P. 1
PPh

PPh

|Views: 8,402|Likes:
Published by Rizky Aime Devy

More info:

Published by: Rizky Aime Devy on Mar 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Deskripsi singkat
  • 1.2. Tujuan Instruksi Umum
  • 1.3. Tujuan Instruksi Khusus
  • 2.1. Uraian, contoh
  • 2.3. Rangkuman
  • 3.1.2. Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri
  • 3.2. Latihan 2
  • 3.3. Rangkuman
  • 4.1.1. Pengertian Penghasilan
  • 4.1.2. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak
  • 4.2. Latihan 3
  • 4.3. Rangkuman
  • 5.3. Rangkuman
  • 6.1. OBJEK PAJAK BENTUK USAHA TETAP (BUT)
  • 6.3. Rangkuman
  • 9. Umpan Balik
  • 10.1. Uraian dan Contoh
  • 10.1.1. Pengeluaran (biaya) yang boleh dikurangkan
  • 10.1.2. PENGHASILAN WANITA KAWIN
  • 10.2. Latihan
  • 10.3. Rangkuman
  • 10.4. Test Formatif
  • 10.7. Umpan Balik
  • NORMA PERHITUNGAN, CARA MENGHITUNG PAJAK, DAN TARIF
  • 11.2. NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS
  • 11.3. CARA MENGHITUNG PAJAK
  • 11.7. Test Formatif
  • 11.8. Jawaban Test Formatif
  • 11.9. Umpan Balik
  • Kegiatan Belajar 8

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Hak cipta :
KATA PENGANTAR

“Seluruh tulisan pada modul ini merupakan milik dari Pusdiklat Pajak – BPPK, hasil tulisan dari Widyaiswara Pusdiklat Pajak, Fauzi Malik.” “Modul ini dapat digunakan dalam rangka proses pembelajaran, dengan tetap mencantumkan penulis dan pemilik sah dokumen ini. Dilarang mengunakan sebagian atau seluruh isi dari modul ini untuk kepentingan komersial. “

Tujuan yang ingin dari Diklat

dicapai

Teknis Substantif Dasar untuk menyiapkan dilingkungan yang

Pajak II, adalah karyawan

baru

Direktorat Jenderal Pajak

berasal dari penerimaan Sarjana Baru oleh Departemen Keuangan tahun 2008 yang lalu, menguasai tugas bidang perpajakan. Salah satu kompetensinya

adalah memahami dan menguasai secara teknis dan administratif ketentuan formal dan material yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan. Guna menunjang sasaran tersebut dipandang perlu untuk memberikan

pemahaman dan pengertian Pajak Penghasilan, dalam bentuk modul kepada peserta Diklat dimaksud. Modul ini disusun sesuai dengan perkembangan terakhir dari Pajak Penghasilan, berupa Perubahan dan penyempurnaan Undang-Undang Pajak

Penghasilan, melalui perubahan keempat yakni Undang-undang No. 36 Tahun 2008, dari UU No. 7 Tahun 1983. Agar peserta mengetahui anatomi dari UU PPh. yang

terkhir ini, penyajian modul ini dimulai dari sejarah keberadaan

Pajak Penghasilan di

Indonesia, sampai dilakukannya Reformasi dibidang perpajakan diawal tahun 1980-an, terakhir penyempurnaan seperti di singgung diatas, agar didapatkan gambaran yang utuh tentang Pajak Penghasilan. Kami menyadari mungkin penyusunan modul Pajak Penghasilan ini, masih perlu disempurnakan salah satunya. Sampai saat penyusunan modul ini, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktorat Jederal Pajak yang berkaitan dengan pelaksanaan UU No. 36 Tahun 2008, belum lengkap diterbitkan. Akhirnya kepada pembaca kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Jakarta, 5 Januari 2009. Penyusun, Drs. Fauzi Malik

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

i

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

DAFTAR ISI
Halaman Kata Pengantar Daftar isi i Riwayat Singkat dari PPh. di Indonesia, Subjek Pajak dan Bukan Subjek Pajak. 1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi singkat. 1.2. Tujuan Instruksional Umum 1.3. Tujuan Instruksional Khusus 2. Kegiatan Belajar 1, Riwayat singkat PPh di Indonesia 2.1. Uraian, Contoh. 2.1.1. Ordonansi PPd. 1944. 2.1.2. Ordonansi Pajak Perseroan 1925 2.1.3. Undang-Undang PBDR 1970 2.1.4. MPS-MPO, UU No.8 Tahun 1970 2.1.5. Tax Reform (Reformasi Perpajakan) 1980-an 2.2. Latihan 2.3. Rangkuman 3. Kegiatan Belajar 2 Subjek Pajak dan Non Subjek Pajak. 3.1. Uraian, Contoh 3.1.1. Pengertian 3.1.2. Subjek Pajak (Dalam dan Luar Negeri) 3.1.3. Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif 3.1.4. Tidak termasuk subjek pajak 3.2. Latihan 3.3. Rangkuman 4. Kegiatan Belajar 3 Objek dan Non Objek Pajak pada PPh. 4.1. Uraian, dan Contoh 4.1.1. Pengertian Penghasilan 4.1.2. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak 4.2. Latihan 4.3. Rangkuman 5. Kegiatan Belajar 4 Jenis-jenis Penghasilan yang dikenakan Pajak bersifat Final junto Psl 4 ayat (2) 5.1. Uraian, dan penjelasan 5.2. Latihan 5.3. Rangkuman 1 1 1 1

3 3 3 3 4 4 5 6 6

7 7 9 12 15 16 16

18 18 18 24 30 30

33 33 36 36 36

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

ii

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

6. Kegiatan belajar 5 6.1. Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT) 6.2. Latihan 6.3. Rangkuman 7. Test Formatif 7.1. Pilih salah satu jawaban yang paling tepat 7.2. Pilihan B (BETUL), atau S (Salah) 8. Kunci jawaban Test Formatif 8.1. Jawaban pilihan yang paling tepat 8.2. Jawaban Pilihan B (Betul), atau S (Salah) 9. Umpan Balik 10. Kegiatan Belajar 6 Biaya yang boleh dan tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan Bruto 10.1. Uraian, dan Contoh 10.1.1. Pengeluaran (biaya) yang boleh dikurangkan 10.1.2. Penghasilan Wanita Kawin 10.1.3. Pengeluaran biaya yang Tidak boleh 10.1.4. Penilain harta 10.1.5. Penyusutan dan Amortisasi 10.2. Latihan 10.3. Rangkuman 10.4. Test Formatif 10.5. Pertanyaan, B (Betul), atau S (Salah) 10.6. Kunci jawaban Test Formatif 10.6.1. Jawaban yang paling tepat 10.6.2. Jawaban B(Betul), atau S (Salah) 10.7. Umpan Balik. 11. Kegiatan Belajar 7 Norma Perhitungan, Cara Menghitung Pajak, dan Tarif. 11.1. Norma Penghitungan Penghasilan Neto 11. 2. Norma Penghitungan Khusus 11. 3. Cara Menghitung Pajak 11. 4. Tarif ( Pasal 17) 11. 5. Latihan 11. 6. Rangkuman 11. 7. Test Formatif 11. 7. 1. Pilih Jawaban yang paling benar 11. 7. 2. Pilihan B (Betul), atau S (Salah) 11. 8. Jawaban Test Formatif 11. 8. 1. Jawaban pilihan paling benar 11. 8. 2. Jawaban B (Betul), atau S (Salah) 11. 9. Umpan Balik. 12. Kegiatan Belajar 8 Pelunasan pajak dalam tahun berjalan, Angsuran Pasal 25, Perhitungan pajak pada akhir tahun pajak, dan Ketentuan lainnya 12. 1. Pelunasan pajak tahun berjalan 12. 2. Angsuran PPh. Pasal 25
MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

37 39 39 41 43

44 44 44

45 45 52 54 61 64 71 71 73 75 77 77 77 77

78 78 80 81 83 86 86 88 88 89 90 90 90 90 91 91 91 92
iii

7. 1. 4. Jawaban B (Betul) atau S (Salah) 12. 1. Keringanan tarif (Pasal 31 E) 12. 2. Perhitungan akhir tahun 12. Rangkuman 12.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. Jawaban Pilihan paling benar 12. 2. 2. 6. Pilihlah jawaban yang paling benar 12. Pembagian penerimaan Pajak Penghasilan 12. Perhitungan pajak pada akhir tahun 12. 4. 3. 1. 4. Umpan Balik DAFTAR KEPUSTAKAAN 96 96 97 97 98 98 99 99 100 101 102 102 104 105 105 105 105 106 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iv . 1. Fasilitas Perpajakan ( Pasal 31 A) 12. 7. Pajak yang kekurangan bayar (Pasal 29) 12. 3. 8. 3. 3. Test Formatif 12. 9. 8. 5. 3. 3. Latihan 12. Pajak yang lebih bayar (Pasal 28 A) 12. Ketentuan lain 12. 2. 8. Kunci Jawaban Test Formatif 12. 7. Pilihan B (Betul) atau S (Salah 12. 4.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN v .

c. d. Setelah mempelajari modul ini peserta Diklat diharapkan : a. Sistem MPS-MPO diterapkan untuk pelaksanaan pemugutan Pajak Pendapatan (PPd ). Di tahun 1967.MPO). 6 Tahun 1983. dimana penerimaan pajak memegang peranan 70 s/d 75 % dari target yang dicantumkan dalam APBN itu sendiri. 1944. Dapat menjelaskan latar belakang lahirnya sistem self-assessment. diintrodusir suatu sistem pemungutan pajak yang mengarah kepada sistem Self-Assessment. Keadaan ini berjalan sampai dengan awal tahun 1980. dan diharapkan sistem ini menuju sistem SelfAssessment. serta Menghitung. 7 Tahun 1983.3. Pemerintah secara serius dan berketetapan hati melaksanakan pemungutan pajak melalui sistem Self-Assessment dengan melakukan Tax-Reform sebagaimana dijelaskan diatas. sedangkan untuk jenis-jenis penghasilan berupa Deviden.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN RIWAYAT SINGKAT DARI PAJAK PENGHASILAN DI INDONESIA SUBJEK PAJAK DAN BUKAN SUBJEK PAJAK 1.PPN dan PPn. Dapat menjelaskan Subjek Pajak dan non Subjek Pajak e. tapi karena beberapa hal antara lain kondisi masyarakat WP. 11 Tahun 1967. d. dan Undang-Undang No. kondisi administrasi yang belum mendukung pelaksanaannya. 1. PPs. dan Royalty (PBDR). b. Untuk orang pribadi dikenakan Pajak Pendapatan melalui Ordonansi PPd. untuk Badan-Badan dikenakan Pajak Perseroan melalui Ordonansi PPs. Tujuan Instruksi Khusus. Menyetor. Tujuan Instruksi Umum.1. Dapat menjelaskan subjek dan bukan subjek Pajak Penghasilan. sebagaimana diatur dalam Psl 23 UU No. serta Pajak atas Bunga. f. maka sistem MPS-MPO ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Dapat memahami objek pajak yang dikenakan bersifat final. c. Dapat menjelaskan latar belakang dilakukannya Tax-Reform. 36 Tahun 2008 Pajak Penghasilan. BM. Setelah mempelajari modul ini peserta Diklat diharapkan : a. melalui UU No. Pajak Perseroan (PPs).2. dan Melapor Pajak Sendiri-MPS. yang sekarang ini menjadi PPh. Pasal 23. dan PBDR. 8 Tahun 1967 juncto Peraturan Pemerintah No. Dapat mengetahui dan membandingkan serta membedakan Pajak Penghasilan antara sebelum Tax-Reform dengan setelah Tax-Reform. 1. Dapat memahami objek pajak dan bukan objek pajak. Dapat menjelaskan riwayat pengenaan Pajak Penghasilan. Deskripsi singkat. Dapat memahami riwayat singkat dari Pajak Penghasilan b.8 Tahun 1984. Undang-Undang No. 1925. sebelum dilakukannya Tax Reform dibidang perpajakan melalui Undang No.. Devidend. 1. Latar belakang lahir nya sistem Self-Assessment. Di era tahun 1980-an.Pajak Penghasilan. Devidendan Royalty (PBDR). Perjalanan Tax-Reform sampai saat ini selalu mengalami penyempurnaan dan penyesuain dalam rangka kemandirian bangsa Indonesia memenuhi tuntutan APBN yang dari tahun ke tahun selalu meningkat. 7 Tahun 1983. Menyetor dan Melaporkan Pajak Orang . melalui UU PBDR 1970.KUP. Memungut. kesiapan aparatur pajak. yang dahulunya terdiri dari PPd. tetapi masih tahap semi self-assessment yang disebut system MPS-MPO (Menghitung. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 1 . sebagaimana telah beberapa kali dirubah terakhir melalui UU No. PENDAHULUAN. Bunga dan Royalty dikenakan Pajak atas Bunga. dan mulai awal tahun 1980 inilah.

Dapat menjelaskan perbedaan perlakuan perpajakan subjek pajak berdasarkan pembagian domisili dimaksud. Dapat menjelaskan yang menjadi objek dan tidak objek pajak. f. h. Dapat menjelaskan pengenaan PPh yang bersifat final. Dapat menjelaskan mulai dan berakhirnya kewajiban subjek pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. Dapat menjelaskan pembagian subjek pajak berdasarkan domisili. g. i. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 2 .

.Subjek Pajak dalam negeri . ini sering dilakukan perubahan dan penyempurnaan disana sini. ada 19 lapisan tarif progresif. UU Pajak Pendapatan 1944 (Ordonansi PPd 1944). dimana yang dikenakan pajak hanya pendapatan-pendapatan yang berasal dari 4 sumber pendapatan yaitu : .Hasil dari harta tak gerak. dan .1. Subjek Pajaknya dibagi 2 (dua) yaitu : . tarif marginal mulai dari 5% sampai dengan 50%. dimana perubahan terakhir dan mendasar adalah melalui UU No. Pajak Perseroan (PPs).1. 1925.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2.Hasil dari usaha dan tenaga.Subjek Pajak luar negeri Yang dalam pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakannya terdapat perlakuan yang berbeda.Tarif umum. Pajak Perseroan yang diatur melalui ordonansi PPs. juga bukan uang seperti natura dan atau kenikmatan yang diterima atau diperoleh seseorang. juga merupakan produk hukum buatan Belanda jauh sebelum kemerdekaan berakhir dilaksanakan 31 Desember 1983. yaitu : . Besarnya BPBP setiap tahun ditentukan menurut Keputusan Menteri Keuangan. RIWAYAT SINGKAT PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN DI INDONESIA. adalah produk buatan Belanda yang dibuat di Australia. terhadap ordonansi PPs. Besarnya pajak terutang yang harus dibayar ditetapkan melalui suatu lembaga yang dinamakan Surat Ketetapan Pajak (SKP). KEGIATAN BELAJAR 1. Tentang Perubahan & Penyempurnaan Ordonansi PPs. Objek (sasaran) pajak pada Pajak Pendapatan 1944. Guna mengikuti perkembangan zaman dan situasi. . yang antara lain berisi ketentuan-ketentuan mengenai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 3 .8 Tahun 1970. contoh. Pengertian pendapatan selain berbentuk uang.Tarif khusus. Tugasnya menetapkan besarnya pajak terutang yang merupakan kontribusi masyarakat kepada negara dalam mengisi kas APBN. . dengan mengurangkan pajak terutangnya dari SKP Sementara. yang kemudian pada akhir tahun diterbitkan lagi SKP Rampung. yang untuk tahun berjalan disebut SKP Sementara. sedangkan bagi Subjek Pajak luar negeri berlaku azas sumber.Hak atas bayaran berkala. berlaku sampai dengan 31 Desember 1983.1.2. Tarif pajak yang berlaku ada 2 macam.Hasil dari harta bergerak. berada ditangan fiskus (petugas pajak). . antara lain bagi Subjek dalam negeri berlaku azas domisili. Pajak Pendapatan yang diberlakukan melalui Ordonansi tersebut diatas.1. Uraian. 1925. 2. yang berlaku bagi pendapatan tertentu sebesar 10% Pendapatan yang dikenakan pajak adalah Pendapatan Bersih. menganut pengertian sempit. 2. 2. yang mencerminkan kurangnya partisipasi serta peran aktif masyarakat wp dalam menentukan besarnya beban pajak yang harus mereka pikul. yaitu Pendapatan yang telah diurangi dengan Batas Pendapatan Bebas Pajak (BPBP).

juncto PP No. maka banyak investor dari luar negeri yang melakukan kegiatan baik langsung maupun tidak langsung. adalah bahwa berdasarkan Ordonansi PPd. yaitu berdasarkan kenyataan atau keadaan sebenarnya dari suatu penerimaan/pengeluaran. 1944. 2. beban pajak diintrodusir bermacam tarif khusus berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. Deviden.Subjek Pajak dalam negeri . Bagi WP luar negeri pemotongan PBDR merupakan pembayaran pajak bersifat final. Pengertian laba yang menjadi objek (sasaran) pengenaan PPs.Subjek Pajak luar negeri. . 6 Tahun 1968. adalah paham laba material. Dengan terbukanya perekonomian Indonesia terhadap pihak luar. Latar belakang yang melahirkan PBDR. tidak semua orang dan badan yang bertempat tinggal di luar Indonesia dapat dikenakan pajak walaupun mereka memperoleh/menerima pendapatan dari sumber-sumber yang berasal atau datang dari Indonesia. 10 Tahun 1970). Menghitung Pajak Sendiri (MPS).1. Sistem pengenaan pajak juga dilakukan dengan sistem official Assessment dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) Sementara diawal tahun. membuka kegiatan/usaha/partispasi ke Indonesia sehingga pendapatan bukan hanya dalam bentuk Deviden tapi telah berkembang dalam bentuk lain seperti bunga. Yang menjadi Subjek Pajak pada PPs. adalah Badan-Badan. serta Penanaman Modal Dalam Negeri –UU No. 1 Tahun 1967. maka untuk menggali potensi pajak dari sumber-sumber tersebut. serta SKP Rampung pada akhir tahun. Subjek Pajak juga dibedakan dan dibagi atas : . dan Royalty (PBDR)-UU PBDR 1970. 1925. MPS-MPO merupakan tatacara (sistem) dari pelaksanaan pemenuhan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 4 . pendapat serta pikiran dari si wajib pajak.Tarif Umum.12 Tahun 1959. lahirlah Perpu No.4.Tarif Khusus. baik yang modalnya terbagi atas saham atau tidak terbagi atas saham. merupakan pembayaran pajak dimuka (cicilan) dari Pajak yang terutang pada akhir tahun melalui perhitungan SKP Rampung. Bagi WP dalam negeri. 8 Tahun 1967. Oleh karena itu UU Pajak Deviden diperluas objeknya. dan Royalti (UU No. dan royalty. pandangan. 2. dan tidak tergantung kepada nama yang diberikan dari suatu penerimaa/pengeluaran. dan Ordonansi PPs. Pajak atas Bunga. yang mengatur pengenaan pajak atas deviden yang dibayarkan ke luar negeri dengan sistem ”withholding tax ”.3. Demikian pula tidak terikat/dipengaruhi oleh sistem pembukuan. dan Menghitung Pajak Orang lain (MPO) Sistem ini diintrodusir melalui UU No. yang kemudian lebih terkenal dengan nama Undang-Undang Pajak Deviden 1959. Dengan demikian tarif yang berlaku ada 2 macam yaitu : . dan diganti dengan Undang-Undang Pajak atas Bunga.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perangsang penanaman dan berbagai bentuk fasilitas perpajakan dalam rangka menampung kegiatan Penanaman Modal Asing (UU No. pembayaran PBDR yang dilakukan melalui pemotongan tersebut. Kemudian dalam rangka untuk menciptakan iklim yang kondusif dari perkembangan ekonomi. Deviden.1. dan . 11 Thn 1967.

dan bukan jenis pajak baru. selama tahun berjalan. PPs. dan investasi diseluruh wilayah RI. Kepada yang kena pungut oleh pemungut diberikan bukti pungutan yang dapat digunakan oleh yang bersangkutan sebagai pengurang pajak terutang pada akhir tahun. Dengan sistem ini WP diberi kepercayaan untuk Menghitung. termasuk juga Pajak Kekayaan. e. Di lain pihak sistem MPO. Menunjang pengembangan sumber daya manusia. Menunjang usaha pengembangan usaha kecil.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pajak Pendapatan. Arah dan tujuan yang hendak dicapai dari Tax –Reform. dan Melaporkan Pajak Orang lain.1. serta Melaporkan kewajiban pajaknya sendiri. PBDR. suatu hal menyimpang dari tujuan MPO sebagai salah satu sistem mengangsur pajak terutang selama tahun berjalan. b. sesuai dengan mukaddimah yang tercantum yang melatar belakangi pembaruan perpajakan adalah : a. sehingga dapat disebut sistem semi self-assessment. Pembaharuan Pajak (Tax-Reform) awal Tahun 1980-an. pemerintah melaksanakan TaxReform secara menyeluruh dibidang perpajakan. Menyetor. walaupun pada akhir tahun besarnya pajak terutang kembali ditetapkan oleh Fiskus secara jabatan melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak Rampung. barang hasil olahan dan jasa-jasa dalam rangka meningkatkan perolehan devisa. Kedua tatacara pembayaran dan pemotongan akan menjadi kredit pajak (pembayaran dimuka) pada akhir tahun pajak. terutama ekspor non migas. menjelmanya MPO menjadi jenis pajak tersendiri.5. disamping adanya tuntutan yang mendesak. IPEDA (pada waktu itu). ilmu pengetahuan. pembangunan. untuk mengoptimalkan pengembangan potensinya. Bercermin pada kegagalan pelaksanaan MPS-MPO. Keikut sertaan serta partisipasi anggota masyarakat untuk bersama-sama secara gotong royong memikul beban pembiayaan dan pembangunan. dalam rangka kemandirian bangsa. Ekses yang terjadi dari pelaksanaan sistem MPS-MPO dalam praktek. Pajak Perseroan. dalam rangka pengentasan kemiskinan. perlunya diadakan pembaharuan secara menyeluruh dari system perpajakan. apabila berhubungan dengan pihak yang ditunjuk oleh Kantor Pajak sebagai pemungut. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 5 . Sistem MPS-MPO berjalan secara paralel selama tahun berjalan. dan Pajak Kekayaan. Pajak Kekayaan. 2. Menunjang kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan pemerataan. dengan tetap memperhatikan landasan berpikir undang-undang perpajakan yang telah ada seperti PPd. ini terlihat dari laporan penerimaan pajak yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Pajak diera tersebut. dan sistem inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya sistem Self-Assessment pada saat sekarang. dengan mencantumkan besarnya penerimaan MPO setiap tahun. dan teknologi. dalam bentuk kontribusi membayar pajak. sumbar daya alam dan lingkungan hidup. adalah Menghitung. f. dalam rangka memenuhi tuntutan APBN yang makin tahun semakin meningkat. Lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat sebagai pembayar pajak c. d. Memungut. PPs. serta sistem MPS-MPO yang masih bersifat semi Self-Assessment. Menunjang usaha peningkatan ekspor. Menyetor. di samping penerimaan Pajak Pendapatan. pelestarian ekosistem. dengan mendapat bantuan serta pandangan secara teknis dari expert luar negeri.

dan Royalty (PBDR.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN g. Menunjang usaha terciptanya aparat perpajakan yang makin mampu dan makin bersih. Mencegah timbulnya pengenaan pajak yang berganda. PPd. 3. 1925 mengatur jenis pajak apa ?. Atas pendapatan berbentuk bunga. termasuk penyederhanaan. Undang-Undang No. serta mencegah terjadi penyeludupan pajak yang merugikan pendapatan negara. dan dimana ketentuan yang sama pengaturannya dalam Pajak Penghasilan. yang selanjutnya akan dibahas pada bab-bab berikutnya. dan apa pula sebabnya sistem MPS-MPO ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. atas wp dalam negeri dan wp luar negeri.12 Thn 1985. i. dikenakan Pajak atas Bunga. a. Tentang Bea Meterai (BM). Untuk kelancaran pelaksanaan pengenaan PPd. Deviden. dan kemudahaan prosedur dalam pemenuhan kewajiban perpajakan. Tentang Pajak Penghasilan (PPh).2. a. e. Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. Jelaskan jenis pajak apa yang diatur dengan Ordonansi PPd. maupun PPs.13). peningkatan pelayanan kepada wajib pajak. maupun PPs. deviden. sedangkan untuk badan menerapkan Ordonansi PPs. 8 Tahun 1984. Latihan 1. Undang-Undang No. Jelaskan yang melatar belakangi dilakukannya Tax-Reform. membagi klassifikasi WP. Terangkan apa yang saudara ketahui dengan PBDR. Dengan dilandasi serta latar belakang yang disebut diatas maka lahirlah : 1. 11 11 Tahun 1967. termasuk peningkatan penegakan pelaksanaan ketentuan hukum yang berlaku. d. 2. b. peningkatan pengawasan atas pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakan tersebut. c. dan bagaimana kondisi dari UU Pajak yang diperbaharui tersebut saat ini. Undang –Undang No. dan mencegah terjadi penghindaran dari kewajiban membayar pajak. Ordonansi PPs. dan jenis pajak apa yang mengalami pembaruan. Tiga UU ini kemudian disusul dengan 2 UU lagi yaitu . melalui UU No. Undang-Undang No.3. 8 Tahun 1967 juncto PP No. 10 Tahun 1970). melalui UU Pajak Deviden 1959. 7 Tahun 1983. d. Rangkuman. Sebelum Reformasi perpajakan. Undang-Undang No. 6 Tahun 1983. 2.BM). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 6 . 1944. h. 1925. 2. Tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 1944. telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. kecuali UU Bea Meterai (UU No. yang sebelumnya hanya dikenakan Pajak Deviden. Tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan atau disingkat KUP. Baik PPd. dan apa perbedaan objek pajaknya dengan objek pajak menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. dan bagaimana pengaturannya setelah dilakukannya tax-reform b. 13 Tahun 1985. diintrodusir suatu sistem (tatacara) yang disebut MPS-MPO. Apa kaitannya antara sistem MPS-MPO dengan PPd. dan royalty. c. PPs.UU No. pengenaan pajak atas orang pribadi menggunakan Ordonansi. serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNPPn. Seluruh UU yang disebut diatas. Penyederhanaan sistem tarip pajak. 1. 2.

maka selama belum dibagikan harta (bengkel mobil) tersebut. dan Tatacara Penghapusan NPWP. termasuk perkembangan teknologi dan informasi. berhubung misalnya yang punya harta (warisan) semasa hidup tidak menetapkan siapa yang bertanggung jawab dikemudian hari apabila yang bersangkutan meninggal dunia. maka warisan yang belum terbagi tadi kedudukannya sebagai subjek pajak. sebagaimana telah dirubah dan disempurnakan terakhir dengan UU No. c.). Badan . PPh. Warisan yang belum terbagi. serta meningkatnya tuntutan APBN dari tahun ketahun. Apabila harta (bengkel mobil) dimaksud. atau pun tidak bertempat tinggal di Indonesia. Contoh : Ahmad semasa hidup memiliki usaha bengkel mobil yang selalu tetap memenuhi kewajiban pajaknya setiap tahun. harta (warisan berupa bengkel mobil) belum dibagikan kepada ahli waris. SUBJEK DAN NON SUBJEK PAJAK. yang sebelumnya telah dirintis melalui tatacara MPS-MPO. Perkembangan teknologi dunia usaha. mengilhami perlunya melakukan perubahan dalam tata kelola penerimaan pajak. ini menjadi dasar agar pengenaan pajak dari warisan tersebut tetap terjamin. dan Bea Meterai. serta PPN-PPn. 7 Tahun 1983. d.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. dan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP)nya./2001. 4 UU Perpajakan telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. merupakan subjek pajak pengganti. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (1) nya dijelaskan. dicetuskan lagi 2 UU baru (PBB. pada pasal 10 menyebutkan. KEGIATAN BELAJAR 2. UU Perpajakan yang lahir melalui reformasi perpajakan.1. kecuali UU Bea Meterai. ”Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak”.Pajak Penghasilan. bahwa yang menjadi subjek pajak dalam Pajak Penghasilan adalah : a. maka lahirlah 3 UU Perpajakan baru (KUP. tidak diberikan pengurangan berupa MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 7 . Bentuk Usaha Tetap (BUT). pemerintah melakukan reformasi menyeluruh bidang perpajakan. Pelaporan Kegiatan Usaha.1. g. dan meninggalkan warisan yang belum terbagi. 3. KEP-161/PJ. sebagai satu kesatuan. b. maka warisan (harta) tersebut berakhir kedudukannya sebagai subjek pajak. menerapkan sistem SelfAssessment dalam pelaksanaannya. yang kemudian direntang waktu sekitar 2 tahun. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. BM). Seiring dengan perkembangan zaman. menggantikan mereka yang berhak dikemudian hari. Pengertian : Menurut Pasal 1 UU No. Tentang Jangka Waktu Pendaftaran. 36 Tahun 2008. Orang Pribadi (Perseorangan) .1. menggunakan NPWP dari wajib pajak yang meninggal dunia. dan ahli warisnya wajib mengisi formulir yang ditentukan. berstatus sebagai subjek pajak. Tgl 21 Pebruari 2001. dan contoh. Orang Pribadi sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal di Indonesia. 3. Penjelasan selanjutnya Pasal 2 ayat (1) adalah. bahwa dalam hal wajib pajak yang telah memiliki NPWP meninggal dunia. 3. f. telah dibagikan (ditetapkan) pemilik barunya. serta Pengukuhan Dan Pencabutan PKP. h. Sampai dengan saat modul ini dibuat. diera tahun 1980-an awal. Uraian. Warisan sebagai Subjek Pajak. Suatu saat Ahmad meninggal.

