P. 1
agnes

agnes

|Views: 318|Likes:
Published by Nona Tasya

More info:

Published by: Nona Tasya on Mar 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK TK PANGUDI LUHUR BERNARDUS SEMARANG TAHUN AJARAN 2004

/ 2005 SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Oleh : Nama NIM Jurusan Fakultas : Anastasia Kiswanti : 1401901084 : Pendidikan Sekolah Dasar S1 PY : Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) 2004 / 2005 PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Pembimbing I Pembimbing II Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067 Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308 Mengetahui Ketua Jurusan Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749 ii PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : Selasa : 16 Agustus 2005 Pe nitia Ujian Skripsi Ketua Sekretaris Drs. Siswanto, MM NIP. 130 515 769 Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749 Penguji I Penguji II Penguji III Drs. Sukardi, M.Pd NIP. 131 676 923 Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067 Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308 iii PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar benar hasil karya saya sendiri dan kutipan yang terdapat dalam skripsi dikutip dari referensi buku-buku yang ada hubungannya dengan pola asuh orang tua atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah yang semestiya. Semarang, Agustus 2005 Yang membuat pernyataan, Anastasia Kiswanti NIM. 1401901084 iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN Berilah kasih kepada seorang anak, dan engkau akan mendapat kasih itu kembali (John Ruskin) Guru mendidik perserta didik dengan berprinsip ³ajrih ±asih´ dalam atmosphere sekolah yang penuh kekeluargaan, kesetiakawanan, saling memajukan diri. (YB. Mangunwijaya, PR) Skripsi ini kupersembahkan kepada : 1. Suami dan anakku tercinta 2. Kedua orangtua dan keluargaku tersayang 3. Sahabat dan rekan -rekan kerja yang tercinta v PRAKATA Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ,yang telah memberikan berkat dan kasih sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini . Skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan beberapa pihak .Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. A.T. Sugito , S.H, M.M; selaku Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan belajar di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM; selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan belajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Zoedindarto Boediharto, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PSD) Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan 4. Dra. Tri Esti Budiningsih, selaku Pembimbing I yang membimbing dengan baik dalam proses penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir penyusunan. 5. Drs. Kustiono, MPd; selaku Dosen Pembimbing II

yang telah membimbing penulis sejak awal hingga penyelesaian skripsi ini. 6. BR. Arnodus M.FIC, selaku kooedinator TK-SD PL Bernardus yang telah memberikan motivasi dan bantuan selama penulisan skripsi ini. 7. Ibu Maria Yulimah, selaku kepala TK. PL Bernardus, yang telah memberikan dorongan baik spiritual maupun material kepada penulis dari awal hingga akhir. 8. Responden / orangtua yang banyak bekerjasama dalam penelitian ini. vi 9. Rekan-rekan guru di unit kerja TK. PL. Bernardus, yang telah banyak membantu selama penulisan skripsi ini. Pihak-pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penelitian ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih ada kekurangannya. oleh karena itu segala kritik dan saran pembaca sangat diharapkan. Semoga penelitian ini tetap dapat memberi arti bagi pembaca dalam pemenuhan informasi ilmiah. Semarang, Agustus 2005 Penulis vii SARI ANASTASIA KISWANTI. 2005. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak Tk Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. Skripsi Jurusan PGSD S-1, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Pembimbing I. Dra. Tri Esti Budiningsih, Pembimbing II Drs. Kustiono, M.Pd. Kata kunci : Pola asuh orang tua, kemandirian anak TK. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menumbuh kembangkan anak. Peran keluarga menjadi begitu penting dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. Pada tahap awal perkembangan, peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Skripsi ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian anak.Penelitian dilakukan di TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang, dengan obyek penelitian siswa dan orangtua anak yang bersangkutan. Instrumen yang digunakan adalah angket pola asuh orangtua yang meminta jawaan dari orangtua siswa untuk mengetahui pola asuh yang mereka terapkan. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi yang mengamati tingkat kemandirian siswa di sekolah. Baik angket maupun observasi dinilai dengan skala 1 sampai 4. Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian selanjutnya. Pengujian ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dan kemandirian siswa diuji dengan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Berdasarkan simpulan

analisis ini disarankan kepada: (1) orangtua untuk lebih meningkatkan sikap positif mereka terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk memiliki kemandirian yang besar, (2) bagi orang tua agar dapat mendampingi putra-putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik supaya lebih mandiri, (3) bagi pendidik, diharapkan mampu memberikan contoh da n perilaku mandiri kepada siswa. viii

................................... Kesimpulan .............................................................................................. B... E................................................... B.................................... A...........................................................................................................DAFTAR ISI Halaman JUDUL ......... 8 8 8 16 25 28 30 ix BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................... DAFTAR TABEL .... 1 1 4 4 5 5 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ...... DAFTAR LAMPIRAN .. Kemandirian .............. B....................................................................................... Pembahasan ................. .......................................................................... Manfaat Penelitian ................... 3.................................... A............................................................................................................................. Tinjauan Pustaka ....................................... C............................................... .... 4........................................ B................................................................. Variabel Penelitian ....... Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak di Taman Kanak-Kanak .................................................................................................... 2....... PENGESAHAN KELULUSAN .......................................................... F.................................................................................................................................. Metode Pengumpulan Data ................................................................... E................. B... C........................................... Persiapan Penelitian .......... 1............................................................................................................. Pendidikan Taman Kanak -Kanak ........ 31 31 31 32 36 42 43 BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ......................... SARI..... PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................................................................. DAFTAR GAMBAR .................................................... Analisa Data .......... DAFTAR ISI ......................................................................... Permasalahan ................................... Populasi ................................ Saran -Saran .................... F.................................. Sampel .. A..................................... Metode Analisa Data ......................................... Sis tematika Skripsi.................. PERNYATAAN ............................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................ D............................................. 45 45 51 54 BAB V PENUTUP .............................................. PRAKATA .................................................... Hipotesis ........................................................................................................................................................................................................................................................... Penegasan Istilah.................................................................................................... i ii iii IV v vi viii ix xi xii xiii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... A........ A.................................................. Latar Belakang Masalah ........................... Pola Asuh Orangtua ........................ C.......... D............ Pengujian Instrumen ....................... Tujuan Penelitian ......... 56 56 56 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x DAFTAR TABEL Tabel Halaman 37 41 49 50 51 ...................................

............4 Skala Pola Asuh Orangtua yang Valid ..................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 2 3 4 5 6 7 Halaman 60 64 65 68 69 77 80 Angket................ xii DAFTAR GAMBAR Gambar 1......................................................................................... Siswa memakai sepatu sendiri ..................... xiii ................... 2................... 3............................................2.................................. 4......................... Siswa bisa mencuci tangan sendiri sampai bersih ............... Siswa makan minum sendiri tanpa bantuan orang lain ..................................................................... Rancangan Observasi Kemandirian Siswa .......... Korelasi hasil uji validitas .............................................................................. 4 5...52 3.................................................. Skor hasil Observasi Kemandirian Siswa ...................................... Nilai Reliabilitas ................................................................ Hasil PerhitunanValiditas Angket Pola Asuh ................1....................3 4.... Skor hasil angket Pola Asuh Orangtua .............. Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa ................ Siswa mampu tampil di depan kelas .......................................... Hasil uji korelasi ............................................................ 3.... Lembar Observasi Kemandirian Siswa .............................................2 4............................ Rancangan Skala Pola Asuh Orangtua ..................................................................... Halaman 81 82 83 84 85 Siswa berani bertanya secara sederhana ............... 4......1... Hasil pengujian reliabilitas ....

Tidak ada seorangpun yang dapat membangun hidupnya sendiri dari awal dengan kekuatannya sendiri. kehidupan yang senantiasa berubah. Jika pada tahap ini seorang anak tidak mendapatkan dukungan keluarganya. Peran orang tua adalah membangun rasa mandiri da n percaya diri anak dengan pengakuan. pengetahuan. maka yang terjadi adalah berkembangnya rasa ragu -ragu. maka dunia pendidikan yang harus mempersiapkan dan menghasilkannya. mandiri inovatif dan demokr atis. proses pendidikan maupun nilai -nilai yang harus dikembangkan bagi anak untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Drost (1998:63). Keluarga dapat mendorong hal ini dengan memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan anak. Namun jika anak mampu mengembangkan rasa percaya diri dan sikap mandiri. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menumbuh kembangkan anak. Bila Indonesia modern di masa depan mengisyaratkan perlunya manusia manusia pembangunan yang kreatif. Tiap lingkungan memberikan pengaruh pada proses pembentukan individu. Perubahan akan terjadi jika ada pengaruh dari lingkungan dan orang lain di sekitarnya. melalui proses pendidikan yang diterimanya. peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. maka anak akan berani mengambil inisiatif untuk secara bebas melakukan segala sesuatu atas kemauan sendiri. Dunia pendidikan dituntut memberikan respon lebih cepat terhadap perubahanperubahan yang tengah berlangsung di masyarakat.(Widayati. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Peran keluarga menjadi begitu penti ng dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. mengemukakan bahwa peran orang tua dalam membimbing adalah sebagai pendidik utama untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia pendidikan formal. Tanpa pendidikan dengan lingkungan hidup. baik dalam visi. .BAB I PENDAHULUAN A. Dia memerlukan orang lain dan dukungan lingkungan agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. 2002:1) Seorang anak tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya pengaruh dari orang lain. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. pujian dan dorongan sehingga timbul rasa percaya diri. Pada tahap awal perkembangan. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan kunci bagi suatu bangsa untuk bisa menyiapkan masa depan dan sanggup bersaing dengan bangsa lain. Masyarakat pasca modern saat ini menghendaki perkembangan total.

segala sesuatu dibantu supaya anak tidak rewel dan merasa senang. 4 Dengan adanya fenomena yang ada. maka permasalahan yang dapat muncul dalam penelitian ini adalah: 1. Pola asuh orang tua diduga kuat ada kaitannya dengan kemandirian seorang anak pada masa belajar di taman kanak-kanak. dinyatakan bahwa kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK ada perbedaan. 1999:4) tugas -tugas perkembangan masa kanak -kanak awal yang harus dijalani anak taman kanakkanak adalah berkembang menjadi pribadi yang mandiri yang berarti berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat usia taman kanak-kanak. jurnal penelitian dan diperkuat beberapa teori tersebut di atas.3 Menurut Triyon dan Lilienthal (Moeslichatoen. Penelitian Ason (1998:143) yang berjudul ³Kontribusi Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di SD Pangudi Luhur Bernardus´ menyatakan bahwa pola asuh orang tua memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar peserta didik. Pola asuh yang dimaksud adalah dapat terjadinya komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak. Penulis melihat adanya fenomena atau gejala para orang tua terlalu mempercayakan anak pada pengasuh karena mereka sibuk bekerja sendiri. PERMASALAHAN Bagi orang tua dalam mendidik anak dengan pola asuh yang benar dapat mewujudkan atau meningkatkan kemandirian yang ada dalam diri anaknya. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. Disisi lain pengasuh sekedar menjalankan tugas mengasuh anak. memberi makan. mainan. maka perlu dilaksanakan penelitian dengan judul : ³Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang tahun Ajaran 2004 / 2005´ B. Mengetahui seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang. Bila ada. Mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang. seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanakkanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? C. Dalam penelitian Komariyah (2002:49) tentang ³Studi Komparatif antara Kemandirian Siswa Kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK´. Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanakkanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? 2. Hal tersebut membuat anak menjadi kebiasaan dibantu orang lain sehingga waktu sekolah menjadi kurang mandiri. 2. . Dari analisis diketahui data skor kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK menunjukkan kriteria baik dan skor kemandirian siswa kelas I SD yang bukan berasal dari TK menunjukkan kriteria cukup.

2. memberikan tambahan wawasan dan dapat disempurnakan dalam penelitian yang lebih lanjut atau lebih sempurna. maka perlu diberikan penegasan istilah sebagai berikut: 1. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Berisi persiapan penelitian. guru dan sekolah yaitu: 1. yang dijadikan nama pelindung sekolah dengan harapan keutamaankeutamaan yang dimiliki Santo Bernardus dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didik (Nikolaas. 1986: 27). E. Hubungan Hubungan adalah keadaan berhubungan atau dihubungka n dengan hal lain (Purwodarminto. per ilaku demokratis dan perilaku laissez -faire. Hubungan pola asuh terhadap kemandirian anak di Taman kanak-kanak. penegasan istilah dan sistematika skripsi. tugas-tugas perkembangan. PENE GASAN ISTILAH Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi salah penafsiran ataupun menimbulkan beberapa penafsiran dalam mengartikan judul. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan (Sukadji. perumusan masalah. Taman Kanak-kanak Bernardus dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur. (Sumardjo.5 D. manfaat penelitian. variabel penelitian. 1976:362). SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam penulisan skripsi ini terdiri atas lima bagian bab sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut: 7 Bab I Pendahuluan Menguraikan tent ang latar belakang permasalahan. 3. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada orang tua. 1992:87). 1993: 14). 2001:1). yaitu yayasan yang bergera k dibidang pendidikan dan pembinaan serta mengelola sekolah dari tingkat TK sampai dengan SLTA. mampu bertanggungjawab atas keputusan. tidak bergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya. Bab III Metodologi Penelitian Berisi tentang populasi dan sampel. tujuan penelitian. 4. memberikan peningkatan dalam mengasuh anak untuk lebih mandiri. interaksi belajar mengajar di taman kanak-kanak. langkah -langkah . Bab II Landasan Teori Menguraikan tentang pola asuh orang tua yang mencakup pengertian macam -macam pola asuh. kemandirian yang mencakup pengertian dan sikap kemandirian anak TK. Taman Kanak -kanak Pangudi Luhur Bernardus Taman Kanak-kanak merupakan suatu lembaga pendidikan non formal yang dilakukan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (Depdikbud. metode pengumpulan data dan teknik analisa data. Pola Asuh Pola asuh adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris. Perilaku orang tua dalam mendidik anak mereka ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perilaku otoriter. Sedangkan Bernardus adalah nama seorang santo atau orang suci. Kemandirian Yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajiban. pendidikan taman kanakkanak yang mencakup ciri-ciri pendidikan taman kanak-kanak. Bagi Civitas Akademik. Bagi Taman Kanak-kanak Pengudi Luhur Bernardus. 6 3. 1997: 412). Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak dalam lingkungan keluarga. 2. F.

Biasanya tingkah laku kelekatan tidak hanya pada satu orang saja. Secara teoritis perilaku orang tua tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga. analisa data dan pembahasan hasil penelitian. yaitu: a. Pola Asuh Orang Tua a. (b) Orang tua cenderung mencari kesalahan kesalahan pada pihak anak. maka anak dianggap melawan atau membangkang. maka ada faktor yang mempengaruhi. (d) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak. yang dimaksudkan yaitu untuk menarik perhatian dari anak tersebut. 1998:109). Tingkah laku lekat merupakan tingkah laku yang khusus bagi bayi. KAJIAN PUSTAKA 1. Sering membuat interaksi dengan anak secara spontan. 1992:87). Bab V Penutup Berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. dengan kontak sosial itulah akan menimbulkan tingkah laku lekat terhadap anaknya (Haditomo. Masing-masing dari ketiga perilaku orang tua tersebut memiliki ciri -ciri tersendiri dan berkaitan erat dengan peranan orang tua sebagai pendidik dalam hubungannya dengan pola asuh. atau secara kebetulan saja. (Idris. (c) Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dengan anak. b. Sering mengadakan reaksi terhadap tingkah laku anak. dan anak hanya sebagai pelaksana. ciricirinya adalah sebagai berikut: (a) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah. 2) Demokratis Pola asuh . tetapi orang tua harus mengadakan kontak sosial dengan anak. (e) Orang tua cenderung memaksakan disiplin. 1992:87).penelitian. yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain. 1988:20) mengartikan pola asuh sebagai sikap orang tua terhadap anaknya. namun dapat timbul lebih banyak tergantung dari banyak sedikitnya orang yang mengasuh anak tersebut. laissez -faire (Idris. Macam -Macam Pola Asuh Ketika mendidik anak ditemukan bermacam-macam perilaku orang tua. untuk mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang lain tersebut. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris. Ketiga pola asuh tersebut dapat dijelaskan di bawah ini: 1) Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dengan bercirikan kekuasaan. Segala peraturan yang dianut oleh 10 orang tua harus dikerjakan oleh anak dan tidak boleh dibantah. b. yaitu otoriter. Untuk menimbulkan tingkah laku lekat t erhadap seseorang atau khususnya anak. Untuk membina atau mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. (f) Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak. Tetapi tingkah laku lekat yang utama biasanya yang ada di rumah tersebut. Sedangkan (Sukadji. 1992:87). dan kemungkinan menghukumnya. dan dari sinilah pola asuh orang tua mulai diberikan kepada anaknya. Dengan tingkah laku lekat inilah anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang yang dilekatinya. Berdasarkan kedua pengertian tersebut penulis mendefinisikan bahwa pola asuh adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. penyampaian. demokratis.

dipahami dan dimengerti oleh anak. 2) Me ngabaikan alasan-alasan yang masuk akal dan anak tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. 3) Laissez-faire Orang tua bersikap percaya bahwa mereka selalu menganggap anak sebagai pribadi dan mendorong mereka dengan 12 memberikan kebebasan penuh. (g) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertimbangkan dan yang tidak baik ditinggalkan. anak lebih berperan daripada orangtua dalam menyelesaikan tug as atau masalah. Pola Asuh Otoriter 1) Tidak menerangkan kepada anak tentang alasanalasan mana yang dapat dilakukan. juga dihadapi dengan tenang. kurang tegas. yaitu anak juga dapat mengusulkan. Pola asuh Laissez-faire memiliki ciriciri sebagai berikut: (a) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya. (i) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian. yaitu: otoriter. (b) Menentukan peraturan -peraturan dan disiplin dengan mempertimbangkan keadaan. 3) ³Punishment´ atau hukuman selalu diberikan pada perbuatan yang salah dan melanggar aturan. 4) ³Reward´ atau penghargaan jarang diberikan pada perbuatan yang bena r. 1992:88). (c) Terutama memberikan kebutuhan material saja. kurang kontrol terhadap anak pada saat berada dirumah. wajar dan terbuka.demokratis adalah pola asuh yang diterapkan oleh orangtua secara fleksibel/luwes. (h) Keinginan dan pendapat anak diperhatikan apabila sesuai dengan norma-norma dan kemampuan orang tua. demokratis dan permisif. Menurut Hurlock (1997:256). (d) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak atau terlalu memberikan kebebasa n untuk mengatur dirinya sendiri tanpa ada aturan dan norma -norma yang digariskan oleh orang tua. pasif dan masa bodoh. (d) Hubungan antara keluarga saling menghormati : pergaulan antara ibu dan ayah juga saling menghormati. dalam memberikan peraturan dan kedisiplinan dan hanya berperan sebagai pemberi fasilitas maka tidak akan peduli terhadap kelakuan anak sehingga kurang adanya komunikasi. menyarankan sesuatu pada orang tuanya dan orang tua mempertimbangkan. Anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan diikursertakan dalam pemecahan masalah yang muncul dalam keluarga juga dihadapi dengan tenang. demikian pula orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang. Ciri -ciri dari perilaku tersebut adalah sebagai berikut : (a) Melakukan sesuatu dalam kelua rga dengan cara musyawarah. (e) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga (Idris . Masing-masing pola asuh tersebut mempunyai ciri-ciri sebagaimana dijelaskan berikut ini: 13 a. . sabar dan terbuka. bersikap longgar. ada tiga model pola asuh orang tua. (c) Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya secara musyawarah. (b) Medidik anak acuh-tak acuh. tidak pernah menghukum maupun memberi ganjaran pada anak. kurang membimbing terhadap anak. (e) Ada komunikasi dua arah. bukan menggunakan kata-kata kasar. perasaan dan pendapat anak serta 11 memberikan alasan-alasan yang dapat diterima. (f) Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak selalu menggunakan kata -kata yang mendidik.

baik dan berprestasi. 3) ³Pu nishment´ diberikan kepada perilaku yang salah dan melanggar peraturan. 2) ³Punishment´ tidak diberikan karena memang tidak ada aturan yang mengikat. b. . Pola Asuh Permisif 1) Tidak ada aturan ketat dari orang tua. 2) Anak diberi kesempatan untuk menjelaskan mengapa ia melanggar peraturan sebelum hukuman dijatuhkan. Pola Asuh Demokratik 1) Ada pengertian bahwa anak punya hak untuk mengetahui mengapa suatu aturan dikenakan kepadanya. 4) ³Reward´ yang berupa pujian dan penghargaan diberikan kepada perilaku yang benar dan berprestasi. c. dan anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar.

