bernama Fadhilah pula di sebut orang agung Paseh. lalu berkendaraan perahu bersama kedua panakawannya berangkat terus perjalananannya menelusuri pinggir pantai sambil berdayung antara tujuh hari tujuh malam di tengah perjalanan dibanding oleh bajak laut dua kapal. sebagian bersembunyi di dalam air dan yang sebagian lagi di dalam kapal masingmasing mencari hidup. ia lalu ingat kepada mas kawin istrinya yang belum dibayar. karena mas kawinnya itu perang sabil. Pangeran Paseh sudah diberi wejangan sejatinya syahadat. pula disebut Faletehan yang baru datang menghendaki berguru kepada Jeng Maulana Hidayatullah. tidak lama lalu Ki GedengMundu yang kebetulan sedang menebar jalan melihat ada teja anguwung segera didekatinya. minta . menjadikan Jeng Pangeran Bratalelana tidak kerasan menetap dalam kraton. perahu digandeng sudah dan hendak dirampas barang-barang seisinya perahu dan pakaian yang sedang dipakai sang Pangeran. Jeng Pangeran bertekad mengamuk. Sang Pangeran lalu wafat. membawa penganut enam puluh orang. Diceritakan seorang bajak yang bersembunyi di dalam kapal lalu keluar karena sudah larut malam. Jeng Sunan sudah menemuinya. timbul tenggelam jenazahnya itu bercahaya teja anguwang (bersinar seperti pelangi). ia melihat Sang Satria sedang lelap tidur lalu pedangnya dicabut segera disabetkan kepada Sang Pangeran. Sang Pangeran Paseh lebih setia tahu menginap di dalam masjid Agung sementara waktu Jeng Sunan Jati berkenan menikahkannya dengan seorang putrinya bernama Ratu Ayu. hartanya sekapal beramal membagibagikan sedekah kepada fakir miskin menuju ke dalam masjid Agung Cirebon pada tahun 1524 M. Segera panakawan pada berteriak.

Pada waktu menyalatkannya Jeng Sunan berfikir.tolong. Setelah usai Sunan Jati berkata: “Raka Pangeran Carbon dan Rayi Kadilangu sekarang lekas berangkat ke Demak memberi tahu kepada Rayi Sunan Benara bahwa sang putra Bratalelana sudah meninggal dan jandanya ialah Ratu Nyawa semoga dinikahkan dengan Dipati Moh. Sunan Kali lalu menyucikannya. cepat Ki Gedeng lalu mengangkat jenazah Sang Pageran dibawa bersama panakawannya terus pulang mendarat sudah di pantai Mundu lalu dibawa caos/menghadap ke Cirebon datang sudah di hadapan Sunan Cirebon. dimohon sebagai pusaka bagi masyarakat Mundu. sekonyong-konyong jenazah yang sedang disalatkan itu hidup kembali. saya merasa ia kurang sempurna matinya. Setelah diisalatkannya Gedeng Mundu segera memohon: “Duhai Gusti. hamba mohon ampunan Dalem. seterusnya disebut Pangeran Sedanglautan. sang putra sudah menerima ilham dengan izin Allah.” Jeng Sunan segera mewangsitkan sejatinya ilmu kesempurnaan. modin. Adapun Ki Kuwu Cirebon. Segera jenazah disucikan lalu disalatkan. Pangeran Carbon yang meneruskan jabatannya sebagai Kuwu Cirebon dan Senapati Cirebon.” Sunan Kali dan Pangeran Carbon sudah menerima perintah.” Jeng Pangeran lalu mati kembali. walunya seperti semula. ketib. para kaum. dan Ki Penghulu sudah menjalankan tugas dan sebakdanya lalu disalatkan. semoga putra Paduka jenazahnya dimohon dikubur di daerah Dalem di Mundu. Jeng Sunan Jati dan Sunan Kali saling merangkul. Arifin/Pangeran Pasarean. Jeng Sunan tidak mau menyalakannya hanya mewakilkan kepada Sunan Kali. belum mengetahui ilmu sejati.” Jeng Sunan Jatilalu memberi izin. Diceritakan Kanjeng Sultan Demak yang sedang geger karena kedua menantu Dalem itu hilang dan seluruh pada pembesar dan masyarakat . ini anak masih muda. segera pamit meneruskan perjalanan lalu datang sudah di Demak. sekarang baik mati kembali. Segera Sunan kali berkata: “Bagaimana jenazah putra Dalem hidup kembali mungkin rasa kurang rela?” Berakta Jeng Sunan : “Iya betul dari terharunya dalam hati dan anak ini belum menerima ilmu sejati. lalu dikuburkannya sudah. Lalu berkata Sunan Kali: “Bratalelana utama hidup di akhirat jadi Ratudi Kasuwargan memangku sebanyak para bidadari dan sudah sempurna untuk mas kawin anda yang tadi sudah mati. Segera jenazah Pangeran Bratalelana dibawa ke Mundu.