Badan Usaha Milik Negara/Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. k. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan usaha melalui internet. Perkumpulan. UU No. h. atau peralatan otomatis yang dimiliki. atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. baik yang berbentuk perseroan terbatas. Organisasi masa. adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan satu kesatuan. j Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi . Orgaisasi sosial politik. maupun pemerintah daerah. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (5). adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. perhimpunan. Tgl 12 Pebruari 1996. Gudang . tanpa memperhatikan nama dan bentuknya. Dalam UU ini. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas . sekalipun tatacara pengenaannya serta ketentuan administrasi perpajakannya sama dengan wajib pajak dalam negeri. Yayasan. atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. m. 36 Tahun 2008-PPh. Agen atau pegawai perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima premi asuransi atau menanggung resiko di Indonesia . Tempat kedudukan manajemen . maupun bentuk lainnya. f. misalnya lembaga. Kongsi. yang meliputi Perseroan Terbatas. agen elektronik. termasuk Reksa dana. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain. Cabang Perusahaan . atau organisasi yang sejenis. Proyek konstruksi. Bentuk Usaha Tetap. e. disewa. atau proyek perakitan .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Kantor Perwakilan . Lembaga. dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Bentuk Usaha Tetap. Firma. termasuk dalam pengertian badan. Persekutuan. n. baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha. Pengertian Badan sebagai subjek pajak. b. Sebagai subjek pajak perusahaan Reksadana. Koperasi. Ruang untuk promosi dan penjualan. o. persatuan. yang dapat berupa: a. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bln. badan. Pabrik .41/1996. SE-10/PJ. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 8 . sehingga setiap unit dari badan pemerintah. Bentuk Usaha Tetap ditentukan sebagai subjek pajak tersendiri sebagai Subjek Pajak Luar Negeri. instalasi. atau yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. g. Dana Pensiun. dan sebagainya yang dimiliki oleh pemerintah pusat. Perseroan lainnya. Komputer. dan p. dan bentuk badan lainnya. i. Pertambangan dan penggalian sumber alam . d. Sedangkan pengertian perkumpulan termasuk pula assosiasi. Perseroan Komanditer (CV). Gedung Kantor . sebagaimana ditegaskan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. c. Bengkel .Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. merupakan Subjek Pajak. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.

apabila perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi di Indonesia. 36 Tahun 2008. atau melakukan kegiatan di Indonesia. Apabila suatu badan/lembaga memenuhi syarat–syarat tersebut diatas. 36 Tahun 2008. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat tinggal diluar Indonesia. menjelaskan bahwa subjek pajak terdiri dari subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. Dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD. Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. sedangkan subjek pajak luar negeri menjadi wajib pajak sehubungan dengan penghasilan yang diterima MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 9 . Selanjutnya dalam pasal tersebut dijelaskan subjek pajak menjadi wajib pajak. unit usaha tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal. tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia.2. gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment). UU No. menyatakan bahwa suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (”place of bussiness”). tidak termasuk sebagai subjek pajak yaitu : a. maka badan/lembaga tersebut adalah subjek pajak pada pajak penghasilan. Dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau menanggung resiko di Indonesia melalui pegawai atau perwakilan atau agennya di Indonesia. apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan. Penerimaan lembaga tersebut dimasukan dalam anggaran pemerintah pusat atau pemerintah daerah. menggunakan. broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas. dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia. asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri. c. Selanjutnya dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) huruf b. disewa.1. 3. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan funfsional negara. peralatan. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. Sebalikya apabila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi. apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha. maka ia tidak termasuk subjek pajak penghasilan. Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. Menanggung resiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan resiko tersebut terjadi di Indonesia. b. yang dimiliki. d. atau berada atau bertempat kedudukan di Indonesia. 36 Tahun 2008. yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Seterusnya menurut penjelasan pasal 2 ayat (5) UU No.

yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. kartu penduduk dan lain sebagainya. 5. dan 35% WP OP b. Penghasilan Kena Pajak bagi WP . sebagai satu kesatuan menggantikan mereka berhak. Dikenakan Tarif PPh. Terdapat kewajiban menyampaikan baik SPT Masa maupun SPT Tahunan. antara lain seperti tertera pada tabel dibawah : No.5%. yaitu : a. 15%.Tarif tunggal 28% . Penghasilan Neto bagi WP Badan b. Tidak Wajib memiliki NPWP. dan ketentuan yang diterapkan dipersamakan dengan WP Dalam Negeri. Terdapat perbedaan perlakuan antara subjek pajak dalam negeri dengan subjek pajak luar negeri. 1. semisal keterangan izin menetap. untuk menjamin penerimaan negara dari pajak. Tidak dapat pengurang PTKP. perkumpulan sosial. Final (Psl 4 ayat 2. Tidak mempunyai hak dimaksud Tidak terdapat kewajiban tsb. Tidak ada kewajiban SPT. tidak harus menunggu mencapai 183 hari. kemasyarakatan (LSM). Orang Pribadi. 36 Tahun 2008. Dikenakan Tarif Khusus Psl 26. Pembukuan dan Pencatatan Diwajibkan menyelenggarakan. Pembayaran Pajak Tahun Berjalan. . tapi bisa juga diselang seling yang penting jumlah harinya mencapai 183 hari. Uraian Ruang lingkup Penghasilan Kewajiban memiliki NPWP Kewajiban menyampaikan SPT Penghasilan yg dikenakan Pajak Subjek Pajak(WP) DN Meliputi Penghasilan Seluruh dunia. 4.. Subjek Pajak Orang Pribadi 7. Merupakan pembayaran yang Final kecuali yang berubah status. Dengan perkataan lain wajib pajak adalah orang pribadi atau badan. Khusus WP Luar Negeri Bentuk Usaha Tetap (BUT). Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan. Hanya Penghasilan dari Indonesia. a. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. siapa yang harus bertanggung jawab. 8. Orang Pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. seandainya yang punya waris tidak meninggalkan wasiat/pesan/amanah. bukan hanya yang menerbitkan/mengeluarkan saham. Keberatan dan Banding Mempunyai Hak dimaksud. Merupakan angsuran dari PPh yang terutang pada akhir tahun. tetapi juga yang tidak menerbitkan saham. Rumusan dari subjek pajak dalam negeri terdapat dalam Psl 2 ayat (3) UU No. Selanjutnya pengertian Badan. 25%. a. yaitu : . b. atau orang pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia. Dikenakan Tarif Pasal 17. 6. kecuali yang Final Dapat pengurangan beban PTKP Subjek Pajak LN. 2. 9. Warisan yang belum terbagi. atau kepada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 10 . menggantikan yang berhak. Tarif. demikian juga organisasi-organisasi yang nirlaba semisal partai politik. termasuk kegiatan yang dikelola lebih dari satu orang. c. Wajib memiliki NPWP. Atau seseuai dengan Tarif menurut P3B (Tax-Treaty). seakan-akan terdapatnya pengertian yang tidak konsisten terhadap subjek pajak luar negeri.WP Badan. tapi niat dimaksud dibuktikan dengan mengurus legalisasi kependudukan. Penghasilan Bruto. Pengertian 183 hari dalam 12 bulan tidak harus berturut.turut. 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN atau diperoleh dari sumber di Indonesia. begitu pula bagi yang mempunyai niat. perlakuan perpajakannya.

hanya sampai warisan selesai dibagi. maka pengenaan pajaknya dikenakan langsung kepada subjek pajak luar negeri tersebut. Penjelasan pasal dan ayat tersebut menerangkan bahwa penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan tersebut. hal tersebut ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak menurut keadaan yang sebenarnya. termasuk Kantor Pelayanan Pajak mana yang menerbitkan NPWP nya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN siapa harta tersebut diberikan apabila yang punya harta ini meninggal dikemudian hari. b. artinya tidak bersifat permanen. dan badan yang tidak didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia. UU No. hal ini dikarenakan subjek pajak orang pribadi melekat pada orangnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (6). tetapi lebih didasarkan pada kenyataan. ditentukan menurut keadaan yang sebenarnya. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari. baik tidak melalui ataupun melalui bentuk usaha tetap. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam menentukan tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan tersebut antara lain domisili. maka orang pribadi tersebut adalah subjek pajak luar negeri. Apabila penghasilan yang diterima atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap. maka terhadap orang pribadi atau badan tersebut dikenakan pajak melalui bentuk usaha tetap. apalagi kalau pembagian waris berlarut-berlarut sementara kewajiban perpajakannya tidak ada yang mau bertanggung jawab. Pada dasarnya tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan. tidak ada istilah subjek pengganti. cukup menggunakan NPWP yang meninggal. Terhadap warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh subjek pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap (BUT). dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Dengan demikian penentuan tempat tinggal atau tempat kedudukan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan yang bersifat formal. Selanjutnya Pasal 2 ayat (4). Oleh karena keberadaan Warisan yang belum dibagi sebagai subjek pajak. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 11 . yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. Pasal ini menjelaskan. Dalam hal penghasilan tersebut diterima atau diperoleh tanpa melalui bentuk usaha tetap. 36 Tahun 2008. dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. menjelaskan pengertian subjek pajak luar negeri yakni : a. Dengan demikian bentuk usaha tetap menggantikan orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri dalam memenuhi kewajiban perpajakannya di Indonesia. tetapi berada di Indonesia kurang dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. UU No. Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. dan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. tempat menjalankan usaha pokok. alamat tempat tinggal keluarga. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia . Berkenaan dengan pengenaan pajaknya (orang pribadi dan badan). 36 Tahun 2008. atau hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk memudahkan pelaksanaan pemenuhan kewajiban pajak. maka perlu ditetapkan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan. dan orang pribadi atau badan tersebut statusnya tetap sebagai subjek pajak luar negeri. dengan meninggalnya yang bersangkutan gugur statusnya sebagai subjek pajak. maka dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. bahwa subjek pajak luar negeri adalah orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di luar Indonesia.

ditetapkan dalam keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Penentuan saat mulai dan berkhirnya kewajiban pajak subjektif diatur dalam Psl 2A UU No. tetapi dalam satu wilayah kerja Kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak. 2. dalam hal orang pribadi mempunyai rumah tetap sebagaimana dimaksud huruf (a). Rumah tetap orang pribadi tempat pusat kepentingan pribadi dan ekonominya dilakukan. didua tempat atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. Tgl 16 Nopember 2001.2001. Dalam hal tempat kedudukan badan berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. yang isinya antara lain : 1. artinya kewajiban pajak tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada subjek pajak lainnya. termasuk keperluan untuk penerbitan NPWP nya. Tempat kantor pimpinan perusahaan dan pusat administrasi dan keuangan berada sebagaimana tercantum dala Akte Notaris Pendirian Perusahaan yang bersangkutan. yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek pajak yang bersangkutan. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Direktur Pajak Penghasilan atas nama Direktur Jenderal Pajak. Tempat kedudukan badan menurut keadaan yang sebenarnya. e. Dalam hal tempat tinggal orang pribadi berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. Rumah tetap orang pribadi berada. d. Penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak. dalam hal keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) berada dibeberapa tempat. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 12 . Oleh karena itu dalam rangka memberikan kepastian hukum. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak. b. Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif. 3. a. Tempat kedudukan badan menurut keadaan sebenarnya yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak. Tempat tinggal orang pribadi menurut keadaan yang sebenarnya : a.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Keputusan tentang tempat tinggal orang pribadi dan tempat kedudukan badan dimaksud. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Direktur Pajak Penghasilan atas nama Direktur Jenderal Pajak. yaitu rumah tempat orang pribadi tinggal beserta keluarganya bertempat tinggal sebagaimana tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) b. dalam hal rumah tetap tempat tinggal pusat kepentingan pribadi dan ekonomi dilakukan sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) tidak dapat ditentukan. Dalam hal tempat kedudukan badan berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. d. penentuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektig menjadi penting. c. c. Penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dan badan tersebut.3. Dalam hal tempat tinggal orang pribadi berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. f. Penjelasan pasal ini menerangkan bahwa Pajak Penghasilan merupakan jenis pajak subjektif. tetapi dalam satu wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak e.1. 36 Tahun 2008. Tempat kantor pimpinan perusahaan berada dalam hal tempat kantor pimpinan perusahaan terpisah dari tempat pusat administrasi dan keuangan perusahaan. Tempat orang pribadi lebih lama tinggal. Kep 701/PJ.

yang mengemukakan. atau Pada saat BUT melakukan kegiatan melalui BUT. bahwa kewajiban pajak subjektif dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 13 . yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia. dan badan yg tidak didirikan dan tdk bertempat kedudukan di Indonesia. Orang Pribadi yg tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak lebih 183 hari. atau tidak lagi bertempat ke dudukan di Indonesia. Pada saat putusnya hubu ngan ekonomis dengan Indonesia. atau berniat. maka pada saat itu ia tidak lagi menjadi Subjek Pajak dalam negeri. Untuk lebih jelasnya hal tersebut. -Tidak menjalankan melalui BUT. untuk bertempat tinggal di Indonesia. usaha/kegiatan Pada saat adanya hubungan ekonomis dengan Indonesia. atau meninggalkan Indonesia buat selama-lamanya. Pengertian meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya harus dikaitkan dengan hal-hal yang nyata. dimulai pada saat orang pribadi itu dilahirkan. atau bertempat kedudukan di Indonesia. Pada saat meninggal dunia. Badan. Berakhirnya. tersebut berada di Indonesia. diatur dalam Psl 2A ayat (2). Kewajiban pajak subjektif badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia (Psl 2 ayat (3) huruf b). dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Subjek Pajak Dalam Negeri Orang Pribadi . dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. kewajiban pajak subjektifnya dimulai sejak hari pertama ia berada di Indonesia. pada saat orang pribadi tersebut meninggalkan Indonesia. Pada saat warisan tersebut selesai dibagi. Pada saat badan tersebut di bubarkan dan dilikuidasi. Apabila pada saat ia meninggalkan Indonesia terdapat bukti – bukti yang nyata mengenai niatnya untuk meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.Berada di Indonesia lebih dari 183 hari dlm 12 bulan atau berada dan punya niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. berada. Pada saat ditiadakannya BUT. -Sejak hari pertama berada di Indonesia. Pada saat meninggalnya pewaris. Subjek Pajak Luar negeri. dan berakhir pada saat meninggal atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.Bertempat tinggal di Indonesia .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pasal 2A ayat (1) mengemukakan bahwa kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) huruf (a). Pada saat badan tersebut didirikan. -Yang menjalankan usaha. Warisan yang belum terbagi Mulai -Pada saat dilahirkan Di Indonesia. atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.

maka jangka waktu yang kurang dari satu tahun pajak tersebut disebut bagian tahun pajak yang menggantikan tahun pajak. Kewajiban pajak subjektif warisan berakhir pada saat warisan tersebut dibagi kepada ahli waris. maka bagian tahun pajak tersebut menggantikan tahun pajak. atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. Kewajiban pajak subjektif orang atau badan tersebut dimulai pada saat orang pribadi atau badan tadi mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. (yaitu subjek pajak luar negeri yang bukan menjalankan usaha atau melakukan kegiatan kegiatan melalui BUTdi Indonesia). dan saat itu pemenuhan kewajiban perpajakannya melekat pada warisan tersebut. dan berakir pada saat warisan tersebut selesai dibagi. Penjelasan ayat ini menerangkan bahwa bagi orang pribadi yangtidak bertempat tinggal dan berada di Indonesia tidak lebih 183 hari. dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi. tidak lebih dari 183 hari. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usahaatau melakukan kegiatan sebagaimana diatur dalam Psl 2 ayat (5). kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat BUT tersebut berada di Indonesia dan berakhir pada saat BUT tersebut tidak lagi berada di Indonesia. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 14 . Psl 2A ayat (4) mengatur tentang kewajiban pajak subjektif orang pribadi Atau badan sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (4) huruf b. Psl 2A ayat (5) mengatur tentang kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Penjelasan ayat ini menerangkan bahwa kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. yaitu pada saat meninggalnya yang punya waris. Dalam penjelasan ayat ini. dan yang tidak didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. melalui suatu BUT. Pasal 2A ayat (3) mengatur bahwa kewajiban pajak subjektif orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (4) huruf a (yaitu orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. Penjelasan Psl 2A ayat (4) ini menyatakan bahwa orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia. dan tidak menjalankan usaha melalui BUT di Indonesia. dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT. dan berakir pada saat orang pribadi atau badan tersebut tidak lagi mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan. adalah subjek pajak luar negeri sepanjang orang pribadi atau badan tersebut mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. Hubungan ekonomis dengan Indonesia dianggap ada. yaitu menerima atau memperoleh penghasilan dari sumber-sumber dari Indonesia. atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia. dikemukakan bahwa dapat terjadi orang pribadi menjadi subjek pajak tidak untuk jangka waktu satu tahun pajak penuh misalnya menjadi subjek pajak pada pertengahan tahun pajak. apabila orang pribadi dan badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. dimulai saat timbulnya warisan yang belum terbagi. atau meninggalkan Indonesia buat selama-lamanya pada pertengahan tahun pajak. Selanjutnya Psl 2A ayat (6) menyatakan bahwa apabila kewajiban pajaksubjektif orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun pajak. dan badan yang didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia.

Organisasi Internasional yang berbentuk kerjasama tehnik dan atau kebudayaan bukan merupakan subjek pajak. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan (terakhir dengan Kep. dan 2. maka ia termasuk subjek pajak yang dapat dikenakan pajak atas penghasilan tesebut. 36 Thn 2008. dengan syarat : . Ketentuan lebih lanjut mengenai Psl 3 huruf (c) dan (d). Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut. tidak melakukan ke giatan lain. selain dari pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota. serta orang yang diperbantukan. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. dengan syarat : 1. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing.Tidak menerima penghasilan lain diluar tugas dan jabatannya. Pengecualian tersebut tidak berlaku. bahwa badan perwakilan negara asing beserta pejabat-pejabatnya. Yang dimaksud dengan organisasi Internasional adalah organisasi/badan/lembaga/asosiasi /perhimpunan/forum antar pemerintah atau non pemerintah ygbertujuan untuk meningkatkan kerjasama Internasional dan dibentuk dengan aturan tertentu atau kesepakatan bersama. a. Selanjutnya dikemukakan bahwa organisasi Internasional bukan merupakan subjek pajak penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut . Tidak termasuk sebagai Subjek Pajak. MK 601/KMK. dengan syarat bukan WNI. Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing. Namun apabila negara asal pejabat tersebut memberikan pembebasan pajak kepada perwakilan Indonesia.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka. b. menerangkan bahwa sesuai dengan kelaziman yang berlaku secara Internasional. . Indonesia menjadi anggota organisasi didalamnya dan. Penjelasan Psl 3 huruf (a) dan (b) tersebut diatas.03/2005. serta negara asing tersebut memberikan perlakauan yang sama (azas timbal balik).Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan yang sama (azas timbal balik).Bukan Warga Negara Indonesia. diluar jabatannya atau mereka adalah WNI. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada Pemerintah yang dananya berasal dari iuran anggota. atas penghasilan lain diluar tugas dan jabatannya.1. serta tinggal bersama mereka dengan syarat bukan WNI. dimana dalam pasal tersebut dikemukakan bahwa yang tidak termasuk sebagai Subjek Pajak adalah : a. yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka. sedangkan yang dimaksud dengan pejabat perwakilan organisasi Internasional adalah pejabat yang diangkat langsung oleh induk organisasi Internasional yang bersangkutan untuk menjalankan tugas atau jabatan dalam organisasi tersebut di Indonsia. . Pajak Penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 15 . Pejabat-pejabat perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan (sebagaimana dimaksud huruf c). diatur lebih lanjut dalam KMK seperti disebut diatas. d. Kantor Perwakilan Negara Asing . dan di Indonesia tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. maka kembali lagi berlaku azas timbal balik. apabila mereka memperoleh penghasilan lain di Indonesia. c. memperoleh penghasilan lain diluar jabatannya. dikecualikan sebagai subjek pajak.4. Pengecualian sebagai subjek pajak diatur dalam Psl 3 UU No. b.

Jelaskan kriteria antara subjek pajak dalam negeri subjek luar negeri. 4. b. maka honor tersebut dikenakan pemotongan PPh Psl 21. tidak diperinci dalam modul ini.3. Latihan 2 1. tetapi secara garis besar dapat disebut disini yaitu : I. maka organisasi internasional tersebut menjadi subjek pajak. atau pajak objektif ? 7. Kerjasama Tehnik (terdapat 18 kerjasama tehnik) IV. Mengenai Organisasi Internasional yang dikecualikan sebagai subjek pajak. Dasar hukum apa untuk menentukan suatu organisasi internasional menjadi subjek pajak atau tidak menjadi Subjek Pajak. Badan-Badan Internasional dari PBB (terdapat 15 organisasi) II. Siapakah subjek pajak pada PPh. dan jelaskan perbedaan perlakuan perpajakan antara subjek pajak DN dengan subjek pajak LN. Bukan Warga Negara Indonesia .2. bertempat tinggal lebih dari 183 hari dalam 12 bulan. Misalnya seorang pejabat perwakilan organisasi Internasional diluar tugas pokoknya contoh menjadi pengajar bahasa asing di lembaga kursus swasta. kemudian mendapat honor. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. oleh penyelenggaranya. atau Psl 26. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 16 . karena terlalu banyak dan kurang efisien. Organisasi –Organisasi Internasional lainnya (terdapat 54 badan) VI. Organisasi Swasta Internasional ( terdapat 18 organisasi). Apabila ada organisasi internasional. dikenakan Pajak Penghasilan. atau berada di Indonesia dan berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.3. 3. 10. Orang pribadi yang lahir dan atau. Jelaskan pula mulai dan berakhitnya kewajiban pajak subjektif bagi BUT. dan bukan Subjek Pajak. maka yang menjadi Subjek Pajak. Mengapa warisan yang belum terbagi ditunjuk sebagai subjek pajak ? 3. Apa pula pengertian BUT. Siapa saja yang dikecualikan sebagai subjek pajak. apabila memenuhi syarat sebagai berikut : a. bukan merupakan subjek pajak penghasilan. 5.1. 9. 2. 3. Colombo Plan ( ada 8 organisasi) III. tapi tidak termasuk dalam daftar dimaksud. Kerjasama Kebudayaan (ada 4 kerjasama kebudyaan) V. seperti dimaksud diatas.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. Rangkuman Berdasarkan uraian –uraian terdahulu. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. apa beda BUT dengan subjek pajak LN lainnya. dan b. 8. pada Pajak Penghasilan adalah : 3. atau pembicara pada suatu seminar. Organisasi Internasional dan pejabat perwakilan organisasi Internasional yang tidak memenuhi syarat tersebut diatas. Pejabat perwakilan dari organisasi Internasional tersebut diatas. Subjek Pajak Dalam Negeri : a. 6. Kapan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagai WP dalam negeri. Kerjasama tehnik tsb memberi manfaat pada negara/Pemerintah Indonesia. Pajak Penghasilan apakah termasuk pajak subjektif. Pengertian 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan sebagai subjek pajak dalam negeri itu bagaimana. jelaskan dengan hitungan waktunya.

Kongsi dst nya ) 3.3. beserta pejabat-pejabatnya dengan syarat-syarat tertentu. Terdapat perbedaan perlakuan perpajakan antara subjek dalam negeri dengan subjek pajak luar negeri.6. atau bukan melalui bentuk usaha tetap. Orang pribadi yang kurang dari 183 hari berada di Indonesia.3. atau berada di luar negeri tapi menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. Badan (PT.3. Sesuai dengan kelaziman yang berlaku secara internasional maka Badan Perwakilan negara asing disuatu negara.3.3. 3.5. b. sebagai satu kesatuan menggantikan mereka yang berhak. 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Warisan yang belum terbagi. Untuk menentukan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak maka dibedakan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak bagi subjek pajak dalam negeri dengan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjek pajak luar negeri secara jelas. Warisan yang belum terbagi menjadi subjek pajak menggantikan kedudukan yang akan menerima warisan tersebut dikemudian hari.3. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 17 .4. Firma. b. atau orang pribadi atau badan yang berada di luar negeri yang melakukan usaha baik melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. 3.2. Subjek Pajak Luar Negeri a. dan Organisasi Internasional yang ditentukan melalui Keputusan dan Peraturan Menteri Keuangan dikecualikan sebagai subjek pajak. 3. Orang pribadi yang berada kurang dari 183 hari dalam 12 bulan.

1. d. diskonto. p. Bunga termasuk premium. komisi. gratifikasi. termasuk yayasan. pemecahan. pekerjaan. k. atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil. atau pekerjaan atau kegiatan.1. kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan. badan pendidikan. atau permodalan dalam perusahaan pertambangan . dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal . Uraian. uang pensiun. 2) keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. peleburan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. persekutuan. h Royalti . atau reorganisasi dengan nama dan dalam bantuk apapun . Hadiah dari undian. yang diterima atau diperoleh termasuk gaji. Deviden. contoh dan non contoh. penggabungan. m. OBJEK DAN NON OBJEK PADA PAJAK PENGHASILAN. pengambil alihan usaha. dan badan lainnya . Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta termasuk : 1) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan. l. i. dan atau anggota yang diperoleh peseroan. atau penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan. maupun dari luar Indonesia. dan imbalan dan jaminan pengembalian utang . termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis. e.1. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva . 4) keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah. dan penghargaan . dengan nama dan dalam bentuk apapun. bonus.dan pembayaran tambahan pengembalian pajak. pemekaran. kecuali ditentukan dalam UU ini : b. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 18 . Premi asuransi . Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. kepemilikan. sekutu. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing . upah. 36 Tahun 2008. Laba usaha . Keuntungan karena pemebebasan utang. dan 5) keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan. Penerimaan dan perolehan pembayaran berkala. j. yang berbunyi : ” Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. 4. c. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa. koperasi. atau imbalan dalam bentuk lainnya. kecuali sampai jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah . dan pembagian sisa hasil usaha koperasi . termasuk : a. bantuan atau sumbangan. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. n. tunjangan honororarium. f. dengan nama dan dalam bentuk apapun. tanda turut serta dalam pembiayaan. KEGIATAN BELAJAR 3. g. badan sosial. Pengertian Penghasilan. 4. sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. baik yang berasal dari Indonesia. Rumusan penghasilan yang termasuk objek pajak dalam Psl 4 ayat (1) UU No. 3) keuntungan karena likuidasi. o. persekutuan.