Istilah otoriter. demokratis dan laizzes faire sebagaimana dikemukakan oleh Idris (1992:87). 16 . Pola asuh permisif. Pola asuh otoriter. Adanya saling memberi dan menerima. Namun demikian istilah tersebut telah digunakan dalam layanan orang tua kepada anaknya yang disebut pola asuh. Pola asuh demokratik. Penulis menggunakan klasifikasi pola asuh yang dikemukakan oleh ahli tersebut. anak sedikit sekali dituntut suatu 15 kewajiban atau tanggung jawab. memiliki ciri-ciri: kaku. Pendidikan Taman Kanak-kanak a. Pendapat senada dikemukakan oleh Stewart dan Krech (1986:84) yang mengemukakan bahwa ketiga pola asuh tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. yaitu cenderung memberikan kebebasan kepada anak tanpa kontrol sama sekali. demokratis dan permisif biasanya digunakan dalam kepemimpinan. karena istilah yang dipakai berlaku umum dan mudah dimengerti. b. Namun demikian selanjutnya penulis akan menggunakan ciriciri ketiga pola asuh tersebut dengan mendasarkan pada pendapat beberapa ahli sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu: 1. Pola asuh demokratis Mau meluangkan waktu kepada anak Mambatasi anak terhadap bahaya yang dapat mengancam anak Memberi toleransi waktu bermain anak Memberikan hadiah kepada anak jika berprestasi. Ciri-ciri Pendidikan Taman Kanak-kanak Snowman (Patmonodewo. Dari berbagai pendapat para ahli mengenai pola asuh tersebut diatas. 2000:32) mengemukakan ciri -ciri anak prasekolah ada 4 macam yakni : (1) Ciri Fisik Penampilan maupun gerak gerik anak pra sekolah .Sering mendampingi anak-anak Pemberian tugas kepada anggota keluarga sesuai dengan kemampuan. suka menghukum. Anggapan bahwa anak memiliki hak yang sama besarnya dengan orangtua. Dengan demikian tanggung jawab anak terhadap diri mereka tidak menjadi besar. memiliki ciri-ciri yaitu: hak dan kewajiban antara anak dan orang tua adalah sama. namun orangtua membiarkan anak untuk merubahnya sendiri. Pola asuh laizzes faire Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat sesuai keinginan mereka.14 3) ³Reward´ tidak diberikan untuk perilaku yang baik. serta memiliki ciri -ciri yang jelas. 3. 2. Memberikan kebutuhan meteri kepada anak. Tidak ada hukuman kepada anak Tidak ada pujian kepada anak. mempunyai hak yang sama dengan orang tua. secara bertahap orang tua bermusyawarah dengan anaknya. Dalam hal ini anak tidak dituntut untuk bertindak untuk memperbaiki kesalahannya. tidak menunjukkan kasih sayang dan tidak simpatik. penulis akan menggunakan istilah otoriter. Pola asuh otoriter Pemaksaan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua Tidak ada kebebasan pada anak dalam menjalankan aktivitasnya Adanya ancaman atau hukuman fisik Jarang sekali memberikan pujian kepada anak Orang tua berhak mengatur masa depan anak Sering menakut-nakuti anak dengan ancaman 2. c. dan selalu mendengarkan keluhan-keluhan atau keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh anakanaknya. 4) Ada pengertia n bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari dari perbuatan yang salah. karena ada anggapan bahwa persetujuan sosial sebagai reward.

Bermain fungsional. Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat. mengagumi dan kasih sayang. Bermain dengan menggunakan aturan. Melakukan manipulasi terhadap bendabenda dalam kegiatan membuat konstruksi atau mengkreasi/menciptakan sesuatu. d. Bermain konstruktif. Setelah anak masuk TK. b. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek -objek yang kecil ukurannya. Walaupun tubuh anak ini lentur. Melakukan pengulangan gerakan -gerakan otot dengan atau tanpa objek-objek. Sebagian besar dari mereka senang bicara. (4) Ciri Kognitif Anak prasekolah umumnya telah terampil dalam berbahasa.mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak yang lebih muda seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner. tetapi tengkorak kepala yang melindungi ot ak masih lunak (soft). (3) Ciri Emosional Anak TK cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. khususnya dalam kelompoknya. Itulah sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. yaitu : 18 a. Otot ± otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan. Khususnya dalam tugas motorik halus. Kompetisi anak perlu dikembangkan melalui interaksi. Mereka telah memiliki penugasan (kontrol) terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. belum melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya. mengikat tali sepatu. Bermain dramatik. kesempatan. Perselisihan seringkali terjadi tetapi sebentar kemudian mereka telah berbaik kembali. minat. dan anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis. Anak lelaki lebih banyak melakukan tingkah laku agresif dan perselisihan. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi secara baik. 19 Patmonodewo (2000:24) mengemukakan ciri tahapan perkembangan berdasar aspek perkembangan anak prasekolah ada 4 macam yakni: (1) Perkembangan jasmani Pada saat anak mencapai tahapan prasekolah (3 -6 tahun) ada ciri yang jelas berbeda antara anak usia bayi dan anak prasekolah. Pola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan µgender¶. Oleh karena itu biasanya belum terampil. . Walaupun anak lelaki lebih besar. Konneth Rubin dkk (1976). (2) Ciri Sosial Anak prasekolah biasanya mudah bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial kognitif anak. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi. c. Seringkali anak tidak menyadari 17 bahwa mereka harus beristirahat cukup. Mereka seringkali memperebutkan perhatian guru. anak membutuhkan istirahat yang cukup. umunya pada mereka berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki atau anak perempuan. tetapi sahabat ini cepat berganti. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.

Perbedaannya terletak dalam penampilan. (3) Perkembangan bahasa Ada perbedaan antara bahasa dan kemampuan berbicara. Kecepatan perkembangan jasmani dipengaruhi oleh gizi. sedangkan kemampuan berbicara terdiri dari ungkapan . Ketarampilan motorik halus adalah koordinasi bagian kecil tubuh. Bahasa biasanya dipah ami sebagai sistem tatabahasa yang rumit dan bersifat semantik. (2) Perkembangan kognitif Kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpiki r dan mengamati. jadi merupakan tingkah laku -tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan. proporsi tubuh. terutama tangan. panjang badan dan keterampilan yang mereka miliki. kesehatan dan lingkungan fisik lain misalnya tersedianya alat permainan serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk melatih berbagai gerakan. berat. main jungkat jungkit dan berlari. Keterampilan motorik kasar ad alah koordinasi sebagian besar otot tubuh misalnya melompat.

dan skala nilai. c. (4) Perkembangan emosi dan sosial Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyelesaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku didalam masyarakat dimana anak berada. seni. konsep diri. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Interaksi Belajar Mengajar di Taman Kanak-kanak Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk awal pendidikan sekolah. pada saat merencanakan menyelesaikan masalah dan menyerasikan gerakan mereka. Komunikasi diri atau bicara dalam hati. mengembangkan sikap. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar . bahasa. moral. mengembangkan kecakapan dasar dalam membaca. Bahasa ekspresif (bicara dan tulisan) menunjukkan ciptaan bahasa yang dikomunikasikan kepada orang lain. Terdapat dua daerah pertumbuhan bahasa yaitu bahasa yang bersifat pengertian/reseptif (understanding) dan pertanyaan/ekspresif (producing). tugas -tugas perkembangan pada periode anak-anak adalah mempelajari berbagai kecakapan jasmani yang perlu untuk permainan sehari -hari. mengembangkan konsep-konsep yang berguna dalam kehidupan sehari -hari. dan kelompok lembaga sosial. Perkembangan sosialisasi yang optimal diperoleh dari respons yang diberika n oleh tatanan kelas pada awal anak masuk sekolah yang berupa tatanan sosial yang sehat dan sasaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan konsep diri yang positif. Tugas-tugas Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. belajar bergaul dengan teman sebaya. mengembangkan kata hati. moralitas. juga harus dibahas. bukan sekadar hasil dari kematangan saja. Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons lingkungan terhadap anak. dan nilai-nilai agama. Menurut Havighurt (Idris. kemandirian. mencapai kebebasan perorangan. membina sikap sehat terhadap orang lain sebagai individu yang sedang tumbuh. Anak akan berbicara dengan dirinya sendiri apabila berkhayal. Usia empat sampai enam tahun. 1992:76). kognitif. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi 22 dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. berhitung. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Bahasa pengertian misalnya mendengarkan dan membaca menunjukkan kemampuan anak untuk memahami dan berlaku terhadap komunikasi yang ditujukan kepada anak tersebut. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik.20 dalam bentuk kata-kata. 21 b. menulis. disiplin. merupakan masa peka bagi anak. mempelajari peranan yang tepat sebagai anak pria atau wanita. Kemampuan sosialisasi anak adalah hasil belajar. sosial emosional. Peran pendidik sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun.

mengekspresikan perasaan. (Depdiknas. Selain itu bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri. Penulis akan meneliti salah satu bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembiasaan. aspek aspek perkembangan dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar. emosional dan kemandirian. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi. Pembiasaan merup akan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam kehidupan seharihari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik.seraya bermain. orang lain dan lingkungan. berkreasi. nilai -nilai agama. 2004:4). belajar secara menyenangkan. serta pengembangan sosial. menemukan. Dalam kurikulum 2004. Program pengembangan sosial dan kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan . Bidang pengembangan pembiasaan meliputi pengembangan moral.

Hasil karya. Melalui pemberian rangsangan. yaitu penilaian ber dasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauh mana ketrampilan anak berkembang b. merupakan tugas yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengerjaannya. kognitif. sedangkan 25 pencatatan anekdot merupakan sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu. kognitif. misalnya menyanyi. Unjuk kerja. diharapkan akan meningkatkan perkembangan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik. Misalnya melakukan percobaan menanam biji. fisik/motorik. Kompetensi Pendidikan Taman Kanak-kanak Kompetensi yang diharapkan dari pendidikan taman kanakkanak adalah tercapainya tugas -tugas perkembangan secara optimal sesuai dengan standar yang telah dirumuskan. berbahasa. merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat diamati. Kurikulum Taman Kanak-kanak Kurikulum untuk TK merupakan pedoman bagi para pendidik. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak. Strategi Pembelajaran Taman Kanak -kanak Strategi pembelajaran pada pendidikan taman kanak-kanak dilakukan dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh pembiasaan dan kemampuan dasar yang ada pada anak dapat dikembangkan dengan sebaikbaiknya.23 baik serta dapat menolong dirinya sendiri dalam ran gka kecakapan hidup. sosial-emosional. d. d. 1. sosial. Menggunakan pendekatan tematik e. Kreatif dan inofatif f. fisik/motorik dan seni. orang dewasa lain untuk digunakan dalam rangka menstimulasi perkembangan anak. c. guru. orang tua. Tujuan Taman Kanak-kanak Tujuan taman kanak-kanak yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai -nilai agama. Penugasan. Adapun alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemapuan dan perilaku anak. bahasa. 3. Lingkungan kondusif g. olahraga. Evaluasi Pendidikan Taman Kanak-kanak Penilaian pada Taman kanak -kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. antara lain : a. Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain d. Berorientasi pada kebutuhan anak c. b. sehingga akan menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi anak 24 sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat (Depdiknas 2004:8). Strategi pembelajaran pada taman kanak -kanak hendaknya memperhatikan pada prinsip-prinsi sebagai berikut : a. memperagakan s esuatu. Portofolio. Mengembangkan kecakapan hidup (Depdiknas 2004:8) 4. emosional. kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Depdiknas 2 004:5). 2. dan kemandirian. stimulasi dan bimbingan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus. Aspek-aspek perkembangan yang diharapkan dicapai meliputi aspek moral dan nilai -nilai agama. merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan (Depdiknas .

Diungkapkan juga oleh Sukadji (1986:27).2004:10). yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya. 1998:19). tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya. Pengertian Kemandirian Kemandirian adalah suatu proses pertumbuhan dan proses perkembangan (Drost. Kemandirian a. 3. mampu bertanggung jawab .

4. melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri dan mampu m engatur diri sendiri sesuai dengan kewajibannya. membersihkan peralatan makan selesai digunakan. Jadi kemandirian itu dapat dipelajari melalui proses meniru tingkah laku 27 orang lain yang dilihat. merapikan mainan seles ai bermain. sikap ini dapat ditunjukkan anak dalam kegiatan menggosok gigi. Anak dapat menunjukkan rasa percaya diri. memelihara milik sendiri. Sikap ini ditunjukkan anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membuang sampah pada tempatnya. Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak Taman Kanakkanak Penerapan pola asuh yang benar memberikan dampak yang positif . menyatakan bahwa seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Oleh sebab itu anak harus diberi kesempatan dan kebebasan untuk menjadi dirin ya sendiri. mengatakan bahwa tingkah laku itu dapat dipelajari melalui melihat. berani bertanya secara sederhana. Kemandirian tumbuh sejalan dengan pertambahan usia dan setiap tekanan atau paksaan cenderung menghambat tumbuhnya kemandirian anak. Mengerjakan tugas sendiri 2. mau mengemukakan pendapat secara sederhana. b. baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Harus diingat. 28 4. Anak terbiasa menjaga lingkungan. Dengan dorongan jiwanya sendiri. membantu membersihkan lingkungan kelas. Anak-anak tidak perlu dipaksa atau didesak agar menjadi mandiri. Menurut Wahyuni (2001:71). sebagaimana mestinya. Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri. yakni sebagai berikut : 1. mampu mengambil keputusan secara sederhana. Standar Kompetensi Taman KanakKanak disajikan kompetensi yang menunjukkan sikap. makan minum sendiri. kemandirian anak usia Taman Kanak-Kanak. berani dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya sendiri. 3. Sikap ini dapat dilihat dalam kegiatan belajar sehari-hari seperti . memakai sepatu sendiri. agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara fisik maupun psikis. Sikap tersebut dapat dilihat waktu akan melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai. tidak mencoret-coret tembok. Dalam kurikulum 2004. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Jadi kemandirian adalah suatu keadaan dimana individu sudah tidak tergantung kepada orang lain atau sudah bisa berdiri diatas kaki sendiri. Sikap Kemandirian Anak TK Menurut Bandura dalam Haditomo (1998:109). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah merupakan sikap kemampuan kemampuan diri yang memungkinkan individu untuk bertindak bebas. berpakaian sendiri. anak akan belajar mandiri apabila dia sudah cukup matang dan sudah ada dorongan dari dalam jiwanya untuk mandiri. Anak dapat bertanggung jawab. Kemandirian adalah kemampuan untuk mampu berdiri sendiri di atas kaki sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab sendiri .26 atas keputusannya. anak memang membutuhkan berbagai peluang dan kesempatan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. mengembalikan alat -alat selesai bekerja.

H0 : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. maka makin berkuranglah ketidaktaatan anak. tetapi setelah memberikan teguran orang tua tersebut kemudian menjelaskan alasan-alasan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak dengan memberikan arahan dan contoh-contoh. Dalam hubungannya dengan kemandirian. sehingga tanggung jawab terhadap dirinya sendiri akan menjadi kurang. Begitu pula kemandirian juga dipengaruhi oleh sikap orang tua terhadap anak. pola asuh laissez-faire kurang berhubungan dengan kemandirian karena anak cenderung menjadi kurang bertanggung jawab dan semaunya sendiri sehingga anak kurang mandiri. Dalam pola asuh orang tua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orang tua. penilaian terhadap perbuatan yang baik dan b uruk akan dinilai secara individual oleh anak tersebut. bahwa makin otoriter orang tuanya. sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa untuk berkutik barang sedikitpun. Dalam hubungannya dengan kemandirian. Maka pada pola asuh orang tua yang bersifat otoriter anak akan selalu merasa ketakutan. tidak dapat merencanakan sesuatu. pola asuh otoriter kurang berhubungan dengan kemandirian karena sikap otoriter orang tua membuat anak merasa kurang percaya diri dan penakut sehingga anak kurang mandiri. Menurut Baldwin (dalam bukunya Gerungan. yaitu dimana orang tua akan membiarkan anak untuk mengerjakan apa saja yang ia kehendaki. Dalam hubungannya dengan kemandirian. daya tahan berkurang dan menjadi anak yang penakut.terhadap sikap dan perilaku anak. 29 Pada orang tua yang bersifat demokratis. HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini yang akan di uji adalah sebagai berikut : a. Hal ini terkadang menjadi 30 dilema bagi anak. sesuai dengan akibat dari perbuatannya sendiri (Windradini. Jadi anak akan menganggap bahwa perbuatannya adalah benar. 1985:110). Pola asuh orang tua yang bersifat laizzes faire. H1 : Ada hubungan antara pola asuh . Kecuali itu orang tua yang bersifat demokratis juga mau memberikan teguran kepada anaknya apabila anak tersebut salah. Dengan tidak adanya bimbingan dari orangtua. orang tua berpendapat bahwa anak nanti akan dapat belajar sendiri hal -hal yang mana yang baik dan mana yang kuran baik. akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. tetapi akan makin banyak timbul sifat yang passivitet. B. kurang inisiatif. 1981:190) mengatakan. pola asuh demokratis mempunyai hubungan yang baik dengan kemandirian anak karena adanya sikap demokratis dari orang tua membuat anak lebih percaya diri dan mandiri. karena orang tua cenderung menganggap bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari oleh anak dari perbuatan yang salah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973:256) dimana pada pola asuh ini orang tua tidak memberikan bimbingan bagi kebaikan anak. b.

1988:220). Senada dengan Hadi. insaf dalam kesadaran. Adapun sumber data yang digunakan adalah anak-anak TK dan orang tua/wali. POPULASI Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. 1996:115). Kerlinger (dalam Arikunto. 2000:221). Variabel tergantung biasanya mengikuti variabel bebas. dan akan diambil 10% . 1998:97) menyebutkan variabel sebagai sebuah konsep seperti halnya laki -laki dalam konsep jenis kelamin. Kelas B2 40 c. SAMPEL Sampel adalah sebagian dari populasi (Hadi. karena pengaruh dari variabel bebas. VARIABEL PENELITIAN Dalam penelitian diperlukan adanya teori yang mendasarinya.15% jika populasi lebih dari 100 orang 31 32 dan 20% .25% jika populasi kurang dari 100 orang. artinya segala sesuatu yang terjadi pada variabel tergantung (terikat). Dengan landasan teori yang ada akan dapat menentukan data-data yang dibutuhkan sebagai obyek penelitian serta dirumuskannya suatu hipotesis agar data yang dibutuhkan tepat. 1998:70). B. meliputi : a. karena jenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik cluster quota random sampling. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan cara atau langkah yang harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data guna menguji atau membukt ikan kebenaran suatu fenomena atau gejala. sehingga variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi (Hadi dalam Arikunto. . Kelas B3 40 d. Variabel didefinisikan sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis kelamin. A. yang mana dalam menarik sampel penulis memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Dalam penelitian ini populasi yang dimaksud adalah anak sekolah Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang sejumlah 160 anak. Gejala adalah obyek penelitian. Variabel menurut fungsinya dibedakan sebagai variabel tergantung dan variabel bebas. apabila ingin meneliti semua elemen yang ada keseluruhan subyek penelitian (Arikunto.orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. Kelas B4 39 x x x x 15% = 15% = 15% = 15% = = 6 6 6 6 + 24 Jumlah C. Agar dapat mencapai tujuan penelitian yang telah ditentukan serta hasilnya dapat dipercaya maka dalam penelitian perlu menggunakan langkah langkah dan metode yang sistematis. Untuk masing -masing kelas sampel yang dijadikan responden yakni. maka dibutuhkan variabel-variabel yang diteliti. Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi. Kelas B1 41 b.

khususnya dalam pengumpulan data dan dalam penyusunan instrumen. 2. 1998:101). 1998:101). Data mengenai pola asuh orangtua diungkap dengan menggunakan skala pola asuh orangtua dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Pola asuh Otoriter 2) Pola asuh demokratis . b) Variabel Tergantung Variabel tergantung adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat (Arikunto.33 1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua. sehingga variabel tersebut dapat diamati dan diukur a) Pola asuh orang tua Pola asuh orangtua adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kemandirian anak Taman Kanak-kanak Bernardus. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian Pada penelitian ini mengungkap dua variabel yaitu : a) Variabel Bebas Variabel bebas adalah variab el yang mempengaruhi disebut juga variabel penyebab (Arikunto. Definisi Operasional Setiap variabel dalam penelitian perlu memiliki definisi operasional supaya dapat digunakan dalam penelitian.

Data mengenai kemandirian anak diperoleh dari data observasi secara langsung yang dilakukan oleh guru kelas. Semakin tinggi nilai observasi dari siswa menunjukkan semakin tinggi kemandirian anak tersebut. tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya.34 3) Pola asuh laissez-faire Bila skor yang diperoleh individu dalam skala ini tinggi berarti pola asuh orangtua mengarah pada bentuk otoriter. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. b) Kemandirian Kemandirian anak adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya. mampu bertanggung jawab atas keputusannya.Berani bertanya secara sederhana Berani tampil di depan umum atau di depan kelas . Adapun aspek-aspek yang akan diteliti adalah : 1 Dapat menunjukkan rasa percaya diri .Mau mengemukakan pendapat secara sederhana .Mampu mengambil keputusan secara sederhana Tidak putus asa jika mengalami kesulitan . sebaliknya apabila skor yang diperoleh rendah maka berarti mengarah pada pola asuh laissiez-faire.

Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri Menggosok gigi sendiri .Mempu mengerjakan tugas sendiri .Makan.Merapikan mainan selesai bermain .Memelihara milik sendiri .35 .Tidak mencoret-coret tembok Membantu membersihkan lingkungan kelas 4 Dapat bertanggung jawab Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai .Mengembalikan alatalat selesai bekerja Aspek-aspek tersebut di atas akan digunakan sebagai instrumen dalam metode observasi dalam rangka meneliti kemandirian anak TK di sekolah . minum sendiri tanpa bantuan orang lain Memakai sepatu sendiri .Membersihkan peralatan makan selesai digunakan .Mamakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan Membuang sampah pada tempatnya .Mencuci tangan sendiri sampai bersih .

Observasi non sistematis. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Manurut Arikunto (1998:16) observasi atau disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap s esuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan. sedangkan metode skala da lam penelitian ini untuk mengungkap pola asuh orangtua anak 1. penciuman. (Mardalis. Masing-masing observasi memiliki beberapa alternatif jawaban. 1. Metode observasi dalam penelitian ini untuk mengungkap kemandirian anak. 1999:63). 2. peraba. pendengaran. yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. Observasi sistematis. dan pencecap. dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen Observasi dalam penelitian ini berisi daftar beberapa kegiatan yang akan diamati terhadap anak TK.36 D. Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu metode observasi dan metode skala. Aspek-aspek observasi yang diteliti adalah sebagai berikut : . Metode Obserasi Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian. merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan.

2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.Mampu mengambil keputusan secara sederhana 1.3 . 4 Mengembalikan alat-alat selesai bekerja Skor Total Skor 4 Sumber : Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak .4 Memelihara milik sendiri 2.3 Merapikan mainan selesai bermain 4.Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.3 Memakai sepatu sendiri 2.5 .6 Memakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan 3.Berani bertanya secara sederhana 1.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4.1 Membuang sampah pada tempatnya 3.Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.1 .5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.7 .2 Tidak mencoret -coret tembok 3.2 . minum sendiri tanpa bantuan orang lain 2.37 Tabel 3.Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2.Mau mengemukakan pendapatan sec ara sederhana 1.Mempu mengerjakan tugas sendiri 1.2 Makan.6 .1 Rancangan Observas i Kemandirian Siswa No 1 Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1.1 Menggosok gigi sendiri 2.4 .

Metode Skala Metode pengumpulan data untuk mengungkap pola asuh orangtua dapat diketahui dengan menggunakan metode skala atau angket. . . Pada dasarnya pemakaian alat ukur berupa skala dan angket memiliki kesamaan dalam hal asumsi. Metode angket merupakan sekumpulan pertanyaan atau pernyataan yang meminta tanggapan dari obyek penelitian. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah observasi. kelebihan maupun kelemahan. Untuk menyusun instrumen kemandirian yang mempunyai validitas isi (content validity). maka observas i sudah termasuk dalam content validity.38 Instrumen suatu penelitian harus mempunyai validitas. b. karena itu maka penulis memakai alasan penggunaan metode angket menurut Hadi (1994:157) bahwa skala adalah suatu metode yang mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self reports atau setidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Alasan -alasan atas penggunaan metode skala / angket ini adalah : 1) Kenyataan subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya 2) A sumsi bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya 3) Angkat dapat menjelaskan interpretasi subyek tentang pertanyaan yang dimaksudkan oleh penyelidik. maka item dalam observasi harus disusun berdasarkan yang telah disesuaikan dengan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak.

39 Setiap metode pasti mempunyai kelemahan. Untuk menghindari pernyataan -pernyataan yang kurang jelas maksudnya. yaitu : 1) Unsur -unsur yang tidak disadari tidak dapat terungkap 2) Besar kemungkinan jawaban dipengaruhi oleh keinginan -keinginan pribadi 3) Adanya hal -hal yang dirasa tidak perlu dipertanyakan. 4) Kesukaran merumuskan dari diri sendiri ke dalam bahasa. maka perlu dilakukan beberapa hal. c. Unt uk memperbaiki pernyataan yang mungkin menimbulkan jawaban yang dangkal. metode angket memiliki kelemahan. Untuk memadukan kata -kata yang menimbulkan kecurigaan. 1990:196). 1984:163) menyatakan antara lain : 1) Dalam petunjuk -petunjuk mengerjakan atau menjawab perlu dihindarkan kata -kata yang mengandung perintah atau permintaan yang memaksa . 5) Adanya kecenderungan untuk mengkonstruksikan secara logik unsurunsur yang dirasa kurang berhubungan secara logik. U ntuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. (Hadi. Maksud dari uji coba atau try out adalah : a. misalnya hal-hal yang memalukan atau dipandang tidak penting untuk dikemukakan. 2) Melakukan proses uji coba atau try out preliminer (Arikunto. b. . seperti diungkapk an oleh Hadi (1984:162).

3) Jawaban terdiri dari beberapa pilihan jawaban. dan 1 untuk tidak pernah. Adapun kelompok jawaban item unfovariabel. 3) Laissez faire. kadang kadang (KD). skor jawaban . Sehingga subyek tidak perlu kuatir dan takut bahwa hal -hal yang ada pada dirinya akan diketahui orang lain. Untuk menambah item yang sangat perlu atau memadukan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan penelitian. Ciri-ciri tersebut adalah : 1) Otoriter. 2 untuk kadang-kadang. Skala ini bertujuan untuk mengungkap pola asuh orangtua siswa. skor 3 untuk sering. sehingga subyek mengerti halhal tersebut 2) Subyek tidak diwajibkan untuk menulis namanya. subyek tinggal memilih salahsatu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya. sehingga subyek tidak perlu merumuskan jawabannya. dan selalu ( SL ) Skor jawaban untuk item fovourabel bergerak dari 4 untuk jawaban selalu. 2) Demokratis. Untuk setiap item terdiri dari 4 alternatif jawaban yaitu tidak pernah ( TP ). yang langsung ditujukan pada orangtua siswa yang bersangkutan sebagai subjek penelitian. Skala disajikan dalam bentuk pilihan jawaban dan memiliki 2 kelompok item yaitu item favourabel dan kelompok item unfavourabel. sering (SR ). Hadi (1994:157) menyatakan untuk mengatasi kelemahan -kelemahan penyusunan angket dalam penelitian ini diupayakan : 1) Menggunakan bahasa yang sederhana. Skala ini disusun berdasarkan 3 bentuk atau ciri -ciri pola asuh yang dengan item berjumlah 60 item.40 d.

49 20. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. 52 23. 45 25. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c. Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e. Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c. 55 26. Item Favorable Unfavorable Jumlah 4 4 4 4 4 4 4 4 a. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. skor 2 untuk sering. 47 18. 58 29. dan 4 untuk tidak pernah Rancangan skala pola asuh orangtua dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3. Pemberian hukuman fisik e. 60 4 4 4 4 4 4 60 . Anak ditakut-takuti dengan hukuman d.57 28. 34 5. 37 8. 32 3. 35 6. 51 22. 59 30. 40 11. 39 24. 56 27. 41 12. 38 16. 48 19. Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. 33 4. 44 15. 36 7. 50 21. 42 13. Pemberian materi sebagai keutamaan Jumlah Sumber : Dikembangkan untuk penelitian 1. 43 14.41 bergerak dari 1 untuk jawaban selalu. 54 4 10. 46 17. 31 2. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a. Tidak ada kebebasan pada anak c. 3 untuk kadangkadang.2. 53 9. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a. Adanya kebebasan berbuat pada anak b.

Menurut Azwar (1986:55). maka item tersebut tidak dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. terlebih dahulu harus diuji validitas (kesahihan) dan reliabilitasnya. Pengujian Instrumen 1. Suatu instrument yang valid itu mempunyai kesejajaran dengan skor total yang diketahui dengan korelasi product moment.42 E.. Sebelum item -item pertanyaan berupa kuesioner maupun soal digunakan dalam penelitian. Validitas Validitas merupaakan ketepatan antara gagasan variabel dengan ukurannya. . Jika nilai r pq lebih besar dari r tabel maka akan diperoleh suatu item yang valid. suatu alat yang dikatakan valid apabila mampu secara cermat menunjuk ukuran besar kecilnya dan gradasi suatu gejala. Jika ter dapat item-item yang tidak valid. adapun rumus tersebut sebagai berikut: n ™ XY í (™ X )(™ Y ) (n ™ X 2 í (™ X ) 2 )( n ™ Y 2 í (™ Y ) 2 rxy = Keterangan : Rxy = koefisien korelasi antar variable xdan y X = jumlah nilai x (skor item) Y = jumlah nilai y (skor item) N = jumlah sample Untuk menentukan valid tidaknya suatu i tem kuesioner adalah dengan membandingkan nilai korelasi dengan r tabel untuk = 5%.

Adapun Rumus Product Moment dari Pearson adalah sebagai berikut : .43 2. Gejala interval adalah gejala yang menggunakan skala pengukuran yang berjarak sama. Metode Analisa Data Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus digunakan metode analisa korelasi product moment (Hadi. Korelasi product moment melukiskan hubungan antara dua gejala interval. Reliabilitas Reliabilitas adalah alat pengumpul data yang pada dasarnya menunjukan tingkat keajegan alat tersebut dalam mengungkap gejala tertentu dari kelompok individu walaupun dilakukan pada waktu berbeda. 2 k 1í™ b r11 = 2 kí1 t Keterangan : R1I = reliabilitas instrumen K = jumlah item pertanyaan 2 b = varian butir 2t = varian total F. Perhitungan Scale Alpha untuk instrumen -instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut. Dalam penelitian ini dalam mencari reliabilitas menggunakan scale Alpha yang dapat dilihat dan dikoreksikan pada table Reliab ility AnalysisScale (Alpha). 1987:273).

2). Jika r0 • rts 5% : Korelasi dinyatakan signifikan. atau hipotesis penelitian diterima. Produk dari variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Jumlah responden (Suharsimi. 1993 : 220). maka perlu dikonsultasikan dengan kaidah Uji Hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut : 1). Untuk mengetahui hipotesis penelitian diterima atau ditolak. Jika r0 < rts 5% : Korelasi dinyatakan tidak atau hipotesis penelitian ditolak. .44 rXY ™ X2 ( X )( Y ) ™ XY í ™ N™ ( X ) ( Y) ™Yí™í ™22N 2N Keterangan : rXY XY X Y N = = = = = Koefisien korelasi prediktor (X) dengan kriterium (Y). Produk dari variabel bebas (X) Produk dari variabel terikat (Y).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dikemukakan hal-hal yang sudah dilakukan maupun yang telah dica pai dari penelitian ini. Untuk itu lebih jelasnya akan dikemukakan langkah -langkah penelitian secara berurutan berikut ini : A. PERSIAPAN PENELITIAN 1. Sehubungan dengan persiapan penelitian. maka peneliti menempuh langkah-langkah sebagai berikut : a. Setelah diperoleh surat ijin penelitian. Peneliti minta ijin kepada Kepala TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. selanjutnya peneliti menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian dan kemudian memberikan angket kepada siswa tersebut untuk diberikan kepada orangtua mereka. Sebelum mengadakan penelitian. Setelah diperoleh ijin dari pihak TK. 45 . dan memintanya untuk dikembalikan pada keesokan harinya. peneliti minta surat ijin penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Universitas Negeri Semarang b. Persiapan perijinan Persiapan merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam penelitian ini.

a.46 2. Sedangkan yang dimaksud kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (angket) adalah kondisi dimana instrumen tersebut layak dipergunakan untuk mengukur tinggi rendahnya suatu pengukuran variabel. Sebaliknya jika korelasi item ± total tersebut lebih . Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan untuk mengetahui kehandalan dari angket yang digunakan. Validitas angket. Dalam hal ini soal yang digunakan adalah berupa 60 item pernyataan yang diberikan kepada 24 orang tua siswa. Selanjutnya hasil jawaban angket dan observasi ditabulasi untuk mendapatkan skor dari masing masing variabel pada masing-masing siswa. Jika terdapat korelasi yang cukup tinggi atau lebih besar dari nilai r tabel untuk n = 24 maka item yang diuji dinyatakan valid. Angket yang akan diperg unakan untuk penelitian harus memenuhi standar validitas. 3. Pengujian ini dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa data yang diperoleh merupakan data yang baik. Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian ini diperole h melalui pengebaran angket dan observasi kemandirian siswa. Pengujian validitas instrumen menggunakan rumus korelasi product moment yang merupakan korelasi antara jawaban dari item soal yang akan diuji dengan skor totalnya.

404. Rumus product moment yang digunakan untuk menguji validitas instrumen mengenai sikap siswa adalah sebagai berikut : N ™ XY í (™ X ) (™ Y ) ( N ™ X 2 í (™ X ) 2 ) ( N rXY = ™Y 2 í (™ Y ) 2 ) Keterangan : rxy : koefisien korelasi tiap item X : jumlah skor tiap item Y : jumlah skor total N : jumlah responden (Suharsimi Arikunto. 1993:138) Dengan menggunakan rumus tesebut di atas menghasilkan validitas item angket. Hasil selengkapnya pada tabel berikut ini. . maka item pertanyaan adalah valid dan sebaliknya apabila r hitung < r t abel dikatakan tidak valid.47 kecil dari nilai r tabel maka item tersebut dinyatakan tid ak valid yang berarti item tersebut tidak diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. hasil tersebut dikonsultasikan pada tabel nilai r product moment dengan taraf signifikan 5%. bila nilai r hitung > r tabel untuk n = 24 yaitu sebesar 0. hasilnya dapat dilihat pada Lampiran.

170752 (2400 í 2116) (14003232 -13778944) 3560 = 0. . Secara ringkas hasil tersebut disajikan pada tabel berikut ini.48 Contoh Perhitungan Validitas Untuk item 1 Dari tabel dip eroleh : X X2 XY Y Y2 n = 46 = 100 = 7263 = 3712 = 583468 = 24 rxy = n ™ XY í (™ X )(™ Y ) (n ™ X 2 í (™ X ) 2 )(n ™ Y 2 í (™ Y ) 2 24 (7263) í (46)(3712) (24(100) í (46) 2 ) (24(583468) í (3712) 2 ) 174312 .446 63697792 = = = Perhitungan selengkapnya untuk keseluruhan instrumen penelitian ini ada pada lampiran.

49 Tabel 4.429 Valid 51 22 -0.440 0.462 -0.463 0. Dengan demikian 51 item yang layak digunakan untuk penelitian ini.350 Tidak Valid 58 29 0.475 Valid 56 27 0.444 -0.478 0.474 Valid 42 13 0.404.490 Valid 47 18 0.510 Valid 41 12 0.532 -0.020 Tidak Valid 44 15 0.458 Valid 45 16 0.486 Valid 34 5 0.1.464 Valid 60 Sumber : Data primer yang diolah r 0.419 0.406 0.446 Valid 49 20 -0.414 Valid 46 17 0.471 0.555 0.412 Valid 57 28 -0.443 0.514 Valid 32 3 0.696 Valid 38 9 0.428 0.463 0.454 0.423 0.043 0.440 0.181 0.438 0.633 Valid 39 10 0.501 Valid 33 4 0.021 Tidak Valid 35 6 0.491 Valid 40 11 0. Hasil Perhitungan Validitas Angket Pola Asuh .408 0.422 Valid 54 25 0.546 Keterangan Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Val id Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Setelah dihitung ternyata diperoleh 9 item dinyatakan tidak valid karena memiliki nilai korelasi di bawah 0.442 Valid 53 24 0.446 Valid 31 2 0.505 Valid 55 26 0.463 0.202 Tidak Valid 52 23 0.442 Valid 59 30 0.483 0.687 0.058 0.540 Valid 48 19 0.448 0.073 Tidak Valid 50 21 0.455 0. Dengan demikian sebaran item yang valid dari penggunaan instrumen sebelumnya dapat disajikan sebagai berikut : .473 Valid 43 14 -0.705 Valid 36 7 0. No r Keterangan No 1 0.449 Val id 37 8 0.578 0.462 0.442 0.

32 3. Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c.2. 49 21. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. 31 2. 48 19. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. 43 44 15. dengan pengujian . Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e. 55 26. 54 4 10. 45 25. Pemberian hukuman fisik e. 53 9. 46 17. 33 4 35 6. Tidak ada kebebasan pada anak c. 37 8. 40 11 12. Pemberian materi sebagai keutam aan Jumlah Sumber : Data primer yang diolah . Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. 1. 47 18. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a.50 Tabel 4. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a.57 4 3 4 2 29. 36 7. Item Favorable Unfavorable Jumlah 4 4 4 3 1 4 3 4 a. 38 16. 42 13. 39 24. 56 27. 51 52 23. Anak ditakut-takuti dengan hukuman d. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. 60 3 4 51 Sedangkan untuk variabel kemandirian siswa yang diperoleh dari penilaian observasi terhadap 20 item pernyataan. 59 30. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Adanya kebebasan berbuat pada anak b. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c.

51 validitas dengan korelasi product moment diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.502 Valid 14 0. Reliabilitas yaitu tingkat keajegan alat u kur meskipun dilakukan dalam .458 Valid 9 0. Dengan demikian seluruh item observasi kemandirian siswa layak digunakan untuk penelitian ini. Reliabilitas Test Sebelum digunakan untuk pengumpulan data.643 Valid 20 0.470 Valid 11 0.473 Valid 6 0.426 Valid 10 0.768 Valid 18 0. alat ukur yang akan dipergunakan perlu diuji cobakan terlebih dahulu reliabilitasnya.431 Valid 8 0.3 Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa No r Ket 1 0.586 Valid 7 0.404.567 Valid 15 0.655 Valid 3 0.493 Valid 12 0.559 Valid 16 0.484 Valid 4 0.455 Valid 19 0.459 Valid 2 0.465 Valid 17 0. 2.640 Valid Sumber : Data primer yang diolah Diperoleh bahwa 20 item obserasi variabel kemandirian siswa menunjukkan sebagai item yang valid karena memiliki nilai korelasi di atas 0.637 Valid 13 0.512 Valid 5 0.

4. ANALISA DATA Setelah semua memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Untuk menentukan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha.9316 R tabel 0. Pola asuh orangtua dihitung berdasarkan 51 item angket yang valid sedangkan kemandirian siswa dihitung dari seluruh 20 itemnya. . B.52 waktu yang berbeda (Arikunto. maka langkah selanjutnya adalah menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. 1998:138).404 0.8650 Sumber : Data primer yang diolah Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data telah memenuhi syarat sebagai soal yang reliabel. Nilai Reliabilitas Soal Soal Pola Asuh Orangtua Reliabilitas 0. Tabulasi data dan hasil perhitungan selanjutnya akan disajikan berikut ini.404 Keterangan Reliabel Reliabel Kemandirian Siswa 0. Hasil pengujian reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran dan hasilnya diringkas pada tabel berikut ini Tabel 4.

53 r XY ™ ™X 2 XY í (™ X )(™ Y ) N 2 2 ( ™ X ) ™Yí N (™ Y ) 2 í N 215749 = 453276 (3260)(157 5) 24 2 (3260) (1575) 1575 24 24 215749 - 213937.50 2 = (453276 í 442816.67) (104193 1811.5 8719161.75 1811.5 2952.82 103359.38) = = = 0.613 Jadi besarnya hubungan antara X ( pola asuh orangtua) dengan kemandirian siswa adalah sebesar 0,613. Untuk menguji keberartian besarnya hubungan tersebut maka nilai tersebut harus dibandingkan dengan nilai r tabel untuk n = 24 yaitu diperoleh sebesar 0,404. Karena nilai ry1 (0,613) > r tabel (0,404) maka dapat disimpulkan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa.

54 Nilai korelasi sebesar 0,613 masuk dalam kategori cukup tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian siswa. C. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan diperolehnya nilai korelasi yang cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian siswa dapat ditentukan oleh polaasuh orangtua. Sedangkan nilai korelasi sebesar 0,613 memberikan indikasi adanya hubungan yang cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan satu implikasi akan perlunya pemberian toleransi kepada anak untuk diberikan beberapa kebebasan dengan bimbingan yang baik. Model pengekangan atau pola asuh otoriter pada orangtua akan cenderung tidak memacu anak-anak untuk melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Dalam hal ini anak harus diberi bimbingan dan pengarahan untuk dapat merangsang jiwa kemandirian anak. Sejak usia masih kecil, anak perlu dididik dengan pola asuh yang tidak mengekang namun juga tidak membiarkan anak bertindak semaunya. Kemandirian anak sudah harus ditumbuhkan pada usia pra sekolah agar kepercayaan diri anak dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan hal ini dapat diberikan dalam pola pengasuhan orangtua.

55 Untuk itu orangtua harus dengan bijaksana dalam memutuskan bentuk pola asuh yang sesuai untuk perkembangan anak. Karena pola asuh yang kurang tepat yang diberikan kepada anak, akan menciptakan satu bentuk perilaku kemandirian yang kurang pada diri anak, dan selanjutnya akan berakibat kurang baik pada anak. Dalam pola asuh orangtua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orangtua, sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa berkutik sedikitpun. Sebagimana dinyatakan oleh Baldwin dalam Gerungan (1981:190) bahwa semakin otoriter sikap orangtua, maka anak akan semakin timbul sifat passivitet, kurang inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan anak menjadi penakut. Hal ini tentunya akan mengganggu kemandirian anak. Pada pola asuh demokratis, ada kemungkinnan akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang ses uai dengan kebutuhannya, namun pola ini juga memberikan keterbatasan berupa teguran kepada anak apabila anak dinilai salah selain memberikan arahan dan contohcontoh perilaku. Sikap ini akan memungkinkan anak memiliki sifat mandiri, percaya diri dan mampu melakukan sesuatu dengan pertimbangan sendiri dengan adanya tanggung jawabnya terhadap tindakannya Pada pola asuh laizes faire, dimana orangtua membiarkan perilaku anak mereka tanpa batasan yang jelas akan me mbuat anak tidak memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sehingga kemandirian yang dimiliki oleh anak kurang akan seimbang.