Sunan Jati. Arifin menikah. Sunan Purba bersuka cita. agar jangan menjadikan kecewa dalam hati dimohon untuk keturunan sebagai pertalian persaudaraan antara Cirebon dan Demak.Demak sedang geger resah.” Sunan Demak lalu menyetujui. Sunan Kali dan Pangeran Carbon lalu mohon pamit. Pangeran Dipati Moh. maka daripada itu harap raka tidaklah menjadi sedih. . Ratu Nyawa dan Dipati Sebrang Lor sudah diiring oleh wadya Demak terus bertolak ke Cirebon. Pangeran Dipati Sebrang Lor. Segera Sunan Kali hatur beritahu: “Semoga jadi pengetahuan Dalem. Si rayi diutus oleh Sunan Cirebon karena mantu Dalem Sang Bratalelana sudah meninggal sempurna. Ratu Nyawa semoga diterima. Ratu Nyawa siperintah caos ke Cirebon sibarengi dengan putra Pangeran Dipati Sebarng Lor dan Arya Kenduruan dengan dibekali keris Kaki Embilang tabuhan sekati dan selendro. Sang Putri Ratu Nyawa semoga dinikahkan dengan Pangeran Dipati Moh. gamelan sekati. wayng kulit berikut gamelannya dan emas picis beserta kain-kain dan upacara dengan karyawannya seratus orang semoga diterima sebagai pembawaan Ratu Nyawa dan sebagai wakil rayi Sultan Demak untuk menikahkannya adalah si rayi dan Pangeran Dipati Sebrang Lor dan Arya Kenduruan yang diperintahkan caos/menghadap karena rayi Dalem Sunan Demak tidak bisa datang. karena mantu Dalem sudah memenuhi mas kawinnya ialah perang sabil dan permintaan raka Dalem. Tidak lama kemudian datanglah Sunan Kali dan Pangeran Carbon. Arya Kenduruan telah menerima surat itu segera mohon pamit kemudian bertolak pulang ke praja Demak dengan diiring wadya Demak. baju kain dan sebagainya dua dondang dan upacara wadyanya seratus orang. Arifin sudah jadi satu dengan Ratu Nyawa. Antara pertengahan bukan Sunan Kali dan Ratu Nyawa dan rombongan sudah datang di Cirebon. datang sudah di hadapan Sunan Bentara yang sedang kehilangan kedua menantunya. emas picis empat meron/wadah. antara hari lalu Pangeran Dipati Moh. Arifin. Sunan Kali yang menikhkan pada tahun 1531 M. Sunan Demak sudah wakil kepada Sunan Kali untuk menikahkannya. Sang Sedanglautan terbunuh oleh bajak laut.” Sunan Jati sudah menerimanya. Setelah selesai Sunan Cirebon mempunyai karya Pangeran Dipati Sebrang Lor dipanggil oleh Jeng Sunan Jati menerimakan sepucuk surat untuk rayi Sunan Bentara. rayi Dalem Sunan Demak menyerahkan dan menghaturkan keris. Berkata Sunan Kali: “Si rayi diutus berkah Dalem sudah terlaksana dan menghaturkan permintaan Dalem. dan wayang kulit sekotak.