Hadiah sehubungan dengan pekerjaan. Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam bentuk natura yang pada hakekatnya merupakan penghasilan.  Dalam hal penerima penghasilan adalah wp badan. premi asuransi jiwa. termasuk BUT.  Dalam hal penerima penghasilan adalah wp luar negeri. agar tidak terdapat keraguan dalam pelaksanaannya. c. Penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungan dengan prestasi dalam kegiatan tertentu. Huruf b Dalam pengertian hadiah. Penjelasan Psl 4 ayat (1) UU No. dan bersifat final. hadiah dari pertandingan olah raga dll sebagainya. surplus Bank Indonesia. dan kegiatan seperti hadiah undian tabungan. KEP. yang mengatur hal-hal sebagai berikut : (1) Pengertian : a. gaji. adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan sehubungan dengan pekerjaan. 36 Tahun 2008. adalah hadiah langsung dalam penjualan barang atau jasa sepanjang diberikan kepada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 19 . r. atau sesuai dengan tarip P3B. seperti upah. Tgl 13 Juni 2001. jasa. pekerjaan. b. selain BUT. telah dikeluarkan surat edaran/keputusan Direktur Jenderal Pajak dan terakhir Surat Keputusan Direktur Jnderal Pajak No. Hadiah undian dikenakan PPh sebesar 25% dari jumlah penghasilan bruto. (2) Tarif dan dasar pengenaan : a. misalnya imbalan yang diterima sehubungan dengan penemuan bendabenda purbakala.4 UU PPh. dan kegiatan yang dilakukan oleh penerima hadiah. imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan. asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja atau imbalan dalam bentuk lainnya adalah objek pajak. dan : s. penghasilan dari usaha yang berbasis syariah .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN q. dkenakan PPh Psl 26 sebesar 20% dari jumlah bruto. dan kegiatan lainnya dikenakan PPh dengan ketentuan sbb :  Dalam hal penerima penghasilan adalah orang pribadi wajib pajak dalam negeri. Mengenai perlakuan PPh terhadap hadiah dan penghargaan. d. Hadiah atau penghargaan perlombaan adalah hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan atau adu ketangkasan. b.395/PJ. dikenakan PPh berdasarkan Psl 23 ayat (1) huruf a. dan hadiah sehubungan dengan pekerjaan. tentang Pengenaan Pajak Penghasilan atas Hadiah dan Penghargaan.2001. Yang dimaksud dengan penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungandengan kegiatan tertentu. jasa dan kegiatan lainnya. dikenakan PPh Psl 21 sebesar tarif Psl 17 UU PPh. lengkapnya adalah : Huruf a Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan. (3) Tidak termasuk pengertian hadiah dan penghargaan yang dikenakan PPh. jasa. termasuk hadiah dari undian. Hadiah atau penghargaan perlombaan. yaitu sebesar 15% dari jumlah penghasilan bruto. Hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan melaui undian .

dan apabila mobil dimaksud dbeli salah seorang pemegang sahamnya dengan harga Rp 55. Tentang Badan-Badan dan Pengusaha Kecil yang Menerima Harta hibahan dan Yang tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan disebut bahwa : .000. atau lebih tinggi dari nilai perolehan.maka selisih sebesar Rp 15. atau penyertaan modal.000. yaitu harga jual dengan nilai sisa bukunya juga merupakan objek pajak. Keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah.000.. kemudian sisa bukunya dibebankan sebagai pengurangan penghasilan pada akhir tahun pajak. (6) pelestarian lingkungan hidup. bantuan atau sumbangan.000. dan/atau . dan/atau (7) kegiatan sosial lainnya. termasuk yayasan dan pengusaha kecil dan koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.04/ 1994.000. kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan..000. atau sosial.000. Selanjutnya dalam Keputusan Menteri Keuangan No. Apabila suatu badan dilikuidasi. (4) santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam.-. 604/KMK.000. memiliki sebuah mobil dengan nilai sisa buku Rp 50. dan/atau .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN semua pembeli atau konsumen akhir tanpa diundi dan hadiah tersebut diterima langsung oleh konsumen akhir pada saat pembelian barang atau jasa. kegiatan.Badan pendidikan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan pendidikan formal tingkat taman kanak-kanak dan/atau tingkat dasar. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 20 . tetap merupakan penghasilan badan usaha tersebut. Tgl 21 Desember 1994. dan/atau .maka selisih sebesar Rp15. dan/atau anak serta orang cacat.merupakan objek pajak bagi pemegang saham dimaksud. maka keuntungan berupa selisih antara harga pasar harta tersebut.000. dan/atau menyelenggarakan kegiatan dibidang keagamaan. mobil tersebut dijual dengan harga Rp 65. dan/atau tingkat menengah perguruan tinggi. yang tidak mencari keuntungan .Badan sosial adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan : (1) pemeliharaan kesehatan dan/atau (2) pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo). anak atau orang terlantar. maka selisih harga tersebut merupakan keuntungan yang dikenakan pajak. serta badan keagamaan.. maka nilai jual/penggantian yang digunakan. Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham. sepanjang tidak ada hubungan usaha. Huruf d.000. Apabila wp menjual harta dengan harga yang lebih tinggi dari nilai sisa bukunya. merupakan penghasilan bagi badan usaha tersebut.000. keuntungan dari penjualan harta/aktiva badan tersebut. Misalnya PT Q. dan sejenisnya.000. Dalam hal penjualan harta tersebut terjadi antara badan usaha dengan pemegang sahamnya. dimasukan sebagai penghasilan. sedangkan pemegang saham dengan selisih harga pasar Rp 10. . (3) pemeliharaan anak yatim piatu.mata mengurus tempat ibadah.Badan keagamaan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata. yang tidak mencari keuntungan. dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang mengalihkan. adalah harga pasar. atau badan pendidikan. . (5) pemberian bea siswa dan/atau . tapi cara perhitungannya adalah seluruh nilai jual atau penggantian harta tersebut. kecelakaan. dengan nilai bukunya merupakan objek pajak. kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat.

premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual diatas nilai nominalnya. kecuali jika pembayaran kembali itu. (3) pemberian saham bonus. (2) pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah penyetoran. Termasuk dalam pengertian deviden adalah : (1) pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung.000. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. Huruf f Dalam pengertian bunga termasuk pula premium.000. misalnya dalam hal pemegang saham yang telah menyetor penuh modalnya. pekerjaan. (6) pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetor. . (5) jumlah yang melebihi setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan ybs. dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli obligasi. yang dilakukan tanpa penyetoran. Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran deviden secara terselubung. merupakan objek pajak. atau pembagian SHU koperasi yang diperoleh anggota koperasi.Harta hibahan yang diterima oleh badan-badan dan pengusah kecil termasuk koperasi. (9) bagian laba yang diterima oleh pemegang polis. dan memberikan pinjaman kepada perseroan dengan imbalan bunga yang melebihi kewajaran. Premium tsb merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi. maka selisih antara bunga yang dibayarkan dengan tingkat MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 21 . diskonto. sebagai contoh PBB yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya. . . dengan nama dan dalam bentuk apapun. usaha. maka jumlah sebesar pengembalian tersebut merupakan penghasilan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sepanjang badan sosial tersebut tidak mencari keuantungan. (4) pencatatan tambahn modal yang dilakukan tanpa penyetoran. (10) pembagian sisa hasil usaha koperasi. tidak termasuk sebagai objek pajak penghasilan. (11) pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan. Huruf g Deviden merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham dan pemegang Polis asuransi. sepanjang antara pemberi hibah dengan penerima hibah tidak ada hubungan kegiatan. sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli dibawah nilai nominal. adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah (7) pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba.-(enam ratus juta rupiah).Pengalihan harta hibahan dibukukan sesuai dengan nilai sisa buku harta tsb. pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak.Pengusaha kecil termasuk koperasi adalah pengusaha yang pada saat menerima hibah jumlah nilai aktivanya tidak termasuk tanah dan/atau bangunan tidak melebihi Rp 600. termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut. termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham. Huruf e Pengembalian pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. jika dalam tahun-tahun yang lalu diperoleh keuntungan. (8) bagian laba sehubungan dengan kepemilikan obligasi. Apabila hal ini. dan kepemilikan atau penguasaan. yang karena suatu sebab dikembalikan.

atau sewa gudang. desain. formula atau proses rahasia. atau pita suara untuk siaran radio. kabel. dianggap sebagai deviden. atau teknologi yang serupa. baik dilakukan secara berkala. sedangkan bagi pihak yang berpiutang dapat dibeban kan sebagai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 22 . atau komersial (4) pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak mengunakan hak-hak tersebut pada angka 1. teknikal. berupa : a. kabel. atau siaran televisi. dan penghasilan sewa disini adalah sewa bruto. dan (6). atau model. Huruf j Penerimaan berupa pembayaran berkala. misalnya uang ”alimentasi” atau tunjangan yang dibayarkan seumur hidup kepada mantan isteri berdasarkan keputusan hukum oleh suami selama mantan isteri masih hidup. komersial. merek dagang. (5).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bunga yang berlaku wajar dipasaran. sewa kantor. serat optik. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut diatas. atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya .yangdisalurkan kepada masyarakat melalui satelit. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2. b. atau harta tak gerak. atau karya ilmiah. (2) penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial. sebagai imbalan atas : (1) penggunaan atau menggunakan hak cipta dibidang kesusasteraan. Huruf i Dalam pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan penggunaan harta gerak. penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films). serta optik. misalnya sewa mobil. penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya. Bagian bunga yang dianggap sebagai deviden tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya oleh perseroan yang bersangkutan. Huruf h Royalty adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apapun. maupun tidak. (3) pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah. dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang semula berutang. atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3. Huruf k Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang. atau teknologi yang serupa. film atau pita Video. rencana. atau ilmiah . c. yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit. paten. untuk siaran televisi atau radio. penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya. kesenian. penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi. industrial. sewa rumah.

Huruf p Tambahan kekayaan neto pada hakikatnya merupakan akumulasi dari penghasilan. Apabila diketahui adanya penambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak. Kredit Usaha Rakyat (KUR). 79/KMK. maka tambahan kekayaan neto tersebut merupakan penghasilan yang jadi objek pajak. Kegiatan usaha berbasis syariah memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang bersifat konvensional. misalkan iuran yang besarnya menurut jumlah (volume) ekspor. Tgl 23 Mei 2008. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 23 . Huruf l Keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistim pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat azas. Undang-undang PPh. Huruf q. tetapi penghasilan itu belum dikenakan pajak. serta kredit kecil lainnya sampai dengan jumlah tertentu dikecualikan sebagai objek pajak. merupakan penghasilan. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wp. Huruf n Dalam pengertian premi asuransi termasuk premi reasuransi. tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. menganut perinsip pemajakan yang sangat luas. dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pembebasan utang debitur kecil misalnya Kredit Usaha Keluarga Prasejatera (Kukesra). dan inlah yang menjadi objek pajak pada perkumpulan. atau omzet penjualan barang. Huruf m Selisih lebih karena penilain aktiva sebagaimana dimaksud Psl 19 UU. kredit untuk perumahan sangat sederhana. Atau satuan produksi. yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak dimaksud. merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan wp tersebut untuk ikut andil bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan. baik yang telah dikenakan pajak maupun yang belum dikenakan pajak. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.03/2008. Namun.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN biaya. Huruf o Iuran yang dibayar oleh anggota perkumpulan yang dihitung berdasarkan volume kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari anggota tersebut. Kredit Usaha Tani (KUT). Namun penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha berbassis syariah tersebut tetap merupakan objek pajak menurut UndangUndang ini. Pengertian penghasilan dalam UU ini tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu. Penilaian kembali aktiva tetap terakhir diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap penambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wp dari manapun asalnya.PPh.

Dengan demikian apabila dalam suatu tahun pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian. hubungan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 24 . Contoh-contoh penghasilan yang disebut dalam ketentuan ini. digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. koperasi. notaris. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak dan tidak dikenakan Pajak penghasilan. kecuali kerugian yang diderita diluar negeri. maka penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan dengan tarif umum. penghasilan dari modal. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. 3. 4. keuntungan penjualan harta atau yang tidak digunakan dalam usaha. sewa. yaitu : a. pekerjaan. penghasilan dapat dikelompokan menjadi : 1. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. yang diterima lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak. akumtan. Dilihat dari penggunaannya. penghasilan dari praktek dokter. penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan wp. atau dikecualikan dari objek pajak. dll. kepemilikan. seperti gaji. Dalam penjelasan Psl yang bersangkutan adalah sebagai berikut : Huruf a Bantuan atau sumbangan bagi pihak yang menerima bukan merupakan ojek pajak. berupa harta gerak maupun harta tak bergerak seperti deviden. aktuaris. atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Namun demikian apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak. penghasilan lain-lain. atau badan pendidikan. dan sebagainya. dll sebagainya. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil. penghasilan dari kegiatan usaha baik orang pribadi maupun badan. Karena UU ini menganut pengertian penghasilan yang sangat luas. maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya (kompensasi horizontal). pengacara. 2. hubungan usaha. seperti hak atas bayaran berkala.1. dan 2. bunga. pembebasan utang.2. royalti. badan keagamaan. bantuan atau sumbangan.1. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dimaksudkan untuk memperjelas pengertian tentang penghasilan yang luas tidak terbatas pada contoh contoh yang disebut diatas saja. dengan tarif yang bersifat final. 4. Sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. 36 Tahun 2008. atau badan sosial termasuk yayasan. maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada wp. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak. sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja. honororarium. diatur dalam Psl 4 ayat (3) UU No.

bagi yg mengalihkan. pemberian bea siswa ..04/1994. yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak serta sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama lainnya yang diakui di Indonesia yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak sama seperti bantuan atau sumbangan. f. Yang dimaksud dengan zakat adalah zakat sebagaimana dimaksud UndangUndang yang mengatur mengenai zakat. misalnya PT A sebagai produsen suatu jenis barang yang bahan utamanya diproduksi oleh PT B. hubungan kepemilikan. Hubungan usaha antara pihak yang memberi dengan pihak yang menerima dapat terjadi. Sepanjang badan sosial tersebut tidak mencari keuntungan. yang tidak mencari keuntungan . Selanjutnya dalam keputusan Direktur Jenderal Pajak No. dan sejenisnya. tidak termasuk sebagai objek pajak. jumlah nilai aktivanya tidak termasuk tanah dan/atau bangunan tidak lebih Rp 600. anak dan/atau orang cacat. Zakat yang diterima oleh badan amil zakat. mengenai hal tersebut diatas. b. Sumbangan. atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan . kegiatan sosialnya. Apabila PT B. kepemilikan. Harta hibahan dimaksud dibukukan. Badan pendidikan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan : a. dan pengusaha kecil termasuk koperasi. Menteri Keuangan telah menerbitkan peraturan pelaksanaannya. memberikan sumbangan bahan baku kepada PT . merupakan objek pajak. dan/atau e. kecelakaan. dari WP tidak menyelenggarakan pembukuan. adalah sama dengan nilai atau harga perolehan harta tsb. tidak ada hubungan usaha. bagi yang mengalihkan harta tersebut. Ditambahkan disini.Apabila nilai atau perolehan harta. dan/atau . sepanjang antara pemberi hibah dengan penerima hibah tersebut. Pemeliharaan kesehatan dan /atau. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan tersebut. Penetapan Dasar Nilai Bagi yang Menerima Pengalihan Harta yang diperoleh dari Bantuan. atau lembaga amil zakat. 11/PJ/1995. 604/KMK. Pengusaha kecil termasuk koperasi adalah pengusaha yang pada saat akan menerima hibah. Pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo). Pemeliharaan anak yatim piatu. sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja. santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam. - - Dikemukakan lebih lanjut bahwa harta hibahan yang diterima badan-badan tsb diatas.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN kepemilikan atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. dan/atau c. pekerjaan.-(enam ratus juta rupiah). atau penguasaan. yaitu Keputusan Menteri Keuangan No. oleh penerima hibah sesuai dengan nilai sisa buku harta hibahan. Harta hibahan bagi pihak yang menerima bukan merupakan objek pajak. dan badan keagamaan. diketahui. dan Warisan. atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. d. Tgl 1 Pebruari 1995. maka sumbangan bahan baku yang diterima oleh PT A. antara lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan : Badan keagamaan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata mengurus tempat ibadah dan/atau menyelenggarakan kegiatan dibidang keagamaan. hubungan usaha. apabila diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. yang memenuhi syarat bukan sebagai objek pajak. Hibahan. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 25 . Tgl 24 Desember 1994.000. anak atau orang terlantar. dikemukakan bahwa : .

Namun karena harta tersebut. berdasarkan surat keterangan dari kepala KPPBB. - b. maka berdasarkan ketentuan ini. apabila diperoleh sesudah tahun 1986. fasilitas pengobatan. rumah. atau sebelumnya. yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak 1986.. kecuali diberikan oleh bukan wajib pajak. Warisan . termasuk setoran tunai. Dalam penjelasan Psl yang bersangkutan adalah sebagai berikut : Huruf c Pada prinsipnya harta. sama dengan besarnya NJOP. maka nilai perolehan bagi yang menerima harta tersebut adalah sama besarnya. wajib pajak yang dikenakan pajak secara final atau wajib pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. a. namun tahun perolehannya diketahui. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti beras. apabila tanah dan/atau bangunan tersebut diperoleh yang mengalihkan dalam tahun 1986. harta berupa tanah dan/atau bangunan tidakdiketahui. asuransi dwiguna. adalah sama besarnya dengan 60% dari harga wajar harta tersebut pada saat terjadinya pengalihan. Apabila yang memberi imbalan berupa natura atau kenikmatan tersebut. bukan wp. atau wp yang dikenakan PPh Final. d. dan wp yang dikenakan berdasarkan norma MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 26 . dan asuransi bea siswa. jika SPPT PBB tidak ada. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan. atau . diterima sebagai pengganti saham atau tanda penyertaan modal. e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan. bukan merupakan objek pajak. Untuk harta selain tanah dan/atau bangunan. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari wajib pajak atau Pemerintah. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan harta tersebut adalah . dan sebagainya. atau . Huruf d Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN - - Apabila tidak diketahui. sama besarnya dengan NJOP yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak diperolehnya harta tersebut. asuransi jiwa. apabila nilai atau harga perolehan tidak diketahui. seperti penggunaan mobil. dan lain sebagainya. c. dengan NJOP yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak yang paling awal yang tertulis atas nama yang mengalihkan harta tersebut. berkenaan dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh bukan dalam bentuk uang. asuransi kecelakaan. atau jika SPPT PBB tidak ada. dan imbalan dalam bentuk kenikmatan. c. bagi yang mengalihkan. harta yg diterima tsb bukan merupakan objek pajak. gula. yang diterima oleh badan merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi badan tersebut. b. berdasarkan surat keterangan dari Kepala KPPBB Apabila nilai atau harga perolehan dan tahun perolehan bagi yg mengalihkan. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan harta tersebut. sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.

iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : 1) merupakan perusahaan mikro. Huruf e Penggantian santunan atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan. dan 2) bagi perseroan terbatas. yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer. dihapus. dari penyertaannya pada badan usaha lainnya. yaitu bahwa premi asuransi yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam perhitungan penghasilan kena pajak. BUMN dan BUMD.. k. koperasi. atau kenikmatan lainnya. Penjelasan dari huruh f sampai dengan huruf k adalah sbb : Huruf f Berdasarkan ketentuan ini. sebagai wajib pajak dalam negeri. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g. menengah. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura. Yang dimaksud dengan BUMN/ dan BUMD dalam ayat ini. maupun pegawai. deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas. firma. dan asuransi bea siswa. dan 2) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. sebab perwakilan diplomatic yang bersangkutan bukan merupakan wajib pajak. dan penerima deviden tersebut memperoleh penghasilan dari usahan riil di luar penghasilan yang berasal dari penyertaan tersebut. dari jumlah modal yang disetor. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 27 . tidak termasuk objek pajak. Pegawai tersebut memperoleh kenikmatan menempati rumah yang disewa oleh perwakilan diplomatic tersebut. g. yang menerima deviden kepemilikan saham pada badan yang memberikan deviden paling rendah 25% (dua puluh lima persen). BUMN dan BUMD. asuransi jiwa. yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham. kecil. h.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perhitungan/khusus/deemed profit. termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif . i. tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerima atau yang memperolehnya. antara lain adalah perseroan (Persero). dan BUMN/BUMD. dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menkeu. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat : 1) deviden berasal dari cadangan laba yang ditahain . asuransi kecelakaan. Misalnya seorang penduduk Indonesia menjadi pegawai pada suatu perwakilan diplomatic asing di Jakarta. atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . kenikmatan – kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi pegawai tersebut. berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yg didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. f. dengan penyertaan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen). deviden yang dananya berasal dari laba setelah dikurangi pajak dan diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wp dalam negeri. asuransi dwiguna. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Psl 9 ayat (1) huruf d. perkumpulan. koperasi. j. bukan merupakan objek pajak . dan kongsi. baik yang dibayar oleh pemberi kerja. maka imbalan dalam bentuk natura/kenikmatan. bank pemerintah bank pembangunan daerah. persekutuan.

hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan. seperti orang pribadi baik dalam negeri. sertifikat. yang akan dibayarkan kembali kepada mereka pada waktunya. Jika dana pensiun yang dimaksud. serta sertifikat Bank Indonesia. SE.  penghasilan dana pensiun dari modal yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. merupakan objek pajak dan harus dipotong PPh Psl 23 UU Pajak penghasilan oleh pemberi hasil. 651/KMK. Pada dasarnya iuran yang diterima oleh dana pensiun tersebut merupakan dana milik dari peserta dana pensiun. atau yang dibayar pemberi kerja termasuk pengembangannya. Apabila ada yang berasal dari pihak ketiga. dan tabungan.Direktur Jenderal Pajak No. baik atas beban sendiri maupun yang ditanggung pemberi kerja. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 28 . Selanjutnya dalam SE. dan sebagainya. atau uang pribadi pengurus dana pensiun. maka penghasilan yang diterima atau diperoleh dana pensiun menjadi objek pajak.4/1995. dan oleh karena itu iuran tsb dikecualikan sebagai objek pajak. maupun luar negeri. dinyatakan sebagai berikut : Penghasilan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan yang bukan merupakan objek pajak PPh adalah :  iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang dibayar oleh pemberi kerja maupun oleh pegawai. dan tabungan. pengecualian sebagai objek pajak berdasarkan ketentuan ini hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan Menteri Keuangan. bunga dan/atau deviden dari obligasi dan/atau saham yang diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. dananya harus bersumber dari dana yang terkumpul dari iuran pensiun yang diterima atau diperoleh dana pensiun. Huruf g Pengecualian sebagai objek pajak berdasarkan ketentuan ini. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. Yang dikecualikan dari objek pajak adalah iuran yang diterima dari peserta pensiun. menerima atau memperoleh bunga atau diskonto. firma. yang berasal dari deposito.  bunga dan obligasi yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia. maka penghasilan berupa deviden atau bagian laba tersebut tetap merupakan objek pajak. Huruf h Sebagaimana tersebut dalam huruf g.  deviden dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat di bursa efek di Indonesia. perseroan komanditer.16/PJ. Yang dikecualikan dari objek pajak dalam hal ini adalah penghasilan dari modal yang ditanamkan di bidang-bidang tertentu berdasar kan Keputusan Menteri Keuangan. yayasan dan orgnisasi sejenis. Pengenaan pajak atas iuran tersebut berarti mengurangi hak para peserta pensiun. Tgl 29 Desember 1994. maka penghasilan tersebut. Penghasilan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dari penanaman modal yang tidak termasuk objek pajak sebagaimana dimaksud Keputusan Menkeu seperti disebut diatas. Tgl 23 Maret 1995.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Perlu ditegaskan bahwa dalam hal penerima deviden atau bagian laba adalah wajib pajak selain badan-badan tersebut diatas. atau SBI.04/1994. pada bank di Indonesia.  bunga dan diskonto dari deposito. Tentang Bidang Penanaman Modal tertentu yang memberikan penghasilan kepada dana pensiun yang tidak termasuk sebagai objek PPh adalah sebagai berikut .

maka penyertaan modal tersebut diarahkan pada perusahaanperusahaan yang belum mempunyai akses ke bursa efek. Oleh karena itu bagian laba yang diterima oleh para anggota badan tersebut bukan lagi menjadi objek pajak. atau yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam sektor-sektor tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dengan demikian penghasilan yang diterima atau diperoleh dana pensiun dimaksud dapat dikelompokan menjadi :  Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak . Kalau tidak demikian halnya. tidak termasuk objek pajak. akan ditetapkan secara perbandingan. Perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha perusahaan modal ventura. (lima miryar rupiah). Apabila pasangan usaha perusahaan modal ventura memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f. bagian laba yang diterima atau diperoleh dari perusahaan pasangan usaha. Sehubungan dengan perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha dari perusahaan modal ventura. 4. Apabila perusahaan pasangan usaha menjual sahamnya di bursa efek. wajib membuat pencatatan yang terpisah dalam pembukuannya. dan sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek Indonesia.000. yg berisikan antara lain: 1. yang merupakan himpunan para anggotanya dikenakan pajak sebagai satu kesatuan. adalah suatu perusahaan yang kegiatan usahanya membiayai badan usaha (sebagai pasangan usaha ) dalam bentuk penyertaan modal untuk jangka waktu tertentu. maka perhitungan biaya yang boleh dikurangkan/dibebankan dari penghasilan bruto. usaha atau kegiatan perusahaan pasangan usaha tersebut diatur oleh Menteri Keuangan. misalnya untuk meningkatkan ekspor non migas. perusahaan modal ventura dari penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha.000. Huruf k Perusahaan modal ventura (ventura capital). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .000. adalah perusahaan yang penjualan bersihnya setahun tidak melebihi Rp 5. Huruf i Untuk kepentingan pengenaan pajak. bukan merupakan objek Pajak Penghasilan. antara penghasilan yang bukan objek pajak dengan penghasilan yang menjadi objek pajak. yaitu pada tingkat badan tersebut. Menteri Keuangan. yang memenuhi persyaratan tersebut diatas.04/1995. deviden yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura bukan merupakan objek pajak. dilakukan selama perusahaan pasangan usaha tersebut belum menjual saham di bursa efek dan/atau untuk jangka waktu tidak melebihi 10 tahun. 3. Tgl 2 Juni 1995. telah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan No. perusahaan modal ventura harus menjual sahamnya pada perusahaan pasangan usaha HALAMAN 29 2.  Penghasilan lainnya yang merupakan objek pajak Dana pensiun yang memperoleh penghasilan seperti itu. Mengingat perusahaan modal ventura merupakan alternatif pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal. Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh. dengan syarat perusahaan pasangan usaha tersebut merupakan perusahaan kecil. Agar kegiatan perusahaan modal ventura dapat diarahkan kepada sektor-sektor kegiatan ekonomi yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan. Berdasarkan ketentuan ini. 250/KMK. badan-badan sebagaimana disebut dalam ketentuan ini. Penyertaaan modal perusahaan modal ventura pada setiap perusahaan pasangan usaha. menengah. Tentang perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha dari perusahaan modal ventura dan perlakuan perpajakan atas penyertaan modal perusahaan modal ventura.

dan dalam hal apa pula. Jelaskan yang menjadi objek pajak pada Pajak Penghasilan. 4. maupun dari luar Indonesia.3. Penanaman kembali sisa lebih dimaksud harus direalisasikan paling lama dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak sisa lebih tersebut diterima atau diperoleh. apakah yang dimaksud tambah kekayaan neto. selambat-lambatnya 36 (tiga puluh enam) bulan. Pendidikan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan bersifat terbuka kepada siapa saja dan telah mendapat pengesahan dari instansi yang membidanginya. Pengertian ”penghasilan”adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis. natura dan kenikmatan tidak dianggap objek pajak. setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka (2) atau angka (4). dengan nama dan dalam bentuk apapun. Latihan 3 Jawablah pertanyaan berikut ini secara singkat tetapi jelas. Terangkan jenis pajak apa yang pengembaliannya merupakan objek pajak mengapa demikian halnya. Huruf l Bahwa dalam rangka mendukung usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia melaluipendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. sepanjang sisa lebih tersebut ditanamkan kembali dalam bentuk pembangunan gedung dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan dimaksud. Huruf m Bantuan atau santunan yang diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kepada wajib pajak tertentu adalah bantuan sosial yang diberikan khusus kepada wajib pajak atau anggots masyarakat yang tidak mampu atau sedang mendapat bencana alam atau tertimpa musibah. Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura pada perusahaan pasangan usaha. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak dimaksud. HALAMAN 30 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . Jawaban didiskusikan dengan sesama peserta Diklat. dan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak. terangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi tidak menjadi objek pajak dimaksud. yang diterima atau diperoleh wajib pajak. Untuk menjamin tercapainya tujuan pemberian fasilitas ini. 6.      4. dalam hal apakah natura dan kenikmatan dianggap sebagai objek pajak. kecuali apabila bagian laba tersebut memenuhi ketentuan Psl 4 ayat (3) huruf f UUPPh. Perusahaan modal ventura wajib membukukan secara terpisah penghasilan yang merupakan objek pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. merupakan objek pajak.2. dan apa syaratnya untuk dikenakan pajak. baik yang berasal dari Indonesia. sejak perusahaan pasangan usaha tsb diizinkan oleh BAPEPAM menjual sahamnya di bursa efek. maka lembaga atau badan yang menyelenggarakan pendidikan harus bersifat nirlaba. Untuk itu dipandang perlu memberikan fasilitas perpajakan berupa pengecualian pengenaan pajak atas sisa lebih yang diterima atau diperoleh. dan bantuan bukan merupakan objek pajak. Hibah. Rangkuman 1.

atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan pemerintah. Apabila diketahui adanya penambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak. honororarium. 4. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. walaupun mungkin belum dipatenkan. sedangkan bagi pihak yang berpiutang. notaris. 9. maupun harta tak gerak. c. akturis. termasuk koperasi dan yayasan yang ditetapkan oleh pemerintah. deviden. atau pengusaha kecil. Pada dasarnya imbalan berupa royalti terdiri dari 3 kelompok . Tambah kekayaan neto pada hakekatnya merupakan akumulasi penghasilan baik yang telah dikenakan pajak maupun yang belum dikenakan pajak. seperti gaji. dan sebagainya. termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun. hak atas bayaran kala dan lain sebagainya. keuntungan dari penjualan atau pengalihan harta. d. Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada wajib pajak. maka penghasilan dapat dikelompokan menjadi : a. terdapat 12 jenis penghasilan yg termasuk dalam pengertian deviden. sepanjang tidak hubungan usaha. b. Pajak Penghasilan menganut pengertian penghasilan yang sangat luas. sewa. 10. bagi pihak yang semula berutang. 5. dan oleh badan keagamaan. seperti pembebasan utang. 36 Tahun 2008. pengacara. atau badan pendidikan. dan lain sebagainya. sewa mobil.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. kegiatan dan kepemilikan. dan para penerima zakat yang berhak. serta harta hibahan yang diterima keluarga sedarah dalam garis keturunan satu derajat. Penghasilan dari usaha dan kegiatan . Penghasilan dari modal. hadiah. Deviden merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham dan pemegang polis asuransi atau pembagian SHU koperasi yg diperoleh anggota koperasi . sewa kantor dll nya. 8. yang tidak digunakan dalam usaha. Penghasilan lain-lain. atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai penghasilan. yang diterima oleh badan amil zakat. misalnya uang alimentasi atau tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 31 . hak atas harta berwujud. royalti. sumbangan. maka tambahan tersebut akan menjadi objek pajak. 7. Sesungguhnya pengertian penghasilan yang dianut dalam UU No. sehubungan dengan penggunaan harta gerak. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak. Dalam pengertian sewa. yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan hak atas harta tak berwujud. 36 Tahun 2008. seperti bunga. misalnya sewa alat. akuntan.antara lain bantuan. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak seperti yang diatur dalam Psl 4 ayat (3) UU NO. 6. termasuk zakat. 3. tetapi belum dikenakan PPh. Penerimaan berupa pembayaran berkala. dapat dibebankan sebagai biaya.. dan informasi yang belum diungkapkan secara umum. badan sosial. penghasilan dari praktek dokter.

