P. 1
Jurnal At-Ta'dib. volume 1 nomor 3, Desember 2009-Maret 2010

Jurnal At-Ta'dib. volume 1 nomor 3, Desember 2009-Maret 2010

|Views: 857|Likes:
Published by Khairul Umami
AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat
keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.
AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat
keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Khairul Umami on Mar 02, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

ISSN 2085 - 2525

AT-TA’DIB
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam
Vol. I, No. 3, Desember 2009-Maret 2010

Eksistensi Perguruan Tinggi di Era Otonomi Daerah
Syahrizal

Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Adi Kasman

Konsep Metodologi Pembelajaran Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi
Fithriani

Diterbitkan Oleh SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG, MEULABOH ACEH BARAT

JURNAL ILMIAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

AT-TA´DIB

Volume I Nomor 3 Desember 2009-Maret 2010

ISSN: 2085-2525

SUSUNAN PENGURUS JURNAL AT-TA'DIB
PENANGGUNG JAWAB Syamsuar Basyariah REDAKTUR Muchsinuddin MS PENYUNTING Muliadi Kurdi Adi Kasman REDAKTUR PELAKSANA Muhammad Thalal Hazrullah Suharman STAF REDAKSI Ridwan Ali Marhamah Junaidi PENYUNTING AHLI M. Nasir Budiman Muhibbuththabary M. Jamil Yusuf Eka Sri Mulyani ADMINISTRASI DAN TATA USAHA Andi Syahputra Syafrun Munir Sunarto SETTING/LAYOUT Khairul Umami SIRKULASI Fakhrurrazi Muchtaruddin Safrida Zulhanli ALAMAT REDAKSI Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, Meulaboh-Aceh Barat No. 100 Telp: 0655-7551591; Fax: 0655-7551591 E-mail: prodipai_stai@yahoo.co.id Website: www.staidirundeng.ac.id

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

197 — 207 — 221 — 237 —

EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI DI ERA OTONOMI DAERAH Syahrizal PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB Adi Kasman KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI Fithriani OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH Intan Afriati PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/ MADRASAH IBTIDAIYAH Wati Oviana

249 —

DAFTAR ISI

263 — 275 — 287 —

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL Misnan ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK Saifullah KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Jasafat

iv

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Kata Pengantar

Puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah mengajarkan manusia melalui firman-Nya. Selawat dan salam kita sampaikan kepangkuan alam Nabi Besar Muhammad saw. yang telah mengubah pola pikir manusia ke arah yang benar. Alhamdulillah, jurnal At-Ta’dib Vol. I No. 3, Desember 2009 – Maret 2010 bisa terbit sesuai waktunya. Jurnal ini menghadirkan beberapa tulisan mengenai permasalahan yang aktual. At-Ta’dib salah satu jurnal bidang pendidikan memilih menggunakan sistem penulisan dan referensi American Psychological Association (APA) yang telah menjadi panduan jurnal terkemuka di dunia terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences). Edisi kali ini menampilkan berbagai tulisan ilmiah seputar pendidikan yang diawali oleh Syahrizal dengan tulisannya yang berjudul: Eksistensi Perguruan Tinggi di Era Otonomi Daerah. Dalam tulisannya, penulis menguraikan tentang perubahan-perubahan yang dapat ditempuh oleh perguruan tinggi dalam membangun paradigma baru di era otonomi daerah. Dilanjutkan dengan tulisan Saifullah mengangkat judul: Etika Mahasiswa Islam dalam Menyampaikan Aspirasi di Depan Publik (Suatu Analisis Nilai-nilai Pendidikan Dalam Perspektif Alquran dan Hadis). Model pembelajaran merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu proses

KATA PENGANTAR

belajar mengajar di sekolah, Pada kesempatan ini Wati Oviana mencurahkan pikiran dalam tulisannya yang berjudul: Penerapan Model Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Lain lagi dengan Fithriani dalam tulisannya yang berjudul: Konsep Metodologi Pembelajaran Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi (Suatu Pemikiran Perbandingan), menjelaskan tentang studi komperatif berkaitan dengan konsep metodologi pembelajaran yang dikemukakan oleh intelektual muslim yaitu Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi Selanjutnya Adi Kasman dalam tulisannya yang berjudul: Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, mengulas mengenai sarana yang paling aktual dan efektif yang harus dimiliki dan dikuasai dalam berkomunikasi dan berinteraksi adalah bahasa, baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun isyarat. Sementara Misnan mengangkat judul: Peran Pendidikan Islam dalam Pemberdayaan Sosial, memaparkan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama-sama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Tulisan Intan yang berjudul Optimalisasi Kualitas Pembelajaran Bahasa Arab pada IAIN di Banda Aceh yang membahas bagaimana meningkatkan kemampuan mahasiswa IAIN dalam berbahasa Arab. Rangkaian topik pendidikan pada edisi ini diharapkan mampu memberikan konstribusi dan menambah khazanah intelektual dalam pembangunan pendidikan di Indonesia umumnya, khususnya daerah yang menjadi dambaan kita yaitu Propinsi Aceh. Terima kasih kami ucapkan kepada rekan-rekan dari Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh dan semua pihak yang terlibat dalam menyumbangkan pikiran dan lainnya sehingga jurnal At Ta’dib edisi ke-3 ini dapat terbit sesuai yang diharapkan. Kami berharap jurnal yang telah dirintis ini selalu mendapat dukungan dari semua pihak sehingga berkenan dihati pembaca sekalian. Meulaboh, Desember 2009 Ketua STAI Teungku Dirundeng, dto Syamsuar Basyariah

vi

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Eksistensi Perguruan Tinggi di Era Otonomi Daerah
Suatu Kerangka Paradigma Baru
Syahrizal
Guru Besar bidang Hukum Islam pada Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Saat ini ia bertugas sebagai Pembantu Rektor IV (Bidang Kerjasama) IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Abstract The existence of higher education institution in the era of regional autonomy cannot be separated from the momentum of reform in Indonesia. A university is an institution that produces competent graduates who have a competitive advantage and strong competitiveness in the global era full with challenges. The shift of paradigm is necessary considering the transition into the social, economic and national politics globally. The changes that can be achieved by the university in building a new paradigm in the era of regional autonomy needs to offer a number of opportunities and alternatives that can be taken to survive. Therefore, the university can provide a competitive advantage for its graduates. Kata kunci: Eksistensi perguruan tinggi, otonomi daerah

SYAHRIZAL

Pendahuluan Eksistensi perguruan tinggi dalam konteks ekonomi daerah di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari momentum reformasi di Indonesia yang merupakan bentuk kulminasi yang lahir akibat krisis multi dimensi seperti krisis moneter, krisis ekonomi, politik dan sosial. Semua krisis ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan tentang meningkatnya drop out rate di kalangan mahasiswa, tetapi juga semakin merosotnya efektifitas dan efisiensi perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusannya yang memiliki competitive advantage, memiliki daya saing yang tangguh dalam zaman global yang penuh tantangan. Menghadapi perubahan yang begitu cepat sebagai akibat reformasi, maka perguruan tinggi sebagai institusi yang berkompeten menghasilkan sumber daya manusia perlu melakukan re-interpretasi terhadap paradigma yang diacu selama ini. Perubahan paradigma perguruan tinggi menjadi penting dilakukan mengingat transisi sosial, ekonomi dan politik nasional secara global merupakan entitas yang tidak dapat dihindari. Lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan kebijakan nasional yang menginginkan daerah terlibat secara aktif mengurus dirinya demi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat daerah. Dalam pasal 1 ayat (h) UU No. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan mengenai kewenangan daerah diatur dalam pasal 7 ayat (1) yang menyatakan bahwa kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, fiskal, agama serta kewenangan bidang lainnya. Pasal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa bidang pendidikan merupakan salah satu bidang yang diotonomikan kepada daerah. Artinya, daerah dapat melakukan berbagai upaya signifikan dalam rangka menjadikan dunia pendidikan di daerah lebih independen dan akomodatif dengan kebutuhan masyarakat daerah tanpa menafikan kemampuan menghadapi tantangan era global. Oleh karena itu, perubahan paradigma perguruan tinggi di era otonomi
198
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI DI ERA OTONOMI DAERAH

daerah merupakan agenda mendesak yang mesti dilakukan oleh pemegang otoritas, dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia yang handal. Tulisan ini mengkaji perubahan-perubahan yang dapat ditempuh oleh perguruan tinggi dalam membangun paradigma baru di era otonomi daerah, serta berusaha menawarkan sejumlah peluang dan alternatif yang dapat ditempuh untuk survive dan bahkan lebih lagi. Sehingga perguruan tinggi dapat memberikan competitive advantage bagi lulusannya. Paradigma baru Perguruan Tinggi Dilihat dari perspektif daerah, nasional dan global membangun suatu paradigma baru perguruan tinggi merupakan suatu keharusan. Sebagaimana dikemukakan dalam World Declaration on Higher Education for the Twenty–First Century: Vision and Action: dalam dunia yang berubah sangat cepat, terdapat kebutuhan mendesak bagi adanya visi dan paradigma baru perguruan tinggi. Paradigma baru itu, mau tidak mau, melibatkan reformasi besar yang mencakup perubahan kebijakan yang lebih terbuka, transparan, dan akuntabel. Dengan reformasi dan perubahan, perguruan tinggi dapat melayani kebutuhan yang lebih beragam, kandungan pendidikan (contents) lebih varian, metode dan penyampaian pendidikan berdasarkan hubungan baru dengan masyarakat lebih sinergik dan berkesinambungan. Paradigma perguruan tinggi sekarang ini merupakan hasil dari pembahasan dan perumusan yang telah dilakukan sejak waktu yang lama, yang pada taraf tertentu memerlukan upaya kaji (re-interpretasi). Upaya ini telah dilakukan oleh beberapa sarjana diantaranya D.A. Tisna Amijaya, ia mencoba menawarkan kerangka pengembangan perguruan tinggi jangka panjang dengan mengidentifikasi lima masalah besar yang dihadapi perguruan tinggi pada umumnya. Lima masalah tersebut adalah produktivitas yang rendah, keterbatasan daya tampung, keterbatasan kemampuan berkembang, kepincangan di antara berbagai perguruan tinggi, dan distribusi yang tidak seimbang dalam bidang ilmu yang disediakan perguruan tinggi, khususnya antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan ilmu eksakta. Amijaya mengajukan lima program besar dalam rangka mengatasi lima masalah diatas yang selalu menghantui perguruan tinggi di Indonesia. Program
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

199

SYAHRIZAL

tersebut terdiri atas: Pertama, peningkatan produktivitas perguruan tinggi. Kedua, peningkatan daya tampung. Ketiga, peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Keempat, peningkatan bidang keilmuan. Kelima, peningkatan kemampuan berkembang. Harus diakui, program di atas tidak banyak berhasil, karena terdapat berbagai kendala, khususnya di lingkungan perguruan tinggi itu sendiri dan kebijakan pendidikan ansional yang masih sentralistik dan kaku. Sebab itu sebuah konsep perguruan tinggi jangka panjang yang diperkenalkan oleh Sukadji Ranuwihardjo kiranya perlu mendapat perhatian. Beberapa program besar kembali dirumuskan, yakni; pertama, peningkatan kualitas perguruan tinggi, kedua, peningkatan prodiktivitas dan relevansi, dan ketiga, perluasan kesempatan memperoleh pendidikan. Berdasarkan konsep ini telah dirumuskan paradigma baru perguruan tinggi sebagaimana yang terdapat dalam Rencana Jangka Panjang Ketiga (19992005). Paradigma baru ini mencakup anatara lain; peningkatan kualitas perguruan tinggi secara berkelanjutan melalui peningkatan kualitas manajemen yang telah diperbaiki, dimana otonomi, akuntabilitas dan akreditasi merupakan komponenkomponen terpenting. Rencana jangka panjang sejak semula memang disiapkan sebagai paradigma baru perguruan tinggi. Paradigma baru ini bertujuan untuk merumuskan kembali peran negara dan perguruan tinggi, sehingga lebih memungkinkan bagi perguruan tinggi untuk berkembang lebih baik. paradigma baru itu juga dimaksudkan untuk memberi panduan bagi pengembangan mekanisme baru, guna memperkuat perguruan tinggi seperti perencanaan atas prinsip desentralisasi dan evaluasi berkelanjutan terhadap kualitas dan lain-lain. Dalam paradigma baru tersebut, peranan negara mengalami perubahan yang sangat signifikan dengan pengurangan peranan pemerintah. Pemerintah secara konseptual dan praktikal tidak lagi merupakan lembaga sentral yang menetapkan segala ketentuan secara rinci, atau mengontrol secara terpusat gerak dan dinamika perguruan tinggi. Pemerintah dalam paradigma baru itu hanya memberikan kerangka dasar, memberikan insentif agar sumber daya manusia dan sumber daya keuangan dapat dialokasikan kepada prioritas terpenting pada perguruan tinggi. Pemerintah akan mendorong setiap perguruan tinggi untuk meningkatkan standar kualitasnya.
200
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI DI ERA OTONOMI DAERAH

Tantangan paradigma baru Perguruan Tinggi Perumusan kembali (reformulation) paradigma baru perguruan tinggi telah mendapatkan daya daya dorong dengan terjadinya krisis multi dimensi sejak akhir 1997. krisis ini sangat mempengaruhi dunia pendidikan pada seluruh jenjang, yang mengharuskan paradigma baru perguruan tinggi mampu mencakup reformasi pendidikan serta menyeluruh. Reformasi sistem pendidikan dilakukan terhadap seluruh aspek pendidikan seperti filosofi, kebijakan pendidikan, sistem pendidikan berbasis masyarakat (community based education), pemberdayaan guru dan tenaga kependidikan, manajemen berbasis sekolah (school based management), dan sistem pembiayaan pendidikan. Krisis multi dimensi dan multi level yang telah melahirkan reformasi pendidikan, mengharuskan kita mengadopsi dua strategi defensive strategy dan recovery strategy. Defensive strategi pada intinya bertujuan untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapai dimasa silam, dan sekaligus berusaha sedapat mungkin meningkatkan segala sesuatu yang baik. recovery strategy bertujuan memulihkan kembali pendidikan dari berbagai krisis yang masih dan akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan. Daya dorong tambahan (impetus) bagi implementasi paradigma baru perguruan tinggi muncul dengan dikeluarkannya, “World Declaration on Higher Education for the Twenty–First Century : Vision and Action”, oleh UNESCO. Dokumen penting ini menjadi sumber tambahan bagi konsep paradigma baru perguruan tinggi yang memuat secara mendasar misis dan fungsi perguruan tinggi, peranan etis, otonomi, tanggung jawab dan fungsi antisipatif, penguatan kerja sama perguruan tinggi dengan dunia kerja, analisa dan antisipasi terhadap kebutuhan masyarakat, pemberdayaan mahasiswa sebagai aktor utama perguruan tinggi, dan peningkatan kerja sama perguruan tinggi dengan berbagai pihak (stakeholders) seperti dunia industri, masyarakat luas dan lain sebagainya. Misi, fungsi dan nilai pokok perguruan tinggi adalah memberikan kontribusi kepada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dan pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini, misi dan fungsi perguruan tinggi secara spesifik adalah mendidik mahasiswa dan warga negara untuk memenuhi kebutuhan seluruh sektor aktivitas manusia, dengan menawarkan kualifikasi yang relevan termasuk pelatihan professional yang mengkombinasikan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

201

SYAHRIZAL

ilmu pengetahuan dengan keahlian tingkat tinggi, melalui mata kuliah yang terus dirancang guna memenuhi kebutuhan masyarakat dewasa ini. Memberikan berbagai kesempatan (espace ouvert) kepada para peminat untuk memperoleh pendidikan tinggi di sepanjang usia. Perguruan tinggi memiliki misi dan fungsi memberikan kepada penuntut ilmu sejumlah pilihan yang optimal dan fleksibel untuk masuk ke dalam dan keluar dari sistem pendidikan yang ada. Perguruan tinggi harus memberikan kesempatan bagi pengembangan individu dan mobilitas sosial bagi pendidikan kewarganegaraan (citizenship). Perguruan tinggi harus mampu memajukan, menciptakan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui riset dan memberikan keahlian (expert) yang relevan untuk membantu masyarakat umum dalam pengembangan budaya, sosial dan ekonomi, mengembangkan penelitian dalam bidang sains dan teknologi, ilmu-ilmu sosial, humaniora dan seni kreatif. Perguruan tinggi juga berfungsi untuk membantu, memahami, menafsirkan, memelihara, memperkuat, mengembangkan dan menyebar luaskan budaya-budaya nasional, regional dan internasional dalam pluralisme dan keragaman budaya. Akan tetapi yang penting dicatat disamping penekanan kuat pada fungsifungsi perguruan tinggi vis-a-vis masyarakat pada umumnya, perguruan tinggi juga dituntut menjadikan para mahasiswa sebagai aktor utama dalam seluruh kegiatannya. Para pengambil kebijakan perguruan tinggi pada tingkat nasional dan institusional harus menjadikan para mahasiswa sebagai pusat koncern dan memandang mereka sebagai mitra utama dan merupakan stakeholders yang paling penting dalam pembaharuan perguruan tinggi. Paradigma baru perguruan tinggi dalam konteks ini adalah pelibatan mahasiswa menyangkut hal-hal tingkat pendidikan, evaluasi, renovasi metode pengajaran dan kurikulum, bahkan dalam perumusan kerangka kerja institusional perguruan tinggi. Dari uraian di atas dapat dirumuskan inti paradigma perguruan tinggi di era otonomi daerah yang tertumpu pada tiga pilar utama yaitu: Pertama, kemandirian lebih besar (greater autonomy) dalam pengelolaan atau otonomi. Otonomi seluasluasnya adalah otonomi bukan dalam hal pengelolaan secara manajerial, tetapi juga hal penentuan atau pemilihan kurikulum dalam rangka penyesuaian perguruan tinggi dengan dunia kerja berfungsi selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menguasai sains dan teknologi, ilmu-ilmu sosial dan humaniora,
202
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI DI ERA OTONOMI DAERAH

tetapi juga harus mengembangkan seluruh bidang tersebut melalui penelitian dan pengembangan. Dalam kerangka otonomisasi ini pemerintah telah mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) No. 60/1999 yang memberikan kewenangan yang lebih luas kepada kepada perguruan tinggi untk mengembangkan dirinya. Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum PP No. 60 Tahun 1999 merupakan perubahan PP No. 30 Tahun 199o tentang Perguruan Tinggi yang dalam segi tertentu seperti kategorisasi perguruan tinggi dalam bentuk universitas, institut, sekolah tinggi politeknik dan akademi masih belum cukup reformis sehingga belum banyak memungkinkan terciptanya iklim kondusif bagi implementasi paradigma baru perguruan tinggi. Dalam persoalan otonomi ini ada baiknya ditambahkan catatan yang dikemukakan R. Berdhal. Menurutnya, dalam membahas otonomi sangat bermanfaat membuat sebuah distingsi antara otonomi prosedural dan otonomi substantif pada satu pihak dan kebebasan akademik (academic freedom) pada pihak lain. Otonomi substantif adalah kekuasaan atau kewenangan perguruan tinggi untuk menentukan tujuan dan program-program sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan otonomi prosedural adalah kekuasaan dan atau kewenangan perguruan tinggi secara kelembagaan untuk menentukan caracara guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. Pada pihak lain, kebebasan akademis adalah kebebasan dosen dan ilmuwan secara personal dalam pengajaran dan penelitian untuk mencapai kebenaran tanpa khawatir atau takut kepada hukuman, pemecatan dan sebagainya. Masalah pengembangan otonomisasi lebih luas ini tentu saja harus dikaitkan dengan tanggungjawab (responsibility) dan akuntabilitas (accountability). Harus diakui, dalam hal tanggungjawab ini perguruan tinggi dituntut menggunakan otonomi secara bertanggungjawab. Tetapi, pada pihak lain pemerintah yang memberikan otonomi seharusnya pula tidak memberikan otonomi yang ambiguous, seperti tercermin dalam bagian tertentu PP No. 60 Tahun 1999, misalnya tentang pengangkatan dosen, pegawai dan lain-lain. Akibatnya, perguruan tinggi tetap menghadapi banyak kendala yang sangat menyulitkan dalam rangka mengaktualisasikan otonomi tersebut.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

203

SYAHRIZAL

Kedua, akuntabilitas dan tanggungjawab urai (greater accountability) bukan hanya dalam pemanfaatan sumber-sumber keuangan secara lebih bertanggungjawab, tetapi juga dalam pengembangan keilmuan, kandungan pendidikan dan program-progam yang diselenggarakan. Akuntabilitas ini tidak hanya kepada pemerintah sebagai pembina pendidikan atau pemberi sumber dana dan sumber daya lainnya, tetapi juga kepada masyarakat dan stakeholders, yang memakai dan memanfaatkan lulusan perguruan tinggi. Di sini terkait pula akuntabilitas terhadap dunia profesi dan masyarakat luas. Ketiga, jaminan yang lebih besar terhdap kualitas (greater quality assurance) melalui evaluasi internal (internal evaluation) yang dilakukan secara berkesinambungan (kontiniue) dan evaluasi eksternal (external evaluation), yang sekarang ini dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Dalam hal terakhir ini, BAN harus meningkatkan fungsinya dengan menentukan standar-standar yang lebih fleksibel dan dinamis, sehingga tetap memungkinkan bagi perguruan tinggi untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan dunia kerja. BAN juga harus melibatkan lebih banyak unsur stakeholders dalam organisasinya, sehingga memungkinkan terjadinya penilaian dan pengakuan yang sesungguhnya dari masyarakat, yang sangat berkepentingan dengan hasilhasil perguruan tinggi. Dengan ketiga pilar paradigma baru perguruan tinggi ini, jelaslah bahwa satu pilar dengan pilar-pilar lainnya saling berkaitan dan bahkan saling interdepedensi. Ketiga pilar itu mesti dilaksanakan secara simultan. Sebab jika tidak demikian perguruan tinggi tetap mengalami kesulitan dalam mewujudkan fungsi dan perannya seperti dirumuskan dalam paradigma baru perguruan tinggi. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan paradigma perguruan tinggi merupakan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan di era otonomi daerah. Perubahan ini dimaksudkan agar perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi besar dalam rangka pembangunan masyarakat secara keseluruhan dan berkelanjutan. Bagi Provinsi Aceh dengan otonomi khususnya, perubahan paradigma perguruan tinggi yang selaras dengan Syariat Islam merupakan problema besar
204
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI DI ERA OTONOMI DAERAH

yang memerlukan pemikiran bersama. Paradigma perguruan tinggi berbasis Syariat Islam harus dirumuskan secara komprehensif dan integratif antara nilai Syariat dengan nilai yang berkembang dalam dunia pendidikan modern.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

205

SYAHRIZAL

Daftar Pustaka
A. Malik Fajar. (t.t.). Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta, Dirjen Binbaga Islam. Bambang Suhendro. (1996). Kerangka Pengembangan Perguruan Tinggi Jangka Panjang. Jakarta: Dirjen Dikti. D. A. Tisna Amijaya. (1976). Kerangka Pengembanagan Perguruan Tinggi Jangka Panjang, 1976-1985. Jakarta: Dirjen Dikti. R. Berdhal. (1990). Academic Freedom, Outonomy and Acountability in British Universitas, dalam Studies in Higher Education. Vol. 15. Santoso S Hamidjojo. (1999). Platform Reformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Tim Kerja Peduli Reformasi Pendidiakn Nasional. Sukadji Ranuwihardjo. (1985). Kerangka Pengembangan Perguruan Tinggi Jangka Panjang 1936-1995. Jakarta: Dirjen Dikti. UNESCO. (1988). Higher Education in the Twenty-First Century : Vision and Action. Paris : UNESCO.

206

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Adi Kasman
Dosen bahasa Arab/Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI-Tarbiyah) pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)Teungku Dirundeng Meulaboh.

Abstract Language is a media of communication between one and another so that it is essential to understand the object being discussed during a communicative interaction to achieve its target. However, if the interaction is not communicative due to language constraint, the communication target is addressed. Arabic language has been an important language to be learned by Muslim in order to reach their successes. Due to its importance, Muslim will give best efforts in learning this language even though they have to sacrifice their time, cost and energy. One of the approaches in learning Arabic language is the communicative approach which will guide teachers in developing the active communication in classroom so that the interaction to speak Arabic will occur among students. Kata kunci: Pendekatan komunikatif, pembelajaran bahasa

ADI KASMAN

Pendahuluan Bahasa Arab merupakan bahasa Alquran sebagaimana ditegaskan Allah swt dalam Surat Yusuf ayat 2 yang artinya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan Bahasa Arab, agar kamu memahaminya”. Selanjutnya dalam Surat Thaha ayat 113, “Dan demikianlah Kami menurunkan Alquran dalam Bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali didalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertaqwa atau agar Alquran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka”. Manusia diciptakan oleh Allah Swt. berpasang-pasangan, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal satu sama lain sekaligus makhluk sosial tentu tidak dapat hidup sendiri tanpa berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya maupun lingkungan sekitarnya. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah Swt. Menyatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…”. Sarana yang paling aktual dan efektif yang harus dimiliki dan dikuasai dalam berkomunikasi dan berinteraksi adalah bahasa, baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun isyarat. Sebagai sebuah sarana, tentu bahasa dapat dipelajari, ditiru, diajarkan bahkan diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Dilandasi atas kebutuhan tersebut, tentu pengajaran dan pembelajaran bahasa harus dilandasi dengan sikap kesadaran bahwa orang yang sedang dan akan belajarlah yang sangat memerlukan bahasa dalam kehidupannya. Dilandasi nilai kesadaran inilah sang pengajar, guru atau dosen dapat memilih salah satu dari berbagai macam bentuk pendekatan (approach) yang harus disesuaikan dengan tujuan dan kepentingan anak didik terhadap bahasa yang sedang dipelajari termasuk bahasa Arab. Perkembangan mahasiswa yang masuk keperguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta pada umumnya menunjukkan bahwa mereka kurang memiliki kemampuan dasar bahasa Arab baik dari MA, SMA maupun dayah. Mereka masih minim menguasai mufradat atau vocabulary bahasa tersebut sehingga dalam proses perkuliahan masih banyak didapati hambatan dan kesulitan dalam pembelajaran, lebih-lebih bila ditinjau dari segi gramatikal atau kaidah nahwiyahnya (qawaid).
208
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Bahasa Arab sebagai tujuan adalah sesuatu yang diungkapkan dan dikomunikasikan. Menurut Syekh Mustafa Ghalayaini (1997:7), bahasa adalah suatu lafaz yang diungkapkan oleh suatu kaum tentang tujuan mereka, sedangkan bahasa Arab itu adalah kata-kata yang diungkapkan oleh orang-orang Arab tentang tujuan yang ingin mereka sampaikan. Sehubungan dengan hal tersebut, William Moulton dari Universitas Princeton mengatakan, “Bahasa adalah ujaran. Suatu bahasa adalah seperangkat kebiasaan. Ajarkanlah bahasa bukan sesuatu mengenai bahasa. Bahasa adalah yang dikatakan oleh penutur asli” (Muradi, t.t.). Ungkapan tersebut memberikan suatu isyarat bahwa berbicara dengan bahasa Arab tentu harus memahami benar kaidah-kaidahnya sehingga tujuan yang akan dibicarakan betul-betul dapat dipahami oleh pendengar dalam artian tata bahasanya dijelaskan di tengah-tengah proses pembelajaran dan tidak terlalu memberikan penekanan kepada kaidah itu, namun kalau terjadi kesalahan termasuk baris/harakahnya sehingga dapat merobah maknanya, maka pada saat itu perlu dibetulkan sehingga tidak terulang lagi kesalahan pada kesempatan berikutnya. Rasulullah menyuruh umat Islam untuk belajar bahasa Arab, “Pelajarilah oleh kalian bahasa Arab karena bahasa Arab itu adalah bahasa agamamu.” Ini memberikan isyarat pentingnya belajar bahasa Arab, karena dengan mempelajarinya akan dapat lebih mudah memahami Alquran dan Hadis dalam teks aslinya serta kitab-kitab mu’tabar yang disusun oleh para ulama baik ulama mutaqaddimin maupun ulama mutaakhirin. Di samping itu dituntut kepada umat Islam untuk selalu mempelajari ilmu agama dari sumbernya yang asli dan alangkah baik dan indahnya lagi apabila umat Islam khususnya dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab. Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam berkomunikasi, terutama bahasa asing termasuk bahasa Arab, sangat erat hubungannya dengan berbagai macam faktor penunjang antara lain : (1) kompetensi dasar tenaga pengajar yang profesional, (2) kompetensi dasar bahasa Arab mahasiswa, (3) buku referensi yang memadai, (4) media belajar dan, (5) tujuan mempelajarinya. Menurut Mansyur et. al. (1995: 67) pendekatan (approach) dalam mengajarkan bahasa Arab ada empat macam, yaitu “humanistic approach”, maksudnya adalah “pendekatan manusiawi”, “media based approach” pendekatan sarana tehnik, “analytical approach” pendekatan “analisis” dan “non analisis” dan communicative
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