. Syekh Idhofi/Syekh Datuk Kahfi dari Baghdad berasal dari Mekah membangun Pengguron Islamiyah di Gunung Jati Cirebon pada tahun 1420 M.. Isa al-Basri (al-Baqir) 9. Muhammad an-Naqib (Idris) 8. putra putri mahkota dari negara Pejajaran. Nay Rarasantang dan Sunan Gunung Jati.a. Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah dan Maulana Fadhilah Khan/Faletehan. 1. ibunda dari Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan adiknya. Nay Indanggeulis (istri Pangeran Cakrabuana). Husain as-Sabti 3. ialah: a. yang seterusnya disebut Syekh Kuro. Jafar Shadiq 6. Alwi . Beliau adalah Rama Guru dari permaisuri Nay Subanglarang. b. CATATAN 1. Muhammad 12. Muhammad al-Baqir 5.a. makamnya hingga sekarang masih ada di Krawang. Kasim al-Kamil (Ali al-Uraidi) 7.w. Ubaidillah 11. Siti Fatimah binti Muhammad s. Beliau adalah Rama Guru dari Pangeran Cakrabuana. yang seterusnya disebut Syekh Nurjati. makamnya hingga sekarang masih ada di gunung Jati Cirebon bersama makam seorang muridnya bernama Syekh Datuk Khafid. Silsilah Sunan Ampel Dhenta. Ahmad al-Muhajir 10. Zainal Abidin 4. Mubaligh-mubaligh Besar Islam pionir yang pertama-tama mendarat di Jawa Barat. 2. Nabi Muhammad s. + Sayidina Ali bin Abi Thalib r.w. Syekh Hasanuddin dari Mekah membangun Pengguron/Perguruan Islamiyah di Krawang pada tahun 1418 M. 2. Nay Rarasantang (ibunda Sunan Gunung Jati Cirebon).47.a.

Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) 21-2. Fadhilah Khanal Paseh al-Gujerat/Falatehan 23-2. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati/Sunan Cirebon) 23-1. Muhammadal-Baqir 5. 20. Sayid Husain as-Sabti 3. Silsilah Syekh Lemahabang (Syekh Siti Jenar) Nabi Muhammad s. Ali al-Gazam 14. Pangeran Pesarean (Putra mahkota Cirebon) 23-2. Ratu Gandasari/Nyi Mas Panguragan c. Ibrahim Zainal Akbar 21-1.a. Sunan Drajat 23-2. Sunan Bonang 22-2. Abdurrahim Rumi 23-1. b. c. Ali Nurul Alim 21. Ali Musada 22-1. Al-Amir Ahmad Syekh Jalaluddin 19. Berkat Zainal Alim 21-1. Syarif Syam/Syekh Magelung 24. Jafar Sadiq . Abdul Malik 17. a. 20. 2.13. 1. Ahmad Zainal Alim 22-1. Syarif Abdullah (Sulatan Mesir) 22. Muhammad 15. Abdullah Khan Nudin (Amir) 18. Pangeran Sebakingkin (Sultan Banten Hasanuddin) b. Sunan Giri 3. Maulana Ishak 23-1.a. Jamaluddin al-Husein: a. Zainal Abidin 4. Alwi Amir Faqih 16. Fatimah az-Zahra + Sayidina Ali r. 20. Abdul Gafur 21-2. Mahdar Ibrahim 22-2.w.

Ali al-Gazam 14. Apiah Adikusuma (adik Pangeran Angkawijaya dari lain Ibu) 14. Pangeran Raja Adipati Kaprabon Kanoman 8. Syekh Datuk Abdul Jalil/Syekh Lemahabang/Syekh Jabaranta/Syekh Siti Jenar. Identitas Pengguron Caruhan Krapyak Kaprabonan Cirebon Sunan Gunung Jati: 1. Ubaidillah 11. Ahmad al-Muhajir 10. Pangeran Dipati Carbon 3. Panembahan Girilaya 6. Alwi 13. Syekh Datuk Isa menetap di Malaka 20-2. Sultan Anom Muhammad Badridin Kanoman 7. 4. Pangeran Moh. Abdul Malik 17. Panembahan Ratu 4.6. Pangeran Aripudin Kusumabratawirja 12. Muhammad an-Naqib (Idris) 8. Pangeran Kusumawaningyun 9. Panembahan Dipati Anom Carbon 5. Abdullah Khan Nudin (Amir) 18-1. Syekh Datu Soleh 21-2. Pangeran Sulaiman Sulendraningrat . Isa al-Basri (al-Baqir) 9. Muhammad 12. Kasim al Kamil (Ali al-Uraidi) 7. Alwi Amir Faqih 16. Syekh Qadir Kaelani 19-2. Pangeran Raja Sulaiman Sulendraningrat 11. Muhammad 15. Al-Amir Ahmad Syekh Jalaluddin 18-2. Pangeran Adikusuma 13. Pangeran Pasarean 2. Pangeran Brataningrat 10.