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 32 . beserta penjelasannya dapat dilihat pada uraian dan penjelasan dari penghasilan-penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Perincian dari penghasilan-penghasilan yang tidak termasuk objek pajak. beserta dengan contoh-contoh yang diberikan. dapat dipelajari dan dibaca serta dipahami.

juncto PP No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kegiatan belajar 4. 5. 8. Uraian. dan tabungan-tabungan lainnya. 5 Tahun 2002. serta jenis-jenis penghasilan tertentu lainnya. 4 Tahun 1995. Usaha Jasa Konstruksi dan Jasa Konsultan. Tentang PPh. Tgl 21 Desember 2000. PP No. Atas Penghasilan atas Bunga dari Obligasi yang diperdagangkan/diperjual belikan di Pasar Modal. atau pemungutan atas jenis-jenis penghasilan tersebut diatur tersendiri Peraturan Pemerintah. 140 Tahun 2000. penghasilan berupa bunga deposito. juncto PP No. PPh. Tentang Pembayaran PPh. 2. Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan. telah diterbitkan Peraturan Pemerintah sebagai berikut : 1. PP No. Tabungan masyarakat yang disalurkan melalui perbankan dan bursa efek merupakan sumber dana bagi pelaksanaan pembangunan.per tersebut juga mendasari. PP No. Atas Penghasilan dari penjualan dan Pengalihan hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Dengan mempertimbangkan kemudahan dalam pelaksanaan pengenaan serta agar tidak menambah beban administrasi baik bagi wajib pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 33 . atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di BE. di bursa efek. pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Tgl 15-12-2000. termasuk sifat. Atas hadiah Undian. Tentang PPh. 4. 29 Tahun 1996. Tgl 23 -12-1997. Dalam penjelasan ayat tersebut dikemukakan. pemotongan atau pemungutan. UU –PPh. Atas Bunga Deposito. penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya. 7. perlu diperlakukan tersendiri dalam pengenaan pajaknya. 79 Tahun 1999. tentang Perubahan Peraturan Tentang Pembayaran PPh. 6. PP No. diberikannya perlakuan tersendiri terhadap pengenaan pajak atas penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. PP No. Tgl 21-12-2002. Tgl 15 Desember 2000. PP No. 27 Tahun 1996. dikemukan : Bahwa atas penghasilan berupa bunga deposito. 5. Tgl 8 Pebruari 1995.1. serta penghasilan tertentu lainnya. Berdasarkan Psl 4 ayat (2). dan tabungan lainnya. merupakan objek pajak. maka pengenaan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini dapat bersifat final. besarnya. 139 Tahun 2000. Sehubungan dengan ketentuan Psl 4 ayat (2) ini. 41 Tahun 1994. dan penjelasan. 6 Tahun 2002. Tentang PPh. 14 Tahun 1997. 3. JENIS-JENIS PENGHASILAN YANG PENGENAAN PAJAKNYA BERSIFAT FINAL SEPERTI DIATUR DALAM Psl 4 ayat (2). sehingga pengenaan pajak yang berasal dari tabungan masyarakat tersebut. PP No. Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usahanya. Tgl 18 April 2002. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek. juncto PP No. Oleh karena itu pengenaan pajak penghasilan. Pertimbangan. penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. 131 Tahun 2000. dan tatacara pelaksanaan pembayaran. dan Tabungan serta Diskonto SBI. tentang PPh. 132 Tahun 2000. juncto PP No. tentang PPh. bahwa sesauai dengan ketentuan ayat (1). penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya. PP No.

11. Tambahan bagi pemilik PP No.04/98. saham pendiri. Jumlah bruto penjualan/ PP 27 /1996. Psl 23 ayat (4) g. Kep. milik Swasta. Premix 20 % 0. bagi WP Luar Negeri . PP-132/2000. Bagi WP Kep 392/kmk badan.5% 0. Keuangan Untuk pelaksana konstruksi No. Tarif 20%. Hadiah Undian Bunga simpanan anggota Koperasi 25% 15% Jumlah bruto hadiah (barang atau uang). jenis-jenis penghasilan (objek) pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat Final dapat dilihat ditabel dibawah ini : No.6/2002./2001.79/1999. Solar. 4. OP dan WP Badan. 20%. Minyak 03. 5. 522/ KMK. Keterangan Jumlah bruto bagi WP Dalam Negeri. Bunga Obligasi & Diskonto SBI. selain Yayasan dan 04/1996. 529/PJ. KMK-566/99. 0.DJP. SE-43/PJ. pengalihan. Kep. Kep. Psl 4 ayat (2). Jumlah bruto transaksi PP 14Tahun penjualan saham 1997.000. Atas jasa pelaksana yang Peraturan Pemedilakukan oleh penyedia jasa Tah No. Premium. 10% 2% 4% 3% 4% Psl 4 ayat (2). Seluruh bunga diatas Rp 240.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Secara terperinci. Jenis Penghasilan. gas Lpg dan 392/KMK. 3. Untuk perencana Konstruksi atau pengawasan Konstruksi MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 34 ./2001. Dasar Hukum Psl 4 ayat (2) PP 131/2000. Harga banderol. dari jumlah bruto. Bunga Deposito/ Tabungan dan Diskonto SBI. Penghasilan dari Persewaan tanah dan atau bangunan Usaha jasa konstruksi . Tanggal Untuk perencana Konstruk si atau pengawasan yang 20 Nopember dilakukan oleh yang memiliki 2008. Final. 10. 51 dengan kualifikasi usaha kecil Tahun 2008.7Kep penjualan rokok DN.03/2008 yang disebut diatas. Jumlah bruto yang diPsl 4 ayat (2) terima/diperoleh WP PP No. dari Sda. Kep 51/KMK 04/2001.03/ pelumas.15% 5% 8. Kep tanah. PP No. Penjualan bukan saham pendiri Penyalur/Dealer/ Agen Produk Per tamina. PremixPsl 22. 6. 1. 2001. Pelaksana Konstruksi oleh Yo Penyedia jasa Konstruksi Peraturan yang tidak memiliki Menteri kualifikasi. 9. yoncto SPBU Pertamina SPBU Kep 254/kmk.5/2002. PP sejenisnya tidak bersifat No. 7./sebulan. 25% 0. yo Kep-217/PJ/ 2001.30% 0.1% Jumlah bruto bunga. selain penyedia Kontruksi 187/PMK. Penyalur/Agen/Dis tributor rokok Penjualan / Pengalihan hak atas Tanah /Bangunan. kualifikasi Usaha. atau ta rip P3B. No. Penjualan saham pendiri. 30% 0./1998 2.227/2002.81/KMK/ 04/1995.4/1995.

bagi WP PMK No. Yo Kep 416/ KMK./2001. Tgl 15 tarip P3B April 2006. dan Pemerintah Negara (SPN). 23 Mei 2008. Selisih penilaian 10% Dari selisih penilaian Psl 19 UU. Tgl 28-4-2008 21.64% Penghasilan bruto.03/2008 geri.545/PJ/ 2000. yo Kep. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 35 . atau SPT Wajib Pajak Badan. 0. 15. POLRI Ajun Inspektu keAtas. Psl 4 ayat (2) PP 149/2000. tap perusahaan 15% Tambahan kalau dijuPMK N0. Honororarium ke Pada PNS Gol. 13.04/ 1996.serah Penjualan saham milik perusahaan mdal ventura 5% 10% 15% 25% 1.Kep 667 /PJ. Psl 15 UU. Deviden yang dibagi UU PPh No. 17. Uang Pesangon.4/95 19.04/ 1996. diatas 50 jt s/d 100 jt.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6% yang tidak memiliki kualifikasi usaha. 0. Peraturan Perbendaharaan DN).44% Nilai Ekspor Bruto 16.Psl 15 UU. Terhadap penghasilan yang dikenakan PPh.4/95 18. atau pengalihan saham Kep 250/1995 SE-33/PJ.03/2008 waktunya. THT. Psl Dalam Negeri 17 ayat (2c). 36 kan kepada WP OP 10% Deviden Bruto Tahun 2008. 2.04/ 1996. Sesuai dg 2006. Final. Psl 15 UU. Penghasilan bruto. 63/ Luar NePMK. akan tetapi tetap dilaporkan wajib pajak pada SPT Orang Pribadi. TNI Peltu ke Atas dari APBN/ APBD. diatas 100 jt s/d 200 jt diatas 200 juta. PP 4/1995. dibayarkan sekaligus Penghasilan WP yang bergerak di bidang usaha pelayaran Dlm Negeri Penghasilan WP yang bergerak usa ha pelayaran/penerbangan LN Perwakilan Dagang Asing yang mempunyai kantor di Indonesia.lll A Keatas. 5% Nilai pasar atau NJOP mana yang tertinggi.2% Diatas 25 jt s/d 50 jt. Nilai bangunan yang diserahkan selesai perjanjian bangun. 79/ al/dialihkan sebelum PMK. 15% Penghasilan Bruto. yo kembali aktiva tekembali. Psl 15 UU. Kep.guna. yo Kep 634/ KMK. 14. 12. Psl 21 ayt (1) PP 45 Tahun 1994. Diskonto atas Surat 20% (WP Dari imbalan bunga. 11 Tahun ORI. 20. penghasilannya tidak digabungkan dengan penghasilan yang pengenaan PPh nya tidak Final. Kep 248/ KMK. Uang pensiun seka ligus. PMK 15 Tahun 2005. SUN 20% atau No. 417/ KMK. KMK 486/02.04/95 SE-38/PJ.1% Jumlah bruto transak Psl 4 ayat (2) si penjualan saham. JHT.

namun wajib pajak tetap melaporkannya didalam SPT Tahunan. diterbitkan peraturan pelaksanaannya mulai dari PP.2. Final. atau dilunaskan sendiri oleh wajib pajak. Final.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. untuk memudahkan pemenuhan kewajiban pajaknya dalam bentuk pemotongan. 5. baik SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi. Undang-Undang Pajak Penghasilan. 3. sampai dengan Keputusan/Peraturan Direktur Jenderal Pajak. maupun wajib pajak badan. Final sehubungan dengan pengisian SPT Tahunan. maupun Wajib Pajak Badan. Bagaimana pertanggungan jawab PPh. pemunugtan. Jenis-jenis Pajak Penghasilan yang bersifat Final. tarip dan dasar pengenaan pajaknya. Final diatur.3. Final. Final Jelaskan pengertian Bangun. Keputusan/Peraturan Menteri Keuangan. Objek pajak yang dikenakan Final tidak digabungkan dengan penghasilan wajib pajak yang PPh nya tidak bersifat final MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 36 . 4. 2. maka diatur tatacara pelunasannya baik dari segi perhitungan. disebut PPh. yang umumnya menggunakan tarif tunggal. disamping menggunakan Psl seperti disebut diatas. yang diatur dalam Psl 4 ayat (2). Sekalipun sifatnya final. 1. 5. baik bagi WP Orang Pribadi. Jelaskan dimana ketentuan PPh. Sebutkan beberapa jenis objek pajak yang termasuk PPh. Rangkuman Terhadap transaksi-transaksi atau objek pajak tertentu. Guna dan Serah (BOT). Untuk merealisir PPh. Tatacara pembayaran pajak dimaksud. Apa yang dimaksud dengan PPh. sampai dengan saat modul ini dibuat. Latihan 4. terdapat 21 (dua puluh satu) jenis. yang tidak menyulitkan wajib pajak dalam melaksanakannya. pada lampiran-lampiran yang telah disediakan.

Huruf b Berdasarkan ketentuan ini penghasilan kantor pusat yang berasal dari usaha atau kegiatan. penjualan barang dan pemberian jasa yang sejenis dengan apa yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap.PPh. Penjualan barang yang sejenis..1. misalnya kantor pusat di luar negeri yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia. yang menyebutkan sebagai berikut : Yang menjadi objek pajak bentuk usaha tetap adalah : a) penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut. Didalam Psl 5 ayat (1) Undang-Undang No. penjualan barang. dikenakan pajak di Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap tersebut. dan dari harta yang dimiliki atau dikuasainya. OBJEK PAJAK BENTUK USAHA TETAP (BUT). Ayat (1). sewa. termasuk dalam ruang lingkup usaha atau kegiatan yang dapat dilakukan bentuk usaha tetap. premi swap dan imbalan sehubungan dengan jamainan pengembalian utang. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia . Penghasilan sebagaimana dimaksud Psl 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat dimaksud dapat berupa. c) penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. Dengan demikian semua penghasilan tersebut dikenakan pajak di Indonesia. Pemberian jasa oleh kantor pusat yang sejenis dengan jasa yang diberikan oleh bentuk usaha tetap. 36 Tahun 2000. Usaha atau kegiatan yang sejenis dangan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap misalnya.  Royalty.  Hadiah dan penghargaan. terjadi apabilansebuah bank diluar Indonesia yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia memberikan pinjaman secara langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya di Indonesia. karena pada hakekatnya usaha atau kegiatan tersebut. b) penghasila kantor pusat. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud. Kegiatan Belajar 5. memberikan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 37 .  Deviden  Bunga. atau kegiatan. Huruf a Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal dari usaha atau kegiatan. diskonto. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. misalnya kantor pusat perusahaan konsultan di Indonesia. pekerjaan. dari usaha atau kegiatan. menjual produk yang sama dengan produk yang dijual oleh bentuk usaha tetap tersebut. secara angsung tanpa melalui bentuk usaha tetap nya di Indonesia. Penjelasan Psl 5 Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. diatur Objek Pajak bentuk usaha tetap (BUT). dari harta yang dimiliki atau dikuasai . dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap. termasuk premium. dengan yang dijual oleh bentuk usaha tetap. dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta  Imbalan sehubungan dengan jasa. 6.

3) bunga. terutama yang berkenaan dengan objek pajak seperti dimaksud huruf b dan c. dan c. paten. KEP-62/PJ. Huruf c Penghasilan seperti dimaksud dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. Dalam Psl 5 ayat (2) diatur tentang biaya-biaya yang diperkenankan. menagih. tidak dianggap sebagai objek pajak. maka atas penggunaan hak tersebut X Inc. menerima imbalan berupa royalti dari PT Y Indonesia. Isi keputusan tersebut antara lain sebagai berikut : 1) biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN konsultasi yang sama dengan jenis jasa yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap tersebut secara langsung. kecuali yang berkenaan dengan usaha perbankan . juga memberikan jasa manajemen kepada PT Y. atau hak-hak lainnya. dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap di Indonesia. penggunaan merek dagang oleh PT Y mempunyai hubungan efektif dengan bentuk usaha tetap di Indonesia. dan memelihara penghasilan. melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada klien di Indonesia. yang berupa royalti tersebut diperlakukan sebagai penghasilan bentuk usaha tetap. yang diterima atau diperoleh dari kantor pusat. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 38 . dijelaskan bahwa dalam menentukan besarnya laba (penghasilan) suatu bentuk usaha tetap : a. boleh dikurangkan dari bentuk usaha tetap. tersebut diatas . dan oleh karena itu penghasilan X Inc. adalah biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat yang berkaitan dan dalam rangka untuk menunjang usaha dan kegiatan BUT yang bersangkutan untuk mendapatkan. pembayaran kepada kantor pusat yang tidakdiperbolehkan dibebankan sebagai biaya adalah: 1) royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta. Misalnya X Inc. Pada ayat (3) nya. huruf b. Biaya-biaya yang berkenaan dengan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Jenis serta biaya yang boleh dikurangkan tersebut ditentukan oleh Dirjend Pajak. tentang Jenis dan Besarnya biaya Administrasi Kantor Pusat yang Dibebankan Sebagai Biaya suatu Bentuk Usaha Tetap. apabila terdapat hubungan efektif antara harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dengan bentuk usaha tetap tersebut. Sehubungan dengan perjanjian tersebut X Inc. Sehubungan dengan ini Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. b. menutup perjanjian lisensi dengan PT Y untuk menggunakan merek dagang X Inc. yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak . adalah : Biaya-biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat sepanjang digukan untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap di Indonesia. Penjelasan huruf (a). kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan. 2) imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya. boleh dikurangkn dari penghasilan bentuk usaha tetap tersebut. Pembayaran sebagaimana dimaksud pada huruf b. dalam pemasaran produk PT Y yang mempergunakan merek dagang tersebut. Dalam hal demikian./1995.

8. 2. 36 Tahun 2000. untuk tahun pajak yang bersangkutan sebagai lampiran SPT Tahunan PPh. apakah ukuran yang dipakai dalam penentuan biaya seperti pertanyaan pada nomor 5 diatas. Latihan 5 1. Pembayaran apa yang diterima kantor pusat dari BUT yang tidak merupakan objek pajak. Biaya-biaya apa saja yang boleh dikurangkan dan tidak boleh dikurangkan dari penghasilan BUT. imbalan jasa. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini pembayaran bentuk usaha tetap kepada kantor pusatnya berupa royalti. Jelaskan pengertian Sdr. 9. Namun apabila kantor pusat dan bentuk usaha tetapnya bergerak dalam bidang usaha perbankan. Huruf b dan huruf c Pada dasarnya bentuk usaha tetap merupakan satu kesatuan dengan kantor pusatnya. maka pembayaran bunga pinjaman dapat dibebankan sebagai biaya. Uraikan yang menjadi objek pajak pada BUT tersebut. atau kegiatan BUT terhadap seluruh peredaran usaha atau kegiatan seluruh dunia. 6. Rangkuman 1. seperti royalti atas penggunaan harta kantor pusat. Sebagai konsekuensi dari perlakuan tersebut. 5. 4.  Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai . oleh sebab itu.PPh yaitu . Psl 26. 6. Jelaskan kriteria penentuan besarnya biaya kantor pusat yang dapat dibebankan sebagai beban biaya bentuk usaha tetap.3. harus sudah diaudit oleh akuntan publik dan mengungkapkan rincian peredaran usaha atau kegiatan perusahaan. akan tetapi kemudian menjadi objek pengenaan pajak BUT. tidak dianggap sebagai objek pajak. 2. setinggi-tingginya adalah sebanding dengan besarnya peredaran usaha. 6. HALAMAN 39 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . Jelaskan Keputusan Direktur Jjenderal Pajak yang mengaturnya. BUT wajib menyampaikan laporan keuangan konsolidasi atau kombinasi dari kantor pusat yang meliputi seluruh usaha/kegiatan perusahaan diseluruh dunia.. merupakan perputaran dana dalam satu perusahaan. Bagaimana kaitannya biaya dimaksud kalau dibidang usaha perbankan. mengenai bentuk usaha tetap. kecuali bunga yang diterima bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya berkenaan dengan usaha perbankan. Kapan neraca kombinasi atau konsolidasi harus dilampirkan oleh BUT. Objek pajak BUT diatur dalam Psl 5 UU No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2) 3) 4) besarnya biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto. sehingga pembayaran oleh bentuk usaha tetap kepada kantor pusat nya. laporan keuangan konsolidasi atau kombinasi. Bentuk Uaha Tetap (BUT) adalah WP luar negeri yang tata cara pengenaan pajaknya sama dengan WP dalam negeri. 3. serta jenis dan besarnya biaya administrasi yang dibebankan kepada masing-masing BUT dinegara tempat perusahaan yang bersangkutan melakukan usaha atau kegiatan. Apa kaitannya penghasilan yang semula menjadi objek pajak PPh. 7. 10.2. dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap. pembayaran-pembayaran sejenis yang diterima oleh bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya.

merupakan perputaran dana dalam satu perusahaan.  MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 40 . Dengan demikian semua penghasilan tersebut dikenakan pajak di Indonesia. 5. dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap. Pada dasarnya BUT merupakan satu kesatuan dengan kantor pusatnya. pembayaran oleh BUT kepada kantor pusatnya. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. 4. sehingga. untuk kepentingan kantor pusat dari BUT. BUT. 6. Besarnya biaya yang dapat diperkenankan sebagai biaya bentuk usaha tetap. setinggi-tingginya sesuai dengan perbandingan penghasilan BUT dengan omzet atau peredaran usaha induk beserta BUT-BUT nya diseluruh dunia. penjualan barang.  Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26. seperti royalti atas penggunaan harta kantor pusat. Namun apabila kantor pusat dan BUT bergerak dalam usaha perbankan. imbalan jasa. harus melampirkan neraca kombinasi/konsolidasi untuk hal dimaksud. Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal dari usaha atau kegiatan dan dari harta yang dimiliki atau dikuasainya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan bentuk usaha tetap di Indonesia. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan tersebut. yang diterima atau diperoleh kantor pusat. maka pembayaran berupa bunga pinjaman dapat dibebankan sebagai biaya. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini pembayaran BUT kepada kantor pusatnya berupa royalti.

b. c. 1925. satu-satunya untuk mengamankan penerimaan pajak. ditentukan oleh wajib pajak sendiri . Sistim MPS-MPO. b. salah satu cara untuk mengefektifkan pembayaran pajak. suatu tatacara pembayaran pajak selama tahun berjalan. menambah beban petugas Direktorat Jenderal Pajak. Penentuan besarnya pajak yang terutang menurut Ordonansi PPs. untuk menentukan pajak terutang. b. 3. untuk meningkatkan penerimaan pajak. 2. c. b. Struktur tarif Pajak Perseroan : a. maka tugas pemungutan pajak .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7. a. pada akhir tahun : a. berdasarkan perhitungan menurut pembukuan wajib pajak. Pengenaan pajak dengan sistim withholding : a. c. tarif umum dan tarif khusus. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 41 . melalui lembaga Surat Ketetapan Pajak . suatu sistim yang menggantikan lembaga Ketetapan Pajak.8 Tahun 1967 : a. a. 1944. c. Menurut Ordonansi PPs. memperbaharui sitim pemungutan pajak dari official-asssessment. b. menganut paham laba yang terbatas seperti halnya atas pendapatan orang pribadi. 1925 : a. b.Test Formatif. tarif rata-rata yang dikenakan atas laba kena pajak. memasukan Neraca dan perhitungan R/L untuk tahun pajak ybs. Menurut kedua Ordonansi tsb diatas. Wajib pajak mempunyai kewajiban : a. 1. 7. c. yaitu berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari penerimaan atau pengeluaran. 7. 1944. memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada WP. Pengertian laba menurut Ordonansi PPs. merupakan hambatan kesadaran membayar pajak. b. (Pajak Pendapatan). anggap paling tepat. memasukan SPT dan lampirannya ke Kantor Inspeksi Pajak. ada dua macam tarif.1. Kepala Inspeksi Pajak. Tax Reform ditahun 1980-an dimaksudkan . menjadi selfassessment. dan PPd. ditentukan menurut laba komersial dari usaha wajib pajak. 8. 1925 dan Ordonansi PPd. merubah pola kerja fiskus dalam menetapkan pajak terutang . Wajib Pajak sendiri b. 6. c. penentuan besarnya pajak terutang dilakukan dan ditetapkan oleh : a. mulai diberikan kepercayaan kepada WP untuk melunaskan kewajiban pajaknya melalui semi self-assessment. yang diintodusir melalui UU No. c. c. merupakan jenis pajak baru disamping PPs. Wajib Pajak dengan bantuan Konsultan Pajak . (Pajak Perseroan) dan Ordonansi PPd. Dengan berlakunya sistim MPS-MPO. melunasi pajaknya. c. yaitu tarif umum. 9. Pilih salah satu jawaban yang Sdr. memasukan surat pernyataan mengenai kegiatan usahanya. 4. menganut paham laba material. b. 5. hanya ada satu macam tarif.

a. mendirikan perusahaan di Indonesia yg pemilik/pemegang sahamnya bukan penduduk Indonesia. a. 14. c. b. Yang tercantum pada b. b. b. terbebas dari kewajiban membayar hutang. b. mempunyai hubungan darah dengan penduduk Indonesia. 15. pembayaran kembali karena likuidasi yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor. pembagian sisa laba yang ditahan. hubungan kerja . Ketentuan Formal Pemungutan Pajak (KUP). Tax Reform menyangkut perubahan atas . c. upah dan sebagainya adalah penghasilan yang berasal dari: a. dimulai saat melakukan usaha di Indonesia setelah lebih 183 hari. komisi. buat selamalamanya. maka harga jual yang dipakai sebagai dasar untuk perhitungan adalah : a. Tidak termasuk objek pajak dan tidak dikenakan PPh. c. Pajak Pendapatan. b. pekerjaan. harga pasar . 18. Orang Pribadi sebagai wp dalam negeri apabila : a. 19. dilahirkan di Indonesia kemudian pergi meninggalkan Indonesia. bagian laba yang diterima badan usaha berbentuk Firma. dan atau kegiatan. Penghasilan berupa gaji. c. jaminan harta yang digunakan untuk mendapatkan pinjaman. sesuai ketentuan UU. lahir dan bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari. dalam rangka pengenaan PPh. harga perolehan . 12. nilai sisa buku . jaminan pengembalian utang. c. b. b. pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan. PPs. piutang yang dikonversikan menjadi modal saham . melakukan kunjungan wisata ke Indonesia atas undangan pemerintah. dan PBB. Tidak termasuk pengertian deviden adalah : a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 42 . b. hubungan keluarga atau kekeluargaan dalam usaha. dan PPd. bertempat tinggal di Indonesia untuk jangka waktu tertentu. Badan Usaha dianggap subjek pajak luar negeri apabila : a. Adapun kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagai WP LN . 16. 11. b. Kongsi. c. ditambah PPN-PPn. 13. Tidak termasuk sebagai subjek pajak dalam negeri .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. c. pada waktu berada di Indonesia dan melakukan kegiatan/usaha. adalah : a. pada saat melewati batas 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan . c. Pajak Perseroan. c. dan Pajak Kekayaan. Termasuk pengertian bunga dalam objek pajak adalah : a. 17. berstatus Bentuk Usaha Tetap (BUT). berada di Indonesia selama 4 (empat) bulan dan menjadi karyawan. hubungan usaha (mitra usaha).BM. a. pemberian saham bonus yang berasal dari revaluasi aktiva tetap. mendirikan badan usaha diluar negeri tetapi pemilik dan pengurusnya penduduk Indonesia. Dalam hal penjualan harta antara badan usaha dengan pemegang sahamnya. c. b.

dan berakhir pada saat warisan dibagi. Yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kekayaan yg dimiliki.. tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap (BUT).. apabila dalam menjalankan usahanya di Indonesia menggunakan agen yang kedudukannya bebas. 12..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 20. 7. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau penyertaan.)..) Penghasilan berupa sewa angkutan darat.. 13. 2. sebesar 24.. dikenakan PPh. 5... yang dilakukan wp orang pribadi dalam negeri. tidak merupakan objek pajak bagi PT A. (. dimulai pada saat meninggalnya pewaris.. Deviden yang diterima PT A.) Tidak termasuk Objek Pajak adalah. (.. 4. penghasilan dari penjualan/pengalihan berupa hak atas tanah dan/ atau bangunan. (... MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 43 .).). Yayasan terdaftar sebagai wajib pajak dan diberikan NPWP.. Kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi.).)... ke Indonesia. sesuai dengan PTKP ahli warisnya. bila pernyataan dibawah ini Benar (B). Apabila Bentuk Usaha Tetap membayarkan imbalan berupa bunga. Persekutuan. (.. (. CV Tidak atas saham... 15.. Yang menjadi objek pajak pada bentuk usaha tetap adalah penghasilan yang semata-mata dari penjualan barang atau jasa yang diproduksi Induk perusahaan tersebut di luar negeri.. mendapat pengurangan PTKP. atas penyertaan sahamnya pada PT B. dan karenya PT B. Perkumpulan serta... Penghasilan (objek pajak) dibawah ini dikenakan PPh. 1..).. bagi pemilik modal bukan objek pajak. b.. 9.).). 14... Final : a..) Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota Firma. sampai saat Badan tersebut dibubarkan dan dilikuidasi. devidend yang diterima wajib pajak orang pribadi.8%..). dapat dijadikan biaya bagi BUT pada waktu menghitung penghasilan kena pajaknya. maka pembayaran bunga dimaksud. Warisan yang belum dalam rangka pengenaan pajaknya.. (. (…. (..... 11.. 8... yang bersifat Final. (. adalah objek pajak. Semua penduduk yang bertempat tinggal di Indonesia. atau S dalam tanda kurung ( ). Orang Pribadi atau Badan di luar negeri.. (. kepada induknya di luar negeri yang berkaitan dengan usaha dibidang perbankan. Perusahaan Reksadana yang membagikan keuntungan berupa bunga obligasi kepada pemilik modal. (. apabila telah memenuhi kewajiban pajak subjektif dan objektif. Tulis B . mulai saat Badan didirikan... Kongsi. 10.. 7. di Indonesia. Uang Alimentasi yang diterima oleh seorang mantan isteri dari mantan suaminya setiap 6 (enam) bulan adalah objek pajak..(. tidak perlu melakukan pemotongan pajaknya. 6. c. (. Kewajiban subjektif pajak WP Badan..2.). adalah subjek pajak tanpa kecuali (. (……). 3. atau Salah (S).). wajib pajak dalam bentuk apapun.. royalti dari penggunaan hak paten yang diterima WP Badan DN.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 8. 17. Memilih jawaban (pernyataan yang benar). Lahir dan bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari. Perkumpulan. Jaminan pengembalian utang. Semi Self. Kunci jawaban (test) Formatif. 9. 2. jawabannya Salah (S). yang benar. 8.79% atau kurang = Baik sekali. 12. dengan kunci jawaban test Formatif. Bila Sdr. = Baik = Cukup = Kurang. (C) (B) (A) (A) (A) (B) (B) (A) (B) (C) (A) (C) (B) (A) (B) (B) (A) (C) (C) (B) Kepala Inspeksi Pajak. Bagian laba yang diterima dari Firma.89% . 9. serta CV.100% . 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) jawabannya Salah (S). Penjualan atau pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dari wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Tarif umum dan tarif khusus. Pada saat berada di Indonesia dan melakukan usaha/kegiatan. jawabannya Salah (S). 20. 11. Menganut paham laba material. 15. 19. tidak atas saham. 3. 8. Sdr. Bentuk Usaha Tetap. pekerjaan dan kegiatan. jawabannya Benar (B). harus mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut.2. artinya tingkat penguasaan yg dicapai : 90% 80% 70% 69% . 4. 6. atau Salah (S). jawabannya Benar (B). Umpan Balik. jawabannya Benar (B). Rumus : Tingkat penguasaan = jumlah jawaban Sdr. Mengamankan penerimaan negara. mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. Memasukan Neraca dan perhitungan R/L.BM. Harga pasar. 8. Pilihan Benar (B). dan hitunglah jawaban Sdr. 14. Persekutuan. Berada di Indonesia selama 4 (empat) bulan. 16. Hubungan kerja. Kongsi. Menyangkut yg tercantum pada b ditambah PPN-PPn. 13. Cocokanlah jawaban Sdr. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 44 . Tatacara pembayaran pajak selama tahun berjalan. jawabannya Salah (S). Lembaga Surat Ketetapan Pajak. 1. jawabannya Salah (S).1. yang benar dibagi dengan jumlah soal. Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80%. 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) jawabannya Benar (B). jawabannya Benar (B).Assessment. jawabannya Salah (S) jawabannya Benar (B). jawabannya Salah (S). Pembayaran kembali yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor. jawabannya Salah (S).dan PBB. hasilnya dikalikan dengan 100%. kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi kegiatan belajar. Sdr. Merubah dari sistim Official Assessment ke sistim Self-Assessment. 10. dapat meneruskan dengan modul berikutnya. 18. 7. jawabannya Salah (S). 5.

gratifikasi. sewa. 6. biaya pembelian bahan . biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah.1. bunga. pembebannya harus dilakukan melalui penyusutan (untuk harta yang berwujud). Uraian dan Contoh 10. biaya yang boleh dikurangkan diatur dalam Psl 6 ayat (1) UU Pajak Penghasilan. 2. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan rugi komersial . menagih. Pengeluaran (biaya) yang boleh dikurangkan. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak . biaya pengolahan limbah . dan memelihara penghasilan. atau amortisasi (untuk harta tak berwujud termasuk hak). h. akan tetapi terhadap biaya yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun. e. Terhadap biaya yang masa manfaatnya tidak lebih dari satu tahun. 4. f. dan 9. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manf lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A. Biaya yang dapat dikurangkan ini dibagi kepada 2 (dua) golongan. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan da perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan. dan . g. honororarium. 10. pajak kecuali Pajak Penghasilan.yang diberikan dalam bentuk uang. biaya administrasi . dan tunjangan. biaya perjalanan . Sesuai dengan Psl 6 ayat (1) tersebut diatas. Bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat : 1.1. biaya bea siswa dan pelatihan . d.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Kegiatan belajar 6 BIAYA YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. 8. 2. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 45 . biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan .. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha antara lain 1. 3. dapat sekaligus dibebankan pada tahun pajak yang bersangkutan. dan royalty . dan biaya (beban) yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan . c. gaji. b.1. biaya-biaya yang boleh dikurangkan dimaksud adalah : a. bonus. yaitu biaya (beban) yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun. kerugian selisih kurs mata uang asing . premi asuransi . 7. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia . 5.