56 .613. Bagi orang tua. Bagi orangtua.56 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan pada bab IV. diharapkan agar lebih meningkatkan sikap positif terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk kemandirian yang besar.. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri. diharapkan mampu memberikan contoh dan perilaku mandiri kepada siswa untuk bisa diterapkan oleh siswa. 2. baik di rumah maupun di sekolah. SARAN-SARAN Dari serangkaian hasil penelitian dan analisanya ada beberapa hal yang dapat peneliti sarankan : 1. agar dapat mendampingi putra -putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik. Bagi pendidik. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0. B.

Depdikbud. Monks. Pendidikan Antisipatoris . Drost. R. 1991. Bandung : Tarsito. Sindhunata. Jakarta : Gramedia. Zahara. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Knoers. Standar Kompetensi. 2001. Perkembangan Anak. AMP. 1997. Yogyakarta : Kanisius. Hadi. 1992. Metode Statistika. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. 2001. Siti. Kurikulum 2004. Jakarta : Rineka Cipta.57 DAFTAR PUSTAKA Abu. Yogyakarta : Kanisius. Jakarta : Erlangga. 1992. Jakarta : Obor. Surabaya : SIC. Kanisius. Sutrisno. 2000. Riyanto. Mochtar. Depdiknas. Semarang : YPL. Jakarta. Buchori. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. . Psikologi Perkembangan (Pengantar dalam Berbagai Bagiannya). Jakarta : Rineka Cipta. Yatim. Patmonodewo. 1994. Sumarjo. Sekolah : Mengajar atau Mendidik?. Orang Kudus Sepanjang Tahun. 1990. 1999. Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Nicolaas. Psikologi Sosial. Sudjana. Psikologi Praktis Anak. Singgih. FJ. 2004. Remaja dan Keluarga. 1997. Idris. Edisi ke 6. Yogyakarta. Pendidikan Anak Prasekolah. Moeslichatoen. 1998. Program Kegiatan Belajar Taman Kanak -Kanak. Elizabets B. 1987. Pengantar Pendidikan I. Sumantri. 1999. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 2001. Rencana Strategi Yayasan Pengudi Luhur. Hurlock. Metodologi Research 3. 2000.

Reformasi Pendidikan Dasar Menyiapkan Pribadi Berkualitas Menghadapi Persaingan Global. 1999.58 Wahyuni. Psikologi Perkembangan Masa Remaja . Cara praktis Mengasuh dan Membimbing Anak Agar Menjadi Cerdas dan Bahagia. Soesila. Surabaya : Usaha Nasional. . dkk. Sri. Widayadi. Pionir Jaya. 1985. 2001. Jakarta 20270 : Grasindo. Endang. Windradini. C.

Oleh karena ini Bapak/ Ibu tidak perlu ragu-ragu untuk memberikan jawaban pada angket sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ibu berikan dijamin kerahasiannya dan sama sekali tidak mempengaruhi status putra/putri Bapak/ Ibu di sekolah. Bacalah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan sederhana. : ««««««««««««««««««««. : ««««««««««««««««««««. kemudian jawablah pertanyaan tersebut dengan memberi tanda (X) pada salah satu jawaban yang telah tersedia sesuai dengan jawaban yang Bapak/ Ibu maksudkan. Kelas : ««««««««««««««««««««. Data yang Bapak. Atas bantuan dari Bapak/ Ibu kami ucapkan banyak terima kasih. 5. : ««««««««««««««««««««. Nama Sekolah 4. 4. Kejujuran Bapak/ Ibu dalam memilih jawaban akan sangat membantu keberhasilan penelitian ini. Nama anak 3. Nama Orangtua 2. 3. . IDENTITAS RESPONDEN 1.ANGKET PETUNJUK 1. Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang pola asuh orangtua 2.

memukul atau menendang anak anda jika mendapat nilai jelek 20 Anda tidak segan untuk memberi pujian kepada anak anda selesai anak anda melakukan pekerjaan yang anda berikan . menjewer. masa depan anak anda sepenuhnya ada di tangan anak anda 14 Anda mengganggap bahwa jika anak anda tidak mengerjakan tugas mereka adalah sebagai hal yang wajar 15 Anda member ikan segala kebutuhan materi kepada anakanak anda 16 Anda beranggapan bahwa anak anda tidak harus tunduk kepada kemauan anda 17 Anda tidak dapat berbuat apapun untuk melarang anak anda dalam bermain 18 Anda tidak pernah menakut -nakuti anda dengan bentuk hukuman apapun 19 Anda tidak pernah menjewer.No Pernyataan TP KD SR SL 1 Anda memaksa anak anda untuk selalu mematuhi kemauan Anda 2 Anda tidak memberikan kebebasan kepada anak anda dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anak-anak 3 Anda memberikan ancaman jika anak anda tidak tidak mendapatkan prestasi yang anda inginkan 4 Anda memberikan hukuman fisik (memukul. menendang) kepada anak anda jika anak anda berbuat kesalahan yang besar 5 Anda merasa puas jika anak anda telah melakukan perbuatan yang anda inginkan tanpa memberikan pujian kepada anak anda 6 Anda selalu meluangkan waktu unt uk bertanya kepada anak anda mengenai yang terjadi di sekolahnya 7 Anda sangat membatasi pergaulan anak-anak anda terhadap bahaya yang berasal dari lingkungan 8 Anda memberikan toleransi waktu bermain kepada anakanak anda hingga jam tertentu 9 Keluarga and a menentukan satu peraturan tidak tertulis yang harus ditaati seluruh angggota keluarga 10 Anda memberikan hadiah kepada anak anda jika anak anda berprestasi di sekolahnya 11 Anda memberikan kebebasan kepada anak anda untuk berbuat sesuai dengan hati nuraninya 12 Anda membiarkan anak anda jika menentang pada kemauan anda 13 Menurut anda.

seluruh anggota keluarga saling menyuruh dalam melakukan sesuatu 25 Anda merasa bahwa pemberian hadiah atau penghargaan kepada anak dapat memperlemah mental anak anda 26 Anda tidak menghalang -halangi keinginan anak anda dalam melakukan yang diinginaknnya 27 Anda merasa tidak berhak memaksa anak anda untuk mematuhi anda 28 Anak merasa bahwa anak anda berhak sepenuhnya untuk melakukan sesuatu demi kepentingannya sendiri 29 Selama ini anda jarang berbicara kepada anak anda mengenai cita-cita anak anda 30 Anda tidak peduli akan kebutuhan material untuk anakanak anda 31 Menurut anda segala sesuatu yang baik bagi anda adalah baik bagi anak anda 32 Menurut anda segala tindakan anak anda harus diarahkan sesuai dengan keinginan anda 33 Anda merasa bahwa pemberian ancaman kepada anak anda merupakan satu-satunya hal yang paling tepat untuk anak anda 34 Menurut anda hukuman fisik layak diberikan kepada setiap anak laki-laki yang melanggar peraturan 35 Anda hanya bangga jika anak anda menjadi yang terbaik di sekolahnya 36 Jika liburan.No Pernyataan TP KD SR SL 21 Anda jarang berbicara dengan anak anda 22 Anda tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak anda dan teman bergaulnya 23 Menurut anda mengekang kebebasan anak berarti membatasi hak pribadi anak anak anda 24 Dalam pergaulan di rumah. anda menawarkan kepada anak anda rencana untuk mengisi liburan 37 Anda sering mendampingan anak-anak anda menonton televisi 38 Anda mengetahui nama teman -teman bergaul anak anda 39 Anda memberikan tugas kepada seluruh anggota keluarga dalam kegiatan di rumah 40 Anda merasa berhak memberikan hadiah kepada anak anda untuk merangsang prestasi anak .

No Pernyataan TP KD SR SL 41 Anda memberi kebebasan kepada anak anda untuk menggunakan fasilitas rumah 42 Anda menyadari bahwa keharusan anak anda untuk tunduk kepada anda akan membawa efek negatif kepada anak anda 43 Anda merasa bahwa anak anda akan dapat memilih perilakunya sendiri tanpa bantuan orang lain 44 Anda tidak memberikan t ugas rumah apapun kepada anak-anak anda 45 Anda merasa bahwa materi merupakan faktor utama untuk membahagiakan anak 46 Anda merasa bahwa anak anda boleh melakukan tindakannya sendiri tanpa petunjuk anda 47 Anda merasa bahwa keputusan yang diambil oleh anak anda akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak anda 48 Anda merasa bahwa jika anak tidak ditakuttakuti. maka anak akan bertindak kurang ajar kepada orangtua 49 Anda merasa bahwa tidak diberikannya hukuman fisik pada anak akan membuat anak anda menjadi lemah 50 Memberikan pujian kepada anak merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan semangat anak anda 51 Anda jarang makan bersama sama anggota keluarga lainnya 52 Anda tidak tahu dengan pasti kapan anak anda pergi bermain dan kapan pulangnya 53 An da berpendapat bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak namun dengan pembatasan. akan dapat memberikan rasa frustasi kepada anak 54 Keluarga tidak pernah memberikan aturan terhadap semua tindakan anggota keluarga 55 Anda tidak sempat berpikir untuk memberikan hadiah atas prestasi anak anda 56 Anda merasa tidak baik untuk mengekang kebebasan anak anda yang sekaligus menjadi hak anak anda 57 Anda berpendapat bahwa keharusan anak untuk tunduk kepada orangtua akan membuat tekanan pada anak anda 58 Anda merasa bahwa anak anda mampu memilih tindakan yang terbaik untuk kehidupan mendatang mereka 59 Anda jarang mengingatkan anak-anak anda untuk membuat pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah 60 Menurut anda kurangnya materi akan mengakibatkan pertumbuhan yang kurang baik bagi anak anda .

4 Mengembalikan alat -alat selesai bekerja Skor Total Skor 4 Semarang.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4. «««««««« 2005 Observer ( «««««««««.Tidak mudah terpengaruh pada orang lain Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2.6 .2 Makan.5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.Mempu mengerjakan tugas sendiri 1.4 Mampu mengambil keputusan s ecara sederhana 1.Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1. ) .Mau mengemukakan pendapat secara sederhana 1.3 Memakai sepatu sendiri 2.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.7 .3 Merapikan mainan selesai bermain 4.5 .2 Tidak mencoret-coret tembok 3.6 Mamakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan 3.1 .2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.3 .Berani bertanya secara sederhana 1.Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.4 Memelihara milik sendiri 2.1 Menggosok gigi sendiri 2.2 .1 Membuang sampah pada tempatnya 3.Nama anak Kelas No 1 : «««««««««« : «««««««««« LEMBAR OBSERVASI KEMANDIRIAN SISWA Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah 2 Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1. minu m sendiri tanpa bantuan orang lain 2..

7530 .0417 61.6504 45.8333 Scale Variance if Item Deleted 43.8927 .8889 .6449 41.4828 .4167 61.8623 43.6938 43.5505 .5199 44.9547 43.7917 61.2971 44.0417 60.4889 .6504 42.8928 .3460 44.8912 .7917 61.3841 44.2754 44.4716 .8913 43.4330 .7917 60.8837 .8909 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .8947 .2446 43.5738 .5561 .5052 .7917 60.8878 .3750 44.7501 .5215 .7917 61.4344 .8911 .2319 Corrected ItemTotal Correlation .4344 .1667 60.5328 .5004 S C A L E (A L P H A) SISWA Alpha if Item Deleted .8921 .8750 61.0417 60.8832 .4574 .6938 44.2591 43.8893 .6047 .8905 .8900 .8915 .5833 61.5314 .8954 24.8919 .8895 .3617 .0 N of Items = 20 .8750 60.3965 .Reliability R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S KEMANDIRIAN Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 61.4167 60.8928 .4583 60.7663 45.9112 44.2500 60.9167 60.8935 .8901 .8043 42.7500 61.1250 61.

6667 132.9301 .5278 .4015 .9306 .9304 .0833 132.9299 .9307 .9311 .9167 134.3841 440.7500 132.6176 .9583 134.4482 .4493 441.7083 133. 2500 133.9303 .9309 .0417 435.8967 441.9307 .6504 438.9304 .9309 .8913 440.5580 436.0851 442.4226 .7536 437.9301 .9305 .9289 .1014 440.4089 .1250 134.5658 .7373 440.Reliability R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S S C A L E (A L P H A) POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X1 X2 X3 X4 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X15 X16 X17 X18 X19 X21 X23 X24 X25 X26 X27 X29 X30 X31 X32 X33 X35 X36 X37 X38 X39 X40 X42 X43 X44 X45 X46 X47 X48 _ 133.3670 .6250 133.9301 .9583 132.2917 133.9307 .9312 .9303 .7040 .4269 Alpha if Item Deleted .4274 .3315 442.9310 .0580 439.9305 .9310 .7083 133.9306 .2754 436.2917 132.4329 .3333 132.3406 433.368 0 .9308 .9306 .1667 133.9583 132.4330 446.6615 .9306 .7500 132.0797 435.4811 .9309 .8243 438.4167 133.4710 437.9783 440.5833 Scale Variance if Item Deleted 442.3424 .9303 .1250 133.4695 .9167 132.8406 432.7917 134.3654 .6938 429.6667 132.4031 .5000 434.9304 .4594 .3333 132. 3315 437.9284 .9305 .9306 .3939 .8333 133.3333 133.5104 .2917 134.7171 .0272 438.9583 133.7083 132.4213 .8623 435.9297 .2391 436.4776 .4058 438.2754 428.9311 .4798 .3612 .9275 431.9301 .7808 440.4429 .7500 133.2500 132.1667 Corrected ItemTotal Correlation .3634 .4869 .5435 430.6250 133.8333 132.9167 133.4928 433.9306 .5199 437.3875 .4167 133.3811 .3333 132.4292 .4130 434.9304 .4379 .0000 437.5924 442.4145 .6250 132.8678 442.9294 .4556 .9294 .9286 .4065 .2500 133.4140 .4008 .9309 .3025 438.4121 .6250 132.9305 .4169 .0000 133.5489 441.8333 133.

4185 433.0 N of Items = 51 .9297 .5258 .5833 132.3965 .4314 .9294 .3952 .5417 133.5781 .1304 Corrected ItemTotal Correlation .5833 132.5417 132.4115 .8750 132.6449 435.9306 .3750 439.3188 439.9307 .9307 .9305 .9928 438.6667 132.6087 438.4169 .3750 132.5000 133.9306 .9982 441.9298 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .S C A L E (A L P H A) POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X49 X51 X52 X53 X54 X55 X56 X57 X59 X60 132.9305 .5210 Alpha if Item Deleted .9304 .4164 .R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .4278 .2156 436.5417 132.9316 24.9547 436.5000 Scale Variance if Item Deleted 432.

.000 . . 24 24 Kedisiplinan Siswa Pola Asuh Orangtua Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.Correlations Correlations Kedisiplinan Pola Asuh Siswa Orangtua 1.000 . Correlation is significant at the 0.661** 1.000 . (2-tailed) N **.01 level (2 -tailed).000 24 24 .661** .

484* .459* .029 24 .011 24 .05 level (2-tailed).194 .468 24 -.056 .158 .43 4 24 .000 .607 24 -.038 24 .013 24 .858 24 .473* .163 24 .458* .029 24 -. **.000 .035 24 Y8 .156 24 .404 .217 . Correlation is significant at the 0.156 .459 24 1.465 24 .484* .110 24 .168 .296 24 1.639 24 . 24 .028 24 .050 24 1. 24 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 TOT.111 .294 .111 .050 .305 .500 24 . 24 .586** . 24 .275 24 .222 .016 24 .000 .309 24 . 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.194 .458* .102 24 .020 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.318 .024 24 Y9 .507* .467* .431* .243 .459* .488* .467 24 1.035 .507* .470* .012 24 1.403 .246 24 .33 4 .029 24 -.655** .226 24 .226 24 .445* .334 .253 24 .055 24 1.042 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.207 .012 24 .003 24 .459 24 .056 .003 24 Y7 .Y .000 .Correlations Correlations Y1 Pearson Correlation Sig.232 .024 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.332 24 .500 24 .039 .031 24 .105 .024 .795 24 1.155 .145 .624 24 .299 .246 24 . (2-tailed) N Y1 1.275 24 .017 24 Y4 .147 24 .039 .000 . 24 .246 .872 24 -.035 24 .449* .396 .442* .639 24 .442* .024 24 Y2 .844 24 .156 24 .488* .309 24 .024 24 .426* . .016 24 .243 .110 24 .042 .858 24 .363 24 .445* .024 .445* .020 24 TOT.872 24 1.102 24 .342 .465 24 .156 .257 .01 level (2 -tailed). 24 -.031 24 .202 .021 24 .253 24 .159 . 24 -.145 .000 .202 .156 .467* .294 .461 24 .000 .013 24 -.035 .065 .246 .363 24 .222 .431* .001 24 .Y *.497* .762 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. 24 .017 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.624 24 .217 .155 .105 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.001 24 .021 24 -.232 .168 .019 24 Y6 .050 .403 .816 24 1.163 24 .051 24 .844 24 .434 24 . Correlation is significant at the 0.001 24 -.011 24 Y5 .305 .147 24 .182 .207 .497* .461 24 .470* .159 .426* .467 24 .050 24 .620** .101 .910 24 .620** .762 24 .344 24 .586** .512* .000 .299 .449* .910 24 .019 24 .607 24 .816 24 .001 24 Y3 .065 .342 .468 24 .396 24 .512* .029 24 .038 24 Y10 .130 24 .101 .344 24 .473* .795 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.028 24 . 24 .404 .182 .332 24 .445* .158 .296 24 .055 24 .051 24 .000 . 24 .000 .655** .257 .130 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.1 56 .318 .396 24 .396 .

001 24 Y13 .024 24 .197 .002 24 .096 .05 level (2tailed). 24 .348 .590** . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.183 .855 24 .338 .517** .004 24 Y16 .022 24 Y17 .614 24 . (2-tailed) N Y11 1.266 24 .001 24 1.011 24 .430 24 .242 24 .205 .430 24 .356 24 1.331 .039 .855 24 .191 .475 24 .599 24 .493* .540** .575** .318 .197 .115 24 .333 24 .372 24 .113 .000 24 .000 .013 24 .640** .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.50 2* .079 24 .010 24 .768** .113 .012 24 .001 24 Y20 .408 24 .598** .000 24 1.322 24 .590** .559** .045 24 .004 24 .455* .511* .386 .373 .643** .003 24 .276 .500* .022 24 .598** .460* .500* . 24 .204 .Correlations Correlations Y11 Pearson Correlation Sig.460* .348 .413* .338 .365 .096 .612** .768** .654 24 .006 24 .006 24 .505* .356 24 .637** .177 .014 24 Y12 .012 24 1.237 .500* .000 .111 24 .211 .372 24 .637** .000 24 Y18 .001 24 TOT.455* .010 .000 .111 24 1.963 24 .003 2 4 .084 .599 24 .337 24 . 24 .002 24 .013 24 .696 24 .000 .654 24 .612** . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.096 24 .192 24 .034 24 .192 24 .024 24 .115 24 .01 level (2 -tailed).507* .130 24 .000 .177 .045 24 . 24 . Correlation is significant at the 0.192 24 .643** .000 .505* .373 .333 .559** .206 .248 .002 24 1.006 24 .393 24 .079 24 .435* .365 . **. 24 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.322 24 -.408 24 .011 24 1.339 24 .010 .006 24 . 24 .153 .194 .940** .169 .039 .000 .242 24 .012 24 Y14 .963 24 .364 24 .337 24 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.640** .106 24 .696 24 .012 24 .393 24 .266 24 1.940** .084 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.026 24 .073 24 .237 . 24 .169 .000 24 .386 .206 .106 24 .004 24 Y15 .014 24 . 24 .002 24 .248 .034 24 .205 .567** .507* .004 24 .465* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.191 .331 .063 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.567** .540** .502* .010 24 .194 .333 24 .517** .096 24 .204 .413* .276 .001 24 .Y .575** .465* . 24 .153 .276 .192 24 .339 24 .493* .011 24 .364 24 1.108 . 24 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 TOT.511* .001 24 .333 .276 .211 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.614 24 .500* .013 24 .130 24 . 24 .108 . Correlation is significant at the 0.001 24 .001 24 1.Y *.063 24 .475 24 .543** . . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.543** .435* .073 24 .026 24 Y19 .183 .011 24 .013 24 .318 .000 .