967 orang.” Lalu Susuhunan Jati berkata pula kepada Pangeran Carbon (Panglima Besar Cirebon) dan Dipati Keling: “Kakak dan Dipati Keling. kemudian maju jalan menuju Banten.. Kalawaktu itu di Banten sedang ada huru hara perebutan kekuasaan oleh Pangeran Sebakingkin memimpin para santri militannya dengan pemerintahan Banten Pejajaran. rebutlah negara Banten san Sundakelapa bawahan Pakwan Pajajaran itu. Akhirnya tentara Banten itu menyerah. Segera tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon itu menggabungkan diri dengan barisan santri Pangeran Sebakingkin dan menggempur tentara Banten yang belum Islam. anda adalah Panglima pertama daripada Senapati-Senapati Demak. Sidang lalu bubar. bertepatan waktunya dengan huru-hara itu berlabuhlah di pelabuhan Banten tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon. diutus olehku perglah kalian memimpin balatentara Cirebon berperang ke Banten dan Sundakelapa bersama Senapati Fadhilah yang menjabat Senapati pertama dari tentara Islam Demak dan Carbon. Telah lama ada perjanjian persahabatan antara Pejajaran dan Ki Fadhilah/Falatehan menjawab dengan horamt: “Sesungguhnya betul perintah Paduka itu. dihadiri oleh para pembesar negara. kita telah mendengar warta dari hal akan kedatangannya tentara Portugis ke Sundakelapa. datanglah balatentara Demak yang dipimpin oleh Panglima Besar Fadhilah/Falatehan.5. Lalu Jeng Susuhunan berkata kepada Ki Fadhilah: “Anakku. pada hadiran keluar dari balairung kraton Pakungwati untuk mensiap siagakan tentara perang tentara Carbon dan menggabung kepada balatentara Demak Gabungan balatentara Demak dan Carbon ini berjumlah 1.” Setelah itu Panglima dan balatentara mohon pamit dari Susuhunan Carbon. Bismillah. nanti setelah istirahat pergilah anda memimpin tentara Muslim anda semua. Bupati Banten dan panglima-panglimanya lari memasuki hutan ke arah selatan timur menuju . para Wali dan para Senapati negara Caruban/Cirebon. perintah ini adalah sama benar dengan perintah yang hamba telah terima dari kakanda Sultan Demak (Sultan Trenggono). Berdirinya Kesultanan Banten dan Perang dengan Portugis di Sundakelapa Pada kalawaktu Susuhunan Jati Purba mengadakan sidang di dalam balairung kraton Pakungwati Cirebon pada tahun 1526 M. Susuhunan Jati bersuka cita kedatangan seorang menantinya orang agung Pasai yang “otot kawat balung wasi” (orang kuat gagah perkasa). hamba akan mendatangi negara Banten dan Sundakelapa. tidak lain mohon restu Sinuhun agar hamba sekalian rahayu lulus.

