P. 1
KONFLIK PILKADA

KONFLIK PILKADA

|Views: 711|Likes:
Published by Sampeyan Riyan

More info:

Published by: Sampeyan Riyan on Mar 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

KADAR KONFLIK PEMILIHAN KEPALA DAERAH

Abstraksi
Pilkada adalah tonggak demokrasi langsung di daerah, namun pelaksanaannya rawan konflik. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap aspek dan faktor yang potensial potensi konflik pemicu Dari dapat dengan konflik pemahaman dan pilkada lancar dihindari aman, yang ini, dapat dan ditekan melatarbelakanginya. seminimal mungkin

sehingga

terselenggara

demokratis. Bila konflik tidak bisa dihindari, mka diperlukan sebuah manajemen dan resolusinya untuk menyalurkan serta menganalisa agar konflik tidak lepas kendali dan terjadi luar konteks proses demokrasi.
A. Pendahuluan Konflik merupakan realitas sosial yang terjadi dalam setiap lapisan masyarakat, dari tingkat keluarga, RT, Desa, sampai ke tingkat negara, dan bahkan dunia. Konflik terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara satu individu dengan individu yang lain, antara
Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 1

perkataan. dan konflik menjadikan manusia menjadi berubah. Persoalannya adalah. adat istiadat serta budaya yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Dalam tulisan ini yang dimaksud konflik disini adalah pertikaian antar komunitas etnis. Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Di sini sengaja memakai istilah kekerasan. karena manusia hidup dalam kelompok masyarakat yang di dalamnya terdapat normanorma. karena orang seringkali mencampuradukkan antara konflik dengan kekerasan. sikap. aturan-aturan. bagaimana agar konflik tidak berubah menjadi ketegangan sosial atau bahkan sampai pada kekerasan sosial. Lebih jauh dikatakan. jika konflik selalu ada. berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik. dan manfaat konflik diantaranya adalah membuat orang-orang menyadari adanya banyak masalah yang akan mendorong ke arah perubahan yang diperlukan. menambah kepedulian diri. tanpa konflik kehidupan akan statis.individu dengan masyarakat atau antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lain. mempercepat perkembangan pribadi. dia berada diantara kita dan selalu bersama-sama kita. sosial atau lingkungan dan /atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh. menumbuhkan semangat. Konflik merupakan fakta sosial. Pengertian tersebut menegaskan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. mendorong kedewasaan psikologis. konflik berbeda dengan kekerasan. Menjelang pemilihan pimpinan Kepala Daerah PILKADA hampir selalu diliputi oleh ketakutan akan terjadinya kekerasan komunal antar kelompok etnis. agama. maupun asal daerah. berarti konflik itu sebenarnya dibutuhkan. Menurut Simon Fisher dkk (2001). dan menimbulkan kesenangan. mencari solusi. agama dan daerah dalam bentuk kekerasan Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 2 . sedangkan kekerasan adalah tindakan.