209

ADI KASMAN

approach” yaitu pendekatan komunikatif. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut diharapkan kepada pengelola pendidikan baik sekolah, madrasah maupun dayah harus benar-benar memperhatikan faktor-faktor tersebut. Pembelajaran bahasa Arab Mempelajari suatu bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa asing lainnya termasuk bahasa Arab, adalah merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Sedangkan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam, bahasa Arab adalah sebagai bahasa agama dan hal ini dapat dibuktikan dengan petunjuk dan pedoman hidup orang Muslim yaitu Alquran dan Hadis. Alquran sendiri telah mulai diajarkan kepada anak-anak semenjak mereka masih kecil. Tetapi apabila dilihat dan perhatikan dengan seksama pengajaran bahasa Arab dimana-mana pada umumnya masih menitik-beratkan pada grammatical translation method. Menurut Masduki (2000), di antara indikator-indikator pembelajaran bahasa Arab yang masih kurang tepat untuk diterapkan: Pertama, Guru atau pengajar dalam memberikan materi pelajaran masih terikat sekali dengan kaidah tata bahasa dimana para siswa diharuskan untuk menghafalnya. Kedua, Siswa diperintahkan untuk menghafal kata-kata yang sesuai dengan kaidah. Ketiga, Penerjemahan kalimat (kata-kata) atau jumlah (kalimat) kedalam bahasa pelajar. Keempat, Pengajaran dan pembelajarannya tidak didukung dengan alat peraga atau alat bantu lainnya”. Sehingga pada akhirnya walaupun sudah pernah belajar bahasa Arab sekian lama, akan tetapi kenyataannya masih sangat sulit untuk memahami dan menguasai bahasa Arab. Ahmad Muradi mengatakan bahwa dalam pengajaran bahasa salah satu segi yang sering disoroti adalah segi metode. Sukses tidaknya suatu program pengajaran bahasa seringkali dinilai dari segi metode yang digunakan. Sebab metodelah yang menentukan isi dalam mengajarkan bahasa. Sedangkan metodemetode pembelajaran bahasa kedua lainnya, terutama bahasa asing, masih minim yang digunakan dan diterapkan. Di antaranya metoda Langsung “direct method”, Metoda Alamiah, “natural method”, Metoda Psikologi, “Psychological method”, Metoda Membaca, dan “reading method” (Masduki, 2000: 2). Sementara itu menurut analisa Mochtar Affandi, bahwa dari segi metode pembelajaran yang dimuat Az-Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi dua kategori.
210
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Pertama, metode yang bersifat etik, dan yang kedua metode yang bersifat strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar; sedangkan metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar (Nata, 2001: 109). Oleh karena itu diharapkan kepada semua guru sedapat mungkin menggunakan metoda-metoda tersebut dalam melaksanakan atau menginternalisasikan materi pelajaran kepada peserta didik, menentukan materi pelajaran yang sesuai, menganjurkan memilih teman yang selalu berusaha untuk dapat memahami dan selalu berusaha untuk berkomunikasi aktif agar dapat lebih cepat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Pendekatan, metode dan teknik pembelajaran bahasa Arab Dalam pembelajaran bahasa ada empat macam kemampuan dasar pokok berbahasa, antara lain: (1) menyimak (al-istima’) atau memperhatikan (2) komunikasi (al-muhadatsah) (3) membaca (al-qira’ah) dan, (4) menulis (al-kitabah). Seseorang yang ingin belajar bahasa Arab dengan tujuan dapat berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, maka pendekatan, metode (at-thariqah) dan tehnik pembelajarannya (method study) akan terdapat perbedaan dengan orang yang belajar hanya sekedar untuk mampu membaca (al-qira’ah) dan memahami makna, terjemah dan menulis bahasa tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil dalam pembelajaran bahasa Arab yang mula-mula sekali harus diprediksikan dan ditetapkan oleh tenaga pengajar adalah apa tujuan pembelajarannya dan kemampuan apa pula yang ingin dicapai oleh objek pembelajaran. Selanjutnya seorang guru, tenaga pengajar atau orang yang terlibat langsung dengan proses pembelajaran bahasa Arab diharapkan sering mengadakan interaksi yang komunikatif dengan sasaran supaya peserta didik dapat berkomuniksi secara aktif dan praktis dengan kalimat yang sederhana. Lebih jauh Ibnu Taimiyah menganjurkan agar mewajibkan penggunaan bahasa Arab dalam pengajaran dan percakapan. Hal ini didasarkan pada pandangannya bahwa penguasaan secara mendalam dan teliti terhadap bahasa Arab merupakan tuntutan Islam dan sesuatu yang hukumnya fardhu ‘ain di kalangan ulama salaf. Orang-orang salaf mewajibkan anak-anaknya agar berbahasa Arab dan memandang bahasa Arab sebagai bahasa yang paling mulia.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

211

ADI KASMAN

Ketika Allah mewahyukan kitab-Nya dengan menggunakan bahasa Arab, maka Rasulullah saw. juga menyampaikan wahyu tersebut kepada orangorang mukmin dengan menggunakan bahasa Arab dan mengajak umat agar mengucapkan wahyu dengan bahasa Arab (Nata, 2001: 149). Ini memberikan suatu gambaran, bahwa dalam mengajarkan bahasa Arab sedapat mungkin membiasakan oleh guru melatih peserta didik berbahasa Arab secara aktif dan komunikatif, sehingga akan memperoleh hasil apa yang telah dirumuskan dalam rencana program pembelajaran. Interaksi komunikatif ini merupakan suatu terobosan atau pembaharuan yang sangat strategis dalam proses pengajaran bahasa lebih-lebih bahasa asing termasuk Bahasa Arab dimana pendekatan ini sangat integral serta ciri-cirinya cukup jelas. Diharapkan kepada tenaga pendidik jangan terlalu fokus atau memperhatikan tentang kesalahan baris (al-harakah) bila mendengar murid membaca, berbicara atau bertanya, apabila kesalahan-kesalahan yang dilakukan itu tidak mempengaruhi makna atau maksudnya. Akan tetapi guru harus hati-hati dan teliti bahkan kalau perlu dicatat kesalahan tersebut untuk diadakan perbaikan dan pembahasan pada waktu dan kesempatan yang lain. Untuk mencapai tujuan dan hasil yang maksimal dalam pembelajaran bahasa asing termasuk bahasa Arab sebagai bahasa kedua second language bagi bangsa Indonesia yang beragama Islam setelah bahasa Nasional. Ustaz dan ustazah yang mengajar di madrasah-madrasah, baik Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan bahkan sampai Perguruan Tinggi sekalipun harus betul-betul paham perbedaan antara pendekatan, metoda dan teknik penyampaian dalam proses interaksi belajar-mengajar. Menurut Ramayulis (1990:127), pendekatan itu merupakan terjemahan dari kata approach dalam bahasa Inggris diartikan dengan come near (menghampiri) go to (jalan ke) dan way/path dengan (berarti jalan) dalam pengertian ini dapat dikatakan bahwa approach adalah cara menghampiri atau mendatangi sesuatu. Pendekatan adalah cara pemrosesan subjek atas objek untuk mencapai tujuan. Pendekatan juga bisa berarti cara pandang terhadap sebuah objek persoalan, dimana cara pandang itu adalah cara pandang dalam konteks yang lebih luas. Hal ini karena ketiga faktor yang telah disebutkan itu satu sama lain hubungannya sangat erat dan saling keterkaitan. Teknik merupakan penjabaran
212
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

dari metoda, sementara metoda adalah penjabaran dari pendekatan, sementara pendekatan itu merupakan penjabaran dari hakekat/tujuan belajar. Pengertian dari pada pendekatan, metode dan teknik pengajaran bahasa: Pertama, Pendekatan komunikatif (mudkhal-approach) yaitu “suatu pandangan secara filosofis tentang praduga mengenai hakikat bahasa dan pengajarannya yang sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang ingin diperoleh dalam pembelajarannya” (Masduki, 2000:3). Pendekatan komunikatif juga dijelaskan “mengajarkan bahasa dengan sasaran mampu berkomunikasi aktif dan praktif ” (Mansyur, 1995: 67). Seperti mempelajari suatu bahasa umpamanya bahasa Arab sebagai sarana bantu untuk memahami ilmu-ilmu yang ditulis dalam bahasa tersebut, metoda dan tekniknya sungguh banyak sekali terdapat perbedaan- perbedaan dengan belajar bahasa sebagai sarana berkomunikasi. Namun apabila belajar bahasa Arab itu untuk mendengar, memahami dan bercakap-cakap apa yang didengar dan diucapkan maka pendekatannya (approach) dalam pengajarannya hanya mendengar dan memahami saja apa yang didengar dan diucapkan. Dengan demikian pendekatan hanya terbatas pada materi (al-madah) yang diperlukan untuk mengungkapkan dan interaksi komunikasi saja. Kedua, metode thariqah adalah perencanaan komperehensif yang mempunyai relasi dalam mengaplikasikan materi pelajaran secara teratur dan tidak bertolak belakang berdasarkan atas suatu pendekatan (mudkhal-approach). Karena metode pembelajaran ini bersifat proseduril, maka dengan demikian seseorang dalam mengadakan proses interaksi pembelajaran dapat saja memilih berbagai macam metode thariqah, asalkan sesuai dengan tujuan pendekatan (mudkhal-approach)– nya itu. Bercorak ragamnya metode ini karena erat sekali hubungannya dengan faktor-faktor yang dapat mempengruhi proses pembelajaran, antara lain adalah : a. Latar belakang bahasa asing yang pernah dipelajari. Dalam hal ini dapat dianalisis latar belakang pendidikan mahasiswa apakah mereka pernah mempelajari bahasa asing, umpamanya bahasa Arab. Setelah hal ini diketahui, maka metode pembelajarannya yang akan diterapkan jauh berbeda dengan pembelajaran bahasa Arab untuk orang Arab sendiri atau untuk orang asing. b. Latar belakang kebudayaan ( sosio kultural ) (Mansyur, 1995:68). c. Pengalaman belajar bahasa Arab atau bahasa asing lainnya.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

213

ADI KASMAN

d. Tujuan pengajaran, apakah untuk sekedar dapat membaca, berbicara, terjemah atau hanya sebagai pengetahuan bahasa teoritis saja. Penggunaan pendekatan komunikatif Banyak pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pengajaran bahasa Arab atau bahasa asing lainnya antara lain pendekatan komunikatif (al-mudkhal alittishali). Pendekatan ini dilandasi dengan tujuan agar para siswa dapat memiliki kemampuan interaksi komunikasi dengan mewujudkan penggunaan bahasa Arab dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Dengan pendekatan semacam ini diharapkan seseorang yang belajar bahasa Arab dapat menggunakan pola-pola yang seseuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu. Disebutkan dalam Jurnal At-Ta’dib, Vol.1 (1), 2009:43 bahwa “Pendekatan pembelajaran dengan bagaimana (how top) membelajarkan atau bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik.” Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan sebuah bahasa ada empat macam kemampuan dasar (Basic Competence) yang perlu dikuasai oleh seseorang yang mempelajari bahasa Arab, yaitu: 1. Kemampuan dasar tata bahasa / gramatika (al-qawa’id). 2. Kemampuan memahami konteks sosial yang melandasi dimana ia berkomunikasi (sosio linguistik/al-lughah al-ijtima’iyah). 3. Memahami / sanggup menganalisa percakapan dan atau pernyataan teman bicara, yaitu mampu menganalisis susunan kalimat dan hubungan antar kalimat serta metode melafalkan suatu makna. 4. Kemampuan strategik, cekatan dalam memilih metode dan strategi agar suatu percakapan dapat berlangsung dengan lancar. Artinya mampu memilih gaya bahasa yang sesuai ketika memulai dan atau menutup suatu pembicaraan serta mampu mengalihkan perhatian teman bicara. Disamping itu guru hendaknya tidak memberlakukan peserta didiknya sebagai penonton saja melainkan harus mengikutsertakan dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dengan guru. Dengan demikian, pengembangan dan pendayagunaan berbagai macam metode dapat dioptimalisasikan. Artinya metode
214
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

pengajaran bahasa termasuk bahasa Arab perlu diterapkan dengan pendekatan kultural partisipatif dan kreatif. Untuk mencapai interaksi dalam pembelajaran dibutuhkan komunikasi antara keduanya, yang memadukan dua kegiatan, yaitu kegiatan mengajar (usaha guru) dan kegiatan belajar (tugas peserta didik). Guru perlu mengembangkan komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran karena seringkali kegagalan pengajaran disebabkan oleh lemahnya sistem komunikasi (Ramayulis, 1990:134). Untuk adanya suatu perobahan dan pengembangan dalam berkomunikasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dicermati, antara lain : 1. Adanya informasi yang belum diketahui oleh dirinya atau lawan bicaranya sehingga mendorongnya untuk bertanya atau membicarakan dan membahas sesamanya sehingga memperoleh informasi yang jelas dan sesuai dengan tujuannya. 2. Memiliki kemampuan dalam memilih kosa kata yang tepat dan sesuai dengan kondisi dan situasi serta lawan bicaranya. Umpamanya saat terjadi percakapan dengan sapaan kaifa haluka ia dapat memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan keadaan yang dialaminya, antara lain adalah : bikhair, alhamdulillah, atau bikhair saja la ba’sa, atau alhamdulillah. 3. Adanya umpan balik (feedback, taghdziyah raji’ah) yaitu reaksi dari lawan bicara (Mansyur, 1995:70). Tentu saja hal itu harus dilandasi dengan aplikasi latihan yang bermuara kepada mengubah kosa kata (taghyir kalimah bikalimah) atau menyempurnakan kalimat (takmil jumlah mu’ayyanah), atau bentuk latihan lain yang tidak membangkitkan reaksi lawan bicara. Dalam proses pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan komunikatif ini dapat dikemukakan beberapa prinsip, antara lain: 1. Menggunakan teks-teks Arab yang asli, seperti materi yang diambil atau dikutip dari buku pelajaran, majalah atau koran yang berbahasa Arab. 2. Pembelajaran di dalam kelas, bahasa Arab diaplikasikannya sebagai alat/ sarana percakapan (berkomunikasi). 3. Melatih dan membiasakan peserta didik supaya secara otomatis mampu menggunakan bahasa Arab dalam berbagai bentuk ungkapan percakapan untuk mengungkapkan suatu maksud, seperti bertanya sesuatu,
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

215

ADI KASMAN

4.

5.

6.

7.

menyangkal dan menegur lawan bicara dalam berbagai bentuk susunan kalimat. Peserta didik diberi waktu dan kesempatan untuk mengungkapkan kesan pesan, komentar dan ide-idenya berkenaan dengan materi yang telah mereka baca dan dengar, meskipun dengan ungkapan yang sangat sederhana dan masih terdapat kesalahan-kesalahan dalam aplikasinya. Melalui penerapan seperti ini yang pada akhirnya sedapat mungkin siswa dapat diharapkan akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Peserta didik dilatih dan diarahkan untuk mampu berkomunikasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Dalam interaksi ini, menurut Nizar (2007:16), guru-guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Hal ini karena suatu bahasa tidak terlepas dengan keadaan alam sekitarnya pada saat mereka berinteraksi dengan sesamanya. Rasulullah saw. dalam mengajarkan para sahabatnya menggunakan berbagai macam metode, seperti (1) metode ceramah, (2) dialog, (3) diskusi, (4) metode demonstrasi, misalnya hadis Rasulullah, “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku sembahyang,” (5) metode eksperimen, sosiodrama dan bermain peran.” Disamping itu, latihan demi latihan yang dilakukan dalam pengungkapan berbahasa mutlak harus dilakukan karena dengan pembiasaan latihan akan memperoleh target ketercapaian tujuan. Guru memberikan motivasi dan bimbingan kepada peserta didik untuk dapat mengaplikasi bahasa yang hidup dalam berinteraksi sesamanya sesuai dengan kebutuhan dan keperluan, maksudnya mereka jangan hanya sekedar dilatih untuk mengulangi dan menghafal kata-kata maupun kalimat saja, artinya guru/dosen memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk berperan serta dalam kegiatan pembelajaran di dalam maupun diluar ruangan, sehingga mereka terdorong memiliki perhatian dan percaya diri yang besar dalam belajar. Guru berusaha dengan berbagai macam cara dan metode untuk dapat mengembangkan kemampuan peserta didik dalam interaksi komunikasi melalui aktifitas yang mungkin dapat dipahami dan dihayati, seperti sandiwara pendek, berdiskusi dan memecahkan masalah aktual.
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

216

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Prinsip-prinsip metode pembelajaran komunikatif Metode pembelajaran yang diterapkan oleh seorang tenaga pengajar dalam proses pembelajaran banyak jenisnya, baik secara tradisional maupun metode modern, disini akan lebih penting diperhatikan dalam mengaplikasikan metodemetode tersebut. Prinsip tersebut adalah bahwa individu adalah manusia orang seorang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain, tiap-tiap manusia mempunyai jiwa sendiri (Dradjat, t.t.: 118). Dalam konteks ini guru sebagai sumber belajar. Memahami prinsip-prinsip mengajar yaitu dengan menanamkan pengetahuan dan kecakapan dengan cara yang cepat dan tepat memerlukan penguasaan teoriteori. Disamping itu, harus berorientasi pada tujuan dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan siswa, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Sanjaya, 2006:131). Hal ini menunjukan betapa pentingnya bagi seorang guru atau dosen utnuk betulbetul memahami serta menguasai teori-teori mengajar dan metode-metodenya, seperti metode hiwar Qurani. Hiwar adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik yang mengarah kepada suatu tujuan (Ramayulis, 1990:252). Dengan demikian, peserta didik akan lebih berkesan dan mantap dalam menerima bahan ajarnya. Jika dibandingkan antara seorang mahasiswa yang pada dasarnya pandai dengan mahasiswa yang kurang pandai, maka akan dapat ditemukan beberapa perbedaan antara lain: cepat menangkap isi pembelajaran, tahan lama memusatkan perhatian pada pembelajaran dan kegiatan, dorongan ingin tahu kuat, banyak inisiatif, cepat memahami prinsip-prinsip dan pengertianpengertian memiliki minat yang luas, sedangkan pada mahasiswa yang kurang pandai berlaku keadaan sebaliknya (Dradjat, t.t.: 120). Keadaan seperti itu memberikan suatu tafsiran dimana seorang guru atau dosen juga harus betul-betul memahami kondisi peserta didik sehingga dapat mensinerjikan langkah-langkah dalam memformulasikan proses belajar mengajar, sehingga pada akhirnya dapat mengatasi kesulitan yang ditimbulkan akibat perbedaan kompetensi dasar peserta didik dalam berbahasa Arab. Tenaga pengajar juga harus selalu mengadakan evaluasi terhadap proses pembelajaran
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

217

ADI KASMAN

tersebut dan harus dapat dipertanggung jawabkannya kepada publik. Menurut Daryanto (2008:17), dalam pertanggungjawaban hasil yang telah dicapai, pihak pengembang perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari sistem yang sedang dikembangkannya serta usaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut sehingga benar-benar dapat diketahui secara nyata perbedaan kompetensi peserta didik tersebut Dalam mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran, dimana guru sebagai sumber belajar (learning resources) bagi siswa, siswa akan belajar apa yang keluar dari mulut guru. Oleh karena itu ada pepatah mengatakan “bagaimanapun pintarnya siswa, maka tidak mungkin dapat mengalahkan pintarnya guru.” Namun demikian, pembelajaran itu dapat memberikan suatu pengertian membelajarkan siswa (Sanjaya, 2006:147). Lebih jauh Hamalik (2001:155) mengatakan bahwa guru dengan sengaja menciptakan kondisi dan lingkungan yang menyediakan kesempatan belajar kepada para siswa untuk mencapai tunjuan tertentu, dilakukan dengan cara tertentu, dan diharapkan memberikan hasil tertentu pula kepada siswa. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang di dalamnya terdapat pernyataan “bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana” dimana suatu perencanaan yang matang, profesionalitas guru memilih metode mengajar, didukung sarana dan prasarana yang memadai sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya (Sanjaya, 2006:132). Sebagaimana telah disebutkan bahwa belajar bahasa Arab adalah belajar bahasa agama, maka nilai kekuatan keagamaan tidak terlepas dari penguasaan bahasa Arab yang baik pula. Akan tetapi langkah-langkah yang ditempuh harus berorientasi pada prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran tersebut dapat dikemukakan beberapa hal, antara lain berorientasi pada tujuan karena dalam proses pembelajaran tersebut, guru harus menetapkan suatu strategi untuk memperoleh hasil yang lebih baik yang telah direncanakan sebelumnya. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang harus digunakan guru. Ini dapat dilihat dalam praktek sehari-hari dimana guru/dosen lebih banyak menggunakan bahkan senang berceramah. Guru yang senang
218
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

berceramah, hampir setiap tujuan menggunakan strategi penyampaian, seakanakan dia berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat dicapai dengan strategi yang demikian (Sanjaya, 2006:131). Penggunaan berbagai macam strategi dalam proses pembelajaran itu merupakan langkah yang sangat tepat untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam rencana pembelajaran, demikian juga halnya dalam proses pembelajaran bahasa Arab sangat dituntut kepada seorang guru/dosen untuk menggunakan berbagai macam metode sehingga dengan demikian dapat mengurangi kebosanan peserta didik dalam proses pembelajaran dan diharapkan tidak selalu mengandalkan metode ceramah. Penutup Pendekatan komunikatif dalam proses pembelajaran, terutama bahasa asing termasuk didalamnya bahasa Arab sangat dituntut bagi seorang guru, karena dengan interaksi komunikasi yang aktif dapat menumbuh kembangkan semangat pembelajaran bagi peserta didik, lebih-lebih dalam bermuhadasah, sehingga antara guru/dosen dalam proses pembelajaran dapat terjadi komunikasi yang aktif meskipun dalam ungkapan-ungkapan yang sederhana. Penggunaan berbagai macam metode sangat perlu dikuasai oleh seorang guru atau dosen dan diaplikasikan pada saat proses pembelajaran. Pengajar yang profesional selalu berusaha untuk dapat memahami bagaimana keadaan peserta didiknya, apakah mereka telah dapat memahami dan dapat dipraktekkan sesamanya apa yang telah disampaikan, apakah mereka telah mengalami proses belajar, apakah pelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman para peserta didik. Demikian juga dalam proses pembelajaran bahasa Arab, sejauh mana kemampuan peserta didik dalam penguasan materi pembelajarannya. Di samping itu apakah telah memenuhi prinsip-prinsip belajar, dimana manusia adalah orang seorang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri, sehingga dalam proses pembelajaran bahasa Arab itu dapat terjadi interaksi komunikasi yang aktif dan progresif.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

219

ADI KASMAN

Daftar Pustaka
Daryanto. (2008). Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Dradjat, Zakiah et.al. (t.t.). Metodik khusus pengajaran agama Islam. Jakarta. Ghalayaini, Mustafa. (1997). Jami’ud durus al-Arabiyah. Libanon, Beirut: Darul Fikri. Hamalik, Oemar. (2001). Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem. Jakarta: Bumi Aksara. Mansyur, Moh. et.al. (1995). Materi pokok bahasa Arab I: Modul 2. Jakarta: Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI. Masduki, Ridlo. (2000). Makalah pengajaran bahasa Arab, disampaikan pada acara pelatihan bahasa Arab untuk Guru MAK se-Indonesia di Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Muradi, Ahmad. (t.t.). Metode drill dalam pembelajaran bahasa Arab. Jurnal Ilmiah, IAIN Antasari Banjarmasin. Nata, Abuddin. (2001). Pemikiran para tokoh pendidikan Islam: Seri kajian filsafat Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nizar, Samsul. (2007). Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media. Ramayulis. (1990). Metodologi pendidikan agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia. Sanjaya, Wina. (2006). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. At-Ta’dib. Jurnal ilmiah prodi pendidikan agama Islam, Vol. I, No.I, 2009: 43.

220

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Konsep Metodologi Pembelajaran Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi
Suatu Perbandingan Pemikiran
Fithriani
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dalam bidang bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Tahun 1999. Kemudian melanjutkan pendidikan Progam Magister (S2) Kosentrasi Pendidikan Islam pada IAIN Ar-Raniry, selesai tahun 2006.

