P. 1
kesuburan_tanah

kesuburan_tanah

|Views: 506|Likes:
Published by khiky_chan

More info:

Published by: khiky_chan on Mar 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

Dasar Dasar Ilmu Tanah

Bahan Kuliah Online untuk mahasiswa Fakultas Pertanian, Univ. Sriwijaya Oleh: Dr.Ir.Abdul Madjid,MS Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting

Senin, 2009 Juni 15
Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah

inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007). Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H

H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter).

Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah. 2006). Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Daya simpan air terbatas 7.Dalam pengukuran pH. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap. Fe dan Mn tinggi 3. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro. Zn cukup namun tereluviasi. Kedalaman efektif terbatas 8. Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). 1. 2008). elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Fe. Kejenuhan Al . sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. 2004). Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. 5. Kejenuhan basa rendah . Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut. kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir. Jenis tanah ini . Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. 2007). tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo. Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. pH rendah 2. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut . Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba.

lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci. mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang.04 juta ha). Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid. Irian Jaya (2. K. Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) . seperti pinus. 1. Irian Jaya (7.82 juta ha). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik. dan Riau (2. Kalimantan Barat (1. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Tekstur tanah ultisol bervariasi. Cu. kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe).79 juta ha atau 24. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah.26%. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK .14 juta). tinggi kandungan AL dan Fe. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%).01%.Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl . sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. serta bahan organik. dan 17. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya. Total luas tanah ini sekitar 14. Tanah Oxisols (oxide. Mo.biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. Kalimantan Barat (5. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda.62 juta). mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. .11 juta ha atau 7. suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic. oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara. dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya.27 juta ha). Indralaya.79 juta). misalnya. unsur hara mikro Zn. Seperti halnya Ultisols. Ca.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.06 juta). Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). di Jawa Barat 13.81 juta). Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera. P. Kalimantan Tengah (2. dan Lampung (1.08%. sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah. Tanah di KP.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Kalimantan Tengah (4. Jambi (1.01 juta ha).41 juta). Total luas adalah sekitar 45. dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). dan Mg.71 juta). Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. dan B. Tanah-tanah ini sudah tua. Kayu Agung. Kalimantan dan Jawa. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%).

apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. dipindahkan kebagian lebih dalam.9) di seluruh lapisan tanah. pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya. Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. cenderung menaik kelapisan bawah. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. 2006). Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2. ii. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Di silawesi tengah. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah.42 juta dan kalimantan Timur 0. Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan . apabila kelas besar butirnya berlempung kasar. Apabila kelas besar butirnya berpasir. suatu spodosol umum. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. Sebagian dari mereka adalah orthod. sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. dan. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi.15 juta ha. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. Sebagian besar mineral. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.16 juta ha atau 1. skeletal berlempung. Pada permukaan tanah.1 % wilayah dataran indonesia. iv. tengah. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). dari permukaan tanah. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa.3 – 4.kemasaman tinggi akan terbentuk.51 juta ha. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. atau lebih halus atau <200 cm. kemudian dikalimantan barat 0. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. terdapat di kalimantan tengah. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Terletak langsung dibawah horizon albik. Akan tetapi beberapa adalah aquod. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm. tanah diklasifikasi sebagai spodosol. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. iii. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam.

sehingga menambah biaya produksi.2 cmol (+)/kg tanah). Entisols. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. dan Ultisols. Misalnya. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. dan (2) tempat akar berjangkar. berwarna putih dan putih kekelabuan. eksploitasi deposit bahan tambang. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah.2-1. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. kekurangan air. Gelisols. Gelisols. bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. serta kebakaran. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. w). selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. KB semuanya sangat rendah sampai. o. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. Inceptisols. Histosols. b. deforestasi dan degradasi hutan. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0.2. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. tanah mempunyai dua fungsi. Dengan demikian. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida).1 – 9. Entisols. Histosols. bahkan hilang. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. sehingga terjadi kerusakan ekosistem. kimia. Selain itu. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika.5)%. bahan induk yang keras dan asam. Spodosols. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. 2006) 1. pengaruh salinisasi/penggaraman. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. Ultisol. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman.dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Misalnya. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. Oxisols. tergenang dan akumulasi bahan gambut. Mollisols. Inceptisols.2 – 0. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). r. suhu yang dingin/membeku. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. Andisols. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0.95) %. Aridisols. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. sangat rendah sampai rendah. .

menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai.Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik.5 % / tahun. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Oleh karena itu. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman. Sedangkan dari laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. dan pertanian modren yang tergantung . Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. pemadatan. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008).

udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. tumbuhan dan hewan). Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). hewan. manusia (tenaga. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen.dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam.(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis.. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. tanah. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . tanah. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . mantap secara ekologis. dll. air. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. pestisida. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi . limbah. air. air. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. pengelolaan air dan pengendalian erosi. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. khususnya melalui penambatan Nitrogen. Bahan-bahan yang digunakan: sampah. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. Pendauran hara di dalam petak pertanaman. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. zat pengatur tumbuh). iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). hewan.3. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung . kompos. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. 1.

kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. misalnya. Dalam kaitannya dengan tanaman. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. sedangkan karet. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. maka temperatur semakin menurun. suhu. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. sawit. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. seperti respon terhadap pemupukan. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Semakin tinggi tempat. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. Sedangkan tanaman karet. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut.2003). dan kelembaban. Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut.3 C (0. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Tanaman kina dan kopi.di lapangan. yaitu topografi. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. tanah dan iklim. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Secara manual biasanya dicatat . Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. oksigen. 1976).). tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO.01 x elevasi dalam meter x 0. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung.

terutama untuk padi. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda. dan seterusnya. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). D dan E). Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. lempung. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. lempung liat berdebu. B. liat berdebu. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). bahaya erosi. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. KTK). sedangkan kelas 5. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. tekstur. Karakteristik Kelas Drainase Tanah . Ketebalan gambut. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. Agak halus (ah) : Lempung berliat. debu. liat. drainase tanah. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. misalnya setiap menit. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. lempung liat berpasir. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. C. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. setiap jam. dan banjir/genangan. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Kasar (k) : Pasir. debu dan liat. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. pasir berlempung.besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. lempungberdebu.

Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm.1. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. 2. 6. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. 4. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 5. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah sampai ke permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. 3. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lembab. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. tanah basah dekat permukaan. 7. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. Sangat terhambat (very poorly drained): .

Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. (2) Kesuburan Tanah. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang lebih tinggi. 2009. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Program Pascasarjana. Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang. Program Pascasarjana. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. R. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan.com. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. dan erosi parit (gully erosion).blogspot. Palembang. Indonesia. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). . Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. Program Magister (S2). erosi alur (rill erosion). Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Palembang. Ir. Diposkan oleh Dr. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Propinsi Sumatera Selatan. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. A. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. (3) Teknologi Pupuk Hayati. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman.

berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). dan B. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Ca. Tekstur tanah ultisol bervariasi.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al.(Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro.. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. Ca. Tanah di KP. Fe. Indralaya. dan/atau Fe. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. P. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. mengandung Al. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) . dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. dan atau Mg dan Mo . Mg sangat rendah. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. unsur hara mikro Zn. 1990). bahan organik. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. Ca.26% di Jawa Barat 13. P. P. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. P.01%. 1. batuan induk granit. KPK rendah. P. keracunan Al. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). Cu. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. Fe. 2003). aras N. Ca.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. 1993). dan pemupukan N. serta bahan organik . dan 17. K. Mo. Kayu Agung. permeabilitas rendah. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun). abu vulkan atau andesit . bereaksi masam. pH rendah. struktur gumpal. Pemberian bahan ameliorasi kapur. dan Mg. 1993). Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman.08%. stabilitas agregat baik. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. misalnya. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. Mn. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. dan Mg. K.

pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi .. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. secara teknis. 2004.tanah Podsolik juga rendah. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. 2005). peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya.6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya. Sulawesi. bergelombang hingga bergunung. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. Namun demikian. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. 2007). kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. Ditinjau dari luasnya. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas.et al. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. kandungan bahan organik yang memadai. Di samping itu. 1994). tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. Sumatera. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. Hidayat dan Mulyani. 2006). tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. Oleh karena itu. Papua. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). Maluku.

Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam.secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. 1997). Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. 1997). Muljadi et al. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. Kandungan bahan organik. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung.5. gibbsite dan pseudoboehmite. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. yaitu sekitar 4. mampu menjerap P. hara kalium yang .. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. 2000). perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat.1-5. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. 1997). Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah.

Indonesia.blogspot. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2).2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.2). Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Propinsi Sumatera Selatan. A. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. (2) Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III.com. Diposkan oleh Dr. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. R. . Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang. 2009. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. 1976). Abdul Madjid. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol.

Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. berat basah akar. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. baik kalsit maupun dolomit. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Ca dan Mg. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat . P tersedia dan P total yang sangat rendah. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. berat basah trubus. semakin tinggi takaran P-alam. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. Secara umum. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. berat kering trubus. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Peningkatan takaran P. semakin tinggi pula nilai pH tanah. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. berat kering akar.Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. luas daun serta kadar P trubus. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. N sangat rendah.

Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. glutamat. Mg2+. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. KTK rendah dan tekstur silt loam . P tersedia. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. KTK . malat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Ca tertukar rendah. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. pH meningkat ke arah netral. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol.3881 ppm dan 280. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. diantaranya asam sitrat. kadar N total rendah. Mg dan K tertukar rendah . oksalat. 34% dan 48% . kadar P tersedia sangat rendah. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. suksinat. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. glioksilat. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. laktat. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah.15 g tanaman-1.fisik dan kimia tanah. fumarat. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Fe2+. kadar bahan organik rendah sampai sedang. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.

2009.75%. berat daun segar 4 tanaman per pot. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.com.63%. 208. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Abdul Madjid.dibandingkan dengan kontrol.81%. 203. maka pH tanah pun semakin meningkat. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. dan 606. dan 61. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. kascing. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 903. Megaterium sebagai inokulan padat. Klebsiella aerogenes. http://dasar2ilmutanah.67%. R. Diposkan oleh Dr.48 g. (2) Kesuburan Tanah. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 575. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. 207.30%. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Klebsiella aerogenes.67%. Chromobacterium lividum dan B. 354. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). (3) Teknologi Pupuk Hayati. Chromobacterium lividum.22 g.42 g atau ada kenaikan 877. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. 217. Ir. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. 930. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. dan B.blogspot. A.

Indonesia. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Propinsi Sumatera Selatan. misalnya . Program Magister (S2). bahan tanaman dan limbah. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan.1. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. 2. Program Pascasarjana. dapat menambah unsur hara dalam tanah . plastisitas dan daya pegang air. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Propinsi Sumatera Selatan. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. mempertahankan kelengasan tanah . Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. Program Studi Ilmu Tanaman. total ruang pori. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. semak . hijauan tanaman rerumputan. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. Palembang. Program Magister (S2).perdu dan pohon. pupuk kandang. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Indonesia. 3. bobot volume. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan . Palembang. Ketersediaan unsur hara lambat. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Kandungan hara rendah. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. Universitas Sriwijaya. Palembang. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas.

tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung .03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. . Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin.2007). Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . dan K. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. TSP 100 kg / ha. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. KCI 50 kg / ha. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. 100 kg / ha Urea. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. P. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji.pupuk kandang . Pengapuran mungkin diperlukan. 2003). Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. 100 kg TSP. Seperti halnya pupuk organik. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. 2005).

Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al , 2006). 4.2. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al, meningkatkan ketersediaan P, meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 , seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur, walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH- membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32- yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4,6 menjadi 5,8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah, tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah, yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah, maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat, tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi,1993). 4.3. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. Penyedia hara 2. Peningkat ketersediaan hara 3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Pemantap agregat tanah 6. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium, Azospirillum dan Azootobacter, Mikoriza, Bakteri pelarut fosfat, bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa

pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman, lingkungan edapik, maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto, 2002). Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini, 2003). Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam, yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST, berat basah trubus, berat kering trubus, berat basah akar, berat kering akar, luas daun serta kadar P trubus. Pemberian BPF P. putida sama baiknya dengan P. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Untuk meningkatkan berat basah, berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. putida. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen, dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah, 2007). Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto, 2002). Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung, cantel, padi, bawang putih, tomat, terong dan kubis. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama, maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung, gandum dan cantel (Sutanto, 2002). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti

dapat menjalankan fungsi ekologis, merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N, mikroba pelarut fosfat, dan cendawan mikoriza arbuskula. Bakteri penambat N2. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar, bersimbiose dengan tanaman legum, dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. Oleh karena itu, budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. Namun, perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik, artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Oleh karena itu, penggunaan Rhizobium sp. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter, Azospirillum, dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi, jagung, dan sorgum. Mikroba pelarut fosfat. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah, sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Kemampuan asosiasi tanaman- CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering, perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun, dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara, terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P, Zn, dan Cu, disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah, melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar), kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar, dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA,umumnya dari spesies Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora. 4.4. Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam, ketersediaan hara rendah, bahan organik tanah rendah, dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan

(2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. guludan dibuat miring terhadap kontur. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. (3) meningkatkan laju infiltrasi. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. lahan tegalan. 2006). miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. dan berbagai sistem wanatani. terutama tanaman tahunan. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase.tinggi. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung . Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. Pada usahatani lahan kering. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%.

Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. c. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. 1984). Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Menambah tanaman penguat teras. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Di Filipina. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. gamal. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . kemiringan lahan. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua.yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung.jagung + kacang tanah. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. kaliandra. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. Mempunyai sistem perakaran intensif. Efektivitas . Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. akasia. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. mudah dilaksanakan. Selain itu. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Pada musim pertama di awal musim hujan. b. murah dan dapat diterima oleh petani. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. rumput gajah dan rumput benggala. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa.. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: a. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. sehingga mampu mengikat air.

Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. 2009.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Diposkan oleh Dr.13 dan 0. A. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. mempengaruhi distribusi air.pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Ir. R. Selain efektif mengendalikan erosi. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. (2) Kesuburan Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Hasil penelitian Agas et al.16 . Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah .blogspot. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. (3) Teknologi Pupuk Hayati.Contoh kondisi pertanaman alley cropping.com. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. 0. Transmisivitas air menurun dari 0. MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) . tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. http://dasar2ilmutanah.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. tengah dan atas dari lorong. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin.08 m3 masing-masing pada bagin bawah.

P.wordpress.M. dan/atau Fe. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. pengapuran. Arief. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. oxisols dan spodosol serta inseptisol . (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Puslitbang Tanaman Pangan. Indonesia. 1665-1675. Program Studi Ilmu Tanaman. Ca. Palembang. keracunan Al. dan atau Mg dan Mo 3. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Geografi tanah Indonesia. Hal.Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.com (diakses Mei 2009) . Arief. 2008. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. A. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. 1997. Indonesia. Palembang. Setyati. 2006. Kesimpulan 1.files. Universitas Jember Jurusan FMIPA . Program Magister (S2). Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. 2. feiraz. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . Universitas Sriwijaya. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Mn. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. Dan Irman. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.S.D dan Mujib. Indonesia. Palembang. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Balitbangtan Deptan. Program Studi Ilmu Tanaman.

Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Puslitbangtan. Hanafiah.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung.K. Mitriani dan Barchia F. Edisi 2. H. 1993. Hiatan06.I dan Sopandie. 2007. 8(2): 52-55. bebasbanjir2025. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Hasanudin. A. Muchtar. Mardinus dan H.files.Y.id (diakses 8 April 2009). pp 8-35. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan.2007. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Raja Gravindo Persada.E. 7(2):94-103. Jurnal Akta Agrosia . 5(2): 83-89.2009. Mulyani. Lahan Kering untuk Pertanian. G. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. 4(2) : 97-103. 2005.go. 2006.. Syed Oman. http://warintek.Ganggo.bantul.Hairiyah. Dan A. Akademika Pressindo.D. Shamshuddin & S. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Hasanudin. Pembentukan dan Profil Tanah.YH. Ismail. azotobacter dan bahan organic pada ultisol.wordpress. 2007.wordpress. Jakarta. Hidayat... Pustaka Adipura.B.2004. Jurnal Akta Agrosia .Universitas Bengkulu.com (diakses Mei 2009) Bertam. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. 1993. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and .J. Dinas Pertanian Jember. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. 1656-1664. Kusuma. Handayanto. Himatan. N. Departemen Pertanian. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Deptan.C. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda.files.Anonimous. Ismail. Hal. Hasanudin.Mansur. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia.2007. J. 2005.AK.Jakarta .Setiadi. 273 p. S. Budidaya Tanaman Jagung. 2005. Edisi khusus No 1: 1-4.. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Barus. Hakim. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. 2003.com (di akses Mei 2009). Hardjowigeno. 1997. Badan Litbang Pertanian. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.R. pp 139165.Budidaya Lorong. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.

ES.. Darmawan.O. Pengapuran Tanah Pertanian. Tahun II No. S.2002.. Nanan. 2005..2003. Sutisni dan I P. 1994. S. B.6. Notohadiprawiro.) Aciar Monograph 13: 62-68. Universitas Lampung 17-18 November 2008. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". M. NA. H. 1996. 2006.G.. kalsit dan dolomite..2002. Penerapan Pertanian Organik . Mayadewi. .. Buletin Pusat Penelitian Marihat . Nursyamsi.M. Rachman S. Noor A. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Kuswandi. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis. Sutanto. Nursyamsi.Edisi 3 . 1990. Dalam Jurnal Tanah Tropika.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. Hal. Joy. 2007.R. Notohadiprawiro. Kanisus Jakarta.T.. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Kanisus Jakarta.Edisi 1. . Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience. Croswell & E. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. D.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak.Bogor. Prihartin. Pp 177-184. Subandi. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering.2. Al-dd. Ultisol.Edisi 3. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. 6(2) : 71-81. 2006. 28(4): 163-169. 1993. T. 2008. Pengendalian Erosi Tanah. 2006. Plant & Soil 151: 55. Jurnal Agritrop. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.Bogor Partohardjono.A.T. 2003. Perbedaan respon keterkaitan pH. 2006. Rahim.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E.G. 31 (3): 100-106. Junedi. 1676-1686.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Adnyana dan D. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Buletin Agronomi. Deptan.Oxisol for Corn Growth. Kanisus Yogyakarta.pp 91-106. M. Bumi Aksara Jakarta.No. Puslitbangtan Deptan. D.65. Pandang.Penerapan Pertanian Organik. Pusparajah (Eds. Hal 143-182. Widjaja-Adhi. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Puslitbangtan. Ismail. 1997. I. Edisi 5. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.S.dan Subandi.

Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.2006.G.Universitas Padjajaran. 7(1):1014.. Jurnal Nature Indonesia. Prahoro. 2005.Solihin.) di Tanah Marginal. 2003.Biodiversitas. UGM. Edisi 4. Siswanto. dan A. Hal. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Wulandari.2(5) : 23 – 43. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. 2006.A. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam.Manshuri. Ilmu Kesuburan Tanah.S. S. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Taufiq. dan C. Reaksi Tanah .B. Yogyakarta.MA dan Rosniawati. Suharta.Pupuk Hayati . A. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Faperta IPB. Bogor. Kuntyastuti. 1994. N. 2007. Wild.Yogyakarta. 4(1) : 1-5. 2001. pp 23 -32. 2008. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. Widawati. S dan Suliasih . J. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) .NW.Jurnal Hijau. Subagyo. H. 2000. Abdul Madjid. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. Suryantini. N. The retention of phosphate by soils. H. Diposkan oleh Dr. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Soil Sci.. 2000. Sunaryo dan Suryono. Sudaryono.R. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. Sudirja. Yulianti. Ir. N.A.Agrosains 2(2):54-58. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Triwardani. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 2008. Bogor. 1: 221-238 Yuwono. 2007. Subandi. 1950.Sinukaban.

tekstur debu lempung. Sumatera. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Palembang.5 m. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Indonesia. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. tidak berstruktur. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. warna coklat hingga kehitaman.480 ribu hektar.61 juta ha. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. Propinsi Sumatera Selatan. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Program Magister (S2). ketebalan lebih dari 0.70 juta hektar dan 1. Indonesia. Universitas Sriwijaya.Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Papua serta beberapa pulau Kecil. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 2001). Universitas Sriwijaya. 2006). 1997). konsistensi tidak lekat-agak lekat.48 juta hektar. diikuti oleh Kalimantan Tengah. Propinsi Sumatera Selatan.16 juta hektar. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. Program Magister (S2). 1. Palembang. Palembang. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Program Pascasarjana. . Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Program Pascasarjana.

(2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Tanah gambut terdapat di cekungan. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O . misalnya pada cekungan atau depresi. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan.1 g ml-1. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. dalam keadaan yang selalu tergenang. 1996). Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno.Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Di alam. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara.1 g ml-1 atau lebih. (b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus.1990): 1. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.

Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. hampir tidak berserabut. dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. berat jenisnya besar dari 0. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering.5 – 16 meter. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. Menurut Everret (1983).05-0. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. bergantung pada tahapan dekomposisinya. bobot isi rendah (0.%) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. bersifat sangat . 2000). tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. 1996).1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Berdasarkan penyebaran topografinya. Fibreists. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. Hemists.4 g cm-3). Saprists. mempunyai ketebalan 0. 2. • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. hampir selalu tergenang air. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan.

dan c.100 cm. Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Lahan gambut dalam. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). Pasalnya. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Jawa Barat). Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. Menurut pengamatan di lapangan. Rawa Lakbok (Ciamis. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi.200 cm 3. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi.asam. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Lahan gambut sedang. di kawasan hutan gambut tropika. ketebalan 0. 2. Lahan gambut dangkal. Dalam kondisi alami.300 cm 4. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . berasal dari sisa tumbuhan rawa. Lahan gambut sangat dalam. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. emisi . Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. yaitu: 1. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. bersifat agak asam. Dengan demikian. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. dan Segara Anakan (Cilacap. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Jawa Tengah). Berdasarkan kedalamnya. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 .5 – 6 meter. b. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa.

Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. kalsium (Ca). Menurut Subagyo et al.195 g cm-3. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). Berdasarkan status hara. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. (1996). dan oligotropik menurut Fleischer . kalium (K). mesotropik. Tabel 1. agak dalam (100-200 cm). fosfor (P). Kriteria kimia gambut eutropik. Fleisher (1965. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. pengelolaan air. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. pasir kuarsa. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). yaitu dangkal (50-100 cm). kandungan basa sedang). atau endapan liat nonmarin. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin.075 sampai 0. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. reaksi gambut netral atau alkalin). Subagyo et al. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume.195 g cm-3.karbon. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. oligotrofik (kandungan mineral.

. pH lebih dari 5. Indonesia. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang. (2) Kesuburan Tanah.05 CaO 4. 2009.blogspot. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (2) sedang. Propinsi Sumatera Selatan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Menurut Halim dan Soepardi (1987). R. Palembang.Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. Propinsi Sumatera Selatan.com. Program Pascasarjana. A. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi.00 1.10 0.00 5. pH berkisar antara 4 sampai 5.00 0. Ir. Universitas Sriwijaya. pH kurang dari 4.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Indonesia.50 2. Program Magister (S2). MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.25 0. Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air.80 0. (3) rendah.03 P2O5 0. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.20 0.00 2.00 0. banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi.10 0. Abdul Madjid. Diposkan oleh Dr.25 Abu 10. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.

dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan . Palembang. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. lapisan bawah. kerapatan lindak. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. Program Magister (S2). Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. bahan mineral. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. 1988). Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. irreversible dan subsiden. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse.*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. air dan udara. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. A. 1988). (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Permasalahan Pada Tanah Gambut Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Indonesia. dalam keadaan tergenang. kering tidak balik. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse.

Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali. Harjowigeno. dan sekitar 0. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi.2 gr/cc pada gambut halus. daya memegang air tinggi. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1. kearah kubah gambut akan menebal. Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir.000 % bobot. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. 1996). namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. 1991). Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut.2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. 2001). namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. demikianpula pada daerah rasau Jaya. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. 1988. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat . akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. 1996). Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. jika lapisan gambut terkikis.1 gr/cc untuk gambut kasar. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2).organik kasar kurang dari 1/3. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot.

jalan. Karenanya. 3.dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman.8 cm/bulan. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. saluran drainase) terganggu atau ambles. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm). dan konstruksi bangunan (jembatan. jalan sulit dilalui kendaraan. pupuk kandang.05-0. tanah mineral. kompos. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. dan abu. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah. penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. Sebagai akibatnya. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. rendahnya bulk density (0. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. 1986). akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur .3-0. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. 2000) Sebagai contoh di Malaysia. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. . Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. Semakin tebal gambut.4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. pohon rebah. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al.

Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. 1988). KTK tanah gambut di . biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. dalam Mutalib et al. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman.3 (Andriesse. Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. 1996. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut. Bo dan Mo. Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. K. Ca. Unsur hara Cu. dan Mg menjadi sangat rendah. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. P. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). 1999). Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin.1986. 1991). Mg. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. 2001). Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik). Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. Hardjowigeno. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. 1996). 1988). Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. 1986. Ca. Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat.B. dan Sagiman.

Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. Hasil penelitian Mawardi et al. 1996). Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. Selain itu. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. yaitu antara 35. 1995). dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot.dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. Dalam era lingkungan dan globalisasi.1 sampai 65. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. kalium. dan natrium. menetralkan Al. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH. . selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. (Prasetyo. magnesium. (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. kesuburan sedang jika KBnya berkisar antara 50% sampai 80%.1997). juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. 1993). Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. meningkatkan pH. Menurut Sastrosupadi et al. orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi.6 cmol kg-1 tanah.

Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. 1978). dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi.Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. besi. Sifat Biologi . Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. dan akuakultur. 1974). Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). dibagian 80 cm teratas profil tanah. yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan Soepraptohardjo. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. media pembibitan. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih. termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Gambut mempunyai sifat khas. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. aluminum dalam larut tanah. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C.. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. C. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. 1997).

bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. kemasaman tanah tinggi.Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida. D. japonicum ). namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. et a1. Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. 1991). Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. 1999). hemisellulosa. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. Yusuf. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. 1977). dan protein. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. 1998. et a1. Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. serta sekaligus . • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. 2005). 1997). Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya.

Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. tapi juga tidak tergenang di musim hujan. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. dengan tujuan: 1. sebagai sarana transportasi hasil panen. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan.mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. 1. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. 3. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). 2. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Sistem parit/handil di tepi sungai . baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap).Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang.

Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. Sistem parit/handil dicirikan oleh: 1. 4. telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. 2. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas. 2. juga dapat dibuat pondok-pondok. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. 6. Di atas pematang ini. 5. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut.Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. tetapi sewaktu surut. yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. 7. 3. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. air akan tertahan di dalam parit- . karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir.5 . maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Untuk mengatur air pasang surut. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit.

6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. telah membakar sekitar 1. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. 1998). apakah untuk sawah. 2002). Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. 2002).. surjan atau lahan kering. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978..000 ha di Kalimantan. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3.5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. 1996). E. apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. 2000.parit petakan lahan. karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. Parish. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun. Meskipun . terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. 2002). Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. termasuk 750. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al.

kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. 2002. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. 2005).29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). Siegert et al. 2002) dan di Sumatra (Sanders. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar.4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Di samping itu. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm.83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan.demikian. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al. piknik dan perburuan. Dalam skala besar. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut).. Page et al. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. Hanya saja jika tidak terkendali. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. 2000). kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. Musa & Parlan. Di kawasan bergambut. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. Pada tipe yang pertama ini.. 2000. 2002). persiapan lahan oleh petani. . kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. 2000. 2002). Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al.

2000). Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. dan 202. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. • Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung . Selain itu.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut).800 asma. dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi.. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih.Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. gangguan atas dinamika flora dan fauna. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. kehilangan potensi ekonomi.2–0. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara. 2002).. 8. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan. ibu hamil dan anak balita.446.095 bronkitis.6 Gt C. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page. dan 1. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. 41. lanjut usia. 2002). 58. Selain itu.761 kasus ISPA. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0.145 bronkitis. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. cara penanganannya pun berbeda. 298.125 asma. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. stabilitas lingkungan. karena kehilangan lapisan gambut.

dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. 2. serba-cakup (comprehensive). Selain itu. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing).kemampuan untuk memulihkan. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. pemberian ijin bagi kegiatan. • Pencegahan kebakaran Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing). Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. Pengembangan sistem penegakan hukum. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). hingga pemantauan dan evaluasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. . 4. 5. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. 6. 3. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. perencanaan tata guna hutan/lahan. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian. dan terpadu.

Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah . (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi.7. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). • Pengendalian kebakaran Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. kesiagaan. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. dan pemadaman api. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran.

Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. harus dihindari/dilarang. Indonesia. Diposkan oleh Dr. . http://dasar2ilmutanah. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. A. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.digali hingga batas api di bawah permukaan. (2) Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang.com. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 3) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Program Magister (S2).blogspot. apalagi yang masih berhutan. Universitas Sriwijaya. R. Palembang. Abdul Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. 2002). Ir.

1996). Diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian. Kalimantan. tentang budidaya tanaman padi gogo di lahan gambut telah dilakukan. Bahkan dari data yang telah dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat tahun 2002. Mikroba. Kendala utama dalam meningkatkan produksi padi gogo adalah rendahnya kesuburan tanah dan juga kandungan bahan organik dalam tanah. Zn. Indonesia. Kendala yang dihadapi untuk meningkatkan produksi jagung di antaranya persaingan lahan dan tanaman padi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi. Mg. 1997. Program Studi Ilmu Tanaman. Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra. Penerapan paket teknologi Tampurin yang merupakan singkatan dari Tata Air. Untuk itu perlu lahan altematif yang potensial seperti lahan gambut untuk budidaya tanaman jagung.000 ha.*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. K. Pupuk yang seimbang dan kapur serta proses inkubasi bahan amelioran (IPPTP. Hasil-Hasil Penelitian Tentang Tanah Gambut Dari luasan total lahan gambut di dunia sebesar 423.000 ha terdapat di wilayah tropika.0 . Penelitian Widodo ( 2004). Karena wataknya yang sangat rapuh. Ca. Altematif untuk mengatasi kendala pada tanah gambut untuk tanaman padi gogo dilakukan dengan memberikan pupuk urea dan . setelah Kanada.3 17. Program Pascasarjana. Namur demikian lahan gambut masih memberikan harapan untuk dijadikan lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang sesuai seperti paket teknologi tampurin. luasan lahan gambut di Indonesia cenderung mengalami penurunan. Dari itu semua dan dari banyak publikasi yang telah dirilis baik melalui pertemuan ilmiah maupun laporan ilmiah. Dengan penelitian mampu meningkatkan produksi tanaman jagung hingga mampu meningkatkan pendapatan petani (Gonggo et al. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 1997). kandungan dan ketersediaan unsur N. dan penambangan (Rieley et al. penelitian tentang pemanfaatan tanah gambut untuk lahan pertanian dan perkebunan telah banyak dilakukan diantaranya: Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. B. 2005). luasan lahan gambut di Indonesia hanya tersisa 13. diperkirakan yang masih tersisa tidak lebih dari 17 juta hektar (Kurnain. Universitas Sriwijaya. kehutanan. Tanah gambut merupakan tanah marjinal yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3. 2004). P.266 juta hektar tahun 1997.825. sebanyak 38. Widarjanto. Program Magister (S2).203 juta hektar dari 16. Palembang. dan Papua. Propinsi Sumatera Selatan. Uni Soviet.0). dan Amerika Serikat.5. sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia.

3.24 ton/ha dalam satu tahunnya. Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang tanaman 135. Dari pembukaan lahan yang telah dilakukan pada tanah gambut untuk tanaman kepada sawit mampu memproduksi kelapa sawit sebesar 12 . Abu serbuk gergaji dan pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot buah per tanaman. 2. (hukmas dj bun).59. Ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit: (2.0 cm dan 1166. bobot pupus 10.kombinasi media tanam. Pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif. 1. .62 g. demikian juga interaksi antara ukuran urea dan media tanam tidak terjadi. masing-masing 149. lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria: 1.0 g per tanaman (Asie E R. 5. Pada perlakuan media tanam memberikan beda nyata pada peubah jumlah dawn. 4. Tingkat kematangan gambut Areal gambut yang boleh digunakan adalah gambut matang (saprik) dan gambut setengah matang (hemik) sedangkan gambut mentah dilarang untuk pengembangan budidaya kelapa sawit. Penelitian tentang tanaman perkebunan juga dilakukan pada tanah gambut.7 g per tanaman. bobot bulir berms 12. bobot bulir bemas dan indeks panen dan nilai tertinggi untuk peubah: jumlah dawn: 45. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22. Berada pada kawasan budidaya Kawasan budidaya dimaksud dapat berasal dari kawasan hutan yang telah dilepas dan/atau areal penggunaan lain (APL) untuk usaha budidaya kelapa sawit. dan indeks panen 1. Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini. jumlah malai 7.19.110/2/2009 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit. jumlah malai.2) proporsi lahan dengan ketebalan gambutnya kurang dari 3 (tiga) meter minimal 70% (tujuh puluh prosen) dari luas areal yang diusahakan. 2.12. Tingkat kesuburan tanah Tingkat kesuburan tanah dalam kategori eutropik. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.3 cm dan bobot buah 1530. yaitu tingkat kesuburan gambut dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya kelapa sawit sebagai pengaruh luapan air sungai dan/atau pasang surut air laut. 2003). Lapisan tanah mineral di bawah gambut Substratum menentukan kemampuan lahan gambut sebagai media tumbuh tanaman.5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1. dan (2.53. Lapisan tersebut tidak boleh terdiri atas pasir kuarsa dan tanah sulfat masam. bobot pupus. yaitu sistem budidaya yang menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Ukuran urea tidak memberikan perbedaan yang nyata pada peubah yang diamati.1) dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari 3 (tiga) meter.

32.5 ton/ha dan padi lokal rata-rata 1. Dari sistem usahatani berbasis padi di Desa Petak Batuah Kecamatan Kapuas Murung wilayah UPT Dadahup A 2 Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi sebesar 47% terhadap pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 9. pare dan cabai Rawit (varietas Tiung). pare dan gambas cukup efisien diusahakan di lahan gambut.22.270. gambas.3 ton/ha dengan kisaran 2 – 2.674 per tahun. Pengembalian tenaga kerja pada usahatani padi unggul lebih tinggi sebesar 28. namun demikian semua jenis sayuran yang diusahakan cukup layak untuk dikembangkan karena R/C > 1.314. Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa sayuran cabai rawit.38 dan padi unggul 1. Hasil dari pelaksanaan demplot oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa sayuran tomat dan bawang daun cukup menguntungkan untuk diusahakan di lahan gambut dengan nilai R/C masing-masing 3. Nilai keuntungan dari padi lokal sebesar Rp 1. sementara pada usahatani padi lokal umumnya petani melakukan secara manual yaitu tebas-angkut (Riza AR. 2006) Sistem usahatani berbasis padi dapat dilihat dari besarnya kontribusi usahatani tani dalam menyumbang pendapatan rumah tangga petani. hal tersebut bisa dikurangi dalam arti . Akan tetapi.8 ton/ha dengan kisaran 1.000/ha sementara pada padi unggul sebesar Rp 1. 2006). Hasil penelitian Noorginayuwati et al.. namun tidak sedikit petani yang menjual ke pasar desa. konsep pertanian berkelanjutan pada lahan gambut sebenarnya bukan merupakan istilah yang tepat dikarenakan adanya daya menyusut dan adanya subsidence selama penggunaannya untuk usaha pertanian.• Analisis Usahatani Komoditas Di Lahan Gambut Padi Produksi rata-rata padi unggul 2. 2006) Demikian juga dengan tanaman sayuran yang diusahakan di lahan gambut Desa Siantan Hulu Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas bawang daun memiliki R/C tertinggi (3. Sayuran Sayuran yang diusahakan petani adalah kacang panjang. (Noorginayuwati et al. Dalam istilah yang tepat. Secara ekonomi pengusahaan padi dilahan gambut cukup menguntungkan.per tahun (Riza AR.4 ton/ha.5 – 2.144.7% dibanding padi lokal. hal ini karena tenaga kerja yang digunakan pada padi unggul lebih sedikit atau pada kegiatan pengolahan tanah menggunakan handtraktor.214. (Riza AR.36) dibanding sayuran lainnya. 2006) Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan gambut menunjukkan bahwa kontribusi sayuran cukup besar terhadap pendapatan total rumah tangga petani.743/ha. Hal ini diikuti pula dengan nilai R/C yaitu pada usahatani padi lokal sebesar 1.516.37 dan 2. Sayuran umumnya untuk konsumsi rumah tangga. (2006) menunjukkan bahwa kontribusi sayuran sebesar 39 % terhadap pendapatan total rumah tangga petani sebesar Rp 8.

Kerugian • Biaya pembuatan surjan maha dan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ker • Diperlukan pengaturan/ pengawasan air yang lebih ba • Lapisan gambut akan lebih cepat dangkal karena sering diolah. Penggunaan sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan den kondisi gambut <> dapat dilakukan pada lahan gambut dangkal yang marginal . Keuntungan dan Kerugian Sistem Surjan Keuntungan • Dapat menanam aneka ragam jenis tanaman dengan umur panen yang berbedasehingga pendapatan petani dapat berlanjut • Pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih mudah • Memperkecil resiko kegagalan panen karena jenis tanaman yang ditanam berma macam • Dapat ditanami padi sawah sebanyak 2 kali musim tanam. Namun yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah penerapan pola tanam tumpang (multicroping) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. da (2) Lahan guludan/tembokan/baluran sebagai lahan kering (digunakan untuk budidaya palawija. karena pada lahan tersebut akan tersedia dua tatanan lahan. Tahapan-tahapan P embuatan Surjan Pemilihan lokas Identifikasi terlebih dahulu loka dan karakteristik lahan yang ak digunakan menjadi lahan pertanian dengan sistem surjan apakah layak secara fisik dan memenuhi nilai-nilai sosial ekonomi. Dengan penerapan sistem surjan. yaitu: ( 1) Lahan tabukan yang tergenang (digunakan untuk menanam padi atau digabungkan dengan budidaya ikan/minapadi) . sehingga menimbulkan lapisan pirit yang dapat meracuni tanaman. tanah dan tanaman. buahbuahan. maka perlu dilakukan pemilihan jen tanaman yang tepat (misal jen tanaman tahunan atau hortikultura tertentu yang tidak memerlukan pengolaha tanah secara intensif). maka lahan akan menjadi lebih produktif . tanaman tahunan/perkebunan). . Untuk mengatasi hal demikian.memperpanjang ‘life span’ dengan meminimalkan tingkat subsidence dengan cara mengadopsi beberapa strategi pengelolaan yang benar mengenai air. Hal ini misalnya terlihat dari adanya pola suksesi dari pertanaman padi menjadi tanaman perkebuna kelapa atau kebun karet atau pohon buah-buahan dan perikanan.

Kedalaman dan kematangan gambut Tanah gambut yang baik untuk usaha pertanian adalah lahan bergambut (<0. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. pengeringan dan pematangan tanah. (2) Kesuburan Tanah. Hutan setelah dibuka harus dibiarkan selama du tahun untuk proses pencucian. terutama pada lahan yang telah lama ditinggalkan (seperti semak belukar) memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga ke lebih banyak daripada lahan yang seri dikerjakan sebagai lahan usaha. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Ir. Kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi Lahan berhutan akan lebih sulit untuk diolah dibandingkan denga lahan yang sudah terbuka atau semak belukar .com. 2009. http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr. R. kedalaman dan kematangan gambut. sehingga pola surjan ya akan dibangun harus pula memperhatikan aspek muka air tanah untuk kelangsungan hidup jenis-jenis tanaman yang akan ditanam diatasnya. Pembuatan surjan Menata/mengolah lahan dengan sistem surjan. beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi. Jenis-jeni tanaman yang berbeda memiliki toleransi yang berbeda pula terhadap tinggi muka air tanah dan genangan (lihat Tabel 1). A.Dalam kegiatan ini. serta kedalaman permukaan air tanah.blogspot.5> Kedalaman permukaan air tanah Kegiatan budidaya tanaman di laha gambut sangat ditentukan oleh kedalaman muka/paras air tanah d lamanya periode genangan. MS di 21:44 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 4) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . Abdul Madjid. Sedangkan semak beluka dan rerumputan akan lebih mudah dan relatif dapat digunakan. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Penggunaan abu bakaran gambut sebagai amelioran sangat tidak dianjurkan karena jika dilakukan terus menerus gambut akan menipis sehingga fungsi gambut sebagai pengatur air/hidrologi. sarana konservasi keanekaragaman hayati serta sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang mampu meredam perubahan iklim global akan berkurang. Universitas Sriwijaya. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. rendahnya daya tumpu. Indonesia. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. 1985). Palembang. Indonesia. kapur dan pemberian pupuk kimia. Boleh jadi yang dimaksud dengan bau “harum” adalah lawan dari bau “busuk” yang muncul dari asam sulfida (H2S). dan pH yang sangat masam. Program Magister (S2). penurunan permukaan gambut. untuk mengatasi kendala kesuburan lahan gambut pada umumnya dilakukan pemberian abu bakaran gambut. Selama ini. Universitas Sriwijaya. rendahnya kesuburan tanah. Kesuburan tanah dalam pandangan masyarakat petani lokal melayu di lahan rawa atau lahan gambut adalah kemampuan tanah untuk memberikan hasil yang memadai umumnya dilihat dari aspek fisik dan lingkungannya. Pengelolaan Kesuburan Pada Tanah Gambut Bertani di lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi. . Program Pascasarjana. Indonesia. Asam sulfida ini bersifat meracun tanaman pada kondisi tergenang atau lahan-lahan yang setelah kekeringan (musim kemarau) menjadi basah kembali setelah hujan menyisakan kadar sulfida yang tinggi hasil proses reduksi sulfat. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Studi Ilmu Tanaman. Berkenaan dengan dinamika tanah ini pada petani umumnya pada awal-awal minggu pertama musim hujan membiarkan tanahnya kosong karena ”air bacam” dapat meracuni tanaman. Program Pascasarjana. Palembang. Kriteria lahan yang cocok untuk pertanian bagi para petani pioner sebagaimana dituturkan ditentukan oleh jeluk mempan (kedalaman effective) dan bau dari tanah lapisan atas yang diistilahkan dengan bau “harum” (Idak. Program Pascasarjana. Program Magister (S2).

Petani baru melakukan tanam setelah 3-4 minggu memasuki musim hujan saat air bacam sudah terencerkan dan tergelontor.000 tahun untuk pembentukannya sampai mencapai ketebalan maksimum sekitar 20 m. Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora dan fauna 2. percepatan peruraian dan resiko pengerutan tak balik (irreversible) serta rentan terhadap bahaya erosi 4. Menurut Maas (2003) warna air yang keruh tersebut menunjukkan kandungan asam-asam humat dan fulvat yang tinggi. sehingga taksiran laju pelenggokannya adalah 1cm/ 5 tahun. Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas. Penilaian kesuburan tanah juga terkait dengan keadaan air di sekitar wilayah tersebut antara lain apabila air tersebut tampak bening dan terang ini menunjukkan bahwa kualitas air tersebut sangat masam. Misalnya tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis) mencirikan keadaan tumpat air (waterlogging) dan kemasaman akut. Selain hal di atas. galam (Meleleuca leucadendron) mencirikan tanah mengalami pengatusan dan berubah matang dengan tingkat kemasaman pH <>(Melastoma malabatharicum) dengan bunga merah jambu menarik. Fungsi hidrologisnya..2 juta m3 . Indikasi tumbuhan yang dilihat di atas berkorelasi dengan tipe luapan lahan rawa sehingga umumnya dipilih yang mendapatkan luapan yaitu tipe A dan B. Mackinnon et al. 3. jika permukaan air terlalu dalam maka oksidasi berlebih akan mempercepat perombakan gambut. 2000). Sebaliknya apabila keruh dan berwarna cokelat seperti air teh menunjukkan bahwa kondisi lahan di sekitar wilayah tersebut adalah gambut dalam atau tebal. . Jenis-jenis gulma atau vegetasi tertentu sering dijadikan penciri atau tanaman indikator bagi status kesuburan lahan tersebut. Tumbuhan lain seperti Commelina dan Emilia menunjukkan pH rendah (Noor. 1996. Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di Indonesia dicirikan oleh antara lain : 1. yakni lahannya berbentuk kubah keadaannya yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda dengan tanah-tanah mineral. Sebagai acuan kedalaman permukaan air tanah untuk tanaman pertanian menurut Maas et al dalam Andriesse (1988). Sifatnya yang rapuh (fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase (reklamasi) akan mengalami pengamblesan (sub-sidence). yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Pengelolaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan perakaran tanaman. sehingga gambut cepat mengalami subsiden. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu 5000-10. petani juga sering menilai kesuburan lahan dari vegetasi yang tumbuh pada lahan tersebut. Satu juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat menyimpan 1.khususnya padi. yang disebut juga Rhododendron Singapura menunjukkan tanah paling miskin. Kedalaman permukaan air tanah pada parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman. di bawah vegetasi hutan 5.

Sebagian besar hara disimpan dalam bentuk tumbuhan dan ternak. Pola usahatani yang diterapkan petani dapat berupa monokultur seperti padi – bera. yaitu memadukan beberapa teknik budidaya ramah lingkungan seperti pembukaan lahan tanpa bakar. Alihamsyah et al. pemberian amelioran hanya pada lubang tanam untuk efisiensi dan penggunaan pupuk organik padat (POP) untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik serta menananam varietas adaptif. Konsep agroforestry dan penggunaan mulsa merupakan sebagian contoh konsep meniru alam. Menurut Sabiham (2007) melaporkan bahwa beberapa kunci pokok penggunaan gambut berkelanjutan : (1) Legal aspek yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Pengaturan pola tanam dan pola usahatani merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan intensitas pertanaman dan memperpendek masa bera. pemanfaatan gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah/pot bagi tanaman. pengolahan tanah minimum (minimum tillage). Selain itu dalam pengelolaan lahan gambut haruslah didukung dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dan ketersediaan lembaga pendukung. sangat tergantung pada tipologi gambut. (4) Pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik tanah mineral di bawah lapisan gambut. (5) Peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut. Dari segi perakaran diupayakan menanam tanaman yang menyebar merata di tanah pada berbagai kedalaman.. padi + palawija/sayuran. yaitu sistem usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas andalan (Alihamsyah dan Ananto 1998. (2) Penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan petani sedangkan sistem usahatani berbasis komoditas andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif pengembangan sistem dan usaha agribisnis. Sitem pertanian Leisa menggunakan Tanah selalu tertutupi tanaman dimana dedaunan yang jatuh atau serasah membusuk menutupi permukaan tanah.2000).. Sistem usahatani lahan gambut hendaknya didasarkan kepada sistem usahatani terpadu yang bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergik antar subsistemnya agar pengembangannya tetap menjamin kelestarian sumberdaya alamnya. maka perlu dilakukan penelitian tentang budidaya tanaman melon di lahan gambut dengan teknik budidaya inovatif. sayur-sayuran. . Suprihatno et al. Salah satu upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko terjadinya kebakaran di lahan gambut/bergambut adalah memperpendek masa bera. 1999. (3) Pengelolaan air yang memadai sesuai tipe luapan dan hidro topografi.Bertitik tolak dari uraian tersebut. Secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang cocok dikembangkan di lahan gambut. Pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan sangat perlu dipraktekan mengingat lahan gambut merupakan salah satu lahan untuk masa depan apabila diperhatikan cara pengelolaan yang tepat. pemanfaatan limbah pertanian seperti abu serbuk gergaji dan pupuk kandang sebagai amelioran sehingga dapat mengurangi penggunaan kapur. Pelepasan unsur hara oleh mikroba tanah sejalan dengan kebutuhan tanaman . sayuran+palawija.