069 24 .309 24 .518** .140 24 .X **.102 .056 .922 24 .164 24 .705** .794 24 .000 24 .395 .000 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.446* .000 1.307 24 .016 24 X5 -.483* .306 24 .045 24 .654** .000 24 X7 .218 .313 .127 24 .567 24 .696** .108 .491* .306 24 .015 24 TOT.217 .538** .015 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.071 24 . 24 .000 .000 1.500* .002 24 .320 .922 24 X6 .001 24 -.003 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.538** .371 24 .408 24 -.053 24 .020 24 . 24 .05 level (2 -tailed).486* .501* . 24 .413* .489 24 1.475* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.016 24 -. 24 .003 24 . 24 -.489* .000 .001 24 .315 . 24 -. 24 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 TOT. (2-tailed) N X1 1.133 24 1.696** .108 .309 24 .217 .218 .123 .102 .306 24 .108 24 -.491* .293 .137 24 .108 24 .123 . 24 .470* .582** .413* .582** .218 .045 24 .000 .110 .489 24 .614 24 .021 .000 24 .000 .311 .000 .001 24 .108 24 .010 24 .635 24 .514* .015 24 .007 24 .654** .218 .168 .633** .635 24 -.313 . 24 .431 24 .221 .015 24 1.538** .013 2 4 X4 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.400 .489* .471* .Correlations Correlations X1 Pearson Correlation Sig.000 .056 24 .337 .137 24 . *.017 24 . .378 .320 .010 24 1.000 .007 24 .020 24 .446* .307 24 -.000 .164 24 .567 24 .500* .375 .01 level (2-tailed).102 .177 .015 24 .635 24 .148 .013 24 .408 24 .470* . 24 .518** . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.X .001 24 X10 .514* .127 24 1.293 .300 24 .3 00 24 .538** .475* .471* .007 24 .306 24 .029 24 X2 .010 24 1.395 .010 24 .309 24 .449* .148 .000 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.002 24 .610 24 1.371 24 .400 .021 24 1.191 .140 24 .010 24 X3 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.375 .491* .337 .501* .110 .021 .102 .108 24 .635 24 .017 24 .191 .595** .000 .315 .053 24 .336 .000 .029 24 .217 .102 .449* .000 24 .518** .614 24 .218 .021 24 -.378 .336 .218 .794 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.635 24 .483* .610 24 .491* .010 24 .168 .013 24 .431 24 .000 24 .056 24 1.028 24 .015 24 .000 24 X9 .595** .019 24 .633** .133 24 .000 .013 24 .102 . Correlation is significant at the 0. Correlation is significant at the 0.000 24 .000 1.007 24 .486* .311 .705** .028 24 X8 .217 .071 24 -.177 .309 24 .019 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.069 24 .056 .635 24 1. 24 .221 .518** .

601 24 .000 .205 .770 24 .060 24 .277 .019 24 . 24 .077 . 24 .000 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.418* .474* .019 .465 24 .005 .194 24 .152 24 1.827 24 -.390 .217 .073 .047 .322 24 .148 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.171 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.515 24 .01 level (2-tailed).042 24 .000 1.006 24 .000 24 -.733 24 -.392 24 .000 24 .194 24 .267 .134 .930 24 .675 24 .540** .343 24 .941 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.827 24 .035 .490* .000 .000 1.733 24 .024 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.458* .390 .302 .011 24 . 24 .777 24 .140 .424 24 .000 1.424 24 .414* .346 .675 24 .211 . Correlation is significant at the 0.007 24 -.202 .446* .020 .823 24 .172 24 .018 24 .458* .019 24 X13 .000 .296 .140 . 2 4 . 24 .112 .007 24 .734 24 TOT.000 .285 .441 24 1. (2-tailed) N X11 1.446* .337 24 1.000 1.077 .734 24 1. 24 .183 .296 .047 .309 24 .535** .346 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.872 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.217 .925 24 X15 .134 .473* .465 24 1.097 24 .048 .000 24 .016 .160 24 .095 24 .011 24 X12 .777 24 -.343 24 .414* .073 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.024 24 X16 .019 .510* .535** .277 .000 .306 .490* .392 24 .112 .165 .633 24 .211 .157 .000 . Correlation is significant at the 0.073 .189 24 1. **.020 .063 .063 .020 24 X14 .103 .183 .312 .337 24 .090 .823 24 1.189 24 .288 .X *.095 24 -.202 .489 24 .000 24 -.925 24 .000 .348 .288 .090 .073 .097 24 .348 .302 .980 24 .148 .322 .000 24 -.029 24 X20 -.306 .515 24 . 24 -.474* .146 24 -. .061 .152 24 .005 .208 24 1.138 24 .000 .048 .316 .322 .165 .720 24 .146 24 -.309 24 -.000 .322 24 -. 24 -.208 24 .044 24 .000 .872 24 .061 .275 .633 24 .480* .000 1.473* .489 24 -.X .060 24 -. 24 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 TOT.000 1.720 24 -.044 24 X17 .480* .540** .418* .125 24 .177 24 .006 24 X19 .309 24 -.103 .157 .267 .930 24 -.177 24 1.132 24 .020 24 -. 24 .042 24 .015 24 .05 level (2 -tailed).160 24 .309 24 .316 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.132 24 .205 .172 24 .312 .016 .217 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.029 24 -.601 24 .125 24 .441 24 -.171 .941 24 .217 .018 24 -.510* .Correlations Correlations X11 Pearson Correlation Sig.534 24 .138 24 .015 24 X18 .275 . 24 .035 .285 .980 24 .534 24 -.000 .770 24 1.

104 .544** .319 .636 24 -. 24 .639 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.814 24 .310 . 24 -.027 . 24 .141 . Correlation is significant at the 0.022 24 TOT.102 . 24 -.457* .533 24 -.764 24 -.100 .065 .612 24 -.639 24 .621 24 -.012 24 X26 .048 .501* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. 24 .344 24 X23 .277 24 .128 24 .442* .X .442* .031 24 .000 .093 24 .412* .096 .05 level (2-tailed).442* .011 .310 .202 .328 24 1.126 . .653 24 .001 24 .006 24 -.505* .466* .036 24 X22 .109 .025 24 1.510 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.641 24 -.972 24 -.506* .009 24 . Correlation is significant at the 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.031 24 X30 .422* .259 24 .000 .093 24 X29 .762** .000 .012 24 .157 .259 24 -.045 24 -.621 24 -.623** .087 . 24 -.031 24 .501* .823 24 .101 .422* .556 24 -.051 .186 .533 24 -.890 24 -.000 .762** . **.134 .217 .087 .464* .890 24 .000 .062 .630 24 .000 .814 24 -.025 24 .000 .222 .202 .109 .900 24 .519** .036 24 -. 24 .240 .048 .141 .141 24 .097 .510 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.001 24 .030 .630 24 .506* .350 .612 24 .655 24 .630 24 1.208 .110 .383 24 -.464* .214 .375 .186 .031 24 X24 . (2-tailed) N X21 1.375 .309 24 -.630 24 .442* .022 24 1.Correlations Correlations X21 Pearson Correlation Sig.296 24 .556 24 -.013 24 .774 24 .685 24 -.823 24 1.01 level (2 -tailed).104 .126 .277 24 -.309 24 .429* .972 24 .051 .774 24 1.009 24 -.000 .949 24 .623** .052 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.685 24 .217 .022 24 -.000 .641 24 .027 .011 .101 .071 24 -.655 24 .653 24 -.157 .466* . 24 .100 .019 24 .102 .040 24 .062 .065 .465 24 -.240 .013 24 .764 24 .106 .X *.383 24 1.319 . 24 .640** .104 .104 .045 24 X28 -.949 24 .014 .141 24 .134 .214 . 24 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 X30 TOT.014 . 24 -.814 24 .000 .001 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.096 .012 24 1.008 .344 24 .128 24 -.052 .814 24 -.000 24 -.519** .071 24 .001 24 -.350 .208 .097 .231 .900 24 .810 24 .315 24 .457* .544** .465 24 .296 24 .231 .640** .961 24 -.106 .429* .000 24 -.315 24 .328 24 .040 24 X25 .636 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.608 24 -.008 .012 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.505* .030 .051 .022 24 .475* .810 24 .961 24 -.475* .019 24 X27 -.006 24 .412* .110 .051 .608 24 .222 .000 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.

054 24 .354 .202 .117 24 -.141 24 .399 .028 24 X38 .328 .343 .117 24 .511 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.406* .047 . 24 .002 24 .801 24 .207 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.329 .419* .555** .023 24 X39 .000 .000 .570** .026 24 X40 .023 24 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.054 24 .331 24 .273 24 .173 .065 24 .245 .219 .206 .243 24 .443* .383 .041 24 .218 .000 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.902 24 .222 24 .462* .21 5 .004 24 1.840 24 .095 24 .248 .902 24 1.898 24 1.328 .406* .233 .840 24 X35 .313 24 -.090 24 .334 24 .027 .419* . 24 .215 .093 .063 .000 .328 .245 .266 .456* .026 24 .054 .553 24 -.243 24 .560 24 .043 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.206 .590** .01 level (2-tailed).05 level (2 -tailed).273 24 . .000 24 .665 24 .313 24 .215 .349 . Correlation is significant at the 0.329 .246 . 24 X32 X33 X34 X35 X36 X37 X38 X39 X40 TOT.841 24 -.025 24 .259 .233 .054 .898 24 . 24 .004 24 .049 24 .063 .334 24 .065 24 .122 .043 .343 .041 24 X36 .000 24 1.095 24 .343 24 . 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.028 .307 24 .049 24 X37 . 24 -.222 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.173 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 .24 7 24 .259 .141 24 .246 .456* .047 .141 .462* .768 24 -.000 .711** .X *. 24 -.006 24 .Correlations Correlations X31 Pearson Correlation Sig.030 24 .310 .086 24 .462* .125 .215 .801 24 .555** .544** .448* .454* .202 .101 24 1.248 24 -.343 24 .028 .448* .423* .687** .219 .354 .248 24 .419 24 -.207 .141 .000 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.006 24 .570 24 . 24 .358 .025 24 .043 .665 24 .720** .006 24 1.028 24 .383 .208 24 .828 24 .423* . 24 .454* .043 .125 .043 .711** .101 24 .570 24 .X . 24 .027 .093 .122 .000 24 X32 .313 24 -.005 24 TOT.413 24 .248 . 24 .117 24 .841 24 .768 24 1.043 .828 24 .175 .419 24 .247 24 .304 24 .175 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.841 24 1.117 24 .000 .349 .570** .117 24 .006 24 .000 .307 24 1.000 .002 24 .720** .328 .544** .590** .005 24 1.039 24 .399 .000 24 .127 .443* .02 3 24 -.313 24 .331 24 .127 .000 .039 24 -.462* .086 24 .511 24 .310 . (2-tailed) N X31 1.413 24 .560 24 .544** .208 24 .090 24 .544** .553 24 .000 .358 .687** .218 .304 24 . Correlation is significant at the 0.841 24 .117 24 .030 24 X33 .266 .023 24 X34 . **.

365 24 . 2 4 -.598 24 -.110 24 1.007 24 .459* .196 24 -.301 .299 24 .068 .511 24 -.01 level (2 -tailed).130 .065 .037 24 .153 24 .000 .431* .036 24 1.302 .408* . 24 .418* .034 24 .271 .221 .754 24 -. 24 . 24 .158 .938 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.171 .019 24 -.194 .278 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.786 24 .048 24 X44 .125 .000 24 .068 .000 24 -.786 24 X42 .478* .018 24 1.567 24 .131 .471* .067 24 .000 24 .131 .158 .302 .110 .000 .516 24 .152 24 .139 .426 24 .125 . Correlation is significant at the 0.234 . .303 .307 .120 .474* .024 24 . 24 X42 X43 X44 X45 X46 X47 X48 X49 X50 TOT.120 .545 24 -.221 .067 24 .532** .026 24 X45 .598 24 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.193 .478* .048 .145 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.428* .042 24 .000 1.141 .200 24 -.567 24 .729** .884 24 .155 24 .167 .026 24 .048 . 24 .691** .390 .200 .152 24 .462 24 .007 24 X50 .123 .516 24 .042 24 1.435* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.418* .X .271 24 .463* .463* .000 .938 24 .576 24 .273 .754 24 1.380 .474* .610 24 .123 .000 .017 .435* .764 24 .113 .000 1.426 24 1.Correlations Correlations X41 Pearson Correlation Sig.459* .113 .000 .764 24 .053 .278 .151 24 .335 .540 24 .066 24 .545 24 .037 24 X49 -.048 24 .540 24 .463* .000 24 .168 24 .X *.691** .576 24 .032 . Correlation is significant at the 0.511 24 .000 .000 24 -.442* .408* .291 .273 .610 24 -.000 24 1.196 24 .532** . **.193 .023 24 X46 .367 24 -.139 .823 24 .230 . 24 .280 24 .381 .307 .151 24 -.000 .349 24 .436 24 .349 24 .271 24 1.234 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 .560 24 .431* .299 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.303 .017 .032 .471* .462 24 .365 24 -. 24 .05 level (2 -tailed).023 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.335 .367 24 .020 24 .442* .300 .823 24 .200 24 .271 . 24 -.194 .390 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 .428* .031 24 .280 24 -.380 .110 24 .200 .153 24 .110 .381 .023 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.729** .130 .024 24 .291 .463* .031 24 X43 .807 24 .019 24 .034 24 -.020 24 X47 -.301 .230 .155 24 .060 24 . 24 .171 .065 .066 24 -.023 24 X48 -.058 .018 24 TOT.455* .884 24 -. 24 .168 24 -.560 24 .167 .455* .060 24 .145 24 .058 .188 24 -.053 .000 .036 24 .436 24 .807 24 -.141 .188 24 -.300 . (2-tailed) N X41 1.

228 24 .547** .126 24 1. Correlation is significant at the 0.154 24 .157 .355 .003 24 .157 .461* .290 24 .463* .000 .117 .X *.Correlations Correlations X51 Pearson Correlation Sig.01 level (2 -tailed) http://webcache.630 24 .032 24 X52 .023 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.003 24 X60 . 24 X52 X53 X54 X55 X56 X57 X58 X59 X60 TOT.104 .000 .104 .000 1. 24 .372 24 -.605 24 .007 24 .438* .008 .154 24 1.032 24 X56 .440* .444* .202 24 .290 24 .037 24 .270 .102 . (2-tailed) N X51 1.455* .749 24 .464 24 .032 24 .017 24 X54 .969 24 .145 24 .630 24 .000 .823 24 .030 2 4 -.102 .000 .786 24 .001 24 .225 .000 .634 24 -.455* .427* .605 24 .069 .538** .341 . .177 .058 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.440* .784 24 1.111 . 24 .000 1.286 .068 .030 24 X58 -.546** .256 .000 1.823 24 1.015 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.546** .427* .000 .397 24 X59 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 1. **.408 24 .05 level (2 -tailed).538** . 24 .103 24 .006 24 .397 24 .191 .749 24 .107 .355 .207 .111 .023 24 X57 .scribd.320 .271 .053 24 .040 .633** .111 .176 24 .355 .000 .615** .771 24 .000 .620 24 .181 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.178 24 -. 24 . 24 .300 .X . com/search?q=cache:xzdsRKh9DMJ:www.578** .023 24 .000 24 .069 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.111 .040 .228 24 .048 .145 24 .023 24 .281 .852 24 1.000 .440* .088 24 1.058 .063 .107 .032 24 .006 24 .019 .307 .202 24 .320 .032 24 X55 .176 24 .006 24 1.183 24 .103 24 .284 .633** .341 .786 24 . 24 -.423* .040 24 X53 .307 .440* .googleusercontent.063 .048 .000 24 .321 .355 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.178 24 1.059 . 24 .586 24 .225 .068 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.931 24 .771 24 -.201 24 .191 .059 .931 24 .006 24 TOT. 24 .001 24 .944 24 .007 24 .438* .015 .089 24 1.969 24 -.752 24 .271 .181 .177 .088 24 .463* .752 24 -.332 24 .017 24 .300 .020 24 .183 24 .483* .126 24 . 24 .464 24 .408 24 .053 24 -.473* .483* .372 24 .852 24 .270 .281 .784 24 .615** .444* .026 24 .000 .000 24 .000 24 .578** .128 24 .117 .461* .586 24 .026 24 .547** .620 24 . 24 . Correlation is significant at the 0.944 24 .207 .001 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.284 .201 24 1.019 .128 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.256 .008 .321 .473* .332 24 .000 .040 24 .400 .400 .634 24 .604 24 -.037 24 .com/doc/37574856/128+hubungan+pola+asuh+ibu+dengan+ kemandirian+anak+usia+4-6+tahun+di+TK&cd=9&hl=id&ct=clnk&gl=id .286 .001 24 .032 24 .604 24 .423* .089 24 .020 24 .

.

Perkembangan bahasa . memutar dan mendorong).. merentang. menderap. menggambar. * Anak memiliki motivasi instrinsik sehingga tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik baik yang melibatkan gerakan motorik halus maupun motorik kasar. Pemahaman tersebut dapat membantu menganalisis dan mengelompokkan anak pada kategori bermasalah atau tidak. memeluk. 3. melipat kertas.. seperti anak mampu menyusun balok kecil untuk membangun rumah -rumahan. melompat. berayun. dan lain sebagainya. menggunting. menjatuhkan diri. seperti ketika menggambar anak menunjukkan gambar ikan dari sudut pengamatannya. mengangkat. Keterampilan koordinasi motorik kasar terbagi atas tiga kelompok yait u keterampilan lokomotorik (berlari. Motorik kasar mer upakan gerakan yang terjadi karena adanya koordinasi otot -otot besar. dan otot yang terkoordinasi. berlari. menendang bola. bergoyang. guru.ekolah atau di rumah (sosial). berhenti.Definisi anak bermasalah Anak bermasalah usia TK 4-6 tahun yang memiliki perilaku non normatif ( perilaku) dilihat dari tingkat perkembangannya. keterampilan nonlokomotorik (menggerakan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam ditempat. * Anak belum mampu berpikir kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf -syaraf yang berada di pusat susunan syaraf. * Anak tidak mampu memahami prespektif atau cara berpikir orang lain (egosentris). B. melompat. memukul dan menarik). melempar dan menaiki. Perkembangan kognitif Berarti proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir. berjalan. dan mengelak). berguling. Perkembangan motorik terbagi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar. atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri baik pada waktu belajar (konsentrasi) maupun dalam aktivitas bermain di s. seperti anak tidak mampu menjawab alasan mengapa menyusun balok seperti ini dll. Motorik halus berkaitan dengan gerakan yang menggunakan otot halus. meronce. /p> Untuk mengetahui apakah anak bermasalah atau tidak. Ciri khas perkembangan kognitif anak TK adalah : * Anak sudah mampu menggambarkan objek yang secara fisik tidak hadir. berbelok. yaitu mampu mengkombinasikan gerakan motorik dengan seimbang. Ciri khas perkembangan motorik anak TK adalah : * memiliki kemampuan motorik yang bersifat kompleks. pendidik (orang tua. menangkap dan menerima (dapat dilihat pada waktu anak menangkap bola. seperti . urat syaraf. orang dewasa disekitar anak) perlu memahami tahapan perkembangan anak dalam segala aspek. melengkung. dll. berjalan setelah berhenti sejenak. dan keterampilan memproyeksi. seperti . Perkembangan motorik Berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf. menggiring bola. menggambar. melambungkan bola. melempar bola. 2. meluncur. Karakteristik anak TK 1.