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 46 . Dengan demikian pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan. atau adanya pengakuan dari debitur. Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1(satu) tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan. yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . misalnya gaji. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yamg ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . dan sebagainya. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. telah diserahkan perkara penagihannya. (2) Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian. sedangkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. maka kerugian tersebut tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. Disamping itu apabila dalam suatu tahun pajak didapat kerugian karena penjualan harta atau karena selisih kurs. atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus. biaya rutin pengolahan limbah. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k. l. bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu . pengeluaran-pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. yaitu beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan . sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . Huruf a Biaya-biaya dimaksud dalam ayat ini lazim disebut biaya sehari-hari yang boleh dibebankan pada tahun pengeluaran. Penjelasan Pasal 6 Ayat (1) Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2(dua) golongan. i. maka kerugian-kerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. m.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. (3) Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. j. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh sebagai biaya . dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak. kepada Pengadilan Negeri atau instansi yang menangani piutang negara . biaya administrasi dan bunga. menagih. menagih. k . Untuk dapat dibebankan sebagai biaya. 4.

....... pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi...........000. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta. 3........ dalam pelaksanaannya..000. dalam penyelenggaraannya.... dan Pasal 11A beserta penjelasannya... Huruf d Kerugian Penjualan atau Pengalihan harta.. dan asuransi kesehatan.... maupun yang ditanggung sipemberi kerja.. Jaminan eKmatian. Demikian pula bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk membeli saham tidak dapat dibebankan sebagai biaya.. tidak boleh menjadi biaya.....Rp 100. baik yang dipotong dari penghasilan pegawai/karyawan...... Rp 300... = Rp 150....... yang menurut tujuannya semula MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 47 . b. .........000.000..000.........000.....000.. asuransi jiwa..........000. adalah sejenis dengan asuransi kecelakaan. Huruf b Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta tak berwujud serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun..... dan (4).. maka biaya yang boleh dikurangkan untuk mendapatkan.......000. boleh dibebankan sebagai biaya. Rp 400.... menyelenggarakan 4 jenis program......... yang pendiriannya telah disetujui oleh Menteri Keuangan.. Angka (1).... (2).. dan memelihara penghasilan adalah sebesar 3/4 x Rp 200.......... Jumlah penghasilan bruto.. sedangkan angka (3).... Selanjutnya lihat ketentuan Pasal 9 ayat (2).... yaitu : 1.. sepanjang deviden yang diterimanya tidak merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f. 4....... Jamsostek yang masih berkaitan dengan iuran pensiun.... Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp 200..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : Dana Pensiun A yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan untuk memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari : a..... Jamsostek... Bunga pinjaman yang tidak boleh dibiayakan tersebut dapat dikapitalisasi sebagai penambah harga perolehan saham.... Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. misalnya sewa untuk beberapa tahun yang dibayar sekaligus pembebannya dapat dilakukan melalui alokasi Huruf c... Jaminan Hari Tua ..000.... Pasal 11.... sedangkan kepada dana pensiun yang pembentukannya belum disahkan oleh Menteri Keuangan...... Iuran pensiun kepada dana pensiun......... Jaminan kecelakaan kerja... disamakan dengan perlakuan terhadap Dana Pensiun yang telah memperoleh persetujuan Menteri Keuangan.....000..... 2.. c.......... penghasilan yang bukan merupakan objek pajak sesuai dengan Pasal 4 ayat (3) huruf h . perlakuan Pajak Penghasilannya adalah sebagai berikut : PT. penghasilan bruto lainnya... menagih... Pengeluaran yang menurut sifatnya merupakan pembayaran dimuka...000......

4. dalam jumlah yang wajar untuk menemukan teknologi atau sistem baru bagi pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya. atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yg bersangkutan. Peraturan Pelaksanaan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan ketentuan Psl 6 ayat (1). Huruf f Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia. mahasiswa. diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan./2001. atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN). Tgl 28 Maret 2001. harus memenuhi syarat : 1. UU Pajak Penghasilan. tidak hanya berarti penerbitan berskala nasional. melainkan juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya. 238/PJ. antara lain berisi penegasan : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 48 . Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri. Dengan demikian Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. Huruf e Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat azas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan dengan memperhatikan kewajaran. 2. Telah dipublikasikan dalam penerbitan/mass media umum/khusus. magang.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialhkan. dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Pajak. menagih. tentang Penghapusan Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. dan memelihara penghasilan. termasuk beasiswa yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah beasiswa yang diberikan kepada pelajar. dimaksud adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Huruf h Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial dan telah melakukan upaya – upaya penagihan yang maksimal atau terakhir Yang dimaksud dengan penerbitan. Huruf g Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan bea siswa. yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan. huruh h. Telah dibebankan sebagai biaya dlm laporan keuangan komersial. dapat di kurangkan dari penghasilan bruto. dan pihak lain. 3. Wajib pajak membuat daftar nominatifnya. Tatacara pelaksanaan persyaratan yang ditentukan dalam ayat (1) huruf h ini.

Himpunan Bank bank Milik Negara. 2013 : laba fiskal Rp 100.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 (Rp 1. yang dimaksud dengan penerbitan umum atau khusus.000. Penjelasannya : Pada dasarnya ada 2 (dua) bentuk kompensasi kerugian yaitu kompensasi kerugian Vertikal dan kompensasi kerugian Horizontal. Jika pengeluaran-pengeluran yang diperkenankan berdasarkan ketentuan pada ayat (1) setelah dikurangkan dari penghasilan bruto didapat kerugian.000.000.000) Laba fiskal 2014 Rp 800.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 Rp 100. hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2015 dan tahun 2016.000. serta jumlah piutang yang nyata-nyata tak dapat ditagih.000.000. sedangkan kompensasi kerugian Vertikal adalah kerugian pada sesuatu tahun yang akan diperhitungkan ketahun-tahun berikutnya. Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut : Rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1.000. Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT A sebagai berikut : 2010 : laba fiskal Rp 200. atau penerbitan khusus Bank Indonesia. Kompensasi kerugian Horizontal adalah kompensasi kerugian diantara sumber-sumber penghasian.000.000.000. Dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar Rp 1. b .000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. karena jangka waktu lima tahun sejak dimulainya tahun 2012 berakhir pada akhir tahun 2016.000.000. kerugian tersebut dikompesasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal selama 5(lima) tahun berturut berturut dimulai sedjak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian tersebut.000.000) laba fiskal tahun 2012 Rp N I H I L Sisa rugi fiskal 2009 (Rp 1.) 2012 : laba fiskal Rp N I H I L.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 (Rp 900.000.000) Laba fiskal tahun 2013 Rp 100.000. alamat. yaitu : nama. Contoh : PT A. Ayat (2) Kompensasi Kerugian. adalah penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yg lazim lainnya.000.200. sedangkan rugi fiskal tahun 2011 sebesar Rp 300.000.000.000.000 Rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp 100.000.000.000.000.000) Laba fiskal tahun 2010 Rp 200. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 49 .000) Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1. yang berskala nasional atau penerbitan khusus.Daftar Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dimaksud.000) Rugi fiskal tahun 2011 ( Rp 300.000. NPWP. 2011 : rugi fiskal (Rp 300.000. 2014 : laba fiskal Rp 800.000. memuat data dan informasi mengenai debitur.200. tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun 2015. yang masih tersisa pada akhir tahun 2014.

Disamping untuk dirinya. (lima belas juta delapan ratur empat pulu ribu rupiah) untuk Wajib Pajak orang pribadi . Wajib Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya.840. Yang dimaksud dengan ”anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya”.(lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah). tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). paling banyak 3(tiga) orang untuk setiap keluarga. Rp 15. Penjelasan Pasal 7 Ayat (1) Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.320. Rp 15. yang menjadi tanggungan sepenuhnya. atau anak angkat.840.000.320.000.000. Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang sudah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 50 . kepadanya diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah). tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat. (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah). (2) Penerapan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak. mertua. misalnya orang tua.000. c. kepada wajib pajak yang sudah kawin diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak. Contoh : Wajib Pajak A mempunyai seorang isteri dengan tangungan 4 (empat) orang anak. berdasarkan ketentuan dimaksud dalam Pasal 7. (lima belas juta delapan ratus empat puluh rupiah). adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak. Wajib Pajak tersebut mendapat tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk seorang isteri paling sedikit sebesar Rp 15. b. (1) Penghasilan Tidak Kena Pajak per tahun diberikan paling sedkit sebesar : a. dan d.840.000. anak kandung.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ayat (3) Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. tambahan untuk WP kawin . Rp 1. Bagi Wajib Pajak yang isterinya menerima atau memperoleh penghasilan yang digabung dengan penghasilannya. Rp 1. (3) Penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak. diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk paling banyak 3(tiga) orang. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK ( Pasal 7).

Seseorang yang belum dewasa .840. Tinggal bersama-sama dengan Wajib Pajak . tidak termasuk dalam menjadi tanggungan sepenuhnya. pada saat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 oleh pemberi kerja diberikan Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp 15. dan sebagainya. dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiap tahunnya. Tidak pula turut dibantu oleh lain-lain anggota keluarga atau orang tuanya sendiri Sedangkan kalau Wajib Pajak sekedar menyumbang. b. membantu. Pengertian menjadi tanggungan sepenuhnya menurut Undang-undang PPh berdasarkan keadaan yang terlihat dari keadaan nyata.000. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak B untuk tahun 2009. b. c. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 51 . Ayat (3) Berdasarkan ketentuan ini Menteri Keuangan diberikan wewenang untuk mengubah besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.000.000. sedangkan untuk isterinya. Apabila penghasilan isteri harus digabung dengan penghasilan suami. Ayat (2) Penghitungan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan menurut keadaan Wajib Pajak pada awal tahun pajak atau pada saat awal bagian dari tahun pajak. Yang tidak tergolong keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus dari Wajib Pajak. Pengertian dewasa. S-11/PJ. No. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A adalah sebesar Rp 36. Misalnya pada tanggal 1 Januari 2009 Wajib Pajak B berstatus kawin dengan tanggungan 1 (satu) orang anak. c.840. yang harus terlebih dahulu ada pengesahan dari Hakim Pengadilan Negeri.41/1995. Nampak secara nyata tidak mempunyai penghasilan . + (3x Rp 1. tetap dihitung berdasarkan status kawin dengan tanggungan 1(satu) anak. Dan menjadi tanggungan sepenuhnya dari Wajib Pajak. Tgl 29 Agustus 1995.960. Apabila anak yang kedua lahir setelah tanggal 1 Januari 2009. atau belum lagi 18 tahun tapi sudah menikah. (Rp 21.  Dan juga bukanlah pengertian anak angkat sebagaimana dimaksud dalam hukum perdata. Republik Indonesia. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A. sudah berumur 18 tahun.000.320.000.000.840. bertanggung jawab.).  Tetapi pengertian anak angkat dalam perundang-undangan pajak dengan kriteria sebagai berikut : a. Pengertian anak angkat .000. yaitu (Rp 15. adalah sebesar Rp 21.320. Berdasarkan surat Direktur Jenderal Pajak kepada Yayasan Taruma Negara.120.) .120.000. + Rp 15.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN hubungannya dengan usaha suami atau anggota keluarga lainnya. ditegaskan sebagai berikut :  Bukan pengertian anak angkat sebagaimana dalam masyarakat sehari-hari yaitu seorang anak yang diaku dan dan diangkat sebagai anak. yaitu : a. + Rp 1.

begitu pula kerugiannya yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. dikenai pajak berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami-isteri dan besarnya pajak yang harus dilunasi oleh masing-masing suami-isteri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka. penghasilan isteri tersebut berasal dari pekerjaan yang tidak ada huungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya. atau awal bagian tahun pajak dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya. Namun dalam hal-hal tertentu pemenuhan kewajiban pajak tersebut dilakukan secara terpisah. (2) Penghasilan suami-isteri dikenai pajak secara terpisah apabila : a. Ayat (1) Penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak.1. b. (3) Penghasilan neto suami-isteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c. Penggabungan tersebut tidak dilakukan dalam hal penghasilan isteri diperoleh dari pekerjaan sebagai pegawai yang telah dipotong pajak oleh pemberi kerja. Penjelasan Pasal 8 Sistem pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang ini menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. yang belum dikompensasikan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).000. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenai pajak dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga. Contoh : Wajib Pajak A yang memperoleh penghasilan neto dari usaha sebesar Rp 100. PENGHASILAN WANITA KAWIN. (4) Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. kecuali penghasilan tersebut semata-mata diterima atau diperoleh dari 1(satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya.000. dan b.000. dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan .2.000. dan dikenai pajak sebagai satu kesatuan. dengan ketentuan : a. dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya. mempunyai seorang isteri yang menjadi pegawai dengan penghasilan neto Rp 70. dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri. Ketentuan mengenai wanita kawin diatur dalam Pasal 8 UU PPh sbb : (1) Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak. atau c. suami – isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim . Apabila penghasilan isteri tersebut diperoleh dari satu pemberi kerja dan telah dipotong pajak oleh pemberi kerja dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 52 . penghasilan isteri tersebut semata-mata diperoleh dari satu pemberi kerja .

Yang dimaksud dengan ”anak yang belum dewasa ” adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah. maka seluruh penghasilan isteri sebesar Rp 150.000. Potongan pajak atas penghasilan isteri tidak bersifat final. atau anggota keluarga lainnya. 250. dan pengenaan pajak atas penghasilan isteri tersebut bersifat final.000. Misalnya pajak terutang atas jumlah penghasilan tersebut adalah sebesar Rp 27.isteri : 150. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 53 .000.000. ( Rp 100.suami : 100.000.000. Ayat (4) Penghasilan anak yang belum dewasa dari manapun sumber penghasilannya dan apapun sifat pekerjaannya digabung dengan penghasilan orang tuanya dalam tahun pajak yang sama. + Rp 80. menerima atau memperoleh penghasilan.000. pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan jumlah penghasilan sebesar Rp 250. penghasilan neto sebesar Rp 70. yang orang tuanya belum berpisah. . Apabila selain menjadi pegawai. A dikenai pajak atas penghasilan sebesar Rp 250.000.000.000. Contoh : Perhitungan pajak bagi suami-isteri yang mengadakan perjanjian pemisahan penghasilan secara tertulis atau isteri menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri. + Rp 70.000. Apabila seorang anak belum dewasa. + Rp 80.000.020. Apabila suami-isteri mengadakan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan secara tertulis atau jika isteri menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.000. misalnya salon kecantikan dengan penghasilan neto sebesar Rp 80. penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan pengenaan pajaknya dilakukan sendirisendiri.000. isteri A juga menjalankan usaha. adalah sebagai berikut : Dari contoh pada ayat (1).000.550. artinya dapat dkreditkan terhadap pajak yang terutang atas penghasilan sebesar Rp 250.000.000.000. Ayat (2) dan Ayat (3). (Rp 70.).000.550.000. apabila isteri menjalankan usaha salon kecantikan.000.000. = Rp 11.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan usaha suami. tidak digabung dengan penghasilan A. x Rp 27. x Rp 27.000. perhitungan pajaknya dilakukan berdasarkan penjumlahan penghasilan neto suami-isteri dan masing-masing memikul beban pajak sebanding dengan besarnya penghasilan neto.000. 250. Dengan penggabungan tersebut.000. tersebut yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. pengenaan pajaknya digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya berdasarkan keadaan yang sebenarnya. maka untuk masing-masing suami dan isteri pengenaan pajaknya dihitung sebagai berikut: .000.550.000.530.000.000. = Rp 16.000.) digabungkan dengan penghasilan A.000. Dalam hal suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan keputusan hakim.000.000.000.

4. Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Saldo awal dan akhir Piutang. terakhir perubahan ketiga melalui KMK No. 204/KMK. Jenis Usaha Cadangan yg Besarnya Cadangan. atau anggota . Sesuai dengan perhitungan aktuaria yg disahkan oleh Ditjen Lembaga Keuangan. No. perusahaan pembiayaan konsumen. Asuransi Jiwa. Pertambangan Cadangan Reklamasi Dihitung dg menggunakan MSP atas dasar taksiran biaya reklamasi. (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikuangkan : a. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit. SKMK No.1. b. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan . 3. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan. pembentukan atau pemupukan dana cadangan.04/1999. 80/KMK. SKMK No. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 54 . adalah sebagai berikut .5% dari rata-rata Usaha de ngan tertagih. dan pembagian sisa hasil usaha koperasi . 2.04/2000. 68/KMK. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk pengolahan limbah industri. c. Besarnya cadangan dari masing-masing jenis usaha tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Cadangan Premi. kecuali : 1. dan perusahaan anjak piutang .04/1995. Hak Opsi. Pengeluaran/biaya yang tidak boleh dikurangkan. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 235/01/1998. 1. Yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. sekutu. 3.3. Asuransi kerugian Cadangan Premi 40% dari Premi tanggungan Cadangan Klaim sendiri sama dg jumlah klaim yang sudah disepakati tetapi belum dibayar ditambah dg klaim yg sedang dalam proses. 4. sewa guna usaha dengan hak opsi. 5. 5. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. dan 6. diperkenankan Bank Umum Cadangan Piutang tak Lihat tabel dibawah. tertagih Sewa Guna Cadangan Piutang tak Maksimum 2. 2.

875% 0. o 3% dari kredit yang digolongkan kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan yang dikuasai. o 50% dari kredit yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan yang dikuasai. asuransi kecelakaan.75% 2. yang disediakan sipemberi kerja (perusahaan).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pembentukan Dana Cadangan Piutang Tak Tertagih Jenis Usaha Bank. 0.00% Periode laporan 31-12-1998 s. Keputusan Menteri Keuangan dimaksud No. besarnya dana cadangan untuk kredit yg digolongkan macet ditentukan sebagai berikut : o 50% dari kredit yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan . 466/KMK. Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai.875% 3. juncto KMK No.04/2000. 31-12-2000 s. 3. 30-06-2001 dan seterusnya.5% dari kredit yang digolongkan lancar.50% 15. kecuali yang dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi wajib pajak yang bersangkutan. Tentang Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai dan penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yg diberikan dalam bentuk natura / kenikmatan di daerah tertentu. tanpa memandang jabatan dan posisi karyawan yang bersangkutan.50%. Besarnya dana cadangan piutang tak tertagih dimaksud ditentukan sbb: o 0.00% 5. Untuk jenis usaha Bank Umum. Bank Perkreditan Rakyat dapat membentuk dana cadangan piutang tak tertagih. serta yg berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.00% 4. ditempat kerja. yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja : 1.31-052000. Kurang Lancar Setelah dikurangi Nilai Agunan. kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai. tidak termasuk Dalam SBI dan Surat utang Perhatian Pemerintah. yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi. atau penggantian yang sepadan dengan HALAMAN 55 d) e) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . 30-06-2000 s. Tgl 3 Nopember 2000.625% 1.25% 1.d 30-112000. Lancar.00% 1. dan asuransi bea siswa.00%.31-051999. o 100% dari kredit yang digolongkan macet yang masih tercatat dalam pembukuan bank setelah dikurangi agunan yang dikuasai.d 31-052001. SE-21/PJ. 204/KMK. asuransi dwiguna. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No.00% 12. 30-06-1999 s. asuransi jiwa.04/2000. Khusus.d. 31-12-1999 s.50% 0. Premi asuransi kesehatan.25% 0.30-111999.d. 7. dan o 100% dari kredit yg digolongkan macet setelah dikurangi nilai agunan. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmtan.75% 5.d. serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan didaerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.50% 0.50% 10. Penggolongan Kredit.42/2000.

harta yang dihibahkan. bagi pegawai dan keluarganya. dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan dibidang perpajakan. serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. 5. 4. Pajak Penghasilan . tetapi keadaan sarana dan prasarana ekonomi pada umumnya kurang memadai dan sulit dijangkau oleh transportasi umum. atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN nilai pemberian makanan tersebut. Biaya yang dibebankan atau yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya . Gaji yg dibayarkan kepada anggota persekutuan. keamanan dan keselamatan kerja atau yang berkaitan dengan situasi lingkungan kerja. termasuk daerah perairan laut yang mempunyai kedalaman lebih dari 50 meter. denda. Pengeluaran untuk pembangunan sarana tersebut yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. dan pacuan kuda. atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. atau perusahaan. dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b. 3. HALAMAN 56 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . 2. Daerah tertentu adalah daerah terpencil. yang dasar lautnya memiliki cadangan mineral. yang diterima. ditugas luarkan. bantuan atau sumbangan. kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m. yaitu daerah yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak dikembangkan. Sanksi administrasi berupa bunga. pembebannya dilakukan melalui penyusutan. adalah sarana dan fasilitas di lokasi bekerja untuk :  tempat tinggal. sepanjang fasilitas dan sarana tersebut tidak tersedia. Pengeluaran untuk penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja. pendidikan. f) g) h) i) j) k) Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang ham. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah.  pengangkutan bagi pegawai dan keluarganya . Atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.  pelayanan kesehatan. boating.  olah raga bagi pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf. penanam modal menanggung resiko yang tinggi. apabila pegawai/karyawan ybs. yang merupakan keharusan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan. dan masa pengembalian yang relatif panjang. sehingga untuk mengubah potensi ekonomi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi ker kerja. frma. sehingga pemberi kerja harus menyediakan sendiri. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yg diberikan dalam bentuk natura. Pemberian kepada pegawai dalam bentuk natura dan kenikmatan. termasuk perumahan pegawai dan keluarganya. dan atau kenikmatan didaerah tertentu yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

yang menyerahkan BKP atau JKP . Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak. kecuali :  Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Psl 9 ayat (8) huruf f dan g. pembeli BKP atau JKP ./2000. Pasal 3 PP 138 Tahun 2000. atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat : a.Lengkapnya bunyi Psl 13 ayat (5) dan ayat (6) adalah sbb : Pasal 13 ayat (5) UU PPN . Catatan : Bunyi Psl 9 ayat (8) huruf f dan g UU PPN dimaksud adalah sbb : . Nama. sepanjang tidak dapat dibuktikan bahwa Pajak Masukan tersebut benarbenar telah dibayar. Dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar dimaksud berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan. NPWP. dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. dan NPWP. 138 Thn 2000. Pemberitahuan Impor Barang Untuk Dipakai (PIUD) dan Surat Setoran Pajak (SSP) untuk Impor Barang Kena Pajak. jumlah Harga Jual atau Penggantian. Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa Pajak yang sama bagi pengeluaran untuk (g) pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean yg faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 13 ayat (6). e. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 57 .Psl 9 ayat (8) huruf f UU PPN-PPn. UU PPN . sebagai berikut : a. dan g. c.  Pajak Masukan yang berkenan dengan pengeluaran yang tidak dapat dikurangkan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Psl 9 ayat (1) UU PPh. .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dalam Peraturan Pemerintah No.312/PJ/2001. mengatur juga pengeluaran dan biaya yang boleh/ tidak boleh dikurangkan dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi WP dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Jenis barang atau jasa. alamat. d. Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk masa pajak yang sama bagi pengeluaran untuk (f) perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yg faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 13 ayat (5). yang merupakan penyempurnaan dari KEP-522/PJ. Pasal 13 ayat (6) UU PPN . dan potongan harga . BM yang dipungut . Nama Jabatan. PPn. Dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak. alamat. UU PPN.Psl 9 ayat (8) huruf g. Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan Psl 9 ayat (8) UU PPN. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut . Kode. Tgl 21 Desember 2000.BM. nomor seri dan tgl pembuatan Faktur Pajak . adalah sebagai berikut : a. . b. f. Nama. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah difiat muat oleh pejabat yang berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri invoice . sehubungan dengan pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan atau harta tak berwujud. g. UU Pajak Penghasilan. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus. terlebih dulu harus dikapitalisasi dengan pengeluaran/biaya tersebut dan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi. (2) Pengeluaran untuk mendapatkan. f. menagih. Kerugian dari harta atau utang yang dimiliki dan tidak dipergunakan dalam usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Psl 4 Peraturan Pemerintah 138 Tahun 2000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. bill yang dibuat/ dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri . e. menagih. sebagaimana dimaksud dalam Psl 14 UU Pajak Penghasilan. UU Pajak Penghasilan. Ticket dan surat muatan udara (airway bill). dan . tetapi tidak termasuk deviden sepanjang PPh. Pajak Masukan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. d. dan memelihara penghasilan pengenaan pajaknya bersifat final. Pada prinsipnya biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dan tidak langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. a. kecuali pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26 ayat (1). melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A. Surat Perintah Pengiriman Barang (SPPB) dari Bulog/Dolog untuk penyaluran gula pasir dan tepung terigu . d. b. h. tersebut ditambahkan dalam perhitungan dasar untuk pemotongan pajak. Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat/dikeluarkan oleh Pertamina untuk penyerahan BBM dan/atau non BBM . Pengeluaran MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 58 . delivery order. menagih. biaya untuk mendapatkan. atau memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak yang pembebanannya dapat dilakukan dalam tahun pengeluaran atau selama masa manfaat dari pengeluaran tersebut. Tanda Pembayaran atau kwitansi atas penyerahan jasa Telkom. dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak. menagih. serta biaya lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun sebagaimana dimaksud dalam Psl 11 dan Psl 11 A. c. Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan Jasa Kepelabuhan. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi penghasilan. Penjelasan Pasal 9 Ayat (1) Peneluaran-pengeluaran yang dilakukan Wajib Pajak dapat dibedakan antara pengeluaran yang boleh dan yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya. biaya untuk mendapatkan. menagih dan memelihara penghasilan bukan merupakan objek pajak. biaya untuk mendapatkan. j. Tanda pembayaran atau kwitansi listrik. menagih. dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan norma perhitungan. c. Surat Setoran Pajak untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Luar Daerah Pabean . i.

asuransi jiwa. seperti perbaikan rumah pribadi. biaya perjalanan. Huruf e Sebagaimana telah diuraikan dalam penjelasan Pasal 4 ayat (3) huruf d. serta penginapan untuk awak kapal dan sejenisnya. Namun. seperti pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja. biaya premi asuransi. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan didaerah tesebut dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan didaerah terpencil. dan asuransi bea siswa yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak orang pribadi tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. Huruf a. 2. tidak boleh dikurangkan dari penghasilan badan yang membagikannya karena pembagian laba tersebut merupakan bagian dari penghasilan badan tersebut yang akan dikenakan pajak berdasarkan Undangundang ini. asuransi kecelakaan. sekutu atau anggota. dan bukan merupakan penghasilan bagi pegawai ybs: 1. Huruf d Premi asuransi kesehatan. yang dibayar oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi para pemegang saham atau keluarganya. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun. Tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan atau dibebankan oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. penggantian atau imbalan dimaksud dianggap bukan merupakan pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya bagi pemberi kerja . Huruf b. Selaras dengan hal tersebut maka dalam ketentuan ini. atau yang jumlahnya melebihi kewajaran. pemberian natura dan kenikmatan berikut ini. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan dianggap bukan merupakan Objek Pajak. pakaian seragam petugas keamanan (satpam). Apabila premi asuransi tersebut dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto meliputi pengeluaran yang sifatnya adalah pemakaian penghasilan. asuransi dwiguna. dan pembayaran deviden oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis. termasuk pembayaran deviden kepada pemilik modal. pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskan. maka bagi pemberi kerja pembayaran tersebut boleh dibebankan sebagai biaya bagi pegawai yang bersangkutan merupakan penghasilan yang merupakan objek pajak. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja. Lihat uraian diatas pada dana cadangan. penerimaan tersebut bukan merupakan objek pajak. antar jemput karyawan. pembagian sisa hasil usaha koperasi kepada anggotanya. dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. dan pada saat orang pribadi dimaksud menerima penggantian atau santunan asuransi. dan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 59 .

maka jumlah sebesar Rp 30. dimaksud dianggap sebagai deviden. pada hakekatnya merupakan penggunaan penghasilan oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. sehingga tidak ada imbalan sebagai gaji. berdasarkan ketentuan ini.tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Apabila untuk jasa yang sama yang diberikan oleh tenaga ahli lain yang setara hanya dibayar sebesar Rp 20. Huruf i Biaya untuk keperluan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. Oleh karena itu biaya tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto usaha/perusahaan. bukan merupakan pembayaran yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto badan tersebut. kemungkinan dapat terjadi pembayaran imbalan yang diberikan kepada pegawai yang juga pemegang saham.000. Sejalan dengan prinsip penyelarasan antara pengeluaran dengan penghasilan.000. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun tidak dapat dikurangkan sekaligus pada tahun pengeluaran. Bagi tenaga ahli yang jiga sebagai pemegang saham tersebut jumlah sebesar Rp 30. Dengan demikian gaji yang diterima oleh anggota persekutuan. jumlah yang melebihi kewajaran tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Misalnya seorang tenaga ahli yang adalah juga pemegang saham dari suatu badan. memberikan jasa kepada badan tersebut dengan memperoleh imbalan sebesar Rp 50. selama masa manfaatnya sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 11A. atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. menagih. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 60 . pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. dan perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham diperlakukan sebagai satu kesatuan. (dua puluh juta rupiah). dan memelihara penghasilan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah pengeluaran yang jumlahnya wajar sesuai dengan kelaziman usaha. persekutuan.000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3.000.000.000. dalam ketentuan ini pengeluaran untuk mendapatkan. Huruf f Dalam hubungan pekerjaan. Huruf h Yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini adalah Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. Huruf j Anggota firma. Karena pada dasarnya pengeluaran untuk mendapatkan.000. menagih. pengeluaran yang mempunyai peranan terhadap penghasilan untuk beberapa tahun. Ayat (2) Sesuai dengan kelaziman usaha. firma. pembebanannya dilakukan sesuai dengan jumlah tahun lamanya pengeluaran tersebut berperan terhadap penghasilan. melainkan dibebankan melalui penyusutan dan amortisasi.

sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima. (2) Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. harga perolehan harta bagi pihak pembeli adalah harga yang sesungguhnya dibayar dan harga penjualan bagi pihak penjual adalah harga yang sesungguhnya diterima. maka dasar penliaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak . Ayat (1) Pada umumnya dalam jual beli harta. termasuk persediaan. Termasuk dalam harga perolehan adalah beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut. dan penghitungan penghasilan dari penjualan barang dagangan. Penjelasan Pasal 10 Ketentuan ini mengatur tentang cara penilaian harta. Dalam hal jual beli yang dipengaruhi hubungan istimewa. maka bagi pihak pembeli nilai perolehannya adalah jumlah yang seharusnya dibayar dan bagi pihak penjual nilai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 61 . pemecahan. menghitung keuntungan atau kerugian apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PENILAIAN HARTA. b. seperti bea masuk. (3) Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi. dalam rangka mengnghitung penghasilan sehubungan dengan penggunaan harta dalam perusahaan. penggabungan. biaya pengangkutan. (6) Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama.: (1) Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima. (4) Apabila terjadi pengalihan harta : a. peleburan. kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. (5) Apabila terjadi pengalihan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4). yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b. pemekaran. Ketentuan tentang tata cara penilaian harta diatur dalam Pasal 10 Undang-undang PPh. yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c. dan biaya pemasangan. atau pengambil alihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. maka dasar penilaian harta bagi badan yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut. maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut.

