P. 1
PENGERTIAN

PENGERTIAN

|Views: 1,094|Likes:
Published by bhUhUhUq

More info:

Published by: bhUhUhUq on Mar 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

PENGERTIAN “ADVERSITY QUOTIENT” DAN MANFAATNYA DALAM PEMBERDAYAAN KARYAWAN

4,835 views Posted by Chief Editor on July 16th, 2009 4 Comments Printer-Friendly -- Sponsored Ads Ads by Value Media Tidak jarang dalam dunia kerja ada sekelompok karyawan yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) tinggi kalah bersaing oleh para karyawan lain yang ber-IQ relatif lebih rendah namun lebih berani menghadapi masalah dan bertindak. Mengapa sampai seperti itu?. Dalam bukunya berjudul Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities, Paul Stoltz memerkenalkan bentuk kecerdasan yang disebut adversity quotient (AQ). Menurutnya, AQ adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan. AQ dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan. Ada tiga kemungkinan yang terjadi yakni ada karyawan yang menjadi kampiun, mundur di tengah jalan, dan ada yang tidak mau menerima tantangan dalam menghadapi masalah rumit (tantangan) tersebut. Katakanlah dengan AQ dapat dianalisis seberapa jauh para karyawannya mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Kembali kepada Stolz, dia mengumpamakan ada tiga golongan orang ketika dihadapkan pada suatu tantangan pendakian gunung. Yang pertama yang mudah menyerah (quiter) yakni dianalogikan sebaga karyawan yang sekedarnya bekerja dan hidup. Mereka tidak tahan pada serba yang berisi tantangan. Mudah putus asa dan menarik diri di tengah jalan. Golongan karyawan yang kedua (camper) bersifat banyak perhitungan. Walaupun punya keberanian menghadapi tantangan namun dengan selalu memertimbangkan resiko yang bakal dihadapi. Golongan ini tidak ngotot untuk menyelesaikan pekerjaan karena berpendapat sesuatu yang secara terukur akan mengalami resiko. Sementara golongan ketiga (climber) adalah mereka yang ulet dengan segala resiko yang bakal dihadapinya mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. AQ dapat dipandang sebagai ilmu yang menganalisis kegigihan manusia dalam menghadapi setiap tantangan sehari-harinya. Kebanyakan manusia tidak hanya belajar dari tantangan tetapi mereka bahkan meresponnya untuk memeroleh sesuatu yang lebih baik. Dalam dunia kerja, karyawan yang ber-AQ semakin tinggi dicirikan oleh semakin meningkatnya kapasitas, produktivitas, dan inovasinya dengan moral yang lebih tinggi. Sebagai ilmu maka AQ dapat ditelaah dari tiga sisi yakni dari teori, keterukuran, dan metode. Secara teori, AQ menjelaskan mengapa beberapa orang lebih ulet ketimbang yang lain. Dengan kata lain apa, mengapa dan bagaimana mereka berkembang dengan baik walaupun dalam keadaan yang serba sulit. Dalam konteks pengukuran, AQ bisa digunakan untuk menentukan atau menseleksi para pelamar dan juga untuk mengembangkan daya kegigihan karyawan. Sebagai metode, AQ dapat

dikembangkan untuk meningkatkan kinerja, kesehatan, inovasi, akuntabilitas, focus, dan keefektifitasan karyawan. Beberapa perusahaan di dunia seperti FedEx, HP, Procter & Gamble, Marriott, Sun Microsystems, Deloitte & Touche, and 3M telah memanfaatkan model AQ ini. Dengan AQ mereka mampu mengatasi permasalahan bisnis dan kinerja karyawan. Antara lain dengan solusi AQ mereka melakukan program-program memerluas kapasitas karyawan dengan lebih efektif, mengembangkan kepemimpinan yang ulet atau gigih, menciptakan perilaku gigih dalam suatu tim kerja, memercepat perubahan dan menjadikan AQ sebagai salah satu komponen budaya korporat, memerkuat moral dan mengurangi kelemahan karyawan, meningkatkan mutu modal manusia dan mendorong inovasi, dan memerbaiki pelayan pada pelanggan dan penjualan. Tulisan asli dari artikel ini dan berbagai sudut pandang menarik lainnya tentang MSDM dapat juga diakses langsung melaui: “ADVERSITY QUOTIENT” DAN PEMBERDAYAAN KARYAWAN Kontributor:

Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira seorang blogger yang produktif, beliau adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, di antaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan, Manajemen Program Komunikasi. MSDM Internasional, Manajemen Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan, Beliau adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya Program Doctor bidang Bisnis dan dan saat ini masih aktif berbagi ilmu di Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB). Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri dan pemikiran-pemikiran beliau, silakan kunjungi Blog beliau di Rona Wajah Popularity: 16% [?]

http://indosdm.com/pengertian-%E2%80%9Cadversity-quotient%E2%80%9D-danmanfaatnya-dalam-pemberdayaan-karyawan