Abstract Ibn Khaldun and Al-Abrasyi are the well-known scholars in Islamic education with enormous influence in the development of Islamic education. This article is a comparative study on concept of learning methodologies developed Ibn Khaldun and Al-Abrasyi. This study has similar and different versions with other concept of learning methodologies. However, in addition to some similarities, there are also substantial differences in the rate of formative constructive. The equity of Ibn Khaldun thought about the concept of learning methodologies is based on the assumption that human ability to understand and master the thing is just running a little by little. The deal done by Al-Abrasyi on the thought of Ibn Khaldun and luminaries of classical Islamic education is the only good intentions and brilliant mind that Al-Abrasyi pursued by various ways, namely to re-awake the Islamic world to have theories of classical Islamic education which have ever been voiced and practiced in the era of Islamic development to be implemented in the current Islamic educational practice. Kata kunci: Ibnu Khaldun, al-Abrasyi, metodologi pembelajaran

FITHRIANI

Pendahuluan Metodologi pembelajaran merupakan unsur subtansial dalam proses pendidikan Islam. Proses pembelajaran tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan mana kala tidak ditopang oleh metodologi yang tepat dan akurat. Adagium Usuli’yah menyatakan, Al-‘Amru bi Syai’in ‘Amru Biwasaailihi walil waaili Hukmu Maqashidihi (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 229). Implikasi pedagogik dari adagium ini adalah bahwa proses pembelajaran menghendaki metodologi yang jelas dan tepat guna untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itu, hampir semua pakar pendidikan Islam klasik maupun modern membahas secara mendalam unsur subtansial ini. Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi merupakan dua pakar pendidikan Islam yang cukup dikenal, Ibnu Khaldun melalui karya momentalnya, Muqaddimah dikenal bukan hanya seorang sosiolog akan tetapi sebagai padagog muslim klasik (Muhammad Jawwad Ridha, 2002: 173-195). Pemikirannya banyak dikaji oleh para peneliti yang tidak hanya komunitas ilmuan muslim tetapi juga oleh para komunitas ilmuan non muslim. Sedangkan Al-Abrasy merupakan pakar pada Islam modern yang juga cukup dikenal di dunia Islam, paling tidak melalui berbagai karyanya. Karya-karyanya terdiri lebih dari 50 judul, 13 judul di antaranya berbicara langsung mengenai pendidikan Islam (Muhammad ’Athiyah al-abrasyi: 309-331). Kedua pakar tersebut memberikan perhatian yang sangat besar terhadap konsep pendidikan pada umumnya dan metodologi pembelajaran khususnya. Perhatian Ibnu Khaldun mengenai pendidikan pada umumnya dan metodologi pembelajaran dapat dilihat secara jelas dalam Muqadimah keenam dari bab pertama, sepuluh pasal pada akhir bab kelima serta sebagian besar bab keenamnya (Fathiyah Hasan Sulaiman, 1997: 2). Pembahasan Al-Abrasyi mengenai pendidikan terdapat dalam banyak karyanya, khususnya mengenai metodologi pembelajaran secara dominan dibahas dalam dua karyanya yakni, al-Tarbiyah al-Islamiyah Wafalasifatuha dan Ruh alTarbiyah wa al-Ta’lim. Pembahasan Ibnu Khaldun mengenai pendidikan, menurut Prof. Dr. Warul Walidin, dihampiri melalui pendekatan sosiologis. Warul Walidin menjelaskan betapapun Ibnu Khaldun lebih mencurahkan perhatiannya pada sosiologi dan
222
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

sejarah, akan tetapi ia secara khusus menyelidiki dengan cermat pedagogik di bawah sorotan metodologi ilmu sosial. Berbeda dengan Al-Abraisyi, pembahasannya mengenai pedagogik lebih cenderung menyoroti dari sisi historis filosofis. Kedua pakar ini menempuh jalan yang berbeda namun keduanya sama-sama merujuk pada sumber Islam (Alquran dan Hadis). Hal ini sangat wajar karena kedua tokoh pendidikan Islam, Ibnu Khaldun dan Al-Abraisyi hidup pada zaman yang jauh berbeda, Ibnu Khaldun dibesarkan dalam tradisi Islam klasik, sementara AlAbrasyi dibesarkan dalam tradisi Islam modern. Al-Abrasyi dalam membayar pemikiran pedagogiknya termasuk metodologi pembelajaran sedikit banyaknya dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran pendidikan modern. Profil Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi 1. Riwayat hidup singkat Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada tahun 1332 M dan meninggal di Mesir pada tahun 808 H/1406 M. Nama lengkap yang diberikan ayahnya adalah Waliyuddin Abdurrahman Ibnu Muhammad Ibnu al-Hasan Ibnu al-Jabir Ibn Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Abdurrahman Ibn Khaldun (Warul Walidin, 2003:26). Ibnu Khaldun berasal dari keluarga politis, intelektual, dan aristokrat, yang leluhurnya berasal dari Hadramaut, Yaman. Mereka hijrah ke Spanyol pada abad VIII bersama gelombang penaklukkan Islam di Semenanjung Andalusia (Abuddin Nata, 1997: 171). Ibnu Khaldun lahir dari keluarga yang mempunyai andil besar dan intelektualisme dan kemasyarakatan. Banyak di antara keturunannya menjadi nama terkemuka di Magribi dan Andalusia. Di antaranya adalah Umar bin Khaldun (wafat tiga abad sebelum lahirnya Ibnu Khaldun), penulis Muqaddimah yang terkenal dalam ilmu matematika dan Astronomi (Lutfi Jumi’ah :19). Pendidikan dan pengalaman yang digeluti Ibnu Khaldun seperti halnya anakanak muslim lainnya. Sewaktu kecil, ia menghafal Alquran dan belajar ilmu tajwid. Tempat belajarnya di Mesjid Al-quba yang sering disebut orang-orang Tunisia dengan mesjid El-quba (Abdul Wahid Wafi: 11). Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri yang sebaik mungkin mengurus pendidikan anaknya di samping mencari guru-guru lain untuk mempelajari sejumlah bahasa. a. Pendidikan dan pengalaman Di antara guru-gurunya adalah Abu 'Abdillah Muhammad Ibnu AlJurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

223

FITHRIANI

'Arabi Al-Hasyayiri dan Abu 'Abbas Ahmad Ibnu al-Qassar, serta Abu 'Abdillah Ibnu Bakar. Mempelajari Al-Hadis pada Syamsuddin Abu 'Abdillah Al-Wadiyasi. Sedangkan ilmu Fiqh, ia belajar pada Abu 'Abdillah Muhammad Al-Jiyani dan Abu Qahiri, sedangkan ilmu-ilmu rasional Ibnu Khaldun yang berupa teologi, logika, ilmu-ilmu kealaman, matematika dan astronomi pada Abu 'Abdillah Muhammad Ibn Al-Abili. Ia sempat kagum dengan gurunya yang terakhir ini (Al-Khudairi, 1997:10). Ibnu Khaldun mendalami ilmu-ilmu formal tersebut sampai usia 18 tahun. Ilmu-ilmu 'aqliyah ia peroleh pada usia yang relatif muda. Dalam bidang fiqh, dia cenderung kepada mazhab Maliki, tertarik pada ilmu-ilmu sosial termasuk ilmu pendidikan (Muhsin Mahdi, 1971: 27-29). Kemudian setelah beberapa tahun ia memperoleh ilmu melalui pendidikan formal Ibnu Khaldun memasuki masa belajar mandiri, melanjutkan apa yang telah diperoleh dari guru-gurunya. Dalam pendidikan formal yang ditempuh Ibnu Khaldun banyak mempelajari buku-buku terpenting di antaranya: Al-Lamiyyah fi al-Qiraat dan Al-Ra 'iyah fi Rasmi al-Musaf, keduanya karya Al-Syatibi, Al-Tashil fil Umi alNahwi, karya Abu Fajar al-As Fahami, Al-Mu'allaqat, Kitab Al-Hammasah li al-'Alaiq, ontologi, puisi Abu Tamam dan Al-Mutanabbi, sebagian besar kitab Hadis, terutama Sahih Muslim dan Muwata' Imam Malik, Al-Taqadi li Ahaditsi Al-Muwatta', karangan Abdil Barr, 'Ulum al-Hadist karya Ibnu al-Salah, kitab Al-Tahzib karya Al-Burada'i dan juga Mukhtasar al-Munawwarah karya Sahnun berisikan Mazhab Maliki, Mukhtasar al-Ibni al-Hajib tentang fiqih dan usul serta al-Sairu karangan Ibnu Ishaq. b. Karya-karya Ibnu Khaldun Di antara karya-karya terbesar Ibnu Khaldun adalah al-‘Ibaar. Nama lengkap kitab ini adalah “Al-‘Ibaar wa Diwaan Al-Mubtada’ wa al-Khabar Fi Ayyam al-‘Arab wa al-Barbar wa man ‘Atsaruhum Min Zawi al-Sulthan al-Akbar”. Karyanya yang terkenal sampai sekarang adalah Muqaddimah atau Muqaddimah Ibnu Khaldun. Kitab ini sebagai pengantar dari kitab al-‘Ibaar yang dianggap penting sehingga dipisahkan dari karya induknya. Selain dari dua buku tersebut yaitu al-‘Ibaar dan Muqaddimah, juga masih ada karya lain yaitu kitab al-Ta’rif yang dipandang sebagai otobiografi. Dalam kitab tersebut Ibnu Khaldun menguraikan peristiwa-peristiwa
224
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

yang dialami dalam kehidupannya, kasidah-kasidah dan surat-surat yang dia kirim pada tokoh-tokoh penting. Dan kitab al-Ta’rif yang dia kirim pada tokohtokoh penting. Dan kitab al-Ta’rif ini dirampungkan Ibnu Khaldun pada tahun 797 H dengan judul al-Ta’rif Ibnu Khaldun, Muallif Haza al-Kitab. 1. Riwayat hidup singkat Al-Abrasyi Sumber-sumber informasi mengenai biografi Ibnu Khaldun sangat berbeda dengan biografi Muhammad Athiyah al-Abrasyi, khususnya di Indonesia amat terbatas. Meskipun demikian, ada beberapa indikator yang bisa dipakai untuk melacak, paling tidak pada sebatas biografi dan pemikirannya, terutama dari karya tulisnya sendiri (Abdurrahman, 1994: 49). Muhammad ‘Athyah Al-Abrasyi adalah seorang sarjana yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Mesir, pusat ilmu pengetahuan Islam dan guru besar pada Fakultas Darul Ulum, Cairo University (Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, 1990: 10). Al-Abrasyi secara sistematis telah menguraikan pendidikan Islam dari zaman ke zaman, serta mengadakan perbandingan dengan prinsip metode, kurikulum dan sistem pendidikan modern di dunia Barat pada abad ke-20. Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi hidup pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasr. Hal ini diketahui dari pernyataannya sendiri dalam kata pengantar bukunya: “Al-Tarbiyah al-Islamiyah”, Gamal ‘Abdul Nasr memerintah sejak tahun 1954 hingga kematiannya pada tahun 1970 yang kemudian diganti oleh Anwar Sadat. Al-ulum merupakan salah satu tempat beraktivitas Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi sebagai tenaga pengajar dan ia juga banyak menulis buku seperti alTarbiyah al-Islamiyah wafalaasifatuhaa karya tulisnya sebanyak 52 buah yang bervariasi tebal tipis dan tema pembahasannya sangat variatif, 13 di antaranya secara langsung berkaitan dengan Tarbiyah-Islamiyah atau pendidikan Islam. Selain dari itu berbentuk sejarah, akhlak, psikologi, dan lain-lain. Di antara banyaknya buku yang dikarang oleh Al-Abrasyi, hanya buku alTarbiyah al-Islamiyah yang diterbitkan oleh Dar al-Qaumiyah li al-Thiba'ah wa an-Nasyr, atau National Printing And Publication House, Cairo pada tanggal 28 Juli 1964. Buku yang ke-95 dalam rangkaian penerbitan mereka mengenai
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

225

FITHRIANI

“Mazahib wa shakhshiyat”, menurut informasi yang telah diperoleh oleh Prof. DR. H. Bustami A. Gani di, Cairo, merupakan penerbit kepunyaan pemerintah RPA (Republik Pemerintah Arab), dan satu buku diterbitkan olehnya setelah terlebih dahulu lulus dalam penilaian suatu panitia yang terdiri dari tenaga-tenaga ahli/ sarjana-sarjana dalam bidang tertentu. Norma yang ia pakai adalah bahwa suatu buku itu diterbitkan bila buku tersebut mengandung hal-hal yang "baru", baik dari segi isi, analisis atau teknik penyajian. Dengan demikian buku al-Tarbiyah alIslamiyah tersebut telah memenuhi syarat sesuai dengan kriteria dimaksud. Konsep metodologi pembelajaran Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi Ibnu Khaldun sebagai pendidik yang mempunyai kemampuan mengajar dan memusatkan perhatiannya pada metode pengajaran, karena metode merupakan sarana untuk merealisasikan pengajaran sesuai dengan langkah-langkah ditetapkannya pemikiran Ibnu Khaldun tentang metodologi pembelajaran didasarkan pada asumsi bahwa kesanggupan manusia dalam memahami dan menguasai sesuatu hanyalah berjalan sedikit demi sedikit. Pandangan ini sesuai dengan prinsip Alquran dalam membebani syari’at terlebih dahulu memperhatikan kemampuan manusia. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 286, yang artinya sebagai berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. Al-Baqarah : 286). Ayat di atas, jelas sebagai landasan berfikir Ibnu Khaldun untuk mengkritik para guru di zamannya dalam menerapkan pelajaran terhadap subjek didik tidak didasarkan pada metode yang benar, sebagai contoh subjek didik diwajibkan menghafal Alquran pada permulaan belajar dengan alasan bahwa Alquran harus diajarkan pada anak-anak sejak dini agar menulis dengan berbicara dengan bahasa Arab yang benar. Disamping itu pula, Alquran juga dipandang mempunyai kelebihan yang dapat menjaga subjek didik dari perbuatan yang rendah. Ibnu Khaldun membantah gaya para pendidik yang demikian dengan argumentasinya sebagai berikut: Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan yang tidak ada pengaruhnya terhadap bahasa, sebelum memahami artinya, dan merasakan gaya-gaya bahasanya, juga Alquran tidak punya pengaruh lughawi dan maknawi kecuali setelah anak dapat berfikir dengan matang dan mungkin dipahami.
226
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

Ibnu Al-‘Arabi mengungkapkan bahwa “alangkah tidak bijaksananya penduduk negeri ini yang menyuruh anak-anak mempelajari Alquran pada masa dini. Mereka membaca apa yang tidak dimengertinya dan berusaha keras sesuatu yang tidak ada gunanya”. Sesuai dengan kritikan tersebut memang tidak bisa dipungkiri bahwasannya Ibnu Khaldun melalui pengalaman yang luas serta observasi yang diteliti terhadap fakta empiris banyak teori yang berkenaan dengan metode pembelajaran yang ia tuangkan dalam Muqaddimah. Berdasarkan metode-metode kependidikannya Ibnu Khaldun benar-benar ahli menyajikan pandangan pada masanya dan mendahului orang lain. Ini suatu keunikan pemikiran Ibnu Khaldun menentang para ahli-ahli pendidikan pada masanya. Sesuai dengan konsep metodologi pembelajaran, maka Ibnu Khaldun menganjurkan bahwa “kemampuan dan pemahaman terhadap ilmu dikuasai atau dimiliki harus mencapai pada target profesionalitas”. Demikian pula pemikiran Al-Abrasyi sebagaimana dicanangkan bahwa sejak runtuhnya kejayaan Islam yang diikuti oleh kolonialisme dan imperialism Eropa terhadap dunia Islam, perkembangan pendidikan Islam beralih kedunia Barat. Hal ini suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan di Barat berkembang begitu pesat, sehingga dapat menyebabkan munculnya berbagai teori dari aliran pemikiran pendidikan baik yang bercorak rasionalisme maupun empirisme dengan segala variasinya yang masih memberika pengaruh yang signifikan di berbagai Negara termasuk Negara Islam. Kenyataan ini memberikan gambaran seolah-olah dunia Islam tidak memiliki kontribusi apa-apa dan teori pendidikan modern tidak memiliki hubungan historisnya dengan dunia Islam. Al-Abrasyi dengan niat baik dan pemikiran yang cemerlang ia menempuh berbagai cara untuk menyadarkan dunia Islam agar kembali mempelajari teoriteori pendidikan Islam klasik yang pernah dikumandangkan dan dipraktekkan pada era kemajuan Islam untuk diimplementasikan dalam praktek pendidikan Islam sekarang. Upaya ini dilakukan Al-Abrasyi dengan adanya bukti-bukti konkrit dengan pendekatan historis. Dengan pendekatan tersebut ia menunjukkan dapat membuka pintu hati umat Islam agar menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan, balai-balai pertemuan, perpustakaan, seminar-seminar dan gedunggedung pertemuan sastra dan ilmiah, dunia Islam, juga telah menyiapkan apa saja
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

227

FITHRIANI

yang diperlukan oleh mahasiswa seperti makanan, tempat tinggal, pengobatan dan beasiswa agar mereka dapat menggunakan waktu sepenuhnya untuk belajar. Berdasarkan latar belakang inilah Al-Abrasyi dengan komitmen yang tepat mengungkapkan bahwa pemikiran metodologi pembelajaran mestinya sejalan sebagaimana dikumandangkan oleh para ahli klasik, seperti Al-Ghazali, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Mereka menganggap bahwa cara berfikir anak-anak berbeda dengan pikiran orang dewasa. Jika dalam pendidikan dunia modern mengenal sistem Doulton (sistem pemberian tugas atau assignment) yang dikemukakan dan dipraktekkan oleh Missa Hellen Parkherest di negara bagian Massachu Settes (Amerika), maka sistem ini tidak berbeda dengan sistem yang dipakai AlAzhar sejak lama sekali dalam pendidikan dan pengajaran. Demikian juga idea psychotest atau penguran kecerdasan yang merupakan kebanggaan pendidikan abad ke XX ini. Dengan pemikiran tersebut, Al-Abrasyi menyeru kepada seluruh para pendidik Islam lainnya untuk menggali kembali teori-teori pendidikan Islam klasik agar dijadikan suatu kebanggaan pendidikan abad XX. Hal ini bukan upaya yang langka, memang menjadi perhatian dan dipraktekkan sejak zaman keemasan Islam, namun demikian Al-Abrasyi tidak terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa filosof-filosof Islam telah menyuarakan apa yang kini dibanggakan dalam dunia pendidikan Modern. Ibnu Khaldun merupakan tokoh pendidikan Islam Klasik namun Al-Abrasyi menyimpulkan bahwa beberapa aspek pemikiran Ibnu Khaldun mempunyai kesamaan dengan pandangan filosof modern. Hakikat metodologi pembelajaran Metode berasal dari bahasa yunani yaitu methodos yang berarti cara atau jalan, yang dikenal dengan istilah arab adalah Thariqah yang berarti langkahlangkah strategis untuk melakukan suatu pembelajaran. Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah tidak memberikan defenisi yang konkrit mengenai metodologi pembelajaran sedangkan Al-Abrasyi menta’rifkan metodologi pembelajaran sedangkan dalam bukunya Ruh al-Tarbiyah wa al-ta’lim sebagai berikut: “Jalan yang kita ikuti untuk memberikan paham, kepada murid-murid segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran”. Definisi metode tersebut berfungsi untuk mengantarkan siswa terhadap
228
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

suatu tujuan dengan cara yang sesuai menurut perkembangannya, merubah pada tingkah laku mereka serta memperoleh maklumat-maklumat, keterampilan, kebiasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai yang diinginkan. Adapun yang berkaitan dengan metodologi pembelajaran yang ditawarkan baik Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi yaitu: Ibnu Khaldun menampilkan tiga metodologi pembelajaran yang diberikan nama dengan metode tiga tahap, yaitu: 1. Tahap pertama (sabil al-ijmaili) Tahap ini pendidikan mengajarkan materi pelajaran kepada subjek didik berkaitan tentang problem-problem yang prinsipil mengenai setiap cabang pembahasan yang diajarkan. Keterangan-keterangan yang diberikan harus bersifat global dan sederhana, dalam setiap materi bahasa pengkajian materi itu sendiri harus sesuai dengan kemampuan akal subjek didik dalam memahami apa yang diberikan kepadanya dan setiap mental untuk memahami materi yang disajikan. 1. Tahap pengembangan (al-Syarh wa al-Bayan) Pada tahap ini, pendidikan dalam menyajikan materi pelajaran pada subjek didiknya memberikan pokok bahasan dalam taraf yang lebih tinggi. Ibnu khaldun menganjurkan para pendidik untuk mengembangkan lebih jauh sesuai dengan kesanggupan siswa. Para pendidik menggunakan tahap ini tidak boleh puas dengan cara pembahasan yang bersifat umum saja tetapi harus membahas segi-segi yang menjadi pertentangan dan berbagai pendapat yang berbeda. Seperti dengan memberikan contoh-contoh konkrit dan alat peraga karena tahap ini disebut dengan tahap perkembangan subjek didik. 3. Tahap penuntasan (takhallus) Penyajian materi pelajaran pada tahap ini lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang universal karena pendidik di samping mempertajam aspekaspek materi pelajaran dan menajamkan pemahamannya, semua masalah yang dianggap sulit perlu diselesaikan, pada tahap pemungkasan ini memungkinkan subjek didik mencapai keahlian yang lebih sempurna. Adapun metodologi pembelajaran yang ditawarkan Al-Abrasyi sebagaimana dijelaskan dalam bukunya Ruhal tarbiyah terdapat sepuluh Metode ilmu pendidikan yang dirangkum dari beberapa pendapat para ahli. Kesepuluh metode ilmu dimaksud adalah al-qiyasiyyah, al-ikhbariyyah wa al-muhadharat, al-hiwariyyah (al-suqrathiyyah), al-tanqibiyyah (model Dalton, Montessori, atJurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

229

FITHRIANI

tamsiliyah, al-masyru', al-la'bi Deccroly), al-'ijab, al-ibtikar, wa al-istintaj, al tadrib wa al-Nuranah, ad-dirasah wa al-irsyddiyyah dan al-ikhtibar semua metodemetode tersebut hasil rangkuman dari beberapa pendapat para ahli. Metodologi pembelajaran tiga tahap yang dikemukakan Ibnu Khaldun dapat digunakan untuk semua mata pelajaran, semua perkembangan subjek didik kondisi dan situasi. Adapun sebaliknya metode yang ditawarkan Al-Abrasyi tidak ada satu pun dapat digunakan untuk semua mata pelajaran, semua perkembangan murid, kondisi dan situasi serta setiap metode memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu sesuai dengan ciri-ciri khas yang dimiliki setiap metode. Oleh karena itu banyaknya metode sebenarnya tidak menjadi persoalan penting dalam proses pendidikan dari pengajar sebab banyaknya metode belum tentu akan membawa hasil positif terhadap pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran bila penerapan-penerapan itu tidak tepat. Al-Abrasyi sangat menyadari hal ini, bahwa seorang pendidik perlu memahami secara tepat keberadaan setiap metode baik kelebihan maupun kekurangannya. Al-Abrasyi juga sependapat dengan Ibnu Khaldun dan al-Ghazali mengenai metodologi pembelajaran terhadap anak-anak, Al-Abrasyi menjelaskan bahwa metode pembelajaran terhadap anak-anak berbeda dengan metode pembelajaran terhadap orang dewasa. Lebih lanjut Al-Ghazali berkata kewajiban pertama bagi seorang pendidik adalah mengajarkan pada anak-anak yang mudah dipahami karena kalau ada suatu mata pelajaran yang sukar akan mengakibatkan kericuhan mental dan mengakibatkan anak-anak lari dari gurunya. Al-Abrasyi sependapat dengan Al-Ghazali dan didukung oleh Ibnu Khaldun yang juga berpendapat bahwa tingkat penangkapan anak-anak dalam pembelajaran haruslah diperhatikan karena di zaman kita ini banyak guru-guru yang tidak tahu dengan metode mengajar. Oleh karena itu, Al-Abrasyi menganggap sebagai pendapatan yang terpenting dalam metode pendidikan modern di abad XX. Hal yang sama diungkapkan Al- Abrasyi maju sekedar mengetahui ketingkat sanggup mengetahui sendiri sehingga sempurnalah daya tangkap dan kesanggupan belajar sendiri. Lebih lanjut Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun dan lainlain, berpendapat bahwa pemikiran anak-anak berbeda dengan pemikiran orang dewasa. Oleh karena itu seorang pendidik harus dapat menjadikan titik perhatian dalam memberikan pelajaran.
230
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

Berpijak dari kenyataan tersebut, maka pemikiran Ibnu Khaldun mengenai metodologi pembelajaran tiga tahap berbeda dengan metodologi pembelajaran yang diterapkan Al-Abrasyi, namun demikian walaupun Ibnu Khaldun tidak menampilkan ragam metode seperti yang diterapkan Al-Abrasyi, akan tetapi metode tiga tahap tersebut dapat membantu para pendidik dalam proses pengajaran, menerangkan pelajaran dan memberikan materi pelajaran secara bertahap dimulai yang sederhana kepada yang kompleks. Ia mengharap kepada para pendidik metode apa saja yang digunakan, baik metode pengambilan kesimpulan atau induktif, perbandingan (qiyasiyah), kuliah (al-muhadharat), dialog (hiwariah), latihan (tadrib), tanya jawab (al-'ijab), al-tanqibiyyah, perumpamaan (al-tamsiliyyah) tidak membingungkan subjek didik dengan tidak mengajarkan ilmu pengetahuan sekaligus akan tetapi mengajarkan ilmu pengetahuan dilakukan secara berangsur-angsur, setapak demi setapak dan sedikil demi sedikit. Semua metode-metode tersebut berdasarkan pada prinsip bahwa kemampuan menerima ilmu pengetahuan pada anak-anak itu berproses secara setingkat demi setingkat sejalan dengan perkembangan otak mereka. Ibnu Khaldun memang tidak menganjurkan ragam strategi dan metode yang dapat ditempuh sebagaimana Al-Abrasyi namun secara sepintas lintas membicarakan alat peraga dan tidak merumuskan secara mendetail strategi penggunaan alat peraga dan media pendidikan lainnya. Ibnu Khaldun hanya menyarankan penggunaannya sesuai dengan materi yang diajarkan. Manfaat metodologi pembelajaran Metode pembelajaran mempunyai peranan penting dan sangat bermanfaat bagi proses pendidikan sebab tanpa metode, pikiran, pengetahuan pemahaman, keterampilan pengalaman dan sikap tidak akan berpindah dari seorang pendidik kepada subjek didik., karena metode merupakan penghubung antara guru dan murid. Dengan metode pembelajaran sangat memudahkan siswa menyerap materi pelajaran. Guru sebagai profesinya mengajar, tetap menggunakan metode dalam menyampaikan materi pelajaran. Apabila guru tampil baik dalam metode mengajarnya, maka dapatlah dinilai baik sebagai guru, juga sebaliknya jika guru tampil buruk dalam metode pembelajarannya maka guru tersebut tidak menguasai metode. Banyak sekali kita saksikan bahwa kadang-kadang seorang guru adalah
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

231

FITHRIANI

seorang ahli dan profesional dalam menguasai mata pelajarannya, tetapi ia gagal dalam pelajarannya sebab ia tidak menguasai metode. Dengan sebab itu pendidik dalam berbagai zaman menaruh perhatian yang sangat besar untuk mengangkat derajat metode mengajar dan alat-alatnya melalui penentuan syarat-syarat dan prinsip-prinsip yang harus dipelihara dengan baik oleh para pendidik-pendidik Islam baik klasik maupun modern. Manfaat metodologi pembelajaran menurut Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi, tidak dapat dibedakan karena setiap metode mempunyai manfaatnya masingmasing. Pemanfaatan metode berbeda-beda, metode mengajarkan ilmu agama dan bahasa berbeda dengan metode mengajarkan ilmu-ilmu alam dan seni. Demikian pula metode mengajarkan tarikh, ilmu hitung dan sebagainya. Prinsip-prinsip metodologi pembelajaran Pandangan Ibnu Khaldun tentang prinsip-prinsip metodologi pembelajaran antara lain nampak pada sikapnya yang menganggap bahwa manusia berbeda dengan binatang karena kapasitas berpikirnya. Ibnu Khaldun sangat memperhatikan potensi psikologis manusia dalam proses belajar mengajar karena metode pendekatan terhadap anak-anak dianggap baik oleh Ibnu Khaldun adalah bcrsifat psikologis misalnya mengajarkan Alquran terhadap anak-anak hams diakhiri setelah belajar bahasa Arab dan sastra atau berhitung. Karena bagi anakanak dasar mempelajari Alquran lebih sukar dari pada bahasa Arab dan berhitung. Meskipun kebiasaan umum pada saat itu tidak menyetujuinya namun di samping itu ada kemungkinan anak mudah tergoda untuk mengabaikan pelajaran Alquran. Dengan demikian, agar terlaksananya proses belajar mengajar dengan lancar dan memperoleh tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran, maka Ibnu Khaldun mengungkapkan prinsip metode bagi pembelajaran atas dasar asumsi psikologis anak didik yaitu : 1. Hendaknya tidak memberikan pelajaran tentang hal-hal yang sulit kepada anak didik yang baru mulai belajar. 2. Anak didik diajarkan tentang masalah yang sederhana yang dapat ditangkap oleh akal pikirannya, baru kemudian secara bertahap dibawa pada hal-hal yang lebih sukar. 3. Jangan memberi ilmu yang melebihi kemampuan akal pikiran anak didik,
232
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

karena hal itu akan menyebabkan anak didik menjauhi ilmu itu dan membuatnya malas mempelajarinya. Adapun prinsip-prinsip metodologi pembelajaran yang diklasifikasikan AlAbrasyi adalah: 1) menjaga kemampuan dan kecenderungan siswa, 2) perhatian penuh terhadap siswa, 3) pendidikan sambil bermain,. 4) kebebasan berfikir, 5) mendorong siswa untuk belajar sesuai dengan kecenderungan, 6) menjaga lingkungan siswa, 7) tolong menolong, 8) mendorong siswa untuk belajar mandiri, 9) memanfaatkan semua potensi siswa. Prinsip-prinsip metodologi yang ditawarkan Ibnu Khaldun sangat didukung oleh Al-Abrasyi, karena maju dari tingkat sekedar mengetahui ke tingkat sanggup mengetahui sendiri, sehingga akhirnya sempurnalah daya tangkap kesanggupan belajar sendiri. Karena mereka menganggap kecepatan berfikir dan daya tangkap manusia berbeda-beda. Semua prinsip-prinsip metodologi pembelajaran Al-Abrasyi juga memperhatikan psikologis anak didik dalam proses belajar mengajar scbagaimana Ibnu Khaldun didasarkan pada pendekatan psikologis anak didik, meskipun metode yang diterapkan lebih bersifat intelektualistis karena hanya menitik beratkan pada kecerdasan akal saja. Di samping adanya persamaan juga terdapat perbedaan dari konstruksinya yang berbeda Perbedaan itu dapat menutupi dimana terdapat kekurangan satu sama lain dari prinsip-prinsip tersebut. Karena prinsip-prinsip yang ditawarkan oleh Al-Abrasyi merupakan hasil rangkuman dari beberapa pendapat pakar pendidikan Islam klasik seperti: Ibnu Sina, AlGhazali, Az-Zarnuji, Al-Abdari dan Ibnu Khaldun. Kesimpulan Berdasarkan hasil studi komperatif mengenai konsep metodologi pembelajaran menurut pendapat Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi dalam kaitannya dengan konsep metodologi pembelajaran dapatlah diambil kesimpulan bahwa metodologi pembelajaran yang ditawarkan oleh dua tokoh pendidikan tersebut terdapat persamaan-persamaan. Persamaan tersebut berdasarkan bukti-bukti konkrit yang dilakukan Al-Abrasyi dengan menggunakan pendekatan historis pendekatan tersebut dapat membuka pintu hati umat umat Islam agar menuntut ilmu pendidikan dengan menggunakan berbagai macam metode pembelajaran
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

233

FITHRIANI

sebagaimana dikumandangkan oleh ahli pikir klasik baik Al-Ghazali, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Adapun persamaan yang substantif termasuk dalam pembahasan metodologi pembelajaran Ibnu Khaldun dan Al-Abrasyi berkenaan dengan corak pemikiran metodologi pembelajaran sesuai dengan pemikiran para tokoh pendidikan Islam lainnya yang menganggap bahwa cara berfikir anak-anak berbeda dengan pikiran dewasa. Sedangkan perbedaan-perbedaan yang bersifat formatif konstruktif termasuk pembahasan konsep metodologi pembelajaran tampak dalam berbeda dalam merumuskan hakikat metodologi pembelajaran Ibnu Khaldun tidak berlaku kasar. Hal ini sesuai dengan Al-Abrasyi dapat membawa hati manusia dengan AlAbrasyi dapat membawa hati manusia taqarrub kepada Allah Swt.