Masalah hama tanaman seperti tikus. Hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh Balittra menunjukkan bahwa pola tanam padi unggul.Konsep LEISA berupaya memanfaatkan sinergi berbagai komoditi seperti pemilihan tumpang sari yang saling mendukung dalam memanfaatkan ruang. maka pola sawit dupa akan sulit terlaksana. Sedangkan lahan usaha ditata dengan sistem surjan. sedangkan di guludan ditanami tanaman hortikultura. kambing dan sapi. Pola ”Sawit Dupa” (sekali mawiwit dua kali panen). Hama tikus umumnya bersarang di lahan-lahan tidur yang tidak digarap petani. namun sistem usahataninya relatif serupa. Bagian tabukan (bawah) ditanami padi.bera atau padi-padi. Hal ini akan berdampak masa bera yang diperpanjang. peluang untuk meningkatkan intensitas pertanaman sangat besar. yaitu pola padi unggul – padi lokal sudah berkembang. mangga. walang sangit menjadi penyebab kegagalan panen padi unggul oleh petani. Integrasi ternak – tanaman selalu diusahakan sepanjang hal itu memungkinkan. ternak ayam buras atau itik dipelihara dengan skala rumah tangga 5-20 ekor per KK atau ternak sapi. Budidaya padi dengan ikan secara terintegrasi (Mina padi) merupakan praktek yang mendukung keberlanjutan. Lahan bergambut dengan dengan tipe luapan B/C (Rasau Jaya II) umumnya ditata sebagai surjan. sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman palawija/sayuran. atau kambing. penanaman padi unggul dapat dilaksanakan. Penganekaragaman sumber hara terutama yang berasal dari bahan organik yang tersedia secara lokal menjadi salah satu ciri upaya mempertahankan keberlanjutan Sistem usahatani berbasis Padi Sistem usahatani yang berkembang di tingkat petani lahan gambut adalah di lahan pekarangan ditanami dengan tanaman hortikultura seperti rambutan. air dan enerji surya. Dengan sistem tata air mikro yang telah dikembangkan di lahan pasang surut dan pembuatan pintu air”flapgate” yang dikembangkan Balittra. Sebenarnya menurut petani khususnya petani transmigrasi. kedelai-kacang tanah. hanya sebagian kecil ditata sebagai sawah/tegalan. Tetapi karena petani tidak semuanya mengusahakan padi unggul maka muncul beberapa masalah di lapangan. padi-kacang tanah. hara. sisa pakan dan kotoran ternak dijadikan bahan untuk pupuk organik sebagai upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah baik secara fisik maupun kimiawi. Sistem Usahatani berbasis komoditas Hortikultura Di lahan pekarangan ditanam tanaman keras/hortikultura dan ternak ayam.palawija dapat berhasil baik. Tanaman atau limbah tanaman dijadikan pakan ternak dan limbah ternak dalam bentuk urine. Pola tanam digunakan petani di Desa Kantan Atas dan Pinang Habang adalah padikedelai. Budidaya campuran berbagai varietas atau jenis diupayakan selain untuk tujuan tersebut di atas juga untuk mengurangi resiko kegagalan. Selama pola tanam di lahan petani tidak bisa disepakati. . Penataan lahan pada lahan bergambut cukup beragam antar lokasi.

dan gulma. tepung kepala usang dan tepung ikan. Pemupukan yang diperlukan sangat berat dengan abu kayu dan kotoran ternak sebagai pupuk utama dan dengan abu bakaran gambut serta serasahan. Kalampangan (Kalimantan Tengah). Mamuju Utara (Sulawesi Barat). Pemanfaatan lahan gambut oleh sebagian besar telah dilakukan petani untuk pertanaman palawija dan hortikultura. pepaya dan obat-obatan. Pola tanam yang diusahakan petani Sawi-Sawi. walaupun hal tersebut bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan mengingat sifat dari gambut yang bisa mengalami penyusutan dan kering tidak balik akibat drainase. Sistem usahatani di lahan gambut Mamuju Utara terdiri dari lahan pekarangan tanaman cacao dan jeruk sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman jeruk secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman sayuran atau palawija. Gambut tebal sampai dengan 350 cm ternyata cocok untuk budidaya sayuran. Pola tanam yang umum dijumpai adalah padi-palawija pada lahan sawah dan palawijapalawija pada surjan dengan periode tanam Agustus/September-Januari/PebruariMei/Juni. kubis dan bayam. Perbaikan tingkat kesuburan dan kemasaman tanah gambut dilakukan petani dengan memberikan bahan amelioran. Lahan bergambut dengan tipe luapan C ditata sebagai lahan tadah hujan. Sebagian petani menanam palawija dan sayuran pada periode Juni.4 ton/ha padi IR 66. abu sisa tanaman. seperti abu serbuk gergajian.Agustus. Pengembangan pertanian sayuran yang tergolong berhasil telah dilakukan petani di Siantan Hulu dan Rasau Jaya (Kalimantan Barat). Kangkung. surjan dan tegalan dengan pola tanam Padi-Palawija dan Palawija-Palawija. Demikian juga menurut Maas (1999) bahwa pertanian di lahan gambut dengan ketebalan 20 – 50 cm di Pangkoh 10 (Kalimantan Tengah) dengan pengaturan muka air pada tingkat tersier yang berupa penandonan air di musim hujan dan pembukaan tabat di musim kemarau. dan pada demfarm dapat menghasilkan 4. pupuk kandang. Noorginayuwati et al. 1994). dapat bertanam 2 kali setahun dengan hasil 2 – 3 ton/ha gabah kering. Pengalaman petani sayuran yang mengusahakan lahan gambut tebal di daerah Sungai Slamet (Pontianak) menunjukkan produksi mantap dicapai setelah 15 tahun. Drainase Drainase merupakan prasyarat untuk usaha pertanian. lidah buaya. Bertanam di lahan gambut sama dengan bertanam sistem hidroponik (Notohadiprawiro. terutama bawang daun.Pembuatan surjan dan pengolahan tanah harus hati-hati sesuai dengan kaedah konservasi gambut dengan mempertahankan lapisan gambut tetap dalam keadaan lembab serta tidak melakukan pembakaran. sehingga sebelum mereklamasi lahan gambut perlu diketahui sifat spesifik gambut. Pengelolaan air 1. (2006) melaporkan bahwa sistem usahatani berbasis sayuran dapat diusahakan pada lahan gambut dangkal seperti di Desa Kelampangan kecamatan Sebangau Kalimantan Tengah. bawang daun. demikian pula di desa Siantan Hulu Kalimantan Barat dilakukan pola tanam palawija/ sayuran. peranan dan fungsinya bagi lingkungan. .

menunjukkan layu pada keadaan udara panas.5 ton kopra/ha). irigasi perlu dilakukan terutama bagi tanaman tertentu. kanal sekunder dan kanal tersier. Bagi tanaman perkebunan. Intensitas drainase bervariasi tergantung kondisi alami tanah dan curah hujan. Pengetahuan tentang tahapan tersebut akan mempermudah irigasi pada saat yang tepat sehingga mengurangi terjadinya stress air dan penggunaan air yang optimum.1982). 1990). Kerapatan lindak yang rendah berakibat kemampuan menahan (bearing capacity) tanah gambut juga rendah. Tanaman mempunyai tahapan pertumbuhan yang sensitif terhadap stress air yang berbeda. usaha perbaikan drainase dilakukan dengan pembuatan kanal primer. sehingga pengolahan tanah sulit dilakukan secara mekanis atau dengan ternak. Kondisi ini mungkin merupakan pengaruh dari dangkalnya profil tanah yang dapat dicapai oleh akar tanaman dan kehilangan air akibat transpirasi yang lebih cepat daripada tanah mineral (Ambak dan Melling. 2000).Drainase yang baik untuk pertanian gambut adalah drainase yang tetap mempertahankan batas air kritis gambut akan tetapi tetap tidak mengakibatkan kerugian pada tanaman yang akan berakibat pada hasil. Angka ini sementara 5 kali lebih besar dari hasil yang dicapai di negara asalnya Afrika dimana PB 121 pada umur 4 tahun menghasilkan 0. pengaturan irigasi harus mempertimbangkan saat dan kebutuhan tanaman dan disesuaikan dengan ketersediaan air tanah diatas water table. RSUP menunjukkan bahwa kelapa hybrida PB 121 pada umur 4 tahun (4-5 tahun setelah tanam adalah 1. Kemampuan menahan yang rendah juga juga merupakan masalah bagi untuk tanaman pohon-pohonan atau tanaman semusim yang rentan terhadap kerebahan (lodging) (Radjagukguk. 1981 dalam Sudradjat dan Qusairi. 3. Irigasi Ketika batas kritis air dapat dikontrol pada level optimum untuk pertumbuhan tanaman. langkah yang bisa dilakukan adalah tetap mempertahankan kondisi tergenang tersebut dengan mengadopsi tanaman-tanaman sejenis . 1992). Subsidence dan dekomposisi bahan organik dapat menimbulkan masalah apabila bahan mineral di bawah lapis gambut terdiri dari lempeng pirit atau pasir kuarsa. distribusi dan jumlah evapotranspirasi (Lucas.26 ton kopral/ha (Thampan. Hal ini penting untuk memasok kebutuhan air tanaman dan menghindari sifat kering tidak balik. Hasil penelitian sementara di PT. Setelah drainase dan pembukaan lahan gambut. umumnya terjadi subsidence yang relatif cepat yang akan berakibat menurunya permukaan tanah. pengelolan air bukan merupakan suatu masalah kecuali pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Untuk penanaman tanaman semusim. 2000) membutuhkan sistem drainase untuk meminimalkan pengaruh banjir. jumlah air hujan. Jika batas kritis air tidak dapat terkontrol dan lebih rendah dari kebutuhan air semestinya. Curah hujan yang tinggi (4000-5000 mm per tahun)(Ambak dan Melling. Penggenangan Untuk meminimalkan terjadinya subsidence. Sayuran berdaun banyak. 2..

2000). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya. namun akan menurunkan serapan Ca dan Mg (Mawardi et al. Zn dan Mo. 2. tetapi kapasitas tukar kation rendah. Pembakaran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pada tahun pertama dan meningkatkan serapan P tanaman. Pengelolaan Tanah Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. abu hasil pembakaran gambut itu sendiri akan berpengaruh menurunkan kemasaman tanah. Mg serta sejumlah unsur hara mikro terutama Cu.21 – 32. Kotoran ayam. Ca. Pupuk kandang khususnya kotoran ayam dibandingkan dengan kotoran ternak yang lainnya mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro tertentu dalam jumlah yang banyak. Pada jagung . 2001).hidrofilik atau tanaman toleran air yang memberikan nilai ekonomi seperti halnya Eleocharis tuberosa. penggenangan dilakukan dan digunakan untuk budidaya tanaman air tersebut (Ambak dan Melling. Di Florida ketika tanaman tertentu tidak bisa dibudidayakan karena perubahan musim. Pembakaran Pembakaran merupakan cara tradisional yang sering dilakukan petani untuk menurunkan tingkat kemasaman tanah gambut. 2001). Sebagai amandemen. 1990). kangkung (Ipomoea aquatica) dan seledri air. Pemberian Cu diduga lebih efektif melalui daun (foliar spray) karena sifat sematannya yang sangat kuat pada gambut. kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al.07% MgO) yang merupakan bahan potensial untuk ameliorasi lahan gambut (Mawardi et al. Terjadinya pembakaran bahan organik menjadi abu berakibat penghancuran tanah serta menurunkan permukaan tanah. Bahan pembenah tanah Pemberian pupuk dan amandemen dalam komposisi dan takaran yang tepat dapat mengatasi masalah keharaan dan kemasaman tanah gambut. 1. dalam melepaskan haranya berlangsung secara bertahap dan lama. Tampaknya. K. bayam cina (Amaranthus hybridus). pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah gambut. Di Sumatera Barat ditemukan bahan amelioran baru Harzburgite yang defositnya cukup besar dan kandungan Mg yang tinggi (27. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi. memasok unsur hara dan mempercepat pembentukan lapis olah yang lebih baik sifat fisikanya (Radjagukguk. Unsur hara yang umumnya perlu ditambahkan dalam bentuk pupuk adalah N. Kejenuhan basanya tinggi. 2000). Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. P. kurang mobil dalam tanaman dan kelarutan yang menurun ketika terjadi peningkatan pH akibat penggenangan.

1992 dalam Darung et al. pemupukan. Tidak terbentuknya gabah menurut Andriesse (1988) dan Driessen (1978) berkaitan dengan defisiensi . Pada gambut tebal dan sangat tebal. dan yang paling tinggi apabila ketebalan gambut 50 cm. mengakibatkan rendahnya produktivitas bahkan kegagalan panen. Akan tetapi budidaya padi sawah di lahan gambut dihadapkan pada berbagai masalah terutama menyangkut kendala-kendala fisika. penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas. 2001). Pada tanah sawah dengan kandungan bahan organik tinggi. pemberian kotoran ayam sampai 14 ton/ha pada tanah gambut pedalaman bereng bengkel dapat meningkatkan jumlah tongkol (Limin. asam-asam organik menghambat pertumbuhan. 2000).5-1 m). akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al. diperoleh hasil gabah padi (ditanam secara sawah) yang sangat rendah apabila tebal gambut > 80 cm. Khususnya gambut tebal (> 1 m ) belum berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi sawah. 1996). disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usaha tani yang akan diterapkan. potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut : Pemilihan jenis tanaman 1. kesuburan serta pengelolaan tanah dan air. Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut dengan (20-50 cm gambut) dan gambut dangkal (0. yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah. dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs). tanaman padi tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro Subagyo et al. terutama akar. penanganan substansi toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro (Radjagukguk. Pada percobaan pot dengan tanah yang diambil dari lapis 0-20 cm. Kunci keberhasilan budidaya padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian air. 1996) Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. Padi sawah Budidaya padi sawah selalu diupayakan oleh petani transmigrasi untuk memenuhi kebutuhan pangannya. tata air mikro. Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut.manis. Sehingga kemungkinan tingkat kemasaman dan suplai Ca yang rendah serta kandungan abu yang rendah merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan padi sawah pada gambut tebal. Leiwakabessy dan Wahjudin (1979) dalam Radjagukguk (1990) menunjukkan hubungan erat antara ketebalan gambut dan produksi gabah padi sawah. Ditunjukkan pula bahwa ada kesamaan antara pola perubahan kejenuhan Ca. 1990). karena mengandung sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani. pH dan kandungan abu bersama ketebalan gambut dengan perubahan tingkat hasil gabah. kejenuhan Mg. Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m) dan tidak sesuai pada gambut tebal (2-3 m) dan sangat tebal (lebih dari 3 m).

2. Nanas bisa beradaptasi dengan baik pada keadaan kemasaman yang tinggi dan tingkat kesuburan yang rendah. penanaman nanas dengan kerapatan 20. 2000). Pengusahaan tanaman-tanaman ini kebanyakan dikembangkan di propinsi Riau dengan memanfaatkan gambut tebal.000 pohon/ha yang ditanam diantara jalur kelapa. walaupun umur tanaman sampai menghasilkan buah sangat lama (15-20 tahun). Pengelolaan kesuburan tanah yang utama adalah pemberian pupuk makro dan mikro (Radjagukguk. Tanaman pangan (palawija) dan tanaman semusim lainnya . Untuk jenis-jenis pohon buah banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan seperti jambu air (Eugenia) Mangga (Mangosteen). Di Malaysia. 1992). 1988) . kopi dan kelapa. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman tahunan yang cukup sesuai pada lahan gambut dengan ketebalan sedang hingga tipis dengan hasil sekitar 13 ton/ha pada tahun ketiga penanaman (Ambak dan Melling. Tanaman rami dan obat-obatan tumbuh dan berproduksi baik pada gambut sedang dan kurang baik pada gambut sangat dalam (3-5 m) (Subagyo et al. Tanaman perkebunan dan industri Budidaya tanaman-tanaman perkebunan berskala besar banyak dikembangkan di lahan gambut terutama oleh perusahaan-perusahaan swasta. nanas (Ananas cumosus) merupakan tanaman yang menunjukkan adaptasi yang tinggi pada gambut berdrainase. Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh PT. sagu. Tanaman perkebunan sesuai ditanam pada ketebalan gambut 1-2 m dan sangat tebal (2-3 m) (Subagyo et al. Dari hasil sementara menunjukkan bahwa. pisang dapat tumbuh dengan drainase 80-100 cm dan menghasilkan 25-40 ton/ha walaupun dengan pengelolaan yang agak sulit (Andriesse. 1990). 1996). dilakukan pemadatan tanah dengan menggunakan alat-alat berat.Cu yang akan menyebabkan meningkatnya aktivitas racun fenolik dan menyebabkan male sterility pada tanaman padi. Sagu bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan hasil bagus tanpa pemberian input pupuk (Ahmad dan Sim. rambutan (Ambak dan Melling. karet. 3. tumpangsari kelapa nenas memberikan prospek yang sangat cerah (Sudradjat dan Qusairi. lada dan tanaman obat (Abdurachman dan Suriadikarta. RSUP di Indragiri Hilir. menunjukkan bahwa tanaman nenas tumbuh dengan baik dan mulai berbuah 14 bulan setelah tanam. 1976) pada gambut dengan minimum drainase. 2000). Komoditas lain yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan domestik adalah tanaman industri/keras seperti kelapa. 2000) sedangkan di daerah pantai Ivory dengan gambut termasuk oligotropik. kopi. diantara tanaman perkebunan yang lain seperti kelapa sawit. Sistem drainase yang tepat sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman perkebunan di lahan tersebut. Sebelum penanaman. 1996).

Beberapa jenis legume menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara minimum (Singh. Di Bengkulu. nangka. 2001). Kedalaman saluran disesuaikan dengan kedalaman air tanah dan ketinggian air dipertahankan 20 cm dari permukaan tanah agar gambut .Tanah gambut yang sesuai untuk tanaman semusim adalah gambut dangkal dan gambut sedang. 1986) dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kemasaman. 2001). Sementara untuk tanaman sayuran. hanya melalui rembesan air tanah >50 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau dan <>et al. pepaya. 2000). semangka dan nenas . Tanaman pangan memerlukan kondisi drainase yang baik untuk mencegah penyakit busuk pada bagian bawah tanaman dan meminimalkan pemakaian pupuk.25 hektar (Limin et al. dan buah-buahan (mangga. Pembakaran seperti yang dilakukan pada perkebunan nanas harus mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kebakaran lingkungan sekitarnya. pembakaran seresah bisa dilakukan pada tempat yang khusus dengan ukuran 3 X 4 m. nanas dan pisang) karena lahan gambut tersebut termasuk tipe luapan C/D (tidak dipengaruhi air pasang surut. Di daerah Kalampangan yang merupakan penghasil sayuran untuk Palangkaraya Kalimantan Tengah. kacang panjang.29 ton/ha pada varietas Pioneer-12 (Manti et al. melinjo. seledri. mentimun yang diusahakan secara monokultur dalam skala kecil dalam lahan kurang lebih 0. 2000). rambutan. Dasar tempat pembakaran diberi lapisan tanah mineral/liat setebal 20 cm dan sekelilingnya dibuat saluran selebar 30 cm. Teknis Bertanam Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah gambut melalui oksidasi biokimia. sukun. mentimun. permukaan tanah harus dipertahankan agar tidak gundul. 1996). sawi. 1988). bawang daun. Cassava (Manihot esculenta) atau tapioka menghasilkan lebih dari 50 ton/ha dengan pengelolaan yang baik dan merupakan tanaman pangan yang penting pada gambut oligotropik tropis dengan drainase yang baik (Andriesse. Satsiyati (1992) dalam Abdurachman dan Suriadikarta (2000) menyebutkan beberapa tanaman hortikultura yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan di lahan gambut eks PLG yaitu cabai. Beberapa vegetasi seperti halnya rumput-rumputan atau leguminose dapat dibiarkan untuk tumbuh disekeliling tanaman kecuali pada lubang tanam pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi. tomat. Di samping itu beberapa lahan gambut yang termasuk lahan bongkor bisa diusahakan untuk berbagai tanaman seperti cabai besar/keriting/kecil. terong. kangkung. Akan lebih baik bila penyiangan terhadap gula dikembalikan lagi ke dalam tanah (dibenamkan) yang akan berfungsi sebagai kompos sehingga selain bisa memberikan tambahan hara juga dapat membantu mempertahankan penurunan permukaan tanah melalui subsidence (Ambak dan Melling. penanaman jagung dengan penerapan teknologi yang spesifik untuk lahan gambut (teknologi Tampurin) diperoleh hasil 3. Untuk tanaman hortikultura. paria. jagung sayur. jagung manis. petani setempat mengembangkan sayuran diantaranya sawi. Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam atau drastis untuk mencegah terjadinya gejala kering tidak balik (Subagyo et al.

penebangan hutan menjadi sangat intensif. yang pada musim hujan kebanjiran dan pada musim kemarau kekeringan. disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usahatani yang akan diterapkan. Demikian pula lingkungan di sekitar kubah gambut menjadi terganggu. Akibat yang ditimbulkan oleh kesalahan alokasi ini adalah kawasan hutan tanaman industri pada kubah gambut tersebut mempunyai produktivitas yang rendah. Pembukaan lahan gambut besar-besaran untuk pengembangan lahan pertanian yang dikombinasikan dengan pengembangan wilayah melalui proyek transmigrasi banyak dilakukan pada gambut tebal (ketebalan gambut >2.tetap cukup basah. Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani. akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al. terjadi berbagai fenomena perubahan sifat gambut yang sangat drastis. Ini dimaksudkan agar pada waktu pembakaran. Ekosistem Lahan Gambut Pada saat mengembangkan hutan rawa gambut harus memerhatikan ekosistem lahan gambut yang sangat unik dan rapuh/rentan. Di beberapa tempat. Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut. terutama di daerah dengan gambut lebih tipis (ketebalan <> Perubahan sifat yang drastis ini mengakibatkan lahan gambut tidak dapat dipakai sebagai lahan budi daya sehingga banyak yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya. tata air . 1996) Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta.0 m). yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah. 2000). Pembukaan lahan gambut ini dimulai dengan pembuatan saluran berukuran sangat besar. ada alokasi hutan tanaman industri (HTI) yang berada pada ekosistem kubah gambut. Akibatnya. yang disusul fenomena kebakaran hutan dan lahan gambut yang asapnya telah menyebabkan persoalan lingkungan yang serius hingga memancing protes negara-negara tetangga. tanpa memperhatikan sifat gambut yang mudah rusak. Dampak lebih jauh dari pembukaan lahan gambut yang dilakukan secara besar-besaran dengan membuat saluran drainase berukuran besar adalah bahwa saluran-saluran tersebut menjadi jalan untuk masuknya kegiatan pembalakan ke dalam hutan. Akibatnya. Di dalam peta tersebut. dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs). Hal tersebut dapat dicermati secara mudah dari Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada lahan gambut. api tidak menyebar Ardjakusuma et al (2001). Seharusnya pada bagian kubah gambut ini dijadikan daerah konservasi sebagai tempat cadangan/resapan air untuk daerah yang berada di sekitarnya.