jika Gubernur atau Bupatinya berasal dari kelompok Etnis atau agama A. Apakah keinginan tersebut memang merupakan keinginan mayoritas atau hanya sekedar keinginan dari orang yang kepingin DUDUK dan tim suksesnya yang mencoba memanipulasi sentimen Etnis dan golongan dari masyarakat lapis bawah (grassroot) ? Untuk mengatasi benturan yang disebabkan oleh perbedaan kelompok ini. maka dibalik nafsu yang menginginkan agar orang dari kelompoknyalah yang menjadi pemimpin sebenarnya terdapat rasa ketakutan dan keserakahan. dengan demikian akan mendapatkan kemudahan-kemudahan. maka golongan atau kelompoknya akan di anaktirikan atau dimarjinalkan. maka ia akan mendapat perhatian lebih karena ada hubungan emosional dari kesamaan etnis. menawarkan solusi klasik yaitu membagi kue jabatan menjadi dua.sehingga menimbulkan korban manusia. begitu pula sebaliknya. hewan maupun kerusakan sosial lingkungan dan benda-benda lainnya. se iman jika perlu serahim dengan kita ?. Dari kenyataan ini seharusnya nafsu kritis rasionalis kita sebagai bangsa yang katanya Bhinneka Tunggal Ika itu bertanya : Mengapa kita ingin agar pemimpin daerah kita berasal dari orang yang se Etnis. biasanya para politikus kita lewat partai politik. agama dan golongan. sedangkan keserakahan timbul dalam bentuk harapan bahwa jika yang menjadi pemimpin berasal dari kelompoknya. Jika kita merenung lebih dalam. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 3 . Setiap kelompok atau golongan menginginkan (jika perlu memaksakan) agar yang menjadi Kepala Daerah tersebut adalah berasal dari golongan atau kelompoknya. Solusi seperti inilah yang sering disebut politikus sebagai solusi terbaik. maka wakilnya dari kelompok B. yaitu. Rasa ketakutan karena jika yang menang dari kelompok atau golongan atau etnis lain.

meskipun faktor pemicunya bukan soal pilkada. “Siapa yang menjamin kebenaran pelaksanaan Pilkada?” merupakan pertanyaan hakiki Pilkada. baik yang sifay horisontal maupun vertikal. Ada beberapa daerah tertentu yang mempunyai potensi konflik sangat besar dan ekskalatif. Sementara itu. Tujuannya tidak hanya agar pilkada dapat berjalan lancar dan sukses. Sebagian lainnya. daerah-daerah lain yang dipandang masih adem ayem juga memendam bara konflik yang besar karena faktor kesenjangan ekonomi dan sosial misalnya.Sebagai suatu entitas sosial berdimensi paradoksal. Pilkada dari satu sisi bisa menjadi wujud demokrasi dalam era otonomi daerah dan dari sisi lain akan menjadi ajang perebutan kuasa dan money. namun bara apinya belum dapat dipadamkan. konflik yang terjadi telah dapat diredam. Mereka yang kurang mengenal realitas dan seluk beluk sosial di daerah tertentu umumnya optimis dengan Pilkada mendatang. Beberapa daerah lainnya justru sudah terjadi atau manifest. karena manifestasinya sesungguhnya tidak dikehendaki. laksana api dalam sekam. B. tetapi juga sebagai awal atau pintu masuk bagi upaya mengelola daerah secara adil yang pada gilirannya dapat mengatasi akar persolan konflik atau sengketa yang terjadi di masyarakat. sedangkan mereka yang mewarisi pemikiran kritis historis meragukan jaminan kebenaran dan kejujuran langkah-langkah prosedural Pilkada. Pelaksanaan pilkada bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri sebagai manifestasi dari prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat. Pilkada merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 4 . Potensi dan Peluang-Peluang Konflik Potensi konflik dalam proses pilkada merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai dan diantisipasi. Potensi konflik yang nyaris tersebar di semua daerah di Indonesa itu perlu diwaspadai dan diantisipasi sejak dini.