) dan PT B memperoleh keuntungan sebesar Rp 8. merupakan nilai perolehan yang seharusnya dikeluarkan atau nilai penjualan yang seharusnya diterima. – Rp 10. Contoh : PT A PT B (Harta X) (Harta Y) Nilai sisa buku Rp 10. Pengalihan harta tersebut dapat dilakukan dalam rangka pengembangan usaha berupa penggabungan.000. yaitu PT C. Adanya hubungan istimewa antara pembeli dan penjual dapat menyebabkan harga perolehan bisa menjadi lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan jika jual beli tersebut tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa.000.000.).000.000.000. (Rp 300. (Rp 300. penilaian harta yang dialihkan.000.000.000. Ayat (3) Pada prinsipnya apabila terjadi pengalihan harta.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perolehannya adalah jumlah yang seharusnya diterima. dilakukan berdasarkan harga pasar. peleburan.000. Ayat (2) Harta yang diperoleh berdasarkan transaksi tukar-menukar dengan harta lain.000. Rp 300.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 62 . Dengan demikian.000.000.000. PT A mendapat keuntungan sebesar Rp 100. Rp 450.000. sedangkan PT C. Walaupun tidak terdapat realisasi pembayaran antara pihak-pihak yang bersangkutan. Pada dasarnya. penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam rangka peleburan menjadi PT C.000. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai berikut: : PT A PT B Nilai sisa buku Rp 200.). nilai perolehan atau nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.000. PT A memperoleh penghasilan sebesar Rp 10. (Rp 450.000. (Rp 20. dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp 150.000. + Rp 450. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan penghasilan yang dikenakan pajak. – Rp 12.000.000.000. Harga pasar Rp 300. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dipertukarkan merupakan keuntungan yang dikenakan pajak.000. Oleh karena itu dalam ketentuan ini diatur bahwa nilai perolehan atau nilai penjualan bagi pihak-pihak yang bersangkutanadalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau seharusnya diterima.000.000.000.000. pemecahan.000. Selain itu pengalihan tersebut dapat dilakukan pula dalam rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya. Rp 20.000.000.000. – Rp 300.000. Rp 12. pemekaran.000. Contoh : PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru.).000.000.000. namun karena harga pasar harta yang dipertukarkan adalah Rp 20. membukukan semua harta tersebut dengan jumlah Rp 750.000. (Rp 20. Harga Pasar Rp 20. Antara PT A dan PT B terjadi pertukaran harta. – Rp 200. maka jumlah sebesar Rp 20.000.000.).000.000. dan pengambilalihan usaha.000.000.000.000.000.000. adalah harga pasar dari harta.000.

00. (Rp 40.000.000. 1. yaitu barang jadi atau barang dagangan. Ayat (5) Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan harta.000. Contoh : Wajib Pajak X menyerahkan 20 unit mesin bubut yang nilai bukunya adalah Rp 25.000.000. sumbangan yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a atau warisan. (Rp 40.000.000. Ketentuan pada ayat ini mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan. – Rp 25.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan dibidang sosial.000. kepada PT Y sebagai pengganti penyertaan sahamnya dengan nilai nominal Rp 20. selain harga pasar. Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah. + Rp 200. maka nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan.000.000. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama (”first –in first –out” atau disingkat FIFO).000. Pembelian 100 satuan @ Rp 9. Harga pasar mesin-mesin bubut tersebut adalah Rp 40.25.). Apabila Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan sehingga nilai sisa buku tidak diketahui.00. dan sebesar nilai tersebut bukan merupakan penghasilan bagi PT Y. maka nilai perolehan atas harta ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. barang dalam proses produksi. bantuan. Dalam hal demikian PT C membukukan penerimaan harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp 500. Bagi Wajib Pajak X selisih sebesar Rp 15. cara penilaian tersebut jiga diberlakukan tehadap sekuritas. bahan baku dan bahan pembantu. Ayat (4) Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah. 100 satuan @ Rp 11. Ayat (6) Pada umumnya terdapat 3(tiga) golongan persediaan barang. – Rp 20.000.000.000. ) merupakan objek Pajak. bantuan. moneter dan kebijakan lainnya. yaitu atas dasar nilai sisa buku (”pooling of interest”). yaitu dinilai berdasarkan nilai pasar dari harta yang dialihkan tersebut.000.000. yaitu sebesar Rp 20.000. Persediaan 2. investasi. Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan nilai lain.000. Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai pengganti saham atau penyertaan modaldimaksud.000. sumbangan yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a.000.000. ekonomi.000. 100 satuan @ Rp 12. maka nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah harga pasar. Sesuai dengan kelaziman. Pembelian 3.) dibukukan sebagai agio. Dalam hal ini PT Y akan mencatat mesin bubut tersebut sebagai aktiva dengan nilai Rp 40. (Rp 300. Selisih antara nilai nominal saham dengan nilai pasar harta.000.000.000. Contoh . HALAMAN 63 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .000.

perbaikan.=Rp 900. 100 st @ Rp 9. adalah sebagai berikut : Penyusutan. =Rp 1. hak guna usaha. 100 st @ Rp 9. 100 st @ Rp 9. kecuali tanah yang berstatus hak milik.100 st @ Rp12=Rp1.00=Rp1. 3.200.- Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut.200 st@ Rp10.125. 100 st@ Rp 11.25=Rp1. 2. atau perubahan.25=Rp1.=Rp1.200.100 st @ Rp11.75=Rp 2.075.50 =Rp2.25=Rp 1. ----Dipakai ----------100 st @ Rp 10.125.075.00 = Rp 900.Dipakai -------Sisa/persediaan. misalnya sebagai berikut : No. Penyusutan dan Amortisasi. Didapat ---100 st @ Rp 12. 1.200. serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari1 tahun. ---- 100 st @ Rp 9.1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara FIFO. 100 st @ Rp 12.5.200. 4. ---- 100 st @ Rp12. Didapat --100 st@ Rp 12.200.200.- 5. 3. (1) Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian. yang HALAMAN 64 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .75 = Rp 1.75 = Rp 1. ----- 100 st @ Rp10.125. hak guna bangunan.150.75= Rp 3.100 st @ Rp 10. 10. 100 st @ Rp11. 200 st@Rp 10. Penggunaan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara rata – rata misalnya sebagai berikut : No.100 st @ Rp12. Penjualan/dipakai 100 satuan 5. dan hak pakai. 5. sebagaimana dimaksud dalam Psl 11 an 11 A Undang-Undang PPh. 1.00 = 100 st @ Rp11.075.225. 100 st @ Rp 11.= Rp 900.00 =Rp 900. penambahan.- ----- 4.00 =Rp 900.75=Rp1.100 300st@ Rp10. pendirian. pembebannya dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi.Sisa/persediaan.25=Rp1. maka untuk tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang sama.125. (Pasal 11 dan Pasal 11 A) Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta tak berwujud.= Rp 1. Penjualan/dipakai 100 satuan.25=Rp1. 2. Rp 1.125. harta berwujud.100 st @ Rp 9.

penghasilan. masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud ditetapkan sebagai berikut Kelompok Berwujud Harta Masa Manfaat Tarif Penyusutan. Untuk menghitung penyusutan. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku. Apabila wajib pajak melakukan penilaian kembali aktiva.25% 5% II. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. dan memelihara. selain bangunan. Garis Lurus I. jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti dimasa kemudian. dengan syarat dilakukan taat azas.5% 6. berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 19 UU PPh. dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut. dan jumlah harga jual atau penggantian. Bangunan Permanen 20 tahun 5% --Tidak Permanen. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian. Bukan Bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 3 Saldo Menurun 50 % 25 % 12. menagih. menagih. dan pada akhir masa manfaat. atau penarikan harta karena sebab lainnya. kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan. (2) Penyusutan atas pengeluaran harta tak berwujud sebagaimana tersebut diatas. (9) Apabila hasil penggantian asuransi yang akan diterima. dilakukan dalam bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. termasuk penggantian asuransi (kalau diasuransikan). nilai sisa buku disusutkan sekaligus.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali. 10 tahun 10 % --(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam bidang usaha tertentu diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. maka dengan persetujan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar kerugian. Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut. penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 65 . bagi harta tersebut.5 % 10 % (3) (4) (5) (6) 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun 25 % 12. (8) Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (1) d UU PPh.

atau metode saldo menurun. hak guna usaha. dan hak pakai yang pertama kali adalah biaya perolehan hak tanah tersebut dari pihak ketiga. hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus. diamortisasikan selama jangka waktu hak-hak tersebut. dan (2). Sedangkan biaya perpanjangan hak guna bangunan. perusahan keramik.04/2000. Tgl 14 Desember 2000. dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku (metode saldo menurun atau declining balance method). Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan ini adalah . untuk pertama kalinya. atau perusahaan batu bata. dengan syarat nilai tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk memperoleh penghasilan. misalnya tanah dipergunakan untuk perusahaan genteng. yang sama atau sejenis. Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh tanah hak milik. dan hak pakai yang pertamakali tidak boleh disusutkan. melalui penyusutan. dan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan No. Yang dimaksud dengan pengeluaran untuk memperoleh tanah hak guna bangunan. nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus. untuk harta berwujud berupa bangunan. kecuali apabila tanah tersebut dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan. atau b. adalah sebagai berikut : Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu). dan memelihara penghasilan. Penjelasan ayat (1). diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan No. hak guna usaha. alat-alat kecil (small tolols). sedangkan harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut. dan hak pakai. Dalam hal wajib pajak memilih menggunakan metode saldo menurun.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (10) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (3) huruf a. (11) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. bukan bangunan untuk keperluan penyusutan. menagih. dana pengurusan hak-hak ter but dari instansi yang berwenang. (12) Jenis-jenis harta termasuk dalam kelompok harta berwujud. dapat disusutkan dalam satu golongan. tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan. dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus atau straight line method) . berupa harta berwujud. Sesuai dengan pembukuan wajib pajak. 520/KMK.03/2002 Tgl 8 April 2002. dan huruf b. Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat azas. termasuk tanah yang berstatus hak guna bangunan. UU PPh. dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut. hak guna usaha. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 66 . 138/KMK. tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. a.

000. Contoh penggunaan metode Saldo Menurun : Sebuah mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2009 dengan harga perolehan sebesar Rp 150.000. Mesin kantor tersebut termasuk dalam kelompok 1.000. 37.000. 18. maka perhitungannya sbb . dan memelihara penghasilan. dan masa manfaat dari mesin adalah 4 (empat) tahun.000.750. Contoh l. Nilai Sisa Buku 150. 0. Yang dimaksud dengan mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan. Metode penyusutan yang digunakan Saldo Menurun.500. Sebuah mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2009.000.- Penjelasan ayat (3) dan ayat (4) sebagai berikut : Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. yang berarti masa manfaat mesin ybs 4 (empat) tahun. 18.000.000. maka besarnya penyusutan Gedung tersebut 5% x Rp 1. tarif penyusutannya 5% setiap tahun.000.Mesin kantor tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan termasuk kelompok l.000.= Rp 50..000. yang tarif nyusutannya 50% (lima puluh persen) saldo menurun. saat mulainya penyutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. Tahun Harga perolehan 2009 2010 2011 2012 Tarif 50% 50% 50% Disusutkan sekaligus Penyusutan 75.000.000.000. maka perhitungan penyusutannya adalah sebagai berikut : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 67 . 18.000. Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung sebesar Rp 1.000. Namun berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.000. bangunan permanen.000. atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan. atau pada bulan selesainya pengerjaan suatu harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro-rata.000. 37. dan masa manfaatnya 20 (dua puluh) tahun.000. dengan harga perolehan sebesar Rp 100.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh penggunaan metode garis lurus : Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp 1.000. menagih.000. dan selesai untuk digunakan pada bulan Maret 2010.000.000.75.pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2009.000.750.000. maka penyusutan atas Gedung dimulai pada bulan Maret tahun pajak 2010.750. Contoh 2. dengan tarif penyusutan 50% (lima puluh persen) setahun.500.

000.5% 10% (3) Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran. dan memelihara penghasilan.- ½ x 50% 50% 50% 50% Disusutkan sekaligus Nilai Sisa Buku.000.5% 6. menagih.75.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tahun Harga perolehan 2009 2010 2011 2012 2008 Tarif Penyusutan 25.000.000. diamortisasi sekaligus.000. (1a)Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran.375. kecuali untuk bidang usaha tertentu yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan.25% 5% Saldo menurun 50% 25% 12. saat mulainya penyusutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. dg syarat dilakukan secara taat azas.000.000. dilakukan dalam bagian yang sama besar.000. penyusutan traktor tersebut dapat dilakukan mulai pada tahun 2010.9. menagih.37.18. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 68 .000.18.750. 100.500. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif Amortisasi atas pengeluaran tersebut.000.375. Saat mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.750.0. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. dan hak pakai. (2) Masa manfaat dan tarif amortisasi.500.000.000. hak guna usaha. yang dipergunakan untuk mendapatkan. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. Kelompok harta Tak berwujud. atau amortisasi. Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok 1 2 3 4 Masa manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun Tarif Amortisasi Garis lurus 25% 12. atau atas nilai sisa buku.000.9. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.37. termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan. atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. Amortisasi (1) Atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud. sesuai dengan ketentuan yang berlaku.375. dan pada akhir masa manfaat. Contoh : PT X yang bergerak dibidang perkebunan membeli traktor pada tahun 2009. Perkebunana tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun 2010.- Ayat (4) Berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. dan pengeluaran lainnya.9.

yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. Penjelasan ayat (1a) Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran sehingga amortisasi pada tahun pertama dihitung secara pro-rata. atau : b. setahun. pada akhir masa manfaat nilai sisa buku harta tak berwujud atau hakhak tersebut diamortisasi sekaligus. dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. (6) Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial. dibidang penambangan minyak dan gas bumi (migas). hak guna bangunan. maka wajib pajak menggunakan masa manfaat yang terdekat. Dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk amortisasi yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. Penjelasan ayat (1) Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (4) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. dan hak pengusahaan sumber alam. serta hasil alam lainnya. paling tinggi 20% (dua puluh persen). dalam bagian-bagian yang sama setiap tahun selama masa manfaat. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. Tarif amortisasi yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat. Untuk harta tidak berwujud yg masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada. Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya. maka nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut. (5) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan. dan kemudian diamortisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sebagaimana yang diatur dalam ketentuan ini. (8) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU PPh. Penjelasan ayat (2) Penentuan masa manfaat dan tarif amortisasi atas pengeluaran harta tak berwujud dimaksudkan untuk memberikan keseragaman bagi wajib pajak dalam melakukan amortisasi. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. (7) Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud atau hak-hak yang dapat diamortisasi. termasuk perpanjangan hak-hak atas tanah (seperti hak guna usaha. misalnya harta tak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 69 . sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan masa yang sebenarnya. diamortisasi dengan metode : a. dikapitalisasi. dan hak pakai ). dalam bagian-bagian yang menurun setiap tahun dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas nilai sisa buku. Khusus untuk amortisasi harta tak berwujud yang menggunakan metode saldo menurun. dari tiap harta tak berwujud. berupa harta tak berwujud. dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi.

besarnya Rp 1. ton. diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi (MSP). barrel. ternyata jumlah produksi mencapai 3.000. Ayat (7) Contoh : PT X. maka amortisasi yang diperkenankan.000. atau hasil alam lainnya. dan telepon. yang berarti 30% (tiga puluh persen). Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi.500. yang akan diamortisasi sesuai dengan persentase metode satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan.000. dengan jumlah paling tinggi 20% (dua puluh persen) setahun. yang mempunyai potensi 10. Contoh : Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan.000. = Rp 300. maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun.000. adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial.Taksiran jumlah kandungan minyak dan gas bumi tersebut sebanyak 200. dengan harga Rp 300. barrel. untuk dikurangkan dari penghasilan bruto.000. Penjelasan ayat (4) Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi. Perhitungan penghasilan dan kerugian dari penjualan hak penambangan sbb : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 70 . maka atas sisa pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus.500.000. dalam tahun pajak yang bersangkutan.000. Setelah diproduksi minyak dan gas bumi mencapai 100. misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang sifatnya rutin. ton kayu. pada tahun yang bersangkutan dg taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi. biaya rekening listrik.000. tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.000. pada tahun pajak tersebut adalah 20%. menjual hak penambangan tersebut ke PT Y. hak pengusahaan hutan. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini. dan biaya kantor lainnya. Penjelasan ayat (5). Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan. seperti hak pengusahaan hasil laut.000. mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 500. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5(lima) tahun.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6 (enam) tahun.000. dari jumlah potensi yang tersedia.000.000. PT X. sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain.Penjelasan ayat (6) Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial.000.000. atau 20% x Rp 1.000. seperti gaji pegawai..000. dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atau 8(delapan) tahun. Jika dalam satu tahun pajak.

Apa syarat-syarat piutang tak dapat ditagih sehingga bisa dianggap biaya. pembelian bahan dstnya. a.000./200. a.2. 9. Biaya pengembagan usaha yang bagaimana dapat dijadikan sebagai biaya.000.000. biaya mendapatkan.000.Harga jual Rp 300.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Hak perolehan Rp 500. c. a. besarnya penghasilan tidak kena pajak dimaksud diatas adalah :  Rp 15.  Rp 1. dan dimana diatur PTKP Tersebut. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). setahun bagi setiap anggota keluarga yang diperkenankan. dan jelaskan batasan-batasan PTKP terakhir yang diberlakukan. dalam menentukan biaya 3 M.000. Besarnya PTKP dapat ditinjau berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan.840. 10. Jelaskan dimana diatur biaya-biaya yg dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. maka terhadap penghasilan brutonya dapat dikurangkan .Nilai sisa buku harta Rp.000. Kompensasi kerugian seperti diatur dalam Psl 6 ayat (2). Anggota keluarga yg mana saja yang diperbolehkan menjadi tanggungan wp. d.2. Penentuan besarnya PTKP ditetapkan pada awal tahun pajak. dan pelatihan.000.8. a. yang pencatatannya diserahkan kepada wp sesuai dengan adat pedagang baik. a. Untuk mendapatkan penghasilan neto (bagi wajib pajak Badan). Terangkan perbedaan antara penyusutan dan amortisasi. atau penghasilan kena pajak (bagi wajib pajak Orang Pribadi). penyusutan dan amortisasi .000.4. 8.7.250. magang.000. biaya bea siswa. Bagaimana pengelompokan harta guna kepentingan penyusutan. kerugian karena penjualan harta.320.320. upah. Terangkan pengertian ”Adat pedagang yang baik”.000.3. dengan batasan 5 (lima) tahun.5. dibebankan sebagai kerugian.000. dan jumlah sebesar Rp 300. penghapusan piutang dengan syarat-syarat tertentu. setahun bagi wp sendiri.6. kerugian selisih kurs. menagih dan memelihara penghasilan (biaya 3 M). Jelaskan pengertian Metode Satuan Produksi.000. Kepada wajib pajak mana dapat diberlakukan PTKP. Biaya-biaya yang diatur dalam Psl 6 ayat (1) yang terdiri dari : a. Jelaskan pula beberapa biaya yg tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto.840. e. Disamping biaya yang boleh dikurangkan terdapat biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto yakni seperti diatur dalam . 3. b.1. setahun bagi wp kawin (isteri)  Rp 15. iuran kepada dana pensiun yang pendiriaannya telah disahkan Menkeu. 5. dan untuk jenis usaha apa saja. a. seperti gaji. 10. Latihan.000.(50%)Rp 250. 1. Rangkuman.000. a.000. 2. setahun isteri yang punya penghasilan sendiri. 7. a.000.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 71 .3.000. maksimal 3 (tiga) orang. biaya penelitian dan pengembangan usaha di Indonesia. 10. 4.Amortisasi yg telah dilakukan 100.  Rp 1. sesuai dengan urutan masa kompensasinya. 6.000. f. dibukukan sebagai penghasilan.Nilai sisa buku sebesar Rp 250. bagi wajib pajak orang pribadi DN.000.

jadi bukan tidak boleh. menagih dan memelihara penghasilan yg menjadi objek pajak. Harta dibagi atas Bukan Bangunan. b. maka dengan seizin Direktur Jendral Pajak penghasilannya dibukukan dimasa kemudian. maka disusutkan setelah selesainya proses pengerjaan bangunan tersebut. dengan sistim penyusutan yang dapat dipilih antara straight line method (sistim garis lurus). 2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. sumbangan.  Jumlah yang melebihi kewajaran. Amortisasi. Jenis-jenis harta untuk kepentingan penyusutan daftar pengelompokannya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan No. atau biaya serta pengeluaran yang mempunyai masa manfaat HALAMAN 72          3. biaya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. dibebankan melalui penyusutan dan amortisasi.  Biaya kepentingan pribadi pemegang saham. kecuali tanah.  Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi wajib pajak. dan bantuan. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. Penyusutan dimulai pada bulan perolehan dari harta tersebut.  Pembentukan dana cadangan dengan persyaratan tertentu. Penyusutan digunakan untuk harta berwujud. sedangkan hasil penjualannya masuk sebagai objek pajak Jika harta diasuransikan mengalami musibah. Terhadap harta tak berwujud. yg dibayarkan ke pemegang saham. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . seperti hak-hak. Tgl 8 April 2002. penyusutan harta dapat digeser ke tahun mendatangkan penghasilan (untuk usaha khusus misalnya perkebunan). 138/KMK.Pasal 9 ayat (2). Dalam melakukan penyusutan berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut : Harta yang boleh disusutkan.  Pajak penghasilan. hak pakai. Psl 9 ayat (1) UU Pajak Penghasilan yaitu :  Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun. Kalau terjadi penarikan harta sebagai bantuan.03/2002.  Premi asuransi-asuransi yang bersifat pribadi wajib pajak.  Gaji yang dibayarkan kepada anggota firma. kehutanan. adalah harta yang terpakai dalam kegiatan mendapatkan. sumbangan. kecuali harta yang masih dalam proses pengerjaan (misalnya bangunan). penggantian asuransi tidak terjadi pada tahun terjadinya musibah.04/2000. Terhadap bukan bangunan dibagi lagi atas 4 (empat) kelompok. Jika terjadi pengalihan harta.  Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya. serta dilaksanakan dengan taat azas. Penyusutan dan Amortisasi (Psl 11 dan Psl 11 A).-yang telah diubah dengan KepMenkeu No. misalnya hak guna usaha. persekutuan dan sejenisnya. 520/KMK.  Sanksi-sanksi perpajakan. tetapi tidak boleh sekaligus. dan Bangunan. atau double declining balance ( sistim saldo menurun). misalnya dijual maka nilai sisa buku menjadi kerugian. hak pengusahaan dibidang pertambangan. atau dihibahkan maka nilai bukunya tidak boleh menjadi kerugian bagi pihak yang mengalihkan. hak milik.  Harta yang dihibahkan. g.

penghasilan komersial menurut laporan wajib pajak. Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT) : a. menggunakan metode satuan produksi tanpa batas. 8 tahun (12. Pengeluaran lainnya yg mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Persentase amortisasi dengan menggunakan sistim garis lurus dengan masa manfaat 4 tahun (25%).5%). dihibahkan. Hak penambangan. dan penghasilannya menjadi objek pajak b. merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan. tidak dapat dijadikan biaya yang mengurangi penghasilan bruto. Pajak Penghasilan yang dibayar wp baik melalui pemotongan atau pemungutan serta yang dibayar sendiri wp : a. diamortisasi sesuai dengan pengelompokan poin titik (2) diatas. 4 tahun (50%). hak pengusahaan sumber alam lainnya. Penghasilan Bruto b. dikapitalisasi dan dibebankan melalui penyusutan .         10. c. atau saldo menurun. c. biaya menurut perhitungan laporan Akuntan Publik. Pilihlah salah satu jawaban yang Saudara anggap paling tepat : 1. maka nilai sisa bukunya. 16 tahun (6. c. 2. Penghasilan Neto (WP Badan). Test Formatif. Atas biaya pendirian. jika masa manfaat diatas 1(satu) tahun. Hak penambangan dibidang Minyak dan Gas bumi (Migas). biaya berdasarkan laporan komersial wajib pajak. karena diberikan sebagai bantuan atau sumbangan. Pajak Penghasilan dikenakan atas penghasilan . biaya yang menyangkut 3 M. dan 20 tahun (5%). 16 tahun (12. dan 20 tahun (10%).25%). hak pengusahaan hutan. b. dengan sistim penyusutan yang dapat dipilih antara sistim garis lurus. tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada amortisasi. sedangkan kalau menggunakan sistim saldo menurun masa manfaat dan persentasenya. sama dengan titik point (2) diatas. setinggitingginya 20% (dua puluh persen). 3. pembebanannya dilakukan melalui amortisasi. menggunakan Metode Satuan Produksi (MSP). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 73 . biaya perluasan modal. maka jumlah nilai sisa bukunya.5%). Apabila terjadi pengalihan atas harta tak berwujud. Namun apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud. hampir sama dengan ketentuan yang terdapat pada penyusutan yaitu : Atas harta tak berwujud dibagi 4 (empat) kelompok. sedangkan jumlah yang diterima atau diperoleh sebagai penggantiannya.4. dapat dijadikan pengurangan penghasilan (biaya). PKP (Wajib Pajak Orang Pribadi).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN lebih dari 1 (satu). 8 tahun (25%). a. dibebankan sebagai kerugian. atau hak-hak tersebut diatas. atau diwariskan sesuai dengan Psl 4 ayat (3) huruf (a) dan huruf (b).

maka perhitungannya adalah : a. menagih. Besarnya PTKP seperti dimaksud angka (10) diatas mulai tahun 2009 : a. c. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) diberlakukan kepada : a. b. a. dan memelihara penghasilan yang menjadi objek pajak. piutang tersebut adalah piutang pribadi pemilik usaha . dan huruf (b) diatas. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 74 . ditambah wajib pajak badan dan BUT. Dalam melakukan penyusutan maka aktiva/harta wajib pajak : a. 5. 13. perhitungannya tanpa batas waktu . piutang macet akibat yang punya piutang failit (bangkrut) . 6. jawaban diatas tidak ada yang benar 10. perhitungannya hanya diperkenankan selama 5 (lima) tahun. diambil kerugian yang paling besar . Kompensasi kerugian sebagai pengurangan penghasilan (biaya) : a. selisih kurs berdasarkan kebijakan pemerintah dibidang moneter. wajib pajak orang pribadi dalam negeri. dan bangunan (2 kelompok yaitu permanen. c. c. c. setahun untuk seorang wp yang belum kawin.840. pada saat bertambah atau berkurangnya anggota keluarga wajib pajak.000.000. b. Rp 15. b. Penyusutan atas harta berwujud hanya dapat dilakukan : a. pengelompokan diserahkan sepenuhnya kepada wajib pajak . pada akhir tahun pajak sewaktu wp mengisi SPT Tahunan. b. Kerugian selisih kurs dapat menjadi biaya yang dapat dikurangkan jika . a. Piutang yang tak dapat ditagih dapat menjadi kerugian apabila : a. Rp 18. Rp 14. b. tidak dapat mempengaruhi penghasilan netonya. selisih kurs tersebut dari perdagangan valuta asing. 9. jawaban (a) dan (b) diatas tidak ada tepat. Penentuan besarnya PTKP ditentukan . b. c. termasuk hak-hak. selisih kurs tersebut tidak dalam kegiatan usaha wajib pajak. tidak dilakukan pengelompokan harta . Kerugian bagi wajib pajak yang menggunakan Norma Perhitungan : a.000. b. bukan bangunan (yang terdiri dari 4 kelompok). 11. dan bukan permanen). setahun bagi wp yang kawin dengan 3 (tiga) tanggungan. huruf (a). b.400. 12. awal tahun pajak. perhitungannya boleh dilakukan setiap bulan. hanya terhadap harta yang digunakan umtuk mendapatkan.000. jika waktunya masih ada. Jika terdapat kerugian berturut-turut.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. setahun bagi wajib pajak kawin dengan status K/1. diklasifikasi kepada. 7. baik wp dalam negeri. 8. maupun wp luar negeri . atas semua harta wajib pajak. c. dapat mengurangi penghasilan netonya. c. semua wajib pajak. dapat dilakukan sekaligus untuk mengurangi penghasilan . maupun yang masa manfaat (umurnya) sudah habis. c. b. c. b. mendahulukan kerugian tahun sebelumnya. c. atas semua harta baik yang masih mempunyai masa manfaat.

penyusutan dan amortisasi didasarkan perhitungan menurut ketentuan UU.. 19. atau c.. 3. jika wp sudah mendapat keterangan dari Pemda setempat. b..). apabila biaya tersebut termasuk biaya 3 M. dapat mengurangi penghasilan firma yang bersangkutan. apabila wajib pajak sudah melaporkannya ke Ditjend Pajak.. Tulis B pada tanda dalam kurung ( ). tidak boleh menjadi biaya. hak guna usaha. 10. Sistim penyusutan atas harta dapat diterapkan : a. diterapkan terhadap : a. hak pengusahaan sumber alam lainnya. 20. 18. dan penghasilannya objek pajak (.).. c. 16. pembukuan biaya-biaya yang boleh dikurangkan sebagai biaya yang akan mengurangi penghasilan bruto wajib pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 14.. b. b. a. jika salah. hak pengusahaan hutan. b.5. boleh dijadikan biaya sepanjang penghasilan wp memakai norma khusus. atau S. termasuk hak-hak. 1. Amortisasi sebagai pengurangan penghasilan diterapkan terhadap . serta biaya lainnya yang mempunyai masa manfaatnya lebih dari satu tahun. menjadi objek pajak bagi anggota firma yang bersangkutan. hak penambangan migas bumi. sedangkan hasil penggantiannya dimasukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan. wajib pajak mengajukan permohonan agar dihapuskan dari pembukuan. Metode Satuan Produksi (MSP).. a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 75 . b. didasarkan biaya komersial (. c. 17. sistim saldo menurun bagi seluruh harta. dan peraturan perpajakan (.). sistim garis lurus bagi bangunan . Natura dan Kenikmatan didaerah terpencil dapat dibiayakan : a. pengeluaran untuk perolehan harta tak berwujud . a. biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak. harta tak berwujud yang dimiliki diluar perusahaan/usaha . hak pakai. b.. Apabila terjadi penarikan harta berwujud dari pemakaian maka . tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto firma tersebut. harta tak berwujud. Gaji yang dibayarkan oleh badan usaha berbentuk firma kepada anggota . nilai sisa bukunya menjadi kerugian. 15. c. 2. c. bila benar. c. sudah ada keputusan dari Dirjend Pajak tentang status daerah terpencil bagi wajib pajak yang bersangkutan . kecuali dalam hal-hal tertentu . memilih sistim garis lurus. amotisasi atas biaya memperoleh hak milik. c. sistim garis lurus atas semua harta . pengeluaran sebelum produksi komersial. atau saldo menurun bagi bukan bangunan. b. Pemberian natura dan kenikmatan kepada pegawai : a. dapat jadi biaya sepanjang wajib pajak menyelenggarakan pembukuan. penarikan harta tersebut tidak mempengaruhi penghasilan wajib pajak.

