P. 1
SE No. 13-5-DPNP tgl. 8 Feb 2011 Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit

SE No. 13-5-DPNP tgl. 8 Feb 2011 Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit

|Views: 194|Likes:
Published by megaiver

More info:

Published by: megaiver on Mar 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2015

pdf

text

original

No.

131 5 IDPNP

Jakarta, a Februari 2011

SURAT EDARAN

Kepada SEMUA BANK UMUM

YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL 01 INDONESIA

Peri hal : Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/6/PBII2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4475), dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBII200 1 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4159) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBII2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4573) perlu diatur Iebih Ianjut mengenai penyediaan layanan informasi dan penerapan transparansi informasi suku bunga dasar kredit (prime lending rate) kepada masyarakat sebagai berikut:

I. UMUM .~.

BI100 (MB) - 50r - 2·2008 - MI

Halaman .. 2.

BANK INDONESIA

I. UMUM

A. Pemilihan produk Bank oleh nasabah pada umumnya didasarkan pada pertimbangan mengenai manfaat, biaya, dan risiko dari produk yang ditawarkan oleh Bank tersebut. Hal ini menjadi sangat rei evan khususnya untuk produk Bank berupa kredit mengingat kredit merupakan salah satu produk utama perbankan yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, transparansi informasi mengenai Suku Bunga Dasar Kredit (prime lending rate), selanjutnya disebut sebagai SBDK, sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan kepada nasabah.

B. Penerapan transparansi informasi mengenai SBDK juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan good governance dan mendorong persaingan yang sehat dalam industri perbankan antara lain melalui terciptanya disiplin pasar (market discipline) yang lebih baik.

II. SUKU BUNGA DASAR KREDIT

A. Perhitungan Suku Bunga Dasar Kredit

1. Perhitungan SBDK merupakan hasil perhitungan dari 3 (tiga) komponen yaitu:

a. Harga Pokok Dana untuk Kredit atau HPDK;

b. Biaya overhead yang dikeluarkan Bank dalam proses pemberian kredit; dan

c. Marjin keuntungan (profit margin) yang ditetapkan untuk aktivitas perkreditan.

2. Dalam J.

SI ·101 PSI IA4S1 . 10 r . 6 . 99 . SA

BANK INDONESIA

BI -101 PBI IA4BI - 10 r - 6 - 99 - SA

Halaman .. 3.

2. Dalam perhitungan SBOK, Bank belum memperhitungkan komponen premi risiko individual nasabah Bank. Suku bunga

kredit (lending rate) adalah hasil penjumlahan SBOK dengan premi risiko. Premi risiko merepresentasikan penilaian bank terhadap prospek pelunasan kredit oleh calon debitur yang antara lain mempertimbangkan kondisi keuangan debitur, jangka waktu kredit, dan prospek us aha yang dibiayai.

3. Pada dasarnya, SBDK merupakan suku bunga terendah yang digunakan sebagai dasar bagi Bank dalam penentuan suku bunga kredit yang dikenakan kepada nasabah Bank.

4. Perhitungan SBDK dalam rupiah yang wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia dan dipublikasikan sebagaimana dimaksud dalam butir II.B dan butir II.C dilakukan sebagai berikut:

a. dihitung untuk 3 (tiga) jenis kredit yaitu:

1) Kredit korporasi;

2) Kredit ritel; dan

3) Kredit konsumsi (KPR dan Non KPR).

Dalam kredit konsumsi non KPR tidak termasuk penyediaan dana melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan.

Penggolongan jenis kredit tersebut didasarkan pada kriteria yang ditetapkan oleh internal Bank.

b. dihitung secara per tahun dalam bentuk persentase (%).

B. Pelaporan .\.

Halaman .. 4.

BANK INDONESIA

B. Pelaporan Perhitungan SBDK

1. Bank wajib menyusun laporan perhitungan SBDK dalam rupiah yang memuat rincian perhitungan masing-masing komponen SBDK sesuai dengan tabe! komponen perhitungan SBDK sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia ini.