proses pilkada sejak tahap perencanaan hingga pasca pelaksanaannya bukan arena konflik.pengelolaan daerah. Secara normatif. Pilkada yang demokratis justru dimaksudkan untuk mencari pemimpin yang berkualitas dan akan menjadi problem solverI bagi setiap permasalahan di daerah. tetapi justru sebaliknya sebagai alat untuk menyalurkan berbagai perbedaan dengan cara-cara yang beradab dan tanpa kekerasan atau kerusuhan massa. Keberhasilan melaksanakan pemilu tahun 2004 merupakan pelajaran berharga. Persoalannya adalah bagaimana mengelola konflik itu agar tidak merusak sendi-sendi demokrasi dan bangunan masyarakat secara keseluruhan. Tapi persoalannya pilkada adalah kegiatan politik yang dilakukan di tempat dan lingkungan masyarakat yang sangat heterogen kepentingannya. Kekerasan demi kekerasan sering Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 5 . tetapi masih tidak cukup dan belum teruji kemapanannya. Persoalannya adalah pilkada langsung yang digelar mulai bulan Juni 2005. baik yang dilakukan oleh massa. sementara pengalaman masyarakat sangat minim. tetapi justru sarana pembelajaran masyarakat agar semakin dewasa dalam berdemokrasi dan berbeda pendapat. merupakan sesuatu yang baru. Demikian juga praktik-praktik demokrasi di tingkat desa berupa pemilihan kepala desa terjadi dalam lingkup kecil (desa) dimana penduduk dan kepentingannya relatif homogen dibalur sistem kemasyarakatan yang bercirikan paguyuban. dan bukan sebaliknya sebagai ajang atau pemicu konflik betapapun besarnya potensi ke arah itu. kelompok masyarakat atau aparat negara. Justru inilah hakekat lain dari penyelenggaraan pilkada. Fenomena kekerasan lebih sering mengemuka. sehingga terjadinya konflik politik adalah sesuatu yang sulit dihindarkan. dan bukan sebaliknya menjadi sumber atau pangkal masalah. Sebaliknya pengalaman empirik yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai daerah memberikan contoh sebaliknya.

Kedahsyatan dari manifestasi potensi konflik dapat dilihat di penghujung dan pasca jatuhnya rezim Soeharto. Tapi asumsi itu tidak semua benar sebab potensi konflik ternyata tidak mengecil atau mati justru semakin berkembang di bawah permukaan. Di era orde baru konstalasi sosial politik di permukaan kelihatan adem ayem. Semua pihak kawatir jika pilkada justru menjadi penyulut atau pemicu konflik yang telah ada dan memperluasnya dalam tingkatan yang lebih enskalatif dan mendalam. Rezim Soeharto yang didukung militer dengan mengedepankan pendekatan represif ternyata tidak mampu mematikan potensi konflik yang ada.dipertontonkan dengan telanjang dalam kehidupan sehari-hari atau lewat media massa. Kondisi demikian ini sering disebut sebagai bentuk euforia reformasi. Lagi pula konflik sosial sesungguhnya senantiasa ada (omnipresent) atau ada dimana-mana. Praktek dan realitas yang sering dipilih untuk mendesakkan kehendak dan mengatasi persoalan adalah sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi dan berlanjut dalam proses pilkada. Dimanapun tempatnya. oleh karenanya tidak bisa dihilangkan. tetapi justru semakin mendorong berkembangnya konflik yang kemudian meledak tak terkendali pasca jatuhnya rezim Soeharto. karena konon rezim orde baru yang berkuasa mampu menekan konflik sosial ke tingkat yang dapat dikendalikan. sejarah mencatat bahwa kekuatan yang dimiliki rezim otoritarian atau totalitarian tidak pernah mampu Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 6 . Kekhawatiran ini telah menjadi realitas umum di masyarakat yang sesungguhnya menghendaki sebaiknya agar pilkada berjalan lancar dan aman. tetapi jsutru lebih mengacu pada pengalaman masa lalu. Keberadaannya melekat pada struktur sosial dan setiap kegiatan dan kehidupan sosial masyarakat. tetapi juga manifestasi dari ledakan konflik yang terpendam. Kekawatiran ini bukan sesuatu yang mengada-ada atau didramatisir.