4. keindahan. medominasi situasi. serta apa yang dilihatnya. Ciri khas perkembangan bahasa anak TK adalah * Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak. dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin. * Percakapan yan g dilakukan telah menyangkut berbagai komentar terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain. * Rasa takut dan cemas mulai berkembang. perbedaan. malah beberapa kali dalam sehari maka hal itu pertanda anak bermasalah. Ciri khas perkembangan psikososial anak TK adalah * Sudah dapat mengontrol perilakunya sendiri. 3. sering berperilaku seperti boss (atasan). Ukuran norma budaya. C.Bahasa sebagai alat komunikasi ti dak hanya berupa bicara. maksudnya. ukuran. suhu. misalnya. khususnya yang berkaitan dengan emosi. Intensitas perilaku maksudnya tingkat kedalaman perilaku anak yang bermasalah. maksudnya seberapa banyak tingkah laku yang menimbulkan masalah muncul. * Anak sudah dapat menunjukkan sikap marah. bentuk. Usia anak yaitu tingkah laku anak yang mencolok yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak seusianya. dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun. warna. Perkembangan psikososial Merupakan perkembangan yang membahas tentang perkembangan kepribadian manusia. motivasi dan perkembangan kepribadian. * Sudah dapat membedakan yang benar dan yang tidak benar. akan tetapi anak takut untuk melakukannya.500 kosakata. * Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2. anak mudah beralih perhatiannya baik dalam belajar atau bermain. Apakah anak TK yang terlambat perkembangannya sama artinya dengan anak yang bermasalah? . * Telah menguasai 90% dari fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata seperti kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang didengarnya menjadi satu kata yang mengandung arti contohnya i. dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri. membaca bahkan berpuisi. b. permukaan (kasar -halus) * Mampu menjadi pendengar yang baik. * Perasaan humor berkembang lebih lanjut. * Sudah dapat menengkan diri * Pada usia 6 tahun anak akan menjadi sangat asertif. misalnya anak ngambek setiap hari . bau. * Sudah dapat melakukan ekspresi diri. * Sering bertengkar tetapi cepat berbaikan kembali. perbandingan. misal saya memberi makan ikan´ bukan ´ikan saya makan beri´) bahasa yang digunakan. Anak dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar. 4. * Keinginan untuk berdusta mulai muncul. rentang perhatian anak untuk konsentrasi sangat pendek. * Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. rasa. * Sudah dapat meras akan kelucuan (misalnya. menulis. Batasan -batasan bermasalah Anak bermasalah di TK dapat dilihat dari : 1. u menjadi ibu) dan sintaksis (t ata bahasa. jarak. Frekuensi perilaku menyimpang yang tampak. kecepatan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut. * Sudah dapat mempelajari mana yang benar dan yang salah. ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal -hal yang lucu). * Lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut. anak dikatakan bermasalah sangat bergantung pada ukuran budaya setempat. akan tetapi dapat menerima nasihat. 2.

jika anak berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarn ya (anak berkembang dengan iramanya masing -masing). rendah diri. dan tidak menjadi marah jika menghadapi emosi anak. menolong anak memberi nama emosi yang sedang dirasakan. Jenis kelamin (anak perempuan lebih takut dibanding laki -laki karena lingkungan sosial lebih menerima rasa takut perempuan). Untuk tahu apakah anak tersebut bermasalah maka pendidik harus memperhatikan kekhasan perilaku anak. Masalah anak TK a. Berikut ini pertanyaan yang dapat mengidentifikasi apakah anak tersebut bermasalah atau tidak. 9. Menghadapi emosi emosi negatif anak. Tidak menanggapi lucu atau meremehkan perasaan negatif anak. lamunan. 10. Respon guru TK dalam menghadapi anak TK yang bermasalah 1. 4. dll. Rasa takut anak TK biasanya terhadap hewan. 4. Menggunakan saat-saat emosional sebagai saat untuk mendengarkan anak. demikian pula sebaliknya). bingun g. sulit bernafas. Tidak. D. Gejala emosional. ketidakberdayaan. ketergantungan pada suatu benda. namun jika berlebihan dan tidak wajar maka perlu diperhatikan. dan saat emosi negatif anak muncul sebaiknya guru menciptakan hubungan yang akrab 2. 2. 7. Tidak memerintahkan apa yang harus dirasakan oleh anak. Gejala psikis. seperti . Tidak merasa bahwa guru harus membereskan semua masalah bagi anak. Jika tingkah laku tersebut tidak diatasi dengan segera apakah akan menimbulkan masalah dala m perkembangan anak secara menyeluruh? Jika semua pertanyaan tersebut dijawab ´ya´ maka besar kemungkinan anak tersebut bermasalah. atau ketakutan. tidur. marah. lapar atau kurang sehat). sekolah. Intelegensi ( anakanak yang tingkat intelegensi tinggi cenderung punya rasa takut yang sama dengan anak yang berusia lebih tua. Gejala tingkah laku seperti : gangguan tidur. gelap. ketinggian. jika anak yang terlambat dalam perkembangan tersebut sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan rumah. Tidak bingung atau cemas menghadapi ungkapan -ungkapan emosional anak. monster. Keadaan fisik ( anak cenderung takut bila dalam keadaan lelah. 1. Rasa takut yang berlebihan terlihat dalam gejala -gejala seperti berikut : 1. sensitif. rasa takut. 3. dan sakit kepala. angin topan. Apaka h frekuensi tingkah laku yang menyimpang tersebut terlihat setiap waktu? 2. berempati dengan kata-kata yang menyejukkan. sedih. Sabar menghadapi anak yang sedih. 8. gangguan makan. mengisolasi diri. dokter atau dokter gigi. agresi. prestasi kurang di sekolah. Melihat emosi negatif sebagai arena yang penting dalam mengasuh anak. marah. 5. 6. Penakut Setiap anak memiliki rasa takut. E. bersalah. Urutan kelahiran . 3. perut. 3. menghindari pergi keluar. mudah tersinggung. walaupun ungkapan emosinya tidak terlalu kelihatan. serangga. Sadar dan menghargai emosi -emosinya sendiri. Apakah perilaku tersebut mengganggu aktivitas anak baik dalam belajar maupun bermain? 3. seperti . putus asa. dan mengajarkan anak untuk terampil dalam menyelesaikan masalah. 2. dan terus berada di kamar orang tua. Peka terhadap keadaan emosi anak. menentukan batas -batas dan mengajarkan ungkapan emosi yang dapat diterima. Penyebab anak memiliki rasa takut : 1.Jawabannya ya dan tidak Ya.

Menyerang dengan menggu nakan kaki. Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik 1. Mendongeng 8. Ciri anak pemalu adalah : 1. Biasanya melanggar aturan atau norma yang berlaku di sekolah seperti. 2. Bertambahnya usia diekspresikan dengan mencela. Memberi contoh teladan (guru sebagai model) 6. tontonan TV. sementara anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhannya). mencaci. mencakar. Trauma yang dialami anak-anak. seperti . tangan. Mendengarkan cerita anak 2. 3. Salah satu cara dengan bicara pada diri sendiri). Ajari kenyataan 4. 7.(anak sulung cenderung lebih takut karena perlindungan yang berlebihan). Melakukan aktivitas penuh tantangan 9. Pola asuh yang keliru (melakukan kekerasan terhadap anak. berkelahi. Membatasi diri dalam pergaulan 8. ejekan. hukuman. Bermain peran 2. Sering mendorong. p ola asuh orang tua yang menghidupkan rasa takut anak seperti . Tidak bersedia untuk berdiri di depan kelas 4. Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik : 1. Agresif Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan. 7. Tidak mampu menatap mata orang lain ketika berbicara 3. Belajar berteman melalui permainan beregu 4. Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya 5. berbicara kotor dengan teman. yang timbul pada seseorang. memukul. Kurang berani bicara dengan guru atau orang dewasa 2. 5. Kepribadian anak (anak yang kurang memperoleh rasa aman cenderung lebih penakut). Adanya contoh yang dilihat anak. Enggan bergabung dengan anakanak lain 5. akibatnya adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Lindungi dan hibur anak 3. Pemalu Pemalu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan. dll. Penyebab anak agresif 1. 8. dan pelindungan diluar batas. Tingkah laku mengganggu muncul karena ingin menunjukkan kekuatan kelompok. Tingkah laku agresif sebelumnya (tingkah laku agresif yang pernah dilakukan anak mendapat penguatan dari keluarga atau guru). Menggambar b. atau memukul. mencaci dan memaki. Anak tidak banyak bicara 9. bencana alam. Anak kurang terbuka Penyebab anak pemalu 1. Memberi hadiah 5. mengejek. Lebih senang bermain sendiri 6. atau berkelahi. mengganggu anak lain. Keadaan fisik 2. otoriter terhadap anak dan terlalu protektif. Gejala anak yang agresif : 1. 6. merusak alat permainan milik teman. Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik c. Memanfaatkan imajinasi anak untuk menumbuhkan keberanian 10. terlalu memanjakan anak (orang tua selalu mengijinkan atau membenarkan permintaan anak) 2. paksaan. ketidakperdulian. atau ibu yang takut. 3. Bela jar mengenal perasaan 3. angina topan. 4. Perilaku tersebut cenderung melukai anak lain seperti menggigit. Coping model (adalah salah satu cara seseorang menghadapi rasa takut namun ia harus melewati rasa takut itu. seperti . Reaksi emosi terhadap frustasi (banyaknya larangan yang dibuat guru atau orang tua (kecemasan yang berlebihan). mengolok -olok. tabrakan mobil. tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan teman -teman. Menyerang dalam bentuk verbal seperti . Tidak berani tampil dalam permainan 7. Kesulitan . 3.

com/group.php%3Fgid%3D403081916419%26v%3Dwall+perilak u+sosial+pada+anak+usia+4-6+tahun+di+TK&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id Jumat. PERMANARIAN SOMAD M. Pola asuh yang mencela Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik : 1.com/search?q=cache:HfKdUB9svusJ:es es.PdOleh: AHMAD NAWAWI.MOMON KUSMANA. Dorong anak berpartisipasi dalam kelompok Ver más http://webcache. 22 Mei 2009 hambatan interaksi Hambatan interaksi dan komunikasi (studi kasus) DOSEN : Dra.facebook. BETTY KARYANTI IMA KURROTUN AININ ANIK DWI HIEREMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 KATA PENGANTAR .dalam bicara 3.googleusercontent. Kurang terampil berteman 4. Belajar bergabung melalui permainan 3. Meng ajar cara mulai berteman 4. Harapan orang tua yang terlalu tinggi 5. Melibatkan anak pada kegiatan yang menyenangka 2.

saling mengisi dan menyemangati dalam proses menuju pemahaman ke tingkat yang lebih baik. Karenanya kami memohon saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaharuinya dikemudian hari . Menyusun Kajian Teori C. Tiada gading yang tak retak. Sholawat serta salam teruntuk baginda yang kami rindukan Na bi dan Rasul kita Muhamad SAW. Maret 2009 Penyusun Kelompok 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Bentuk-Bentuk Interaksi BAB IV METODE A. Ucapan terima kasih kepada semua dosen Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan rekan-rekan yang selama ini saling mendukung. Berharap semoga ilmu yang di kaji saat ini menjadi ilmu bermanfaat dan dapat diaplikasikan secara nyata dilapangan.Puji syukur kehadirat Allah SWT. Latar belakang B. Tujuan penulisan BAB II DESKRIPSI KASUS A. Mohon maaf jika dalam penyusunan laporan presentasi ini terdapat banyak kesalahan. saran dan masukan akan menjadi bahan sharing yang berharga khususnya bagi tim kelompok penulis. Identitas Kasus B. begitu pula dalam makalah presentasi tugas kelompok kami ini. yang tiada pernah terputus rahmat dan karunia-Nya. Bandung. para sahabatnya dan sampailah pada kita sebagai pengikutnya. Pengertian Interaksi B. Kritik. Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3 ± 5 Tahun C. Riwayat Perkembangan Kelahiran. Kepada keluarganya. Instrumen Asesmen E. Contoh Rancangan Program Intervensi BAB V PEMBAHASAN . Menentukan Subyek B. Pengasuhan dan Kesehatan Anak BAB III KAJIAN TEORI A. Pembahasan Data D. Perumusan masalah C.

detak jantung ibunya. Bahkan kemampuan itu telah dimilikinya ketika masih di dalam kandungan. Kenyataan ini memunculkan keingin an untuk melakukan studi kasus terhadap salah satu anak yang diduga mengalami hambatan dalam . Misalnya bayi mampu mendenga r bunyi-bunyi musik. Pada masa itu bayi mulai belajar mengkomunikasikan segala keinginannya dengan suara tangisan dan gerakan -gerakan tertentu dari anggota tubuhnya. kendaraan. seorang ibu dapat membedakan apa yang anak inginkan. Pada masa -masa awal kelahirannya manusia sudah belajar melakukan komunikasi. Menurut penelitian janin/bayi di dalam kandungan pada usia kandungan tertentu memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan di luar kandungan. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu lain. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi baik interaksi dengan alam lingk ungan. Saran C. maupun interaksi dengan Tuhannya. Hi dup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi.BAB VI PENUTUP A. merespon belaian pada kandungan. Setiap manusia memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Ibu dapat membedakan menangis karena ³ngompol´ atau menangis karena lapar (ingin menyusu). terutama ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Pada tahap selanjutnya interaksi ini diwujudkan dalam bentuk komunikasi. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial. ada beberapa anak diantaranya yang diduga mengalami hambatan dalam berinteraksi. Sejak di dalam kandungan manusia telah belajar berinteraksi dengan kondisi ibunya. dll. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. interaksi dengan sesamanya. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia sejak dini telah menunjukkan tanda -tanda komunikatif dalam rangka pemenuhan kebutuhannya. Namun kenyataannya tidak semua mampu berinteraksi dengan baik. Kesimpulan B. Dari tangisan bayi. terutama dengan ibunya. Itu artinya manusia telah dibekali kemampuan interaksi sejak dini oleh Yang Maha Kuasa.

Pernah minum milanta tablet 3. . dapat dikemukakan permasalahan pokok yang menjadi dasar perumusan masalah studi kasus yaitu: ³ Bagaimana riwayat perkembangan kasus? Bagaimana kemampuan interaksi yang dimiliki kasus? dan Bagaimana program penanganannya ? C. Sejak hamil sampai melahirkan ibu mengeluhkan sakit di bagian tulang ekor 2.850 gr i. Menggunakan perangsang pil d. Berat badan lahir : 3. Post natal 2 kali di beri imunisasi influensa. Proses kelahiran agak lama e. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah 1) untuk mengetahui riwayat perkembangan kasus. Usia kehamilan 5 bulan ibu mengalami sakit gatal 4. Menggunakan salep untuk gatal 5.berinteraksi. Riwayat Perkembangan Kelahiran. 2) untuk mengetahui bentuk-bentuk kemampuan interaksi yang dialami kasus dan 3) Membuat rancangan program penanganannya. Kelahiran normal b. Lahir cukup bulan c. Pre natal Selama kehamilan trimester pertama asam lambung ibu tinggi 2. Lahir anak langsung bisa menangis g. Natal a. BAB II DESKRIPSI KASUS A. B. Tinggi badan lahir : 52 cm 3. Identitas subyek Nama : H Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Bandung 14 April 2005 Anak ke : Tunggal B. Ibu diinfus f. Sedikit kuning (tidak sampai di sinar) h. Pengasuhan Dan Kesehatan Anak (Berdasarkan Keterangan Ibu Subjek) 1. Identitas 1. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah. sebelum diimunisasi H sering sakit dan daya tahan tubuh terhadap influensa membaik setelah imunisasi ke 2.

ia lebih suka menghindar dan menunjukkan penolakan pada kehadiran orang lain pada usia dibabah 15 bulan b. Di usia satu tahun perkembangan bahasanya sudah menampakkan peningkatan c. mobilisasi masih dengan merangkak 5. Frekuensi di Day care dikurangi menjadi 5 hari d. (S -R-S-R-S-R-S-R-Stanpa R). Pada usia 7 bulan kata kata bermakna yang yang keluar hanya : maman b. Perkembangan bicara dan berbahasa a. Tidak mampu mengendalikan emosinya secara stabil terutama pada saat berinteraksi dengan teman yang berbeda jeni s kelamin dengan H c. telapak kaki tampak jinjit saat melangkah dan belum bisa menopang berat badan sepenuhnya) saat dipegang dengan satu tanggan. H dikatakan ³moody children´ anak-anak yang memiliki ketidak stabilan mood atau emosi . namun tampak postur keseimbangannya kurang. Saat dipegang kedua tangan H ingin berjalan cepat-cepat. h. masih belum konsisten terhadap konsep sebab akibat.5 bulan H tidak lagi mengikkuti Day care 7. H tampak berbeda dengan anak lain dalam berkomunikasi. Perkembangan emosi a. Diusai tiga tahun kemampuan berbicara H mengalami perbaikan. Sangat suka menyendiri b. f. R=respon. Posisi H saat duduk tampak sering membungkuk d. Mampu merangkai tiga kata dengan struktur kalim at yang benar e.4. Usia dua setengah tahun respon yang muncul hanya sekali dan tidak berulang kembali (H bermain dengan teman sebayanya. namun respon balik yang disampaikan H hanya sekali dan tidak berula ng ) artinya Stimulus-Respon-Stimulus-Tanpa responStimulus-tanpa respon. Vokalisasi jelas meskipun berbicara pelan 6. langkah H makin tidak seimbang c. (badan condong kedepan. Usia 1 tahun 4 bulan H masih belum memiliki kepercayaan diri untuk berjalan sendiri (selalu meminta untuk dipegangi) b. Usia 1 setengah tahun H masih belum mampu bergaul dan membaur bersama teman teman lain di Day care e. ada beberapa stimulus rangsang yang diberikan teman. ide untuk mengawali dam memulai pembicaraan mulai muncul g. Perkembangan sosialisasi a. Usia 1 tahun 4 bulan naik tangga dengan merayap. Usia 3 tahun 2. Perkembangan motorik a. Usai tiga tahun H mampu menanggapi stimulus dengan respo n verbal hingga dua sampai empat kali respon S= stimulus. Awalnya dititipkan Ibu di Day care (8 hari penuh) c. belum memahami fungsi benda d. Satu setengah tahun masih belum memehami konsep panas -dingin.

Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang hanya masih terbatas pada objek yang menonjol atau disodorkan secara kuat (dipaksakan) b. Secara umum perkembangan persepsi H baik b. uluran tanggan. Mengenal dan membedakan fungsi anggota tubuh 9. bentuk sudah paham d. Keakraban a. Takut dengan suara speaker yang keras 10. Tidak menjadi jengkel jika ti dak ditanggapi e. design c. Ayah di extra bed) a. Protes dan menjadi marah bila frustasi tapi tiak konsisten 3. bentuk. Memprakarsai interaksi dengan orang yang sudah dikenalnya saja 4. Regulasi diri dan minat terhadap dunia sekelilingnya a. Malam hari masih ngompol b. Makan 2 s/d 3 sendok bisa sendiri. Kemandirian j. Toilet training belum mandiri hingga sekarang (usia 4 tahun masih ketoilet dengan bimbingan. Pengelompokan warna. Membedakan konsep tinggi -rendah. Suka jijik (misalnya ketika sepidol terkena dan mengotori tangan) k. Perkembangan persepsi a. Kadang-kadang menanggapi gerak isyarat dengan gerak isyarat yang bertujuan b. geometrik. atau perilaku yang bertujuan dengan orang -orang yang dikenal saja b. Susu : memakai sedotan. Tidur dengan orangtua (1bed dengan Ibu. Terganggu dengan suara dengung mesin l. Menggapi tawaran dengan rasa inggin tau dan minat asertif bagi orang -orang tertentu d. kadang disendoki c. Komunikasi kompleks a. Senang main roda sepeda kecil di putar-putar saja j. Komunikasi dua arah a. meskipun bimbingan yang diberik an ³ditemani´) C. tidak memakai botol. Memahami deret kubus. besar-kecil sudah jelas e. Bisa meniru perilaku yang bertujuan . Baru bisa menutup empat siklus komunikasi sekaligus b. Tetap tenang dan memusatkan perhatian untuk objek yang terbatas dan disukai saja c. Menanggapi tawaran dengan kegembiraan yang pasif c. Menanggapi tawaran dengan senyuma n. Perkebangan interaksi anak saat ini 1. Menunjukkan minat terhadap objek tetapi kurang dengan teman sebaya yang berjenis kelamin perempuan atau orang yang belum dikenal 2. deret warna. Perkembangan dorongan i. selebihnya disuapi Ibu d. panjang-pendek.8.

Gillin dalam Abrahamzakky. Mutual or reciprocal action or influence. Mampu menciptakan drama pura -pura b. dan saling mengisi. dengan kelompok. Berpikir emosional a. berhubungan atau saling mempengaruhi.blogspot 2009/02 mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. saling tergantung. Dalam kamus Bahasa Besar Indonesia Interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi. mimic wajah. dan antara kelompok dengan kelompok. berjabat tangan. interaksi sosial dimulai. Gagasan emosional a. the interaction of the heart and lungs on each other. pada saat itu mereka saling menegur. yang menyangkut hubungan orang perorangan. Apabila dua orang bertemu. Pengertian Interaksi Secara harfiah interaksi (interaction) berarti ³pergaulan. . Bermain permainan motorik dalam ruangan yang memiliki aturan tetapi dengan dorongan dari orang yang sudah dikenal BAB III KAJIAN TEORI A. maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. saling mempengaruhi´.c. as. saling menolong. Menyatakan keingginan dan perasaan namun belum konsisten c. Dengan demikian interaksi adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu. Sedangkan hubungan adalah terjalinnya dua manusia atau sesuatu menjadi suatu kesatuan mereka saling mempengaruhi saling menerima. Interaksi adalah hu bungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain. saling membantu. maupun dengan lingkungan social yang lain. Sudah mampu berbicara dengan gagasan yang berdasarkan realitas t etapi masih terbatas b. Menurut pendapat Santoso 2004. antara individu dan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.[1913 Webster]. antara kelompok-kelompok manusia. Bermain pura-pura berdasarkan gagasan orang dewasa c. 6. sentuhan atau pelukan dengan orang yang dikenal 5. Mampu melakukan permainan motorik sederhana yang memiliki aturan d. antara individu dengan kelompok. Menelaah dari beberapa definisi dan istilah tentang interaksi maka kelompok kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan gangguan interaksi adalah : terjadinya permasalahan pada diri individu dalam melaksanakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu. saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Menutup sedikitnya lima siklus menggunakan celotehan.