MS di 21:31 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 5) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Palembang. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Pascasarjana. Indonesia. Universitas Sriwijaya. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Abdul Madjid. Palembang.mikro. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. 2009. pemupukan. Propinsi Sumatera Selatan. Ir.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. potensi pengembangan lahan gambut dapat dilakukan dengan baik. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. R. Program Magister (S2). ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Indonesia. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) . Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah.com.

Bogor-Indonesia.).M. Proc. Nature and Management of Tropical Peat Soils. Andriesse.. Aminuddin (Ed. Jurnal Litbang Pertanian 19 (3). Driessen. FAO Soils Bulletin 59. Philippines. Ambak. hal 119. (2) Ada beberapa hal yang dapat menghambat perkembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian diantaranya : 1) Sifat fisik. Management Practices for Sustainable Cultivation of Crop Plants on Tropical Peatlands. 1978. 4) Keadaan air tanah dan 5) Kebakaran lahan gambut. L. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. tekstur debu lempung. K. tata air mikro.. Kalimantan. 2000. warna coklat hingga kehitaman. 1988.P. Kuching. 6-10 May 1991. J. 1976. On the Defective Grain Formation of Sawah Rice on Peat. Inst. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Tropical Peat. BB Litbang SDLP (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Andriesse. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. dan Melling.M. Bull. 2004. dan H. Palangkaraya. P. Suhardjo. tidak berstruktur. Constrainsts and opportunities for alternative use options of tropical peat land. Driessen. Asie E R. Malaysia. konsistensi tidak lekat-agak lekat. Soil and rice. . ketebalan lebih dari 0. 3: 20 – 44. Peat soils.5 m. Soil Res. IRRI.P. 2) Sifat Kimia.. Pemanfaatan Lahan Rawa eks PLG Kalimantan Tengah untuk Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan. Of The International Symposium on Tropical Peatlands 2223 November 1999.0) kandungan unsur hara rendah. Los Banos.III. serta memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan gambut yang ada. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman dan Suriadikarta. Sarawak. In: IRRI. Kesimpulan (1) Tanah gambut atau tanah organik adalah tanah yang berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. 3) Sifat Biologi. In B. Proceedings of International Symposium on Tropical Peatland. 1989. pp: 763-779.Y. P. pemupukan. Pengembangan Tanaman Melonn di Lahan Gambut Dengan Budidaya Inovatif. 2000. (3) Untuk pengembangan lahan gambut yang berkelanjutan perlu dilakukan pengolahan tanah. Bogor. J.

1986. distribution and utilization of peat in Malaysia. 2001. Pertemuan Teknis Kegiatan Pengajian Tahapan Pengembangan Lahan Rawa Pasang Surut. Bengkulu. Enviromental change caused by development of peatland landscapes in Central Kalimantan. Kanisius. Mawardi. Yanti R. Bogor. Arto. T. J. 1999.O. Hardjowigeno. Alwi. 6. Noor. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Wageninagan 140 hal. Kerjasama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I. M. Rielley. Potensi dan Peluang Pemanfaatan Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. 14-21. Indonesia. 2004. Characterization. Peat Congress: Wise Use of Peatland.Fakultas Pertanian IPB. Potensi dan Kendala.. Koonvai.Aa. Gonggo B M. Bogor-Indonesia. Soil Map of the world. Layuniati. Noorginayuwati.. M.H. 20 Oktober 1994. 1994. FAO Rome Published By ISRIC. Proc. S. J. Purwanto. Lim. Maas A.. International Symposiumon tropical peatland. Kalimantan Tengah dengan Fakultas Pertanian IPB. pp. Proc. 1986. Yogyakarta. Malaysia. Utilization of Inland Peat for Food Crop Commodity Development Requires High Input and is Detrimental to Peat Swamp Forest Ecosystem. Gambut pedalaman untuk lahan pertanian. Serawak. Karakterisasi dan Identifikasi Masalah Lahan bongkor Untuk Perluasan Areal Tanam di Wilayah Kerja C PLBT Kalimantan Tengah. Bilan W S dan J. Laporan Hasil Penelitian Balittra 2006. Azwar dan Tambidjo. Penggalian Kearifan Lokal Petani untuk Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan. Y. Hal. Mutalib. Badan Litbang PU. 6-10 May 1991.Jumberi. 660-667. ISSN 1411-0067. A. dan Limin. Finlad. Wong and L. Prosiding Seminar Nasional Memantapkan Rekayasa Paket Teknologi Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah. Jaya. Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol. A. S. Makalah ”Temu Pakar dan Lokakarya Nasional Optimasi pemanfaatan Sumberdaya Lahan Rawa”. International Symposium on Tropical Peatlands 22-23 November 1999. 31 Oktober – 1 November 2001. Dalam Proc. Pertanian Lahan Gambut . A. of the 12th Int.Tukijo. Limin. Jakarta 23-26 November 1999.Rafiq. 86-94.. E. 1994. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Pada Lahan Gambut dengan Penerapan Teknologi Tampurn.. Darmanto. 2006. 1991. 2001. Dwijono. . S. Kuching. Pengembangan Lahan Pasang Surut Untuk Tujuan Pertanian. A. A. 2000. Notohadiprawiro. T. Jamal. 2004. Bandung.. FAO-Unesco. M.S. Inoue.

and I P. USDA Washington DC. 2007. Rieley. B. Fertility Management For Sustainable Agriculture On Tropical Ombrogenous Peat. Hidayat.O. Tan. F. Soekardi M. B. F. S. 147-156 In Biodiversity and sustainability of tropical peat and peatland. 2008. C. In: Rieley and Page (Eds. Samara Publishing Ltd. 1991. Rajah dan Lee.J. 1986. Classification. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (2) :1-15. Makalah Utama disimpulkan pada Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa di kapuas.In Biodiversity And Sustainability Of Tropical Peatlands. Karakteristik Wilayah dan Perancangan Model Penataan Lahan dan Komoditas di Lahan Rawa Pasang Surut. Eds J. Perubahan Sifat-Sifat Fisik dan Kimia tanah Gambut Akibat Reklamasi Lahan Gambut untuk Pertanian.P. Tie. Palangkaraya 20-2 1 Sept 2005. 6-10 May 1991. 1997. Vasander and M. 2005. AR. 1995. 2nd InternSoils Management Workshop Thailand/Malaysia 7-18 April 1986. Esterle. 2006. R. Page. 1997. Proceedings Of The International Symposium On Biodiversity.L. Environmental Importance and sustainability of Tropical Peat and Peatlands. Chemical Characteristics Of The Upper 30 Cm Of Peat Soils From Riau. Inst. Workshop gambut HGI. Carbon Gas Emissions and Contribution to Climate Change Processes. 4-8 sept. Singh.S. H. Experinces on the Cultivation and Management of Oil Palm on Deep Peat in United Plantation Berhard. Radjagukguk. Soil Survey Staff. Sabiham. pp.W. G. Gianinazzi and IPG. Sebuah Pengalaman Pertanian Gambut dari Kalbar. Widjaja-Adhi.. Bogor. Rieley. In.O.. 3-4 juli.S. Page.V. Soewono. Jauhiainen. Samara Publishing Ltd. pp. Formation of lowland peat domes in Serawak. Widjaja-Adhi.). Central Kalimantan. dan A. S. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. And Problems For Sustainability. J.E. held in Palangkaraya. K. Cardigan. Riza. Malaysia. Proc. Serawak. Bogor. Tropical Peatlands: Carbon Stores. Suhardjo. 1988.). H. Proc. UK.H. ATA 106. Wösten. Stahlhut. Laporan Hasil Penelitian Balittra.G.E. Pengembangan Lahan Secara berkelanjutan Sebagai Dasar dalam Pengelolaan Gambut di Indonesia. G. Pertanian di Lahan Gambut Berbasis Pasar dan Lingkungan. Y. Malaysia. 1990. Peat soil of Indonesia: Location. Soil Res. Radjagukguk. S. Wüst... Kuching.Nugroho. CRIFC.. Padman. . Soil hydraulic properties of Indonesian peat. Y. In: Rieley and Page (Eds. Limin. Siegert. 3: 74-92. 2001. And J. H. Indonesia. Hooijer. 2007.. Third meeting cooperative resarch on problem soils. 45-54. 148-182 In M. pp. 1997. Bull. J. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat and Peatland. And S.S. International Symposium on Tropical Peatland. 7th edition. Key to Soil Taxonomy. A. 1976.A. Extent and distribution of peatsoils of Indonesia. Sagiman.

Laporan Survai Produktivitas Tanah Dan Pengembangan Pertanian Daerah Palangka Raya. Yusuf dan Hifnalisa. Environmental importance and sustainability of Tropical Peat and Peatlands. Composition. Dev. Palangka Raya. Central Kalimantan 4-8 September 1999. Diposkan oleh Dr. 1996. 1988.Suryanto. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. held in Palangkaraya. MS di 21:19 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1) . and S. 4-8 sept. Rieley and S. In: J. 1990 Di Institute Agronomique Meditererranee (IAM) Montpellier. Sudradjat daan Qusairi. Stevenson. 1994. Jurnal Agrista (2) : 22-28. Abdul Madjid. Ind. Kalimantan Tengah. Proceedings of the International Symposium on Biodiversity. Cardigan. Ir. 26 September 1996. 1995.J. 1974.). 45-54. S. Bogor. 1998. Developing tropical peatlands for agriculture.1. 30 –Juni-1 Juli. I P. Prospek Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Pertanian pada Lahan Gambut. 2004. Soewono. Tim Institut Pertanian Bogor. Akta Grasia 7. 1997.E.G. Page.. UK.G. and Reactions. Makalah Seminar Bioteknologi PPI Perancis. Pertumbuhan dan Hasil Padi Gogo CV. Seminar Pengembangan Terpadu kawasan Rawa Pasang Surut di Indonesia 5 September 1992. I P.O.O. environmental importance and sustainability of tropical peat and peatlands. Central Kalimantan. Inc. L. Eds J. Penilaian sifat fisis tanah dan kimia gambut Teunom Aceh Barat. 443 p. 1997. 1992. 10:59-64. Widjaja-Adhi.In Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. IPB. F.E. Bogor. Indonesia. Genesis.Cirata terhadap 3 Jenis Media Tanam dan Ukuran Pupuk Urea. Widjaja-Adhi.S. Page (Eds. Rieley. Marsoedi dan Karama. S. Widodo. New York. Physical And Chemical Characteristic Of Peat Soil Of Indonesia. Prospek Gambut Sebagai Sumberdaya Alam Dalam Pengembangan Bioteknologi Di Indonesia. Fertility management for sustainable agriculture on tropical ombrogenous peat. Humus Chemistry. John Wiley and Sons. Subagyo.. Proceedings of the international Symposium on Biodiversity. Res. 1991. 7-10 Yardha A. Samara Publishing Ltd. Diversifikasi Usaha Perkebunan Pada Lahan Gambut Dengan Kelapa Sebagai Tanaman Utama (Suatu Pandangan terhadap pemanfaatan Lahan Gambut). pp. Biodiversity and Sustainability Of Tropical Peat And Peatland. Agric. J.

.. 25 BAB V. PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT MASAM... 19 BAB IV. Indonesia........Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya.......... (1992) luas lahan rawa Indonesia ± 33... Palembang.. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM ......... ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Pembukaan lahan rawa pasang surut dilakukan berkaitan dengan program pemukiman transmigrasi yang dimulai sejak Pelita I (orde baru) sekitar tahun 1969 melalui program Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S)....... Program Pascasarjana......... Program Magister (S2)....... Menurut Widjaja-Adhi et al...... Propinsi Sumatera Selatan............. yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13.4 juta ha....... Indonesia..................... Propinsi Sumatera Selatan........................... 54 DAFTAR PUSTAKA ... Universitas Sriwijaya.............. PENDAHULUAN . Program Magister (S2)................ Palembang.... *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah...................... yaitu di Sumatera....... 1 BAB II.......................... dan Irian Jaya (Papua)....... Program Pascasarjana....... (Bagian 1 dari 5 Tulisan) DAFTAR ISI BAB I................................... Palembang... PENDAHULUAN Lahan rawa di Indonesia cukup luas dan tersebar di tiga pulau besar.... Universitas Sriwijaya... Program Magister (S2)....... 55 I........ Indonesia...................... 3 BAB III...... RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT MASAM....................................................... Kalimantan.4 juta ha.. Pemanfaatan lahan pasang surut untuk pertanian merupakan pilihan yang strategis dalam mengimbangi penciutan lahan produktif .......... Program Studi Ilmu Tanaman....... KESIMPULAN....... Program Pascasarjana....... Propinsi Sumatera Selatan.............. Program Studi Ilmu Tanaman..........................

teknologi mengatasi hama dan penyakit. 2) lahan sulfat masam. perumahan. industri dan pembangunan lainnya.5 juta ha di Kalimantan dan 0. Sehingga perhatian berupa investasi. Sejak proyek P4S tahun tujuh puluhan dan dilanjutkan dengan proyek penelitian Badan Litbang Pertanian Swamp I. Proyek Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Terpadu (ISDP) dan Proyek Pertanian PLG tahun sembilan puluhan telah banyak teknologi pengelolaan lahan rawa yang dihasilkan (Suriadikarta dan A.9 ha di Sumatera. khususnya untuk pertanian. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.di pulau Jawa yang dialihfungsikan untuk pembangunan sektor non pertanian seperti. yaitu 1) lahan potensial. Terjadinya lahan bongkor akibat reklamasi yang kurang tepat merupakan pengalaman kegagalan yang tidak perlu terulang lagi dalam pengembangan lahan rawa yang masih memungkinkan untuk pengembangan pertanian. A. dan kerjasama dengan Belanda (LAWOO) tahun delapan puluhan. Berbagai kegagalan telah didokumentasikan namun keberhasilan juga telah dicapai sepanjang pengembangan lahan rawa. baik rawa pasang surut maupun bukan pasang surut (lebak) dapat dijadikan basis pengembangan sistem ketahanan pangan.4 juta ha. sifat dan kelakuannya. 1. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertanian (1999). Potensi lahan rawa yang masih besar ini sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk menunjang persiapan pengembangan sistem ketahanan pangan dan agribisnis yang menjadi program utama sektor pertanian. jalan raya. dan model usahatani. 4) lahan salin atau pantai. Teknologi itu antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan. Pengembangan lahan rawa memerlukan perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan yang baik dan memerlukan penerapan teknologi yang sesuai. terutama pengelolaan tanah dan air yang tepat. Lahan rawa. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar- . lahan rawa dibagi menjadi lima tipologi lahan. (1999) sampai saat ini lahan rawa yang telah dibuka 2. dan kurangnya perhatian pemerintah dalam pemeliharaan jaringan tata air makro secara konsisten. Berdasarkan macam dan tingkat kendala dalam pengembangan dan pengelolaan. Menurut Sudiadikarta et al. 1995a dan 1995b). Lahan rawa di Irian Jaya (Papua) sampai saat ini masih belum dibuka untuk pertanian. terutama swasta dalam pemanfaatan lahan rawa seyogyanya dapat lebih ditingkatkan. penggunaan varietas yang adaptif. 5) lahan rawa lebak. menengah maupun jangka panjang. untuk kepentingan jangka pendek. Swamp II. pengembangan yang seimbang dan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik. kelembagaan pedesaan yang minim. diharapkan dapat mengembalikan lahan rawa menjadi lahan pertanian yang berproduktivitas tinggi. Namun penerapan teknologi pertanian lahan rawa umumnya tidak dapat diterapkan secara berkelanjutan disebabkan ada beberapa kendala yaitu : modal petani yang rendah.Abdurachman.. tata air mikro. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Widjaja-Adhi. infrastruktur yang terbatas. 2009. Pemanfaatan yang bijak. 3) lahan gambut. 1999). R.

** : Program Studi Ilmu Tanaman. Bercak kuning pucat ini merupakan senyawa hasil (produk) oksidasi pirit yang sering disebut dengan jarosit. Tanah sulfat masam terbagi menjadi sulfat masam potensial dan sulfat masam aktual. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah. Tanah sulfat masam merupakan tanah liat rawa dan seringkali memiliki lapisan gambut tipis < 20 cm. Palembang. Palembang. Ir.blogspot. Indonesia. Abdul Madjid. Sulfat masam potensial dapat berubah menjadi sulfat masam aktual bila tanah mengalami drainase yang berlebihan akibat reklamasi. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2).com. Apabila oksidasi pirit berlangsung cepat maka akan terbentuk mineral jarosit berupa bercakbercak karatan berwarna kuning jerami (Dent. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. yang diartikan sebagai lempung yang berwarna seperti warna pada bulu kucing. akan teroksidasi bila kondisi berubah menjadi aerob. Universitas Sriwijaya. Palembang. Diposkan oleh Dr. Langenhoff. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Program Studi Ilmu Tanaman. memiliki lapisan pirit yang belum teroksidasi (bahan sulfidik) atau sudah teroksidasi (horison sulfurik) pada kedalaman 0-50 cm. ion hidrogen dan Fe3+. (2) Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Istilah tanah sulfat masam sendiri digunakan karena berkaitan dengan adanya bahan sulfida (pirit) dalam tanah ini yang apabila teroksidasi menghasilkan asam sulfat sehingga menyebabkan tanah menjadi masam sampai sangat masam (pH 2-3). kemasaman tanah dapat dikurangi namun disisi lain muncul masalah . (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Menurunnya permukaan air tanah akibat pembuatan saluran drainase primer-sekunder-tersier menyebabkan oksigen masuk ke dalam pori tanah dan akan mengoksidasi pirit membentuk asam sulfat. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. 1986). Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM Pertama kali tanah sulfat masam dikenal dengan sebutan cat clay yang diambil dari asal kata katteklei (bahasa Belanda). Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. MS di 02:21 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Pirit yang semula stabil dan tidak berbahaya pada kondisi anaerob atau tergenang. Pada kondisi tergenang.Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. 1986. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. yaitu warna kelabu dengan bercak kuning pucat (jerami).

keracunan besi fero (Fe2+), Al, Mn, Hidrogen sulfida, CO2, dan asam organik. Masalah fisik yang sering dijumpai adalah terhambatnya perkembangan akar tanaman pada horison sulfurik karena tanaman kekurangan air, pematangan tanah terhambat serta saluran drainase tertutup oleh deposit oksida besi. Pada kondisi seperti ini, pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanah terhambat. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang akan sangat terbatas dengan hasil rendah. Proses kimia pada tanah sulfat masam: Proses kimia pada tanah sulfat masam dapat dikelompokkan menjadi dua bagian penting. Pertama, proses kimia yang terjadi dalam keadaan reduktif, antara lain pembentukan pirit, reduksi besi feri menjadi fero, serta reduksi senyawa beracun. Kedua, proses kimia pada kondisi oksidatif, yang terpenting adalah oksidasi pirit. a. Proses reduksi Pada kondisi aerob, sumber elektron utama bagi aktivitas mikroorganisme pendekomposisi bahan organik adalah oksigen. Bila keadaan berubah menjadi anaerob, oksigen di dalam tanah secara perlahan menghilang. Namun demikian, dekomposisi bahan organik oleh bakteri anaerob tetap berlangsung dengan memanfaatkan elektron yang dilepaskan dalam proses reduksi nitrat, oksida mangan, oksida besi, dan sulfat. Dalam proses reduksi selalu memanfaatkan proton, sehingga pH tanah akan meningkat. Proses kimia penting yang terjadi adalah : Pembentukan pirit. Pirit (FeS2) adalah mineral berkristal kubus dari senyawa besi-sulfida yang terkumpul di dalam endapan marin kaya bahan organik dan diluapi air mengandung senyawa sulfat (SO4-) dari air laut. Bentuk kristal pirit sangat halus bervariasi dari <> 2 mikron hingga > 100 mikron (Van Dam dan Pons, 1972). Kandungan pirit dalam endapan marin mencapai 5%, tetapi umumnya 1-4% (Van Breemen, 1972). Pembentukan pirit memerlukan persyaratan tertentu : (1) Lingkungan anaerob : Reduksi sulfat hanya dapat terjadi pada kondisi yang sangat anaerob seperti pada sedimen tergenang dan kaya bahan organik. Dekomposisi bahan organik oleh bakteri anaerob menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat masam sehingga menyebabkan lingkungan bertambah masam (Pons et al., 1982); (2) Sulfat terlarut : Sumber utama sulfat adalah air laut atau air payau pasang; (3) Bahan organik : Oksidasi bahan organik menghasilkan energi yang sangat diperlukan oleh bakteri pereduksi sulfat. Ion sulfat bertindak sebagai sumber elektron bagi respirasi bakteri kemudian direduksi menjadi sulfida. Jumlah sulfida yang terbentuk berkaitan langsung dengan jumlah bahan organik yang dimetabolisme oleh bakteri; (4) Jumlah besi : Tanah dan sedimen mengandung besi oksida dan hidroksida dalam jumlah yang banyak, yang akan tereduksi menjadi Fe2+, yang sangat larut pada pH sekitar normal atau dijerap oleh senyawa organik yang larut; (5) Waktu : Waktu yang diperlukan untuk pembentukan pirit pada kondisi alami masih belum

banyak diketahui. Reaksi antara padatan FeS dan S berjalan sangat lambat, memerlukan waktu bulanan bahkan tahunan untuk menghasilkan sejumlah pirit. Namun demikian, pada kondisi yang sesuai, Fe2+ larut dan ion polisulfida dapat membentuk pirit dalam beberapa hari (Howarth, 1979 dalam Dent, 1986). Reaksi keseluruhan pembentukan pirit dari besi oksida (Fe2O3) sebagai sumber Fe digambarkan sebagai berikut : Pada kondisi tergenang atau anaerob, selain terbentuk ion mono-karbonat, di dalam tanah atau sedimen juga mengandung karbonat yang berasal dari koral atau binatang laut. Karbonat akan menetralisir kemasaman tanah dan mempertahankan pH sekitar netral. Pirit adalah zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Zat ini dibentuk pada waktu lahan digenangi oleh air laut yang masuk pada musim kemarau. Pada saat kondisi lahan basah atau tergenang, pirit tidak berbahaya bagi tanaman. Akan tetapi, bila terkena udara (teroksidasi), pirit berubah bentuk menjadi zat besi dan zat asam belerang yang dapat meracuni tanaman. Pirit dapat terkena udara apabila: =>Tanah pirit diangkat ke permukaan tanah (misalnya pada waktu mengolah tanah, membuat saluran, atau membuat surjan). =>Permukaan air tanah turun (misalnya pada musim kemarau). Gejala keracunan zat besi pada tanaman: · Daun tanaman menguning jingga · Pucuk daun mengering · Tanamannya kerdil · Hasil tanaman rendah. Ciri-ciri tingginya kadar besi dalam tanah: · Tampak gejala keracunan besi pada tanaman · Ada lapisan seperti minyak di permukaan air · Ada lapisan merah di pinggiran saluran. Belerang menyebabkan air tanah menjadi asam, bahkan lebih asam daripada cuka. Akibat yang ditimbulkan adalah: · Tanaman mudah terserang penyakit · Hasil panen rendah · Tanaman lebih mudah kena keracunan besi. Tingkat kemasaman tanah diukur dengan angka pH. Makin rendah angka pH, makin asam air atau tanahnya. Tanaman padi menyukai pH antara 5-6 dan padi tidak dapat hidup jika berada pada pH di bawah 3. Pirit di dalam tanah dapat ditandai dengan: · Adanya rumput purun atau rumput bulu babi, menunjukkan ada pirit di dalam tanah yang telah mengalami kekeringan dan menimbulkan zat besi dan asam belerang. · Bongkah tanah berbecak kuning jerami ditanggul saluran atau jalan, menunjukkan adanya pirit yang berubah warna menjadi kuning setelah terkena udara.