tetapi juga kecerdasan dari tanggung jawab moral. Seorang staf di perusahaan adalah juga seorang yang mempunyai Kecerdasan Kreatifitas – Creativity Quotient – CQ. Dan seorang staf di perusahaan juga seorang yang cerdas dalam mengamalkan Spiritual Quotient – SQ – Kecerdasan Spiritual yang tidak sekedar dapat membedakan yang halal dan yang haram . Jadi seorang staf di perusahaan tidak mungkin dari kalangan idiot. Emosi yang meledak – ledak tidak saja bisa membahayalan sang staf di perusahaan itu sendiri tetapi juga dapat membahayakan perusahaannya yang sekaligus membahayakan masa depan investasi para pemilik modal . Tapi staf di perusahaan yang tanpa emosi. – Untuk bisa sukses menjadi seorang staf di perusahaan dituntut untuk memiliki kecerdasan diatas rata – rata kecerdasan manusia umumnya. Untuk menjadi staf pemula di perusahaan. 2. Melengkapi untuk menjadi staf di perusahaan yang pari purna yang mempunyai 200 % kecerdasan rata – rata. yaitu mempunyai Kecerdasan Emosional – Emotional Quotient – EQ yang baik . Yang kemudian berkembang lagi menjadi ESQ – Emotional Spiritual Quotient – Kecerdasan emosi dan spiritual . Secara anekdot dinyatakan bahwa seorang staf di perusahaan dituntut mempunyai kecerdasan rata – rata 200 % atau 100 % diatas kecerdasan rata – rata manusia pada umumnya. oleh karena itu seorang staf / pejabat di perusahaan harus mempunyai emosi yang tinggi namun mampu dikendalikan. maka test IQ – test Kecerdasan Intelektual diperlukan agar memenuhi syarat minimum yaitu seorang yang cerdas. yang bermanfaat dan bermartabat yang tidak saja dari segi ajaran agama – RQ – Religious Quotient . Perusahaan yang maju adalah perusahaan yang mempunyai para staf di perusahaan yang kreatif untuk bersaing dan mampu menumbuh – kembangkan perusahaannya. agar mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.950. maka sekarang sedang dipopulerkan kecerdasan AQ – Adversity Quotient – Kecerdasan mengidentifikasikan masalah dan menanggulangi masalah serta mengambil keputusan secara cerdas. Namun seorang staf di perusahaan dituntut juga menjadi seorang penganut agama yang saleh. Namun seorang staf di perusahaan juga seorang yang mampu mengendalikan emosinya.http://www. 2011 | Rp. perusahaannya akan melempem. Sekarang makin terasa bahwa seorang staf di . yang bermudharat.informasi-training. Menanggulangi Masalah Serta Mengambil Keputusan Secara Baik Dan Benar Aryaduta Hotel / Grand Flora Hotel*. mempunyai RQ – Religious Quotient – Kecerdasan Beragama yang baik.000. dengan baik dan benar. dimanfaatkan secara cerdas . Jakarta |March 14 th – 15th. etika dan integritas secara lebih luas lagi.com/adversity-quotient-kecerdasanmengidentifikasikan-masalah-menanggulangi-masalah-serta-mengambil-keputusansecara-baik-dan-benar Kecerdasan Mengidentifikasikan Masalah.

tetapi juga mampu menerapkan AQ secara baik dan benar. SQ yang baik saja. prinsip kehati – hatian dan manajemen risiko. Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang oleh: climber_benedict • • • • Pengarang : Paul J Stlotz Summary rating: 3 stars (31 Tinjauan) Kunjungan : 2988 kata:600 More About : adversity quotient Adversity Quotient. Namun manfaat utamanya pelatihan ini sudah barang tentu merupakan pelatihan kemandirian dalam mengidentifikasikan masalah dan menangani masalah secara cerdas sejalan dengan penerapan konsep Good Corporate Governance. Untuk para staf di perusahaan yang bukan lagi pemula. merupakan suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang. . CQ. Adversity Quotient dapat juga melihat mental taftness yang dimiliki oleh seseorang. workshop ini juga akan sangat berguna untuk revitalisasi dan atau mereview problem solving ability. RQ. disertai EQ. sehubungan dengan keharusan penerapan Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance karena risiko juga adalah sisi lain dari masalah yang perlu diatasi. Pelatihan ini dapat membantu perusahaan dalam untuk membentuk staf / pejabat di perusahaan yang pari – purna yang mempunyai kecerdasan 200 % dibanding manusia dari professi lainnya . Adversity quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan.perusahaan bukan semata – mata mempunyai IQ yang baik. mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun. sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang. Sasaran: Oleh karena calon staf di perusahaan telah mempunyai IQ yang baik maka AQ dapat dilatihkan untuk para staf pemula di perusahaan yaitu para Supervisor sampai calon Pemimpin ( Pemimpin Cabang ataupun Pemimpin Bagian di Kantor Pusat).

namun karena adanya tantangan dan masalah yang terus menerjang.Dalam Adversity Quotient. Or = Origin Menjelaskan mengenai bagaimana seseorang memandang sumber masalah yang ada. kelompok ini sudah pernah menima. R = Reach Menjelaskan tentang bagaimana suatu masalah yang muncul dapat mempengaruhi segi-segi hidup yang lain dari orang tersebut. Apakah ia cenderung tak peduli dan lepas tanggung jawab. berjuang menghadapi berbagai masalah yang ada dalam suatu pergumulan / bidang tertentu. mereka terus mendaki dan mendaki. kelompok atau tipe orang/individu dapat dibagi menjadi tiga bagian. E = Endurance . Campers Merupakan kelompok orang yang sudah memiliki kemauan untuk berusaha menghadapai masalah dan tantangan yang ada. serta hal . Climbers Merupakan kelompok orang yang memilih untuk terus bertahan untuk berjuang menghadapi berbagai macam hal yang akan terus menerjang.hal lain yang terus dapat setiap harinya. Apakah seseorang memandang bahwa dirinya tak berdaya dengan adanya masalah tersebut. atau mau mengakui dan mencari solusi untuk masalah tersebut 3. dimana hal ini melihat sikap dari individu tersebut dalam menghadapi setiap masalah dan tantangan hidupnya. Kelompok ini memilih untuk terus berjuang tanpa mempedulikan latar belakang serta kemampuan yang mereka miliki. atau ia dapat memengang kendali dari akibat masalah tersebut 2. C = Control Menjelaskan mengenai bagaimana seseorang memiliki kendali dalam suatu masalah yang muncul. tantangan. Adversity Quotient memiliki 4 dimensi yang masing . antara lain adalah: Quiters Merupakan kelompok orang yang kurang memiliki kemauan untuk menerima tantangan dalam hidupnya. Tipe quiter cenderung untuk menolak adanya tantangan serta masalah yang membungkus peluang tersebut. Berbeda dengan kelompok sebelumnya (quiter). Kelompok/tipe individu tersebut. Apakah ia cenderung memandang masalah tesebut meluas atau hanya terbatas pada masalah tersebut saja. mereka memilih untuk berhenti di tengah jalan dan berkemah. Apakah ia cenderung memandang masalah yang terjadi bersumber dari dirinya seorang atau ada faktor faktor lain diluar dirinya Ow = Ownership Menjelaskan tentang bagaimana seseorang mengakui akibat dari masalah yang timbul.masing merupakan bagian dari sikap seseorang menghadapai masalah. baik itu dapat berupa masalah. karena peluang dan kesempatan tersebut banyak yang dibungkus dengan masalah dan tantangan. 4. Hal ini secara tidak langsung juga menutup segala peluang dan kesempatan yang datang menghampirinya. namun mereka melihat bahwa perjalanannya sudah cukup sampai disini.dimensi tersebut antara lain adalah: 1. Dimensi . hambatan.