234

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN IBNU KHALDUN DAN AL-ABRASYI

Daftar Pustaka
Abdul Wahid Wafi. (t.t). Ibnu Khaldun Riwayat Hidup dan Karyanya, (Alih Bahasa Ahmadie Thaha). Jakarta: Grafit Press. Abdurrahman Assegaf. (1994). Teori Pendidikan John Dewey dan Muhammad, Athiyah Al-Abrasyi (Suatu Alisis Komperatif), Tesis. Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga. Abuddin Nata. (1997). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Logos-Wacana Ilmu. Al-Khudairi. (1997). Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun, (Alih Bahasa Rafi’I Utsman). Bandung : Pustaka. Fathiyah Hasan Sulaiman. (1987). Pandangan Ibnu Khaldun tentang Ilmu dan Pendidikan, Terj. Herry Noer Ali. Bandung : Dipenogoro. Fuad Hasan dan Koentjaningrat. (1977). Beberapa Azas Metodologi Ilmiah dalam Koentjaningrat (ed) Metode-metode dalam Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia. Lutfi Jumi’ah. (t.t). Tarikh al-Falasifah al-Islami fi al-Masyriq wa al-Maghribi, (Mesir : Ainsyams, tt). Muhaimin dan Abdul Mujib. (1993). Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya. Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi. At-Tarbiyah wafala Sifatuha. Mesir : Isa Babi al-Halabi, tt. Muhammad Jawwad Ridha. (2002). Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (Perspektif Sosiologis Filosofis), terj. Mahmud Arif. Yogyakarta : Tiara Wacana. Muhsin Mahdi. (1971). Ibnu Khaldun Philosophy of History. Chicago : The University of Chicago Press. Oemar al-Taumy al-Syaibany. (1979). Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang. Sa’ad Mursa Ahmad. (1985) Tathawwur al-Fikry al-Tarbawiyyin. al-Qahirah : Mathabi Sajlul Arabi.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

235

FITHRIANI

Warul Walidin. (2003). Konstelasi Pemikiran Pedagogik Ibnu Khaldun Perspektif Pendidikan Modern. Batu Pahat-Lhokseumawe, NAD: Nadia Foundation.

236

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Optimalisasi Kualitas Pembelajaran Bahasa Arab pada Institut Agama Islam Negeri di Banda Aceh
Intan Afriati
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

Abstract Generally, the teaching and learning Arabic at the state Institute for Islamic Studies aim to develop the skills of students to master the formal (fushha) Arabic, in order to understand and produce quality works in Arabic literature (productive and receptive). Productive skill is the ability to use Arabic in order to communicate either by speaking or writing. Receptive skill is the ability to understand speeches and texts. It is important that these two abilities being developed together with the positive manner toward the Arabic, that accordingly, students could understand the various resources of Islamic studies, including the Qur’an and Prophets Tradition, which are written in Arabic. In reality, however, the abilities and skills of students are poor or far from optimal. These are because of several factors, among others are, lack of student’s learning motivation, are poor quality of lecturers, poor facilities, and the absence of Arabic language environment. The improvement of quality of the Arabic learning should be focused on these four areas. The university should intensively train Arabic lecturers, improve Arabic learning facilities, and enlighten the Arabic-speaking environment. Kata kunci: Motivasi, kualitas dosen, media pembelajaran

INTAN AFRIATI

Pendahuluan Bahasa Arab memiliki fungsi istimewa dari bahasa-bahasa lainnya. Bukan saja bahasa Arab yang memiliki nilai sastra bermutu tinggi bagi mereka yang mengetahui dan mendalaminya, akan tetapi bahasa Arab ditakdirkan sebagai bahasa Alquran, yaitu bahasa yang digunakan untuk kalam Allah. Dalam Alquran terdapat uslub bahasa yang sungguh mengagumkan dan suatu realita pula manusia tidak mampu menandinginya. Bahasa Arab dan Alquran bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Mempelajari bahasa Arab adalah syarat wajib untuk menguasai isi Alquran. Mempelajari Alquran berarti mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian peranan bahasa Arab di samping sebagai alat komunikasi manusia sesamanya juga sebagai alat komunikasi manusia dalam beriman kepada Allah. Islam telah mengangkat bahasa Arab menjadi bahasa yang besar dan berbudaya yang mempengaruhi dunia seluruhnya. Sejak abad ke 12 M, bahasa Arab sudah dikenal bukan saja sebagai bahasa untuk memahami seluk beluk agama Islam, akan tetapi  juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Hal ini telah terlukis dalam sejarah Islam, di mana pada abad tersebut khususnya pada akhir masa dinasti Abbasiyah berbagai buku tentang ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu filsafat dan ilmu falak, semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Bahasa Arab juga telah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi yang digunakan di Majelis Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1973. Hal ini mengandung pengertian bahwa bahasa Arab telah dijadikan sebagai salah satu bahasa resmi internasional, maka sepatutnyalah pengajaran bahasa Arab di Indonesia mendapat penekanan dan perhatian seksama, mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai pada Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta, umum maupun agama, untuk digerakkan dan diajarkan. Bahasa Arab sangat penting diajarkan di institusi pendidikan Islam karena institusi pendidikan merupakan lembaga yang dapat mencetak intelektual muslim dan ulama. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi menyebutkan, “Seorang ulama harus menguasai bahasa Arab dengan baik, karena sumber utama Islam (Alquran dan hadis) itu berbahasa Arab dan warisan tradisi keilmuan dan keruhanian Islam juga tertulis dalam Bahasa Arab”. Persyaratan KH. Abdullah Zarkasyi ini berdasarkan fakta yang dapat ditemukan dengan mudah, bahwa di antara persyaratan untuk
238
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH

dapat menjadi atau disebut seorang ulama dalam agama Islam adalah memahami bahasa Arab dengan baik, yang ditandai dengan memiliki kemampuan dalam mengkaji ajaran Islam dari sumbernya yang asli (berbahasa Arab). Pembelajaran bahasa Arab di suatu institusi pendidikan Islam pada umumnya diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan dan membina kemampuan berbahasa Arab Fushhā', baik produktif maupun reseptif, serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab. Kemampuan bahasa Arab produktif yaitu kemampuan menggunakan Bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tulisan. Kemampuan berbahasa reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan kemampuan memahami bacaan. Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting, karena dapat membantu seseorang dalam memahami sumber ajaran Islam, yaitu Alquran dan hadis, serta buku-buku berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam dan ilmu pengetahuan umum. Realita menunjukkan bahwa keterampilan mahasiswa dalam berbahasa Arab belum optimal. Banyak faktor yang harus ditingkatkan dalam rangka perbaikan mutu pendidikan bahasa Arab secara optimal. Adapun uraian tentang faktorfaktor tersebut dapat dilihat pada pembahasan berikut. Pembahasan Suatu perguruan tinggi harus mengukur dan meningkatkan kualitas jasanya agar dapat berfungsi secara efisien dan efektif di lingkungan yang sangat kompetitif. Paket jasa pengajaran yang ditawarkan harus dapat menarik bagi (calon) mahasiswa dan juga harus dapat menciptakan dan menaikkan tingkat kepuasan mahasiswa. Mahasiswa yang tidak puas biasanya akan menyebarkan komentar yang negatif tentang perguruan tinggi tersebut, di samping itu juga akan berimplikasi negatif terhadap prestasi mahasiswa. Oleh karena itu, suatu perguruan tinggi harus mempunyai strategi yang dapat mengidentifikasi dan mengakomodasi kebutuhan mahasiswa sebagai konsumen jasa pengajaran yang ditawarkan. Adapun strategi yang dapat dilakukan di antaranya sebagai berikut: Peningkatan motivasi Motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Motivasi dapat mempengaruhi
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

239

INTAN AFRIATI

adanya kegiatan. Motivasi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan belajar. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para mahasiswa. Menurut Sardinam (2007: 85), ada tiga fungsi motivasi: Pertama, Motivasi yang dapat mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Kedua, Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. Ketiga, Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. Seseorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dengan sungguh-sungguh. Demikian juga halnya bagi mahasiswa yang ingin menguasai bahasa Arab dengan baik. Di samping itu, ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang mahasiswa akan sangat menentukan tingkat pencapain prestasi belajarnya. Dosen berperan sebagai motivator belajar, artinya sebagai pendorong agar mahasiswa mau melakukan kegiatan belajar. Sebagai motivator, dosen harus menciptakan kondisi ruang belajar yang merangsang mahasiswa melakukan kegiatan belajar, baik kegiatan individual maupun kelompok. Stimulasi atau rangsangan belajar mahasiswa bisa ditumbuhkan dari dalam diri mahasiswa dan dari luar diri mereka. Dorongan belajar yang berasal dari dalam diri mahasiswa (motivasi intrinsik) muncul manakala kegiatan belajar itu menjadi kebutuhan para mahasiswa. Oleh sebab itu, dosen harus mengupayakannya, misalnya dengan menumbuhkan kesadaran mereka bahwa mengusai bahasa Arab sangat urgen di masa sekarang dan masa yang akan datang. Bahasa Arab itu adalah kebutuhan dalam rangka
240
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH

meningkatkan kapasitas diri mahasiswa. Adapun dorongan belajar yang tumbuh dari luar diri mahasiswa (motivasi ekstrinsik) dapat dilakukan oleh dosen/ Perguruan Tinggi dengan memberikan penghargaan bagi mereka yang berprestasi bahkan mungkin memberikan hukuman bagi mereka yang tidak melakukan kegiatan belajar sebagaimana yang diharapkan. Dalam upaya optimalisasi pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi, dosen dituntut pula untuk dapat memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang aktif dan konsisten dalam penggunaan Bahasa Arab pada lingkungan kampus. Bentuk reward yang dapat diberikan bisa dalam bentuk penghargaan sosial. Penghargaan sosial dalam bentuk imbalan material, fasilitas dan jabatan baik strukutral maupun fungsional diberikan kepada alumni-alumni atau lulusan Timur Tengah dan alumni pesantren yang menguasai bahasa Arab harus lebih besar dibandingkan dengan para alumni dari Barat. Selama ini penghargaan sebagaimana disebutkan di atas lebih banyak diberikan kepada lulusan dari Barat yang menggunakan bahasa Inggris. Peningkatan kualitas dosen Suatu kegiatan perkuliahan dapat menjadi menarik atau membosankan tergantung pada dosennya. Dosen adalah faktor penting dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Walaupun antara mahasiswa dan dosen sama-sama menjadi subjek dalam aktifitas pembelajaran. Dalam bidang penguasaan materi pembelajaran, seharusnya seorang dosen bahasa Arab mampu menguasai empat keterampilan bahasa (al-istimâ', al-muhâdatsah, al-qirâah dan al-kitâbah) dengan baik dan benar-benar mampu berbuat sesuai dengan peranannya sebagai seorang dosen. Dosen berperan sebagai pemimpin belajar, artinya merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan dan mengontrol kegiatan mahasiswa belajar (Mouly, 1987:40). Merencanakan kegiatan mahasiswa belajar terutama menentukan tujuan belajar mahasiswa, apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa, sumber-sumber belajar mana yang harus dipersiapkannya. Mengorganisasi kegiatan belajar artinya menentukan dan mengarahkan bagaimana cara mahasiswa melakukan kegiatan belajar, mengatur lingkungan belajar mahasiswa dan mengoptimalkan sumbersumber belajar.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

241

INTAN AFRIATI

Mengontrol kegiatan belajar mahasiswa dimaksudkan dengan mengawasi, memberi bantuan, bimbingan, petunjuk, mencatat kekurangan dan kesalahan untuk dibahas dan diperbaiki, menilai proses belajar, dan hasil belajar yang dicapainya. Posisi ini menuntut dosen memiliki kesanggupan-kesanggupan mengelola kelas, melakukan hubungan sosial dengan mahasiswa, memahami individu mahasiswa dan memberikan bimbingan belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator belajar, artinya memberikan kemudahankemudahan kepada mahasiswa dalam melakukan kegiatan belajarnya. Kemudahan tersebut bisa diupayakan dalam berbagai bentuk, antara lain menyediakan sumber dan alat-alat belajar seperti buku-buku yang diperlukan, alat peraga, alat belajar lainnya, menyediakan waktu belajar yang cukup kepada semua mahasiswa, memberikan bantuan kepada mahasiswa yang memerlukannya, menunjukkan jalan keluar dalam pemecahan masalah yang dihadapi mahasiswa dan menengahi perbedaaan pendapat yang muncul dari para mahasiswa. Dosen berperan sebagai moderator belajar, artinya sebagai pengatur arus kegiatan belajar mahasiswa. Sebagai moderator, dosen menampung persoalan yang diajukan oleh mahasiswa dan mengembalikan lagi persoalan tersebut kepada mahasiswa lain untuk dijawab dan dipecahkannya. Jawaban mahasiswa tersebut dikembalikan kepada penanya atau kepada kelas untuk dinilai bersama benar tidaknya sebagai jawaban. Dengan demikian setiap mahasiswa dikondisikan berperan aktif dalam merespons terhadap pertanyaan yang diajukan oleh dosen. Dosen sebagai moderator tidak hanya mengatur arus kegiatan belajar, tetapi juga bersama mahasiswa harus menarik kesimpulan atas jawaban masalah sebagai hasil belajar mahasiswa, atas dasar semua pendapat yang telah dibahas dan diajukan mahasiswa. Dosen berperan sebagai motivator belajar, artinya sebagai pendorong agar mahasiswa mau melakukan kegiatan belajar. Sebagai motivator, dosen harus menciptakan kondisi kelas yang merangsang mahasiswa melakukan kegiatan belajar baik kegiatan individual maupun kelompok. Stimulasi atau rangsangan belajar mahasiswa bisa ditumbuhkan dari dalam diri mahasiswa itu sendiri dan dari luar diri mahasiswa. Dorongan belajar dari dalam diri mahasiswa (motivasi intrinsik) muncul manakala kegiatan belajar itu menjadi kebutuhan mahasiswa. Oleh sebab itu dosen mengupayakannya, misalnya dengan menumbuhkan
242
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH

kesadaran mahasiswa bahwa belajar hari itu untuk meraih hari esok yang lebih baik. Adapun dorongan yang tumbuh dari luar diri mahasiswa (motivasi ekstrinsik) dapat dilakukan oleh dosen melalui penghargaan bagi mereka yang berprestasi dan memberikan hukuman bagi mereka yang tidak melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk menjadi motivator belajar, dosen hendaknya mengetahui kebutuhan para mahasiswa serta latar belakang pribadinya sehingga upaya memberikan motivasi kepada mahasiswa sejalan dengan kebutuhan dirinya. Menjalin hubungan baik dan harmonis dengan mahasiswa agar kepatuhan dan kepercayaan mahasiswa kepada dosen tertanam kepada mahasiswa. Memiliki perasaan humor yang positif dan normatif sehingga tetap disegani dan disenangi para mahasiswa, serta menampilkan sosok kepribadian dosen yang menjadi panutan mahasiswa, baik dalam berperilaku di kelas maupun di luar kelas. Dosen berperan sebagai evaluator, artinya sebagai penilai yang objektif dan komprehensif. Sebagai evaluator, dosen berkewajiban mengawasi proses belajar mahasiswa dan hasil belajar yang dicapainya, serta berkewajiban melakukan upaya perbaikan proses belajar siswa dengan menunjukkan kelemahan belajar mahasiswa dan cara memperbaikinya. Dalam menjalankan tugas sesuai dengan peranannya, maka yang pertama yang harus diperhatikan oleh dosen adalah tujuan pengajaran. Karena mengajar adalah peristiwa yang terikat oleh tujuan, terarah pada tujuan dan dilaksanakan semata-mata untuk mencapai tujuan (Surachmad, t.t.:24). Tujuan inilah yang merupakan hasil belajar bagi mahasiswa setelah melakukan proses belajar di bawah bimbingan dosen dalam kondisi yang kondusif. Dosen harus mampu menggunakan metode-metode yang tepat, karena metode cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien. Dalam penggunaan metode, dosen harus mempertimbangkan dan memperhatikan dari berbagai kemungkinan-kemungkinan yang dapat mempertinggi mutu dan efektifitas suatu metode. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan metode pengajaran adalah 1). Tujuan yang hendak dicapai, 2). Materi yang akan diajarkan, 3). Kemampuan guru, 4). Fasilitas yang tersedia, 5). Situasi dan kondisi pengajaran dimana berlangsung, 6). Waktu yang tersedia, 7). Kebaikan dan kekurangan suatu metode (Yusuf, 1997:7-10).
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

243

INTAN AFRIATI

Metode-metode yang dapat digunakan dosen dalam pembelajaran bahasa Arab di antaranya adalah metode mubâsyarah (metode langsung), metode thabi'iyyah (metode alami), metode muthāla'ah (metode membaca), metode alwājibāt (metode pemberian tugas), metode munāqasyah (metode diskusi) dan lain-lain. Kemampuan dosen terhadap penguasaan materi dan penggunaan metode dapat ditingkatkan dengan memberi kesempatan kepada dosen untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan bahasa Arab secara intensif baik di dalam maupun di luar negeri. Kesempatan ini yang sangat jarang didapati oleh dosen bahasa Arab di Aceh. Penggunaan media sumber belajar Sebelum uraian ini sampai pada penggunaan media oleh dosen atau tenaga pengajar dalam kegiatan perkuliahan, ada baiknya ditinjau kembali pengertian media itu sebenarnya. Kata "media" berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata "medium," yang secara harfiah berarti "perantara atau pengantar". Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Dalam kegiatan perkuliahan kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan materi yang akan disampaikan kepada mahasiswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu dosen ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan materi dapat dikonkritkan dengan kehadiran media. Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Penggunaan ketiga sumber belajar ini tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, dan tentu saja dengan kompetensi dosen itu sendiri , dan sebagainya. Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, laboratorium bahasa dan sejenisnya. Media Visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan dan cetakan.
244
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH

Adapun media Audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media di atas. Pengaktifan lingkungan berbahasa Arab Sarana belajar yang paling efektif dalam pembelajaran bahasa adalah adanya lingkungan berbahasa yang mendukung dan mendorong seseorang mahasiswa untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajarinya secara intensif, sehingga semua aspek ketrampilan berbahasa dapat terlatih secara otomatis. Penciptaan lingkungan telah mulai dilakukan pada beberapa pesantren modern, yang memperlihatkan hasil belajar yang lumayan berhasil. Pada tahun 1998, telah dilakukan penelitian pada mahasiswa jurusan Bahasa Arab tentang kesulitan berkomunikasi secara lisan dalam bahasa Arab (muhādatsah). Faktor utama sebagai penyebabnya adalah karena tidak adanya lingkungan berbahasa Arab secara kondusif (Afriati, 1998:62). Hal ini menyebabkan kurangnya latihan secara praktis dalam menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian di atas dan hasil belajar yang didapati oleh para santri di pesantren yang menghidupkan lingkungan bahasanya, maka di sini ditawarkan pada pihak Perguruan Tinggi agar mewajibkan mahasiswa prodi Bahasa Arab untuk berkomunikasi dalam bahasa Arab baik secara lisan maupun tulisan. Di samping itu, untuk optimalisasi pembelajaran bahasa Arab dapat pula dilakukan dengan mensyaratkan dan mewajibkan lulus tes bahasa Arab dengan standar nilai tertentu atau dengan memasukkan bahasa Arab dalam mata kuliah yang diuji dalam ujian komprehensif. Hal ini dianggap penting jika semua pihak merasa bertanggungjawab terhadap kemajuan penggunaan bahasa Arab dalam artian membudayakan bahasa Arab di Perguruan Tinggi Islam terutama di Perguruan Tinggi Islam di Aceh. Penutup Banyak faktor yang harus ditingkatkan dalam upaya mengoptimalkan mutu pembelajaran bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Islam di Aceh. Di antaranya
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

245

INTAN AFRIATI

adalah faktor dosen. Dosen perlu diberi latihan yang intensif tentang kemampuan bahasa Arab yang sempurna, peningkatan dalam menggunakan metode mengajar yang tepat dan bervariasi. Fasilitas pembelajaran bahasa Arab harus lengkap agar terwujudnya kemudahan dalam proses belajar mengajar. Di samping itu, perlu adanya kewajiban menggunakan bahasa Arab secara aktif di lingkungan kampus. Akhirnya, disarankan perlu adanya peningkatan perhatian dan dukungan dari semua pihak dalam rangka optimalisasi mutu pembelajaran bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Islam di Aceh. Latihan bahasa Arab secara intensif bagi dosen dan mahasiswa juga perlu terus dilakukan. Selain itu, dalam rangka optimalisasi penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran, diharapkan pemerintah dan pihak yang berkompeten lainnya dapat memberikan reward atau penghargaan yang lebih tinggi kepada pelaksana kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan bahasa Arab.

246

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

OPTIMALISASI KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI DI BANDA ACEH

Daftar Pustaka
Afriati, Intan. (1998). Al-Musykilātu fi mahāratu al-muhādatsah: Dirāsatun maidāniyyatun li syu'batu al-lughatu al- Ārabiyyatu bi kulliyati alTarbiyyati Jāmi'ati al-Rāniry. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry. Ahmad, Rusydy. (2000). Tadris al-Arabiyah al-ta'lim al 'am. Kairo: Dar al Fir alArabi. Al-Rikkabi, Jaudat. (1996). Thuruq tadris al-lughah al-Arabiyah. Beirut: Dar alFikr al-Mu'ashir. Mouly, George J. (1987). Psychology for effective teaching. New York: Holt Rinehart dan Winston. Muhammad, Ismail. (2007). Pembelajaran bahasa Arab di Dayah Salafi Aceh, Thesis: Tidak dipublikasikan, UIN Jakarta. Sardiman, A.M. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo. Sumardi, Muliyanto. (1975). Pengajaran bahasa asing:Sebuah tinjauan dari segi metodologi. Jakarta: Bulan Bintang. Winarno, Surachmad. (t.t.). Metodologi pengajaran nasional. Bandung: Jermars. Yusuf, Tayar. (1997). Metodologi pengajaran agama dan bahasa Arab. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

247

Penerapan Model Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah
Wati Oviana
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dalam bidang pendidikan biologi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Tahun 2005. Kemudian Melanjutkan pendidikan Progam Magister (S2) bidang Pendididkan Dasar pada Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung selesai tahun 2010.

Abstract The process of learning IPA (natural science) should be based on the nature of learning IPA itself. In this case, the process of learning IPA should be based on three components, namely the scientific process, product or result of science and scientific attitudes. Therefore, the learning of IPA should emphasize on inquiry development activity, in detail to emphasize more on investigations and to analyze IPA questions. Based on the curriculum, the learning objective of IPA at the Elementary School / MI level is to enable learners in developing knowledge and understanding of science concepts to develop curiosity, positive attitude and awareness about the relationship of mutual influence between IPA, environment, technology and society and develop skills to investigate the processes of environment, to solve problems and to make decisions. Inquiry itself is a process adopted to obtain information through the activities commonly conducted by the scientist. Kata kunci: Model inkuiri, pembelajaran IPA

WATI OVIANA

Pendahuluan Pendidikan merupakan kunci bagi suatu bangsa untuk bisa menyiapkan masa depan dan sanggup bersaing dengan bangsa lain. Pada abad informasi ini tingkat kemampuan suatu negara diukur dari tingkat kemajuan dalam bidang IPA dan teknologi. Sehubungan dengan hal tersebut pemerintah juga mengatakan dalam kurikulum 2004 Depdiknas (2003) bahwa pengembangan kemampuan siswa dalam bidang IPA merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan memasuki dunia teknologi. Untuk mengembangkan kemampuan IPA siswa dengan baik maka pengembangannya harus mulai dilakukan pada jenjang Sekolah Dasar melalui pembelajaran yang tepat. Karena Pembelajaran IPA di sekolah dasar memegang peranan penting bagi pembelajaran IPA di jenjang-jenjang berikutnya. Sebab pengetahuan awal siswa sangat berpengaruh pada minat dan kecenderungan siswa untuk belajar IPA. Dengan kata lain jika minat siswa pada saat pembelajaran IPA di SD sudah rendah kemungkinan untuk jenjang selanjutnya hal yang sama akan terjadi. Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan dijelaskan tentang pentingnya pembelajaran IPA ini Depdiknas ( 2006), salah satunya adalah mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006), mengatakan bahwa mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan diantaranya mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat dan mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dalam BSNP (2006), disarankan pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan mengembangan keterampilan proses dan sikap.
250
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

Inkuiri merupakan salah satu pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas dan pemberian pengalaman belajar secara langsung pada siswa. Pembelajaran berbasis inkuiri ini akan membawa dampak besar bagi perkembangan mental positif siswa, sebab melalui pembelajaran ini siswa mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dibutuhkannya terutama dalam pembelajaran yang bersifat abstrak. Sehubungan dengan itu Sund Hamalik (2007), mengatakan penemuan terjadi apabila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Seorang siswa harus menggunakan segenap kemampuannya dan bertindak sebagai ilmuan (scientist) yang melakukan eksperimen dan mampu melakukan proses mental berinkuiri yang digambarkan dengan tahapan-tahapan yang dilalui. Selain itu, melalui penerapan model ini siswa dapat terlibat aktif dalam kegiatan yang bersifat ilmiah. Dalam hal ini siswa dapat memperoleh kesempatan untuk mengamati, menanyakan, menjelaskan, merancang, dan menguji hipotesis, menganalisis dan menarik kesimpulan. Dengan demikian, pembelajaran IPA yang dilakukan dapat melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis, kritis, logis, analitis dan dapat merumuskan sendiri penemuannya. Untuk dapat melaksanakan model pembelajaran ini, diperlukan guru yang profesional karena hanya guru yang profesional yang memiliki kompetensi untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran IPA berbasis inkuiri. Menurut Uno (2008:18), guru yang profesional harus memiliki tiga kompetensi dasar yaitu kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional mengajar. Dalam kompetensi profesional mengajar, guru harus memiliki kemampuan dalam merencanakan pembelajaran, kemampuan ini diperlukan supaya pembelajaran yang dilakukan terarah dan tujuan pembelajaran dapat dicapai. Ginting (2008:14), juga menambahkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran salah satu peran utama guru adalah merencanakan pembelajaran, hal ini bertujuan agar kegiatan belajar dan pembelajaran terarah dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Menurut Suryosubroto (2002:27) pada hakekatnya bila suatu kegiatan direncanakan terlebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan berhasil. Itulah sebabnya seorang guru harus memiliki
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