Ada pula yang punya pembawaan cukup luwes dalam memulai perkenalan atau perbincangan dengan teman baru sehingga semua lancar se olah tanpa hambatan. misalnya dengan bernegoisasi. Biasakan bergaul Biasanya untuk balita (0-3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Apabila si kecil memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedi. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. anak ± anak butuh arahan anda tentang cara memulai pertemanan. dan bersikaplah responsive terhadap gagasan yang diajukanya. Ada yang butuh dukungan dan stimulasi terlebih dahulu. Sebagai orang tua. . tak semua anak nyaman dan mudah memulainya. Berikut beberapa hal yang bisa dikembangkan anak usia 3-4 tahun untuk merangsang perkembangan interaksinya . Hanya saja. anda dapat membelinya terlebih dahulu. Berdasarkan penelitian. tentu saja dengan memberi contoh. ada baiknya anda memberi µmodal¶ khususnya bagi yang akan masuk TK. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah. sebaiknya anda menghindari sikap suka mengkritik selama anak anda bermain. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain. Cara termudah.B. Bisa juga anda jadwalkan membawa si kecil di hari tertentu ke taman bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Tipe seperti apa pun anak usia 3 ± 5 tahun anda. Mengundang teman Maksimalkan interaksi positif anak dan teman ± temanya saat bermain bersama di rumah. tak ada salahnya anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat anda di rumah atau dirumah sahabat. memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Hangat dan penuh cinta Cara si kecil berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubunganya dengan ibu dan ayahnya. Petunjuk praktis Sebagai pemula. ada baiknya anda paparkan contoh tata krama dan peri laku yang mendukung kegiatan bersosialisasi dengan orang ± orang di sekitarnya. misalnya dengan merancang semacam waktu bermain. anak ± anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman ± teman seusianya. Diusia berapa pun. dan berkompetisi. Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak ± anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Di usia balita ( 3 ± 5 tahun). Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3-5 Tahun Anak pra sekolah senang berteman da n bersosialisasi.

Tentu saja peran anda saat memberi contoh dalam bersosialisasi juga penting.teman sekelasnya. Mereka biasanya main sendiri ± sendiri secara paralel. misalnya prasekolah. BAB IV METODE A. dan merasa nyaman. karena anda adalah panutanya. Menentukan Subyek Menentukan satu subyek klient yang telah di duga mengalami gangguan interaksi. ia butuh kesempatan mengenai lingkungannya terlebih dahulu. ( Andi Maerzyda ). B. penentuan subyek studi kasus ini tidak melalui screning terlebih dahulu namun langsung merujuk pada subyek yang telah memiliki data base perkembangan (data base perkembangan ini diperoleh melalui asesmen riwayat tumbuh kembang anak mulai dari neo natal. Untuk balita sungguh membingungkan bermain bersama teman pertama kali. Kehadiran anda di masa ± masa awal tentu berguna untuk menjembat ani situasi asing yang dihadapi si kecil. biasanya anak ± anak usia 3 ± 5 tahun dengan nyaman memulai interaksi dengan orang ± oarang di sekitarnya. natal hi ngga natal yang diperolah dari kuisioner yang diisi oleh orang tua subyek studi kasus). Pembahasan Data Materi dalam pembahasan data ini adalah menghubungkan antara data subyek . Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin dilakukan si balita bersama temanya. Apabila si kecil µgagal¶ di kesempatan pertama. Bimbing di awal Sebagai awal. Berikan ia dukungan dan dorongan untuk mencoba lagi di kesempatan lain. Setelah familiar dengan lingkungan barunya.Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dila kukan bersama teman yang akan diundang. Mungkin saja diantara orang tua mereka yang telah anda kenal. tak ada salahnya anda mencari tahu siapa saja calon teman . tek perlu sedih. tak ada salahnya melibatkan diri saat si kecil bermain bersama temanya. Ajaklah si kecil berkenalan dengan teman barunya sebelum prasekolah dimulai Dukungan dan pujian Tentu saja keberhasilan anak menghalau hambatan berinteraksi dengan teman perlu diberi imbalan berupa penghargaan dan pujian. Anak usia 1 ± 3 tahun belum mampu bermain secara sosial. Pemanasan dulu Sebelum anak nyaman berinteraksi dengan orang ± orang di lingkungan baru. Menyusun Kajian Teori Penyusunan kajian teori didasarkan pada permasalahan gangguan interaksi dan di kaitkan dengan usia klient yang menjadi subyek studi kasus ini C. Kenalan dulu Apabila si kecil akan masuk kelompok bermain atau TK di tahun ajaran baru.

Persaingan : persaingan akan muncul ketika ada kerjasama. masih suka bermain sendiri. hanya dalam kesempatan tertentu H menampakkan reaksi pada temannya misalnya dengan mengh entikan aktifitas temannya yang sedang bermain kadang juga bermain hal yang sama yang sedang dimainkan temannya. mengubah atau memperbaiki. karena program intervensi yang sesungguhnya akan sangat tergantung dari aplikasi assesmen yang telah dipetakan. sehingga jelas di ketauhi hambatan utama anak selajutnya bisa dirancang program intervensi yang sesuai untuk kebutuhan anak BAB V PEMBAHASAN Interaksi sebagai dasar komunikasi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak Interaksi merupakan hubungan antara dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi. BENTUK-BENTUK KEMAMPUAN INTERAKSI H 1. namun semua aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan kerjasama. Instrumen Assesment Pembuatan instrumen assesment untuk mengukur tingkat kemampuan interaksi subyek. Contoh Rancangan Program Intervensi Bentuk rancangan program intervensi yang kami sajikan dalam studi kasus ini bukan merupakan bentuk program intervensi yang sesungguhnya (hanya berupa contoh saja). kemampuan dan hambatan komunikasi H dapat dianalisis secara lebih detai l untuk kemudian dirancang program intervensi yang tepat (karena data dari hasil observasi dan interview tanpa adanya pedoman instrumen yang jelas tidak akan memberikan penjelasan rinci tentang kemampuan dan hambatan yang dialami anak) E. Berdasarkan kajian teori dan data yang diperoleh tent ang H.di kaitkan dengan teori-teori yang berhubungan dengan interaksi untuk menemukan gambaran yang lebih jelas tentang tingkat kemampuan interaksi klien untuk selanjutnya dipergunakan dalam penyusunan program assesment yang lebih kongkrit tantang subyek guna ketepatan pemetaan hasil intervensi D. sedangkan kemampuan kerjasama H masih belum tampak sehingga tidak muncul adanya kompetisi pada H terhadap temannya meskipun berada pada satu aktifitas dan . Kerjasama : Belum tampak adanya kemampuan kerjasama pada H. 2. berikut pembahasan masalah H A. dikarenakan subyek berus ia 4 tahun maka rancangan instrumen yang digunakan adalah instrumen pengukuran kemampuan interaksi anak usia 3 sampai dengan 5 tahun. Diharapkan dengan instrumen yang lebih terperinci.

Bila dalam keadaan yang mendukung H mau merespon pertanyaan yang diberikan kepadanya. (H mampu menjawab pertanyaan pertanyaan dengan benar dan dengan penggunaan bahasa yang tepat) namun bila kondisi H tidak sedang ³mood´ stimulus apapun yang datang padanya tidak mendapatkan respon (tidak dipedulikan sama sekali). Kepedulian : kepedulian H pada diri dan lingakungan kurang. B. H cenderung tidak bergaul dan menjauhi arena permainan yang lain (terutama pada teman -teman lawan jenis. dan menggembalikan benda ke tempat asalnya). memakai sepatu. 5. Pertentangan : bentuk pertentangan atau penolakan yang dilakukan H berupa ketidak peduliannya pada kondisi disekelilingnya (bukan sebu ah pertentangan yang ekstrim terlihat sebagai penolakan) jadi lebih bersifat pertentangan yang tidak jelas. karena H lebih sering tidak merespon dan tidak mengadakan interaksi dengan teman -teman sepermainaanya. Tidak inisiatif : H mulai menampakkan inisiatif meskipun sangat jarang (bentuk inisiatif sederhana itu misalnya mulai ada kemauan untuk memulai bertanya. Kepemimpinan : masih cenderung memiliki primitif ego yang tinggi tidak tampak adanya sifat sifat kepemimpinan. meskipun setelah pertanyaan tersebut direspon kadang H tidak memberikan respon balik terhadap stimulus yang datang) 2. hal ini tampak pada aktifitas ke giatan bermain bersama. Bentuk persainggan kecil yang muncul pada H adalah adanya reaksi ³memukul pel an / usaha untuk merebut / berteriak pelan saat menginginkan mainan teman yang menarik baginya´ namun kejadian seperti itu sangat jarang terjadi. Impulsif : H tidak menunjukkan perilaku impulsif berlebihan . H cenderung tidak suka atau menghindari) 6. Tanggung jawab : bentuk-bentuk tanggungjawab yang sederhana telah mampu ditunjukkan oleh H (misalnya pada aktifitas harian yang sederhana : memasang kaos kaki sendiri. 3. Agresif : agresifitas H saat ini sudah lebih stabil karena H telah sering mendapatkan stimulasi dari lingkungan untuk menurunkan tingkat agresifitasnya (stimulasi diberikan olah ibu dan lingkungan tempat belajar H) 3. HAMBATAN YANG DIALAMI BERKAITAN DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI (dikaitkan dengan kasus H) 1.kegiatan dengan teman -teman sebayanya. 4.

Tidak ada motivasi: persaingan dan keinginan untuk bersaing tidak tampak pada H sehingga motivasi yang dimiliki H tidak tampak sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu lebih baik (tidak memiliki motivasi intrinsik yang kuat. tidak dinyatakan mengalami ganguan dalam kemampuan berfikir 9. Ketergantungan : tingkat ketergantung an H sangat tinggi pada pengasuh dan Ibunya 7.4. Mengasingkan diri: salah satu hal yang menonjol dari H yang berbeda dengan anak lain yang usianya sebaya dengan H adalah tingginya intensitas H menyendiri / mengasingkan diri dari lingkungannya. Interaksi sebagai dasar (ketrampilan prerequisite) dari komuniksi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. BAB VI PENUTUP A. Pada anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus. harus . Maladaptif : H bukan tipe anak peniru. ternyata tidak otomatis menjadi modal utama anak untuk memiliki kemampuan berinteraksi yang baik 2. Dengan stimulasi yang sama. Gangguan berfikir : dalam suatu pemeriksaan psikologis dan IQ H dinyatakan sebagai anak dengan IQ rata-rata dan masuk dalam kategori ³spectrum´ namun tidak sampai terkategorikan dalam DSM IV. respon tia p anak akan berbeda beda. Untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam berinteraksi. hal ini tergantung pada kesiapan anak dalam berinteraksi juga karakteristik anak yang memang berbeda-beda antara satu individu dan individu yang lainnya 5. diperlukan stimulasi secara khusus (interaksi harus direncanakan secara sistematis dan bertujuan) 4. Kemampuannya berkonsentrasi hanya terbatas pada saat -saat dimana H sedang ³mood´ 8. KESIMPULAN 1. Sulit konsentrasi : dalan keadaan ³mood¶ H dapat menyelasaikan tugas -tugas motorih halus dengan tingkat kerumitan seusianya. 5. Kemampuan berbicara dan penguasaan kosakata yang memadai pada anak. ia lebih suka melakukan sesuatu oleh dorongan ketertarikan H pada subyek tertentu. 3. motivasi seringkali dimunculkan secara eksternal oleh orang -orag diluar dirinya) 6.

Memanfaatkan semua aspek sensori untuk dijadikan stimuli dalam perkembangan kemampuan interaksi anak C. Logical discussion : guru mengajak anak-anak mendiskusikan peristiwa- . penglihatan. Etika budi pekerti : etika sesuai norma. memberi motivasi anak. Bentuk-bentuk materi bimbingan a. c. makan. selanjutnya untuk mengembangkan kemampuan komunikasi anak 1. Bimbingan yang dilakukan hendaknya memperhatikan keragaman dan memenuhi prinsip bahwa semua siswa mendapatkan manfaat dan tidak ada anak yang dirugikan (memperhatikan unsur inklusifitas). perabaan. kesiapan berinteraksi bergantung pada faktor lingkungan (keberadaan anak dalam keluarga) dan aspek sensori : pendengaran. Bisa dengan cara pemberian reward (meskipun hanya berupa pujian) ataupun pemberian penguatan. Simulasi sikap : dilaksanakan dalam permainan mempergunakan peran -peran sosial seseorang. bermain dan kegiatan kegiatan yang lain. b. Dinamika kelompok : dinamika kelompok yaitu dengan membangun kejasama dan keserasian dengan teman -teman yang lain. Motivasi : menumbuhkan keinginan positif. e. Meteri ini disusun untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi anak.diperhatikan pula kesiapan anak dalam melakukan interaksi. REKOMENDASI Berikut beberapa program yang kami rancang untuk mengembangkan kemampuan interaksi bagi H yang dapat diterapkan di sekolah TK tempat H bersekolah (yang pada dasarnya tidak hanya bermanfaat untuk H namun juga untuk pengembangan kemampuan interaksi bagi anggota kelas yang lain) Bentuk perlakuan dengan bimbingan pengembangan interaksi : merupakan bentuk bimbingan yang diberikan untuk meno long individu ataupun kelompok agar mampu mengatasi permasalahannya dalam bidang interaksi. dilaksanakan dalam bentuk permainan dengan membagi siswa menj adi berkelompok-kelompok. 3. 2. bertemu dengan teman. Bentuk-bentuk materi ajar a. SARAN 1. misalnya bermain peran menjadi polisi dan pencuri. Perlakuan : membentuk perilaku anak sesuai dengan norma yang telah berlaku (modifikasi perilaku). Pedoman bimbingan Bentuk metode atau materi permainan yang disusun sendiri atau dirumuskan sendiri oleh lembaga sebagai acuan pengajaran. d. b. Logicall story : guru memberikan cerita -cerita menarik yang mampu dipahami anak dengan inspirasi dari kejadian-kejadian logis dan aplikatif. (memanfaatkan semua aspek sensori) B. saat beraktifitas. penciuman.

b. Secara umum adalah mengoptimalkan masa -masa timbuh kembang anak. Sasaran 1) bimbingan kelompok yaitu anak secara keseluruhan 2) bimbingan spesialisasi yaitu menurut macam spesialisasi dan kebutuhan anak. Secara spesifik merangsang kemampuan anak dalam berinteraksi secara positif. 4. Motivasi belajar yakni dengan pengajaran latihan kon sentrasi dan daya ingat anak sebelum memulai aktifitas (konsep motivasi ini dirancang dengan model Fun motivation). Happy theraphy : melatih anak untuk mengembangkan diri dalam bentuk permainan-permainan yang menyenangkan. d. a.peristiwa sederhana yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari. 7. c. b. Persiapan (bila anak masih ada yang menangis ditenangkan. e. Metode bimbingan Dalam kegiatan belajar untuk anak-anak usia pra sekolah semuanya harus dilaksanakan dalam kegiatan yang fun dalam fram e permainan (tidak ada tuntutan menghafal. contoh tugas : menyampaikan ³sayang´ pada ibu dan Ayah sesampainya anak dirumah). . !). Anak diajak untuk melakukan aktifitas yang mengandung unsur fun bagi anak. b. motivasi. Waktu dan tempat. Sasaran dan tenaga layanan bimbingan. c. membiarkan anak tetap bergarak namun juga mencari cara bagaimana anak tetap dapat mengikuti aktifitas yang dilakukan guru). Tujuan layanan bimbingan a. Tenaga layanan yang menangani bisa dari guru ataupun dari instruktur (bekerjasama dengan ahli misalnya teraphist). angka dansebagainya) berikur tekniknya : a. Meningkatkan circle interaction ( anak mampu mengikuti dan merespon rangsang sehingga kualitas interaksi dan komunikasi menjadi lebih baik tidak terputus-putus) 2) Secara konsisten melakukan interaksi dengan teman (tidak m elakukan interaksi hanya di moment-moment khusus / ketika anak dalam keadaan mood saja). Dilaksanakan di lingkungan sekolah ataupun taman bermain . namun untuk beberapa anak yang masih belum dapat tenang dan masih aktif bergerak guru hanya perlu untuk bagaimana mengalihkan dan menarik perhatian anak. bekerjasama dan permainan -permainan perangsang anak untuk mempertinggi interaksi dan melatih pengajaran pikologis anak. 6. dan tekanan jadi anak murni bermain tidak ada tuntutan anak harus hafal huruf. 5. Memberikan follow up. Pemberian tugas individu untuk penanaman tanggung jawab (pemberian tugas tetap memperhatikan kemampuan anak dan menghilangkan unsur paksaan.

BENTUK ANGKET Dimohon untuk membaca dengan seksama daftar pertanyaan di bawah ini dan isilah pertanyaan sesuai urutan dan nomer pertanyaan dengan memberikan tanda ceklist ( ¥ ) pada olom yang sesuai N O DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN SKORING . Slamet Santoso.landak. 2004 LAMPIRAN LAMPIRAN 1 A.khatulistiwa. komunikasi dan interaksi. perkembangan emosi. WEBSTER 1913 kamus besar bahasa Indonesia gillin http://abrahamzakky.net/khatulistiwa. DAFTAR PERTANYAAN UNTUK ORANGTUA : NO IDENTIFIKASI PERTANYAAN JUMLAH PERTANYAAN 1 Kemampuan anak mengatur diri sendiri 9 2 Perhatian anak 3 3 Seputar tidur 2 4 Tentang makanan dan pemberian makan anak 5 5 Memakai baju mandi dan sentuhan 11 6 Gerakan 5 7 Mendengarkan. KISI-KISI ANGKET Angket ini dibuat berdasarkan pedomen dari De Ganggi dan S . Poisson (1990) Tujuan penggunaan angket ini adalah untuk mendiagnosa adanya kelainan atau perkembangan di bidang regulasi. bahasa dan suara 6 8 Melihat dan penglihatan 2 9 Ikatan dan fungsi emosional 14 B.blogspot. Bumi Aksara.DAFTAR PUSTAKA http://kamus.com/cari/interaksi).html http://www.php?c=131&p=3930 (buku dinamika Kelompok oleh Drs.com/2009/02/proses -sosialisasi-daninteraksi-sosial.

MANDI DAN SENTUHAN a Tidak mau memakai baju . dibelai rambutnya dsb Total 4 TENTANG MAKANAN DAN PEMBERIAN MAKAN a Hanya mau makanan lembut b Keinginan luarbiasa untuk minuman ata u makanan tertentu c Ngeces (drolling) yang berlebihan saat anak mulai keluar gigi d Mudah muntah atau sering seperti inggin muntah e Tidak tenang dan mudah teralihkan saat makan Total 5 MEMAKAI BAJU. dimulai sedikit sampai meledak -ledak c Anak merasa kesulitan untuk ditenagkan dengan diberi dot. Misalnya : diayun. mainan atau mendengarkan pengasuh d Tidak sabar menunggu mainan. cepat marah e Sulit mengarahkan perhatian dari satu kegiatan ke kegiatan lain f Anak membutuhkan waktu dan penjelasan yang berulang tentang suatu perubahan aktifitas g Mengharapkan kehadiran orangtua atau pengasuh terus menerus h Temper tantrum (mengamuk / berontak) sering dan berat i Waktu yang diperlukan untuk menenangkan anak 15-30¶ 1-2 jam • 3 jam Total 2 PERHATIAN ANAK a Mudah dialihkan. perhatiaanya yang mengambang b Sering terputus perhatiannya dan sulit mengajak kembali c Sulit mengalihkan perhatian dari satu obyek / kegiatan ke obyek / kegiatan yang lain Total 3 SEPUTAR TIDUR a Jam tidur malam larut (• pk 20. dibawa jalan-jalan keluar. atau makanan.TIDAK/ KADANG-KADANG YA/ SERING YA/ DULU 1 KEMAMPUAN ANAK MENGATUR DIRI SENDIRI a Sering rewel dan lekas marah b Mudah menangis.00) sering terbangun lebih dari 3 kali semalam dan sulit tertidur lagi sendiri b Memerlukan waktu yang luar biasa untuk menidurkan anak.

b Memilih pakaian tertentu. dan mengeluh bila pakaian terlalu sempit dan menggelikan (bahan pakaian) c Menginginkan pakaian yang berlapis -lapis Marah kalau rambut atau mukanya dicuci d Tidak suka kalau dipeluk. menabrak -nabrak barang/ benda Total 7 MENDENGARKAN. kurang keseimbangan. berlari-lari atau berayun-ayun. BAHASA DAN SUARA a Kaget sekali dan mudah terganggu karena suara keras (vacuum cleaner. mudah jatuh. lonceng atau gonggongan anjing) b Terganggu oleh bunyi yang biasa tidak dihiraukan oleh orang lain c Tidak bereaksi terhadap sapaan verbal (walaupun pendengaran normal) d Kurang ngoceh pada tahun pertama anak e Mengulang-ulang kata atau kalimat yang baru di dengar f Pengulangan kata atau kalimat yang terus menerus Total 8 MELIHAT DAN PENGLIHATAN a Reaksi yang berlebihan tehadap cahaya terang misalnya dengan menangi s atau menutup mata b Menjadi gelisah bila dibawa ke lingkungan (suasana) yang ramai (mal atau supermarket) Total . dibuai (cudle) menghindari atau melentingkan tubuhnya e Sering menubruk orang / barang / benda f Tidak menyukai ikatan di kursi mobil g Tidak tampak mengeluh sakit kalau jatuh / disuntik h Anak selalu menghindari posisi tertentu misalnya telungkup atau terlentang i Menghindari sentuhan dengan te kstur atau bahan tertentu seperti bahan berbulu atau takut tangannya kotor j Marah kalau baju dibuka Total 6 GERAKAN a Bergerak terus. tidak bias duduk diam b Tidak merangkak sebelum berjalan c Takut kalau diayun. nai k korsel atau dilempar keatas d Keinginan yang luar biasa untuk diayun atau badannya diangkat terbalik (dengan kepala dibawah) e Kikuk (canggung).