penuh dedikasi. termasuk tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarganya. . yakni. Paul G Stolt dalam dua bukunya berjudul. Adversity Quotient itu sendiri mempunyai tiga bentuk. yakni kecerdasan menghadapi kesulitan (Adversity Quotient). Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Thomas J Stanley (2003) yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul. namun mereka adalah pekerja keras. manusia dibagi ke dalam tiga kelompok. yakni psikologi kognitif. yakni: menghadapi dan mengalami berbagai kesulitan hidup. mengkaji lebih dari 500 referensi dari tiga cabang ilmu pengetahuan. dan neurofisiologi. dan bertanggung jawab. bahwa mereka yang berhasil menjadi millioner di dunia ini adalah mereka dengan prestasi akademik biasa-biasa saja (rata-rata S1).com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatanmenjadi/ PERJALANAN hidup orang sukses dan orang gagal sama. dan menerapkan hasil penelitian dan pengkajiannya selama 10 tahun di seluruh dunia dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa terdapat satu kecerdasan baru yang selama ini tidak terungkap dibutuhkan dan menentukan kesuksesan seseorang.Menjelaskan tentang bagaimana seseorang memandang jangka waktu berlangsungnya masalah yang muncul. psikoneuroimunologi. "The Millionaire Mind" menjelaskan hal yang sama. Kecerdasan baru dimaksud berawal dari hasil penelitian yang dilakukan para ilmuan kelas atas selama 19 tahun. dan (3) serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respons terhadap kesulitan. adapun perbedaannya terletak pada kecerdasan menghadapi dan merespons kesulitan hidup yang dijalaninya. Artinya orang sukses lebih cerdas dari pada orang gagal dalam menghadapi kesulitan hidupnya.shvoong. "Adversity Quotient (2000)" dan "Adversity Quotient a Work (2003)" secara komprehensif menjelaskan apa yang dimaksud kecerdasan menghadapi kesulitan dan bagaimana meningkatkan kecerdasan baru tersebut. Lebih lanjut tentang: Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang http://id. Apakah ia cenderung untuk memandang masalah tersebut terjadi secara permanen dan berkelanjutan atau hanya dalam waktu yang singkat saja. Ketika menghadapi kesulitan hidup. ulet. (1) suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan. (2) suatu ukuran untuk mengetahui respons terhadap kesulitan. yakni.

tetapi jika menghadapi satu kesulitan saja dengan sangat mudah patah semangat dan berhenti layaknya orang yang sedang berkemah. sering orang menyebutnya sebagai manusia pengecut. yang saya lihat sangat ingat. Manusia camper adalah manusia yang mau melakukan perubahan. Masih sering kita temukan pola asuh. lainnya terbuka. (3) analysis bukti-buktinya. Manusia climber adalah manusia pendaki yang tidak mudah lekang karena panas dan tidak mudah lapuk karena hujan. bersantai dan tidak berupaya untuk mengatasi kesulitan yang sedang mereka hadapi. Adapun dimensi yang terkait dengan kecerdasan menghadapi kesulitan adalah: (1) control atau kendali mempertanyakan berapa banyak kendali yang anda rasakan terhadap sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan?. (3) reach atau jangkauan mempertanyakan sejauhmana kesulitan akan menjangkau atau merembes ke bagian-bagian lain dari kehidupan seseorang?. Sebagai manusia pendaki jika ia menemukan ada hambatan batu di atas gunung sana. ia mencari jalan lain. "kalau satu pintu tertutup." Namun sayangnya praktek pendidikan dan pembelajaran baik yang dilakukan oleh orang tua. Magnesen (2000) mengatakan bahwa. bahkan mereka menikmati jeda waktu istirahat tersebut untuk bersuka-ria. (2) origin dan ownership mempertanyakan dua hal. dan Climbers atau manusia yang pendaki. bahwa. dan (4) do atau lakukan sesuatu. dan sampai sejauhmanakah seseorang mengakui akibat kesulitan itu?. yakni. (2) explore atau jajaki asal usul dan pengakuan atas akibatnya. John Gray (2001) mengatakan "semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh". Baginya untuk sampai ke puncak gunung tidak hanya ada satu jalan. tetapi kita sering memandang terlalu lama dan terlalu penuh penyesalan kepada pintu yang tertutup itu. yakni: siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan. pendidikan oleh orang tua terhadap anaknya dilaksanakan dengan cara memanjakannya. (1) listen atau dengarkanlah respons terhadap kesulitan . (4) endurance atau daya tahan mempertanyakan dua hal. Manusia quitter adalah manusia yang sulit dan tidak senang melakukan perubahan. sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita". guru dan masyarakat belum sampai pada proses pembelajaran yang mengajarkan kepada anak dan siswanya bagaimana menghadapi kesulitan (adversity quotient). Hal ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan oleh Alexander Graham Bell bahwa. Campers atau manusia yang berkemah. Kita lupa bahwa pola asuh dan pendidikan dengan memanjakan anak (spoiling) adalah merusak atau membuat ia . dan yang saya kerjakan saya paham. berapa lamakah kesulitan berlangsung dan lamanya penyebab kesulitan tersebut akan bertahan? Kecerdasan menghadapi kesulitan tersebut dapat ditingkatkan atau dapat diperbaiki dengan melakukan hal-hal sebagai berikut. "yang saya dengar saya lupa. Konfusius lebih dari 2400 tahun silam menyatakan. "90% pemahaman belajar diperoleh dari melakukan sesuatu.Quitters atau manusia yang berhenti.