251

WATI OVIANA

kemampuan dalam merencanakan pembelajaran. perencanaan juga merupakan suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang absah dan bernilai. Hampir senada dengan hal itu Sukmadinata (2003:50), juga menambahkan bahwa kegiatan pembelajaran berkenaan dengan kegiatan bagaimana guru mengajar dan bagaimana murid belajar. Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan yang disadari oleh karena itu harus direncanakan terlebih dahulu. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam membuat rencana pembelajaran merupakan hal yang sangat penting karena membuat rencana pembelajaran merupakan salah satu peran utama guru. Menurut Mulyasa (2008:212), hakekat dari perencanaan pembelajaran adalah perkiraan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan guru dalam pembelajaran, dengan demikian rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan apa yang akan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran. Bagaimana gambaran dari kegiatan pembelajaran yang akan diterapkan dikelas sangat tergantung pada apa yang telah dituangkan guru dalam RPP. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri guru harus mampu menyusun sebuah rencana pembelajaran IPA yang memunculkan aspek-aspek inkuiri. Kemudian rencana pembelajaran ini juga mampu diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Hakekat pembelajaran IPA berbasis inkuiri Pada hakekatnya pembelajaran IPA dapat dipandang dari tiga dimensi yaitu dimensi produk, proses dan pengembangan sikap. Ketiga dimensi ini saling terkait satu sama lain, ini berarti proses belajar mengajar IPA atau IPA seharusnya mengandung ketiga dimensi tersebut. Pertama, dimensi produk adalah pengetahuan yang merupakan hasil dari IPA. Menurut Sulistyorini (2007), produk IPA merupakan akumulasi hasil upaya para perintis IPA terdahulu yang pada umumnya telah tersusun lengkap dan sistematis dalam bentuk buku teks. Kedua, dimensi proses IPA merupakan proses bagaimana pengetahuan (produk) IPA itu diperoleh oleh para ilmuan. Ketiga, dimensi sikap merupakan sikap ilmiah yang seharusnya dimiliki oleh siswa terhadap alam sekitar. Menurut Wynne dalam Sulistyorini (2007), ada sembilan sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak usia SD antara lain: sikap ingin tahu, ingin mendapatkan sesuatu yang baru,
252
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

sikap kerja sama, sikap tidak putus asa, sikap tidak berprasangka, sikap mawas diri, sikap bertanggung jawab, sikap berpikir bebas dan sikap kedisiplinan diri. Hampir sejalan dengan hal itu, George dalam Hinrichsen (1999), juga berpendapat bahwa pendidikan IPA terdiri atas bagian produk dan proses, produk adalah isi dari pengetahuan IPA yang biasanya dalam bentuk buku teks, jurnal, dan ensiklopedi elektronik. Beberapa produk IPA meliputi: fakta, hukum, teori dan model. Sedangkan proses dalam IPA merupakan cara atau teknik yang digunakan seperti penggunaan miskroskop, proses bisa juga meliputi pertimbangan untuk melakukan proses seperti pengungkapan hipotesis atau prediksi. Selain itu proses IPA juga sering meliputi tingkah laku dan sikap seperti rasa ingin tahu, imaginasi, jujur dan lain lain. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dilihat bahwa keduanya memiliki persamaan pendapat bahwa IPA terdiri dari tiga hal yaitu produk, proses dan sikap, untuk sikap George memasukkan dalam kategori proses. Melihat kenyataan tersebut maka dalam mengajarkan IPA di SD guru seharusnya tidak hanya mengajarkan IPA sebagai produk yang berupa pengetahuan saja tetapi juga harus mengajarkan pada siswa bagaimana proses mendapatkan produk tersebut yaitu melalui model ilmiah dan selain itu guru juga harus memperhatikan untuk mengembangkan sikap ilmiah dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya pada siswa Menurut Sulistyorini (2007), dalam proses belajar megajar IPA di SD model ilmiah dan sikap ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan dengan harapan pada akhirnya akan terbentuk paduan yang lebih utuh sehingga anak SD dapat melakukan penelitian sederhana. Tahapan pengembangan untuk mengajarkan model ilmiah disesuaikan dengan tahap dari suatu penelitian yang meliputi observasi, klasifikasi, interpretasi, prediksi, hipotesis, mengendalikan variabel, merencanakan dan melaksanakan penelitian, inferensi, aplikasi dan komunikasi. Sedangkan untuk sikap ilmiah dapat dikembangkan pada siswa melalui diskusi, percobaan, simulasi dan kegiatan dilapangan. Untuk mewujudkan pembelajaran IPA yang mengembangkan tiga dimensi tersebut maka pembelajaran IPA seharusnya dilakukan secara inkuiri ilmiah. Hal ini seperti yang diharapkan dalam BSNP (2006), yang mengatakan bahwa pembelajaran IPA atau IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

253

WATI OVIANA

untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, berkerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Joseph (1976), juga berpendapat bahwa melatih siswa dengan proses inkuiri dapat membantu mereka untuk memahami produk IPA dengan tepat. Selanjutnya Haury (1993) juga menegaskan bahwa inkuiri merupakan tujuan pembelajaran IPA selama 30 tahun dari tahun 1950, sesuai dengan prinsip Department of Education and the National Science Fondation (1992) yang mengesahkan bahwa kurikulum untuk IPA dan matematika harus memunculkan siswa belajar aktif melalui inkuiri, problem solving, dan cooperatif learning sebagai model pembelajarannya supaya dapat memotivasi siswa. Hampir senada dengan hal itu, the National Committee on Science Education Standards and Assessment (1992), juga mengatakan bahwa pembelajaran IPA di sekolah harus menggambarkan IPA yang praktis dan tujuan pembelajaran IPA untuk menyiapkan siswa memahami inkuiri ilmiah dan bagaimana menggunakannya. Berdasarkan uraian di atas bahwa inkuiri merupakan model yang tepat dalam mengajarkan IPA di SD pada semua tingkatan. Hal ini didukung oleh pernyataan The National Science Teachers Associations (2002), bahwa inkuiri harus menjadi dasar kurikulum IPA di SD pada setiap tingkatan siswa. Karena siswa SD akan belajar IPA dengan baik ketika mereka diajarkan dengan inkuiri ilmiah dan dilibatkan dengan ekplorasi dan investigasi, selain itu, siswa SD juga akan menilai IPA dengan baik jika dalam proses pembelajaran IPA guru mereka menggunakan model inkuiri ilmiah. Hinrichsen (1999), berpendapat bahwa inkuiri mengandung dua makna utama yaitu inkuiri sebagai inti dari usaha ilmiah dan inkuiri sebagai strategi untuk belajar mengajar IPA, sebagai strategi mengajar IPA inkuiri merupakan model yang mengharuskan siswa untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya melalui pertanyaan mereka tentang suatu hal, kemudian merencanakan dan melakukan investigasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil penemuan mereka. Oleh karena itu, menurut National Science Education Standard (2000), mengajarkan IPA dengan inkuiri akan mengajak siswa untuk melakukan banyak aktifitas dan proses berpikir yang dilakukan oleh para ilmuan sehingga mereka dapat belajar bagaimana untuk menggunakan IPA, belajar tentang natural IPA
254
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

dan tentang konten IPA. Untuk mempelajari hal tersebut dilakukan dengan pembelajaran IPA berbasis inkuiri yaitu melalui penyelidikan yang memadukan antara model, proses berpikir dan mempraktekkan aktifitas ilmiah. Hal yang sama juga diungkapkan Kai Wu (2007), bahwa pembelajaran IPA dengan inkuiri ilmiah akan melibatkan siswa dengan banyak aktifitas dan bentuk. Karena pembelajaran ini mengharuskan siswa berpartisipasi dengan aktifitas untuk menciptakan dan mengevaluasi model ilmiah, melalui kegiatan bertanya atau merumuskan pertanyaan, mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan, merencanakan dan mengumpulkan data penelitian, menganalisis data dan membuat kesimpulan, serta menemukan fakta dan mengkomunikasikan hasil penemuannya. Selain itu, inkuiri juga membantu siswa untuk lebih kreatif dan berpikiran luas. Karena kesadaran dari perpaduan afektif dan kognitif merupakan bentuk perwujudan dari metode inkuiri ini (Alberta, 2004). Dalam proses pembelajaran IPA aktivitas-aktivitas penelitian tersebut merupakan suatu hal yang penting untuk ditanamkan agar siswa memahami bahwa konsep-konsep IPA ditemukan melalui aktivitas eksperimental yang didasari oleh inkuiri ilmiah. Selain itu, Siswa juga harus memperoleh pengetahuan IPA melalui serangkaian kegiatan seperti yang dilakukan ilmuan, hal ini akan didapatkan siswa melalui kegiatan pembelajaran berbasis inkuiri karena dalam proses pembelajaran inkuiri siswa berperan sebagai peneliti. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA di SD seharusnya dilakukan secara inkuiri karena inkuiri itu merupakan tujuan pembelajaran dan IPA itu sendiri. Hakekat pembelajaran IPA terdiri dari proses, produk dan sikap, ketiga dimensi ini harus dikembangkan dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA yang dapat dilakukan untuk mengembangkan ketiga dimensi tersebut adalah melalui pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri. Pembelajaran IPA berbasis inkuiri juga membantu siswa untuk lebih kreatif dan berpikiran luas. Supaya pembelajaran IPA berbasis inkuiri dapat terlaksana di SD maka guru harus memiliki kemampuan untuk merencanakan pelaksanaan pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri dengan memunculkan semua aspek inkuiri dalam setiap rencana pembelajaran IPA yang disusun untuk dapat mengarahkan pelaksanaan pembelajaran yang berbasis inkuiri. Selain mengetahui tentang hakekat pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri,
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

255

WATI OVIANA

untuk dapat menerapkan pembelajaran IPA yang berinkuiri guru juga harus mengetahui bagaimana menyusun rencana pembelajaran IPA yang memunculkan aspek-aspek inkuiri. Langkah-langkah guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis inkuiri Agar kegiatan pembelajaran terarah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, guru harus merencanakan kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan diselenggarakan dengan seksama. Secara administratif rencana ini tertuang dalam RPP. Ini akan dijadikan pegangan bagi guru dalam menyiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakanya bagi siswa. Jadi RPP ini merupakan gambaran dari pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru. Disini dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri maka guru harus menyusun sebuah rencana pembelajaran yang memunculkan aspek-aspek inkuiri Adapun langkah-langkah guru dalam menyusun RPP berbasis inkuiri dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan RPP. Menurut Mulyasa (2007:224). Pertama, mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Kompetensi yang dikembangkan harus mengandung materi standar, yang dapat diidentifikasi berdasarkan kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Kedua, mengembangkan materi standar. Materi standar merupakan bahan pembelajaran berkenaan dengan jawaban atas apa yang harus dipelajari oleh peserta untuk membentuk kompetensi. Yang meliputi tiga hal yaitu: ilmu pengetahuan, proses dan nilai-nilai. Ketiga, adalah menentukan model dan merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Penentuan model erat kaitannya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang paling efisien dan efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk membentuk kompetensi dasar. Keempat, merencanakan penilaian atau evaluasi. Penilaian yang dilakukan hendaknya berdasarkan apa yang dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Dalam mengembangkan RPP berbasis inkuiri secara garis besarnya dapat juga mengikuti langkah-langkah antara lain: mengisi kolom identitas, menentukan
256
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indikator yang akan digunakan dan terdapat dalam silabus dan yang telah disusun, merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, mengidentifikasi materi standar berasarkan materi pokok pembelajaran yang terdapat dalam silabus, menentukan model pembelajaran yang akan digunakan, merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir, menentukan sumber belajar yang digunakan dan menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran. Penyusunan RPP yang berbasis inkuiri secara garis besarnya juga mengikuti tahapan-tahapan diatas, tetapi dalam RPP yang berbasis inkuiri akan tergambar bahwa pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan akan didasarkan pada inkuiri, ini akan terlihat pada tahap merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Dalam menyusun RPP yang berbasis inkuiri maka dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan awal, inti dan akhir yang akan dilakukan akan memunculkan aspek inkuiri yaitu adanya pernyataan dalam RPP yang mendeskripsikan kegiatan merumuskan masalah, adanya pernyataan dalam RPP yang mendeskripsikan kegiatan merancang penelitian sederhana, adanya pernyataan dalam RPP yang mendeskripsikan kegiatan pengumpulan data dan menggunakan alat yang menunjang pengumpulan data, dan adanya pernyataan dalam RPP yang mendeskripsikan kegiatan mengkomunkasikan hasil penelitian. Tahap-tahap penerapan kegiatan pembelajaran IPA berbasis inkuiri Pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri hampir sepenuhnya melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, guru hanya bertindak sebagai fasilisator untuk merangsang dan mengarahkan siswa. Selain itu, menurut Gulo dalam Trianto (2007), inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual siswa tetapi seluruh potensi yang ada termasuk pengembangan emosional. Ketrampilan inkuiri bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, dan membuat kesimpulan. Sehingga, melalui pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri siswa dapat aktif mengembangkan pemahamannya tentang IPA dan menggabungkan antara pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan berfikir.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

257

WATI OVIANA

Dalam penerapan pembelajaran IPA yang didasari pada inkuiri ada beberapa tahap yang harus dilewati Menurut Joyce & Weil (1996), inkuiri terdiri dari lima tahapan, sebagai berikut : Tahap pertama, Penyajian masalah atau menghadapkan siswa kepada situasi teka-teki. Pada tahap ini guru menyatakan situasi masalah dan menentukan prosedur inkuiri kepada siswa (berbentuk pertanyaan yang hendaknya dapat dijawab “ya” atau “tidak”). Pertanyaan tentang peristiwa yang didasarkan pada bentuk ide-ide sederhana merupakan permulaan inkuiri. Tujuan utama ialah memberikan pengalaman kreasi pengetahuan baru kepada siswa. Tahap kedua, Pengumpulan dan verifikasi data. Pada tahap kedua ini, siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat atau alami, membuktikan hakekat objek dan kondisi, menyelidiki peristiwa situasi masalah. Tahap ketiga, Pengumpulan data dan melaksanakan eksperimen. Pada tahap ketiga ini siswa mengajukan unsur ke dalam suatu situasi untuk melihat perubahan yang terjadi. Eksplorasi dan menguji secara langsung. Eksplorasi mengubah bendabenda untuk melihat apakah yang akan terjadi, tidak memerlukan suatu teori atau hipotesis tetapi boleh menggunakan ide-ide untuk terjadinya suatu teori. Sedangkan tes langsung berlaku apabila siswa-siswa mencoba suatu teori atau hipotesis. Fungsi kedua dari guru, ialah memperluas proses inkuiri siswa dengan mengembangkan tipe informasi yang mereka peroleh. Selama tahap verifikasi, siswa boleh mengajukan pertanyaan tentang obyek, ciri, kondisi dan peristiwa. Tahap keempat, Meneruskan penjelasan. Pada tahap keempat, guru mengajak siswa merumuskan penjelasan. Beberapa siswa akan menemui kesulitan dalam mengemukakan informasi yang mereka peroleh, untuk memberikan uraian yang jelas. Mereka dapat memberikan penjelasan yang tidak begitu mendetail. Tahap kelima, Mengadakan analisa tentang proses inkuiri. Pada tahap kelima siswa diminta untuk menganalisa pola-pola penemuan mereka. Mereka boleh menentukan pertanyaan yang lebih efektif, pertanyaan yang produktif dan yang tidak, atau tipe informasi yang mereka butuhkan dan yang tidak diperoleh. Selanjutnya dalam Nasional Science Education Standard USA (NCR, 2000), dikemukakan bahwa proses pembelajaran IPA terdiri atas lima tahap untuk tingkat kelas 3 dan 4 yaitu: Tahap pertama, merumuskan masalah dimana siswa dilibatkan dengan sebuah pertanyaan ilmiah, kejadian/fenomena. Hal ini dihubungkan dengan pengetahuan siap siswa dan membuat ketidakseimbangan
258
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

dengan ide-ide yang mereka miliki dan memotivasinya untuk belajar lebih. Tahap Kedua, siswa menggali ide-ide melalui pengalaman hands on, memformulasi dan menguji hipotesis, memecahkan masalah dan membuat penjelasan terhadap apa yang mereka observasi. Tahap ketiga, siswa menganalisis dan menginterpretasikan data, mensintesis ide-ide mereka, membangun model dan memperjelas konsep melalui penjelasan dari guru atau sumber pengetahuan ilmiah lainnya. Tahap keempat, siswa memperluas pemahaman dan kemampuan baru mereka serta mengaplikasikan apa yang dapat mereka pelajari pada situasi baru. Tahap kelima, siswa bersama guru mereview dan menganalisis apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana mereka telah mempelajarinya. Hampir senada dengan yang diungkapkan Eggen & Kauchak dalam Trianto (2007), bahwa tahapan pembelajaran inkuiri terdiri atas enam fase yaitu: Pertama, menyajikan pertanyaan atau masalah, guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan dipapan tulis dan guru membagi siswa dalam kelompok. Kedua, membuat hipotesis, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pedapat dalam bentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memproritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan. Ketiga, merancang percobaan, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. Keempat, melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan. Kelima, mengumpulkan dan menganalisis data, guru memberi kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengelolaan data yang terkumpul. Keenam, membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. Tahap-tahap pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri untuk tingkat kelas 5 dan 6 dalam NRC (2000), berbeda dengan tahapan pembelajaran IPA untuk kelas 3 dan 4. Pada tingkat kelas 5 dan 6 tahap-tahap pembelajaran inkuiri berkembang menjadi delapan tahap yang meliputi: Pertama, kegiatan merumuskan masalah dan mengajukan pertanyaan yang akan diteliti. Kedua, kegiatan merencanakan dan melaksanakan suatu penyelidikan sederhana. Ketiga, kegiatan menggunakan peralatan dan cara-cara yang tepat untuk mengumpulkan, menganalisis, dan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

259

WATI OVIANA

mengintepretasi data. Keempat, kegiatan mengembangkan deskripsi, penjelasan, dan model-model dengan menggunakan fakta yang ada. Kelima, kegiatan berpikir kritis dan logis untuk mencari hubungan antara fakta-fakta dengan penjelasan. Keenam, kegiatan menganalisis dan meninjau kemabali penjelasan-penjelasan yang akan dibuat. Ketujuh, kegiatan mengkomunikasikan langkah-langkah dan hasil penyelidikan. Penutup Pembelajaran IPA adalah suatu aktivitas yang kompleks dan merupakan jantungnya pendidikan IPA. Dalam NRC (National Research Council) disebutkan bahwa perencanaan pembelajaran IPA harus berdasarkan pada inkuiri. Demikian juga dengan pengajarannya harus digunakan inkuiri sebagai strategi sentral dalam pengajarannya. Untuk itu guru IPA harus menuntun dan memfasilitasi siswa dalam memahami dan menggunakan pengetahuan dan proses ilmiah pada setiap pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA yang berorientasi pada inkuiri akan bersifat aktif melibatkan siswa belajar secara “hand-on” dan eksperimen, belajar berdasarkan aktivitas dan mengembangkan ketrampilan proses melalui model ilmiah. Sehingga dengan menerapkan pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri guru telah mengajarkan IPA sesuai dengan hakekat IPA sendiri. Selain itu melalui pembelajaran IPA yang berbasis inkuiri tujuan pembelajaran IPA untuk jenjang SD/MI yang diharapkan dalam kurikulum dengan sendirinya akan tercapai.

260

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI DI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

Daftar Pustaka
Alberta. (2004). Focus on Inqiry: A Teacher’s For Guide To Implementing InquiryBase Learning. Edmison, AB: Alberta Learning [online] Tersedia:http:www.Learning.gov.ab.ca/k_12/curriculum/bysubject/focusiiquiry. pdf. BSNP. (2006). Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar: Jakarta BSNP. Depdiknas. (2003). Kumpulan Pedoman Kurikulum. Jakarta: Depdiknas. Ginting, A. (2008). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora Gulo, W. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo. Hamalik,O.(2007). Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Haury,D.L.(1993). Teaching Science Through Inkuiry. Tersedia:http:www. Ericfacility.net/database/ERIC CSMEE Diges (march.ed) 359-480. Hsin-kai wu. (2007). Developing Sixth Grader’s Inquiry Skill To Construct Explanations In Inquiry-Base Learning Environments. Taiwan: wu,H-k & Hsieh,C-E (in press). Joyce,B.&Weill, M. with Calhoun, E. (1996). Model Of Teaching. 6 edition. Boston: Allyn and Bacon. Joseph, B.et. Al. (1976). Enquiry in Science A Guide for Teachers. Adelaide Australia: The Griffin Press. Mulyasa. (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Rosdakarya. National Research Council. (2000). National Science Educations Standards. Washington DC: National Academy Press. http://books.nap.edu/html/inquiryaddendum/notice.html. National Research Council. (1996). National Science Educations Standards. Washington DC: National Academy Press. http://books.nap.edu/html/ inquiryaddendum/notice.html.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

261

WATI OVIANA

NSTA & AETS. (1992). Standards For Teacher Preparation Sukmadinata, N. S. (2003). Perencanaan pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Sulistyorini. (2007). Pembelajaran IPA Sekolah Dasar. Semarang: UNNES. Subroto, S .(2002). Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifisme, Jakarta: Prestasi Pusataka. The National Science Teachers Association. (2002). Elementry School Science. Tersedia:http:www.nsta.org/about/positions/elementary.aspx. Uno, H. (2008). Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Uno, H. (2008). Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

262

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

Peran Pendidikan Islam dalam Pemberdayaan Sosial
Misnan
Pegawai Negeri Sipil pada Kanwil Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Aceh

Abstract A lot of sharp critiques has been addressed by various parties about the output of Islamic Education that so far has not shown a great success in the midst of society. Therefore, the Islamic education is not just the responsibility of educational institutions, but also under the responsibility of the Muslim community. Then it becomes a necessity for the society to contribute in the efforts in advancing the Islamic education itself. One of the efforts is by empowering the appropriate potential of community. Students come and return to the community, so the direction of curriculum policy should be oriented to the community. All educational activities, in the first place, should be firmly directed to the goal of education. In fact, learning is not for school, but learning is for life, thus education will become more meaningful. Kata kunci: Pemberdayaan masyarakat, pendidikan Islam, potensi masyarakat

MISNAN

Pendahuluan Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses yang berusaha meningkatkan kualitas hidup individu atau sekelompok masyarakat untuk beranjak dari kualitas kehidupan sebelumnya menuju pada kualitas hidup selanjutnya. Oleh karena itu pemaknaan pemberdayaan masyarakat mempunyai cakupan yang luas seperti aspek pendidikan, ekonomi, politik, maupun sosial kebudayaan. Dalam hubungannya dengan tema di atas, maka secara kuat dipahami bahwa proses pemberdayaan masyarakat dalam hal ini difokuskan pada aspek pendidikan terutama pendidikan Islam. Pendidikan merupakan perkembangan yang terorganisir dan kelengkapan dari semua potensi manusia, moral, intelektual maupun jasmani, oleh dan untuk kepribadian individual dan kegunanan masayarakat yang diarahkan untuk menghimpun semua aktivitas tersebut (Hasan, 2005:95). Jika sudah demikian, maka kemajuan suatu institusi pendidikan akan sangat terkait erat dengan potensi masyarakat. Pendidikan Islam merupakan sub sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Perjalanan pendidikan Islam tidak terlepas dari pasang surutnya sistem Pendidikan Nasional itu sendiri, sebagaimana tidak terlepasnya umat Islam ketika membicarakan nasib bangsa Indonesia, dan bahkan pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang di Indonesia yang telah ikut mewarnai kehidupan bangsa baik pada masa sebelum penjajahan bahkan setelah Indonesia merdeka. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang notabene mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, seharusnya pendidikan Islam mendasari pendidikan-pendidikan lainnya, serta menjadi primadona bagi peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. Demikian juga halnya dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seharusnya pendidikan Islam dijadikan tolok ukur dalam membentuk watak dan pribadi peserta didik, serta membangun moral bangsa (Nation Character Building) (Majid, 2004:161). Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, maupun para pakar pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan, tak terkecuali pendidikan Islam, sudah sejak lama, namun hasil yang dicapai belumlah maksimal. Saat ini terdapat ketidakseimbangan antara idealita dengan realita yang ada. Upayaupaya peningkatan mutu pendidikan masih bersifat parsial, terkotak-kotak dan tidak komprehensif. Sehingga wajar apabila output peserta didik yang notabene
264
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL

pendidikan Islam kurang memberikan hasil yang maksimal baik terhadap peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. Pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini dinilai hanya mampu memenuhi aspek normatif semata dan “tidak atau belum sanggup” mewujudkan apa yang selama ini diharapkan. Dengan kata lain, pendidikan Islam juga memiliki kelemahan-kelemahan prinsipil untuk bisa berperan secara pasti dalam memberdayakan komunitas Muslim di negeri ini. Untuk saat ini, lembaga Pendidikan Islam memerlukan adanya suatu perencanaan strategis, dengan menyusun visi, misi, tujuan, sasaran, metode, program dan kegiatan. Hal ini dimaksudkan sebagai perencanaan jangka panjang untuk menjawab tantangan eksternal yang semakin dinamis dan kompleks. Disinilah diperlukan analisis kekuatan, kelemahan (faktor internal), peluang serta ancaman (faktor eksternal). Akhirnya akan diketahui dimana posisi sekolah, mau kemana sekolah dan apa masalah krusial yang dihadapi, lalu dibuat perencanaan strategis untuk menjangkau masa depan yang lebih baik (Syafaruddin, 2005:131). Proses seperti ini perlu melibatkan sejumlah orang yang tak kalah pentingnya untuk ikut menyukseskan pendidikan Islam. Upaya mengikutsertakan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dukungan, tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan inilah yang dimaksud penulis dengan istilah memberdayakan masyarakat. Sehingga keberhasilan pendidikan bukan saja menjadi tugas dan tanggung jawab institusi pendidikan saja tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat memberikan respon positif terhadap perkembangan pendidikan yang ada saat ini, karena output pendidikan pada akhirnya akan bermuara pada satu titik yaitu masyarakat. Dengan latar belakang permasalahan tersebut, dalam artikel ini akan dikaji dimanakah letak esensial dan relevansi perbincangan yang menuju pada suatu tindakan, dan mencari pemecahan mengenai kekurangan yang masih dimiliki dalam upaya memberdayakan komunitas Muslim di Indonesia. Urgensi pemberdayaan masyarakat Dalam sejarah bangsa Indonesia yang harus digaris bawahi terlebih dahulu adalah, pertama, komunitas muslim merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya sangat besar, bahkan terbesar di dunia yang terkonsentrasikan dalam
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

265

MISNAN

satu negara, dan dengan demikian mempunyai masalah-masalah yang sekaligus sebagai hambatan dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat diskursus pendidikan Islam. Kedua, ajaran Islam menyatakan bahwa manusia, disamping harus berilmu pengetahuan juga harus beriman dan bertaqwa. Ini pula yang menjadi salah satu aspek yang utama agar masyarakat bangsa ini dapat terjamin dan mempertahankan diri dalam wilayah sosialistis religius. Untuk memahami aspek pertama, maka dengan jelas dapat dimengerti bahwa jumlahnya yang besar (komunitas muslim), telah melahirkan berbagai potensi dalam langkah optimalisasi pemberdayaan masyarakat umat Islam di negeri ini. Sebab, jika dunia pendidikan Islam mampu menggali dan mengatur sumber daya manusia (SDM) yang ada pada komunitas muslim dalam peningkatan mutu pendidikan sungguh akan memberikan nilai maksimal yang dicapai oleh institus pendidikan Islam. Adapun pemberdayaan masyarakat pada komunitas muslim ada pada komite sekolah atau majlis sekolah, konsultan sekolah, cendekiawan muslim, tokoh-tokoh agama yang mempunyai komitmen pada ajaran Islam, tokoh masyarakat yang tertarik dan peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan yang kedua adalah, menjadi dasar pemikiran penting selanjutnya, tentang masih perlunya pemikiran proses pemberdayaan masyarakat yang terencana, matang, oleh umat Islam terhadap umat Islam sendiri. Sebab pendidikan Islam pada umumnya belum bisa dinilai telah ikut serta secara memadai dalam menanamkan atau memberdayakan masyarakat dengan nilainilai moral agama. Ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan sosial, karena proses yang berlangsung sangat didominasi oleh proses pemberdayaan secara intelektual. Instutusi pendidikan yang banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberi kesempatan yang luas untuk mengenal kehidupan masyarakat yang sebenarnya (Nasution, 2004:153). Pada hakekatnya peserta didik itu datang dan kembali kepada masyarakat, maka disinilah tuntutan yang harus dilakukan oleh para pemerhati pendidikan tak terkecuali pendidikan Islam untuk memikirkan proses pemberdayaan komunitasnya. Selama ini muncul beberapa pendapat yang mengkritisi pendidikan Islam di sekolah di antaranya : 1. Hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) belum sesuai dengan tujuantujuan pendidikan Islam itu sendiri.
266
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL

2. Pendidikan Nasional belum sepenuhnya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius, berakhlak, berwatak ksatria dan patriotik. 3. Kegagalan pendidikan Islam disebabkan pembelajarannya lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya. 4. Pendidikan Islam lebih menekankan pada kemampuan verbalisme dan kemampuan numerik (menghitung), sementara kemampuan mengendalikan diri dan penanaman keimanan diabaikan. 5. Penyampaian materi akhlak di sekolah baru sebatas teori, padahal yang diperlukan adalah suasana keagamaan. 6. Permasalahan pendidikan Islam di sekolah saat ini mengalami masalah metodologi. Terhadap realitas demikian, ada beberapa faktor yang perlu dianalisis dan segera mendapat perhatian dari semua pihak. Menurut penulis bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat memiliki ketergantungan yang sangat tinggi, yang dipengaruhi oleh adanya proses kerjasama yang erat antara institusi pendidikan dengan masyarakat. Arah pemberdayaan potensi masyarakat Masyarakat pada dasarnya memiliki potensi untuk berkembang apabila kita berdayakan. Seperti dijelaskan oleh Piaget dalam bukunya Sund (1976), kemampuan operasi berpikir manusia ditentukan oleh kemampuan manusia itu untuk mengasimilasi atau mengadaptasikan lingkungan dalam pikirannya. Dalam terminologi lain, maka kemampuan berpikir manusia ditentukan oleh dua komponen pertama, kemampuannnya menangkap gejala, kedua, kemampuannya untuk mengkonsepsikan gejala itu menjadi suatu pengertian umum (Djohar, 2003:133-134). Namun potensi itu tidak berkembang apabila orang tidak memanfaatkan kesempatan itu. Upaya pemberdayaan potensi masyarakat dapat diklasifikasikan pada tiga arah : 1. Upaya pemberdayaan potensi masyarakat harus dimulai dari pemberdayaan pendidikan keluarga. Konsep “Brain development” menjelaskan bahwa
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