2. Laporan perhitungan SBDK disampaikan kepada Bank Indonesia secara triwulanan bersamaan dengan penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dalam bentuk:

a. Softcopy dan hardcopy "Tabel Komponen Perhitungan SBDK" sesuai Lampiran 1, oleh seluruh Bank.

b. Fotokopi atau guntingan surat kabar yang memuat publikasi SBDK di surat kabar sesuai Lampiran 2, khusus oleh Bank sebagaimana dimaksud dalam butir C.I.

3. Laporan sebagaimana dimaksud pada angka 2 disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat:

a. Direktorat Pengawasan Bank terkait, Jalan M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10350, dengan tembusan kepada Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja kant or pusat Bank Indonesia.

b. Kantor Bank Indonesia setempat, dengan tembusan kepada Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia.

4. Apabila . \.

BI - 101 PBI (A4B) - 10 r - 6 - 99 - SA

Halaman.5 ..

BANK lNDONESlA

4. Apabila diperlukan, Bank Indonesia dapat meminta Bank untuk menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada butir 2.a secara berkala atau sewaktu-waktu diluar peri ode penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada angka 2.

C. Publikasi Informasi SBDK

1. Bank yang pada dan/atau setelah tanggal 28 Februari 2011 berdasarkan posisi Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) mempunyai total aset Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) atau lebih wajib melakukan publikasi informasi SBDK dalam rupiah melalui:

a. papan pengumuman di setiap kantor Bank;

b. halaman utama website Bank, dalam hal Bank memiliki

website; dan

c. surat kabar, yang dilakukan bersamaan dengan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember.

2. Bagi Bank yang pada tanggal 28 Februari 2011 berdasarkan posisi Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) mempunyai total aset Rp I 0.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) atau lebih, kewajiban publikasi informasi SBDK dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. publikasi informasi SBDK sebagaimana dimaksud pada butir l.a dan butir l.b untuk pertama kali dilakukan pada tanggal 31 Maret 2011; dan

b. publikasi informasi SBDK sebagaimana dimaksud pada butir I.c untuk pertama kali dilakukan bersamaan dengan

\

pengumuman ...

BI -101 PBI (A4B) - 10 r - 6 - 99 - SA

BANK INDONESIA

81 ·101 P81 (A48) • 10 r • 6 • 99 . SA

Halaman .. ~ .

pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi akhir bulan Maret 2011.

3. Bagi Bank yang setelah tanggal 28 F ebruari 2011 berdasarkan posrsi LBU mempunyai total aset Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) at au lebih, kewajiban publikasi informasi SBDK dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. publikasi informasi SBDK sebagaimana dimaksud pada butir l.a dan butir l.b untuk pertama kali dilakukan paling lama I (satu) bulan terhitung sejak Bank berdasarkan posisi yang tereatat di LBU rnempunyai total aset Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) atau lebih; dan

b. publikasi informasi SBDK sebagaimana dimaksud pada butir l.c untuk pertama kali dilakukan bersamaan dengan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan pada triwulan yang sarna dengan peri ode LBU sejak Bank tereatat mempunyai total aset Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) atau lebih.

Contoh:

Bank A pertama kali tereatat mempunyai total aset Rp I 0.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) pada akhir bulan April 20 11, akhir bulan Mei 20 II, atau akhir bulan Juni 2011, maka publikasi informasi SBDK melalui surat kabar pertama kali dilakukan bersamaan dengan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Juni 2011.

4. Dalam . t

BANK INDONESIA

BI - 101 PBI (A4B) - 10 r - 6 - 99 - SA

Halaman . .7.

4. Dalam hal Bank sebagaimana dimaksud pad a angka I, angka 2, dan angka 3 total asetnya turun menjadi kurang

dari Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah), Bank tetap wajib melakukan publikasi informasi SBOK sebagaimana dimaksud pada angka 1.