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Adversity Quotient (AQ) yang merupakan adaptasi dari Adversity Response Profile ( ARP ) Quick Take TM untuk mengukur Adversiy Quotient (AQ). Prestasi belajar merupakan hasil proses belajar yang telah dilakukan individu dalam kurun waktu tertentu. yakni seorang profesor ternama karena kemampuan akademiknya dan kekayaan yang dimilikinya. Dr. sedangkan prestasi belajar mahasiswa . "semua anak saya setiap paginya mencari tambahan biaya liburan atau vakansi. serta Bimbingan dan Konseling. Subyek penelitian sebanyak 120 mahasiswa yang berasal dari program studi Bahasa Inggris.multiply.com/reviews/item/7 Adversity Quotient (AQ) merupakan suatu bentuk pengukuran yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam merespons suatu tantangan atau kesulitan dalam kehidupannya untuk mencapai suatu keberhasilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian korelasional. Dalam fikiran saya waktu itu. Akibatnya masih banyak anak kita yang sudah dewasa dan bahkan sudah sarjana ketika dihadapkan pada masalah yang menurut kita sangat sederhana tidak mampu mereka atasi dan masih meminta bantuan orang lain terutama pada kedua orang tuanya. "Prof. Namun setelah sebulan tinggal bersamanya keinginan untuk mengetahui apa yang terasa aneh tak dapat dibendung lagi. Pendidikan Teologi. Selama sebulan dosen penulis amati kehidupan di rumah sang profesor. Dosen sayapun bertanya. Martin Seligman menyebutnya sebagai proses ketidakberdayaan atau pembodohan yang dipelajari. beliau adalah bapak Prof. petang dan malam hari. orang sehebat profesor di negara maju merasa bangga melihat anak-anaknya belajar mengatasi sulitan hidupnya dari sejak kecil. berbeda sekali ketika siang. Teknik sampling yang digunakan adalah Tehnik Cluster Sampling. dan kemana mereka di setiap pagi? Profesor dengan bangga menjawab. Ketika beliau menempuh pendidikan doktor di Amerika Serikat ia sempat tinggal se rumah dengan promotornya. ada satu hal yang sangat mengesankan tetapi malu untuk menanyakannya karena merasa penghuni baru di rumah guru besar yang sangat terkenal itu.tidak berdaya. Menutup opini ini penulis ingin menceritakan apa yang pernah penulis dengar dari salah seorang dosen penulis ketika studi doctor beberapa waktu yang lalu. mengapa setiap sarapan pagi saya tidak melihat anak-anak (usia SD) profesor ikut menikmati hidangan pagi bersama kita. Apakah anak kita sebelum dan setelah sekolah ikut membantu dirinya guna mengurangi beban orang tuanya atau hanya pandai meminta dan menuntut haknya saja? http://semesta. Salah satu tantangan bagi mahasiswa adalah mencapai prestasi belajar yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Adversity Quotient (AQ) dengan prestasi belajar mahasiswa angkatan 2000 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Marsetio Donosaputro. bolehkah saya bertanya.

kesenangan. rendah diri. mahasiswa belajar di perguruan tinggi akan mendapatkan sukses masa depan bukan hanya didasarkan pada prestasi belajar saja. bak roda berputar : kadang DI ATAS. puas dan tidak puas. kekecewaan yang berkepanjangan melanda pikiran dan hati kita. 02 Januari 2010 Adversity Quotient (AQ) ADVERSITY QUOTIENT (AQ) Dalam menjalani roda kehidupan ini. tetapi suatu saat pasti DI BAWAH !!! Bila kita kemudian mengalami hal yang berbalik dengan yang kita dapatkan selama ini. kebencian. kegagalan. maka keputus-asaan.kemudian kita lupa bahwa KEHIDUPAN DI DUNIA INI TERUS BERPUTAR. keberhasilan…. tetapi perlu memperhatikan faktor . susah. menyenangkan siapa saja yang melihatnya serta mampu dan bebas terbang kemana saja sampai jauh. Awalnya kepompong ulat hanya tidur berdiam diri tidak berdaya dalam selimut balutan daun kering. manusia banyak mengalami berbagai hal seperti kesuksesan.kenapa kita yang disebut sebagai makhluk sempurna tidak mampu melakukan ???? . rasa cinta. Siapa perampok itu ??? Cara berfikir negative dan sikap mental kerdil kita !! Oleh karena itu. Tetapi seberapa banyak dari diri kita mampu mensikapi situasi tersebut secara benar dan baik ???? Ketika yang kita dapatkan dalam hidup adalah serba kepuasan. Tanpa sadar kenikmatan tersebut telah merampok jati diri kita sebagai manusia. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara Adversity Quotient (AQ) dengan prestasi belajar pada mahasiswa angkatan 2000 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Atma Jaya.. kecintaan. Hasil uji coba yang diberikan kepada 60 mahasiswa Universitas Atma Jaya untuk Adversity Quotien (AQ) diperoleh 16 butir valid dari 100 butir dengan nilai reliabilitas 0. Nah…bila ulat saja bisa melakukan itu…. kita perlu memupuk energi positif dalam diri dan itu diyakini bisa dilakukan.didasarkan pada nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa. tetap semangat atau putus asa. Teknik statistika yang digunakan adalah korelasi Product Moment dan dibantu pengolahannya dengan bantuan program statistik SPSS versi 11.00. berlimpah materi atau serba kekurangan dan sebagainya. Marilah kita belajar dari Ulat kecil. senang.7231. Sabtu. Saran dari penelitian ini adalah perbaikan dalam instrument Adversity Quotient (AQ) agar lebih tepat untuk mengetahui daya juang seseorang di dunia pendidikan.faktor lain yang dapat mempengaruhi proses belajar. Selain itu. Kemudian dia menjadi kupu-kupu yang indah. kekayaan materi.