=> Adanya sisa-sisa kulit atau ranting kayu yang hitam seperti arang dalam tanah. Biasanya di sekitamya ada becak kuning jerami. => Tanah berbau busuk (seperti telur yang busuk), maka zat asam belerangnya banyak. Air di tanah tersebut harus dibuang dengan membuat saluran cacing dan diganti dengan air baru dari air hujan atau saluran. Kedalaman pirit diukur dengan cara berikut ini: · Gali lubang sedalam 75 cm atau lebih. · Ambillah gumpalan tanah mulai dari kedalaman 10 cm, 20 cm, 30 cm, dan seterusnya sampai ke bagian bawah. · Gumpalan tanah tersebut ditandai dan dicatat sesuai dengan asal kedalaman. · Setiap gumpalan tanah ditetesi air peroksida. Bila keluar buih meledak-ledak menunjukkan adanya pirit dalam tanah tersebut. · Cara lain dengan menyimpan gumpalan tanah tadi di tempat teduh. Diamati setelah 3 minggu, jika ada becak warna kuning jerami, maka tanah tersebut mengandung pirit. Cara ini diulang sedikitnya di 20 tempat untuk setiap hektar lahan, guna memastikan kedalaman piritnya. Sehingga sewaktu mengolah tanah, pirit tidak teroksidasi, karena dapat meracuni tanaman. Reduksi Fe3+menjadi Fe2+. Pada sebagian tanah masam, penggenangan akan mengakibatkan pH meningkat hingga 6-7 setelah beberapa minggu. Pada kondisi seperti ini, proses terpenting adalah reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ (Ponnamperuma, 1972; Patrick dan Reddy, 1978). Pada tanah sulfat masam muda, peningkatan pH dari 3,0-3,5 menjadi 5,5-6,0 berkaitan dengan tingkat pelarutan Fe2+ yang dicapai. Pada tanah sulfat masam yang telah lanjut, pH meningkat sangat lambat setelah penggenangan bahkan kadang-kadang tidak mencapai 5,5-6,0. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh : (1) lambatnya proses reduksi dan (2) tidak adanya bahan yang akan direduksi seperti misalnya oksida besi feri. Pada kondisi pertama, maka setelah penggenangan tidak akan terjadi perubahan nilai Eh atau pH yang drastis. Pada kasus kedua, nilai Eh akan menurun tanpa meningkatkan pH. Menurut Dent (1986), tanah sulfat masam yang sudah tua mengandung besi dalam bentuk kristal goetit dan hematit yang stabil sehingga sulit tereduksi. Sebaliknya tanah sulfat masam yang masih muda kaya akan koloid besi, sehingga diperkirakan mempunyai kadar besi terlarut yang tinggi setelah penggenangan. Reduksi oksida Fe3+ dengan bahan organik sebagai donor elektron akan mengkonsumsi 4 proton : Konsten et al., (1990) melaporkan bahwa tanah sulfat masam di Kalimantan ada yang tidak menunjukkan peningkatan pH setelah penggenangan. Hal ini disebabkan tanah tersebut mempunyai kandungan oksida Fe3+ yang rendah dibandingkan kapasitas netralisasi oleh tanah. Reduksi sulfat. Proses reduksi sulfat menjadi sulfida dapat terjadi pada kondisi pH di atas 4 hingga 5, pada pH di bawah itu reaksi terjadi sangat lambat dan bahkan tidak ada. Reduksi sulfat seringkali terjadi pada tanah sulfat masam yang masih muda dan sulfat masam lanjut yang lama tergenang. Reduksi sulfat ini sangat berkaitan dengan adanya hasil dekomposisi bahan organik yang masih baru. H2S yang terbentuk sangat beracun bagi tanaman, pada konsentrasi 0,1 mg l-1 H2S sudah dapat meracuni tanaman padi dalam larutan hara (Mitsui, 1964 dalam van Breemen, 1993). Reaksi yang terjadi digambarkan sebagai berikut :

c. secara perlahan berubah menjadi unsur beracun dan merupakan sumber kemasaman tanah bila kondisi tanah berubah menjadi oksidatif. besi oksida. Pengujian secara mikro-morfologi menunjukkan bahwa ada perbedaan/batas yang nyata antara lokasi beradanya pirit dan bahan hasil oksidasinya seperti jarosit. sedangkan jarosit.000 hari. Hasil akhir dari oksidasi pirit adalah hidroksida Fe3+. Kalsium karbonat dan basa dapat ditukar merupakan bahan penetralisir kemasaman dimana reaksinya dengan asam sulfat berjalan cepat(van Breemen. Reklamasi lahan rawa melalui pembuatan saluran drainase mengakibatkan perubahan kimia di dalam tanah sulfat masam. Pirit biasanya terdapat di dalam inti dari ped. Pada pH > 4. oksida dan hidroksida Fe3+ akan mengendap. meliputi reaksi-reaksi kimia dan biologis (Dent. berbagai tingkatan oksidasi yang berlangsung tidak terjadi pada titik yang sama. Pada tahap awal. Jarosit [KFe3(SO4)2(OH)6] merupakan endapan berwarna kuning pucat hasil oksidasi pirit pada kondisi yang sangat masam. Kecepatan oksidasi pirit oleh Fe3+ sangat dipengaruhi oleh pH. Pada pH di bawah 4. 1986).b. Hasil oksidasi pirit Oksidasi pirit oleh Fe3+ menghasilkan ion (H+) yang kemudian sebagian digunakan lagi untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. (3) kecepatan perubahan bahan hasil oksidasi.5 reaksi oksidasi kimia ini berjalan sangat lambat dengan waktu paruh 1. van Breemen (1976) menduga bahwa oksigen bereaksi dengan Fe2+ terlarut membentuk Fe3+ terlebih dahulu sebelum bertemu dengan pirit. Besi oksida dan pirit di dalam tanah mungkin secara fisik berada pada tempat yang berdekatan. misalnya dalam bentuk goetit yang lambat laun akan berubah menjadi hematit (Dent. karena Fe3+ hanya larut pada nilai pH di bawah 4 dan Thiobacillus ferrooxidans tidak tumbuh pada pH yang tinggi. oksigen terlarut secara lambat bereaksi dengan pirit menghasilkan 4 molekul H+ per molekul pirit yang dioksidasi : Pada nilai pH kurang dari 3. Kecepatan penurunan pH akibat oksidasi pirit tergantung pada : (1) jumlah pirit. dan gipsum. proses oksidasi terhambat oleh suplai O2. Pirit yang semula tidak berbahaya pada kondisi tergenang. namun ada tidaknya reaksi di antara mereka sangat dipengaruhi oleh kelarutan Fe3+. 1986). Reaksi oksidasi pirit dengan oksigen pada tanah sulfat masam berlangsung dalam beberapa tahapan. yaitu pada Eh diatas 400 mV dan pH kurang dari 3. 1993). Proses oksidasi Proses utama yang terjadi bila tanah sulfat masam teroksidasi adalah oksidasi pirit.7. (2) kecepatan oksidasi. Perbedaan yang besar antara pasang surutnya air laut serta musim kemarau yang panjang menyebabkan pirit teroksidasi secara alami. dan (4) kapasitas netralisasi. Kecepatan oksidasi pirit cenderung bertambah dengan menurunnya pH tanah. besi oksida. Reaksi pembentukannya sebagai berikut : . Di dalam tanah. dan gipsum terdapat pada permukaan ped dan ruang pori.

H2S.2 hingga 3. Al3+ dan asam-asam organik yang dilepaskan sebagai akibat teroksidasinya pirit. logam berat yang larut air lebih tinggi pada tanah berpirit dibandingkan tanah lanjut/tua. 1976). Bercak merah dan coklat pada sulfat masam adalah goetit yang kadang-kadang berasosiasi dengan jarosit dan hematit (van Breemen.9) di Bangkok. 1993). 1986).. Fe2+. apabila tanah sulfat masam dibuka untuk pertanian. sekunder. 1973). Hasil pengujian mikroskopi terhadap irisan tipis dan difraksi sinar X menunjukkan bahwa bercak kuning yang merupakan karakteristik tanah sulfat masam didominasi oleh jarosit dan goetit.94. seperti saluran primer. Aktivitas Al3+ terlarut berkorelasi secara langsung dengan pH. Pb yang menggantikan sulfida (Deer et al. jarosit tidak stabil dan mudah berubah menjadi goetit dan terhidrolisa menjadi oksida besi. dan As terdapat dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah berpirit yang aerasinya baik (pH 2.9) dibandingkan pada tanah sulfat masam yang sudah berkembang (pH 3. berasal dari vegetasi pantai seperti api-api dan bakau/mangrove. yaitu tetap dalam kondisi tereduksi. masih banyak unsur lain seperti gas SO2. Sebagian besar dari sulfur terlarut hilang bersama air drainase atau berdifusi ke lapisan di bawahnya yang kemudian akan direduksi kembali menjadi sulfida.5) dan tanah marin yang tidak masam (pH 4. 1993) menunjukkan bahwa konsentrasi unsur Cu. bila pH meningkat maka aluminium akan mengendap sebagai hidroksida atau basic sulfate (van Breemen. Zn. atau sangat sulit diatasi. Gipsum terbentuk pada tanah sulfat masam melalui reaksi netralisasi kemasaman oleh kalsium karbonat : Ion hidrogen (proton) yang dihasilkan dari oksidasi pirit menyebabkan kondisi tanah yang sangat masam.Pada pH di atas 4.8 (Dent. pH yang sangat rendah menyebabkan penghancuran kisi-kisi mineral liat sehingga silikat dan Al3+ terlepas. Selain unsur mikro. Unsur-unsur tersebut akan terlepas kembali saat pirit teroksidasi. Di lapangan. Sebagian kecil tertahan dalam bentuk jarosit atau gipsum. 1965 dalam van Breemen. dan tanah bagian atas menjadi kering dan terbuka. Satawathananont (1986 dalam van Breemen. Zn. Akibat adanya oksigen di udara. Mo. dan tersier. Pirit yang terbentuk dalam suasana reduksi dalam endapan laut di dekat pantai dengan kandungan bahan organik tinggi. dengan tujuan untuk mengeringkan wilayah agar tanah sulfat masam yang semula basah atau tergenang menjadi tanah yang relatif lebih kering yang siap digunakan sebagai lahan pertanian. Masalahnya dimulai pada saat direklamasi. Akibat adanya saluran-saluran drainase tersebut. nilai pH tanah sulfat masam berkisar antara 3. Beberapa unsur mikro seperti Ni dan Co ikut terakumulasi di dalam sedimen karena mensubstitusi Fe dalam pirit atau unsur Cu. Lebih lanjut ia mengamati tanah yang diinkubasi pada nilai potensial redoks dan pH yang terkontrol dalam suasana masam yang oksidatif selama dua minggu. Sulfat merupakan salah satu hasil oksidasi pirit yang sangat sedikit dijerap oleh profil tanah. permukaan air tanah menjadi turun. Ni. maka tanah bagian atas ini mengalami oksidasi. yaitu dengan penggalian saluran-saluran drainase besar. Pb. Cd. Meningkatnya kandungan silika dan Al3+ terlarut mempengaruhi karakteristik tanah dan air tanah. Keluarnya unsur-unsur beracun tersebut dari tanah melalui air drainase ke perairan umum dapat menyebabkan polusi dan mengancam kehidupan biota sungai/laut. . Kandungan pirit di tanah sulfat masam temyata di kemudian hari menjadi permasalahan utama yang berat. sementara tanah bagian bawah masih tetap berada di lingkungan air tanah.

320 dS/m). hampir mentah (practically unripe) sampai mentah. sehingga tidak sesuai untuk tanaman pertanian.0). dengan debu 25-60%.000-21. dan warnanya kelabu tua sampai kelabu gelap.17-0. dan umumnya berwarna kelabu-kelabu gelap.61%) di lapisan bawah. Hasil akhirnya merupakan tanah ber-reaksi masam ekstrim (pH <3.0).).8). tekstur liat berdebu sampai liat. tekstur umumnya liat berdebu.5-3.3). Tekstur seluruh lapisan tanah menunjukkan halus. karena memiliki reaksi masam ekstrim.5-4.0-4.54%) di lapisan atas. atau purun tikus (Fimbristylis sp. dan cenderung makin masam di lapisan-Iapisan bawah. ditunjukkan oleh daya hantar listrik yang bervariasi dari 7.>4. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. dan warnanya kelabu tua sampai coklat kekelabuan. dengan rata-rata termasuk sangat tinggi sekali (7. Rata-rata C/N tergolong tinggi (16-24) di lapisan atas.16-20. Profil tanah sulfat masam potensial.000 dS/m. Vegetasi alami yang mampu tumbuh adalah yang toleran terhadap kemasaman tinggi. Kandungan garam. setengah matang sampai hampir matang. reaksi tanah sangat masam-agak masam (pH >4. dan mengalami oksidasi. Lahan ini banyak ditinggalkan petani transmigran. Reaksi tanah di seluruh lapisan bervariasi dari masam ekstrim (extremely acid) (pH 3.5). dan di lapisan bawah masam ekstrim sampai sangat masam sekali (pH 3. dan sangat tinggi (6. terdapat di Delta pulau Petak biasanya berupa purun (Lepironia mucronata). pirit bersifat stabil sesuai dengan suasana lingkungan pembentukannya. tekstur tanah lapisan atas termasuk liat berdebu. Kandungan bahan organik.28%) di lapisan bawah. baik pada SMP dari Sumatera maupun SMP dari Kalimantan. dan debu 20-50%. Ratarata kandungan bahan organik sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (9. Tanaman padi yang ditanam di tanah ini tidak menghasilkan gabah yang berarti.59-0.Dalam kondisi reduksi. Sementara kandungan liat SMP dari Kalimantan.253-7.5 atau kurang) sampai sangat masam (very strongly acid) (pH 4. sehingga menjadi lahan bongkor dan ditutupi semak-semak lebat. tekstur liat berdebu sampai liat.0). dengan data terbatas yang hanya berasal dari SMP Kalimantan. dan sangat tinggi (30-31) di lapisan bawah. sekitar 0-12/16 cm.31-6. dan gelam (Melaleuca leucadendron). Tanah sulfat masam aktual. reaksi tanah masam-agak masam (pH >4. Rasio C/N di seluruh lapisan tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi. .70%) di lapisan atas. tanah bagian atas teroksidasi relatif lebih tipis sekitar 25-75 cm. Kandungan N tinggi (0. bervariasi antara 40-85%. Akibat penurunan air tanah. pirit yang berada di tanah bagian atas ikut terbuka (exposed) di lingkungan yang aerob. dan menurun menjadi rendah sampai sedang (0. Reaksi tanah lapisan atas rata-rata sangat masam sekali (pH 4. sedangkan lapisan bawahnya liat berdebu atau liat. menghasilkan asam sulfat dan senyawa besi bebas bervalensi 3 (Fe-III). Sulfat masam potensial Data profil sulfat masam potensial (SMP) menunjukkan adanya lapisan gambut permukaan yang tipis. yaitu tekstur tanah SMP dari Sumatera mempunyai kandungan liat antara 40-75%. dan banyak kandungan ionion yang bersifat racun/toksik. Lapisan bawah tereduksi. tidak termasuk lapisan gambut tipis di permukaan tanah bervariasi sedang sampai sangat tinggi. Dengan demikian.8). dan cenderung meningkat di lapisan bawah.

Kandungan N rata-rata tergolong sedang (0.89. dan tinggi (28. maupun lapisan bawah (4. tidak menyebutkan adanya SMA karena data relatif berumur tua. Kandungan fosfat tersedia (P2O5 Bray-I) tergolong sedang sampai tinggi (17. Sementara kandungan P2O5 di seluruh lapisan pada SMP dari Kalimantan.34-6.35-2. Kandungan K2O tergolong sedang (32-35 mg/100 g tanah) di lapisan atas. bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi. dan menurun menjadi rendah sampai sedang di lapisan bawah. Jumlah basa.Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI) pada SMP dari Sumatera bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi di lapisan atas.8.43-0.9-32.5. hanya berasal dari lahan rawa di Kalimantan.61-7. pada SMP dari Sumatera.7-32. dan debu 25-60%. dengan kandungan fraksi liat 35-70%.49%) di seluruh lapisan.19 cmol(+)/kg tanah. Kejenuhan basa tergolong rendah sampai sedang (35-49%) di lapisan atas.01 cmol(+)/kg tanah) maupun di lapisan bawah (4. sementara lapisan bawah antara kedalaman 20-120 cm menunjukkan pH antara 1.02 cmol(+)/kg tanah) pada SMP dari Kalimantan. Rasio C/N .05-8.2-17. tergolong tinggi (18. Sementara kandungan K-dapat tukar. dan rendah (1. Kandungan bahan organik di seluruh lapisan bervariasi tinggi sampai sangat tinggi.5-62. Seluruh lapisan tanah memiliki tekstur halus. Kandungan pirit (FeS2) sangat rendah (0. 1974-1978. Rataratanya tinggi (58 mg/100 g tanah) di lapisan atas.44-1. dan rata-ratanya rendah (32-35%) di lapisan atas. dan sedang (15. Kandungan Na tergolong sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali. Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya sangat bervariasi dari sangat rendah sampai sangat tinggi. Tanah mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis. dan sedang sampai tinggi (29-60 mg/100 g tanah) di lapisan bawah.51-10.11-7. dan di lapisan bawah sedang (33 mg/100 g tanah). Oleh karena itu. Lapisan atas berreaksi sangat masam sekali (pH 3. Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar rendah sampai sedang.95 cmol(+)/kg tanah). Basa dapat tukar yang dominan di seluruh lapisan tanah adalah Mg dan Na masing-masing untuk Mg termasuk sangat tinggi (10.0-28. dan rendah (20 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. baik di lapisan atas (5. dan termasuk tinggi (7. dengan pH rata-rata 2. dan rendah sampai sedang (30-47%) di lapisan bawah.12%) di lapisan atas. baik di lapisan atas (2. sehingga tergolong ber-reaksi masam ekstrim.3 cmol(+)/kg tanah).6).31%) di lapisan bawah. rata-rata kandungan P2O5 potensial di lapisan atas termasuk sangat tinggi (115 mg/100 g tanah).84 cmol(+)/kg tanah). dan di lapisan bawah liat.0 ppm) di lapisan bawah.8-3.93%). dan sedang sampai sangat tinggi (55-84%) di lapisan bawah. tergolong sedang (0.91-5. dan cenderung menurun di lapisan-Iapisan bawah.7 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah karena pengaruh kandungan bahan organik yang sangat tinggi. Sulfat masam aktual Data Sulfat Masam Aktual (SMA) yang tersedia. Kapasitar tukar kation tanah.5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas. sekitar 0-12 cm. menunjukkan nilai tinggi sampai sangat tinggi (31.3 ppm) di lapisan atas. sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (7. Sementara data analisis yang berasal dari Sumatera.61 cmol(+)/kg tanah). sehingga tekstur tanah lapisan atas tergolong liat berdebu.22-0. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah.14.64 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan.

dan rendah (12. Demikian juga Na terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali di seluruh lapisan. A. dan cenderung menurun di lapisan bawah.07%) di kedua lapisan tanah. dan rata-ratanya tergolong tinggi (33. MS di 02:04 1 komentar Label: Kesuburan Tanah . Dasar-Dasar Ilmu Tanah.2 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan karena kontribusi dari bahan organik. Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) di lapisan atas bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi.1 cmol(+)/kg tanah). rata-rata jumlah basa. Diposkan oleh Dr. Kandungan P2O5 lapisan bawah.85-1. Karena itu. http://dasar2ilmutanah. sebagian sangat rendah.6 ppm) di lapisan bawah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Seperti pada tipe. Ir. rata-ratanya termasuk sedang (19. dan cenderung semakin rendah ke lapisan bawah. Kejenuhan basa di seluruh lapisan tanah sangat bervariasi.25 cmol(+)/kg tanah) di semua tapisan. dan rata-ratanya termasuk tinggi (45 mg/100 g tanah). Oleh karena itu.bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi. dengan rata-rata sedang (40-42%). (2) Kesuburan Tanah. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.70-14. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah.12 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas dan lapisan bawah. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah tergolong tinggi (21. Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.com. sebagian besar tinggi sampai sangat tinggi di semua lapisan. Kandungan fosfat tersedia (P Bray-I) di seluruh lapisan sangat rendah sampai sedang. Sedangkan K-dapat tukar tergolong tinggi (0. 2009. Sebaliknya kandungan K2O potensial (HCl 25%). sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (73-81 mg/100 g tanah).49-4. sehingga rata-ratanya tinggi (67-71%) baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. sehingga rata-ratanya rendah (17 mg/100 g tanah). Mg terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali.30-9. basa dapatttukar yang dominan di seluruh lapisan adalah Mg dan Na. Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar umumnya bervariasi dari sangat rendah sampai sedang. dan bertambah besar di lapisan bawah. dan rendah (0. Kandungan pirit (FeS2) menunjukkan rata-rata sangat rendah (0. Kapasitas tukar kation tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi. sebagian rendah sampai sedang.3 ppm) di lapisan atas. dan rata-ratanya tergolong rendah (3. Abdul Madjid.89 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas. Jumlah basa-basa di semua lapisan sampai sedalam 180 cm sangat bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi sekali.tipe lahan sebelumnya. R. Karena itu rasio C/N rata-rata tergolong tinggi (25) di lapisan atas. sehingga rata-ratanya termasuk sangat tinggi sekali (9. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.37 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.blogspot. dan sangat tinggi (39) di lapisan bawah.9-29. dan sebagian lagi sangat tinggi.87 cmol(+)/kg tanah). dan rata-ratanya sangat tinggi (8. sebagian besar sangat rendah sampai sedang.5-37.

Penyiapan lahan sistem olah tanah konservasi merupakan teknologi yang dapat mengendalikan dan mengkonservasi pirit yang terdapat pada lapisan tanah. .0). adalah lahan sulfat masam. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman.>Ada tiga komponen teknologi yang harus diterapakan secara bersama-sama. oleh karena itu pirit di dalam tanah di upayakan tetap stabil dengan cara penerapan teknologi olah lahan konservasi. Universitas Sriwijaya. RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT MASAM Salah satu tipologi lahan yang dijumpai di lahan rawa pasang surut. 2006). Indonesia.0 dan menghasilkan besi ferro (Fe 2+) yang bersifat racun bagi tanaman padi. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). *** :Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Terjadinya oksidasi pirit akan memasamkan tanah sehingga pH tanah turun sampai di bawah 3. Lahan sulfat masam di mana kandungan besinya cukup tinggi dan ditemukan pada lapisan tanah tidak terlalu dalam (<50>Pirit tidak berbahaya apabila tidak terekspos ke permukaan tanah dan tidak memgalami oksidasi. Olah tanah konservasi merupakan salah satu teknologi yang dapat menjawab atau mengatasi masalah yang berpeluang muncul dalam pengembangan kawasan lahan eksPLG di Kalteng sebagai lahan produksi pangan (Simatupang. yakni penataan lahan. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. ** :Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. dan penanaman tanaman varietas toleran (Simatupang. 2006). Palembang. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. diantaranya kemasaman tanah sangat tinggi (pH tanah <4. Palembang. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Dicirikan dengan terdapatnya lapisan sulfida (pirit-FeS2) yang kadarnya >2% di dalam tanah dengan kedalaman bervariasi. sifat kimia tanahnya kurang menguntungkan bagi usaha pertanian. Program Pascasarjana. pengelolaan tanah dan air. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Program Magister (S2).Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh:Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * :Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.