267

MISNAN

sistem penserabutan otak manusia sangat ditentukan oleh kontak manusia pada tiga tahun pertama kehidupannya di bumi. Semakin banyak gejala alam yang dapat ditangkap anak pada tiga tahun pertama usia mereka, maka akan merangsang pertumbuhan sistem serabut-serabut otak, yang berarti akan berdampak tingginya kecerdasan anak di masa mendatang. Oleh karena itu pemberdayaan potensi umat harus dilakukan sejak awal kelahiran. Selain itu, orang tua harus bertanggungjawab terhadap perilaku gizi yang proposional, dan juga mengkondisikan agar anak mengalami proses perkembangan secara proporsional. 2. Institusi pendidikan merupakan arah pemberdayaan potensi masyarakat yang selanjutnya setelah keluarga. Menjadi tanggungjawab pihak sekolah dalam hal pertumbuhan anak selanjutnya baik fisik, kecerdasan intelektual, kreativitas dan perkembangan kecerdasan emosional, bahkan tumbuhnya kecerdasan spiritual secara optimal. Padahal pendidikan kita belum mampu melaksanakan tugas ini. Untuk itulah sudah saatnya institusi pendidikan melakukan berbagai upaya inovasi dengan landasan bahwa pemberdayaan potensi masyarakat perlu memperkecil peran tumbuhnya cara berpikir linier (yang masih menjadi tekanan pendidikan sekarang). Mengapa demikian karena sesungguhnya bumi dan seisinya selalu mengalami perubahan-perubahan yang begitu cepat yang selalu tidak linier, begitu juga seharusnya konsep pendidikan Islam. Berarti untuk pemberdayaan potensi masyarakat harus selalu diarahkan kepada berkembangnya kreativitas masyarakat. Agar maksud ini bisa dicapai maka kemampuan ketrampilan dan seni harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan. Menurut penulis, instistusi pendidikan Islam sudah saatnya melakukan upaya-upaya inovasi dalam bidang pendidikan, bukan secara tambal sulam melainkan secara menyeluruh dan mendasar. Dibutuhkan satu revolusi di bidang pendidikan, dan menggeser serta mengubah paradigma yang keliru. Paradigma yang keliru dan mendasar sekali adalah selama ini bahwa “belajar untuk sekolah bukan untuk hidup”, harus dirubah dengan “belajar bukan untuk sekolah (non scholae) tetapi belajar untuk hidup (sed vitae discimus)”. Kurikulum di sekolah harus mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan di masyarakat dengan
268
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL

demikian peserta didik akan lebih memahami kondisi masyarakat. Sekolah janganlah terisolasi dari masyarakat, apa yang dipelajari hendaknya berguna bagi kehidupan peserta didik dalam masyarakat dan didasarkan atas masalah masayarakat. Dengan demikian, peserta didik akan lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat. 3. Arah pemberdayaan selanjutnya adalah di masyarakat dengan cara meningkatkan rasa tanggungjawab terhadap terwujudnya bangsa yang memiliki peradaban dan moral tinggi. Hubungannya dengan proses pendidikan selama ini sikap masyarakat belum atau tidak kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak sekolah. Masyarakat mengikuti apa saja yang ditentukan sekolah, tanpa mempertanyakan secara kritis apa manfaat dari semuanya itu, ditinjau dari pencapaian tujuan pendidikan. Sekolah menentukan kurikulum dan silabus, sekolah menentukan metode pembelajaran, sekolah menentukan ulangan, ujian, kelulusan sampai dengan pakaian bahkan sepatu seragam sekolah. Ini adalah beberapa contoh yang seharusnya masyarakat ikut andil dan bertanggungjawab terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Disinilah sebenarnya letak pemberdayaan masing-masing potensi masyarakat (keluarga, sekolah, dan masyarakat) untuk bersama-sama mengkompromikan bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang akan diterapkan. Dalam penanganan proses pemberdayaan potensi masyarakat ini pihak sekolah harus membutuhkan strategi yang tepat, dan memerlukan jaringan yang luas, melibatkan banyak pihak baik kalangan birokrat, kalangan usahawan, kalangan pemuka agama, dan tentunya kalangan pendidikan serta organisasiorganisasi kemasyarakatan. Upaya-upaya pemberdayaan potensi masyarakat dalam pendidikan Islam Keberhasilan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama-sama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Hal ini ditegaskan dalam Undangundang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 (pasal 5-11) tentang hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam pendidikan.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

269

MISNAN

Menanggapi berbagai kritikan pendidikan Islam yang antara lain sudah disebutkan terdahulu, maka penulis mencoba menawarkan sebuah sistem pembelajaran yang disebut dengan keterpaduan pembelajaran pendidikan Islam. Yaitu berbagai inovasi sistem pembelajaran yang melibatkan berbagai pihak dengan memanfaatkan pemberdayaan potensi yang ada di masyarakat, karena sudah saatnya pendidikan Islam bukan hanya milik institusi pendidikan tetapi juga milik seluruh umat Islam. Untuk lebih jelasnya berkenaan dengan pemberdayaan potensi masyarakat akan penulis uraikan dalam bentuk kerjasama dalam penerapan pembelajaran pendidikan Islam sebagai berikut: 1. Orang tua peserta didik selama ini kurang memperhatikan perkembangan sekolah, karena pihak sekolah selalu memberikan aturan yang membatasi gerak mereka. Sudah saatnya orang tua peserta didik menjadi salah satu bagian dari aktivitas pemberdayaan potensi masyarakat yang harus dibina, dengan usaha-usaha melibatkan orang tua secara intens dengan kegiatan-kegiatan sekolah. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengenali sekolah, bukan saja bentuk fisiknya tetapi juga program sekolah. 2. Kurikulum pendidikan Islam selama ini hanya milik sekolah, sudah seharusnya dirumuskan dengan melibatkan berbagai pihak (sekolah, guru, siswa, orang tua, masyarakat, dan unsur lain yang dianggap perlu) sehingga belajar bukan untuk sekolah tetapi belajar untuk hidup. Sifat kurikulum tidak baku tetapi selalu mengalami pembauran sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan pendidikan saat ini. Disinilah peran orang tua, sekolah, dan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. 3. Jika kurikulum sudah terbentuk, maka masyarakat melakukan kegiatan yang dapat dikontrol benar salahnya, baik dan tidaknya, dalam bentuk kerjasama informal individual, proses kerjasama ini lebih didasarkan pada faktor rasa kepedulian masyarakat terhadap kebutuhan akan pentingnya keberhasilan pendidikan. Aspek orang tua yang menjadi sasaran penting dalam hal ini, karena keberhasilan pendidikan merupakan keberhasilan bagi anaknya dan juga bagi orang tua tersebut. 4. Usaha institusi pendidikan dalam menumbuhkembangkan potensi
270
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL

masyarakat dalam bentuk formal organisatoris, dalam bentuk pertemuan rutin yang dilakukan secara berkala. tujuan yang hendak dicapai di antaranya: Pertama, Bagaimana masyarakat menyikapi proses pendidikan dengan kejadian-kejadian dan kebutuhan yang terjadi di masyarakat. Kedua, Sebagai tindakan evaluasi terhadap program penerapan kurikulum yang telah disusun secara terpadu. 5. Membangun iklim sekolah yang efektif. Iklim sekolah dapat dibina dan dikembangkan menuju kepada situasi yang kondusif dalam upaya mencapai sekolah efektif. Khususnya dalam penerapan pendidikan Islam harus ada pola kerjasama (antara guru agama dengan guru mata pelajaran lainnya) dalam pembinaan Pendidikan Agama Islam pada sekolah tersebut. Pada bagian ini menjadi tugas manajer sekolah untuk menerapkan sistem pembelajaran agama yang integral, dalam artian seluruh tenaga pengajar harus mendukung dan menerapkan sistem pembelajaran yang agamis. Dengan pemberdayaan seperti inilah pendidikan Islam akan semakin bercahaya di tengah-tengah masyarakat. Adapun manfaat dari adanya pemberdayaan potensi masyarakat dalam bidang pendidikan adalah : 1. Untuk memberikan pengetahuan dan mengembangkan pemahaman terhadap masyarakat tentang maksud-maksud dan sasaran-sasaran yang akan dicapai oleh sekolah. 2. Untuk menilai program sekolah apakah sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. 3. Untuk mempersatukan orang tua murid dan pihak sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik. 4. Untuk membangun kesadaran kepada semua pihak akan pentingnya pendidikan. 5. Untuk membangun dan memelihara kepercayaan yang diberikan masyarakat terhadap sekolah. 6. Agar masyarakat mengetahui dan memahami betapa beratnya tugas institusi pendidikan, dan ini menjadi tanggungjawab bersama. 7. Untuk mengerahkan bantuan dan dukungan dalam pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

271

MISNAN

Sehingga dengan adanya usaha pemberdayaan potensi masyarakat melalui mekanisme yang sudah disepakati dapat meningkatkan rasa tanggungjawab masyarakat terhadap terwujudnya pendidikan yang memberdayakan masyarakat untuk menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara kreatif dan inovatif. Penutup Banyak orang, terutama kalangan masyarakat, yang mengkritisi bahwa pendidikan Islam tidak atau belum menunjukan keberhasilan di tengah-tengah masyarakat yang masih sangat membutuhkan peranannya. Dari pembahasan dalam artikel ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Pendidikan Islam bukan saja milik suatu lembaga institusi pendidikan saja, akan tetapi pendidikan Islam adalah milik semua komunitas Muslim yang ada di dunia ini. 2. Oleh karena pendidikan Islam menjadi milik semua komunitas Muslim, maka pendidikan Islam menjadi tanggungjawab masyarakat yang harus dibuktikan dengan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan dan menjawab keluhan-keluhan yang banyak dikritisi baik peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. 3. Selama ini hubungan antara institusi pendidikan dengan masyarakat masih sangat minim dan masyarakat tidak difungsikan sebagai sumber pelajaran. Oleh karena itu paradigma pembelajaran harus dirubah “belajar bukan untuk sekolah akan tetapi belajar untuk hidup” karena pada hakekatnya peserta didik datang dan akan bermuara juga pada masyarakat. 4. Dengan pemberdayaan potensi masyarakat melalui mekanisme tepat guna yang dikoordinir pihak sekolah akan menjawab semua kekurangan, kelemahan yang ada. 5. Kurikulum sebagai arah pendidikan akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Maka kurikulum harus dirumuskan melalui pemberdayaan potensi masyarakat dengan berdasarkan pada kebutuhan masyarakat, oleh karena itu sifat kurikulum tidaklah baku, akan tetapi selalu mengalami perubahan seiring dengan kebutuhan masyarakat.

272

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL

Daftar Pustaka
Nasution, S. (2004). Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. Hasan, Muhammad Tholhah. (2005). Islam Dalam Perspektif Sosio Kultural, Jakarta: Lantabora Press. Hasan, Muhammad Tholhah. (2005b). Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lantabora Press. Djohar. (2003). Pendidikan Strategis Alternatif Untuk Masa Depan. Yogyakarta: Lesfi. Mukhtar. (2003). Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Misaka Galiza. Majid, Abdul et.al. (2005). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hasan, Fuad. (2003). Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Syafaruddin. (2005). Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

273

Etika Mahasiswa Islam Dalam Menyampaikan Aspirasi di Depan Publik
Suatu Analisis Nilai-nilai Pendidikan dalam Perspektif Alquran dan Hadis
Saifullah
Dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

Abstract Islam from the beginning has provided an ethical guidance on how people express desires, aspirations, demands or others. Islam gives freedom to its ummah to deliver their aspirations, desires or opinions. But all of it should be done with certain legal and ethical rules in order to create a peace and tranquility live in a society, nation and state. Everyone always wants to speak, however, not everyone who speaks has and pays attention to ethics in conveying messages, opinions and aspirations. As a Muslim student in this case, they should talk, argue, and express the aspirations by considering some ethics that can bring good and blessing in accordance with the values contained in Alquran and Hadis. Kata kunci: Etika, mahasiswa Islam and aspirasi

SAIFULLAH

Pendahuluan Islam merupakan salah satu agama samawi yang meletakan nilai-nilai kemanusia atau hubungan personal, interpersonal dan masyarakat secara agung dan luhur, tidak ada perbedaan satu sama lain, keadilan, relevansi, kedamaian yang mengikat semua aspek manusia. Oleh karena Islam yang berakar pada kata “salima” dapat diartikan sebagai sebuah kedamaian yang hadir dalam diri manusia dan itu sifatnya fitrah. Kedamaian akan hadir, jika manuia itu sendiri menggunakan dorongan diri (drive) ke arah bagaimana memanusiakan manusia dan atau memposisikan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang bukan saja unik, tapi juga sempurna, namun jika sebaliknya manusia mengikuti nafsu dan tidak berjalan seiring fitrah, maka janji Tuhan azab dan kehinaan akan datang. Fitrah kemanusiaan yang merupakan pemberian Tuhan (Given) memang tidak dapat ditawar, dia hadir seiring tiupan ruh dalam janin manusia dan begitu manusia lahir dalam bentuk “manusia” punya mata, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya sangat tergantung pada wilayah, tempat, lingkungan dimana manusia itu dilahirkan. Anak yang dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan muslim sudah barang tentu secara akidah akan mempunyai persepsi ketuhanan (iman) yang sama, begitupun nasrani dan lain sebagainya. Inilah yang sering dikatakan sebagai sudut lahirnya keberagamaan seorang manusia yang akan berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam wacana studi agama sering dikatakan bahwa fenomena keberagamaan manusia tidak hanya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang normativitas melainkan juga dilihat dari historisitas. (Amin Abdullah, 2002: V) Keberagamaan dalam Islam tentu saja harus dipandang secara konprehensif dan seyogyanya harus diposisikan sbagai sebuah perspektif tanpa menafikan yang lain. Keberagamaan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya merupakan salah satu nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. Makanya Islam itu lahir dengan pondasi keimanan, syariat,  muamalat dan ihsan, keimanan adalah inti pemahaman manusia tehadap sang pencipta, syariat adalah jalan menuju penghambaan manusia kepada Tuhannya, sedangkan muamalat dan Ihsan adalah keutamaan manusia memandang dirinya dan diri orang lain sebagai sebuah hubungan harmonis yang bermuara pada kesalehan sosial. Keberagamaan manusia yang berbeda inilah yang perlu diangkat sebagai
276
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK

sebuah momentum guna melihat sisi keunikan manusia sebagai ciptaan Tuhan itu sendiri. Persoalannya adalah apakah keberagamaan yang berbeda itu akan bermuara kearah yang sama? Kalau kita melihat secara seksama bahwa pada intinya keberagamaan manusia adalah pencarian terhadap kebenaran, baik kebenaran sosial hubungan antar manusia atau kebenaran transenden, yaitu cara pandang dan sikap manusia dalam menempatkan Tuhan dan makhluk ciptaanNya sebagai kebenaran absolut. Maka keberagamaan itu sendiri akan mengarah pada bagaimana kebenaran itu bisa diraih dalam rangka pendekatan diri kepada Tuhan sebagai manifestasi dari “iman” Dalam hubungannya dalam pencarian kebenaran dari sudut pandang keberagamaan manusia sebagai generasi bangsa dan agama yang berbeda (hetrogenitas-religiusitas) tentu akan didapat adalah berbedaan cara pandang (persfektif) dan sangat tergantung dorongan dari manusia atau sebagai mahasiswa itu sendiri yang sudah dikatakan sebagai fitrah mansia yang given   akan mengarahkan kepada kebenaran atau sebaliknya. Dilihat dalam kontek ini adalah bagaimana manusia atau khususnya mahasiswa memposisikan diri selain pemahaman terhadap kebenaran transenden, juga memahamkan dirinya pada kebenaran hubungan antar manusia lain yang dalam Islam masuk dalam kategori “ihsan”  yang secara harfiah berarti kebaikan dan kebajikan. Dorongan ihsan itu sendiri akan melahirkan subuah prilaku, yaitu moral atau etika. Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba untuk mengkaji bagaimana hakekat etika mahasiswa Islam dalam menyampaikan aspirasi di depan publik/ masyarakat di tinjau dalam perspektif Alquran dan Hadis, mengingat begitu banyak peristiwa sekarang sebagaimana kita saksikan di media massa, media elektronik maupun lingkungan sekitar, seolah-olah mahasiswa dalam menyampaikan pendapat, aspirasinya tidak lagi mencerminkan seorang manusia yang berpendidikan, tetapi tampak sangat anarkhis dan brutal. Inilah problem besar yang harus kita cari solusi yang tepat agar generasi Islam khususnya mahasiswa benar-benar dapat memposisikan pribadinya sebagai pribadi yang berpendidikan yakni bermoral dan beretika. Pembahasan 1. Pengertian etika
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

277

SAIFULLAH

Dalam tradisi filsafat istilah “etika” lazim dipahami  sebagai suatu  teori  ilmu pengetahuan yang mendiskusikan mengenai apa yang  baik dan apa yang buruk  berkenaan  dengan  perilaku manusia apalagi mahasiswa yang merupakan generasi berpendidikan dan bermartabat.  Dengan  kata lain, etika merupakan usaha dengan akal budinya untuk menyusun teori  mengenai  penyelenggaraan  hidup yang  baik.  Persoalan etika muncul ketika moralitas seseorang atau suatu masyarakat kembali secara kritis. Moralitas   berkenaan   dengan   tingkah  laku  yang  konkrit, sedangkan etika bekerja dalam level teori. Nilai-nilai etis yang   dipahami,   diyakini,  dan  berusaha  diwujudkan  dalam kehidupan nyata kadangkala disebut ethos. Kata etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yang dalam bentuk tunggal adalah ethos yang mempunyai banyak arti, antara lain; tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Sedangkan dalam bentuk jamak ta etha berarti adat kebiasaan. (Bertens .K, 2002:4). Menurut Webster's New Collegiate Dictionary, etika adalah 1) ...the discilpine dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation, 2). a set of moral principles and values,b. a theory or system of moral values,c. theprinciples of conduct governing an indiviadual or a gropup". Dalam arti adat kebiasaan inilah yang melatar belakangi terbentuknya istilah etika. Etika dimaknai sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti: 1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2) kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, 3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Menurut Bertens (2002: 6-7), etika mempunyai tiga arti: Pertama, kata etika biasa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dalam arti ini etika bersifat relatif di dalam suatu wilayah/ daerah. Misal apa yang dianggap baik oleh suatu kelompok belum tentu baik oleh kelompok lain meski mereka berada dalam suatu daerah atau wilayah yang sarna karena beda suku atau agama dan kepercayaan. Kedua, etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral. Kumpulan nilai moral yang kemudian dijadikan dasar bertindak/berperilaku bagi
278
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK

anggotanya ini yang kemudian menjadi kode etik. Seperti kode etik guru, kode etik dokter, kode etik paramedik, kode etik hakim, kode etik peneliti dan lain sebgainya. Ketiga, etika mempunyai arti ilmu tentang yang baik atau buruk yang sama artinya dengan filsafat moral karena berkaitan dengan asas-asas dan nilai tentang yang dianggap baik dan buruk. Dalam kajian ini etika ditekankan pada arti nilai-nilai dan norma-norma etis yang menjadi pegangan bagi mahasiswa sebagai generasi pendidikan yang bermartabat untuk dapat mengatur bagaimana cara menyampaikan aspirasi, pendapat di depan publik/ masyarakat dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. 2. Etika menyampaikan aspirasi dalam pandangan Islam Di tengah derasnya arus keterbukaan, mahasiswa yang merupakan bagian dari masyarakat disuguhi beragam informasi yang disajikan media cetak, media elektronik maupun sumber-sumber lain. Di satu sisi mahasiswa mendapatkan beragam informasi yang diinginkan. Akan tetapi di sisi lain mahasiswa kerap dibuat bingung oleh informasi yang tidak objektif. Mahasiswa yang nota bennya idealis kerap kali dihadapkan pada masalah ketidakpastian pemberitaan. Pada satu kasus tertentu misalnya, sumber A memberitakan kasus tersebut menurut pandangan (frame) A. Sementara itu sumber B, C dan D menurunkan informasi menurut versi mereka sendiri-sendiri, di mana antara pandangan sumber satu dengan yang lain terkesan berbeda bahkan bertolak belakang muatan informasinya. Pada akhirnya mahasiswa justru menjadi bingung mana kiranya informasi yang layak untuk dipercaya. Bagi mahasiswa yang mampu memilih dan memilah informasi yang disajikan, tidak menjadi persoalan, karena bisa memberikan penilaian yang jernih dan wajar. Mereka cenderung tidak menuding sumber A memberikan informasi keliru atau sebaliknya, informasi yang disajikan sumber B, sesuai kenyataan. Mereka menyaring sehingga tidak mudah terpancing oleh suatu isu. Kondisi seperti inilah yang diharapkan agar tidak menimbulkan anggapan yang dapat merusak citra kemahasiswaan itu sendiri. Namun tidak demikian bagi mahasiswa yang tidak mampu memilih dan memilah. Mereka menyerap begitu saja informasi yang tersaji serta memberikan penilaian atas suatu peristiwa yang bertolak dari informasi tersebut. Singkat kata,
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

279

SAIFULLAH

mahasiswa cenderung terpengaruh oleh informasi yang disajikan dengan dalih merasa dialah yang paling is the best dan berkompeten dalam menelusuri peristiwa tersebut. Akibatnya kemudian yang muncul bukannya sikap arif atas peristiwa atau berita. Akan tetapi, justru sikap curiga, menyalahkan, saling menghujat dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Bahkan tidak jarang sebuah informasi berita justru menimbulkan tindak kekerasan yang brutal dan anarkhis. Peristiwa amuk massa, perusakan, pembakaran, penganiayaan bahkan penghilangan hak hidup orang lain, sering kali bertolak dari sebuah pemberitaan yang tidak objektif. Penerbitan berita atau informasi yang menyajikan gambaran yang keliru atas suatu peristiwa, justru menjadikan media/sumber tertentu identik dengan agen provokasi. Kondisi tersebut, tampaknya tidak bisa dilepaskan dari fenomena kebebasan pers yang disalahgunakan. Sekarang ini kebanyakan dari media justru memihak kepada kepentingan tertentu dan mempunyai agenda yang tersembunyi atas berita yang diterbitkannya. Bahkan tidak sedikit industri media, dalam proses pemberitaannya hanya sekadar mengejar keuntungan materi semata. Menjamurnya beberapa industri media cetak maupun elektronik yang cenderung sensasional, bombastis dan tidak mendidik adalah bukti dari asumsi tersebut. Fenomena yang demikian ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari orientasi sebagian pers Indonesia yang cenderung komersial. Dalam kondisi yang demikian itu media sangat rentan dan mudah dimanfaatkan oleh kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan. Media yang seharusnya berperan memberikan informasi objektif justru berubah menjadi perpanjangan tangan kelompok atau golongan tertentu dan memihak pada kepentingan segelintir orang. Oleh karena itu tidak mustahil sebuah media dapat memicu konflik baru dalam masyarakat. Alih-alih bermaksud menurunkan derajat konflik, tapi justru semakin memperluas skala pertikaian lantaran berita yang diterbitkan bersifat provokatif. Media atau sumber yang berpihak, baik secara tertutup maupun terbuka di situ menjadi tidak netral, karena didukung beberapa kepentingan tersebut, media senantiasa melakukan tudingan-tudingan menurut kelompok mereka sendiri. "Kebenaran" ala media bukan kebenaran yang bernilai objektif. Untuk menghindari adanya penyimpangan informasi yang dipelintir perlu
280
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK

diperhatikan etika penyampaian aspirasi, informasi dan berita. Menurut Jalaluddin Rachmat ada lima prinsip dalam Alquran berkait dengan etika komunikasi. Pertama, qaulan sadida (Q. S. an-Nisa : 9), yang berarti isi pesan harus jujur dan benar. Artinya informasi haruslah disampaikan dengan jujur dan benar tanpa dibuat-buat, tidak menambah atau mengurangi isi berita. Kedua, qaulan ma'rufa (Q.S. an-Nisa: 5), yaitu menyerukan kebenaran dan kebaikan. Ketiga, qaulan baligha (Q. S. an-Nisa: 63), yang bermakna informasi yang disampaikan kepada masyarakat hendaknya berupa kata-kata yang mampu membekas pada jiwa seseorang. Keempat, qaulan maisura (Q. S. al-A’raf: 28), maksudnya yakni informasi yang disampaikan hendaknya berupa ucapan yang pantas untuk dibicarakan. Adapun prinsip kelima adalah qaulan karima (Q. S. al-Isra’: 23), yang berarti informasi haruslah berupa perkataan-perkataan yang mulia. (Jalaluddin Rachmat, Buletin Al-Ikhtikaf, Edisi No.61 2001). Bila kelima prinsip di atas dijadikan acuan dalam berkomunikasi niscaya tidak akan terjadi disinformasi dan penyimpangan yang bisa mengakibatkan kesalahpahaman. Mediapun tidak lagi terjebak pada kepentingan-kepentingan sesaat yang merugikan masyarakat. Islam sejak awal telah memberikan tuntunan mengenai cara menyampaikan keinginan, aspirasi, tuntutan dan lainnya. Islam memberikan kebebasan kepada umatnya untuk menyampaikan aspirasi, keinginan atau pendapat. Akan tetapi semua itu harus dilakukan dengan aturan hukum dan etika tertentu agar tercipta kedamaian dan ketenteraman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, mahasiswa dalam hal ini tidak boleh sembarangan dalam menyampaikan pendapat maupun aspirasi dan tuntutan tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. Apabila mengadukan orang lain kepada aparat yang berwenang, jangan sampai apa yang dituduhkan itu bersifat dusta atau fitnah belaka, karena hal itu tentunya merugikan orang lain. Boleh jadi apa yang disampaikan itu berdasarkan informasi yang salah atau kurang lengkap dari orang-orang yang sengaja ingin mengadu domba atau berbuat kerusuhan dengan cara menyebarkan isu yang tidak berdasar. Islam telah memberikan tuntunan moral kepada umatnya agar dalam menerima informasi atau berita haruslah dicek terlebih dahulu supaya tidak
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

281

SAIFULLAH

menimbulkan suatu kesalahpahaman: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik (provokator) membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya (Q.S: Hujurat: 6). Pada dasarnya semua orang mempunyai hak untuk menerima informasi atau berita (right to khow) yang benar, baik dari pemerintah, pejabat, mahasiswa, rakyat ataupun yang lainnya. Demikian pula rakyat berhak untuk menyampaikan informasi, kabar dan berita (right to information) untuk diketahui khalayak ramai. Kendati demikian arus informasi tidak boleh merugikan orang lain, baik pribadi maupun kelompok. Selanjutnya, penyampaian informasi didasarkan pada kepentingan umum sebagai bagian dari proses membangun komunitas masyarakat yang setara. Dengan demikian apabila orang ingin menyampaikan aspirasi, tuntutan maupun pengaduan, maka hendaknya semua itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan mengindahkan aturan-aturan, hukum dan etika yang berlaku. Penyampaian informasi atau berita janganlah disampaikan dengan cara-cara yang bisa menjelek-jelekkan, mencaci maki dan menghujat orang lain. Sebab hal itu justru bertentangan dengan etika komunikasi dan bisa menjadikan masyarakat terlibat dalam konflik yang berkepanjangan. 3. Konsep Menyampaikan Aspirasi/ Pendapat dalam Perspektif Alquran dan Hadis Etika berbicara yang dianjurkan oleh Islam adalah; pertama, hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan. Allah Swt. berfirman, ''Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.'' (Q.S. Annisa: 114). Kedua, sebaiknya orang berbicara dengan suara yang jelas agar dapat didengar, tidak terlalu keras, tidak pula terlalu pelan. Selain itu, jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah Saw bersabda, ''Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna'' (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah). Ketiga, hendaknya orang yang berbicara jangan membicarakan semua apa
282
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK

yang didengar, sebab bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa. Nabi Saw bersabda, ''Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar'' (H.R. Muslim). Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Nabi Saw bersabda, ''Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.'' (HR Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani). Kelima, berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aisyah r.a menuturkan, ''Sesungguhnya Nabi saw. apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya'' (H.R. Mutta-faq'alaih). Keenam, hindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Nabi saw. bersabda, ''Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun.'' Para shahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apa arti mutafaihiqun'' Nabi menjawab, ''Orang-orang yang sombong.'' (HR At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani). Terakhir, dalam berbicara sebaiknya kita menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba (Ahmad Mudlor: 155). Allah Swt. berfirman, ''Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain'' (Q. S. Al-Hujurat: 12). Semoga setiap pembicaraan yang kita lakukan menjadi bermanfaat dengan memperhatikan etika berbicara. Penutup Kata etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yang dalam bentuk tunggal adalah ethos yang mempunyai banyak arti, anatara lain; tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Sedangkan dalam bentuk jamak ta etha berarti adat kebiasaan. Etika yang dimaksudkan dalam makalah ini lebih diorientasikan pada arti nilainilai dan norma-norma etis yang menjadi pegangan bagi mahasiswa sebagai generasi pendidikan yang bermartabat untuk dapat mengatur bagaimana cara
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

283

SAIFULLAH

menyampaikan aspirasi, pendapat di depan publik/ masyarakat dengan baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk menghindari adanya penyimpangan informasi yang dipelintir perlu diperhatikan etika penyampaian aspirasi, informasi dan berita. Menurut Jalaluddin Rachmat ada lima prinsip dalam Alquran berkait dengan hal tersebut yaitu: 1). Qaulan Sadida, 2) Qaulan Ma'rufa, 3). Qaulan Baligha, 4) Qaulan Maisura dan, 5) Qaulan Karima. Pada sisi lain konsep menyampaikan aspirasi dalam perspektif Alquran dan Hadis adalah a). hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan. b), sebaiknya orang berbicara dengan suara yang jelas agar dapat didengar. c), hendaknya orang yang berbicara jangan membicarakan semua apa yang didengar, sebab bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa, d), menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. e), berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. f), hindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara, dan Terakhir, diharapkan dalam berbicara sebaiknya kita menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Etika dalam Islam adalah sebagai perangkat nilai yang tidak terhingga dan agung yang bukan saja berisikan sikap, prilaku secara normatif, yaitu dalam bentuk hubungan manusia dengan Tuhan (iman), melainkan wujud dari hubungan manusia terhadap Tuhan, Manusia dan alam semesta dari sudut pangan historisitas. Etika sebagai fitrah akan sangat tergantung pada pemahaman dan pengalaman keberagamaan seseorang. Maka Islam menganjurkan kepada manusia untuk menjunjung etika sebagai fitrah dengan menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan keadilan. Etika dalam Islam akan melahirkan konsep ihsan, yaitu cara pandang dan perilaku manusia dalam hubungan sosial hanya dan untuk mengabdi pada Tuhan, bukan ada pamrih di dalamnya.