). 6. dapat dijadikan biaya yang mengurangi penghasilan neto wajib pajak (... 5.. (.)...... apabila penggantian asuransi tidak bersamaan tahunnya dengan terjadinya musibah.). hanya berlaku bagi usaha pengusahaan hutan... maka pengelompokan harta diserahkan kepada wajib pajak sesuai dengan fungsinya didalam perusahaan (. 7...).. kompensasi kerugian hanya diperuntukan bagi wajib pajak badan (.). tarif penyusutan untuk harta kelompok tiga dengan sistim saldo menurun besarnya adalah 25% (dua luluh lima persen). iuran pensiun yang boleh dikurangkan dari penghasilan wajib pajak apabila dibayarkan kepada lembaga pensiun yang dibentuk wajib pajak (....).)..... dapat dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak (. wajib pajak diperkenankan memasukan orang tua walaupun orang tua tersebut sudah pensiun dari pekerjaannya.. Metode Satuan Produksi (MSP)..... dapat dikurangkan dari penghasilan perusahaan.. huruf a. biaya penelitian dan pengembangan usaha yang dilakukan di Indonesia. 19.... apabila terjadi penarikan harta tak berwujud dari pemakaian sesuai dengan ketentuan Psl 4 ayat (3). didalam perhitungan PTKP... 9...).. dalam melakukan penyusutan dan amortisasi.. dalam melakukan penyusutan. 18. penghasilan tidak kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi luar negeri apabila setelah melewati batas 183 hari dalam 12 bulan..)... dapat dikurangkan sebagai biaya.) 11. sewa kantor untuk jangka waktu 3 tahun. sebagai pengurangan penghasilan neto.. (. HALAMAN 76 12... terhadap aktiva/harta yang diasuransikan. 17..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. dan hak penambangan diluar migas bumi (. kenaikan pajak.. masa kompensasi kerugian hanya dibatasi jangka waktu perhitungannya 5(lima) tahun. wanita kawin. dengan surat keterangan dari Camat...... 20.).. 16...).. (. yang suaminya tidak mempunyai penghasilan dapat memasukan PTKP suami..). sanksi-sanksi perpajakan seperti bunga.. walaupun pemegang saham tersebut belum menyetor penuh modalnya. dengan batasan paling tinggi 20% (dua puluh persen)...)...... denda. tidak boleh dibebankan sekaligus. (.). tapi harus diamortisasi sesuai dengan masa manfaatnya. maka nilai bukunya tidak boleh menjadi kerugian bagi pihak yang mengalihkan (. dan huruf b.. 10. sebelum penghasilan badan tersebut dikenakan pajak (. sejak terjadinya kerugian (. 15. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II ..)... diperkenankan (. imbalan bunga yang diberikan kepada pemegang saham sehubungan dengan pinjaman yang diberikannya. (.. maka seizin DirJend Pajak penghasilannya dapat dibukukan dimasa kemudian (. pemberian uang perbaikan rumah pemegang saham. 14. jika ybs berbekerja sebagai karyawati.. wajib pajak dapat berganti-ganti sistim setiap tahun sesuai dengan keadaan usahanya.) 8. 13. (...

7. Salah (S) 10. 15. kurang dari 80% . 4. 8. 9.6. Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. 10. 2. 2. 8. 9. 10. 5. Salah (S) 19. tetapi bila tingkat penguasaan Sdr. b a a c b b c a c a 11. 13. Memilih Benar (B). 18.79 % = Cukup 69 % atau kurang = kurang. 3. Cocokkanlah jawaban Saudara dengan kunci jawaban dengan Test Formatif.7. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 77 . Umpan Balik. Kunci test Formatif. hasilnya dikalikan dengan 100%. 17. (pilih salah satu jawaban yang tepat. 20. 16. dan hitunglah jumlah jawaban Saudara yang benar atau yang betul. 80 % . a b c b a b c b b b 10. Salah (S) 12. Salah (S) 14. Benar (B) 20. Salah (S) 16. 1. 6.6. 14. 12. Salah (S) 17. Memilih jawaban yang paling tepat . 3. Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi kegiatan belajar Saudara.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Arti tingkat penguasaan yang dicapai : 90 % . 7. 4.6. Rumus : Tingkat penguasaan = jumlah jawaban Saudara yang benar dibagi dengan jumlah soal. atau Salah (S). 6. Benar (B) 13. 5.100 % = Baik sekali. 10. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. Benar (B) 15.1.2. Benar (B) 18. Saudara harus mempelajari kembali kegiatan belajar tsb. Benar (B) Salah (S) Benar (B) Salah (S) Benar (B) Salah (S) Benar (S) Benar (B) Benar (B) Salah (S) 11. 1.89 % = Baik 70 % . 19. dan pilih betul atau salah).

000. (2) Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. CARA MENGHITUNG PAJAK. disamping itu terdapat pula Wajib Pajak yang tidak mampu menyelenggarakan pembukuan. (5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan. termasuk wajib pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4). maka penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan peredaran brutonya dihitung dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. terutama Wajib Pajak Orang Pribadi pengusaha kecil. (6) Dihapus. (4) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. (1) Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk menentukan penghasilan neto. (empat milyar delapan ratus juta rupiah). wajib menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tatacara perpajakan. dibuat dan disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh Direktorat Jendaral Pajak . yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan pencatatan atau bukti-bukti pendukungnya. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri termasuk kategori tidak mampu Menyelenggarakan pembukuan atau Wajib Pajak kecil dimaksud. KEGIATAN BELAJAR 7 NORMA PERHITUNGAN.1. (7) Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan. Norma Perhitungan. yang peredaran brutonya dalam 1(satu) tahun kurang dari Rp 4.000. dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Pajak Penghasilan yaitu . Seperti dimaklumi kondisi Wajib Pajak bermacam-macam. (3) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang menghitung penghasilan Netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penjelasan Pasal 14 Informasi yang benar dan lengkap tentang penghasilan Wajib Pajak sangat penting untuk dapat mengenakan pajak yang adil dan wajar sesuai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 78 . disediakan angka yang berbentuk prosentase yang akan digunakan untuk menetapkan besarnya Penghsilan Neto dan Pajak Penghasilan terutang. 11. ada Wajib Pajak yang mampu menyelenggarakan pembukuan.800.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3(tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. DAN TARIF.

tetapi tidak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 79 . Ayat (4) Apabila Wajib Pajak orang pribadi yang berhak. Namun bahwa tidak semua Wajib Pajak mampu menyelenggarakan pembukuan.000. Penentuan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan penerapan norma dalam menghitung penghasilan neto.800. Untuk memberikan kemudahan dalam menghitung besarnya penghasilan neto bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto tertentu. Ayat (2).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan kemampuan ekonomis Wajib Pajak. dan dengan memperhatikan kewajaran. Norma penghitungan akan sangat membantu Wajib Pajak yang belum mampu menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung penghasilan neto. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan norma penghitungan. Untuk dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut. Norma penghitungan disusun sedemikian rupa berdasarkan hasil penelitian atau data lain. Ayat (1) Norma Penghitungan adalah pedoman untuk menentukan besarnya penghasilan neto yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak dan disempurnakan terus-menerus. Untuk dapat menyajikan informasi dimaksud. yang peredaran brutonya kurang dari jumlah Rp 4. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran tertentu. atau (b) pembukuan atau catatan peredaran bruto Wajib Pajak ternyata diselenggarakan secara tidak benar. Semua Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Ayat (3) Wajib Pajak orang pribadi yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut wajib menyelenggarakan pencatatan tentang peredaran brutonya sebagaimana diatur dalam UndangUndang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tatacara perpajakan. tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. (empat milyar delapan ratus juta rupiah).000. bermaksud untuk menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Norma Penghitungan Penghasilan Neto hanya boleh digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan. yaitu pembukuan yang tidak lengkap. Wajib Pajak orang pribadi harus memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3(tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Penggunaan Norma Penghitungan tersebut pada dasarnya dilakukan dalam hal-hal : (a) terdapat dasar penghitungan yang lebih baik.

atau wajib menyelenggarakan pencatatan dan atau dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Bagi Wajib Pajak tertentu terutama Wajib Pajak Badan. tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau pembukuannya. perusahaan asuransi luar negeri. Penjelasan Pasal 15 Ketentuan ini mengatur tentang Norma Penghitungan Khusus untuk golongan Wajib Pajak tertentu antara lain perusahaan pelayaran atau penerbangan internasional. Penghasilan Wajib Pajak yang bergerak dibidang usaha pelayaran dalam negeri (Keputusan Menteri Keuangan No. 2. 416/KMK. 2% x Peredaran Bruto. Wajib Pajak tersebut dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Sehingga mengakibatkan peredaran bruto dan penghasilan neto yang sebenarnya tidak diketahui maka peredaran bruto Wajib Pajak yang bersangkutan dihitung dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan dan penghasilan netonya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Beberapa contoh penerapan Norma Penghitungan Khusus : 11. tidak bersedia memperlihatkan pembukuan atau pencatatan atau bukti pendukungnya pada waktu dilakukan pemeriksaan. operate. yang berbunyi : Norma Penghitungan Khusus untuk menghitung penghasilan neto dari Wajib Pajak tertentu yang tidak dapat dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) atau ayat (3) ditetapkan Menteri Keuangan. Ayat (5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan. dan panas bumi. 11. Ayat (7) Menteri Keuangan dapat menyesuaikan besarnya batas peredaran bruot sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan memperhatikan perkembangan ekonomi dan kemampuan masyarakat Wajib Pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS. and transfer”).04/1996. adakalanya diberlakukan Norma Penghitungan Khusus yang ketetuannya daitur dalam Pasal 15. perusahaan pengeboran minyak. gas. atau b.) dikenakan Pajak Penghasilan 1.2. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 80 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN memberitahukannya kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu yang ditentukan.1. tetapi : a. perusahaan yang melakukan investasi dalam bentuk bangun-guna-serah (“build. perusahaan dagang asing.

Cara menghitung pajak diatur dalam Pasal 16. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 0. CARA MENGHITUNG PAJAK. 634/KMK. huruf e. 417/KMK.04/1994. serta Pasal 9 ayat (1) huruf c. (4) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam suatu bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (6) dihitung berdasarkan penghasilan neto yang diterima atau diperoleh dalam bagian tahun pajak yang disetahunkan. serta Pasal 9 ayat (1) huruf c. dan huruf g.4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. Pasal 6 ayat (1).4/1995.3. huruf e.2. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 81 . berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.2. jo SE38/PJ. 11. 11. Penghasilan Wajib Pajak luar negeri yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia. huruf d.44% x Nilai ekspor Bruto. dengan berbagai cara seperti berikut : (1) Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarip bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan dalam negeri dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2).04/1996 dikenakan Pajak Penghasilan dengan tarif 2. (mana yang lebih tinggi. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 5% x harga pasar atau NJOP. diperoleh dari penerapan tarif menurut Pasal 17 dikalikan Penghasilan Neto atau Penghasilan Kena Pajak. Guna.04/1995. Pasal 15 jo Keputusan Menteri Keuangan No. 248/KMK.2.2. (3) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5mayat (1) dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3). Pasal 7 ayat (1). Serah (BOT).64% x Peredaran Bruto. Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan Norma Penghitungan Khusus guna menghitung besarnya penghasilan neto dari Wajib Pajak tertentu tersebut. Penghasilan Wajib Pajak yang bergerak dibidang usaha pelayaran dan penerbangan luar negeri ( Keputusan Menteri Keuangan No.3. dihitung dengan menggunakan norma penghitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan untuk Wajib Pajak orang pribadi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1). dan huruf g.) Untuk menghindari kesukaran dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak (PKP) bagi golongan Wajib Pajak tertentu tersebut. dan ayat (2). 11. huruf d. berdasarkan pertimbangan praktis atau sesuai dengan kelaziman pengenaan pajak dalam bidang-bidang usaha tersebut. (2) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Menghitung pajak terutang. Nilai bangunan yang diterima dalam rangka Bangun.

000 Rp 19.000 .000.Pengurangan Penghasilan Tidak Kena Pajak (bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dengan status K/2 (isteri + 2 anak) .000 Rp 590.000. menagih dan memelihara penghasilan tsb .Peredaran bruto . Ayat (1) Bagi Wajib Pajak dalam negeri yang menyelenggarakan pembukuan Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan mengggunakan cara penghitungan biasa dengan contoh sebagai berikut : . Dalam Undang-undang ini dikenal dua golongan Wajib Pajak.000.000.Penghasilan Kena Pajak (bagi Wajib Pajak badan ) .400.000.000 10.000 Rp Rp Rp Rp Rp 30.dan 2.000 Rp 50. yaitu Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri.200.Penghasilan lainnya .800. yang diperuntukan bagi Wajib Pajak tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.Biaya untuk mendapatkan.Penghasilan neto menurut Norma Penghitungan (misalnya 20%) Rp 800.000.000 Rp 600.000 610. 4.Laba usaha (penghasilan neto usaha ) .Peredaran bruto Rp.Penghasilan Kena Pajak (bagi Wajib Pajak orang pribadi) Ayat (2) Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang berhak untuk tidak menyelenggarakan pembukuan.000 Rp 5.000.000 20.000.000 . Wajib Pajak luar negeri lainnya.000 620. menagiah dan memelihara penghasilan . Bagi Wajib Pajak dalam negeri pada dasarnya terdapat dua cara untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak.000.Penghasilan neto dari usaha lainnya . yaitu penghitungan dengan cara biasa.000.000 .Jumlah seluruh penghasilan neto (usaha pokok + usaha lainnya) .(+) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 82 Rp 6.000. Bagi Wajib Pajak luar negeri penentuan besarnya Penghasilan Kena Pajak dibedakan antara : 1. dan penghitungan dengan menggunakan Norma Penghitungan. Disamping itu terdapat cara penghitungan dengan menggunakan Norma Penghitungan Khusus.000. Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Neto dengan contoh sebagai berikut : .000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Penjelasan Pasal 16 Penghasilan Kena Pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang.Biaya untuk mendapatkan. Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.Penghasilanneto lainnya Rp 5.Kompensasi kerugian .000..

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

- Jumlah seluruh penghasilan neto (usaha pokok + usaha lainnya) - Penghasilan Tidak Kena Pajak (isteri + 3 anak) –K/3 - Penghasilan Kena Pajak Ayat (3)

Rp Rp Rp

805.000.000 21.120.000.(-) 783.880.000

Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, cara penghitungan Penghasilan Kena Pajaknya pada dasarnya sama dengan cara penghitungan Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan dalam negeri. Karena bentuk usaha tetap berkewajiban menyelenggarakan pembukuan, Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan cara penghitungan biasa. Contoh : - Peredaranbruto - Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara Penghasilan - Penghasilan neto - Penghasilan Bunga - Penjualan langsung barang yang sejenis dengan barang yang dijual Bentuk usaha tetap oleh Kantor Pusat - Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilannya - Penghasilan netonya - Deviden yang diterima atau diperoleh kantor pusat yang mempunyai efektif dengan bentuk usaha tetap - Jumlah - Biaya – biaya menurut Pasal 5 ayat (3) - Penghasilan Kena Pajak Ayat (4) Contoh : Orang pribadi tidak kawin yang kewajiban pajak subjektifnya sebagai subjek pajak dalam negeri adalah 3(tiga) bulan dan dalam jangka waktu tersebut memperoleh penghasilan sebesar Rp 150.000.000. maka penghitungan Penghasilan Kena Pajaknya adalah sbb: Penghasilan selama 3(tiga) bulan Rp 150.000.000. Penghasilan setahun sebesar (360 : (3 x 30) x Rp 150.000.000 = Rp 600.000.000. Penghasilan Tidak Kena Pajak Rp 15.840.000. Penghasilan Kena Pajak Rp 584.160.000. Rp10.000.000.000 Rp 8.000.000.000 Rp 2.000.000.000 Rp 50.000.000 Rp 2.000.000.000 Rp Rp 1.500.000.000 500.000.000

Rp 1.000.000.000 Rp 3.550.000.000 Rp 450.000.000 Rp 3.100.000.000

11.4. TARIF (Pasal 17). (1) Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi : a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut ;

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

83

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000. (lima puluh juta rupiah) Diatas Rp 50.000.000. sampai dengan Rp 250.000.000. Diatas Rp 250.000.000 sampai dengan Rp 500.000.000. Diatas Rp 500.000.000. (lima ratus juta rupiah)

Tarif Pajak 5% (lima persen) 15 % (lima belas persen) 25% (dua puluh lima %) 30% (tiga puluh persen).

b. Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28% (dua puluh delapan persen). (2) Tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diturunkan menjadi paling rendah 25% (dua puluh lima persen), yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2a) Tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, menjadi 25% (dua puluh lima persen) yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010. (2b) Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan dibursa di Indonesia, dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya, dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. (2c) Tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa deviden yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final. (2d) Ketentuan lebih lanjut mengenai besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2c), diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan. (4) Untuk keperluan penerapan tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh. (5) Besarnya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4), dihitung sebanyak jumlah hari dalam bagian tahun pajak yang terutang untuk 1(satu) tahun pajak. (6) Untuk keperluan penghitungan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), tiap bulan yang penuh dihitung 30 (tiga puluh) hari. (7) Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan tarif tersendiri atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

84

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Penjelasan Pasal 17 Ayat (1) Huruf a Contoh : Penghitungan Pajak terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi: Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 500.000.000. Pajak Penghasilan terutang : 5% x Rp 50.000.000. = Rp 2.500.000. 15% x Rp 200.000.000. = Rp 30.000.000. 25% x Rp 250.000.000. = Rp 62.500.000. 30% x Rp 100.000.000. = Rp 30.000.000. Jumlah = Rp125.000.000. Huruf b Contoh : Penghitungan pajak terutang untuk Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap: Jumlah Penghasilan Neto Rp 1.250.000.000. Pajak Penghasilan terutang adalah : 28% x Rp 1.250.000.000. = Rp 350.000.000. Ayat (2) Perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat ini akan diberlakukan secara nasional, dimulai per 1(satu) Januari dan diumumkan selambatlambatnya 2 (dua) bulan sebelum tarif baru ini berlaku efektif, serta dikemukakan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rajyat Republik Indonesia, untuk dibahas dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ayat (3) Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tersebut, akan disesuaikan dengan faktor penyesuaian, antara lain tingkat inflasi, yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Ayat (4) Contoh : Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 5.050.900,- untuk penerpana tarif dibulatkan kebawah menjadi Rp 5.050.000. Ayat (5) dan ayat (6) Contoh : Penghasilan Kena Pajak setahun (dihitung sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 16 ayat (4) sebesar Rp 584.160.000. Pajak penghasilan terutang : 5% x Rp 50.000.000. = Rp 2.500.000. 15% x Rp 200.000.000. = Rp 30.000.000. 25% x Rp 250.000.000. = Rp 62.500.000. 30% x Rp 84.160.000. = Rp 25.248.000. Jumlah = Rp120.248.000. Pajak penghasilan yang terutang dalam bagian tahun pajak 3(tiga) bulan = ( 3 x 30 ) x Rp 120.248.000. = Rp 30.062.000.360
MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 85

Terangkan jenis-jenis Pajak Penghasilan baik melalui pemotongan. sepanjang tidak lebih tinggi dari tarif pajak tertinggi sebagaimana diatur dalam ayat (1). terdapat pula Norma Penghitungan Khusus. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 86 . 11. Berikan contoh menghitung PPh.000.230. jelaskan.5. Disamping Norma yang sifatnya umum.000 dalam 1(satu) tahun. Jelaskan tarif yang digunakan bagi penghasilan yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). Terangkan tarif yang berlaku bagi Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap. seperti diatur dalam Pasal 15. 9. Bagaimana penentuan tarif Pajak Penghasilan dalam Pasal 17. Uraikan batasan kegiatan NormaPenghitungan usaha yang diperkenankan menggunakan 4. 10. Jelaskan tatacara pelunasan pajak dalam tahun berjalan. Undang-undang memberi kesempatan untuk menghitung Penghasilan Neto dengan mengunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto seperti yan diatur dalam Pasal 14. 3. LATIHAN 1. terutang bagi Wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang memiliki penghasilan kena pajak sebesar Rp 68. yang digunakan untuk bidang-bidang usaha tertentu.800. RANGKUMAN 1.6. Terangkan bidang-bidang usaha yang telah ditetapkan memakai Norma Peghitungan Khusus. 11.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ayat (7) Ketentuan dalam ayat ini memberi wewenang kepada Pemerintah untuk menentukan tarif pajak tersendiri yang dapat bersifat final atas jenis penghasilan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). 2. 6. Jelas apa yang dimaksud dengan Norma Penghitungan Penghasilan neto.750. 8. maupun melalui pemungutan. Penentuan tarif pajak tersendiri tersebut didasarkan atas pertimbangan kesederhanaan. 5. keadilan. dan pemerataan dalam pengenaan pajak. 7. dengan beberapa yang harus dipenuhi Wajib Pajak antara lain penghasilan brutonya/omzet/peredaran usahanya tidak lebih Rp 4. Persyaratan apa yang harus dipenuhi Wajib Pajak untuk dapat mengunakan Norma Penghitungan dimaksud. 2. Bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak sanggup menyelenggarakan pembukuan.

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 87 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. yaitu melalui sistem pembukuan. 4. Terdapat 2(dua) macam cara menghitung Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Bagi Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam bagian tahun pajak. Dalam Pasal 17 diatur ketentuan mengenai tarif bagi Wajib Pajak orang Pribadi dalam negeri. dan badan termasuk bentuk usaha tetap. termasuk yang menggunakan Norma Penghitungan Khusus. dihitung sesuai dengan bulan banyaknya penghasilan tersebut dikalikan dengan pajak yang terutang untuk 1(satu) tahun pajak. serta tarif untuk penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Pasal 4 ayat (2). 5. dan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

4.000. Semua Wajib Pajak. ayat (1).1. Jenis usaha dibidang perbankan. c. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang Pribadi dalam negeri yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (Pasal 14 ) diperoleh dari a. dan Pasal 9 ayat (1) huruf c. Penghasilan yang diterima atau diperoleh menurut catatan usaha. b. Norma Penghitungan Khusus (Pasal 15). Bagi Wajib Pajak yang menggunakan Penghitungan Norma Penghasilan : a. 8.Wajib menyelenggarakan pencatatan mengenai peredaran usaha/penerimaan penghasilan brutonya/omzet kegiatan usahanya selama satu tahun tersebut. Penghasilan bruto sama dengan Penghasilan Neto. Tarif Degressif.000. Tarif Tetap. b. s/d g. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mengalami bagian tahun pajak a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang peredaran usahanya tidak melebihi Rp 4. Hanya bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri. b. c. Kegiatan usaha dibidang perdagangan dalam negeri. Penghasilan tersebut tidak menjadi objek pajak. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri badan dan bentuk usaha tetap diperoleh dari : a. Persyaratan menggunakan Norma Penghitungan : a. 2. Jawaban a dan b tidak ada yang benar. Penghasilan bruto dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak. 1.7. Tarif Pajak yang progressif. Usaha Pelayaran dan Penerbangan Luar Negeri. b. 11. b. b. Penghasilan bruto dikurangi biaya-biaya yang diperkenankan. c. Penghasilan tersebut dijadikan penghasilan satu tahun.7. antara lain diberlakukan terhadap : a. c. Wajib Pajak akan diberitahukan oleh Kantor Pelayanan Pajak setempat. dalam satu tahun. Harus memberitahukan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam tempo 3(tiga) bulan dari permulaan tahun pajak yang bersangkutan. Diwajibkan menyelenggarakan pembukuan yang lengkap. 3. Test Formatif. Penghasilan bruto dikalikan Norma Penghitungan dikurangi PTKP. c. Tarif Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 17 menggambarkan : a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 88 . 6. 5. c. dan ayat (2). Tidak ada kewajiban pembukuan maupun pencatatan apapun. dikurangi dengan pengurangan seperti diatur dalam Pasal 6. c.800. b. Norma Penghitungan Penghasilan Neto digunakan oleh : a. Pilihlah jawaban yang paling tepat. 7. b. c.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. Penghasilan menurut Pasal 4 ayat (1). Tidak disyaratkan adanya pemberitahuan.

.. Guna penerapan tarif perhitungan.. (...Rp 31. Norma Penghitungan Khusus bagi Wajib Pajak badan yang bergerak dibidang usaha pelayaran dalam negeri dikenakan 1..Tarif Pajak Penghasilan yang tercantum dalam Pasal 17 terdiri dari : a.. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang peredaran usahanya setahun sebesar Rp 4.. (... 15%. 10%..7.... dan 30% untuk Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap.. Tarif tersendiri untuk penghasilan yang bersifat final (Pasal 4 ayat (2).. 25% dan 35%.. Menghitung Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak bagi yang menggunakan Norma Penghitungan Khusus berdasarkan Laporan Rugi/Laba Fiskal.850..)......).. Dalam perhitungan pajak bagi Wajib Pajak yang mengalami bagian tahun pajak satu tahun dihitung jumlah hari yang sebenarnya. .. 7. Hanya dikenakan 28% untuk Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap. ditetapkan 28%. (.) 2..).. dapat digunakan bagi semua Wajib Pajak (tanpa pembatasan peredaran usaha) .. Norma Penghitungan Penghasilan Neto. (...) 3..dan 5%. (.. (.. 5%..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9.. 10.. (mis... 25%....... tetap dihitung berdasarkan Norma Penghitungan.) c.. b.. wajib menyelenggarakan pembukuan (. 10.752... 4. Tulislah (B) atau (S) pada kotak 1. Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap.) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 89 . maka Penghasila Kena Pajak : a.. Pilihan B(Betul) jawaban... Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.. dan akan menjadi 25% pada tahun 2010.) 6... 15%.2. (. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 10%. Jawaban a dan b tidak ada benar. dan final..000.menjadi Rp 31. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang menerima atau memperoleh deviden.. Dilakukan pembulatan keatas.377.)...000.... atau S(Salah)... c. 11...000... untuk Wajib Pajak orang Pribadi.. Dilakukan pembulatan kebawah menjadi ribuan penuh... Dihitung seperti apa adanya.376.. diberlakukan baik untuk Wajib orang pribadi DN maupun badan.... serta 10%.2% x Penghasilan bruto.). memberitahukannya pada waktu menyampaikan SPT Tahunan (. serta 30% untuk Wajib Pajak orang pibadi dalam negeri.) 8..Wajib Pajak yang akan menggunakan Norma Penghitungan. 5... (. 15%. b. 9...

b.1. dan hitungalah jumlah jawaban Sdr. 10.89% 70% . B. = Kurang. B. b. a. a. 8.8. atau S( Salah). = Cukup. Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80% (delapan puluh persen). 10. 5. 7. 8. Artinya tingkat penguasaan yang dicapai : 90% . 11.79% 69%. B. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 90 . yang benar dibagi dengan jumlah soal. Jawabab B (Betul). Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban Sdr. 6. S. b. c. 6. S.2. 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. a. 1.8. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% (delapan puluh persen). 11. 4. Saudara harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar tersebut. 1. B. Umpan Balik. c. 2. S. c. S. Jawaban yang paling tepat. Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. S. atau kurang = Baik sekali. 11. Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi Kegiatan Belajar Saudara. 9.8. 7. 3. B. 2.9. 5. = Baik. hasilnya dikalikan dengan 100% (seratus persen).100% 80% . 9. Cocokanlah jawaban Saudara dengan Kunci jawaban Test Formatif. 3. yang benar. c. Jawaban Test Formatif.