Teknologi olah tanah konservasi erat kaitannya dengan pengelolaan gulma. Sistem olah tanah konservasi dapat diterapkan sebagai pengganti sistem olah tanah yang mengguanakan banyak tenaga kerja. dilain pihak tenaga kerja sulit diperoleh (langka) dan upahnya relatif mahal.Olah tanah konservasi merupakan teknologi penyiapan lahan yang menganut kepada prinsip konservasi tanah dan air. oleh karenannya dalam penerapannya berkaitan dengan penggunaan herbisida sebagai komponen utama untuk untuk mengendalikan gulma sehingga lahan menjadi siap untuk ditanami. 2006). 2006). Herbisida digunakan bertujuan untuk lahan menjadi siap untuk ditanam dan sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan gulma di areal pertanaman sebagai lahan ditanami (Simatupang. dan sulfo sat). Sistem mekanisasi pada pengolahan tanah akan menyebabkan pengusikan tanah yang juga akan memperlancar difusi oksigen ke dalam tanah. Sistem olah tanah konservasi di lahan sulfat masam sangat erat hubungnannya dengan terdapatnya lapisan sulfidik (pirit) di dalam tanah hendaknya dipertahankan tetap dalam keadaan stabil. paraquat. tadak terekspos (terangkat ke permukaan tanah) sehingga pirit tidak mengalami oksidasi (Simatupang. Berdasarkan penelitian berlokasi SP-I Palingkau di kawasan lahan eks-PLG. batang pisang atau kelapa. 2006). dan memberikan kontribusi yang besar dalam usaha peningkatan produksi dan penyediaan pangan nasional (Simatupang. mengurangi penggunaan tenaga kerja sampai 28% dan teknologi tanpa olah tanah mampu mengendalikan keracunan besi pada tanaman padi. teknologi TOT ini juga dapat mendukung sistem usahatani yang berkelanjutan (Simatupang. 2006). meningkat pendapatan petani. Bertujuan untuk mengatasi dan mengendalikan terjadinya degradasi kesuburan tanah terutama pada lahan-lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut sehingga produktivitas lahan dapat dipertahankan dan berkelanjutan (Simatupang. 2006). R/C-ratio 1.28. 2006). Di kawasan lahan rawa pasang surut. Tahapan kegiatan dalam penerapan sistem penyiapan tanpa olah tanah: vegetasi (gulma dan sisa tanaman sebelumnya) disemprot dengan herbisida (glyfostat. digilas dengan roda traktortanagn) sampai rata dengan permukaan tanah untuk memudahkan pelaksanaan tanam padi (Simatupang. Difusi oksigen akan memperbaiki aerasi tanah . Selain itu. Selanjutnya. Melalui penerapan teknologi ini revitalisasi pembangunan pertanian di kawasan lahan eks-PLG diharapkan memberikan hasil yang optimal. setelah gulma mati kemudian direbabkan menggunakan alat bantu (seperti drum.24-1. 2006). tenaga kerja merupakan salah satu kendala dalam sistem usahatani sehingga untukk mengatasi masalah tersebut sistem penyiapan lahan tanpa olah tanah merupakan cara yang lebih tepat (Simatupang. penerapan teknologi tanpa olah tanah merupakan langkah yang strategis. ternyata penerapan teknologi tanpa olah tanah menggunakan herbisida dapat meningkatkan hasil padi 30-47% dibanding hasil padi yang didapat dengan teknologi yang diterapkan oleh petani umumnya. dilain pihak gulma tumbuh cepat dan subur di lahan pasang surut. Maka untuk memacu usaha peningkatan produksi dan untuk mengendalikan kegagalan usahatani padi karena timbulnya keracunan besi.

P. . dan terutama P dan B sering dialami tanaman budidaya (lahan kering) merana dan kerdil akibat kemasaman dan keracunan ion Al3+ dan Fe3+ yang tinggi. dan K) menunjukkan lebih baik. P. Proses perubahan suasana ini selalu menyebabkan pemasaman pada tanah. akan lestari bila kadar pirit awal <1%> (b) Perbaikan sifat fisika tanah dapat dikerjakan dengan pemberian bahan gambut hingga takaran yang mampu mencegah tanah bersifat kohesif bila kering. (d) Pembilasan garam terlarutkan. Hasil-hasil pertanian di tanah sulfat masam menunjukkan pemberian pupuk berpengaruh positif terhadap hasil tanaman. terlebih lagi bila dalam tanah tersebut terkandung bahan sulfidik. Pada kondisi tergenang tanaman (seperti padi) mengalami keracunan Fe2+. Tata air yang berfungsi sebagai saluran pengatus tanpa keberadaan sistem pengatur muka air tanah dapat menyebabkan tanah rawa menjadi over drain sehingga status tanah yang semula reduktif berubah menjadi oksidatif. (c) melihat pengaruh pengolahan tanah secara mekanisasi terhadap evolusi kejenuhan aluminium di tanah sulfat masam potensial pada sistem sawah dan palawija. tanah tidak reaktif lebih tanggap daripada tanah reaktif. Keragaan tanaman yang diberi pupuk lengkap (N. atau sejenis lainnya. Tahana (status) hara pada tanah sulfat masam tergolong rendah bahkan sangat rendah. (e) Kejituan pemberian amelioran sangat ditentukan oleh tingkat reaktifitas tanah. H2S. Pembilasan sisa air laut sangat dibutuhkan untuk menghindari plasmolisis akar tanaman. hasil oksidasi pirit yang bersifat masam sangat diperlukan sebelum tanah sulfat masam diberi amelioran dan pupuk. dan asamasam organik. Pengaruh ppuk lebih sangkil apabila kombinasi dengan pemberian bahan amelioran seperti kapur.yang berdampak pada perubahan suasana tanah. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengetahui peran gambut dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) Tanah sulfat masam paling cocok digunakan untuk padi sawah. guna mengurangi kontak antara asam yang timbul dengan tanah. (c) Air laut dapat berfungsi sebagai amelioran dengan jalan menukarkan sumber kemasaman dalam kompleks pertukaran dengan kation basa (Ca dan Mg serta K) yang ada dalam air laut tersebut. CO2. batuan fosfat alam. atau pupuk kandang sebagai bahan amelioran pada tanah sulfat masam. kapur. (b) melihat pengaruh air laut. Gejala kahat hara N. dolomit. maka pembilasan perlu segera dilaksanakan. Untuk itu perlu dilakukanlah penelitian hubungan antara potensi kemasaman dengan laju pengeluaran asam pada berbagai ayunan kondisi air oleh Sutanto (2001). bahan penukar atau penetral sangat efisien bila hanya untuk sumber kemasaman yang berada dalam kompleks pertukaran. K. Pembilasan dapat dikerjakan dengan air biasa ataupun air yang mengandung ion. Takaran gambut sampai 10% belum mampu melonggarkan tanah atau memperbaiki laju perembihannya.

MK 90. pemberian kapur tidak diperlukan setiap musim tanam (Noor.65 ton GKG/ha) yang apabila dipadukan dengan pelumpuran hasil padi meningkat 52 % (5. Laporan-laporan penelitian tentang pengaruh kapur menunjukkan hasil beragam.83 ton GKG/ha). Tambahan kapur susulan/ulangan sampai takaran 10 ton/ha setiap musim tanam secara terus-menerus berhasil meningkatkan hasil padi hingga mencapai 4. Al dapat ditukar. diperlukan sekitar 50 ton kapur/ha.5. Penelitian lain di lahan sulfat masam tipe C.5 diperlukan jumlah kapur yang besar sekali antara 15-20 ton kapur/ha.00 dan 3. dan Ca dan penurunan serapan Fe. Thailand (1982) merekomendasikan bahwa pemberian kapur cukup hanya beberapa ton saja untuk perbaiakn kondisi kemasaman dan tahanan hara tanah yang rendah. Pemberian kapur pada lahan budidaya yang telah mantap pada Kebun Percobaan Unit Tatas. Vietnam menunjukkan pemberian kapur hingga sebesar 3 ton kapur/ha tidak berpengaruh terhadap pH tanah. untuk menetralkan 1 % pirit yang apabila terdegradasi menghasilkan potensi kemasaman setara dengan 35 cmol (+)/kg.5 ton kapur/ha memberikan respon yang linier mengikuti persamaan : Y = 1. Pemberian kapur. Padahal kadar pirit tertinggi di tanah sulfat masam antara 5-7 % sehingga untuk menetralkannya diperlukan 200-400 ton kapur (Sutrisno. Dengan kata lain. Penelitian di lahan sulfat masam. Pemberian dolomit atau kapur tidak mesti untuk mencapai pH 5. Barambai. dolomit. Al3+.336 + 1. 1990. Berdasarkan kadar pirit. atau batuan fosfat alam banyak disarankan untuk menetralisir kondisi kemasaman dan keracunan oleh H+. 2. Dalam rangkaian penelitian ini juga ditunjukkan bahwa pengaruh residu kapur dapat diperoleh sampai masa tanam ketiga. Pengaruh pemberian kapur hingga takaran 3 ton/ha berhasil meningkatkan hasil padi sampai tanam ke empat. Pemberian kapur . kalimantan tengah menunjukkan pemberian kapur 1. 1996. Dimana: Y = hasil padi (dalam ton gabah/ha) dan X = takaran kapur (dalam ton kapur/ha) Rangkaian penelitian di alhan sulfat masam tipe luapan B.14. Unit Tatas. dan atau Fe3+. Maas. tetapi sebaliknya pada tanam ke 2 terjadi peningkatan pH.862 X. peningkatan serapan serapan N.8 ton gabah/ha. Hasil Simposium internasional tanah sulfat masam kedua di bangkok. serapan N. P.Prinsip dasar pemberian kapur pada tanah sulfat masam adalah untuk menekan kemasaman tanah terutama akibat kelarutan Al3+ yang tinggi dan juga untuk kemepanan pemupukan. Kapuas sampai dengan 1. MK 90/91 mencapai 3. Noor dan Saragih. 2000). 1997). kalimantan Selatan dengan pemberian kapur 2 ton CaCO3/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 20 % (4.5 ton CaO/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30 % berturut-turut hasil pada MH 89/90. P dan Ca pada tanam ke 1.28 ton GKG/ha). karena apabila ditujukan untuk menaikkan pH mencapai 5. penurunan Al. tetapi pada takaran 6-10 ton/ha hanya dapat meningkatkan hasil sampai pada tanam kedua selanjutnya menurun untuk tanam ketiga dan keempat.

Dalam simposium internasional tanah sulfat masam di Bangkok.2009. Ir. fosfat alam dapat dipilah antara yang bereaksi lemah (soft). Pemberian P dalam bentuk fosfat alam menunjukkan lebih unggul dibandingkan dengan bentuk superfosfat (TSP atau SP-36). Berdasarkan kuat lemahnya reaksi. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.50 ton kapur/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 90 % (2. terkait dengan sifat kimia tanah sulfat masam yang tinggi dalam menyemat (fixation) P. Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada sistem reklamasi garpu Unit Tatas. tetapi perbedaan hasil sangat kecil. Fe3+. R. A.Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.38 ton GKG/ha) dibandingkan dengan kontrol (1. Kalimantan Tengah menunjukkan tanggapan P muncul secara jelas pada pemberian bersaam dengan kapur. Pemberian P saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar 25 % (1.06 ton KG/ha).Dasar-Dasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah. Banyak laporan yang menyatakan munculnya gejala kahat P pada tanaman yang dibudidayakan di lahan sulfat masam. terutama oleh Al3+. Semenanjung Malaysia menunjukkan pemberian fosfat alam setara 100 kg P2O5/ha yang dikombinasikan dengan kapur 2 ton/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 15 % (4.blogspot.09 GKG/ha) dan tanpa kapur meningkatkan hasil padi hanya sebesar 5 % (3.22 ton GKG/ha). Pengaruh fosfat alam selain tergantung pada mutu dan kadar P-nya.susulan/ulangan lebih sangkil dibandingkan secara tunggal dalam jumlah kapur yang sama. dan sebagainya. MS di 01:28 0 komentar Label: Kesuburan Tanah . Selain kandungan unsur ikutan yang tinggi seperti Ca. sedang dan kuat (strong).Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Thailand (1982) banyak dikemukakan tentang pengaruh pemberian fosfat alam terhadap perubahan kimia dan hasil padi di lahan sulfat masam. Hal ini sebagaimana dikemukakan diatas. 1982). Mg. Pemberian 90 kg P2O5/ha yang dikombinasikan dengan 1. (2) Kesuburan Tanah. fosfat alam bersifat pelepas P lambat (slow release) sehingga cocok untuk tanah-tanah masam.76 ton GKG/ha) (Arulando dan Pheng. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. juga sifat reaksi yang ditimbulkannya. Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada sistem jaringan tat air Samuda Kedah. Hasil penelitia menunjukkan juga bahwa pengaruh residu P masih tampak sampai dengan tanam ketiga (Noor. Diposkan oleh Dr. Pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian besar mengandung kalsium fosfat yang disebut apatit (Ca10(PO4)6F2) berbentuk serbuk (prill) yang dapat digunakan langsung. teapi pada takaran >2 ton kapur/ha pengaruh pemberian P tidak muncul secara jelas.50 ton GKG/ha) dan kapur saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar 60 % (2. Abdul Madjid.com/. 1996).

kompos humus (bahan organik) mempunyai fungsi untuk menurunkan atau mempertahankan suasana reduksi karena dapat mempertahankan kebasahan tanah sehingga oksidasi pirit dapat ditekan. Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Pengelolaan Bahan Organik Pengelolaan bahan organik di lahan sulfat masam memegang peranan penting. dan anion-anion seperti sulfida dan sisa-sisa asam organik. Program Magister (S2). Indonesia. Palembang. Indonesia. Palembang. (Bagian 4. Universitas Sriwijaya. PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT MASAM A. Program Magister (S2). Fe2+.Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.A dari 5 Tulisan) IV. dan tererosi/terlindi. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. tetapi juga oleh perusahaan perkebunan yang bermodal besar karena dianggap mudah dan lebih murah. Palembang.A dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.A) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. tetapi di beberapa tempat kadar bahan organik tanah mengalami kemerosotan karena pembakaran atau terbakar. Program Magister (S2). terangkut melalui tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Dalam konteks tanah sulfat masam. . Mn2+. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Indonesia. tetapi sekaligus berperan dalam menekan oksidasi pirit. perombakan alamiah. Penekanan terhadap oksidasi pirit ini penting artinya bagi pertumbuhan tanaman yang peka terhadap peningkatan kemasaman dan kadar meracun kation-kation seperti Al3+. Penyiapan lahan dengan membakar umum. tidak saja dilakukan oleh petani atau peladangyang miskin. Walaupun pada umumnya kadar bahan organik di lahan sulfat masam cukup tinggi. Bahan organik tidak hanya berperanan dalam memperbaiki fisik tanah. khususnya yang berasosiasi dnegan gambut.

B yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 1998b). 0. 2009. R. Pada lahan sulfat masam yang lapisan atasnya berupa gambut atau lahan-lahan gambut yang dibawahnya terdapat lapisan pirit keberadaan lapisan piritnya perlu dipertahankan setebal antara 15-25 cm (Noor.68 % P. Bersambung ke bagian 4. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Lahan-lahan gambut yang mempunyai lapisan pirit di bawahnya (seperti jenis tanah Sulfihemist. 1.blogspot. Ir. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.). Proses pengomposan praktis diserahkan kepada kebesaran alam dengan memanfaatkan mikroorganisme perombak anaerob.B dari 5 Tulisan) Keterangan: . MS di 01:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. kerisan (Rhynchospora corymbosa) menunjukkan mengandung ratarata 31. Produktivitas dan kesuburan tanah rawa pasang surut berkaitan erat dengan ketebalan lapisan gambut atau kadar bahan organik tanah (Notohadiprawiro. terutama pada tipe luapan c untuk mempertahankan kebasahan tanah dan potensial redoks.com.B) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4.Penyiapan lahan secara konvensional oleh petani petani tradisional dengan sistem tajakpuntal-hambur sebagaimana dkemukakan di atas merupakan kearifan lokal (indigenous knowledge) dalam pengelolaan bahan organik yang patut dikembangkan.74 % organik karbon.64 % K (Balittra. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah. Hasil analisis kompos dari purun (Eleocharis sp. (2) Kesuburan Tanah. A. dan Sulfohemist) merupakan lahan yang sangat berbahaya dan beresiko serta sukar penulihan kembali apabila terdegradasi bila dibandingkan jenis lahan sulfat masam seperti Sulfaquent. 2001). burabura (Panicum repens). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. Kadar bahan organik tanah di sulfat masam perlu dipertahankan pada taraf 5 %.96 % N. Abdul Madjid. dan 0. 2001).

kelarutan Fe. Penetapan kebutuhan kapur untuk tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui beberapa metode. Universitas Sriwijaya. 2) kandungan liat. Mg. . Program Magister (S2). Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kebutuhan kapur menurut (Mc Lean. tetapi cara ini lambat tidak sesuai untuk analisis rutin (Al-Jabri. Indonesia. Indonesia. 2002). disebabkan oleh tingginya kemasaman (pH rendah). 5) pH tanah awal. biasanya dari satu minggu sampai beberapa minggu. Hal ini disebabkan reaksi antara kation-kation asam yang dapat dititrasi berlangsung sangat lambat. dan K) sehubungan dengan aktivitas mikroba sehingga takaran kapurnya lebih tinggi. Kaptan digunakan untuk meningkatkan pH tanah sedangkan Rock Phosphate untuk memenuhi kebutuhan hara P-nya.* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Palembang. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. sebab tingkat keracunan Al bervariasi dengan tanaman dan tanah. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan metode titrasi dengan NaOH 0. Produktivitas tanah sulfat masam biasanya rendah.05 N untuk mencapai pH tertentu lebih rendah jika dibandingkan dengan metode inkubasi dan Al-dd KCl 1 N. 1986). Propinsi Sumatera Selatan. dan 7) waktu. tetapi sebagian besar dari kemasaman tanah tidak dinetralisir oleh basa. Propinsi Sumatera Selatan. Oleh karena itu tanah seperti ini memerlukan bahan pembenah tanah (amelioran) untuk memperbaiki kesuburan tanahnya sehingga produktivitas lahannya meningkat. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan Al-dd KCl 1. Indonesia. 3) kandungan bahan organik. 6) penggunaan metode kebutuhan kapur. kelemahan metode ini adalah terjadinya akumulasi garam (Ca. Palembang. Program Magister (S2). Lean (1982 dalam Al-Jabri 2002). Penetapan kebutuhan kapur dengan metode inkubasi dilakukan dengan mencampurkan kapur dan tanah serta air dalam beberapa dosis kapur selama beberapa waktu tertentu. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. dalam Al-Jabri. Walaupun kebutuhan kapur dengan metode titrasi lebih rendah. dan 3) berdasarkan Al-dd. Bahan amelioran yang dapat digunakan adalah kaptan dan Rock Phosphate. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. 1982. Karena tingkat keracunan untuk suatu jenis tanaman mempunyai variasi lebar dalam tanah yang berbeda maka Al-dd tidak digunakan sebagai parameter yang menentukan keracunan tetapi persentase kejenuhannya. Palembang. dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (Dent. 2002) adalah 1) derajat pelapukan dari tipe bahan induk. 2) metode titrasi. Menurut Mc.B dari 5 Tulisan) B. Pemupukan tanpa perbaikan tanah tidak akan efisien bahkan tidak respon. Al. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Lalu kebutuhan kapur ditentukan pada nilai pH tertentu. yaitu : 1) kebutuhan kapur berdasarkan metode inkubasi.0 N banyak dipertanyakan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 4) bentuk kemasaman. Teknologi Ameliorasi dan Pemupukan pada Lahan Sulfat Masam Ameliorasi tanah sulfat masam untuk memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pemupukan dilaksanakan. (Bagian 4.

dan 4 t kapur/ha.8% (Suriadikarta dan Sjamsidi. Sedangkan pemupukan P berdasarkan kepada kebutuhan P untuk mencapai 0. Sumatera Selatan. hal ini disebabkan terjadinya proses penyanggaan Rock Phophate dalam media yang sangat masam. hasil ini tidak berbeda nyata dengan pemberian 135 kg P2O5/ha dan kaptan 1. Hasil itu dapat dipahami karena tanah sulfat masam aktual di Belawang piritnya telah mengalami oksidasi sehingga Al-dd tinggi dan P tersedia rendah.000 kg/ha. (1999). Christmas.65% dan kadar P2O5 total 28.. Pemupukan P diberikan 100 kg TSP/ha atau 125 kg SP36/ha yang setara dengan 200 kg RP/ha (Hartatik.4 t/ha GKG (Supardi et al. Subiksa et al.Hasil penelitian di rumah kaca dan lapangan ternyata pemberian dosis kapur berdasarkan titrasi dan inkubasi dapat diaplikasikan pada tanah sulfat masam potensial bergambut di Lamunti ex. Rock Phosphate yang baik mutunya untuk tanah ini adalah Rock Phosphate Maroko Ground karena mempunyai kandungan Ca yang tinggi yaitu 27. 2000).02 ppm P dalam larutan tanah. Hasil penelitian pemupukan P dan kapur pada tanah sulfat masam pada beberapa lokasi penelitian disajikan pada Tabel 4.3. 1999 dan Supardi et al. 1. kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha memberikan hasil 3. Sumatera Selatan dapat meningkatkan kadar P tersedia. Ciamis. tetapi kalau diberikan 75 kg P2O5/ha hasil yang diperoleh hanya 3. Pada tanah sulfat masam aktual kadar P dan K dalam tanah sangat rendah sehingga pemupukan P dan K sangat diperlukan. 2001). Hasil penelitian Manuelpillei et al. dan 120 kg N/ha dapat meningkatkan hasil tanaman padi menjadi 2.0 t/ha GKG pada tanah sulfat masam potensial di Kecamatan Telang. Di Belawang kebutuhan kapurnya lebih tinggi yaitu sebesar 4 t/ha.21 t/ha GKG.5 t/ha GKG. PLG Kalimantan Tengah (Suriadikarta dan Sjamsidi.24 t/ha GKG. Kabupaten Muba. 52 kg K/ha. 1999). Pemberian Rock Phosphate pada tanah sulfat masam juga menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata dengan penggunaan TSP.. sedangkan di Palingkau Kalimantan Tengah dengan dosis yang sama dapat memberikan masing-masing 3. tanah sulfat masam umumnya ketersediaan hara P dan K rendah namun bila bahan organiknya tinggi maka P dan K biasanya tinggi pula. (1986) di kebun percobaan Unitatas BARIF pemberian 135 kg P2O5/ha. K 78 kg/ha. ex PLG Kalimantan Tengah P-alam setara dengan 150 kg P2O5/ha rata-rata dapat memberikan hasil 4. menunjukkan pemberian dolomit 2 t/ha dan SP-36 200-300 kg/ha dapat menghasilkan rata-rata 4.7 t/ha dan 3.45 t/ha GKG terjadi delapan kali lipat peningkatan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa P dan Kaptan). Dalam penelitian pada tanah sulfat masam potensial di Tabung Anen Kalimantan Selatan pemberian pupuk P + kalium + bahan organik dan kapur masing-masing sebesar 43 kg P/ha. Pemberian 90 kg P2O5/ha dan kaptan 500 kg/ha menghasilkan 2. pemberian kapur didasarkan kepada metode inkubasi untuk mencapai pH 5 (Hartatik et al. 50 kg K2O/ha. 2000). dan Aljazair.000 kg kaptan/ha. respon pemupukan P dan K tertinggi dicapai pada perlakuan P optimum (100 kg P/ha). Pemupukan P-alam hingga 60% erapan maksimum P dalam tanah sulfat masam Sumber Agung dan Sumber Rejo di Pulau Rimau. 2001).79 t/ha GKG. P-alam yang telah dicoba untuk tanah sulfat masam dan memberikan hasil yang sama baiknya adalah P-alam Tunisia. menghasilkan bentuk P yang meta-stabil seperti Dicalsium phophate yang tersedia untuk tanaman. Hasil penelitian di lahan rawa menunjukkan pupuk kalium cukup diberikan 100 kg KCl/ha untuk tanaman padi sawah. namun belum .. Tanah sulfat masam di Pulau Petak sangat respon terhadap pemupukan P baik yang berasal dari TSP maupun dari Rock Phosphate. Di Lamunti.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan P pada tanah sulfat masam antara lain pH. MS di 01:16 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam mereklamasi atau melakukan pencucian/drainase di tanah sulfat masam potensial. Kemasaman tanah aktual dari tanah sulfat masam di Pulau Petak diduga dengan titrasi cepat pada pH 5. Nilai erapan maksimum yang tinggi pada sulfat masam aktual dari pada sulfat masam potensial diakibatkan perbedaan kadar dan jenis liat. dan pirit. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa erapan P maksimum pada tanah sulfat masam aktual mencapai 2.com. pH. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Al dan Fe. serta bahan organik. diperoleh bahwa oksidasi pirit setelah reklamasi membuat tanah di daerah tersebut sangat masam.000 µg P/g sedangkan pada sulfat masam potensial sedikit lebih rendah yaitu sekitar 1. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Fed. apalagi jika kandungan liat tinggi. Tingginya kadar Fe dan Al bentuk amorf pada tanah sulfat masam mempengaruhi distribusi fraksi Panorganik (Setyorini. dan amorf serta sulfat dalam tanah. kadar pirit. yang dikombinasikan dengan pemberian kapur dan pupuk kalium. R. jumlah Al-dd sampai 60 mmol/g. Potensi kemasaman sangat tinggi dengan kandungan pirit mencapai 8%.dapat menurunkan kadar unsur beracun Fe2+. pencucian intensif tanah lapisan atas. Ditinjau dari distribusi bentuk P-anorganik pada tanah sulfat masam diatas. A.5. Diposkan oleh Dr. 2009. Fe-Al oksida. Bersambung ke bagian 4. http://dasar2ilmutanah. 2001). Dari hasil penelitian Konsten dan Sarwani (1990). Adanya garam-garam besi bebas dan Al menyebabkan keracunan tanaman dan defisiensi K dan Ca sangat sering terjadi. dijenuhi oleh Al dan mempunyai pH antara 3 dan 4. Abdul Madjid. 2001). Ir. (2) Kesuburan Tanah.blogspot.C) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* . Alo. Ald. di Pulau Petak Kalimantan Selatan. Kemasaman tanah aktual untuk tanah pH kurang dari 4 adalah 20 mmol/100 g yang setara dengan keperluan kapur 15 t/ha. terlihat bahwa fraksi Fe-P dan AlP mendominasi jumlah P anorganik pada tanah sulfat masam potensial sedangkan fraksi Al-P dan Ca-P dominan pada sulfat masam aktual. Selanjutnya Konsten dan Sarwani (1990) mengemukakan bahwa untuk mengatasi kemasaman aktual yang tinggi dapat dilakukan dengan drainase dangkal.C yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Feo. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Unsur beracun diatas ditemukan dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah sulfat masam potensial yang baru teroksidasi dibandingkan tanah sulfat masam aktual (Setyorini. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.666 µg P/g.