hambatan dan tantangan”. etc. masalah yang kita alami/hadapi menjadi pelecut menuju keberhasilan. karena dalam menjalani kehidupan di dunia ini dapat dipastikan setiap manusia akan menemui “ masalah. menjadi PEMENANG. Mustahil kita akan steril dari masalah. karakter dan seterusnya. hambatan serta tantangan yang dihadapinya. Manusia demikian sering dikelompokan sebagai PEMENANG 2) Quiters (Penunggu) : Yakni manusia yang hanya setengah-setengah dalam menyelesaikan setiap masalah. tantangan. dia sudah menyerah dan menunggu/mengharapkan orang lain yang menyelesaikan masalah tersebut. tantangan dan hambatan !!! Berdasarkan Adversity Quotient (AQ). kecuali hanya “menyerah” terhadap masalah yang dihadapi. PENENANG atau PECUNDANG ????? Diposkan oleh Hari Prasetyo Jember Jawa Timur di 09:32:00 . LIngkungan sekitar merupakan “pemicu” dan bukannya “pelemah” semangat untuk mencapai keberhasilan. Belum tuntas dia menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kenapa demikian. yaitu “kemampuan seseorang untuk merubah hambatan.Transformasi berasal dari bahasa Inggris Transform yang berarti “ make a thorough or dramatic change in the form. masalah menjadi sebuah potensi keberhasilan” Kita harus mampu merubah tantangan. tinggal mana yang kita pilih. tantangan dan hambatan adalah pelecut untuk menggapai keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup. character. Terjemahan bebasnya adalah “segera membuat sesuatu perubahan total baik dalam bentuk. Langkah yang harus ditempuh adalah memperkuat AQ (Adversity Quotient). Manusia ini sering dike lompokkan menjadi PECUNDANG Selanjutnya. penampilan. Manusia demikian sering dikelompokkan sebagai PENENANG 3) Champers (Penyerah) : Yakni manusia yang begitu menerima masalah. halangan. tantangan serta hambatan yang ditemui. tantangan dan hambatan dia tidak melakukan apa-apa. manusia dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : 1) Climbers (Pendaki) : Yakni manusia yang terus-menerus berusaha menyelesaikan setiap masalah yang ditemui dan mereka tidak pernah menyerah terhadap masalah. halangan. Bagi mereka masalah. appearance.

000 percobaan dan bekerja selama 20 tahun.com/2010/01/adversity-quotient-aq. . AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. Menurutnya. Paul G. Definisi Adversity Quotient (AQ) Setelah 19 tahun melewati penelitian yang panjang & mengkaji lebih dari 500 referensi.html Adversity Quotient by Paul G Stoltz Posted on 22 April 2010 by Nafis Mudrika 1 Votes Masih ingat cerita Thomas Alva Edison (1847 – 1931) ??? Ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu setelah melewati sekitar 50. Edison.000 cara yang tidak berfungsi!” Wow. Kegagalan menurut orang lain dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan.http://h-prasetyo.000 kali. SQ yakni AQ. lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab. Tak heran kalau ada yang bertanya. Anda telah gagal 50. Bagaimana mengubah hambatan menjadi peluang. Stoltz mengemukakan satu kecerdasan baru selain IQ. Kini saya tahu 50. “Berhasil? Bukan hanya berhasil.blogspot. “Mr. EQ. saya telah mendapatkan banyak hasil. sebuah pernyataan yang sangat luar biasa.

Cepat puas. cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. termasuk tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarganya. climber (pendaki yang mencapai puncak). ulet.passion. seseorang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan citacitanya dibandingkan orang yang AQ-nya rendah. Merekalah yang berada di puncak. Dedikasi itu bisa berupa komitmen . Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian: 1. “The Millionaire Mind” menjelaskan hal yang sama. Dari ciri-ciri tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dua dari tiga karakter orang sukses erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan. Mereka mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan. selalu berbeda dengan orang lain. bekerja keras. bahwa mereka yang berhasil menjadi millioner di dunia ini adalah mereka dengan prestasi akademik biasa-biasa saja (rata-rata S1). tetapi risiko yang aman dan terukur. Dalam hal ini. Terakhir. dan berhenti di tengah jalan. hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. 3.Atau dengan kata lain. namun mereka adalah pekerja keras. mereka memiliki determinasi. Para quitter adalah mereka yang sekadar bertahan hidup. Kedua. berkeyakinan. mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Pertama. Sebagai gambaran. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Kemauan untuk mencapai tujuan. Hubungan AQ dengan Sukses Dalam kehidupan nyata. penuh dedikasi. 2. Orang sukses memakai jalan. Berani menghadapi risiko dan menuntaskan pekerjaannya. Stoltz memakai terminologi para pendaki gunung. dan bertanggung jawab. kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. camper (berkemah di tengah perjalanan) Mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko. Implementasi AQ . Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Thomas J Stanley (2003) yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul. quitter (yang menyerah).