5. Informasi SBOK yang dipublikasikan oleh Bank sebagaimana dimaksud pada butir l.a dan butir l.b adalah informasi SBOK yang berlaku pada saat dipublikasikan. Oalam hal SBOK mengalami perubahan, maka perubahan tersebut wajib dipublikasikan melalui sarana/media sebagaimana dimaksud pada butir l.a dan butir l.b paling lama pada tanggal berlakunya perubahan SBOK tersebut.

6. Informasi SBOK yang dipublikasikan oleh Bank sebagaimana dimaksud pada butir I.e adalah informasi SBOK yang berlaku pada akhir peri ode Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan.

7. Oalam mempublikasikan SBOK, Bank wajib meneantumkan kalimat sebagai berikut:

a. "Suku Bunga Oasar Kredit (SBOK) 1m bel urn
memperhitungkan komponen prenu risiko yang
besarnya tergantung dari penilaian Bank terhadap risiko
. . debitur. Oengan demikian, besarnya
masmg-masmg
suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur bel urn tentu sarna dengan SBOK"; dan

b. "Oalam .~.

Halaman .8 ..

BANK INDONESIA

b. "Dalam Kredit konsumsi non KPR tidak termasuk penyediaan dana melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan".

8. Untuk publikasi yang dilakukan melalui surat kabar sebagaimana dimaksud pada butir l .c, selain mencantumkan kalimat sebagaimana pada angka 7 juga wajib mencantumkan kalimat sebagai berikut: "Informasi SBDK yang berlaku setiap saat dapat dilihat pada publikasi di setiap kantor Bank dan/atau website Bank".

9. SBDK dipublikasikan kepada masyarakat dalam bentuk angka akhir dari hasil perhitungan komponen SBDK sebagaimana dimaksud pada butir I1.A.I dengan mengacu pada Lampiran 2 Surat Edaran ini.

III. TAT A CARA PENGENAAN SANKSI

I. Bank yang tidak melakukan publikasi informasi SBDK sebagaimana dimaksud dalam butir II.C.I.a dan butir II.C.I.b, dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/6/PBII2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah.

2. Bank yang tidak melakukan publikasi informasi SBDK bersamaan dengan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam butir II.C.I.c. danlatau Bank yang tidak menyampaikan laporan perhitungan SBDK bersamaan dengan

penyarnpaian .l

BI -101 PBI (A4B) - 10 r - 6 - 99 - SA

Halaman .9 ..

BANK INDONESIA

penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam butir II.B.2, dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Pasal 38 ayat (2) danJatau ayat (3) Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PB1/2005.

3. Bank yang menyampaikan laporan perhitungan SBOK danJatau mempublikasikan informasi SBDK:

a. tidak sesuai dengan keadaan yang sebenamya; dan/atau

b. tidak sesuai dengan Lampiran 1 dan Lampiran 2,

dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 38 ayat (4) huruf a Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/200I tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBII2005.

IV. LAIN-LAIN

Lampiran 1 dan Lampiran 2 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini.

V. PENUTUP

Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 31 Maret 2011.

Agar. ~.

BI ·101 PSI (A4SI • 10 r . 6 • 99 • SA

BANK INDONESIA

Halaman )9.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Surat Edaran Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Demikian agar Saudara maklum.

BANK INDONESIA, \

MULIAMAN D. HADAD DEPUTI GUBERNUR

BI·l0l (A4B)· 10 r· 12·07· TN

Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

Lampiran 1

TABEL KOMPONEN PERHITUNGAN

SUKU BUNGA DASAR KREDIT (PRIME LENDING RATE) BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIA TAN USAHA SECARA KONVENSIONAL

Tanggal .