maka potensi konflik itu menjadi manifest. Indonesia adalah contoh par-execelent akan hal ini. 1. berkompeten dan terpercaya. Yang layak dicalonkan adalah mereka yang benar-benar berkompetensi profesional dan berdedikasi dalam membangun daerah. seolah tiba-tiba saja datang. Pemilu yang digelar tahun 1999 dan 2004 adalah salah satu upaya terpenting untuk mengkanalisasi konflik dan mengelolanya untuk tujuan produktif. mulai dari tahap penyaringan calon yang layak menjadi Kepala Daerah (memenuhi dan mematuhi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah). Rakyat berharap tim seleksi calon Kepala Daerah sungguh-sungguh bersih. perhitungan suara dan permainan-permainan kotor yang menipu rakyat (pemberian suara oleh manipulator Pilkada). melainkan sekedar menekannya ke bawah permukaan tanpa meresolusikannya secara layak. accountable) akan mengundang reaksi massa di daerah pemilihan. yang mana hingga saat ini belum menemukan sistem yang melembaga untuk mengelola konflik secara demokratis. Suatu saat rezim itu akan runtuk karena pembusukan yang terjadi di dalam (social and political decay) sebagaimana yang dialami rezim Soeharto. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 7 . Permainan pada tahap pencalonan akan menyengsarakan keadaan daerah yang dipimpinnya. Dan seiring dengan bergulirnya demokratisasi. penentuan jumlah pemilih (angka-angka statistik abstrak).membunuh potensi konflik. Dalam proses Penyaringan Balon Kepala Daerah (konflik dalam rekruitmen kandidat) Ketidakjujuran dan manipulasi dalam proses pilkada. Seleksi calon Kepala Daerah yang tidak memenuhi normanorma obyektif –legal (profesional. kredibilitas.

Jadi dalam pelaksanaan pemilihan langsung. kesempatan bagi calon individu atau perseorangan terbuka luas. seringkali semua calon yang lolos seleksi atau gagal mengklaim bahwa mereka mendapat dukungan luas. sehingga mampu meraup banuk suara pendukung. Padahal calon perseorangan itu bisa saja mengjukan klaim bahwa ia adalah tokoh yang berpengaruh.Proses rekruitmen kandidat calon kepala daerah sangat ditentukan oleh parpol meskipun semua orang dapat mengajukan dirinya. tapi harus melalui lembaga partai politik. Seperti disebutkan dalam pasal 59 ayat (6) Undang-undang Pemerintahan Daerah bahwa parpol hanya dapat mengusulkan satu pasangan calin dan pasangan itu tidak dapat diusulkan lagi oleh parpol atau gabungan parpol lain. Sementara calon perseorangan tidak dapat menerima penolakan tersebut. tanpa mengakomodasi calon perseorangan. Potensi konflik dalam rekruitmen calon dapat muncul apabila parpol menolak calon perseorang karena memiliki calon sendiri. Biasanya ketika tokok sebagai calon perseorangan tidak dipilih sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah oleh partai politik di daerah tersebut. tapi justru hal ini telah meningkatkan potensi konflik yang lebih besar pula. Dengan demikian. maka tokoh yang bersangkutan dapat tersinggung dan marah. Klaim itu dinilai wajar mengingat pilkada langsung melibatkan suara rakyat sepenuhnya. walaupun sekarang sudah ada calon independent namun aturan masih belum mengaturnya secara lebih rinci. Contoh konkrit yang telah melakukan pencalon independent adalah pencalonan Irwandy Yunus sebagai Calon Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. ada kecenderungan parpol atau gabungan parpol mengusulkan pasangan calon pilihan mereka sendiri. Hal inilah Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 8 . Menjadi persoalan jika kegagalan itu lebih disebabkan oleh keputusan parpol yang tidak mau mencalonkannya karena menilai ada calin lain yang lebih layak dan pas dengan kepentingan parpol yang mencalonkan. Persoalannya.