Latar Belakang Masalah Pada dasarnya tingkah laku manusia yang disadari didorong oleh suatu kekuatan disebut motivasi. Banyak pekerja yang intelektualnya (IQ) rendah bisa saja mengalahkan mereka yang ber IQ tinggi tetapi tidak punya semangat dan keberanian untuk menghadapi masalah dan bertindak. kita bisa menggunakannya untuk menganalisa perbedaan para siswa yang manja dengan mereka yang terus berjuang. 2000) motivasi berprestasi sebagai usaha untuk meningkatkan atau . mengambil resiko. Para siswa yang suka menggunakan cara-cara curang dan instant untuk meraih nilai tinggi dan memastikan kelulusan dengan mereka yang tidak kenal lelah untuk terus mencoba dan terus bertahan. Bagaimana dengan Anda? “winner never quit and quitter never win” (Nafis Mudrika) http://nafismudrika. Seperti dikatakan Hermans (Yunita. Di antara sekian banyak motivasi yang mewarnai kehidupan manusia. Tentang bagaimana cara siswa dalam menetapkan tujuan. Itu tadi uraian singkat tentang Adversity Quotient. perjuangan meraih cita-cita serta persaingan dalam seleksi masuk perguruan tinggi.Dalam dunia pendidikan. Dengan AQ dapat dianalisis bagaimana para karyawan / pekerja mampu mengubah tantangan menjadi sebuah peluang yang akan meningkatkan produktifitas dan keuntungan perusahaan. salah satu diantaranya adalah motivasi berprestasi. Walaupun mungkin nilai mereka jelek dan tidak lulus namun mereka terus mencoba dan terus mencoba lagi.wordpress. Untuk dunia pekerjaan dan kehidupan sangatlah jelas. Para siswa yang malas dalam belajar dengan mereka yang gigih belajar.com/2010/04/22/adversity-quotient-by-paul-g-stoltz/ BAB I PENDAHULUAN A. Motivasi berprestasi tersebut besar sekali peranannya dalam mempengaruhi kehidupan manusia.

. Berdasarkan analisis dari McClelland (1987) tidak terlalu mengherankan apabila dalam suatu organisasi (perusahaan) akan banyak karyawan yang begitu rajin dan tekun dalam bekerja. selalu berusaha mencapai prestasi yang lebih baik. Kebutuhan berprestasi tercermin dari perilaku individu yang selalu mengarah pada suatu standar keunggulan. kebutuhan untuk berafiliasi. Pada motivasi berprestasi terdapat kecenderungan berprestasi dalam menyelesaikan suatu aktivitas atau pekerjaan dengan usaha yang aktif sehingga memberikan hasil yang terbaik. Di sini berarti seseorang yang motivasi berprestasinya tinggi apabi la memperoleh tugas atau pekerjaan maka ia akan mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh dan berusaha memberikan hasil yang terbaik. individu yang motivasi berprestasinya rendah akan menjalankan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya deng an kurang bersungguhsungguh dan kurang terpacu untuk berusaha memberikan hasil yang maksimal. karena itu wajar apabila seseorang yang bekerja pada suatu perusahaan dituntut untuk berprestasi. Sebaliknya. yaitu: Kebutuhan untuk berpresta si.mempertahankan kemampuan pribadi setinggi mungkin dalam segala bentuk aktivitas. McClelland (1987) mengungkapkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan utama. sementara ada pula sudah merasa puas dengan prestasi yang sedang-sedang saja dan tidak terdorong untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi. dan tidak mudah puas dengan hasil yang telah dicapai. dan kebutuhan untuk kekuasaan.

Malaysia 52. 2000).Bahkan ada juga karyawan yang terlihat asal -asalan saja dalam bekerja. 1996). Dalam situasi yang menuntut prestasi. Brunai 42. dan menganggap tugas yang diterima sebagai beban. Singapura 37. mudah putus asa. bukan pada faktor keberuntungan. ataupun bantuan orang lain Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah Indonesia belum mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Australia 9. Hongkong 25. besarnya pengangguran dan rendahnya pendidikan rata-rata tenaga kerja. kesempatan. Sementara itu peringkat SDI Filipina 84. Menurut Hermans (Ratnawati dan Sinambela. seseorang yang didominasi motivasi berprestasi senantiasa menyandarkan hasil kerjanya pada usahanya sendiri. tingkah laku yang didorong oleh motivasi berprestasi selalu diarahkan pada usaha untuk mengerjakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Padahal dengan sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas itulah bangsa Indonesia bisa mengatas i berbagai tantangan pembangunan seperti masalah lapangan pekerjaan dan pendidikan. Secara komparatif kondisi sumber daya insani (SDI) Indonesia dibandingkan dengan SDI mancanegara masih tergolong rendah yaitu peringkat ke-98. Thailand 66. Indikasi rendahnya Sumber Daya Insani (SDI) Indonesia ialah besarnya kesenjangan pendapatan. dan Jepang peringkat pertama (Hadipranata. Pada sebuah perusahaan sudah seharusnya karyawan bekerja penuh semangat dan bermotivasi tinggi dalam bekerja dan melakukan pekerjaannya secara efektif dan efisien. untuk kemudian pada akhirnya menunjukkan kedisiplinan yang tinggi dalam usaha . Bel anda 8.