(% per tahun)

Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate)
No. Komponen" Berdasarkan Segmen Bisnis
Kredit Kredit Kredit Konsumsi""
Korporasi"" Rite'"" KPR Non KPR"""
1 Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK)
1.1. Biaya Dana
1.1.1. Biaya Dana Pihak Ketiga
1.1.2. Biaya Dana Bukan Pihak Ketiga
1.1.2.1. Biaya Dana Kewajiban pada Bank Lain
1.1.2.2. Biaya Dana Kewajiban pada Bank Indonesia
1.1.2.3. Biaya Dana Surat Berharga
1.1.2.4. Biaya Dana Pinjaman yang Diterima
1.1.2.5. Biaya Dana Kewajiban Antar Kantor/Transfer Pricing
1.1.2.6. Biaya Dana Modal Pinjaman
1.1.3. Biaya Dana Lainnya (sebutkan rinciannya):
1.1.3 .1 . ...............
1.1.3.2 . ...............
1.2. Biaya Jasa
1.3. Biaya Regulasi
1.3.1.IBiaya Giro Wajib Minimum (GWM)
1.3.2. Biaya Premi Penjaminan LPS
1.4. HPDK Lainnya (sebutkan rinciannya):
1.4.1. ............ ,
1.4.2 ............. ,
2 Biaya Overhead
2.1. Biaya Tenaga Kerja
2.2. Biaya Pendidikan dan Pelatihan
2.3. Biaya Penelitian dan Pengembangan
2.4. Biaya Sewa
2.5. Biaya Promosi dan Pemasaran
2.5.1. Cash Back
2.5.2. Hadiah
2.5.3. Iklan dan Promosi
2.5.4. Lainnya (sebutkan rinciannya):
2.5.4.1 .......... , ......
2.5.4.2 .............. , ..
2.6. Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan
2.7. Biaya Pembentukan CKPN atas Kredit yang Diberikan
2.8. Biaya Penyusutan Aset Tetap dan Inventaris
2.9. Biaya Overhead Lainnya (sebutkan rinciannya):
2.9.1 ............. ,
2.9.2 .............
3 Marjin Keuntungan (Profit Margin)
Suku Bunga Dasar Kredit • Prime Lending Rate (1+2+3) Keterangan:

*) Masing-masing komponen diisi sepanjang digunakan untuk membiayai kredit

**) Definisi Kredit Korporasi, Kredit Retail, dan Kredit Konsumsi adalah definisi yang digunakan internal bank ***) Tidak termasuk Kartu Kredit dan Kredit Tanpa Agunan

~ 1

Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

Penjelasan Tabel

A. Komponen perhitungan Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate) yang harus dilaporkan adalah untuk kredit dalam Rupiah berupa Kredit Korporasi, Kredit Retail, dan Kredit Konsumsi (KPR dan Non KPR). Dalam perhitungan Kredit Konsumsi Non KPR tidak termasuk Kartu Kredit dan Kredit Tanpa Agunan.

B. Perhitungan Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate) terdiri dari 3 (tiga) komponen yaitu Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK), Biaya Overhead, dan Marjin Keuntungan (Profit Margin).

C. Penjelasan untuk masing-masing komponen sebagai berikut:

1. Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK)

Yang dimaksud dengan HPDK adalah Biaya Dana, Biaya Jasa, Biaya Regulasi, dan HPDK lainnya.

1.1. Biaya Dana

Yang dimaksud dengan biaya dana adalah rata-rata tertimbang (weighted average) biaya dana dari kewajiban Bank baik kepada penduduk maupun bukan penduduk, yang meliputi:

1.1. I. Biaya Dana Pihak Ketiga

Yang dimaksud dengan biaya dana pihak ketiga adalah biaya bunga kepada pihak ketiga bukan Bank atau insentif lainnya yang diterima nasabah dari kewajiban Bank dalam bentuk giro, tabungan, dan simpanan berjangka.