Bandingkan dengan batasan skor ´cut off´ . menyendiri dan menjadi agresif j Tidak bereaksi (mengindahkan) terhadap disiplin atau rambu-rambu (batasan) yang diberikan orangtua k Tampak takut atau gelisah menghadapi orang atau lingkungan yang asing l Tetap mengingat peristiwa yang menakutkan (traumatic) m Merusak atau melukai diri sendiri Ingin menguasai ligkungan n Semua orang disekitarnya mengalami kesulitan untuk mengerti atau memahami keingginan dan emosi anak Total Jumlah score total (dari keseluruhan pertanyaan) adalah : «. skor yang sama atau diatas angka yang dicantumkan pada tabel dibawah ini menandakan aadanya masalah pada anakdan diberikan diagnosa ´resiko´ adanya kelainan atau gangguan perkembangan. C. membuang muka dari tatapan. lebih menyenangi obyek atau mainan b Tampak tidak gembira atau senang c Tidak memulai interaksi aktif dengan orangtua / pengasuh.9 IKATAN DAN FUNGSI EMOSIONAL a Menghindari kontak mata. yang harus menyapa anak berkali-kali d Tidak menunjukkan interaksi yang timbal balik e Anak belum terlihat bermain pura-pura atau meniru kegiatan orang dewasa f Memecahkan mainan atau menunjukkan sikap destruktif g Sulit dipisahkan dengan ortu atau pengasuh di sekolah atau tempat belajar anak h Bisa berhubungan dengan semua orang termasuk orang yang belum dikenal i Tidak mau bermain dengan anak lain. Batasan skor untuk menginterpretasikan cheklist gejala gangguan perkembangan anak usia 2-4 tahun Bidang fungsi skor anak Batasan skor Skor yang diperoleh anak Pengaturan diri . PEDOMAN SKORING ANGKET Skor diberikan pada semua item Nilai 2 : Ya / sering Nilai 1 : Ya / dulu Nilai 0 : tidak / kadang-kadang Skor pertanyaan 1 poin i : Nilai 2 : > 3 dari jam Niali 1 : 1 sampai 2 jam Nilai 0 : 15-30 menit Jumlahkan semua skor untuk tiap kategori dan masukkan skor anak.

Atensi perhatian 4 Tidur 3 Makan dan cara makan 2 Berpakaian, mandi, sentuhan ,gerakan 2 Mandengarkan, bahasa dan suara 2 Melihat dan penglihatan 3 Ikatan dan emosional 3

Kesimpulan :.................. Catatan :.................. Tanggal pemeriksaan :.................. Pemeriksa :..................

LAMPIRAN 2 INSTRUMEN ASSESMEN UNTUK PERKEMBANGAN SOSIAL, EMOSI DAN BAHASA BAGI ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-6 TAHUN) KET : instrumen assesman ini dikutip dari mata kuliah assasmen dan pendekaan pembelajaran oleh kelompok 1. pentingnya penggunaan instrumen ini karena di dalam interaksi terdapat aspe k-aspek lain yang terlibat yaitu : aspek sosial, emosi dan bahasa A. ASESMEN 1. Kisi-Kisi Instrumen Asesmen No. Aspek Perkembangan Komponen (Berk, 2003; Hurlock, 1990; Hurlock, 2005) Indikator Perkembangan No. Item Pertanyaan 1. Sosial Kerjasama: Bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama -sama ‡ Bekerjasama dengan anak lain dalam mengerjakan tugas di kelas ‡ Bermain dengan mengikuti aturan permainan AS.1, AS.2, AS.3 Hubungan sosial : Belajar melakukan hubungan sosial dengan bergaul dengan orang lain di luar rumah ‡ Bermain dengan anak lain ‡ Cepat bergaul dengan orang yang baru dikenal AS.4, AS.5 Persaingan: Berlomba untuk mendapatkan prestasi terbaik ‡ Berusaha mengerjakan tugas lebih cepat atau lebih baik dari anak lain AS.6 Kemurahan hati :

Menunjukkan kemurahan hati ‡ Menolong teman/ orang lain yang sedang kesulitan ‡ Meminjamkan barang/mainannya ‡ Membagi bekal kepada teman AS.7, AS.8, AS.9 Penerimaan sosial : Menunjukkan hasrat akan penerimaan social ‡ Mau be rmain dengan teman yang mana pun ‡ Menerima/mempertimbangkan pendapat/usul teman AS.10, AS.11 Simpati : Menunjukkan emosi yang sama dengan emosi yang ditampilkan orang lain ‡ Ikut sedih/gembira jika ada teman bersedih/bergembira AS.12 Empati: Anak peduli dengan perasaan orang lain ‡ Menyuruh anak lain yang ribut untuk diam saat guru berbicara. ‡ Tidak tertawa-tawa saat ada teman yang sedang bersedih. ‡ Menenangkan teman yang sedang bersedih/cemas. AS.13, AS.14, AS.15 Ketergantungan: Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan ‡ Meminta bantuan orang lain dalam mengatasi berbagai persoalan AS.16 Meniru: Anak meniru perilaku orang lain ‡ Meniru perilaku/gerak-gerik/permainan orang lain ‡ Meniru pakaian/tas/sepatu orang lain AS.17, AS.18 Perilaku kelekatan: Anak menunjukkan perilaku selalu bersama dengan orang/objek tertentu ‡ Gelisah jika tidak disertai orang/benda yang disukai. ‡ Gembira jika disertai orang/benda yang disukai AS.19, AS.20 Negativism: Anak menolak nasihat/perintah ‡ Menolak nasihat/perintah ‡ Berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum jelas keburukannya. AS.21, AS.22 Perilaku Agresi: Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil ‡ Berkata kasar/memaki kepada orang lain ‡ Menendang/memukul/mencubit orang lain ‡ Merusak barang-barang AS.23, AS.24, AS.25 Pertengkaran: Anak menunjukkan perilaku mengejek, menggertak, dan usaha balas dendam. ‡ Mengejek orang lain ‡ Bertengkar dengan orang lain ‡ Membalas dendam AS.26, AS.27, AS.28 Berkuasa: Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk

memenuhi kepentingannya ‡ Menyuruh orang lain dengan memaksa untuk mengerjakan sesuatu AS.29 2. Emosi Amarah: Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang, seperti cemberut dan sikap bengal, serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan ‡ Anak tidak mematuhi perintah, cemberut/bersungut -sungut, mengumpat, mengejek, berbicara kasar/kotor AE.1, AE.2 Takut: Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal -hal yang dikhayalkan ‡ Anak menunjukkan rasa takut, misalnya dengan cara bersembunyi, menangis, gemetar AE.3 Malu: Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya ‡ Anak menunjukkan rasa malu dalam bentuk bicara gagap, menarik-narik baju, tersipu-sipu, tidak berani menatap, sedikit berbicara AE.4, AE.5, AE.6, AE.7, AE.8 Cemas: Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi ‡ Anak menunjukkan kegelisahan, murung, rebut, berlagak, bosan, gugup kesulitan berbicara, mencari kesibukan sendiri, berpura -pura sakit AE.9, AE.10, AE11, AE.12, AE.13, AE.14, AE.15 Cemburu: Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtu a) tidak terarah kepadanya ‡ Anak menunjukkan kecemburuan dengan cara marah marah, mencela, mengejek, menyalahkan orang lain AE.16, AE.17, AE.18, Sedih: Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting ‡ Anak menunjukkan kesedihan dengan cara menangis atau diam saja AE.19, AE.20 Gembira: Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya ‡ Anak menunjukkan kegembiraan dengan cara tertawa atau bermain bersama AE.21 3. Bahasa Fonologi: Anak menunjukkan kemajua n pesat dalam pengucapan kata -kata Menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan AB.1, AB.2 Semantik: Anak mulai mampu menguasai makna kata -kata ‡ Anak usia 4 tahun mengetahui nama warna dasar ‡ Anak usia 6 tahun memahami kata tiga, sembilan, lima, sepuluh dan tujuh untuk menghitung jumlah biji ‡ Anak usia 6 tahun mengetahui makna pagi, siang dan malam AB.3, AB.4, AB.5, AB.6, AB.7

12. G AS. Instrumen Asesmen No. halhal apa yang membuat anak tidak mau? + O.9.6 Apakah anak berusaha mengerjakan tugas/sesuatu lebih cepat/lebih baik dari orang lain? + O.11. Sosial G AS.15 2.7 Apakah anak suka membantu/menolong temannya yang sedang kesulitan? + O. apa penyebabnya? + O. G AS.13 Kesadaran metalinguistik: Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem Anak usia 4 tahun sudah dapat menggunakan kata ganti AB . G AS. AB.1 Apakah anak dapat diajak dalam kegiatan menempel dan menyusun gambar di papan tulis? Jika tidak.3 Apakah anak bisa mengikuti permainan sesuai dengan aturan permainan? + O. yang terdiri atas 6-8 kata Pada anak usia 4 tahun menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat AB.10 Apakah anak mau bergaul dengan siapa pun di sekolah/ di rumah? + .8 Apakah anak mau meminjamkan barang/mainannya kepada anak lain? + O.Tatakalimat: Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat. AB. G AS. G AS.4 Apakah anak biasanya bermain dengan anak lain? Jika tidak. AB. G AS.2 Apakah anak mau diajak untuk membersihkan ruangan kelas/rumah ? Jika tidak.5 Apakah anak cepat bergaul dengan teman yang baru dikenalnya? + O.10. menyalurkan perasaan tersinggung. Aspek Perkembangan Responden No Item Pertanyaan Kategori Pertanyaan 1. apa yang ia lakukan saat orang lain melakukan tugas tersebut? + O. G AS. G AS. memberitahu pendapatnya tentang orang lain ‡ Anak belum bisa melakukan percakapan yang sesuai dengan konteks pembicaraan AB.14. AB. AB.8 Pragmatik: Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial ‡ Usia 4-8 tahun khususnya laki-laki menggunakan istilah popular untuk mengungkapkan emosi pada teman sebaya ‡ Anak usia 6 tahun terutama perempuan menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebaya ‡ Anak usia 5 tahun menggunakan kata yang dilebih -lebihkan melebihi penalaran untuk menarik perhatian ‡ Dimulai saat usia 3 tahun menggunakan kata menghina untuk memaksakan ego. G AS.9 Apakah anak mau berbagi bekal/makanan/tempat dengan temannya? + O.

G AS.12 Apakah anak suka menunjukkan kesedihan jika ada anak lain mengalami musibah? + O. G AS. G AS. G AS.O.27 Apakah anak suka bertengkar? O. dalam hal apa saja anak suka membantah? Kepada siapa ia suka membantah? O.G AE. G AS.G AE.26 Apakah anak suka mengejek orang lain? Jika ya.29 Apakah anak suka menyuruh/memaksa orang lain untuk mengerjakan sesuatu? 2.25 Apakah anak suka merusak barang-barang? O. G AS. G AS.21 Apakah anak suka menolak nasihat/perintah? O. Emosi O.13 Apakah anak suka mengingatkan anak lain untuk memperhatikan saat guru/temannya sedang berbicara? + O.11 Apakah anak mau mendengarkan pendapat teman/ orang lain dalam memutuskan sesuatu? + O. G AS. G AS. G AS. siapa yang biasanya ia ejek? Dalam situasi apa biasanya anak mengejek? O.2 Apakah anak sering membantah? Jika ya. G AS.6 Apakah anak sering tampak malu-malu? Jika ya.G AE. hal -hal apa saja yang membuat anak takut? Apa yang biasanya dilakukan anak jika ketakutan? G AE.4 Apakah anak suka memisahkan diri (menarik diri) dari teman temannya saat di kelas? Jika ya.1 Apakah anak sering menunjukkan mudah marah? Jika ya. hal-hal apa saja yang bisa membuat anak mudah marah? Dalam situasi seperti apa biasanya anak mudah marah? Apa yang dilakukan anak pada saat marah? O.17 Apakah anak bisa meniru gerak-gerik orang lain? + O.24 Apakah anak suka menendang/memukul/mencubit oranglain? O. G AE.3 Apakah anak sering tampak ketakutan? Jika ya.5 Apakah anak sering gagap? Jika ya.22 Apakah anak suka berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum diketahuinya? O. apa saja yang dilakukan jika ia malu? Hal -hal apa saja yang bisa membuat anak malu? - . G AS.19 Apakah anak gelisah jika tidak ada orang/barang yang disukainya? O.23 Apakah anak suka berkata kasar/memaki orang lain O. G AS. G AS.14 Apakah anak langsung terdiam/berusaha tidak tertawa saat ada temannya bersedih? + O. dalam situasi seperti apa anak menunjukkan perilaku menarik diri? O. G AS.G AE.28 Apakah anak suka membalas perbuatan teman yang tidak baik? O.20 Apakah anak gembira bila disertai benda/ orang yang disukainya? O. G AS. G AS.16 Apakah anak hampir selalu meminta bantuan untuk menyelesaikan tugasnya? O.15 Apakah anak berusaha menghibur/menenangkan temannya yang sedang bersedih/cemas? + O. G AS. G AS. dalam situasi yang seperti apa anak menjadi gagap? O.18 Apakah anak suka meniru benda/pakaian/tas/sepatu orang lain? + O.

Bahasa O.13 Apakah anak sering tampak bosan didalam kelas? Jika ya. apa yang dilakukan anak jika sedang gelisah? Situasi seperti apa yang membuat anak gelisah? O. hal-hal apa saja yang dapat membuat anak menyalahkan orang lain? Dalam situasi seperti apa anak menyalahkan orang lain? O.2 Apakah ada kata-kata yang masih salah diucapkan anak? Jika. G AE. apa yang biasa anak lakukan jika berada pada suasana yang menggembirakan? 3. hal apa saja yang membuat anak menangis? O.G AE.G AE. G AB. hal -hal apa saja yang dapat membuat anak cemburu? Apa yang dilakukan anak jika sedang cemburu? O.7 Apakah anak menunjukkan tidak berani menatap jika ditanya/diajak bicara? Jika ya.G AE.16 Apakah anak sering menunjukkan sikap cemburu? Jika ya. G AB.O. kata-kata apa saja? Bagaimana ia mengucapkannya? O.21 Apakah anak tidak menunjukkan rasa kegembiraan ? Jika ya. ya. dalam situasi seperti apa anak tampak murung? Apa yang dilakukan anak jika sedang murung? O.G AE. apa tanda bahwa ia menolak? Mengapa ia menolak maju ke depan kelas? O.15 Apakah anak sering menolak disuruh maju ke depan oleh ibu guru? Jika ya.11 Apakah anak sering ribut? Jika ya. seperti apa biasanya celaan tersebut? Mengapa anak mencela karya temannya? O.14 Apakah anak sering berpura-pura sakit jika disuruh guru ke depan kelas? Apa tanda bahwa ia berpura-pura sakit.G AE. hal-hal apa yang bisa menyebabkan anak tidak berani menatap lawan bicara? G AE. hal -hal apa saja yang dapat membuat anak mudah bosan? Apa yang dilakukan anak ketika mulai bosan? G AE.G AE.20 Apakah anak sering sedih? Jika ya.3 Apakah anak mengalami kesulitan memilih kata -kata yang tepat . bunyi huruf apa yang masih salah diucapkan? Bagaimana ia mengucapkannya? O.10 Apakah anak tampak sering murung? Jika ya.9 Apakah anak sering menunjukan perilaku gelisah? Jika ya. hal apa saja yang menyebabkan anak berperilaku seperti itu? G AE. hal apa saja yang membuat anak sedih? Apa yang anak lakukan jika sedang bersedih? O. G AB.17 Apakah anak sering mencela hasil karya teman lain? Jika ya. hal-hal apa saja yang bisa membuat anak ribut? Dimana/dalam situasi seperti apa yang biasanya anak ribut? O. dalam situasi seperti apa anak berlagak jagoan? G AE.18 Apakah anak suka menyalahkan orang lain? Jika ya.G AE.1 Apakah anak berbicara cadel? Jika ya. bukan benar-benar sakit? G AE.G AE.G AE.19 Apakah anak sering menangis ? Jika ya.12 Apakah anak suka berlagak jagoan? Jika ya.8 Apakah anak sering tidak menjawab pertanyaan dari ibu guru? Jika ya.

khususnya warna dasar (merah. seperti apa contohnya? + 3. kata ganti apa saja yang masih belum dikuasainya? Seperti apa contohnya? + O. seperti apakah bahasa rahasia yang digunakannya? + O.untuk menyampaikan maksudnya? O. G AB.11 (Jika subjek perempuan) Apakah anak suka menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya? Jika ya.8 Apakah anak sudah dapat mengucapkan kalimat dengan lengkap (jelas subjek. G AB. mereka)? Jika ya. G AB.6 Apakah anak sudah dapat menyebutkan kata bilangan dengan tepat untuk menunjukkan jumlah benda (kurang dari 10)? + O. -nya. Rumus perhitungan : Skor pada aspek perkembangan tertentu = Jumlah item positif ditambah jumlah item negatif dibagi keselluruhan item dan hasil akhir dikalikan 100% 4. G AB.5 Apakah anak sudah mengetahui nama warna benda. predikat. . G AB.13 Apakah anak suka menggunakan kata-kata menghina/makian untuk mengemukakan perasaan tidak senangnya? Jika ya.15 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata yang sesuai untuk situasi/objek yang berbeda? Jika ya. objek.9 Apakah anak bisa terlibat dalam pembicaraan sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan (nyambung)? + O. apa tanda bahwa ia tidak mengerti? O. G AB. G AB. siang . biru)? Jika tidak. G AB. Kriteria Interpretasi Hasil Asesmen Anak disimpulkan mengalami hambatan dalam aspek perkembangan tertentu jika ia memperoleh skor > dari 50 % yang diperoleh dari p erhitungan rata-rata dari jumlah indicator item positif yang tidak terpenuhi (tidak dikuasai) anak dengan jumlah indikator item negatif yang terpenuhi (ditampilkan / dilakukana anak) pada aspek perkembangan tersebut. G AB. Rekomendasi Treatmen diberikan pada anak sesuai dengan hambatan yang dialami anak pada aspek perkembangan tertentu.10 (Jika subjek laki-laki) Apakah anak suka menggunakan istilah populer untuk emosi pada teman sebayanya? + O. dan sore? Seperti apa contohnya? + O. warna apa saja yang ia ketahui? + O. seperti apa contoh kalimat yang biasanya ia ucapkan? + O.12 Apakah anak suka menggunakan kata-kata yang dilebih-lebihkan (hiperbola) untuk menarik perhatian? + O. G AB. G AB.14 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata ganti kepunyaan ( -ku. seperti apa contohnya? Jika belum bisa. (da n) keterangan)? Jika tidak. G AB. -mu. kuning.7 Apakah anak sudah dapat membedakan makna kata pagi.4 Apakah anak sering tidak mengerti arti kata yang disampaikan orang lain? Jika ya. pada situasi apa saja ia melakukannya? O.

Berkuasa: Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk memenuhi kepentingannya Amarah: Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang. kondisi fisik. seperti cemberut dan sikap bengal. Hurlock.Komponen Perkembangan (Berk. 2005) Kerjasama: Anak menunjukkan perilaku bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama Hubungan sosial: Anak mampu bergaul dengan orang lain Persaingan: Anak berlomba dengan anak lain untuk mendapatkan prestasi terbaik Kemurahan hati: Anak mau berbagi dan menolong Penerimaan sosial: Anak mampu menerima orang lain yang memiliki perbedaan status. dsb. menggertak. 2003. Simpati: Anak mampu menunjukkan emosi yang sama dengan emosi orang lain Empati: Anak peduli dengan perasaan orang lain Ketergantungan: Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan Meniru: Anak meniru perilaku orang lain Perilaku kelekatan: Anam menunjukkan perilaku selalu bersam a dengan orang /objek tertentu Negativism: Anak menolak nasihat/perintah Perilaku Agresi: Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil Pertengkaran: Anak menunjukkan perilaku mengejek. 1990. serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan Takut: Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal -hal yang dikhayalkan . dan usaha balas dendam. Hurlock.

html+pengaruh+pola+asuh+orang+tua+terha dap+prestasi+anak+46+tahun+di+TK&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id .blogspot.googleusercontent. yang terdiri atas 6-8 kata Pragmatik: Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial Kesadaran metalinguistik: Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem http://webcache.Malu: Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya Cemas: Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi Cemburu: Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtua) tidak terarah kepadanya Sedih: Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting Gembira: Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya Fonologi: Anak menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan kata -kata Semantik: Anak mulai mampu menguasai makna kata-kata Tatakalimat: Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat.com/search?q=cache:i_y6r nW0m4J:permanariansomad.com/2009/05/gangguan -interaksi-dankomunikasidosen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->