Agar menghasilkan motivasi berprestasi yang tinggi karyawan harus memaksimalkan semua kemampuannya. Hal yang nampak antara lain kurang adanya motivasi karyawan mencoba membuka atau menjelajah wilayah pemasaran lain yang belum tercover atau belum tertangani oleh perusahaan. Hal tersebu t nampak dari perilaku kerja yang ditampakkan.mewujudkan misi dan tujuan yang telah ditetapkan. Sering terjadi karyawan suatu perusahaan menunjukkan motivasi berprestasi yang rendah. yaitu ditandai dengan perilaku tidak adanya tanggung jawab pada pekerjaan seperti mangkir pada saat jam kerja. Namun demikian tidak selamanya usaha tersebut dapat diwujudkan. Sebagai contoh. Pandangan atau pendapat umum sering beranggapan bahwa motivasi berprestasi . tidak tercapainya target penjualan seperti yang diharapkan perusahaan dan setiap diberi pekerjaan penyelesaian tugasnya minimal. Gagalnya karyawan meningkatkan motivasi berprestasi merupakan persoalan penting yang perlu diperhatikan dan segera dibenahi karena jika tidak dibenahi perusahaan akan kalah bersaing dan tidak mampu berkompetisi dengan perusahaan lain. Menumbuhkan motivasi bukanlah masalah yang sederhana dalam usaha mewujudkan suatu idealisme untuk meningkatkan produktivitas dan profesionalisme kerja. seorang tenaga marketing yang dituntut mempromosikan dan menjual sebuah produk mereka seringkali tidak mengoptimalkan waktu kerja seefektif mungkin. baik dari segi teknis maupun dari segi psikologisnya.

salah satu karakteristik yang perlu dimiliki oleh karyawan yaitu kecerdasan adversity. Seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity rendah dan karenanya tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menelaah lebih mendalam tentang keterkaitan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi . maka dimungkinkan untuk mengatasi hambatan/kesulitan ketika sedang melakukan proses pekerjaan sehingga diharapkan berbagai persoalan yang terjadi diharapkan dapat terselesaikan jika karyawan memiliki kecerdasan adversity yang tinggi.dapat ditimbulkan apabila seseorang mendapatkan imbalan yang baik sehingga mampu meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Stoltz (2005) memaparkan konsep Adversity Quotient/AQ (Kecerdasan Adversity) . Namun selain itu ada hal yang lebih penting yang perlu dimiliki karyawan dalam meningkatkan motivasi berprestasi yaitu memiliki kecerdasan adversity. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity tinggi akan berkembang pesat. potensinya akan tetap kecil untuk meraih sukses. Menurut Kusuma (2004) kecerdasan adversity adalah kemampuan seseorang mengubah hambatan menjadi peluang. Belum banyak penelitian yang banyak mengungkap tentang kecerdasan adversity. Motivasi berprestasi karyawan tidak akan sama antara karyawan yang satu dengan karyawan yang yang lain hal ini dikarenakan karyawan sebagai individu memiliki berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Jika karyawan mempunyai kecerdasan adversity tinggi.

merupakan faktor yang paling penting dalam meraih kesuksesan. Namun. Tenaga tenaga penjual yang optimistis mengalahkan tenaga-tenaga pesimistis tiga kali lipat lebih besar meskipun mereka kurang berbakat. sekaligus ukuran yang bermakna dan merupakan seperangkat instrument yang telah diasah untuk membantu supaya tetap gigih melalui saat-saat yang penuh dengan tantangan. tantangan -tantangan yang ada sekarang membutuhkan lebih dari sekedar gagasan-gagasan baru sehingga akan lebih merangsang pikiran-pikiran yang tangguh dan mampu bersaing. Pada kasus ini. Karyawan yang merespon kesulitan secara destruktif terlihat kurang produktif dibandingkan dengan orang yang tidak destruktif . Pada sebuah studi yang berlangsung selama lima tahun dan melibatkan ribuan agen asuransi. intinya adalah bagaimana seseorang merespon kesulitan. merupakan peramal kesuksesan yang tangguh di banyak bidang. 2000) memperlihatkan bahwa gaya penjelasan atau atribusi. ternyata karyawan yang memiliki gaya penjelasan yang lebih optimistis menjual jauh lebih banyak polis dan jauh lebih lama bertahan di perusahaannya daripada mereka yang pesimistis. AQ akan merangsang untuk memikirkan kembali rumusan keberhasilan yang sekarang ini. Seligman (Stoltz. AQ adalah teori yang ampuh. Pendekatan teoritis adversity quotient (AQ) dikembangkan pertama kali oleh Stoltz (2005) yang menyatakan bahwa IQ dan EQ yang sedang marak dibicarakan itu .