1.1.2. Biaya Dana Bukan Pihak Ketiga

1.1.2.1. Biaya Dana Kewajiban pada Bank Lain

Yang dimaksud dengan biaya dana kewajiban pada Bank lain adalah seluruh beban bunga kepada Bank lain dalam bent uk giro, interbank call money, tabungan, simpanan berjangka, dan lainnya.

1.1.2.2. Biaya Dana Kewajiban pada Bank Indonesia

Yang dimaksud dengan biaya dana kewajiban pada Bank Indonesia adalah seluruh beban bung a atas pinjaman dari Bank Indonesia.

1.1.2.3. Biaya Dana Surat Berharga

Yang dimaksud dengan biaya dana surat berharga adalah seluruh beban bunga yang dibayar atas penerbitan suratsurat berharga. Dalam pos tnt termasuk beban bungaldiskonto yang dibayarkan Bank yang timbul dari penjualan surat berharga dengan janji dibeli kernbali (repo).

2

Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

1.1.204. Biaya Dana Pinjaman yang Diterima

Yang dimaksud dengan biaya dana pinjaman yang diterima adalah seluruh beban bunga yang dibayar atas pinjaman yang diterima Bank.

1.1.2.5. Biaya Dana Kewajiban Antar KantorlTran~fer Pricing

Yang dimaksud dengan biaya dana kewajiban antar kantorltran~fer pricing adalah biaya bunga atas dana yang berasal dari kewajiban antar kantorltran~'fer pricing Bank.

1.1.2.6. Biaya Dana Modal Pinjaman

Yang dimaksud dengan biaya dana modal pinjaman adalah biaya bunga atas dana yang berasal dari penerbitan surat berharga dan/atau pinjaman yang diterima yang memenuhi seluruh persyaratan untuk dapat diperhitungkan sebagai komponen modal sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai kewajiban penyediaan modal minimum dan telah memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia.

1.1.3. Biaya Dana Lainnya

Yang dimaksud dengan Biaya Dana Lainnya adalah biaya bung a atas sumber pendanaan selain dana pihak ketiga dan bukan pihak ketiga, misalnya dalam rangka Swap Funding dan Two Step Loans.

1.2. Biaya Jasa

Yang dimaksud dengan biaya jasa adalah biaya yang berhubungan langsung dengan alat pendanaan Bank seperti komisi atau provisi kredit yang dibayar Bank karena penerimaan kredit dari Bank lain, penerbitan surat berharga, atau lainnya.

1.3. Biaya Regulasi

Yang dimaksud dengan biaya regu1asi adalah biaya yang timbul sebagai akibat kewajiban yang dikenakan kepada Bank oleh otoritas, terkait dengan kegiatan penghimpunan dana, berupa:

1.3.1. Biaya Giro Wajib Minimum (GWM) 1.3.2. Biaya Premi Penjaminan LPS

104. HPDK Lainnya

Yang dimaksud dengan HPDK lainnya antara lain adalah biaya pemeliharaan kas, dan mismatch spread.

3

Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

2. Biaya Overhead

Yang dimaksud dengan biaya overhead adalah rata-rata tertimbang (weighted average) dari biaya operasional selain yang termasuk di dalam komponen HPDK di atas yang dikeluarkan oleh Bank dalam melaksanakan aktivitas penghimpunan dana dan penyaluran dana dalam bentuk kredit. Biaya overhead ini antara lain meliputi:

2.1. Biaya Tenaga Kerja

Yang dimaksud dengan biaya tenaga kerja adalah:

a. Gaji pokok, upah beserta tunjangan-tunjangan yang dibayarkan kepada direksi/pengurus harian dan karyawan-karyawan Bank, baik yang berstatus pegawai tetap maupun tidak tetap sebelum dikurangi dengan pajak penghasilan dan potongan-potongan lain.

b. Biaya untuk honorarium komisaris/dewan pengawas Bank.

c. Seluruh biaya tenaga kerja di luar gaji, upah, dan honorarium, misalnya uang lembur dan perawatan kesehatan.