Kekecewaan dan ketidakpuasan sosial yang terkait dengan langkah-langkah prosedural pencalonan hingga pemilihan hanya akan mempertebal akumulasi sosial dalam masyarakat yang merasa “kalah” dalam pilkada. perasaan-perasaan di atas akan memancing mereka untuk melakukan tindakan-tindakan konfliktual dalam masyarakat. Padahal kadar fanatisme antara masyarakat bawah dan elit politiknya berbeda. Bukan mustahil. Dalam proses pemilihan Calon Kepala Daerah Para Calon Kepala Daerah dan Tim Suksesnya dalam kampanye sangat memahami hal ini. 3. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait baik dari pihak keamanan. 2. Bahkan dalam proses kampanye tidak jarang para juru kampanye dari Calon Kepala Daerah tertentu melakukan black campain. carracter assassination.yang memicu konflik di daerah. manipulasi data. selama pelaksanaan pilkada langsung. intimidasi dan menggelorakan sentimen golongan ataupun kelompoknya serta yang tak dapat dielakkan lagi adalah mobilisasi massa yang bisa menimbulkan keributan antar para pendukung. sekedar agar mendapat dukungan mayoritas saja. Oleh karena itu perlu mekanisme terbuka dalam pencalonan pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah termasuk calon perseorangan. Fanatisme masyarakat bawah terhadap golongannya biasanya murni. Panwasda maupun penyelenggara (KPUD sampai petugas TPS). sedangkan fanatisme para elite politiknya umumnya hanya semu. kondisi yang akan timbul yaitu adanya serangan fajar. Sedangkan dalam proses pemilihan. sabotase. Memang biaya yang paling murah untuk memobilisasi massa adalah dengan membakar rasa fanatisme etnis dan golongan. Mengentalnya Gejala Primordialisme Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 9 .

dan mudah menjadi benturan-benturan yang bisa menimbulkan tindak kekerasan. Beberapa Kendala Teknis Penyelenggaraan Pilkada Di samping soal potensi konflik yang masih membayangin penyelenggaraan pilkada. baik dari APBD maupun APBN. Tanpa pencerahan politik yang lebih baik.Dalam proses Pilkada gejala primordialisme sangat sulit disingkirkan. rakyat akan cenderung memilih calon-calon sedaerah. Beberapa persoalan teknis penyelenggaraan pilkada yang masih belum terselesaikan biasanya bervariasi antar daerah. Sedangkan calon-calon yang sebenarnya lebih layak dan cocok akan tersingkir dari kalangan masyarakat yang belum dewasa dalam pendidikan politik. 4. Bahkan diantara KPU kabupaten di daerah pemekaran ada belmu memiliki personel dan sebagian diantaranya dalam proses seleksi calon-calon anggota KPU Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 10 . sesuku. Kedua hal ini membawa implikasi yang luas terhadap keseluruhan proses penyelenggaraan pilkada seperti proses distribusi logistik dan sosialisasi pilkada. namun ada kesamaan diantara mereka yaitu soal mepetnya waktu yang tersedia dan kendala dana yang minim. sebahasa dan sebudaya. karena sikap keakuan antara inside dan outside atau ingroup dan outgroup pasti selalu menjadi lem perekat yang paling mudah dan murah dalam mempengaruhi emosi massa. Beberapa KPUD mengeluh soal minim dan belum turunnya anggaran. Persoalan tekni sini tidak bisa dianggap sepele dibandingkan dengan persoalan lain seperti soal demokrasi dan potensi konflik karena jika tidak ditangani dengan baik. muncul juga persoalan-persoalan teknis yang tidak kalah berat dan serius. Namun dibalik itu justru sikap primordialisme ini cenderung lebih mudah menyulut emosi massa. justru akan mengacaukan proses demokrasi dan memicu konflik yang lebih luas.