284

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

ETIKA MAHASISWA ISLAM DALAM MENYAMPAIKAN ASPIRASI DI DEPAN PUBLIK

Daftar Pustaka
Amin Abdullah. (2003). Studi Agama Normativitas dan Historitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ahmad Mudlor. (2003). Etika Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas. Bertens .K. (2002). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jalaluddin Rachmad. (2001). Etika Komunikasi, Buletin Al-Ikhtikaf, Edisi No.61/27 Rabiul Akhir 1422 H.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

285

Kepanduan Sebagai Wadah Pendidikan Kewarganegaraan:
Analisis Terhadap Gerakan Muhammadiyah dan Ikhwanul Muslimin
Jasafat
Dosen pada Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, alumnus Program Doktor dari Universiti Sains Malaysia (USM).

Abstract Scouting is the association of young generation as the successor to the ideals of national struggle and human resources for the national development, which is directed to be successor cadre of national struggle. It’s coaching and development program are carried out nationwide, in comprehensive and integrated manner, starting from the beginning and covering the stages of growth of child, adolescent, and youth, which share the responsibility between parents, families, society, environment, young people and the government. It aims at improving the quality of younger generation. Scouting also aims to establish the national unity in accordance with the spirit of 2008’s Youth Pledge in the framework of nation-building and national identity in addition to trying to successor cadres of national struggle. Scouting is one the non-formal institution that gave birth to skilled and creative cadres of national development. Kata kunci: Kepanduan, civic education, hizbul watan

JASAFAT

Pendahuluan Pendidikan kewarganegaraan di Indonesia bertujuan untuk mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hakikat negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah Negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya (BPUPKI, 1998). Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 disebutkan bahwa, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kebangkitan kesadaran kebangsaan merupakan suatu fenomena yang lahir tidak secara tiba-tiba. Proses interaksi dan integrasi berjalan cukup panjang. Periode pergerakan nasional hanyalah merupakan satu episode terakhir sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Periode Pergerakan Nasional menjadi amat penting karena dalam periode Sejarah Pergerakan Nasional itulah perjuangan semakin serius, dan semangat kebangsaan dengan mengikuti sistem dan tatacara organisasi moden. Peningkatan semangat dan kualitas perjuangan ini amat memerlukan peranan pemuda, mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya, karena baik semangat maupun keunggulan berorganisasi, keduanya dimiliki oleh para pemuda terpelajar itu. Kualifikasi yang dimiliki kaum pemuda dan mahasiswa, dengan ketajaman intelegensia dan semangat juangnya sangat diperlukan untuk menjawab perubahan dan cabaran baru di abad modern. Semangat persatuan dan kesatuan yang dijiwai oleh Pancasila adalah nilai normatif yang telah diperjuangkan melalui Nation and character building oleh pendiri bangsa. Proses itu harus kita lanjutkan dan kembangkan serta tidak boleh terhenti sejak kita memutuskan membangun negara kesatuan Republik Indonesia merdeka dengan tonggak-tonggak sejarah Boedi Utomo (1908), Sumpah Pemuda
288
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

(1928), dan Proklamasi Kemerdekaan RI (17 Agustus 1945). Bahwa dengan perubahan tata nilai dalam masyarakat akibat dari proses perubahan yang tidak pernah terhenti baik secara struktural sosial maupun kultural, maka nilai-nilai kebangsaan yang telah menjadi kesepakatan nasional dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. 17 Agustus 1945 kiranya masih sangat relevan dalam upaya mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disitegrasi yang mengancam persatuan bangsa. Bung Karno pernah mengajukan platform pertama dan utama yaitu : 1) Tekad untuk hidup bersama 2) Membentuk satu bangsa berdasarkan kesamaan ciri oleh sebab bersamaan nasib 3) Secara geopolitik tanah air Indonesia adalah suatu negara bangsa (nation state). Untuk itu kiranya sangat perlu dan mendesak guna mencegah kerawanan ini, maka sangat perlu diteruskan pola pembinaan kesatuan bangsa melalui kesadaran bela negara. Alex Suseno, mengungkapkan bahwa komitmen hidup membangsa merupakan sinyalemen yang harus dijawab dengan adanya terobosan budaya. Suatu terobosan dengan paradigma sosial baru yang menggunakan bela negara dalam bahasa budaya. Agar generasi Panca 45 dapat tampil dengan suatu prakarsa yang unik tapi orisional, unik karena memberi jalan keluar, orisional karena berakar pada budaya sendiri. Secara konstitusional, Pasal 27 (3) dalam amandemen kedua menyebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara” dan Pasal 32 (1) amandemen keempat menyebutkan, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Kedua pasal di atas disinergikan sebagai interpretasi kritis, sehingga muncul statemen “Kebudayaan nasional Indonesia yang berintikan kesadaran hak bela negara” yang disingkat dengan Budaya Hak Bela Negara (BBNI). Keadaan sejarah para mahasiswa khususnya serta kaum muda terpelajar umumnya tanpa ragu diakui telah memotivasi elite strategik untuk berpartisipasi dalam Pergerakan Nasional. Kemampuan mereka mengidentifikasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

289

JASAFAT

bangsanya serta kerelaan menempatkan diri sebagai bagian dari bangsa terjajah itulah yang menjadi peran dan modal utama mereka dalam perjalanan nasionalisme Indonesia. Organisasi-organisasi atau perkumpulan-perkumpulan modern yang menjelma pada awal abad ke-20 bermula bersifat etnis dan kedaerahan, antara lain, Budi Utomo (1908), Pasundan (1914), Sarekat Sumatra (1918), Jong Java (1918), Jong Minahasa (1918) dan Kaum Betawi (1923). Selain apa yang dikemukakan di atas lahir pula organisasi yang berasaskan agama Islam. Organisasi yang tidak lagi mendasarkan diri pada etnik dan kedaerahan dimulai oleh Sarekat Islam yang berdiri pada tahun 1911 di Surakarta. Gerakan Islam di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh pemikir-pemikir Islam yang dikenal saat itu. Ide progresif mereka adalah menolak dominasi barat terhadap bangsa-bangsa Muslim. Pemikir seperti Muhamad Rasyid Ridha (1865-1935) dan Muhammad Abduh (1849-1905) sampai kepada Hasan al-Banna (1906-1949) menciptakan suatu gerakan pembaharuan yang disebut dengan modernisme Islam dengan pusat kajiannya di Kairo (Imarah, t.t: 9-17). Ide dasar Abduh adalah revitalisasi kesedaran umat Islam, bahawa ilmu pengetahuan dan agama pada prinsipnya dapat berjalan bersama. Hal ini tentu melahirkan keberanian berijtihad di kalangan Muslim Sunni, termasuk berbicara tentang nasionalisme, kemerdekaan, solidaritas sosial antara umat beragama melawan penindasan. Kepanduan merupakan sistem pendidikan luar sekolah dan luar keluarga untuk anak, remaja, pemuda, maupun dewasa untuk mencapai tujuan yang berupa terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya, menjadi kader bangsa, ummat, dan persyarikatan. Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi ataupun juga keberadaan sarana pendukungnya maka Kepanduan juga mengadakan kegiatan tambahan kepada anggotanya maupun mereka yang berminat untuk menambah pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, ataupun pengalaman yang dapat memberi bekal kehidupannya kelak (life skill), yang  itu juga berarti akan memberikan bekal bagi pengabdian mereka bagi bangsa, ummat, dan persyarikatan. Kegiatan ini berupa Bina Karya Mandiri (BKM) yang  dilaksanakan dengan praktek-praktek dan memperhatikan prinsip dasar kepanduan dan metode kepanduan untuk memberikan hasil pendidikan yang nyata dengan biaya rendah. Selain itu, kepanduan juga merupakan sarana penting pembinan generasi muda untuk mempersiapkan kader andalan dimasa mendatang. Organisasi ini
290
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi sesama Kepanduan ataupun antara masyarakat dengan Kepanduan. Dengan berkomunikasi diharapkan pemikiran-pemikiran positif dapat ditampung dan disebarluaskan untuk diamalkan untuk mempercepat tercapainya negara adil makmur dalam ampunan Allah (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Hasan al-Banna mendirikan Kepanduan dalam rangka mewadahi aktivitas olahraga. Inspirasinya adalah ide jihad dalam Islam, bersamaan dengan pendirian cabang pertama Ikhwanul Muslimin di Ismailia pada tahun 1928 (al-Banna, t.t: 108-238). Pada tahun 1935, dalam Muktamar III, Ikhwanul Muslimin menetapkan Kepanduan dan merekomendasikan sistemnya dalam proses pendidikan di seluruh cabang Ikhwanul Muslimin (al-Ikhwanul Muslimun No. 42, 23 Zulhijjah 1353/28 Maret 1935: 21-22). Mereka mendaftarkan organisasi ini pertama kalinya di Kepanduan Nasional Mesir pada tahun 1940 (ketika itu terdiri dari 35 orang anggota). Pada tahun 1941 mereka mempopulerkan gerakan kepanduan di seluruh Mesir dengan prinsipprinsip seperti berikut : 1. Mereka membetuk majelis tinggi Kepanduan (terdiri dari tujuh anggota dengan pemimpinnya Hasan al-Banna). 2. Mereka membuka membuka pusat pelatihan bagi mudarib (pelatih) untuk menghasilkan 35 orang pelatih. 3. Mereka membentuk kelompok-kelompok jawwalah (minimal 10 kelompok di setiap cabang) di Kairo, kemudian di Iskandaria. Mereka dibimbing oleh para pelatih. Selanjutnya mereka berkema untuk melatih mudarib di tingkat wilayah. 4. Setiap kelompok diikuti oleh lima orang tiap dua bulan, agar mereka dapat mengenal prinsip-prinsip jawwalah, baik yang bersifat moral maupun spiritual dengan cara berinteraksi. Kepanduan terus berkembang sehingga pada tahun 1942 jumlah anggotanya mencapai 15.000 orang, 40.000 personil pada tahun 1945, 60.000 personil pada tahun 1946, serta 75.000 personel pada tahun 1947 dan 1948 jawwalah mereka merupakan kepanduan terbesar dan paling banyak aktivitasnydalam gerakan kepanduan Mesir (Muhammad, 1987:147-154). Kepanduan Ikhwan kembali melakukan aktivitasnya setelah tahun 1951, dan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

291

JASAFAT

mulai membentuk kelompok-kelompoknya pada 26 Juli 1953. Pada penghujung bulan April mencapai 7000 kelompok pandu. (Michel, t.t:88). Majelis Komando Revolusi Mesir pada tahun 1953 membuat aturan tentang gerakan kepanduan Nasional dalam rangka memenuhi permintaan Kepanduan Ikhwan. Majlis menempatkan Kepanduan Ikhwan sebagai pengurus sementara untuk kegiatan pembimbing kegiatan kepanduan di Mesir dan menjadi anggota tetap di Dewan Kepanduan Nasional. Ketua umum Kepanduan Ikhwan diangkat sebagai sekretaris Jenderal Kepanduan Nasional, sementara Sa‘duddin al-Wali (anggota Dewan Tinggi Kepanduan Ikhwan) diangkat sebagai ketua delegasi Mesir di Jambore Internasional yang diadakan di Swiss pada tahun 1953 (Raqiq, t.t: 346-347). Disebut dalam manifest kumpulan rihlah bahwa “tujuan terbentuknya kepanduan adalah mendidik semangat Islami dalam jiwa pemuda Ikhwan, mengisi waktu mereka dengan sesuatu yang bermanfaat, baik secara medis maupun akhlak selain untuk membiasakan mereka agar taat dan disiplin (Koran Ikhwan alMuslimin Tahun II No. 42:23). Syauqi Zaki (t.t:145) menyebutkan diantara tujuan kepanduan adalah melatih para pemuda untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat, menyiapkan fisik yang kuat, serta mengikat hubungan antara kehidupan konkret duniawinya dengan Allah swt. Majalah al-Ikhwanul Muslimin menyebutkan bahawa tujuan kepanduan adalah dalam rangka melatih para kader Ikhwan secara praktis agar memiliki kepercayaan diri dan dapat memikul tanggungjawab, membiasakan berdisiplin, serta menunaikan tugas dan pekerjaan secara baik. Singkatnya ia bertujuan untuk melakukan reformasi moral. Menurut Mahmud Abdul Halim (t.t: 163), program-program latihan kepanduan yang diterapkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan kepanduan (mempelajari undang-undang kepanduan, mengenal sistem pemerintahan Mesir, menggambar peta dan sebagainya). 2. Latihan Kemeliteran (memimpin pasukan) 3. Olahraga (senam berat, gulat, menyetir mobil, renang dan sebagainya) 4. Rihlah (baik bersifat studi, ketahan fisik, maupun mendaki gunung). 5. Perkemahan (seminggu dalam perkemahan Ikhwan membiasakan hidup gaya perkemahan, latihan mendirikan tenda, mencari jejak, memperbaiki bacaan Alquran, menghafal sepuluh hadis, mempelajari undang-undang
292
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

dasar Ikhwan, mempelajari sejarah raja-raja Arab dan penguasa-penguasa Muslim, mempelajari sejarah Mesir kuno sampai masuknya Islam, belajar berdakwah). Kurikulum kepanduan telah meletakkan metode yang komprehensif untuk pembinaan para pemuda, yang menyentuh akal, hati dan perasaan mereka. Program-programnya bertujuan untuk memperbaharui aktivitas pemikiran dan fisik, menjernihkan indra, mencari ilmu dengan cara melihat secara langsung dan rihlah, menyiapkan fisik yang kuat agar mampu memikul beban-beban jihad, memerangi kemalasan, stagnasi dan kebencian, sekaligus membangkitkan jiwa kejantanan dan keperkasaan mereka. Selain itu, agar setiap anggota terbentuk dengan cara Islam sehingga ia menjadi seorang Muslim sejati dengan ibadah, kultur, pemikiran dan perilakunya (Salabi, t.t:227:237). Gambaran tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepanduan merupakan sistem pendidikan yang bertujuan untuk mendidik anggota Ikhwan, baik secara fisik dan kemiliteran, spiritual dan moral, wawasan pengetahuan, maupun sosial politik. Sejauh implementasi tujuan-tujuan edukatif dalam sistem Kepanduan dengan program-program pendidikannya. Kepanduan sejarah dan perkembangannya Di atas telah dijelaskan serba sedikit tentang sejarah perkembangan kepanduan pada saat Hasan al-Banna mempelopori pergerakan di Mesir, namun untuk lebih jelasnya pada bahagian ini akan digambarkan bagaimana proses lahirnya kepanduan di Indonesia. Sejalan dengan lahir dan berkembangnya organisasi pemuda dalam pergerakan nasional, maka pembinaan generasi muda melalui bentuk padvinder atau kepanduan memiliki arti strategi perjuangan alternatif dengan pendekatan kemanusiaan. Organisasi kepanduan ini merupakan tempat untuk mendidik rasa cinta tanah air dan menjadi tempat persemaian bagi pemimpin – pemimpin kebangsaan di masa depan. Berbicara tentang kepanduan tidak dapat dipisahkann dari Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden Powell, yang nama aslinya Robert Stephenson Smith Baden Powell (1857-1941). Buku yang ditulis oleh Baden Powell berjudul Scouting for Boys sangat berguna bagi kegiatan pendidikan yang antara lain berisi pokok-pokok kegiatan sebagaimana dicatat oleh Soedarsono
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

293

JASAFAT

Mertoprawiro (1992), sebagai berikut: 1) Melatih diri yang dilaksanakan dengan permainan yang cukup sederhana dan menyenangkan namun tetap mengandung pendidikan. 2) Menanamkan rasa percaya pada diri sendiri, rasa cinta alam dan sesama makhluk Tuhan, serta kegemaran hidup di luar rumah dengan baik dan teratur melalui perkhemahan. 3) Memupuk rasa persahabatan, tanpa memandang asal-usul, darjat dan tingkatan dalam masyarakat serta agama. 4) Menanamkan rasa patriotisme dengan memupuk rasa cinta pada tanah air dan bangsa. 5) Menanamkan disiplin dan ketrampilan. 6) Mengutamakan kewajipan daripada hak. 7) Memupuk inisiatif. Gagasan Baden Powell yang melahirkan Boys Scout Movement di seluruh dunia mendapat respons dari para pemuda dan pemimpin-pemimpin Indonesia yang tampak dari kelahiran organisasi kepanduan si sekolah dan di luar sekolah. Pada tahun 1916 muncul organisasi kepanduan pertama yang didirikan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII di Surakarta. Lahirlah kemudian organisasi-organisasi yang merupakan bahagian dari organisasi sosial dan organisasi politik. Pada tahun 1908 lahirlah perkumpulan yang diberi nama Indische Vereniging di Negeri Belanda yang diwujudkan oleh sejumlah mahasiswa Indonesia. Organisasi ini pada awalnya dijadikan sebagai pusat kegiatan sosial-budaya, bersilaturahim serta tukar-menukar berita dari tanah air ke Belanda. Sejak bulan Februari 1925 perkumpulan ini telah menjadi organisasi yang mengutamakan masalahmasalah politik. Penggantian nama dari nama Indische Vereeniging (1908) menjadi Indonesische Vereeniging (1922) serta terakhir menjadi Perhimpunan Indonesia (1925) secara tersirat telah menunjukkan semangat perjuangan serta solidaritas baru. Nama Perhimpunan Indonesia (PI) sebagai sebutan organisasi serta “Indonesia Merdeka” sebagai nama majalah yang mereka terbitkan dapat dilihat sebagai petunjuk bahawa organisasi dan para anggota PI telah mendahului berbagai organisasi lain dalam menegaskan keindonesiaan dan kemerdekaan sebagai tujuan pergerakannya. Ingleson (1988:2-3) menyatakan bahawa hal ini juga merupakan hasil pengalaman hidup dan belajar di tengah-tengah masyarakat
294
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Belanda. Para anggota PI memperoleh pengalaman yang semakin luas dan mengalami dampak tambahan sebagai akibat perpindahan mereka dari suatu masyarakat kolonial yang restriktif serta paternalistis ke dalam masyarakat yang lebih terbuka, tempat mereka untuk pertama kalinya dianggap sedarjat dengan bangsa Eropah, baik di depan hukum, mahu pun dalam masyarakat. Peran penting dan kepeloporan yang dilancarkan oleh para pemuda anggota organisasi Perhimpunan Indonesia dengan demikian sangat erat terkait dengan status mereka sebagai: 1) Mahasiswa atau kelompok terpelajar 2) Generasi muda yang sangat penuh dengan idealisme 3) Bekas eskponen berbagai organisasi di tanah air 4) Elite strategis yang mendapat berbagai perhatian di lingkungan sosiopolitik dan sosio-kultural di Eropah. Keempat status inilah yang agaknya berkolerasi dengan watak organisasi dan perjuangan Perhimpunan Indonesia yang cenderung lebih radikal, ingin serba cepat namun hati-hati, serta menempatkan solidaritas nasional yang pluralistik dan inklusivistik bukan yang primordialistik dan eksklusivistik sekaligus sebagai cara dan tujuan perjuangan. Maka dalam hal ini bukan jumlah tetapi faktor kualitaslah yang lebih menentukan. Buktinya, Ingleson (1988) mencatat jumlah mahasiswa Indonesia di negeri Belanda pada tahun 1942 adalah 673 orang, sedang pada bulan Agustus 1927 diperkirakan jumlah totalnya adalah 109 orang mahasiswa yang di antaranya (hanya) 20 orang mahasiswa yang menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Faktor kualitas dan watak perjuangan yang cenderung semakin militan dan radikal tentu sangat didukung oleh fakta bahawa sebahagian berumur 20 tahun. Sekadar ilustrasi: Hatta berumur 19 tahun, Subardjo 22 tahun, Budiarto berumur 24 tahun. Pengalaman dan kesadaran sejarah mahasiswa Indonesia di Eropah, dengan kategori, status, serta kualifikasi seperti telah dikemukakan inilah yang menghasilkan tipe dan watak perjuangan mahasiswa yang cenderung semakin radikal dan militan. Akan tetapi, radikalisme dan militansi itu tidaklah tanpa pertimbangan rasional dan realitas. Kehati-hatian masih turut serta mewarnai perjuangan para mahasiswa. Bahawa Perhimpunan Indonesia (PI) umpamanya menganggap perjuangan melalui jalur organisasi resmi dengan melibatkan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

295

JASAFAT

massa yang semakin banyak dan luas menunjukkan bukti akan sikap hati-hati, realistik dan rasionalistik Perhimpunan Indonesia (PI). Tipe dan watak yang cenderung radikal, militansi, sikap nasionalistik yang menegaskan kemerdekaan sebagai tujuan, serta solusi komprehensif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, tercermin dalam Pernyataan Prinsip atau lebih popular disebut Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia pada bulan Januari 1925. Oleh karena Manifesto Politik ini sangat penting kiranya perlu disebut lebih rinci daripada yang telah disinggung di bagian awal makalah ini. Manifesto Perhimpunan 1925 menyatakan dengan lugas dan tegas bahwa: 1. Hanya satu kesatuan Indonesia yang mengesampingkan perbedaanperbedaan sempit dapat menghancurkan kekuasaan penjajah. Tujuan bersama untuk membentuk suatu Indonesia yang merdeka menuntut pembinaan rasa kebangsaan yang didasarkan kepada suatu aksi massa yang sadar dan percaya diri. 2. Syarat mutlak untuk tercapainya tujuan itu ialah adanya partisipasi seluruh lapisan rakyat Indonesia dalam suatu perjuangan yang terpadu untuk mencapai kemerdekaan. 3. Unsur yang pokok dan dominan dalam setiap masalah politik penjajahan ialah konflik kepentingan antara penguasa dan yang dijajah. Kecenderungan pihak penguasa untuk mengaburkan dan menutupi masalah ini harus dilawan dengan mempertajam dan mempertegas adanya konflik kepentingan tersebut. 4. Melihat adanya diskolasi dan demoralisasi sebagai akibat pengaruh pemerintahan kolonial terhadap kesehatan fisis dan psikologis dari kehidupan orang Indonesia, diperlukan sejumlah besar usaha untuk memulihkan kondisi rohani dan kondisi material menjadi normal kembali (Ingleson, 1988:6). Keempat prinsip itu secara impisit pada umumnya diakui telah memuat prinsip-prinsip dasar nasionalisme karena antara lain merumuskan dan menegaskan: 1) kesatuan dan persatuan atau unity 2) kebebasan dan kemerdekaan (freedom), 3) kesamaan (equality).
296
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Ingleson (1988:5) menyebut bahawa keempat prinsip dalam Manifesto Politik PI 1925 itu dapat disarikan menjadi: 1) kesatuan nasional 2) solidaritas 3) non-koperasi 4) swadaya. Tidak jauh berbeda dari Ingleson, Sartono Kartodirdjo (1957:210-213) yang dalam banyak kesempatan selalu menegaskan arti penting dan menentukan prinsip-prinsip Manifesto Politik PI 1925, iaitu telah mengandung strategi perjuangan berupa: 1) radikalisme 2) non-koperasi 3) otonomi atau swadaya Penting untuk dicatat bahawa kesadaran sejarah PI menghasilkan agenda dan aktivitas politik yang semakin aktual dan luas. Propaganda dan aksi – aksi PI tidak lagi terbatas di negeri Belanda, tetapi meluas hingga ke tanah air. PI semakin terlibat sebagai katalisator bagi suatu gerakan nasionalis yang baru dan terpadu di Indonesia sejak tahun 1925. Ide-ide, diskusi-diskusi, serta propaganda PI, termasuk kritik PI terhadap pemerintah, serta terutama gagasan atau tuntutan “Indonesia Merdeka” diteruskan ke tanah air. PI menganjurkan bekas anggota-anggotanya yang kembali ke tanah air untuk bergabung dengan berbagai organisasi dan partai yang ada, lalu dari dalam meyakinkan organisasi dan partai-partai itu agar menerima gagasan PI. Memang para anggota PI yakin bahawa tugas utamanya adalah melancarkan propaganda nasionali ke seluruh Indonesia. Pada bulan Jun 1925 Dewan Pengurus menunjuk Budiarto, Sartono, dan Arnold Mononutu untuk menyiapkan dan menyebarkan propaganda PI di negeri Belanda dan Indonesia. Majalah “Indonesia Merdeka” yang terbit 6 atau 7 kali setahun dikirim dan diseludupkan dengan berbagai cara dan disebarluaskan di Indonesia oleh wakil-wakil, bekas anggota, serta simpatisan PI. Sudjadi merupakan penghubung dan simpatisan PI terpenting di Indonesia. Dia diberi tugas mencari pelanggan serta mengatur distribusi “Indonesia Merdeka”, memberi informasi tentang situasi politik di Indonesia kepada Dewan Pengurus PI khususnya Hatta, dan menyebarkan gagasan-gagasan PI kepada organisasi serta
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

297

JASAFAT

parti politik di Indonesia. Hubungan erat dan korespondensi Sudjadi dengan Hatta berperan penting dalam usaha PI untuk membentuk gerakan nasionalis yang baru. Sudjadi bersama Iskaq berhasil mendekati dan mempengaruhi Budi Utomo, para mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshoge school), serta para mahasiswa kedokteran (STOVIA), serta mahasiswa dan para pemuda lainnya terutama di Bandung dan Jakarta agar kelompok-kelompok pemuda-mahasiswa itu menyesuaikan diri dengan perkembangan politik baru seperti dikehendaki PI, membentuk partai politik baru yang lebih nasionalis dengan antara lain meninggalkan organisasi pemuda Jong Java yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan politik (Ingleson, 1988:14-16; Suhartono, 1994:60-63). Sejarah Pergerakan Nasional membuktikan bahawa kerjasama, konsensus, serta kesamaan-kesamaan visi dan gagasan PI dengana berbagai aliran, partai dan organisasi yang sudah dan yang baru akan dibentuk di belakang hari yang semuanya bernafaskan patriotisme dan berideologi nasionalisme inilah yang menjadi penentu berdirinya negara Republik Indonesia. Patriotisme dan ideologi nasionalisme, baik sebagai hasil propaganda PI, maupun yang muncul spontan di kalangan pemuda, mahasiswa serta kaum intelektual lainnya semakin meningkat frekuensi dan intensitasnya memasuki dekade 1930-an dan 1940-an. Termasuk ke dalam organisasi ini adalah berbagai Organisasi Pemuda, Kelompok-kelompok Studi, Organisasi Buruh, Kepanduan, Wanita dan lain sebagainya. Pemuda Sukarno dianggap paling sesuai mewakili semangat patriotisme dan nasionalisme generasi muda Indonesia. Baginya martabat dan identitas diri sebagai bangsa merdeka sangat penting. Dalam bahasa proklamator Indonesia lainnya, Bung Hatta pernah mencoba menyiratkan ke dalam sanubari hati rakyatnya yang masih beku dan dingin akan bara semangat kebangsaan. Ia mengutip pandangan Prof. Kranenburg dalam Het Nederlandsch Staatsrech, “Bangsa merupakan keinsafan, sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan tujuan bertambah besar karena sama seperuntungan, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat oleh karena jasa bersama. Pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat (sejarah) bersama yang tertanam dalam hati dan otak” (Hatta, 1953: 63).