2.2. Biaya Pendidikan dan Pelatihan

Yang dimaksud dengan biaya pendidikan dan pelatihan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam rangka pendidikan dan pelatihan pegawai Bank, termasuk kursus dan seminar. Dalam pos ini termasuk pula dilaporkan sumbangan-sumbangan yang diberikan untuk lembaga pendidikan yang mengkhususkan pada pendidikan perbankan.

2.3. Biaya Penelitian dan Pengembangan

Yang dimaksud dengan biaya penelitian dan pengembangan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk penelitian dan pengembangan kegiatan usaha Bank.

2.4. Biaya Sewa

Yang dimaksud dengan biaya sewa adalah sewa yang dibayar oleh Bank kepada pihak ketiga, misalnya sewa kantor, sewa rumah, sewa alat-alat dan sewa perabot.

2.5. Biaya Promosi dan Pemasaran

Yang dimaksud dengan biaya promosi dan pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan Bank dalam rangka mempromosikan dan memasarkan produk dan jasa Bank secara umum, antara lain cash back, hadiah, serta iklan dan promosi.

2.6. Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan

Yang dimaksud dengan biaya pemeliharaan dan perbaikan adalah seluruh biaya pemeliharaan dan perbaikan yang dikeluarkan oleh Bank untuk pemeliharaanlperbaikan at as gedung-gedung/rumah-rumah, mesin-mesin, alat-alat pengangkutan dan perabot milik Bank.

4

\

Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

2.7. Biaya Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atas Kredit yang Diberikan

Yang dimaksud dengan biaya pembentukan CKPN atas kredit yang diberikan adalah beban pembentukan CKPN atas kredit yang diberikan Bank.

2.8. Biaya Penyusutan Aset Tetap dan Inventaris

Yang dimaksud dengan biaya penyusutan aset tetap dan inventaris adalah beban penyusutan atas aset tetap dan inventaris Bank.

2.9. Biaya Overhead Lainnya

Yang dimaksud dengan biaya overhead lainnya adalah seluruh biaya overhead selain yang disebutkan di atas, namun digunakan untuk mendukung kegiatan penyaluran kredit.

3. Marjin Keuntungan (Profit Margin)

Yang dimaksud dengan marjin keuntungan tprofit margin) adalah marjm keuntungan yang ditetapkan oleh Bank dalam melakukan kegiatan usahanya. Penetapan atas marjin keuntungan tersebut didasarkan pada marjin keuntungan setelah memperhitungkan pajak yang harus dibayar.

Lampiran 2 Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/ 5 /DPNP tanggal 8 Februari 2011

Lampiran 2

Format Publikasi Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate) di Surat Kabar, Website, dan Kantor Bank

Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate) BankXYZ

Tanggal ...

(% per tahun)

Suku Bunga Dasar Kredit (Prime Lending Rate)
Berdasarkan Segmen Bisnis
Kredit Kredit Kredit Konsumsi
Korporasi Ritel KPR Non KPR
Suku Bunga Dasar Kredit
(prime lending rate) Keterangan:

a. Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) ini belum memperhitungkan komponen premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur. Dengan demikian, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sam a dengan SBDK (dicantumkan untuk publikasi yang dilakukan melalui popan pengumuman di setiap kantor Bank, halaman utama website dalam hal bank memiliki website, dan surat kabar).

b. Dalam Kredit Konsumsi non KPR tidak termasuk penyediaan dana melalui kartu kredit dan kredit tanpa agunan (dicantumkan untuk publikasi yang dilakukan melalui papan pengumuman di setiap kantor Bank, halaman utama website dalam hal bank memiliki website, dan surat kabar).

c. Informasi SBDK yang berlaku setiap saat dapat dilihat pada publikasi di setiap kantor Bank dan/atau website Bank dalam hal bank memiliki website (dicantumkan hanya untuk publikasi yang dilakukan melalui surat kabar).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->