(2) Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kegiatan Belajar 8. kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. Pelunasan pajak dalam tahun berjalan . maka dapat diatur pelunasan pajak dalam tahun berjalan yang bersifat final atas jenis-jenis MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 91 . maka pelaksanaannya dilakukan melalui : a. namun Menteri Keuangan dapat menentukan masa lain. pengenaan pajak yang tepat waktu. pemotongan pajak oleh pihak lain dalam hal diperoleh penghasilan oleh Wajib Pajak dari pekerjaan. Ayat (1) Agar pelunasan pajak dalam tahun berjalan mendekati jumlah pajak yang akan terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. PERHITUNGAN PAJAK AKHIR TAHUN. PELUNASAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN.1. dan pertimbangan lainnya. kepastian. dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain. b. kesederhanaan. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 20 yang berbunyi : (1) Pajak yan diperkirakan akan terutang dalam suatu tahun pajak. 12. dan pemotongan pajak atas penghasilan dari modal. Ayat (3) Pelunasan pajak dalam tahun berjalan merupakan angsuran pembayaran pajak yang nantinya boleh diperhitungkan dengan cara mengkreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. jasa atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Dengan pertimbangan kemudahan. Pemugutan pajak atas penghasilan dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. DAN KETENTUAN LAINNYA. ANGSURAN PPh Pasal 25. Ayat (2) Pada dasarnya pelunasan pajak dalam tahun berjalan dilakukan untuk setiap bulan. 12. jasa dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. pembayaran oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana dimkasud dalam Pasal 25. Penjelasannya. seperti saat dilakukannya transaksi atau saat diterima atau diperolehnya penghasilan. serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri. sehinga pelunasan pajak dalam tahun berjalan dapat dilaksanakan dengan baik. (3) Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.

(2) Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN penghasilan tertentu seperti dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). Terjadi perubahan usaha atau kegiatan Wajib Pajak. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan. dan b. (4) Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk tahun pajak yang lalu. e. Wajib Pajak baru . Pasal 22. dibagi 12(dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak . c. b. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dlm Psl 22. sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bula teakhir tahun pajak yang lalu. artinya bayarlah ketika punya penghasilan. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. dan f. (3) dihapus. badan usaha milik daerah.2. 12. Dengan mengambil prinsip perpajakan “Pay as you earn” . dan Pasal 23. Wajib Pajak masuk MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 92 . (7) Menteri Keuangan menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak bagi : a. dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak. yang ketentuannya diatur dalam Pasal 25 sebagai berikut : (1) Besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan : a. (5) dihapus. (6) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan dalam hal-hal tertentu. d. sebagai berikut : a. Pasal 21. ANGSURAN PAJAK PENGHASILAN Pasal 25. maka diberi kesempatan kepada Wajib Pajak untuk mengansur pajak yang terutang melalui sistem pembayaran angsuran yang dinamakan “Angsuran PPh Pasal 25. bank. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur . Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan. badan usaha milik negara. b. Pajak Penghasilan yang bersifat final tersebut tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang diluar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian . maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali baerdasarkan surat ketetapan pajak tersebut.

Ketentuan ini mengatur tentang penghitungan besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan. PPh. Berdasarkan ketentuan ini.000. Ayat (2) Mengingat batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak orang pribadi bulan keempat tahun pajak berikutnya. (8a) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. dikurangi dengan : a. Apabila SPT Tahunan PPh.000.500. besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan belum dapat dihitung sesuai dengan ketentuan pada ayat (1). Contoh 1 : Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2009 Rp 50. yang dipotong pihak lain (Pasal 23) Rp 2. Selisih (Pajak yang dibayar sendiri) Rp 15. dan c. adalah sebesar 1/12 x Rp 15. besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan sebelum waktu penyampaian SPT Tahunan PPh. Ayat (1). PPh.000. PPh.000. = Rp 2.000. c. yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22) Rp 10.000.000. disampaikan oleh Wajib Pajak pada bulan Pebruari 2010. (8) Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan telah berusia 21(dua puluh satu) tahun.500. Penjelasan Pasal 25. yang bertolak keluar negeri.000. besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2010 adalah sebesar 1/6 x Rp 15. dan Wajib Pajak lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan harus membuat laporan keuangan berkala.000. d.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bursa. Contoh 2. Apabila Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh diatas berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi masa 6(enam) bulan dalam tahun pajak 2009.75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran bruto.000. besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 93 . b.000. Contoh . Wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.000. Besarnya pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010. tersebut adalah sama dengan bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu. yang dipotong pemberi kerja (Pasal 21) Rp 15.000. luar negeri (Pasal 24) Rp 7.500. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu dengan tarif paling tinggi 0.000. Jumlah Kredit pajak Rp 35. = Rp 1.000.000.000.250. Kredit PPh.

000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN untuk bulan Januari 2010. = Rp 25.000.200. sesuai dengan ketentuan Pasal 24.000. Berdasakan ketentuan dalam ayat ini.000. perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp 1. Ayat (6) Pada dasarnya besarnya pembayaran angsuran pajak oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan sedapat mungkin diupayakan mendekati jumlah pajak yang terutang pada akhir tahun.000.000. yaitu nihil. besarnya angsuran pajak bulanan PT X tahun 2010 = 1/12 x Rp 25. = Rp 2. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 94 .000. adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009. untuk tahun pajak yang lalu. angsuran pajak dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tahun pajak tersbut. Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun 2009 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp 2.000.000. .250. maka besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp 2.000. (satu juta rupiah).Penghasilan PT X tahun 2009 Rp 120. Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan tidak teratur.000. Perubahan angsuran pajak tersebut berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan diterbitkannya surat ketetapan pajak.100. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini. apabila terdapat kompensasi kerugian. yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain dan pajak yang dibayar atau terutang diluar negeri.000. terutang 28 % x Rp 90.000 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2010 adalah : Penghasilan yang dipakai sebagai dasar perhitungan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 = Rp 120.000.Sisa kerugian thn sebelumnya yg masih dapat dikompensasikan Rp 150. Contoh : Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak pajak 2009. tetap sama dengan angsuran bulan Desember 2009.000. misalnya sebesar RAP 1.000. PPh. Apabila pada tahun 2009 tidak ada PPh. Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama. Ayat (4) Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak. Apabila dalam bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak menjadi nihil.000.000. Contoh 1 : . besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak untuk bulan Januari 2010.000. atau terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.000. – Rp 30.200.000. .000.000. lebih besar atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan. dalam hal-hal tertentu Direktur Jenderal Pajak diberikan wewenang untuk menyesuaikan penghitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan. = Rp 90.000.Sisa kerugian yang belum dikompensasikan tahun 2009 Rp 30. yang disampaikan Wajib Pajak dalam bulan Pebruari 2010.

dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala perlu diatur perhitungan besarnya angsuran tersendiri karena terdapat kewajiban menyampaikan laporan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dalam suatu periode tertentu kepada instansi Pemerintah yang dapat dipakai sebagai dasar penghitungan untuk menentukan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan. Penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25.000.000. PT B. Oleh karena itu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak mulai bulan Juli 2009 angsuran bulanan PT. Huruf b Bagi Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang perbankan.B mengalami peningkatan usaha. Namun. dari Wajib Pajak A pada tahun 2010 adalah dari penghasilan teratur tsb saja. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 95 . dan penghasilan tidak teratur sebesar Rp 72. badan usaha milik daerah.000.B terbakar. ketentuan ini memberi kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan dasar perhitungan besarnya angsuran bulanan selain berdasarkan prinsip tesebut diatas.000. badan usaha milik negara. apabila PT.B dapat disesuaikan menjadi lebih kecil dari Rp 15. karena Wajib Pajak belum pernah memasukan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.000. kewajiban angsuran bulanan PT.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh 2 : Dalam tahun 2009. Sebaliknya apabila. Ayat (7) Pada prinsipnya penghitungan besarnya angsuran bulanan dalam tahun berjalan didasarkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu. Dalam bulan Juni 2009 pabrik milik PT. penghasilan teratur Wajib Pajak A dari usaha dagang sebesar Rp 48. yang bergerak dibidang produksi benang dalam tahun 2009 membayar angsuran bulanan sebesar Rp 15. misalnya adanya peningkatan penjualan dan diperkirakan Penghasilan Kena Pajaknya akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. penentuan besarnya angsuran pajak didasarkan atas kenyataan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.000.000. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekati kewajaran perhitungan besarnya angsuran pajak karena didasarkan kepada data terkini kegiatan usaha perusahaan. serta Wajib Pajak masuk bursa. Huruf a Bagi Wajib Pajak baru yang mulai menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam tahun pajak berjalan perlu diatur perhitungan besarnya angsuran.B dapat disesuaikan oleh Direktur Jenderal Pajak. Contoh 3 : Perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak dapat terjadi karena penurunan atau peningkatan usaha.000.

12. royalty. Berdasarkan ketentuan Pasal 28 yang berbunyi sebagai berikut : (1) Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Pajak sendiri pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (26). hadiah dan penghargaan.(kurang bayar). PERHITUNGAN PAJAK PADA AKHIR TAHUN. dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang undangan di bidang perpajakan yang berlaku tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang sebagaimana dimkasud pada ayat (1). besarnya angsuran pajak paling tinggi sebesar 0. denda. ataupun yang dipotong serta dipungut oleh pihak lain. pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan. jasa. d.ayat (5). imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. Penjelasan Pasal 28 Ayat (1) Pajak yang telah dilunasi dalam tahun berjalan. pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.3.3. bunga. baik yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak. dapat dkreditkan terhadap pajak yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 96 . (2) Sanksi Administrasi berupa bunga. f. pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden. berupa : a.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Huruf c Bagi Wajib Pajak orang pribadi tertentu. dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 . pembayaran yang dilakukan oleh Wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 . e.1.75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran bruto. pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan dibidang impor atau kegitan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 . sewa. pajak yang terutang dikurangi dengan kredit pajak uantuk tahun pajak yang bersangkutan . yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai 1(satu) atau lebih tempat usaha. 12. b. Perhitungan pada akhir tahun. c.

kelebihan pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak berikut sanksi-sanksinya.2. .000 12.000.000 Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar (Pasal 29) Rp 35. keabsahan bukti-bukti pungutan dan bukti-bukti potongan pajak serta bukti pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri selama dan untuk tahun pajak yang bersangkutan. dan untuk menentukan besarnya kelebihan pajak yang harus dikembalikan. Maksud pemeriksaan ini untuk memastikan bahwa uang yang akan dibayar kembali kepada Wajib Pajak sebagai restitusi itu adalah benar merupakan hak Wajib Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : Pajak Penghasilan yang terutang Rp 80.000. Direktur Jenderal Pajak atau pejabat lain yang ditunjuk diberi wewenang untuk mengadakan pemeriksaan atas laporan keuangan. maka setelah dilakukan pemeriksaan. Oleh karena itu untuk kepentingan pemeriksaan pajak.000. Hal-hal yang harus menjadi pertimbangan sebelum dilakukan pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak adalah : a.3.000. PAJAK YANG LEBIH BAYAR (Pasal 28 A). 12. buku-buku.000.000.000.pemotongan pajak dari pekerjaan (Pasal 21) Rp 5.000. . PAJAK YANG KEKURANGAN BAYAR (Pasal 29).000. Penjelasan Pasal 28 A Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan. . Jumlah Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan Rp 45.3.000.000.3.000. Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1).000. b. Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar dari pada kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1).000. kebenaran jumlah pajak dan jumlah pajak yang telah dikreditkan. Direktur Jenderal Pajak atau pejabat yang ditunjuk berwenang untuk mengadakan pemeriksaan sebelum dilakukan pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak. kebenaran materil tentang besarnya Pajak Penghasilan yang terutang. dan catatan-catatan lainnya serta pemeriksaan lain yang berkaitan dengan penentuan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang.pomotongan pajak dari modal (Pasal 23) Rp 5.dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Pasal 25) Rp10.kredit pajak luar negeri (Pasal 24) Rp15. Penjelasan Pasal 29 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 97 . Kredit pajak : .pemungutan pajak oleh pihak lain (Pasal 22) Rp10. kekurangan pembayaran pajak yang terutang harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. .

kekurangan pajak tersebut wajib dilunasi paling lambat tanggal 31 Maret. dan perlu dijaga agar didalam penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan tersebut.1. Oleh karena itu. dengan berpegang pada ketentuan perundang-undangan. 12. bagi Wajib Pajak orang pribadi Atau 30 April bagi Wajib Pajak badan. c. pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman yang dilakukan. sedangkan apabila tahun buku tidak sama dengan tahun kalender. penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. dan paling lambat pada batas akhir penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan.4. Penjelasan Pasal 31 A Ayat (1) Salah satu prinsip yang perlu dipegang teguh didalam Undang-undang perpajakan adalah diterapkannya perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang hakikatnya sama. KETENTUAN LAIN-LAIN. jika benar-benar diperlukan harus mengacu kepada kaidah diatas. d. 12. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bidang-bidang usaha tertentu dan/atau daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional serta pemberian fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 98 . kekurangan pajak wajib dilunasi paling lambat tanggal 30 September bagi Wajib Pajak orang pribadi atau tanggal 31Oktober bagi Wajib Pajak badan. misalnya dimulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 Juni. dan . b. kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk : a. setelah tahun pajak berakhir.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ketentuan ini mewajibkan Wajib Pajak untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan Undangundang ini sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. setiap kemudahan dalam bidang perpajakan. Apabila tahun buku sama dengan tahun kalender. kecuali apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah. pengenaan Pajak Penghasilan atas deviden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sebesar 10% (sepuluh persen). FASILITAS PERPAJAKAN (Pasal 31 A) (1) Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan atau didaerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional.4.

000.000. (lima ratus juta rupiah).(empat milyar lima ratus juta rupiah).000. mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen).000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tujuan diberikannya kemudahan pajak ini adalah untuk mendorong kegiatan investasi langsung di Indonesia baik melalui penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu. (lima puluh milyar).2.000. = Rp 70. (empat milyar delapan ratus juta).500. (empat milyar delapan ratus juta rupiah). 12.000.4. Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 4.4. dan bidang lainnya.000.000. Pajak Penghasilan yang terutang = (50% x 28%) x Rp 500. 12. PEMBAGIAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN Berdasarkan Pasal 31 C.000. Penjelasan Pasal 31 E Ayat (1) Contoh 1. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 500. untuk Pemerintah Pusat.3.800. KERINGANAN TARIF.000. dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4. Ketentuan ini juga dapat digunakan untuk menampung kemungkinan perjanjian dengan negara-negara lain dalam bidang perdagangan. ayat (1) Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja dibagi dengan imbangan 80% (delapan puluh persen). Penghitungan pajak yang terutang : Seluruh penghasilan kena pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenai tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp 4.800.000.000. (2) Besarnya bagian peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan. (Pasal 31 E) (1) Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50. investasi. dan/atau didaerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional.000.000.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 99 . dan 20% (dua puluh persen) untuk Pmerintah Daerah tempat Wajib Pajak terdaftar.

JAWABLAH PERTANYAAN INI DENGAN SINGKAT DAN JELAS.000.(tiga milyar rupiah).000.200.000.000 . Kepada Wajib Pajak yang bagaimana dapat diberikan fasilitas perpajakan. Jika Wajib Pajak mendapatkan SKP untuk tahun pajak yang lalu. Pasal 25 mempunyai ketentuan tersendiri dalam hal-hal tertentu.000. 4.000. Pasal 28 A. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas : Rp 4. 9. Kapan timbulnya PPh. Jumlah PPh.000 2 Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas: (Rp) 3.000. dan sebutkan jenis-jenis fasilitas tersebut.000. 5. Pasal 29.000.000.000. x Rp 3. Pasal 25. Melalui Pemotongan . 2.= Rp 67.000. Pajak penghasilan terutang :  (50% x 28%) x Rp 480. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3.000.000 = 2. LATIHAN. Pasal 25 tahun berjalan. 6. Apa yang mendasar pemikiran adanya kewajiban pembayaran pajak dalam tahun berjalan. 8.480.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh 2.000.000  28% x Rp 2. bagaimana pengaruhnya terhadap besarnya angsuran PPh. Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 30.000. Besarnya angsuran PPh. b. Terangkan juga kedudukan pemotongan dan pemungutan tersebut pada perhitungan pajak akhir tahun.000. Rp 30.000.000.600. 12. 1. yang terutang = Rp 772.000. (tiga puluh milyar).520.= Rp 480.000. 7.000.000. Melalui Pemungutan. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang : 1.000. 3. Bagaimana sistem pelunasan pajak dalam tahun berjalan.520.800. Jenis-jenis pelunasan pajak mana yang : a.000.000.5. = Rp 705. Jelaskan Rumus umum dalam menetapkan besarnya angsuran PPh. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 100 .800. dan apa pula yang dimaksud PPh. apa yang dimaksud dengan hal-hal tertentu tersebut.000.000.

Menyimpang dari ketentuan seperti dimaksud pada angka (5) diatas. jumlah pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu. 4. Wajib Pajak mengalami kelebihan pembayaran pajak (PPh.000. maka jumlahnya disesuaikan dengan pajak terutang menurut SKP. Pemungutan oleh pihak lain atas kegiatan Impor dan penjualan barang kepada pemungut (PPh. Pasal 25. Seluruh pemotongan dan pemunugtan tersebut diatas. dan Wajib Pajak yang melakukan pembetulan SPT Tahunan Pajak Penghasilannya. Jelaskan besarnya Pajak Penghasilan terutang berdasarkan aturan Pasal 31 E. b. seperti Wajib Pajak yang terlambat menyampaikan SPT Tahunan. angsuran PPh. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.000. diintrodusir pembayaran pajak dalam tahun berjalan yang disebut angsuran PPh. yaitu penghasilan dari hubungan kerja/pekerjaan/kegiatan. Pasal 25. dikurangi dengan kredit pajak (Pasal 21.BUMD. 1.000.6. Pasal 25 dihitung tersendiri dalam hal-hal tertentu. kecuali apabila Wajib Pajak mendapat Surat Ketetapan Pajak untuk tahun pajak yang lalu tersebut. adanya penghasilan tidak teratur. Bagi Wajib Pajak BUMN. Tahun 2010 memperoleh penghasilan bruto sebesar Rp 40. Pasal 25 untuk tahun berjalan. 8. dari peredaran bruto tiap bulan untuk setiap tempat (out let.Pasal 25 dipakai ketentuan. atau mendekati jumlah pajak terutang pada akhir tahun pajak. sebesar 0.75 (nol koma tujuh puluh lima persen). RANGKUMAN. Untuk meringankan beban utang pajak pada akhir tahun. dan disebut pemotongan PPh. grey). Pasal 28A). dan Wajib Pajak yang diwajibkan membuat laporan keuangan berkala. Pasal 24. serta pajak yang diluar negeri-PPh. PT D. Apabila dari hasil pengkreditan tersebut ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari kredit pajak maka terdapat pajak yang kurang bayar (PPh.000. terjadi perubahan usaha/kegiatan Wajib Pajak. 12. 7. 5. atau sesuai dengan masa pajaknya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Pasal 22).600. Dalam menentukan besarnya angsuran PPh. 3. yang disebut dengan PPh. diatur tersendiri besarnya pembayaran angsuran PPh. serta pajak yang dibayar/dipungut diluar negeri (PPh. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 101 . sebaliknya kalau kredit pajak lebih besar dari pajak terutang. Bank.Pasal 24). ditetapkan besarnya angsuran PPh. yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Pelunasan pajak dalam tahun berjalan dapat dilakukan oleh Wajib Pajak melalui : a. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3. 23. hasilnya dibagi 12 (dua belas). 22. serta penghasilan dari modal dan harta serta kegiatan jasa. 6.000.Psl 29). WP yang masih memperhitungkan kompensasi kerugian. Pasal 21.) 2. Pemotongan. termasuk yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dikreditkan dengan PPh.Pasal 23.

karena Wajib Pajak telah menyetor sesuai dengan SPT.7. c. Wajib Pajak yang kepadanya diterbitkan Surat Ketetapan Pajak tahun pajak yang lalu. 5.000. Membuat perjanjian dengan Direktur Jenderal Pajak akan dilunasi pada akhir tahun. diwajibkan membayar Fiskal luar negeri. (empat milyar delapan ratus juta rupiah). b. a. karena ada pedoman pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9. Menurut besarnya pajak terutang menurut SKP tersebut dan barlaku sejak batas terakhir penyampaian SPT Tahunan PPh. b. atau c. 4. merupakan pembayaran pajak : a. Ditentukan oleh Wajib Pajak sendiri berdasarkan prinsip selfassessment. Apabila terjadi perubahan usaha/kegiatan Wajib Pajak. Menunggu diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pasal 4 ayat (2). kaitannya dengan angsuran PPh. Test Formatif. c. 12. untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 4. c. Berdasarkan pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu. Pasal 25 yang dibayar sendiri Wajib Pajak : a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang bepergian keluar negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 102 . Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas terbitnya SKP tersebut. atau sesuai dengan masa pajaknya. Pasal 25. 10. Pilihlah jawaban yang paling tepat diantara a. Pasal 25 adalah . sebesar 50% (lima puluh persen). dikurangi dengan kredit pajak hasilnya dibagi 12. 2.000. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pemungutan. Pasal 25 nya : a.000. dan dibayar sendiri melalui angsuran bulanan.000. Wajib pajak diberi kesempatan memenuhinya melalui pemtongan. (lima puluh milyar rupiah). b. Yang dapat dikreditkan dengan PPh. 1. Terutang.Wajib Pajak badan dalam negeri yang peredaran usahanya sampai dengan Rp 50. Bersifat final dan tidak dapat dikreditkan dengan PPh.7. Ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak (SKP). mendapat pengurangan tarif Pasal 17. dan berlaku bulan berikutnya setelah terbitnya SKP tersebut. Besarnya angsuran PPh.. 3. angsuran PPh. b. c.800. Terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Dalam memenuhi utang pajak yang akan terutang pada akhir tahun : a. Pelunasan PPh. 12. b.000. Tidak ada kaitannya dengan pembayaran pajak tahun berjalan.1. Wajib Pajak tidak perlu melakukan perubahan perhitungan Angsuran PPh. Sesuai dengan besarnya pajak terutang menurut SKP.

b. yang berkaitan dengan penghasilan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2). Dapat diperhitungkan sebagai pengurangan dari pajak terutang. Tidak diperhitungkan dengan pembayaran PPh. c. c. dan apabila terdapat kelebihan bayar maka tidak dapat diminta pengembalian. yang berkaitan denga pelaksanaan Undang-undang perjakan a. b.000. dan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah daerah. Diperhitungkan saja pada akhir tahun pajak. Penghasilan neto menurut norma penghitungan ditarif dengan tarif Pasal 17. b. Pasal 25 Wajib Pajak baru karena belum ada Surat Pemberitahuan Tahunan. Pengurangan tarif sebesar 50% Pajak Penghasilan diberikan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang : a. c.800.000. c.000.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 103 . 80% (delapan puluh persen) untuk Pemerintah Pusat. untuk Pemerintah pusat. Diperhitungkan dengan kredit pajak pajak. Sebesar 80% (delapan puluh pesen) untuk Pemerintah Daerah.000.Pasal 25 ditetapkan : a. b. Peredaran usaha tidak lebih Rp 50.000. 7. c.800.800. Peredaran usaha sampai dengan Rp 50. dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak. b. dan sebesar 20% (dua puluh persen). dengan peredaran bruto diatas Rp 50. Untuk Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 4.000. Semuanya menjadi penerimaan Pemerintah Pusat. denda dan kenaikan pajak.000. Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh. Pasal 21 dibagi sebagai berikut : a. pada waktu akan menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. dimana WP bertempat tinggal. Dijadikan biaya usaha yang dapat mengurangkan penghasilan kena pajak. 9. 10. Bagi Wajib Pajak baru yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto besarnya angsuran PPh.000.000. Sanksi administrasi perpajakan seperti bunga. Penghasilan neto menurut Norma Penghitungan yang disetahunkan. 6. untuk Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp 4.000. Apabila terdapat kekurangan bayar maka harus disetor lagi paling lambat 31 Desember dari tahun pajak yang bersangkutan 8.000. Jawaban a dan b diatas tidak ada yang benar. Wajib Pajak harus menyesuaikan besarnya angsuran PPh. untukPenghasilan Kena Pajak diatas Rp 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. Tidak ada kewajiban penyetoran PPh. Pasal 25 dengan perubahan yang terjadi .000. hasilnya dibagi 12 (dua belas).000. Pajak yang terutang pada akhir tahun setelah Wajib Pajak mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan : a.000. c. kemudian ditarif dengan tarif Pasal 17.

000.)..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12... 4...).000. dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dari bagian tahun pajak yang lalu... (.. Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 31 E ( pengurangan tarif sebesar 50%) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a).. (. dapat dikreditkan dengan PPh yang terutang dalam negeri asal memenuhi ketentuan.....).. Pasal 25 bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri pengusaha tertentu ditetapkan 0.2.) 7.. 9.) 3. Wajib Pajak A. Pasal 25 besarnya ditentukan menurut peredaran usaha tahun pajak yang lalu.. diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak (.. Ketentuan perpajakan dibidang usaha pertambangan minyak dan gas bumi.......... (.... 10.......) 6. maka besarnya angsuran PPh. Besarnya angsuran PPh. adalah Pajak Penghasilan yang dibayar pada waktu mengisi Surat Pemberitahun Tahunan apabila terjadi kekurangan bayar. maka Wajib Pajak harus menyetor kekurangannya yang dinamakan Pajak Penghasilan Pasal 28 A (.... (......75% dari peredaran bruto (.. 1.. Pilih jawaban B (Betul). Pajak terutang tahun 2009....) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 104 ..). (. Pajak Penghasilan Pasal 29. dengan kredit pajak (Pasal 21.. dengan pengisian pada (..) Apabila pajak yang terutang pada akhir tahun jumlahnya lebih besar dari kredit pajak.... Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal dibidangbidang usaha-usaha tertentu dan daerah tertentu diberikan fasilitas perpajakan antara lain penyusutan dan amortisasi yang dipercepat.. atau S (Salah)..... 5. Pasal 25 tahun 2010 adalah Rp 5.....000.). besarnya Rp 60.000. berlaku juga bagi Wajib Pajak luar negeri (. 2 Pajak yang dibayar atau dipungut diluar negeri (Psl 24).7.....000.. Pasal 23) sebesar Rp 12.. Pelunasan pajak dalam tahun berjalan hanya dapat dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri melalui penyetoran sendiri.). sebagai akibat pajak terutang lebih besar dari kredit pajak (.000. 8.. Angsuran PPh..

B (Betul).9. B (Betul). = Cukup. 2. dan hitunglah jawaban Saudara yang benar.8. hasilnya dikalikan 100% (seratus persen). a. 1. ------Selamat belajar dan mencoba----=== fm=== MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 105 . a. b.79% atau kurang = Baik sekali. 7. b. 8. S (Salah). Jawaban B (Betul). 10. Umpan Balik. c. c. B (Betul). Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Materi Kegiatan Belajar. atau S (Salah). 5. S (Salah). 8. B (Betul). S (Salah). 3. 1. S (Salah). 12. Jawaban Pilihan yang paling tepat. 2. Rumus . Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. b. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% (delapan puluh persen). Arti tingkat penguasaan yang dicapai : 90% 80% 70% 69% . 3.89% . Cocokanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Test Formatif. 6.100% . 9. Saudara harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar tersebut. = Kurang. Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban Saudara yang benar dibagi dengan jumlah soal.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. 5. 4.8.2. 4. Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80% (delapan puluh persen). S (Salah). c.8. 9. 10. = Baik. 12. KUNCI JAWABAN Test Formatif. 7. c. 12. a. B (Betul).1. 6. atau lebih.

Bandung 1978. Penerbit PT. yang berkaitan dengan pelaksanaan Pajak Penghasilan. 6 Tahun 1983.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. sebagaimana telah dirubah dan disempunakan terakhir dengan UU No. Daftar Kepustakaan. PP. sebagaimana disempurnakan terakhir dengan UU No. Peraturan Dirjend Pajak. Penerbit PT. Ordonansi PPs. 1925. 2. 8. PMK.11 Tahun pelaksanaan MPS-MPO. Keputusan Presiden. Undang-Undang No. Bandung Tahun 1984. 4. dan PP No. Undang-Undang No. Eresco. 28 Thn 2007-KUP. Tatacara 5. dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak . 3. Keputusan Menteri Keuangan. 8 Tahun 1967. Direktorat Jenderal Pajak 1969. 7 Tahun 1983. Eresco. Undang-Undang PBDR 1970. Bandung Tahun 1984. Tentang Pajak Penghasilan. Penerbit PT. Undang-Undang No. 36 Tahun 2008. 6. 1. ------fm---- MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 106 . Ordonansi PPd. 1967. telah dirubah dan 7. Bahan ajaran dan panduan untuk mata pelajaran Pajak Penghasilan. 1944. Eresco.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->