Pangeran Carbon.452 orang dengan panglima-panglimanya. Sedang Sundakelapa ditangguhkan sementara setelah Banten. Mereka menyangka masih pelabuhan Sundakelapa Pejajaran. Dipati Cangkuang mundur ke garis belakang setelah melihat tentara Portugis membawa alat-alat besar seperti guntur menggelegar (meriam). Dipati Keling dan Dipati Cangkuang (contingen Kuningan) berperang di Sundakelapa. bahkan banyak yang mati. Setelah itu dinobatkanlah Sebakingkin sebagai Sultan Banten. Mereka tercenggang. Yang menjadi Panglima dari tentara Portugis adalah yang disebut bernama Prangka Bule (Fransisco De Sa). Pertempuran berkobar dahsyat sekali.ibukota Pakwan Pejajaran. Setelah Sundakelapa menyerah. para pembesar dan seluruh rakyatnya menakluk kepada Ki Fadhilah dan Pangeran Sebakingkin. yaitu berasal dari negara gede di Sunda dengan pengakuan dari Wali Sanga Jawadwipa. Karena kalah perang tentara Portugis lalu lari kembali ke Pasai. Bumi bergoyang seperti kena gempa. bergelar Sultan Hasanuddin. gemetar ketakutan sangat. ialah Cirebon yang seterusnya ibukotanya disebut Gerage. Tidak lama kemudian berlabuhlah sebuah armada Portugis yang berperlengkapan alat-alat perang di pelabuhan Sundakelapa yang berasal dari Pasai yang telah menjadi jajahan mereka. yang bersemayam di Puser Bumi. akan tetapi masyarakat di sana sebelumnya sudah banyak yang telah diIslamkan oleh Syekh Amrullah/Sunan Ampel dan Syarif Hidayatullah kalawaktu baru datang di Jawadwipa. Si Bule tidak berani meneruskan perang. oleh ayahanda Susuhunan Jati Purba yang kedudukannya sebagai Raja Pendeta atau sang Wali seluruh Sunda. Dan sejak itulah Sundakelapa dialih nama dengan Jayakarta. kemudian Pangeran Pasai/Ki Fadhilah/ Falatehan diangkat menjadi Bupati di Sundakelapa oleh Susuhunan Jati. bahkan terus menyerbu dan menggempur tentara Portugis. Sejak itu orangorang Portugis kalau melewati pulau Jawa tidak berani dekat ke pantai. tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon sebanyak 1. Ki Fadhilah/Falatehan. Telah dicetak dengan aslinya . yang tertinggal di Banten. Beberapa hari kemudian mereka digempur oleh tentara Islam di bawah komando Panglima Fadhilah dan Pangeran Carbon. Setahun kemudian pada tahun 1527 M. Akhirnya mereka dikalahkan dan lari tunggang langgang menuju kapalkapal layar perangnya. Akan tetapi tentara Islam tidak gentar. yang berarti jaya dan aman sentosa.

22 Pebruari 1984. Sejarah Cirebon. Namun rupanya ia lebih banyak memperdalam perihal keagamaan berkenaan ia hidup di tengah-tengah lingkungan Pengguron Islam Kaprabonan. Pendidikan yang pernah ia capai HIS Taman Siswa dan HIS Negeri diploma tahun 1930. ayahandanya seorang ramaguru besar Tarekat Satariyah. Riwayat Hidup P. Sulendraningrat dilahirkan di Kaprabonan Cirebon tanggal 3 Juni 1914. . Sampai sekarang ia dikenal sebagai ramaguru Tarikat Satariyah di Pengguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon di samping ia pernah menjabat pimpinan MU di desanya sambil ia isi pula waktunya dengan mengikuti kursus bahasa Arab Belanda “Republica” Bandung diploma tahun 1940. Cirebon . gramatika. dan tafsir alQur’an selama 3 tahun. Ia pula sebagai pemegang penangungjawab sejarah Cirebon dan ia juga sebagai Pembina aktif GUPPI Wilayah III Cirebon. Karya naskahnya yang telah diterbitkan antara lain Nukilan Sejarah Cirebon Asli. Selanjut usianya ini ia masih dibebani tugas. sehingga ia dapat lestari sebagai pelanjut pewaris leluhurnya. ia mengkaji dan mendalami ajaran Tarekat Satariyah. Kemudian tahun 1933 ia capai tanpa diploma Mulo negeri. Ia sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon. Selama 15 tahun ia mendapat gemblengan dan pembinaan ayahanda nya yang ahli Tarekat dan Tasawuf itu.Rama Guru (P.S. bahasa Arab. Purwaka Caruban Nagari. tetapi juga ia pernah memasuki Pesantren Buntet bidang fikih.S. Timbangan (tasawuf). nahwu. SULENDRANINGRAT). ia juga mendapat diploma KAE tahnu 1929. Ia juga pernah memasuki Pesantren al-Azhar selama 1 tahun untuk memperdalam tafsir al-Qur’an.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->