298

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Kepanduan Sebagai Institusi Pendidikan Kewarganegaraan Hasrat untuk bersatu melahirkan Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 di Jakarta yang menghasilkan tekad persatuan bangsa Indonesia melalui Sumpah Pemuda, mengaku Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia. Saat itu bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu dipakai cukup umum dalam pertemuan-pertemuan resmi. Pilihan ini merupakan sebuah dorongan yang cukup revolusioner, karena berarti tidak memilih menggunakan bahasa Jawa, bahasa dengan penutur yang paling banyak dalam wilayah Hindia Belanda sebagai bahasa pemersatu. Pilihan ini pun dianggap cukup demokratis, karena gramatika bahasa Jawa in extenso cukup problematis dengan struktur bahasa bertingkat. Berpikir memakai bahasa Jawa sebagai bahasa nasional bererti menginginkan langgengnya struktur feodalisme dan memaksa masyarakat terpecah lebih awal. Sebagai diketahui feodalisme berkesesuaian jalan dengan politik etis penjajah, divide et impera, “pecah dan kuasai”. Penjajah tentu berfikiran untuk tidak membiarkan masyarakat jajahan bersatu ide, karena persatuan berarti pengumpulan energi yang cukup besar dayanya dan sulit dikalahkan. Bung Karno mengatakan, ”Berikan aku sepuluh pemuda, bukan seribu generasi tua untuk menggoncangkan dunia (Adams, t.t.).” Itulah salah satu Falsafah Bung Karno. Falsafah tersebut mengandung arti bahwa pemuda adalah sosok individu yang kuat, gesit, tahan uji, dan memiliki semangat menggelora. Di tangan pemuda tangguh negara pun bakal kuat. Sebaliknya, bilamana generasi muda lemah negara pun bakal rapuh. Oleh karenanya, pendidikan dan pembinaan generasi muda amatlah strategis. Karena di tangan generasi mudalah kelangsungan negara dipertaruhkan. Sarekat Islam mendirikan Sarekat Islam Afdeeling Pandu (SIAP). Pada tahun 1918 Muhammadiyah mendirikan organisasi kepanduan yang diberi nama Kepanduan (HW) atau Pembela Tanah Air, yang bermakna mendidik generasi muda untuk berjuang membela tanah airnya. Budi Utomo membentuk Nationale Padvinderij, Jong Java mendirikan Jong Java Padvinderij (JJP), Jong Islamieten Bond membentuk Nationale Islamietische Padvinderij (Natipij), Pemuda Indonesia mendirikan Indonesiscge Padvinders Organisatie (INPO) dan Jong Sumatra membentuk Pandu Pemuda Sumatra (PPS). Kepanduan Jong Java dan Jong Sumatra melakukan fusi awal pada awal tahun
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

299

JASAFAT

1931 dengan nama Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang berfaham kebangsaan dan diekspresikan dengan kacu dan kain leher dan panji-panji berwarma merah putih. Pada tahun 1931 dengan Partai Nasional Indonesia di Malang mendirikan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI), Partai Indonesia Raya mendirikan Surya Wiratama, Nahdatul Ulama mendirikan Anshor dan Persatuan Arab Indonesia mendirikan Al-Irsyad. Muhammadiyah mendirikan kepanduan. Istilah Pandu diusulkan oleh H. Agus Salim sebagai ganti kata Padvinder dan kepanduan sebagai ganti Padvinderij (Mertoprawiro, 1992:22). Muhammadiyah sebagai organisasi Islam, Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Alquran dan Sunnah, didirikan oleh K.H.A. Dahlan pada 8 Zulhijjah 1330 Hijrah bertepatan dengan 18 November 1912 Miladiyah di Kota Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan maksud untuk dapat mencontoh dan mempelajari jejak perjuangan Rasulullah dalam menegakkan dan menyanjung tinggi agama Islam, demi terwujudnya kejayaan dan kemuliaan hidup umat Islam. Dalam menggerakkan aktivitas dan program kerjanya Muhammadiyah telah mewujudkan beberapa badan atau organisasi yang bersifat otonomi, seperti: 1. Aisyiyah (bergerak di kalangan perempuan dan ibu-ibu) 2. Pemuda Muhammadiyah (bergerak di kalangan pemuda) 3. Nasyiatul Aisyiyah (bergerak di kalangan perempuan-perempuan muda) 4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (bergerak di kalangan pelajar dan remaja) 5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (bergerak di kalangan mahasiswa) 6. Tapak Suci Putra Muhammadiyah (bergerak dalam aktivitas mempertahankan diri) 7. Hisbul Watan (bergerak dalam aktivitas kepanduan / Pengakap). Hisbul Watan Sebagai organisasi kepanduan yang telah berdiri sejak 1918 dengan yang aktivitasnya mengutamakan semangat perjuangan. Kepanduan merupakan organisasi autonomi Muhammadiyah sebagai kelompok pembela tanah air dan lebih berorientasi untuk menyatukan tekad dan semangat juang angkatan muda. Gerakan Kepanduan Kepanduan berstatus Organisasi otonomi dari perserikatan Muhammadiyah sesuai dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 92/SK-PP/VI-B/I.b/1999, bertarikh 10 Sya'ban 1420 H atau pada 18 hari bulan November 1999 M.
300
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Jalan perjuangan yang sangat konsisten pun diperlihatkan oleh Muhammadiyah (1912) yang didirikan oleh K. H Ahmad Dahlan. Muhammadiyah dengan motto perberdayaan umat di segala bidang untuk melakukan kegiatan intensif memperbaiki aspek pendidikan, rumah sakit dan panti-panti sosial. Pada tahun 1925, Muhammadiyah yang hanya beranggotakan 4000 orang saja telah mampu mendirikan lima puluh lima sekolah dengan 4000 orang pelajar, balai pengobatan di Yogyakarta, Solo dan Surabaya sebuah panti asuhan, dan sebuah rumah miskin. Sesaat setelah mengalami persentuhan dengan dunia Islam di Minangkabau (Sumatera Barat) organisasi ini berkembang pesat di Sumatera. Melihat sejarahnya sejak berdiri hingga tahun 1961 organisasi kepanduan ini berstatus sebagai majlis yang dilindungi oleh persyarikatan. Tahun 1961 hingga 1999 peranannya menjadi ‘terkubur’ menyusul meleburnya Kepanduan bersama sebarisan organisasi kepanduan yang lain di tanah air dalam gerakan kepanduan nasional bernama Pramuka, sebagaimana tercantum di dalam Keputusan Presiden No. 238 tahun 1961. Sejak itu Kepanduan tidak lagi ada, meski secara organisasi tidak pernah bubar atau dibubarkan (Rahajendra, t.t: 38).  Munculnya zaman reformasi pada tahun 1999 yang dipelopori oleh M Amien Rais, bekas Ketua Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, telah melahirkan keinginan untuk membangkitkan kembali Kepanduan. Dasar pemikirannya adalah, sejak Kepanduan bergabung dalam gerakan Pramuka, Muhammadiyah telah kehilangan salah satu kekuatan yang cukup handal dalam membina generasi penerus yang kelak di kemudian hari diharapkan menjadi pemimpin umat maupun bangsa (Kedaulatan Rakyat, 30 Desember 2005). Seperti diketahui, dari wadah Kepanduan telah ramai melahirkan tokoh bangsa Indonesia, mereka bukan hanya tokoh Muhammadiyah, tetapi juga negarawan. Di antara mereka adalah Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, Letjen TNI Sarbini, Mulyadi Djojomartono, serta mantan Presiden Soeharto, Daryatmo (bekas Ketua Parlemen), Faisal Tanjung (bekas Menteri Politik dan Keamanan), dan Hari Subarno (Sukriyanto, 2000: 153). Kepanduan, aktif dalam pendidikan kepanduan (Boy Scout) putera dan puteri. Ia juga dijadikan sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, beraqidah Islam yang bersumber kepada Alquran, dan As-Sunnah. Organisasi ini pada awal ditubuhkannya bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

301

JASAFAT

yang diredhai oleh Allah Swt. dengan jalan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam melalui jalur pendidikan pengakap. Dijelaskan bahwa Kepanduan adalah suatu sistem pendidikan pengakap dan pembinaan watak bagi remaja putera dan puteri Muhammadiyah di luar lingkungan keluarga dan diluar lingkungan sekolah. Kepanduan berfungsi sebagai institusi pembinaan dan pengembangan putera dan puteri Muhammadiyah dengan menetapkan prinsip dasar pengakap dalam perwujudan ciri dan Jati diri Kepanduan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kepentingan dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia (Sutrisno, t.t:22). Dalam perkembangannya, Kepanduan memiliki visi dan misi yang jelas. Visi gerakan kepanduan adalah mewujudkan anak, remaja, pemuda yang berkualitas di lingkungan  umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah yang selalu diperlukan, dihormati dan dicintai anak didik, orang tua/keluarga serta masyarakat. Sedangkan yang tergabung di dalam organisasi ini adalah berbagai organisasi pemuda, kelompok-kelompok studi, organisasi buruh, kepanduan, wanita dan lain sebagainya (Ingleson, 1988; Suhartono, 1994). Sedangkan misi pengakap adalah mempersiapkan generasi penerus bangsa dan generasi penerus Muhammadiyah yang : 1. Memiliki keperibadian dan kepemimpinan Islami 2. Berdisiplin yaitu: berfikir, bersikap dan bertingkah laku tertib 3. Sihat dan kuat mental, moral dan fizikalnya 4. Berkemampuan untuk berkarya dengan semangat kemandirian, berfikir kreatif, inovatif, dapat dipercayai, berani dan mampu menghadapi berbagai jenis tugas 5. Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, dan percaya pada diri sendiri. Untuk mencapai maksud dan tujuan kepanduan tersebut, maka dilaksanakan usaha-usaha seperti berikut: 1. Meningkatkan pendidikan angkatan muda putera dan puteri menurut ajaran Islam. 2. Mendidik angkatan muda agar menjadi manusia muslim yang berakhlak mulia, berbudi luhur serta sehat jasmani dan rohaninya 3. Mendidik angkatan muda agar menjadi generasi yang taat beragama, berorganisasi, cerdas dan kreatif.
302
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

4. Mendidik generasi muda agar senang beramal, amar ma’ruf nahi munkar dan berlomba dalam melakukan kebaikan. 5. Meningkatkan dan memajukan pendidikan dan pengajaran, kebudayaan serta memperluas ilmu sesuai dengan ajaran Islam. 6. Membentuk akhlak dan kepribadian sebagai penerus pimpinan dan penerus amal usaha Muhammadiyah. 7. Memperkuat kersatuan dan persatuan, penanaman rasa demokrasi serta ukhwah, sehingga berguna bagi agama dan bangsa. 8. Melaksanakan kegiatan lain yang sesuai dengan tujuan organisasi. Sebagai gerakan kepanduan yang aktif, secara internal mahupun eksternal tentunya Kepanduan menghadapi berbagai cabaran terutama dalam usaha mengembangkan dirinya. Dapat dipastikan di antara cabaran dalaman ialah terputusnya hubungan generasi penerus selama kurang lebih 40 tahun, sehingga mengalami kekurangan tenaga pimpinan dan pelatih yang berpengalaman. Sedang cabaran luaran dapat dipastikan antara lain, adanya pihak-pihak tertentu mahupun Gerakan Pramuka (Pengakap) yang menghambat pemunculan kembali Kepanduan dengan berselindung di balik Keputusan Presiden No 238/1961 yang masih dan tetap berlaku. Namun dengan mengingat Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah mulai sekolah rendah sampai perguruan tinggi sebagai peserta didik Kepanduan diharapkan dalam waktu dekat akan ramai muncul generasi penerus. Keyakinan yang demikian tentu didasarkan pada pengalaman di masa lalu, bahawa sekolahsekolah Muhammadiyah merupakan sarana untuk melahirkan generasi penerus yang handal dalam persyarikatan Muhammadiyah. Soedarsono Mertoprawiro (1992) selaku pengamat masalah kepanduan di Indonesia mengemukakan mengenai peranan kepanduan di zaman kolonial. Selain merupakan tempat pendidikan untuk meresapkan semua cita-cita dan rasa luhur ke arah persaudaraan dan persahabatan, menanamkan disiplin dan menambah kecakapan dan ketrampilan fisik, organisasi-organisasi kepanduan tersebut juga dijadikan tempat latihan oleh calon-calon pemimpin untuk mencapai kemerdekaan. Beberapa prinsip yang diterapkan dalam kegiatan kepanduan, yaitu: 1. Mengandungi unsur-unsur edukatif
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

303

JASAFAT

Mengajarkan hidup sederhana dan sikap mandiri Prinsip kehormatan dan sistem tanda kecakapan Penerapan sistem among. Semangat kemandirian Berani, dan merasa mampu menghadapi berbagai macam tantangan Optimis menghadapi masa depan. Memiliki kepedulian tinggi terhadap diri sendiri, masyarakat, bangsa dan tanah air. Bila ditelaah secara seksama, maka kegiatan kepramukaan mempunyai pengaruh signifikan terhadap pengembangan minat dan bakat serta pembentukan karakter seorang individu. Selain itu kepanduan bertujuan untuk : 1) Memberikan pelajaran, permainan dan kecakapan pandu. 2) Memperluas perasaan, pikiran dan tabiat serta memajukan kesehatan badan. 3) Olahraga yang bebas dari paksaan. 4) Mengatur kecakapan-kecakapan, menurut panggilan zaman, agar pemuda dapat mengerti dan menerima panggilan zaman. 5) Mendidik pemuda menjadi manusia yang berbudi baik, yang sanggup bekerja untuk rakyat dan tanah airnya dan untuk dunia pada umumnya. Kesimpulan Metode pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan kelompok umur pada hakikatnya merupakan pola pembinaan generasi muda secara berjenjang dan berkesinambungan untuk menghasilkan produk berkualitas. Untuk pembinaan kelompok mulai usia siaga (7-10 tahun), unsur-unsur yang dikedepankan adalah mendidik cara keluarga yaitu dengan kasih sayang dan penuh kegembiraan. Pada usia dewasa (21-25 tahun), pola pembinaan diarahkan pada situasi di mana anggotanya diperkenalkan konteks kehidupan masyarakat. Aktivitas kepanduan turut membentuk karakter dan berkepribadian yang tangguh, karena materi-materi latihan di lapangan memerlukan konsentrasi, kecakapan, keuletan, dan kondisi fisik yang prima. Mereka juga dihadapkan kepada berbagai situasi dan kondisi, medan dan cuaca berubah, halangan maupun tantangan lainnya sebagai bentuk tempaan bersifat fisik, serta mental.
304
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Dalam aktivitas kepanduan, unsur edukatif dikembangkan. Kegiatan mengemas dan mengikuti seminar, perkemahan, renungan suci, mengandungi nilai-nilai positif seperti belajar berorganisasi, memupuk semangat gotong royong, menambah wawasan, melatih kepemimpinan dan memiliki rasa tanggung jawab. Anggotanya memiliki kelapangan dalam berkreasi, berinspirasi, dan berimajinasi untuk dituangkan dalam kegiatan-kegiatan kepanduan yang pada dasarnya pengembangan potensi diri anggota. Tidak sedikit pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperolehi dari kegiatan tersebut yang berguna saat terjun ke dalam masyarakat kelak. Banyak sekali manfaat positif yang dapat diraih dari kegiatan kepanduan. Karenanya, revitalisasi terhadap gerakan kepanduan sangat penting. Bagaimanapun gerakan kepanduan merupakan salah satu wadah persemaian tunas-tunas generasi bangsa untuk dibina sehingga menghasilkan generasi yang berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa, cerdas dan terampil, serta kuat dan sehat. Gerakan kepanduan juga menyiapkan kaum muda Indonesia untuk mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosio-intelektual, dan fisik yang kuat sehingga diperoleh generasi unggul yang berkonstribusi besar bagi kemajuan bangsa ini. Jadi jelaslah siapa yang menanam, lalu merawat dengan optimal dialah yang berhak menuai hasilnya. Dari penjelasan tersebut di atas, maka jelas bahwa Kepanduan merupakan kumpulan generasi muda sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan nasional yang pengembangannya diarahkan manjadi kader penerus perjuangan bangsa dan manusia pembangunan. Program pembinaan dan pengembangannya dilakukan secara nasional, menyeluruh dan terpadu serta dimulai sejak awal dan mencakup tahap-tahap pertumbuhan sebagai anak, remaja dan pemuda yang merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua, keluarga, masyarakat, lingkungan pemuda dan pemerintah serta ditujukan untuk meningkatkan kualitas generasi muda. Dengan demikian maka jelas bahwa Kepanduan bertujuan Memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 dalam rangka pembangunan bangsa dan keperibadian nasional selain berusaha untuk mewujudkan kader-kader penerus perjuangan bangsa yang
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

305

JASAFAT

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepanduan merupakan salah satu lembaga non formal yang melahirkan kader-kader pembangunan nasional dan angkatan kerja yang berbudi luhur dinamis dan kreatif berilmu dan berketrampilan bersemangat kepeloporan dan berjiwa kerakyatan serta menciptakan warga negara yang memiliki kreativitas kebudayaan nasional maju tetapi tetap bercirikan dan bercorak keperibadian bangsa di masa depan. Untuk mencapai semua itu, baik pemerintah maupun organisasi politik dan kemasyarakatan memberi dukungan sepenuhnya dalam pengembangan generasi muda khasnya Kepanduan sehingga lahir generasi yang Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menanamkan dan menumbuhkan kesedaran berbangsa dan bernegara, mempertebal idealisme, patriotisme, dan harga diri, memperluas wawasan ke masa depan, memperkukuh keperibadian dan disiplin, mempertinggi budi pekerti, memupuk kesegaran jasmani dan daya kreasi, mengembangkan kemandiran, kepimpinan, ilmu, ketrampilan, semangat kerja keras dan kepeloporan serta mendorong partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam pembangunan nasional.

306

At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Daftar Pustaka
Adams, Cindy. (t.t.). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (terj.). Jakarta: Gunung Agung. Anderson, Benedict. (2001). Imagined Community, Komunitas-komunitas Terbayang, (terj.). Yogyakarta: Pusaka Pelajar. Anhar Gonggong (2002, 13 April). Indonesia Baru: Perspektif Politik dan Sejarah, makalah untuk Kongres Prodem, Jakarta.� Castle, James. (2002). Menuju Indonesia Baru, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hardjito. (1952). Risalah Gerakan Pemuda. Jakarta: “Pusaka Antara”. Hasan a1-Banna, (t.t), Muzakkirât al-Da'wah wa al-Da'iyah, Cet. III. Beirut: Maktab al-Islam. Hatta, Muhamad. (1953). Kumpulan Karangan I. Jakarta: Bulan Bintang. Hobsbawn, E.J. (1992). Nasionalisme Menjelang Abad XXI, (terj.) Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Imarah, Muhammad. (t.t.). Al-A‘māl al-Kāmilah li Al-Imām Muhammad Abduh, vol 1. Ingleson, J. (1988). Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia 19271934 (terj.). Jakarta: LI3ES. Koran Ikhwan al-Muslimin, Tahun II. No. 42 Koran Kedaulatan Rakyat, Pandu HW Meraih Kembali Eksistensinya, Jum’at Desember 2005. Koran, Kedaulatan Rakyat, Pandu HW Meraih Kembali Eksistensinya. Lampiran II Keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 137 Tahun 1987 tentang Gugus Depan, gerakan Pramuka merupakan salah satu wadah dan usaha pembinaan generasi muda yang berusia 7 sampai 25 tahun dengan menggunakan pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya sesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan bangsa, serta masyarakat Indonesia.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

307

JASAFAT

Larson, G.D. (1990). Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912 – 1942 (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Legge, J.D. (1972). Sukarno A Political Biography. Bungay, Suffolk: Penguin Books. M. Syauqi Zaki, Al-Ikhwan wa Al-Mujtama‘ al-Misri. Mahmud Abdul Halim, Ahdath Shana‘a al-Tarikh, Vol. I Majlis Pemuda, Boekoe Peratoeran Hizboel Watan Dengan Diberi Tuntunan Sekedar. Merle C. Ricklefs, “A History of Modern Indonesia”, London and Basingstoke: The Macmillan Press Ltd, 1928.� Mertoprawiro, Soedarsono. (1992). Pembinaan Gerakan Pramuka dalam Membangun Watak dan Bangsa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Michel, Ricard. (t.t.). Idiulijia Jama’ah Al-Ikhwan al-Muslimin. Moedjanto, G. (1994).“Indische Partij Berjuang untuk Kemerdekaan: Bagaimana Menjelaskannya?”. Makalah Seminar Regional. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Mrazek, Rudolf. (1996). Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia (terj.) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Muhsin Muhammad. (1987). Man Qatala Hasan Al-Bannā?. Cet. pertama. Kairo: Dar Al-Syuruq Nagazumi, Akira. (1988). Pemberontakan Indonesia di Masa Pendudukan Jepang (terj.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Nasikun. (1996). “Pembangunan dan Dinamika Integrasi Nasional dalam Masyarakat Majemuk”, dalam Nasionalisme. Refleksi Kritis Kaum Ilmuwan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.� Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majlis Kepanduan, Tuntutan Hizboel Wata Ricklefs, M.C. (1992). Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Salabi, Rauf. (t.t.). Syeikh Hasan al-Banna wa Madrasatuh (al-Ikhwan al-Muslimun) Sartono Kartodirdjo. (1957).“Periodisasi Sejarah Indonesia”, Makalah Seminar
308
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

KEPANDUAN SEBAGAI WADAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Sejarah Nasional I. Yogyakarta: Panitia Seminar Sejarah. Sartono Kartodirdjo. (1993). Pembangunan Bangsa: Tentang Nasionalisme Indonesia dan Kesadaran dan Kebudayaan Nasional. Yogyakarta: Aditya Media. Sartono Kartodirdjo. (1992). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, Dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jilid 2. Yogyakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sartono Kartodirdjo. (1966). “Makna Manifesto Politik 1925 dan Sumpah Pemuda 1928 dalam Pembangunan Bangsa”, Ceramah Ilmiah: Memperingati Hari Sumpah Pemuda Yogyakarta: Akademi Ilmu Pengetahuan Yogyakarta. Shalih Abu Raqiq, Komentar terhadap Richard Mchell Soejono, Martosewojo, et al. (1984). Mahasiswa ’45 Prapatan – 10: Pengabdiannya 1. Bandung: Penerbit Patma. Sukriyanto, Profil Muhammadiyah 2000, Surat Kabar al-Ikhwanul Muslimun. Tahun II. No. 42. 23 Zul Hijjah 1353/28 Maret 1935 Suryo, Djoko. (1998). “Masyarakat Indonesia Dalam Dinamika Sejarah: Kesinambungan dan Perubahan”, Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Suti Rahajendra, Perkembangan dan Peranan Kepanduan, Yogyakarta Sutrisno, Sekitar Gerakan Kepanduan Kepanduan, (tesis) Suwarno. (1994). Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908 – 1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Taufik Abdullah. (1994).“Ilmu Sejarah dan Panggilan Tugas Sejarawan”, makalah Mukernas Sejarah XII. Medan: Panitia Mukernas Sejarah XII USU. Taufik Abdullah. (1995).“Pengalaman Kesadaran dan Sejarah”, Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM. Yogyakarta: UGM. Wertheim, W.F. (1956). Indonesian Society in Transition: A Study of Social Change, Bandung: Sumur Bandung.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

309

Pedoman Penulisan Artikel Jurnal AT-TA’DIB

Jurnal At-Ta’dib merupakan sebuah berkala ilmiah dalam bidang keguruan dan pendidikan dengan penekanan pada pendidikan Islam. Jurnal ini menerima semua artikel yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Editor dan pembaca ahli jurnal ini berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang. Berikut ini pedoman dan format penulisan artikel untuk Jurnal At-Ta’dib: i. Redaksi menerima artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tulisan yang belum memenuhi syarat akan dikembalikan untuk direvisi oleh penulisnya disertai dengan penjelasan dari Tim Editor.Ada dua kategori dasar artikel yang diterima: 1) Artikel riset penuh, yang melaporkan suatu riset menarik dan relevan. Dalam bagian diskusi supaya dilaporkan bahwa temuan-temuan riset memiliki relevansi yang tinggi dan memberikan kontribusi yang baru terhadap bidang pendidikan baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. 2) Artikel non riset yang memberikan laporan rinci yang berhubungan dengan aspek-aspek pendidikan misalnya perencanaan kurikulum atau pendidikan dalam perspektif Islam. Diskusi yang dilakukan dalam artikel tersebut sangat baik sehingga dianggap memberikan kontribusi orisinil

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL AT-TA’DIB

ii.

iii.

iv. v. vi. vii. viii.

ix.

x.

xi. xii.

dalam bidang pendidikan. Sedang artikel yang hanya bersifat tinjauan literatur tidak dapat diterima, kecuali artikel tersebut merupakan “suatu karya seni” yang disusun secara komprehensif oleh seorang ahli yang sudah berpengalaman. Ketika menyerahkan artikel supaya dinyatakan apakah merupakan artikel riset penuh atau artikel non riset. Apabila artikel non riset, diharapkan penulis memberikan penjelasan sekitar satu paragraf mengenai relevansi artikel tersebut untuk para pembaca Jurnal At-Ta’dib. Para penulis artikel untuk Jurnal At-Ta’dib harus mengikuti standar internasional dalam penulisan dengan menggunakan sistem referensi American Psychological Association (APA) Edisi ke-6. Informasi lebih lanjut mengenai format dan sistem APA bisa didapatkan di http://www.apastyle. org/ Artikel dapat dikirimkan ke: syamsuarzikriati@yahoo.com Artikel ditulis dalam format MS Word (Microsoft Word Office) atau Rich Text Format (rtf). Huruf menggunakan Times New Roman ukuran 12. Untuk sub-judul: Times New Roman ukuran 12 ditebalkan. Spasi menggunakan jarak 1.5. Catatan kaki tidak dibenarkan dalam artikel tetapi diletakkan di akhir artikel. Untuk referensi menggunakan gaya APA (American Psychological Association) dalam hal penulisan sub-judul, pengutipan, daftar pustaka dan penulisan referensi dalam teks. Untuk kutipan dari internet harus diberikan perhatian khusus dengan menyertakan tanggal akses. Informasi lebih lanjut mengenai format APA dapat diakses di http://www. apastyle.org/aboutstyle.html Pengutipan APA: http://www.liu.edu/cwis/ CWP/library/workshop/citapa.htm Workshop tentang APA: http://owl. english.purdue.edu/workshops/hypertext/apa/index.html Kata kunci. Semua artikel harus menyertakan sekitar 2-4 kata kunci di bagian awal tulisan untuk memudahkan pencarian artikel dengan menggunakan kata kunci di masa mendatang. Grafik dan bagan dapat disisipkan pada badan tulisan atau dimasukkan di akhir tulisan. Grafik tidak boleh melebihi margin kertas A4. Antara satu paragraf dengan paragraph selanjutnya dibuat dua spasi. Paragraf
At-Ta'dib | Volume I. No. 3, Desember 2009 - Maret 2010

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL AT-TA’DIB

baru diberikan tiga ketukan menggunakan “space bar” kecuali paragraf setelah sub judul, pengutipan, contoh, gambar, bagan atau tabel. Jangan menggunakan “tab key”. xiii. Format teks dalam bentuk italic, bold dan lain-lain dibuat seminimal mungkin. xiv. Setiap artikel harus disertai oleh abstrak yang berisi ringkasan informasi poinpoin penting dalam artikel, yang mencakup tujuan penulisan artikel, kerangka teoritis, metodologi, jenis data yang dianalisis, informasi tentang subjek penelitian, temuan utama, dan kesimpulan. Abstrak harus merefleksikan keseluruhan artikel. Dalam pengiriman artikel harap disertakan data berikut: Nama Institusi Alamat E-mail Telepon Biodata singkat mengenai riwayat keahlian professional Kualifikasi Pertanyaan lebih lanjut mengenai panduan penulisan dapat ditanyakan via E-mail pada Ketua Dewan Editor: muliadikurdi@yahoo.co.id

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

Redaksi mengundang para penulis, peneliti dan pemerhati pendidikan Islam agar dapat memberikan kontribusinya dalam bentuk tulisan ilmiah. Tulisan dapat dikirim ke alamat redaksi : Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, Meulaboh-Aceh Barat No. 100 Telp: 0655-7551591; Fax: 0655-7551591 Website: www.staidirundeng.ac.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->