camper. Mereka yang berjiwa climber akan terus maju pantang mundur menghadapi hambatan yang ada di hadapannya. Penelitian Stoltz dibuktikan bahwa orang yang tidak merespon kesulitan . Pengunaan istilah ini berdasarkan pada sebuah kisah ketika para pendaki gunung yang hendak menaklukan puncak Everest. kemudian mereka yang merasa puas berada pada posisi tertentu sebagai camper. Ia melihat ada pendaki yang menyerah sebelum pendakian selesai. Sementara mereka yang berjiwa camper merasa cukup puas berada atau telah mencapai sebuah target tertentu.tidaklah cukup dalam meramalkan kesuksesan orang. meskipun tujuan yang hendak dicapai masih panjang.Teori ini sebenarnya tetap melihat pada motivasi individu. ada yang merasa cukup puas sampai pada ketinggian tertentu. Mereka yang berjiwa quitter cenderung akan mati di tengah jalan ketika pesaingnya terus berlari tanpa henti. Itulah kemudian dia mengistilahkan orang yang berhenti di tengah jalan sebelum usai sebagai quitter. siapa yang akan mempunyai prestasi melebihi harapan kinerja mereka dan siapa yang akan gagal. Stoltz mengelompokkan individu menjadi tiga: quitter. dan ada pula yang benar-benar berkeinginan menaklukan puncak tersebut. Ia anggap itu sebagai sebuah tantangan dan peluang untuk meraih hal yang lebih tinggi yang belum diraih orang lain. dan climber. sedangkan yang terus ingin meraih kesuksesan ia sebut sebagai climber . Stoltz (2005) pada penelitiannya menemukan bahwa adversity quotient meramalkan siapa yang akan mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur.

Endurance (daya tahan). Ownership (kepemilikan). Mereka kenyang digusur-gusur dan diusir dari tempat kontrakan sebalum mengkokohkan jangkar bisnisnya. mereka bangkit dengan mencoba bisnis yang sama. Decak kagum dari masyarakat tentang suksesnya seorang wirausahawan diraih dengan susah payah setelah melewati berbagai kegagalan. memulai usahanya dari gerobak keliling. Sebagai contoh yaitu Soeharti yang memulai jaringan resto ayam goreng kremesnya berwal dari penjual ayam kaki lima. Pak Sholeh juragan soto bangkong. Penelitian di atas dapat dianalogikan dengan motivasi berprestasi. kurang berproduksi dan kinerjanya lebih buruk daripada mereka yang merespon kesulitan dengan baik. 2008) mengatakan 90% pemahaman belajar individu . tinggi rendahnya AQ dipengaruhi oleh beberapa aspek yang disingkat CORE yaitu Control (kontrol). Magnesen (Martin.dengan baik menjual lebih sedikit. 1 dari 5 pebisnis pernah mengalami kegagalan namun yang menarik 60% yang gagal ternyata tidak menyerah. Menurut Stolz (2005). Bob Sadino yang memulai karirnya dengan menjajakan telur ke rumah-rumah sempat mengalami berbagai penolakan. Merekamereka tangguh mengontrol respon dengan menganggap penolakan dan pengusiran dari pelanggan sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan senyuman. bahwa motivasi berprestasi karyawan yang tinggi dapat diperoleh melalui adversity quotient. buklan sebagai hinaan atau kenistaan. begitupun ia mengupayakan berbagai cara untuk dapat diterima. Maka dari itu banyak kegagalan yang dialami oleh para pengusaha menunjukkan hal yang mencengangkan. Reach (jangkauan).

Begitu pula di perusahaan. kecerdasan adversity diharapkan dapat dimiliki karyawan sebagai potensi untuk mengembangkan motivasi berprestasi. namun kenyataannya proses pembelajaran di perusahaan umumnya belum pada tahap bagaimana karyawan memiliki kecerdasan adversity . endurance yang dapat dimanfaatkan karyawan untuk berpikir lebih kreatif. selain itu pula diharapkan karyawan yang memiliki adversity tinggi lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang adversity-nya rendah. Kenyataan yang terjadi pada perusahaan adalah kurangnya perhatian manajemen perusahaan terhadap sisi psikologis karyawan. Harapannya kecerdasan adversity dimiliki karyawan dapat digunakan sebagai potensi untuk meningkatkan motivasi berprestasi. reach. Hal ini karena dalam kecerdasan adversity tedapat aspek control. Padahal adversity memiliki banyak manfaat. misalnya dari kerja sama tim. seringkali perusahaan memperhatikan karyawan dengan menitikberatkan pada aspek—aspek fisik yang nampak saja. seperti dikemukakan Stoltz (2005) bahwa kecerdasan adversity bermanfaat: 1) memberi tahu seseorang seberapa jauh seseorang mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya. absensi/kedisiplinan atau barang -barang yang terjual. kritis dan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang pekerjaan. origin dan ownership. 2) meramalkan .diperoleh dari melakukan sesuatu. serta permasalahan -permasalahan yang terjadi saat bekerja diharapkan dapat dipecahkan.

Bagi pimpinan perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi mengenai . Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. 3) meramalkan siapa yang akan melampaui harapan -harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal. Tingkat kecerdasan adversity dan tingkat motivasi berprestasi karyawan C. 4) meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan. Mengacu dari latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang dimuncu lkan dalam penelitian ini adalah: apakah ada hubungan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi? Mengacu dari rumusan masalah tersebut peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul: Hubungan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi. Hubungan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi 2. karena selain dapat memberikan suatu kontribusi secara teoretis bagi pengembangan ilmu psikologi industri juga dapat memberikan gambaran secara empiris tentang kondisi hubungan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi pada Karyawan. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Berdasar ulasan tersebut maka penelitian tentang hubungan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi peru dilakukan.siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur. Sumbangan efektif kecerdasan adversity terhadap motivasi berprestasi 3. B.

Bagi peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acu an dalam pengembangan penelitian yang sejenis. 2. 3. sehingga dapat dijadikan sebagai acuan membuat kebijakan -kebijakan yang berkaitan dengan kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi kerja karyawan. dan menambah khasanah pengetahuan ilmu psikologi industri khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan adversity dan motivasi berprestasi . Bagi karyawan Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi agar karyawan memahami pentingnya kecerdasan adversity bagi pengembangan motivasi berprestasi.keterkaitan antara kecerdasan adversity dengan motivasi berprestasi .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->