Dari 11 varietas di atas nampaknya yang akan cocok untuk di lahan sulfat masam adalah Mahakam. (Bagian 4. Indonesia. Namun untuk tanah sulfat masam aktual dimana kadar Al dan Fe sangat tinggi lebih baik ditanami varietas lokal yang telah adaptif seperti varietas Ceko. sayuran (cabe. Namun walaupun banyak tanaman pangan. kacang panjang. Palembang. Program Pascasarjana. Lalan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. dan tanaman industri (kelapa dan lada) (Suwarno et al. a. dan tanaman industri dapat tumbuh di lahan rawa sulfat masam faktor pemasaman perlu dipertimbangkan. Propinsi Sumatera Selatan. Batang hari. nangka.C dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Jalawara. Banyuasin. pisang. Program Pascasarjana. palawija (jagung. Universitas Sriwijaya. tomat. Gelombang. Palembang. Program Pascasarjana. Sei Lilin. buah-buahan (rambutan. Talang. Padi dan palawija Penelitian adaptabilitas tanaman padi sawah telah lama dilakukan di lahan pasang surut khususnya pada tanah sulfat masam dan pertumbuhan tanaman padi lebih baik pada tanah sulfat masam dibandingkan pada tanah gambut dalam.Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Program Magister (S2). dan terong). jeruk. Program Magister (S2). nanas. buah-buahan. 2000). Kapuas..C dari 5 Tulisan) C. Menurut Suwarno et al. dan kacang hijau). . Propinsi Sumatera Selatan. kedelai. kubis. Penelitian dimulai sejak sebelum Proyek Swamps sampai berakhir pada Proyek ISDP tahun 2000. Universitas Sriwijaya.4). sayuran. kacang tanah. Penggunaan Varietas yang Adaptif Tanaman yang dapat diusahakan dilahan sulfat masam antara lain tanaman padi. dan semangka). Palembang. (2000) sampai saat ini telah dilepas secara resmi 11 varietas yang cocok di lahan pasang surut (Tabel 4. Lematang. Tanaman tersebut dapat tumbuh baik bila tanahnya masih SMP dan sistem tata air mikro seperti saluran drainase dan ameliorasi tanah dilakukan dengan baik sesuai kondisi lahannya. Indonesia. Indonesia. dan Dendang. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.

dan lada. kelapa. c. Tanaman palawija umumnya ditanam di lahan pekarangan sebagai kebun campuran dengan tanaman buah-buahan dan sayuran. a. Varietas kedelai yang cocok untuk tanah sulfat masam adalah varietas Wilis. 1990). Mengingat kondisi kesuburan tanah sulfat masam sangat beragam maka pemupukan perlu disesuaikan dengan hasil analisis tanahnya. 82-157 dengan potensi hasil 15. Rinjani. nangka.5. Tanaman buah-buahan ditanam di pekarangan pada guludan adalah pisang. 1990). dan rambutan atau jeruk. Namun keberadaan lokasi pengembangan yang terletak jauh dipedalaman dan tidak didukung oleh infrastruktur dan sarana menjadi hambatan untuk pemasaran hasil sayuran. sebagai sentra produksi kelapa sebaran tanaman kelapa di Provinsi Riau diperkirakan > 60% (Mahmud.4 t/ha. Kelapa Tanaman kelapa merupakan komoditas tanaman di lahan pasang surut.4 t/ha.6% untuk tanaman pangan (Subiksa dan Basa. dan Dempo.4 dan 6.4% untuk tanaman sayuran dan 34. Petsai yang sesuai hanya ada satu varietas yaitu No..15 ton umbi kering/ha (Sutater et al.2. dan kacang hijau 1. b. Varietas kedelai tersebut mampu memberikan hasil 1. 1990).. Tanaman industri/perkebunan Hasil penelitian di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah ex PLG tanaman industri/perkebunan yang dapat beradaptasi di lahan sulfat masam adalah kopi.2 t/ha biji kering. Lokon. kacang tanah 3. dan jagung yang sesuai adalah varietas Arjuna dengan hasil 3-4 t/ha biji pipilan kering.6 t/ha. Selanjutnya bawang merah varietas Ampenan dan Bima dapat beradaptasi cukup baik pada tanah sulfat masam dengan potensi hasil 6. komoditas hortikultura mampu memberikan pendapatan lebih besar dari pada tanaman pangan dengan rincian 65.5 t/ha. Jenis kelapa yang sesuai adalah kelapa lokal.dan Bayur.6. Hasil penelitian Proyek Swamps di lahan pekarangan lahan sulfat masam di Karang Agung Ulu (1987/1988).54 t/ha dan 13. Jenis sayuran yang telah diteliti pada tanah sulfat masam adalah tomat varietas Ratna dan Intan dengan potensi hasil masing-masing 18. yang dikenal memiliki daya adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan tumbuh sangat luas. Sayuran dan buah-buahan Teknik penggunaan amelioran dan pengelolaan hara terpadu serta penggunaan benih bermutu dengan waktu tanam yang tepat merupakan persyaratan utama keberhasilan sayuran di lahan rawa (Satsiyati et al. . 1999). Tanam sayuran dan pisang cepat memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani terutama pada tahun pertama mereka tinggal di tempat pemukiman baru. Dosis pemupukan tanaman sayuran dan buah-buahan disajikan pada Tabel 4.

Produksi tanaman kencur juga cukup baik di Karang Agung Ulu dapat mencapai 11. temu giring (obat panas dan batuk). di antaranya kunyit. temulawak. Sedangkan untuk jahe putih kecil atau emprit produksi 4. kencur. jahe dapat mencegah gejala tetelo (ND). Namun ada juga yang ditanam secara monokultur di guludan seperti di Riau. b. temulawak.7-1. 300. dan bangle di lokasi pasang surut cukup baik pertumbuhannya dan dapat dikembangkan secara monokultur dan tumpangsari dengan tanaman palawija atau tanaman tahunan yang tidak terlalu tinggi tingkat naungannya (Anonimous. Pupuk yang diberikan untuk tanaman kelapa masing. dan temulawak dapat menekan berkembangnya bakteri di kotorannya.5-23.9 t/ha. dan LDK dapat tumbuh dan beradaptasi baik di lahan pasang surut potensial maupun sulfat masam aktual Karang Agung Ulu. tergantung kepada umur tanaman (Tabel 4. Temu-temuan diharapkan dapat menunjang sistem usahatani di lahan pasang surut yang mempunyai fungsi ganda dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan dapat digunakan sebagai obat alternatif baik untuk manusia maupun ternak. jahe merah di Karang Agung Ulu (Anonimous.9-8.1 t/ha.6 t/ha. Persyaratan tumbuh tanaman temutemuan menghendaki tanah yang gembur dan subur. sehingga upaya perbaikan tanah meliputi pemberian kaptan. pembuatan saluran cacing di kanan dan di kiri tanaman memberikan hasil tertinggi yaitu 140. dan dari uji produksi di Kalimantan Tengah juga menunjukkan produksi yang baik yaitu mencapai 200-300 g/rumpun. 1993 dan Anonimous. lengkuas. Lada Tanaman lada varietas Petaling I. jahe.0 kg/rumpun. c.Tanaman kelapa dapat ditanam tumpangsari dengan tanaman kopi. . pembuatan saluran cacing yang intensif. lempuyang (pegel linu) temu ireng dan bangle (obat cacing). kencur (obat reumatik pegel linu). pemupukan. sehingga bau limbah dapat ditekan. kedua. dan ketiga.5 t/ha dan jahe putih besar varietas gajah produksi 4. kunyit. Produksi temu-temuan cukup bagus. dan hortikultura. 1993) dengan pemupukan 45 kg N + 36 kg P2O5 + 50 kg K2O + 200 kg kapur + 1. P.7). pH tanah normal dan tidak tahan genangan air. Petaling II. Temu-temuan Jenis tanaman temu-temuan di antaranya jahe. Pemberian pupuk N. dan penambahan lapisan gambut akan memberikan pertumbuhan dan produksi rimpang yang optimum. palawija.masing diberikan per pohon. Sebagai contoh untuk ternak. dan 230 gram per pohon masing-masing pada panen pertama. Demikian juga dari Kalimantan Tengah produksi jahe putih kecil cukup baik 0. 1999). Sedangkan pada lahan sulfat masam.5 ton gambut/hektar memberikan hasil 15. dan K paling tinggi pada umur tanaman kelapa 3 tahun.2-20. Di Karang Agung Ulu dan Karang Agung Tengah produksi kelapa rata-rata berkisar 7-18 butir/pohon/periode petik dan 10-17 butir/pohon/periode petik. Pada lahan potensial pengapuran dengan takaran 2-3 kg/tanaman dapat mempengaruhi produksi buah lada sampai panen ke-3 (panen pertama 28 bulan).5-5.

Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. R. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia.com. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Tiang panjat seperti lamtoro gung (Leucaena sp.D yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. (2) Kesuburan Tanah.D dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.Saluran cacing ini ditujukan untuk menjamin drainase yang baik agar kelembaban tanah tidak berlebihan bagi tanaman lada. . Program Pascasarjana. MS di 01:08 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Bersambung ke bagian 4.blogspot. 1993). Program Magister (S2). Program Magister (S2). Karena lada memerlukan bahan organik tinggi maka pengembangan di lahan bergambut tipis lebih sesuai untuk tanaman lada produktif. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia. Palembang.) dan waru-waruan dengan pemangkasan empat kali setahun memberikan pertumbuhan yang baik terhadap lada di Karang Agung Ulu ini. 2009. Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.22 kg/pohon (Anonimous. pemupukan tiga kali setahun dengan interval empat bulan sekali dengan takaran 512 g urea + 880 g TSP + 600 g KCl + 60 g kiserit per pohon memberikan hasil tertinggi yaitu 1.D) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Ir. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya.

Sistem kolam ini telah dilaksanakan di Pulau Petak dan Barabai Kalimantan Selatan. Dalam pelaksanaannya reklamasi mencakup pekerjaan penebangan hutan dan pembakaran. Pada sistem tertutup ini pembuatan saluran atau handil sangat hati-hati dengan memperhatikan karakteristik tanah dan tipe luapan air sungai. palawija. yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. dan 5) kombinasi garpu dengan sisir. Jaringan tata air makro Pengembangan lahan rawa meliputi kegiatan reklamasi dan pengelolaan. a. Kegiatan reklamasi dimulai dari perencanaan. dan pembuatan saluran drainase (Widjaja-Adhi. iklim. dan pemupukan.D dari 5 Tulisan) D. . Handil itu dibuat tegak lurus sungai ke arah hutan mengikuti garis kontur sehingga handil itu tidak selalu lurus dan panjangnya tergantung air pasang masuk (4-10 km). Sistem ini seperti yang dilakukan oleh petani Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan Suku Bugis di Pulau Sumatera. Penelitian yang mendukung perencanaan reklamasi sangat diperlukan terutama penelitian sumberdaya lahan meliputi tanah. terutama padi. ameliorasi. 2) tangga. air. Sistem jaringan tata air tersebut sebenarnya tidak berlaku umum tetapi tergantung kepada tipologi lahan dan tipe luapan di daerah itu. 4) sisir berpasangan. yaitu: 1) sistem garpu. penelitian dan pelaksanaan di lapangan.(Bagian 4. dan Kalimantan Selatan serta Kalimantan Barat. Sistem reklamasi lahan rawa di Indonesia telah dilakukan sejak proyek P4S yang dimulai awal Pelita I di lahan rawa pasang surut pantai timur Sumatera. 1995). Selain kelima sistem tersebut UGM telah mengkombinasikan dengan pembuatan kolam pada ujung saluran primer atau sekunder (Gambar 1) yang disebut dengan sistem kolam. Pengelolaan tanah dan air ini meliputi jaringan tata air makro maupun mikro. termasuk tanah sulfat masam. dan tanaman buah-buahan. Keuntungan dari sistem kolam ini adalah asamasam atau racun dapat diendapkan dalam kolam tersebut tidak masuk ke dalam lahan pertanian dan memelihara aliran sewaktu air surut. Sistem jaringan tata air selain dibedakan menurut bentuknya dapat pula dibedakan menurut hubungan tata air. Pengelolaan Tanah dan Air Pengelolaan tanah dan air (soil and water management) merupakan kunci utama untuk keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut. Sistem reklamasi jaringan tertutup adalah cara pembukaan lahan yang jaringan tata airnya tidak berhubungan satu sama lain (zonasi). 3) sisir tunggal. penataan lahan. Kalimantan Tengah. Cara reklamasi seperti ini umumnya berhasil dalam meningkatkan produktivitas lahan rawa. dan hidrologi serta aspek lingkungan. Menurut Subagjo dan Widjaja-Adhi (1998) selama PJP I telah ditetapkan lima sistem jaringan tata air makro. konstruksi jalan.

tetapi untuk tersier sebaiknya tidak dianjurkan. Dalam rancangan infrastruktur hidrologi. Selain itu penurunan permukaan air yang drastis juga akan menyebabkan gambut kering tak balik (irrevisible drying) sehingga akan mempercepat penurunan permukaan gambut (subsidence) dan atau cepat hilangnya lapisan gambut. Al. Fungsi jaringan tata air sebagai alat transportasi perlu dipertimbangkan pada tahapan mana ini dapat diberlakukan. 1998). besi. dimensi dan cara pembuatan salurannya disesuaikan dengan fisiografi dan kondisi lahan sehingga menunjang kelestarian dan produktivitas lahan. pengelolaan air di lahan pasang surut dibedakan ke dalam : (1) Pengelolaan air makro. Namun untuk mendukung kearah pengembangan pertanian yang berhasil dan berkesinambungan dilahan pasang surut ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam reklamasi lahan. 2) sebagai pemasukan air. Dimensi dan kedalaman saluran perlu dipertimbangkan sehubungan dengan keadaan hidrologi di daerah tersebut. 3) sebagai alat trasportasi. Pembuatan pintu air pada saluran primer atau sekunder seperti dilahan ex-PLG sangat tidak efisien karena mengganggu fungsi transportasi masyarakat sekitar sehingga akhirnya dijebol. (1995) sedikitnya terbuka lima peluang fungsi dari jaringan pengairan rawa. Untuk mencapai jaringan tata air ini hendaknya berpegang kepada pola penggunaan lahan dan pola pemanfaatan sekaligus diharapkan dapat berfungsi sebagai saluran drainase. Pembuatan saluran harus mengikuti atau memperhatikan garis kontur dan tipologi lahannya. dan 5) sebagai pendukung bagi proses reklamasi. Saluran dengan mempertimbangkan garis kontur maka aliran air dapat mengalir dengan baik. (1992). pengaturan pintu air sebaiknya mulai dilakukan di tingkat tersier ke bawah. peningkatan pendapatan dan lapangan kerja. Pembuatan tata ruang sebelum saluran dibuat perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pola penggunaan lahan hipotetik yang dikemukakan oleh Widjaja-Adhi. dan sulfat akan muncul ke permukaan dan dengan adanya air hujan akan meningkatkan kemasaman (pH) air di saluran. sebab penurunan muka air yang drastis akan mengakibatkan teroksidasi lapisan pirit. Menurut Harjono. 1998). (2) pengelolaan air mikro. Pengelolaan air makro yaitu penguasaan air di tingkat kawasan . Pada tahap saluran primer dan sekunder mungkin fungsi ini dapat diberlakukan.Berdasarkan hasil penelitian Badan Litbang Pertanian bahwa lahan pasang surut memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian terutama dalam kaitannya dalam mendukung program ketahanan pangan dan agribisnis melalui peningkatan dan diversifikasi produksi. yaitu 1) berfungsi sebagai saluran drainase. mendukung proses reklamasi. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam proses pencucian bahan-bahan beracun dari lahan ke saluran dan seterusnya ke sungai berjalan lancar. Selanjutnya dalam pembuatan saluran baik primer. dan konservasi sumber air. yaitu pemanfaatan jaringan tata air berikut salurannya dan tata ruang untuk penataan lahannya (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. dan (3) pengelolaan air tingkat tersier yaitu mengkaitkan antara pengelolaan air makro dan pengelolaan air mikro (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. sekunder dan tersier perlu memperhatikan tata letak. pemasok air. 4) berfungsi sebagai konservasi sumberdaya air rawa. tinggi air di saluran rata.

(2) mencegah pertumbuhan tanaman liar pada padi sawah. Saluran itersepsi dimaksudkan untuk menampung aliran permukaan dan sebagai tempat memproses air yang mengandung bahan beracun agar tidak memasuki areal pertanian. Pengelolaan air tingkat tersier ditujukan untuk mengatur saluran tersier agar berfungsi: (1) memasukkan air irigasi. Hasil penelitian Suriadikarta et al. Dalam hal ini. baik dari hujan maupun dari air pasang. air di petakan lahan perlu diganti setiap dua minggu pada saat pasang besar. (4) mengatur tinggi muka air. Saluran ini dibuat di daerah perbatasan lahan kering dan rawa menyerupai waduk panjang serta diarahkan untuk menyalurkan kelebihan air ke sungai di bagian hilirnya.reklamasi yang bertujuan mengelola berfungsinya jaringan drainase/irigasi (navigasisekundertersier). Kawasan tampung hujan dimaksudkan sebagai daerah sumber air untuk irigasi. Oleh karena itu. Tata Air Mikro Sistem pengelolaan tata air mikro berfungsi untuk : (1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi tanaman. (1999). (1999) pencucian bahan beracun dari petakan lahan dilakukan dengan memasukkan air ke petakan lahan sebelum tanah dibajak. semakin rapat pula jarak antar saluran cacing tersebut. dan (3) mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun yang terbentuk di petakan lahan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. Untuk lebih memperlancar keluar masuknya air pada petakan lahan yang sekaligus memperlancar pencucian bahan racun. seyogyanya lebak dalam dapat dimanfaatkan sebagai kawasan retarder dengan jalan diperdalam dan alirannya diarahkan ke sungai di bagian hilirnya. Semakin tinggi tingkat keracunan. sistem pengelolaan tata air mikro mencakup pengaturan dan pengelolaan tata air di saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sekaligus memperlancar pencucian bahan beracun. Widjaja-Adhi (1995) menganjurkan pembuatan saluran cacing pada petakan lahan dan di sekeliling petakan lahan. Usaha pencucian ini akan berjalan baik apabila terdapat cukup air segar. kemudian air tersebut dikeluarkan setelah pengolahan tanah selesai. (2) mengatur tinggi muka air di saluran dan secara tidak langsung di petakan lahan. kawasan retarder dan sepadan sungai/laut dan saluran intersepsi bila diperlukan serta kawasan tampung hujan. Sistem pengelolaan air di . Kawasan retarder dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya banjir di daerah hulu sungai termasuk mengurangi kedalaman dan lama genangan air dilahan lebak dangkal dan tengahan. Hasil penelitian Subagyono et al. saluran kuarter biasanya dibuat di setiap batas pemilikan lahan. dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan di saluran. b. (3) mencegah terjadinya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian. yaitu antara 300-800% bobotnya. Oleh karena itu. Kawasan tampung hujan sebaiknya dialokasikan pada lahan gambut di bagian hulu sungai karena gambut memiliki daya menahan dan melepas air tinggi. sedangkan di dalam petakan lahan dibuat saluran cacing dengan interval 3-12 m dan di sekeliling petakan lahan tergantung pada kondisi lahannya.

sulfat. Misalnya.tingkat tersier dan mikro tergantung kepada tipe luapan air pasang dan keracunan di petakan lahan. Nilai pH air tanah meningkat dari rata-rata 4. 1998). Skesta kedua sistem tata air tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.4 pada pada saat panen (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. dapat secara cepat meningkatkan kualitas lahan dan memberikan hasil yang baik bagi tanaman padi dan palawija. maka pola pemanfaatan lahan dapat dilaksanakan dengan sistem surjan. maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah.26 t/ha GKP sedangkan varietas Cisangarung dapat mencapai 9. Aliran satu arah dikombinasikan dengan pengolahan tanah memakai traktor tangan dan pemberian dolomit pada lahan sulfat masam dalam satu unit tata air saluran sekunder (50 ha) oleh Proyek ISDP (1997). sekunder. Penataan air di lahan petani dapat dilakukan dengan sistem aliran satu arah (one-way flow system) dan sistem aliran yang sifatnya bolak-balik (twoway flow system). dan Al3+ keluar dari lahan usaha dan pH tanah menjadi lebih baik.8 pada saat penanaman dan 5. dan primer semuanya dalam kondisi baik dan arah aliran tidak bolak-balik. c. Pintu klep (flapgate) dipasang berlawanan arah. Pada sistem aliran satu arah dirancang saluran irigasi dan saluran drainase secara terpisah. karena pirit akan lebih stabil tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan. Hasil rata-rata ubinan padi varietas Cisadane mencapai 6. Tetapi bila tipe luapan B. tipe luapan. Hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam sistem tata air adalah sinkronisasi antara tata air makro dan mikro (Subagyono et al. saluran air perlu ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut. sehingga pencucian lahan dapat berlangsung dengan efektif. Sedangkan kandungan Fe++ 160 ppm pada saat tanam dan 72 ppm pada saat panen. . (1995) menunjukkan adanya peningkatan kualitas lahan dan hasil tanaman dari musim ke musim.. dan pola pemanfaatannya seperti pada tipologi sulfat masam potensial dengan tipe luapan A.44 t/ha GKP.2 pada saat sebelum pengolahan tanah menjadi rata-rata 4. penerapan aliran sistem satu arah untuk pencucian hanya akan berjalan efektif jika kondisi saluran tersier. Penataan lahan Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. 1999). Pintu air tersebut dapat berupa stoplog maupun pintu ayun atau pintu engsel (flapgate). Pada saluran irigasi pintu klep membuka ke arah dalam sedang pada saluran drainase pintu klep membuka ke arah luar. Untuk keperluan pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air. Hasil penelitian pengelolaan tata air mikro dengan cara tersebut pada lahan sulfat masam dengan berbagai sistem penataan lahan di Karang Agung Ulu oleh Djayusman et al. Tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one way flow system). Pencucian lahan dimaksudkan agar unsur yang bersifat racun bagi tanaman seperti Fe2+.

Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Hal ini dilakukan untuk menghindari oksidasi pirit. Propinsi Sumatera Selatan. Setiap ha lahan dapat dibuat 6-10 guludan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Program Magister (S2).6 m. http://dasar2ilmutanah. dan kelapa). Indonesia. 2009. sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 15 m. Diposkan oleh Dr. Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman dilahan rawa. Program Studi Ilmu Tanaman. Untuk tanah sulfat masam potensial pengolahan tanah dan pembuatan guludan sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Lebar guludan 3-5 m. sayuran. dan tinggi 0. sayuran atau buah-buahan. dan 5-9 tabukan. (2) Kesuburan Tanah. MS di 00:59 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. A. sedangkan guludan ditanami dengan palawija.E dari 5 Posting) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Tabukan surjan ditanami padi sawah. palawija.blogspot. Palembang. kopi. Bersambung ke bagian 4. Ir. Universitas Sriwijaya. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.com. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.E yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Untuk tanah gambut tekstur lapisan tanah dibawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan lahannya. Dari Tabel diatas ditunjukkan bagaimana pola pemanfaatan lahan dalam kaitannya tipologi lahan dan tipe luapan. .5-0.E) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Guludan dibuat secara bertahap dan tanahnya diambil dari lapisan atas. dan tanaman industri (kencur. R.Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman padi. Sistem surjan baik dilakukan pada tipe luapan B dan C sedangkan tipe luapan D lebih baik untuk sistem pertanian lahan kering.

Sebagian lahan tersebut telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi. baik pada pasang surut maupun lebak. bila tergenang pada musim hujan. bagi tanah. Di Indonesia. akan terjadi proses reduksi. Proses tersebut meningkatkan pembentukan besi ferro dan sulfida.. dan umumnya dibawah potensi produksi tanaman. dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil. Universitas Sriwijaya. yang menghasilkan asam sulfat. . Universitas Sriwijaya. Akibatnya terjadi oksidasi senyawa pirit. Program Studi Ilmu Tanaman. membuat pH tanah sangat masam. banyak terdapat di daerah rawa. topografi dan ketersediaan air. dan Irian (Nugroho et al. Program Magister (S2). yang dapat meracuni tanaman padi. pengelolaan air tak terkendali dengan baik. diperkirakan terdapat sekitar 6. Dilihat luasan. Topografi termasuk kategori datar (<3%) style=""> air yang bervariasi tergantung tipe luapan air. Program Pascasarjana. palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi. namun bila telah teroksidasi maka akan memunculkan problem.E dari 5 Posting) E.7 ha lahan berpirit tersebut. Palembang. yang tersebar di pulau Kalimantan. Program Pascasarjana. dan ditanami padi. lahan tersebut sebenarnya mempunyai potensi untuk pengembangan tanaman pangan dan tahunan. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Sumatera. Indonesia. Pembukaan lahan pada tanah tersebut selalu dibarengi dengan pembuatan saluran air untuk kepentingan transportasi dan dranase/irigasi kawasan tersebut. Tapi dalam kenyataannya. Tanah-tanah yang sudah teroksidasi ini. Kemasaman yang rendah tersebut berdampak negatif terhadap sifat kimia tanah dan aktivitas mikroba tanah. (Bagian 4.** : Program Studi Ilmu Tanaman. kualitas kimia perairan dan biota-biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air. Propinsi Sumatera Selatan. Mensvoort dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit tersebut merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. Palembang. Indonesia. terutama pada musim kemarau. Mikroorganisme sangat berperan dalam pembentukan tanah tersebut. Permukaan air tanah turun di bawah permukaan lapisan pirit. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 1992). Pengelolaan Lahan Sulfat Masam Melalui Aktivitas Mikroorganisme Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2).

(1984) dan Jaynes et al. maka tanah tersebut membutuhkan pengelolaan yang tepat dan terintregasi dari berbagai aspek. Karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangan agar dampak negatif tersebut dapat ditekan seminimal mungkin tanpa banyak mengurangi tingkat produksi padi.3). bakteri tersebut adaptif pada pH rendah (optimum untuk pertumbuhannya 2-3) dengan konsentrasi besi ferro yang tinggi. Namun aktivitas kedua bakteri tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya. Aktivitas bakteri pengoksidasi dapat ditekan melalui pemberian bakterisida yang spesifik. yaitu mencegah kerja dari bakteri pengoksidasi tersebut. Selain itu. melalui:  Pemberian bakterisida. Sedangkan dalam kondisi reduksi. baik kimia. berdasarkan hasil penelitian Arkesteyn (1980). Menurut Anonim (2002b). Menurut Anonim (2002b). Dalam proses oksidasi-reduksi pada tanah sulfat masam. Ditinjau dari aspek biologi. Kemasaman ini menyebabkan masalah pada organisme lain dan melarutkan logam-logam berat. (1988) mendapatkan bahwa bakterisida seperti Panasida (2.0 (optimal 3. Hasil pengujian Polford et al. (1984 diacu dalam Mensvoort dan Dent 1998) menyebutkan bahwa kondisi optimum untuk oksidasi pirit sama dengan kondisi optimum untuk oksidasi besi oleh Thiobacillus ferrooxidans yaitu konsentrasi oksigen > 0. Karena itu dalam pengelolaan tanah sulfat masam dapat didekati melalui pemanfaatan peranan kedua bakteri tersebut.. sehingga lahan tidak layak digunakan untuk pertanian.Dilihat dari potensi dan dampaknya. tetapi berguna untuk menghambat Streptomyces scabies penyebab penyakit pada kentang. Wako et al.5’ dichlorophenylmethane) dan deterjen efektif mencegah kerja bakteri pengoksidasi Thiobacillus ferrooxidans.  Mengurangi suplai oksigen melalui penggenangan.2’ dyhydrpxy 5. adanya udara mempercepat oksidasi S yang menyebabkan pH turun kurang dari 1. Mencegah atau memperlambat terjadi proses oksidasi. Untuk itu perlu dipelajari proses-proses oksidasi dan reduksi dari senyawa pirit tersebut agar diketahui cara-cara pengelolaannya yang sesuai. pH 1.01 Mole fraksi (1%). Adanya proses oksidasi senyawa pirit dan proses reduksi dari hasil oksidasi tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman dan lingkungan sekitarnya. terlihat betapa besarnya peran dari mikroorganisma. Reaksi oksidasi dan reduksi pada tanah tersebut dipengaruhi berbagai aspek. biologi maupun fisika tanah. karena itu pendekatan pengelolaan tanah sulfat masam melalui mikroorganisma dapat didekati melalui: 1. pembentukan pirit atau H2S sangat ditentukan olek aktivtas bakteri pereduksi sulfat Desulfovibro sp. pemberian NaN3 dan N-ethylmaleimide (NEM) mampu menghambat oksidasi Fe2+ dan So. temperatur 5-55oC (optimal 30oC). sehingga kerja bakteri pengoksidasi terhambat. maka kecepatan oksidasi senyawa pirit sangat ditentukan oleh peran dari bakteri pengoksidasi pirit yang disebut Thiobacillus sp. besi . karena adanya saling ketergantungan satu sama lain antara bakteri dan lingkungannya.5-5.

5. 2002). Menurut Beckett et.5 didominasi oleh bakteri metalogenium. 2. Menurut Anonim (2002a) dan Gadd (1999). Zn. SRB merupakan bakteri obligat anaerob yang menggunakan H2 atau organik sebagai donor elektron (chemolithotrophic). dengan suhu optimal 30-35oC.  Pemberian kapur.0 akibatnya aktivitas bakteri pengoksidasi terhambat. terjadi suksesi bakteri dengan perubahan pH tanah. sedangkan pada pH netral didominasi oleh bakteri Thiobacillus thioparus. Dua gas terpenting adalah SO2 dan H2S. Selain itu. pH yang cocok untuk habitat Thiobacillus ferrooxidans adalah 1. al. Ini artinya pada pH diatas 4.  2CH3COO. reduksi sulfat tersebut dimedia oleh organisme yang diketahui secara kolektif sebagai bakteri pereduksi sulfur (SRB).0. reduksi sulfat ke sulfide dalam lingkungan anarobik dilakukan oleh bakteri dan fungi. selanjutnya dapat mengendapkan logam-logam toksik sebagai logam sulfida. Dalam kondisi alamiah.4. yaitu berjalan sangat lambat. Bakteri tersebut memerlukan subtrat organik yang berasal dari asam organik berantai pendek seperti asam laktat atau asam piruvat.tersebut digunakan sebagai donor elektron. karena meningkatnya populasi bakteri lainnya yang dapat menyaingi dalam pengambilan berbagai kebutuhan hidupnya seperti oksigen dan lainnya. Menurut Anonim (2002b). Laktat digunakan oleh SRB selama respirasi anaerobik untuk menghasilkan acetat dengan reaksi berikut: 2 CH3CHOHCOO. Hasil penelitian Arkesteyn (1980) menunjukkan bahwa adanya penambahan kapur mencegah pemasaman. Mempercepat proses reduksi sulfat dan besi. dimana pada pH dibawah 4. SO2 dari lahan basah bergabung dengan yang berasal dari industri dapat membentuk .5-4. dimana pengaruh pH pada konsentrasi besi direpleksikan dengan energi yang dihasilkan. Beberapa gas dihasilkan dalam oksidasi-reduksi sulfur tersebut dan tervolatilisasi ke atmosfer dengan jumlah kurang dari 5% dari total residu sulfur. Cd sebagai metal sulfide. Pada pH 3.5-3. bakteri pengoksidasi pirit lainnya seperti Leptospirillum ferrooxidans atau genus Metallogenium gagal diisolat.+ 2HCO3. bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi sulfat pada kondisi anaerob menjadi sulfida.sebagai aseptor elektron.0. yang menggunakan sulfate. asam tersebut dihasilkan oleh aktivitas fermentasi dari bakteri anaerob lainnya. Menurut Saida (2002). Kelompok organisme pereduksi sulfat ini secara generik diberi nama awal dengan “desulfo”. adanya ion Ca yang berasal dari kapur akan menetralkan ion sulfat membentuk gipsum (CaSO4) sehingga menurunkan aktivitas ion sulfat. dengan menciptakan kondisi lingkungan yang diperlukan oleh bakteri tersebut. Menurut Mills (2002).+ H2S  H2S tersebut berguna untuk mengendapkan Cu. kemampuan oksidasi secara biologi tidak berbeda dengan secara kimia. Hasil reduksi tersebut dikeluarkan dari lahan melalui air drainase saat air surut. sehingga pH meningkat diatas 5. dimana SO42. thiosulphate (S2O3) dan sulfide (SO3-) atau ion yang mengandung sulfur tereduksi sebagai terminal aseptor elektron dalam proses metabolisme. bakteri tersebut dapat tumbuh sampai pH 2 dan meningkatkan pH media menjadi 6. Menurut Mills (2002) bakteri tersebut berasal dari genus Desulfovibrio dan Desulfotomaculum yang merupakan organisme heterotrophic. oksidasi kimia (tanpa bakteri) lebih rendah dibanding tanah yang diberi bakteri Thiobacillus ferrooxidans (oksidasi biologi). (diacu dalam Sullivan et al. pada percobaan lab dengan media agar. Pada percobaan tersebut.+ SO4.

(2) Kesuburan Tanah.formasi hujan asam. 3. pemutusan suplai oksigen melalui penggenangan dan pemberian kapur agar terjadi suksesi bakteri. MS di 00:52 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Adanya bantuan bakteri pengoksidasi atau pereduksi sebagai katalisator mempercepat reaksi tersebut beberapa ratus sampai juta kali.F) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. aktivitas mikroorganisma tanah dan kehidupan biota perairan menjadi terganggu. Adanya senyawa pirit merupakan salah satu penciri tanah sulfat masam dan merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. 1.F dari 5 Posting) Keterangan: . Diposkan oleh Dr. Pengelolaan tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengendalian aktivitas mikroorganisma yaitu menghambat aktivitas bakteri pengoksidasi melalaui pemberian bakterisida.F yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. R. dimana SO2 diserap secara kimia.com. 2009. Abdul Madjid. perlu dirangsang dengan pemberian bahan organik sebagai sumber elektron dan energi serta penggenangan untuk memutus suplai oksigen sebagai aseptor elektron. 5. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. H2S mungkin dikonsumsi oleh pengoksidasi S. basa-basa tercuci. Proses oksidasi senyawa pirit dan reduksi dari ion atau senyawa yang dihasilkannya terjadi secara kimia dan biologi. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Adanya oksidasi senyawa pirit menyebabkan tanah menjadi masam. Ir. Bersambung ke bagian 5. Kecepatan oksidasi dan reduksi secara kimia berjalan lambat. 4. kelarutan logam-logam meningkat. Pada kondisi aerobik. Sedangkan pada proses reduksi. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. 2.blogspot. http://dasar2ilmutanah. A. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.

sedang wilayah yang digali atau di bawah disebut tabukan atau ledokan (sunkens beds). Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. dengan sistem surjan maka kebasahan atau genangan air yang tidak disukai tanaman lahan kering dapat terhindarkan. buah-buahan. Universitas Sriwijaya. kacang-kacangan. sedang lahan bagian bawah (ledokan/tabukan) ditanami padi sawah. tetapi mereka menggunakan istilah tembokan yang falsafahnya sedikit berbeda (Sarwani et al. Universitas Sriwijaya. Palembang. dan juga tanaman perkebunan.* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. terutama petani transmigrasi dari Jawa dan Bali. Palembang. dan umbi-umbian). Pertanian dengana sistem surjan banyak berkembang di lahan rawa.. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. 1996. 1986). Budidaya tanaman lahan kering (palawija) di lahan pasang surut di aats sering mengalami cekaman kelebihan air. Wilayah bagian lahan yang ditinggikan disebut tembokan (raise beds). Tujuan pokok dari sistem surjan di lahan pasang surut ini adalah untuk membagi risiko kegagalan usaha tani sehingga dapat bertahan apabila tanaman padinya gagal (Tim FTP UGM. Program Studi Ilmu Tanaman. Budidaya surjan ini juga abnyak dilakukan petani rawa Malaysia (Mensvoort. Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Lahan bagian atas di tanami tanaman palawija (jagung. Surjan mengandung pengertian meninggikan sebagian tanah dengan menggali atau mengeruk tanah di sekitarnya. hortikultura. (Bagian 4. Dalam praktiknya sebagian tanah lapisan atas diambil atau digali dan digunakan untuk meninggikan bidang tanah disampingnya secara memanjang sehingga terbentuk surjan. Sistem surjan ini banyak diterapkan oleh petani di Kalimantan dan Sumatera. Program Magister (S2). surjan dapat dibagi menjadi . *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Masyarakat tani setempat seperti di kalimantan tidak banyak mengenal sistem budidaya surjan ini. 1996). Berdasarkan cara pengambilan dan penyusunan lapisan tanah yang dibentuk surjan. Penyiapan dan Pengelolaan Surjan Sistem budidaya surjan (surjan = bahasa jawa yang artinya berjajar/berbaris berselang-seling seperti lurik) disarankan khususnya hanya untuk lahan pasang surut tipe B (wilayah yang hanya terluapi pada saat pasang tunggal) dan tipe c atau D (wilayah yang tidak terluapi pasang sama sekali) yang mempunyai muka air tanah tinggi. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan.F dari 5 Posting) F. Program Magister (S2). kedelai. Propinsi Sumatera Selatan. 1993: 1994). Tri.

Pada model inovatif dan kreatif lapisan surjan disusun sesuai dengan urutan asal. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. dan 2) dibuat secara bertahap.com. A. Berdasarkan sistem pembuatan. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. Indonesia. Indonesia. Palembang. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Pada model tradisional lapisan surjan dibuat dengan meletakkan bagian yang digali ke lapisan atas secara runtut sehingga kemungkinan besar lapisan atas surjan terdiri dari lapisan bawah (subsoil). Pembuatan surjan banyak memerlukan tenaga kerja yaitu sekitar 500 HOK per hektar.dua model atau tipe : 1) model tradisional dan 2) model inovatif dan kreatif. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. surjan dapat dibagi menjadi dua cara pembuatan yaitu : 1) dibuat sekaligus. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 4. (2) Kesuburan Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. R. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 4. Indonesia. Perikanan .g yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman.G dari 5 Posting) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2).G) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Propinsi Sumatera Selatan. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Ir. Model tradisional sangat berbahaya apabila lapisan bawah yang diletakkan sebagai lapisan atas surjan merupakan lapisan berkadar pirit tinggi. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Magister (S2).G dari 5 Posting) G.blogspot. MS di 00:48 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Abdul Madjid.

lahan pasang surut mempunyai pH air yang relatif lebih baik 4-5 dibandingkan dengan lahan sulfat masam dengan hasil produksi yang bervariasi. Sistem usahatani perikanan diartikan sebagai penelitian di lahan petani (Kasrino et al. gurame. sedangkan pada lahan sulfat masam dosis pengapuran sekitar 10 t/ha. lele. dan lahan lebak di Kayu Agung Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .. Air tersebut menyebabkan pH air kolam turun mendadak sampai <3 sehingga menyebabkan ikan mati. 1989 dan Partohardjo.Penelitian komponen perikanan dalam sistem usahatani di lahan pasang surut dan rawa telah dilakukan sejak 1985/86 di Kertamulia Patratani mewakili lahan rawa. Pada pemeliharaan yang dilakukan polikultur diharapkan ikan dapat memanfaatkan organisme plankton seperti ikan nila sedangkan organisme yang hidup di dasar kolam diharapkan dapat menjadi makanan ikan patin.2 m. pendapatan. lahan pasang surut di tepi Sungai Musi Mariana. 1988). produksi benih ikan. lahan potensial di Karang Agung Ulu. 2) penggalian kolam dilakukan sampai kedalaman tertentu biasanya antara 1-1. Ikan tersebut dapat beradaptasi dengan perubahan pH air kolam yang pada umumnya turun di waktu hujan. Kendala yang sering dijumpai pada kolamkolam yang dibangun di lahan pasang surut yang ber-pH air 4 adalah rembesan air dari pematang dan masuknya air hujan yang jatuh dari tepi pematang ke dalam kolam. Dalam usahatani terpadu. lahan Salin di Delta Upang. dan sistem budidaya. Sedangkan di wilayah Kalimantan yang mewakili lahan pasang surut dan sulfat masam di daerah Parit Keladi dan Palingkau. Sungai Lempung di Lubuk Lampan mewakili rawa banjiran. kesesuaian komoditas. ikan diberi tambahan pakan pelet dan sisa makanan. lahan lebak. Penelitian ikan telah dilakukan di lahan potensial. maka pembuatan kolam harus dilakukan sebagai berikut : 1) lapisan atas tanah 0-10 cm dikupas kemudian hasil tanah kupasan tersebut ditempatkan pada lokasi yang aman. titik berat diberikan kepada optimasi pemanfaatan lahan dengan berbagai komoditas. Penelitian perikanan menunjang program usahatani dibagi atas dua jenis kegiatan yaitu (1) penelitian perikanan yang bersifat komponen dan (2) penelitian dalam usahatani terpadu. 3) setelah penggalian kolam selesai lalu pembuatan galengan kolam disusun seperti tangga (2-3 tangga) lalu guludan itu ditutup dengan tanah lapisan atas yang kita simpan itu. 4) pengapuran kolam baru dilaksanakan dengan dosis 5-10 ton kaptan/ha. dan pemanfaatan sumberdaya secara optimal guna meningkatkan kesejahteraan petani. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui penerapan teknologi atau paket teknologi usahatani yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosio-ekonomi yang ada di daerah (Manwan dan Oka. Untuk mengatasi penurunan pH di waktu hujan. Jumlah kapur yang ditambahkan pada lahan potensial 5 t/ha. tembakang. 1989) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi. Jenis ikan yang dipelihara antara lain ikan patin. Dalam kegiatan komponen dititik beratkan kepada perekayasaan tata air dan manajemen kolam. dan nila merah. Sedangkan untuk monokultur.

Madjid. A. Abdul Madjid. R. MS. Fak.. Dosen Jurusan Tanah.. http://dasar2ilmutanah.. Pertanian.06/21 (5)  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. MS di 00:15 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) Label • • • • • • • • • • Biologi Tanah (23) Definisi Tanah (2) Fisika Tanah (7) Kesesuaian Lahan (2) Kesuburan Tanah (21) Kimia Tanah (14) Klasifikasi Tanah (3) Kunci Jawaban Ujian (2) Nilai Mata Kuliah (2) Soal Ujian Akhir Semester (2) About Me Dr. Abdul Madjid.. (2) Kesuburan Tanah. Kampus Unsri Indralaya..06/14 (19) .com.  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. 2009..  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.. Univ.. Propinsi Sumatera Selatan Lihat profil lengkapku Blog Archive • ▼ 2009 (61) o ▼ 06/14 . Sriwijaya.  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. Ir.blogspot..  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag.. o ► 06/07 . Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ir.

..... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4..... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4....  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4..  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...... Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran MK: DDIT Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester mk: DDIT Nilai Evaluasi MK: SISDAL o ► 05/31 .  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 5... Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.......  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia..  Prospek Pupuk Hayati Mikoriza                    ...... Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2.05/31 (12)  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI...  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1..  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.06/07 (8)  Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester SISDAL  Ujian Akhir Semester MK: DDIT  Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: SISDAL  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) o ► 05/24 .  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4....... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag....

12/09 (5) o ► 11/25 .11/11 (2) • Design by: FinalSense ..04/12 (1) • ► 2008 (8) o ► 03/23 .03/30 (1) o ► 03/02 ..11/25 (6) o ► 11/11 .  Survei Tanah (Bagian I: Kerapatan Pengamatan setia.02/17 (3) ► 2007 (19) o ► 12/02 .03/02 (2) o ► 02/10 .11/18 (4) o ► 11/04 .. o ► 04/05 ..  Kadar dan Serapan Hara Tanaman o ► 04/19 .03/09 (2) o ► 02/24 .04/26 (12)  Penilaian Kelas Kesesuaian Lahan (Bagian I: Tanama.05/03 (4)  Mineral Tanah  Kadar Hara Mikro Tanaman  Kisaran Kadar Kecukupan Hara Mikro Essensial Tanam..o► 04/26 .12/02 (2) o ► 11/18 ..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->