tampaknya nilai-nilai tradisi lokal berupa kesetiakawanan. agama. Sambil menunggu kucuran dana yang jumlahnya tidak banyak. Suatu politik peradaban dalam membangun suatu demokrasi diharapkan dapat lahir dari pilkada. kebudayaan dan politik) perlu segera dibangun menyongsong Pilkada mendatang.padahal pelaksanaan pilkada semakin dekat. meskipun tidak optimal. Pilkada seharusnya menjadi ajang uji coba pluralisme politik tanpa melahirkan konflik terpola yang berbasiskan etnik. Antena Early Warning System (EWS) perlu segera dipasang. KPUD harus tetap melaksanakan tugasnya. Pemantauan dan kontrol normatif oleh pemerintah pusat dalam kerja sama dengan masyarakat termasuk suatu kebutuhan mendasar. kerjasama. Sanksi hukum positif yang transparan selayaknya dikenakan pada pihak-pihak yang terbukti mempermainkan dan memanipulasi Pilkada demi kepentingan-kepentingan terselubung golongan atau kelompok sosial tertentu. agama atau segala bentuk kebudayaan. Menghadapi potensial konfliktual. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 11 . KPU kabupaten belum bisa melakukan pilkada. sebuah jembatan antar anasir sosial (etnis. saling percaya dan tenggang rasa antar kelompok sosial sudah waktunya dibangkitkan kembali setelah sekian lama dipolitisasi oleh pihak-pihak yang memanipulasi perkembangan sosial masyarakat yang begitu majemuk. Demokrasi dalam dirinya mengandaikan kesatuan kultural yang merangkul semua kelompok sosial. Kesadaran mendasar akan adanya keterkaitan antara demokratisasi dan konflik identitas kelompok sosial perlu ditumbuhkan sejak sekarang sehingga beberapa langkah antisipatif dapat ditempuh. Penegakan hukum positif secara bersih dan terpercaya dinantikan dalam pelaksanaan Pilkada. Sebelum calon-calon itu terpilih dan diangkat KPU pusat. Disamping adanya wadah pengaduan masyarakat tentang langkahlangkah non prosedural dan langkah manipulatif dalam penanganan problematika sosial masyarakat.

bukan hanya sebagai formalitas politik saja. tetapi dari kebajikan dan kebijakan pemimpin itu sendiri. kita pilih bersama orang-orang yang layak untuk menjadi pemimpin tanpa melihat kelayakan Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 12 . Sosialisasi aturan main dalam Pilkada. Ini harus dilakukan semaksimal mungkin. Menghindari sikap primordialisme yang berlebihan. 2. sehingga masyarakat benar-benar memahami dan mengerti aturan dan tata cara dalam Pilkada. mari kita berpikir dengan jernih. 6. Sebagai saran. 4. Syarat calon Kepala Daerah harus sesuai dengan aturan main (UU maupun PP). mengingat untuk pertama kalinya Pilkada dilaksanakan secara langsung. Aturan kampanye harus tegas. 3. sehingga apapun hasilnya jika dilaksanakan dengan jurdil dan transparan maka siap menerima kekalahan itu. 7. artinya kalau ada peserta dan tim suksesnya yang melakukan pelanggaran terhadap aturan kampanye harus diberi sanksi dan ditindak. jangan sampai ada kompromi-kompromi di belakang layar. KPUD harus tegas untuk mencoret. bagi yang tidak memenuhi syarat. Penyelenggara ( KPUD sampai petugas TPS) dan Panwasda Pilkada harus tetap menjaga netralisasi. jangan sampai ada keberpihakan pada calon Kada tertentu. Membangun etika politik siap kalah.Untuk itu sebagai langkah antisipatif penanggulangan konflik dalam pelaksanaan Pilkada yang perlu diperhatikan antara lain : 1. Masyarakat tidak bisa maju dan berkembang hanya karena kebanggaan terhadap kelompok atau golongannya yang menjadi pemimpin. serta penghayatannya terhadap moral yang diajarkan oleh agamanya. 5. Panwasda harus bisa mengantisipasi akan adanya serangan fajar ataupun serangan senja dalam bentuk apapun.

Sistem Politik Indonesia. Nazarudin. kemudian kita dudukkan dia bersama-sama. Jakarta: CV. 1989.asal etnis atau agamanya. Abdul Asri. 1981. Sjamsudin. maka bersama-sama kita ingatkan dia. Manajemen dan Resolusi Konflik Pilkada. Jakarta: Gramedia. 2005. Namun jika ternyata dia tidak becus. Rajawali. Jakarta: Pustaka Cidesindo. Arbi. Sanit. Integrasi Politik di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Harahap. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 13 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->